Tampilkan postingan dengan label FLP Amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FLP Amerika. Tampilkan semua postingan
Minggu, 13 Desember 2009
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Sofie Dewayani
Dimuat di Koran Tempo 17/05/2009
PADA hariku yang lelah, warnet adalah tempat istirah. Di dunia maya aku bisa menyapa teman-teman lama. Ceria, tertawa, seperti dulu waktu SMA. Cerita nostalgia, kabar bahagia, terpampang bergantian seperti pajangan. Mataku menelan lembar demi lembar layar, menyusuri kota demi kota. Teknologi memang gila. Ruang dan waktu dirangkumnya dalam satu sentuhan jemari saja.
Tak heran orang menyebutnya dunia maya. Jejaring pertemanan ini meleburkan peristiwa dan masa. Aku bisa tergelak oleh kisah lama, tersenyum memandangi potret kelabu masa remaja. Aku menyeletuk sekadarnya, tapi lebih sering menyaksikannya saja. Aku tak ingin beranjak dari bangku belakang. Seperti dulu, waktu SMA.
Sayang Tino tak tahu bagaimana nikmatnya. Katanya, bernostalgia seperti itu membuang waktu saja. Padahal aku tahu diam-diam dia ingin tahu kabar teman-teman lama.
"Semua menanyakan kamu," aku meyakinkannya. "Harno kirim salam. Dia kerja di perusahaan penerbangan. Bambi sudah jadi bos sekarang. Kardiman sudah lama tinggal di Jerman. Vina, Karina, Mira, sudah punya anak remaja. Kamu pasti nggak percaya, Bian jadi kandidat pilkada."
"Hebat," celetuknya. Namun matanya tak lepas dari roda sepeda di tangannya.
"Memangnya kamu tahu semua itu dari mana?" Tino membetulkan letak kacamatanya dengan punggung tangannya. Jemarinya berlumur gemuk. Sebuah rangka sepeda terburai di depannya, tak berbentuk. Aku membungkukkan tubuh, agar suaraku mengalahkan deru bajaj yang terbatuk-batuk.
"Dari internet tentu. Ayo, kapan kita ke warnet sama-sama? Aku yang bayar. Nanti kutunjukkan foto-foto mereka. Kamu bisa bikin akun Facebook, lalu ngobrol dengan mereka."
"Buat apa? Aku akan memamerkan apa?" Dia tertawa. Aku diam saja.
"Aku bukan lagi komandan upacara, Sam." Tino berdiri lalu melempar lap yang bergemuk seperti jemarinya. Tak ada yang akan mengira bahwa bibirnya yang kehitaman itu pernah berteriak lantang memimpin upacara bendera. "Aku bukan siapa-siapa," ujarnya.
"Aku juga bukan, No." Tawaku terdengar mengambang.
"Aku malas. Kalau aku menang undian, boleh deh aku kontak mereka." Dia tertawa.
"Apa kamu pernah cerita tentang aku?" Tino tak mengangkat kepalanya. Tangannya sibuk mengusap jeruji sepeda.
Aku menggeleng. Bengkel ini terlalu kusam dan temaram, tak seperti pendar dunia maya yang menentramkan. Di sana, semuanya harus sempurna, tampak bahagia. Foto keluarga terpajang. Anak-anak berpose lucu menggemaskan. Keluarga berpelukan mengumbar tawa, berlatar eksotika tempat wisata. Semuanya harus indah untuk dikenang, seperti masa-masa SMA.
"Lagipula, apa iya mereka akan ingat aku?" gumamnya.
"Dibandingkan teman-teman kita, kamu nggak berubah sejak SMA," jawabku.
Tino mengerlingku. Senyumnya masam. Aku memalingkan mataku ke arah kali yang kehitaman di bawah jembatan. Siapapun akan mengakui bahwa Tino tak banyak berubah. Dia tidak botak, tidak gendut. Rambutnya pun tak memutih. Dia hanya terlihat sedikit tua, dan kusam. Juga letih, ringkih. Legam, mengisut oleh garang debu jalanan.
Dulu, bangkuku dan bangku Tino bersebelahan. Karenanya, kutahu pasti Tino tak pernah mencatat pelajaran. Buku catatannya penuh berisi gambar-gambar. Dia hanya belajar dari fotokopian catatan teman-teman perempuan. Dia juga setia kawan, rajin membagi contekan. Tak seperti aku yang suka menyendiri di sudut bangku belakang, Tino punya banyak teman. Meskipun bukan yang paling pintar, kutahu otak Tino lumayan. Karenanya banyak yang heran ketika dia tak lolos ujian masuk universitas idamannya. Sejak itu, dia berpindah dari kota ke kota. Konon, mencari peruntungan.
Saat melihatnya di sini tiga tahun lalu, aku segera mengenalinya. Dia masih Tino yang sama: Tino yang teguh pendirian, juga makin keras kepala. Memikirkan itu, aku urung memberitahunya tentang rencana reuni SMA minggu depan. Tak mungkin dia mau datang. Kurahasiakan keputusan yang barusan kuniatkan: aku akan datang. Aku bosan tak terlihat. Aku bosan duduk di bangku belakang.
