Tampilkan postingan dengan label FLP Depok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FLP Depok. Tampilkan semua postingan
Minggu, 04 Maret 2012 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Emil Akbar
Dimuat di Kompas, 4 Maret 2012

Di kampungku, Tana Toraja, aura kematian sering kali berembus seperti angin. Jika terlihat secarik kain putih melambai di halaman tongkonan, itu pertanda ada orang yang masih hidup meski sudah mati, ”to makula”. Di sini, kematian dirayakan dengan biaya yang tak sedikit.Inilah akibatnya.

Sudah hampir sepuluh tahun Ambe terbaring di dalam erong, seolah menanti upacara rambu solo yang tak kunjung dilaksanakan oleh sanak keluarga. Sebab, tak ada dana atau belum dan jauh dari mencukupi walau kami tengah mengupayakannya. Hingga hari ini.

Pagi tak lagi halimun. Kulihat Indo sedang sarapan dengan Ambe yang masih sakit, terbujur kaku di dalam peti mati itu. Nyawanya menjelma arwah, tapi tetap tinggal kendati tidak menyatu dengan jasad. Menderitakah ia menjadi bombo?

”Selamat pagi, Ambe. Aku mau berangkat.”

Cahaya matahari, yang bangkit menembus celah dinding di sumbung, menimpa tubuh Ambe yang susut dan pakaian kebesarannya tampak berdebu.

”Hati-hati, Anakku. Semoga dalle-mu hari ini berkah. Berkat dari langit.” Jawaban Indo seperti doa.

Sering kulihat rona wajahnya tak ada duka meski ia sudah lama berkabung. Mungkin karena itu hatinya tak lagi berkabut. Menjalani hari dengan bahagia walau keadaan seperti ini. Ia mengantar kepergianku sampai depan pintu. Aku tahu, ia selalu menaruh harap agar aku cepat dapat uang untuk upacara kematian Ambe. Letihkah Indo merawat Ambe?

Cuma tongkonan ini yang kami punya atau yang tersisa. Indo hanya istri kedua Ambe. Katanya, dulu banyak kerabat tidak setuju ketika mereka menikah dan kakak-kakak tiriku menerima dengan syarat menuntut pembagian harta sebagai ahli waris mendiang ibu mereka. Sekarang, Ambe tak memiliki harta peninggalan, bahkan buat perayaan kematiannya sendiri. Anak-anaknya terdahulu pun seperti tak peduli. Tinggallah aku dan Indo yang menanggung beban. Berat, entah sampai kapan kami mampu menahan.

Aku pulang membawa hasil yang lebih dari biasanya walau aku tidak menjadi guide. Lumayan. Ukir-ukiran aku hampir habis dan beberapa lembar tenunan Indo laku. Dibeli oleh turis asing dan lokal yang lalu lalang. Sebenarnya masih siang meski sudah menjelang sore. Dan, aku mendapatkan kejutan kecil.

Margaretha Sua datang berkunjung. Dari Makale ke Rantepao menempuh jarak yang tak jauh. Ia perempuan mamasa dan sudah jadi pegawai. Akhir-akhir ini aku jarang bertemu dengannya. Kami tidak sering bersama setelah ia pindah mengikuti orangtuanya. Kami duduk di kolong alang. Alih-alih melepas rindu, wajahnya malah mendung membawa kabar tak baik.

”Upta, dia ingin segera melamarku,” segan perempuan itu berucap. Bibirnya seperti bunga yang kusuka, tapi ia mengeluarkan sengat.

”Kau mau menerimanya?” Aku mengumpulkan perasaanku yang tadi berhamburan untuk mengatakan itu.

”Aku cuma dikasih waktu sedikit buat berpikir,” ujarnya pelan dan tergugu, barangkali isak.

”Etha, bilang saja kalau kita hanya bisa sampai di sini.” Aku terempas seperti udara sisa di hidungnya.

Margaretha Sua menatapku kisruh, ”Aku tidak mau jadi biarawati.”

Ia terlalu dirasuki cerita tantenya yang hidup selibat lantaran ditinggalkan kekasihnya yang tak mau menunggu. Upacara kematian bapaknya, kakek Margaretha Sua, tertunda lama. Kini perempuan di hadapanku takut berlomba dengan kematian neneknya.

”Maafkan aku.”

”Aku yang minta maaf.”

Margaretha Sua pergi, pelan-pelan mengabur dari penglihatanku ditelan tikungan jalan. Mungkin ia membawa luka atau lega? Ia seperti tidak setia.

Petang di ambang hari. Senja melumuri langit. Seketika bayangan gelap datang dari barat. Sementara aku tengah memandang di bukit utara itu yang dipenuhi tebing-tebing. Gunung-gunung batu yang di kakinya rimbun belukar rimba. Semak-semak raksasa yang tak habis untuk dikuak.

Mungkin Tuhan menjelma hutan hingga belantara itu dihuni arwah-arwah. Segala yang sudah mati hidup di sana seperti alam baka. Rindukah Ambe untuk ke sana sebagai tomembali puang? Bergabung dengan tau-tauyang asyik bertengger atau bernaung di pohon-pohon suaka ketika malam tiba bagai mengulang masa kanaknya. Seperti apakah kehidupan di puya?

Dan, sampai kapan aku harus menanggung? Tabunganku tidak akan genap sekeras apa pun aku berusaha. Maafkan aku, Ambe, bila aku mengeluh. Aku sedang patah hati, mungkin putus asa. Indo tidak bisa dibujuk.

”Adalah larangan melakukan rambu tuka, apalagi rampanan kappa, apabila rambu solo belum diselenggarakan. Ambemu masih sakit. Rohnya masih terkatung-katung di alam sana.” Kata Indo seolah memegang kukuh wasiat Ambe. Tapi, aku menerka ini kemauannya.

”Kenapa? Apakah itu menyalahi aluk?” Aku tak tahu apa aku sedang menggugat adat yang aku yakini sendiri.

”Itu sama saja kau meminta hakmu tanpa menunaikan kewajibanmu sebagai anak.” Indo seolah berkata, tunjukkan baktimu.

”Dulu Ambe pernah bilang padaku, hidup itu untuk mati. Dunia ini tempat persinggahan dan mati adalah pintu ke puya, di kehidupan yang sesungguhnya,” jelasku punya maksud

”Iya, itu betul. Lantas?” kejar Indo mencium niatku.

”Kata Ambe carilah bekal, dalle buat mati. Biar kelak tidak menyusahkan keturunanmu. Seharusnya Ambe juga begitu.” Aku tertunduk sebab lancang, ada sesal yang hinggap. Aku tak berani melihat Indo yang mungkin tengah membelalakkan mata, tak menyangka.

”Indo merasa tidak pernah kurang mengajarimu, Upta.” Ia memanggil namaku seakan aku bukan anaknya lagi. Dapat kudengar hela embusnya kecewa, ”Ambemu perlu kunci untuk membuka pintu ke puya, rambu solo. Perjalanan ke sana jauh sekali butuh kendaraan, tedong bonga, agar cepat sampai.”

”Beberapa babi dan seekor kerbau aku kira sudah cukup, Indo. Tedong bonga ratusan juta harganya. Kita mana sanggup.”

”Kau ini! Ambemu keturunan tana bulaan. Bukan orang sembarangan. Kalau cuma itu, sudah dari dulu Indo melakukan rambu solo. Tak perlu menunggu bertahun-tahun. Dengar, Upta. Ini bukan asal upacara, tapi martabat yang mesti dijunjung. Kau tahu itu! Ambemu akan tersesat karena ulahmu.” Suara Indo melangit seperti bulan yang pongah.

”Aku lebih bangga kau merantau ke Papua. Di sana kau bisa dapat uang banyak ketimbang di sini. Atau kau mau mati di sana, terserah.” Indo bicara terus sebab aku seperti patung, kepala batu. Indo kenal sekali tabiatku, kalau ada mau diam tapi rusuh.

”Kau tidak bakal ada di dunia ini kalau tak ada Ambemu yang meminta kau dilahirkan.” Indo berkata tega. Napasnya panas. Kubayangkan, dulu mungkin ia hendak menggugurkan dan menguburkanku di pohon nangka, tapi dicegah oleh Ambe. Keberadaanku kau tampik, benarkah kabar itu?

”Matahari siang dan bulan malam tidak pernah bertemu. Kalau sampai itu terjadi, itu artinya kiamat! Kau boleh menikah, tapi bukan di tongkonan ini dan tanpa restu dariku,” cetusnya mengancam. Indo menarik kakinya pergi ke sumbung, kebiasaannya sesenggukan di sana. Meratapi Ambe dan nasib. Atau masa lalu yang berusaha ia tutup dan simpan.

Malam benar-benar rindang. Beberapa kerabat dan tetangga datang. Kami main kartu sampai suntuk. Aku menyuguhkan kopi dan penganan seadanya. Mereka membawa ballo. Sunyi dingin meruap.

”Upta Liman, itu bukan sepenuhnya bebanmu dan keputusan ada di tangan kakak-kakakmu yang telah abai di perantauan,” ujar Tato Randa bijak. Ia pamanku dari pihak Indo dan teman Ambe sebagai pemangku adat.

”Seperti bukan orang Toraja saja mereka itu. Mabuk di kampung orang sampai lupa kampung sendiri,” imbuh Urru, teman seprofesiku yang sudah oleng. Entah berapa gelas tuak ia tenggak.

”Kewajibanmu cuma mengingatkan meski kau harus menanggung belasungkawa yang menunda kegembiraan di tongkonan ini,” lanjut Tato Randa. Menimbulkan tanya di benakku yang keruh. Adakah rahasia yang kalian taruh?

”Kecuali kalau Indomu rela memutus hubungan dengan membayar nilai salah yang tak seberapa,” celetuk Tante Ully tak dinyana. Tanteku ini perempuan tua yang agak lain pikirannya. Ia melenggang setelah mendapat isyarat diam dari yang hadir selain aku, pergi menemani Indo di kamar. Matanya bicara padaku.

Kami kembali melanjutkan berembuk, tapi aku tidak berminat lagi. Mereka membujuk.

”Kontaklah saudara-saudaramu itu untuk segera pulang. Urusan ini harus lekas dibereskan. Kami di sini sudah siap memberikan bantuan. Nanti kami ajukan proposal ke pemda buat diikutkan program pariwisata Natal dan Tahun Baru. Babi-babi dan kerbau akan kami sumbangkan. Kurangnya kalian usahakanlah.”

