Tampilkan postingan dengan label FLP Padang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FLP Padang. Tampilkan semua postingan
Kamis, 31 Maret 2011 by Alizar tanjung
Cerpen Alizar Tanjung
Dimuat di Singgalang, Minggu, 27 Maret 2011

Kau duduk dikursi di sampingku. Menghadap ke jalan utama. Memesan sepiring nasi dengan gulai lele, cabe merah, sayur pucuk ubi, gulai cubadak. Seorang pelayan laki-laki menyodorkan dua teh goyang. Di seberang jalan, seorang penjual buah asyik melayani pembeli. Di sampingnya penjuak VCD tanpa pembeli. Pemilik toko VCD tampak bermenung menunggu calon pembeli. Di sampingnya penjual goreng, lumayan ramai pembeli.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan, pelayan itu tepat berdiri di depanku.

“Hanya satu, Bang, nasinya!” Kau cepat-cepat meyakinkan pelayan itu. Mungkin pelayan itu lupa, aku tidak memesan nasi. Pelayan itu mangguk.

“Biar saja,” kataku menyela katamu. Pelayan itu meninggalkan kedua teh goyang. Ia kembali ke dapur. Piring berdentang. Tak lama pesanan nasimu datang. Kepala lele yang lebih besar dari badannya itu mengeliat dalam piring. Kau pindahkan ke nasimu. Kau taburkan kuah cubadak. Kau lahap dengan sangat tajam. Matamu liar. Tanganmu liar. Lidahmu liar.

“Tidak enak kata kau.” Aku tidak yakin itu tidak enak. Mana mungkin barang yang tidak enak kau lahap dengan khitmat. Tampak jakunmu naik turun. Suapmu lebar. Jemarimu bertabur nasi.

“Kau benar tidak makan?” Rupanya kau pandai juga berbasa-basi. Walau basa-basimu separuh suap nasimu.

“Tidak usah. Aku sudah makan sehabis Magrib tadi.” Ya, aku memang sudah makan sehabis magrib tadi. Aku lahap telur dadar campur sayur laladih, cabe merah, dua potong kecil kentang gulai. Lalu aku memanggilmu. Uangku habis. Aku harus bayar uang kost jatuh tempo. Tanggal 15 setiap bulan jadwal rutin pajak kostku. Aku pinjam uang kau 200 ribu.

“Minum susu atau apa?”

“Tidak usah. Cukup teh goyang ini saja.”

Aku lebih suka melihat kau tidak bicara. Entah kenapa. Perkataan kau hanya membuat aku bosan mendengarkan. Teruskan sajalah makannya. Aku lebih suka melihat kau memasukkan daging lele itu ke mulut kau. Kau kunyah. Kau telan. Kau campur dengan reguk air. Aku juga akan senang kalau tidak mengucapkan apa-apa. Aku lagi malas bicara.

“Benar-benar tidak enak.” Kau memang tidak pandai bersyukur. Sudah separuh habis kau bilang tidak enak. Kau tuangkan lagi tambuhnya. Tampaklah olehku mulutmu itu berisi ruas kanan dan kiri.

Pelayan itu kembali kau panggil.

“Aku ingin satu tambahan bumbu kuah gulai toco. Sedikit tambahan kerupuk, dengan serbuk ayam goreng. Tambah sayur ubinya. Lebihkan cabe merahnya,” pintamu. Pelayan itu tampak pening mencatat pesananmu. Mungkin ia jengkel, hanya tak ia perlihatkan kepadamu. Tamu adalah raja, begitulah biasa para pelayan melayani tamu. Sekarang kamu, aku, adalah rajanya.

“Mungkin tidak enak karena lelenya di gulai,” kata kau. Aku sungguh tidak habis pikir. Apakah kategori enak atau tidak bagi kau. Apakah enak bagi kau itu hanya sampai di lidah. Bukan, tampaknya tidak enak bagi kau hanya semacam ucapan suara kosong.

“Mungkin karena lidah kau belum terbiasa saja.” Aku mencoba mencairkan suasana. Sebenarnya aku tidak ingin bicara apa-apa. Aku lebih suka melihat tayangan sepakbola dunia yang sekarang di laksanakan di Stadion Port Elizabeth, Cape Town, Afrika. Argentina melawan Korea Selatan. Aku lebih suka melihat bola itu berlari. Pas mendekati gawang, orang-orang berteriak. Aku ikut berteriak. Bola dipegang kesebelasan Argentina. Gol baru mencetak 2;1

“Lebih enak makan di ampera dekat kampus,” katamu.

Aku asyik berteriak. Hampir saja gawang Argentina kebobolan. Aku kembali duduk. Sejenak kulihat kau. Kau sedang upil daging lele dalam piring itu. Lele itu menyembul tulang-tulangnya. Kau masukkan daging dalam nasimu. Kau aduk jadi rata. Nasi itu kau suap ke mulut kau. Tampak kau benar-benar menikmatinya.

“Gulainya terasa basi,” kata kau. Aku sungguh malu melihat tingkah kau. Untung saja para pelayan itu sibuk dengan bola. Ia tidak mendengar ucapan kau.

Satu pelayan, kasir, dekat pintu kewalahan menonton bola. TV itu berada pada sisi miring darinya. Ia sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. Kini ia bertelekan dagu dengan tangan kananya. Tiga pelayan di dapur, sibuk melap piring, gelas, sendok, kebasuh. Bunyi piring, gelas, sendok, kebasuh, beradu membentuk paduan irama tak karuan.

Satu pelayan mengambilkan nasi untuk pembeli. Tiga orang tamu duduk di bundaran meja sebelah kanan kita. Tampaknya mereka baru saja datang. Tadi pas ketika aku dan kau masuk, meja itu masih kosong. Mata ketiga orang itu tajam. Matanya mata elang. Selebihnya meja-meja kosong. Tampaknya memang malam ini pembeli lagi sepi. Tidak seperti hari-hari kemarin aku ke sini.

“Golll!” Sial. Argentina melakukan ofset di kawasan Korea Selatan. Gol itu gagal. Aku sungguh lebih tertarik kalau seandainya Argentina sedikit hati-hati dengan garis batas gawang. Pasti golnya dihitung.

“Benar? Gulainya terasa basi!” Kau sungguh benar-benar sial. Kau dekatkan gulai itu ke hidung kau. Kau tarik bulu hidung kau pelan-pelan. Lentiknya naik turun. Kening kau mengernyit.

