Tampilkan postingan dengan label K: Lampung Post. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K: Lampung Post. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 Maret 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Lampung Post, 20 Maret 2011

SEJATINYA, gadis itu hanya berteman dan bercakap dengan angin, dedaunan, belatung, dan tanah serta pepohonan yang mempersilakan air mengalir dan memercik darinya.

***

Apakah ia kara? Mana sang ayah, sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas keluarga, atas dirinya?

Apa? Ayah?

Ah, kini gadis kecil tak peduli lagi. Sama dengan tak mau tahu bahwa setiap anak sejatinya memiliki ayah. Ya, bunda adalah orang tuanya. Bunda berjiwa kembar dalam badan tunggal. Ya ayah, ya bunda, ada dalam diri wanita yang melahirkannya itu.

***

"Kerjakan nomor 1 sampai 30!" Bu Alis memberi tugas setelah seharian menyetrap beberapa murid yang tidak mengerjakan tugas.

Dari arah kursi belakang, seorang gadis kecil mengacungkan tangan.

"Iya," ujar Bu Alis, "Ada yang ingin kau tanyakan, Pik."

"Ya, Bu."

Bu Alis tersenyum masam sambil mendongak ke arah jam yang bertengger di dinding, satu meter di atas papan tulis. "Cepatlah, nanti telat juga kita pulang!"

Anak-anak lain bersungut-sungut. Takut kalau Bu Alis marah. Mereka tak ingin jadi korban setrapan seperti beberapa temannya yang berdiri—dengan sebelah kaki di depan kelas—sejak kelas dimulai, hingga kini hendak pulang.

"Mmm...."

"Cepatlah!" Bu Alis membentak.

"Mengapa... Ibu jarang sekali tersenyum?"

"Aaaah....!" Bu Alis mengibaskan tangannya. "Kukira apa yang ingin kau tanyakan tadi!" ujarnya gusar. "Hei, dengar kalian semua...!"

Anak-anak makin bersungut. Kedua tangan mereka sudah rapi terlipat di atas meja, dengan kepala setengah menunduk dan ekspresi wajah yang disopan-sopankan.

"Kalau anak-anak bengal macam kalian aku baik-baikkan, akan jadi apa negara ini? Makin ngelunjak kalian nanti. Tak ada hormat-hormatnya pada guru. Nanti juga tak hormat pada orang tua, orang yang lebih tua, dan pada siapa-siapa!"

Belum sempat Upik menganggapi, Bu Alis sudah berlalu. "Jangan lupa, les di tempat Ibu sore ini. Selamat siang!" repetnya sebelum menutup kelas.

***

"Pengidap kanker otak harus segera dioperasi. Obat-obatan yang diberikan tak lebih hanya sekedar penghilang rasa sakit. Apabila terus dibiarkan, ia bisa kehilangan ingatan masa lalunya. Ia juga bisa membuat dunianya sendiri."

Wanita paruh baya itu menunduk saja. "Biarlah saya pulang dulu ke desa, Bu. Kumpul uang dahulu," batinnya.

....

Dalam perjalanan pulang, seorang gadis enam tahun-an bertanya pada ibunya:

"Bunda, kok bu dokternya tak pernah tersenyum ya?"

"Hussh... tak baik menggunjing orang, Nak. Apalagi orang yang lebih tua."

"Dia dan teman-temannya di rumah sakit itu juga jahat ya, Bunda?"

"Husssh...! Sudahlah!"

"Masak enggak mau ngobatin Upik."

"Enggak cukup uangnya, Nak."

"Katanya berobat dan sekolah tidak bayar, Bunda?"

"...."

"Awas, Bunda...!"

"Aaaakkkhhh...!"

"Bundaaa...!

***

Gadis kecil itu berlari dengan langkah lebar. Ujung kedua kakinya mengenjit-enjit serupa balerina. Ah, balerina. Terlalu tinggi kata itu. Gadis kecil itu tak paham apa itu balerina. Tinggalnya saja di desa. Terpencil. Yang ia tahu adalah hatinya benar-benar gembira hari ini. Sepanjang jalan ia semringah: tersenyum dengan sebenar senyum.

Dari mana kau, wahai peri kecil?

"Dari rumah Umi."

Umi? Umi siapa?

"Umi. Ya Umi."

Ibumu?

"Bukan! Ibuku namanya bukan Umi, tapi Jamilah."

Ooo...

"Umi orangnya cantik. Usianya sama dengan Bu Alis."

29?

"Entahlah. Pokoknya seumuran Bu Alis. Guru kami yang masih gadis!"

....

Gadis kecil itu berlari kecil lagi. Tetap berinjit-injit. Kali ini di hadapannya telah menghampar sawah setengah menguning. Pemandangan yang kurang disukai si gadis kecil. Menurutnya, kalau padi-padi itu tidak hijau lagi. Alamatnya sawah akan segera berisi lumpur dan tanah liat saja. Ah, tak elok dipandang! Gadis kecil itu tetap tidak mau menerima ketika suatu waktu seorang petani yang tiba-tiba saja peduli pada celotehannya berkata: "Tapi itu juga alamat bahwa kita akan panen. Banyak beras. Kau bisa makan hingga kenyang. O ya, dulu, ketika orang tuamu masih hidup, mereka juga senang bila padi-padi di sawah telah menguning. Ah, sayang kau masih sangat kecil waktu itu."

***

"Nilaimu bagus-bagus, Nak."

"Iya, Bunda."

"Bunda juga sering tersenyum, ya?"

"Kok bertanya seperti itu, Sayang?"

"Kalau lihat Bunda, Upik jadi ingat Umi."

"Umi mana?"

"Umi yang tinggal di pondok dekat hutan, Bunda."

"Ooo di sana. Baru dibangun pondok ya?"

"Ada Umi di sana, Bunda."

"Iya, tapi apa hubungannya dengan senyum Bunda?"

"Iya. Kalau liat Bunda, Upik ingat Umi."

"Enggak kebalik?"

"?"

"Bukannya kalau lihat Umi, Upik jadi ingat Bunda?"

"Eh... ah... sama saja Bunda."

"Ya sudah. Bunda menanak nasi dulu ya, Nak."

"Iya bunda."

"..."

Ah, andaikan Bunda sering di rumah.

Gadis kecil itu menekuri buku-buku pelajarannya. Walaupun baru kelas dua SD, ia tidak mau mengecewakan Bunda.

"Ranking berapa, Nak?"

"Dua puluh, Bunda."

"Dari...?"

"Tiga dua, Bunda."

Gadis kecil itu masih mengingat dengan baik bagian dialog dengan sang bunda beberapa bulan silam. Bundanya yang pergi subuh-pulang magrib sudah sangat capai bekerja sebagai pengangkut batu. Pernah ia menanyakan di mana gerangan sang bunda bekerja, tapi wanita paruh baya itu hanya tersenyum dengan mata sendunya. Gadis kecil itu tahu makna bahasa wajah orang yang melahirkannya itu: Sudahlah Nak, belajarlah yang rajin agar tidak jadi pengangkut batu seperti orang tuamu.

***

"Ada apa pula dengan dirimu, Nak?"

"..."

"Jangan diam, Nak."

"..."

"Tak kaupikirkan betapa capainya Bunda mengais rezeki."

"..."

"Masih kecil, tapi kau sudah bertingkah aneh-aneh saja!"

"Bu Alis tak pandai mengajar, Bunda."

"Apa maksudmu, Nak? Jaga tuturmu! Dia gurumu. Ibunda Guru yang mulia. Tak ada yang elok serupa sang guru. Bila tak ada dia, maka tak ada sekolahan di kampung kelam ini, Nak."

"Upik tak rehat sekolah Bunda. Hanya les saja tak mau dengan Bu Alis lagi. Upik les dengan Umi saja, Bunda."

"?"

"Boleh, Bunda?"

"Umi lagi, Umi lagi. Siapa nian Umi itu, Nak?"

"Seumuran Bu Alis. Agak lebih muda dari Bunda-lah. Tapi... baik sekali."

"Ah, Bunda tak mengerti, Nak."

"Bundaaa...!"

"Hhh...."

"Ayolah kita ke sekolahnya Umi tu!"

"Umi tak punya sekolah, Bunda. Cuma pondok."

"Pondok?"

"Iya."

"Jadi, macam mana ia memberi pelajaran? Aduuh... Upikku Sayang, jangan ganjil-ganjillah bercerita!"

"Tapi... Upik bisa mengerti semua pelajaran kalau Umi yang mengajar."

"Maksudmu, Nak?"

"Iya Bunda. Yang belum dipelajari, Upik juga bisa!"

"Ah, tak mungkin...."

Entah bagaimana caranya, akhirnya gadis kecil itu berhasil meyakinkan bundanya.

***

"Bagaimana bisa kau dapat ranking satu, Upikku Sayaaang...!"

"Ya, Upik belajar dengan Umi, Bunda."

"Husssh! Kau bawa-bawa jualah Bu Alis tu. Ia juga berjasa, Sayang."

"..."

"O ya, apa yang kau pelajari dari Umi, Nak?"

"Umi sering tersenyum, Bunda."

"Maksud Bunda, seperti apa dia mengajarmu, Nak?"

"Dengan senyum, Bunda."

"Aduuuh, Nak. Senyam-senyum, senyam-senyum. Macam mana kau ni, Upik. Ranking satu, tapi..."

"Iya, cuma dengan senyum, Bunda!"

"Pelajarannya?"

"Pelajaran tersenyum!"

***

Rumah Upik raib. Bunda juga tak lagi tampak. Entah, apakah ditelan kabut yang tumpah pagi tadi, atau apa... oooh, Upik tak mengerti. Gadis kecil itu meraung-raung. Baru ia sadari bahwa wajah Bunda mirip sekali dengan Umi. O tidak, wajah bunda benar-benar sama dengan wajah Umi.

Jadi? Ooohhh....

Maka, tergesa ia ke utara desa, ke hutan, ke pondok Umi.

Upik terpekur di tanah kosong itu. Tak ada lagi pondok itu. Apakah ada dalilnya bahwa rumah dan pondok pun dapat bersepakat untuk menghilang? Ah, Upik juga tak mengerti. Di sana, ia hanya mendapati sebuah foto kusam yang tergeletak di salah satu sisi kuburan: foto wanita paruh baya yang sedang tersenyum. Ia tercekat membaca sebuah nama yang terukir di sana, di nisan tua.

* * *

"Sekarang Upik di mana?"

"Di rumah sakit, Sayang!"

"Mana Bunda?"

"..."

"Mana Umi?"

Suster-suster muda itu terdiam.

"Kita panggil dokter saja, ya...."

"Kamu saja!"

"Kamu!"

"Aku takut nanti dia marah. Kamu tahu kan kalau dokter muda itu buasnya kayak harimau. Nyuruh kita tersenyum tapi dia sendiri tidak pernah tersenyum!"

"Ya sudah, panggil gih!"

"..."

"Mana Umi...?"

"..."

"Bu... bu dokter, anak ini sudah sadar. Dia menyebut dirinya Upik, Bu!"

"Mana Bunda...?"

"Tenang ya Sayang, di sini ada bu dokter yang akan menemanimu."

"Mana Umi....?"

"Itu hanya khayalanmu saja, Nak. Kau sekarang di rumah sakit. Istirahatlah, ya."

"Mana Bunda....?"

"..."

"Bu dokter, gimana ini?"

Setelah kembali berusaha menenangkan si pasien, dokter itu memperkenalkan diri. Dokter Alis. Entah, apa maksudnya mengutarakan hal yang tidak penting itu. Dokter itu lalu tersenyum. Seperti menyeringai. Ada taring di dekat gerahamnya.

Gadis kecil tercekat. Nama yang baru saja ia dengar seolah mengeluarkan tangan-tangan kekar dan berkuku tajam yang tak tampak, yang mencekiknya.

Upik meninggal dunia. Ada senyum yang melengkung di wajahnya.

***

"Meninggalnya gadis kecil itu karena terlalu lama bertahan hidup hanya dengan makanan yang tidak jelas asupan gizinya."

"Tapi Bu, bukankah ia selama ini bisa bertahan hingga lima tahun dengan makanan seperti itu?"

"Tak tahukah kalian kalau cacing memiliki kandungan protein yang mengalahkan ikan?"

"Tidakkah ada penyebab lain... ?"

"Itu di luar analisis medis?"

"Penyebab lain... ?"

"Penyebab lain lagi? Karena saya jarang tersenyum pada pasien? Itu maksud kalian? Kalian rekan wartawan jangan membuat berita yang tak jelas kebenarannya!"

"Maaf Bu, kami bahkan tidak tahu kalau Anda jarang tersenyum...."

"?"

"..."

"Ya sudah, lupakanlah itu!"

"!?"

"Yang jelas, yang akan saya katakan ini, saya pikir, jauh lebih layak kalian jadikan berita."

Berceritalah bu dokter itu bahwa ia pernah bertemu dengan si anak dan almarhum ibunya beberapa tahun silam. Entah bagaimana bisa dokter pelit senyum itu dapat menyampaikan hal tersebut. Yang jelas dengan percaya diri sekali ia menceritakan percakapan yang pernah ia lakukan dengan perawatnya, beberapa saat setelah dua beranak itu meninggalkan RS:

Para kuli tinta itu hanya mengangguk-angguk. Tak ada yang mereka lakukan—tidak pula mencatat, selain bergumam dalam hati: Ah, cari sensasi saja kau, gadis tua!
Senin, 13 Desember 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Aida Radar
Dimuat di Lampung Post, Minggu 12 Desember 2010

TAK ada yang tahu siapa laki-laki tua itu. Dari mana dia berasal dan mengapa dia bisa berada di kampung ini. Orang-orang dewasa di kampung menyebutnya si tua misterius. Sementara anak-anak meneriakinya "O...rang gila...!" Maka, tiada bayangan jejaknya yang bisa kutelusuri. Hanya satu informasi bahwa ia terlihat di kampung sehari sebelum aku mudik dari tempat studi di Kota Daeng*.

