Tampilkan postingan dengan label K: Media Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K: Media Indonesia. Tampilkan semua postingan
Minggu, 15 November 2009
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Media Indonesia 09/09/2007
LELAKI peladang itu membuka pintu rumah dengan kasar dan memukul anjing betinanya yang berkurap itu dengan kayu. Anjing malang itu lari ke arah kebun sambil melolong-lolong memilukan.
Malam tampak gelap tak terjangkau cahaya lampu minyak. Laki-laki itu berdiri beberapa lama di ambang pintu melontarkan segala macam makian yang bersarang di perutnya. Matanya melotot nyalang ke kegelapan. Kedua anaknya yang bertubuh kurus mengintip dari celah dinding bilik, ketakutan. Lalu, setelah puas mengumpat, ia kembali masuk ke rumah sambil membanting pintu yang terbuat dari bilah-bilah papan dan bertempel stiker 'Keluarga Miskin' berwarna merah mencolok.
"Anjing kurap! Memekak saja kerja kau, tak tahu kepalaku pusing!" Ia duduk di bangku kayu yang sudah berulang kali diperbaiki kakinya. Ketika ia melihat kepala anaknya yang menyembul dari balik kain pintu bilik, suaranya kembali menggelegar seperti akan meruntuhkan rumah. "Mana ibu kalian, hah?!"
Anak perempuannya yang berusia sebelas tahun dengan takut-takut menyahut. "Ibu belum pulang, Pak."
"Mau mencari laki lagi dia, heh?! Tak tahu kalau aku belum makan dari pagi?!" Tangan besarnya yang kasar akibat berkuli dari ladang ke ladang menghantam satu-satunya meja di ruangan berlantai tanah itu. Ia kembali menyalak kepada anak perempuannya. "Sudah sebesar ini, masih tak bisa juga kau meletakkan nasi, heh? Tak pernah kau diajari ibumu?"
"Nasi tak ada, Pak. Beras sudah habis."
"Anjing! Apa saja kerjanya?!" Dia berjalan ke lemari reyot di sudut ruang, membukanya, membanting mangkuk dan piring. Ia pergi ke dapur. Menendang periuk sambil bercarut-marut.
Rumah buruk itu kemudian menjadi sunyi setelah laki-laki itu pergi ke luar menuju kedai simpang, tempat para laki-laki berkumpul dari berbagai penjuru kampung.
Kedua anaknya duduk terdiam dengan pikiran masing-masing. Anaknya yang kecil, laki-laki sekitar delapan tahun, berkata lirih, "Ta, aku lapar sekali. Kenapa Ibu belum juga pulang sejak kemarin?"
Anaknya yang perempuan memandang lemah pada adiknya. "Aku tak tahu. Mungkin Ibu pergi pinjam uang."
"Tapi Ibu tidak pulang, dan perutku pedih sekali."
"Aku juga lapar."
Dari luar rumah terdengar bunyi samar-samar yang mendekat ke pintu.
"Ibu?" Si anak laki-laki bergegas ke pintu disusul kakaknya.
Ketika mereka membuka pintu, mereka hanya melihat anjing betina mereka yang berbulu belang yang tadi dipukul lelaki peladang. Anjing itu menggeram-geram dengan suara halus sedih. Ia seperti menangis.
****
Anjing itu memang bersedih.
Ia seekor anjing yang sangat setia. Setiap hari, ia suka sekali mengiringi setiap anggota keluarga itu pergi ke ladang, ke sungai, atau ke mana pun meninggalkan rumah. Kadang ia mengantar jauh sampai ke jalan raya kecamatan dan akan pulang bila sudah dihardik atau dilempari. Sering pula ia dipukuli dengan sapu bila bandel masuk ke rumah, tetapi ia tetap betah tinggal di rumah itu. Ia diberi nama Balang karena bulunya putih-hitam.
"Ta, si Balang lapar." Kata anak laki-laki lelaki peladang.
"Dengan apa akan kita kasih makan? Kita juga kelaparan."
Anjing itu mengunjurkan kaki depannya di pintu. Matanya menatap kedua anak lelaki peladang. Ia merintih-rintih. Sesekali kepalanya berkedut dan ia menggoyangkan ekornya.
"Bapak belum dapat upah dan Ibu sejak kemarin belum pulang. Kami juga belum makan." Kata anak laki-laki itu mengusap-usap kepala si anjing.
"Kau tahu ke mana Ibu pergi, Balang?" tanya si anak perempuan.
Anjing itu menggerakkan kepalanya. Telinganya tegak. Ia lalu berdiri dan melompat sambil menyalak-nyalak. Ia menggeram-geram lagi.
"Kau tahu di mana Ibu sekarang?" Si anak laki-laki mengikuti anjing betina itu ke halaman. Kakaknya menutup pintu dan mengganjalnya dari luar dengan kayu. Anak perempuan itu berlari menghampiri adiknya dan dengan penuh harapan mengikuti anjing mereka. Anjing itu membawa mereka berjalan di jalan setapak yang di kiri-kanannya penuh semak ilalang. Mata mereka sudah terbiasa membaca ruang tanpa penerang. Sesekali kedua anak itu mengaduh karena kaki mereka yang telanjang menginjak tunas ilalang. Di langit hanya ada bintang-bintang. Di kejauhan tampak malam berpendar oleh nyala lampu listrik di sepanjang jalan. Jantung kedua anak lelaki peladang berdegupan. Mereka merasa beruntung mempunyai anjing patuh itu dan sedikit menyesal karena tidak sejak malam kemarin memerhatikan kelakuan si anjing yang berbeda dari biasanya.
Mereka terus berjalan mendaki menurun hingga sampai ke jalan raya kecamatan. Anjing itu meringis. Ia belok ke kiri, menyalak-nyalak ke arah sebuah rumah megah di pinggang bukit yang bekerlap-kerlip.
"Itu rumah Pak Wali!" seru si anak laki-laki.
"Tak mungkin Ibu ke sana! Satpam-satpam di situ akan mengusirnya!"
Anjing itu mengaing-ngaing. Ia menggaruk-garukkan kakinya ke jalan, menggonggong-gonggong.
Di lembah yang jauh di bawah, tampak kota bekerjapan indah.
***
Sebenarnya, anjing betina yang berkurap di sekitar punggung dan pantatnya itu ingin bercerita kepada si lelaki peladang dan kedua anaknya. Tetapi ia tidak mampu karena mereka tidak memahami bahasanya. Maka, baiklah, akan kuceritakan kepada kalian peristiwa yang disaksikan anjing betina kurapan itu:
Sudah hampir dua tahun rumah megah itu berdiri menghias pinggang bukit di utara kota. Rumah indah dengan taman luas yang terus dibenahi dari hari ke hari. Bangunan utama bergaya Eropa, dilengkapi pos keamanan bertingkat dua, sebuah musala yang elok, balai pertemuan, dan sebuah kolam renang. Ia didirikan dengan meratakan sebuah lereng yang sebelumnya penuh ilalang dan rumpun-rumpun perdu sikaduduak, tempat para penggembala melepas ternaknya untuk merumput. Rumah besar itu tampak bersinar. Seperti sebuah surga di tengah peladangan yang gersang oleh pembakaran hutan.
Ke rumah itulah istri si lelaki peladang pergi di rembang petang. Musim panas telah mengeringkan tanaman ladang sehingga panen tidak jadi. Persediaan dapurnya sebentar habis. Ia sudah terlalu banyak pula berutang ke kedai dan kepada tetangga-tetangganya. Maka ia pikir tak ada salahnya bila ia mencoba minta pertolongan kepada pemilik rumah bagus itu. Hitung-hitung orang itu termasuk tetangga juga meski ia adalah seorang pejabat yang barangkali tak sudi bertetangga dengan peladang yang melarat.
Dengan jantung berdebuk-debuk oleh rasa malu, penuh harap, sekaligus bimbang, digesernya pintu gerbang yang dicat dengan warna emas. Pagar itu dibentuk dari rangkaian batang-batang besi berujung runcing, di bawahnya terdapat roda untuk memudahkan geraknya.
"Ada perlu apa?" seorang satpam muda yang klimis dan gagah menyambutnya.
"Aku mau bertemu Bapak."
"Sudah membuat janji?"
"Janji? Aku ini tetangganya. Rumahku ada di balik sana. Oh ya, kau Fauzi, bukan? Anaknya Uni Rosidar yang menjual minyak tanah di simpang Kampuang Ambacang?"
Satpam muda yang baru tiga bulan bekerja itu merasa jengah dengan perkataan si perempuan yang tahu siapa orang tuanya. Wajahnya jadi merengut. Dari balik kaca pos terdengar teman piketnya berujar, "Suruh saja ia ngisi buku tamu. Kalau ia mau nunggu sampai besok pagi, biar saja!"
"Baik. Kalau memang mau bertemu Bapak, isi dulu buku tamu itu. Tapi Bapak tak bisa menerima sekarang. Ia sedang ada tamu. Besok saja datang pagi-pagi!"
"Biar kutunggu saja. Aku cuma sebentar, dan rumahku dekat dari sini." Istri lelaki peladang masuk dan duduk di bangku dekat pintu pos.
Satpam muda itu memerhatikan penampilan perempuan itu dari ujung telapak kaki hingga rambut kemerahannya yang diikat karet gelang bekas pembungkus ikan asin. Mukanya coreng-moreng. Blus dan roknya sudah pudar dan kumal. Di bahu atasnya yang sedikit tersingkap, tampak tali kutangnya berwarna hitam.
"Pak Wali tak bisa diganggu, ia sedang ada tamu!" Ulang si satpam klimis dengan jijik. Sebelum kedatangan perempuan itu, ia dan temannya sedang asyik menikmati rekaman video porno di dalam HP. Sungguh, perempuan di tayangan singkat itu amat berbeda dengan perempuan yang kini duduk sejangkauan tangan darinya. "Dan kalau kau memang mau menghadapnya, berkacalah sedikit. Bentukmu seperti orang mau ke parak begitu, berpakaianlah yang patut!"
"Aku ini warganya, dan memang beginilah aku. Aku orang miskin. Apa aku harus berlagak seperti ibu-ibu pejabat itu bila mau menemuinya?"
"Ya, tahu dirilah sedikit. Yang akan kautemui adalah orang besar, tentu kau harus lihat tempat. Kaukira ia lakimu yang mau menerimamu meski tiga hari tidak mandi? Hahaha!"
"Heh! Aku ingin bertemu dengan Pak Wali, bukan ingin mendengar ceramahmu, Botak!" istri lelaki peladang membentak.
"Apa kaubilang, Babi Buduk?!"
"Aku ingin bertemu dengan Pak Wali, persetan dengan kau!" Perempuan itu bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke depan gedung. Kedua satpam itu berteriak dan mengejarnya. Si klimis mencekal pergelangan tangan si perempuan.
"Ini rumah pejabat, tak bisa seenak perutmu!"
Perempuan itu memberontak ketika tubuhnya diseret ke pos. Kedua laki-laki muda itu memperlakukannya seperti sepotong batang pisang yang sudah ditebang dan ditebas tandan buahnya, siap dibuang ke semak-semak. Perempuan itu menjerit, tetapi teman si klimis segera membekap mulutnya. "Tingkahmu benar-benar menjengkelkan!" bentaknya pada perempuan itu. Setelah berhasil membawa perempuan itu ke pos, mereka mencoba membuat kesepakatan.
"Isi buku tamu itu bila kau memang ingin bertemu Bapak dan segera pulang. Besok kau boleh kemari lagi!"
"Anakku kelaparan. Aku ke sini mau minta tolong!"
"Apa kau tak bisa berutang beras agak seliter ke kedai? Apa kaupikir hanya kau saja manusia yang mesti diurus oleh Bapak?"
"Bapak pasti mau menerimaku, kalian saja yang sok! Dasar anjing penjilat!"
"Diam kau! Nanti kutembak!"
"Tembak? Ayo! Coba tembak kalau kau memang punya senjata!" Perempuan itu membusungkan dadanya yang kendur. Ia tampak seperti induk ayam yang terkena rabies.
Dengan geram satpam itu menepis tubuh si perempuan. "Sayang, kau perempuan, kalau tidak sudah kusumpal mulut baumu dengan tinju!"
Perempuan itu meradang. Dicakarnya lelaki berseragam putih hitam di depannya. Laki-laki itu berusaha melepaskan diri, kemudian menampar. Perempuan itu terjelepak, bangkit, merenggut celana lelaki itu, menggigit tangannya. Laki-laki itu menendang. Perempuan itu menggapai, mencakar, menumbuk, dan tahu-tahu sangkur tajam yang sebelumnya tergantung di sisi paha si satpam muda telah berada di tangannya. Dengan kesetanan dia menusukkan ke perut lawan. Si satpam tegap sigap menyergap dan bilah tajam bermata dua itu berkhianat pada pemilik tangan yang menggenggamnya. Sangkur itu menghunjam halus ke perut tipis si perempuan yang tak berdaya menolak seperti buah semangka baru dipetik dari ladang. Perempuan itu melenguh dan jatuh. Darah semerah tomat masak menyembur keluar tak terbendung oleh blus bermotif bunga-bunga kuning buatan pabrik konveksi dari Bukittinggi yang dipakainya.
Anjing betinanya yang dari tadi setia menunggu di dekat pagar melompat ke samping si perempuan. Ia mengaing-ngaing seperti ucapan syahadat yang terputus-putus.
Lindap magrib seperti menutupi kejadian itu. Kedua lelaki muda saling memandang. Beberapa jenak kemudian seperti Qabil yang dirundung kesumat, mereka mengangkut tubuh rusak si perempuan ke lubang besar dekat taman. Lubang itu rencananya akan dibuat kolam, tetapi istri pemilik rumah merasa kurang cocok lokasinya di dekat situ. Ia ingin digeser sepuluh meter ke dekat pohon pinang sinawa. Lubang itu belum sempat ditimbun, dalamnya ada sekitar dua meter.
