Cerpen Fahri Asiza
Dimuat di Harian Global, 11/12/2010
Superman diundang ke sebuah seminar yang diadakan di hotel berbintang lima di Jakarta. Manusia baja dari planet Krypton itu datang tepat pada waktunya. Orang-orang terpana melihat kegagahannya. Lampu blizt para fotografer dari berbagai media massa berkilat-kilat. Para reporter televisi dan radio sibuk melakukan liputan langsung. Suasana ramai, menggema.
Superman ternyata lebih gagah daripada yang ada di komik, novel, serial teve maupun dalam film layar lebar. Baju biru ketat yang terbuat dari bahan anti api, peluru, rudal maupun nuklir pas sekali pada tubuhnya yang berotot. Celana dalam merah yang dipakai di luar menambah kegagahannya. Belum lagi jubahnya yang berkibar-kibar saat dia turun dan hinggap di tempat yang disediakan di pelataran parkir hotel itu. Hurup S yang ada di dalam garis berbentuk berlian bercahaya.
Pemimpin seminar adalah seorang menteri terpilih yang berhasil membantu menggulingkan pemimpin yang lama. Dia memberi sambutan kedatangan manusia ajaib dari luar angkasa itu. Konon kehebatan Superman mengalahkan Songoku, Songohan, Songoten, Bezita maupun Trunks, manusia-manusia Planet Saiya yang bisa menjadi manusia super saiya lima.
"Terimakasih pada Mr. Superman yang mau memenuhi undangan kami!" begitu sambutan pertama Pak Menteri di atas podium, di hadapan para hadirin yang untuk hari ini seluruhnya berpakaian resmi. "Undangan ini memang khusus kami tujukan kepada mister, untuk membantu kami menyelesaikan pertikaian demi pertikaian yang terjadi di negeri ini. Anda sebagai manusia baja yang bisa melihat kejauhan dalam jarak tak terhingga dengan sinar X yang Anda miliki, sangat kami harapkan bantuannya untuk memantau keadaan yang ada. Para penjabat tinggi negara, para jenderal, para tamu luar negeri dan saudara-saudara sekali, kami perkenalkan, tamu kehormatan kita! Misteeeerr.... Superman!!" Orang-orang bertepuk tangan ramai. Lampu blizt berpendar-pendar lagi.
Seminar pun dimulai. Masalah kekerasan yang masih terjadi di negara ini menjadi fokus utama. Debat kusir terjadi. Masing-masing berusaha mempertahankan pendapatnya walaupun salah. Bagi mereka, terlihat hebat lebih penting ketimbang diam. Padahal, mereka sedang menata kebodohannya sendiri. Seminar itu tidak membawa hasil apa-apa. Tapi sebuah keputusan didapat, Superman bersedia menggantikan aparat kepolisian yang sudah jatuh bangun, apalagi kini dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Orang-orang bersorak, mengelu-elukannya. Berharap kedamaian akan tercipta berkat bantuan orang terkuat di bumi itu.
***
Yang dilakukan manusia baja itu pertama-tama memantau keadaan dari udara. Dengan kemampuannya melihat kejauhan itu, semuanya dapat dijangkau dengan mudah. Deru baling-baling sepuluh buah helikopter terdengar keras. Lima belas stasiun teve dari dalam maupun luar negeri berlomba-lomba untuk meliput kegiatan Superman. Sisanya para pejabat yang ingin langsung memantau.
Kemana pun Superman pergi, mereka mengikutinya. Hari pertama Superman merasa kepalanya pusing. Dilihatnya kekerasan berserakan di mana-mana. Di sebuah jalan, seorang nenek diperkosa tujuh berandalan. Di sebuah rumah, lima perampok sedang menguras harta benda tuan rumah. Di dalam taksi, dua orang remaja sedang menodong sang sopir. Di depan istana, para demonstran sedang bertarung dengan aparat.Di jalan protokol, para pelajar pecah dalam tawuran. Di sebuah tempat, sebuah bus kota hancur dibakar massa. Di bawah lampu merah, seorang pencopet tewas dihakimi massa. Di dekat halte, seorang polisi sedang menerima tiga puluh ribu rupiah dari pelanggar lalu lintas. Di salah satu bagian ruang pengadilan, seseorang memberikan sebuah kunci mobil pada seseorang yang mengenakan jubah. Di gedung DPR/MPR terjadi perkelahian sengit.
Hari kedua, Superman lebih pusing lagi. Seorang Polisi tewas dihajar preman. Seorang artis dituduh menyimpan shabu-shabu. Seorang pejabat tertangkap basah memperkosa bocah laki-laki berusia 12 tahun. Seorang tante merayu joki three-in-one. Di sebuah desa, aparat kepolisian berperang melawan gerombolan.Sebuah kantor polisi dibakar massa. Bom meledak di sebuah gedung. Seorang lelaki bunuh diri karena pacarnya kabur dengan lelaki lain. Sebagian orang penting, melakukan ruwatan.
Superman yang sedang patroli dari udara melayang turun. Mampir ke toko obat untuk membeli obat sakit kepala. Sebelum penjual obat itu berteriak-teriak kegirangan karena melihatnya, Superman sudah melayang lagi di udara.
"Sejauh ini, Superman belum melakukan tindakan apa-apa," lapor seorang reporter sebuah televisi swasta. "Rupanya manusia baja itu masih terus memantau keadaan yang semakin kacau."
Di rumah-rumah, seluruh rakyat Indonesia menyaksikan perbuatan manusia baja itu melalui layar kaca. Mereka mengelu-ngelukannya. Ada juga yang mengeluh, "Kok cuma terbang melulu? Tidak melakukan tindakan apa-apa?" Ada juga yang bilang, "Kayak lagi study banding, tapi hasilnya apa?"
Hari ketiga, Superman menemui menteri yang memimpin seminar waktu itu. "Maaf, Bapak Menteri. Rupanya kekerasan di negeri Anda ini sudah berada dalam taraf yang parah."
"Itulah sebabnya, saya membutuhkan orang super sakti seperti Anda."
"Sebaiknya Anda mengundang Suma Han saja. Pendekar Super Sakti dari Pulau Es."
"Kami sudah mengundangnya. Tapi menurut Suhu Suma Han, jaraknya sangat jauh dari tempat dia berada. Kalau Anda, kan tinggal melayang saja, Mister."
Superman mengambil sebatang kretek dan mengisapnya. "Walaupun saya memiliki kecepatan melebihi kilat, tapi sulit memberantas kekerasan di negeri Anda ini. Negeri Anda sangat luas. Penduduknya beragam dan banyak sekali. Mungkin dalam setiap detiknya, lima puluh kekerasan bisa terjadi."
"Maksud Anda bagaimana?"
"Saya mengundurkan diri. Saya tidak sanggup mengatasinya."
"O... saya suka keterusterangan Anda. Mengundurkan diri karena tidak sanggup. Bukan alasan macam-macam, yang pada intinya, sebenarnya memang tidak sanggup. Apakah gaji yang saya berikan kecil?"
"Alasan saya bukan itu. Saya tidak memperhitungkan bayaran. Saya bekerja karena rasa kemanusiaan. Jadi kalau saya mau membantu masalah Anda, memang tulus dari hati saya. Cuma, walaupun saya manusia super, tapi rasanya sulit mengatasi masalah di negeri Anda."
"Sebaiknya bagaimana?"
"Saya akan kembali ke Planet saya. Planet saya memang telah hancur. Tapi saya ingin menatanya kembali. Karena, di Planet saya satu sama lain saling menghargai. Mereka tidak saling mencacimaki atau menghujat. Saya yakin, dalam waktu singkat, planet saya akan menjadi planet abadi yang penuh keindahan dan keharmonisan."
"Jadi... bagaimana sekarang?"
"Negeri Anda yang bisa membuat indah, harmoni dan saling menghargai adalah dari dalam diri sendiri. Bukan atas bantuan orang lain. Apalagi rasa kasihan orang lain. Bila Anda sudah menemukan hal itu, saya yakin, tak lama lagi negeri Anda akan kembali menjadi bumi yang paling subur."
"Apa mungkin?" Bapak Menteri menghapus keringatnya.
"Itulah yang saya tidak yakin… Permisi!" Dua detik kemudian, sosok manusia baja itu sudah tidak nampak lagi.
Bapak Menteri berlari keluar. Ada sesuatu yang lupa untuk disampaikan. Tapi Superman sudah menghilang. Puluhan reporter dan fotografer sudah menunggu di halaman. Begitu melihat Pak Menteri, mereka menghujaninya banyak pertanyaan, yang saling bertabrakan, tumpang tindih dan tak tentu arah.
Pak Menteri tersenyum. Lalu berkata tenang, "Karena tak sanggup, saya mengundurkan diri… dan saya juga menyarankan, bila teman-teman tak sanggup menyelesaikan masalah di negeri ini, sebaiknya mengundurkan diri." ***
Dimuat di Tribun Jabar, Minggu, 14 November 2010
DI sebuah ruang, terjadi sidang. Para hulubalang yang biasanya tidur di sudut-sudut sambil menurunkan kursinya hingga sosoknya tidak bisa terlihat dari depan, atau diam-diam mengeluh, “Kapan selesainya? Ngantuk!” kini semua menjadi naga. Saling berdiri dengan telunjuk ditegakkan, membusungkan dada agar terlihat kamera televisi. Ini kesempatan bagus, karena posisi menentukan prestasi. Yang duduk di pojok, mengambil Blackberry yang bergetar, ada tulisan, “Aku sudah nunggu lama nih, Om.” Buru-buru dibalasnya, “Sebentar ya. Ini ada yang lebih penting. Kesempatan buat unjuk gigi.” Lalu dengan angkuh dimatikan BB-nya.Salah seorang teriak, “Tidak bisa! Kita harus ambil keputusan bulat! Ingat, ini demi negara dan bangsa! Berapa banyak rakyat kecil yang tertindas, sementara banyak orang besar yang terninabobokan di ranjang sintal! Kalau begini terus kapan bisa selesai? Ini sudah berlarut-larut!”
Tepuk tangan membahana diiringi teriakan setuju. Ada pula yang berteriak, “Allahu Akbar!” Walau mungkin maknanya tak dipahami.
Tak mau kalah dengan ucapan garang itu, salah seorang yang berdiri di muka berjarak tiga meter angkat suara. “Bila memang harus ada keputusan bulat, itu pemaksaan namanya! Kita bisa voting dalam menengarai kasus semacam ini! Ini kasus pelik! Kalau pun berlarut-larut karena belum ada titik temu!”
“Atau memang sengaja dilarutkan lalu dibuang dalam lorong panjang?!”
Ruangan terhormat yang dipenuhi orang-orang terhormat itu seolah mau runtuh dengan teriakan dan tepukan tangan bergemuruh. Di luar langit menghitam pekat. Awan berjalan lambat ingin bertindak sebagai saksi.
