Tampilkan postingan dengan label K: Batam Pos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K: Batam Pos. Tampilkan semua postingan
Senin, 16 November 2009
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Batam Pos 18/01/2009
Pagi rumah sakit terlalu riuh dengan korban kecelakaan. Satu korban sekarat, sisa meninggal di tempat terjadi. Satu pick up memelanting pohon tepi raya hingga terjungkang balik ke tebing dalam.
Di saat para dokter berteriak-teriak garang agar lekas memasukkan korban ke dalam ruang operasi sentara mengambil kesempatan penyelematan seonggok nyawa di hujung tanduk, ia malah tengah menyeduh kopi, menyeruput dalam asap-asap yang berkepul—dengan gumaman kenikmatan—ia sangat tergila-gila yang bernama kopi. Terus meneguk genap perasaan berselip obrolan masa depan dengan masyik.
(minggu tak jatah di rumah sakit. Minggu-senin senggang hari merenggang penat. Di rumah. Di tanah sawah. Bercengkrama dengan sesama gadis di bawah meunasah gampong. Terkadang mencari sesak di peukan ramai.)
Ia pun bersama masyik1 melaju ke tanah sawah setelah berkopi. Tanah sawah sedang menghampar keindahan nian elok. Padi menguning. Pipit berkoloni-koloni mengepak sayap. Pematang riuh suara pemilik menghalau mangsa-an burung-burung. Sentara burung-burung bergerombol itu, mencuri-curi enap dalam lebat batang-batang.
Dalam hati ia mengungkap takjub indah panorama. Ia terlarung ketentraman tiada rupa. Potong senyum untuk siapa saja yang kebetulan melewat atawa menyapa.
Rentang waktu sama, di ruang rumah sakit, hawa-hawa ketegangan membulir. Detik yang berdetak menebar jarum-jarum kematian. Tiga dokter dikawani dua suster mengelilingi satu korban tak sadar diri.
Hanya degap jantung pelan. Baju loreng-loreng mendarah pekat. Mulut menganga-kan deretan gigi yang telah rentas. Dua bola mata terkatup semi rapat. Di hujung bawah, dua anak kaki puntung.
Kepala dokter yang paling senior mengangguk sebagai sebuah tanda. Lantas pisau-pisau, gunting-gunting bermula menari-nari di atas satu tubuh. Tiada bicara. Hanya gerak tubuh sebagai penjelas apa yang diingin.
Berbilang jam, ketiga dokter keluar dengan tampang semrawut. Keringat menempel di kening. Bagian belakang kemeja sembab serua membentuk satu pulau. Ketiganya berpisah dalam lorong berbeda.
Dua suster membereskan perkakas operasi. Tiada bercakap. Ligat melakukan pekerjaan mereka. Sekali-kali melirik pasien yang persis patung dengan penjuru mata.
Di pasar ikan ia tengah menawar harga. Peluh meleleh sebab angin terhalang banyak tubuh di tempat itu. Ba’da itu mengarah ke pasar sayur-mayur. Kembali peluh meleleh. Dengan punggung tangan ia menyeka seala kadar.
Pulang menumpang satu RBT2 orang sekampung. Setengah perjalanan, tiba-tiba saja—entah mengapa, pikirannya terloncat.
(Umurnya dua lima sudah. Ia belum menikah. Jangankah itu, pikiran untuk itu saja sangat tidak acap.)
Setelah itu ia senyum-senyum sendiri.
Malam, seorang perempuan baya yang dipeluk satu pemuda tanggung sudah menangis raya begitu turun dari sebuah mini bus. Mata perempuan itu bengkak. Di mata pemuda tanggung air mata tinggal bekas.
Kata si sopir, inilah tempat juju mereka. Dua anak-beranak itu tergesa bergerak masuk.
(Mereka datang dari tanah jawa. Dengan pesawat baru tiba petang tadi di bandara Blang Bintang. Lalu menumpang mini bus L-300 bertujuan Lhokseumawe. Tujuan tepatnya, Rumah Sakit Umum Lhokseumawe.)
Di sepanjang halaman pedagang eceran menjajakan rokok, kacang goreng dan aqua gelas. Lampu berkerlap-kerlip sehingga kelihatan benderang nyaris seluruh bangunan putih itu.
Perempuan itu masih saja menangis raya. Maka mereka dikerubungi orang ramai musabab begitu menarik minat.
Putra perempuan itu bercerita dengan suara tersendat-sendat. Dengan menyeka air mata yang mendadak saja berinai kembali.
: Ayah saya seorang tentara yang ditugaskan di Aceh. Tadi pagi, kami mendapat kabar duka, mobil yang ditumpangi ayah saya masuk ke jurang. Dan dari informasi yang dapat, kondisi ayah saya kritis. Kami pun memutuskan untuk segera ke sini!
(Rupanya dua anak-beranak itu adalah istri dan anak dari laki-laki yang dioperasi hari tadi.)
Seorang perawat menghampiri kumpul ramai itu. Sang pemuda tanggung mengulang cerita yang sama kepada perawat tersebut.
: Ayah saya seorang tentara yang ditugaskan di Aceh. Tadi pagi, kami mendapat kabar duka, mobil yang ditumpangi ayah saya masuk ke jurang. Dan dari informasi yang dapat, kondisi ayah saya kritis. Kami pun memutuskan untuk segera ke sini!
Sedangkan perempuan paruh baya makin erat memeluk tubuh putranya guna menopang tubuhnya yang tergungang-guncang.
Lalu keduanya mengikuti ke mana saja kaki perawat menjangkah. Orang-orang berkerumun tadi sudah pecah. Para pedagang enceran kembali berkeliling dengan teriakan khas mereka.
Di lorong-lorong rumah sakit, tetap saja perempuan baya itu mengundang minat. Sebab tak reda menangis raya. Para pasien yang sudah mulai sehat, tak tinggal mencelinguk kepala lewat muka pintu karena dibintik penasaran. Para pengunjung yang sehat bugar apalagi. Ragam komentar berdesis.
Sang perawat yang berada beberapa meter di depan mereka meletakkan telunjuk di tengah bibir.
(Entah apa maksud suster tersebut.).
Jadilah perempuan baya itu dengan pemuda tanggung menjadi sorotan tiap pasang mata. Mata-mata itu baru lepas ketika dua tubuh itu telah raib ditelan tikungan
Tiba di tempat tujuan,
( tempat itu adalah ruang di mana suami atau ayah mereka dirawat),
Si perempuan paruh baya tak tahan untuk tak menjerit melengking ketika telunjuk suster mengarah ke dalam ruangan.
(Satu lengkingan yang memerih hati.)
Kemudian irama tangis mendayu-dayu. Sang anak kian mendekap erat badan sang ibu. Air mata tumpah ruah dari mata keduanya. Suster membuka pintu ruangan. Terburu-buru perempuan baya menyongsong. Diikuti dengan sang anak.
Perempuan itu bersimpuh di sisi kanan ranjang besi. Ia memegang selang-selang cairan yang terhubung dengan pergelangan tangan suaminya. Lalu meremas-remas jemari yang sama sekali tak bergeming. Di raba jantung, berdegup dirasa, namun pelan sekali.
Sang anak bersimpuh di sisi kiri ranjang. Lekat menyimak rambut bergelombang-gelombang lebat sosok kaku di hadapan. Lantas tertarik menggesek dua codet di pipi kiri dan kanan muka ayahnya.
(Ia ingat sekali, dua codet itulah penanda termudah untuk menandakan ayahnya.)
Seraya air mata yang deras saja.
(Ia mengenang haru di waktu kebersamaan sang ayah dulunya.)
Suster yang mengantar mereka keluar dari ruangan sarat air mata itu.
Pagi di rumah, selepas sembahyang subuh, ia tercenung sendiri. Mendadak saja ia tereka ingatan mendiang mak dan ayahnya.
( Keduanya ditembak mati di depan mata. Ia bersumpah kuat untuk menuntut balas atas pembunuhan itu. Tapi sayang, ia mencari-cari, pembunuh itu seolah telah ditelan bumi.)
Namun ia tidak mungkin akan melupa potret sang pembunuh itu. Terus ia hafal dengan rambut bergelombang-gelombang lebat. Persis diingat codet kiri-kanan di pipi itu.***
Dimuat di Batam Pos 18/01/2009
Pagi rumah sakit terlalu riuh dengan korban kecelakaan. Satu korban sekarat, sisa meninggal di tempat terjadi. Satu pick up memelanting pohon tepi raya hingga terjungkang balik ke tebing dalam.
Di saat para dokter berteriak-teriak garang agar lekas memasukkan korban ke dalam ruang operasi sentara mengambil kesempatan penyelematan seonggok nyawa di hujung tanduk, ia malah tengah menyeduh kopi, menyeruput dalam asap-asap yang berkepul—dengan gumaman kenikmatan—ia sangat tergila-gila yang bernama kopi. Terus meneguk genap perasaan berselip obrolan masa depan dengan masyik.
(minggu tak jatah di rumah sakit. Minggu-senin senggang hari merenggang penat. Di rumah. Di tanah sawah. Bercengkrama dengan sesama gadis di bawah meunasah gampong. Terkadang mencari sesak di peukan ramai.)
Ia pun bersama masyik1 melaju ke tanah sawah setelah berkopi. Tanah sawah sedang menghampar keindahan nian elok. Padi menguning. Pipit berkoloni-koloni mengepak sayap. Pematang riuh suara pemilik menghalau mangsa-an burung-burung. Sentara burung-burung bergerombol itu, mencuri-curi enap dalam lebat batang-batang.
Dalam hati ia mengungkap takjub indah panorama. Ia terlarung ketentraman tiada rupa. Potong senyum untuk siapa saja yang kebetulan melewat atawa menyapa.
Rentang waktu sama, di ruang rumah sakit, hawa-hawa ketegangan membulir. Detik yang berdetak menebar jarum-jarum kematian. Tiga dokter dikawani dua suster mengelilingi satu korban tak sadar diri.
Hanya degap jantung pelan. Baju loreng-loreng mendarah pekat. Mulut menganga-kan deretan gigi yang telah rentas. Dua bola mata terkatup semi rapat. Di hujung bawah, dua anak kaki puntung.
Kepala dokter yang paling senior mengangguk sebagai sebuah tanda. Lantas pisau-pisau, gunting-gunting bermula menari-nari di atas satu tubuh. Tiada bicara. Hanya gerak tubuh sebagai penjelas apa yang diingin.
Berbilang jam, ketiga dokter keluar dengan tampang semrawut. Keringat menempel di kening. Bagian belakang kemeja sembab serua membentuk satu pulau. Ketiganya berpisah dalam lorong berbeda.
Dua suster membereskan perkakas operasi. Tiada bercakap. Ligat melakukan pekerjaan mereka. Sekali-kali melirik pasien yang persis patung dengan penjuru mata.
Di pasar ikan ia tengah menawar harga. Peluh meleleh sebab angin terhalang banyak tubuh di tempat itu. Ba’da itu mengarah ke pasar sayur-mayur. Kembali peluh meleleh. Dengan punggung tangan ia menyeka seala kadar.
Pulang menumpang satu RBT2 orang sekampung. Setengah perjalanan, tiba-tiba saja—entah mengapa, pikirannya terloncat.
(Umurnya dua lima sudah. Ia belum menikah. Jangankah itu, pikiran untuk itu saja sangat tidak acap.)
Setelah itu ia senyum-senyum sendiri.
Malam, seorang perempuan baya yang dipeluk satu pemuda tanggung sudah menangis raya begitu turun dari sebuah mini bus. Mata perempuan itu bengkak. Di mata pemuda tanggung air mata tinggal bekas.