Mereka memasukkan tubuh si perempuan dan bekerja keras menimbunnya. Ketika beberapa orang petugas rumah tangga datang bertanya, mereka bilang bahwa mereka ditugasi untuk menimbun lubang itu oleh Bapak.
Anjing si perempuan berusaha menggali dengan cakarnya. Kedua satpam berkali-kali mengusirnya. Ketika bentakan mereka tidak mempan, mereka pun menyambit anjing betina itu dengan batu. Anjing itu pun lari terkaing-kaing.
***
Kedua anak lelaki peladang berdiri ragu di depan gerbang. Mereka melihat dua orang penjaga sedang bercakap-cakap sambil merokok. Si anak perempuan memberanikan diri untuk mendekat ke gerbang dan menyembulkan kepalanya lewat lubang di antara batang-batang besi.
"Pak, apa ada lihat ibu kami?" tanyanya tergagap-gagap.
Kedua satpam yang tak lagi muda itu terkekeh, mereka sudah sering diganggu anak-anak kampung yang iseng. "Kalau ibu kalian datang ke sini dengan Innova, berarti dia masih di dalam."
Dari iklan yang ditontonnya di TV kedai, anak perempuan lelaki peladang tahu bahwa yang disebutkan satpam itu adalah merek sebuah mobil. Ia pun mengajak adiknya pulang membawa lapar mereka bersama si anjing setia yang terus juga menyalak-nyalak.
Tengah malam, si lelaki peladang pulang setelah kalah main domino. Anjing betina itu menyambutnya dengan kaingan kecil dan mengejar kakinya hendak menjilati. Ia kembali melolong-lolong seperti menangis membuat laki-laki yang gundah itu naik pitam.
"Meribut saja kerja kau, anjing kurap." Disepaknya kepala anjing itu. Namun si anjing tidak lari. Ia menggoyang-goyangkan kepalanya sambil melolong-lolong nyaring. Laki-laki itu terus menyepak dan membentaknya. Ketika kesabarannya habis, ia menyambar sebatang kayu yang tersandar di dinding rumah, lalu menghantam kepala si anjing hingga binatang yang berkurap di sekitar punggung dan pantatnya itu tak bisa lagi bersuara.***
Ilalangsenja, Padang, September 2007
Dimuat di Media Indonesia 09/09/2007
LELAKI peladang itu membuka pintu rumah dengan kasar dan memukul anjing betinanya yang berkurap itu dengan kayu. Anjing malang itu lari ke arah kebun sambil melolong-lolong memilukan.
Malam tampak gelap tak terjangkau cahaya lampu minyak. Laki-laki itu berdiri beberapa lama di ambang pintu melontarkan segala macam makian yang bersarang di perutnya. Matanya melotot nyalang ke kegelapan. Kedua anaknya yang bertubuh kurus mengintip dari celah dinding bilik, ketakutan. Lalu, setelah puas mengumpat, ia kembali masuk ke rumah sambil membanting pintu yang terbuat dari bilah-bilah papan dan bertempel stiker 'Keluarga Miskin' berwarna merah mencolok.
"Anjing kurap! Memekak saja kerja kau, tak tahu kepalaku pusing!" Ia duduk di bangku kayu yang sudah berulang kali diperbaiki kakinya. Ketika ia melihat kepala anaknya yang menyembul dari balik kain pintu bilik, suaranya kembali menggelegar seperti akan meruntuhkan rumah. "Mana ibu kalian, hah?!"
Anak perempuannya yang berusia sebelas tahun dengan takut-takut menyahut. "Ibu belum pulang, Pak."
"Mau mencari laki lagi dia, heh?! Tak tahu kalau aku belum makan dari pagi?!" Tangan besarnya yang kasar akibat berkuli dari ladang ke ladang menghantam satu-satunya meja di ruangan berlantai tanah itu. Ia kembali menyalak kepada anak perempuannya. "Sudah sebesar ini, masih tak bisa juga kau meletakkan nasi, heh? Tak pernah kau diajari ibumu?"
"Nasi tak ada, Pak. Beras sudah habis."
"Anjing! Apa saja kerjanya?!" Dia berjalan ke lemari reyot di sudut ruang, membukanya, membanting mangkuk dan piring. Ia pergi ke dapur. Menendang periuk sambil bercarut-marut.
Rumah buruk itu kemudian menjadi sunyi setelah laki-laki itu pergi ke luar menuju kedai simpang, tempat para laki-laki berkumpul dari berbagai penjuru kampung.
Kedua anaknya duduk terdiam dengan pikiran masing-masing. Anaknya yang kecil, laki-laki sekitar delapan tahun, berkata lirih, "Ta, aku lapar sekali. Kenapa Ibu belum juga pulang sejak kemarin?"
Anaknya yang perempuan memandang lemah pada adiknya. "Aku tak tahu. Mungkin Ibu pergi pinjam uang."
"Tapi Ibu tidak pulang, dan perutku pedih sekali."
"Aku juga lapar."
Dari luar rumah terdengar bunyi samar-samar yang mendekat ke pintu.
"Ibu?" Si anak laki-laki bergegas ke pintu disusul kakaknya.
Ketika mereka membuka pintu, mereka hanya melihat anjing betina mereka yang berbulu belang yang tadi dipukul lelaki peladang. Anjing itu menggeram-geram dengan suara halus sedih. Ia seperti menangis.
****
Anjing itu memang bersedih.
Ia seekor anjing yang sangat setia. Setiap hari, ia suka sekali mengiringi setiap anggota keluarga itu pergi ke ladang, ke sungai, atau ke mana pun meninggalkan rumah. Kadang ia mengantar jauh sampai ke jalan raya kecamatan dan akan pulang bila sudah dihardik atau dilempari. Sering pula ia dipukuli dengan sapu bila bandel masuk ke rumah, tetapi ia tetap betah tinggal di rumah itu. Ia diberi nama Balang karena bulunya putih-hitam.
"Ta, si Balang lapar." Kata anak laki-laki lelaki peladang.
"Dengan apa akan kita kasih makan? Kita juga kelaparan."
Anjing itu mengunjurkan kaki depannya di pintu. Matanya menatap kedua anak lelaki peladang. Ia merintih-rintih. Sesekali kepalanya berkedut dan ia menggoyangkan ekornya.
"Bapak belum dapat upah dan Ibu sejak kemarin belum pulang. Kami juga belum makan." Kata anak laki-laki itu mengusap-usap kepala si anjing.
"Kau tahu ke mana Ibu pergi, Balang?" tanya si anak perempuan.
Anjing itu menggerakkan kepalanya. Telinganya tegak. Ia lalu berdiri dan melompat sambil menyalak-nyalak. Ia menggeram-geram lagi.
"Kau tahu di mana Ibu sekarang?" Si anak laki-laki mengikuti anjing betina itu ke halaman. Kakaknya menutup pintu dan mengganjalnya dari luar dengan kayu. Anak perempuan itu berlari menghampiri adiknya dan dengan penuh harapan mengikuti anjing mereka. Anjing itu membawa mereka berjalan di jalan setapak yang di kiri-kanannya penuh semak ilalang. Mata mereka sudah terbiasa membaca ruang tanpa penerang. Sesekali kedua anak itu mengaduh karena kaki mereka yang telanjang menginjak tunas ilalang. Di langit hanya ada bintang-bintang. Di kejauhan tampak malam berpendar oleh nyala lampu listrik di sepanjang jalan. Jantung kedua anak lelaki peladang berdegupan. Mereka merasa beruntung mempunyai anjing patuh itu dan sedikit menyesal karena tidak sejak malam kemarin memerhatikan kelakuan si anjing yang berbeda dari biasanya.
Mereka terus berjalan mendaki menurun hingga sampai ke jalan raya kecamatan. Anjing itu meringis. Ia belok ke kiri, menyalak-nyalak ke arah sebuah rumah megah di pinggang bukit yang bekerlap-kerlip.
"Itu rumah Pak Wali!" seru si anak laki-laki.
"Tak mungkin Ibu ke sana! Satpam-satpam di situ akan mengusirnya!"
Anjing itu mengaing-ngaing. Ia menggaruk-garukkan kakinya ke jalan, menggonggong-gonggong.
Di lembah yang jauh di bawah, tampak kota bekerjapan indah.
***
Sebenarnya, anjing betina yang berkurap di sekitar punggung dan pantatnya itu ingin bercerita kepada si lelaki peladang dan kedua anaknya. Tetapi ia tidak mampu karena mereka tidak memahami bahasanya. Maka, baiklah, akan kuceritakan kepada kalian peristiwa yang disaksikan anjing betina kurapan itu:
Sudah hampir dua tahun rumah megah itu berdiri menghias pinggang bukit di utara kota. Rumah indah dengan taman luas yang terus dibenahi dari hari ke hari. Bangunan utama bergaya Eropa, dilengkapi pos keamanan bertingkat dua, sebuah musala yang elok, balai pertemuan, dan sebuah kolam renang. Ia didirikan dengan meratakan sebuah lereng yang sebelumnya penuh ilalang dan rumpun-rumpun perdu sikaduduak, tempat para penggembala melepas ternaknya untuk merumput. Rumah besar itu tampak bersinar. Seperti sebuah surga di tengah peladangan yang gersang oleh pembakaran hutan.
Ke rumah itulah istri si lelaki peladang pergi di rembang petang. Musim panas telah mengeringkan tanaman ladang sehingga panen tidak jadi. Persediaan dapurnya sebentar habis. Ia sudah terlalu banyak pula berutang ke kedai dan kepada tetangga-tetangganya. Maka ia pikir tak ada salahnya bila ia mencoba minta pertolongan kepada pemilik rumah bagus itu. Hitung-hitung orang itu termasuk tetangga juga meski ia adalah seorang pejabat yang barangkali tak sudi bertetangga dengan peladang yang melarat.
Dengan jantung berdebuk-debuk oleh rasa malu, penuh harap, sekaligus bimbang, digesernya pintu gerbang yang dicat dengan warna emas. Pagar itu dibentuk dari rangkaian batang-batang besi berujung runcing, di bawahnya terdapat roda untuk memudahkan geraknya.
"Ada perlu apa?" seorang satpam muda yang klimis dan gagah menyambutnya.
"Aku mau bertemu Bapak."
"Sudah membuat janji?"
"Janji? Aku ini tetangganya. Rumahku ada di balik sana. Oh ya, kau Fauzi, bukan? Anaknya Uni Rosidar yang menjual minyak tanah di simpang Kampuang Ambacang?"
Satpam muda yang baru tiga bulan bekerja itu merasa jengah dengan perkataan si perempuan yang tahu siapa orang tuanya. Wajahnya jadi merengut. Dari balik kaca pos terdengar teman piketnya berujar, "Suruh saja ia ngisi buku tamu. Kalau ia mau nunggu sampai besok pagi, biar saja!"
"Baik. Kalau memang mau bertemu Bapak, isi dulu buku tamu itu. Tapi Bapak tak bisa menerima sekarang. Ia sedang ada tamu. Besok saja datang pagi-pagi!"
"Biar kutunggu saja. Aku cuma sebentar, dan rumahku dekat dari sini." Istri lelaki peladang masuk dan duduk di bangku dekat pintu pos.
Satpam muda itu memerhatikan penampilan perempuan itu dari ujung telapak kaki hingga rambut kemerahannya yang diikat karet gelang bekas pembungkus ikan asin. Mukanya coreng-moreng. Blus dan roknya sudah pudar dan kumal. Di bahu atasnya yang sedikit tersingkap, tampak tali kutangnya berwarna hitam.
"Pak Wali tak bisa diganggu, ia sedang ada tamu!" Ulang si satpam klimis dengan jijik. Sebelum kedatangan perempuan itu, ia dan temannya sedang asyik menikmati rekaman video porno di dalam HP. Sungguh, perempuan di tayangan singkat itu amat berbeda dengan perempuan yang kini duduk sejangkauan tangan darinya. "Dan kalau kau memang mau menghadapnya, berkacalah sedikit. Bentukmu seperti orang mau ke parak begitu, berpakaianlah yang patut!"
"Aku ini warganya, dan memang beginilah aku. Aku orang miskin. Apa aku harus berlagak seperti ibu-ibu pejabat itu bila mau menemuinya?"
"Ya, tahu dirilah sedikit. Yang akan kautemui adalah orang besar, tentu kau harus lihat tempat. Kaukira ia lakimu yang mau menerimamu meski tiga hari tidak mandi? Hahaha!"
"Heh! Aku ingin bertemu dengan Pak Wali, bukan ingin mendengar ceramahmu, Botak!" istri lelaki peladang membentak.
"Apa kaubilang, Babi Buduk?!"
"Aku ingin bertemu dengan Pak Wali, persetan dengan kau!" Perempuan itu bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke depan gedung. Kedua satpam itu berteriak dan mengejarnya. Si klimis mencekal pergelangan tangan si perempuan.
"Ini rumah pejabat, tak bisa seenak perutmu!"
Perempuan itu memberontak ketika tubuhnya diseret ke pos. Kedua laki-laki muda itu memperlakukannya seperti sepotong batang pisang yang sudah ditebang dan ditebas tandan buahnya, siap dibuang ke semak-semak. Perempuan itu menjerit, tetapi teman si klimis segera membekap mulutnya. "Tingkahmu benar-benar menjengkelkan!" bentaknya pada perempuan itu. Setelah berhasil membawa perempuan itu ke pos, mereka mencoba membuat kesepakatan.
