Pemenang 2 Lomba Cerpen Femina 2010
“Kau tampan, sudah…” bisikku di telinganya.
Ia mengibaskan ekornya lalu menekankan moncongnya lembut ke lenganku. Biasanya, setelah itu ia akan berlari memutari tubuhku. Tetapi ikatan di simbuang kali ini tidak mengizinkan ia berlari dengan bebas seperti yang selalu ia lakukan setiap kali aku memujinya.
Seorang lelaki menepuk pundakku. Aku berbalik dan dadaku berdesir saat melihat la bok duatalan di tangan lelaki itu. Tiba-tiba aku ketakutan. Dalam beberapa tahun terakhir, tangan berotot lelaki itu sudah menebas delapan ribu tedong. Semua pengunjung selalu puas melihat atraksinya menebas leher-leher tedong. Sigap dan tepat. Dalam sekali tebas, kepala tedong langsung terlepas dari lehernya dan menggelinding di halaman upacara kematian.
Dan sebentar lagi, lelaki ini akan menebas leher tedong bongaku.
Sekali lagi aku mengelus kepala tedong bongaku sambil berbisik,” Selamat jalan, sudah. Kita pasti bertemu lagi di puya.”
Tedong bongaku melenguh lirih sambil menatapku tenang. Aku tak melihat ketakutan sedikitpun melintasi mata hitamnya. Apakah ia sudah siap menjadi kendaraan nenek menuju puya? Lelaki itu memberiku isyarat untuk menepi. Mataku memanas ketika lelaki itu menuntun tedong bongaku menuju pelataran upacara. Orang-orang berdiri mengelilingi pelataran upacara dengan wajah antusias. Anak-anak memegang bambu dan menunggu. Dadaku berdebar kencang saat la bok duatalan di tangan kanan lelaki itu mengayun cepat dan dahsyat menebas leher tedong bongaku. Darah muncrat bagaikan pancuran. Sebelum tedong bongaku roboh, anak-anak berebut mencolokkan bambu ke lehernya untuk menadahkan darah.
Pandanganku mengabur. Sebelum duniaku gelap, aku melirik Mama duduk tegak di antara delapan saudaranya yang lain. Mama mengangguk padaku sambil tersenyum bahagia.
***
“Lai, badanmu panas dan wajahmu pucat. Kau sakit?” tanya Mama sambil menempelkan telapak tangannya di keningku.
Aku hanya diam. Upacara rambu solo nenek masih berlangsung dua hari lagi, tetapi aku tidak kuat mengikuti rangkaian upacara itu. Badanku lemas dan dadaku selalu berdebar kencang setiap mengingat tedong bongaku.
“Makan, sudah…” bujuk Mama sambil menyodorkan sepiring nasi dengan lauk pa’piong.
Aku melotot melihat pa’piong yang bambunya sudah terbuka. Apakah daging pa’piong itu daging tedong bongaku? Ada nyeri yang menelusup ke dadaku. Nyeri itu berubah menjadi bara yang membakar setiap aliran darahku. Aku tidak mungkin memakan daging tedong bongaku! Bagaimana mungkin mama memberikan daging itu padaku untuk kumakan? Bukankah mama tahu aku sangat menyayanginya?
“Makan, sudah…” ulang mama sambil menganggukkan kepalanya.
Aku menatap mata mama yang menyorot teduh. Kata-kata sepupuku yang nyinyir terngiang lagi di telingaku, “mamamu ingin dapat warisan paling banyak, karena itu dia mengorbankan tedong bonga kesayanganmu. Kasihan sekali orang miskin seperti kalian, berharap-harap warisan.”
“Makan sendiri kalau kau ingin makan, mama akan bantu beres-beres di rumah nenek.”
Saat mama beranjak dari tepi pembaringan, aku menyambar tangannya. Mama kembali berbalik dan menatapku. Matanya penuh tanda tanya.
“Jadi mama menggadaikan tedong bongaku berapa?”
Mama terkejut. “Maksudmu apa, Lai?”
“Mama mengorbankan tedong bongaku untuk mendapatkan warisan paling besar dari nenek ‘kan? Karena tedong bongaku paling mahal! Lai tahu mama bosan hidup miskin. Tetapi kenapa mama harus menggadaikan tedong bonga Lai?”
“Lai? Mama tidak mengerti apa yang kau katakan.”
“Mama bilang ingin mengorbankan tedong bonga Lai untuk kendaraan nenek di puya! Tapi sebenarnya mama ingin mendapatkan warisan paling banyak!”
“Diam, sudah!” bentak mama dengan wajah memerah.
“Aku tak menyangka mama pembohong!”
Tiba-tiba tangan kanan mama menyambar wajahku hingga aku terjengkang. Mama menamparku! Darah di sekujur tubuhku semakin mendidih. Air mataku mulai mengalir membasahi pipi. Aku tak menyangka, mama melakukan ini.
“Kau harus belajar mendengar dengan baik, Lai…” suara mama terdengar seperti menggeram lalu pergi meninggalkanku.
Membayangkan mama mendapatkan bagian warisan terbesar dari tedong bongaku, dadaku sesak. Mendadak ada kekuatan yang membuatku bangkit dari pembaringan. Dengan langkah tertatih-tatih aku menuju lemari dan mengeluarkan sleuruh bajuku. Aku harus pergi!
***
Malam mengatupkan matanya yang lelah. Aku menggigil kedinginan saat membuka pintu. Kegelapan seperti barisan raksasa yang hendak menerkamku. Tetapi, tekadku sudah bulat. Aku ingin meninggalkan mama dan rumah ini. Aku belum tahu hendak melangkahkan kaki kemana. Tetapi seorang temanku yang menjadi calo tenaga kerja di Makale pernah bercerita tentang nikmatnya hidup di ibukota.
“Ke Jakarta, sudah. Wajah manismu akan mendatangkan rezeki,” kata temenku itu.
Apa benar wajahku mendatangkan rezeki? Dulu aku tidak pernah berpikir apapun tentang itu, tetapi sekarang aku mulai memikirkannya. Aku berharap tawaran temanku itu masih berlaku.
Angin malam menerpa tubuhku. Aku merapatkan jaket kusam yang kukenakan lalu menutup pintu. Mama belum pulang dari rumah nenek atau mungkin malam ini tidak pulang. Nenek memiliki banyak tanah dan harta. Pembagian warisan itu pasti membutuhkan waktu lama. Dadaku kembali bergejolak. Aku berjalan tergesa meninggalkan halaman, tetapi tiba-tiba aku mendengar suara lenguh yang khas. Mendadak aku menghentikan langkah.
“Bonga?” jeritku lirih.
Aku menoleh ke sana ke mari tetapi tidak menemukan apapun. Kutinggalkan tas pakaian di pojok halaman lalu aku berjalan menuju samping rumah. Sampai di depan kandang yang sekarang kosong aku berhenti. Apakah arwah tedong bongaku masih berkeliaran di sini? Bukankah ia telah mengantarkan nenek ke puya? Tetapi suara apa yang terdengar barusan? Aku sangat yakin suara itu adalah suara tedong bongaku.
Air mataku kembali mengalir. Aku terjatuh lemas di depan kandang. Kedatangan tedong bonga kecil bertahun-tahun yang lalu di kandang ini kembali memenuhi kepalaku. Waktu itu ayah baru saja meninggal. Berbulan-bulan aku sangat sedih kehilangan ayahku. Mama tak pernah bisa menghiburku lagi karena dia pun sedih kehilangan ayah. Kehidupan kami yang miskin semakin memburuk.
Kemudian nenek datang membawa bayi tedong bonga. Semua sepupuku iri melihat pemberian nenek padaku. Bagaimana tidak? Tedong bonga ini setelah besar nanti akan berharga ratusan juta rupiah! Semua orang akan berebut untuk mendapatkannya. Jika tedong bonga ini dikorbankan, ia akan menjadi kendaraan terbaik menuju puya bagi orang yang telah mati. Dan nenek memberikannya kepadaku! Tetapi aku memahami alasan nenek.
“Tedong bonga ini sangat manis. Ia akan menghibur kesedihanmu. Tersenyumlah, sudah,” kata nenek seraya mengambil tanganku untuk mengelus punggung bayi tedong bonga itu dan tersenyum padaku.
Aku memeluk bayi tedong bonga itu dan merasakan kehangatan tubuhnya. Ia melenguh lirih lalu menatapku dengan pandangan bersahabat. Sejak pertama menyentuh tubuhnya, aku menyukainya. Di sudut halaman, aku melihat mata mama berkaca-kaca.
“Kalau bonga besar nanti, apa aku harus mengorbankan dia untuk seseorang, nek?” tanyaku.
Nenek tersenyum dan menghela nafas. “Lai, hidup bonga akan berarti jika ia dikorbankan. Tetapi itu juga tergantung keikhlasanmu. Jika kau tidak ikhlas mengorbankan bonga, lebih baik tidak kau lakukan. Tetapi jika kau ikhlas, bonga akan menjadi kendaraan terbaik menuju puya. Dan dia juga akan mendapatkan tempat yang baik di puya.”
Aku mengangguk-angguk mengerti.
“Jangan berpikir itu dulu, Lai. Rawatlah bonga. Semoga ia bisa menghiburmu dan kalian menjadi sahabat yang baik,” lanjut nenek.
Kami memang ditakdirkan menjadi sahabat. Sejak kehadiran tedong bonga yang lucu itu hari-hariku kembali berwarna. Mama senang melihatku kembali ceria. Perlahan-lahan aku bisa melupakan kesedihanku di tinggalkan ayah. Setiap hari aku mengajak bonga jalan-jalan mencari rumput, memandikannya di sungai dan bersama-sama melihat matahari tenggelam. Setelah bonga besar dan kuat aku sering menungganginya sambil bermain. Kami seperti memahami bahasa masing-masing. Setiap aku merasa sedih, bonga akan mengusap-usapkan moncongnya ke lenganku. Begitu juga saat bonga sakit, aku akan mengusap-usap kepalanya sambil mendengarkan lenguhan-lenguhan kesakitannya.
Aku dan bonga tumbuh bersama. Tetapi hari-hari tak selamanya indah. Banyak yang iri atas persahabatan indahku dengan bonga. Hal-hal buruk harus kami hadapi. Sepupu-sepupuku yang jahat itu sering menyakiti bonga. Mereka tidak bisa menerima kenyataan nenek memberikan bonga padaku.
“Hei orang miskin! Kamu tidak pantas memelihara tedong bonga itu. Pasti besok dia mati sudah!” ejek mereka saat aku mengajak bonga mencari rumput.
Dan esoknya bonga benar-benar sekarat. Aku menangis ketakutan tidak tahu harus berbuat apa. Untunglah mama sangat cekatan menangani masalah ini. Mama memberikan bonga ramuan dari daun-daunan. Beberapa jam kemudian bonga sembuh seperti sedia kala. Menurut mama, bonga keracunan. Ada orang yang telah memaksa bonga untuk minum racun itu. Aku geram mendengar kata-kata mama. Kejadian itu berlangsung beberapa kali, tetapi bonga bisa lolos dari maut.
Sampai kemudian hari itu datang. Nenek meninggal dan semua keluarga sepakat mengadakan pesta kematian rambu solo setahun kemudian. Aku melihat mama sangat kebingungan. Semua saudaranya kaya-raya dan dengan mudah bisa membeli tedong di pasar meskipun tidak sekelas tedong bonga. Tetapi, mama memang tidak memiliki uang sedikitpun untuk membeli tedong atau babi korban. Aku tak sampai hati melihatnya kebingungan.
“Mama bisa mengorbankan bonga kalau mau…” kataku ragu-ragu.
Mama menggeleng. “Tidak lai. Bonga itu sahabatmu.”
“Tidak apa Ma, mungkin hidup bonga lebih bermanfaat kalau di korbankan. Lagipula bonga itu pemberian nenek,” lanjutku berusaha meyakinkan mama dan diriku sendiri.
Mama menatapku lama. Ia mencari keyakinan dari kata-kataku.
“Kau yakin akan mengorbankan bonga?”
Dan aku mengangguk. Pasti.
Lalu apa yang kusesali sekarang? Bukankah aku sendiri yang mengorbankan bonga untuk upacara kematian nenek? Kenapa aku menyalahkan mama? Aku hanya tidak ingin hati mama tergoda warisan nenek sehingga langkah bonga tersesat tidak sampai ke puya. Dan kenyataannya mama memang tergoda!
Air mataku kembali mengalir.
“Maafkan mama, Lai…”
Suara itu mengejutkanku. Aku berbalik dan melihat mama berdiri di belakangku menjinjing tas pakaianku. Pipi mama basah oleh air mata. Aku tercekat melihat wajah mama yang tua dan menderita.
“Mestinya mama tidak mengorbankan bonga karena akan membuatmu sedih. Mestinya mama membeli satu babi saja.”
Aku masih diam menatap mama.
“Warisan itu sudah dibagi-bagi. Mama memang mendapatkan warisan paling banyak karena bonga harganya paling mahal. Tetapi mama tidak mengambil warisan itu. Lebih baik mama tetap miskin daripada harus kehilanganmu.”
Aku terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Perasaan bersalah merambati dadaku. Kulirik tas pakaian di tangan mama dan aku merasa malu. Seumur hidupku, mama selalu memberikan cintanya padaku. Selalu ingin membuatku bahagia. Tetapi aku telah menuduhnya menginginkan warisan itu. Tidak tahan dengan rasa bersalah, aku berlari menubruk mama.
“Maafkan Lai, mama. Maafkan Lai.”
Mama terisak. Tangannya mengusap rambutku lalu menenggelamkan aku dalam pelukannya yang hangat. Dari kejauhan samar-samar aku seperti mendengar suara orang melakukan ma’badong. Di antara ibu-ibu yang bersedu-sedan dan pria-pria yang berteriak penuh semangat, aku melihat nenek mengendarai tedong bongaku dan melambai kepadaku.
Wajah keduanya tampak berseri-seri!
