Tampilkan postingan dengan label * Benny Arnas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label * Benny Arnas. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 Februari 2012 by Forum Lingkar Pena

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jawa Pos, 26 Februari 2012

Anak yang baik adalah anak yang dapat memelihara hati ibunya.


Alun-alun Surga

Seorang wanita. Seorang ibu. Melahirkan. Membesarkan. Merawat. Apa yang sebenarnya ia lakukan kepada anaknya? Begini. Seorang anak. Anak satu-satunya. Anak perempuan. Anak manis. Gadis periang. Bermain dengan teman-teman. Sebayanya. Semua laki-laki. Ibu khawatir. Kita akan pindah, Nak. Anak mengangguk. Ah, anak yang baik. Kau tak takut kehilangan teman-teman? Anak menggeleng. Ah, anak yang baik. Mereka pergi. Mengembara. Ke desa. Ke desa. Desa demi desa. Teman demi teman. Kebaikan demi kebaikan. Keganjilan demi keganjilan. Kebaikan demi kebaikan. Keburukan demi keburukan. Kebaikan demi kebaikan. Keanehan demi keanehan. Kebaikan demi kebaikan. Stop! Kita tinggal di sini. Bermainlah. Ke alun-alun. Jumpai teman-teman. Kau sudah beroleh pelajaran dari pengembaraan, bukan? Anak tersenyum. Senyum yang merah. Senyum yang manis. Lalu mengangguk. Anggukan yang melegakan. Apa, Nak? Katakanlah. Anak menyerbu. Memeluknya. Lalu terisak. Pekebun yang baik takkan lelah membawa bibit ke mana-mana. Pada sepetak tanah. Yang subur menyuburkan. Pekebun yang baik takkan lelah melindungi bibit. Di bawah awan-gemawan. Yang suci mensucikan. Ibu tersenyum. Merenggangkan pelukan. Menatap mata Anak. Mata yang celik. Mata yang berbinar. Bagai ada kunang-kunang yang terperangkap. Di dalam matanya. Dan anak yang baik selalu percaya: Seorang ibu takkan menyiramnya dengan air keras. Ibu menyipitkan sebelah mata. Lalu tertawa. Anak juga tertawa. Pecah-rincah! Anak mencium punggung tangan Ibu. Pergi. Ke alun-alun desa. Ke alun-alun surga.


Ibu yang Adil

Raja datang. Ibu masih berbaring. Istirahat. Di tempat tidur. Raja mengetuk pintu. Ibu bilang: Aku lelah sekali. Aku tahu. Ibu penasihat kerajaan. Tapi kenapa Ibu seperti melecehkan raja? Kenapa, Nak? Kau tidak suka dengan sikap Ibu? Tidak, Bu. Ibu pasti punya alibi. Kenapa melakukan itu. Ibu tersenyum. Dan bilang: Lihat lagi. Rupanya raja belum puas. Diutus perdana menteri. Kali ini Ibu bangun. Membuka pintu kamar. Terkuak setengah. Aku masih lelah, kata Ibu. Kembalilah petang nanti. Akhirnya. Diutus seorang prajurit rendahan. Pukul lima petang. Ibu gegas bangun. Membuka pintu. Menuruni anak tangga. Mempersilakannya masuk. Menyuruh Anak membuatkan teh. Teh yang mahal. Teh bunga mawar. Prajurit kikuk. Prajurit menyeruput teh. Meminumnya. Sampai habis (entah karena nikmatnya teh—entah karena gugupnya jantung). Nah, Anakku. Setiap orang punya kedudukan. Setiap pohon punya ladang. Setiap hidup harus seimbang. Setiap perkara harus ditimbang. Tunjukkan: Kepada yang bergelimang hormat, ambillah sedikit kebanggaannya. Kepada yang dibelit kehinaan, suguhkan ia kehormatan. Walaupun hanya dengan bangkit dari tempat tidur. Membuka pintu kamar. Menuruni jenjang. Membuka pintu rumah. Mempersilakannya duduk. Menjamunya. Di ruang tamu. Dengan secangkir teh.


Apakah Orang-orang Akan Menjadi Kambing Berjamaah?

Orang-orang berkerumun. Ibu dan Anak mendekati. Ikut berkerumun. Seorang wanita tua. Berjubah bludru. Berkerudung ungu. Aku adalah penyanyi dari surga! Suaranya bergema. Menggetarkan. Meremangkan. Menciutkan. Orang-orang menunggu. Kapan ia bernyanyi. Orang-orang tak sabar. Seperti apa nian. Suara dari surga itu. Ibu bertanya. Maaf, Penyanyi. Penyanyi dari surga. Suara apa yang paling susah kautiru? Ibu menanti jawaban. Orang-orang menanti jawaban. Orang-orang memeram penasaran. Suara al Kindi dan Mencius, jawab wanita itu. Orang-orang mengangguk-angguk. Ibu bertanya. Lagi. Wanita itu mendelik. Menantang. Lalu. Suara apa yang paling mudah ditiru? Wanita itu diam. Lalu terkekeh. Terbahak-bahak. Sungguh. Suaranya bergema. Menggetarkan. Meremangkan. Menciutkan. Orang-orang menunggu. Kapan ia bernyanyi. Orang-orang tak sabar. Seperti apa nian. Suara dari surga itu. Suara wanita itu. Ia menjawab: Suara malaikat, hantu, dan titah Tuhan! Orang-orang terperanjat. Tubuh mereka menggigil. Mereka takjub. Mereka ketakutan. Mereka terperangkap. Tapi tidak buat Ibu dan Anak. Ibu menggamit tangan Anak. Keluar dari kerumunan. Pergi. Meninggalkan kerumunan. Ibu, ujar Anak. Mengapa kita berlalu. Tidakkah kita ingin membuktikan kehebatannya? Seperti apa nian suaranya. Suara dari surga itu. Diam, Nak. Dia penipu! Bagaimana Ibu tahu? Kita belum pernah mendengarnya. Siapa tahu dia memang hebat. Penyanyi dari surga! Ibu menghentikan langkahnya. Menatap Anak. Belajarlah. Berkhidmatlah. Hayatilah hidup. Bila pun ia kumandangkan suara malaikat, hantu, dan titah Tuhan, apakah akan kauiyakan? Apakah orang-orang akan menjadi kambing berjamaah? Kalian tidak memiliki bandingan! Anak diam. Ya, Bu. Wanita itu takkan dapat meniru al Kindi dan Mencius. Kita hidup bersamaan dengan pandai musik jagat raya dan orang nomor dua setelah Konfusius. Dia takkan bisa meniru. Tapi kupikir. Dia bukan penipu, Bu. Lalu apa, Nak? Dia itu Iblis. Kau juga tahu dari mana ia datang, bukan? Anak mengangguk. Dari neraka!


Jangan Pulang Hanya Karena Rindu

Lonceng. Berdentang. Berdetang-dentang. Nyaring. Cempreng. Seorang anak. Berlari. Melewati pasar. Lalu permukiman. Lalu kali-kali. Lalu jembatan. Jembatan-jembatan kecil. Ibu! Seorang ibu sedang menganyam. Daun-daun pandan kering. Bersalih-silang. Membuat terindak. Semacam caping. Pengganti payung. Ibu menoleh. Air mukanya lelah. Kau pulang cepat? Tidak, Bu. Sekolah yang cepat kelar. Kenapa? Ada rapat. Rapat guru. Kau berbohong? Tidak, Bu. Kau berbohong! Ibu menunjukkan sebuah terindak. Terindak setengah jadi. Kau lihat ini? Ia menunduk. Kau lihat ini?! Ia masih menunduk. Ibu meraih dagu Anak. Mengangkatnya. Mau tidak mau. Ia menatap terindak. Crashhh!!! Terindak bagai kertas yang disobek. Hancur. Berserakan. Daun-daun cokelat muda luruh. Kenapa kau pulang cepat? Ia meneguk liur. Ia masih menatap daun-daun pandan kering yang berserakan di ujung kakinya—kaki ibunya. Baiklah, Ibu. Kalau Ibu tak percaya. Dada Ibu megap-megap. Menahan buncah. Meredam marah. Aku tak peduli, kata Anak. Aku tak peduli. Pada lonceng. Suara lonceng. Dentangnya yang cempreng. Hari ini…. Ia terisak. Kenapa? Ibu membentak. Hari ini…. Lanjutkan! Suara Ibu makin keras. Hari ini…. Aku-aku-aku. Aku-aku-aku. Sangat merindukanmu Ibu. Di sekolah tadi. Aku berpikir. Bagaimana kalau Ibu tidak ada lagi. Aku-aku-aku. Merindui. Ibu. Aku tak butuh alasan untuk itu ‘kan, Bu? Ibu meninggalkannya. Menekuni daun-daun pandan yang kering. Menganyam lagi. Terindak. Terindak-terindak. Untuk berteduh. Kalau-kalau di surga nanti. Masih ada gerimis. Masih boleh menangis.


Kalau Lapar, Makanlah

Bila Lelah, Istirahatlah

Ibu. Ibu. Ibu, aku ingin bertanya. Ya, Nak. Aku punya tugas. Dari guru. Guru Agama. Ya. Kami dimintai pendapat. Pendapat sendiri. Kalau bisa bukan dari orang hebat. Bukan juga dari kitab suci. Ya. Apa itu, Nak? Apa. Apa. Apa. Apa hal sederhana. Hal yang dilakukan. Demi menjadi orang baik? Ibu tersenyum. Apa, Bu? Ibu masih tersenyum. Jadi ‘tersenyum’ jawabannya. Ibu menggeleng. Lalu? Lalu apa, Nak? Anak mencubit Ibu. Pinggang Ibu. Ibu menggeliat. Geli. Sedikit nyeri. Geli. Sedikit geli. Kalau lapar, makanlah. Bila lelah, istirahatlah. Anak mengerutkan kening. Bibir monyong. Telunjuk memilin rambut sebahu. Melirik Ibu. Ibu main-mainkah? Ibu menggeleng. Cepat sekali. Ibu main-main, ya? Ibu menyentuh bahu Anak. Anak diam. Ibu mengangkat tubuh Anak. Anak diam. Ibu mendudukkannya. Di atas kursi. Anak diam. Ada yang salah, Nak? Anak diam. Katakanlah. Orang-orang yang gelisah adalah orang-orang yang hidup. Anak diam. Lalu menghela. Dua kali hela. Bukankah itu yang dilakukan kebanyakan orang, Bu? Ibu menggeleng. Anak diam. Kebanyakan orang serakah, Nak. Anak diam. Ketika lapar, mereka memikirkan kereta kencana. Ketika istirahat, mereka mengimpikan mutumanikam dari utara. Mereka tidak makan. Mereka tidak istirahat. Mereka seolah ingin menunjukkan kuasa: Manusia mampu mengerjakan segala. Kau tahu, Nak. Mereka mengejar kerumunan bebek. Alih-alih menangkap semua. Alih-alih dapat banyak. Satu pun lepas genggaman. Anak diam. Diam. Diam saja.


Seratus Tahun Menjadi Ibu

Aku mengagumimu. Ibu. Ibuku. Tinggalkanlah daun-daun pandan itu. Ibu mengangguk. Menatap Anak. Baiklah. Ada apa, Nak? Berapa lama waktu yang kubutuhkan? Untuk apa, Nak? Untuk menjadi sepertimu Ibu. Ibu tertawa. Meraih daun-daun pandan. Ibu. Jangan bercanda, Nak. Ibu tengah membuat terindak. Bukan ketupat hari raya. Aku serius. Bu. Aku sungguh. Penuh. Penuh dan seluruh. Ah, bahasamu, Nak. Anak terkekeh. Baiklah. Lima belas tahun, bagaimana? Apa?! Terlalu banyak orang mati hanya karena terkesiap, Nak? Anak jadi malu. Wajahnya memerah. Bagaimana kalau aku belajar jauh lebih sungguh-sungguh, Bu? Sungguh? Iya, sungguh! Sungguh penuh dan seluruh? Ya, penuh dan seluruh. Baiklah. Tiga puluh tahun, cukup? Anak tertawa. Ibu, aku serius! Ibu menggeleng-gelengkan kepala. Gemas. Melihat tingkah Anak. Nak, Nak, Anakku. Bila serius adalah daun… maka jawabku adalah kanopinya. Anak diam. Bila Ibu bermetafora. Pertanda ia menyebar hikmah. Baiklah, Bu. Demi Tuhan Yang Maha Segala. Ya, Nak. Demi Tuhan Yang Maha Segala. Kenapa? Ada apa? Kenapa Tuhan? Ibu. Aku bersumpah. Sumpah! Atas nama Ibu. Atas nama Tuhan, bila perlu. Berapa lamakah bila…. kuhabiskan waktuku untuk belajar. Untuk menjadimu. Ibu melotot. Seratus tahun! Anak terperenyak. Anakku, Ibu membelai rambutnya. Belajarlah dengan hati lapang. Belajarlah dengan kerendahan. Belajarlah dalam kebebasan. Orang-orang yang belajar dalam kekhawatiran takkan beroleh sesuatu apa. Kecuali lelah. Kecuali cemas. Kecuali harapan!


Aku Hanya Ingin Berdiri di Situ

Ibu melamun. Ibu rindu Ayah. Ibu banyak masalah. Ibu menikmati bulan. Ibu menikmati malam. Ibu ingin ke bulan. Ibu bersedih. Ibu gundah. Anak resah. Ia berlari. Memeluk Ibu. Dari belakang. Ia sudah besar. Tangannya bisa melingkari . Di pinggang. Pinggang Ibu. Ibu sedang melamun? Ibu menggeleng. Ibu rindu Ayah? Ibu menggeleng. Ibu banyak masalah? Ibu menggeleng. Ibu menikmati bulan? Ibu menggeleng. Ibu menikmati malam? Ibu menggeleng. Ibu ingin ke bulan? Ibu menggeleng. Ibu bersedih? Ibu menggeleng. Ibu gundah? Ibu menggeleng. Lalu. Lalu mengapa dari tadi ada di situ. Berpayung pohon duku. Melihat bulan. Memandang lepas. Ibu memberi tanda. Anak mendekat. Kau sudah pintar, Nak. Anak mendongak. Ke Ibu. Dagu Ibu. Tapi kau belum bisa menjadi jauhari. Memang tidak! Aku ingin jadi darwis. Darwis perempuan! Tidak! Kau belum bebas. Maksud Ibu? Kau belum lepas. Maksud Ibu? Makanya kau belum bisa mengepak. Anak diam. Dunia bukan cecabang pohon. Bukan meja berukir. Lalu, apakah ada alasan bagi angin untuk meriuhkan daun dan meniup debu-debu? Anak masih diam. Aku hanya ingin berdiri di sini. Di bawah pohon duku. Hanya itu. Tanpa alasan. Tanpa beban. Tanpa ikatan. Bebaskan pikiranmu, Nak. Lalu kautangkap cahayanya.