"Isi buku tamu itu bila kau memang ingin bertemu Bapak dan segera pulang. Besok kau boleh kemari lagi!"
"Anakku kelaparan. Aku ke sini mau minta tolong!"
"Apa kau tak bisa berutang beras agak seliter ke kedai? Apa kaupikir hanya kau saja manusia yang mesti diurus oleh Bapak?"
"Bapak pasti mau menerimaku, kalian saja yang sok! Dasar anjing penjilat!"
"Diam kau! Nanti kutembak!"
"Tembak? Ayo! Coba tembak kalau kau memang punya senjata!" Perempuan itu membusungkan dadanya yang kendur. Ia tampak seperti induk ayam yang terkena rabies.
Dengan geram satpam itu menepis tubuh si perempuan. "Sayang, kau perempuan, kalau tidak sudah kusumpal mulut baumu dengan tinju!"
Perempuan itu meradang. Dicakarnya lelaki berseragam putih hitam di depannya. Laki-laki itu berusaha melepaskan diri, kemudian menampar. Perempuan itu terjelepak, bangkit, merenggut celana lelaki itu, menggigit tangannya. Laki-laki itu menendang. Perempuan itu menggapai, mencakar, menumbuk, dan tahu-tahu sangkur tajam yang sebelumnya tergantung di sisi paha si satpam muda telah berada di tangannya. Dengan kesetanan dia menusukkan ke perut lawan. Si satpam tegap sigap menyergap dan bilah tajam bermata dua itu berkhianat pada pemilik tangan yang menggenggamnya. Sangkur itu menghunjam halus ke perut tipis si perempuan yang tak berdaya menolak seperti buah semangka baru dipetik dari ladang. Perempuan itu melenguh dan jatuh. Darah semerah tomat masak menyembur keluar tak terbendung oleh blus bermotif bunga-bunga kuning buatan pabrik konveksi dari Bukittinggi yang dipakainya.
Anjing betinanya yang dari tadi setia menunggu di dekat pagar melompat ke samping si perempuan. Ia mengaing-ngaing seperti ucapan syahadat yang terputus-putus.
Lindap magrib seperti menutupi kejadian itu. Kedua lelaki muda saling memandang. Beberapa jenak kemudian seperti Qabil yang dirundung kesumat, mereka mengangkut tubuh rusak si perempuan ke lubang besar dekat taman. Lubang itu rencananya akan dibuat kolam, tetapi istri pemilik rumah merasa kurang cocok lokasinya di dekat situ. Ia ingin digeser sepuluh meter ke dekat pohon pinang sinawa. Lubang itu belum sempat ditimbun, dalamnya ada sekitar dua meter.
Mereka memasukkan tubuh si perempuan dan bekerja keras menimbunnya. Ketika beberapa orang petugas rumah tangga datang bertanya, mereka bilang bahwa mereka ditugasi untuk menimbun lubang itu oleh Bapak.
Anjing si perempuan berusaha menggali dengan cakarnya. Kedua satpam berkali-kali mengusirnya. Ketika bentakan mereka tidak mempan, mereka pun menyambit anjing betina itu dengan batu. Anjing itu pun lari terkaing-kaing.
***
Kedua anak lelaki peladang berdiri ragu di depan gerbang. Mereka melihat dua orang penjaga sedang bercakap-cakap sambil merokok. Si anak perempuan memberanikan diri untuk mendekat ke gerbang dan menyembulkan kepalanya lewat lubang di antara batang-batang besi.
"Pak, apa ada lihat ibu kami?" tanyanya tergagap-gagap.
Kedua satpam yang tak lagi muda itu terkekeh, mereka sudah sering diganggu anak-anak kampung yang iseng. "Kalau ibu kalian datang ke sini dengan Innova, berarti dia masih di dalam."
Dari iklan yang ditontonnya di TV kedai, anak perempuan lelaki peladang tahu bahwa yang disebutkan satpam itu adalah merek sebuah mobil. Ia pun mengajak adiknya pulang membawa lapar mereka bersama si anjing setia yang terus juga menyalak-nyalak.
Tengah malam, si lelaki peladang pulang setelah kalah main domino. Anjing betina itu menyambutnya dengan kaingan kecil dan mengejar kakinya hendak menjilati. Ia kembali melolong-lolong seperti menangis membuat laki-laki yang gundah itu naik pitam.
"Meribut saja kerja kau, anjing kurap." Disepaknya kepala anjing itu. Namun si anjing tidak lari. Ia menggoyang-goyangkan kepalanya sambil melolong-lolong nyaring. Laki-laki itu terus menyepak dan membentaknya. Ketika kesabarannya habis, ia menyambar sebatang kayu yang tersandar di dinding rumah, lalu menghantam kepala si anjing hingga binatang yang berkurap di sekitar punggung dan pantatnya itu tak bisa lagi bersuara.***
Ilalangsenja, Padang, September 2007
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Media Indonesia 24/06/2007
DIA melangkah ke luar rumah melalui pintu dapur setelah memandangi kuduk istrinya yang hitam berdaki. Ada rasa jengkel bercampur pedih menggaruk hatinya. Perempuan itu diam saja, seolah tersihir oleh sampadeh dalam belanga yang tengah menggelegak-gelegak. Dia terus menyilang-nyilang kayu bakar agar api di tungku menyala rata. Asap putih-kelabu melayang menembus jerajak.
Disandangnya jerigen ke punggung. Jerigen itu bekas peletak bensin yang dimintanya pada seorang teman yang punya bengkel motor. Telah dipotong bagian atasnya dan diberi gantungan tambang sebesar jari kelingking. Telah dicuci puluhan kali. Dia tak mengisi apa-apa selain sebotol air putih. Di sakunya telah tersedia rokok daun nipah dan mancis. Sebilah parang bergayut di pinggang kanannya membuat langkahnya mirip prajurit hendak bertempur. Kedua belah kakinya hanya dialasi terompa jepang yang talinya disambung tali plastik karena telah putus. Tubuhnya yang hitam-kurus dibungkus dengan celana katun usang warna dongker--pemberian seorang kerabatnya yang menjadi seorang kasi di kantor bupati--dan kaos hijau pucuk pisang— pembagian orang kampanye—yang telah kusam oleh peluh dan getah.
Hidungnya yang besar menghisap udara pukul tiga sore yang kering, lalu menghempaskannya lewat lobang sebelah kiri. Diucapkannya bismillah dan mengayun langkah. Di belakang, dari dalam dapur, istrinya menjengukkan kepala menatap keluar. Memandang punggungnya sambil menelan air mata.
***
Dia mendaki perbukitan itu. Menelusuri jalan setapak yang penuh jejak tapak kaki sapi dan kotorannya yang hitam seperti kue pinyaram. Burung-burung berkicau nyaring ditingkahi jerit siamang di kejauhan. Rumahnya sudah jauh tertinggal di balik bukit penuh ilalang.
Selama perjalanan, dia hanya bertemu beberapa orang pemikat burung dan peladang. Panas matahari sore tak tertahan oleh topi biru pudar yang menutup kepalanya. Sambil lalu, dia telah menebas serumpun batang karamuntiang untuk dibuat suluh. Dia agak letih karena dari pagi mencangkul tanah untuk ditanami cabai dan terung.
"Hati-hati. Aku tak ingin menerimamu pulang patah-patah."
"Tak akan apa-apa. Tempatnya tak terlalu curam. Pekan lalu aku melihat ada sebuah sarang di dahan surian. Tempatnya agak tersuruk, dekat Ngalau Uwia-Uwia. Aku ingin mengambilnya sebelum yang lain tahu."
"Ngalau Uwia-uwia,"
"Jangan risau kau."
Dia tahu istrinya risau. Meski perempuan itu berusaha memasang selubung tabir di mukanya, tetapi dia bukan seorang pesandiwara yang pandai. Pada tarikan wajahnya yang merengut, tergambar sekali kegundahan yang ditahannya di pangkal kerongkongan.
"Aku memang jelek. Malangnya kau yang menikahiku."
"Sudah. Sudah. Aku hanya mau mengambil madu lebah. Tak usah kau berpikir yang tidak-tidak."
Istrinya beranjak ke dapur. Bersibuk-sibuk membersihkan ikan bakok--isi lukah yang diangkat dari banda pagi tadi —untuk dijadikan sampadeh. Dia menggantung tampang kacang panjang di selaian. Kemudian berkemas untuk berangkat ke lereng.
Pffufh..! Pffufh..!
Cabang jalan.
Dia merasa darahnya mengalir cepat. Tegang. Dia sudah berada di bawah lereng. Dihempaskannya napas sekali lagi. Berbelok meninggalkan jalan setapak.
Maafkan aku, bisiknya, seolah mulutnya berada tepat di samping daun telinga istrinya. Aku melakukannya lagi.
Dia mulai mendaki. Berpegang pada akar-akar yang berjalaran, pada tonjolan batu, pada urat kayu yang keluar dari tanah sebab longsor. Tanah lembab oleh lindungan pohon-pohon berdaun lebat. Sesekali dia bertemu pacet penghisap darah yang menempel cepat ke kakinya. Dia jepit hewan lunak itu dengan ibu jari dan telunjuk, lalu mencampakkannya ke tanah. Hutan begitu tenang dan damai. Dia merasakan suatu kebahagiaan yang asing. Sunyi dan bebas. Hanya suara uwia-uwia, tupai, burung-burung, ayam hutan, kera, siamang, kelepak sayap enggang, dan suara lamat air sungai di lembah.
***
Pohon itu tinggi dan besar. Dahan-dahannya menjuntai ke tubir jurang. Sebuah sarang lebah berwarna kuning emas tergantung di bawah sebuah dahan sekitar dua puluh meter dari tanah. Sarang yang penuh madu.
Dia membakar suluh daun karamuntiang. Mengasapi dirinya agar tak diserbu serangga penyengat itu. Asap putih langsung terbang hendak menjangkau pucuk batang kayu yang tinggi tonjang. Dia kencing ke semak untuk mengurangi ketegangan yang mendebuk-debuk dadanya. Setelah siap, diikatnya suluh karamuntiang dengan seutas akar kalimpanan.
Dia pun memanjat.
Tangannya yang berurat liat memeluk batang surian. Menarik tubuhnya seperti seekor beruk pemetik kelapa dari Pariaman. Jari-jari tangannya mengeras. Mencengkeram kulit kayu yang kering keras. Peluh terbit dari pori-pori jangatnya. Dadanya terasa panas. Dia terbayang istrinya yang tadi ditinggalkannya tengah menghadapi belanga tanah liat dan tungku batu di dapur. Semalam, perempuan itu lagi-lagi menepis tangan si laki-laki yang bergetar mengelus perutnya yang dingin.
Tubuhnya sampai di sebuah percabangan dahan. Sebatang beringin dahan tumbuh menempel serupa parasit. Dia melenguh. Rehat sejenak. Matanya menoleh ke lereng bukit di seberang lembah. Dia melihat segerombolan sapi tengah merumput di padang ilalang hijau. Dia melihat seseorang duduk di dekat rumpun sikaduduak. Hatinya menjadi riang sekaligus perih. Dihirupnya udara lembab rimba, kemudian menarik suluh dan kembali memanjat.
Ribuan lebah berdengung mengitari sarang yang melekuk montok seperti akan pecah. Sarang itu sudah penuh berisi madu yang matang. Bau asap suluh menyebabkan tak seekor pun serangga-serangga itu yang menyerangnya. Dia mengeluarkan parang. Sekali lagi mengucap bismillah lalu memotong sarang lebah dan memasukkannya ke dalam jerigen. Meninggalkan sedikit untuk dibangun sarang baru oleh binatang-binatang pintar yang rajin itu.
***
Dari jauh, dia sudah melihat gadis itu resah menunggunya. Dia pun memperligat langkah menerabas ilalang dan riburibu. Sapi-sapi berperut gendut tampak masih asyik merumput. Sudah petang. Matahari membuat bayang-bayang bergolek memanjang.
Tali terompanya yang sebelah kiri putus lagi. Telapak kakinya langsung ditancapi tunas ilalang yang runcing. Dia berjalan terpincang-pincang mendekati gadis itu yang duduk di batu hitam dekat rumpun sikaduduak.
Gadis itu menyambutnya panik. Mulutnya komat-kamit diikuti suara sengau dan tangan yang bergerak-gerak.
"Ah, tidak apa-apa. Hanya ranjau lalang."
Dia duduk berjongkok selangkah dari gadis penggembala itu. Meletakkan jerigen berisi madu yang telah ditutupi dengan daun-daun. Membuka topi dan berkipas-kipas sejenak, kemudian menyambung tali terompa. Gadis itu melongokkan kepala menyelidiki apa yang ada di dalam jerigen itu.
"Manisan lebah." Beritahunya sambil melepaskan ikatan botol minuman dari pinggang. "Mau kau?"
Gadis itu tak menyahut. Dan dia tahu apa arti diam. Dipetiknya sehelai daun sikaduduak, meniup-niupnya, membentuknya jadi cerucut, lalu menyauk sedikit madu dari dalam jerigen. Gadis itu menerimanya dengan malu-malu. Kemudian meminum dengan lahap. Menjilat sisa-sisa di daun.
Dia lalu memperlihatkan anyaman daun pandan berduri yang tadi disurukkannya di samping badan.
"Wah, kau membuat apa?"
Wajah belasan tahun yang penuh keringat itu tersipu. Gigi kuningnya menyembul dari celah dua bibirnya yang menghitam karena terlalu sering berpanas-panas. Rambut merah pirang jatuh membingkai wajahnya serupa tirai dari topi kekecilan di kepalanya. Dia baru tumbuh.
"Kau membuat sebuah tas?"
Tangan yang berkuku kehitaman itu menunjuk botol plastik yang dipegang laki-laki itu.
