Dimuat di Republika, 02 Januari 2010
Sebuah makam milik seseorang yang dianggap leluhur hendak dibongkar oleh orang-orang dari dinas pekerjaan umum karena akan terkena proyek pembangunan jalan tol. Ketika makam digali, air muncrat dari sisi dalam tanah makam. Air itu terus mengalir tiada henti, seperti air pancuran yang keluar dari mata air pegunungan. Entah kenapa air itu menyembur begitu melimpah sehingga warga antre mengambilnya dan meyakini bisa digunakan untuk berbagai macam keperluan."Saya yakin ini bukan air sembarangan! Ini air keramat!"
"Makanya, saya mau minta buat anak saya yang perawan tua, supaya cepet-cepet kawin!"
"Saya juga mau meminumnya, siapa tahu cepet dapet kerjaan!"
Demikianlah. Semua warga berbondong-bondong memanfaatkan air yang keluar dari dalam makam tersebut. Meskipun belum terbukti kemanjurannya, warga berlomba-lomba mengambil air yang dianggap keramat.
Lama kelamaan, berita keluarnya air keramat dari dalam makam menyebar. Semakin banyak saja warga yang berdatangan. Mereka membawa botol mineral kosong, jeriken, bahkan ada yang membawa ember.
Ketika pihak dari dinas pekerjaan umum hendak melanjutkan menggali makam itu, warga pun protes. Mereka tak ingin makam itu dibongkar. Dengan keluarnya air dari dalam makam itu, mereka semakin yakin bila makam yang hendak dibongkar itu makam keramat, makam yang harus dijaga. Sementara pihak dinas pekerjaan umum harus segera membongkar makam karena pembangunan jalan tol terganjal oleh keberadaan makam yang dianggap keramat itu. Adu argumentasi pun tak bisa dihindari.
"Maaf bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Atas kesepakatan para tokoh masyarakat, makam ini kami bongkar untuk kami pindahkan, bukan dibongkar begitu saja. Nanti akan kami buatkan makam yang lebih bagus lagi!" seru salah seorang wakil dari dinas pekerjaan umum.
"Kami tidak mau tahu, Pak! Pokoknya makam ini jangan dibongkar!"
"Makam ini keramat. Kalau dibongkar, kita semua bakalan kena sial!"
"Kita ini bangsa apa sih? Seharusnya bangsa yang baik itu bangsa yang menghargai jasa leluhurnya. Ini adalah makam leluhur kita. Harus dijaga dan dilindungi!!"
"Mari kita pertahankan makam ini, agar tidak perlakukan dengan semena-mena!! Allahu Akbar ...!!"
"Allahu Akbar ...!!!"
Setelah terdengar takbir, warga semakin semangat merangsek para pegawai dinas pekerjaan umum untuk menyingkir dari lokasi makam. Sementara warga yang sibuk meminta air yang dianggap keramat semakin banyak berdatangan. Mereka ternyata berasal dari berbagai pelosok daerah. Rupanya mereka tahu berita adanya air muncrat dari makam keramat bukan hanya dari mulut ke mulut, melainkan karena beberapa stasiun televisi mulai menyiarkannya. Bahkan, ada salah satu stasiun teve yang membahasnya dengan siaran langsung.
"Aneh bin ajaib, pemirsa. Dapat kami laporkan, sebuah makam yang dinyatakan sebagai makam leluhur oleh warga mengeluarkan air saat hendak digali," reporter televisi sibuk di depan kamera. Reporter tersebut mendekati beberapa warga yang telah berhasil mengambil air yang keluar dari dalam makam.
"Baik pemirsa, berikut ini akan kita dengarkan apa pendapat warga tentang air yang dianggap keramat oleh warga," reporter televisi kini menyorongkan mik ke arah salah seorang perempuan setengah baya pemegang botol mineral yang sudah diisi oleh air dari dalam makam.
"Bu, air ini buat apa?"
"Ini untuk bapak saya yang sudah lama lumpuh. Buat obat."
"Ibu percaya air ini mampu menyembuhkan bapak?"
"Ya, percaya enggak percaya, sih? Namanya juga usaha. Berobat ke dokter mahal soalnya. Jadi, coba-coba aja pake air keramat ini," ujar perempuan itu polos.
Lalu mik reporter bergeser pada lelaki paruh baya di sebelahnya. Lelaki ini memegangi jeriken yang sudah penuh.
"Kalau bapak, air keramat ini untuk apa?"
"Buat minum."
"Buat minum? Supaya apa Pak?"
Ini benar-benar pertanyaan tolol. Ternyata, tidak semua reporter televisi pintar.
"Supaya enggak haus!"
Reporter menelan ludah. Si lelaki langsung ngeloyor. Lalu, reporter kembali menatap kamera sambil menutup acara. Beberapa warga mendekat ke belakang reporter dengan harapan bisa tertangkap gambarnya. Di antara mereka melambai-lambaikan tangan ke arah kamera.
Karena orang-orang terus berdatangan, salah seorang warga berinisiatif membuat tempat parkir kendaraan. Setiap sepeda motor atau mobil yang datang diberikan karcis tanda masuk. Areal makam pun dibuatkan pagar pembatas agar orang bisa mengantre dengan tertib. Sebuah kotak amal dibuat dan diletakkan di dekat pintu masuk. Di sisi kotak ditulis, "AMAL MAKAM KERAMAT, SEIKHLASNYA".
Beberapa hari kemudian, makam keramat semakin ramai dikunjungi orang. Tempat parkir motor diperluas karena tak mampu menampung kendaraan. Kotak amal yang diletakkan di pintu gerbang makam disingkirkan, berganti dengan tiket tanda masuk makam. Setiap warga yang datang harus membeli tiket terlebih dahulu.
Sobrak, lelaki setengah baya yang bertugas menjaga tiket senang sekali karena belakangan ini hidupnya berubah makmur. Gobang, yang menjadi penanggung jawab lahan parkir juga begitu. Uang mereka bagai meluap, seperti air keramat yang mengalir dari dalam makam. Namun, kemakmuran Sobrak dan Gobang tidak disukai oleh beberapa warga sekitar, yang menganggap keduanya memanfaatkan situasi. Akan tetapi, dengan seperak dua perak, warga yang protes mampu disumpal. Ternyata, uang bisa menutupi mulut manusia.
Suatu hari, petinggi dari dinas pekerjaan umum dan beberapa tokoh masyarakat kembali datang ke makam. Mereka hendak meyakinkan warga agar tidak menganggap air yang mengalir di sekitar makam itu dianggap keramat.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian, air yang mengalir dari dalam makam sesepuh ini air biasa-biasa saja. Air ini keluar, seperti kita menggali sumur!"
"Tapi Pak, kami yakin ini air keramat! Soalnya, air ini keluar dari dalam makam yang baru beberapa meter digali!"
"Betul Pak!! Sumur di sekitar makam ini saja perlu delapan meter kalau mau keluar air!"
"Ini mukjizat, Pak!!"
"Sebaiknya, tokoh masyarakat jangan memihak pemerintah!! Pembangunan jalan tol ini tidak berarti apa-apa bagi kami! Kebanyakan warga cuman punya sepeda motor, sedangkan jalan tol hanya untuk pengendara roda empat!"
"Kalau memang terpaksa, jalannya dibelokan saja. Jangan sampai pembangunan ini justru merusak makam keramat!"
Semua warga terus berbicara. Mereka ingin meyakinkan petinggi dari dinas pekerjaan umum dan tokoh masyarakat serta perwakilan dari pemerintah untuk menggagalkan pembongkaran makam.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Pembangunan jalan tol diperuntukkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak yang diperoleh dari pengguna jalan tol itu dipergunakan untuk pembangunan! Selain itu, pembangunan jalan tol tak mungkin dibelokkan ke arah lain dengan maksud menghindari makam ini. Di mana-mana, yang namanya jalan tol itu lurus, enggak bengkok-bengkok!" kali ini yang bicara Pak Lurah, yang mulai senewen dengan tingkah warganya.
"Lho, Pak Lurah kok bukan mendukung warganya? Jangan-jangan Pak Lurah sudah disogok, ya...?"
"Pak Lurah payah!"
"Pak Lurah lupa sama leluhur sendiri!!" Pak Lurah terdiam dan tak lagi berkata-kata. Pak Lurah jadi seperti kura-kura yang disentuh kepalanya.
"Kalau memang kalian ngotot mau membongkar makam keramat ini, silakan hadapi kami!!"
"Bongkar saja kalau berani!! Kami siap mati! Kami siap zihad demi menjaga makam ini!!"
Warga semakin beringas. Para tokoh masyarakat, Pak Lurah, dan orang-orang dari dinas pekerjaan umum mengalah. Mereka akhirnya meninggalkan areal pemakaman diiringi koor ejekan para warga. Sobrak dan Gobang langsung mendekati warga sambil memberikan makanan untuk warga yang mempertahankan makam keramat.
Keesokan harinya Bapak Wali Kota datang diikuti oleh sejumlah pejabat daerah. Di antaranya terdapat Ustadz Markum, ustadz muda yang lumayan kondang dan disegani warga sekitar. Bapak Wali Kota dan rombongan disambut demonstrasi dan yel-yel oleh warga yang masih berada di sekitar makam. Mereka siap mengusir siapa saja yang hendak menggusur makam yang mengeluarkan air keramat. Tak peduli Wali Kota atau presiden sekalipun.
Ratusan satuan pamong praja tiba di sekitar makam. Mereka mengepung areal pemakaman.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian! Kita boleh saja beda pendapat, kita bebas saja marah, tetapi kami berharap kepala kita tetap dingin! Sesuai perintah dari pemerintah pusat, makam ini akan dipindahkan untuk kemudian diletakkan di tempat yang jauh lebih luas dan bagus lagi!"
"Tapi Pak, makam ini tidak mungkin dipindahkan. Dengan keluarnya air dari dalam makam, membuktikan bahwa makam ini memang benar-benar keramat!! Batalkan saja proyek pembanguan jalan tol itu!!"
"Allahu Akbar...!!!"
"Allahu Akbar...!!"
Ketika takbir sudah terdengar, semangat warga pun menggelegar. Ratusan satuan polisi pamong praja segera mengamankan situasi. Mereka menangkapi siapa saja yang hendak mempertahankan makam. Pertikaian pun tak bisa dihindari. Warga yang mempertahankan makam saling serang dengan satuan polisi pamong praja.
Saat yang bersamaan, datang beberapa petugas dari Perusahaan Air Minum (PAM) yang tengah bertugas sedang mencari-cari sumber kebocoran pipa yang baru terdeteksi. Langkah mereka terhenti oleh keributan antara warga dan satuan polisi pamong praja. Polisi pamong praja berhasil meredam keberingasan warga setelah mendapat bantuan tenaga dari satuan lain.
"Tenang saudara-saudara ... saya harap semua tenang!!"
Bapak Wali Kota yang baru saja mendengarkan informasi dari bawahannya, berdiri di depan semua warga yang sudah mulai reda.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Tanpa mengurangi rasa hormat kami terhadap makam leluhur kita, pemerintah daerah akan tetap memindahkan makam tersebut. Selain itu, dapat kami informasikan bahwa air yang keluar dari dalam makam itu adalah air dari pipa PAM yang bocor!!"
Semua warga yang mendengarnya terbelalak. Semua saling tatap, lalu mereka menunduk malu. Kemudian Ustadz Markum berdiri di tengah-tengah warga,
"Saudarasaudara sekalian, ziarah ke sebuah makam itu dibolehkan. Nabi pun pernah menganjurkannya agar kita ingat pada kematian. Tapi, kita tak boleh berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik! Kita bisa musyrik!!"
Bapak Wali Kota mulai bernapas lega karena warga tak lagi marah,
"Sekarang, saudara-saudara sekalian saya harap membubarkan diri!!"
Semua warga pun menuruti perintah Bapak Wali Kota untuk membubarkan diri. Pembangunan jalan tol itu siap dilanjutkan kembali. Para pekerja dari PAM sibuk memperbaiki pipa yang bocor. Setelah pipa itu sudah diperbaiki, penggalian makam leluhur kembali dikerjakan. Makam itu akan dipindahkan ke lokasi yang sudah disediakan. Tetapi ajaibnya, ketika sebuah mobil pengeruk baru saja menggali, air kembali muncrat dari bagian makam yang lain. Pekerja PAM diminta untuk memeriksa apakah ada kemungkin kebocoran pada pipa-pipa mereka.
Setelah diselidiki, ternyata pipa air milik PAM baik-baik saja. Mereka bingung, dari manakah sumber air yang muncrat itu. Sampai seminggu lamanya, air dari dalam makam itu tetap mengalir. Airnya bening nan jernih. Aromanya wangi bak kesturi. Kejadian ini dirahasiakan. Semua warga meyakini itu kebocoran pipa PAM yang belum dapat diperbaiki. ***
Cerpen Zaenal Radar T
Dimuat di Republika, 19/12/2010
Sejak kabar tentang bergesernya arah kiblat beberapa derajat, masjid di kampungnya Markum tak lagi dikunjungi warga. Alasannya, mereka tidak mau shalat di masjid yang letak kiblatnya salah. Markum, pemuda yang dipercaya mengurus kebersihan masjid, mendatangi warga untuk shalat berjamaah di masjid.
“Kiblat itu arah letak kita shalat. Kalau kita shalat di masjid itu, jangan-jangan kiblat kita selama ini salah menghadap Tuhan?” ujar salah satu warga.
“Tapi, Bang, kan Tuhan ada di mana-mana. Kenapa kita harus mempermasalahkan kiblat? Allah Mahatahu, Bang!” ujar Markum, sambil menatap wajah warga yang diajaknya bicara.
“Elo bener Kum, Allah emang Mahatahu. Allah ada di mana-mana. Tapi, semua ada aturannya. Kalau kita shalat menghadap ke kiblat yang salah, jangan-jangan arahnya bukan ke Makkah, tapi ke arah New York?”
“Maksud Abang?” selidik yang lain, tak kalah antusiasnya dengan Markum.
“Kalau kita shalat ke arah New York, berarti kita nyembah orang Amerika!!”
Semua mengangguk-angguk, kecuali Markum.
“Kita jangan menyembah Amerika. Udah ekonomi negara kita berkiblat ke sana, masak urusan yang lain juga kiblatnya sama. Itu namanya menuhankan Amerika!! Apa sih bagusnya Amerika? Bener gak?”
Yang lain kembali mengangguk-angguk. Dan, lagi-lagi Markum cuma diam mematung. Markum jadi bingung, bagaimana cara menjelaskan kepada semua warga, jangan gara-gara arah kiblat yang berubah, terus masjid ditinggalkan.
