Tampilkan postingan dengan label FLP Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FLP Aceh. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 Oktober 2011 by Forum Lingkar Pena

Cerpen Ayi Jufridar
Dimuat di Jawa Pos, 30 Oktober 2011

LIMA belas tahun sudah Merlyn Getty tidur bersama Gunawan di ranjang rumah dan beberapa ranjang hotel yang pernah mereka singgahi. Sudah tidak terhitung percintaan yang pernah mereka nikmati tidak hanya di ranjang, tetapi di ruang mana pun yang menurut mereka aman dan nyaman untuk melakukannya. Sebegitu dekatnya Merlyn dengan Gunawan sehingga ia hapal terhadap setiap jengkal tubuh lelaki itu sehapal pada tubuhnya sendiri. Ia mengetahui setiap perubahan apa pun yang terjadi di tubuh Gunawan, mulai dari yang kecil lebih-lebih perubahan besar. Kantung di bawah mata yang kian nyata kendati Gunawan pernah rajin meredamnya dengan potongan mentimun atas permintaan Merlyn, perut yang kian buncit, sampai beberapa helai bulu hidung Gunawan yang sudah memutih menjadi perhatian Merlyn ketika lelaki itu tertidur pulas setelah lelah bercinta.

Kalau bulu hidung yang pendek dan tersembunyi dalam liang kecil dan gelap masih terlihat Merlyn Getty, tentulah mengherankan bila ia abai terhadap beberapa helai uban yang mulai menghiasi kepala Gunawan. Merlyn tidak pernah melihatnya dalam setiap kebersamaan mereka yang paling intim sekalipun, konon lagi ketika menemani Gunawan sarapan atau sekadar mengantar Gunawan sampai teras depan ketika lelaki itu berangkat kerja. Perhatiannya tidak tertuju ke atas kepala Gunawan, tetapi ke hati lelaki itu. Sedangkan ketika mereka bercinta, pikiran Merlyn mengembara entah ke mana.

Merlyn tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang berlebihan atau tidak masuk akal dengan beberapa helai uban yang luput dari perhatiannya. Ia jadi ingat pengakuan beberapa teman sebelum ini. Seorang temannya baru menyadari suaminya memiliki pusar di atas dahi setelah 11 tahun mereka berumahtangga. Temannya yang lain tidak mengetahui ada tahi lalat tersembunyi di bagian paling intim suaminya. Yang terakhir ini menurut Merlyn keterlaluan karena ia menganggap perempuan itu tidak melakukan apa pun untuk menyenangkan suaminya sebelum mereka menyatu dalam sebuah kebersamaan yang penuh desah.

Kedua kasus di atas, menurut Merlyn, berbeda dengan uban karena rambut putih itu tidak muncul sejak Gunawan lahir sebagaimana pusar di puncak dahi.

Merlyn tidak menemukan uban itu, melainkan uban itulah yang menemukannya tadi pagi ketika ia masuk ke kamar mandi dan Gunawan ada di sana dengan handuk putih yang melilit di pinggang. “Ternyata aku sudah tua,” katanya seperti kepada diri sendiri karena ia berdiri di depan cermin yang berkabut sambil menyibak rambutnya yang tebal lurus sampai sedikit menutup daun telinga. Merlyn masih tidak peduli dengan pengakuan itu karena Gunawan sudah berusia 46 tahun. Justru keterlaluan bila ia tidak menyadari ketuaannya sehingga bertingkah seperti pemuda belasan tahun ketika melihat gadis-gadis belia di luar sana. Ketika Gunawan memutar tubuhnya dan menundukkan kepala di depan wajah Merlyn sambil meminta dicabuti ubannya, seketika itulah Merlyn terkejut. Tanpa sadar ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding. Wajahnya pucat pasi serupa air muka orang yang baru saja berjumpa dengan sesuatu yang paling menakutkan seumur hidupnya.

Bagi Merlyn, sesuatu yang menakutkan itu bukanlah hantu karena ia tidak pernah melihatnya meski sangat percaya makhluk itu ada. Ia pernah melewati masa-masa yang penuh hantu, tetapi tidak pernah satu kali pun melihat meski bisa jadi justru hantu itu sedang melihatnya. Hantu sungai, hantu kuda, hantu api, hantu emas, segala jenis hantu ada pada masa itu, tetapi Merlyn hanya mendengar nama mereka saja. Ketika papanya pergi dan mama mulai sering memukulnya, ia selalu berharap berjumpa dengan hantu apa pun yang akan mengajak dirinya dan dua adiknya pergi. Mereka bertiga sering mandi di alur Kapuas ketika air sedang pasang dengan kayu gelondongan sebagai perahu. Orang dewasa yang menggunduli hutan di sana menakuti dengan kisah hantu buaya yang memangsa anak kecil agar mereka segera menyingkir. Merlyn dan kedua adiknya justru bermain di sana sampai malam menjelang agar hantu buaya datang dan membawa mereka ke dalam dunia buaya. Namun, hantu buaya tidak pernah datang, yang datang justru air bah bercampur lumpur yang membuat ia dan kedua adiknya nyaris mati tenggelam. Sampai beberapa tahun setelah kejadian itu, ia harus rutin memeriksakan diri ke dokter karena paru-parunya tercemar lumpur.

Merlyn Getty bukannya menyesali keputusannya bermain di Kapuas ketika air sedang pasang, melainkan menyesali kenapa tidak mati saja. Dua kali sudah ia mengundang kematian, tetapi kematian tidak menghampirinya ketika diharapkan. Setelah kematian yang gagal di Kapuas, kehidupannya menjadi lebih sulit. Papanya tidak pernah pulang lagi, yang belakangan ternyata sudah kabur dengan anak gadis orang setelah menghamili perempuan muda itu. Mamanya bekerja di sebuah pabrik tripleks sebagai buruh kasar. Ia pergi pagi dan pulang menjelang malam dengan tubuh yang kelelahan. Semakin lelah mamanya bekerja, semakin sering ia memukuli Merlyn dan kedua adiknya. Sampai kemudian Merlyn dikirim ke tantenya di Cilacap. Tantenya itu adalah adik mama, tetapi mereka beda ayah. Suami tantenya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan perminyakan nasional, dan cukup sukses sehingga dua tahun berturut-turut menjadi karyawan teladan. Mereka mempunyai dua anak lelaki, tetapi tidak satu pun lahir dari rahim tante. Merlyn mengira nerakanya sudah berakhir ketika ia dikirim ke Cilalap, tapi ternyata di sanalah ia menemukan neraka yang sesungguhnya dari perilaku dua anak tante yang seharusnya menjadi saudara sepupunya, juga dari perilaku tante dan lebih-lebih dari suaminya.

Kedua sepupunya itu sering menjamahi tubuhnya yang sedang tumbuh ketika orang tua mereka tidak ada di rumah. Seorang di antaranya kemudian diterima sebuah perguruan tinggi terkemuka di Yogya dan itu amat disyukuri Merlyn. Namun, nerakanya belum berakhir karena sepupunya yang lain merasa sudah menguasai Merlyn seorang diri. Ketika Merlyn Getty memberanikan diri untuk melawan, hanya satu kali perlawanan secara fisik dan ancaman akan mengadukan ke polisi, sepupunya itu berhenti untuk selamanya. “Satu kali saja kamu berani menyentuhku lagi, kita akan berjumpa di pengadilan!”

Merlyn kelas dua SMA ketika itu. Sedang mekar-mekarnya dengan darah Banjar dan China yang mengalir dalam tubuhnya yang semampai dan proporsional. Kelebihan itulah yang menggoda pamannya untuk mulai menyentuhnya justru setelah kedua anaknya berhenti. Mulanya hanya di tangan ketika ia meminta bantuan Merlyn. Setelah itu dianggap biasa, naik ke pipi lalu turun lagi ke pinggul dan mulai berani naik lagi ke dada. Ketakutan Merlyn bahwa sentuhan itu akan turun lagi ke bagian lain, menjadi kenyataan. Setiap pagi, pamannya bangun lebih subuh dan menyelinap ke kamarnya. Dia melarang Merlyn mengunci pintu. “Jangan pernah bilang ke siapa pun, terutama tantemu!”

Merlyn tidak berani membalas ancaman itu sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap sepupunya. Mengadu ke malaikat pun tidak akan dipercayai kalau lelaki yang menjadi tokoh masyarakat itu melakukan perbuatan tak senonoh. Paman menggunakan pengaruhnya agar bebas melakukan apa pun terhadap dirinya. Orang-orang sekitar sangat menghormatinya. Merlyn bisa melihat pada hari-hari besar seperti Idul Fitri, pejabat kepolisian di Cilacap, jaksa, dan hakim, sering bertamu ke rumah. Ancaman “kita akan berjumpa di pengadilan” seolah tak berlaku untuk membalas kekurangajaran pamannya.

Salah satu kebiasaan lelaki itu adalah meminta bantuan Merlyn untuk mencabuti ubannya, ada atau tidak ada istrinya di rumah. Bila tantenya di rumah, pekerjaan itu tak terlalu menakutkan. Begitu tantenya di luar, itulah kesempatan paman untuk menggerayangi tubuhnya ketika tangannya sibuk mencari uban. Dua tangan bekerja bersamaan, satu mencari uban dan yang lain mencari kenikmatan. Puncaknya, ketika tante tak ada di rumah, paman memerkosanya. Itulah hari paling buruk dalam hidup Merlyn sehingga ia nekat mengiris nadi dengan pecahan botol.

Ketika tante pulang dan melihatnya bermandikan darah, paman mengaku baru saja memarahinya karena kedapatan berada di tempat bilyar bersama teman-teman cowoknya. Pamannya benar, sehari sebelumnya ia kedapatan di meja bilyar selama jam belajar dengan sejumlah teman sekolahnya. Mereka sering bolos sekolah dan baru kali itu kedapatan. Di rumah Merlyn memang anak pendiam, tapi di sekolah ia bandel. “Mungkin karena itu dia bunuh diri,” kata paman tanpa panik sedikit pun. Bahkan ketika ia membawa Merlyn ke rumah sakit, ia sempat berbisik di telinga, “Dasar bodoh. Sudah kuberikan surga dunia, kau malah ingin ke neraka. Bunuh diri itu dosa besar, tahu!” Pamannya tidak berkata tentang hukum menzinahi keponakan sendiri.

Uban itulah yang menjadi pintu neraka bagi Merlyn. Setelah mendapat pengobatan, dia kabur dari rumah dan menjadi istri simpanan seorang bangsawan di Malaysia. Mereka berpisah dua tahun kemudian dan Merlyn bertemu dengan statusnya sebagai janda kembang serta Gunawan sebagai duda beranak satu. Sebelum menikah, ia sudah menceritakan semua masa lalunya kepada lelaki itu, kecuali soal uban pamannya. Tak disangkanya uban di kepala Gunawan telah membuka kembali rahasia masa lalu yang sudah dikuburnya dalam-dalam.

“Aku tidak ingin lagi melihat uban di kepalamu!” cetus Merlyn sambil memutar tubuhnya dan keluar dari kamar mandi.

“Aku sudah tua, sudah pantas beruban. Kamu tidak bisa menolak kodrat.”

Masih sempat didengar ucapan Gunawan itu sebelum ia benar-benar lenyap dari kamar mandi. Merlyn tidak menolak Gunawan menjadi tua, tidak menolak rambut putih tumbuh di lubang hidungnya atau di tempat lain. Namun, Merlyn tidak ingin melihat uban di atas kepala Gunawan. Dia ingin uban itu berubah hitam atau ia akan kabur dari rumah bila Gunawan memaksa untuk mencabutinya. (*)

Minggu, 29 Mei 2011 by Forum Lingkar Pena

Cerpen Ayi Jufridar
Dimuat di Kompas, 29 Mei 2011

KETIKA kamu bercerita tentang apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadapmu, kita menangis bersama dalam sebuah kamar bermandikan cahaya. Hujan di luar telah mengembunkan kaca jendela sehingga membuatku ingin menggoreskan namaku dan namamu di permukaannya. Cahaya lampu kendaraan bergerak buram di bawah sana. Dari gerak cahaya yang lamban dan kadang berhenti, aku tahu kemacetan sedang terjadi. Hujan selalu menimbulkan kemacetan, tetapi air mata kita telah melegakan rongga dada. Dadaku dan dadamu. Dada kita tak jauh beda.

Lelaki itu kamu panggil Ayah John karena perbedaan usia membuatmu lebih sesuai menjadi anaknya. Dia adalah atasanmu di sebuah perusahaan farmasi. Dia memperlakukanmu seperti anak, meskipun sudah memiliki empat anak perempuan di rumahnya. Dia memanjakanmu dengan semua kelebihan yang dimilikinya. Menyewakan sebuah rumah buatmu dengan seorang pembantu dan seorang sopir, tapi dia selalu menjemputmu dari rumah ke kantor dan mengantarmu dari kantor ke rumah. Sopir hanya bekerja kalau Ayah John sedang ada tugas ke luar daerah, sehingga dengan waktu yang demikian panjang, sopir menyambi kerja sebagai tukang ojek.

Kalau ada tanggal merah terutama di akhir pekan, dia mengajakmu berlibur ke Bali, Yogya, Lombok dan beberapa derah lainnya di dalam negeri. Keluar, kalian hanya mengunjungi Singapura, Malaysia dan Thailand karena waktu yang sempit. Namun ayah berjanji akan membawamu ke sebuah nergara di Eropa nanti. “Aku harus menabung untuk itu. Yakinlah apa pun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia,” kata Ayah John kepadamu dan aku mendengarkannya dari bibirmu.