Awal kulihat dia keesokan hari setelah tiba di Goto—nama kampungku di Pulau Tidore. Ketika menyusuri jalan setapak diterangi lampu 5 watt yang bersebelahan dengan perkuburan tua; di tengah sayup-sayup lolongan anjing kampung yang memilu, pukul empat subuh; dan di antara semilir angin malam yang menggoyang-goyang daun pala di atas makam-makam itu; kudapati sosoknya.

Sempat aku terhenyak. Kukira dia salah satu makhluk makam tua itu. Bagaimana tidak. Di waktu seperti itu, di pagi yang masih mendengkur, dipastikan belum ada orang kampung yang berseliweran. Semua masih meringkuk di balik selimut hangatnya. Menikmati malam untuk merehatkan tubuh yang sibuk membanting tulang siang tadi.

Dia duduk sendirian di bawah rimbun pohon pala itu. Entah apa yang sedang dia lakukan di sana. Mataku tak bisa menangkap aktivitasnya karena gelap yang menyelimuti. Lagi pula aku tidak bisa berlama di sana. Waktu yang memasuki subuh mendesakku segera mengumandangkan panggilan menghadap Ilahi bagi hamba-Nya. Maka kutinggalkan sosok itu berteman dengan sepi yang memang telah melingkar sedari tadi.

Hingga cakrawala mulai dilumuri kemilau emas di ufuk timur sekembalinya dari peraduan, menjemput pagi dengan perpaduan kesejukan embun di rerumputan, masih setia sosok tua menyendiri di bawah pohon pala itu. Lelaki yang kini dapat kutatapi wajahnya walau tak dari jarak terdekat.

Sebelumnya kukira ia berkepala lima. Tak seperti perkiraan orang sekampung bahwa ia telah menginjak tujuh puluh lebih. Pikirku berewok dan gondrongnyalah yang membuatnya kelihatan tua. Tapi memang begitulah adanya. Wajahnya berkata ia sudah seumuran kakekku yang koliho asal** sebulan lalu dalam usia tujuh puluh tiga tahun. Kakek yang semangat menuntut ilmunya tinggi hingga mengantarnya bersekolah di universitas bergengsi di luar negeri sana. Kakek yang semangat meraih cita-citanya selalu kupanuti. Yang membanggakanku terlahir sebagai cucunya. Sayang nasib baik yang menyambangi kakek sepertinya tidak berpihak pada lelaki tua itu.

Sunyi raut lelaki tua, lusuh, berewokan dan berpakaian kumal itu. Miskin ekspresi. Kuikuti arah tatapannya. Tiga anak berseragam merah putih yang berdiri di sisi jalanlah objeknya. Kemudian sesungging senyum melengkung di bibirnya. Dilanjutkan dengan bahak paling memiris yang pernah kudengar. Tawa yang menyeramkan. Tak lama sesudahnya, mulutnya komat kamit membahasakan hal-hal yang tidak kumengerti. Tangannya sibuk menggaruk-garuk kulit kepalanya. Mungkin mencari gigitan kutu yang membekas.

Diedarkan pandanganya ke sekeliling. Karena tak mau diketahui bahwa dia sedang kuperhatikan, buru-buru kupalingkan wajah dan berjalan menuju rumah. Menjauhinya yang kurasa sedang menatapiku tajam.

***

"Jangan dekati laki-laki tua misterius itu. Dia berbahaya. Tadi pagi dia melempari temanmu, Dani, dengan batu hingga kepala Dani dijahit tujuh. Padahal Dani hanya ingin menanyakan namanya untuk tugas kampusnya. Benar-benar jahat si tua itu. Bibi Ijah sudah melaporkannya ke polisi. Tapi kata polisi laki-laki itu gila. Dan orang gila tidak bisa ditangkap. Cukup menjauh saja dari dia supaya aman. Jadi ingat itu Rahmat! Jangan dekati dia."

Ibu mewanti-wanti saat kuutarakan niat mengakrabi laki-laki itu. Namun karena dijangkiti penasaran akut, kuacuhkan wejangan itu.

***

Di pagi keenam ketika malam perlahan menanggalkan jubah gelap seperempatnya; subuh telah mengakhiri ritual penghambaannya; dan surya siap-siap menjalankan titah merajai siang, pelan kudekati lelaki tua lusuh itu. Begitu tanganku menyentuh pundaknya yang membelakangi, sontak ia berbalik dan merengkuh kerah baju kokoku dengan kasar. Matanya melototiku yang terkejut mendapat sambutan itu.

"Mau apa kamu hah!? Dasar pengkhianat! Berani-beraninya kau muncul di hadapanku!"

Lelaki itu meneriakiku marah. Lantas mendorongku hingga jatuh terjerembab di tanah. Takut dan bingung memenuhi benakku. Ia meneriakiku pengkhianat? Bagaimana bisa jika baru beberapa hari ini aku melihatnya. Kenal saja tidak.

"Saya tidak ada niat jahat pada Anda. Saya hanya...."

Aku yang hendak berdiri tidak jadi berdiri. Kata-kataku terhenti ketika bersitatap dengan matanya yang menurutku sangar dan mengerikan. Mata yang kurasa hendak menelanku hidup-hidup.

Lalu tiba-tiba aku merasa ada kekuatan magnet yang menarikku. Kuat sekali memasuki mata sangar yang sedang melotot itu. Tak lama tubuhku sudah meluncur dalam labirin gelap. Lumayan lama aku meluncur di dalamnya. Sampai kemudian aku terempas di sebuah tempat asing.

Tidak! Tunggu dulu! Tempat itu tidak asing. Aku mengenalinya. Itu gedung kampusku di Makassar. Hanya saja papan nama kampus bukan bertuliskan Makassar melainkan Ujung Pandang. Suasana kampus pun tidak seramai kampus dengan papan nama bertuliskan Makassar. Meski begitu bangunannya yang tua masih kokoh.

Aku terus memandangi papan itu dalam lamun sampai mataku menangkap dari kejauhan dua sosok laki-laki di antara orang-orang yang lalu lalang. Keduanya dilingkupi warna, sementara selain mereka terlihat hitam putih. Bak gambar televisi tak berwarna era tujuh puluhan.

Dua laki-laki itu akrab sekali. Mereka jalan berangkulan dan tertawa bahagia. Sempat kudengar mereka memanggil satu sama lain “sahabatku”. Oh... itu artinya mereka bersahabat. Bisa kusebut sahabat kental. Sahabat yang sudah seperti saudara kandung.

Aku ingin mengenali wajah mereka namun yang tampak hanya seorang saja. Wajah yang satunya lagi samar-samar. Kupusatkan perhatianku pada lelaki yang wajahnya tampak itu. Aku tidak mengenalnya. Namun aku mengenali matanya. Yah... itu mata yang sama dengan mata yang menarikku ke tempat ini. Hanya saja arti sorot keduanya berbeda.

Kemudian aku merasa sekitaranku berputar. Aku seperti berada dalam benda bulat yang diputar-putar. Ketika berhenti aku telah berada di sebuah ruangan remang-remang dengan kepalaku yang malah berputar-putar. Ruangan dua kali tiga itu kukira sebuah kamar indekos mahasiswa. Rak yang dipenuhi buku-buku dan jadwal kuliah menjelaskan itu.

Aku baru menyadari bahwa bukan hanya aku di ruangan itu. Seseorang duduk dan menyembunyikan kepalanya di balik sepasang lutut yang tertekuk di sudut kamar. Sesaat kemudian ia mengangkat wajahnya. Loh! Itu lelaki di kampus tadi? Yang kukenali matanya. Tapi mengapa tak kulihat sorot bahagia dalam matanya seperti tadi. Justru sebaliknya, ada amarah bercampur kekecewaan dan tangis di sana. Ia meremas-remas selembar kertas di tangannya. Lalu ia buang kasar remasan kertas itu sambil berteriak marah.

"Pengkhianaaaaaaaat......! Pengkhianaaaaaaaaat........! Hu...hu...hu..."

Aku tersentak dengan teriakan marah diikuti segukan itu. Aku dekati ia. Duduk di depannya dan memegang pundaknya. Mencoba menenangkan. Namun tanganku tak bisa menyentuh pundaknya. Terasa seperti memegang angin. Rupanya aku ini hanya bayangan. Dan rupanya pula, ia tidak mengetahui keberadaanku. Maka berdirilah aku dan kuraih remasan kertas yang ia buang tadi. Kubaca asal kemarahan lelaki itu.

Maafkan aku sahabatku. Aku tahu aku bersalah padamu. Tapi dengan cara inilah aku bisa mewujudkan impianku. Beda dengan kau yang masih punya kesempatan meraih beasiswa itu di lain waktu karena kecerdasanmu. Sementara aku tak bisa begitu. Maka cara ini kutempuh. Sekali lagi maafkan aku, Sobat.

Aku ternganga dengan isi kertas itu. Astaga! Sebuah pengkhianatan dari sahabat sendiri kah? Oh... betapa hancur hatinya menghadapi kenyataan itu jika begitu adanya. Meski aku tidak tahu apa bentuk pengkhianatannya, iba juga aku melihat lelaki itu. Ketika itu ia menangkap pandanganku. Dan mata amarah penuh kekecewaan itu sekonyong-konyong menarik tubuhku hingga terjungkal di dalamnya. Aku kembali berada dalam labirin gelap dalam waktu lama. Tak lama di depanku muncul cahaya. Aku pun meluncur masuk dalam cahaya itu.

***

Mata itu masih menatapku tajam. Mata dengan sorot amarah penuh kekecewaan yang sama. Mata yang dimiliki lelaki tua gondrong dan dipanggil orang gila oleh anak-anak sekampung.

"Kau sudah lihat semuanya, kan? Kamu sudah tahu pengkhianatan itu, kan? Sahabat yang telah kuanggap seperti saudara kandung merampas hakku. Bahkan berkata Aku masih punya kesempatan di lain waktu. Huh! Tidak tahukah dia kalau untuk biaya kuliah di Ujung Pandang sana saja orang tuaku menjual tanah dan kebun pala hingga tak tersisa? Tidak tahukah dia kalau dengan mendapat beasiswa itu aku bisa melanjutkan kuliah yang terancam putus karena tak ada lagi biaya? Tidak tahukah ia kalau namaku dalam daftar penerima beasiswa yang ia ganti namanya telah menghancurkan hidupku? Dan dia berkata aku masih punya kesempatan lain? Cuih....!"

Napasnya megap-megap mengeluarkan rasa hati yang telah berkarat karena –pikirku—terpendam lama itu. Meski begitu ia tetap menatapiku tajam. Aku mematung di tempat tanpa suara. Bermain dengan keterkejutan dan iba pada lelaki di depanku. Tak berani kupandangi ia.

Lama kami diselimuti diam. Sampai ekor mataku menangkapnya berjalan mendekatiku. Aku ketakutan karena di genggaman tangannya aku melihat sebuah batu. Di jarak duapuluh cm tiba-tiba aku mendengar sebuah bunyi. Dan oh... bunyi itu berasal dari perutnya.

"Aku lapar. Beri Aku makan. Beri aku makan..."

Di antara tatapan menusuk itu ia mengiba. Mengharap belas untuk keroncongan perutnya yang terus bernyanyi ria. Menyirnakan keterkejutanku atas sikap ganasnya yang tiba-tiba melunak. Dan menumbuhkan rasa kasihanku akan kepayahannya.

"Saya tidak bawa makanan sekarang. Kita ke rumah ya? Ibu saya masak nasi goreng. Kita makan nasi goreng sama-sama di rumah saya. Itu di sana rumahnya. Yang bercat biru. Dekat, kan?" kuajak ia menghilangkan laparnya sambil menunjuk rumah orang tuaku.

Ia diam saja. Tidak menggeleng tidak juga mengangguk. Aku salah tingkah dibuatnya. Aku hendak mendekati dan menuntunnya ke rumah. Namun aku masih berjaga-jaga jangan sampai batu di tangannya ia ayunkan padaku. Maka bersitataplah kami dalam diam. Hingga sejurus kemudian ia mengangguk lemah. Batu di tangan ia lepaskan. Ia berjalan mendekatiku dan serak berbisik padaku.

"Aku lapar. Beri Aku makan sekarang."

***

Rumah kelihatan sepi. Ayah dan ibu pasti sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali. Kusuruh lelaki tua itu duduk sebentar di kursi teras. Aku akan mengambil nasi goreng untuk kami berdua. Kemudian makan di teras ini.

"Tunggu di sini ya. Saya ambilkan nasi gorengnya. Kita makan di sini sambil menikmati mawar-mawar ibu saya yang merekah."

Ia tak mengangguk tapi langsung duduk. Matanya merambati setiap bagian teras dan taman bunga kecil di depannya. Kutinggalkan ia dan masuk ke dalam rumah.

