Dimuat di Suara Pembaruan, Minggu, 21/08/11
Kita seolah-olah membangun kapal. Kau tukangnya, dan aku penyokongnya. Ya, aku yang menyiapkan santapan ketika waktu makan datang, aku yang menyuguhkan segelas es sirup bila kau mulai dahaga, aku akan menghidangkan kudapan bila kau rehat beberapa jenak, dan tentunya aku akan siap memberikan pendapat ketika kau bertanya seperti apa sebaiknya geladak, buritan, atau ruang nahkoda ....
Kata orang, surga adalah pulau terindah yang Tuhan sembunyikan, selorohmu suatu waktu. Kau tahu ’kan, Kekasihku, kalau banyak sekali yang bercita-cita ke sana. Paling tidak, kita sudah memiliki kendaraan sendiri kalau pelayaran sudah dibuka. Syukur-syukur bisa mengajak keluarga dan sanak kerabat, lanjutmu seraya tersenyum teduh. Ah, mendengarkanmu adalah menyaksikan mutumanikam berhamburan dari mulutmu, wahai Suamiku.
Demi waktu yang menerbitkan dan menenggelamkan matahari, kita membangun kehidupan yang amanah. Kita menjalaninya nyaris tanpa memberikan kesempatan bagi pertikaian besar untuk menginterupsinya. Tentu, Tuhan akan bersama orang-orang yang saleh, katamu suatu waktu ketika kuluapkan kegembiraan mendampingimu membuat kapal. Kaukatakan, kita harus segera menguji ketahanan kapal. Aku sepakat. Siapa tahu kita akan tersesat di Taman Firdaus, kau melepas tawa kecil.
Benar saja! Kapal yang kita layari pelan-pelan menambatkan kita pada sebuah kenyataan yang indah; kita saling mencintai. Saling mencintai demi surga, tegasku. Bagaimana kalau surga dan neraka itu ternyata tak ada, tanyamu. Aku memicingkan sebelah mata. Baiklah, kataku seraya menaikkan kedua bahu seolah-olah menyerah sebelum buru-buru mengimbuhnya: Ya ya ya, kita saling mencintai karena-Nya. Bagaimana? Setuju, Suamiku? Kedua ceruk di bawah alisku memberi ruang bagi bola di dalamnya untuk menatapmu lekat-lekat. Kau tertawa. Kau memelukku, dan berbisik; kau memang istri yang hebat! Dalam hati aku berteriak menang. Apa hadiah buatku, aku merengek di balik bahumu. Bulan depan kita akan merayakan satu tahun pernikahan, bisikmu. Kau akan memberiku apa, desakku. Tiket, pungkasmu. Tiket? Kedua alisku nyaris menyatu oleh kerutan daging di atasnya. Tiket buat kita berdua, jawabmu dingin. Ke mana? Tanganku memukul-mukul manja bahumu seolah meminta kau segera melepaskan penasaran yang melilitku. Tanah Suci, Kekasihku, ujarmu lembut seraya melepas pelukan. Tatapanmu seolah menjadikanku bidadari paling bahagia hari itu. Aku ingin menangis tapi tak bisa. Aku terlampau gembira. Kita kembali berpelukan, lebih erat.
***
KITA adalah sarjana yang menetas di kawah candradimuka yang berbeda. Kita sama-sama berdikari di kampung halaman. Aku mengajar di sebuah pesantren. Kau menyewa ruko dua pintu di dekat jalan lintas untuk usaha toko buku. Pasti sejak dulu kau memang bercita-cita menjadi pengusaha, pikirku. Aku lebih senang mengenalmu sebagai calon pengusaha daripada ustaz. Bagiku setiap lelaki seharusnya menjadi ustaz sebagaimana setiap wanita seharusnya menjadi ustazah. Ah, sebenarnya tanpa harus diawali pengetahuan tentang pekerjaan masing-masing, kita sudah saling kenal sebelumnya.
Kita selalu satu kelas ketika SMA, tapi kita tak pernah akrab. Aku adalah gadis berkerudung seperti kebanyakan. Aku kalah populer dibanding kamu. Wajahku tak terlalu cantik (walaupun teman-teman banyak bilang aku manis), sementara kau sangat tampan. Tinggiku 160 cm, sementara kau 12 cm di atasku. Aku tidak suka olahraga, sementara kau cakap bermain basket. Perihal akademis, aku memang sedikit unggul darimu (Dan itu tidak cukup membuatku diperhatikan kawan-kawan seantero sekolah). Ya, rangkingku selalu dalam urut belasan, sementara kau selalu masuk zona merah. Beberapa waktu lalu, kau bilang, capaian terbaikmu adalah rangking 30, sebelum kaukatakan waktu itu kelas hanya dihuni 31 siswa. Sebenarnya banyak siswa ber-IQ jongkok yang berada dalam kelompok rangking mengenaskan, namun mereka tidak sepertimu: Tukang bolos yang kerap mengajak—atau memaksa—serombongan siswa untuk melompati pagar belakang sekolah; tukang onar yang suka menyulut kegaduhan bila sebentar saja guru meninggalkan kelas; karena tubuhmu yang ideal kau kerap menjadi—lebih tepatnya ditunjuk sebagai—komandan upacara (ini membuatmu selalu menjadi anak baik setiap Senin); dan tentunya karena kau adalah atlet basket kebanggaan sekolah! Dengan semua kenyataan itu, kawan-kawan satu angkatan, atau bahkan beberapa angkatan di bawah atau di atas kita, pasti menganggukkan kepala ketika ditanya apakah mereka mengenalmu.
Setamat SMA, aku sangat terkejut ketika mendengar kabar: Kau melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah tinggi agama Islam di kota provinsi. Ia memang harus lebih banyak mendapatkan pendidikan agama biar lekas berubah, ujar ibumu enam tahun lalu—waktu itu aku sedang di kampung karena liburan. Aku paham maksud kata ’berubah’ dalam kalimat ibumu. Saat itu, kupikir, kau takkan bertahan lama. Dan benar! Kau hanya bertahan satu tahun. Namun, aku terperangah ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Kau tidak dikeluarkan. Kaulah yang minta dipindahkan. Kata ayahmu, kau sangat aktif di beberapa organisasi kampus. Bahkan memasuki tahun kedua kuliah, kau didukung kawan-kawan untuk menjadi ketua sebuah organisasi kerohanian. Namun, apa mau dikata, kau seolah tak ingin setengah-setengah tercebur ke dunia barumu, ujar ibumu seolah menyesali keputusanmu. Kau memilih Kuala Lumpur untuk menguyupi dirimu dengan ilmu. Kami benar-benar terkesiap, kata ayahmu dengan nada suara ditinggikan. Entah, karena kau anak tunggal, entah karena orangtuamu juragan karet yang banyak uang, atau karena kau mampu meyakinkan mereka..., kau pun melenggang ke sana. Kau mengambil jurusan Ekonomi Syariah. Satu setengah tahun yang lalu kau menyelesaikan kuliah dengan predikat memuaskan.
Sebagai sarjana lulusan luar negeri, kedatanganmu ke tanah kelahiran, menuai pujian sekaligus cibiran. Ada yang menganggapmu sebagai pemuda yang peduli kampung halaman. Tak sedikit pula yang menggelarimu sarjana gagal; tamat kuliah bukannya bekerja di kota besar atau di luar negeri, tapi justru balik kandang; tamat kuliah bukannya menjadi ustaz kondang yang wara-wiri di TV, tapi justru membuka toko buku di kampung... dan masih banyak lagi celotehan yang kauanggap tak penting, tak berisi, tak layak dirisaukan. Termasuk saran orangtuamu untuk bekerja di sebuah bank syariah kautolak secara halus. Kaunyatakan bahwa tak membutuhkan waktu lama untuk menghadiahi mereka sekarung kebanggaan.
Kurang dari enam bulan, kau membuktikan tekadmu! Kau menjadikan cibiran sebagai bumerang yang membuat muka para pencibir merah masai. Kau menjadi wirausahawan yang naik daun. Kau sudah membuka toko buku baru di kota kabupaten. Sementara itu, pengajian dalam lingkaran terbatas yang kaubina, telah diikuti lebih dari 20 murid. Kau juga kerap diundang ke mana-mana (bahkan juga keluar kota) untuk memberikan ceramah. Aku benar-benar takjub. Di pengajianku, ketika menunggu guru datang (atau setelah majelis ditutup), kami kerap membincangkanmu.
***
O, benarkah Tuhan tengah menurunkan mukjizat-Nya?!
Petang itu, bakda melafalkan doa penutup majelis, guru pengajianku mengajak bicara, berdua saja. Ia menyerahkan tiga lembar kertas kepadaku. Aku menerimanya namun tak segera membacanya. Ia memberi isyarat agar aku segera membaca kertas-kertas yang tengah kupegang. Mataku membelalak sempurna, mulutku menganga, dan hanya puji-pujian kepada-Nya yang bisa kulafalkan saat membaca kertas-kertas itu. Kupeluk ia serta-merta. Aku menangis tersedu-sedan. Bukan! Bukan karenaproposal, demikian istilah yang populer dalam lingkup pengajian untuk menyebut lamaran secara tertulis yang ditujukan kepada seorang perempuan lewat guru pengajiannya; Bukan karena di usia 25 akhirnya aku dipinang; bukan karena lelaki itu tak perlu diragukan lagi kesuksesannya; tapi... karena aku sangat mengagumi kesalehanmu!
***
KAU benar-benar imam yang baik. Darimu aku beroleh banyak ilmu. Kurang dari setahun kebersamaan kita, aku sudah membina pengajian. Aku sudah memiliki binaan walaupun tak sebanyak binaanmu. Aku sudah diundang ceramah ke mana-mana walaupun jadwalku tak sepadat jadwalmu. Kita sudah memiliki jamaah walaupun tak banyak. Pengajian yang kita hadiri, tak pernah sepi. Bahkan seorang pengusaha ibukota tertarik mengontrakmu untuk sebuah program Ramadhan di TV swasta miliknya. Kau menolaknya dengan alasan menjaga kemurnian niat. Ah, harta dan ketenaran tak membuatmu silau, Kekasihku.
Dua minggu lagi, kita akan menunaikan ibadah haji. Kita sudah menyiapkan doa khusus. Ya, nyaris satu tahun menikah, belum ada tanda-tanda kita akan dikaruniai keturunan. Rasanya, kapal kita terlalu sepi bila tidak menyertakan buah hati di dalamnya, selorohmu beberapa hari yang lalu.
Namun malam itu, di acara syukuran berangkat haji, kapal yang tengah kita layari menabrak gunung karang. Kita terjerengkang di samudera ganas! Mungkinkah ini akibat kebahagiaan yang begitu sempurna kita rasai, Suamiku? Benarkah kata orang-orang; jangan terlampau gembira karena itu alamatnya akan menderita! Apa salah kita dengan semua nikmat yang tak pernah alpa kita syukuri ini? Lalu, mengapa serombongan orang berpakaian preman itu semaunya saja menuduhmu? Mengapa mereka harus menyeretmu dari ruang tengah, melewati para tamu yang serta-merta berdiri. Suasana sontak gaduh. Yaasin yang baru akan dilagukan pun, serta-merta mereka tutup kembali.... Mereka tak kuasa menolongmu karena dari empat mobil bak terbuka yang parkir di dekat pagar rumah kita, dari seragam yang dikenakan puluhan orang yang berada di dalamnya, mereka tahu kalau polisi tengah meringkusmu.