“Tidak basi,” kata kau meyakinkan balik. Kau meyakinkan kepada diri sendiri. Kadang kau lugu kalau sedang berada di rumah makan. Tapi kadang keluguan itu berlebihan, membuat aku jengkel.

“Kenapa tidak enak?!”
Lama-lama aku jiji sendiri mendengar perkataan kau.

“Sudahlah, mungkin itu hanya perasaan kau saja. Aku kemarin makan di sini, enak kok. Aku pesan lele goreng.”

Aku muak mendengar keluhan kau. Tidak tahu kau enak hidup adalah masakan. Dicampur asam jawa, jeruk nipis, lengkuas, kunyit, jahe, cabe, garam, merica. Tak tahukah kau enaknya menyatu dalam satu rasa. Ingin aku katakan kepada kau. Enak itu bagi kau apa? Aku jawab sendiri. Enak itu kau leburkan lidah kau ke dalam sana. Kau rasakan garamnya. Kau rasakan pedasnya. Kau rasakan asinnya. Kau rasakan kunyitnya. Kau rasakan campurannya.

“Ya, mungkin karena lidahku tidak cocok dengan makan di sini,” kata kau. Bah, pandai juga kau rupanya mengarang kata-kata. Kukira aku saja yang pandai mengarang kata-kata.

“Ya, mungkin. Lain kali kau harus pesan lele goreng.” Itu caraku memberikan senyuman hangat untukmu. Lebih baik pura-pura. Nanti kau bilang pula aku tidak menghargai kau. Aku juga takut kau kucilkan dari pertemanan. Bukan kehilangan satu teman lebih pahit dari mengalahkan seribu musuh.

Kini bola itu berada di pihak Korea Selatan. Bola dioper ke striker, kembali ke sayap kanan.
Seorang pelayan di kasir mengambilkan pesanan ikan lele gulai seorang pembeli yang baru datang. Pembeli itu seorang perempuan tua. Perempuan itu mengambil satu plastik kosong. Ia masukkan lele pesanan ke dalamnya. Ia tinggalkan uang lima ribu rupiah di kasir. Ia menghilang di balik dinding rumah makan.

Kau masih sibuk mengupil daging lele. “Golll!” kau berteriak. Hampir saja nasi kau menyembur di meja.

Gaya hidup kau memang sering membuat aku cemburu. Enak bagi kau mungkin makan di rumah makan. Hingga saat agenda makan aku selalu kau ajak ke rumah makan. Kini pun kau mengajak ke rumah makan.

Kau sedup teh goyang. Habis sudah nasi kau, satu porsi satu tambuh. Kau bersilena di kursi plastik.

“Tak suka aku makan di sini. Tidak enak sekali. Apanya yang kau bilang enak!” Ah bedabah kau. Aku pula yang kau salahkan. Kau tahu bagaimana orang-orang yang aku bawa ke sini menikmatinya enaknya. Enak mereka enak pelayanannya. Enak mereka enak menyadari mereka semacam masakan.

Aku berpikir aku seorang pemasak. Kau seorang pemesan. Aku berpikir hidupku dapur, resep, kuali, periuk, kompor. Aku memakai toga masak. Aku selempangkan kain penutup badan. Aku mulai mengiris. Bagiku enak itu adalah mengiris bawang, tomat, cabe. Aku bayangkan aku memasukkan rempah-rempah. Bagiku enak itu adalah kisut rempah-rempah yang diambil entah kapan. Rempah itu bercampur daun duku, pala, selada, sarai. Aku pikirkan aku menghidupkan api. Bagiku enak itu menghidupkan api dalam tungku. Ah, terlalu jauh menjawab enaknya bagi kau sebuah hidangan masak.

Di luar hujan rinai turun. Lampu tampak temaram di bawah gardu. Deretan rumah sepanjang jalan Anduring kerlap-kerlip. Seorang tua melintas dengan becak beratap semacam gerobak lesehan yang ada di Jogja. Bedanya sekarang ini kita di Padang.

Lelaki tua itu menghadap sejenak ke dalam rumah makan. Kulihat kening kau berkerut. Lelaki tua itu bertopi jerami, baju putih, celana putih. Lelaki tua itu dibalut kumis dan jenggot putih. Mungkin umurnya sudah di atas enam pulah. Lelaki tua itu mendorong becak rumahannya. Aku lihat begitu banyak karung-karung dalam becak. Atap becak yang berbentuk rumahan itu diisi karung botol plastik. Itu tampak dari rajukannya. Bagian badan becak juga penuh dengan karung barang-barang bekas. Bagian sadel juga diisi dengan satu karung entah berisi papa.

Lelaki itu berinsut ke tengah rinai. Aku tersentak.

Di Seberang jalan penjual VCD masih lengang. Satu dua orang tampak membeli goreng. Satu mobil bewarna hitam berhenti membeli buah. Kemudian ia kembali tancap gas.

“Bukankah itu bapak Kau?”

Kau tuang air cuci tangan ke dalam piring nasi kau. Kau patik sebatang rokok. Kini rokok itu terapit di antara jemari telunjuk dan jemari tengah kau. Kau tidak hirau fatwa haram merokok oleh MUI di tempat keramaian. Kau tawarkan aku.

“Simpan saja,” kataku.

“Yang tadi..,” Kau putus kalimatku. tidak sopan.

“Bapakku.”

“Kenapa tidak kau tolong bapak Kau?”

“Aku lebih suka nonton bola. Golll!” Kau berteriak. Kini permainan itu menjadi 3;1.

Pelayan-pelayan bagian dapur mulai menaikkan bangku ke atas meja. Piring-piring bergerincingan dilap. Seorang pelayan di bagian jamuan masakan terhidang, Ia mengambil sehelai plastik hitam. Ia masukkan kumpulan ikan goreng ke dalam plastik. Pelayan penjaga kasir menutup kaca yang di depannya.