UNTUNG pamanku meminjamiku Kijangnya. Tak mungkin aku menyambangi kafe hotel bintang lima ini dengan menumpang kopaja. Tak akan kubiarkan bajuku tercemari peluh dan aroma debu jalanan. Semuanya harus tampak sempurna, seperti foto-foto yang kupajang di Facebook sana.
Di kafe itu, aku segera mengenali teman-temanku. Harno tampak menyolok dengan tubuhnya yang tambun dan rambut keperakan. Vina, Karina, datang dengan suami dan anak-anak mereka. Kardiman yang baru dua hari tiba dari Jerman membagi-bagi gantungan kunci dan cokelat. Tersipu-sipu, aku menyembunyikan senyum ketika mereka bertanya mengapa badanku tak memuai seperti mereka. "Rajin berolahraga saja," ucapku sambil menjejalkan sekeping keripik ke mulutku. Aku melirik Kardiman. Fasih sekali lidahnya mengeja nama-nama makanan asing ini kepada pelayan. Pad thai, tom yam, ah, entah apa lagi.
"Sama seperti dia," kataku kepada pelayan yang menanyakan pesanan, sambil menunjuk Kardiman. Semua tertawa.
"Mana istri dan anakmu, Sam?" Kardiman menatapku sambil menyeruput jus berwarna merah muda.
"Oh, istriku sedang ada urusan kantor ke Singapura. Anakku ada di rumah sama neneknya."
"Bisnis kamu sukses ya?"
"Begitu sajalah, Man. Lumayan."
"Ada yang tahu kabar Tino, ketua kelas kita?" Bian tiba-tiba berseru dari ujung meja, memecah silang cerita tentang guru-guru SMA. Kardiman mengangkat bahunya. Entah mengapa, aku merasa jadi pusat perhatian semua mata.
"Kabarnya dia sekarang berwiraswasta. Aku juga sudah lama nggak ketemu dia," sahutku. Kureguk teh hangat cepat-cepat. Untung saja, pelayan datang mengedarkan beberapa pinggan makanan.
"Jadi, gosip tentang dia punya bengkel sepeda itu bener, nggak?" Karina berseru di tengah kesibukan piring-piring makanan diedarkan. Aku mengangkat bahu. Yang lain membisu, sibuk memulai suapan pertama.
"Tanpa bantuan Tino pasti aku nggak lulus," Kardiman menggumam, "Ingat nggak, dia menyalin jawaban ujian matematika di atas tisu, lalu kita edarkan dari bangku ke bangku?"
Harno, Bian, Vina, tergelak hingga bahu mereka terguncang. Aku mengunyah mie bertabur udang bernama pad thai itu pelan-pelan. Bian menyambung ceritanya tentang sukses contekan yang terus berulang hampir di setiap ujian. Entah mengapa, makanan ini terasa aneh di lidah. Aku meletakkan sendokku dengan diam. Lidahku yang ingin mengucapkan sesuatu seperti teriris tajam.
Aku ingat sesuatu yang seperti sengaja terlupa. Kisah sukses contekan itu bumbu yang berlebihan. Tino sempat kepergok membagi contekan, namun dia tak mengaku kepada siapa contekan itu diberikan. Tino dihukum menghormat tiang bendera di tengah lapangan upacara selama dua jam. Sendiri saja.
Aku ingat semuanya. Aku, si penghuni bangku belakang. Pad thai ini terlalu manis rasanya. Sup ikan bernama tom yam itu terlalu asam. Tak ada rasa yang akurat. Namun, hidangan ini lumat dengan lahap. Yang terlihat harus tampak sempurna, meskipun menyembunyikan borok atau luka. Menentramkan, seperti kenangan lama.
KULETAKKAN dua bungkus pad thai itu di meja makan. Memang aku tak suka, tapi biarlah Yanti dan Restu mencicipi menu restoran hotel bintang lima. Aku akan tidur nyenyak malam ini, setelah mengukir prestasi merasai pad thai. Tersenyum geli, aku mengenang tawaranku untuk membayar semua tagihan di restoran tadi. Basa-basi basi. Tentu saja Bian memenangkan perdebatan soal pembayaran tagihan. Aku tahu dia tak akan membiarkan dirinya ditraktir teman. Pelan-pelan, kulepas sepatu kulit pinjaman dari paman yang sesungguhnya sangat kesempitan. Seandainya Tino hadir di reuni ini, semua lakon ini tak akan sesempurna ini.
Kubuka tirai yang menjadi pintu kamar, menguarkan aroma obat nyamuk bakar. Yanti tertidur dengan mulut terbuka, pasti kelelahan menjahit baju pelanggan. Dia tak tahu aku menghadiri reuni malam ini. Dia tak tahu suaminya telah mengobral cerita tentang seorang istri yang sedang dinas ke Singapura, di sebuah hotel bintang lima. Dia hanya tahu bahwa sewa rumah petak ini belum terbayar hingga dua bulan.
