Tampilkan postingan dengan label K: Suara Karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K: Suara Karya. Tampilkan semua postingan
Minggu, 08 Agustus 2010
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Karya, Sabtu, 7 Agustus 2010
Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Menahan hawa nafsu.
Mereka harus belajar tak makan-minum seharian. Memaknai bahwa rumahtangga sejatinya bangunan kerontang. Ia bukanlah supermarket yang bernama kebahagiaan. Ia adalah gudang makanan yang kosong dari persediaan. Mereka bukan harus mengambil darinya, namun justru mengisinya, untuk dibawa ke kapal asmara yang sudah ditaut di pelabuhan cinta. Mereka makan ketika dibutuhkan, mereka minum ketika haus saja. Makan pun taklah boleh terlampau banyak.
Tak elok kekenyangan. Alih-alih membuat badan bertenaga, alih-alih menambah semangat bekerja; namun justru membuat rasa malas kian betah. Minum pun jangan sampai membuat perut kembung. Alih-alih menghilangkan haus, namun justru menyebabkan sakit perut. Ya, makanlah sebelum lapar, dan minumlah sewajarnya. Maka, rumahtangga akan dirasai sebagai bahtera yang lunas berlayar bila sesiapa yang ada di dalamnya mampu mengatur persediaan makanan dengan baik, mampu menggunakannya secara tak berlimpah.
* * *
Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran!
Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Menahan hawa nafsu.
Mereka harus belajar tak melampiaskan amarah seharian. Memaknai rumahtangga sejatinya kebahagiaan yang diciptakan. Mereka harus sabar menenggang segala salah, silap, dan dosa, yang sangat mungkin dilakukan oleh masing-masing pihak, lalu melukai masing-masing pula, lalu bersemayamlah tungku kebencian yang awalnya adalah kesal-kesal manja, lalu tanpa disadari masing-masing menyiramnya dengan minyak kecemburuan, lalu mereduplah api asmara karena dilumat bara asmara yang menyala-nyala (benci menjadi dengki, cemburu menjadi ragu). Bila tak segera dimatikan, maka rumah kebahagiaan hanya tinggal impian. Bila tak ingin menghadapinya, keselarasan berumahtangga bagai jempol dalam isapan. Maka, bila mencintai, cintailah sekadarnya. Bila membenci, bencilah sekadarnya.
* * *
Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Memaknai waktu mengolah amanah.
Mereka harus belajar tak membuang waktu percuma di malam punai. Memaknai bahwa berumahtangga sejatinya tentang kecakapan mengolah amanah. Maka, mereka bertadarus. Mengaji bersama-sama. Menyelesaikan juz demi juz. Mengkhatamkan Al Qur'an. Semuanya tak hanya dianggap sebagai lelaku jamaah. Lebih dari itu, mereka memaknainya sebagai tanggungjawab yang menyenangkan. Bila kehidupan rumahtangga sudah diserakkan oleh onak dan duri, mereka memungutnya. Bersama-sama.
Ya, percintaan adalah kitab suci dengan halaman tak berbatas. Mereka mesti membacanya bila ingin merayu Tuhan agar Dia senantiasa melimpahkan karomah. Mereka akan selalu mengkajinya demi melunaskan penasaran; kapan juz 30 berlabuh?.
Selalu. Sampai bila-bila. Karena mereka tak tahu, di mana surat Al Ikhlas bersemayam demi melafalkan kalimat bahwa Ia Mahabenar dengan Segala Firman. Mereka akan tahu bila tiba-tiba Israil tersenyum dan bilang, "maaf, sudah saatnya kalian pulang" dengan santun dan suara yang halus. Ketika itu mereka tiba-tiba berada di lembar terakhir mushaf. Mereka tutup Al Quran. Tadarusan tunai.
* * *
Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Mengeja cinta dengan berbagi.
Mereka harus belajar tak membuang waktu percuma seharian. Memaknai bahwa berumahtangga sejatinya tentang memberi. Mereka bayar zakat. Mereka perbanyak sedekah. Tentu mereka tahu, betapa masih banyak anak-anak jalanan, janda-janda fakir, dan orang-orang papa, yang terlantar, yang kehadirannya bagai disengaja Tuhan untuk melihat apakah mereka bersedia memberi atau tidak sama sekali. Maka, berumahtangga bukan hanya usaha menggunungkan kebahagiaan. Namun juga usaha mengikisnya perlahan-lahan. Memberikan sebagian kesemringahan agar yang lain jua merasakan nikmatnya kehidupan. Gunung takkan menjadi lembah bakda meletus, bukan? Kebahagiaan takkan sirna ketika berbagi, bukan?
* * *
Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran!
Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Memaknai waktu sebagai lembaran obituari.
Mereka harus belajar mengingati diri. Bahwa hidup akan bermuara pada pilihan yang dimaklumatkan jauh-jauh hari. Jannah atau jahim. Surga atau neraka. Mereka mengunjungi rumah-rumah mungil yang ditandai papan atau batu kembar. Di sana, di peraduan anggota keluarga mereka (atau juga teman dekat mereka) yang telah menyatu dengan tanah, dengan semua peritabiat yang sedikit-banyak diketahui, mereka akan mengira-ngira; ketika Munkar-Nakir menanyainya tentang Tuhan, rasul, agama, kitab suci, kitab suci, apakah ia kuasa menjawabnya, atau justru gada-bara akan menghantam kepalanya! Maka, rumahtangga adalah titi untuk menggapai impian hakiki itu. Salah-salah melewatinya, akan terjerengkang di sungai api.
Ah, lupakanlah itu! Mereka memejamkan mata sejenak. Salah satu dari mereka pun melafalkan serentetan kata keramat yang telah dihafal mati-matian sebelum ketib, penghulu hadir di hadapan mereka berdua. Oh, bukankah sebuah kebahagiaan tak terkias ketika mendapati iman telah genap (hanya) dari sebuah pernikahan yang akan menunaskan keberkahan demi keberkahan dalam istana yang bernama keluarga? "Bagaimana saksi-saksi?" "Sah?" "Sah!"
* * *
Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Memperlakukan waktu sebagai amalan.
Mereka harus belajar tak membuang waktu percuma di malam punai. Memaknai bahwa rumahtangga sejatinya tentang kecakapan mengolah kemesraan. Mereka bertarawih di malam-malam yang senantiasa penuh berkah. Beribadah bersama-sama. Menikmati semuanya. Sebagaimana mereka mesti meyakini, mereka adalah pasangan yang akan bersama dalam waktu yang lama, sangat lama, selama-lamanya. Maka, bila merasa jenuh mengunjungi masjid kampung, mereka bersafari ke rumah Tuhan-rumah Tuhan yang lain di kampung tetangga. Bila mereka merasa bosan dengan kebersamaan yang berlaku selama ini, maka pergilah mereka ke tempat-tempat yang indah. Tempat-tempat di mana berbotol-botol air cinta siap dibawa pulang. Sesampai di rumah, mereka siram pohon-pohon kemesraan yang hampir layu dan mati.
Mereka pun menunggu sembari selalu menyiraminya. Berdua saja. Sambil tersenyum dan bercubit-cubitan mesra. Sampai akhirnya pohon-pohon itu berbuah. Biji-bijinya jatuh satu per satu. Bertunas-tunas. Tanpa mereka sadari ada yang berbeda setelah sekian lama:
"Ah, anak-anak kita sudah besar, ya!" ***
Dimuat di Suara Karya, Sabtu, 7 Agustus 2010
Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Menahan hawa nafsu.Mereka harus belajar tak makan-minum seharian. Memaknai bahwa rumahtangga sejatinya bangunan kerontang. Ia bukanlah supermarket yang bernama kebahagiaan. Ia adalah gudang makanan yang kosong dari persediaan. Mereka bukan harus mengambil darinya, namun justru mengisinya, untuk dibawa ke kapal asmara yang sudah ditaut di pelabuhan cinta. Mereka makan ketika dibutuhkan, mereka minum ketika haus saja. Makan pun taklah boleh terlampau banyak.
Tak elok kekenyangan. Alih-alih membuat badan bertenaga, alih-alih menambah semangat bekerja; namun justru membuat rasa malas kian betah. Minum pun jangan sampai membuat perut kembung. Alih-alih menghilangkan haus, namun justru menyebabkan sakit perut. Ya, makanlah sebelum lapar, dan minumlah sewajarnya. Maka, rumahtangga akan dirasai sebagai bahtera yang lunas berlayar bila sesiapa yang ada di dalamnya mampu mengatur persediaan makanan dengan baik, mampu menggunakannya secara tak berlimpah.
* * *
Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran!
Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Menahan hawa nafsu.
Mereka harus belajar tak melampiaskan amarah seharian. Memaknai rumahtangga sejatinya kebahagiaan yang diciptakan. Mereka harus sabar menenggang segala salah, silap, dan dosa, yang sangat mungkin dilakukan oleh masing-masing pihak, lalu melukai masing-masing pula, lalu bersemayamlah tungku kebencian yang awalnya adalah kesal-kesal manja, lalu tanpa disadari masing-masing menyiramnya dengan minyak kecemburuan, lalu mereduplah api asmara karena dilumat bara asmara yang menyala-nyala (benci menjadi dengki, cemburu menjadi ragu). Bila tak segera dimatikan, maka rumah kebahagiaan hanya tinggal impian. Bila tak ingin menghadapinya, keselarasan berumahtangga bagai jempol dalam isapan. Maka, bila mencintai, cintailah sekadarnya. Bila membenci, bencilah sekadarnya.
* * *
Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Memaknai waktu mengolah amanah.
Mereka harus belajar tak membuang waktu percuma di malam punai. Memaknai bahwa berumahtangga sejatinya tentang kecakapan mengolah amanah. Maka, mereka bertadarus. Mengaji bersama-sama. Menyelesaikan juz demi juz. Mengkhatamkan Al Qur'an. Semuanya tak hanya dianggap sebagai lelaku jamaah. Lebih dari itu, mereka memaknainya sebagai tanggungjawab yang menyenangkan. Bila kehidupan rumahtangga sudah diserakkan oleh onak dan duri, mereka memungutnya. Bersama-sama.
Ya, percintaan adalah kitab suci dengan halaman tak berbatas. Mereka mesti membacanya bila ingin merayu Tuhan agar Dia senantiasa melimpahkan karomah. Mereka akan selalu mengkajinya demi melunaskan penasaran; kapan juz 30 berlabuh?.
Selalu. Sampai bila-bila. Karena mereka tak tahu, di mana surat Al Ikhlas bersemayam demi melafalkan kalimat bahwa Ia Mahabenar dengan Segala Firman. Mereka akan tahu bila tiba-tiba Israil tersenyum dan bilang, "maaf, sudah saatnya kalian pulang" dengan santun dan suara yang halus. Ketika itu mereka tiba-tiba berada di lembar terakhir mushaf. Mereka tutup Al Quran. Tadarusan tunai.
* * *
Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Mengeja cinta dengan berbagi.
Mereka harus belajar tak membuang waktu percuma seharian. Memaknai bahwa berumahtangga sejatinya tentang memberi. Mereka bayar zakat. Mereka perbanyak sedekah. Tentu mereka tahu, betapa masih banyak anak-anak jalanan, janda-janda fakir, dan orang-orang papa, yang terlantar, yang kehadirannya bagai disengaja Tuhan untuk melihat apakah mereka bersedia memberi atau tidak sama sekali. Maka, berumahtangga bukan hanya usaha menggunungkan kebahagiaan. Namun juga usaha mengikisnya perlahan-lahan. Memberikan sebagian kesemringahan agar yang lain jua merasakan nikmatnya kehidupan. Gunung takkan menjadi lembah bakda meletus, bukan? Kebahagiaan takkan sirna ketika berbagi, bukan?
* * *
Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran!
Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Memaknai waktu sebagai lembaran obituari.
Mereka harus belajar mengingati diri. Bahwa hidup akan bermuara pada pilihan yang dimaklumatkan jauh-jauh hari. Jannah atau jahim. Surga atau neraka. Mereka mengunjungi rumah-rumah mungil yang ditandai papan atau batu kembar. Di sana, di peraduan anggota keluarga mereka (atau juga teman dekat mereka) yang telah menyatu dengan tanah, dengan semua peritabiat yang sedikit-banyak diketahui, mereka akan mengira-ngira; ketika Munkar-Nakir menanyainya tentang Tuhan, rasul, agama, kitab suci, kitab suci, apakah ia kuasa menjawabnya, atau justru gada-bara akan menghantam kepalanya! Maka, rumahtangga adalah titi untuk menggapai impian hakiki itu. Salah-salah melewatinya, akan terjerengkang di sungai api.
Ah, lupakanlah itu! Mereka memejamkan mata sejenak. Salah satu dari mereka pun melafalkan serentetan kata keramat yang telah dihafal mati-matian sebelum ketib, penghulu hadir di hadapan mereka berdua. Oh, bukankah sebuah kebahagiaan tak terkias ketika mendapati iman telah genap (hanya) dari sebuah pernikahan yang akan menunaskan keberkahan demi keberkahan dalam istana yang bernama keluarga? "Bagaimana saksi-saksi?" "Sah?" "Sah!"
* * *
Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Memperlakukan waktu sebagai amalan.
Mereka harus belajar tak membuang waktu percuma di malam punai. Memaknai bahwa rumahtangga sejatinya tentang kecakapan mengolah kemesraan. Mereka bertarawih di malam-malam yang senantiasa penuh berkah. Beribadah bersama-sama. Menikmati semuanya. Sebagaimana mereka mesti meyakini, mereka adalah pasangan yang akan bersama dalam waktu yang lama, sangat lama, selama-lamanya. Maka, bila merasa jenuh mengunjungi masjid kampung, mereka bersafari ke rumah Tuhan-rumah Tuhan yang lain di kampung tetangga. Bila mereka merasa bosan dengan kebersamaan yang berlaku selama ini, maka pergilah mereka ke tempat-tempat yang indah. Tempat-tempat di mana berbotol-botol air cinta siap dibawa pulang. Sesampai di rumah, mereka siram pohon-pohon kemesraan yang hampir layu dan mati.
Mereka pun menunggu sembari selalu menyiraminya. Berdua saja. Sambil tersenyum dan bercubit-cubitan mesra. Sampai akhirnya pohon-pohon itu berbuah. Biji-bijinya jatuh satu per satu. Bertunas-tunas. Tanpa mereka sadari ada yang berbeda setelah sekian lama:
"Ah, anak-anak kita sudah besar, ya!" ***
Lubuklinggau, di ujung Juli 2010
Rabu, 02 Desember 2009
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Suara Karya 28/11/2009
Perempuan itu Keumala. Perempuan berbola mata biru dipadu-padan otak yang mampu menjawab segala hal rasa-serasanya. Dua modal yang membuat Keumala, seperti kristal bening yang mengeluarkan denting-denting halus. Keumala ratu di taman kembang. Ini hari terakhir wanita itu duduk di teras depan rumahnya-menanti kekasih. Besok tak akan lagi.
Yang memiliki harum menyegarkan terik siang. Usia belia, ikut memperdalam jikalau kembang itu punya magnet lain selain wajah ayu. Kumbang-kumbang gesit berterbangan di seputaran Keumala. Mengeluarkan harum-haruman.
Berharap Keumala akan terperangkap. Lantas mereka sehati dalam perahu bahagia.
Tapi Keumala bukan kembang yang mau manusia-manusia buruk akan memetik tubuhnya. Kemudian membiarkan layu di pinggiran kehidupan.
Maka perempuan itu, ketat menjaga keindahan mahkota. Duri-duri menancap bila ada kumbang yang ingin merampas makota itu. Apalagi secara paksa.
Ia berhati-hati. Lihai memilih. Di kumbang mana jangkar hati harus luruh.
Sebab kecewa itu beranak-sungai air mata. Hati sakit belum pernah ditemukan penawar sekalipun oleh pakar paling ahli.
"Kerja di mana?" tanya perempuan itu pada pemuda bermuka murung.
"Saya mengajar di SMP..."
Uh, Keumala menggeleng cepat. Kaki-kaki jenjangnya dihentak-hentak ke lantai. Kemudian berderet-deret repetan sepanjang jalanan semut.
Wajah pemuda murung makinlah masam. Lantas raib dari pandang Keumala. Menikung di jalanan panjang.
Kumbang lain bersorak riang.
Wajah-wajah memancarkkan cahaya bahagia. Sebab Keumala masih bisa direbuti. Kembali segala aroma menyengat disemprotkan. Harum budi luhur dipamerkan besar-besar. Demi tujuan jebakan.
Keumala di langit ke tujuh. Cekakan kadang lepas bila ia tengah sendiri di kamar. Kadang saja sebatas ringis kepuasan.
"Aku cantik. Aku penguasa lelaki." Begitu dan itu gumamannya.
Kumbang-kumbang tak pernah ia dengar mengeluarkan protes. Bahkan bermuka keberatan saja sekalipun tiada. Dengan sikap jual mahalnya tentu saja. Barangkali satu kesadaran telah tumbuh mengakar bahwa demi mendapat Keumala, pengorbanan curam terbentang.
Dan pun, Keumala kian saja lincah membaluti tubuhnya dengan wangi pesona.
Menjadikan pe-para kumbang serasa rela mati agar bisa mengecup madu sang kumbang.
Tapi hati Keumala belum jatuh. Dinding hati kokoh menjulang. Meski peluru rayuan bergodam-godam nyaris tiada reda. Semuanya tiada menggoda.
Seorang pemuda agak menarik di mata Keumala sebenarnya. Laki-laki bertubuh tegap dengan lesung pipi hangat. Pemuda itu pun berhasrat tulus untuk 'menseriusi' hubungan. Hati Keumala akan berwujud air mengalir.
Seolah kumbang itu lah penakluk seorang Keumala.
Namun pemuda itu tiba-tiba tak pernah datang lagi. Seolah raksasa maha besar telah melumat tubuh itu sehingga tak tersisa biar tulang-belulang sekalipun.
Keumala dalam hati sempat menunggu dan menanti. Dulu ia congkak tidak mau menyimpan nomor handphone sang pemuda. Harus si pemuda itu yang menghubungi dirinya! Keumala tidak berai air mata. Terlalu aneh rasanya seorang Keumala menangisi seorang pemuda yang tak kembali.
Sementara di ambang mata berjejer ratusan pemuda yang berhasrat memilikinya. Tinggal tunjuk, pemuda mana pun tergopoh.
Detik-detik berdetak dan pergi. Hari-hari panjang mengelupas juga seperti cat di rumah tua yang bersisik. Musim air hujan dari langit muncul dengan ritual tarian eksotis. Keumala masih Keumala sama. Belum memilih.
Kalaupun ada yang bertukar, mungkin paras itu kian meneteskan liur kumbang. Wajar, usia Keumala tepat di angka dua lima. Bukankah puncak kecantikan seorang wanita bernaung di bilangan itu?
* * *
Hari itu dua pemuda bertandang ke rumah Keumala di waktu yang hampir bersamaan. Bak ingin melamar pekerjaan, pakaian mereka rapi-jeli. Berdasi. Keumala terkekeh ria. Magnetnya masih berjalan sempurna.
Dengan pemuda pertama introgasi berlangsung kilat. Gajinya hanya dua juta perbulan. Pemuda kedua masuk gagah, tapi keluar dengan mata layu.
Keumala masih larut dalam mutiara pujaan penggemar-penggemarnya. Satu kumbang boleh kecewa atas sikapnya. Dan milih mundur dari persaingan.
Akan tetapi di belakang itu, puluhan- ratusan kumbang lain menghampiri. Jujur, sempat terbesit was-was. Apalagi usianya tak lagi belia.
Nyaris masuk di angka tiga. Dia mulai disergap takut kalau-kalau sebab sifat memilih yang berlebih, tak akan ada kumbang lagi yang mendekatin. Seumur-umur jadi perawan tua!
Namun khawatir Keumala tiada bukti. Di usia yang nyaris genap tiga puluh tahun. Kecantikannya masih mampu menangkap kumbang- kumbang. Walaupun tetap kata sama keluar.
Tepat di genap tiga puluh tahun, penantian kumbang-kumbang pengagum Keumala akhirnya terputus. Jangkar hati tlah turun di salah satu kumbang.
Adrian, kumbang itu berhasil meremukkan kekokohan dinding hati perempuan itu. Keumala tak mafmun. Mendadak saja rasa yang tak pernah dimiliki sebelumnya terkonstelasi bagai batu bata yang disusun.
Tinggi dan semakin tinggi. Kokoh dan kuat. Sepertinya badai saja tak kuasa mengapung perasaan itu.
Tubuh itu seolah menggelepar-gelepar laksana seekor ikan yang akan kehabisan oksigen. Maka angguk penuh tatkala Adrian mengucapkan lamaran.
Di mata Keumala, Adrian-lah yang lama tlah dinanti.
Tapi bahagia puncak belum bisa bermain-main di awan-awan perkawinan. Sekali ini, Keumala meleleh air mata. Pria itu harus melanjutkan studi keluar negeri.Empat tahun.
Adrian tergagap melihat pemandangan memilukan.
Adukan bingung melayang. Bujuk cepat dibungkus dalam bingkai-bingkai nian elok. Dan bahu Keumala tak lagi berguncang-guncang.
Ia menyeka air matanya. Meski lantun isak sekali-dua kali belum raib. Keumala menganggukan kepala. Keumala telah dilanda mabuk kepayang.Sebelum berangkat ke negeri seberang, Ardian menyebutkan tanggal sekian, bulan sekian, dan tahun sekian ia akan kembali.
Keumala mencatat angka bersejarah itu di buku hariannya.
Akhirnya Ardian pergi dengan bola air Keumala. Setelah berjanji akan berkomunikasi lewat HP dan email. Betul saja, Ardian pergi.
Dan Keumala mulai menanti hingga empat tahun.
Tapi Ardian ingkar janji. Seminggu setelah kepergian, Keumala menunggu telpon dari pria itu. Sampai sebulan tak juga telponnya berdering. Ia ingin menghubungi Ardian. Sia belaka. Jarak jauh telah membuat nomor itu tak bisa dihubungi.
Lantas Keumala mulai mengirim email cinta.
Setahun tak juga dibalas sekalipun. Hati Keumala dilanda cemas. Sering kali ia meleleh air mata.
Kumbang satu-satu masih berusaha menggoda. Tapi hati Keumala telah keras batu untuk pria selain Ardian.
* * *
Bunga kamboja di lahan pemakaman luruh dan tumbuh selang ganti.
Bunga-bunga itu menumpuk jalan kecil sehingga pembesuk agak kepayahan mengarah ke nisan yang diingin.
Beberapa saat lalu petugas lahan itu telah pergi ke langit sehingga tanah itu kehilangan bersih.Empat tahun meski bergerak selaksa siput datang juga.
Hari ini sesuai janji, Adrian akan kembali. Berulang kali Keumala mencocokkan angka di buku hariannya dengan angka kalender.
Langkah-langkah kijang di dada Keumala. Semalam suntuk tak bisa dipejam mata. Menyambut sang kekasih hati sengaja dikenakan gaun sutra biru yang jauh hari telah disetrika rapi. Perempuan itu tak ubah laksana bidadari.
Tapi hari itu adalah hari berkabung. Keumala melihat gagak hitam berkotek ribut di bumbungan rumahnya.
Ardian tak kunjung datang. Padahal sudah seharian penungguan itu merayap.
Besok hari perempuan itu, Keumala, masih dalam penantian. Menghibur pikirannya dengan ragam mungkin. Mungkin ada gangguan di airport. Mungkin Ardian sengaja membuat hatinya bertalu menunggu. Mungkin...Mungkin....
Seminggu.
Dua minggu. Sebulan. Berbulan-bulan. Roda waktu telah berputar-putar demikian hebat. Tahun-tahun berkeringat. Kamboja di tanah kuburan telah kembali sampai pada kala berbunga semarak.
Keumala masih gelisah menanti. Ardian tak kunjung hadir. Ditampik ulur tangan kumbang liar yang ingin menghibur. Hati Keumala tak mampu pindah ke lain hati.Keumala menunggu. Sampai Ardian kembali..
* * *
Keumala menarik napas panjang sekali. Napas itu napas kesusahan. Mata itu layu menatap surat biru yang tergeletak di meja depannya. Surat yang tiga jam lalu diantar bapak pos ke rumahnya.
Maaf, aku betul-betul lupa bahwa aku pernah berjanji untuk menikahi kamu.
Maaf aku lupa sekali, bahkan teringat nama mu saja, baru beberapa hari yang lalu. Saat itu aku iseng-iseng mengorek buku-buku lamaku, dan kebetulan aku menemukan kembali diary lamaku.
Tertera namaku di sana lengkap dengan janji kita.
Maaf ya, sekali lagi aku minta maaf. Tapi aku yakin, sekarang kamu sudah menjadi seorang nenek. Berapa cucumu? Siapa lelaki yang beruntung mendapatkan dirimu? Pasti laki-laki itu teramat senang ya? Oh ya, cucuku sudah dua belas lho! Enak ya jadi kakek? Jangan lupa dibalas ya.
Tertanda
Adrian
Keumala bangun dari duduk panjangnya. Lalu kaki itu melangkah ke dalam rumah senyap. Sebuah Penantian telah berakhir. Kekasihnya tak kembali. ***
Dimuat di Suara Karya 28/11/2009
Perempuan itu Keumala. Perempuan berbola mata biru dipadu-padan otak yang mampu menjawab segala hal rasa-serasanya. Dua modal yang membuat Keumala, seperti kristal bening yang mengeluarkan denting-denting halus. Keumala ratu di taman kembang. Ini hari terakhir wanita itu duduk di teras depan rumahnya-menanti kekasih. Besok tak akan lagi.
Yang memiliki harum menyegarkan terik siang. Usia belia, ikut memperdalam jikalau kembang itu punya magnet lain selain wajah ayu. Kumbang-kumbang gesit berterbangan di seputaran Keumala. Mengeluarkan harum-haruman.
Berharap Keumala akan terperangkap. Lantas mereka sehati dalam perahu bahagia.
Tapi Keumala bukan kembang yang mau manusia-manusia buruk akan memetik tubuhnya. Kemudian membiarkan layu di pinggiran kehidupan.
Maka perempuan itu, ketat menjaga keindahan mahkota. Duri-duri menancap bila ada kumbang yang ingin merampas makota itu. Apalagi secara paksa.
Ia berhati-hati. Lihai memilih. Di kumbang mana jangkar hati harus luruh.
Sebab kecewa itu beranak-sungai air mata. Hati sakit belum pernah ditemukan penawar sekalipun oleh pakar paling ahli.
"Kerja di mana?" tanya perempuan itu pada pemuda bermuka murung.
"Saya mengajar di SMP..."
Uh, Keumala menggeleng cepat. Kaki-kaki jenjangnya dihentak-hentak ke lantai. Kemudian berderet-deret repetan sepanjang jalanan semut.
Wajah pemuda murung makinlah masam. Lantas raib dari pandang Keumala. Menikung di jalanan panjang.
Kumbang lain bersorak riang.
Wajah-wajah memancarkkan cahaya bahagia. Sebab Keumala masih bisa direbuti. Kembali segala aroma menyengat disemprotkan. Harum budi luhur dipamerkan besar-besar. Demi tujuan jebakan.
Keumala di langit ke tujuh. Cekakan kadang lepas bila ia tengah sendiri di kamar. Kadang saja sebatas ringis kepuasan.
"Aku cantik. Aku penguasa lelaki." Begitu dan itu gumamannya.
Kumbang-kumbang tak pernah ia dengar mengeluarkan protes. Bahkan bermuka keberatan saja sekalipun tiada. Dengan sikap jual mahalnya tentu saja. Barangkali satu kesadaran telah tumbuh mengakar bahwa demi mendapat Keumala, pengorbanan curam terbentang.
Dan pun, Keumala kian saja lincah membaluti tubuhnya dengan wangi pesona.
Menjadikan pe-para kumbang serasa rela mati agar bisa mengecup madu sang kumbang.
Tapi hati Keumala belum jatuh. Dinding hati kokoh menjulang. Meski peluru rayuan bergodam-godam nyaris tiada reda. Semuanya tiada menggoda.
Seorang pemuda agak menarik di mata Keumala sebenarnya. Laki-laki bertubuh tegap dengan lesung pipi hangat. Pemuda itu pun berhasrat tulus untuk 'menseriusi' hubungan. Hati Keumala akan berwujud air mengalir.
Seolah kumbang itu lah penakluk seorang Keumala.
Namun pemuda itu tiba-tiba tak pernah datang lagi. Seolah raksasa maha besar telah melumat tubuh itu sehingga tak tersisa biar tulang-belulang sekalipun.
Keumala dalam hati sempat menunggu dan menanti. Dulu ia congkak tidak mau menyimpan nomor handphone sang pemuda. Harus si pemuda itu yang menghubungi dirinya! Keumala tidak berai air mata. Terlalu aneh rasanya seorang Keumala menangisi seorang pemuda yang tak kembali.
Sementara di ambang mata berjejer ratusan pemuda yang berhasrat memilikinya. Tinggal tunjuk, pemuda mana pun tergopoh.
Detik-detik berdetak dan pergi. Hari-hari panjang mengelupas juga seperti cat di rumah tua yang bersisik. Musim air hujan dari langit muncul dengan ritual tarian eksotis. Keumala masih Keumala sama. Belum memilih.
Kalaupun ada yang bertukar, mungkin paras itu kian meneteskan liur kumbang. Wajar, usia Keumala tepat di angka dua lima. Bukankah puncak kecantikan seorang wanita bernaung di bilangan itu?
* * *
Hari itu dua pemuda bertandang ke rumah Keumala di waktu yang hampir bersamaan. Bak ingin melamar pekerjaan, pakaian mereka rapi-jeli. Berdasi. Keumala terkekeh ria. Magnetnya masih berjalan sempurna.
Dengan pemuda pertama introgasi berlangsung kilat. Gajinya hanya dua juta perbulan. Pemuda kedua masuk gagah, tapi keluar dengan mata layu.
Keumala masih larut dalam mutiara pujaan penggemar-penggemarnya. Satu kumbang boleh kecewa atas sikapnya. Dan milih mundur dari persaingan.
Akan tetapi di belakang itu, puluhan- ratusan kumbang lain menghampiri. Jujur, sempat terbesit was-was. Apalagi usianya tak lagi belia.
Nyaris masuk di angka tiga. Dia mulai disergap takut kalau-kalau sebab sifat memilih yang berlebih, tak akan ada kumbang lagi yang mendekatin. Seumur-umur jadi perawan tua!
