Tampilkan postingan dengan label K: Koran Tempo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K: Koran Tempo. Tampilkan semua postingan
Senin, 28 November 2011 by Forum Lingkar Pena

Cerpen Desi Puspitasari
Dimuat di Koran Tempo, 20 November 2011

BEL yang digantung di pintu berkelinting.

“Menjelang musim dingin yang beku!”

Katja Heinenmann menaikkan kacamata tuanya. Ia melihat Klaus, salah satu profesor tua sekaligus pelanggannya yang setia, melepas mantel. Laki-laki itu baru pulang dari kampus tempatnya mengajar.

“Kopi susu, ya? Seperti biasanya.” Klaus menampilkan senyum lebar di antara wajah lelahnya.

“Aku juga punya kentang tumbuk dan sosis hangat.”

Klaus berpikir sejenak. “Bratwurst saja.”

Katja memang sudah tua dan tidak gesit lagi, tapi tidak perlu waktu lama baginya untuk menyiapkan pesanan. Sambil membawa nampan berisi makanan, ia keluar dari dapur dan menuju satu pojok favorit para pelanggan kedainya. Pojok dengan ukuran lumayan luas dengan rak buku raksasa dan dialasi karpet tebal. Ada juga beberapa meja kecil dan bangku bagi yang membutuhkan.

Klaus bersandar santai dengan buku tebal dalam genggamannya. Buku biografi Albrecht Dürer, pelukis Jerman abad ke-16 yang memadukan gaya ghotik Jerman abad ke15 dengan gagasan-gagasan Renaissance yang berkembang di Italia. “Penting untuk menjaga keseimbangan otakku, Frau. Mempelajari teknik membuat pesawat terbang canggih dan membaca perihal kesenian sekaligus.”

Klaus mengangguk ketika Katja meletakkan pesanannya. “Danke.” Secangkir kopi susu panas dan sepiring sosis hangat. “Bitte.” Katja berlalu. Klaus kembali sibuk dengan buku bacaannya.

Jalanan sepi. Lembaran daun kering terlunta-lunta tertiup angin September. Ranting tua pepohonan bergoyang sepi. Ini awal musim dingin yang menyedihkan. Bukan bagi dunia. Karena Jerman tak lagi suram semenjak proses reunifikasi tahun 1990 lalu. Tapi menyedihkan, setidaknya bagi Katja. Seperti ada melankoli yang berbeda.

Ini pasti karena usia. Oh, masa tua, keluh Katja sambil menyeduh secangkir teh mint bagi dirinya sendiri. Kalau saja ia masih 20 atau 40 tahun setidaknya akan cukup banyak alasan baginya untuk menghabiskan waktu dengan melakukan seabreg aktivitas. Sekarang apa yang bisa dilakukannya? Ketika usia telah menginjak angka 70 dan seluruh anggota keluarga telah pergi satu persatu? Suaminya telah meninggal. Kedua anaknya berpencar ke kota yang berbeda-beda. Saat-saat seperti ini ia selalu merasa kesepian. Musim dingin sendirian. Lalu musim semi yang dilanjutkan dengan musim panas. Pesta Biergarten.

Jantung Katja tiba-tiba terasa nyeri ketika ide biergarten iseng mampir di pikirannya. Pesta yang berhasil mengumpulkan ribuan orang untuk minum bir bersama-sama. Sekitar 1300 ahli bir didatangkan, dan 160 liter bir siap sedia untuk dihabiskan.

“Anda tidak minum bir?” tanya Katja muda heran. Ia menatap laki-laki berwajah Asia di hadapannya.

Nein.” Laki-laki itu menolehkan kepala. “Sebenarnya aku mencari air mineral kalau ada.”

“Kalau hanya untuk mencari air mineral, kenapa repot-repot datang ke sini?” Katja mengeraskan volume suara, mengalahkan suara riuh rendah di sekitar mereka. Ia mencondongkan tubuh.

“Aku hanya ingin merasakan suasananya,” jawab laki-laki itu sambil tersenyum. “Dan sekarang rasanya aku sudah cukup tahu. Mari.” Ia berpamitan dan meninggalkan kerumunan manusia yang memenuhi deretan meja dan kursi.

Katja menenggak sisa birnya. Lalu melompat cepat menyusul laki-laki asing itu. Ia masih muda dan merdeka, dan tidak pernah merasa bersalah ketika ingin melakukan apa yang dia mau. Yang diikuti sedang membelok ke salah satu minimarket dan tak lama keluar dengan sebotol air mineral. Laki-laki itu sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan. Katja berhenti dan merasa tidak tahu sebenarnya apa yang hendak dilakukannya. Ia hampir saja berbalik pergi ketika laki-laki itu memanggilnya. “Ternyata Anda lagi. Kebetulan sekali.”

Katja memutuskan untuk tidak jadi pergi. “Ada yang ingin kutanyakan.”

Bitte.”

“Kenapa Anda tidak mencoba bir? Sekadar menghilangkan rasa haus? Sekadar memenuhi rasa penasaran?”

“Karena aku tidak dianjurkan untuk minum alkohol.”

“Anda muslim?” tanya Katja memastikan. Ia punya beberapa teman dari India, Turki, dan Malaysia yang selalu mengatakan alasan yang sama.

Laki-laki itu mengangguk.

Itu artinya tidak ada alasan lain sedikit pun bagi Katja untuk bisa menggoyahkan keyakinan makhluk asing tersebut. “Apa Anda tidak kepingin tahu bagaimana rasa bir?”

Laki-laki itu diam sebentar. “Tolong katakan padaku bagaimana rasanya.”

Katja mengerutkan kening. Mencoba mengingat-ingat kenikmatan minuman yang masih tersisa di tenggorokan. “Ya. Sedikit pahit. Setidaknya kau akan bergidik karena rasa pahit. Sedikit manis. Kau bisa mencecap sisa-sisanya yang tertinggal di lidah. Dan rasa seperti terbakar di tenggorokan. Lalu tubuhmu akan terasa hangat. Rasanya seperti menyebar perlahan-lahan di dalam tubuh.”

“Sekarang aku sudah tahu rasanya minum bir,” kata laki-laki itu pelan.

Katja terdiam. Cara yang bagus untuk menjawab. Namun membosankan.

Bel yang dipasang di pintu kembali berkelinting. Katja tua menghentikan lamunannya. Ia bergegas keluar dapur. Suami istri Henkel duduk di kursi sambil menggosok-gosok telapak tangan mereka yang dingin. “Nekad sekali,” sapa Katja.

Pak Henkel menoleh. “Begitulah. Istriku yang sudah tua, namun keras kepala ini sudah sangat kepingin mampir.”

“Aku ingin sup sapi. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun tidak makan sup resep orang tuamu.” Bu Henkel mencoba membela diri. “Dua rindfleischsuppe dan dua cokelat panas.”

“Mudah-mudahan sop dan cokelat itu bisa menolak penyakit masuk angin,”gerutu Pak Henkel.

Katja baru saja menuang sup resep orang tuanya ketika bel pintu kembali berkelinting. Ia keluar dari dapur sambil membawa semangkuk sup. Langkahnya terhenti ketika melihat laki-laki yang beberapa bulan lalu ditemuinya di pesta bir.

“Hai.” Laki-laki itu pun seperti kaget. Ia lalu tersenyum demi melihat Katja.

“Selamat datang!” seru ibu Katja dari balik meja kasir.

Katja muda tersadar. Ia mengantarkan sup pesanan pelanggan kedai sebelum mampir ke meja laki-laki itu.

“Mau pesan apa?”

“Di sini tersedia menu kotellete?”

“Kebetulan tidak.” Katja mengerutkan kening. “Kau bisa memesan cokelat, kopi, atau sup daging sapi.”

Laki-laki itu memesan secangkir kopi panas. Ketika Katja kembali membawa pesanan, laki-laki itu sudah tenggelam dalam pekerjaan menulisnya. Beberapa buku tebal tertumpuk memenuhi meja. Sebagian terbuka di halaman tertentu. “Sibuk sekali,” komentar Katja yang bingung harus meletakkan cangkir di sebelah mana.

Laki-laki itu mendongakkan kepala. Buru-buru ia menggeser buku, memberi tempat. “Aku sedang mengerjakan tugas akhir. Beasiswaku akan dihentikan beberapa bulan lagi. Kalau aku tidak bersegera, wah….”

“Aku tidak akan mengganggumu.” Katja meletakkan cangkir kopi.

“Aku tidak merasa terganggu.” Laki-laki itu tersenyum. “Frau, buku apa saja yang ada di rak itu?”

Katja menoleh ke arah yang ditunjuk. “Cuma sekadar rak tua. Beberapa roman milik ibuku, dan tumpukan koran harian yang lama dan baru. Anda bisa membaca koran hari ini.”

“Ah, nein.” Laki-laki itu menggeleng. “Aku hanya kepikiran sesuatu. Seandainya anda menambahkan beberapa buku lagi dan menghamparkan karpet tebal. Itu akan menjadi pojok yang menyenangkan.”

