Lereng

Minggu, 15 November 2009 by: Forum Lingkar Pena

Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Media Indonesia 24/06/2007



DIA melangkah ke luar rumah melalui pintu dapur setelah memandangi kuduk istrinya yang hitam berdaki. Ada rasa jengkel bercampur pedih menggaruk hatinya. Perempuan itu diam saja, seolah tersihir oleh sampadeh dalam belanga yang tengah menggelegak-gelegak. Dia terus menyilang-nyilang kayu bakar agar api di tungku menyala rata. Asap putih-kelabu melayang menembus jerajak.

Disandangnya jerigen ke punggung. Jerigen itu bekas peletak bensin yang dimintanya pada seorang teman yang punya bengkel motor. Telah dipotong bagian atasnya dan diberi gantungan tambang sebesar jari kelingking. Telah dicuci puluhan kali. Dia tak mengisi apa-apa selain sebotol air putih. Di sakunya telah tersedia rokok daun nipah dan mancis. Sebilah parang bergayut di pinggang kanannya membuat langkahnya mirip prajurit hendak bertempur. Kedua belah kakinya hanya dialasi terompa jepang yang talinya disambung tali plastik karena telah putus. Tubuhnya yang hitam-kurus dibungkus dengan celana katun usang warna dongker--pemberian seorang kerabatnya yang menjadi seorang kasi di kantor bupati--dan kaos hijau pucuk pisang— pembagian orang kampanye—yang telah kusam oleh peluh dan getah.

Hidungnya yang besar menghisap udara pukul tiga sore yang kering, lalu menghempaskannya lewat lobang sebelah kiri. Diucapkannya bismillah dan mengayun langkah. Di belakang, dari dalam dapur, istrinya menjengukkan kepala menatap keluar. Memandang punggungnya sambil menelan air mata.

***

Dia mendaki perbukitan itu. Menelusuri jalan setapak yang penuh jejak tapak kaki sapi dan kotorannya yang hitam seperti kue pinyaram. Burung-burung berkicau nyaring ditingkahi jerit siamang di kejauhan. Rumahnya sudah jauh tertinggal di balik bukit penuh ilalang.

Selama perjalanan, dia hanya bertemu beberapa orang pemikat burung dan peladang. Panas matahari sore tak tertahan oleh topi biru pudar yang menutup kepalanya. Sambil lalu, dia telah menebas serumpun batang karamuntiang untuk dibuat suluh. Dia agak letih karena dari pagi mencangkul tanah untuk ditanami cabai dan terung.

"Hati-hati. Aku tak ingin menerimamu pulang patah-patah."

"Tak akan apa-apa. Tempatnya tak terlalu curam. Pekan lalu aku melihat ada sebuah sarang di dahan surian. Tempatnya agak tersuruk, dekat Ngalau Uwia-Uwia. Aku ingin mengambilnya sebelum yang lain tahu."

"Ngalau Uwia-uwia,"

"Jangan risau kau."

Dia tahu istrinya risau. Meski perempuan itu berusaha memasang selubung tabir di mukanya, tetapi dia bukan seorang pesandiwara yang pandai. Pada tarikan wajahnya yang merengut, tergambar sekali kegundahan yang ditahannya di pangkal kerongkongan.

"Aku memang jelek. Malangnya kau yang menikahiku."

"Sudah. Sudah. Aku hanya mau mengambil madu lebah. Tak usah kau berpikir yang tidak-tidak."

Istrinya beranjak ke dapur. Bersibuk-sibuk membersihkan ikan bakok--isi lukah yang diangkat dari banda pagi tadi —untuk dijadikan sampadeh. Dia menggantung tampang kacang panjang di selaian. Kemudian berkemas untuk berangkat ke lereng.

Pffufh..! Pffufh..!

Cabang jalan.

Dia merasa darahnya mengalir cepat. Tegang. Dia sudah berada di bawah lereng. Dihempaskannya napas sekali lagi. Berbelok meninggalkan jalan setapak.