Aku mengisi dua piring dengan nasi goreng di atas meja. Satu piring kusendoki hingga menggunung. Itu untuk lelaki tua di depan sana. Kemudian aku menyeduh teh manis hangat. Kubawa sarapan itu dengan nampan ke teras. Baru tiga kali melangkah tiba-tiba...

Prang...!

Aku terkejut mendengar sesuatu seperti kaca pecah. Lalu suara teriakan dan beling yang diinjak-injak. Arah suaranya dari ruang tamu. Segera kutaruh kembali nampan di atas meja makan dan berlari ke depan.

"Pengkhianaaaaa......at! Pengkhianaaaaa......at!"

Itu teriakan lelaki tua lusuh itu. Ia seperti kesetanan. Kakinya berlumuran darah karena menginjak-injak beling bingkai foto yang pecah di lantai. Mulutnya terus meneriaki kata pengkhianat dan menunjuk-nunjuk foto berbingkai pecah itu. Aku terhenti di pintu. Terdiam dan lemas dalam keterkejutan yang sangat. Tahulah aku sekarang. Gambar dalam foto yang sedang diinjak-injak lelaki tua dengan beringas itu adalah dia, sahabatnya, almarhum kakek kebanggaanku.

Tidore-Makassar, Oktober 2009-Juni 2010

Catatan :

* Kota Daeng : Sebutan lain Kota Makassar.

** Koliho asal : Ungkapan orang-orang Tidore ketika mengabarkan seseorang meninggal dunia. Koliho asal artinya kembali ke asal manusia yaitu pada Allah swt.

Kamis, 15 Juli 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Fahri Asiza
Dimuat di Lampung Post, Minggu, 11 Juli 2010

MENUANG arak dari botol penghabisan tak jua membuat Iskandar mau meledak perutnya. Tawanya makin gurih kala tetesan arak yang dihamburkan ke mulutnya berpencaran menetesi dagu dan jatuh memburai di tanah. Lapak kecil yang terletak di pojokan jalan dibahani tepukan penyemangat.

Setelah tetesan terakhir yang bersisa di dagu bagian bawah diusap, lalu dijejalkan ke mulut, tepukan kembali merajai malam kelam. Iskandar bangkit berdiri, menahan huyungan badan. Matanya mulai tak berteman, lingkarannya mengecil dengan sedikit gumpalan di bagian bawah. Kedua tangannya disentakkan ke atas, menantang dingin dan mengirimkan kabar ke pelosok langit.

"Hiaaaaaaa! Mana uangnya? Mana?"

Gofar mengambil setumpuk uang dari saku celananya. Amarahnya mulai mendekati ujung. Di kampung ini dia terkenal sebagai peninum arak tanpa mabuk, namanya sudah mengedar ke segenap penjuru angin. Iskandar datang, takhtanya pun tumbang.

"Besok kita beradu minum lagi," sengitnya sembari melempar uang di meja, menyelinap di antara botol-botol arak dan gelas yang letaknya sudah lintang pukang.

Entah kapan kembalinya anak muda bernama Iskandar yang dikenal sebagai putra tunggal Haji Sobirin itu. Lama tak berkabar kecuali Iskandar melaut ke tanah seberang. Sempat pula membikin Haji Sobirin, yang dikenal sebagai Imam Masjid Al Furqon itu, terperangah dengan mulut menganga, lalu merangkulnya disertai titikan air mata. Putra semata wayangnya yang menurut kabar lenyap di lautan, datang dengan segar bugar.

Teringat pula kepergian Iskandar yang tak pernah jelas, setelah Munah, gadis yang sejak kecil dilimpahi cinta, tiba-tiba dikawinkan dengan lelaki tua beristri tiga. Menikahnya Munah membuat runtuh akar-akar Iskandar, batangnya tumbang dan seluruh daun berluruhan. Siang malam hanya bisa menangis meratapi kesedihan. Lalu tiba-tiba, sosoknya lenyap bersama angin malam. Tak ada yang tahu, Haji Sobirin pun tak paham. Munah menangis diam-diam, tapi tetap menurut digeret ke ranjang, apalah daya karena dia perempuan.

Sebulan kembali ke tanah harapan, Iskandar telah berpaling hulu dan ladang. Dia sudah berani berbaku hantam dengan marbot masjid yang dianggapnya lalai karena satu subuh tak sempat berazan karena masih terlelap. Berani pula menerjang-nerjang di pasar, meminta uang pada para pedagang. Terlebih gila dia mendatangi rumah Munah, berani meraih tangan mengajak Munah lari dari sana. Munah menolak, menjeritkan kalau dia tak kuasa meninggalkan dua putranya yang masih kecil. Iskandar meradang. Munah ditamparnya, dimakinya dengan sebutan yang menyisakan kemarahan. Lalu beberapa orang berseragam membawanya keluar, melemparnya. Untung suami Munah masih bertabik baik meski kemarahannya tak kuasa dibendung.

Haji Sobirin yang merasa siap terlelap panjang menunggu jemputan Izrail dalam naungan damai, merasa perlu berdoa pada Tuhan agar umur diperpanjang dan dia bisa mengembalikan Iskandar ke jalan asal. Karena suami Munah meski dituturkan penuh kelembutan, menebar paku-paku panas di sekelilingnya. Bila tak memandang wajah tuanya, Iskandar akan lenyap dari muka bumi.

"Kau beradu menenggak arak lagi, Is?" Gelegak darahnya menumpah-numpah ketika melihat Iskandar pulang terhuyung limbung membawa uang banyak di tangan. Sebagai imam masjid, tak ada lagi tempat untuk meletakan muka karena semua sudah tahu perihal Iskandar.

Iskandar tertawa sengau, lalu berdahak mirip suara lembu di kandung kala malam. "Tapi aku bawa uang banyak, Bapak. Lihat, lihat… Dengan uang ini, aku akan membeli Munah, Bapak! Karena ini yang bisa membuat Munah lari dariku!"

"Is! Inikah yang kau pelajari dari tanah seberang setelah kau menghilang? Allah murka dengan hamba-Nya yang tak mengindahkan larangan-Nya."

"O, begitu, lantas mengapa Dia membiarkan Munah dipelaminani lelaki tua yang harusnya berkalang ajal? Kenapa, Bapak? Kenapa?"

Selimbung tubuh Iskandar, batin Haji Sobirin limbung pula. Perkiraannya Iskandar pulang tanpa lagi membawa kepedihan lalu. "Karena itulah batasan dari Allah, Nak, rahasia Yang Mahabesar."

Tangannya mengibas menampar angin, kedua lulutnya bergetar hebat. "Aku tak perlu rahasia, aku ingin terbuka selebar mataku memandang lautan. Aku benci Tuhan, Bapak! Benci! Aku juga benci lelaki yang menikahi Munah! Tak puaskah dia menunai nafsu dari tiga bini yang telah memberinya banyak anak? Tak sudahkah dia menghirup darah segar dari gadis-gadis seperti Munah yang dipayungi kemegahan padahal hati gadis-gadis itu luka? Gadis lain boleh diambilnya, tapi Munah..." Tubuh itu ambruk, lalu tertatih menangis gerung.

Bibir tua Haji Sobirin bergemik-gemik. Terkulai rasanya semua tulang. Tak tahu dia harus menjawab apa. Ketika tahu Munah dipinang oleh Martua, Haji Sobirin bisa merasa kalau degup bahaya akan bertandang ke rumahnya.

Tepat pula yang dipikirkan.

Iskandar sepulang dari berladang meraung ganas, seribu harimau yang bersemayam di tubuhnya berlompatan. Perhelatan Munah dan Martua menjadi ajang prajurit terluka yang mengamuk. Tarup, hidangan, pelaminan semua lintang pukang. Tiga orang tukang pukul Martua memberi kenangan di pelipis Iskandar, hingga hari ini masih ada bekas itu.

Haji Sobirin menghela napas panjang. Lalu penuh kasih sayang dipegang kedua bahu Iskandar yang bergetar hebat. Coba diangkatnya segenap tenaga. Muntahan arak yang menyembur membasahi dadanya tak dihiraukan. Dipapah Iskandar ke dalam. Direbahkan di ranjang penuh haturan terima kasih pada Tuhan karena anak semata wayang pulang.

Disalinnya baju yang membujur arak, lalu disalin pula baju Iskandar. Diselimuti tubuhnya yang tiba-tiba menggigil. Mungkin arak yang telah bergolak atau karena penat batin yang berkarat. Entahlah. Haji Sobirin menungguinya hingga subuh dan memusuhi sepasang matanya kala mengerjap ingin terlelap. Tak mau melewati sedetik yang lewat memandangi Iskandar yang lamat-lamat terbujur tenang. Mungkin pingsan, batinnya. Tapi napasnya teratur seiring doa yang dipanjatkan Haji Sobirin, berharap Iskandar akan berubah.

Tetapi Iskandar semakin menjadi. Tindakannya semakin mengerikan. Warga mulai tak senang padanya, tapi masih memandang Haji Sobirin. Sambil menahan getir yang kian menggaung, Haji Sobirin berulang kali meminta maaf. Dia berjanji akan mengembalikan Iskandar ke jalan yang benar. Dan tak seorang pun yang tahu, kalau hatinya kerap menangis.

***

Gaung azan subuh menyeruak pagi, membangunkan bumi, menjejalkan aroma damai ke seluruh penjuru. Haji Sobirin bangkit mengambil wudu. Lalu mengenakan kain dan kopiah hajinya yang terbaik, selalu begitu setelah kali menghadap Allah. Sesaat terpanggil untuk melihat Iskandar, tapi dilepaskannya, karena baru kali pertama seumur hidupnya, dia akan tiba di masjid setelah dikumandangkan panggilan salat.

Maaf dilantunkan lagi, begitu setiap kali hendak memulai salat, para jemaah tetap menyambut hangat. Hitam yang ditorehkan Iskandar tak menampak di wajah teduh Haji Sobirin, begitu batin mereka. Manusia hanya menanggung dosa dan pahalanya sendiri. Saf pun teratur rapih, Haji Sobirin maju ke muka. Memimpin salat dan berdoa besok tak ada lagi kejadian yang menyusahkannya.

Tiba-tiba suara derap langkah cepat mengudara di latar masjid. Semua menoleh. Terpanggang kejut saat melihat Iskandar masuk bergegas, mengenakan kain sarung dan kopiah bersih. Tubuhnya wangi pula. Entah berapa cepat dia mandi.

Haji Sobirin tersenyum, hentakan bahagia berlagu di dada. Salat terasa lebih khusyuk dari hari-hari sebelumnya, tak lagi terpatri pikiran soal perbuatan Iskandar. Barisan anak panah yang kerap menancap dadanya, yang menggigit gelisah dalam, telah tercabut perlahan dan patah batang sebatang.

“Is khilaf dan minta maaf,” sebaris kata bagai gumpalan salju menyejukkan dada kala jalan bersama menyusuri pagi mengintip siang. “Is sadar, Munah sudah milik orang. Is ingin bertobat.”

Pelukan hangat dicurahkan, barisan doa dalam hati kecil pun didendangkan. Iskandar telah pulang, telah kembali ke jalan awal. Kampung pun jadi tenteram, tak ada lagi yang bikin keributan. Gaung nama besar Haji Sobirin naik setingkat lagi, berproses menjadi seorang ayah yang akhirnya mengembalikan anaknya ke jalan kebenaran. Tak lagi ditemui lapak di pojok jalan tempat Iskandar beradu minum arak. Hawa hitam tak lagi bergumpal di kampung itu.

Gofar murka karena kekalahannya tak terbalas, dia mengamuk, mencari-cari Iskandar yang meminta maaf dan mengembalikan uang yang pernah dimenangkannya. Gofar gembira tapi masih meludah. Dua hari kemudian dia ditemukan tewas di terkapar di tepi pantai. Ada yang bilang itu hukuman atas dosa-dosanya, karma atas perilaku yang mengacau orang yang telah bertobat.

Iskandar tersenyum di belakang rumah, di balik semai rumpun tinggi sambil mengasah parang. Malam menggayut pekat. Dia harus mengubah sikap, tak lagi menunjukkan wajah garang. Santun harus diperlihatkan. Bukankah seperti itu sikap orang-orang berwajah seribu, yang luar biasa banyaknya bertaburan? Dia telah banyak belajar dari tanah seberang, tanah-tanah terhormat, mengapa tidak memanfaatkannya.

Lalu dipandangi parang berkilat tajam.

Dengan langkah yakin, dia melangkah menuju rumah Martua… setelah itu, tinggal mencari domba kurus yang akan ditanggungi beban.***

Mutiara Duta, 15 Maret-2 Juni 2010
Minggu, 04 Juli 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Lampung Post, 3 Juli 2010

LELAKI itu sangat dekat dengan ibunya, walaupun itu hanya akhir-akhir ini. Tepatnya, ibunya yang mendekat-dekatkan diri, seolah ada kesalahan besar yang hendak ditebusnya.

***

Lelaki itu adalah orang yang paling depan berdirinya dan paling keras koarannya bila menghujat ayahnya, pamannya, saudara laki-lakinya, atau teman laki-lakinya. Walaupun sampai kini ia belum juga paham mengapa ketika mereka menatap balik padanya, ada rona skeptis dari mata-mata setan itu. Apa yang kaukatakan, hah? Seakan-akan kalimat itu mencuat dari bibir orang-orang yang dibencinya itu ketika idealismenya akan konsep kelelakian ia ceramahkan. Ya, tanpa kata-kata, hanya dengan bahasa tubuh, mereka balik mengejek laki-laki itu, lebih kejam dan menyakitkan....