Pisau

Begini. Ke sini. Rebahkan kepalamu. Di pahaku. Di atas kain-kain. Katun-katun dari Asia. Aku hendak bercerita. Agar kau mawas. Agar kau tak khilaf. Jangan silap. Jangan gelap. Jangan lelap. Begini. Dengar ini. Ada cerita. Seorang ibu. Ibu yang kehilangan pisau. Pisau biasa. Tajam. Tidak terlalu tajam. Juga tidak tumpul. Ia curiga. Anak tetangga mencurinya. Ia mengamati. Terus mengamati. Tekun mengamati. Anak itu berjalan. Berjalan seperti pencuri. Dua minggu setelah itu. Ia menemukan pisaunya. Di tengah rimba. Ia terdiam. Ia menebas-nebas kerimunting. Ia pulang. Besoknya. Anak tetangganya itu berubah. Dilihatnya berubah. Jalannya berubah. Langkahnya berubah. Cara bicaranya berubah. Penampilannya berubah. Seperti anak-anak yang lain. Nah, Anakku. Bukankah manusia banyak yang seperti itu? Seperti ibu yang kehilangan pisau itu? Dongeng selesai. Anak mendengkur. Bagai gong yang bergemuruh. Meluruh. Menutup cerita.


Ia, Segala Puji Bermuara

Pujian sejati adalah kepercayaan yang diberi. Maka, sebelum kita menggali lubang. Sebagai jeda dalam sebuah kisah panjang. Kuganjalkan sebongkah pengaduan di antaranya. Antara kau dan aku. Anak dan Ibu. Gunung dan lembah. Sungai dan lubuk. Aku melahirkanmu. Kau memanggilku Ibu. Aku memanggilmu Anak. Dua beranak. Aku memercayaimu sebagai anak sebagaimana Tuhan memujiku dengan menganugerahimu. Dan aku sudah percaya. Kau tidak akan jauh-jauh. Kau hanya akan bermain. Di alun-alun. Tapi kutunggu. Kutunggu dan kutunggu. Tapi kucari. Kucari dan kucari. Kau tak kunjung menyambangi. Anakku. Begini saja. Aku yakin. Kau akan-dan-pasti datang. Menyongsongku di siang yang lekat. Aku merinduimu, Bu, serumu kelak. Sungguh. Ah, pasti begitu. Hmm, Tuhan. Kau memang menurunkanku. Kau memang meniupkan anak ke dunia. Tapi aku… seorang ibu. Mengandung. Melahirkan. Membesarkan. Merawat. Apakah masih perlu dijawab: Apa yang sebenarnya kulakukan kepada anakku? Aku lebih mengetahui. Paling mengetahui. Mungkin. Mungkin juga daripada-Mu. Maka, Kau tak perlu menculiknya. Karena aku telah memuji-Mu. Dengan memercayai-Mu. Untuk memeliharanya. Di sana. Di alun-alun. Alun-alun surga. Ambillah. Ambillah anakku!


Ibu yang baik adalah ibu yang memercayai Tuhan memelihara anaknya. (*)


Lubuklinggau, 10-11 Oktober 2011

Catatan:

Anak Ibu (1) dimuat Koran Tempo (Mei, 2009), dan Anak Ibu (2) dimuat Jawa Pos (Februari, 2011)

Senin, 03 Oktober 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Republika 2 Oktober 2011

Saya tak tahu. Sebenarnya ini surat ke berapa yang ditulis. Surat-surat sebelumnya telah bersitumpuk di sudut-sudut rumah kayu saya yang sempit, di sudut kamar saya yang tentu juga sempit, di kotak-kotak lemari cokelat pias tanpa ukir, beberapa di celah-celah ventilasi dapur. Surat-surat itu bukannya suratsurat yang tak layak kirim. Pun, bukan kumpulan surat yang tak rampung (yang kebanyakan diremas orang-orang sebelum membuangnya di kotak sampah atau di sembarang tempat). Kertas-kertas (yang kini sudah menguning) itu adalah suratsurat jadi. Surat-surat siap kirim. Namun, sungguh, saya bagai tak tergerak mengantarnya ke kantor pos. Atau sekadar memasukkannya di kotak pos di simpang jalan raya. Saya bukan meragukan jasa pos. Toh, saya juga bisa mengirimnya via agen-agen jasa pengiriman swasta, bukan? Ini tentang kebingungan. Kebingungan yang lebih mengerucut pada keraguan. Beberapa catatan yang kerap menyergap bila keinginan untuk mengirimnya muncul adalah sebagai berikut:

Pertama, akankah dibaca surat-surat itu? Kedua, bila pun dibaca, tentulah si pembaca akan menilik nama pengirimnya. Ah, siapalah saya. Ketiga, apakah saya tak tampak berlebihan dengan isi suratsurat itu?

Mungkin saya ini memang tipe orang peragu. Tapi... ada baiknya saya tepikan sifat itu. Saya pikir tak ada ruginya bila diceritakan sedikit tentang nasib beberapa surat yang pernah saya tulis itu.

Adalah Pak Lijan, kepala sekolah tempat saya meng ajar, yang pertama kali memergoki saya menulis surat. Memang dasarnya tak percaya diri, gemetaranlah saya ketika itu. Pak Lijan mengambil kertas itu. Tak lama ia terkekeh. Melemparkan surat itu ke arah saya. Ya, melemparkan. Bukan memberikan. Lalu ia mengatakan (di antara kekehannya yang membuat rasa hormat kepadanya kini berkurang) bahwa tak ada gunanya guru honorer seperti saya menulis semua itu. Apa pun, di dunia ini, tak ada yang gratis. Termasuk sekolah. Bila pun bebas SPP dan uang bangunan, apakah sekolah juga mesti membelikan para siswa tas, sepatu, seragam, buku, dan alat tulis?

Saya cerna kata-katanya. Ada pula benarnya. Tapi..., ya, tapi bukankah di republik ini, pendidikan itu adalah hak? Bukan kewajiban! Maksud saya, bila itu adalah hak, maka berikanlah. Berikanlah dengan seutuhnya. Semuanya. Atau, saya yang salah mengartikan ’hak’ dalam pendidikan itu? Sayang, saya tak sempat menanyakan semua risau itu kepada kepala sekolah itu. Dia sudah keburumeninggalkan saya. Saya hanya sempat melihat ia menyeringai ke surat yang tergeletak di dekat ujung sepatu saya. Ketika itu, saya tiba-tiba miris. Surat yang berisi kegelisahan saya itu tampaknya senasib dengan penutup kaki saya yang butut.

Saya juga pernah menuliskan surat yang bercerita tentang seorang kawan seperjuangan. Perempuan 56 tahun di kampung seberang. Ibu Hoi, demikian saya memanggilnya. Saya cukup akrab dengannya bukan hanya karena ia adalah guru yang sangat saya kagumi, namun juga untuk alasan yang tidak penting: karena saya juga sangat suka makan gorengan. Saya sering membeli gorengannya ketika tiga kali seminggu harus ke perpustakaan kota demi menuntaskan hobi membaca saya.

Ya, selain menjadi PNS di sebuah SD, Ibu Hoi juga nyambimenitipkan gorengan di warung yang terletak dekat gerbang SD. Sudah 32 tahun ia mengajar. Ia tak tahu (juga tak paham) apa itu sertifikasi, bonus yang paling guru bincangkan. Dapat gaji dua kali, kata mereka. Dan, Ibu Hoi tampaknya tak terlalu tertarik di luar perannya sebagai guru dan penjual gorengan. Ia seolah menikmati sekali hidup. Setelah mengajar, saban sore ia mengitari kampung dengan kereta tuanya. Bertandang dari rumah ke rumah. Ibu Hoi juga menjadi penjahit keliling.

”Ibu senang saja melakukannya. Selain menambah uang belanja, banyak bertandang, panjang umurnya,” demikian selorohnya suatu waktu.

Ketika itu, penulisan kisahnya didorong oleh pengumuman sebuah lomba yang diadakan oleh kantor diknas kabupaten. Menulis kisah inspiratif. Hadiahnya lima ratus ribu. Pikir saya, hadiah itu dapat dibagi dua dengan Ibu Hoi kalau naskah saya menang. Saya menulis dalam bentuk surat. Kreativitas, itulah dasar saya memilih gaya berkisah seperti itu. Tapi, apa hendak dikata, satu hari menjelang dikirimnya surat-cerita itu, Ibu Hoi meninggal dunia. Setahu saya, Ibu Hoi tidak mengidap penyakit jantung atau penyakit lain yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Jadi, menurut saya, dengan semua keluguannya menjalani kehidupan, dengan semua pengabdiannya di sekolah, kematiannya adalah satu dari kematian yang paling diimpikan.

Ketika itu saya sibuk membantu beberapa tetangga mengurus jenazahnya, menyambut para pelayat, mengundang orang-orang untuk membaca Yaasin di malam harinya... Saya pun lupa mengirimkan naskah itu. Saya baru ingat setelah nama-nama pemenang diumumkan. Kabarnya, semua tokoh yang kisahnya dituliskan, meninggal ketika naskah-naskah dinilai! Saya terperenyak. Bagaimana mungkin? Tapi, ketika mendapati kebenaran kabar itu, saya pun berprasangka baik (saya yakin, kali ini prasangka saya benar): pada kurun itu, Tuhan sedang menjemput orang-orang pilihan-Nya. Dan, itu sangat mungkin, hati kecil saya menegaskan. Entah, tiba-tiba saya tak menganggap kabar duka itu sebagai sesuatu yang layak dirutuki.

O ya, saya pula pernah menulis cerita tentang Pak Arman. Guru Agama yang kini sudah sepuh. Maklum, dia adalah guru ketika saya SMP. Saya ingat sekali. Dulu, ketika bersama teman-teman, saya dihukumnya berlari keliling sekolah 10 kali di siang bolong. Kami yang waktu itu jumlahnya lima orang memang dikenal berandal. Kami tahu kami salah. Tak hafal Asmaul Husna, tak hafal 20 ayat pertama al-Baqarah, juga masih tak hendak melancarkan bacaan Alquran. Kami juga tak bayar uang sumbangan membeli sarung dan mukena untuk mushala sekolah. Mushala yang hampir rubuh. Kami sangsi bahwa uang itu akan digunakan untuk membeli perlengkapan shalat. Kami masih trauma dengan kasus Bu Lita, wali kelas kami. Sumbangan kami yang 2.500 rupiah per orang, tak jelas ke mana perginya. Katanya hendak dibelikan sapu, kotak sampah, gorden, vas bunga, dan seprai meja. Ternyata hanya kotak sampah dan sapu yang dibeli. Masing-masing satu pula. Kami pikir, Pak Arman tak ubahnya seperti Bu Lita.

Namun begitu, alasan yang paling kami gembar-gemborkan ketika itu adalah atas nama harga diri(dalam usia bau kencur ketika itu, kami sudah bertingkah dengan dua kata yang seakan sangat kami pahami itu...)! Kami benar-benar merasa terhina ketika teman-teman (termasuk gadis-gadis yang kami taksir) menyaksikan kami yang kelelahan menjalani hukuman.

Maka, kami pun membuntuti Pak Arman pulang. Kami tak memalaknya di jalanan sepi menuju rumahnya. Ya, kami cukup cerdas. Sebagai berandalberandal yang baru disetrap, tentulah kami sangat mudah menjadi tersangka pemalakannya. Kami berencana memalaknya esok pagi saja, ketika Pak Arman keluar dari perempatan jalan rumahnya. Maka, kami menguntitnya hingga memasuki lorong di perempatan. O, kami tak tahu, bila rumahnya jauh ke dalam. Mungkin sekitar dua kilometer. Jalan kaki. Kami lelah sendiri. Dan, o, o, kami kedapatan olehnya. Tubuh kami gemetar (kami lupa bahwa Pak Arman tak tahu rencana jahat kami). Kami diajaknya duduk di lepau di bawah pohon nangka, dekat sebuah rumah yang lebih layak disebut gubuk.

Pak Arman bertanya perihal kedatangan kami. Namun, belum sempat kami menjawab, dari gubuk itu, berkeriapan anak-anak kecil (kalau tak salah jumlahnya lima orang) menyongsongnya. Mereka disuruh Pak Arman salim kepada kami. Kami pun menyambutnya dengan semringah. Tahulah kami, mereka adalah anakanak guru agama kami itu. Pun, kami tak perlu bertanya tentang siapa pemilik gubuk dekat situ, bukan?

Tak lama, muncullah seorang perempuan paruh baya. Membawakan beberapa gelas plastik dan ceret aluminium dalam nampan plastik. Kami segera menyalaminya. Mencium tangannya. Tak perlu dikenalkan pun kami tahu kalau ia istri Pak Arman.

Ketika kami melepas dahaga, Pak Arman masuk ke gubuk. Tak lama ia sudah muncul dengan menggiring sebuah sepeda motor butut. Kami bertanya, mengapa ia tak mengendarainya untuk ke sekolah. Dan... baru tahulah kami. Motor butut itu adalah sewaan. Tiga puluh ribu per hari. Pak Arman mengojek sepulang mengajar. Maka, mulai detik itu, kami bagai lupa perihal palakmemalak itu....

Kisah tentang Pak Arman itu saya tulis. Beberapa hari kemudian, saya membacanya di hadapan teman-teman ketika kelas Bahasa Indonesia. Empat teman saya yang lain pasti tahu kalau saya tidak sedang membacakan sebuah surat untuk pak presiden sebagaimana yang diminta oleh Bu Desy. Namun, tak ada yang menyela. Termasuk guru bahasa Indonesia kami itu. Saya ingat sekali, mata teman-teman saya basah ketika cerita berakhir. Ibu Desy pun permisi ke toilet. Saya tahu, dia hendak menyembunyikan mata merahnya dari kami.