***
SEPULUH tahun lalu, pernikahan telah mendaulat kita menjadi sepasang kekasih.
Walaupun kau telah dibebaskan setelah serangkaian sidang—yang berlarat-larat dan membuat kita serta keluarga menderita karena malu—tak mampu membuktikan kau bersalah; walaupun mereka (termasuk para murid pengajian dan jamaah kita dulu) dengan lancangnya menggelari kita ”munafik”, ”sok alim”, atau umpatan dan hinaan yang lebih kasar..., kita selalu saling menguatkan.
Kekasihku, bisikmu ketika aku menghambur di pelukanmu di hari pertama kau dibebaskan, ... kalaupun tidak di dunia, di akhirat nanti, mereka akan mengerti, lanjutmu. Tangisku pecah. Kau mengelus jilbabku seraya melanjutkan kata-katamu: Bahwa kekasihmu ini tidak tahu menahu tentang rencana penembakan presiden, bahwa kekasihmu ini tidak tahu menahu tentang perampokan bank di beberapa kota, bahwa kekasihmu ini tidak tahu menahu tentang bom yang diselipkan ke dalam buku.... (*)
Ulaksurung, 25 Maret s.d. 15 April 2011
Dimuat di Suara Pembaruan, Minggu, 03/04/11
DAN KEMBALI bulu kudukku berdiri. Lamat-lamat keringat menyeruak dari pori-pori. Jarak antardegup jantungku makin rapat. Kerongkonganku terasa kering—air liur yang kuteguk terasa sepat. Kalau saja tadi Pak Rahmadi, supir kami tak membatalkan rencananya pulang kampung demi mengemudikan mobil saat ini, mungkin sudah lama kaki kananku menginjak pedal rem secara mendadak ketika tahu bahwa beberapa ratus meter lagi kami akan melewati jembatan; tempat yang menyisakan trauma yang mendalam, ketakutan yang mencekam, kengerian yang tak sanggup kubayangkan…. Sungguh. Aku tak sanggup menyaksikan keramaian yang tercipta di setiap jembatan. Keramaian yang ganjil. Keramaian yang menyeramkan. Keramaian yang berasal dari makhluk-makhluk yang muncul dari balok-balok besi dan beton penyusun tubuh jembatan (atau yang mucul dari kayu apabila jembatan tersebut masih terbuat dari kayu). Keramaian itu selalu hadir ketika magrib singgah hingga malam datang, hingga malam menua, (mungkin juga) hingga tampah jingga kembali mengintip dari ufuk timur. Itulah alasan mengapa aku selalu menghindari bepergian di malam hari. Dan kali ini aku tak dapat berkelit. Putri, anak kami satu-satunya ngotot ingin ke rumah neneknya.
Bulan lalu Ibuku sowan ke rumah kami. Ia memang sangat dekat dengan Putri. Saban datang, ia selalu menjanjikan sesuatu kepada cucunya yang baru kelas dua SD itu, seolah itu siasat agar ia selalu dirindukan. Seperti waktu itu, Putri sangat senang ketika Ibu membawakan sekeranjang macang, semacam mangga hutan dengan rasa manis yang khas. Ketika itu, aku dan istriku baru ngeh kalau kerewelannya yang minta diantar ke kampung, ternyata untuk menagih buah itu. Beberapa hari yang lalu, ketika Putri kembali rewel ingin ke kampung, kami yakin pasti neneknya sudah menjanjikan sesuatu. Entah bagaimana, aku tak terlalu peduli apa nian janji Ibu. Istriku pun begitu. Meeting-meeting perusahaan yang padat saban akhir tahun, lebih menguras perhatiannya daripada sekadar mencari tahu muasal kerewelan anaknya. Pun di sepanjang perjalanan ini, ia lebih sibuk dengan blackberry-nya. Aku memang tak mau ribut dengannya. Untuk mengajaknya pergi hari ini saja, ia tak berhenti menggerutu karena beberapa meeting penting harus dibatalkan. Huhh!
SEMUA BERMULA ketika aku hendak ke luar rumah tanpa menetapkan tujuan sebelumnya. Maklum, pengarang! Mencari inspirasi kadangkala harus ke mana-mana (walaupun tidak semua pengarang seperti itu). Tapi menurutku, siapa pun dan apa pun (pekerjaan) mereka, tentu akan muak dengan kota ini. Kota yang saban hujan dilanda banjir, kota yang saban kemarau jadi meranggas, kota yang saban dua bulan digoyang gempa, kota yang saban minggu dihantam angin topan, kota yang saban hari menyerakkan potongan-potongan tubuh mayat, kota yang saban menit menggenangi sungai dan got dengan orok berwarna pink, kota yang… (ah, sebenarnya tak ingin aku mengatakan ini karena jangan-jangan ini hanya perasaanku saja) …saban malam diramaikan oleh kerumunan makhluk aneh di jembatan dan sekitarnya. Maaf, aku tak bermaksud menakut-nakuti. Sungguh!
Dalam perjalanan pulang—setelah seharian mengembara ke beberapa sudut kota, dan aku tak mendapatkan satu ide pun untuk dijadikan cerita, aku sangat kesal. Pikiranku justru makin kacau. Bayangkan, dua kali aku ngopi di warteg, dua kali pula aku mampir di warteg yang ada televisinya. Tak ada yang salah dengan televisi itu sebenarnya. Hanya saja kotak ajaib itu menyiarkan berita yang membuatku muak. Hampir semua stasiun televisi menyiarkan, bayi-bayi tanpa kepala ditemukan di pelbagai tempat; sungai, rawa-rawa, WC umum, dan sekitar jembatan. Versi stasiun televisi A; mereka adalah korban aborsi. Versi stasiun televisi B; kepala-kepala mereka dipakai untuk diselipkan di antara sambungan besi atau beton jembatan-jembatan yang tengah marak-maraknya dibangun. Orang-orang yang nongkrong di sana pun seolah tak ingin ketinggalan dengan televisi. Mereka membincangkan beberapa anak tetangga yang hilang. Ada yang bilang, mereka diculik hanya untuk diambil kepalanya. Ada yang menambahkan—seolah hendak diseragamkan dengan berita di televisi, kepala-kepala mereka sangat berguna untuk ritual pembangunan jembatan. Semacam sesajen, imbuh yang lain....
Ah, berita dan pembicaraan yang tak bermutu!
Ketika lelah berjalan menyusuri kota, dan langit mulai merah; entah bagaimana aku memilih rehat di sebuah jembatan yang cukup panjang. Sekitar 150 meter. Jembatan yang tampaknya baru rampung dibangun. Aku bediri di tengah. Aku melongok ke bawah. Semacam ngarai dengan dasar yang dalam dan curam menganga di sana. Tiba-tiba ada yang menyentuh bahuku. Aku terkesiap. Aku menoleh. Tak ada siapa-siapa. Aku kembali melongok ke bawah, tapi perasaanku sudah tak enak. Bulu kudukku menegang. Lamat-lamat keringat menyeruak dari pori-pori. Jarak antardegup jantungku makin rapat. Kerongkonganku terasa kering—air liur yang kuteguk terasa sepat. Aku membalik badan. Pandanganku menabrak semacam papan pengumuman. Ternyata jembatan besar ini belum boleh dilalui kendaraan. Dan... baru kusadari kalau aku berada di tempat yang sepi. Bukan! Aku bukannya takut dirampok, takut dibunuh, apalagi sampai takut dimutilasi. Aku tiba-tiba merasa berada di tempat yang asing. Tempat yang tak pernah kukenali. Kukucek mataku. Berkali-kali. Memastikan bahwa senja sudah pergi. Memastikan bahwa memang tak ada lampu jalan yang menyala. Memastikan bahwa hari benar-benar gelap. Benar-benar pekat. Benar-benar menyeramkan!
Kutarik napas panjang dalam satu helaan hingga bahuku hampir setara dengan dagu. Aku memasang ancang-ancang hendak berlari. Ke mana? Aku belum memikirkannya. Bila aku tak keliru, tadi aku berjalan dari sebuah jalan tol. Ah, lebih baik aku kembali ke sana daripada berlari ke arah yang berlawanan—yang aku tak tahu akan menemui apa. Kubalik kanan. Bersiap mengambil langkah seribu.
O o!
O o!
O o!
Dari kedua ujung jembatan kulihat gerombolan bola hitam menggelinding…. O, bukan! Bola-bola itu bagai merayap (atau berjalan dengan kakinya yang mungil). O Tuhan, hitam itu bukan warna bola, tapi semacam ijuk atau bulu yang menutupinya, atau…. Tidak! Itu adalah rambut. Kerumunan kepala mendekatiku. Makin dekat. Sangat dekat. Aku panik. Sekujur tubuhku basah. Melunglai. Tulang-tulangku terasa lepas dari tungkainya. Kulafalkan ayat-ayat Quran yang kuingat. Aku hanya hafal dua surat pendek. Al Fatiha dan Al Ikhlas. Aku juga ragu, apakah aku melafalkannya dengan benar. Sudah hampir 20 tahun aku tidak pernah shalat. Aku tak kuasa beranjak. Kusandarkan tubuh di bilah-bilah besi yang memagari jembatan. Pelan-pelan kujatuhkan tubuh. Aku terjerembab. Terduduk. Kupejamkan mata. Tiba-tiba tangan kananku menyut pedih seperti ditusuk ujung pisau. Sebuah paku karat yang tertancap di telapak tanganku bagai menegaskan bahwa apa yang tengah kualami bukanlah mimpi!
Kepala-kepala itu telah berada di dekatku. Mengerumuniku. Aku berharap aku segera pingsan—atau mati saja, daripada harus menyaksikan mereka menggigit, menguliti, dan memakan dagingku lamat-lamat. O, Tuhan, apa salahku?!
Sudah cukup lama aku terpejam tapi aku tak merasa tubuhku digigit atau dikuliti. Aku mencoba membuka mata pelan-pelan. Kupicingkan saja mula-mula. Tak ada apa-apa! O o, apakah aku berhalusinasi? Ternyata tidak. Ketika kubuka sempurna kedua mataku, kulihat gerombolan kepala itu merayap (atau berjalan dengan kakinya yang mungil) menjauhiku menuju kedua ujung jembatan. Mereka tidak merayap hingga ke jalan raya yang—mungkin saja—terdapat di kedua ujung jembatan. Mereka kembali ke bilahan-bilahan beton yang menyusun rangka jembatan.
Mereka bagai permen karet yang sangat lentur. Mereka masuk ke celah di antara bilah-bilah itu seolah kembali ke rumah, rumah yang menenteramkan.