Di luar bapak kau tidak ada lagi. Kulihat ia menyeret becaknya lurus arah Anduring menuju by pass. Kulihat kau. Bola mata kau tajam menatap bola di lapangan. Seorang pelayan datang membersihkan meja. Ia tinggalkan kertas bertuliskan Rp 9.000,-

“Di sini makannya memang tidak enak,” kataku. Kau tercenung. Aku ingin katakan enak itu adalah masakan. Kau mencampur asam jawa, jeruk nipis, lengkuas, kunyit, jahe, cabe, garam, merica. Kau histeris keluar pintu. Kau berlari ke Anduring menuju jalan by pass. ***

Padang, Juni 2010


by Alizar tanjung
Cerpen Alizar Tanjung
Dimuat di Annida-online.com. Senin, 28 Maret 2011

Mak Rabiah namanya. Dia termangu di kusen jendela Rumahgadang. Tangannya menopang dagu. Giginya mengunyah sirih. Sebuah tonjolan muncul di balik kulit daging bibir kanan atasnya. Merah sela-sela giginya. Kunyahan air sirih. Matanya menatap lurus. Tampak jelas sudah di depan matanya bukit Balik Puncak. Tempat ia meneruka ladang.

Kini masih pagi. sebentar lagi dia bersama orang-orang kampung pergi ke ladang. Membakul cangkul, ladiang , kapak. Menenteng rentang nasi, gulai, satu dua potong goreng ubi dingin, setabung air kopi.

Ia biarkan pikirannya melayang-layang, membiarkan keharibaan matahari timur mencuri-curi wajah keriputnya. Sehelai daun pokat yang tumbuh di halaman, jatuh pas di kusen jendela. Ia biarkan daun itu bertengger. Angin pagi mengusyiknya. Daun itu jatuh pas menimpa anak-anak ayam yang berkelimbun bersama induk yang terpaut di jeruji kandang.

Anak-anak ayam suaranya bercericit. Satu ayam jantan yang terpaut di batang pokat, berkokok panjang. Bunyi itu berulang-rulang. Kokok itu disambut ayam jantan belang kuriak merah bercampur kuning hitam yang terpaut di batang jambu perawas., di samping kandang arah utara. Kokok itu disambut kokok ayam jago dalam kandang. Ayam putih kinantan yang dipaut di jenjang Rumahgadang juga berkokok.

Hanya bunyi itu yang membuat rumah ini semacam gaduh di pagi hari. Selebihnya suara Mak Rabiah, cericit air ketika hujan, suara kesiur angin, sesekali Suara Mak Hindun, kawan masa muda Mak Rabiah yang sering membawa Mak Rabiah meneruka ke ladang orang. Menghabiskan sisa hidup, menunggu jalan pulang.

Anjing hitam kumbang tidur bergelung di kaki jenjang. Telinganya mengendus langau yang tiap sebentar hinggap di telinganya. Ekornya mengelus-elus kaki jenjang. Kakinya memanjang semacam kayu rebah. Tak jauh di depan jenjang, goni terbentang. Di atasnya Mak Rabiah menjemur kacang. Sebagian untuk ke tampang sebagian untuk dijual. Di samping kacang juga terbentang hamparan upil jagung, jagung-jagung tampang untuk mengisi parak di belakang rumah.

Hanya itulah mata pencaharian Mak Rabiah selain meneruka ke ladang orang: kacang, jagung, ubi jalar. Bukan parak yang tidak ada tapi yang akan mengurus yang telah pergi? Mau menggaji orang tak sangguplah Mak Rabiah. Mau mengerjakan sendiri, tulangnya sudah merapuh. Maka satu harapan tumpangan hidupnya, bekerja di parak orang. Sehabis Jum’at gaji dibayar tunai. Lima belas ribu ribu untuk satu hari kerja, aturan itu sudah berlaku semenjak tahun 2000. Malanglah nasib Mak Rabiah kalau dalam satu minggu itu tidak ada yang memakai jasanya. Hasil panen kacang hanya dapat dipetik musiman. Jagung baru bisa dipetik umur enam bulanan untuk ukuran parak Mak Rabiah yang tidak dipupuk dan tak diracun.

Mak Rabiah sedup segelas kopi yang sudah mendingin di atas meja, tepat di belakangnya. Segelas kopi ia taruh di jendela. Seekor lalat hinggap di tangkai sendok. Tak ada niat Mak Rabiah hendak mengusyiknya. Mak Rabiah pandang ke depan, orang-orang telah berjajar mendaki lereng bukit Balik Puncak. Mak Rabiah menoleh ke belakang. Jam tua masih tergantung di tonggak utama Rumah Gadang. Jam tua tak ada ubahnya dengan kulit Mak Rabiah yang mengkriput. Jam yang dibiarkan dibungkus plastik itu penuh lawah-lawah. Jarumnya berdetak pada pukul 7 lewat 10 menit.

Mak Rabiah mendesah. Beginilah kebiasaannya. Pagi-pagi ia bermenung di jendela. Tapi sebenarnya matanya jauh menelusup ke labuh arah selatan. Tempat jalan pergi di balik bukit kecil Arak Mudik. Dari bukit itulah Mak Rabiah kehilangan satu-satu. Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk.

“Hujan batu di kampung kita lebih baik dari pada berhujan emas di rantau orang, Bujang.” Kata-kata itu tidak pernah terucap di lidah Mak Rabiah. Kata-kata itu hanya tersimpan rapat di hatinya. Maka saat ia mengenang rantau tak terasa sungai mengalir dingin di lekuk pipi kisutnya.

***

“Ke rantau Muluk mencari untung dan perasaian. Untung bertanam juga nasib di rantau orang. Doa Emak tentu penunjuk jalan bagi perjalanan Muluk. Berat hati Muluk meninggalkan emak. Perasaian hidup juga yang meminta demikian. ” Begitulah kata perpisahan itu terucap dari mulut anak bungsunya.

Muluk. Muluk baru saja menamatkan sekolah pesantren di kota Solok. Kemiskinan membuat ia mencukupkan sampai di sana cita-citanya. Kakaknya, ah kakaknya semacam tidak berkakak ia. Toh tidak lagi seorang pun kakak-kakaknya mengirim dia dan emaknya uang.

“Tak apa Emak di sini, Bujang . Emak restui engkau ke rantau orang. Sudah begitu adat-adat orang kita. Tidak masak pengalamannya kalau tidak mencoba pahit dan getirnya di rantau orang.” Tak ingin Mak Rabiah melepas anak satu-satunya. Ingat ia Siti, Salahudin, Aminah, Rajab yang tak lagi pulang-pulang. Hanya suratnya saja yang sampai kabar kepulangan. Sesudah itu tidak lagi ada kabar beritanya. Siti bekerja di Batam. Salahudin mencari peruntungan di “Kota Hijau”, Purwokerto, Jawa tengah. Ia menetap di Baturaden. Aminah ikut suaminya ke Aceh. Rajab menetap di Tangerang, tepatnya di Cingkareng. Tapi tak ingin pula ia menahan hasrat Muluk. Sudah kebiasaan anak bujang di lepas ke rantau. Lelaki minang di rantaulah gagangan hidupnya.
Dahulu mereka memang bergantian pulang. Salahudin pulang sekali setahun. Siti pulang ketika ada acara pernikahan keluarga saja. Aminah pulang ketika hari lebaran. Rajab hanya pulang sekali setahun seperti Salahudin. Tapi semenjak usaha mereka menanjak. Mereka benar-benar tidak pernah pulang.