Entahlah, apakah ini akan dianggap sebuah surat atau tulisan lepas, atau semacam cerita saja. Saya tak banyak berharap, sebagaimana saya tak tahu kepada siapa surat ini mesti saya kirimkan. Hanya tiba-tiba terbetik ide, saya ingin mengirimkannya ke sebuah surat kabar. Siapa tahu surat ini dimuat. Lalu dibaca banyak orang. Atau juga dibaca pak presiden! Amin. Allahumma amin.

Lubuklinggau, 2010
Untuk Istriku, Desy Arisandi
Minggu, 04 September 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Koran Tempo, Minggu, 28 Agustus 2011

JAUH-JAUH rumpun ialang, buah para di lengkung papan. Sungguh riang gadis berdendang, pemuda tampan di kampung halaman.

Itulah yang dirasai Bunga Raya, putri tunggal seorang duda. Semua bukan tanpa alibi, bujang itu adalah Sakiaki. Beberapa hari belakangan, ia selalu jadi pikiran. Di beberapa kesempatan, ia menyelinap dalam perbincangan. Tak hanya oleh kerumunan perawan, tapi juga ibu-ibu yang mulai beruban. Ada yang bilang ia titisan Yusuf. Ada yang menduga ia Malaikat yang menyusup.

Bagai selaras dengan wajah yang simpatik, ia pun dikenal berbudi baik. Ia sangat rajin sembahyang, tegak lurus dengan sifatnya yang penyayang. Bila azan ia kumandangkan, bagai berdenyar telinga yang mendengarkan. Bukan karena sumbang bunyi panggilan, namun merdu nian ia dilagukan. Tak heran bila dalam beberapa putaran, masjid ramai oleh para perempuan. Entah bagaimana semua bermula, ini bukan isapan jempol belaka. Imam masjid sempat terperangah, namun tak kuasa mencuat tanya. Baginya, kerumunan jamaah di rumah Tuhan, pertanda baik bagi kehidupan. Walau akhirnya ia paham, bahwa keberadaan Sakiakilah yang menyebabkan.

Sang Imam kerap mengingatkan, agar sang bujang tak lupa daratan. Banyak-banyaklah bersyukur kepada Tuhan, pesannya dalam sebuah kesempatan. Jadikanlah kerupawanan, keterampilan, dan kesantunan, untuk menawan sesiapa ke jalan Tuhan. Jangan ada pemilahan! Baik lelaki ataupun perempuan. Baik muda maupun tua. Baik belia maupun manula.

Sebagaimana biasa, tak pernahlah Sakiaki membantah. Baginya setiap nasihat, adalah laba kehidupan yang berlipat. Takkan kutolak mutiara yang dihadiahkan cuma-cuma, bisik hati kecilnya. Maka, makin rajinlah ia beribadah. Tak pernah alpa karena lalai ataupun lelah.



JAUH-JAUH rumpun ilalang, buah para bertangkai lima. Jangan cibir cinta yang datang, kelak kau akan terperangah.

Sakiaki adalah orang datangan, tukang azan kesayangan imam. Ia mengajar mengaji, ketika magrib sudah permisi. Banyak anak kampung yang menjadi muridnya, mereka gembira karena sang guru baik hatinya. Sakiaki tak pernah membawa rotan saat mutaba’ah, mengulang hafalan surat-surat juzamma.Ia jua kerap bercerita, berbagi hikmah kepada murid-muridnya:

Jadi bujang bukanlah centeng. Anak gadis janganlah cengeng.

Benarlah janji Tuhan, tak ada amal tanpa imbalan. Setiap usaha yang berkat, mengundang hadiah untuk mendekat. Sakiaki seolah tak perlu memikirkan makan. Ada-ada saja yang datang menyuguhkan. Saban pagi, siang, dan petang; ibu-ibu bagai bergantian membawa rantangan. Ia jua tak perlu risau perihal pakaian, tak sedikit wali murid menghadiahinya katun jahitan. Bahkan dalam beberapa waktu yang cerlang, ada-ada saja yang memberinya sejumlah uang.

Ai, alangkah riang si Sakiaki, hatinya senang sepanjang hari. Senyum merekah kepada sesiapa yang ditangkap mata. Salam tak alpa ia ucapkan, untuk mereka yang bersua di jalanan. Sakiaki sangat cakap membawa diri, sebagaimana pesan orangtuanya di suatu hari:

Di bumi mana pun kau bergantung, di situ langit harus kaujunjung.

Berbilang masa, Sakikaki masyhur karena tabiatnya. Ya, bukan hanya karena kemerduan suara kala berazan, tapi juga kepandaiannya memelihara kawan. Bukan hanya karena wajah yang rupawan, tapi juga keramahannya kepada orang-orang. Bukan hanya karena kedalaman ilmu dan wawasannya, tapi juga kerendahan hati dalam menyembunyikannya.

Seolah mendapat bisikan Tuhan, beginilah yang dilakoni para orangtua—dan dalam perkara ini, ibu-ibulah yang dapat diandali:

Bila hendak mengantar rantangan, mereka selalu didampingi anak perawan.

Entah bagaimana, Sakiaki seolah tak pernah besar kepala. Ah, bagaimana ini layak dibahasakan: Sakiaki menganggap apa-apa yang tampak di hadapan adalah isyarat agar ia tak kerap menabur harapan, atau si ibu yang tak pandai memilih waktu menjaring menantu, atau Sakiaki yang terlalu dini berbesar hati ....

Tentu Sakiaki takkan meremehkan serangkaian gelagat. Ia hanya berisyarat seolah belum berniat kawin cepat-cepat (sungguh, bila hendak diperturutkan, sangat ingin Sakiaki membuat ikatan. Usianya sudah dua tiga, sangatlah ranum untuk menikah. Apalagi gadis-gadis yang yang ditangkap pandang, kebanyakan sudah menanti untuk dipinang).

Tak banyak yang tahu. Hati Sakiaki sudah tertaut, dengan seorang gadis yang bertutur lemah lembut. Gadis itu ia lihat tak sengaja, di sebuah pasar yang digelar pagi Selasa. Kala itu, bersama ayahnya yang juga petinggi puak, lenggok suara gadis itu membuat telinga dan mata sesiapa jadi terbuka. Bila ayahnya memetik gitar, cengkok suaranya membuat hati bergetar. Bila ayahnya melempar sampiran, sang Gadis membalas dengan makna yang berikatan. Mereka adalah sepasang pemantun yang santun. Sepasang penampil yang sangat terampil. Dan karena semua itu, tekad Sakiaki bertalu-talu. Ia bagai mabuk oleh cinta pertama, cinta yang dulu ia anggap bualan belaka.

Ai, Bunga Raya! Tunggulah! Abang ’kan datang untuk mengkhitbah!



JAUH-JAUH rumpun ialang, buah para dagingnya lekat. Alangkah malang nasib si bujang, diri sebatang diperangkap adat.

Ai, penting niankah asal usul seseorang, hingga ia harus ditimbang dalam pinangan? Maka, berkelitlah serombongan ibu, yang kerap mengantar rantangan ke rumah itu; rumah Sakiaki yang tak paham perkara; kenapa tak pernah lagi anak perawan menyertai mereka. Ibu-ibu memang masih kerap memerhatikannya, namun Bunga Raya mendapati ada yang berbeda. Pernah tak sengaja ia mendapati pergunjingan, Sakiaki dan anak-anak gadis mereka dikunyah bagai kudapan. Dalam diam, Bunga Raya kerap bergumam. Ah, ibu-ibu memang senang membuang waktu, untuk perkara yang faedahnya belumlah tentu. Aneh pula Bunga Raya mendengar apa yang mereka ributkan; Sakiaki bukan keturunan Melayu sebagaimana kebanyakan! Dan di pasar ini, bakda berpantun dan menyanyi; Bunga Raya kembali merasa ganjil, mendengar pergunjingan di sebuah kedai kecil.
”Oi, Mak-mak yang berkumpul di siang kemarau, dengarkan pantun untuk hati yang risau.”

Seombongan perempuan berumur, menyerbu dan berbaur.

”Pisau Suang Pisau Pelawan, dipakai untuk menebas mayang. Sungguh malang nasib perawan, meneguk liur mengharap bujang!”

”Ai, Siti Maimunah nan pandai bercakap, tahu nian kalau perawan kami tengah meratap.”

”Apakah ada yang bisa bermaklumat, sejak kapan adat mencekik bujang santun nan memikat?”

”Tak usah kau bertanya bagaimana api ’kan padam, bila air liur yang kaupakai untuk meredam?”

”Ya, Mak Jamidan, kita hanya merutuki kemalangan. Kau tentu paham ke mana percakapan tertuju: Sesiapa akan bangga bila Sakiaki jadi menantu.”

”Dari kabar yang melintang-pukang, ada angin sejuk yang berlabuh di ujung pedang. Keliru nian orang-orang yang bilang, kalau Sakiaki bukan Melayu kebanyakan!”

”Apa maksudmu, Cik Kumu?”

Cik Kumu tersenyum sembari melempar pandang. Senang nian ia mendapati orang-orang dililit penasaran.

”Bukankah ayahnya orang pulau seberang?”

”Atau itu hanya kabar sembarang?”

”Jangan terlalu lama racun dijerang. Hari ini sudah siang. Lekas beritahu kami sekarang!” Seorang ibu mulai berang.

Cik Kumu memberi isyarat; yang hendak beroleh kabar harap merapat!

Tak ingin melewatkan kesempatan, segeralah Bunga Raya mendekati kerumunan. Tentu tak mungkin ia bergabung; tak lazim anak gadis menyumpil di antara mulut kecubung—demikian mak-mak itu beroleh sebutan. Lamat-lamat Bunga Raya memasang telinga; sudah kenyang ia dibekap tanda tanya. Ia berharap beroleh kabar gembira, bahwa ada pasal yang dapat memuluskan rencana. Ya, dari lubuk hati terdalam, sebagaimana perawan kebanyakan, sangatlah ingin Bunga Raya disunting si bujang, tukang azan yang tengah diperkarakan. Mulut Bunga Raya komat-kamit, seolah tengah mengirim doa ke langit. Ya, Bunga Raya bagai baru menyadari, banyak yang terpikat kepada pujaan hati. Pikirannya tiba-tiba mengembara, pada beberapa karib seusia. Fatimah anak Haji Sukur, gadis ramah berkulit kuning kencur; Malacanang anak Mang Ramang, kakinya jenjang, berambut panjang; atau Saipit Zubaedah binti Wak Mahar, selain kulit sawo muda, tutur katanya sejuk didengar. Ah, setiap anak gadis pasti memesona, termasuk aku yang pandai bernyanyi dan merangkai kata, batin Bunga Raya tak mau kalah. Ya, pertunjukan yang digelar Bunga Raya dan ayahnya saban Kamis dan Selasa, membuat sesiapa tahu kalau bernyanyi dan berpantun adalah kepandaiannya (Bunga Raya benar-benar mewarisi darah sang Ayah, seorang seniman serbabisa).

Apakah Sakiaki menyukai gadis pemantun?

Apakah Sakiaki suka mendengarkan bait-bait lagu dilantun?

Wajah Bunga Raya tiba-tiba merah kembang sepatu, perasaan resah dan gembira berpadu menjadi satu. Oh, semoga saja Tuhan tengah riang, betapa aku ingin disunting ia seorang.

O o! Bunga Raya tercekat. Bagai terlupa untuk apa ia mendekat. Segera ia lepas khayalan. Tak guna bila semua masih angan-angan. Pendengaran Bunga Raya kembali awas. Ia harap tak ketinggalan kabar nan panas. Ketika mendapati pergunjingan masih diulur-ulur, ia mengela napas bagai bersyukur. Hmm, Bunga Raya berhikmat di waktu yang mustajab!

”Ayah Sakiaki memang orang pulau seberang, tapi takkah kalian berpikir tenang-tenang ...?”

”Jangan memanjangkan tali kelambu, Cik!”

”Bila masih kaubolak-balik, jangan menyesal bila kau kami cekik!”

Cik Kumu terperanjat, serta-merta ia teguk liurnya yang sepat (Bunga Raya bersetuju, dengan ancaman perempuan-perempuan itu. Ia juga jengah, melihat Cik Kumu masyuk bertingkah). Cik Kumu pun menganggukkkan kepala. Tanpa mukadimah. Tergesa-gesa. Ia utarakan perkara yang dianggapnya rahasia ....



JAUH-JAUH rumpun ialang, buah para dalam berangan. Hancur hati para perawan, bujang pujaan digapai jangan ....

Alamak jan! Bengak-nya kau, perempuan! Seolah menunjukkan mutiara, padahal tak lebih hanya sebongkah suasa!

Ya, Cik Kumu dirundung cerca. Wajahnya masai tiada terkira. Perempuan-perempuan itu bagai baru tahu, dalam tubuh Cik Kumu tidak mengalir darah Melayu. Ai, manalah paham ia tentang adat, manalah tahu ia tentang syarat yang mengikat! Lagak Cik Kumulah yang membuat mereka naik pitam. Ia seolah memegang rahasia kerajaan, padahal pengetahuannya umpama air dalam genggaman.

Gila babi nian kau, Cik Kumu! Walaupun ibu Sakiaki berdarah Melayu, takkan memengaruhi nasab bujang pujaanku! Bunga Raya bermuram durja, kabar yang diharap justru mengantar sekantung kecewa.

Bunga Raya pulang. Perasaannya tak tenang. Baru selangkah memasuki kamar, di tepi jendela ia dapati setangkai mawar. Sepucuk surat warna hijau muda, tergeletak tak jauh di dekatnya. Oh, Bunga Raya bagai bermimpi, mendapati nama Sakiaki diukir dengan dawat merah hati. Baru saja hendak ia hikmati, Ayahnya datang menghampiri. Lekas ia melipat tangan di balik kain. Betapa degup jantungnya kini terasa lain.

Bunga Raya tersenyum cerah. Disapanya sang ayah dengan ceria. Ya, ia tak ingin tertangkap basah, sebagai gadis yang tengah diikat asmara. Ai, merah genteng kini wajahnya, malu nian diolok perasaan yang membuncah. O o, tiba-tiba terbersit di pikiran, Bunga Raya hendak melunaskan kegelisahan.

”Batang pala di tepi jalan, buahnya dipetik untuk manisan. Bila Ayahanda tengah berkenan, bolehkah kulayangkan setangkai pertanyaan?”

”Buah pala untuk manisan, dimakan oleh anak perawan. Bila Ayahanda boleh pastikan, setangkai pertanyaan atau serumpun kegelisahan?”