Katja terdiam beberapa saat. “Akan kupertimbangkan.”

Katja tua meletakkan dua mangkuk sup dan cokelat di antara pasangan Henkel. Ia kembali disergap rasa muram ketika kembali ke dapur. Melalui jendela ia memandang jalanan di luar. Begitu sepi. Begitu menyedihkan. Mungkin beberapa hari lagi jalanan itu akan segera mati ketika hujan deras turun berhari-hari.

Hati Katja tertusuk perasaan ngilu.

Bel di pintu berkelinting.

Katja muda melongokkan kepala keluar dapur. Siapa yang nekat menembus hujan deras seperti ini? Laki-laki berkulit eksotis itu menggigil kedinginan ketika melepas mantel tebalnya. Ia menyimpan payung yang basah di kotak penyimpanan di belakang pintu.

“Selamat datang,” seru ibu Katja. “Cokelat panas, ya? Aku takut Anda terserang influenza.”

Ja, Frau. Danke,” jawab laki-laki itu dengan suara sengau.

“Nekat sekali,” komentar Katja ketika akhirnya meletakkan secangkir cokelat dan semangkuk sup panas. Sup itu bonus.

“Entahlah.” Ia mengangkat bahu. “Aku hanya ingin kemari sebelum besok pulang ke rumah.”

“Pulang?” Itu berarti tidak ada lagi kunjungan menjelang sore hingga malam. Dua cangkir kopi panas, semangkuk sup, dan tekun mengerjakan tugas akhir. Dengan cara yang tidak dapat dijelaskan, hati Katja merasa kehilangan.

“Aku telah lulus ujian.”

Katja mengangguk.

“Dan kupikir, kedai kopi ini turut berjasa membantuku menyelesaikan tugas akhir. Itulah kenapa aku memaksa diriku kembali lagi ke sini.”

Katja terdiam. Ia kembali masuk ke dalam dapur. Semacam perasaan kehilangan itu mampir di hatinya. Secara tidak sadar perlahan-lahan dalam diam ia menikmati kehadiran laki-laki berkulit sawo matang selama dua bulan terakhir. Wajahnya yang serius ketika menulis, membaca buku, atau mencoret-coret bagian penting dalam bukunya.

Katja tidak keluar dari dalam dapur ketika laki-laki itu membayar pesanan.

“Ah, Indonesia!?” seru ibu Katja. “Pasti di sana tidak ada sup sapi seenak buatan di sini!”

Laki-laki itu tertawa sopan. Lalu berpamitan.

Melalui kaca jendela dapur yang sedikit buram, Katja melihat laki-laki itu menembus hujan di bawah payung yang digenggamnya erat-erat. Tubuhnya sedikit menggigil kedinginan. Kecipak air di sepanjang trotoar sudah pasti membasahi sepatunya.

Katja mendesah pelan. Indonesia. Negara carut marut itu ternyata masih menyisakan satu sosok yang bisa-bisanya membuat hatinya merasa kehilangan.

“Menjelang musim dingin yang beku ya, Frau,” kata Klaus sambil membayar pesanan.

Ja, Profesor. Entah kenapa selalu saja terasa menyedihkan.” (*)

.

.


.

Catatan

Heute Herbst: musim gugur kali ini.

Kotellete: babi.

Rindfleischsuppe: sup daging sapi.

Minggu, 04 September 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Koran Tempo, Minggu, 28 Agustus 2011

JAUH-JAUH rumpun ialang, buah para di lengkung papan. Sungguh riang gadis berdendang, pemuda tampan di kampung halaman.

Itulah yang dirasai Bunga Raya, putri tunggal seorang duda. Semua bukan tanpa alibi, bujang itu adalah Sakiaki. Beberapa hari belakangan, ia selalu jadi pikiran. Di beberapa kesempatan, ia menyelinap dalam perbincangan. Tak hanya oleh kerumunan perawan, tapi juga ibu-ibu yang mulai beruban. Ada yang bilang ia titisan Yusuf. Ada yang menduga ia Malaikat yang menyusup.

Bagai selaras dengan wajah yang simpatik, ia pun dikenal berbudi baik. Ia sangat rajin sembahyang, tegak lurus dengan sifatnya yang penyayang. Bila azan ia kumandangkan, bagai berdenyar telinga yang mendengarkan. Bukan karena sumbang bunyi panggilan, namun merdu nian ia dilagukan. Tak heran bila dalam beberapa putaran, masjid ramai oleh para perempuan. Entah bagaimana semua bermula, ini bukan isapan jempol belaka. Imam masjid sempat terperangah, namun tak kuasa mencuat tanya. Baginya, kerumunan jamaah di rumah Tuhan, pertanda baik bagi kehidupan. Walau akhirnya ia paham, bahwa keberadaan Sakiakilah yang menyebabkan.

Sang Imam kerap mengingatkan, agar sang bujang tak lupa daratan. Banyak-banyaklah bersyukur kepada Tuhan, pesannya dalam sebuah kesempatan. Jadikanlah kerupawanan, keterampilan, dan kesantunan, untuk menawan sesiapa ke jalan Tuhan. Jangan ada pemilahan! Baik lelaki ataupun perempuan. Baik muda maupun tua. Baik belia maupun manula.

Sebagaimana biasa, tak pernahlah Sakiaki membantah. Baginya setiap nasihat, adalah laba kehidupan yang berlipat. Takkan kutolak mutiara yang dihadiahkan cuma-cuma, bisik hati kecilnya. Maka, makin rajinlah ia beribadah. Tak pernah alpa karena lalai ataupun lelah.



JAUH-JAUH rumpun ilalang, buah para bertangkai lima. Jangan cibir cinta yang datang, kelak kau akan terperangah.

Sakiaki adalah orang datangan, tukang azan kesayangan imam. Ia mengajar mengaji, ketika magrib sudah permisi. Banyak anak kampung yang menjadi muridnya, mereka gembira karena sang guru baik hatinya. Sakiaki tak pernah membawa rotan saat mutaba’ah, mengulang hafalan surat-surat juzamma.Ia jua kerap bercerita, berbagi hikmah kepada murid-muridnya:

Jadi bujang bukanlah centeng. Anak gadis janganlah cengeng.

Benarlah janji Tuhan, tak ada amal tanpa imbalan. Setiap usaha yang berkat, mengundang hadiah untuk mendekat. Sakiaki seolah tak perlu memikirkan makan. Ada-ada saja yang datang menyuguhkan. Saban pagi, siang, dan petang; ibu-ibu bagai bergantian membawa rantangan. Ia jua tak perlu risau perihal pakaian, tak sedikit wali murid menghadiahinya katun jahitan. Bahkan dalam beberapa waktu yang cerlang, ada-ada saja yang memberinya sejumlah uang.

Ai, alangkah riang si Sakiaki, hatinya senang sepanjang hari. Senyum merekah kepada sesiapa yang ditangkap mata. Salam tak alpa ia ucapkan, untuk mereka yang bersua di jalanan. Sakiaki sangat cakap membawa diri, sebagaimana pesan orangtuanya di suatu hari:

Di bumi mana pun kau bergantung, di situ langit harus kaujunjung.

Berbilang masa, Sakikaki masyhur karena tabiatnya. Ya, bukan hanya karena kemerduan suara kala berazan, tapi juga kepandaiannya memelihara kawan. Bukan hanya karena wajah yang rupawan, tapi juga keramahannya kepada orang-orang. Bukan hanya karena kedalaman ilmu dan wawasannya, tapi juga kerendahan hati dalam menyembunyikannya.

Seolah mendapat bisikan Tuhan, beginilah yang dilakoni para orangtua—dan dalam perkara ini, ibu-ibulah yang dapat diandali:

Bila hendak mengantar rantangan, mereka selalu didampingi anak perawan.

Entah bagaimana, Sakiaki seolah tak pernah besar kepala. Ah, bagaimana ini layak dibahasakan: Sakiaki menganggap apa-apa yang tampak di hadapan adalah isyarat agar ia tak kerap menabur harapan, atau si ibu yang tak pandai memilih waktu menjaring menantu, atau Sakiaki yang terlalu dini berbesar hati ....

Tentu Sakiaki takkan meremehkan serangkaian gelagat. Ia hanya berisyarat seolah belum berniat kawin cepat-cepat (sungguh, bila hendak diperturutkan, sangat ingin Sakiaki membuat ikatan. Usianya sudah dua tiga, sangatlah ranum untuk menikah. Apalagi gadis-gadis yang yang ditangkap pandang, kebanyakan sudah menanti untuk dipinang).

Tak banyak yang tahu. Hati Sakiaki sudah tertaut, dengan seorang gadis yang bertutur lemah lembut. Gadis itu ia lihat tak sengaja, di sebuah pasar yang digelar pagi Selasa. Kala itu, bersama ayahnya yang juga petinggi puak, lenggok suara gadis itu membuat telinga dan mata sesiapa jadi terbuka. Bila ayahnya memetik gitar, cengkok suaranya membuat hati bergetar. Bila ayahnya melempar sampiran, sang Gadis membalas dengan makna yang berikatan. Mereka adalah sepasang pemantun yang santun. Sepasang penampil yang sangat terampil. Dan karena semua itu, tekad Sakiaki bertalu-talu. Ia bagai mabuk oleh cinta pertama, cinta yang dulu ia anggap bualan belaka.

