
SEBELUM daun milik nenek gugur, nenek pernah bercerita perihal sebuah pohon yang tumbuh di tengah alun-alun kota. Kata nenek, pohon itu telah ada sejak ratusan atau mungkin ribuan tahun lalu.
Tak ada yang tahu persis, kapan dan bagaimana pohon itu tumbuh. Sewaktu nenek kecil, pohon itu sudah menjulang meneduhi alun-alun kota, serupa payung raksasa. Menilik kokohnya, tampaknya akarnya telah menancap jauh ke kedalaman bumi. Batangnya pun tampak seperti lengan lelaki yang kuat dan penuh urat. Dahan dan ranting berjabar serupa jari-jemari yang lentik. Dedaunnya lebar serupa wajah-wajah yang tengah tersenyum dalam keabadian.
Kata nenek, kehidupan setiap penduduk di kota ini tersemat di tiap daun yang bertengger di cabang, ranting, dan tangkai pohon itu. Setiap kali ada satu daun yang gugur, artinya seseorang di kota ini telah lepas dari kehidupan. Satu daun artinya satu kehidupan, begitu kisah nenek.
***
Suatu ketika, aku pernah mendesak nenek untuk mengantarku ke alun-alun kota, untuk melihat langsung pohon itu. Tentu saja tanpa sepengetahuan ibu. Karena, kalau ibu tahu pasti ibu tak akan mengizinkan. Diam-diam kami pun berangkat, pelan-pelan aku menuntun nenek yang jalannya sudah tidak tegap lagi. Jarak antara rumah dan alun-alun kota sebenarnya tidak terlalu jauh. Kami cukup naik angkutan umum satu kali, tak sampai setengah jam kami sudah sampai.
Begitu sampai di alun-alun kota, nenek langsung mengajakku ke pusat alun-alun, tempat di mana pohon itu berada. Kami berteduh di bawahnya, nenek duduk dengan napasnya yang terdengar ngik-ngik. Kepala nenek mengadah ke atas. Aku pun menirukannya.
“Banyak sekali misteri dan kehidupan di atas sana,” gumam nenek.
Lelah menengadahkan kepala, aku pun menunduk. Tampak daun-daun kering berserakkan di mana-mana, sebagian terinjak-injak oleh kakiku.
“Nek,” aku menjawil lengan nenek.
“Ya?”
“Apakah daun-daun kering yang berserakkan di bawah ini adalah jasad orang-orang yang sudah mati?”
“Ya, daun-daun itu adalah jasad tilas mereka dari pohon kehidupan.”
“Berarti jasad tilas ayah ada di antara daun-daun kering itu?”
“Mungkin. Tapi nenek kira, kini, jasad ayahmu sudah menyatu kembali dengan tanah.”
“Nek,”
“Ya?”
“Mengapa daun-daun kering itu tidak dibersihkan atau dibakar saja.”
“Tak perlu, lambat laun mereka juga akan kembali ke muasalnya, tanah, melebur menjadi tanah. Dari tanah kembali ke tanah.”
Kepalaku kembali menengadah, “Kalau daun-daun kemuning yang ada di atas sana itu siapa?”
“Mereka adalah orang-orang tua yang masih hidup di kota ini, mereka-mereka yang sudah lama bertengger di atas pohon kehidupan.”
“Apakah mereka akan segera gugur.”
“Tentu saja, Nak. Gugur adalah takdir mereka.”
“Apa Nenek ada di antara salah satu daun kemuning yang ada di atas sana, yang siap gugur itu?”
“Nenek tak tahu. Itu rahasia yang di atas, tak seorang pun berhak tahu.”
Aku terus menengadahkan kepala, mencari-cari di mana letak daun milik nenek, milikku, dan juga milik ibu.
“Nek,”
“Ya?”
“Tunas-tunas daun yang tersemat di pucuk pohon itu, pasti adalah bayi-bayi yang baru lahir di kota ini, ya, kan?”
“Ya. Benar, memang kenapa?”
“Berarti, sekarang, aku berada di antara daun-daun muda yang bertengger di atas sana?”
“Ya. Tentu saja.”
“Artinya, masa gugurku masih sangat lama, ya, Nek?”
Nenek mengernyitkan dahi, “Siapa bilang? Setiap lembar daun kehidupan yang ada di atas sana adalah rahasia. Tak ada seorang pun yang tahu. Gugur adalah hak semua daun, dari yang kemuning, yang masih segar dan hijau, bahkan yang masih tunas pun bisa saja patah dan gugur.”
Aku terdiam. Mencerna kata-kata nenek.
***
Sepulang dari alun-alun kota, nenek mengeluhkan kaki tuanya yang keram. Beberapa hari berikutnya nenek terbaring sakit. Ibu menyebut penyakit nenek dengan ‘penyakit orang tua’. Musabab itulah ibu tidak memarahiku ketika kukatakan, bahwa sebenarnya akulah yang menyebabkan nenek sakit. Kian hari penyakit nenek kian parah. Tubuh nenek mati separuh. Tak bisa digerakkan. Nenek berak dan buang air kecil pun di tempat. Dengan sabar ibu mengurusinya. Barangkali memang itu kewajiban seorang anak. Ketika ibu masih bayi, pasti nenek juga melakukan hal yang sama.
Kian hari tubuh nenek kian kering. Bahkan ia sudah tidak sanggup lagi bicara. Saat itu aku benar-benar takut. Takut ditinggalkan nenek. Takut kehilangan nenek. Tiba-tiba aku teringat pohon itu. Daun-daun kemuning itu. Tanpa izin ibu aku beringsut pergi menuju alun-alun kota. Aku berdiri di bawah pohon itu dengan kepala tengadah. Berjaga-jaga jika sewaktu-waktu sebuah daun gugur dari sana. Tapi tidak, detik itu aku tak ingin ada satu daun pun gugur dari sana. Tapi seperti kata nenek, daun-daun di atas sana adalah rahasia. Tak seorangpun berhak tahu atas rahasia itu.
Berjam-jam aku berdiri di bawah pohon itu. Tak tampak satu daun pun yang gugur. Nenek hanya sakit tua biasa. Ia akan segera sembuh, bisikku dalam hati. Ketika aku beranjak pergi meninggalkan pohon itu, tiba-tiba angin berhembus. Sekilas hembus. Beberapa daun dari pohon itu melayang-layang di udara dan akhirnya rebah di tanah. Aku terdiam menyaksikannya, lalu pergi dengan rahasia yang masih mengepul kepala.
Sampai di rumah, tiba-tiba ibu memelukku dengan isakkan lirih, “Nenekmu sudah pergi”.
Bujur tubuh nenek mengingatkanku pada daun kemuning yang rebah di tanah, di alun-alun kota beberapa saat lalu.
***
Seiring usia, masa kecilku hilang dilalap masa. Sebagai remaja yang bebas, aku pun merantau dari kota ke kota. Satu hal yang kemudian kusadari, setiap kota yang kusinggahi selalu memiliki pohon besar yang tumbuh menjulang di alun-alunnya. Hal itu mengingatkanku pada cerita nenek tentang pohon kehidupan di alun-alun kotaku. Namun, geliat zaman menyulap cerita itu menjadi cerita picisan yang sulit untuk dipercaya.
Setiap manusia pasti akan pergi ke muasalnya. Tak ada hubungannya dengan pohon dan daun-daun. Tapi entahlah, hati kecilku selalu mengatakan bahwa cerita nenek itu benar adanya. Aku jadi bertanya-tanya, apakah setiap pohon yang ada di alun-alun kota adalah pohon kehidupan yang menyimpan rahasia kehidupan setiap penduduknya? Entahlah, kukira itu juga sebuah rahasia.
***
Meski hidup dalam rantauan, aku selalu pulang ke kota ibu, kota lahirku, paling tidak setahun sekali. Setiap lebaran fitri. Dan benar, setiap tahun, alun-alun kotaku selalu mengalami perubahan. Taman, bangku-bangku, air mancur, bahkan kini di sisi-sisi jalan sudah ditanami ruko-ruko berderet. Mulai dari pengamen, pengemis, topeng monyet, penjual tahu petis keliling, bahkan tante-tante menor, semua tumplek blek di alun-alun kota. Satu-satunya hal yang tidak berubah adalah pohon itu. Pohon itu masih tampak kokoh dari waktu ke waktu. Setiap aku melihat pohon itu, rol film dalam kepalaku kembali berputar, menayangkan bocah kecil dan neneknya yang tengah asyik berbincang tentang kehidupan di bawahnya.
Tahun berlalu-lalang seperti manusia-manusia yang datang dan pergi di alun-alun kota. Kian tahun, pohon itu kian rimbun, penduduk kota kian merebak. Namun entahlah, daun-daun yang bertengger di pohon itu tampak kusam dan menghitam, warna hijau seperti pudar perlahan. Barangkali kian waktu kian banyak serangga dan hama yang hinggap di sana. Membuat sarang, mencari makan, membuang kotoran dan beranak pinak di sana. Aku jadi bertanya-tanya, apakah itu artinya, para manusia yang hidup di kota ini juga terserang hama? Entahlah.
***
Aku tak pernah menyalahkan waktu, tapi memang banyak sekali hal berubah oleh waktu. Kudengar dari ibu, kini, kota kelahiranku telah jauh berubah. Kian waktu, pepohonan kian habis. Sawah-sawah mulai ditumbuhi rumah-rumah. Tempat ibadah kian melompong. Muda-mudi lebih suka keluyuran ke mall dan bioskop-bioskop. Gadis-gadis, kini tak sungkan lagi mengenakan pakaian setengah jadi. Para bujang pun lebih suka bergerombol di pinggir-pinggir jalan ditemani botol, kartu, dan gitar. Gadis hamil diluar nikah menjadi kabar biasa. Merentet kemudian, banyak ditemukan bayi-bayi dibuang di jalan. Sengketa dan pembunuhan merajalela.
Barangkali orang-orang di kotaku memang sudah terserang hama. Seperti daun-daun di pohon kehidupan yang kian kusam di alun-alun kota. Berkali-kali ibu menggumamkan syukur, aku menjadi seorang perantau yang merekam berbagai pohon kehidupan, tanpa melupakan kenangan.
Di zaman yang sudah berubah ini, ruang tak pernah menjadi penghalang. Meski ruang kami berjauhan, setidaknya, setiap seminggu sekali, aku dan ibu saling bertukar kabar, bersilang doa.
“Kian waktu, dunia kian renta, Nak, seperti juga ibumu. Dari itu, pandai-pandailah engkau menempatkan diri,” begitu nasihat ibu yang terakhir yang sempat kurekam. “Kian waktu, daun-daun itu pun akan luruh satu persatu dan habis. Suatu saat nanti, akan tiba masanya, pohon itu akan tumbang tercabut dari akarnya. Semua sudah tercatat dan tersimpan rapi dalam perkamen rahasia yang tergulung di atas sana.
“Kita hanya manusia yang naif dan rapuh, yang tak tahu apa-apa. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu nanti pohon kehidupan melepaskan kita dari tangkainya…,” ibu membisikkan nasihat-nasihat itu dengan suara serak. Tiba-tiba aku teringat kerutan yang berombak di dahinya, juga rambutnya yang mulai pecah memutih.
Terbayang dalam kepalaku, bahwa kini, mungkin, daun ibu telah menguning dan siap luruh. Tiba-tiba aku ingin pulang, kembali terlelap dalam pangkuan ibu yang hangat. Namun, sebelum langkahku sampai di tanah lahir, telah kudengar kabar, bahwa bencana besar telah melanda kotaku. Merebahkan seluruh kota setara dengan tanah. Ada yang mengatakan, bencana yang menimpa kota itu adalah sebuah cobaan. Ada pula yang mengartikan bencana itu sebagai peringatan. Namun, juga tidak sedikit yang mengemukakan bahwa bencana itu merupakan azab. Entahlah.
Ketika aku kembali ke kota itu, yang kutemui hanya kota yang mati. Dengan sisa-sisa kenangan, aku merelakan ibu, merelakan kotaku, merelakan tilas masa kecilku. Bersama air mata, semua kularung ke udara.
Aku merangkak mendatangi alun-alun kota yang telah porak poranda. Dari kejauhan, pohon itu masih tampak menjulang meski compang-camping. Di bawah pohon itu, tubuhku gemetar memandangi satu-satunya daun yang masih bertengger di sana.
“Suatu saat nanti akan tiba masanya, pohon itu akan tumbang tercabut dari akarnya. Semua sudah tercatat dan tersimpan rapi dalam perkamen rahasia yang tergulung di atas sana,” kata-kata ibu kembali mengiang di telinga. (*)
.
.
Malang, 5 Juli 2011
Cerpen Ayi Jufridar
Dimuat di Kompas, 29 Mei 2011

KETIKA kamu bercerita tentang apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadapmu, kita menangis bersama dalam sebuah kamar bermandikan cahaya. Hujan di luar telah mengembunkan kaca jendela sehingga membuatku ingin menggoreskan namaku dan namamu di permukaannya. Cahaya lampu kendaraan bergerak buram di bawah sana. Dari gerak cahaya yang lamban dan kadang berhenti, aku tahu kemacetan sedang terjadi. Hujan selalu menimbulkan kemacetan, tetapi air mata kita telah melegakan rongga dada. Dadaku dan dadamu. Dada kita tak jauh beda.