Bunga Raya bagai menjelma setangkai putri malu, yang bila disentuh daunnya mengatup menjadi satu. Apakah sang ayah menangkap kegelisahannya, ataukah ia hanya sembarang menebak saja. Bunga Raya tak hendak bermain dengan kira-kira. Baru saja hendak ia rangkai sampiran, ayahnya sudah memanjangkan dugaan ....

”Sebagaimana kau, tentu Ayah pun galau.” Kata-kata ayahnya seolah menunjukkan, bahwa ia sudah tahu apa yang Bunga Raya pikirkan.

Bunga Raya diam saja. Berdebar-debar kini dadanya. Menanti-nanti kata selanjutnya ....

”Galau oleh mak-mak yang bermulut delapan, seolah tak ada kerja selain berbincang-bincang.”

Bunga Raya masih diam. Menebak-nebak ke mana ayahnya menggiring percakapan.

”Namun begitu, sangatlah aku bangga kepadamu. Pun arwah ibumu, akan bersepakat denganku. Ayah tak pernah memberikan tukang azan itu sesuatu, apalagi sampai membawa-bawamu ke situ. Dan kini, Ayah bersyukur sepenuh hati. Kau tentu tidak seperti mak-mak itu. Kau tidak setali tiga uang dengan anak perawan yang seolah kekurangan bujang di kampung halaman, bukan?”

Bunga Raya menunduk. Kegalauannya bersitumpuk.

”Para petinggi puak telah memufakati beberapa putusan perihal Sakiaki. Selain karena bukan peranakan Melayu asli, ia jua telah meresahkan bujang-bujang dan para suami. Anak perawan mereka tak henti membincangkan Sakiaki, sebagaimana sang istri bermimpi memiliki menantu yang baik hati. Ai, rusaklah panggung adat, bila diturut nafsu keparat!”

Bunga Raya mendongak. Dadanya tiba-tiba terasa sebak.

”Dari beberapa putusan, satu saja yang rasanya perlu kusampaikan....”

Bunga Raya meneguk liur. Perasaannya kian berkesiur.

”Sakiaki harus pergi dari kampung ini!”

Bunga Raya membelalak serta-merta. Apa yang ia dengar sungguh sukar diterima.

”Syukurlah Sakiaki tahu diri. Pagi tadi ia sudah angkat kaki!”

Bunga Raya benar-benar tercekat. Surat di tangan ia genggam erat-erat. Sungguh, ia belum tahu, apa yang Sakiaki tulis di situ. Ia sangat berharap, tertera nama sebuah tempat. Tempat di mana Sakiaki sudah menunggu, sebagaimana ia yang sudah siap-siap ke menyerbu .... (*)


Lubuklinggau, 2011

Senin, 22 Agustus 2011 by Forum Lingkar Pena

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jawa Pos, Minggu, 21/08/11

Ia lebih mirip merpati betina yang sekarat. Tubuh belang tiga. Kepala dan paruhnya hijau tahi kuda. Kedua sayapnya putih salju. Ekornya merah kepiting.

WAJAHNYA YANG KERIPUT tampak letih seolah baru saja terbang dengan sekarung nostalgia di kepala. Ia menghampiri beranda rumah yang kami bangun dari setumpuk kata. Kata-kata itu direkatkan oleh mata pena. Pena pemberian Ibu. Pena Ibu.

Pena dengan tinta airmata, kata Ayah. Tangis Ibu adalah sungai cerita yang menjorok dekat pintu surga, lanjutnya. Jangan tanya mengapa airmatanya berubah menjadi mata air. Yang mampu kuendus adalah, ia bisa mengukur waktu keberadaanya di dunia. Memang ia diserang stroke ketika mendapati buku atas nama pengarang belia yang laris di pasaran adalah draf karangannya yang lama hilang. Namun Ibumu selalu mengatakan: Bukan haus pengakuan dan ketenaran yang menyulutnya pergi dari sastra. Bukan kekecewaan yang menyebabkannya meninggalkan kita. Bukan penyakit yang membuatnya mewarisi pena ajaib dengan aliran tinta tanpa batas. Ibu pergi karena menghormati Malaikat yang berulangkali mengajaknya tamasya ke angkasa.

Benarkah begitu?

Kata Ayah lagi, Malaikat itu menawari Ibu menjadi editor di sebuah penerbitan baru di sana. Katanya, buku-buku terbitannya kelak, concern mengulas etika berkarya. Tahukah kau, karena shock dengan semua kegilaan itu, Ayahmu ini mengidap penyakit jantung hingga sekarang!

Ah, bagiku, Ayah tengah membual. Aku percaya, Ibu pergi karena karya-karya Ayah, karena cerita dan sajak yang Ayah karang di meja belakang. Meja yang kini diberinama Meja Kenangan (Ayah sok melankolik dalam hal ini). Sungguh, bila hendak kuturutkan mimpi-mimpi yang bertandang ketika aku tidur di atas pukul dua malam, Ayahlah yang melenyapkan Ibu! Ayah selalu menyeret Ibu ke dalam cerita-ceritanya. Ayah bahkan tega-teganya mengikat Ibu dalam puisi-puisinya. Ia membuat frasa dan ungkapan untuk kemudian dilecutkan ke setiap bagian tubuh Ibu. Tanpa rasa bersalah, Ayah selalu menyiksa Ibu sebelum membangkitkannya lagi, menyiksanya lagi.... Begitu seterusnya. Ayah melakukan semua dengan begitu indah, tampak lembut, namun sesungguhnya menyakitkan!

Ibu tidak mati, Ayah! Ujarku suatu waktu. Apalagi hanya karenamu, lanjutku ketus. Ibu pernah bilang, pantang bagi seorang pengarang mati sebelum ajal tiba!

SUNGGUH MENYEBALKAN!

Ayah, dengan hati yang (sok) suci, menawarkan percakapan. Perempuan itu meladeninya seraya sesekali melirikku. Tampaknya ia mengenalku. Tapi aku pikir ia tahu kalau aku tak terlalu menyukainya, tak menyukai kedekatan mereka yang tiba-tiba. (Catat: aku bukan cemburu! Aku hanya berpikir, dengan semua kesalahannya, Ayah belum layak bergembira, titik!)

Kau pusing? Tanya Ayah.

Perempuan itu mengangguk.

Ah, lagak mereka, seolah-olah dua orang Jerman yang baru bertemu setelah Tembok Berlin runtuh!

Kau harus meringankan kepalamu. Aku bisa meminta anakku mengambilkan obat untukmu. Ayah melirikku.

Ah, bodohnya aku. Seperti kucing yang dijanjikan ikan asin, aku menuruti kemauan Ayah. Aku menuju almari obat di ruang tengah. Tak lama, aku sudah kembali dengan dua tablet paracetamol dan segelas air putih. Kusodorkan kepada perempuan itu.

Apa ini? Tanyanya seraya menepis tanganku. Aku butuh obat, bukan permen buatan dokter!
Dadaku megap-megap. Aku emosi. Perempuan gila, hardikku dalam hati.

Kini, giliran Ayah yang masuk ke dalam rumah. Mungkin Ayah punya obat yang lebih mujarab, pikirku. Ya, obat sakit kepala untuk merpati betina ini!

Ayah menyodorkan beberapa gulungan kertas kepada perempuan itu.

Aku melukis lipatan daging di dahi hingga mirip liukan ombak. Apa yang Ayah berikan? Resep obatkah? Sejak kapan Ayah menjadi mantri? Ah, aku tambah bingung. Ups! Tunggu dulu, air muka perempuan itu melengkapi keherananku. Ya, ia tiba-tiba semringah, seolah Ayah baru saja memberinya daftar warisan.

Perempuan itu membuka gulungan kertas itu. Ia membacanya pelan sekali, khusyuk sekali. Kadang ia tersenyum, kadang ia mengernyitkan dahi, kadang ia tertawa kecil, kadang ia memandangi Ayah dengan tatapan yang sarat nafsu, kadang ia mendongak ke langit bagai mengagumi alam semesta....

Ups! Ya Tuhan, bagaimana aku bisa alpa seperti ini! Aku bermaksud merampas kertas-kertas itu. Tapi telat, perempuan itu sudah memakannya. Aku menoleh ke arah Ayah. Ia tersenyum miring di sana.

Pengarang Setan! Aku meneriaki Ayah.

Ayah terkekeh.

Muntahkan! Teriakku kepada perempuan itu.

Ayah tertawa.

Perempuan itu jatuh, ambruk.

Aku gegas mendekatinya.

Tawa Ayah makin keras.

O o, kepala perempuan itu tiba-tiba membuka sendiri seperti ruas kulit durian yang merekah karena terlalu masak.

Ayah menyeretku menjauh dari perempuan itu. Lalu mendorong dadaku dengan kaki kanannya. Aku terjerengkang satu setengah depa di belakangnya.

Ayah menarik rambut perempuan itu—rambut hijau tua. Terbukalah kepala perempuan itu. Dengan serampangan Ayah mengambil isinya seperti menarik kain-kain perca dari tubuh boneka yang robek.

Aku tertegun. Kenapa Ayah membunuh perempuan yang baru saja dikenalnya? Mengapa Ayah menginginkan kenangan yang bersigumpal dalam kepalanya? Ah, Ayah memang kejam! Tega membunuh seseorang dengan puisinya (atau cerita karangannya) dengan alasan yang barangkali ia sendiri tak mengetahuinya.

Ayah memutar kepalanya, memelototiku, seolah ia dapat membaca pikiranku. Kau masih terlalu hijau! Ia mendesis. Kau tak tahu bahwa masa lalu adalah bahan baku terbaik untuk membuat cerita dan menghidupkan puisi! Dasar dungu!

Tatapanku hampa. Aku seolah sampah. Aku kalah! Tunggu pembalasanku! Batinku geram. Gigiku bergemerutupan.

Ayah mendengus sebelum seolah menghiburku: Sebentar lagi, perempuan itu juga akan bangkit. Ia hanya pingsan. Ayah terkekeh lagi seraya mengalihkan pandangan ke perempuan yang terkulai itu. Di sana, kepala perempuan itu sudah kembali utuh!

Aku menjauhi beranda dengan langkah mundur yang tertatih-tatih. Lalu masuk ke rumah tergesa-gesa dengan perasaan tak menentu hingga aku menabrak Meja Kenangan. Aku tersungkur. Salah satu sudutnya yang tajam seolah menusuk kepala. Kuraba pelipisku. Kudapati bercak darah di telapak tanganku. Untung lukaku tidak terlalu serius. Aha! Entah bagaimana aku mengabaikan kepalaku yang masih sedikit bergasing. Seolah baru saja disembuhkan dari amnesia, aku tiba-tiba menjadi sangat bergairah! Aku sigap meraih kursi. Abrakadabra! Bagaimana aku baru menyadarinya sekarang! Ya ya ya, aku juga bisa! Aku sudah banyak belajar dari pengarang busuk itu! Aku tak butuh KBBI atau mempelajari EyD! Aku sudah paham semuanya. Ah, bodohnya aku selama ini!

Kuambil lembar-lembar karangan Ayah dari laci. Cerpen, novelet, draf novel, hingga tumpukan sajak yang tak kumengerti. Tidak! Aku tidak membacanya secara saksama, apalagi memakannya serta merta! Aku tak ingin menjadi korban berikutnya. Aku ambil sebuah cerpen. kucangking Pena Ibu yang tergeletak dekat tumpukan buku. Aku salin bulat-bulat karangan Ayah. Kuubah beberapa penggalan dialog. Kuganti sudut pandang narasi. Kuutak-atik beberapa bagian deskripsi. Pada beberapa kalimat yang kupikir menarik, aku bermain diksi; aku menggubah ungkapan-ungkapan—yang aku yakin takkan ditemui dalam karya-karya Ayah! Dan khusus paragraf penutup, kupiuhkan! Kujungkirbalikkan cerita!

Mati kau! Kututup Pena Ibu. Kugegas melangkah keluar!

MEREKA BERDIRI BERSEBERANGAN dalam rentang dua langkah kaki orang dewasa. Ayah menatap perempuan itu dengan saksama. Oh, kerudung perempuan itu. Ya, kerudungnya yang hijau tua, mengingatkanku kepada seseorang. Baju kurungnya, baju kurungnya yang longgar, baju kurungnya yang berwarna putih, juga memaksaku terbang ke masa lalu. O o, roknya yang landung itu! Ah, bukan itu yang membuatku makin terkesiap. Jingga. Jingga tua! Ya, warna rok itu. Bukan! Tapi juga kerudung dan baju kurungnya! Hijau, putih, jingga! Warna-warna itu adalah warna favorit Ibu.

Aku baru mengerti. Mereka bukan seolah-seolah saling mengenal. Mereka memang sepasang kekasih yang berpisah karena alibi yang tak kuasa diajak kompromi. Ibu seorang pengarang yang idealis. Ayah adalah pengarang yang pragmatis! Dan kini, mereka kembali bertemu.
Memang, walau aku bahagia mendapati apa yang kuyakini selama ini ternyata tak meleset (Semua tentang waktu. Ibu akan pergi dan kembali bila waktunya tiba!), aku tetap sulit mengerti bagaimana semua ini terjadi. Namun begitu, aku adalah saksi mata yang berdiri di antara pengarang keparat dan seekor merpati bersayap patah. Ketika tiba-tiba mereka berpelukan, pakaian mereka bagai dicerabut paksa oleh angin dari angkasa, terburai menjadi perca di mana-mana, terbang berhamburan, berserak di awang-awang. Aku tahu, itu namanya serpihan kenangan.

Benar, kata Ayah.

Replika kenangan! Sergah Ibu sambil mengepakkan sebelah sayapnya seolah mengempaskan sesuatu dari tangannya.

Ya, ya ya, ehmmm ... semacam itu, kata Ayah terbata-bata, seolah ia tengah meralat ucapannya yang pertama. Ia tersenyum kaku kepada Ibu sebelum ia tiba-tiba berjongkok, berjalan merangkak, memungut perca-perca yang berserakan di sekitar kami. Ibu memandanginya dengan sebelah mata yang dipicingkan.

Dasar! Pengarang serakah! Hardik Ibu.

Aku masih terpana menyaksikan Ayah mengumpulkan replika-replika kenangan itu ketika tiba-tiba Ibu menyerobot kertas di tanganku. Ia menarik leher baju Ayah hingga laki-laki itu berbalik badan.