Ai, Bunga Raya! Tunggulah! Abang ’kan datang untuk mengkhitbah!



JAUH-JAUH rumpun ialang, buah para dagingnya lekat. Alangkah malang nasib si bujang, diri sebatang diperangkap adat.

Ai, penting niankah asal usul seseorang, hingga ia harus ditimbang dalam pinangan? Maka, berkelitlah serombongan ibu, yang kerap mengantar rantangan ke rumah itu; rumah Sakiaki yang tak paham perkara; kenapa tak pernah lagi anak perawan menyertai mereka. Ibu-ibu memang masih kerap memerhatikannya, namun Bunga Raya mendapati ada yang berbeda. Pernah tak sengaja ia mendapati pergunjingan, Sakiaki dan anak-anak gadis mereka dikunyah bagai kudapan. Dalam diam, Bunga Raya kerap bergumam. Ah, ibu-ibu memang senang membuang waktu, untuk perkara yang faedahnya belumlah tentu. Aneh pula Bunga Raya mendengar apa yang mereka ributkan; Sakiaki bukan keturunan Melayu sebagaimana kebanyakan! Dan di pasar ini, bakda berpantun dan menyanyi; Bunga Raya kembali merasa ganjil, mendengar pergunjingan di sebuah kedai kecil.
”Oi, Mak-mak yang berkumpul di siang kemarau, dengarkan pantun untuk hati yang risau.”

Seombongan perempuan berumur, menyerbu dan berbaur.

”Pisau Suang Pisau Pelawan, dipakai untuk menebas mayang. Sungguh malang nasib perawan, meneguk liur mengharap bujang!”

”Ai, Siti Maimunah nan pandai bercakap, tahu nian kalau perawan kami tengah meratap.”

”Apakah ada yang bisa bermaklumat, sejak kapan adat mencekik bujang santun nan memikat?”

”Tak usah kau bertanya bagaimana api ’kan padam, bila air liur yang kaupakai untuk meredam?”

”Ya, Mak Jamidan, kita hanya merutuki kemalangan. Kau tentu paham ke mana percakapan tertuju: Sesiapa akan bangga bila Sakiaki jadi menantu.”

”Dari kabar yang melintang-pukang, ada angin sejuk yang berlabuh di ujung pedang. Keliru nian orang-orang yang bilang, kalau Sakiaki bukan Melayu kebanyakan!”

”Apa maksudmu, Cik Kumu?”

Cik Kumu tersenyum sembari melempar pandang. Senang nian ia mendapati orang-orang dililit penasaran.

”Bukankah ayahnya orang pulau seberang?”

”Atau itu hanya kabar sembarang?”

”Jangan terlalu lama racun dijerang. Hari ini sudah siang. Lekas beritahu kami sekarang!” Seorang ibu mulai berang.

Cik Kumu memberi isyarat; yang hendak beroleh kabar harap merapat!

Tak ingin melewatkan kesempatan, segeralah Bunga Raya mendekati kerumunan. Tentu tak mungkin ia bergabung; tak lazim anak gadis menyumpil di antara mulut kecubung—demikian mak-mak itu beroleh sebutan. Lamat-lamat Bunga Raya memasang telinga; sudah kenyang ia dibekap tanda tanya. Ia berharap beroleh kabar gembira, bahwa ada pasal yang dapat memuluskan rencana. Ya, dari lubuk hati terdalam, sebagaimana perawan kebanyakan, sangatlah ingin Bunga Raya disunting si bujang, tukang azan yang tengah diperkarakan. Mulut Bunga Raya komat-kamit, seolah tengah mengirim doa ke langit. Ya, Bunga Raya bagai baru menyadari, banyak yang terpikat kepada pujaan hati. Pikirannya tiba-tiba mengembara, pada beberapa karib seusia. Fatimah anak Haji Sukur, gadis ramah berkulit kuning kencur; Malacanang anak Mang Ramang, kakinya jenjang, berambut panjang; atau Saipit Zubaedah binti Wak Mahar, selain kulit sawo muda, tutur katanya sejuk didengar. Ah, setiap anak gadis pasti memesona, termasuk aku yang pandai bernyanyi dan merangkai kata, batin Bunga Raya tak mau kalah. Ya, pertunjukan yang digelar Bunga Raya dan ayahnya saban Kamis dan Selasa, membuat sesiapa tahu kalau bernyanyi dan berpantun adalah kepandaiannya (Bunga Raya benar-benar mewarisi darah sang Ayah, seorang seniman serbabisa).

Apakah Sakiaki menyukai gadis pemantun?

Apakah Sakiaki suka mendengarkan bait-bait lagu dilantun?

Wajah Bunga Raya tiba-tiba merah kembang sepatu, perasaan resah dan gembira berpadu menjadi satu. Oh, semoga saja Tuhan tengah riang, betapa aku ingin disunting ia seorang.

O o! Bunga Raya tercekat. Bagai terlupa untuk apa ia mendekat. Segera ia lepas khayalan. Tak guna bila semua masih angan-angan. Pendengaran Bunga Raya kembali awas. Ia harap tak ketinggalan kabar nan panas. Ketika mendapati pergunjingan masih diulur-ulur, ia mengela napas bagai bersyukur. Hmm, Bunga Raya berhikmat di waktu yang mustajab!

”Ayah Sakiaki memang orang pulau seberang, tapi takkah kalian berpikir tenang-tenang ...?”

”Jangan memanjangkan tali kelambu, Cik!”

”Bila masih kaubolak-balik, jangan menyesal bila kau kami cekik!”

Cik Kumu terperanjat, serta-merta ia teguk liurnya yang sepat (Bunga Raya bersetuju, dengan ancaman perempuan-perempuan itu. Ia juga jengah, melihat Cik Kumu masyuk bertingkah). Cik Kumu pun menganggukkkan kepala. Tanpa mukadimah. Tergesa-gesa. Ia utarakan perkara yang dianggapnya rahasia ....



JAUH-JAUH rumpun ialang, buah para dalam berangan. Hancur hati para perawan, bujang pujaan digapai jangan ....

Alamak jan! Bengak-nya kau, perempuan! Seolah menunjukkan mutiara, padahal tak lebih hanya sebongkah suasa!

Ya, Cik Kumu dirundung cerca. Wajahnya masai tiada terkira. Perempuan-perempuan itu bagai baru tahu, dalam tubuh Cik Kumu tidak mengalir darah Melayu. Ai, manalah paham ia tentang adat, manalah tahu ia tentang syarat yang mengikat! Lagak Cik Kumulah yang membuat mereka naik pitam. Ia seolah memegang rahasia kerajaan, padahal pengetahuannya umpama air dalam genggaman.

Gila babi nian kau, Cik Kumu! Walaupun ibu Sakiaki berdarah Melayu, takkan memengaruhi nasab bujang pujaanku! Bunga Raya bermuram durja, kabar yang diharap justru mengantar sekantung kecewa.

Bunga Raya pulang. Perasaannya tak tenang. Baru selangkah memasuki kamar, di tepi jendela ia dapati setangkai mawar. Sepucuk surat warna hijau muda, tergeletak tak jauh di dekatnya. Oh, Bunga Raya bagai bermimpi, mendapati nama Sakiaki diukir dengan dawat merah hati. Baru saja hendak ia hikmati, Ayahnya datang menghampiri. Lekas ia melipat tangan di balik kain. Betapa degup jantungnya kini terasa lain.

Bunga Raya tersenyum cerah. Disapanya sang ayah dengan ceria. Ya, ia tak ingin tertangkap basah, sebagai gadis yang tengah diikat asmara. Ai, merah genteng kini wajahnya, malu nian diolok perasaan yang membuncah. O o, tiba-tiba terbersit di pikiran, Bunga Raya hendak melunaskan kegelisahan.

”Batang pala di tepi jalan, buahnya dipetik untuk manisan. Bila Ayahanda tengah berkenan, bolehkah kulayangkan setangkai pertanyaan?”

”Buah pala untuk manisan, dimakan oleh anak perawan. Bila Ayahanda boleh pastikan, setangkai pertanyaan atau serumpun kegelisahan?”

Bunga Raya bagai menjelma setangkai putri malu, yang bila disentuh daunnya mengatup menjadi satu. Apakah sang ayah menangkap kegelisahannya, ataukah ia hanya sembarang menebak saja. Bunga Raya tak hendak bermain dengan kira-kira. Baru saja hendak ia rangkai sampiran, ayahnya sudah memanjangkan dugaan ....

”Sebagaimana kau, tentu Ayah pun galau.” Kata-kata ayahnya seolah menunjukkan, bahwa ia sudah tahu apa yang Bunga Raya pikirkan.