***
Daftar Istilah Tana Toraja :
1. Tedong Bonga : Kerbau belang yang harganya ratusan juta untuk upacara kematian.
2. Rambu Solo : upacara kematian Tana Toraja.
3. Pa’piong : makanan khas Toraja yang dibungkus bambu.
4. La bok duatalan : parang untuk menebas kerbau.
5. Puya : nirwana, surga.
6. Ma’badong : lagu-lagu yang dinyanyikan dalam upacara kematian untuk mengenang jenazah.
Dimuat di Republika, 02 Januari 2010
Sebuah makam milik seseorang yang dianggap leluhur hendak dibongkar oleh orang-orang dari dinas pekerjaan umum karena akan terkena proyek pembangunan jalan tol. Ketika makam digali, air muncrat dari sisi dalam tanah makam. Air itu terus mengalir tiada henti, seperti air pancuran yang keluar dari mata air pegunungan. Entah kenapa air itu menyembur begitu melimpah sehingga warga antre mengambilnya dan meyakini bisa digunakan untuk berbagai macam keperluan."Saya yakin ini bukan air sembarangan! Ini air keramat!"
"Makanya, saya mau minta buat anak saya yang perawan tua, supaya cepet-cepet kawin!"
"Saya juga mau meminumnya, siapa tahu cepet dapet kerjaan!"
Demikianlah. Semua warga berbondong-bondong memanfaatkan air yang keluar dari dalam makam tersebut. Meskipun belum terbukti kemanjurannya, warga berlomba-lomba mengambil air yang dianggap keramat.
Lama kelamaan, berita keluarnya air keramat dari dalam makam menyebar. Semakin banyak saja warga yang berdatangan. Mereka membawa botol mineral kosong, jeriken, bahkan ada yang membawa ember.
Ketika pihak dari dinas pekerjaan umum hendak melanjutkan menggali makam itu, warga pun protes. Mereka tak ingin makam itu dibongkar. Dengan keluarnya air dari dalam makam itu, mereka semakin yakin bila makam yang hendak dibongkar itu makam keramat, makam yang harus dijaga. Sementara pihak dinas pekerjaan umum harus segera membongkar makam karena pembangunan jalan tol terganjal oleh keberadaan makam yang dianggap keramat itu. Adu argumentasi pun tak bisa dihindari.
"Maaf bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Atas kesepakatan para tokoh masyarakat, makam ini kami bongkar untuk kami pindahkan, bukan dibongkar begitu saja. Nanti akan kami buatkan makam yang lebih bagus lagi!" seru salah seorang wakil dari dinas pekerjaan umum.
"Kami tidak mau tahu, Pak! Pokoknya makam ini jangan dibongkar!"
"Makam ini keramat. Kalau dibongkar, kita semua bakalan kena sial!"
"Kita ini bangsa apa sih? Seharusnya bangsa yang baik itu bangsa yang menghargai jasa leluhurnya. Ini adalah makam leluhur kita. Harus dijaga dan dilindungi!!"
"Mari kita pertahankan makam ini, agar tidak perlakukan dengan semena-mena!! Allahu Akbar ...!!"
"Allahu Akbar ...!!!"
Setelah terdengar takbir, warga semakin semangat merangsek para pegawai dinas pekerjaan umum untuk menyingkir dari lokasi makam. Sementara warga yang sibuk meminta air yang dianggap keramat semakin banyak berdatangan. Mereka ternyata berasal dari berbagai pelosok daerah. Rupanya mereka tahu berita adanya air muncrat dari makam keramat bukan hanya dari mulut ke mulut, melainkan karena beberapa stasiun televisi mulai menyiarkannya. Bahkan, ada salah satu stasiun teve yang membahasnya dengan siaran langsung.
"Aneh bin ajaib, pemirsa. Dapat kami laporkan, sebuah makam yang dinyatakan sebagai makam leluhur oleh warga mengeluarkan air saat hendak digali," reporter televisi sibuk di depan kamera. Reporter tersebut mendekati beberapa warga yang telah berhasil mengambil air yang keluar dari dalam makam.
"Baik pemirsa, berikut ini akan kita dengarkan apa pendapat warga tentang air yang dianggap keramat oleh warga," reporter televisi kini menyorongkan mik ke arah salah seorang perempuan setengah baya pemegang botol mineral yang sudah diisi oleh air dari dalam makam.
"Bu, air ini buat apa?"
"Ini untuk bapak saya yang sudah lama lumpuh. Buat obat."
"Ibu percaya air ini mampu menyembuhkan bapak?"
"Ya, percaya enggak percaya, sih? Namanya juga usaha. Berobat ke dokter mahal soalnya. Jadi, coba-coba aja pake air keramat ini," ujar perempuan itu polos.
Lalu mik reporter bergeser pada lelaki paruh baya di sebelahnya. Lelaki ini memegangi jeriken yang sudah penuh.
"Kalau bapak, air keramat ini untuk apa?"
"Buat minum."
"Buat minum? Supaya apa Pak?"
Ini benar-benar pertanyaan tolol. Ternyata, tidak semua reporter televisi pintar.
"Supaya enggak haus!"
Reporter menelan ludah. Si lelaki langsung ngeloyor. Lalu, reporter kembali menatap kamera sambil menutup acara. Beberapa warga mendekat ke belakang reporter dengan harapan bisa tertangkap gambarnya. Di antara mereka melambai-lambaikan tangan ke arah kamera.
Karena orang-orang terus berdatangan, salah seorang warga berinisiatif membuat tempat parkir kendaraan. Setiap sepeda motor atau mobil yang datang diberikan karcis tanda masuk. Areal makam pun dibuatkan pagar pembatas agar orang bisa mengantre dengan tertib. Sebuah kotak amal dibuat dan diletakkan di dekat pintu masuk. Di sisi kotak ditulis, "AMAL MAKAM KERAMAT, SEIKHLASNYA".
Beberapa hari kemudian, makam keramat semakin ramai dikunjungi orang. Tempat parkir motor diperluas karena tak mampu menampung kendaraan. Kotak amal yang diletakkan di pintu gerbang makam disingkirkan, berganti dengan tiket tanda masuk makam. Setiap warga yang datang harus membeli tiket terlebih dahulu.
Sobrak, lelaki setengah baya yang bertugas menjaga tiket senang sekali karena belakangan ini hidupnya berubah makmur. Gobang, yang menjadi penanggung jawab lahan parkir juga begitu. Uang mereka bagai meluap, seperti air keramat yang mengalir dari dalam makam. Namun, kemakmuran Sobrak dan Gobang tidak disukai oleh beberapa warga sekitar, yang menganggap keduanya memanfaatkan situasi. Akan tetapi, dengan seperak dua perak, warga yang protes mampu disumpal. Ternyata, uang bisa menutupi mulut manusia.
Suatu hari, petinggi dari dinas pekerjaan umum dan beberapa tokoh masyarakat kembali datang ke makam. Mereka hendak meyakinkan warga agar tidak menganggap air yang mengalir di sekitar makam itu dianggap keramat.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian, air yang mengalir dari dalam makam sesepuh ini air biasa-biasa saja. Air ini keluar, seperti kita menggali sumur!"
"Tapi Pak, kami yakin ini air keramat! Soalnya, air ini keluar dari dalam makam yang baru beberapa meter digali!"
"Betul Pak!! Sumur di sekitar makam ini saja perlu delapan meter kalau mau keluar air!"
"Ini mukjizat, Pak!!"
"Sebaiknya, tokoh masyarakat jangan memihak pemerintah!! Pembangunan jalan tol ini tidak berarti apa-apa bagi kami! Kebanyakan warga cuman punya sepeda motor, sedangkan jalan tol hanya untuk pengendara roda empat!"
"Kalau memang terpaksa, jalannya dibelokan saja. Jangan sampai pembangunan ini justru merusak makam keramat!"
Semua warga terus berbicara. Mereka ingin meyakinkan petinggi dari dinas pekerjaan umum dan tokoh masyarakat serta perwakilan dari pemerintah untuk menggagalkan pembongkaran makam.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Pembangunan jalan tol diperuntukkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak yang diperoleh dari pengguna jalan tol itu dipergunakan untuk pembangunan! Selain itu, pembangunan jalan tol tak mungkin dibelokkan ke arah lain dengan maksud menghindari makam ini. Di mana-mana, yang namanya jalan tol itu lurus, enggak bengkok-bengkok!" kali ini yang bicara Pak Lurah, yang mulai senewen dengan tingkah warganya.
"Lho, Pak Lurah kok bukan mendukung warganya? Jangan-jangan Pak Lurah sudah disogok, ya...?"
"Pak Lurah payah!"
"Pak Lurah lupa sama leluhur sendiri!!" Pak Lurah terdiam dan tak lagi berkata-kata. Pak Lurah jadi seperti kura-kura yang disentuh kepalanya.
"Kalau memang kalian ngotot mau membongkar makam keramat ini, silakan hadapi kami!!"
"Bongkar saja kalau berani!! Kami siap mati! Kami siap zihad demi menjaga makam ini!!"
Warga semakin beringas. Para tokoh masyarakat, Pak Lurah, dan orang-orang dari dinas pekerjaan umum mengalah. Mereka akhirnya meninggalkan areal pemakaman diiringi koor ejekan para warga. Sobrak dan Gobang langsung mendekati warga sambil memberikan makanan untuk warga yang mempertahankan makam keramat.
Keesokan harinya Bapak Wali Kota datang diikuti oleh sejumlah pejabat daerah. Di antaranya terdapat Ustadz Markum, ustadz muda yang lumayan kondang dan disegani warga sekitar. Bapak Wali Kota dan rombongan disambut demonstrasi dan yel-yel oleh warga yang masih berada di sekitar makam. Mereka siap mengusir siapa saja yang hendak menggusur makam yang mengeluarkan air keramat. Tak peduli Wali Kota atau presiden sekalipun.
Ratusan satuan pamong praja tiba di sekitar makam. Mereka mengepung areal pemakaman.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian! Kita boleh saja beda pendapat, kita bebas saja marah, tetapi kami berharap kepala kita tetap dingin! Sesuai perintah dari pemerintah pusat, makam ini akan dipindahkan untuk kemudian diletakkan di tempat yang jauh lebih luas dan bagus lagi!"
"Tapi Pak, makam ini tidak mungkin dipindahkan. Dengan keluarnya air dari dalam makam, membuktikan bahwa makam ini memang benar-benar keramat!! Batalkan saja proyek pembanguan jalan tol itu!!"
"Allahu Akbar...!!!"
"Allahu Akbar...!!"
Ketika takbir sudah terdengar, semangat warga pun menggelegar. Ratusan satuan polisi pamong praja segera mengamankan situasi. Mereka menangkapi siapa saja yang hendak mempertahankan makam. Pertikaian pun tak bisa dihindari. Warga yang mempertahankan makam saling serang dengan satuan polisi pamong praja.
Saat yang bersamaan, datang beberapa petugas dari Perusahaan Air Minum (PAM) yang tengah bertugas sedang mencari-cari sumber kebocoran pipa yang baru terdeteksi. Langkah mereka terhenti oleh keributan antara warga dan satuan polisi pamong praja. Polisi pamong praja berhasil meredam keberingasan warga setelah mendapat bantuan tenaga dari satuan lain.
"Tenang saudara-saudara ... saya harap semua tenang!!"
Bapak Wali Kota yang baru saja mendengarkan informasi dari bawahannya, berdiri di depan semua warga yang sudah mulai reda.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Tanpa mengurangi rasa hormat kami terhadap makam leluhur kita, pemerintah daerah akan tetap memindahkan makam tersebut. Selain itu, dapat kami informasikan bahwa air yang keluar dari dalam makam itu adalah air dari pipa PAM yang bocor!!"
Semua warga yang mendengarnya terbelalak. Semua saling tatap, lalu mereka menunduk malu. Kemudian Ustadz Markum berdiri di tengah-tengah warga,
"Saudarasaudara sekalian, ziarah ke sebuah makam itu dibolehkan. Nabi pun pernah menganjurkannya agar kita ingat pada kematian. Tapi, kita tak boleh berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik! Kita bisa musyrik!!"
Bapak Wali Kota mulai bernapas lega karena warga tak lagi marah,
"Sekarang, saudara-saudara sekalian saya harap membubarkan diri!!"
Semua warga pun menuruti perintah Bapak Wali Kota untuk membubarkan diri. Pembangunan jalan tol itu siap dilanjutkan kembali. Para pekerja dari PAM sibuk memperbaiki pipa yang bocor. Setelah pipa itu sudah diperbaiki, penggalian makam leluhur kembali dikerjakan. Makam itu akan dipindahkan ke lokasi yang sudah disediakan. Tetapi ajaibnya, ketika sebuah mobil pengeruk baru saja menggali, air kembali muncrat dari bagian makam yang lain. Pekerja PAM diminta untuk memeriksa apakah ada kemungkin kebocoran pada pipa-pipa mereka.
Setelah diselidiki, ternyata pipa air milik PAM baik-baik saja. Mereka bingung, dari manakah sumber air yang muncrat itu. Sampai seminggu lamanya, air dari dalam makam itu tetap mengalir. Airnya bening nan jernih. Aromanya wangi bak kesturi. Kejadian ini dirahasiakan. Semua warga meyakini itu kebocoran pipa PAM yang belum dapat diperbaiki. ***
Cerpen Zaenal Radar T
Dimuat di Republika, 19/12/2010
Sejak kabar tentang bergesernya arah kiblat beberapa derajat, masjid di kampungnya Markum tak lagi dikunjungi warga. Alasannya, mereka tidak mau shalat di masjid yang letak kiblatnya salah. Markum, pemuda yang dipercaya mengurus kebersihan masjid, mendatangi warga untuk shalat berjamaah di masjid.
“Kiblat itu arah letak kita shalat. Kalau kita shalat di masjid itu, jangan-jangan kiblat kita selama ini salah menghadap Tuhan?” ujar salah satu warga.
“Tapi, Bang, kan Tuhan ada di mana-mana. Kenapa kita harus mempermasalahkan kiblat? Allah Mahatahu, Bang!” ujar Markum, sambil menatap wajah warga yang diajaknya bicara.
“Elo bener Kum, Allah emang Mahatahu. Allah ada di mana-mana. Tapi, semua ada aturannya. Kalau kita shalat menghadap ke kiblat yang salah, jangan-jangan arahnya bukan ke Makkah, tapi ke arah New York?”
“Maksud Abang?” selidik yang lain, tak kalah antusiasnya dengan Markum.
“Kalau kita shalat ke arah New York, berarti kita nyembah orang Amerika!!”
Semua mengangguk-angguk, kecuali Markum.
“Kita jangan menyembah Amerika. Udah ekonomi negara kita berkiblat ke sana, masak urusan yang lain juga kiblatnya sama. Itu namanya menuhankan Amerika!! Apa sih bagusnya Amerika? Bener gak?”