"Kau mau minum."
Gadis itu menggeleng dan menggerakkan tangan mengisyaratkan botol itu masuk ke dalam tas anyaman.
"O, untuk peletak ini?" Laki-laki itu mengangguk-angguk. "Bagus sekali! Bagaimana kabar sapi betinamu yang sedang berisi itu? Apakah ia sudah melahirkan?"
Rona riang menyeruak di wajah si gadis. Kedua tangannya kembali terangkat. Menggambar sesuatu di udara. Ternyata ketiak blusnya robek.
"Anaknya gemuk?! Hahaha! Hebat! Hebat!"
Mereka tertawa. Memandangi sapi-sapi yang merumput di padang lapang. Menunjuk-nunjuk bukit, gunung, lembah, dan persawahan di bawah. Mereka tergelak-gelak. Menertawakan sapi bujang berbulu merah yang melompat ke punggung sapi lain belajar kawin. Menertawakan seekor anak sapi yang melenguh-lenguh tertinggal dari induknya.
Laki-laki itu membagi sepotong sarang lebah kepada si gadis. Mencelupkannya pada madu. Rasanya manis-manis tawar.
Mereka terus tertawa-tawa dalam kebersamaan yang ganjil.
Sejak dua bulan lalu. Sejak laki-laki itu tanpa sengaja menemukan si gadis tengah meraung tanpa suara seorang diri di tengah padang di antara sapi-sapinya ketika dia dalam perjalanan mencari sarang lebah. Gadis itu dipatuk ular semak. Dia menolongnya. Gadis itu tak bisa bicara. Dari bincang-bincang di pasar pekan, dia mengetahui bahwa gadis itu anak seorang janda yang tinggal di ladang terpencil di lereng bukit. Suami si janda telah kawin dengan perempuan muda di kampung lain.
Lalu petang pun matang dan burung-burung pun pulang.
Laki-laki itu menyuruh si gadis menghabiskan air di botolnya. Kemudian mengisi botol yang sudah kosong itu dengan madu lebah.
"Bawalah sapi-sapimu pulang." suruhnya.
Si gadis memanggil sapi-sapinya yang memang sudah kenyang dan rindu kandang dengan suara merepet.
"Bawalah ini pulang. Kalau ibumu bertanya, katakan itu sedekah dari seorang pencari madu yang bersyukur karena Allah masih melimpahkannya rahmat." Disodorkannya botol plastik berisi madu murni itu kepada si gadis. "Usah kau bersedih mengingat ayahmu yang pergi. Anggap saja aku gantinya."
Gadis itu menerima botol plastik berisi madu penuh. Mengangguk kuat-kuat sehingga air matanya terloncat. Cepat-cepat dia menggosok mata dengan tangan.
"Pulanglah." Laki-laki itu mengusap pipi gadis itu. Sesaat. Matanya pun berlinang.
Si gadis menyerahkan tas anyamannya dengan ragu-ragu, kemudian berbalik. Melangkah dengan tersaruk-saruk menerabas ilalang dan riburibu.
"Hati-hati, Nak!"
Sosok itu berjalan menuruni lereng dengan sapi-sapinya yang patuh. Sesekali dia menoleh ke belakang melayangkan tatapan sendu.
Laki-laki itu merasa dadanya begitu sesak seperti akan meledak membuatnya ingin berteriak. Akan disimpannya tas itu di suatu tempat. Setelah gadis penggembala itu makin kecil di ujung padang ilalang, diangkatnya jerigen berisi madu, menyandang ke punggung, lantas melangkah ke arah yang berlawanan dengan arah kepergian si gadis.
***
"Aku tahu. Kau mendatangi perempuan janda itu lagi. Aku dapat mencium bau tubuhnya pada tubuhmu. Kau sampai ketinggalan botol air minummu."
Tidak. Kau tidak tahu. Aku hanya memberi anaknya sebotol madu.
"Aku tahu. Aku memang perempuan buruk. Hitam kelat. Tak bisa lagi memberimu anak gara-gara bidan celaka itu merusak perutku." Perempuan itu menunduk. Setetes air mata jatuh membasahi sebutir rimah dekat tulang ikan bakok yang terserak di atas tikar pandan yang didudukinya. "Tapi aku bersyukur. Kau pulang selamat. Tubuhmu tak patah-patah karena jatuh dari lereng." Dia beranjak masuk ke dalam bilik. Sedunya menggugu keluar lewat kain pintu yang tampak sangat kusam oleh malam.
Laki-laki itu termenung. Bayangan tubuhnya bergoyang-goyang di dinding disebabkan api lampu togok yang dibuat dari kaleng susu yang diberi kain sebagai sumbu dihembus-hembus angin kocak dari celah anyaman bambu. Disulutnya rokok daun nipah yang baru selesai digulungnya. Asap putih dari rokoknya meliuk menjangkau atap bersaing dengan asap hitam lampu togok.
Dia seolah merasakan kulit hangat di ujung-ujung jarinya. Kulit pipi si gadis bisu penggembala sapi itu.
Kembali dia menghela napas dalam-dalam, seolah akan menghirup seluruh dunia dan malam. Dia tahu, dia telah melukai perasaan istrinya. Dia telah pergi ke lereng, walau tak melakukan perbuatan seperti yang dibayangkannya.
Dia hanya ingin bertemu gadis buruk berbau busuk di padang ilalang.
Dia hanya ingin bertemu dengan seseorang yang dia bayangkan anak gadisnya yang mati sembilan tahun lalu diseruduk babi luka. Memberinya madu yang diambil tangan seorang ayah dari dahan surian di lereng jurang. Dia bersedia mati bila perlu. Dia ingin menebus kelengahannya yang tak akan dapat dia maafkan sampai kapan pun. Meninggalkan gadis kecilnya di pondok ladang ketika hendak menutup perigi kecil di dekat banda agar tak dikotori anjing pemburu.
Hanya itu.
Pelan-pelan dia bangkit berdiri, turun ke dapur. Membenamkan ujung rokok ke abu tungku. Berwudu dengan air hujan yang ditampung di drum. Salat isya. Berdoa terbata-bata. Lalu masuk ke bilik setelah memadamkan lampu togok.***
Ilalangsenja|Padang, Maret 2007
Dimuat di Media Indonesia 24/06/2007
DIA melangkah ke luar rumah melalui pintu dapur setelah memandangi kuduk istrinya yang hitam berdaki. Ada rasa jengkel bercampur pedih menggaruk hatinya. Perempuan itu diam saja, seolah tersihir oleh sampadeh dalam belanga yang tengah menggelegak-gelegak. Dia terus menyilang-nyilang kayu bakar agar api di tungku menyala rata. Asap putih-kelabu melayang menembus jerajak.
Disandangnya jerigen ke punggung. Jerigen itu bekas peletak bensin yang dimintanya pada seorang teman yang punya bengkel motor. Telah dipotong bagian atasnya dan diberi gantungan tambang sebesar jari kelingking. Telah dicuci puluhan kali. Dia tak mengisi apa-apa selain sebotol air putih. Di sakunya telah tersedia rokok daun nipah dan mancis. Sebilah parang bergayut di pinggang kanannya membuat langkahnya mirip prajurit hendak bertempur. Kedua belah kakinya hanya dialasi terompa jepang yang talinya disambung tali plastik karena telah putus. Tubuhnya yang hitam-kurus dibungkus dengan celana katun usang warna dongker--pemberian seorang kerabatnya yang menjadi seorang kasi di kantor bupati--dan kaos hijau pucuk pisang— pembagian orang kampanye—yang telah kusam oleh peluh dan getah.
Hidungnya yang besar menghisap udara pukul tiga sore yang kering, lalu menghempaskannya lewat lobang sebelah kiri. Diucapkannya bismillah dan mengayun langkah. Di belakang, dari dalam dapur, istrinya menjengukkan kepala menatap keluar. Memandang punggungnya sambil menelan air mata.
***
Dia mendaki perbukitan itu. Menelusuri jalan setapak yang penuh jejak tapak kaki sapi dan kotorannya yang hitam seperti kue pinyaram. Burung-burung berkicau nyaring ditingkahi jerit siamang di kejauhan. Rumahnya sudah jauh tertinggal di balik bukit penuh ilalang.
Selama perjalanan, dia hanya bertemu beberapa orang pemikat burung dan peladang. Panas matahari sore tak tertahan oleh topi biru pudar yang menutup kepalanya. Sambil lalu, dia telah menebas serumpun batang karamuntiang untuk dibuat suluh. Dia agak letih karena dari pagi mencangkul tanah untuk ditanami cabai dan terung.
"Hati-hati. Aku tak ingin menerimamu pulang patah-patah."
"Tak akan apa-apa. Tempatnya tak terlalu curam. Pekan lalu aku melihat ada sebuah sarang di dahan surian. Tempatnya agak tersuruk, dekat Ngalau Uwia-Uwia. Aku ingin mengambilnya sebelum yang lain tahu."
"Ngalau Uwia-uwia,"
"Jangan risau kau."
Dia tahu istrinya risau. Meski perempuan itu berusaha memasang selubung tabir di mukanya, tetapi dia bukan seorang pesandiwara yang pandai. Pada tarikan wajahnya yang merengut, tergambar sekali kegundahan yang ditahannya di pangkal kerongkongan.
"Aku memang jelek. Malangnya kau yang menikahiku."
"Sudah. Sudah. Aku hanya mau mengambil madu lebah. Tak usah kau berpikir yang tidak-tidak."
Istrinya beranjak ke dapur. Bersibuk-sibuk membersihkan ikan bakok--isi lukah yang diangkat dari banda pagi tadi —untuk dijadikan sampadeh. Dia menggantung tampang kacang panjang di selaian. Kemudian berkemas untuk berangkat ke lereng.
Pffufh..! Pffufh..!
Cabang jalan.
Dia merasa darahnya mengalir cepat. Tegang. Dia sudah berada di bawah lereng. Dihempaskannya napas sekali lagi. Berbelok meninggalkan jalan setapak.
Maafkan aku, bisiknya, seolah mulutnya berada tepat di samping daun telinga istrinya. Aku melakukannya lagi.
Dia mulai mendaki. Berpegang pada akar-akar yang berjalaran, pada tonjolan batu, pada urat kayu yang keluar dari tanah sebab longsor. Tanah lembab oleh lindungan pohon-pohon berdaun lebat. Sesekali dia bertemu pacet penghisap darah yang menempel cepat ke kakinya. Dia jepit hewan lunak itu dengan ibu jari dan telunjuk, lalu mencampakkannya ke tanah. Hutan begitu tenang dan damai. Dia merasakan suatu kebahagiaan yang asing. Sunyi dan bebas. Hanya suara uwia-uwia, tupai, burung-burung, ayam hutan, kera, siamang, kelepak sayap enggang, dan suara lamat air sungai di lembah.
***
Pohon itu tinggi dan besar. Dahan-dahannya menjuntai ke tubir jurang. Sebuah sarang lebah berwarna kuning emas tergantung di bawah sebuah dahan sekitar dua puluh meter dari tanah. Sarang yang penuh madu.
Dia membakar suluh daun karamuntiang. Mengasapi dirinya agar tak diserbu serangga penyengat itu. Asap putih langsung terbang hendak menjangkau pucuk batang kayu yang tinggi tonjang. Dia kencing ke semak untuk mengurangi ketegangan yang mendebuk-debuk dadanya. Setelah siap, diikatnya suluh karamuntiang dengan seutas akar kalimpanan.
Dia pun memanjat.
Tangannya yang berurat liat memeluk batang surian. Menarik tubuhnya seperti seekor beruk pemetik kelapa dari Pariaman. Jari-jari tangannya mengeras. Mencengkeram kulit kayu yang kering keras. Peluh terbit dari pori-pori jangatnya. Dadanya terasa panas. Dia terbayang istrinya yang tadi ditinggalkannya tengah menghadapi belanga tanah liat dan tungku batu di dapur. Semalam, perempuan itu lagi-lagi menepis tangan si laki-laki yang bergetar mengelus perutnya yang dingin.
Tubuhnya sampai di sebuah percabangan dahan. Sebatang beringin dahan tumbuh menempel serupa parasit. Dia melenguh. Rehat sejenak. Matanya menoleh ke lereng bukit di seberang lembah. Dia melihat segerombolan sapi tengah merumput di padang ilalang hijau. Dia melihat seseorang duduk di dekat rumpun sikaduduak. Hatinya menjadi riang sekaligus perih. Dihirupnya udara lembab rimba, kemudian menarik suluh dan kembali memanjat.
Ribuan lebah berdengung mengitari sarang yang melekuk montok seperti akan pecah. Sarang itu sudah penuh berisi madu yang matang. Bau asap suluh menyebabkan tak seekor pun serangga-serangga itu yang menyerangnya. Dia mengeluarkan parang. Sekali lagi mengucap bismillah lalu memotong sarang lebah dan memasukkannya ke dalam jerigen. Meninggalkan sedikit untuk dibangun sarang baru oleh binatang-binatang pintar yang rajin itu.
***
Dari jauh, dia sudah melihat gadis itu resah menunggunya. Dia pun memperligat langkah menerabas ilalang dan riburibu. Sapi-sapi berperut gendut tampak masih asyik merumput. Sudah petang. Matahari membuat bayang-bayang bergolek memanjang.
Tali terompanya yang sebelah kiri putus lagi. Telapak kakinya langsung ditancapi tunas ilalang yang runcing. Dia berjalan terpincang-pincang mendekati gadis itu yang duduk di batu hitam dekat rumpun sikaduduak.
Gadis itu menyambutnya panik. Mulutnya komat-kamit diikuti suara sengau dan tangan yang bergerak-gerak.
"Ah, tidak apa-apa. Hanya ranjau lalang."
