Tampilkan postingan dengan label K: Padang Ekspres. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K: Padang Ekspres. Tampilkan semua postingan
Rabu, 05 Mei 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Fahri Asiza
Dimuat di Padang Ekspres, 2 Mei 2010

Sewaktu M datang ke kantorku dan tanpa ragu-ragu bilang dia adalah makelar, aku masih mengerutkan kening. Bukan karena aku ragu akan kehebatannya sebagai makelar (toh aku juga tidak tahu dia jadi makelar apa, melihat gayanya pasti dia makelar tanah), tetapi siapa sosok bertubuh tambun ini? Dari langit mana dia muncul, dan tiba-tiba saja sudah berada di hadapanku? Mengapa pula dia tak mau memberitahukan nama aslinya kecuali inisialnya : M.

“Maaf, saudara siapa?” tanyaku akhirnya, lega karena berhasil menembus pertahanan gerilya kata-katanya.

M terhenyak. Keningnya berkerut. Bola matanya memutar sebelum memandangku lekat, tajam, juga terbersit sinar kecewa. “Kau tidak mengenalku?”

Ah, aku yang jadi sedikit gugup sekarang, merasa ditelanjangi pula karena tatapan itu membuatku seketika menjadi invalid. Akhirnya jalan terbaik hanya pura-pura tertawa sambil memeras ingatanku. “Tahu sendirilah, usiaku sekarang sudah hampir lima puluh tahun.”

Dari sikap herannya, M tertawa lepas. Aku menghirup udara lega. Suaranya tidak setegang tadi. “Tak berbeda denganku, Kawan… kita hanya terpaut dua bulan. Lebih tua aku. Meski berjarak dua bulan, harusnya kau memanggil aku kakak.”

Lagi aku tertawa dan menyakini kalau itu sebuah gurauan manis. Tetapi degup dadaku makin berkobar, rasa penasaranku mulai menggumpal dan tetap ingatanku tak mampu menembus ruang gelap mencari sosok M. Apakah dia bersembunyi di antara ribuan ingatan yang tak mau lagi kuingat?

“Kita berkenalan di Jogya. Saat itu usia kita baru dua puluh tiga tahun. Kau baru saja lulus kuliah, sementara aku harus menunggu dua tahun kemudian. Maklumlah, kau dikenal cerdas sementara aku lumayan akhirnya dapat ijazah pula. Lebih baik dari orang-orang yang memalsukan ijazah demi mendapatkan kedudukan, bukan? Eh, sudah kau ingat itu?”

Kali ini ingatan bukan hanya kuperas, tetapi juga berenang jauh lebih dalam, mencoba menguak tabir yang entah kenapa terasa kian menghitam.

“Fikom!” serunya tiba-tiba, seperti tahu kalau kebingunganku. Ah, aku jadi malu sendiri mengingat kalau dia tahu kebingunganku. “Kau ingat sekarang?”

Menyeruak semua ingatan teman-teman di Fakultas Komunikasi dulu. Tetapi, di mana sosok M? Mengapa dia tak muncul juga meski air keruh itu sudah kubeningkan. Tetap rasanya seperti mencari bocah kecil yang terpisah di seputar Monumen Nasional.

M terus memberikan gambaran demi gambaran tentang dirinya dan diriku, berapi-api, penuh semangat. Sampai kemudian aku terhenyak. “Ya Tuhan!! Iya, iya! Aku ingat!!”

M tertawa puas, dia berdiri dan merangkulku penuh bahagia.

“Akhirnya, aku bertemu lagi sahabat lamaku,” ujarnya setelah kami duduk kembali. “Kau tahu, aku sempat kaget karena kau tak mengenaliku lagi.”

Aku hanya tertawa. Tetapi batinku merentak tanya, di mana aku pernah mengenal M?

***

M muncul lagi dua hari kemudian, saat itu aku baru saja hendak keluar kantor dan sisa kegarangan matahari siang tadi masih terasa. Dia langsung berteriak, “Hariiiiiii!”