Kamu pun bahagia setidaknya sampai saat itu. Ayah John memberikan semua yang tidak kamu dapatkan di rumah. Sebagai balasannya kamu memberikan semua yang kamu miliki termasuk kehormatanmu. “Ayah John akan menjadi suamiku. Aku tak peduli jadi istri kedua, itu hanya masalah angka. Aku ingin memiliki anak dari Ayah John.”

Di luar rumah dia memperlakukan kamu seperti anaknya sendiri. Di dalam rumah ia memperlakukan kamu seperti istrinya sendiri. Akhirnya kamu hamil sebelum Ayah John sempat menikahimu. Untuk menenangkan kamu dia berjanji segera menikahimu setelah kesibukannya di kantor selesai. Kamu yakin itu benar adanya sampai kemudian kamu menemukan beberapa tablet kecil obat peluruh kandungan dalam mobilnya. Ketika kamu tanyakan, Ayah John berdalih mobilnya dipakai teman dan obat itu milik temannya. Kamu tidak percaya dan kalian bertengkar hebat. Saat itulah Ayah John memukul perutmu. Pukulan untuk pertama kali tetapi dilakukan dalam beberapa kali. Dia tak berhenti meskipun kamu sudah menangis histeris. Semakin kencang tangisanmu, semakin keras pukulannya.

“Aku tidak tahu apakah itu pukulan seorang ayah terhadap anaknya atau pukulan suami terhadap istrinya. Tapi aku tidak percaya Ayah John melakukan itu.”

Ketika memeriksakan diri ke dokter kandungan, kamu baru menyadari kandunganmu sudah hancur. Ternyata kamu sudah meminum banyak obat peluruh kandungan yang dilarutkan Ayah John dalam minuman kamu, jauh sebelum kamu menemukan sisa obat itu dalam mobilnya. Dokter mengatakan kamu harus dikuret dan dia bertanya apakah kamu sudah menikah.

Kamu mengangguk di tengah kegalauan yang melanda.

“Saya akan memberi rekomendasi untuk dikuret,” kata dokter itu.

Kamu pulang bukan saja dengan kandungan yang hancur, tetapi juga hati yang lebur. Pupus sudah impianmu untuk memiliki anak dari Ayah John. Isi rahimmu dikosongkan sekosong hatimu. Lalu Ayah John pun pergi darimu tanpa pernah mengatakan apa pun. Rumah kontrakan tidak dibayar lagi, pembantu pulang kampung dan supir sepenuhnya bekerja sebagai tukang ojek karena mobil ditarik Ayah John. Bahkan kemudia kamu pun dikeluarkan dari tempatmu berkerja dengan alasan yang tidak kamu pahami dan tanpa pesangon. Ayah John tidak pernah menjawab panggilan teleponmu. Pesan-pesanmu tak pernah ditanggapinya. Semua kemanisan hidup berasama Ayah John berubah menjadi pahit, lebih pahit dari obat yang diam-diam dilarutkan Ayah John dalam minumanmu.

Dalam keputusasaan itu, kamu kembali ingat masih memiliki keluarga. Kamu kembali kepada keluarga hanya untuk membuat hatimu semakin hancur. Bapak dan ibu menerimamu kembali tetapi tidak mau turut campur dalam persoalanmu karena sudah mengingatkan jauh-jauh hari. Mereka bahkan tidak pernah mau mendengarkan penderitaanmu akibat perlakuan Ayah John karena menganggapmu sudah cukup dewasa menanggungnya sendiri.

Itu kata-kata yang pernah kamu ucapkan ketika kamu pergi dari rumah untuk hidup bersama Ayah John. “Ayah John bukan saja telah membunuh bayiku, tetapi juga membunuh jiwaku.”

Kamu mengucapkan itu dengan air mata yang mengalir di pipi sambil menatap air hujan mengalir di permukaan kaca. Aku memelukmu dari belakang dan mencium pipimu penuh perasaan. Air mata kita menyatu seperti tubuh kita dan seperti perasaan kita. Ketika penyatuan itu terjadi, bahkan diriku dan dirimu tak bisa membedakan mana air mataku dan mana air matamu. Keduanya mengalir di pipiku dan di pipimu menjadi air mata kita.

***

Ketika kamu bercerita tentang apa yang kamu lakukan terhadap lelaki itu, aku menangis sendiri di dalam kamar yang minim cahaya. Tidak ada hujan di luar sana, tidak ada kemacetan, dan tidak ada kamu di sini. Hanya ada aku, hati yang patah, dan air mata.

Dua tahun kalian menjalin hubungan, jauh lebih lama dibandingkan denganku yang baru dua bulan. Dua tahun bukanlah perjalanan cinta terlama yang pernah kamu lewati. Kamu pernah melewati masa tujuh tahun penuh cinta, tapi dua tahun itulah yang paling berkesan sepanjang hidupmu.

Di kamar sama, kita mulai percakapan soal masa lalumu, masa laluku, serta masa depan kita. Kamu tidak bisa datang malam ini karena “ingin mengunjungi saudara yang sakit”. Aku menelepon sabelum kamu berangkat. Kita bercerita tentang aroma dan lagu, dua hal yang bisa membangkitkan memori kita kepada masa lalu. Aroma dan lagu mengundang kenangan, kita bersepakat soal itu.

Aku pun menyemprotkan aroma lemon yang lembut ke seluruh tubuh agar bisa mengingatkanmu sampai di dalam tidur. Aku ingat aroma tubuhmu saat kita menangis bersama dan kuyakin itulah kenikmatan terbesar dalam hidupku. Kejadian itu lebih kuat terpatri bahkan bila dibandingkan dengan desahan kita di kamar mandi.

Setelah mengucapkan janji untuk tetap mencintaiku, suaramu lenyap dari telinga tetapi tetap melekat di hatiku. Aku tidak pernah menyangka itulah kata cinta terakhir yang kudengar darimu. Malam itu aku membawa kerinduanku ke keramaian, berharap lelah datang dan pulang dengan kantuk yang mengundangmu lebih cepat dalam impianku.

Sampai hari berganti dan kamu tak hadir dalam mimpiku, kabar darimu belum juga datang. Aku harus menghubungimu karena didorong rasa rindu yang tak tertahankan. Panggilan pertama sampai panggilan yang tidak dapat kuingat tak juga mendapat tanggapan dari kamu. Aku mengirim pesan dan tidak mendapatkan jawaban. Haruskah kudatangi rumahmu untuk mengetahui apa yang terjadi?

Kamu pernah mengundangku ke rumah dan memperkenalkanku kepada orang tuamu dan ketiga adik lelakimu. Kamu anak perempuan satu-satunya dan sebagi anak sulung orangtuamu mengharapkan kamu bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adik. Kamu diharapkan menjadi tulang punggung keluarga bukan tumpuan tulang selangka Ayah John. Itulah kedatanganku yang pertama sekaligus yang terakhir. Kamu melarangku datang lagi karena kedua orang tuamu tidak merestui hubungan kita. “Bagaimana mereka bisa tahu hubungan kita? Kamu menceritakannya? Bukankan kita sudah sepakat akan merahasiakannya sampai mereka dan dunia tahu dengan sendirinya?”

“Aku masih ingat dengan kesepakatan itu. Tapi aku tak ingin mereka tahu lebih cepat.”

“Mereka takkan tahu kalau kamu tidak menceritakannya. Keluargamu mengira kita hanya sahabat. Dunia juga mengira kita sepasang sahabat.”

“Aku bisa membohongi perasaanku dengan kata-kata, tapi tidak dengan mataku.”

Aku menyukai kekhawatiranmu itu dan percaya memang karena itulah kamu melarangku ke rumahmu lagi. Kalau sekarang aku nekat ke rumahmu untuk mengetahu apa yang terjadi apakah kamu akan marah?

Panggilan kamu datang ketika aku berada dalam kebimbangan. Aku menyambut suaramu dengan gembira, tetapi kemudian kamu membawa kabar duka. Ayah John kena stroke. Ketika aku mendengar itu pertama kali aku malah menduga itulah kabar gembira yang sesungguhnya. Kemudian kamu mengatakan dengan jujur selama ini kamu berada di rumah sakit untuk merawat Ayah John.

“Mengapa harus kamu? Bukankah sudah ada keluargnya?”

“Ayah John yang mengharapkan aku datang. Kami merawatnya bersama.”

“Kami?”

“Aku, istri Ayah John, dan keempat anaknya.”

Aku masih belum dapat memahami. Bahkan setelah kamu menjelaskan panjang lebar kalian (kamu, Ayah John, istrinya dan anak-anaknya) sudah berdamai dan sepakat melangsungkan pernikahanmu dengan Ayah John. Itu janji yang akan dipenuhi setelah Ayah John benar-benar sembuh.

“Ayah John pernah mengucapkan janji yang sama dulu. Tapi dia mengingkarinya….”

“Beda, sekarang janji di depan keluarganya sendiri dan semuanya menerima. Kami sekarang seperti sebuah keluarga.”

Kamu percaya dengan janji dan perubahan yang cepat sehingga suaramu terdengar sangat bahagia ketika mengucapkan itu. Kamu tidak peduli dengan hatiku yang terluka sehingga dengan enteng mengatakan hal itu seperti mengabarkan sebuah berita ada film bagus yang main malam ini.

“Kenapa?” aku mulai tidak mampu mengendalikan emosi setelah sekian lama terdiam, “mengapa kamu lakukan ini kepadaku?”

“Maaf, Sayang. Aku tahu ini membuatmu sakit. Tapi aku harus mengatakannya. Aku menginginkan seorang anak dari rahimku sendiri.”

Kita pernah sepakat mengadopsi beberapa anak saat kita hidup bersama. Masihkah kamu ingat dengan semua itu?

Suaramu lalu lenyap dari telingaku dan luka hatiku semakin menganga. Aku tidak percaya kamu melakukan semua ini kepadaku, apa pun alasannya. Kamu membunuh jiwaku dengan membuka kembali cinta lama yang ingin kamu kubur di dasar hatimu paling dalam. Jiwaku baru saja mati tetapi jiwamu baru hidup kembali.

Malam mulai beranjak tua tapi aku masih duduk di tepian ranjang sambil terus menangis. Aku ingin kamu berada di sini dan kita menangis bersama sampai air mata kita menyatu seperti dulu. (*)

Senin, 22 Maret 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin

Dimuat di Surabaya Post, Sabtu, 6 Maret 2010








”Ambil semua pakaian, kalau sudah kunci pintunya,” lelaki itu mengucapkan kalimat baru saja dengan nada layu tanpa menatap biji mata perempuan yang disuruhnya.

Perempuan perang masuk ke kamar tidak tergopoh. Membuka almari kayu mereka. Pakaian tidak banyak sekali. Namun cukup kerepotan apabila dibawa seluruh. Maka disaring seperlunya saja.

Masing-masing empat pasang pakaiannya dan milik suaminya. Serta beberapa pasang pakaian dalam. Ke semua itu dibungkus dalam ija krong (kain sarung) kotak-kotak merah.

Barangkali bila kondisi telah kondusif, kelak mereka kembali.

Lalu Perempuan perang menangkap langkah-langkah ketakutan di luar. Pasti kaki itu bergerak sangat tergesa. Seolah harimau di belakang tengah mengintai dengan liur menerkam.

Sempat diambil tas pandan yang dahulu dianyam susah, yang tersembul di bawah pakaian. Dimasukkan lipstik, bedak rodeka, trika (bedak deodorant). Yang ke semua kosmetik murahan itu dibelinya di hari peukan ( Hari pasar ramai-ramai.)

Di luar, lari-lari ketakutan semakin jelas terasa. Kata ”bagah dan bagah” (cepat dan cepat) terlontar-lontar. Mulut anak kecil, entah paham sebuah ketakutan, kontan menangis.

”Lama sekali, nanti ketinggalan jauh dengan orang gampong,”

Perempuan perang melongok ke ruang tamu. Asap rokok suaminya tidak sabaran mengepul-ngepul. Lagi-lagi ia mendengar suara suaminya seperti pisau berkarat. Dingin tidak mendesak.

Bukan tidak ingin menyakiti. Tapi menurut mata batin perempuan perang, begitu itu malah lebih perih.

Angin malam memaksa masuk lewat rongga jendela yang tidak disekat apa-apa. Menyapu bibir gelisah perempuan perang. Seiring itu nyamuk berdesing-desing.

Lantas ia buang nafas dengan resahnya. Ia memilih menyentuhkan badan bawahnya ke kasur yang tidak berseprei. Bola mata mengamati nur lampu teplok yang melekat di triplek kamar mereka.

Takutkah perempuan perang dengan suara tapak kaki cemas di luar sana?

Tidak sekali-sekali. Perempuan itu, lebih ketakutan dengan suara dingin tak mendesak suaminya. Dengan suara lelaki itu yang tak menyapanya ’dik’ lagi sekarang.

Ketika mendadak beralih ke perutnya yang mulai buncit, cahaya mata perempuan perang tak berkedip. Antara sejenak ia menghela-hela sarat kesal.

”Cepatlah... Gampong sudah senyap ini.”