Mungkin aku akan memberanikan diri berbicara kepada Tino besok pagi. Siapa tahu dia punya sedikit uang yang bisa kupinjam. Kutahu dia selalu setia kawan, seperti tiga tahun lalu, saat dibantunya aku membuka kios majalah di depan bengkel sepedanya. Diajarinya aku mereparasi sepeda, seperti dulu saat diajarinya aku matematika. Selama aku mengenalnya, tak pernah dibiarkannya aku sendirian. Tak pernah dibiarkannya aku terpuruk di bangku belakang.***
Urbana, 11 Januari 2009
Dimuat di Koran Tempo 17/05/2009
PADA hariku yang lelah, warnet adalah tempat istirah. Di dunia maya aku bisa menyapa teman-teman lama. Ceria, tertawa, seperti dulu waktu SMA. Cerita nostalgia, kabar bahagia, terpampang bergantian seperti pajangan. Mataku menelan lembar demi lembar layar, menyusuri kota demi kota. Teknologi memang gila. Ruang dan waktu dirangkumnya dalam satu sentuhan jemari saja.
Tak heran orang menyebutnya dunia maya. Jejaring pertemanan ini meleburkan peristiwa dan masa. Aku bisa tergelak oleh kisah lama, tersenyum memandangi potret kelabu masa remaja. Aku menyeletuk sekadarnya, tapi lebih sering menyaksikannya saja. Aku tak ingin beranjak dari bangku belakang. Seperti dulu, waktu SMA.
Sayang Tino tak tahu bagaimana nikmatnya. Katanya, bernostalgia seperti itu membuang waktu saja. Padahal aku tahu diam-diam dia ingin tahu kabar teman-teman lama.
"Semua menanyakan kamu," aku meyakinkannya. "Harno kirim salam. Dia kerja di perusahaan penerbangan. Bambi sudah jadi bos sekarang. Kardiman sudah lama tinggal di Jerman. Vina, Karina, Mira, sudah punya anak remaja. Kamu pasti nggak percaya, Bian jadi kandidat pilkada."
"Hebat," celetuknya. Namun matanya tak lepas dari roda sepeda di tangannya.
"Memangnya kamu tahu semua itu dari mana?" Tino membetulkan letak kacamatanya dengan punggung tangannya. Jemarinya berlumur gemuk. Sebuah rangka sepeda terburai di depannya, tak berbentuk. Aku membungkukkan tubuh, agar suaraku mengalahkan deru bajaj yang terbatuk-batuk.
"Dari internet tentu. Ayo, kapan kita ke warnet sama-sama? Aku yang bayar. Nanti kutunjukkan foto-foto mereka. Kamu bisa bikin akun Facebook, lalu ngobrol dengan mereka."
"Buat apa? Aku akan memamerkan apa?" Dia tertawa. Aku diam saja.
"Aku bukan lagi komandan upacara, Sam." Tino berdiri lalu melempar lap yang bergemuk seperti jemarinya. Tak ada yang akan mengira bahwa bibirnya yang kehitaman itu pernah berteriak lantang memimpin upacara bendera. "Aku bukan siapa-siapa," ujarnya.
"Aku juga bukan, No." Tawaku terdengar mengambang.
"Aku malas. Kalau aku menang undian, boleh deh aku kontak mereka." Dia tertawa.
"Apa kamu pernah cerita tentang aku?" Tino tak mengangkat kepalanya. Tangannya sibuk mengusap jeruji sepeda.
Aku menggeleng. Bengkel ini terlalu kusam dan temaram, tak seperti pendar dunia maya yang menentramkan. Di sana, semuanya harus sempurna, tampak bahagia. Foto keluarga terpajang. Anak-anak berpose lucu menggemaskan. Keluarga berpelukan mengumbar tawa, berlatar eksotika tempat wisata. Semuanya harus indah untuk dikenang, seperti masa-masa SMA.
"Lagipula, apa iya mereka akan ingat aku?" gumamnya.
"Dibandingkan teman-teman kita, kamu nggak berubah sejak SMA," jawabku.
Tino mengerlingku. Senyumnya masam. Aku memalingkan mataku ke arah kali yang kehitaman di bawah jembatan. Siapapun akan mengakui bahwa Tino tak banyak berubah. Dia tidak botak, tidak gendut. Rambutnya pun tak memutih. Dia hanya terlihat sedikit tua, dan kusam. Juga letih, ringkih. Legam, mengisut oleh garang debu jalanan.