Bunga Raya diam saja. Berdebar-debar kini dadanya. Menanti-nanti kata selanjutnya ....

”Galau oleh mak-mak yang bermulut delapan, seolah tak ada kerja selain berbincang-bincang.”

Bunga Raya masih diam. Menebak-nebak ke mana ayahnya menggiring percakapan.

”Namun begitu, sangatlah aku bangga kepadamu. Pun arwah ibumu, akan bersepakat denganku. Ayah tak pernah memberikan tukang azan itu sesuatu, apalagi sampai membawa-bawamu ke situ. Dan kini, Ayah bersyukur sepenuh hati. Kau tentu tidak seperti mak-mak itu. Kau tidak setali tiga uang dengan anak perawan yang seolah kekurangan bujang di kampung halaman, bukan?”

Bunga Raya menunduk. Kegalauannya bersitumpuk.

”Para petinggi puak telah memufakati beberapa putusan perihal Sakiaki. Selain karena bukan peranakan Melayu asli, ia jua telah meresahkan bujang-bujang dan para suami. Anak perawan mereka tak henti membincangkan Sakiaki, sebagaimana sang istri bermimpi memiliki menantu yang baik hati. Ai, rusaklah panggung adat, bila diturut nafsu keparat!”

Bunga Raya mendongak. Dadanya tiba-tiba terasa sebak.

”Dari beberapa putusan, satu saja yang rasanya perlu kusampaikan....”

Bunga Raya meneguk liur. Perasaannya kian berkesiur.

”Sakiaki harus pergi dari kampung ini!”

Bunga Raya membelalak serta-merta. Apa yang ia dengar sungguh sukar diterima.

”Syukurlah Sakiaki tahu diri. Pagi tadi ia sudah angkat kaki!”

Bunga Raya benar-benar tercekat. Surat di tangan ia genggam erat-erat. Sungguh, ia belum tahu, apa yang Sakiaki tulis di situ. Ia sangat berharap, tertera nama sebuah tempat. Tempat di mana Sakiaki sudah menunggu, sebagaimana ia yang sudah siap-siap ke menyerbu .... (*)


Lubuklinggau, 2011

Rabu, 06 Juli 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alizar Tanjung
Dimuat di Koran Tempo, 3 Juli 2011


“KITA akan menjadi akar, Sayang. Kemudian berurat ke dalam tanah. Terus menuju inti bumi. Menjadi akar tunggang yang tidak terduga-duga.”

Kemudian kamu berdiri memeluk tubuhku dari belakang. Jilbabmu mengenai pundakku.

“Kita akan diselimuti akar serabut. Akar itu makin lama makin menyebar dan membesar dan kita benar-benar telah menopang batang yang kokoh. Kemudian kita terkurung dalam tanah. Lambat laun menjadi tanah.”

Tubuh kita menggigil terkena angin malam. Diam-diam kita telah menjadi sepasang makhluk yang mesra. Cahaya bulan cemburu. Pohon-pohon yang seperti hantu di lereng tebing Gunung Talang membuat segala sesuatu begitu dekat, begitu akrab.

“Sekarang kita masih manusia. Kita memiliki sepasang kaki, sepasang tangan, sepasang mata, sepasang telinga, satu mulut, satu hidung, dan satu kepala. Lengkapnya tubuh yang sempurna. Lengkap dari apa yang Abang bayangkan,” katamu. “Segala yang ada sempurna menjadi milik kita. Kecuali, ya, kecuali hanya tubuh kita yang milik Tuhan.”

Tanganmu masih berdiam di lingkaran pinggangku.

“Kau tidak akan mengerti, Sayang. Hidup begitu sempurna. Hingga kita tenggelam dalam kesempurnaan.”

“Hsss,” katamu. Jemarimu yang menempel di dua bibirku. Tangan itu telah lebih dahulu menjadi akar-akar kayu yang berserabut. Lebih dari apa yang aku bayangkan. “Dengarkan! Ada sesuatu yang bicara dengan kita. Sesuatu yang amat sempurna di balik daging kita.”

Kita kemudian terdiam. Lama.

“Tidak ada, Sayang.”

“Percayalah. Sesuatu yang membisik kepada kita!”

Kita diam.

“Tidak ada, Sayang. Itu hanya suara angin.”

“Suara daging.”

“Ya, suara daging, Sayang. Suara daging yang bercerita.”

“Coba Abang duduk?” katamu menarik dua tanganku sambil memutar badanku. Lalu mendudukkan aku di kursi yang membelakangi jendela yang terbuka. Kau duduk bersimpuh di depanku.

“Di mana kau mendapatkan jilbab secantik ini? Jilbab hitam yang sesuai dengan malam.”

“Tidak penting, Abang. Hal terpenting, aku tampil anggun di depan Abang.”

“Sudahlah kalau begitu.”

“Percayalah Abang kita masih sepasang manusia. Kita sepasang manusia yang melebihi kesempurnaan malaikat dan bidadari.”

“Aku tidak percaya, Sayang.”

“Kenapa?”

“Aku telah lama menjadi akar kayu.”

“Aku tidak percaya.”

“Aku telah menjelma jadi akar tunggang dan akar serabut. Aku telah menembus inti bumi. Telah aku temukan mata air.”

“Barangkali hanya mimpi. Saat ini Abang benar-benar menjadi manusia yang sempurna.”

“Kemudian aku menjelma jadi akar yang semakin lama semakin keras dan dalam, semakin lama semakin bercabang. Abadilah aku menjadi akar.”

“Abang sebaiknya duduk dengan tenang. Coba Abang rasakan degup jantungku. Ada suara halus yang begitu sempurna dan tulus.” Kamu merabakan tanganku ke dadamu.

“Aku masuk dalam serat-serat batu. Menembus dari tanah-tanah keras. Masuk lebih jauh menembus kegelapan.”

“Hsss.” Kamu merapatkan dua cinta bibirmu. Kita diam. Aku merasakan kehangatan balutan jilbabmu. Kita sepasang akar kayu yang makin lama makin menyatu. Kamu menyelinap ke dalam hatiku sebagai sayap putih.

“Abang,” katamu memegang dua tanganku.

Dua tanganmu terasa sangat halus. Aku pernah memegang pucuk daun kulitmanis. Ayah dahulu suka memintaku mengambil pucuk kulitmanis yang bewarna merah hati ayam. Pucuk muda. Pucuk itu untuk benda bermain adikku. Adikku akan sangat suka merobek-robeknya. Kemudian ia akan memintaku, melalui ayah, untuk kembali mengambilkannya. Oh, Sungguh lembut pucuk itu. Kelembutan kulitmu melebihi kelembutan pucuk kulitmanis.

“Aku sungguh menikmati malam ini, Abang. Burung-burung melintasi bulan. Sayapnya menari di antara bulat bulan. Kabut-kabut menjelma melati dan anggrek putih dalam bulan.”

“Oh, Sayang, kau saksikanlah. Tanganku telah mulai berakar. Akar itu tumbuh dari sela-sela jari. Akar-akar itu tumbuh serabut dan berjuntai-juntai. Tidakkah kamu saksikan tanganku yang mulai berbentuk kayu. Mengeluarkan aroma batang kulitmanis. Aroma itu menyibak jilbabmu.”

“Tidak, Abang. Tangan Abang tetap kuning langsat. Seperti kulit orang-orang kita. Tangan Abang memiliki kelenturan kabut bulan. Percayalah Abang. Jemari Abang seperti jemari yang pernah mengeluarkan air susu untuk nabi Ibrahim.”

“Perhatikanlah, Sayang. Kakiku mulai bertumbuh akar. Tidakkah kau lihat akar-akar itu telah melilit betis dan pahaku. Akar-akar itu menjalar dan melingkar serupa ular. Akar itu bercabang-cabang dan terus membiak. Betapa akar-akar itu telah kayu. Ia telah mulai menembus lantai dan mencari tanah. Akan terus semakin dalam dan sebentar lagi memaku diriku di kursi ini, Sayang.”

“Abang, lihatlah kaki Abang tetap utuh berjuntai di kursi ini. Kaki Abang akan tetap lentik, bagaikan kaki burung elang yang bebas Abang bawa terbang tinggi kapan pun Abang mau. Rambut kaki Abang, bulu kaki cendrawasih. Tentulah akan tetap menawan.”

“Tidakkah kau perhatikan, Sayang, kini seluruh tubuhku adalah akar yang menjulai-julai? Rambutku adalah rambut-rambut akar serabut. Dari mataku telah keluar dua akar yang sama-sama mencari tanah. Mataku telah melekat pada akar. Tinggal mulutku yang tetap bicara padamu, Sayang.”

“Abang, kau bermata hitam cantik. Bertitik putih mutiara di tengahnya.”

Kemudian kita berbicara bisik-bisik. Hanya hati kita saja saling mendengar. Dan akar itu telah menjalar kepadamu. Aku terkesiap melihat tubuhmu yang mulai berubah. Tangan-tanganmu menjelma akar. Jemari-jemarimu jadi akar yang mencari tanah menembus lantai. Dua kakimu menjadi akar tunggang yang menyatu. Dalam sekejap hidung, mata, kepalamu telah pula menjadi akar. Apa kau tidak menyadari kesempurnaan telah mencukupkan takdir kita?