Ah, bantuan ini adalah utang moral. Bakal malu jika tidak bisa mengembalikan, ketika kelak di antara mereka ada yang meninggal. Setara atau lebih dan aib akan aku tanggung bila tak mampu. Masih sakralkah perayaan kematian ini? Mereka pamit.

”Indomu sulit berdamai dengan masa lalunya. Dulu ia berbuat dosa dan mencari selamat. Orang-orang kampung tak jadi mengusirnya. Ketahuilah dari silsilah,” bisik Tante Ully sebelum pulang. Selain kakak-kakak tiriku, yang aku tahu Ambe pernah menikah dengan janda kaya punya satu anak yang tak pernah kulihat dan tidak kutahu keberadaannya.

Ambe dari manakah aku mulai merunut? Kini aku berbaring lelap di sebelahmu. Hendak menerima jawab.

”Kenapa Ambe menikahi Indo?” tanyaku seakan rohnya masih bersemayam dalam tubuh.

”Karena aku mencintai Indomu.”

Lama kutatap Ambe. Kuperhatikan saksama.

”Apakah Indo mencintai Ambe?”

Sebab ia terlalu lansia buat jadi Ambe.

”Tanyakan itu pada Indomu.”

Ia seolah tersenyum serupa sunggingan orang yang tidak punya gigi. Aku terjaga.

Pagiku dibuka dengan kedatangan tamu. Ribut, suara Indo ramai di halaman ketika aku menuruni tangga. Lelaki itu lagaknya seperti turis lokal dengan badan tambun. Tubuh Indo bergetar, kusut dan berantakan, menghalanginya masuk.

”Aku punya hak atas rumah tongkonan ini, aku ahli warisnya!” tuntutnya tanpa melepas kacamata riben di wajahnya.

”Kamu siapa?” aku maju di muka Indo.

”Aku anak dulu dari Indoku. Istri pertama Ambemu. Tongkonan ini akan kujual. Pembelinya sudah ada. Sertifikatnya masih atas namaku, belum ada balik nama.” Jelasnya beruntun.

”Rantedoping, ahli waris sudah berpindah tangan sejak kau pergi dan tak ada kabar. Biar nanti adat yang menentukan.” Indo bersikeras.

”Siapa ahli warisnya, kau?”

”Bukan. Upta Liman, anakmu.”

Baru kulihat airmata Indo menetes. Lelaki itu menatapku nanap dan aku terlongo saat Indo hampir rebah pingsan. Kupeluk Indo yang begitu ringkih.

Toddopuli 2 STP 8


Catatan:
Ambe: ayah
Indo: ibu
Tongkonan: rumah adat orang Toraja
To makula: orang mati yang belum diupacarakan, masih dianggap sakit
Erong: peti mati
Rambu solo: upacara kematian khas Toraja
Bombo: roh yang menunggu upacara
Sumbung: bagian belakang rumah tempat menyimpan mayat
Dalle: rezeki
Alang: tempat menyimpan padi miniatur tongkonan
Rambu tuka: upacara kegembiraan
Rampanan kappa: pesta pernikahan
Aluk: adat
Tomembali puang: roh yang sudah diupacarakan berwujud setengah dewa
Tau-tau: boneka kayu, wujudnya menyerupai orang yang diupacarakan
Puya: surga
Ballo: tuak
Tana bulaan: kaum bangsawan tertinggi

Minggu, 27 November 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Majalah Ta’dib, Edisi 45/Th.IX/November 2011

Laila - yang hampir setahun murung, melamun, dan mengurung diri - tiba-tiba berubah serta menjadi perbincangan orang banyak. Menurut cerita dari mulut ke mulut, ia sembuh lantaran meminum air zam-zam yang dibawa pulang oleh pamannya setelah menunaikan ibadah haji. Katanya lagi, entah benar atau tidak, air itu telah diberi bacaan oleh seorang syaikh di Arab Saudi.

Laila yang dulu tak tampak lagi. Sinar matanya yang semula sayu, kini musnah. Bola matanya memancarkan rona keemasan. Tajam dan tegar. Dengan pakaian warna putih yang selalu melekat di badan, ia menjelma sosok agung serta mampu mengkhilafkan banyak orang.

Perubahan pada diri Laila tidak berhenti sampai disitu. Ia juga meninggalkan pekerjaannya sebagai seniman patung. Karya-karyanya memang telah bertebaran hingga ke manca negara dan dikoleksi jutaan umat. Tak heran, Laila adalah alumni institut kesenian ternama. Satu persatu patung yang telah ia buat dan menempati ruang pamer di rumahnya berubah menjadi abu. Bahkan sebuah patung besar yang telah ditawar jutaan oleh penggemar seni pun tak luput dari kehancuran. Banyak sekali yang menyayangkan tindakan Laila.

Orang tuanya sendiri bingung, apalagi orang-orang yang selama ini memuja karyanya dan menganggap karya Laila sebagai seni tinggi. Sehingga bermunculanlah orang-orang dari seluruh media menanyakan kenapa ia menghancurkan sendiri karyanya. “Alangkah sayangnya. Beberapa karya agung harus musnah. Bukankah mengundurkan diri dari dunia seni tidak harus diikuti dengan menghancurkan karya sediri?” Begitu kata kebanyakan pengamat seni yang dimuat di berbagai media massa.

Laila menjawab, “saya tidak ingin orang-orang menjadi musyrik. Memuja patung adalah perbuatan syirik walaupun kita tidak bersujud dihadapannya. Dengan ini juga saya memerintahkan kepada kolektor di seluruh dunia yang masih menyimpan patung karya saya untuk memusnahkannya. Patung tidak akan memberikan kedamaian dan keselamatan pada umat manusia. Selamanya mereka bisu. Saya tidak ingin seperti itu. Kini saatnya saya akan membuka suara untuk menyampaikan suatu kebenaran.”

Setelah itu Laila menjadi sangat terkenal. Apalagi setelah ia memproklamirkan dirinya sebagai utusan Tuhan. Juru Selamat baru. Seluruh media cetak dan elektronik tak henti-henti memuat berita tentang dirinya. Berbagai respon bermunculan. Ada yang mengakui kebenaran kata-katanya, namun tidak sedikit yang menghujatnya. Di antara orang-orang yang menolak pengakuan itu menganggap Laila sudah gila. Sehingga dirinya kini lebih dikenal dengan sebutan Laila Majenun.

Sebenarnya cerita awalnya sederhana. Laila yang menikmati hidup sebagai seniman kaya raya dan terkenal tiba-tiba merasakan kehampaan. Apa yang dia ciptakan adalah sebuah salinan dari karyaNya. Ia hanya meniru. Kejenuhan serta kelelahan menyeruak. Batinnya bergolak. Tak pernah reda, hingga proses kreatifnya seketika mandek.

Lalu muncul pertanyaan untuk apa sebenarnya hidup ini? Ia mulai mencari jawaban. Akibat pencariannya selama beberapa tahun, lambat laun Laila memandang dunia hanya sebagai tempat mampir saja, dan hidup manusia dirasakan sebagai senda gurau belaka. Ia sama sekali tak tertarik lagi dengan pekerjaannya. Ia ingin mencari sesuatu dibalik yang kasat mata. Suatu kebenaran yang dianggapnya masih tersembunyi. Sebuah ‘Diri’, yang tak hanya menciptakan materi untuk patung-patungnya, tapi Pencipta yang telah menciptakan dirinya.

Dalam pencarian itu ia mengalami berbagai peristiwa yang akhirnya membuat fisiknya lemah. Badannya tidak mampu menopang jiwanya yang haus akan ‘kebenaran yang sesungguhnya’. Pertanyaan dalam dirinya belum terjawab. Perlahan-lahan tubuh itu semakin lemah, sedangkan pikirannya melayang-layang mencari pijakan. Hingga akhirnya air zam-zam itu yang kabarnya mampu menyembuhkannya. Banyak yang menyebutnya mukjizat. Cuma sayangnya ia bersikap sangat aneh, begitu kata kebanyakan orang. Namun tak sedikit yang kagum pada Laila.

Sebagian besar orang yang kagum pada Laila mulai menyebar berita yang bermacam-macam. Ia dikatakan memiliki kesaktian. Beritanya cepat menyebar ketika ia mampu menyembuhkan penyakit. Mereka juga percaya bahwa ia adalah utusan Tuhan atau juru selamat atas kebobrokan moral yang sedang melanda negeri ini dan mengakibatkan munculnya bencana dimana-mana. Pengikutnya sangat yakin bahwa Laila mampu memberikan jalan keluar dari setiap masalah. Ia telah dianggap seperti wali atau orang suci.

Kabar makin cepat menjalar. Secepat angin dan kedipan mata. Maka datanglah orang-orang yang putus asa dalam menghadapi hidup, terutama orang-orang yang merasa hatinya gersang dan mereka yang tidak sembuh-sembuh didera penyakit. Setiap ada kesembuhan akan menjadi berita yang berpindah bak kilat. Makin lama makin banyak orang yang menemui Laila, sehingga ia mengubah ruang pamernya yang sekarang kosong menjadi tempat pengobatan.

Bukan cuma itu, setiap malam Jum’at ia mengundang orang-orang untuk berkumpul dan mendengarkan wejangannya. Mereka harus berpakaian serba putih dan selama 24 jam sebelumnya hanya boleh makan nasi putih serta minum air putih. Laila berkata, “hati kita harus putih dan bersih, maka dari itu semua yang melekat di tubuh kita harus berwarna putih, dan yang masuk ke tubuh kita juga harus makanan yang putih serta murni. Kemurnian adalah sumber dari segala pencerahan.”

Dengan ajarannya, Laila semakin terkenal. Tapi ia makin menunjukkan berbagai keanehan. Salah satu keanehan adalah setahun kemudian perut Laila kelihatan membesar. Para jemaat di perkumpulannya mulai bertanya-tanya: Apakah Laila hamil? Satu dua orang mulai tidak percaya dengan ajaran Laila. Mereka mulai meninggalkannya karena menganggap guru mereka telah hamil di luar nikah, dan itu adalah perbuatan dosa yang tidak boleh dilakukan oleh orang suci yang telah tercerahkan.