“Hei, jaga mulut, Saudara! Saudara menuduh!”
“Menuduh seperti apa? Ini sudah kenyataan!!”
Makin gaduh makin penuh pesona, begitu beberapa ungkapan dalam hati para anggota sambil melirik kamera televisi. Biar terlihat bekerja. Ini kesempatan mengubah image era lama menjadi era terbaru. Biarkan semua berteriak, tinggal menyisipkan kata saja.
Seseorang yang sejak tadi dilumur kemarahan tak kuasa menahan bisikan untuk maju ke muka. Pohon-pohon khuldi bertumbuhan begitu saja. Semua memetik, menikmati dan mengubah taman Firdaus menjadi arena adu banteng. Microfon di meja depan diraihnya, lalu mengguntur bersuara, “JANGAN BERLAGAK BODOH! SAUDARA MEMANG MENGULUR WAKTU!!”
Gema menghantam dinding ruangan, memantul-mantul ke langit ke tujuh, membangunkan Bhuraq yang sedang terlelap. Malaikat berbisik, “Jangan ikut campur, karena kita tak akan mampu meniupkan kesejukan dalam suasana itu.” Bhuraq pun menjadi penonton.
Pemilik microfon, yang merasa berhak menguasai persidangan, mengambil paksa. Sesaat saling genggam dan saling tarik membahana. Tenaga yang dikerahkan bukan lagi sepersepuluh dari biasa, total penuh bersinergi dengan iblis yang menyeringai bahagia.
Puluhan blitz menemani hujan yang mulai turun di luar. Kilat-kilat kecil makin mempertajam wajah-wajah serigala yang merasa dirinya bagaikan dewa ketenangan. Semua merasa dilingkupi kebenaran dan sesekali tetap melirik kamera televisi sambil berbisik dalam hati, “Sudah makin gagahkah aku?”
Beberapa orang dari masing-masing kudu mencoba melerai. Semakin dilerai bacot semakin kuat menerjang. Kaki tangan siap memukul tapi merasa beruntung karena dibatasi jarak hingga tak benar-benar memukul dan dipukul.
Sidang ditunda setengah jam ke depan.
Kesempatan pun dipergunakan. Kamera televisi, lampu blitz, suara reporter menghiasi sekarang. Masing-masing berusaha bersuara dan memperlihatkan diri menjadi manusia. Salah seorang diam-diam menebang pohon khuldi. Sebagian memilih duduk merokok. Si Om menghidupkan BB-nya, mengetik dengan gerakan yang lebih terlatih ketimbang menulis laporan, “Sepertinya akan lama, Beb. Sebaiknya kita tunda dulu. Saat ini seluruh lapisan masyarakat pasti menonton. Aku tak mau ketinggalan. Siapa tahu dengan kegarangan bacotku ini, aku akan dapat jabatan dan kehormatan lain.”
Para reporter terus melaporkan secara langsung. Rating bisa drastis naik. Tayangan yang nyaris terjadi baku hantam ditayangkan. Suguhan yang bisa mengenyangkan. Para penonton dari layar kaca ada yang berdecak menyalahkan satu pihak, ada pula yang membela satu pihak, ada yang menggeleng-geleng pedih, ada yang tertawa bahagia, ada yang langsung mematikan televisi dan menyuruh anak-anaknya main sepeda.
Setengah jam kemudian sidang dilanjutkan. Bukan mengarah pada yang lebih baik, justru kian merajai kemarahan. Beberapa orang menyerbu sambil melayangkan tonjokan. Yang diserbu tak mau kalah. Yang masih punya nurani tapi sudah punya modal bila voting akan menyebut lantang, “Abstain!”, berusaha melerai. Jas mahal yang baru dari londry, ada pula yang baru membeli, menjadi acak-acakan. Rambut klimis setelah tiga jam di salon demi menghadiri sidang terhormat, hanya butuh sekian menit untuk dirapihkan, tapi itu pun sudah tergerus kemarahan.
Semua kembali duduk dengan dasamuka yang meluap-luap.
“Tenang, Saudara-saudara!” salah seorang berdiri “Kita ini orang-orang terhormat, duduk pula di kursi terhormat dan dipilih dengan cara terhormat! Pakailah nurani masing-masing!!”
“Hei, jangan asal bicara kau! Apakah kau sendiri punya hati nurani?”
“Heiiii!! Saudara bicara apa?”
“Tak usah kau berlagak tuli! Yang kutanyakan, apakah kau sendiri punya hati nurani? Aku yakin kau tak berani menjawab, kalau pun kaujawab, sudah pasti kebohongan yang kaubeberkan!”
“Bila aku tak punya hati nurani, tak mungkin kulontarkan ini agar kalian tenang!”
“Kau tak memberi solusi apa-apa! Jangan banyak bacot! Duduk saja dengan manis dan tunggu gajimu bulan ini, bulan-bulan berikutnya sampai genap masamu duduk di ruangan terhormat ini!!”
Darah pun menggelegar naik dengan sepasang pelipis berdenyut keras. Agak nyeri di bagian kanan kepala, tak sadar iblis telah bertengger di sana. “Jangan kurangajar!!”
“Hei!! Kau yang kurangajar!”
“Kau menantang!”
“Siapa pun kutantang di sini karena menghalangi jalanku!!”
“Kau tak menghargai sidang ini!”
“Berapa harganya telah kubayar tau!!”
Tinju kembali melayang. Di tempat latihannya, para juara tinju dunia di mana pun berada, asyik menonton dari layar kaca dan mempelajari teknik-teknik terbaru dalam bertinju sambil bergumam, “Aduhai, cara tinju mereka lebih hebat dariku! Ini harus dijadikan dokumentasi agar aku bisa mempelajari teknik bertinju seperti itu! Yak! Jab! Upper cut! Jab! Jab!”
Ring tinju terbesar di dunia tercipta begitu saja. Para pesertanya pun tak lazim, bila harus berhadang satu lawan satu, kali ini bergerombol. Para pelajar yang membawa gesper, batu dan parang, membuang atribut itu untuk menyerang lawannya. Mereka semua duduk menonton televisi di sebuah warung rokok sambil ribut mempelajari cara menyerang lawan sambil satu sama lain bersalaman bahagia dan berbisik, “Kita dapat pengetahuan yang bagus bagaimana cara menyerang. Berangkaaat!!”
Kejadian itu telah mengubah semuanya. Harga saham dipastikan bakal jatuh besok. Perbankan kacau balau. Beberapa perusahaan merugi karena para karyawan berhenti sejenak bekerja. Beberapa orang langsung menjual mobilnya dan menukarnya dengan dollar. Sebagian menghisap rokoknya lalu mengangkat telepon dan berucap, “Selamat! Berhasil!”
Suasana sidang semakin tak karuan. Bahasan awal terlupakan dan lebih menomorsatukan kemarahan yang nampaknya telah membudaya. Betapa mengasyikan, tinggal menunggu reporter yang akan mengetuk pintu rumah atau kantor untuk mewawancarai. Tinggal membeli piala atau tanda penghargaan di Tanah Abang yang akan dipajang di balik kursi mewah yang bisa diputar. Lalu mempersiapkan wajah garang agar terlihat penuh semangat membela kebenaran.
***
Tiba-tiba seseorang yang sejak tadi memperhatikan dan hanya duduk di sudut ruangan berdiri, “Hei, hentikan, hentikan….” Yang bertikai tak peduli. Seseorang itu akhirnya terpaksa memukul meja sambil teriak, namun kelembutan masih ada di sana, “Ayo hentikan, hentikan!!”
Seiring pukulan pada meja, pertikaian itu terhenti.
Seseorang itu tersenyum, “Ayo, rapikan baju kalian lagi.” Mereka merapikan baju masing-masing. “Sidang yang bagus dan memuaskan. Tapi lain kali jangan ribut seperti itu ya.”
“Tapi semalam kan di televisi seperti ini.”
“Bukan semalam, kemarin siang!”
“Iya, tapi kan tetap di televisi! Iya kan, Bu Guru?”
“Sudah, sudah… ayo… ayo berdiri semua. Yang jadi anggota, yang jadi reporter, yang jadi ibu dan yang jadi bapak, kembali ke kelas ya.”
Mereka tertib melangkah, bergandengan tangan pula. Seseorang itu menghela napas setelah sosok terakhir keluar dari ruangan, “Mereka benar-benar telah menjiplak para pembesar… ini sungguh berbahaya… terlalu mengerikan.” Sesorang itu menghela napas panjang, ada kegelisahan yang tertoreh tajam. “Besok, aku akan mengajarkan cara bersidang yang baik.”
Pelan-pelan seseorang itu menutup pintu ruangan, masih sempat dipandanginya tulisan besar pada dinding : SEDANG BELAJAR SIDANG.
Pintu pun ditutup dan saatnya untuk pulang…***
Dimuat di Nova, 09/08/2010
“Bapakmu mana?”“Bapakku sudah mati. Bapakmu?”
“Hmm… bapakku, sudah kuanggap mati.”
Penggalan percakapan itu masih menari-nari di bantaran benakku, tanpa menyisihkan sedikit pun suasana lalu yang tergambar. Kala itu kami duduk berdua, di batang pohon yang menjorok ke sungai beraliran deras. Senja telah menyebar menyingkap siang yang meranggas.
Seharusnya tempat yang tidak nyaman itu membuat kami gemetar, karena bisa saja batang pohon itu tiba-tiba menghempas ke sungai dan menggulung kami dalam derasnya aliran.
Kuingat pula Kholid bercerita, pagi itu, belasan tahun yang lalu, dia bangun sebelum ayam jantan berkokok, mengendap-endap di antara semai belukar dan pohon jati, mengintil bapaknya yang menyusup udara dingin membawa buntalan.
Sejak beberapa malam sebelumnya hatinya diundang tanya berkepanjangan, apa yang bapaknya lakukan setiap pagi, membuka pintu kamar, meninggalkan ibu yang terlelap lalu terburu-buru keluar rumah.
Kalau hari-hari sebelumnya bapak tidak membawa apa-apa, tetapi tadi dia membawa buntalan. Semalam Kholid mengintip, bapaknya diam-diam memasukkan beberapa baju dan mencuri perhiasan ibunya.
Bapak mau kabur! Begitu yang ada di otak kecilnya yang sedikit demi sedikit mulai bisa berpikir tentang sikap aneh bapaknya hari-hari terakhir. Bapak tetap bersikap manis, selalu tertawa, pada dirinya, ibunya dan si bungsu yang baru bisa bicara ba-ba-ba. Tetapi Kholid tahu kalau bapak menyimpan rencana. Yang tak pernah dia tahu, apa yang direncanakannya kecuali pagi itu terburu-buru keluar seperti dikejar wabah kolera.