Lima hari lalu selentingan ia tangkap kabar jikalau gampong (kampung) mereka disilang merah tentara pemerintah. Banyak kaum pemberontak hilir-mudik di kampung mereka.

Tentu saja perempuan perang tahu siapa-siapa saja tokoh yang ingin memisahkan diri dari kesatuan negara. Bang Saballah, Bang Him dan beberapa pemuda turut serta.

Seperti lazim orang kampung, perempuan perang akan menjawab tidak tahu meski didesak aparat. Bukan musabab mendukung pemberontak itu. Tapi entahlah. Sepertinya menggeleng atau kata ”tidak tahu” adalah jawaban tepat nan bijaksana.

Dan malam ini selentingan itu jadi kenyataan. Akibat itu gampong harus disenyapkan dari penduduk. Andai tidak, Malaikat Izrail akan leluasa memangkas nafas tentu saja.

Dua belas menit kemudian---Setelah sebelumnya sempat mencium kembang jeumpa di sumur tanah samping rumah—kembang jeumpa yang begitu disukainya, perempuan perang bersama suaminya sudah di jalanan rumput lengang. Tepi kiri-kanan lung (kali kecil) disibak-sibak air musabab angin.

Angin menggigil hingga berasa es sampai di bawah ketiak perempuan perang sekalipun. Perempuan itu, memeluk buntelan pakaian demi segelintir hangat. Harusnya suaminya, melingkarkan lengan kekarnya ke bahu perempuan perang.

Tetapi tidaklah hal demikian terjadi. Bungkus pakaian saja dibiarkan dibawa istrinya yang sedang mengandung. Lelaki itu berjalan dua meter di depan perempuan perang. Sekalipun tidak menoleh ke belakang.

Perempuan perang memaksa sama cepat dengan gerak Hasan. Lekas sekali dikaitkan tangan dinginnya ke badan pria itu. Secepat peluk itu terjadi. Secepat itu pula peluk itu rubuh.

”Bang Hasan tidak mencintai adik lagi.”

Lelaki itu seperti biasa jika dihadapkan pertanyaan itu, akan bertindak seperti manusia malang yang sama sekali tidak dianugerahi suara oleh Tuhan.

Bisu. Dan tetap bisu.

”Mengapa Bang Hasan tidak ceraikan adik saja?”

Perempuan perang memilih memendekkan langkah. Membiarkan suaminya itu seperti dalam posisi pula. Berjarak meter darinya.

Kedinginan telah meleleh.

***

Perempuan perang pernah meminta cerai dua bulan silam. Tapi kuping Hasan seperti tidak pernah disinggahi pinta itu. Diam dan diam. Sehingga perempuan itu akhirnya menginsafi bahwa pinta itu tidak lulus.

Suatu sore, perempuan perang begitu melihat Hasan di hujung jalan yang juju ke rumah mereka, sengaja meremas jemari tangan Mahdi—bujang tiga puluh tahun yang belum juga menikah.

Tidak dilepas sampai ia yakin benar bahwa Hasan melihat perbuatan itu. Tapi lelaki itu tidak dengan jantan mendorong tubuh Mahdi hingga terpelanting ke ruangan jalanan. Sekedar melotot ke arahnya pun tidak.

Perempuan perang tahu, Hasan, lelaki yang menjadi suaminya itu tidak memiliki cinta lagi untuk dirinya. Dan ia tahu sekali apa biang dari segala itu. Tahu sekali perempuan perang.

Kehamilannya.

Janin yang kini tengah tumbuh berkembang di dalam perut perempuan itu.

Padahal sudah ia tempuh aneka kata untuk menjelaskan. Bahwa hamil itu bukan atas hendaknya.

Dan memang Hasan seolah mengerti. Tidak mengintrogasi macam-macam. Akan tetapi tidak lagi ada hubungan badan di malam-malam berhujan. Lelaki itu malam lebih memilih rebah di ruang sebelah kamar mereka yang kondisinya tidak lebih baik dari gudang.

Bahkan yang menyakitkan sekedar menatap hangat saja tiada lagi.

Tinggal perempuan perang yang kesepian. Kesepian jasad. Kesepian hati. Kesepian yang mencekam. Kesepian yang sebetulnya teramat ditakutinya.

***

Rupanya kedatangan mereka sudah ditunggu layak artis ibukota Desy Ratnasari yang dinanti para penggemarnya. Ramai berkumpul semua orang kampung di rumah Geuchik Harun (Kepala Desa Harun). Nama mereka didengung-dengung. Para perempuan menatap kasihan ke ceruk mata perempuan perang.

”Kita jangan ambil jalan besar.” Ucap Geuchik Harun.

Dan perjalanan malam dimulai. Meninggalkan kampung halaman. Hanya bintang beberapa yang menjadi benderang jalanan. Sebatas suluh api saja tidak boleh ada. Sebab pergi mereka, seperti maling yang mengendap-ngendap.

Jalanan tikus yang mereka lewati betul-betul gulita. Kiri-kanan adalah kebun kosong yang tumbuh liar semak belukar. Antara sebentar salak anjing dan salak lainnya di nun jauh. Tapak kaki ditahan sebisa mungkin agar tidak lahir bunyi besar. Sekali dua kali mereka harus melompat kecil sebab badan jalan telah ditiduri batang pohon lapuk..

Perempuan perang bersama para perempuan di baris tengah. Anak kecil seperti tidak ada di dalam barisan itu. Di baris depan dan belakang lelaki yang dibagi separuh-separuh.

Perjalanan masih panjang. Kata Geuchik, mereka akan ke Mesjid Kota Geudong. Dua puluh kilo berjarak dari kampung. Di tempat sana, mereka akan berkumpul dengan pengungsi dari kampung yang juga disilang merah aparat pemerintah.

Sambil kaki mengayun, pikir perempuan perang singgah ke bayangan hubungan badan bersama Hasan silam. Indah sekali. Dan jujur, perempuan itu merindui bisa melakukan kembali bersama Hasan.

Lalu tak dapat dicegah pikiran perempuan perang lari ke hari lain. Suatu senja berangin kencang. Ia tengah di beranda menampi beras. Letup-letup senjata. Merunduk di tanah. Ketika badan menegak kembali, ia laksana melihat hantu mengerikan di ambang pagar bambu rumahnya.

Lima pria bersenjata besar.

Diawali dengan introgasi tak masuk akal. Ini-itu yang kali ini benar tidak diketahui jawabannya. Satu pria kurang ajar terkekeh menatapnya. Kemudian diseret paksa ke kamar. Secara bergiliran satu persatu pria bersenjata itu masuk.

Cepat sekali jalan pikiran perempuan perang melintas-lintas. Baru ia terhentak ketika perempuan tua di samping mencolek pinggangnya. Dengan telunjuk bergetar mengacu ke hutan belukar yang samar kelihatan bergoyang-goyang .

”Mau kemana kalian? Kalian pemberontak ya?!

Bukan perkara sulit untuk mengetahui tubuh siapa di dalam hutan. Senter-senter besar bersinar bulan. Tubuh-tubuh tinggi telah berdiri congkak. Dengan sinar senter di arahkan ke mata rombongan silang bergnti.

Jawab Geuchik Harun dihadiahkan bentakan berikutnya. Beberapa lelaki terbata mencoba menguraikan siapa mereka, hendak ke mana tujuan, juga mendapat laku sama.

Keluarlah perempuan perang dari baris tengah. Telinga itu menangkap gumam ucap, ”ka matee geutanyoe... Ka matee geutanyoe (Sudah mati kita... Sudah mati kita.)” acap sekali dari mulut perempuan ketakutan.

Ia melewati beberapa lelaki tua yang meurateb (berzikir). Jelas perempuan itu menyimak badan Bang Saballah bergetar di balik seorang pria senja. Ketika berpasan dengan Hasan, ia melebarkan bibir. Lalu dengan berani bertatapan dengan laki bersuara bentak.

”Kalian boleh pergi. Asal perempuan ini tinggal bersama kami.”

Suara bisik-bisik dari mulut-mulut. Sementara semua mata beradu ke mata Hasan, bibir basah perempuan perang segaja melirik bergiliran ke mata pria-pria bersenjata itu. Melihat itu, nyaris meruah isi di dalam perut Hasan.

”Kalau tidak...”

Dua tangan pria tegap kembali mengokang-ngokang badan bedil.

Namun dalam batin perempuan perang gemuruh. Gelisah menanti apa jawaban suaminya Hasan.

Ingin sekali ia jikalau lelaki itu beringsut ke depan dengan muka merah padam. Menarik lengannya. Bila perlu memaki para pria bersenjata sebab telah meminta hal kurang ajar.

Bukan masalah setelah itu kokang senjata ditarik membabi-buta. Peluru timah menembus satu persatu tempurung kepala mereka.

Itu lebih baik menurutnya.

Kepala Hasan mengangguk. Perempuan perang menutup kecewa dengan sebuah sandiwara-- Tertawa besar hingga dada itu berayun-ayun. Tawa yang gatal akan sentuhan.

Hasan memilih memandangi langit.

Satu persatu dari rombongan hilang di tikungan gelap. Di antara mereka sempat menatap perempuan perang dengan perasaan yang susah ditafsirkan. Terakhir Hasan yang berpaling muka dengan menghembus napas.

Bersama perempuan perang enam lelaki menenggak air liur. Sedang Nurmala seperti kuntilanak di televisi, cekikikan mendayu-dayu. Tidak lama. Lalu mata perempuan itu hangat. Air mengalir dalam pekat.

Selasa, 16 Maret 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Serambi Indonesia, 14 maret 2010

SILAM, buah pikiranku selalu ingati Ibu berwejang:

‘Jika rindu, gambar Ayah di pasir pesisir.. Biar rindu itulah berkelana...’

Pada mula aku geleng kepala. Kuajuk Ibu bohong demiku tiada terus rengek. Sehari di laut, aku tahu Ibu tak diciptakan Tuhan demi bohong. Kubawa Dek Nong serta. Di rumah, Dek Nong tak reda rusak kerja Ibu. Aku pikir, Ayahku di suatu tempat dan belum ingin pulang. Tapi Dek Nong kata, Ayah sudah di surga. Adik itu menangis.

Pada suatu matahari petang, kawan-kawan serta gambar Ayah. Kutahan tangis sambil hapus gambar-gambar itu. Itu Ayahku!

Tapi Ibu kata,”Biar saja...Biar saja Agam.”

Lalu aku tak pernah menangis lagi bila teman-teman melukis Ayah.

Kini aku belasan usia, Masyik sudah lelah suruhku ke sikula. Di sikula aku tidak boleh gambar-gambar. Aku telah jadi anak laot.

Pertama gambar Ayah. Ombak datang tiga kali ke daratan, Ayah sudah hidup di pasir.

Aku rindu Ibu. Tapi menggambar Ibu dengan pakai telekung buatku goyang-goyangkan kepala. Kemudian Dek Nong. Rambut adik itu kriwil-kriwil. Aku ingat-ingat senyum Dek Nong dan mulai menggambar.

Lepas itu, aku duduk di sela gambar. Berkisah dengan Ayah, Ibu, Dek Nong. Aku tertawa. Aku berlari ke dalam laut yang punya banyak ombak. Teman-temanku masih menggambar. Lukis mereka adalah Ayah, Mak dan adik-adik.

Cut Mala lukis Ayah, Ibu dan adik bayi. Kasyi melukis Ayah dan adik. Mita lukis paling banyak gambar, Ayah, Ibu, dua kakak perempuan, satu adik laki-laki. Putra hanya melukis Ayah saja.

Kemudian teman-teman susulku ke dalam laut. Kami berdiri ramai dan tantang matahari. Cut Mala berteriak, laut kembalikan Ibuku...Ombak memburu kami seperti bengis. Kami tergulung. Dalam ombak aku menangis.


Oktober akhir Setelah semua selesai.
Rabu, 02 Desember 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Suara Karya 28/11/2009



Perempuan itu Keumala. Perempuan berbola mata biru dipadu-padan otak yang mampu menjawab segala hal rasa-serasanya. Dua modal yang membuat Keumala, seperti kristal bening yang mengeluarkan denting-denting halus. Keumala ratu di taman kembang. Ini hari terakhir wanita itu duduk di teras depan rumahnya-menanti kekasih. Besok tak akan lagi.

Yang memiliki harum menyegarkan terik siang. Usia belia, ikut memperdalam jikalau kembang itu punya magnet lain selain wajah ayu. Kumbang-kumbang gesit berterbangan di seputaran Keumala. Mengeluarkan harum-haruman.
Berharap Keumala akan terperangkap. Lantas mereka sehati dalam perahu bahagia.

Tapi Keumala bukan kembang yang mau manusia-manusia buruk akan memetik tubuhnya. Kemudian membiarkan layu di pinggiran kehidupan.

Maka perempuan itu, ketat menjaga keindahan mahkota. Duri-duri menancap bila ada kumbang yang ingin merampas makota itu. Apalagi secara paksa.
Ia berhati-hati. Lihai memilih. Di kumbang mana jangkar hati harus luruh.
Sebab kecewa itu beranak-sungai air mata. Hati sakit belum pernah ditemukan penawar sekalipun oleh pakar paling ahli.
"Kerja di mana?" tanya perempuan itu pada pemuda bermuka murung.
"Saya mengajar di SMP..."

Uh, Keumala menggeleng cepat. Kaki-kaki jenjangnya dihentak-hentak ke lantai. Kemudian berderet-deret repetan sepanjang jalanan semut.