Dia duduk berjongkok selangkah dari gadis penggembala itu. Meletakkan jerigen berisi madu yang telah ditutupi dengan daun-daun. Membuka topi dan berkipas-kipas sejenak, kemudian menyambung tali terompa. Gadis itu melongokkan kepala menyelidiki apa yang ada di dalam jerigen itu.
"Manisan lebah." Beritahunya sambil melepaskan ikatan botol minuman dari pinggang. "Mau kau?"
Gadis itu tak menyahut. Dan dia tahu apa arti diam. Dipetiknya sehelai daun sikaduduak, meniup-niupnya, membentuknya jadi cerucut, lalu menyauk sedikit madu dari dalam jerigen. Gadis itu menerimanya dengan malu-malu. Kemudian meminum dengan lahap. Menjilat sisa-sisa di daun.
Dia lalu memperlihatkan anyaman daun pandan berduri yang tadi disurukkannya di samping badan.
"Wah, kau membuat apa?"
Wajah belasan tahun yang penuh keringat itu tersipu. Gigi kuningnya menyembul dari celah dua bibirnya yang menghitam karena terlalu sering berpanas-panas. Rambut merah pirang jatuh membingkai wajahnya serupa tirai dari topi kekecilan di kepalanya. Dia baru tumbuh.
"Kau membuat sebuah tas?"
Tangan yang berkuku kehitaman itu menunjuk botol plastik yang dipegang laki-laki itu.
"Kau mau minum."
Gadis itu menggeleng dan menggerakkan tangan mengisyaratkan botol itu masuk ke dalam tas anyaman.
"O, untuk peletak ini?" Laki-laki itu mengangguk-angguk. "Bagus sekali! Bagaimana kabar sapi betinamu yang sedang berisi itu? Apakah ia sudah melahirkan?"
Rona riang menyeruak di wajah si gadis. Kedua tangannya kembali terangkat. Menggambar sesuatu di udara. Ternyata ketiak blusnya robek.
"Anaknya gemuk?! Hahaha! Hebat! Hebat!"
Mereka tertawa. Memandangi sapi-sapi yang merumput di padang lapang. Menunjuk-nunjuk bukit, gunung, lembah, dan persawahan di bawah. Mereka tergelak-gelak. Menertawakan sapi bujang berbulu merah yang melompat ke punggung sapi lain belajar kawin. Menertawakan seekor anak sapi yang melenguh-lenguh tertinggal dari induknya.
Laki-laki itu membagi sepotong sarang lebah kepada si gadis. Mencelupkannya pada madu. Rasanya manis-manis tawar.
Mereka terus tertawa-tawa dalam kebersamaan yang ganjil.
Sejak dua bulan lalu. Sejak laki-laki itu tanpa sengaja menemukan si gadis tengah meraung tanpa suara seorang diri di tengah padang di antara sapi-sapinya ketika dia dalam perjalanan mencari sarang lebah. Gadis itu dipatuk ular semak. Dia menolongnya. Gadis itu tak bisa bicara. Dari bincang-bincang di pasar pekan, dia mengetahui bahwa gadis itu anak seorang janda yang tinggal di ladang terpencil di lereng bukit. Suami si janda telah kawin dengan perempuan muda di kampung lain.
Lalu petang pun matang dan burung-burung pun pulang.
Laki-laki itu menyuruh si gadis menghabiskan air di botolnya. Kemudian mengisi botol yang sudah kosong itu dengan madu lebah.
"Bawalah sapi-sapimu pulang." suruhnya.
Si gadis memanggil sapi-sapinya yang memang sudah kenyang dan rindu kandang dengan suara merepet.
"Bawalah ini pulang. Kalau ibumu bertanya, katakan itu sedekah dari seorang pencari madu yang bersyukur karena Allah masih melimpahkannya rahmat." Disodorkannya botol plastik berisi madu murni itu kepada si gadis. "Usah kau bersedih mengingat ayahmu yang pergi. Anggap saja aku gantinya."
Gadis itu menerima botol plastik berisi madu penuh. Mengangguk kuat-kuat sehingga air matanya terloncat. Cepat-cepat dia menggosok mata dengan tangan.
"Pulanglah." Laki-laki itu mengusap pipi gadis itu. Sesaat. Matanya pun berlinang.
Si gadis menyerahkan tas anyamannya dengan ragu-ragu, kemudian berbalik. Melangkah dengan tersaruk-saruk menerabas ilalang dan riburibu.
"Hati-hati, Nak!"
Sosok itu berjalan menuruni lereng dengan sapi-sapinya yang patuh. Sesekali dia menoleh ke belakang melayangkan tatapan sendu.
Laki-laki itu merasa dadanya begitu sesak seperti akan meledak membuatnya ingin berteriak. Akan disimpannya tas itu di suatu tempat. Setelah gadis penggembala itu makin kecil di ujung padang ilalang, diangkatnya jerigen berisi madu, menyandang ke punggung, lantas melangkah ke arah yang berlawanan dengan arah kepergian si gadis.
***
"Aku tahu. Kau mendatangi perempuan janda itu lagi. Aku dapat mencium bau tubuhnya pada tubuhmu. Kau sampai ketinggalan botol air minummu."
Tidak. Kau tidak tahu. Aku hanya memberi anaknya sebotol madu.
"Aku tahu. Aku memang perempuan buruk. Hitam kelat. Tak bisa lagi memberimu anak gara-gara bidan celaka itu merusak perutku." Perempuan itu menunduk. Setetes air mata jatuh membasahi sebutir rimah dekat tulang ikan bakok yang terserak di atas tikar pandan yang didudukinya. "Tapi aku bersyukur. Kau pulang selamat. Tubuhmu tak patah-patah karena jatuh dari lereng." Dia beranjak masuk ke dalam bilik. Sedunya menggugu keluar lewat kain pintu yang tampak sangat kusam oleh malam.
Laki-laki itu termenung. Bayangan tubuhnya bergoyang-goyang di dinding disebabkan api lampu togok yang dibuat dari kaleng susu yang diberi kain sebagai sumbu dihembus-hembus angin kocak dari celah anyaman bambu. Disulutnya rokok daun nipah yang baru selesai digulungnya. Asap putih dari rokoknya meliuk menjangkau atap bersaing dengan asap hitam lampu togok.
Dia seolah merasakan kulit hangat di ujung-ujung jarinya. Kulit pipi si gadis bisu penggembala sapi itu.
Kembali dia menghela napas dalam-dalam, seolah akan menghirup seluruh dunia dan malam. Dia tahu, dia telah melukai perasaan istrinya. Dia telah pergi ke lereng, walau tak melakukan perbuatan seperti yang dibayangkannya.
Dia hanya ingin bertemu gadis buruk berbau busuk di padang ilalang.
Dia hanya ingin bertemu dengan seseorang yang dia bayangkan anak gadisnya yang mati sembilan tahun lalu diseruduk babi luka. Memberinya madu yang diambil tangan seorang ayah dari dahan surian di lereng jurang. Dia bersedia mati bila perlu. Dia ingin menebus kelengahannya yang tak akan dapat dia maafkan sampai kapan pun. Meninggalkan gadis kecilnya di pondok ladang ketika hendak menutup perigi kecil di dekat banda agar tak dikotori anjing pemburu.
Hanya itu.
Pelan-pelan dia bangkit berdiri, turun ke dapur. Membenamkan ujung rokok ke abu tungku. Berwudu dengan air hujan yang ditampung di drum. Salat isya. Berdoa terbata-bata. Lalu masuk ke bilik setelah memadamkan lampu togok.***
Ilalangsenja|Padang, Maret 2007
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Media Indonesia 21/01/2007
KAU menemukannya hari Jumat pagi pukul delapan. Diam. Matanya sedih memandang. Bibirnya yang pucat, terkuak sedikit seperti ingin mengatakan sesuatu. Kau menangis. Tubuhnya yang dingin berselimut kain batik kauguncang-guncang. Air matamu jatuh ke mukanya. Tapi dia tetap tak bersuara.
Hanya matanya yang terbuka, seperti sedang bicara.
***
Kau membanting pintu taksi dan berlari ke gerbang yang sudah tertutup pagarnya. Dia mengejarmu setelah melemparkan uang ke tangan si sopir yang belum sempat menuntaskan umpatan karena kalian begitu ribut selama perjalanan. Dia mencekal tanganmu. Kau menepisnya dengan kasar lalu membuka pintu pagar.
"Dengarkan aku dulu, Fem!" Serunya berkali-kali.
Hatimu sakit, lebih-lebih karena malam itu dia belum juga memberikan sebuah jawaban yang kauharapkan. Kau merasa dipermainkan oleh dia yang sungguh-sungguh ingin kaucintai. Tetapi apa yang kaudapat? Hanya seringai tipis di bibir bengkok yang membuat kerongkonganmu seperti ditumbuhi duri-duri yang gatal menyakitkan.
Kau benar-benar ingin menangis. Sore sebelum kalian berangkat ke kafe, di depan cermin dandan di kamar, kau telah meyakinkan diri akan melakukan tindakan paling nekat sekali pun untuk menggerakkan lidahnya mengucapkan apa yang ingin kaudengar.
"Kalau kau inginkan keikhlasan tubuhku, akan kurelakan tanpa sedu-sedan." Begitu tekadmu sambil menyamarkan kerutan-kerutan di bawah mata. Sengaja kau tampil secantik mungkin mengingat November sudah akan berakhir; itu artinya tahun baru tinggal sebulan lagi dan kau dengan memalukan akan menjadi nona tua tiga puluh lima tahun.
Di mana letak kejelekanmu sehingga tak kunjung ada seorang laki-laki yang benar-benar bertambat? Mereka hanya sekadar mampir sebagai teman dekat. Kencan yang hanya menyia-nyiakan waktu dan hasrat. Apa kekuranganmu? Ibumu bilang kau cantik sekali. Begitu pula kata bapak dan adik-adikmu yang semuanya sudah menikah.
Mereka mafhum benar perjuanganmu, diet keras yang membuatmu nyaris berkamar di dalam tanah; ikut senam aerobik, lulur di spa dan mandi sauna, kau juga masih menggunakan krim yang disarankan temanmu untuk memperbesar dan memperkencang payudara agar mata para lelaki terjerat lekat ke tubuhmu. Kau juga rajin merawat organ kewanitaanmu dengan terapi air daun sirih. Tetapi tak juga ada laki-laki yang datang menemui orang tuamu untuk meminang.
Sanak saudara curiga ada orang jahat yang mengguna-gunaimu sehingga kau terhalang jodoh. Kau pun dimandikan dengan air bunga rampai di depan rumah. Tujuh tahun yang lalu. Tetapi tetap saja nihil. Kau masih sendirian. Kadang kewalahan menahan rasa frustrasi yang menyeretmu ke ruang makan untuk melampiaskan segala nelangsa dengan memakan semua yang kausuka. Akibatnya kau pun jadi pontang-panting diet lagi. Dan hampir setiap pagi keluargamu akan menemukanmu bangun dengan mata sembab bekas menangis.
Dan kau menemukannya satu setengah tahun lalu. Laki-laki pemurung yang sering kehilangan kata-kata. Tetapi dia sopan, dengan tatapan mata yang baik seperti balita tanpa tabungan dosa.
***
"Jadi, apa lagi yang harus ditunggu?" Desakmu di kafe kemarin malam. Sudah satu jam kalian duduk dengan perbincangan yang berputar-putar. "Kau punya pekerjaan yang mapan. Aku juga. Usia kita juga sudah matang. Keluargaku mendukung. Aku sudah siap lahir batin. Apalagi yang ditunggu?"
"Beri aku waktu." Laki-laki itu tampak resah. Butiran-butiran keringat memercik di keningnya. Ingin sekali kau mengulurkan tangan untuk menyekanya dengan saputangan, tapi dadamu sudah terlanjur gerah. Hidangan di depan kalian tinggal dingin habis diaduk-aduk.
"Ini kali keempat kau mengundurnya."
"Aku belum siap."
"Belum siap? Belum siap apa, Sayang? Kau hanya perlu datang ke rumahku, meminta pada kedua orang tuaku. Lalu kita memanggil penghulu, akad nikah, syukuran kalau memang kau tak suka keramaian. Tidak susah bukan? Kau tak perlu menyiapkan uang satu miliar untuk menemui orang tuaku."
"Bukan begitu. Aku hanya cemas." Laki-laki itu kembali mengalihkan pandang. Matanya tampak gelisah. "Ah, kau belum akan mengerti."
Kautatap mukanya yang lembut itu dengan kesal. Sebab apalagi yang memberatkannya membuat keputusan kalau bukan keraguan? Kau merasa dipermainkan, dipojokkan karena posisimu yang lemah sebagai pihak yang berharap.
"Kau malu karena aku lebih tua darimu?" Kaucetuskan pertanyaan itu untuk kesekian puluh kalinya. "Kau malu nanti ditertawakan orang karena menyunting perawan tua?"
"Bukan. Bukan itu. Kumohon sabarlah. Beri aku waktu untuk menenangkan diriku." Tangannya dengan gugup meraih tanganmu. Tangan itu keras dan dingin. "Apakah aku sudah menceritakan masa kecilku padamu?"
Kau merengut. Padanya kau pernah mengaku bahwa kau tak peduli pada masa lalu, yang kaubutuhkan adalah masa depan.
"Kita belum benar-benar saling memahami. Terlebih, kau belum benar-benar tahu siapa aku."
"Apakah kau bekas tahanan atau mantan pembunuh bayaran bagiku persetan. Kita dapat lebih mendekatkan diri setelah pernikahan, bukan? Itu kalau kau benar-benar serius."