“Ah, Sayang kita berdua telah sempurna menjadi akar. Tapi apa gunanya akar kayu tanpa ada batang.”

“Untuk apa gunanya batang, Abang? Batang hanya melihatkan kepongahannya saja. Batang mengeliat-ngeliat kepada langit. Kemudian menunjuk-nunjuk kepada angkasa, seolah akan ia menembus cakrawala. Padahal ia hanya setinggi pucuk daun.”

“Batang bagian dari akar, Sayang. Batang yang melahirkan akar.”

“Bukankah tubuh kita yang telah melahirkan akar. Tanpa akar tidak akan tegak batang. Batang hanya bagian dari simbol kecil kehidupan atas. Kemudian batang akhirnya akan lapuk dan kembali kepada tanah.”

“Tanpa batang tidak akan ada akar.”

“Batang telah cukup dengan tubuh kita, Abang.” Jilbabmu meliup-liup di atas akar. Sebentar-sebentar dibalut dingin angin malam. Kemudian kita berdiam untuk sesaat. Tubuh kita makin merapat. Kaki kita menyatu menjadi akar tunggang yang semakin besar dan dalam.

“Sangat ibalah daun dan batang, Sayang. Batang akan mati, daun akan gugur. Terpisah batang dan daun. Daun jatuh ke bumi meninggalkan batang dan ranting. Batang dan ranting tidaklah kita izinkan di akar kita.”

“Duhai Abang, batang dan daun adalah pecinta siang. Sebab itu bergerak ke matahari. Kita adalah pecinta malam, sebab itu kita bergerak ke dalam gelap bumi. Aduhai kasihanlah kita yang jadi akar, Abang.”

“Beruntunglah kita, Sayang. Kita tetap lembab dan tumbuh menjalar dalam.”

“Tersiksalah kita menembus keras tanah dan batu.Tersiksalah kita karena lembab tanah dan dingin air.”

“Itu sudah takdir, Sayang.”

“Oh, betapa Abang yang penyabar sekarang. Mari kita terus menjalar dan mengakar, Abang. Tunggu sebentar, Abang. Bagaimana kiranya kalau kita dipisahkan batu atau para penggali lubang?”

“Maksudmu penggali batubara atau pembuat terowongan jalan kereta api bawah tanah?”

“Sejenisnya.”

“Oh, jangan kau baca itu, Sayang. Kau tahu….”

“Hsss.” Kamu merapatkan akar tanganmu ke akar bibirku.

“Bagaimana kalau itu terjadi. Oh, sempurnalah menjadi akar yang tersiksa. Kita lari dari kemanusian karena tersiksa atas kesempurnaan.”

“Itu hanya andai-andai, Abang. Kita akan semakin dalam ke dalam inti bumi. Tidak akan ada yang akan menggangu. Kecuali….”

“Kecuali apa, Sayang?”

“Kecuali, kecuali kita sempurna jadi akar. Kita akan bertemu panas bumi. Kita lumat jadi abu.”

“Oh, Sayang. Atas kesempurnaan akar pulakah kita akan menjadi abu?” (*)

.

Minggu, 17 April 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Noor H. Dee
Dimuat di Koran Tempo, 17 April 2011

PENULIS itu mencopot kedua tangannya dan membuangnya ke tempat sampah. Kedua tangannya menggelepar sebentar lantas diam seperti tangan orang pingsan.

Ia mencopot kedua tangannya begitu saja. Tidak dengan pisau dan semacamnya. Tak ada darah yang membuncah dan semacamnya. Tak ada luka yang menganga dan semacamnya. Ia memperlakukan tubuhnya seperti lego yang dapat dicopot dan dibuang semaunya.

Ada kegetiran yang begitu abstrak, yang tak bisa ia katakan, dan ia mengerti bahwa sejak dahulu kata-kata memang seperti itu: tidak pernah bisa diandalkan untuk menjelaskan segala hal. Kata-kata hanyalah sebuah usaha untuk mendekati kebenaran, tapi selalu berhenti di titik hampir. Ia mengerti sekali akan hal itu.

Ia sudah bertahun-tahun menjadi penulis. Setiap detik ia selalu bergumul dengan kata-kata yang tidak pernah setia: menemukannya, mendedahnya, membongkarnya, dan meragukannya. Itu sebabnya ia tidak tahu mesti berkata apa ketika menyaksikan kedua tangannya teronggok di tempat sampah. Seperti kesedihan tapi bukan itu, seperti kebahagiaan tapi itu pun masih kurang tepat. Entahlah. Ia hanya bisa diam, dan ia merasa betapa diam ternyata masih lebih baik dari segala macam kata yang pernah manusia temukan. Alasan mengapa ia membuang kedua tangannya ke tempat sampah cukup sederhana: ia tidak ingin menulis lagi.

Sebenarnya sudah lama sekali ia ingin berhenti menulis. Pena dan kertas telah ia buang, laptop-nya telah ia hibahkan kepada kekasihnya yang gemar berkata-kata kotor, dan buku-buku yang sekiranya dapat membangkitkan gairah menulis sudah ia bakar di halaman belakang dengan menggunakan beberapa batang korek api dan setengah liter minyak tanah. Tidak lupa, hampir setiap malam ia juga selalu memohon kepada Tuhan yang selama ini sering ia khianati, agar bakat menulisnya segera dicabut sampai ke akar-akarnya. Dan, hasilnya adalah setiap malam ia harus menderita sakit kepala.

Ia kesal karena seluruh usahanya selalu gagal. Ia masih tetap terus menulis. Ia menulis di pintu kulkas, di layar telepon genggam, di bak kamar mandi, di bantal, di cermin, di lipatan baju, di kalender, di meja makan, di sepatu, di kantung celana, di permukaan piring, dan di kaca jendela yang jarang sekali terbuka. Bahkan ketika sedang tertidur pun ia masih mampu menyelesaikan dua buah cerita pendek di selimut tebal tempat ia biasa bersembunyi dari dinginnya malam. Ia juga tidak tahu mengapa semua itu bisa terjadi. Ia tidak mengerti mengapa ia masih terus saja menulis. Karena bingung mesti berbuat apa lagi, sedangkan kegiatan menulisnya tidak juga kunjung berhenti, tanpa pikir panjang lagi ia langsung mencopot kedua tangannya untuk kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Ia berhenti menulis karena ia merasa menulis adalah perbuatan yang percuma. Ia sudah menulis ribuan puisi, ratusan cerita pendek, dan puluhan novel. Belum lagi ditambah dengan beberapa artikel dan essai yang pernah dimuat di beberapa majalah dan surat kabar nasional. Banyak orang yang kemudian mengidolakannya, memborong semua karya-karyanya, bahkan ada yang sampai tergila-gila begitu rupa kepadanya. Ia memang hanya penulis, tapi popularitasnya sudah hampir sama dengan para selebritas. Setiap kali ia meluncurkan buku baru, berbagai jenis manusia dari berbagai jenis penjuru berbondong-bondong memadati ruangan acara itu. Semula ia memang jumawa dengan semua itu. Namun akhirnya ia sadar, bahwa ternyata semua itu adalah percuma.

Semua itu bermula dari pertanyaan sederhana yang terlontar dari mulut seorang gadis pada saat acara peluncuran bukunya sedang berlangsung, “Apa artinya menulis jika tulisan kita tidak mampu mengubah apa pun?” Pertanyaan sederhana itu ia jawab dengan lancar.

“Menulis adalah semacam katarsis, yang dapat membebaskan kita dari kejumudan.” Ia juga mengatakan bahwa seorang penulis bukanlah nabi, yang diutus Tuhan untuk mengubah suatu kaum. “Tugas seorang penulis,” ujarnya melanjutkan, “bukanlah untuk mengubah keadaan, melainkan hanya ingin mengabarkan tentang segala hal yang sedang terjadi di depan mata kita secara apa adanya.”

Semua yang hadir dalam acara itu mengangguk-angguk, merasa takjub, untuk kemudian bertepuk tangan bersama-sama.

Tidak ada yang tahu bahwa sesampainya ia di rumah, ketika ingin beranjak tidur, pertanyaan itu masih terus membututinya: apa artinya menulis jika tulisan kita tidak mampu mengubah apa pun? Keesokan harinya pertanyaan itu kembali terngiang di benaknya. Di hari-hari berikutnya pun demikian. Sampai akhirnya penulis itu lelah, dan mulai merasa gelisah.

Apa artinya menulis jika tulisan kita tidak mampu mengubah apa pun?

Penulis itu gelisah bukan kepalang. Semula ia tidak peduli dengan pertanyaan sepele itu. Semula ia menganggap bahwa tugas seorang penulis ya hanya menulis saja.Titik. Tidak lebih dari itu. Tapi, entah kenapa, akhirnya ia sepakat bahwa ternyata dirinya adalah seorang penulis yang tiada berguna.