Aku baru meninggalkan jembatan ketika sebuah sedan berhenti di ujung jalan (sepertinya pemiliknya adalah orang yang bertanggungjawab terhadap proyek jembatan ini). Kulambai-lambaikan tangan dan berteriak minta tolong seolah aku adalah korban bencana alam yang melihat Tim SAR datang. Ia mendekatiku. Ia membantuku bangkit. Ia memapahku. Ia baik sekali. Ia memberiku sebotol air mineral yang diambilnya dari mobil. Untuk beberapa saat ia tak bertanya apa-apa. Ia seolah paham benar bahwa aku sedang dalam ketakutan yang sangat. Setelah agak tenang, ia mengajakku menuju mobilnya. Aku menurut saja. Ia mengambil kemudi. Aku duduk di sampingnya. Aku lelah. Sungguh, aku tak sabar ingin pulang. Mandi air hangat. Minum teh kelat. Mengempaskan badan di spring bed yang baru dibeli empat hari yang lalu. Dan tentu, tak sabar menemui anak-istriku.
Ia seolah mampu membaca isi kepalaku ketika tiba-tiba ia bertanya di mana rumahku. Aku menyebut sebuah tempat. Kami meluncur. Melewati banyak jembatan. Melewati banyak keramaian. Kerumunan kepala. Dan ia tak menunjukkan keterkejutan dengan semua itu. Ia juga tak banyak bicara. Hanya bertanya tentang jalan bila mendapati mobil kami berpapasan dengan simpang tiga, perempatan, atau beberapa lorong kecil.
“Aku melihat hantu, Mas.”
Ia menoleh.
“Sumpah! Aku tak berbohong!”
“Di mana?”
“Di …”
“Di jembatan tadi?”
“Di setiap jembatan, Mas.”
“Ah, itu bukan hantu. Itu orang-orang yang tinggal di jembatan.”
“Ini bukan pengemis, anak jalanan, atau …”
“Iya, aku paham. Maksudmu kerumunan kepala itu, ’kan?”
“Iya. Mas juga melihatnya?”
Ia menyeringai. “Semua orang juga melihatnya kalau hari mulai gelap!”
Aku terperanjat. Apakah ia serius?
“Sudah jarang keluar malam, ya? Berapa bulan? Atau sudah bertahun-tahun?”
Aku diam. Perasaanku makin tak karuan.
“Betul baru kali ini melihat kepala-kepala yang muncul dari jembatan?”
Aku hanya meneguk liur.
“Kota ini kan sudah jadi kota jembatan.”
“?”
“Ya. Karena kendaraan makin banyak. Karena orang ingin sampai di tempat tujuan makin cepat. Karena bencana alam banyak menciptakan jurang, ngarai, dan lembah, sejak ratusan tahun silam.….”
“STOP!”
Driiiittttt!!!!
Mobil berhenti mendadak. Aku hampir terpelanting ke muka.
“Kenapa?”
“Maaf, Mas,” aku bersungut merasa bersalah. “Rumah saya kelewatan.” Aku setengah tersenyum.
Ia ber-ooo… panjang. Ia mohon maaf. Ia bertanya, apakah mobil perlu diputar balik agar dapat mengantarku tepat di depan rumah. Aku menolak. Ia sudah terlalu baik. Kubuka pintu mobil. Aku menyalaminya dengan badan yang sedikit dibungkukkan. Aku benar-benar berutang budi, bahkan berutang nyawa, kepadanya. Ia kembali ke mobil seraya melambaikan tangan sejenak. Ah, aku lupa bertanya siapa namanya.
ISTRIKU NGOMEL-NGOMEL di pagi yang masih sepia. Ia baru dapat telepon dari kantor. Wajahnya seperti kemeja katun yang belum diseterika. Ia kesal karena malam tadi begadang demi mempersiapkan bahan presentasi untuk meeting yang baru saja dibatalkan.
Kuambil dua potong roti. Kutangkupkan setelah melumuri selai blueberry di tengahnya. Kuiris jadi dua. Yang satu kuletakkan di atas piring Putri yang sudah siap dengan seragamnya. Ia langsung melahapnya. Yang satu lagi kuletakkan di piring di hadapan istriku. Ia melihatku sejenak. Mencangking roti itu. Memakannya. Hanya satu gigitan. Lalu minum setengah gelas jus melon. Membersihkan bibirnya dengan dua helai tisu. Ponselnya berdering. Ia masih mengunyah sisa-sisa roti di mulut ketika menekan tombol OK.
“Halo.”
“Ma, kata Bu Guru, gak baik kalau makan sambil ngomong,” Putri nyeletuk.
Istriku tersenyum kecil sebelum berteriak seolah bintang sinetron yang tengah berakting mendengar kabar kematian anaknya.
“Ada apa, Ma?” tanya aku dan Putri hampir bersamaan.
Ia menyebut sebuah nama yang tak kukenal. Tiba-tiba perasaanku tak enak. Selera makanku hilang. Aku menuang satu gelas air putih. Menenggaknya sampai habis.
“Mutilasi itu apa sih, Pa?” Putri bertanya polos. Kuelus rambutnya yang dikepang.
“Bagaimana bisa teman kantormu jadi korban, Ma?!”
“Dia yang menyuruh orang-orang berburu, eh, dia yang diburu!” jawab istriku ketus.
“Berburu apa?”
“Kepala.”
“???!!!!”
“Untuk proyek-proyeknya. Senjata makan tuan!”
“Senjata makan tuan?” Putri bergumam.
Aku mengernyitkan dahi. Kuisi lagi gelasku yang kosong. Kali ini dengan jus melon. Aku menenggaknya…
“Sayang, ke belakang, ya. Sama Bi Ina. Pakai sepatu gih!” ujar istriku kepada Putri dengan suara yang dilembut-lembutkan. Putri menghambur ke dapur. Memanggil pembantu….
“Anggota tubuhnya yang lain masih utuh, Pa. Kecuali kepalanya…!”
Bruuurrrrr! Aku menyemprotkan jus melon—yang belum sempat berselancar di tenggorokan—ke wajah istriku.
“?!*%$%&@X#!!”
KAMI MEMASUKI jembatan.
Damn!
Mobil kami tiba-tiba mogok.
“Ini di mana, Pak?” tanya istriku sesaat setelah memasukkan blackbery-nya di tas sandang.
“Jembatan….” Supir kami menyebut sebuah nama.
“Apa?” Kami berdua nyaris bersamaan berteriak.
“Kenapa Bu, Pak? Pernah mogok di sini pula?”
Aku dan istriku bersipandang.
Putri masih sibuk bermain dengan boneka di bangku belakang.
Seseorang mendekati mobil kami. Aku mengenalnya. Wajah istriku tiba-tiba pias.
“Kenapa, Ma?”
Putri tertawa renyah di belakang. Entah apa yang sedang ia bincangkan dengan bonekanya.
“Itu….” Istriku menunjuk ke lelaki di luar.
“Mama kenal?”
Istriku mengangguk. “Ia sempat jadi pimpinan perusahaan tempat Mama bekerja.”
“O ya? Kenapa wajah Mama pucat begitu? Dia sangat baik lho, Ma. Dia yang mengantar Papa pulang ketika Mama begadang membuat bahan presentasi malam itu lho….
Mata istriku membelalak sempurna.
“Pak, dia mengetuk jendela mobil kita. Perlu saya buka?” Pak Rahmadi menunjuk ke arah lelaki di luar mobil.
Belum sempat aku menjawab, istriku berteriak, “Jangan!”
Tawa Putri makin keras.
“Memangnya kenapa, Ma?”
Pak Rahmadi bingung.
“Beberapa jam sebelum mengantar Papa pulang, ia sudah tewas tanpa kepala!”
Aku tercekat. Pak Rahmadi sibuk men-starter mobil yang tak kunjung menyala. Ketukan di kaca mobil makin keras.
Tiba-tiba Putri berseru riang.
“Pa, Ma, betul ’kan kata Nenek. Di sepanjang jembatan akan banyak boneka berjalan!”
Kami menoleh ke belakang.
“Itu, Pa, Ma!” Putri menunjuk ke belakang mobil. Ke ujung jembatan.
Gerombolan kepala mendekati mobil kami. Hanya beberapa puluh meter dari mobil.
“Itu juga, Pak!” Pak Rahmadi menunjuk ke depan mobil. Tangannya gemetar. Gerombolan kepala juga mendekat dari ujung jembatan yang lain.
“Buka pintunya, Pak!” perintahku.
“Jangan!” teriak istriku.
Putri masih tertawa-tawa. “Kata Nenek, dekat kampung, ada jembatan tua yang terbuat dari kayu. Di sana, kata Nenek, bonekanya paling banyak! Banyak anak-anak segede Putri…!”
Mobil kami bergerak-gerak oleh gerombolan kepala yang mengerumuni, yang menggoyang-goyangkannya. Istriku memuji-muji Tuhan. Aku dan Pak Rahmadi hanya komat-kamit. Kami tiba-tiba ingat mati. Putri masih terus tertawa ketika aku mencoba mengingat-ingat dua bacaan suci itu.
Al Fatiha dan Al Ikhlas…. (*)
Lubuklinggau, 20 Oktober 2010. Ditulis Ulang 20 Februari s.d. 28 Maret 2011
Dimuat di Suara Pembaruan, 6 Maret 2011
Saya tak tahu. Sebenarnya ini surat keberapa yang ditulis. Surat-surat sebelumnya telah bersitumpuk di sudut-sudut rumah kayu saya yang sempit, di sudut kamar saya yang tentu juga sempit, di kotak-kotak lemari cokelat pias tanpa ukiran, beberapa di celah-celah ventilasi dapur. Surat-surat itu bukannya surat-surat yang tak layak kirim. Pun, bukan kumpulan surat yang tak rampung (yang kebanyakan diremas orang-orang sebelum membuangnya di kotak sampah atau di sembarang tempat). Kertas-kertas (yang kini sudah menguning) itu adalah surat-surat jadi. Surat-surat siap kirim. Namun, sungguh, saya bagai tak tergerak mengantarnya ke kantor pos. Atau sekadar memasukkannya di kotak pos di simpang jalan raya. Saya bukan meragukan jasa pos. Kalaupun saya meragukan jasa pos, saya juga masih bisa mengirimnya via agen-agen jasa pengiriman swasta, bukan? Ini tentang kebingungan. Kebingungan yang lebih mengerucut pada keraguan. Beberapa catatan yang kerap menyergap bila keinginan untuk mengirimnya muncul adalah sebagai berikut:
Pertama, akankah dibaca surat-surat itu? Kedua, bila pun dibaca, tentulah si pembaca akan menilik nama pengirimnya. Ah, siapalah saya. Ketiga, apakah saya tak tampak berlebihan dengan isi surat-surat itu?
Mungkin saya ini memang tipe orang peragu. Tapi... ada baiknya saya tepikan sifat itu. Saya pikir tak ada ruginya bila diceritakan sedikit tentang nasib beberapa surat yang pernah saya tulis itu....
Adalah Pak Lijan, kepala sekolah tempat saya mengajar, yang pertama kali memergoki saya menulis surat. Memang dasarnya tak percaya diri, gemetaranlah saya ketika itu. Pak Lijan mengambil kertas itu. Tak lama ia terkekeh. Lalu melemparkan surat itu ke arah saya. Ya, melemparkan. Bukan memberikan. Lalu ia mengatakan (di antara kekehannya yang membuat rasa hormat kepadanya kini berkurang) bahwa tak ada gunanya guru honorer seperti saya menulis semua itu. Apa pun di dunia ini tak ada yang gratis! Termasuk sekolah. Bila pun bebas SPP dan Uang Bangunan, apakah sekolah juga mesti membelikan para siswa tas, sepatu, seragam, buku dan alat tulis?