Dulu, bangkuku dan bangku Tino bersebelahan. Karenanya, kutahu pasti Tino tak pernah mencatat pelajaran. Buku catatannya penuh berisi gambar-gambar. Dia hanya belajar dari fotokopian catatan teman-teman perempuan. Dia juga setia kawan, rajin membagi contekan. Tak seperti aku yang suka menyendiri di sudut bangku belakang, Tino punya banyak teman. Meskipun bukan yang paling pintar, kutahu otak Tino lumayan. Karenanya banyak yang heran ketika dia tak lolos ujian masuk universitas idamannya. Sejak itu, dia berpindah dari kota ke kota. Konon, mencari peruntungan.
Saat melihatnya di sini tiga tahun lalu, aku segera mengenalinya. Dia masih Tino yang sama: Tino yang teguh pendirian, juga makin keras kepala. Memikirkan itu, aku urung memberitahunya tentang rencana reuni SMA minggu depan. Tak mungkin dia mau datang. Kurahasiakan keputusan yang barusan kuniatkan: aku akan datang. Aku bosan tak terlihat. Aku bosan duduk di bangku belakang.
UNTUNG pamanku meminjamiku Kijangnya. Tak mungkin aku menyambangi kafe hotel bintang lima ini dengan menumpang kopaja. Tak akan kubiarkan bajuku tercemari peluh dan aroma debu jalanan. Semuanya harus tampak sempurna, seperti foto-foto yang kupajang di Facebook sana.
Di kafe itu, aku segera mengenali teman-temanku. Harno tampak menyolok dengan tubuhnya yang tambun dan rambut keperakan. Vina, Karina, datang dengan suami dan anak-anak mereka. Kardiman yang baru dua hari tiba dari Jerman membagi-bagi gantungan kunci dan cokelat. Tersipu-sipu, aku menyembunyikan senyum ketika mereka bertanya mengapa badanku tak memuai seperti mereka. "Rajin berolahraga saja," ucapku sambil menjejalkan sekeping keripik ke mulutku. Aku melirik Kardiman. Fasih sekali lidahnya mengeja nama-nama makanan asing ini kepada pelayan. Pad thai, tom yam, ah, entah apa lagi.
"Sama seperti dia," kataku kepada pelayan yang menanyakan pesanan, sambil menunjuk Kardiman. Semua tertawa.
"Mana istri dan anakmu, Sam?" Kardiman menatapku sambil menyeruput jus berwarna merah muda.
"Oh, istriku sedang ada urusan kantor ke Singapura. Anakku ada di rumah sama neneknya."
"Bisnis kamu sukses ya?"
"Begitu sajalah, Man. Lumayan."
"Ada yang tahu kabar Tino, ketua kelas kita?" Bian tiba-tiba berseru dari ujung meja, memecah silang cerita tentang guru-guru SMA. Kardiman mengangkat bahunya. Entah mengapa, aku merasa jadi pusat perhatian semua mata.
"Kabarnya dia sekarang berwiraswasta. Aku juga sudah lama nggak ketemu dia," sahutku. Kureguk teh hangat cepat-cepat. Untung saja, pelayan datang mengedarkan beberapa pinggan makanan.
"Jadi, gosip tentang dia punya bengkel sepeda itu bener, nggak?" Karina berseru di tengah kesibukan piring-piring makanan diedarkan. Aku mengangkat bahu. Yang lain membisu, sibuk memulai suapan pertama.
"Tanpa bantuan Tino pasti aku nggak lulus," Kardiman menggumam, "Ingat nggak, dia menyalin jawaban ujian matematika di atas tisu, lalu kita edarkan dari bangku ke bangku?"
Harno, Bian, Vina, tergelak hingga bahu mereka terguncang. Aku mengunyah mie bertabur udang bernama pad thai itu pelan-pelan. Bian menyambung ceritanya tentang sukses contekan yang terus berulang hampir di setiap ujian. Entah mengapa, makanan ini terasa aneh di lidah. Aku meletakkan sendokku dengan diam. Lidahku yang ingin mengucapkan sesuatu seperti teriris tajam.
Aku ingat sesuatu yang seperti sengaja terlupa. Kisah sukses contekan itu bumbu yang berlebihan. Tino sempat kepergok membagi contekan, namun dia tak mengaku kepada siapa contekan itu diberikan. Tino dihukum menghormat tiang bendera di tengah lapangan upacara selama dua jam. Sendiri saja.
Aku ingat semuanya. Aku, si penghuni bangku belakang. Pad thai ini terlalu manis rasanya. Sup ikan bernama tom yam itu terlalu asam. Tak ada rasa yang akurat. Namun, hidangan ini lumat dengan lahap. Yang terlihat harus tampak sempurna, meskipun menyembunyikan borok atau luka. Menentramkan, seperti kenangan lama.
KULETAKKAN dua bungkus pad thai itu di meja makan. Memang aku tak suka, tapi biarlah Yanti dan Restu mencicipi menu restoran hotel bintang lima. Aku akan tidur nyenyak malam ini, setelah mengukir prestasi merasai pad thai. Tersenyum geli, aku mengenang tawaranku untuk membayar semua tagihan di restoran tadi. Basa-basi basi. Tentu saja Bian memenangkan perdebatan soal pembayaran tagihan. Aku tahu dia tak akan membiarkan dirinya ditraktir teman. Pelan-pelan, kulepas sepatu kulit pinjaman dari paman yang sesungguhnya sangat kesempitan. Seandainya Tino hadir di reuni ini, semua lakon ini tak akan sesempurna ini.