Namun khawatir Keumala tiada bukti. Di usia yang nyaris genap tiga puluh tahun. Kecantikannya masih mampu menangkap kumbang- kumbang. Walaupun tetap kata sama keluar.
Tepat di genap tiga puluh tahun, penantian kumbang-kumbang pengagum Keumala akhirnya terputus. Jangkar hati tlah turun di salah satu kumbang.
Adrian, kumbang itu berhasil meremukkan kekokohan dinding hati perempuan itu. Keumala tak mafmun. Mendadak saja rasa yang tak pernah dimiliki sebelumnya terkonstelasi bagai batu bata yang disusun.
Tinggi dan semakin tinggi. Kokoh dan kuat. Sepertinya badai saja tak kuasa mengapung perasaan itu.
Tubuh itu seolah menggelepar-gelepar laksana seekor ikan yang akan kehabisan oksigen. Maka angguk penuh tatkala Adrian mengucapkan lamaran.
Di mata Keumala, Adrian-lah yang lama tlah dinanti.
Tapi bahagia puncak belum bisa bermain-main di awan-awan perkawinan. Sekali ini, Keumala meleleh air mata. Pria itu harus melanjutkan studi keluar negeri.Empat tahun.
Adrian tergagap melihat pemandangan memilukan.
Adukan bingung melayang. Bujuk cepat dibungkus dalam bingkai-bingkai nian elok. Dan bahu Keumala tak lagi berguncang-guncang.
Ia menyeka air matanya. Meski lantun isak sekali-dua kali belum raib. Keumala menganggukan kepala. Keumala telah dilanda mabuk kepayang.Sebelum berangkat ke negeri seberang, Ardian menyebutkan tanggal sekian, bulan sekian, dan tahun sekian ia akan kembali.
Keumala mencatat angka bersejarah itu di buku hariannya.
Akhirnya Ardian pergi dengan bola air Keumala. Setelah berjanji akan berkomunikasi lewat HP dan email. Betul saja, Ardian pergi.
Dan Keumala mulai menanti hingga empat tahun.
Tapi Ardian ingkar janji. Seminggu setelah kepergian, Keumala menunggu telpon dari pria itu. Sampai sebulan tak juga telponnya berdering. Ia ingin menghubungi Ardian. Sia belaka. Jarak jauh telah membuat nomor itu tak bisa dihubungi.
Lantas Keumala mulai mengirim email cinta.
Setahun tak juga dibalas sekalipun. Hati Keumala dilanda cemas. Sering kali ia meleleh air mata.
Kumbang satu-satu masih berusaha menggoda. Tapi hati Keumala telah keras batu untuk pria selain Ardian.
* * *
Bunga kamboja di lahan pemakaman luruh dan tumbuh selang ganti.
Bunga-bunga itu menumpuk jalan kecil sehingga pembesuk agak kepayahan mengarah ke nisan yang diingin.
Beberapa saat lalu petugas lahan itu telah pergi ke langit sehingga tanah itu kehilangan bersih.Empat tahun meski bergerak selaksa siput datang juga.
Hari ini sesuai janji, Adrian akan kembali. Berulang kali Keumala mencocokkan angka di buku hariannya dengan angka kalender.
Langkah-langkah kijang di dada Keumala. Semalam suntuk tak bisa dipejam mata. Menyambut sang kekasih hati sengaja dikenakan gaun sutra biru yang jauh hari telah disetrika rapi. Perempuan itu tak ubah laksana bidadari.
Tapi hari itu adalah hari berkabung. Keumala melihat gagak hitam berkotek ribut di bumbungan rumahnya.
Ardian tak kunjung datang. Padahal sudah seharian penungguan itu merayap.
Besok hari perempuan itu, Keumala, masih dalam penantian. Menghibur pikirannya dengan ragam mungkin. Mungkin ada gangguan di airport. Mungkin Ardian sengaja membuat hatinya bertalu menunggu. Mungkin...Mungkin....
Seminggu.
Dua minggu. Sebulan. Berbulan-bulan. Roda waktu telah berputar-putar demikian hebat. Tahun-tahun berkeringat. Kamboja di tanah kuburan telah kembali sampai pada kala berbunga semarak.
Keumala masih gelisah menanti. Ardian tak kunjung hadir. Ditampik ulur tangan kumbang liar yang ingin menghibur. Hati Keumala tak mampu pindah ke lain hati.Keumala menunggu. Sampai Ardian kembali..
* * *
Keumala menarik napas panjang sekali. Napas itu napas kesusahan. Mata itu layu menatap surat biru yang tergeletak di meja depannya. Surat yang tiga jam lalu diantar bapak pos ke rumahnya.
Maaf, aku betul-betul lupa bahwa aku pernah berjanji untuk menikahi kamu.
Maaf aku lupa sekali, bahkan teringat nama mu saja, baru beberapa hari yang lalu. Saat itu aku iseng-iseng mengorek buku-buku lamaku, dan kebetulan aku menemukan kembali diary lamaku.
Tertera namaku di sana lengkap dengan janji kita.
Maaf ya, sekali lagi aku minta maaf. Tapi aku yakin, sekarang kamu sudah menjadi seorang nenek. Berapa cucumu? Siapa lelaki yang beruntung mendapatkan dirimu? Pasti laki-laki itu teramat senang ya? Oh ya, cucuku sudah dua belas lho! Enak ya jadi kakek? Jangan lupa dibalas ya.
Tertanda
Adrian
Keumala bangun dari duduk panjangnya. Lalu kaki itu melangkah ke dalam rumah senyap. Sebuah Penantian telah berakhir. Kekasihnya tak kembali. ***
Minggu, 15 November 2009
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Suara Karya 09/08/2008
Namanya Sakila. Ia benci manusia, tapi bukan yang berkelamin wanita. Itu menurut ceritanya dari balik jeruji penjara. Apakah ia berdosa?
Sakila telah menatap kekerasan, mereguk kemarahan, dan berselimut kesedihan dalam setiap detak jam. Suatu pemandangan yang indah jika engkau tak pernah mengenal kebaikan. Apa itu kebaikan? Tak ada yang bisa mengukurnya dan tak punya standar. Sakila melihat itu dengan samar, tak sadar sedang berada di wilayah mana karena ia tak mengerti apa-apa.
Ia baru mengerti dosa saat berada dalam penjara. Itu juga saat ada orang yang datang - lelaki tampan mantan preman- sambil membawa kitab tebal. Dari sikap orang itu yang ramah, sopan dan menyejukkan, Sakila mulai mengenal kelembutan hati serta kepasrahan jiwa. Jauh di dalam ruang kosong dirinya, Sakila merindukan hal itu.
Lelaki itu mulai membimbing Sakila, mengajarinya mantra-mantra penyejuk rasa dan pembangkit jiwa. Lelaki itu menyebutnya doa. Katanya, "doalah yang telah menjauhkan diriku dari kehancuran. Begitu pun dengan engkau Sakila. Kau akan segera mengetahui mukjizatnya. Berdoalah."
* * *
Sakila cantik, tapi tak mengerti arti kecantikan. Yang ia tahu hanyalah berada di antara perempuan-perempuan perkasa. Mereka silih berganti menghirup harum bunga yang baru mekar. Tingkah mereka bagai kumbang jantan yang sedang bermain-main di kelopak bunga. Kadang Sakila juga menikmati, terutama saat gejolak beranjak panas.
Sakila menjadi gemulai jika berdekatan dengan perempuan perkasa. Itulah yang diharapkan oleh Mela, kumbang betina yang suka menghisap putik bunga. Ia sangat berkuasa bak seorang raja.
Mela buas. Ia biasa menjilat dan menggigit. Lidahnya menyapu setiap titik-titik keringat yang muncul dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia akan terus begitu hingga kelelahan menyapa dan kepuasaan menyundut raga, dan akhirnya terlentang lemah di atas kasur busa.
Syakila -perempuan polos yang tak tahu ada kata 'dosa'- tak mengerti bahwa Mela juga serpihan luka, walau berasal dari sayatan pisau berbeda. Tapi Mela sangat mengerti dengan sebutan yang ditujukan padanya, karena selama bertahun-tahun ia duduk di bangku ruang kuliah, mendengarkan ceramah tentang ketidaknormalan. Bahkan ada yang menyalahkan. Orang-orang tak sadar bahwa Mela adalah bagian yang sedang mereka perbincangkan. Bila tahu, mungkin akan bergidik atau meludah.
Sesekali Mela muak. Kadang pada dirinya sendiri, kadang pada para penuduh yang dianggapnya sok suci. Tapi ia sebenarnya sengsara, cuma pandai memainkan kaca. Sehingga yang tampak adalah tertawa.
Siang malam Sakila menjadi penyedap rasa, pemanis duka, penawar hasrat dan bantal guling yang bernyawa. Ia bisa berada dimana saja - dada, muka, tangan, paha. Dunia menjadi begitu indah karena dia, terutama untuk Mela yang perkasa. Tapi Sakila tetap tak bisa mengerti. Ia sekedar menjalani hidup yang telah ditakdirkan.
* * *
Sakila sedang menghisap puting ibunya ketika tangan kekar sang ayah menarik lengan wanita sendu itu.
"Anak sudah besar masih dibiarkan menetek!" Ayahnya membentak. Sakila menjerit. Ibunya berusaha meneruskan, tapi tangan itu terlalu kuat untuk dilepaskan.
Dengan mata indahnya, Sakila melihat ibunya yang sudah sangat jenuh dan lelah, tetapi harus melayani lelaki mabuk. Lelaki itu terus memacu kelaparannya atas sebuah pelepasan. Sakila telah didorongnya menjauh. Punggung anak itu meraba dinding sudut ruangan. Berjongkok dan menangis.
Lelaki itu melolong bagai srigala dan mengerang penuh kepuasaan. Tangannya yang legam membawa pecut. Bagai seorang penunggang kuda, ia memecut kudanya agar berlari lebih kencang. Suaranya bagai kilatan halilintar.
Sakila melihat ibunya bagai kuda yang merintih kesakitan. Wanita itu telah melepaskan suara penderitaan dan erangan menyayat, tapi ayahnya sama sekali tak peduli. Lelaki yang mulutnya bau comberan itu terus memberikan sabetan-sabetannya. Ia makin bersemangat mendengar suara yang keluar dari rasa kepedihan. Gairah yang muncul dari buhul-buhul yang dilemparkan iblis.
Sambil mengeluarkan lolongan, ayahnya jatuh terkulai di atas kuda tunggangannya. Perlahan-lahan ibunya akan melepaskan diri dari dedemit itu. Ia merasa sangat kotor, lalu berjalan lunglai menuju kamar mandi. Kemudian wanita itu akan kembali kepada Sakila dan mereka pindah ke kamar lainnya.
"Kenapa ibu mandi?"
"Lelaki itu najis anakku." Kata ibunya. "Jangan kau biarkan najis lelaki menempel pada kulitmu. Apalagi memasuki pintu gerbangmu. Ia akan membuatmu menderita busung lapar dengan perut membesar."
"Kenapa begitu?"
"Kelak kau akan tahu. Tetap ingatlah kata-kata ibu."
Lalu ibunya memeluk Sakila dan melanjutkan memberikan putingnya agar dihisap Sakila. Telah lima tahun Sakila melakukan hal itu. Ia tak lagi bisa membedakan apakah benda yang menggelantung di dada ibunya itu masih mengeluarkan minuman segar atau tidak.
Jika lelah, kedua wanita itu akan berpelukan mesra. Sakila merasa seperti kembali ke rahim ibunya, dilindungi dinding-dinding perkasa yang menjauhkannya dari mahluk-mahluk yang siap memangsa. Itulah saat-saat bahagia yang tak akan pernah terlupa.
Sejak itu tertanam di jiwa bahwa kedamaian ada dalam rangkulan wanita, bukan pria. Pria itu cuma penunggang kuda dan penyiksa.
Sakila makin lengket pada ibunya. Walaupun sudah masuk sekolah, pada saat-saat tertentu Sakila masih menetek, dan ibunya tidak peduli. Ia biarkan saja Sakila mencari kepuasan. Tak ada lagi yang bisa diberikan untuk menyenangkan hati anaknya.
Tapi lambat laun kesenangan itu dirampas. Oleh siapa lagi kalau bukan seorang pria yang mengeluarkan napas comberan. Ia selalu datang tiba-tiba dan memaksa ibunya untuk memberikan uang. Jika tidak, tangan iblis itu melayang ke pipi ibunya.
"Kita akan pindah dari tempat ini anakku." Ibunya berkata dengan suara parau suatu ketika. Suara merdunya hilang karena terlalu sering menjerit kesakitan. Ada jejak pagutan di lehernya yang pucat. Orang-orang berperasaan yang melihatnya pasti akan ngeri. Makhluk apa yang telah menancapkan taringnya di sana.
"Kamana Ibu?"
"Kamu akan tahu nanti." Kata wanita itu. "Yang pasti ke tempat yang lebih murah."
"Kenapa kita tidak boleh tinggal di sini?"
"Ibu tidak mampu lagi."
"Kenapa?" Sakila terus bertanya.
"Ibu sudah tidak punya uang." Wajah ibunya semakin muram. "Cepat bereskan barang-barangmu. Ini dua kantong plastik."
Syakila tak bergerak.
"Tapi kita akan kemana Ibu?" Sakila merengek.
"Anakku. Jangan bertanya terus. Kita akan pindah ke rumah di dekat kali itu. Di sana sewanya tidak semahal di sini."
Terbayang oleh Sakila rumah-rumah kayu yang berdiri sepanjang kali yang biasa ia lewati sewaktu berangkat ke sekolah. Ia membayangkan anak laki-laki yang biasa meledeknya saat melewati jembatan. Mereka sangat jahat seperti ayahnya. Dan ia selalu mengingat kata-kata yang sering diucapkan ibunya - Laki-laki itu najis anakku.
Sakila bergegas ke kamar. Ia memasukkan baju-bajunya yang kebanyakan sudah lusuh ke dalam kantong plastik pertama, lalu buku-buku pelajaran ke dalam kantong kedua. Terakhir ia mengambil boneka berambut pirang kesayangannya. Setelah itu ia kembali ke ruang tengah.
Saat Sakila duduk di kursi menunggu ibunya yang sedang membereskan barang-barang, tiba-tiba muncul ayahnya sambil membawa botol minuman.
"Mana ibumu?" Ia berteriak. Sakila sangat takut. Tubuhnya mengkerut. Ia terbayang peristiwa-peristiwa malam hari yang membuat ibunya menjerit kesakitan.
Sakila berlari ke dalam dan merangkul ibunya. Ayahnya mengikuti dengan pandangan srigala liar yang kelaparan.
"Aku butuh uang. Berikan!!!"
"Aku sudah tidak punya uang lagi. Sudah kupakai untuk membayar uang muka sewa rumah." Ibunya berkata terbata-bata. Tangannya memeluk tubuh Sakila.
"Apa?! Kamu ingin melarikan diri dariku." Pria itu menenggak lagi air haram. "Cepat berikan! Kalau tidak..."
"Sungguh, sudah tidak ada." Ibunya memelas.
Lelaki itu mendamprat dengan kata-kata kotor. Ludah bercipratan, bagai semburan bisa ular. Lalu tangannya menarik rambut wanita itu dan menyeretnya ke luar kamar. Wanita itu berteriak minta tolong. Sakila hanya bisa menangis sambil memegangi daun pintu.
Pipi wanita itu kembali ditampar. Entah yang keberapa kali. Ia kehilangan keseimbangan. Tubuh kurusnya terhuyung dan kepalanya membentur tembok. Sesaat ia diam, dan secara perlahan tubuhnya runtuh ke lantai.
Mendengar jeritan Sakila dan teriakan ibunya, beberapa tetangga berlarian ke rumah itu. Beberapa orang menangkap tangan lelaki mabuk itu. Tapi ia berontak sehingga kepalan tangan mendarat ke wajahnya. Ludah kembali muncrat, kali ini berbau bangkai.
Para wanita datang mendekati tubuh yang terbaring di lantai. Suara-suara sanjungan Tuhan dikumandangkan. Sakila memeluk ibunya sangat erat. Seerat lakban.
Mulutnya terus memanggil-manggil ibunya.
* * *
Sakila berada dalam selimut bersama Mela yang sedang tertidur lelap. Sakila perlahan menyingkap selimut karena mendengar suara itu lagi, berkali-kali. Laki-laki itu najis anakku. Laki-laki itu najis anakku.
Ia termangu beberapa saat, lalu membuka jendela untuk mencari dari mana datangnya suara itu. Tiba-tiba angin menabrak dirinya. Ia melangkah ke belakang. Angin itu seolah terpental kembali, menghalangi cahaya bulan. Kemudian angin itu seperti membentuk tubuh seorang wanita. Ya, itu adalah ibunya. Laki-laki itu najis anakku. Laki-laki itu najis anakku.
Sakila bagai terhipnotis. Ia berbalik, menatap ke tempat tidur dan melihat tubuh kekar Mela yang telanjang bagai sesosok laki-laki perkasa. Suara itu kembali berbisik di telinganya. Kali ini seperti ada beratus-ratus pembisik, menghunjami pikirannya dengan suara-suara. Laki-laki itu najis anakku. Laki-laki itu najis anakku.
Sakila tiba-tiba menjadi liar dan merasakan kekuatan yang luar bisa. Matanya nanar. Jari-jarinya membentuk cakar. Kebenciannya pada laki-laki memuncak, terbayang ibunya yang terus-menerus disiksa hingga menderita. Dalam diri Sakila ada 'dia' yang tak bernama, namun daya sihirnya bagai magma.
Tanpa diduga Sakila melompat ke atas tempat tidur dan dengan cepat mencekik leher dari seonggok tubuh yang dianggapnya sebagai sosok lelaki jahat. Tubuh itu mencoba berontak, tapi tak memiliki tenaga karena telah terkuras pada permainan dahsyat beberapa jam sebelumnya. Lambat laun gerakannya menjadi lemah dan akhirnya diam dengan lidah menjulur.
Laki-laki itu najis anakku. Laki-laki itu najis anakku.
* * *
Sakila mengenal dosa setelah datang seorang lelaki mantan preman yang membawa kitab tebal. Dialah yang mengajarkan kata itu. Tapi sebelumnya Sakila tidak pernah tahu dan mengerti apa itu dosa. Kini ia jadi suka termenung.
Ada perasaan kangen yang dirasakan Sakila untuk kembali bertemu dengan orang itu bila ia telah pergi. Perasaan yang dulu tak pernah ada dalam benaknya. Apalagi yang bernama laki-laki. Tapi akhirnya Sakila bercerita tentang dirinya, tentang ibunya, tentang ayahnya, tentang Mela, dan juga tentang perasaannya pada lelaki mantan preman yang membawa kitab tebal itu.
Itulah cerita yang telah dituturkannya kepadaku. Karena akulah lelaki mantan preman yang membawa kitab tebal itu dan telah mengenalkan kata 'dosa' padanya. Aku mengajarkan doa, bukan mantra.***
Dimuat di Suara Karya 09/08/2008
Namanya Sakila. Ia benci manusia, tapi bukan yang berkelamin wanita. Itu menurut ceritanya dari balik jeruji penjara. Apakah ia berdosa?
Sakila telah menatap kekerasan, mereguk kemarahan, dan berselimut kesedihan dalam setiap detak jam. Suatu pemandangan yang indah jika engkau tak pernah mengenal kebaikan. Apa itu kebaikan? Tak ada yang bisa mengukurnya dan tak punya standar. Sakila melihat itu dengan samar, tak sadar sedang berada di wilayah mana karena ia tak mengerti apa-apa.
Ia baru mengerti dosa saat berada dalam penjara. Itu juga saat ada orang yang datang - lelaki tampan mantan preman- sambil membawa kitab tebal. Dari sikap orang itu yang ramah, sopan dan menyejukkan, Sakila mulai mengenal kelembutan hati serta kepasrahan jiwa. Jauh di dalam ruang kosong dirinya, Sakila merindukan hal itu.
Lelaki itu mulai membimbing Sakila, mengajarinya mantra-mantra penyejuk rasa dan pembangkit jiwa. Lelaki itu menyebutnya doa. Katanya, "doalah yang telah menjauhkan diriku dari kehancuran. Begitu pun dengan engkau Sakila. Kau akan segera mengetahui mukjizatnya. Berdoalah."
* * *
Sakila cantik, tapi tak mengerti arti kecantikan. Yang ia tahu hanyalah berada di antara perempuan-perempuan perkasa. Mereka silih berganti menghirup harum bunga yang baru mekar. Tingkah mereka bagai kumbang jantan yang sedang bermain-main di kelopak bunga. Kadang Sakila juga menikmati, terutama saat gejolak beranjak panas.
Sakila menjadi gemulai jika berdekatan dengan perempuan perkasa. Itulah yang diharapkan oleh Mela, kumbang betina yang suka menghisap putik bunga. Ia sangat berkuasa bak seorang raja.
Mela buas. Ia biasa menjilat dan menggigit. Lidahnya menyapu setiap titik-titik keringat yang muncul dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia akan terus begitu hingga kelelahan menyapa dan kepuasaan menyundut raga, dan akhirnya terlentang lemah di atas kasur busa.
Syakila -perempuan polos yang tak tahu ada kata 'dosa'- tak mengerti bahwa Mela juga serpihan luka, walau berasal dari sayatan pisau berbeda. Tapi Mela sangat mengerti dengan sebutan yang ditujukan padanya, karena selama bertahun-tahun ia duduk di bangku ruang kuliah, mendengarkan ceramah tentang ketidaknormalan. Bahkan ada yang menyalahkan. Orang-orang tak sadar bahwa Mela adalah bagian yang sedang mereka perbincangkan. Bila tahu, mungkin akan bergidik atau meludah.
Sesekali Mela muak. Kadang pada dirinya sendiri, kadang pada para penuduh yang dianggapnya sok suci. Tapi ia sebenarnya sengsara, cuma pandai memainkan kaca. Sehingga yang tampak adalah tertawa.
Siang malam Sakila menjadi penyedap rasa, pemanis duka, penawar hasrat dan bantal guling yang bernyawa. Ia bisa berada dimana saja - dada, muka, tangan, paha. Dunia menjadi begitu indah karena dia, terutama untuk Mela yang perkasa. Tapi Sakila tetap tak bisa mengerti. Ia sekedar menjalani hidup yang telah ditakdirkan.
* * *
Sakila sedang menghisap puting ibunya ketika tangan kekar sang ayah menarik lengan wanita sendu itu.
"Anak sudah besar masih dibiarkan menetek!" Ayahnya membentak. Sakila menjerit. Ibunya berusaha meneruskan, tapi tangan itu terlalu kuat untuk dilepaskan.
Dengan mata indahnya, Sakila melihat ibunya yang sudah sangat jenuh dan lelah, tetapi harus melayani lelaki mabuk. Lelaki itu terus memacu kelaparannya atas sebuah pelepasan. Sakila telah didorongnya menjauh. Punggung anak itu meraba dinding sudut ruangan. Berjongkok dan menangis.
Lelaki itu melolong bagai srigala dan mengerang penuh kepuasaan. Tangannya yang legam membawa pecut. Bagai seorang penunggang kuda, ia memecut kudanya agar berlari lebih kencang. Suaranya bagai kilatan halilintar.
Sakila melihat ibunya bagai kuda yang merintih kesakitan. Wanita itu telah melepaskan suara penderitaan dan erangan menyayat, tapi ayahnya sama sekali tak peduli. Lelaki yang mulutnya bau comberan itu terus memberikan sabetan-sabetannya. Ia makin bersemangat mendengar suara yang keluar dari rasa kepedihan. Gairah yang muncul dari buhul-buhul yang dilemparkan iblis.
Sambil mengeluarkan lolongan, ayahnya jatuh terkulai di atas kuda tunggangannya. Perlahan-lahan ibunya akan melepaskan diri dari dedemit itu. Ia merasa sangat kotor, lalu berjalan lunglai menuju kamar mandi. Kemudian wanita itu akan kembali kepada Sakila dan mereka pindah ke kamar lainnya.
"Kenapa ibu mandi?"
"Lelaki itu najis anakku." Kata ibunya. "Jangan kau biarkan najis lelaki menempel pada kulitmu. Apalagi memasuki pintu gerbangmu. Ia akan membuatmu menderita busung lapar dengan perut membesar."
"Kenapa begitu?"
"Kelak kau akan tahu. Tetap ingatlah kata-kata ibu."
Lalu ibunya memeluk Sakila dan melanjutkan memberikan putingnya agar dihisap Sakila. Telah lima tahun Sakila melakukan hal itu. Ia tak lagi bisa membedakan apakah benda yang menggelantung di dada ibunya itu masih mengeluarkan minuman segar atau tidak.
Jika lelah, kedua wanita itu akan berpelukan mesra. Sakila merasa seperti kembali ke rahim ibunya, dilindungi dinding-dinding perkasa yang menjauhkannya dari mahluk-mahluk yang siap memangsa. Itulah saat-saat bahagia yang tak akan pernah terlupa.
Sejak itu tertanam di jiwa bahwa kedamaian ada dalam rangkulan wanita, bukan pria. Pria itu cuma penunggang kuda dan penyiksa.
Sakila makin lengket pada ibunya. Walaupun sudah masuk sekolah, pada saat-saat tertentu Sakila masih menetek, dan ibunya tidak peduli. Ia biarkan saja Sakila mencari kepuasan. Tak ada lagi yang bisa diberikan untuk menyenangkan hati anaknya.
Tapi lambat laun kesenangan itu dirampas. Oleh siapa lagi kalau bukan seorang pria yang mengeluarkan napas comberan. Ia selalu datang tiba-tiba dan memaksa ibunya untuk memberikan uang. Jika tidak, tangan iblis itu melayang ke pipi ibunya.
"Kita akan pindah dari tempat ini anakku." Ibunya berkata dengan suara parau suatu ketika. Suara merdunya hilang karena terlalu sering menjerit kesakitan. Ada jejak pagutan di lehernya yang pucat. Orang-orang berperasaan yang melihatnya pasti akan ngeri. Makhluk apa yang telah menancapkan taringnya di sana.
"Kamana Ibu?"
"Kamu akan tahu nanti." Kata wanita itu. "Yang pasti ke tempat yang lebih murah."
"Kenapa kita tidak boleh tinggal di sini?"
"Ibu tidak mampu lagi."
"Kenapa?" Sakila terus bertanya.
"Ibu sudah tidak punya uang." Wajah ibunya semakin muram. "Cepat bereskan barang-barangmu. Ini dua kantong plastik."
Syakila tak bergerak.
"Tapi kita akan kemana Ibu?" Sakila merengek.
"Anakku. Jangan bertanya terus. Kita akan pindah ke rumah di dekat kali itu. Di sana sewanya tidak semahal di sini."
Terbayang oleh Sakila rumah-rumah kayu yang berdiri sepanjang kali yang biasa ia lewati sewaktu berangkat ke sekolah. Ia membayangkan anak laki-laki yang biasa meledeknya saat melewati jembatan. Mereka sangat jahat seperti ayahnya. Dan ia selalu mengingat kata-kata yang sering diucapkan ibunya - Laki-laki itu najis anakku.
Sakila bergegas ke kamar. Ia memasukkan baju-bajunya yang kebanyakan sudah lusuh ke dalam kantong plastik pertama, lalu buku-buku pelajaran ke dalam kantong kedua. Terakhir ia mengambil boneka berambut pirang kesayangannya. Setelah itu ia kembali ke ruang tengah.
Saat Sakila duduk di kursi menunggu ibunya yang sedang membereskan barang-barang, tiba-tiba muncul ayahnya sambil membawa botol minuman.
"Mana ibumu?" Ia berteriak. Sakila sangat takut. Tubuhnya mengkerut. Ia terbayang peristiwa-peristiwa malam hari yang membuat ibunya menjerit kesakitan.
Sakila berlari ke dalam dan merangkul ibunya. Ayahnya mengikuti dengan pandangan srigala liar yang kelaparan.
"Aku butuh uang. Berikan!!!"
"Aku sudah tidak punya uang lagi. Sudah kupakai untuk membayar uang muka sewa rumah." Ibunya berkata terbata-bata. Tangannya memeluk tubuh Sakila.
"Apa?! Kamu ingin melarikan diri dariku." Pria itu menenggak lagi air haram. "Cepat berikan! Kalau tidak..."
"Sungguh, sudah tidak ada." Ibunya memelas.
Lelaki itu mendamprat dengan kata-kata kotor. Ludah bercipratan, bagai semburan bisa ular. Lalu tangannya menarik rambut wanita itu dan menyeretnya ke luar kamar. Wanita itu berteriak minta tolong. Sakila hanya bisa menangis sambil memegangi daun pintu.
Pipi wanita itu kembali ditampar. Entah yang keberapa kali. Ia kehilangan keseimbangan. Tubuh kurusnya terhuyung dan kepalanya membentur tembok. Sesaat ia diam, dan secara perlahan tubuhnya runtuh ke lantai.
Mendengar jeritan Sakila dan teriakan ibunya, beberapa tetangga berlarian ke rumah itu. Beberapa orang menangkap tangan lelaki mabuk itu. Tapi ia berontak sehingga kepalan tangan mendarat ke wajahnya. Ludah kembali muncrat, kali ini berbau bangkai.
Para wanita datang mendekati tubuh yang terbaring di lantai. Suara-suara sanjungan Tuhan dikumandangkan. Sakila memeluk ibunya sangat erat. Seerat lakban.
Mulutnya terus memanggil-manggil ibunya.
* * *
Sakila berada dalam selimut bersama Mela yang sedang tertidur lelap. Sakila perlahan menyingkap selimut karena mendengar suara itu lagi, berkali-kali. Laki-laki itu najis anakku. Laki-laki itu najis anakku.
Ia termangu beberapa saat, lalu membuka jendela untuk mencari dari mana datangnya suara itu. Tiba-tiba angin menabrak dirinya. Ia melangkah ke belakang. Angin itu seolah terpental kembali, menghalangi cahaya bulan. Kemudian angin itu seperti membentuk tubuh seorang wanita. Ya, itu adalah ibunya. Laki-laki itu najis anakku. Laki-laki itu najis anakku.
Sakila bagai terhipnotis. Ia berbalik, menatap ke tempat tidur dan melihat tubuh kekar Mela yang telanjang bagai sesosok laki-laki perkasa. Suara itu kembali berbisik di telinganya. Kali ini seperti ada beratus-ratus pembisik, menghunjami pikirannya dengan suara-suara. Laki-laki itu najis anakku. Laki-laki itu najis anakku.