Kata si sopir, inilah tempat juju mereka. Dua anak-beranak itu tergesa bergerak masuk.
(Mereka datang dari tanah jawa. Dengan pesawat baru tiba petang tadi di bandara Blang Bintang. Lalu menumpang mini bus L-300 bertujuan Lhokseumawe. Tujuan tepatnya, Rumah Sakit Umum Lhokseumawe.)
Di sepanjang halaman pedagang eceran menjajakan rokok, kacang goreng dan aqua gelas. Lampu berkerlap-kerlip sehingga kelihatan benderang nyaris seluruh bangunan putih itu.
Perempuan itu masih saja menangis raya. Maka mereka dikerubungi orang ramai musabab begitu menarik minat.
Putra perempuan itu bercerita dengan suara tersendat-sendat. Dengan menyeka air mata yang mendadak saja berinai kembali.
: Ayah saya seorang tentara yang ditugaskan di Aceh. Tadi pagi, kami mendapat kabar duka, mobil yang ditumpangi ayah saya masuk ke jurang. Dan dari informasi yang dapat, kondisi ayah saya kritis. Kami pun memutuskan untuk segera ke sini!
(Rupanya dua anak-beranak itu adalah istri dan anak dari laki-laki yang dioperasi hari tadi.)
Seorang perawat menghampiri kumpul ramai itu. Sang pemuda tanggung mengulang cerita yang sama kepada perawat tersebut.
: Ayah saya seorang tentara yang ditugaskan di Aceh. Tadi pagi, kami mendapat kabar duka, mobil yang ditumpangi ayah saya masuk ke jurang. Dan dari informasi yang dapat, kondisi ayah saya kritis. Kami pun memutuskan untuk segera ke sini!
Sedangkan perempuan paruh baya makin erat memeluk tubuh putranya guna menopang tubuhnya yang tergungang-guncang.
Lalu keduanya mengikuti ke mana saja kaki perawat menjangkah. Orang-orang berkerumun tadi sudah pecah. Para pedagang enceran kembali berkeliling dengan teriakan khas mereka.
Di lorong-lorong rumah sakit, tetap saja perempuan baya itu mengundang minat. Sebab tak reda menangis raya. Para pasien yang sudah mulai sehat, tak tinggal mencelinguk kepala lewat muka pintu karena dibintik penasaran. Para pengunjung yang sehat bugar apalagi. Ragam komentar berdesis.
Sang perawat yang berada beberapa meter di depan mereka meletakkan telunjuk di tengah bibir.
(Entah apa maksud suster tersebut.).
Jadilah perempuan baya itu dengan pemuda tanggung menjadi sorotan tiap pasang mata. Mata-mata itu baru lepas ketika dua tubuh itu telah raib ditelan tikungan
Tiba di tempat tujuan,
( tempat itu adalah ruang di mana suami atau ayah mereka dirawat),
Si perempuan paruh baya tak tahan untuk tak menjerit melengking ketika telunjuk suster mengarah ke dalam ruangan.
(Satu lengkingan yang memerih hati.)
Kemudian irama tangis mendayu-dayu. Sang anak kian mendekap erat badan sang ibu. Air mata tumpah ruah dari mata keduanya. Suster membuka pintu ruangan. Terburu-buru perempuan baya menyongsong. Diikuti dengan sang anak.
Perempuan itu bersimpuh di sisi kanan ranjang besi. Ia memegang selang-selang cairan yang terhubung dengan pergelangan tangan suaminya. Lalu meremas-remas jemari yang sama sekali tak bergeming. Di raba jantung, berdegup dirasa, namun pelan sekali.
Sang anak bersimpuh di sisi kiri ranjang. Lekat menyimak rambut bergelombang-gelombang lebat sosok kaku di hadapan. Lantas tertarik menggesek dua codet di pipi kiri dan kanan muka ayahnya.
(Ia ingat sekali, dua codet itulah penanda termudah untuk menandakan ayahnya.)
Seraya air mata yang deras saja.
(Ia mengenang haru di waktu kebersamaan sang ayah dulunya.)
Suster yang mengantar mereka keluar dari ruangan sarat air mata itu.
Pagi di rumah, selepas sembahyang subuh, ia tercenung sendiri. Mendadak saja ia tereka ingatan mendiang mak dan ayahnya.
( Keduanya ditembak mati di depan mata. Ia bersumpah kuat untuk menuntut balas atas pembunuhan itu. Tapi sayang, ia mencari-cari, pembunuh itu seolah telah ditelan bumi.)
Namun ia tidak mungkin akan melupa potret sang pembunuh itu. Terus ia hafal dengan rambut bergelombang-gelombang lebat. Persis diingat codet kiri-kanan di pipi itu.***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Batam Pos 11/30/2008
Harusnya, sudah tiba waktunya untuk menambah sepuluh atau lima belas kursi lagi di warung mereka. Sayang para pembeli, kebanyakan terpaksa harus mengantri tempat duduk. Apalagi jelang siang yang memang ramai-ramaiya.
“Apa? Menambah kursi? Berapa uang lagi yang harus kita keluarkan?” Tukik Jeha setajam elang yang menggondol mangsa.
“Tapi dengan itu, kita juga akan mendapatkan uang lebih baik lagi,”
Sepasang suami-istri memang pernah bermufakat untuk membeli tambahan kursi.
”Kamu sudah gila ya, Bram? Mendapatkan uang?!” Bola mata Jeha akan loncat dari sarung mata.
”Yang ada uang kita malah keluar! Bukannya masuk! Dari mana sih terbesit ide sinting itu?”
Mulut Bram terkikik sembari bergumam kecerdasan sang istri. Sementara Jeha menghirup lega.
”Biar begini saja. Toh para pelanggan kita tidak keberatan,”
Pembicaraan itu tutup buku.
***
Hari itu sekitaran jam tiga seorang lelaki berdasi corak coklat mampir ke warung sepasang suami-istri itu. Jeha dan Bram yang tengah mencincang sayuran di belakang, tergesa ke depan.
Setelah meletakkan pesanan sang lelaki itu, Jeha kembali ke belakang menuntas pekerjaan. Sementara Bram mengobrol ala kadar dengan pria itu.
”Kerja di mana, Dik?” Braham mencoba basa-basi. Dari kulit muka, Bram tahu jikalau sosok di depannya itu jauh lebih muda dari dirinya.
”Di kantor pajak pak!” sahut lelaki itu yang sepertinya lahap sekali mengunyah dengan berlauk ikan bakar.
Air liur Bram berguncang-guncang. Sudah lama ia idam ikan bakar. Tapi istrinya selalu memelototkan mata api ke arahnya. Namun betul juga laku istrinya bila dipikir berat, jika ia turuti nafsu, pasti tak butuh waktu lama warung nasi mereka harus gulung tikar.
”Pasti banyak uang, ya?” sambung Bram di sela senyum simpul.
”Ah biasa saja lah, Pak. Paling cukup untuk sehari-hari saja,” jawab lelaki muda dengan mulut penuh.
Dua lelaki itu terlibat obrolan ala kadar sampai lelaki itu mencuci tangannya bersih.
Mata Bram melotot begitu melihat masih tersisa seper empat ikan di piring sang lelaki di depannya. Bila tidak dikuasai malu, tentu saja akan dilumat lekas ikan sisa itu.
Lelaki itu mengeluarkan suara kekeyangan halu-lalang. Tangan kanannya tampak sibuk meraba-raba saku celananya.
”Bapak merokok?”
Rupanya sang lelaki muda sedang mencari bungkusan rokok..
Bram menggeleng.
”Haha... Bagus Pak... Saya suka orang seperti Bapak. Orang yang sangat melindungi kesehatan... Saya sudah tahu sih kalau rokok itu merusak kesehatan. Tapi mau gimana lagi ya? Sudah kecanduan Pak!”
Ia mengakhiri omongan panjang dengan sebuah cekakakan.
Bram yang sedari tadi sibuk geleng-geleng kepala dengan mata sekilas-sekilas mengintip ke ikan bakar sisa bakar seper empat itu.
”Bukan gitu dik...Biar hemat, hihi....” Ujar Bram ganti cekikikan meski malu-malu.
Cekikikan lelaki itu muda padam laksana lilin yang diguyur angin.
”Berarti Bapak mau merokok dong!” tapi tak lama ketakjuban si lelaku muda sirna.
”Gimana ya? Habisnya, sudah lama tidak merokok,”
”Kalau sebungkus...” lelaki muda sengaja memotong omongannya sembari mengangkart bungkus rokok setinggi hidungnya. Di hadapannya seolah sedang duduk makhluk unik dari era purba kala.
”Ya,” Sela Bram. Jam-jam begini warung memang jatah sepi. Jadi bebas bagi lelaki itu untuk santai-santai sejenak. Istrinya pun tidk cerewet melihatnya mengobrol saja.
”Saya berikan untuk Bapak,” bertabuh-tabuh dada Bram mendengar itu.
”Bapak mau beli berapa?”
Padahal sang lelaki muda masih belum mengutuhkan kalimat.
”Ya... Saya kirain...” Bram tak dapat menyembunyikan kecewanya. Sedangkan si lelaki muda tergelak geli.
”Bercanda pak! Bapak mau kalau rokok ini saya berikan untuk Bapak?”” tiba-tiba raut lelaki muda berganti serius.
”Mau...” Tingkah Bram seperti seorang cilik yang diberikan permen kesenangan.
”Bapak mau merokok?” sepertinya lelaki muda menyangsikan jawaban Bram barusan. Namun anggukan berkali-kali kepala Bram, membuat sangsi itu hilang.
”E...E...” Namun Bram masih menyimpan ganjil di dalam hati. Terlebih ketika melihat lelaki muda berkemas beranjak.
”Kenapa pak?”
”E... Tapi adik tetp akan membayar uang nasi barusan, kan?' setelah mengucap kalimat itu, ruang dada Bram lega bukan kepalang.
Kali ini meledak tawa si lelaki muda hingga Jeha yang larut di belakang, terburu menolehkan pendang ke depan.
”Iyalah pak... Rokok ini tidak ada hubungannya dengan nasi. Ini hadiah saya buat Bapak! Gratis! Tis-tis! Meski tidak lagi terkakak-kakak, lelaki muda belum bisa menghilangkan kegeliannya.
”O.. Terima kasih kalau begitu. Adik baik sekali. Pasti Tuhan akan merahmati orang baik seperti adik ini,”
Rokok itu berpindah tangan. Bram tak lekang menimang-nimang bungkusan itu. Sejenak ia melupakan sama sekali tentang ikan bakar sisa.
Sepulangnya lelaki baik hati itu, Bram berlari girang ke dapur.
”Hari ini memang hari baikku sayang....” Seru Bram tak reda-reda.
”Kamu gila ya Bram? Menghambur uang untuk beli rokok kamu sebut hari baik? Jatah makan malam aku tahan sebagai gantinya!” kulit muka Jeha keras melihat apa yang ditampakkan Bram.
”Dengar dulu sayang. Aku tidak membeli rokok ini, tapi pria muda yang makan barusan, menghadiahkan rokok ini buatku,”
Wajah keras Jeha mengendur lamat-lamat. Bayang-bayang pundi yang tadi ia bayangkan masuk ke saku kedai sebelah, ternyata tidak kemana.
”Kamu mencari apa, Bram?” tanyanya lalu yang melihat Bram bak gasing putar dari pojokan satu ke pojokan lain.
”Korek. Kamu tahu korek di mana, sayang?” Begitu senangnya Bram sehingga selalu memanggil Jeha dengan sayang.
”Untuk apa?' seru Jeha tajam. Sebanarnya ia sudah tahu untuk apa suaminya itu menanyakan korek. Dan itu tidak boleh terjadi!