“Apakah ini yang namanya karma, atau ini yang disebut azab, atau ini... Aaaah, tidak! Tak ada itu! Lantas, menurutmu apa-apa yang laki-laki itu rasai saat ini adalah sebuah kebetulan, ketiba-tibaan, kelangsungjadian?”

Lelaki itu berkeringat dingin. Ia melangkah keluar rumah. Berharap angin malam dapat menyejukkan pikirannya. Aku terlalu lelah, mungkin. Lelaki itu dengan daya upaya yang ia bisa, mencoba membesar-besarkan hati bahwa semua hanya bunga penatnya.

Angin mendesau pelan, selaras dengan malam tua yang lamban menggeser waktu. Lelaki itu menghirup udara sambil memejamkan mata. Seakan mencoba khusyuk meresapi bunyi dan bau napas yang dengan lembut melewati mulut dan hidungnya. Segaaar!

Perlahan-lahan dibukannya kelopak mata yang berbulu lebat itu. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati sebuah pemandangan ganjil: sekuntum mawar raksasa yang masih kuncup bertegak kokoh di salah satu sisi pekarangannya. Mawar itu seakan-akan tengah menatapnya lekat-lekat.

Lelaki itu menggigil. Ia membalik badan. Menuju pintu rumah yang setengah terbuka. O o, kakinya berat. Lelaki itu merasa seakan-akan sekuncup mawar raksasa itu tengah berjalan ke arahnya perlahan-lahan. Terbayang olehnya, bagaimana adegan beberapa film horor yang pernah ditontonnya: tangan berjalan, kepala terbang, boneka pembunuh yang membelalak, atau ooo... ini mawar!! Perasaannya, dalam film-film horor, bunga itu tak pernah diilustrasikan sebagai simbol pembunuh, setan, hantu, atau apalah! Ooohh...

"AAAAH...!!!" Lelaki itu berkeringat dingin. Tak henti ia mengucap syukur bahwa semua hanya mimpi saja. Maka, beranjaklah ia ke kamar mandi. Baru seperempat daun pintu dibuka, seketika ia terperanjat mendapati dinding kamar mandinya sudah dipenuhi daun sirih yang merambat-menjulur. O bukan, bukan itu yang menjadi titik keterkejutannya. Sirih itu, ya sirih itu. Berbuah semangka? Oh, ini bukan saatnya bergurau, Kawan. Daun sirih itu, berbunga. Bunga yang sangat ia kenal. Warnanya.... darah! Merah kelam. Itu... bunga mawar. Bagaimana bisa? Laki-laki itu mengucek matanya beberapa kali. Mencubit-cubit lengan kanannya. Menampar-nampar pipinya. O tidak, ia tidak sedang bermimpi. Ini nyata!

"Nak, cepatlah bangun! Sarapan."

Lelaki itu tersedak mendengar seruan dari luar kamar. Ibu. Ya, itu suara ibunya. Maka, makin terheran-heranlah ia, menyadari bahwa ia benar-benar tidak sedang bermimpi. Gegas ia melangkah keluar kamar, menuju ruang makan. Di sana, ibunya menyambut dengan senyum sabit.

"Kemarin...Ibu lupa namanya. Ada temanmu yang ngantarin puding. Katanya enaknya dimakan hari ini, Nak." Wanita beruban itu menghidangkan beberapa potong puding berwarna kuning yang baru dikeluarkan dari kulkas. Tak lama, ia berlalu ke dapur.

Uuuh... setidaknya lelaki itu bisa bernapas sedikit lega mendapati warna makanan itu. Tidak merah.

Lelaki itu mengangguk. O o, tunggu dulu ini pemberian siapa?

“Kemarin udah Ibu cicip. Maaf ya, Nak. Tak bilang-bilang padamu. Tapi memang enak. Hebat benar teman laki-lakimu itu memasak.” Ibunya berseru dari dapur seakan-akan dapat membaca pikiran lelaki itu.

Laki-lakiku? Mengantar puding...?

"O ya, sepertinya itu puding wortel. Ditambah stroberi juga. Sudah kau coba, belum?"

Lelaki itu tersadar dari lamunannya yang sejenak itu. Sesegera ia membuka plastik minyak berwarna kuning yang menutupi puding tersebut. Beberapa detik kemudian, ups! Lelaki itu tergagap. Bibirnya gemetar. Puding itu...

"Enak, Nak?"

Lelaki itu tak memedulikan suara sumir ibunya yang entah sedang apa di belakang sana. Ia bermaksud mengambil potongan-potongan puding merah hati yang berbentuk mawar di atas meja makan itu, membawanya ke beranda... dan membuangnya,

O o, ada apa dengan dunia ini? Mengapa...?

Lelaki itu teduduk, tersimpuh di beranda. Puding mawar ditangannya terjatuh berkeping-keping. Di hadapannya, di pekarangan yang tak begitu luas itu, rerumpunan mawar yang beranting-ranting menyemak di sana-sini. Di setiap sudut, hingga membentuk pagar daun, pagar duri, pagar mawar. Di salah satu sudut, tampak menonjol sendirian setangkai mawar raksasa yang belum mekar sempurna. Mungkin sebesar itulah bunga raflesia itu, pikirnya. Atau, jangan-jangan, yang ada di hadapannya inilah yang disebut bunga raflesia, batinnya. O tidak, walaupun lelaki itu belum pernah melihat bunga bangkai itu secara langsung, tetapi setahunya, bunga raflesia tak berbatang, tak berkuntum. Ia hanya berbonggol. Ya, itu mawar. Jelas-jelas mawar. Mawar dalam mimpinya!

"Lho, Nak, ngapain duduk di beranda? Kotor."

Lelaki itu menengadah. Mendapati wanita berbaju kurung sudah bediri di muka pintu. Ia tak menyahut. Ia mati kata.

"Mengapa kau serakkan puding-puding itu, Nak?" Ibunya menunjuk ke potongan puding yang menyerak di sekitar si lelaki.

O tidak, potongan puding itu sudah berubah menjadi mawar-mawar dengan beragam ukuran. Oh... lelaki itu terjerembab. Lebih tepatnya, memaksa tubuhnya untuk terjerembab. Pingsan artifisial. Dengan sepenuh jiwa ia berharap, ketika siuman nanti, entah dari tidur atau dari pingsan --buatan--nya, ia akan segera mendapati semuanya kembali seperti semula. Baik-baik saja.

***

"DARI pagi tadi, sejak dibawa ke rumah sakit ini, perutmu belum diisi, Nak. Kata dokter, kamu harus makan makanan yang lembut, halus, dan mudah dicerna, seperti puding ini." Ibunya menyodorkan sepotong puding pada lelaki yang didudukkan di sebuah dipan dengan kasur putih.

"Puding? Ooo tidaaak!" Lelaki itu menggeleng dengan mata terpejam.

"Makanlah. Puding ini kiriman istrimu, Nak."

Istri? Siapa istriku?

Lelaki itu membuka matanya perlahan. Sangat perlahan. Tiba-tiba ia menggeleng. Ia ketakutan. Bukan, bukannya mendapati puding yang berbentuk, berukir, dan berwarna mawar. Tetapi... mendapati sekuntum mawar yang sudah mekar sempurna, setinggi tubuh orang dewasa, berdiri di samping ibunya.

"Ada apa, Nak?"

Lelaki itu beringsut menarik selimutnya, bersandar di kepala dipan. Tampak sekali ia memaksa memejamkan matanya. Kepalanya masih menggeleng. Wajahnya pucat.

"Takkah kau merinduinya? Sudah lama tak bertemu, bukan? Yah, Ibu mohon ma’af kalau dulu tak menyetujui pernikahanmu. Tapi sekarang Ibu sudah merestuiya, Nak. Walaupun tak berhasil jua Ibu meyakinkan ayahmu dan saudara-saudara laki-lakimu itu." Wanita itu menatap putranya lekat-lekat. Membelai rambutnya, seolah ia adalah anak belasan tahun. "Semua bukan karena Ibu sudah bercerai dan tak satu pun saudaramu yang ingin ikut Ibu, tapi... ah, sudahlah, Nak. Ibu tahu, kau tak memerlukan restu binatang-binatang itu, bukan?"

Lelaki itu menggigil. Ia sungguh tidak mengerti dengan semuanya. Bahkan, ia pun tak tahu, apakah ia tengah bermimpi atau tidak. Kalaupun iya, alangkah panjangnya mimpi ini? Alangkah membingungkan dan menakutkannya mimpi ini? Atau... sebenarnya ia sudah mati. Seperti inikah alam sesudah hidup itu? Absurd, ganjil, aneh, asal-asalan. Tak ada sebab-akibat lagi! Sungguh, sungguh yang sebenar sungguh, lelaki itu sudah lelah dengan semuanya. Lelah yang sangat. Gila!!

"Mark, tolong tenangkan suamimu, ya," wanita itu menoleh pada sekuntum mawar raksasa di sampingnya, sebelum tersenyum tipis pada lelaki itu.

Aku suami dari Mark? Mawar raksasa itu? Mark-Mawar? Apa-apaan ini, Tuhan?

Mawar raksasa merapatkan kuntum hijau berdurinya pada lelaki itu, seolah-olah hendak memeluk lelaki itu, menenangkan suaminya.

Lelaki itu berteriak. Terus berteriak hingga tak ada lagi suara. Ia mempingsan-pingsankan diri. Memejam-mejamkan mata. Memaksa membunuh diri dan jiwanya dengan perasaan yang menghunjam-hunjam, yang tiada dipahaminya.

Para pasien lain dan orang-orang yang ada di sekitar ruang inap itu berkerumun di sana.

"Bukan salah kau, Mak."

"Lagi pula bukan kehendakmu tak pulang selama 20 tahun, kan, Mak?"

"Memangnya dia bisa merasakan susahnya mencari uang sebagai TKW!"

"Sudahlah, Mak. Tak ada dalam adat percintaan macam seperti itu."

"Bila anak bujangmu gila, mungkin itu balasannya, Mak."

"Sudahlah, Mak. Pulang saja. Anggap kau tak pernah beranak."

"Bukan!" bantahnya. Ia membelalak pada perempuan-perempuan yang seolah-olah peduli padanya dan anak lelakinya. Hampir saja ia tumpahkan beban yang menyesak itu. Namun ia bagai tersadar bahwa takkan ia katakan bahwa semua ini salah suaminya. Lelaki yang berulangkali menunggangi anak lelakinya yang kala itu masih belia di kebun mawar belakang rumah, ketika ia memeras keringat di Hong Kong. Perempuan itu mengutuk-ngutuk, sebelum menangis, meraung sejadi-jadinya, seperti orang gila.

Ada yang bersitatap; memastikan bahwa tak hanya ia sendiri yang berempati. Ada yang menunduk saja. Ada yang bermata-kaca. Tak ada yang berani menyanggah. Walaupun semuanya masih singup, namun mereka bagai dapat menyimpulkan; terlalu berat perkara itu untuk jadi bahan pergunjingan.... (*)

Lubuklinggau, Januari 2009 s.d. Januari 2010

Minggu, 04 April 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Lampung Post, Minggu, 4 April 2010








Julia, maafkan aku

baru kini aku kuasa memberitahumu

dalam kertas bergulung yang kurekat dengan

getah pohon mapel

sungguh, aku tak pernah mampu membuat puisi

-termasuk susunan kata-kata ini

yang mengantar surat ini

jauh lebih layak kaupanggil laki-laki puisi

cintailah Shakespear sebagaimana

kau pasrah disetubuhi

puisi-puisinya:

sandiwara-sandiwaranya

(Romeo, sebelum dipaksa menenggak racun itu)

Kembali ke Masa Depan

Di meja kayu yang terbuat dari bonggol beringin, gadis dengan syal biru pastel itu menyeracau pada pemuda yang duduk di hadapannya. Ia geram karena pemuda itu tak ingin mengajaknya jalan-jalan. Padahal ia tak minta diantar ke mana-mana. Tidak ke Italia, Jepang, atau Amerika. Ia hanya ingin kembali ke kampungnya yang kini tak lagi bernama. Tak lama, perempuan itu menyiramkan jus terong belanda di gelas kristal bertiang setinggi telunjuk ke laki-laki itu. Mungkin ia terlalu kesal. Namun, ajaib, pemuda itu malah bersimpuh dan mengucapkan sesuatu yang sangat diatur lenggok bahasanya. Oh, jangan-jangan ia sedang merayu. Dan tampaknya berhasil. Wajah gadis itu tiba-tiba merah ceri. Tak lama, mereka sudah berjalan bergandengan. Menyusuri jalan setapak yang dipagari krisan kuning yang berbaris dekat batu apung yang diserakkan di kiri-kanan jalan.

Ketika mereka pergi, kudekati meja kayu tempat mereka berselisih tadi. Betapa takjubnya aku ketika tempat duduk laki-laki tadi tiba-tiba menggeliat. Tak lama, terdengar suara dari situ.

"Aku tahu, Julia. Kau ingin kembali ke masa depan demi menyongsong kenangan itu. Namun, adakah yang kuasa membawamu selain puisiku."

Ah, pasti kursi itu menyadur rayuan Romeo tadi.