Nyaris aku terserimpung tangga depan kantorku karena teriakan itu melebihi kerasnya para anggota ketika menggebah nenek berusia 78 tahun yang menjual buah di tepi jalan. Astaga! Apakah dia tidak tahu kalau jantungku bisa kumat? M berlari mendekatiku, dan langsung menarikku menuju mobilku. Layaknya presiden yang diamankan oleh para pengawalnya, M nampak bersiaga penuh, wajahnya tegang, matanya berkeliaran seolah ada wabah kolera yang tiba-tiba menyerang.

“Buka! Cepat buka!”

Aku bingung. “Apa yang harus kubuka?”

“Ya ampuuun! Pintu mobilmu!”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi! Cepat kaubuka pintu mobilmu! Kita harus segera menjauh dari sini!” Ketika aku mau berkata lagi, M tiba-tiba membentakku, “Cepaaaat!!”

Seperti bentakan bapakku ketika aku masih kecil yang tak bisa dibantah, aku langsung membuka pintu mobil. M pun segera duduk di sebelahku sambil menyuruhku menggebah mobilku pergi dari sana. Setelah menjauh dari kantorku, M baru menghela napas lega. Dia menyandarkan tubuhnya seolah baru saja berhasil lolos dari Koja ketika keributan makam Mbah Priok terjadi.

Aku yang penasaran sekarang. “Ada apa sebenarnya?” M tak segera menjawab, masih mengatur napasnya. Aku jadi makin penasaran. “Katakan, ada apa?”

Masih bersandar M melirikku, lalu meluruhkan tubuhnya. Matanya tajam, serius. Bibirnya mengatup rapat sebelum berucap, “Kau telah kuselamatkan hari ini.”

“Iya, dari bahaya apa?”

“Besok kau akan tahu dari bahaya apa kau kuselamatkan?” Aku mau buka mulut lagi, tetapi dia sudah menutup pembicaraan. “Besok kautanyakan pada orang-orang di kantormu.”

Tak perlu menunggu besok, setiba di rumah, kutelepon kantorku. Aku harus segera tahu jawabannya, aku tak mau dipusingkan dengan hal-hal yang tak kumengerti. Aku jadi ingat, betapa banyaknya orang yang berteriak tentang kasus-kasus raksasa yang belum juga terkuak, dengan jenis langgam suara berbeda-beda. Tidak perlulah sibuk memikirkan Century, kasus penggelapan panjak dan pecah genderang ketika Koja membara, siapa M sebenarnya saja masih menggantung di awan hitam.

Security yang bertugas malam menjawab kalau tak ada peristiwa apa-apa di kantor. Semua aman seperti biasa. Aku tak puas, kutanya sekali lagi, dan jawabannya tetap sama. Lantas, apa yang dimaksud M kalau aku terbebas dari bahaya?

“Sudah kubilang, besok… itu berarti hari ini. Bukan kemarin,” katanya separuh jengkel ketika tahu-tahu keesokan paginya dia muncul di rumahku. Astaga! Dari mana dia tahu rumahku? Seperti tahu apa yang kupikirkan, dia enteng berkata, “Mencari alamat orang besar di negeri ini gampang. Hanya untuk masuk ke sana yang susah, gemboknya ada 17 buah, belum lagi anjing-anjing penjaganya. Beruntunglah aku, punya sahabat seperti kau ini. Orang besar tapi tetap membuka pintu untuk rakyat. Sudahlah, cepat naiklah ke mobilmu… pergi ke kantormu dan lihat apa yang terjadi.”

Sepanjang perjalananku, hatiku tak tenang. Ada gigitan-gigitan kecil yang membuat penasaranku kian berombak. Setiba di kantor, langsung kutanyakan pada para karyawanku, apa yang terjadi kemarin. Mereka pun sigap menjawab, tangkas berucap, tetapi semua jawaban adalah seputar pekerjaan mereka kemarin. Aku jadi bingung.

“Bukan itu yang saya tanyakan!”

Semua terdiam. Masing-masing pemilik mata berpandangan bingung. Lalu salah seorang, berhati-hati bertanya, “Maksud Pak Hari, kejadian apa, Pak?”

Justru aku yang tidak tahu kejadian apa, bukankah aku bertanya? Akhirnya mereka kububarkan, dan aku tahu mereka keluar dari ruanganku dengan segudang pertanyaan di benak masing-masing.

Saat itulah M menyelinap masuk. “Bagaimana?”

