Tampilkan postingan dengan label * Tary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label * Tary. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 Januari 2011
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Sri Lestari (Tary)
Pemenang 2 Lomba Cerpen Femina 2010
Aku memeluk kepala tedong bongaku untuk terakhir kalinya. Bulu-bulunya yang putih dan halus menyentuh pipiku. Kuelus sejenak lehernya dan kupandangi penampilannya yang gagah siang ini. Mengenakan kalung dari bulatan-bulatan kayu yang dijalin rapih dan kain merah berumbai kuning yang diikatkan di kedua tanduknya, ia sangat tampan. Matanya yang hitam menatapku lalu mengerjap perlahan, seolah ingin mengatakan salam perpisahan.
“Kau tampan, sudah…” bisikku di telinganya.
Ia mengibaskan ekornya lalu menekankan moncongnya lembut ke lenganku. Biasanya, setelah itu ia akan berlari memutari tubuhku. Tetapi ikatan di simbuang kali ini tidak mengizinkan ia berlari dengan bebas seperti yang selalu ia lakukan setiap kali aku memujinya.
Seorang lelaki menepuk pundakku. Aku berbalik dan dadaku berdesir saat melihat la bok duatalan di tangan lelaki itu. Tiba-tiba aku ketakutan. Dalam beberapa tahun terakhir, tangan berotot lelaki itu sudah menebas delapan ribu tedong. Semua pengunjung selalu puas melihat atraksinya menebas leher-leher tedong. Sigap dan tepat. Dalam sekali tebas, kepala tedong langsung terlepas dari lehernya dan menggelinding di halaman upacara kematian.
Dan sebentar lagi, lelaki ini akan menebas leher tedong bongaku.
Sekali lagi aku mengelus kepala tedong bongaku sambil berbisik,” Selamat jalan, sudah. Kita pasti bertemu lagi di puya.”
Tedong bongaku melenguh lirih sambil menatapku tenang. Aku tak melihat ketakutan sedikitpun melintasi mata hitamnya. Apakah ia sudah siap menjadi kendaraan nenek menuju puya? Lelaki itu memberiku isyarat untuk menepi. Mataku memanas ketika lelaki itu menuntun tedong bongaku menuju pelataran upacara. Orang-orang berdiri mengelilingi pelataran upacara dengan wajah antusias. Anak-anak memegang bambu dan menunggu. Dadaku berdebar kencang saat la bok duatalan di tangan kanan lelaki itu mengayun cepat dan dahsyat menebas leher tedong bongaku. Darah muncrat bagaikan pancuran. Sebelum tedong bongaku roboh, anak-anak berebut mencolokkan bambu ke lehernya untuk menadahkan darah.
Pandanganku mengabur. Sebelum duniaku gelap, aku melirik Mama duduk tegak di antara delapan saudaranya yang lain. Mama mengangguk padaku sambil tersenyum bahagia.
***
“Lai, badanmu panas dan wajahmu pucat. Kau sakit?” tanya Mama sambil menempelkan telapak tangannya di keningku.
Aku hanya diam. Upacara rambu solo nenek masih berlangsung dua hari lagi, tetapi aku tidak kuat mengikuti rangkaian upacara itu. Badanku lemas dan dadaku selalu berdebar kencang setiap mengingat tedong bongaku.
“Makan, sudah…” bujuk Mama sambil menyodorkan sepiring nasi dengan lauk pa’piong.
Aku melotot melihat pa’piong yang bambunya sudah terbuka. Apakah daging pa’piong itu daging tedong bongaku? Ada nyeri yang menelusup ke dadaku. Nyeri itu berubah menjadi bara yang membakar setiap aliran darahku. Aku tidak mungkin memakan daging tedong bongaku! Bagaimana mungkin mama memberikan daging itu padaku untuk kumakan? Bukankah mama tahu aku sangat menyayanginya?
“Makan, sudah…” ulang mama sambil menganggukkan kepalanya.
Aku menatap mata mama yang menyorot teduh. Kata-kata sepupuku yang nyinyir terngiang lagi di telingaku, “mamamu ingin dapat warisan paling banyak, karena itu dia mengorbankan tedong bonga kesayanganmu. Kasihan sekali orang miskin seperti kalian, berharap-harap warisan.”
“Makan sendiri kalau kau ingin makan, mama akan bantu beres-beres di rumah nenek.”
Saat mama beranjak dari tepi pembaringan, aku menyambar tangannya. Mama kembali berbalik dan menatapku. Matanya penuh tanda tanya.
“Jadi mama menggadaikan tedong bongaku berapa?”
Mama terkejut. “Maksudmu apa, Lai?”
“Mama mengorbankan tedong bongaku untuk mendapatkan warisan paling besar dari nenek ‘kan? Karena tedong bongaku paling mahal! Lai tahu mama bosan hidup miskin. Tetapi kenapa mama harus menggadaikan tedong bonga Lai?”
“Lai? Mama tidak mengerti apa yang kau katakan.”
“Mama bilang ingin mengorbankan tedong bonga Lai untuk kendaraan nenek di puya! Tapi sebenarnya mama ingin mendapatkan warisan paling banyak!”
“Diam, sudah!” bentak mama dengan wajah memerah.
“Aku tak menyangka mama pembohong!”
Tiba-tiba tangan kanan mama menyambar wajahku hingga aku terjengkang. Mama menamparku! Darah di sekujur tubuhku semakin mendidih. Air mataku mulai mengalir membasahi pipi. Aku tak menyangka, mama melakukan ini.
“Kau harus belajar mendengar dengan baik, Lai…” suara mama terdengar seperti menggeram lalu pergi meninggalkanku.
Membayangkan mama mendapatkan bagian warisan terbesar dari tedong bongaku, dadaku sesak. Mendadak ada kekuatan yang membuatku bangkit dari pembaringan. Dengan langkah tertatih-tatih aku menuju lemari dan mengeluarkan sleuruh bajuku. Aku harus pergi!
***
Malam mengatupkan matanya yang lelah. Aku menggigil kedinginan saat membuka pintu. Kegelapan seperti barisan raksasa yang hendak menerkamku. Tetapi, tekadku sudah bulat. Aku ingin meninggalkan mama dan rumah ini. Aku belum tahu hendak melangkahkan kaki kemana. Tetapi seorang temanku yang menjadi calo tenaga kerja di Makale pernah bercerita tentang nikmatnya hidup di ibukota.
“Ke Jakarta, sudah. Wajah manismu akan mendatangkan rezeki,” kata temenku itu.
Apa benar wajahku mendatangkan rezeki? Dulu aku tidak pernah berpikir apapun tentang itu, tetapi sekarang aku mulai memikirkannya. Aku berharap tawaran temanku itu masih berlaku.
Angin malam menerpa tubuhku. Aku merapatkan jaket kusam yang kukenakan lalu menutup pintu. Mama belum pulang dari rumah nenek atau mungkin malam ini tidak pulang. Nenek memiliki banyak tanah dan harta. Pembagian warisan itu pasti membutuhkan waktu lama. Dadaku kembali bergejolak. Aku berjalan tergesa meninggalkan halaman, tetapi tiba-tiba aku mendengar suara lenguh yang khas. Mendadak aku menghentikan langkah.
“Bonga?” jeritku lirih.
Aku menoleh ke sana ke mari tetapi tidak menemukan apapun. Kutinggalkan tas pakaian di pojok halaman lalu aku berjalan menuju samping rumah. Sampai di depan kandang yang sekarang kosong aku berhenti. Apakah arwah tedong bongaku masih berkeliaran di sini? Bukankah ia telah mengantarkan nenek ke puya? Tetapi suara apa yang terdengar barusan? Aku sangat yakin suara itu adalah suara tedong bongaku.
Air mataku kembali mengalir. Aku terjatuh lemas di depan kandang. Kedatangan tedong bonga kecil bertahun-tahun yang lalu di kandang ini kembali memenuhi kepalaku. Waktu itu ayah baru saja meninggal. Berbulan-bulan aku sangat sedih kehilangan ayahku. Mama tak pernah bisa menghiburku lagi karena dia pun sedih kehilangan ayah. Kehidupan kami yang miskin semakin memburuk.
Kemudian nenek datang membawa bayi tedong bonga. Semua sepupuku iri melihat pemberian nenek padaku. Bagaimana tidak? Tedong bonga ini setelah besar nanti akan berharga ratusan juta rupiah! Semua orang akan berebut untuk mendapatkannya. Jika tedong bonga ini dikorbankan, ia akan menjadi kendaraan terbaik menuju puya bagi orang yang telah mati. Dan nenek memberikannya kepadaku! Tetapi aku memahami alasan nenek.
“Tedong bonga ini sangat manis. Ia akan menghibur kesedihanmu. Tersenyumlah, sudah,” kata nenek seraya mengambil tanganku untuk mengelus punggung bayi tedong bonga itu dan tersenyum padaku.
Aku memeluk bayi tedong bonga itu dan merasakan kehangatan tubuhnya. Ia melenguh lirih lalu menatapku dengan pandangan bersahabat. Sejak pertama menyentuh tubuhnya, aku menyukainya. Di sudut halaman, aku melihat mata mama berkaca-kaca.
“Kalau bonga besar nanti, apa aku harus mengorbankan dia untuk seseorang, nek?” tanyaku.
Nenek tersenyum dan menghela nafas. “Lai, hidup bonga akan berarti jika ia dikorbankan. Tetapi itu juga tergantung keikhlasanmu. Jika kau tidak ikhlas mengorbankan bonga, lebih baik tidak kau lakukan. Tetapi jika kau ikhlas, bonga akan menjadi kendaraan terbaik menuju puya. Dan dia juga akan mendapatkan tempat yang baik di puya.”
Aku mengangguk-angguk mengerti.
“Jangan berpikir itu dulu, Lai. Rawatlah bonga. Semoga ia bisa menghiburmu dan kalian menjadi sahabat yang baik,” lanjut nenek.
Kami memang ditakdirkan menjadi sahabat. Sejak kehadiran tedong bonga yang lucu itu hari-hariku kembali berwarna. Mama senang melihatku kembali ceria. Perlahan-lahan aku bisa melupakan kesedihanku di tinggalkan ayah. Setiap hari aku mengajak bonga jalan-jalan mencari rumput, memandikannya di sungai dan bersama-sama melihat matahari tenggelam. Setelah bonga besar dan kuat aku sering menungganginya sambil bermain. Kami seperti memahami bahasa masing-masing. Setiap aku merasa sedih, bonga akan mengusap-usapkan moncongnya ke lenganku. Begitu juga saat bonga sakit, aku akan mengusap-usap kepalanya sambil mendengarkan lenguhan-lenguhan kesakitannya.
Aku dan bonga tumbuh bersama. Tetapi hari-hari tak selamanya indah. Banyak yang iri atas persahabatan indahku dengan bonga. Hal-hal buruk harus kami hadapi. Sepupu-sepupuku yang jahat itu sering menyakiti bonga. Mereka tidak bisa menerima kenyataan nenek memberikan bonga padaku.
“Hei orang miskin! Kamu tidak pantas memelihara tedong bonga itu. Pasti besok dia mati sudah!” ejek mereka saat aku mengajak bonga mencari rumput.
Dan esoknya bonga benar-benar sekarat. Aku menangis ketakutan tidak tahu harus berbuat apa. Untunglah mama sangat cekatan menangani masalah ini. Mama memberikan bonga ramuan dari daun-daunan. Beberapa jam kemudian bonga sembuh seperti sedia kala. Menurut mama, bonga keracunan. Ada orang yang telah memaksa bonga untuk minum racun itu. Aku geram mendengar kata-kata mama. Kejadian itu berlangsung beberapa kali, tetapi bonga bisa lolos dari maut.
Sampai kemudian hari itu datang. Nenek meninggal dan semua keluarga sepakat mengadakan pesta kematian rambu solo setahun kemudian. Aku melihat mama sangat kebingungan. Semua saudaranya kaya-raya dan dengan mudah bisa membeli tedong di pasar meskipun tidak sekelas tedong bonga. Tetapi, mama memang tidak memiliki uang sedikitpun untuk membeli tedong atau babi korban. Aku tak sampai hati melihatnya kebingungan.
“Mama bisa mengorbankan bonga kalau mau…” kataku ragu-ragu.
Mama menggeleng. “Tidak lai. Bonga itu sahabatmu.”
“Tidak apa Ma, mungkin hidup bonga lebih bermanfaat kalau di korbankan. Lagipula bonga itu pemberian nenek,” lanjutku berusaha meyakinkan mama dan diriku sendiri.
Mama menatapku lama. Ia mencari keyakinan dari kata-kataku.
“Kau yakin akan mengorbankan bonga?”
Dan aku mengangguk. Pasti.
Lalu apa yang kusesali sekarang? Bukankah aku sendiri yang mengorbankan bonga untuk upacara kematian nenek? Kenapa aku menyalahkan mama? Aku hanya tidak ingin hati mama tergoda warisan nenek sehingga langkah bonga tersesat tidak sampai ke puya. Dan kenyataannya mama memang tergoda!
Air mataku kembali mengalir.
“Maafkan mama, Lai…”
Suara itu mengejutkanku. Aku berbalik dan melihat mama berdiri di belakangku menjinjing tas pakaianku. Pipi mama basah oleh air mata. Aku tercekat melihat wajah mama yang tua dan menderita.
“Mestinya mama tidak mengorbankan bonga karena akan membuatmu sedih. Mestinya mama membeli satu babi saja.”
Aku masih diam menatap mama.
“Warisan itu sudah dibagi-bagi. Mama memang mendapatkan warisan paling banyak karena bonga harganya paling mahal. Tetapi mama tidak mengambil warisan itu. Lebih baik mama tetap miskin daripada harus kehilanganmu.”
Aku terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Perasaan bersalah merambati dadaku. Kulirik tas pakaian di tangan mama dan aku merasa malu. Seumur hidupku, mama selalu memberikan cintanya padaku. Selalu ingin membuatku bahagia. Tetapi aku telah menuduhnya menginginkan warisan itu. Tidak tahan dengan rasa bersalah, aku berlari menubruk mama.
“Maafkan Lai, mama. Maafkan Lai.”
Mama terisak. Tangannya mengusap rambutku lalu menenggelamkan aku dalam pelukannya yang hangat. Dari kejauhan samar-samar aku seperti mendengar suara orang melakukan ma’badong. Di antara ibu-ibu yang bersedu-sedan dan pria-pria yang berteriak penuh semangat, aku melihat nenek mengendarai tedong bongaku dan melambai kepadaku.
Wajah keduanya tampak berseri-seri!
***
Daftar Istilah Tana Toraja :
1. Tedong Bonga : Kerbau belang yang harganya ratusan juta untuk upacara kematian.
2. Rambu Solo : upacara kematian Tana Toraja.
3. Pa’piong : makanan khas Toraja yang dibungkus bambu.
4. La bok duatalan : parang untuk menebas kerbau.
5. Puya : nirwana, surga.
6. Ma’badong : lagu-lagu yang dinyanyikan dalam upacara kematian untuk mengenang jenazah.
Pemenang 2 Lomba Cerpen Femina 2010
“Kau tampan, sudah…” bisikku di telinganya.
Ia mengibaskan ekornya lalu menekankan moncongnya lembut ke lenganku. Biasanya, setelah itu ia akan berlari memutari tubuhku. Tetapi ikatan di simbuang kali ini tidak mengizinkan ia berlari dengan bebas seperti yang selalu ia lakukan setiap kali aku memujinya.
Seorang lelaki menepuk pundakku. Aku berbalik dan dadaku berdesir saat melihat la bok duatalan di tangan lelaki itu. Tiba-tiba aku ketakutan. Dalam beberapa tahun terakhir, tangan berotot lelaki itu sudah menebas delapan ribu tedong. Semua pengunjung selalu puas melihat atraksinya menebas leher-leher tedong. Sigap dan tepat. Dalam sekali tebas, kepala tedong langsung terlepas dari lehernya dan menggelinding di halaman upacara kematian.
Dan sebentar lagi, lelaki ini akan menebas leher tedong bongaku.
Sekali lagi aku mengelus kepala tedong bongaku sambil berbisik,” Selamat jalan, sudah. Kita pasti bertemu lagi di puya.”
Tedong bongaku melenguh lirih sambil menatapku tenang. Aku tak melihat ketakutan sedikitpun melintasi mata hitamnya. Apakah ia sudah siap menjadi kendaraan nenek menuju puya? Lelaki itu memberiku isyarat untuk menepi. Mataku memanas ketika lelaki itu menuntun tedong bongaku menuju pelataran upacara. Orang-orang berdiri mengelilingi pelataran upacara dengan wajah antusias. Anak-anak memegang bambu dan menunggu. Dadaku berdebar kencang saat la bok duatalan di tangan kanan lelaki itu mengayun cepat dan dahsyat menebas leher tedong bongaku. Darah muncrat bagaikan pancuran. Sebelum tedong bongaku roboh, anak-anak berebut mencolokkan bambu ke lehernya untuk menadahkan darah.
Pandanganku mengabur. Sebelum duniaku gelap, aku melirik Mama duduk tegak di antara delapan saudaranya yang lain. Mama mengangguk padaku sambil tersenyum bahagia.
***
“Lai, badanmu panas dan wajahmu pucat. Kau sakit?” tanya Mama sambil menempelkan telapak tangannya di keningku.
Aku hanya diam. Upacara rambu solo nenek masih berlangsung dua hari lagi, tetapi aku tidak kuat mengikuti rangkaian upacara itu. Badanku lemas dan dadaku selalu berdebar kencang setiap mengingat tedong bongaku.
“Makan, sudah…” bujuk Mama sambil menyodorkan sepiring nasi dengan lauk pa’piong.
Aku melotot melihat pa’piong yang bambunya sudah terbuka. Apakah daging pa’piong itu daging tedong bongaku? Ada nyeri yang menelusup ke dadaku. Nyeri itu berubah menjadi bara yang membakar setiap aliran darahku. Aku tidak mungkin memakan daging tedong bongaku! Bagaimana mungkin mama memberikan daging itu padaku untuk kumakan? Bukankah mama tahu aku sangat menyayanginya?
“Makan, sudah…” ulang mama sambil menganggukkan kepalanya.
Aku menatap mata mama yang menyorot teduh. Kata-kata sepupuku yang nyinyir terngiang lagi di telingaku, “mamamu ingin dapat warisan paling banyak, karena itu dia mengorbankan tedong bonga kesayanganmu. Kasihan sekali orang miskin seperti kalian, berharap-harap warisan.”
“Makan sendiri kalau kau ingin makan, mama akan bantu beres-beres di rumah nenek.”
Saat mama beranjak dari tepi pembaringan, aku menyambar tangannya. Mama kembali berbalik dan menatapku. Matanya penuh tanda tanya.
“Jadi mama menggadaikan tedong bongaku berapa?”
Mama terkejut. “Maksudmu apa, Lai?”
“Mama mengorbankan tedong bongaku untuk mendapatkan warisan paling besar dari nenek ‘kan? Karena tedong bongaku paling mahal! Lai tahu mama bosan hidup miskin. Tetapi kenapa mama harus menggadaikan tedong bonga Lai?”
“Lai? Mama tidak mengerti apa yang kau katakan.”
“Mama bilang ingin mengorbankan tedong bonga Lai untuk kendaraan nenek di puya! Tapi sebenarnya mama ingin mendapatkan warisan paling banyak!”
“Diam, sudah!” bentak mama dengan wajah memerah.
“Aku tak menyangka mama pembohong!”
Tiba-tiba tangan kanan mama menyambar wajahku hingga aku terjengkang. Mama menamparku! Darah di sekujur tubuhku semakin mendidih. Air mataku mulai mengalir membasahi pipi. Aku tak menyangka, mama melakukan ini.
“Kau harus belajar mendengar dengan baik, Lai…” suara mama terdengar seperti menggeram lalu pergi meninggalkanku.
Membayangkan mama mendapatkan bagian warisan terbesar dari tedong bongaku, dadaku sesak. Mendadak ada kekuatan yang membuatku bangkit dari pembaringan. Dengan langkah tertatih-tatih aku menuju lemari dan mengeluarkan sleuruh bajuku. Aku harus pergi!
***
Malam mengatupkan matanya yang lelah. Aku menggigil kedinginan saat membuka pintu. Kegelapan seperti barisan raksasa yang hendak menerkamku. Tetapi, tekadku sudah bulat. Aku ingin meninggalkan mama dan rumah ini. Aku belum tahu hendak melangkahkan kaki kemana. Tetapi seorang temanku yang menjadi calo tenaga kerja di Makale pernah bercerita tentang nikmatnya hidup di ibukota.
“Ke Jakarta, sudah. Wajah manismu akan mendatangkan rezeki,” kata temenku itu.
Apa benar wajahku mendatangkan rezeki? Dulu aku tidak pernah berpikir apapun tentang itu, tetapi sekarang aku mulai memikirkannya. Aku berharap tawaran temanku itu masih berlaku.
Angin malam menerpa tubuhku. Aku merapatkan jaket kusam yang kukenakan lalu menutup pintu. Mama belum pulang dari rumah nenek atau mungkin malam ini tidak pulang. Nenek memiliki banyak tanah dan harta. Pembagian warisan itu pasti membutuhkan waktu lama. Dadaku kembali bergejolak. Aku berjalan tergesa meninggalkan halaman, tetapi tiba-tiba aku mendengar suara lenguh yang khas. Mendadak aku menghentikan langkah.
“Bonga?” jeritku lirih.
Aku menoleh ke sana ke mari tetapi tidak menemukan apapun. Kutinggalkan tas pakaian di pojok halaman lalu aku berjalan menuju samping rumah. Sampai di depan kandang yang sekarang kosong aku berhenti. Apakah arwah tedong bongaku masih berkeliaran di sini? Bukankah ia telah mengantarkan nenek ke puya? Tetapi suara apa yang terdengar barusan? Aku sangat yakin suara itu adalah suara tedong bongaku.
Air mataku kembali mengalir. Aku terjatuh lemas di depan kandang. Kedatangan tedong bonga kecil bertahun-tahun yang lalu di kandang ini kembali memenuhi kepalaku. Waktu itu ayah baru saja meninggal. Berbulan-bulan aku sangat sedih kehilangan ayahku. Mama tak pernah bisa menghiburku lagi karena dia pun sedih kehilangan ayah. Kehidupan kami yang miskin semakin memburuk.
Kemudian nenek datang membawa bayi tedong bonga. Semua sepupuku iri melihat pemberian nenek padaku. Bagaimana tidak? Tedong bonga ini setelah besar nanti akan berharga ratusan juta rupiah! Semua orang akan berebut untuk mendapatkannya. Jika tedong bonga ini dikorbankan, ia akan menjadi kendaraan terbaik menuju puya bagi orang yang telah mati. Dan nenek memberikannya kepadaku! Tetapi aku memahami alasan nenek.
“Tedong bonga ini sangat manis. Ia akan menghibur kesedihanmu. Tersenyumlah, sudah,” kata nenek seraya mengambil tanganku untuk mengelus punggung bayi tedong bonga itu dan tersenyum padaku.
Aku memeluk bayi tedong bonga itu dan merasakan kehangatan tubuhnya. Ia melenguh lirih lalu menatapku dengan pandangan bersahabat. Sejak pertama menyentuh tubuhnya, aku menyukainya. Di sudut halaman, aku melihat mata mama berkaca-kaca.
“Kalau bonga besar nanti, apa aku harus mengorbankan dia untuk seseorang, nek?” tanyaku.
Nenek tersenyum dan menghela nafas. “Lai, hidup bonga akan berarti jika ia dikorbankan. Tetapi itu juga tergantung keikhlasanmu. Jika kau tidak ikhlas mengorbankan bonga, lebih baik tidak kau lakukan. Tetapi jika kau ikhlas, bonga akan menjadi kendaraan terbaik menuju puya. Dan dia juga akan mendapatkan tempat yang baik di puya.”
Aku mengangguk-angguk mengerti.
“Jangan berpikir itu dulu, Lai. Rawatlah bonga. Semoga ia bisa menghiburmu dan kalian menjadi sahabat yang baik,” lanjut nenek.
Kami memang ditakdirkan menjadi sahabat. Sejak kehadiran tedong bonga yang lucu itu hari-hariku kembali berwarna. Mama senang melihatku kembali ceria. Perlahan-lahan aku bisa melupakan kesedihanku di tinggalkan ayah. Setiap hari aku mengajak bonga jalan-jalan mencari rumput, memandikannya di sungai dan bersama-sama melihat matahari tenggelam. Setelah bonga besar dan kuat aku sering menungganginya sambil bermain. Kami seperti memahami bahasa masing-masing. Setiap aku merasa sedih, bonga akan mengusap-usapkan moncongnya ke lenganku. Begitu juga saat bonga sakit, aku akan mengusap-usap kepalanya sambil mendengarkan lenguhan-lenguhan kesakitannya.
Aku dan bonga tumbuh bersama. Tetapi hari-hari tak selamanya indah. Banyak yang iri atas persahabatan indahku dengan bonga. Hal-hal buruk harus kami hadapi. Sepupu-sepupuku yang jahat itu sering menyakiti bonga. Mereka tidak bisa menerima kenyataan nenek memberikan bonga padaku.
“Hei orang miskin! Kamu tidak pantas memelihara tedong bonga itu. Pasti besok dia mati sudah!” ejek mereka saat aku mengajak bonga mencari rumput.
Dan esoknya bonga benar-benar sekarat. Aku menangis ketakutan tidak tahu harus berbuat apa. Untunglah mama sangat cekatan menangani masalah ini. Mama memberikan bonga ramuan dari daun-daunan. Beberapa jam kemudian bonga sembuh seperti sedia kala. Menurut mama, bonga keracunan. Ada orang yang telah memaksa bonga untuk minum racun itu. Aku geram mendengar kata-kata mama. Kejadian itu berlangsung beberapa kali, tetapi bonga bisa lolos dari maut.
Sampai kemudian hari itu datang. Nenek meninggal dan semua keluarga sepakat mengadakan pesta kematian rambu solo setahun kemudian. Aku melihat mama sangat kebingungan. Semua saudaranya kaya-raya dan dengan mudah bisa membeli tedong di pasar meskipun tidak sekelas tedong bonga. Tetapi, mama memang tidak memiliki uang sedikitpun untuk membeli tedong atau babi korban. Aku tak sampai hati melihatnya kebingungan.
“Mama bisa mengorbankan bonga kalau mau…” kataku ragu-ragu.
Mama menggeleng. “Tidak lai. Bonga itu sahabatmu.”
“Tidak apa Ma, mungkin hidup bonga lebih bermanfaat kalau di korbankan. Lagipula bonga itu pemberian nenek,” lanjutku berusaha meyakinkan mama dan diriku sendiri.
Mama menatapku lama. Ia mencari keyakinan dari kata-kataku.
“Kau yakin akan mengorbankan bonga?”
Dan aku mengangguk. Pasti.
Lalu apa yang kusesali sekarang? Bukankah aku sendiri yang mengorbankan bonga untuk upacara kematian nenek? Kenapa aku menyalahkan mama? Aku hanya tidak ingin hati mama tergoda warisan nenek sehingga langkah bonga tersesat tidak sampai ke puya. Dan kenyataannya mama memang tergoda!
Air mataku kembali mengalir.
“Maafkan mama, Lai…”
Suara itu mengejutkanku. Aku berbalik dan melihat mama berdiri di belakangku menjinjing tas pakaianku. Pipi mama basah oleh air mata. Aku tercekat melihat wajah mama yang tua dan menderita.
“Mestinya mama tidak mengorbankan bonga karena akan membuatmu sedih. Mestinya mama membeli satu babi saja.”
Aku masih diam menatap mama.
“Warisan itu sudah dibagi-bagi. Mama memang mendapatkan warisan paling banyak karena bonga harganya paling mahal. Tetapi mama tidak mengambil warisan itu. Lebih baik mama tetap miskin daripada harus kehilanganmu.”
Aku terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Perasaan bersalah merambati dadaku. Kulirik tas pakaian di tangan mama dan aku merasa malu. Seumur hidupku, mama selalu memberikan cintanya padaku. Selalu ingin membuatku bahagia. Tetapi aku telah menuduhnya menginginkan warisan itu. Tidak tahan dengan rasa bersalah, aku berlari menubruk mama.
“Maafkan Lai, mama. Maafkan Lai.”
Mama terisak. Tangannya mengusap rambutku lalu menenggelamkan aku dalam pelukannya yang hangat. Dari kejauhan samar-samar aku seperti mendengar suara orang melakukan ma’badong. Di antara ibu-ibu yang bersedu-sedan dan pria-pria yang berteriak penuh semangat, aku melihat nenek mengendarai tedong bongaku dan melambai kepadaku.
Wajah keduanya tampak berseri-seri!
***
Daftar Istilah Tana Toraja :
1. Tedong Bonga : Kerbau belang yang harganya ratusan juta untuk upacara kematian.
2. Rambu Solo : upacara kematian Tana Toraja.
3. Pa’piong : makanan khas Toraja yang dibungkus bambu.
4. La bok duatalan : parang untuk menebas kerbau.
5. Puya : nirwana, surga.
6. Ma’badong : lagu-lagu yang dinyanyikan dalam upacara kematian untuk mengenang jenazah.
Senin, 16 November 2009
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Tary
Dimuat di Seputar Indonesia 29/04/2007
Akhirnya ia memutuskan pulang. Angin sore bulan Februari terasa pekat menampar wajahnya. Langit masih memuntahkan hujan ketika ia turun dari taksi. Seorang bocah laki-laki menawarkan payung padanya.
Kurus, hitam, bertelanjang kaki dan menggigil kedinginan. Mata tajam bocah itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia merogoh saku jaketnya, mengangsurkan selembar uang dan berlari menyeberangi halaman mal.Bocah laki-laki itu tertegun memandangnya. Ia mengibaskan pakaian dan rambut yang basah lalu melangkah memasuki mal.