”Kamu betul-betul sudah gila Bram!” cepat Jeha bangun dan merebut bungkusan rokok itu dari tangan Bram.
”Kamu ingin membakar rokok ini, kan?'
Bram terpaksa menutup telinganya. Jerit istrinya persis kuntilanak yang melonglong ketika tengah mengamuk.
”Tidak ada yang salah kan, sayang? Toh, rokok dihadiahkan orang kepadaku,” namun Bram merasakan tidak ada yang salah pada dirinya.
”Tidak salah?”
Sungguh, mata Jeha jika dilihat anak-anak, niscaya akan membuat mereka tunggang-langgang.
”Terus setelah roko ini habis kamu bakar, kamu akan membakar apa lagi,hah?”
”Aku...Ee...Aku...”
Bram mulai paham ke mana arah bicara istrinya.
”Kamu mau bilang, 'O sayang, setelah rokok ini habis, ya sudah. Aku tak akan menghabiskan uang kita untuk membeli rokok,'. Begitu, kan?”
”Bukan begitu sayang...Aku...”
”Aku tidak percaya Bram! Rokok itu men-candukan!” Tangan Jeha meletakkan kembali rokok itu di dekat sayur yang belum habis dicincang.
Bram seolah tersadar bahwa baru saja ia nyaris melakukan kesalahan besar.
”Kerjaku jadi terbengkalai gara-gara rokok sialan!” maki Jeha entah untuk siapa.
”Mau kau apakah rokok itu?” Predeksi Jeha salah. Diam-diam tangan Bram sudah menjawil bungkusan itu.
”Tenang saja sayang. Aku tidak akan pernah membakar rokok ini. Lebih baik kukembalikan saja dari pada terkenang-kenang terus. Besok mungkin laki-laki itu akan ke sini lagi....”
Kalimat Bram belum usai.
”Braaamm...” Bila bisa pingsan, tentu saja Jeha akan memilih pingsan dari pada melihat ketololan suminya.
”Ya,” sedangkan Bram yang tidak tahu-menahu dengan musabab marah sang istri, menoeh bermekar stu senyum.
”Akan kugorok lehermu jika rokok itu sampai kau kembalikan. Kau betul-betul lelaki goblok Bram!
Jeha, perempuan itu dianugrahi kecepatan kilat. Dalam bilang menit, rokok itu sudah dimasukkan ke balik kutangnya.
”Biar saja kujual saja ke kedai sebelah nanti sore. Pasti mereka mau, haha...”
”Tak salah aku menikahimu dulu, haha...”
Sepasang suami istri itu cekikikan serempak. Tapi mendadak saja Bram teringat dengan ikan bakar sisa. Seketika air liur memenuhi rongga mulutnya.
”Betul-betul mujur hariku hari ini sayang... Tidak dapat rokok. Aku dapat ini...” Seru Bram yang sudah di depan iakn bakar itu. Dimakan cepat ikan sisa itu. Dan kembali menyongsong istrinya di belakang.
”Oh begitu ya kalau dapat makan enak?” muka Jeha nanar begitu kunyahan Bram begitu nikmat.
”kamu mau, sayang?”
Tidak menjawab, Jeha dengan tampang rakusnya merebut piring di tangan suaminya.
”Kapan kita bisa makan enak seperti ini ya, sayang?” padahal Bram baru mencicip sedikit ikan bakar itu.
”Nanti lah kalau kita sudah kaya.” jawab Jeha yang tenggelam dengan ikan bakar itu.
”Kapan kita kaya?”
”Makanya kita harus hemat Bram! Hemat!” ***
Dimuat di Batam Pos 11/30/2008
Harusnya, sudah tiba waktunya untuk menambah sepuluh atau lima belas kursi lagi di warung mereka. Sayang para pembeli, kebanyakan terpaksa harus mengantri tempat duduk. Apalagi jelang siang yang memang ramai-ramaiya.
“Apa? Menambah kursi? Berapa uang lagi yang harus kita keluarkan?” Tukik Jeha setajam elang yang menggondol mangsa.
“Tapi dengan itu, kita juga akan mendapatkan uang lebih baik lagi,”
Sepasang suami-istri memang pernah bermufakat untuk membeli tambahan kursi.
”Kamu sudah gila ya, Bram? Mendapatkan uang?!” Bola mata Jeha akan loncat dari sarung mata.
”Yang ada uang kita malah keluar! Bukannya masuk! Dari mana sih terbesit ide sinting itu?”
Mulut Bram terkikik sembari bergumam kecerdasan sang istri. Sementara Jeha menghirup lega.
”Biar begini saja. Toh para pelanggan kita tidak keberatan,”
Pembicaraan itu tutup buku.
***
Hari itu sekitaran jam tiga seorang lelaki berdasi corak coklat mampir ke warung sepasang suami-istri itu. Jeha dan Bram yang tengah mencincang sayuran di belakang, tergesa ke depan.
Setelah meletakkan pesanan sang lelaki itu, Jeha kembali ke belakang menuntas pekerjaan. Sementara Bram mengobrol ala kadar dengan pria itu.
”Kerja di mana, Dik?” Braham mencoba basa-basi. Dari kulit muka, Bram tahu jikalau sosok di depannya itu jauh lebih muda dari dirinya.
”Di kantor pajak pak!” sahut lelaki itu yang sepertinya lahap sekali mengunyah dengan berlauk ikan bakar.
Air liur Bram berguncang-guncang. Sudah lama ia idam ikan bakar. Tapi istrinya selalu memelototkan mata api ke arahnya. Namun betul juga laku istrinya bila dipikir berat, jika ia turuti nafsu, pasti tak butuh waktu lama warung nasi mereka harus gulung tikar.
”Pasti banyak uang, ya?” sambung Bram di sela senyum simpul.
”Ah biasa saja lah, Pak. Paling cukup untuk sehari-hari saja,” jawab lelaki muda dengan mulut penuh.
Dua lelaki itu terlibat obrolan ala kadar sampai lelaki itu mencuci tangannya bersih.
Mata Bram melotot begitu melihat masih tersisa seper empat ikan di piring sang lelaki di depannya. Bila tidak dikuasai malu, tentu saja akan dilumat lekas ikan sisa itu.
Lelaki itu mengeluarkan suara kekeyangan halu-lalang. Tangan kanannya tampak sibuk meraba-raba saku celananya.
”Bapak merokok?”
Rupanya sang lelaki muda sedang mencari bungkusan rokok..
Bram menggeleng.
”Haha... Bagus Pak... Saya suka orang seperti Bapak. Orang yang sangat melindungi kesehatan... Saya sudah tahu sih kalau rokok itu merusak kesehatan. Tapi mau gimana lagi ya? Sudah kecanduan Pak!”
Ia mengakhiri omongan panjang dengan sebuah cekakakan.
Bram yang sedari tadi sibuk geleng-geleng kepala dengan mata sekilas-sekilas mengintip ke ikan bakar sisa bakar seper empat itu.
”Bukan gitu dik...Biar hemat, hihi....” Ujar Bram ganti cekikikan meski malu-malu.
Cekikikan lelaki itu muda padam laksana lilin yang diguyur angin.
”Berarti Bapak mau merokok dong!” tapi tak lama ketakjuban si lelaku muda sirna.
”Gimana ya? Habisnya, sudah lama tidak merokok,”
”Kalau sebungkus...” lelaki muda sengaja memotong omongannya sembari mengangkart bungkus rokok setinggi hidungnya. Di hadapannya seolah sedang duduk makhluk unik dari era purba kala.
”Ya,” Sela Bram. Jam-jam begini warung memang jatah sepi. Jadi bebas bagi lelaki itu untuk santai-santai sejenak. Istrinya pun tidk cerewet melihatnya mengobrol saja.
”Saya berikan untuk Bapak,” bertabuh-tabuh dada Bram mendengar itu.
”Bapak mau beli berapa?”
Padahal sang lelaki muda masih belum mengutuhkan kalimat.
”Ya... Saya kirain...” Bram tak dapat menyembunyikan kecewanya. Sedangkan si lelaki muda tergelak geli.
”Bercanda pak! Bapak mau kalau rokok ini saya berikan untuk Bapak?”” tiba-tiba raut lelaki muda berganti serius.
”Mau...” Tingkah Bram seperti seorang cilik yang diberikan permen kesenangan.
”Bapak mau merokok?” sepertinya lelaki muda menyangsikan jawaban Bram barusan. Namun anggukan berkali-kali kepala Bram, membuat sangsi itu hilang.
”E...E...” Namun Bram masih menyimpan ganjil di dalam hati. Terlebih ketika melihat lelaki muda berkemas beranjak.
”Kenapa pak?”
”E... Tapi adik tetp akan membayar uang nasi barusan, kan?' setelah mengucap kalimat itu, ruang dada Bram lega bukan kepalang.
Kali ini meledak tawa si lelaki muda hingga Jeha yang larut di belakang, terburu menolehkan pendang ke depan.
”Iyalah pak... Rokok ini tidak ada hubungannya dengan nasi. Ini hadiah saya buat Bapak! Gratis! Tis-tis! Meski tidak lagi terkakak-kakak, lelaki muda belum bisa menghilangkan kegeliannya.
”O.. Terima kasih kalau begitu. Adik baik sekali. Pasti Tuhan akan merahmati orang baik seperti adik ini,”
Rokok itu berpindah tangan. Bram tak lekang menimang-nimang bungkusan itu. Sejenak ia melupakan sama sekali tentang ikan bakar sisa.
Sepulangnya lelaki baik hati itu, Bram berlari girang ke dapur.
”Hari ini memang hari baikku sayang....” Seru Bram tak reda-reda.
”Kamu gila ya Bram? Menghambur uang untuk beli rokok kamu sebut hari baik? Jatah makan malam aku tahan sebagai gantinya!” kulit muka Jeha keras melihat apa yang ditampakkan Bram.
”Dengar dulu sayang. Aku tidak membeli rokok ini, tapi pria muda yang makan barusan, menghadiahkan rokok ini buatku,”
Wajah keras Jeha mengendur lamat-lamat. Bayang-bayang pundi yang tadi ia bayangkan masuk ke saku kedai sebelah, ternyata tidak kemana.
”Kamu mencari apa, Bram?” tanyanya lalu yang melihat Bram bak gasing putar dari pojokan satu ke pojokan lain.
”Korek. Kamu tahu korek di mana, sayang?” Begitu senangnya Bram sehingga selalu memanggil Jeha dengan sayang.
”Untuk apa?' seru Jeha tajam. Sebanarnya ia sudah tahu untuk apa suaminya itu menanyakan korek. Dan itu tidak boleh terjadi!
”Kamu betul-betul sudah gila Bram!” cepat Jeha bangun dan merebut bungkusan rokok itu dari tangan Bram.
”Kamu ingin membakar rokok ini, kan?'
Bram terpaksa menutup telinganya. Jerit istrinya persis kuntilanak yang melonglong ketika tengah mengamuk.
”Tidak ada yang salah kan, sayang? Toh, rokok dihadiahkan orang kepadaku,” namun Bram merasakan tidak ada yang salah pada dirinya.
”Tidak salah?”
Sungguh, mata Jeha jika dilihat anak-anak, niscaya akan membuat mereka tunggang-langgang.
”Terus setelah roko ini habis kamu bakar, kamu akan membakar apa lagi,hah?”
”Aku...Ee...Aku...”
Bram mulai paham ke mana arah bicara istrinya.
”Kamu mau bilang, 'O sayang, setelah rokok ini habis, ya sudah. Aku tak akan menghabiskan uang kita untuk membeli rokok,'. Begitu, kan?”
”Bukan begitu sayang...Aku...”