"Tentu saja aku serius, tapi tak semudah itu. Kau belum benar-benar mengenalku. Aku tak ingin kau menyesal nanti."
"Mengenal bagaimana lagi? Sudah hampir dua tahun kita berhubungan. Masih belum cukup?"
"Coba lihat mataku."
Tapi kau sudah kehabisan kesabaran. Kau bosan mengalami adegan yang berulang-ulang. Kausambar tas kecilmu. Berdiri meninggalkan meja dengan marah. ?Apakah aku harus melihatmu telanjang dulu dan kau pun melihatku telanjang, baru perkenalan itu cukup??
Kau berlari keluar.
Di meja, tangannya yang kejang telah meremas gelas hingga pecah. Dia pun kemudian berlari menyusulmu.
***
"Baiklah, mungkin sebaiknya kita berpisah." Kau menghentikan langkah di depan rumah. Hujan bulan November malam itu tak turun. Keluargamu sudah tidur. Hanya lampu teras yang masih menyala. Taksi kuning dengan AC rusak itu telah melaju mencari penumpang baru. ?Aku tak akan mati bila tak kaunikahi!? Kau meradang kehilangan romantisme. Egomu sebagai perempuan membuatmu melontarkan makian yang sesungguhnya sangat bertentangan dengan hati nuranimu.
Dia tertegun beberapa saat lalu merentangkan tangan hendak merangkulmu. Kau buru-buru mengambil jarak.
"Menjadi perawan tua memang sakit, tetapi menjadi pengemis jauh lebih sakit!"
"Aku berjanji akan menikahimu!"
"Sejak setahun lalu kauucapkan itu tanpa bukti!"
"Aku belum..."
"Belum mau sebelum mengenalku luar dalam? Kawinlah dengan pelacur!" Kau memang telah berniat menyerahkan dirimu bulat-bulat padanya kalau itu yang dia jadikan syarat. Tetapi kegeramanmu akibat sikap tak konsistennya membuatmu memilih seteru. Rasanya tak berguna kau punya pasangan yang plin-plan.
Dia berdiri kaku di depanmu. Giginya bergemeletuk tetapi kau tak mendengar. Di balik dadanya yang ingin kaujadikan tempat menyandarkan kepala itu, hatinya menggelegak marah karena merasa terhina.
"Aku memang lebih muda tiga tahun darimu, tapi jangan kaukira aku tak punya komitmen! Sekali aku berkata iya, tak akan pernah kuganti tidak."
"Lalu apa yang telah kaujanjikan empat kali itu?"
"Aku tak pernah membatalkannya, bukan? Aku hanya minta ditunda. Tak bisakah kau mengerti agak sedikit?"
"Pengertian apalagi yang harus kuberikan? Kalau kau memang tak sudi, ya, kita akhiri saja. Aku bisa mencari laki-laki lain yang bisa dipegang kata-katanya, dan kau bisa mencari perempuan lain yang bisa kabar menunggu janji-janjimu!"
"Fem!"
"Menyesal aku telah membuang-buang waktuku dengan seorang pembual yang pengecut!"
"Jaga mulutmu! Kau menyinggung perasaanku!"
"Oh ya? Apakah kau tidak sekalipun menyakiti perasaanku?!"
"Sudah! Sudah! Cukup! Aku tak ingin bertengkar."
"Oh ya? Berarti kau memang belum mengenalku!"
"Sebaiknya aku pamit dulu. Mari kita tenangkan diri masing-masing." Dia menarik napas dan mengusap mukanya.
Kau melemparkan sebuah cibiran buruk. "Pergilah! Tak usah ke sini lagi. Aku sudah bosan melihatmu. Kau bukan laki-laki. Potong saja kemaluanmu!"
Dia tersengat mendengar ucapanmu yang kasar itu. Telinganya panas. Tak menyangka perkataan itu bisa keluar dari mulutmu. Kau sendiri juga terkejut dan merasa sangat menyesal dengan kata-kata yang terlanjur lepas itu. Belum sempat kau menarik ucapanmu, tiba-tiba tangannya telah mencekal lehermu membuat napasmu seperti akan putus. Kau ingin menjerit tetapi cengkeramannya begitu kuat. Rahangmu terasa perih. Tanganmu berusaha melepaskan tangannya, tetapi tenagamu sangat tidak sebanding dengan kekuatannya.
"Kau telah memancing kemarahan yang mati-matian kuredam!" Napasnya bergemuruh. Hidungnya mendengus-dengus seperti banteng siap menanduk. "Kenapa perempuan pandainya hanya membuat laki-laki jadi binatang?! Kukira kau seorang perempuan yang lembut dan sopan!"
Tanganmu mencakar dadanya. ?Cuuh...!?
Wajahnya semakin mengeras melihat air ludahmu yang menyembur. Tangannya berayun.
Plaak! Plaak!
Tubuhmu luruh begitu saja ke tanah. Seperti tak punya tulang. Kau merasa jantungmu lepas. Baru sekali itu kau ditampar.
Dia tertegun. Napasnya tetap juga bergemuruh. "Kau... Kau membuatku marah...."
Kakinya tampak olehmu bergetar. Kau merasa tak mengenalnya sama sekali. Lalu kesedihan paling dingin mulai mencucuk hatimu. Kau berdiri. Sekilas menjenguk matanya, memastikan apakah dia memang kekasih plin-plan-mu yang selalu menunda-nunda hari pernikahan. Dia memandangmu dengan tatapan seorang kanak-kanak yang bersalah.
Asing.
Tanganmu menyentuh darah yang meleleh dari sudut bibirmu. Tubuhmu menggigil dan air matamu berloncatan.
***
"Maafkan aku, Fem. Aku sungguh ingin segera menikahimu. Hanya saja aku cemas akan seperti bapakku. Selalu memperlakukan istrinya dengan tangan yang keras." Itu yang ingin dia ucapkan padamu malam itu, tetapi kau telah berlari masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Pagi ini kau menemukannya telah diam dengan mata seolah sedang bicara. Dia jatuh dari menara air, itu yang kaudengar dari para tetangga.***
Ilalangsenja, Padang, November 2006
Dimuat di Media Indonesia 21/01/2007
KAU menemukannya hari Jumat pagi pukul delapan. Diam. Matanya sedih memandang. Bibirnya yang pucat, terkuak sedikit seperti ingin mengatakan sesuatu. Kau menangis. Tubuhnya yang dingin berselimut kain batik kauguncang-guncang. Air matamu jatuh ke mukanya. Tapi dia tetap tak bersuara.Hanya matanya yang terbuka, seperti sedang bicara.
***
Kau membanting pintu taksi dan berlari ke gerbang yang sudah tertutup pagarnya. Dia mengejarmu setelah melemparkan uang ke tangan si sopir yang belum sempat menuntaskan umpatan karena kalian begitu ribut selama perjalanan. Dia mencekal tanganmu. Kau menepisnya dengan kasar lalu membuka pintu pagar.
"Dengarkan aku dulu, Fem!" Serunya berkali-kali.
Hatimu sakit, lebih-lebih karena malam itu dia belum juga memberikan sebuah jawaban yang kauharapkan. Kau merasa dipermainkan oleh dia yang sungguh-sungguh ingin kaucintai. Tetapi apa yang kaudapat? Hanya seringai tipis di bibir bengkok yang membuat kerongkonganmu seperti ditumbuhi duri-duri yang gatal menyakitkan.
Kau benar-benar ingin menangis. Sore sebelum kalian berangkat ke kafe, di depan cermin dandan di kamar, kau telah meyakinkan diri akan melakukan tindakan paling nekat sekali pun untuk menggerakkan lidahnya mengucapkan apa yang ingin kaudengar.
"Kalau kau inginkan keikhlasan tubuhku, akan kurelakan tanpa sedu-sedan." Begitu tekadmu sambil menyamarkan kerutan-kerutan di bawah mata. Sengaja kau tampil secantik mungkin mengingat November sudah akan berakhir; itu artinya tahun baru tinggal sebulan lagi dan kau dengan memalukan akan menjadi nona tua tiga puluh lima tahun.
Di mana letak kejelekanmu sehingga tak kunjung ada seorang laki-laki yang benar-benar bertambat? Mereka hanya sekadar mampir sebagai teman dekat. Kencan yang hanya menyia-nyiakan waktu dan hasrat. Apa kekuranganmu? Ibumu bilang kau cantik sekali. Begitu pula kata bapak dan adik-adikmu yang semuanya sudah menikah.
Mereka mafhum benar perjuanganmu, diet keras yang membuatmu nyaris berkamar di dalam tanah; ikut senam aerobik, lulur di spa dan mandi sauna, kau juga masih menggunakan krim yang disarankan temanmu untuk memperbesar dan memperkencang payudara agar mata para lelaki terjerat lekat ke tubuhmu. Kau juga rajin merawat organ kewanitaanmu dengan terapi air daun sirih. Tetapi tak juga ada laki-laki yang datang menemui orang tuamu untuk meminang.
Sanak saudara curiga ada orang jahat yang mengguna-gunaimu sehingga kau terhalang jodoh. Kau pun dimandikan dengan air bunga rampai di depan rumah. Tujuh tahun yang lalu. Tetapi tetap saja nihil. Kau masih sendirian. Kadang kewalahan menahan rasa frustrasi yang menyeretmu ke ruang makan untuk melampiaskan segala nelangsa dengan memakan semua yang kausuka. Akibatnya kau pun jadi pontang-panting diet lagi. Dan hampir setiap pagi keluargamu akan menemukanmu bangun dengan mata sembab bekas menangis.
Dan kau menemukannya satu setengah tahun lalu. Laki-laki pemurung yang sering kehilangan kata-kata. Tetapi dia sopan, dengan tatapan mata yang baik seperti balita tanpa tabungan dosa.
***
"Jadi, apa lagi yang harus ditunggu?" Desakmu di kafe kemarin malam. Sudah satu jam kalian duduk dengan perbincangan yang berputar-putar. "Kau punya pekerjaan yang mapan. Aku juga. Usia kita juga sudah matang. Keluargaku mendukung. Aku sudah siap lahir batin. Apalagi yang ditunggu?"
"Beri aku waktu." Laki-laki itu tampak resah. Butiran-butiran keringat memercik di keningnya. Ingin sekali kau mengulurkan tangan untuk menyekanya dengan saputangan, tapi dadamu sudah terlanjur gerah. Hidangan di depan kalian tinggal dingin habis diaduk-aduk.
"Ini kali keempat kau mengundurnya."
"Aku belum siap."
"Belum siap? Belum siap apa, Sayang? Kau hanya perlu datang ke rumahku, meminta pada kedua orang tuaku. Lalu kita memanggil penghulu, akad nikah, syukuran kalau memang kau tak suka keramaian. Tidak susah bukan? Kau tak perlu menyiapkan uang satu miliar untuk menemui orang tuaku."
"Bukan begitu. Aku hanya cemas." Laki-laki itu kembali mengalihkan pandang. Matanya tampak gelisah. "Ah, kau belum akan mengerti."
Kautatap mukanya yang lembut itu dengan kesal. Sebab apalagi yang memberatkannya membuat keputusan kalau bukan keraguan? Kau merasa dipermainkan, dipojokkan karena posisimu yang lemah sebagai pihak yang berharap.
"Kau malu karena aku lebih tua darimu?" Kaucetuskan pertanyaan itu untuk kesekian puluh kalinya. "Kau malu nanti ditertawakan orang karena menyunting perawan tua?"
"Bukan. Bukan itu. Kumohon sabarlah. Beri aku waktu untuk menenangkan diriku." Tangannya dengan gugup meraih tanganmu. Tangan itu keras dan dingin. "Apakah aku sudah menceritakan masa kecilku padamu?"
Kau merengut. Padanya kau pernah mengaku bahwa kau tak peduli pada masa lalu, yang kaubutuhkan adalah masa depan.
"Kita belum benar-benar saling memahami. Terlebih, kau belum benar-benar tahu siapa aku."
"Apakah kau bekas tahanan atau mantan pembunuh bayaran bagiku persetan. Kita dapat lebih mendekatkan diri setelah pernikahan, bukan? Itu kalau kau benar-benar serius."
"Tentu saja aku serius, tapi tak semudah itu. Kau belum benar-benar mengenalku. Aku tak ingin kau menyesal nanti."
"Mengenal bagaimana lagi? Sudah hampir dua tahun kita berhubungan. Masih belum cukup?"
"Coba lihat mataku."
Tapi kau sudah kehabisan kesabaran. Kau bosan mengalami adegan yang berulang-ulang. Kausambar tas kecilmu. Berdiri meninggalkan meja dengan marah. ?Apakah aku harus melihatmu telanjang dulu dan kau pun melihatku telanjang, baru perkenalan itu cukup??
Kau berlari keluar.
Di meja, tangannya yang kejang telah meremas gelas hingga pecah. Dia pun kemudian berlari menyusulmu.
***
"Baiklah, mungkin sebaiknya kita berpisah." Kau menghentikan langkah di depan rumah. Hujan bulan November malam itu tak turun. Keluargamu sudah tidur. Hanya lampu teras yang masih menyala. Taksi kuning dengan AC rusak itu telah melaju mencari penumpang baru. ?Aku tak akan mati bila tak kaunikahi!? Kau meradang kehilangan romantisme. Egomu sebagai perempuan membuatmu melontarkan makian yang sesungguhnya sangat bertentangan dengan hati nuranimu.
Dia tertegun beberapa saat lalu merentangkan tangan hendak merangkulmu. Kau buru-buru mengambil jarak.
"Menjadi perawan tua memang sakit, tetapi menjadi pengemis jauh lebih sakit!"
"Aku berjanji akan menikahimu!"
"Sejak setahun lalu kauucapkan itu tanpa bukti!"
"Aku belum..."