Tubuhnya menggigil oleh terpaan udara pendingin ruang. Mendadak kulitnya terasa mengeriput.Setelah memeriksa denah tiap lantai tak jauh dari pintu masuk,ia memutuskan naik menggunakan lift. Salah satu kafe di lantai 3 menjadi pilihannya. Dari celah sekat ruangan berbahan rotan, ia melihat ke dalam kafe.Ada tiga orang sedang duduk di sana. Sepasang muda-mudi yang asyik bergenggaman tangan dan seorang lelaki yang menghirup secangkir minumannya lambatlambat.
Ia mengambil meja di pojok, dekat pot tanah liat berisi bunga asli berdaun hati. Bersisian dengan dinding kaca, membuat ia leluasa melihat pemandangan di seberang mal. Pelayan menghampiri dan mengulurkan daftar menu. Ia memesan segelas cappucino panas dan muffin. Silk Road Kitaro mengalun lembut ketika pandangannya menembus dinding kaca.Hujan makin lebat. Sampah menyumbat got. Air meluap membentuk aliran sungai kecil. Pengendara motor menyerobot jalan, melindas kubangan-kubangan air. Seorang perempuan mengumpat, blousenya basah terciprat air kotor.
Semua telah berubah, pikirnya. Kafe tempatnya duduk sekarang hanyalah sebagian kecil dari pemukiman yang telah berganti bangunan megah bernama mal. Ia pernah berada di pemukiman seberang mal bersama keluarganya. Sebelum tahun-tahun lewat meninggalkan jejak luka pekat dan sesal memburunya. Pelayan datang mengantarkan menu pesanannya.Ia menepikan tangan memberi tempat untuk segelas cappucino panas dan piring kecil muffin.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada pelayan, ia tak membiarkan aroma cappucino panas menggodanya lebih lama.Beberapa tegukan membuat tubuhnya sedikit menghangat. Matanya kembali menembus dinding kaca. Bocah laki-laki pembawa payung berdiri di seberang jalan. Payung dibiarkan menguncup dan kepala mungil itu mendongak menatap kafe. Buru-buru ia membuang pandang,mengatur detak jantungnya yang makin cepat lalu mengiris muffin. "Kenapa sesal tak segera membunuhku?" keluhnya lirih. Ada melata yang menggeliat di ulu hatinya. Gigitan taring berbisa menimbulkan rasa pedih dan mual silih berganti. Ia mengerang mencengkeram perutnya. Mata bocah laki-laki itu masih tajam menatapnya. ***
Alifa kecil tak pernah menyukai hujan bulan Februari. Banyak hal terenggut dari hidupnya pada hujan bulan Februari. Banjir pernah menenggelamkan permukiman tempatnya tinggal. Kelinci putih kesayangannya mati terseret arus. Alifa menangis berjam-jam melihat tubuh kelincinya basah dan membeku di selokan ujung gang. Usai banjir,ia mengubur kelincinya di belakang rumah dan mengunjungi setiap pulang sekolah. Sahabat dekatnya juga pergi pada hujan bulan Februari. Kapal yang ditumpangi sepulang mengunjungi neneknya tenggelam.
Jasadnya tak ditemukan. Alifa tak tahu ke mana mencari perkuburan sahabatnya. Lalu ayah dan ibunya mengajaknya ke laut.Berdoa dan menabur bunga sebagai tanda duka cita. Tetapi,Ayah dan Ibunya sangat menyukai hujan bulan Februari.Pada penghujung bulan basah itu bayi laki-laki lahir dari rahim ibunya.Orang-orang begitu heboh. Mereka berdatangan membawa bermacam-macam hadiah. Memandang bayi mungil itu dengan mata berbinar. Aduh, gantengnya putramu, selamat-selamat! Dia akan menjadi mataharimu. Kata orang-orang itu. Semua bersukacita.
Kelahiran bayi laki-laki seolah membawa sejuta tuah. Dan Alifa merasa tersisih. "Lihat Ruru! Mereka hanya memedulikan Bara!" Alifa mengadu pada boneka beruang dalam pelukannya. "Mereka tak menyayangiku lagi!" Bayi laki-laki itu bernama Bara. Ada sesuatu yang menggeliat dalam dada Alifa setiap melihat sosok Bara. Seharusnya ia menyayangi adiknya. Tetapi sesuatu yang menggeliat itu mengatakan sebaliknya.
Alifa tak suka Bara menggeliat manja di pelukan ibu. Alifa tak suka ayah mengangkat tinggi-tinggi tubuh Bara. Dan Alifa tak suka nenek mengajak Bara bercanda. "Alifa, ambilkan celana adik di kamar belakang!" "Alifa, belikan biskuit untuk adik!" "Alifa, tolong jaga adik sebentar!" Alifa cemberut. "Lihat Ruru! Bara membuat semua orang menyuruhku!" Boneka beruang itu memandang Alifa tanpa berkedip. Hingga Alifa berteriak. "Aku benci hujan Februari! Aku benci Bara!" ***
Silk Road telah berganti The Clouds. Ia mengunyah irisan muffin-nya lambatlambat sambil berharap Ocean Of Wisdom mengalun berikutnya. Ia menyukai semua koleksi Kitaro, namun Ocean Of Wisdom mampu mengirim debur ombak ke hadapannya saat ia menginginkan.Ah, dramatis sekali kesukaanku pada musik, pikirnya. Hujan masih deras. Air got meluber ke tengah jalan, sungai kecil melebar.
Kubangan-kubangan makin penuh air dan kemacetan mulai menggila. Apa yang berbeda dari hujan bulan Februari? Ia mendesah, mendongak menatap langit- langit kafe.Kecuali mal yang berdiri angkuh merenggut semua resapan air. Seorang pemuda melangkah memasuki kafe. Berkulit sawo matang, jangkung dan berambut lurus. Jaket hitam membungkus baju seragam sekolahnya. "Mungkin pulang sekolah dan terjebak macet," tebaknya. Pemuda itu mengambil meja di sebelahnya. Memanggil pelayan dan memesan sejumlah menu. Berapa umur pemuda itu? Enam belas atau tujuh belas? Jika demikian, ia kelihatan lebih dewasa dari umur sesungguhnya. Gerak-geriknya tanpa canggung dan ia tidak ke kafe bersama kelompoknya.
Mungkin pemuda itu lebih suka melakukan segala sesuatunya seorang diri. "Seharusnya ia sudah sebesar pemuda itu," bisiknya. "Dan mungkin akan tampak dewasa seperti itu. Bukankah sejak kecil ia sangat mandiri?" Matanya bersirobok dengan tatapan pemuda itu. Ia membuang pandang menembus dinding kaca. Di seberang mal, bocah pembawa payung berlari-lari kecil mengejar si penyewa payung. Ia merasa pipinya mulai basah. Melata di ulu hatinya menggeliat, taring-taringnya kembali menghunjam lebih dalam. "Kumohon, bunuhlah aku sekarang juga," rintihnya. ***
Bara kecil tumbuh sehat. Kulitnya sawo matang, rambutnya tebal berponi dan matanya bulat jernih. Semua orang menyukai Bara.Alifa tahu itu.Bara yang mandiri dan tak suka merepotkan pembantu. Bara yang jago matematika.Bara yang selalu juara kelas.Bara yang selalu menghibur ayah dan ibu dengan leluconnya. Segala tentang Bara adalah kebanggaan.Alifa tahu itu. "Mengalahlah sedikit pada adikmu Alifa! Kau sudah besar!" "Kau selalu memulai keributan, Alifa!"
"Menyingkirlah sana! Biarkan adikmu sendiri!" Alifa mencoba menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya dengan berbuat nakal. Ia berharap orang-orang akan mengembalikannya pada posisi sebelum ada Bara.Tetapi itu adalah kesalahan.Tak ada yang tertarik dengan kenakalan Alifa. Tak ada yang simpati dengan kelakuan Alifa. Dan Bara selalu menang.Akhirnya Alifa tahu satu hal. Ia tak akan pernah kembali ke posisi sebelum ada Bara. Maka Alifa semakin membenci hujan bulan Februari. Tak hanya semua kesayangannya terenggut hujan bulan Februari tetapi juga dirinya. Ia merasa terampas.
Alifa kemudian memilih menyendiri di kamarnya. Berbicara pada Ruru.Ayah dan ibu menganggap Alifa baik-baik saja.Ah,hanya siklus hormonal masuk usia remaja, begitu pikir Ayah dan Ibu. "Alifa, temani adikmu main di luar!" perintah Ibu. Hujan bulan Februari datang lagi. Alifa cemberut. Kenapa Ibu tak pernah mengerti bahwa ia tak suka hujan bulan Februari? Musim hujan begini, Alifa lebih suka mendekap Ruru sambil mendengarkan musik di kamar. "Dingin Bu, aku malas." "Ayolah! Kau harus mencoba hal-hal menyenangkan di luar rumah. Jangan memeluk boneka beruangmu terus, ia tak bisa memberimu pengetahuan."
Alifa bangkit dari duduk ketika Bara berlari ke halaman. Ia harus menemani anak itu kalau tak ingin ibunya ngomel sepanjang hari.Di luar langit gelap.Gerimis mulai turun rintik-rintik. Alifa menyambar payung dan mengikuti langkah Bara bergabung dengan teman-teman kecilnya. Bocah tujuh tahun itu berlari-lari kecil.Alifa terus mengikuti adiknya. Tiga jam berlalu dan Bara masih bermain. Alifa menepi di depan proyek pembangunan sebuah mal,melihat adiknya dari sana. Langit membabi buta menumpahkan hujan.
Beberapa anak telah dijemput ibunya. Tinggal Bara bermain bola di genangan air yang meninggi.Tiba-tiba air datang bergulung-gulung dari arah sungai. Seharusnya Bara masih sempat menepi, jika Alifa menginginkannya.Tetapi ada sesuatu yang menggeliat dalam dada Alifa. Sesuatu yang menginginkan hal sebaliknya. Alifa berdiri beku di bawah payung. Alifa melihat air datang bergulunggulung. Alifa melihat orang-orang menjerit menunjuk ke arah Bara.Alifa melihat bola adiknya menjauh terbawa arus.
Alifa mendengar suara Bara memanggilnya. Dan Alifa melihat tangan mungil Bara menggapai-gapai ke udara. Makin menjauh, lalu lenyap tanpa jejak. Tiga hari kemudian, jasad Bara ditemukan di selokan ujung gang. Persis kelinci putih kesayangan Alifa. Ibu menangis bertahun-tahun.Sampai air mata dan tubuhnya kering, lalu meninggal setahun setelah Bara hanyut. Ada yang merambat perih di dada Alifa.Sesal yang memburu.
Setiap saat hampir membunuhnya. "Sekarang tinggal kita berdua Alifa," kata ayahnya tersendat. Alifa tak kuasa menahan sesal. Rumahnya meninggalkan banyak bayangan Bara. Alifa memutuskan kuliah di kota lain, meninggalkan ayahnya sendiri. Mungkin, Alifa tak akan pernah pulang ke kotanya. Dan itulah yang terjadi bertahun-tahun kemudian. Alifa menghapus semua jejak yang dapat dilacak ayahnya. ***
Taring melata itu menancap kian hebat. Ulu hatinya mulai berdarah. Ia menikmati rasa sakit itu.Wajahnya seputih kapas, namun ia masih membeku menatap pemukiman seberang mal. Apakah lelaki itu masih di sana? Menunggu kepulangannya? Tangannya tak bergerak mencari obat pereda sakit dalam tasnya. Ia ingin mati saat ini. Air di jalanan mulai meninggi.Aliran sungai dan kubangan menyatu. Orangorang menepi,meninggalkan mobil atau motornya yang tenggelam. Banjir semakin hebat ketika bergulung-gulung air datang dari arah sungai.
"Mbak, kafe akan segera ditutup. Banjir datang lagi," kata pelayan sopan. Ia menyapukan pandangan ke seluruh ruangan kafe. Pemuda berjaket hitam tak ada lagi di meja sebelah. Semua pengunjung telah pergi.Perlahan ia bangkit dari duduknya, berjalan keluar kafe menuju lift. Semua orang menyelamatkan diri ke lantai atas. Tetapi ia memencet tombol bertanda turun. Ia ingin menyongsong air yang bergulung. Menemui Bara. ***
Telaga Sarangan, 5.2.07
Dimuat di Seputar Indonesia 29/04/2007
Akhirnya ia memutuskan pulang. Angin sore bulan Februari terasa pekat menampar wajahnya. Langit masih memuntahkan hujan ketika ia turun dari taksi. Seorang bocah laki-laki menawarkan payung padanya.
Kurus, hitam, bertelanjang kaki dan menggigil kedinginan. Mata tajam bocah itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia merogoh saku jaketnya, mengangsurkan selembar uang dan berlari menyeberangi halaman mal.Bocah laki-laki itu tertegun memandangnya. Ia mengibaskan pakaian dan rambut yang basah lalu melangkah memasuki mal.
Tubuhnya menggigil oleh terpaan udara pendingin ruang. Mendadak kulitnya terasa mengeriput.Setelah memeriksa denah tiap lantai tak jauh dari pintu masuk,ia memutuskan naik menggunakan lift. Salah satu kafe di lantai 3 menjadi pilihannya. Dari celah sekat ruangan berbahan rotan, ia melihat ke dalam kafe.Ada tiga orang sedang duduk di sana. Sepasang muda-mudi yang asyik bergenggaman tangan dan seorang lelaki yang menghirup secangkir minumannya lambatlambat.
Ia mengambil meja di pojok, dekat pot tanah liat berisi bunga asli berdaun hati. Bersisian dengan dinding kaca, membuat ia leluasa melihat pemandangan di seberang mal. Pelayan menghampiri dan mengulurkan daftar menu. Ia memesan segelas cappucino panas dan muffin. Silk Road Kitaro mengalun lembut ketika pandangannya menembus dinding kaca.Hujan makin lebat. Sampah menyumbat got. Air meluap membentuk aliran sungai kecil. Pengendara motor menyerobot jalan, melindas kubangan-kubangan air. Seorang perempuan mengumpat, blousenya basah terciprat air kotor.
Semua telah berubah, pikirnya. Kafe tempatnya duduk sekarang hanyalah sebagian kecil dari pemukiman yang telah berganti bangunan megah bernama mal. Ia pernah berada di pemukiman seberang mal bersama keluarganya. Sebelum tahun-tahun lewat meninggalkan jejak luka pekat dan sesal memburunya. Pelayan datang mengantarkan menu pesanannya.Ia menepikan tangan memberi tempat untuk segelas cappucino panas dan piring kecil muffin.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada pelayan, ia tak membiarkan aroma cappucino panas menggodanya lebih lama.Beberapa tegukan membuat tubuhnya sedikit menghangat. Matanya kembali menembus dinding kaca. Bocah laki-laki pembawa payung berdiri di seberang jalan. Payung dibiarkan menguncup dan kepala mungil itu mendongak menatap kafe. Buru-buru ia membuang pandang,mengatur detak jantungnya yang makin cepat lalu mengiris muffin. "Kenapa sesal tak segera membunuhku?" keluhnya lirih. Ada melata yang menggeliat di ulu hatinya. Gigitan taring berbisa menimbulkan rasa pedih dan mual silih berganti. Ia mengerang mencengkeram perutnya. Mata bocah laki-laki itu masih tajam menatapnya. ***
Alifa kecil tak pernah menyukai hujan bulan Februari. Banyak hal terenggut dari hidupnya pada hujan bulan Februari. Banjir pernah menenggelamkan permukiman tempatnya tinggal. Kelinci putih kesayangannya mati terseret arus. Alifa menangis berjam-jam melihat tubuh kelincinya basah dan membeku di selokan ujung gang. Usai banjir,ia mengubur kelincinya di belakang rumah dan mengunjungi setiap pulang sekolah. Sahabat dekatnya juga pergi pada hujan bulan Februari. Kapal yang ditumpangi sepulang mengunjungi neneknya tenggelam.
Jasadnya tak ditemukan. Alifa tak tahu ke mana mencari perkuburan sahabatnya. Lalu ayah dan ibunya mengajaknya ke laut.Berdoa dan menabur bunga sebagai tanda duka cita. Tetapi,Ayah dan Ibunya sangat menyukai hujan bulan Februari.Pada penghujung bulan basah itu bayi laki-laki lahir dari rahim ibunya.Orang-orang begitu heboh. Mereka berdatangan membawa bermacam-macam hadiah. Memandang bayi mungil itu dengan mata berbinar. Aduh, gantengnya putramu, selamat-selamat! Dia akan menjadi mataharimu. Kata orang-orang itu. Semua bersukacita.
Kelahiran bayi laki-laki seolah membawa sejuta tuah. Dan Alifa merasa tersisih. "Lihat Ruru! Mereka hanya memedulikan Bara!" Alifa mengadu pada boneka beruang dalam pelukannya. "Mereka tak menyayangiku lagi!" Bayi laki-laki itu bernama Bara. Ada sesuatu yang menggeliat dalam dada Alifa setiap melihat sosok Bara. Seharusnya ia menyayangi adiknya. Tetapi sesuatu yang menggeliat itu mengatakan sebaliknya.
Alifa tak suka Bara menggeliat manja di pelukan ibu. Alifa tak suka ayah mengangkat tinggi-tinggi tubuh Bara. Dan Alifa tak suka nenek mengajak Bara bercanda. "Alifa, ambilkan celana adik di kamar belakang!" "Alifa, belikan biskuit untuk adik!" "Alifa, tolong jaga adik sebentar!" Alifa cemberut. "Lihat Ruru! Bara membuat semua orang menyuruhku!" Boneka beruang itu memandang Alifa tanpa berkedip. Hingga Alifa berteriak. "Aku benci hujan Februari! Aku benci Bara!" ***
Silk Road telah berganti The Clouds. Ia mengunyah irisan muffin-nya lambatlambat sambil berharap Ocean Of Wisdom mengalun berikutnya. Ia menyukai semua koleksi Kitaro, namun Ocean Of Wisdom mampu mengirim debur ombak ke hadapannya saat ia menginginkan.Ah, dramatis sekali kesukaanku pada musik, pikirnya. Hujan masih deras. Air got meluber ke tengah jalan, sungai kecil melebar.
Kubangan-kubangan makin penuh air dan kemacetan mulai menggila. Apa yang berbeda dari hujan bulan Februari? Ia mendesah, mendongak menatap langit- langit kafe.Kecuali mal yang berdiri angkuh merenggut semua resapan air. Seorang pemuda melangkah memasuki kafe. Berkulit sawo matang, jangkung dan berambut lurus. Jaket hitam membungkus baju seragam sekolahnya. "Mungkin pulang sekolah dan terjebak macet," tebaknya. Pemuda itu mengambil meja di sebelahnya. Memanggil pelayan dan memesan sejumlah menu. Berapa umur pemuda itu? Enam belas atau tujuh belas? Jika demikian, ia kelihatan lebih dewasa dari umur sesungguhnya. Gerak-geriknya tanpa canggung dan ia tidak ke kafe bersama kelompoknya.
Mungkin pemuda itu lebih suka melakukan segala sesuatunya seorang diri. "Seharusnya ia sudah sebesar pemuda itu," bisiknya. "Dan mungkin akan tampak dewasa seperti itu. Bukankah sejak kecil ia sangat mandiri?" Matanya bersirobok dengan tatapan pemuda itu. Ia membuang pandang menembus dinding kaca. Di seberang mal, bocah pembawa payung berlari-lari kecil mengejar si penyewa payung. Ia merasa pipinya mulai basah. Melata di ulu hatinya menggeliat, taring-taringnya kembali menghunjam lebih dalam. "Kumohon, bunuhlah aku sekarang juga," rintihnya. ***
Bara kecil tumbuh sehat. Kulitnya sawo matang, rambutnya tebal berponi dan matanya bulat jernih. Semua orang menyukai Bara.Alifa tahu itu.Bara yang mandiri dan tak suka merepotkan pembantu. Bara yang jago matematika.Bara yang selalu juara kelas.Bara yang selalu menghibur ayah dan ibu dengan leluconnya. Segala tentang Bara adalah kebanggaan.Alifa tahu itu. "Mengalahlah sedikit pada adikmu Alifa! Kau sudah besar!" "Kau selalu memulai keributan, Alifa!"
"Menyingkirlah sana! Biarkan adikmu sendiri!" Alifa mencoba menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya dengan berbuat nakal. Ia berharap orang-orang akan mengembalikannya pada posisi sebelum ada Bara.Tetapi itu adalah kesalahan.Tak ada yang tertarik dengan kenakalan Alifa. Tak ada yang simpati dengan kelakuan Alifa. Dan Bara selalu menang.Akhirnya Alifa tahu satu hal. Ia tak akan pernah kembali ke posisi sebelum ada Bara. Maka Alifa semakin membenci hujan bulan Februari. Tak hanya semua kesayangannya terenggut hujan bulan Februari tetapi juga dirinya. Ia merasa terampas.
Alifa kemudian memilih menyendiri di kamarnya. Berbicara pada Ruru.Ayah dan ibu menganggap Alifa baik-baik saja.Ah,hanya siklus hormonal masuk usia remaja, begitu pikir Ayah dan Ibu. "Alifa, temani adikmu main di luar!" perintah Ibu. Hujan bulan Februari datang lagi. Alifa cemberut. Kenapa Ibu tak pernah mengerti bahwa ia tak suka hujan bulan Februari? Musim hujan begini, Alifa lebih suka mendekap Ruru sambil mendengarkan musik di kamar. "Dingin Bu, aku malas." "Ayolah! Kau harus mencoba hal-hal menyenangkan di luar rumah. Jangan memeluk boneka beruangmu terus, ia tak bisa memberimu pengetahuan."
Alifa bangkit dari duduk ketika Bara berlari ke halaman. Ia harus menemani anak itu kalau tak ingin ibunya ngomel sepanjang hari.Di luar langit gelap.Gerimis mulai turun rintik-rintik. Alifa menyambar payung dan mengikuti langkah Bara bergabung dengan teman-teman kecilnya. Bocah tujuh tahun itu berlari-lari kecil.Alifa terus mengikuti adiknya. Tiga jam berlalu dan Bara masih bermain. Alifa menepi di depan proyek pembangunan sebuah mal,melihat adiknya dari sana. Langit membabi buta menumpahkan hujan.
Beberapa anak telah dijemput ibunya. Tinggal Bara bermain bola di genangan air yang meninggi.Tiba-tiba air datang bergulung-gulung dari arah sungai. Seharusnya Bara masih sempat menepi, jika Alifa menginginkannya.Tetapi ada sesuatu yang menggeliat dalam dada Alifa. Sesuatu yang menginginkan hal sebaliknya. Alifa berdiri beku di bawah payung. Alifa melihat air datang bergulunggulung. Alifa melihat orang-orang menjerit menunjuk ke arah Bara.Alifa melihat bola adiknya menjauh terbawa arus.
Alifa mendengar suara Bara memanggilnya. Dan Alifa melihat tangan mungil Bara menggapai-gapai ke udara. Makin menjauh, lalu lenyap tanpa jejak. Tiga hari kemudian, jasad Bara ditemukan di selokan ujung gang. Persis kelinci putih kesayangan Alifa. Ibu menangis bertahun-tahun.Sampai air mata dan tubuhnya kering, lalu meninggal setahun setelah Bara hanyut. Ada yang merambat perih di dada Alifa.Sesal yang memburu.
Setiap saat hampir membunuhnya. "Sekarang tinggal kita berdua Alifa," kata ayahnya tersendat. Alifa tak kuasa menahan sesal. Rumahnya meninggalkan banyak bayangan Bara. Alifa memutuskan kuliah di kota lain, meninggalkan ayahnya sendiri. Mungkin, Alifa tak akan pernah pulang ke kotanya. Dan itulah yang terjadi bertahun-tahun kemudian. Alifa menghapus semua jejak yang dapat dilacak ayahnya. ***
Taring melata itu menancap kian hebat. Ulu hatinya mulai berdarah. Ia menikmati rasa sakit itu.Wajahnya seputih kapas, namun ia masih membeku menatap pemukiman seberang mal. Apakah lelaki itu masih di sana? Menunggu kepulangannya? Tangannya tak bergerak mencari obat pereda sakit dalam tasnya. Ia ingin mati saat ini. Air di jalanan mulai meninggi.Aliran sungai dan kubangan menyatu. Orangorang menepi,meninggalkan mobil atau motornya yang tenggelam. Banjir semakin hebat ketika bergulung-gulung air datang dari arah sungai.
"Mbak, kafe akan segera ditutup. Banjir datang lagi," kata pelayan sopan. Ia menyapukan pandangan ke seluruh ruangan kafe. Pemuda berjaket hitam tak ada lagi di meja sebelah. Semua pengunjung telah pergi.Perlahan ia bangkit dari duduknya, berjalan keluar kafe menuju lift. Semua orang menyelamatkan diri ke lantai atas. Tetapi ia memencet tombol bertanda turun. Ia ingin menyongsong air yang bergulung. Menemui Bara. ***
Telaga Sarangan, 5.2.07
Minggu, 15 November 2009
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Tary
Dimuat di Tribun Jabar 07/12/2008
IA menimang kotak mungil merah hati di tangannya lalu membukanya. Cincin belah rotan menyembul dari dalam kotak dan ia menyelipkan di jari manisnya. Setelah mengamati jemarinya, ia menghela napas panjang. Sukma memiliki selera bagus untuk cincin pertunangan ini, tapi sayang semua jadi kurang menarik lagi, batinnya.
"Selamat malam..." suara lembut itu menyeruak dari pintu samping balkon tempatnya duduk.
Mendadak dadanya berdentam keras. Ia menoleh ke arah datangnya suara dan melihat seorang lelaki membawa secangkir kopi. Buru-buru dicabutnya cincin belah rotan yang melingkar di jari manisnya dan disembunyikannya di saku baju.
"Eh, malam..." jawabnya gugup. Dentam di dadanya semakin mengeras sehingga gerak tubuhnya menjadi serba salah.
Lelaki itu menatapnya dan ia merasa tenggelam dalam senyuman. Senyum yang membuat tidurnya akhir-akhir ini sering terganggu. Senyum yang membuatnya rela lebih lama berada di kantor dan duduk menyendiri di balkon. Senyum yang membuatnya sibuk mencari alasan untuk menunda pernikahannya dengan Sukma. Kadang-kadang cinta memang serta-merta dan gila, tapi ia menikmatinya.
"Aku membawa secangkir kopi untukmu," kata lelaki itu menyodorkan secangkir kopi padanya.
Ia menerima secangkir kopi itu dan menghirup aromanya yang menggoda. Ia sangat menyukai kopi dan selalu mabuk saat menghirup aromanya. Namun mabuk kali ini terasa berbeda. Jiwanya serasa melayang saat cairan hitam itu menyerbu lidahnya.
Sebulan lalu ia bertemu lelaki itu. Ia menabrak lelaki itu di pintu lift gedung kantornya yang baru hingga tubuh mungilnya terpental. Seperti adegan film, lelaki itu mengulurkan tangannya, menolongnya berdiri. Saat itulah ia melihat senyum menawan lelaki itu. Tiba-tiba saja sesuatu berdentam-dentam di dadanya dan bayangan Sukma lenyap dari kepalanya.
Balkon di samping ruang kerjanya kemudian menjadi tempat bertemu yang romantis. Setiap malam, mereka duduk berdua memandang kerlip lampu Jakarta di malam hari. Diam-diam lelaki yang baru saja dikenalnya itu telah membawanya ke tempat antah berantah yang nyaman dan penuh bunga. Lelaki pembawa secangkir kopi itu memiliki banyak hal yang tak dimiliki Sukma. Dan semua keruwetan di kepalanya menjadi terurai saat secangkir kopi itu melewati lidahnya.
"Ini malam terakhirku," kata lelaki itu. Senyum yang selalu menawan itu tiba-tiba lenyap, berganti murung yang parah.
Ia terkesiap hingga secangkir kopi di tangannya oleng dan tumpah ke bajunya. Lelaki itu buru-buru membantunya mengelap bajunya dengan tangan. Sesaat ia bisa mencium aroma parfum lelaki itu saat tubuh mereka berdekatan. Tangannya bersentuhan dengan tangan lelaki itu dan ia bisa merasakan hawa dingin kehilangan menjalar meresapi pori-pori kulitnya.
"Kau mau ke mana?" tanyanya tersendat.
Lelaki itu menatapnya dalam. Ia bisa merasakan kesedihan yang merambat melalui matanya seperti kabut yang tak bisa ditepiskan angin. Mendadak dadanya sesak oleh sesuatu yang tak dimengertinya.
"Aku harus kembali."
"Kembali ke mana? Lalu aku... bagaimana?"
"Kau harus kembali padanya," jawab lelaki itu seraya menghela napas berat.
Ia mendongak, menatap lelaki di depannya dengan pandangan tak mengerti. Tetapi lelaki itu membuang pandang ke arah kerlip lampu-lampu malam Jakarta di kejauhan. Tiba-tiba lelaki itu berbalik dan memberikan cincin belah rotan padanya.
"Pakailah, dan kau harus kembali pada orang yang memberikan cincin ini padamu."
Ia terkejut melihat cincin belah rotan di tangan lelaki itu. Rasanya ia baru saja menyelipkan di saku bajunya, tetapi kenapa cincin itu bisa berada di tangan lelaki itu? Ia meraba saku bajunya yang kosong.
"Tapi... tapi aku mencintaimu."
Lelaki itu menggeleng. "Cinta itu bukan khayalan. Cinta itu nyata. Jika kau mencintai seseorang maka kau harus berani menerima kenyataan tentang orang yang kaucintai."
"Aku berani menerima kenyataan! Aku berani melepaskan Sukma karena mencintaimu. Kau perlu bukti?" Ia bangkit dari duduknya dan mengangkat tangannya untuk melempar cincin tunangan itu. Lelaki itu buru-buru menyambar tangannya dan memeluknya. Hawa dingin kehilangan kembali menjalar pelan-pelan, melumatkan tubuhnya dalam pedih.
Ia melayang pelan, seperti terbang ke awan.
***
IA siuman dari pingsannya dan mendapati Sukma sedang menggenggam tangannya hangat. Buru-buru ia menarik tangannya dari genggaman Sukma. Ia bangkit dan memeriksa jemari tangannya. Cincin tunangan itu masih ada di jemarinya dan serta-merta ia melepasnya.