Saya cerna kata-katanya. Ada pula benarnya. Tapi..., ya, tapi bukankah di republik ini, pendidikan itu adalah hak? Bukan kewajiban! Maksud saya, bila itu adalah hak, maka berikanlah. Berikanlah dengan seutuhnya. Semuanya. Atau, saya yang salah mengartikan ”hak” dalam pendidikan itu? Sayang, saya tak sempat menanyakan semua risau itu kepada kepala sekolah itu. Dia sudah keburu meninggalkan saya. Saya hanya sempat melihat ia menyeringai ke surat yang tergeletak di dekat ujung sepatu saya. Ketika itu, saya tiba-tiba miris. Surat yang berisi kegelisahan saya itu tampaknya senasib dengan penutup kaki saya yang butut.
Saya juga pernah menuliskan surat yang bercerita tentang seorang kawan seperjuangan. Perempuan 56 tahun di kampung seberang. Ibu Hoi, demikian saya memanggilnya. Saya cukup akrab dengannya bukan hanya karena ia adalah guru yang sangat saya kagumi, namun juga untuk alasan yang tidak penting; karena saya juga sangat suka makan gorengan. Saya sering membeli gorengannya ketika tiga kali seminggu harus ke perpustakaan kota demi menuntaskan hobi membaca saya. Ya, selain menjadi PNS di sebuah SD, Ibu Hoi juga nyambi menitipkan gorengan di warung yang terletak dekat gerbang SD. Sudah 32 tahun ia mengajar. Ia tak tahu (juga tak paham) apa itu sertifikasi, bonus yang paling guru bincangkan. Dapat gaji dua kali, kata mereka. Dan Ibu Hoi tampaknya tak terlalu tertarik di luar perannya sebagai guru dan penjual gorengan. Ia seolah menikmati sekali hidup yang ia jalani selama ini. Setelah mengajar, saban sore ia mengitari kampung dengan kereta tuanya. Bertandang dari rumah ke rumah. Ibu Hoi juga menjadi penjahit keliling.
Ibu senang saja melakukannya. Selain menambah uang belanja, banyak bertandang, panjang umurnya, demikian selorohnya suatu waktu.
Ketika itu, penulisan-kisahnya didorong oleh pengumuman sebuah lomba yang diadakan oleh kantor Diknas Kabupaten. Menulis kisah inspiratif. Hadiahnya lima ratus ribu. Pikir saya, hadiah itu dapat dibagi dua dengan Ibu Hoi kalau naskah saya menang. Saya menulis dalam bentuk surat. Kreativitas, itulah dasar saya memilih gaya berkisah seperti itu. Tapi apa hendak dikata, satu hari menjelang dikirimnya surat-cerita itu, Ibu Hoi meninggal dunia. Setahu saya, Ibu Hoi tidak mengidap penyakit jantung, atau penyakit lain yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Jadi, menurut saya, dengan semua keluguannya menjalani kehidupan, dengan semua pengabdiannya di sekolah, kematiannya adalah satu dari kematian yang paling diimpikan.
Ketika itu saya sibuk membantu beberapa tetangga mengurus jenazahnya, menyambut para pelayat, mengundang orang-orang untuk membaca Yaasin di malam harinya.... Saya pun lupa mengirimkan naskah itu. Saya baru ingat setelah nama-nama pemenang diumumkan. Kabarnya, semua tokoh yang kisahnya dituliskan, meninggal ketika naskah-naskah dinilai! Saya terperenyak. Bagaimana mungkin? Tapi ketika mendapati kebenaran kabar itu, saya pun berprasangka baik (saya yakin, kali ini prasangka saya benar): Pada kurun itu, Tuhan sedang menjemput orang-orang pilihan-Nya. Dan itu sangat mungkin, hati kecil saya menegaskan. Entah, tiba-tiba saya tak menganggap kabar duka itu sebagai sesuatu yang layak dirutuki.
O ya, saya pula pernah menulis cerita tentang Pak Arman. Guru Agama yang kini sudah sepuh. Maklum, dia adalah guru ketika saya SMP. Saya ingat sekali. Dulu, ketika bersama teman-teman, saya dihukumnya berlari keliling sekolah sepuluh kali di siang bolong. Kami yang waktu itu jumlahnya lima orang memang dikenal berandal. Kami tahu kami salah. Tak hafal Asmaul Husna, tak hafal 20 ayat pertama Al Baqoroh, juga masih tak hendak melancarkan bacaan Quran. Kami juga tak bayar uang sumbangan membeli sarung dan mukena untuk musola sekolah. Musola yang hampir rubuh. Kami sangsi bahwa uang itu akan digunakan untuk membeli perlengkapan shalat. Kami masih trauma dengan kasus Bu Lita, wali kelas kami. Sumbangan kami yang 2500 rupiah per orang, tak jelas ke mana perginya. Katanya hendak dibelikan sapu, kotak sampah, gorden, vas bunga, dan seprei. Ternyata hanya kotak sampah dan sapu yang dibeli. Masing-masing satu pula. Kami pikir, Pak Arman tak ubahnya seperti Bu Lita.
Namun begitu, alasan yang paling kami gembar-gemborkan ketika itu adalah atas nama harga diri (dalam usia bau kencur ketika itu, kami sudah bertingkah dengan dua kata yang seakan sangat kami pahami itu....)! Kami benar-benar merasa terhina ketika teman-teman (termasuk gadis-gadis yang kami taksir) menyaksikan kami yang kelelahan menjalani hukuman.
Maka, kami pun membuntuti Pak Arman pulang. Kami tak memalaknya di jalanan sepi menuju rumahnya. Ya, kami cukup cerdas. Sebagai berandal-berandal yang baru disetrap, tentulah kami sangat mudah menjadi tersangka pemalakannya. Kami berencana memalaknya esok pagi saja, ketika Pak Arman keluar dari perempatan jalan rumahnya. Maka, kami menguntitnya hingga memasuki lorong di perempatan. O, kami tak tahu, bila rumahnya jauh ke dalam. Mungkin sekitar dua kilometer. Jalan kaki. Kami lelah sendiri. Dan, o o, kami kedapatan olehnya. Tubuh kami gemetar (kami lupa bahwa Pak Arman tak tahu rencana jahat kami). Kami diajaknya duduk di rusbang di bawah pohon nangka, dekat sebuah rumah yang lebih layak disebut gubuk.
Pak Arman bertanya perihal kedatangan kami. Belum sempat kami menjawab, dari gubuk itu, berkeriapan anak-anak kecil (kalau tak salah jumlahnya lima orang) menyongsongnya. Mereka disuruh Pak Arman salim kepada kami. Kami pun menyambutnya dengan semringah. Tahulah kami, mereka adalah anak-anak guru agama kami itu. Pun, kami tak perlu bertanya siapa pemilik gubuk dekat situ, bukan?
Tak lama, muncullah seorang perempuan paruh baya. Membawakan beberapa gelas plastik dan ceret aluminium dalam nampan plastik. Kami segera menyalaminya. Mencium punggung tangannya. Tak perlu dikenalkan pun kami tahu kalau ia istri Pak Arman.
Ketika kami melepas dahaga, Pak Arman masuk ke gubuk. Tak lama ia sudah muncul dengan menggiring sebuah sepeda motor butut. Kami bertanya, mengapa ia tak mengendarainya untuk ke sekolah. Dan... baru tahulah kami. Motor butut itu adalah sewaan. Tigapuluh ribu per hari. Pak Arman mengojek sepulang mengajar. Maka, mulai detik itu, kami bagai lupa perihal palak-memalak itu....
Kisah tentang Pak Arman itu saya tulis. Beberapa hari kemudian, saya membacanya di hadapan teman-teman ketika kelas Bahasa Indonesia. Empat teman saya yang lain pasti tahu kalau saya tidak sedang membacakan Sebuah Surat untuk Pak Presiden sebagaimana yang diminta oleh Bu Desy. Namun, tak ada yang menyela. Termasuk guru Bahasa Indonesia kami itu. Saya ingat sekali, mata teman-teman saya basah ketika cerita berakhir. Ibu Desy pun permisi ke toilet. Saya tahu, dia hendak menyembunyikan mata merahnya dari kami.
Entahlah, apakah ini akan dianggap sebuah surat atau tulisan lepas, atau semacam cerita saja. Saya tak banyak berharap, sebagaimana saya tak tahu kepada siapa surat ini mesti saya kirimkan. Hanya tiba-tiba terbetik ide, saya ingin mengirimkannya ke sebuah suratkabar. Siapa tahu surat ini dimuat. Lalu dibaca banyak orang. Atau juga dibaca Pak Presiden! Amin.
Allahumma amin.
Lubuklinggau, 2010
Untuk Istriku, Desy Arisandi
Dimuat di Suara Pembaruan, Minggu, 22 Agustus 2010
YUN membuka pintu. Yang berdiri di sana dengan senyum cerah. Di tangan kanannya, dua bungkus lontong tahu dijinjing dalam kantung plastik berwarna merah pias. Yun segera menyambut sarapan pagi itu. Membawanya masuk. Yang membuntuti. Setelah berbincang sekenanya, Yun segera ke belakang. Yang menunggu di meja makan.Tak lama, Yun sudah membawa dua piring lontong tahu, secangkir teh setengah manis, dan secangkir kopi pahit, dalam tatakan melamin. Yang meniup-niup kecil permukaan air kopi sebelum menyeruputnya. Terdengar suara derup-derup dari bibir hitam yang berkerut-merut itu.
"Bagaimana, Bang?" Yun baru memegang telinga cangkir teh yang masih mengepulkan awan-awan halus. "Pas rasanya?" Satu teguk teh berselancar di kerongkongannya.
"Hmmm...." Mata Yang berbinar. "Seperti biasa. Pahitnya mantap, Dik!" Ia seruput lagi kopi itu.
Yun semringah. "Ayo Bang, kita makan. Tak enak kalau sudah dingin."Disodorinya sepiring lontong tahu di atas meja, dua kilan dari wajah Yang.
Yang menyambutnya. Mulai melahapnya.
Suasana sarapan sangat hangat. Mereka menyelinginya dengan membincangkan banyak hal. Tentang rencana berbulan madu kembali ke luar kota (maklum, sudah enam tahun kawin tapi belum punya anak), tentang piknik akhir pekan ke lereng Bukit Sulap, tentang Yun yang akan segera berhenti bekerja sebagai pembantu di kediaman lurah, atau sekadar menderai canda kecil yang akan membuat para tetangga iri.... ai, sangat intim. Sangat mesra. Sangat indah.
Yang juga sudah berjanji bahwa ini adalah hari terakhir Yun mencuci, menyetrika, menyapu, atau (bisa saja) memasak sekalipun. Yang sudah mencarikannya pembantu.
"Namanya Yin, Dik. Dia lima tahun lebih muda dari kau. Jangan pula kaupikir aku akan tergiur olehnya. Kautahu, sekujur tubuhnya bebercak putih karena kulit yang mengelupas. Kabarnya, ia pernah hampir mati terbakar di rumah majikannya yang lama. Jadi, mana mungkin aku silap dengan gadis buruk rupa.Pembantu pula!" Yang tertawa sambil menggelengkan kepala.