Seperti menjelang Maghrib kali ini, setelah azan dan iqamah, tak ada jamaah yang datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Di sebuah masjid yang lumayan besar, yang bisa memuat sekitar tiga ratus jamaah lebih, Markum shalat sendirian. Ketika shalat, Markum sebenarnya bingung arah kiblat, maka ia geser sajadahnya beberapa senti ke kanan, lalu dia mulai shalat.
Selepas shalat, Markum heran melihat warga yang masih duduk-duduk santai di teras rumah mereka. Anak-anak muda yang habis bermain bola di lapangan gusuran dekat ujung kompleks juga masih terlihat kotor. Markum mendekati mereka seraya mengucapkan salam.
“Kok enggak shalat Maghrib di masjid?”
“Nanti aja deh, Bang, soalnya arah kiblatnya belum jelas,” jawab salah seorang anak muda, yang masih bertelanjang dada dan penuh keringat.
“Tapi, kalau enggak shalat di masjid, di rumah juga bisa,” ujar Markum.
“Bang Markum, shalat di masjid atau di rumah sama aja kalau enggak tahu arah kiblatnya,” sela yang lain.
“Jadi, elo semua enggak mau shalat karena arah kiblat belum jelas?”
“Iya Baaang!!” ujar mereka kompak.
Markum pun mengangguk-angguk, padahal dia sulit mengerti dengan jalan pikiran mereka. Lalu, Markum mengucapkan salam dan berlalu.
Markum mendatangi Haji Bantong, sesepuh kampung yang jarang shalat di masjid karena sudah membangun mushala sendiri di samping rumahnya. Haji Bantong sengaja membuat mushala karena menurutnya masjid letaknya terlalu jauh. Padahal, masjid itu berdiri di atas tanah miliknya, yang beliau hibahkan untuk pembangunan rumah ibadah. Selain itu, Haji Bantong sebenarnya salah satu pengurus masjid yang dipercaya sebagai ketua Dewan Kesejahteraan Masjid.
“Assalamualaikum Pak Haji!”
“Waalaikumussalam … eh, elo Kum? Tumben lo mampir? Ada apa?”
Markum pun bercerita tentang masjid yang sepi karena arah kiblat yang berubah. Haji Bantong hanya mengangguk-angguk mendengar cerita Markum. Haji Bantong tampak menarik napas berat, lalu mengembuskannya perlahan. Seperti ingin menumpahkan beban berat pikirannya.
“Kum, lo tahu kan kalau gua punya mushala. Nah, gua sendiri juga udah kagak shalat di mushala. Gua shalat di kamar. Waktu ditanya arah kiblat, gua juga gak bisa jawab. Gua sendiri kagak paham, jangan-jangan gua juga salah menghadap kiblat?”
“Terus jalan keluarnya gimana Pak Haji?”
“Jalan keluar mah gampang Kum. Asal kelihatan pintu, elo buka tuh pintu, elo keluar dah. Hahahaa….”
“Ah, Pak Haji kok becanda, sih?”
“Abis Kum, gua pusing. Gua mau nanya sama siapa?”
“Pak Haji, pan si Hasan kuliah di Universitas Islam Negeri, tanya dia aja.”
“Gua juga emang mau nanya dia. Dia baru pulang dari tempat kosan.”
“Selain si Hasan, yang tahu kira-kira siapa, Pak Haji?”
“Yang tahu itu … yang ngerti. Ya udah, yuk kita cari si Hasan. Mudah-mudahan dia udah istirahat cukup.”
Haji Bantong pun mencari-cari Hasan, putranya yang kuliah di Universitas Islam Negeri itu. Hasan adalah putra bontot Haji Bantong dan satu-satunya anak yang masih kuliah dan belum menikah. Haji Bantong punya tiga belas anak. Hanya Hasan yang masih kuliah dan belum menikah.
“San … Hasan!! Sini lo tong!!” teriak Haji Bantong, saat melihat Hasan yang baru keluar dari kamarnya. Wajahnya masih terlihat lelah.
“Ada apa, Beh?”
“Begini, San, gua mau tanya soal tempo hari yang gua tanyain ke elo di telepon. Soal arah kiblat. Gua pusing, San!”
“Beh, arah kiblat gak usah dipusingin. Babeh tinggal geser aja beberapa derajat ke kanan, terus Babeh shalat deh. Gitu aja kok repot?”
“Kayak almarhum Gus Dur lo, San!” Haji Bantong tampak kesal, lalu dia berkata lagi, “Gesernya ke mana? Berarti gua kudu ngegeser masjid dong?”
“Ya enggak usah segitunya, Beh. Geser aja sajadahnya … beres. Gitu aja kok….”
“Repot!!” Haji Bantong melanjutkan kata-kata Hasan, yang sejak kecil gandrung pada tokoh almarhum Gus Dur.
“Kalau begitu, habis Isya saya mau geser letak sajadah masjid Pak Haji.”
“Kum, kalau masjid boleh dah elo geser sajadahnya. Tapi, kalo mushala, kayaknya besok gua mau renovasi aja!”
“Maksud Pak Haji?”
“Mushala pan lebih kecil, jadi bangunannya gua miringin sesuai arah kiblat.”
“Pak Haji, kata si Hasan kan cukup sajadahnya aja.”
“Kalau sajadahnya aja, kayaknya kurang afdol!”
“Kalau begitu, masjid juga direnovasi aja Pak Haji!”
“Kalau masjid modalnya kegedean. Nunggu sumbangan warga, jadinya bisa lama!”
“Terus gimana caranya supaya warga mau shalat di masjid, kalau arah kiblatnya masih salah?”
“Nanti juga kalau sajadah udah sesuai arah kiblat, warga mau shalat di masjid!”
Setelah itu, Markum kembali ke masjid. Waktu Shalat Isya sudah tiba. Markum seperti biasa, mengumandangkan azan. Setelah azan selesai, Markum shalat sunah qabliyah Isya dua rakaat. Sesudah itu, menunggu jamaah yang datang barang beberapa menit. Karena belum ada yang terlihat batang hidungnya, Markum pun mengumandangkan iqamah. Karena masih juga tak ada yang datang ke masjid, Markum shalat sendirian. Tak lupa letak sajadah dimiringkan beberapa senti ke kanan, dan Markum mulai shalat sendirian.
***
Keesokan harinya, di mushala Haji Bantong, barang-barang dari material berdatangan. Barang-barang berupa pasir, batu koral, dan semen diletakkan di samping mushala. Rencananya, Haji Bantong bakalan menggeser letak mushalanya beberapa derajat ke kanan, ke arah kiblat. Seperti yang dijelaskan oleh putra bontotnya, Hasan.
Berbeda dengan mushala, di masjid yang lumayan luas, Markum sendirian mengubah letak sajadah, menggesernya beberapa derajat ke kanan. Setelah sajadah digeser semua, kelihatannya memang tidak terlalu rapi. Posisi jamaah nantinya memang akan miring, tidak mengikuti arah bangunan masjid.
Hampir setengah harian Markum berkutat merapikan sajadah-sajadah itu, hingga akhirnya waktu Zhuhur tiba. Sebelum azan, Markum pun mengumumkan di speaker masjid.
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarakaaatuh! Kami beritahukan, kepada seluruh warga, bahwasannya letak kiblat di masjid Al-Ikhlas sudah dirapikan. Sekarang kita bisa shalat berjamaah dengan khusuk. Demikianlah pemberitahuan ini, wassalamualaikum warohmatullahi wabarakaatuh!”
Ketika waktu Zhuhur tiba, Markum mengumandangkan azan. Tetapi, sampai Markum usai shalat sunah dua rakaat dan mengumandangkan iqamah, jamaah belum juga datang. Markum pun melaksanakan shalat sendirian.
***
Markum kembali keliling kampung untuk mengabarkan kepada seluruh warga bahwa letak sajadah di masjid sudah diatur sedemikian rupa sehingga arah kiblat tidak lagi salah arah.
“Tapi, Kum, apa ente yakin kalau letak sajadahnya bener-bener ke kiblat?” selidik salah seorang warga.
“Saya sudah melakukannya seperti yang diberi tahu si Hasan, anak Pak Haji Bantong yang kuliah di UIN.”
“Apa si Hasan enggak salah arah, tuh?”
“Anak kuliahan enggak bakalan salah, Bang!”
“Siapa bilang anak kuliahan enggak ada yang salah? Itu yang suka tawuran dan demo kagak karuan, kan anak-anak kuliahan?”
“Si Hasan itu anak Universitas Islam Negeri? Fakultas Tarbiyah! Kalau kagak salah, dia calon mubaligh!”
“Jangankan calon mubaligh, mubalighnya aja bisa keseleo! Bisa salah jalan…!”
“Ya udah, langsung aja deh kalo gitu. Abang, sebenarnya mau shalat di masjid kagak?”
“Kalau arah kiblatnya sudah benar, pastilah!!”
Tiba-tiba dari salah satu arah, dua pemuda berlarian mendekati Markum dan sekumpulan warga.
“Ada apa??”
“Astaghfirullah, Bang! Tadi kita-kita ada di deket masjid, masjid bergeser ke kanan bang!!”
“Bener Bang!! Saya sampai kaget!”
“Astaghfirullaaaah ….!!!” Semua orang beristighfar.
Beberapa warga bahkan gemetaran. Tetapi, ada juga yang masih belum percaya.
“Masak sih?? Jangan-jangan ada gempa kecil-kecilan?”
“Hush! Kalau gempa, kita juga bisa ngerasain!!”
“Ayo kita lihat!!”
Akhirnya Markum bersama pemuda dan beberapa warga melangkah menuju masjid. Semua memperhatikan letak bangunan masjid. Semua tercengang saat melihat bekas tiang masjid yang seolah-olah telah bergeser. Yang lain juga bisa melihat dengan jelas bahwa tiang-tiang yang lain juga bergeser, mengikuti arah sajadah yang tadi digelar oleh Markum.
“Allah memang Mahabesar!! Masjid ini sekarang arah kiblatnya sudah sesuai!!” ucap Markum, lalu menghela napas lega.
“Alhamdulillaaaah …!!” semua warga bersyukur.
Beberapa saat kemudian, masjid pun sudah dipenuhi warga yang ingin melihat-lihat pergeserannya. Ketika waktu shalat Ashar hampir tiba, satu per satu warga sudah tak lagi ada di dekat masjid. Markum mengumandangkan azan, memanggil jamaah untuk shalat berjamaah. Akan tetapi, setelah azan sudah selesai dalam beberapa menit, belum juga ada jamaah yang datang. Markum pun menunggu beberapa menit lagi. Masih juga belum ada yang datang. Markum akhirnya memutuskan shalat sendirian.
Setelah shalat usai, Markum kembali keliling kampung. Markum ingin bertanya kepada warga, kira-kira setelah arah kiblat di masjidnya sudah benar, apalagi alasan mereka tak mau shalat berjamaah di masjid. ***
Dimuat di Seputar Indonesia 09/11/2008
KALAU ada orang yang bangga menjadi miskin, mungkin sayalah orangnya. Bagaimana tidak, sejak pemerintah menjanjikan akan memberikan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT),saya mengikutsertakan keluarga saya sebagai keluarga yang patut disumbang.
Dan kiranya saya memang patut diperhatikan pemerintah.Tidak punya pekerjaan tetap, punya istri dua,anak lima,yang tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Saya sudah berusaha banting tulang sekuat tenaga. Terkadang menjadi sopir tembak. Serabutan di bengkel mobil. Atau menjadi kuli angkut di pasar.Tetapi, penghasilan yang saya dapat begitu-begitu saja.
Hanya bisa untuk makan dan membayar utang. Makanya saya bersyukur mendengar kabar pemerintah akan memberikan sumbangan langsung tunai pada rakyat miskin.Dan saya menyatakan bahwa keluarga saya miskin. Saya membutuhkan kartu kemiskinan itu. Ketika orang-orang dari kelurahan berencana datang untuk memeriksa keadaan rumah saya dari istri pertama, terpaksa saya menyuruh istri menyembunyikan pesawat televisi 14 inci miliknya di kolong tempat tidur.
Tak lupa pula melarang salah satu anak saya yang biasa bermain sepeda. Semua baju yang bagus-bagus tak boleh ada di dalam lemari. Dispenser, rice cooker, kulkas, harus dienyahkan untuk sementara. Pokoknya, di mata aparatur pemerintah kami harus terlihat miskin.
Begitu pula di rumah istri kedua saya.Saat pemeriksaan,istri saya yang masih bekerja di sebuah pasar swalayan saya larang bekerja. Saya meminta istri saya izin dulu pada perusahaan, untuk sementara di rumah menunggui si kecil. Sepeda motor hasil kreditan kami titipkan di rumah seorang kerabat dekat.
Harapan saya, saat orang dari kelurahan memeriksa rumah kami, tak ada barang-barang yang dikategorikan sebagai barang mewah. Sebelum pemeriksaan berlangsung, anak tertua saya, anak dari istri pertama,protes pada saya.“Pak,kalau cuma main playstation masak nggak boleh?” “Nggak boleh! Kamu sehari saja nggakmain PS bisa,kan?”
“Memangnya kenapa harus disembunyikan, sih, Pak?” dia malah balik bertanya. Karena dia memang belum tahu kalau orang yang datang memeriksa rumah kami adalah petugas dari kelurahan yang memastikan apakah kami benar-benar miskin atau tidak. “Nak, tolonglah bapak sehari ini saja.Kamu nggak main PS sehari saja nggak akan disebut pecundang.Besok dan lain waktu, kamu bisa main sepuasnya kok?” Anak saya tertua itu akhirnya mau mengerti.Tetapi malah ibunya yang tiba-tiba tidak terima.
“Kita nggak pantas mendapatkan sumbangan pemerintah,Pak.Kan kita masih mampu...” katanya, seraya menggendong Tika, anak kami yang paling kecil. “Bukan soal mampu atau tidak,Bu. Saya hanya ingin mendapatkan uang dari pemerintah. Daripada uang itu mereka makan sendiri, kan lebih baik kita juga ikut menikmati.”
“Maksud Bapak apa, toh? Bukankah masih banyak orang lain yang lebih membutuhkannya?” “Bu, dengar ya. Ibu tahu kan Pak Dirjo?” “Pak Dirjo yang mengaku adiknya Pak Lurah itu,kan?Yatahu,dong!” “Nah,Pak Dirjo saja dapat kok Bu. Kalau orang seperti Pak Dirjo saja dapat bantuan langsung tunai,kenapa kita tidak?”