"Sadar, sayang, lelaki yang kautemui setiap malam itu telah meninggal sebulan lalu. Kau berhalusinasi." kata Sukma.
"Tidak! Lelaki itu ada, nyata!" Ia menunjukkan bajunya yang basah kena tumpahan kopi semalam. "Lihat! Ini buktinya! Lelaki itu membawakan secangkir kopi untukku setiap malam!"
Dan ia berlari ke balkon, mencari-cari. Tak ada siapa pun di sana. Pintu samping tempat lelaki itu biasanya datang juga terkunci mati. Ia berteriak-teriak memanggil nama lelaki itu. Lalu ia terguguk dalam pelukan Sukma. Samar-samar terdengar suara lelaki itu, "jika kau mencintai seseorang maka kau harus berani menerima kenyataan tentang orang itu..."
***
Jakarta, 23'11'08
(to: Nima, pemilik suara lembut)
Dimuat di Tribun Jabar 07/12/2008
IA menimang kotak mungil merah hati di tangannya lalu membukanya. Cincin belah rotan menyembul dari dalam kotak dan ia menyelipkan di jari manisnya. Setelah mengamati jemarinya, ia menghela napas panjang. Sukma memiliki selera bagus untuk cincin pertunangan ini, tapi sayang semua jadi kurang menarik lagi, batinnya.
"Selamat malam..." suara lembut itu menyeruak dari pintu samping balkon tempatnya duduk.
Mendadak dadanya berdentam keras. Ia menoleh ke arah datangnya suara dan melihat seorang lelaki membawa secangkir kopi. Buru-buru dicabutnya cincin belah rotan yang melingkar di jari manisnya dan disembunyikannya di saku baju.
"Eh, malam..." jawabnya gugup. Dentam di dadanya semakin mengeras sehingga gerak tubuhnya menjadi serba salah.
Lelaki itu menatapnya dan ia merasa tenggelam dalam senyuman. Senyum yang membuat tidurnya akhir-akhir ini sering terganggu. Senyum yang membuatnya rela lebih lama berada di kantor dan duduk menyendiri di balkon. Senyum yang membuatnya sibuk mencari alasan untuk menunda pernikahannya dengan Sukma. Kadang-kadang cinta memang serta-merta dan gila, tapi ia menikmatinya.
"Aku membawa secangkir kopi untukmu," kata lelaki itu menyodorkan secangkir kopi padanya.
Ia menerima secangkir kopi itu dan menghirup aromanya yang menggoda. Ia sangat menyukai kopi dan selalu mabuk saat menghirup aromanya. Namun mabuk kali ini terasa berbeda. Jiwanya serasa melayang saat cairan hitam itu menyerbu lidahnya.
Sebulan lalu ia bertemu lelaki itu. Ia menabrak lelaki itu di pintu lift gedung kantornya yang baru hingga tubuh mungilnya terpental. Seperti adegan film, lelaki itu mengulurkan tangannya, menolongnya berdiri. Saat itulah ia melihat senyum menawan lelaki itu. Tiba-tiba saja sesuatu berdentam-dentam di dadanya dan bayangan Sukma lenyap dari kepalanya.
Balkon di samping ruang kerjanya kemudian menjadi tempat bertemu yang romantis. Setiap malam, mereka duduk berdua memandang kerlip lampu Jakarta di malam hari. Diam-diam lelaki yang baru saja dikenalnya itu telah membawanya ke tempat antah berantah yang nyaman dan penuh bunga. Lelaki pembawa secangkir kopi itu memiliki banyak hal yang tak dimiliki Sukma. Dan semua keruwetan di kepalanya menjadi terurai saat secangkir kopi itu melewati lidahnya.
"Ini malam terakhirku," kata lelaki itu. Senyum yang selalu menawan itu tiba-tiba lenyap, berganti murung yang parah.
Ia terkesiap hingga secangkir kopi di tangannya oleng dan tumpah ke bajunya. Lelaki itu buru-buru membantunya mengelap bajunya dengan tangan. Sesaat ia bisa mencium aroma parfum lelaki itu saat tubuh mereka berdekatan. Tangannya bersentuhan dengan tangan lelaki itu dan ia bisa merasakan hawa dingin kehilangan menjalar meresapi pori-pori kulitnya.
"Kau mau ke mana?" tanyanya tersendat.
Lelaki itu menatapnya dalam. Ia bisa merasakan kesedihan yang merambat melalui matanya seperti kabut yang tak bisa ditepiskan angin. Mendadak dadanya sesak oleh sesuatu yang tak dimengertinya.
"Aku harus kembali."
"Kembali ke mana? Lalu aku... bagaimana?"
"Kau harus kembali padanya," jawab lelaki itu seraya menghela napas berat.
Ia mendongak, menatap lelaki di depannya dengan pandangan tak mengerti. Tetapi lelaki itu membuang pandang ke arah kerlip lampu-lampu malam Jakarta di kejauhan. Tiba-tiba lelaki itu berbalik dan memberikan cincin belah rotan padanya.
"Pakailah, dan kau harus kembali pada orang yang memberikan cincin ini padamu."
Ia terkejut melihat cincin belah rotan di tangan lelaki itu. Rasanya ia baru saja menyelipkan di saku bajunya, tetapi kenapa cincin itu bisa berada di tangan lelaki itu? Ia meraba saku bajunya yang kosong.
"Tapi... tapi aku mencintaimu."
Lelaki itu menggeleng. "Cinta itu bukan khayalan. Cinta itu nyata. Jika kau mencintai seseorang maka kau harus berani menerima kenyataan tentang orang yang kaucintai."
"Aku berani menerima kenyataan! Aku berani melepaskan Sukma karena mencintaimu. Kau perlu bukti?" Ia bangkit dari duduknya dan mengangkat tangannya untuk melempar cincin tunangan itu. Lelaki itu buru-buru menyambar tangannya dan memeluknya. Hawa dingin kehilangan kembali menjalar pelan-pelan, melumatkan tubuhnya dalam pedih.
Ia melayang pelan, seperti terbang ke awan.
***
IA siuman dari pingsannya dan mendapati Sukma sedang menggenggam tangannya hangat. Buru-buru ia menarik tangannya dari genggaman Sukma. Ia bangkit dan memeriksa jemari tangannya. Cincin tunangan itu masih ada di jemarinya dan serta-merta ia melepasnya.
"Sadar, sayang, lelaki yang kautemui setiap malam itu telah meninggal sebulan lalu. Kau berhalusinasi." kata Sukma.
"Tidak! Lelaki itu ada, nyata!" Ia menunjukkan bajunya yang basah kena tumpahan kopi semalam. "Lihat! Ini buktinya! Lelaki itu membawakan secangkir kopi untukku setiap malam!"
Dan ia berlari ke balkon, mencari-cari. Tak ada siapa pun di sana. Pintu samping tempat lelaki itu biasanya datang juga terkunci mati. Ia berteriak-teriak memanggil nama lelaki itu. Lalu ia terguguk dalam pelukan Sukma. Samar-samar terdengar suara lelaki itu, "jika kau mencintai seseorang maka kau harus berani menerima kenyataan tentang orang itu..."
***
Jakarta, 23'11'08
(to: Nima, pemilik suara lembut)
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Tary
Dimuat di Suara Pembaruan 10/06/2007
Senja hampir selesai. Matahari serupa bola merah yang menggelinding ke balik bukit. Meninggalkan jejak jingga pada lengkung langit barat. Aku berdiri di depan jendela. Memandang rumpun mawar yang meremang di hadapanku. Mendadak ada mata pisau yang menghunjam dadaku.
"Kuncup mawar ini akan mekar dan mengharumkan kamarmu," katamu suatu senja, seusai menanam rumpun mawar di bawah jendela kamarku.
Aku meneliti kedua liang matamu. Ketulusan tampak benderang di sana. Kau tersenyum, menepuk-nepuk telapak tanganmu yang penuh tanah lalu menyeka peluh yang menetes di pelipismu.
"Kau yakin mawar itu akan mekar?" tanyaku ragu.
Sekilas mendung melintasi wajahmu. Kau menunduk, menghela nafas berat lalu berucap lirih, "kuharap begitu. Jika saja kau mau membiarkannya hidup lalu merawatnya."
Jika saja kau mau membiarkannya hidup lalu merawatnya....
Aku selalu mengulang kata-katamu itu setiap malam menjelang tidur. Sejak kecil, aku tak pernah menyukai bunga. Apalagi mawar yang penuh duri, terlihat cantik namun mudah melukai. Menurutku, ilalang lebih menawan ketimbang semua jenis bunga. Tampak tegar tanpa kesan menggoda.
Namun, setahun terakhir kau tak pernah absen mengirimiku mawar setiap senja akhir minggu. Bahkan sudi bersusah payah menanam rumpun mawar di bawah jendelaku. Tidakkah kau tahu? Membuat seseorang menyukai sesuatu yang tidak disukainya seperti menunggu pohon mangga berbuah kecapi. Aku tak sampai hati mengatakan itu padamu. Kuterima mawarmu setiap senja akhir minggu, kumasukkan ke dalam vas di pojok kamar lalu kubiarkan layu. Kelopak-kelopaknya mengering berguguran.
"Rawatlah mawar itu agar mekar," pintamu.
Aku memandang rumpun mawar di bawah jendela. Bimbang.
u
Apakah aku sanggup merawat mawarmu? Sedangkan sampai hari ini kubiarkan ilalang pemberiannya tumbuh liar di halaman rumahku. Masih kukenang pertemuan pertamaku dengannya. Suatu pagi berkabut ketika aku menyusuri jalan setapak di kaki bukit. Ia datang menghampiriku dengan senyum mengembang. Tangan kanannya mengulurkan seikat ilalang.
"Kau suka ilalang, bukan?"
"Siapa kau?"
"Aku seorang pengelana yang mencintai ilalang."
"Kenapa kau mencintai ilalang?"
"Karena ilalang mengajariku ketegaran."
Aku menyukai jawabannya.
"Kau sendiri kenapa menyukai ilalang?"
"Karena terlihat tegar tanpa kesan menggoda."
Kau tersenyum, mengerling. "Alasan kita sama."
"Ya, sama."
Tak butuh banyak waktu untuk membiarkan ilalang itu tumbuh. Hanya tiga kali siram, daun-daunnya mulai tegak menghijau. Lalu beberapa bulan kemudian tumbuhan itu merajalela. Memenuhi halaman depan dan belakang rumahku. Bahkan ilalang-ilalang itu tumbuh di tengah batu padas samping rumahku. Daunnya yang panjang menjulang ke udara dan sesekali bergerak gemulai tertiup angin, seolah ingin mengatakan "hei manusia, kenapa kalian putus asa? Lihatlah aku, tumbuhan yang tak pernah menyerah pada kesulitan hidup!" Dan aku benar-benar jatuh cinta.
Waktu yang bergulir menjadi milikku, miliknya dan ilalang. Banyak hal menarik kami jalani bertiga. Kami merasa hari-hari adalah pembelajaran. Kami tahu hari-hari semakin tumbuh dewasa. Kami ingin hari-hari tak akan pernah berakhir. Hingga suatu ketika ia datang padaku dengan raut wajah tak biasa. Sebuah ransel hitam menggelayut di punggungnya.
"Aku akan pergi," katanya.
"Mengapa kau pergi?"
"Pengelana selalu pergi ke tempat yang berbeda."
"Apa kau akan kembali?"
"Aku tidak tahu."
Mendadak ada mata pisau yang melukai dadaku. Ia akan pergi setelah memenuhi halaman rumahku dengan ilalang. Tumbuhan kesukaanku dan kesukaannya. Diam-diam aku memaki dalam hati. Mengapa ia harus pergi? Apakah ia pernah berpikir bahwa aku dan ilalang tak ingin kehilangannya? Apakah ia pernah berpikir bahwa aku tak bisa bertahan tanpa dirinya? Apakah ia pernah berpikir bahwa rasa telah menyelinap?
"Ilalang-ilalang itu akan menjagamu. Kau tak perlu merawatnya, namun ia akan tetap hidup di halamanmu."
Dan ilalang itu memang tak pernah mati. Bertahun-tahun setelah kepergiannya yang tanpa kabar, halaman rumahku semakin penuh dengan ilalang. Sampai kemudian ibu risih melihatnya.
"Ilalang-ilalang itu menjadikan halaman rumah kita seperti hutan. Ibu akan mencabut dan membakarnya."
Aku tak bisa menyanggah kata-kata ibu. Halaman rumah kami memang sudah menyerupai hutan. Ilalang liar tumbuh di mana-mana memenuhi setiap sudut halaman. Meski sedih, aku membiarkan ibu mencabut, membakar dan membuang abu ilalang itu ke tempat semestinya. Namun, tak kubiarkan ibu mencabut sebatang ilalang yang tumbuh di bawah jendela kamarku. Sampai kemudian kau datang menanam serumpun mawar di samping ilalang itu. Memintaku membiarkan mawar itu hidup dan merawatnya.
Apakah aku bisa menyukai mawarmu seperti ilalangnya?
u
"Mawar adalah bunga yang luar biasa, kau harus merawatnya," kata ibu ketika melihat rumpun mawar di bawah jendela kamarku. "Sayang sekali, ilalang ini akan merusak kecantikan mawarmu."
Tangan ibu terulur hendak mencabut sebatang ilalang di samping rumpun mawar. Aku menarik tangan ibu.
"Biarkan ilalang itu tetap hidup, Bu."
"Tetap hidup untuk membunuh rumpun mawar itu? Jarak keduanya sangat dekat, akar ilalang itu akan menjalar dan merusak rumpun mawarmu."
Aku menggeleng. "Mereka akan tumbuh bersama-sama."
"Sampai kapan kau akan mempertahankan ilalang itu?"
Aku membuang pandang dari tatapan ibu yang tajam, menghela nafas berat lalu menjawab lirih, "sampai waktunya tiba..."
Sampai waktunya tiba...
Namun waktu itu tak juga tiba. Waktu yang kuharapkan membawa ia kembali dengan seikat ilalang. Waktu yang akan kujadikan alasan untuk tetap membiarkan sebatang ilalang itu hidup. Waktu yang tepat untuk mengatakan padamu bahwa aku tak pernah menyukai bunga mawar.
Dan ibu mulai melibatkan diri mengurus mawar di bawah jendela itu. Setiap pagi dan sore menyiramnya dengan seember air. Setiap minggu menyiangi dan memotong batang-batangnya yang mengering. Bahkan ibu membelikan pupuk khusus untuk mawar itu. Perlahan batang mawar yang hampir mati itu menghijau dan bertunas. Ada kuncup-kuncup bunga di pucuknya.
"Terima kasih telah merawat rumpun mawar itu," katamu.
Aku ingin mengatakan bahwa yang merawat rumpun mawar itu adalah ibu, namun lidahku berubah kelu melihat ketulusan yang benderang di kedua liang matamu. Seharusnya aku belajar menghargai ketulusanmu.
"Sebentar lagi mawar itu akan mekar," katamu lagi penuh semangat. "Sekuntum mawar merah yang anggun, seperti yang kuberikan padamu setiap senja akhir minggu. Dan kuharap kau menyukainya."
"Ibu sangat menyukai mawar itu, tapi..." aku menghentikan kata-kataku, meyakinkan diri sendiri, apakah aku akan benar-benar mengatakan bahwa aku tidak pernah menyukai mawar? Sanggupkah aku menodai ketulusanmu?
"Perempuan memang selalu menyukai mawar," sahutmu, tersenyum percaya diri. "Kita tunggu sampai kuncup-kuncup mawar itu mekar."
Beberapa minggu lagi kuncup-kuncup mawar itu sepertinya benar-benar akan mekar. Dan waktu yang kutunggu tak juga tiba. Mungkin ia tak akan pernah datang membawa seikat ilalang. Sementara sebatang ilalang di samping rumpun mawar itu mulai menguning. Daun-daunnya yang biasanya tegak, kini terkulai layu. Ilalang itu tak lagi mampu menjagaku.
"Ilalang ini sudah mati, bolehkah Ibu mencabutnya?" tanya ibu suatu sore ketika hendak menyiram rumpun mawar di bawah jendela.
Aku menggigil. Benarkah sebatang ilalang itu telah mati? Dan ibu akan mencabutnya, menyingkirkan ke tempat sampah lalu membakarnya. Ilalang terakhir yang kumiliki, benarkah ia telah mati?
"Lihat! Mawar merah itu telah mekar! Kau akan menyukainya!" kata ibu esok paginya setelah mencabut sebatang ilalang terakhir yang mati.
Dan mawar itu benar-benar mekar. Kini, dari depan jendela tempatku berdiri, aku bisa melihat kelopak-kelopak mawar merah yang anggun bergoyang dalam remang cahaya petang. Aku suka melihat mata ibu berbinar bahagia. Aku senang melihat ketulusanmu benderang tak ternoda. Namun jauh di dasar hatiku aku masih selalu bertanya-tanya.
Apakah suatu ketika nanti aku bisa menyukai mawarmu?***
Telaga Sarangan196, 15.03.07
Dimuat di Suara Pembaruan 10/06/2007
Senja hampir selesai. Matahari serupa bola merah yang menggelinding ke balik bukit. Meninggalkan jejak jingga pada lengkung langit barat. Aku berdiri di depan jendela. Memandang rumpun mawar yang meremang di hadapanku. Mendadak ada mata pisau yang menghunjam dadaku.
"Kuncup mawar ini akan mekar dan mengharumkan kamarmu," katamu suatu senja, seusai menanam rumpun mawar di bawah jendela kamarku.
Aku meneliti kedua liang matamu. Ketulusan tampak benderang di sana. Kau tersenyum, menepuk-nepuk telapak tanganmu yang penuh tanah lalu menyeka peluh yang menetes di pelipismu.
"Kau yakin mawar itu akan mekar?" tanyaku ragu.
Sekilas mendung melintasi wajahmu. Kau menunduk, menghela nafas berat lalu berucap lirih, "kuharap begitu. Jika saja kau mau membiarkannya hidup lalu merawatnya."
Jika saja kau mau membiarkannya hidup lalu merawatnya....
Aku selalu mengulang kata-katamu itu setiap malam menjelang tidur. Sejak kecil, aku tak pernah menyukai bunga. Apalagi mawar yang penuh duri, terlihat cantik namun mudah melukai. Menurutku, ilalang lebih menawan ketimbang semua jenis bunga. Tampak tegar tanpa kesan menggoda.
Namun, setahun terakhir kau tak pernah absen mengirimiku mawar setiap senja akhir minggu. Bahkan sudi bersusah payah menanam rumpun mawar di bawah jendelaku. Tidakkah kau tahu? Membuat seseorang menyukai sesuatu yang tidak disukainya seperti menunggu pohon mangga berbuah kecapi. Aku tak sampai hati mengatakan itu padamu. Kuterima mawarmu setiap senja akhir minggu, kumasukkan ke dalam vas di pojok kamar lalu kubiarkan layu. Kelopak-kelopaknya mengering berguguran.
"Rawatlah mawar itu agar mekar," pintamu.
Aku memandang rumpun mawar di bawah jendela. Bimbang.
u
Apakah aku sanggup merawat mawarmu? Sedangkan sampai hari ini kubiarkan ilalang pemberiannya tumbuh liar di halaman rumahku. Masih kukenang pertemuan pertamaku dengannya. Suatu pagi berkabut ketika aku menyusuri jalan setapak di kaki bukit. Ia datang menghampiriku dengan senyum mengembang. Tangan kanannya mengulurkan seikat ilalang.
"Kau suka ilalang, bukan?"
"Siapa kau?"
"Aku seorang pengelana yang mencintai ilalang."
"Kenapa kau mencintai ilalang?"
"Karena ilalang mengajariku ketegaran."
Aku menyukai jawabannya.
"Kau sendiri kenapa menyukai ilalang?"
"Karena terlihat tegar tanpa kesan menggoda."
Kau tersenyum, mengerling. "Alasan kita sama."
"Ya, sama."
Tak butuh banyak waktu untuk membiarkan ilalang itu tumbuh. Hanya tiga kali siram, daun-daunnya mulai tegak menghijau. Lalu beberapa bulan kemudian tumbuhan itu merajalela. Memenuhi halaman depan dan belakang rumahku. Bahkan ilalang-ilalang itu tumbuh di tengah batu padas samping rumahku. Daunnya yang panjang menjulang ke udara dan sesekali bergerak gemulai tertiup angin, seolah ingin mengatakan "hei manusia, kenapa kalian putus asa? Lihatlah aku, tumbuhan yang tak pernah menyerah pada kesulitan hidup!" Dan aku benar-benar jatuh cinta.
Waktu yang bergulir menjadi milikku, miliknya dan ilalang. Banyak hal menarik kami jalani bertiga. Kami merasa hari-hari adalah pembelajaran. Kami tahu hari-hari semakin tumbuh dewasa. Kami ingin hari-hari tak akan pernah berakhir. Hingga suatu ketika ia datang padaku dengan raut wajah tak biasa. Sebuah ransel hitam menggelayut di punggungnya.
"Aku akan pergi," katanya.
"Mengapa kau pergi?"
"Pengelana selalu pergi ke tempat yang berbeda."
"Apa kau akan kembali?"
"Aku tidak tahu."
Mendadak ada mata pisau yang melukai dadaku. Ia akan pergi setelah memenuhi halaman rumahku dengan ilalang. Tumbuhan kesukaanku dan kesukaannya. Diam-diam aku memaki dalam hati. Mengapa ia harus pergi? Apakah ia pernah berpikir bahwa aku dan ilalang tak ingin kehilangannya? Apakah ia pernah berpikir bahwa aku tak bisa bertahan tanpa dirinya? Apakah ia pernah berpikir bahwa rasa telah menyelinap?
"Ilalang-ilalang itu akan menjagamu. Kau tak perlu merawatnya, namun ia akan tetap hidup di halamanmu."
Dan ilalang itu memang tak pernah mati. Bertahun-tahun setelah kepergiannya yang tanpa kabar, halaman rumahku semakin penuh dengan ilalang. Sampai kemudian ibu risih melihatnya.
"Ilalang-ilalang itu menjadikan halaman rumah kita seperti hutan. Ibu akan mencabut dan membakarnya."
Aku tak bisa menyanggah kata-kata ibu. Halaman rumah kami memang sudah menyerupai hutan. Ilalang liar tumbuh di mana-mana memenuhi setiap sudut halaman. Meski sedih, aku membiarkan ibu mencabut, membakar dan membuang abu ilalang itu ke tempat semestinya. Namun, tak kubiarkan ibu mencabut sebatang ilalang yang tumbuh di bawah jendela kamarku. Sampai kemudian kau datang menanam serumpun mawar di samping ilalang itu. Memintaku membiarkan mawar itu hidup dan merawatnya.
Apakah aku bisa menyukai mawarmu seperti ilalangnya?
u
"Mawar adalah bunga yang luar biasa, kau harus merawatnya," kata ibu ketika melihat rumpun mawar di bawah jendela kamarku. "Sayang sekali, ilalang ini akan merusak kecantikan mawarmu."
Tangan ibu terulur hendak mencabut sebatang ilalang di samping rumpun mawar. Aku menarik tangan ibu.
"Biarkan ilalang itu tetap hidup, Bu."
"Tetap hidup untuk membunuh rumpun mawar itu? Jarak keduanya sangat dekat, akar ilalang itu akan menjalar dan merusak rumpun mawarmu."
Aku menggeleng. "Mereka akan tumbuh bersama-sama."
"Sampai kapan kau akan mempertahankan ilalang itu?"
Aku membuang pandang dari tatapan ibu yang tajam, menghela nafas berat lalu menjawab lirih, "sampai waktunya tiba..."
Sampai waktunya tiba...
Namun waktu itu tak juga tiba. Waktu yang kuharapkan membawa ia kembali dengan seikat ilalang. Waktu yang akan kujadikan alasan untuk tetap membiarkan sebatang ilalang itu hidup. Waktu yang tepat untuk mengatakan padamu bahwa aku tak pernah menyukai bunga mawar.
Dan ibu mulai melibatkan diri mengurus mawar di bawah jendela itu. Setiap pagi dan sore menyiramnya dengan seember air. Setiap minggu menyiangi dan memotong batang-batangnya yang mengering. Bahkan ibu membelikan pupuk khusus untuk mawar itu. Perlahan batang mawar yang hampir mati itu menghijau dan bertunas. Ada kuncup-kuncup bunga di pucuknya.
"Terima kasih telah merawat rumpun mawar itu," katamu.
Aku ingin mengatakan bahwa yang merawat rumpun mawar itu adalah ibu, namun lidahku berubah kelu melihat ketulusan yang benderang di kedua liang matamu. Seharusnya aku belajar menghargai ketulusanmu.
"Sebentar lagi mawar itu akan mekar," katamu lagi penuh semangat. "Sekuntum mawar merah yang anggun, seperti yang kuberikan padamu setiap senja akhir minggu. Dan kuharap kau menyukainya."
"Ibu sangat menyukai mawar itu, tapi..." aku menghentikan kata-kataku, meyakinkan diri sendiri, apakah aku akan benar-benar mengatakan bahwa aku tidak pernah menyukai mawar? Sanggupkah aku menodai ketulusanmu?
"Perempuan memang selalu menyukai mawar," sahutmu, tersenyum percaya diri. "Kita tunggu sampai kuncup-kuncup mawar itu mekar."
Beberapa minggu lagi kuncup-kuncup mawar itu sepertinya benar-benar akan mekar. Dan waktu yang kutunggu tak juga tiba. Mungkin ia tak akan pernah datang membawa seikat ilalang. Sementara sebatang ilalang di samping rumpun mawar itu mulai menguning. Daun-daunnya yang biasanya tegak, kini terkulai layu. Ilalang itu tak lagi mampu menjagaku.
"Ilalang ini sudah mati, bolehkah Ibu mencabutnya?" tanya ibu suatu sore ketika hendak menyiram rumpun mawar di bawah jendela.
Aku menggigil. Benarkah sebatang ilalang itu telah mati? Dan ibu akan mencabutnya, menyingkirkan ke tempat sampah lalu membakarnya. Ilalang terakhir yang kumiliki, benarkah ia telah mati?
"Lihat! Mawar merah itu telah mekar! Kau akan menyukainya!" kata ibu esok paginya setelah mencabut sebatang ilalang terakhir yang mati.
Dan mawar itu benar-benar mekar. Kini, dari depan jendela tempatku berdiri, aku bisa melihat kelopak-kelopak mawar merah yang anggun bergoyang dalam remang cahaya petang. Aku suka melihat mata ibu berbinar bahagia. Aku senang melihat ketulusanmu benderang tak ternoda. Namun jauh di dasar hatiku aku masih selalu bertanya-tanya.
Apakah suatu ketika nanti aku bisa menyukai mawarmu?***
Telaga Sarangan196, 15.03.07
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Tary
Dimuat di Suara Pembaruan 03/12/2006
Perempuan berwajah tertutup kain hitam itu meletakkan minuman kaleng di depanku. Matanya berkilat bahaya ketika bertubrukan dengan mataku. Aku membuang pandang, namun ekor mataku mengikuti langkahnya yang gesit. Berpindah dari satu meja ke meja lain untuk melayani pesanan pengunjung kafe.
"Kabarnya kau sudah jadi pengarang hebat?" suara berat menghampiriku.
Aku mendongak. Sesosok tubuh kekar dan kulit legam sedang berdiri di samping mejaku. Rambutnya gondrong dan dagunya penuh cambang. Aku mempersilakan lelaki itu duduk di kursi yang berhadapan denganku.
"Sepertinya menyenangkan menjadi pengarang."
Kuletakkan secangkir kopi yang baru saja kuteguk. Siapa lelaki ini? Kupandang matanya yang tajam menatapku. Dari mana dia tahu tentang diriku?
"Rokok?" tawarku menyodorkan sebungkus rokok putih.
Lelaki itu terbahak. Aku mengerutkan kening.
"Rokok putih seperti milikmu hanya untuk lelaki kota. Sedangkan lelaki nelayan sepertiku rokoknya seperti ini," katanya mengeluarkan kotak kecil dari dalam tas kumalnya. Dia mengambil botol tembakau, menuangkan ke atas lembaran kecil dan melintingnya menjadi sebuah rokok.
"Ini baru nikmat!" katanya seraya menyulut ujung rokok dan menghisapnya.
"Dari mana kau tahu tentangku?" Aku tak dapat menahan diri.
"Wija, biasanya orang macam kau memiliki ketelitian lebih dari orang-orang biasa, bukan?"
Dia juga tahu namaku. Aku memandangnya lama. Mungkinkah lelaki ini bagian dari kotak kenanganku?
"Baiklah, Wija. Kau boleh mengingat-ingat siapa diriku hingga semalaman. Tapi aku tak bisa menunggu hingga ingatanmu membaik."
Ada yang berputar ulang dalam otakku. Dan aku menemukan gambar lelaki itu di salah satu sisinya. "Hei! Tunggu!"
Namun, lelaki itu telah menghilang.
*
Ada sekotak kenangan yang menjadi alasanku mengunjungi tanah masa kecil ini. Isi kotak kenangan itu selalu terselip dalam lipatan hari-hariku. Aku tak bisa membuangnya ataupun membunuhnya. Bahkan sekarang menyeret kakiku untuk membuka gemboknya. Memunguti puluhan kisah yang masih tersimpan rapi.
"Sudah kau dapatkan inspirasimu?" suara berat itu kembali menggangguku.
Aku menoleh dan mendapati wajah lelaki yang sama. "Apa pedulimu?"
"Wija, kau belum mengingatku?"
Lelaki itu menatapku. Rambutnya berkibar diterpa angin malam. Dalam temaram rembulan, aku melihat sorot matanya yang berharap. Aku membuang pandang pada ombak yang berdebur menjilati bibir pantai.
"Memangnya kenapa kalau aku mengingatmu, Sarman?" kataku, tersenyum.
Beberapa saat kami saling menatap dan meneliti. Detik berikutnya tawa kami meledak. Satu kotak kenangan itu terbuka dan aku mulai memunguti salah satu kisahnya. Di depan sana, kulihat tubuh kecilku menyongsong ombak bersama tubuh kecil Sarman. Sejak kepindahanku ke kampung nelayan ini, aku terpesona kepandaian Sarman berenang dan menyelam. Setelah petang datang dan nenek berteriak-teriak memanggil, aku baru pulang. Aku harus menurut kepada nenek jika tak ingin ibu yang baru saja diceraikan ayah lebih bersedih.