Yang lain kembali mengangguk-angguk. Dan, lagi-lagi Markum cuma diam mematung. Markum jadi bingung, bagaimana cara menjelaskan kepada semua warga, jangan gara-gara arah kiblat yang berubah, terus masjid ditinggalkan.
Seperti menjelang Maghrib kali ini, setelah azan dan iqamah, tak ada jamaah yang datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Di sebuah masjid yang lumayan besar, yang bisa memuat sekitar tiga ratus jamaah lebih, Markum shalat sendirian. Ketika shalat, Markum sebenarnya bingung arah kiblat, maka ia geser sajadahnya beberapa senti ke kanan, lalu dia mulai shalat.
Selepas shalat, Markum heran melihat warga yang masih duduk-duduk santai di teras rumah mereka. Anak-anak muda yang habis bermain bola di lapangan gusuran dekat ujung kompleks juga masih terlihat kotor. Markum mendekati mereka seraya mengucapkan salam.
“Kok enggak shalat Maghrib di masjid?”
“Nanti aja deh, Bang, soalnya arah kiblatnya belum jelas,” jawab salah seorang anak muda, yang masih bertelanjang dada dan penuh keringat.
“Tapi, kalau enggak shalat di masjid, di rumah juga bisa,” ujar Markum.
“Bang Markum, shalat di masjid atau di rumah sama aja kalau enggak tahu arah kiblatnya,” sela yang lain.
“Jadi, elo semua enggak mau shalat karena arah kiblat belum jelas?”
“Iya Baaang!!” ujar mereka kompak.
Markum pun mengangguk-angguk, padahal dia sulit mengerti dengan jalan pikiran mereka. Lalu, Markum mengucapkan salam dan berlalu.
Markum mendatangi Haji Bantong, sesepuh kampung yang jarang shalat di masjid karena sudah membangun mushala sendiri di samping rumahnya. Haji Bantong sengaja membuat mushala karena menurutnya masjid letaknya terlalu jauh. Padahal, masjid itu berdiri di atas tanah miliknya, yang beliau hibahkan untuk pembangunan rumah ibadah. Selain itu, Haji Bantong sebenarnya salah satu pengurus masjid yang dipercaya sebagai ketua Dewan Kesejahteraan Masjid.
“Assalamualaikum Pak Haji!”
“Waalaikumussalam … eh, elo Kum? Tumben lo mampir? Ada apa?”
Markum pun bercerita tentang masjid yang sepi karena arah kiblat yang berubah. Haji Bantong hanya mengangguk-angguk mendengar cerita Markum. Haji Bantong tampak menarik napas berat, lalu mengembuskannya perlahan. Seperti ingin menumpahkan beban berat pikirannya.
“Kum, lo tahu kan kalau gua punya mushala. Nah, gua sendiri juga udah kagak shalat di mushala. Gua shalat di kamar. Waktu ditanya arah kiblat, gua juga gak bisa jawab. Gua sendiri kagak paham, jangan-jangan gua juga salah menghadap kiblat?”
“Terus jalan keluarnya gimana Pak Haji?”
“Jalan keluar mah gampang Kum. Asal kelihatan pintu, elo buka tuh pintu, elo keluar dah. Hahahaa….”
“Ah, Pak Haji kok becanda, sih?”
“Abis Kum, gua pusing. Gua mau nanya sama siapa?”
“Pak Haji, pan si Hasan kuliah di Universitas Islam Negeri, tanya dia aja.”
“Gua juga emang mau nanya dia. Dia baru pulang dari tempat kosan.”
“Selain si Hasan, yang tahu kira-kira siapa, Pak Haji?”
“Yang tahu itu … yang ngerti. Ya udah, yuk kita cari si Hasan. Mudah-mudahan dia udah istirahat cukup.”
Haji Bantong pun mencari-cari Hasan, putranya yang kuliah di Universitas Islam Negeri itu. Hasan adalah putra bontot Haji Bantong dan satu-satunya anak yang masih kuliah dan belum menikah. Haji Bantong punya tiga belas anak. Hanya Hasan yang masih kuliah dan belum menikah.
“San … Hasan!! Sini lo tong!!” teriak Haji Bantong, saat melihat Hasan yang baru keluar dari kamarnya. Wajahnya masih terlihat lelah.
“Ada apa, Beh?”
“Begini, San, gua mau tanya soal tempo hari yang gua tanyain ke elo di telepon. Soal arah kiblat. Gua pusing, San!”
“Beh, arah kiblat gak usah dipusingin. Babeh tinggal geser aja beberapa derajat ke kanan, terus Babeh shalat deh. Gitu aja kok repot?”
“Kayak almarhum Gus Dur lo, San!” Haji Bantong tampak kesal, lalu dia berkata lagi, “Gesernya ke mana? Berarti gua kudu ngegeser masjid dong?”
“Ya enggak usah segitunya, Beh. Geser aja sajadahnya … beres. Gitu aja kok….”
“Repot!!” Haji Bantong melanjutkan kata-kata Hasan, yang sejak kecil gandrung pada tokoh almarhum Gus Dur.
“Kalau begitu, habis Isya saya mau geser letak sajadah masjid Pak Haji.”
“Kum, kalau masjid boleh dah elo geser sajadahnya. Tapi, kalo mushala, kayaknya besok gua mau renovasi aja!”
“Maksud Pak Haji?”
“Mushala pan lebih kecil, jadi bangunannya gua miringin sesuai arah kiblat.”
“Pak Haji, kata si Hasan kan cukup sajadahnya aja.”
“Kalau sajadahnya aja, kayaknya kurang afdol!”
“Kalau begitu, masjid juga direnovasi aja Pak Haji!”
“Kalau masjid modalnya kegedean. Nunggu sumbangan warga, jadinya bisa lama!”
“Terus gimana caranya supaya warga mau shalat di masjid, kalau arah kiblatnya masih salah?”
“Nanti juga kalau sajadah udah sesuai arah kiblat, warga mau shalat di masjid!”
Setelah itu, Markum kembali ke masjid. Waktu Shalat Isya sudah tiba. Markum seperti biasa, mengumandangkan azan. Setelah azan selesai, Markum shalat sunah qabliyah Isya dua rakaat. Sesudah itu, menunggu jamaah yang datang barang beberapa menit. Karena belum ada yang terlihat batang hidungnya, Markum pun mengumandangkan iqamah. Karena masih juga tak ada yang datang ke masjid, Markum shalat sendirian. Tak lupa letak sajadah dimiringkan beberapa senti ke kanan, dan Markum mulai shalat sendirian.
***
Keesokan harinya, di mushala Haji Bantong, barang-barang dari material berdatangan. Barang-barang berupa pasir, batu koral, dan semen diletakkan di samping mushala. Rencananya, Haji Bantong bakalan menggeser letak mushalanya beberapa derajat ke kanan, ke arah kiblat. Seperti yang dijelaskan oleh putra bontotnya, Hasan.
Berbeda dengan mushala, di masjid yang lumayan luas, Markum sendirian mengubah letak sajadah, menggesernya beberapa derajat ke kanan. Setelah sajadah digeser semua, kelihatannya memang tidak terlalu rapi. Posisi jamaah nantinya memang akan miring, tidak mengikuti arah bangunan masjid.
Hampir setengah harian Markum berkutat merapikan sajadah-sajadah itu, hingga akhirnya waktu Zhuhur tiba. Sebelum azan, Markum pun mengumumkan di speaker masjid.
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarakaaatuh! Kami beritahukan, kepada seluruh warga, bahwasannya letak kiblat di masjid Al-Ikhlas sudah dirapikan. Sekarang kita bisa shalat berjamaah dengan khusuk. Demikianlah pemberitahuan ini, wassalamualaikum warohmatullahi wabarakaatuh!”
Ketika waktu Zhuhur tiba, Markum mengumandangkan azan. Tetapi, sampai Markum usai shalat sunah dua rakaat dan mengumandangkan iqamah, jamaah belum juga datang. Markum pun melaksanakan shalat sendirian.
***
Markum kembali keliling kampung untuk mengabarkan kepada seluruh warga bahwa letak sajadah di masjid sudah diatur sedemikian rupa sehingga arah kiblat tidak lagi salah arah.
“Tapi, Kum, apa ente yakin kalau letak sajadahnya bener-bener ke kiblat?” selidik salah seorang warga.
“Saya sudah melakukannya seperti yang diberi tahu si Hasan, anak Pak Haji Bantong yang kuliah di UIN.”
“Apa si Hasan enggak salah arah, tuh?”
“Anak kuliahan enggak bakalan salah, Bang!”
“Siapa bilang anak kuliahan enggak ada yang salah? Itu yang suka tawuran dan demo kagak karuan, kan anak-anak kuliahan?”
“Si Hasan itu anak Universitas Islam Negeri? Fakultas Tarbiyah! Kalau kagak salah, dia calon mubaligh!”
“Jangankan calon mubaligh, mubalighnya aja bisa keseleo! Bisa salah jalan…!”
“Ya udah, langsung aja deh kalo gitu. Abang, sebenarnya mau shalat di masjid kagak?”
“Kalau arah kiblatnya sudah benar, pastilah!!”
Tiba-tiba dari salah satu arah, dua pemuda berlarian mendekati Markum dan sekumpulan warga.
“Ada apa??”
“Astaghfirullah, Bang! Tadi kita-kita ada di deket masjid, masjid bergeser ke kanan bang!!”
“Bener Bang!! Saya sampai kaget!”
“Astaghfirullaaaah ….!!!” Semua orang beristighfar.
Beberapa warga bahkan gemetaran. Tetapi, ada juga yang masih belum percaya.
“Masak sih?? Jangan-jangan ada gempa kecil-kecilan?”
“Hush! Kalau gempa, kita juga bisa ngerasain!!”
“Ayo kita lihat!!”
Akhirnya Markum bersama pemuda dan beberapa warga melangkah menuju masjid. Semua memperhatikan letak bangunan masjid. Semua tercengang saat melihat bekas tiang masjid yang seolah-olah telah bergeser. Yang lain juga bisa melihat dengan jelas bahwa tiang-tiang yang lain juga bergeser, mengikuti arah sajadah yang tadi digelar oleh Markum.
“Allah memang Mahabesar!! Masjid ini sekarang arah kiblatnya sudah sesuai!!” ucap Markum, lalu menghela napas lega.
“Alhamdulillaaaah …!!” semua warga bersyukur.
Beberapa saat kemudian, masjid pun sudah dipenuhi warga yang ingin melihat-lihat pergeserannya. Ketika waktu shalat Ashar hampir tiba, satu per satu warga sudah tak lagi ada di dekat masjid. Markum mengumandangkan azan, memanggil jamaah untuk shalat berjamaah. Akan tetapi, setelah azan sudah selesai dalam beberapa menit, belum juga ada jamaah yang datang. Markum pun menunggu beberapa menit lagi. Masih juga belum ada yang datang. Markum akhirnya memutuskan shalat sendirian.
Setelah shalat usai, Markum kembali keliling kampung. Markum ingin bertanya kepada warga, kira-kira setelah arah kiblat di masjidnya sudah benar, apalagi alasan mereka tak mau shalat berjamaah di masjid. ***
Dimuat di Suara Pembaruan 04/09/2005
Senja merambat. Perempuan itu masih tertegun menatap rintik hujan yang cukup deras di luar sana. Dengan menyibak sedikit tabir jendela, ia bisa mengamati jarum-jarum bening itu meluncur membasahi bumi. Wajahnya terlihat resah, namun sesungguhnya di balik keresahan itu tersemat sebuah asa yang entah bermakna apa. Hanya ia yang tahu, bahwa tetes-tetes hujan di luar itu adalah sesuatu yang sangat dinantikannya.
"Sudah lama .... sudah sangat lama aku menantikannya," gumam perempuan itu di antara desau angin yang menyelinap lewat jendela. "Aku yakin, hari ini aku akan melihatnya. Aku akan melihatnya."
Mata perempuan itu tampak berbinar, binar yang lagi-lagi hanya dia yang tahu maknanya. Ketika orang-orang berharap hujan tak mengguyur bumi karena ancaman banjir yang mencemaskan, maka tidak demikian dengan dirinya. Nyaris dalam setiap ulangan langkah yang diayunnya, terselip sebait doa agar hujan segera turun. Bahkan jika bisa, ia ingin setiap hari yang bergeser adalah hujan, hujan dan hujan. Karena dengan demikian ia merasa setiap hari yang dilaluinya adalah harapan demi harapan. Harapan untuk bertemu dengan impian yang ia rajut dalam keheningan jiwanya.
"Ah, sebentar lagi hujan pasti reda. Dan aku akan bisa melihatnya..." Lagi-lagi ia bergumam. Dan kali ini ada lengkungan senyum tersamar di bibir mungilnya. "Dia... dia akan muncul di penghujung cuaca, aku bisa merasakannya. Ya, aku yakin ia akan muncul hari ini! Menatapku dengan raut pucat dan senyum pasinya."
Ia semakin merapatkan tubuh ke jendela dan melihat rintik di luar sana semakin reda. Dadanya seakan berdesir halus melihat senja yang sebentar lagi akan menyelubungi alam. Dan kegelapan akan segera merajai setiap sudut dan ruang. Inilah saat yang ia nanti-nantikan di sepanjang hari yang dilaluinya. Tak ada yang lain.
"Aku bukanlah sosok yang sempurna. Aku hanyalah dedaunan yang tak lagi hijau. Jika kau bersamaku, maka kau tak kan pernah bisa meriah impianmu. Aku tak sanggup hadirkan kesempurnaan itu untukmu, meski seluruh hatiku begitu menginginkanmu. Selalu ingin bersamamu." Kalimat itu terngiang di telinganya dengan sangat jelas. Sejelas detak jantungnya yang kian bergemuruh.
"Aku tidak menginginkan sebuah kesempurnaan darimu. Aku hanya inginkan kesejatianmu dan berharap selalu ada di sisimu. Itu sudah cukup bagiku," jawabnya waktu itu.
"Tidak. Kau harus dapatkan impianmu yang sempurna karena kau sendiri adalah kesempurnaan. Kau lihatlah purnama di atas sana, ia begitu indah dan sempurna. Warnanya yang kuning kemasan sangat pantas kaumiliki. Itulah dirimu."
"Bagaimana kau begitu yakin bahwa impianku seperti itu?"