“Pak Dirjo kan lain,Pak. Mungkin dia memang sedang butuh uang.Lagipula, berapa besar sih pemberian pemerintah itu. Nggak sebanding sama omongan orang-orang nanti, Pak. Kalau mereka tahu kita juga dapat...” “Apa pedulinya sama orang lain, Bu.Memangnya mereka peduli kalau kita miskin atau nggak? Lagipula, lumayan kalau cair,Bu.Dalam dua bulan ini, kita dapat enam ratus ribu.
Di zaman serba sulit seperti ini, orang macam kita mencari satu rupiah saja susah. Kalaupun uang itu tidak kita ambil,apa Ibu tahu uang itu dikemanakan?” “Yadisimpan pemerintah,Pak.” “Disimpan di mana? Apa Ibu tahu?” “Ibu ndak tahu! Itu kan urusan pemerintah!” “Ibu mau tahu uang rakyat itu ditaruh di mana?” “Apa Bapak tahu?” “Justru karena saya juga nggak tahu,makanya saya berusaha mendapatkan sumbangan itu!” Setelah itu istri saya diam.Pada akhirnya ia setuju saya berencana mengambil bantuan langsung tunai yang diberikan pemerintah. ***
Ternyata pemeriksaan seperti yang dibicarakan banyak orang tak pernah terjadi.Tak ada orang dari kelurahan atau instansi pemerintah manapun yang memeriksa kedua rumah saya. Yang saya temui justru Pak Jalil,orang dari kelurahan yang menangani proyek bantuan langsung tunai di kampung saya.Pak Jalil bilang,bahwa saya dijamin mendapatkan bantuan itu.
“Yang penting ada pelicinnya...”ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Saya tentu saja menyetujui usul Pak Jalil.Saya menuruti kemauannya, sebab yang lainnya juga katanya begitu.Setelah mendapat kartu untuk mengambil uang bantuan langsung tunai di kantor pos nanti,saya berjanji akan memberikan sepuluh persen pada Pak Jalil. Tetapi bukan sesuatu yang mudah mengambil uang bantuan pemerintah di kantor pos.
Saya dengar Pak Dirjo ditanyai ini itu oleh petugas.Rupanya ada saja petugas kantor pos yang bersikap sinis saat Pak Dirjo mengambil uangnya. “Masak orang seperti Bapak dapat juga?” tanya seorang petugas di kantor pos, saat Pak Dirjo mencairkan dana bantuan langsung tunai miliknya.
Pak Dirjo cuma senyum,karena ia tidak bisa mengelak. Mendengar cerita Pak Dirjo yang entah dari mana datangnya itu, saya pun mempersiapkan diri bagaimana agar petugas kantor pos tidak curiga pada saya nantinya.Saya harus mengubah penampilan agar saya terlihat benar-benar miskin. Sebab,menurut ketentuan resmi pemerintah, yang berhak mendapatkan dana bantuan langsung tunai adalah rakyat yang benar-benar miskin.
Warga yang memiliki televisi, tidak masuk ke dalam kategori rakyat miskin. Kalau ternyata saya tetap mendapatkan kartu untuk mengambil dana bantuan langsung tunai itu, bukan semata-mata karena saya miskin. Melainkan karena saya sudah berjanji pada Pak Jalil,oknum pemerintah kelas cere itu, akan memberikan bagian untuknya. ***
Pada hari pencairan dana di kantor pos, saya sudah siap pagi-pagi sekali. Tadinya, saya ingin pakai sepeda motor istri muda saya. Tetapi saya urungkan karena khawatir akan banyak cibiran dari orang-orang yang ikut mengambil dana itu,menganggap saya sebagai rakyat yang tidak berperikemanusiaan, karena ikut-ikutan mengambil bagian yang bukan haknya.
Untuk itulah saya cukup berjalan kaki,dilanjutkan naik angkutan kota, lalu berjalan sekitar seratus meter untuk memasuki pintu kantor pos. Saya berjalan dengan langkah gontai. Saya lupa bagaimana cara orang yang benar-benar miskin berjalan. Mungkin lebih gontai dari orang kaya.Atau lebih tidak bersemangat daripada orang putus asa. Dan yang terpenting adalah penampilan.
Sebelum berangkat, saya cari baju saya yang paling kumal,tidak menarik, kalau perlu yang ada tambalannya.Tapi, saya tidak punya. Maka saya robek satu kemeja yang sudah tua dan agak lusuh, lalu segera saya kenakan. Saya sengaja tidak mandi lebih dulu, agar terlihat benarbenar kumuh.
Alhasil, setelah tiba di kantor pos, semua dugaan saya meleset soal orang miskin! Ternyata tidak semua orang miskin kumal seperti saya. Karena saat saya tiba di halaman parkir kantor pos, halaman tersebut dipenuhi sepeda motor. Mereka adalah orangorang yang hendak mengambil dana bantuan langsung tunai seperti saya. Namun begitu, lebih banyak perempuan tua dan ibu-ibu serta lelaki paruh baya.
Saya tidak tahu apakah sepeda motor yang terparkir di halaman kantor pos ini milik mereka,atau mungkin cuma ojek. Saat memasuki pintu kantor pos, antrean sudah lumayan panjang. Oh, begitu melimpahkah orang miskin di kampung saya? Orang-orang saling berdesakan.Bahkan di antara mereka ada yang sempat ribut omongan. Saya berusaha mengalah.
Saya pikir, saya dan kedua istri serta anak-anak saya masih memiliki persediaan cukup uang untuk tiga hari ke depan.Jadi,tak perlu bernafsu mencairkan dana ini, apalagi sampai bertengkar dengan sesama pengantre. Saya menghindar ke salah satu sudut. Saya perhatikan orang-orang sesama pengantre. Seorang ibu mengeluarkan kaca rias dari dalam dompetnya, lalu memoles bibirnya dengan sebuah gincu murahan.
Ada seorang lelaki paruh baya, saya kira seumuran dengan saya, mengeluarkan telepon genggam dari kantung celana. Saya dekati lelaki itu, tapi tidak bermaksud memancing perhatiannya. Saya mendengar lelaki itu bicara. “Bu, antre banget nih! Dulu kenapa nggak pakai KTP Ibu saja. Di sini bau apek, lagi! Ya, sudah. Saya antre.Tapi, kayaknya lama. Kalau kamu mau ke mal,kamu berangkat saja sama anakanak duluan.Nanti saya menyusul!”
Lelaki setengah baya itu menutup telepon selulernya. Bicaranya memang sedikit keras. Mungkin ia sengaja bicara keras-keras agar orang di sekitarnya mengetahui bila ia bicara melalui ponsel. Berikutnya,ada satu dua pengantre lain yang juga mengeluarkan telepon seluler. Bahkan ada yang sempat mengabadikan orang-orang yang antre dengan ponsel kamera. Tiba-tiba saya merasa muak melihat tingkah mereka.Apalagi gelang emas salah seorang perempuan paruh baya yang berdiri di tengah-tengah antrean. Saya jadi ragu, apakah saya sedang berada di tengah-tengah antrean orang-orang miskin yang sangat membutuhkan bantuan pemerintah?
Saya tidak percaya bila saya berada di sebuah kantor pos, tengah menunggu antrean pencairan dana kemiskinan. Saya merasa malu berada di antara mereka. Saya ingin menghujat mereka, seperti menghujat diri saya sendiri.Saya tak habis pikir, siapakah orang yang disebut miskin? Saya lihat di televisi, banyak sekali korban bencana alam yang membutuhkan dana kemanusiaan.
Sementara saya seperti merengek-rengek, mengantre sumbangan pemerintah. Untuk menghilangkan rasa malu, saya keluarkan surat pengambilan pencairan dana itu,lalu langsung saya robek-robek. Saya membuangnya ke tong sampah, di atas tumpukan tisu, kaleng bekas fresh drink,dan juga kulit jeruk mandarin. Semua itu sampah dari para pengantre. ***
Hari berikutnya, saat Pak Jalil menagih jatah, saya katakan padanya kalau saya tidak mengambil dana BLT. Namun, dia tidak percaya. Dia yakin kalau saya mengambil dana itu di kantor pos. Sehingga dia tetap minta bagian sepuluh persen. Saya kasihan padanya, maka saya berikan sepuluh persen dari jumlah uang yang seharusnya saya dapat kemarin. Saya menatap kepergian Pak Jalil, oknum pemerintah kelas cere itu,sampai ketika tubuhnya tertelan sebuah sedan mengkilat.
Saya tidak peduli orang pemerintahan macam Pak Jalil telah menggunakan kesempatan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saya serahkan saja pada Tuhan. Saya yakin kelak Tuhan akan menghukum orang-orang zalim sepertinya.Sebab saya percaya Tuhan Maha Adil.Namun saya khawatir, apakah orang seperti Pak Jalil mempercayai Tuhan?***
Dimuat di Suara Pembaruan 20/07/2008
Malam ini seperti di neraka. Meskipun aku belum tahu bagaimana neraka itu, katanya, neraka itu sangat panas apinya. Sangat berat siksaannya. Orang yang masuk ke dalam neraka, katanya, tubuhnya disetrika. Lalu tubuh itu kembali seperti semula, lalu disetrika lagi, lalu dibuat seperti semula lagi, disetrika lagi, dan seterusnya begitu.
Kenapa kubilang malam ini seperti di neraka. Sebab sore tadi istriku kembali marah-marah. Dia bilang, dia tidak kuat hidup denganku. Dia katakan, dia menyesal menikah denganku. Dia ingin seperti istri-istri tetangga, yang hidupnya tidak kembang kempis seperti yang kami rasakan saat ini. Oleh karena itulah, istriku minta cerai!
"Mumpung belum dikaruniai anak, kita cerai saja!"
"Mamah! Mamah kok, ngomong begitu? Jangan sembarangan ngomong minta cerai, mah!"
"Sebodo! Pokoknya, Mamah minta cerai!" Begitulah istriku. Hal itulah yang membuat malam ini bagai di neraka. Panas. Membara. Seperti ada setrika yang menjilati sekujur tubuhku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Sebab aku tak mungkin mengabulkan permintaan istriku. Karena aku masih mencintainya.
"Dengar ya, mah..."
"Jangan panggil aku mamah lagi!"
"Lalu?"
"Panggil yang lain saja asal bukan mamah. Aku juga nggak mau panggil kamu papah lagi!"
"Kan kita udah sepakat. Kalau kita akan panggil papah-mamah. Jangan begitu, dong?"
"Beli mobil dulu, baru panggil aku mamah. Beli rumah di Kompleks Kelapa Gading dulu, baru aku akan panggil kamu papah!"
"Memangnya ngontrak kayak kita nggak boleh panggil papah-mamah? Papah-mamah kan milik semua orang, tanpa harus membedakan status? Temenku yang tukang becak juga di rumahnya panggil papah-mamah. Meskipun panggil papah-mamah, mereka sampai sekarang tidak diperiksa KPK? Hehehe..."
"Paah!! Eh...?!"
Ternyata dia memanggil aku papah lagi?
"Eh, bang!" istriku me- ralat, "Itulah salah satu yang kubenci dari kamu! Kamu selalu bicara semaunya!"
"Hidup jangan terlalu serius, mpok! Nanti cepet tua, stress!"
"Beginilah kalau hidup nggak serius! Hidup kita jadi kembang kempis! Coba dulu aku nggak kawin sama penulis karbitan macam kamu! Mungkin aku sudah tinggal di perumahan Pondok Indah! Atau seenggak-enggaknya di Serpong Damai!"
"Sabar, mpok, sabar..."
"Itu lagi, itu lagi! Sabar! Setiap kali aku minta apa- apa, selalu kamu bilang sabar. Setiap kali aku ingin itu, kamu jawab dengan sabar! Memangnya ada apa, yang bisa dibeli dengan sabar? Buang air kecil di terminal bus aja bayarnya seribu perak. Coba sekali-sekali bilang sabar ke penunggunya... Bisa digampar!"
"Astaghfirullah... nyebut, mpok... nyebut..."
Istriku waktu itu diam. Tapi napasnya masih terdengar cepat. Sepertinya ia masih ingin menumpahkan uneg-unegnya.
"Sekarang begini saja," ia melanjutkan, "Malam ini aku mau pulang ke rumah orangtuaku. Untuk sementara kita rahasiakan dulu rencana perceraian kita. Abang baru boleh jemput aku, kalau abang udah punya uang!"
"Tapi mah..."
"Sudah kubilang, jangan panggil mamah lagi!"
"Iya deh..."
Setelah berkata begitu, istriku bergegas ke rumah orangtuanya. Kini tinggal aku sendiri di rumah. Aku bingung harus berbuat apa. Menulis tentu aku tak bisa. Aku tak mampu mengarang bila pikiranku tersiksa begini. Meskipun mengarang adalah pekerjaanku, aku heran mengapa tak bisa mengarang bila jiwaku sedang tak tenang.
Sebenarnya, aku benci sekali hidup seperti sekarang ini. Kalau punya keahlian lain, aku lebih baik tidak mengarang. Menjadi pengarang sepertiku ini sangat tidak dihargai. Aku sudah menulis di semua media, sudah mengarang empat buah buku cerita, dan dijuluki teman- temanku sebagai salah satu sastrawan besar negeri ini. Tapi yang kudapatkan apa? Kepuasan memang ada. Tapi materi yang kudapatkan nol besar.
Barangkali karena pengeluaran keluargaku, terutama istriku, yang tidak seimbang? Atau mungkin aku harus berhenti mengarang? Sebab mengarang buku sastra sepertiku itu, menurut penerbitnya, penjualannya sangat seret sekali di pasaran. Mereka bilang, meskipun negeri ini berpenduduk sangat besar, masih belum suka pergi ke toko buku. Apalagi membaca buku sastra?
Karena mumet di rumah, akhirnya aku keluar. Aku pergi ke Taman Ismail Marzuki (TIM), siapa tahu bertemu kawan yang bisa diajak ngobrol. Kadang-kadang, mengobrol bisa melupakan kesemrawutan di rumah, dan bisa memberi semacam pencerahan batin. Meskipun ketika sampai di rumah lagi, bertemu dengan wajah asem istri lagi, semuanya kembali seperti semula.
Di TIM, aku bertemu dengan seorang kawan yang pernah belajar menulis padaku. Namanya Dodi. Kami bertemu di dekat warung tenda, dan Dodi menawarkan aku untuk makan. Aku senang sekali diajak makan, sebab hari ini istriku tidak masak. Dari siang hingga sore, aku hanya melahap kemarahannya.
Setelah makan, kami ngobrol di depan planetarium.
"Abang kayaknya suntuk banget?"