Kubuka tirai yang menjadi pintu kamar, menguarkan aroma obat nyamuk bakar. Yanti tertidur dengan mulut terbuka, pasti kelelahan menjahit baju pelanggan. Dia tak tahu aku menghadiri reuni malam ini. Dia tak tahu suaminya telah mengobral cerita tentang seorang istri yang sedang dinas ke Singapura, di sebuah hotel bintang lima. Dia hanya tahu bahwa sewa rumah petak ini belum terbayar hingga dua bulan.
Mungkin aku akan memberanikan diri berbicara kepada Tino besok pagi. Siapa tahu dia punya sedikit uang yang bisa kupinjam. Kutahu dia selalu setia kawan, seperti tiga tahun lalu, saat dibantunya aku membuka kios majalah di depan bengkel sepedanya. Diajarinya aku mereparasi sepeda, seperti dulu saat diajarinya aku matematika. Selama aku mengenalnya, tak pernah dibiarkannya aku sendirian. Tak pernah dibiarkannya aku terpuruk di bangku belakang.***
Urbana, 11 Januari 2009
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Sofie Dewayani
Dimuat di Republika 25/03/2007
Masjid kami seperti gua muram yang terasing dari gegap-gempita keriangan menjelang Natal. Hanya di masjid ini, orang berjalan gegas menyelamatkan badan dari gigitan angin dingin yang nakal. Masjid ini tempat berteduh sesekali, sedangkan toko dan mall di luar sana kemayu oleh dekorasi warna-warni, kerlip lampu serupa ceria kembang api, juga arus pembeli yang bagai tak mati-mati.
Tentu tak ada yang memikat dari masjid sepi. Karenanya kami mengunjunginya seperti membagi basa-basi. Tak hanya sekali dua kali, kami terdampar di tengah sesak arus pembeli di toko-toko yang wangi. Bagaimana bisa memalingkan mata dari kenikmatan berbelanja, di hamparan pajangan benda-benda menggugah selera yang harganya menggoda?
Begini. Sebenarnya saya mengidamkan mantel tebal warna ungu, yang harganya tak pernah terjangkau saku. Mantel lama saya semakin menipis tampaknya, dengan lapisan busa yang menua. "Namanya juga mantel loak. Boleh dong, sekali-kali saya beli barang baru," rayu saya.
Suami saya hanya tersenyum saja, tahu tabiat saya. Oh, dia juga sedang bermimpi ternyata. Idamannya kamera digital merek terbaru yang didiskon seratus lima puluh dolar dari harga semula! Tunggu hingga usai Natal, saat semua obral jatuh ke titik terendah, kata saya.
Saya tak tahu anak-anak mengidamkan apa. Saya tak berani bertanya. Saya bukannya tak melihat mata-mata kecil penuh harap yang diterpa kilau etalase kaca. Boneka-boneka Santa Claus di sana menyapa jenaka dari tumpukan mainan aneka rupa. Ya. Ini Natal, musim belanja saat anak boleh bermimpi setahun sekali. Namun anak-anak saya tahu diri bahwa mereka hanya boleh menyaksikan semuanya dari tepi. Memang, mereka pasti akan merecoki saya dengan pertanyaan yang itu-itu lagi,
"Nanti Santa Claus akan datang kemari?"
"Nggak dong, Sayang. Kita kan nggak merayakan Natal."
Tetapi, kemarin si bungsu melontarkan pertanyaan yang tak biasa,
"Lalu kenapa ibu ikut-ikutan belanja Natal?"
Saya tertawa (salah-tingkah, sebenarnya).
"Nggak kok, hanya melihat-lihat saja."
Dia diam, namun wajahnya tampak tak terpuaskan oleh jawaban saya. Ah, apa yang bisa saya katakan kepada bocah empat tahun? Suatu saat nanti dia akan mengerti seni belanja yang nikmat oleh sensasi menghemat. Ya, kendali bisnis tak bisa kita hindari. Tetapi apa salahnya membeli mimpi setahun sekali?
Natal sudah dua hari lewat. Namun pagi ini, rupanya anak-anak masih menyimpan auranya di meja makan. Awalnya, putri kecil saya bercerita tentang temannya yang mendapat hadiah perangkat Barbie dengan aksesoris pewarna rambut. Entah bagaimana, adiknya menyahut,
"Kenapa kita nggak punya Santa Claus?"
"Karena kita nggak merayakan Natal."
"Kenapa Tuhan kita nggak seperti Santa Claus?"
Kakaknya terdiam. Ditatapnya saya yang pura-pura sibuk mengolesi roti panggang.