Siti jadi bos pedagang gelap wanita malam di Batam. Mak Rabiah tidak tahu. Siti memasok para lady itu dari Korea, Cina, Uzbekistan, Thailand, Afganistan. Siti masukkan ke hotel dan klup bintang lima di Batam, Jakarta, Jambi, Medan, Semarang, Yogya, Bandung. Siti juga mengekspor pada lady pribumi ke Cina, Korea, Thailand, Mesir, Arab Saudi, Afganistan….

Salahudin menjadi direktur lima belas rumah makan Padang di kota hijau, Purwokerto. Semenjak hidupnya jaya ia tak berkirim uang ke Mak Rabiah. Tapi taka apa, Mak Rabiah tak mengharapkan uangnya. Salahudin kemudian mengembangkan usahanya ke tanah Yogya, Semarang, Jakarta. Sontak saja namanya dikenal sebagai pemilik rumah makan “Randang Balado”. Kemudian ia mulai merambah klup malam, diskotik, hotel kelas melati.

Aminah menjadi pengusaha tenun di Aceh. Usahanya melonjak tinggi. Ia mengimpor barang ke Belanda, Jerman, Inggris, Cina, Korea. Ia semakin sering ke luar negeri. Ia kemudian pindah bersama suaminya di Jerman. Mengganti namanya jadi Susan Christian. Anak-anaknya lahir dengan nama Jhon Pilger, Fransiska, Angelina. Mak Rabiah tidak pernah bertemu dengan cucunya.

Rajab, ya, Rajab yang benar-benar jadi orang. Ia menjadi tukang becak dan upah pijit di Cingkareng. Menerima panggilan. Dapat uang secukup makan. Dia yang rindu Mak Rabiah. Tapi ia tidak ada daya untuk pulang. ia telah mengganti kepercayaannya untuk satu kardus mie setiap minggu. Dia malu pada Mak Rabiah. Dia malu pada dirinya sendiri.

Kini Muluk, ya Muluk pun akan meninggalkan Mak Rabiah. Ia pergi ke tanah Malaysia. Jadi TKI di sana. Ia berangkat dari Solok menuju Dumai, dari Dumai baru menyeberang ke Malaysia.

“Hati-hati Bujang di rantau orang. Induk cari, bapak cari, mamak paling utama. Agar Bujang ada tempat berpijak. Patah ada yang akan menyangga. Jatuh ada yang akan menyambut. Hilang ada yang akan mencari. Kemudian Bujang, ingat kepada Tuhan, sumbahyang bujang jangan sampai lupa. Ingat Bujang pesan orang tua-tua. Dimaa bumi dipijak di sinan langiak dijunjuang .” Ah, nasehat-nasehat itu pula yang ia pesankan untuk anak-anaknya Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, sebelum selangkah turun jenjang Rumahgadang.

Mak Rabiah lepas kepergian Muluk. Dari bukit kecil arah selatan Muluk menghilang batang hidungnya. Siti, Salahudin, Aminah, Rajab juga dari bukit kecil itu menghilang dari mata Mak Rabiah. Kini Muluk yang pergi. “Tak iba kau dengan tubuh tua Amakmu ini Nak,” bisik hati kecilnya. Tapi begitulah keteguhan hati Mak Rabiah. Tak ia keluarkan gundah hatinya. Ia kesampingkan perasaanya.

***

Maka Sudah tahun sembilan tahun keluarga itu seperti tidak pernah ada. Muluk jadi pedagang sayur di Selangor. Membangun minimarket sayur. Ia kemudian mulai memasok sayur ke Kuala Lumpur, Negeri Sembilan, Serawak, Johor Bahru, Pulau Pinang, Malaka, Seberang Perai, Klang, kota Kedah.

Usahanya perkembang pesat. Kemudian ia menikah dengan orang Malaysia. Mengubah kewarganegaraannya (Entah bagaimana caranya). Ia tak pernah pulang semenjak ia meninggalkan jenjang Rumahgadang. Kini lahir anaknya Abdullah, Razaq Kasif, Aisyah Qurrata’ A’yun.

Di Rumahgadang, Mak Rabiah terus menunggu. Dari ladang ke ladang, ia ceritakan anaknya ke rantau. Dari ladang ke ladang ia banggakan anak-anaknya yang begitu riang wajah-wajah ketika turun jenjang Rumahagadang. Dari ladang ke ladang, cerita-cerita itu ia bangun. Suatu saat anak-anaknya kan pulang, duduk di rumah, bercerita tentang lugunya masa kecil mereka. Bermain di ladang tebu. Pergi ke rimba di musim penghujan, mencari jamur di balik-balik tunggu.

Suaminya! Suami Mak Rabiah telah lama pulang ke alam baka. Ia pulang karena memang jarak umur. Ia menikah dengan suaminya selisih umur dua puluh lima tahun. Tepatnya menjadi istri kedua. Setelah suaminya meninggalkan Mak Rabiah, Mak Rabiah yang membesarkan anak-anaknya.

***

Kisah Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk, telah berpuluh tahun. Mak Rabiah masih menuggu. Berharap dari labuh arah selatan, bukit Arak Mudik; Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk, menampakkan wajah. Itu alasan mengapa Mak Rabiah berlama-lama bermenung di jendela Rumahgadang. Seperti ia melepas anak-anaknya pergi, ia dengan setia menunggu anak-anaknya yang menghilangkan punggung di labuh arah selatan, lepas dari bukit kecil Arak Mudik.

***

Ia habiskan pagi mengunyah sirih. Sirih itu dicampur sadah, gambi, dibalut daun sirih. Merahnya air sirih memekatkan merah tua bibirnya.