Maafkan aku, bisiknya, seolah mulutnya berada tepat di samping daun telinga istrinya. Aku melakukannya lagi.

Dia mulai mendaki. Berpegang pada akar-akar yang berjalaran, pada tonjolan batu, pada urat kayu yang keluar dari tanah sebab longsor. Tanah lembab oleh lindungan pohon-pohon berdaun lebat. Sesekali dia bertemu pacet penghisap darah yang menempel cepat ke kakinya. Dia jepit hewan lunak itu dengan ibu jari dan telunjuk, lalu mencampakkannya ke tanah. Hutan begitu tenang dan damai. Dia merasakan suatu kebahagiaan yang asing. Sunyi dan bebas. Hanya suara uwia-uwia, tupai, burung-burung, ayam hutan, kera, siamang, kelepak sayap enggang, dan suara lamat air sungai di lembah.

***

Pohon itu tinggi dan besar. Dahan-dahannya menjuntai ke tubir jurang. Sebuah sarang lebah berwarna kuning emas tergantung di bawah sebuah dahan sekitar dua puluh meter dari tanah. Sarang yang penuh madu.

Dia membakar suluh daun karamuntiang. Mengasapi dirinya agar tak diserbu serangga penyengat itu. Asap putih langsung terbang hendak menjangkau pucuk batang kayu yang tinggi tonjang. Dia kencing ke semak untuk mengurangi ketegangan yang mendebuk-debuk dadanya. Setelah siap, diikatnya suluh karamuntiang dengan seutas akar kalimpanan.

Dia pun memanjat.

Tangannya yang berurat liat memeluk batang surian. Menarik tubuhnya seperti seekor beruk pemetik kelapa dari Pariaman. Jari-jari tangannya mengeras. Mencengkeram kulit kayu yang kering keras. Peluh terbit dari pori-pori jangatnya. Dadanya terasa panas. Dia terbayang istrinya yang tadi ditinggalkannya tengah menghadapi belanga tanah liat dan tungku batu di dapur. Semalam, perempuan itu lagi-lagi menepis tangan si laki-laki yang bergetar mengelus perutnya yang dingin.

Tubuhnya sampai di sebuah percabangan dahan. Sebatang beringin dahan tumbuh menempel serupa parasit. Dia melenguh. Rehat sejenak. Matanya menoleh ke lereng bukit di seberang lembah. Dia melihat segerombolan sapi tengah merumput di padang ilalang hijau. Dia melihat seseorang duduk di dekat rumpun sikaduduak. Hatinya menjadi riang sekaligus perih. Dihirupnya udara lembab rimba, kemudian menarik suluh dan kembali memanjat.

Ribuan lebah berdengung mengitari sarang yang melekuk montok seperti akan pecah. Sarang itu sudah penuh berisi madu yang matang. Bau asap suluh menyebabkan tak seekor pun serangga-serangga itu yang menyerangnya. Dia mengeluarkan parang. Sekali lagi mengucap bismillah lalu memotong sarang lebah dan memasukkannya ke dalam jerigen. Meninggalkan sedikit untuk dibangun sarang baru oleh binatang-binatang pintar yang rajin itu.

***

Dari jauh, dia sudah melihat gadis itu resah menunggunya. Dia pun memperligat langkah menerabas ilalang dan riburibu. Sapi-sapi berperut gendut tampak masih asyik merumput. Sudah petang. Matahari membuat bayang-bayang bergolek memanjang.

Tali terompanya yang sebelah kiri putus lagi. Telapak kakinya langsung ditancapi tunas ilalang yang runcing. Dia berjalan terpincang-pincang mendekati gadis itu yang duduk di batu hitam dekat rumpun sikaduduak.

Gadis itu menyambutnya panik. Mulutnya komat-kamit diikuti suara sengau dan tangan yang bergerak-gerak.