Lelaki itu kamu panggil Ayah John karena perbedaan usia membuatmu lebih sesuai menjadi anaknya. Dia adalah atasanmu di sebuah perusahaan farmasi. Dia memperlakukanmu seperti anak, meskipun sudah memiliki empat anak perempuan di rumahnya. Dia memanjakanmu dengan semua kelebihan yang dimilikinya. Menyewakan sebuah rumah buatmu dengan seorang pembantu dan seorang sopir, tapi dia selalu menjemputmu dari rumah ke kantor dan mengantarmu dari kantor ke rumah. Sopir hanya bekerja kalau Ayah John sedang ada tugas ke luar daerah, sehingga dengan waktu yang demikian panjang, sopir menyambi kerja sebagai tukang ojek.
Kalau ada tanggal merah terutama di akhir pekan, dia mengajakmu berlibur ke Bali, Yogya, Lombok dan beberapa derah lainnya di dalam negeri. Keluar, kalian hanya mengunjungi Singapura, Malaysia dan Thailand karena waktu yang sempit. Namun ayah berjanji akan membawamu ke sebuah nergara di Eropa nanti. “Aku harus menabung untuk itu. Yakinlah apa pun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia,” kata Ayah John kepadamu dan aku mendengarkannya dari bibirmu.
Kamu pun bahagia setidaknya sampai saat itu. Ayah John memberikan semua yang tidak kamu dapatkan di rumah. Sebagai balasannya kamu memberikan semua yang kamu miliki termasuk kehormatanmu. “Ayah John akan menjadi suamiku. Aku tak peduli jadi istri kedua, itu hanya masalah angka. Aku ingin memiliki anak dari Ayah John.”
Di luar rumah dia memperlakukan kamu seperti anaknya sendiri. Di dalam rumah ia memperlakukan kamu seperti istrinya sendiri. Akhirnya kamu hamil sebelum Ayah John sempat menikahimu. Untuk menenangkan kamu dia berjanji segera menikahimu setelah kesibukannya di kantor selesai. Kamu yakin itu benar adanya sampai kemudian kamu menemukan beberapa tablet kecil obat peluruh kandungan dalam mobilnya. Ketika kamu tanyakan, Ayah John berdalih mobilnya dipakai teman dan obat itu milik temannya. Kamu tidak percaya dan kalian bertengkar hebat. Saat itulah Ayah John memukul perutmu. Pukulan untuk pertama kali tetapi dilakukan dalam beberapa kali. Dia tak berhenti meskipun kamu sudah menangis histeris. Semakin kencang tangisanmu, semakin keras pukulannya.
“Aku tidak tahu apakah itu pukulan seorang ayah terhadap anaknya atau pukulan suami terhadap istrinya. Tapi aku tidak percaya Ayah John melakukan itu.”
Ketika memeriksakan diri ke dokter kandungan, kamu baru menyadari kandunganmu sudah hancur. Ternyata kamu sudah meminum banyak obat peluruh kandungan yang dilarutkan Ayah John dalam minuman kamu, jauh sebelum kamu menemukan sisa obat itu dalam mobilnya. Dokter mengatakan kamu harus dikuret dan dia bertanya apakah kamu sudah menikah.
Kamu mengangguk di tengah kegalauan yang melanda.
“Saya akan memberi rekomendasi untuk dikuret,” kata dokter itu.
Kamu pulang bukan saja dengan kandungan yang hancur, tetapi juga hati yang lebur. Pupus sudah impianmu untuk memiliki anak dari Ayah John. Isi rahimmu dikosongkan sekosong hatimu. Lalu Ayah John pun pergi darimu tanpa pernah mengatakan apa pun. Rumah kontrakan tidak dibayar lagi, pembantu pulang kampung dan supir sepenuhnya bekerja sebagai tukang ojek karena mobil ditarik Ayah John. Bahkan kemudia kamu pun dikeluarkan dari tempatmu berkerja dengan alasan yang tidak kamu pahami dan tanpa pesangon. Ayah John tidak pernah menjawab panggilan teleponmu. Pesan-pesanmu tak pernah ditanggapinya. Semua kemanisan hidup berasama Ayah John berubah menjadi pahit, lebih pahit dari obat yang diam-diam dilarutkan Ayah John dalam minumanmu.
Dalam keputusasaan itu, kamu kembali ingat masih memiliki keluarga. Kamu kembali kepada keluarga hanya untuk membuat hatimu semakin hancur. Bapak dan ibu menerimamu kembali tetapi tidak mau turut campur dalam persoalanmu karena sudah mengingatkan jauh-jauh hari. Mereka bahkan tidak pernah mau mendengarkan penderitaanmu akibat perlakuan Ayah John karena menganggapmu sudah cukup dewasa menanggungnya sendiri.
Itu kata-kata yang pernah kamu ucapkan ketika kamu pergi dari rumah untuk hidup bersama Ayah John. “Ayah John bukan saja telah membunuh bayiku, tetapi juga membunuh jiwaku.”
Kamu mengucapkan itu dengan air mata yang mengalir di pipi sambil menatap air hujan mengalir di permukaan kaca. Aku memelukmu dari belakang dan mencium pipimu penuh perasaan. Air mata kita menyatu seperti tubuh kita dan seperti perasaan kita. Ketika penyatuan itu terjadi, bahkan diriku dan dirimu tak bisa membedakan mana air mataku dan mana air matamu. Keduanya mengalir di pipiku dan di pipimu menjadi air mata kita.
***
Ketika kamu bercerita tentang apa yang kamu lakukan terhadap lelaki itu, aku menangis sendiri di dalam kamar yang minim cahaya. Tidak ada hujan di luar sana, tidak ada kemacetan, dan tidak ada kamu di sini. Hanya ada aku, hati yang patah, dan air mata.
Dua tahun kalian menjalin hubungan, jauh lebih lama dibandingkan denganku yang baru dua bulan. Dua tahun bukanlah perjalanan cinta terlama yang pernah kamu lewati. Kamu pernah melewati masa tujuh tahun penuh cinta, tapi dua tahun itulah yang paling berkesan sepanjang hidupmu.
Di kamar sama, kita mulai percakapan soal masa lalumu, masa laluku, serta masa depan kita. Kamu tidak bisa datang malam ini karena “ingin mengunjungi saudara yang sakit”. Aku menelepon sabelum kamu berangkat. Kita bercerita tentang aroma dan lagu, dua hal yang bisa membangkitkan memori kita kepada masa lalu. Aroma dan lagu mengundang kenangan, kita bersepakat soal itu.
Aku pun menyemprotkan aroma lemon yang lembut ke seluruh tubuh agar bisa mengingatkanmu sampai di dalam tidur. Aku ingat aroma tubuhmu saat kita menangis bersama dan kuyakin itulah kenikmatan terbesar dalam hidupku. Kejadian itu lebih kuat terpatri bahkan bila dibandingkan dengan desahan kita di kamar mandi.
Setelah mengucapkan janji untuk tetap mencintaiku, suaramu lenyap dari telinga tetapi tetap melekat di hatiku. Aku tidak pernah menyangka itulah kata cinta terakhir yang kudengar darimu. Malam itu aku membawa kerinduanku ke keramaian, berharap lelah datang dan pulang dengan kantuk yang mengundangmu lebih cepat dalam impianku.
Sampai hari berganti dan kamu tak hadir dalam mimpiku, kabar darimu belum juga datang. Aku harus menghubungimu karena didorong rasa rindu yang tak tertahankan. Panggilan pertama sampai panggilan yang tidak dapat kuingat tak juga mendapat tanggapan dari kamu. Aku mengirim pesan dan tidak mendapatkan jawaban. Haruskah kudatangi rumahmu untuk mengetahui apa yang terjadi?
Kamu pernah mengundangku ke rumah dan memperkenalkanku kepada orang tuamu dan ketiga adik lelakimu. Kamu anak perempuan satu-satunya dan sebagi anak sulung orangtuamu mengharapkan kamu bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adik. Kamu diharapkan menjadi tulang punggung keluarga bukan tumpuan tulang selangka Ayah John. Itulah kedatanganku yang pertama sekaligus yang terakhir. Kamu melarangku datang lagi karena kedua orang tuamu tidak merestui hubungan kita. “Bagaimana mereka bisa tahu hubungan kita? Kamu menceritakannya? Bukankan kita sudah sepakat akan merahasiakannya sampai mereka dan dunia tahu dengan sendirinya?”
“Aku masih ingat dengan kesepakatan itu. Tapi aku tak ingin mereka tahu lebih cepat.”
“Mereka takkan tahu kalau kamu tidak menceritakannya. Keluargamu mengira kita hanya sahabat. Dunia juga mengira kita sepasang sahabat.”
“Aku bisa membohongi perasaanku dengan kata-kata, tapi tidak dengan mataku.”
Aku menyukai kekhawatiranmu itu dan percaya memang karena itulah kamu melarangku ke rumahmu lagi. Kalau sekarang aku nekat ke rumahmu untuk mengetahu apa yang terjadi apakah kamu akan marah?
Panggilan kamu datang ketika aku berada dalam kebimbangan. Aku menyambut suaramu dengan gembira, tetapi kemudian kamu membawa kabar duka. Ayah John kena stroke. Ketika aku mendengar itu pertama kali aku malah menduga itulah kabar gembira yang sesungguhnya. Kemudian kamu mengatakan dengan jujur selama ini kamu berada di rumah sakit untuk merawat Ayah John.
“Mengapa harus kamu? Bukankah sudah ada keluargnya?”
“Ayah John yang mengharapkan aku datang. Kami merawatnya bersama.”
“Kami?”
“Aku, istri Ayah John, dan keempat anaknya.”
Aku masih belum dapat memahami. Bahkan setelah kamu menjelaskan panjang lebar kalian (kamu, Ayah John, istrinya dan anak-anaknya) sudah berdamai dan sepakat melangsungkan pernikahanmu dengan Ayah John. Itu janji yang akan dipenuhi setelah Ayah John benar-benar sembuh.
“Ayah John pernah mengucapkan janji yang sama dulu. Tapi dia mengingkarinya….”
“Beda, sekarang janji di depan keluarganya sendiri dan semuanya menerima. Kami sekarang seperti sebuah keluarga.”
Kamu percaya dengan janji dan perubahan yang cepat sehingga suaramu terdengar sangat bahagia ketika mengucapkan itu. Kamu tidak peduli dengan hatiku yang terluka sehingga dengan enteng mengatakan hal itu seperti mengabarkan sebuah berita ada film bagus yang main malam ini.
“Kenapa?” aku mulai tidak mampu mengendalikan emosi setelah sekian lama terdiam, “mengapa kamu lakukan ini kepadaku?”
“Maaf, Sayang. Aku tahu ini membuatmu sakit. Tapi aku harus mengatakannya. Aku menginginkan seorang anak dari rahimku sendiri.”
Kita pernah sepakat mengadopsi beberapa anak saat kita hidup bersama. Masihkah kamu ingat dengan semua itu?
Suaramu lalu lenyap dari telingaku dan luka hatiku semakin menganga. Aku tidak percaya kamu melakukan semua ini kepadaku, apa pun alasannya. Kamu membunuh jiwaku dengan membuka kembali cinta lama yang ingin kamu kubur di dasar hatimu paling dalam. Jiwaku baru saja mati tetapi jiwamu baru hidup kembali.
Malam mulai beranjak tua tapi aku masih duduk di tepian ranjang sambil terus menangis. Aku ingin kamu berada di sini dan kita menangis bersama sampai air mata kita menyatu seperti dulu. (*)
Dimuat di Kompas, 6 Maret 2011
SEDARI pagi hujan terus mericis. Hingga menjelang magrib baru liris, menjadi gerimis-gerimis tipis. Ketika langit mulai gelap, dan lampu-lampu rumah dinyalakan, hujan sudah sempurna reda. Satu dua laron mulai muncul dan berputar-putar mengitari lampu di teras rumah. Semakin lama semakin banyak. Bahkan, beberapa sudah mulai menghambur ke dalam rumah, melewati ventilasi dan celah-celah pintu jendela.
Tanpa sepengetahuan bapak, aku membuka pintu depan, sedikit, supaya laron-laron itu bisa masuk ke dalam rumah, dan bisa kuajak bermain dan berbincang-bincang. Tak kurang dari satu menit, laron-laron itu sudah memenuhi ruang tamu, dapur, dan kamar-kamar. Berputar-putar berebut cahaya. Sayap-sayap kecil mereka bertebaran di mana-mana bagai potongan-potongan kertas yang sengaja disemburatkan di pesta ulang tahun atau perayaan-perayaan.
Aku berteriak girang sambil meniupi sayap-sayap laron yang luruh ke lantai. Indah sekali. Aku membayangkan saat itu sedang hujan sayap, sayap peri. Tapi, tiba-tiba bapak muncul dari kamarnya dan berteriak-teriak. Aku mengkerut.
“Dasar bocah gak punya otak, pintunya kok malah dibuka. Laronnya masuk semua, Goblok!” teriak bapak sambil menutup pintu depan yang tadi kubuka sedikit. Ia menutupnya dengan setengah membanting.
“Sayapnya itu sulit disapu. Kamu mau nyapu?” kata bapak lagi sambil mendorong kepalaku dengan kasar.
Dengan sangat cepat, bapak mematikan semua lampu di dalam rumah. Seketika itu semua gelap. Dan aku berteriak ketakutan, memanggil-manggil ibu.
“Ada apa tho ini?” terdengar suara ibu, dan klik, ibu kembali menyalakan lampu.
Dari dalam kamar, bapak berteriak lagi, “Jangan dinyalakan lampunya! Laronnya biar keluar dulu!”
Ibu tidak menyahut. Ibu segera menggandengku dan membawaku masuk ke dalam kamar. Dari dalam kamarku, aku mendengar bapak mengumpat lagi.