Mak Rabiah berjalan ke dapur. Pelan lantai itu berderit. Seekor kucing menghelus di kakinya. Mak Rabiah angkat kucing itu. Ia letakkan di dapur. sebelumnya ia ambil sebungkus nasi. Ia campur nasi dengan ikan tri yang ia beli di Pasar Bukit Sileh. Ia letakkan nasi itu dalam tempurung kelapa. Kucing kuning belang putih itu menangkap ikan-ikan dalam tempurung. Ngeonya berhenti. Sesudahnya hanya bunyi telapak kaki Mak Rabiah.

Di dapur, Mak Rabiah mengambil kompi. Kini bekerja di ladang Sutan. Mak Rabiah masukkan setabung air kopi, satu ladiang, dua potong goreng ubi, satu kain panjang untuk senggulung kepala membawa kayu dari ladang, Dua benen ukuran satu meter pengikat kayu, sebungkus nasi dengan sayur pucuk ubi, ke dalam kompi. Di atas meja semua itu bersusun. Tinggal menunggu Mak Hindun memanggilnya.

Mak Rabiah rapatkan jendela. Seorang perempuan tua memanggilnya di halaman. Rupanya sudah datang orang yang ditunggu. Mak Rabiah turun jenjang. Anjing kumbang hitam menggeliat di jenjang. Ia bangkit dari tidurnya. Anjing Hitam Kumbang menjulurkan lidahnya. Telinganya tampak turun. Kepalanya mengendus-ngendus kompi yang dijinjing Mak Rabiah. Ayam-ayam sibuk menggali tanah dengan cakarnya.

Mak Rabiah dan Mak Hindun berjalan menuju bukit Balik Puncak. Mereka berpapasan. Di belakangnya, Anjing Hitam Kumbang berjalan mengikuti langkah Mak Rabiah. Hidungnya menghidu rerumputan perdu, karimuntiang, pensi-pensi basah, ilalang gunung sepanjang pendakian lima kilometer. Ekornya tegak berdiri semacam mencium mangsa. Hanya anjing hitam itu yang setia menemani Mak Rabiah di Rumahgadang.

Hari ini hari kamis, tentu besok Mak Rabiah sudah gajian dari Sutan. Besok di Pasar Bukit Sileh ia dapat membeli tahu, sepotong ikan laut, martabak, bada tri. Sepanjang pendakian, ia berkisah kepada Hindun, ia begitu rindu anak-anaknya pulang. Mak Rabiah teteskan air mata. Sepanjang pendakian, dua emak tua itu saling bertangisan.

”Laki-laki di negeri kita ini memang tidak lazim kalau tidak merantau, tapi apakah lebih tidak lazim kalau tidak pernah menampakkan batang hidungnya di depan kita,” ujar Mak Rabiah.

“Suami kau dulu juga merantau ke Medan. Suamiku merantau ke Makasar, tapi mereka pulang,” ujar Hindun.

***

Maka begitulah kebiasaan perempuan tua itu. Setiap pagi menopang dagunya di kusen jendela Rumahgadang. Ia tak lagi pernah meneteskan air matanya. Kecuali hanya sungai dalam dadanya. Ia bercerita ke dalam dadanya. “Krakatau madang di hulu berbuah berbunga belum, Kerantau bujang dahulu di kampung berguna belum.” Tapi kini ia bisikkan dalam hatinya. “Ke rantau madang ke hulu. Terus saja mengalir ke hilir. Sebab Bujang, air ke muara laut.” ia tutup jendela itu. Ia berangkat ke ladang. Meneruka ladang orang. Ladangnya hanya ada tanaman kacang, jagung, ubi jalar, tak berpupuk dan tak beracun. Semacam urat tak benar-benar mengakar dalam.

Tapi kini jendela itu tidak ada lagi terbuka. Pintunya bersemak belukar perdu. Halaman belakang dan depan Rumahgadang itu juga berbelukar. Rumahgadang itu telah lapuk dinding dan lantainya. Tak ada ayam yang berkokok, tak ada anjing kumbang hitam, tak ada kucing. Hanya satu pohon mangga tua di halaman.

Mak Rabiah telah lama meninggal. Ia dikuburkan di belakang rumahnya. Seperti sebelum kematiannya, sesudah kematiannya pun; Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk, tak pernah pulang walau hanya menabur bunga ke makam Mak Rabiah.***Padang, 2010-Maret 2011
Senin, 16 November 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Arlen Ara Guci
Dimuat di Batam Pos 29/03/2009



Minah memang gadis dusun. Semua yang melekat di diri betul-betul cerminan kampungan. Walau dipoles Mustika Ratu sekali pun, style Minah justru kian tak menjadi. Saat rambutnya diberi warna keemasan, banyak bujang-bujang berujar Minah tak ubah bule kecemplung kali. Saat kuku-kukunya berwarna ungu, tak jarang yang bilang Minah seperti Vampire melompat kehausan darah. Saat Minah berbaju merah, warga jadi geli. Kata mereka, Minah seroman dendeng balado. Kata tetua dulu berlaku betul di gadis lugu itu. Kalau akal yang kurang, entah dengan apa ditambah. Tapi Minah tak kisah dengan pandangan warga. Prinsip Minah, biar muka kampungan, tapi rejeki bisa aja kota. Seperti penyanyi dangdut pujaannya. Cuma bermodal geal-geol pantat, suara pas-pasan toh jadi selebritis juga. Nasib orang siapa yang bisa mengira, cetus Minah saat dirinya resmi pembantu, orang yang tak kaya amat di seberang.

Menjadi TKI jelas bukan cita-cita Minah ketika ia didepak dari bangku SD karena menunggak SPP tiga bulan, plus angka rapor cabe merah. Walau para guru menganjur Suminah nama lengkapnya sebaiknya masuk sekolah khusus, tapi Minah tak terima. Baginya itu sama saja para tenaga didik hendak mengatakan dirinya bermasalah. Kalau tak patut disebut ber-IQ rendah alias murid berotak udang. Sebelumnya Minah terhegeh-hegeh hendak merasakan bangku sekolah, berseragam putih merah, bukan sekadar mendapat kawan, tapi lebih dari itu, para bapak dan ibu guru yang belakangan disebut pahlawan tanpa jasa justru dirasakan Minah tak hendak membawa dirinya yang sememangnya lelet dengan alpabet dan paling tak bisa dicekoki dengan angka; kurang, tambah, kali dan bagi. Maka para guru kehabisan cara menghantar Minah jadi murid pintar. Bagi Minah pula, para guru itu tak patut disebut pelita dalam kegelapan, kalau kiranya tak mampu membawa dirinya ke alam ilmu pengetahuan.