Sakila tiba-tiba menjadi liar dan merasakan kekuatan yang luar bisa. Matanya nanar. Jari-jarinya membentuk cakar. Kebenciannya pada laki-laki memuncak, terbayang ibunya yang terus-menerus disiksa hingga menderita. Dalam diri Sakila ada 'dia' yang tak bernama, namun daya sihirnya bagai magma.
Tanpa diduga Sakila melompat ke atas tempat tidur dan dengan cepat mencekik leher dari seonggok tubuh yang dianggapnya sebagai sosok lelaki jahat. Tubuh itu mencoba berontak, tapi tak memiliki tenaga karena telah terkuras pada permainan dahsyat beberapa jam sebelumnya. Lambat laun gerakannya menjadi lemah dan akhirnya diam dengan lidah menjulur.
Laki-laki itu najis anakku. Laki-laki itu najis anakku.
* * *
Sakila mengenal dosa setelah datang seorang lelaki mantan preman yang membawa kitab tebal. Dialah yang mengajarkan kata itu. Tapi sebelumnya Sakila tidak pernah tahu dan mengerti apa itu dosa. Kini ia jadi suka termenung.
Ada perasaan kangen yang dirasakan Sakila untuk kembali bertemu dengan orang itu bila ia telah pergi. Perasaan yang dulu tak pernah ada dalam benaknya. Apalagi yang bernama laki-laki. Tapi akhirnya Sakila bercerita tentang dirinya, tentang ibunya, tentang ayahnya, tentang Mela, dan juga tentang perasaannya pada lelaki mantan preman yang membawa kitab tebal itu.
Itulah cerita yang telah dituturkannya kepadaku. Karena akulah lelaki mantan preman yang membawa kitab tebal itu dan telah mengenalkan kata 'dosa' padanya. Aku mengajarkan doa, bukan mantra.***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Suara Karya 08/12/2007
Di rumahku ada ruang bawah tanah. Tapi aku tidak pernah membuka pintunya, apalagi memasukinya. Entah mengapa aku tidak begitu tertarik. Kupikir paling-paling isinya hanya barang-barang bekas milik ayah - mesin ketik tua, pakaian-pakaian lusuh, sepatu-sepatu kumal, dan barang-barang elektronik yang sudah rusak.
Yang ada di benakku sejak lama adalah semua rumah pasti memiliki tempat seperti itu. Tapi sewaktu bermain dengan anak-anak tetangga, aku baru tahu bahwa tak seorang pun yang memiliki gudang bawah tanah di rumah mereka. Timbul rasa ingin tahu. Malam hari menjelang tidur, aku bertanya tentang ruangan itu pada ayah.
Aku tercengang. Kata ayah ruangan itu dihuni oleh makhluk halus bernama Mbah Suro. Bulu kudukku berdiri, sehingga aku minta kepada ayah agar jangan meninggalkan kamarku sebelum aku pulas. Lampu juga harus tetap menyala. Aku membayangkan sosok lelaki tua renta dengan rambut putih panjang yang menyentuh lantai.
Semenjak mendengar cerita itu pikiranku tak pernah lepas dari ruang bawah tanah dan Mbah Suro. Pernah aku membayangkan Mbah Suro yang sedang mengaduk bejana besar dengan air mendidih. Asap mengepul, menyebarkan aroma daging manusia yang sebentar lagi akan disantapnya.
Suatu hari, ketika hendak menuju dapur, aku seperti mendengar suara perempuan merintih. Rasa penasaran timbul, diselingi rasa ragu. Kudekati pintu ruang bawah tanah, dan kucoba melihat ke dalam melalui lubang kunci. Gelap terlihat. Sambil menarik napas dan berdoa kutekan gagang pintu. Keras. Lalu kulekatkan telinga kananku ke daun pintu untuk mendengarkan suara itu lagi. Sesaat tak terdengar apa-apa, hanya jantungku yang berdentum tak karuan. Tiba-tiba rumah seolah semakin sunyi dan ada angin yang menyapu kudukku. Secepat kilat aku kabur dari tempat itu.
Khayalanku semakin menjadi-jadi. Kepada teman-teman sepermainan aku sering bercerita bahwa di rumahku ada hantu bernama Mbah Suro. Aku juga menambah cerita bahwa makhluk itu memiliki mata hijau yang bisa bersinar dalam gelap. Semua temanku percaya, sehingga tak seorang pun yang mau datang ke rumahku.
Bukan hanya pada teman-teman sepermainan, aku juga bercerita pada semua orang - penjaja es keliling, tukang bakso, penjual kue, pemilik warung di ujung gang, tukang sayuran dan guru-guru di sekolah. Hingga pada suatu malam ayah datang ke kamarku.
"Anakku, kenapa kamu cerita tentang Mbah Suro ke semua orang?"
Aku memandang wajah ayah.
"Kamu terlalu memikirkan cerita ayah."
"Mengapa Mbah Suro ada di rumah kita, Ayah?"
"Ceritanya panjang, Anakku."
"Tolong ceritakan, Ayah."
Ayah menarik napas. "Asal kamu berjanji untuk tidak memikirkan Mbah Suro lagi dan jangan cerita pada siapa pun."
"Aku berjanji."
Ayah kemudian bercerita:
Mbah Suro dulunya adalah dewa yang tinggal di kayangan. Suatu ketika ia ditugaskan ke bumi untuk membuat dunia ini aman. Ia berwujud seorang pria. Wujud inilah yang lambat laun membuat sifat manusia melekat pada dirinya dan ia jatuh cinta dengan gadis cantik berbulu mata lentik. Ini membuat misinya tidak berhasil, dan ia diperintahkan untuk kembali ke kayangan.
Mbah Suro tidak bisa menghapus bayangan gadis itu. Bulu mata lentiknya selalu terbayang. Selama beberapa bulan ia terus memohon agar dikembalikan ke bumi, dan akhirnya keinginan itu dikabulkan. Dengan perasaan berbunga-bunga Mbah Suro segera menemui gadis pujaannya. Tapi ternyata gadis itu sudah menikah.
Mbah Suro sangat kecewa. Ia mencoba menemukan gadis lain. Tapi setelah lima tahun pencarian, tak seorang pun yang menyamai gadis berbulu mata lentik itu. Mbah Suro putus asa, dan akhirnya ia bunuh diri. Karena ia adalah setengah manusia dan dewa, ruhnya tidak bisa langsung kembali ke kayangan. Ia harus menunggu selama seribu tahun. Sejak itulah ia mendiami ruang bawah tanah.
"Itulah kenapa ayah selalu mengunci pintu ruang bawah tanah. Jangan pernah mencoba untuk memasukinya, atau kamu akan menemui makhluk berumur lebih dari tiga ratus tahun. Sangat menyeramkan dengan rona kesedihan abadi."
Aku langsung terpejam. Kutarik selimut hingga menutupi kepalaku.
* * *
Aku berhenti memikirkan ruang bawah tanah dan Mbah Suro saat masuk SMP. Tapi aku merindukan figur seorang ibu. Ketika kutanyakan ayah apa yang sebenarnya terjadi pada ibu, ayah berkata bahwa aku tidak perlu memikirkan ibu karena ia telah berada di suatu tempat yang aman.
"Tempat apa, Ayah?"
"Tempat dimana tak seorang pun bisa melukai perasaannya."
Aku tak mengerti, tapi aku hanya diam.
Ayah kembali bercerita tentang Mbah Suro. Tapi aku sudah tidak tertarik lagi. Cerita ayah yang dulu kuanggap sebagai akal-akalan saja agar aku tidak menjadi anak nakal. Ayah akhirnya tak lagi bercerita tentang ruang bawah tanah dan Mbah Suro. Kisah itu adalah bagian dari masa kecilku yang kuanggap sebagai dongeng sebelum tidur.
Hidupku terasa sepi. Ayah selalu pulang malam hari. Untuk membunuh rasa sepi, aku menghabiskan waktu dengan membaca cerita silat. Aku seperti kecanduan, hingga aku jarang berbicara pada ayah. Tapi ia selalu memberikan apa yang kuminta.
Hari berlalu. Aku mulai naksir teman di sekolah. Setelah sekian lama kupendam perasaan itu, kuberanikan diri untuk berterus terang. Ia menolak cintaku. Aku sangat kecewa. Berjam-jam kupandangi wajahku di cermin. Apakah aku jelek? Tapi pemilik warung di ujung gang bilang bahwa aku tampan seperti ayahku.
Suatu hari aku lewat di depan rumah tetangga yang sangat percaya mistik. Aku terkejut karena tiba-tiba ada yang menarik lenganku. Aku diminta duduk di kursi tamu. Kupandangi wajah kotaknya saat ia berkata bahwa ketampanan dan jiwa mudaku telah diserap oleh ayah. Itulah mengapa sampai saat ini ayah masih tetap muda dan disukai banyak wanita. Sedangkan aku sampai kapan pun tak akan pernah dicintai wanita.
Aku menganggap itu hanya kelakar saja dan ia cemburu melihat ayah yang berwajah tampan. Tapi lambat laun pikiran itu mengusik hatiku karena hampir setiap hari libur ada saja wanita yang bertandang ke rumahku. Mereka selalu bercakap-cakap dengan ayah di ruang tamu. Kadang-kadang kudengar tawa mereka.
Ayah selalu mengenalkan tamu wanitanya kepadaku. Mereka semua bilang bahwa aku juga sangat tampan. Awalnya aku merasa terhibur, tapi lama-kelamaan aku menganggap itu hanya pujian untuk menarik hatiku. Mulai saat itu aku memasang wajah cemberut saat diperkenalkan kepada tamu ayah, meskipun kutahu ayah tidak suka dengan sikapku.
"Anakku, kamu harus sopan dengan tamu-tamu ayah. Siapa tahu salah satu dari mereka akan menjadi ibumu." Kata ayah suatu malam saat aku sedang membaca cerita silat di tempat tidur.
Aku diam saja. Ayah mengusap rambutku sebelum pergi.
* * *
Tamat SMA aku pergi ke ibu kota untuk kuliah. Aku jarang menghubungi ayah karena sibuk dengan pelajaran dan kegiatan kampus. Sesekali ayah menghubungiku, menanyakan tentang kuliah, kesehatan dan biaya hidup. Aku bilang pada ayah untuk tidak khawatir karena aku mendapat beasiswa dan bekerja paruh waktu.
Lima tahun kemudian aku lulus, dan langsung bekerja sebagai reporter di sebuah stasiun televisi. Tugas-tugas peliputan membawaku pergi ke berbagai tempat, hingga ke manca negara. Aku semakin sibuk dan semakin jarang menghubungi ayah. Lambat laun hubungan kami seperti terputus.
Kadang-kadang aku seperti lupa bahwa aku masih memiliki seorang ayah. Kadang pula ingatan akan ayah muncul saat aku sedang tidak sibuk bekerja. Tapi aku seolah merasa bahwa ia sudah menikah lagi dan memiliki beberapa anak. Itulah mengapa ia juga tak pernah lagi menghubungiku.
Aku merasa sudah waktunya untuk berumah tangga. Tapi anehnya setiap wanita yang kuajak menikah selalu menolak, meskipun mereka sangat dekat denganku sehari-hari. Ada-ada saja alasannya. Aku jadi teringat kata-kata tetanggaku. Apakah memang benar ketampananku telah diserap oleh ayah?
Pada saat kesepian semakin memuncak dan aku membutuhkan seorang pendamping di sisiku, tiba-tiba ayah menghubungiku dan memintaku untuk pulang. Setibanya di rumah, kulihat ayah sedang duduk di kursi goyang. Ia masih tampan, tapi tubuhnya terlihat lemah.
"Anakku, maafkan ayah."
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku telah meninggalkan Ayah begitu lama." Aku hampir menangis melihat tangan ayah yang gemetar.
"Tidak, Anakku. Selama ini ayah telah bersekutu dengan iblis."
"Apa maksud Ayah?"
"Mari kita ke ruang bawah tanah. Akan ayah tunjukkan sebuah rahasia. Ayah ingin mati dengan perasaan tenteram dan damai."
Ruang bawah tanah? Seketika kenangan tentang Mbah Suro mencuat.
Ayah membuka pintu yang selama ini digembok. Aku mengikuti langkah ayah yang sangat pelan. Rupanya ada undakan-undakan seperti anak tangga yang menurun. Aku dapat mendengar napas ayah di kegelapan. Napas itu sudah sangat lemah.
Saat aku menginjak undakan terakhir, ayah menyalakan lampu. Terlihat peti kayu besar di tengah ruangan. Ayah sudah berada di samping peti itu. Ia sekilas memandang ke arahku. Mata ayah seperti mata kucing di kegelapan, tetapi tidak menakutkan.
Aku masih tetap berdiri di undakan terakhir sambil tanganku memegang dinding yang terasa dingin. Aku berada sekitar lima langkah dari ayah yang kulihat sedang membuka gembok peti itu.
"Anakku, inilah rahasia ayah." Kata ayah saat peti itu terbuka. "Kemarilah dan lihat!"
Aku mendekatinya. Tapi tiba-tiba aku mundur lagi beberapa langkah. Jantungku seperti melompat keluar menembus dada. Tubuhku gemetar. Ada kerangka manusia di dalam peti itu.
"Ayah, kerangka siapa itu?"
"Inilah ibumu."
Udara seperti menggumpal di tenggorokanku. "Kenapa Ayah membunuh ibu?"
"Ayah tidak membunuhnya. Ia meninggal saat melahirkanmu. Karena sangat mencintainya, ayah meletakkannya di sini agar selalu dekat dengannya. Ayah telah berusaha untuk mencari penggantinya, tapi tak seorang pun yang mampu mengalahkan kecantikan ibumu."
Ayah berlutut di samping peti. Ia mengusap kerangka ibu. Tubuhku kaku. Mataku tertuju pada kerangka itu. Lalu kupalingkan pandangan ke arah ayah. Ia kini tampak sangat tua dan keriput. Rambut putihnya seperti memanjang dan menyentuh lantai.
Tiba-tiba ayah mengangkat wajahnya, dan melihat padaku. Aku sedikit takut. Apakah ia benar-benar ayahku.
"Ayah," kataku. "Apakah Ayah Mbah Suro?"
Tatapannya penuh kepedihan. Lalu ia mengangguk. ***
Dimuat di Suara Karya 08/12/2007
Di rumahku ada ruang bawah tanah. Tapi aku tidak pernah membuka pintunya, apalagi memasukinya. Entah mengapa aku tidak begitu tertarik. Kupikir paling-paling isinya hanya barang-barang bekas milik ayah - mesin ketik tua, pakaian-pakaian lusuh, sepatu-sepatu kumal, dan barang-barang elektronik yang sudah rusak.
Yang ada di benakku sejak lama adalah semua rumah pasti memiliki tempat seperti itu. Tapi sewaktu bermain dengan anak-anak tetangga, aku baru tahu bahwa tak seorang pun yang memiliki gudang bawah tanah di rumah mereka. Timbul rasa ingin tahu. Malam hari menjelang tidur, aku bertanya tentang ruangan itu pada ayah.
Aku tercengang. Kata ayah ruangan itu dihuni oleh makhluk halus bernama Mbah Suro. Bulu kudukku berdiri, sehingga aku minta kepada ayah agar jangan meninggalkan kamarku sebelum aku pulas. Lampu juga harus tetap menyala. Aku membayangkan sosok lelaki tua renta dengan rambut putih panjang yang menyentuh lantai.
Semenjak mendengar cerita itu pikiranku tak pernah lepas dari ruang bawah tanah dan Mbah Suro. Pernah aku membayangkan Mbah Suro yang sedang mengaduk bejana besar dengan air mendidih. Asap mengepul, menyebarkan aroma daging manusia yang sebentar lagi akan disantapnya.
Suatu hari, ketika hendak menuju dapur, aku seperti mendengar suara perempuan merintih. Rasa penasaran timbul, diselingi rasa ragu. Kudekati pintu ruang bawah tanah, dan kucoba melihat ke dalam melalui lubang kunci. Gelap terlihat. Sambil menarik napas dan berdoa kutekan gagang pintu. Keras. Lalu kulekatkan telinga kananku ke daun pintu untuk mendengarkan suara itu lagi. Sesaat tak terdengar apa-apa, hanya jantungku yang berdentum tak karuan. Tiba-tiba rumah seolah semakin sunyi dan ada angin yang menyapu kudukku. Secepat kilat aku kabur dari tempat itu.
Khayalanku semakin menjadi-jadi. Kepada teman-teman sepermainan aku sering bercerita bahwa di rumahku ada hantu bernama Mbah Suro. Aku juga menambah cerita bahwa makhluk itu memiliki mata hijau yang bisa bersinar dalam gelap. Semua temanku percaya, sehingga tak seorang pun yang mau datang ke rumahku.
Bukan hanya pada teman-teman sepermainan, aku juga bercerita pada semua orang - penjaja es keliling, tukang bakso, penjual kue, pemilik warung di ujung gang, tukang sayuran dan guru-guru di sekolah. Hingga pada suatu malam ayah datang ke kamarku.
"Anakku, kenapa kamu cerita tentang Mbah Suro ke semua orang?"
Aku memandang wajah ayah.
"Kamu terlalu memikirkan cerita ayah."
"Mengapa Mbah Suro ada di rumah kita, Ayah?"
"Ceritanya panjang, Anakku."
"Tolong ceritakan, Ayah."
Ayah menarik napas. "Asal kamu berjanji untuk tidak memikirkan Mbah Suro lagi dan jangan cerita pada siapa pun."
"Aku berjanji."
Ayah kemudian bercerita:
Mbah Suro dulunya adalah dewa yang tinggal di kayangan. Suatu ketika ia ditugaskan ke bumi untuk membuat dunia ini aman. Ia berwujud seorang pria. Wujud inilah yang lambat laun membuat sifat manusia melekat pada dirinya dan ia jatuh cinta dengan gadis cantik berbulu mata lentik. Ini membuat misinya tidak berhasil, dan ia diperintahkan untuk kembali ke kayangan.
Mbah Suro tidak bisa menghapus bayangan gadis itu. Bulu mata lentiknya selalu terbayang. Selama beberapa bulan ia terus memohon agar dikembalikan ke bumi, dan akhirnya keinginan itu dikabulkan. Dengan perasaan berbunga-bunga Mbah Suro segera menemui gadis pujaannya. Tapi ternyata gadis itu sudah menikah.
Mbah Suro sangat kecewa. Ia mencoba menemukan gadis lain. Tapi setelah lima tahun pencarian, tak seorang pun yang menyamai gadis berbulu mata lentik itu. Mbah Suro putus asa, dan akhirnya ia bunuh diri. Karena ia adalah setengah manusia dan dewa, ruhnya tidak bisa langsung kembali ke kayangan. Ia harus menunggu selama seribu tahun. Sejak itulah ia mendiami ruang bawah tanah.
"Itulah kenapa ayah selalu mengunci pintu ruang bawah tanah. Jangan pernah mencoba untuk memasukinya, atau kamu akan menemui makhluk berumur lebih dari tiga ratus tahun. Sangat menyeramkan dengan rona kesedihan abadi."
Aku langsung terpejam. Kutarik selimut hingga menutupi kepalaku.
* * *
Aku berhenti memikirkan ruang bawah tanah dan Mbah Suro saat masuk SMP. Tapi aku merindukan figur seorang ibu. Ketika kutanyakan ayah apa yang sebenarnya terjadi pada ibu, ayah berkata bahwa aku tidak perlu memikirkan ibu karena ia telah berada di suatu tempat yang aman.
"Tempat apa, Ayah?"
"Tempat dimana tak seorang pun bisa melukai perasaannya."
Aku tak mengerti, tapi aku hanya diam.
Ayah kembali bercerita tentang Mbah Suro. Tapi aku sudah tidak tertarik lagi. Cerita ayah yang dulu kuanggap sebagai akal-akalan saja agar aku tidak menjadi anak nakal. Ayah akhirnya tak lagi bercerita tentang ruang bawah tanah dan Mbah Suro. Kisah itu adalah bagian dari masa kecilku yang kuanggap sebagai dongeng sebelum tidur.
Hidupku terasa sepi. Ayah selalu pulang malam hari. Untuk membunuh rasa sepi, aku menghabiskan waktu dengan membaca cerita silat. Aku seperti kecanduan, hingga aku jarang berbicara pada ayah. Tapi ia selalu memberikan apa yang kuminta.
Hari berlalu. Aku mulai naksir teman di sekolah. Setelah sekian lama kupendam perasaan itu, kuberanikan diri untuk berterus terang. Ia menolak cintaku. Aku sangat kecewa. Berjam-jam kupandangi wajahku di cermin. Apakah aku jelek? Tapi pemilik warung di ujung gang bilang bahwa aku tampan seperti ayahku.
Suatu hari aku lewat di depan rumah tetangga yang sangat percaya mistik. Aku terkejut karena tiba-tiba ada yang menarik lenganku. Aku diminta duduk di kursi tamu. Kupandangi wajah kotaknya saat ia berkata bahwa ketampanan dan jiwa mudaku telah diserap oleh ayah. Itulah mengapa sampai saat ini ayah masih tetap muda dan disukai banyak wanita. Sedangkan aku sampai kapan pun tak akan pernah dicintai wanita.
Aku menganggap itu hanya kelakar saja dan ia cemburu melihat ayah yang berwajah tampan. Tapi lambat laun pikiran itu mengusik hatiku karena hampir setiap hari libur ada saja wanita yang bertandang ke rumahku. Mereka selalu bercakap-cakap dengan ayah di ruang tamu. Kadang-kadang kudengar tawa mereka.
Ayah selalu mengenalkan tamu wanitanya kepadaku. Mereka semua bilang bahwa aku juga sangat tampan. Awalnya aku merasa terhibur, tapi lama-kelamaan aku menganggap itu hanya pujian untuk menarik hatiku. Mulai saat itu aku memasang wajah cemberut saat diperkenalkan kepada tamu ayah, meskipun kutahu ayah tidak suka dengan sikapku.
"Anakku, kamu harus sopan dengan tamu-tamu ayah. Siapa tahu salah satu dari mereka akan menjadi ibumu." Kata ayah suatu malam saat aku sedang membaca cerita silat di tempat tidur.
Aku diam saja. Ayah mengusap rambutku sebelum pergi.
* * *
Tamat SMA aku pergi ke ibu kota untuk kuliah. Aku jarang menghubungi ayah karena sibuk dengan pelajaran dan kegiatan kampus. Sesekali ayah menghubungiku, menanyakan tentang kuliah, kesehatan dan biaya hidup. Aku bilang pada ayah untuk tidak khawatir karena aku mendapat beasiswa dan bekerja paruh waktu.
Lima tahun kemudian aku lulus, dan langsung bekerja sebagai reporter di sebuah stasiun televisi. Tugas-tugas peliputan membawaku pergi ke berbagai tempat, hingga ke manca negara. Aku semakin sibuk dan semakin jarang menghubungi ayah. Lambat laun hubungan kami seperti terputus.
Kadang-kadang aku seperti lupa bahwa aku masih memiliki seorang ayah. Kadang pula ingatan akan ayah muncul saat aku sedang tidak sibuk bekerja. Tapi aku seolah merasa bahwa ia sudah menikah lagi dan memiliki beberapa anak. Itulah mengapa ia juga tak pernah lagi menghubungiku.
Aku merasa sudah waktunya untuk berumah tangga. Tapi anehnya setiap wanita yang kuajak menikah selalu menolak, meskipun mereka sangat dekat denganku sehari-hari. Ada-ada saja alasannya. Aku jadi teringat kata-kata tetanggaku. Apakah memang benar ketampananku telah diserap oleh ayah?
Pada saat kesepian semakin memuncak dan aku membutuhkan seorang pendamping di sisiku, tiba-tiba ayah menghubungiku dan memintaku untuk pulang. Setibanya di rumah, kulihat ayah sedang duduk di kursi goyang. Ia masih tampan, tapi tubuhnya terlihat lemah.
"Anakku, maafkan ayah."
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku telah meninggalkan Ayah begitu lama." Aku hampir menangis melihat tangan ayah yang gemetar.
"Tidak, Anakku. Selama ini ayah telah bersekutu dengan iblis."
"Apa maksud Ayah?"
"Mari kita ke ruang bawah tanah. Akan ayah tunjukkan sebuah rahasia. Ayah ingin mati dengan perasaan tenteram dan damai."
Ruang bawah tanah? Seketika kenangan tentang Mbah Suro mencuat.
Ayah membuka pintu yang selama ini digembok. Aku mengikuti langkah ayah yang sangat pelan. Rupanya ada undakan-undakan seperti anak tangga yang menurun. Aku dapat mendengar napas ayah di kegelapan. Napas itu sudah sangat lemah.
Saat aku menginjak undakan terakhir, ayah menyalakan lampu. Terlihat peti kayu besar di tengah ruangan. Ayah sudah berada di samping peti itu. Ia sekilas memandang ke arahku. Mata ayah seperti mata kucing di kegelapan, tetapi tidak menakutkan.
Aku masih tetap berdiri di undakan terakhir sambil tanganku memegang dinding yang terasa dingin. Aku berada sekitar lima langkah dari ayah yang kulihat sedang membuka gembok peti itu.
"Anakku, inilah rahasia ayah." Kata ayah saat peti itu terbuka. "Kemarilah dan lihat!"
Aku mendekatinya. Tapi tiba-tiba aku mundur lagi beberapa langkah. Jantungku seperti melompat keluar menembus dada. Tubuhku gemetar. Ada kerangka manusia di dalam peti itu.
"Ayah, kerangka siapa itu?"
"Inilah ibumu."
Udara seperti menggumpal di tenggorokanku. "Kenapa Ayah membunuh ibu?"
"Ayah tidak membunuhnya. Ia meninggal saat melahirkanmu. Karena sangat mencintainya, ayah meletakkannya di sini agar selalu dekat dengannya. Ayah telah berusaha untuk mencari penggantinya, tapi tak seorang pun yang mampu mengalahkan kecantikan ibumu."
Ayah berlutut di samping peti. Ia mengusap kerangka ibu. Tubuhku kaku. Mataku tertuju pada kerangka itu. Lalu kupalingkan pandangan ke arah ayah. Ia kini tampak sangat tua dan keriput. Rambut putihnya seperti memanjang dan menyentuh lantai.
Tiba-tiba ayah mengangkat wajahnya, dan melihat padaku. Aku sedikit takut. Apakah ia benar-benar ayahku.
"Ayah," kataku. "Apakah Ayah Mbah Suro?"
Tatapannya penuh kepedihan. Lalu ia mengangguk. ***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Suara Karya 28/07/2007
Saya memberi nama anak laki-laki itu Izan, sebab ia lahir saat azan berkumandang setelah petang tak lagi datang. Saat itu terdengar jeritan ibunya yang menyumpah-nyumpah nama seorang pria. Ia bilang pria itu bajingan, binatang, setan dan segala macam.
Jelas sekali saya mendengar sumpah serapah itu. Kontrakan kami hanya berbatas dinding tua yang mungkin akan runtuh dengan sekali hentakan keras kaki lelaki kekar. Saya tak tahan mendengar caci maki seperti itu. Akhirnya saya pergi, meninggalkan jahitan yang sebenarnya sebentar lagi selesai. Setelah balik puluhan menit kemudian, saya mendengar suara tangisan bayi.
Ketika saya datang menjenguk sambil membawa pakaian bayi yang saya jahit sendiri, ibunya berkata, "Dia tidak punya nama sebab dia bukan anak manusia. Dia anak setan yang berwujud lelaki jalang."
"Anak Setan?"
Wanita itu mengangguk. Rambutnya yang terurai panjang seolah berubah menjadi tambang ijuk yang melilit-lilit tak karuan. Ia tidak mengucapkan terimakasih atas pemberian saya, malah menatap wajah saya dengan sorot menakutkan. Cahaya matanya seolah menjelma makhluk buas yang siap menerkam. Saya tiba-tiba merasa ngeri. Apakah ia benar-benar setan yang telah melahirkan seorang anak?
Malam-malam berikutnya sering terdengar suara tangisan Izan yang menyayat hati. Sebagai seorang wanita yang telah melahirkan, saya tahu Izan lapar. Ingin rasanya saya keluar, mengetuk pintu rumah wanita itu, dan memberi Izan susu. Tapi lagi-lagi saya ngeri dengan tatapan ibunya yang bagai memancarkan api.
Ternyata ketakutan itu bukan cuma saya yang merasakan. Tetangga-tetangga lain juga bilang bahwa mereka tidak berani berbicara dengan wanita itu karena bila diberi saran ia akan berteriak-teriak seperti orang kesurupan dan berkata bahwa anak setan tak perlu dikasihani. Orang-orang menjadi malas dan tak mau ambil peduli.
Pernah sekali saya tak mendengar suara tangisan Izan pada puncak malam ketika kamar kecil memanggil saya. Itu membuat saya sedikit penasaran. Keluar dari kamar kecil, saya tak langsung ke tempat tidur, tapi menuju ke tembok yang berbatasan dengan rumah wanita itu. Pelan-pelan saya tempelkan telinga ke tembok yang terasa sangat dingin.
Saya mulai mendengar suara tangisan wanita. Saya berpikir bahwa itu pasti suara ibu Izan. Tangisan itu lambat laun makin keras terdengar dan menyayat. Tiba-tiba jantung saya meledak saat ada teriakan yang mengutuk seseorang. Wanita itu kembali mengucapkan kata-kata paling kasar yang pernah saya dengar. Puncaknya, saya mendengar suara lemparan -yang menurut saya adalah gelas dan piring- membentur dinding tepat di tempat saya menguping. Pecahannya seperti menembus ke gendang telinga.
"Dasar setan. Buaya! Enyah kau! Kamu hanya mau menikmati tubuhku. Penipu. Bajingan. Anjiiing."
Daun telinga saya sontak kaku, pori-pori kulit membesar dan membuat bulu-bulu halus di sekujur tubuh berdiri. Mata wanita itu terbayang, dengan rambut ijuknya yang berubah menjadi ular berbisa yang menjulurkan lidah bercabang dua. Langsung saya menuju kamar tidur dan memeluk anak saya yang sedang pulas di balik selimut.
* * *
Seorang wanita muda saya perhatikan sedang melihat-lihat kontrakan sebelah. Rambutnya hitam, lurus, dan ujungnya yang rata hampir menyentuh ikat pinggang. Celana putih ketatnya mencetak garis tepian celana dalam dengan jelas. Dan saya bisa menebak jika warnanya merah muda. Tiba-tiba ada ketukan di pintu setelah saya masuk ke dalam. Saya terkejut melihat wanita tadi telah berada di depan saya. Saya mematung sesaat melihat matanya yang gelap, bulu matanya yang panjang, bibirnya yang ungu, dan tulang pipinya yang menonjol dengan sinar kemerahan.
