Seekor Anjing yang Menangis

Minggu, 15 November 2009 by: Forum Lingkar Pena

Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Media Indonesia 09/09/2007



LELAKI peladang itu membuka pintu rumah dengan kasar dan memukul anjing betinanya yang berkurap itu dengan kayu. Anjing malang itu lari ke arah kebun sambil melolong-lolong memilukan.

Malam tampak gelap tak terjangkau cahaya lampu minyak. Laki-laki itu berdiri beberapa lama di ambang pintu melontarkan segala macam makian yang bersarang di perutnya. Matanya melotot nyalang ke kegelapan. Kedua anaknya yang bertubuh kurus mengintip dari celah dinding bilik, ketakutan. Lalu, setelah puas mengumpat, ia kembali masuk ke rumah sambil membanting pintu yang terbuat dari bilah-bilah papan dan bertempel stiker 'Keluarga Miskin' berwarna merah mencolok.

"Anjing kurap! Memekak saja kerja kau, tak tahu kepalaku pusing!" Ia duduk di bangku kayu yang sudah berulang kali diperbaiki kakinya. Ketika ia melihat kepala anaknya yang menyembul dari balik kain pintu bilik, suaranya kembali menggelegar seperti akan meruntuhkan rumah. "Mana ibu kalian, hah?!"

Anak perempuannya yang berusia sebelas tahun dengan takut-takut menyahut. "Ibu belum pulang, Pak."

"Mau mencari laki lagi dia, heh?! Tak tahu kalau aku belum makan dari pagi?!" Tangan besarnya yang kasar akibat berkuli dari ladang ke ladang menghantam satu-satunya meja di ruangan berlantai tanah itu. Ia kembali menyalak kepada anak perempuannya. "Sudah sebesar ini, masih tak bisa juga kau meletakkan nasi, heh? Tak pernah kau diajari ibumu?"

"Nasi tak ada, Pak. Beras sudah habis."

"Anjing! Apa saja kerjanya?!" Dia berjalan ke lemari reyot di sudut ruang, membukanya, membanting mangkuk dan piring. Ia pergi ke dapur. Menendang periuk sambil bercarut-marut.

Rumah buruk itu kemudian menjadi sunyi setelah laki-laki itu pergi ke luar menuju kedai simpang, tempat para laki-laki berkumpul dari berbagai penjuru kampung.

Kedua anaknya duduk terdiam dengan pikiran masing-masing. Anaknya yang kecil, laki-laki sekitar delapan tahun, berkata lirih, "Ta, aku lapar sekali. Kenapa Ibu belum juga pulang sejak kemarin?"

Anaknya yang perempuan memandang lemah pada adiknya. "Aku tak tahu. Mungkin Ibu pergi pinjam uang."

"Tapi Ibu tidak pulang, dan perutku pedih sekali."

"Aku juga lapar."

Dari luar rumah terdengar bunyi samar-samar yang mendekat ke pintu.

"Ibu?" Si anak laki-laki bergegas ke pintu disusul kakaknya.

Ketika mereka membuka pintu, mereka hanya melihat anjing betina mereka yang berbulu belang yang tadi dipukul lelaki peladang. Anjing itu menggeram-geram dengan suara halus sedih. Ia seperti menangis.

****

Anjing itu memang bersedih.

Ia seekor anjing yang sangat setia. Setiap hari, ia suka sekali mengiringi setiap anggota keluarga itu pergi ke ladang, ke sungai, atau ke mana pun meninggalkan rumah. Kadang ia mengantar jauh sampai ke jalan raya kecamatan dan akan pulang bila sudah dihardik atau dilempari. Sering pula ia dipukuli dengan sapu bila bandel masuk ke rumah, tetapi ia tetap betah tinggal di rumah itu. Ia diberi nama Balang karena bulunya putih-hitam.

"Ta, si Balang lapar." Kata anak laki-laki lelaki peladang.

"Dengan apa akan kita kasih makan? Kita juga kelaparan."

Anjing itu mengunjurkan kaki depannya di pintu. Matanya menatap kedua anak lelaki peladang. Ia merintih-rintih. Sesekali kepalanya berkedut dan ia menggoyangkan ekornya.