"Setiap orang selalu bermimpi yang sempurna, seperti purnama itu. Bahkan aku pun dulu memiliki impian sesempurna itu, sebelum akhirnya waktu melibas segalanya dan menyisakan untukku sepotong impian yang telah remuk. Impian yang bagi orang lain hanya akan berbuah cibiran. Tapi itulah bagianku dan itulah aku."
"Tapi bagaimana jika kukatakan bahwa impianku tak seperti purnama itu?"
"Lalu seperti apa?"
"Aku memiliki impian yang sederhana. Seperti rembulan pucat yang pesonanya bukanlah gemerlap kuning keemasan ditemani gemintang, melainkan kilau pucat pasi ditemani sapuan awan tipis, sisa hujan senja hari." Ia berusaha menjelaskan.
"Entahlah, aku tidak tahu rembulan seperti apa yang sedang kau bicarakan. Atau kau sedang mengarang cerita tentang kesemuan agar aku terlihat sedikit berharga? Tidak. Aku tetaplah aku, sosok yang telah cacat di mata semua orang. Tapi sudahlah, aku harus pergi, membawa segenap kerinduanku yang mungkin tak kan pernah berakhir padamu."
"Tunggu. Jangan pergi dulu! Aku ingin tunjukkan padamu seperti apa impian yang kumaksud itu. Bersabarlah sampai musim hujan tiba, dan kau akan melihat rembulan itu," pintanya sungguh-sungguh.
Namun sosok itu tak peduli. Ia telah kehilangan segalanya, termasuk keyakinan pada dirinya sendiri. Baginya, menghadirkan impian yang sempurna bagi perempuan itu adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. "Tidak. Maafkan aku. Aku hanya ingin mempersembahkan impian yang sempurna untukmu, karena hanya itu yang pantas bagimu. Sesederhana apapun impian yang kau ceritakan itu, aku tak yakin itu bisa membuatmu bahagia. Sebab, ketidaksempurnaan itu hanya bagianku!"
"Kenapa kau selalu mengatakan bahwa hanya purnama yang memiliki kesempurnaan? Kenapa hanya purnama yang layak dipuji dan dijadikan lambang impian yang sempurna?"
"Karena itulah yang dimaklumi oleh semua orang."
"Tapi tidak denganku!"
"Terserah dirimu. Maafkan aku..."
"Dan kau... tega meninggalkanku?" Perempuan itu tertegun menatap sosok yang kini melangkah menjauhinya.
"Kau adalah purnama, dan kau hanya layak mendapatkan impian seindah purnama..."
"Tapi kau belum melihat seperti apa rembulan yang kuceritakan itu!"
"Tidak perlu. Karena di mata orang-orang, purnama adalah kesempurnaan." Sosok itu semakin menjauh.
"Tapi kau juga salah! Tidak semua orang terpesona pada purnama yang bulat sempurna. Tidak semua orang menginginkan gemerlap kuning keemasan! Ada yang lain! Yang lebih berharga dari sekadar apa yang tertangkap oleh mata!" serunya keras, berharap sosok itu menghentikan langkahnya dan berbalik. Namun tak seperti harapannya, sosok itu malah semakin menjauh, tertelan malam yang mandi cahaya.
Ia terpaku tak percaya. Untuk beberapa jenak ia hanya bisa menahan napas yang menyesak di dada. Dan pada jenak selanjutnya, kepala perempuan itu terangkat, menatap purnama yang masih tersenyum di atas sana.
"Dan kau! Kenapa semua orang mengatakan kau begitu sempurna hanya karena wajahmu yang bulat tanpa cela dan sinarmu yang kuning keemasan itu? Padahal tidak ada yang sempurna di dunia ini!" Kegeraman membias di parasnya yang kini mulai digenangi tangis.
Sejurus kemudian ia menghentak, meninggalkan segumpal kecewa di tiap jejak kakinya waktu itu.
"Ah, andai saja saat itu kau mau sedikit bersabar..." Perempuan itu masih berdiri di depan jendela kamarnya yang tersibak. Belaian angin yang dingin menerpa pipinya. Hujan di luar sana semakin menunjukkan tanda-tanda akan reda. Dan menyadari hal itu, ia kembali mengukir senyum samar di bibirnya. Asa itu, semakin memenuhi ruang hatinya.
"Aku merasakannya.... merasakan kehadirannya malam ini...," gumamnya yakin. Binar di matanya kian terlihat saat senja makin temaram, menjemput malam yang ia nantikan.
Detik dan menit terus berlalu hingga ia merasa sudah saatnya untuk keluar, menerobos udara lembab di awal malam itu. Dan memang benar. Kini langkah-langkah semampainya sudah menapak di halaman yang juga lembab. Sesekali ia melebarkan langkah, menghindari genangan air yang bertebaran. Ia tampak tak sabar ketika menghentikan langkahnya di sudut halaman. Sebagaimana tak sabarnya ia untuk mendongak ke atas, menatap langit yang masih terlihat gelap tertutup sisa mendung.
"Mana dia?" bisiknya sambil mencari-cari. Dan semakin ia mencari, semakin tak ia jumpai apapun selain pekat. "Dia pasti datang. Tidak mungkin kali ini ia mengecewakanku lagi. Sudah berbulan-bulan... berbulan-bulan aku tak melihatnya. Tolong, datanglah untukku malam ini..."
mata perempuan itu terlihat liar, mencoba menekan kesabaran di dadanya. "Kau, impian sederhanaku! Jangan siksa aku dengan penantian panjang ini," mohonnya setengah memaksa.
"Oh, aku tahu!" Ia seperti teringat sesuatu. "Kau memang bukan purnama yang selalu muncul menetapi janjinya tuk benderangi malam di setiap waktu yang telah ditetapkan. Kau hanyalah sepenggal rembulan pucat yang muncul selepas hujan senja hari. Kau, adalah rembulan yang tak bulat sempurna karena sapuan awan selalu mengiringi kemunculanmu, kemudian menelanmu dan membawamu pergi untuk jeda yang tak tentu lamanya."
Malam kian jauh meninggalkan senja, merambat menuju titik nadir yang mencemaskan hati perempuan itu. Genangan air di tanah sudah semakin berirama resah. Matanya sudah mulai terlihat letih, mencari-cari di antara ruang langit yang tak bercelah. Ya, langit masih terlihat pekat, meski hujan telah alam berhenti. Bahkan gumpalan mendung yang sudah menipis pun tak menjanjikan wajah rembulan yang ia nantikan itu.
"Kau ..... mengecewakan aku lagi," desahnya tanpa memedulikan lehernya yang terasa pegal. Ia sadar, waktunya tidak lama lagi. Karena ketika genangan air hujan di tanah mengering, maka ia menganggap penantiannya sudah harus diakhiri untuk malam ini. Baginya, genangan air itu adalah bagian dari kesempurnaan impian sederhananya. Ya, genangan air, udara dingin dan lembab, sepenggal rembulan yang pucat, serta sapuan awan sisa mendung senja hari, adalah sebuah kesatuan dari impian yang ia bangun. Jika salah satunya tidak ada, maka baginya itu bulan lagi gambaran dari impian sederhana miliknya.
Dan ketika asa di hatinya kian mengerucut, tiba-tiba sebuah celah terbuka di atas sana. Gumpalan mendung itu menguak perlahan dan ...
"Oh! Akhirnya kau datang juga!" pekiknya tertahan. Buncahan seri merondai wajahnya. Dan ia seakan tak berkedip ketika perlahan-lahan sang rembulan yang pucat itu muncul, menyapanya dengan senyum pasi.
"Kau... begitu indah! Aku merindukanmu, sangat merindukanmu..." bisikan itu telah berbaur dengan keharuan yang memuncak. Getarnya begitu nyata di sela suaranya yang serak.
"Andai saja orang-orang tahu bahwa kau lebih menggetarkan dari purnama, bahwa kau lebih berharga karena kehadiranmu yang tak senantiasa , maka mereka pasti akan berbaris menunggumu. Dan aku... tentu tak lagi bisa memilikimu seutuhnya, untuk diriku sendiri!" Perempuan itu tersenyum penuh arti. Ada cemburu yang syahdu di balik senyumannya.
Namun, senyum di bibirnya itu tiba-tiba menyurut ketika dengan tiba-tiba pula sosok itu berkelebat di ingatannya. Sosok yang telah pergi, dan sampai detik ini masih diharapkannya tuk kembali.
"Andai malam ini kau ada disini, maka akan kutunjukkan padamu seperti apa impianku itu. Inilah dia! Kau akan melihat pesona yang tiada duanya pada wajah rembulan itu. Dan seharusnya ... kau percaya padaku. Karena sesungguhnya aku memandangmu seperti aku memandang impianku yang sederhana. Aku tidak pernah berharap kau jadi sosok yang sempurna dan memberiku impian yang sempurna pula. Sama sekali tidak! Tapi kau tak percaya, kau malah pergi..." Matanya merebak. Memanas.
"Dan kau," ia menunjuk rembulan di atas sana dengan tatapannya yang sendu, "jangan pernah tinggalkan aku seperti dia meninggalkanku. Tetaplah hadir untukku, meski tanpa janji yang pasti. Sebab aku akan terus bersabar menunggumu di setiap senja yang bermandikan hujan."
Dan matanya, seakan tak rela ketika perlahan-lahan segumpal awan pekat berarak menelan impian sederhananya; rembulan yang pucat di atas sana. Dan ketika rembulan itu benar-benar lenyap tak bersisa, ia hanya bisa menghela napas dalam. Hari-hari penuh penantian akan kembali dilaluinya, namun tetap dengan satu harapan bahwa rembulan itu akan muncul lagi suatu saat kelak.
Perlahan ia mengayun langkahnya, meninggalkan halaman yang masih basah. Tapi...
"Aku telah menyaksikan impian sederhanamu! Dan andai saja aku tahu sejak awal, betapa ia lebih indah dari purnama, maka tak kan pernah aku meninggalkanmu."
Perempuan itu membalik secepat bayangannya. Sosok itu... kini telah berdiri tempat di hadapannya. "Kau...?"
"Tahukah kau, sejak aku meninggalkanmu kala itu, aku telah kehilangan seluruh rasa di hatiku, karena... sesungguhnya hatiku telah tertinggal bersamamu!"
"Dan kau, kembali hanya untuk mengambil hatimu yang tertinggal itu, lalu pergi lagi?"
"Kenapa aku harus mengambilnya darimu, sementara aku yakin ia lebih damai bersamamu!" Sosok itu tersenyum, penuh rindu.*
Dimuat di Seputar Indonesia 29/04/2007
Akhirnya ia memutuskan pulang. Angin sore bulan Februari terasa pekat menampar wajahnya. Langit masih memuntahkan hujan ketika ia turun dari taksi. Seorang bocah laki-laki menawarkan payung padanya.
Kurus, hitam, bertelanjang kaki dan menggigil kedinginan. Mata tajam bocah itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia merogoh saku jaketnya, mengangsurkan selembar uang dan berlari menyeberangi halaman mal.Bocah laki-laki itu tertegun memandangnya. Ia mengibaskan pakaian dan rambut yang basah lalu melangkah memasuki mal.
Tubuhnya menggigil oleh terpaan udara pendingin ruang. Mendadak kulitnya terasa mengeriput.Setelah memeriksa denah tiap lantai tak jauh dari pintu masuk,ia memutuskan naik menggunakan lift. Salah satu kafe di lantai 3 menjadi pilihannya. Dari celah sekat ruangan berbahan rotan, ia melihat ke dalam kafe.Ada tiga orang sedang duduk di sana. Sepasang muda-mudi yang asyik bergenggaman tangan dan seorang lelaki yang menghirup secangkir minumannya lambatlambat.
Ia mengambil meja di pojok, dekat pot tanah liat berisi bunga asli berdaun hati. Bersisian dengan dinding kaca, membuat ia leluasa melihat pemandangan di seberang mal. Pelayan menghampiri dan mengulurkan daftar menu. Ia memesan segelas cappucino panas dan muffin. Silk Road Kitaro mengalun lembut ketika pandangannya menembus dinding kaca.Hujan makin lebat. Sampah menyumbat got. Air meluap membentuk aliran sungai kecil. Pengendara motor menyerobot jalan, melindas kubangan-kubangan air. Seorang perempuan mengumpat, blousenya basah terciprat air kotor.
Semua telah berubah, pikirnya. Kafe tempatnya duduk sekarang hanyalah sebagian kecil dari pemukiman yang telah berganti bangunan megah bernama mal. Ia pernah berada di pemukiman seberang mal bersama keluarganya. Sebelum tahun-tahun lewat meninggalkan jejak luka pekat dan sesal memburunya. Pelayan datang mengantarkan menu pesanannya.Ia menepikan tangan memberi tempat untuk segelas cappucino panas dan piring kecil muffin.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada pelayan, ia tak membiarkan aroma cappucino panas menggodanya lebih lama.Beberapa tegukan membuat tubuhnya sedikit menghangat. Matanya kembali menembus dinding kaca. Bocah laki-laki pembawa payung berdiri di seberang jalan. Payung dibiarkan menguncup dan kepala mungil itu mendongak menatap kafe. Buru-buru ia membuang pandang,mengatur detak jantungnya yang makin cepat lalu mengiris muffin. "Kenapa sesal tak segera membunuhku?" keluhnya lirih. Ada melata yang menggeliat di ulu hatinya. Gigitan taring berbisa menimbulkan rasa pedih dan mual silih berganti. Ia mengerang mencengkeram perutnya. Mata bocah laki-laki itu masih tajam menatapnya. ***
Alifa kecil tak pernah menyukai hujan bulan Februari. Banyak hal terenggut dari hidupnya pada hujan bulan Februari. Banjir pernah menenggelamkan permukiman tempatnya tinggal. Kelinci putih kesayangannya mati terseret arus. Alifa menangis berjam-jam melihat tubuh kelincinya basah dan membeku di selokan ujung gang. Usai banjir,ia mengubur kelincinya di belakang rumah dan mengunjungi setiap pulang sekolah. Sahabat dekatnya juga pergi pada hujan bulan Februari. Kapal yang ditumpangi sepulang mengunjungi neneknya tenggelam.