Aku jadi kesal, karena merasa dipermainkan. “Apanya yang bagaimana? Tak seorang pun yang memberitahu ada kejadian apa kemarin, kecuali hasil pekerjaan mereka.”

“Nah, di sinilah letak kebohongannya.”

“Kebohongan apa?” aku merasa tak mampu lagi menahan jengkelku. Apalagi ketika aku ingat, aku tidak mengenal M. Kalau pun waktu itu kubilang aku ingat padanya, biar dia pergi dari hadapanku dan urusan selesai.

“Mereka pasti tak mau mengatakan tentang kebenaran.”

“Jangan berbelit-belit! Kebenaran apa?”

M malah tertawa. “Kau masih saja seperti dulu, tetap panasan dan penasaran.”

Aku mengeluh. Kalau saja dia tahu, betapa bencinya aku sekarang melihat caranya tertawa, aku yakin, dia pasti tak akan berani tertawa di depanku. Kulunakan suaraku, “Katakan….”
“Kau masuk daftar hitam penerima uang. Jangan kaubantah dulu! Aku yakin kau akan bilang tidak, karena aku tau kau bersih. Tapi ingat, sekarang ini semuanya lagi edan-edanan. Siapa pun bisa ditarik masuk dan didorong keluar. Kau yang ditarik masuk dan dikait-kaitkan dengan kasus penggelapan pajak. Bisa jadi…”

“Kata siapa?” akhirnya aku tak tahan juga. Napasku mulai tersengal karena bingung dan tegang.

“Tak perlulah bertanya. Aku tahu apa yang bakalan terjadi. Bila kau tidak mengambil tindakan, kau akan terseret arus selokan busuk. Ingat, tak ada selokan yang wangi di negeri ini… semua akan bertambah busuk dan terus membusuk.”

Keringat tanpa diundang telah merajai wajahku melihat betapa seriusnya M berucap. Kuhapus dengan punggung tangan. Geliat gelisah dan penasaran terus memancang tinggi. “Apa yang harus kulakukan?”

“Beri aku sejumlah dana, akan kuurus semuanya. Ingat, aku ini makelar.”

“Tapi… aku tidak terlibat apa-apa.”

“Katamu kau tak terlibat… tapi kau ingat kan, ada pemuda yang digebukin sampai bonyok ketika lewat di sebuah kompleks orang-orang bertubuh tegap dan dituduh maling sepeda? Dia dipaksa untuk mengaku! Apa kaupikir dia terlibat? Atau kaupikir dia memang malingnya? Tidak seperti itu! Kau pun bisa bonyok karena dipaksa harus mengaku! Nah, kalau kau mau aman, lewat jalanku.”

Keringat semakin mengguyur wajahku. Kutatap M yang memandangku penuh rasa kasihan. Pelan akhirnya kuanggukkan kepalaku tanda setuju. M tersenyum puas. Meminta sejumlah uang yang akan membebaskanku dari segala tuduhan. Lagi kuanggukan kepala. Kuminta M datang besok pagi. Setengah jam kemudian M meninggalkan ruanganku setelah memberi wejangan panjang.

Sepeninggal M, kuhapus keringatku. Kutarik napas panjang lalu kukeluarkan perlahan. Dengan sikap setenang sebelum kedatangan M, kuangkat telepon. “Selamat siang… saya mau melaporkan Tuan Markus yang sebenarnya….”***


Mutiara Duta, 18 April 2010
Minggu, 15 November 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Padang Ekspres 04/05/2008



Peringatan bahaya itu membuat kami terpaksa bermalam di luar rumah. Listrik padam. Walau langit terang ditaburi bintang-bintang, tetapi suasana tetap tak menyenangkan. Karpet ruang tamu dibentang di atas rumput halaman bersama tikar yang biasanya hanya tersandar di belakang pintu kamar Ibu. Terpal biru ukuran delapan kali dua setengah meter yang kupasang untuk antisipasi bila hujan tiba-tiba turun, bergoyang-goyang dikirai angin. Sepi. Orang-orang telah pergi. Bapak dan Ibu duduk bersebelahan. Diam. Bapak memangku Setiadi, anak Kak Peri yang duduk gelisah di dekat lampu lentera. Maktuo (kakak perempuan Bapak) duduk di samping Ibu dengan tubuh terbungkus mukena. Kak Peri terus mengutak-atik tombol telepon selulernya. Jaringan terganggu. Tetapi dia tetap mencoba. Menghubungi Bang Fatwa, suaminya, yang sedang berada di Jakarta.