Sejak itu Minah mengutuk sekolah. Sudahlah biaya mahal. Mulai seragam, SPP dan buku-buku berkurikulum pelajarannya berganti tiap sebentar. Minah jengah dengan sekolah. Ia pun menanam kesumat pada gurunya. Belagu! Kaya juga tidak! Rutuk Minah. Beda pada seragam saja, sudah melonjak! Repet Minah saat ia melihat dengan mata kepala, dunia sekolah toh bukan satu-satunya jalan untuk bisa meraup rupiah. Lalu membeli baju, rok, subang, atau kalau emang rejeki, bisa membuat rumah. Lagipula isi otak kok ya diukur dengan angka-angka. Minah jelas sekali berkecil hati. Minah bertekad bulat tak akan menyentuh bangku sekolah lagi. Jadilah hari itu terakhir kali menyarungkan seragam putih merah. Sekaligus tak perlu lagi ia berpenat diri di lapangan setiap Senin pagi saat mentari terasa menyengat, walau hanya sekedar menghormat bendera sambil mendengar repet pidato kepala sekolah tak lebih sekedar bermain kata-kata, tanpa tahu keadaan dirinya, mungkin juga temen-temen seperjuangan dirinya.

Umur Minah merekah masa ia tengok teman-temannya lebih tragis nasibnya; tak pernah sekolah malahan, buta huruf otomatis tak tahu baca tulis dari dirinya kok bisa membuat rumah baru. Bahkan rumah bertingkat pula. Mereka bisa pula membantu biaya sekolah adik-adiknya, ada handphone teranyar segala, hingga beli sapi dan kerbau pula. Semua itu mereka berjaya lakukannya jika dan hanya berprofesi sebagai TKI di seberang. Minah diam-diam menyuntik hasrat ke seberang pula. Apa sih susahnya jadi TKI.

Kalau kerja sekadar nyapu rumah, nyiram bunga, masak, nyuci itu pekerjaan yang lihai dikeloninya selama ini. Apalagi sejak ibunya tiada. Dialah ‘pengganti ibu bagi sembilan adik-adiknya. Mengharap bapak, itu sama artinya berpegang di kayu lapuk. Kalau tak ingat dia orang tua, Minah ingin mencuci jejak bapak di atas lantai tanah itu. Kematian ibu bukannya memberi mereka tambah dekat, justru sosok pelindung itu kerap menghilang berbilang hari. Kalau pun adakalanya singgah sebentar, tanpa ba-bi-bu, melentinglah rotan pada sembilan adik-adiknya. Sungguh Minah tak tega, bapak ringan tangan pada mereka. Minah percaya, tak apalah kering harta benda, tapi jangan kerontang perhatian dan kasih sayang. Sebagai anak paling tua, Minah tak ingin adik-adiknya mengalami nasib serupa dirinya.

Jadi TKI-lah Minah bersama beberapa teman sekampungnya. Walau tergadai subang mendiang ibunya tak apa. Kelak dari ringgit, akan diganti rumah bertingkat. Atau setidaknya warung sembako. Atau setidaknya beli handphone model terbaru. Seperti teman-teman seniornya berprofesi TKI. Alangkah beruntung Minah dari gadis-gadis dusun itu. Meski kebanyakan keinginan mereka meluap, tapi ada kesandung tak bisa berangkat ke tanah Semenanjung itu. Kebanyakan tak cukup rupiah membayar segala surat menyurat dan dokumen ke pihak jasa penyedia TKI itu. Saat cek medis, Minah mulai goyah. Cemas kalau-kalau penyakit demam berdarah yang penah dihidapnya didapati lagi riwayatnya. Namun, saat petugas kesehatan itu menyatakan dirinya sehat-sehat, merekahlah senyum Minah bersamaan sejuta angan-angan di negeri Jiran.

Bos itu mengaku asli Melayu padahal matanya sipit dan berkulit putih pasi. Kalau bicara aksennya membawa Minah pada film-film Brad Pit, Tom Cruise idolanya. Baju dan gaya jalannya membawa Minah pada sosok tante-tante senang di sinetron RCTI. Minah kecele jikalau jauh hari dia akan bekerja pada sosok perempuan-perempuan berdandan ala-ala Siti Nurhaliza. Tapi rupanya jauh panggang dari api. Ada pun kalau si bos lelaki dibenak Minah melintas abang-abang berwajah teduh. Berkumis, jenggot dan jambang tipis dan sekalu bersungkup kepalanya ala-ala anggota penyanyi nasyid Raihan yang diliatnya di tv tetangga masa bulan puasa. Semua itu tak ditemuinya. Sosok perempuan tua yang kini resmi disebutnya majikan juga tanpa laki. Dia menghuni rumah bertingkat di atas bukit dan dijaga satpam 24 jam! Kendala bahasa bagi Minah terasa menyiksa. Untungnya bahasa serumpun didengungkan sejarah lama, didengarnya satu-satu dari majikan. Selebihnya bahasa tubuh lebih banyak bicara. Sementara waktu Minah boleh bernafas. Beruntung juga, pikirnya, berjiran begitu. Jika ditengoknya pekerja-pekerja dari Bangladesh, Myanmar, Pakistan, Filipina entah dengan bahasa apa mereka bertegur sapa, pikir Minah. Apabila dilongokkan kepala keluar pagar, tetangga rupanya berkulit dan berwajah seperti Shah Rukh Khan, Salman Khan dan Kajol pujaannya. Saat majikan membawanya ke pusat beli belah, nyaris dijumpainya mereka-mereka yang bertutur dan bermuka ala Jacky Chen, Jeet Lee, dan Gong Li. Aih, untung saja negaraku berjiran, pekik Minah. Banyak kesamaan la, hibur Minah tanpa ia tahu kesamaan apa entah. Minah mendengar bahasa-bahasa digunakan keseharian, pernah di dengarnya semasa di tanah air. Itulah kesamaan yang amat azas di benak Minah.