“Kampreeet!! Dibilangin suruh matikan kok….” Dan klik, ruang depan kembali gelap. Hanya lampu kamarku yang menyala. Ibu menutup pintu kamarku rapat-rapat.
“Ditutup, ya, biar laronnya gak masuk,” kata ibu lembut. Aku mengangguk karena di kamarku sudah ada beberapa laron yang beterbangan mengitari lampu, sebagian hinggap di gorden jendela, dan beberapa—yang sayapnya tinggal dua—berpusing-pusing di lantai. Aku tertawa geli melihatnya. Tapi, mendadak aku jadi ingat ketika bapak memusing-musingkan kepalaku dan mengguyuriku dengan air, beberapa waktu lalu, ketika aku asyik bermain keran dan kemudian mematahkannya. Maka, kembali aku bertanya dengan bahasa mata kepada ibu.
“Mengapa bapak suka memarahiku, Bu?”
Ibu tersenyum, diusapnya liur yang hampir menetes dari bibirku yang lebar. Ibu mentapku, “Bapak tidak marah padamu, bapak cuma tak suka kalau rumah kita ini kotor. Sayap-sayap laron itu bikin kotor. Susah disapu.”
Aku mencerna perkataan ibu, dan memanyunkan bibir sebagai pemakluman. Namun, pemakluman itu masih terasa belum tunai, mengingat perlakuan bapak selama ini padaku. Hati kecilku selalu mengatakan bahwa bapak memang tak pernah suka padaku. Lamat-lamat aku teringat pada sebuah malam, di mana bapak dan ibu bertengkar gara-gara aku tidak menghabiskan makan malam. Malam itu bapak sendiri yang mengambilkan porsiku karena waktu itu ibu belum pulang dari pengajian. Bapak mengambilkan porsiku dua kali lebih banyak dari biasanya—yang diambilkan ibu. Malam itu, bapak terus mengawasiku. Padahal sudah hampir setengah jam aku mendiamkan makananku.
“Habiskan nasinya!” gertakan bapak saat itu membuatku gemetar. Saat itu aku menyesalkan ibu yang tidak pulang-pulang.
“Sekarang beras mahal!” Bapak terus memelototiku sambil sesekali menggebrak meja. Maka, dengan sangat terpaksa nasi itu kumasukkan ke dalam mulutku. Beberapa kali aku ber-“hoek”, hendak muntah.
Bapak semakin geram. Ia mendekatiku dan menjejalkan nasi itu ke mulutku hingga berceceran di lantai. Aku menangis tanpa suara. Saat itulah tiba-tiba ibu datang dan menampik tangan bapak.
“Apa-apaan ini, Pak!?”
Ibu membersihkan nasi yang tumpah di bajuku dan segera membawaku masuk ke dalam kamar. Di luar kudengar bapak berteriak-teriak, ganti memarahi ibu. Agak lirih suara ibu, menuntaskan pembelaan. Namun suara bapak semakin menggelegar, ia mengeluarkan sumpah serapah yang tak kupahami artinya.
“Sudah kubilang, dari dulu, bocah cacat itu dititipkan ke panti asuhan saja. Biar tidak merepotkan kita.” Suara bapak terdengar jelas dari kamarku, disusul suara ibu yang terdengar seperti menangis.
“Gusti Allah menitipkan dia buat kita, Pak! Dia anak kita! Satu-satunya!”
Selanjutnya kudengar bapak meneriakkan namaku dengan sebutan bocah idiot, autis, bisu, gagu, dan seterusnya… yang direnteti ungkapan penyesalan seperti dendam.
Beberapa kali terdengar suara ibu menyela dan meninggi, meminta bapak beristigfar. Kudengar juga ibu mengumpat bapak dengan sebutan “seperti orang tak tahu agama”. Maka terdengar suara plak, kulit beradu kulit, dan setelah itu sepi.
***
Ibu mengusap rambutku ke belakang. Kemudian ibu bercerita panjang tentang bapak. Kata ibu, sebenarnya bapak sangat sayang padaku. Hanya saja, bapak tak suka bila aku berbuat nakal.
“Maka dari itu, kamu tak boleh nakal lagi, yang nurut sama bapak,” kata ibu kemudian.
Aku jadi sangsi pada perkataan ibu, bukankah selama ini aku selalu menuruti perkataan bapak. Bahkan, ketika bapak memintaku mengambil makanan yang telah kubuang di tempat sampah dan memakannya kembali, aku menurutinya. Tentu waktu itu ibu tidak tahu.
“Janji, ya!” kata ibu lagi. Aku mengangguk saja hingga ibu mengecup keningku dan beringsut meninggalkan kamarku.
Di dalam kamar, aku sudah tidak lagi memikirkan perkataan ibu ataupun perangai bapak padaku. Yang kupikirkan adalah laron-laron itu. Sebenarnya aku berniat membuka jendela kamarku supaya laron-laron di luar bisa turut masuk ke kamarku. Tapi hal itu kuurungkan. Aku takut, kalau membuka jendela kamar termasuk perbuatan nakal yang tidak disukai bapak. Maka aku bermain dengan laron-laron yang ada di kamarku saja. Sebagian besar dari mereka sudah gundul, tanpa sayap. Mereka berjalan beriringan di sudut-sudut lantai. Yang berputar-putar seperti gasing juga masih ada.
Aku mendekati laron-laron itu dan mengajaknya bermain. Tapi, ketika jari telunjukku menyentuh laron-laron itu, mendadak laron-laron itu berhenti bergerak. Kemudian, laron-laron itu mengeluarkan suara.
“Kami sudah gundul, pesta kami sudah usai. Ternyata pesta kami sangat singkat,” katanya.
“Sekarang kalian mau ke mana?” tanyaku.
“Menemui ajal,” jawab mereka.
“Jika kami tahu, pesta kami sangat singkat, dan sayap-sayap kami sangat rapuh, kami akan memilih untuk tetap menjadi rayap,” kata laron yang lainnya.
“Mengapa?” tanyaku lagi.
“Kami tak pernah merasa cukup menjadi rayap tanah, kami ingin punya sayap dan terbang bebas menikmati cahaya. Dan inilah yang terjadi….”
“Apa yang terjadi?”
“Kamu lihat sendiri. Kami hanya berputar-putar menunggu mati. Hidup kami akan berakhir di perut katak atau cicak. Kalau lebih buruk lagi, kami akan mati terinjak-injak manusia, tak bersisa, dan tak pernah berarti apa-apa. Semoga kamu tidak menjadi seperti kami.”
“Menjadi laron?”
“Bukan!”
“Menjadi apa?”
“Menjadi makhluk yang tidak pernah puas menerima pemberian Tuhan, anugerah Tuhan.”
Tiba-tiba aku teringat bapak.
“Sudah! Biarkan kami pergi,” kata laron itu lagi.
“Pergi ke mana?”
“Maut. Kami harus menemui takdir kami.”
“Kalau begitu kalian kupelihara saja.”
“Jangan! Kami sangat bau. Nanti kamu dimarahi bapakmu lagi.”
“Kalian kusembunyikan saja di kamarku.”
***
Diam-diam, aku membuka pintu kamar. Berjingkat ke dapur, mengambil rantang plastik di rak piring. Jika bapak atau ibu memergokiku, aku akan bilang kebelet pipis. Tapi bapak ataupun ibu tak memergokiku. Aku berhasil kembali ke kamarku dengan selamat. Kukunci pintu kamarku rapat-rapat. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar, seperti orang lupa. Saat laron-laron dari luar berhamburan ke dalam kamarku, sama sekali aku lupa soal bapak. Yang kutahu hanya bahwa detik itu—saat laron-laron beterbangan menuju kamarku—adalah sebuah pemandangan yang menakjubkan. Kubayangkan kamarku penuh oleh peri-peri kecil yang berkerik lirih dan merdu.
***
Aku senang sekali, malam itu, bapak ataupun ibu tidak kembali ke kamarku. Pasti mereka mengira aku sudah tidur. Padahal, malam itu aku begadang sampai larut malam. Memunguti laron-laron itu dan memasukannya ke dalam rantang plastik. Sayap-sayap yang berceceran di lantai kubersihkan dengan kertas basah yang kulumuri ludah. Kutempelkan kertas basah itu perlahan ke sayap-sayap yang berceceran. Ternyata mudah sekali membersihkan sayap laron. Setelah kamarku bersih. Aku membuang kertas-kertas basah yang penuh sayap itu keluar jendela. Kututup kembali jendela kamarku pelan-pelan. Kututup pula rantang plastik yang penuh laron itu dengan sebuah buku tulis tebal sebelum akhirnya kudorong ke bawah ranjang dan kutinggal tidur.
***
Pagi-pagi sekali ibu sudah membangunkanku. “Kenapa pintunya kok dikunci?” tanya ibu. Aku menatap ibu sambil mengibaskan tangan. Ibu paham yang kumaksudkan supaya laronnya tidak masuk. Hatiku agak tidak enak membohongi ibu. Tapi aku juga kasihan pada laron-laron itu. Ibu menyuruhku segera mandi. Detik itu aku berdoa semoga ibu tidak menggeledah kamarku. Apalagi bapak. Tapi doaku muspra, tak terwujud. Karena tiba-tiba bapak datang dan mengendus bau kamarku.
“Kamar ini kok bau laron busuk, ya?” tukasnya. Hidungnya mengendus seperti tikus.
Hatiku sudah tidak enak. Ibu mengingatkanku kembali untuk lekas-lekas mandi. Aku berjalan ke kamar mandi dengan hati cemas. Aku pun mandi ala kadarnya. Kalau tidak dimandikan ibu, aku memang tak pernah mau mandi memakai sabun. Apalagi gosok gigi. Dan tampaknya, pagi itu ibu masih sibuk membersihkan sayap laron di dapur, kamarnya, dan ruang tamu. Selepas mandi, aku buru-buru ke kamar. Kutengok kolong ranjangku, dan rantang plastik berisi laron yang kututupi dengan buku tulis sudah raib, tak ada di sana. Aku tersentak dan hampir terpeleset ketika tiba-tiba bapak menyeret telingaku dan membawaku ke muka ibu.
“Lihat ini!” bapak melemparkan rantang plastik berisi laron itu ke depan ibu. Laron-laron itu tumpah dan merayap ke mana-mana. Secepat kilat ibu merapikannya dan membawanya ke dapur. Bapak menyusul ibu ke dapur.
“Semalam dia tak tidur; kau lihat pula sana, di bawah jendela kamarnya!” kata bapak lagi. Telingaku terasa nyeri, tapi tangan bapak masih utuh di sana.
“Kau membohongi ibu?” tutur ibu berkabut.
Aku mulai menangis. Air mataku mulai meleleh. Tapi tak seulas suara pun keluar dari mulutku. Ibu meninggalkanku dengan tatapan kecewa, ia berjalan menuju kamarku. Bapak masih menyeret telingaku, menyusul ibu. Di kamar, ibu menengok keluar jendela dan menggelengkan kepala beberapa kali. Lantas ibu pergi begitu saja. Tapi matanya merah, seperti mau menangis. Sementara ibu pergi, bapak menghujani pipiku dengan tamparan. Dijambaknya rambutku sebelum akhirnya aku dilempar ke ranjang.
Di dalam kamar, aku sesenggukan menahan nyeri. Hingga akhirnya ibu datang dengan membawa salep dan sapu tangan. Setelah mengusap wajahku. Ibu menidurkan aku di pangkuannya.
***
Aku masih belum berani keluar kamar dan bertemu bapak, hingga akhirnya ibu menuntunku ke ruang tengah untuk makan malam. Di sana kulirik bapak dengan wajahnya yang dingin seperti batu. Ibu mengambilkan aku nasi dan sayur. Perlahan kutilik satu demi satu lauk-pauk yang terhidang di meja. Hingga mataku mendarat pada sebuah toples berisi rempeyek dengan bintik-bintik hitam. Semula, aku mengira rempeyek yang dibuat ibu adalah rempeyek kedelai hitam. Namun, mendadak bapak berkomentar.
“Rempeyek laronnya gurih sekali.”
Aku mengangkat wajah. Memerhatikan bapak yang tengah lahap mengganyang rempeyek laron. Tak henti-henti bapak mengudapnya. Habis satu, ia ambil lagi dari dalam toples hingga rempeyek dalam toples tinggal separuh. Saksama kuperhatikan mulut bapak yang terus bergerak mengunyah rempeyek laron itu. Kuperhatikan mulut itu, bibir itu, gigi itu, lidah itu. Sungguh sangat menjijikkan. Dalam penglihatanku, bapak sudah menjelma menjadi seekor katak raksasa yang mengunyah serangga sampai sayap-sayapnya.
Tanpa sadar, kulemparkan piring berisi nasi dan lauk-pauk ke arah katak raksasa yang sedang mengunyah serangga itu. Dan lemparanku tepat mengenai kepalanya. Nasi berceceran di atas meja. Piring jatuh ke lantai, berdentang serak dan pecah menjadi beberapa keping. Tiba-tiba kulihat bapak memegangi kepalanya yang berdarah-darah. Matanya mendelik ke arahku. Mata yang berkilau dan tajam, seperti hendak menikamku. (*)
Malang, Desember 2010
Dimuat di Kompas 08/10/2006
Mereka berteriak girang, sementara Safrida hanya melongok kepala sekilas dari jendela kamar rumoh inong. Di keudee Tengku Banta Manyang ramai sekali yang tengah menonton televisi. Bangku kayu yang berjejer di luar warung sesak dengan orang kampung.