“Kenapa kita tidur di luar, Ngku?” Setiadi kecil bertanya cempreng. Nyinyir.
“Tidur sajalah, Adi. Nanti kamu habis dimakan nyamuk.” sahut Bapak.
Ibu menyelimutkan kain sarung ke tubuh Setiadi.
Maktuo khusuk sendiri. Komat-kamit mengiringi putaran tasbih di tangannya.
Dari jauh terdengar raungan sirene. Entah ambulans. Entah polisi patroli.
Bapak telah mematikan radio. “Kita tak akan pergi ke mana-mana.” katanya tadi. “Kalau kita memang sudah harus mati, kita akan mati juga, walau lari ke ujung dunia.”

Walikota telah mengatakan bahwa daerah tempat kami tinggal tak akan tercapai gelombang tsunami. Rumah kami dijamin aman karena jauh dan cukup tinggi dari laut. Yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan bangunan runtuh. Maka malam ini kami memilih menginap di halaman, walau para tetangga telah lari sejak goncangan ketiga menghentak usai Magrib tadi diiringi listrik yang total mati. Kami telah memilih tak pergi. Bukan karena benar-benar yakin pada seruan walikota yang gemar membangun plaza itu, tetapi karena telah bosan untuk terus-terusan lari. Maktuo, Ibu, dan Bapak sudah tak sanggup lagi mesti berdesak-desakkan di atas mobil mengungsi ke ketinggian. Begitupun Kak Peri. Aku sendiri tak begitu acuh. Aku sudah jemu dengan kecemasan-kecemasan itu.

Kutuangkan kopi dari cerek ke cangkir. Meneguknya. Rumah tampak lebih rapuh dan menyedihkan. Sudah banyak retak-retak di dindingnya. Catnya kelupas-kelupas. Kasihan bila kami meninggalkannya sendirian.
Angin masih bertiup. Bumi rasanya terus juga bergetar-getar.
Kak Peri merebahkan tubuhnya ke dekat kaki Maktuo yang berselonjor. Ibu memijit-mijit kakinya yang reumatik. Bapak merapatkan jaket dan mengetatkan belitan syal di lehernya. Maktuo terus berzikir dalam kelumunan mukena. Aku mengambil kasur gulung ke dalam rumah. Sempat Ibu melarang. Tapi goncangan sudah reda. Kecuali ilusi. Kubentangkan kasur di atas tikar di luar naungan terpal. Merebahkan badan. Melihat bintang-bintang. Apakah di bintang ada setan?
Lengang. Setiadi telah tertidur di pangkuan Bapak. Hanya suara napas tertekan dan lirih zikir Maktuo. Tiba-tiba bumi bergemeretak. Kak Peri berseru. Bapak berseru. Ibu berseru. Maktuo berseru. Menyebut nama Tuhan.

***

Lalu beratus-ratus detik kemudian hanya sunyi.
Sampai Bapak berdehem, membuat cekaman itu cair. “Mari kita santai saja. Alam sedang mengajak bercanda. Tak seharusnya kita serius.” katanya.
Mulutku asam. Bunyi gemuruh rumah masih terngiang-ngiang di telinga. Ada loteng yang runtuh. Apakah hantu itu akan keluar dari laut dan menemukan kami sekeluarga sedang berkerumun di halaman seperti mangsa yang tolol?
“Ap, ambilkanlah maktuomu minum.” perintah Bapak.

Aku segera bangkit dan mengambilkan secangkir air putih untuk Maktuo. Perbekalan memang telah dipersiapkan Ibu sejak teror itu datang beberapa hari yang lalu. Tersedia juga ember besar berisi air untuk berwudhuk dan kompor. Setelah Maktuo minum, Ibu dan Kak Peri menggilir cangkir itu.
“Mari kita isi malam ini dengan bercerita,” Kata Bapak. “Sudah lama rasanya. Sejak hari raya.”
Percakapan pun merayap di antara malam yang remang dan nyamuk-nyamuk kurang ajar yang terus berdengung.