Menyadari itu, Laila dengan cepat menceritakan kisah Maryam yang mengandung Nabi Isa. Dengan daya pikat bicaranya yang luar biasa ia berkata, “manusia kini sudah semakin keluar dari jalur kodratnya. Mereka tak lagi menyembah Sang Pencipta, tetapi benda-benda fana. Maka itu Tuhan akan kembali membimbing manusia dengan mendatangkan juru selamat yang akan lahir dari rahim saya. Karena saya memiliki jiwa yang murni dengan hati suci. Tidakkah kalian lihat Nabi Isa yang lahir dari seorang perawan suci? Tuhan, dengan kuasanya, telah menjadikan saya seperti Maryam. Saya jelas sekali mendengar bisikan-Nya setiap malam yang disampaikan oleh malaikat Jibril, Sang Ruhul Kudus.”

Banyak yang kemudian masih tetap mengikuti Laila walau kini jumlahnya berkurang. Bagi mereka yang percaya, Laila benar-benar akan melahirkan seorang juru selamat baru. Anggapan ini datang dari mereka yang telah sangat muak akan perilaku manusia yang telah berubah bagai hewan. Malah kata mereka hewan kini lebih berharga dari manusia. Lihatlah anjing-anjing yang tinggal di rumah mewah. Mereka lebih disayang dari pada gelandangan dan orang-orang miskin. Bau anjing-anjing itu bahkan jauh lebih wangi. Derajat manusia telah jatuh di bawah anjing.

Laila kemudian melahirkan bayi perempuan.

“Mengapa bayi guru perempuan?” Tanya salah seorang pengikut saat mereka berkumpul. Kini jumlahnya tinggal puluhan.

“Seorang juru selamat tidak harus laki-laki. Bahwa yang menjadi pemimpin haruslah laki-laki adalah gagasan yang selalu didengungkan oleh jiwa-jiwa kerdil yang haus akan kekuasaan. Sebenarnya mereka hanya takut tersingkir. Mereka tidak mampu bersaing.”

“Tapi selama ini yang dikirim Tuhan selalu laki-laki. Lihatlah orang-orang suci yang berada di seluruh kitab-kitab?”

Laila diam. Warna keemasan matanya mengarah ke seluruh pengikutnya. Mereka semua tertunduk. Sebentar lagi guru mereka akan mengeluarkan untaian mutiara dari mulutnya.

“Lihatlah diri saya. Bukankah saya juga adalah perempuan, dan saya selama ini telah memurnikan hati kalian. Sehingga kalian tidak hidup dalam kesengsaraan duniawi. Hidup kalian menjadi tenteram bukan. Coba seandainya kalian masih memikirkan harta dunia? Pasti hidup kalian semakin gersang dan mata batin kalian semakin tertutup. Lagi pula, orang-orang suci yang namanya tercantum dalam kitab-kitab itu juga lahir dari rahim perempuan.”

Para pengikutnya mengangguk. Mereka menyadari alangkah indahnya berada di dekat Laila. Mereka tak lagi gelisah dengan segala harta dunia yang selama ini mereka cari dengan susah payah, lalu ditumpuk, diiringi ketakutan akan kehilangan. Sebelumnya mereka merasa bagai budak yang selalu dipaksa untuk memenuhi kebutuhan nafsu perut, bawah dan atas perut.

Laila melanjutkan kata-katanya, “jika kalian meneliti seluruh kitab-kitab suci yang ada di dunia, kalian akan mengetahui bahwa ada simbol-simbol tersembunyi yang mengatakan akan datang seorang juru selamat yang berjenis kelamin sama dengan ibunya.” Orang-orang yang berada di ruangan itu kembali mengangguk. Bahkan ada beberapa yang menitikkan air mata, lalu mengangkat tangan mereka dan bersujud di depan Laila.

Dengan gencar media kembali meliput kegiatan Laila dan pengikutnya. Beberapa orang merasa penasaran. Mereka menyusup ke dalam jemaat itu selama beberapa minggu, kemudian melaporkan kepada atasan mereka semua kegiatan yang dilakukan dengan membawa buku-buku yang sudah ditulis oleh Laila. Buku-buku tulisan Laila memang sudah diedarkan dan sangat laris. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja telah dicetak ulang beberapa kali.

Beberapa minggu kemudian ada pengumuman resmi yang mengatakan bahwa ajaran Laila sesat. Laila yang selama ini mengaku dibimbing oleh Jibril ditolak oleh orang-orang itu. Mereka mengatakan iblislah yang telah membimbing Laila dan membutakan mata serta hatinya. Ia hanya diberi ilusi dan seolah-olah ia adalah juru selamat utusan Tuhan. Kembali kata-kata ‘Laila Majenun’ menjadi sangat terkenal. Dan ia diminta segera bertobat, kembali ke jalan lurus sesuai dengan ajaran murni yang penafsirannya telah disepakati bersama.

Reaksi orang-orang bermacam-macam. Ada yang mendukung dengan alasan hak asasi manusia, ada juga yang menolak. Seorang intelektual bahkan ada yang membelanya dengan mengatakan bahwa banyak pengikut Laila yang berubah menjadi baik. “Bukankah itu tidak melanggar prinsip-prinsip agama manapun?” Kata intelektual itu. Ia lalu melanjutkan kata-katanya, “biarkan mereka menyembah Sang Pencipta dengan cara mereka sendiri, selama itu tidak merugikan siapa pun. Semua manusia yang baik dan menyembah Tuhan pasti akan masuk surga. Terserah bagaimana mereka melakukannya.”

Namun, jumlah orang yang mencelanya jauh lebih banyak. Bahkan akhirnya ada sekelompok orang yang tidak sabaran mendatangi Laila dan pengikutnya saat mereka sedang berkumpul. Orang-orang yang tidak setuju itu membakar rumah Laila sambil meneriakkan ucapan Tuhan Maha Besar, seolah-olah Tuhan merestui tindakan mereka. Untung kedua orang tua Laila telah lebih dahulu mengungsi ke kampung halaman. Mereka juga takut dan bingung dengan perubahan pada diri anaknya dan reaksi orang-orang.

Tapi Laila tidak pernah patah semangat. Ia selalu menghibur pengikutnya dengan menceritakan kisah nabi-nabi dan orang-orang suci yang selalu mendapat halangan dan rintangan saat menyebarkan kebenaran di muka bumi.

“Kita harus maklum.” Kata Laila. “Mereka adalah orang-orang bodoh. Orang-orang yang tak mampu melihat kebenaran karena hati mereka tertutup oleh debu-debu duniawi. Kalau saja mereka mau melihat dengan mata batin? Sayang, mereka hanya mampu melihat wujud kasar.”

Laila berkata sambil menggendong anaknya yang tertidur. Kini kemana-mana ia membawa anak itu yang katanya akan dipersiapkan untuk menjadi juru selamat baru. Selanjutnya ia mengatakan bahwa anak itu akan dibimbing oleh Jibril untuk membawa generasi berikutnya menuju kekekalan yang indah nan abadi.

Melihat kemarahan dari banyak orang dan selalu dikejar-kejar, pelan-pelan Laila mulai ditinggalkan oleh pengikutnya. Bahkan salah seorang bersaksi di televisi bahwa ia seperti tersihir oleh kharisma Laila. Sehingga ia menganggap Laila benar-benar sebagai penyelamat manusia dan utusan Tuhan yang hadir di akhir zaman.

Dari ratusan akhirnya kini pengikut Laila hanya tinggal puluhan.

“Inilah saatnya.” Kata Laila.

“Saatnya untuk apa guru?”

“Saatnya untuk menemui Dia.”

“Sang Pencipta?”

“Ya.” Kata Laila. Suaranya sangat tenang. “Kalianlah orang-orang yang terpilih. Kalian akan bahagia selama-lamanya. Nanti akan datang lagi generasi baru yang akan dipimpin oleh anak saya. Lalu anak saya akan melahirkan seorang anak lagi. Begitu seterusnya. Karena di setiap generasi akan muncul juru selamat dan pembimbing baru. Merekalah yang akan menjaga rambu-rambu, tapi sayangnya kebanyakan manusia tidak mengerti. Padahal tanda-tandanya bertebaran dimana-mana. Seluruh kitab suci mencatatnya.”

Laila lalu meninggalkan anaknya yang tertidur di sebuah pondok kecil beberapa ratus meter dari pondok mereka yang terpencil. Di pondok itu ia dan belasan pengikutnya telah membungkus diri dengan pakaian serba putih. Lelaki dan perempuan telah mencukur seluruh rambut yang tumbuh di tubuh mereka.

“Jangan lupa minum air putih.” Perintah Laila. “Air itu akan membersihkan sisa-sisa kotoran yang masih ada di tubuh kalian.” Mereka mengikuti apa pun perintah Laila.

Laila dan pengikutnya membentuk lingkaran. Tangan mereka saling mengapit. Lalu terdengar suara-suara senada. Tak lama kemudian mereka kelihatan berada di ambang ketidaksadaran. Mereka terus bergerak. Sampai akhirnya lingkaran itu berputar bagai sebuah roda.


Tiba-tiba muncul titik-titik api yang lambat laun melahap pondok itu. Mereka tak peduli. Mereka terus saja berputar sambil melantunkan syair-syair yang menyayat. Syair-syair penjemputan guna menyongsong keabadian yang tenteram di dunia lain. Dunia kekal yang bebas dari hujatan dan belitan nafsu.

Kini mereka telah terkepung api. Suara-suara itu terus melengking, lalu perlahan melemah, sampai akhirnya tidak terdengar sama sekali. Kini yang tinggal hanya batang-batang kayu dan sisa-sisa tubuh berwarna hitam dan beraroma sate.

Tempat yang jauh dari pemukiman itu kini tak lagi menyuarakan apa-apa, tidak juga nyanyian binatang. Beberapa jam lagi matahari akan muncul. Tapi di sebuah pondok kecil ada cahaya keemasan. Seorang anak kecil telah membuka matanya. Ia tidak menangis. Mata itu bersinar keemasan. Mirip sekali dengan mata Laila.
Rabu, 02 November 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Pikiran Rakyat, 30 Oktober 2011

Tidak ada seorang pun di negeri ini yang mampu menyaingi ketampanan ayah. Badannya tegap, hidung mancung, rambut ikal, serta alis tebal. Semua berada di kulit berkilau. Selama ini ia tak pernah kalah berkelahi meskipun lawannya lebih besar dua kali lipat darinya. Ibu pernah bilang bahwa ayah akan menang sekalipun berhadapan dengan banteng marah atau harimau lapar.

