Dimuat di Koran Tempo, 3 Juli 2011
“KITA akan menjadi akar, Sayang. Kemudian berurat ke dalam tanah. Terus menuju inti bumi. Menjadi akar tunggang yang tidak terduga-duga.”
Kemudian kamu berdiri memeluk tubuhku dari belakang. Jilbabmu mengenai pundakku.
“Kita akan diselimuti akar serabut. Akar itu makin lama makin menyebar dan membesar dan kita benar-benar telah menopang batang yang kokoh. Kemudian kita terkurung dalam tanah. Lambat laun menjadi tanah.”
Tubuh kita menggigil terkena angin malam. Diam-diam kita telah menjadi sepasang makhluk yang mesra. Cahaya bulan cemburu. Pohon-pohon yang seperti hantu di lereng tebing Gunung Talang membuat segala sesuatu begitu dekat, begitu akrab.
“Sekarang kita masih manusia. Kita memiliki sepasang kaki, sepasang tangan, sepasang mata, sepasang telinga, satu mulut, satu hidung, dan satu kepala. Lengkapnya tubuh yang sempurna. Lengkap dari apa yang Abang bayangkan,” katamu. “Segala yang ada sempurna menjadi milik kita. Kecuali, ya, kecuali hanya tubuh kita yang milik Tuhan.”
Tanganmu masih berdiam di lingkaran pinggangku.
“Kau tidak akan mengerti, Sayang. Hidup begitu sempurna. Hingga kita tenggelam dalam kesempurnaan.”
“Hsss,” katamu. Jemarimu yang menempel di dua bibirku. Tangan itu telah lebih dahulu menjadi akar-akar kayu yang berserabut. Lebih dari apa yang aku bayangkan. “Dengarkan! Ada sesuatu yang bicara dengan kita. Sesuatu yang amat sempurna di balik daging kita.”
Kita kemudian terdiam. Lama.
“Tidak ada, Sayang.”
“Percayalah. Sesuatu yang membisik kepada kita!”
Kita diam.
“Tidak ada, Sayang. Itu hanya suara angin.”
“Suara daging.”
“Ya, suara daging, Sayang. Suara daging yang bercerita.”
“Coba Abang duduk?” katamu menarik dua tanganku sambil memutar badanku. Lalu mendudukkan aku di kursi yang membelakangi jendela yang terbuka. Kau duduk bersimpuh di depanku.
“Di mana kau mendapatkan jilbab secantik ini? Jilbab hitam yang sesuai dengan malam.”
“Tidak penting, Abang. Hal terpenting, aku tampil anggun di depan Abang.”
“Sudahlah kalau begitu.”
“Percayalah Abang kita masih sepasang manusia. Kita sepasang manusia yang melebihi kesempurnaan malaikat dan bidadari.”
“Aku tidak percaya, Sayang.”
“Kenapa?”
“Aku telah lama menjadi akar kayu.”
“Aku tidak percaya.”
“Aku telah menjelma jadi akar tunggang dan akar serabut. Aku telah menembus inti bumi. Telah aku temukan mata air.”
“Barangkali hanya mimpi. Saat ini Abang benar-benar menjadi manusia yang sempurna.”
“Kemudian aku menjelma jadi akar yang semakin lama semakin keras dan dalam, semakin lama semakin bercabang. Abadilah aku menjadi akar.”
“Abang sebaiknya duduk dengan tenang. Coba Abang rasakan degup jantungku. Ada suara halus yang begitu sempurna dan tulus.” Kamu merabakan tanganku ke dadamu.
“Aku masuk dalam serat-serat batu. Menembus dari tanah-tanah keras. Masuk lebih jauh menembus kegelapan.”
“Hsss.” Kamu merapatkan dua cinta bibirmu. Kita diam. Aku merasakan kehangatan balutan jilbabmu. Kita sepasang akar kayu yang makin lama makin menyatu. Kamu menyelinap ke dalam hatiku sebagai sayap putih.
“Abang,” katamu memegang dua tanganku.
Dua tanganmu terasa sangat halus. Aku pernah memegang pucuk daun kulitmanis. Ayah dahulu suka memintaku mengambil pucuk kulitmanis yang bewarna merah hati ayam. Pucuk muda. Pucuk itu untuk benda bermain adikku. Adikku akan sangat suka merobek-robeknya. Kemudian ia akan memintaku, melalui ayah, untuk kembali mengambilkannya. Oh, Sungguh lembut pucuk itu. Kelembutan kulitmu melebihi kelembutan pucuk kulitmanis.
“Aku sungguh menikmati malam ini, Abang. Burung-burung melintasi bulan. Sayapnya menari di antara bulat bulan. Kabut-kabut menjelma melati dan anggrek putih dalam bulan.”
“Oh, Sayang, kau saksikanlah. Tanganku telah mulai berakar. Akar itu tumbuh dari sela-sela jari. Akar-akar itu tumbuh serabut dan berjuntai-juntai. Tidakkah kamu saksikan tanganku yang mulai berbentuk kayu. Mengeluarkan aroma batang kulitmanis. Aroma itu menyibak jilbabmu.”
“Tidak, Abang. Tangan Abang tetap kuning langsat. Seperti kulit orang-orang kita. Tangan Abang memiliki kelenturan kabut bulan. Percayalah Abang. Jemari Abang seperti jemari yang pernah mengeluarkan air susu untuk nabi Ibrahim.”
“Perhatikanlah, Sayang. Kakiku mulai bertumbuh akar. Tidakkah kau lihat akar-akar itu telah melilit betis dan pahaku. Akar-akar itu menjalar dan melingkar serupa ular. Akar itu bercabang-cabang dan terus membiak. Betapa akar-akar itu telah kayu. Ia telah mulai menembus lantai dan mencari tanah. Akan terus semakin dalam dan sebentar lagi memaku diriku di kursi ini, Sayang.”
“Abang, lihatlah kaki Abang tetap utuh berjuntai di kursi ini. Kaki Abang akan tetap lentik, bagaikan kaki burung elang yang bebas Abang bawa terbang tinggi kapan pun Abang mau. Rambut kaki Abang, bulu kaki cendrawasih. Tentulah akan tetap menawan.”
“Tidakkah kau perhatikan, Sayang, kini seluruh tubuhku adalah akar yang menjulai-julai? Rambutku adalah rambut-rambut akar serabut. Dari mataku telah keluar dua akar yang sama-sama mencari tanah. Mataku telah melekat pada akar. Tinggal mulutku yang tetap bicara padamu, Sayang.”
“Abang, kau bermata hitam cantik. Bertitik putih mutiara di tengahnya.”
Kemudian kita berbicara bisik-bisik. Hanya hati kita saja saling mendengar. Dan akar itu telah menjalar kepadamu. Aku terkesiap melihat tubuhmu yang mulai berubah. Tangan-tanganmu menjelma akar. Jemari-jemarimu jadi akar yang mencari tanah menembus lantai. Dua kakimu menjadi akar tunggang yang menyatu. Dalam sekejap hidung, mata, kepalamu telah pula menjadi akar. Apa kau tidak menyadari kesempurnaan telah mencukupkan takdir kita?
“Ah, Sayang kita berdua telah sempurna menjadi akar. Tapi apa gunanya akar kayu tanpa ada batang.”
“Untuk apa gunanya batang, Abang? Batang hanya melihatkan kepongahannya saja. Batang mengeliat-ngeliat kepada langit. Kemudian menunjuk-nunjuk kepada angkasa, seolah akan ia menembus cakrawala. Padahal ia hanya setinggi pucuk daun.”
“Batang bagian dari akar, Sayang. Batang yang melahirkan akar.”
“Bukankah tubuh kita yang telah melahirkan akar. Tanpa akar tidak akan tegak batang. Batang hanya bagian dari simbol kecil kehidupan atas. Kemudian batang akhirnya akan lapuk dan kembali kepada tanah.”
“Tanpa batang tidak akan ada akar.”
“Batang telah cukup dengan tubuh kita, Abang.” Jilbabmu meliup-liup di atas akar. Sebentar-sebentar dibalut dingin angin malam. Kemudian kita berdiam untuk sesaat. Tubuh kita makin merapat. Kaki kita menyatu menjadi akar tunggang yang semakin besar dan dalam.
“Sangat ibalah daun dan batang, Sayang. Batang akan mati, daun akan gugur. Terpisah batang dan daun. Daun jatuh ke bumi meninggalkan batang dan ranting. Batang dan ranting tidaklah kita izinkan di akar kita.”
“Duhai Abang, batang dan daun adalah pecinta siang. Sebab itu bergerak ke matahari. Kita adalah pecinta malam, sebab itu kita bergerak ke dalam gelap bumi. Aduhai kasihanlah kita yang jadi akar, Abang.”
“Beruntunglah kita, Sayang. Kita tetap lembab dan tumbuh menjalar dalam.”
“Tersiksalah kita menembus keras tanah dan batu.Tersiksalah kita karena lembab tanah dan dingin air.”
“Itu sudah takdir, Sayang.”
“Oh, betapa Abang yang penyabar sekarang. Mari kita terus menjalar dan mengakar, Abang. Tunggu sebentar, Abang. Bagaimana kiranya kalau kita dipisahkan batu atau para penggali lubang?”
“Maksudmu penggali batubara atau pembuat terowongan jalan kereta api bawah tanah?”
“Sejenisnya.”
“Oh, jangan kau baca itu, Sayang. Kau tahu….”
“Hsss.” Kamu merapatkan akar tanganmu ke akar bibirku.
“Bagaimana kalau itu terjadi. Oh, sempurnalah menjadi akar yang tersiksa. Kita lari dari kemanusian karena tersiksa atas kesempurnaan.”
“Itu hanya andai-andai, Abang. Kita akan semakin dalam ke dalam inti bumi. Tidak akan ada yang akan menggangu. Kecuali….”
“Kecuali apa, Sayang?”
“Kecuali, kecuali kita sempurna jadi akar. Kita akan bertemu panas bumi. Kita lumat jadi abu.”
“Oh, Sayang. Atas kesempurnaan akar pulakah kita akan menjadi abu?” (*)
.
imuat di Majalah Sabili, edisi no. 11 th. XVIII 20 Januari 2011
“Ada apa?” Seseorang bertanya.
“Mungkin Gaek sakit.” Sahut yang lain tidak yakin.
Beberapa orang yang lain menyangkal sebab masih melihat Gaek bekerja di ladang.
“Biasanya Gaek tak pernah absen.”
Orang-orang kampung yang baru selesai menunaikan shalat Isya berjamaah sama-sama heran dengan kenyataan itu. Biasanya Gaek Rusin adalah jamaah tetap yang selalu datang ke masjid bagaimanapun keadaannya; hujan, panas, mati lampu, air mati, atau badannya demam, batuk-batuk, pilek... Tubuh tuanya yang masih kuat karena selalu bekerja di ladang tak akan dilupakan orang. Bersarung bugis, baju gunting cina warna putih, dan kopiah hitam pudar di kepala. Gaek Rusin terpatah-patah bila bicara, tetapi bila bertahlil suaranya nyaring dan fasih, merintih sedih membuat orang-orang terhanyut dalam zikir.
“Laa ilaaha illallah! Laa ilaaha illallah! Laa ilaaha illallah!” Kepalanya akan bergoyang kiri-kanan yang akan diikuti anak-anak dengan tergelak-gelak riang.
Gaek Rusin tak datang-datang lagi ke masjid untuk sembahyang, tepatnya setelah Haji Karim meninggal dan dishalatkan setelah shalat Jumat. Gaek ikut menjadi makmum, namun Magribnya dia tak muncul, Isya juga tidak, Subuh esoknya pun tidak, juga Magrib esoknya, Isya esoknya, Subuh lusanya... beberapa hari kemudian Gaek Rusin ditemukan telah beku di ladang.
*
Tentu saja, Gaek Rusin tidak secara tiba-tiba saja mati dan tercampak di ladang. Sebelumnya dia telah sering bercerita banyak dengan istrinya yang bagi orang perasa akan dianggap sebagai isyarat kepergian. Istri Gaek memang ada mengira begitu, namun dia tak terlalu mempersoalkan, sebab baginya keajaiban apalagi yang paling masuk akal terjadi atas diri seseorang yang telah usang usia selain kematian?
“Aku telah menanam durian sebatang lagi.” Beritahu Gaek suatu malam sepulang dari masjid pada sang istri yang juga sudah tua. “Fauzi suka sekali buah durian. Kau ingat ketika dulu dia pernah mendemam dua hari dua malam gara-gara kebanyakan makan durian dengan ketan?” Gaek terkekeh-kekeh sampai tersedak. Giginya tanggal hampir semua.
“Iya, engkau terlalu memperturutkan maunya, sudah jelas dia habis makan rambutan banyak-banyak. Tak tahulah aku kalau dia sampai makan buah manggis pula, mungkin tak akan pernah dia menjadi pejabat...”
“Di dekat banda garosong telah kutanam empat batang alpukat, itu buat Azra.”
“Ohya? Dia memang berhantu benar pada alpukat, itu yang membuat otaknya pintar.”
“Tapi alpukat membuat mata mengantuk.”
“Tapi nyonya-nyonya sekarang dan anak-anak gadis menjadikannya lulur untuk kecantikan.”
“Kau dulu juga memakainya?”
Istri Gaek menepuk pipi lelaki tua itu yang sudah lisut.
“Untuk Zulkifli telah kutanam ampalam di dekat kolam. Dia suka sekali yang masam-masam.”
“Tapi ladang itu sudah penuh.”
“Biar saja.”
“Tapi durian, alpukat, dan palam-palam yang sebelumnya ditanam buahnya sudah melimpah tak termakan.”
“Biar saja.”
“Lalu untuk Imah?”