"Aku membaca tulisan-tulisanmu di koran setiap ke kota. Hebat!"
Aku tak menanggapi kata-kata Sarman dan mulai menyulut rokok.
"Jadi kau kembali ke kampung ini untuk mencari inspirasi, bukan?"
"Apa kelihatannya begitu?" Aku balas bertanya.
Sarman tertawa sinis. "Kau bisa menulis cerita tentang pemuda nelayan miskin sepertiku, pernah sekolah ke kota dan ujung-ujungnya jadi nelayan miskin juga. Kau akan mendapatkan banyak uang dengan ceritamu itu, sementara aku di sini tetap miskin."
Aku tertawa datar. Apa dia pikir pengarang sepertiku ini kaya?
"Aku punya cerita hebat untukmu," kata Sarman sungguh-sungguh. "Itu jika kau tertarik."
"Sehebat apa?"
Sarman bangkit. Tanpa menunggu persetujuanku, serta merta ia menarik lenganku. "Ikut aku!"
*
Sarman berhenti di depan sebuah bangunan memanjang pinggir pantai tepat pukul 11 malam. Setelah memandang berkeliling Sarman mengajakku masuk. Dua puluh kamar berjajar membentuk hurup U. Berdinding tembok dan berlantai ubin. Sarman menyebut bangunan ini penginapan. Seperti kafe di pinggir pantai, aku juga tak melihat bayangan bangunan ini dalam kotak kenanganku. Laki-laki dan perempuan melintas bergandengan, sebagian yang lain duduk di kursi ruang tamu. Main kartu dan minum alkohol. Sesekali kudengar tawa cekikikan dari kamar-kamar berlampu redup. Sarman menghampiri resepsionis menor yang sibuk mencatat.
"Penghuni kamar paling ujung ada?"
Resepsionis itu mengangkat wajahnya lalu menatap Sarman dan aku bergantian.
"Ada. Kau atau temanmu?"
"Dia!" Sarman menunjukku sambil mengedipkan matanya. Resepsionis itu tersenyum genit.
Sebelum aku mengajukan beberapa pertanyaan, Sarman menarik lenganku menuju kamar paling ujung. Aroma parfum murahan menyengat penciumanku setiap berpapasan dengan perempuan-perempuan berbaju minim penghuni penginapan ini. Di depan kamar nomor 9, Sarman mengetuk pintu dan menunggu. Tak ada jawaban. Baru pada ketukan kelima pintu terbuka. Tak ada seraut wajah menyembul dari balik pintu. Namun ada suara lembut menghampiri telingaku.
"Silakan masuk, aku sedang kosong," katanya.
Dan Sarman mendorongku tanpa berkata-kata. Aku masuk ke dalam kamar dan pintu di belakangku kembali tertutup. Kudengar teriak Sarman dari balik pintu, "Kau akan mendapatkan cerita hebat, Wija!"
Aku tahu Sarman menjebakku. Cerita macam apa ini? Masuk ke kamar pelacur? Dengan sudut mataku aku melihat perempuan itu menunggu di tepi pembaringan. Aku mengangkat kepala membalas tatapannya. Jantungku meloncat cepat. Perempuan dengan wajah tertutup kain hitam di kafe itu! Bagaimana mungkin?
"Silakan Tuan, kau boleh memperlakukanku sesukamu lalu membayar," katanya.
Aku duduk di sebuah kursi samping pembaringan. Tidak melepaskan pandangan dari matanya yang berkilat bahaya. Memutar otak sebelum mengeluarkan kata-kata yang tepat.
"Aku hanya ingin ngobrol."
Ia bangkit meraih wajahku, mendekatkan ke wajahnya. "Dengar Tuan Besar, aku tak punya banyak waktu untuk ngobrol denganmu! Setiap detikku adalah uang."
"Kau akan menerima bayaran yang sama."
"Kau ingin ngobrol tentang apa denganku?" Ia melepaskan wajahku.
"Sarman bilang kau punya cerita hebat."
Perempuan itu bangkit dari duduknya dan tertawa mengejek. "Sarman benar! Banyak cerita hebat dalam hidupku! Kau mau yang mana?"
Aku menatap lantai ubin di bawahku. Mengatur napas yang tiba-tiba memburu. Perempuan itu duduk di depanku, lalu mengalirlah kisah itu.
"Aku seorang pembunuh, " katanya memulai.
Tatapannya menelitiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku merasa hendak dicincang atau ditelan hidup-hidup.
"Tapi aku tidak menyesal menjadi se- orang pembunuh." Dia tertawa datar. "Karena itu memang harus kulakukan."
"Siapa yang mengharuskanmu?" tanyaku.
"Keadaan."
Sejenak kami terdiam. Membiarkan desau angin malam dan debur ombak memenuhi lengang lalu perempuan itu mendesah. Dan aku menunggu.
"Membunuh itu melegakan. Saraf tegang jadi mengendur."
"Bagaimana bisa lega kalau kemudian kau masuk penjara?" Aku menukas.
Kurasa perempuan ini agak sinting. Dan cerita hebat macam apa yang mesti kubayar untuk malam ini?
"Masuk penjara itu adalah pembebasan bagiku." Dia menghela napas. "Karena suamiku adalah penjaraku yang sesungguhnya. Baginya aku tak lebih dari boneka pajangan yang bisa dihina dan disiksa sekehendaknya."
Aku bangkit dari duduk. Tak ada banyak waktu untuk mendengarkan keluh kesah wanita yang dianiaya suaminya. Sudah terlalu banyak cerita-cerita seperti ini, apa istimewanya? Dan aku harus segera mengakhirinya. Setelah meletakkan sejumlah uang di meja, aku menuju pintu.
"Aku menikahi lelaki itu karena letih menunggumu, Wija."
Apa yang baru saja kudengar? Aku berbalik dan mendapatkan wajah perempuan itu tanpa penutup kain hitam. Tubuhku terguncang melihat raut wajahnya yang pasi. Perempuan itu tersenyum. Dan pintu kotak kenangan itu terbuka lebar. Aku menemukan wajah perempuan itu di setiap sisinya. Wajah kenangan yang selalu tersimpan dalam lipatan hari-hariku. Tak bisa kubuang atau kubunuh.
Kulihat tangan mungilnya yang putih mengumpulkan pasir dan membentuknya menjadi istana. Sarman suka menggoda gadis kecil itu dan aku selalu melindunginya. Ketika remaja aku berkelahi dengan Sarman memperebutkan gadis itu. Beruntung, gadis itu memilihku. Setelah pindah ke kota, aku tak pernah menghubunginya. Kupikir, menyimpan gadis itu dalam kotak kenanganku akan aman. Semua bakal baik-baik saja hingga tiba saatnya aku datang menjemput dengan kereta kencana. Ternyata aku salah.
"Aku datang untuk menjemputmu," kataku parau.
Perempuan itu terbahak. "Setelah belasan tahun tanpa kabar?"
Aku mengangguk, entah untuk apa anggukan itu.
"Telan saja janji-janjimu, Wija. Aku bukan gadis yang kau kenal dulu. Sekarang aku adalah pembunuh, mantan napi dan pelacur. Semua sudah lengkap setelah aku kehilangan cintamu."
Ada sembilu yang menghajar ruang hatiku. Seharusnya aku sadar, waktu tak bisa diam menunggu. Waktu bisa mengubah segalanya dalam sekejap. Dan aku tahu kini semuanya tidak baik-baik saja.
"Pergilah Wija, semua sudah berakhir," katanya menjejalkan uangku dan mendorongku keluar kamar.
"Aku akan memenuhi janjiku untuk menjemputmu," kataku.
Tetapi tangannya begitu kuat mendorongku keluar kamar. Lalu pintu di belakangku menutup keras. Samar kudengar isak tangis perempuan itu di balik pintu. Dan aku berbalik untuk mendorong pintu agar terbuka. Namun tak bisa kulakukan.
Kunci yang pernah dia berikan padaku telah kupatahkan. ***
Pesisir Blado, 15.11.2006
Dimuat di Suara Pembaruan 03/12/2006
Perempuan berwajah tertutup kain hitam itu meletakkan minuman kaleng di depanku. Matanya berkilat bahaya ketika bertubrukan dengan mataku. Aku membuang pandang, namun ekor mataku mengikuti langkahnya yang gesit. Berpindah dari satu meja ke meja lain untuk melayani pesanan pengunjung kafe.
"Kabarnya kau sudah jadi pengarang hebat?" suara berat menghampiriku.
Aku mendongak. Sesosok tubuh kekar dan kulit legam sedang berdiri di samping mejaku. Rambutnya gondrong dan dagunya penuh cambang. Aku mempersilakan lelaki itu duduk di kursi yang berhadapan denganku.
"Sepertinya menyenangkan menjadi pengarang."
Kuletakkan secangkir kopi yang baru saja kuteguk. Siapa lelaki ini? Kupandang matanya yang tajam menatapku. Dari mana dia tahu tentang diriku?
"Rokok?" tawarku menyodorkan sebungkus rokok putih.
Lelaki itu terbahak. Aku mengerutkan kening.
"Rokok putih seperti milikmu hanya untuk lelaki kota. Sedangkan lelaki nelayan sepertiku rokoknya seperti ini," katanya mengeluarkan kotak kecil dari dalam tas kumalnya. Dia mengambil botol tembakau, menuangkan ke atas lembaran kecil dan melintingnya menjadi sebuah rokok.
"Ini baru nikmat!" katanya seraya menyulut ujung rokok dan menghisapnya.
"Dari mana kau tahu tentangku?" Aku tak dapat menahan diri.
"Wija, biasanya orang macam kau memiliki ketelitian lebih dari orang-orang biasa, bukan?"
Dia juga tahu namaku. Aku memandangnya lama. Mungkinkah lelaki ini bagian dari kotak kenanganku?
"Baiklah, Wija. Kau boleh mengingat-ingat siapa diriku hingga semalaman. Tapi aku tak bisa menunggu hingga ingatanmu membaik."
Ada yang berputar ulang dalam otakku. Dan aku menemukan gambar lelaki itu di salah satu sisinya. "Hei! Tunggu!"
Namun, lelaki itu telah menghilang.
*
Ada sekotak kenangan yang menjadi alasanku mengunjungi tanah masa kecil ini. Isi kotak kenangan itu selalu terselip dalam lipatan hari-hariku. Aku tak bisa membuangnya ataupun membunuhnya. Bahkan sekarang menyeret kakiku untuk membuka gemboknya. Memunguti puluhan kisah yang masih tersimpan rapi.
"Sudah kau dapatkan inspirasimu?" suara berat itu kembali menggangguku.
Aku menoleh dan mendapati wajah lelaki yang sama. "Apa pedulimu?"
"Wija, kau belum mengingatku?"
Lelaki itu menatapku. Rambutnya berkibar diterpa angin malam. Dalam temaram rembulan, aku melihat sorot matanya yang berharap. Aku membuang pandang pada ombak yang berdebur menjilati bibir pantai.
"Memangnya kenapa kalau aku mengingatmu, Sarman?" kataku, tersenyum.
Beberapa saat kami saling menatap dan meneliti. Detik berikutnya tawa kami meledak. Satu kotak kenangan itu terbuka dan aku mulai memunguti salah satu kisahnya. Di depan sana, kulihat tubuh kecilku menyongsong ombak bersama tubuh kecil Sarman. Sejak kepindahanku ke kampung nelayan ini, aku terpesona kepandaian Sarman berenang dan menyelam. Setelah petang datang dan nenek berteriak-teriak memanggil, aku baru pulang. Aku harus menurut kepada nenek jika tak ingin ibu yang baru saja diceraikan ayah lebih bersedih.
"Aku membaca tulisan-tulisanmu di koran setiap ke kota. Hebat!"
Aku tak menanggapi kata-kata Sarman dan mulai menyulut rokok.
"Jadi kau kembali ke kampung ini untuk mencari inspirasi, bukan?"
"Apa kelihatannya begitu?" Aku balas bertanya.
Sarman tertawa sinis. "Kau bisa menulis cerita tentang pemuda nelayan miskin sepertiku, pernah sekolah ke kota dan ujung-ujungnya jadi nelayan miskin juga. Kau akan mendapatkan banyak uang dengan ceritamu itu, sementara aku di sini tetap miskin."
Aku tertawa datar. Apa dia pikir pengarang sepertiku ini kaya?
"Aku punya cerita hebat untukmu," kata Sarman sungguh-sungguh. "Itu jika kau tertarik."
"Sehebat apa?"
Sarman bangkit. Tanpa menunggu persetujuanku, serta merta ia menarik lenganku. "Ikut aku!"
*
Sarman berhenti di depan sebuah bangunan memanjang pinggir pantai tepat pukul 11 malam. Setelah memandang berkeliling Sarman mengajakku masuk. Dua puluh kamar berjajar membentuk hurup U. Berdinding tembok dan berlantai ubin. Sarman menyebut bangunan ini penginapan. Seperti kafe di pinggir pantai, aku juga tak melihat bayangan bangunan ini dalam kotak kenanganku. Laki-laki dan perempuan melintas bergandengan, sebagian yang lain duduk di kursi ruang tamu. Main kartu dan minum alkohol. Sesekali kudengar tawa cekikikan dari kamar-kamar berlampu redup. Sarman menghampiri resepsionis menor yang sibuk mencatat.
"Penghuni kamar paling ujung ada?"
Resepsionis itu mengangkat wajahnya lalu menatap Sarman dan aku bergantian.
"Ada. Kau atau temanmu?"
"Dia!" Sarman menunjukku sambil mengedipkan matanya. Resepsionis itu tersenyum genit.
Sebelum aku mengajukan beberapa pertanyaan, Sarman menarik lenganku menuju kamar paling ujung. Aroma parfum murahan menyengat penciumanku setiap berpapasan dengan perempuan-perempuan berbaju minim penghuni penginapan ini. Di depan kamar nomor 9, Sarman mengetuk pintu dan menunggu. Tak ada jawaban. Baru pada ketukan kelima pintu terbuka. Tak ada seraut wajah menyembul dari balik pintu. Namun ada suara lembut menghampiri telingaku.
"Silakan masuk, aku sedang kosong," katanya.
Dan Sarman mendorongku tanpa berkata-kata. Aku masuk ke dalam kamar dan pintu di belakangku kembali tertutup. Kudengar teriak Sarman dari balik pintu, "Kau akan mendapatkan cerita hebat, Wija!"
Aku tahu Sarman menjebakku. Cerita macam apa ini? Masuk ke kamar pelacur? Dengan sudut mataku aku melihat perempuan itu menunggu di tepi pembaringan. Aku mengangkat kepala membalas tatapannya. Jantungku meloncat cepat. Perempuan dengan wajah tertutup kain hitam di kafe itu! Bagaimana mungkin?
"Silakan Tuan, kau boleh memperlakukanku sesukamu lalu membayar," katanya.
Aku duduk di sebuah kursi samping pembaringan. Tidak melepaskan pandangan dari matanya yang berkilat bahaya. Memutar otak sebelum mengeluarkan kata-kata yang tepat.
"Aku hanya ingin ngobrol."
Ia bangkit meraih wajahku, mendekatkan ke wajahnya. "Dengar Tuan Besar, aku tak punya banyak waktu untuk ngobrol denganmu! Setiap detikku adalah uang."
"Kau akan menerima bayaran yang sama."
"Kau ingin ngobrol tentang apa denganku?" Ia melepaskan wajahku.
"Sarman bilang kau punya cerita hebat."
Perempuan itu bangkit dari duduknya dan tertawa mengejek. "Sarman benar! Banyak cerita hebat dalam hidupku! Kau mau yang mana?"
Aku menatap lantai ubin di bawahku. Mengatur napas yang tiba-tiba memburu. Perempuan itu duduk di depanku, lalu mengalirlah kisah itu.
"Aku seorang pembunuh, " katanya memulai.
Tatapannya menelitiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku merasa hendak dicincang atau ditelan hidup-hidup.
"Tapi aku tidak menyesal menjadi se- orang pembunuh." Dia tertawa datar. "Karena itu memang harus kulakukan."
"Siapa yang mengharuskanmu?" tanyaku.
"Keadaan."
Sejenak kami terdiam. Membiarkan desau angin malam dan debur ombak memenuhi lengang lalu perempuan itu mendesah. Dan aku menunggu.
"Membunuh itu melegakan. Saraf tegang jadi mengendur."
"Bagaimana bisa lega kalau kemudian kau masuk penjara?" Aku menukas.
Kurasa perempuan ini agak sinting. Dan cerita hebat macam apa yang mesti kubayar untuk malam ini?
"Masuk penjara itu adalah pembebasan bagiku." Dia menghela napas. "Karena suamiku adalah penjaraku yang sesungguhnya. Baginya aku tak lebih dari boneka pajangan yang bisa dihina dan disiksa sekehendaknya."
Aku bangkit dari duduk. Tak ada banyak waktu untuk mendengarkan keluh kesah wanita yang dianiaya suaminya. Sudah terlalu banyak cerita-cerita seperti ini, apa istimewanya? Dan aku harus segera mengakhirinya. Setelah meletakkan sejumlah uang di meja, aku menuju pintu.
"Aku menikahi lelaki itu karena letih menunggumu, Wija."
Apa yang baru saja kudengar? Aku berbalik dan mendapatkan wajah perempuan itu tanpa penutup kain hitam. Tubuhku terguncang melihat raut wajahnya yang pasi. Perempuan itu tersenyum. Dan pintu kotak kenangan itu terbuka lebar. Aku menemukan wajah perempuan itu di setiap sisinya. Wajah kenangan yang selalu tersimpan dalam lipatan hari-hariku. Tak bisa kubuang atau kubunuh.
Kulihat tangan mungilnya yang putih mengumpulkan pasir dan membentuknya menjadi istana. Sarman suka menggoda gadis kecil itu dan aku selalu melindunginya. Ketika remaja aku berkelahi dengan Sarman memperebutkan gadis itu. Beruntung, gadis itu memilihku. Setelah pindah ke kota, aku tak pernah menghubunginya. Kupikir, menyimpan gadis itu dalam kotak kenanganku akan aman. Semua bakal baik-baik saja hingga tiba saatnya aku datang menjemput dengan kereta kencana. Ternyata aku salah.
"Aku datang untuk menjemputmu," kataku parau.
Perempuan itu terbahak. "Setelah belasan tahun tanpa kabar?"
Aku mengangguk, entah untuk apa anggukan itu.
"Telan saja janji-janjimu, Wija. Aku bukan gadis yang kau kenal dulu. Sekarang aku adalah pembunuh, mantan napi dan pelacur. Semua sudah lengkap setelah aku kehilangan cintamu."
Ada sembilu yang menghajar ruang hatiku. Seharusnya aku sadar, waktu tak bisa diam menunggu. Waktu bisa mengubah segalanya dalam sekejap. Dan aku tahu kini semuanya tidak baik-baik saja.
"Pergilah Wija, semua sudah berakhir," katanya menjejalkan uangku dan mendorongku keluar kamar.
"Aku akan memenuhi janjiku untuk menjemputmu," kataku.
Tetapi tangannya begitu kuat mendorongku keluar kamar. Lalu pintu di belakangku menutup keras. Samar kudengar isak tangis perempuan itu di balik pintu. Dan aku berbalik untuk mendorong pintu agar terbuka. Namun tak bisa kulakukan.
Kunci yang pernah dia berikan padaku telah kupatahkan. ***
Pesisir Blado, 15.11.2006
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Tary
Dimuat di Nova 18/09/2006
MEMANDANG wajah hujan pada setiap penghujung tahun, bagaikan menyelami sebuah kisah. Kisah yang menyeret kakiku menapaki kembali halaman stasiun tua ini. Tak banyak yang berubah dari tahun ke tahun. Bocah-bocah gelandangan menggigil kedinginan, meringkuk menahan lapar. Pedagang asongan hilir mudik menghampiri penumpang, mengais rezeki. Jajaran gerbong tua tak terpakai di tepi stasiun. Kereta-kereta datang dan pergi, silih berganti seperti kehidupan.
Aku duduk di sebuah bangku hitam panjang. Menikmati dingin air hujan yang menetes melalui celah atap stasiun. Kudekap tubuh Aini dalam gendongan. Bocah perempuanku itu lelap bersama mimpi masa kanak-kanaknya yang indah. Setiap ada kereta yang datang, aku berlari memburu. Dengan jeli kuperiksa penumpang yang turun dari puluhan gerbong. Berharap akan datang satu kereta. Membawa sosok yang selalu menyambangi mimpi-mimpiku. Mematahkan kebenaran kabar yang telah tersiar.
Di ujung musim hujan sewindu yang lalu, kami kembali bertemu di stasiun tua ini. Mula-mula, kulihat ia sibuk dengan teman-teman kecilnya, bocah-bocah gelandangan di pojok stasiun. Bermain tebak-tebakan menggunakan koin uang logam. Sesekali terdengar bocah-bocah itu terbahak senang. Lalu ia tersenyum menghampiriku.
"Akhirnya kita bertemu lagi," katanya.
Aku memandangnya lekat. Banyak yang berubah setelah waktu bergulir lama. Gurat-gurat kedewasaan menghiasi wajahnya. Rambut gondrongnya berderai tertiup angin lembap bulan Desember. Jemarinya sibuk merapatkan resleting jaket, seakan hendak mengusir hawa dingin yang menusuk tulang. Ia mengulurkan tangan dan aku menangkapnya.
"Menikahlah denganku," ucapnya tiba-tiba. Tegas namun lembut.
Aku tersentak. Dadaku mendadak bergejolak. Ada panah api menusuk pinggir hatiku yang paling rawan. Membuat tubuhku limbung dan menggelepar. Aku jatuh cinta lagi kepada lelaki pengelana ini.
Ia, lelaki pengelana itu, bernama Azka. Kami terlahir pada bulan yang sama, di penghujung tahun yang basah. Rumah kami berdampingan dan hari-hari kami bersamaan. Masa kanak-kanak yang indah kami lewati penuh tawa. Bermain petak umpet, bersepeda keliling kompleks dan mencuri kue-kue lezat bikinan ibu yang seharusnya kami antarkan ke pelanggan. Masa remaja yang berwarna kami lewati penuh gairah. Menggosipkan para idola sekolah, membolos karena takut pelajaran Kimia, dan mencari jati diri. Lalu, getaran-getaran aneh itu tumbuh di dadaku. Tepat ketika aku dan Azka menemukan jati diri yang sesungguhnya. Aku meneruskan sekolah, sementara Azka memilih berkelana. Menjelajahi kota demi kota mempelajari makna kehidupan.
Ada yang bergelora di dadaku setiap kali dia menemuiku sepulang berkelana. Mendengar cerita petualangannya di berbagai kota membuatku cemburu. Tetapi, aku tak punya hak mencegah kepergian Azka. Aku hanyalah seorang sahabat. Meskipun hatiku berteriak-teriak enggan ditinggalkannya, namun seperti pengertianku kepadanya; Azka terlahir sebagai pengelana.
"Apa kau pernah merasa kehilanganku?"
Ini pertanyaan mengejutkan setelah umurku merambat dewasa. Pertanyaan pertama yang terlontar dari bibir pengelana yang tak pernah mengerti hati seorang perempuan. Pertanyaan yang melibatkan perasaan setelah berpuluh tahun kami bersahabat. Apalah arti rasa kehilanganku bagi seorang pengelana seperti Azka? Aku tidak peduli. Seperti yang selalu kulakukan saat mengantarkan keberangkatannya mengelana dari stasiun ini.
"Aku akan pergi dengan tenang jika kau tak pernah merasa kehilanganku. Jika pun aku tak kembali menemuimu, aku tak akan merasa bersalah."
Aku terperangah. Mendung memekat, hujan semakin deras.
Ketika Azka menyandang ransel hitamnya dan menyongsong kereta yang datang, aku berdiri linglung. Sebenarnya, banyak hal yang ingin kuungkapkan padanya. Tentang gelora di dadaku, tentang kecemburuanku dan tentang harapan-harapanku. Namun, bibirku hanya bergerak-gerak tanpa suara. Lidahku kelu.
Tak ada yang kulakukan selain memandangi sosok Azka menyelinap di antara hilir mudik penumpang lalu kembali muncul di jendela kereta, gerbong nomor empat. Sempat kutangkap rona muram pada raut wajahnya. Senyumnya menghilang. Bersama kereta yang bergerak menjauh, aku membalas lambaian tangannya yang terkulai, seakan terempas angin kencang.
Namun, cinta membawanya kembali ke stasiun ini. Kami menikah sewindu lalu dan membangun keluarga baru. Hari-hari kami senantiasa penuh bunga. Rentang waktu yang lama menunggu kehadiran Aini tidak membuat kami putus asa. Dan lengkaplah kebahagiaan itu ketika enam tahun kemudian Aini lahir. Gadis mungil yang cantik itu adalah malaikat kecil dalam rumah kami.
"Aku akan berkelana," kata Azka suatu malam ketika Aini sudah lelap.
"Ke mana?"
"Ke mana saja. Bukankah aku terlahir sebagai pengelana?"
Aku terdiam. Mencoba mengembalikan pengertianku tentangnya.
Azka menyentuh lenganku lembut, membujuk. "Sejak kecil, hanya kau yang mengerti bahwa aku terlahir sebagai pengelana."
"Tetapi, Aini?"
"Aku tetap Ayah Aini, katakan padanya aku pergi bekerja. Pengelanaanku kali ini memang untuk bekerja. Seorang teman menawarkan sesuatu yang menarik. Jadi jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab dengan mengirim biaya hidup kalian. Aku juga akan pulang."
"Kapan?"
"Musim hujan penghujung tahun." Azka mengembangkan senyumnya dan merengkuh bahuku. "Aku mencintaimu dan Aini. Sungguh!"
Malam berdetak. Hatiku giris.
* * *
"KAPAN Ayah pulang dari bekerja, Bu?"
"Kenapa Ayah lama sekali pergi?"
"Apa Ayah tidak merindukan Aini?"
"Ayah akan membawa boneka beruang di hari ulang tahun Aini kan, Bu?"
"Jangan-jangan Ayah tersesat di hutan?"
"Aini akan meminta tolong Ibu Peri untuk memulangkan Ayah!"
Aku tak dapat menjawab atau membantah kata-kata Aini. Gadis kecil itu merindukan ayahnya. Dan waktu bergulir semakin lamban. Tahun demi tahun telah berlalu. Setelah mengirim sejumlah uang pada bulan ketiga kepergiannya, tak secuil pun kabar kuterima dari Azka. Bahkan alamatnya pun tak kumiliki.
Mungkin Azka terlampau sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin Azka ingin mengumpulkan uang yang banyak. Mungkin Azka ingin konsentrasi mewujudkan mimpi-mimpinya. Mungkin Azka terpikat seorang gadis menarik. Mungkin Azka memutuskan menikah dan menetap di suatu kota. Mungkin Azka telah memiliki gadis kecil lain sebagai pengganti Aini. Mungkin Azka mengakhiri pengelanaannya. Mungkin Azka telah melupakan kami. Dan, mungkin Azka…
Berbagai kemungkinan yang penuh prasangka buruk menyesakkan dadaku. Membuat bibirku ingin berteriak, "Wahai pengelana! Jika kau telah mempelajari ribuan makna hidup, seharusnya kau tahu, aku dan Aini membutuhkanmu!"
Namun, teriakanku tak pernah sampai. Waktu demi waktu terus beringsut maju. Penghujung tahun yang basah datang dan pergi tanpa peduli. Hingga orang tua Azka memutuskan pindah ke kota lain karena pensiun dan aku tak sanggup membayar kontrakan lalu pulang ke rumah orang tuaku, Azka belum juga kembali. Untuk meredakan kegundahan Aini, aku sering mengajaknya mengunjungi stasiun tua ini. Mengharapkan sosok Azka menyembul dari pintu gerbong kereta, tersenyum lebar seraya membentangkan tangan dan berteriak lantang, "Aini sayang, Ayah datang!"
Setelah letih mengungkung dan putus asa diam-diam menyergapku, kabar itu datang. Aku sedang menyiram kembang ketika loper koran cilik langganan keluarga menghampiriku pagi itu.
"Mbak, ada berita bagus. Lihat halaman depan! Polisi berhasil menangkap teroris! Hebat, bukan?"
Aku menerima koran pagi langganan keluargaku dalam diam. Kuamati sekilas sambil lalu. Seraut wajah berahang kukuh yang terpampang di halaman depan menyentakku. Dalam gambar insert, kulihat tubuh bagian bawah lelaki itu hancur. Meskipun namanya berganti, namun aku tak pernah sangsi. Ia, lelaki pengelana yang selalu kutunggu kedatangannya di musim hujan penghujung tahun!
"Apakah Ayah mengirim pesan lewat koran itu, Bu?"
Aini menghampiriku dengan senyum bocahnya yang bening. Pandanganku berkunang-kunang ketika menjangkau tubuh mungilnya. Lalu semua gelap.
* * *
MEMANDANG wajah hujan pada setiap penghujung tahun, bagaikan menyelami sebuah kisah. Kisah yang menyeret kakiku menapaki kembali halaman stasiun tua ini. Aku masih duduk di sebuah bangku hitam panjang. Menikmati dingin air hujan yang menetes melalui celah atap stasiun. Kudekap tubuh Aini dalam gendongan. Azka pasti datang di musim hujan penghujung tahun. Aku akan terus menunggunya. Ingin kubuktikan kesetiaan dan cintaku. Meski hanya kepada jasadnya…***
Jakarta, 2005/2006
Dimuat di Nova 18/09/2006
MEMANDANG wajah hujan pada setiap penghujung tahun, bagaikan menyelami sebuah kisah. Kisah yang menyeret kakiku menapaki kembali halaman stasiun tua ini. Tak banyak yang berubah dari tahun ke tahun. Bocah-bocah gelandangan menggigil kedinginan, meringkuk menahan lapar. Pedagang asongan hilir mudik menghampiri penumpang, mengais rezeki. Jajaran gerbong tua tak terpakai di tepi stasiun. Kereta-kereta datang dan pergi, silih berganti seperti kehidupan.