Silih berganti dan beragam orang datang ke rumah kami untuk menemui ayah. Ada yang berdasi, ada yang berseragam, ada yang keringatnya bau comberan, ada pula yang lengannya tertutup tato. Kadang ayah tertawa terbahak-bahak bersama mereka, kadang pula berbisik-bisik. Begitu pulang, kebanyakan dari mereka akan memberikan amplop.

“Kamu sangat beruntung punya ayah sakti.” Kata salah seorang tamu berbadan besar dan berkulit segelap malam sambil mengelus kepalaku. Logat bicaranya seperti orang mabuk. Saat itu aku berada di teras bermain mobil-mobilan.

Pernah aku mencoba mencuri salah satu amplop yang paling tipis ketika tamu pulang dan ayah sedang ke kamar mandi. Tapi ibu memergoki tindakanku. Ia berteriak, mata melotot dan telunjuk mengarah tepat ke keningku. Nyali menciut dalam sekejap, lalu aku menangis. Malam hari, ibu datang ke kamarku dan meminta maaf. Suaranya selembut busa, namun terdengar seperti menahan tangis. Sebelum aku tidur ia berpesan agar jangan pernah menyentuh, apalagi mengambil amplop ayah sampai kapan pun.

“Kenapa, Ibu?”

“Nanti akan ibu ceritakan.”

“Kapan?”

Tanpa bicara, ibu meraih tanganku. Ia memijat dari pangkal bahu hingga pergelangan tangan. Ketika menggenggam jemariku, ia tiba-tiba meremasnya. Aku menjerit.

“Masih sangat lama.” Ibu lalu pergi.

Tiga tahun kemudian aku masuk SMP. Beberapa teman laki-laki dan perempuan pernah main ke rumah. Mereka mengatakan kenapa wajahku tidak mirip ayah. Wajahku tidak terlalu tampan, dan rambutku lurus. Aku mulai menyadari perbedaan yang jauh antara aku dengan ayah. Apalagi setelah cintaku ditolak teman sekelas. Karena penasaran, aku akhirnya bertanya pada ibu.

Bukannya menjawab pertanyaanku, ibu malah kembali meremas jemariku seperti dulu. Meskipun tidak menjerit, aku masih sedikit merasa nyeri. Aku hanya meringis.

“Belum saatnya engkau tahu.”

Aku sama sekali tidak mengerti sikap ibu. Aku menjadi marah. Apalagi semakin banyak saja orang yang membanding-bandingkan aku dengan ayah. Kemarahanku memuncak ketika di depanku ada tetangga memuji-muji ayah yang berhasil melumpuhkan seekor sapi jantan besar yang tiba-tiba saja mengamuk ketika hendak disembelih.

Akhirnya kuputuskan untuk ikut latihan bela diri. Ingin kubuktikan bahwa, meskipun tidak setampan ayah, aku bisa menyamai keperkasaannya. Dan suatu saat malah mengunggulinya. Setelah satu tahun latihan, aku bisa mematahkan tujuh susunan balok es. Di tanganku seperti ada kekuatan halilintar yang siap memecahkan apa saja. Aku semakin percaya diri. Latihanku semakin serius sampai akhirnya aku bisa push up sebanyak seratus kali hanya dengan bertumpu pada ujung-ujung jemari.

Memasuki SMA, terasa sepatuku mengecil. Aku menemui ibu, bukan ayah, untuk minta uang. Sejak kecil memang aku tidak dekat dengan ayah. Dan semakin besar, aku dan ayah terasa semakin jauh. Ia tidak pernah bertanya perihal sekolahku, dan aku juga malas bertanya tentang sesuatu padanya.

“Tunggu bulan depan.” Jawab ibu.

Aku cemberut, sekilas teringat tamu ayah yang masih sering memberikan amplop. Aku lalu berkata, “kenapa Ibu, bukankah ayah banyak uang. Kalau bulan depan, aku akan curi amplop ayah.”

“Jangan.” Ibu berteriak, seperti dulu. Ia lalu mendekat. Dengan cepat ia meraih tanganku yang kini mulai ditumbuhi otot-otot. Diremasnya tanganku. Tidak sedikit pun aku merasakan sakit.

“Sudah saatnya. Ibu akan beritahu.”

Aku diam, ibu lalu barkata, “anakku, ibu tidak pernah mengizinkan engkau mengambil amplop ayah karena isinya bukan cuma uang, seringkali obat-obatan yang akan merusak masa depanmu. Sekali engkau mencoba, akan ada makhluk gaib yang mengendap di tubuhmu dan perlu waktu panjang untuk mengusirnya.”

Aku masih diam.

“Ibu tidak ingin itu terjadi karena masih ada rahasia utama yang belum engkau ketahui.”

“Apa itu, Ibu.”

Ibu tidak menjawab, lagi-lagi ia menarik lenganku. Kali ini bukan jemariku yang diremas melainkan lengan atas. Aku meringis.

“Engkau belum siap.” Ibu meninggalkanku begitu saja.

Meskipun kecewa, aku mengerti. Mungkin karena aku mulai beranjak dewasa. Kata-kata ibu akhirnya menjadi pemicu. Aku latihan beladiri lainnya, ditambah latihan beban agar seluruh otot yang ada di lengan sekuat besi. Pelajaran sekolah tidak terlalu aku pedulikan. Yang penting lulus. Tiada hari berlalu tanpa latihan. Akibatnya, makanku semakin rakus dan tubuhku menjadi jangkung. Ibu diam saja, apalagi ayah. Tapi kulihat ayah mulai ditumbuhi keriput dan tidak setegap dulu meskipun ia masih terlihat tampan.

Beberapa tahun kemudian, setelah lulus SMA, kulihat keriput di wajah ayah semakin banyak. Ayah juga terlihat lemah. Orang-orang yang dulu datang sedikit demi sedikit berkurang. Hampir tidak ada lagi gelak tawa, begitu juga amplop. Ketampanan ayah juga lambat laun memudar. Di setiap pergantian hari, ayah makin terlihat murung. Sampai akhirnya ia sakit dan hanya berbaring di kamar. Sejak itu tak ada seorang pun yang datang, hingga tahun terus berganti dan aku telah menyelesaikan kuliah.
Aku rasanya semakin kuat. Otot-otot di lenganku telah menonjol, mulai dari pangkal hingga ujung jari. Ibu memanggilku di suatu senja yang hampir turun hujan, setelah aku mematahkan batang pohon jambu besar dengan tanganku. Batang itu menjulur ke jalan dan mengganggu kendaraan serta pejalan kaki yang lewat.

Ibu menyuruhku ke lantai dua. Ada satu kamar kosong di sana. Sebenarnya aku tidak suka kamar itu karena apek dan banyak kotoran tikus. Tapi demi ibu, aku menurut. Ketika melewati kamar ayah, aku mendengar dengkurnya yang terdengar seperti penderitaan. Kubuka pintu kamar. Ayah terlihat sangat lemah. Dia mirip makhluk aneh. Mulutnya setengah tertutup dan tangannya sedikit terangkat seperti hendak mencakar. Terbersit di benakku, kenapa ayah tidak mati-mati. Apakah mungkin karena terlalu banyak ramuan dan obat-obatan yang telah menjalar di tubuhnya. Kembali kututup pintu kamar. Ada perasaan kasihan, tapi sedikit sekali.

Ternyata kamar di lantai dua telah bersih dan berbau harum. Ada jambangan berisi melati di setiap sudut dan tikar pandan di tengah-tengah. Aku langsung bersila di atasnya. Tak lama kemudian ibu masuk sambil membawa pendupaan yang mengepulkan asap. Ia berpakaian putih-putih, juga ada bunga kamboja putih di atas telinganya. Ia memang telah tua, tapi masih terlihat molek.

Aku menganga. Apa yang akan ibu lakukan? Ia serupa penyihir cantik.

“Julurkan tanganmu.”

Aku menuruti perintah ibu. Ia meremas-remas lenganku. Tampaknya ia meremas dengan sekuat tenaga. Bagiku, rasanya seperti sedang diusap-usap dengan kapas.

“Otot-otot di lenganmu sudah sangat kuat,” kata ibu. “Sudah saatnya.”

“Saatnya apa, Ibu.”

“Mewarisi ilmu tapak tangan ayahmu.”

Ilmu tapak tangan ayah? Ada gambar ayah di pikiranku. Seorang lelaki lemah yang tengah terbaring sakit. Ia tidak bisa bergerak. Tidak hidup, namun belum mati. Mungkin seperti dalam cerita-cerita silat, sebelum malaikat maut menjemput, seorang pendekar akan mewariskan ilmu pada anak atau murid kesayangannya.

“Bukan dari lelaki yang ada di bawah.”

Aku terkejut, punggungku seketika terangkat. Ibu seperti bisa membaca pikiranku.

“Dia bukan ayah kandungmu, anakku.”

Mulutku kembali menganga. Banyak sekali yang mengejutkan hari ini. Belum sempat mulutku terkatup, ibu langsung bercerita: dulu, ada seorang pendekar bernama Satria. Ia berasal dari seberang pulau dan pergi berkelana sampai akhirnya tiba di suatu kampung. Di kampung itu ia jatuh cinta, dan gadis yang dicintainya pun memiliki perasaan yang sama. Tapi orang tua si gadis tidak menyetujui karena ia akan dinikahkan dengan anak orang kaya. Meskipun anak orang kaya itu sangat tampan, si gadis tidak terlalu mencintainya. Akhirnya mereka kabur ke kampung pedalaman yang hampir mendekati tengah hutan.

Anak orang kaya itu juga pendekar. Ia mengejar si gadis. Terjadi pertempuran. Satria memenangkan pertarungan. Ia menggunakan aji pamungkas, yaitu jurus tapak tangan. Kata Satria, jurus tapak tangan itu hanya untuk orang-orang yang otot tangannya sekeras baja. Jika tidak, lengan orang itu bisa terbakar. Hanya dengan merapalkan mantra tiga kali dan menghirup ramuan tertentu, jurus itu bisa dikuasai. Satria memberitahu mantra dan ramuan itu pada si gadis.

Hampir setahun kemudian, anak orang kaya itu datang kembali. Mereka bertarung lagi. Tapi kali ini jurus tapak tangan tidak berdaya. Ternyata anak orang kaya itu telah menguasai ajian pajaka. Ajian pajaka tidak populer di kalangan para jawara saat itu, karena siapa pun yang ingin menguasainya harus dikebiri. Demi harga diri, anak orang kaya itu rela melakukannya. Akhirnya Satria tewas, dan gadis itu dibawa oleh anak orang kaya ke kota dalam keadaan hamil muda.