"Ah, tidak apa-apa. Hanya ranjau lalang."

Dia duduk berjongkok selangkah dari gadis penggembala itu. Meletakkan jerigen berisi madu yang telah ditutupi dengan daun-daun. Membuka topi dan berkipas-kipas sejenak, kemudian menyambung tali terompa. Gadis itu melongokkan kepala menyelidiki apa yang ada di dalam jerigen itu.

"Manisan lebah." Beritahunya sambil melepaskan ikatan botol minuman dari pinggang. "Mau kau?"

Gadis itu tak menyahut. Dan dia tahu apa arti diam. Dipetiknya sehelai daun sikaduduak, meniup-niupnya, membentuknya jadi cerucut, lalu menyauk sedikit madu dari dalam jerigen. Gadis itu menerimanya dengan malu-malu. Kemudian meminum dengan lahap. Menjilat sisa-sisa di daun.

Dia lalu memperlihatkan anyaman daun pandan berduri yang tadi disurukkannya di samping badan.

"Wah, kau membuat apa?"

Wajah belasan tahun yang penuh keringat itu tersipu. Gigi kuningnya menyembul dari celah dua bibirnya yang menghitam karena terlalu sering berpanas-panas. Rambut merah pirang jatuh membingkai wajahnya serupa tirai dari topi kekecilan di kepalanya. Dia baru tumbuh.

"Kau membuat sebuah tas?"

Tangan yang berkuku kehitaman itu menunjuk botol plastik yang dipegang laki-laki itu.

"Kau mau minum."

Gadis itu menggeleng dan menggerakkan tangan mengisyaratkan botol itu masuk ke dalam tas anyaman.

"O, untuk peletak ini?" Laki-laki itu mengangguk-angguk. "Bagus sekali! Bagaimana kabar sapi betinamu yang sedang berisi itu? Apakah ia sudah melahirkan?"

Rona riang menyeruak di wajah si gadis. Kedua tangannya kembali terangkat. Menggambar sesuatu di udara. Ternyata ketiak blusnya robek.

"Anaknya gemuk?! Hahaha! Hebat! Hebat!"

Mereka tertawa. Memandangi sapi-sapi yang merumput di padang lapang. Menunjuk-nunjuk bukit, gunung, lembah, dan persawahan di bawah. Mereka tergelak-gelak. Menertawakan sapi bujang berbulu merah yang melompat ke punggung sapi lain belajar kawin. Menertawakan seekor anak sapi yang melenguh-lenguh tertinggal dari induknya.

Laki-laki itu membagi sepotong sarang lebah kepada si gadis. Mencelupkannya pada madu. Rasanya manis-manis tawar.

Mereka terus tertawa-tawa dalam kebersamaan yang ganjil.

Sejak dua bulan lalu. Sejak laki-laki itu tanpa sengaja menemukan si gadis tengah meraung tanpa suara seorang diri di tengah padang di antara sapi-sapinya ketika dia dalam perjalanan mencari sarang lebah. Gadis itu dipatuk ular semak. Dia menolongnya. Gadis itu tak bisa bicara. Dari bincang-bincang di pasar pekan, dia mengetahui bahwa gadis itu anak seorang janda yang tinggal di ladang terpencil di lereng bukit. Suami si janda telah kawin dengan perempuan muda di kampung lain.

Lalu petang pun matang dan burung-burung pun pulang.

Laki-laki itu menyuruh si gadis menghabiskan air di botolnya. Kemudian mengisi botol yang sudah kosong itu dengan madu lebah.

"Bawalah sapi-sapimu pulang." suruhnya.

Si gadis memanggil sapi-sapinya yang memang sudah kenyang dan rindu kandang dengan suara merepet.

"Bawalah ini pulang. Kalau ibumu bertanya, katakan itu sedekah dari seorang pencari madu yang bersyukur karena Allah masih melimpahkannya rahmat." Disodorkannya botol plastik berisi madu murni itu kepada si gadis. "Usah kau bersedih mengingat ayahmu yang pergi. Anggap saja aku gantinya."