Aku duduk di sebuah bangku hitam panjang. Menikmati dingin air hujan yang menetes melalui celah atap stasiun. Kudekap tubuh Aini dalam gendongan. Bocah perempuanku itu lelap bersama mimpi masa kanak-kanaknya yang indah. Setiap ada kereta yang datang, aku berlari memburu. Dengan jeli kuperiksa penumpang yang turun dari puluhan gerbong. Berharap akan datang satu kereta. Membawa sosok yang selalu menyambangi mimpi-mimpiku. Mematahkan kebenaran kabar yang telah tersiar.
Di ujung musim hujan sewindu yang lalu, kami kembali bertemu di stasiun tua ini. Mula-mula, kulihat ia sibuk dengan teman-teman kecilnya, bocah-bocah gelandangan di pojok stasiun. Bermain tebak-tebakan menggunakan koin uang logam. Sesekali terdengar bocah-bocah itu terbahak senang. Lalu ia tersenyum menghampiriku.
"Akhirnya kita bertemu lagi," katanya.
Aku memandangnya lekat. Banyak yang berubah setelah waktu bergulir lama. Gurat-gurat kedewasaan menghiasi wajahnya. Rambut gondrongnya berderai tertiup angin lembap bulan Desember. Jemarinya sibuk merapatkan resleting jaket, seakan hendak mengusir hawa dingin yang menusuk tulang. Ia mengulurkan tangan dan aku menangkapnya.
"Menikahlah denganku," ucapnya tiba-tiba. Tegas namun lembut.
Aku tersentak. Dadaku mendadak bergejolak. Ada panah api menusuk pinggir hatiku yang paling rawan. Membuat tubuhku limbung dan menggelepar. Aku jatuh cinta lagi kepada lelaki pengelana ini.
Ia, lelaki pengelana itu, bernama Azka. Kami terlahir pada bulan yang sama, di penghujung tahun yang basah. Rumah kami berdampingan dan hari-hari kami bersamaan. Masa kanak-kanak yang indah kami lewati penuh tawa. Bermain petak umpet, bersepeda keliling kompleks dan mencuri kue-kue lezat bikinan ibu yang seharusnya kami antarkan ke pelanggan. Masa remaja yang berwarna kami lewati penuh gairah. Menggosipkan para idola sekolah, membolos karena takut pelajaran Kimia, dan mencari jati diri. Lalu, getaran-getaran aneh itu tumbuh di dadaku. Tepat ketika aku dan Azka menemukan jati diri yang sesungguhnya. Aku meneruskan sekolah, sementara Azka memilih berkelana. Menjelajahi kota demi kota mempelajari makna kehidupan.
Ada yang bergelora di dadaku setiap kali dia menemuiku sepulang berkelana. Mendengar cerita petualangannya di berbagai kota membuatku cemburu. Tetapi, aku tak punya hak mencegah kepergian Azka. Aku hanyalah seorang sahabat. Meskipun hatiku berteriak-teriak enggan ditinggalkannya, namun seperti pengertianku kepadanya; Azka terlahir sebagai pengelana.
"Apa kau pernah merasa kehilanganku?"
Ini pertanyaan mengejutkan setelah umurku merambat dewasa. Pertanyaan pertama yang terlontar dari bibir pengelana yang tak pernah mengerti hati seorang perempuan. Pertanyaan yang melibatkan perasaan setelah berpuluh tahun kami bersahabat. Apalah arti rasa kehilanganku bagi seorang pengelana seperti Azka? Aku tidak peduli. Seperti yang selalu kulakukan saat mengantarkan keberangkatannya mengelana dari stasiun ini.
"Aku akan pergi dengan tenang jika kau tak pernah merasa kehilanganku. Jika pun aku tak kembali menemuimu, aku tak akan merasa bersalah."
Aku terperangah. Mendung memekat, hujan semakin deras.
Ketika Azka menyandang ransel hitamnya dan menyongsong kereta yang datang, aku berdiri linglung. Sebenarnya, banyak hal yang ingin kuungkapkan padanya. Tentang gelora di dadaku, tentang kecemburuanku dan tentang harapan-harapanku. Namun, bibirku hanya bergerak-gerak tanpa suara. Lidahku kelu.
Tak ada yang kulakukan selain memandangi sosok Azka menyelinap di antara hilir mudik penumpang lalu kembali muncul di jendela kereta, gerbong nomor empat. Sempat kutangkap rona muram pada raut wajahnya. Senyumnya menghilang. Bersama kereta yang bergerak menjauh, aku membalas lambaian tangannya yang terkulai, seakan terempas angin kencang.
Namun, cinta membawanya kembali ke stasiun ini. Kami menikah sewindu lalu dan membangun keluarga baru. Hari-hari kami senantiasa penuh bunga. Rentang waktu yang lama menunggu kehadiran Aini tidak membuat kami putus asa. Dan lengkaplah kebahagiaan itu ketika enam tahun kemudian Aini lahir. Gadis mungil yang cantik itu adalah malaikat kecil dalam rumah kami.
"Aku akan berkelana," kata Azka suatu malam ketika Aini sudah lelap.
"Ke mana?"
"Ke mana saja. Bukankah aku terlahir sebagai pengelana?"
Aku terdiam. Mencoba mengembalikan pengertianku tentangnya.
Azka menyentuh lenganku lembut, membujuk. "Sejak kecil, hanya kau yang mengerti bahwa aku terlahir sebagai pengelana."
"Tetapi, Aini?"
"Aku tetap Ayah Aini, katakan padanya aku pergi bekerja. Pengelanaanku kali ini memang untuk bekerja. Seorang teman menawarkan sesuatu yang menarik. Jadi jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab dengan mengirim biaya hidup kalian. Aku juga akan pulang."
"Kapan?"
"Musim hujan penghujung tahun." Azka mengembangkan senyumnya dan merengkuh bahuku. "Aku mencintaimu dan Aini. Sungguh!"
Malam berdetak. Hatiku giris.
* * *
"KAPAN Ayah pulang dari bekerja, Bu?"
"Kenapa Ayah lama sekali pergi?"
"Apa Ayah tidak merindukan Aini?"
"Ayah akan membawa boneka beruang di hari ulang tahun Aini kan, Bu?"
"Jangan-jangan Ayah tersesat di hutan?"
"Aini akan meminta tolong Ibu Peri untuk memulangkan Ayah!"
Aku tak dapat menjawab atau membantah kata-kata Aini. Gadis kecil itu merindukan ayahnya. Dan waktu bergulir semakin lamban. Tahun demi tahun telah berlalu. Setelah mengirim sejumlah uang pada bulan ketiga kepergiannya, tak secuil pun kabar kuterima dari Azka. Bahkan alamatnya pun tak kumiliki.
Mungkin Azka terlampau sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin Azka ingin mengumpulkan uang yang banyak. Mungkin Azka ingin konsentrasi mewujudkan mimpi-mimpinya. Mungkin Azka terpikat seorang gadis menarik. Mungkin Azka memutuskan menikah dan menetap di suatu kota. Mungkin Azka telah memiliki gadis kecil lain sebagai pengganti Aini. Mungkin Azka mengakhiri pengelanaannya. Mungkin Azka telah melupakan kami. Dan, mungkin Azka…
Berbagai kemungkinan yang penuh prasangka buruk menyesakkan dadaku. Membuat bibirku ingin berteriak, "Wahai pengelana! Jika kau telah mempelajari ribuan makna hidup, seharusnya kau tahu, aku dan Aini membutuhkanmu!"
Namun, teriakanku tak pernah sampai. Waktu demi waktu terus beringsut maju. Penghujung tahun yang basah datang dan pergi tanpa peduli. Hingga orang tua Azka memutuskan pindah ke kota lain karena pensiun dan aku tak sanggup membayar kontrakan lalu pulang ke rumah orang tuaku, Azka belum juga kembali. Untuk meredakan kegundahan Aini, aku sering mengajaknya mengunjungi stasiun tua ini. Mengharapkan sosok Azka menyembul dari pintu gerbong kereta, tersenyum lebar seraya membentangkan tangan dan berteriak lantang, "Aini sayang, Ayah datang!"
Setelah letih mengungkung dan putus asa diam-diam menyergapku, kabar itu datang. Aku sedang menyiram kembang ketika loper koran cilik langganan keluarga menghampiriku pagi itu.
"Mbak, ada berita bagus. Lihat halaman depan! Polisi berhasil menangkap teroris! Hebat, bukan?"
Aku menerima koran pagi langganan keluargaku dalam diam. Kuamati sekilas sambil lalu. Seraut wajah berahang kukuh yang terpampang di halaman depan menyentakku. Dalam gambar insert, kulihat tubuh bagian bawah lelaki itu hancur. Meskipun namanya berganti, namun aku tak pernah sangsi. Ia, lelaki pengelana yang selalu kutunggu kedatangannya di musim hujan penghujung tahun!
"Apakah Ayah mengirim pesan lewat koran itu, Bu?"
Aini menghampiriku dengan senyum bocahnya yang bening. Pandanganku berkunang-kunang ketika menjangkau tubuh mungilnya. Lalu semua gelap.
* * *
MEMANDANG wajah hujan pada setiap penghujung tahun, bagaikan menyelami sebuah kisah. Kisah yang menyeret kakiku menapaki kembali halaman stasiun tua ini. Aku masih duduk di sebuah bangku hitam panjang. Menikmati dingin air hujan yang menetes melalui celah atap stasiun. Kudekap tubuh Aini dalam gendongan. Azka pasti datang di musim hujan penghujung tahun. Aku akan terus menunggunya. Ingin kubuktikan kesetiaan dan cintaku. Meski hanya kepada jasadnya…***
Jakarta, 2005/2006
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Tary
Dimuat di Suara Karya 27/08/2006
Senja hari. Gerimis. Aku mengempaskan tubuh di kursi pojok kantin. Meletakkan ransel hitamku dan merapatkan retsluiting jaket. Menghalau udara basah yang menggigilkan. Kunyalakan sebatang rokok lalu mengisapnya perlahan. Kepulan asapnya melingkar-lingkar seperti tarian ular.
Pedagang asongan mondar-mandir, menghampiri lalu lalang orang. Menawarkan cindera mata, makanan khas dan mainan anak-anak. Sesekali aroma gurih jagung bakar menerbitkan air liur. Mataku menerawang ke hamparan kebun teh. Pucuk-pucuk daun teh yang segar bergoyang tertiup angin. Meliuk dalam selubung kabut.
Kawasan puncak kota hujan! Aku kembali berada di sini! Seorang perempuan muda membawakan secangkir kopi panas pesananku. Ia tersenyum manis seraya menawarkan jenis makanan yang tersedia di kantin. Pipi kirinya berlesung saat ia tersenyum. Lesung pipit itu melesatkan kenanganku tentangmu.
Apakah aku datang bersama penyesalan? Aku menghela nafas. Menahan nyeri yang tiba-tiba menikam dada. Bukankah perjumpaan kita hanyalah sesuatu yang biasa? Untuk apa aku menyesal? Aku seorang pengelana yang memunguti cerita dari setiap perjumpaan. Dengan siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Begitu juga saat berjumpa denganmu di tempat ini.
"Beli buah strowbery, Mas?" tawarmu seraya menyodorkan strowbery merah segar dalam kotak plastik.
Lima tahun sudah berlalu, namun suara beningmu ketika menawarkan buah strowbery itu masih lekat di telingaku.
"Strowbery-nya manis, Mas. Baru saja dipetik dari kebun. Banyak mengandung vitamin C lho! Atau mau mencobanya dulu? Silakan!"
Kutatap wajah bening yang sibuk dengan kotak-kotak plastik buah strowbery itu. Kutaksir usiamu tiga empat tahun lebih muda dariku. Celana jeans dan t'shirt putihmu tampak serasi. Kuakui, kau kelihatan cantik dan alami. Meski tanpa riasan, kamu tampak sangat menarik.
"Lima ribu dua kotak. Untuk oleh-oleh adik, kakak atau kekasih barangkali?"
Aku menerima strowbery yang kau ulurkan. Menimang-nimang sebentar lalu kembali menatapmu. "Kenapa kau berjualan strowbery?"
Kau mengerutkan dahi. Mungkin merasa aneh dengan pertanyaan menyelidikku. Pertanyaan tak lazim dari seorang pembeli. Wajahmu berubah mendung.
Tiba-tiba aku merasa bersalah dengan pertanyaanku, "Jangan pikirkan pertanyaanku tadi."
"Sebenarnya aku juga sedang mencari jawaban."
Perkiraanku tepat. Kau memang bukan seorang penjual strowbery yang sesungguhnya. Aku sudah menduganya sejak kau menghampiri tempat dudukku. Bahasa tubuhmu yang penuh percaya diri, intonasi kata-katamu yang sopan, dandananmu yang tak seperti kebanyakan penjual keliling dan caramu membalas tatapan mataku.
Maka, demikianlah.
Aku memutuskan tinggal lebih lama di penginapan dan waktu yang bergulir maju kemudian menjadi milik kita. Memetik buah strowbery segar dari kebun, mengepaknya dalam kotak-kotak plastik dan menjualnya di kawasan wisata Puncak Kota Hujan. Pada waktu yang lain, kita duduk mencakung di depan penjual jagung bakar. Menahan air liur terjatuh karena aroma gurihnya yang menggoda. Atau, menyusuri jalan setapak di antara hamparan perbukitan teh. Kau menghirup udara puas-puas, merentangkan tangan lalu berteriak lepas ketika pendakian kita sampai di bukit tertinggi.
"Mencari jawaban!" begitu katamu setiap kutanya mengapa kau selalu berteriak di sana.
Aku seorang pengelana. Memunguti kisah dari berbagai kejadian yang kutemui kemudian menuangkannya dalam berlembar-lembar cerita fiksi. Itulah duniaku. Itulah hidupku. Dan pertemuanku denganmu juga tak berbeda dengan pertemuanku dengan sosok-sosok yang lain. Kisah hidupmu adalah sebuah cerita yang menarik.
Kau menghentikan kuliahmu di salah satu perguruan tinggi negeri sebagai bukti pertanggungjawaban terlahir sebagai sulung dari lima bersaudara. Ayahmu menjual semua tanahnya pada orang-orang berdahi licin. Ketika vila-vila berdiri megah, uang ayahmu habis di meja judi dan minuman keras. Setahun kemudian ibumu mati merana. Pada cerita itulah kau, perempuan muda yang cantik, berdiri sebagai tokoh utamanya.
Dan aku sang pengarang, "Tuhan" dari setiap tokoh dalam cerita memutuskan pergi sebelum cerita berakhir. Sebulan mengenal kehidupanmu, dari pagi hingga malam setiap harinya, bagiku sudah lebih dari cukup untuk memulai sebuah tulisan. Masih kuingat air matamu meleleh ketika kulambaikan tangan dari jendela mobil L300 yang kemudian mengantarku pada pengelanaan selanjutnya.
Waktu terus berputar, mengubah masa kini menjadi cerita lalu dalam sekejap. Ketika perjumpaan dengan tokoh-tokoh baru yang akan menjadi model dalam ceritaku terus berlangsung di berbagai tempat, aku belum juga mulai menulis tentangmu. Aku bahkan tidak bisa menggabungkan imajinasiku dengan kenyataan. Aku tidak tega mendramatisir hidup yang tengah kau jalani. Cerita tentangmu terbengkelai. Hanya terhenti pada coretan-coretan dalam lembaran kertas. Teronggok berdebu di meja kamar.
Hingga suatu hari sepulang dari pengelanaan aku menemukan setumpuk suratmu. Selama aku pergi, rupanya kau mengirim surat setiap minggu. Aku memang memberimu alamat rumah sebelum berpisah. Membaca kata demi kata dalam suratmu yang bertumpuk membuat dadaku disesaki rindu. Dan aku yakin, kau pun demikian sesak oleh rindu ketika menuliskan surat-surat itu.
Namun, apa itu rindu? Aku menepis sesak yang melanda dadaku. Aku seorang pengelana. Berjumpa dengan bermacam-macam orang bukan untuk mengobati rindu atau mencari cinta. Aku hanya singgah sesaat untuk memungut kisah. Maka, jika aku kemudian mengabaikan surat-suratmu, apakah aku bersalah?
"Kau membohongi dirimu sendiri, Yan! Kau jatuh cinta pada perempuan itu!"
Aku terkekeh mendengar kata-kata Hasta, sohibku yang juga seorang pengarang.
"Kau terlalu kerdil untuk mengakui bahwa kau telah jatuh cinta. Kau takut kegagalanmu di masa lalu terulang. Kau hanya berani menuliskannya dalam cerita padahal kenyataannya sekedar bercerita pun kau gagal!"
"Perempuan bagiku hanya sumber inspirasi, Has. Tak lebih!"
"Itu kata-kata yang keluar dari mulutmu. Tapi hatimu berkata lain. Kau terlahir dari perempuan, punya saudara perempuan. Apa benar kau menghargai perempuan sebatas itu?"
"Sok tahu kamu!"
"Aku bukan sok tahu, tapi aku memang tahu. Apa kau kira aku tidak tahu bahwa kau sering melamun memandangi fotonya? Lalu diam-diam kau membaca ulang surat-suratnya. Ha ha ha! Tidak sebentar aku mengenalmu, Yan!"
Aku mendengus. Berusaha mengelak dari tuduhan Hasta. Pengelana tak akan menambatkan cintanya dalam perjalanan. Tapi benarkah? Siapa yang membuat undang-undang itu? Mungkin aku sendiri. Aku tidak ingin atau tepatnya belum ingin menambatkan cintaku lagi setelah kegagalanku di masa lalu. Jadi kata-kata Hasta benar? Aku seorang pengelana kerdil? Pergi ke berbagai tempat hanya untuk melarikan diri dari luka?
Aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku ketika suratmu kembali datang. Dalam surat itu kau menceritakan kondisimu yang terjepit. Untuk membayar utang-utang ayahmu di meja judi dan warung minuman keras, kau harus menikah dengan lelaki berdahi licin. Sungguh sebuah novel yang sendu! Siti Nurbaya di abad komputer! Tiba-tiba aku menemukan rangkaian cerita lama yang tak pernah sanggup kuselesaikan.
Dan, begitulah.
Aku mulai menulis. Merangkai penggalan cerita yang hilang dan mengabaikan suratmu. Aku ingin membuktikan pada Hasta bahwa tuduhannya tidak benar. Bahwa aku tidak gagal bercerita tentangmu. Tetapi, pada halaman ke sepuluh aku kembali berhenti. Aku tidak sanggup meneruskannya karena setiap saat menggoreskan pena dalam kertas yang berkisah tentangmu, dadaku mendadak nyeri.
Aku benar-benar berhenti menulis tentangmu. Hingga suatu siang suratmu kembali datang bersama selembar kartu undangan. Dadaku berdesir membaca namamu terukir di sana bersanding dengan nama si dahi licin. Kau menulis beberapa kata untukku.
Demi baktiku pada ayah, aku rela bersanding dengannya.
Tetapi, sebelum malam sempurna seusai pesta, aku akan mengakhirinya dengan caraku. Rayan, apa benar kau tidak peduli lagi padaku?
"Mau tambah kopi panasnya, Mas?"
Pertanyaan itu menyentakkan lamunanku tentangmu. Aku menggeleng pada perempuan muda berlesung pipit di depanku. Sebatang rokok di tanganku tak lagi berasap dan secangkir kopi panas telah tandas. Angin menderu kencang ketika kuseret ransel hitamku meninggalkan kantin.
Aku berjalan cepat menyusuri jalan setapak di antara perbukitan teh menembus gerimis yang makin rapat. Dalam surat undangan, kau akan bersanding dengan si dahi licin itu, besok, tepat jam 10 pagi.
Maka, aku telah memilih caraku sendiri untuk peduli padamu. Tunggulah aku perempuan kota hujan! Sebelum matahari terbit kau akan menemukan jawaban yang kau cari selama ini. Karena aku tak mau terlahir sebagai lelaki pecundang! ***
Dimuat di Suara Karya 27/08/2006
Senja hari. Gerimis. Aku mengempaskan tubuh di kursi pojok kantin. Meletakkan ransel hitamku dan merapatkan retsluiting jaket. Menghalau udara basah yang menggigilkan. Kunyalakan sebatang rokok lalu mengisapnya perlahan. Kepulan asapnya melingkar-lingkar seperti tarian ular.
Pedagang asongan mondar-mandir, menghampiri lalu lalang orang. Menawarkan cindera mata, makanan khas dan mainan anak-anak. Sesekali aroma gurih jagung bakar menerbitkan air liur. Mataku menerawang ke hamparan kebun teh. Pucuk-pucuk daun teh yang segar bergoyang tertiup angin. Meliuk dalam selubung kabut.
Kawasan puncak kota hujan! Aku kembali berada di sini! Seorang perempuan muda membawakan secangkir kopi panas pesananku. Ia tersenyum manis seraya menawarkan jenis makanan yang tersedia di kantin. Pipi kirinya berlesung saat ia tersenyum. Lesung pipit itu melesatkan kenanganku tentangmu.
Apakah aku datang bersama penyesalan? Aku menghela nafas. Menahan nyeri yang tiba-tiba menikam dada. Bukankah perjumpaan kita hanyalah sesuatu yang biasa? Untuk apa aku menyesal? Aku seorang pengelana yang memunguti cerita dari setiap perjumpaan. Dengan siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Begitu juga saat berjumpa denganmu di tempat ini.
"Beli buah strowbery, Mas?" tawarmu seraya menyodorkan strowbery merah segar dalam kotak plastik.
Lima tahun sudah berlalu, namun suara beningmu ketika menawarkan buah strowbery itu masih lekat di telingaku.
"Strowbery-nya manis, Mas. Baru saja dipetik dari kebun. Banyak mengandung vitamin C lho! Atau mau mencobanya dulu? Silakan!"
Kutatap wajah bening yang sibuk dengan kotak-kotak plastik buah strowbery itu. Kutaksir usiamu tiga empat tahun lebih muda dariku. Celana jeans dan t'shirt putihmu tampak serasi. Kuakui, kau kelihatan cantik dan alami. Meski tanpa riasan, kamu tampak sangat menarik.
"Lima ribu dua kotak. Untuk oleh-oleh adik, kakak atau kekasih barangkali?"
Aku menerima strowbery yang kau ulurkan. Menimang-nimang sebentar lalu kembali menatapmu. "Kenapa kau berjualan strowbery?"
Kau mengerutkan dahi. Mungkin merasa aneh dengan pertanyaan menyelidikku. Pertanyaan tak lazim dari seorang pembeli. Wajahmu berubah mendung.
Tiba-tiba aku merasa bersalah dengan pertanyaanku, "Jangan pikirkan pertanyaanku tadi."
"Sebenarnya aku juga sedang mencari jawaban."
Perkiraanku tepat. Kau memang bukan seorang penjual strowbery yang sesungguhnya. Aku sudah menduganya sejak kau menghampiri tempat dudukku. Bahasa tubuhmu yang penuh percaya diri, intonasi kata-katamu yang sopan, dandananmu yang tak seperti kebanyakan penjual keliling dan caramu membalas tatapan mataku.
Maka, demikianlah.
Aku memutuskan tinggal lebih lama di penginapan dan waktu yang bergulir maju kemudian menjadi milik kita. Memetik buah strowbery segar dari kebun, mengepaknya dalam kotak-kotak plastik dan menjualnya di kawasan wisata Puncak Kota Hujan. Pada waktu yang lain, kita duduk mencakung di depan penjual jagung bakar. Menahan air liur terjatuh karena aroma gurihnya yang menggoda. Atau, menyusuri jalan setapak di antara hamparan perbukitan teh. Kau menghirup udara puas-puas, merentangkan tangan lalu berteriak lepas ketika pendakian kita sampai di bukit tertinggi.
"Mencari jawaban!" begitu katamu setiap kutanya mengapa kau selalu berteriak di sana.
Aku seorang pengelana. Memunguti kisah dari berbagai kejadian yang kutemui kemudian menuangkannya dalam berlembar-lembar cerita fiksi. Itulah duniaku. Itulah hidupku. Dan pertemuanku denganmu juga tak berbeda dengan pertemuanku dengan sosok-sosok yang lain. Kisah hidupmu adalah sebuah cerita yang menarik.
Kau menghentikan kuliahmu di salah satu perguruan tinggi negeri sebagai bukti pertanggungjawaban terlahir sebagai sulung dari lima bersaudara. Ayahmu menjual semua tanahnya pada orang-orang berdahi licin. Ketika vila-vila berdiri megah, uang ayahmu habis di meja judi dan minuman keras. Setahun kemudian ibumu mati merana. Pada cerita itulah kau, perempuan muda yang cantik, berdiri sebagai tokoh utamanya.
Dan aku sang pengarang, "Tuhan" dari setiap tokoh dalam cerita memutuskan pergi sebelum cerita berakhir. Sebulan mengenal kehidupanmu, dari pagi hingga malam setiap harinya, bagiku sudah lebih dari cukup untuk memulai sebuah tulisan. Masih kuingat air matamu meleleh ketika kulambaikan tangan dari jendela mobil L300 yang kemudian mengantarku pada pengelanaan selanjutnya.
Waktu terus berputar, mengubah masa kini menjadi cerita lalu dalam sekejap. Ketika perjumpaan dengan tokoh-tokoh baru yang akan menjadi model dalam ceritaku terus berlangsung di berbagai tempat, aku belum juga mulai menulis tentangmu. Aku bahkan tidak bisa menggabungkan imajinasiku dengan kenyataan. Aku tidak tega mendramatisir hidup yang tengah kau jalani. Cerita tentangmu terbengkelai. Hanya terhenti pada coretan-coretan dalam lembaran kertas. Teronggok berdebu di meja kamar.
Hingga suatu hari sepulang dari pengelanaan aku menemukan setumpuk suratmu. Selama aku pergi, rupanya kau mengirim surat setiap minggu. Aku memang memberimu alamat rumah sebelum berpisah. Membaca kata demi kata dalam suratmu yang bertumpuk membuat dadaku disesaki rindu. Dan aku yakin, kau pun demikian sesak oleh rindu ketika menuliskan surat-surat itu.
Namun, apa itu rindu? Aku menepis sesak yang melanda dadaku. Aku seorang pengelana. Berjumpa dengan bermacam-macam orang bukan untuk mengobati rindu atau mencari cinta. Aku hanya singgah sesaat untuk memungut kisah. Maka, jika aku kemudian mengabaikan surat-suratmu, apakah aku bersalah?
"Kau membohongi dirimu sendiri, Yan! Kau jatuh cinta pada perempuan itu!"
Aku terkekeh mendengar kata-kata Hasta, sohibku yang juga seorang pengarang.
"Kau terlalu kerdil untuk mengakui bahwa kau telah jatuh cinta. Kau takut kegagalanmu di masa lalu terulang. Kau hanya berani menuliskannya dalam cerita padahal kenyataannya sekedar bercerita pun kau gagal!"
"Perempuan bagiku hanya sumber inspirasi, Has. Tak lebih!"
"Itu kata-kata yang keluar dari mulutmu. Tapi hatimu berkata lain. Kau terlahir dari perempuan, punya saudara perempuan. Apa benar kau menghargai perempuan sebatas itu?"
"Sok tahu kamu!"
"Aku bukan sok tahu, tapi aku memang tahu. Apa kau kira aku tidak tahu bahwa kau sering melamun memandangi fotonya? Lalu diam-diam kau membaca ulang surat-suratnya. Ha ha ha! Tidak sebentar aku mengenalmu, Yan!"
Aku mendengus. Berusaha mengelak dari tuduhan Hasta. Pengelana tak akan menambatkan cintanya dalam perjalanan. Tapi benarkah? Siapa yang membuat undang-undang itu? Mungkin aku sendiri. Aku tidak ingin atau tepatnya belum ingin menambatkan cintaku lagi setelah kegagalanku di masa lalu. Jadi kata-kata Hasta benar? Aku seorang pengelana kerdil? Pergi ke berbagai tempat hanya untuk melarikan diri dari luka?
Aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku ketika suratmu kembali datang. Dalam surat itu kau menceritakan kondisimu yang terjepit. Untuk membayar utang-utang ayahmu di meja judi dan warung minuman keras, kau harus menikah dengan lelaki berdahi licin. Sungguh sebuah novel yang sendu! Siti Nurbaya di abad komputer! Tiba-tiba aku menemukan rangkaian cerita lama yang tak pernah sanggup kuselesaikan.
Dan, begitulah.
Aku mulai menulis. Merangkai penggalan cerita yang hilang dan mengabaikan suratmu. Aku ingin membuktikan pada Hasta bahwa tuduhannya tidak benar. Bahwa aku tidak gagal bercerita tentangmu. Tetapi, pada halaman ke sepuluh aku kembali berhenti. Aku tidak sanggup meneruskannya karena setiap saat menggoreskan pena dalam kertas yang berkisah tentangmu, dadaku mendadak nyeri.
Aku benar-benar berhenti menulis tentangmu. Hingga suatu siang suratmu kembali datang bersama selembar kartu undangan. Dadaku berdesir membaca namamu terukir di sana bersanding dengan nama si dahi licin. Kau menulis beberapa kata untukku.
Demi baktiku pada ayah, aku rela bersanding dengannya.
Tetapi, sebelum malam sempurna seusai pesta, aku akan mengakhirinya dengan caraku. Rayan, apa benar kau tidak peduli lagi padaku?
"Mau tambah kopi panasnya, Mas?"
Pertanyaan itu menyentakkan lamunanku tentangmu. Aku menggeleng pada perempuan muda berlesung pipit di depanku. Sebatang rokok di tanganku tak lagi berasap dan secangkir kopi panas telah tandas. Angin menderu kencang ketika kuseret ransel hitamku meninggalkan kantin.
Aku berjalan cepat menyusuri jalan setapak di antara perbukitan teh menembus gerimis yang makin rapat. Dalam surat undangan, kau akan bersanding dengan si dahi licin itu, besok, tepat jam 10 pagi.