Ibu menjerang air di periuk untuk menambah kopi yang tinggal sedikit. Maktuo telah berhenti berzikir. Dia duduk tenang-tenang seperti pengemis pikun di depan swalayan. Kak Peri duduk serius dekat lentera yang bernyala lindap. Setiadi kini tidur di haribaannya.
Cerita didominasi oleh Bapak. Kadang dia terkekeh-kekeh ketika berhasil menghadirkan ingatan yang lucu. Maktuo akan terbatuk-batuk jadinya. Ibu senyum-senyum. Kak Peri terkikik sambil menyumpal mulutnya sendiri. Bapak suka sekali mengulang-ulang kisah lama. Tentang rumah tua kami, tentang peristiwa hari raya demi hari raya, tentang...
Suara Bapak menjadi serak.
“Aku teringat pada Kamaruzzaman. Ya, si Kam yang rumahnya di tepi sungai Batang Lembang di Sinapa Piliang. Dia anggota Kompi Negro dari Resimen III Batalion Lembang yang dipimpin Idris Madjidi. Saat orang Bagolak dulu, aku punya masalah dengannya. Dan dia tertembak...”

***

Aku mencintai Rakena, gadis Lukah Pandan yang berhidung lancip dan bertubuh semampai berisi. Sering aku mengamati dia sedang menjunjung kambut (bakul) meniti pematang sawah mengantar nasi untuk ayahnya. Tetapi ternyata dia lebih suka pada si Kam bangsat itu. Dia selalu menunggu-nunggu anak itu pulang dari SGA. Bagaimana tak akan sakit hatiku, aku yang mengejar-ngejar, tetapi dia malah terpikat pada orang lain. Dia tak suka padaku karena aku tak bersekolah. Bangsat! Mau apa dia dengan sekolah? Puih! Orang hanya butuh makan dan bersawah.

Suatu petang, sebelum api mengepul di atas nagari-nagari salingka Kubuang Tigobaleh, aku telah mendatangi Rakena dengan baik-baik. Kukatakan padanya,
“Dik, apa yang kauinginkan? Rumah? Sawah? Atau emas?”
Dia baru pulang dari sawah, membawa pucuk ubi dalam kambut.
“Tak tahukah Uda bahwa orang akan berperang? Orang laki-laki telah mengemas senjata untuk gerilya. Uda masih bersenang hati juga?!”
“Aku juga akan berjuang! Tetapi jawab aku dulu, Rakena. Kalau kau mau, keluargaku akan datang segera ke rumahmu!”

“Kata Uda Kam, keadaan telah genting. Nasution telah menaklukkan Painan, Bukittinggi, dan Padang. Djuanda telah menahan Sjafruddin, Sjafei, dan kawan-kawan. Kolonel-kolonel terdesak. Tak patut bila masih memikirkan diri sendiri!”
“Apa yang kauucapkan, Rakena? Dari mana kau tahu semua itu?!”
“Uda Kam yang cerita. Dia dapat kabar dari RRI Bukittinggi. Itulah, karena Uda tidak sekolah. Uda Kam sekarang telah bergabung dengan Kompi Negro, menjadi tentara pelajar untuk membela negri ini.”

Rakena berlari setelah memungut kambutnya. Rambutnya tergerai dari kain selendang yang lepas sebagian. Dua bulan kemudian dia ditemukan mati tertembak di tepi parak (kebun). Kata orang-orang, dia ketahuan oleh tentara menyelundupkan senjata ke Koto Ilalang.
Dendamku pada Kamaruzzaman semakin menjadi. Maka, ketika mendapat kabar bahwa dia akan menyeberang ke Sulik Aie dari Koto Ilalang, aku pun memberi tahu Tentara Pusat. Di Sumani dia tertembak.