Wajah pemuda murung makinlah masam. Lantas raib dari pandang Keumala. Menikung di jalanan panjang.
Kumbang lain bersorak riang.

Wajah-wajah memancarkkan cahaya bahagia. Sebab Keumala masih bisa direbuti. Kembali segala aroma menyengat disemprotkan. Harum budi luhur dipamerkan besar-besar. Demi tujuan jebakan.

Keumala di langit ke tujuh. Cekakan kadang lepas bila ia tengah sendiri di kamar. Kadang saja sebatas ringis kepuasan.
"Aku cantik. Aku penguasa lelaki." Begitu dan itu gumamannya.

Kumbang-kumbang tak pernah ia dengar mengeluarkan protes. Bahkan bermuka keberatan saja sekalipun tiada. Dengan sikap jual mahalnya tentu saja. Barangkali satu kesadaran telah tumbuh mengakar bahwa demi mendapat Keumala, pengorbanan curam terbentang.
Dan pun, Keumala kian saja lincah membaluti tubuhnya dengan wangi pesona.
Menjadikan pe-para kumbang serasa rela mati agar bisa mengecup madu sang kumbang.

Tapi hati Keumala belum jatuh. Dinding hati kokoh menjulang. Meski peluru rayuan bergodam-godam nyaris tiada reda. Semuanya tiada menggoda.

Seorang pemuda agak menarik di mata Keumala sebenarnya. Laki-laki bertubuh tegap dengan lesung pipi hangat. Pemuda itu pun berhasrat tulus untuk 'menseriusi' hubungan. Hati Keumala akan berwujud air mengalir.
Seolah kumbang itu lah penakluk seorang Keumala.

Namun pemuda itu tiba-tiba tak pernah datang lagi. Seolah raksasa maha besar telah melumat tubuh itu sehingga tak tersisa biar tulang-belulang sekalipun.

Keumala dalam hati sempat menunggu dan menanti. Dulu ia congkak tidak mau menyimpan nomor handphone sang pemuda. Harus si pemuda itu yang menghubungi dirinya! Keumala tidak berai air mata. Terlalu aneh rasanya seorang Keumala menangisi seorang pemuda yang tak kembali.

Sementara di ambang mata berjejer ratusan pemuda yang berhasrat memilikinya. Tinggal tunjuk, pemuda mana pun tergopoh.

Detik-detik berdetak dan pergi. Hari-hari panjang mengelupas juga seperti cat di rumah tua yang bersisik. Musim air hujan dari langit muncul dengan ritual tarian eksotis. Keumala masih Keumala sama. Belum memilih.

Kalaupun ada yang bertukar, mungkin paras itu kian meneteskan liur kumbang. Wajar, usia Keumala tepat di angka dua lima. Bukankah puncak kecantikan seorang wanita bernaung di bilangan itu?

* * *

Hari itu dua pemuda bertandang ke rumah Keumala di waktu yang hampir bersamaan. Bak ingin melamar pekerjaan, pakaian mereka rapi-jeli. Berdasi. Keumala terkekeh ria. Magnetnya masih berjalan sempurna.

Dengan pemuda pertama introgasi berlangsung kilat. Gajinya hanya dua juta perbulan. Pemuda kedua masuk gagah, tapi keluar dengan mata layu.

Keumala masih larut dalam mutiara pujaan penggemar-penggemarnya. Satu kumbang boleh kecewa atas sikapnya. Dan milih mundur dari persaingan.

Akan tetapi di belakang itu, puluhan- ratusan kumbang lain menghampiri. Jujur, sempat terbesit was-was. Apalagi usianya tak lagi belia.

Nyaris masuk di angka tiga. Dia mulai disergap takut kalau-kalau sebab sifat memilih yang berlebih, tak akan ada kumbang lagi yang mendekatin. Seumur-umur jadi perawan tua!

Namun khawatir Keumala tiada bukti. Di usia yang nyaris genap tiga puluh tahun. Kecantikannya masih mampu menangkap kumbang- kumbang. Walaupun tetap kata sama keluar.

Tepat di genap tiga puluh tahun, penantian kumbang-kumbang pengagum Keumala akhirnya terputus. Jangkar hati tlah turun di salah satu kumbang.

Adrian, kumbang itu berhasil meremukkan kekokohan dinding hati perempuan itu. Keumala tak mafmun. Mendadak saja rasa yang tak pernah dimiliki sebelumnya terkonstelasi bagai batu bata yang disusun.

Tinggi dan semakin tinggi. Kokoh dan kuat. Sepertinya badai saja tak kuasa mengapung perasaan itu.

Tubuh itu seolah menggelepar-gelepar laksana seekor ikan yang akan kehabisan oksigen. Maka angguk penuh tatkala Adrian mengucapkan lamaran.
Di mata Keumala, Adrian-lah yang lama tlah dinanti.

Tapi bahagia puncak belum bisa bermain-main di awan-awan perkawinan. Sekali ini, Keumala meleleh air mata. Pria itu harus melanjutkan studi keluar negeri.Empat tahun.
Adrian tergagap melihat pemandangan memilukan.

Adukan bingung melayang. Bujuk cepat dibungkus dalam bingkai-bingkai nian elok. Dan bahu Keumala tak lagi berguncang-guncang.

Ia menyeka air matanya. Meski lantun isak sekali-dua kali belum raib. Keumala menganggukan kepala. Keumala telah dilanda mabuk kepayang.Sebelum berangkat ke negeri seberang, Ardian menyebutkan tanggal sekian, bulan sekian, dan tahun sekian ia akan kembali.
Keumala mencatat angka bersejarah itu di buku hariannya.

Akhirnya Ardian pergi dengan bola air Keumala. Setelah berjanji akan berkomunikasi lewat HP dan email. Betul saja, Ardian pergi.
Dan Keumala mulai menanti hingga empat tahun.

Tapi Ardian ingkar janji. Seminggu setelah kepergian, Keumala menunggu telpon dari pria itu. Sampai sebulan tak juga telponnya berdering. Ia ingin menghubungi Ardian. Sia belaka. Jarak jauh telah membuat nomor itu tak bisa dihubungi.
Lantas Keumala mulai mengirim email cinta.
Setahun tak juga dibalas sekalipun. Hati Keumala dilanda cemas. Sering kali ia meleleh air mata.
Kumbang satu-satu masih berusaha menggoda. Tapi hati Keumala telah keras batu untuk pria selain Ardian.

* * *

Bunga kamboja di lahan pemakaman luruh dan tumbuh selang ganti.
Bunga-bunga itu menumpuk jalan kecil sehingga pembesuk agak kepayahan mengarah ke nisan yang diingin.

Beberapa saat lalu petugas lahan itu telah pergi ke langit sehingga tanah itu kehilangan bersih.Empat tahun meski bergerak selaksa siput datang juga.

Hari ini sesuai janji, Adrian akan kembali. Berulang kali Keumala mencocokkan angka di buku hariannya dengan angka kalender.

Langkah-langkah kijang di dada Keumala. Semalam suntuk tak bisa dipejam mata. Menyambut sang kekasih hati sengaja dikenakan gaun sutra biru yang jauh hari telah disetrika rapi. Perempuan itu tak ubah laksana bidadari.

Tapi hari itu adalah hari berkabung. Keumala melihat gagak hitam berkotek ribut di bumbungan rumahnya.
Ardian tak kunjung datang. Padahal sudah seharian penungguan itu merayap.

Besok hari perempuan itu, Keumala, masih dalam penantian. Menghibur pikirannya dengan ragam mungkin. Mungkin ada gangguan di airport. Mungkin Ardian sengaja membuat hatinya bertalu menunggu. Mungkin...Mungkin....
Seminggu.
Dua minggu. Sebulan. Berbulan-bulan. Roda waktu telah berputar-putar demikian hebat. Tahun-tahun berkeringat. Kamboja di tanah kuburan telah kembali sampai pada kala berbunga semarak.

Keumala masih gelisah menanti. Ardian tak kunjung hadir. Ditampik ulur tangan kumbang liar yang ingin menghibur. Hati Keumala tak mampu pindah ke lain hati.Keumala menunggu. Sampai Ardian kembali..

* * *

Keumala menarik napas panjang sekali. Napas itu napas kesusahan. Mata itu layu menatap surat biru yang tergeletak di meja depannya. Surat yang tiga jam lalu diantar bapak pos ke rumahnya.
Maaf, aku betul-betul lupa bahwa aku pernah berjanji untuk menikahi kamu.

Maaf aku lupa sekali, bahkan teringat nama mu saja, baru beberapa hari yang lalu. Saat itu aku iseng-iseng mengorek buku-buku lamaku, dan kebetulan aku menemukan kembali diary lamaku.

Tertera namaku di sana lengkap dengan janji kita.
Maaf ya, sekali lagi aku minta maaf. Tapi aku yakin, sekarang kamu sudah menjadi seorang nenek. Berapa cucumu? Siapa lelaki yang beruntung mendapatkan dirimu? Pasti laki-laki itu teramat senang ya? Oh ya, cucuku sudah dua belas lho! Enak ya jadi kakek? Jangan lupa dibalas ya.


Tertanda

Adrian

Keumala bangun dari duduk panjangnya. Lalu kaki itu melangkah ke dalam rumah senyap. Sebuah Penantian telah berakhir. Kekasihnya tak kembali. ***
Senin, 16 November 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Suara Pembaruan 05/07/2009kali



Mengapa tak saja angin pantai yang membunuh? Mengapa tiada juga petir kesepian yang menarik lembaran-lembaran nyawa?

Mengapa musti air yang menjadi makhluk Malaikat Maut Izrail?

Aku sukai air. Air seumpama bayi bidadari yang tengah mengikat mimpi di jendela-jendela langit. Berkulit mengesankan. Miliki harum kasturi menghanyutkan.

Aku sukai air. Kemudian air mencurah dari atap-atap langit. Melalui atap-atap rumbia berenang-renang di tanah daratan. Bernyanyi-nyanyi di tanah sawah bersama bocah-bocah petani.

***

Aku idam sekali rumah kayu yang punyai pilar-pilar gagah. Dinding-dinding rumah penuh dengan tulisan kaligrafi mengesankan. Rumah itu rumah idaman untuk orang-orang yang tergila-gila akan kenangan pahlawan bangsa.

Memasak di rumah dapur1. dua jendela--hanya cukup untuk mengisi setengah badan di sisi barat dan sisi timur. Jendela-jendela itu akan beri sinar matahari untuk rumah. Menyimpan dan mengambil padi di lumbung padi.

Anak-anak akan riuh bermain kelereng di bawah rumah. Sebagian mempermainkan jingki penumbuk padi yang sebenarnya tidak boleh dimain-mainkan. Sebagian berputar-putar di pilar-pilar kokoh rumah. Sisanya mungkin akan bergelayut di cabang-cabang delima demi dapati buah yang masak.

Rumoh Aceh. Rumah manyang (tinggi) Aceh. Begitulah namanya.

Tapi di mana kini?

Petang kemarin, Sakdiah datang ke rumah bantuan kami yang gersang. Segersang wajah mukaku. Matahari masih merdeka--meski petang. Sinarnya menyengat sebab tiada badan pohon menghalau cahaya itu agar kembali ke awan langit.

Tangan kiri Sakdiah menjinjing rantang yang mengeluarkan harum.

Berbinar sakdiah berkata,”Kuah pliek2 ini aku bikin sendiri. Tidak pedas biar kamu suka, Fauziah.”

Ia amati garis mukaku yang tidak bersemengat.

Mengapa masih hidup dengan kenangan buruk Fauziah?

Sakdiah, baru empat tahun, mengapa telah lupakan kenangan?

Ia menggulung-gulungku Sakdiah--Kamu juga kan? Aku dibawa ke samudera lepas. Ia mengkaramkan Mak, abi dan Dek Nong. Ia menyeret rumah manyang idaman kita.

“Ah, Fauziah..”

Hingga kapanpun aku tak tahu harus menjawab apa. Mengapa masih hidup dengan kenangan buruk, Fauziah?

Lupakan kenangan buruk fauziah. Empat tahun bukan waktu yang pelan untuk melupakan.

Sakdiah. Sakdiah. Ini saja yang kau ulang-ulang.

“Laki-laki pendamping hidup akan buat kau lupakan kenangan buruk, fauziah!”

Sakdiah pulang.

Laki-laki pendamping hidup? Seperti Mala yang berbahagia?

Hujan. Air dari langit mencurah. Mengapa aku tak sadar? Melengking aku memanggil masyik (nenek).

Masyik berjalan lahan-perlahan seolah tidak tengah mengalami hal parah di luar. “Hujan adalah anugerah Fauziah. Air hujan akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.”

“Hujan ini raya masyik,” aku berlari ke muka jendela. Aku menunjuk biji-biji hujan yang seperti terpeleset dari badan langit.

Hujan akan semakin raya masyik. Hujan ini akan lahirkan samudera. Lalu ombak besar akan datang. Menggulung-gulung kita.

Danau mataku telah banyak memenjarakan bintang.

Suara bahagia anak-anak lahir di jalanan. Anak-anak itu girang kejar-mengejar.

“Lihat mereka yang tergila-gila dengan hujan fauziah. Hujan-hujan ini tidak akan menggulung kita. Hujan ini adalah rahmat.”

“Suruh anak-anak itu pulang masyik! Sebentar lagi hujan ini akan memanggil gelombang besar..”