”Aku tidak percaya Bram! Rokok itu men-candukan!” Tangan Jeha meletakkan kembali rokok itu di dekat sayur yang belum habis dicincang.
Bram seolah tersadar bahwa baru saja ia nyaris melakukan kesalahan besar.
”Kerjaku jadi terbengkalai gara-gara rokok sialan!” maki Jeha entah untuk siapa.
”Mau kau apakah rokok itu?” Predeksi Jeha salah. Diam-diam tangan Bram sudah menjawil bungkusan itu.
”Tenang saja sayang. Aku tidak akan pernah membakar rokok ini. Lebih baik kukembalikan saja dari pada terkenang-kenang terus. Besok mungkin laki-laki itu akan ke sini lagi....”
Kalimat Bram belum usai.
”Braaamm...” Bila bisa pingsan, tentu saja Jeha akan memilih pingsan dari pada melihat ketololan suminya.
”Ya,” sedangkan Bram yang tidak tahu-menahu dengan musabab marah sang istri, menoeh bermekar stu senyum.
”Akan kugorok lehermu jika rokok itu sampai kau kembalikan. Kau betul-betul lelaki goblok Bram!
Jeha, perempuan itu dianugrahi kecepatan kilat. Dalam bilang menit, rokok itu sudah dimasukkan ke balik kutangnya.
”Biar saja kujual saja ke kedai sebelah nanti sore. Pasti mereka mau, haha...”
”Tak salah aku menikahimu dulu, haha...”
Sepasang suami istri itu cekikikan serempak. Tapi mendadak saja Bram teringat dengan ikan bakar sisa. Seketika air liur memenuhi rongga mulutnya.
”Betul-betul mujur hariku hari ini sayang... Tidak dapat rokok. Aku dapat ini...” Seru Bram yang sudah di depan iakn bakar itu. Dimakan cepat ikan sisa itu. Dan kembali menyongsong istrinya di belakang.
”Oh begitu ya kalau dapat makan enak?” muka Jeha nanar begitu kunyahan Bram begitu nikmat.
”kamu mau, sayang?”
Tidak menjawab, Jeha dengan tampang rakusnya merebut piring di tangan suaminya.
”Kapan kita bisa makan enak seperti ini ya, sayang?” padahal Bram baru mencicip sedikit ikan bakar itu.
”Nanti lah kalau kita sudah kaya.” jawab Jeha yang tenggelam dengan ikan bakar itu.
”Kapan kita kaya?”
”Makanya kita harus hemat Bram! Hemat!” ***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Batam Pos 22/07/2007
Chik1 pernah membisikkan ke daun telingaku untuk senantiasa mendoakan ibu serenta berbahagia di alam baka. Maka kulakukan itu di antar hujung sembahyang. Dari zuhur sampai subuh dengan sungguh-sungguh.
Sempat kubisikkan di kuping Tengku Nasir selaku imam sembahyang di meunasah untuk turut berdoa. Kutangkap angguk baur senyum pelan yang kuyakin simbol mengabulkan pinta.
Tapi, aku rindu dengan ibu. Bagaimana ini?
Rindu yang mencenungkan aku di muka jendela dengan air mata berai bersama kain baju. Chik membujuk, namun alai-belai sama sekali tak mempan. Aku idam macam si Gam yang bisa menyeruk di ketiak ibunya bila kedinginan.
Sungguh membahagiakan.
Sampai suatu hari, Chik yang menilik tangis belum surut, pulang dengan satu plastik buku gambar, beserta satu kotak klir2 dan beberapa pensil.
“Gambar ibumu, bila kamu rindu. Gambar itu akan membuat rindumu reda,”
Chik berkata seperti itu. Aku menggelepar kepala.
“Chik Bohong! Aku tidak percaya kata Chik.”
Aku berteriak ketika itu. Makin melinang-linang dalam wajah tirusku.
“Chik tidak pernah bohong, kan?”
Aku tahu Chik belum berbohong sekalipun. Chik orang paling jujur yang pernah kutemui. Kuterima surung tangan Chik meski masih dengan buncah bingung.
Lantas aku larung dengan buku gambar, pensil dan klir. Satu buku gambar ku orat-oret sekenanya. Kubayangkan gambar ibu. Namun dua tahun tak berjumpa, membuat otakku buyar akan rupa itu.
Hidung ibu malah tidak mancung seperti ingatanku. Aku tidak menggambar bibir sebab lupa sama sekali bagaimana bentuk bibir ibu. Bagian telinga juga kutanggalkan begitu saja.
Rentang menit, aku kembali dihadapan Chik yang larung dalam serot rokok daun. Sesekali terbatuk yang membuat dada Chik berayun-ayun kuat.
“Aku tidak bisa menggambar!”
Entah mengapa, kurasa suaraku begitu ketus. Barangkali rindu itu telah menukar aku menjadi bocah yang ketus. Chik beringsut dari kursi rotan. Aku mengekor di belakang. Kami menjangkah di mana aku menggambar tadi.
“Ini saja kamu tidak bisa nyak3, hehe…” Sambil mula orat-oret di buku gambarku, Chik terkekeh-kekeh.
Tidak lama, di buku gambarku sudah cagun gambar ibu. Seketika seratus persen memoriku pulang. Gambar Chik persis sekali dengan aslinya. Chik berseringai puas. Ku ambil alih buku gambar.
Kugambar kepala. Chik berkata bagus dan bagus. Kuselip dengan ringis pelan.
“Lon4 rindu bu… Lon rindu bu…”
Setiap garit yang kutarik, kudengar kalimat itu menggema-gema di jauh hati.
Hitungan menit, satu gambar ibu selesai. Bersideku kuperhatikan lama gambar itu sambil memiringkan wajah. Aku tidak puas dengan alis ibu.
Kuhapus. Street! Kutarik garis lain dengan hati-hati. Jauh lebih bagus sekarang. Chik tersenyum puas. Aku? Rinduku malah memuyuh.
“Aku masih rindu dengan ibu Chik,”
“Gambar-gambar banyak sampai rindumu hilang nyak,”
Benarkah itu? Tapi sama sekali tidak ada protes. Kujamah halaman lain. Kugambar ibu lagi. Chik berlalu dengan satu batuk berat.
Hari itu, aku menghabiskan dua buku gambar.
Di selip jam pelajaran sekolah, aku terus menggambar ibu. Aku paling senang bila jam pelajaran menggambar tiba, artinya, aku tidak usah curi-curi pandang dari Ibu Nurul. Aku bisa gambar berani.
Ketika kusodorkan hasil gambar ibu kepada Ibu Nurul, aku diponten sembilan. Aku mesem-mesem.
Ketika mengaji pun, kumasukkan satu buku gambar dalam kantung celana. Aku akan menggambar dalam sela mengaji. Ketika Tengku Suman lalai menyimak hafalan teman-teman.
Aku juga sudah genap yakin, kalau Chik tidak berbohong dalam perkataan tempo hari. Setiap tarikan untuk menggambar ibu, aku merasa rinduku diredam-redam.
Selanjutnya, Chik makin banyak membeli buku gambar. Soal reta, aku memang tidak pernah kurang dengan Chik. Sawah Chik banyak dikelola orang. Dan Chik setiap panen akan mendapat bagian hasil saja.
“Chik, boleh aku menempel gambar-gambar ibu ini?”
Tanyaku ketika buku gambarku sudah habis lebih dari sepuluh untuk menggambar ibu saja. Aku tidak menggambar lain selain ibu. Kalau aku kebelet dengan gambar Batman seperti yang kutatap di tipi keude Bang Lah setiap sore selasa, aku akan menggambar di buku gambar khusus.
“Dimana?”
Gancang bola mataku bergerak ke dinding-dinding kamar kami.
“Di dinding kamar kita,”
Chik menganguk kepala. Kubalas dengan senyum. Hari itu aku dibantu dengan Chik sibuk menempel gambar-gambar ibu hingga dinding- dinding tak mampu mencangkum semua.
“Bagaimana kalau kita tempel di dinding luar juga?” Padahal aku sudah retas asa sebab banyak gambarku tak muat tempel di dinding kamar.
Ajakan itu yang kunanti.
Chik naik ke atas kursi agar sampai menempel di dinding tinggi. Sedangkan aku memegang badan kursi supaya tidak eleng. Jadilah hari itu, dinding-dinding kami sesak dengan gambar-gambar ibu.
Di hari berikut-berikut, aku masih menggambar ibu. Chik tak pernah keberatan dengan rengekan tiap pagi untuk tak lupa membeli buku gambar acap ke peukan5. Aku ingat, semenjak menggambar ibu, tak pernah lagi aku menangis.
Hingga di suatu malam, aku lelap sekali padahal, ketika kurasakan sebuah tangan dingin menggoyang-goyang sekujur tubuhku. Aku tak berhasrat sama sekali membuka mata. Pikirku juga Chik yang membangunkan untuk sembahyang subuh.
Tapi goyang-goyang itu terlalu menggangu tidur. Remang-remang kutilik apa Chik yang sedang menggoyang-goyang itu, tapi Chik, malah tergoleh jauh dari badan tidurku.
Jadi siapa yang menggoyang-goyang tadi?
Lekas mata kupaksa celangak. Jantungku berdengap-dengap lantang. Seorang perempuan meletakkan telunjuk di depan bibir untuk tanda agar aku tak bersuara.
Ibu? Betulkan ibu?
Perempuan itu ibu. Kusimak baik-baik perempuan di hadapan mata. Lalu bertukar dengan hasil gambar bertempel di dinding kamar. Persis sama rupa.
“Ini ibu, nyak,” desis ibu pelan dengan menggaet tanganku. Tak tersadari aku sudah dibawa terbang oleh ibu.
“Ibu sudah punya sayap sekarang?” belum hilang rasa percayaku tentang muncul ibu, ditambah dengan ibu bersayap. Setahuku, manusia tidak bersayap. Apakah ibuku sudah jelma dengan malaikat?
“Tuhan kasih ibu sayap sekarang,” ucap ibu dengan ketinggian terbang melaju tinggi. Aku memegang erat-erat di bahu ibu agar tak terjengkang ke bawah.
“Ibu bawa nyak ke bintang, mau?”
Tidak usah banyak kali diajak, idam lama aku untuk mendangkap bintang. Aku melupa sekilas dengan sayap punya ibu.
“Ibu, nanti aku ambil bintang satu, boleh?”
“Tidak boleh sayang, bintang itu tempatnya di langit,”
Dijawab itu, aku memilih diam.
“Ibu…Ibu…Ibu kan sudah meninggal. Kok bisa hidup lagi?” itu harusnya pertanyaan awal yang kuajukan.
“Ibu rindu dengan kamu, nyak,” nada ibu sayu. “Kamu rindu dengan ibu juga, kan?”
Aku ingin menjawab ya. Iya ibuuu….Namun ada yang menggoyang-goyang tubuhku keras-keras. Kurasakan pegangan tangan di punggung ibu melemah. Aku terjengkang ke dasar bumi. Aku memanggil-manggil ibu tapi ibu sama sekali tidak sadar kalau aku terlempar dari punggunggnya.
“Nyak…Subuh…”
“Kamu bermimpi jumpa dengan ibu?”
Ah, ternyata mimpi. Chik di hadapanku membengkar senyum. Kurasakan rindu dengan ibu mendayu-dayu. Pasti akibat mimpi barusan. Aku harus menggambar ibu untuk meredam rindu. Sekarang juga!
Kamar hijau, 31 maret 2007
Banda Aceh, 17.49
1. kakek, panggilan kakek.
2. pensil pewarna
3. panggilan saying.
4. aku.
5. pasar.