Maka, aku telah memilih caraku sendiri untuk peduli padamu. Tunggulah aku perempuan kota hujan! Sebelum matahari terbit kau akan menemukan jawaban yang kau cari selama ini. Karena aku tak mau terlahir sebagai lelaki pecundang! ***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Tary
Dimuat di Suara Pembaruan 06/08/2006
Sesuatu yang hebat sedang bergejolak dalam dadaku. Separuh malam duduk menghadap monitor berteman secangkir kopi. Ribuan kata menyembur dari otakku, memenuhi lembar demi lembar halaman. Rerimbunan semak tampak keperakan tertimpa cahaya bulan. Angin berembus pelan memasuki kamar melalui jendela yang terbuka. Sejak geletar aneh itu kembali dalam hidupku, berpuluh cerita terlahir. Diam-diam, aku menikmatinya.
Apakah pengkhianatan itu buah dari kebodohan? Aku tertawa setiap kali mengingatnya. Tak pernah kuduga, rentang waktu yang panjang akan mempertemukanku denganmu. Delapan tahun berselang sejak kita berpisah di persimpangan jalan yang gelap. Tiba-tiba saja kau menghubungi ponselku dan kita merencanakan sebuah pertemuan di kafe kenangan.
"Hai!" sapaan itu menghentikan langkahku memasuki kafe. Sosok tegap berahang kukuh melambaikan tangan dari pojok ruangan. Sebuah meja dengan dua kursi, tempat kita bermimpi pada masa lalu. Mendadak debaran-debaran keras menyerang jantungku.
Aku menghampiri mejamu. Kau belum banyak berubah. Senyummu masih mengembang simpatik di antara deretan mutiara putih yang berbaris rapi. Dua mata sayu bernaung di bawah sepasang alis tebal. Tergesa kau menarik sebuah kursi yang ada di hadapanmu. Mempersilakan aku duduk layaknya seorang putri. Aku tersenyum jengah.
"Kau tak banyak berubah, hanya semakin cantik dan matang."
"Rayuan gombal?"
Kau tertawa kecil. Setelah memesan sejumlah menu kepada pelayan, kita bertukar cerita. Seperti pemulung yang menemukan sebuah bak sampah di pinggir jalan, kita mengais masa lalu yang sebagian telah membusuk di makan musim yang tak bersahabat.
Adakah yang lebih indah dari cinta pertama? Menjadi kekasihmu adalah memahami sisi kehidupan yang lain. Meski aku harus kehilanganmu karena fitnah yang mengerikan. Hingga bertahun-tahun kemudian, bayangmu sulit kuhapus dari lembar hari-hariku.
"Aku sering membaca tulisanmu di berbagai media."
Aku tersenyum. "Akhirnya aku menemukan duniaku."
Kau mengangguk-angguk, menyingkirkan tangan dari meja. Pelayan datang mengantarkan menu pesanan.
"Kau sendiri masih menulis?"
"Harus menulis karena deadline. Bukankah aku wartawan nona manis?" jawabmu seraya mengerling padaku.
Ada yang menjalar panas di kedua pipiku, mungkin menciptakan warna merah jambu. Waktu kemudian menemani kegugupanku. Dadaku berdesir aneh setiap matamu bertubrukan pandang denganku. Aku tersiksa, namun juga suka. Ketika harus berakhir, aku lega sekaligus kecewa.
"Bagaimana kalau week end depan kita ketemu di jantung kota? Bukankah dulu kita sering menghabiskan senja di jantung kota?"
Aku mengangguk pelan.
u
Kau datang lebih awal. Merentangkan tangan seraya tersenyum lebar menyambutku. Aku tertawa. Mengulang masa lalu dengan suasana kekinian ternyata bukan hal buruk. Kita duduk di bangku taman jantung kota sambil memandang lalu lalang orang.
"Lihat pengemis itu! Delapan tahun lalu dia masih seorang gadis kecil bukan? Kau ingat?"
Kau sangat peduli dengan kaum-kaum terpinggirkan. Sebuah rumah singgah telah berdiri sebagai realisasi. Satu hal yang membuatku jatuh cinta di antara sekian banyak poin yang lain.
"Kapan kau berencana menikah?" tanyamu mengejutkan.
Aku tertawa datar. Berkali-kali aku mencoba menerima seseorang dalam hidupku setelah berpisah denganmu, namun berkali-kali pula aku gagal. Mungkin rencana itu sekarang hanya tinggal rencana. Aku tidak begitu ngoyo untuk merealisasikannya.
"Kau sendiri kapan?" Aku balas bertanya.
"Aku sudah menikah."
Ada halilintar yang seolah menyambar kepalaku. Kau sudah menikah? Kenapa tidak mengatakannya sejak pertemuan pertama di kafe kenangan seminggu lalu? Apa maksudmu dengan semua ini? Aku hampir saja memutuskan pergi ketika kau mencegah.
"Aku tak bisa melupakanmu. Aku menikahinya karena desakan Ibu."
"Siapa perempuan itu?" tanyaku. Entah kenapa aku bertanya seperti itu. Semua terucap begitu saja.
"Kau mengenalnya dengan baik. Dia adalah Nora."
"Nora yang mana?" Aku kaget. "Apakah Nora Inaya?"
Kau mengangguk. Anganku melesat pada perkenalan dengan Nora sebulan setelah kepindahanku. Ibukota tidak lagi nyaman kutinggali dan aku memutuskan kembali ke kota kenangan ini.
Kala itu hujan turun menjelang senja. Wanita itu berdiri di bawah pohon angsana depan rumahku. Rambut dan pakaian kerjanya kuyup. Kedua tangannya memeluk tas. Sesekali ia melirik beranda rumahku.
"Boleh numpang berteduh?"
Aku tersentak. Wanita itu sudah berada di pinggir beranda. Tersenyum. Tak kudengar langkah-langkahnya menyeberangi halaman dan menapaki tangga beranda.
"Oh, silakan." Aku membalas senyumnya, mempersilakan naik ke beranda rumah panggungku. Aku menekan tombol save sebelum meninggalkan laptop. Dia melepaskan sepatunya yang basah di anak tangga beranda dan berjingkat masuk. Aku meliriknya sekilas.
"Lama sekali menunggu bus, sampai saya kedinginan," jelasnya tanpa kuminta.
"Pulang kerja?" tanyaku.
Wanita itu mengangguk, tersenyum lagi. Pakaiannya modis, rambutnya gaya. Sebenarnya cukup manis, hanya bahasa tubuhnya terlihat kurang percaya diri. Kutaksir usianya 25-an. Sudah seminggu ini aku melihatnya menunggu bus di bawah pohon angsana depan rumahku.
"Saya memintas jalan dengan dua kali naik bus. Kalau tidak begitu terlalu jauh." Dia seperti mengerti pikiranku.
Berteman teh hangat, kami kemudian ngobrol panjang lebar. Tentang harga-harga yang melambung tinggi, tentang tempat-tempat menarik di kota ini dan tentang pekerjaan.
"Jadi Anda penulis?" tanyanya simpati. "Buku Anda sudah diterbitkan?"
"Ya, ada beberapa yang sudah diterbitkan."
Dia mengangguk-angguk, terdiam sejenak. Seperti ada yang sedang dipikirkannya. "Wah, hujan sudah reda. Saya pamitan dulu, terima kasih sudah memperbolehkan saya berteduh."
"Tidak masalah, mampirlah kalau sedang ada waktu," jawabku.
Dia bangkit dari duduk dan menyandang tas. Sebelum meninggalkan tangga beranda paling bawah, tangannya terulur.
"Lupa berkenalan, nama saya Nora," ucapnya.
Aku menerima uluran tangannya,"Rari."
Kami saling tersenyum dan melambaikan tangan.
u
Sejak itu kami berteman. Banyak waktu kami lewatkan bersama. Nora seorang teman baru yang menyenangkan dan banyak bertanya. Namun aku tidak keberatan dengan semua kecerewetannya. Semua bukuku di koleksinya. Beberapa kali dia berusaha mengorek kisah-kisah pribadiku, namun tidak cukup berhasil. Aku agak tertutup untuk masalah yang satu itu. Tak kusangka ternyata Nora adalah istrimu!
"Aku mencuri nomormu dari ponsel Nora. Suatu malam tanpa sengaja aku membuka-buka sms-nya dan menemukan namamu di sana. Aku segera yakin bahwa itu kau."
"Nora mencemburuimu habis-habisan setelah kami menikah. Aku memang mengatakan terus terang padanya bahwa aku belum bisa melupakanmu. Mungkin dia penasaran dan mencari-cari kontakmu. Dia ingin mengenalmu lebih jauh. Dia tidak pernah mempercayaiku bahwa kita sudah kehilangan kontak sejak lama."
"Jujur saja aku senang bisa bertemu kembali denganmu. Aku hampir putus asa kehilanganmu tetapi Nora memberi jalan. Aku masih mencintaimu."
Ada yang merambat hangat di dadaku. Ternyata aku belum sanggup menghapus lelaki nostalgi itu dari lembaran hari-hariku. Lalu kubiarkan waktu berjalan mencari-cari kesempatan. Antara pertemananku dengan Nora yang semu dan percintaanku denganmu yang mendebarkan.
Perempuan terkadang melakukan kebodohan-kebodohan atas nama cinta. Entahlah. Aku hanya ingin menikmati sesuatu yang sedang bergejolak hebat dalam dadaku. ***
Jakarta, 23.06.06
Dimuat di Suara Pembaruan 06/08/2006
Sesuatu yang hebat sedang bergejolak dalam dadaku. Separuh malam duduk menghadap monitor berteman secangkir kopi. Ribuan kata menyembur dari otakku, memenuhi lembar demi lembar halaman. Rerimbunan semak tampak keperakan tertimpa cahaya bulan. Angin berembus pelan memasuki kamar melalui jendela yang terbuka. Sejak geletar aneh itu kembali dalam hidupku, berpuluh cerita terlahir. Diam-diam, aku menikmatinya.
Apakah pengkhianatan itu buah dari kebodohan? Aku tertawa setiap kali mengingatnya. Tak pernah kuduga, rentang waktu yang panjang akan mempertemukanku denganmu. Delapan tahun berselang sejak kita berpisah di persimpangan jalan yang gelap. Tiba-tiba saja kau menghubungi ponselku dan kita merencanakan sebuah pertemuan di kafe kenangan.
"Hai!" sapaan itu menghentikan langkahku memasuki kafe. Sosok tegap berahang kukuh melambaikan tangan dari pojok ruangan. Sebuah meja dengan dua kursi, tempat kita bermimpi pada masa lalu. Mendadak debaran-debaran keras menyerang jantungku.
Aku menghampiri mejamu. Kau belum banyak berubah. Senyummu masih mengembang simpatik di antara deretan mutiara putih yang berbaris rapi. Dua mata sayu bernaung di bawah sepasang alis tebal. Tergesa kau menarik sebuah kursi yang ada di hadapanmu. Mempersilakan aku duduk layaknya seorang putri. Aku tersenyum jengah.
"Kau tak banyak berubah, hanya semakin cantik dan matang."
"Rayuan gombal?"
Kau tertawa kecil. Setelah memesan sejumlah menu kepada pelayan, kita bertukar cerita. Seperti pemulung yang menemukan sebuah bak sampah di pinggir jalan, kita mengais masa lalu yang sebagian telah membusuk di makan musim yang tak bersahabat.
Adakah yang lebih indah dari cinta pertama? Menjadi kekasihmu adalah memahami sisi kehidupan yang lain. Meski aku harus kehilanganmu karena fitnah yang mengerikan. Hingga bertahun-tahun kemudian, bayangmu sulit kuhapus dari lembar hari-hariku.
"Aku sering membaca tulisanmu di berbagai media."
Aku tersenyum. "Akhirnya aku menemukan duniaku."
Kau mengangguk-angguk, menyingkirkan tangan dari meja. Pelayan datang mengantarkan menu pesanan.
"Kau sendiri masih menulis?"
"Harus menulis karena deadline. Bukankah aku wartawan nona manis?" jawabmu seraya mengerling padaku.
Ada yang menjalar panas di kedua pipiku, mungkin menciptakan warna merah jambu. Waktu kemudian menemani kegugupanku. Dadaku berdesir aneh setiap matamu bertubrukan pandang denganku. Aku tersiksa, namun juga suka. Ketika harus berakhir, aku lega sekaligus kecewa.
"Bagaimana kalau week end depan kita ketemu di jantung kota? Bukankah dulu kita sering menghabiskan senja di jantung kota?"
Aku mengangguk pelan.
u
Kau datang lebih awal. Merentangkan tangan seraya tersenyum lebar menyambutku. Aku tertawa. Mengulang masa lalu dengan suasana kekinian ternyata bukan hal buruk. Kita duduk di bangku taman jantung kota sambil memandang lalu lalang orang.
"Lihat pengemis itu! Delapan tahun lalu dia masih seorang gadis kecil bukan? Kau ingat?"
Kau sangat peduli dengan kaum-kaum terpinggirkan. Sebuah rumah singgah telah berdiri sebagai realisasi. Satu hal yang membuatku jatuh cinta di antara sekian banyak poin yang lain.
"Kapan kau berencana menikah?" tanyamu mengejutkan.
Aku tertawa datar. Berkali-kali aku mencoba menerima seseorang dalam hidupku setelah berpisah denganmu, namun berkali-kali pula aku gagal. Mungkin rencana itu sekarang hanya tinggal rencana. Aku tidak begitu ngoyo untuk merealisasikannya.
"Kau sendiri kapan?" Aku balas bertanya.
"Aku sudah menikah."
Ada halilintar yang seolah menyambar kepalaku. Kau sudah menikah? Kenapa tidak mengatakannya sejak pertemuan pertama di kafe kenangan seminggu lalu? Apa maksudmu dengan semua ini? Aku hampir saja memutuskan pergi ketika kau mencegah.
"Aku tak bisa melupakanmu. Aku menikahinya karena desakan Ibu."
"Siapa perempuan itu?" tanyaku. Entah kenapa aku bertanya seperti itu. Semua terucap begitu saja.
"Kau mengenalnya dengan baik. Dia adalah Nora."
"Nora yang mana?" Aku kaget. "Apakah Nora Inaya?"
Kau mengangguk. Anganku melesat pada perkenalan dengan Nora sebulan setelah kepindahanku. Ibukota tidak lagi nyaman kutinggali dan aku memutuskan kembali ke kota kenangan ini.
Kala itu hujan turun menjelang senja. Wanita itu berdiri di bawah pohon angsana depan rumahku. Rambut dan pakaian kerjanya kuyup. Kedua tangannya memeluk tas. Sesekali ia melirik beranda rumahku.
"Boleh numpang berteduh?"
Aku tersentak. Wanita itu sudah berada di pinggir beranda. Tersenyum. Tak kudengar langkah-langkahnya menyeberangi halaman dan menapaki tangga beranda.
"Oh, silakan." Aku membalas senyumnya, mempersilakan naik ke beranda rumah panggungku. Aku menekan tombol save sebelum meninggalkan laptop. Dia melepaskan sepatunya yang basah di anak tangga beranda dan berjingkat masuk. Aku meliriknya sekilas.
"Lama sekali menunggu bus, sampai saya kedinginan," jelasnya tanpa kuminta.
"Pulang kerja?" tanyaku.
Wanita itu mengangguk, tersenyum lagi. Pakaiannya modis, rambutnya gaya. Sebenarnya cukup manis, hanya bahasa tubuhnya terlihat kurang percaya diri. Kutaksir usianya 25-an. Sudah seminggu ini aku melihatnya menunggu bus di bawah pohon angsana depan rumahku.
"Saya memintas jalan dengan dua kali naik bus. Kalau tidak begitu terlalu jauh." Dia seperti mengerti pikiranku.
Berteman teh hangat, kami kemudian ngobrol panjang lebar. Tentang harga-harga yang melambung tinggi, tentang tempat-tempat menarik di kota ini dan tentang pekerjaan.
"Jadi Anda penulis?" tanyanya simpati. "Buku Anda sudah diterbitkan?"
"Ya, ada beberapa yang sudah diterbitkan."
Dia mengangguk-angguk, terdiam sejenak. Seperti ada yang sedang dipikirkannya. "Wah, hujan sudah reda. Saya pamitan dulu, terima kasih sudah memperbolehkan saya berteduh."
"Tidak masalah, mampirlah kalau sedang ada waktu," jawabku.
Dia bangkit dari duduk dan menyandang tas. Sebelum meninggalkan tangga beranda paling bawah, tangannya terulur.
"Lupa berkenalan, nama saya Nora," ucapnya.
Aku menerima uluran tangannya,"Rari."
Kami saling tersenyum dan melambaikan tangan.
u
Sejak itu kami berteman. Banyak waktu kami lewatkan bersama. Nora seorang teman baru yang menyenangkan dan banyak bertanya. Namun aku tidak keberatan dengan semua kecerewetannya. Semua bukuku di koleksinya. Beberapa kali dia berusaha mengorek kisah-kisah pribadiku, namun tidak cukup berhasil. Aku agak tertutup untuk masalah yang satu itu. Tak kusangka ternyata Nora adalah istrimu!
"Aku mencuri nomormu dari ponsel Nora. Suatu malam tanpa sengaja aku membuka-buka sms-nya dan menemukan namamu di sana. Aku segera yakin bahwa itu kau."
"Nora mencemburuimu habis-habisan setelah kami menikah. Aku memang mengatakan terus terang padanya bahwa aku belum bisa melupakanmu. Mungkin dia penasaran dan mencari-cari kontakmu. Dia ingin mengenalmu lebih jauh. Dia tidak pernah mempercayaiku bahwa kita sudah kehilangan kontak sejak lama."
"Jujur saja aku senang bisa bertemu kembali denganmu. Aku hampir putus asa kehilanganmu tetapi Nora memberi jalan. Aku masih mencintaimu."
Ada yang merambat hangat di dadaku. Ternyata aku belum sanggup menghapus lelaki nostalgi itu dari lembaran hari-hariku. Lalu kubiarkan waktu berjalan mencari-cari kesempatan. Antara pertemananku dengan Nora yang semu dan percintaanku denganmu yang mendebarkan.
Perempuan terkadang melakukan kebodohan-kebodohan atas nama cinta. Entahlah. Aku hanya ingin menikmati sesuatu yang sedang bergejolak hebat dalam dadaku. ***
Jakarta, 23.06.06
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Tary
Dimuat di Jawa Pos 14/05/2006
Ia terbangun dari lelap tidurnya di malam pekat. Sayup suara, samar-samar menembus gendang telinganya. Perlahan ia menggosok-gosok mata, menyibakkan rambut, berusaha menajamkan pendengaran. Pintu rumahnya diketuk dari luar. Ketukan yang lembut. Tiga kali, tiga kali. Beruntun dan teratur. Sejenak ia merasa seolah berada pada sebuah ruang sempit yang akan mengimpitnya, sebelum kemudian tersadar ia berada di pembaringan bersama tubuh wanita bungkuk meringkuk, tak bergerak. Hanya napasnya yang naik turun teratur. Ketika bergerak pun wanita itu tak lebih dari seorang tua renta.
Ketukan di pintu depan, sebuah ruang sempit yang mengimpit, entah sejak kapan ia mulai merisaukannya. Kadang ia merasa ketukan itu terdengar bagai rintih pedih yang menyayat. Lalu ia menemukan luka, darah dan air mata pada ruang sempit gelap yang mengimpitnya. Malam ini, ia terbangun dengan suasana yang sama. Ketukan itu kembali menggodanya. Beruntun dan teratur. Menuntun langkahnya turun dari pembaringan.
Perlahan tangannya menyibak kelambu depan. Tak ada siapa-siapa. Hanya desau angin terdengar merintih menerpa daun-daun pisang di halaman samping. Sesekali terdengar kerik jangkrik, kodok mandi di blumbang belakang rumah menciptakan irama tertentu. Lalu binatang-binatang itu berdiam. Senyap.
"Tak ada siapa-siapa. Apa aku bermimpi?" batinnya seraya kembali ke samping wanita renta. Dipejamkan mata. Ia ingin menuntaskan tidurnya yang terusik.
Ketika kantuk mulai menyeretnya ke dunia mimpi, sayup suara ketukan itu terdengar lagi. Lebih nyaring dalam pendengarannya. Ia kembali terbangun dan beranjak. Berjalan berjingkat menjangkau gagang pintu. Mendorongnya perlahan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan berkelebat memasuki rumah. Tak seperti tubuh manusia. Tanpa hidung, bibir, mata, alis, tangan ataupun kaki. Ya, hanya sekelebat bayangan. Seperti asap yang terbang bersama udara sebelum kemudian lesap tanpa tanda. Ia terpana, berdiri bagai patung di perempatan jalan besar lalu mundur tak percaya.
"Siapa kau? Hantu? Jangan mempermainkanku!" gertaknya.
Senyap. Tiada jawaban. Ia menunggu beberapa saat. Tetap senyap.
Namun tiba-tiba bayangan itu kembali berkelebat. Kini jauh lebih pekat. Lebih tebal. Meliuk-liuk memutari tubuhnya dengan desis menyerupai rintihan. Lalu bayangan itu membuat gerakan seperti membelai sebelum kemudian berhenti dan menempel diam di dinding.
"Siapa kau?"
Hati-hati dan takjub ia mendekatkan wajahnya ke dinding. Pertanyaannya tak terjawab. Hanya desis yang terdengar bagai rintihan panjang. Luka, darah, sebuah ruang sempit menghimpit…
"Kenapa? Ada apa?"
Suara serak wanita renta mengejutkannya. Tubuh bungkuk terseok menghampirinya. Lalu bayangan itu bergerak. Berputar-putar, membentuk gulungan pekat, menembus dinding, kemudian lenyap. Ia terengah. Matanya nanar mencari-cari bayangan yang lenyap. Ia percaya itu bukan mimpi.
"Kenapa? Ada apa?"
Ia menggeleng. Berusaha menarik ujung bibirnya agar membentuk sebuah senyuman. Ia tidak ingin wanita renta itu mencemaskannya.
"Mungkin aku mengigau," gumamnya. Ia tak menyadari bahwa bayangan itu benar-benar merintih. Dalam luka. Dalam darah. Dalam sebuah ruang sempit.
***
Entah pada hari ke berapa, kemudian ia ingin mengabaikan. Mungkin ketukan di pintu depan dan kelebat bayangan itu hantu. Apa istimewanya? Toh, alam gaib itu memang ada. Bukankah semua hidup dalam alam masing-masing dan tunduk di bawah kuasa-Nya? Jika kita tidak mengusik, mereka juga akan berdiam. Hanya yang sedikit mengherankannya, kenapa wanita renta tidak mendengar ketukan itu? Kenapa ketukan itu hanya menembus gendang telinganya?
Ia tak ingin peduli. Ia tak ingin memikirkannya. Tapi ketukan itu kian nyaring pada malam ke sepuluh. Ia menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangan. Menimbuni kepalanya dengan bantal. Ia ingin membiarkan. Namun sayup ketukan itu seolah menembus bantal yang menutupi kepalanya. Merenggangkan tangannya dan menjebol paksa gendang telinganya. Ia seolah kembali berada di sebuah ruang sempit. Luka, darah, air mata…
"Oh…!" rintihnya sambil melepaskan bantal. Wanita renta di sampingnya terusik sesaat sebelum kembali lelap. Napasnya memburu ketika turun dari pembaringan lalu berjalan ke pintu. Namun langkahnya terhenti di muka pintu bilik. Sayup ketukan itu bergema di sana. Bukan lagi di pintu depan. Ketukan yang lembut namun nyaring. Beruntun dan teratur. Tiga kali, tiga kali. Dijangkau gagang pintu bilik, didorong perlahan. Sekelebat bayangan itu memasuki biliknya. Melesat lebih cepat dari malam yang lalu. Meliuk-liuk mengitari tubuhnya lalu berhenti, menempel diam di dinding. Bayangan itu seolah berdiri dan menatap lekat padanya.
"Apa maumu?" sentaknya meradang.
Tiba-tiba ia merasa malamnya sangat terganggu dengan bayangan yang tak pernah ia usik itu. Kemarahan terasa mencekik lehernya. Matanya bergerak ke segala arah mencari sesuatu. Kemudian ia menemukan pisau yang tergeletak di meja. Pisau yang digunakan wanita renta itu mengupas pepaya tadi sore.
"Apa maumu?" ulangnya semakin meradang. Diacungkan pisau ke arah bayangan itu. Namun bayangan itu tetap berdiri tenang, menempel diam di dinding. Tak berbicara, tak bergerak, tak beranjak. Merasa dipermainkan ia menghujamkan pisau itu ke seluruh bayangan di dinding. Crash! Crash! Crash…! Ia membabi buta. Menggunakan seluruh energi yang dimilikinya. Tak dipedulikan napasnya yang hampir putus dan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Hujaman terakhir membuat pisaunya menancap kuat di dinding. Tak kuasa ia mencabutnya. Hujaman lainnya membentuk lubang-lubang di dinding. Sesuatu tiba-tiba meleleh dari lubang-lubang itu. Ia tertegun lama. Menahan napasnya yang tersengal. Menarik tubuhnya tak percaya. Lubang-lubang di dinding bekas hujaman pisaunya itu mengalirkan darah!
Perlahan dan hati-hati didekatkannya wajah. Matanya membelalak tak percaya. Darah di dinding itu saling bertaut. Seperti digerakkan oleh kekuatan entah. Demikian teratur membentuk huruf demi huruf yang kemudian merangkai sebuah kalimat: ROH, AKU PULANG…
Usai membentuk sebuah kalimat, sisa darah yang lain menyatukan diri membentuk sebuah gambar. Seperti tangan pelukis yang gesit menyapukan kuas pada kain kanvas. Sisa darah itu bergerak membentuk rambut, mata, hidung, bibir, leher, dada, tangan, paha, kaki, dan perut. Tapi perut itu tidak seperti biasanya. Perut itu membuncit. Ia kini mengerti. Darah itu melukis tubuh seorang wanita hamil!
Ia masih tertegun. Ternganga dalam ketidakmengertian. Desis rintihan kembali membawanya ke sebuah ruang sempit. Luka, darah, air mata…Siapakah wanita dalam lukisan darah itu? Ia menggeleng-gelengkan kepala tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri. Ia mencoba mengamati lukisan itu lebih seksama. Ia menemukan kelembutan dan ketegaran seorang ibu di sana. Ketegaran yang membuat seorang wanita tidak putus asa meski ditinggal suaminya pergi dengan wanita lain. Ketegaran yang membuat seorang wanita berani pergi ke negeri ringgit untuk mengais rezeki. Meninggalkan gadis mungil dalam dekapan wanita menjelang renta sekian tahun silam. Lantas membiarkan dirinya lenyap di telan bumi. Tanpa kabar.
Ada kekuatan yang tiba-tiba menarik tangannya untuk mengusap lukisan itu. Merasakan kepedihan yang dalam. Luka, darah, air mata…
"Siapa, kau?" tanyanya lirih di antara isak. Ia merasakan kesedihan yang dalam ketika tangannya menyentuh lukisan darah itu. Air mata dan peluh bersaing membanjiri bagian tubuhnya. Ia kemudian terkulai di lantai. Napasnya tersengal-sengal. Kerisauan, kebingungan, ketakutan, ketidakmengertian telah menumpasnya malam ini. Ia memejamkan mata. Tidak ingin menatap lukisan darah di dinding itu. Hatinya perih.
"Kenapa? Ada apa?"
Ada tangan yang tiba-tiba menyentuh bahunya lembut. Ia terkesiap. Matanya kembali nanar mencari-cari lukisan darah di dinding. Namun ia tidak menemukannya. Lukisan darah itu lenyap! Dan di hadapannya, wanita renta yang gurat wajah yang tak jauh berbeda dengan wajah dalam lukisan darah itu menatapnya cemas.
"Ada darah di dinding." Matanya masih mencari.
"Darah apa?"
"Lukisan darah."
"Ah, kau mengigau."
"Tidak Nek, tadi benar-benar ada di dinding itu."
"Mana buktinya? Dinding itu bersih, tidak ada darah di sana."
"Lukisan darah berwajah sepertimu."
"Sudahlah..."
"Aku akan mencari orang dalam lukisan itu, Nek."
"Untuk apa? Akan kau cari ke mana?"
"Ke kota. Atau ke mana saja."
"Minumlah dulu, jangan terus mengigau."
Ia meneguk segelas air putih yang dibawa wanita renta itu hingga tandas, menarik napas hingga seluruh udara memenuhi rongga dadanya, lalu menjatuhkan tubuhnya di pembaringan. Matanya menerawang, jantungnya berdebaran. Lukisan darah itu kembali membayangi matanya. Siapa wanita itu? Perlahan ia mengangkat telapak tangannya dan ada sisa darah melengket kering di jemarinya.
***
Tas besar itu telah dijejali pakaian dan perbekalan. Ia akan pergi. Mungkin ke kota atau ke negeri entah.
"Aku akan mencari wanita dalam lukisan itu," gumamnya.
Ia sedih melihat wanita renta itu terlihat berat melepas kepergiannya. Mata wanita renta itu berkaca-kaca. Ia tak ingin mengurungkan niatnya. Hampir setiap malam, sayup ketukan beruntun, bayangan pekat berkelebat, kemudian darah yang menjelma lukisan itu menghantui hidupnya. Ia tak ingin digilas ketakutan, kesedihan, penasaran juga ketidakmengertian yang terus bertumpuk dari hari ke hari.
Ada yang berkelebat saat ia mengayunkan langkah dan melepas tangan wanita renta yang memeganginya. Sebuah bayangan. Ada desis menyerupai rintihan yang semakin jelas. Luka, darah, airmata dan sebuah ruang sempit…menyeretnya dalam kepedihan.
"Kau akan pergi ke mana?" pertanyaan wanita renta itu menonjok lamunannya. Ia hanya bergumam, menggeleng lalu menyeret tas besarnya. Entah, ia sendiri tak tahu harus ke mana mencari wanita dalam lukisan itu. Mungkin ke kota. Tapi kota yang mana? Namun lukisan darah di dinding yang desisnya menyerupai rintihan itu seolah terus memanggilnya, mengajaknya untuk bertemu.