"Biasa Dod, namanya orang hidup, selalu saja ada masalah. Apalagi abang kan sudah beristri. Hidup sendiri saja terkadang kita harus menghadapi masalah. Apalagi hidup dengan dua orang, hidup bersama-sama, yang mulutnya dua, pikirannya dua, perasaannya dua. Jadi kalau timbul konflik, ya wajar-wajar saja."
"Masalahnya apa, bang?"
"Istriku minta cerai!"
Dodi melongo mendengar kata cerai.
"Kenapa? Kamu kok bengong begitu mendengar kata cerai? Jangan-jangan, setiap ada artis cerai kamu begitu?"
"Abang kan bukan artis?"
Aku geleng-geleng kepala.
"Jadi cuma artis yang boleh bercerai?"
"Sebenarnya artis itu mungkin satu persen saja dari sembilan puluh sembilan persen orang Indonesia yang cerai, bang. Cuma, kalau artis kan selalu diberitakan media, sedangkan orang kayak kita nggak. Bener, kan?"
"Iya, sih. Kasihan juga jadi artis. Untung abang bukan artis. Kalau artis, mungkin abang sudah habis-habisan dikejar-kejar kamera! Hahaha!"
Kami berdua tertawa.
"Kamu sekarang kerja di mana? Masih suka nulis? Kayaknya hidup kamu sejahtera. Pasti kamu sudah nggak mengarang lagi? Dan... kamu ngapain malam-malam begini ada di sini?"
"Kebetulan saya tadi habis dari Senen, terus mampir di sini. Biasa, bisnis kecil-kecilan. Dan sekarang ini, saya udah nggak coba-coba lagi mengarang. Mungkin saya nggak bakat. Saya nggak pernah bisa mengarang meski pernah belajar sama abang."
"Sekarang pekerjaan kamu apa?"
"Saya buka usaha, bang. Membuka toko garmen. Yah, mumpung dimodali orangtua."
"Hebat! Aku juga ingin cari usaha. Biar istriku nggak marah-marah terus."
"Lho, tulisan abang kan udah banyak! Buku-buku abang juga udah terbit kan?"
"Iya. Tapi berapa sih honor tulisan abang? Lagipula, royalti buku-buku abang seret sekali!"
"Mending abang bantu-bantu saya aja, jangan cuma mengandalkan dari menulis. Menulis kan bisa dikerjakan kapan saja. Setelah abang dapet duit, abang bisa menulis sepuas abang. Daripada menulis terus, tapi ekonomi keluarga tidak memuaskan?"
"Pikiran lu maju juga, Dod. Untung lu nggak bisa mengarang. Kalau bisa, elu bakalan kayak abang."
Keesokan harinya aku menemui Dodi di tokonya. Dodi menyambut kedatanganku dengan suka cita. Di tokonya, semua anak buahnya diperkenalkan padaku. Ia menyebut-nyebutku sebagai pengarang hebat.
"Nah, mulai besok, mungkin abang sudah bisa bekerja di sini. Menurut abang, apa yang bisa abang kerjakan di toko ini?"
Aku kebingungan. Apa yang bisa kukerjakan selain mengarang? Aku ini memang benar-benar laki-laki payah. Pantas kalau istriku minta cerai.
"Aku hanya bisa mengarang, selain itu tak ada."
"Wah, abang benar-benar seorang yang setia pada keahliannya. Selama ini abang hanya mengarang, sehingga tak ada keahlian lain yang bisa abang kerjakan. Baiklah kalau begitu. Abang bekerja di toko saya, dan pekerjaan abang mengarang."
"Apa bisa?!"
"Bisa. Sangat bisa. Yang saya butuhkan adalah, cerita tentang toko ini, tentang barang dagangannya, jenisnya, kualitasnya, dan sebagainya."
"Dalam bentuk puisi, cerpen, atau novel?"
"Haha, abang becanda aja. Maksud saya, abang bisa kan, membuat brosur?"
"Brosur? Kalau cuma brosur, abang bisa. Abang kan pernah jadi wartawan. Ya sudah, akan abang kerjakan."
Keesokannya aku sudah mulai bekerja di toko Dodi. Sesuai pekerjaan yang diembankannya kepadaku, aku pun menunjukkan kebolehanku membuat tulisan. Hanya saja, kali ini tulisanku tidak asal karang. Tidak seperti membuat cerita yang keluar dari imajinasi. Aku mencatat bahan-bahannya dari kata- kata Dodi, tentang barang- barang yang ada di tokonya, sekalian kuramu dengan kata-kata indah yang bisa menarik orang untuk datang membeli. Dengan begitu, toko yang dikelola Dodi menjadi besar.
Dan terbukti, sejak itu toko Dodi diserbu langganan. Kami membuka cabang di mana-mana. Segala isi brosur tentang toko-tokonya diserahkan padaku. Bahkan pada akhirnya, aku dipercaya menggantikan tugas-tugasnya, karena Dodi sering bepergian keluar negeri untuk melebarkan sayap usahanya.
Istriku senang dan tidak lagi marah-marah. Apalagi minta cerai. Sepertinya ia sudah melupakan ucapan sakral itu. Kami hidup seperti tetangga-tetangga lainnya. Punya mobil, rumah yang bagus, hanya saja, aku menjadi karyawan seorang kawan lama dan tidak jadi seorang pengarang. "Kita sudah hidup seperti tetangga-tetangga kita, terus apalagi yang kau mau mpok?"
"Jangan panggil aku mpok lagi, ah!"
"Maunya apa?"
"Kita harus panggil papah-mamah lagi!" Aku menghela nafas panjang..
"Kenapa? Kamu keberatan, pah?" Aku menghela napas lagi.
"Kok dari tadi cuma menghela nafas ?"
"Aku nggak bisa hidup seperti ini terus, mm... mpok!"
"Sudah kubilang panggil aku mamaaah! Papah ini gimana, sih?"
"Ya, mah. Aku nggak bisa hidup seperti ini terus."
"Maumu apa?"
"Aku ingin mengarang lagi."
"Kalau begitu, kamu berhenti kerja saja. Toh kita sudah cukup sejahtera."
"Bener, nih?"
"Ya."
Satu bulan kemudian aku berhenti bekerja. Meskipun Dodi memaksaku untuk terus bekerja, aku tidak peduli. Aku percaya, rezeki di tangan Tuhan. Seperti juga saat aku membantu mengembangkan tokonya, kalau bukan karena Tuhan, tidak akan begini jadinya. Dan kalau nantinya Tuhan menjadikan aku miskin lagi, aku menerimanya.
Setelah berhenti bekerja, hidupku kembali seperti dulu lagi. Aku akan tinggal di rumah, mengarang sepuasnya. Tapi kini dalam keadaan yang ber- beda. Aku tak lagi hidup dikejar-kejar pemilik kontrakkan, dan tak lagi diceramahi istriku.
0Namun, ternyata aku tak bisa lagi mengarang. Aku merasa kesulitan merangkai kata. Pada kenyataannya aku hanya bisa membuat brosur. Ya Tuhan, kenapa aku sulit sekali membuat karangan? Setiap kali menulis, selalu macet di tengah jalan! ***
Pamulang, 2008
Dimuat di Republika 13/04/2008
Wajah Pak Penghulu langsung berubah pucat manakala kedua mempelai duduk di hadapannya. Baru kali ini Pak Penghulu terlihat begitu gugup. Beliau ragu untuk segera melakukan upacara yang sangat sakral dalam kehidupan sepasang manusia: Pernikahan. Sebelum acara pernikahan dimulai, Pak Penghulu yang hidup sendirian itu minta ijin ke belakang.
Menyadari akan perlakuan yang tidak mengenakkan itu, kedua calon mempelai yang masih tampak muda-muda itu mengejar Pak Penghulu untuk minta dinikahkan secepatnya.
"Tolonglah, Pak Penghulu! Please! Tunggu apalagi? Kami sangat berharap bapak menikahkan kami sekarang juga!" rayu salah satu calon mempelai.
"Benar Pak Penghulu! Rekan-rekan kami sudah menunggu! Pesta telah kami siapkan! Kami akan terlambat bila Pak Penghulu tak segera menikahkan kami!" tambah calon mempelai yang lain.
Pak Penghulu tak menjawab. Ia hanya mondar-mandir, seolah tak mendengar bujuk rayu itu.
"Tunggu sebentar. Perut saya mules!"
Pak Penghulu meninggalkan kedua calon mempelai, lalu masuk kamar kecil. Di dalam kamar kecil itu beliau tidak berbuat apa-apa. Tidak buang air kecil atau besar. Ia hanya berdiri sambil menghela nafas yang terasa sesak. Seperti tengah menghadapi sebuah peristiwa yang sungguh luar biasa beratnya. Meski selama ini beliau terbiasa menikahkan berpasang-pasang pengantin, tetapi untuk kedua calon mempelai kali ini ia teramat berat melakukannya.
Di daerahnya, memang tidak semua calon pengantin dinikahkan olehnya. Sebab Pak Penghulu yang satu ini hanya menerima pasangan yang setuju menikah di bawah tangan. Artinya, mempelai laki-laki dan wanita yang dinikahkan tak mendapat surat nikah. Surat nikah resmi yang dikeluarkan oleh Departemen Agama.
Pak Penghulu sudah sangat berpengalaman menikahkan orang. Baik dipanggil ke rumah salah satu mempelai maupun di kediamannya. Empat puluh tahun sudah Pak penghulu berkarir sebagai seorang penghulu. Jadi beliau sudah banyak makan asam garam soal pernikahan.
Selama menikahkan orang, beliau mengaku belum pernah mengalami kesulitan atau perkara soal sah tidak sahnya tentang hasil pernikahan yang dilakukannya. Bahkan, Pak Penghulu pun bisa membuat surat kawin resmi dari Departemen Agama, seperti yang didapatkan oleh pasangan yang menikah di Kantor Urusan Agama.
"Bagaimana cara Pak Penghulu mendapatkan surat nikah dari Departemen Agama?" tanya salah seorang mempelai pria yang menikah di bawah tangan pada Pak Penghulu, suatu ketika.
"Ah, gampang! Siapkan saja uang secukupnya. Nanti bapak yang mengatur!"
"Bapak bisa?!"
"Sudahlah. Apa sih sekarang ini yang tak bisa dibeli?!"
Bukan soal mampu mengurus soal surat-surat nikah saja yang bisa dilakukan Pak Penghulu. Beliau juga bisa menikahkan mempelai berkewarganegaraan asing. Bahkan, setelah itu mendapat surat nikah resmi! Benar-benar luar biasa Pak Penghulu yang satu ini.
Namun, malam ini, Pak Penghulu pusing tujuh keliling ketika menghadapi kedua calon mempelai yang datang ke rumahnya. Tiba-tiba ia merasa dirundung kegelisahan yang menjadi-jadi. Tidak seperti biasanya, Pak Penghulu dicekam rasa takut luar biasa manakala hendak menikahkan kedua mempelai seperti yang lazim beliau lakukan.
Saat Pak penghulu keluar dari kamar kecil, kembali kedua calon mempelai mendesaknya untuk segera menikahkannya. Dibantu oleh dua orang saksi yang sejak sore tadi menemani mereka.
"Come on, sir! Don't kid us! Saya mohon Pak Penghulu tidak merasa ragu untuk segera melakukan prosesi pernikahan kami!"
Pak Penghulu tidak menjawab. Beliau hanya memandangi satu persatu wajah mempelai dengan raut wajah pucat pasi. Ia seolah minta pengertian untuk tidak dipaksa-paksa. Sepintas ia ingat kaum Nabi Luth yang dikutuk Allah karena homo -- laki-laki bercinta dengan laki-laki.
"Kenapa Pak Penghulu? Bapak satu-satunya penghulu di daerah ini yang kami kenal? Kenapa Pak Penghulu ragu menikahkan kami!?" desak salah satu mempelai, dengan raut wajah berubah emosi.
"Kami tidak menuntut surat nikah resmi departemen agama! Kami menikah dibawah tangan, seperti kebanyakan mempelai yang menikah dengan Pak Penghulu!" tambah calon mempelai satunya dengan iba.
Pak Penghulu tetap tak menjawab. Ia benar-benar merasa ketakutan ketika kembali saling berhadapan dengan kedua mempelai ini, tidak seperti yang selama ini terjadi selama kurun waktu empat puluh tahun berkarir sebagai seorang penghulu!
"Beri saya waktu untuk berfikir," pinta Pak Penghulu akhirnya, sambil melangkah ke beranda depan rumahnya.
Malam semakin larut. Kedua mempelai tampak resah. Pak Penghulu masih menimbang-nimbang, apakah ia akan menikahkan kedua mempelai yang sudah jauh-jauh datang ke rumahnya ini atau tidak?
Sementara itu, karena belum juga mendapat kepastian setelah berjam-jam menunggu, kedua mempelai kembali mendatangi Pak Penghulu yang duduk termenung di kursi beranda depan rumahnya.
"Berapa pun akan saya bayar Pak Penghulu! Asalkan Pak Penghulu mau menikahkan kami!" rengek salah satu mempelai.
Masih tak ada jawaban. Pak Penghulu tetap diam membisu. Ia mulai berfikir. Dosa apakah yang tengah ia tanggung ini? Selama ini ia memang menikahkan orang di bawah tangan. Salahkah apa yang selama ini ia lakukan? Dulu, dulu sekali, ia menikahkan orang karena berniat membantu. Ia pikir, daripada berbuat zinah, orang lebih baik menikah. Begitu alasannya.
Di samping itu, mengapa orang-orang di daerahnya memilih dinikahkan oleh Pak Pengulu, karena tidak semua orang mampu menikah di Departemen Agama. Tak mampu membiayai. Lagipula, pasangan yang memilih dinikahkannya tak pernah memikirkan kekurangan atau kelebihan dinikahkan olehnya atau penghulu lain.
Tapi belakangan ini Pak Penghulu sudah jarang menikahkan orang. Sebab, orang lebih memilih menikah di kantor catatan sipil yang terletak di dekat kelurahan ketimbang dinikahkan olehnya. Mungkin karena sekarang ini penduduk yang menikah berharap punya surat nikah resmi. Sementara Pak Penghulu sudah tidak bisa mengeluarkan surat nikah resmi lagi. Pak Penghulu tak mau menyogok pihak depag yang biasa mengurus surat-surat nikah itu.
Disamping itu, setiap anak yang hendak masuk sekolah, disyaratkan pihak sekolah agar kedua orangtuanya memiliki surat nikah guna mengurus akta kelahiran. Jika tidak memenuhi syarat, akan sulit mengurus hal-hal lainnya yang juga membutuhkan surat nikah sebagai bukti bahwa kedua orangtua mereka telah resmi menikah.