“Hahaha, dia anak perempuan. Kutanam batang surian untuknya.”
“Batang surian? Itu tak bisa dimakan.”
“Buat bantu-bantu kayu api dan pembuat kasau rumahnya.”
Istri Gaek Rusin tersenyum kecil. “Apa yang kautanam untukku?”
“Untukmu?”
“Ya.” Perempuan itu memilih-milih rimah nasi yang tercecer di lapik pandan. “Kunyit, sipadeh, langkuweh, serai, ruku-ruku, dan daun salam lagi untuk masak sambal buatmu?”
“Ya, ya, tentu. Kau sudah lama tak membuatkanku sampadeh limbek.. ceps...ceps.. ceps..” Gaek berdecap-decap. “Nanti akan kucoba menahan lukah di bawah titian, untung-untung masih ada ikan limbek di sana.”
“Jadi benar, hanya itu yang kautanam untukku?”
“Tentulah, Rubana Sayang, Anak Rang Kayo Gadang dari Parak Gadang.” Gaek Rusin terkekeh-kekeh. Istrinya merajuk. Cemberut. Gaek Rusin menyungkupkan kain lap tangan ke kepala istrinya, membuat perempuan gemuk keriput itu merentak-rentak dan Gaek tertawa makin riang. “Oho, tenang! Aku telah menyiapkan sepetak tanah di ladang. Telah kutanami sekelilingnya bunga tanjung dan batang-batang jarak serta puring emas. Untuk kita.”
Air mata istrinya seketika berderai. “Tapi Zulkifli tak pulang-pulang. Juga Fauzi dan Azra. Halimah pun tak pernah mencogok.”
Gaek Rusin kontan termenung.
“Kalau aku yang mati dulu, syukurlah, ada engkau yang akan mengurus. Tapi bila engkau yang dulu, siapa yang akan menyalatkan?”
*
Dan kemudian di wajah Gaek Rusin hanya ditemukan mendung. Tak terdengar lagi dia bertutur dengan bersemangat tentang kisah-kisah dalam Tambo atau pengalaman serunya di masa Bagolak. Gaek jadi sering tercenung. Bisu mematung. Setiap akan berangkat ke ladang, sikapnya seperti orang yang akan pergi tak kembali. Raut risau dan tertekan. Bila pulang dari ladang dia begitu jerih seperti baru selesai kerja rodi.
Puncaknya adalah Jumat itu sepulang mengantar jenazah Haji Karim ke pandam pekuburan. Mukanya pias berkabung. Dia tak ke ladang sore harinya. Hanya termenung di belakang rumah. Menatap kosong batang-batang jambu paraweh dan saus yang buahnya berjatuhan terbuang. Tak ada lagi anak-anak yang bergelayut berebut buah-buah ranum. Di seruas dahan jambu ada seutas tali sisa ayunan puluhan tahun silam.
Gaek Rusin terkenang lengking tawa anak-anaknya. Ayunan yang berkelebat. Bedil-bedil pelepah pisang. Semburan biji jambu paraweh. Ribut pertengkaran. Cekikik Halimah dan Azra mandi hujan. Fauzi yang suka bernyanyi dendang sambil memanjat dari cabang ke cabang. Zulkifli yang pernah diikatnya di pangkal batang saus karena ketahuan mencuri uang...
Istri Gaek Rusin telah berdiri di belakang lelaki tua itu dengan tak kalah murung. Gaek Rusin tahu tapi tetap menatap ke depan. “Tadi anak Haji Karim yang menjadi imam.”
Istrinya menghela napas. “Aku telah minta tolong pada Roby anak Si Tini untuk menulis surat pada Fauzi, Azra, dan Zulkifli, juga Halimah. Aku menyuruh mereka pulang.”
*
Bukankah telah belasan atau berpuluh kali mereka mengirim surat dengan bantuan anak-cucu tetangga? Hasilnya nihil. Jangankan batang hidung mereka, surat balasan pun tak tiba. Mereka telah pergi seperti batu jatuh ke lubuk. Hilang.
Setelah shalat Subuh yang begitu lama di lantai rumah disertai air mata, Gaek Rusin pamit pada istrinya pergi ke ladang. Istrinya memasukkan botol air minum ke dalam tas pandan rajutan beserta pisang rebus, tetapi Gaek menolak.
“Hari ini aku puasa,” Katanya.
Pagi remang-remang. Dua orang tua saling memandang.
“Jadi kau antarkan beras dan uang zakat kepada garin masjid?”
Istri Gaek Rusin mengangguk.
“Durian Fauzi yang dekat pagar telah berbunga kembali...”
Istri Gaek Rusin menekur.
“Di dahan ampalam telah bisa dipasang buaian...”
Istri Gaek Rusin menyusut ingusnya yang meleleh dari hidung.
“Ladang kita begitu subur dan indah.”
“Aku akan membuatkan sampadeh untukmu.” Istrinya berbalik ke dapur. “Janganlah pulang terlalu petang.”
*
Petang sebelum matahari hilang, seorang penjerat burung menemukan Gaek Rusin telah beku di dekat sebuah lubang di ladang yang dikelilingi anak bunga tanjung, batang jarak, dan puring-puring emas yang belum lama ditanam.[*]
Dimuat di Koran Tempo, 26/12/2010
"Mau coba anak hiu? Atau ikan pari ini?"Laki-laki itu sedang memandang perahu-perahu yang mengerubuti sebuah kapal besar penangkap ikan ketika sebuah suara sengau seperti ditujukan kepadanya. Ditolehkannya kepala ke samping. Dan benar, seorang perempuan kurus berbaju lusuh sedang menjinjing seikat ikan dan mengangkatnya ke depan si lelaki.
"Aku belum pernah makan ikan hiu, juga pari."
Perempuan itu tertawa kecil. Satu ujung giginya yang terlalu panjang dan tidak lurus tampak lebih putih oleh cahaya pagi.
"Rasanya enak, seperti daging ayam, apalagi jika dimasak dengan cabe hijau."
Sebenarnya laki-laki itu datang ke pasar ini tak sungguh-sungguh hendak membeli ikan. Dia hanya ingin melihat-lihat. Mereguk udara yang anyir. Ketika menggelengkan kepala, dia teringat minggu kemarin telah membeli seekor ikan kakap kepada perempuan itu, dan tujuh ekor kepiting yang belum mati.
"Oya, kalau ada anak tuna yang pipih, bukan seperti botol, aku mau satu," katanya.
"Kau memesan?"
"Kalau kau mau. Aku tidak buru-buru."
Perempuan itu beranjak dengan ikan-ikan dagangannya. Sekilas matanya yang redup menjangkau mata laki-laki itu. Langkahnya pendek-pendek dibawa kakinya yang bersandal jepit penuh lumpur.
Laki-laki itu bergeser ke dekat sebuah tonggak kayu berwarna hitam. Diedarkannya pandang. Belum terlalu ramai. Belum ada ikan tangkapan pukat nelayan terdekat. Hanya ikan-ikan yang mati tegang dibekukan es balok yang dipecah-pecahkan dalam peti merah bata.
Padahal dia ingin sekali melihat ikan yang mengerang di tangan-tangan lelaki penjual ikan Pasar Gauh ini yang datang subuh-subuh ke tempat pelelangan ikan dengan tubuh mengeras. Kepala ikan-ikan itu bergetar dengan mulut megap-megap memanggil oksigen dan menyemburkan ludah yang bacin. Setelah semua kekalutan dikalahkan maut, batang tubuh mereka yang licin akan menjadi lemah menyerah. Dia akan menikmati kematian ikan-ikan itu seolah-olah merenangi kematiannya sendiri.
Bagaimana bisa dia langsung mengenalinya? Perempuan itu cukup kaget melihat laki-laki itu berdiri dengan gaya yang persis sama seperti minggu sebelumnya, terpaku memandang jauh ke arah laut. Meskipun dia memakai baju kaos, celana semata kaki, dan sandal karet, dia tetap saja terlalu bersih untuk bertandang ke pasar ikan. Tempat ini terlalu lanyah. Dia bukan pembeli yang cerdik. Dia membayar ikan yang diinginkannya tanpa menawar harga. Begitu saja uang meluncur dari sakunya, seolah-olah untuk sesuatu yang dihendaki, dia tak peduli berapa pun uang keluar. Tak seperti pembeli-pembeli lain, mungkin dia mudah ditipu.
Tapi perempuan itu tak menyesal memberikan harga yang tidak tinggi padanya. Entah mengapa, rasanya bila laki-laki itu mau, dia akan merelakan semua ikan-ikannya dibawa tanpa dibayar. Ketika dia memberikan kantong plastik berisi ikan, dan tangan mereka bersentuhan, perempuan itu merasa seakan-akan telah menyerahkan separuh hatinya.
Ah, betapa gila perasaan itu! Dia lepas dari keluarganya seperti tangkai yang patah dilejang badai. Dia terbuang ke dalam hidup yang cemar. Setiap hari dia berebut ikan dengan lelaki-lelaki bertangan besar yang tak hanya mengincar ikan-ikan di keranjang, tapi juga ikan lain yang mendekam dalam dirinya.
Dengan ember hitam berisi air pelabuhan yang kumuh berminyak, dia menyelipkan tubuh menawar ikan-ikan dari kapal tongkang. Ikan-ikan yang kejang. Kadang dia bersekongkol dengan pemuda-pemuda tanggung bercelana selutut yang digulung sampai pangkal paha untuk mencuri ikan dari perahu atau bongkah es dalam peti. Kadang dia memungut ikan-ikan lecet yang tercecer di lantai Tempat Pelelangan Ikan. Semuanya lalu dia jual kembali pada ibu-ibu cerewet berdompet tipis, nyonya-nyonya sok kaya yang menawar setengah harga, pemilik-pemilik rumah makan yang ingin ikan bagus dengan harga murah, atau siapa pun pengunjung pa sar yang menghendaki ikan segar yang diantar kapal tongkang dari samudra buas. Dulu, dia bertubuh bernas, suai sekali dengan nama kampungnya, Padi Boneh. Sekarang jangan ditanya. Meski setiap hari makan lauk tapi darahnya seakan telah membusuk.
Melihat laki-laki itu lagi di Pasar Gauh ini membuat dadanya terasa sejuk, juga jengah. Kemarin dia menduga laki-laki itu hanya seseorang yang tersesat. Atau sekadar iseng ke mari, atau disuruh orang tuanya membeli ikan. Atau istrinya?
Ah, jangan! Agak gugup ketika tadi dia menyapanya. Laki-laki itu begitu asyik memandang ke arah laut sehingga tak mendengar suaranya. Pada pengulangan yang ketiga, dan dia memukulkan punggung tangannya ke punggung tangan laki-laki itu dengan sedikit keras, barulah si lelaki yang tampak resah menoleh. Dia melihat perempuan itu dengan pandangan melamun. Suaranya yang lirih seperti bicara pada seseorang yang tak ada di tempat itu. Dia minta dicarikan seekor anak tuna pipih.
Pasar telah ramai. Lampu-lampu yang lupa dimatikan tampak pucat seperti sekarat. Perahu demi perahu berlabuh menurunkan keranjang-keranjang rotan dan peti-peti sintetik penuh ikan. Para lelaki berambut coklat terpanggang matahari menggotong keranjang dan peti-peti itu.Menimbang dengan neraca gantung. Membagi dan memilah-milah ikan berdasar ukuran, jenis, dan mutu. Orang-orang lalu lalang. Para penjual ikan menggelar jualannya di lantai pasar yang tergenang air hitam. Ikan-ikan tergeletak tanpa harga diri dan impian. Tiga ekor kucing koreng mengeong di selasela loteng. Beberapa ekor camar terbang menukik. Seorang penjual ikan menembakkan air kencingnya ke tembok pasar di sudut.
Buya, ayah nya, ingin laki-laki itu melanjutkan pendidikan ke tanah para Nabi. Dia ingin anaknya menjadi cendekia agar kelak bisa menyiarkan agama seperti dirinya.
Ah, bagaimana bisa? Laki-laki itu cuma ingin menjadi ikan liar di laut ganas. Dia lebih suka jadi ikan yang terjebak dalam jaring, mengerang kehilangan udara, lalu mati lengang. Biarlah tubuhnya cabik dicekik jaring atau koyak moyak diamuk gelombang, tapi dia menjadi diri sendiri. Menjalani ilusinya, bebas-lepas. Kalau pun dia harus terjebak di tangan nelayan berurat besar, biarlah dia kehabisan oksigen saat insangnya direnggut dari lopak kepala. Biarlah dia hilang dalam pelarian yang sungsang.
"Lobster, Bang? Cumi-cumi juga ada!" Seorang penjual ikan datang mengusiknya. Diabaikannya saja. Remaja tak berbaju itu terus mencoba memancing minatnya."Ini lobster biasanya untuk diekspor, Bang. Tak akan dapat yang semurah ini."
Laki-laki itu menggeleng. Buya tak mengenal siapa dia!
Perempuan itu berjalan riang dengan ember hitam di tangan kiri dan seekor ikan hitam kebiruan di tangan kanan. Dia berhasil mendapatkan seekor anak ikan tuna dengan berat hampir tiga kilogram. Ikan itu pipih dan segar. Dia akan memberi lakilaki itu harga delapan puluh ribu, tetapi tetap terbuka kesempatan untuk tawar menawar.
Laki-laki itu tentu tersanjung sekali atas kemurahan hatinya.
"Engkau baik sekali padaku. Adakah maksud tertentu?"
"O, tidak! Mana mungkin aku merayumu dengan wajah seremuk gundukan ikan teri begini. Kau lihatlah sendiri. Memang benar, aku pernah membiarkan satu-dua lelaki pelabuhan ini berdiang di tubuhku, tapi aku tak akan mengotorkan dirimu dengan tubuhku."