Yun mencubit pinggang Yang. "Ya, ya, ya, percaya aku, Bang!"
Yang nyengir. "Lagipula siapa yang dapat mengalahkan kecantikanmu, Dik."Yang menyentil kuncup dagu Yun.
Yun tersipu. Matanya berkedip-kedip. "O ya, Abang juga mau berhenti minum, kan?" Dibenahinya kerah kemeja lusuh Yang.
"Tak mungkinlah, Sayang."
Daging kening Yun bersilipat. "Kok...?" Yun mendongak. Menatap mata Yang yang masih semringah.
"Tak mungkinlah, Sayang." Dielusnya rambut Yun yang tergerai. "Bila berhenti minum, keringlah kerongkongan. Matilah Abang....!" Yang ngakak. Pun Yun.
"Apalagi melahap sambal cong racikanmu. Hmmm..., tak tahan pedasnya! Tentulah harus minum Abang, Dik!" Yang mengitari Yun. Ia peluk Yun dari belakang. Segera Yun gamit kedua tangan suaminya yang kini melingkar di pinggangnya itu. "Iya, Dik. Takkan Abang mabuk-mabukan lagi...."
Perasaan Yun riang nian. Air mukanya merah buah ceri. Adakah yang lebih menenteramkan selain memiliki pujaan hati yang memenuhi semua pinta? Dan ketentraman itu makin terasa karena sebelum hari ini, Yang adalah laki-laki yang kasar.Suami yang kasar.
....
Sebenarnya Yang laki-laki yang baik, suami yang bertanggungjawab. Demikian kerap Yun membela Yang ketika para tetangga kedapatan menggunjing suaminya itu. Pembelaan itu bukan tanpa alibi. Yanglah yang menyelamatkannya dari gerombolan berandal yang hendak memerkosanya beberapa tahun silam. Walaupun bakda itu Yang menolak dikatakan berjasa atas masih terjaganya kehormatan Yun.
"Kukira kau wanita itu. Ternyata hanya mirip," ujar Yang setengah berteriak ketika Yun mengucapkan terimakasih kepadanya.
Yun tak bertanya lebih jauh siapa wanita yang Yang maksud. Sebagai gadis tanpa karib yang menyeberang pulau; lari dari rumah karena tak ingin dijodohkan, Yun merasa Yang adalah laki-laki yang lebih layak menjadi pelindung dibanding Midin, juragan sapi yang sudah beristeri tiga, yang disodori orangtuanya.
Yun bersikeras meminta Yang mengajak ke kediamannya. Yang tak hirau. Namun,akhirnya luluh pula ketika Yun menceritakan semuanya.
"Aku cuma preman. Tak malu kau berkawan denganku?"
Yun menggeleng.
"Maksudku, walaupun preman, aku tinggal di kampung orang beradat. Jadi, kaupaham, kan, maksudku?"
Entah, keberanian dari mana yang menyambangi, Yun tiba-tiba mengatakan (mungkin "menawarkan" lebih tepatnya) hal itu. Yang terkesiap. Namun, siapa yang kuasa menolak gadis cantikserupa kekasih yang baru saja pergi?
Demikianlah asalmula rumahtangga Yun-Yang. Maka, dimaklumkanlah bila Yun kerap bersitegang dengan sesiapa yang, menurutnya, sok tahu tentang Yang. Bahkan, Yun lebih kerap berkoar pada diri sendiri, melawan hati kecilnya yang seolah tak lelah membingar: "Sudahlah, Yun. Apalagi yang kauharap? Takkah lebamdi sekujur tubuh sudah cukup membuatmu sulit melupakan kebejatan Yang?!"
Lalu, apakah utang budidapat membuat seseorang menjadi setia-buta? Yun memang seperti tak peduli tabiat buram Yang: kerap mabuk-mabukan di Pasarpucuk, memukul-menendang tubuhnya, main serong (kabar yang paling santer: dengan Yin). Tentang Yin, saking tak pedulinya, Yun tak pernah tahu seperti apa nian perempuan itu.Dan hari ini, terjawablah semua. Yun senang tak kepalang. Yang baru saja bilang kalau Yin bukanlah gadis yang layak dirisaukan. Ya, Yun paham sampai keputih-tulang kalau selera suaminya cukup tinggi terhadap wanita.
Diam-diam, Yun kerap memerhatikan lekuk tubuhnya di cermin. Memang, ia tak seramping ketika baru menikah dulu. Daging lengan, pinggang, dan lehernya, sudah mulai menggelambir. Namun, satu hal yang tak terbantahkan. Pendar-pendar kecantikan di wajahnya belum pudar. Lesung pipit masih tertitik di sebelah pipi. Rambutnya masih hitam tergerai; saban Ahad masih rajin ia keramasi dengan lendir lidah buaya dan sari jeruk nipis. Dadanya masih membusung; tak banyakmengendur seperti wanita yang sudah kawin kebanyakan. Jadi, manalah mungkin pembantu buruk rupa itu akan membuat Yang takluk!
"Dik, Abang bawa hadiah untukmu. " Yang memberikan dua kantung plastik besar pakaian. Entah dari mana ia mendapatkan itu. Perasaan Yun, ketika masuk rumah tadi, Yang tak membawa apa-apa selain dua bungkus lontong tahu. Namun tanya itu segera menguap ketika menyadari apa yang diberikan Yang kepadanya.
"Pakaian sebanyak ini sengaja Abang beli untuk kau, Sayang," ujar Yang demi memerhatikan Yun yang terperangah gembira dengan pemberiannya.
Yun masih terperangah ketika Yang mengatakan bahwa memang sepatutnya ia menyenangkan isterinya hari itu.
"Hari ini kau genap 30 tahun, kan, Dik?" Yang menatap mata Yun yangberbinar-binar.
"Ya Tuhan, seumur hidup, baru kali ini hari lahirku dirayakan, Bang!" MataYun berkaca-kaca. Bahagia-raya. Serasa tak percaya atas perlakuan istimewa yang ditujukan kepadanya.
Saking senangnya, Yun membuka kantung plastik itu serta merta. Merobeknya di beberapa bagian. Membuyarkan isinya. Pakaian-pakaian itu tumpah-ruah, menggunung di atas tikar dekat setrikaan. Baru saja ia hendak menyentuh sebuah rok merk terkenal, pintu diketuk seperti terburu-buru. Yun terkesiap. Bukan oleh suara daun pintu yang digedor dengan serampangan. Namun karena mendapati pakaian-pakaian baru hadiah itu telah menjelma menjadi tumpukan pakaian kering yang baru saja diangkatnya dari tali jemuran belakang. Matanya menyapu sekeliling. Bibirnya gemetar. Tubuhnya menggigil. Oh, gunungan pakaian yang belum disetrika, rumah yang belum disapu, makan siang yang belum dimasak, kamar yang belum dirapikan.... Yun dicengkeram ketakutan yang sangat.
Gegas ia ke belakang. Mengambil sesuatu dari dapur. Menyimpannya di balikpinggang. Menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu.
Krek!
* * *
BARU seperempat daun pintu dikuak, Yun terperenyak. Yang menggandeng seorang wanita yang tampaknya beberapa tahun lebih muda darinya. Oh, Yun tak perlu ragu untuk menyimpulkan kalau ia adalah Yin (walaupun tak ditemukan bakat-bakat bekas terbakar di beberapa bagian tubuhnya, apalagi wajahnya; oh,wanita itu sangat cantik, sangat mirip dengannya!).
Baru saja Yun hendak bertanya tentang wanita itu, botol bir murahan ditangan kiri Yang menghantam kepalanya. Oh, biru-hitamlah kini wajahnya—padahal belum hilang bakat ungu di pelipis karena digampar Yang dua hari yang lalu.
"Apa saja kerjamu malam tadi, hah?!" Yang membelalak. Kepala Yin masih menggelayut di sebelah bahunya. "Hendak kawin pula kau dengan Lurah Rojak?!" Bau sepat alkohol menghambur ke wajah Yun.
Malam tadi Yun memang tak sempat pulang dari rumah Lurah Rojak, majikannya di utara kampung. Sekitar 20 kilometer dari kediamannya. Pasalnya, hujan merajam tak alang kepalang, pohon-pohon teleng bagai habis menenggak berderum-derum bir, belum lagi rumah-rumah penduduk yang suram karena gardu di simpang pos ronda di sambar petir.... Selain keadaan alam yang tak memungkinkan untuk pulang, Yun pula tak singkuh menginap karena isteri majikannya ada di rumah.
Yun belum sempat berkata-kata ketika Yang menendang tumpukan pakaian yang belum sempat ia setrika.
"Pakaian-pakaian ini kautumpuk saja!" Yang menggamit Yin ke arah kamar. Tak lama, Yang muncul dari dalam kamar. "Kenapa tak kaurapikan ranjang tu, hah?!"
Gigi-gigi Yun bergemutukan. Dadanya turun naik.
"Atau kau tahu kalau Yin tidur denganku di sana malam tadi?!" Yang terbahak-bahak sembari menunjuk ke arah kamar. Yin tampak merapikan seprei dan baju-celana yang berserakan di sana.
Yun meraba belakang pinggangnya (sementara Yang meneriakinya agar segera memasak mie instan untuk dia dan Yin). Yun berkomat-kamit seolah melafal doa. Bagai meminta Tuhan memaklumi apa-apa yang akan dilakukannya.
"Kenapa? Kau tak senang?" Yang mendekatkan wajahnya ke wajah Yun. "Memangnya kau saja yang boleh tidur dengan laki-laki lain di ujung kampung..." Suara Yang tercekat. Bola matanyabagai mau meloncat.
Yin berteriak histeris. Terburu-buru ia menuju pintu depan. Sayang,langkahnya disenggal kaki kiri Yun. Yin terjerembab. Kepalanya terbentur lantai semen yang tak rata. Berdarah. Tubuhnya hanya sempat beberapa detik menggeliat, sebelum kedua kaki Yun menginjak-hantam lehernya. Yin kaku seketika. Tepat di samping tubuh Yang yang berdarah-darah.
Yun terbahak. Tawanya menggelegar. Membahana. Bagai mempersilakan orang-orang kampung mendatangi kediamannya. Menyaksikan keperkasaannya atas kuasa Yin dan Yang. Atas penindasan yang kapalan ia reguk....
* * *
YUN menyerahkan diri ke kantor polisi di kecamatan. Orang-orang kampung mengiringinya. Bukan, bukan meminta pihak berwajib menghukum wanita itu seberat-beratnya (sebagaimana tuntutan terhadap kasusserupa). Mereka hanya ingin membentang simpati.