Laki-Laki Puisi itu Bukan Kekasihnya

Gadis itu mencangkung di sudut kamarnya. Ia mengeret selimut sampai ke sana. Sebenarnya bukan langit yang berkrayon gelap yang membuatnya menggigil. Namun karena telah dapat ia bayangkan, sebentar lagi bumi akan kuyup. O bukan juga! Bukan perihal hujan. Mungkin petir yang menyambar-nyambar. Blitz yang kadang-kadang dicorongkannya pada orang-orang yang tengah melamun-ria. Dia trauma. Pada suara gelegar langit, pada muntahan laut, pada gemeretak tanah, pada kumparan angin.... Ayahnya disambar petir ketika tengah memetik kelapa muda untuknya. Ibunya digulung tsunami ketika menyusur pantai di selatan kota. Adiknya ditimbun reruntuhan menara kastil ketika gempa. Kakaknya digulung puyuh yang datang tiba-tiba di siang lengang.

"Kenyataan pahit memang berserakan dalam hidupku. Namun, adakah yang mampu meluruhkan rindu?" katanya suatu waktu.

Tak lama, seorang laki-laki mengetuk pintu. Ia hampir saja melonjak kegirangan bila tak segera menyadari bahwa yang datang adalah bukanlah yang dinanti-nantikannya. Namun, ia tak ingin menampakkan keterkejutan. Gegas ia memeluk laki-laki itu. Menangis tersedu-sedan di balik punggungnya.

"Ada apa, Sayang? Mana satpam? Mana pembantu-pembantumu?"

Gadis itu masih menangis.

"Oh, keparat! Mereka makan gaji buta saja!"

Tangis itu makin pilu.

"Aku tahu cuaca sangat tak bersahabat. Namun, keinginanku untuk menghadiahimu sebuah puisi membuat semuanya tak berarti, Sayang." Laki-laki itu merenggangkan pelukan. Ia tatap mata perempuan itu lekat-lekat. "Sudahlah. Aku sudah membawa puisi untukmu...." Laki-laki itu menyeka air mata si gadis. Di tangan kirinya sebuah gulungan kertas digengam erat.

"Mengapa kau yang ke sini, Shakespear?" tanya gadis itu lirih, hampir tak terdengar.

"Maksudmu? Kau lebih mengharapkan Romeo?" Laki-laki itu mengernyitkan dahi. "Kau harus tahu, akulah yang membuat semua puisinya!"

"O ya?" Gadis itu mendongak dengan wajah diseri-serikan (ah, aktingnya begitu sempurna). "Kalau begitu, aku alihkan rindu itu padamu." Mata celik itu berbinar. "Takkan ada yang mengalahkan rinduku ini."

"Ya. Tapi, mengapa kau memertanyakan kepulanganku, Julia? Bukankah kau telah mendapatiku di sini?"

"Aku memang mendapatkanmu, tapi...." Gadis itu bagai bergumam.

Tiba-tiba laki-laki itu terhenyak. Gulungan kertas di tangannya terjatuh. Terdengar bunyi senak dari kerongkongan.

Gadis itu berbalik arah. Membuka pintu. Menerobos hujan yang bergumul dengan halilintar.

"Tapi kau telah membuatku kehilangan rindu itu...." Kali ini ia bercakap pada langit yang marah.

Telah Seberapa Kuyup Kau oleh Puisiku?

Aku akan datang kelak, gumam laki-laki itu.

Pada malam yang sangat dulu, gadis yang hendak ia sunting itu ditelan hujan lagi. Ia tahu sekali. Ya, dulu, Julia takluk oleh hujan yang ia guyur dalam kata-kata.

Awalnya adalah mendung. Lalu rinai. Deras. Hujan pun makin rimbun. Renyai. Ia ingat sekali. Kala itu Julia menelepon. Gadis itu mengungkapkan betapa ia merindukan laki-laki puisi. Ia ingin pemuda itu membacakan beberapa puisi untuknya.

Laki-laki itu tahu betapa bengkak tagihan telepon yang akan dibayar bila ia penuhi permintaan itu. Maka, ia merubah suaranya se-Romeo mungkin.

"Tutup telepon ini, Sayang. Keluarlah. Hitung hujan satu-satu. Lalu, ceritakan padaku. Telah seberapa kuyup engkau oleh puisiku...."

Bakda itu, gadis itu tak pernah menghubunginya lagi.

Laki-laki itu tak pernah tahu kalau Julia terus memintal rindu. Berhelai-helai rindu. Lalu menjahitnya. Kadang memayetnya di beberapa bagian. Setiap hari ia selalu mengenakannya.

Gadis itu ketakutan sendiri bila hujan turun. Ya, itu pertanda Romeo akan menyerangnya dengan puisi yang bertubi-tubi. Namun, itu tak akan pernah menamatkan rindunya. Hingga, Romeo menelepon bahwa ia akan pulang. Ia bilang akan melucuti pakaiannya di malam pertama perjumpaan mereka setelah hampir setahun tak bertemu. Dan gadis itu merasa kematian akan segera menyambanginya. Hayat rindunya akan segera khatam.

"Oh, takkan ada yang boleh mencurinya, merebutnya, apalagi melepas rindu itu dari tubuh yang sudah bersekutu dengan waktu."

Pelukan Berdarah

Mereka bilang: ketika puisi dihadiahkan, maka penulisnya tak ada lagi. Namun, sepertinya tak berlaku bagi Romeo. Ya, bila Julia mengeja larik yang bertipografi itu, tiba-tiba lidahnya mati. Ia tak menemukan kata-kata di sana, selain wajah seseorang yang melemparnya ke masa lalu. Maka, gegas ia berharap agar hari ini bumi tak lagi mandi. Namun, permintaannya tertolak. Hujan menggila. Merajam bumi tak alang kepalang. Suara seng berkereokan. Ia mencangkung di sudut kamar. Selimut yang dieretnya dari ranjang, menutupi kakinya hingga sebatas lutut.

Ia tangkupkan kedua tangannya di kaca jendela yang mulai berkabut. Ia tatap jalan setapak yang meliuk di taman krisan dekat rumah. Meja bonggol-beringin itu sudah berlubang di sana-sini. Entah, ia bagai mendapati gelas kristal yang dulu pernah ia tinggalkan di sana, kini bertengger dekat salah satu kaki kursi yang terbuat dari anyaman damar yang sudah mencokelat. Ia serta merta mundur beberapa langkah ketika kilat tiba-tiba menyilaukan pandangan.

Pintu diketuk. Ia sibakkan gorden. Ia ambil sebilah pisau di dapur. Ia selipkan di pinggangnya. Ia gegas menyambut laki-laki itu. Laki-laki puisi, itu yang dia harapkan datang.

....

Ia peluk laki-laki itu. Erat sekali. Ia menangis. Menangis karena rindu tak tertanggungkan. Rindu tak tepermanai. Ia ingat sekali, bakda diboyong dari taman krisan satu tahun lalu, ia dikurung olehnya, laki-laki puisi palsu itu. Anehnya laki-laki itu meninggalkan nomor telepon Romeo untuknya.

"Aku dapat saja memisahkan kalian, namun cinta adalah keajaiban yang tak boleh dihentikan, bukan?" Ia terbahak-bahak seraya memberi kode agar para pengawalnya menyeret Romeo keluar.

O ya, laki-laki itu juga membayar para profesional untuk mengawasi dan memenuhi kebutuhan Julia. Dari satpam, tukang antar makanan, tukang cuci, hingga tukang rias. Dan kemarin, telah ia kirim semua orang bayaran itu bertamasya ke langit. Ia benar-benar yakin, hari ini mereka menangis hingga awan tak kuasa menampung air mata mereka. Ya, mereka hendak mengadu pada sang tuan yang kini dipeluknya.

Tak lama, Julia merenggangkan pelukan. Setelah bercakap sedikit, mata laki-laki itu membelalak. Terhenyak. Sebilah pisau telah tertancap di dadanya yang tak bidang itu.

Perempuan itu pergi. Menerobos hujan. Merayakan kematian Shakespear. Merayakan rindu yang takkan pernah mati.

Percakapan di Liang Lahat

Oh, bila kejadian ini disaksikan oleh orang-orang yang memuja mereka, pasti banyak yang terhenyak.

Bukan! Bukan karena Julia memaki-maki Romeo yang membawa setangkai bunga matahari. Bukan pula karena terlampau kasar cercaannya. Tapi.... Ah, nantilah kalian akan tahu sendiri. Ini adalah satu dari cerita yang tak pernah diumumkan.

Ialah ketika pemuda itu menanyakan mengapa Julia tak membalas puisi yang dikirimnya malam itu. Julia balik bertanya, bukahkah Shakespearlah yang menulis semuanya.

"Apalagi ia juga yang mengantarnya," lanjutnya. "Takkah kau tahu betapa aku membenci Shakespear, hah?! Aku benar-benar lelah terus berpura-pura mencintaimu, Romeo."

"Berpura-pura?"

"Ya. Kupikir kaulah laki-laki puisi itu." Julia melipat kedua tangannya di dada.

"Shakespeare juga telah meracuniku sebelumnya, Julia," wajah Romeo itu tiba-tiba sayu.

"Dan si tua bangka itu telah terlebih dahulu berkoar pada dunia, bahwa kita mati karena cinta yang sejati, sehidup semati!" Dada Julia turun naik meredam sesak.

"Malam itu," bibir Romeo bergetar, "Aku hanya ingin berbagi, Julia. Dan aku tak cukup lelaki untuk mengutarakannya tanpa basa-basi. Ya, aku berharap, puisi tak membuatku lemah sebagai kekasih."

"Ja... ja... ja... di," Julia gagu, "Benar puisi itu kau yang menulisnya, Romeo?"

Romeo mengangguk. "Tapi aku tak layak menjadi laki-laki puisi sebagaimana kau bayangkan."

Hening.

"Malam itu, Shakespear memintaku menulis puisi untukmu. Hanya puisi yang malam itu. Selebihnya karya Shakespear." Romeo jujur. "Yang menyambut teleponmu di malam ketika kau merinduiku, pun Shakespeare..." Romeo tertunduk.

"Sudahlah. Kalaupun kau benar mencintaiku, tak demikian dengan aku. Mungkin bila kita diberi waktu hidup lebih lama, dunia akan tahu bahwa kita hanya diperbudak pengarang hebat itu untuk saling memuja."(*)

Lubuklinggau, 09 Februari 2010

Minggu, 20 Desember 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Naqiyyah Syam
Dimuat di Lampung post 09/03/2008



SALAT asar berjemaah baru saja usai. Senja mulai menjelang. Burung-burung beterbangan mengepakkan sayapnya, lalu dengan riang hingap di pohon akasia di dekat pintu gerbang. Langkah kuayun keluar masjid. Menuruni anak tangga demi anak tangga. Betapa terasa senja hari ini sangat indah, ada pelangi di ufuk barat setelah seharian Kota Medan diguyur hujan. Sambil menjinjing sandal, kuarahkan pandangan ke arah timur dekat pintu gerbang masuk masjid.

Seorang anak kecil berlari-lari gembira, tak jauh dari sana, seorang lelaki tegap dan seorang perempuan duduk di bawah pohon akasia yang rindang beralas koran, mungkin orang tua anak kecil tadi. Duuuh... Alangkah indahnya membentuk keluarga yang harmonis. Lamunanku jauh ke kampung halaman, menyeberangi pulau, Purwokerto. Kepada bapakku yang mulai tua tanpa Ibu yang melayani keperluan sehari-hari beliau, sejak dua tahun yang lalu. Ibu telah menghadap-Nya. Kepada kedua adik kembarku yang masih membutuhkan banyak biaya kuliah mereka di Yogyakarta. Ahh..

"Duuuh.. Gusti Allah, betapa, indahnya menikmati kesejukan di sore ini, apalagi bila telah memiliki keluarga seperti mereka yah?" Gumamku sendiri.

"Mau disemir, Pak?" tanya seorang bocah penunggu sepatu.

"Tidak," aku tersentak kaget dan menggeleng lemah.

Aku berlalu darinya. Beginilah bila pengangguran semakin banyak. Di depan masjid pun menjadi sasaran empuk mencari pekerjaan. Menjaga sandal dan sepatu, menyemir menjadi alternatif demi sesuap nasi. Kembali kuayun langkahku menuju pintu keluar Masjid Al-Mashum, Masjid Raya Kota Medan.

***

"Gimana, Mas Roso? Jadi menikahnya? Kapan?" Firman sahabat karibku bertanya. Kantin di ujung belakang kantor ini cukup ramai bila menjelang zuhur tiba. Aku dan Firman sedang menikmati makan siang.

"Sepertinya belum sekarang. Ditunda."

"Kenapa?"

"Nanti deh aku ceritakan, jangan di sini, tidak enak kedengaran orang," ujarku sambil berbisik.

"Trus bagaimana dengan Ira? Kamu kan sudah mengatakan pada keluarganya akan segera menikahinya?"

"Entahlah," aku menghela napas dengan berat. "Ahh Ira, maafkan aku yang telah menyakiti hatimu," desahku dalam hati.

Aku jadi teringat pada Ira. Gadis yang cerdas, manis, ceria dan ramah. Aku telah memilihnya untuk menjadi pendampingku kelak. Tekadku bulat. Tepat setahun aku mengenalnya. Kami bertemu dalam sebuah acara pertemuan seluruh PNS Pemda se-Sumatera Utara. Singkat cerita, aku memberanikan diri untuk mengutarakan niatku padanya, juga pada keluarganya, sebelum aku pulang ke Purwokerto, tempat keluarga besarku bermukim. Tak kuduga, tak kusangka. Cerita berganti menjadi prahara. Keluargaku kini mencegah. Padahal sebelumnya via telepon keluargaku setuju saja bila aku melamar Ira. Apa pun gadis pilihanku kelak.