"Maukah kau membantuku memasak ikan ini?"
"Oh! Oh! Aku tidak pandai memasak! Nanti tidak enak."
"Bukankah kau sering memasak anak hiu dan ikan pari?"
"Ouk!" Perempuan itu terpekik ketika tangannya disentak dari belakang. Ember hitam berisi ikan-ikannya jatuh. Anak tuna tampan kebiruan itu terlepas. Belum sempat dia minta tolong, tangan kuat itu membekap mulutnya dan menarik tubuhnya ke dalam ruang dingin yang ternyata gudang es balok. Orang itu menghempaskan tubuhnya ke tumpukan es. Dingin yang ngilu menghantam kepala dan sekujur tubuhnya. Lakilaki itu mengunci pintu. Darah perempuan itu serasa membeku. Hanya air mata yang bergetar saat dalam hitungan detik kepalanya direnggut, lalu dibenamkan ke dalam peti berisi es yang mencair.
"Kau pikir kau cantik sekali, heh, Ikan Tongkol! Jual mahal kau!" Telinganya mendengar bunyi dencing sabuk dilepaskan. Laki-laki berperut buntal itu lalu menarik kakinya, menggulingkan ke atas peti, lantas menyiangi tubuhnya. Dia merasa terhempas ke rumah kecil beratap ilalang di Padi Boneh ketika di sebuah sore yang pekat angin kencang berkecamuk bersama hujan petir meremuk atap dan dinding rumah.
Dahan-dahan kayu patah. Dia, ibunya, dan kakak-kakaknya lari tak tentu arah dengan tangis melolonglolong. Ayahnya tertegak kaku di halaman seperti pohon tumbang. Sesuatu yang besar dan keras jatuh dari pucuk pohon kelapa menghantam tubuhnya. Dia terjerembab dalam dingin yang pedih.
Laki-laki bersepatu bot itu mungkin sudah selesai menggarami ikan dalam tubuhnya. Dia membuang napas berbau tembakau sengak lalu mengangkat tubuhnya yang terasa hilang tulang. Pandangan matanya meremang.
"Mampus, kau!" Seperti suara guruh. Seperti suara debum. Badannya terasa remuk. Dinding dingin merah bata! Oh, apa yang bangsat itu lakukan? Batu-batu bening beku, bongkah-bongkah es menghimpit.
"Eii! Eii! Auh!" Laki-laki itu menutup peti. Menaruh dua peti lain di atasnya. Kemudian menyelimuti dengan terpal.
"Tidak! Tidak! Ini tidak sedang terjadi! Aku mungkin ketiduran dan bermimpi. Aku harus segera mengantarkan anak tuna pipih pesanan lelaki itu! Mungkin saja dia mau jadi ayah bagi kedua anakku. O, tidak! Titidak! Dingin sekali! Sakit sekali! Ngilu sekali!"
Hampir pukul sepuluh. Pasar ikan akan segera kosong ditinggalkan. Laki-laki itu telah berulang kali pindah dari satu tonggak ke tonggak lain, sempat pula duduk di bangku kayu, dan minum teh botol di warung dekat WC umum. Perempuan itu tak kunjung datang.
"Ah, mungkin dia malu karena tak berhasil mendapatkan ikan tuna untukku."
Sekali lagi dia melayangkan pandang pada sisa-sisa ikan di lantai pasar, pada tubuh-tubuh laki-laki berdaki yang telah bacin, pada sampah-sampah plastik menghitam yang bertebaran, pada langit yang agak buram, pada sebuah kapal di kejauhan....
"Tapi persetan! Aku akan tetap punya alasan untuk datang lagi ke sini."
Dia melangkah sedikit melompat untuk menghindari genangan air kotor. Seekor udang bungkuk yang telah separuh busuk terinjak kakinya.
"Ikan ambu-ambu, Bang? Masih baru, masih segar!" Dia beli dua ekor sekadar untuk pelepas tanya ibunya.
Dia segera pulang dengan enggan ke rumah teduh di sebelah masjid raya. Untuk berenang dalam akuarium indah di lantai dua yang penuh fantasi warna-warni, ikan-ikan plastik, koral-koral, dan bintang-bintang laut palsu.***
Padang, 2010
Dimuat di Padang Ekspres 04/05/2008
Peringatan bahaya itu membuat kami terpaksa bermalam di luar rumah. Listrik padam. Walau langit terang ditaburi bintang-bintang, tetapi suasana tetap tak menyenangkan. Karpet ruang tamu dibentang di atas rumput halaman bersama tikar yang biasanya hanya tersandar di belakang pintu kamar Ibu. Terpal biru ukuran delapan kali dua setengah meter yang kupasang untuk antisipasi bila hujan tiba-tiba turun, bergoyang-goyang dikirai angin. Sepi. Orang-orang telah pergi. Bapak dan Ibu duduk bersebelahan. Diam. Bapak memangku Setiadi, anak Kak Peri yang duduk gelisah di dekat lampu lentera. Maktuo (kakak perempuan Bapak) duduk di samping Ibu dengan tubuh terbungkus mukena. Kak Peri terus mengutak-atik tombol telepon selulernya. Jaringan terganggu. Tetapi dia tetap mencoba. Menghubungi Bang Fatwa, suaminya, yang sedang berada di Jakarta.
“Kenapa kita tidur di luar, Ngku?” Setiadi kecil bertanya cempreng. Nyinyir.
“Tidur sajalah, Adi. Nanti kamu habis dimakan nyamuk.” sahut Bapak.
Ibu menyelimutkan kain sarung ke tubuh Setiadi.
Maktuo khusuk sendiri. Komat-kamit mengiringi putaran tasbih di tangannya.
Dari jauh terdengar raungan sirene. Entah ambulans. Entah polisi patroli.
Bapak telah mematikan radio. “Kita tak akan pergi ke mana-mana.” katanya tadi. “Kalau kita memang sudah harus mati, kita akan mati juga, walau lari ke ujung dunia.”
Walikota telah mengatakan bahwa daerah tempat kami tinggal tak akan tercapai gelombang tsunami. Rumah kami dijamin aman karena jauh dan cukup tinggi dari laut. Yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan bangunan runtuh. Maka malam ini kami memilih menginap di halaman, walau para tetangga telah lari sejak goncangan ketiga menghentak usai Magrib tadi diiringi listrik yang total mati. Kami telah memilih tak pergi. Bukan karena benar-benar yakin pada seruan walikota yang gemar membangun plaza itu, tetapi karena telah bosan untuk terus-terusan lari. Maktuo, Ibu, dan Bapak sudah tak sanggup lagi mesti berdesak-desakkan di atas mobil mengungsi ke ketinggian. Begitupun Kak Peri. Aku sendiri tak begitu acuh. Aku sudah jemu dengan kecemasan-kecemasan itu.
Kutuangkan kopi dari cerek ke cangkir. Meneguknya. Rumah tampak lebih rapuh dan menyedihkan. Sudah banyak retak-retak di dindingnya. Catnya kelupas-kelupas. Kasihan bila kami meninggalkannya sendirian.
Angin masih bertiup. Bumi rasanya terus juga bergetar-getar.
Kak Peri merebahkan tubuhnya ke dekat kaki Maktuo yang berselonjor. Ibu memijit-mijit kakinya yang reumatik. Bapak merapatkan jaket dan mengetatkan belitan syal di lehernya. Maktuo terus berzikir dalam kelumunan mukena. Aku mengambil kasur gulung ke dalam rumah. Sempat Ibu melarang. Tapi goncangan sudah reda. Kecuali ilusi. Kubentangkan kasur di atas tikar di luar naungan terpal. Merebahkan badan. Melihat bintang-bintang. Apakah di bintang ada setan?
Lengang. Setiadi telah tertidur di pangkuan Bapak. Hanya suara napas tertekan dan lirih zikir Maktuo. Tiba-tiba bumi bergemeretak. Kak Peri berseru. Bapak berseru. Ibu berseru. Maktuo berseru. Menyebut nama Tuhan.
***
Lalu beratus-ratus detik kemudian hanya sunyi.
Sampai Bapak berdehem, membuat cekaman itu cair. “Mari kita santai saja. Alam sedang mengajak bercanda. Tak seharusnya kita serius.” katanya.
Mulutku asam. Bunyi gemuruh rumah masih terngiang-ngiang di telinga. Ada loteng yang runtuh. Apakah hantu itu akan keluar dari laut dan menemukan kami sekeluarga sedang berkerumun di halaman seperti mangsa yang tolol?
“Ap, ambilkanlah maktuomu minum.” perintah Bapak.
Aku segera bangkit dan mengambilkan secangkir air putih untuk Maktuo. Perbekalan memang telah dipersiapkan Ibu sejak teror itu datang beberapa hari yang lalu. Tersedia juga ember besar berisi air untuk berwudhuk dan kompor. Setelah Maktuo minum, Ibu dan Kak Peri menggilir cangkir itu.
“Mari kita isi malam ini dengan bercerita,” Kata Bapak. “Sudah lama rasanya. Sejak hari raya.”
Percakapan pun merayap di antara malam yang remang dan nyamuk-nyamuk kurang ajar yang terus berdengung.
Ibu menjerang air di periuk untuk menambah kopi yang tinggal sedikit. Maktuo telah berhenti berzikir. Dia duduk tenang-tenang seperti pengemis pikun di depan swalayan. Kak Peri duduk serius dekat lentera yang bernyala lindap. Setiadi kini tidur di haribaannya.
Cerita didominasi oleh Bapak. Kadang dia terkekeh-kekeh ketika berhasil menghadirkan ingatan yang lucu. Maktuo akan terbatuk-batuk jadinya. Ibu senyum-senyum. Kak Peri terkikik sambil menyumpal mulutnya sendiri. Bapak suka sekali mengulang-ulang kisah lama. Tentang rumah tua kami, tentang peristiwa hari raya demi hari raya, tentang...
Suara Bapak menjadi serak.
“Aku teringat pada Kamaruzzaman. Ya, si Kam yang rumahnya di tepi sungai Batang Lembang di Sinapa Piliang. Dia anggota Kompi Negro dari Resimen III Batalion Lembang yang dipimpin Idris Madjidi. Saat orang Bagolak dulu, aku punya masalah dengannya. Dan dia tertembak...”
***
Aku mencintai Rakena, gadis Lukah Pandan yang berhidung lancip dan bertubuh semampai berisi. Sering aku mengamati dia sedang menjunjung kambut (bakul) meniti pematang sawah mengantar nasi untuk ayahnya. Tetapi ternyata dia lebih suka pada si Kam bangsat itu. Dia selalu menunggu-nunggu anak itu pulang dari SGA. Bagaimana tak akan sakit hatiku, aku yang mengejar-ngejar, tetapi dia malah terpikat pada orang lain. Dia tak suka padaku karena aku tak bersekolah. Bangsat! Mau apa dia dengan sekolah? Puih! Orang hanya butuh makan dan bersawah.
Suatu petang, sebelum api mengepul di atas nagari-nagari salingka Kubuang Tigobaleh, aku telah mendatangi Rakena dengan baik-baik. Kukatakan padanya,
“Dik, apa yang kauinginkan? Rumah? Sawah? Atau emas?”
Dia baru pulang dari sawah, membawa pucuk ubi dalam kambut.
“Tak tahukah Uda bahwa orang akan berperang? Orang laki-laki telah mengemas senjata untuk gerilya. Uda masih bersenang hati juga?!”
“Aku juga akan berjuang! Tetapi jawab aku dulu, Rakena. Kalau kau mau, keluargaku akan datang segera ke rumahmu!”
“Kata Uda Kam, keadaan telah genting. Nasution telah menaklukkan Painan, Bukittinggi, dan Padang. Djuanda telah menahan Sjafruddin, Sjafei, dan kawan-kawan. Kolonel-kolonel terdesak. Tak patut bila masih memikirkan diri sendiri!”
“Apa yang kauucapkan, Rakena? Dari mana kau tahu semua itu?!”
“Uda Kam yang cerita. Dia dapat kabar dari RRI Bukittinggi. Itulah, karena Uda tidak sekolah. Uda Kam sekarang telah bergabung dengan Kompi Negro, menjadi tentara pelajar untuk membela negri ini.”
Rakena berlari setelah memungut kambutnya. Rambutnya tergerai dari kain selendang yang lepas sebagian. Dua bulan kemudian dia ditemukan mati tertembak di tepi parak (kebun). Kata orang-orang, dia ketahuan oleh tentara menyelundupkan senjata ke Koto Ilalang.
Dendamku pada Kamaruzzaman semakin menjadi. Maka, ketika mendapat kabar bahwa dia akan menyeberang ke Sulik Aie dari Koto Ilalang, aku pun memberi tahu Tentara Pusat. Di Sumani dia tertembak.
***
Telah hampir Subuh. Bapak berhenti bercerita. Cahaya lentera yang redup membuat matanya tampak berkaca-kaca, atau memang dia menangis? Maktuo tersandar ke ember besar berisi air untuk berwudhuk. Tertidur. Di pipinya tampak ada leleh air mata yang telah kering. Kak Peri bergelung memagut Setiadi. Ibu diam dekat kompor yang masih menyala. Bunyi air menggelegak bergolak-golak di tengah hening yang menyakitkan dada.
Ketika pulang ke Solok saat hari raya beberapa tahun lalu, aku sempat mampir ke sebuah rumah di tepi sungai Batang Lembang dekat Masjid Lubuak Sikarah itu bersama seorang sepupu yang tinggal di kampung.
Di rumah tua itu aku bertemu dengan seorang lelaki tua yang duduk bersandar ke dinding papan. Dia tersenyum padaku dan mempersilakanku mencicipi tapai ketan yang disuguhkan istrinya.