"Permisi." Katanya. "Siapa yang memiliki kontrakan di sini?"
"Ini kontrakan haji Jamil." Kata saya. "Rumahnya tepat di pinggir jalan dengan cat biru muda, dan ada warung di depannya."
Ia mengucapkan terimakasih dengan suara datar, lalu cepat-cepat pergi, menunjukkan punggungnya yang mulus. Dan keesokan harinya saya lihat beberapa lelaki mengangkut barang-barang ke rumah itu.
Hari-hari berikutnya saya jarang bertemu dia. Sebagai tetangga, sebetulnya saya ingin mengenal dirinya. Tapi kesempatan itu tak pernah saya dapatkan. Pernah saya sengaja datang ke rumahnya dengan membawa semangkuk kolak pisang. Maksudnya agar saya bisa berbincang-bincang dan menjalin persahabatan dengannya. Tetapi ia mengatakan sedang sakit perut sehingga menolak pemberian saya.
Wanita itu selalu keluar rumah saat langit telah hitam dan selalu dengan dandanan yang sama. Menor. Sebagai wanita, saya akui jika saya iri melihat bentuk tubuhnya. Tapi saya tak tahu kapan jam pulangnya. Cuma siangnya saya sering melihat dia membeli sayuran. Anehnya, ia memanggil tukang sayur saat ibu-ibu yang lain selesai berbelanja.
Saya mencoba tak ambil pusing dengan keberadaannya, toh ia tak pernah mengganggu saya. Pernah beberapa kali saya mendengar suara cekikikan dua orang dari rumahnya. Lagi-lagi saat tengah malam ketika saya harus ke kamar kecil. Pada awalnya saya kira itu hanya perasaan saja. Tapi ketika saya tempelkan telinga ke tembok, saya mendengar suara erangan yang mendesah. Salah satunya adalah suara laki-laki. Memang ada perasaan kaget, namun cepat-cepat saya kembali tidur.
Lalu para tetangga mulai membicarakannya. Terutama ibu-ibu yang datang untuk menjahit baju kepada saya atau saat berbelanja sayuran. Ada yang mengatakan bahwa ia wanita simpanan, wanita panggilan, atau apalah. Saya diam saja karena takut menyebar fitnah. Akhirnya saya mendengar bahwa ada yang melapor kepada haji Jamil agar mengusir wanita itu. Tapi lelaki tua itu mengatakan bahwa ia tak bisa melakukannya mengingat wanita itu tak pernah membuat masalah dan telah membayar kontrakan untuk tiga tahun.
* * *
Subuh tiba. Saya cepat bangun karena sulit memejamkan mata akibat suara Izan yang tak berhenti menangis. Suara tangis itu mengiris hati saya. Saya jadi bingung apa yang akan saya lakukan karena tangis itu seolah memanggil-manggil saya untuk segera datang ke sana. Walau berat, akhirnya saya membuat keputusan.
Saya keluar. Rumah sebelah terlihat gelap. Tangis Izan masih terdengar. Lalu saya membuka pagar, ke jalan setapak yang hanya bisa dilalui dua motor, dan kemudian masuk ke halaman rumah wanita itu. Dengan perasaan ragu saya ketuk pintunya. Tidak ada jawaban. Lalu saya ketuk beberapa kali dengan lebih keras, tetap tak ada jawaban. Saya dorong pintu itu. Keras. Suara tangis Izan makin jelas terdengar. Saya merasakan detak jantung yang memukul dada tak karuan.
Saya menoleh ke berbagai arah. Sisa-sisa malam belum menghilang, dan masih dipagut sepi. Tembok tinggi bercat hitam di depan rumah kami juga belum menampakkan coretan-coretannya. Namun tiba-tiba muncul beberapa lelaki yang pulang dari Mushola.
"Ada apa, Mbak Nurul?"
Mereka berhenti dan berkumpul di depan pagar. Saya cerita tentang suara tangis Izan yang telah berlangsung beberapa jam. Awalnya mereka tampak ragu, tapi ketika tangisan Izan terdengar mereka masuk ke halaman satu-persatu. Lalu salah seorang mengetuk pintu setelah menempelkan telinganya beberapa detik dan mencari-cari celah untuk melihat ke dalam. Mula-mula pelan, lambat laun keras. Yang lain juga ikut-ikutan mengetuk pintu. Tapi tetap tak ada jawaban.
Salah seorang kemudian berinisiatif untuk memanggil haji Jamil. Tak lama kemudian haji Jamil datang dengan membawa kunci duplikat. Jalannya tergopoh-gopoh, sehingga suara kain sarung yang melilit di pinggangnya terdengar.
Pintu dibuka. Gelap. Suara Izan kini terdengar bagai orang kecegukan. Saya tahu suara itu berasal dari kamar. Setelah lampu dinyalakan oleh haji Jamil, saya segera menuju ke kamar dan menemukan tubuh Izan yang telah membiru. Tak ada lagi tangis. Matanya terpejam, namun mulutnya menyerupai ikan mujair.
Tiba-tiba suara haji Jamil terdengar keras sambil membaca istigfar, diikuti oleh beberapa lelaki lain. Saya segera keluar kamar sambil mendekap Izan. Saat berjalan beberapa langkah ke pintu kamar mandi badan saya gemetar, jantung saya berhenti berdetak, dan tengkuk saya seperti disiram air es. Bila tak ada tembok, mungkin saya telah jatuh terduduk. Saya melihat seorang wanita tergantung dengan lidah menjulur dan mata mendelik. Ada wajah setan.
* * *
"Kamu sedang menggambar apa, Izan?" Tanya Saya.
"Sayap malaikat."
Ucapan Izan sulit dimengerti. Mulanya saya juga mengalami kesulitan. Tapi karena setiap saat berhubungan dengannya, lambat-laun saya bisa menangkap artinya. Yang paling mengherankan adalah matanya yang tak pernah menatap saya bila diajak bicara. Tapi jika diperhatikan, mata itu seperti menatap sesuatu.
"Kamu pernah melihat malaikat?"
"Pernah." Kata Izan. Tangannya terus saja menggambar. "Di rumah sebelah."
Saya teringat rumah itu yang kini kosong. Tak ada orang yang mau menempati meskipun haji Jamil telah menurunkan biaya sewanya hingga setengah. Banyak yang bilang telah mendengar suara-suara aneh dari rumah itu bila lewat di depannya. Entah benar atau tidak, katanya ada yang pernah melihat wanita berambut panjang dari balik kaca sedang menjulurkan lidah. Matanya bagai mata kucing dalam gelap, namun berwarna seperti api. Lalu katanya lagi ada bau darah, terkadang bangkai. Tapi untungnya saya tak pernah mendengar apa-apa dan tidak ada perasaan takut sedikit pun.
Yang saya takutkan hanya Izan. Gurunya di sekolah bilang ia berbeda dengan anak-anak lainnya. Fisiknya agak lemah dan kecerdasannya sangat kurang. Akhirnya Izan tak lagi sekolah. Untuk menyekolahkannya di tempat khusus saya tidak punya uang. Berapalah pendapatan seorang penjahit yang tak memiliki suami seperti saya dan harus menghidupi dua anak.
"Kok sayapnya cuma satu?" Saya bertanya lagi.
"Sebentar lagi dua."
Saya menatap Izan. Matanya yang berbentuk aneh kini tampak layu. Muncul rasa bersalah yang tak mampu saya ungkapkan. Yang saya mampu lakukan hanya memberinya makan dan menceritakan kisah-kisah malaikat sebelum tidur bersama anak kandung saya. Untungnya anak kandung saya juga baik pada Izan.
Izan sangat menyukai cerita itu, terutama cerita malaikat yang sebenarnya saya karang sendiri. Saya katakan bahwa malaikat itu memiliki dua sayap, bisa terbang, dan suka menemui anak-anak yang berperilaku baik. Tapi mereka akan menyamar menjadi manusia bila bertemu anak-anak. Kadang Izan bertanya walaupun kata-kata yang keluar terasa sulit sekali.
"Izan mau ketemu malaikat lagi."
Kata-kata itu lagi yang diucapkan. Sudah beberapa hari ini. Mulanya saya tidak menanggapi.
"Dimana, Izan?" Akhirnya saya bertanya.
"Di rumah sebelah."
Saya menarik napas. Saya pikir izan mungkin terlalu serius dengan cerita saya selama ini. Lalu saya biarkan ia melanjutkan menggambar, sedangkan perhatian saya tercurah pada jahitan.
Sore itu tiba-tiba langit gelap. Hujan turun dengan deras selama hampir satu jam. Saya terus saja menjahit, karena besok akan diambil. Setelah itu saya membantu anak kandung saya menyelesaikan PR. Saya melupakan Izan sama sekali. Saya baru sadar Izan tak ada saat azan Magrib terdengar dan hujan telah berhenti.
Saya memanggil-manggil Izan. Karena tak ada jawaban saya keluar. Dari sana saya melihat seorang anak kecil terbaring di rumah sebelah di atas bale bambu. Langsung saya menuju ke sana. Jantung saya berdegup sangat keras saat saya tahu itu adalah Izan.
Anak itu diam dengan wajah tersenyum sambil memegang selembar kertas. Putih dan pucat. Matanya tertutup. Saya membungkuk. Dengan gemetar saya sentuh dia sambil menyebut namanya. Ia diam. Telapak tangan saya merasakan dingin. Lalu saya guncangkan badannya perlahan. Tapi tubuh itu kaku.
"Izaaan." Saya berteriak. Ia tetap diam.
Tiba-tiba ada angin yang menggerakkan ujung kertas yang tertindih tangannya. Saya tarik kertas itu pelan-pelan dari dekapan Izan. Mata saya tak mampu berkedip. Terlihat gambar menyerupai sosok manusia yang kini telah memiliki dua sayap berwarna biru. Izan telah menggambar sayap malaikat. ***
Dimuat di Suara Karya 28/07/2007
Saya memberi nama anak laki-laki itu Izan, sebab ia lahir saat azan berkumandang setelah petang tak lagi datang. Saat itu terdengar jeritan ibunya yang menyumpah-nyumpah nama seorang pria. Ia bilang pria itu bajingan, binatang, setan dan segala macam.
Jelas sekali saya mendengar sumpah serapah itu. Kontrakan kami hanya berbatas dinding tua yang mungkin akan runtuh dengan sekali hentakan keras kaki lelaki kekar. Saya tak tahan mendengar caci maki seperti itu. Akhirnya saya pergi, meninggalkan jahitan yang sebenarnya sebentar lagi selesai. Setelah balik puluhan menit kemudian, saya mendengar suara tangisan bayi.
Ketika saya datang menjenguk sambil membawa pakaian bayi yang saya jahit sendiri, ibunya berkata, "Dia tidak punya nama sebab dia bukan anak manusia. Dia anak setan yang berwujud lelaki jalang."
"Anak Setan?"
Wanita itu mengangguk. Rambutnya yang terurai panjang seolah berubah menjadi tambang ijuk yang melilit-lilit tak karuan. Ia tidak mengucapkan terimakasih atas pemberian saya, malah menatap wajah saya dengan sorot menakutkan. Cahaya matanya seolah menjelma makhluk buas yang siap menerkam. Saya tiba-tiba merasa ngeri. Apakah ia benar-benar setan yang telah melahirkan seorang anak?
Malam-malam berikutnya sering terdengar suara tangisan Izan yang menyayat hati. Sebagai seorang wanita yang telah melahirkan, saya tahu Izan lapar. Ingin rasanya saya keluar, mengetuk pintu rumah wanita itu, dan memberi Izan susu. Tapi lagi-lagi saya ngeri dengan tatapan ibunya yang bagai memancarkan api.
Ternyata ketakutan itu bukan cuma saya yang merasakan. Tetangga-tetangga lain juga bilang bahwa mereka tidak berani berbicara dengan wanita itu karena bila diberi saran ia akan berteriak-teriak seperti orang kesurupan dan berkata bahwa anak setan tak perlu dikasihani. Orang-orang menjadi malas dan tak mau ambil peduli.
Pernah sekali saya tak mendengar suara tangisan Izan pada puncak malam ketika kamar kecil memanggil saya. Itu membuat saya sedikit penasaran. Keluar dari kamar kecil, saya tak langsung ke tempat tidur, tapi menuju ke tembok yang berbatasan dengan rumah wanita itu. Pelan-pelan saya tempelkan telinga ke tembok yang terasa sangat dingin.
Saya mulai mendengar suara tangisan wanita. Saya berpikir bahwa itu pasti suara ibu Izan. Tangisan itu lambat laun makin keras terdengar dan menyayat. Tiba-tiba jantung saya meledak saat ada teriakan yang mengutuk seseorang. Wanita itu kembali mengucapkan kata-kata paling kasar yang pernah saya dengar. Puncaknya, saya mendengar suara lemparan -yang menurut saya adalah gelas dan piring- membentur dinding tepat di tempat saya menguping. Pecahannya seperti menembus ke gendang telinga.
"Dasar setan. Buaya! Enyah kau! Kamu hanya mau menikmati tubuhku. Penipu. Bajingan. Anjiiing."
Daun telinga saya sontak kaku, pori-pori kulit membesar dan membuat bulu-bulu halus di sekujur tubuh berdiri. Mata wanita itu terbayang, dengan rambut ijuknya yang berubah menjadi ular berbisa yang menjulurkan lidah bercabang dua. Langsung saya menuju kamar tidur dan memeluk anak saya yang sedang pulas di balik selimut.
* * *
Seorang wanita muda saya perhatikan sedang melihat-lihat kontrakan sebelah. Rambutnya hitam, lurus, dan ujungnya yang rata hampir menyentuh ikat pinggang. Celana putih ketatnya mencetak garis tepian celana dalam dengan jelas. Dan saya bisa menebak jika warnanya merah muda. Tiba-tiba ada ketukan di pintu setelah saya masuk ke dalam. Saya terkejut melihat wanita tadi telah berada di depan saya. Saya mematung sesaat melihat matanya yang gelap, bulu matanya yang panjang, bibirnya yang ungu, dan tulang pipinya yang menonjol dengan sinar kemerahan.
"Permisi." Katanya. "Siapa yang memiliki kontrakan di sini?"
"Ini kontrakan haji Jamil." Kata saya. "Rumahnya tepat di pinggir jalan dengan cat biru muda, dan ada warung di depannya."
Ia mengucapkan terimakasih dengan suara datar, lalu cepat-cepat pergi, menunjukkan punggungnya yang mulus. Dan keesokan harinya saya lihat beberapa lelaki mengangkut barang-barang ke rumah itu.
Hari-hari berikutnya saya jarang bertemu dia. Sebagai tetangga, sebetulnya saya ingin mengenal dirinya. Tapi kesempatan itu tak pernah saya dapatkan. Pernah saya sengaja datang ke rumahnya dengan membawa semangkuk kolak pisang. Maksudnya agar saya bisa berbincang-bincang dan menjalin persahabatan dengannya. Tetapi ia mengatakan sedang sakit perut sehingga menolak pemberian saya.
Wanita itu selalu keluar rumah saat langit telah hitam dan selalu dengan dandanan yang sama. Menor. Sebagai wanita, saya akui jika saya iri melihat bentuk tubuhnya. Tapi saya tak tahu kapan jam pulangnya. Cuma siangnya saya sering melihat dia membeli sayuran. Anehnya, ia memanggil tukang sayur saat ibu-ibu yang lain selesai berbelanja.
Saya mencoba tak ambil pusing dengan keberadaannya, toh ia tak pernah mengganggu saya. Pernah beberapa kali saya mendengar suara cekikikan dua orang dari rumahnya. Lagi-lagi saat tengah malam ketika saya harus ke kamar kecil. Pada awalnya saya kira itu hanya perasaan saja. Tapi ketika saya tempelkan telinga ke tembok, saya mendengar suara erangan yang mendesah. Salah satunya adalah suara laki-laki. Memang ada perasaan kaget, namun cepat-cepat saya kembali tidur.
Lalu para tetangga mulai membicarakannya. Terutama ibu-ibu yang datang untuk menjahit baju kepada saya atau saat berbelanja sayuran. Ada yang mengatakan bahwa ia wanita simpanan, wanita panggilan, atau apalah. Saya diam saja karena takut menyebar fitnah. Akhirnya saya mendengar bahwa ada yang melapor kepada haji Jamil agar mengusir wanita itu. Tapi lelaki tua itu mengatakan bahwa ia tak bisa melakukannya mengingat wanita itu tak pernah membuat masalah dan telah membayar kontrakan untuk tiga tahun.
* * *
Subuh tiba. Saya cepat bangun karena sulit memejamkan mata akibat suara Izan yang tak berhenti menangis. Suara tangis itu mengiris hati saya. Saya jadi bingung apa yang akan saya lakukan karena tangis itu seolah memanggil-manggil saya untuk segera datang ke sana. Walau berat, akhirnya saya membuat keputusan.
Saya keluar. Rumah sebelah terlihat gelap. Tangis Izan masih terdengar. Lalu saya membuka pagar, ke jalan setapak yang hanya bisa dilalui dua motor, dan kemudian masuk ke halaman rumah wanita itu. Dengan perasaan ragu saya ketuk pintunya. Tidak ada jawaban. Lalu saya ketuk beberapa kali dengan lebih keras, tetap tak ada jawaban. Saya dorong pintu itu. Keras. Suara tangis Izan makin jelas terdengar. Saya merasakan detak jantung yang memukul dada tak karuan.
Saya menoleh ke berbagai arah. Sisa-sisa malam belum menghilang, dan masih dipagut sepi. Tembok tinggi bercat hitam di depan rumah kami juga belum menampakkan coretan-coretannya. Namun tiba-tiba muncul beberapa lelaki yang pulang dari Mushola.
"Ada apa, Mbak Nurul?"
Mereka berhenti dan berkumpul di depan pagar. Saya cerita tentang suara tangis Izan yang telah berlangsung beberapa jam. Awalnya mereka tampak ragu, tapi ketika tangisan Izan terdengar mereka masuk ke halaman satu-persatu. Lalu salah seorang mengetuk pintu setelah menempelkan telinganya beberapa detik dan mencari-cari celah untuk melihat ke dalam. Mula-mula pelan, lambat laun keras. Yang lain juga ikut-ikutan mengetuk pintu. Tapi tetap tak ada jawaban.
Salah seorang kemudian berinisiatif untuk memanggil haji Jamil. Tak lama kemudian haji Jamil datang dengan membawa kunci duplikat. Jalannya tergopoh-gopoh, sehingga suara kain sarung yang melilit di pinggangnya terdengar.
Pintu dibuka. Gelap. Suara Izan kini terdengar bagai orang kecegukan. Saya tahu suara itu berasal dari kamar. Setelah lampu dinyalakan oleh haji Jamil, saya segera menuju ke kamar dan menemukan tubuh Izan yang telah membiru. Tak ada lagi tangis. Matanya terpejam, namun mulutnya menyerupai ikan mujair.
Tiba-tiba suara haji Jamil terdengar keras sambil membaca istigfar, diikuti oleh beberapa lelaki lain. Saya segera keluar kamar sambil mendekap Izan. Saat berjalan beberapa langkah ke pintu kamar mandi badan saya gemetar, jantung saya berhenti berdetak, dan tengkuk saya seperti disiram air es. Bila tak ada tembok, mungkin saya telah jatuh terduduk. Saya melihat seorang wanita tergantung dengan lidah menjulur dan mata mendelik. Ada wajah setan.
* * *
"Kamu sedang menggambar apa, Izan?" Tanya Saya.
"Sayap malaikat."
Ucapan Izan sulit dimengerti. Mulanya saya juga mengalami kesulitan. Tapi karena setiap saat berhubungan dengannya, lambat-laun saya bisa menangkap artinya. Yang paling mengherankan adalah matanya yang tak pernah menatap saya bila diajak bicara. Tapi jika diperhatikan, mata itu seperti menatap sesuatu.
"Kamu pernah melihat malaikat?"
"Pernah." Kata Izan. Tangannya terus saja menggambar. "Di rumah sebelah."
Saya teringat rumah itu yang kini kosong. Tak ada orang yang mau menempati meskipun haji Jamil telah menurunkan biaya sewanya hingga setengah. Banyak yang bilang telah mendengar suara-suara aneh dari rumah itu bila lewat di depannya. Entah benar atau tidak, katanya ada yang pernah melihat wanita berambut panjang dari balik kaca sedang menjulurkan lidah. Matanya bagai mata kucing dalam gelap, namun berwarna seperti api. Lalu katanya lagi ada bau darah, terkadang bangkai. Tapi untungnya saya tak pernah mendengar apa-apa dan tidak ada perasaan takut sedikit pun.
Yang saya takutkan hanya Izan. Gurunya di sekolah bilang ia berbeda dengan anak-anak lainnya. Fisiknya agak lemah dan kecerdasannya sangat kurang. Akhirnya Izan tak lagi sekolah. Untuk menyekolahkannya di tempat khusus saya tidak punya uang. Berapalah pendapatan seorang penjahit yang tak memiliki suami seperti saya dan harus menghidupi dua anak.
"Kok sayapnya cuma satu?" Saya bertanya lagi.
"Sebentar lagi dua."
Saya menatap Izan. Matanya yang berbentuk aneh kini tampak layu. Muncul rasa bersalah yang tak mampu saya ungkapkan. Yang saya mampu lakukan hanya memberinya makan dan menceritakan kisah-kisah malaikat sebelum tidur bersama anak kandung saya. Untungnya anak kandung saya juga baik pada Izan.
Izan sangat menyukai cerita itu, terutama cerita malaikat yang sebenarnya saya karang sendiri. Saya katakan bahwa malaikat itu memiliki dua sayap, bisa terbang, dan suka menemui anak-anak yang berperilaku baik. Tapi mereka akan menyamar menjadi manusia bila bertemu anak-anak. Kadang Izan bertanya walaupun kata-kata yang keluar terasa sulit sekali.
"Izan mau ketemu malaikat lagi."
Kata-kata itu lagi yang diucapkan. Sudah beberapa hari ini. Mulanya saya tidak menanggapi.
"Dimana, Izan?" Akhirnya saya bertanya.
"Di rumah sebelah."
Saya menarik napas. Saya pikir izan mungkin terlalu serius dengan cerita saya selama ini. Lalu saya biarkan ia melanjutkan menggambar, sedangkan perhatian saya tercurah pada jahitan.
Sore itu tiba-tiba langit gelap. Hujan turun dengan deras selama hampir satu jam. Saya terus saja menjahit, karena besok akan diambil. Setelah itu saya membantu anak kandung saya menyelesaikan PR. Saya melupakan Izan sama sekali. Saya baru sadar Izan tak ada saat azan Magrib terdengar dan hujan telah berhenti.
Saya memanggil-manggil Izan. Karena tak ada jawaban saya keluar. Dari sana saya melihat seorang anak kecil terbaring di rumah sebelah di atas bale bambu. Langsung saya menuju ke sana. Jantung saya berdegup sangat keras saat saya tahu itu adalah Izan.
Anak itu diam dengan wajah tersenyum sambil memegang selembar kertas. Putih dan pucat. Matanya tertutup. Saya membungkuk. Dengan gemetar saya sentuh dia sambil menyebut namanya. Ia diam. Telapak tangan saya merasakan dingin. Lalu saya guncangkan badannya perlahan. Tapi tubuh itu kaku.
"Izaaan." Saya berteriak. Ia tetap diam.
Tiba-tiba ada angin yang menggerakkan ujung kertas yang tertindih tangannya. Saya tarik kertas itu pelan-pelan dari dekapan Izan. Mata saya tak mampu berkedip. Terlihat gambar menyerupai sosok manusia yang kini telah memiliki dua sayap berwarna biru. Izan telah menggambar sayap malaikat. ***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Suara Karya 06/08/2006
Jalan yang penuh kerikil itu menebarkan debu. Lengang berkuasa, bersekutu dengan pohon-pohon kamboja yang berbaris sepanjang pagar batako yang sudah bolong-bolong. Undakan-undakan yang berbaris rapih di balik tembok itu juga diam. Hanya papan nama di salah satu ujungnya saja yang mungkin bisa berbicara, memberitahukan tanggal lahir dan tanggal kematian.
Anjing kotor berbulu coklat itu tetap membuntuti lelaki kumal berambut panjang kusam yang berjalan sambil menyeret kakinya yang mengenakan sandal jepit berbeda ukuran dan warna. Anjing itu juga duduk di tanah sambil menjulurkan lidahnya saat lelaki itu duduk di atas bongkahan batu di bawah sebuah pohon rindang yang daun-daunnya seukuran telapak tangan pria dewasa.
Lelaki itu menyeka keringatnya dengan lengan yang ditutupi kaos warna putih penuh noda. Butir-butir keringat yang bercampur debu di sekitar dahi dan lehernya hilang. Namun warna kecoklatan menampakkan diri pada lengan kanan kaos itu, dan kemudian berpindah lagi pada bagian kirinya.
Mata lelaki itu tertuju pada jari-jari kakinya yang berwarna hitam karena telah menginjak jalan becek dekat pasar yang warna lumpurnya segelap malam. Ia terpaksa menceburkan kakinya di jalan itu karena takut dikejar massa.
* * *
Lelaki itu hanya bisa menatap daging-daging yang tergantung di pasar, mendengar canda para penjualnya, dan melihat orang-orang pulang sambil menenteng kantong plastik hitam. Warna daging yang merah dan aromanya yang khas membuatnya teringat istri dan anak laki-laki satu-satunya yang ingin sekali merayakan hari raya dengan makan rendang daging.
"Kapan kita beli daging, Pak?" Kata istrinya. "Orang-orang sudah mulai membuat rendang. Baunya sampai tercium ke rumah kita. Hari ini sebelah kanan, kemarin sebelah kiri. Mungkin besok dari belakang rumah kita." Lalu istrinya berbicara tentang para pedagang daging yang mulai menggantung dagangan mereka di pinggir-pinggir jalan memasuki pasar.
"Ibu." Anak laki-laki mereka yang berbadan kurus muncul. "Apakah hari raya nanti kita bisa makan rendang daging seperti dulu. Sudah lama sekali kita tidak makan daging."
"Tanyakan sama bapakmu," kata ibunya. "Kapan ia bisa beli daging."
Tidak tahan melihat ocehan istri dan rengekan anaknya, lelaki itu lalu mengambil pisau yang terbungkus sarung. Ia pergi meninggalkan rumah tanpa bicara apa-apa. Tatapan mata istrinya enggan mengikuti langkah lelaki itu. Wanita itu hanya berpikir paling-paling ia akan pulang dengan tangan kosong seperti biasanya. Kadang dalam hati ia menyesal telah menikah dengan lelaki tersebut.
Lelaki itu menuju ke pasar dan menawarkan diri kepada beberapa pedagang daging untuk membantu mereka berjualan dengan upah satu atau dua kilo daging sapi. Tetapi tak ada satu pun pedagang yang mau menerimanya. Bahkan seorang pedagang hanya menawarkan diam saja, pura-pura sibuk melayani pembeli.
Tidak menyerah, lelaki itu mendatangi seluruh pedagang daging yang ada di pasar tersebut. Akhirnya, pedagang terakhir yang dikunjungi - sepasang kakek dan nenek - mau menerimanya membantu asalkan upahnya hanya satu kilo jeroan, bukan daging. Lelaki itu bersedia dari pada tidak mendapatkan apa-apa.
Saat hari telah jauh lewat siang, daging yang dijual habis. Sesuai dengan janji yang diucapkan, si kakek lalu memberi sekilo jeroan yang dibungkus plastik warna hitam. Lelaki itu lalu pergi melewati belakang pasar yang agak sepi.
Dari balik tempat sampah tiba-tiba muncul seekor anjing yang kemudian mengejar lelaki itu dan menggigit ujung celana panjangnya. Lelaki itu lalu menakut-nakuti anjing tersebut dengan suara dari mulutnya. Anjing itu diam sebentar, tetapi kemudian terus mengikuti lelaki tersebut saat ia kembali melangkah.
Merasa tidak suka diikuti, lelaki itu lalu menendang anjing tersebut. Anjing itu mundur pelahan terkena tendangan kaki kanan, tapi binatang itu terus mengikutinya. Lidah anjing itu menjulur seperti menyatakan kelaparan. Beberapa saat kemudian timbul rasa kasihan pada lelaki itu. Ia kemudian memberikan beberapa usus sapi kepada si anjing yang langsung melahapnya tanpa sisa.
Selesai melahap pemberian lelaki itu, binatang tersebut tetap mengikuti ke mana pun ia melangkah, seolah masih tetap merasakan lapar dan masih mengharapkan pemberian dari lelaki itu lagi. Timbul kembali rasa kasihan di hatinya karena terus saja diikuti oleh si anjing, sehingga ia kembali memberikan jeroan kepada anjing itu sampai tak ada sisa sama sekali, hanya sebuah kantong plastik hitam kosong yang kemudian dibuangnya.
Ia kini tak punya apa-apa lagi untuk dibawa pulang. Hanya sebilah pisau yang terselip di pinggangnya. Anehnya, anjing itu masih saja mengikutinya sambil terus menjulurkan lidah.
Dari arah berlawanan ia melihat seorang wanita yang tampaknya seperti pembantu rumah tangga sedang berjalan sambil menenteng belanjaan. Timbul suatu gagasan di benaknya. Saat wanita itu lewat di depannya, ia segera menarik baju wanita itu dan mengarahkan pisau ke wajahnya. Muka wanita itu berubah menjadi sangat pucat.
"Berikan belanjaan kamu."
Wanita itu dengan gemetar menjatuhkan belanjaannya ke tanah. Segera lelaki itu menggeledah isi kantong plastik. Tapi ia tidak menemukan bungkusan daging yang sedang dicarinya. Hanya ada sayuran, ikan asin serta beberapa potong tempe dan oncom. Karena kecewa, lelaki itu lalu menyuruh wanita itu untuk pergi. Dengan terburu-buru ia melangkah meninggalkan lelaki yang kecewa itu.
Setelah jarak mereka cukup jauh, tiba-tiba wanita itu berteriak 'rampok' sambil jarinya menunjuk ke arah lelaki itu. Beberapa orang yang berada di sekitar lokasi tersebut menoleh ke arah lelaki itu. Menyadari situasi yang tidak memungkinkan, ia kemudian berlari kencang diikuti oleh seekor anjing.
* * *
Hari telah mulai remang, tapi lelaki itu masih duduk di bongkahan batu ditemani seekor anjing yang masih tetap menjulurkan lidahnya. Lelaki itu menatap kepada anjing yang lama-kelamaan seolah seperti ingin mengatakan sesuatu. Lelaki itu memasang telinganya, lalu seolah menangkap pesan dari anjing itu yang menyuruh lelaki itu untuk menyembelihnya.