"Belum mau sebelum mengenalku luar dalam? Kawinlah dengan pelacur!" Kau memang telah berniat menyerahkan dirimu bulat-bulat padanya kalau itu yang dia jadikan syarat. Tetapi kegeramanmu akibat sikap tak konsistennya membuatmu memilih seteru. Rasanya tak berguna kau punya pasangan yang plin-plan.
Dia berdiri kaku di depanmu. Giginya bergemeletuk tetapi kau tak mendengar. Di balik dadanya yang ingin kaujadikan tempat menyandarkan kepala itu, hatinya menggelegak marah karena merasa terhina.
"Aku memang lebih muda tiga tahun darimu, tapi jangan kaukira aku tak punya komitmen! Sekali aku berkata iya, tak akan pernah kuganti tidak."
"Lalu apa yang telah kaujanjikan empat kali itu?"
"Aku tak pernah membatalkannya, bukan? Aku hanya minta ditunda. Tak bisakah kau mengerti agak sedikit?"
"Pengertian apalagi yang harus kuberikan? Kalau kau memang tak sudi, ya, kita akhiri saja. Aku bisa mencari laki-laki lain yang bisa dipegang kata-katanya, dan kau bisa mencari perempuan lain yang bisa kabar menunggu janji-janjimu!"
"Fem!"
"Menyesal aku telah membuang-buang waktuku dengan seorang pembual yang pengecut!"
"Jaga mulutmu! Kau menyinggung perasaanku!"
"Oh ya? Apakah kau tidak sekalipun menyakiti perasaanku?!"
"Sudah! Sudah! Cukup! Aku tak ingin bertengkar."
"Oh ya? Berarti kau memang belum mengenalku!"
"Sebaiknya aku pamit dulu. Mari kita tenangkan diri masing-masing." Dia menarik napas dan mengusap mukanya.
Kau melemparkan sebuah cibiran buruk. "Pergilah! Tak usah ke sini lagi. Aku sudah bosan melihatmu. Kau bukan laki-laki. Potong saja kemaluanmu!"
Dia tersengat mendengar ucapanmu yang kasar itu. Telinganya panas. Tak menyangka perkataan itu bisa keluar dari mulutmu. Kau sendiri juga terkejut dan merasa sangat menyesal dengan kata-kata yang terlanjur lepas itu. Belum sempat kau menarik ucapanmu, tiba-tiba tangannya telah mencekal lehermu membuat napasmu seperti akan putus. Kau ingin menjerit tetapi cengkeramannya begitu kuat. Rahangmu terasa perih. Tanganmu berusaha melepaskan tangannya, tetapi tenagamu sangat tidak sebanding dengan kekuatannya.
"Kau telah memancing kemarahan yang mati-matian kuredam!" Napasnya bergemuruh. Hidungnya mendengus-dengus seperti banteng siap menanduk. "Kenapa perempuan pandainya hanya membuat laki-laki jadi binatang?! Kukira kau seorang perempuan yang lembut dan sopan!"
Tanganmu mencakar dadanya. ?Cuuh...!?
Wajahnya semakin mengeras melihat air ludahmu yang menyembur. Tangannya berayun.
Plaak! Plaak!
Tubuhmu luruh begitu saja ke tanah. Seperti tak punya tulang. Kau merasa jantungmu lepas. Baru sekali itu kau ditampar.
Dia tertegun. Napasnya tetap juga bergemuruh. "Kau... Kau membuatku marah...."
Kakinya tampak olehmu bergetar. Kau merasa tak mengenalnya sama sekali. Lalu kesedihan paling dingin mulai mencucuk hatimu. Kau berdiri. Sekilas menjenguk matanya, memastikan apakah dia memang kekasih plin-plan-mu yang selalu menunda-nunda hari pernikahan. Dia memandangmu dengan tatapan seorang kanak-kanak yang bersalah.
Asing.
Tanganmu menyentuh darah yang meleleh dari sudut bibirmu. Tubuhmu menggigil dan air matamu berloncatan.
***
"Maafkan aku, Fem. Aku sungguh ingin segera menikahimu. Hanya saja aku cemas akan seperti bapakku. Selalu memperlakukan istrinya dengan tangan yang keras." Itu yang ingin dia ucapkan padamu malam itu, tetapi kau telah berlari masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Pagi ini kau menemukannya telah diam dengan mata seolah sedang bicara. Dia jatuh dari menara air, itu yang kaudengar dari para tetangga.***
Ilalangsenja, Padang, November 2006
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Media Indonesia 13/08/2006
DIA ingin pulang, tapi tak tahu harus pulang ke mana. Rumahnya telah terbakar beserta keluarganya. Kenangan tinggallah abu. Maka, setiap kali meninggalkan tempat kerja, ia akan menghabiskan sisa sore dengan berjalan menelusuri koridor pertokoan untuk melihat-lihat pajangan di etalase. Matanya yang berjarak pandang pendek akan tertumbuk pada boneka-boneka perempuan yang dipasangi pakaian bagus di ruang butik. Alangkah cantiknya mereka itu. Berkulit halus, berwajah mulus dengan dada penuh. Ia akan menatap dari sebuah titik dengan berlama-lama sampai seorang perempuan boneka menegurnya dengan suara yang tiris, bertanya dengan tidak yakin, "Cari apa, Bang? Masuklah. Mencari sepotong blus untuk pacarnya, mungkin?"
Dia pun dengan gugup segera memalingkan pandang lalu meneruskan langkah menelusuri koridor pertokoan yang panjang tak berkesudahan. Dia akan menemukan toko atau butik lain yang di ruang pajangnya berjejer boneka-boneka perempuan cantik dengan pose menarik sedang memamerkan pakaian yang menempel di tubuh mereka. Matanya yang berjarak pandang pendek akan hinggap di kulit halus, wajah mulus, dan dada penuh. Dia akan menghirup napas berisi gumpalan-gumpalan angan yang membuat dadanya sesak sendiri sampai seorang perempuan boneka menegurnya dengan suara tiris, bertanya dengan tidak yakin, "Cari apa, Bang? Masuklah. Mencari sepotong blus untuk pacarnya, mungkin?"
Dia pun dengan gugup segera memalingkan pandang lalu melata di jalanan yang telah ramai ditumpahi laki-laki dan perempuan-perempuan boneka. Tersaruk-saruk langkahnya hingga dia sampai di depan sebuah pintu yang bertempel gambar seorang atau sebuah boneka perempuan. Dia akan mengetuk daun papan itu berulang kali hingga seorang atau sebuah boneka mengintip dari celah yang menganga, tersenyum, dan menyapanya dengan lincah. "Selamat datang, Sayang."
****
Rumahnya telah terbakar sehingga dia tak bisa pulang. Sebelum rumah dan keluarganya sempurna menjadi abu, dia masih bisa mengingat beberapa potong kenangan.
Ibu dan empat orang kakak perempuannya semuanya jelek. Itu sebut bapaknya selalu. Mereka tak ada apa-apanya. Rambut mereka jelek, telinga mereka jelek, pipi mereka jelek, alis mereka jelek, mata mereka jelek, hidung mereka jelek, bibir mereka jelek, gigi mereka jelek, dagu mereka jelek, leher mereka jelek, pundak mereka jelek, susu mereka jelek, tangan mereka jelek, pinggang mereka jelek, perut mereka jelek, pinggul mereka jelek, kemaluan mereka jelek, paha mereka jelek, betis mereka jelek, kaki mereka jelek, suara mereka jelek, bau mereka jelek, pikiran mereka jelek, semua mereka jelek.
Entah kenapa bapaknya berkata seperti itu. Di matanya, ibu dan kakak-kakak perempuannya tidak berbeda dengan perempuan kampung yang lain. Mereka selalu rajin mengurus rumah, giat bekerja di sawah dan di ladang, rutin mandi dan mencuci ke tepian, ke pasar sekali sepekan, pintar memasak, bicara lunak-lunak, melayani bapaknya dengan baik-baik meski merekalah yang mempunyai kuasa atas tanah, harta, dan rumah.
Bapaknya selalu marah-marah setiap saat pada mereka berlima. Mencaci-maki tanpa henti. "Babi! Babi!" Begitu serunya. Dia tak mengerti di mana letak kemiripan perempuan-perempuan itu dengan babi, tapi setiap kali bertanya, bapaknya dengan lantang akan berkata padanya, "Kau laki-laki, lebih tinggi dari perempuan. Mereka hanya babi."
Dia tak benar-benar mengerti maksud perkataan itu, namun dicobanya juga meresapi sebab bapaknya selalu bersikap baik dan hangat padanya. Setiap kali di televisi atau koran atau majalah ada gambar babi, akan diperhatikannya dengan saksama. Dia memang tak menemukan sedikit pun kesamaan antara bagian-bagian tubuh binatang itu dengan ibu dan empat orang kakak perempuannya, dia hanya mendapat kesan jijik dan hina. Pelan-pelan dia menelan petuah bapaknya bahwa perempuan-perempuan itu hanya babi. Dia lebih tinggi dari mereka sebab bapaknya tak pernah mengatakan bahwa dia babi.
Di hari libur, bapaknya akan mengajaknya pergi berburu babi dengan teman-temannya ke hutan di bukit pinggir perkampungan. Mereka akan berangkat pagi-pagi bersama anjing-anjing mereka yang gagah dan wangi--anjing-anjing itu selalu dimandikan dengan sabun dan sampo yang diiklankan oleh perempuan cantik dan diberi makanan baik. Dengan sukacita, dia kadang menggendong anjing-anjing bapaknya, apalagi si loreng yang patuh dan bersalak nyaring.
"Apakah kita sama dengan anjing?" Tanyanya suatu waktu setelah anjing-anjing mereka yang pemberani berhasil merebahkan seekor babi gemuk.
Bapaknya menyeringai memperlihatkan sepasang taring yang kentara. "Ya! Ya! Bolehlah begitu. Anjing; pemburu dan penakluk babi. Kenapa tidak. Nanti kau akan kuajari menundukkan babi-babi itu!"
Dalam rentang perkembangannya, dia pun menjadi yakin bahwa dia dan bapaknya adalah anjing dan ibu beserta empat kakak perempuannya adalah babi. Anjing dan babi. Anjing yang mengalahkan babi. Dia pun bersikap seperti bapaknya bersikap kepada ibu dan keempat kakak perempuannya. Dengan pintar dia mempelajari cara bapaknya bicara, memandang, makan, meludah, merokok, memerintah, menyapa, marah, kencing, tidur, berjalan, sampai dia dapat menirukan gaya salak, lolong, dengus, sampai gonggong dari mulut bapaknya.
Dia mempraktikkannya sehingga ibu dan kakak-kakak perempuannya menjadi kecut padanya seperti babi yang takut dikejar anjing di semak-semak.
***
Boneka itu mengusap pipinya. Matanya yang indah sesekali berkedip. "Tidurlah, Sayang. Bermimpilah yang indah." Katanya sambil tersenyum.
Dia ikut tersenyum. Menatap wajah boneka itu dengan rasa terima kasih bertambah-tambah. Sinar lampu kamar itu lunak menenteramkan. Boneka itu pandai sekali menciptakan suasana yang nyaman.
"Kau pun tidurlah. Hari sudah malam." Diangkatnya kepala untuk mendaratkan sebuah kecupan kecil di dahi boneka itu. Boneka itu memicingkan mata dengan bibir tetap tersenyum. Mereka merasa bahagia dengan malam yang sederhana.
Dia menatap langit-langit. Menghirup udara kamar yang beraroma sintetik. Direkanya gambar-gambar pada bidang-bidang pudar langit-langit. Wajah-wajah. Sketsa-sketsa. Detail-detail. Rupa-rupa itu tersapu oleh warna abu lalu nyala api. Dia menarik napas. Menoleh sekilas pada boneka di sebelahnya yang tertidur dengan bunyi dengkur tertegun-tegun. Kulitnya tak halus, wajahnya tak mulus, dan dadanya tak penuh.
Dialihkannya pandangan ke tubuhnya sendiri. Pernah dia membayangkan dirinya bersosok anjing dengan suara salak yang tampan. Dia akan berburu ke padang-padang dan lembah-lembah berbabi banyak dan memangsa mereka. Atau dia akan berjalan-jalan saja dengan jantan memperlihatkan kerupawanannya yang mengagumkan.
Dia telah melakukan.
Tetapi dia rindu rumah. Rindu pulang.
Tetapi ke mana?
Rumah telah terbakar bersama bapak anjing serta ibu dan kakak-kakak perempuan babinya.
***
Setiap kali meninggalkan tempat kerja, dia akan menghabiskan sisa sore di sepanjang koridor pertokoan yang tak berkesudahan. Melihat-lihat orang yang berlalu lalang. Melihat-lihat pajangan. Melihat-lihat boneka-boneka perempuan yang tertegak menawan dengan pakaian bagus membalut kulit halus, wajah mulus, dan dada penuh. Dia akan memandang mesra dari sebuah titik mengajak boneka-boneka perempuan itu bercakap-cakap tentang harapan dan angan-angan.
"Aku ingin perempuan yang setia, yang selalu melayaniku dengan hangat. Kaukah itu?" Bisiknya setengah merayu.
Boneka perempuan berbaju tipis itu menggelinjang kecil. "Ya, itulah aku. Aku akan selalu setia dan melayanimu dengan hangat."
"Aku ingin perempuan yang selalu menyambutku dengan senyuman dan segelas air dingin setiap aku pulang kerja dalam kelelahan."
"Ya, benar, itulah aku. Aku akan selalu menyambutmu dengan senyuman dan segelas air dingin setiap kau pulang kerja dalam kelelahan."
"Aku ingin perempuan yang dapat membahagiakan hasratku."