“Kalau bukan karena perang itu, Nak, tak akan pernah ada jembatan, jalan, dan sekolah-sekolah di sini.” Katanya padaku dalam percakapan yang canggung. “Tetapi sayang, sejarah menganggapnya pemberontakan, padahal kami hanya menyampaikan aspirasi kami yang seolah hanya anak tiri. Perang saudara memang pahit.”
Waktu itu aku tidak tahu benar siapa dia, kecuali bahwa namanya Kamaruzzaman, pernah ikut berperang semasa Bagolak, dan kaki kanannya buntung sebatas paha.
Cerita Bapak yang sebentar ini membuat perutku mual. Aku pergi ke sumur untuk kumur-kumur dan muntah. Gempa sudah tak ada. Rumah hampir rubuh. Ketika balik, kulihat tubuh Bapak yang ringkih oleh komplikasi penyakit itu bergetar-getar dan kudengar dia tersedu sampai batuk-batuk***
Dimuat di Riau Pos 02/03/2008
Pencari daun enau itu terkejut ketika melihat seorang laki-laki duduk melamun di atas batu karang yang berlumut. Laki-laki itu memakai celana jins biru pudar dan kaos abu-abu. Punggungnya sedikit membungkuk digayuti ransel hitam. Pencari daun enau itu sudah bertahun-tahun menjelajahi rimba Bukik Kapocong untuk mencari pucuk enau, daun pandan berduri, atau buah-buah damar. Dia sering bertemu dengan pemburu babi, pemikat burung, atau para pecinta alam. Namun, belakangan dia lebih sering sendirian di tengah hutan.
Diturunkannya ikatan daun enau dari bahunya. “Sendiri saja?”
Laki-laki itu sama terkejutnya. Dia mengangguk pendek.
“Mau berburu?”
Dia masih muda. Tatapan matanya begitu murung di bawah rambutnya yang menjuntai di kening. Dia mengangguk dingin seperti menginginkan percakapan itu lekas tuntas. Pencari daun enau kembali mengamati. Memperhatikan ransel hitamnya yang terlalu bersih untuk dibawa ke hutan. Arloji di tangan. Juga pakaiannya. Dia ingin bersikap acuh karena maksudnya datang ke hutan itu cuma untuk mencari pucuk daun enau yang nantinya akan dia jemur di rumah lantas dijual ke pasar. Dia tak perlu mengurus orang asing yang sama sekali tak bersangkut paut dengannya. Pencari daun enau itu menyandang ikatan daun enau ke bahunya yang bungkuk. “Berhati-hatilah. Harimau memang tidak akan datang mengganggu, tetapi banyak ular berbisa dan pacet yang bisa menguras habis darahmu.”
Mata mereka bertemu. Sepasang mata muda yang luka dan sepasang mata tua yang letih.
Pencari daun enau itu merasa hatinya direjam kesedihan yang ganjil. Dia menemukan keputusasaan yang siap membunuh. Serta merta pikirannya membayangkan laki-laki muda itu berdiri di tubir jurang, lalu melemparkan diri ke runcing karang.
“Hati-hatilah!” Dia melanjutkan langkah ke bawah.
***
“Aku hanya ingin sendiri dan mati.” Ucap laki-laki muda itu setelah sosok si pencari daun enau hilang di balik semak. “Aku malah bersyukur bila ada harimau datang dan menerkamku. Mencabik-cabik tubuhku. Mengoyak-ngoyak badanku. Menghabisi sekerat hatiku!” Dia menatap nanar rerimbunan pohon-pohon yang tingginya puluhan meter.
Dari arah barat matahari memancarkan sinar kuning pucat.
Laki-laki itu sudah meninggalkan rumah sejak kemarin. Mulanya dia hanya ingin melarikan diri dari suasana rumah, dari urusan menyebar undangan, dari mimpi buruk, dari sumpah dan kejaran rasa bersalah, dari segala kecamuk di pikirannya. Dia mengunjungi teman-temannya, meminta waktu mereka untuk mendengarkan dia bicara. Tetapi tak ada seorang pun yang mau percaya bahwa kondisinya begitu buruk. Dia pun memutuskan pergi ke pinggir kota di pagi hari dengan angkutan umum, kemudian berjalan kaki ke pebukitan yang sering dia pandangi dari balkon.
Dia merasa sakit dan sangat tidak siap. Dia yakin, bila dia melanjutkan apa yang sudah dirancang untuknya, dia hanya akan menjadi pengkhianat. Dia tak akan pernah mencintai siapa pun. Dadanya sudah nyaris kosong. Hatinya cuma tinggal robekan-robekan yang tidak utuh.
Dia telah berjalan, dan terlalu jauh untuk kembali. Dia juga tak yakin semuanya akan seperti sedia kala bila dia kembali. Di pinggang bukit dia berdiri. Jauh di bawah kakinya samar-samar tampak kota dan laut, dan awan-awan, dan langit yang keruh. Angin menampar-nampar mukanya. Dihirupnya dengan risau. Dia telah mencucukkan sebilah pisau ke dada ibunya yang dulu semasa kecil pernah dia teguk sari kehidupan dari kedua susunya.
Semuanya telah berbeda. Dia bukan lagi seorang bocah manis yang selalu tertawa dengan hidung dan mata mengernyit.
Ayo, melompatlah!
Ayo, akhirilah!
Hatinya terasa diremas oleh gelap malam yang turun bersama dingin kabut. Haruskah dia melompat jatuh dan mati, atau berlari turun dan pulang? Dia sama sekali bukan seorang petualang, malah hanya seorang manusia rapuh yang cengeng.
Dikeluarkannya HP dari saku, mencoba terangi sekeliling tempat itu. Dia tak membawa korek api, lilin, apalagi senter. Kegundahan telah membuatnya benar-benar tolol. Tak ada sinyal. Dibukanya folder foto dan video. Disaksikannya gambar-gambar itu sehingga berbagai kenangan dan rasa menggenangi hatinya.
Ruang tamu. Komplek pemakaman. Jembatan penyeberangan. Dia sedang sendiri berlatar pantai. Ibu berkerudung hitam. Kartun. Kartun horor. Merpati-merpati di taman. Lantai kamar. Bibirnya. Sepasang tangan. Reuni hari raya. Dia sedang tidur bergelung. Mukanya dicoret-coret habis main kartu. Tubuhnya. Anjing tetangga yang galak. Dia sedang berteriak. Aaakhh...
Bahkan dia tak menyimpan gambar orang itu agak sepotong.
Lalu untuk siapa semuanya?
Demi menunda kematian ibunya?
Padahal dialah yang hidup.
Dialah yang akan menjalani.
Dia yang akan bahagia.
Atau sakit.
Dia diam. Kelengangan yang menggairahkan mengepungnya.
“Gus...!”
Telinganya mendengar suara yang halus.
“Gustav...!”
Dia menoleh ke sekeliling. Siapa yang telah memanggilnya? Apakah ada yang merasa kehilangan lalu mencarinya?
“Gustav!”
Dia terkejut.
Beberapa saat hanya menatap terpana.
Sosok itu melambai dan merentangkan tangan.
Dia berdiri girang. Mencampakkan ransel ke tanah. Berlari. Menghambur. Mendekap...
***
Burung-burung murai masih berkicau riang ketika pencari daun enau itu sampai di Bukik Kapocong. Dia sudah berusaha datang sepagi mungkin, tetapi tetap terlambat karena istrinya yang nyinyir minta dipetikkan buah kelapa untuk membuat gulai. Dia melangkah di jalan setapak yang penuh rumput liar dan ilalang. Pohon-pohon tinggi membuat hutan menjadi teduh. Akar-akar membelintang, kadang digelungi ular. Anggrek merpati berbunga butih menjuntai dari dahan-dahan kayu lapuk.
Dia tak menemukan si laki-laki muda di batu karang berlumut. Pencari daun enau menengadah ke langit. Dua ekor elang kurik berkulik-kulik. “Anak itu sedang gelap mata. Seharusnya tak kubiarkan dia sendirian.” Matanya melihat ransel hitam yang kemarin tersandang di punggung si pemuda tergeletak di bawah batu. Ditegakkannya badan. Di mana gerangan orang itu? Pencari daun enau menjengukkan kepala ke tubir tebing.
“Apakah...?”
Cepat-cepat dia menuruni tebing yang cukup curam. Dia berpegang pada akar-akar yang berjuntaian. Sandal jepitnya putus. Dia tinggalkan saja. Kakinya menginjak suatu benda yang bukan bagian dari hutan. Diambilnya. Sebuah HP yang telah pecah. Jantungnya berdegup. Dia bersiluncur.
Sosok itu dia temukan tergolek dengan kepala menyandar ke batu. Seperti sedang bermimpi dalam rengkuhan seseorang. Darah mengering dari kepalanya yang retak. Dua ekor pacet menempel di kaki dan tangannya. “Hei..! Hei!” Pencari daun enau meraba urat lehernya. Dingin mati. Dia terhenyak. Jurang itu terasa senyap.
***
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Dia terkejut ketika seorang penyabit rumput telah berdiri di sampingnya dengan sebuah karung kumal yang gendut. Sebenarnya dia tak ingin bicara dengan siapa pun, tetapi bersikap diam akan membuat orang kian penasaran. “Tidak ada,” sahutnya acuh.
Penyabit rumput yang sudah agak tua itu memberinya tatapan penuh selidik. “Apa kau mau memancing?”
“Ya!”
“Hati-hatilah kalau memancing di Lubuk Karaku. Tempat itu agak jahat.” Laki-laki tua itu menyandang karung rumputnya dan berlalu.
Setelah tinggal sendiri, dia melanjutkan lamunannya. Diambilnya sepotong ranting, digurat-guratnya tanah liat merah.
“Apa aku salah karena mengawininya?!”
Sampai malam dia masih tercenung.
Itu dulu, sekitar duapuluh tahun lalu. Setelah sang istri yang masih punya ikatan darah dengannya, melahirkan anak kedua mereka yang juga lumpuh.
***
Setelah menjemput cangkul, sabun mandi, dan tiga helai kain kafan yang dibelinya dengan uang dari dompet si pemuda, dengan susah payah, si pencari daun enau membopong mayat si lelaki muda ke sungai kecil di dasar jurang. Ransel dan HP pemuda itu dibawanya juga. Di tanah datar tak jauh dari air terjun digalinya sebuah lubang. Batu-batu kecil mempersulitnya, tetapi dia terus bekerja keras membuat sebuah liang yang cukup pantas untuk jadi makam.
Kemudian dilepasnya pakaian mayat itu. Sebatang tubuh muda yang tinggal beku. Ada sebuah tato berbentuk ujung pedang menyungkupi pusarnya. Pencari daun enau memandikan dengan hati-hati. Membersihkan luka-lukanya. Menyiramkan air sabun dengan usapan kasih sayang yang pedih seperti tiap kali memandikan kedua orang anaknya yang pernah ingin dibunuhnya. Lalu jenazah itu disucikannya, dibungkusnya dengan kain kafan murah, diikatnya dengan akar kalimpanan, dishalatkannya.
Pakaian pemuda itu dimasukkannya ke dalam ransel beserta arloji, kalung, sebuah cincin perak, dompet, dan HP yang rusak. Ketika memasukkan jenazah ke dalam liang, entah kenapa ada air mata yang meluncur ke pipinya. Disekanya dengan punggung tangan.
“Kau ingin lari, seperti aku dulu. Maka, tenanglah di sini. Selama hidup aku akan menjagamu.”
Diletakkannya ransel di samping jenazah, juga sepasang sepatu bewarna coklat. Ditimbunnya pelan-pelan. Setelah selesai, ditanamnya sebatang kayu lansano di atas kepala pemuda itu yang kini ditutupi tanah.***
Ilalangsenja|Padang, 2007
Dimuat di Media Indonesia 09/09/2007
LELAKI peladang itu membuka pintu rumah dengan kasar dan memukul anjing betinanya yang berkurap itu dengan kayu. Anjing malang itu lari ke arah kebun sambil melolong-lolong memilukan.
Malam tampak gelap tak terjangkau cahaya lampu minyak. Laki-laki itu berdiri beberapa lama di ambang pintu melontarkan segala macam makian yang bersarang di perutnya. Matanya melotot nyalang ke kegelapan. Kedua anaknya yang bertubuh kurus mengintip dari celah dinding bilik, ketakutan. Lalu, setelah puas mengumpat, ia kembali masuk ke rumah sambil membanting pintu yang terbuat dari bilah-bilah papan dan bertempel stiker 'Keluarga Miskin' berwarna merah mencolok.
"Anjing kurap! Memekak saja kerja kau, tak tahu kepalaku pusing!" Ia duduk di bangku kayu yang sudah berulang kali diperbaiki kakinya. Ketika ia melihat kepala anaknya yang menyembul dari balik kain pintu bilik, suaranya kembali menggelegar seperti akan meruntuhkan rumah. "Mana ibu kalian, hah?!"
Anak perempuannya yang berusia sebelas tahun dengan takut-takut menyahut. "Ibu belum pulang, Pak."
"Mau mencari laki lagi dia, heh?! Tak tahu kalau aku belum makan dari pagi?!" Tangan besarnya yang kasar akibat berkuli dari ladang ke ladang menghantam satu-satunya meja di ruangan berlantai tanah itu. Ia kembali menyalak kepada anak perempuannya. "Sudah sebesar ini, masih tak bisa juga kau meletakkan nasi, heh? Tak pernah kau diajari ibumu?"
"Nasi tak ada, Pak. Beras sudah habis."