Di ujung jalan kampung berbatu dan kalau pagi seperti ini bukan sebuah jalan yang enak ditempuh tanpa penerangan, bapaknya berhenti, berbisik memanggil-manggil. Kholid tak menangkap apa panggilan itu, tetapi yang jelas, dia melihat seorang wanita tiba-tiba keluar dari kegelapan, berkata-kata yang menunjukkan kelegaan dan bilang kalau dia hampir mati menunggu bapaknya di situ. Keduanya berpelukan, lalu bergandengan tangan penuh bahagia melangkah meninggalkan tempat itu.
Sampai di sana pengintilan yang dilakukan Kholid. Selebihnya dia sudah bisa memamah apa makna dari sikap bapaknya yang sangat aneh dan terburu-buru. Ibu hanya berkata tetapi dengan sikap menutupi kesedihannya kalau bapak tidak pulang-pulang karena ada pekerjaan yang memang membutuhkan waktu lama.
Kholid hanya mendengarkan dengan menekan pedih dalam-dalam. Ibu selalu tersenyum dan tetap bersahaja membesarkannya dan adiknya. Hingga ibunya meninggal, Kholid tidak pernah memberitahu kalau dia tahu kemana dan dengan siapa bapaknya pergi.
“Kemana?” tanyaku kala itu, angin senja menyisir wajah kami berdua. Kulihat kemarahan tergambar jelas di raut Kholid.
“Pergi dengan gendaknya, wanita busuk yang hanya akan melukai hati ibuku bila kukatakan kebenarannya.”
Setelah itu kami buru-buru turun. Bila mendekati malam seperti ini, kupu-kupu akan banyak beterbangan di ladang. Kami pun asyik mengejar kupu-kupu yang menari-nari hingga Magrib datang menyeru alam sembari tertawa-tawa gembira.
Bila sudah mengikuti kupu-kupu menari tak terlihat lagi kemarahan di wajahnya. Dia bisa begitu ekstasi mengikuti kemana kupu-kupu pergi. Tak pernah menangkapnya, hanya melenggak-lenggok menikmati gemulai indah ciptaan Tuhan.
***
Tiga tahun kemudian setelah kematian ibunya, Kholid pergi entah kemana. Padahal usianya baru sebelas tahun. Adiknya dititipkan pada pamannya yang tinggal di desa seberang, yang kemudian kudengar dijual pada seorang wanita dari Jakarta, karena dia tak mampu menghidupinya.
Hal itu sudah kukatakan pada Kholid ketika tak sengaja kami bertemu pada acara pernikahan sahabatku di gedung mewah ini. Rupanya Kholid sahabat dari mempelai wanita. Ketika pertama kulihat, sungguh tak kukenali. Dia telah berubah menjadi lelaki gagah yang tampan dengan jas bagus yang menawan. Tetapi bekas luka pada lehernya membuatku teringat siapa lelaki yang berdiri di hadapanku ini. Dulu, kami sama-sama pernah terjatuh ketika mengejar kupu-kupu, tak sadar hingga ke tepi jurang. Beruntung masih bisa berpegangan tangan pada akar pohon yang mencuat keluar, namun menyisakan kenangan di leher Kholid. Dia tidak menangis, malah tertawa-tawa hingga akhirnya kami bergulingan sejarak setengah meter dari jurang.
“Kholid?”
“Zulfikar?”
Kami sama-sama mengangguk. Bukan hanya tangan yang kami sematkan, tapi pelukan pun kami pautkan. Sejenak kami tertawa-tawa dan berbicara cukup lama seputar pertemuan yang tak disengaja ini. Dari pertemuan itu kuketahui kalau Kholid sudah menjadi saudagar kain di Jakarta, sementara aku sekarang tinggal di Surabaya, bekerja di sebuah instansi pemerintah.
Lepas dari acara pernikahan, kami sama-sama keluar dibalur keramaian dan malam sahdu menuju pelataran parkir. Mobilnya pun mewah, sementara aku hanya menumpang taksi dan sekarang menginap di sebuah hotel.
Kholid mengajakku menginap di rumahnya, tetapi tawaran itu kutolak, dan berjanji besok aku akan mampir ke rumahnya, karena aku memang sengaja cuti untuk menikmati alam Jakarta selama tiga hari. Justru Kholid yang bilang, dia besok akan menjemputku.
Kembali ke hotel yang cukup nyaman, kubayangkan lagi pertemuan dengan Kholid tadi, sahabat masa kecilku yang tak akan pernah kulupakan. Semenjak dia pergi, sungguh aku direjam sepi. Tak bisa kunikmati berayun-ayun atau sekadar duduk-duduk di dahan pohon yang menjorok ke sungai.
Gairahku pun pudar karena tak lagi kutemui tawanya kala mengikuti gemulainya tarian kupu-kupu di ladang yang mulai diredupi senja. Perginya dia membawa luka dalam rupanya dibalasnya dengan kerja keras hingga menjadi orang. Sungguh, tak kuasa kutahan riak kegembiraanku yang menerbit.
Ah, apakah dia masih menganggap bapaknya sudah mati? Atau barangkali memang bapaknya sudah mati. Malam ini aku tidur dengan nyaman, besok aku akan menunggunya di lobby untuk membawaku keliling Jakarta.
Kholid bukan hanya mengajakku pesiar keliling Jakarta, tetapi juga mengajakku makan di tempat-tempat yang selama ini hanya kudengar dari kawan bicara atau kutonton di televisi. Dia tetap sahabat yang selalu menyenangkan, pandai pula bersikap.
“Kau masih bertengger dan berayun-ayun di dahan pohon yang menjorok ke sungai?”
“Dulu iya, sekarang tentu tidak. Kau tahu, tak ada gairahku lagi untuk berlama-lama di sana semenjak kau pergi.”
Kholid tertawa. “Aku memang harus pergi. Oya, kau masih ingat gerak tarian kupu-kupu yang selalu kita lakukan?”
Aku pun tertawa. “Jelas selalu kuingat. Perut digoyangnya selingkaran, tiga kali ke kanan, tiga kali ke kiri dengan kedua tangan dikepak-kepak layaknya kupu-kupu.”
Kami tertawa berderai. Nikmat apa yang bisa menandingi pertemuan dua sahabat kecil dulu ini. Suasana hangat itu pelan-pelan mulai murung, dimulai pertanyaannya tentang ibuku.
“Ibuku sudah meninggal lima tahun yang lalu.”
“Ah, kau pun yatim piatu pula sekarang.”
“Apakah kau juga yatim piatu?” tanyaku berhati-hati.
Kholid tersenyum tipis setelah beberapa saat hanya menggenggam sendok dan garpunya saja tanpa menyuap. “Sejak dulu pun aku sudah yatim piatu.”
“Kau yakin bapakmu sudah meninggal?”
Kali ini Kholid terbahak-bahak. “Kau lupa yang kukatakan dulu, bapakku kuanggap sudah meninggal. Hingga hari ini pun bapakku sudah meninggal.”
Kutelan ludahnya menangkap kegetiran yang meriap-riap. “Tak kau coba mencari bapakmu?”
Kholid tersenyum tipis. “Untuk apa? Hei, bukankah seharusnya pertemuan kita ini disuguhi hal-hal yang menyenangkan? Bisakah kita tak membicarakan lelaki yang telah melukai hatiku, ibuku dan adikku?”
Terpaksa aku mengangguk. Kembali kilat ceria merona di matanya. Kami lalu menikmati hidangan dengan pesona bahagia tak terkira. Siapa menyangka akan berjumpa lagi dengan sahabat lama? Bukankah ini sebuah anugerah?
Setelah berkeliling Jakarta sekali lagi, Kholid mengajakku ke tempat berniaganya, di sebuah ruko di bilangan ternama. Kukagumi kesungguhan dan keberhasilannya. “Ini hasil kerja kerasku. Aku ingin jadi orang, aku tak ingin jadi seperti bapak,” ujarnya, kali ini tak kusinggung lagi soal bapaknya.
Kholid mengajakku ke ruangannya yang cukup besar. Aku sempat terkesiap sebelum tertawa haru melihat fotoku ada di dindingnya, bergandengan bahu dengan Kholid berlatar belakang ladang dan kupu-kupu yang berterbangan. Aku ingat, dulu, ada tukang foto keliling yang lewat. Dengan uang patungan kami bisa bergaya kala itu.
“Tarian kupu-kupu,” desisnya tersenyum sembari menghidupkan layar komputernya.
Aku tertawa haru sembari menggerak-gerakkan badanku. “Ya, tarian kupu-kupu.” Lalu dia meminta waktu sejenak guna memeriksa data-data usahanya. Kunikmati suasana ini sembari mengkhayalkan lagi masa lalu tak terkira. Lima menit kemudian, pintu diketuk dari luar. Kholid menyuruh masuk tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar komputer.
Sesosok tua agak membungkuk dan terbatuk-batuk masuk membawa teh manis. Kholid berkata, lagi-lagi tanpa menoleh, kali ini terdengar dingin, “Letakkan di situ!”
Kuucapkan terimakasih pada sosok tua yang tangannya gemetar ketika meletakkan dua buah cangkir di meja. Tak sengaja kupandangi wajah tua berkeriput yang sarat duka. Bagai dibetot tambang berukuran besar, jantungku mencelat.
Wajah itu, tak mungkin kulupakan meski rautnya dibebani getir kehidupan. Wajah itu, milik sosok manusia yang dibenci Kholid. Wajah bapaknya! Aku tak sempat menegur karena si wajah tua sudah melangkah keluar, tetap dengan kesopanan yang sama saat dia masuk. Tak sanggup menahan lama, aku berdiri, suaraku tercekat, “Kholid! Bukankah dia…”
“Ya, dia bapakku! Tak usah kaubanyak tanya perihal dirinya! Dia harusnya bersyukur karena kutemukan sedang menadahkan tangan di pinggir jalan! Dia harusnya berterimakasih karena aku masih mau menampungnya!” sahut Kholid tetap tanpa menoleh. Lalu berdiri dengan kedua tangan gembira. “Hah, selesai sudah? Kemana lagi kita sekarang?!”
Aku terdiam. Kupandangi wajahnya yang kembali ceria. Apakah kami akan masih menarikan tarian kupu-kupu? Sekarang, aku tak tahu soal itu…***
Mutiara Duta, 4 April – 7 Juni 2010
Dimuat di Sumut Pos, 15/08/2010
Setiap berangkat atau pulang bekerja, Syarif pasti melihat lelaki muda itu penuh semangat menyapu jalan. Sapu lidi bertangkai bambu panjang dan seragam kuning-kuning yang mulai kumal selalu jadi pemandangan pada sosok itu. Gerakannya membuang sampah yang kerap menyebarkan bibit penyakit tak pernah berubah. Cepat. Tangkas dan bergairah tinggi.Bila hari Minggu seperti ini, sejak pukul enam pagi hingga pukul dua siang nanti, jalan protokol ini selalu ramai oleh orang-orang berdagang. Dari mulai buatan Jepang, Cina, sampai Indonesia pun tersedia. Dari mulai pakaian hingga kendaraan bermotor pun ada. Kesibukan jalan itu selalu memacetkan lalu lintas. Kendaraan diparkir di depan para pedagang yang menghiasai lapak mereka beraneka warna. Ada yang memakai payung besar ada pula yang hanya berpayung kecil atau menempati bawah pohon yang rindang. Keriuhan itu akan berakhir siang nanti, dan menyisakan sampah yang sangat banyak.