***

Telah hampir Subuh. Bapak berhenti bercerita. Cahaya lentera yang redup membuat matanya tampak berkaca-kaca, atau memang dia menangis? Maktuo tersandar ke ember besar berisi air untuk berwudhuk. Tertidur. Di pipinya tampak ada leleh air mata yang telah kering. Kak Peri bergelung memagut Setiadi. Ibu diam dekat kompor yang masih menyala. Bunyi air menggelegak bergolak-golak di tengah hening yang menyakitkan dada.
Ketika pulang ke Solok saat hari raya beberapa tahun lalu, aku sempat mampir ke sebuah rumah di tepi sungai Batang Lembang dekat Masjid Lubuak Sikarah itu bersama seorang sepupu yang tinggal di kampung.
Di rumah tua itu aku bertemu dengan seorang lelaki tua yang duduk bersandar ke dinding papan. Dia tersenyum padaku dan mempersilakanku mencicipi tapai ketan yang disuguhkan istrinya.
“Kalau bukan karena perang itu, Nak, tak akan pernah ada jembatan, jalan, dan sekolah-sekolah di sini.” Katanya padaku dalam percakapan yang canggung. “Tetapi sayang, sejarah menganggapnya pemberontakan, padahal kami hanya menyampaikan aspirasi kami yang seolah hanya anak tiri. Perang saudara memang pahit.”
Waktu itu aku tidak tahu benar siapa dia, kecuali bahwa namanya Kamaruzzaman, pernah ikut berperang semasa Bagolak, dan kaki kanannya buntung sebatas paha.
Cerita Bapak yang sebentar ini membuat perutku mual. Aku pergi ke sumur untuk kumur-kumur dan muntah. Gempa sudah tak ada. Rumah hampir rubuh. Ketika balik, kulihat tubuh Bapak yang ringkih oleh komplikasi penyakit itu bergetar-getar dan kudengar dia tersedu sampai batuk-batuk***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Padang Ekspres 09/06/2009



Nekno merepet lagi. Pagi tadi, untuk yang kesekian kalinya, Bi Awi melapor pada wanita 70 tahun-an itu. Bukan perkara Nekno mudah dihasut. Namun, sudah menabiat rupanya tingkah gila Neknang. Sudah hampir 80-an, masih juga gila perempuan!

Bi Awi adalah perempuan yang kesekian yang jadi ’korban’ Neknang. Nekno pun tahu bahwa Niar, menantunya yang tinggal serumah, sering menerima aduan yang tidak semuanya berhasil ia endus. Niar tak mau banyak omong. Ia sudah paham benar betapa kemughau (cemburu-buta) si ibu mertua.

”Jangan kalian anggap Mak kemughau! Tak ada untungnya cemburu-cemburuan di ujung hayat ni!”.

Neknang seolah tak mendengar. Baru saja ia menyeruput dua sendok sirup-batuknya.

”Bak kalian tu yang kanji, genit tak tepat waktu!”

***

Niar baru saja memberhentikan Siti, pembantunya yang belum setengah tahun bekerja. Pasalnya, Neknang—entah disengaja atau tidak—meminta Nekno mengajari gadis 16 tahun-an itu tata-cara mandi wajib.

”Penting tak itu, Yar?!!”

Waktu itu Nekno memuntahkan semuanya. Dia bercerita, sudah lama dipendapnya bara yang menyala-nyala itu, tapi Neknang nyinyir memintanya mengajari si Siti mandi wajib.

”Hendak kawin Bak-mu dengan budak[1] tu, hah?!”

Maka, sejak itu, Nekno sering minggat. Pergi ke rumah anak angkatnya di Taba Jemekeh. Berulangkali pula Neknang menyuruh Ja’i, cucu sulungnya, menjemput sang istri. Lalu minggat lagi, dijemput lagi.... semua baru reda ketika Siti diberhentikan. Siti cengegesan saja. Tentulah ia tak habis pikir bagaimana pasangan berbau tanah itu kerap berkamelut karena dirinya. Ya, manalah mungkin hatinya tertambat pada Neknang. Awalnya, ia pun tak yakin kalau Neknang seperti yang dituduhkan Nekno, tapi... setelah mendengar keluhan majikannya tentang perangai laki-laki itu, Siti agak percaya juga.

”Tak apa-apa, Bu, tapi... bagaimana dengan kebaya...?”

Sejak bulan kedua bekerja di tempat Niar, Siti sudah mengkredit kebaya pada Bi Sul, tukang kredit baju keliling. Musababnya, Siti diundang pesta kawinan tetangga. Karena merasa dapat menyisihkan 50 ribu saban bulan untuk nyicil, maka berkebaya barulah Siti ke pesta malam itu. Tentulah Siti bingung bagaimana harus melanjutkan cicilannya bila ia sudah tak bekerja di tempat majikannya lagi.