Dimuat di Batam Pos 22/07/2007
Chik1 pernah membisikkan ke daun telingaku untuk senantiasa mendoakan ibu serenta berbahagia di alam baka. Maka kulakukan itu di antar hujung sembahyang. Dari zuhur sampai subuh dengan sungguh-sungguh.
Sempat kubisikkan di kuping Tengku Nasir selaku imam sembahyang di meunasah untuk turut berdoa. Kutangkap angguk baur senyum pelan yang kuyakin simbol mengabulkan pinta.
Tapi, aku rindu dengan ibu. Bagaimana ini?
Rindu yang mencenungkan aku di muka jendela dengan air mata berai bersama kain baju. Chik membujuk, namun alai-belai sama sekali tak mempan. Aku idam macam si Gam yang bisa menyeruk di ketiak ibunya bila kedinginan.
Sungguh membahagiakan.
Sampai suatu hari, Chik yang menilik tangis belum surut, pulang dengan satu plastik buku gambar, beserta satu kotak klir2 dan beberapa pensil.
“Gambar ibumu, bila kamu rindu. Gambar itu akan membuat rindumu reda,”
Chik berkata seperti itu. Aku menggelepar kepala.
“Chik Bohong! Aku tidak percaya kata Chik.”
Aku berteriak ketika itu. Makin melinang-linang dalam wajah tirusku.
“Chik tidak pernah bohong, kan?”
Aku tahu Chik belum berbohong sekalipun. Chik orang paling jujur yang pernah kutemui. Kuterima surung tangan Chik meski masih dengan buncah bingung.
Lantas aku larung dengan buku gambar, pensil dan klir. Satu buku gambar ku orat-oret sekenanya. Kubayangkan gambar ibu. Namun dua tahun tak berjumpa, membuat otakku buyar akan rupa itu.
Hidung ibu malah tidak mancung seperti ingatanku. Aku tidak menggambar bibir sebab lupa sama sekali bagaimana bentuk bibir ibu. Bagian telinga juga kutanggalkan begitu saja.
Rentang menit, aku kembali dihadapan Chik yang larung dalam serot rokok daun. Sesekali terbatuk yang membuat dada Chik berayun-ayun kuat.
“Aku tidak bisa menggambar!”
Entah mengapa, kurasa suaraku begitu ketus. Barangkali rindu itu telah menukar aku menjadi bocah yang ketus. Chik beringsut dari kursi rotan. Aku mengekor di belakang. Kami menjangkah di mana aku menggambar tadi.
“Ini saja kamu tidak bisa nyak3, hehe…” Sambil mula orat-oret di buku gambarku, Chik terkekeh-kekeh.
Tidak lama, di buku gambarku sudah cagun gambar ibu. Seketika seratus persen memoriku pulang. Gambar Chik persis sekali dengan aslinya. Chik berseringai puas. Ku ambil alih buku gambar.
Kugambar kepala. Chik berkata bagus dan bagus. Kuselip dengan ringis pelan.
“Lon4 rindu bu… Lon rindu bu…”
Setiap garit yang kutarik, kudengar kalimat itu menggema-gema di jauh hati.
Hitungan menit, satu gambar ibu selesai. Bersideku kuperhatikan lama gambar itu sambil memiringkan wajah. Aku tidak puas dengan alis ibu.
Kuhapus. Street! Kutarik garis lain dengan hati-hati. Jauh lebih bagus sekarang. Chik tersenyum puas. Aku? Rinduku malah memuyuh.
“Aku masih rindu dengan ibu Chik,”
“Gambar-gambar banyak sampai rindumu hilang nyak,”
Benarkah itu? Tapi sama sekali tidak ada protes. Kujamah halaman lain. Kugambar ibu lagi. Chik berlalu dengan satu batuk berat.
Hari itu, aku menghabiskan dua buku gambar.
Di selip jam pelajaran sekolah, aku terus menggambar ibu. Aku paling senang bila jam pelajaran menggambar tiba, artinya, aku tidak usah curi-curi pandang dari Ibu Nurul. Aku bisa gambar berani.
Ketika kusodorkan hasil gambar ibu kepada Ibu Nurul, aku diponten sembilan. Aku mesem-mesem.
Ketika mengaji pun, kumasukkan satu buku gambar dalam kantung celana. Aku akan menggambar dalam sela mengaji. Ketika Tengku Suman lalai menyimak hafalan teman-teman.
Aku juga sudah genap yakin, kalau Chik tidak berbohong dalam perkataan tempo hari. Setiap tarikan untuk menggambar ibu, aku merasa rinduku diredam-redam.
Selanjutnya, Chik makin banyak membeli buku gambar. Soal reta, aku memang tidak pernah kurang dengan Chik. Sawah Chik banyak dikelola orang. Dan Chik setiap panen akan mendapat bagian hasil saja.
“Chik, boleh aku menempel gambar-gambar ibu ini?”
Tanyaku ketika buku gambarku sudah habis lebih dari sepuluh untuk menggambar ibu saja. Aku tidak menggambar lain selain ibu. Kalau aku kebelet dengan gambar Batman seperti yang kutatap di tipi keude Bang Lah setiap sore selasa, aku akan menggambar di buku gambar khusus.
“Dimana?”
Gancang bola mataku bergerak ke dinding-dinding kamar kami.
“Di dinding kamar kita,”
Chik menganguk kepala. Kubalas dengan senyum. Hari itu aku dibantu dengan Chik sibuk menempel gambar-gambar ibu hingga dinding- dinding tak mampu mencangkum semua.
“Bagaimana kalau kita tempel di dinding luar juga?” Padahal aku sudah retas asa sebab banyak gambarku tak muat tempel di dinding kamar.
Ajakan itu yang kunanti.
Chik naik ke atas kursi agar sampai menempel di dinding tinggi. Sedangkan aku memegang badan kursi supaya tidak eleng. Jadilah hari itu, dinding-dinding kami sesak dengan gambar-gambar ibu.
Di hari berikut-berikut, aku masih menggambar ibu. Chik tak pernah keberatan dengan rengekan tiap pagi untuk tak lupa membeli buku gambar acap ke peukan5. Aku ingat, semenjak menggambar ibu, tak pernah lagi aku menangis.
Hingga di suatu malam, aku lelap sekali padahal, ketika kurasakan sebuah tangan dingin menggoyang-goyang sekujur tubuhku. Aku tak berhasrat sama sekali membuka mata. Pikirku juga Chik yang membangunkan untuk sembahyang subuh.
Tapi goyang-goyang itu terlalu menggangu tidur. Remang-remang kutilik apa Chik yang sedang menggoyang-goyang itu, tapi Chik, malah tergoleh jauh dari badan tidurku.
Jadi siapa yang menggoyang-goyang tadi?
Lekas mata kupaksa celangak. Jantungku berdengap-dengap lantang. Seorang perempuan meletakkan telunjuk di depan bibir untuk tanda agar aku tak bersuara.
Ibu? Betulkan ibu?
Perempuan itu ibu. Kusimak baik-baik perempuan di hadapan mata. Lalu bertukar dengan hasil gambar bertempel di dinding kamar. Persis sama rupa.
“Ini ibu, nyak,” desis ibu pelan dengan menggaet tanganku. Tak tersadari aku sudah dibawa terbang oleh ibu.
“Ibu sudah punya sayap sekarang?” belum hilang rasa percayaku tentang muncul ibu, ditambah dengan ibu bersayap. Setahuku, manusia tidak bersayap. Apakah ibuku sudah jelma dengan malaikat?
“Tuhan kasih ibu sayap sekarang,” ucap ibu dengan ketinggian terbang melaju tinggi. Aku memegang erat-erat di bahu ibu agar tak terjengkang ke bawah.
“Ibu bawa nyak ke bintang, mau?”
Tidak usah banyak kali diajak, idam lama aku untuk mendangkap bintang. Aku melupa sekilas dengan sayap punya ibu.
“Ibu, nanti aku ambil bintang satu, boleh?”
“Tidak boleh sayang, bintang itu tempatnya di langit,”
Dijawab itu, aku memilih diam.
“Ibu…Ibu…Ibu kan sudah meninggal. Kok bisa hidup lagi?” itu harusnya pertanyaan awal yang kuajukan.
“Ibu rindu dengan kamu, nyak,” nada ibu sayu. “Kamu rindu dengan ibu juga, kan?”
Aku ingin menjawab ya. Iya ibuuu….Namun ada yang menggoyang-goyang tubuhku keras-keras. Kurasakan pegangan tangan di punggung ibu melemah. Aku terjengkang ke dasar bumi. Aku memanggil-manggil ibu tapi ibu sama sekali tidak sadar kalau aku terlempar dari punggunggnya.
“Nyak…Subuh…”
“Kamu bermimpi jumpa dengan ibu?”
Ah, ternyata mimpi. Chik di hadapanku membengkar senyum. Kurasakan rindu dengan ibu mendayu-dayu. Pasti akibat mimpi barusan. Aku harus menggambar ibu untuk meredam rindu. Sekarang juga!
Kamar hijau, 31 maret 2007
Banda Aceh, 17.49
1. kakek, panggilan kakek.
2. pensil pewarna
3. panggilan saying.
4. aku.
5. pasar.
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Arlen Ara Guci
Dimuat di Batam Pos 29/03/2009
Minah memang gadis dusun. Semua yang melekat di diri betul-betul cerminan kampungan. Walau dipoles Mustika Ratu sekali pun, style Minah justru kian tak menjadi. Saat rambutnya diberi warna keemasan, banyak bujang-bujang berujar Minah tak ubah bule kecemplung kali. Saat kuku-kukunya berwarna ungu, tak jarang yang bilang Minah seperti Vampire melompat kehausan darah. Saat Minah berbaju merah, warga jadi geli. Kata mereka, Minah seroman dendeng balado. Kata tetua dulu berlaku betul di gadis lugu itu. Kalau akal yang kurang, entah dengan apa ditambah. Tapi Minah tak kisah dengan pandangan warga. Prinsip Minah, biar muka kampungan, tapi rejeki bisa aja kota. Seperti penyanyi dangdut pujaannya. Cuma bermodal geal-geol pantat, suara pas-pasan toh jadi selebritis juga. Nasib orang siapa yang bisa mengira, cetus Minah saat dirinya resmi pembantu, orang yang tak kaya amat di seberang.
Menjadi TKI jelas bukan cita-cita Minah ketika ia didepak dari bangku SD karena menunggak SPP tiga bulan, plus angka rapor cabe merah. Walau para guru menganjur Suminah nama lengkapnya sebaiknya masuk sekolah khusus, tapi Minah tak terima. Baginya itu sama saja para tenaga didik hendak mengatakan dirinya bermasalah. Kalau tak patut disebut ber-IQ rendah alias murid berotak udang. Sebelumnya Minah terhegeh-hegeh hendak merasakan bangku sekolah, berseragam putih merah, bukan sekadar mendapat kawan, tapi lebih dari itu, para bapak dan ibu guru yang belakangan disebut pahlawan tanpa jasa justru dirasakan Minah tak hendak membawa dirinya yang sememangnya lelet dengan alpabet dan paling tak bisa dicekoki dengan angka; kurang, tambah, kali dan bagi. Maka para guru kehabisan cara menghantar Minah jadi murid pintar. Bagi Minah pula, para guru itu tak patut disebut pelita dalam kegelapan, kalau kiranya tak mampu membawa dirinya ke alam ilmu pengetahuan.