Gaduh. Mulut-mulut beranti-anti berkomentar. Hati Safrida masih perih. Padahal sudah banyak ia membunuh serdadu pemerintahan. Ia dipuji panglima sebagai wanita perkasa. Wanita yang mewarisi semangat baja Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Laksamana Malahayati—wanita yang tidak mau dijajah.
Dendam itu belum tergerus. Waktu yang bergulir tak kuasa meredam rupanya. Wanita itu sudah mencoba untuk melupa, tapi tidak bisa! Ingatan itu begitu kuat melekat di otaknya.
Bocah kecil ribut di pekarangan rumoh. Buah delima sedang lebat-lebatnya. Bocah bergelantungan demi mencapai buah masak yang ada di ujung.
Kaki Safrida terseret ke rumoh-dapu. Masyiknya entah ke mana sudah perginya. Kanot air di tungku api. Safrida turun ke sumur, lalu mengambil baju kotor punya-nya dan masyik. Dimasukkan ke ember hitam besar dan dipikul di atas kepala. Safrida ke meunasah. Bocah-bocah menyapa riang Safrida yang berpapasan lewat.
"Ka damai geutanyoe, Da," tegur istri Tengku Banta kepada melihatnya lewat. Safrida tersenyum dipaksa sambil mata melihat ke arah televisi. Semua berita televisi berkenaan dengan perjanjian damai yang dilakukan antara pemerintah RI dengan kelompok bersenjata Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki.
Hatinya perih. Bagi orang lain berita damai itu menggembirakan, tapi baginya tidak. Damai itu tak berarti apa-apa untuk Safrida.
Dengan langkah lamban Safrida ke meunasah. Lumayan jauh jarak rumohnya dengan meunasah.
Suara ngaji terdengar sayup-sayup dari meunasah. Suara mengaji si Suman merdu sekali. Subuh akan menjelang. Safrida sudah terbangun sedari tadi.
Dan sayangnya, Safrida sama sekali tidak tahu bahwa sebenarnya hari itu adalah hari kelabu untuk dirinya. Kisah pahitnya bermula dari hari itu.
Pukul tujuh pagi. Ayam jantan masih ada yang berkokok satu-satu. Desiran angin menggigil. Langit kurang bersahabat. Safrida sudah siap-siap akan pergi ke sekolah dengan garinya.
"Mau ke mana, Da?" tanya itu berasal dari lelaki yang berseberangan di jalan dengan Safrida.
Safrida seperti kenal betul dengan yang empunya suara itu. Dan tabuh di dadanya tak tinggal diam. Selalu lain bila ia mendengar suara itu. Bahkan semenjak dahulu.
"Mau ke meunasah," Safrida cepat berlalu. Manan masih saja tampan. Masih seperti dulu. Tapi sayang, lelaki itu sudah beristri.
Padahal dulu, Manan pernah minta dirinya kepada Bapak. Dan kata Bapak, tunggu ia tamat SMA dulu. Tapi waktu itu, tak pernah berkunjung.
Safrida sebentar lagi sampai ke meunasah.
Tiba-tiba saja pagi itu kembali bergejolak. Tembakan membabi buta. Safrida yang sudah turun, lekas merunduk di lantai seulasa. Bapak yang baru saja selesai mandi ikut merunduk di sampingnya. Mak dan Masyik entah di sumur, entah pula di rumoh dapu?
Sesekali dikejutkan dengan gelegar suara bom. Dan diikuti rentetan senapan tak berhenti. Memekakkan telinga. Menciutkan nyali. Merasai ajal itu seperti di depan gerbang.
Untungnya tak lama reda. Safrida nekad tetap ingin ke sekolah. Tapi Mak melarang. Takutnya ada sweeping di jalan. Gadis itu berpikir keras. Bapak memutuskan tak jadi masuk ke kantor.
Safrida tiba di meunasah. Rupanya ada Sakdiah di sumur meunasah yang sedang memandikan anaknya. Harus bersusah payah perempuan itu memandikan anaknya itu. Bandel sekali bocah itu.
Begitu melihat Safrida, Sakdiah melempar senyum sekali dan anaknya sudah lepas dari cengkeramnya.
"Sudah cukup mandi jih mak..."
"Bacut lagi, mantong kalang nyoe," tangan Sakdiah menggosok-gosok leher anaknya. Si bocah tertawa-tawa sembari mengatakan ’geli...geli...’
Melihat kejadian itu, ada iri yang menyelusup di benak Safrida. Di kampungnya, semua perempuan sudah menjadi ibu, selain dirinya. Tak satu pun pria yang mau memperistri dirinya. Padahal usianya tak muda lagi. Bagaimana pula ia punya anak? Sebagai perempuan normal, ingin sekali ia bersuami dan punya anak. Baru sekarang Safrida merasakan kesepian. Ia butuh suami dan anak-anak yang lucu.
"Sudah teken damai Da, ya?" Sakdiah akan pulang. Bocah yang digendong mencium muka Maknya. Safrida mengangguk pelan. Wajah itu beringsut lega.
Safrida ke sumur. Tangan itu mulai sibuk menimba air sumur. Pekerjaan itu sungguh muda bagi seorang Safrida yang sering mengangkat senjata berat dahulunya.
Safrida tersentak ketika melihat berdatangan tentara-tentara di pekarangan rumohnya. Bapak, Mak, Masyik cepat turun dari atas rumah. Bapak sudah bercelana, tak berhanduk seperti waktu merunduk tadi.
Suasana mencekam. Mak, Masyik lekas luruh air mata sebab takut sekali. Salah satu tentara yang berperawakan tinggi dan hitam keling meminta KTP Bapak.
"Kau GAM, ya?" bentak tentara itu kasar.
"Bukan Pak, saya ini rakyat biasa," Bapak tampak gentar.
"Pasti kamu sembunyikan GAM di rumah kamu?!" sambung kawannya juga dengan tak kalah kasarnya.
"Periksa rumah ini!"
Dan sekitar sepuluh orang tentara naik ke rumah Aceh tanpa melepas sepatu. Empunya rumah tak berkutik. Pintu rumah disepak-sepak. Ada beberapa yang masuk ke kroong padee. Dan para tentara itu tidak mendapatkan GAM seperti yang mereka tuduhkan. Memang aneh sekali serdadu-serdadu pemerintahan itu, main tuduh saja kerjanya!
Lamban sekali kerja Safrida. Sudah lama di sumur, baru dua potong baju yang siap disikat. Lamunannya entahlah ke mana.
Sebagian tentara pergi ke rumah samping, ke rumah Wa Ali. Suara mereka keras dan kasar sampai kedengaran ke rumoh Safrida.
"Ada GAM di sini...!" Teriakan itu bagai halilintar di telinga Safrida. Dan...
"Dor...Dor..." tubuh Bapak bersimbah darah. Dua pelor menembus kepala lelaki itu. Tanpa bertanya terlebih dahulu.
"Bapak...Bapak..." Mak histeris.
"Dor...Dor...." Mak terkulai tak berdaya. Tembakan di mana-mana. Dua lengan kasar mendekap tubuh Safrida.
"Masyik...Masyik...." Ronta Safrida.
"Beuk kapeulaku cucoe long...." Masyik berusaha menarik tubuh cucunya itu. Tapi tak daya sama sekali perempuan sepuh itu, sekali dihajar dengan badan senapan, langsung terjungkang ke tanah.
"Kamu cantik juga, ya?" tentara itu membabi buta.
"Bek...Bek...." Safrida menghiba-hiba. Meronta sejadi-jadinya. Tubuhnya makin jauh diseret ke semak-semak.
"Barang bagus, ya?"
"Ya nih...Tapi aku duluan ya...Ha...ha..." Setan itu terpingkal-pingkal.
"Ayo sayang..."
"Jangan...." Safrida menjerit panjang. Tak ada penolongnya.
Safrida menimba lagi air di sumur. Air tadi kurang rupanya. Baju kotor baru beberapa pasang yang tersikat. Masih banyak sisanya.
Ingin sekali Safrida mengakhiri hidupnya. Tak sanggup hidup dalam tabur derita. Mak dan Bapak dibunuh di depan mata. Gadisnya direnggut beramai-ramai.
Tapi, suatu hari datang panglima GAM ke kampung. Berapi-api menerangkan jikalau orang kampung tak boleh tinggal diam. Hati Safrida panas bukan main. Dendamnya membara. Ia ingin menuntut balas.
Safrida naik gunung. Bergabung dengan Pasukan Inong Balee. Mendapat latihan militer yang dilatih mualim. Ternyata banyak dara seperti Safrida yang bergabung. Nama pasukan itu diubah. Tak lagi inong balee, tapi Askariyah.
Berbulan-bulan Safrida di gunung. Tiap hari latihan berat. Tangannya kasar bukan main. Mengokang senjata bukan hal baru. Sudah mahir menggunakan senjata.
Safrida terkenal pemberani di pasukan Askariyah. Paling sering terlibat perang langsung dengan serdadu pemerintah. Bahkan tembakannya jitu. Banyak mematikan pasukan musuh. Safrida begitu terbakar semangat bila ingat wajah Mak dan Bapak.
Wanita itu berubah licin dan berbisa. Berbagai cara ditempuh untuk menghabisi nyawa serdadu pemerintahan. Wajahnya yang memikat tak jarang jadi tameng. Digoda dan diajak ke tempat terasing. Lalu diracuni setiba di sana. Bukan sekali-dua kali berhasil menyisipkan bom di pos tanpa dicurigai sedikit pun.
Mendadak nama Safrida menjadi tenar. Ia disejajarkan dengan petinggi-petinggi GAM yang sama beracunnya. Penyisiran dilakukan besar-besaran untuk mencari perempuan bernama Safrida. Di pedalaman hutan bakau Manyak Payed, Safrida dilantik oleh panglima menjadi komandan pasukan Askariyah karena berprestasi tinggi.
Dendam Safrida masih membuncah. Dendam itu bukannya mengendur. Seolah tangannya gatal bila tak menghabisi nyawa serdadu pemerintahan sehari saja. Ia begitu puas ketika melihat tubuh musuh bersimbah darah.
Selesai juga Safrida menyikat semua baju kotor. Pekerjaan selanjutnya membilas baju-baju itu dengan air. Langit kelam pelan-pelan. Mata Safrida menengadah ke langit. Ia waswas bila hujan turun.
Keadaan terdesak. Panglima Sagoe Manyak payed, Galinggeng, menyerahkan diri ke pasukan RI. Safrida tak bisa percaya itu! Padahal Safrida lagi semangat-semangatnya. Kata panglima sagoe, perjuangan GAM sudah melencang dari syariat. Ah, benarkah itu? tanya hati Safrida.
Safrida dan anak buah Askariyahnya dalam posisi terjepit. Tertangkap tinggal menunggu waktu. Bencana. Galinggeng pasti akan memberitahukan tempat persembunyian mereka. Safrida kalut tak terkira. Akhirnya mereka ikut menyerah. Tapi dendam kesumat tak raib. Bagusnya menyerahkan diri, ia dan anak buahnya itu dibebaskan beberapa minggu kemudian. Dikembalikan ke kampung masing-masing dengan penjagaan ketat.
Rosmawati lewat dengan menggamit lengan dua anaknya. Kembali Safrida menyaksikan kejadian itu dengan menelan ludah. Enak sekali bisa menjadi ibu dan punya anak, lirihnya. Nampak Safrida di sumur, Rosmawati berhenti di balik pagar dan menyapa.
"Aceh ka damai Da, seunang that hatee long...."
Rosmawati melempar senyum dan berlalu karena anaknya merengek minta dibelikan kue. Kepala Safrida terangguk paksa, tapi hati dan jiwa menolak keras. Ini tak damai untuk Safrida! Damai ini tak berarti apa-apa.
Damai ini tak bisa membuat gadisnya kembali. Ketakutannya karena diperkosa tak raib. Mak dan Bapak tak juga kembali. Damai ini tak bisa membuatnya bisa peroleh suami dan anak yang diidamkan lama. Enak saja pemerintah mengira, dengan teken janji damai, semua akan kembali laik semula.
Bagaimana harus seorang inong balee mengembalikan suaminya? Sang ibu harus berbuat apa untuk menghidupkan tujuh anaknya yang sudah dibunuh? Bagaimana harus menghilangkan memori ketika melihat tubuh orang yang dicintai ternyata sudah tak berkepala lagi dan didapati melayang-layang di krueng? Dara harus bagaimana untuk membuat perawannya kembali setelah direnggut tragis?
Damai itu hanya di selembar atau beberapa kertas. Sementara perih jiwa di sekujur tubuh. Sembuhkan luka itu? Safrida bisakah berdamai dengan duka di sekujuran tubuh?
Safrida akan menjemur baju di pagar besi meunasah. Terdengar suara-suara tertawa dari keudee Tengku Banta Manyang. Langit kian kelam. Tak lama, butiran menitik satu persatu. Safrida cemas. Bajunya alamat tak kering. ***
Catatan:
- Askariyah : Sebutan pasukan perempuan GAM. Pada awalnya dinamakan Inong Balee, tapi belakangan, karena anggota dari pasukan ini bukan berasal dari inong balee saja (janda), tapi juga banyak gadis-gadis, makanya namanya diganti menjadi askariyah.
- rumoh inong: Rumoh Inong (rumah induk). Letak ruangan ini adalah di antara serambi depan dan serambi belakang. Posisinya lebih tinggi dibanding kedua serambi tersebut. Rumah induk ini terbagi menjadi dua kamar. Keduanya dipisahkan gang atau disebut juga rambat yang menghubungkan serambi depan dan serambi belakang.