Ini! Ibu melemparkan karanganku ke arah Ayah. Kau harus bangga kepadanya! Ujar Ibu sambil menunjuk ke arahku.

Ayah melirikku sekilas sebelum membacanya. Tubuhku tiba-tiba menggigil. Tubuhku tiba-tiba bertranspirasi. Degup jantungku tiba-tiba ngebut.

Ayah terjatuh!

Aku terkesiap.

Ibu buru-buru menghampiriku.

Apakah kau juga mewarisi tabiat buruknya? Tanya Ibu sembari mengguncang bahuku.
Tidak, Bu! Aku tidak meracuni Ayah dengan karanganku sebagaimana ia sering menyeret dan menyiksamu dalam karya-karyanya!

Lalu, sehebat apa engkau kini, hingga karanganmu dapat membuat penyakit jantungnya kumat?!

Aku ... hanya meminjam karyanya ... untuk kubuat ... dalam versiku, ujarku hati-hati sebelum meneguk liur yang pahit di kerongkongan.

Kau plagiat?

Bukan, aku mengubah sudut pandangnya!

Kau plagiat! Tak beda dengan Ayahmu yang melakukannya terhadap karya-karyaku!

Ayah juga plagiat?

Tak usah terkejut. Aku kecewa kepadamu!

Ibu menjauh. Ia membuang muka. Sepertinya ia ingin terbang. Tapi ia lupa kalau sayapnya patah, dan kepalanya kerontang karena nostalgia yang sudah habis dikeruk Ayah. (*)

Lubuklinggau, 22 Februari s.d. 20 Maret 2011
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Pembaruan, Minggu, 21/08/11

PERNIKAHANLAH yang mengikat kau dan aku menjadi sepasang kekasih.

Kita seolah-olah membangun kapal. Kau tukangnya, dan aku penyokongnya. Ya, aku yang menyiapkan santapan ketika waktu makan datang, aku yang menyuguhkan segelas es sirup bila kau mulai dahaga, aku akan menghidangkan kudapan bila kau rehat beberapa jenak, dan tentunya aku akan siap memberikan pendapat ketika kau bertanya seperti apa sebaiknya geladak, buritan, atau ruang nahkoda ....

Kata orang, surga adalah pulau terindah yang Tuhan sembunyikan, selorohmu suatu waktu. Kau tahu ’kan, Kekasihku, kalau banyak sekali yang bercita-cita ke sana. Paling tidak, kita sudah memiliki kendaraan sendiri kalau pelayaran sudah dibuka. Syukur-syukur bisa mengajak keluarga dan sanak kerabat, lanjutmu seraya tersenyum teduh. Ah, mendengarkanmu adalah menyaksikan mutumanikam berhamburan dari mulutmu, wahai Suamiku.

Demi waktu yang menerbitkan dan menenggelamkan matahari, kita membangun kehidupan yang amanah. Kita menjalaninya nyaris tanpa memberikan kesempatan bagi pertikaian besar untuk menginterupsinya. Tentu, Tuhan akan bersama orang-orang yang saleh, katamu suatu waktu ketika kuluapkan kegembiraan mendampingimu membuat kapal. Kaukatakan, kita harus segera menguji ketahanan kapal. Aku sepakat. Siapa tahu kita akan tersesat di Taman Firdaus, kau melepas tawa kecil.

Benar saja! Kapal yang kita layari pelan-pelan menambatkan kita pada sebuah kenyataan yang indah; kita saling mencintai. Saling mencintai demi surga, tegasku. Bagaimana kalau surga dan neraka itu ternyata tak ada, tanyamu. Aku memicingkan sebelah mata. Baiklah, kataku seraya menaikkan kedua bahu seolah-olah menyerah sebelum buru-buru mengimbuhnya: Ya ya ya, kita saling mencintai karena-Nya. Bagaimana? Setuju, Suamiku? Kedua ceruk di bawah alisku memberi ruang bagi bola di dalamnya untuk menatapmu lekat-lekat. Kau tertawa. Kau memelukku, dan berbisik; kau memang istri yang hebat! Dalam hati aku berteriak menang. Apa hadiah buatku, aku merengek di balik bahumu. Bulan depan kita akan merayakan satu tahun pernikahan, bisikmu. Kau akan memberiku apa, desakku. Tiket, pungkasmu. Tiket? Kedua alisku nyaris menyatu oleh kerutan daging di atasnya. Tiket buat kita berdua, jawabmu dingin. Ke mana? Tanganku memukul-mukul manja bahumu seolah meminta kau segera melepaskan penasaran yang melilitku. Tanah Suci, Kekasihku, ujarmu lembut seraya melepas pelukan. Tatapanmu seolah menjadikanku bidadari paling bahagia hari itu. Aku ingin menangis tapi tak bisa. Aku terlampau gembira. Kita kembali berpelukan, lebih erat.

***

KITA adalah sarjana yang menetas di kawah candradimuka yang berbeda. Kita sama-sama berdikari di kampung halaman. Aku mengajar di sebuah pesantren. Kau menyewa ruko dua pintu di dekat jalan lintas untuk usaha toko buku. Pasti sejak dulu kau memang bercita-cita menjadi pengusaha, pikirku. Aku lebih senang mengenalmu sebagai calon pengusaha daripada ustaz. Bagiku setiap lelaki seharusnya menjadi ustaz sebagaimana setiap wanita seharusnya menjadi ustazah. Ah, sebenarnya tanpa harus diawali pengetahuan tentang pekerjaan masing-masing, kita sudah saling kenal sebelumnya.

Kita selalu satu kelas ketika SMA, tapi kita tak pernah akrab. Aku adalah gadis berkerudung seperti kebanyakan. Aku kalah populer dibanding kamu. Wajahku tak terlalu cantik (walaupun teman-teman banyak bilang aku manis), sementara kau sangat tampan. Tinggiku 160 cm, sementara kau 12 cm di atasku. Aku tidak suka olahraga, sementara kau cakap bermain basket. Perihal akademis, aku memang sedikit unggul darimu (Dan itu tidak cukup membuatku diperhatikan kawan-kawan seantero sekolah). Ya, rangkingku selalu dalam urut belasan, sementara kau selalu masuk zona merah. Beberapa waktu lalu, kau bilang, capaian terbaikmu adalah rangking 30, sebelum kaukatakan waktu itu kelas hanya dihuni 31 siswa. Sebenarnya banyak siswa ber-IQ jongkok yang berada dalam kelompok rangking mengenaskan, namun mereka tidak sepertimu: Tukang bolos yang kerap mengajak—atau memaksa—serombongan siswa untuk melompati pagar belakang sekolah; tukang onar yang suka menyulut kegaduhan bila sebentar saja guru meninggalkan kelas; karena tubuhmu yang ideal kau kerap menjadi—lebih tepatnya ditunjuk sebagai—komandan upacara (ini membuatmu selalu menjadi anak baik setiap Senin); dan tentunya karena kau adalah atlet basket kebanggaan sekolah! Dengan semua kenyataan itu, kawan-kawan satu angkatan, atau bahkan beberapa angkatan di bawah atau di atas kita, pasti menganggukkan kepala ketika ditanya apakah mereka mengenalmu.

Setamat SMA, aku sangat terkejut ketika mendengar kabar: Kau melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah tinggi agama Islam di kota provinsi. Ia memang harus lebih banyak mendapatkan pendidikan agama biar lekas berubah, ujar ibumu enam tahun lalu—waktu itu aku sedang di kampung karena liburan. Aku paham maksud kata ’berubah’ dalam kalimat ibumu. Saat itu, kupikir, kau takkan bertahan lama. Dan benar! Kau hanya bertahan satu tahun. Namun, aku terperangah ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Kau tidak dikeluarkan. Kaulah yang minta dipindahkan. Kata ayahmu, kau sangat aktif di beberapa organisasi kampus. Bahkan memasuki tahun kedua kuliah, kau didukung kawan-kawan untuk menjadi ketua sebuah organisasi kerohanian. Namun, apa mau dikata, kau seolah tak ingin setengah-setengah tercebur ke dunia barumu, ujar ibumu seolah menyesali keputusanmu. Kau memilih Kuala Lumpur untuk menguyupi dirimu dengan ilmu. Kami benar-benar terkesiap, kata ayahmu dengan nada suara ditinggikan. Entah, karena kau anak tunggal, entah karena orangtuamu juragan karet yang banyak uang, atau karena kau mampu meyakinkan mereka..., kau pun melenggang ke sana. Kau mengambil jurusan Ekonomi Syariah. Satu setengah tahun yang lalu kau menyelesaikan kuliah dengan predikat memuaskan.

Sebagai sarjana lulusan luar negeri, kedatanganmu ke tanah kelahiran, menuai pujian sekaligus cibiran. Ada yang menganggapmu sebagai pemuda yang peduli kampung halaman. Tak sedikit pula yang menggelarimu sarjana gagal; tamat kuliah bukannya bekerja di kota besar atau di luar negeri, tapi justru balik kandang; tamat kuliah bukannya menjadi ustaz kondang yang wara-wiri di TV, tapi justru membuka toko buku di kampung... dan masih banyak lagi celotehan yang kauanggap tak penting, tak berisi, tak layak dirisaukan. Termasuk saran orangtuamu untuk bekerja di sebuah bank syariah kautolak secara halus. Kaunyatakan bahwa tak membutuhkan waktu lama untuk menghadiahi mereka sekarung kebanggaan.

Kurang dari enam bulan, kau membuktikan tekadmu! Kau menjadikan cibiran sebagai bumerang yang membuat muka para pencibir merah masai. Kau menjadi wirausahawan yang naik daun. Kau sudah membuka toko buku baru di kota kabupaten. Sementara itu, pengajian dalam lingkaran terbatas yang kaubina, telah diikuti lebih dari 20 murid. Kau juga kerap diundang ke mana-mana (bahkan juga keluar kota) untuk memberikan ceramah. Aku benar-benar takjub. Di pengajianku, ketika menunggu guru datang (atau setelah majelis ditutup), kami kerap membincangkanmu.

***

O, benarkah Tuhan tengah menurunkan mukjizat-Nya?!

Petang itu, bakda melafalkan doa penutup majelis, guru pengajianku mengajak bicara, berdua saja. Ia menyerahkan tiga lembar kertas kepadaku. Aku menerimanya namun tak segera membacanya. Ia memberi isyarat agar aku segera membaca kertas-kertas yang tengah kupegang. Mataku membelalak sempurna, mulutku menganga, dan hanya puji-pujian kepada-Nya yang bisa kulafalkan saat membaca kertas-kertas itu. Kupeluk ia serta-merta. Aku menangis tersedu-sedan. Bukan! Bukan karenaproposal, demikian istilah yang populer dalam lingkup pengajian untuk menyebut lamaran secara tertulis yang ditujukan kepada seorang perempuan lewat guru pengajiannya; Bukan karena di usia 25 akhirnya aku dipinang; bukan karena lelaki itu tak perlu diragukan lagi kesuksesannya; tapi... karena aku sangat mengagumi kesalehanmu!

***

KAU benar-benar imam yang baik. Darimu aku beroleh banyak ilmu. Kurang dari setahun kebersamaan kita, aku sudah membina pengajian. Aku sudah memiliki binaan walaupun tak sebanyak binaanmu. Aku sudah diundang ceramah ke mana-mana walaupun jadwalku tak sepadat jadwalmu. Kita sudah memiliki jamaah walaupun tak banyak. Pengajian yang kita hadiri, tak pernah sepi. Bahkan seorang pengusaha ibukota tertarik mengontrakmu untuk sebuah program Ramadhan di TV swasta miliknya. Kau menolaknya dengan alasan menjaga kemurnian niat. Ah, harta dan ketenaran tak membuatmu silau, Kekasihku.

Dua minggu lagi, kita akan menunaikan ibadah haji. Kita sudah menyiapkan doa khusus. Ya, nyaris satu tahun menikah, belum ada tanda-tanda kita akan dikaruniai keturunan. Rasanya, kapal kita terlalu sepi bila tidak menyertakan buah hati di dalamnya, selorohmu beberapa hari yang lalu.

Namun malam itu, di acara syukuran berangkat haji, kapal yang tengah kita layari menabrak gunung karang. Kita terjerengkang di samudera ganas! Mungkinkah ini akibat kebahagiaan yang begitu sempurna kita rasai, Suamiku? Benarkah kata orang-orang; jangan terlampau gembira karena itu alamatnya akan menderita! Apa salah kita dengan semua nikmat yang tak pernah alpa kita syukuri ini? Lalu, mengapa serombongan orang berpakaian preman itu semaunya saja menuduhmu? Mengapa mereka harus menyeretmu dari ruang tengah, melewati para tamu yang serta-merta berdiri. Suasana sontak gaduh. Yaasin yang baru akan dilagukan pun, serta-merta mereka tutup kembali.... Mereka tak kuasa menolongmu karena dari empat mobil bak terbuka yang parkir di dekat pagar rumah kita, dari seragam yang dikenakan puluhan orang yang berada di dalamnya, mereka tahu kalau polisi tengah meringkusmu.

***

SEPULUH tahun lalu, pernikahan telah mendaulat kita menjadi sepasang kekasih.

Walaupun kau telah dibebaskan setelah serangkaian sidang—yang berlarat-larat dan membuat kita serta keluarga menderita karena malu—tak mampu membuktikan kau bersalah; walaupun mereka (termasuk para murid pengajian dan jamaah kita dulu) dengan lancangnya menggelari kita ”munafik”, ”sok alim”, atau umpatan dan hinaan yang lebih kasar..., kita selalu saling menguatkan.

Kekasihku, bisikmu ketika aku menghambur di pelukanmu di hari pertama kau dibebaskan, ... kalaupun tidak di dunia, di akhirat nanti, mereka akan mengerti, lanjutmu. Tangisku pecah. Kau mengelus jilbabku seraya melanjutkan kata-katamu: Bahwa kekasihmu ini tidak tahu menahu tentang rencana penembakan presiden, bahwa kekasihmu ini tidak tahu menahu tentang perampokan bank di beberapa kota, bahwa kekasihmu ini tidak tahu menahu tentang bom yang diselipkan ke dalam buku.... (*)

Ulaksurung, 25 Maret s.d. 15 April 2011
Rabu, 17 Agustus 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas

Dimuat di Suara Merdeka, 14 Agustus 2011

AKU tak habis pikir, bagaimana mungkin kalian mengeluarkan penyanyi berbakat itu dari trio! Seolah-seolah dengan membuangku belum cukup untuk memuaskan keserakahan, kalian libas pula murid kesayanganku! Yang membuatku makin sakit hati adalah, seorang banci panggung yang menggantikan posisinya adalah anak orang superberduit! Tunggu! Tunggulah pembalasanku! Aku takkan membiarkan kalian memperlakukanku seolah membuang ampas tebu. Pun aku takkan pernah rela komposisi a capella yang kutulis selama dua tahun itu kalian curi!