“Satria adalah ayah kandungmu. Si gadis adalah ibu, dan anak orang kaya itu adalah ayah tirimu yang ada di bawah. Ia dulu pendekar sakti yang dikebiri. Itulah mengapa kamu tidak punya adik.”

Rasanya semua rambut di sekujur tubuhku berdiri. Ada yang bergolak di dada, percampuran antara terkejut, gembira, gelisah, khawatir, marah, kesal, cemburu, dendam, dan sedih. Hawa dingin dan panas datang silih berganti.

“Kamu siap menerima ilmu tapak tangan, anakku?”

Tanpa sadar aku mengangguk.

Beberapa jam lagi langit cerah. Aku tiba-tiba sadar. Badanku terasa sangat segar, dan kedua lenganku laksana bunga yang baru mekar. Aku rasanya bisa meremukan apa saja. Dunia ada dalam genggaman. Semua penghalang bisa kutebas dengan tangan. Kulihat ibu duduk bersandar di dinding ruangan. Satu lengannya memegang kalung melati.

“Anakku, ibu lelah. Ibu ingin beristirahat sebentar.”

“Baik, Ibu.”

Aku turun. Aku seperti manusia baru, merasa benar-benar bagai seorang pendekar sakti. Bukan hanya yang selama ini aku tonton di televisi.

Ketika melewati kamar ayah, lamat-lamat aku mendengar erangan kepedihan bergumul keputusasaan. Kudorong daun pintu. Posisi ayah masih seperti sebelumnya: mulut menganga dan tangan terangkat seperti hendak mencakar. Aku masuk dan mendekati ayah tiriku. Matanya melirik. Sekilas aku melihat rona wajahnya seperti sedang berhadapan dengan malaikat pembawa maut.

Ayah berkata sangat pelan. Tak jelas, aku tak mengerti. Ia terlihat ingin berkata-kata lagi. Kudekatkan telinga ke mulutnya. Akhirnya engkau datang juga, begitu kira-kira yang kudengar. Ia kemudian melanjutkan bicaranya dengan sangat terbata-bata, cepat lakukan, aku sudah tidak tahan dengan penderitaan selama bertahun-tahun. Ilmu dan kekuatanku telah musnah. Tapi jiwaku masih terperangkap di jasad ini. Menyakitkan sekali.

Aku mengangkat kepala. Kupandangi wajah ayah. Rasa kasihan muncul. Kali ini sangat dalam. Belum pernah aku merasa kasihan pada seseorang sedalam ini. Tanpa sadar, tanganku terangkat. Seolah ada maha kekuatan yang menggerakannya. Jari-jemari terbentang, dan perlahan merambat ke leher ayah. Dalam sekali cengkeraman, tangan ayah yang tadi sedikit terangkat telah turun. Mulutnya tak lagi menganga, melainkan tertutup dan membentuk garis senyum. Ketika cengkeramanku terlepas, ada bekas tapak tangan di leher ayah berwarna kemerahan yang dibarengi sedikit kepulan asap berbau melati.

Aku keluar. Kulihat ibu telah berada di ruang tengah. Kalung melati masih digenggamnya. Aneh, ada beberapa helai uban di rambut ibu.

“Ibu.”

Aku memeluknya.

“Tidak apa-apa, anakku.” Ia membelai kepalaku. Suaranya lebih halus dari angin sepoi-sepoi. “Sekarang pergilah engkau ke rumah Pak RT. Beritahu bahwa ayahmu telah tiada. Ibu akan menyiapkan tikar untuk para pelayat.”

Aku mengangguk.

Rabu, 17 Agustus 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Noor H. Dee
Dimuat di Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta, Lingkar Pena Publishing House, 2008

Kami bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran continental yang brengsek. Kami sebut restoran ini brengsek, sebab kami diwajibkan memasak sambil menangis. Bayangkan! Kami mengaduk kuah buntut sambil menangis. Kami memasak nasi goreng, merebus aneka pasta, membuat adonan pizza, memotong daging ayam, mengupas kentang, semua itu kami lakukan sambil menangis. Begitulah. Setiap hari selalu ada saja airmata yang meluncur dari sepasang mata kami; mengalir membasahi pipi, dagu, dan menetes ke dalam setiap masakan kami.

Restoran tempat kami mengais rejeki ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Pagi, siang, sore, malam, tamu-tamu selalu berdatangan. Mobil-mobil canggih berjajar rapih memenuhi halaman parkir. Setiap hari seluruh table tidak pernah kosong. Setiap tamu yang baru datang diwajibkan untuk mengisi buku waitinglist terlebih dahulu. Kalau tidak, para tamu yang baru datang itu tidak akan pernah mendapatkan tempat. Bisa dibayangkan betapa ramainya restoran ini dan betapa sibuknya para Waiter dan waitress yang bekerja di sini. Mereka, para waiter dan waitress itu, dituntut untuk harus selalu bergerak lincah dari satu meja ke meja yang lain. Harus selalu gesit seperti pelari estafet setiap kali mengantarkan minuman, makanan, dan lain sebagainya seperti tusuk gigi, keju parmesan, asbak, tisu, garam, merica, garpu, sendok, saus sambal botolan, dan bon tagihan kepada setiap pengunjung yang memesan. Harus selalu tersenyum seperti bintang iklan pasta gigi setiap kali bertatap muka dengan para tamu restoran. Tidak peduli betapa hati mereka saat itu sedang sedih, gelisah, marah, terluka—pokoknya harus tersenyum. Titik.

Begitulah. Restoran ini memang tidak pernah sepi dari pengunjung. Tentu, ya, tentu ini semua berkat airmata yang berasal dari sepasang mata kami, yang selalu menetes ke dalam setiap masakan kami.

*

Kami memasak sambil menangis. kami menangis sambil memasak. Kami memasak dengan menggunakan resep airmata.

“Jadi, kami harus memasak sambil menangis?” tanya salah seorang rekan kami kepada si pemilik restoran ini, ketika untuk pertamakalinya ia menyuruh kami memasak sambil menangis.

“Ya. Kalian harus memasak sambil menangis.”
“Kalau boleh tahu, alasannya apa?”

“Tentu saja agar restoran ini laris. Kalian ‘kan tahu sendiri, restoran ini selalu sepi. Kalau sepi terus, bisa-bisa restoran ini bangkrut. Dan kalau restoran ini bangkrut, kalian sendiri yang akan rugi. Bukan begitu?”

“Tetapi mengapa harus menangis, tuan? Bukankah laris tidaknya sebuah restoran itu dinilai dari cara pelayanan dan rasa masakannya?”

“Ah. Selama ini saya lihat pelayanan di restoran ini sudah cukup bagus. Para pelayan di sini selalu bersikap sopan dan ramah kepada setiap tamu yang datang. Dan untuk soal rasa, saya yakin semua rasa makanan di sini tidak kalah dengan restoran-restoran yang lain. Tetapi kenyataanya, restoran ini selalu sepi. Omset restoran ini tidak pernah mencapai target. Itu sebabnya, mulai sekarang kalian harus memasak sambil menangis. Teteskan airmata kalian ke dalam setiap masakan yang kalian olah. Mulai sekarang semua masakan di restoran ini menggunakan resep airmata.”

“Kalau boleh tahu, resep airmata itu tuan dapat darimana?”

“Sudahlah, tidak usah banyak bertanya. Pokoknya mulai sekarang kalian harus memasak sambil menangis. Titik!”

“Tapi, bagaimana kalau kami tidak bisa memasak sambil menangis?”

“Kalian akan saya pecat. Mengerti?”

Akhirnya, dengan amat terpaksa karena tidak ingin dipecat, kami pun memasak sambil menangis. Pada mulanya memang agak sulit. Bagaimana mungkin kami bisa menangis kalau perasaan kami tidak menginginkannya? Tetapi, ya, mau bagaimana lagi? Kami harus menangis. Harus. Begitulah. Berbagai macam cara akhirnya kami coba untuk bisa mengeluarkan airmata dari sepasang mata kami. Mulai dari berkhayal yang sedih-sedih, mengingat sanak-saudara yang sudah meninggal, sampai membayangkan tentang kehidupan di neraka. Ada salah seorang rekan kami yang kesulitan menangis. Tanpa belas kasih, pemilik restoran ini langsung memecatnya. Karena tidak ingin di perlakukan seperti itu, kami pun berusaha semampus mungkin untuk bisa menangis. Detik demi detik berlalu. Hari demi hari berganti. Akhirnya kami bisa juga menangis sambil memasak. Kami tidak perlu lagi membayangkan yang sedih-sedih untuk bisa meluncurkan tetes demi tetes airmata dari sepasang mata kami. Dan, ternyata memang benar apa yang telah dikatakan oleh si pemilik restoran, restoran ini menjadi ramai. Restoran ini menjadi restoran paling laris di kota ini.

“Saya bilang juga apa, airmata kalian itu bisa membuat restoran ini laris,” ujar si pemilik restoran sambil menepuk-nepuk pundak salah seorang rekan kami yang sedang memasak Aglio Ulio Sphageti untuk lima porsi, tentu saja rekan kami itu memasaknya sambil menangis.

*

Dinding dapur kami terdapat sebuah jendela kecil yang menampilkan pemandangan restoran. Dari jendela kecil itulah kami biasa melihat para tamu sedang melahap makanan yang kami buat. Lihatlah, betapa lahapnya mereka. Alangkah rakus! Ah. Kami yakin, mereka yang makan di sini pasti berasal dari kalangan masyarakat yang status sosialnya tinggi. Lihatlah penampilan mereka. Yang lelaki selalu berjas dan berdasi, yang perempuan selalu berblazer dan selalu mengenakan sepatu berhak tinggi, yang kalau berjalan pastilah mengeluarkan suara yang berisik. Ada yang datang sendirian. Banyak pula yang datang secara berkelompok. Sering juga kami melihat beberapa pejabat pemerintah yang gajinya tidak masuk akal itu makan di sini.

Sebelumnya kami sering bertanya-tanya: apa sih keistimewaan airmata kami, sehingga membuat orang-orang kaya itu senang makan di restoran ini? Apakah airmata kami ini adalah airmata ajaib, sehingga bisa membuat rasa masakan kami menjadi begitu lezat? Atau, adakah alasan yang lain?