Sejak itu Minah mengutuk sekolah. Sudahlah biaya mahal. Mulai seragam, SPP dan buku-buku berkurikulum pelajarannya berganti tiap sebentar. Minah jengah dengan sekolah. Ia pun menanam kesumat pada gurunya. Belagu! Kaya juga tidak! Rutuk Minah. Beda pada seragam saja, sudah melonjak! Repet Minah saat ia melihat dengan mata kepala, dunia sekolah toh bukan satu-satunya jalan untuk bisa meraup rupiah. Lalu membeli baju, rok, subang, atau kalau emang rejeki, bisa membuat rumah. Lagipula isi otak kok ya diukur dengan angka-angka. Minah jelas sekali berkecil hati. Minah bertekad bulat tak akan menyentuh bangku sekolah lagi. Jadilah hari itu terakhir kali menyarungkan seragam putih merah. Sekaligus tak perlu lagi ia berpenat diri di lapangan setiap Senin pagi saat mentari terasa menyengat, walau hanya sekedar menghormat bendera sambil mendengar repet pidato kepala sekolah tak lebih sekedar bermain kata-kata, tanpa tahu keadaan dirinya, mungkin juga temen-temen seperjuangan dirinya.
Umur Minah merekah masa ia tengok teman-temannya lebih tragis nasibnya; tak pernah sekolah malahan, buta huruf otomatis tak tahu baca tulis dari dirinya kok bisa membuat rumah baru. Bahkan rumah bertingkat pula. Mereka bisa pula membantu biaya sekolah adik-adiknya, ada handphone teranyar segala, hingga beli sapi dan kerbau pula. Semua itu mereka berjaya lakukannya jika dan hanya berprofesi sebagai TKI di seberang. Minah diam-diam menyuntik hasrat ke seberang pula. Apa sih susahnya jadi TKI.
Kalau kerja sekadar nyapu rumah, nyiram bunga, masak, nyuci itu pekerjaan yang lihai dikeloninya selama ini. Apalagi sejak ibunya tiada. Dialah ‘pengganti ibu bagi sembilan adik-adiknya. Mengharap bapak, itu sama artinya berpegang di kayu lapuk. Kalau tak ingat dia orang tua, Minah ingin mencuci jejak bapak di atas lantai tanah itu. Kematian ibu bukannya memberi mereka tambah dekat, justru sosok pelindung itu kerap menghilang berbilang hari. Kalau pun adakalanya singgah sebentar, tanpa ba-bi-bu, melentinglah rotan pada sembilan adik-adiknya. Sungguh Minah tak tega, bapak ringan tangan pada mereka. Minah percaya, tak apalah kering harta benda, tapi jangan kerontang perhatian dan kasih sayang. Sebagai anak paling tua, Minah tak ingin adik-adiknya mengalami nasib serupa dirinya.
Jadi TKI-lah Minah bersama beberapa teman sekampungnya. Walau tergadai subang mendiang ibunya tak apa. Kelak dari ringgit, akan diganti rumah bertingkat. Atau setidaknya warung sembako. Atau setidaknya beli handphone model terbaru. Seperti teman-teman seniornya berprofesi TKI. Alangkah beruntung Minah dari gadis-gadis dusun itu. Meski kebanyakan keinginan mereka meluap, tapi ada kesandung tak bisa berangkat ke tanah Semenanjung itu. Kebanyakan tak cukup rupiah membayar segala surat menyurat dan dokumen ke pihak jasa penyedia TKI itu. Saat cek medis, Minah mulai goyah. Cemas kalau-kalau penyakit demam berdarah yang penah dihidapnya didapati lagi riwayatnya. Namun, saat petugas kesehatan itu menyatakan dirinya sehat-sehat, merekahlah senyum Minah bersamaan sejuta angan-angan di negeri Jiran.
Bos itu mengaku asli Melayu padahal matanya sipit dan berkulit putih pasi. Kalau bicara aksennya membawa Minah pada film-film Brad Pit, Tom Cruise idolanya. Baju dan gaya jalannya membawa Minah pada sosok tante-tante senang di sinetron RCTI. Minah kecele jikalau jauh hari dia akan bekerja pada sosok perempuan-perempuan berdandan ala-ala Siti Nurhaliza. Tapi rupanya jauh panggang dari api. Ada pun kalau si bos lelaki dibenak Minah melintas abang-abang berwajah teduh. Berkumis, jenggot dan jambang tipis dan sekalu bersungkup kepalanya ala-ala anggota penyanyi nasyid Raihan yang diliatnya di tv tetangga masa bulan puasa. Semua itu tak ditemuinya. Sosok perempuan tua yang kini resmi disebutnya majikan juga tanpa laki. Dia menghuni rumah bertingkat di atas bukit dan dijaga satpam 24 jam! Kendala bahasa bagi Minah terasa menyiksa. Untungnya bahasa serumpun didengungkan sejarah lama, didengarnya satu-satu dari majikan. Selebihnya bahasa tubuh lebih banyak bicara. Sementara waktu Minah boleh bernafas. Beruntung juga, pikirnya, berjiran begitu. Jika ditengoknya pekerja-pekerja dari Bangladesh, Myanmar, Pakistan, Filipina entah dengan bahasa apa mereka bertegur sapa, pikir Minah. Apabila dilongokkan kepala keluar pagar, tetangga rupanya berkulit dan berwajah seperti Shah Rukh Khan, Salman Khan dan Kajol pujaannya. Saat majikan membawanya ke pusat beli belah, nyaris dijumpainya mereka-mereka yang bertutur dan bermuka ala Jacky Chen, Jeet Lee, dan Gong Li. Aih, untung saja negaraku berjiran, pekik Minah. Banyak kesamaan la, hibur Minah tanpa ia tahu kesamaan apa entah. Minah mendengar bahasa-bahasa digunakan keseharian, pernah di dengarnya semasa di tanah air. Itulah kesamaan yang amat azas di benak Minah.
Usai menyibak selimut, Minah bergegas ke dapur masa majikan pulas di tempat tidur. Masakan yang diminta siap. Kain pun selesai di seterika. Rumah sudah bersih. Tanaman sekeliling rumah siap disiram. Minah ingin menonton sinetron tapi cucu-cucu majikan datang. Mereka datang dengan orangtuanya. Masing-masing membawa buntelen kain sudah dipakai beberapa hari sebelumnya. Tanpa disuruh Minah cepat paham. Bukan pakaian majikan saja yang dicucinya. Kali ini majikan perlu bersuara, sudah kali ketiga Mercedesnya disiram hujan, Minah tak mencucinya. Walau belum pernah sekali pun mencuci mobil, Minah dapat instruksi dari si majikan. Rutin tiga kali seminggu itu mobil dicuci sekalian.
Disangka Minah panas berpanjangan, rupanya gerimis menanti. Begitu sedan itu mengkilap, Minah boleh merasakan empuknya duduk di dalam. Si majikan ingin Minah tahu, selain berkantor, ia ada ladang berhektar.
Dan perlu Minah sadari, tiga kali seminggu, cabut rumput di ladang itu, begitu pekerjaan rumah selesai. Minah mencoba mengerti apa arti TKI, pembantu itu. Lebih Minah mengerti, ringgit yang dijanjikan tak sekali pun digamit. Pertama kali Minah mencoba beranikan diri, kenapa haknya tak diterima jua, cukup tiga patah si majikan mengingatkan,
“Minah Indon bodoh...!” ***
Kuala Lumpur, 2009
Dimuat di Batam Pos 29/03/2009
Minah memang gadis dusun. Semua yang melekat di diri betul-betul cerminan kampungan. Walau dipoles Mustika Ratu sekali pun, style Minah justru kian tak menjadi. Saat rambutnya diberi warna keemasan, banyak bujang-bujang berujar Minah tak ubah bule kecemplung kali. Saat kuku-kukunya berwarna ungu, tak jarang yang bilang Minah seperti Vampire melompat kehausan darah. Saat Minah berbaju merah, warga jadi geli. Kata mereka, Minah seroman dendeng balado. Kata tetua dulu berlaku betul di gadis lugu itu. Kalau akal yang kurang, entah dengan apa ditambah. Tapi Minah tak kisah dengan pandangan warga. Prinsip Minah, biar muka kampungan, tapi rejeki bisa aja kota. Seperti penyanyi dangdut pujaannya. Cuma bermodal geal-geol pantat, suara pas-pasan toh jadi selebritis juga. Nasib orang siapa yang bisa mengira, cetus Minah saat dirinya resmi pembantu, orang yang tak kaya amat di seberang.
Menjadi TKI jelas bukan cita-cita Minah ketika ia didepak dari bangku SD karena menunggak SPP tiga bulan, plus angka rapor cabe merah. Walau para guru menganjur Suminah nama lengkapnya sebaiknya masuk sekolah khusus, tapi Minah tak terima. Baginya itu sama saja para tenaga didik hendak mengatakan dirinya bermasalah. Kalau tak patut disebut ber-IQ rendah alias murid berotak udang. Sebelumnya Minah terhegeh-hegeh hendak merasakan bangku sekolah, berseragam putih merah, bukan sekadar mendapat kawan, tapi lebih dari itu, para bapak dan ibu guru yang belakangan disebut pahlawan tanpa jasa justru dirasakan Minah tak hendak membawa dirinya yang sememangnya lelet dengan alpabet dan paling tak bisa dicekoki dengan angka; kurang, tambah, kali dan bagi. Maka para guru kehabisan cara menghantar Minah jadi murid pintar. Bagi Minah pula, para guru itu tak patut disebut pelita dalam kegelapan, kalau kiranya tak mampu membawa dirinya ke alam ilmu pengetahuan.
Sejak itu Minah mengutuk sekolah. Sudahlah biaya mahal. Mulai seragam, SPP dan buku-buku berkurikulum pelajarannya berganti tiap sebentar. Minah jengah dengan sekolah. Ia pun menanam kesumat pada gurunya. Belagu! Kaya juga tidak! Rutuk Minah. Beda pada seragam saja, sudah melonjak! Repet Minah saat ia melihat dengan mata kepala, dunia sekolah toh bukan satu-satunya jalan untuk bisa meraup rupiah. Lalu membeli baju, rok, subang, atau kalau emang rejeki, bisa membuat rumah. Lagipula isi otak kok ya diukur dengan angka-angka. Minah jelas sekali berkecil hati. Minah bertekad bulat tak akan menyentuh bangku sekolah lagi. Jadilah hari itu terakhir kali menyarungkan seragam putih merah. Sekaligus tak perlu lagi ia berpenat diri di lapangan setiap Senin pagi saat mentari terasa menyengat, walau hanya sekedar menghormat bendera sambil mendengar repet pidato kepala sekolah tak lebih sekedar bermain kata-kata, tanpa tahu keadaan dirinya, mungkin juga temen-temen seperjuangan dirinya.
Umur Minah merekah masa ia tengok teman-temannya lebih tragis nasibnya; tak pernah sekolah malahan, buta huruf otomatis tak tahu baca tulis dari dirinya kok bisa membuat rumah baru. Bahkan rumah bertingkat pula. Mereka bisa pula membantu biaya sekolah adik-adiknya, ada handphone teranyar segala, hingga beli sapi dan kerbau pula. Semua itu mereka berjaya lakukannya jika dan hanya berprofesi sebagai TKI di seberang. Minah diam-diam menyuntik hasrat ke seberang pula. Apa sih susahnya jadi TKI.
Kalau kerja sekadar nyapu rumah, nyiram bunga, masak, nyuci itu pekerjaan yang lihai dikeloninya selama ini. Apalagi sejak ibunya tiada. Dialah ‘pengganti ibu bagi sembilan adik-adiknya. Mengharap bapak, itu sama artinya berpegang di kayu lapuk. Kalau tak ingat dia orang tua, Minah ingin mencuci jejak bapak di atas lantai tanah itu. Kematian ibu bukannya memberi mereka tambah dekat, justru sosok pelindung itu kerap menghilang berbilang hari. Kalau pun adakalanya singgah sebentar, tanpa ba-bi-bu, melentinglah rotan pada sembilan adik-adiknya. Sungguh Minah tak tega, bapak ringan tangan pada mereka. Minah percaya, tak apalah kering harta benda, tapi jangan kerontang perhatian dan kasih sayang. Sebagai anak paling tua, Minah tak ingin adik-adiknya mengalami nasib serupa dirinya.