"Bapak belum dapat upah dan Ibu sejak kemarin belum pulang. Kami juga belum makan." Kata anak laki-laki itu mengusap-usap kepala si anjing.

"Kau tahu ke mana Ibu pergi, Balang?" tanya si anak perempuan.

Anjing itu menggerakkan kepalanya. Telinganya tegak. Ia lalu berdiri dan melompat sambil menyalak-nyalak. Ia menggeram-geram lagi.

"Kau tahu di mana Ibu sekarang?" Si anak laki-laki mengikuti anjing betina itu ke halaman. Kakaknya menutup pintu dan mengganjalnya dari luar dengan kayu. Anak perempuan itu berlari menghampiri adiknya dan dengan penuh harapan mengikuti anjing mereka. Anjing itu membawa mereka berjalan di jalan setapak yang di kiri-kanannya penuh semak ilalang. Mata mereka sudah terbiasa membaca ruang tanpa penerang. Sesekali kedua anak itu mengaduh karena kaki mereka yang telanjang menginjak tunas ilalang. Di langit hanya ada bintang-bintang. Di kejauhan tampak malam berpendar oleh nyala lampu listrik di sepanjang jalan. Jantung kedua anak lelaki peladang berdegupan. Mereka merasa beruntung mempunyai anjing patuh itu dan sedikit menyesal karena tidak sejak malam kemarin memerhatikan kelakuan si anjing yang berbeda dari biasanya.

Mereka terus berjalan mendaki menurun hingga sampai ke jalan raya kecamatan. Anjing itu meringis. Ia belok ke kiri, menyalak-nyalak ke arah sebuah rumah megah di pinggang bukit yang bekerlap-kerlip.

"Itu rumah Pak Wali!" seru si anak laki-laki.

"Tak mungkin Ibu ke sana! Satpam-satpam di situ akan mengusirnya!"

Anjing itu mengaing-ngaing. Ia menggaruk-garukkan kakinya ke jalan, menggonggong-gonggong.

Di lembah yang jauh di bawah, tampak kota bekerjapan indah.

***

Sebenarnya, anjing betina yang berkurap di sekitar punggung dan pantatnya itu ingin bercerita kepada si lelaki peladang dan kedua anaknya. Tetapi ia tidak mampu karena mereka tidak memahami bahasanya. Maka, baiklah, akan kuceritakan kepada kalian peristiwa yang disaksikan anjing betina kurapan itu:

Sudah hampir dua tahun rumah megah itu berdiri menghias pinggang bukit di utara kota. Rumah indah dengan taman luas yang terus dibenahi dari hari ke hari. Bangunan utama bergaya Eropa, dilengkapi pos keamanan bertingkat dua, sebuah musala yang elok, balai pertemuan, dan sebuah kolam renang. Ia didirikan dengan meratakan sebuah lereng yang sebelumnya penuh ilalang dan rumpun-rumpun perdu sikaduduak, tempat para penggembala melepas ternaknya untuk merumput. Rumah besar itu tampak bersinar. Seperti sebuah surga di tengah peladangan yang gersang oleh pembakaran hutan.

Ke rumah itulah istri si lelaki peladang pergi di rembang petang. Musim panas telah mengeringkan tanaman ladang sehingga panen tidak jadi. Persediaan dapurnya sebentar habis. Ia sudah terlalu banyak pula berutang ke kedai dan kepada tetangga-tetangganya. Maka ia pikir tak ada salahnya bila ia mencoba minta pertolongan kepada pemilik rumah bagus itu. Hitung-hitung orang itu termasuk tetangga juga meski ia adalah seorang pejabat yang barangkali tak sudi bertetangga dengan peladang yang melarat.

Dengan jantung berdebuk-debuk oleh rasa malu, penuh harap, sekaligus bimbang, digesernya pintu gerbang yang dicat dengan warna emas. Pagar itu dibentuk dari rangkaian batang-batang besi berujung runcing, di bawahnya terdapat roda untuk memudahkan geraknya.

"Ada perlu apa?" seorang satpam muda yang klimis dan gagah menyambutnya.