Namun begitu, kedua mempelai yang saat ini berada di kediaman beliau tak peduli. Mendesak segera dinikahkan, walau tanpa surat nikah.
"Mereka sudah memenuhi syarat menikah, Pak Penghulu! Saksi ada! Mahar ada! Apalagi?!" kali ini salah seorang saksi yang membujuk Pak Penghulu untuk segera menikahkan dua calon mempelai itu.
"Saya tidak bisa, nak...."
"Why not?! Kenapa?! Apakah karena selama ini Pak Penghulu sudah jarang menikahkan orang lagi? Atau.... " salah satu mempelai hampir bersujud di kaki Pak Penghulu, dan terlihat meneteskan airmata.
"Bukan, bukan itu masalahnya, nak," potong Pak Penghulu, sambil memegangi pundak salah satu calon mempelai yang hendak bersujud di kakinya itu.
"Apa dong, pak?! Kata orang-orang Bapak sudah empat puluh tahun menjadi penghulu! Apa dong masalahnya, Pak?!"
"Masalahnya... selama ini bapak tak pernah menikahkan seorang mempelai laki-laki dengan mempelai laki-laki!"
"Kami ini pasangan gay, Pak! Bapak tidak baca koran, yah? Di Belanda saja sudah banyak gay yang menikah, Pak!"
"Ya, sudah! Kalian ke Belanda saja! Jangan menikah di sini! Bapak tidak bisa, nak!!"
"Pak! Pak Penghulu...!!"
Akhirnya Pak Penghulu masuk kamarnya dan mengunci diri! Pak Penghulu tidak memperdulikan kedua mempelai yang sudah siap menikah itu. Pak Penghulu tak sudi dibujuk rayu. Dua orang saksi pun tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya kedua mempelai 'jeruk makan jeruk' itu pun hanya bisa menangis di depan kamar Pak Penghulu.***
Dimuat di Republika 02/03/2008
Sejak masjid kubah emas itu selesai dibangun, orang-orang dari berbagai pelosok daerah berdatangan. Beberapa warga sekitar masjid kecipratan rejeki. Anak-anak mudanya mendapat pekerjaan sebagai tukang parkir, ada beberapa warga yang ditugasi sebagai penjaga masjid, dan sejumlah warga lainnya membuka lapak-lapak berjualan makanan di luar areal rumah ibadah itu.
Masjid kubah emas telah membawa berkah bagi sebagian warga sekitar. Namun, tidak bagi Markum dan keluarganya. Padahal, rumah Markum, yang lebih pantas disebut gubuk, berbatasan dengan pagar masjid. Markum pernah menawarkan diri jadi penjaga masjid, tetapi ia kalah bersaing dengan warga lainnya. Menjadi marbot masjid saja Markum tak lulus tes. Markum tidak memenuhi syarat.
Akhirnya Markum hanya menjadi penonton, seperti para pengunjung masjid kubah emas lainnya yang datang dari berbagai pelosok daerah itu. Hanya saja kalau pengunjung lainnya mengagumi kubah-kubah yang berlapiskan emas, Markum memikirkan bagaimana caranya mengorek-ngorek permukaan kubah itu untuk mengambil kandungan emasnya.
Adzan Isya sudah lama berkumandang. Markum masih berdiri di balik pagar masjid, tepat di sisi tiang gubuknya. Seperti malam sebelumnya, Markum memandangi kubah-kubah masjid yang berpendaran sorot cahaya lampu. Markum sudah hapal jam berapa pintu masjid ditutup untuk umum. Dan Markum tentu hapal benar kapan para penjaga masjid selesai berkeliling memeriksa sekitar masjid, memastikan bahwa keadaan aman.
"Pak...," suara istrinya terdengar pelan. Markum tak menoleh, masih memerhatikan salah satu kubah emas itu. Istrinya mendekat.
"Pak, sudah malam. Ayo masuk... uhuk!" istri Markum merajuk sambil sesekali terbatuk.
"Ibu saja duluan. Aku belum ngantuk. Aku sedang melihat kubah emas itu."
"Heran... hampir setiap malam bapak tidak bosan-bosannya melihat kubah-kubah itu."
Markum menatap wajah istrinya. Kecantikannya sudah lama memudar sejak digerogoti asma lima tahun lalu. Nampak kulit wajahnya mulai mengeriput. Markum menyadari, istrinya belum benar-benar tua. Kemiskinan telah membuatnya demikian.
"Pak, kalau begitu aku tidur duluan."
Markum mengangguk pelan. Setelah itu Markum mengeluarkan pisau baja yang sudah disiapkan untuk mengorek lapisan emas kubah masjid itu. Markum bergegas menuju sebuah pohon rambutan yang dahannya menjorok ke bangunan masjid. Markum naik pohon rambutan itu dan melompat ke genting masjid, seperti ninja dalam film Jepang. Saat sudah sampai di dekat kubah, Markum terperangah memandangi kubah berlapis emas.
Mula-mula ia usap-usap permukaan kubah itu. Yang ia rasakan seperti megusap lembaran-lembaran uang. Dulu Markum pernah jadi penambang emas di sebuah sungai, jauh di pelosok kampung asalnya. Saat butiran-butiran keemasan mengerling di balik pasir, itulah yang ia rasakan saat menggosok-gosok permukaan kubah emas itu.
Tetapi saat hendak menggosok kubah emas itu, Markum teringat akan pesan almarhum ibunya. Yang paling lekat dalam ingatannya, Markum harus jadi orang jujur. Meskipun miskin, mencuri adalah perbuatan yang hina. Markum tak jadi mengorek lapisan emas pada kubah masjid tersebut.
Baru tadi sore Markum berdoa di dalam masjid kubah emas yang emasnya tengah ia raba. Markum berdoa dengan khusuk, berharap Tuhan mau mendengarnya.
"Ya Allah Ya Rabbi, aku selalu memohon kepada-Mu, agar mendapatkan rizki yang halal. Tetapi sampai saat ini hamba belum juga bisa mendapatkannya. Ampunilah hamba bila hamba mengupas emas kubah rumah-Mu ini. Ampunilah hamba-Mu yang lemah ini, ya Rabbi."
Markum memejamkan matanya sesaat, membayangkan anaknya, Mardi, yang harus melunasi SPP. Lalu anak keduanya, Sarda, yang harus mendaftar sekolah. Dan si bungsu Adi yang harus dibawa ke dokter. Istrinya pun harus disembuhkan, dan tentu perlu biaya tak sedikit.
Markum mulai menggosok-gosokkan pisau khususnya pada permukaan kubah itu, dan tak lupa menadah hasil serutan pisaunya pada sebuah kain. Sambil terus menggosok, tatapan matanya mengedar ke sekeliling masjid. Ketika melihat salah satu penjaga masjid berkeliling, Markum menyudahi pekerjaanya. Dan saat penjaga tak terlihat lagi, Markum melanjutkannya. Akan tetapi langit tak bersahabat. Gerimis mulai turun membasahi genting-genting masjid. Sepertinya Tuhan bersedih menyaksikan apa yang dilakukan Markum. Markum tak peduli, ia terus menggosok-gosokkan pisau bajanya. Setelah hampir setengah jam menggosok permukaan kubah, Markum mengumpulkan serbuk-serbuk emas pada kain dan melipatnya. Markum memegangnya erat-erat lalu perlahan-lahan menuruni genting yang basah.
Tapi tak mudah berjalan di atas genting yang licin. Karena terlalu telah menggosok, yang menyebabkan tubuhnya kecapekan, Markum kehilangan keseimbangan. Salah satu kaki Markum terpeleset dan tubuhnya terjerembab. Tubuh Markum meluncur deras menuruni genting masjid hingga terdengar suara berdebam!
Suara-suara penjaga mulai terdengar. Sekitar empat penjaga masjid menyorotkan senter ke arah suara. Markum nampak tak berdaya, apalagi saat salah satu penjaga melihat keberadaan Markum yang teronggok di ujung genting. Sebelah tangannya yang memegangi pisau terlihat dari bawah masjid.
"Astaghfirullah!! Ada orang di atas genting!"
"Awas, hati-hati!! Dia bersenjata!"
"Kasih tahu warga! Umumkan lewat speaker masjid!"
Lalu salah satu penjaga masuk ke dalam masjid, dan mengumumkan lewat speaker. "Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh! Saudara-saudara sekalian, di masjid kubah emas ada pencuri! Pencurinya masih berada di atas genting!"
Markum mendengar pengumuman spekaer yang memekakkan telinga. Meskipun suaranya keras, ia mendengarnya lamat-lamat. Markum gugup dan lemas melihat darah mulai menetes dari keningnya. Saat terjerembab dari atas kubah tadi, kepalanya membentur ujung genting.
Beberapa saat kemudian warga sekitar masjid sudah berkumpul. Mereka adalah warga yang selama ini membangga-banggakan masjid kubah emas, dan diantara mereka memang ada yang mendapatkan rizki dari keberadaan masjid. Mereka adalah tukang parkir, pedagang asongan sekitar masjid, dan warga lainnya. Di antara mereka ada yang ternyata malas shalat di masjid, tapi kalau mendengar ada pencuri di masjid darahnya naik ke ubun-ubun.
"Ayo kita tangkap!"
"Habisin aja!"
"Bakar malingnya!"
Teriakan-teriakan di bawah masjid membuat Markum makin tersudut. Markum tak mampu menatap ke bawah masjid karena posisi tubuhnya yang terlentang di salah satu ujung genting. Namun begitu, Markum masih bisa memandangi cahaya lampu masjid berpendaran menyorot kubah emasnya. "Pak...." Markum seperti mendengarkan suara istrinya.
"Pak... ayo masuk! Hujan-hujan begini kok di luar. Nanti bapak sakit." Suara sang istri membuyarkan lamunannya. Pisau dalam genggamannya nyaris terjatuh.
"Pak. Uhuk... bapak sedang apa di luar?" ulang istrinya, sambil sesekali terbatuk. Gerimis yang membasahi kepalanya mulai berhenti. Markum tahu kalau istrinya tengah menatap dirinya. Markum memaksakan tersenyum sambil memandangi kubah-kubah emas yang berkilauan cahaya lampu. "Bu. Kubah masjid itu indah sekali ya?"
"Ya jelas saja, Pak. Kubahnya saja dari emas. Uhuk... ayo Pak masuk. Nanti bapak masuk angin."
Markum melepaskan pisau dalam genggaman, lalu masuk mengikuti langkah istrinya ke dalam gubuk. Kubah masjid berpendar-pendar meski langit tanpa rembulan. Entahlah... apakah besok malam Markum tak berubah pikiran untuk tetap mencongkel salah satu kubah emas itu.***
Dimuat di Republika 03/09/2006
Kau tentu pernah bertemu dengan lelaki berkening hitam. Hitam tidak secara keseluruhan, melainkan hanya pada bagian kening tengah atas di antara dua alis, persis dibawah ujung rambut bagian depan. Tepatnya, bagian kening yang digunakan untuk bersujud setiap kali shalat.
Apa yang kau pikirkan ketika melihat lelaki berkening hitam seperti itu? Tentu kau akan berkesimpulan lelaki tersebut adalah orang alim, lelaki yang rajin mencium sajadah, lelaki yang tak pernah meninggalkan shalat lima waktu, yang rajin bangun malam-malam untuk tahajud di kala orang lain molor di tempat tidur.
Lelaki berkening hitam tidak hanya ditemukan di masjid-masjid. Kau bisa menemukannya di kampus, tempat-tempat kerja, pasar tradisional, kantor pos, bahkan mungkin di mal-mal. Bisa jadi dia seorang dosen, kiai, mahasiswa, pedagang, atau sopir angkutan kota.
Dan tahukah kamu, malam ini, Markum, seorang pemuda berotak pas-pasan sebuah SMA swasta di Jakarta, tengah memikirkan keningnya yang tidak hitam. Markum bingung luar biasa. Bukan apa-apa, belakangan ini dia tak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Dia selalu melakukan shalat sunat, baik sunat bakdiah maupun sunat kobliah. Bahkan, setiap kali shalat, Markum sengaja menekan-nekan bagian ujung keningnya supaya bisa hitam. Namun, tetap saja tidak pernah menjadi hitam.
Kau tentu paham maksudnya. Markum ingin sekali punya kening hitam, seperti kening lelaki berkening hitam yang ia temukan di berbagai tempat. Keinginan punya kening hitam ini bermula saat ia bertemu dengan seorang gadis bernama Elliza. Elliza adalah gadis cantik berkerudung, putri tunggal seorang guru agama di sekolahnya. Hanya saja, Elliza bersekolah di Ibtidaiyah.
Pertemuan, Markum dengan Elliza terjadi secara tidak sengaja. Waktu itu Markum mengantar Pak Habiburahman Saerozi, guru pendidian agama islam lulusan Mesir yang tak lain wali kelasnya, pulang dari mengajar. Pak Habib menyuruh Markum mampir sebentar untuk minum.
Markum, dengan senang hati, menuruti kemauan Pak Habib yang baik hati. Saat itulah Markum melihat Elliza, yang membawa minuman untuknya. Pak Habib pun memperkenalkan Markum pada putrinya itu, dan juga keponakan laki-lakinya, serta istrinya. Istri Pak Habib, perempuan mesir. Berwajah arab dengan hidungnya yang mancung. Wajah Elliza mirip sekali dengan ibunya.
Saat bertemu itulah Markum merasa tertarik ingin menjadikan Elliza seorang teman dekat. Tetapi tentu tidak mudah mewujudkan keinginannya itu. Markum pun melakukan berbagai usaha. Diantaranya adalah menjadi cowok yang alim. Cowok yang tekun beribadah.
Kau tentu sulit membedakan, siapakah diantara anak-anak lelaki yang rajin beribadah atau tidak? Dan Markum berkesimpulan, bahwa lelaki yang bisa disebut alim adalah lelaki yang rajin shalat. Lalu, bisakah orang lain menentukan apakah seorang cowok seperti dirinya rajin shalat atau tidak. Hmmm... lihat saja keningnya!
Markum selalu membayangkan, seandainya keningnya bisa menjadi hitam, seperti seorang lelaki yang rajin shalat. Pak Habib, guru agamanya yang sangat baik hati itu, keningnya hitam. Keponakan laki-laki Pak Habib, keningnya juga agak hitam. Kenapa kening Markum tidak bisa hitam?
Selain berkening hitam, masih menurut Markum, lelaki yang bisa dicirikan sebagai orang alim, adalah lelaki yang berjenggot. Tetapi, janggut Markum tak ditumbuhi jenggot. Licin. Seperti kepala profesor botak. Seandainya jenggotnya lebat, ditambah lagi keningnya menghitam, oh... Markum pasti akan senang sekali. Sayang beribu-ribu sayang, semua itu hanya mimpi.