"Aku tidak mau, nanti sifatku seperti anjing." Kata hatinya berucap. Tapi kemudian anjing itu seolah berkata lagi bahwa ia sebenarnya bukan anjing biasa, melainkan suatu penjelmaan malaikat yang memang diutus untuk membantu manusia yang sedang dalam kesulitan, apalagi jika manusia itu baik dan suka memberi makan hewan yang kelaparan.
"Aku tidak percaya." Kata hati lelaki itu masih mengingkari bisikan-bisikan yang masuk di telinganya. Tapi bisikan-bisikan itu makin terus menyundut pikiran dan hatinya sehingga lambat-laun ia mulai meraba gagang pisau yang dibawanya.
"Cepat!" Suara itu terdengar keras, bagai pemicu yang menggerakkan tangannya untuk menyambar leher anjing. Dengan cepat ia mencabut pisau dari sarungnya.
"Berhenti! Jangan lakukan itu!" Tiba-tiba muncul sosok berjenggot dalam jubah warna putih menghentikan gerakan tangan lelaki itu saat sisi tajam pisau akan menyentuh leher anjing. "Kamu tidak boleh makan anjing, binatang itu haram." Sosok itu berkata lagi dengan tutur kata yang manis tapi tegas.
Lelaki itu menjadi diam dan ragu-ragu.
"Jangan percaya kata-katanya." Kini anjing itu benar-benar bisa bicara. "Dia itu iblis yang sedang menggodamu. Ingatlah kisah Nabi Ismail yang ingin disembelih oleh bapaknya. Bukankah saat itu iblis datang menggoda? Agar ia tidak mengikuti perintah Tuhan." Lelaki itu masih memegangi leher anjing. "Lemparlah iblis itu dengan batu yang ada di dekatmu!" Anjing itu memberi perintah.
Lelaki itu lalu memungut batu yang ada di dekat kaki kanannya dan dengan sekuat tenaga melemparnya ke arah sosok berjenggot yang sedang berdiri. Seiring dengan lemparan batu, sosok itu lalu hilang diikuti oleh kata-kata yang mengatakan bahwa lelaki itu akan menyesal jika masih terus mengikuti keinginannya.
"Cepat sembelihlah aku. Istrimu sedang menanti dengan bumbu rendang yang sudah siap." Anjing itu berkata. "Juga anak laki-lakimu yang sedang menanti kedatanganmu. Tidakkah kau sayang mereka?"
Akhirnya lelaki itu memotong leher anjing yang sejak siang tadi mengikutinya. Ia lalu menguliti dan memotong-motong daging anjing itu menjadi bagian-bagian kecil.
Daun-daun kamboja banyak yang berguguran.
* * *
"Bapak tidak makan?" Suara anaknya terdengar, membangunkan lelaki itu dari lamunannya. Anak itu sangat menikmati sekali rendang yang baru selesai dimasak oleh istrinya bersama nasi hangat.
Istrinya datang dengan membawa sepiring nasi hangat dan tiga potong rendang yang disodorkan ke hadapannya. Tapi ia menolak dengan mengatakan bahwa ia belum lapar. Langsung saja istrinya memakan makanan tersebut.
"Daging ini enak sekali. Tidak seperti biasanya." Kata istrinya sambil terus mengunyah.
"Iya, benar." Anak laki-lakinya menyahut, lalu meminta tambah lagi beberapa potong rendang.
Mereka berdua tertawa-tawa senang tanpa mempedulikan lelaki itu yang sedang melamun, membayangkan kata-kata sosok berjenggot yang kini kembali bergema di telinganya. Ibu dan anak itu tanpa sadar telah menghabiskan lebih dari setengah rendang daging yang telah dimasak.
Saat malam tiba dan mereka sedang tertidur lelap, lelaki itu tiba-tiba terjaga karena dikejutkan oleh suara nafas anjing. Sewaktu ia mencari sumber suara, ternyata suara itu datang dari arah anaknya yang sedang tidur tidak jauh dari tempatnya. Ia berdiri dan berjalan ke sudut ruangan untuk menyalakan lampu minyak tanah. Cahaya terang menerangi ruangan sempit itu.
Alangkah terkejutnya ia setelah mengetahui ternyata suara itu berasal dan mulut anak laki-lakinya. Ketika mendekat, ia makin terkejut dan seperti ingin melompat begitu melihat kepala anaknya seolah bertelinga seperti anjing. Ia mundur beberapa langkah dan mulutnya bergerak-gerak bagai melantunkan sesuatu. Suara yang keluar dari mulut anak lelakinya itu kini makin mirip suara dengkur anjing.
Ia menoleh ke arah istrinya untuk membangunkannya. Lagi-lagi, ia terkejut dan hampir berteriak ketika dilihatnya istrinya pun memiliki telinga yang mirip telinga anjing dan juga mulai memperdengarkan suara anjing dalam dengkur nafas tidurnya. Ada lidah yang menjulur dari mulut berbentuk aneh.
Lelaki itu seperti kehilangan keseimbangan, dan tanpa sadar ia menjatuhkan lampu minyak itu ke lantai yang segera membakar seprei. Ia menutup mata, tak ingin melihat mereka berubah menjadi anjing.
Dengan cepat api menjalar dan berubah menjadi besar, melahap bangunan yang terbuat dari kayu dan tripleks. Lelaki itu berlari ke luar rumah dengan cepat untuk menghindari api yang mulai terasa panas tanpa mempedulikan apa-apa lagi.
Dalam jarak beberapa meter, ia jatuh tersungkur dan menangis. Dari tempatnya berlutut ia mendengar suara dua lolongan anjing yang terdengar bagai minta tolong. Dari kobaran api, samar-samar ada bayangan anjing yang telah disembelihnya. Anjing itu tidak menjulurkan lidahnya melainkan tersenyum. Senyum iblis. ***
Dimuat di Suara Karya 06/08/2006
Jalan yang penuh kerikil itu menebarkan debu. Lengang berkuasa, bersekutu dengan pohon-pohon kamboja yang berbaris sepanjang pagar batako yang sudah bolong-bolong. Undakan-undakan yang berbaris rapih di balik tembok itu juga diam. Hanya papan nama di salah satu ujungnya saja yang mungkin bisa berbicara, memberitahukan tanggal lahir dan tanggal kematian.
Anjing kotor berbulu coklat itu tetap membuntuti lelaki kumal berambut panjang kusam yang berjalan sambil menyeret kakinya yang mengenakan sandal jepit berbeda ukuran dan warna. Anjing itu juga duduk di tanah sambil menjulurkan lidahnya saat lelaki itu duduk di atas bongkahan batu di bawah sebuah pohon rindang yang daun-daunnya seukuran telapak tangan pria dewasa.
Lelaki itu menyeka keringatnya dengan lengan yang ditutupi kaos warna putih penuh noda. Butir-butir keringat yang bercampur debu di sekitar dahi dan lehernya hilang. Namun warna kecoklatan menampakkan diri pada lengan kanan kaos itu, dan kemudian berpindah lagi pada bagian kirinya.
Mata lelaki itu tertuju pada jari-jari kakinya yang berwarna hitam karena telah menginjak jalan becek dekat pasar yang warna lumpurnya segelap malam. Ia terpaksa menceburkan kakinya di jalan itu karena takut dikejar massa.
* * *
Lelaki itu hanya bisa menatap daging-daging yang tergantung di pasar, mendengar canda para penjualnya, dan melihat orang-orang pulang sambil menenteng kantong plastik hitam. Warna daging yang merah dan aromanya yang khas membuatnya teringat istri dan anak laki-laki satu-satunya yang ingin sekali merayakan hari raya dengan makan rendang daging.
"Kapan kita beli daging, Pak?" Kata istrinya. "Orang-orang sudah mulai membuat rendang. Baunya sampai tercium ke rumah kita. Hari ini sebelah kanan, kemarin sebelah kiri. Mungkin besok dari belakang rumah kita." Lalu istrinya berbicara tentang para pedagang daging yang mulai menggantung dagangan mereka di pinggir-pinggir jalan memasuki pasar.
"Ibu." Anak laki-laki mereka yang berbadan kurus muncul. "Apakah hari raya nanti kita bisa makan rendang daging seperti dulu. Sudah lama sekali kita tidak makan daging."
"Tanyakan sama bapakmu," kata ibunya. "Kapan ia bisa beli daging."
Tidak tahan melihat ocehan istri dan rengekan anaknya, lelaki itu lalu mengambil pisau yang terbungkus sarung. Ia pergi meninggalkan rumah tanpa bicara apa-apa. Tatapan mata istrinya enggan mengikuti langkah lelaki itu. Wanita itu hanya berpikir paling-paling ia akan pulang dengan tangan kosong seperti biasanya. Kadang dalam hati ia menyesal telah menikah dengan lelaki tersebut.
Lelaki itu menuju ke pasar dan menawarkan diri kepada beberapa pedagang daging untuk membantu mereka berjualan dengan upah satu atau dua kilo daging sapi. Tetapi tak ada satu pun pedagang yang mau menerimanya. Bahkan seorang pedagang hanya menawarkan diam saja, pura-pura sibuk melayani pembeli.
Tidak menyerah, lelaki itu mendatangi seluruh pedagang daging yang ada di pasar tersebut. Akhirnya, pedagang terakhir yang dikunjungi - sepasang kakek dan nenek - mau menerimanya membantu asalkan upahnya hanya satu kilo jeroan, bukan daging. Lelaki itu bersedia dari pada tidak mendapatkan apa-apa.
Saat hari telah jauh lewat siang, daging yang dijual habis. Sesuai dengan janji yang diucapkan, si kakek lalu memberi sekilo jeroan yang dibungkus plastik warna hitam. Lelaki itu lalu pergi melewati belakang pasar yang agak sepi.
Dari balik tempat sampah tiba-tiba muncul seekor anjing yang kemudian mengejar lelaki itu dan menggigit ujung celana panjangnya. Lelaki itu lalu menakut-nakuti anjing tersebut dengan suara dari mulutnya. Anjing itu diam sebentar, tetapi kemudian terus mengikuti lelaki tersebut saat ia kembali melangkah.
Merasa tidak suka diikuti, lelaki itu lalu menendang anjing tersebut. Anjing itu mundur pelahan terkena tendangan kaki kanan, tapi binatang itu terus mengikutinya. Lidah anjing itu menjulur seperti menyatakan kelaparan. Beberapa saat kemudian timbul rasa kasihan pada lelaki itu. Ia kemudian memberikan beberapa usus sapi kepada si anjing yang langsung melahapnya tanpa sisa.
Selesai melahap pemberian lelaki itu, binatang tersebut tetap mengikuti ke mana pun ia melangkah, seolah masih tetap merasakan lapar dan masih mengharapkan pemberian dari lelaki itu lagi. Timbul kembali rasa kasihan di hatinya karena terus saja diikuti oleh si anjing, sehingga ia kembali memberikan jeroan kepada anjing itu sampai tak ada sisa sama sekali, hanya sebuah kantong plastik hitam kosong yang kemudian dibuangnya.
Ia kini tak punya apa-apa lagi untuk dibawa pulang. Hanya sebilah pisau yang terselip di pinggangnya. Anehnya, anjing itu masih saja mengikutinya sambil terus menjulurkan lidah.
Dari arah berlawanan ia melihat seorang wanita yang tampaknya seperti pembantu rumah tangga sedang berjalan sambil menenteng belanjaan. Timbul suatu gagasan di benaknya. Saat wanita itu lewat di depannya, ia segera menarik baju wanita itu dan mengarahkan pisau ke wajahnya. Muka wanita itu berubah menjadi sangat pucat.
"Berikan belanjaan kamu."
Wanita itu dengan gemetar menjatuhkan belanjaannya ke tanah. Segera lelaki itu menggeledah isi kantong plastik. Tapi ia tidak menemukan bungkusan daging yang sedang dicarinya. Hanya ada sayuran, ikan asin serta beberapa potong tempe dan oncom. Karena kecewa, lelaki itu lalu menyuruh wanita itu untuk pergi. Dengan terburu-buru ia melangkah meninggalkan lelaki yang kecewa itu.
Setelah jarak mereka cukup jauh, tiba-tiba wanita itu berteriak 'rampok' sambil jarinya menunjuk ke arah lelaki itu. Beberapa orang yang berada di sekitar lokasi tersebut menoleh ke arah lelaki itu. Menyadari situasi yang tidak memungkinkan, ia kemudian berlari kencang diikuti oleh seekor anjing.
* * *
Hari telah mulai remang, tapi lelaki itu masih duduk di bongkahan batu ditemani seekor anjing yang masih tetap menjulurkan lidahnya. Lelaki itu menatap kepada anjing yang lama-kelamaan seolah seperti ingin mengatakan sesuatu. Lelaki itu memasang telinganya, lalu seolah menangkap pesan dari anjing itu yang menyuruh lelaki itu untuk menyembelihnya.
"Aku tidak mau, nanti sifatku seperti anjing." Kata hatinya berucap. Tapi kemudian anjing itu seolah berkata lagi bahwa ia sebenarnya bukan anjing biasa, melainkan suatu penjelmaan malaikat yang memang diutus untuk membantu manusia yang sedang dalam kesulitan, apalagi jika manusia itu baik dan suka memberi makan hewan yang kelaparan.
"Aku tidak percaya." Kata hati lelaki itu masih mengingkari bisikan-bisikan yang masuk di telinganya. Tapi bisikan-bisikan itu makin terus menyundut pikiran dan hatinya sehingga lambat-laun ia mulai meraba gagang pisau yang dibawanya.
"Cepat!" Suara itu terdengar keras, bagai pemicu yang menggerakkan tangannya untuk menyambar leher anjing. Dengan cepat ia mencabut pisau dari sarungnya.
"Berhenti! Jangan lakukan itu!" Tiba-tiba muncul sosok berjenggot dalam jubah warna putih menghentikan gerakan tangan lelaki itu saat sisi tajam pisau akan menyentuh leher anjing. "Kamu tidak boleh makan anjing, binatang itu haram." Sosok itu berkata lagi dengan tutur kata yang manis tapi tegas.
Lelaki itu menjadi diam dan ragu-ragu.
"Jangan percaya kata-katanya." Kini anjing itu benar-benar bisa bicara. "Dia itu iblis yang sedang menggodamu. Ingatlah kisah Nabi Ismail yang ingin disembelih oleh bapaknya. Bukankah saat itu iblis datang menggoda? Agar ia tidak mengikuti perintah Tuhan." Lelaki itu masih memegangi leher anjing. "Lemparlah iblis itu dengan batu yang ada di dekatmu!" Anjing itu memberi perintah.
Lelaki itu lalu memungut batu yang ada di dekat kaki kanannya dan dengan sekuat tenaga melemparnya ke arah sosok berjenggot yang sedang berdiri. Seiring dengan lemparan batu, sosok itu lalu hilang diikuti oleh kata-kata yang mengatakan bahwa lelaki itu akan menyesal jika masih terus mengikuti keinginannya.
"Cepat sembelihlah aku. Istrimu sedang menanti dengan bumbu rendang yang sudah siap." Anjing itu berkata. "Juga anak laki-lakimu yang sedang menanti kedatanganmu. Tidakkah kau sayang mereka?"
Akhirnya lelaki itu memotong leher anjing yang sejak siang tadi mengikutinya. Ia lalu menguliti dan memotong-motong daging anjing itu menjadi bagian-bagian kecil.
Daun-daun kamboja banyak yang berguguran.
* * *
"Bapak tidak makan?" Suara anaknya terdengar, membangunkan lelaki itu dari lamunannya. Anak itu sangat menikmati sekali rendang yang baru selesai dimasak oleh istrinya bersama nasi hangat.
Istrinya datang dengan membawa sepiring nasi hangat dan tiga potong rendang yang disodorkan ke hadapannya. Tapi ia menolak dengan mengatakan bahwa ia belum lapar. Langsung saja istrinya memakan makanan tersebut.
"Daging ini enak sekali. Tidak seperti biasanya." Kata istrinya sambil terus mengunyah.
"Iya, benar." Anak laki-lakinya menyahut, lalu meminta tambah lagi beberapa potong rendang.
Mereka berdua tertawa-tawa senang tanpa mempedulikan lelaki itu yang sedang melamun, membayangkan kata-kata sosok berjenggot yang kini kembali bergema di telinganya. Ibu dan anak itu tanpa sadar telah menghabiskan lebih dari setengah rendang daging yang telah dimasak.
Saat malam tiba dan mereka sedang tertidur lelap, lelaki itu tiba-tiba terjaga karena dikejutkan oleh suara nafas anjing. Sewaktu ia mencari sumber suara, ternyata suara itu datang dari arah anaknya yang sedang tidur tidak jauh dari tempatnya. Ia berdiri dan berjalan ke sudut ruangan untuk menyalakan lampu minyak tanah. Cahaya terang menerangi ruangan sempit itu.
Alangkah terkejutnya ia setelah mengetahui ternyata suara itu berasal dan mulut anak laki-lakinya. Ketika mendekat, ia makin terkejut dan seperti ingin melompat begitu melihat kepala anaknya seolah bertelinga seperti anjing. Ia mundur beberapa langkah dan mulutnya bergerak-gerak bagai melantunkan sesuatu. Suara yang keluar dari mulut anak lelakinya itu kini makin mirip suara dengkur anjing.
Ia menoleh ke arah istrinya untuk membangunkannya. Lagi-lagi, ia terkejut dan hampir berteriak ketika dilihatnya istrinya pun memiliki telinga yang mirip telinga anjing dan juga mulai memperdengarkan suara anjing dalam dengkur nafas tidurnya. Ada lidah yang menjulur dari mulut berbentuk aneh.
Lelaki itu seperti kehilangan keseimbangan, dan tanpa sadar ia menjatuhkan lampu minyak itu ke lantai yang segera membakar seprei. Ia menutup mata, tak ingin melihat mereka berubah menjadi anjing.
Dengan cepat api menjalar dan berubah menjadi besar, melahap bangunan yang terbuat dari kayu dan tripleks. Lelaki itu berlari ke luar rumah dengan cepat untuk menghindari api yang mulai terasa panas tanpa mempedulikan apa-apa lagi.
Dalam jarak beberapa meter, ia jatuh tersungkur dan menangis. Dari tempatnya berlutut ia mendengar suara dua lolongan anjing yang terdengar bagai minta tolong. Dari kobaran api, samar-samar ada bayangan anjing yang telah disembelihnya. Anjing itu tidak menjulurkan lidahnya melainkan tersenyum. Senyum iblis. ***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Tary
Dimuat di Suara Karya 27/08/2006
Senja hari. Gerimis. Aku mengempaskan tubuh di kursi pojok kantin. Meletakkan ransel hitamku dan merapatkan retsluiting jaket. Menghalau udara basah yang menggigilkan. Kunyalakan sebatang rokok lalu mengisapnya perlahan. Kepulan asapnya melingkar-lingkar seperti tarian ular.
Pedagang asongan mondar-mandir, menghampiri lalu lalang orang. Menawarkan cindera mata, makanan khas dan mainan anak-anak. Sesekali aroma gurih jagung bakar menerbitkan air liur. Mataku menerawang ke hamparan kebun teh. Pucuk-pucuk daun teh yang segar bergoyang tertiup angin. Meliuk dalam selubung kabut.
Kawasan puncak kota hujan! Aku kembali berada di sini! Seorang perempuan muda membawakan secangkir kopi panas pesananku. Ia tersenyum manis seraya menawarkan jenis makanan yang tersedia di kantin. Pipi kirinya berlesung saat ia tersenyum. Lesung pipit itu melesatkan kenanganku tentangmu.
Apakah aku datang bersama penyesalan? Aku menghela nafas. Menahan nyeri yang tiba-tiba menikam dada. Bukankah perjumpaan kita hanyalah sesuatu yang biasa? Untuk apa aku menyesal? Aku seorang pengelana yang memunguti cerita dari setiap perjumpaan. Dengan siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Begitu juga saat berjumpa denganmu di tempat ini.
"Beli buah strowbery, Mas?" tawarmu seraya menyodorkan strowbery merah segar dalam kotak plastik.
Lima tahun sudah berlalu, namun suara beningmu ketika menawarkan buah strowbery itu masih lekat di telingaku.
"Strowbery-nya manis, Mas. Baru saja dipetik dari kebun. Banyak mengandung vitamin C lho! Atau mau mencobanya dulu? Silakan!"
Kutatap wajah bening yang sibuk dengan kotak-kotak plastik buah strowbery itu. Kutaksir usiamu tiga empat tahun lebih muda dariku. Celana jeans dan t'shirt putihmu tampak serasi. Kuakui, kau kelihatan cantik dan alami. Meski tanpa riasan, kamu tampak sangat menarik.
"Lima ribu dua kotak. Untuk oleh-oleh adik, kakak atau kekasih barangkali?"
Aku menerima strowbery yang kau ulurkan. Menimang-nimang sebentar lalu kembali menatapmu. "Kenapa kau berjualan strowbery?"
Kau mengerutkan dahi. Mungkin merasa aneh dengan pertanyaan menyelidikku. Pertanyaan tak lazim dari seorang pembeli. Wajahmu berubah mendung.
Tiba-tiba aku merasa bersalah dengan pertanyaanku, "Jangan pikirkan pertanyaanku tadi."
"Sebenarnya aku juga sedang mencari jawaban."
Perkiraanku tepat. Kau memang bukan seorang penjual strowbery yang sesungguhnya. Aku sudah menduganya sejak kau menghampiri tempat dudukku. Bahasa tubuhmu yang penuh percaya diri, intonasi kata-katamu yang sopan, dandananmu yang tak seperti kebanyakan penjual keliling dan caramu membalas tatapan mataku.
Maka, demikianlah.
Aku memutuskan tinggal lebih lama di penginapan dan waktu yang bergulir maju kemudian menjadi milik kita. Memetik buah strowbery segar dari kebun, mengepaknya dalam kotak-kotak plastik dan menjualnya di kawasan wisata Puncak Kota Hujan. Pada waktu yang lain, kita duduk mencakung di depan penjual jagung bakar. Menahan air liur terjatuh karena aroma gurihnya yang menggoda. Atau, menyusuri jalan setapak di antara hamparan perbukitan teh. Kau menghirup udara puas-puas, merentangkan tangan lalu berteriak lepas ketika pendakian kita sampai di bukit tertinggi.
"Mencari jawaban!" begitu katamu setiap kutanya mengapa kau selalu berteriak di sana.
Aku seorang pengelana. Memunguti kisah dari berbagai kejadian yang kutemui kemudian menuangkannya dalam berlembar-lembar cerita fiksi. Itulah duniaku. Itulah hidupku. Dan pertemuanku denganmu juga tak berbeda dengan pertemuanku dengan sosok-sosok yang lain. Kisah hidupmu adalah sebuah cerita yang menarik.
Kau menghentikan kuliahmu di salah satu perguruan tinggi negeri sebagai bukti pertanggungjawaban terlahir sebagai sulung dari lima bersaudara. Ayahmu menjual semua tanahnya pada orang-orang berdahi licin. Ketika vila-vila berdiri megah, uang ayahmu habis di meja judi dan minuman keras. Setahun kemudian ibumu mati merana. Pada cerita itulah kau, perempuan muda yang cantik, berdiri sebagai tokoh utamanya.
Dan aku sang pengarang, "Tuhan" dari setiap tokoh dalam cerita memutuskan pergi sebelum cerita berakhir. Sebulan mengenal kehidupanmu, dari pagi hingga malam setiap harinya, bagiku sudah lebih dari cukup untuk memulai sebuah tulisan. Masih kuingat air matamu meleleh ketika kulambaikan tangan dari jendela mobil L300 yang kemudian mengantarku pada pengelanaan selanjutnya.
Waktu terus berputar, mengubah masa kini menjadi cerita lalu dalam sekejap. Ketika perjumpaan dengan tokoh-tokoh baru yang akan menjadi model dalam ceritaku terus berlangsung di berbagai tempat, aku belum juga mulai menulis tentangmu. Aku bahkan tidak bisa menggabungkan imajinasiku dengan kenyataan. Aku tidak tega mendramatisir hidup yang tengah kau jalani. Cerita tentangmu terbengkelai. Hanya terhenti pada coretan-coretan dalam lembaran kertas. Teronggok berdebu di meja kamar.
Hingga suatu hari sepulang dari pengelanaan aku menemukan setumpuk suratmu. Selama aku pergi, rupanya kau mengirim surat setiap minggu. Aku memang memberimu alamat rumah sebelum berpisah. Membaca kata demi kata dalam suratmu yang bertumpuk membuat dadaku disesaki rindu. Dan aku yakin, kau pun demikian sesak oleh rindu ketika menuliskan surat-surat itu.
Namun, apa itu rindu? Aku menepis sesak yang melanda dadaku. Aku seorang pengelana. Berjumpa dengan bermacam-macam orang bukan untuk mengobati rindu atau mencari cinta. Aku hanya singgah sesaat untuk memungut kisah. Maka, jika aku kemudian mengabaikan surat-suratmu, apakah aku bersalah?
"Kau membohongi dirimu sendiri, Yan! Kau jatuh cinta pada perempuan itu!"
Aku terkekeh mendengar kata-kata Hasta, sohibku yang juga seorang pengarang.
"Kau terlalu kerdil untuk mengakui bahwa kau telah jatuh cinta. Kau takut kegagalanmu di masa lalu terulang. Kau hanya berani menuliskannya dalam cerita padahal kenyataannya sekedar bercerita pun kau gagal!"
"Perempuan bagiku hanya sumber inspirasi, Has. Tak lebih!"
"Itu kata-kata yang keluar dari mulutmu. Tapi hatimu berkata lain. Kau terlahir dari perempuan, punya saudara perempuan. Apa benar kau menghargai perempuan sebatas itu?"
"Sok tahu kamu!"
"Aku bukan sok tahu, tapi aku memang tahu. Apa kau kira aku tidak tahu bahwa kau sering melamun memandangi fotonya? Lalu diam-diam kau membaca ulang surat-suratnya. Ha ha ha! Tidak sebentar aku mengenalmu, Yan!"
Aku mendengus. Berusaha mengelak dari tuduhan Hasta. Pengelana tak akan menambatkan cintanya dalam perjalanan. Tapi benarkah? Siapa yang membuat undang-undang itu? Mungkin aku sendiri. Aku tidak ingin atau tepatnya belum ingin menambatkan cintaku lagi setelah kegagalanku di masa lalu. Jadi kata-kata Hasta benar? Aku seorang pengelana kerdil? Pergi ke berbagai tempat hanya untuk melarikan diri dari luka?
Aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku ketika suratmu kembali datang. Dalam surat itu kau menceritakan kondisimu yang terjepit. Untuk membayar utang-utang ayahmu di meja judi dan warung minuman keras, kau harus menikah dengan lelaki berdahi licin. Sungguh sebuah novel yang sendu! Siti Nurbaya di abad komputer! Tiba-tiba aku menemukan rangkaian cerita lama yang tak pernah sanggup kuselesaikan.
Dan, begitulah.
Aku mulai menulis. Merangkai penggalan cerita yang hilang dan mengabaikan suratmu. Aku ingin membuktikan pada Hasta bahwa tuduhannya tidak benar. Bahwa aku tidak gagal bercerita tentangmu. Tetapi, pada halaman ke sepuluh aku kembali berhenti. Aku tidak sanggup meneruskannya karena setiap saat menggoreskan pena dalam kertas yang berkisah tentangmu, dadaku mendadak nyeri.
Aku benar-benar berhenti menulis tentangmu. Hingga suatu siang suratmu kembali datang bersama selembar kartu undangan. Dadaku berdesir membaca namamu terukir di sana bersanding dengan nama si dahi licin. Kau menulis beberapa kata untukku.
Demi baktiku pada ayah, aku rela bersanding dengannya.
Tetapi, sebelum malam sempurna seusai pesta, aku akan mengakhirinya dengan caraku. Rayan, apa benar kau tidak peduli lagi padaku?
"Mau tambah kopi panasnya, Mas?"
Pertanyaan itu menyentakkan lamunanku tentangmu. Aku menggeleng pada perempuan muda berlesung pipit di depanku. Sebatang rokok di tanganku tak lagi berasap dan secangkir kopi panas telah tandas. Angin menderu kencang ketika kuseret ransel hitamku meninggalkan kantin.
Aku berjalan cepat menyusuri jalan setapak di antara perbukitan teh menembus gerimis yang makin rapat. Dalam surat undangan, kau akan bersanding dengan si dahi licin itu, besok, tepat jam 10 pagi.
Maka, aku telah memilih caraku sendiri untuk peduli padamu. Tunggulah aku perempuan kota hujan! Sebelum matahari terbit kau akan menemukan jawaban yang kau cari selama ini. Karena aku tak mau terlahir sebagai lelaki pecundang! ***
Dimuat di Suara Karya 27/08/2006
Senja hari. Gerimis. Aku mengempaskan tubuh di kursi pojok kantin. Meletakkan ransel hitamku dan merapatkan retsluiting jaket. Menghalau udara basah yang menggigilkan. Kunyalakan sebatang rokok lalu mengisapnya perlahan. Kepulan asapnya melingkar-lingkar seperti tarian ular.
Pedagang asongan mondar-mandir, menghampiri lalu lalang orang. Menawarkan cindera mata, makanan khas dan mainan anak-anak. Sesekali aroma gurih jagung bakar menerbitkan air liur. Mataku menerawang ke hamparan kebun teh. Pucuk-pucuk daun teh yang segar bergoyang tertiup angin. Meliuk dalam selubung kabut.
Kawasan puncak kota hujan! Aku kembali berada di sini! Seorang perempuan muda membawakan secangkir kopi panas pesananku. Ia tersenyum manis seraya menawarkan jenis makanan yang tersedia di kantin. Pipi kirinya berlesung saat ia tersenyum. Lesung pipit itu melesatkan kenanganku tentangmu.
Apakah aku datang bersama penyesalan? Aku menghela nafas. Menahan nyeri yang tiba-tiba menikam dada. Bukankah perjumpaan kita hanyalah sesuatu yang biasa? Untuk apa aku menyesal? Aku seorang pengelana yang memunguti cerita dari setiap perjumpaan. Dengan siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Begitu juga saat berjumpa denganmu di tempat ini.
"Beli buah strowbery, Mas?" tawarmu seraya menyodorkan strowbery merah segar dalam kotak plastik.
Lima tahun sudah berlalu, namun suara beningmu ketika menawarkan buah strowbery itu masih lekat di telingaku.