Ia sudah banyak menerbitkan buku, tapi ia sama sekali belum bisa mengubah apa pun. Sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang mesti diubah, tapi ia sadar bahwa keadaan memang masih tetap begini-begini saja. Ia sering mengangkat tema tentang kemiskinan dalam setiap cerpen-cerpennya, tapi sampai sekarang kemiskinan itu masih ada dan tak pernah berubah. Ia sering mengangkat tema tentang kerusakan alam di setiap sajak-sajaknya, tapi sampai sekarang masih banyak saja orang-orang yang tidak peduli dengan alam, malah lebih parah dari sebelumnya. Ia juga sering mengangkat tema tentang kemunafikan manusia di setiap novel-novelnya, tapi hingga detik ini kemunafikan itu belum juga hilang.

Begitulah. Akhirnya penulis itu memutuskan untuk berhenti menulis dan membuang kedua tangannya ke tempat sampah.

“Selesai sudah,” gumam penulis itu sambil menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Lebih baik tidak usah menulis sama sekali, ujarnya dalam hati, dari pada menulis tapi tidak pernah dihiraukan sama sekali.

Tidak lama kemudian, penulis itu tertidur.

PENULIS itu terbangun dari tidurnya dan terkejut bukan main. Ia melihat dinding kamarnya sudah dipenuhi dengan tulisan. Begitu pula dengan lemari baju, permukaan piring, sepatu, sampai atap rumahnya pun telah dipenuhi tulisan. Ada yang berupa puisi, cerita pendek, seloka, gurindam, pantun, haiku, dan ada pula yang hanya berupa sekumpulan kata-kata yang tersusun secara acak tanpa bisa diketahui apa maknanya. Penulis itu kembali menderita sakit kepala. Ia yakin betul bahwa semua tulisan itu adalah tulisannya. Bukan tulisan orang lain. Ia tidak tahu kalau pada akhirnya akan menjadi sesulit ini. Ia juga tidak tahu bagaimana ia bisa membuat tulisan-tulisan itu, padahal sepasang tangannya telah teronggok di tempat sampah. Mungkinkah ia menulis dengan kakinya? Atau mulutnya? Atau telinganya? Atau dengan pikirannya? Ia tidak tahu. Kepalanya benar-benar ingin pecah.

“Mengapa jadi sulit begini, padahal aku hanya ingin berhenti menulis? Ah, sepertinya lebih baik aku mati saja!” ujarnya sambil bangkit dari rebahnya, berjalan mendekati lemari pakaiannya yang tertutup, dan susah payah menarik pintu lemari itu dengan gigi depannya.

Di dalam lemari itu tampak sebuah pistol yang mengilat. Ia tersenyum. Ya, lebih baik aku mati saja, ujarnya dalam hati.

Namun seketika itu pula ia terdiam. Ia tidak tahu bagaimana cara menembakkan pistol ke dalam mulutnya. Sebab, ia baru ingat, kedua tangannya telah berada di dalam tempat sampah! (*)

Rabu, 09 Maret 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Koran Tempo, Minggu, 6 Maret 2011

APAKAH MUNGKIN IA ke Leoni Hill, menemui perempuan mandul itu? Bukankah ia sudah berjanji, malam ini akan pulang ke Valley Road, menghabiskan malam berdua saja setelah masa haidku habis? Tidakkah ia lupa kalau aku dan dia masih pengantin baru?

Lalu kau mencangking ponsel yang tergeletak di meja rias di sudut kamar. Tak memerlukan waktu lama kau menemukan sebuah nama. Kautekan tombol OK. Kaudekatkan ponsel ke sebelah kanan pipimu, menempelkannya di daun telinga. Kau benar-benar ingin memastikan bahwa panggilanmu tersambung, bahwa ponselnya benar-benar aktif. Nada sambung terdengar. Kau sedikit lega. Kau tak sabar menunggu jawaban di seberang. O tidak, seharusnya kau sudah cukup bersyukur bahwa ponselnya masih aktif (tidakkah itu artinya ia baik-baik saja?). Mungkin ia sedang nyetir, mungkin ia sedang ngobrol dengan kawan lama, mungkin ponselnya sedang dalam silent-mode. Hmm, tapi bisa saja ia sengaja tak menjawab panggilan. Siapa tahu ia sedang bersama mantan pacar (yang katanya sering nongkrong di Marina Bay), siapa tahu ia sedang asik ngobrol dengan seseorang yang baru dikenalnya di alun-alun air mancur Merlion. Tidak, lebih tepatnya, pastilah orang lain yang merasa pujaan hatinya itu mengasikkan, mengagumkan. Ya, perempuan mana yang tak terpesona dengan laki-laki tampan seperti dia. Tiba-tiba prasangka dan rasa khawatir mengerubungimu. Jarak antardegup jantungmu makin rapat. Napasmu berkejar-kejaran. Lingerie yang kaukenakan mulai membuatmu gerah karena keringat yang menerobos dari pori-pori. Ponselmu pun terasa lengket karena telapak tangan yang mulai basah. Kau melemparkan ponsel ke spring bed yang baru satu minggu menghuni kamar. Kau membuka pintu kamar. Kau mendongak ke dinding ruang tengah. Beberapa menit lagi, jam tua yang bersandar di sana akan berdentang 12 kali. Kau menuju dapur. Kulkas. Mengambil sebotol air mineral. Langsung menenggaknya seolah rasa dingin yang berselancar di tenggorokan dapat serta merta menghilangkan kecemasanmu. Leher dan lingerie-mu ikut basah oleh air es yang meluap di bibir botol. Kau bermaksud mengirimkan pesan singkat sebelum kau merasa jemarimu tak cukup bertenaga untuk memencet tombol-tombol di ponsel.

O, benarkah kau di rumah mungil di komplek itu, suamiku? Benarkah kau bersama dengannya? Sedang apa kalian? Apakah kau juga memikirkanku sebagaimana aku merindukan sekaligus mencemaskanmu?

*

AKU DI MOUNT SOPHIA, Sayang. Sendirian. Sedang merampungkan beberapa deadline. Oh, kau tak perlu cemas. Aku baik-baik saja. Aku akan pulang segera setelah semuanya beres. Miss u!

Laki-laki itu membalas pesan singkat istrinya. Ia memang sudah satu bulan tak pulang ke Leoni Hill. Sebenarnya ia sadar, apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan. Tak ada pembenaran untuk sebuah perselingkuhan, bukan? Namun, entah, ia merasa tak sendiri, dan ia merasa jauh lebih baik dari sejumlah laki-laki yang bertabiat sama. Menurutnya, banyak laki-laki yang melakukannya dengan alasan seks semata. Termasuk kawan-kawannya yang kerap kongkow di Bugis Street dan Orchard Road. Chris dengan Jane, Lupia dengan Bela, Sutan dengan Grenee.... Tidak dengannya. Ia memiliki tujuan yang menurutnya mulia; memiliki keturunan. Namun, sungguh, ini bukan 100 tahun yang lalu (ketika Suntec City dan Clarke Quay masih berupa padang ilalang, saudara tua Neneknya yang seorang kiai termasyhur, dapat beristri ’dengan mudah’ karena pelbagai alasan; kondisi ekonomi keluarga perempuan yang ambruk, banyaknya janda, menyelamatkan akidah, dll). Ah, aneh bin lucu; ia tiba-tiba sok historis dan relijius. Hhh.... Ia ke dapur. Menyeduh kopi Klassno dengan air tak terlalu panas. Menyeruputnya seolah-olah kafein yang diselipi rasa manis itu dapat menguapkan semua kegundahan. Tiba-tiba ia ingat ada beberapa panggilan tak terjawab. Ia ingin memeriksanya. Ia merogoh saku celana. Ia menekan tombol OK. 16 panggilan. Nama yang sama. Nama yang tiba-tiba membuat kegundahannya makin membuncah. Ia meneguk liur yang terasa sepat di kerongkongan. Ia berniat menelepon balik. Namun ia urungkan niatnya. Ia tersenyum sendiri. Senyum yang ia sendiri ragu menyatakannya sebagai tanda apa. Perasaannya memang sedang tak karuan, sedang cemas. Ia kini tahu, bahasa tubuh tak selamanya menunjukkan apa yang dipikirkan. Syaraf-syaraf kadang tak mampu menerjemahkan impuls yang dikirim ke otak; seperti seorang pelayan kopitiam yang harus selalu tersenyum kepada para pelanggan walau kaki sudah capai tak kepalang berdiri di depan kedai, seperti bunga mawar yang keharumannya tak dapat diukur dari jumlah kelopak, seperti air sumur yang tiba-tiba terasa hangat bila diguyur ke badan yang kuyup karena kehujanan... seperti lengkung senyum seorang lelaki yang sedang gundah.

Hmm, aku akan pulang, istriku. Bersabarlah.

*

SAMPAI KAPAN AKU harus bersabar di sini? Jangan-jangan kabar yang membuat telingaku berdenyar-denyar, benar adanya!