“Oiii.. Pulang cepat!!”

“Po (Ya) Allah rabbi, kapan derita ini aka

Aku sukai hujan. Dulu. Aku sukai laut. Dulu. Aku jatuh cinta dengan air sumur. Dulu. Aku tergila dengan jernihnya air sungai. Dulu. Diam-diam aku juga masih simpan ingin untuk mencebur badan ke kali? Dulu.

Dulu. Sebelum gelombang besar itu datang dan membuat karam.

***

Yang kau butuh cuma laki-laki pendamping hidup untuk lupakan kenangan buruk, fauziah.

Terkenang-kenang aku dengan ucapan Sakdiah.

Aku bergumam, laki-laki? Siapa dia gerangan?

Suara masyik merdu mengaji. Hujan petang telah pergi. Tapi sepertinya akan datang lagi--yang membuatku berjaga. Sebab angin begitu hilir-mudik di sekitar rumah kami.

Aku tidak boleh lengah. Air tak boleh kalahkan aku lagi!

Tapi malam larut telah kalahkan kekuatan mataku. Dan malam itu hujan kembali mencurah. Lebih deras dari hujan petang.

***

Dengan Manan, pria tampan itu, diam-diam aku simpan suka. Tak pernah berani aku sebarkan. Bahkan untuk Manan yang kusukai itu. Dulu. Sebelum gelombang besar itu datang dan membuat karam.

Ketika pagi ini, angin begitu sejuk menerpa badan, hati siapa yang tidak terkejut ketika temukan yang mengetuk-ngetuk pintu adalah Manan.

Aku merasa mukaku telah merah padam seketika.

Masyik tergopoh menyuruh Manan masuk. Aku temani Manan duduk di ruang depan sementara masyik akan membuat kopi. Diam begitu diam menguasai setiap jarak kami.

“Saya baru pulang dari kota semalam masyik,”

Baru ketika masyik telah menghidangkan kopi untuk Manan, diam itu telah pergi. Meski aku hanya menjadi pendengar yang budiman. Ketika masyik kembali harus pergi, diam kembali menjadi pembicaraan kami.

Kata Sakdiah muka wajahku tak terlalu layu lagi.

“Manan memegang tanganku Sakdiah,”

Wajah Sakdiah diliputi kaget. Kemudian ujarnya pelan,”betulkan kataku, laki-laki pendampiang akan buat kau lupakan kenangan buruk.”

Telunjuk sakdiah mengarah ke jalanan. Manan tersenyum di atas sepeda motornya.

Ia membawaku jalan-jalan dengan sepeda motornya. Entahlah, atau ini hanya sekedar perasaan sesaat, laki-laki pendamping akan buatku lupakan segala kenangan buruk.

Di antara deru sepeda motor Manan berkata,”aku ingin menikahimu Fauziah…”

Terpaksa kupeluk pinggang Manan agar tubuhku tak terjerambab.

***

Petang ini aneh, Manan mengikat mataku dengan kain hitam berukuran kecil. Katanya, ia akan bawa aku ke suatu tempat

Manan mengunjungiku setiap petang. Dengan kunjungan itu, petang-petangku menjadi bunga yang jatuh cinta dengan sang kumbang.

Kurasa betul kini, manna telah buatku lupa akan segala kenangan buruk. Kurasa kini, aku bisa lagi mencintai air hujan seperti dulu.

Tapi hujan sama sekali tak lagi tercurah.

Kemudian sepeda motor mulai menderu. Aku tidak tahu menahu ke mana akan dibawa Manan. Sudah kucoba membuka mata, tapi hanya gelap saja yang kudapati dibalik kain hitam itu.

Lama perjalanan gelap itu. Lama sekali sampai hatiku begitu tidak sabar ingin tahu. sampai Manan menghentikan laju sepeda motornya. Telingaku menangkap bunyi-bunyi yang menghempas-hempas. Di mana ini? Angin pun begitu kuat menampar-nampar. Di mana ini?

Manan membuka kain hitam yang menyiksa penglihatanku.

Kurasa mata laut lepas itu akan menerkamku! Kurasa nyawaku tengah ditarik si Malaikat Maut.

Ia menggulung-gulungku. Menghantam kepalaku. Menganyutkan aku hingga timbul-tenggelam. Aku dibawa ke samudera lepas. Ia mengkaramkan Mak, abi dan Dek Nong. Ia menyeret rumah manyang idaman.

“Fauziaahhh….” .***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Batam Pos 18/01/2009



Pagi rumah sakit terlalu riuh dengan korban kecelakaan. Satu korban sekarat, sisa meninggal di tempat terjadi. Satu pick up memelanting pohon tepi raya hingga terjungkang balik ke tebing dalam.
Di saat para dokter berteriak-teriak garang agar lekas memasukkan korban ke dalam ruang operasi sentara mengambil kesempatan penyelematan seonggok nyawa di hujung tanduk, ia malah tengah menyeduh kopi, menyeruput dalam asap-asap yang berkepul—dengan gumaman kenikmatan—ia sangat tergila-gila yang bernama kopi. Terus meneguk genap perasaan berselip obrolan masa depan dengan masyik.
(minggu tak jatah di rumah sakit. Minggu-senin senggang hari merenggang penat. Di rumah. Di tanah sawah. Bercengkrama dengan sesama gadis di bawah meunasah gampong. Terkadang mencari sesak di peukan ramai.)

Ia pun bersama masyik1 melaju ke tanah sawah setelah berkopi. Tanah sawah sedang menghampar keindahan nian elok. Padi menguning. Pipit berkoloni-koloni mengepak sayap. Pematang riuh suara pemilik menghalau mangsa-an burung-burung. Sentara burung-burung bergerombol itu, mencuri-curi enap dalam lebat batang-batang.

Dalam hati ia mengungkap takjub indah panorama. Ia terlarung ketentraman tiada rupa. Potong senyum untuk siapa saja yang kebetulan melewat atawa menyapa.

Rentang waktu sama, di ruang rumah sakit, hawa-hawa ketegangan membulir. Detik yang berdetak menebar jarum-jarum kematian. Tiga dokter dikawani dua suster mengelilingi satu korban tak sadar diri.

Hanya degap jantung pelan. Baju loreng-loreng mendarah pekat. Mulut menganga-kan deretan gigi yang telah rentas. Dua bola mata terkatup semi rapat. Di hujung bawah, dua anak kaki puntung.

Kepala dokter yang paling senior mengangguk sebagai sebuah tanda. Lantas pisau-pisau, gunting-gunting bermula menari-nari di atas satu tubuh. Tiada bicara. Hanya gerak tubuh sebagai penjelas apa yang diingin.

Berbilang jam, ketiga dokter keluar dengan tampang semrawut. Keringat menempel di kening. Bagian belakang kemeja sembab serua membentuk satu pulau. Ketiganya berpisah dalam lorong berbeda.

Dua suster membereskan perkakas operasi. Tiada bercakap. Ligat melakukan pekerjaan mereka. Sekali-kali melirik pasien yang persis patung dengan penjuru mata.

Di pasar ikan ia tengah menawar harga. Peluh meleleh sebab angin terhalang banyak tubuh di tempat itu. Ba’da itu mengarah ke pasar sayur-mayur. Kembali peluh meleleh. Dengan punggung tangan ia menyeka seala kadar.

Pulang menumpang satu RBT2 orang sekampung. Setengah perjalanan, tiba-tiba saja—entah mengapa, pikirannya terloncat.
(Umurnya dua lima sudah. Ia belum menikah. Jangankah itu, pikiran untuk itu saja sangat tidak acap.)

Setelah itu ia senyum-senyum sendiri.

Malam, seorang perempuan baya yang dipeluk satu pemuda tanggung sudah menangis raya begitu turun dari sebuah mini bus. Mata perempuan itu bengkak. Di mata pemuda tanggung air mata tinggal bekas.

Kata si sopir, inilah tempat juju mereka. Dua anak-beranak itu tergesa bergerak masuk.

(Mereka datang dari tanah jawa. Dengan pesawat baru tiba petang tadi di bandara Blang Bintang. Lalu menumpang mini bus L-300 bertujuan Lhokseumawe. Tujuan tepatnya, Rumah Sakit Umum Lhokseumawe.)

Di sepanjang halaman pedagang eceran menjajakan rokok, kacang goreng dan aqua gelas. Lampu berkerlap-kerlip sehingga kelihatan benderang nyaris seluruh bangunan putih itu.

Perempuan itu masih saja menangis raya. Maka mereka dikerubungi orang ramai musabab begitu menarik minat.

Putra perempuan itu bercerita dengan suara tersendat-sendat. Dengan menyeka air mata yang mendadak saja berinai kembali.
: Ayah saya seorang tentara yang ditugaskan di Aceh. Tadi pagi, kami mendapat kabar duka, mobil yang ditumpangi ayah saya masuk ke jurang. Dan dari informasi yang dapat, kondisi ayah saya kritis. Kami pun memutuskan untuk segera ke sini!

(Rupanya dua anak-beranak itu adalah istri dan anak dari laki-laki yang dioperasi hari tadi.)

Seorang perawat menghampiri kumpul ramai itu. Sang pemuda tanggung mengulang cerita yang sama kepada perawat tersebut.
: Ayah saya seorang tentara yang ditugaskan di Aceh. Tadi pagi, kami mendapat kabar duka, mobil yang ditumpangi ayah saya masuk ke jurang. Dan dari informasi yang dapat, kondisi ayah saya kritis. Kami pun memutuskan untuk segera ke sini!

Sedangkan perempuan paruh baya makin erat memeluk tubuh putranya guna menopang tubuhnya yang tergungang-guncang.

Lalu keduanya mengikuti ke mana saja kaki perawat menjangkah. Orang-orang berkerumun tadi sudah pecah. Para pedagang enceran kembali berkeliling dengan teriakan khas mereka.

Di lorong-lorong rumah sakit, tetap saja perempuan baya itu mengundang minat. Sebab tak reda menangis raya. Para pasien yang sudah mulai sehat, tak tinggal mencelinguk kepala lewat muka pintu karena dibintik penasaran. Para pengunjung yang sehat bugar apalagi. Ragam komentar berdesis.

Sang perawat yang berada beberapa meter di depan mereka meletakkan telunjuk di tengah bibir.

(Entah apa maksud suster tersebut.).

Jadilah perempuan baya itu dengan pemuda tanggung menjadi sorotan tiap pasang mata. Mata-mata itu baru lepas ketika dua tubuh itu telah raib ditelan tikungan

Tiba di tempat tujuan,

( tempat itu adalah ruang di mana suami atau ayah mereka dirawat),

Si perempuan paruh baya tak tahan untuk tak menjerit melengking ketika telunjuk suster mengarah ke dalam ruangan.

(Satu lengkingan yang memerih hati.)

Kemudian irama tangis mendayu-dayu. Sang anak kian mendekap erat badan sang ibu. Air mata tumpah ruah dari mata keduanya. Suster membuka pintu ruangan. Terburu-buru perempuan baya menyongsong. Diikuti dengan sang anak.

Perempuan itu bersimpuh di sisi kanan ranjang besi. Ia memegang selang-selang cairan yang terhubung dengan pergelangan tangan suaminya. Lalu meremas-remas jemari yang sama sekali tak bergeming. Di raba jantung, berdegup dirasa, namun pelan sekali.

Sang anak bersimpuh di sisi kiri ranjang. Lekat menyimak rambut bergelombang-gelombang lebat sosok kaku di hadapan. Lantas tertarik menggesek dua codet di pipi kiri dan kanan muka ayahnya.

(Ia ingat sekali, dua codet itulah penanda termudah untuk menandakan ayahnya.)

Seraya air mata yang deras saja.

(Ia mengenang haru di waktu kebersamaan sang ayah dulunya.)

Suster yang mengantar mereka keluar dari ruangan sarat air mata itu.

Pagi di rumah, selepas sembahyang subuh, ia tercenung sendiri. Mendadak saja ia tereka ingatan mendiang mak dan ayahnya.

( Keduanya ditembak mati di depan mata. Ia bersumpah kuat untuk menuntut balas atas pembunuhan itu. Tapi sayang, ia mencari-cari, pembunuh itu seolah telah ditelan bumi.)

Namun ia tidak mungkin akan melupa potret sang pembunuh itu. Terus ia hafal dengan rambut bergelombang-gelombang lebat. Persis diingat codet kiri-kanan di pipi itu.***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Batam Pos 11/30/2008



Harusnya, sudah tiba waktunya untuk menambah sepuluh atau lima belas kursi lagi di warung mereka. Sayang para pembeli, kebanyakan terpaksa harus mengantri tempat duduk. Apalagi jelang siang yang memang ramai-ramaiya.

“Apa? Menambah kursi? Berapa uang lagi yang harus kita keluarkan?” Tukik Jeha setajam elang yang menggondol mangsa.

“Tapi dengan itu, kita juga akan mendapatkan uang lebih baik lagi,”

Sepasang suami-istri memang pernah bermufakat untuk membeli tambahan kursi.

”Kamu sudah gila ya, Bram? Mendapatkan uang?!” Bola mata Jeha akan loncat dari sarung mata.

”Yang ada uang kita malah keluar! Bukannya masuk! Dari mana sih terbesit ide sinting itu?”

Mulut Bram terkikik sembari bergumam kecerdasan sang istri. Sementara Jeha menghirup lega.