Gadis itu menerima botol plastik berisi madu penuh. Mengangguk kuat-kuat sehingga air matanya terloncat. Cepat-cepat dia menggosok mata dengan tangan.

"Pulanglah." Laki-laki itu mengusap pipi gadis itu. Sesaat. Matanya pun berlinang.

Si gadis menyerahkan tas anyamannya dengan ragu-ragu, kemudian berbalik. Melangkah dengan tersaruk-saruk menerabas ilalang dan riburibu.

"Hati-hati, Nak!"

Sosok itu berjalan menuruni lereng dengan sapi-sapinya yang patuh. Sesekali dia menoleh ke belakang melayangkan tatapan sendu.

Laki-laki itu merasa dadanya begitu sesak seperti akan meledak membuatnya ingin berteriak. Akan disimpannya tas itu di suatu tempat. Setelah gadis penggembala itu makin kecil di ujung padang ilalang, diangkatnya jerigen berisi madu, menyandang ke punggung, lantas melangkah ke arah yang berlawanan dengan arah kepergian si gadis.

***

"Aku tahu. Kau mendatangi perempuan janda itu lagi. Aku dapat mencium bau tubuhnya pada tubuhmu. Kau sampai ketinggalan botol air minummu."

Tidak. Kau tidak tahu. Aku hanya memberi anaknya sebotol madu.

"Aku tahu. Aku memang perempuan buruk. Hitam kelat. Tak bisa lagi memberimu anak gara-gara bidan celaka itu merusak perutku." Perempuan itu menunduk. Setetes air mata jatuh membasahi sebutir rimah dekat tulang ikan bakok yang terserak di atas tikar pandan yang didudukinya. "Tapi aku bersyukur. Kau pulang selamat. Tubuhmu tak patah-patah karena jatuh dari lereng." Dia beranjak masuk ke dalam bilik. Sedunya menggugu keluar lewat kain pintu yang tampak sangat kusam oleh malam.

Laki-laki itu termenung. Bayangan tubuhnya bergoyang-goyang di dinding disebabkan api lampu togok yang dibuat dari kaleng susu yang diberi kain sebagai sumbu dihembus-hembus angin kocak dari celah anyaman bambu. Disulutnya rokok daun nipah yang baru selesai digulungnya. Asap putih dari rokoknya meliuk menjangkau atap bersaing dengan asap hitam lampu togok.

Dia seolah merasakan kulit hangat di ujung-ujung jarinya. Kulit pipi si gadis bisu penggembala sapi itu.

Kembali dia menghela napas dalam-dalam, seolah akan menghirup seluruh dunia dan malam. Dia tahu, dia telah melukai perasaan istrinya. Dia telah pergi ke lereng, walau tak melakukan perbuatan seperti yang dibayangkannya.

Dia hanya ingin bertemu gadis buruk berbau busuk di padang ilalang.

Dia hanya ingin bertemu dengan seseorang yang dia bayangkan anak gadisnya yang mati sembilan tahun lalu diseruduk babi luka. Memberinya madu yang diambil tangan seorang ayah dari dahan surian di lereng jurang. Dia bersedia mati bila perlu. Dia ingin menebus kelengahannya yang tak akan dapat dia maafkan sampai kapan pun. Meninggalkan gadis kecilnya di pondok ladang ketika hendak menutup perigi kecil di dekat banda agar tak dikotori anjing pemburu.

Hanya itu.

Pelan-pelan dia bangkit berdiri, turun ke dapur. Membenamkan ujung rokok ke abu tungku. Berwudu dengan air hujan yang ditampung di drum. Salat isya. Berdoa terbata-bata. Lalu masuk ke bilik setelah memadamkan lampu togok.***

Ilalangsenja|Padang, Maret 2007