Lelaki muda itu dengan sigap menyapu jalan sepanjang lima kilometer dan berarti sepanjang sepuluh kilometer kanan kiri dia berpeluh menarik gerobaknya. Namun semangatnya tak pudar sedikit pun. Mantap tertancap pada wajah gigih. Berapa gajinya?
“Cukuplah untuk bertahan hidup di Jakarta, Pak,” sahutnya kala satu hari Syarif sempat bertanya.
Bekerja sepanjang pagi, dilanjut kala sore ditambah extra kerja pada hari Minggu, rasanya kurang layak diberi gaji seperti itu.
“Layak atau tidak layak kan tergantung kita menyiasatinya, Pak,” sahut si lelaki lagi sambil tersenyum.
Jawaban yang patut diacungkan jempol. Syarif jadi teringat dengan suasana rumahnya. Di rumahnya yang berukuran 6 x 9 meter ditambah tiga meter halaman di depan rumah, rasanya terlalu sempit dibanding jalan raya yang lapang ini. Hanya ada dua kamar. Satu ditempati ibu mertuanya. Sebuah kamar lagi ditempati dia, istrinya dan anak mereka, Bandi, yang baru berusia tiga tahun. Tak ada pembantu, meski mampu membayar. Mau ditempatkan di mana?
Tiba-tiba Syarif menggigil setelah ingatan tentang rumah semakin dalam. Istrinya memang wanita pilihan yang baik hati dan mau menerima apa adanya, tapi ibu mertuanya, selalu cerewet dan kadang bikin dia kesal. Semua ditelannya saja tanpa perlu dikunyahnya. Bekerja sebagai guru di dua sekolah sebenarnya cukuplah untuk biaya bulanan rumah, tapi suasana rumah terkadang bikin kepalanya berputar ke belakang. Makanya, bila satu hari lagi tidak ada jam mengajar, Syarif merasa lebih baik keluar rumah. Kemana saja, bertandang ke rumah temannya pun dilakoni meski si teman nampak sudah gerah selalu didatangi.
Tiba-tiba Syarif iri pada si penyapu jalan. Betapa tidak, lelaki itu nampak sangat menikmati hidupnya, meski matahari menyalang di atas kepala, membiarkan debu memeluk sepatu ketsnya yang kumal. Derap tangannya terus berderai, mengiring langkah dari ujung jalan ke sudut lampu merah. Adakah terpikir soal keresahan?
“Sering juga, Pak,” sahutnya sambil embuskan asap kreteknya. “Masa orang hidup tidak pernah resah?”
“Tapi kamu selalu gembira.”
“Kalau tidak gembira atau bermalasan, mana bisa makan? Jakarta ibarat raksasa yang bukan hanya siap menendang makhluk-makhluk berhati liliput, tapi juga menginjak-injaknya, Pak.”
Lagi-lagi Syarif salut dengan ungkapan itu. Terbayang lagi ketika pagi mengajar di sebuah sekolah dasar, lakon yang sudah ditekuninya hampir 13 tahun. Betapa keceriaan anak-anak selalu terpancar meski kadang bikin hati berlipat pula. Bila siang, dia pun harus menjalankan sepeda motornya sekitar delapan kilometer ke sebuah sekolah menengah atas. Hati bukan hanya terlipat, tercabik-cabik. Pernah beberapa siswa mengempesi sepeda motornya. Berpeluh Syarif mencari tambal ban. Belum lagi menjalankan sepeda motornya, uangnya hanya lima ribu, tak ada makanan yang mengisi tangki motornya. Terpaksa didorongnya. Tiba di rumah, sambutan sinis mertuanya memakan pula wajahnya. Biasa, tanggal tua begini, ibu mertuanya semakin nyinyir.
“Kau harus bilang sama ibumu, Nah… jangan sembarangan bicara,” keluhnya pada Mutma’innah, istrinya yang biasa dipanggil Inah. Kepalang tanggung bertahan lebih lama, kepala seperti dirajut jarum, berkali-kali tusuk naik.
Bila dia sudah mulai meradang, Inah pasti akan menangis. Jawabannya sudah dihafal pula, “Mau kukirim kemana lagi Ibu, Da? Mau kemana lagi? Kakak-kakakku seperti menutup pintu buat ibu.”
Aku juga ingin menutup pintu rumahku untuk nenek sihir ini, Nah, keluh Syarif, yang sudah tentu tak dikeluarkannya. Bila Inah sudah menangis, malah dia yang ditikam pilu. Dan sekarang, membiarkan bunga tetap bermekaran di hati Inah, diputuskan untuk membiarkan bunga layu di hatinya.
Dan si penyapu jalan itu tertawa. “Bapak ini lucu, kenapa harus marah? Biasalah ibu mertua seperti itu.”
“Hei, memangnya kau sudah menikah?”
“Sudah, Pak.”
“Dari usiamu, hanya tampak sekitar 25 tahunan.”
“Usia saya baru 23 tahun, Pak.”
“Nah, sudah menikah?”
Si penyapu jalan tertawa, mengangguk. “Saya punya anak dua.”
“Istrimu?”
“Di kampung.”
“Rumah sendiri?”
“Ya, peninggalan orangtua saya.”
“Tinggal pula ibu mertuamu di sana?”
“Tidak. Ibu mertua saya sudah meninggal.” Gagang sapu dicengkeram erat.
Banyak cerita yang kemudian membuat Syarif seperti anak kecil yang baru belajar tentang arti toleransi dan kehidupan. Apakah malaikat yang sedang bersamanya?
“Tersenyum, itu ibadah yang mendiang ibuku ajarkan…” kata si penyapu jalan sambil berdiri, lalu melakukan lagi tugasnya.
Mata Syarif mulai sarat berkabut. Dia yang berjarak usia 17 tahun dengan si penyapu jalan seperti baru menguak arti kehidupan sebenarnya. Pulang ke rumah, Syarif berubah. Nyinyiran ibu mertuanya disambut senyum. Sindiran pun dilindungi senyum. Semua serba senyum. Inah terheran-heran melihat tingkah polanya, yang tak bisa menahan kesal bila lelah sudah sampai kepala.
“Senyum itu ibadah, Nah. Seseorang bilang pada Uda, dengan senyum kita bisa menaklukkan dunia.”
Langkah Syarif semakin ringan pelan. Detik yang berjalan pun dibaluri senyuman. Menghadapi murid-muridnya di sekolah dasar dia tersenyum, pun menghadapi murid-murid SMA-nya, dia tetap tersenyum. Seiring senyum yang dilakukannya dunia semakin merekah dan mudah dimasukinya. Ini semua berkat si penyapu jalan. Belajar memang bukan hanya pada orang yang lebih tua, yang lebih muda dan dianggap sebagai garis rakyat kecil pun, bisa mendapatkan manfaat yang lebih banyak.
Kala malam mata Syarif lebih mudah diajak bersahabat. Terpejam rapat hingga adzan Shubuh terdengar. Terlakoni selama seminggu. Di sela hari-hari itu dia kerap mendatangi si penyapu jalan yang telah dianggapnya sahabat mudanya. Cerita pun bertuturan dan ucapan terimakasih berhamburan.
Si penyapu jalan tersenyum saat dia menjabat tangannya erat.
“Terimakasih.”
“Saya yang banyak berterima kasih pada Bapak, karena saya serasa punya seorang kakak.”
“Terimakasih lagi karena menganggap saya sebagai kakak.”
Senja itu Syarif pulang serasa menumpang awan. Ketika mau berbelok ke kiri, dilihatnya si penyapu jalan melambaikan tangan dengan bibir yang selalu tersenyum. Memang benar, dengan senyum semuanya akan terasa mudah.
Lepas shalat Isya pukul delapan malam, Syarif langsung tidur. Dia ingin bermimpi dalam keheningan. Tapi guncangan itu membuatnya tersentak. Tangan Inah dengan hati-hati mengguncangnya, mulutnya berbunyi resah, “Ada orang masuk, Da.”
“Ibu?”
“Bukan… aku dengar pula jeritan Ibu.”
“Jatuh?”
“Bukan…”
“Lantas apa?”
Suara Inah terdengar gemas dan panik sekarang, “Ada orang masuk rumah.”
Melonjak Syarif bangkit dari tempat tidur. Suara orang berbisik terdengar sampai ke kamar. Syarif memberanikan diri. Inah mengingatkan untuk membaca bismillah. Bismillah pun terucap sebelum… braaakkk!! Pintu terbuka paksa karena sebuah kaki telah menjejak keras. Tiga lelaki bertopeng masuk, menyergap dirinya dan Inah. Bandi tetap terlelap. Salah seorang mengancam dengan pisau terhunus.
“Serahkan harta bendamu!!”
Syarif tergagap dan kejadian hanya berlangsung singkat. Harta seadanya yang dimiliki digasak habis. Ibu mertuanya menjerit-jerit karena kalung emas satu-satunya dibawa paksa. Tiga orang itu berhamburan keluar dan suara yang berasal dari salah satu motor yang meninggalkan rumahnya, jelas itu sepeda motor miliknya.
Syarif menghela napas, bersyukur tak ada yang luka dalam kejadian itu.
“Allah telah menolong bapak dan keluarga dari kejahatan mereka,” kata si penyapu jalan prihatin.
“Ya, Allah telah menolong keluarga saya.”
“Dan sejak tadi bapak datang, pun setelah menceritakan kejadian buruk itu, bapak lupa tersenyum.” Syarif buru-buru tersenyum. “Ingat, dengan senyum semua akan lebih mudah.”
Syarif mengangguk, lega, bersyukur, tersenyum. Dan senyum pun tetap mengulas bibirnya ketika mengenali yang melingkar di leher si penyapu jalan itu adalah kalung milik ibu mertuanya…***
Mutiara Duta, 21 Februari – 25 Juni 2010
Dimuat di Lampung Post, Minggu, 11 Juli 2010
MENUANG arak dari botol penghabisan tak jua membuat Iskandar mau meledak perutnya. Tawanya makin gurih kala tetesan arak yang dihamburkan ke mulutnya berpencaran menetesi dagu dan jatuh memburai di tanah. Lapak kecil yang terletak di pojokan jalan dibahani tepukan penyemangat.Setelah tetesan terakhir yang bersisa di dagu bagian bawah diusap, lalu dijejalkan ke mulut, tepukan kembali merajai malam kelam. Iskandar bangkit berdiri, menahan huyungan badan. Matanya mulai tak berteman, lingkarannya mengecil dengan sedikit gumpalan di bagian bawah. Kedua tangannya disentakkan ke atas, menantang dingin dan mengirimkan kabar ke pelosok langit.