Kami pernah menyuruh seorang waitress untuk menanyakan hal itu kepada setiap tamu yang berkunjung. Dan, akhirnya kami pun mendapatkan alasannya, yaitu: mereka yang makan di restoran ini selalu mendapatkan kebahagiaan.

Kata waitress itu, kebanyakan dari semua pengunjung berkata seperti ini:

“Saya senang makan di restoran ini. Selain makanannya enak-enak, juga bisa membuat perasaan saya bahagia.”

“Saya sudah mendatangi semua restoran di kota ini. Dan, hanya restoran ini yang bisa membuat perasaan saya menjadi bahagia.”

“Setiap kali saya ada masalah, saya selalu datang ke restoran ini. Sebab, setiap habis makan di sini, entah mengapa semua masalah saya langsung hilang begitu saja. Aneh, bukan? Tapi, ya, begitulah yang terjadi. Semua makanan yang tersedia di sini selalu bisa membuat saya bahagia.”

“Saya senang sekali makan di restoran ini. Sumpah! Tidak tahu kenapa, setiap habis makan di sini, saya selalu merasa bahagia. Kalau boleh saya tahu, resepnya apa, sih?”

“Setiapkali saya makan di sini, saya selalu mendapatkan kebahagiaan.”

Hmm. Kebahagiaan macam apakah itu? Apakah benar kebahagiaan bisa hadir lewat sebuah makanan yang dibumbui dengan airmata? Ah. Sampai sekarang kami masih belum bisa mengerti.

*

“Sampai kapan aku harus menangis terus seperti ini?” keluh salah seorang rekan kami yang sedang menyiapkan garnish nasi goreng untuk tujuh porsi. “aku letih harus menangis setiap hari. Aku letih!” Airmatanya menetes membasahi irisan timun, tomat, selembar daun salada, dan acar.

Salah seorang rekan kami yang lain ikut menimpali, “Aku juga muak menangis terus. Sepertinya aku harus keluar dari restoran brengsek ini. Harus! Restoran ini selalu ramai setiap hari, tetapi kita tidak pernah mendapatkan kenaikan gaji. Dasar restoran brengsek!” ujarnya sambil meneteskan airmatanya ke salmon sandwich yang sedang ia buat.

“Memangnya kamu saja yang ingin segera keluar dari sini? Aku juga ingin keluar,” ujar rekan kami yang lain, yang sedang menggratang empat chicken pie di sebuah mesin calamander .

“Tapi aku bingung,” ujarnya melanjutkan, “setelah keluar dari sini, aku mau kerja di mana lagi? Kalian tahu sendiri, zaman sekarang cari kerja itu susahnya minta ampun. Aku tidak mau jadi pengangguran. Kredit motorku belum lunas.” Airmatanya meluncur seperti gerimis.

“Aku juga tidak mau. Anakku baru saja masuk sekolah.”

“Kamu masih untung baru punya anak satu. Anakku sudah tiga. Semuanya sudah pada sekolah.”

“Tapi, sampai kapan kita harus menangis seperti ini?”

“Iya. Sampai kapan?”

“Entahlah. Sampai airmata kita habis, barangkali!”

Airmata kami masih terus menetes, mengalir, meluncur tiada henti. Tak pernah berhenti.

*

Tamu pergi. Tamu datang. Silih berganti tak pernah henti. Selalu seperti itu dari hari ke hari. Sampai akhirnya, entah mengapa, kami tidak bisa menangis lagi. Ya. Kami tidak bisa lagi mengeluarkan airmata dari sepasang mata kami.

“Apa?! Kalian tidak bisa menangis lagi?!” tanya si pemilik restoran dengan raut wajah yang sangat terkejut.

Kami mengangguk. “Ya, tuan. Sepertinya airmata kami sudah habis.”

“Kacau! Kacau!” bentaknya sambil memegang kepalanya.

Mesin print pesanan makanan yang bentuknya seperti kotak tisu itu terus berbunyi.

Tretetetetet.
Tretetetetet.

Selembar kertas menyembul. Pesanan-pesanan makanan terus berdatangan.

Tretetetetet.
Tretetetetet.

“Berusahalah kalian untuk menangis! Lihat, tamu-tamu di luar sana membutuhkan airmata kalian! Cepat! Cobalah untuk berpikir yang sedih-sedih, atau apa, kek, yang bisa membuat kalian menangis!” si pemilik restoran panik. Kami juga ikut panik.

“Tidak bisa, tuan,” ujar kami mencoba menjelaskan. “Sepertinya airmata kami benar-benar sudah kering!”

“Saya tidak mau tahu. Pokoknya kalian harus bisa menangis. Titik!”

Mau tidak mau, akhirnya kami berusaha mati-matian untuk bisa mengeluarkan airmata dari sepasang mata kami. Kami memejamkan mata kami dengan sekuat tenaga.

“Cepat! Keluarkan airmata kalian!”

Mesin print pesanan makanan itu kembali berbunyi.
Tretetetet!
Tretetetet!
Tretetetetet.

Kami semakin memejamkan mata kami dengan sekuat tenaga.
“Cepat! Menangislah kalian!”
Tretetetet!
Tretetetet!
Tretetetetet.
Pesanan-pesanan makanan masih terus berdatangan.

“Ayo, menangislah! Cepat!”

Kami semakin menguatkan pejaman mata kami. Benar-benar sekuat tenaga. Dan, pada akhirnya, ada sesuatu yang mengalir dari sepasang mata kami. Kami tersenyum dan menarik nafas lega. Akhirnya kami bisa kembali menangis. Dengan segera kami langsung membuka sepasang mata kami. Ah. Betapa tekejutnya kami ketika mengetahui bahwa yang mengalir dari sepasang mata kami bukanlah airmata, melainkan darah!

“Tuan, lihatlah, tuan. Bukan airmata yang mengalir dari sepasang mata kami, melainkan darah!”

Si pemilik restoran terdiam sejenak, untuk kemudian segera berkata dengan nada yang tekesan dingin namun penuh harap, “Ya sudah, untuk sementara waktu, teteskan darah itu ke dalam masakan kalian.”

Lalu, si pemilik restoran pun berjalan ke luar dapur.
Kami saling berpandangan. Tidak mengerti.

*

Tamu pergi. Tamu datang. Silih berganti tak pernah henti. Kini kami tidak lagi memasak dengan airmata, melainkan dengan darah! Dan, ajaibnya, restoran brengsek ini malah semakin ramai dari biasanya.

Depok, 10-14 Juli 2006
Selasa, 12 Juli 2011 by Forum Lingkar Pena

Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Pikirian Rakyat, 10 Juli 2011

Kamu pasti tidak akan percaya bila kukatakan bahwa temanku yang menjadi pembantu rumah tangga memberikan jari jempolnya untuk diisap anak majikan yang masih balita, agar anak itu berhenti menangis. Itu dilakukan karena istri sang majikan sering memanggilnya dengan kata-kata sangat kasar yang mengiris hati dan sangat pelit dengan makanan. Gajinya juga sering telat, sehingga kiriman uang ke kampung untuk biaya sekolah dua anaknya menjadi tertunda.

Temanku lainnya mencampur susu untuk anak majikan dengan ludahnya. Ia kesal dengan majikan perempuan yang cerewet dan majikan laki-laki yang sering meraba-raba buah dadanya. Majikan laki-laki itu juga mengancam akan membuat cerita palsu tentang pencurian dan akan melaporkannya ke polisi bila ia mengadu pada istrinya.

Aku tidak seperti dua temanku itu meskipun aku juga pernah mendapat perlakuan yang hampir sama ketika bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Saudi Arabia dan Malaysia. Memang ada keinginan untuk membalas perlakuan mereka, tapi aku takut penjara. Pasti ibuku yang sudah tua akan lebih menderita.

Aku kini berada di Jakarta, kembali bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sebenarnya aku sudah tidak ingin lagi bekerja sebagai pembantu. Tapi tidak ada pekerjaan lain yang bisa kulakukan, dan ibuku butuh uang untuk berobat. Aku tidak mengerti penyakit apa yang dideritanya. Kata dokter paru-paru basah dan penyakit lainnya yang namanya sampai sekarang tidak aku ingat. Tapi kata sepupuku yang telah menjanda empat kali, ibuku terkena guna-guna. Katanya guna-guna itu ditujukan padaku dan datangnya dari seorang laki-laki yang lamarannya aku tolak. Tapi guna-guna itu meleset dan menimpa ibuku.

Entah guna-guna itu benar atau tidak, ketika bertemu lelaki itu di pasar, ia tersenyum penuh kemenangan sambil mengipas-ngipas uang di depan dagangannya. Ia lalu berkata keras-keras pada seorang lelaki lain yang duduk di dekatnya bahwa ia akan menikahi perawan berumur 16 tahun minggu depan. Perawan kencur itu akan menjadi istri keempatnya. Dan ia berkata akan tetap awet muda sepanjang masa. Aku menjadi semakin jijik dan ingin rasanya melempar segumpal ludah.

Nyonya dan Tuan di tempat kerjaku sekarang lumayan baik. Malah Tuan pernah memberiku uang tambahan tanpa sepengetahuan Nyonya. Tapi ternyata kebaikan Tuan tersembunyi di balik niat jahat. Dia berhasil membuat aku tidak sadar pada suatu malam. Akibatnya perutku menggelembung.

“Aku selama ini tidak punya pembantu sebaik kamu, Yun.” Kata Nyonya. Ia bersandar di bale bengong di serambi belakang. Kedua kakinya menjulur. Helai-helai rambut putih membuatnya makin terlihat tua.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Tanganku terus memijat-mijat kedua kaki Nyonya. Daun-daun anthurium dalam pot yang berada sepanjang tembok pembatas dengan rumah tetangga di halaman yang cukup luas itu bergoyang-goyang. Semilir angin sore membuatku merasa nyaman, sedikit meredakan kegundahan hati yang sejak lama mengendap dan mulai menggerogoti perasaan. Tapi Nyonya merapatkan syal lebar yang menutupi leher, punggung, dan dadanya.

“Aku kadang menyesal telah menikah dengan suamiku, Yun.”

Aku tahu Nyonya, aku bisa merasakan. Aku juga menyesal.

“Ini semua karena ibuku sangat takut aku menjadi perawan tua.” Suara Nyonya gemetar, dan terdengar bagai bercampur penyesalan. “Akhirnya aku tahu, aku bukan menikah dengan manusia, melainkan kucing garong yang selalu lapar.”

Tuan bukan kucing garong, Nyonya. Ia macan garong.