"Strowbery-nya manis, Mas. Baru saja dipetik dari kebun. Banyak mengandung vitamin C lho! Atau mau mencobanya dulu? Silakan!"
Kutatap wajah bening yang sibuk dengan kotak-kotak plastik buah strowbery itu. Kutaksir usiamu tiga empat tahun lebih muda dariku. Celana jeans dan t'shirt putihmu tampak serasi. Kuakui, kau kelihatan cantik dan alami. Meski tanpa riasan, kamu tampak sangat menarik.
"Lima ribu dua kotak. Untuk oleh-oleh adik, kakak atau kekasih barangkali?"
Aku menerima strowbery yang kau ulurkan. Menimang-nimang sebentar lalu kembali menatapmu. "Kenapa kau berjualan strowbery?"
Kau mengerutkan dahi. Mungkin merasa aneh dengan pertanyaan menyelidikku. Pertanyaan tak lazim dari seorang pembeli. Wajahmu berubah mendung.
Tiba-tiba aku merasa bersalah dengan pertanyaanku, "Jangan pikirkan pertanyaanku tadi."
"Sebenarnya aku juga sedang mencari jawaban."
Perkiraanku tepat. Kau memang bukan seorang penjual strowbery yang sesungguhnya. Aku sudah menduganya sejak kau menghampiri tempat dudukku. Bahasa tubuhmu yang penuh percaya diri, intonasi kata-katamu yang sopan, dandananmu yang tak seperti kebanyakan penjual keliling dan caramu membalas tatapan mataku.
Maka, demikianlah.
Aku memutuskan tinggal lebih lama di penginapan dan waktu yang bergulir maju kemudian menjadi milik kita. Memetik buah strowbery segar dari kebun, mengepaknya dalam kotak-kotak plastik dan menjualnya di kawasan wisata Puncak Kota Hujan. Pada waktu yang lain, kita duduk mencakung di depan penjual jagung bakar. Menahan air liur terjatuh karena aroma gurihnya yang menggoda. Atau, menyusuri jalan setapak di antara hamparan perbukitan teh. Kau menghirup udara puas-puas, merentangkan tangan lalu berteriak lepas ketika pendakian kita sampai di bukit tertinggi.
"Mencari jawaban!" begitu katamu setiap kutanya mengapa kau selalu berteriak di sana.
Aku seorang pengelana. Memunguti kisah dari berbagai kejadian yang kutemui kemudian menuangkannya dalam berlembar-lembar cerita fiksi. Itulah duniaku. Itulah hidupku. Dan pertemuanku denganmu juga tak berbeda dengan pertemuanku dengan sosok-sosok yang lain. Kisah hidupmu adalah sebuah cerita yang menarik.
Kau menghentikan kuliahmu di salah satu perguruan tinggi negeri sebagai bukti pertanggungjawaban terlahir sebagai sulung dari lima bersaudara. Ayahmu menjual semua tanahnya pada orang-orang berdahi licin. Ketika vila-vila berdiri megah, uang ayahmu habis di meja judi dan minuman keras. Setahun kemudian ibumu mati merana. Pada cerita itulah kau, perempuan muda yang cantik, berdiri sebagai tokoh utamanya.
Dan aku sang pengarang, "Tuhan" dari setiap tokoh dalam cerita memutuskan pergi sebelum cerita berakhir. Sebulan mengenal kehidupanmu, dari pagi hingga malam setiap harinya, bagiku sudah lebih dari cukup untuk memulai sebuah tulisan. Masih kuingat air matamu meleleh ketika kulambaikan tangan dari jendela mobil L300 yang kemudian mengantarku pada pengelanaan selanjutnya.
Waktu terus berputar, mengubah masa kini menjadi cerita lalu dalam sekejap. Ketika perjumpaan dengan tokoh-tokoh baru yang akan menjadi model dalam ceritaku terus berlangsung di berbagai tempat, aku belum juga mulai menulis tentangmu. Aku bahkan tidak bisa menggabungkan imajinasiku dengan kenyataan. Aku tidak tega mendramatisir hidup yang tengah kau jalani. Cerita tentangmu terbengkelai. Hanya terhenti pada coretan-coretan dalam lembaran kertas. Teronggok berdebu di meja kamar.
Hingga suatu hari sepulang dari pengelanaan aku menemukan setumpuk suratmu. Selama aku pergi, rupanya kau mengirim surat setiap minggu. Aku memang memberimu alamat rumah sebelum berpisah. Membaca kata demi kata dalam suratmu yang bertumpuk membuat dadaku disesaki rindu. Dan aku yakin, kau pun demikian sesak oleh rindu ketika menuliskan surat-surat itu.
Namun, apa itu rindu? Aku menepis sesak yang melanda dadaku. Aku seorang pengelana. Berjumpa dengan bermacam-macam orang bukan untuk mengobati rindu atau mencari cinta. Aku hanya singgah sesaat untuk memungut kisah. Maka, jika aku kemudian mengabaikan surat-suratmu, apakah aku bersalah?
"Kau membohongi dirimu sendiri, Yan! Kau jatuh cinta pada perempuan itu!"
Aku terkekeh mendengar kata-kata Hasta, sohibku yang juga seorang pengarang.
"Kau terlalu kerdil untuk mengakui bahwa kau telah jatuh cinta. Kau takut kegagalanmu di masa lalu terulang. Kau hanya berani menuliskannya dalam cerita padahal kenyataannya sekedar bercerita pun kau gagal!"
"Perempuan bagiku hanya sumber inspirasi, Has. Tak lebih!"
"Itu kata-kata yang keluar dari mulutmu. Tapi hatimu berkata lain. Kau terlahir dari perempuan, punya saudara perempuan. Apa benar kau menghargai perempuan sebatas itu?"
"Sok tahu kamu!"
"Aku bukan sok tahu, tapi aku memang tahu. Apa kau kira aku tidak tahu bahwa kau sering melamun memandangi fotonya? Lalu diam-diam kau membaca ulang surat-suratnya. Ha ha ha! Tidak sebentar aku mengenalmu, Yan!"
Aku mendengus. Berusaha mengelak dari tuduhan Hasta. Pengelana tak akan menambatkan cintanya dalam perjalanan. Tapi benarkah? Siapa yang membuat undang-undang itu? Mungkin aku sendiri. Aku tidak ingin atau tepatnya belum ingin menambatkan cintaku lagi setelah kegagalanku di masa lalu. Jadi kata-kata Hasta benar? Aku seorang pengelana kerdil? Pergi ke berbagai tempat hanya untuk melarikan diri dari luka?
Aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku ketika suratmu kembali datang. Dalam surat itu kau menceritakan kondisimu yang terjepit. Untuk membayar utang-utang ayahmu di meja judi dan warung minuman keras, kau harus menikah dengan lelaki berdahi licin. Sungguh sebuah novel yang sendu! Siti Nurbaya di abad komputer! Tiba-tiba aku menemukan rangkaian cerita lama yang tak pernah sanggup kuselesaikan.
Dan, begitulah.
Aku mulai menulis. Merangkai penggalan cerita yang hilang dan mengabaikan suratmu. Aku ingin membuktikan pada Hasta bahwa tuduhannya tidak benar. Bahwa aku tidak gagal bercerita tentangmu. Tetapi, pada halaman ke sepuluh aku kembali berhenti. Aku tidak sanggup meneruskannya karena setiap saat menggoreskan pena dalam kertas yang berkisah tentangmu, dadaku mendadak nyeri.
Aku benar-benar berhenti menulis tentangmu. Hingga suatu siang suratmu kembali datang bersama selembar kartu undangan. Dadaku berdesir membaca namamu terukir di sana bersanding dengan nama si dahi licin. Kau menulis beberapa kata untukku.
Demi baktiku pada ayah, aku rela bersanding dengannya.
Tetapi, sebelum malam sempurna seusai pesta, aku akan mengakhirinya dengan caraku. Rayan, apa benar kau tidak peduli lagi padaku?
"Mau tambah kopi panasnya, Mas?"
Pertanyaan itu menyentakkan lamunanku tentangmu. Aku menggeleng pada perempuan muda berlesung pipit di depanku. Sebatang rokok di tanganku tak lagi berasap dan secangkir kopi panas telah tandas. Angin menderu kencang ketika kuseret ransel hitamku meninggalkan kantin.
Aku berjalan cepat menyusuri jalan setapak di antara perbukitan teh menembus gerimis yang makin rapat. Dalam surat undangan, kau akan bersanding dengan si dahi licin itu, besok, tepat jam 10 pagi.
Maka, aku telah memilih caraku sendiri untuk peduli padamu. Tunggulah aku perempuan kota hujan! Sebelum matahari terbit kau akan menemukan jawaban yang kau cari selama ini. Karena aku tak mau terlahir sebagai lelaki pecundang! ***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Noor H. Dee
Dimuat di Suara Karya 4 Juni 2006
Di tempat inilah aku menunggu wanita itu. "Tunggu aku di tempat biasa. Jam setengah lima, setelah aku pulang kerja. Jangan sampai terlambat, ya." Begitulah bunyi pesan pendek yang ia kirimkan ke telepon genggamku. Karena aku mencintainya, tentu saja permintaannya itu langsung aku turuti. Sepulang dari tempatku bekerja, aku langsung bergegas menuju tempat ini dan menunggu kedatangannya. Sendirian.
Memang, kami memang biasa bertemu di tempat ini, sebuah tempat yang tidak bisa dikatakan sebagai tempat yang istimewa. Tempat ini hanyalah sebuah halte. Tempat persinggahan untuk sementara waktu. Seperti sebuah kehidupan, begitu pikirku. Ya, halte memang seperti sebuah kehidupan. Tempat yang cuma disinggahi sebentar. Tidak bisa untuk tetap tinggal abadi. Hanya sementara waktu, untuk kemudian kembali melanjutkan perjalanan berikutnya yang entah menuju ke mana dan entah akan berakhir di mana.
Aku menatap arloji digital yang memeluk pergelangan tangan kananku. Angkanya menunjukkan pukul 16:00. Hmm, rupanya aku datang lebih awal setengah jam. Biarlah. Setidaknya aku tidak datang terlambat. Lagi pula, setengah jam bukanlah waktu yang lama. Cuma tiga puluh menit. Apalagi untuk menunggu seorang wanita seperti dia. Menunggu sampai bertahun-tahun pun akan kujalani. Menunggu sampai menjadi patung pun akan kusanggupi. Bukankah cinta butuh pengorbanan? Dan menunggu, seperti kita tahu, juga termasuk dari sebuah pengorbanan, bukan? Aku mencintainya. Dia juga, katanya, mencintaiku. Jadi, tak ada salahnya kan jika aku mengorbankan setengah jam hidupku hanya untuk menunggu wanita itu?
Jress! Aku menyalakan sebatang rokok yang terselip di antara celah bibirku. Sekepul demi sekepul asap rokok meluncur ke udara dan segera melarut bersama angin sore. Di hadapanku, segala jenis kendaraan berlalu-lalang. Sepeda motor menyalip bis kota. Sedan hitam mendahului taksi. Debu-debu saling berkejaran. Aku mengembuskan asap rokok ke udara. Seorang wanita muda turun dari bus Patas, lantas berjalan perlahan menuju halte ini dan duduk di sampingku. Aku melirik ke arahnya. Wajahnya cantik. Rambutnya yang bergelombang itu dibiarkannya tergerai. Di mataku, ia terlihat seperti seorang wanita yang tahu betul betapa pentingnya arti sebuah penampilan. Aku menarik nafas panjang, dan dengan segera aroma parfum yang meruap dari tubuhnya itu langsung masuk ke dalam hidungku. Hmm. Aku melirik ke arah matanya. Tetapi, hei, mengapa matanya terlihat begitu sedih? Apakah ia sedang terluka?
Aku mendengar suara telepon genggam berbunyi. Nadanya terdengar asing di kedua telingaku. Tentu, tentu suara itu milik telepon genggam wanita itu. Dari ekor mataku, aku melihat wanita itu membuka tasnya yang berukuran kecil, mengambil sebuah telepon genggam yang kecil, lantas didekatkan di telinga kanannya yang tergantung anting-anting yang juga kecil. Aku mendengar ia berbicara.
"Sudahlah, lupakan aku. Selamat tinggal."
Kemudian, aku melihat ia mematikan telepon genggamnya dan menatap kosong ke depan.
"Apakah setiap laki-laki memang seperti itu?" tanyanya lirih. Entah kepada siapa.
Aku tidak menjawab, sebab ia memang tidak bertanya kepadaku. Kalau pun ia memang bertanya kepadaku, tentu aku butuh waktu untuk bisa menjawabnya. Sebab, pertanyaannya itu memang tidak akan cukup jika cuma diberikan jawaban 'iya' atau 'tidak'.
Aku masih tetap memerhatikan wanita cantik itu. Setelah menaruh telepon genggamnya, ia mengambil sebatang rokok dari dalam tas kecilnya, menyelipkannya di celah bibirnya yang berwarna merah, mambakarnya, menyemburkan asapnya secara sembarang, lantas berdiri dan berjalan meninggalkan halte ini. Ia seperti tidak mempedulikan akan keberadaanku. Ia seperti berada di sebuah dimensi kosong yang tidak ada orang lain lagi kecuali dirinya sendiri. Kedua mataku, entah mengapa, masih terus membututinya. Ia berjalan di atas trotoar, sambil terus merokok, dan melenyap di sebuah kelokan. Ke manakah wanita itu akan pergi? Entahlah. Tentu saja aku tidak akan pernah tahu. Misteri.
Aku kembali mengembuskan asap rokokku ke udara. Terkadang asap itu kupermainkan, agar aku tidak jemu dalam penantian. Aku memonyongkan bibirku, mendesak asap itu dengan lidahku, lantas meluncurlah segumpal asap yang membentuk sebuah lingkaran. Sebuah lingkaran putih, seperti lingkaran yang selalu mengambang di atas kepala malaikat yang sering kulihat di komik-komik. Aku bisa melihat bagaimana asap itu melayang, mengambang, lantas menghilang karena dihapus angin. Segumpal asap, begitulah, meskipun terlihat sepele, ternyata bisa memberikan ketenangan bagi diriku.
Ke manakah wanita itu akan pergi? Aku kembali bertanya tentang wanita yang telah lenyap di kelokan itu. Barangkali ia akan pergi ke sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi. Namun, di manakah tempat itu berada? Tentu saja cuma wanita itu yang mengetahuinya. Barangkali ia akan mengunjungi sebuah tempat yang dapat menghadirkan kebahagiaan semu. Seperti diskotik, pub, atau pun kafe-kafe yang lampunya selalu remang-remang, yang seperti enggan menghadirkan sebuah kenyataan. Tetapi, ah, sepertinya itu tidak mungkin. Hari masih sore, dan sore bukanlah waktu yang tepat untuk pergi ke tempat-tempat semacam itu. Barangkali ia akan pulang ke rumah. Tidak pergi ke mana-mana. Sebab, ia berpikir, pergi ke mana-mana pun tidak akan mampu menghibur hatinya yang anggap saja sedang terluka itu. Ia akan berdiam diri di dalam kamar. Barangkali ia akan menangis, dan menghabiskan waktunya hanya dalam kesendirian. Dan, ia akan tersadar, betapa di dunia ini tidak ada yang tetap tinggal abadi.
Hmm. Aku kembali teringat dengan wanita yang saat ini sedang kutunggu-tunggu kehadirannya. Apakah ia juga akan seperti itu jika hatinya sedang terluka? Apakah ia juga akan mengatakan, 'Apakah setiap laki-laki memang seperti itu?' jika hatinya telah dikhianati? Hmm. Aku jadi semakin tidak sabar dan ingin cepat-cepat bertemu dengannya.
* * *
Di tempat inilah aku menunggu wanita itu. Aku membuang rokokku yang sudah pendek ke aspal dan membunuh baranya dengan injakan. Fiiuuuh! Segumpal asap terakhir meluncur dari bibirku. Lima belas menit sudah berlalu. Berarti, lima belas menit lagi, ia akan hadir di hadapanku. Aku memang sudah terbiasa menghitung waktu dengan sebatang rokok. Sebatang rokok, bagiku, bisa menghabiskan waktu kurang lebih lima belas menit. Langit di atas sana memperlihatkan pemandangan sore. Mega-mega bersepuh susu berarak lambat melintasi cakrawala mengikuti ajakan angin. Matahari bersembunyi di balik gedung-gedung kaca. Angin berembus. Daun-daun saling menampar. 'Lima belas menit lagi,' ujarku dalam hati.
Wanita yang sedang kutunggu-tunggu kehadirannya itu adalah seorang wanita yang menarik. Memang tidak cantik, tetapi menarik. Ah. Cantik. Menarik. Manakah yang lebih menjanjikan untuk sebuah kebahagiaan?
"Aku tidak cantik," ujarnya dulu.
"Lantas, memang kenapa kalau tidak cantik?"
"Iya, mengapa kamu memilih aku? Bukankah masih banyak yang lebih cantik dari aku?"
"Aku memilihmu, sebab kamu adalah wanita yang menarik."
"Menarik?"
"Ya, menarik."
"Tapi, aku tidak cantik."
"Tidak perlu harus menjadi cantik, untuk bisa tampil menarik."
"Kalau begitu, apa yang menarik dariku?"
"Matamu."
"Mataku? Ada apa dengan mataku?"
"Seperti ada tali."
"Maksudmu?"
"Ya, di dalam matamu seperti ada tali yang telah menarik hatiku sehingga membuatku jatuh cinta kepadamu."
"Uh, gombal!"
Hmm. Gombal. Aku masih belum mengerti mengapa segala bentuk pujian yang dikatakan secara jujur pun masih tetap dikatakan gombal? Apakah setiap kata-kata yang manis, yang diucapkan dengan sebenar-benarnya dari dalam hati, masih juga tetap dikatakan gombal? Hmm. Gombal. Makhluk apakah itu?
Halte ini kebetulan sepi. Hanya aku saja duduk di sini, sendirian, menunggu wanita itu, tanpa ada teman yang mengawani. Menyaksikan pemandangan sekitar. Menyaksikan dunia. Apa boleh buat, ternyata memang benar perkataan orang bijak itu, betapa dunia cuma sebatas mata memandang. Aku melihat sebuah bis kota yang penuh sesak dengan penumpang. Laki-laki. Perempuan. Anak kecil. Orang tua. Mereka yang berada di pintu itu bergelantungan dengan berbagai macam cara, bertahan sekuat mungkin agar tidak sampai terjatuh. Mereka yang berada di dalam sana terlihat lebih memrihatinkan. Tubuh-tubuh mereka saling terhimpit satu sama lain. Aku bisa membayangkan betapa sumpek di dalam sana. Namun, sang kernet dengan wajah tanpa dosa masih terus menawarkan jurusan kepada setiap orang yang sedang berada di pinggir jalan. Seandainya aku juga berada di dalam sana, betapa jengkelnya aku melihat aksi sang kernet itu.
Aku kembali melirik arloji digitalku. Angkanya menunjukkan pukul 16:20. Berarti, sepuluh menit lagi wanita itu akan hadir di hadapanku. Aku membayangkan apakah kiranya yang akan kami lakukan jika bertemu nanti. Barangkali ia akan langsung mengajakku makan di sebuah tempat. Sama seperti yang biasa kami lakukan setiap kali bertemu. Kalau tidak di restoran Jepang, pastilah ia akan memilih makan di restoran siap saji. Aku juga tidak mengerti mengapa ia suka sekali makan di tempat-tempat semacam itu. Aku pernah mengusulkan untuk sekali-sekali makan di restoran padang. Tetapi ia selalu menolaknya. "Aku tidak mau. Aku lebih suka makan di sini." Begitulah jawabannya selalu.
Jika memang benar kami makan, maka kami akan makan secara perlahan, sengaja agar pertemuan terasa lama. Tetapi, entah mengapa, itu tidak pernah berhasil. Aku selalu merasa pertemuan kami selalu cepat berakhir. Setiap kali kami bertemu, aku selalu merasa waktu begitu cepat melesat. Satu hari bersamanya, sama seperti satu jam. Satu jam, terasa satu menit. Entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa selalu seperti itu.
Seperti biasa, kami akan makan sambil bercerita tentang banyak hal. Sebenarnya ia yang lebih banyak bercerita, dan aku yang lebih banyak mendengarkan. Tentang pekerjaannya yang melelahkan. Tentang atasannya yang menjengkelkan. Tentang teman-teman pria di kantornya yang sering menggodanya. Tentang cinta. Tentang harapan. Tentang mimpi-mimpi. Tentang apa saja. Tentang siapa saja. Juga tentang hal-hal yang kelihatannya sepele, namun tetap memiliki daya tarik untuk dibicarakan. Tentang dedaunan, langit malam, sepotong senja, dan lain semacamnya yang sebenarnya memang tidak terlalu penting-penting amat. Biasanya, ia akan bercerita dengan mata berbinar-binar. Semakin berbinar-binar matanya, semakin aku jatuh cinta dibuatnya. Matanya itu, ya, matanya itu seperti sebuah jendela yang menampilkan seribu pemandangan bukit, seribu pemandangan laut, seribu pemandangan semesta, sehingga membuat aku betah untuk berlama-lama menatapnya. Matanya, ya, matanya yang sejernih telaga itulah yang membuat aku benar-benar jatuh cinta kepadanya.
"Matamu indah," ujarku dulu, entah kapan dan di mana, aku sudah lupa. Yang bisa kuingat, saat itu ia cuma mengulas senyum sambil menarik kepalaku mendekati kepalanya. Lantas, ia menjepit bibirku dengan bibirnya sambil berkata, "Aku mencintaimu, laki-laki gombal."
* * *
Di tempat inilah aku menunggu wanita itu. Arloji digitalku sudah menunjukkan pukul 16:40. Ia belum juga hadir di hadapanku. Apakah suaminya datang menjemput? Hmm. Terkadang aku lupa betapa ia adalah seorang wanita yang sudah bersuami. Sekarang ia belum datang. Alasannya apa, aku belum tahu.
Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi dan bergetar di saku celana. Aku meraihnya. Ada pesan yang masuk. Ternyata dari wanita itu. Hmm. Apakah ia ingin membatalkan pertemuan ini? Atau, apakah ia akan datang terlambat, sebab ada sesuatu hal yang mesti ia kerjakan di kantornya?
Aku menarik nafas panjang dan segera membuka kotak pesan di layar telepon genggamku.
Aku membaca sebuah pesan. "TAMAT". ***
Dimuat di Suara Karya 4 Juni 2006
Di tempat inilah aku menunggu wanita itu. "Tunggu aku di tempat biasa. Jam setengah lima, setelah aku pulang kerja. Jangan sampai terlambat, ya." Begitulah bunyi pesan pendek yang ia kirimkan ke telepon genggamku. Karena aku mencintainya, tentu saja permintaannya itu langsung aku turuti. Sepulang dari tempatku bekerja, aku langsung bergegas menuju tempat ini dan menunggu kedatangannya. Sendirian.
Memang, kami memang biasa bertemu di tempat ini, sebuah tempat yang tidak bisa dikatakan sebagai tempat yang istimewa. Tempat ini hanyalah sebuah halte. Tempat persinggahan untuk sementara waktu. Seperti sebuah kehidupan, begitu pikirku. Ya, halte memang seperti sebuah kehidupan. Tempat yang cuma disinggahi sebentar. Tidak bisa untuk tetap tinggal abadi. Hanya sementara waktu, untuk kemudian kembali melanjutkan perjalanan berikutnya yang entah menuju ke mana dan entah akan berakhir di mana.
Aku menatap arloji digital yang memeluk pergelangan tangan kananku. Angkanya menunjukkan pukul 16:00. Hmm, rupanya aku datang lebih awal setengah jam. Biarlah. Setidaknya aku tidak datang terlambat. Lagi pula, setengah jam bukanlah waktu yang lama. Cuma tiga puluh menit. Apalagi untuk menunggu seorang wanita seperti dia. Menunggu sampai bertahun-tahun pun akan kujalani. Menunggu sampai menjadi patung pun akan kusanggupi. Bukankah cinta butuh pengorbanan? Dan menunggu, seperti kita tahu, juga termasuk dari sebuah pengorbanan, bukan? Aku mencintainya. Dia juga, katanya, mencintaiku. Jadi, tak ada salahnya kan jika aku mengorbankan setengah jam hidupku hanya untuk menunggu wanita itu?
Jress! Aku menyalakan sebatang rokok yang terselip di antara celah bibirku. Sekepul demi sekepul asap rokok meluncur ke udara dan segera melarut bersama angin sore. Di hadapanku, segala jenis kendaraan berlalu-lalang. Sepeda motor menyalip bis kota. Sedan hitam mendahului taksi. Debu-debu saling berkejaran. Aku mengembuskan asap rokok ke udara. Seorang wanita muda turun dari bus Patas, lantas berjalan perlahan menuju halte ini dan duduk di sampingku. Aku melirik ke arahnya. Wajahnya cantik. Rambutnya yang bergelombang itu dibiarkannya tergerai. Di mataku, ia terlihat seperti seorang wanita yang tahu betul betapa pentingnya arti sebuah penampilan. Aku menarik nafas panjang, dan dengan segera aroma parfum yang meruap dari tubuhnya itu langsung masuk ke dalam hidungku. Hmm. Aku melirik ke arah matanya. Tetapi, hei, mengapa matanya terlihat begitu sedih? Apakah ia sedang terluka?
Aku mendengar suara telepon genggam berbunyi. Nadanya terdengar asing di kedua telingaku. Tentu, tentu suara itu milik telepon genggam wanita itu. Dari ekor mataku, aku melihat wanita itu membuka tasnya yang berukuran kecil, mengambil sebuah telepon genggam yang kecil, lantas didekatkan di telinga kanannya yang tergantung anting-anting yang juga kecil. Aku mendengar ia berbicara.
"Sudahlah, lupakan aku. Selamat tinggal."
Kemudian, aku melihat ia mematikan telepon genggamnya dan menatap kosong ke depan.
"Apakah setiap laki-laki memang seperti itu?" tanyanya lirih. Entah kepada siapa.
Aku tidak menjawab, sebab ia memang tidak bertanya kepadaku. Kalau pun ia memang bertanya kepadaku, tentu aku butuh waktu untuk bisa menjawabnya. Sebab, pertanyaannya itu memang tidak akan cukup jika cuma diberikan jawaban 'iya' atau 'tidak'.
Aku masih tetap memerhatikan wanita cantik itu. Setelah menaruh telepon genggamnya, ia mengambil sebatang rokok dari dalam tas kecilnya, menyelipkannya di celah bibirnya yang berwarna merah, mambakarnya, menyemburkan asapnya secara sembarang, lantas berdiri dan berjalan meninggalkan halte ini. Ia seperti tidak mempedulikan akan keberadaanku. Ia seperti berada di sebuah dimensi kosong yang tidak ada orang lain lagi kecuali dirinya sendiri. Kedua mataku, entah mengapa, masih terus membututinya. Ia berjalan di atas trotoar, sambil terus merokok, dan melenyap di sebuah kelokan. Ke manakah wanita itu akan pergi? Entahlah. Tentu saja aku tidak akan pernah tahu. Misteri.
Aku kembali mengembuskan asap rokokku ke udara. Terkadang asap itu kupermainkan, agar aku tidak jemu dalam penantian. Aku memonyongkan bibirku, mendesak asap itu dengan lidahku, lantas meluncurlah segumpal asap yang membentuk sebuah lingkaran. Sebuah lingkaran putih, seperti lingkaran yang selalu mengambang di atas kepala malaikat yang sering kulihat di komik-komik. Aku bisa melihat bagaimana asap itu melayang, mengambang, lantas menghilang karena dihapus angin. Segumpal asap, begitulah, meskipun terlihat sepele, ternyata bisa memberikan ketenangan bagi diriku.
Ke manakah wanita itu akan pergi? Aku kembali bertanya tentang wanita yang telah lenyap di kelokan itu. Barangkali ia akan pergi ke sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi. Namun, di manakah tempat itu berada? Tentu saja cuma wanita itu yang mengetahuinya. Barangkali ia akan mengunjungi sebuah tempat yang dapat menghadirkan kebahagiaan semu. Seperti diskotik, pub, atau pun kafe-kafe yang lampunya selalu remang-remang, yang seperti enggan menghadirkan sebuah kenyataan. Tetapi, ah, sepertinya itu tidak mungkin. Hari masih sore, dan sore bukanlah waktu yang tepat untuk pergi ke tempat-tempat semacam itu. Barangkali ia akan pulang ke rumah. Tidak pergi ke mana-mana. Sebab, ia berpikir, pergi ke mana-mana pun tidak akan mampu menghibur hatinya yang anggap saja sedang terluka itu. Ia akan berdiam diri di dalam kamar. Barangkali ia akan menangis, dan menghabiskan waktunya hanya dalam kesendirian. Dan, ia akan tersadar, betapa di dunia ini tidak ada yang tetap tinggal abadi.
Hmm. Aku kembali teringat dengan wanita yang saat ini sedang kutunggu-tunggu kehadirannya. Apakah ia juga akan seperti itu jika hatinya sedang terluka? Apakah ia juga akan mengatakan, 'Apakah setiap laki-laki memang seperti itu?' jika hatinya telah dikhianati? Hmm. Aku jadi semakin tidak sabar dan ingin cepat-cepat bertemu dengannya.
* * *
Di tempat inilah aku menunggu wanita itu. Aku membuang rokokku yang sudah pendek ke aspal dan membunuh baranya dengan injakan. Fiiuuuh! Segumpal asap terakhir meluncur dari bibirku. Lima belas menit sudah berlalu. Berarti, lima belas menit lagi, ia akan hadir di hadapanku. Aku memang sudah terbiasa menghitung waktu dengan sebatang rokok. Sebatang rokok, bagiku, bisa menghabiskan waktu kurang lebih lima belas menit. Langit di atas sana memperlihatkan pemandangan sore. Mega-mega bersepuh susu berarak lambat melintasi cakrawala mengikuti ajakan angin. Matahari bersembunyi di balik gedung-gedung kaca. Angin berembus. Daun-daun saling menampar. 'Lima belas menit lagi,' ujarku dalam hati.
Wanita yang sedang kutunggu-tunggu kehadirannya itu adalah seorang wanita yang menarik. Memang tidak cantik, tetapi menarik. Ah. Cantik. Menarik. Manakah yang lebih menjanjikan untuk sebuah kebahagiaan?
"Aku tidak cantik," ujarnya dulu.
"Lantas, memang kenapa kalau tidak cantik?"
"Iya, mengapa kamu memilih aku? Bukankah masih banyak yang lebih cantik dari aku?"