Jasadnya tak ditemukan. Alifa tak tahu ke mana mencari perkuburan sahabatnya. Lalu ayah dan ibunya mengajaknya ke laut.Berdoa dan menabur bunga sebagai tanda duka cita. Tetapi,Ayah dan Ibunya sangat menyukai hujan bulan Februari.Pada penghujung bulan basah itu bayi laki-laki lahir dari rahim ibunya.Orang-orang begitu heboh. Mereka berdatangan membawa bermacam-macam hadiah. Memandang bayi mungil itu dengan mata berbinar. Aduh, gantengnya putramu, selamat-selamat! Dia akan menjadi mataharimu. Kata orang-orang itu. Semua bersukacita.
Kelahiran bayi laki-laki seolah membawa sejuta tuah. Dan Alifa merasa tersisih. "Lihat Ruru! Mereka hanya memedulikan Bara!" Alifa mengadu pada boneka beruang dalam pelukannya. "Mereka tak menyayangiku lagi!" Bayi laki-laki itu bernama Bara. Ada sesuatu yang menggeliat dalam dada Alifa setiap melihat sosok Bara. Seharusnya ia menyayangi adiknya. Tetapi sesuatu yang menggeliat itu mengatakan sebaliknya.
Alifa tak suka Bara menggeliat manja di pelukan ibu. Alifa tak suka ayah mengangkat tinggi-tinggi tubuh Bara. Dan Alifa tak suka nenek mengajak Bara bercanda. "Alifa, ambilkan celana adik di kamar belakang!" "Alifa, belikan biskuit untuk adik!" "Alifa, tolong jaga adik sebentar!" Alifa cemberut. "Lihat Ruru! Bara membuat semua orang menyuruhku!" Boneka beruang itu memandang Alifa tanpa berkedip. Hingga Alifa berteriak. "Aku benci hujan Februari! Aku benci Bara!" ***
Silk Road telah berganti The Clouds. Ia mengunyah irisan muffin-nya lambatlambat sambil berharap Ocean Of Wisdom mengalun berikutnya. Ia menyukai semua koleksi Kitaro, namun Ocean Of Wisdom mampu mengirim debur ombak ke hadapannya saat ia menginginkan.Ah, dramatis sekali kesukaanku pada musik, pikirnya. Hujan masih deras. Air got meluber ke tengah jalan, sungai kecil melebar.
Kubangan-kubangan makin penuh air dan kemacetan mulai menggila. Apa yang berbeda dari hujan bulan Februari? Ia mendesah, mendongak menatap langit- langit kafe.Kecuali mal yang berdiri angkuh merenggut semua resapan air. Seorang pemuda melangkah memasuki kafe. Berkulit sawo matang, jangkung dan berambut lurus. Jaket hitam membungkus baju seragam sekolahnya. "Mungkin pulang sekolah dan terjebak macet," tebaknya. Pemuda itu mengambil meja di sebelahnya. Memanggil pelayan dan memesan sejumlah menu. Berapa umur pemuda itu? Enam belas atau tujuh belas? Jika demikian, ia kelihatan lebih dewasa dari umur sesungguhnya. Gerak-geriknya tanpa canggung dan ia tidak ke kafe bersama kelompoknya.
Mungkin pemuda itu lebih suka melakukan segala sesuatunya seorang diri. "Seharusnya ia sudah sebesar pemuda itu," bisiknya. "Dan mungkin akan tampak dewasa seperti itu. Bukankah sejak kecil ia sangat mandiri?" Matanya bersirobok dengan tatapan pemuda itu. Ia membuang pandang menembus dinding kaca. Di seberang mal, bocah pembawa payung berlari-lari kecil mengejar si penyewa payung. Ia merasa pipinya mulai basah. Melata di ulu hatinya menggeliat, taring-taringnya kembali menghunjam lebih dalam. "Kumohon, bunuhlah aku sekarang juga," rintihnya. ***
Bara kecil tumbuh sehat. Kulitnya sawo matang, rambutnya tebal berponi dan matanya bulat jernih. Semua orang menyukai Bara.Alifa tahu itu.Bara yang mandiri dan tak suka merepotkan pembantu. Bara yang jago matematika.Bara yang selalu juara kelas.Bara yang selalu menghibur ayah dan ibu dengan leluconnya. Segala tentang Bara adalah kebanggaan.Alifa tahu itu. "Mengalahlah sedikit pada adikmu Alifa! Kau sudah besar!" "Kau selalu memulai keributan, Alifa!"
"Menyingkirlah sana! Biarkan adikmu sendiri!" Alifa mencoba menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya dengan berbuat nakal. Ia berharap orang-orang akan mengembalikannya pada posisi sebelum ada Bara.Tetapi itu adalah kesalahan.Tak ada yang tertarik dengan kenakalan Alifa. Tak ada yang simpati dengan kelakuan Alifa. Dan Bara selalu menang.Akhirnya Alifa tahu satu hal. Ia tak akan pernah kembali ke posisi sebelum ada Bara. Maka Alifa semakin membenci hujan bulan Februari. Tak hanya semua kesayangannya terenggut hujan bulan Februari tetapi juga dirinya. Ia merasa terampas.
Alifa kemudian memilih menyendiri di kamarnya. Berbicara pada Ruru.Ayah dan ibu menganggap Alifa baik-baik saja.Ah,hanya siklus hormonal masuk usia remaja, begitu pikir Ayah dan Ibu. "Alifa, temani adikmu main di luar!" perintah Ibu. Hujan bulan Februari datang lagi. Alifa cemberut. Kenapa Ibu tak pernah mengerti bahwa ia tak suka hujan bulan Februari? Musim hujan begini, Alifa lebih suka mendekap Ruru sambil mendengarkan musik di kamar. "Dingin Bu, aku malas." "Ayolah! Kau harus mencoba hal-hal menyenangkan di luar rumah. Jangan memeluk boneka beruangmu terus, ia tak bisa memberimu pengetahuan."
Alifa bangkit dari duduk ketika Bara berlari ke halaman. Ia harus menemani anak itu kalau tak ingin ibunya ngomel sepanjang hari.Di luar langit gelap.Gerimis mulai turun rintik-rintik. Alifa menyambar payung dan mengikuti langkah Bara bergabung dengan teman-teman kecilnya. Bocah tujuh tahun itu berlari-lari kecil.Alifa terus mengikuti adiknya. Tiga jam berlalu dan Bara masih bermain. Alifa menepi di depan proyek pembangunan sebuah mal,melihat adiknya dari sana. Langit membabi buta menumpahkan hujan.
Beberapa anak telah dijemput ibunya. Tinggal Bara bermain bola di genangan air yang meninggi.Tiba-tiba air datang bergulung-gulung dari arah sungai. Seharusnya Bara masih sempat menepi, jika Alifa menginginkannya.Tetapi ada sesuatu yang menggeliat dalam dada Alifa. Sesuatu yang menginginkan hal sebaliknya. Alifa berdiri beku di bawah payung. Alifa melihat air datang bergulunggulung. Alifa melihat orang-orang menjerit menunjuk ke arah Bara.Alifa melihat bola adiknya menjauh terbawa arus.
Alifa mendengar suara Bara memanggilnya. Dan Alifa melihat tangan mungil Bara menggapai-gapai ke udara. Makin menjauh, lalu lenyap tanpa jejak. Tiga hari kemudian, jasad Bara ditemukan di selokan ujung gang. Persis kelinci putih kesayangan Alifa. Ibu menangis bertahun-tahun.Sampai air mata dan tubuhnya kering, lalu meninggal setahun setelah Bara hanyut. Ada yang merambat perih di dada Alifa.Sesal yang memburu.
Setiap saat hampir membunuhnya. "Sekarang tinggal kita berdua Alifa," kata ayahnya tersendat. Alifa tak kuasa menahan sesal. Rumahnya meninggalkan banyak bayangan Bara. Alifa memutuskan kuliah di kota lain, meninggalkan ayahnya sendiri. Mungkin, Alifa tak akan pernah pulang ke kotanya. Dan itulah yang terjadi bertahun-tahun kemudian. Alifa menghapus semua jejak yang dapat dilacak ayahnya. ***
Taring melata itu menancap kian hebat. Ulu hatinya mulai berdarah. Ia menikmati rasa sakit itu.Wajahnya seputih kapas, namun ia masih membeku menatap pemukiman seberang mal. Apakah lelaki itu masih di sana? Menunggu kepulangannya? Tangannya tak bergerak mencari obat pereda sakit dalam tasnya. Ia ingin mati saat ini. Air di jalanan mulai meninggi.Aliran sungai dan kubangan menyatu. Orangorang menepi,meninggalkan mobil atau motornya yang tenggelam. Banjir semakin hebat ketika bergulung-gulung air datang dari arah sungai.
"Mbak, kafe akan segera ditutup. Banjir datang lagi," kata pelayan sopan. Ia menyapukan pandangan ke seluruh ruangan kafe. Pemuda berjaket hitam tak ada lagi di meja sebelah. Semua pengunjung telah pergi.Perlahan ia bangkit dari duduknya, berjalan keluar kafe menuju lift. Semua orang menyelamatkan diri ke lantai atas. Tetapi ia memencet tombol bertanda turun. Ia ingin menyongsong air yang bergulung. Menemui Bara. ***
Telaga Sarangan, 5.2.07
Dimuat di Tribun Jabar 07/12/2008
IA menimang kotak mungil merah hati di tangannya lalu membukanya. Cincin belah rotan menyembul dari dalam kotak dan ia menyelipkan di jari manisnya. Setelah mengamati jemarinya, ia menghela napas panjang. Sukma memiliki selera bagus untuk cincin pertunangan ini, tapi sayang semua jadi kurang menarik lagi, batinnya.
"Selamat malam..." suara lembut itu menyeruak dari pintu samping balkon tempatnya duduk.
Mendadak dadanya berdentam keras. Ia menoleh ke arah datangnya suara dan melihat seorang lelaki membawa secangkir kopi. Buru-buru dicabutnya cincin belah rotan yang melingkar di jari manisnya dan disembunyikannya di saku baju.
"Eh, malam..." jawabnya gugup. Dentam di dadanya semakin mengeras sehingga gerak tubuhnya menjadi serba salah.
Lelaki itu menatapnya dan ia merasa tenggelam dalam senyuman. Senyum yang membuat tidurnya akhir-akhir ini sering terganggu. Senyum yang membuatnya rela lebih lama berada di kantor dan duduk menyendiri di balkon. Senyum yang membuatnya sibuk mencari alasan untuk menunda pernikahannya dengan Sukma. Kadang-kadang cinta memang serta-merta dan gila, tapi ia menikmatinya.
"Aku membawa secangkir kopi untukmu," kata lelaki itu menyodorkan secangkir kopi padanya.
Ia menerima secangkir kopi itu dan menghirup aromanya yang menggoda. Ia sangat menyukai kopi dan selalu mabuk saat menghirup aromanya. Namun mabuk kali ini terasa berbeda. Jiwanya serasa melayang saat cairan hitam itu menyerbu lidahnya.
Sebulan lalu ia bertemu lelaki itu. Ia menabrak lelaki itu di pintu lift gedung kantornya yang baru hingga tubuh mungilnya terpental. Seperti adegan film, lelaki itu mengulurkan tangannya, menolongnya berdiri. Saat itulah ia melihat senyum menawan lelaki itu. Tiba-tiba saja sesuatu berdentam-dentam di dadanya dan bayangan Sukma lenyap dari kepalanya.
Balkon di samping ruang kerjanya kemudian menjadi tempat bertemu yang romantis. Setiap malam, mereka duduk berdua memandang kerlip lampu Jakarta di malam hari. Diam-diam lelaki yang baru saja dikenalnya itu telah membawanya ke tempat antah berantah yang nyaman dan penuh bunga. Lelaki pembawa secangkir kopi itu memiliki banyak hal yang tak dimiliki Sukma. Dan semua keruwetan di kepalanya menjadi terurai saat secangkir kopi itu melewati lidahnya.
"Ini malam terakhirku," kata lelaki itu. Senyum yang selalu menawan itu tiba-tiba lenyap, berganti murung yang parah.
Ia terkesiap hingga secangkir kopi di tangannya oleng dan tumpah ke bajunya. Lelaki itu buru-buru membantunya mengelap bajunya dengan tangan. Sesaat ia bisa mencium aroma parfum lelaki itu saat tubuh mereka berdekatan. Tangannya bersentuhan dengan tangan lelaki itu dan ia bisa merasakan hawa dingin kehilangan menjalar meresapi pori-pori kulitnya.
"Kau mau ke mana?" tanyanya tersendat.
Lelaki itu menatapnya dalam. Ia bisa merasakan kesedihan yang merambat melalui matanya seperti kabut yang tak bisa ditepiskan angin. Mendadak dadanya sesak oleh sesuatu yang tak dimengertinya.
"Aku harus kembali."
"Kembali ke mana? Lalu aku... bagaimana?"
"Kau harus kembali padanya," jawab lelaki itu seraya menghela napas berat.
Ia mendongak, menatap lelaki di depannya dengan pandangan tak mengerti. Tetapi lelaki itu membuang pandang ke arah kerlip lampu-lampu malam Jakarta di kejauhan. Tiba-tiba lelaki itu berbalik dan memberikan cincin belah rotan padanya.
"Pakailah, dan kau harus kembali pada orang yang memberikan cincin ini padamu."
Ia terkejut melihat cincin belah rotan di tangan lelaki itu. Rasanya ia baru saja menyelipkan di saku bajunya, tetapi kenapa cincin itu bisa berada di tangan lelaki itu? Ia meraba saku bajunya yang kosong.
"Tapi... tapi aku mencintaimu."
Lelaki itu menggeleng. "Cinta itu bukan khayalan. Cinta itu nyata. Jika kau mencintai seseorang maka kau harus berani menerima kenyataan tentang orang yang kaucintai."
"Aku berani menerima kenyataan! Aku berani melepaskan Sukma karena mencintaimu. Kau perlu bukti?" Ia bangkit dari duduknya dan mengangkat tangannya untuk melempar cincin tunangan itu. Lelaki itu buru-buru menyambar tangannya dan memeluknya. Hawa dingin kehilangan kembali menjalar pelan-pelan, melumatkan tubuhnya dalam pedih.
Ia melayang pelan, seperti terbang ke awan.
***
IA siuman dari pingsannya dan mendapati Sukma sedang menggenggam tangannya hangat. Buru-buru ia menarik tangannya dari genggaman Sukma. Ia bangkit dan memeriksa jemari tangannya. Cincin tunangan itu masih ada di jemarinya dan serta-merta ia melepasnya.