Langkahnya terhenti. Perlahan tangannya menjangkau gagang pintu depan rumahnya. Sedikit gemetar ketika akan mendorongnya. Saat itu ia mendengar suara ribut-ribut di halaman. Ia menajamkan pendengarannya seperti saat mendengarkan ketukan lembut di setiap malamnya, lalu menatap wanita renta yang berdiri bungkuk di sampingnya. Mereka saling berpandangan dan mengeryitkan kening. Benaknya penuh tanya.
"Benar ini rumahnya?" tanya seorang laki-laki di halaman.
"Benar, Pak," jawab sebuah suara, seperti suara tetangganya.
"Turunkan perlahan-lahan!" teriak laki-laki yang tadi bertanya memberi perintah. "Tolong yang lain bantu kami menurunkan!"
"Awas, hati-hati!" suara yang lain lagi.
"Panggil keluarganya!" suara lelaki pertama kembali memerintah.
Ia terdiam sesaat. Otaknya berputar mencoba menebak-nebak tentang keributan yang terjadi di halaman. Namun ketika ia menyadari tak juga menemukan tebakan yang tepat, tangannya mendorong gagang pintu.
Mulutnya ternganga ketika melihat puluhan orang; tetangga laki-laki, perempuan, anak-anak, Pak RT, RW, lurah, polisi, berkumpul di halaman. Mereka mengelilingi mobil ambulan yang sudah dimatikan sirinenya. Beberapa orang menurunkan peti mati dari dalam ambulan. Sementara seorang tetangga berlari-lari menghampirinya.
"Roh! Rohana! Itu mayat emakmu. Ia meninggal karena jatuh dari apartemen tempatnya bekerja. Ia sedang mengandung anak majikannya!"
Seperti masuk ke dalam mesin pendingin, ia merasakan tubuhnya menggigil hebat, rahangnya mengatup rapat. Wanita renta di sampingnya terkulai pingsan. Kerumunan orang-orang menyingkir ketika ia mendekati peti mati. Dilihatnya darah berceceran di dinding peti mati emaknya. Menuliskan: ROH, AKU PULANG… dan melukiskan tubuh wanita hamil! ***
Utan Kayu, 23 Juni 2004
Dimuat di Jawa Pos 14/05/2006
Ia terbangun dari lelap tidurnya di malam pekat. Sayup suara, samar-samar menembus gendang telinganya. Perlahan ia menggosok-gosok mata, menyibakkan rambut, berusaha menajamkan pendengaran. Pintu rumahnya diketuk dari luar. Ketukan yang lembut. Tiga kali, tiga kali. Beruntun dan teratur. Sejenak ia merasa seolah berada pada sebuah ruang sempit yang akan mengimpitnya, sebelum kemudian tersadar ia berada di pembaringan bersama tubuh wanita bungkuk meringkuk, tak bergerak. Hanya napasnya yang naik turun teratur. Ketika bergerak pun wanita itu tak lebih dari seorang tua renta.
Ketukan di pintu depan, sebuah ruang sempit yang mengimpit, entah sejak kapan ia mulai merisaukannya. Kadang ia merasa ketukan itu terdengar bagai rintih pedih yang menyayat. Lalu ia menemukan luka, darah dan air mata pada ruang sempit gelap yang mengimpitnya. Malam ini, ia terbangun dengan suasana yang sama. Ketukan itu kembali menggodanya. Beruntun dan teratur. Menuntun langkahnya turun dari pembaringan.
Perlahan tangannya menyibak kelambu depan. Tak ada siapa-siapa. Hanya desau angin terdengar merintih menerpa daun-daun pisang di halaman samping. Sesekali terdengar kerik jangkrik, kodok mandi di blumbang belakang rumah menciptakan irama tertentu. Lalu binatang-binatang itu berdiam. Senyap.
"Tak ada siapa-siapa. Apa aku bermimpi?" batinnya seraya kembali ke samping wanita renta. Dipejamkan mata. Ia ingin menuntaskan tidurnya yang terusik.
Ketika kantuk mulai menyeretnya ke dunia mimpi, sayup suara ketukan itu terdengar lagi. Lebih nyaring dalam pendengarannya. Ia kembali terbangun dan beranjak. Berjalan berjingkat menjangkau gagang pintu. Mendorongnya perlahan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan berkelebat memasuki rumah. Tak seperti tubuh manusia. Tanpa hidung, bibir, mata, alis, tangan ataupun kaki. Ya, hanya sekelebat bayangan. Seperti asap yang terbang bersama udara sebelum kemudian lesap tanpa tanda. Ia terpana, berdiri bagai patung di perempatan jalan besar lalu mundur tak percaya.
"Siapa kau? Hantu? Jangan mempermainkanku!" gertaknya.
Senyap. Tiada jawaban. Ia menunggu beberapa saat. Tetap senyap.
Namun tiba-tiba bayangan itu kembali berkelebat. Kini jauh lebih pekat. Lebih tebal. Meliuk-liuk memutari tubuhnya dengan desis menyerupai rintihan. Lalu bayangan itu membuat gerakan seperti membelai sebelum kemudian berhenti dan menempel diam di dinding.
"Siapa kau?"
Hati-hati dan takjub ia mendekatkan wajahnya ke dinding. Pertanyaannya tak terjawab. Hanya desis yang terdengar bagai rintihan panjang. Luka, darah, sebuah ruang sempit menghimpit…
"Kenapa? Ada apa?"
Suara serak wanita renta mengejutkannya. Tubuh bungkuk terseok menghampirinya. Lalu bayangan itu bergerak. Berputar-putar, membentuk gulungan pekat, menembus dinding, kemudian lenyap. Ia terengah. Matanya nanar mencari-cari bayangan yang lenyap. Ia percaya itu bukan mimpi.
"Kenapa? Ada apa?"
Ia menggeleng. Berusaha menarik ujung bibirnya agar membentuk sebuah senyuman. Ia tidak ingin wanita renta itu mencemaskannya.
"Mungkin aku mengigau," gumamnya. Ia tak menyadari bahwa bayangan itu benar-benar merintih. Dalam luka. Dalam darah. Dalam sebuah ruang sempit.
***
Entah pada hari ke berapa, kemudian ia ingin mengabaikan. Mungkin ketukan di pintu depan dan kelebat bayangan itu hantu. Apa istimewanya? Toh, alam gaib itu memang ada. Bukankah semua hidup dalam alam masing-masing dan tunduk di bawah kuasa-Nya? Jika kita tidak mengusik, mereka juga akan berdiam. Hanya yang sedikit mengherankannya, kenapa wanita renta tidak mendengar ketukan itu? Kenapa ketukan itu hanya menembus gendang telinganya?
Ia tak ingin peduli. Ia tak ingin memikirkannya. Tapi ketukan itu kian nyaring pada malam ke sepuluh. Ia menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangan. Menimbuni kepalanya dengan bantal. Ia ingin membiarkan. Namun sayup ketukan itu seolah menembus bantal yang menutupi kepalanya. Merenggangkan tangannya dan menjebol paksa gendang telinganya. Ia seolah kembali berada di sebuah ruang sempit. Luka, darah, air mata…
"Oh…!" rintihnya sambil melepaskan bantal. Wanita renta di sampingnya terusik sesaat sebelum kembali lelap. Napasnya memburu ketika turun dari pembaringan lalu berjalan ke pintu. Namun langkahnya terhenti di muka pintu bilik. Sayup ketukan itu bergema di sana. Bukan lagi di pintu depan. Ketukan yang lembut namun nyaring. Beruntun dan teratur. Tiga kali, tiga kali. Dijangkau gagang pintu bilik, didorong perlahan. Sekelebat bayangan itu memasuki biliknya. Melesat lebih cepat dari malam yang lalu. Meliuk-liuk mengitari tubuhnya lalu berhenti, menempel diam di dinding. Bayangan itu seolah berdiri dan menatap lekat padanya.
"Apa maumu?" sentaknya meradang.
Tiba-tiba ia merasa malamnya sangat terganggu dengan bayangan yang tak pernah ia usik itu. Kemarahan terasa mencekik lehernya. Matanya bergerak ke segala arah mencari sesuatu. Kemudian ia menemukan pisau yang tergeletak di meja. Pisau yang digunakan wanita renta itu mengupas pepaya tadi sore.
"Apa maumu?" ulangnya semakin meradang. Diacungkan pisau ke arah bayangan itu. Namun bayangan itu tetap berdiri tenang, menempel diam di dinding. Tak berbicara, tak bergerak, tak beranjak. Merasa dipermainkan ia menghujamkan pisau itu ke seluruh bayangan di dinding. Crash! Crash! Crash…! Ia membabi buta. Menggunakan seluruh energi yang dimilikinya. Tak dipedulikan napasnya yang hampir putus dan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Hujaman terakhir membuat pisaunya menancap kuat di dinding. Tak kuasa ia mencabutnya. Hujaman lainnya membentuk lubang-lubang di dinding. Sesuatu tiba-tiba meleleh dari lubang-lubang itu. Ia tertegun lama. Menahan napasnya yang tersengal. Menarik tubuhnya tak percaya. Lubang-lubang di dinding bekas hujaman pisaunya itu mengalirkan darah!
Perlahan dan hati-hati didekatkannya wajah. Matanya membelalak tak percaya. Darah di dinding itu saling bertaut. Seperti digerakkan oleh kekuatan entah. Demikian teratur membentuk huruf demi huruf yang kemudian merangkai sebuah kalimat: ROH, AKU PULANG…
Usai membentuk sebuah kalimat, sisa darah yang lain menyatukan diri membentuk sebuah gambar. Seperti tangan pelukis yang gesit menyapukan kuas pada kain kanvas. Sisa darah itu bergerak membentuk rambut, mata, hidung, bibir, leher, dada, tangan, paha, kaki, dan perut. Tapi perut itu tidak seperti biasanya. Perut itu membuncit. Ia kini mengerti. Darah itu melukis tubuh seorang wanita hamil!
Ia masih tertegun. Ternganga dalam ketidakmengertian. Desis rintihan kembali membawanya ke sebuah ruang sempit. Luka, darah, air mata…Siapakah wanita dalam lukisan darah itu? Ia menggeleng-gelengkan kepala tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri. Ia mencoba mengamati lukisan itu lebih seksama. Ia menemukan kelembutan dan ketegaran seorang ibu di sana. Ketegaran yang membuat seorang wanita tidak putus asa meski ditinggal suaminya pergi dengan wanita lain. Ketegaran yang membuat seorang wanita berani pergi ke negeri ringgit untuk mengais rezeki. Meninggalkan gadis mungil dalam dekapan wanita menjelang renta sekian tahun silam. Lantas membiarkan dirinya lenyap di telan bumi. Tanpa kabar.
Ada kekuatan yang tiba-tiba menarik tangannya untuk mengusap lukisan itu. Merasakan kepedihan yang dalam. Luka, darah, air mata…
"Siapa, kau?" tanyanya lirih di antara isak. Ia merasakan kesedihan yang dalam ketika tangannya menyentuh lukisan darah itu. Air mata dan peluh bersaing membanjiri bagian tubuhnya. Ia kemudian terkulai di lantai. Napasnya tersengal-sengal. Kerisauan, kebingungan, ketakutan, ketidakmengertian telah menumpasnya malam ini. Ia memejamkan mata. Tidak ingin menatap lukisan darah di dinding itu. Hatinya perih.
"Kenapa? Ada apa?"
Ada tangan yang tiba-tiba menyentuh bahunya lembut. Ia terkesiap. Matanya kembali nanar mencari-cari lukisan darah di dinding. Namun ia tidak menemukannya. Lukisan darah itu lenyap! Dan di hadapannya, wanita renta yang gurat wajah yang tak jauh berbeda dengan wajah dalam lukisan darah itu menatapnya cemas.
"Ada darah di dinding." Matanya masih mencari.
"Darah apa?"
"Lukisan darah."
"Ah, kau mengigau."
"Tidak Nek, tadi benar-benar ada di dinding itu."
"Mana buktinya? Dinding itu bersih, tidak ada darah di sana."
"Lukisan darah berwajah sepertimu."
"Sudahlah..."
"Aku akan mencari orang dalam lukisan itu, Nek."
"Untuk apa? Akan kau cari ke mana?"
"Ke kota. Atau ke mana saja."
"Minumlah dulu, jangan terus mengigau."
Ia meneguk segelas air putih yang dibawa wanita renta itu hingga tandas, menarik napas hingga seluruh udara memenuhi rongga dadanya, lalu menjatuhkan tubuhnya di pembaringan. Matanya menerawang, jantungnya berdebaran. Lukisan darah itu kembali membayangi matanya. Siapa wanita itu? Perlahan ia mengangkat telapak tangannya dan ada sisa darah melengket kering di jemarinya.
***
Tas besar itu telah dijejali pakaian dan perbekalan. Ia akan pergi. Mungkin ke kota atau ke negeri entah.
"Aku akan mencari wanita dalam lukisan itu," gumamnya.
Ia sedih melihat wanita renta itu terlihat berat melepas kepergiannya. Mata wanita renta itu berkaca-kaca. Ia tak ingin mengurungkan niatnya. Hampir setiap malam, sayup ketukan beruntun, bayangan pekat berkelebat, kemudian darah yang menjelma lukisan itu menghantui hidupnya. Ia tak ingin digilas ketakutan, kesedihan, penasaran juga ketidakmengertian yang terus bertumpuk dari hari ke hari.
Ada yang berkelebat saat ia mengayunkan langkah dan melepas tangan wanita renta yang memeganginya. Sebuah bayangan. Ada desis menyerupai rintihan yang semakin jelas. Luka, darah, airmata dan sebuah ruang sempit…menyeretnya dalam kepedihan.
"Kau akan pergi ke mana?" pertanyaan wanita renta itu menonjok lamunannya. Ia hanya bergumam, menggeleng lalu menyeret tas besarnya. Entah, ia sendiri tak tahu harus ke mana mencari wanita dalam lukisan itu. Mungkin ke kota. Tapi kota yang mana? Namun lukisan darah di dinding yang desisnya menyerupai rintihan itu seolah terus memanggilnya, mengajaknya untuk bertemu.
Langkahnya terhenti. Perlahan tangannya menjangkau gagang pintu depan rumahnya. Sedikit gemetar ketika akan mendorongnya. Saat itu ia mendengar suara ribut-ribut di halaman. Ia menajamkan pendengarannya seperti saat mendengarkan ketukan lembut di setiap malamnya, lalu menatap wanita renta yang berdiri bungkuk di sampingnya. Mereka saling berpandangan dan mengeryitkan kening. Benaknya penuh tanya.
"Benar ini rumahnya?" tanya seorang laki-laki di halaman.
"Benar, Pak," jawab sebuah suara, seperti suara tetangganya.
"Turunkan perlahan-lahan!" teriak laki-laki yang tadi bertanya memberi perintah. "Tolong yang lain bantu kami menurunkan!"
"Awas, hati-hati!" suara yang lain lagi.
"Panggil keluarganya!" suara lelaki pertama kembali memerintah.
Ia terdiam sesaat. Otaknya berputar mencoba menebak-nebak tentang keributan yang terjadi di halaman. Namun ketika ia menyadari tak juga menemukan tebakan yang tepat, tangannya mendorong gagang pintu.
Mulutnya ternganga ketika melihat puluhan orang; tetangga laki-laki, perempuan, anak-anak, Pak RT, RW, lurah, polisi, berkumpul di halaman. Mereka mengelilingi mobil ambulan yang sudah dimatikan sirinenya. Beberapa orang menurunkan peti mati dari dalam ambulan. Sementara seorang tetangga berlari-lari menghampirinya.
"Roh! Rohana! Itu mayat emakmu. Ia meninggal karena jatuh dari apartemen tempatnya bekerja. Ia sedang mengandung anak majikannya!"
Seperti masuk ke dalam mesin pendingin, ia merasakan tubuhnya menggigil hebat, rahangnya mengatup rapat. Wanita renta di sampingnya terkulai pingsan. Kerumunan orang-orang menyingkir ketika ia mendekati peti mati. Dilihatnya darah berceceran di dinding peti mati emaknya. Menuliskan: ROH, AKU PULANG… dan melukiskan tubuh wanita hamil! ***
Utan Kayu, 23 Juni 2004
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Tary
Dimuat di Suara Pembaruan 07/05/2006
Malam menggigil. Gemetar ditampar angin lembab penghujung tahun. Seorang perempuan turun dari pintu kiri mobil. Rok mini, tank top, tas tangan. Gincu, bedak, tato alis, perona pipi, parfum. Langsing, langsat, cantik.
"Lusa malam di tempat biasa. Oke?" suara lelaki berkepala melon, menjulur dari kaca jendela kanan mobil yang terbuka. Perempuan itu melempar senyum. "Oke, sayang!"
Bougenvile ungu di sisi jalan mengangguk-angguk, seolah ikut menyetujui jawaban itu. Mobil tua melesat, perempuan cantik berbalik. Rambut gelombangnya bergoyang. Tak...tuk...tak...tuk...tak...tuk. Suara kelotak sepatu hak tingginya mencipta irama gema.
Menghantam lengang hingga ujung gang. Lima pasang mata pemuda nakal menatap sambil berdecap. Gardu di pinggir gang mendadak riuh. Celetuk kotor, celoteh bau, ejekan basi. Mereka bersuit-suit girang ketika mata perempuan itu mengerling dan menyapa dengan sebungkus kacang goreng.
Tak...tuk...tak...tuk...tak...tuk. Suara kelotak sepatu itu terhenti di depan sebuah rumah mungil. Tipe 21, sederhana, satu kamar. Sejenak berganti bunyi derit pintu pagar besi lalu lenyap sama sekali. Suitan pemuda nakal di gardu pinggir gang kehilangan gairah. Berganti petikan gitar, nyanyian sumbang dan tawa panjang terkekeh-kekeh.
Klik. Klak.
Pintu terbuka, lampu menyala. Perempuan itu melempar tubuhnya ke kursi ruang tamu. Tangan kanannya meraba-raba bagian dalam tas tangannya. Berlembar-lembar uang ada di sana. Malam penuh keberuntungan, batinnya. Bukan hanya mendapatkan uang banyak, tetapi juga cinta. Dadanya bergeletar aneh setiap bertemu lelaki berkepala melon. Bukankah itu cinta? Apalagi lelaki itu baru saja meminangnya dan berjanji menikahinya bulan depan.
Senyum perempuan itu mengembang. Setelah melepas sepatu hak tingginya satu persatu, ia beranjak ke kamar. Sebungkus martabak manis kesukaan ibunya dibawa serta. Ia nekat ingin membangunkan ibunya sejenak. Sejenak saja. Ia ingin mengabarkan berita gembira. Ia ingin berbagi bahagia.
"Ibu, aku sudah pulang."
Ibu paruh baya bergeming. Berbaring miring memunggungi perempuan itu. Selimut tebal menutupi daster batik muram yang dikenakannya. Perempuan itu menghela nafas, melirik jam dinding kamar. Pukul tiga lewat sepuluh, dini hari. "Ibu, bangunlah sebentar. Aku membawa martabak hangat dan berita hebat."
Tak ada kata-kata, tak ada suara. Sepi, sunyi, senyap.
Dahi perempuan itu berkerut. Perlahan ditepuk bahu ibunya, digoyang punggung ibunya, disingkap sedikit bagian atas selimutnya. Tubuh Ibu terguling. Terlentang, sedikit menekuk, kaku. Daster batiknya basah. Mulutnya berbusa-busa!
Perempuan itu melengking, tubuhnya ambruk di atas jasad ibunya.
*
Perempuan cantik itu milikku...
Aku rebah setelah bunyi kelotak sepatunya menjauhi halaman rumah. Terang purnama empat belas menerobos melalui jendela kamar yang terbuka. Aku suka berdiri di depan jendela itu memandang purnama. Tapi akhir-akhir ini sendi-sendiku sering lemas. Tubuhku menggigil setiap ia berpamitan, "Rika berangkat kerja dulu ya Bu, doakan Rika dapat banyak uang." Lalu cup, cup! Ia mendaratkan bibirnya yang bergincu tebal ke pipi kiri kananku hingga menimbulkan bekas merah dan rasa panas yang menyayat. Kupandangi tubuh perempuannya menghilang di balik pintu. Ia meminta doaku. Aku mengeluh dalam diam. Tuhan, pantaskah aku berdoa jika surga tak lagi bersemayam di telapak kakiku?
Waktu seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Menancap kuat di sasaran yang salah tanpa aku sanggup mencabutnya kembali.
"Ibu, aku malu diejek terus sama teman-teman."
Mata perempuan kecilku sembab. Bibirnya bergetar. Aku merengkuh tubuh mungilnya dalam pelukan dan mencoba menghiburnya.
"Jangan takut diejek sayang, kamu cantik. Coba lihat cermin!" kutuntun tangan mungil itu mendekati cermin besar di dalam kamar. "Lihat! Cantik, kan? Mereka itu iri, sayang! Iri karena tidak bisa secantik dirimu!"
"Tapi, aku kan..."
"Jangan pedulikan mereka, sayang!"
Mata perempuan kecilku menatapku tajam. Pipinya basah. Bibirnya semakin bergetar. Ketika aku mencoba meraih lagi tubuh mungilnya ke dalam dekapan, ia meronta. Berbalik dan berlari meninggalkanku. Samar kudengar rintihnya berulang-ulang di antara isak tangis, "Ibu jahat! Ibu Jahat! Ibu jahat!"
*
Perempuan cantik itu milikku...
Aku mengandungnya selama sembilan bulan lewat beberapa hari. Aku menyusuinya selama dua tahun. Aku mengasuhnya tumbuh. Tak ada siapa pun yang bisa mengambilnya dari sisiku. Tidak manusia, tidak juga Tuhan. Tidak, tidak, tidak!
"Aku tidak mau pakai baju itu!"
Perempuan kecilku memberontak. Tubuh telanjangnya yang baru saja kuseka handuk sehabis mandi mengerut, matanya menatapku galak. Aku mencoba membujuk. Membentangkan baju baru warna merah muda ke hadapannya.
"Sayang, bajunya pakai renda lho! Kamu suka baju berenda seperti Cinderella, bukan? Nanti Ibu belikan juga sepatu kacanya. Bagaimana?"
"Tidak mau!"
Aku memutar otak lalu mengambil baju biru bermotif bunga-bunga. "Mungkin Rika suka yang ini?"
"Aku bukan Rika!" teriak perempuan kecilku. Matanya menantang mataku. Jelas, tegas, tanpa rasa takut sedikitpun.
Kesabaranku tandas. Emosiku menderas. Pemberontak kecil di depanku ini harus ditumpas! Gigi gerahamku beradu menimbulkan suara gemeletuk. Dengan sekali gerakan kutarik lengannya dan kujepit tubuhnya di antara kedua kakiku. Baju merah muda berenda-renda masuk ke tubuhnya dengan paksa. Perempuan kecilku mengigil ketakutan. Air matanya berlinang-linang. Tanpa sedu sedan, tanpa isak tangis. Ia menatapku seperti melihat setan.
Sejak peristiwa baju berenda itu, ia benar-benar menjadi milikku. Tak ada yang berkurang, tak ada yang hilang. Perempuan kecilku tak pernah lagi menjadi pemberontak. Baju bunga-bunga, baju berenda, rok rimple-rimple merah muda. Ia akan memakainya tanpa bertanya atau mengeluh. Ia mulai menyukai boneka-boneka barbienya dan ia tidak keberatan bermain masak-masakan bersamaku di halaman samping rumah. Aku puas, aku bahagia. Ia adalah Rika yang cantik dan pintar. Ia adalah Rika yang selalu menuruti kata-kataku. Ia adalah Rika yang...
Ah, selamat datang kembali Rika sayang!
*
Perempuan cantik itu milikku....
"Kamu harus mendidik anakmu dengan baik."
"Kasihan sekali anakmu! Berikan saja padaku!"
"Dasar wanita gila! Harusnya dia masuk RSJ!"
Ketika aku bahagia, semua orang meributkan Rika. Orangtuaku, mertuaku, saudara ipar, kakak-kakak, tetangga-tetangga dan ibu-ibu arisan. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merecoki milikku. Lagipula apa hak mereka terhadap Rika? Aku ibunya dan mencintainya berlipat-lipat. Lebih banyak dari sebelum ia kembali.
Keributan itu membuatku terancam. Bagaimana kalau mereka mengambil paksa Rika dari sisiku? Aku tidak mau kehilangan milikku! Diam-diam kubawa Rika pindah ke kota lain menjauhi mereka. Di sebuah rumah tipe 21 perkampungan padat penduduk kami memulai hidup baru. Kuhapus semua jejakku agar keluarga besar tak dapat melacak. Aku bekerja sebagai karyawan pabrik dan Rika tumbuh tanpa keusilan orang-orang sekeliling. Di tempat ini, aku yakin bisa menjaga Rika dari ancaman. Ia akan menjadi milikku selamanya.
"Ibu, aku ingin belajar memakai make up. Boleh, kan?"
Aku menimbang-nimbang. Minggu kemarin usia Rika telah masuk bilangan tujuh belas. Ia telah tumbuh seperti keinginanku. Seorang perempuan muda yang cantik, luwes dan menggoda. Sekarang ia ingin belajar menggunakan make up. Apa yang salah dengan keinginan itu?
"Boleh ya, Bu?" rajuknya. "Aku ingin kelihatan lebih cantik, lebih menarik, lebih..."
"Belajar sama siapa?" potongku.
"Aku punya teman baik di salon. Dia bersedia mengajariku."
Rika mencium pipiku ketika aku mengizinkannya. Maka mulailah satu kegiatan baru dalam hari-hari Rika. Pulang sekolah ia langsung ke salon untuk belajar make up dan malam harinya mempraktikkannya di rumah. Cantik, luwes dan sangat perempuan. Begitulah saat aku melihat hasil riasan wajahnya. Rikaku telah sempurna menjadi perempuanku. Namun, kesehatanku tak sesempurna perempuanku. Penyakit demi penyakit mulai menggerogotiku. Aku tak kuat lagi bekerja di pabrik. Menjelang Rika naik kelas tiga, aku terkena PHK. Pabrik menendangku begitu saja tanpa pesangon. Setelah uang tabungan habis, kami sekarat.
"Ibu, aku bisa bekerja di salon."
Babak baru dalam hidupku berpentas. Rika keluar dari sekolah dan bekerja di salon. Penghasilannya dari hari ke hari selalu bertambah. Biaya makan, berobat dan kebutuhan lainnya tertutupi dengan cepat. Terkadang aku merasa itu tak wajar. Berapa banyak gaji Rika di salon itu? Tapi aku enggan memperpanjang pikiran buruk. Aku selalu menghibur diriku dengan berbagai kemungkinan. Mungkin ia mendapatkan tip lebih dari pelanggan, mungkin ia menjadi kesayangan majikannya, mungkin ia bekerja juga di salon lain yang lebih besar dan mungkin mungkin yang lainnya.
Sampai suatu hari, seorang lelaki berkepala melon datang ke rumah. Aku melihat binar-binar cinta di mata perempuanku. Aku melihat gairah asmara di lenggak-lenggok perempuanku. Dan aku terhuyung-huyung menubruk pintu ketika perempuanku mengatakan ingin menikah dengan lelaki berkepala melon itu.
Tuhan, pantaskah aku berdoa untuk perempuanku? Mungkin surga tak lagi bersemayam di telapak kakiku. Setelah suami dan anak sulungku meninggal dalam kecelakaan. Setelah kehilangan yang pedih itu memaksaku pergi dari kenyataan. Setelah bayi lelakiku bernama Riko kupaksa menggantikan posisi Rika anak sulungku. Setelah aku menjadikan Riko seorang perempuan dengan jiwa raga sempurna. Setelah...*
Mede17, 02.04.06
Dimuat di Suara Pembaruan 07/05/2006
Malam menggigil. Gemetar ditampar angin lembab penghujung tahun. Seorang perempuan turun dari pintu kiri mobil. Rok mini, tank top, tas tangan. Gincu, bedak, tato alis, perona pipi, parfum. Langsing, langsat, cantik.
"Lusa malam di tempat biasa. Oke?" suara lelaki berkepala melon, menjulur dari kaca jendela kanan mobil yang terbuka. Perempuan itu melempar senyum. "Oke, sayang!"
Bougenvile ungu di sisi jalan mengangguk-angguk, seolah ikut menyetujui jawaban itu. Mobil tua melesat, perempuan cantik berbalik. Rambut gelombangnya bergoyang. Tak...tuk...tak...tuk...tak...tuk. Suara kelotak sepatu hak tingginya mencipta irama gema.
Menghantam lengang hingga ujung gang. Lima pasang mata pemuda nakal menatap sambil berdecap. Gardu di pinggir gang mendadak riuh. Celetuk kotor, celoteh bau, ejekan basi. Mereka bersuit-suit girang ketika mata perempuan itu mengerling dan menyapa dengan sebungkus kacang goreng.
Tak...tuk...tak...tuk...tak...tuk. Suara kelotak sepatu itu terhenti di depan sebuah rumah mungil. Tipe 21, sederhana, satu kamar. Sejenak berganti bunyi derit pintu pagar besi lalu lenyap sama sekali. Suitan pemuda nakal di gardu pinggir gang kehilangan gairah. Berganti petikan gitar, nyanyian sumbang dan tawa panjang terkekeh-kekeh.
Klik. Klak.
Pintu terbuka, lampu menyala. Perempuan itu melempar tubuhnya ke kursi ruang tamu. Tangan kanannya meraba-raba bagian dalam tas tangannya. Berlembar-lembar uang ada di sana. Malam penuh keberuntungan, batinnya. Bukan hanya mendapatkan uang banyak, tetapi juga cinta. Dadanya bergeletar aneh setiap bertemu lelaki berkepala melon. Bukankah itu cinta? Apalagi lelaki itu baru saja meminangnya dan berjanji menikahinya bulan depan.
Senyum perempuan itu mengembang. Setelah melepas sepatu hak tingginya satu persatu, ia beranjak ke kamar. Sebungkus martabak manis kesukaan ibunya dibawa serta. Ia nekat ingin membangunkan ibunya sejenak. Sejenak saja. Ia ingin mengabarkan berita gembira. Ia ingin berbagi bahagia.
"Ibu, aku sudah pulang."