"Anjing! Apa saja kerjanya?!" Dia berjalan ke lemari reyot di sudut ruang, membukanya, membanting mangkuk dan piring. Ia pergi ke dapur. Menendang periuk sambil bercarut-marut.
Rumah buruk itu kemudian menjadi sunyi setelah laki-laki itu pergi ke luar menuju kedai simpang, tempat para laki-laki berkumpul dari berbagai penjuru kampung.
Kedua anaknya duduk terdiam dengan pikiran masing-masing. Anaknya yang kecil, laki-laki sekitar delapan tahun, berkata lirih, "Ta, aku lapar sekali. Kenapa Ibu belum juga pulang sejak kemarin?"
Anaknya yang perempuan memandang lemah pada adiknya. "Aku tak tahu. Mungkin Ibu pergi pinjam uang."
"Tapi Ibu tidak pulang, dan perutku pedih sekali."
"Aku juga lapar."
Dari luar rumah terdengar bunyi samar-samar yang mendekat ke pintu.
"Ibu?" Si anak laki-laki bergegas ke pintu disusul kakaknya.
Ketika mereka membuka pintu, mereka hanya melihat anjing betina mereka yang berbulu belang yang tadi dipukul lelaki peladang. Anjing itu menggeram-geram dengan suara halus sedih. Ia seperti menangis.
****
Anjing itu memang bersedih.
Ia seekor anjing yang sangat setia. Setiap hari, ia suka sekali mengiringi setiap anggota keluarga itu pergi ke ladang, ke sungai, atau ke mana pun meninggalkan rumah. Kadang ia mengantar jauh sampai ke jalan raya kecamatan dan akan pulang bila sudah dihardik atau dilempari. Sering pula ia dipukuli dengan sapu bila bandel masuk ke rumah, tetapi ia tetap betah tinggal di rumah itu. Ia diberi nama Balang karena bulunya putih-hitam.
"Ta, si Balang lapar." Kata anak laki-laki lelaki peladang.
"Dengan apa akan kita kasih makan? Kita juga kelaparan."
Anjing itu mengunjurkan kaki depannya di pintu. Matanya menatap kedua anak lelaki peladang. Ia merintih-rintih. Sesekali kepalanya berkedut dan ia menggoyangkan ekornya.
"Bapak belum dapat upah dan Ibu sejak kemarin belum pulang. Kami juga belum makan." Kata anak laki-laki itu mengusap-usap kepala si anjing.
"Kau tahu ke mana Ibu pergi, Balang?" tanya si anak perempuan.
Anjing itu menggerakkan kepalanya. Telinganya tegak. Ia lalu berdiri dan melompat sambil menyalak-nyalak. Ia menggeram-geram lagi.
"Kau tahu di mana Ibu sekarang?" Si anak laki-laki mengikuti anjing betina itu ke halaman. Kakaknya menutup pintu dan mengganjalnya dari luar dengan kayu. Anak perempuan itu berlari menghampiri adiknya dan dengan penuh harapan mengikuti anjing mereka. Anjing itu membawa mereka berjalan di jalan setapak yang di kiri-kanannya penuh semak ilalang. Mata mereka sudah terbiasa membaca ruang tanpa penerang. Sesekali kedua anak itu mengaduh karena kaki mereka yang telanjang menginjak tunas ilalang. Di langit hanya ada bintang-bintang. Di kejauhan tampak malam berpendar oleh nyala lampu listrik di sepanjang jalan. Jantung kedua anak lelaki peladang berdegupan. Mereka merasa beruntung mempunyai anjing patuh itu dan sedikit menyesal karena tidak sejak malam kemarin memerhatikan kelakuan si anjing yang berbeda dari biasanya.
Mereka terus berjalan mendaki menurun hingga sampai ke jalan raya kecamatan. Anjing itu meringis. Ia belok ke kiri, menyalak-nyalak ke arah sebuah rumah megah di pinggang bukit yang bekerlap-kerlip.
"Itu rumah Pak Wali!" seru si anak laki-laki.
"Tak mungkin Ibu ke sana! Satpam-satpam di situ akan mengusirnya!"
Anjing itu mengaing-ngaing. Ia menggaruk-garukkan kakinya ke jalan, menggonggong-gonggong.
Di lembah yang jauh di bawah, tampak kota bekerjapan indah.
***
Sebenarnya, anjing betina yang berkurap di sekitar punggung dan pantatnya itu ingin bercerita kepada si lelaki peladang dan kedua anaknya. Tetapi ia tidak mampu karena mereka tidak memahami bahasanya. Maka, baiklah, akan kuceritakan kepada kalian peristiwa yang disaksikan anjing betina kurapan itu:
Sudah hampir dua tahun rumah megah itu berdiri menghias pinggang bukit di utara kota. Rumah indah dengan taman luas yang terus dibenahi dari hari ke hari. Bangunan utama bergaya Eropa, dilengkapi pos keamanan bertingkat dua, sebuah musala yang elok, balai pertemuan, dan sebuah kolam renang. Ia didirikan dengan meratakan sebuah lereng yang sebelumnya penuh ilalang dan rumpun-rumpun perdu sikaduduak, tempat para penggembala melepas ternaknya untuk merumput. Rumah besar itu tampak bersinar. Seperti sebuah surga di tengah peladangan yang gersang oleh pembakaran hutan.
Ke rumah itulah istri si lelaki peladang pergi di rembang petang. Musim panas telah mengeringkan tanaman ladang sehingga panen tidak jadi. Persediaan dapurnya sebentar habis. Ia sudah terlalu banyak pula berutang ke kedai dan kepada tetangga-tetangganya. Maka ia pikir tak ada salahnya bila ia mencoba minta pertolongan kepada pemilik rumah bagus itu. Hitung-hitung orang itu termasuk tetangga juga meski ia adalah seorang pejabat yang barangkali tak sudi bertetangga dengan peladang yang melarat.
Dengan jantung berdebuk-debuk oleh rasa malu, penuh harap, sekaligus bimbang, digesernya pintu gerbang yang dicat dengan warna emas. Pagar itu dibentuk dari rangkaian batang-batang besi berujung runcing, di bawahnya terdapat roda untuk memudahkan geraknya.
"Ada perlu apa?" seorang satpam muda yang klimis dan gagah menyambutnya.
"Aku mau bertemu Bapak."
"Sudah membuat janji?"
"Janji? Aku ini tetangganya. Rumahku ada di balik sana. Oh ya, kau Fauzi, bukan? Anaknya Uni Rosidar yang menjual minyak tanah di simpang Kampuang Ambacang?"
Satpam muda yang baru tiga bulan bekerja itu merasa jengah dengan perkataan si perempuan yang tahu siapa orang tuanya. Wajahnya jadi merengut. Dari balik kaca pos terdengar teman piketnya berujar, "Suruh saja ia ngisi buku tamu. Kalau ia mau nunggu sampai besok pagi, biar saja!"
"Baik. Kalau memang mau bertemu Bapak, isi dulu buku tamu itu. Tapi Bapak tak bisa menerima sekarang. Ia sedang ada tamu. Besok saja datang pagi-pagi!"
"Biar kutunggu saja. Aku cuma sebentar, dan rumahku dekat dari sini." Istri lelaki peladang masuk dan duduk di bangku dekat pintu pos.
Satpam muda itu memerhatikan penampilan perempuan itu dari ujung telapak kaki hingga rambut kemerahannya yang diikat karet gelang bekas pembungkus ikan asin. Mukanya coreng-moreng. Blus dan roknya sudah pudar dan kumal. Di bahu atasnya yang sedikit tersingkap, tampak tali kutangnya berwarna hitam.
"Pak Wali tak bisa diganggu, ia sedang ada tamu!" Ulang si satpam klimis dengan jijik. Sebelum kedatangan perempuan itu, ia dan temannya sedang asyik menikmati rekaman video porno di dalam HP. Sungguh, perempuan di tayangan singkat itu amat berbeda dengan perempuan yang kini duduk sejangkauan tangan darinya. "Dan kalau kau memang mau menghadapnya, berkacalah sedikit. Bentukmu seperti orang mau ke parak begitu, berpakaianlah yang patut!"
"Aku ini warganya, dan memang beginilah aku. Aku orang miskin. Apa aku harus berlagak seperti ibu-ibu pejabat itu bila mau menemuinya?"
"Ya, tahu dirilah sedikit. Yang akan kautemui adalah orang besar, tentu kau harus lihat tempat. Kaukira ia lakimu yang mau menerimamu meski tiga hari tidak mandi? Hahaha!"
"Heh! Aku ingin bertemu dengan Pak Wali, bukan ingin mendengar ceramahmu, Botak!" istri lelaki peladang membentak.
"Apa kaubilang, Babi Buduk?!"
"Aku ingin bertemu dengan Pak Wali, persetan dengan kau!" Perempuan itu bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke depan gedung. Kedua satpam itu berteriak dan mengejarnya. Si klimis mencekal pergelangan tangan si perempuan.
"Ini rumah pejabat, tak bisa seenak perutmu!"
Perempuan itu memberontak ketika tubuhnya diseret ke pos. Kedua laki-laki muda itu memperlakukannya seperti sepotong batang pisang yang sudah ditebang dan ditebas tandan buahnya, siap dibuang ke semak-semak. Perempuan itu menjerit, tetapi teman si klimis segera membekap mulutnya. "Tingkahmu benar-benar menjengkelkan!" bentaknya pada perempuan itu. Setelah berhasil membawa perempuan itu ke pos, mereka mencoba membuat kesepakatan.
"Isi buku tamu itu bila kau memang ingin bertemu Bapak dan segera pulang. Besok kau boleh kemari lagi!"
"Anakku kelaparan. Aku ke sini mau minta tolong!"
"Apa kau tak bisa berutang beras agak seliter ke kedai? Apa kaupikir hanya kau saja manusia yang mesti diurus oleh Bapak?"
"Bapak pasti mau menerimaku, kalian saja yang sok! Dasar anjing penjilat!"
"Diam kau! Nanti kutembak!"
"Tembak? Ayo! Coba tembak kalau kau memang punya senjata!" Perempuan itu membusungkan dadanya yang kendur. Ia tampak seperti induk ayam yang terkena rabies.
Dengan geram satpam itu menepis tubuh si perempuan. "Sayang, kau perempuan, kalau tidak sudah kusumpal mulut baumu dengan tinju!"
Perempuan itu meradang. Dicakarnya lelaki berseragam putih hitam di depannya. Laki-laki itu berusaha melepaskan diri, kemudian menampar. Perempuan itu terjelepak, bangkit, merenggut celana lelaki itu, menggigit tangannya. Laki-laki itu menendang. Perempuan itu menggapai, mencakar, menumbuk, dan tahu-tahu sangkur tajam yang sebelumnya tergantung di sisi paha si satpam muda telah berada di tangannya. Dengan kesetanan dia menusukkan ke perut lawan. Si satpam tegap sigap menyergap dan bilah tajam bermata dua itu berkhianat pada pemilik tangan yang menggenggamnya. Sangkur itu menghunjam halus ke perut tipis si perempuan yang tak berdaya menolak seperti buah semangka baru dipetik dari ladang. Perempuan itu melenguh dan jatuh. Darah semerah tomat masak menyembur keluar tak terbendung oleh blus bermotif bunga-bunga kuning buatan pabrik konveksi dari Bukittinggi yang dipakainya.
Anjing betinanya yang dari tadi setia menunggu di dekat pagar melompat ke samping si perempuan. Ia mengaing-ngaing seperti ucapan syahadat yang terputus-putus.
Lindap magrib seperti menutupi kejadian itu. Kedua lelaki muda saling memandang. Beberapa jenak kemudian seperti Qabil yang dirundung kesumat, mereka mengangkut tubuh rusak si perempuan ke lubang besar dekat taman. Lubang itu rencananya akan dibuat kolam, tetapi istri pemilik rumah merasa kurang cocok lokasinya di dekat situ. Ia ingin digeser sepuluh meter ke dekat pohon pinang sinawa. Lubang itu belum sempat ditimbun, dalamnya ada sekitar dua meter.
Mereka memasukkan tubuh si perempuan dan bekerja keras menimbunnya. Ketika beberapa orang petugas rumah tangga datang bertanya, mereka bilang bahwa mereka ditugasi untuk menimbun lubang itu oleh Bapak.
Anjing si perempuan berusaha menggali dengan cakarnya. Kedua satpam berkali-kali mengusirnya. Ketika bentakan mereka tidak mempan, mereka pun menyambit anjing betina itu dengan batu. Anjing itu pun lari terkaing-kaing.
***
Kedua anak lelaki peladang berdiri ragu di depan gerbang. Mereka melihat dua orang penjaga sedang bercakap-cakap sambil merokok. Si anak perempuan memberanikan diri untuk mendekat ke gerbang dan menyembulkan kepalanya lewat lubang di antara batang-batang besi.
"Pak, apa ada lihat ibu kami?" tanyanya tergagap-gagap.
Kedua satpam yang tak lagi muda itu terkekeh, mereka sudah sering diganggu anak-anak kampung yang iseng. "Kalau ibu kalian datang ke sini dengan Innova, berarti dia masih di dalam."
Dari iklan yang ditontonnya di TV kedai, anak perempuan lelaki peladang tahu bahwa yang disebutkan satpam itu adalah merek sebuah mobil. Ia pun mengajak adiknya pulang membawa lapar mereka bersama si anjing setia yang terus juga menyalak-nyalak.
Tengah malam, si lelaki peladang pulang setelah kalah main domino. Anjing betina itu menyambutnya dengan kaingan kecil dan mengejar kakinya hendak menjilati. Ia kembali melolong-lolong seperti menangis membuat laki-laki yang gundah itu naik pitam.