***

AWALNYA, kupikir dengan masuknya orang baru itu, musikalitas kalian akan lebih baik, ternyata tidak! Beberapa penampilan yang kutonton diam-diam, justru menunjukkan kalian jalan di tempat. Kalian masih bernyanyi di C Mayor. Untuk nada dasar yang paling jamak dipakai itu pun, kalian harus membidiknya dengan meniup pitchpipe, pembunyi nada dasar, terlebih dahulu! Itu makin menegaskan bahwa kalian masih terlalu amatir dibanding Sang Guru.

Aku pun yakin, kalian tak akan menyadari keberadaanku di antara tamu-tamu yang mengkhidmati penampilan kalian malam nanti. Mungkin, mereka hanya belum terbiasa dengan a capella, hingga takjub; bagaimana mungkin pita suara dapat mengeluarkan bunyi bas yang ritmik, keteraturan yang estetik? Namun, kupikir rencanaku jauh lebih teratur, jauh lebih indah, bila disandingkan dengan dentuman bass yang memang harus kuakui dibunyikan oleh seseorang dengan timbre, warna suara yang lumayan kuat. Lalu, bagaimana bisa kalian mengajak seseorang yang tidak mampu menstabilkan vibra ke dalam trio?! Yang paling mengejutkanku adalah, orang baru itu juga dibenci orang lain! Setidak-tidaknya oleh seseorang yang meneleponku satu minggu yang lalu. Entah bagaimana perseteruan kita terendus, ia memintaku mencelakai orang baru itu pada malam pertunjukan—yang kalian klaim—terakbar minggu depan.

Tunggu dulu! Aku tak picik sebagaimana mereka yang berniat jahat kebanyakan (yang begitu gembira ketika mendapat bantuan dan diberi kemudahan). Ya, walaupun ia terus menghubungiku umpama ornamen cannon, kejar-kejaran antara ornamentasi backing vocal dengan lead vocal dalam sebuah komposisi panjang…, namun aku selalu mengabaikannya seperti berimprovisasi di tengah komposisi klasik yang taat partitur. Hahaha, tentu saja, panggung konser akan diserakkan botol air mineral dan sepatu para penonton….

Bukan! Semua itu kulakukan bukan karena aku masih menyayangi kalian (hueekkkhh!), tapi karena aku tak ingin rencana balas dendamku disusupi kepentingan orang lain. Ya, aku menolak ajakan, atau lebih tepatnya, menolak tawarannya (tawaran dengan sejumlah uang yang menggiurkan). Dan… apabila mereka pikir, penolakan itu berarti mengacuhkan pengkhianatan kalian, ia salah besar!

***

AKU telah mendatangi hall yang tak terlalu luas ini siang tadi, beberapa saat setelah gladi resik untuk penampilan lepas makan malam nanti. Ah, para penjaga hall ini sangat Indonesia, rupanya. Mereka mengerti rupiah sebagaimana dilenakan “Terajana” ketika para calon—yang katanya akan menjadi-wakil rakyat berkoar-koar perihal janji—yang sesiapa pun tahu itu pasti-palsu! Setelah mengatakan bahwa aku adalah teknisi sound system lalu mengeluarkan beberapa lembar seratus ribu dari dompet, mereka mempersilakanku ke belakang panggung. Walaupun, beberapa saat setelah itu, seorang lelaki dengan syal di leher buru-buru menghampiriku. Hampir saja jantungku copot karena merasa rencanaku terendus.

Ia tersenyum. Ah, senyum yang membuatku lega; bahwa ia tak tahu apa-apa tentang yang akan kuperbuat.

Maaf, katanya. Anda pasti mengerti partitur, ‘kan? lanjutnya seraya membuka gulungan kertas di tangan kiri.

Aku mengangguk serta-merta. Bukan, bukan karena ia bertanya kepada orang yang tepat. Tapi karena aku gugup. Jangan-jangan ia tahu kalau akulah yang mengumpulkan kalian bertiga dalam sebuah grup; akulah yang mengenalkan betapa pentingnya pemahaman tentang not balok dalam mengaransmen ulang sebuah karya; akulah yang mengajarkan betapa penting groove, ruh sebuah lagu; akulah yang mengenalkan head-voice sebagai teknik pamungkas untuk memproduksi suara pada nada yang melampaui oktaf normal; akulah yang tak bosan-bosan mewantiwanti agar jangan selalu terpaku pada pembagian suara do-mi-sol dalam bernyanyi bersama; akulah yang paling bawel bila salah satu dari kalian berimprovisasi sebelum refrain pertama dirampungkan, akulah yang kerap protes bila nada miring terlalu banyak digunakan (termasuk di bagian penutup yang kerap menjadi penanda sebuah komposisi berkualifikasi high-end)….

Menurut Anda, apakah ending komposisi ini tidak terlalu biasa? Ia seolah membuyarkan pengembaraan pikiranku. Ia menunjuk sederetan not balok di lembar terakhir partitur.

Aku tersenyum. Aku mengikuti telunjuknya. Mataku bertabrakan dengan angka 1-3-5, do-mi-sol, di akhir komposisi. Bukan, bukan karena aku gembira mendapati selera musik kami yang sama, tapi karena aku langsung terbayang seperti apa seharusnya kutelikung nasib kalian malam ini.

Hmm, maaf, memangnya Anda siapa? Aku balas menatapnya.

Ia seperti terkesiap.

Maksudku, apa kepentingan Anda dengan komposisi ini?

Aku hanya seorang undangan, katanya dengan senyum simpul. Aku seorang dosen musik di sebuah universitas. Ia menyebut nama sebuah kampus seni terkemuka di Ibu Kota, sebelum mengutarakan pendapatnya (ia memang pandai memancingku berpendapat): Menurutku, metronom komposisi ini seharusnya pianissimo, lambat. Bukan pianissisimo, sangat lambat seperti ini….

Tunggu dulu! Kenapa kau bertanya kepadaku? Tiba-tiba aku merasa ada yang aneh. Kenapa, tak bolehkah? Ia mengangkat kedua bahunya. Apa karena kau hanya seorang teknisi sound system, ia kembali terkekeh.

Aku mengangkat alis seraya sedikit menggerakkan kepalaku.

Kadang-kadang, seorang sepertimu ternyata memiliki musikalitas yang tinggi…, nada suaranya sangat pelan, lirih, seolah-olah bibirnya berada dua sentimeter dari daun telingaku.

Bagaimana kau yakin?

Pengalaman, sigap ia menjawab. Aku juga melatih grup vokal di kampus. Aku meminta bantuan seorang teknisi yang selama ini mengurusi sound system di semacam sanggar di kampus itu….

Dan musikalitasnya bagus? Potongku tak sabaran.

Ya. Bahkan ia yang paling mengerti tentang power, desibel, partitur miring…. dibandingkan anak-anak didikku.

O ya? Aku mengernyitkan dahi.

Ia mengangguk cepat.

1-3-5-6,5-2,5, jawabku cepat seolah hendak menguji kepekaan musikalitasnya.

Do-mi-sol-le-re? Ah, dia berhasil membaca accord —paduan minimal tiga nada yang membentuk harmoni. Estetik, ‘kan? Kucoba meyakinkannya.

Accord miring yang mengerikan!

Sangat mengerikan, timpalku lirih seraya meninggalkannya ke belakang panggung. Di belakangku, aku yakin, ia bersegera mengambil pulpen dan menambahkan dua not miring di akhir partitur.

***

MALAM merangkak. Sebagaimana komposisi dengan tempo pianissisimo yang akan dibawakan, aku akan mengatur mikrofon kalian dengan echo yang sedikit lebih tebal. Ini akan memberi nuansa klasik yang kelam. Ah, klasik memang berkarib dengan ketukan yang mellow, sebagaimana kenangan memang akrab dengan air mata. Dan malam ini, orang-orang akan menyaksikan bahwa air mata itu bukan hanya menyeruak dari mata para penonton yang menyaksikan pertunjukan a capella…. Air mata itu akan mengalir dari mata-mata kekasih, kakak-adik, dan terutama orangtua kalian! Ah, mereka memang tak tahu apa-apa tentang hukuman buat para pendusta yang mengalunkan lagu cinta!

Makan malam dimulai. Kalian berkerumun di salah satu sudut seolah threesome yang tengah melepas rindu. Sesekali kalian mengangkat gelas bertangkai itu, lalu mendekatkannya satu sama lain hingga menghasilkan suara gelas beradu. Sesekali tawa kalian pecah. Aku tahu, kalian sangat berharap akan ada satu atau dua orang yang menghampiri. Lalu orang itu berseru girang karena bertemu dengan trio yang sudah digadang-gadang akan memainkan lagu sendiri. Taik kucing!

Ternyata laki-laki yang menemuiku sore tadi, ada di antara para tamu. Ia mengambil tempat duduk dekat meja bundar di sebelah kanan panggung. Ah, bagaimana bisa matanya seolah tak membiarkanku bergerak leluasa. O, jangan-jangan, jangan-jangan…. Kualihkan wajah, aku menghadap ke belakang. Keringat dingin mulai tumbuh satu-satu. Aku merasa kemeja yang kukenakan sangat menyiksaku. Aku seolah ikan asin yang dibalut puluhan lapis tisu….

Pembawa acara sudah meminta para hadirin yang masih berada di ruangan standing party agar segera memasuki ruang pertunjukan. Aku memutar kepala, dan… ups! Akhirnya aku bisa bernapas lega. Dosen undangan itu tak ada lagi. Awalnya mataku mencari-carinya di antara kerumunan penonton, tapi tak kutemui …ah, sudahlah!

Kalian naik pentas. Mengambil tiga mikrofon yang kuletakkan di salah satu sisi pentas. Kalian menyapa para hadirin. Kalian mengucapkan salam, lalu berbasa-basi perihal kegembiraan telah dilibatkan dalam perhelatan akbar malam itu. Ya, siapa yang tak bangga menjadi bagian acara syukuran pejabat yang baru saja dilantik menjadi menteri. Konon, selera seninya sangat tinggi. Ia mahir memainkan flute, sitar, saksofon, dan akordion. Namun hal yang paling seru adalah, ia adalah pejabat yang paling banyak dibincangkan saat ini. Ialah yang membuka kasus korupsi menteri yang ia gantikan. Walaupun, dalam beberapa forum, ia menyatakan bahwa itu adalah wewenang presiden, namun tak pelak, ia dianggap sengaja membuka aib orang demi posisi yang kini ia tempati. Ah, itu bukan urusanku. Walaupun dapat saja, rencanaku ini selaras dengan apa yang tengah berkecamuk di benak mantan menteri itu…, tapi aku tak peduli! Rencanaku adalah murni atas dasar dendam yang menyala-nyala!

Seperti yang kuduga, salah satu dari kalian meniup pitchpipe beberapa saat ketika tepuk tangan para tamu mereda. Kalian membawakan komposisiku, lagu yang membawa kalian menjuarai sebuah festival a capella di Oslo enam bulan lalu!

Kalian membawakannya dengan penuh penghayatan. Jujur, aku kagum pada accord yang kalian hasilkan. Sangat bulat dan padat. Hebatnya, kalian menjadikan suara chopstain, semacam suara falseto, sebagai suara satunya. Kalian membuat pecahan suara di bawah nada dasar: Sol dan mi yang diturunkan satu oktaf. Menjura! Kuatur equalizer demi memastikan bahwa harmoni yang kalian produksi benar-benar jernih. Dan… hampir saja aku melupakan rencanaku sebelum seseorang menyentuh pundakku. Aku menoleh. Aku terkesiap. Dosen undangan tadi sudah berdiri di belakangku.

Mikrofon mana yang akan menyentrum anak Pak Menteri? Bisiknya tepat di telinga kiriku.

Aku meneguk liur. Oh… bagaimana bisa? Wajahku memias. Baru saja hendak kupastikan siapa dia sebenarnya, lidahku tiba-tiba kelu ketika menyadari kepala pistol sudah ia tempelkan di pinggangku.

A-apa maksudmu? Anak Pak Menteri? Anak Pak Menteri yang mana? A-a-aku t-t-tak mengerti …. Sungguh, aku benar-benar gugup.

Kau gila! Matanya membelalak sempurna. Ia menunjuk pentas. Orang baru itu! Damn! Ternyata, kalian memang licik! Menangguk keuntungan dari seorang anak pejabat demi ambisi pribadi atas nama trio yang kurintis. Dadaku megap-megap!

Kalian baru saja menyelesaikan refrain pertama dengan cannon yang sempurna.

Kutarik napas dalam-dalam. Kulepas dalam satu helaan. Kubalas membelalak. Aku tak peduli! Anak Pak Menteri atau bukan, aku akan mencelakai mereka bertiga! Lagi pula apa urusanmu, Pak Dosen Seni yang Terhormat?! Jantungku berdegup tergesa-gesa. Entah bagaimana aku jadi senekat ini, seolah tak memedulikan pelatuk senjata yang tengah ia todongkan itu, dapat ditarik kapan pun ia mau. Ah, brengsek! Bagaimana aku kecolongan seperti ini! Ternyata tindak-tandukku telah diawasi oleh lelaki sialan ini! Aku yakin dialah yang meneleponku beberapa hari yang lalu. Sial!

Kalian telah sampai verse kedua….

Pentas gaduh! Sebagaimana telah kuatur sebelumnya. Kabel telanjang di ujung mikrofon akan tersambung sendirinya dengan arus equalizer ini, tepat ketika lagu telah memasuki menit kedua lewat dua puluh enam detik, kalian terjerembab dengan mikrofon masih di genggaman. Tubuh kalian kejang-kejang seperti orang ayan. Beberapa panitia mendekat namun tak berani menyentuh. Aku tersenyum dalam hati. Dengan sikap jumawa, aku melangkah mundur seolah tak terjadi apa-apa. Satu, dua, tiga. Kuputar badan ke arah toilet yang berdekatan dengan pintu keluar belakang hall. Selamat tinggal, para pengkhianat!