“Boleh saya tanya, Nya?”

Ia mengangguk.

“Sudah berapa pembantu yang bekerja di sini?”

“Sudah banyak, Yun. Semuanya muda-muda. Tapi semuanya menjadi mangsa suamiku.” Ia lalu menangis. Badannya semakin terlihat lemah. Seperti sudah tidak ada lagi sisa-sisa tenaga yang melekat.

“Aku mengusir mereka, Yun.” Kata Nyonya lagi. “Semula aku hendak membunuh mereka. Tapi akhirnya aku sadar, suamikulah yang bersalah.”

Mendengar kata-katanya, kudukku berdiri. Satu detak jantung menghilang. Angin sore tiba-tiba tak lagi kurasakan sejuk. Perutku kejang sesaat.

Nyonya kembali menangis. Seperti ada dendam yang tak mampu dibungkamnya dan tak mungkin untuk dilaksanakan. Dendam itu melilit seluruh tubuhnya hingga dagingnya perlahan-lahan rontok, menampakkan kerangka tubuh yang selama ini menopangnya dan semakin lama semakin rapuh.

Kupandang wajah Nyonya yang meredup. Pipinya semakin menjorok ke dalam. Mata sayunya berkedip tanpa tenaga. Sekilas ia mirip dengan ibuku. Mereka berdua sedang menanggung beban berat. Lambat laun ada perasaan sayang bercampur kasihan padanya. Lalu tiba-tiba penyesalan muncul, bertaut dengan perasaan berdosa.

Tiba-tiba perutku mules. Ada yang bergerak-gerak. Aku menundukkan badan agar mules itu hilang. Sedapat mungkin aku menyamarkan penderitaan, agar beban Nyonya tidak bertambah. Kenapa mules di perutku semakin hari semakin menjadi, padahal aku telah mengikatnya erat dengan kain panjang dan minum berbagai macam obat. Inikah tanda-tandanya?

Anjing peliharaan Tuan menggonggong. Pasti binatang itu melihat orang asing lewat di depan pagar rumah. Meskipun lehernya terikat rantai besar dan kokoh, aku takut sekali dengan anjing hitam bertubuh tambun itu. Taringnya seperti siap merobek-robek dada dan perutku. Tiba-tiba anjing itu kembali menggongong. Keras sekali. Nyonya menutup telinga.

“Cepat Yun, beri anjing sialan itu makanan.” Kata Nyonya. “Aku sudah muak mendengar gonggongannya. Mirip suara suamiku.”

Aku pergi sambil menahan rasa nyeri di perut. Di dapur kutemukan dua paha ayam goreng. Segera kuberikan pada anjing yang langsung melahapnya. Aneh, aku semakin takut pada binatang itu. Seperti ada setan di dalam tubuhnya. Terpancar pada matanya yang merah menyala begitu melihatku.

***

Malam tiba. Ikatan di perutku semakin kukencangkan sehingga rasa sakit sedikit reda. Tapi ikatan itu juga kumaksudkan untuk menekan perutku agar tidak terlalu menonjol. Aku tak ingin Nyonya tahu. Aku tak ingin menambah bebannya. Ia telah rapuh, sama seperti ibuku di kampung.

Tuan pulang saat aku sedang mempersiapkan makan malam. Nyonya sudah duduk. Tidak ada sapaan ketika Nyonya dan Tuan bertemu di ruang makan. Tuan hanya bertanya apakah aku sudah memberi makan anjing kesayangannya. Aku mengangguk. Kulihat matanya berkedip kepadaku. Matanya juga merah, seperti mata anjing peliharaannya yang kulihat tadi sore. Perutku tiba-tiba mual, seperti ingin muntah. Dan ingin rasanya aku muntah di wajahnya, agar mata itu tertutup dan tak pernah lagi berkedip padaku.

Malam merambat ke tengah. Aku terbangun ketika mendengar gonggongan anjing. Perutku sangat sakit. Celana karet yang kukenakan terasa basah. Kupegang perutku dengan kedua tangan, tapi rasa mules semakin menjadi. Aku kalut, lalu bangun dan berlari ke luar. Pikiranku mengatakan mungkin Nyonya atau Tuan bisa membantu.

Aku menuju kamar Nyonya yang sedikit terbuka. Kudorong perlahan daun pintu. Kamar terang. Tampak tubuh Nyonya yang ringkih sedang terlelap. Tarikan nafasnya terdengar bagai peluit rusak, membuat aku sangat iba. Tidak, ia tidak boleh tahu. Jika tahu, pasti hidupnya tidak akan lama lagi. Sama saja aku membunuh ibuku sendiri.

Aku menuju ruang tamu yang temaram. Tuan bersandar di sofa dan terlelap. Dengkurnya menyerupai geraman anjing kesayangannya. Di atas meja berserakan botol-botol minuman. Televisi menyala. Ada adegan seorang wanita pirang telanjang bulat dengan dua lelaki kekar. Mereka tengah bergumul. Aku bertambah mual. Satu telapak tangan menutup mulut dengan cepat. Kupalingkan pandangan ke arah Tuan. Celananya sedikit terbuka. Kembali ada suara gonggongan anjing. Seketika muncul kebencian yang teramat dalam pada Tuan. Lalu seolah ada bisikan bertubi-tubi. Rasa mules sedikit mereda.

Aku berlari ke meja makan. Ada pisau besar yang sangat tajam dekat potongan kue bolu. Segera kuraih pisau itu dan kembali ke ruang tamu. Kebencianku pada Tuan semakin memuncak. Kedua pahaku yang terasa basah tak lagi kupedulikan. Tuan telah menghancurkan perempuan: aku, Nyonya, dan para pembantu sebelumnya.

Dengkur Tuan membuat hatiku semakin terbakar. Genggaman pada pisau semakin erat. Kali ini dengan dua tangan. Pisau itu kuangkat tinggi-tinggi. Aku mengarahkan pada dadanya, bukan perutnya yang menyerupai perutku. Pandanganku ke sekeliling kabur. Semuanya seolah tanpa bentuk. Aku tak sadar, kaki bagaikan tak berpijak. Aku rasanya seperti menjatuhkan pisau ke lantai, lalu berlari ke luar rumah. Seketika ada kekuatan yang mendorongku bersandar pada dinding.

Entah berapa lama, tiba-tiba aku mendengar suara bayi. Bayi itu muncul di antara kedua kakiku yang mengangkang. Kudekap mulut bayi agar Tuan dan Nyonya tidak mendengar. Aku terkejut mendengar gonggongan anjing. Aku teringat ibu, dia pasti sedang kelelahan dan merasakan sakit sambil terbaring di ranjang reot berkelambu suram yang dipenuhi darah nyamuk.

Anjing kembali menggonggong. Kali ini tanpa henti. Suaranya menusuk telinga. Aku tak tahan. Kepalaku pusing. Aku seolah melayang. Lalu muncul wujud ibu yang terbangun dari tempat tidurnya. Ia melotot dan menunjuk kepadaku dengan kebencian. Aku kalut, lalu berjalan sempoyongan dan melemparkan bayi ke dekat anjing. Sekilas kudengar ada suara kunyahan.

Entah berapa lama kemudian, semua kekalutan sirna. Hening. Tidak ada lagi gonggongan anjing, bahkan hembusan angin. Yang kutahu, aku bersandar di tiang rumah dengan posisi duduk tanpa tenaga. Tangan dan kakiku seolah tak bertulang. Pintu sedikit terbuka. Ada cahaya televisi yang menerangi tubuh Tuan. Aku bisa melihat, ada pisau yang menancap di ubun-ubunnya. Darah hitam telah menutup matanya yang merah. Aku yakin, mata itu kini tak lagi mampu berkedip pada setiap wanita cantik. Aku ingin tersenyum, tapi kedua bibirku seperti disatukan dengan lem. Aku hanya ingin tidur, ngantuk sekali. Dan kemudian semuanya menjadi gelap.


Ilustrasi: Lukisan Bambang Widjoyono

Minggu, 22 Mei 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Tribun Jabar, Ahad 15 Mei 2011

PEREMPUAN itu bernama Gendis Murniati. Sesaat setelah ia melahirkan bayi laki-laki, suaminya pergi entah ke mana. Kabar angin mengatakan wajah bayi itu tidak mirip dengan wajah suami Gendis. Tapi ketika beberapa tetangga menanyakan hal ini pada Gendis, ia tidak mengiyakan atau membantah. Ia hanya berkata lelaki pengecut dan berjiwa kerdil memang selalu kabur dari masalah.

Sebulan kemudian bayi Gendis meninggal. Setelah bayi dikubur, Gendis terlihat murung selama lima minggu, lalu ia terus menangis beberapa bulan berikutnya. Setiap keluar rumah para tetangga dekat pasti mendengar Gendis menangis, begitu juga orang-orang yang lewat di depan rumahnya. Banyak tetangga yang datang untuk menghibur Gendis sambil membawa buah-buahan. Namun tak satu pun yang mampu menghentikan tangisannya. Tangisan menyayat hati dan penuh rintihan kepedihan.

Gendis baru menghentikan tangisannya tepat pada saat ada tetangga yang melahirkan bayi perempuan rupawan. Sayang, payudara perempuan yang melahirkan itu tidak mengeluarkan air susu. Bentuknya juga kempes, tidak kembung seperti milik seorang wanita yang baru melahirkan. Ibu-ibu ramai membicarakan hal itu, terutama ketika sedang membeli sayuran di muka rumah. Mereka juga kasihan karena perempuan itu tidak mampu membeli susu kaleng.

"Biarlah aku yang menyusui bayi itu." Tiba-tiba Gendis keluar rumah. Orang- orang terkesima, sesaat serupa tugu. Aneh, Gendis masih terlihat sama seperti saat baru melahirkan. Payudaranya terlihat kembung. Yang berubah hanyalah matanya. Di mata itu seperti masih ada genangan air. Sebagian orang menganggapnya buta karena terlalu lama mengucurkan air mata.