"Kan Tuhan sudah beri adik semuanya?" kata saya. Klise, seperti biasa. Entah mengapa, pagi ini selai stroberi memucat warnanya. "Udara, buku-buku cerita, juga semua makanan yang adik suka...." Saya berdiri tergesa. Saya tahu jawaban saya seperti mengambang di udara. "Iya sih, semuanya. Kecuali... mainan mobil remote control yang aku minta," sahutnya, sambil menopang dagunya.
"Soalnya, kamu nggak pernah mengucapkannya dalam doa...!" sahut kakaknya tiba-tiba.
"Katanya Tuhan maha tahu segalanya? Jadi, nggak perlu bicara keras-keras, kan?" kilah adiknya. Saya menyembunyikan senyum, saat kemudian saya dengar dia berkata,
"Aku mau Tuhanku berbaju merah lucu dan selalu tersenyum seperti Santa Claus itu. Jubah putih Tuhan jelek dan nggak lucu. Dia juga nggak pernah tersenyum kepadaku."
Saya mengernyitkan kening. Jubah putih?
"Nggak perlu mendebatnya. Imajinasi liarnya itu bukan tandingan kita. Nanti dia akan mengerti juga," Suami saya berkata di benak saya. Kadang-kadang, rasanya memang tak sabar menunggu anak-anak cepat dewasa. Saya nyalakan keran air. Piring bekas sarapan tiba-tiba sudah menumpuk saja. Teman saya, seorang aktivis gereja, bercerita bahwa dia tak berbelanja Natal tahun ini.
"Di sini, Natal sudah kehilangan makna. Saya ingin, anak-anak merayakan Natal dengan sederhana saja," katanya.
Saya tersenyum saat itu, mengiyakannya. Saya ingin berkata, bahwa hura-hura belanja seperti ini membuat harga banyak barang jadi terjangkau untuk pendatang seperti saya. Namun tentu saya diam saja. Tiba-tiba, saya merasa bersalah sudah latah menodai hari suci yang berharga baginya.
Ah, siapa peduli. Lagipula mantel ungu itu diobral lagi hingga tiga puluh persen. Saya melihatnya di iklan televisi pagi ini. Setelah makan siang, kami berbenah cepat-cepat. Saya menelepon suami, mengingatkannya tentang rencana belanja hari ini. Lima belas menit kemudian, kami sudah menjemputnya di kampus. Jalanan seperti berkilau oleh hujan es semalam.
Dingin menggigit tulang. Embun menggenangi kaca mata suami saya saat digantikannya saya di belakang kemudi. Dia memutar kunci. Namun, mobil tak menggerung sama sekali. Bahkan semua lampu mati. Dua kali, tiga kali, hingga entah berapa kali kunci itu dihentakkan. Sia-sia. Kini, penantian berganti keluh dan umpat. Anak-anak meratap, merutuki hawa dingin mobil tanpa penghangat.
"Padahal aki mobil ini baru diganti," cetus suami putus asa. Saya menggigil bukan karena dingin. Terhempas dari penantian panjang itu seperti terjatuh di jalanan berlapis es yang licin. Suami saya menelepon perusahaan asuransi. Mobil derek akan datang tak lama lagi. Saat saya gandeng anak-anak ke halte bis, mereka menangis. Pipi mereka memerah tak terlindung dari gigitan angin dingin yang garang. Saya mengumpat dalam-dalam, menyesali reklame obral besar-besaran yang seperti sengaja terpampang nyalang.
Hah, kurang ajar!
Mobil kami masih menginap di bengkel hingga hari ini. Aneh, tak biasanya ia berulah seperti ini. Aki sudah diganti yang baru, namun masalahnya bukan itu. Kemarin, teknisi bengkel meminta suami saya untuk membeli busi baru.
"Apa dia yakin masalahnya itu?" Saya tatap suami saya, ragu.
"Yah, kita turuti saja. Siapa tahu?"
"Siapa tahu gundulmu!"
Dua ratus dolar sudah tandas, bukan untuk kamera digital, atau mantel ungu baru!
"Ya sudah.... Memang obral Natal kali ini jatah mobil kita." Getir tak tersembunyi dari tawa suami saya. Dan dia tak berani menatap mata saya. Jumat ini, masjid masih sepi. Entah hening apa yang tak mau pergi, saat gempita Natal tak lagi mengepung kota ini. Saya sedang membantu putri saya melepas mantelnya ketika saya sadari si bungsu tak lagi berdiri di sisi. Saya melihat sekeliling, dia bahkan tak terlihat di sudut mana pun juga. Saya hendak memanggil suami saya ketika pintu lorong terbuka. Imam masjid, yang asli Irak itu, muncul dari sana, membimbing anak saya. Senyum mengembang di balik janggut tebalnya. Anak saya mencengkeram jubah putihnya, dan tangan kirinya menggenggam lolipop merah muda. Melihat matanya yang basah, saya tersenyum lega.
"It's okay. Tadi dia menangis kebingungan di depan pintu," kata Imam sebelum berlalu.