"Aku memilihmu, sebab kamu adalah wanita yang menarik."
"Menarik?"
"Ya, menarik."
"Tapi, aku tidak cantik."
"Tidak perlu harus menjadi cantik, untuk bisa tampil menarik."
"Kalau begitu, apa yang menarik dariku?"
"Matamu."
"Mataku? Ada apa dengan mataku?"
"Seperti ada tali."
"Maksudmu?"
"Ya, di dalam matamu seperti ada tali yang telah menarik hatiku sehingga membuatku jatuh cinta kepadamu."
"Uh, gombal!"
Hmm. Gombal. Aku masih belum mengerti mengapa segala bentuk pujian yang dikatakan secara jujur pun masih tetap dikatakan gombal? Apakah setiap kata-kata yang manis, yang diucapkan dengan sebenar-benarnya dari dalam hati, masih juga tetap dikatakan gombal? Hmm. Gombal. Makhluk apakah itu?
Halte ini kebetulan sepi. Hanya aku saja duduk di sini, sendirian, menunggu wanita itu, tanpa ada teman yang mengawani. Menyaksikan pemandangan sekitar. Menyaksikan dunia. Apa boleh buat, ternyata memang benar perkataan orang bijak itu, betapa dunia cuma sebatas mata memandang. Aku melihat sebuah bis kota yang penuh sesak dengan penumpang. Laki-laki. Perempuan. Anak kecil. Orang tua. Mereka yang berada di pintu itu bergelantungan dengan berbagai macam cara, bertahan sekuat mungkin agar tidak sampai terjatuh. Mereka yang berada di dalam sana terlihat lebih memrihatinkan. Tubuh-tubuh mereka saling terhimpit satu sama lain. Aku bisa membayangkan betapa sumpek di dalam sana. Namun, sang kernet dengan wajah tanpa dosa masih terus menawarkan jurusan kepada setiap orang yang sedang berada di pinggir jalan. Seandainya aku juga berada di dalam sana, betapa jengkelnya aku melihat aksi sang kernet itu.
Aku kembali melirik arloji digitalku. Angkanya menunjukkan pukul 16:20. Berarti, sepuluh menit lagi wanita itu akan hadir di hadapanku. Aku membayangkan apakah kiranya yang akan kami lakukan jika bertemu nanti. Barangkali ia akan langsung mengajakku makan di sebuah tempat. Sama seperti yang biasa kami lakukan setiap kali bertemu. Kalau tidak di restoran Jepang, pastilah ia akan memilih makan di restoran siap saji. Aku juga tidak mengerti mengapa ia suka sekali makan di tempat-tempat semacam itu. Aku pernah mengusulkan untuk sekali-sekali makan di restoran padang. Tetapi ia selalu menolaknya. "Aku tidak mau. Aku lebih suka makan di sini." Begitulah jawabannya selalu.
Jika memang benar kami makan, maka kami akan makan secara perlahan, sengaja agar pertemuan terasa lama. Tetapi, entah mengapa, itu tidak pernah berhasil. Aku selalu merasa pertemuan kami selalu cepat berakhir. Setiap kali kami bertemu, aku selalu merasa waktu begitu cepat melesat. Satu hari bersamanya, sama seperti satu jam. Satu jam, terasa satu menit. Entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa selalu seperti itu.
Seperti biasa, kami akan makan sambil bercerita tentang banyak hal. Sebenarnya ia yang lebih banyak bercerita, dan aku yang lebih banyak mendengarkan. Tentang pekerjaannya yang melelahkan. Tentang atasannya yang menjengkelkan. Tentang teman-teman pria di kantornya yang sering menggodanya. Tentang cinta. Tentang harapan. Tentang mimpi-mimpi. Tentang apa saja. Tentang siapa saja. Juga tentang hal-hal yang kelihatannya sepele, namun tetap memiliki daya tarik untuk dibicarakan. Tentang dedaunan, langit malam, sepotong senja, dan lain semacamnya yang sebenarnya memang tidak terlalu penting-penting amat. Biasanya, ia akan bercerita dengan mata berbinar-binar. Semakin berbinar-binar matanya, semakin aku jatuh cinta dibuatnya. Matanya itu, ya, matanya itu seperti sebuah jendela yang menampilkan seribu pemandangan bukit, seribu pemandangan laut, seribu pemandangan semesta, sehingga membuat aku betah untuk berlama-lama menatapnya. Matanya, ya, matanya yang sejernih telaga itulah yang membuat aku benar-benar jatuh cinta kepadanya.
"Matamu indah," ujarku dulu, entah kapan dan di mana, aku sudah lupa. Yang bisa kuingat, saat itu ia cuma mengulas senyum sambil menarik kepalaku mendekati kepalanya. Lantas, ia menjepit bibirku dengan bibirnya sambil berkata, "Aku mencintaimu, laki-laki gombal."
* * *
Di tempat inilah aku menunggu wanita itu. Arloji digitalku sudah menunjukkan pukul 16:40. Ia belum juga hadir di hadapanku. Apakah suaminya datang menjemput? Hmm. Terkadang aku lupa betapa ia adalah seorang wanita yang sudah bersuami. Sekarang ia belum datang. Alasannya apa, aku belum tahu.
Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi dan bergetar di saku celana. Aku meraihnya. Ada pesan yang masuk. Ternyata dari wanita itu. Hmm. Apakah ia ingin membatalkan pertemuan ini? Atau, apakah ia akan datang terlambat, sebab ada sesuatu hal yang mesti ia kerjakan di kantornya?
Aku menarik nafas panjang dan segera membuka kotak pesan di layar telepon genggamku.
Aku membaca sebuah pesan. "TAMAT". ***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Denny Prabowo
Dimuat di Suara Karya 16/07/2006
Rasanya sulit sekali menemukan kata-kata untuk kurangkai-rangkai menjadi sebuah cerita. Sudah satu jam sejak waktu Subuh memudar. Aku duduk di depan komputer di dalam kamarku. Biasanya kata-kata yang menghampiriku. Aku hanya tinggal mengumpulkannya saja. Menyatu-nyatukannya menjadi kalimat-kalimat. Dan, menggiringnya menjadi sebuah cerita. Entahlah, mungkin terlalu banyak hal yang ingin kutulis, sehingga tak satu cerita pun yang mampu kuselesaikan. Baru kumulai menggarap satu ide, ide yang lain mengusik inginku. Tak bisa kukendalikan!
"Seburuk apa pun hasilnya, sebuah cerita harus tuntas diselesaikan, sebelum penulis ingin melangkah ke cerita yang lainnya," begitu nasihat seorang sastrawan ternama yang tulisannya dimuat di sebuah majalah remaja Ibukota. Tapi sulit sekali kuterapkan saat ini. Ide-ide itu menjejal ruang di kepalaku. Berputar-putar seperti gangsingan. Ini membuatku pusing. Sementara tak cukup kata yang bisa kurangkai-rangkai untuk menyelesaikannya. Ah!
Kumatikan komputerku. Kutinggalkan kamarku. Mungkin televisi bisa sedikit menyegarkan otakku?
"Artis A bercerai dengan artis B," kubalik channel TV.
"Artis B berselingkuh dengan artis C," kutukar channel TV.
"Artis A memiliki hubungan dengan artis D," kupijit tombol remot ke channel TV lain.
"Artis D menggugat cerai artis C, padahal mereka belum menikah!" Lho?
Kupadamkan televisi. Kupikir, berita-berita itu tak akan membantuku sama sekali.
Untuk beberapa saat aku seperti setrikaan. Bolak-balik depan belakang. Mondar-mandir tak karuan. Dan, kepalaku tidak menjadi lapang karenanya.
Aku balik ke kamarku. Kugelar kasurku. Kubaringkan tubuhku di atasnya. Mataku baru dua jam terpejam saat adzan Subuh tadi membangunkanku. Kedua temanku masih terlelap di kamar masing-masing. Saat bangun Subuh tadi, keduanya baru kembali dari tempat kerja mereka. Mereka seorang musisi. Yang satu gitaris pada sebuah band yang biasa memainkan lagu-lagu top 40 dari satu kafe ke kafe lain, hampir setiap malam. Yang seorang lagi, penata musik yang banyak menghabiskan waktunya di studio milik Raja Dangdut. Mereka seperti seekor kelalawar yang mencari makan di kegelapan malam, dan kembali ke sarang saat pagi menjelang.
"Huuuuaaaahhhhh!" Ngantuk. Mataku terpejam. Tertidur.
Matahari telah menuntaskan pendakiannya ke tiang tertinggi hari, duduk di sejumput awan, sinar matanya tajam menghujam ke bumi, cahayanya menyelinap melalui celah tirai jendela kamarku yang terbuka. Panas!
"Hayya alash shalaaaaahhh," suara muadzin bersaing dengan jerit sorak anak-anak yang bermain di gang sebelah rumah kontrakanku. Kubuka mata. Beranjak ke kamar mandi. Kubasuh tubuh. Wuuuiiih segaaaarrr!
Kulihat pintu kamar kedua temanku masih rapat.
Selepas salat Zuhur, perutku mulai terasa keroncongan. Cacing-cacing di dalam perutku bertingkah laiknya para mahasiswa yang berdemo menuntut apa saja demi kebaikan bangsa. Menimbulkan suara 'krukuk krukuk krukuk' di dalam perutku. Ah! "Begini nasib jadi bujangan..," aku bersenandung, menertawai nasibku yang hingga nyaris menyentuh kepala tiga masih saja membujang. Nasib, nasib ha ha ha ha mana ada perempuan yang mau dengan lelaki yang penghasilannya hanya cukup buat beli nasi bungkus, ha ha ha ha!
Tapi aku cukup bersyukur dengan apa yang sudah kudapatkan. Ini hanya persolaan pilihan hidup. Dan, aku harus berani menanggung konsekuensinya. Menjadi penulis. Di negeri ini, profesi itu masih dipandang sebelah mata.
"Kau tidak akan menjadi kaya dengan menjadi penulis!" begitu pendapat teman musisiku. Tak apa buatku. Untuk menjadi bahagia orang tidak harus menjadi kaya. Tapi kuakui, terkadang kekayaan bisa membeli kebahagiaan. Namun, penderitaan bisa juga berawal dari kekayaan. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang, penulis mati meninggalkan karya. Aku hanya seorang lulusan SMA. Setidaknya, aku tidak menyia-nyiakan pelajaran yang pernah diberikan guru-guru Bahasa Indonesiaku. Dan, aku cukup bahagia dengan pilihanku.
"Sepiring nasi putih, sayur daun singkong dan sepotong tuna pedas."
"Minumnya?"
"Air jeruk."
"Dingin?"
"Biasa."
Beberapa saat kemudian pelayan warung nasi itu menghidangkan pesananku di depanku. Tersenyum. Aku membalas senyumnya.
Kupandangi hidangan di depanku. Benar-benar membangkitkan selera. Apalagi makannya sambil angkat kaki. Irama melayu terdengar mengalun dari loud speaker pedagang kaset dan CD bajakan, yang digeber maksimal. Aku makan dengan lahap. Yeah, beginilah hari-hariku, makan di sebuah warung nasi di pinggiran rel dekat stasiun kereta.
Aku suka menghabiskan waktu di tempat itu. Baca buku sambil minum kopi. Atau, nongkrong di stasiun dengan teman-teman pengamenku, sambil mengamati hiruk-pikuk kehidupan yang berlangsung di tempat itu. Biasanya, kata-kata bisa berhamburan begitu saja dari alam bawah sadarku. Kalau aku sedang 'sakurata' alias bokek, aku sering ikutan teman-teman pengamenku mendendangkan lagu melayu dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Tidak sia-sia aku memiliki teman musisi. Mereka mengajariku banyak hal dengan gitar. Berkat mereka, aku cukup piawai memainkan instrumen yang satu itu. Yeah, lumayan buat isi perut. Tapi hari ini tidak kulihat teman-teman pengamenku di stasiun itu.
Petugas peron mengumumkan kedatangan kereta dari arah Bogor, lewat pengeras suara. Sayup-sayup terdengar derap langkah roda besi menggilas rel semakin mendekat. Para calon penumpang KRL berdiri dari tempat duduknya. Aku ikutan berdiri. Aku tak tahu kenapa aku ikutan berdiri. Tapi biar saja kakiku menentukan langkahnya sendiri kali ini.
Kereta berhenti di stasiun. Orang-orang berebut pintu. Kakiku membawa aku ke dalam gerbong yang tak terlalu sesak, tapi sangat tak bisa dikatakan cukup lengang. Tujuan? Entah. Aku berdiri tak jauh dari pintu. Kereta bergerak perlahan meninggalkan stasiun. Irama melayu terdengar semakin sayup sebelum menghilang sama sekali dari pendengaranku. Berganti dengan suara pedagang apa saja yang bertukar sahut di dalam gerbong itu.
Seorang lelaki berkemeja lengan panjang warna biru tua berdiri di sebelahku, memuntahkan sampah nikotin dari mulutnya yang hitam. Aku terbatuk, berusaha memberikan isyarat kepadanya kalau aku merasa terganggu dengan asap rokoknya. Lelaki yang kukira usianya tak terpaut jauh denganku, hanya melirik sekilas. Seperti pantat knalpot kendaraan, mulutnya yang hitam menyemburkan asap bertubi-tubi. Mengepul. Mengepung wajahku. Kulihat matanya sinis melirik ke arahku. Aku tak merasa perlu lagi terbatuk.
Kereta berguncang. Memperlambat lajunya. Sebuah stasiun tampak di depan. Lelaki berkemeja lengan panjang warna biru tua di sebelahku berjalan ke depan pintu. Seorang wanita gemuk yang - sebelum lelaki itu berdiri di depan pintu bersiap untuk turun - berdiri di sebelahnya menyadari kalau tasnya telah koyak tersilet dan dia tak menemukan dompetnya. Wanita gemuk empat puluh tahunan itu sudah menaruh curiga-sejak beberapa saat sebelum ia mendapati tasnya koyak tersilet dan tak menemukan dompetnya di dalam tasnya kepada lelaki berkemeja lengan panjang yang tadi berdiri di antara aku dan wanita gemuk itu.
Kereta belum sampai berhenti saat wanita gemuk itu berteriak lantang seraya menuding ke arah lelaki berkemaja lengan panjang yang bersiap turun.
"Copeeeetttt!!!"
Berpasang-pasang mata segera menancap di wajah lelaki itu. Wajahnya pucat serupa mayat. Dia siap melompat dari atas kereta, namun urung terjadi. Seseorang - entah siapa - menarik tubuhnya kembali ke dalam gerbong. Beberapa penumpang turun, beberapa calon penumpang naik. Lalu kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun dengan seorang lelaki yang dituding telah mencopet dompet seorang wanita gemuk.
Waktu seolah berhenti.
Adegan selanjutnya:
"Hajar!"
"Bunuh!"
"Habisin!"
"Mampusin!"
Entah siapa yang memulai.
Bag!
"Aduh!"
Bug!
"Ampun?"
Bag! "Bukan saya!"
Bug!
"Saya tidak..."
Crooootttt!
Darah mengalir dari kepalanya.
Jreb!
Pisau menancap di perutnya.
Bag!
Bug!
Bag!
Bug!
Darah. Darah. Darah.
Menoda di mana-mana.
Lelaki itu tumbang. Melata bersimbah dara. Masih diinjak-injak. Tak bergerak. Mati? Masih diinjak-injak. Orang-orang berteriak-teriak:
"Hajar!"
"Bunuh!"
"Habisin!"
"Mampusin!"
"Lemparin ke luar!"
Lemparin ke luar?! Hiiiiyyy aku begidik membayangkan hal itu.
Dua orang memegang tangannya.
Dua orang memegang kakinya.
Dan keempat orang itu menyeret tubuhnya ke depan pintu. Mengangkatnya. Mengayun-ayun tubuh lelaki berkemeja lengan panjang warna biru tua. Mengambil ancang-ancang.
Beberapa penumpang berteriak-teriak.
Beberapa penumpang menutup mata tak tega.
Beberapa penumpang malah tertawa-tawa.
Beberapa penumpang menjadi semakin buas karenanya.
Beberapa penumpang berusaha mencegah.
Beberapa penumpang hanya menjadi penonton saja.
Dan aku? Aku tidak menjadi bagian dari beberapa penumpang yang mana pun.
Keempat orang itu masih mengayun-ayun tubuh lelaki berkemeja yang telah bersimbah darah dan tak bergerak-gerak. Mungkin dia mati? Atau hanya pingsan? Tak seorang pun yang dapat memastikan. Tapi semua orang yang berada di gerbong itu tahu pasti, apa yang akan segera terjadi saat keempat orang itu mulai menghitung: "Satu, dua, ti..."
Handphone di saku celanaku bergetar. Aku terhenyak. Tersadar. Lelaki berkemeja lengan panjang warna biru tua masih berdiri di sebelahku. Mulutnya yang hitam masih saja mengepulkan sampah nikotin ke udara. Wanita gemuk yang berdiri di sebelahnya terbatuk-batuk karenanya. Lelaki itu masih saja tak peduli. Padahal, penampilannya terlihat sangat terpelajar.
Kuterima telepon. Suasana gerbong sangat bising. Sulit aku mendengar ucapan seorang temanku yang bekerja di sebuah kantor penerbitan. Kupasang telinga tajam-tajam. Dia menanyakan kapan aku akan menyerahkan naskah-naskah cerpenku. Seharusnya, kemarin aku sudah menyerahkannya. Kukatakan kepadanya, kalau aku hanya tinggal membuat satu cerpen lagi untuk melengkapi. Dan, kukatakan juga kepadanya, kalau aku baru saja menyelesaikan sebuah cerita yang baru kutulis di kepalaku.
Ceritanya tentang seorang lelaki berkemeja lengan panjang warna biru tua, yang diteriaki copet oleh seorang wanita gemuk yang berdiri di sebelahnya, di dalam sebuah gerbong kereta yang sedang berjalan. Padahal lelaki itu tidak mencopet dompetnya. Atau, dia mencopetnya? Orang-orang yang berada di dalam gerbong itu tak seorang pun yang berminat mencari tahu. Mereka lebih tertarik untuk segera menghabisi lelaki yang kelihatan sangat terpelajar itu. Sampai mati? Mereka tidak juga merasa perlu mencari tahu apakah lelaki itu sudah mati sebelum mereka melemparnya dari atas gerbong kereta yang berjalan. "Cerita yang menarik, bukan?" kataku kepadanya. Dan, dia sangat menyukainya. Sampai di situ pembicaraan kami terputus.
"Karcisnya, Mas?"
"Ups." Aku tak membeli karcis!
"Karcisnya, Mas?" kondektur kereta itu mengulangi ucapannya.
Aku merogoh saku celana panjangku. Kutemukan beberapa lembar ribuan di sana. Kucomot satu lalu kuselipkan di genggaman kondektur itu.
"Apa ini?"
"Karcis, Pak."
Kondektur itu tersenyum. Aku mengelus dada. Lega. Tapi kemudian, dia mengembalikan seribuan yang kuberikan ke tanganku. "Di stasiun berikut kamu harus turun untuk membeli karcis!" Setelah mengucapkan itu, dia melanjutkan tugasnya membolongi karcis para penumpang kereta.
Ah, ternyata masih ada orang jujur. Aku meringis. Malu.
Kereta berhenti di sebuah stasiun. Manggarai. Aku bisa saja tak usah turun untuk membeli karcis. Toh, kondektur itu tak akan kembali meminta karcis dariku atau dia akan kembali? Entah. Tapi aku malu dengan kejujuran kondektur itu. Jadi kuputuskan untuk turun membeli karcis, sebelum aku pindah ke kereta yang ke arah Bogor. Aku ingin segera kembali ke rumahku. Aku sudah tak sabar ingin menumpahkan cerita yang baru saja kutulis di kepalaku ke dalam komputerku, sebelum di-print dan kuserahkan kepada temanku yang bekerja di penerbitan.
Orang-orang berebut pintu. Aku melompat turun dari gerbong kereta. Dan, pada saat yang bersamaan, aku mendengar orang berteriak lantang.
"Copeeeettttt!!!"
Semua mata memandang ke arahku.
Memandangku?
Seorang wanita berdiri persis di mulut pintu, menuding ke arahku.
Ke arahku?!
"Ups!"
Kulihat lelaki berkemeja lengan panjang warna biru tua melangkah tergesa meninggalkan stasiun. ***
Dimuat di Suara Karya 16/07/2006
Rasanya sulit sekali menemukan kata-kata untuk kurangkai-rangkai menjadi sebuah cerita. Sudah satu jam sejak waktu Subuh memudar. Aku duduk di depan komputer di dalam kamarku. Biasanya kata-kata yang menghampiriku. Aku hanya tinggal mengumpulkannya saja. Menyatu-nyatukannya menjadi kalimat-kalimat. Dan, menggiringnya menjadi sebuah cerita. Entahlah, mungkin terlalu banyak hal yang ingin kutulis, sehingga tak satu cerita pun yang mampu kuselesaikan. Baru kumulai menggarap satu ide, ide yang lain mengusik inginku. Tak bisa kukendalikan!
"Seburuk apa pun hasilnya, sebuah cerita harus tuntas diselesaikan, sebelum penulis ingin melangkah ke cerita yang lainnya," begitu nasihat seorang sastrawan ternama yang tulisannya dimuat di sebuah majalah remaja Ibukota. Tapi sulit sekali kuterapkan saat ini. Ide-ide itu menjejal ruang di kepalaku. Berputar-putar seperti gangsingan. Ini membuatku pusing. Sementara tak cukup kata yang bisa kurangkai-rangkai untuk menyelesaikannya. Ah!
Kumatikan komputerku. Kutinggalkan kamarku. Mungkin televisi bisa sedikit menyegarkan otakku?
"Artis A bercerai dengan artis B," kubalik channel TV.
"Artis B berselingkuh dengan artis C," kutukar channel TV.
"Artis A memiliki hubungan dengan artis D," kupijit tombol remot ke channel TV lain.
"Artis D menggugat cerai artis C, padahal mereka belum menikah!" Lho?
Kupadamkan televisi. Kupikir, berita-berita itu tak akan membantuku sama sekali.
Untuk beberapa saat aku seperti setrikaan. Bolak-balik depan belakang. Mondar-mandir tak karuan. Dan, kepalaku tidak menjadi lapang karenanya.
Aku balik ke kamarku. Kugelar kasurku. Kubaringkan tubuhku di atasnya. Mataku baru dua jam terpejam saat adzan Subuh tadi membangunkanku. Kedua temanku masih terlelap di kamar masing-masing. Saat bangun Subuh tadi, keduanya baru kembali dari tempat kerja mereka. Mereka seorang musisi. Yang satu gitaris pada sebuah band yang biasa memainkan lagu-lagu top 40 dari satu kafe ke kafe lain, hampir setiap malam. Yang seorang lagi, penata musik yang banyak menghabiskan waktunya di studio milik Raja Dangdut. Mereka seperti seekor kelalawar yang mencari makan di kegelapan malam, dan kembali ke sarang saat pagi menjelang.
"Huuuuaaaahhhhh!" Ngantuk. Mataku terpejam. Tertidur.
Matahari telah menuntaskan pendakiannya ke tiang tertinggi hari, duduk di sejumput awan, sinar matanya tajam menghujam ke bumi, cahayanya menyelinap melalui celah tirai jendela kamarku yang terbuka. Panas!
"Hayya alash shalaaaaahhh," suara muadzin bersaing dengan jerit sorak anak-anak yang bermain di gang sebelah rumah kontrakanku. Kubuka mata. Beranjak ke kamar mandi. Kubasuh tubuh. Wuuuiiih segaaaarrr!
Kulihat pintu kamar kedua temanku masih rapat.
Selepas salat Zuhur, perutku mulai terasa keroncongan. Cacing-cacing di dalam perutku bertingkah laiknya para mahasiswa yang berdemo menuntut apa saja demi kebaikan bangsa. Menimbulkan suara 'krukuk krukuk krukuk' di dalam perutku. Ah! "Begini nasib jadi bujangan..," aku bersenandung, menertawai nasibku yang hingga nyaris menyentuh kepala tiga masih saja membujang. Nasib, nasib ha ha ha ha mana ada perempuan yang mau dengan lelaki yang penghasilannya hanya cukup buat beli nasi bungkus, ha ha ha ha!
Tapi aku cukup bersyukur dengan apa yang sudah kudapatkan. Ini hanya persolaan pilihan hidup. Dan, aku harus berani menanggung konsekuensinya. Menjadi penulis. Di negeri ini, profesi itu masih dipandang sebelah mata.
"Kau tidak akan menjadi kaya dengan menjadi penulis!" begitu pendapat teman musisiku. Tak apa buatku. Untuk menjadi bahagia orang tidak harus menjadi kaya. Tapi kuakui, terkadang kekayaan bisa membeli kebahagiaan. Namun, penderitaan bisa juga berawal dari kekayaan. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang, penulis mati meninggalkan karya. Aku hanya seorang lulusan SMA. Setidaknya, aku tidak menyia-nyiakan pelajaran yang pernah diberikan guru-guru Bahasa Indonesiaku. Dan, aku cukup bahagia dengan pilihanku.
"Sepiring nasi putih, sayur daun singkong dan sepotong tuna pedas."
"Minumnya?"
"Air jeruk."
"Dingin?"
"Biasa."
Beberapa saat kemudian pelayan warung nasi itu menghidangkan pesananku di depanku. Tersenyum. Aku membalas senyumnya.
Kupandangi hidangan di depanku. Benar-benar membangkitkan selera. Apalagi makannya sambil angkat kaki. Irama melayu terdengar mengalun dari loud speaker pedagang kaset dan CD bajakan, yang digeber maksimal. Aku makan dengan lahap. Yeah, beginilah hari-hariku, makan di sebuah warung nasi di pinggiran rel dekat stasiun kereta.
Aku suka menghabiskan waktu di tempat itu. Baca buku sambil minum kopi. Atau, nongkrong di stasiun dengan teman-teman pengamenku, sambil mengamati hiruk-pikuk kehidupan yang berlangsung di tempat itu. Biasanya, kata-kata bisa berhamburan begitu saja dari alam bawah sadarku. Kalau aku sedang 'sakurata' alias bokek, aku sering ikutan teman-teman pengamenku mendendangkan lagu melayu dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Tidak sia-sia aku memiliki teman musisi. Mereka mengajariku banyak hal dengan gitar. Berkat mereka, aku cukup piawai memainkan instrumen yang satu itu. Yeah, lumayan buat isi perut. Tapi hari ini tidak kulihat teman-teman pengamenku di stasiun itu.
Petugas peron mengumumkan kedatangan kereta dari arah Bogor, lewat pengeras suara. Sayup-sayup terdengar derap langkah roda besi menggilas rel semakin mendekat. Para calon penumpang KRL berdiri dari tempat duduknya. Aku ikutan berdiri. Aku tak tahu kenapa aku ikutan berdiri. Tapi biar saja kakiku menentukan langkahnya sendiri kali ini.
Kereta berhenti di stasiun. Orang-orang berebut pintu. Kakiku membawa aku ke dalam gerbong yang tak terlalu sesak, tapi sangat tak bisa dikatakan cukup lengang. Tujuan? Entah. Aku berdiri tak jauh dari pintu. Kereta bergerak perlahan meninggalkan stasiun. Irama melayu terdengar semakin sayup sebelum menghilang sama sekali dari pendengaranku. Berganti dengan suara pedagang apa saja yang bertukar sahut di dalam gerbong itu.
Seorang lelaki berkemeja lengan panjang warna biru tua berdiri di sebelahku, memuntahkan sampah nikotin dari mulutnya yang hitam. Aku terbatuk, berusaha memberikan isyarat kepadanya kalau aku merasa terganggu dengan asap rokoknya. Lelaki yang kukira usianya tak terpaut jauh denganku, hanya melirik sekilas. Seperti pantat knalpot kendaraan, mulutnya yang hitam menyemburkan asap bertubi-tubi. Mengepul. Mengepung wajahku. Kulihat matanya sinis melirik ke arahku. Aku tak merasa perlu lagi terbatuk.
Kereta berguncang. Memperlambat lajunya. Sebuah stasiun tampak di depan. Lelaki berkemeja lengan panjang warna biru tua di sebelahku berjalan ke depan pintu. Seorang wanita gemuk yang - sebelum lelaki itu berdiri di depan pintu bersiap untuk turun - berdiri di sebelahnya menyadari kalau tasnya telah koyak tersilet dan dia tak menemukan dompetnya. Wanita gemuk empat puluh tahunan itu sudah menaruh curiga-sejak beberapa saat sebelum ia mendapati tasnya koyak tersilet dan tak menemukan dompetnya di dalam tasnya kepada lelaki berkemeja lengan panjang yang tadi berdiri di antara aku dan wanita gemuk itu.
Kereta belum sampai berhenti saat wanita gemuk itu berteriak lantang seraya menuding ke arah lelaki berkemaja lengan panjang yang bersiap turun.
"Copeeeetttt!!!"
Berpasang-pasang mata segera menancap di wajah lelaki itu. Wajahnya pucat serupa mayat. Dia siap melompat dari atas kereta, namun urung terjadi. Seseorang - entah siapa - menarik tubuhnya kembali ke dalam gerbong. Beberapa penumpang turun, beberapa calon penumpang naik. Lalu kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun dengan seorang lelaki yang dituding telah mencopet dompet seorang wanita gemuk.
Waktu seolah berhenti.
Adegan selanjutnya:
"Hajar!"
"Bunuh!"
"Habisin!"
"Mampusin!"
Entah siapa yang memulai.
Bag!
"Aduh!"
Bug!
"Ampun?"
Bag! "Bukan saya!"
Bug!
"Saya tidak..."
Crooootttt!
Darah mengalir dari kepalanya.
Jreb!
Pisau menancap di perutnya.
Bag!
Bug!
Bag!
Bug!
Darah. Darah. Darah.
Menoda di mana-mana.
Lelaki itu tumbang. Melata bersimbah dara. Masih diinjak-injak. Tak bergerak. Mati? Masih diinjak-injak. Orang-orang berteriak-teriak:
"Hajar!"
"Bunuh!"
"Habisin!"
"Mampusin!"
"Lemparin ke luar!"
Lemparin ke luar?! Hiiiiyyy aku begidik membayangkan hal itu.
Dua orang memegang tangannya.
Dua orang memegang kakinya.
Dan keempat orang itu menyeret tubuhnya ke depan pintu. Mengangkatnya. Mengayun-ayun tubuh lelaki berkemeja lengan panjang warna biru tua. Mengambil ancang-ancang.
Beberapa penumpang berteriak-teriak.