"Aku mau bertemu Bapak."

"Sudah membuat janji?"

"Janji? Aku ini tetangganya. Rumahku ada di balik sana. Oh ya, kau Fauzi, bukan? Anaknya Uni Rosidar yang menjual minyak tanah di simpang Kampuang Ambacang?"

Satpam muda yang baru tiga bulan bekerja itu merasa jengah dengan perkataan si perempuan yang tahu siapa orang tuanya. Wajahnya jadi merengut. Dari balik kaca pos terdengar teman piketnya berujar, "Suruh saja ia ngisi buku tamu. Kalau ia mau nunggu sampai besok pagi, biar saja!"

"Baik. Kalau memang mau bertemu Bapak, isi dulu buku tamu itu. Tapi Bapak tak bisa menerima sekarang. Ia sedang ada tamu. Besok saja datang pagi-pagi!"

"Biar kutunggu saja. Aku cuma sebentar, dan rumahku dekat dari sini." Istri lelaki peladang masuk dan duduk di bangku dekat pintu pos.

Satpam muda itu memerhatikan penampilan perempuan itu dari ujung telapak kaki hingga rambut kemerahannya yang diikat karet gelang bekas pembungkus ikan asin. Mukanya coreng-moreng. Blus dan roknya sudah pudar dan kumal. Di bahu atasnya yang sedikit tersingkap, tampak tali kutangnya berwarna hitam.

"Pak Wali tak bisa diganggu, ia sedang ada tamu!" Ulang si satpam klimis dengan jijik. Sebelum kedatangan perempuan itu, ia dan temannya sedang asyik menikmati rekaman video porno di dalam HP. Sungguh, perempuan di tayangan singkat itu amat berbeda dengan perempuan yang kini duduk sejangkauan tangan darinya. "Dan kalau kau memang mau menghadapnya, berkacalah sedikit. Bentukmu seperti orang mau ke parak begitu, berpakaianlah yang patut!"

"Aku ini warganya, dan memang beginilah aku. Aku orang miskin. Apa aku harus berlagak seperti ibu-ibu pejabat itu bila mau menemuinya?"

"Ya, tahu dirilah sedikit. Yang akan kautemui adalah orang besar, tentu kau harus lihat tempat. Kaukira ia lakimu yang mau menerimamu meski tiga hari tidak mandi? Hahaha!"

"Heh! Aku ingin bertemu dengan Pak Wali, bukan ingin mendengar ceramahmu, Botak!" istri lelaki peladang membentak.

"Apa kaubilang, Babi Buduk?!"

"Aku ingin bertemu dengan Pak Wali, persetan dengan kau!" Perempuan itu bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke depan gedung. Kedua satpam itu berteriak dan mengejarnya. Si klimis mencekal pergelangan tangan si perempuan.

"Ini rumah pejabat, tak bisa seenak perutmu!"

Perempuan itu memberontak ketika tubuhnya diseret ke pos. Kedua laki-laki muda itu memperlakukannya seperti sepotong batang pisang yang sudah ditebang dan ditebas tandan buahnya, siap dibuang ke semak-semak. Perempuan itu menjerit, tetapi teman si klimis segera membekap mulutnya. "Tingkahmu benar-benar menjengkelkan!" bentaknya pada perempuan itu. Setelah berhasil membawa perempuan itu ke pos, mereka mencoba membuat kesepakatan.

"Isi buku tamu itu bila kau memang ingin bertemu Bapak dan segera pulang. Besok kau boleh kemari lagi!"

"Anakku kelaparan. Aku ke sini mau minta tolong!"

"Apa kau tak bisa berutang beras agak seliter ke kedai? Apa kaupikir hanya kau saja manusia yang mesti diurus oleh Bapak?"

"Bapak pasti mau menerimaku, kalian saja yang sok! Dasar anjing penjilat!"

"Diam kau! Nanti kutembak!"

"Tembak? Ayo! Coba tembak kalau kau memang punya senjata!" Perempuan itu membusungkan dadanya yang kendur. Ia tampak seperti induk ayam yang terkena rabies.