Bukan salah dia, Pak Polisi. Kalau menjadi Yun, kami pun akan memelintir leher Yin dan menancapkan pisau ke ulu hati Yang!!! (*)
Lubuklinggau, 19 s.d. 24 Februari 2010
Dimuat di Suara Pembaruan, Minggu, 20 Juni 2010
L
LELAKI itu adalah orang yang paling depan berdirinya dan paling keras koarannya bila menghujat ayahnya, pamannya, saudara laki-lakinya, atau teman laki-lakinya. Walaupun sampai kini ia belum juga paham mengapa ketika mereka menatap balik padanya, ada rona skeptis dari mata-mata setan itu. Apa yang kaukatakan, hah? Seakan-akan kalimat itu mencuat dari bibir orang-orang yang dibencinya itu ketika idealismenya akan konsep kelelakian ia ceramahkan. Ya, tanpa kata-kata, hanya dengan bahasa tubuh, mereka balik mengejek laki-laki itu, lebih kejam dan menyakitkan....
Apakah ini yang namanya karma, atau ini yang disebut azab, atau ini.... Aaaah, tidak! Tak ada itu! Lantas, menurutmu apa-apa yang laki-laki itu rasai saat ini adalah sebuah kebetulan, ketiba-tibaan, kelangsungjadian?
Lelaki itu berkeringat dingin. Ia melangkah keluar rumah. Berharap angin malam dapat menyejukkan pikirannya. Aku terlalu lelah, mungkin. Lelaki itu dengan daya upaya yang ia bisa, mencoba membesar-besarkan hati bahwa semua hanya bunga penatnya.
Angin mendesau pelan, selaras dengan malam tua yang lamban menggeser waktu. Lelaki itu menghirup udara sambil memejamkan mata. Seakan mencoba khusyuk meresapi bunyi dan bau napas yang dengan lembut melewati mulut dan hidungnya. Segaaar!
Perlahan-lahan dibukannya kelopak mata yang berbulu lebat itu. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati sebuah pemandangan ganjil: sekuntum mawar raksasa yang masih kuncup bertegak kokoh di salah satu sisi pekarangannya. Mawar itu seakan-akan tengah menatapnya lekat-lekat.
Lelaki itu menggigil. Ia membalik badan. Menuju pintu rumah yang setengah terbuka. O o, kakinya berat. Lelaki itu merasa seakan-akan sekuncup mawar raksasa itu tengah berjalan ke arahnya perlahan-lahan. Terbayang olehnya, bagaimana adegan beberapa film horor yang pernah ditontonnya: tangan berjalan, kepala terbang, boneka pembunuh yang membelalak, atau ooo... ini mawar!! Perasaannya, dalam film-film horor, bunga itu tak pernah diilustrasikan sebagai simbol pembunuh, setan, hantu, atau apalah! Ooohh...
”AAAAH...!!!” Lelaki itu berkeringat dingin. Tak henti ia mengucap syukur bahwa semua hanya mimpi saja. Maka, beranjaklah ia ke kamar mandi. Baru seperempat daun pintu dibuka, seketika ia terperanjat mendapati dinding kamar mandinya sudah dipenuhi daun sirih yang merambat-menjulur. O bukan, bukan itu yang menjadi titik keterkejutannya. Sirih itu, ya sirih itu. Berbuah semangka? Oh, ini bukan saatnya bergurau, Kawan. Daun sirih itu, berbunga. Bunga yang sangat ia kenal. Warnanya.... darah! Merah kelam. Itu... bunga mawar. Bagaimana bisa? Laki-laki itu mengucek matanya beberapa kali. Mencubit-cubit lengan kanannya. Menampar-nampar pipinya. O tidak, ia tidak sedang bermimpi. Ini nyata!!!
”Nak, cepatlah bangun! Sarapan.”
Lelaki itu tersedak mendengar seruan dari luar kamar. Ibu. Ya, itu suara ibunya. Maka, makin terheran-heranlah ia, menyadari bahwa ia benar-benar tidak sedang bermimpi. Gegas ia melangkah keluar kamar, menuju ruang makan. Di sana, ibunya menyambut dengan senyum sabit.
”Kemarin... Ibu lupa namanya. Ada temanmu yang ngantarin puding. Katanya enaknya dimakan hari ini, Nak.” Wanita beruban itu menghidangkan beberapa potong puding berwarna kuning yang baru dikeluarkan dari kulkas. Tak lama, ia berlalu ke dapur.
Uuuh... setidaknya lelaki itu bisa bernapas sedikit lega mendapati warna makanan itu. Tidak merah.
Lelaki itu mengangguk. O o, tunggu dulu ini pemberian siapa?
“Kemarin udah Ibu cicip. Maaf ya Nak, tak bilang-bilang padamu. Tapi memang enak. Hebat benar teman laki-lakimu itu memasak.” Ibunya berseru dari dapur seakan-akan dapat membaca pikiran lelaki itu.
Laki-lakiku? Mengantar puding...?
”O ya, sepertinya itu puding wortel. Ditambah stroberi juga. Sudah kaucoba, belum?”
Lelaki itu tersadar dari lamunannya yang sejenak itu. Sesegera ia membuka plastik minyak berwarna kuning yang menutupi puding tersebut. Beberapa detik kemudian, ups! Lelaki itu tergagap. Bibirnya gemetar. Puding itu...
”Enak, Nak?”
Lelaki itu tak memedulikan suara sumir ibunya yang entah sedang apa di belakang sana. Ia bermaksud mengambil potongan-potongan puding merah hati yang berbentuk mawar di atas meja makan itu, membawanya ke beranda... dan membuangnya,
O o, ada apa dengan dunia ini? Mengapa...?
Lelaki itu teduduk, tersimpuh di beranda. Puding mawar ditangannya terjatuh berkeping-keping. Di hadapannya, di pekarangan yang tak begitu luas itu, rerumpunan mawar yang beranting-ranting menyemak di sana-sini. Di setiap sudut, hingga membentuk pagar daun, pagar duri, pagar mawar. Di salah satu sudut, tampak menonjol sendirian setangkai mawar raksasa yang belum mekar sempurna. Mungkin sebesar itulah bunga raflesia itu, pikirnya. Atau, jangan-jangan, yang ada di hadapannya inilah yang disebut bunga raflesia, batinnya. O tidak, walaupun lelaki itu belum pernah melihat bunga bangkai itu secara langsung, tetapi setahunya, bunga raflesia tak berbatang, tak berkuntum. Ia hanya berbonggol. Ya, itu mawar. Jelas-jelas mawar. Mawar dalam mimpinya!
”Lho, Nak, ngapain duduk di beranda? Kotor.”
Lelaki itu menengadah. Mendapati wanita berbaju kurung sudah bediri di muka pintu. Ia tak menyahut. Ia matikata.
”Mengapa kauserakkan puding-puding itu, Nak?” Ibunya menunjuk ke potongan puding yang menyerak di sekitar si lelaki.
O tidak, potongan puding itu sudah berubah menjadi mawar-mawar dengan beragam ukuran. Oh... lelaki itu terjerembab. Lebih tepatnya, memaksa tubuhnya untuk terjerembab. Pingsan artifisial. Dengan sepenuh jiwa ia berharap, ketika siuman nanti, entah dari tidur atau dari pingsan—buatan—nya, ia akan segera mendapati semuanya kembali seperti semula. Baik-baik saja.
”DARI pagi tadi, sejak dibawa ke rumah sakit ini, perutmu belum diisi, Nak. Kata dokter, kamu harus makan makanan yang lembut, halus, dan mudah dicerna, seperti puding ini.” Ibunya menyodorkan sepotong puding pada lelaki yang didudukkan di sebuah dipan dengan kasur putih.
”Puding? Ooo tidaaak!!!” Lelaki itu menggeleng dengan mata terpejam.
”Makanlah. Puding ini kiriman istrimu, Nak.”
Istri? Siapa isteriku?
Lelaki itu membuka matanya perlahan. Sangat perlahan. Tiba-tiba ia menggeleng. Ia ketakutan. Bukan, bukannya mendapati puding yang berbentuk, berukir, dan berwarna mawar. Tetapi... mendapati sekuntum mawar yang sudah mekar sempurna, setinggi tubuh orang dewasa, berdiri di samping ibunya.
”Ada apa, Nak?”
Lelaki itu beringsut menarik selimutnya, bersandar di kepala dipan. Tampak sekali ia memaksa memejamkan matanya. Kepalanya masih menggeleng. Wajahnya pucat.
”Takkah kau merinduinya? Sudah lama tak bertemu, bukan? Yah, Ibu mohon ma’af kalau dulu tak menyetujui pernikahanmu. Tapi sekarang Ibu sudah merestuiya, Nak. Walaupun tak berhasil jua Ibu meyakinkan ayahmu dan saudara-saudara laki-lakimu itu.” Wanita itu menatap putranya lekat-lekat. Membelai rambutnya, seolah ia adalah anak belasan tahun. ”Semua bukan karena Ibu sudah bercerai dan tak satupun saudaramu yang ingin ikut Ibu, tapi... ah, sudahlah, Nak. Ibu tahu, kau tak memerlukan restu binatang-binatang itu, bukan?”
Lelaki itu menggigil. Ia sungguh tidak mengerti dengan semuanya. Bahkan, ia pun tak tahu, apakah ia tengah bermimpi atau tidak. Kalaupun iya, alangkah panjangnya mimpi ini? Alangkah membingungkan dan menakutkannya mimpi ini? Atau... sebenarnya ia sudah mati. Seperti inikah alam sesudah hidup itu? Absurd, ganjil, aneh, asal-asalan. Tak ada sebab-akibat lagi! Sungguh, sungguh yang sebenar sungguh, lelaki itu sudah lelah dengan semuanya. Lelah yang sangat. Gila!!
”Mark, tolong tenangkan suamimu, ya,” wanita itu menoleh pada sekuntum mawar raksasa di sampingnya, sebelum tersenyum tipis pada lelaki itu.
Aku suami dari Mark? Mawar raksasa itu? Mark-Mawar?Apa-apaan ini, Tuhan?
Mawar raksasa merapatkan kuntum hijau berdurinya pada lelaki itu, seolah-olah hendak memeluk lelaki itu, menenangkan suaminya.
Lelaki itu berteriak. Terus berteriak hingga tak ada lagi suara. Ia mempingsan-pingsankan diri. Memejam-mejamkan mata. Memaksa membunuh diri dan jiwanya dengan perasaan yang menghunjam-hunjam, yang tiada dipahaminya.
Para pasien lain dan orang-orang yang ada di sekitar ruang inap itu berkerumun di sana.
”Bukan salah kau, Mak.”
”Lagipula bukan kehendakmu tak pulang selama 20 tahun, kan, Mak?”
”Memangnya dia bisa merasakan susahnya mencari uang sebagai TKW!”
”Sudahlah, Mak. Tak ada dalam adat percintaan macam sepert itu.”
”Bila anak bujangmu gila, mungkin itu balasannya, Mak.”
”Sudahlah, Mak. Pulang saja. Anggap kau tak pernah ber-anak.”
”Bukan!” bantahnya. Ia membelalak pada perempuan-perempuan yang seolah-olah peduli padanya dan anak lelakinya. Hampir saja ia tumpahkan beban yang menyesak itu. Namun ia bagai tersadar bahwa takkan ia katakan bahwa semua ini salah suaminya. Lelaki yang berulangkali menunggangi anak lelakinya yang kala itu masih belia di kebun mawar belakang rumah, ketika ia memeras keringat di Hongkong. Perempuan itu mengutuk-ngutuk, sebelum menangis, meraung sejadi-jadinya, seperti orang gila.