- keudee: Kedai.
- beranti-anti: saling rebut-rebutan.
- kanot: panci.
- Ka damai geutanyoe, Da: Sudah damai, kita Da
- Bacut lagi, mantong kalang nyoe: Sedikit lagi, masih banyak dakinya.
- Rumoh dapu: Rumoh-dapu (dapur). biasanya, letak dapur pada rumah tradisional Aceh itu berdekatan atau tersambung dengan serambi belakang. Lantai dapur sedikit lebih rendah dibanding lantai serambi belakang.
- u: ke.
- Aceh ka damai Da, seunang that hatee long: Sudah damai Aceh Da, senang sekali hatiku.
- Seulasa: Teras.
- Krong padee: Lumbung padi—tempat penyimpanan padi dan lazimnya terletak di bagian bawah rumoh Aceh.
Dimuat di Kompas 14/06/2009
Juara 2 Sayembara Cerpen Bertema Jakarta, Jakarta Literary Festival 2008

Sejak mercon itu meledak di benteng Zeelandia1, aku tahu, hidup Pieter tak akan lama lagi. Derap langkah kuda serdadu kompeni yang melintasi depan rumahku serupa dengus napas sang maut. Bau kematian. Merebak ke tiap penjuru Jacatraweg.
De Malcontent2 memang menyimpan bara pada kompeni. Namun, siapa percaya jika ia mampu menghimpun kekuatan untuk membantai seluruh orang Belanda di Batavia? Bukankah Margaretha, istrinya, juga seorang Belanda? Kuasa kompeni telah memilih Pieter dan kawan-kawan sebagai tertuduh utama meski tak satu bukti—kecuali isu yang diembuskan oleh seorang budak kepada istri Reijkert Heere.
Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.
Tiga pekan lalu, serdadu kompeni menyerbu kediaman Pieter. Meringkusnya sebagai penjahat yang hendak melakukan makar. Bahkan, usaha Aletta mencegah serdadu membawa ayahnya hanya kesia-siaan. Margaretha mendekap tubuh anaknya ketika Pieter, Kartadriya, Layeek, dan enam belas orang lainnya digiring ke Stadhuis3. Aku hanya bisa memandang dari balik jendela. Menuliskannya dalam baris-baris soneta. Apa boleh buat, aku hanya seorang pujangga. Apakah segerombolan kata-kata akan mungkin menghadang bedil-bedil kompeni itu?
Sejarah memang harus dituliskan.
***
Wajah Pieter mengeras demi mendengar keputusan Dewan Heemraden. Bagaimana mungkin, tanah di Pondok Bambu dan Sontar yang dahulu dibeli ayahnya dihapus kepemilikannya. Ia bahkan harus membayar sewa karena telah menggunakan tanah tersebut untuk usaha.
”Begitu besarkah kebencian mereka kepada seorang Indo sepertiku?” kata Pieter memeram bara, ”mamiku memang Siam. Tapi apa salahnya menjadi orang Siam? Bukankah kita tak memilih dari rahim siapa dan di mana kita dilahirkan?”
Margaretha dan Aletta tak tahu harus berkata apa. Mereka hanya bisa bermain-main dengan sendok dan garpu di tangannya. Selera makan mereka telah hilang sejak Pieter menggebrak meja setelah membaca surat keputusan Dewan Heemraden mengenai kepemilikan tanah keluarga Erberveld.
”Bukankah dahulu papi Tuan seorang Vertegenwordige4 di Het College van Heemraden?” tanya Ateng Kartadriya, meneliti surat keputusan tersebut.
”Benar, Raden!” ujar Pieter, “mereka bahkan tak peduli pada jasa Papi.”
”Hmm… tiga ribu tiga ratus ikat padi?” gumam Ateng Kartadriya, ”mungkinkah ini ada hubungannya dengan Reijkert Heere?”
Kedua alis Pieter saling bertaut ketika keningnya mengerut. Ia seperti sedang mencari alasan paling mungkin bila dugaan Ateng itu benar. Ya… untuk apa? Mengapa Reijkert harus melakukan itu?
Ateng Kartadriya dan Pieter saling berpandangan, seperti menemukan jawaban.
***
Sejak usaha leerlooierij5 Erbelveld senior tersohor, nama Jacatraweg menjadi tenggelam. Orang lebih mengenal tempat itu sebagai kampung Peca’ Kulit. Mungkin karena kepiawaian Erberveld senior itu, Pemerintah Belanda mengangkatnya sebagai wakil presiden di Het College van Heemraden.
Sepeninggal Erbelveld senior, Pieter melanjutkan usaha itu. Kedekatannya dengan bangsa pribumi membuat Pieter disegani. Ia bahkan berkarib dengan seorang pribumi bernama Raden Ateng Kartadriya. Mereka bahkan menyebutnya Toean Goesti setelah ia mengaku sebagai orang Selam6.
Seandainya saja dahulu Pieter mau menerima tawaran Henricus Zwaardecroon, mungkin Reijkert Heere tak perlu menjelma sebagai penulis lakon sebuah sandiwara dan menjadikan Pieter pemeran utamanya.
Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.
Siapa pun yang dijebloskan ke ruang hukuman di Stadhuis akan mengakui kesalahannya. Landdrost7 selalu memiliki cara untuk membuat orang mengakui kesalahannya meski sesungguhnya ia tiada bersalah.
Ruang bawah tanah itu adalah saksi bagi keputusasaan.
Dan sejarah memang harus dituliskan.
***
Sejak mercon itu meledak di benteng Zeelandia, Gubernur Jenderal Zwaardecroon kian meradang. Hanya tinggal selangkah lagi ia akan menjadi pemilik seluruh tanah di Batavia. Namun, dukun yang diundangnya mengatakan kepadanya tentang langit Batavia yang telah dipenuhi segala macam ilmu hitam. Seorang stafnya meninggal tiba-tiba karena penyebab yang entah apa. Apalagi, tersiar kabar tentang jimat-jimat yang beredar di tengah masyarakat.
”Selamat siang, Tuan!” sapa seseorang. Zwaardecroon bergeming menatap keluar jendela kantornya.
”Apakah kau datang membawa kabar, Tuan Reijkert?” tanya Henricus Zwaardecroon tanpa menoleh.
”Saya ada membawa kabar, Tuan!”
”Kabar baik?”
”Tentu, Tuan!” kata Reikert, ”kami sudah menemukan biang keladi kekacauan selama ini.”
Zwaardecroon langsung memutar tubuhnya, ”Betul yang kaukatakan itu, Reijkert?”
”Benar, Tuan,” ujarnya, ”Tuan tentu mengenal Raden Ateng Kartadriya?”
”Mandor di leerlooierij milik Pieter?”
”Kami menggeledah rumahnya dan menemukan jimat-jimat yang selama ini beredar di masyarakat.”
”Jadi, dia pelakunya?”
Reijkert tersenyum, ”Tuan tahu siapa yang berada di belakangnya?”
”Pieter?”
”Benar, Tuan!”
Zwaardecroon memandang keluar jendela ruang kerjanya, ”Kau tentu sudah tahu apa yang harus dilakukan, Reijkart?”
Reijkart memberi hormat, melangkah meninggalkan ruang kerja Gubernur Jenderal Henricus Zwaardecroon. Suara langkahnya seperti irama kematian.
***
Sejak suaminya menjadi penghuni ruang hukuman di Stadhuis, Margaretha telah kehabisan air mata. Ia tak lagi bisa menangis. Leerlooierij milik suaminya tak lagi beroperasi. Hari-harinya hanya ditemani sepi. Sudah beberapa kali dia mengunjungi Stadhuis, mencari tahu nasib suaminya. Sia-sia. Gubernur Jenderal tak mengizinkan siapa pun mengunjungi pelaku pemberontakan. Seperti juga aku, Margaretha tahu, hidup suaminya tak akan lama lagi.
Pagi tadi, berkas perkara Pieter dan teman-temannya tidak diserahkan ke Raad van Justitie, tetapi ke Collage van Heemraden. Tanpa seorang pengacara pun mendampingi mereka.
Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.
Bukankah sudah kukatan, tak ada yang tidak akan mengaku bersalah setelah masuk ruang hukuman di Stadhuis? Begitulah hukum kompeni. Mereka selalu punya cara untuk membuat orang mengakui kesalahan yang tidak dilakukannya.
Aku memang tidak berada di ruang hukuman, tapi aku tahu apa yang telah mereka lakukan terhadap Pieter dan teman-temannya.
Sejarah memang harus dituliskan, bukan?
***
Tiap jengkal tubuh Raden Kartadriya telah menerima pukulan serta tendangan. Kedua tangannya dirantai. Lehernya dikalungi timbangan besi. Kepalanya tertunduk ke lantai menahan nyeri setiap kali serdadu kompeni menambah pemberat pada timbangan. Namun, ia masih bungkam, tak mau membuka suara.
”Potong habis rambutnya!” perintah Reijkert, ”kita lihat, apakah ia masih sanggup tutup mulut!”
”Baik, Meneer!”
Helai demi helai rambut Raden Kartadriya berjatuhan di lantai hingga tak sehelai pun tersisa di kepalanya.
Reijkert mencengkeram leher Raden Kartadriya, lalu mendongakkannya. Lelaki itu malah tersenyum sinis, sorot matanya menyimpan api. Sebuah hantaman ditengkuknya membuat kesadarannya hilang.
”Masukan dia ke dalam sel!” perintah Reijkert, ”seret yang lainnya!”
Serdadu kompeni menyeret Layeek, seorang budak dari Sumbawa, orang kepercayaan Pieter setelah Raden Kartadriya.
”Kamu orang tak perlu menderita seperti Kartadriya jika mau menceritakan tentang rencana pemberontakan kalian!” bujuk Reijkert.
”Fuih!” Layeek meludahi wajah Reijkert.
”Kurang ajar!” Tangan Reijkert menghantam dagu Layeek. Pemuda itu langsung tumbang, ”Angkat dia!”
Serdadu kompeni merebahkan tubuh Layeek di atas de pijnbank8. Kedua tangannya dibentangkan, lalu telapaknya disekrup. Layeek menjerit-jerit kesakitan. Darah. Reijkert tertawa menikmati setiap tetes darah yang retas dari tubuh legam Layeek.
”Baik… baik, Tuan… saya akan ceritakan!”
***
Sejak Pieter dan teman-temannya membuat pengakuan, Collage van Heemraden telah mengetukkan palunya. Konon dan memang hanya konon, Pieter menyimpan semua rencana pemberontakannya di sebuah peti di dalam lemari tua di rumahnya. Pieter mengatakan akan melakukan pemberontakan pada malam tahun baru dengan dukungan pasukan dari Banten, Cirebon, dan Kartasura. Pieter bahkan mengaku telah berkirim surat kepada putra Surapati.
Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.
Meski kompeni tak berhasil menemukan surat-surat yang konon disembunyikan dalam peti di lemari tua miliknya, Raad van Indie telah menyetujui hukuman mati dengan penggal kepala kepada Pieter dan delapan belas orang inlander pengikutnya. Mereka akan mengeksekusinya di lapangan sebelah selatan kasteel.
Begitulah, sejarah akan dituliskan, kataku mengakhiri cerita.
Kedai minum itu hening. Tak ada yang tahu apa yang sedang bermain di dalam kepala orang-orang yang mendengar ceritaku itu. Pieter Erbelveld memang dikenal luas di Batavia.
”Kita harus meninggalkan tempat ini, Tuan!” ujar seorang lelaki dengan destar merah melilit kepalanya, ”sebelum kompeni menyadari pelarian Tuan. Raden Pengantin beserta pasukannya telah menanti di bekas tanah milik Tuan di Sontar.”
”Kartadriya….”
”Kita tak mungkin membawanya serta.”
”Apakah kau akan ikut dengan kami, Jan?”
”Pergilah!” jawabku, ”aku akan menyusul kalian. Biar kuselesaikan dulu soneta ini.”
Sepeninggal kedua orang itu, pemilik kedai yang ikut mendengarkan ceritaku menghampiri, ”Tuan, bukankah Meneer yang wajahnya penuh luka itu Pieter Erbeveld?”
”Bukan!” kataku sambil berlalu meninggalkan pemilik kedai itu, ”Pieter akan mati hari ini!”
Pemilik kedai itu hanya tersenyum, memandangi kepergianku. ***
Depok, 09/11/2008
Catatan:
1. Gudang mesiu di Kota
2. Orang yang Kuciwa, lihat Saidi, Ridwan (hlm 184). 1987. Profil Orang Betawi–Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadat, Jakarta: PT Gunara Kata
3. Sekarang Museum Fatahilah
4. Wakil Presiden
5. Penyamakan kulit
6. Orang Islam
7. Semacam jaksa
8. Bangku penyiksa
Dimuat di Kompas 7/12/2008
Bada ditinggalkan pinangan hatinya, lelaki paruh baya itu sangat suka mendongeng. Semua dongengannya pun memiliki potongan cerita menarik. Tak heran bila putranya sangat suka menajamkan telinga di sela-sela desauan angin yang memapas kisah dari bibir hitam yang berkerut merut itu.
Entah, yang didongengi pun tak tahu mengapa lelaki yang tampak beberapa tahun lebih tua dari usianya tersebut sangat suka melakukannya. Dalam setiap dongengannya, entah itu melankolis, romantis, atau epik; entah itu surealis atau absurd; entah juga itu tentang gadis, bujang, janda, duda, atau manusia-manusia yang hampir berbau liat; lakon-lakon yang baik-baik sifat, perilaku, dan tutur bahasanya, adalah seseorang bernama Jarun.