Jadi TKI-lah Minah bersama beberapa teman sekampungnya. Walau tergadai subang mendiang ibunya tak apa. Kelak dari ringgit, akan diganti rumah bertingkat. Atau setidaknya warung sembako. Atau setidaknya beli handphone model terbaru. Seperti teman-teman seniornya berprofesi TKI. Alangkah beruntung Minah dari gadis-gadis dusun itu. Meski kebanyakan keinginan mereka meluap, tapi ada kesandung tak bisa berangkat ke tanah Semenanjung itu. Kebanyakan tak cukup rupiah membayar segala surat menyurat dan dokumen ke pihak jasa penyedia TKI itu. Saat cek medis, Minah mulai goyah. Cemas kalau-kalau penyakit demam berdarah yang penah dihidapnya didapati lagi riwayatnya. Namun, saat petugas kesehatan itu menyatakan dirinya sehat-sehat, merekahlah senyum Minah bersamaan sejuta angan-angan di negeri Jiran.
Bos itu mengaku asli Melayu padahal matanya sipit dan berkulit putih pasi. Kalau bicara aksennya membawa Minah pada film-film Brad Pit, Tom Cruise idolanya. Baju dan gaya jalannya membawa Minah pada sosok tante-tante senang di sinetron RCTI. Minah kecele jikalau jauh hari dia akan bekerja pada sosok perempuan-perempuan berdandan ala-ala Siti Nurhaliza. Tapi rupanya jauh panggang dari api. Ada pun kalau si bos lelaki dibenak Minah melintas abang-abang berwajah teduh. Berkumis, jenggot dan jambang tipis dan sekalu bersungkup kepalanya ala-ala anggota penyanyi nasyid Raihan yang diliatnya di tv tetangga masa bulan puasa. Semua itu tak ditemuinya. Sosok perempuan tua yang kini resmi disebutnya majikan juga tanpa laki. Dia menghuni rumah bertingkat di atas bukit dan dijaga satpam 24 jam! Kendala bahasa bagi Minah terasa menyiksa. Untungnya bahasa serumpun didengungkan sejarah lama, didengarnya satu-satu dari majikan. Selebihnya bahasa tubuh lebih banyak bicara. Sementara waktu Minah boleh bernafas. Beruntung juga, pikirnya, berjiran begitu. Jika ditengoknya pekerja-pekerja dari Bangladesh, Myanmar, Pakistan, Filipina entah dengan bahasa apa mereka bertegur sapa, pikir Minah. Apabila dilongokkan kepala keluar pagar, tetangga rupanya berkulit dan berwajah seperti Shah Rukh Khan, Salman Khan dan Kajol pujaannya. Saat majikan membawanya ke pusat beli belah, nyaris dijumpainya mereka-mereka yang bertutur dan bermuka ala Jacky Chen, Jeet Lee, dan Gong Li. Aih, untung saja negaraku berjiran, pekik Minah. Banyak kesamaan la, hibur Minah tanpa ia tahu kesamaan apa entah. Minah mendengar bahasa-bahasa digunakan keseharian, pernah di dengarnya semasa di tanah air. Itulah kesamaan yang amat azas di benak Minah.
Usai menyibak selimut, Minah bergegas ke dapur masa majikan pulas di tempat tidur. Masakan yang diminta siap. Kain pun selesai di seterika. Rumah sudah bersih. Tanaman sekeliling rumah siap disiram. Minah ingin menonton sinetron tapi cucu-cucu majikan datang. Mereka datang dengan orangtuanya. Masing-masing membawa buntelen kain sudah dipakai beberapa hari sebelumnya. Tanpa disuruh Minah cepat paham. Bukan pakaian majikan saja yang dicucinya. Kali ini majikan perlu bersuara, sudah kali ketiga Mercedesnya disiram hujan, Minah tak mencucinya. Walau belum pernah sekali pun mencuci mobil, Minah dapat instruksi dari si majikan. Rutin tiga kali seminggu itu mobil dicuci sekalian.
Disangka Minah panas berpanjangan, rupanya gerimis menanti. Begitu sedan itu mengkilap, Minah boleh merasakan empuknya duduk di dalam. Si majikan ingin Minah tahu, selain berkantor, ia ada ladang berhektar.
Dan perlu Minah sadari, tiga kali seminggu, cabut rumput di ladang itu, begitu pekerjaan rumah selesai. Minah mencoba mengerti apa arti TKI, pembantu itu. Lebih Minah mengerti, ringgit yang dijanjikan tak sekali pun digamit. Pertama kali Minah mencoba beranikan diri, kenapa haknya tak diterima jua, cukup tiga patah si majikan mengingatkan,
“Minah Indon bodoh...!” ***
Kuala Lumpur, 2009
Minggu, 15 November 2009
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Batam Pos 08/23/2009
1.
KAU pernah bergidik mendengar ombak yang bergemuruh; pucat oleh raungan halilintar; berdegup-kencang karena bumi bergemerutupan; gemetar menyaksikan angin yang memuting. Ah, itu tak ada apa-apanya, Kawan! Adakah yang lebih hebat dari rindu?
Ingin kusimpan surat itu bersama kelopak-kelopak mawar yang menebar bau harum yang khas; bila kau mengubah kata “Kawan” di sana dengan kata “Sayang”. Oh, dapat kubayangkan langit yang tiba-tiba memerahmuda; sehelai selendang sutra berwarna lembayung akan melingkar di bahuku; rambut sepinggangku akan berkibar-kemilau... lalu, aku akan terbang ke langit kedua. Sekadar duduk-duduk sambil menunggu mendung tiba. Keadaan yang mengundang para bidadari untuk turun ke bumi dan mandi di salah satu lembahnya. Tentu saja gadis-gadis cahaya itu akan melewatiku, dan aku pun dengan sesegera bergabung bersama mereka. Akan kuceritakan tentang sebuah tempat yang sangat elok untuk melengkungkan pelangi. Lubuk Nio, sungai yang berasal dari aliran air di bantaran Talang Rejo, lereng Bukit Sulap.
Aku yakin mereka akan terbuai, lalu turun ke bumi bersamaku dengan selendang yang dikepak-kepak. Aku juga akan sangat bahagia ketika kau benar-benar menunaikan kebiasaanmu menunggu Magrib sambil memancing di salah satu tepiannya. Aku hafal sekali kau biasa melakukannya di bawah pohon kam; mungkin menunggu jodoh dari Tuhan. Tak salah bukan, bila sekali-sekali kau mencuci matamu: melihat tujuh bidadari mandi dengan seorang perempuan seperti aku (anggap sajalah aku teman baru mereka).
Yang kutahu kau masih membujang? Apakah kau lebih mementingkan persahabatan kita, hingga keinginan berkeluarga pun terus kau tunda? Mungkinkah itu demi seseorang berambut panjang di Kota Ampera ini?
2.
BILA daun itu tautan, aku akan memberikanmu pepohonan. Bila air itu pelipuran, aku akan menghadiahimu lautan. Bila rindu itu kemilauan, aku akan membawakanmu bebintang. Bila persahabatan itu diriku, tidak berlebihan, bukan, bila kupersembahkan hatiku?
Alim, Alim. Dari hati yang paling dalam, sangatlah ingin diri ini menyambangi kampungmu yang juga tanah kelahiranku itu; ranah tempat kita dulu berkeriapan memapas debu dengan mobil-mobilan papan di salah satu tanganmu, dan boneka pelepah pisang di pangkuanku.
Apalagi surat yang baru saja kuterima ini, untuk kesekiankalinya membuat perasaanku berkebat-kebit. Kau memang pemuja bukti-bukti; bahwa gejolak dapat dikirimkan melalui liukan tinta di atas kertas HVS mangkak 68 kilogram—yang kerap kaugunakan untuk mengukir sajak-sajakmu. (Ah, seharusnya kertas-kertas itu menjadi santapan printer saban kau menyudahi beberapa sajakmu). Kau memang sahabat yang baik (semoga lebih dari itu). Sahabat yang tahu bagaimana sebuah gejolak dapat disambungrasakan melalui tulisan aslimu. Aku tersanjung—walaupun tak selayaknya itu kurasai.
Oh, benarkah tak selayaknya kurasai galau ini.
Semua belum tuntas. Aku belum merampungkan masalah itu: perihal harta gono-gini dengan Bang Markus. Dia sangat baik sebenarnya, tapi... apakah hanya itu syarat sebuah bahtera dapat berlayar jauh hingga ke pulau impian? Aku tak menyalahkannya, Lim.
Penya’ir atau bukan, itu adalah pilihan hidup yang menyangkut kebahagiaan pribadinya. Tapi... apakah seseorang yang bukan penyair dimahfumkan untuk tidak menebar kehangatan pada tulang rusuk kirinya?
Bang Markus adalah es, yang bila pun mencair hanya menumpahkan rasa dingin pada kebersamaan kami. Apakah hal itu menjadi sah-sah saja seorang laki-laki lakukan pada istri yang belum memberikannya keturunan?
Kau tahu, Lim. Sebenarnya aku telah memeriksakan diriku—maksudku rahim dan kesuburanku—secara diam-diam pada seorang ahli kandungan. Kau tahu hasilnya? Aku tak mendera kekurangan satu apapun untuk dapat berketurunan. Namun... haruskah ini kusampaikan pada suamiku itu? Sedingin-dingin ia, ketika merasa terpojok perihal kelelakiannya, ia pasti mengamuk juga.
Kau tahu bagaimana tumpukan salju—sepanjang Bukit Siguntang—di Alaska ternyata memakan korban tak sedikit saban tahunnya? Bila gunung salju itu bergemuruh, maka pohon-pohon cemara dan rerumahan akan rontok-penyok, atau sekawanan pemain ski akan tunggang-langgang menyelamatkan diri sebelum lengkingan panjang menjadi pembuka penguburan mereka di ranah putih nan dingin tak tepermanai itu.
Dapatkah kaubayangkan bagaimana aku menjalani semuanya? Bila tak menenggang bahwa pernikahan itu adalah permintaan terakhir ayah sebelum ia berjazirah ke liang gulita, aku.... Oh, tak sanggup kulanjutkan catatan sepi ini, Lim.
3.
TAHUKAH engkau, mengapa Tuhan menciptakan ruang-ruang kosong di antara jemari kita? Karena suatu saat, orang-orang yang tulus menyayangimu akan memenuhi ruang itu dengan memegang erat tanganmu. Selamanya.
Entah ini surat yang keberapa yang engkau peruntukkan untukku. Andai kau tahu apa yang aku rasakan dulu dan kini benar-benar berbeda adanya, maka... masihkah kau akan merangkai metafora-metafora demi sebuah makna yang maha: kita saling menyayangi. Aku malu sendiri dengan kata yang terakhir itu. Agak risih. Kita tak halal satu-sama lain. Oh Alim, suatu saat aku akan ke Lubuklinggau. Aku akan merajut kedekatan itu lagi. Bukankah kau sudah merindukan suaraku yang melagukan Seroja ketika cintamu ditolak Aisyah dulu?
“Kau harus berpandai-pandai menganyam permainan, Lim,” kataku waktu itu. Engkau diam saja. Kau masih kecewa karena cintamu bertepuk sebelah tangan.