Ada yang bersitatap; memastikan bahwa tak hanya ia sendiri yang berempati. Ada yang menunduk saja. Ada yang bermata-kaca. Tak ada yang berani menyanggah. Walaupun semuanya masih singup, namun mereka bagai dapat menyimpulkan; terlalu berat perkara itu untuk jadi bahan pergunjingan.... (*)
/Lubuklinggau, Januari 2009 s.d. Januari 2010
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Pembaruan, 17/01/2010
Kini, tahun-tahun gugur melahirkan tahun-tahun baru. "Ibarat tunas pohon ek yang mengitari pabrik- pabrik keju Algau, An."
Begitu kau mengumpamakan Desember yang diusir Januari empat tahun lalu. Oh Meir, aku begitu tolol, ya? Mencintai engkau, wanita yang tak mencintaiku. Tapi, mengapa kau seolah nyaman ketika bersamaku, Meir? Tidakkah itu artinya kau pun merasai apa yang kurasakan. Ya, lagi pula, bukankah kau sendiri dulu pernah bilang begini: kata orang bijak, bila kau merindukan seseorang, sejatinya orang itu pun merasakan hal yang sama. Ah, aku tak percaya itu, Meir. Maksudku, bila pun kau merinduiku, aku yakin itu hanya seperduapuluh dari rinduku yang menyala-nyala!
Bumi Itu bulat, An.
Lagi, aku terngiang kata-katamu itu. Kau sangat memercayainya walaupun sudah kutanyakan apa maksudmu dengan postulat itu. Bumi itu bulat, titik! Apalah istimewanya, Meir!
Aku ingat sekali, kau hanya tersenyum kala itu. Lalu, kau pegang jemariku. Lebih tepatnya, meremas tanganku. Kau bisikan kata-kata dalam bahasa yang tak kumengerti. Bahasa Jerman, kira-kira begitu pikirku. Kau juga tersenyum (lagi-lagi meremas tanganku), ketika kutanyakan, dengan gaya berseloroh, bagaimana perasaanmu bila suatu saat aku meminangmu, menikahimu.
"Glucklich!"
Selain guten morgen yang berarti selamat pagi, dan madchen yang berarti gadis, aku tak tahu apa-apa tentang bahasa Jerman.
*
KAU katakan bahwa Hannover bukanlah kota kecil. Sangatlah mahfum bila kau menjadikan keberangkatanmu ke sana, sebagai jenjang karier yang takkan kau sia-siakan. Kau terus saja bercerita perihal perusahaan keju Wolfsburg yang akan menjadi tempatmu berdikari. Kau tegaskan, kau satu-satunya orang Indonesia yang dipekerjakan di sana. Bahkan, mungkin pula, satu-satunya wanita Asia Tenggara yang berhasil memakai seragam biru dengan bros menyerupai pohon cemara kecil di dada kananmu.
"Orang-orang di sana sudah tahu tentang keberangkatanmu, Meir?" Hebat! Aku pun tak tahu bagaimana pertanyaan itu dapat menyusup di antara riuh-rendah ceritamu tentang tempat kerja-barumu itu.
"Ya. Klinso, dia yang akan menjemputku?"
"Klins...?"
"Klinso!"
"Oh, Klinso. Kau sudah sangat dekat dengannya, ya?"
Kau tertawa renyah. "Facebook, An. Facebook!" Kau menaik-nurunkan alis bagai menunjukkan betapa bangga kau mendapat teman lelaki dari luar negeri.
"Oooo...!" Ah, bibirku yang monyong tiba-tiba terlalu basi untuk menutupi ketaknyamanananku atas pembincangan ini. "Dia pasti teman yang baik, ya Meir?"
Kau sumringah. " Dia single, An. 27 tahun. Aslinya dari Texas.
"Mmm...," kau mengangguk-angguk seolah memikirkan sesuatu. "Sebentar," telunjukmu memilin ujung rambutmu. "Mengapa kau tampak antusias tadi, An?"
"Kapan?" tanyaku pura-pura tak sadar. Sungguh, itu refleks saja. Aku matigaya bila ceritamu sudah mengindikasikan betapa kau akan semakin jauh dariku. "Yang mana, Meir?" Kembali aku berpura-pura.
"Sudahlah, An. Forget it!"
Oh, untunglah.
"O ya, aku akan take off besok jam delapan. Katanya sih transit di Singapura dulu. Dan, itu berita gembira, An!"
"Ya, kebetulan sekali, ada temannya Klinso di Orchad Road yang akan ke Jerman pula. Jadi barengan deh!"
"Laki-laki?"
"Madchen, An!"
"Syukurlah, Meir."
"Maksudmu?"
"Maksudku, syukurlah kau punya teman di pesawat nantinya."
Ooooh, sudah sebegitu dekatnyakah kau dengan Klinso, Meir...?
*
KAU bodoh, An! Mengapa kau ucapkan selamat tinggal padanya bila kau masih mau mencoba?!
Tidak, aku tidak mengucapkan selamat tinggal.
Tapi kau lepas ia ke Jerman?
Tidak. Aku bahkan tak ke bandara pagi itu.
Sekarang dia di Hannover, kan?
Ia bekerja di sana.
Bersama Klinso?
Ya, temannya.
Termasuk teman tidur.
An, An..... Jangan pernah menyerah bila kau merasa masih sanggup.
Jangan sesekali mengatakan kau tak mencintainya jika kau tidak dapat melupakannya!
BUGGGG!
Kutiupi tanganku yang terasa panas berdenyar-denyar. Aku baru saja meninju tembok. Oh, keparat! Aku berhalusinasi lagi. Oh, tiba-tiba kepalaku berat.
Kau harus percaya bumi ini bulat, An.
Untuk apa.
Untuk harapanmu yang tak pernah mati pada Meir.
Maksudmu?
Percaya sajalah.
*
KAU mengirim e-mail. Kau ceritakan bahwa Hannover adalah kota yang sangat indah. Kau sering ke taman kota hanya untuk melihat gerombolan burung dara menyongsong para pengunjung yang merelakan telapak tangan mereka (yang dipenuhi dry-corn) dipatut mereka. Kau selalu membawa kamera-digitalmu ketika bepergian. Termasuk memfoto unggas-unggas jinak itu. Tak jarang kau minta difoto oleh Klinso-ah Klinso lagi, Klinso lagi, bila kau berada di antara kerumunan burung. Kau tampak sangat bahagia.
Segera kubuka Facebook. Kusearch Mira Sugita.
Not Found!
Oh, apakah kau telah meremoveku dari pertemanan FB-mu? Atau kau telah menutup account FB-mu? Atau kau kini aktif ber-twitter-ria? Atau....
Ups! Kulihat profile. Sebuah tagging foto terbaru. Ada wajahmu di sana. Kubaca tulisan pengirim di atas foto: Meir Sugern. O, kau sudah mengubah namamu menjadi sangat Jerman.
Seperti yang kauceritakan di e-mail, beberapa foto taggingan-mu bagai berseru: aku benar-benar bersama burung-burung itu! Kau berpose bersama seorang wanita. Kalian tampak sangat akrab. Ah, dia pasti temannya Klinso yang berangkat dari Singapura tempo hari. Kubaca keterangan foto: Luneburger Heide.
Oh, tempat apalagi ini?
Kubaca lebih lanjut. Ya ya ya, kau tengah bertamasya di sebuah sabana. Atau, mungkinkah ini padang rumput terluas di Eropa Barat, sebagaimana kauceritakan dulu.
"Dekat padang rumput luas itu, ada taman yang sangat indah, An. Namanya Lune Park. Taman itu sangat terkenal. Aku benar-benar ingin pergi ke sana."
DAMN! Bagaimana aku dapat mengingat percakapan kami menjelang keberangkatannya dulu. Ohhh....
Mengapa aku tak pernah menangkap gejala bahwa bule Jerman itu telah begitu lama mengincarmu, Meir! Oh, sialnya aku.
Segera ku-search 'Klinso". Seperti apa wajah lelaki itu!
Not found!
*
Telah kutamatkan riwayat facebook-ku. Aku memang tak mengerti bagaimana menutup account, tapi, aku telah menghapus semua data pribadi dan foto-foto, dan mengganti password dengan sejumlah angka-acak yang kutulis di kertas untuk memverifikasinya. Kemudian kubakar kertas itu. Tamat!
Tidak itu saja, setelah kubaca pesan singkatmu perihal kau sedang menikmati schooregg, keju khas Jerman yang berongga-rongga itu, klek! kumatikan ponsel. Kubuang kartu GSM-ku.
(Go to hell everything sounds and smells Meir!!!)
O o, tiba-tiba aku ingat sesuatu. Glucklich! Oh, mengapa baru kini terpikirkan olehku kata asing itu. Mungkin, itu hanyalah sepotong kata tak penting yang berarti: bercanda, gila, sinting, tak masuk akal....
Aku ingat sekali, setelah aku menanyakan pertanyaan paling gila sepanjang hayatku itu (dan kau melempar kata itu), aku menghilang darimu. Menghilang lama. Hampir satu tahun, dan kita bertemu di pergantian tahun yang kaukiaskan dengan sangat Jerman.
*
Hari-hariku bergelut dengan perulangan saja. Kesibukan yang selalu itu. Memayet kebaya pesanan beberapa teman, mengecek beberapa salon di Depok, ke twenty-one bila film-film yang dibintangi Jennifer Aniston diputar, atau sesekali membeli boneka barbie latest edition.
Aku tak tahu, telah berapa lama hidup tanpa Meir, tanpa Meir yang berbau Jerman. Terakhir, ketika sedang memilih gaun yang akan kukenakan di pesta pernikahan seorang rekan kerja di bilangan Kemang, aku menguping perbincangan dua wanita yang baru pulang dari Polandia (tentu saja mereka tak tahu kalau aku begitu memuja Meir), mereka bertemu Meir di Warsawa. Meir sudah menikah. Aku tak bertanya lebih lanjut. Termasuk apakah Meir telah punya momongan, atau jangan-jangan ia sedang hamil. (ah, lagipula, siapalah aku bagi perempuan-perempuan Warsawa itu?). Namun, adalah perih yang tak tepermanai ketika tiba-tiba mereka menyebutkan kata itu. Bahagia, demikian kutangkap arti 'glucklich'!
Oh, tentu aku tak perlu mencari-carinya nomor ponselmu hanya untuk meyakinkan bahwa Klinso pastilah seorang wanita. Oh Meir, bagai ada separuh jiwaku yang kembali. Walaupun aku tak mendapatkanmu, paling tidak, aku tahu kau pun mencintaiku.
MEIR, aku kini tahu mengapa kau katakan pertautan kita bak bumi yang bulat. Karena dunia menyerupai bola, kan? Maka ketika kita berseberangan, sejatinya kita semakin dekat. Karena aku akan tergelincir. Pun engkau. Melingkar. Lalu, lalu, lalu.... Oh, aku tahu lalu apa. Lalu kita tak bisa saling membohongi bahwa akhirnya cinta itu pun koyak-moyak tabirnya. Yang jelas, aku penting bagimu, bukan? Aku tahu, kau pasti tengah mencari-cariku. Entah, engkau akan gila karenaku atau tidak. Entah, engkau akan mati karenaku atau tidak! Kau percaya bumi itu bulat, kan? Oh, aku juga percaya. Sangat percaya.