"Sadar, sayang, lelaki yang kautemui setiap malam itu telah meninggal sebulan lalu. Kau berhalusinasi." kata Sukma.
"Tidak! Lelaki itu ada, nyata!" Ia menunjukkan bajunya yang basah kena tumpahan kopi semalam. "Lihat! Ini buktinya! Lelaki itu membawakan secangkir kopi untukku setiap malam!"
Dan ia berlari ke balkon, mencari-cari. Tak ada siapa pun di sana. Pintu samping tempat lelaki itu biasanya datang juga terkunci mati. Ia berteriak-teriak memanggil nama lelaki itu. Lalu ia terguguk dalam pelukan Sukma. Samar-samar terdengar suara lelaki itu, "jika kau mencintai seseorang maka kau harus berani menerima kenyataan tentang orang itu..."
***
Jakarta, 23'11'08
(to: Nima, pemilik suara lembut)
Dimuat di Suara Pembaruan 10/06/2007
Senja hampir selesai. Matahari serupa bola merah yang menggelinding ke balik bukit. Meninggalkan jejak jingga pada lengkung langit barat. Aku berdiri di depan jendela. Memandang rumpun mawar yang meremang di hadapanku. Mendadak ada mata pisau yang menghunjam dadaku.
"Kuncup mawar ini akan mekar dan mengharumkan kamarmu," katamu suatu senja, seusai menanam rumpun mawar di bawah jendela kamarku.
Aku meneliti kedua liang matamu. Ketulusan tampak benderang di sana. Kau tersenyum, menepuk-nepuk telapak tanganmu yang penuh tanah lalu menyeka peluh yang menetes di pelipismu.
"Kau yakin mawar itu akan mekar?" tanyaku ragu.
Sekilas mendung melintasi wajahmu. Kau menunduk, menghela nafas berat lalu berucap lirih, "kuharap begitu. Jika saja kau mau membiarkannya hidup lalu merawatnya."
Jika saja kau mau membiarkannya hidup lalu merawatnya....
Aku selalu mengulang kata-katamu itu setiap malam menjelang tidur. Sejak kecil, aku tak pernah menyukai bunga. Apalagi mawar yang penuh duri, terlihat cantik namun mudah melukai. Menurutku, ilalang lebih menawan ketimbang semua jenis bunga. Tampak tegar tanpa kesan menggoda.
Namun, setahun terakhir kau tak pernah absen mengirimiku mawar setiap senja akhir minggu. Bahkan sudi bersusah payah menanam rumpun mawar di bawah jendelaku. Tidakkah kau tahu? Membuat seseorang menyukai sesuatu yang tidak disukainya seperti menunggu pohon mangga berbuah kecapi. Aku tak sampai hati mengatakan itu padamu. Kuterima mawarmu setiap senja akhir minggu, kumasukkan ke dalam vas di pojok kamar lalu kubiarkan layu. Kelopak-kelopaknya mengering berguguran.
"Rawatlah mawar itu agar mekar," pintamu.
Aku memandang rumpun mawar di bawah jendela. Bimbang.
u
Apakah aku sanggup merawat mawarmu? Sedangkan sampai hari ini kubiarkan ilalang pemberiannya tumbuh liar di halaman rumahku. Masih kukenang pertemuan pertamaku dengannya. Suatu pagi berkabut ketika aku menyusuri jalan setapak di kaki bukit. Ia datang menghampiriku dengan senyum mengembang. Tangan kanannya mengulurkan seikat ilalang.
"Kau suka ilalang, bukan?"
"Siapa kau?"
"Aku seorang pengelana yang mencintai ilalang."
"Kenapa kau mencintai ilalang?"
"Karena ilalang mengajariku ketegaran."
Aku menyukai jawabannya.
"Kau sendiri kenapa menyukai ilalang?"
"Karena terlihat tegar tanpa kesan menggoda."
Kau tersenyum, mengerling. "Alasan kita sama."
"Ya, sama."
Tak butuh banyak waktu untuk membiarkan ilalang itu tumbuh. Hanya tiga kali siram, daun-daunnya mulai tegak menghijau. Lalu beberapa bulan kemudian tumbuhan itu merajalela. Memenuhi halaman depan dan belakang rumahku. Bahkan ilalang-ilalang itu tumbuh di tengah batu padas samping rumahku. Daunnya yang panjang menjulang ke udara dan sesekali bergerak gemulai tertiup angin, seolah ingin mengatakan "hei manusia, kenapa kalian putus asa? Lihatlah aku, tumbuhan yang tak pernah menyerah pada kesulitan hidup!" Dan aku benar-benar jatuh cinta.
Waktu yang bergulir menjadi milikku, miliknya dan ilalang. Banyak hal menarik kami jalani bertiga. Kami merasa hari-hari adalah pembelajaran. Kami tahu hari-hari semakin tumbuh dewasa. Kami ingin hari-hari tak akan pernah berakhir. Hingga suatu ketika ia datang padaku dengan raut wajah tak biasa. Sebuah ransel hitam menggelayut di punggungnya.
"Aku akan pergi," katanya.
"Mengapa kau pergi?"
"Pengelana selalu pergi ke tempat yang berbeda."
"Apa kau akan kembali?"
"Aku tidak tahu."
Mendadak ada mata pisau yang melukai dadaku. Ia akan pergi setelah memenuhi halaman rumahku dengan ilalang. Tumbuhan kesukaanku dan kesukaannya. Diam-diam aku memaki dalam hati. Mengapa ia harus pergi? Apakah ia pernah berpikir bahwa aku dan ilalang tak ingin kehilangannya? Apakah ia pernah berpikir bahwa aku tak bisa bertahan tanpa dirinya? Apakah ia pernah berpikir bahwa rasa telah menyelinap?
"Ilalang-ilalang itu akan menjagamu. Kau tak perlu merawatnya, namun ia akan tetap hidup di halamanmu."
Dan ilalang itu memang tak pernah mati. Bertahun-tahun setelah kepergiannya yang tanpa kabar, halaman rumahku semakin penuh dengan ilalang. Sampai kemudian ibu risih melihatnya.
"Ilalang-ilalang itu menjadikan halaman rumah kita seperti hutan. Ibu akan mencabut dan membakarnya."
Aku tak bisa menyanggah kata-kata ibu. Halaman rumah kami memang sudah menyerupai hutan. Ilalang liar tumbuh di mana-mana memenuhi setiap sudut halaman. Meski sedih, aku membiarkan ibu mencabut, membakar dan membuang abu ilalang itu ke tempat semestinya. Namun, tak kubiarkan ibu mencabut sebatang ilalang yang tumbuh di bawah jendela kamarku. Sampai kemudian kau datang menanam serumpun mawar di samping ilalang itu. Memintaku membiarkan mawar itu hidup dan merawatnya.
Apakah aku bisa menyukai mawarmu seperti ilalangnya?
u
"Mawar adalah bunga yang luar biasa, kau harus merawatnya," kata ibu ketika melihat rumpun mawar di bawah jendela kamarku. "Sayang sekali, ilalang ini akan merusak kecantikan mawarmu."
Tangan ibu terulur hendak mencabut sebatang ilalang di samping rumpun mawar. Aku menarik tangan ibu.
"Biarkan ilalang itu tetap hidup, Bu."
"Tetap hidup untuk membunuh rumpun mawar itu? Jarak keduanya sangat dekat, akar ilalang itu akan menjalar dan merusak rumpun mawarmu."
Aku menggeleng. "Mereka akan tumbuh bersama-sama."
"Sampai kapan kau akan mempertahankan ilalang itu?"
Aku membuang pandang dari tatapan ibu yang tajam, menghela nafas berat lalu menjawab lirih, "sampai waktunya tiba..."
Sampai waktunya tiba...
Namun waktu itu tak juga tiba. Waktu yang kuharapkan membawa ia kembali dengan seikat ilalang. Waktu yang akan kujadikan alasan untuk tetap membiarkan sebatang ilalang itu hidup. Waktu yang tepat untuk mengatakan padamu bahwa aku tak pernah menyukai bunga mawar.
Dan ibu mulai melibatkan diri mengurus mawar di bawah jendela itu. Setiap pagi dan sore menyiramnya dengan seember air. Setiap minggu menyiangi dan memotong batang-batangnya yang mengering. Bahkan ibu membelikan pupuk khusus untuk mawar itu. Perlahan batang mawar yang hampir mati itu menghijau dan bertunas. Ada kuncup-kuncup bunga di pucuknya.
"Terima kasih telah merawat rumpun mawar itu," katamu.
Aku ingin mengatakan bahwa yang merawat rumpun mawar itu adalah ibu, namun lidahku berubah kelu melihat ketulusan yang benderang di kedua liang matamu. Seharusnya aku belajar menghargai ketulusanmu.
"Sebentar lagi mawar itu akan mekar," katamu lagi penuh semangat. "Sekuntum mawar merah yang anggun, seperti yang kuberikan padamu setiap senja akhir minggu. Dan kuharap kau menyukainya."
"Ibu sangat menyukai mawar itu, tapi..." aku menghentikan kata-kataku, meyakinkan diri sendiri, apakah aku akan benar-benar mengatakan bahwa aku tidak pernah menyukai mawar? Sanggupkah aku menodai ketulusanmu?
"Perempuan memang selalu menyukai mawar," sahutmu, tersenyum percaya diri. "Kita tunggu sampai kuncup-kuncup mawar itu mekar."
Beberapa minggu lagi kuncup-kuncup mawar itu sepertinya benar-benar akan mekar. Dan waktu yang kutunggu tak juga tiba. Mungkin ia tak akan pernah datang membawa seikat ilalang. Sementara sebatang ilalang di samping rumpun mawar itu mulai menguning. Daun-daunnya yang biasanya tegak, kini terkulai layu. Ilalang itu tak lagi mampu menjagaku.
"Ilalang ini sudah mati, bolehkah Ibu mencabutnya?" tanya ibu suatu sore ketika hendak menyiram rumpun mawar di bawah jendela.
Aku menggigil. Benarkah sebatang ilalang itu telah mati? Dan ibu akan mencabutnya, menyingkirkan ke tempat sampah lalu membakarnya. Ilalang terakhir yang kumiliki, benarkah ia telah mati?
"Lihat! Mawar merah itu telah mekar! Kau akan menyukainya!" kata ibu esok paginya setelah mencabut sebatang ilalang terakhir yang mati.
Dan mawar itu benar-benar mekar. Kini, dari depan jendela tempatku berdiri, aku bisa melihat kelopak-kelopak mawar merah yang anggun bergoyang dalam remang cahaya petang. Aku suka melihat mata ibu berbinar bahagia. Aku senang melihat ketulusanmu benderang tak ternoda. Namun jauh di dasar hatiku aku masih selalu bertanya-tanya.
Apakah suatu ketika nanti aku bisa menyukai mawarmu?***
Telaga Sarangan196, 15.03.07
Dimuat di Suara Pembaruan 03/12/2006
Perempuan berwajah tertutup kain hitam itu meletakkan minuman kaleng di depanku. Matanya berkilat bahaya ketika bertubrukan dengan mataku. Aku membuang pandang, namun ekor mataku mengikuti langkahnya yang gesit. Berpindah dari satu meja ke meja lain untuk melayani pesanan pengunjung kafe.
"Kabarnya kau sudah jadi pengarang hebat?" suara berat menghampiriku.
Aku mendongak. Sesosok tubuh kekar dan kulit legam sedang berdiri di samping mejaku. Rambutnya gondrong dan dagunya penuh cambang. Aku mempersilakan lelaki itu duduk di kursi yang berhadapan denganku.
"Sepertinya menyenangkan menjadi pengarang."
Kuletakkan secangkir kopi yang baru saja kuteguk. Siapa lelaki ini? Kupandang matanya yang tajam menatapku. Dari mana dia tahu tentang diriku?
"Rokok?" tawarku menyodorkan sebungkus rokok putih.
Lelaki itu terbahak. Aku mengerutkan kening.
"Rokok putih seperti milikmu hanya untuk lelaki kota. Sedangkan lelaki nelayan sepertiku rokoknya seperti ini," katanya mengeluarkan kotak kecil dari dalam tas kumalnya. Dia mengambil botol tembakau, menuangkan ke atas lembaran kecil dan melintingnya menjadi sebuah rokok.
"Ini baru nikmat!" katanya seraya menyulut ujung rokok dan menghisapnya.
"Dari mana kau tahu tentangku?" Aku tak dapat menahan diri.
"Wija, biasanya orang macam kau memiliki ketelitian lebih dari orang-orang biasa, bukan?"
Dia juga tahu namaku. Aku memandangnya lama. Mungkinkah lelaki ini bagian dari kotak kenanganku?
"Baiklah, Wija. Kau boleh mengingat-ingat siapa diriku hingga semalaman. Tapi aku tak bisa menunggu hingga ingatanmu membaik."
Ada yang berputar ulang dalam otakku. Dan aku menemukan gambar lelaki itu di salah satu sisinya. "Hei! Tunggu!"
Namun, lelaki itu telah menghilang.
*
Ada sekotak kenangan yang menjadi alasanku mengunjungi tanah masa kecil ini. Isi kotak kenangan itu selalu terselip dalam lipatan hari-hariku. Aku tak bisa membuangnya ataupun membunuhnya. Bahkan sekarang menyeret kakiku untuk membuka gemboknya. Memunguti puluhan kisah yang masih tersimpan rapi.
"Sudah kau dapatkan inspirasimu?" suara berat itu kembali menggangguku.
Aku menoleh dan mendapati wajah lelaki yang sama. "Apa pedulimu?"
"Wija, kau belum mengingatku?"
Lelaki itu menatapku. Rambutnya berkibar diterpa angin malam. Dalam temaram rembulan, aku melihat sorot matanya yang berharap. Aku membuang pandang pada ombak yang berdebur menjilati bibir pantai.
"Memangnya kenapa kalau aku mengingatmu, Sarman?" kataku, tersenyum.
Beberapa saat kami saling menatap dan meneliti. Detik berikutnya tawa kami meledak. Satu kotak kenangan itu terbuka dan aku mulai memunguti salah satu kisahnya. Di depan sana, kulihat tubuh kecilku menyongsong ombak bersama tubuh kecil Sarman. Sejak kepindahanku ke kampung nelayan ini, aku terpesona kepandaian Sarman berenang dan menyelam. Setelah petang datang dan nenek berteriak-teriak memanggil, aku baru pulang. Aku harus menurut kepada nenek jika tak ingin ibu yang baru saja diceraikan ayah lebih bersedih.