”Biar begini saja. Toh para pelanggan kita tidak keberatan,”
Pembicaraan itu tutup buku.

***

Hari itu sekitaran jam tiga seorang lelaki berdasi corak coklat mampir ke warung sepasang suami-istri itu. Jeha dan Bram yang tengah mencincang sayuran di belakang, tergesa ke depan.

Setelah meletakkan pesanan sang lelaki itu, Jeha kembali ke belakang menuntas pekerjaan. Sementara Bram mengobrol ala kadar dengan pria itu.

”Kerja di mana, Dik?” Braham mencoba basa-basi. Dari kulit muka, Bram tahu jikalau sosok di depannya itu jauh lebih muda dari dirinya.

”Di kantor pajak pak!” sahut lelaki itu yang sepertinya lahap sekali mengunyah dengan berlauk ikan bakar.

Air liur Bram berguncang-guncang. Sudah lama ia idam ikan bakar. Tapi istrinya selalu memelototkan mata api ke arahnya. Namun betul juga laku istrinya bila dipikir berat, jika ia turuti nafsu, pasti tak butuh waktu lama warung nasi mereka harus gulung tikar.

”Pasti banyak uang, ya?” sambung Bram di sela senyum simpul.

”Ah biasa saja lah, Pak. Paling cukup untuk sehari-hari saja,” jawab lelaki muda dengan mulut penuh.

Dua lelaki itu terlibat obrolan ala kadar sampai lelaki itu mencuci tangannya bersih.

Mata Bram melotot begitu melihat masih tersisa seper empat ikan di piring sang lelaki di depannya. Bila tidak dikuasai malu, tentu saja akan dilumat lekas ikan sisa itu.

Lelaki itu mengeluarkan suara kekeyangan halu-lalang. Tangan kanannya tampak sibuk meraba-raba saku celananya.

”Bapak merokok?”

Rupanya sang lelaki muda sedang mencari bungkusan rokok..

Bram menggeleng.

”Haha... Bagus Pak... Saya suka orang seperti Bapak. Orang yang sangat melindungi kesehatan... Saya sudah tahu sih kalau rokok itu merusak kesehatan. Tapi mau gimana lagi ya? Sudah kecanduan Pak!”

Ia mengakhiri omongan panjang dengan sebuah cekakakan.

Bram yang sedari tadi sibuk geleng-geleng kepala dengan mata sekilas-sekilas mengintip ke ikan bakar sisa bakar seper empat itu.

”Bukan gitu dik...Biar hemat, hihi....” Ujar Bram ganti cekikikan meski malu-malu.

Cekikikan lelaki itu muda padam laksana lilin yang diguyur angin.

”Berarti Bapak mau merokok dong!” tapi tak lama ketakjuban si lelaku muda sirna.

”Gimana ya? Habisnya, sudah lama tidak merokok,”

”Kalau sebungkus...” lelaki muda sengaja memotong omongannya sembari mengangkart bungkus rokok setinggi hidungnya. Di hadapannya seolah sedang duduk makhluk unik dari era purba kala.

”Ya,” Sela Bram. Jam-jam begini warung memang jatah sepi. Jadi bebas bagi lelaki itu untuk santai-santai sejenak. Istrinya pun tidk cerewet melihatnya mengobrol saja.

”Saya berikan untuk Bapak,” bertabuh-tabuh dada Bram mendengar itu.

”Bapak mau beli berapa?”

Padahal sang lelaki muda masih belum mengutuhkan kalimat.

”Ya... Saya kirain...” Bram tak dapat menyembunyikan kecewanya. Sedangkan si lelaki muda tergelak geli.

”Bercanda pak! Bapak mau kalau rokok ini saya berikan untuk Bapak?”” tiba-tiba raut lelaki muda berganti serius.

”Mau...” Tingkah Bram seperti seorang cilik yang diberikan permen kesenangan.

”Bapak mau merokok?” sepertinya lelaki muda menyangsikan jawaban Bram barusan. Namun anggukan berkali-kali kepala Bram, membuat sangsi itu hilang.

”E...E...” Namun Bram masih menyimpan ganjil di dalam hati. Terlebih ketika melihat lelaki muda berkemas beranjak.

”Kenapa pak?”

”E... Tapi adik tetp akan membayar uang nasi barusan, kan?' setelah mengucap kalimat itu, ruang dada Bram lega bukan kepalang.

Kali ini meledak tawa si lelaki muda hingga Jeha yang larut di belakang, terburu menolehkan pendang ke depan.

”Iyalah pak... Rokok ini tidak ada hubungannya dengan nasi. Ini hadiah saya buat Bapak! Gratis! Tis-tis! Meski tidak lagi terkakak-kakak, lelaki muda belum bisa menghilangkan kegeliannya.

”O.. Terima kasih kalau begitu. Adik baik sekali. Pasti Tuhan akan merahmati orang baik seperti adik ini,”

Rokok itu berpindah tangan. Bram tak lekang menimang-nimang bungkusan itu. Sejenak ia melupakan sama sekali tentang ikan bakar sisa.

Sepulangnya lelaki baik hati itu, Bram berlari girang ke dapur.

”Hari ini memang hari baikku sayang....” Seru Bram tak reda-reda.

”Kamu gila ya Bram? Menghambur uang untuk beli rokok kamu sebut hari baik? Jatah makan malam aku tahan sebagai gantinya!” kulit muka Jeha keras melihat apa yang ditampakkan Bram.

”Dengar dulu sayang. Aku tidak membeli rokok ini, tapi pria muda yang makan barusan, menghadiahkan rokok ini buatku,”

Wajah keras Jeha mengendur lamat-lamat. Bayang-bayang pundi yang tadi ia bayangkan masuk ke saku kedai sebelah, ternyata tidak kemana.

”Kamu mencari apa, Bram?” tanyanya lalu yang melihat Bram bak gasing putar dari pojokan satu ke pojokan lain.

”Korek. Kamu tahu korek di mana, sayang?” Begitu senangnya Bram sehingga selalu memanggil Jeha dengan sayang.

”Untuk apa?' seru Jeha tajam. Sebanarnya ia sudah tahu untuk apa suaminya itu menanyakan korek. Dan itu tidak boleh terjadi!

”Kamu betul-betul sudah gila Bram!” cepat Jeha bangun dan merebut bungkusan rokok itu dari tangan Bram.

”Kamu ingin membakar rokok ini, kan?'

Bram terpaksa menutup telinganya. Jerit istrinya persis kuntilanak yang melonglong ketika tengah mengamuk.

”Tidak ada yang salah kan, sayang? Toh, rokok dihadiahkan orang kepadaku,” namun Bram merasakan tidak ada yang salah pada dirinya.

”Tidak salah?”

Sungguh, mata Jeha jika dilihat anak-anak, niscaya akan membuat mereka tunggang-langgang.

”Terus setelah roko ini habis kamu bakar, kamu akan membakar apa lagi,hah?”

”Aku...Ee...Aku...”

Bram mulai paham ke mana arah bicara istrinya.

”Kamu mau bilang, 'O sayang, setelah rokok ini habis, ya sudah. Aku tak akan menghabiskan uang kita untuk membeli rokok,'. Begitu, kan?”

”Bukan begitu sayang...Aku...”

”Aku tidak percaya Bram! Rokok itu men-candukan!” Tangan Jeha meletakkan kembali rokok itu di dekat sayur yang belum habis dicincang.

Bram seolah tersadar bahwa baru saja ia nyaris melakukan kesalahan besar.

”Kerjaku jadi terbengkalai gara-gara rokok sialan!” maki Jeha entah untuk siapa.

”Mau kau apakah rokok itu?” Predeksi Jeha salah. Diam-diam tangan Bram sudah menjawil bungkusan itu.

”Tenang saja sayang. Aku tidak akan pernah membakar rokok ini. Lebih baik kukembalikan saja dari pada terkenang-kenang terus. Besok mungkin laki-laki itu akan ke sini lagi....”

Kalimat Bram belum usai.

”Braaamm...” Bila bisa pingsan, tentu saja Jeha akan memilih pingsan dari pada melihat ketololan suminya.

”Ya,” sedangkan Bram yang tidak tahu-menahu dengan musabab marah sang istri, menoeh bermekar stu senyum.

”Akan kugorok lehermu jika rokok itu sampai kau kembalikan. Kau betul-betul lelaki goblok Bram!

Jeha, perempuan itu dianugrahi kecepatan kilat. Dalam bilang menit, rokok itu sudah dimasukkan ke balik kutangnya.

”Biar saja kujual saja ke kedai sebelah nanti sore. Pasti mereka mau, haha...”

”Tak salah aku menikahimu dulu, haha...”

Sepasang suami istri itu cekikikan serempak. Tapi mendadak saja Bram teringat dengan ikan bakar sisa. Seketika air liur memenuhi rongga mulutnya.

”Betul-betul mujur hariku hari ini sayang... Tidak dapat rokok. Aku dapat ini...” Seru Bram yang sudah di depan iakn bakar itu. Dimakan cepat ikan sisa itu. Dan kembali menyongsong istrinya di belakang.

”Oh begitu ya kalau dapat makan enak?” muka Jeha nanar begitu kunyahan Bram begitu nikmat.

”kamu mau, sayang?”

Tidak menjawab, Jeha dengan tampang rakusnya merebut piring di tangan suaminya.

”Kapan kita bisa makan enak seperti ini ya, sayang?” padahal Bram baru mencicip sedikit ikan bakar itu.

”Nanti lah kalau kita sudah kaya.” jawab Jeha yang tenggelam dengan ikan bakar itu.

”Kapan kita kaya?”

”Makanya kita harus hemat Bram! Hemat!” ***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Republika 06/07/2008



Bunda, tidak ada perang lagi. Perang sudah usai. Ayah Nur sudah pulang, Bunda. Cut juga sudah bisa memeluk tubuh gagah ayahnya. Dek Nong bahkan berkeliling kampung sambil berteriak girang bahwa ayahnya sudah pulang.

Tapi, mengapa ayah Dinda belum pulang, Bunda? Ayah Dinda di mana, Bunda?
Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?

Bunda seolah tidak miliki jawaban lain untuk pertanyaan putrinya itu. Pertanyaan yang menyayat hati dan pikirannya. Seperti pisau yang membelah-belah dagingnya.

"Di mana ayah, Bunda?"
Dan, Bunda hanya bisa menjawab dengan lidah layu, "Ayah Dinda pergi mencari rezeki. Suatu hari pasti kembali." Perasaannya dia bujuk untuk tidak meledak di hadapan putrinya. Bibirnya dia paksa untuk tetap tersenyum.

Bunda menemukan cahaya mata putrinya tenggelam semacam sepotong petang yang karam di dasar laut. Mata itu dia tahu penuh rindu.

"Dinda ingin sekali dipeluk ayah, Bunda. Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?"

Danau mata Bunda telah hancur berkeping-keping. Hatinya pun telah menjadi ranting kayu paling kering. Dan, dia peluk putrinya dengan tangisan luka. Bunda dan anaknya saling berpelukan. Detik seperti berhenti bekerja. Keheningan menjadi begitu menyiksa.

Dinda hanya ingin satu: ayahnya pulang. Tidak perlu ayah setampan ayah Dek Nong. Tidak usah ayah yang miliki uang banyak. Untuk hatinya, ayahnya pulang sudah cukup. Dan, kebahagiaan itu, baginya, bagai tangan mungilnya yang baru saja memeluk dunia.

"Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?"

Bunda tidak pernah menjawab pertanyaan itu. Padahal tanya itu sering diulang-ulang putrinya. Dinda tak tahu apa yang yang tengah dipikirkan bundanya ketika dia tanyakan itu. Mungkin itu pertanyaan berat hingga Bunda sulit untuk menjawabnya.

Ketika ayah kawannya yang paling karib, Nur, pulang, dengan sejuta harap di dadanya, Dinda menarik lengan Nur. Mereka menjauh hingga ke bawah meunasah. Mereka menyepi seolah pembicaraan itu hanya untuk mereka berdua.

Dinda yakin sekali Nur tak akan menolak permintaannya. "Nur, boleh aku memeluk ayahmu?" tanya Dinda dengan gemetar.

Dan, Dinda takkan lupa mata Nur yang melotot ke arahnya. Mata yang, dia tahu sekali, hanya Nur berikan untuk si Agam -- anak paling bandel di kampung yang sering mengganggu main mereka.

Tapi, Nur adalah sahabat terbaik yang Dinda miliki. Dinda tak paham mengapa Nur bersikap begitu.
"Nggak boleh. Dinda nggak boleh peluk ayahku. Itu ayahku! Bukan ayah Dinda!" kata Nur.

"Sekali saja, Nur...," kata Dinda dengan mata bercahaya. Seolah sengaja dia penjarakan bebintang di dalamnya.
"Nggak boleh! Itu ayahku. Bukan ayah Dinda!"
Jalan di depan meunasah riuh oleh suara anak-anak sebaya mereka yang girang berlarian.

"Tapi, Dinda ini kawanmu, Nur...."

Nur kini menatap dengan bola mata yang menyimpan kemarahan.
"Nur benci Dinda.... Benci!"
Dan, Dinda tidak ingin mengejar Nur yang berlari menjauhinya. Hatinya telah menyempit. Lorong-lorong matanya telah sesak dengan air yang hendak keluar.