Sangat-sangat percaya. ***
Lubuklinggau, 09 Januari 2009
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Pembaruan, 17 Januari 2010
Kini, tahun-tahun gugur melahirkan tahun-tahun baru. "Ibarat tunas pohon ek yang mengitari pabrik- pabrik keju Algau, An."
Begitu kau mengumpamakan Desember yang diusir Januari empat tahun lalu. Oh Meir, aku begitu tolol, ya? Mencintai engkau, wanita yang tak mencintaiku. Tapi, mengapa kau seolah nyaman ketika bersamaku, Meir? Tidakkah itu artinya kau pun merasai apa yang kurasakan. Ya, lagi pula, bukankah kau sendiri dulu pernah bilang begini: kata orang bijak, bila kau merindukan seseorang, sejatinya orang itu pun merasakan hal yang sama. Ah, aku tak percaya itu, Meir. Maksudku, bila pun kau merinduiku, aku yakin itu hanya seperduapuluh dari rinduku yang menyala-nyala!
Bumi Itu bulat, An.
Lagi, aku terngiang kata-katamu itu. Kau sangat memercayainya walaupun sudah kutanyakan apa maksudmu dengan postulat itu. Bumi itu bulat, titik! Apalah istimewanya, Meir!
Aku ingat sekali, kau hanya tersenyum kala itu. Lalu, kau pegang jemariku. Lebih tepatnya, meremas tanganku. Kau bisikan kata-kata dalam bahasa yang tak kumengerti. Bahasa Jerman, kira-kira begitu pikirku. Kau juga tersenyum (lagi-lagi meremas tanganku), ketika kutanyakan, dengan gaya berseloroh, bagaimana perasaanmu bila suatu saat aku meminangmu, menikahimu.
"Glucklich!"
Selain guten morgen yang berarti selamat pagi, dan madchen yang berarti gadis, aku tak tahu apa-apa tentang bahasa Jerman.
*
KAU katakan bahwa Hannover bukanlah kota kecil. Sangatlah mahfum bila kau menjadikan keberangkatanmu ke sana, sebagai jenjang karier yang takkan kau sia-siakan. Kau terus saja bercerita perihal perusahaan keju Wolfsburg yang akan menjadi tempatmu berdikari. Kau tegaskan, kau satu-satunya orang Indonesia yang dipekerjakan di sana. Bahkan, mungkin pula, satu-satunya wanita Asia Tenggara yang berhasil memakai seragam biru dengan bros menyerupai pohon cemara kecil di dada kananmu.
"Orang-orang di sana sudah tahu tentang keberangkatanmu, Meir?" Hebat! Aku pun tak tahu bagaimana pertanyaan itu dapat menyusup di antara riuh-rendah ceritamu tentang tempat kerja-barumu itu.
"Ya. Klinso, dia yang akan menjemputku?"
"Klins...?"
"Klinso!"
"Oh, Klinso. Kau sudah sangat dekat dengannya, ya?"
Kau tertawa renyah. "Facebook, An. Facebook!" Kau menaik-nurunkan alis bagai menunjukkan betapa bangga kau mendapat teman lelaki dari luar negeri.
"Oooo...!" Ah, bibirku yang monyong tiba-tiba terlalu basi untuk menutupi ketaknyamanananku atas pembincangan ini. "Dia pasti teman yang baik, ya Meir?"
Kau sumringah. " Dia single, An. 27 tahun. Aslinya dari Texas.
"Mmm...," kau mengangguk-angguk seolah memikirkan sesuatu. "Sebentar," telunjukmu memilin ujung rambutmu. "Mengapa kau tampak antusias tadi, An?"
"Kapan?" tanyaku pura-pura tak sadar. Sungguh, itu refleks saja. Aku matigaya bila ceritamu sudah mengindikasikan betapa kau akan semakin jauh dariku. "Yang mana, Meir?" Kembali aku berpura-pura.
"Sudahlah, An. Forget it!"
Oh, untunglah.
"O ya, aku akan take off besok jam delapan. Katanya sih transit di Singapura dulu. Dan, itu berita gembira, An!"
"Ya, kebetulan sekali, ada temannya Klinso di Orchad Road yang akan ke Jerman pula. Jadi barengan deh!"
"Laki-laki?"
"Madchen, An!"
"Syukurlah, Meir."
"Maksudmu?"
"Maksudku, syukurlah kau punya teman di pesawat nantinya."
Ooooh, sudah sebegitu dekatnyakah kau dengan Klinso, Meir...?
*
KAU bodoh, An! Mengapa kau ucapkan selamat tinggal padanya bila kau masih mau mencoba?!
Tidak, aku tidak mengucapkan selamat tinggal.
Tapi kau lepas ia ke Jerman?
Tidak. Aku bahkan tak ke bandara pagi itu.
Sekarang dia di Hannover, kan?
Ia bekerja di sana.
Bersama Klinso?
Ya, temannya.
Termasuk teman tidur.
An, An..... Jangan pernah menyerah bila kau merasa masih sanggup.
Jangan sesekali mengatakan kau tak mencintainya jika kau tidak dapat melupakannya!
BUGGGG!
Kutiupi tanganku yang terasa panas berdenyar-denyar. Aku baru saja meninju tembok. Oh, keparat! Aku berhalusinasi lagi. Oh, tiba-tiba kepalaku berat.
Kau harus percaya bumi ini bulat, An.
Untuk apa.
Untuk harapanmu yang tak pernah mati pada Meir.
Maksudmu?
Percaya sajalah.
*
KAU mengirim e-mail. Kau ceritakan bahwa Hannover adalah kota yang sangat indah. Kau sering ke taman kota hanya untuk melihat gerombolan burung dara menyongsong para pengunjung yang merelakan telapak tangan mereka (yang dipenuhi dry-corn) dipatut mereka. Kau selalu membawa kamera-digitalmu ketika bepergian. Termasuk memfoto unggas-unggas jinak itu. Tak jarang kau minta difoto oleh Klinso-ah Klinso lagi, Klinso lagi, bila kau berada di antara kerumunan burung. Kau tampak sangat bahagia.
Segera kubuka Facebook. Kusearch Mira Sugita.
Not Found!
Oh, apakah kau telah meremoveku dari pertemanan FB-mu? Atau kau telah menutup account FB-mu? Atau kau kini aktif ber-twitter-ria? Atau....
Ups! Kulihat profile. Sebuah tagging foto terbaru. Ada wajahmu di sana. Kubaca tulisan pengirim di atas foto: Meir Sugern. O, kau sudah mengubah namamu menjadi sangat Jerman.
Seperti yang kauceritakan di e-mail, beberapa foto taggingan-mu bagai berseru: aku benar-benar bersama burung-burung itu! Kau berpose bersama seorang wanita. Kalian tampak sangat akrab. Ah, dia pasti temannya Klinso yang berangkat dari Singapura tempo hari. Kubaca keterangan foto: Luneburger Heide.
Oh, tempat apalagi ini?
Kubaca lebih lanjut. Ya ya ya, kau tengah bertamasya di sebuah sabana. Atau, mungkinkah ini padang rumput terluas di Eropa Barat, sebagaimana kauceritakan dulu.
"Dekat padang rumput luas itu, ada taman yang sangat indah, An. Namanya Lune Park. Taman itu sangat terkenal. Aku benar-benar ingin pergi ke sana."
DAMN! Bagaimana aku dapat mengingat percakapan kami menjelang keberangkatannya dulu. Ohhh....
Mengapa aku tak pernah menangkap gejala bahwa bule Jerman itu telah begitu lama mengincarmu, Meir! Oh, sialnya aku.
Segera ku-search 'Klinso". Seperti apa wajah lelaki itu!
Not found!
*
Telah kutamatkan riwayat facebook-ku. Aku memang tak mengerti bagaimana menutup account, tapi, aku telah menghapus semua data pribadi dan foto-foto, dan mengganti password dengan sejumlah angka-acak yang kutulis di kertas untuk memverifikasinya. Kemudian kubakar kertas itu. Tamat!
Tidak itu saja, setelah kubaca pesan singkatmu perihal kau sedang menikmati schooregg, keju khas Jerman yang berongga-rongga itu, klek! kumatikan ponsel. Kubuang kartu GSM-ku.
(Go to hell everything sounds and smells Meir!!!)
O o, tiba-tiba aku ingat sesuatu. Glucklich! Oh, mengapa baru kini terpikirkan olehku kata asing itu. Mungkin, itu hanyalah sepotong kata tak penting yang berarti: bercanda, gila, sinting, tak masuk akal....
Aku ingat sekali, setelah aku menanyakan pertanyaan paling gila sepanjang hayatku itu (dan kau melempar kata itu), aku menghilang darimu. Menghilang lama. Hampir satu tahun, dan kita bertemu di pergantian tahun yang kaukiaskan dengan sangat Jerman.
*
Hari-hariku bergelut dengan perulangan saja. Kesibukan yang selalu itu. Memayet kebaya pesanan beberapa teman, mengecek beberapa salon di Depok, ke twenty-one bila film-film yang dibintangi Jennifer Aniston diputar, atau sesekali membeli boneka barbie latest edition.
Aku tak tahu, telah berapa lama hidup tanpa Meir, tanpa Meir yang berbau Jerman. Terakhir, ketika sedang memilih gaun yang akan kukenakan di pesta pernikahan seorang rekan kerja di bilangan Kemang, aku menguping perbincangan dua wanita yang baru pulang dari Polandia (tentu saja mereka tak tahu kalau aku begitu memuja Meir), mereka bertemu Meir di Warsawa. Meir sudah menikah. Aku tak bertanya lebih lanjut. Termasuk apakah Meir telah punya momongan, atau jangan-jangan ia sedang hamil. (ah, lagipula, siapalah aku bagi perempuan-perempuan Warsawa itu?). Namun, adalah perih yang tak tepermanai ketika tiba-tiba mereka menyebutkan kata itu. Bahagia, demikian kutangkap arti 'glucklich'!
Oh, tentu aku tak perlu mencari-carinya nomor ponselmu hanya untuk meyakinkan bahwa Klinso pastilah seorang wanita. Oh Meir, bagai ada separuh jiwaku yang kembali. Walaupun aku tak mendapatkanmu, paling tidak, aku tahu kau pun mencintaiku.
MEIR, aku kini tahu mengapa kau katakan pertautan kita bak bumi yang bulat. Karena dunia menyerupai bola, kan? Maka ketika kita berseberangan, sejatinya kita semakin dekat. Karena aku akan tergelincir. Pun engkau. Melingkar. Lalu, lalu, lalu.... Oh, aku tahu lalu apa. Lalu kita tak bisa saling membohongi bahwa akhirnya cinta itu pun koyak-moyak tabirnya. Yang jelas, aku penting bagimu, bukan? Aku tahu, kau pasti tengah mencari-cariku. Entah, engkau akan gila karenaku atau tidak. Entah, engkau akan mati karenaku atau tidak! Kau percaya bumi itu bulat, kan? Oh, aku juga percaya. Sangat percaya.
Sangat-sangat percaya. *
Lubuklinggau, 09 Januari 2009
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)