"Meribut saja kerja kau, anjing kurap." Disepaknya kepala anjing itu. Namun si anjing tidak lari. Ia menggoyang-goyangkan kepalanya sambil melolong-lolong nyaring. Laki-laki itu terus menyepak dan membentaknya. Ketika kesabarannya habis, ia menyambar sebatang kayu yang tersandar di dinding rumah, lalu menghantam kepala si anjing hingga binatang yang berkurap di sekitar punggung dan pantatnya itu tak bisa lagi bersuara.***
Ilalangsenja, Padang, September 2007
Dimuat di Media Indonesia 24/06/2007
DIA melangkah ke luar rumah melalui pintu dapur setelah memandangi kuduk istrinya yang hitam berdaki. Ada rasa jengkel bercampur pedih menggaruk hatinya. Perempuan itu diam saja, seolah tersihir oleh sampadeh dalam belanga yang tengah menggelegak-gelegak. Dia terus menyilang-nyilang kayu bakar agar api di tungku menyala rata. Asap putih-kelabu melayang menembus jerajak.
Disandangnya jerigen ke punggung. Jerigen itu bekas peletak bensin yang dimintanya pada seorang teman yang punya bengkel motor. Telah dipotong bagian atasnya dan diberi gantungan tambang sebesar jari kelingking. Telah dicuci puluhan kali. Dia tak mengisi apa-apa selain sebotol air putih. Di sakunya telah tersedia rokok daun nipah dan mancis. Sebilah parang bergayut di pinggang kanannya membuat langkahnya mirip prajurit hendak bertempur. Kedua belah kakinya hanya dialasi terompa jepang yang talinya disambung tali plastik karena telah putus. Tubuhnya yang hitam-kurus dibungkus dengan celana katun usang warna dongker--pemberian seorang kerabatnya yang menjadi seorang kasi di kantor bupati--dan kaos hijau pucuk pisang— pembagian orang kampanye—yang telah kusam oleh peluh dan getah.
Hidungnya yang besar menghisap udara pukul tiga sore yang kering, lalu menghempaskannya lewat lobang sebelah kiri. Diucapkannya bismillah dan mengayun langkah. Di belakang, dari dalam dapur, istrinya menjengukkan kepala menatap keluar. Memandang punggungnya sambil menelan air mata.
***
Dia mendaki perbukitan itu. Menelusuri jalan setapak yang penuh jejak tapak kaki sapi dan kotorannya yang hitam seperti kue pinyaram. Burung-burung berkicau nyaring ditingkahi jerit siamang di kejauhan. Rumahnya sudah jauh tertinggal di balik bukit penuh ilalang.
Selama perjalanan, dia hanya bertemu beberapa orang pemikat burung dan peladang. Panas matahari sore tak tertahan oleh topi biru pudar yang menutup kepalanya. Sambil lalu, dia telah menebas serumpun batang karamuntiang untuk dibuat suluh. Dia agak letih karena dari pagi mencangkul tanah untuk ditanami cabai dan terung.
"Hati-hati. Aku tak ingin menerimamu pulang patah-patah."
"Tak akan apa-apa. Tempatnya tak terlalu curam. Pekan lalu aku melihat ada sebuah sarang di dahan surian. Tempatnya agak tersuruk, dekat Ngalau Uwia-Uwia. Aku ingin mengambilnya sebelum yang lain tahu."
"Ngalau Uwia-uwia,"
"Jangan risau kau."
Dia tahu istrinya risau. Meski perempuan itu berusaha memasang selubung tabir di mukanya, tetapi dia bukan seorang pesandiwara yang pandai. Pada tarikan wajahnya yang merengut, tergambar sekali kegundahan yang ditahannya di pangkal kerongkongan.
"Aku memang jelek. Malangnya kau yang menikahiku."
"Sudah. Sudah. Aku hanya mau mengambil madu lebah. Tak usah kau berpikir yang tidak-tidak."
Istrinya beranjak ke dapur. Bersibuk-sibuk membersihkan ikan bakok--isi lukah yang diangkat dari banda pagi tadi —untuk dijadikan sampadeh. Dia menggantung tampang kacang panjang di selaian. Kemudian berkemas untuk berangkat ke lereng.
Pffufh..! Pffufh..!
Cabang jalan.
Dia merasa darahnya mengalir cepat. Tegang. Dia sudah berada di bawah lereng. Dihempaskannya napas sekali lagi. Berbelok meninggalkan jalan setapak.
Maafkan aku, bisiknya, seolah mulutnya berada tepat di samping daun telinga istrinya. Aku melakukannya lagi.
Dia mulai mendaki. Berpegang pada akar-akar yang berjalaran, pada tonjolan batu, pada urat kayu yang keluar dari tanah sebab longsor. Tanah lembab oleh lindungan pohon-pohon berdaun lebat. Sesekali dia bertemu pacet penghisap darah yang menempel cepat ke kakinya. Dia jepit hewan lunak itu dengan ibu jari dan telunjuk, lalu mencampakkannya ke tanah. Hutan begitu tenang dan damai. Dia merasakan suatu kebahagiaan yang asing. Sunyi dan bebas. Hanya suara uwia-uwia, tupai, burung-burung, ayam hutan, kera, siamang, kelepak sayap enggang, dan suara lamat air sungai di lembah.
***
Pohon itu tinggi dan besar. Dahan-dahannya menjuntai ke tubir jurang. Sebuah sarang lebah berwarna kuning emas tergantung di bawah sebuah dahan sekitar dua puluh meter dari tanah. Sarang yang penuh madu.
Dia membakar suluh daun karamuntiang. Mengasapi dirinya agar tak diserbu serangga penyengat itu. Asap putih langsung terbang hendak menjangkau pucuk batang kayu yang tinggi tonjang. Dia kencing ke semak untuk mengurangi ketegangan yang mendebuk-debuk dadanya. Setelah siap, diikatnya suluh karamuntiang dengan seutas akar kalimpanan.
Dia pun memanjat.
Tangannya yang berurat liat memeluk batang surian. Menarik tubuhnya seperti seekor beruk pemetik kelapa dari Pariaman. Jari-jari tangannya mengeras. Mencengkeram kulit kayu yang kering keras. Peluh terbit dari pori-pori jangatnya. Dadanya terasa panas. Dia terbayang istrinya yang tadi ditinggalkannya tengah menghadapi belanga tanah liat dan tungku batu di dapur. Semalam, perempuan itu lagi-lagi menepis tangan si laki-laki yang bergetar mengelus perutnya yang dingin.
Tubuhnya sampai di sebuah percabangan dahan. Sebatang beringin dahan tumbuh menempel serupa parasit. Dia melenguh. Rehat sejenak. Matanya menoleh ke lereng bukit di seberang lembah. Dia melihat segerombolan sapi tengah merumput di padang ilalang hijau. Dia melihat seseorang duduk di dekat rumpun sikaduduak. Hatinya menjadi riang sekaligus perih. Dihirupnya udara lembab rimba, kemudian menarik suluh dan kembali memanjat.
Ribuan lebah berdengung mengitari sarang yang melekuk montok seperti akan pecah. Sarang itu sudah penuh berisi madu yang matang. Bau asap suluh menyebabkan tak seekor pun serangga-serangga itu yang menyerangnya. Dia mengeluarkan parang. Sekali lagi mengucap bismillah lalu memotong sarang lebah dan memasukkannya ke dalam jerigen. Meninggalkan sedikit untuk dibangun sarang baru oleh binatang-binatang pintar yang rajin itu.
***
Dari jauh, dia sudah melihat gadis itu resah menunggunya. Dia pun memperligat langkah menerabas ilalang dan riburibu. Sapi-sapi berperut gendut tampak masih asyik merumput. Sudah petang. Matahari membuat bayang-bayang bergolek memanjang.
Tali terompanya yang sebelah kiri putus lagi. Telapak kakinya langsung ditancapi tunas ilalang yang runcing. Dia berjalan terpincang-pincang mendekati gadis itu yang duduk di batu hitam dekat rumpun sikaduduak.
Gadis itu menyambutnya panik. Mulutnya komat-kamit diikuti suara sengau dan tangan yang bergerak-gerak.
"Ah, tidak apa-apa. Hanya ranjau lalang."
Dia duduk berjongkok selangkah dari gadis penggembala itu. Meletakkan jerigen berisi madu yang telah ditutupi dengan daun-daun. Membuka topi dan berkipas-kipas sejenak, kemudian menyambung tali terompa. Gadis itu melongokkan kepala menyelidiki apa yang ada di dalam jerigen itu.
"Manisan lebah." Beritahunya sambil melepaskan ikatan botol minuman dari pinggang. "Mau kau?"
Gadis itu tak menyahut. Dan dia tahu apa arti diam. Dipetiknya sehelai daun sikaduduak, meniup-niupnya, membentuknya jadi cerucut, lalu menyauk sedikit madu dari dalam jerigen. Gadis itu menerimanya dengan malu-malu. Kemudian meminum dengan lahap. Menjilat sisa-sisa di daun.
Dia lalu memperlihatkan anyaman daun pandan berduri yang tadi disurukkannya di samping badan.
"Wah, kau membuat apa?"
Wajah belasan tahun yang penuh keringat itu tersipu. Gigi kuningnya menyembul dari celah dua bibirnya yang menghitam karena terlalu sering berpanas-panas. Rambut merah pirang jatuh membingkai wajahnya serupa tirai dari topi kekecilan di kepalanya. Dia baru tumbuh.
"Kau membuat sebuah tas?"
Tangan yang berkuku kehitaman itu menunjuk botol plastik yang dipegang laki-laki itu.
"Kau mau minum."
Gadis itu menggeleng dan menggerakkan tangan mengisyaratkan botol itu masuk ke dalam tas anyaman.
"O, untuk peletak ini?" Laki-laki itu mengangguk-angguk. "Bagus sekali! Bagaimana kabar sapi betinamu yang sedang berisi itu? Apakah ia sudah melahirkan?"
Rona riang menyeruak di wajah si gadis. Kedua tangannya kembali terangkat. Menggambar sesuatu di udara. Ternyata ketiak blusnya robek.
"Anaknya gemuk?! Hahaha! Hebat! Hebat!"
Mereka tertawa. Memandangi sapi-sapi yang merumput di padang lapang. Menunjuk-nunjuk bukit, gunung, lembah, dan persawahan di bawah. Mereka tergelak-gelak. Menertawakan sapi bujang berbulu merah yang melompat ke punggung sapi lain belajar kawin. Menertawakan seekor anak sapi yang melenguh-lenguh tertinggal dari induknya.
Laki-laki itu membagi sepotong sarang lebah kepada si gadis. Mencelupkannya pada madu. Rasanya manis-manis tawar.
Mereka terus tertawa-tawa dalam kebersamaan yang ganjil.
Sejak dua bulan lalu. Sejak laki-laki itu tanpa sengaja menemukan si gadis tengah meraung tanpa suara seorang diri di tengah padang di antara sapi-sapinya ketika dia dalam perjalanan mencari sarang lebah. Gadis itu dipatuk ular semak. Dia menolongnya. Gadis itu tak bisa bicara. Dari bincang-bincang di pasar pekan, dia mengetahui bahwa gadis itu anak seorang janda yang tinggal di ladang terpencil di lereng bukit. Suami si janda telah kawin dengan perempuan muda di kampung lain.
Lalu petang pun matang dan burung-burung pun pulang.
Laki-laki itu menyuruh si gadis menghabiskan air di botolnya. Kemudian mengisi botol yang sudah kosong itu dengan madu lebah.
"Bawalah sapi-sapimu pulang." suruhnya.
Si gadis memanggil sapi-sapinya yang memang sudah kenyang dan rindu kandang dengan suara merepet.
"Bawalah ini pulang. Kalau ibumu bertanya, katakan itu sedekah dari seorang pencari madu yang bersyukur karena Allah masih melimpahkannya rahmat." Disodorkannya botol plastik berisi madu murni itu kepada si gadis. "Usah kau bersedih mengingat ayahmu yang pergi. Anggap saja aku gantinya."
Gadis itu menerima botol plastik berisi madu penuh. Mengangguk kuat-kuat sehingga air matanya terloncat. Cepat-cepat dia menggosok mata dengan tangan.
"Pulanglah." Laki-laki itu mengusap pipi gadis itu. Sesaat. Matanya pun berlinang.
Si gadis menyerahkan tas anyamannya dengan ragu-ragu, kemudian berbalik. Melangkah dengan tersaruk-saruk menerabas ilalang dan riburibu.
"Hati-hati, Nak!"
Sosok itu berjalan menuruni lereng dengan sapi-sapinya yang patuh. Sesekali dia menoleh ke belakang melayangkan tatapan sendu.
Laki-laki itu merasa dadanya begitu sesak seperti akan meledak membuatnya ingin berteriak. Akan disimpannya tas itu di suatu tempat. Setelah gadis penggembala itu makin kecil di ujung padang ilalang, diangkatnya jerigen berisi madu, menyandang ke punggung, lantas melangkah ke arah yang berlawanan dengan arah kepergian si gadis.
***
"Aku tahu. Kau mendatangi perempuan janda itu lagi. Aku dapat mencium bau tubuhnya pada tubuhmu. Kau sampai ketinggalan botol air minummu."
Tidak. Kau tidak tahu. Aku hanya memberi anaknya sebotol madu.
"Aku tahu. Aku memang perempuan buruk. Hitam kelat. Tak bisa lagi memberimu anak gara-gara bidan celaka itu merusak perutku." Perempuan itu menunduk. Setetes air mata jatuh membasahi sebutir rimah dekat tulang ikan bakok yang terserak di atas tikar pandan yang didudukinya. "Tapi aku bersyukur. Kau pulang selamat. Tubuhmu tak patah-patah karena jatuh dari lereng." Dia beranjak masuk ke dalam bilik. Sedunya menggugu keluar lewat kain pintu yang tampak sangat kusam oleh malam.