”Agar hidupmu tidak menggelambir noktah kelam, Nak.” Itulah yang diucapkan lelaki itu ketika anaknya bertanya mengapa ia sangat sering bercerita.
Wajar bukan kalau putranya tak pernah mengerti alasan mengapa lelaki itu senang mendongeng. Mana cepat mengerti putranya dengan jawabannya itu. Memang sejatinya tak penting bagi sang putra memahami leliku bahasa-bahasa tingkat tinggi yang kerap dibunyikan lelaki itu. Baginya yang utama adalah setelah mendengarkan dongengan sang ayah ia bisa memintal angan dalam mimpi yang terbilik oleh purnama-purnama yang indah.
Yah, ketika angin diam-diam menghembuskan hawa hampanya, manusia-manusia kerap menutup kelopak matanya, maka masing-masing tetiduran pun memekarkan bunga-bunga malamnya. Tak terkecuali untuk seorang bocah delapan tahun yang sangat senang mendengarkan kisah-kisah kehidupan bernuansa merah muda dari ayahnya. Oleh sang putra, semua kerap—dan memang diharapkan—tidak hanya terjelma dalam mimpi belaka, tetapi suatu hari akan menguap menjadi kenyataan yang jelas berupa-rupa.
”Mengapa tidak Jarun saja namaku, Yah?”
”Tak penting nama itu, Nak. Yang penting, segala kebaikan Jarun itu hadir dalam kehidupanmu.”
”Tetapi, aku mau Ayah juga memanggilku seperti itu!”
Lelaki legam itu tak memerhatikan, apalagi memedulikan, permintaan putranya barusan.
”Tidurlah, Nak. Besok kau harus sekolah.”
Putranya mengangguk.
”Jangan lupa berdoa agar tidur berkat, dan sebangun kau darinya pun juga bisa berkat. Dan yang terpenting adalah semoga doa-doa itu turut membantu agar dirimu tidak diboyong ke pusat kota suatu hari.”
Lagi-lagi Jarun tak mengerti kata-kata ayahnya. Lelaki itu memang tak panjang jalan pikirannya. Apa ia kira anaknya itu setua dirinya sampai kata-katanya harus selalu berumpama-umpama dan memilih bahasa-bahasa yang tidak biasa.
Putranya sudah menguap. Tidur. Tidur. Mimpi jadi Jarun….
”Besok tolong Mami ya, Dre? Ambilkan uang yang baru dikirim papimu dari desa.”
Andre hanya mengangguk. Lucu, masak tinggal di kota, tetapi dikirimi uang oleh orang yang tinggal di desa.
”Halooo! Kau dengar, kan?!”
”Eeeh iya, Bu… eh salah, Mi.”
”Sekalian kau belilah perlengkapan keelokan fisikmu. Deodorant, parfum, t-shirt, jeans, dan lainnya. Engkau lebih pahamlah apa yang kiranya serasi untukmu. Setelah itu pergilah nge-gym ke tempat fitness-nya Om Andi, biar kau bisa membantu Mami mencari uang kelak.”
Apa hubungannya?
”O ya, nanti kalau ada gadis-gadis itu, jangan sedikit pun kau tergoda. Ingat, kau masih 16 tahun, Dre. Mami tak mau kau justru melampiaskan hasrat birahimu kepada mereka. Kau masih mau bermewah-mewah, bukan? Ha ha ha…,” Mami menutup kalimatnya dengan tawa panjang.
Tak lama berselang, rumah itu dipenuhi para penjual yang barang bawaannya tak kunjung habis. Berkurang tantangan dan rupa kepuasan saja yang membedakannya dari hari ke hari.
Bordir, bordir! Andre menggerutu sebelum meninggalkan rumah yang penuh dengan cekakak-cekikik puluhan pasangan haram itu.
”Aku harus jadi anak baik seperti pesan orangtuaku dulu,” hati kecilnya bertekad.
”Bukankah Mami adalah orangtuamu juga? Lagi pula kalau kau lari, apa kau tak takut dimarahinya?” belahan jiwanya yang lain berujar.
”Mami? Hueekh! Siapa peduli!” hati kecilnya bertahan.
Sebagaimana layaknya hari Kamis, Ahmad harus melakukan persiapan ekstra di An-Nur, masjid yang dia huni. Maklum esok salat Zuhur absen dari ritualitas manusia-manusia masjid. Salat dua rakaat yang bernama sama dengan hari dilaksanakannya ibadah tengah hari tersebut memaksa pemuda 25 tahun itu membentangkan sajadah panjang-panjang hingga memenuhi ruangan masjid; memastikan kotak wakaf berjumlah delapan agar ia tak terlalu lama melewati saf-saf yang kian Jumat kian memendek dan berkurang; mengecek soundsystem tua agar suara Kiai Anam tak memarau dan putus-putus olehnya hingga mengganggu jamaah yang hendak tidur siang selama ia membusa mulut dengan khotbahnya; serta mengamplopkan beberapa puluh ribuan untuk Kiai Anam, Wak Jamil, dan Mang Marlis.
Uh, Mang Marlis. Jumat lalu lelaki yang menderita radang tenggorokan akut itu mencak-mencak di hadapan Ahmad. Perihalnya sepele-pele rumit, sudah beberapa hari belakangan becaknya sepi.
”Orang lebih suka naik ojek, lebih cepat katanya,” jawab dia waktu itu ketika Ahmad bertanya mengapa tiba-tiba ia mengeluhkan, bahkan terkesan menyalahkan dirinya, setelah salat Jumat hari itu.
Yah, wajar kalau Ahmad awalnya bingung dengan tuturan-tuturan Mang Marlis. Baru saja salat Jumat berakhir, lelaki itu langsung menyeracau hingga Ahmad terkejut sejenak sebelum mencoba memahami semuanya.
”Apa hubungannya denganku, Mang?” respons Ahmad saat itu.
”Kau kan garin masjid. Kau sampaikanlah kepada Haji Dullah, ketua pengurus masjid, kalau aku juga pandai berazan. Muazin dapat 25 ribu, kan? Itu lebih besar dari tarikanku sehari. Biar Jumat nanti aku bisa rehat sejenak untuk persiapan enam hari ke depan. Tolong usahakan ya, Mad. Nanti kuberi uang rokok untukmu.”
”Aku tak merokok, Mang,” Ahmad masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.
Mang Marlis hanya nyengir kuda sebelum menepuk bahu Ahmad dan berlalu dengan penuh harap.
Sejak saat itu Ahmad tidak pernah melihat Mang Marlis dengan becaknya lagi. Dan dua hari lalu, tiba-tiba saja lelaki 40 tahun-an tersebut tak henti-hentinya mengumbar terima kasih ketika tahu ia diizinkan menjadi muazin salat Jumat esok. Hari itu juga, Ahmad baru tahu becak lelaki itu ditarik juragan Marwan karena ia sudah satu minggu tidak pernah setor.
”Dooor!”
”Eeh… iya.” Ahmad tersentak mendapati tangan yang baru saja menepuk bahunya.
”Pagi-pagi udah ngelamun, Mad,” Harun tetangganya, sudah berdiri di belakang. ”Tolong umumkan ini di masjid, biar aku yang beduk.” Harun memberikan kepalan kertas lusuh. Ahmad terkesiap melihat tulisan yang tergores di sana.
”Meninggalnya jam dua subuh tadi.”
Ahmad masih melongo.
”Entah lucu juga kalau kau dengar musabab kematiannya. Kata Bi Anis, istrinya, dari pagi hingga tengah malam, ia seharian di kamar, membuka-buka buku bacaan salat. Berteriak-teriak sendiri di kamar seperti orang melagu-lagu arab tak jelas rupa bunyinya. Lewat tengah malam tenggorokannya tersekat, tak ada air pula dijerang Bi Anis. Akhirnya mati….”
Ahmad menelan air ludah. Ia melangkah menuju mikrofon yang mesti disambungkan dulu kabelnya ke equalizer murahan di balik mimbar.
”Oya aku baru ingat, Mad. Matinya karena belajar berazan….”
Sudah kuduga.
”…ada-ada saja cara Tuhan mencabut nyawa orang…,” lanjut Harun.
Tak lama berselang. Beduk dipukul dengan ritmis sumbang. Penduduk menajamkan telinga.
”Innalillahi wa innalillahi roji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah, Marlis bin Ajip Makmun….”
”Mengapa kau bisa sampai di sini?”
”Untuk apa kau tahu?”
”Banyak yang masuk ke sini hanya karena salah tangkap, tak ada uang, salah paham, dan…”
”Apa peduliku? Penjara ya penjara, tempat orang-orang berwatak dan berperi laku bejat dikandangkan.”
”Tidak denganku, anak muda.”
”Maling mana mau mengaku maling!”
Paaak.
”Mengapa kau menamparku?”
Paaak.
”Nah kau puaskan? Sekarang kau yang balas menampar wajahku yang memang sudah remuk ini?”
Beberapa jam kemudian dua lelaki senjang usia tersebut sudah akrab. Entah api dari mana yang mengasapkan kehangatan hubungan mereka. Tiba-tiba saja, tamparan, rasa skeptis, dan caci-maki yang kerap mewarnai awal jumpa mereka di lembaga pemasyarakatan sore tadi mulai berkurang—bukan hilang sama sekali.
”Itulah leliku hidupku, Pak,” lelaki yang lebih muda menutup cerita hidupnya pada malam yang memekat. ”Sekarang giliranmu.”
”Istriku selalu meminta kiriman uang dariku.”
”Wajar, bukan?” sela yang lebih muda.
”Iya. Sebelum semuanya terungkap bahwa ia berprofesi sama dengan ibumu yang baru kau ceritakan tadi. Aku murka setelah mengetahui semuanya. Aku datangi tempatnya, kuacak-acak sarang setan yang dia buat. Ia pun membawa kasus ini ke meja hijau. Aku tak cukup beruang lagi saat itu. Ia menang. Tetapi, aku tak heran. Seorang mucikari seperti dia pasti memiliki bekingan berlapis, tak mengenal profesi, tanggung jawab, dan sumpah jabatan yang menyertainya. Wajahku saja, seperti kaulihat saat ini, lebam mengungu, sampai hampir tak berupa.”
”Jadi?”
”Jadi, ya aku dipenjara,” lelaki tua itu menerawang, ”salahku juga yang belum sempat menceraikannya. Sakit hatinya aku adalah ketika di pengadilan terungkap bahwa ternyata kirimanku selama ini sudah beberapa tahun belakangan tak pernah dia terima. Entah bagaimana itu bisa terjadi. Katanya anak bujang kami yang melarikannya karena memang atas nama ia buku tabungan tersebut ditandatangani. Kalau penegak hukum itu mau adil, seharusnya mereka berlogika, mana tahu aku perkara diterima atau tidaknya uang itu. Lagi pula wanita iblis itu tak pernah mengabariku.”
”Jadi tepatnya, apa pasal hingga Bapak mendekam di sini?”
”Sangkaan terhadapku sangat berlapis. Selain masalah tak pernah menafkahi istri dan anak, juga tindakan anarkis terhadap rumah pelacuran istriku. Tetapi…”
”Tetapi apa, Pak?”
”…aku tak rela ditangkap, maka melarikan dirilah aku ke suatu daerah yang kuyakini bisa menumpang teduh pada adikku. Walaupun aku tak dapat menemukannya dan akhirnya aku tertangkap juga,” lelaki itu menyebut nama suatu tempat.
”Aku sempat tinggal di sana.”
“Hah? Benarkah? Kau kenal adikku?”
”Siapa namanya?” tanya yang lebih muda sok peduli.
”Marlis. Ya hanya Marlis tok! Kau kenal?”
Deg!
Air muka lelaki yang lebih muda memerah. Tetapi, raut itu belum sempat ditangkap mata tua lelaki di hadapannya. Ah, aku tak mau memanjangkan cerita, cukup membosankan juga nanti berbalas omong dengan lelaki tua ini. Paling ia akan menerorku dengan tanya ini-tanya itu perihal Marlis miskin buta agama itu. Kasihan kalian, dua beradik yang tak mujur dua-duanya!
”Kau kenal?” lelaki tua mendesak.
”Huaaap…,” lelaki yang lebih muda menggeleng sambil pura-pura menguap. ”aku ngantuk, Pak. Tidur dulu, ya. Nanti kalau ada sipir yang mengantar makanan, bangunkan aku!”
”Ya sudah kalu begitu. O ya, tadi kau bercerita panjang lebar tentang dirimu, tetapi kau belum menyebutkan namamu?
”Huh! Banyak bacot pula, kau! Baiklah, biarkan aku istirahat setelah kau dengar semuanya!”
Lelaki tua mengangguk ragu. Keder juga dia melihat ekspresi kesal lelaki 27 tahun-an di hadapannya itu.
”Namaku macam-macam. Saat aku dimasukkan ke sini perihal kucuri semua uang wakaf masjid yang telah kutunggui lebih dari lima tahun, namaku Ahmad. Sebelumnya namaku Andre, semasa kecil namaku Amrul.”
”Amrul?” lelaki tua membelalak, serasa tak percaya.
”Iya. Tidak ada pertanyaan lagi, kan?” Ahmad tak memedulikan ekspresi rekan sekamarnya. Ia langsung berbalik, membaringkan tubuhnya
Senyap. Hanya angin penjara yang berseliweran mengisi ekspresi murung, sedih, pedih, dan kacau para penghuninya.