Dinda membawa jauh langkah kakinya dari bawah meunasah yang berpilar-pilar. Bau kuah pliek masih mengurung hidungnya. Dengan mata kabur dia pandangi baju-baju yang dijemur di pagar besi meunasah. Dia tatap langit luas. Siang tidak menyengat. Tapi, hatinya serasa tersengat.
"Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?"
Dinda tahu bundanya tidak akan menjawab. Diapun bertanya pada angin, bagai hendak menangkap ikan di udara. Dan, bahu Dinda berguncang-guncang.

Sang ayah pergi suatu hari. Meninggalkan tanah sendiri dan menuju kampung lain, tanah seberang yang dijarakkan samudera yag bergelombang-gelombang.

Baginya, mencari rezeki di kampung sendiri mempertaruhkan nyawa. Di tanah seberang, mencari rezeki tidak dihantui ketakutan. Ia akan kembali satu hari, ketika perang di negerinya telah selesai, dan bedil tidak lagi haus darah.
Tapi, itu hanya cerita yang dipintal Bunda untuk putrinya, Dinda. Cerita sebenarnya, hanya tersimpan di dalam kenangan pahitnya.

"Di mana ayah, Bunda?"
"Ayahmu mencari rejeki, Dinda. Ketika perang telah usai, ayahmu akan kembali." Lidah Bunda pincang berucap. "Ia akan kembali bersama kita, Sayang."

"Tapi tidak ada perang lagi, Bunda. Kenapa ayah belum pulang juga?"
Perang memang telah usai. Maka sang ibu pun mengubah jawaban itu. "Ayah akan pulang suatu hari nanti, Dinda."

"Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?"
Seluruh diri Bunda serasa lumpuh oleh pertanyaan itu. Dia hanya bisa diam. Bisa saja Bunda menjawab, "Hangat, Dinda. Dipeluk ayah itu hangat, Dinda." Tapi Bunda tidak siap dengan pertanyaan mematikan Dinda berikutnya. "Dinda ingin dipeluk ayah, Bunda." Karena, Bunda tak ingin hatinya lebur menjadi debu.

Dinda tak tahu mengapa, tiba-tiba saja matanya berkunang-kunang. Pohon pisang dimatanya seakan bisa berjalan. Pohon jambu berlari-lari seolah ingin menerkamnya dengan gaya harimau kelaparan. Dia lari terbirit-birit, lalu muntah-muntah sesampai di rumah.

Bunda menanyainya dengan perasaan khawatir. Dinda hanya bisa menggeleng dan mengangguk saja. Dia merasa rohnya tengah ditarik-tarik, lantas pingsan. Bunda membaringkannya di tempat tidur, menyelimutinya dengan air mata berderai-derai.
Hingga tengah malam tiba, Dinda belum sadar. Mulutnya mengigau, "Ayah... ayah....."
Bunda diserang gamang yang membadai. Dia tidak punya pilihan selain mencari kertas berisi alamat pria itu. Tapi, dia tidak menemukan kertas keramat itu di dalam almari pakaian lagi. Dia mengutuki kebodohan masa silam, sebab menolak lelaki baik hati itu. Akhirnya 'kertas sakti' itu pun ditemukannya di bawah tempat tidurnya.

Bunda berlutut di hadapan putrinya ketika akan pergi. Wajah Dinda tidak girang. Hanya pucat yang merona pada parasnya. Bunda terisak, dan menyeka air matanya sendiri.

Lalu Bunda kenakan pakaian terbaik yang dia miliki. Bibirnya dipoles merah menyala. Sebuah angkutan umum lantas membawanya ke suatu tempat, setelah menitipkan Dinda pada salah satu tetangga baiknya.

Tak lama Bunda pun pulang, dengan mengapit lengan seorang pria tampan. Sikapnya manja. Tapi cahaya matanya memancarkan kecemasan. Berkali-kali dia berbisik di telinga lelaki tampan tu. Mata tetangga pun menatapnya heran. Tapi, Bunda tak acuh saja. Yang ada di pikirannya, bagaimana kembali menemukan senyum di bibir Dinda esok hari.
"Dipeluk ayah hangat, Bunda..., hangat, Bunda."
Danau mata Bunda tenggelam, tapi kali ini sebab sejuta rasa bahagia.

Tahun-tahun timbul tenggelam. Dinda makin tahu bagaimana rasanya dipeluk ayah. Hangat. Tapi, pada suatu tengah malam hening, matanya tak bisa terpejam. Pembicaraan orang-orang kampung siang tadi telah merusak selera tidurnya. Maka Dinda ke sumur untuk mengambil air wudu. Lalu dia ucapkan doa untuk Tuhannya.
"Tuhan, bawa pulang ayah Dinda yang sebenarnya. Dinda mohon, Tuhan. Dinda ingin dipeluk ayah...."

Dari celah daun pintu kamarnya, Bunda hanya dapat menatap putrinya yang sedang berdoa sambil terisak, lalu dia menyeka air matanya sendiri dengan tangan gemetar. Luka masa lalu itu kembali menganga, memedihkan hatinya.***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Suara Pembaruan 16/09/2007



satu

(Dinda, Bunda Dinda )

**Ayah di mana,Bunda?"

"Ayah ada di mana-mana, Dinda."

"Di mana-mana, Bunda?"

"Maksud Bunda, Ayah tetap ada di hati Dinda, meski Ayah Dinda tidak sedang di sini."

"Tapi Dinda ingin dipeluk Ayah Bunda."

"Berdoa saja biar Ayah Dinda cepat pulang."

"Berdoa Bunda?"

"Iya. Berdoa kepada Tuhan agar Ayah Dinda cepat bisa cepat pulang."

"Memang Ayah Dinda ke mana, Bunda?"

"Ayah Dinda sedang ke luar daerah."

"Untuk apa, Bunda?"

"Mencari uang yang banyak buat Dinda."

"Mencari uang kenapa harus di luar daerah Bunda?"

"Karena di tempat kita, masih perang Dinda."

"Kalau perang Ayah tidak bisa mencari uang ya, Bunda?"

"Iya. Ayah Dinda takut tertembak kalau harus mencari uang di sini, Dinda."

"Dinda dan Bunda nggak takut tertembak Bunda?"

"Kita kan tidak keluar rumah untuk mencari uang, Dinda."

"Ayah Dinda kapan pulang, Bunda?"

"Bunda... Bunda melamun ya?"

"Eh..Eh...."

"Bunda teringat Ayah, ya?"

"Bunda rindu dengan Ayah, Bunda?"

"Bunda...."

"Iya Dinda, Bunda rindu dengan Ayah."

"Apa yang Dinda tanyakan tadi?"

"Hhm... Ayah Dinda kapan pulang, Bunda?"

"Nanti. Kalau sudah waktunya."

"Bunda kok nangis?"

"Nggak apa-apa Dinda sayang. Mata Bunda perih saja."

"Bukan karena teringat Ayah, Bunda?"

"Bukan Dinda. Mata Bunda cuma perih saja. Ini Bunda tidak lagi menangis, kan?"

"Bunda."

"Iya Dinda sayang."

"Kita susul Ayah ke luar daerah, Bunda yok!"

"Tidak bisa Dinda. Kita tidak tahu alamat Ayah."

"Kita bisa tanya pada orang-orang, Bunda."

"Mereka tidak tahu Dinda."

"Tapi Dinda rindu sekali dengan Ayah, Bunda... Dinda ingin dipeluk Ayah, Bunda..."

"Bunda juga rindu Dinda... Dinda jangan nangis ya... Kan masih ada Bunda yang bisa memeluk Dinda."

*

Dua

(Dinda)

Bunda, Ayah di mana Bunda? Di mana Ayah, Bunda? Ayah, Dinda rindu sekali dengan Ayah. Rindu sekali Ayah. Ayah di mana? Dinda ingin sekali dipeluk oleh Ayah.

Bunda, Dinda merasa ada banyak hal yang Bunda sembunyikan dari Dinda. Ada apa sebenarnya, Bunda? Ke mana sebenarnya Ayah Dinda, Bunda?

Bunda, Dinda sering sekali melihat Bunda menangis sewaktu Dinda menanyakan tentang Ayah. Meski Bunda beralasan ini-itu, tapi Dinda tahu, Bunda menangis karena Ayah.

Apa maksud tangisan Bunda? Apakah tangisan itu sama artinya dengan tangisan Dinda, Bunda? Tangisan itu untuk melepas kerinduan yang terlalu besar, Bunda? Karena lama sekali tidak berjumpa dengan Ayah.

Begitukah maksud dari setiap tangisan Bunda? Begitu kah, Bunda? Jika begitu Bunda, syukurlah...

Bunda, Ayah Dinda di mana? Ayah Dinda, di mana Ayah sekarang? Kapan pulang? Jangan takut perang Ayah. Dinda saja tidak takut. Selama kita tidak salah Ayah, kita tidak akan apa-apa...

Ayah, Dinda rindu. Rindu sekali...

*

Tiga

(Bunda Dinda )

Dinda sayang, maafkan Bunda bila harus menyembunyikan hal ini terus menerus dari Dinda. Bunda tidak tega melihat anak Bunda terguncang hebat bila mengetahui kenyataan yang sebenarnya kelak.

Bunda tidak ingin melihat Dinda menangis. Melihat Dinda bersedih. Bunda sayang sekali dengan Dinda. Bunda ingin melihat Dinda bahagia. Cukup Bunda saja yang tahu. Dinda masih terlalu dini untuk merasa segala penderitaan.

Dinda, tujuh tahun yang lalu, waktu itu Dinda sama sekali belum mengerti apa artinya seorang Ayah. Ayah Dinda meminta izin dengan Bunda untuk pergi ke luar daerah.

Setelah itu tahun-tahun berlalu Bunda habiskan dengan penantian. Tapi penantian itu belum berujung dengan perjumpaan. Namun Bunda memaklumi, sebab perang di tanah kita belum reda sedikit pun, pasti Ayah Dinda belum berani untuk kembali bersama kita.

Maka Bunda terus menanti dengan segala harapan bahwa Ayah Dinda akan kembali.

Hingga suatu sore itu Dinda, Bunda ingat sekali, sore itu langit mendung-mendung hitam, Bunda kedatangan seorang tamu. Tentu saja Bunda kenal kenal baik tamu itu. Ia Ibrahim. Kawan karib Ayah dinda yang bertahun-tahun juga tak pulang ke kampung halaman.

Tapi Dinda, Ibrahim membawa kabar yang sama sekali tidak Bunda inginkan dengar sebenarnya. Tetapi Bunda tidak dapat mengelak dinda. Kata Ibrahim, Ayah Dinda telah tiada.

Setelah itu Bunda tidak selera sama sekali untuk makan-minum. Sementara kamu Dinda, kamu masih terlalu kecil waktu itu. Dinda belum mengerti apa-apa.

Ibrahim memang ingin membantu Bunda melawan derita hidup selanjutnya. Ia mengajak Bunda untuk menjadi istrinya. Tapi biar dipaksa, Bunda enggan. Bunda tidak bisa melupakan Ayah Dinda dalam tempo cepat

Maafkan Bunda Dinda atas segala kebohongan ini. Tapi Bunda janji, bila Dinda sudah lebih besar nanti, kelak Bunda akan berterus terang perihal Ayah Dinda.

*

Empat

(Dinda, Bunda Dinda , Inayah)

"Dinda kenalkan, ini Om Inayah,"

"Siapa dia, Bunda?"

"Salam dulu, nanti Bunda jelaskan."

"Dinda, Om."

"Panggil Om Inayah ya, sayang."

"Siapa Om itu, Bunda?

"Sebentar Mas, ya?"

"Siapa Om itu, Bunda?"

"Dinda, kamu harus mengerti Bunda, ya, sayang."

"Iya Bunda, tapi bilang dulu ke Dinda, siapa Om itu?"

"Dia calon Ayah Dinda yang baru."

"Apa Bunda?! Calon Ayah Dinda yang baru?"

"Iya sayang."

"Nggak mau Bunda! Bunda mau Ayah Dinda!"

"Dinda, Ayah Dinda belum bisa pulang bersama kita."

"Sampai kapan Bunda?"

"Bunda juga tidak tahu sayang, makanya sekarang, Bunda cariin Dinda Ayah baru."

"Tapi Bunda ingin Ayah Dinda, Bunda..."

"Kalau Ayah Dinda pulang nanti, kita akan kembali dengan Ayah Dinda, sayang."

"Benar Bunda?"

"Benar sayang."

*

Lima

(Dinda)

Bunda, Om Inayah yang Dinda panggil Ayah sekarang, sangat baik Bunda. Ayah Inayah penyayang sekali dengan Dinda. Dinda suka diceritakan cerita pelanduk yang pintar. Dinda juga setiap pagi diberi uang jajan. Kadang Ayah Inayah malah menjemput Dinda di sekolah Dinda, Bunda.

Tapi Bunda, maafkan Dinda, karena Dinda masih merindukan Ayah Dinda yang sebenarnya. Akhir-akhir ini, Dinda sering sekali bermimpi dengan Ayah. Tapi Bunda, Ayah kenapa kelihatan murung di dalam mimpi Dinda ya, Bunda? Apa Ayah marah karena Dinda sudah punya Ayah Inayah sekarang, ya?

Bunda, Ayah Inayah belum bisa membuat Dinda melupakan Ayah Dinda, Bunda. Dinda masih merindukan Ayah Dinda. Di mana Ayah Dinda, Bunda? Kapan Ayah pulang agar kita bisa kembali bersama-sama?