"Aku membaca tulisan-tulisanmu di koran setiap ke kota. Hebat!"
Aku tak menanggapi kata-kata Sarman dan mulai menyulut rokok.
"Jadi kau kembali ke kampung ini untuk mencari inspirasi, bukan?"
"Apa kelihatannya begitu?" Aku balas bertanya.
Sarman tertawa sinis. "Kau bisa menulis cerita tentang pemuda nelayan miskin sepertiku, pernah sekolah ke kota dan ujung-ujungnya jadi nelayan miskin juga. Kau akan mendapatkan banyak uang dengan ceritamu itu, sementara aku di sini tetap miskin."
Aku tertawa datar. Apa dia pikir pengarang sepertiku ini kaya?
"Aku punya cerita hebat untukmu," kata Sarman sungguh-sungguh. "Itu jika kau tertarik."
"Sehebat apa?"
Sarman bangkit. Tanpa menunggu persetujuanku, serta merta ia menarik lenganku. "Ikut aku!"
*
Sarman berhenti di depan sebuah bangunan memanjang pinggir pantai tepat pukul 11 malam. Setelah memandang berkeliling Sarman mengajakku masuk. Dua puluh kamar berjajar membentuk hurup U. Berdinding tembok dan berlantai ubin. Sarman menyebut bangunan ini penginapan. Seperti kafe di pinggir pantai, aku juga tak melihat bayangan bangunan ini dalam kotak kenanganku. Laki-laki dan perempuan melintas bergandengan, sebagian yang lain duduk di kursi ruang tamu. Main kartu dan minum alkohol. Sesekali kudengar tawa cekikikan dari kamar-kamar berlampu redup. Sarman menghampiri resepsionis menor yang sibuk mencatat.
"Penghuni kamar paling ujung ada?"
Resepsionis itu mengangkat wajahnya lalu menatap Sarman dan aku bergantian.
"Ada. Kau atau temanmu?"
"Dia!" Sarman menunjukku sambil mengedipkan matanya. Resepsionis itu tersenyum genit.
Sebelum aku mengajukan beberapa pertanyaan, Sarman menarik lenganku menuju kamar paling ujung. Aroma parfum murahan menyengat penciumanku setiap berpapasan dengan perempuan-perempuan berbaju minim penghuni penginapan ini. Di depan kamar nomor 9, Sarman mengetuk pintu dan menunggu. Tak ada jawaban. Baru pada ketukan kelima pintu terbuka. Tak ada seraut wajah menyembul dari balik pintu. Namun ada suara lembut menghampiri telingaku.
"Silakan masuk, aku sedang kosong," katanya.
Dan Sarman mendorongku tanpa berkata-kata. Aku masuk ke dalam kamar dan pintu di belakangku kembali tertutup. Kudengar teriak Sarman dari balik pintu, "Kau akan mendapatkan cerita hebat, Wija!"
Aku tahu Sarman menjebakku. Cerita macam apa ini? Masuk ke kamar pelacur? Dengan sudut mataku aku melihat perempuan itu menunggu di tepi pembaringan. Aku mengangkat kepala membalas tatapannya. Jantungku meloncat cepat. Perempuan dengan wajah tertutup kain hitam di kafe itu! Bagaimana mungkin?
"Silakan Tuan, kau boleh memperlakukanku sesukamu lalu membayar," katanya.
Aku duduk di sebuah kursi samping pembaringan. Tidak melepaskan pandangan dari matanya yang berkilat bahaya. Memutar otak sebelum mengeluarkan kata-kata yang tepat.
"Aku hanya ingin ngobrol."
Ia bangkit meraih wajahku, mendekatkan ke wajahnya. "Dengar Tuan Besar, aku tak punya banyak waktu untuk ngobrol denganmu! Setiap detikku adalah uang."
"Kau akan menerima bayaran yang sama."
"Kau ingin ngobrol tentang apa denganku?" Ia melepaskan wajahku.
"Sarman bilang kau punya cerita hebat."
Perempuan itu bangkit dari duduknya dan tertawa mengejek. "Sarman benar! Banyak cerita hebat dalam hidupku! Kau mau yang mana?"
Aku menatap lantai ubin di bawahku. Mengatur napas yang tiba-tiba memburu. Perempuan itu duduk di depanku, lalu mengalirlah kisah itu.
"Aku seorang pembunuh, " katanya memulai.
Tatapannya menelitiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku merasa hendak dicincang atau ditelan hidup-hidup.
"Tapi aku tidak menyesal menjadi se- orang pembunuh." Dia tertawa datar. "Karena itu memang harus kulakukan."
"Siapa yang mengharuskanmu?" tanyaku.
"Keadaan."
Sejenak kami terdiam. Membiarkan desau angin malam dan debur ombak memenuhi lengang lalu perempuan itu mendesah. Dan aku menunggu.
"Membunuh itu melegakan. Saraf tegang jadi mengendur."
"Bagaimana bisa lega kalau kemudian kau masuk penjara?" Aku menukas.
Kurasa perempuan ini agak sinting. Dan cerita hebat macam apa yang mesti kubayar untuk malam ini?
"Masuk penjara itu adalah pembebasan bagiku." Dia menghela napas. "Karena suamiku adalah penjaraku yang sesungguhnya. Baginya aku tak lebih dari boneka pajangan yang bisa dihina dan disiksa sekehendaknya."
Aku bangkit dari duduk. Tak ada banyak waktu untuk mendengarkan keluh kesah wanita yang dianiaya suaminya. Sudah terlalu banyak cerita-cerita seperti ini, apa istimewanya? Dan aku harus segera mengakhirinya. Setelah meletakkan sejumlah uang di meja, aku menuju pintu.
"Aku menikahi lelaki itu karena letih menunggumu, Wija."
Apa yang baru saja kudengar? Aku berbalik dan mendapatkan wajah perempuan itu tanpa penutup kain hitam. Tubuhku terguncang melihat raut wajahnya yang pasi. Perempuan itu tersenyum. Dan pintu kotak kenangan itu terbuka lebar. Aku menemukan wajah perempuan itu di setiap sisinya. Wajah kenangan yang selalu tersimpan dalam lipatan hari-hariku. Tak bisa kubuang atau kubunuh.
Kulihat tangan mungilnya yang putih mengumpulkan pasir dan membentuknya menjadi istana. Sarman suka menggoda gadis kecil itu dan aku selalu melindunginya. Ketika remaja aku berkelahi dengan Sarman memperebutkan gadis itu. Beruntung, gadis itu memilihku. Setelah pindah ke kota, aku tak pernah menghubunginya. Kupikir, menyimpan gadis itu dalam kotak kenanganku akan aman. Semua bakal baik-baik saja hingga tiba saatnya aku datang menjemput dengan kereta kencana. Ternyata aku salah.
"Aku datang untuk menjemputmu," kataku parau.
Perempuan itu terbahak. "Setelah belasan tahun tanpa kabar?"
Aku mengangguk, entah untuk apa anggukan itu.
"Telan saja janji-janjimu, Wija. Aku bukan gadis yang kau kenal dulu. Sekarang aku adalah pembunuh, mantan napi dan pelacur. Semua sudah lengkap setelah aku kehilangan cintamu."
Ada sembilu yang menghajar ruang hatiku. Seharusnya aku sadar, waktu tak bisa diam menunggu. Waktu bisa mengubah segalanya dalam sekejap. Dan aku tahu kini semuanya tidak baik-baik saja.
"Pergilah Wija, semua sudah berakhir," katanya menjejalkan uangku dan mendorongku keluar kamar.
"Aku akan memenuhi janjiku untuk menjemputmu," kataku.
Tetapi tangannya begitu kuat mendorongku keluar kamar. Lalu pintu di belakangku menutup keras. Samar kudengar isak tangis perempuan itu di balik pintu. Dan aku berbalik untuk mendorong pintu agar terbuka. Namun tak bisa kulakukan.
Kunci yang pernah dia berikan padaku telah kupatahkan. ***
Pesisir Blado, 15.11.2006
Dimuat di Nova 18/09/2006
MEMANDANG wajah hujan pada setiap penghujung tahun, bagaikan menyelami sebuah kisah. Kisah yang menyeret kakiku menapaki kembali halaman stasiun tua ini. Tak banyak yang berubah dari tahun ke tahun. Bocah-bocah gelandangan menggigil kedinginan, meringkuk menahan lapar. Pedagang asongan hilir mudik menghampiri penumpang, mengais rezeki. Jajaran gerbong tua tak terpakai di tepi stasiun. Kereta-kereta datang dan pergi, silih berganti seperti kehidupan.
Aku duduk di sebuah bangku hitam panjang. Menikmati dingin air hujan yang menetes melalui celah atap stasiun. Kudekap tubuh Aini dalam gendongan. Bocah perempuanku itu lelap bersama mimpi masa kanak-kanaknya yang indah. Setiap ada kereta yang datang, aku berlari memburu. Dengan jeli kuperiksa penumpang yang turun dari puluhan gerbong. Berharap akan datang satu kereta. Membawa sosok yang selalu menyambangi mimpi-mimpiku. Mematahkan kebenaran kabar yang telah tersiar.
Di ujung musim hujan sewindu yang lalu, kami kembali bertemu di stasiun tua ini. Mula-mula, kulihat ia sibuk dengan teman-teman kecilnya, bocah-bocah gelandangan di pojok stasiun. Bermain tebak-tebakan menggunakan koin uang logam. Sesekali terdengar bocah-bocah itu terbahak senang. Lalu ia tersenyum menghampiriku.
"Akhirnya kita bertemu lagi," katanya.
Aku memandangnya lekat. Banyak yang berubah setelah waktu bergulir lama. Gurat-gurat kedewasaan menghiasi wajahnya. Rambut gondrongnya berderai tertiup angin lembap bulan Desember. Jemarinya sibuk merapatkan resleting jaket, seakan hendak mengusir hawa dingin yang menusuk tulang. Ia mengulurkan tangan dan aku menangkapnya.
"Menikahlah denganku," ucapnya tiba-tiba. Tegas namun lembut.
Aku tersentak. Dadaku mendadak bergejolak. Ada panah api menusuk pinggir hatiku yang paling rawan. Membuat tubuhku limbung dan menggelepar. Aku jatuh cinta lagi kepada lelaki pengelana ini.
Ia, lelaki pengelana itu, bernama Azka. Kami terlahir pada bulan yang sama, di penghujung tahun yang basah. Rumah kami berdampingan dan hari-hari kami bersamaan. Masa kanak-kanak yang indah kami lewati penuh tawa. Bermain petak umpet, bersepeda keliling kompleks dan mencuri kue-kue lezat bikinan ibu yang seharusnya kami antarkan ke pelanggan. Masa remaja yang berwarna kami lewati penuh gairah. Menggosipkan para idola sekolah, membolos karena takut pelajaran Kimia, dan mencari jati diri. Lalu, getaran-getaran aneh itu tumbuh di dadaku. Tepat ketika aku dan Azka menemukan jati diri yang sesungguhnya. Aku meneruskan sekolah, sementara Azka memilih berkelana. Menjelajahi kota demi kota mempelajari makna kehidupan.
Ada yang bergelora di dadaku setiap kali dia menemuiku sepulang berkelana. Mendengar cerita petualangannya di berbagai kota membuatku cemburu. Tetapi, aku tak punya hak mencegah kepergian Azka. Aku hanyalah seorang sahabat. Meskipun hatiku berteriak-teriak enggan ditinggalkannya, namun seperti pengertianku kepadanya; Azka terlahir sebagai pengelana.
"Apa kau pernah merasa kehilanganku?"
Ini pertanyaan mengejutkan setelah umurku merambat dewasa. Pertanyaan pertama yang terlontar dari bibir pengelana yang tak pernah mengerti hati seorang perempuan. Pertanyaan yang melibatkan perasaan setelah berpuluh tahun kami bersahabat. Apalah arti rasa kehilanganku bagi seorang pengelana seperti Azka? Aku tidak peduli. Seperti yang selalu kulakukan saat mengantarkan keberangkatannya mengelana dari stasiun ini.
"Aku akan pergi dengan tenang jika kau tak pernah merasa kehilanganku. Jika pun aku tak kembali menemuimu, aku tak akan merasa bersalah."
Aku terperangah. Mendung memekat, hujan semakin deras.
Ketika Azka menyandang ransel hitamnya dan menyongsong kereta yang datang, aku berdiri linglung. Sebenarnya, banyak hal yang ingin kuungkapkan padanya. Tentang gelora di dadaku, tentang kecemburuanku dan tentang harapan-harapanku. Namun, bibirku hanya bergerak-gerak tanpa suara. Lidahku kelu.
Tak ada yang kulakukan selain memandangi sosok Azka menyelinap di antara hilir mudik penumpang lalu kembali muncul di jendela kereta, gerbong nomor empat. Sempat kutangkap rona muram pada raut wajahnya. Senyumnya menghilang. Bersama kereta yang bergerak menjauh, aku membalas lambaian tangannya yang terkulai, seakan terempas angin kencang.
Namun, cinta membawanya kembali ke stasiun ini. Kami menikah sewindu lalu dan membangun keluarga baru. Hari-hari kami senantiasa penuh bunga. Rentang waktu yang lama menunggu kehadiran Aini tidak membuat kami putus asa. Dan lengkaplah kebahagiaan itu ketika enam tahun kemudian Aini lahir. Gadis mungil yang cantik itu adalah malaikat kecil dalam rumah kami.
"Aku akan berkelana," kata Azka suatu malam ketika Aini sudah lelap.
"Ke mana?"
"Ke mana saja. Bukankah aku terlahir sebagai pengelana?"
Aku terdiam. Mencoba mengembalikan pengertianku tentangnya.
Azka menyentuh lenganku lembut, membujuk. "Sejak kecil, hanya kau yang mengerti bahwa aku terlahir sebagai pengelana."
"Tetapi, Aini?"
"Aku tetap Ayah Aini, katakan padanya aku pergi bekerja. Pengelanaanku kali ini memang untuk bekerja. Seorang teman menawarkan sesuatu yang menarik. Jadi jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab dengan mengirim biaya hidup kalian. Aku juga akan pulang."
"Kapan?"