Usai menyibak selimut, Minah bergegas ke dapur masa majikan pulas di tempat tidur. Masakan yang diminta siap. Kain pun selesai di seterika. Rumah sudah bersih. Tanaman sekeliling rumah siap disiram. Minah ingin menonton sinetron tapi cucu-cucu majikan datang. Mereka datang dengan orangtuanya. Masing-masing membawa buntelen kain sudah dipakai beberapa hari sebelumnya. Tanpa disuruh Minah cepat paham. Bukan pakaian majikan saja yang dicucinya. Kali ini majikan perlu bersuara, sudah kali ketiga Mercedesnya disiram hujan, Minah tak mencucinya. Walau belum pernah sekali pun mencuci mobil, Minah dapat instruksi dari si majikan. Rutin tiga kali seminggu itu mobil dicuci sekalian.

Disangka Minah panas berpanjangan, rupanya gerimis menanti. Begitu sedan itu mengkilap, Minah boleh merasakan empuknya duduk di dalam. Si majikan ingin Minah tahu, selain berkantor, ia ada ladang berhektar.

Dan perlu Minah sadari, tiga kali seminggu, cabut rumput di ladang itu, begitu pekerjaan rumah selesai. Minah mencoba mengerti apa arti TKI, pembantu itu. Lebih Minah mengerti, ringgit yang dijanjikan tak sekali pun digamit. Pertama kali Minah mencoba beranikan diri, kenapa haknya tak diterima jua, cukup tiga patah si majikan mengingatkan,
“Minah Indon bodoh...!” ***

Kuala Lumpur, 2009
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Arlen Ara Guci
Dimuat di Republika 03/04/2005



Meski rakit terkayuh, tapi Walis telah jatuh ke krueng, saat sepeda motor sumbangan Wapres hendak diseberangkannya ke kaki gunung Geurete. Bila seorang loreng itu tak mengulurkan tangan, alamat sepeda motor ikut terjun bebas ke dasar krueng yang baru jadi dibentuk oleh tsunami.

Sepuluh depa dari situ, camp loreng gagah menghadang ke samudera biru. Meski mereka puluhan, hanya satu membantu. Walis masih memahat kebencian pada semua yang ada. Mata elang Walis menghujam ke loreng yang berjasa menyeberangkan sepeda motornya. Tegur sapa pun tak ada di antara keduanya, saat pisah sambut itu usai.

Berbekal kuyup di badan, Walis memacu 80 km/jam di sepanjang lereng Geurete. Lintasan ingatan pada drama pilu di Geurete beberapa kurun silam, ketika GAM memuntahkan peluru dari puncak Geurete ke loreng-loreng yang sedang dititipkan tugas dalam paket DOM, tak menyiutkan nyali Walis memacu menuju Lamno. Bagi Walis GAM adalah saudara, loreng-loreng saudara juga, biru laut mengelilingi Banda, juga saudara. Siapa bersalah di antara ketiganya, kini justru membuat Walis meringis!

Mata Walis mulai berkaca hendak memasuki Meulha, karena Walis kembali menghirup anyir pahit yang sama, sejak dari Peukan Bada, Lhok Nga, Leupung, Lhok Seudu, Krueng Kala. Katanya, tahap darurat telah lewat, berarti evakusi tak ada lagi. Tapi, aroma itu, nyata-nyata masih ditemui juga.

Tak terhitung lagi jumlah petinggi negeri pulang-pergi menjenguk negeri Serambi. Masalah evakuasi, berapa jumlah jenazah yang ditimbun di Lambaro sebenarnya, Walis sinis, meski sekadar untuk percaya. Apalagi masalah jumlah pengungsi, aliran bantuan, barak, mustahil!

Meski dibesarkan di Banda, kecintaan akan tanah kelahiran sepanjang hayat di kandung badan. Walis mati-matian ingin membuktikan.
"Bang, bagaimana jadinya negeri Serambi...!?"

Geleng Walis di Meulego, Pendopo Gubernuran. Si Abang sebagai relawan menyayangkan sikap pejabat daerah terkesan lamban menenggarai korban yang selamat. Penanganan kelangsungan hidup antara ada dan tiada. Ragam bantuan, posko pengungsian adalah keakraban tak bertuan memayungi sepanjang siang-malam.

"Harus lewat jalurnya, Dek! Tau sendirilah macam mana sistem yang dipasang di negeri ini!"
Membubung sederas samudera sampai ke gendang telinga Walis, ketimpangan yang diberlakukan di negerinya. GAM, Darurat Sipil, Darurat Militer, sekalian Darurat Tsunami melengkapi patahan hati Walis memahami arti sebagai asli anak negeri.

"Tak ada yang lebih mencintai Aceh, selain putera Aceh itu sendiri. Para relawan yang datang dari berbagai pelosok negeri dan dari penjuru bumi, tak akan bertahan lama-lama di sini, suatu waktu, mereka akan kembali berkumpul dengan keluarga mereka, ke kampung asal mereka masing-masing. Kalau air mata telah banyak tumpah di negeri Serambi Mekah ini, darah juga sudah terlalu banyak tumpah di sini, yang kurang tumpah adalah tumpahan keringat!" seruan dai yang tengah naik pamor di negeri ini, menciptakan kepalan bulat-bulat, geraham Walis bertaut.

Pesan itu kembali menghampiri kupingnya saat sepeda motor yang dipacu kencang hendak memasuki Babah Dua menjelang petang.
Ditepikannya sepeda motor itu. Pendar pandangan Walis melumat di semua yang rata sudah dengan tanah. Terasa berat kaki Walis menginjakkan rumah Ahmad Amin, sepupunya, yang kini tersisa jenjangnya saja.
Ahmad Amin adalah sosok yang bisa dipercaya mewakili pemuda Lamno. Tak mau berdiam diri, selalu giat mencari, tepatnya pekerja keras.
"Sudah bertemu?"
"Belum."
"Tak tanya sama orang desanya yang selamat?"
"Sudah, tetap tak ada."
"Ke posko-posko pengungsian?"
"Sama saja."

Keduanya hanyut mengenang Syuaibah, Inong mata biru berdarah Portugis, berumah di Kuala Daya. Di mana gerangan tergelimpang mayatnya, tak ada apapun yang bisa memberi kabar hingga masuk berbilang bulan lamanya.
"Sanak familinya tak satu pun yang selamat," tutup Ahmad Amin hampa.
Rencananya hari raya haji kemarin, sepasang insan yang tengah digulung asmara ini akan disatukan atas nama perkawinan. Tapi, tsunami lebih dulu mengandaskan impian itu.
"Semua sudah rata!"