"Hiaaaaaaa! Mana uangnya? Mana?"
Gofar mengambil setumpuk uang dari saku celananya. Amarahnya mulai mendekati ujung. Di kampung ini dia terkenal sebagai peninum arak tanpa mabuk, namanya sudah mengedar ke segenap penjuru angin. Iskandar datang, takhtanya pun tumbang.
"Besok kita beradu minum lagi," sengitnya sembari melempar uang di meja, menyelinap di antara botol-botol arak dan gelas yang letaknya sudah lintang pukang.
Entah kapan kembalinya anak muda bernama Iskandar yang dikenal sebagai putra tunggal Haji Sobirin itu. Lama tak berkabar kecuali Iskandar melaut ke tanah seberang. Sempat pula membikin Haji Sobirin, yang dikenal sebagai Imam Masjid Al Furqon itu, terperangah dengan mulut menganga, lalu merangkulnya disertai titikan air mata. Putra semata wayangnya yang menurut kabar lenyap di lautan, datang dengan segar bugar.
Teringat pula kepergian Iskandar yang tak pernah jelas, setelah Munah, gadis yang sejak kecil dilimpahi cinta, tiba-tiba dikawinkan dengan lelaki tua beristri tiga. Menikahnya Munah membuat runtuh akar-akar Iskandar, batangnya tumbang dan seluruh daun berluruhan. Siang malam hanya bisa menangis meratapi kesedihan. Lalu tiba-tiba, sosoknya lenyap bersama angin malam. Tak ada yang tahu, Haji Sobirin pun tak paham. Munah menangis diam-diam, tapi tetap menurut digeret ke ranjang, apalah daya karena dia perempuan.
Sebulan kembali ke tanah harapan, Iskandar telah berpaling hulu dan ladang. Dia sudah berani berbaku hantam dengan marbot masjid yang dianggapnya lalai karena satu subuh tak sempat berazan karena masih terlelap. Berani pula menerjang-nerjang di pasar, meminta uang pada para pedagang. Terlebih gila dia mendatangi rumah Munah, berani meraih tangan mengajak Munah lari dari sana. Munah menolak, menjeritkan kalau dia tak kuasa meninggalkan dua putranya yang masih kecil. Iskandar meradang. Munah ditamparnya, dimakinya dengan sebutan yang menyisakan kemarahan. Lalu beberapa orang berseragam membawanya keluar, melemparnya. Untung suami Munah masih bertabik baik meski kemarahannya tak kuasa dibendung.
Haji Sobirin yang merasa siap terlelap panjang menunggu jemputan Izrail dalam naungan damai, merasa perlu berdoa pada Tuhan agar umur diperpanjang dan dia bisa mengembalikan Iskandar ke jalan asal. Karena suami Munah meski dituturkan penuh kelembutan, menebar paku-paku panas di sekelilingnya. Bila tak memandang wajah tuanya, Iskandar akan lenyap dari muka bumi.
"Kau beradu menenggak arak lagi, Is?" Gelegak darahnya menumpah-numpah ketika melihat Iskandar pulang terhuyung limbung membawa uang banyak di tangan. Sebagai imam masjid, tak ada lagi tempat untuk meletakan muka karena semua sudah tahu perihal Iskandar.
Iskandar tertawa sengau, lalu berdahak mirip suara lembu di kandung kala malam. "Tapi aku bawa uang banyak, Bapak. Lihat, lihat… Dengan uang ini, aku akan membeli Munah, Bapak! Karena ini yang bisa membuat Munah lari dariku!"
"Is! Inikah yang kau pelajari dari tanah seberang setelah kau menghilang? Allah murka dengan hamba-Nya yang tak mengindahkan larangan-Nya."
"O, begitu, lantas mengapa Dia membiarkan Munah dipelaminani lelaki tua yang harusnya berkalang ajal? Kenapa, Bapak? Kenapa?"
Selimbung tubuh Iskandar, batin Haji Sobirin limbung pula. Perkiraannya Iskandar pulang tanpa lagi membawa kepedihan lalu. "Karena itulah batasan dari Allah, Nak, rahasia Yang Mahabesar."
Tangannya mengibas menampar angin, kedua lulutnya bergetar hebat. "Aku tak perlu rahasia, aku ingin terbuka selebar mataku memandang lautan. Aku benci Tuhan, Bapak! Benci! Aku juga benci lelaki yang menikahi Munah! Tak puaskah dia menunai nafsu dari tiga bini yang telah memberinya banyak anak? Tak sudahkah dia menghirup darah segar dari gadis-gadis seperti Munah yang dipayungi kemegahan padahal hati gadis-gadis itu luka? Gadis lain boleh diambilnya, tapi Munah..." Tubuh itu ambruk, lalu tertatih menangis gerung.
Bibir tua Haji Sobirin bergemik-gemik. Terkulai rasanya semua tulang. Tak tahu dia harus menjawab apa. Ketika tahu Munah dipinang oleh Martua, Haji Sobirin bisa merasa kalau degup bahaya akan bertandang ke rumahnya.
Tepat pula yang dipikirkan.
Iskandar sepulang dari berladang meraung ganas, seribu harimau yang bersemayam di tubuhnya berlompatan. Perhelatan Munah dan Martua menjadi ajang prajurit terluka yang mengamuk. Tarup, hidangan, pelaminan semua lintang pukang. Tiga orang tukang pukul Martua memberi kenangan di pelipis Iskandar, hingga hari ini masih ada bekas itu.
Haji Sobirin menghela napas panjang. Lalu penuh kasih sayang dipegang kedua bahu Iskandar yang bergetar hebat. Coba diangkatnya segenap tenaga. Muntahan arak yang menyembur membasahi dadanya tak dihiraukan. Dipapah Iskandar ke dalam. Direbahkan di ranjang penuh haturan terima kasih pada Tuhan karena anak semata wayang pulang.
Disalinnya baju yang membujur arak, lalu disalin pula baju Iskandar. Diselimuti tubuhnya yang tiba-tiba menggigil. Mungkin arak yang telah bergolak atau karena penat batin yang berkarat. Entahlah. Haji Sobirin menungguinya hingga subuh dan memusuhi sepasang matanya kala mengerjap ingin terlelap. Tak mau melewati sedetik yang lewat memandangi Iskandar yang lamat-lamat terbujur tenang. Mungkin pingsan, batinnya. Tapi napasnya teratur seiring doa yang dipanjatkan Haji Sobirin, berharap Iskandar akan berubah.
Tetapi Iskandar semakin menjadi. Tindakannya semakin mengerikan. Warga mulai tak senang padanya, tapi masih memandang Haji Sobirin. Sambil menahan getir yang kian menggaung, Haji Sobirin berulang kali meminta maaf. Dia berjanji akan mengembalikan Iskandar ke jalan yang benar. Dan tak seorang pun yang tahu, kalau hatinya kerap menangis.
***
Gaung azan subuh menyeruak pagi, membangunkan bumi, menjejalkan aroma damai ke seluruh penjuru. Haji Sobirin bangkit mengambil wudu. Lalu mengenakan kain dan kopiah hajinya yang terbaik, selalu begitu setelah kali menghadap Allah. Sesaat terpanggil untuk melihat Iskandar, tapi dilepaskannya, karena baru kali pertama seumur hidupnya, dia akan tiba di masjid setelah dikumandangkan panggilan salat.
Maaf dilantunkan lagi, begitu setiap kali hendak memulai salat, para jemaah tetap menyambut hangat. Hitam yang ditorehkan Iskandar tak menampak di wajah teduh Haji Sobirin, begitu batin mereka. Manusia hanya menanggung dosa dan pahalanya sendiri. Saf pun teratur rapih, Haji Sobirin maju ke muka. Memimpin salat dan berdoa besok tak ada lagi kejadian yang menyusahkannya.
Tiba-tiba suara derap langkah cepat mengudara di latar masjid. Semua menoleh. Terpanggang kejut saat melihat Iskandar masuk bergegas, mengenakan kain sarung dan kopiah bersih. Tubuhnya wangi pula. Entah berapa cepat dia mandi.
Haji Sobirin tersenyum, hentakan bahagia berlagu di dada. Salat terasa lebih khusyuk dari hari-hari sebelumnya, tak lagi terpatri pikiran soal perbuatan Iskandar. Barisan anak panah yang kerap menancap dadanya, yang menggigit gelisah dalam, telah tercabut perlahan dan patah batang sebatang.
“Is khilaf dan minta maaf,” sebaris kata bagai gumpalan salju menyejukkan dada kala jalan bersama menyusuri pagi mengintip siang. “Is sadar, Munah sudah milik orang. Is ingin bertobat.”
Pelukan hangat dicurahkan, barisan doa dalam hati kecil pun didendangkan. Iskandar telah pulang, telah kembali ke jalan awal. Kampung pun jadi tenteram, tak ada lagi yang bikin keributan. Gaung nama besar Haji Sobirin naik setingkat lagi, berproses menjadi seorang ayah yang akhirnya mengembalikan anaknya ke jalan kebenaran. Tak lagi ditemui lapak di pojok jalan tempat Iskandar beradu minum arak. Hawa hitam tak lagi bergumpal di kampung itu.
Gofar murka karena kekalahannya tak terbalas, dia mengamuk, mencari-cari Iskandar yang meminta maaf dan mengembalikan uang yang pernah dimenangkannya. Gofar gembira tapi masih meludah. Dua hari kemudian dia ditemukan tewas di terkapar di tepi pantai. Ada yang bilang itu hukuman atas dosa-dosanya, karma atas perilaku yang mengacau orang yang telah bertobat.
Iskandar tersenyum di belakang rumah, di balik semai rumpun tinggi sambil mengasah parang. Malam menggayut pekat. Dia harus mengubah sikap, tak lagi menunjukkan wajah garang. Santun harus diperlihatkan. Bukankah seperti itu sikap orang-orang berwajah seribu, yang luar biasa banyaknya bertaburan? Dia telah banyak belajar dari tanah seberang, tanah-tanah terhormat, mengapa tidak memanfaatkannya.
Lalu dipandangi parang berkilat tajam.
Dengan langkah yakin, dia melangkah menuju rumah Martua… setelah itu, tinggal mencari domba kurus yang akan ditanggungi beban.***
Mutiara Duta, 15 Maret-2 Juni 2010
Cerpen Fahri Asiza
Dimuat di Sumut Pos 06/06/2010
Bibir yang dipenuhi warna merah pekat itu selalu menebar senyum pada siapa saja yang lewat. Sesekali menguatkan hati untuk bangkit, sekadar mencolek atau menyapa, siapa tahu ada yang berminat. Namun keberuntungan tak lagi berkawan dengannya.
Sejak tiga malam lalu, dia selalu berdiri di jalan ini, membiarkan tubuh direjam dingin dan gelitik malam menuju pagi, tak seorang pun yang berminat padanya.