Untuk mewujudkan keinginannya, Markum berencana melakuan berbagai cara. Salah satunya, setiap malam, Markum akan menempelkan jidatnya ke lantai, dengan kedua kaki berada di atas, menempel ke tembok. Namun, untuk melakukannya, ternyata sungguh sulit baginya. Masalahnya, orang-orang rumah selalu iseng bertanya padanya, mengapa ia melakukan itu.
"Bang Markum, lagi ngapain...?" tanya salah satu adiknya, ketika Markum mulai menempelkan keningnya ke lantai, dengan posisi kedua kaki menempel pada dinding.
Markum menjawab, bahwa ia sedang olahraga senam.
"Senam apa...?!!"
Senam apa? Markum jadi bingung. Tapi Markum tidak hilang akal, "Ini namanya senam keseimbangan!"
Adiknya yang bertanya mengangguk-angguk. Di kemudian hari, setiap kali Markum melakukan hal yang sama, yakni 'senam keseimbangan' itu, adiknya latah ikutan-ikutan.
Setelah kurang lebih dua minggu melakukan kegiatan seperti itu, tidak disangka-sangka, kening adiknya menjadi hitam! Boleh jadi, kening itu sering menempel pada lantai, menjadi tumpuan beban tubuhnya yang berada di atas saat melakuan gerakan senam asal-asalan itu.
Meskipun begitu, tidak bagi Markum. Kening Markum ya tetap begitu-begitu saja. Tidak hitam sama sekali seperti kening adiknya. Mengetahui keningnya menjadi hitam, adiknya menjadi marah pada Markum.
"Kak, ini kening Markam kok jadi item?" protes Markam, adik Markum. "Salah kamu sendiri! Kenapa ikut-ikutan senam itu?"
"Wah, gimana dong, Kak. Markam jadi malu niiih."
"Biarkan saja. Nanti juga hilang sendiri!"
Benar saja, setelah tidak lagi melakukan senam itu, kening Markam tidak jadi hitam. Tapi aneh bagi Markum, meskipun masih melanjutkan gerakan-gerakan senam itu keningnya masih juga belum hitam.
Suatu malam, saat tengah sendirian di kamarnya, Markum menatap keningnya di cermin, sambil tangannya memegang pisau dapur.
"Kenapa keningku masih tetap nggak bisa hitam?" tanya Markum, pada dirinya sendiri.
Markum meraba-raba ujung keningnya itu, membayangkan seandainya bisa menjadi hitam. Lalu ia tatap pisau di tangan kanannya, dan menempelkannya ke kening. Rupanya, Markum berniat untuk melukai keningnya dengan pisau. Dengan begitu, kemungkinan kening menjadi hitam bisa terwujud dari luka keningnya nanti. Demikian pikir Markum.
Belum sempat melukai keningnya, seseorang membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci, membuat Markum terkejut.
"Markum! Kamu lagi ngapain?" tanya ibunya, orang yang membuka pintu kamarnya itu.
"Eee... eee...." Markum gugup. Ibunya menatap pisau dapur di tangan Markum dengan tatapan menyelidik.
"Bu, Markum lagi mencukur jenggot," ucap Markum kemudian, sambil mengarahkan bagian pisau yang tajam ke jenggotnya. Ibunya bertambah bingung.
"Cukur jenggot? Memangnya kamu punya jenggot?!"
"Baru mulai tumbuh, Bu."
"Kalau kamu mau mencukur jenggot, kenapa nggak pakai pisau cukur ayah?" Markum terdiam, lalu menurunkan pisaunya.
"Tunggu sebentar ya, akan ibu ambilkan." Ibu Markum keluar. Tak lama kemudian ibu Markum sudah kembali sambil memberikan alat cukur pada Markum. Setelah itu ibu Markum keluar lagi. Markum memegangi alat cukur jenggot itu, lalu menatap wajahnya pada cermin sambil menempelkan pencukur jenggot ke janggutnya. Tapi, apa yang akan ia cukur, sementara janggutnya tak ditumbuhi jenggot?
Pekan berikutnya, ketika keningnya masih belum bisa jadi hitam, Markum mendapat undangan dari Pak Habib. Pak Habib mengundang Markum berkenaan perpisahan Pak Habib yang sudah tidak lagi mengajar di sekolah Markum. Pak Habib pindah mengajar di sekolah lain.
Ini merupakan kesempatan emas buat Markum. Markum merasa menjadi sangat terhormat. Markum tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Sebelum berangkat ke rumah Pak Habib, Markum memepersiapkan dirinya sebaik mungkin. Pikir markum, di rumah Pak Habib nanti, Markum tidak hanya akan bertemu dengan Pak Habib saja. Ada istrinya, sepupunya, dan tentu saja putrinya yang cantik, Elliza!
Markum berpikir keras bagaimana ia bisa mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Aha! Markum punya akal. Markum yakin bila usahanya kali ini tak akan gagal, yakni bagaimana membuat keningnya menjadi hitam. Kening seorang laki-laki alim. Markum meraih spidol di meja belajarnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Markum memoles keningnya dengan spidol itu. Hitam!
Kini kening Markum benar-benar hitam, layaknya kening laki-laki yang rajin shalat! Dengan bangga, Markum pun segera berangkat ke rumah Pak Habib. Tak peduli pada keheranan orang-orang di rumah, Markum dengan percaya diri siap menghadapi undangan Pak Habib dan keluarganya.
Di rumah Pak Habib, Markum disambut dengan ramah. Menurut Markum, keluarga Pak Habib tidak bersikap aneh seperti orang-orang di rumahnya, soal keningnya yang hitam. Markum duduk di dekat Pak Habib, diantara sepupu Pak Habib, istrinya, dan Elliza. Mereka bercakap-capak seputar kehidupan dan kegiatan masing-masing.
"Keluarga Pak Habib sekarang sudah tahu, bila keningnku ini hitam," ucap Markum dalam hati, ketika tengah bersama-sama keluarga Pak Habib. Betapa bangganya Markum, memperlihatkan keningnya yang hitam di depan Pak Habib sekeluarga. Pasti mereka sekarang tahu, bahwa dirinya lelaki yang alim, karena berkening hitam.
Menjelang Maghrib, sebelum makan malam, Pak Habib mengajak semua orang untuk shalat maghrib. Dengan semangat empat lima, Markum bangkit dan segera mengambil wudhu. Ini pertama kalinya bagi Markum, shalat berjamaah dengan keluarga Pak Habib.
Saat selesai mengambil wudhu, Markum merasakan sesuatu yang aneh. Air di lantai kamar mandi menjadi hitam. Markum mendapati telapak tangannya juga hitam. Markum menatap wajahnya pada cermin di kamar mandi, dan keningnya yang tadi hitam perlahan luntur. Markum mengusap keningnya. Tidak lagi hitam!
Markum pusing, karena di kamar mandi itu tidak akan mampu mengembalikan keningnya menjadi hitam kembali. Markum kebingungan. Bila kau menjadi Markum, tentu kau juga akan bingung. Tapi aku yakin, kau tentu tak akan bertindak sebodoh Markum. Dan, tahukah kau, siapakah Markum sesungguhnya. Markum tak lain adalah aku!
Mengingat kejadian itu, aku suka tersenyum sendiri. Aku tidak mau menceritakan bagaimana sikap Pak Habib dan keluarganya waktu itu, setelah melihat aku tak lagi berkening hitam. Aku malu menceritakannya. Kau tak perlu risau, sekarang aku sadar. Aku tak harus berkening hitam. Tetapi aku semakin rajin shalat. Hanya Tuhan yang tahu. Tanpa ada tanda-tanda pada diriku, atau terlihat oleh manusia lainnya, bahwa aku lelaki yang sering mencium sajadah, baik siang mapun tengah malam.
Pamulang Barat, Banten, 22 Maret 2006
Dimuat di Republika 11/06/2006
Masih lekat dalam ingatan, saat menjadi relawan tsunami Aceh satu setengah tahun silam. Aku pulang membawa banyak perhiasan dan menemukan sekantung uang yang kudapat dari sisa-sisa reruntuhan rumah-rumah korban bencana tersebut. Meskipun begitu, sekarang aku masih saja gembel. Barang berharga dan sejumlah uang yang kutemukan itu habis kupakai berjudi dan foya-foya dalam waktu beberapa bulan saja.
Setahun setelah bencana itu, aku kembali hidup luntang lantung, karena malas mencari pekerjaan. Mencopet atau menggarong orang aku sudah tidak berani lagi. Keberanianku tiba-tiba hilang entah kenapa. Yang ada di otakku hanyalah pikiran-pikiran bagaimana cara menipu orang, tanpa harus menyakiti fisik korban dan ketahuan polisi. Tetapi, menipu orang bukan pekerjaan mudah, dan aku tak pernah berhasil.
Untung saja musibah besar kembali datang. Orang lain boleh bersedih, tapi bagiku itu keuntungan luar biasa. Berita itu kudengar pagi-pagi sekali melalui breaking news di televisi yang ada di pos ronda, sekitar pukul tujuh pagi. Pembaca berita perempuan cantik jelita mengabarkan telah terjadi gempa berkekuatan 5,9 skala Richter di Yogyakarta dan sebagian daerah di Jawa Tengah.
Awalnya aku tak begitu peduli, barangkali hanya gempa biasa yang hanya menyebabkan bangunan retak dan korbannya paling banyak belasan orang luka-luka. Maka pagi itu, saat tiga anak muda tanggung yang baru bangun tidur mengajakku main kartu domino, tak lagi kupikirkan berita itu. Tetapi satu jam kemudian televisi kembali menyiarkan secara khusus, bahwa sejumlah rumah sakit di Yogyakarta dipadati korban, dan yang meninggal dunia diperkirakan ribuan orang!
Aha! Kubanting semua kartu domino di tanganku, lalu kedua mataku menatap layar televisi. Teman main kartuku tersentak, namun kemudian mata mereka ikut menatap ke arah televisi. Kupikir semua orang yang menatap tayangan berita itu akan merasa terenyuh melihat korban gempa bumi bergelimpangan, mengingatkan ratusan ribu korban tsunami di Aceh yang tewas. Lalu yang terlintas di benakku, orang pasti akan terketuk hatinya untuk menyumbangkan uang demi membantu para korban. Dan itu kesempatan bagiku untuk memanfaatkan keadaan.
Aku mengikuti jalan pikirianku yang sudah terpola sedemikian rupa, bergerak berdasarkan naluri jiwaku yang sudah terformat sebagai seorang penipu kelas satu. Tiga teman bermain kartu domino tadi kutawari sebuah pekerjaan mudah, namun akan menghasilkan jumlah rupiah yang tidak sedikit.
Ketiga pemuda luntang-lantung berotak tumpul itu bergerak mengikuti ayunan langkah kakiku, menuju kos-kosan mahasiswa. Dalam hitungan menit kami berhasil mendapatkan empat buah jaket dengan logo universitas yang tercetak di bagian atas kanan dada. Tentu saja, setelah kami sedikit mendapat hambatan dari si pemilik jaket, yang sebenarnya sudah tak asing lagi pada kami, para begundal kelas kampung yang kerap nongkrong setiap malam di sekitar pos ronda kompleks perumahan. Mereka akhirnya rela meminjamkan jaket itu, tentu setelah kami memberikan sedikit ancaman.
Setelah itu aku hanya perlu beberapa jam saja untuk menjelaskan rencana-rencana aksi kami pada ketiga pemuda preman kelas nyamuk ini, bagaimana seharusnya kami nanti bekerja.
"Gimana kalau nanti ketahuan, Bang?" tanya pemuda yang berambut panjang, dengan raut wajah khawatir. Wajahnya memang seram, tapi keberaniannya nol besar.
"Maksud lo?"
"Kita bisa dipenjara, Bang!" sambung pemuda bermata sayu, karena terlalu banyak menelan pil anjing itu.
"Tenang. Kita nggak bekerja hari ini. Kita mulai bekerja nanti, setelah semuanya benar-benar siap. Abang yakin dua hari ke depan akan banyak mahasiswa yang turun ke jalan-jalan meminta dana bantuan kemanusiaan. Kita menjadi bagian dari mereka."
Ketiga anak muda bodoh itu nampak berpikir. Lalu ketiganya mengangguk-angguk, entah bingung atau apa.
Sehari kemudian, kembali kudengar berita korban gempa itu bertambah menjadi tiga ribu orang lebih! Masih banyak mayat-mayat korban gempa yang masih terkubur dan yang terluka parah tidak tertampung rumah sakit. Itu berarti, dalam kurun waktu dua tiga hari ke depan, korban akan bertambah. Aku masih ingat kejadian di Aceh dulu, bantuan yang datang sangat lamban, karena terhambat oleh rumitnya birokrasi. Mau memberi sekarung beras, tanda tangan dulu barang dua tiga rangkap surat. Aku jadi ingat iklan televisi, "Tanya Kenapa..??" Padahal ribuan orang yang menunggu makan dan butuh pengobatan mengantri. Tak heran bila korban yang mati bertambah-tambah. Sudahlah. Kenapa aku harus memikirkan hal seperti itu. Bagiku, tambah korban tambah baik. Sebab akan membuat orang-orang makin tersentuh hatinya untuk membantu. Dengan begitu, kesempatan mereguk pendapatan makin bertambah besar buatku.
Keesokan harinya, kami berempat memakai jaket mahasiswa, lalu membawa dua buah kardus berukuran sedang menuju jalan raya. Untuk menghilangkan kemungkinan orang curiga, kami memakai topi atau kain penutup kepala, sebagai alasan melindungi diri dari sengatan matahari. Padahal, kami menghindar dari kemungkinan dikenali orang.
Kardus itu hanya perlu diberi sedikit pengumuman, agar orang-orang di jalan tahu untuk apa kami melakukan semua ini. "AMAL PEDULI GEMPA YOGYA", demikian tulisan yang tertera di bagian sisi depan kardus yang kami bawa ke tengah jalan protokol. Aku dan satu pemuda menyorongkan kardus itu pada mobil-mobil yang melintas, dua lainnya mengatur arah lalu-lintas.
Hari pertama turun ke jalan meminta amal pendatapan kami memang belum begitu banyak. Tetapi memasuki hari kedua dan ketiga, ketika menurut berita jumlah korban gempa itu mencapai hampir enam ribu orang, lembaran-lembaran rupiah yang kami peroleh sungguh mencengangkan. Setengah karung beras hampir penuh terisi lembaran uang kertas!