“Kau juga, Lim, tak memilah yang sekufu dengan orang-orang macam kita. Putri semata wayang Haji Mansyur! Bila pun Aisyah mampu kau jerat perasaannya, bukankah kau tahu kalau gadis itu sangat penurut pada abahnya? Takkah kau dengar desas-desus bahwa ia akan dipinang (atau dijodohkan dengan) Mustafa Hasyim, pemuda lulusan Gontor itu?
Sejak itu aku sangat sering menasehatimu agar sering ke masjid; belajar mengaji, dan mengurangi begadang di pos ronda dekat Jalan Lakitan.
4.
JANGAN terlalu mengharap ada yang berubah; seperti yang kumau, seperti yang kaupinta, seperti do'a-do'a kita. Karena pasti sebelumnya: Kita pernah saling menyayangi apa adanya.
Alhamdulillah, semuanya terselesaikan dengan baik. Aku tak lagi satu rumah dengan Markus. Dia sudah haram bagiku, begitupun aku atasnya. Ah, tak penting itu, Lim. Yang terpenting adalah kita harus membuat garis putih. Kejelasan sebuah jalinan: persahabatan atau nantinya akan mengerucut pada ikatan halal.
Aku baru menonton TVRI Daerah tadi pagi. Hebat ya kampung kita sekarang: diulas di tivi. Bukan tentang bajing loncat, gerombolan penodong di jalan lintas Sumatera; bukan pula tentang tujah-tujahan, tikam-tikaman pisau antar penduduk; atau perkara ricuh di acara kawinan... tapi tentang sesuatu yang bisa melengkungkan senyum di wajah tirusku. Bandara Silampari akan mulai beroperasi (lagi) dalam waktu dekat. Walaupun hanya pesawat mini (begitu aku menyebut burung besi yang hanya bermuatan maksimal 10 orang itu), tapi paling tidak, aku tidak harus menempuh perjalanan delapan jam yang melelahkan via kereta api, bukan? Ya, aku akan ke Lubuklinggau bulan depan, membawa rindu yang sebenar sungguh!
Oh tunggu dulu! Tidakkah ada sesuatu yang sedikit ganjil? Maksudku, apakah kau memang tak tahu tentang bandara itu, atau memang kau belum mengetahuinya, atau kau tak ingin aku tahu.... Bukankah kau yang tinggal di sana?
Oh sudikah seorang jejaka berteman lagi dengan janda layu sepertiku?
Ah, lupakanlah itu, Lim. Akulah yang salah, seharusnya aku tak terlalu menganggap perjalanan Palembang-Lubuklinggau sebagai sesuatu yang melelahkan. Aku malu dengan sebaris sajakmu itu: “Adakah yang lebih hebat dari rindu?” ***
Dimuat di Batam Pos 08/23/2009
1.
KAU pernah bergidik mendengar ombak yang bergemuruh; pucat oleh raungan halilintar; berdegup-kencang karena bumi bergemerutupan; gemetar menyaksikan angin yang memuting. Ah, itu tak ada apa-apanya, Kawan! Adakah yang lebih hebat dari rindu?
Ingin kusimpan surat itu bersama kelopak-kelopak mawar yang menebar bau harum yang khas; bila kau mengubah kata “Kawan” di sana dengan kata “Sayang”. Oh, dapat kubayangkan langit yang tiba-tiba memerahmuda; sehelai selendang sutra berwarna lembayung akan melingkar di bahuku; rambut sepinggangku akan berkibar-kemilau... lalu, aku akan terbang ke langit kedua. Sekadar duduk-duduk sambil menunggu mendung tiba. Keadaan yang mengundang para bidadari untuk turun ke bumi dan mandi di salah satu lembahnya. Tentu saja gadis-gadis cahaya itu akan melewatiku, dan aku pun dengan sesegera bergabung bersama mereka. Akan kuceritakan tentang sebuah tempat yang sangat elok untuk melengkungkan pelangi. Lubuk Nio, sungai yang berasal dari aliran air di bantaran Talang Rejo, lereng Bukit Sulap.
Aku yakin mereka akan terbuai, lalu turun ke bumi bersamaku dengan selendang yang dikepak-kepak. Aku juga akan sangat bahagia ketika kau benar-benar menunaikan kebiasaanmu menunggu Magrib sambil memancing di salah satu tepiannya. Aku hafal sekali kau biasa melakukannya di bawah pohon kam; mungkin menunggu jodoh dari Tuhan. Tak salah bukan, bila sekali-sekali kau mencuci matamu: melihat tujuh bidadari mandi dengan seorang perempuan seperti aku (anggap sajalah aku teman baru mereka).
Yang kutahu kau masih membujang? Apakah kau lebih mementingkan persahabatan kita, hingga keinginan berkeluarga pun terus kau tunda? Mungkinkah itu demi seseorang berambut panjang di Kota Ampera ini?
2.
BILA daun itu tautan, aku akan memberikanmu pepohonan. Bila air itu pelipuran, aku akan menghadiahimu lautan. Bila rindu itu kemilauan, aku akan membawakanmu bebintang. Bila persahabatan itu diriku, tidak berlebihan, bukan, bila kupersembahkan hatiku?
Alim, Alim. Dari hati yang paling dalam, sangatlah ingin diri ini menyambangi kampungmu yang juga tanah kelahiranku itu; ranah tempat kita dulu berkeriapan memapas debu dengan mobil-mobilan papan di salah satu tanganmu, dan boneka pelepah pisang di pangkuanku.
Apalagi surat yang baru saja kuterima ini, untuk kesekiankalinya membuat perasaanku berkebat-kebit. Kau memang pemuja bukti-bukti; bahwa gejolak dapat dikirimkan melalui liukan tinta di atas kertas HVS mangkak 68 kilogram—yang kerap kaugunakan untuk mengukir sajak-sajakmu. (Ah, seharusnya kertas-kertas itu menjadi santapan printer saban kau menyudahi beberapa sajakmu). Kau memang sahabat yang baik (semoga lebih dari itu). Sahabat yang tahu bagaimana sebuah gejolak dapat disambungrasakan melalui tulisan aslimu. Aku tersanjung—walaupun tak selayaknya itu kurasai.
Oh, benarkah tak selayaknya kurasai galau ini.
Semua belum tuntas. Aku belum merampungkan masalah itu: perihal harta gono-gini dengan Bang Markus. Dia sangat baik sebenarnya, tapi... apakah hanya itu syarat sebuah bahtera dapat berlayar jauh hingga ke pulau impian? Aku tak menyalahkannya, Lim.
Penya’ir atau bukan, itu adalah pilihan hidup yang menyangkut kebahagiaan pribadinya. Tapi... apakah seseorang yang bukan penyair dimahfumkan untuk tidak menebar kehangatan pada tulang rusuk kirinya?
Bang Markus adalah es, yang bila pun mencair hanya menumpahkan rasa dingin pada kebersamaan kami. Apakah hal itu menjadi sah-sah saja seorang laki-laki lakukan pada istri yang belum memberikannya keturunan?
Kau tahu, Lim. Sebenarnya aku telah memeriksakan diriku—maksudku rahim dan kesuburanku—secara diam-diam pada seorang ahli kandungan. Kau tahu hasilnya? Aku tak mendera kekurangan satu apapun untuk dapat berketurunan. Namun... haruskah ini kusampaikan pada suamiku itu? Sedingin-dingin ia, ketika merasa terpojok perihal kelelakiannya, ia pasti mengamuk juga.
Kau tahu bagaimana tumpukan salju—sepanjang Bukit Siguntang—di Alaska ternyata memakan korban tak sedikit saban tahunnya? Bila gunung salju itu bergemuruh, maka pohon-pohon cemara dan rerumahan akan rontok-penyok, atau sekawanan pemain ski akan tunggang-langgang menyelamatkan diri sebelum lengkingan panjang menjadi pembuka penguburan mereka di ranah putih nan dingin tak tepermanai itu.
Dapatkah kaubayangkan bagaimana aku menjalani semuanya? Bila tak menenggang bahwa pernikahan itu adalah permintaan terakhir ayah sebelum ia berjazirah ke liang gulita, aku.... Oh, tak sanggup kulanjutkan catatan sepi ini, Lim.
3.
TAHUKAH engkau, mengapa Tuhan menciptakan ruang-ruang kosong di antara jemari kita? Karena suatu saat, orang-orang yang tulus menyayangimu akan memenuhi ruang itu dengan memegang erat tanganmu. Selamanya.
Entah ini surat yang keberapa yang engkau peruntukkan untukku. Andai kau tahu apa yang aku rasakan dulu dan kini benar-benar berbeda adanya, maka... masihkah kau akan merangkai metafora-metafora demi sebuah makna yang maha: kita saling menyayangi. Aku malu sendiri dengan kata yang terakhir itu. Agak risih. Kita tak halal satu-sama lain. Oh Alim, suatu saat aku akan ke Lubuklinggau. Aku akan merajut kedekatan itu lagi. Bukankah kau sudah merindukan suaraku yang melagukan Seroja ketika cintamu ditolak Aisyah dulu?
“Kau harus berpandai-pandai menganyam permainan, Lim,” kataku waktu itu. Engkau diam saja. Kau masih kecewa karena cintamu bertepuk sebelah tangan.
“Kau juga, Lim, tak memilah yang sekufu dengan orang-orang macam kita. Putri semata wayang Haji Mansyur! Bila pun Aisyah mampu kau jerat perasaannya, bukankah kau tahu kalau gadis itu sangat penurut pada abahnya? Takkah kau dengar desas-desus bahwa ia akan dipinang (atau dijodohkan dengan) Mustafa Hasyim, pemuda lulusan Gontor itu?
Sejak itu aku sangat sering menasehatimu agar sering ke masjid; belajar mengaji, dan mengurangi begadang di pos ronda dekat Jalan Lakitan.
4.
JANGAN terlalu mengharap ada yang berubah; seperti yang kumau, seperti yang kaupinta, seperti do'a-do'a kita. Karena pasti sebelumnya: Kita pernah saling menyayangi apa adanya.
Alhamdulillah, semuanya terselesaikan dengan baik. Aku tak lagi satu rumah dengan Markus. Dia sudah haram bagiku, begitupun aku atasnya. Ah, tak penting itu, Lim. Yang terpenting adalah kita harus membuat garis putih. Kejelasan sebuah jalinan: persahabatan atau nantinya akan mengerucut pada ikatan halal.
Aku baru menonton TVRI Daerah tadi pagi. Hebat ya kampung kita sekarang: diulas di tivi. Bukan tentang bajing loncat, gerombolan penodong di jalan lintas Sumatera; bukan pula tentang tujah-tujahan, tikam-tikaman pisau antar penduduk; atau perkara ricuh di acara kawinan... tapi tentang sesuatu yang bisa melengkungkan senyum di wajah tirusku. Bandara Silampari akan mulai beroperasi (lagi) dalam waktu dekat. Walaupun hanya pesawat mini (begitu aku menyebut burung besi yang hanya bermuatan maksimal 10 orang itu), tapi paling tidak, aku tidak harus menempuh perjalanan delapan jam yang melelahkan via kereta api, bukan? Ya, aku akan ke Lubuklinggau bulan depan, membawa rindu yang sebenar sungguh!
Oh tunggu dulu! Tidakkah ada sesuatu yang sedikit ganjil? Maksudku, apakah kau memang tak tahu tentang bandara itu, atau memang kau belum mengetahuinya, atau kau tak ingin aku tahu.... Bukankah kau yang tinggal di sana?
Oh sudikah seorang jejaka berteman lagi dengan janda layu sepertiku?
Ah, lupakanlah itu, Lim. Akulah yang salah, seharusnya aku tak terlalu menganggap perjalanan Palembang-Lubuklinggau sebagai sesuatu yang melelahkan. Aku malu dengan sebaris sajakmu itu: “Adakah yang lebih hebat dari rindu?” ***
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)