"Tentu, itulah aku. Aku akan membahagiakan hasratmu. Tak salah lagi. Kau yang utama bagiku."
"Aku ingin perempuan yang tidak terlalu tolol untuk teman bicara dan bertukar pikiran tetapi tak terlampau cerdas membuatku jadi keledai dungu dengan perdebatannya."
"Aiih, itulah aku. Aku tak terlalu tolol untuk teman bicara dan bertukar pikiran tetapi tak terlampau cerdas membuatmu jadi keledai dungu. Aku tak akan mendebatmu, membuatmu jadi kalah, cukuplah orang-orang di luar sana yang menyerangmu habis-habisan." Boneka perempuan itu memandangnya mesra.
Dia menarik napas. Orang-orang berlalu-lalang. Laki-laki dan perempuan-perempuan boneka. Sebelumnya dia selalu memerhatikan perempuan-perempuan yang ditemuinya dengan saksama. Ada yang berhidung pesek, ada yang ramping aduhai, ada yang hitam, ada yang berambut pirang, ada yang jerawatan, ada yang harum semerbak, ada yang suka tertawa lebar, ada yang berperut buncit, ada yang berbokong besar, ada yang sipit, ada yang... amat banyak dan beragam. Hidup. Bernapas. Bersuara. Berbau.
Tapi dia selalu teringat pada rumah yang terbakar itu, pada orang-orangnya: anjing dan babi.
***
Sore sebentar lagi tuntas. Dia masih berdiri pada sebuah titik di depan sebuah butik. Matanya tak mau beranjak dari boneka perempuan berpakaian pengantin yang tegak di ruang pajang dengan begitu elok. Penciptanya dengan berhasil memberikan ekspresi seorang perempuan terhormat. Tubuhnya semampai, molek dalam balutan kain menjuntai, dan matanya sedikit menunduk malu seperti tersipu oleh tatapan tajam laki-laki itu. Mereka bercakap-cakap.
Laki-laki itu terus bicara dengan bonekanya, sampai sore tuntas dan perempuan boneka yang berdiri anggun di pintu masuk kehabisan kesabaran lantas menegurnya dengan suara yang tiris, bertanya dengan tidak yakin, "Cari apa, Bang?" ***
Ilalangsenja, Mei 2006
Dimuat di Media Indonesia 13/08/2006
DIA ingin pulang, tapi tak tahu harus pulang ke mana. Rumahnya telah terbakar beserta keluarganya. Kenangan tinggallah abu. Maka, setiap kali meninggalkan tempat kerja, ia akan menghabiskan sisa sore dengan berjalan menelusuri koridor pertokoan untuk melihat-lihat pajangan di etalase. Matanya yang berjarak pandang pendek akan tertumbuk pada boneka-boneka perempuan yang dipasangi pakaian bagus di ruang butik. Alangkah cantiknya mereka itu. Berkulit halus, berwajah mulus dengan dada penuh. Ia akan menatap dari sebuah titik dengan berlama-lama sampai seorang perempuan boneka menegurnya dengan suara yang tiris, bertanya dengan tidak yakin, "Cari apa, Bang? Masuklah. Mencari sepotong blus untuk pacarnya, mungkin?"Dia pun dengan gugup segera memalingkan pandang lalu meneruskan langkah menelusuri koridor pertokoan yang panjang tak berkesudahan. Dia akan menemukan toko atau butik lain yang di ruang pajangnya berjejer boneka-boneka perempuan cantik dengan pose menarik sedang memamerkan pakaian yang menempel di tubuh mereka. Matanya yang berjarak pandang pendek akan hinggap di kulit halus, wajah mulus, dan dada penuh. Dia akan menghirup napas berisi gumpalan-gumpalan angan yang membuat dadanya sesak sendiri sampai seorang perempuan boneka menegurnya dengan suara tiris, bertanya dengan tidak yakin, "Cari apa, Bang? Masuklah. Mencari sepotong blus untuk pacarnya, mungkin?"
Dia pun dengan gugup segera memalingkan pandang lalu melata di jalanan yang telah ramai ditumpahi laki-laki dan perempuan-perempuan boneka. Tersaruk-saruk langkahnya hingga dia sampai di depan sebuah pintu yang bertempel gambar seorang atau sebuah boneka perempuan. Dia akan mengetuk daun papan itu berulang kali hingga seorang atau sebuah boneka mengintip dari celah yang menganga, tersenyum, dan menyapanya dengan lincah. "Selamat datang, Sayang."
****
Rumahnya telah terbakar sehingga dia tak bisa pulang. Sebelum rumah dan keluarganya sempurna menjadi abu, dia masih bisa mengingat beberapa potong kenangan.
Ibu dan empat orang kakak perempuannya semuanya jelek. Itu sebut bapaknya selalu. Mereka tak ada apa-apanya. Rambut mereka jelek, telinga mereka jelek, pipi mereka jelek, alis mereka jelek, mata mereka jelek, hidung mereka jelek, bibir mereka jelek, gigi mereka jelek, dagu mereka jelek, leher mereka jelek, pundak mereka jelek, susu mereka jelek, tangan mereka jelek, pinggang mereka jelek, perut mereka jelek, pinggul mereka jelek, kemaluan mereka jelek, paha mereka jelek, betis mereka jelek, kaki mereka jelek, suara mereka jelek, bau mereka jelek, pikiran mereka jelek, semua mereka jelek.
Entah kenapa bapaknya berkata seperti itu. Di matanya, ibu dan kakak-kakak perempuannya tidak berbeda dengan perempuan kampung yang lain. Mereka selalu rajin mengurus rumah, giat bekerja di sawah dan di ladang, rutin mandi dan mencuci ke tepian, ke pasar sekali sepekan, pintar memasak, bicara lunak-lunak, melayani bapaknya dengan baik-baik meski merekalah yang mempunyai kuasa atas tanah, harta, dan rumah.
Bapaknya selalu marah-marah setiap saat pada mereka berlima. Mencaci-maki tanpa henti. "Babi! Babi!" Begitu serunya. Dia tak mengerti di mana letak kemiripan perempuan-perempuan itu dengan babi, tapi setiap kali bertanya, bapaknya dengan lantang akan berkata padanya, "Kau laki-laki, lebih tinggi dari perempuan. Mereka hanya babi."
Dia tak benar-benar mengerti maksud perkataan itu, namun dicobanya juga meresapi sebab bapaknya selalu bersikap baik dan hangat padanya. Setiap kali di televisi atau koran atau majalah ada gambar babi, akan diperhatikannya dengan saksama. Dia memang tak menemukan sedikit pun kesamaan antara bagian-bagian tubuh binatang itu dengan ibu dan empat orang kakak perempuannya, dia hanya mendapat kesan jijik dan hina. Pelan-pelan dia menelan petuah bapaknya bahwa perempuan-perempuan itu hanya babi. Dia lebih tinggi dari mereka sebab bapaknya tak pernah mengatakan bahwa dia babi.
Di hari libur, bapaknya akan mengajaknya pergi berburu babi dengan teman-temannya ke hutan di bukit pinggir perkampungan. Mereka akan berangkat pagi-pagi bersama anjing-anjing mereka yang gagah dan wangi--anjing-anjing itu selalu dimandikan dengan sabun dan sampo yang diiklankan oleh perempuan cantik dan diberi makanan baik. Dengan sukacita, dia kadang menggendong anjing-anjing bapaknya, apalagi si loreng yang patuh dan bersalak nyaring.
"Apakah kita sama dengan anjing?" Tanyanya suatu waktu setelah anjing-anjing mereka yang pemberani berhasil merebahkan seekor babi gemuk.
Bapaknya menyeringai memperlihatkan sepasang taring yang kentara. "Ya! Ya! Bolehlah begitu. Anjing; pemburu dan penakluk babi. Kenapa tidak. Nanti kau akan kuajari menundukkan babi-babi itu!"
Dalam rentang perkembangannya, dia pun menjadi yakin bahwa dia dan bapaknya adalah anjing dan ibu beserta empat kakak perempuannya adalah babi. Anjing dan babi. Anjing yang mengalahkan babi. Dia pun bersikap seperti bapaknya bersikap kepada ibu dan keempat kakak perempuannya. Dengan pintar dia mempelajari cara bapaknya bicara, memandang, makan, meludah, merokok, memerintah, menyapa, marah, kencing, tidur, berjalan, sampai dia dapat menirukan gaya salak, lolong, dengus, sampai gonggong dari mulut bapaknya.
Dia mempraktikkannya sehingga ibu dan kakak-kakak perempuannya menjadi kecut padanya seperti babi yang takut dikejar anjing di semak-semak.
***
Boneka itu mengusap pipinya. Matanya yang indah sesekali berkedip. "Tidurlah, Sayang. Bermimpilah yang indah." Katanya sambil tersenyum.
Dia ikut tersenyum. Menatap wajah boneka itu dengan rasa terima kasih bertambah-tambah. Sinar lampu kamar itu lunak menenteramkan. Boneka itu pandai sekali menciptakan suasana yang nyaman.
"Kau pun tidurlah. Hari sudah malam." Diangkatnya kepala untuk mendaratkan sebuah kecupan kecil di dahi boneka itu. Boneka itu memicingkan mata dengan bibir tetap tersenyum. Mereka merasa bahagia dengan malam yang sederhana.
Dia menatap langit-langit. Menghirup udara kamar yang beraroma sintetik. Direkanya gambar-gambar pada bidang-bidang pudar langit-langit. Wajah-wajah. Sketsa-sketsa. Detail-detail. Rupa-rupa itu tersapu oleh warna abu lalu nyala api. Dia menarik napas. Menoleh sekilas pada boneka di sebelahnya yang tertidur dengan bunyi dengkur tertegun-tegun. Kulitnya tak halus, wajahnya tak mulus, dan dadanya tak penuh.
Dialihkannya pandangan ke tubuhnya sendiri. Pernah dia membayangkan dirinya bersosok anjing dengan suara salak yang tampan. Dia akan berburu ke padang-padang dan lembah-lembah berbabi banyak dan memangsa mereka. Atau dia akan berjalan-jalan saja dengan jantan memperlihatkan kerupawanannya yang mengagumkan.
Dia telah melakukan.
Tetapi dia rindu rumah. Rindu pulang.
Tetapi ke mana?
Rumah telah terbakar bersama bapak anjing serta ibu dan kakak-kakak perempuan babinya.
***
Setiap kali meninggalkan tempat kerja, dia akan menghabiskan sisa sore di sepanjang koridor pertokoan yang tak berkesudahan. Melihat-lihat orang yang berlalu lalang. Melihat-lihat pajangan. Melihat-lihat boneka-boneka perempuan yang tertegak menawan dengan pakaian bagus membalut kulit halus, wajah mulus, dan dada penuh. Dia akan memandang mesra dari sebuah titik mengajak boneka-boneka perempuan itu bercakap-cakap tentang harapan dan angan-angan.
"Aku ingin perempuan yang setia, yang selalu melayaniku dengan hangat. Kaukah itu?" Bisiknya setengah merayu.
Boneka perempuan berbaju tipis itu menggelinjang kecil. "Ya, itulah aku. Aku akan selalu setia dan melayanimu dengan hangat."
"Aku ingin perempuan yang selalu menyambutku dengan senyuman dan segelas air dingin setiap aku pulang kerja dalam kelelahan."
"Ya, benar, itulah aku. Aku akan selalu menyambutmu dengan senyuman dan segelas air dingin setiap kau pulang kerja dalam kelelahan."
"Aku ingin perempuan yang dapat membahagiakan hasratku."
"Tentu, itulah aku. Aku akan membahagiakan hasratmu. Tak salah lagi. Kau yang utama bagiku."
"Aku ingin perempuan yang tidak terlalu tolol untuk teman bicara dan bertukar pikiran tetapi tak terlampau cerdas membuatku jadi keledai dungu dengan perdebatannya."
"Aiih, itulah aku. Aku tak terlalu tolol untuk teman bicara dan bertukar pikiran tetapi tak terlampau cerdas membuatmu jadi keledai dungu. Aku tak akan mendebatmu, membuatmu jadi kalah, cukuplah orang-orang di luar sana yang menyerangmu habis-habisan." Boneka perempuan itu memandangnya mesra.
Dia menarik napas. Orang-orang berlalu-lalang. Laki-laki dan perempuan-perempuan boneka. Sebelumnya dia selalu memerhatikan perempuan-perempuan yang ditemuinya dengan saksama. Ada yang berhidung pesek, ada yang ramping aduhai, ada yang hitam, ada yang berambut pirang, ada yang jerawatan, ada yang harum semerbak, ada yang suka tertawa lebar, ada yang berperut buncit, ada yang berbokong besar, ada yang sipit, ada yang... amat banyak dan beragam. Hidup. Bernapas. Bersuara. Berbau.
Tapi dia selalu teringat pada rumah yang terbakar itu, pada orang-orangnya: anjing dan babi.
***
Sore sebentar lagi tuntas. Dia masih berdiri pada sebuah titik di depan sebuah butik. Matanya tak mau beranjak dari boneka perempuan berpakaian pengantin yang tegak di ruang pajang dengan begitu elok. Penciptanya dengan berhasil memberikan ekspresi seorang perempuan terhormat. Tubuhnya semampai, molek dalam balutan kain menjuntai, dan matanya sedikit menunduk malu seperti tersipu oleh tatapan tajam laki-laki itu. Mereka bercakap-cakap.
Laki-laki itu terus bicara dengan bonekanya, sampai sore tuntas dan perempuan boneka yang berdiri anggun di pintu masuk kehabisan kesabaran lantas menegurnya dengan suara yang tiris, bertanya dengan tidak yakin, "Cari apa, Bang?" ***
Ilalangsenja, Mei 2006
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)