Dooorrr!!!

Bukan, bukan bunyi tembakan! Aku seolah mendengarkan do-mi-sol-le-re, accord miring yang paling miris, dibunyikan tiba-tiba. Sungguh, paduan yang sempurna! Kelam mencekam! Teriakan di sana-sini. Hall gaduh. Aku sudah bisa membayangkan kepanikan orang-orang di dalam ruangan. Dosen Seni itu pasti berhasil menyarangkan sebutir timah panas ke kepala Pak Menteri….

Dooorrr!!!

Aku makin terbahak-bahak. Entah, di bagian tubuh Pak Menteri mana lagi yang menjadi sasarannya! Benar-benar kematian yang musikal!

O o. O o. Aku terkejut mendapati kerumunan orang itu. Ya, mereka seolah hendak menyerbuku. Keparat! Mereka benar-benar menyerbuku. Bagaimana mereka bisa tahu rencanaku?! O tidak! Bagaimana mereka menjadi sangat bodoh seperti ini. Lihat! Aku tidak memegang pistol! Bukan aku yang menembak Pak Menteri! Bukan aku! Ah, dasar tolol! Lihat, Dosen Seni yang ada di dekat kalianlah yang melakukannya.

Ooo, alih-alih memedulikan teriakanku, mereka malah bernyanyi dalam komposisi yang mengeriapkan bulu kuduk. Mereka terus menuju ke arahku. Mereka menerobos saja Dosen Seni itu seolah tubuhnya tembus pandang. Kini mereka mengerumuniku, mendesakku, seraya tetap bernyanyi di accord do-mi-sol-le-re yang mematikan! Aku menutup kedua telinga! Aku meraung-raung. Tiba-tiba aku merasa kesakitan yang sangat di beberapa bagian tubuh. Aku jatuh, terjerembab. Mereka meraba-raba tubuhku. Meraba kakiku, ah! Meraba perutku, ah! Tangan-tangan mereka berlumuran darah.

Darah luka, sepertinya.

Luka tembakan, lebih tepatnya. (*)

.

.

Lubuklinggau, 12-15 Juni 2011

Senin, 27 Juni 2011 by Forum Lingkar Pena

Cerpen Benny Arnas
dimuat di Pikiran Rakyat, 26 Juni 2011

ADAKAH YANG LAYAK kupedulikan ketika aku mampu membuat Tuhan terkesiap?!

Aku tak peduli, bila tersebab doa ini aku akan dibenci orang-orang, dihujat para ulama, dihardik para malaikat, atau bahkan dikutuk arwah para wali, tabiin, dan nabi. Aku tak peduli! Aku yakin, Kau tidak akan memandangku sebagai hamba yang gila atau perempuan yang haus perhatian atau ibu yang kejam. Aku tahu Kau sangat bijaksana. Kau akan memerintahkan Raqib dan Atit, dua malaikat pencatat amal baik dan buruk itu, untuk menyerahkan catatan mereka kepada-Mu. Aku bisa membayangkan, betapa terbirit-biritnya kedua pesuruh-Mu itu. Mereka memang terbuat dari cahaya, namun atas perintah mendadak itu, aku yakin, mereka tak serta-merta meluncur dalam kecepatan candela. Kepala mereka akan bergasing pula bila harus melakukan sesuatu di luar acuan; catatan amal hanya akan dibuka bila seseorang di bawah tanggungjawab mereka mengucapkan ”selamat tinggal” pada dunia! Atau, jangan-jangan, karena doa itu, Kau akan meminta Izrail segera melingkari kedua tangannya di leherku? Ah, aku tak boleh berburuk sangka kepada-Mu. Kau sangat bijaksana. Kau akan mencari tahu mengapa aku mengirimkan doa itu. Aku pikir, memanggil Raqib dan Atit menghadap, bukanlah satu-satunya cara untuk mengetahui musabab meluncurnya doaku.

TUHAN, AKU MEMANG bahagia dengan kehidupan yang Kauberikan. Sungguh, aku memaknainya sebagai anugerah. Pun ketika Kumbang harus meninggalkanku demi mencari biaya persalinan. Ah, aku sangat bersyukur karena ia sudah berhasil tampil sebagai suami yang seolah-olah bertanggungjawab, sekali lagi kunyatakan; seolah-seolah bertanggungjawab! Ya, aku tak begitu berharap Kumbang akan pulang, apalagi membawa uang. Kupikir, ia telah terbang sebagai pengecut, bukan merantau sebagai pendekar. Ia tak ingin dipusingkan oleh keajaiban-keajaiban yang Kauberikan; yang tiba-tiba Kaukaruniakan di usiaku yang ke-36, di usia perkawinan kami yang ke-10. Sungguh, aku sangat tersinggung oleh kata-katanya beberapa waktu sebelum ia meninggalkan Lubuklinggau untuk bekerja di sebuah rimba di Borneo. Ia mengejek ukuran perutku seolah menganggapnya sebagai kutukan, seolah itu bukanlah hasil ’pekerjaannya’. Ia bahkan sempat-sempatnya menanyakan, sebenarnya kapan terakhir kelamin kami bertukaran cairan. Aku tak pernah menanggapinya. Kupikir memang tak perlu dijawab kecuali ia memang membutuhkan perkara untuk memukulku dengan palang ruyung di balik pintu.

Ya, bakda menikah dengannya, aku hanya menjadi bidadari di pekan pertama. Selebihnya, pun hingga kini, aku lebih layak disebut budak, perempuan yang dikawini untuk menjadi kotak sampah. Kumbang akan merasa jauh lebih baik setelah membuang apa-apa yang (ia anggap) mengotori hidupnya. Sepulang dari pesta vodka di sebuah vila milik temannya, kepalanya akan terasa lebih ringan bila mencabik-cabikku dengan cambuk kuda yang ia simpan di gudang belakang. Ia akan melupakan kekalahannya di meja judi bila aku berhasil menjadi kain perca yang dapat diinjak-injak semaunya. Ia akan menjelma seekor kuda jantan yang beringas bila berhasil membuat ringkikanku menembus langit-langit sebelum terkulai nyaris pingsan di atas ranjang. Kadang aku ingin menuntut-Mu atas semua yang menderaku. Aku sangat iri kepada perempuan-perempuan yang senantiasa dicintai belahan jiwa dengan sepenuh hati, aku sangat cemburu kepada ibu-ibu yang membesarkan buah hati bersama suami yang sedia melayani segala kebawelan istri .... O, tunggu dulu! Kupikir, mereka itu belum teruji, setidaknya seperti yang tengah kujabani. Bagaimana mereka ditahbiskan purnabahagia bila semua didapat dengan kemudahan?

Ah, aku ingat kata-kata Bunda Theresa; pilihlah yang rumit kalau kau ingin yang terbaik! Sebentar! Perkaranya berbeda! Aku tidak memilih! Tapi Kau yang menyebabkanku bergumul dengan kerumitan ini. Kau yang menetapkan; aku harus lahir pada 27 Rajab, 48 tahun silam, kemudian hidup hingga kini ....

12 tahun yang lalu, aku melahirkan bayi-bayi. Bayi-bayi kembar. Kembar tiga. Perempuan semua! Ketika kupersilakan mereka keluar dari lorong yang menyumpil di antara kedua pahaku, tangisku pecah, berderai, renyai. Bukan! Bukan oleh rasa sakit melahirkan, bukan karena dukun beranak yang seolah semaunya menekan-nekan perutku, bukan karena merutuki ketidakhadiran Kumbang ketika aku bertaruh nyawa ..., tapi karena sebak yang tiba-tiba menyesak dada. Firasatku tak enak. Aku merasa ada yang aneh dengan bayi-bayi itu walaupun segera kukibaskan perasaan tak menyenangkan itu.

DAN, TERSINGKAPLAH KABUT yang membuat perasaanku tak henti berkecamuk. Aku kadang tak habis pikir. Bagaimana Kau dapat menganggapku perempuan yang sangat hebat, ibu yang pantang kalah menghadapi ujian hidup, ibu yang membangun ribuan gudang di dadanya—aku pun tak tahu, sampai kapan gudang-gudang itu kuat menampung kesabaran yang menyesakinya?

Putri-putriku memiliki kekurangan yang saling menyempurnai. Melur yang tuli, Melati bermata juling, dan Kecubung berbibir sumbing. Tak khatam pada kenyataan itu saja. Mereka semua tak panjang akal, tak lurus menangkap maksud, lamban memahami isyarat .... Penderitaan yang adisempurna, bukan? Sungguh, pita suaraku nyaris putus karena berteriak mempertanyakan ketentuan-Mu. Ya aku berharap doaku akan menembus awan, tujuh lapis langit, sebelum akhirnya membuat kau mengubah posisi duduk di Arsy. Maka, aku hanya menangis. Menangis tanpa bunyi. Kau tahu, bukan, seperih-perihnya derita adalah yang menyebabkan hati mengambil tugas mata untuk meneteskan air kesedihan? Oh, kupikir, semua hanya perkara waktu. Aku akan hancur berkeping-keping pada masanya. Kupikir doaku adalah tanda betapa aku tak mampu memegang kepercayaan yang Kauberikan ....

BAHKAN ”KEAJAIBAN” PUN masih membutuhkan kata ”tetapi”.

Kau lihat! Aku berbicara dengan mereka hari ini. Entah kalau orang-orang bilang kami melakukannya dengan hati. Aku lebih suka mengatakannya ”dari mata ke mata”. Ini memang ketaklaziman walau aku lebih suka memaknainya sebagai keajaiban. Ya, kami dapat saling meningkahi setiap maksud sebagaimana kami tak dapat saling membohongi. O Tuhan, sejak itu aku percaya kalau mata adalah cermin yang paling jujur, isyarat yang paling manjur, dan bahasa yang paling terukur. Namun begitu, keajaiban ini tidak turun tanpa syarat. Kau tahu ’kan, setelah turun dari kapal Putri Kembang Dadar, aku tiba-tiba linglung. Aku tak menyadari di mana sebenarnya kami berada. Bukan di Palembang. Juga bukan di Lubuklinggau. Mungkin di Lampung. Mungkin .... Entahlah. Kami berada di daratan yang menghadap samudera, dan tiba-tiba aku menjadi sangat bodoh! Aku bagai lupa semua keajaiban yang memeluk kami, yang menyertai kecakapan kami menyampaikan maksud. Ya, kujajakan pula rayuan tengik itu! Kukatakan bahwa petang ini kami akan menyusul sang Ayah. Mereka bergeming. Dan aku terperenyak mendapati mata-mata mereka memuntahkan kata-kata.

”Ah, bukankah Ibu bilang: Ketika menebang pohon merbau, Ayah alpa kalau tarikan sinso di tangan telah melewati garis tengah lingkar batang. Ayah baru menyadarinya ketika serombongan orang berpakaian seragam cokelat muda merazia pembalakan liar itu. Ayah gelagapan. Ayah kelabakan. Ayah salah jalan. Ayah menggubah sendiri cara bunuh diri. Ia mati ditimpa pohon yang ia tumbangkan.” Melur memicingkan sebelah matanya ke arahku. Bahunya turun-naik menaham buncah.

”Ah, mata Ibu hebat nian, ya! Bagaimana Ibu dapat berbohong seumpama memanggang kue lapis. Menutupi kebohongan yang lama dengan kebohongan yang baru. Ayah sebenarnya masih hidup, ’kan? Apa-apa yang terbaca dari mata Ibu bukanlah yang sejatinya terjadi, semua hanya doa dan harapan Ibu, ’kan?” Kini mata Melati yang menelanjangiku.

Baru saja hendak kulayangkan pembelaan, tiba-tiba Kecubung berkoar seolah menimpali kata-kata kedua saudaranya ....

”O, tidak! Doamu itu Ibu. Ya, doamu itu. Ibu ingin agar kita mati, ’kan? Ibu ingin membunuh kita semua. Oh Melur, oh Melati ... kalian lihat! Beberapa pelepah kelapa di dekat Ibu. Ia akan mengajak kita menyusul Ayah dengan mengayuhnya. Mengayuhnya dengan tangan kita ....” Kecubung menatapku nanar sembari menggeleng-gelengkan kepala seolah-olah aku baru saja melakukan dosa besar yang tak pernah disangkanya. Ia mundur menjauhiku.

Melur dan Melati bersipandang. Mereka mengikuti apa yang Kecubung lakukan. Mata mereka menghardikku! Tatapan mereka menghakimiku! Melur mengambil sebuah pelepah kelapa. Ia meletakkannya di tubir pantai. Ombak berkejar-kejaran seolah hendak menelan perahuku itu, pelepah kelapa yang ringan, tipis, lapuk ....

”Berlayarlah, Bu!”

Oh, tidakkah mereka tahu mengapa aku membuat rencana kematian berjamaah ini?; tidakkah mereka tahu mengapa aku menumpuk kebohongan?; tidakkah mereka tahu mengapa aku mengarang doa yang tak bosan kurapalkan seperti mengingat-Mu dengan menghitung setiap ruas jemari? Ah, perkara ini terlalu berat untuk mereka mamah! (Mengapa mereka hanya dikaruniai kehebatan menelisik kata-kata yang berderet di mata, mengapa keajaiban tak menyertai pemahaman mereka tentang hidup yang tidak sederhana?).

Demi Kau yang Maha Menurunkan Keajaiban, izinkanlah aku memanjatkan doa ini untuk kesekian kalinya ....

Ya Tuhan, panggillah anak-anakku. Cabutlah nyawa mereka segera. Tak dapat kubayangkan kalau aku lebih dulu Kaupanggil. Siapa yang akan memandikan, mengenakan pakaian, memasak makanan, atau mengajak bermain mereka ...? Bagaimana mereka dapat hidup sebagaimana hamba-Mu yang lain? O tidak! Bukan aku menyangsikan Kau yang senantiasa memperhatikan hamba-hamba-Mu, tapi ... apakah Kau akan membiarkan aku meneteskan airmata darah di awang-awang ketika menyaksikan semua penderitaan mereka?

KULIHAT SEKELILING. LAUT ini tak beriak. Tak ada ombak yang ditakutkan para penumpang jet poil Sumatera-Bangka-Belitung. Oh, aku baru menyadari sesuatu. Ada yang aneh dengan pelepah kelapaku. Bagaimana aku dapat mengayuh sejauh ini? Bagaimana aku sampai luput menyadari kapan pelepah kelapa ini melebar, memanjang, memiliki geladak, buritan .... Ini bukan lagi pelepah kelapa! Ini perahu! Oh, perahuku luas, luas sekali. Tidak, ini sudah menjadi kapal, sebenar kapal!