Dunia seakan sempit. Dadaku terasa sesak. Keluarga besarku berbalik 90 derajat dari restu semula. Aku dihadapkan pada dua pilihan pelik. Aku terkapar dalam masalah keluarga. Klasik memang. Tapi penting. Tak jauh dari ekonomi dan budaya. Jawa-Sumatera. Ah, kenapa harus ada perbedaan? Kenapa harus ada benturan? Inikah balasan dari tak matangnya aku menyosialisasikan tentang pernikahan dini? Oh tidak, aku sudah 28 tahun! Bukan anak ABG, tapi...

Kepalaku terasa berat. "Wahai Zat Yang Maha Mengetahui, betapa hamba menjadi serbasalah," ratapku pada-Nya. Sejak kepulanganku dari Purwokerta. Acara pernikahan Mbak Sari. Aku semakin pusing. Bagaimana cara mengatakan pada Ira dan keluarganya. Haruskah aku jujur pada mereka? Pernikahan batal? Ohh Tuhan. Padahal, harapan itu sudah kutumpahkan pada Ira dan keluarganya, pada keluargaku, pada harapanku. Terasa beban ini mengimpit, diburu keinginan menggenapkan setengah din.

"Hei! Roso, Kamu melamun ya?" suara Firman menyadarkanku. Bahuku diguncangnya berkali-kali.

"Kalo masih capek, nggak usah cerita dulu deh. Makan dulu, melamun aja." aku tersenyum malu pada Firman.

***

"So, kamu sakit? Katanya mau curhat? Ayo cerita," suara Firman.

"Aku malu mengatakannya padamu, pada Ira dan keluarganya. Apa kalian bisa maklum dengan alasanku nanti?" ceritaku pada Firman di kosannya. Malam minggu begini, biasanya kami habiskan menonton acara di Metro TV atau berdiskusi hingga menjelang malam.

"Masalahnya apa? Kamu kan belum cerita padaku sejak kepulanganmu dari Purwokerto. Apa keluargamu tidak setuju?" tanya Firman sambil mendekatiku yang duduk di atas kasurnya. Kamar berukuran 3 x 3 meter ini terlihat sangat rapi, dengan sigap Ia menekan remote control mengecilkan volume TV ukuran 14 inc tepat berada di depanku.

"Pada awalnya, keluargaku setuju saja aku menikahi Ira, dari cerita-ceritaku, telah menyakinkan mereka, tapi sejak kedatangan bulek-bulekku dari Jakarta, pandangan mereka terhadap rencana pernikahanku mulai berbeda, apalagi dengan permasalahan dalam keluargaku."

"Terus bagaimana?"

"Aku sendiri bingung. Keluargaku meminta aku menunda pernikahanku dengan Ira, minimal dua tahun lagi."

"Astaga naga, lama sekali? Apa tidak ada solusi lain? Lama-lama begitu bisa disambar orang tuh," goda Firman. Aku tersenyum kecut, tidak menanggapi guyonannya.

"Eehh maaf, tapi apa emang itu alasannya? Boleh aku tahu ada apa sebenarnya? Itu pun kalo kamu nggak keberatan."

Pada Firman seorang akhirnya aku bercerita. Keluargaku sederhana. Ketika mendiang ibu masih ada di tengah kami, berbeda sekali. Ibu yang penuh semangat, ceria dan sangat disegani dari pihak keluarga. Perekonomian keluarga relatif stabil walau ada riak di sana-sini. Tapi, kami semua bisa mengenyam bangku kuliah. Tragedi bermula ketika ibu akhirnya divonis menderita stroke. Beliau menderita sekitar 5 tahun. Kami sekeluarga berusaha mengobati ibu ke mana-mana, tapi Tuhan berkehendak lain. Semua upaya telah dicoba. Dari dokter, pijat refleksi, ramuan tradisional hingga mandi rempah-rempah. Ah, bayangan ibu seakan menjelma menjadi nyata. Saat itu, apa pun kami lakukan untuk kesembuhan ibu. Dulu kami memiliki 3 toko kelontong terbesar di kotaku. Perlahan akhirnya dijual hingga tinggal satu toko kecil untuk menyambung hidup.

Tahun berganti. Mbak Sari sudah menjadi PNS, aku sudah diterima kerja di Medan, kedua adik kembarku sudah kuliah. Selama ini biaya kuliah adikku berasal dari Mbak Sari dan beberapa sokongan keluarga besar ibu. Apalah besarnya dari penghasilan toko kecil di sudut pasar yang dikelola bapak yang sudah mulai sakit-sakitan untuk biaya kuliah mereka juga perekonomian di rumah sehari-hari. Tapi aku bersyukur, keluargaku tak terlilit utang.

Niatku ingin menjaga diri, maka kuputuskan untuk segera menikah. Ibadah kan? Tapi inilah skenario-Nya. Aku terbentur dalam sebuah pilihan. Oh bagaimana? Mbak Sari baru saja menikah, otomatis biaya kuliah kedua adik kembarku ada di pundakku. Nanti bila aku menikah, tentu kebutuhan biaya hidup akan meningkat, bagaimana dengan biaya kuliah adikku?

"Fir, aku bingung! Nggak mungkin aku melepaskan cita-cita adik-adikku kan?"

"Apa sudah kamu diskusikan dengan Mbak Sari? Berbagi untuk membiayai mereka berdua misalnya?"

"Belum, aku tidak berani membebani Mbak Sari lagi."

"Kamu sudah memberitahu Ira?"

"Sudah"

"Bagaimana tanggapannya?" Aku hanya diam tak kuat menceritakan pada Firman bagaimana ekpresi Ira yang kecewa atas keputusanku.

"Aku prihatin dengan masalahmu. Sungguh. Tapi, percayalah kita menikah pasti dengan jodoh kita. Bila pun kamu dan Ira berjodoh, entah sekarang atau bahkan 10 tahun yang akan datang pasti akan bertemu. Tapi tentunya, pernikahan itu akan lebih baik bila disegerakan, asal jangan terburu-buru. Bukankah bernilai ibadah? Menggenapkan setengah din lo, tapi dipikir secara jernih, emang sih kondisi keluargamu perlu juga dipertimbangkan, tapi apa tidak ada jalan keluar yang lebih baik? Atau, mau mengambil jalan tengah?"

"Apa?"

"Kawin lari!" jawab Firman enteng. Aku melempar sebuah bantal tepat pada wajahnya. "Uuh, diajak serius malah bercanda!"

Ya, kuingat semua ini baru saja ikhtiar. Mencari istri ternyata tidak mudah yah? Apalagi untuk menikah secara cepat? Sepertinya aku harus banyak belajar dari pengalaman ini. Ternyata aku masih mentah bicara soal pernikahan.

***

Universitas Islam Indonesia (UII) hari ini cukup ramai, dipadati oleh beberapa mobil, motor, maupun angkutan umum. Prosesi wisuda baru saja berakhir. Kebahagiaan terpancar dari balik wajah manis berkerudung hijau lumut. Yanti. Ia berjalan dengan anggun berselimut kebaya, dan toga di kepalanya.

"Mas, fotokan Yanti sama Bapak di depan sana yah!" ujar Yanti menunjukkan papan nama UII di arah barat, kira-kira 500 meter dari kami berdiri.

"Ayoo.. berdiri yang rapi yah! Sip! Satu, dua, tiga!"

Klik, Aku memotret mereka, ada juga Mbak Sari bersama suami dan putranya, Bapak, Yanto dan Bulek Darmi beserta keluarganya. Aku tersenyum bahagia melihat kebahagiaan mereka.

Aku datang sendiri. Tanpa istri dan anak di sampingku. Menjelang usia 32 tahun aku memang masih lajang. Belum menikah. Ya keputusan telah kupilih. Aku melepaskan proses pernikahanku dengan Ira beberapa tahun yang lalu karena pertimbangan masalah keluarga. Apalagi soal dana persiapan pernikahan, biaya kuliah adik-adikku dan lokasi yang jauh. Tak mungkin memaksakan kondisi keluargaku untuk segera menikahkan aku dengan Ira.

Apa kabar Ira sekarang? Kurasa dia telah berumah tangga sejak pengunduran diriku. Aku tak berani mencari tahu lagi tentang keberadaannya. Biarlah aku yang mengalah. Tak apalah, demi kebahagiaan keluargaku dan keberhasilan kedua adik kembarku. Dan impianku akan segera kugenapkan. Aku akan segera menikah dalam waktu dekat ini. Penasaran siapa calonnya? Sttt masih rahasia.

Medan-Bengkulu, 20 Agustus 2004

(Ide cerita dari SMS tanggl 28 Desember 2003)
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Naqiyyah Syam
Dimuat di Lampung Post, 02/03/2008


TAHUN baru yang sepi. Ugh! Berkali-kali Fira mengeluh menyesali rencananya yang berantakan. Padahal akhir tahun 2006 begitu menyenangkan. Kumpul bersama Mama, Papa, Adik Fay dan Mbak Wulan pengasuh setianya. Namun, tahun ini? Akhir tahun 2007 yang menyedihkan! Hiks! Liburan semester I cuma di rumah aja! Papa dan mama ikut diklat sertifikasi guru di Wisma Haji Bandar Lampung. Mama guru SD dan papa guru SMP. Bayangkan, ditinggal sembilan hari! Huh sebelnya!

Tahun lalu, Fira bersama keluarga berkumpul merayakan tahun baru. Tepatnya sih bukan merayakan dengan pesta seperti orang biasanya, yang meniupkan terompet, main kembang api, atau lainnya, tapi diisi kumpul bersama keluarga, berdoa bersama agar tahun depan lebih baik lagi dan bersama-sama membuat rencana atau target prestasi di tahun baru. Namun, kini? Liburan dua minggu tidak jadi ke Jakarta! Padahal janji papa, kalau nilai Fira bagus akan jalan-jalan ke Ancol, eh malah di rumah aja dengan si kecil Fay yang baru TK nol besar, apa enaknya?

Si Fay enak, sebelum mama berangkat sudah ditinggali sekardus makanan ringan. Jajanannya banyak! Dimintain nggak boleh. Uh sebel deh!

"Kenapa sih Mama dan Papa mesti diklat barengan? Kan aku jadi korban." Fira mendengus kesal.

"Mbak Wulan!" teriak Fira. Ia baru saja bangun tidur. Kebiasaan jelek, kalau libur begini, pasti bangun kesiangan. Emang sih sudah salat subuh, tapi Fira tidak langsung bangun, apalagi terus mandi dan gosok gigi, Fira tidur lagi!

"Mbak di kamar mandi, lagi mandiin adik Fay!" teriak Mbak wulan. Kepalanya menyembul dari balik kamar mandi.

"Mbak..., Fira mau sarapan nich. Buatkan nasi goreng dong!" Teriak Fira lagi.

"Aduh, mbak lagi repot nih. Adik Fay baru mandi, belum makan juga. Atau makan nasi putih aja, Mbak sudah masakkan sayur asem dan ayam goreng, atau gimana kalo Fira buat sendiri aja yah?"

"Hah? Buat sendiri? Aku nggak bisa!" jawab Fira cepat.

"Ayo dicoba dulu, masak sih lupa resepnya, kan kita pernah buat bersama!" jawab Mbak Wulan. Kali ini Mbak Wulan sudah mengendong Adik Fay, keluar dari kamar mandi. Rambut Adik Fay basah. Adik Fay kedinginan. Badannya segera dilap dan memakai minyak kayu putih dan bedak.

"Tapi..ntar nggak enak, ah.. aku malas," rajuk Fira.

"Coba dulu, asyik lo masak sendiri itu," rayu Mbak Wulan. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Fira, siswa kelas IV SD itu menurut juga. Toh, tidak ada salahnya mencoba membuat nasi goreng. Kan pernah diajarkan Mama dan Mbak Wulan, sip deh! Fira mulai menjelajahi dapur yang selama ini jarang dijamahnya.

Fira mulai mempersiapkan bumbu-bumbunya. Emm, lagaknya seperti seorang koki profesional. Fira segera memakai celemek masak. Wih...asik juga bereksperimen di dapur yah. Oke, selanjutnya Fira mulai mengupas bawang merah, bawang putih, memetik satu tangkai cabai merah, menggilingnya halus bersama sedikit garam. Lalu menumisnya dengan sesendok mentega. Sreng! Terdengar suara mentega di wajan panas. Tak lama, tercium bau harum bumbunya.

"Wah, aku semakin lapar nih!" ujar Fira tambah semangat. Eit, hampir lupa, nasi putih mulai dituang perlahan ke atas wajan, lalu kecap dan sreng-sreng, Fira mulai mengaduknya perlahan-lahan. Nasi yang bercampur bumbu dibolak-balik agar bumbunya rata. Tidak berapa lama, jadi deh. Tapi biar lebih bergizi, Fira menggoreng telur ceplok mata sapi, kerupuk udang, mengiris timun dan tomat. Sip! Nasi goreng spesial ala Fira sudah siap!

"Mbak Wulan! Nasi gorengku sudah jadi lo!" teriak Fira bangga sambil membawa sepiring nasi goreng lengkap. Di meja makan ada dua piring lainnya. Mbak Wulan tersenyum sambil menyuapi Adik Pay yang sudah rapi.

"Wah Mbak Fira hebat," puji Mbak Wulan.

"Iya dong, koki Fira!" ujar Fira malu-malu.

"Adik mau coba nggak?" tawarnya pada Adik Fay.