”Semasa kecil, kau sangat suka didongengi, bukan?” suara lelaki tua memecah hening. Ia telah membelakangi Ahmad, menghadap ke jeruji, memegangi bilah-bilah besinya.
Ahmad membuka kelopak matanya yang baru saja menutup.
”Umur delapan tahun kau dibawa ibumu ke kota. Aku baru tahu beberapa tahun lalu, tepat pada usiamu ke-17 kau akan digigolokannya. Untung kau melarikan diri satu tahun sebelumnya.”
Ahmad bangkit dari pembaringannya. Mukanya memerah.
”Jarun… Jarun… kau hanya manusia impian. Percuma saja kisah-kisah rekaan tentangmu kuhembuskan ke telinga putraku. Semua tak membekas. Ia tak jadi jua seperti yang diharapkan.”
”Kau... kau…?” Ahmad terbata-bata.
”Tak usah berharap. Aku sudah lupa dongeng-dongeng tua itu. Aku tak akan mendongeng lagi.” lelaki tua itu menyeringai kecil. ”Lagi pula, pemilik pusat kebugaran itu sudah menjadi papi tirimu.”
Ahmad bangun. Perlahan, mendudukkan tubuhnya yang layu di dinding penjara.
”Mungkin sudah takdirnya pula, dua beranak mati di jeruji ini,” lelaki tua itu membalikkan tubuhnya menghadap Ahmad yang meremas-remas rambut kusutnya.
Jeruji besi berbunyi seperti dipukul-pukul. Makanan anjing telah datang. Tampaknya malam itu akan menjadi lebih panjang dari biasa.
Dimuat di Suara Pembaruan 08/11/2009
Surat-surat itu sudah lama ditulis untuk sebuah negeri. Sebenarnya, ada banyak sekali surat yang ditulis. Tapi, dengan semua keterbatasan yang melingkupi penduduknya, hanya empat surat yang diketahui alamat pengirimnya. Mereka tahu bahwa surat-surat (yang tentu saja lebih dari empat) itu pastilah memiliki pengirim. Mereka juga tahu siapa sejatinya si pengirim. Ya, pengirimnya tak lebih dari satu. Alamatnya pun berasal dari negeri yang sama. Tapi, layaknya sebuah kediaman: ada rukun warga, rukun tetangga, jalan, gang, bahkan nomor rumah. Nah, perihal itu, tak banyak yang tahu, kecuali tentang empat surat itu. Inilah alamat-alamat surat-beserta isinya-itu.
1. Kampung Hijr, Rumah Ke- empat dari Sembilan Puluh Sembilan
Surat ini menceritakan bahwa luluhlantaknya kampung-kampung dan kota-kota, atau juga negeri-negeri, sejatinya telah dituliskan jauh-jauh hari. Di sebuah pohon yang hanya si pengirim yang tahu-dan sekehendaknya merajah-rajah di sana.
Ditulislah bagaimana orang- orang yang dihikayatkan, dan bagaimana ketentuan menyertai kelahiran mereka. Termasuk juga tentang tanda-tanda yang disiratkan pada sebuah tempat. Oh sungguh, adalah kemahatahuan yang tak separuh-separuh makbul dipercayai.
Surat itu diketahui alamatnya bakda si pengirim melemparnya ke bagian barat dari daratan tengah laut yang diapit Tanah Andalas dan Pulau Para Dewa; setelah lebih dari 1400 tahun diturunkan di tanah Aminah melahirkan putra yang buta-membaca. Ya, surat itu diketahui asalnya ketika orang-orang telah dapat rehat sejenak; menyelonjorkan kaki dekat dinding rerumah yang merapuh tiba-tiba; lelah seharian mencari anak-bini (atau anak-laki) di antara remahan batubata yang menyerak di jalan- jalan, kediaman, dan tempat-tempat khalayak.
Kala itu, hari baru saja memasuki pintu kedua dari sebuah bulan yang dimusabab-namai dari kata "septa". Bulan hujan yang pertama. Di senja yang masih muda. Tanpa rinai dan hujan renyai. Asar baru saja ditandai oleh sebuah seruan yang dilenggak-lenggokkan dari corong suara rumah-rumah sajadah. Ibu-ibu-yang masih memiliki waktu lapang-tengah berlatih membuat bunyi-bunyi indah dari angklung; bapak-bapak baru saja pulang dari mengebiri kerbau meloyakkan tanah sawah. Biasanya, bila ada anak meranjak bujang, ia akan disilahkan menunggangi binatang bertanduk-lengkung itu sambil meniup seruling. Syahdu nian, oi! Syahdu nian. Hingga, bila kesyahduan itu berembus menerabas angin, maka akan berlabuhlah di lubang- lubang telinga. Turun ke hati. Lalu, terasailah sebuah kesejukan....
Ah, itu adalah cerita tentang keelokan barisan puncak-yang banyak ditanami teh-di petang yang belum oranye; kampung-kampung tetangga dari sebuah kota yang ditamsilkan sebagai Paris. Juga diumpamakan sebagai kota yang ber-taburan kembang-entah kembang yang sebenar kembang, atau kembang yang mengumpamakan geulis-geulis yang aduhai rupa dan perita-biatnya.
Surat itu dikirim ke bukit-bukit teh yang dingin. Istimewakah negeri itu? Bila iya, apakah keutamaannya? Bila tidak, apa yang menyebabkan daerah-daerah itu dipilih sebagai titian (atau juga tumbal?) untuk memudahkan alamat-pengirim terendus? Hanya si pengirim yang tahu alibinya. Ialah yang berkuasa. Sangat berkuasa.
2. Kampung Isra, Rumah Ke- enam Belas dari Seratus Sebelas
Beginilah isi surat yang sampai tepat lima belas hari setelah bulannya 1000 bulan itu melepas makhluk bertanduk merah dari kerangkeng.
Bila si pengirim hendak membinasakan suatu negeri, maka dengan menitahkan makhluk-makhluk cahaya ia tintahkan orang-orang yang hidup berlebihan meninggalkan kejemawaan mereka (bahkan untuk menyembah Tuhan sekalipun mereka jemawa). Bila tidak, maka (sekali lagi: Ialah yang berkuasa) si pengirim akan membinasakan.
Demikian peringatan (kata orang-orang, ancaman) itu telah dikisahkan. Lalu dilalaikan. Hingga surat itu pun dikirim lagi.
Tak ada yang berbeda perihal apa-apa yang menimpa negeri yang dikirimi surat dari Hijrah. Mungkin hanya tentang bentuk-bentuk rumah yang meluruh, dan garis muka orang-orang yang diserang pias dan ketakutan yang sangat, atau juga tentang waktu datangnya surat. Surat kedua ini diterima jelang pertengahan Syawal.
Jadi, tak cukupkah Paris Jawa menjadi semacam tumbal untuk sebuah kedatangan surat-maut itu? Mengapa kampung-kampung yang menyeruk dari bukit barisan di barat Sumatera itu, harus jua tersembul sebagai satu dari halaman sebuah buku hikmah: hati-hati jalan ke jannah semakin terbuka, jalan-jalan ke jahim semakin menganga?
Atap-atap bagonjong itu menudung tanah. Nyiur di tubir pantai melindas gubuk nelayan di tepian Air Tawar. Kerajaan-kerajaan muara ilmu pun retak-kamaretak. Bahkan, sebagian ambruk sedikit miring menyeruduk batubujang berjubah semen, yang menyangganya.
3. Kampung Isra, Rumah Ke- lima Puluh Delapan dari Seratus Sebelas
Negeri yang sama. Rumah dengan atap lengkung. Ranah di mana saluang dilagukan, bansi mengembang-kempiskan hidung, sate-kuning dikerumuni, ubi dilumuri saus merah, jam gadang berdentang-denting.
Dan mustajablah prakira, taklah mungkin surat itu dikirim dari kampung yang berlainan. Ya, surat itu dari kampung yang sama. Hanya berselang beberapa puluh rumah saja. Tentu saja penduduk negeri kembali berhamburan. Bukan dari luar rumah-karena rumah tak lagi layak ditempati sebagai lapak memanja raga atau pikiran, tapi dari tepi-tepi jalan, dari kemah-kemah yang tegak tiba-tiba, atau dari kumpulan yang awalnya saling menguatkan-tentu saja seraya mengharapkan agar semuanya baik-baik saja.
Bakda mendapati alamat surat, mereka dapati kata-kata yang merajut kabar lama. Kabar yang kini mereka baca lagi, dan bagai kabar baru yang menyemburkan api yang siap menjilat-jilat.
Ya, di Lauhul Mahfuz telah dirajah semuanya. Tentang negeri yang rupa-rupa peradabannya akan digemeratakkan dari bawah tanah.
(Tapi, mengapa harus negeri ini? Bukankah ini negeri para ulama?)
O, ini bukan perkara pilah-pilih negeri yang akan dikirimi surat. Ini pula bukan perkara kurir-langit salah kirim. Ini adalah sebuah rahasia yang tak terjangkau dari batang-pikiran manusia. Mungkin, perihal Maryam yang hamil tiba-tiba, tentang Muhammad yang melesat tujuh lapis langit, atau bagaimana mungkin serambi Sumatera dicengkeram air bah-biru pekat?
4. Kampung An Fal, Rumah Ke-lima Puluh Dua dari Tujuh Puluh Lima
Sebenarnya maksud surat ke- empat ini tak jauh berbeda dengan ketiga suratnya. Namun, di surat ini, si pengirim membawa-bawa Firaun yang tak sedikit pun wajahnya tak bermaruah. Raja Mesir yang sangat memusuhi laki-laki sang pencari Tuhan. Laki-laki yang pernah ia bakar. Laki-laki yang memiliki tongkat maha-ajaib.
Namun, di sinilah hikmah itu terukir. Belajarlah dari Ibrahim. Belajarlah bagaimana menelisik bahwa kadangkala tingginya batang kelapa bukanlah tandingan pohon durian di ladang. Di atas langit keenam, ada yang ketujuh.
Namun, setelah kampung- kampung di seputar Kota Kembang, Ranah Pagarruyung, mengapa-bak bergiliran-orang-orang yang menjala ikan di sepanjang aliran Batang-hari jua yang mesti dikirimi surat? Adakah banyak Qabil-Qabil baru, atau Firaun-Firaun muda di situ?
Ayam-ayam berkeriukan dalam tudung anyaman, rerombongan burung berkeok dari barisan Siguntang, kaki-kaki jenjang kaum-kubu sigap menerobos rimba Kerinci. Hari itu, satu hari bakda surat ketiga dikirim ke negeri tetangga, Duha yang masih muda dipilih untuk membuat orang-orang memuja-muji si pengirim. Mendadak.
*
ITULAH alamat surat-surat yang 'dikirim'. Surat-surat yang terungkap dari sebuah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Surat-surat yang-entah dengan mengendarai apa si kurir mengantarnya- selalu menggetarkan bumi, membelahnya terburu-buru, merusak kubus-kubus yang beratap, meretak tembok-tembok beton, mengombang-ambing menara-menara, hingga akhirnya memaksa orang-orang-yang menaikkan bahu dengan dagu pongah-beriman tiba-tiba: menggemuruhkan pujian dan doa yang berebutan dan tak beraturan.
Dialah yang dalam kurun tiga puluh harian mengirim (atau juga membaca-ulang) surat-surat itu sebanyak empat kali. Surat-surat yang akhirnya menggelatungkan buah yang dapat dipetik: dari waktu ke waktu bumi zig-zag bergemuruh. Nama kampung adalah serupa nama surat, dan urutan rumah adalah tingkatan ayat dari surat yang termaktub dalam kitab-langit terakhir itu. Kitab yang biasa dibaca dengan napas yang tertib, lagu yang bermacam-macam, pikiran yang sebenar satu, dan hati yang tak ke mana-mana. Kitab yang kini bersampul abu-abu. Oleh debu. Oleh waktu. ***
Lubuklinggau, 10 Oktober 2009
Dimuat di Kompas 07/26/2009
Bila suatu waktu nanti, Tuhan berketetapan bahwa kalian harus berada di Lubuklinggau atau Musirawas (entah karena bus kalian yang transit, atau kunjungan khusus, atau memang akan tinggal menetap), maka perlu rasanya dirobohkan sebuah pohon cerita yang sudah sedemikian lama dipelihara oleh masyarakatnya sendiri.
Hanya berjaga-jaga: mungkin saja, kalian akan mendengar sebuah nama atau julukan atau juga olok-olokan yang berbunyi ”Bujang Kurap”. Tentu saja kalian akan membayangkan semacam penyakit kulit menular yang diidap seorang pemuda, seorang bujang. Mungkin juga kalian akan langsung memaklumi bagaimana si pemuda dipanggil ”Bujang” atau belum menikah: siapa yang sudi disunting lanang kurap? Dan sangatlah mungkin bila pikiran kalian pun melukiskan parasnya dengan sangat buruk dan menyeramkan—walaupun sebenarnya belum tentu juga orang yang terkena kurap itu adalah ia yang tak elok rupanya!
Mengapa perlu berjaga-jaga?
”Bujang Kurap” kadang jua dipakai untuk berolok-olok sesama kawan—atau juga terhadap orang lain—dengan berbagai dalih: satu/beberapa orang yang memang kurap—walaupun sedikit saja bercak itu terdapat di bagian tubuh tertentu; atau orang tak disenangi itu jauh dari rupawan wajahnya; atau sekadar mengolok-olok tanpa harus memikirkan tersambung atau tidaknya kata yang mereka gunakan untuk berolok-olok; atau juga ada alasan lain….