Laki-laki itu termenung. Bayangan tubuhnya bergoyang-goyang di dinding disebabkan api lampu togok yang dibuat dari kaleng susu yang diberi kain sebagai sumbu dihembus-hembus angin kocak dari celah anyaman bambu. Disulutnya rokok daun nipah yang baru selesai digulungnya. Asap putih dari rokoknya meliuk menjangkau atap bersaing dengan asap hitam lampu togok.
Dia seolah merasakan kulit hangat di ujung-ujung jarinya. Kulit pipi si gadis bisu penggembala sapi itu.
Kembali dia menghela napas dalam-dalam, seolah akan menghirup seluruh dunia dan malam. Dia tahu, dia telah melukai perasaan istrinya. Dia telah pergi ke lereng, walau tak melakukan perbuatan seperti yang dibayangkannya.
Dia hanya ingin bertemu gadis buruk berbau busuk di padang ilalang.
Dia hanya ingin bertemu dengan seseorang yang dia bayangkan anak gadisnya yang mati sembilan tahun lalu diseruduk babi luka. Memberinya madu yang diambil tangan seorang ayah dari dahan surian di lereng jurang. Dia bersedia mati bila perlu. Dia ingin menebus kelengahannya yang tak akan dapat dia maafkan sampai kapan pun. Meninggalkan gadis kecilnya di pondok ladang ketika hendak menutup perigi kecil di dekat banda agar tak dikotori anjing pemburu.
Hanya itu.
Pelan-pelan dia bangkit berdiri, turun ke dapur. Membenamkan ujung rokok ke abu tungku. Berwudu dengan air hujan yang ditampung di drum. Salat isya. Berdoa terbata-bata. Lalu masuk ke bilik setelah memadamkan lampu togok.***
Ilalangsenja|Padang, Maret 2007
Dimuat di Riau Pos 10/ 06/2007
Mukamu yang kuyu sedikit bersinar ketika kau menyungkupkan selendang putih itu ke kepalamu. Kau merasa canggung dan sedih. Kain rajutan warna tapai yang kau beli di sebuah pameran itu mengingatkanmu pada sebuah peristiwa enam tahun silam, ketika kau duduk bersamanya di atas tilam tipis di ruang tamu sebuah rumah asing tanpa dikerumuni sanak-keluarga, karib-kerabat dan para tetangga. Suara yang serak itu terngiang di telingamu, ?Saya terima nikahnya Aurani Hanima binti Hasan dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang delapan puluh empat ribu rupiah tunai.?
Hampir tersedak kau oleh kesedihan tapi segera kau tutupi mulut dengan jari-jari tanganmu yang putih lentik. Kau terima berkas-berkas yang disodorkan panitia yang tampan itu sambil menjatuhkan basa-basi; tentang jumlah peserta yang terus membludak, tentang trainer yang datang, tentang foto-foto, tentang kegiatan alumni.
Panitia itu menghadiahimu jawaban dengan suaranya yang renyah menyenangkan. Pakaiannya hitam-hitam seperti orang berkabung dalam film-film. Ini kali keempat kau ikut acara itu. Pergi setelah minta izin kepada bos showroom tempatmu bekerja. Selendang putih itu telah kau persiapkan dari rumah. Cukup serasi dengan pakaian kerjamu yang panjang.
?Hai, Rani! Ikut lagi?? Seorang perempuan berkerudung indah menyambutmu di balik pintu. ?Kau semakin cantik saja.?
?Ah, Nora. Aku hanya butuh menangis agar hatiku lega. Bukankah airmata yang mengucur dengan kerelaan dapat menyembuhkan hati yang nestapa??
??????? ***
Seperti biasa, lampu-lampu di kanopi disesuaikan dengan ritme acara, kadang terang, kadang lindap, kadang nyaris gelap semata. Musik dari pengeras suara dengan sempurna berhasil mengombang-ambing perasaan.
Trainer itu menguraikan materi yang telah berulang-ulang kali kaudengar. Seperti khutbah yang indah. Sebenarnya, kau telah dapat menduga setiap apa yang akan disampaikan beserta musik pengiringnya. Namun, kau tetap mengikuti dengan berdebar seolah itu pengalaman pertama bagimu.
Suara tangis dan batuk membuat tengkukmu dingin. Kau menangkupkan muka pada kedua telapak tangan. Membayangkan makhluk kecil itu yang membuat dadamu seakan ditumbuhi berumpun-rumpun kaktus gurun yang subur. Membayangkan laki-laki itu. Membayangkan kedua orang tuamu yang jauh di kampung, yang tak pernah lagi kaudatangi. Kau teringat kerut merut di wajah mereka, belaian tangan hangat dan suara kasih-sayang yang nyinyir.
Kau teringat pada hari itu. Ayahmu yang mengenakan kemeja taluak balango coklat sepulang dari rumah kerabat yang hendak baralek menyalak begitu kau masuk ke dalam rumah.
?Dari mana kau??
?Dari tempat teman.?
?Dari tempat teman apa?! Jangan suka berdusta pada orang tua! Adikmu melihat kau pergi dengan anak kurang ajar itu!?
Kau mengumpat dalam hati, berjanji akan merobek mulut adikmu yang pengadu.
?Apa kau tak punya malu, hah?! Setiap hari pergi dengan laki-laki itu, apa kau mau jadi lonte??
Matamu? terbeliak. Hatimu sakit sekali atas sikap ayahmu yang terlalu cerewet. Kau yakin pergaulanmu tak seburuk teman-temanmu yang menyerahkan keperawanannya di penginapan murah dekat pasar atau semak-semak tempat wisata. Sejauh itu kau dan kekasihmu hanya duduk-duduk bercerita, bernyanyi-nyanyi, dan bercanda, makan atau sekedar jalan-jalan. Kau tak sekotor itu meski memang sering pulang terlambat.
?Iya? Mau jadi lonte kau, hah?!?
Kau terluka. Kautentang mata ayahmu dengan muak. ?Iya! Terus kenapa??
Ayahmu yang tua melayangkan tangan besarnya menampar mukamu sehingga mulutmu berdarah. Mungkin ada gigimu yang patah. Kau berlari ke kamar. Tak mau lagi menyapa ayahmu sampai berminggu-minggu kemudian. Kau merasa dituduh dan tak dipercayai. Diam-diam, kau menyiapkan pemberontakan.
Hingga petaka itu terjadi. Kau sama sekali tak ingin mempercayainya. Tubuh kekasihmu memasuki tubuhmu. Dengan segala ketakutan, kau meradang padanya. Menghantamkan segala benda yang terjangkau oleh tanganmu ke tubuhnya. Kau memang marah pada ayahmu, tetapi bukan perlawanan seperti itu yang ingin kau lakukan. Berminggu-minggu kemudian, ketika daging di dalam perutmu mulai lincah menunjukkan kehadirannya, kau dan kekasihmu lari ke kota. Meminta pertolongan seorang keluargamu untuk menjadi wali.
??????? ***
Temanmu Nora merangkulmu. Wanita eksekutif itu tampak sangat cengeng dengan air mata sepenuh muka. Ingusnya berleleran. Dia seorang pegawai di kantor cabang sebuah bank swasta. Sehari-hari anggun dan berkharisma. Kau seangkatan dengannya. Pertama kali ikut, kau disponsori tempat kerja.
Kalian berpelukan, seperti yang diinstruksikan trainer di depan. Saling menghapus air mata dengan tisu yang telah disediakan. Juga ingus di hidung yang meleleh. Tak lupa, serentet nasehat bijak dibisikkan.
?Kita harus berbakti pada kedua orang tua, setelah pada suami.?
Di ruangan yang redup itu hanya terdengar suara senggukan yang sesekali diselingi lengking istighfar dan ratapan yang seperti tak akan habis-habis. Musik instrumen bergaung mengiris-iris hati yang menangis.
Kemudian lampu dinyalakan. Coffee break.
Kau berjalan ke luar. Mendapati ruang makan yang terang. Rasanya baru terbangun dari mimpi sedih di penampungan korban bencana alam. Kau pergi ke toilet. Memencet-mencet hidung. Di cermin petak yang lebar kau lihat mukamu begitu kuyu.
Kau belum sedikit pun menangis.
??????? ***
Kau melolong dan nyaris melemparkan sosok mungil itu. Seorang perawat mengamankannya. Kau pukul dada kekasihmu yang telah menjadi suamimu dan ayah anakmu. Kau merasa sangat benci dan ingin mati.
Puting susumu pun seperti tak sudi dihisap mulutnya. Setiap mulut itu menyedot, tak setetes pun air susu yang keluar. Suamimu berulang kali memintamu untuk mencoba iklas. Memintamu memberi kasih sayang.
?Jangan paksa aku menyusuinya, atau kucekik dia sampai mati!? Kau selalu berteriak sambil terisak. Laki-laki itu akan menggendong si bayi menjauh dan memasukkan kompeng ke dalam mulutnya.
Beberapa kali suamimu memohon sehingga hatimu sedikit melunak dan tanganmu membawa tubuh yang berasal dari tubuhmu itu ke atas perut. Menaikkan bajumu dan menyembulkan sebelah payudaramu. Dengan riang mulut itu menghisap, tetapi tak ada sesuatu pun yang mengalir dari sana.
Kau ingin membunuhnya. Membunuh dirimu sendiri. Menangis. Ingin tak menangis. Berhenti menangis. Ingin bisa menangis. Kau merasa benci pada ayahmu yang menuduh terlalu jauh. Pada adikmu yang suka mencampuri urusan orang lain. Pada teman-temanmu yang gampang saja menyerahkan kehormatan sehingga kau terkena getahnya. Pada laki-laki itu yang telah mengawinimu melalui kecelakaan yang tak kau harapkan. Pada bayi itu...
Kepalanya besar seperti bola. Muka pucat ?kaku seperti boneka.
?Butuh tisu?? Seorang perempuan yang kaukenali sebagai salah seorang peserta pelatihan menyodorkan sehelai tisu padamu. ?Susah sekali untuk tak menangis, ya?? ucapnya dengan suara tercekat.
Cepat-cepat kau ambil tisu itu dan mengusapkannya ke bawah kelopak matamu sebelum perempuan itu berkomentar karena kau tak menangis. ?Terima kasih. Andai air mata dapat menebus segala dosa-dosa...?
?Ya, andai momen seperti ini tak hanya dalam acara begini saja. Aku sering mencoba melakukan kontemplasi sendiri, tetapi tak sedasyat ini. Hanya dalam acara begini aku bisa lepas, introspeksi diri secara total.?
?Apakah kau dapat mengakui kesalahanmu??
Perempuan itu mengangguk, menekurkan kepalanya di atas westafel. Memeras ingus di hidungnya. ?Kau percaya efek domino?? Perempuan itu mengalirkan air hangat dari kran. ?Suatu hari aku tak mengindahkan larangan ibuku. Meski hujan lebat, aku pergi juga ke rumah temanku. Kami berencana akan pergi berkemah ke Danau Di Atas. Teman-teman sudah menunggu. Mereka sempat ragu melihat cuaca yang kurang bersahabat. Mereka memutuskan, kalau aku tak datang berarti rencana batal. Ternyata aku datang dan kami berangkat dengan sedikit cemas yang kami tutupi dengan gelak canda. Di Lubuk Selasih, mobil tergelincir. Dua temanku meninggal. Dua teman yang lain sampai hari ini masih menyesali keberangkatan itu dan merasa diteror. Mereka yakin bahwa arwah Eva dan Lusi tidak senang karena kami tak ikut mati seperti janji persahabatan. Rike tahun lalu kecelakaan setelah melihat ada seseorang mirip Eva melintas di tengah jalan. Nina batal jadi pramugari, dan aku...?
Kau menatap cermin, menemukan seorang gadis sembilan belas tahun yang terluka dengan air mata berlinang putus asa.
?Andai aku tak jadi datang, tentu Cleogirls sudah mengeluarkan album sekarang.? Perempuan itu melanjutkan acara menangisnya sementara kau masuk ke sebuah bilik dan memuntahkan isi perut ke dalam kloset.
?Menangislah! Menangislah! Menangislah!? Kau terduduk merasakan pandangan matamu menghitam. ?Bajingan!? Oh, kesedihan, bunuhlah aku sekalian!
?Bila kau memang tak menginginkannya, seharusnya kau biarkan aku merawatnya!? Laki-laki itu menggendong si Boneka Berkepala Besar. ?Jangankan air susu, air mata pun kau tak punya untuk penderitaannya!? Laki-laki itu melangkahi pintu pagi dengan bayi mengerikan itu di gendongan.
Kau menatap kosong. Pergilah! Pergilah dari hidupku, pergilah dari kematianku. Puluhan menit kau terdiam di kursi makan menatap pintu yang masih menganga. Teringat malam ketika tangan ayahmu mendarat di mukamu. Teringat percintaan di pondok tempat wisata. Teringat pernikahan di rumah asing. Teringat bangsal bidan yang mempertemukanmu dengan bayi sialan itu. Mimpi-mimpimu telah hancur;? Kuliah di perguruan tinggi, menjadi pegawai negri sambil berbisnis makanan siap saji, menaikhajikan ayah dan ibumu, memiliki sebuah keluarga kecil dengan rumah mungil penuh bunga-bunga tapak dara...
Dia telah pergi dan tak pernah kembali.
Satu jam berikutnya kau menangis, sampai siang, sampai sore, sampai malam.
Lalu berjanji tak akan pernah menangis lagi. Di tempat kerja kau menjadi pegawai kesayangan bosmu. Tapi hidup sendiri, tanpa cinta dan air mata sangat menyakitkan. Kau butuh menangis meski mati-matian memungkirinya.