"Mau dong, Adik juga mau coba masakan Mbak Fira, kalau enak, nanti kita buat restoran aja!" jawab Adik Fay. Fira dan Mbak Wulan tertawa. Fira bahagia sekali. Hari ini ia sudah bisa masak nasi goreng sendiri tanpa bantuan Mama atau Mbak Wulan.

"Nanti kalau Mama dan Papa pulang Fira mau kasih hadiah sepiring nasi goreng buatan Fira," janji Fira. Mbak Wulan dan Adik Fay mengangguk setuju. Ternyata, liburan kali ini tidak terlalu menyedihkan ya? ***


Lampung Timur, 2008
Minggu, 15 November 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Tary
Dimuat di Lampung post 09/25/2005

AKU meraba pisau lipat yang bergetar di saku bajuku. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, kulihat seorang perempuan sedang tidur pulas. Rambut berombaknya tergerai berantakan, matanya mengatup rapat, napasnya naik turun teratur dan daster merahnya tersingkap menampakkan kulit tubuhnya yang langsat.

Aku melihat jam. Pukul sembilan malam, hari kelima ayah bertugas ke luar kota. Di luar hujan. Rumah lengang. Hanya terdengar denging nyamuk dan suara air menetes dari celah-celah genting bocor. Besok ayah pulang. Dan aku tak mau kehilangan kesempatan seperti hari-hari kemarin. "Aku harus melakukannya malam ini!"

Pisau lipat itu semakin bergetar. Permukaannya berkilat tertimpa sinar lampu. Aku menoleh ke kiri ke kanan. Memastikan tidak ada siapa pun. Kutarik napas panjang, mengusir ragu yang tiba-tiba mengepung. Hati-hati kudorong pintu dan melangkah ke dalam kamar. Mataku berkilat mencermati tubuh perempuan itu. Aku tersenyum. "Malam ini kau akan mati di tanganku! Malam ini aku akan merebut ayah dari tanganmu!"

Aku maju beberapa langkah. Mendekati pembaringan perempuan yang tak menyadari maut tengah mengintainya. Setelah mengumpulkan keberanian dan kekuatan, aku mengangkat pisau lipatku tinggi-tinggi. Tepat di atas jantungnya, pisau itu kuhujamkan. Darah muncrat.

"Awww! Aduh! Kauuu!" Perempuan itu menjerit. Matanya mendelik menatapku.

Aku tak menunggu lama. Kutarik pisau lipat itu dari jantungnya, kembali kuangkat tinggi-tinggi dan kuhujamkan dengan kekuatan penuh. Dua kali! Tiga kali! Empat kali! Lima kali! Dan entah sampai berapa kali lagi pisau lipat itu menembus jantungnya. Hingga isi perut perempuan itu terburai. Darah menganak sungai membasahi sprei dan tubuhku sendiri terkulai. Terduduk di tepi pembaringan. Namun aku gembira. Dadaku berbunga-bunga. Setelah ini, tak ada lagi orang yang merenggut ayah dari sisiku. Setelah ini, aku bebas bercerita dan bermanja pada ayah seperti dulu. "Pergilah ke neraka, perempuan penghalang!"

***

"PEJAMKAN matamu Lini, malam sudah larut" suara ayah begitu lembut. Menyusupi gendang telingaku, meresapi kalbuku. Tapi, aku belum ingin memejamkan mata. Aku merajuk pada ayah. Minta didongengi kisah Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan.

"Kolokan sekali kau ini Lini. Kau sudah kelas tiga SD sekarang. Tak pantas mendengarkan dongeng lagi." Ayah menjentik hidungku gemas dan mulai mendongeng. Aku memejamkan mata. Menikmati alur dongeng yang sangat kusuka. Ketika ayah mengakhiri dongeng itu, aku minta diulang.

"Kenapa kau sangat menyukai dongeng itu, Lini?"

"Karena Jaka Tarub itu ayah dan Dewi Nawangwulan itu ibu. Bukankah ibu juga pergi ke langit ketika aku masih bayi?"

Ayah menghela napas berat. Matanya mendadak berkaca-kaca dan menatapku iba. Tangannya mengusap rambutku. "Tidurlah, Lini. Kau akan bertemu ibumu dalam mimpi. Besok malam, ayah akan mengulang dongeng kesukaanmu itu sebelum tidur."

"Besok, aku juga punya banyak cerita untuk ayah. Tentang teman-teman sekolahku yang nakal, tentang guruku yang tertidur di kelas dan mukanya ditutupi buku, tentang kucing belang piaraan kita, tentang nilai-nilai ulanganku yang selalu sembilan dan tentang mimpiku bertemu dengan ibu"

Ayah mengangguk-anggukkan kepala lalu membenamkan kepalaku dalam dadanya. Aku merapat. Memejamkan mata. Menikmati kembali rasa nyaman dan aman dalam pelukan ayah. Terlelap, tanpa penghalang. Malam ini aku benar-benar bahagia. Berhasil membunuh perempuan itu. Menyingkirkannya dari kehidupan ayah.

"Lini! Bangun kau! Jadi perempuan tak boleh pemalas!"

Gelegar suara itu membangunkan tidurku dengan paksa. Aku terperanjat, buru-buru bangkit dari pembaringan. Kukucek mataku. Mencari ayah yang semalam memelukku. Namun tak kutemukan. Di depan pembaringan berdiri perempuan itu. Daster merah, rambut berombak dan sepasang mata penuh ancaman! Bukankah perempuan itu sudah kubunuh semalam? Kenapa dia hidup lagi pagi ini?

"Heh! Cepat turun dari pembaringanmu! Lihat, jam berapa sekarang!? Kau tak boleh pergi ke sekolah sebelum semua urusan rumah beres!"

Aku melihat jam. Pukul lima pagi, udara teramat dingin. Tubuh kurusku menggigil. Kedinginan, ketakutan. Terseok-seok aku menuju dapur. Menjerang air, mencuci piring, menyapu lantai, mencuci pakaian. Perempuan itu mendengkur lagi. Baru terbangun ketika ayah mengetuk pintu. Rupanya ayah baru pulang dari luar kota.

"Dari sana jam berapa, Mas? Tumben sepagi ini sudah sampai? Aku siapkan air panas untuk mandi, ya? Biar capeknya cepat hilang. Setelah mandi, baru kupijit sambil tiduran. Oya, oleh-olehmu banyak sekali? Aduh, terima kasih. Mas baik sekali padaku. Kain tenun, cincin perak, cindera mata, kue-kue."

Perempuan itu terus berkicau. Membuka-buka tas ayah, mengeluarkan berbagai barang oleh-oleh dan menimang-nimang dengan mulut menyeringai. Kulihat ayah tersenyum, mengangguk dan sesekali menguap karena ngantuk dan mungkin kecapekan. Sebenarnya, aku butuh tanda tangan ayah di rapor pagi ini. Tapi, ayah seperti tak melihatku. Aku ada di dekatnya, tapi seperti tiada. "Ah, besok saja aku minta tanda tangan ayah. Belum terlambat jika kutunda sehari."

Aku segera mengenakan kaus kaki dan sepatu. Menyambar tas sekolah dan bersiap berangkat. Ketika hendak berpamitan, perempuan itu sibuk memeluk pinggang ayah dan membimbingnya ke kamar.

Dadaku berdesir. Gigiku gemeletuk menahan marah. Tiba-tiba pisau lipat di saku baju merahku kembali bergetar. "Kau boleh hidup lagi pagi ini, tapi malam nanti pisau lipatku tak akan membiarkanmu hidup!"

Aku berbalik. Berlari sekencang-kencangnya meninggalkan halaman. Pisau lipat di saku bajuku semakin bergetar. Tak sabar menunggu pagi berganti malam. Waktu yang selalu kutunggu untuk menyingkirkan perempuan penghalang itu dari sisi ayahku.

***

KOMPLEK pemakaman itu ada di pinggir jalan. Selama lima tahun melewati kawasan itu, setiap pagi dan sore dalam perjalanan pulang pergi ke kantor, tak ada yang menarik perhatian Rayan. Hamparan nisan yang sunyi, orang-orang berziarah, penggali kubur yang sibuk dengan liang lahat, kerumunan orang yang mengubur kerabatnya juga sepasang suami istri penjual bunga di pintu pemakaman. Semua biasa-biasa saja. Tak ada yang istemewa.

Tapi, sebulan terakhir ini Rayan melihat sesuatu yang berbeda dari biasanya. Yang membuat ia sengaja melambatkan laju mobilnya setiap melintasi komplek pemakaman. Seorang gadis bersimpuh khidmat di depan sebuah pusara setiap pagi atau sore hari. Kalau Rayan tidak melihat gadis itu mengunjungi pemakaman pada pagi hari, maka sore harinya gadis itu pasti berada di sana. Raut wajahnya tak begitu jelas. Hanya sosoknya yang semampai dan terbalut baju panjang terlihat anggun. Membuat Rayan penasaran.

"Makam siapa yang berada di ujung sana, Pak?"

Lelaki tua penjaga makam itu mengerutkan dahi. Seperti mengingat-ingat. Lalu menatap Rayan dengan wajah menyelidik. Siang bolong begini mengunjungi makam hanya untuk bertanya. Siapa yang tak merasa aneh? Rayan mengalihkan pandangan. Jengah.

"Makam Pak Suardi, pensiunan pejabat kabupaten. Mas kenal beliau?"

Rayan menggeleng. "Kalau gadis yang setiap pagi dan sore mengunjungi makam itu, putrinya?"

"Mungkin saja. Kurasa gadis itu gila. Setiap hari pergi ke kuburan hanya untuk ngobrol dengan nisan. Raut muka orang kalau pergi ke kuburan biasanya sedih, bukan? Tapi gadis itu malah tersenyum-senyum senang. Seperti habis bertamu ke rumah orang yang masih hidup saja." Rayan tertegun. Semakin penasaran.

"Kalau tak percaya, Mas lihat saja sendiri nanti sore. Pagi ini dia tak datang. Sayang ya, cantik-cantik gila. "Lelaki tua itu menggeleng-gelengkan kepala. "Saya kerja dulu Mas, pagar depan makam rusak dan harus saya ganti. Mari."

Setelah mengucapkan terima kasih, Rayan mempersilakan lelaki tua itu pergi.

Kepalanya dipenuhi beribu tanya ketika kembali ke kantor. Siapa sebenarnya gadis itu? Apa benar dia gila? Kasihan sekali kalau benar demikian. Rayan menggaruk kepalanya. Sosoknya yang semampai dan cara berpakaiannya yang anggun membayang di pelupuk matanya. Ah, kenapa ia menjadi begitu perhatian pada gadis itu? Kenal juga tidak. Apa perdulinya?

Tapi Rayan memang perduli pada gadis itu.

Suatu sore, ia memutuskan untuk membuntuti gadis itu dengan pura-pura berziarah ke makam di sebelah gadis itu bersimpuh. Sambil menabur bunga, Rayan memasang telinga. Ia belum berani menatap langsung wajah gadis itu.

"Ayah, bagaimana kabarmu sore ini? Aku punya kabar gembira untuk Ayah."

Gadis itu tertawa kecil lalu menggeser duduknya. Jemari tangannya mengelus nisan. Rayan pura-pura khusuk berdoa ketika gadis itu memandangnya sekilas.

"Kemarin, sepulang dari sini aku dapat kabar melalui telepon. Novelku akan diterbitkan! Dan Ayah tahu nggak siapa tokoh dalam novel itu? Nggak tahu, kan? Tokoh dalam novel itu adalah ayah! Ha ha ha"

"Tapi jangan khawatir, aku menuliskan yang bagus-bagus tentang ayah. Padahal ayah terkadang menyebalkan juga. Ayah suka pura-pura mendengkur di telingaku, suka mengganggu tidurku dini hari dan suka memelukku di depan teman-teman sekolah. Membuatku malu. Huh!"

Rayan sibuk mencabuti rumput ketika gadis itu menghentikan kata-katanya.

"Ayah, aku senang kita bisa bicara lagi seperti ini tanpa penghalang. Tapi aku tak punya waktu banyak sore ini. Aku harus menyelesaikan beberapa tulisan. Sampai besok ayah"

Gadis itu beranjak setelah mencium nisan. Rayan memberanikan diri mengangkat wajah, menatap gadis itu. Kulitnya langsat, matanya sendu dan wajahnya dingin tanpa senyum. Baju panjangnya berkibar tertiup angin pekuburan. Mendadak Rayan tersentak.

"Lini! Kaukah ini?"

Gadis itu berbalik mendengar namanya dipanggil. Kilasan masa silam berputar di benak Rayan. Lini adalah cinta pertamanya semasa SMA. Gadis yang sangat tertekan oleh perlakuan buruk ibu tirinya. Ibu kandungnya meninggal ketika Lini bayi dan ia kehilangan ayahnya setelah kehadiran ibu tiri. Sejak itu, Lini selalu mengantongi pisau lipat dan berkhayal membunuh ibu tirinya setiap malam. Dengan khayalan itu Lini bertahan hidup.

Hanya pada Rayan ia membagi beban. Hanya dengan Rayan, Lini bisa sedikit tersenyum. Sampai bangku kuliah memisahkan mereka. Kabar terakhir yang didengar Rayan, Lini menjadi penulis dan menetap di Jakarta. Tapi, kenapa Lini sekarang berada di kota ini?

"Apa kabar? Kau ada di kota ini?" tanya Rayan gugup. Ia tak menduga akan bertemu kembali dengan Lini. Gadis yang masih terus bercokol dalam hatinya.