Beberapa penumpang menutup mata tak tega.
Beberapa penumpang malah tertawa-tawa.
Beberapa penumpang menjadi semakin buas karenanya.
Beberapa penumpang berusaha mencegah.
Beberapa penumpang hanya menjadi penonton saja.
Dan aku? Aku tidak menjadi bagian dari beberapa penumpang yang mana pun.
Keempat orang itu masih mengayun-ayun tubuh lelaki berkemeja yang telah bersimbah darah dan tak bergerak-gerak. Mungkin dia mati? Atau hanya pingsan? Tak seorang pun yang dapat memastikan. Tapi semua orang yang berada di gerbong itu tahu pasti, apa yang akan segera terjadi saat keempat orang itu mulai menghitung: "Satu, dua, ti..."
Handphone di saku celanaku bergetar. Aku terhenyak. Tersadar. Lelaki berkemeja lengan panjang warna biru tua masih berdiri di sebelahku. Mulutnya yang hitam masih saja mengepulkan sampah nikotin ke udara. Wanita gemuk yang berdiri di sebelahnya terbatuk-batuk karenanya. Lelaki itu masih saja tak peduli. Padahal, penampilannya terlihat sangat terpelajar.
Kuterima telepon. Suasana gerbong sangat bising. Sulit aku mendengar ucapan seorang temanku yang bekerja di sebuah kantor penerbitan. Kupasang telinga tajam-tajam. Dia menanyakan kapan aku akan menyerahkan naskah-naskah cerpenku. Seharusnya, kemarin aku sudah menyerahkannya. Kukatakan kepadanya, kalau aku hanya tinggal membuat satu cerpen lagi untuk melengkapi. Dan, kukatakan juga kepadanya, kalau aku baru saja menyelesaikan sebuah cerita yang baru kutulis di kepalaku.
Ceritanya tentang seorang lelaki berkemeja lengan panjang warna biru tua, yang diteriaki copet oleh seorang wanita gemuk yang berdiri di sebelahnya, di dalam sebuah gerbong kereta yang sedang berjalan. Padahal lelaki itu tidak mencopet dompetnya. Atau, dia mencopetnya? Orang-orang yang berada di dalam gerbong itu tak seorang pun yang berminat mencari tahu. Mereka lebih tertarik untuk segera menghabisi lelaki yang kelihatan sangat terpelajar itu. Sampai mati? Mereka tidak juga merasa perlu mencari tahu apakah lelaki itu sudah mati sebelum mereka melemparnya dari atas gerbong kereta yang berjalan. "Cerita yang menarik, bukan?" kataku kepadanya. Dan, dia sangat menyukainya. Sampai di situ pembicaraan kami terputus.
"Karcisnya, Mas?"
"Ups." Aku tak membeli karcis!
"Karcisnya, Mas?" kondektur kereta itu mengulangi ucapannya.
Aku merogoh saku celana panjangku. Kutemukan beberapa lembar ribuan di sana. Kucomot satu lalu kuselipkan di genggaman kondektur itu.
"Apa ini?"
"Karcis, Pak."
Kondektur itu tersenyum. Aku mengelus dada. Lega. Tapi kemudian, dia mengembalikan seribuan yang kuberikan ke tanganku. "Di stasiun berikut kamu harus turun untuk membeli karcis!" Setelah mengucapkan itu, dia melanjutkan tugasnya membolongi karcis para penumpang kereta.
Ah, ternyata masih ada orang jujur. Aku meringis. Malu.
Kereta berhenti di sebuah stasiun. Manggarai. Aku bisa saja tak usah turun untuk membeli karcis. Toh, kondektur itu tak akan kembali meminta karcis dariku atau dia akan kembali? Entah. Tapi aku malu dengan kejujuran kondektur itu. Jadi kuputuskan untuk turun membeli karcis, sebelum aku pindah ke kereta yang ke arah Bogor. Aku ingin segera kembali ke rumahku. Aku sudah tak sabar ingin menumpahkan cerita yang baru saja kutulis di kepalaku ke dalam komputerku, sebelum di-print dan kuserahkan kepada temanku yang bekerja di penerbitan.
Orang-orang berebut pintu. Aku melompat turun dari gerbong kereta. Dan, pada saat yang bersamaan, aku mendengar orang berteriak lantang.
"Copeeeettttt!!!"
Semua mata memandang ke arahku.
Memandangku?
Seorang wanita berdiri persis di mulut pintu, menuding ke arahku.
Ke arahku?!
"Ups!"
Kulihat lelaki berkemeja lengan panjang warna biru tua melangkah tergesa meninggalkan stasiun. ***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Denny Prabowo
Dimuat di Suara Karya 26/03/2006
Rojak memukul kentongan, memberi isyarat waktu telah melintasi ambang hari, menyusuri gang-gang becek yang mulai sepi, sehabis hujan mengguyur sore tadi. Lima belas tahun sudah dia menjalani profesi sebagai penjaga malam. Menjaga malam agar tetap kelam. Hampir separuh hidup dia habiskan terjaga di malam hari, memukuli kentongan dari bambu yang mulai ditinggali rayap. Lepas Subuh, seusai membasuh wajah dengan air wudhu dan menyentuh tikar sajadah dengan kening lebarnya, Rojak kembali ke gubuknya di pinggir kali yang membelah perkampungan dengan pasar.
Di pasar yang tak pernah lelap itulah, untuk pertama kali Rojak melihat Romlah. Romlah gadis sederhana yang pandai mengaji. Dia tinggal tidak jauh dari pasar. Ayahnya pemilik kontrakan yang berjasa membangun masjid di kampung kumuh di utara Jakarta itu.
Hampir setiap malam Romlah pergi ke perpustakaan yang menempati salah satu kios di pasar. Di tempat itu Romlah mengajar mengaji dan baca tulis. Murid-muridnya buruh pasar, mantan preman dan anak-anak wanita penjaja susila yang tinggal di lokalisasi di bawah jembatan layang. Perpustakaan itu sendiri dibangun secara swadaya oleh seorang seniman nyentrik yang pernah belajar di IKJ, dan tinggal di lingkungan dekat pasar itu pada masa kecilnya.
Suara lolong anjing di kejauhan terdengar lirih, hampir seperti merintih. Mengabarkan pedih entah pada siapa. Bulan pasi diselubungi mega kehitaman. Angin bersiut mengantarkan gigil ke tubuh Rojak yang kerempeng. Lajang menjelang tiga puluh lima itu merapatkan jaketnya. Berjalan suntuk ke pos jaga yang berada persis di depan perpustakaan tempat Romlah biasa mengajar mengaji dan baca tulis sehabis mahgrib, sampai beberapa jam selepas Isya.
"Elo punya modal berape mau ngelamar anak gadis gue?" tanya babe Romlah, beberapa waktu lalu, saat Rojak nekat menyatakan niat untuk melamar anak gadisnya.
Rojak hanya bisa menunduk ketika itu. Dia sadar betul modalnya hanya kentongan. Tak ada yang bisa dia janjikan kecuali kesetiaan. Tapi, kesetiaan saja tidak cukup. Apa yang bisa dianggap cukup dalam hidup ini?
Rojak berjalan seorang diri menyusuri malam yang seolah tidak menjanjikan keindahan. Seperti juga lingkungan tempat dia mendamparkan kehidupan: gang-gang becek - selalu - sehabis hujan mengguyur, air kali hitam sesak oleh sampah mungkin juga bangkai-bangkai hewan. Sementara perempuan berpakaian seronok bergandengan mesra dengan lelaki bermulut comberan ke luar masuk lokalisasi di bawah jembatan layang. Celetukan-celetukan cabul dari mulut pemuda yang asyik membanting domino sambil mencekik botol minuman keras, nyaris terdengar setiap malam.
Di tempat itu, keindahan serupa dengan barang langka yang harus diperjuangkan untuk mendapatkannya. Seperti Romlah, gadis yang pandai mengaji dan mampu menggetarkan hatinya ketika pertama kali berjumpa pada suatu magrib di perpustakaan depan pos jaga, yang tak pernah mungkin dilupakannya. Tapi sepuluh juta rupiah? Dari mana Rojak bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Kalaupun Rojak berpuasa tidak makan dan hanya minum air putih saja setiap hari selama satu tahun, tetap saja penghasilannya tak akan mencukupi jumlah itu - sepuluh juta rupiah!
Rojak teringat Tarjo, teman kecilnya.
"Pokoknya, aku harus jadi orang kaya, Jak! Percuma aku minggat jauh-jauh dari desa, kalau hanya jadi tukang parkir saja!" Begitu kata Tarjo, beberapa tahun lalu, sebelum dia menghilang dari kehidupan Rojak. Entah di mana dia kini. Tapi banyak orang yang percaya kalau Tarjo sudah jadi orang kaya. Pernah sekali Tarjo mampir ke tempat Rojak dengan mengendarai sebuah sedan mewah. Tapi Rojak sedang tidak ada di rumah. Dia hanya mendengar saja dari para tetangga. Kepada Rojak, Tarjo hanya titip "salam" dan juga sekeranjang buah segar untuknya.
Mungkin Tarjo bisa memberikan solusi atas masalah yang sedang dihadapi Rojak? Sepuluh juta rupiah bagi seseorang yang mampu membeli sebuah mobil mewah, pasti bukan jumlah yang luar biasa. Rojak berpikir untuk meminjam uang dari teman kecilnya itu. Tapi di mana dia bisa bertemu dengannya? Tarjo memang pernah mampir ke rumahnya, tapi sepertinya dia lupa menitipkan alamat tempat tinggalnya.
Suara azan Subuh mengudara. Rojak segera meninggalkan pos jaga untuk memenuhi panggilan Yang Kuasa, sebelum kembali ke gubuknya yang sederhana. Rojak merebahkan tubuhnya di atas dipan kayu, memejamkan mata setelah letih terjaga sepanjang malam yang tak menjanjikan keindahan. Dalam tidurnya Rojak bermimpi bertemu dengan Tarjo.
"Sepuluh juta?"
"Segitu yang diminta babe-nya Romlah, kalau gue mau kawin sama anaknya."
"Hmm..."
"Ada?"
"Kapan butuhnya?"
"Secepatnya! Kalau perlu sekarang juga! Gue udah nggak tahan pengin bersanding sama Romlah di pelaminan!"
Tarjo tertawa mendengar ucapan teman kecilnya.
"Bisa?"
"Ikut aku!"
"Ke mana?"
"Kamu mau uang kan?"
"Iya."
Tarjo mengeluarkan motor dari garasi rumahnya yang bertingkat dua. Tanpa diberi komando lagi, Rojak nangkring di atas boncengan. Meski Rojak bingung, dia tak lagi ingin menanyakan ke mana Tarjo akan membawanya pergi. Dia percaya bahwa teman baik yang sudah dianggap seperti saudara itu, pasti akan membantunya. Tarjo menghentikan sepeda motor bermesin dua tag di pelataran parkir sebuah kantor bank cabang.
"Mesin ATM-nya di situ, Jo!" tegur Rojak, saat melihat Tarjo melangkah menghampiri pos satpam, dengan senyum terkembang. Tarjo tidak menggubrisnya. Rojak hanya bisa menguntitnya.
"Selamat malam, Pak?" sapa satpam itu, berusaha bersikap ramah, di balik senyum curiganya.
Tarjo membalasnya dengan senyum.
"Ada perlu apa ya?"
"Teman saya butuh uang, saya mau mengambil uang."
"Oh, ATM-nya di situ, Pak!"
"Saya nggak mau ambil uang di ATM. Tapi di dalam," kata Tarjo menunjuk ke arah kantor yang masih tutup.
"Tidak bisa, Pak. Masih pagi buta. Kami belum buka."
"Kalau pakai ini, bisa?" Tarjo mengeluarkan pistolnya dari balik jaket kulit, menempelkannya ke perut satpam itu. Satpam itu membelalak. Bola matanya membulat, terlihat seperti hendak keluar dari ceruknya. Tarjo segera melucuti senjatanya.
"Jo..." bisik Rojak di telinga Tarjo. "Kamu diam saja. Kamu butuh uang, kan?"
"Iya. Tapi..."
Tarjo mengeluarkan sepucuk pistol rakitan dari balik jaketnya. "Pegang ini!" Tarjo menyerahkannya kepada Rojak. Gamang tangan Rojak menerima pistol itu. "Satpam yang di dalam bagian kamu!" katanya pula seperti sudah tahu dengan situasi di tempat itu.
Tarjo menggiring satpam itu ke bangunan yang masih tampak sepi. Pagi masih serupa bayi yang baru keluar dari rahim malam. Dengan perasaan cemas Rojak menguntit langkah Tarjo, sambil kepalanya menoleh ke kanan, kiri, dan belakang, takut aksi mereka dipergoki.
Seorang satpam lain muncul dari dalam, sesaat setelah teman sejawatnya membuka pintu masuk kantor bank itu. Sebelum sempat menyadari apa yang tengah terjadi, Tarjo segera menodongkan moncong pistolnya ke kepala satpam itu. Seperti tahu isyarat yang disampaikan Tarjo lewat matanya, Rojak segera meringkus satpam itu.
Dengan mudah keduanya berhasil dilumpuhkan. Mereka mengikat serta menyumbat mulut satpam-satpam tak becus itu dengan sapu tangan, setelah sebelumnya memaksa mereka menunjukkan tempat penyimpanan uang. Dengan peralatan yang dibawanya, Tarjo sukses membuka pintu brankas. Dia terlihat sangat ahli dalam melakukannya. Dia bahkan tak membutuhkan waktu lama.
"Sudah pekerjaanku." Begitu kata Tarjo waktu Rojak tampak terkesima menyaksikan kerja Tarjo yang super cepat. Jadi, itu pekerjaannya sehingga dia mampu memiliki sebuah sedan mewah? Pikir Rojak.
Dalam sekejap, tumpukan uang di dalam brankas berpindah ke dalam tas yang Tarjo bawa. "Sudah cukup, Jo. Gue cuma butuh sepuluh juta!"
"Apa bedanya sepuluh juta dengan sepuluh miliar yang kita ambil dari bank ini, kalau dosa yang kita terima sama saja? Kalau ingin jadi penjahat sekalian jadi kakap. Jangan cuma jadi teri!"
"Gue nggak kepingin jadi penjahat, gue cuma mau kawin sama Romlah."
"Ah, sudahlah! Kalau tertangkap hukumannya sama saja, jadi kenapa nggak sekalian ambil yang banyak?!"
Rojak tak menjawab. Dia juga tak menolak ketika Tarjo menyampirkan tas berisi sepuluh miliar rupiah itu di pundaknya.
"Ayo kita pergi!"
Segoblok-gobloknya satpam, tentu mereka pernah mendapatkan pelatihan dari polisi, yang membuat mereka menjadi cukup terlatih, untuk sekedar melepaskan diri dari ikatan. Apalagi, Rojak tak terlalu rapat mengikat.
Salah seorang dari mereka melepaskan tembakan tanpa memulai dengan kata-kata, "Angkat tangan!" seperti yang selalu diucapkan oleh polisi di film-film. Dan, peluru yang meluncur deras dari moncong senjata itu tepat mengenai dada Tarjo. Dari mana satpam itu punya senjata, jika semula Tarjo sudah melucutinya? Rojak jelas tak sempat memikirkannya. Dia memilih untuk menyembunyikan tubuhnya di balik meja yang terdapat di ruangan itu. Sambil memuntahkan peluru dari pistol rakitannya secara membabi buta. Dan, dia cukup beruntung. Satu peluru mampir tepat di kepala satpam yang menembak Tarjo. Dan, satu peluru lagi sukses mengenai kaki satpam yang satu lagi.
"Cepat lari, Jak!" ucap Tarjo di sela erang kesakitannya. "Sebentar lagi polisi pasti datang ke sini!"
"Gue nggak mungkin ninggalin elo!"
"Sebentar lagi aku pasti mati. Cepat lari!"
Rojak tak membuang menit, meski sesunguhnya dia tak tega. Apalagi ketika dilihat olehnya tubuh Tarjo menggelosor ke lantai dengan dada yang tak hentinya menyemburkan darah.
Di gerbang masuk bank, motor yang dikemudikan Rojak berpapasan dengan mobil polisi. Segera saja polisi itu berbalik arah, mengejarnya. Terjadi kejar-kejaran di lalu-lintas yang belum ramai.
Salah seorang polisi mengeluarkan tubuhnya dari jendela, membidikkan moncong pistolnya ke arah Rojak, dan... "Dor!"
Rojak terjatuh dari dipan kayu. Mengerang kesakitan. Belum sepenuhnya dia kembali dari mimpi, telinganya menangkap suara gedoran di pintu gubuknya. Rojak sempat menduga, kalau yang datang adalah orang yang diutus untuk menagih utang dengan paksa kepadanya. Karena begitu yang kerap terjadi pada tetangga-tetangga dekat rumahnya yang memiliki tunggakan pada seorang rentenir. Tapi gue kan nggak punya utang? Begitu pikirnya lagi, sebelum beranjak membukakan pintu. Belum lagi sempurna pintu dikuaknya, seorang lelaki mendobrak paksa, membuat tubuhnya terdorong beberapa langkah. Beberapa saat kemudian, lelaki berjaket kulit bersama beberapa orang berseragam polisi meringkusnya. Rojak berusaha meronta. Tapi percuma.
"Cepat geledah!"
Tak cukup lama waktu yang terbuang, salah seorang polisi berseragam menemukan sebuah tas di bawah dipan. Polisi itu membuka resleting tas, dan menemukan tumpukan uang di sana.
"Anda kami tangkap dengan tuduhan merampok bank!"
Rojak teringat dengan mimpinya. ***
Dimuat di Suara Karya 26/03/2006
Rojak memukul kentongan, memberi isyarat waktu telah melintasi ambang hari, menyusuri gang-gang becek yang mulai sepi, sehabis hujan mengguyur sore tadi. Lima belas tahun sudah dia menjalani profesi sebagai penjaga malam. Menjaga malam agar tetap kelam. Hampir separuh hidup dia habiskan terjaga di malam hari, memukuli kentongan dari bambu yang mulai ditinggali rayap. Lepas Subuh, seusai membasuh wajah dengan air wudhu dan menyentuh tikar sajadah dengan kening lebarnya, Rojak kembali ke gubuknya di pinggir kali yang membelah perkampungan dengan pasar.
Di pasar yang tak pernah lelap itulah, untuk pertama kali Rojak melihat Romlah. Romlah gadis sederhana yang pandai mengaji. Dia tinggal tidak jauh dari pasar. Ayahnya pemilik kontrakan yang berjasa membangun masjid di kampung kumuh di utara Jakarta itu.
Hampir setiap malam Romlah pergi ke perpustakaan yang menempati salah satu kios di pasar. Di tempat itu Romlah mengajar mengaji dan baca tulis. Murid-muridnya buruh pasar, mantan preman dan anak-anak wanita penjaja susila yang tinggal di lokalisasi di bawah jembatan layang. Perpustakaan itu sendiri dibangun secara swadaya oleh seorang seniman nyentrik yang pernah belajar di IKJ, dan tinggal di lingkungan dekat pasar itu pada masa kecilnya.
Suara lolong anjing di kejauhan terdengar lirih, hampir seperti merintih. Mengabarkan pedih entah pada siapa. Bulan pasi diselubungi mega kehitaman. Angin bersiut mengantarkan gigil ke tubuh Rojak yang kerempeng. Lajang menjelang tiga puluh lima itu merapatkan jaketnya. Berjalan suntuk ke pos jaga yang berada persis di depan perpustakaan tempat Romlah biasa mengajar mengaji dan baca tulis sehabis mahgrib, sampai beberapa jam selepas Isya.
"Elo punya modal berape mau ngelamar anak gadis gue?" tanya babe Romlah, beberapa waktu lalu, saat Rojak nekat menyatakan niat untuk melamar anak gadisnya.
Rojak hanya bisa menunduk ketika itu. Dia sadar betul modalnya hanya kentongan. Tak ada yang bisa dia janjikan kecuali kesetiaan. Tapi, kesetiaan saja tidak cukup. Apa yang bisa dianggap cukup dalam hidup ini?
Rojak berjalan seorang diri menyusuri malam yang seolah tidak menjanjikan keindahan. Seperti juga lingkungan tempat dia mendamparkan kehidupan: gang-gang becek - selalu - sehabis hujan mengguyur, air kali hitam sesak oleh sampah mungkin juga bangkai-bangkai hewan. Sementara perempuan berpakaian seronok bergandengan mesra dengan lelaki bermulut comberan ke luar masuk lokalisasi di bawah jembatan layang. Celetukan-celetukan cabul dari mulut pemuda yang asyik membanting domino sambil mencekik botol minuman keras, nyaris terdengar setiap malam.
Di tempat itu, keindahan serupa dengan barang langka yang harus diperjuangkan untuk mendapatkannya. Seperti Romlah, gadis yang pandai mengaji dan mampu menggetarkan hatinya ketika pertama kali berjumpa pada suatu magrib di perpustakaan depan pos jaga, yang tak pernah mungkin dilupakannya. Tapi sepuluh juta rupiah? Dari mana Rojak bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Kalaupun Rojak berpuasa tidak makan dan hanya minum air putih saja setiap hari selama satu tahun, tetap saja penghasilannya tak akan mencukupi jumlah itu - sepuluh juta rupiah!
Rojak teringat Tarjo, teman kecilnya.
"Pokoknya, aku harus jadi orang kaya, Jak! Percuma aku minggat jauh-jauh dari desa, kalau hanya jadi tukang parkir saja!" Begitu kata Tarjo, beberapa tahun lalu, sebelum dia menghilang dari kehidupan Rojak. Entah di mana dia kini. Tapi banyak orang yang percaya kalau Tarjo sudah jadi orang kaya. Pernah sekali Tarjo mampir ke tempat Rojak dengan mengendarai sebuah sedan mewah. Tapi Rojak sedang tidak ada di rumah. Dia hanya mendengar saja dari para tetangga. Kepada Rojak, Tarjo hanya titip "salam" dan juga sekeranjang buah segar untuknya.
Mungkin Tarjo bisa memberikan solusi atas masalah yang sedang dihadapi Rojak? Sepuluh juta rupiah bagi seseorang yang mampu membeli sebuah mobil mewah, pasti bukan jumlah yang luar biasa. Rojak berpikir untuk meminjam uang dari teman kecilnya itu. Tapi di mana dia bisa bertemu dengannya? Tarjo memang pernah mampir ke rumahnya, tapi sepertinya dia lupa menitipkan alamat tempat tinggalnya.
Suara azan Subuh mengudara. Rojak segera meninggalkan pos jaga untuk memenuhi panggilan Yang Kuasa, sebelum kembali ke gubuknya yang sederhana. Rojak merebahkan tubuhnya di atas dipan kayu, memejamkan mata setelah letih terjaga sepanjang malam yang tak menjanjikan keindahan. Dalam tidurnya Rojak bermimpi bertemu dengan Tarjo.
"Sepuluh juta?"
"Segitu yang diminta babe-nya Romlah, kalau gue mau kawin sama anaknya."
"Hmm..."
"Ada?"
"Kapan butuhnya?"
"Secepatnya! Kalau perlu sekarang juga! Gue udah nggak tahan pengin bersanding sama Romlah di pelaminan!"
Tarjo tertawa mendengar ucapan teman kecilnya.
"Bisa?"
"Ikut aku!"
"Ke mana?"
"Kamu mau uang kan?"
"Iya."
Tarjo mengeluarkan motor dari garasi rumahnya yang bertingkat dua. Tanpa diberi komando lagi, Rojak nangkring di atas boncengan. Meski Rojak bingung, dia tak lagi ingin menanyakan ke mana Tarjo akan membawanya pergi. Dia percaya bahwa teman baik yang sudah dianggap seperti saudara itu, pasti akan membantunya. Tarjo menghentikan sepeda motor bermesin dua tag di pelataran parkir sebuah kantor bank cabang.
"Mesin ATM-nya di situ, Jo!" tegur Rojak, saat melihat Tarjo melangkah menghampiri pos satpam, dengan senyum terkembang. Tarjo tidak menggubrisnya. Rojak hanya bisa menguntitnya.
"Selamat malam, Pak?" sapa satpam itu, berusaha bersikap ramah, di balik senyum curiganya.
Tarjo membalasnya dengan senyum.
"Ada perlu apa ya?"
"Teman saya butuh uang, saya mau mengambil uang."
"Oh, ATM-nya di situ, Pak!"
"Saya nggak mau ambil uang di ATM. Tapi di dalam," kata Tarjo menunjuk ke arah kantor yang masih tutup.
"Tidak bisa, Pak. Masih pagi buta. Kami belum buka."
"Kalau pakai ini, bisa?" Tarjo mengeluarkan pistolnya dari balik jaket kulit, menempelkannya ke perut satpam itu. Satpam itu membelalak. Bola matanya membulat, terlihat seperti hendak keluar dari ceruknya. Tarjo segera melucuti senjatanya.
"Jo..." bisik Rojak di telinga Tarjo. "Kamu diam saja. Kamu butuh uang, kan?"
"Iya. Tapi..."
Tarjo mengeluarkan sepucuk pistol rakitan dari balik jaketnya. "Pegang ini!" Tarjo menyerahkannya kepada Rojak. Gamang tangan Rojak menerima pistol itu. "Satpam yang di dalam bagian kamu!" katanya pula seperti sudah tahu dengan situasi di tempat itu.
Tarjo menggiring satpam itu ke bangunan yang masih tampak sepi. Pagi masih serupa bayi yang baru keluar dari rahim malam. Dengan perasaan cemas Rojak menguntit langkah Tarjo, sambil kepalanya menoleh ke kanan, kiri, dan belakang, takut aksi mereka dipergoki.
Seorang satpam lain muncul dari dalam, sesaat setelah teman sejawatnya membuka pintu masuk kantor bank itu. Sebelum sempat menyadari apa yang tengah terjadi, Tarjo segera menodongkan moncong pistolnya ke kepala satpam itu. Seperti tahu isyarat yang disampaikan Tarjo lewat matanya, Rojak segera meringkus satpam itu.
Dengan mudah keduanya berhasil dilumpuhkan. Mereka mengikat serta menyumbat mulut satpam-satpam tak becus itu dengan sapu tangan, setelah sebelumnya memaksa mereka menunjukkan tempat penyimpanan uang. Dengan peralatan yang dibawanya, Tarjo sukses membuka pintu brankas. Dia terlihat sangat ahli dalam melakukannya. Dia bahkan tak membutuhkan waktu lama.
"Sudah pekerjaanku." Begitu kata Tarjo waktu Rojak tampak terkesima menyaksikan kerja Tarjo yang super cepat. Jadi, itu pekerjaannya sehingga dia mampu memiliki sebuah sedan mewah? Pikir Rojak.
Dalam sekejap, tumpukan uang di dalam brankas berpindah ke dalam tas yang Tarjo bawa. "Sudah cukup, Jo. Gue cuma butuh sepuluh juta!"
"Apa bedanya sepuluh juta dengan sepuluh miliar yang kita ambil dari bank ini, kalau dosa yang kita terima sama saja? Kalau ingin jadi penjahat sekalian jadi kakap. Jangan cuma jadi teri!"
"Gue nggak kepingin jadi penjahat, gue cuma mau kawin sama Romlah."
"Ah, sudahlah! Kalau tertangkap hukumannya sama saja, jadi kenapa nggak sekalian ambil yang banyak?!"
Rojak tak menjawab. Dia juga tak menolak ketika Tarjo menyampirkan tas berisi sepuluh miliar rupiah itu di pundaknya.
"Ayo kita pergi!"
Segoblok-gobloknya satpam, tentu mereka pernah mendapatkan pelatihan dari polisi, yang membuat mereka menjadi cukup terlatih, untuk sekedar melepaskan diri dari ikatan. Apalagi, Rojak tak terlalu rapat mengikat.
Salah seorang dari mereka melepaskan tembakan tanpa memulai dengan kata-kata, "Angkat tangan!" seperti yang selalu diucapkan oleh polisi di film-film. Dan, peluru yang meluncur deras dari moncong senjata itu tepat mengenai dada Tarjo. Dari mana satpam itu punya senjata, jika semula Tarjo sudah melucutinya? Rojak jelas tak sempat memikirkannya. Dia memilih untuk menyembunyikan tubuhnya di balik meja yang terdapat di ruangan itu. Sambil memuntahkan peluru dari pistol rakitannya secara membabi buta. Dan, dia cukup beruntung. Satu peluru mampir tepat di kepala satpam yang menembak Tarjo. Dan, satu peluru lagi sukses mengenai kaki satpam yang satu lagi.
"Cepat lari, Jak!" ucap Tarjo di sela erang kesakitannya. "Sebentar lagi polisi pasti datang ke sini!"
"Gue nggak mungkin ninggalin elo!"
"Sebentar lagi aku pasti mati. Cepat lari!"
Rojak tak membuang menit, meski sesunguhnya dia tak tega. Apalagi ketika dilihat olehnya tubuh Tarjo menggelosor ke lantai dengan dada yang tak hentinya menyemburkan darah.
Di gerbang masuk bank, motor yang dikemudikan Rojak berpapasan dengan mobil polisi. Segera saja polisi itu berbalik arah, mengejarnya. Terjadi kejar-kejaran di lalu-lintas yang belum ramai.
Salah seorang polisi mengeluarkan tubuhnya dari jendela, membidikkan moncong pistolnya ke arah Rojak, dan... "Dor!"
Rojak terjatuh dari dipan kayu. Mengerang kesakitan. Belum sepenuhnya dia kembali dari mimpi, telinganya menangkap suara gedoran di pintu gubuknya. Rojak sempat menduga, kalau yang datang adalah orang yang diutus untuk menagih utang dengan paksa kepadanya. Karena begitu yang kerap terjadi pada tetangga-tetangga dekat rumahnya yang memiliki tunggakan pada seorang rentenir. Tapi gue kan nggak punya utang? Begitu pikirnya lagi, sebelum beranjak membukakan pintu. Belum lagi sempurna pintu dikuaknya, seorang lelaki mendobrak paksa, membuat tubuhnya terdorong beberapa langkah. Beberapa saat kemudian, lelaki berjaket kulit bersama beberapa orang berseragam polisi meringkusnya. Rojak berusaha meronta. Tapi percuma.
"Cepat geledah!"
Tak cukup lama waktu yang terbuang, salah seorang polisi berseragam menemukan sebuah tas di bawah dipan. Polisi itu membuka resleting tas, dan menemukan tumpukan uang di sana.
"Anda kami tangkap dengan tuduhan merampok bank!"
Rojak teringat dengan mimpinya. ***
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)