Perempuan itu menggerutu. Ia kirimkan sebuah pesan singkat. Ia tak ingin tampak marah. Ia merangkai kalimat semesra mungkin. Ia bertanya dari hal-hal yang ringan. Di mana, sedang apa, sampai ke inti kegundahan: kapan pulang? Tiba-tiba ia merasa lelah sendiri. Ia berjalan menuju meja rias di sudut kamar. Ia raba wajahnya. Sungguh ia merasa masih cantik. Memang, banyak perempuan yang lebih cantik darinya, tapi ia pikir suaminya takkan berselingkuh hanya untuk alasan yang terlalu ingusan: seks. Pandangannya beralih ke sebuah foto di sisi meja. Foto pernikahan. Ia bagai tersadar. Sudah enam tahun berumahtangga. Hingga kini Tuhan belum mengaruniai mereka, oh tidak, lebih tepatnya, belum mengaruniainya keturunan. Ia meremas-remas rambut. Ia ingin menangis tapi tak bisa. Dadanya sesak. Ia beranjak ke spring bed dengan langkah gontai. Ia membenamkan wajahnya di antara bantal-bantal yang kini terasa sangat dingin. Jangan-jangan... jangan-jangan benar kabar itu? Suamiku ke Valley Road. Suamiku benar-benar berselingkuh. Benar-benar menikah lagi. Menikah lagi demi keturunan. Oh, mengapa ia tak bilang saja kalau sudah tak sabar punya momongan. Bukankah kita bisa mengadopsi anak, atau ... oh, aku bukan tak mau dimadu, aku hanya tak rela bila perhatian dan kasih sayangnya tiba-tiba harus tercurah berat sebelah. Aku tak rela! Ia menuju dapur. Mengambil sesuatu. Lalu ke kamar mandi. Mengunci pintunya rapat-rapat. Kran dihidupkan. Desis air yang tiba-tiba deras. Debur air yang ribut seperti orang marah sedang mandi. Lalu hening. Sangat hening. Sampai terdengar pintu depan diketuk. Makin lama makin keras, makin serampangan, menyelingi teriakan seorang lelaki:

Honey, I’m coming! Sudah rindu sekali aku kepadamu!

*

SUDAH RINDU SEKALI perempuan itu kepada suaminya. Ia pikir ia harus segera menuntaskan perasaan itu (O o, rindu memang sinar kehidupan. Ketika muncul, hanya cahayanya yang tampak.). Pun saat ini, perasaan yang berkecipak dalam dadanya menegaskan bahwa rindu bisa membuatnya silau, gila, bahkan mati seketika. Ia membuka lemari. Mengambil sebuah cardigan dan rok sebatas lutut. Mengenakannya. Setelah berdandan sekenanya, ia mengambil kunci mobil di laci meja rias. Ia gegas keluar kamar. Membuka garasi. Mengeluarkan BMW metalik. Setelah memastikan apartemennya telah terkunci, ia lajukan mobil meninggalkan Valley Road dengan kecepatan tinggi. Ia tak sabar lagi menemui suaminya. Aku tahu kau pasti di sana, Sayang? Sebenarnya ia tak ingin menunjukkan: aku tahu bahwa aku dinikahi seorang lelaki beristri! Ya, ia tak bermaksud membuat laki-laki itu terpojok di hadapan perempuan itu. Ia hanya ingin perempuan itu tahu bahwa suaminya sudah memilih seorang gadis cantik yang siap menghadiahinya seorang putra. Atau... bahkan nanti dapat saja ia menempatkan suaminya dalam keadaan terjepit yang sudah lama ditunggunya: Nah, sekarang, pilih aku atau istri tuamu!

Ia sangat masyuk membayangkan apa-apa yang mungkin ia lakukan di tempat tujuan, hingga ia menerobos saja lampu merah yang baru saja menyala di perempatan Orchard Road. Hampir saja sebuah truk kontainer menabrak mobilnya. Ia melepas lenguh, lega. Terbayang olehnya, bila ia telat memutar setir, orang-orang akan berkerumun mengangkat mayatnya di jalan raya Negeri Singa Putih itu.

*

ORANG-ORANG BERKERUMUN di sebuah rumah mungil di Leoni Hill. Mereka mendapati keadaan yang mengenaskan. Seorang lelaki meraung kesetanan di sebuah kamar mandi; bak air yang melimpah, sebilah pisau tergeletak di lantai. Laki-laki itu memangku perempuan yang bersimbah darah. Di antara kerumunan, menyeruak seorang perempuan muda. Cantik. Memakai cardigan dan rok sebatas lutut. Ia mendekati laki-laki itu. Laki-laki itu terkesiap. Perempuan itu menepuk lembut bahunya seolah memintanya tak usah menampakkan keterkejutan. Lalu perempuan itu meminta tolong kepada orang-orang yang berkerumun untuk membawa mayat di pangkuan suaminya ke ambal yang terbentang dekat ruang tengah. Orang-orang sedikit tergeragap. Mereka tak mengenal perempuan itu. Mungkinkah ia adik si mayat, atau adik suami si mayat, atau.... Mereka gegas menuju kamar mandi. Laki-laki di sana menatap lindap mayat istrinya yang baru digotong ke atas ambal, lalu beralih menatap perempuan yang tadi menghampirinya. Perempuan itu tersenyum sepat. Ia minta maaf atas semua yang telah terjadi. Ia katakan—bagai mengakui, bahwa ialah yang menyebabkan semua ini. Entah, bagaimana, seolah lupa pada semua rencana yang telah ia susun, perempuan itu mengatakan:

Sayang, ini memang bukan saat yang tepat untuk meluapkan rindu, namun aku tahu, dalam waktu singkat kehadiranku akan membuatmu membisu. Tapi jangan khawatir, aku sudah lama tahu perihal istrimu, istrimu yang mandul, istrimu yang baru saja membunuh kekurangannya dengan menyayat nadinya. Aku pulang dulu, ya. Aku tunggu kau di Fettion Hall. Ya, aku sudah tidak tinggal di Valley Road lagi terhitung lusa. Aku tak ingin merepotkanmu dengan tagihan dari apartement-center saban tanggal 11 tiap bulan. O ya, di apartemen baruku, aku tinggal di lantai tiga. Segeralah kunjungi aku setelah urusanmu di sini beres. Mungkin kita bisa membicarakan banyak hal. Hmm, maksudmu membicarakan satu hal yang sangat penting. Tentang pernikahan kita yang masih hangat. Tentang hal yang harus disegerakan. Perceraian!

Laki-laki itu terkesiap; mata membelalak, mulut menganga. Suara orang-orang di ruang tengah masih bergeremengan. Perempuan muda itu meninggalkan rumah duka. Orang-orang di beranda masih menyimpan tanya tentang si perempuan misterius. Perempuan itu men-starter mobil. Tiba-tiba ia takut sendiri. Takut mandul. Takut diselingkuhi. Takut ditinggalkan. Takut bunuh diri. Airmatanya tumpah.

Ia menambah kecepatan bagai hendak meninggalkan Singapura.

Ia tak tahu ke mana.... ***


Lubuklinggau, 20 Februari 2011
Rabu, 19 Januari 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Koran Tempo, 16 Januari 2011

ENTAH bagaimana harus kumukadimahi. Yang terang, tiba-tiba lelaki itu hadir saja. Ia kerap menyelinap dalam mimpiku (sebagaimana dirawikan Al Ramni, kitab perihal kepercayaan orang-orang Sumatera; adapun tanda-tanda yang menyertainya menunjukkan itu adalah mimpi yang sahih). Namanya pernah menyeruak dari mulut beberapa kakek pemakan daun-yang mengaku berusia di atas 153 tahun--di paha Gunung Jempol ketika kami bercakap-cakap. Ia juga terserlah dalam ingatan tentang kehidupanku di masa lalu. (Tentu tak perlu kutanya: apakah kalian juga meyakini adanya reinkarnasi?)

PADA tanggal 19 September, 230 tahun yang lalu, ia meninggalkan Benteng Marlborough. Di waktu yang sama, aku meninggalkan Lubuklinggau menuju Jambi dengan berkuda. Di Pargarradin, kami berpapasan di semacam simpang yang membelah rimba. Kami saling melempar senyum. Keheranan menyergap ketika kudapati ia tak menunggang kuda. Perasaanku mengatakan, ia akan melakukan perjalanan jauh. Keherananku bertambah kala kusadari bahwa rambutnya berwarna kuning rotan. Setahuku, tak pernah ada seorang berbau kompeni menyusuri hutan dengan berjalan kaki. (Kompeni? Ah, mengingat kata itu membuat jurang di dadaku makin menganga.) Ia bagai mengendus isi kepalaku. Ia mendekatiku dan berkata (bukan merayu), sudikah aku memberi tumpangan. Ah, ia terlalu percaya diri. Aku tak terlalu menyukai lagaknya. Lagi pula, tak lazim seekor kuda ditunggangi dua orang. Ia juga orang yang baru kukenal. Aku tak tahu apakah ia orang baik-baik atau sebaliknya. Dan belum tentu kami memiliki tujuan yang sama.