"Musim hujan penghujung tahun." Azka mengembangkan senyumnya dan merengkuh bahuku. "Aku mencintaimu dan Aini. Sungguh!"
Malam berdetak. Hatiku giris.
* * *
"KAPAN Ayah pulang dari bekerja, Bu?"
"Kenapa Ayah lama sekali pergi?"
"Apa Ayah tidak merindukan Aini?"
"Ayah akan membawa boneka beruang di hari ulang tahun Aini kan, Bu?"
"Jangan-jangan Ayah tersesat di hutan?"
"Aini akan meminta tolong Ibu Peri untuk memulangkan Ayah!"
Aku tak dapat menjawab atau membantah kata-kata Aini. Gadis kecil itu merindukan ayahnya. Dan waktu bergulir semakin lamban. Tahun demi tahun telah berlalu. Setelah mengirim sejumlah uang pada bulan ketiga kepergiannya, tak secuil pun kabar kuterima dari Azka. Bahkan alamatnya pun tak kumiliki.
Mungkin Azka terlampau sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin Azka ingin mengumpulkan uang yang banyak. Mungkin Azka ingin konsentrasi mewujudkan mimpi-mimpinya. Mungkin Azka terpikat seorang gadis menarik. Mungkin Azka memutuskan menikah dan menetap di suatu kota. Mungkin Azka telah memiliki gadis kecil lain sebagai pengganti Aini. Mungkin Azka mengakhiri pengelanaannya. Mungkin Azka telah melupakan kami. Dan, mungkin Azka…
Berbagai kemungkinan yang penuh prasangka buruk menyesakkan dadaku. Membuat bibirku ingin berteriak, "Wahai pengelana! Jika kau telah mempelajari ribuan makna hidup, seharusnya kau tahu, aku dan Aini membutuhkanmu!"
Namun, teriakanku tak pernah sampai. Waktu demi waktu terus beringsut maju. Penghujung tahun yang basah datang dan pergi tanpa peduli. Hingga orang tua Azka memutuskan pindah ke kota lain karena pensiun dan aku tak sanggup membayar kontrakan lalu pulang ke rumah orang tuaku, Azka belum juga kembali. Untuk meredakan kegundahan Aini, aku sering mengajaknya mengunjungi stasiun tua ini. Mengharapkan sosok Azka menyembul dari pintu gerbong kereta, tersenyum lebar seraya membentangkan tangan dan berteriak lantang, "Aini sayang, Ayah datang!"
Setelah letih mengungkung dan putus asa diam-diam menyergapku, kabar itu datang. Aku sedang menyiram kembang ketika loper koran cilik langganan keluarga menghampiriku pagi itu.
"Mbak, ada berita bagus. Lihat halaman depan! Polisi berhasil menangkap teroris! Hebat, bukan?"
Aku menerima koran pagi langganan keluargaku dalam diam. Kuamati sekilas sambil lalu. Seraut wajah berahang kukuh yang terpampang di halaman depan menyentakku. Dalam gambar insert, kulihat tubuh bagian bawah lelaki itu hancur. Meskipun namanya berganti, namun aku tak pernah sangsi. Ia, lelaki pengelana yang selalu kutunggu kedatangannya di musim hujan penghujung tahun!
"Apakah Ayah mengirim pesan lewat koran itu, Bu?"
Aini menghampiriku dengan senyum bocahnya yang bening. Pandanganku berkunang-kunang ketika menjangkau tubuh mungilnya. Lalu semua gelap.
* * *
MEMANDANG wajah hujan pada setiap penghujung tahun, bagaikan menyelami sebuah kisah. Kisah yang menyeret kakiku menapaki kembali halaman stasiun tua ini. Aku masih duduk di sebuah bangku hitam panjang. Menikmati dingin air hujan yang menetes melalui celah atap stasiun. Kudekap tubuh Aini dalam gendongan. Azka pasti datang di musim hujan penghujung tahun. Aku akan terus menunggunya. Ingin kubuktikan kesetiaan dan cintaku. Meski hanya kepada jasadnya…***
Jakarta, 2005/2006
Dimuat di Suara Karya 27/08/2006
Senja hari. Gerimis. Aku mengempaskan tubuh di kursi pojok kantin. Meletakkan ransel hitamku dan merapatkan retsluiting jaket. Menghalau udara basah yang menggigilkan. Kunyalakan sebatang rokok lalu mengisapnya perlahan. Kepulan asapnya melingkar-lingkar seperti tarian ular.
Pedagang asongan mondar-mandir, menghampiri lalu lalang orang. Menawarkan cindera mata, makanan khas dan mainan anak-anak. Sesekali aroma gurih jagung bakar menerbitkan air liur. Mataku menerawang ke hamparan kebun teh. Pucuk-pucuk daun teh yang segar bergoyang tertiup angin. Meliuk dalam selubung kabut.
Kawasan puncak kota hujan! Aku kembali berada di sini! Seorang perempuan muda membawakan secangkir kopi panas pesananku. Ia tersenyum manis seraya menawarkan jenis makanan yang tersedia di kantin. Pipi kirinya berlesung saat ia tersenyum. Lesung pipit itu melesatkan kenanganku tentangmu.
Apakah aku datang bersama penyesalan? Aku menghela nafas. Menahan nyeri yang tiba-tiba menikam dada. Bukankah perjumpaan kita hanyalah sesuatu yang biasa? Untuk apa aku menyesal? Aku seorang pengelana yang memunguti cerita dari setiap perjumpaan. Dengan siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Begitu juga saat berjumpa denganmu di tempat ini.
"Beli buah strowbery, Mas?" tawarmu seraya menyodorkan strowbery merah segar dalam kotak plastik.
Lima tahun sudah berlalu, namun suara beningmu ketika menawarkan buah strowbery itu masih lekat di telingaku.
"Strowbery-nya manis, Mas. Baru saja dipetik dari kebun. Banyak mengandung vitamin C lho! Atau mau mencobanya dulu? Silakan!"
Kutatap wajah bening yang sibuk dengan kotak-kotak plastik buah strowbery itu. Kutaksir usiamu tiga empat tahun lebih muda dariku. Celana jeans dan t'shirt putihmu tampak serasi. Kuakui, kau kelihatan cantik dan alami. Meski tanpa riasan, kamu tampak sangat menarik.
"Lima ribu dua kotak. Untuk oleh-oleh adik, kakak atau kekasih barangkali?"
Aku menerima strowbery yang kau ulurkan. Menimang-nimang sebentar lalu kembali menatapmu. "Kenapa kau berjualan strowbery?"
Kau mengerutkan dahi. Mungkin merasa aneh dengan pertanyaan menyelidikku. Pertanyaan tak lazim dari seorang pembeli. Wajahmu berubah mendung.
Tiba-tiba aku merasa bersalah dengan pertanyaanku, "Jangan pikirkan pertanyaanku tadi."
"Sebenarnya aku juga sedang mencari jawaban."
Perkiraanku tepat. Kau memang bukan seorang penjual strowbery yang sesungguhnya. Aku sudah menduganya sejak kau menghampiri tempat dudukku. Bahasa tubuhmu yang penuh percaya diri, intonasi kata-katamu yang sopan, dandananmu yang tak seperti kebanyakan penjual keliling dan caramu membalas tatapan mataku.
Maka, demikianlah.
Aku memutuskan tinggal lebih lama di penginapan dan waktu yang bergulir maju kemudian menjadi milik kita. Memetik buah strowbery segar dari kebun, mengepaknya dalam kotak-kotak plastik dan menjualnya di kawasan wisata Puncak Kota Hujan. Pada waktu yang lain, kita duduk mencakung di depan penjual jagung bakar. Menahan air liur terjatuh karena aroma gurihnya yang menggoda. Atau, menyusuri jalan setapak di antara hamparan perbukitan teh. Kau menghirup udara puas-puas, merentangkan tangan lalu berteriak lepas ketika pendakian kita sampai di bukit tertinggi.
"Mencari jawaban!" begitu katamu setiap kutanya mengapa kau selalu berteriak di sana.
Aku seorang pengelana. Memunguti kisah dari berbagai kejadian yang kutemui kemudian menuangkannya dalam berlembar-lembar cerita fiksi. Itulah duniaku. Itulah hidupku. Dan pertemuanku denganmu juga tak berbeda dengan pertemuanku dengan sosok-sosok yang lain. Kisah hidupmu adalah sebuah cerita yang menarik.
Kau menghentikan kuliahmu di salah satu perguruan tinggi negeri sebagai bukti pertanggungjawaban terlahir sebagai sulung dari lima bersaudara. Ayahmu menjual semua tanahnya pada orang-orang berdahi licin. Ketika vila-vila berdiri megah, uang ayahmu habis di meja judi dan minuman keras. Setahun kemudian ibumu mati merana. Pada cerita itulah kau, perempuan muda yang cantik, berdiri sebagai tokoh utamanya.
Dan aku sang pengarang, "Tuhan" dari setiap tokoh dalam cerita memutuskan pergi sebelum cerita berakhir. Sebulan mengenal kehidupanmu, dari pagi hingga malam setiap harinya, bagiku sudah lebih dari cukup untuk memulai sebuah tulisan. Masih kuingat air matamu meleleh ketika kulambaikan tangan dari jendela mobil L300 yang kemudian mengantarku pada pengelanaan selanjutnya.
Waktu terus berputar, mengubah masa kini menjadi cerita lalu dalam sekejap. Ketika perjumpaan dengan tokoh-tokoh baru yang akan menjadi model dalam ceritaku terus berlangsung di berbagai tempat, aku belum juga mulai menulis tentangmu. Aku bahkan tidak bisa menggabungkan imajinasiku dengan kenyataan. Aku tidak tega mendramatisir hidup yang tengah kau jalani. Cerita tentangmu terbengkelai. Hanya terhenti pada coretan-coretan dalam lembaran kertas. Teronggok berdebu di meja kamar.
Hingga suatu hari sepulang dari pengelanaan aku menemukan setumpuk suratmu. Selama aku pergi, rupanya kau mengirim surat setiap minggu. Aku memang memberimu alamat rumah sebelum berpisah. Membaca kata demi kata dalam suratmu yang bertumpuk membuat dadaku disesaki rindu. Dan aku yakin, kau pun demikian sesak oleh rindu ketika menuliskan surat-surat itu.
Namun, apa itu rindu? Aku menepis sesak yang melanda dadaku. Aku seorang pengelana. Berjumpa dengan bermacam-macam orang bukan untuk mengobati rindu atau mencari cinta. Aku hanya singgah sesaat untuk memungut kisah. Maka, jika aku kemudian mengabaikan surat-suratmu, apakah aku bersalah?
"Kau membohongi dirimu sendiri, Yan! Kau jatuh cinta pada perempuan itu!"
Aku terkekeh mendengar kata-kata Hasta, sohibku yang juga seorang pengarang.
"Kau terlalu kerdil untuk mengakui bahwa kau telah jatuh cinta. Kau takut kegagalanmu di masa lalu terulang. Kau hanya berani menuliskannya dalam cerita padahal kenyataannya sekedar bercerita pun kau gagal!"
"Perempuan bagiku hanya sumber inspirasi, Has. Tak lebih!"
"Itu kata-kata yang keluar dari mulutmu. Tapi hatimu berkata lain. Kau terlahir dari perempuan, punya saudara perempuan. Apa benar kau menghargai perempuan sebatas itu?"
"Sok tahu kamu!"
"Aku bukan sok tahu, tapi aku memang tahu. Apa kau kira aku tidak tahu bahwa kau sering melamun memandangi fotonya? Lalu diam-diam kau membaca ulang surat-suratnya. Ha ha ha! Tidak sebentar aku mengenalmu, Yan!"
Aku mendengus. Berusaha mengelak dari tuduhan Hasta. Pengelana tak akan menambatkan cintanya dalam perjalanan. Tapi benarkah? Siapa yang membuat undang-undang itu? Mungkin aku sendiri. Aku tidak ingin atau tepatnya belum ingin menambatkan cintaku lagi setelah kegagalanku di masa lalu. Jadi kata-kata Hasta benar? Aku seorang pengelana kerdil? Pergi ke berbagai tempat hanya untuk melarikan diri dari luka?
Aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku ketika suratmu kembali datang. Dalam surat itu kau menceritakan kondisimu yang terjepit. Untuk membayar utang-utang ayahmu di meja judi dan warung minuman keras, kau harus menikah dengan lelaki berdahi licin. Sungguh sebuah novel yang sendu! Siti Nurbaya di abad komputer! Tiba-tiba aku menemukan rangkaian cerita lama yang tak pernah sanggup kuselesaikan.
Dan, begitulah.
Aku mulai menulis. Merangkai penggalan cerita yang hilang dan mengabaikan suratmu. Aku ingin membuktikan pada Hasta bahwa tuduhannya tidak benar. Bahwa aku tidak gagal bercerita tentangmu. Tetapi, pada halaman ke sepuluh aku kembali berhenti. Aku tidak sanggup meneruskannya karena setiap saat menggoreskan pena dalam kertas yang berkisah tentangmu, dadaku mendadak nyeri.
Aku benar-benar berhenti menulis tentangmu. Hingga suatu siang suratmu kembali datang bersama selembar kartu undangan. Dadaku berdesir membaca namamu terukir di sana bersanding dengan nama si dahi licin. Kau menulis beberapa kata untukku.
Demi baktiku pada ayah, aku rela bersanding dengannya.
Tetapi, sebelum malam sempurna seusai pesta, aku akan mengakhirinya dengan caraku. Rayan, apa benar kau tidak peduli lagi padaku?
"Mau tambah kopi panasnya, Mas?"
Pertanyaan itu menyentakkan lamunanku tentangmu. Aku menggeleng pada perempuan muda berlesung pipit di depanku. Sebatang rokok di tanganku tak lagi berasap dan secangkir kopi panas telah tandas. Angin menderu kencang ketika kuseret ransel hitamku meninggalkan kantin.
Aku berjalan cepat menyusuri jalan setapak di antara perbukitan teh menembus gerimis yang makin rapat. Dalam surat undangan, kau akan bersanding dengan si dahi licin itu, besok, tepat jam 10 pagi.
Maka, aku telah memilih caraku sendiri untuk peduli padamu. Tunggulah aku perempuan kota hujan! Sebelum matahari terbit kau akan menemukan jawaban yang kau cari selama ini. Karena aku tak mau terlahir sebagai lelaki pecundang! ***
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)