??????? ***
Tubuhmu terguncang-guncang. Lampu utama telah dipadamkan.
?Aku tak bisa menangis!? rintihmu.
?Kau menangis, Rani. Air matamu banyak. Matamu bengkak karena tak berhenti menangis sejak tadi.?
?Aku belum sedikit pun menangis. Sumpah!?
?Kau tak perlu malu mengakuinya.?
?Tak ada air mata di mukaku. Percayalah, aku selalu memperhatikannya di cermin kamar mandi. Mataku kering. Aku tak menangis sedikit pun. Aku tak menangis.? Kau mengucapkan itu dengan tangan menegang.
Tangan Nora mengelus bahumu. ?Lepaskan saja, Rani. Kita ke sini memang untuk menangis, bukan?? Tangannya beralih mengusap matamu dengan ujung selendangnya. Tisu yang tadi diberikan panitia sudah lecek.
Kembali, di ruangan yang redup itu hanya terdengar suara senggukan yang sesekali diselingi lengking istighfar dan ratapan yang seperti tak akan habis-habis. Musik instrumen bergaung mengiris-iris hati yang menangis.
Tanganmu yang kaku mencengkram punggung pasanganmu. ?Aku meninggalkan orang tuaku, kawin lari dengan pacar yang menghamiliku, dan menutupkan bantal ke wajah bayiku yang cacat sehingga dia mati.? Kau berkata terbata-bata.
Kemudian lampu menyala.***
Ilalangsenja | Padang,? 2006-2007
Dimuat di Media Indonesia 21/01/2007
KAU menemukannya hari Jumat pagi pukul delapan. Diam. Matanya sedih memandang. Bibirnya yang pucat, terkuak sedikit seperti ingin mengatakan sesuatu. Kau menangis. Tubuhnya yang dingin berselimut kain batik kauguncang-guncang. Air matamu jatuh ke mukanya. Tapi dia tetap tak bersuara.Hanya matanya yang terbuka, seperti sedang bicara.
***
Kau membanting pintu taksi dan berlari ke gerbang yang sudah tertutup pagarnya. Dia mengejarmu setelah melemparkan uang ke tangan si sopir yang belum sempat menuntaskan umpatan karena kalian begitu ribut selama perjalanan. Dia mencekal tanganmu. Kau menepisnya dengan kasar lalu membuka pintu pagar.
"Dengarkan aku dulu, Fem!" Serunya berkali-kali.
Hatimu sakit, lebih-lebih karena malam itu dia belum juga memberikan sebuah jawaban yang kauharapkan. Kau merasa dipermainkan oleh dia yang sungguh-sungguh ingin kaucintai. Tetapi apa yang kaudapat? Hanya seringai tipis di bibir bengkok yang membuat kerongkonganmu seperti ditumbuhi duri-duri yang gatal menyakitkan.
Kau benar-benar ingin menangis. Sore sebelum kalian berangkat ke kafe, di depan cermin dandan di kamar, kau telah meyakinkan diri akan melakukan tindakan paling nekat sekali pun untuk menggerakkan lidahnya mengucapkan apa yang ingin kaudengar.
"Kalau kau inginkan keikhlasan tubuhku, akan kurelakan tanpa sedu-sedan." Begitu tekadmu sambil menyamarkan kerutan-kerutan di bawah mata. Sengaja kau tampil secantik mungkin mengingat November sudah akan berakhir; itu artinya tahun baru tinggal sebulan lagi dan kau dengan memalukan akan menjadi nona tua tiga puluh lima tahun.
Di mana letak kejelekanmu sehingga tak kunjung ada seorang laki-laki yang benar-benar bertambat? Mereka hanya sekadar mampir sebagai teman dekat. Kencan yang hanya menyia-nyiakan waktu dan hasrat. Apa kekuranganmu? Ibumu bilang kau cantik sekali. Begitu pula kata bapak dan adik-adikmu yang semuanya sudah menikah.
Mereka mafhum benar perjuanganmu, diet keras yang membuatmu nyaris berkamar di dalam tanah; ikut senam aerobik, lulur di spa dan mandi sauna, kau juga masih menggunakan krim yang disarankan temanmu untuk memperbesar dan memperkencang payudara agar mata para lelaki terjerat lekat ke tubuhmu. Kau juga rajin merawat organ kewanitaanmu dengan terapi air daun sirih. Tetapi tak juga ada laki-laki yang datang menemui orang tuamu untuk meminang.
Sanak saudara curiga ada orang jahat yang mengguna-gunaimu sehingga kau terhalang jodoh. Kau pun dimandikan dengan air bunga rampai di depan rumah. Tujuh tahun yang lalu. Tetapi tetap saja nihil. Kau masih sendirian. Kadang kewalahan menahan rasa frustrasi yang menyeretmu ke ruang makan untuk melampiaskan segala nelangsa dengan memakan semua yang kausuka. Akibatnya kau pun jadi pontang-panting diet lagi. Dan hampir setiap pagi keluargamu akan menemukanmu bangun dengan mata sembab bekas menangis.
Dan kau menemukannya satu setengah tahun lalu. Laki-laki pemurung yang sering kehilangan kata-kata. Tetapi dia sopan, dengan tatapan mata yang baik seperti balita tanpa tabungan dosa.
***
"Jadi, apa lagi yang harus ditunggu?" Desakmu di kafe kemarin malam. Sudah satu jam kalian duduk dengan perbincangan yang berputar-putar. "Kau punya pekerjaan yang mapan. Aku juga. Usia kita juga sudah matang. Keluargaku mendukung. Aku sudah siap lahir batin. Apalagi yang ditunggu?"
"Beri aku waktu." Laki-laki itu tampak resah. Butiran-butiran keringat memercik di keningnya. Ingin sekali kau mengulurkan tangan untuk menyekanya dengan saputangan, tapi dadamu sudah terlanjur gerah. Hidangan di depan kalian tinggal dingin habis diaduk-aduk.
"Ini kali keempat kau mengundurnya."
"Aku belum siap."
"Belum siap? Belum siap apa, Sayang? Kau hanya perlu datang ke rumahku, meminta pada kedua orang tuaku. Lalu kita memanggil penghulu, akad nikah, syukuran kalau memang kau tak suka keramaian. Tidak susah bukan? Kau tak perlu menyiapkan uang satu miliar untuk menemui orang tuaku."
"Bukan begitu. Aku hanya cemas." Laki-laki itu kembali mengalihkan pandang. Matanya tampak gelisah. "Ah, kau belum akan mengerti."
Kautatap mukanya yang lembut itu dengan kesal. Sebab apalagi yang memberatkannya membuat keputusan kalau bukan keraguan? Kau merasa dipermainkan, dipojokkan karena posisimu yang lemah sebagai pihak yang berharap.
"Kau malu karena aku lebih tua darimu?" Kaucetuskan pertanyaan itu untuk kesekian puluh kalinya. "Kau malu nanti ditertawakan orang karena menyunting perawan tua?"
"Bukan. Bukan itu. Kumohon sabarlah. Beri aku waktu untuk menenangkan diriku." Tangannya dengan gugup meraih tanganmu. Tangan itu keras dan dingin. "Apakah aku sudah menceritakan masa kecilku padamu?"
Kau merengut. Padanya kau pernah mengaku bahwa kau tak peduli pada masa lalu, yang kaubutuhkan adalah masa depan.
"Kita belum benar-benar saling memahami. Terlebih, kau belum benar-benar tahu siapa aku."
"Apakah kau bekas tahanan atau mantan pembunuh bayaran bagiku persetan. Kita dapat lebih mendekatkan diri setelah pernikahan, bukan? Itu kalau kau benar-benar serius."
"Tentu saja aku serius, tapi tak semudah itu. Kau belum benar-benar mengenalku. Aku tak ingin kau menyesal nanti."
"Mengenal bagaimana lagi? Sudah hampir dua tahun kita berhubungan. Masih belum cukup?"
"Coba lihat mataku."
Tapi kau sudah kehabisan kesabaran. Kau bosan mengalami adegan yang berulang-ulang. Kausambar tas kecilmu. Berdiri meninggalkan meja dengan marah. ?Apakah aku harus melihatmu telanjang dulu dan kau pun melihatku telanjang, baru perkenalan itu cukup??
Kau berlari keluar.
Di meja, tangannya yang kejang telah meremas gelas hingga pecah. Dia pun kemudian berlari menyusulmu.
***
"Baiklah, mungkin sebaiknya kita berpisah." Kau menghentikan langkah di depan rumah. Hujan bulan November malam itu tak turun. Keluargamu sudah tidur. Hanya lampu teras yang masih menyala. Taksi kuning dengan AC rusak itu telah melaju mencari penumpang baru. ?Aku tak akan mati bila tak kaunikahi!? Kau meradang kehilangan romantisme. Egomu sebagai perempuan membuatmu melontarkan makian yang sesungguhnya sangat bertentangan dengan hati nuranimu.
Dia tertegun beberapa saat lalu merentangkan tangan hendak merangkulmu. Kau buru-buru mengambil jarak.
"Menjadi perawan tua memang sakit, tetapi menjadi pengemis jauh lebih sakit!"
"Aku berjanji akan menikahimu!"
"Sejak setahun lalu kauucapkan itu tanpa bukti!"
"Aku belum..."
"Belum mau sebelum mengenalku luar dalam? Kawinlah dengan pelacur!" Kau memang telah berniat menyerahkan dirimu bulat-bulat padanya kalau itu yang dia jadikan syarat. Tetapi kegeramanmu akibat sikap tak konsistennya membuatmu memilih seteru. Rasanya tak berguna kau punya pasangan yang plin-plan.
Dia berdiri kaku di depanmu. Giginya bergemeletuk tetapi kau tak mendengar. Di balik dadanya yang ingin kaujadikan tempat menyandarkan kepala itu, hatinya menggelegak marah karena merasa terhina.
"Aku memang lebih muda tiga tahun darimu, tapi jangan kaukira aku tak punya komitmen! Sekali aku berkata iya, tak akan pernah kuganti tidak."
"Lalu apa yang telah kaujanjikan empat kali itu?"
"Aku tak pernah membatalkannya, bukan? Aku hanya minta ditunda. Tak bisakah kau mengerti agak sedikit?"
"Pengertian apalagi yang harus kuberikan? Kalau kau memang tak sudi, ya, kita akhiri saja. Aku bisa mencari laki-laki lain yang bisa dipegang kata-katanya, dan kau bisa mencari perempuan lain yang bisa kabar menunggu janji-janjimu!"
"Fem!"
"Menyesal aku telah membuang-buang waktuku dengan seorang pembual yang pengecut!"
"Jaga mulutmu! Kau menyinggung perasaanku!"
"Oh ya? Apakah kau tidak sekalipun menyakiti perasaanku?!"
"Sudah! Sudah! Cukup! Aku tak ingin bertengkar."
"Oh ya? Berarti kau memang belum mengenalku!"
"Sebaiknya aku pamit dulu. Mari kita tenangkan diri masing-masing." Dia menarik napas dan mengusap mukanya.
Kau melemparkan sebuah cibiran buruk. "Pergilah! Tak usah ke sini lagi. Aku sudah bosan melihatmu. Kau bukan laki-laki. Potong saja kemaluanmu!"
Dia tersengat mendengar ucapanmu yang kasar itu. Telinganya panas. Tak menyangka perkataan itu bisa keluar dari mulutmu. Kau sendiri juga terkejut dan merasa sangat menyesal dengan kata-kata yang terlanjur lepas itu. Belum sempat kau menarik ucapanmu, tiba-tiba tangannya telah mencekal lehermu membuat napasmu seperti akan putus. Kau ingin menjerit tetapi cengkeramannya begitu kuat. Rahangmu terasa perih. Tanganmu berusaha melepaskan tangannya, tetapi tenagamu sangat tidak sebanding dengan kekuatannya.
"Kau telah memancing kemarahan yang mati-matian kuredam!" Napasnya bergemuruh. Hidungnya mendengus-dengus seperti banteng siap menanduk. "Kenapa perempuan pandainya hanya membuat laki-laki jadi binatang?! Kukira kau seorang perempuan yang lembut dan sopan!"
Tanganmu mencakar dadanya. ?Cuuh...!?
Wajahnya semakin mengeras melihat air ludahmu yang menyembur. Tangannya berayun.
Plaak! Plaak!
Tubuhmu luruh begitu saja ke tanah. Seperti tak punya tulang. Kau merasa jantungmu lepas. Baru sekali itu kau ditampar.
Dia tertegun. Napasnya tetap juga bergemuruh. "Kau... Kau membuatku marah...."
Kakinya tampak olehmu bergetar. Kau merasa tak mengenalnya sama sekali. Lalu kesedihan paling dingin mulai mencucuk hatimu. Kau berdiri. Sekilas menjenguk matanya, memastikan apakah dia memang kekasih plin-plan-mu yang selalu menunda-nunda hari pernikahan. Dia memandangmu dengan tatapan seorang kanak-kanak yang bersalah.
Asing.
Tanganmu menyentuh darah yang meleleh dari sudut bibirmu. Tubuhmu menggigil dan air matamu berloncatan.
***
"Maafkan aku, Fem. Aku sungguh ingin segera menikahimu. Hanya saja aku cemas akan seperti bapakku. Selalu memperlakukan istrinya dengan tangan yang keras." Itu yang ingin dia ucapkan padamu malam itu, tetapi kau telah berlari masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Pagi ini kau menemukannya telah diam dengan mata seolah sedang bicara. Dia jatuh dari menara air, itu yang kaudengar dari para tetangga.***
Ilalangsenja, Padang, November 2006
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)