Ayah, di mana? Tahukah Ayah kalau Dinda rindu sekali?

*

Enam

(Dinda, Bunda Dinda, Ayah Inayah, dan Ayah Dinda)

"Timaahh...Timaahh...."

"Dindaaa....Dindaaaa..."

"Siapa di luar, Bundaa...?"

"Bunda nggak tahu sayang... coba Dinda tengok ya..."

"Timaahh... Dinda...."

"Saya Ayah kamu, nak..."

"Ayah Dinda?"

"Iya, sayang,"

"Ayah Dinda yang sebenarnya?"

"Iya Dinda sayang,"

"Ayaahhhh.... Ayah Bundaaa..."

"Siapa Dinda? Ayah yang manaaa...?"

"Ayah Dinda, Bundaaa..."

"Apa kabar anak Ayah?"

"Ayah ke mana aja? Dinda rindu sekali dengan Ayah."

"Ayah juga rindu dengan Dinda. Bunda di mana, sayang?"

"Bunda cepat keluaarr..."

"Bang Tafa."

"Betul kan ini Bang Tafa?"

"Iya Timah, abang kembali. Maaf lama tak pulang-pulang."

"Bukankah abang sudah...?"

"Sudah apa Timah?"

"Bunda dan Ayah bisikin apa sih? Dinda kok nggak diajak bisik?"

"Yang benar?! Buktinya abang masih hidup."

"Ibrahim kawan abang yang bilang."

"Ah, si Brahim, membual saja kerjanya. Berjumpa saja aku tak pernah dengan dia."

"Bunda, Ayah Inayah suruh cepat keluar dari kamar mandi biar bisa melihat Ayah Dinda,"

"Ayah Inayah?"

"Iya Ayah. Kata Bunda, sambil menunggu Ayah pulang, Dinda dicariin Ayah baru dulu oleh Bunda. Tapi kalau Ayah sudah pulang, Ayah Inayah akan pergi kok! Betulkah begitu, Bunda?"

"Timah! Tolong jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?

"Aku menikah lagi dengan Inayah beberapa bulan yang lalu."

"Tega sekali kamu Timah kepada abang."

"Aku pikir surat itu benar bang."

"Mengapa tak menunggu abang sebentar lagi?"

"Abang sendiri mengapa tak pulang-pulang? Abang ingin beralasan sebab perang belum reda? Lantas, bagaimana dengan Dinda dan aku?"

"Abang...e..e...Abang..."

"Ayah dan Bunda lucu. Jumpa pertama langsung berantem. Orang dewasa lucu-lucu, ya?"

"Siapa lelaki ini, Dek Timah?"

"D-Di-dia..Dia...Mas..."

"Aku yang pantas bertanya hai laki-laki brengsek, siapa kamu hingga berani memasuki rumahku?"

"Dek Timah! Tolong jelaskan siapa lelaki ini?"

"Dia mantan suamiku, mas."

"Timah! Abang belum pernah menceraikanmu!"

"Tapi aku sudah menganggap kamu tidak ada lagi bang!"

"Bunda, Ayah, Ayah Inayah, sedang ngomong apaan sih? Dinda kok nggak ngerti?"

"Gara-gara kamu lelaki brengsek! Tega sekali kamu merebut istri orang, ya?!"

"Dek Timah memperkenalkan diri sebagai janda bung!"

"Apakah aku salah bang?!"

"Ayah...Ayah mau ke mana?"

"Ayah harus pergi lagi sayang."

"Ayah...Ayah jangan pergiii...Dinda masih rindu dengan Ayah..."

"Ayaahh....."

"Aku ceraikan kamu, Timah!"

"Mas?"

"Aku tak mau dibilang lelaki perebut istri orang."

"Tapi mas?"

"Bunda, Ayah Bundaa....Ayaaahhh...."

*

Tujuh

(Dinda, Bunda Dinda )

"Ayah Dinda ke mana, Bunda?"

"Sudah pergi Dinda, sayang."

"Kapan pulang?"

"Bunda tidak tahu, sayang."

"Ayah kok pergi lagi ya, Bunda?"

"Bunda tidak tahu."

"Ayah Inayah ke mana, Bunda?"

"Sudah pergi Dinda, sayang."

"Kapan pulangnya, Bunda?"

"Bunda tidak tahu Dinda."

Ayah, Dinda rindu sekali.*
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Batam Pos 22/07/2007



Chik1 pernah membisikkan ke daun telingaku untuk senantiasa mendoakan ibu serenta berbahagia di alam baka. Maka kulakukan itu di antar hujung sembahyang. Dari zuhur sampai subuh dengan sungguh-sungguh.

Sempat kubisikkan di kuping Tengku Nasir selaku imam sembahyang di meunasah untuk turut berdoa. Kutangkap angguk baur senyum pelan yang kuyakin simbol mengabulkan pinta.
Tapi, aku rindu dengan ibu. Bagaimana ini?

Rindu yang mencenungkan aku di muka jendela dengan air mata berai bersama kain baju. Chik membujuk, namun alai-belai sama sekali tak mempan. Aku idam macam si Gam yang bisa menyeruk di ketiak ibunya bila kedinginan.

Sungguh membahagiakan.
Sampai suatu hari, Chik yang menilik tangis belum surut, pulang dengan satu plastik buku gambar, beserta satu kotak klir2 dan beberapa pensil.

“Gambar ibumu, bila kamu rindu. Gambar itu akan membuat rindumu reda,”
Chik berkata seperti itu. Aku menggelepar kepala.
“Chik Bohong! Aku tidak percaya kata Chik.”
Aku berteriak ketika itu. Makin melinang-linang dalam wajah tirusku.
“Chik tidak pernah bohong, kan?”

Aku tahu Chik belum berbohong sekalipun. Chik orang paling jujur yang pernah kutemui. Kuterima surung tangan Chik meski masih dengan buncah bingung.

Lantas aku larung dengan buku gambar, pensil dan klir. Satu buku gambar ku orat-oret sekenanya. Kubayangkan gambar ibu. Namun dua tahun tak berjumpa, membuat otakku buyar akan rupa itu.
Hidung ibu malah tidak mancung seperti ingatanku. Aku tidak menggambar bibir sebab lupa sama sekali bagaimana bentuk bibir ibu. Bagian telinga juga kutanggalkan begitu saja.

Rentang menit, aku kembali dihadapan Chik yang larung dalam serot rokok daun. Sesekali terbatuk yang membuat dada Chik berayun-ayun kuat.

“Aku tidak bisa menggambar!”
Entah mengapa, kurasa suaraku begitu ketus. Barangkali rindu itu telah menukar aku menjadi bocah yang ketus. Chik beringsut dari kursi rotan. Aku mengekor di belakang. Kami menjangkah di mana aku menggambar tadi.

“Ini saja kamu tidak bisa nyak3, hehe…” Sambil mula orat-oret di buku gambarku, Chik terkekeh-kekeh.
Tidak lama, di buku gambarku sudah cagun gambar ibu. Seketika seratus persen memoriku pulang. Gambar Chik persis sekali dengan aslinya. Chik berseringai puas. Ku ambil alih buku gambar.
Kugambar kepala. Chik berkata bagus dan bagus. Kuselip dengan ringis pelan.
“Lon4 rindu bu… Lon rindu bu…”

Setiap garit yang kutarik, kudengar kalimat itu menggema-gema di jauh hati.
Hitungan menit, satu gambar ibu selesai. Bersideku kuperhatikan lama gambar itu sambil memiringkan wajah. Aku tidak puas dengan alis ibu.
Kuhapus. Street! Kutarik garis lain dengan hati-hati. Jauh lebih bagus sekarang. Chik tersenyum puas. Aku? Rinduku malah memuyuh.

“Aku masih rindu dengan ibu Chik,”
“Gambar-gambar banyak sampai rindumu hilang nyak,”
Benarkah itu? Tapi sama sekali tidak ada protes. Kujamah halaman lain. Kugambar ibu lagi. Chik berlalu dengan satu batuk berat.

Hari itu, aku menghabiskan dua buku gambar.
Di selip jam pelajaran sekolah, aku terus menggambar ibu. Aku paling senang bila jam pelajaran menggambar tiba, artinya, aku tidak usah curi-curi pandang dari Ibu Nurul. Aku bisa gambar berani.
Ketika kusodorkan hasil gambar ibu kepada Ibu Nurul, aku diponten sembilan. Aku mesem-mesem.

Ketika mengaji pun, kumasukkan satu buku gambar dalam kantung celana. Aku akan menggambar dalam sela mengaji. Ketika Tengku Suman lalai menyimak hafalan teman-teman.
Aku juga sudah genap yakin, kalau Chik tidak berbohong dalam perkataan tempo hari. Setiap tarikan untuk menggambar ibu, aku merasa rinduku diredam-redam.

Selanjutnya, Chik makin banyak membeli buku gambar. Soal reta, aku memang tidak pernah kurang dengan Chik. Sawah Chik banyak dikelola orang. Dan Chik setiap panen akan mendapat bagian hasil saja.
“Chik, boleh aku menempel gambar-gambar ibu ini?”

Tanyaku ketika buku gambarku sudah habis lebih dari sepuluh untuk menggambar ibu saja. Aku tidak menggambar lain selain ibu. Kalau aku kebelet dengan gambar Batman seperti yang kutatap di tipi keude Bang Lah setiap sore selasa, aku akan menggambar di buku gambar khusus.
“Dimana?”

Gancang bola mataku bergerak ke dinding-dinding kamar kami.
“Di dinding kamar kita,”

Chik menganguk kepala. Kubalas dengan senyum. Hari itu aku dibantu dengan Chik sibuk menempel gambar-gambar ibu hingga dinding- dinding tak mampu mencangkum semua.
“Bagaimana kalau kita tempel di dinding luar juga?” Padahal aku sudah retas asa sebab banyak gambarku tak muat tempel di dinding kamar.
Ajakan itu yang kunanti.

Chik naik ke atas kursi agar sampai menempel di dinding tinggi. Sedangkan aku memegang badan kursi supaya tidak eleng. Jadilah hari itu, dinding-dinding kami sesak dengan gambar-gambar ibu.
Di hari berikut-berikut, aku masih menggambar ibu. Chik tak pernah keberatan dengan rengekan tiap pagi untuk tak lupa membeli buku gambar acap ke peukan5. Aku ingat, semenjak menggambar ibu, tak pernah lagi aku menangis.

Hingga di suatu malam, aku lelap sekali padahal, ketika kurasakan sebuah tangan dingin menggoyang-goyang sekujur tubuhku. Aku tak berhasrat sama sekali membuka mata. Pikirku juga Chik yang membangunkan untuk sembahyang subuh.

Tapi goyang-goyang itu terlalu menggangu tidur. Remang-remang kutilik apa Chik yang sedang menggoyang-goyang itu, tapi Chik, malah tergoleh jauh dari badan tidurku.
Jadi siapa yang menggoyang-goyang tadi?

Lekas mata kupaksa celangak. Jantungku berdengap-dengap lantang. Seorang perempuan meletakkan telunjuk di depan bibir untuk tanda agar aku tak bersuara.
Ibu? Betulkan ibu?

Perempuan itu ibu. Kusimak baik-baik perempuan di hadapan mata. Lalu bertukar dengan hasil gambar bertempel di dinding kamar. Persis sama rupa.
“Ini ibu, nyak,” desis ibu pelan dengan menggaet tanganku. Tak tersadari aku sudah dibawa terbang oleh ibu.

“Ibu sudah punya sayap sekarang?” belum hilang rasa percayaku tentang muncul ibu, ditambah dengan ibu bersayap. Setahuku, manusia tidak bersayap. Apakah ibuku sudah jelma dengan malaikat?
“Tuhan kasih ibu sayap sekarang,” ucap ibu dengan ketinggian terbang melaju tinggi. Aku memegang erat-erat di bahu ibu agar tak terjengkang ke bawah.

“Ibu bawa nyak ke bintang, mau?”
Tidak usah banyak kali diajak, idam lama aku untuk mendangkap bintang. Aku melupa sekilas dengan sayap punya ibu.

“Ibu, nanti aku ambil bintang satu, boleh?”
“Tidak boleh sayang, bintang itu tempatnya di langit,”
Dijawab itu, aku memilih diam.

“Ibu…Ibu…Ibu kan sudah meninggal. Kok bisa hidup lagi?” itu harusnya pertanyaan awal yang kuajukan.
“Ibu rindu dengan kamu, nyak,” nada ibu sayu. “Kamu rindu dengan ibu juga, kan?”
Aku ingin menjawab ya. Iya ibuuu….Namun ada yang menggoyang-goyang tubuhku keras-keras. Kurasakan pegangan tangan di punggung ibu melemah. Aku terjengkang ke dasar bumi. Aku memanggil-manggil ibu tapi ibu sama sekali tidak sadar kalau aku terlempar dari punggunggnya.
“Nyak…Subuh…”

“Kamu bermimpi jumpa dengan ibu?”
Ah, ternyata mimpi. Chik di hadapanku membengkar senyum. Kurasakan rindu dengan ibu mendayu-dayu. Pasti akibat mimpi barusan. Aku harus menggambar ibu untuk meredam rindu. Sekarang juga!

Kamar hijau, 31 maret 2007
Banda Aceh, 17.49

1. kakek, panggilan kakek.
2. pensil pewarna
3. panggilan saying.
4. aku.
5. pasar.