Si bungsu menghambur memeluk saya, tangisnya pecah. Suami saya, entah dari mana datangnya, menggendongnya. Tangis si bungsu reda di pelukan ayahnya.
"Tadi aku diselamatkan oleh Tuhan, dan dia memberiku ini," katanya sambil mengangkat lolipopnya tinggi-tinggi.
Suami saya menatap saya tak mengerti. Saya tersenyum geli. Jadi Tuhan berjubah putih itu....
Si bungsu meneruskan celotehnya tentang Tuhan, dan tiba-tiba saya terhenyak. Duh, saya nyaris menjelma bocah empat tahun. Hampir saja saya memakaikan mantel ungu itu pada Tuhan.***
Urbana, Februari 2007
Dimuat di Republika 25/03/2007
Masjid kami seperti gua muram yang terasing dari gegap-gempita keriangan menjelang Natal. Hanya di masjid ini, orang berjalan gegas menyelamatkan badan dari gigitan angin dingin yang nakal. Masjid ini tempat berteduh sesekali, sedangkan toko dan mall di luar sana kemayu oleh dekorasi warna-warni, kerlip lampu serupa ceria kembang api, juga arus pembeli yang bagai tak mati-mati.
Tentu tak ada yang memikat dari masjid sepi. Karenanya kami mengunjunginya seperti membagi basa-basi. Tak hanya sekali dua kali, kami terdampar di tengah sesak arus pembeli di toko-toko yang wangi. Bagaimana bisa memalingkan mata dari kenikmatan berbelanja, di hamparan pajangan benda-benda menggugah selera yang harganya menggoda?
Begini. Sebenarnya saya mengidamkan mantel tebal warna ungu, yang harganya tak pernah terjangkau saku. Mantel lama saya semakin menipis tampaknya, dengan lapisan busa yang menua. "Namanya juga mantel loak. Boleh dong, sekali-kali saya beli barang baru," rayu saya.
Suami saya hanya tersenyum saja, tahu tabiat saya. Oh, dia juga sedang bermimpi ternyata. Idamannya kamera digital merek terbaru yang didiskon seratus lima puluh dolar dari harga semula! Tunggu hingga usai Natal, saat semua obral jatuh ke titik terendah, kata saya.
Saya tak tahu anak-anak mengidamkan apa. Saya tak berani bertanya. Saya bukannya tak melihat mata-mata kecil penuh harap yang diterpa kilau etalase kaca. Boneka-boneka Santa Claus di sana menyapa jenaka dari tumpukan mainan aneka rupa. Ya. Ini Natal, musim belanja saat anak boleh bermimpi setahun sekali. Namun anak-anak saya tahu diri bahwa mereka hanya boleh menyaksikan semuanya dari tepi. Memang, mereka pasti akan merecoki saya dengan pertanyaan yang itu-itu lagi,
"Nanti Santa Claus akan datang kemari?"
"Nggak dong, Sayang. Kita kan nggak merayakan Natal."
Tetapi, kemarin si bungsu melontarkan pertanyaan yang tak biasa,
"Lalu kenapa ibu ikut-ikutan belanja Natal?"
Saya tertawa (salah-tingkah, sebenarnya).
"Nggak kok, hanya melihat-lihat saja."
Dia diam, namun wajahnya tampak tak terpuaskan oleh jawaban saya. Ah, apa yang bisa saya katakan kepada bocah empat tahun? Suatu saat nanti dia akan mengerti seni belanja yang nikmat oleh sensasi menghemat. Ya, kendali bisnis tak bisa kita hindari. Tetapi apa salahnya membeli mimpi setahun sekali?
Natal sudah dua hari lewat. Namun pagi ini, rupanya anak-anak masih menyimpan auranya di meja makan. Awalnya, putri kecil saya bercerita tentang temannya yang mendapat hadiah perangkat Barbie dengan aksesoris pewarna rambut. Entah bagaimana, adiknya menyahut,
"Kenapa kita nggak punya Santa Claus?"
"Karena kita nggak merayakan Natal."
"Kenapa Tuhan kita nggak seperti Santa Claus?"
Kakaknya terdiam. Ditatapnya saya yang pura-pura sibuk mengolesi roti panggang.
"Kan Tuhan sudah beri adik semuanya?" kata saya. Klise, seperti biasa. Entah mengapa, pagi ini selai stroberi memucat warnanya. "Udara, buku-buku cerita, juga semua makanan yang adik suka...." Saya berdiri tergesa. Saya tahu jawaban saya seperti mengambang di udara. "Iya sih, semuanya. Kecuali... mainan mobil remote control yang aku minta," sahutnya, sambil menopang dagunya.
"Soalnya, kamu nggak pernah mengucapkannya dalam doa...!" sahut kakaknya tiba-tiba.
"Katanya Tuhan maha tahu segalanya? Jadi, nggak perlu bicara keras-keras, kan?" kilah adiknya. Saya menyembunyikan senyum, saat kemudian saya dengar dia berkata,
"Aku mau Tuhanku berbaju merah lucu dan selalu tersenyum seperti Santa Claus itu. Jubah putih Tuhan jelek dan nggak lucu. Dia juga nggak pernah tersenyum kepadaku."