Sesekali dipandangi iri gadis-gadis ber-tank-top yang cekikan manja dengan pemuda sebaya, ada pula yang sedang bermanja melongokkan kepala ke dalam sebuah mobil mengkilat. Entah siapa di dalamnya. Yang pasti, pintu akan terbuka, lalu gadis itu terlempar ke ruangan ber-AC yang segera menggelinding dari sana dan menyisakan kikikan manja.
Sekarang sudah pukul tiga dinihari. Masih diucapkan doa semoga ada pelanggan yang datang. Namun hingga adzan Shubuh terdengar di kejauhan, lagi-lagi tak satu pun yang hinggap. Lesu akhirnya dia memutuskan pulang. Melangkah dulu ke sebuah pom bensin, menumpang berganti baju di kamar mandi berlumut yang menebarkan bau sangat tidak sedap. Gincu dihapusnya bersih, rambut sedikit diacak dan bedak tebal yang sejak tadi menipis digigit, sepi pelan-pelan dibasuhnya dengan air.
Dalam angkot yang membawanya pulang, dia meratapi lagi jejak-jejak menyiksa yang dilakoninya hampir tiga tahun. Mengikis nurani yang tak kuasa dipanggul, mulai pukul sembilan malam dia sudah berdiri di jalan itu. Tak pernah berubah. Selalu di jalan itu.
“Benar kau mencintaiku, Kang?” tanyanya delapan tahun yang lalu, pada satu malam, di jalan itu, ketika Abdi yang menjemputnya ke rumah mengajak menikmati malam tiba-tiba melamarnya.
Abdi mengangguk mantap, menggenggam erat tangannya. “Aku mencintaimu, Imas.”
Lima tahun kemudian, di jalan itu, Abdi berkata padanya dengan suara cemas, “Tunggu di sini. Aku akan cari taksi. Didin harus dibawa ke rumah sakit.”
“Cepatlah, Kang… badannya panas sekali.”
Abdi pergi bergegas, membawa kepanikan sekaligus harapan. Bocah lelaki berusia dua tahun yang meringkuk pucat dalam gendongannya, berdesahan tak arah, membuat setengah jiwanya menggantung di atas bara api. Ditenangkannya dan didendangkannya kidung pelipur lara yang pernah dinyanyikannya. Malam terus bergerak, kegelisahan terus merayap. Hingga adzan Shubuh Abdi tak muncul kembali. Hingga hari ini, Abdi telah lenyap ditelan bumi. Lelaki yang mengaku mencintainya itu tak pernah kembali.
Sekujur tubuhnya yang dipeluk jaket kumal—jaket yang kerap dikenakannya dengan alasan bekerja di pabrik—tiba-tiba menggigil. Kebenciannya pada Abdi mengental. Angkot yang sarat dengan belanjaan orang dari pasar dan menyisihkan bau yang tak nyaman tak lagi mengganggunya. Abdi… di mana lelaki keparat itu? Aku berharap dia sudah mati!
Kembali ke rumah, Didin sudah menyambutnya disertai teriakan khasnya, “Jajannya mana, Mak? Jajannya mana?”
Setiap memandangi Didin yang sekarang sudah berusia lima tahun, kadang terselip kebencian pada lelaki keparat itu. Garis wajah Didin jelas mewarisi garis wajah Abdi. Pernah dia marah besar ketika Didin tak sengaja menumpahkan bedak yang dibelinya sepuluh ribu rupiah. Nyaris dihajarnya bocah itu sebelum dia beristighfar kalau bocah itu tak pernah tahu kesalahan apa yang dilakukan bapaknya.
Disodorinya gemblong ketan yang selalu dibelinya setiap kali pulang pada Didin yang melonjak-lonjak gembira dan memakannya layaknya persembahan dari para dewa. Lalu diucapkannya terimakasih pada Mak Iyoh, perempuan tua yang selalu menjaga Didin.
Tapi kali ini Mak Iyoh tidak menjawab atau segera melangkah pulang ke rumahnya yang terletak lima rumah dari sana. Tatapannya tajam namun juga resah.
“Ada apa, Mak?”
“Kapan kau mau berhenti dari pekerjaan nista itu, Imas?”
Bila halilintar yang tiba-tiba menggelegar di depannya dia tak akan melonjak, tetapi pertanyaan Mak Iyoh membuatnya terperanjat dengan sepasang mata menggelepar seperti ikan yang terlempar ke daratan.
“M-maksud Mak apa?” desisnya terbata. Hujan gemuruh dalam dadanya coba dialihkan dengan ketenangan.
“Tak perlu kaututupi lagi, Imas. Mak tau apa yang setiap malam kaulakukan.”
“Ini soal apa, Mak?” Keringat tiba-tiba saja liar berlarian.
“Jangan berbohong pada Mak, Imas. Pada saat-saat tertentu
alam satu bulan kau pasti tak akan pernah meninggalkan rumah. Karena, kau sedang datang bulan. Tapi pada hari-hari lain kau akan kembali ke jalan itu, bukan? Menunggu Abdi kembali atau kau menjajakan dirimu pada lelaki busuk yang mau mengeluarkan rupiah demi sebuah penyiksaan batin terselubung?”
Dia menggigil hebat, kata-kata Mak Iyoh lebih tajam dari sengatan ular mana pun. Kedua lututnya bergetar, lalu jatuh berlutut menangis. Didin melompat mendekat, bersiaga penuh di dekatnya. “Kenapa, Mak? Siapa yang ganggu Mak? Bilang sama Didin, akan Didin hantam perutnya sampai menjerit-jerit!”
Kata-kata bocah lima tahun itu semakin merejam batinnya. Segera dirangkulnya Didin yang masih teriak-teriak siapa gerangan yang membuat maknya menangis. Sekilas Imas mengumpulkan sisa-sisa keberanian memandang Mak Iyoh yang masih menuntut jawab namun hati tuanya pun melunglai dengan pandangan maaf. Lalu dikuncinya pintu. Tinggal Mak Iyoh yang menghela napas panjang.
“Kalau aku tak melakukan ini Mak, dari mana aku bisa memberi makan Didin?” isaknya tiga malam kemudian, karena Mak Iyoh terus mendesak.
“Kau bisa mencari pekerjaan lain. Bukan pekerjaan tertua di dunia seperti ini.”
“Mak lupa, aku pernah bekerja di pabrik selama dua bulan dan dua bulan pula aku dilecehkan oleh atasanku? Mak lupa, aku pernah berniaga di pasar tapi di sana pula aku nyaris diperkosa Badrun? Atau Mak lupa, aku pernah meminjam uang pada Tuan Kirun untuk membeli mesin jahit, yang akhirnya aku merelakan diriku ditidurinya karena aku tak mampu membayar uang pinjaman? Mak lupa semua itu, Mak? Apakah Mak lupa?” Entah dari mana munculnya semua itu, tiba-tiba saja berhamburan kepedihan yang selama ini bersembunyi di belahan jiwanya—entah di bagian mana.
Mak Iyoh goyah. Perempuan di hadapannya ini sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Pedih hatinya mengetahui Abdi meninggalkan perempuan yang lemah lembut, baik hati dan seharusnya dilindungi.
“Abdi yang salah!” tiba-tiba menggeram suara seraknya, tanda kemarahan menggelegar.
“Tak perlu Mak menyebut nama dia! Bagiku dia sudah mati! Sudah mati, Mak!!”
Teriakannya membuat Didin yang lagi asyik memandangi ikan-ikan kecil di dalam toples menghambur keluar. Bersiaga lagi dengan gerakannya yang lucu. “Siapa yang Mak teriaki? Siapa? Bilang sama Didin Mak, akan Didin pukul kepalanya biar benjol sepuluh!”
Dipandanginya bocah yang tak tahu apa-apa itu dengan haturan sayang tak bertepi. Lalu dipandanginya Mak Iyoh.
“Didin yang membuatku bertahan hidup, Mak. Pekerjaan busuk yang menyakitkan hatiku pun terpaksa kulakoni… demi Didin.”
Mak Iyoh terdiam. Tak kuasa air matanya yang sejak tadi ditahannya pun luruh. Derita perempuan dari zaman ke zaman tak berubah. Peradaban boleh maju, Kartini boleh memperjuangkan emansipasi, tetapi dalam rumah tangga, perempuan selalu menjadi kandang.
“Mak paham maksudku, bukan?”
“Mak tidak tahu. Hati kecil Mak ingin sekali melihat kau meninggalkan itu. Tapi, Mak juga tak berdaya untuk mengangkatmu berdiri, Imas.”
“Terimakasih, Mak. Doakan, semoga aku dapat pelanggan banyak malam ini.”
Kembali berdiri di jalan itu dan membiarkan tubuh dicumbui dingin, dikuatkan segala bentuk keberanian. Di jalan ini bunga itu pernah tumbuh, di jalan ini bunga itu mulai layu dan di jalan ini bunga itu membusuk. Kenangan pada sebuah jalan ternyata sangat menyakitkan.
Malam itu dia mendapat dua lelaki hidung belang yang menghabiskan syahwatnya di hotel yang jadi langganannya. Kembali tercabik-cabik kewanitaannya. Namun senyum harus selalu dipasarkan agar mereka kembali lagi menikmati hidangan.
Malam berikutnya, langganannya bertambah. Dari mulai satu orang, dua orang, bahkan pernah dia melayani hingga lima orang. Malam berikutnya, dia sudah menjadi incaran para lelaki pembeli nafsu. Kehidupannya mulai berubah. Dari rumah yang sudah nyaris rubuh hingga ke rumah yang permanen, dari tak punya alat komunikasi sekarang memiliki telepon genggam meski masih berkapasitas biasa. Baginya itu sebuah berkah. Dia tidak tahu, inikah jalan Tuhan ataukah kebusukan yang akan semakin menjerumuskan.
Meski sudah banyak mendapat langganan, dia tetap berdiri di jalan itu. Kalau dulu masih berharap Abdi akan muncul, kali ini siapa pun yang datang akan disambutnya dalam rangkulan hangat penuh gairah.
Dia tidak tahu, setiap kali ada lelaki yang membeli jasanya, sebuah mobil mewah berhenti tak jauh dari sana. Dari balik kaca gelap yang menaungi mobil itu, Abdi menghela napas panjang sambil mendesis, “Sengaja kubayar setiap lelaki yang mendatangimu, Imas, agar pulang kau berpeluh uang.“ Lalu dijalankan mobilnya pelan-pelan, masih dipandanginya Imas yang tengah menggandeng seorang lelaki bertampang kasar yang tak sabar untuk meraup tubuh perempuan lembut bulat-bulat. Abdi mendesis, “Itulah bentuk tanggungjawabku padamu….” ***
Mutiara Duta, 10 Maret –1 Juni 2010
Dimuat di Republika, 23/05/2010
Perampok itu bernama Mali. Sekarang pakai embel-embel mantan, karena dia sudah bertobat. Tetapi, tetap tak ada yang percaya. Seseorang yang telah masuk kubang lumpur, ketika keluar pun dia akan tetap berlumpur sekalipun sudah mandi dan memakai pewangi, begitu kata sebagian orang yang tetap sinis pada Mali.Mali tidak peduli, bertekad akan berkelakuan baik. Makanya, dia sering datang ke masjid. Bahkan, sebelum muazin memanggil orang untuk shalat, Mali sudah tiba lima belas menit lebih dulu. Berpakaian ala seorang haji, hanya tidak memakai kopiah putih. Menurut Mali, kopiah putih itu terlalu sakral. Hanya orang-orang yang bergelar haji yang pantas memasangnya di kepala.