”Siti nak balik ke kebun lagi, Bu. Bantu orangtua motong, menyadap karet. Tak sampai 50 ribu Siti diupah....”

Niar mengangguk kecil. Siti paham maksudnya. Maka, sigaplah ia membereskan pakaiannya yang hanya beberapa. Tak lupa, Niar melipatkan beberapa kain panjang, baju pestanya yang tak dipakai lagi, dan dua set kutang dan sempak yang baru dibelinya dari swalayan malam tadi.

Setelah menerima beberapa lipatan 50-ribuan, Siti salim. Pulang. Tak lama, Nekno turun dari sepeda motor Ja’i. Lagi, pulang dari minggat. Nekno tak bertanya perihal Siti yang sudah beberapa hari tak ada di rumah. Hanya Neknang yang hati-hati bertanya pada Yan, suami Niar. Sejak itu, suasana rumah kembali terkendali.

***

”Mak ni memang mertua tiri-mu, Yar. Tapi, sayangnya Mak pada Yan, kau, dan kedua anakmu; Ja’i dan Yakup, tentulah tak usah ditanya lagi. Sudah belasan tahun Mak ikut dengan kau. Mak memang tak punya anak, makanya kalianlah yang Mak anggap anak. Sebenar anak, Yar. Entahlah, tahun-tahun belakangan ini, perangai Bak-mu bejat nian. Sudahlah ngidap sakit paru-paru, badan kurus kering, masih sempat-sempatnya mikir ke situ. Lah tue dak nue....!!![2] ”

Neknang yang duduk di kursi garuda kayu yang bertebuk di sana-sini, diam saja. Ia sudah capai berdalih. Niar, Yan, dan cucu-cucunya, pasti menyalahkannya. Ia pasrah. Pun ketika Niar menyarankan agar mereka berdua tinggal di bedeng milik Yan yang beberapa hari lagi akan ditinggalkan penghuninya.

Tentu sudah Niar uraikan alasan ia mengambil langkah itu. Keluarga Niar memiliki dua rumah yang saling berdempetan. Rumah lama untuk usaha kursus bahasa Inggris si Ja’i. Rumah yang baru, ditempatinya untuk usaha manisan. Pinjaman dari bank untuk modal kedua usaha itu baru cair bulan lalu. Tak kuat Niar membereskan dua rumah sendirian. belum lagi mengamankan barang-barang penting yang kerap diletakkan serampangan oleh suami dan kedua putranya. Inilah tak eloknya punya anak bujang. Tak ada yang dapat dikoar untuk beberes. Dan... Niar bermaksud mencari pengganti Siti. Tentulah itu perempuan. Sementara dari gelagat Nekno belakangan ini, sudah hilang kepercayaannya pada Neknang. Siapapun orang baru itu, selama ia perempuan, pastilah penyakit kanji—suka perempuan, suaminya akan kumat. Tentulah memindahkan Nekno dan Neknang ke bedeng yang hanya berjarak satu kilometer dari rumah, bukan untuk mengucilkan mereka, namun... agar pembantu baru nanti dapat leluasa bekerja. Nekno pun tak perlu khawatir Neknang akan ’kumat’.

Namun, Nekno tak hendak pindah. ”Bila akhirnya harus pisah rumah juga, lebih baik dulu tak usah kau jemput kami dari Ulaklebar tu.” Demikian Nekno bersikeras.

Dulu, Neknang menjadi penjaga SD di Ulaklebar, dan menempati sebuah rumah mungil di belakang sekolah. Neknang membuka kebun di belakang rumah, sementara Nekno membuka warung kecil-kecilan. Nekno berjualan nasi gemuk, bakwan, pecal, dan kue talam. Tak lama, usaha percetakan Yan maju pesat. Tak inginlah laki-laki itu dicap Malin Kundang. Maka, Yan mengajak istrinya berembuk; agar orangtuanya tinggal bersama mereka. (Ya, Yan tak perlu mengusulkan pada istrinya agar, demi keadilan, diboyonglah juga kedua mertuanya yang toke parah[3] kaya itu ke kediaman mereka.)

Niar setuju.