Dengan geram satpam itu menepis tubuh si perempuan. "Sayang, kau perempuan, kalau tidak sudah kusumpal mulut baumu dengan tinju!"

Perempuan itu meradang. Dicakarnya lelaki berseragam putih hitam di depannya. Laki-laki itu berusaha melepaskan diri, kemudian menampar. Perempuan itu terjelepak, bangkit, merenggut celana lelaki itu, menggigit tangannya. Laki-laki itu menendang. Perempuan itu menggapai, mencakar, menumbuk, dan tahu-tahu sangkur tajam yang sebelumnya tergantung di sisi paha si satpam muda telah berada di tangannya. Dengan kesetanan dia menusukkan ke perut lawan. Si satpam tegap sigap menyergap dan bilah tajam bermata dua itu berkhianat pada pemilik tangan yang menggenggamnya. Sangkur itu menghunjam halus ke perut tipis si perempuan yang tak berdaya menolak seperti buah semangka baru dipetik dari ladang. Perempuan itu melenguh dan jatuh. Darah semerah tomat masak menyembur keluar tak terbendung oleh blus bermotif bunga-bunga kuning buatan pabrik konveksi dari Bukittinggi yang dipakainya.

Anjing betinanya yang dari tadi setia menunggu di dekat pagar melompat ke samping si perempuan. Ia mengaing-ngaing seperti ucapan syahadat yang terputus-putus.

Lindap magrib seperti menutupi kejadian itu. Kedua lelaki muda saling memandang. Beberapa jenak kemudian seperti Qabil yang dirundung kesumat, mereka mengangkut tubuh rusak si perempuan ke lubang besar dekat taman. Lubang itu rencananya akan dibuat kolam, tetapi istri pemilik rumah merasa kurang cocok lokasinya di dekat situ. Ia ingin digeser sepuluh meter ke dekat pohon pinang sinawa. Lubang itu belum sempat ditimbun, dalamnya ada sekitar dua meter.

Mereka memasukkan tubuh si perempuan dan bekerja keras menimbunnya. Ketika beberapa orang petugas rumah tangga datang bertanya, mereka bilang bahwa mereka ditugasi untuk menimbun lubang itu oleh Bapak.

Anjing si perempuan berusaha menggali dengan cakarnya. Kedua satpam berkali-kali mengusirnya. Ketika bentakan mereka tidak mempan, mereka pun menyambit anjing betina itu dengan batu. Anjing itu pun lari terkaing-kaing.

***

Kedua anak lelaki peladang berdiri ragu di depan gerbang. Mereka melihat dua orang penjaga sedang bercakap-cakap sambil merokok. Si anak perempuan memberanikan diri untuk mendekat ke gerbang dan menyembulkan kepalanya lewat lubang di antara batang-batang besi.

"Pak, apa ada lihat ibu kami?" tanyanya tergagap-gagap.

Kedua satpam yang tak lagi muda itu terkekeh, mereka sudah sering diganggu anak-anak kampung yang iseng. "Kalau ibu kalian datang ke sini dengan Innova, berarti dia masih di dalam."

Dari iklan yang ditontonnya di TV kedai, anak perempuan lelaki peladang tahu bahwa yang disebutkan satpam itu adalah merek sebuah mobil. Ia pun mengajak adiknya pulang membawa lapar mereka bersama si anjing setia yang terus juga menyalak-nyalak.

Tengah malam, si lelaki peladang pulang setelah kalah main domino. Anjing betina itu menyambutnya dengan kaingan kecil dan mengejar kakinya hendak menjilati. Ia kembali melolong-lolong seperti menangis membuat laki-laki yang gundah itu naik pitam.

"Meribut saja kerja kau, anjing kurap." Disepaknya kepala anjing itu. Namun si anjing tidak lari. Ia menggoyang-goyangkan kepalanya sambil melolong-lolong nyaring. Laki-laki itu terus menyepak dan membentaknya. Ketika kesabarannya habis, ia menyambar sebatang kayu yang tersandar di dinding rumah, lalu menghantam kepala si anjing hingga binatang yang berkurap di sekitar punggung dan pantatnya itu tak bisa lagi bersuara.***

Ilalangsenja, Padang, September 2007