Sekarang sudah lima tahun dia bertobat, tetapi belum pula diizinkan menjadi imam. Pun, bila imam masjid sedang sakit, para makmum lebih suka shalat sendiri-sendiri. Kalaupun Mali lebih dulu shalat, mereka tidak segera mengikuti di belakangnya, tetapi mengambil jarak dan membentuk kelompok jamaah sendiri.
Mali sebenarnya sedih. Tapi, mau berkata apa lagi? Cap perampok itu rasanya tak bisa dilenyapkan dari seluruh sel-sel tubuhnya.
“Aku terjebak nafsu ingin kenyang,” katanya suatu hari pada saya. Saat itu kami berada di depan masjid. Malam merebak. Angin melela lembut di depan wajah kami. Para jamaah shalat Isya sudah pulang. Tak ada yang berkeinginan bercakap-cakap dengan Mali. “Sedangkan mencari pekerjaan demikian sulitnya. Padahal, ini negeri makmur, negeri subur, negeri yang berkecukupan, tetapi buatku seorang saja, negeri ini tak mampu memberikan apa-apa kecuali harapan setinggi langit.”
Saya hanya mendengarkan saja. Sekalian memberikan kesempatan padanya untuk mengutarakan apa yang selama ini dipendamnya.
Mali mengembuskan asap rokoknya. “Suatu hari, saat aku pulang mencari pekerjaan, seorang temanku datang. Dia punya kegelisahan yang sama. Hampir tiga tahun mencari pekerjaan, tetapi hasilnya nihil sama sekali. Pertemuan itu rupanya awal dari petaka yang harus kumasuki. Dia mengajakku merampok. Katanya, dengan merampok, kita bisa cepat kaya. Sudah tentu aku menolak. Aku tetap berusaha mencari pekerjaan sementara temanku itu sudah naik mobil mewah dan menggenggam handphone. Adilkah ini?”
Lagi, saya hanya terdiam, mencoba berempati dengan masalahnya.
“Pusing karena perut lapar yang memanggil, panik karena tak tahu harus bagaimana membayar petakan yang kusewa, akhirnya … aku pun turut serta. Pertama, aku menggigil dan takut setengah mati. Aku yakin, Tuhan sedang melihatku. Mungkin pula Dia sedang memelototiku sambil berkata, ‘kau akan masuk ke neraka, Mali’. Tapi, di mana neraka itu? Aku juga tidak tahu. Akhirnya aku tenang dan menerima bagian dari hasil rampokan itu. Perutku bisa kenyang sepanjang hari. Wajah masam pemilik petakan pun tak lagi kulihat, karena langsung kubayar sewa selama setahun.”
Rokok yang dihisapnya sudah mendekati batas akhir. Mali menjentik dengan telunjuknya. Rokok itu mencelat, menyisakan bara merah yang melayang. Lalu mati.
“Tanpa terasa tiga tahun kujalani kehidupan sesat itu. Dengan uang hasil rampokan, aku bisa menyogok satu instansi dan akhirnya bisa bekerja di belakang meja. Betapa bangganya. Setahun aku bekerja dan tetap sesekali ikut merampok, aku mulai pandai dalam soal tata krama busuk, dalam soal jilat menjilat dan dalam soal bersikap manis, padahal penuh rencana. Dengan modal itu pula aku bisa naik jabatan.
Kalau dulu aku merampok bersenjatakan golok, sekarang aku merampok bersenjatakan dasi. Tapi anehnya, justru aku tertangkap karena seseorang yang mengenaliku sebagai salah seorang anggota perampok, bukan karena aku telah merampok dengan cara halus di instansiku. Aku ditangkap dan dipenjarakan. Dan, kau lihat sekarang, di sinilah aku berada.”
Saya masih ingin diam sebenarnya, tetapi cerita itu begitu menggelitik. Karena selama ini yang diketahui oleh masyarakat, Mali adalah perampok kelas kakap.
“Alhamdulillah Pak Mali sudah insyaf.”
Mali mengangguk-angguk. Wajah tuanya seperti semakin dipenuhi keriput. Sorot matanya legam, menyisakan cahaya yang beriak-riak. “Ya, ya … sekeluarku dari penjara, aku mohon ampun pada Tuhan. Kusesali semua yang pernah kulakukan. Mengapa karena aku tak kuasa menahan lapar aku melakukan tindakan busuk itu? Atau karena aku marah, aku bagian dari negeri ini, tetapi aku tak mendapatkan tempat sedikit pun? Entah, yang pasti aku telah bertobat. Aku telah meninggalkan hidup busuk yang selama ini kujalani.”
“Syukur pada Tuhan karena menyadarkan Pak Mali.”
“Tapi …, ada yang masih ingin kutanyakan pada Tuhan.”
Tanpa sadar saya berdebar. “Apa?”
“Mengapa Tuhan belum mengizinkan aku menjadi imam, memimpin makmum shalat berjamaah?”
***
Keinginan Mali mengganggu pikiran saya. Banyak orang yang saling dorong bila masuk waktu shalat menjadi imam dengan wajah penuh penolakan. Alasan mereka macam-macam. Belum bagus bacaannya. Masih suka bolong-bolong shalatnya. Belum bersih. Masih suka bohong. Lantas sekarang, ada mantan perampok yang telah bertobat sungguh-sungguh, mengapa tak diizinkan menjadi imam shalat?
Ketika akhirnya saya utarakan hal itu, semua langsung memprotes.
“Tak pantas perampok memimpin kami!”
“Betul! Apalagi memimpin shalat!”
“Kita sedang menghadap Tuhan! Tuhan bisa marah karena perampok yang memimpin kami!”
“Pokoknya kami tidak sudi!”
Saya tak sempat mengutarakan pendapat lagi, karena semua sudah meninggalkan balai kelurahan. Saya mencoba menenangkan diri, menarik napas panjang. Apakah orang-orang itu lupa, banyak para pendosa yang telah bertobat bisa menjadi seorang ustaz? Mereka bukan hanya memimpin shalat, tetapi juga tampil memberikan tausyiah di televisi. Menceritakan pengalaman masing-masing dengan penuh penyesalan, menjadikan itu i’tibar buat siapa pun.
Ah, kenapa Mali tak punya kesempatan itu? Dia tak ingin tampil di televisi, tak ingin pula memberikan pembelajaran. Dia hanya ingin sekali saja menjadi imam ketika sedang shalat.
Akhirnya penuh penyesalan saya utarakan apa yang dikatakan warga.
Kali ini Mali bukannya sedih malah tertawa.
“Mengapa kautanyakan pada mereka?”
“Saya ingin mereka menyadari bahwa Pak Mali sudah bertobat.”
“Hei, hei … tobatku ini bukan pada mereka, tetapi pada Tuhan. Tuhan yang akan menilai tobatku, apakah memang sudah layak diterima atau belum.”
“Saya yakin tobat Pak Mali sudah diterima Tuhan.”
“Bila memang seperti itu, alhamdulillah. Bila belum, aku akan tetap bertobat, beribadah khusyuk sebelum ajal menjemputku.”
Dua hari kemudian, saya tak melihat lagi Mali berada di deretan para makmum. Tak terlihat pula sosoknya yang sebelum masuk waktu shalat sudah berzikir dan selalu mengambil tempat di pojok masjid.
Selesai shalat kutanyakan hal itu pada para jamaah. Tetapi, semua tampak biasa saja, seolah selama lima tahun ini tak menyadari keberadaan sosok Mali. Tak ada pula yang mencoba mencari tahu di mana Mali berada saat ini.
Gelisah mulai tumbuh di dada saya. Saya mencoba mencari Mali. Siang malam. Tak peduli panas memanggang dan hujan menguyup. Mali telah insyaf, Mali telah mengambil jalan Tuhan. Mengapa tak ada yang mau menaunginya? Saya bertekad menemukan Mali. Akan saya ajak dia shalat berjamaah, dan dia sebagai imamnya.
Seminggu kemudian, suatu pagi, sebelum berangkat mengajar, saya membaca surat kabar pagi. Ada berita seorang perampok ditembak. Muka saya seperti meluang dengan sepasang pelipis yang berdenyut hebat ketika membaca nama Mali di sana. Juga, setelah mengenali foto Mali di sebelah berita itu.
Melunak seluruh tulang dalam persendian saya. Jantung saya berdebar sangat keras. Saya mencoba menegaskan kalau itu bukan Mali, wartawan salah memasang foto itu. Tetapi, ini jelas Mali. Mali yang telah bertobat. Mali yang sekali saja ingin menjadi imam shalat.
Tanpa sadar saya menangis.
Ketika shalat Isya tak seorang pun yang membicarakan tentang Mali. Mali seperti uap saja, datang lenyap, pergi pun lenyap. Ya Tuhan, ini salah siapa? Apakah Mali memang sengaja memilih jalan sesat lagi, atau karena dia murka pada-Mu yang tak memberikan kepercayaan padanya menjadi imam shalat berjamaah walau hanya sekali saja?
Lepas shalat Isya saya tak tahan juga. Saya bertanya pada mereka, apakah mereka tahu Mali meninggal ditembak?
“O, tahu.”
“Iya, tadi saya baca beritanya.”
“Kasihan, dia sudah bertobat, tapi akhirnya merampok lagi.”
Saya terkejut. Ternyata ada juga yang kasihan, bahkan menyadari Mali bertobat.
“Mengapa tak seorang pun yang mengizinkan dia menjadi imam shalat berjamaah?”
Orang-orang kasak-kusuk, lalu salah seorang menjawab tegas, “Karena dia belum pernah masuk televisi.”***
Mutiara Duta, 29 April 2010
Dimuat di Padang Ekspres, 2 Mei 2010
Sewaktu M datang ke kantorku dan tanpa ragu-ragu bilang dia adalah makelar, aku masih mengerutkan kening. Bukan karena aku ragu akan kehebatannya sebagai makelar (toh aku juga tidak tahu dia jadi makelar apa, melihat gayanya pasti dia makelar tanah), tetapi siapa sosok bertubuh tambun ini? Dari langit mana dia muncul, dan tiba-tiba saja sudah berada di hadapanku? Mengapa pula dia tak mau memberitahukan nama aslinya kecuali inisialnya : M.“Maaf, saudara siapa?” tanyaku akhirnya, lega karena berhasil menembus pertahanan gerilya kata-katanya.