Karung berisi uang itu kami simpan secara diam-diam di dekat pos ronda. Hanya kami berempat yang tahu. Orang lain tak akan menaruh curiga, atau menduga sebuah karung dipenuhi lembaran-lembaran uang kertas sebanyak itu.
Setelah sekitar sepuluh hari meminta-minta amal, jumlah yang terkumpul sekitar dua karung setengah. Setengah karung kami berikan ke posko peduli, dan dua karung yang lain masih kami simpan di dekat pos ronda. Kami sebenarnya bingung, akan ditaruh dimana dua karung berisi lembaran uang itu. Yang jelas, kami takkan mengirimkannya ke lokasi gempa di Yogya dan sekitarnya, melainkan untuk diri kami sendiri.
Untuk menghilangkan kemungkinan orang-orang di sekitar pos ronda curiga, kami menyatukan dua karung berisi lembaran uang itu pada karung tahi ayam di sekitar kebun milik Pak Haji Markum, pemilik usaha tanaman hias di ujung kompleks perumahan. Tentu saja bagian dalam karung itu lebih dulu kami lapisi dengan plastik, agar tidak tertembus oleh air bila hujan datang.
Setelah selama seminggu menyimpannya, menurut jalan pikiranku yang kuanggap brilian ini, kami harus menunggu malam lebih dulu untuk membuka karung berisi uang itu, lalu membagikannya kepada ketiga pemuda yang telah membantuku. Aku memang sengaja tidak langsung memberikan pendapatan dari hasil meminta amal di jalan itu, karena pada hari ketiga meminta amal, seorang mahasiswa mendatangiku, dan tanya ini itu soal hasil penarikan amal yang akan diserahkan ke posko peduli gempa. Kukatakan bahwa uang itu akan langsung kami serahkan ketika kami selesai, dan setengah karung itulah jumlah uang yang kami laporkan. Dua karung sisanya, menumpuk bersama-sama karung-karung berisi tahi ayam yang digunakan untuk pupuk tanaman. Aku memang sengaja menyamarkannya, seperti yang dilakukan para penjahat di film-film televisi.
Malam hari ketika kami berempat hendak mengeluarkan isi karung itu, kami terkejut bukan main karena dua karung berisi lembaran-lembaran uang itu telah raib bersama karung-karung lainnya. Dengan pura-pura bodoh, kami pun menanyakan pada Haji Markum, dimana ia letakkan karung-karung pupuk tahi ayamnya itu. Pak Haji bilang, karung-karung itu sudah dipindahkan ke sekitar kebun hias dagangannya di ujung kompleks perumahan.
Kami segera bergerak menuju lokasi yang dimaksud, tentu saja tanpa harus menarik perhatian Pak Haji Markum. Dan, kami berhasil menemukan karung-karung itu, namun kami tak bisa membedakan mana karung berisi tahi ayam, dan mana yang berisi uang. Karung-kerung itu dalam posisi menumpuk, dan kami bersiap-siap memeriksa satu persatu.
Ada sekitar lima belas karung yang menumpuk, tujuh diantaranya sudah kami periksa, dan semuanya berisi tahi ayam! Kami pikir, berat karung berisi uang lebih ringan daripada berat pupuk kandang sialan itu. Nyatanya, kami tidak bisa membedakan mana karung berisi uang dan mana yang berisi tahi ayam! Setelah semua kami periksa, ternyata semuanya berisi tahi ayam. Karung-karung itu pun kami periksa lebih teliti lagi, nyatanya tetap saja karung-karung itu berisi tahi ayam. Akhirnya kuputuskan menanyakannya pada Pak Haji Markum. Jangan-jangan beliau tahu apa yang ada di dalam karung itu.
"Memang ada dua karung lagi yang saya simpan di dalam gudang belakang rumah. Saya memang pesan lima belas karung, tapi setelah dihitung ada tujuh belas. Saya harus jujur, dan ingin mengembalikan dua karung itu pada penjualnya," ujar Pak Haji Markum, dengan raut wajah keheranan.
"Kenapa kalian tanyakan itu? Kok kalian bisa-bisanya tahu soal karung-karung tahi ayam buat pupuk kandang kebun saya itu?" tanya Pak Haji Markum kemudian.
Kami semua tak bisa menjawabnya. Aku segera berlari ke gudang belakang, dan menemukan dua karung itu. Setelah itu meminta pada Pak Haji, agar kami diperkenankan membeli dua karung itu, dan nantinya diteruskan pada si penjual karung tahi ayam.
"Terserah kalian. Silahkan kalian bawa dua karung sisanya itu, nanti soal pembayarannya saya yang mengurus. Yang penting, kalau si tukang tahi ayam itu datang, uangnya sudah tersedia," ujar Pak Haji, sambil memandangi dua buah karung yang sudah berada di atas punggung dua pemuda temanku. "Baik Pak Haji. Pak Haji tenang aja. Nanti sore uangnya akan saya berikan." Setelah itu, tanpa basa-basi lagi, kami membawa dua karung itu menuju sebuah rumah kosong di sudut kompleks perumahan. Dengan nafas terengah-engah, kami semua sudah merasa tidak sabar untuk membagi-bagikan isi karung itu. Karung pertama dibuka, isinya ternyata tahi ayam. Karung kedua pun dibuka, dan isinya tahi ayam juga!
"Brengsek! Pantes aja berat!" keluh si pemuda yang berambut gondrong. "Hueeek, bau banget!!" umpat yang lain.
Kami semua saling pandang. Kami bingung, di mana karung berisi uang-uang hasil sumbangan orang-orang di jalan itu. Pak Haji Markum tak mungkin tahu. Apalagi orang-orang di sekitarnya. Jangan-jangan, karung berisi uang amal kemanusiaan yang kami kumpulkan di kedua karung itu memang sudah berubah menjadi tahi ayam?***
Pamulang, Akhir Mei 2006
Dimuat di Republika 14/05/2006
Sepulang dari syuting sebuah sinetron, ustadz Sobrak merenung di kamarnya. Ustadz memikirkan keningnya yang sudah sebulan menderita bisul. Akibat bisul di keningnya yang sebesar telur puyuh itu, Ustadz Sobrak tak lagi bisa bersujud mencium sajadah dengan benar. Dengan begitu, ustadz Sobrak merasa salatnya tidak sempurna.
"Sujud yang sempurna itu menempelkan kening di atas sajadah. Nah, ane? Udah sebulan ini nggak pernah sujud benar-benar menempelkan kening di atas sajadah," keluh ustadz Sobrak melalui HP kepada Zack, temannya yang jadi sutradara sinetron 'religius'.
"Sabar Ustadz. Ustadz kan pernah bilang, bahwa semua penyakit asalnya dari Tuhan. Dan nggak ada penyakit yang nggak bisa disembuhkan," jawab sang sutradara.
"Tapi Zack, ane bingung. Udah berobat ke mana-mana, tapi nggak sembuh-sembuh juga! Gimana ya Zack. Kayaknya ane perei syuting dulu deh." "Wah, gimana dong!? Usatdz kan udah tanda tangan kontrak?"
"Ane malu, Zack! Bisul ane ini udah nggak bisa ditutupin kopiah lagi! Kagak mungkin kan, ane lepas kopiah terus ngumpetin bisul di depan kamera." Di ujung HP, si sutradara tersenyum simpul, "Ya udah, kalo begitu Ustadz nggak usah ikut syuting dulu. Nanti saya akan lapor ke orang unit, untuk sementara ente diganti sama ustadz yang lain aja."
Akhirnya ustadz Sobrak benar-benar perei syuting. Habis mau bagaimana lagi. Seandainya beliau nekad datang, beliau tidak mungkin bisa menyembunyikan bisulnya di depan orang-orang. Ustadz akan bingung menjawab pertanyaan kru tentang keadaan keningnya yang tertutup rapat, bila ia benar-benar ke lokasi syuting, ustadz Sobrak pun memikirkan kemungkinan pertanyaan yang akan ditujukan padanya,
"Ustadz... kok tumben shalatnya nggak jamaah?"
"Ustadz, biasanya di-make-up sama penata rias, nggak make up sendirian kayak gini?"
"Ustadz, pecinya kok kayak ada batunya?"
Jelas saja ustadz Sobrak merasa risih bila nantinya mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Sebab, semua orang, selain Zack, si sutradara yang masih sahabatnya itu, memang tidak ada yang tahu bila di balik pecinya tumbuh bisul.
Di rumah, keluarganya juga belum tahu. Ayah dan ibunya, adik-adiknya, tidak tahu bila sang ustadz punya bisul di kening. Tapi sebentar lagi ustadz Sobrak akan berterus terang pada mereka. Itu pun kalau mereka mau bicara padanya. Sebab, sejak ustadz main sinetron berbungkus religius itu, keluarga ustadz agaknya menjauhi dirinya. Mereka mengaku tidak suka pada keputusan ustadz Sobrak turut main sinetron.
Ustadz Sobrak menerima main sinetron karena merasa mendapat panggilan jiwa. Ingin memberikan tontonan alternatif buat pemirsa televisi, yang dianggap cuma bisa menyuguhkan tayangan percintaan remaja dan cerita perebutan harta keluarga. Selain itu, bukankan para ustadz dan kiai terkemuka juga ikut ambil bagian di banyak sinetron bertema religius?
Keluarga ustadz Sobrak tidak mau menerima alasan yang disampaikannya. Menurut mereka, sinetron-sinetron bertema religius di televisi banyak yang menyesatkan. Termasuk yang dimainkan oleh ustadz Sobrak sendiri. Pak Haji Muntaha, orangtua ustadz Sobrak, memberikan contoh sisi buruk beberapa tayangan sinetron yang bertema religius itu,
"Coba, Sob, lu bayangin aja..., mana bisa seseorang yang sudah meninggal dunia bisa menjadi pengantin! Bukankah syarat menikah itu harus ada mempelai? Bukan mayitnya? Dan, mana bisa mayit bisa memberikan anak pada istrinya yang rela menikah dengan suaminya yang mayit itu! Sinetron apaan kayak gitu?!"
"Iya tuh, Beh!" kali ini Safira, adik sang ustadz, ikut berkomentar, "Coba deh bayangin aja. Kiai baca tasbih bisa meledakkan buaya? Orang sakit dipukul daun kelor terus wajahnya keluar bercak-bercak yang katanya susuk! Malaikat digambarkan berambut panjang dan sakti mandraguna!"
"Belum lagi mayat yang mental ke got! Mayat kebakar! Mayat dilangkahi kucing! Orang terjepit kuburan!" ibu ustazd Sobrak ikut komentar. "Itu kan peringatan bagi pemirsa tentang azab Allah, Pak, Bu...," sang ustadz membela diri.
"Apa hak kalian tentang azab! Bukankah soal azab itu urusan Allah? Bukan urusan manusia seperti kita? Dan bukankah Allah maha pengampun lagi maha penyayang?"
"Benar Pak, Bu, tapi...."
"Jangan-jangan kalian juga nantinya akan diazab karena memperlihatkan tontonan yang tidak benar! Yang banyak dibumbui tambahan dari fikiran kalian sendiri!" potong Haji Muntaha, sambil menghela nafas berat.
Ketika itu ustadz Sobrak menunduk. Tetapi bukan berarti ia berhenti ikut ambil bagian dalam sinetron yang sudah ia tandatangani kontraknya.
Mengingat semua itu, ustadz Sobrak mulai merasa khawatir soal bisul di keningnya. Mau mengaku pada keluarga, takut disangka mendapat azab Tuhan. Tidak mengadu, ia hanya bisa mengurung di kamarnya, karena malu memperlihatkan 'telur puyuhnya'.
"Kamu kok nggak shalat jamaah di masjid lagi, Sob?" disuatu waktu sang ibu bertanya pada ustadz Sobrak.
"Lagi nggak enak badan, Bu."
"Kenapa kamu nggak ke dokter?"
"Sudah. Tapi belum sembuh."
"Kamu sakit apa? Itu kening kamu kok dibungkus begitu?" ibu sang ustadz mendesak.
Ustadz Sobrak kebingungan. Apakah ia harus berbohong pada sang ibu? Lalu Ustadz membuka keningnya. Maka terlihatlah bisul itu! Ibu sang ustadz melongo.
Keluarga Ustadz Sobrak menjadi gempar setelah tahu bisul itu. Mereka menduga ustadz Sobrak mendapat azab Tuhan. Mereka menyarankan sang ustadz bertaubat. Berhenti bermain sinetron yang penuh kuburan itu. Dan beberapa pekan kemudian, ketika ustadz Sobrak tidak berangkat syuting, bisul dikeningnya kempis. Lenyap tak berbekas!
Keluarga ustadz Sobrak tentu saja senang.
"Alhamdulillah. Mungkin Allah mendengar doa-doa kita!" ujar Haji Muntaha dengan wajah berkaca-kaca.
"Tapi, Beh, ane masih punya hutang kontrak sama rumah produksi enam episod lagi. Ane diminta main lagi."
"Ente mau syuting lagi?"
"Seenggak-enggaknya sampai kontraknya habis, Beh."
Anggota keluarga lain cuma bisa menghela nafas berat mendengar pengakuan ustadz Sobrak.
Setelah syuting satu episode berikutnya, ternyata ustadz Sobrak mengundurkan diri dari sinetron yang kontraknya sudah ditandatangani itu. Produser dan sutradaranya resah. Mereka bingung pada keputusan ustadz Sobrak.
Namun, pada akhirnya, Zack, sutradara yang masih sahabatnya ustadz Sobrak, mau mengerti pada keputusan tersebut. Sebab, Zack sudah mendapat penjelasan langsung dari sang ustadz.
"Saya sudah mendengar keluhan ustadz Sobrak yang sesungguhnya, Pak," ujar Zack, pada sang produser yang tengah pusing.
"I nggak mau tau, Zack! Kalo ustadz Sobrak nggak mau main lagi, susah cari gantinya! You tahu sendirilah, gara-gara diganti pemain lain, rating sinetron kita merosot terus! Selain itu, ustadz Sobrak kan pintar improvisasi. Bahkan dia bisa menambah-nambah cerita dari cerita asli. Nah, sekarang, kalo dia mengundurkan diri, kita akan kerepotan. Belum lagi masalah kita soal bahan cerita. Kita sudah kehabisan stock cerita. Semua azab kubur sudah kita ambil. Semua azab durhaka kita sudah take. Sampai-sampai orang yang durhaka terhadap kucing, anjing.... Bagaimana dong, Zack?" "Tenang Pak Produser. Nanti saya akan usahain bujuk ustadz Sobrak. Tapi masalahnya, ustadz Sobrak sedang sakit."
"Sakit? Kan tempo hari you bilang udah sembuh. Sakit apa sih dia sekarang?"
"Biasa, Pak. Bisul."