Lini menatap nisan ayahnya.

"Ya. Aku bahagia bisa ngobrol lagi dengan ayah. Sekarang aku memiliki ayah seutuhnya tanpa harus takut orang lain merampasnya dari sisiku."

Rayan mengerutkan dahi. Tak mengerti.

"Kau ingat pisau lipatku dulu, Rayan?" Lini merunduk dan meraba permukaan tanah beberapa jengkal di samping pusara. "Aku menguburkan pisau lipat itu di sini. Aku tidak perlu berkhayal membunuh lagi untuk bisa ngobrol dengan ayah."

"Tapi Lini, bagaimana mungkin kau ngobrol dengan..."

"Orang-orang menganggapku gila," sahut Lini sambil tertawa kecil, "Mereka tidak tahu bahwa aku benar-benar ngobrol dengan ayah. Bahkan ayah selalu menunggu kedatanganku. Mengajakku bicara dan bercanda."

Angin senja yang lembab berhembus. Dingin. Sedingin wajah Lini yang berlalu tanpa senyum. Bulu kuduk Rayan berdiri. Keharuan, kengerian dan rasa prihatin menjalari dadanya. Namun ia tak kuasa mencegah langkah Lini yang terus menjauh. Meninggalkan penggalan episode hidup yang buram.

Jakarta, 140905, 22.30
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Tary
Dimuat di Lampung post 15/05/2005

KESUNYIAN yang parah menyergap perasaanku. Hampir separuh malam termangu di depan monitor kosong. Belum ada sepatah kata pun muncul di sana. Bulan empat belas tersenyum di jendela. Angin malam menggesek daun-daun bambu. Menimbulkan suara kemerisik, bersaing dengan gemerincik air sungai di bawah jendela. Sesekali burung malam singgah di dahan pohon tertinggi. Menyenandungkan lagu yang bagi sebagian orang menakutkan. Tapi, semua itu tak mampu menyemburkan ribuan kata yang mengendap dalam otak. Sejak kabar itu tersiar, tanganku seolah terkulai ketika menyentuh deretan tombol keyboard komputer.

Haruskah aku menyesali pertemuan kita di lantai gedung itu? Awalnya, aku tak percaya pada penglihatanku. Kau duduk di antara peserta diskusi dan membolak-balik buku ber-cover biru yang sebagian besar berkisah tentang kita. Ruapan masa lalu yang masih tersimpan dalam kenangan. Dari kursi pembicara, sesekali aku mencuri pandang ke arah kursimu. Dan kurasa, kau pun melakukan hal yang sama. Hingga konsentrasiku berantakan.

"Tolong, tuliskan sedikit kata-kata di samping tanda tangan," kau berkata lirih sambil menyodorkan buku untuk kutandatangani.

Aku menyimpan bukumu untuk kutandatangani paling akhir. Para penikmat buku bertanya ini itu tentang proses kreatif penulisan novel itu. Beberapa teman penulis muncul silih berganti. Menjabat tangan, mengucapkan selamat. Ya, malam ini memang sedang berlangsung launching novel perdanaku yang berjudul "Perempuan Kenangan".

"Aku senang melihatmu berada di sini," ujarku setelah terbebas dari permintaan tanda tangan dan teman-teman. Tak kupedulikan beberapa seniman yang menggebrak panggung. Membacakan puisi, cerpen, dan cuplikan novelku. Kuseret kau ke pojok ruangan yang agak sepi.

Dalam terpaan lampu panggung yang temaram, kau tersenyum manis. Masih seperti tujuh tahun lalu. Matamu yang sendu buru-buru membuang pandang setiap kali bertubrukan dengan mataku. Samar-samar kedua pipimu merona. Membuat siapa pun mabuk kepayang ketika menatapnya.

"Perempuan Kenangan. Kau bergumam seraya membolak-balik novel di tanganmu. Aku suka judul novelmu."

"Terima kasih. Harusnya aku berdiskusi denganmu sebelum menerbitkan novel perdana ini. Karena hampir semua berkisah tentang kita."

"Tanpa diskusi denganku, novel ini terbit juga, kan?" sindirmu halus.

"Aku kehilangan kontakmu."

"Aku memang tak pernah menetap di satu alamat. Kecuali setahun terakhir, aku memutuskan pulang ke Lampung."

"Benarkah?"

Engkau mengangguk. Kutatap jari lentikmu yang sibuk menepikan anak rambut di dahi. Aku terkesiap menatap jepit dari anyaman bambu yang menghiasi rambut panjangmu. Jepit itu kubelikan untukmu ketika kita mondar-mandir di sepanjang Malioboro. Seperti kaset video yang diputar ulang. Aku menemukan gambarku dalam episode masa lalu yang menakjubkan bersamamu. Sejuknya Kaliurang, eksotisnya Tamansari, romantisnya Parangtritis dan ramahnya Malioboro.

"Kau masih tinggal di rumah kontrakan yang dulu atau sudah pulang ke Sosrowijayan?" pertanyaanmu meluruhkan lamunanku.

"Masih tinggal di rumah kontrakan. Hanya pindah agak menepi dari keramaian kota. Kau sendiri, sepertinya mulai betah tinggal di Lampung?"

Senyummu seketika menghilang. "Ibu sakit-sakitan dan memerlukanku."

Aku kaget. Tanpa sadar kujangkau bahumu dan kuelus lembut. Seolah ingin mengalirkan kekuatan padamu seperti dulu ketika kau bersedih. Kita saling berpandangan lama. Jika saja pengunjung gedung itu tahu, mata kita saling memancarkan kerinduan yang sangat lama terperam.

Anganku kembali melompat ke masa lalu. Saat itu kita masih anak kuliahan. Aku mengenalmu di salah satu acara festival seni. Berlatar belakang sama dari sebuah keluarga broken home dan memiliki minat yang sama terhadap seni, keakraban kita melesat cepat. Aku mengagumi keluwesan tubuhmu membawakan tari-tari klasik di setiap pentas. Demikian juga kau yang tak pernah melewatkan tulisan-tulisanku di setiap media. Hampir setiap malam minggu kau menghabiskan waktu bersamaku. Bahkan terkadang menginap bermalam-malam di kamar kontrakanku.

Saat liburan semester tiba, kau sering mengajakku berkunjung ke kota kelahiranmu, Lampung. Kau perkenalkan aku dengan ayah tirimu. Lelaki kurang ajar yang telah merenggut kehormatanmu semasa remaja. Atau sebaliknya, kuajak kau mengunjungi keluargaku di Sosrowijayan. Kuperkenalkan kau dengan ibu tiriku. Perempuan sundal berlidah belati yang membuatku sering dipukuli ayah semasa kanak-kanak. Tidak ada yang mencurigai kedekatan kita. Meskipun diam-diam tumbuh perasaan saling menyayangi seperti layaknya sepasang kekasih. Kita sama-sama terluka ketika jarak kemudian memisahkan. Kau berkelana ke berbagai negara dengan tarian-tarian klasikmu sebagai duta budaya. Sementara aku menyepi di sebuah rumah kontrakan bercat putih di tepi sungai untuk menyelami dunia imajinasi. Tahun pertama berpisah, kuterima suratmu dari alamat yang berbeda-beda. Namun, tahun-tahun berikutnya kau berhenti berkirim surat dan aku kehilangan kontak.

"Oke, aku pergi dulu," katamu sambil memasukkan buku Perempuan Kenangan ke dalam tas berwarna merah muda.

"Kenapa terburu-buru? Tidak ingin nonton musikalisasi puisi?"

Kau menggeleng dan mengulurkan tangan, "Aku ada perlu."

Kutangkap tanganmu dan kugenggam erat. Kau belum mengatakan di mana menginap. Sebenarnya aku ingin bercerita banyak hal denganmu.

"Kalau kau mau, kita bertemu di jantung kota besok malam," jawabmu seraya pergi menjauh.

Aku melambaikan tangan sebelum kembali bergabung dengan teman-teman penulis di deretan kursi depan. Pikiranku berantakan ketika seorang kawan membawakan musikalisasi puisi. Aku lebih suka melamunkan pertemuanku esok malam denganmu di jantung kota.

***

Kau menepati janji. Bahkan sebelum malam datang kau sudah duduk menunggu di sebuah bangku beton depan benteng Vredeburg. Lampu-lampu antik jantung kota mulai menyala ketika aku menghampirimu. Senja ini kau kelihatan istimewa. Blouse putih tulang berpadu serasi dengan rok batik klasik. Seklasik wajahmu yang cantik. Rambutmu yang tergerai dihiasi jepit anyaman bambu kau biarkan dipermainkan angin. Hampir saja tanganku bergerak untuk membelai kalau tidak ingat banyak orang lalu-lalang di sepanjang trotoar.

"Aku selalu merindukan kota ini," gumammu seraya menatap mataku.

"Juga aku?" aku menantang tatapanmu.

"Tentu saja. Aku selalu ingin menyusuri setiap jengkal kota ini bersamamu. Kau ingat, bukan? Di dalam benteng Vredeburg itulah kita berkenalan."

"Kita sama-sama mengagumi sebuah lukisan di expo Festival Kesenian Yogya."

Kau mengangguk, tersenyum. Pijaran rindu yang terperam lama kemudian mendorong tanganku untuk meraih jemarimu dan menggenggamnya erat. Ketika malam hadir di jantung kota, kita berjalan berdampingan menyusuri sepanjang sisi jalan Malioboro. Menikmati nasi gudeg lesehan kesukaanmu sambil mendengarkan pemusik jalanan membawakan lagu "Sepasang Mata Bola".

Ternyata kerinduan kita belum usai. Lewat tengah malam kita masih berjalan menyusuri trotoar-trotoar penuh kenangan lalu mencegat taksi yang kemudian mengantarkan kita bergulingan di atas pasir Parangtritis. Menertawakan pasangan-pasangan yang bercinta di balik semak dan menikmati redup sinar bulan sambil mengunyah sebungkus kacang goreng. Di sebuah penginapan, kerinduan kita mengalir deras bak air bah yang menenggelamkan sebuah kota. Terengah-engah kita mencoba berenang ke tepian, namun tak kuasa. Atau mungkin, kita memang lebih suka membiarkan diri tenggelam dalam air bah itu berdua.

"Aku mencintaimu," bisikmu setelah amuk air bah itu surut.

Kuraih tubuhmu dan kubisikkan sebuah jawaban, "Aku tak ingin kehilanganmu."

Lalu kita terseret mimpi. Terlempar ke sebuah labirin yang lengang. Genggaman tangan kita terlepas. Kau menghilang di ujung kelokan gelap. Aku berteriak-teriak memanggil namamu. Mencari-cari di dalam labirin. Namun tak kutemukan wajah klasikmu.

"Di mana kau? Aku tak mau kehilanganmu."

Celah jendela memberiku sedikit cahaya matahari pagi. Aku terperanjat mendapati kau tak lagi di sampingku. Pintu kamar penginapan masih tertutup rapat. Tas merah muda, sepatu, dan pakaian yang semalam tercecer di lantai, raib entah ke mana. Hanya jepit rambut anyamam bambu yang tertinggal di meja kamar. Bergegas kukenakan pakaian dan kusambar jepit anyaman bambu. Kutanyakan pada orang-orang apakah mereka melihatmu. Tapi tak satu pun dari mereka berjumpa denganmu, bahkan petugas penginapan pun tak tahu kemana pergimu. Kenapa kau pergi tanpa pamit? Bukankah sudah kukatakan aku tak mau kehilanganmu? Apa kau tidak memercayai kata-kataku? Sampai matahari sepenggalah, aku masih berteriak-teriak memanggil namamu di sepanjang pantai.

***

Perempuan kenangan. Sejak pertemuan itu kau memang hanya menjadi kenangan. Pergi tanpa pamit. Hilang tanpa jejak. Meninggalkan aku yang masih menyimpan luka rindu tak terperi. Wajah cantikmu yang klasik, kelembutanmu yang memabukkan dan perhatianmu yang meluluhkan. Menoreh kenangan tersendiri bagi orang-orang yang mengenalmu. Terlebih bagiku yang mencintaimu dalam jalinan terlarang. Sampai kemudian, siang itu aku membaca sebuah berita di koran. Tentang seorang perempuan yang mati bunuh diri minum racun serangga menjelang pernikahannya. Diduga perempuan itu bunuh diri karena tidak bisa menerima lelaki yang disodorkan orangtuanya.

"Alasan klise untuk mati," batinku. Tapi kemudian aku terperanjat ketika beberapa teman berseru seraya menunjuk foto di berita itu.

"Mbak Karin, bukankah dia, Indah, sahabat dekatmu?"

"Benar Karin. Lihat! Inisialnya In, penari dan tinggal di Lampung!"

"Ya ampun, Karin! Kenapa sahabatmu sampai bunuh diri, begitu?"

"Kasihan sekali."

Mataku berubah gelap bersama lenyapnya bayanganmu.

Seminggu setelah berita kematianmu di koran, aku menyusuri setiap jengkal Yogya untuk mengais kenangan kita. Baru setelah letih menjalari kaki, aku mengenangmu dengan cara lain. Mencoba menuliskanmu dalam lembar-lembar cerita fiksi. Tapi, hampir separuh malam ini, aku hanya duduk di depan monitor kosong. Otakku tak mampu menyemburkan kata-kata. Pikiranku terus ngelangut dan perasaanku disergap kesunyian yang semakin parah. ***

Utan Kayu, 02.05.05