Keduanya mendekat ke Kuala Daya, tiba dekat pertigaan Ujong Muloh, dada Walis menyeruak sesak. Ada gedung berlantai dua miring retak menanti tumbang, itulah Pesantren Budi. Nurhida, kakak perempuan Walis semata wayang, pernah mencoba bertarung hidup dalam nyawa meregang ketika tsunami menerjang.

Tiga hari usai tsunami, selain pasar Lamno, hampir setiap sudut menjadi desa mati. Uluran tangan dari mereka yang selamat untuk mereka yang sekarat menipis. Puskesmas, saluran listrik, telepon, tak berfungsi sama sekali.

Semula orang menyangka Nurhida telah jadi mayat. Saat dijejerkan dalam kantong mayat, ada yang melihat kantong bergerak, pertanda Nurhida selamat, meski sama sekali tak lagi bersuara. Sekujur tubuh Nurhida lebam biru, kaki serta tangan dibalut darah kering, sebagian lain gosong dengan lumpur membalur. Saat tubuhnya diangkat, Nurhida layu seperti tak punya tulang, meski sekadar menegakkan punggung. Mata redup maut, bibir seakan berat dipaksa bergerak. Nurhida dilarikan ke Puskesmas dekat pasar, satu-satunya daerah tak dijangkau air maut itu. Di antara ratusan geletakan korban, perawat belum jua menyentuh Nurhida.

Malahan mereka gempar, saat tersiar kabar, air laut naik! Diboponglah tubuh Nurhida oleh Khairullah sepupunya, menaiki puncak bukit. Penduduk memekik menyelamatkan diri masing-masing.

Beberapa jam menunggu, ternyata kabar air naik isu belaka. Nurhida tambah tersiksa. Selama tiga hari itu tak ada nasi atau pun sepotong makanan yang masuk perutnya. Selama itu, Nurhida juga belum mampu sekadar bersuara. Tepat Subuh sedang bertabuh, Nurhida tak lagi kuasa menanggung segala.
Dan, Walis sekalian hendak menziarahi peristirahatan terakhir Nurhida, kakak yang sering memberinya petuah serta nasehat-nasehat akan kematian.
Kuala Daya juga rata sudah semua. Nyiur berbaris hijau yang dulu kemilau diterpa sang surya, kini sebagian berserakan, sebagian tertebang. Jalan-jalan rengkah malah berserak pindah beberapa lantak. Krueng Inong lalu lintas nelayan menjelma kubangan mayat. Kemana perginya udang-udang kesukaan yang selalu diburu Walis, ikan-ikan laut yang murah mengeluarkan aroma segar, karena tak perlu di es-kan seperti ikan-ikan kota, kemana lenyapnya perahu-perahu itu? Beribu gugatan, hanya disapukan angin buritan.

Di antara gunungan sampah, keduanya terus menyisir Lamno. Dari situ juga tampak satu camp loreng menghadang ke samudera. Walis meringis, sejak tsunami meluluh lantak negerinya, hampir setiap jengkal ditemuinya camp loreng-loreng. Tiada sedikit jua simpati menyirat di wajah mereka, selain pakaian kebesaran dan senapan. Walis muak menyemak menyaksikan semua itu.

Usai membasuh muka di puncak bukit, menengok makam Peutomeureuhom, keduanya berpisah di Babah Dua. Hendak balik ke arah pasar, Walis menyaksikan para kaum ibu yang kini ditinggal mati suami ulah tsunami mengais sampah di pelosok Lamno.
"Bagaimana kabar ibumu?" salah seorang dari mereka mendekati Walis. "Hilang!"
"Bapak?"
"Bapak selamat sama adik dua orang. Kak Nurhida dan satu adik paling kecil ada ketemu mayatnya."
Mata mereka berkaca. Walis sudah berjanji pada diri, tak akan mengeluarkan air mata bila kematian datangnya dari Sang Pencipta kematian itu sendiri.
"Apa pekerjaan orang-orang sekarang?"
"Membersihkan sampah."
"Siapa suruh?"
"Dibayar."
"Sama siapa?"
"Panglima Laot."
"Berapa?"
"35.000 rupiah perhari."
"Uangnya darimana?"
"Tak tau!"

Dada Walis naik turun tak teratur, seakan tak ada lagi di tanah sendiri yang masih punya hati. Uang kini telah bicara atas nama kematian! Setidaknya itu pilu tak bertepi bagi anak negeri.
Di bawah siraman rembulan, Walis kembali menekan hati tak ada guna menitikkan air mata lagi. Gemintang tak kemilau menghadirkan risau. Di kaki bukit, Walis menanti pagi.
"Di sini berlaku jam malam!"
"Kenapa?"
"Kontak senjata!"
"Antara....!?"

Pagi merekah di Lamno, Walis sedang berziarah. Al-Quran mini digamit, bibit komat-kamit. Perlahan mendesah, kemudian menderas. Saat mentari pagi sepenggalan naik, Walis siap dengan kendaraannya kembali ke Banda. Di lereng Guerete, dar... der... dor.... Suaranya semakin nyaring. Walis terus memacu tak lagi peduli. Setiba di penyeberangan yang sama, loreng-loreng tengah berhamburan ke hutan-hutan.
Mereka siapa sebenarnya? Jaman begini sukanya main senapan!? batin Walis diterbangkan angin, sambil menarik tali gas.
Matahari menyisakan bayang setengah badan, ketika Walis memasuki kota Banda. Walis membujuk hati, kini saatnya berbunga, karena baru pulang dari tanah kelahiran, disitu asal muasal keluarganya. Sekaligus perjalanan perdana lewat darat usai tsunami.

Cerita ini akan diteruskan ke anak cucu, hiburnya pilu.
Sesampai di Seutui, Walis berhasil membuat bibirnya tersungging. Tak tahan sebungkus kebahagiaan baru saja direngkuhnya, Walis telah memekik dari kejauhan,
"Ayaaah...Ayaah...Walis pulang!"
Ushairy, adik laki satu-satunya membukakan pintu kayu,
"Lamno bagaimana, Bang?"
"Ayah kemana?"
"Temu kubur Kak Nurhida, Bang?"
"Ayah mana, Dek?"
"Inong mata birunya abis semua, Bang?"
"Ayah, dek!?"
"Bang, malam tadi Ayah....."
"Kenapa!?"
"Dibawa..."
"Siapa...?"


Banda Aceh-Lamno, 02 Maret 2005
Hadiah cinta untuk adikku: Chairul Walis di Seutui. Percayalah, Allah begitu mencintai Banda Aceh dan seisinya!