Dan, aku makin tercekat kala mendapati beberapa wanita yang belum pernah kulihat sebelumnya—tapi seolah aku sudah benar-benar dekat dengan mereka, berseliweran di kapal ini. Entah bagaimana, aku yakin mereka adalah Dewi Kwan Im, Khansa bin Amru, Hannah—salah seorang istri Elkina, dan beberapa yang berasal dari Jerusalem, Palestina, Tibet, Mongolia .... O o, pecinta anak-anak dari India yang pernah meraih Nobel Perdamaian itu pun ada di sini! Kucubit-cubit lengan, pipi, kaki, dan anggota tubuhku yang lain! Oh, ini nyata!

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Teringat anak-anakku. Aku memutar kepala. Mataku membelalak, mencari-cari titik daratan Sumatera yang aku tinggalkan. O o, kini, giliran aku yang terkesiap! Bukan! Bukan karena mendapati pelepah ini telah menjelma perahu Nuh. Bukan pula karena tak pernah terpikir kalau pelepah ini benar-benar akan membawaku menjumpai Kumbang (setiba di Kalimantan aku akan membeli mandau untuk memenggal kepalanya!). Bukan!!!

Aku terpana pada apa yang samar-samar ditangkap mata. Di daratan Sumatera yang mulai kabur dari pandangan, kulihat serombongan burung beterbangan di sana, di tempat aku memulai kayuhan, di tempat anak-anakku mendorong pelepah kelapa tadi. Adakah itu gerombolan burung gagak? Tengkukku bergidik tiba-tiba. Apa gerangan yang terjadi dengan Melati, Melur, dan Kecubung di tepian sana? Mataku hangat. Pipiku basah. Perasaan gembira dan sedih bersigesek dalam dada. Belum pernah kurasakan kecamuk yang ganjil seperti ini sebelumnya.

Oh, benarkah Tuhan baru saja mengabulkan doaku? (*)

Rabu, 06 April 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Surabaya Post, 3 April 2011

Borok Dunia Akhirat

Tak kuhiraukan petir yang menggelegar di telinga, air bah yang menyeruduk dada, dan zenith matahari yang membakar raga. Seperti apa pun katalismik memamah normalitas, aku belum bisa menerima semua ini. Semua hampa. Bagaimana bisa demam biasa ini menjelma aib yang menjijikkan!

“Aku hanya minta pil pereda panas, mengapa kau sampai memeriksa darahku?!” Aku membelalak sempurna.

Dokter bergeming. Ia memandangiku datar seakan-akan menganggap reaksiku sebagai kewajaran bagi orang yang baru saja divonis mengidap borok dunia akhirat ini.

Dadaku masih megap-megap. Aku masih belum bisa menerima. Tiba-tiba aku teringat kedua orangtuaku, adik-adikku…

“Bersabarlah, Nak…,” Dokter memecah lamunanku.

“Aku punya nama!” sergahku kesal. Pandanganku kosong menembus tulisan “Positif” di surat keterangan hasil tes di tanganku. Tiba-tiba kulihat Si Pirang Mawgen di sana. Ia tengah mengulum senyum kemenangan di liang lahatnya. Dasar setan!

“Mawgeeen!!!”

Serta merta aku bangkit dari tempat dudukku. Napasku tersengal-sengal. Kulihat wajah indo Dokter memerah. Hidung bangirnya kembang kempis. Ia tegang seketika.

“Dia temanmu?” Dokter bertanya ragu.

Aku tak acuh.

“Siapa tadi? Mawgen?”

“Ha... ha... ha…!” Aku terbahak. “Apa pedulimu?” tiba-tiba perasaan hampa mengerubungiku. Aku linglung.

Dokter memandangiku seperti seorang sutradara yang tengah mengaudisi peran psikopat. Aku lelah. Kembali terduduk. Kurasakan surat-keterangan di genggamanku perlahan-lahan beralih ke tangan Dokter. Di balik kacamata tebalnya, nampak beliau begitu serius memerhatikan data singkatku yang tertera di sana.

“RI-YO,” setengah bergumam namaku disebutnya. “Bersabarlah, Rio. Ini…”

“Tak perlu menghiburku, Dok. Takkan ada yang mengerti perasaanku! Takkan ada yang percaya bahwa sejujurnya aku sendiri pun tak mengerti dengan semua ini. Aku belum bisa memercayai ini!” Suaraku makin meninggi pada oktaf yang berkejar-kejaran. Tiba-tiba mataku pedih. Tidak, aku tak boleh menangis....

“Ini bukan akhir segala-galanya, Rio,” tampak ragu Dokter menggamit tanganku. Merasa dikuatkan, kubalas menggamit tangannya, lebih erat. Mataku hangat. Oh, airmataku menetes satu-satu. Tak mampu lagi kusembunyikan kepedihan ini....

”Panggil saya Dokter Ardi,” ia menyimpul senyum.

Pandangan sinisku sempat menerobos binar matanya sebelum ragu-ragu aku mengangguk.

“Mmm, Rio,” Ia menengadah. ”Bagaimana kalau kita tes ulang?”

“Tes ulang?!” Bergegas kutarik tanganku dari genggamannya. Dokter Ardi tergopoh menstabilkan posisi duduknya yang sedikit goyah karena tindakanku barusan.

Hening.

“Ternyata aku hampir tertipu!”

“Maksudmu?”

“Kau tak lari dari dugaanku. Jika kau adalah sampel dugaanku, maka hipotesis ini absolut kebenarannya.” Entah aku pun sulit memahami kalau kata-kataku begitu tajam, saintifik, dan sok filosofis. Emosi bawah sadar menguasaiku.

“Hipotesis?” Dokter Ardi antusias sekaligus bingung. ”Aku tak mengerti. Hipotesis apa?” Tampak sekali perasaan bersalah menggerogoti wajahnya.

“Tes ulang adalah bentuk penghiburan kepadaku. Kosmetik yang biasa kalian poleskan pada perasaan pasiennya. Jujur, awalnya kata-kata dan tindakanmu hampir membuatku menganggukkan kepala bahwa kau benar-benar memahami keadaanku, tapi ternyata aku belum begitu matang dalam berkira-kira. Kau sama saja! Pembohong! Lipsinc!” Megap-megap aku mengatur tempo setiap kalimat yang meluncur. “Nah, kurang jelaskah hipotesisku akan pandangan banyak orang terhadap orang yang mengidap penyakit ini?!”

“Jangan salah paham, Nak…”

“Rio!” potongku cepat. “Kata ganti ’Nak’ tak cukup ampuh mengubah pandanganku terhadapmu. Semua manusia akan menjadi sama saja bila berhadapan denganku!”

“Bagaimana kau mampu menyimpulkan banyak hal dengan gegabah seperti ini, Nak?” Dokter Ardi tampak lebih tenang.

“Sekali lagi, jangan coba berempati kepadaku dengan sapaan “Nak”! Tidak begitu susah bagiku menyingkap tumpukan topeng yang menjejali wajahmu.”

Dokter Ardi mendekatiku. Wajahnya dingin.

“Jangan mendekat!” Aku mundur beberapa langkah.

Dokter tak acuh. Dengan santai ia menuju ke arahku. O o, aku terpojok di sudut ruangan.

“Aaaakhh!”

“Kau hanya perlu sedikit ketenangan, Nak.” Sayup kudengar suara itu sebelum tubuhku layu seketika. Aku tak ingat apa-apa, selain jarum suntik yang secara perlahan dilepaskan dari nadi tangan kananku.

Kurungan

Satu bulan terasa begitu menyiksa. Kedatangan keluarga, sanak kerabat, dan teman-teman yang dapat dihitung dengan sebelah tangan, adalah pepakuan yang memaksa menancap di tembok perasaanku. Walaupun akhirnya tercabut seiring kepergian mereka, tapi lubang-lubangnya tetap menganga di hati ini. Empati mereka tampak begitu teatrikal. Ah, inilah nasibku. Jangankan menjadikan mereka teman berkeluh kesah, berjabat tangan pun bak utopia. Mereka semua bertopeng, senyuman tak lebih seringaian getir.

Aku menerawang lepas dari lantai tiga ruang isolasi rumah sakit ini. Di luar sana, awan tengah meringis, menjatuhkan air yang bergumpal di balik awan yang kusam mengelam.

“Apa kabar, Rio?” Suster Ria menyapaku sesaat setelah membuka daun pintu. Ujung jilbabnya berkibar kecil.

“Basa basi atau etika medis?” jawabku sinis.

Suster Ria memandangiku sejenak. Datar. Lalu mengambil beberapa tablet obat dan segelas air. Suster Ria mendekat.

“Jujur, Rio. Merawatmu membuatku bernostalgia. Aku teringat seorang seorang pasien lama.” Suster Ria menuntun tangannya mendekati bibirku. Dalam hitungan detik, empat butir tablet telah berselancar ditenggorokanku.

“Siapa?” Aku penasaran.

“Sama seperti kamu. Saat itu dia masih SMA. Dia anak yang baik, cerdas, dan berprestasi di sekolahnya. Suatu hari dia mendaki bukit…”

“Bukit?” gumamku lirih.

Seakan tak memedulikan pertanyaanku, Suster Ria terus bercerita. “…mendaki bersama dua teman dekatnya. Di tengah perjalanan, mereka terluka oleh semak-semak berduri. Tanpa disadari darah dari luka mereka bertukar tempat, karena saat itu mereka saling membantu mengobati luka masing-masing dengan dedaunan.”

“Aku juga pernah terluka saat hiking. Tak hanya ketika mendaki bukit. Ketika mendaki gunung-gunung pun…”

“Siapa yang sebenarnya tengah bercerita, Rio?“ Suster Ria menyalip kata-kataku seraya tersenyum. Begitu halus singgungannya.

“Baiklah,” Aku mengalah.

“Temannya meninggal satu bulan setelah itu. Keluarga temannya penasaran dengan kematian mendadak anak mereka, makanya diadakan tes forensik. Hasilnya ternyata anak mereka telah tiga tahun mengidap AIDS.”

“Jadi kedua temannya meninggal?”

Suster diam sejenak. Lalu menarik wajahnya melengos ke jendela. “Hanya satu orang.” Ada tekanan pada nada suaranya. Dapat kutangkap semburat wajah yang merona merah di balik jilbab putihnya. Matanya berkaca-kaca.

“Dia adik suster sendiri, sanak kerabat, atau...?” Ah, mengapa aku tampak begitu solider.

Buliran hangat menyeruak dari mata suster itu ketika ia mengedip lembut.

”Mmm... Rio mohon maaf, Suster….” Aih, bagaimana aku jadi melankolik pula!

“Dia bukan siapa-siapa, Rio. Namun dia sudah kuanggap sebagai adik kandung. Ia telah memberikan banyak pelajaran, terutama makna dan hakikat persahabatan, kesetiaan, dan ketabahan.”

Aku termangu. Masih menunggu kata-kata suster selanjutnya.

“Kesedihannya begitu mendalam. Setelah kematian teman dekatnya, dia hanya memiliki satu orang sahabat lagi. Tapi jangankan untuk saling menguatkan, bahkan sahabatnya itu pun tak hadir saat pemakaman. Yang lebih membuatnya sangat menderita adalah ketika sahabatnya tersebut menjauhinya saat mengetahui bahwa dia juga terkena AIDS. Dia begitu down, namun kesetiaan dan ketabahannya dalam menghadapi ujian persahabatan tak pernah pudar. Kerap aku mendapatinya tengah memanjatkan doa. Kupikir ia takkan melupakan sahabatnya itu dalam munajatnya....”

“Saat itu Dokter Ardi begitu terpukul.”

Deg. Dokter Ardi! Dokter sok peduli itu. ”Dokter Ardi?! Apa urusannya? Terus siapa nama pasien yang suster ceritakan ini?”

“Dokter Ardi adalah ayahnya.” Tiba-tiba wajah suster pucat pasi. ”Ya, Tuhan! Suster kelepasan Rio. Cukup sampai di sini. Suster telah melanggar kode etik medis. Ini terlalu jauh. Maaf.” Suster bergegas menuju pintu.

“Tunggu Suster, jujur aku tidak punya urusan yang begitu penting dengan ceritamu. Aku hanya ingin tahu satu hal. Di mana Dokter Ardi? Aku tak pernah melihatnya lagi sejak aku dipindahkan ke ruangan ini. Cuma itu!” Entah susah sekali aku meruntuhkan ego.

“Dia pindah ke Inggris!” Suster berhenti sejenak sebelum menghilang di balik pintu.

Tiga Sekawan

Di ruangannya, Suster Ria membereskan berkas-berkas konfidensial putra Dokter Ardi yang ketinggalan. Besok dia harus segera mengirimnya ke Liverpool.

“Mawgen Ardiansyah,” Suster Ria melafal lirih nama di surat keterangan hasil tes lima tahun yang lalu, seakan-akan ingin meyakinkan bahwa data yang dibereskannya tidak keliru.

Ponselnya bergetar.

Ria, tlg cek di brankas pribadi bapak di lantai 2 RS. Bereskan semua foto2 Mwgn. Kirimkn dgn brkas2 lainnya. Thx.

Segera Suster Ria beranjak ke ruangan kerja Dokter Ardi.

....

Suster Ria terperenyak mendapati foto tiga remaja berseragam SMA. Dua dari mereka begitu dikenalnya.

TIGA SEKAWAN. AIMARO: ANDI, MAWGEN, RIO.

Bergetar bibirnya membaca tulisan yang tertera di balik foto tersebut. Suster Ria bergegas ke ruangan isolasi. Memapas anak-anak tangga. Ketukan hak sepatunya membunuh keheningan koridor yang menjorok ke ruangan isolasi. Belum sempat tangannya meraih gagang pintu. Dari dalam terdengar tangisan keras diselingi teriakan yang berkoar bingar.

“Keparat! Gara-gara kamu aku jadi mayat hidup seperti ini! KEPAAARAAAT!!!”

“Klek.” pintu dibuka.

Rio menoleh.

Suster Ria membelalak. Mendapati foto Mawgen tercerai-berai, berserakan di lantai. (*)

Lubuklinggau, 2007-2010