Saya mengernyitkan kening. Jubah putih?
"Nggak perlu mendebatnya. Imajinasi liarnya itu bukan tandingan kita. Nanti dia akan mengerti juga," Suami saya berkata di benak saya. Kadang-kadang, rasanya memang tak sabar menunggu anak-anak cepat dewasa. Saya nyalakan keran air. Piring bekas sarapan tiba-tiba sudah menumpuk saja. Teman saya, seorang aktivis gereja, bercerita bahwa dia tak berbelanja Natal tahun ini.
"Di sini, Natal sudah kehilangan makna. Saya ingin, anak-anak merayakan Natal dengan sederhana saja," katanya.
Saya tersenyum saat itu, mengiyakannya. Saya ingin berkata, bahwa hura-hura belanja seperti ini membuat harga banyak barang jadi terjangkau untuk pendatang seperti saya. Namun tentu saya diam saja. Tiba-tiba, saya merasa bersalah sudah latah menodai hari suci yang berharga baginya.
Ah, siapa peduli. Lagipula mantel ungu itu diobral lagi hingga tiga puluh persen. Saya melihatnya di iklan televisi pagi ini. Setelah makan siang, kami berbenah cepat-cepat. Saya menelepon suami, mengingatkannya tentang rencana belanja hari ini. Lima belas menit kemudian, kami sudah menjemputnya di kampus. Jalanan seperti berkilau oleh hujan es semalam.
Dingin menggigit tulang. Embun menggenangi kaca mata suami saya saat digantikannya saya di belakang kemudi. Dia memutar kunci. Namun, mobil tak menggerung sama sekali. Bahkan semua lampu mati. Dua kali, tiga kali, hingga entah berapa kali kunci itu dihentakkan. Sia-sia. Kini, penantian berganti keluh dan umpat. Anak-anak meratap, merutuki hawa dingin mobil tanpa penghangat.
"Padahal aki mobil ini baru diganti," cetus suami putus asa. Saya menggigil bukan karena dingin. Terhempas dari penantian panjang itu seperti terjatuh di jalanan berlapis es yang licin. Suami saya menelepon perusahaan asuransi. Mobil derek akan datang tak lama lagi. Saat saya gandeng anak-anak ke halte bis, mereka menangis. Pipi mereka memerah tak terlindung dari gigitan angin dingin yang garang. Saya mengumpat dalam-dalam, menyesali reklame obral besar-besaran yang seperti sengaja terpampang nyalang.
Hah, kurang ajar!
Mobil kami masih menginap di bengkel hingga hari ini. Aneh, tak biasanya ia berulah seperti ini. Aki sudah diganti yang baru, namun masalahnya bukan itu. Kemarin, teknisi bengkel meminta suami saya untuk membeli busi baru.
"Apa dia yakin masalahnya itu?" Saya tatap suami saya, ragu.
"Yah, kita turuti saja. Siapa tahu?"
"Siapa tahu gundulmu!"
Dua ratus dolar sudah tandas, bukan untuk kamera digital, atau mantel ungu baru!
"Ya sudah.... Memang obral Natal kali ini jatah mobil kita." Getir tak tersembunyi dari tawa suami saya. Dan dia tak berani menatap mata saya. Jumat ini, masjid masih sepi. Entah hening apa yang tak mau pergi, saat gempita Natal tak lagi mengepung kota ini. Saya sedang membantu putri saya melepas mantelnya ketika saya sadari si bungsu tak lagi berdiri di sisi. Saya melihat sekeliling, dia bahkan tak terlihat di sudut mana pun juga. Saya hendak memanggil suami saya ketika pintu lorong terbuka. Imam masjid, yang asli Irak itu, muncul dari sana, membimbing anak saya. Senyum mengembang di balik janggut tebalnya. Anak saya mencengkeram jubah putihnya, dan tangan kirinya menggenggam lolipop merah muda. Melihat matanya yang basah, saya tersenyum lega.
"It's okay. Tadi dia menangis kebingungan di depan pintu," kata Imam sebelum berlalu.
Si bungsu menghambur memeluk saya, tangisnya pecah. Suami saya, entah dari mana datangnya, menggendongnya. Tangis si bungsu reda di pelukan ayahnya.
"Tadi aku diselamatkan oleh Tuhan, dan dia memberiku ini," katanya sambil mengangkat lolipopnya tinggi-tinggi.
Suami saya menatap saya tak mengerti. Saya tersenyum geli. Jadi Tuhan berjubah putih itu....
Si bungsu meneruskan celotehnya tentang Tuhan, dan tiba-tiba saya terhenyak. Duh, saya nyaris menjelma bocah empat tahun. Hampir saja saya memakaikan mantel ungu itu pada Tuhan.***
Urbana, Februari 2007
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)