M terhenyak. Keningnya berkerut. Bola matanya memutar sebelum memandangku lekat, tajam, juga terbersit sinar kecewa. “Kau tidak mengenalku?”
Ah, aku yang jadi sedikit gugup sekarang, merasa ditelanjangi pula karena tatapan itu membuatku seketika menjadi invalid. Akhirnya jalan terbaik hanya pura-pura tertawa sambil memeras ingatanku. “Tahu sendirilah, usiaku sekarang sudah hampir lima puluh tahun.”
Dari sikap herannya, M tertawa lepas. Aku menghirup udara lega. Suaranya tidak setegang tadi. “Tak berbeda denganku, Kawan… kita hanya terpaut dua bulan. Lebih tua aku. Meski berjarak dua bulan, harusnya kau memanggil aku kakak.”
Lagi aku tertawa dan menyakini kalau itu sebuah gurauan manis. Tetapi degup dadaku makin berkobar, rasa penasaranku mulai menggumpal dan tetap ingatanku tak mampu menembus ruang gelap mencari sosok M. Apakah dia bersembunyi di antara ribuan ingatan yang tak mau lagi kuingat?
“Kita berkenalan di Jogya. Saat itu usia kita baru dua puluh tiga tahun. Kau baru saja lulus kuliah, sementara aku harus menunggu dua tahun kemudian. Maklumlah, kau dikenal cerdas sementara aku lumayan akhirnya dapat ijazah pula. Lebih baik dari orang-orang yang memalsukan ijazah demi mendapatkan kedudukan, bukan? Eh, sudah kau ingat itu?”
Kali ini ingatan bukan hanya kuperas, tetapi juga berenang jauh lebih dalam, mencoba menguak tabir yang entah kenapa terasa kian menghitam.
“Fikom!” serunya tiba-tiba, seperti tahu kalau kebingunganku. Ah, aku jadi malu sendiri mengingat kalau dia tahu kebingunganku. “Kau ingat sekarang?”
Menyeruak semua ingatan teman-teman di Fakultas Komunikasi dulu. Tetapi, di mana sosok M? Mengapa dia tak muncul juga meski air keruh itu sudah kubeningkan. Tetap rasanya seperti mencari bocah kecil yang terpisah di seputar Monumen Nasional.
M terus memberikan gambaran demi gambaran tentang dirinya dan diriku, berapi-api, penuh semangat. Sampai kemudian aku terhenyak. “Ya Tuhan!! Iya, iya! Aku ingat!!”
M tertawa puas, dia berdiri dan merangkulku penuh bahagia.
“Akhirnya, aku bertemu lagi sahabat lamaku,” ujarnya setelah kami duduk kembali. “Kau tahu, aku sempat kaget karena kau tak mengenaliku lagi.”
Aku hanya tertawa. Tetapi batinku merentak tanya, di mana aku pernah mengenal M?
***
M muncul lagi dua hari kemudian, saat itu aku baru saja hendak keluar kantor dan sisa kegarangan matahari siang tadi masih terasa. Dia langsung berteriak, “Hariiiiiii!”
Nyaris aku terserimpung tangga depan kantorku karena teriakan itu melebihi kerasnya para anggota ketika menggebah nenek berusia 78 tahun yang menjual buah di tepi jalan. Astaga! Apakah dia tidak tahu kalau jantungku bisa kumat? M berlari mendekatiku, dan langsung menarikku menuju mobilku. Layaknya presiden yang diamankan oleh para pengawalnya, M nampak bersiaga penuh, wajahnya tegang, matanya berkeliaran seolah ada wabah kolera yang tiba-tiba menyerang.
“Buka! Cepat buka!”
Aku bingung. “Apa yang harus kubuka?”
“Ya ampuuun! Pintu mobilmu!”
“Tapi…”
“Tidak ada tapi! Cepat kaubuka pintu mobilmu! Kita harus segera menjauh dari sini!” Ketika aku mau berkata lagi, M tiba-tiba membentakku, “Cepaaaat!!”
Seperti bentakan bapakku ketika aku masih kecil yang tak bisa dibantah, aku langsung membuka pintu mobil. M pun segera duduk di sebelahku sambil menyuruhku menggebah mobilku pergi dari sana. Setelah menjauh dari kantorku, M baru menghela napas lega. Dia menyandarkan tubuhnya seolah baru saja berhasil lolos dari Koja ketika keributan makam Mbah Priok terjadi.
Aku yang penasaran sekarang. “Ada apa sebenarnya?” M tak segera menjawab, masih mengatur napasnya. Aku jadi makin penasaran. “Katakan, ada apa?”
Masih bersandar M melirikku, lalu meluruhkan tubuhnya. Matanya tajam, serius. Bibirnya mengatup rapat sebelum berucap, “Kau telah kuselamatkan hari ini.”
“Iya, dari bahaya apa?”
“Besok kau akan tahu dari bahaya apa kau kuselamatkan?” Aku mau buka mulut lagi, tetapi dia sudah menutup pembicaraan. “Besok kautanyakan pada orang-orang di kantormu.”
Tak perlu menunggu besok, setiba di rumah, kutelepon kantorku. Aku harus segera tahu jawabannya, aku tak mau dipusingkan dengan hal-hal yang tak kumengerti. Aku jadi ingat, betapa banyaknya orang yang berteriak tentang kasus-kasus raksasa yang belum juga terkuak, dengan jenis langgam suara berbeda-beda. Tidak perlulah sibuk memikirkan Century, kasus penggelapan panjak dan pecah genderang ketika Koja membara, siapa M sebenarnya saja masih menggantung di awan hitam.
Security yang bertugas malam menjawab kalau tak ada peristiwa apa-apa di kantor. Semua aman seperti biasa. Aku tak puas, kutanya sekali lagi, dan jawabannya tetap sama. Lantas, apa yang dimaksud M kalau aku terbebas dari bahaya?
“Sudah kubilang, besok… itu berarti hari ini. Bukan kemarin,” katanya separuh jengkel ketika tahu-tahu keesokan paginya dia muncul di rumahku. Astaga! Dari mana dia tahu rumahku? Seperti tahu apa yang kupikirkan, dia enteng berkata, “Mencari alamat orang besar di negeri ini gampang. Hanya untuk masuk ke sana yang susah, gemboknya ada 17 buah, belum lagi anjing-anjing penjaganya. Beruntunglah aku, punya sahabat seperti kau ini. Orang besar tapi tetap membuka pintu untuk rakyat. Sudahlah, cepat naiklah ke mobilmu… pergi ke kantormu dan lihat apa yang terjadi.”
Sepanjang perjalananku, hatiku tak tenang. Ada gigitan-gigitan kecil yang membuat penasaranku kian berombak. Setiba di kantor, langsung kutanyakan pada para karyawanku, apa yang terjadi kemarin. Mereka pun sigap menjawab, tangkas berucap, tetapi semua jawaban adalah seputar pekerjaan mereka kemarin. Aku jadi bingung.
“Bukan itu yang saya tanyakan!”
Semua terdiam. Masing-masing pemilik mata berpandangan bingung. Lalu salah seorang, berhati-hati bertanya, “Maksud Pak Hari, kejadian apa, Pak?”
Justru aku yang tidak tahu kejadian apa, bukankah aku bertanya? Akhirnya mereka kububarkan, dan aku tahu mereka keluar dari ruanganku dengan segudang pertanyaan di benak masing-masing.
Saat itulah M menyelinap masuk. “Bagaimana?”
Aku jadi kesal, karena merasa dipermainkan. “Apanya yang bagaimana? Tak seorang pun yang memberitahu ada kejadian apa kemarin, kecuali hasil pekerjaan mereka.”
“Nah, di sinilah letak kebohongannya.”
“Kebohongan apa?” aku merasa tak mampu lagi menahan jengkelku. Apalagi ketika aku ingat, aku tidak mengenal M. Kalau pun waktu itu kubilang aku ingat padanya, biar dia pergi dari hadapanku dan urusan selesai.
“Mereka pasti tak mau mengatakan tentang kebenaran.”
“Jangan berbelit-belit! Kebenaran apa?”
M malah tertawa. “Kau masih saja seperti dulu, tetap panasan dan penasaran.”
Aku mengeluh. Kalau saja dia tahu, betapa bencinya aku sekarang melihat caranya tertawa, aku yakin, dia pasti tak akan berani tertawa di depanku. Kulunakan suaraku, “Katakan….”
“Kau masuk daftar hitam penerima uang. Jangan kaubantah dulu! Aku yakin kau akan bilang tidak, karena aku tau kau bersih. Tapi ingat, sekarang ini semuanya lagi edan-edanan. Siapa pun bisa ditarik masuk dan didorong keluar. Kau yang ditarik masuk dan dikait-kaitkan dengan kasus penggelapan pajak. Bisa jadi…”
“Kata siapa?” akhirnya aku tak tahan juga. Napasku mulai tersengal karena bingung dan tegang.
“Tak perlulah bertanya. Aku tahu apa yang bakalan terjadi. Bila kau tidak mengambil tindakan, kau akan terseret arus selokan busuk. Ingat, tak ada selokan yang wangi di negeri ini… semua akan bertambah busuk dan terus membusuk.”
Keringat tanpa diundang telah merajai wajahku melihat betapa seriusnya M berucap. Kuhapus dengan punggung tangan. Geliat gelisah dan penasaran terus memancang tinggi. “Apa yang harus kulakukan?”
“Beri aku sejumlah dana, akan kuurus semuanya. Ingat, aku ini makelar.”
“Tapi… aku tidak terlibat apa-apa.”
“Katamu kau tak terlibat… tapi kau ingat kan, ada pemuda yang digebukin sampai bonyok ketika lewat di sebuah kompleks orang-orang bertubuh tegap dan dituduh maling sepeda? Dia dipaksa untuk mengaku! Apa kaupikir dia terlibat? Atau kaupikir dia memang malingnya? Tidak seperti itu! Kau pun bisa bonyok karena dipaksa harus mengaku! Nah, kalau kau mau aman, lewat jalanku.”
Keringat semakin mengguyur wajahku. Kutatap M yang memandangku penuh rasa kasihan. Pelan akhirnya kuanggukkan kepalaku tanda setuju. M tersenyum puas. Meminta sejumlah uang yang akan membebaskanku dari segala tuduhan. Lagi kuanggukan kepala. Kuminta M datang besok pagi. Setengah jam kemudian M meninggalkan ruanganku setelah memberi wejangan panjang.
Sepeninggal M, kuhapus keringatku. Kutarik napas panjang lalu kukeluarkan perlahan. Dengan sikap setenang sebelum kedatangan M, kuangkat telepon. “Selamat siang… saya mau melaporkan Tuan Markus yang sebenarnya….”***
Mutiara Duta, 18 April 2010
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)