Ibu paruh baya bergeming. Berbaring miring memunggungi perempuan itu. Selimut tebal menutupi daster batik muram yang dikenakannya. Perempuan itu menghela nafas, melirik jam dinding kamar. Pukul tiga lewat sepuluh, dini hari. "Ibu, bangunlah sebentar. Aku membawa martabak hangat dan berita hebat."
Tak ada kata-kata, tak ada suara. Sepi, sunyi, senyap.
Dahi perempuan itu berkerut. Perlahan ditepuk bahu ibunya, digoyang punggung ibunya, disingkap sedikit bagian atas selimutnya. Tubuh Ibu terguling. Terlentang, sedikit menekuk, kaku. Daster batiknya basah. Mulutnya berbusa-busa!
Perempuan itu melengking, tubuhnya ambruk di atas jasad ibunya.
*
Perempuan cantik itu milikku...
Aku rebah setelah bunyi kelotak sepatunya menjauhi halaman rumah. Terang purnama empat belas menerobos melalui jendela kamar yang terbuka. Aku suka berdiri di depan jendela itu memandang purnama. Tapi akhir-akhir ini sendi-sendiku sering lemas. Tubuhku menggigil setiap ia berpamitan, "Rika berangkat kerja dulu ya Bu, doakan Rika dapat banyak uang." Lalu cup, cup! Ia mendaratkan bibirnya yang bergincu tebal ke pipi kiri kananku hingga menimbulkan bekas merah dan rasa panas yang menyayat. Kupandangi tubuh perempuannya menghilang di balik pintu. Ia meminta doaku. Aku mengeluh dalam diam. Tuhan, pantaskah aku berdoa jika surga tak lagi bersemayam di telapak kakiku?
Waktu seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Menancap kuat di sasaran yang salah tanpa aku sanggup mencabutnya kembali.
"Ibu, aku malu diejek terus sama teman-teman."
Mata perempuan kecilku sembab. Bibirnya bergetar. Aku merengkuh tubuh mungilnya dalam pelukan dan mencoba menghiburnya.
"Jangan takut diejek sayang, kamu cantik. Coba lihat cermin!" kutuntun tangan mungil itu mendekati cermin besar di dalam kamar. "Lihat! Cantik, kan? Mereka itu iri, sayang! Iri karena tidak bisa secantik dirimu!"
"Tapi, aku kan..."
"Jangan pedulikan mereka, sayang!"
Mata perempuan kecilku menatapku tajam. Pipinya basah. Bibirnya semakin bergetar. Ketika aku mencoba meraih lagi tubuh mungilnya ke dalam dekapan, ia meronta. Berbalik dan berlari meninggalkanku. Samar kudengar rintihnya berulang-ulang di antara isak tangis, "Ibu jahat! Ibu Jahat! Ibu jahat!"
*
Perempuan cantik itu milikku...
Aku mengandungnya selama sembilan bulan lewat beberapa hari. Aku menyusuinya selama dua tahun. Aku mengasuhnya tumbuh. Tak ada siapa pun yang bisa mengambilnya dari sisiku. Tidak manusia, tidak juga Tuhan. Tidak, tidak, tidak!
"Aku tidak mau pakai baju itu!"
Perempuan kecilku memberontak. Tubuh telanjangnya yang baru saja kuseka handuk sehabis mandi mengerut, matanya menatapku galak. Aku mencoba membujuk. Membentangkan baju baru warna merah muda ke hadapannya.
"Sayang, bajunya pakai renda lho! Kamu suka baju berenda seperti Cinderella, bukan? Nanti Ibu belikan juga sepatu kacanya. Bagaimana?"
"Tidak mau!"
Aku memutar otak lalu mengambil baju biru bermotif bunga-bunga. "Mungkin Rika suka yang ini?"
"Aku bukan Rika!" teriak perempuan kecilku. Matanya menantang mataku. Jelas, tegas, tanpa rasa takut sedikitpun.
Kesabaranku tandas. Emosiku menderas. Pemberontak kecil di depanku ini harus ditumpas! Gigi gerahamku beradu menimbulkan suara gemeletuk. Dengan sekali gerakan kutarik lengannya dan kujepit tubuhnya di antara kedua kakiku. Baju merah muda berenda-renda masuk ke tubuhnya dengan paksa. Perempuan kecilku mengigil ketakutan. Air matanya berlinang-linang. Tanpa sedu sedan, tanpa isak tangis. Ia menatapku seperti melihat setan.
Sejak peristiwa baju berenda itu, ia benar-benar menjadi milikku. Tak ada yang berkurang, tak ada yang hilang. Perempuan kecilku tak pernah lagi menjadi pemberontak. Baju bunga-bunga, baju berenda, rok rimple-rimple merah muda. Ia akan memakainya tanpa bertanya atau mengeluh. Ia mulai menyukai boneka-boneka barbienya dan ia tidak keberatan bermain masak-masakan bersamaku di halaman samping rumah. Aku puas, aku bahagia. Ia adalah Rika yang cantik dan pintar. Ia adalah Rika yang selalu menuruti kata-kataku. Ia adalah Rika yang...
Ah, selamat datang kembali Rika sayang!
*
Perempuan cantik itu milikku....
"Kamu harus mendidik anakmu dengan baik."
"Kasihan sekali anakmu! Berikan saja padaku!"
"Dasar wanita gila! Harusnya dia masuk RSJ!"
Ketika aku bahagia, semua orang meributkan Rika. Orangtuaku, mertuaku, saudara ipar, kakak-kakak, tetangga-tetangga dan ibu-ibu arisan. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merecoki milikku. Lagipula apa hak mereka terhadap Rika? Aku ibunya dan mencintainya berlipat-lipat. Lebih banyak dari sebelum ia kembali.
Keributan itu membuatku terancam. Bagaimana kalau mereka mengambil paksa Rika dari sisiku? Aku tidak mau kehilangan milikku! Diam-diam kubawa Rika pindah ke kota lain menjauhi mereka. Di sebuah rumah tipe 21 perkampungan padat penduduk kami memulai hidup baru. Kuhapus semua jejakku agar keluarga besar tak dapat melacak. Aku bekerja sebagai karyawan pabrik dan Rika tumbuh tanpa keusilan orang-orang sekeliling. Di tempat ini, aku yakin bisa menjaga Rika dari ancaman. Ia akan menjadi milikku selamanya.
"Ibu, aku ingin belajar memakai make up. Boleh, kan?"
Aku menimbang-nimbang. Minggu kemarin usia Rika telah masuk bilangan tujuh belas. Ia telah tumbuh seperti keinginanku. Seorang perempuan muda yang cantik, luwes dan menggoda. Sekarang ia ingin belajar menggunakan make up. Apa yang salah dengan keinginan itu?
"Boleh ya, Bu?" rajuknya. "Aku ingin kelihatan lebih cantik, lebih menarik, lebih..."
"Belajar sama siapa?" potongku.
"Aku punya teman baik di salon. Dia bersedia mengajariku."
Rika mencium pipiku ketika aku mengizinkannya. Maka mulailah satu kegiatan baru dalam hari-hari Rika. Pulang sekolah ia langsung ke salon untuk belajar make up dan malam harinya mempraktikkannya di rumah. Cantik, luwes dan sangat perempuan. Begitulah saat aku melihat hasil riasan wajahnya. Rikaku telah sempurna menjadi perempuanku. Namun, kesehatanku tak sesempurna perempuanku. Penyakit demi penyakit mulai menggerogotiku. Aku tak kuat lagi bekerja di pabrik. Menjelang Rika naik kelas tiga, aku terkena PHK. Pabrik menendangku begitu saja tanpa pesangon. Setelah uang tabungan habis, kami sekarat.
"Ibu, aku bisa bekerja di salon."
Babak baru dalam hidupku berpentas. Rika keluar dari sekolah dan bekerja di salon. Penghasilannya dari hari ke hari selalu bertambah. Biaya makan, berobat dan kebutuhan lainnya tertutupi dengan cepat. Terkadang aku merasa itu tak wajar. Berapa banyak gaji Rika di salon itu? Tapi aku enggan memperpanjang pikiran buruk. Aku selalu menghibur diriku dengan berbagai kemungkinan. Mungkin ia mendapatkan tip lebih dari pelanggan, mungkin ia menjadi kesayangan majikannya, mungkin ia bekerja juga di salon lain yang lebih besar dan mungkin mungkin yang lainnya.
Sampai suatu hari, seorang lelaki berkepala melon datang ke rumah. Aku melihat binar-binar cinta di mata perempuanku. Aku melihat gairah asmara di lenggak-lenggok perempuanku. Dan aku terhuyung-huyung menubruk pintu ketika perempuanku mengatakan ingin menikah dengan lelaki berkepala melon itu.
Tuhan, pantaskah aku berdoa untuk perempuanku? Mungkin surga tak lagi bersemayam di telapak kakiku. Setelah suami dan anak sulungku meninggal dalam kecelakaan. Setelah kehilangan yang pedih itu memaksaku pergi dari kenyataan. Setelah bayi lelakiku bernama Riko kupaksa menggantikan posisi Rika anak sulungku. Setelah aku menjadikan Riko seorang perempuan dengan jiwa raga sempurna. Setelah...*
Mede17, 02.04.06
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Tary
Dimuat di Suara Pembaruan 10/02/2005
Lini bersimpuh di depan makam, di antara gerimis yang mulai jatuh. Pohon beringin besar di pinggir makam tak mampu melindungi tubuhnya dari gerimis yang menetes dari celah-celah daunnya yang rapat. Satu persatu pelayat meninggalkan pemakaman. Lini masih terpekur. Tangannya meremas tanah merah basah yang telah menyatu dengan tubuh jenazah. Ia bergidik. Membayangkan ayahnya menggigil di liang lahat. Kedinginan. Kesepian. Ayah, kenapa kau tak menungguku? Batinnya. Tiga jam sebelum keretanya sampai, sang ayah sudah pergi.
"Ikhlaskan, Lini..."
Ada tangan yang menyentuh pundaknya. Tangan kurus dengan gerakan yang pasti. Tangan tua yang tergurat perjalanan hidup. Tangan seorang ibu. Lini bangkit. Membiarkan tangan itu merangkul pundaknya.
"Ayah pergi dengan tenang..."
Lini mengangguk, menghela nafas berat. Air mata ibunya terus meleleh. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku baju dan menyeka mata ibunya. Daun garing Kamboja jatuh tersungkur tertiup angin lembab senja hari. Mata basah dua perempuan itu bertumbukan. Tiba-tiba jemari Lini gemetar. Ia berhenti menyeka air mata ibunya. Dicermati dua bola mata ibunya lebih seksama. Jantungnya berpacu kencang. Buru-buru Lini membuang pandang. Gerimis semakin rapat. Aneh, ia melihat wajah seorang lelaki di bola mata ibunya!
???
Wajah lelaki itu! Kenapa sekarang berada di bola mata ibunya? Sepasang mata nyalang. Kumis melintang. Senyum yang menyerupai seringai. Membuat Lini membuang pandang setiap matanya bertumbukan dengan mata ibunya. Mendadak ia tak suka melihat wajah lelaki itu bercokol di sana. Menguasai bola mata teduh yang baru saja ditinggalkan ayahnya. Lagipula, bukankah wajah lelaki itu biasanya muncul dalam lukisan-lukisannya?
Lukisan telah menjadi bagian hidupnya. Terlepas dari pekerjaan kantor yang menumpuk, Lini tenggelam dalam lukisan. Menyapukan kuas dalam kanvas membuat sedih, letih dan perih hidup yang tergilas garang ibukota mereda. Ia selalu melukis tanpa obyek atau tema terencana. Ia hanya mengikuti ke mana hati membawa tangannya bergerak menyapukan kuas. Dan, wajah lelaki itu selalu muncul dalam goresan terakhir.
Awalnya, ia tak begitu perduli dengan wajah lelaki dalam lukisan itu. Namun sekarang ia harus perduli. Karena wajah lelaki itu muncul di kedua bola mata ibunya! Membuat benak Lini bertanya-tanya. Menduga-duga. Siapa sebenarnya lelaki itu? Apa hubungannya dengan Ibu? Setiap sampai pada pertanyaan ini, Lini berubah marah. Ia tak suka membayangkan lelaki lain berhubungan erat dengan Ibu, sementara ayahnya baru saja dikuburkan.
Lalu, sisa cutinya digunakan untuk menghindari Ibu. Ia memilih meninggalkan rumah sampai malam tiba. "Jalan-jalan keliling kampung," begitu jawabnya dengan mata menatap lantai setiap Ibu bertanya. Bahkan ia tak memberi jawaban ketika Ibu memintanya untuk tinggal di kampung.
"Kalau kau kembali ke Jakarta, Ibu pasti kesepian, Lin."
Lini masih diam menekuri lantai. Sebagai anak tunggal, hanya padanya Ibu mengharap. Dan, ia sendiri tak tega membiarkan Ibu hidup kesepian di kampung. Tapi, wajah lelaki di bola mata ibunya itu? Ketika muncul dalam lukisan, ia bisa merobek atau membakar lukisan itu kapan pun ia mau. Tetapi, ketika muncul di bola mata ibunya? Apa yang bisa ia lakukan selain menghindar?
"Kau tak kasihan pada ibumu?"
Ada belati menusuk dadanya ketika kata-kata tajam itu diucapkan ibunya. Lini membuang pandang. Matanya menyapu ruang keluarga dan terhenti pada sebuah foto di dinding. Ayahnya begitu gagah dalam pakaian adat jawa. Blangkon, beskap hitam, kain batik dan sebilah keris. Ah, lelaki berwajah matahari itu...Betapa Lini sangat mengagumi dan mencintainya? Bersamanya, masa kanak-kanak penuh kehangatan, masa remaja penuh keceriaan dan menjelang dewasa ia menemukan jati dirinya.
"Ibu ingin kau memberi jawaban, Lini!" suara Ibu mendadak naik ke oktaf lebih tinggi. Lini tersentak. Matanya kembali menekuri lantai. "Kau tak menyayangi ibumu lagi?"
"Bukan begitu, Bu," Lini bersuara hati-hati. Sungguh! Ia tak sanggup melukai hati ibunya. "Aku tak yakin ilmuku bisa manfaat kalau tinggal di kampung..."
"Baiklah, Ibu tak akan memaksamu. Tapi, Ibu ingin bertanya satu hal padamu. Mengapa akhir-akhir ini kau seperti menghindari Ibu? Kau seperti enggan menatap mata Ibu? Benar begitu, Lini?"
Lini menggeleng-gelengkan kepalanya tak yakin. Perlahan ia mengangkat muka dan memberanikan diri menatap kedua bola mata milik ibunya. Dadanya bergemuruh. Wajah lelaki itu masih bercokol di kedua bola mata ibunya. Tertawa menyeringai lebih lebar kepada Lini. Seakan menertawakan kebingungannya!
***
Hari-hari berikutnya dua perempuan itu saling membisu.
Senja belum usai ketika Lini memutuskan untuk melukis di beranda rumah. Ia hanya ingin sekedar meredakan gundah. Tangannya bergerak lincah. Memilih warna. Menyapukan kuas dalam kanvas. Mengikuti perintah hati untuk menggores. Semakin cepat. Semakin liar. Kuasnya terus bergerak. Hingga satu bentuk tercipta. Lebih jelas dari lukisan-lukisan sebelumnya. Wajah lelaki itu! Kenapa ia selalu muncul dalam lukisannya? Lini menghela nafas. Membuang pandang dari seringai lelaki dalam lukisan.
"Lini! Kenapa kau melukis lelaki itu!?" bentak ibunya mengejutkan. Tak disadari Lini, Ibu sudah berdiri di belakangnya.
Lini membalikkan badan, menatap ibunya. Ia tak perduli ketika melihat wajah lelaki itu berada di bola mata ibunya. Ia terus menatap ibunya. Tepatnya bukan menatap ibunya, tetapi ia menantang wajah lelaki di bola mata ibunya. Tiba-tiba, ibunya maju beberapa langkah mendekati lukisan. Tangan tua itu meraih lukisan, mengangkatnya tinggi-tinggi dan membantingnya dengan kasar. Lini terperangah.
"Laki-laki biadab!" ibunya kalap. Dinjaknya-injaknya lukisan itu. Belum puas merusak lukisan itu, Ibu mengambil pisau tanaman yang tertinggal di beranda. Dihunjamkan ke lukisan. "Mampus kau!" teriaknya menggelegar.
Lini menghampiri ibunya, berusaha mencegah. Namun kekuatan ibunya berkali lipat. Pergumulan dua perempuan itu mengundang beberapa tetangga.
"Lepaskan aku! Akan ku bunuh laki-laki biadab itu!" ibunya terus menjerit dan meronda ketika dua tetangga membawanya ke kamar. Menjauhkannya dari lukisan
Lini tertegun-tegun. Ia tak mengerti apa yang sedang terjadi pada ibunya. Hingga petang berganti malam dan malam dijemput pagi, ibunya terus-menerus menjerit, menangis, mengamuk dan mengumpat-ngumpat.
"Kubunuh kau laki-laki biadab!" ancamnya setiap kali Lini mendekat. Telunjuk ibunya menuding kedua bola matanya. Membuat Lini tercekat. Apakah wajah lelaki itu kini juga bercokol di kedua bola matanya? Ia tak lagi berani bercermin. Ia tak mau menemukan wajah lelaki itu bercokol di kedua bola matanya!
Lalu, hari demi hari terus beringsut maju tanpa menunggu. Menggilas segala sesuatu yang ada dalam putarannya. Lini menunda keberangkatannya ke Jakarta. Tingkah Ibu kian parah. Menangis, tertawa, mengamuk, mengumpat. Tak jarang berlari-lari di jalanan, memunguti batu dan melempari orang lewat.
"Maaf Dik, kami terpaksa melakukan ini. Setidaknya sebelum kau membawa ibumu ke rumah sakit jiwa."
Lini terdiam ngilu ketika orang-orang kampung menyeret ibunya ke kamar belakang. Membenamkan kedua kaki tua itu dalam balok kayu dan mengikatnya kuat-kuat. Menyumpal mulutnya dengan kain agar teriakannya tak mengganggu istirahat tetangga di malam hari.
***
"Laki-laki biadab! Kubunuh kau!"
Aku seperti berada di bibir jurang masa silam, yang menganga siap menerkam. Setelah kulihat wajah lelaki biadab itu dalam lukisan, kini kulihat wajah itu di bola mata anakku, Lini. Tertawa menyeringai. Seperti serigala malam siap menerkam. Mengoyak tubuhku hingga berdarah-darah. Ingin rasanya kucungkil kedua bola mata Lini agar aku tak melihat wajah lelaki itu. Lalu kuganti dengan mata orang lain. Namun aku tak cukup berani untuk melakukan pencungkilan itu. Sekarang aku menyesal, mengapa dulu kubiarkan seorang lelaki baik menggagalkan upayaku membunuh Lini ketika masih bayi. Membiarkannya hidup hingga menjadi gadis dewasa dan kedua bola matanya dikuasai wajah lelaki biadab itu.
Apa sebaiknya kuminta Lini mengganti kedua bola matanya? Ah, untuk apa aku meminta Lini mengganti kedua bola matanya, jika sekarang seluruh ruangan putih ini dipenuhi wajah lelaki biadab itu. Di dinding, di langit-langit, di kolong tempat tidur, di atas meja, di kursi, di jendela, di jeruji besi, di pintu kamar...
"Cungkillah bola mataku! Aku tak sudi melihat wajah pemerkosa itu!"
Sejak itu duniaku gelap. Tak kutemukan Lini mengunjungiku di bangsal rumah sakit. Mungkin ia telah mencungkil bola mataku...*
Jakarta, 200905.21.30
Dimuat di Suara Pembaruan 10/02/2005
Lini bersimpuh di depan makam, di antara gerimis yang mulai jatuh. Pohon beringin besar di pinggir makam tak mampu melindungi tubuhnya dari gerimis yang menetes dari celah-celah daunnya yang rapat. Satu persatu pelayat meninggalkan pemakaman. Lini masih terpekur. Tangannya meremas tanah merah basah yang telah menyatu dengan tubuh jenazah. Ia bergidik. Membayangkan ayahnya menggigil di liang lahat. Kedinginan. Kesepian. Ayah, kenapa kau tak menungguku? Batinnya. Tiga jam sebelum keretanya sampai, sang ayah sudah pergi.
"Ikhlaskan, Lini..."
Ada tangan yang menyentuh pundaknya. Tangan kurus dengan gerakan yang pasti. Tangan tua yang tergurat perjalanan hidup. Tangan seorang ibu. Lini bangkit. Membiarkan tangan itu merangkul pundaknya.
"Ayah pergi dengan tenang..."
Lini mengangguk, menghela nafas berat. Air mata ibunya terus meleleh. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku baju dan menyeka mata ibunya. Daun garing Kamboja jatuh tersungkur tertiup angin lembab senja hari. Mata basah dua perempuan itu bertumbukan. Tiba-tiba jemari Lini gemetar. Ia berhenti menyeka air mata ibunya. Dicermati dua bola mata ibunya lebih seksama. Jantungnya berpacu kencang. Buru-buru Lini membuang pandang. Gerimis semakin rapat. Aneh, ia melihat wajah seorang lelaki di bola mata ibunya!
???
Wajah lelaki itu! Kenapa sekarang berada di bola mata ibunya? Sepasang mata nyalang. Kumis melintang. Senyum yang menyerupai seringai. Membuat Lini membuang pandang setiap matanya bertumbukan dengan mata ibunya. Mendadak ia tak suka melihat wajah lelaki itu bercokol di sana. Menguasai bola mata teduh yang baru saja ditinggalkan ayahnya. Lagipula, bukankah wajah lelaki itu biasanya muncul dalam lukisan-lukisannya?
Lukisan telah menjadi bagian hidupnya. Terlepas dari pekerjaan kantor yang menumpuk, Lini tenggelam dalam lukisan. Menyapukan kuas dalam kanvas membuat sedih, letih dan perih hidup yang tergilas garang ibukota mereda. Ia selalu melukis tanpa obyek atau tema terencana. Ia hanya mengikuti ke mana hati membawa tangannya bergerak menyapukan kuas. Dan, wajah lelaki itu selalu muncul dalam goresan terakhir.
Awalnya, ia tak begitu perduli dengan wajah lelaki dalam lukisan itu. Namun sekarang ia harus perduli. Karena wajah lelaki itu muncul di kedua bola mata ibunya! Membuat benak Lini bertanya-tanya. Menduga-duga. Siapa sebenarnya lelaki itu? Apa hubungannya dengan Ibu? Setiap sampai pada pertanyaan ini, Lini berubah marah. Ia tak suka membayangkan lelaki lain berhubungan erat dengan Ibu, sementara ayahnya baru saja dikuburkan.
Lalu, sisa cutinya digunakan untuk menghindari Ibu. Ia memilih meninggalkan rumah sampai malam tiba. "Jalan-jalan keliling kampung," begitu jawabnya dengan mata menatap lantai setiap Ibu bertanya. Bahkan ia tak memberi jawaban ketika Ibu memintanya untuk tinggal di kampung.
"Kalau kau kembali ke Jakarta, Ibu pasti kesepian, Lin."
Lini masih diam menekuri lantai. Sebagai anak tunggal, hanya padanya Ibu mengharap. Dan, ia sendiri tak tega membiarkan Ibu hidup kesepian di kampung. Tapi, wajah lelaki di bola mata ibunya itu? Ketika muncul dalam lukisan, ia bisa merobek atau membakar lukisan itu kapan pun ia mau. Tetapi, ketika muncul di bola mata ibunya? Apa yang bisa ia lakukan selain menghindar?
"Kau tak kasihan pada ibumu?"
Ada belati menusuk dadanya ketika kata-kata tajam itu diucapkan ibunya. Lini membuang pandang. Matanya menyapu ruang keluarga dan terhenti pada sebuah foto di dinding. Ayahnya begitu gagah dalam pakaian adat jawa. Blangkon, beskap hitam, kain batik dan sebilah keris. Ah, lelaki berwajah matahari itu...Betapa Lini sangat mengagumi dan mencintainya? Bersamanya, masa kanak-kanak penuh kehangatan, masa remaja penuh keceriaan dan menjelang dewasa ia menemukan jati dirinya.
"Ibu ingin kau memberi jawaban, Lini!" suara Ibu mendadak naik ke oktaf lebih tinggi. Lini tersentak. Matanya kembali menekuri lantai. "Kau tak menyayangi ibumu lagi?"
"Bukan begitu, Bu," Lini bersuara hati-hati. Sungguh! Ia tak sanggup melukai hati ibunya. "Aku tak yakin ilmuku bisa manfaat kalau tinggal di kampung..."
"Baiklah, Ibu tak akan memaksamu. Tapi, Ibu ingin bertanya satu hal padamu. Mengapa akhir-akhir ini kau seperti menghindari Ibu? Kau seperti enggan menatap mata Ibu? Benar begitu, Lini?"
Lini menggeleng-gelengkan kepalanya tak yakin. Perlahan ia mengangkat muka dan memberanikan diri menatap kedua bola mata milik ibunya. Dadanya bergemuruh. Wajah lelaki itu masih bercokol di kedua bola mata ibunya. Tertawa menyeringai lebih lebar kepada Lini. Seakan menertawakan kebingungannya!
***
Hari-hari berikutnya dua perempuan itu saling membisu.
Senja belum usai ketika Lini memutuskan untuk melukis di beranda rumah. Ia hanya ingin sekedar meredakan gundah. Tangannya bergerak lincah. Memilih warna. Menyapukan kuas dalam kanvas. Mengikuti perintah hati untuk menggores. Semakin cepat. Semakin liar. Kuasnya terus bergerak. Hingga satu bentuk tercipta. Lebih jelas dari lukisan-lukisan sebelumnya. Wajah lelaki itu! Kenapa ia selalu muncul dalam lukisannya? Lini menghela nafas. Membuang pandang dari seringai lelaki dalam lukisan.
"Lini! Kenapa kau melukis lelaki itu!?" bentak ibunya mengejutkan. Tak disadari Lini, Ibu sudah berdiri di belakangnya.
Lini membalikkan badan, menatap ibunya. Ia tak perduli ketika melihat wajah lelaki itu berada di bola mata ibunya. Ia terus menatap ibunya. Tepatnya bukan menatap ibunya, tetapi ia menantang wajah lelaki di bola mata ibunya. Tiba-tiba, ibunya maju beberapa langkah mendekati lukisan. Tangan tua itu meraih lukisan, mengangkatnya tinggi-tinggi dan membantingnya dengan kasar. Lini terperangah.
"Laki-laki biadab!" ibunya kalap. Dinjaknya-injaknya lukisan itu. Belum puas merusak lukisan itu, Ibu mengambil pisau tanaman yang tertinggal di beranda. Dihunjamkan ke lukisan. "Mampus kau!" teriaknya menggelegar.
Lini menghampiri ibunya, berusaha mencegah. Namun kekuatan ibunya berkali lipat. Pergumulan dua perempuan itu mengundang beberapa tetangga.
"Lepaskan aku! Akan ku bunuh laki-laki biadab itu!" ibunya terus menjerit dan meronda ketika dua tetangga membawanya ke kamar. Menjauhkannya dari lukisan
Lini tertegun-tegun. Ia tak mengerti apa yang sedang terjadi pada ibunya. Hingga petang berganti malam dan malam dijemput pagi, ibunya terus-menerus menjerit, menangis, mengamuk dan mengumpat-ngumpat.
"Kubunuh kau laki-laki biadab!" ancamnya setiap kali Lini mendekat. Telunjuk ibunya menuding kedua bola matanya. Membuat Lini tercekat. Apakah wajah lelaki itu kini juga bercokol di kedua bola matanya? Ia tak lagi berani bercermin. Ia tak mau menemukan wajah lelaki itu bercokol di kedua bola matanya!
Lalu, hari demi hari terus beringsut maju tanpa menunggu. Menggilas segala sesuatu yang ada dalam putarannya. Lini menunda keberangkatannya ke Jakarta. Tingkah Ibu kian parah. Menangis, tertawa, mengamuk, mengumpat. Tak jarang berlari-lari di jalanan, memunguti batu dan melempari orang lewat.
"Maaf Dik, kami terpaksa melakukan ini. Setidaknya sebelum kau membawa ibumu ke rumah sakit jiwa."
Lini terdiam ngilu ketika orang-orang kampung menyeret ibunya ke kamar belakang. Membenamkan kedua kaki tua itu dalam balok kayu dan mengikatnya kuat-kuat. Menyumpal mulutnya dengan kain agar teriakannya tak mengganggu istirahat tetangga di malam hari.
***
"Laki-laki biadab! Kubunuh kau!"
Aku seperti berada di bibir jurang masa silam, yang menganga siap menerkam. Setelah kulihat wajah lelaki biadab itu dalam lukisan, kini kulihat wajah itu di bola mata anakku, Lini. Tertawa menyeringai. Seperti serigala malam siap menerkam. Mengoyak tubuhku hingga berdarah-darah. Ingin rasanya kucungkil kedua bola mata Lini agar aku tak melihat wajah lelaki itu. Lalu kuganti dengan mata orang lain. Namun aku tak cukup berani untuk melakukan pencungkilan itu. Sekarang aku menyesal, mengapa dulu kubiarkan seorang lelaki baik menggagalkan upayaku membunuh Lini ketika masih bayi. Membiarkannya hidup hingga menjadi gadis dewasa dan kedua bola matanya dikuasai wajah lelaki biadab itu.
Apa sebaiknya kuminta Lini mengganti kedua bola matanya? Ah, untuk apa aku meminta Lini mengganti kedua bola matanya, jika sekarang seluruh ruangan putih ini dipenuhi wajah lelaki biadab itu. Di dinding, di langit-langit, di kolong tempat tidur, di atas meja, di kursi, di jendela, di jeruji besi, di pintu kamar...
"Cungkillah bola mataku! Aku tak sudi melihat wajah pemerkosa itu!"
Sejak itu duniaku gelap. Tak kutemukan Lini mengunjungiku di bangsal rumah sakit. Mungkin ia telah mencungkil bola mataku...*
Jakarta, 200905.21.30
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)