Sebenarnya, tak ada yang perlu diluruskan sehingga cerita ini harus dituliskan, apabila ”Bujang Kurap” yang dimaksud itu berada dalam pengertian bahasa Indonesia yang setakzimnya. Perkaranya adalah olok-olokan itu diambil dari sebuah cerita yang melegenda di Bumi Silampari, tentang seorang laki-laki yang berjuluk ”Bujang Kurap”.
Ini bukan perkara bahwa kampung kami tak ingin diturun-derajatkan dengan penggunaan julukan pemuda itu. Artinya, bila pun Bujang Kurap dicerita-legendakan sebagai bujang yang kurap saja, maka tak apa-apalah. Namun, Bujang Kurap kami adalah pemuda yang sifat dan tabiatnya sangatlah bertentangan dengan penilaian orang terhadap parasnya. Bujang Kurap kami adalah pemuda yang elok perangainya. Entah, apakah orang-orang kampung kami yang berolok-olokan tersebut tahu atau tiada mengindahkan cerita si Bujang Kurap, namun disilakanlah kiranya kami merayu, mengajak ikut serta merobohkan batang yang mungkin saja lebih besar dari derum itu.
Mungkin kalian akan mencela, ”Takkah terlebih dahulu, diberi tahu dan diajak dengan bijak, orang-orang kampung ini untuk merobohkan pohon itu?” Alamak jan, ini bukan perkara tak menganggap orang sekampung. Tapi sudah kapalan mulut kami berkisah dan berseru. Tetap saja telinga mereka jangak, pikiran mereka bebal, hati mereka kajat…. Sebagian mereka tak pandai memperlakukan cerita rakyat itu dengan hikmah.
Maka, telah cukupkah kiranya alasan untuk membentang cerita tentang si Bujang Kurap?
Adalah Datuk Saribijaya, laki-laki gagah nan rupawan: satu dari dua depati yang mengawal kepergian sang raja, Datuk Ketemenggungan sekeluarga, dari kerajaannya, Pagarruyung. 1
Setelah sekian lama mengikuti pengembaraan sang raja, singgahlah Datuk Saribijaya di Titiang Dalam, salah satu kampung di Sorulangun Jambi. 2 Di sana, ia menaut hati seorang gadis dari keluarga kerajaan Melayu Bangko. Putri Sari Banilai, demikian hikayat menceritakan namanya. Alahai, siapa yang tak ingin disunting laki-laki gagah serupa Datuk Saribijaya. Ya, walaupun ia tiada jemawa dengan ketinggian derajat yang disandang semasa di Minangkabau, namun kilau air muka, pembawaan, dan tindak-tanduknya tak urung memikat sesiapa, tak terkecuali bagi gadis-gadis Jambi, tak terkecuali bagi seorang Putri Sari Banilai.
Kain panjang dikebat. Perayaan besar pun dihelat. Betangkup dua hati, berjatuhanlah kelapa muda, bernyanyilah murai-murai Batanghari Sembilan…. Datuk Saribijaya dan Putri Sari Banilai memadu kasih secara adat dan kepercayaan. Mereka pun beranak pinak.
Keturunan dari Datuk Saribijaya dan Putri Sari Banilai ini pun merajut keluarga-keluarga kecil pula. Nah, salah satu keturunan dari keluarga-keluarga dari silsilah itu rupanya dititipkan Tuhan seorang bayi laki-laki yang kelak termasyhur namanya di seantero Musirawas dan sekitarnya.
Entah bagaimana, orangtuanya 3 yakin saja bahwa suatu saat nanti, putranya akan menjadi pemuda yang berhati mulia. Keyakinan itu tiada jua goyah meskipun beberapa tahun setelah itu, lahir seorang bayi perempuan 4 dalam keluarga mereka. Ya, walaupun dalam tumbuh-kembangnya, si sulung kerap mengidap penyakit gatal di sekujur tubuhnya, namun tak pernah mereka berpilih kasih dalam mencurahkan kasih pada kedua buah hatinya. Sang putra tetap diurus sebagaimana anak yang sakit mesti diperhatikan. Bahkan banyak tabib dan orang pintar yang dimintai bantuan untuk mengobatinya, namun tetap, tak kunjung sembuh penyakit anak bujang mereka.
Singkat cerita, putra mereka tumbuh sebagai pemuda kurap, hingga orang-orang menjulukinya ”Bujang Kurap”. Dan… terbuktilah peribahasa lama itu: Tiadalah Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang berkekurangan saja. Ya, sebagaimana dahulu orangtuanya berkeyakinan, Bujang Kurap juga tumbuh sebagai pemuda yang berbudi.
Walaupun orang-orang tahu bahwa Bujang Kurap adalah pemuda yang bersahaja, menghormati orang yang lebih tua, bahkan—ini yang lebih terperhatikan kala itu—tak jarang meringkus perampok yang masuk kampung, namun mereka masih saja menjulukinya seperti itu. Nah inilah yang perlu didudukkan: julukan yang disematkan pada si pemuda, tak lain tak bukan, demi memudahkan penjelasan tentang siapa orang berhati baik yang dimaksud. Ya, tak ada niat untuk berolok-olok dengan julukannya itu.
Dan… itulah mulianya orangtua. Tiadalah mereka merasa malu dengan apa-apa yang mendera anak bujangnya itu. Maka, Bujang Kurap merasa sedih yang tak alang kepalang ketika ibunya meninggal. Tak lama berkelang, Bujang Kurap pamit pada ayahnya untuk merantau, mengembara mencari kesaktian-sebagaimana cara orang-orang dahululah.
Dalam kisah yang sudah dipersingkat, setelah memperoleh kesaktian dari sebuah pertapaan, Bujang Kurap melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah aliran air bernama Sungai Rawas. Aliran itu hulunya bermula dari celah gugusan bukit di sebelah timur Bukit Barisan. Dari sini, mengalir ke arah timur: panjang dan berliku-liku. Akhirnya bermuaralah di daerah yang kini bernama Musi Banyuasin, namun masih berdekatan dengan perbatasan Musirawas. Maka, Bujang Kurap pun melalui dusun-dusun di sepanjang sungai: Kota Tanjung, Napal Licin, Muara Kulam, Muara Kuis, Pulau Kidak, dan banyak lagi, berakhirnya di Dusun Pauh, dan bermuara di daerah dekat Sungai Musi yang bernama Muara Rawas.
Bujang Kurap membantu penduduk dusun-dusun yang dilaluinya. Membantu menaikkan bubungan rumah, mengangkut batu jelapang untuk memirik rempah, membuka ladang, menyadap karet, memanen kopi, dan tentu saja dengan semua kesaktian yang dimiliki, ia mengamankan kampung dari sekawanan penyamun, perampok, dan kelompok pembuat onar lainnya.
Nama Bujang Kurap pun termasyhur di bantaran Sungai Rawas. Orang-orang menaruh hormat padanya. ”Bujang Kurap” bukan lagi julukan yang memerudukkan keburukan seseorang. ”Bujang Kurap” dipakai untuk melukiskan betapa baiknya hati seorang pemuda; betapa rupa bukanlah tiang untuk mengukur tabiat.
Bujang Kurap menghabiskan hayat di sebuah kampung di Lubuklinggau, Ulak Lebar. 5 Di sana, ia mengajarkan silat dan kuntau-bela diri Sumatera, dan ilmu kesaktian yang dimilikinya kepada penduduk setempat dan datangan.
Bujang Kurap dikebumikan di kaki Bukit Sulap, daerah yang dibentuk oleh tiga aliran sungai: Sungai Kasie, Sungai Ketue, dan Sungai Kelingi.
Sebenarnya apa-apa yang baru saja diceritakan dapatlah dikatakan sebagai sebuah ringkasan yang tak sempurna dari sebuah kisah yang utuh. 6
Bujang Kurap juga manusia. Pastilah ada kekurangan, kekhilafan, dan keburukan sifat dan tabiatnya. Namun, tanpa bermaksud mencari alibi, apa-apa yang hitam dalam perjalanan hidupnya tiba-tiba menguap saja, bila disandingkan dengan keelokkan budi pekertinya.
Hingga kini, di tepi Sungai Kelingi, sebelah selatan Benteng Kuto Ulak Lebar, tempat Bujang Kurap tidur berbungkus kain putih murah, masih ada saja orang-orang yang mengadakan reritual demi sesuatu yang sebenarnya mereka sendiri tak sepenuhnya yakin dapat diraih.
Artinya, bila kalian tak hakkul percaya pada cerita yang diringkas ini, setidaknya lihatlah orang-orang yang belum tegak imannya itu. Mereka mungkin tak paham beragama, namun mereka paham sekali bahwa tiadalah akan ”berkah”—menurut mereka—sesembahan yang dijaban, bila arwah yang diharapkan membubung itu bukan orang baik-baik semasa hidupnya.
Oh, malu sebenarnya mengatakan ini:
Bila tak bisa diajak bersekutu orang-orang kampung demi merobohkan batang yang besar itu, maka tak ada salahnya bukan, kami mengait tangan kalian untuk mengabar kebaikan yang tak dimunculkan?
Ya, Bujang Kurap kami bukan serupa Malin Kundang di Minangkabau. Namun, uda-uni di barat Sumatera dapat dengan layak menempatkan cerita anak durhaka itu sebagai pembelajaran akhlak dan budi pekerti. Ini perkara salah bungkus! Kami pun kadang-kadang membersit tanya: Mengapa sampul cerita ini harus bertulis ”Bujang Kurap”. Mengapa tak mengambil judul lain?
O bukan hanya itu, Kawan! Cerita ini tak pernah dibukukan sebagaimana layaknya buku bacaan (jadi, jangan berharap kalian akan menemukan semacam buku cerita rakyat Musirawas-Lubuklinggau di toko-toko buku di kampung kami). Bahkan dicetak sebagai buku cerita ringan—yang disebarkan ke perpustakaan-perpustakaan sekolah daerah kami, juga tidak!
Kantong buah karet sudah meletus. Biji-bijinya berhamburan di tanah yang berselimut daun-daun kering yang berwarna abu. Hanya menghitung hari, semua telah tumbuh. Dan kini, sudah berabad kiranya cerita itu disiram, dipupuk, dan dijaga. Menjadi batang. Semakin besar. Sukar sekali dirobohkan, Kawan!
Jadi, bila suatu waktu nanti, Tuhan berketetapan bahwa kalian harus berada di Lubuklinggau atau Musirawas (entah karena bus kalian yang transit, atau kunjungan khusus, atau memang akan tinggal menetap), kami berharap; kalaupun kalian tak mampu merobohkan pohon itu, paling tidak, janganlah kalian indahkan olok-olokan orang kampung kami yang menjadikan seorang pemuda kurap sebagai senjata olokannya. ***
Lubuklinggau, 13-16 Mei 2009
Catatan:
1. Bersama bala tentara dalam jumlah besar, Adityawarman datang ke Pagarruyung. Tentulah maksudnya tiada lain-tiada bukan: menguasai kerajaan yang dipimpin oleh Datuk Ketemenggungan itu. Demi mengetahui bala prajurit yang dimiliki kerajaan tiadalah mungkin menandingi kekuatan yang dibawa oleh Adityawarman, maka bersama dua depatinya (salah satunya Datuk Saribijaya), Datuk Ketemenggungan meninggalkan Istana, pergi ke selatan.
2. Dalam sejarah Minangkabau disebutkan bahwa Datuk Ketemenggungan pergi meninggalkan istana Pagarruyung. Ia pergi bersama istrinya, Ratu Masturi, dua orang putrinya yang masih sangat muda bernama Putri Cindai Kusuma dan Putri Megasari, serta dua orang depati sebagai pengikutnya yang setia. Setelah tiba di wilayah perbatasan Pagarruyung dan Melayu, Datuk Ketemenggungan memberi tanda pada sebatang pohon durian besar serupa tekukan pada cabang yang paling tinggi menggunakan pedangnya (maksudnya agar mudah dilihat dari jauh). Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Durian Batakuk Rajo. Dari sini mereka meneruskan perjalanan ke Selatan; melalui negeri Melayu, daerah Rawas, Rupit, dan sampailah di Muara Rawas. Setelah dibuatkan pesanggrahan, istri dan kedua anaknya ditinggalkan di Muara Rawas. Datuk Ketemenggungan meneruskan perjalanannya ke Bukit Siguntang. Di kemudian hari, kedua pengikutnya kembali ke Durian Batakuk Rajo, lalu mengembara masuk hutan, menjadi cikal bakal suku anak dalam.
3. Dalam berbagai sumber yang telah diupayakan hingga saat ini, tiadalah didapat kabar (bahkan semacam kabar-kabari sekalipun), siapa nama kedua orangtuanya.
4. Sang adik bernama Putri Nilam Sari. Kelak tumbuh sebagai seorang gadis yang berparas elok-sebagaimana Putri Melayu digambarkan. Adik satu-satunya ini kemudian menikah dengan Lemang Batu, putra ketiga dari Ratu Agung, raja dari Kerajaan Sungai Serut, Bengkulu.
5. Inilah takdir anak manusia. Ulak Lebar adalah satu-satunya kampung di mana penduduknya mencegah Bujang Kurap untuk mengembara ke tempat lain. Tentulah hal ini membuat Bujang Kurap tersanjung: mereka dapat menerima kehadiran seorang kurap seperti ia, terlebih tak lama kemudian ia diangkat sebagai hulubalang.
6. ”Kisah yang utuh” itu terdapat dari naskah-naskah (bakal buku) yang ditulis budayawan Sumsel, Drs Suwandi, sejak 1983.
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)