Maka, demi mendengar eloknya alasan tersebut, Nekno pun terpaksa menutup warung yang sedang laris-larisnya itu. Neknang juga merelakan kebun yang digarapnya selama ini kepada penjaga SD yang baru.

”Biarlah Mak sendiri yang membereskan rumah belakang dan depan. Tak masalah itu, Yar. Mak kuat. Lagipula, Mak tak harus repot mencuci pakaian. Biar Mak yang ngantar cucian ke rumah Bi Non saban petang dan menjemputnya keesokan hari.”

Pahamlah seisi keluarga itu, betapa kemughau-nya si Nekno. Bahkan pada Bi Non yang sudah mencuci pakaian, sekaligus menjemput-antar cucian, sejak lima tahun yang lalu pun....

***

Benar. Nekno dapat melakukan pekerjaan yang selama ini dijabani Siti dengan baik. Oh, ternyata benar adanya bahwa suasana hati dapat membuat tenaga bertambah beberapa kali-lipat . Sampai di sore itu...

Praaaak!

Nekno melempar dan menumpas beberapa piring-gelas di hadapan Neknang.

”Rupanya ini musabab kau selalu pergi berurut di simpang gang tu, hah? Nak kausunting si Nur tu?!!!”

Neknang tak menerima tuduhan itu. Batuk kering beberapa kali menyelingi penjelasannya. Nekno tak peduli. Dihamburkannya lipatan-lipatan baju suaminya dari lemari. Ia merepet tak henti. Nekno benar-benar kalap. Lagi, dengan lenguhan bosan, Niar dan keluarga menenangkan Nekno. Neknang terduduk, bersandar di kursi rotan tua dekat lemarinya yang acakadut.

Malamnya, Nekno minggat.

***

Niar, suami, dan kedua anaknya baru saja menjemput Nekno dari pos polisi. Pagi buta tadi, Nekno kedapatan menghajar seorang gadis idiot dekat Rumah Sakit Kota. Nekno berdalih bahwa gadis itu benar-benar Siti. Namun, ketika gadis itu dihadirkan, Nekno menuduh kalau polisi membohonginya. Ini gadis yang lain, katanya. Pun bila gadis itu adalah Siti, apakah Nekno berhak menghajarnya?

Akhirnya, dengan setengah terpaksa, Nekno mengakui kesalahannya. Ia tampaknya malu, sebagaimana merah-masainya wajah anak-menantunya ketika menerima wejangan petugas agar mereka memerhatikan orangtua.

Sepanjang perjalanan pulang, Nekno tak berhenti merepet. Ia sibuk memuntahkan kekesalannya perihal gadis jalanan—yang katanya (atau perasaanya saja?)—mengaku-ngaku sebagai Siti.

”Berbohong pula dia! Katanya Neknang kalian meninggal dunia.” Berapi-api dia bercerita pada kedua cucunya.

Nekno pun menganggap cerita Yakup perihal Neknang yang gelagapan menjelang subuh karena mendapati dirinya tak ada lagi di kamar belakang, hanya karangan cucunya itu saja.

”Alaaah tak percaya aku!” ujarnya tak peduli.

Yakup diam saja. Pun yang lain. Tak ada yang berniat menanggapi, apalagi mendebat ceracauannya.

***

Seorang laki-laki renta membuka pintu. Ia batuk beberapa kali.

”Kumat paru-paru kau, Kak?” Belum setengah daun pintu dikuak, Nekno sudah serta merta bertanya. ”Ja’i, ambil sirup Neknang dekat rak buku!” perintahnya tanpa menoleh. Ia memegangi bahu suaminya lamat-lamat.

Ja’i masih termangu mendapati pemandangan yang tak biasa itu. Neknang batuk lagi.

”Siruuuup, Ja’i...!!!” Setengah berteriak Nekno mengulangi perintahnya.

Cucu sulungnya itu gelagapan, gegas ke belakang.

Nekno menempelkan tangannya di kening dan pipi suaminya. Yang lain bersitatap, mengulum senyum, dan berdo’a dalam hati. Entah apa isi do’a itu. ***

/Lubuklinggau, 09 Juli 2009

[1] Bocah ingusan.

[2] Sudah tua tapi (kelakuan) tak seperti orang tua...!!!

[3] Pengumpul hasil sadapan karet dalam jumlah besar