Kesediaan Gendis untuk menyusui dilaporkan pada perempuan yang baru melahirkan itu. Pada awalnya ia tidak setuju karena mendengar kabar tentang mata Gendis yang terlihat aneh, tapi karena ia tidak mampu lagi membeli susu, akhirnya ia bersedia bayinya disusui Gendis. Beberapa orang yang semula meragukan apakah payudara Gendis masih mengeluarkan air susu terbukti salah. Malah susu dari payudara Gendis melimpah ruah. Bayi itu menyusu dengan sangat lahap. Bila tiba waktunya untuk menyusu, bayi itu selalu dibawa oleh orang tuanya kepada Gendis. Selama dua tahun bayi itu disusui Gendis hingga tiba waktunya untuk disapih. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Kabar itu cepat menyebar. Maka datanglah beberapa perempuan yang memiliki bayi. Bukan hanya para perempuan dengan payudara yang tak mampu menghasilkan susu, tetapi juga sebaliknya. Mereka menginginkan bayi mereka sehat seperti bayi sebelumnya, dan mereka rela antre di depan rumah Gendis selama berjam-jam. Rumah Gendis tak pernah sepi dari tangisan bayi.

Dengan senang hati Gendis menyusui bayi-bayi itu. Terbukti mereka tumbuh menjadi anak-anak sehat. Anehnya, payudara Gendis tidak pernah menyusut dan susunya tidak habis-habis meski sudah puluhan bayi yang disusuinya. Hanya kedua matanya yang semakin mengecil. Makin banyak orang yang menganggap Gendis buta sehingga beberapa orang datang dengan sukarela untuk membantu Gendis mengurus rumah karena sepanjang hari ia sibuk menyusui. Malah seorang pria bernama Bejo mengatakan akan mengabdikan dirinya pada Gendis. Bagi Bejo, Gendis adalah sebuah keajaiban.

Rumah Gendis makin ramai. Beberapa tetangga memanfaatkan kesempatan itu dengan membuka warung. Mereka menjual apa saja yang bisa dimakan. Sisa-sisa makanan mengundang beberapa ekor kucing untuk datang. Di antara kucing-kucing itu ada yang kawin dan melahirkan empat ekor anak. Namun sayang, induk kucing mati.

Mengetahui hal itu, Gendis berkata pada Bejo. "Bawalah anak-anak kucing itu ke sini. Akan aku susui mereka." Bejo terkejut, tapi ia tidak berani membantah. Ia segera mengambil keempat ekor anak kucing itu dan membawanya kepada Gendis. Gendis segera menyusui mereka dan meminta Bejo untuk merawat bayi-bayi kucing yang mungil itu. Dua kali sehari Gendis menyusui mereka, bergantian dengan bayi- bayi manusia yang mengantre untuk disusui. Anehnya, anak-anak kucing itu pun menjadi sehat dan siap untuk dilepas.

Kabar tentang Gendis yang tidak hanya menyusui anak manusia cepat tersebar. Lalu berdatanganlah orang-orang ke rumah Gendis dengan membawa berbagai jenis binatang peliharaan mereka yang sakit. Bejo sempat bingung. Ia lalu bertanya pada Gendis, "Ibu, banyak orang yang datang ke sini dengan membawa binatang peliharaan mereka untuk disusui. Mereka sudah gila, Ibu."

"Bejo, tidak apa-apa. Biarlah mereka mengantre. Akan aku susui binatang- binatang itu. Mereka juga makhluk ciptaan Tuhan yang perlu kita sayangi." Kata Gendis dengan suara lembut. Matanya berkedip-kedip. Genangan air masih terlihat di sana. Kadang orang yang melihat matanya dengan cukup lama bagai melihat lautan.

Maka sejak itu Gendis tidak hanya menyusui anak manusia dan kucing, tetapi juga anak anjing, monyet, orang utan, siamang, kambing, rusa, gorila, bahkan bayi harimau. Seperti yang sudah-sudah, binatang-binatang itu juga menjadi sehat.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Gendis semakin dikenal. Bahkan beberapa orang menjulukinya manusia sakti dan keturunan wali. Pemujanya juga terus bertambah. Suatu ketika, seorang wanita paruh baya datang ke rumah Gendis, tetapi bukan untuk meminta Gendis menyusui bayinya atau binatang peliharaannya, melainkan mengadukan masalah keluarga. Ia datang sambil bercucuran air mata.

Wanita itu mengatakan bahwa ia memiliki seorang anak lelaki yang kecanduan narkoba. Kuliah si anak berantakan dan wanita itu telah menjual rumah satu-satunya peninggalan suami untuk biaya menyembuhkan anaknya. Mereka sekarang tinggal di rumah kontrakan yang kecil pada gang sempit. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

"Tolonglah, Ibu Gendis."

"Bawalah anak laki-lakimu ke sini," kata Gendis.

"Bawa ke sini, Ibu?"

"Iya. Akan aku susui dia."

"Baik, Ibu."

Keesokan harinya wanita itu membawa anaknya. Gendis menyuruh Bejo menyiapkan satu kamar kosong. Di kamar itulah pecandu narkoba itu ditempatkan. Pintu dikunci agar pada saat sakaw ia tidak kabur. Setiap lima jam sekali Gendis menyusui pecandu itu. Tiga hari pertama ia muntah-muntah. Semua racun yang telah ditenggaknya keluar bersama muntah berwarna kelam. Hari berikutnya pecandu itu menyusu seperti bayi yang kelaparan. Dua minggu berikutnya ia telah sembuh dari kecanduan narkoba.

Kabar tentang Gendis Sang Perempuan Penyusu terus menyebar. Predikatnya pun makin banyak. Orang-orang yang sangat memujanya memberinya nama-nama pujian. Kini orang-orang yang menyusu padanya bukan hanya pecandu narkoba, tetapi juga tokoh-tokoh politik yang ingin menjadi pemimpin, pejabat yang ingin cepat naik pangkat, pengusaha yang ingin cepat kaya, penyanyi yang goyangannya dilarang, artis yang dianggap melecehkan agama, perempuan dan pria yang susah mendapat jodoh dan pekerjaan, pelajar dan mahasiswa yang ingin cepat lulus, dan masih banyak lagi.

Tapi di balik kemasyhuran Gendis ada beberapa orang yang membencinya. Ia dituduh menyebarkan maksiat dan klenik. Sekelompok orang berpakaian putih-putih datang dan berdemo di depan rumah Gendis. Gendis diminta untuk menghentikan kegiatannya menyusui orang dan binatang. Kalau tidak, rumahnya akan dibakar.

Gendis tidak pernah peduli dengan segala omongan orang dan demo-demo yang menentangnya. Ia terus saja menyusui makhluk hidup apa pun yang datang kepadanya. Ia berkeyakinan selama itu demi kebaikan orang lain dan tidak merugikan pihak mana pun, ia akan terus menyusui hingga akhir hayat.

Keteguhan Gendis membuat beberapa orang membelanya. Terutama mereka yang telah merasakan manfaat menyusu pada Gendis. Makin hari makin banyak saja orang yang mendukungnya sehingga terbentuklah aliansi pendukung Gendis yang siap mati jika keberadaan Gendis terus diusik. Mereka membubuhkan sidik jari dengan tinta darah. Ia juga dirangkul oleh partai politik yang menentang penguasa.

Gendis berubah menjadi sebuah fenomena. Ia bahkan terkenal hingga ke mancanegara. Orang-orang yang datang untuk menyusu padanya bukan hanya dari dalam negeri. Beberapa kali ia malah diundang ke berbagai negara. Tentu saja ia selalu ditemani oleh Bejo yang kini juga ikut menikmati kemasyhuran.

Pada suatu ketika Gendis akan menghadiri pertemuan. Sang penguasa menganggap pertemuan itu akan mengusik kekuasaannya. Maka dibuatlah rencana untuk membunuh Gendis dengan memberikan racun pada minumannya. Antek-antek penguasa yang telah sangat lihai dan mendapat pelatihan di luar negeri selama bertahun-tahun ditugaskan dalam misi ini. Entah bagaimana mereka bekerja, akhirnya di depan Gendis ada gelas berisi air putih yang telah diberi racun.

Pada saat Gendis hendak minum, tiba-tiba gelas itu pecah. Gendis tidak mati. Peristiwa yang dianggap langka itu diliput televisi. Para pendukungnya sangat yakin bahwa ada sesuatu di minuman itu. Nama Gendis malah semakin masyhur. Pengikutnya menjadi berlipat-lipat. Sang penguasa harus gigit jari karena kini pengikut Gendis telah melimpah ruah. Itu berarti akan sangat sulit untuk menyingkirkannya, dan jika mencalonkan diri menjadi pemimpin, ia pasti menang. Para pemujanya menjuluki Gendis orang suci.

Kiprah Gendis semakin berkibar. Ia kini bukan hanya menyusui, tetapi juga menentang tindakan main hakim sendiri dalam membela keyakinan. Jurang perbedaan antara sekelompok orang dengan Gendis semakin curam. Bentrokan antara pengikut Gendis dengan sekelompok orang itu tak lagi bisa dihindarkan.

"Tangkap Gendis. Ia telah memilih jalan sesat dan menyesatkan." Begitu kata pemimpin kelompok itu.

"Aku tak akan pernah gentar. Bila ingin menindas orang, langkahi dulu mayatku," jawab Gendis yang kemudian dikutip berbagai media massa. "Aku menyusui karena aku memiliki air susu yang melimpah ruah, dan sangat banyak makhluk yang membutuhkannya. Ini bukan porno dan maksiat, namun suatu bentuk pelayanan pada Sang Pencipta."

Tahun-tahun terus berlalu. Gendis makin tua. Kesehatannya semakin memburuk. Ke mana-mana ia harus didorong dengan menggunakan kursi roda. Tapi ia tetap tak pernah menolak siapa pun yang datang kepadanya untuk menyusu. Anehnya, buah dadanya bukannya makin kempis, tetapi makin berisi, meskipun tubuhnya sudah sangat lemah.

"Aku akan terus menyusui siapa pun yang membutuhkan. Cuma itu yang bisa kulakukan dalam hidup ini di sisa-sisa umurku. Hanya Tuhan yang bisa menghentikan tindakanku. Aku ingin dikenang sebagai Perempuan Penyusu dan menjadi rahmat bagi sekalian alam." Begitu kata Gendis sebelum akhirnya ia menutup mata untuk selama-lamanya. Jutaan orang mengantarkan Gendis ke pembaringannya yang terakhir. Mata mereka tergenang air, persis seperti mata Gendis pada saat tangisan terakhirnya reda. Salah satu dari mereka adalah anak perempuan yang berumur enam tahun. Jika diperhatikan dengan saksama, mata anak itu seperti lautan. Ruh Gendis telah menyusup melalui ubun-ubunnya. Kelak ia akan menjadi perempuan penyusu berikutnya.