Produser tersentak. Baru kemarin sore produser mendengar dari Zack bila kening ustadz Sobrak pernah bisulan. Dan sekarang?
"Bisul? Bukannya you bilang tempo hari ustadz sembuh dari bisulan?"
"Itu yang dikening, Pak. Sekarang yang dilutut! Bisulnya pindah ke lutut!"
"Ha ha ha!" tiba-tiba Pak Produser tertawa terbahak-bahak. Sang sutradara kebingungan.
"Kok, Bapak malah ketawa?"
"Ha ha ha! Tulis itu! Tulis! Kita bikin ceritanya. Ini kisah nyata! Benar-benar nyata! Dan jangan ditambah-tambah atau dikurangi!"
"Maksud Bapak?"
"Suruh penulis skenario bikin cerita tentang bisul di lutut Pak Ustadz!"
"Pak...!?" Zack bingung.
"Ayo cepat! Kita kan harus syuting besok!"
Sutradara hanya garuk-garuk kepala. Lalu ia menghubungi penulis skenario. Tapi ia salah pencet. Telponnya nyasar ke HP Ustadz Sobrak. Pada akhirnya sutradara terlanjur mengobrol dengan ustadz Sobrak. Ustadz mengeluh tentang bisulnya yang semakin parah. Sutaradara tersenyum dan bersorak dalam hati mendengar cerita ustadz Sobrak. Karena, dengan begitu, bahan cerita sinetronnya nanti akan terus bertambah!
Pamulang, 07 Desember 2005
Dimuat di Suara Pembaruan 25/01/2004
Tanah galian proyek kompleks perumahan itu sudah hampir mepet di belakang bilik rumah tetangga sebelahku. Tingginya sekitar enam atau tujuh meter! Curam dan berbahaya bagi kami dan anak-anak kami yang masih kecil-kecil. Tetapi aku dan istriku tetap bertahan di rumah gubuk kami, bersama sekitar sepuluh rumah tetangga lainnya. Berharap uang ganti rugi lebih besar dari harga yang ditawarkan pihak pengembang.
Aku dan istriku merasa waswas, bila saja rumah tetangga sebelah kami itu menjualnya, maka galian tanah akan terus berlanjut ke tanah rumah kami. Bukan tidak mungkin, kami pun harus menyingkir demi keselamatan kami dan anak-anak kami yang masih kecil-kecil.
Pembangunan proyek perumahan di daerah kami berkembang cukup pesat. Tadinya kupikir, aku dan para tetangga yang menempati rumah gubuk di bukit dekat persawahan tidak terkena proyek pembangunan kompleks perumahan itu. Mengingat letak tanah dan rumah kami yang berbukit-bukit nan terjal itu, serta sawah darat yang masih beberapa kali aktif memanen padi musiman.
Namun ternyata, setelah sawah-sawah itu ditimbun, buldozer terus menggali bukit-bukit untuk menguruk tanah di sekitar sawah itu. Para penduduk diberi ganti rugi agar mereka menyingkir. Setelah itu kompleks perumahan dibangun satu per satu, dan dalam waktu singkat sudah ratusan jumlahnya. Selain menjual rumah, pihak pengembang menjual tanah kapling yang sudah diratakan, dan siap dibangun hunian.
"Kita pindah saja, Pak. Seperti Pak Markum," bujuk istriku, suatu malam.
"Tunggu dulu, Bu. Siapa tahu mereka memberi ganti rugi yang layak. Masak tanah kita dihargai tujuh puluih ribu per meternya. Bapak dengar, mereka menjualnya lima ratus ribu per meternya!"
"Mereka kan lain, Pak. Mereka menata tanah-tanah mereka begitu indahnya. Lha, tanah dan gubuk kita ini, semrawut seperti ini?"
"Wah, Ibu ini bagaimana? Justru kita harus menjualnya lebih besar. Sebab mereka bisa mengeruk tanah ini untuk menguruk sawah-sawah itu!"
"Terserah Bapak saja! Aku Cuma khawatir sama anak-anak kita. Tanah galian itu sudah mepet di bilik pagar rumah Mang Sarwan! Aku khawatir anak-anak main ke belakang. Apalagi kalau hujan turun, sedikit demi sedikit tanah di sekitar rumah itu katanya longsor ke bawah!"
"Sabar, Bu! Kan bukan hanya kita yang bertahan. Masih ada Bang Udin, Bang Kasdul, Bang Romlih, dan Bang Samsul, dan lainnya!"
Selama ini kami memang tak pernah mendapat tekanan atau paksaan dari pihak pengembang. Mereka tak pernah memaksa atau mengancam kami. Kami jual tanah kami, mereka beli. Tidak dijual, tidak apa-apa. Hanya saja, setelah membeli tanah tetangga kami, mereka langsung menggali tanah tersebut, untuk menguruk sawah-sawah yang sudah lebih dulu mereka beli. Sehingga rumah gubuk kami yang berada di ketinggian, semakin lama semakin tinggi saja. Sebab penduduk di sekitar kami tinggal telah menjual tanah mereka. Dan kami yang tersisa dikelilingi kompleks perumahan!
"Biar saja, Bu! Kita ladeni apa maunya mereka!"
"Tapi, Pak, apa Bapak tidak khawatir bila anak-anak kita tergelincir?"
"Makanya, kita harus hati-hati, Bu. Kita harus menjaga mereka. Lagi pula, kita mesti pindah ke mana? Apakah tanah dan rumah yang kita jual nanti cukup untuk membeli rumah baru?"
Istriku diam mendengar pertanyaanku tadi.
Mungkin dia memaklumi keputusanku untuk tetap bertahan di rumah ini. Sebab dia tahu kemampuanku. Aku hanyalah seorang buruk pabrik rendahan yang penghasilannya pas-pasan. Penghasilanku per bulan cuma cukup buat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itu pun harus mengutang sana-sini bila anakku yang kelas dua SD minta dibelikan buku. Belum lagi satu yang di SMP, yang kerap kali minta tambahan uang sekolah!
Namun begitu aku bersyukur memiliki rumah ini, rumah peninggalan orangtua istriku. Aku bersyukur tidak repot-repot memikirkan rumah setelah menikah. Karena istriku tinggal berdua saja dengan ibunya yang renta. Setelah ibunya meninggal, kami menempati rumah itu karena istriku anak satu-satunya.
Di rumah ini, meski hanya sebesar gubuk, kami hidup bahagia. Sebelum ada pembangunan kompleks perumahan, istriku menanam berbagai macam jenis sayuran di sawah darat yang tidak kami ketahui siapa pemiliknya. Penduduk bilang sih sawah yang ditanami istriku itu milik orang kota. Di tanah itu istriku menanam kangkung, bayam, kacang panjang, atau pohon singkong. Lumayan hasilnya, bisa untuk mengurangi beban yang harus dipikul. Ada kalanya istriku menjual sayur-sayur itu ke pasar, seperti daun singkong atau kacang panjang misalnya, bila hasilnya melimpah.
Bukan Cuma kami yang memanfaatkan sawah-sawah itu. Beberapa penduduk sekitar juga melakukan hal yang sama. Di samping penduduk yang memang masih memiliki tanah di sawah itu. Sebab tanah di daerah kami memang cukup subur bila ditanami sayuran, di samping padi. Hanya saja, para penduduk agak malas bercocok tanam. Terbukti, ketika pihak pengembang membeli sawah-sawah itu, mereka langsung menjualnya. Termasuk tanah orang kota yang ditanami sayuran oleh istriku.
Setelah tanah itu dibangun, keadaan langsung berubah. Tanah sawah yang diuruk dengan tanah yang dikeruk dari tanah-tanah di sekitarnya, yang datarannya lebih tinggi, itu berubah jadi rumah-rumah. Pembangunan terus dilakukan hingga nyaris menyentuh batas tanah gubuk kami. Satu dua penduduk lainnya menjual tanah mereka, lalu pindah entah ke mana. Pengembang terus menggali tanah-tanah yang mereka beli. Dan kami yang masih tersisa tak bisa berbuat apa-apa.
Hingga akhirnya, tanah galian itu benar-benar sudah mepet di pagar dapur rumah tetangga seelahku! Kini antara tanah galian dan rumahku hanya berselang satu rumah!
"Kita hrus pindah, Pak! Tanah di belakang rumah Mang Sarwan semakin longsor!" teriak istriku, sore itu ketika hujan baru saja turun.
"Tenang saja, Bu! Hari ini aku akan berunding dengen mereka."
"Terserah Bapak, yang penting kita harus pindah!"
Siang itu aku dan beberapa tetangga yang tersisa mendatangi kantor proyek pengembang untuk membicarakan nasib kami. Siapa tahu mereka mau membayar tanah kami lebih mahal.
Setibanya di sana, beberapa pegawai menerima kami dengan santun. Dan kami pun membicarakan pokok permasalahan itu. Namun sayangnya, tak ada kesepakatan sama sekali. Yang ada justru kekecewaan. Menurut pegawai proyek pengembang itu, saat ini proyek sedang macet. Untuk sementara pembangunan proyek dihentikan dulu. Tetapi bila kami mau menjual tanah kami dengan harga lima puluh ribu per meternya, mereka pun membeli!
"Wah, gawat pak! Kok, bisa jadi begini?" istriku kembali panik, setelah aku dan bapak-bapak para tetangga kembali dari kantor proyek.
"Mau bagaimana lagi, bu? Mungkin mereka juga terimbas krisis!"
"Bapak, sih! Bukannya dari dulu menyerah saja!"
"Lho!? Ibu kok, menyalahkan aku? Lagi pula bu, kalau kita jual dengan harga segitu, kita mau tinggal di mana?!"
"Daripada sekarang, kita harus bagaimana?!"
"Kita bersabar saja, bu...."
"Sabar bagaimana toh, pak! Tanah di belakang makin longsor saja!"
Waktu pun berlalu. Kami tetap bertahan di rumah kami. Sekitar sepuluh rumah tersisa di perbukitan, diapit oleh kompleks perumahan yang tersendat-sendat pembangunannya. Sebenarnya pemandangan perumahan itu jadi tampak buruk karena menyisakan rumah gubuk kami yang tidak sedap dipandang mata. Namun entah kenapa pihak pengembang tak mau menyingkirkan kami dengan harga yang layak.
Hampir setengah tahun, sejak mendatangi kantor proyek itu, tanah di belakang bilik pagar rumah tetangga dekat kami semakin longsor ke bawah. Beberapa hari lalu, Mang Sarwan bercerita, sebuah panci lusuh miliknya jatuh ke bawah, karena tanah di sudut dapurnya mulai terkikis. Hal itu benar-benar membuat aku dan istriku semakin ketakutan.
Dan pada akhirnya, sehari kemudian kudengar kabar bahwa Mang Sarwan rela menjual tanah dan rumahnya!
"Lho, Mang Sarwan mau pindah ke mana? Kalau Mang Sarwan menjual, bagaimana nasib saya dan anak istri saya?"
"Habis mau bagaimana lagi, Ma'un! Gue ngeri anak-anak gue celaka!"
"Emang tanah Mang Sarwan dihargain berapa?"
"Naik sedikit dari harga kemarin. Enam puluh ribu per meternya! Ya sudah, Mang Sarwan jual saja! Mang Sarwan mau pindah ke Gunung Sindur saja!"
"Sudah dapat tanah penggantinya?"
"Kebetulan Mang Sarwan punya saudara di sana. Jadi untuk sementara menumpang dulu!"
Setelah tanah Mang Sarwan dijual, rumah gubuknya yang memang sudah reot seperti rumahku, luluh lantak digaruk buldozer. Dan akhirnya aku dan anak istriku sudah bisa melihat rumah-rumah yang berada di bawahnya dengan gamblang.
"Bagaimana Bang Maun, Mang Sarwan sudah pindah. Kita tinggal sembilan rumah. Apa kita juga harus pindah?" tanya Bang Romlih, setelah rumah Mang Sarwan telah rata dengan tanah.
"Bagaimana, ya? Saya juga bingung. Kalau proyek menggali tanah bekas rumah Mang Sarwan, berarti tanah galian itu berbatasan dengan rumah saya! Saya juga ngeri!"
"Begini saja Bang. Saya denger proyek udah mulai bergerak lagi. Abang bisa lihat kan, pembangunan taman di depan gerbang kompleks? Menurut si Jamal yang jadi satpam di proyek, sekarang proyek sudah mulai bangkit lagi. Itu berarti, kita bakal dapet ganti rugi yang lebih baik!"
"Baguslah! Kalau begitu kita datangi lagi kantor proyek itu!"
Siang itu kami kembali mendatangi kantor proyek. Kami hendak menanyakan nasib tanah dan rumah gubuk kami.
"Kalau bapak-bapak bersedia menjual enam puluh ribu per meter, sekarang juga kami akan membayarnya," ucap seorang pegawai proyek, di tengah perundingan.
"Apa tidak bisa naik sedikit lagi, pak?" tanya Bang Samiun, sambil membenarkan letak tudung lakennya.
"Kami hanya mampu membayarnya enam puluh ribu. Dulu kami tawarkan tujuh puluh ribu, bapak-bapak tidak mau. Sekarang, keadaan keuangan kami sedang tidak baik. Jadi, kami hanya bisa menawarkan dengan harga demikian. Seperti yang tadi saya katakan, kalau bapak-bapak bersedia, kami akan membayarnya secepatnya!"
Aku dan para tetanggaku hanya bisa menghela napas. Pertemuan itu pun tak menemukan kesepakatan. Akhirnya kami memilih tetap bertahan di tanah rumah kami. Biar saja proyek terus berjalan. Pembangunan terus berlangsung. Kami tetap bertahan di rumah gubuk kami, di atas rumah-rumah kompleks perumahan yang asri.
Sehari setelah pertemuan itu, tanah bekas rumah gubuk Mang Sarwan digali buldozer. Dan kini tanah galian itu sudah mepet persis di belakang tanah rumah gubukku! Istriku semakin histeris!
"Bagaimana ini, Pak! Tanah itu sudah mepet di belakang pagar rumah kita!"
"Sabar bu, Biar saja mereka gali. Yang penting kita bisa menjaga anak-anak agar tidak bermain ke belakang!"
"Tapi Pak, kalau hujan bagaimana. Tanah itu bisa longsor! Kita bisa ambruk, Pak!"
Istriku terus saja mengoceh. Aku tetap bergeming, tak tahu harus bagaimana. Sementara itu kudengar di luar hujan mulai turun rintik-rintik. Aku beranjak ke belakang rumah. Kulihat segumpal demi segumpal tanah berguguran ke bawah.
Pamulang, Banten, 2003
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)