Baru saja hendak kutanggapi, ia mengulurkan tangan. Kami berjabat tangan. Erat. Ia menatapku hangat. Aku alihkan pandangan. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang tak biasa. Ia menyebutkan nama. Nama yang sangat tidak Melayu. Nama yang bisa kulafal namun tak yakin mampu kutuliskan. Baru saja kusebut namaku, ia langsung bertanya (bagai memastikan), apakah aku akan melewati Kalindang.

O, bagaimana ia tahu!

Aku memang akan ke Jambi. Namun, aku berencana menyambangi Kadras, Singkut, Gunung Ayu, dan Kalindang, terlebih dahulu. Jangan-jangan ia memang orang baik hingga Tuhan berkenan menjatuhkan keberuntungan atasnya; bagai mengutusku untuk memudahkan perjalanannya.

Tanpa meminta persetujuanku, ia menginjitkan sebelah kaki lalu melompat ke atas pelana. Duduk di belakangku. Sembari berteriak kuentakkan tali kekang. Seperti biasa kuda itu akan meringkik beberapa kejap sebelum mengangkat rendah kedua kaki depannya, dan melaju.

Kukatakan kepada Charles--demikian aku memanggil kawan baruku itu--tentang daerah tujuan akhirku. Entah, apakah ia memang tak menetapkan tujuan sebelumnya, atau sejatinya ia memang hendak ke Tanah Batanghari Sembilan, aku tak mengerti. Tiba-tiba saja ia memintaku membawanya ke Jambi. Lagi, aku memenuhi keinginannya. Ah, bagaimana aku sangat baik hati hari itu.

Aku tunaikan semua keperluanku di daerah-daerah yang kusinggahi. Membeli satu kantung tembakau di rumah pesirah di Kadras. Membeli setengah pikul terong panjang dari para petani di perkebunan rakyat di Singkut. Membeli dua ikat sapu lidi dari pembuat gula aren di Gunung Ayu. Di Kalindang sendiri, aku membeli sekeranjang kapulaga di perkebunan dekat perbatasan.

Ketika kutanya apa yang hendak ia lakukan di Kalindang, ia memintaku melupakan pertanyaan itu. Sebenarnya aku sedikit tersinggung oleh sikapnya, tapi aku berusaha tak mengambil hati. Aku tak ingin bertanya lebih jauh sebab aku memang bukan orang yang nyinyir. Ia hanya mengatakan bahwa, di Jambi nanti ia hendak berburu murai. Aku tergelak. Kukatakan, di rimba sepanjang anak Sungai Musi, burung itu juga banyak beterbangan. Ia terkejut. Ia tepuk bahuku bagai memastikan kesungguhan kata-kataku. Aku mengacuhkannya. Kukatakan dengan sedikit berseloroh, apakah karena kabar usang tentang burung itu, ia hendak membatalkan niat ikut denganku, apakah ia minta diantar balik ke rimba tempat kami bersua tadi, atau bahkan minta ditunjuki dusun-dusun di Musirawas yang terbentang di sepanjang tubir anak Sungai Musi. Ia setengah terkekeh. Aku tahu ia malu dan tak enak hati.

Sesampai di Jambi, aku antar apa-apa yang kubawa dari tempat-tempat yang kusinggahi tadi ke rumah-rumah penduduk yang memesannya. Ya, aku adalah pedagang sambungan. Demikian orang-orang menyebut apa yang kulakoni. Pekerjaan itu bukan untuk mencari untung, tapi untuk membuat pengembaraan memiliki sedikit alasan. Aku sendiri, sejak ditinggal kekasih yang mati ditembak kompeni, kerap menyusuri punggung Bukit Siguntang seorang diri.

Aku bertanya, mau ke mana lagi ia? Apakah perlu kubantu, paling tidak kukawani, berburu murai?

Ia menepuk dahi. Ugh! Aku lupa! Kita harus membeli senapan angin, katanya seolah baru menyadari kealpaannya. Atau... apakah kau membawa panah, tanyanya sambil melihat ke barang-barang bawaanku di pelana kuda.

Aku tersenyum kecil. Kutunjukkan ketapel yang sedari tadi kukalungi. Kuambil sebiji kerikil. Kupinta ia menunjuk sembarang benda. Telunjuknya mengarah ke bawah sebatang pohon. Jaraknya empat kaki dari kami. Sebuah pauh, jenis mangga-manggaan seukuran kedondong, tergeletak. (Bila ingin merasai seasam-asamnya buah, ciciplah pauh. Serta-merta muka akan kusut seperti kain santung, kain yang sudah diseterika saja permukaannya kerut seribu.) Tampaknya pauh itu baru saja jatuh dari pohon.

Kuambil kerikil sebesar biji salak. Kumasukkan ke kantung karet ketapel. Kulepas tembakan. Das! Pauh bergerak mundur sejari kelingking. Buah itu sudah mengandung kerikil. Aku tersenyum jemawa. Charles mengangguk-angguk sebelum mengacungkan jempol kanannya ke arahku. Ia memungut kerikil-kerikil yang ada di dekatnya. Ia dapat dua genggam. Disimpannya di kedua saku celana. Kuserahkan ketapel kepadanya. Kami ikatkan kuda di sebatang pohon onlen. Kami memasuki rimba.

Seperempat perjalanan, Charles mengatakan bahwa ini adalah kali ketiga ia berburu murai di situ. Kata-katanya benar atau tidak, aku tak tahu. Kupikir ia sedang menyindirku yang sedari tadi berada di depannya seolah menjadi penunjuk jalan. Kupelankan langkah. Ia berjalan di depan. Ia katakan pula, ia sudah berkeliling Sumatera sejak 10 tahun yang lalu. Dan hingga kini ia benar-benar tak tahu kalau murai tak hanya terdapat di Jambi. Kutanyakan, apakah ia pernah mengunjungi Simpang Semambang, Muara Kelingi, Suro, Karangpanggung, Maur.... Ia menggeleng. Aku tersenyum miring, mengejek.

Kelak aku akan ke sana untuk melihat murai-murai itu, ujarnya datar, seolah menyangsikan kata-kataku.

Kini ia yang balik bertanya. Tentang pekerjaanku. Matanya berbinar ketika mendengar jawabanku. Kau juga pengembara, tebakku dengan raut semringah. Ia menggeleng sebelum mengangguk ragu. Aku orang yang suka bepergian demi ilmu dan kebahagiaan, katanya. Sama saja, sambarku. Tidak, jawabnya tak kalah cepat. Aku bekerja untuk perpustakaan pribadiku di Greenwich, imbuhnya.

Perpustakaan? Aku sangat tertarik dengan perpustakaan. Terdengar sangat beradab. Maukah kau mengajakku ke sana, pintaku. Ia melipat daging dahi. Kau sungguh-sungguh, tanyanya seolah tak percaya. Aku mengangguk yakin. Baiklah, katanya. Tapi ada syarat, lanjutnya sembari menarik kedua ujung bibir melengkung ke atas. Aku tak sabar mendengarkan syarat yang ia ajukan. Ia kembali tersenyum. Kali ini lebih lebar dan lebih lama.

Biarkan aku yang memimpin pengembaraan ini....

Satu bulan?

Itu sudah paling lama.

Baiklah.

Maka, bakda mendapatkan enam ekor burung murai lalu menyimpannya dalam bakul anyaman yang kubawa, ia jelaskan jalur pengembaraan. Aku menurut saja. Kami mulai mendaki bukit-bukit yang merupakan batas kekuatan kompeni. Bukit-bukit yang ditumbuhi pohon-pohon yang tinggi.

Dusun pertama di balik bukit bernama Kalubak. Dusun ini terletak di tepi Sungai Musi. Kami kembali berburu murai di sini. Alangkah senangnya ia. Selanjutnya, kami menuju Kapiyong dan Paramu. Di kedua tempat ini, penduduknya mengirimkan hasil ladang ke Palembang melalui perahu-perahu dari Ogan Komering. Sebenarnya, kami ingin menumpang salah satu perahu (seperti apa nian pemandangan sepanjang anak Sungai Musi?), namun karena rasa letih mulai menyerang, kami membatalkan niatan itu.

Kami rehat di Tabat Bubut pada tanggal 10 Oktober. Ia sempat mengutarakan pendapatnya tentang daerah sekitar Sungai Musi. Dari tanahnya yang berwarna hitam malam, daerahmu benar-benar subur, ujarnya seolah-olah pakar tanah.

Pada tanggal 11 Oktober, kami hendak melintasi perbukitan dan menuju Ranna-Lebar. Tetapi kami tersesat di hutan. Perjalanan kami pun melenceng. Kami tiba di Beyol Bagus, sebuah dusun yang masih dalam kekuasaan kompeni. Kami sempat sarapan kepar--demikian penduduknya menyebut ubi jalar--yang direbus. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Raja. Sebagian perjalanan dilakukan menyusuri Ayer Bagus, anak Sungai Bengkulu. Dasar sungai ini terbentuk dari batu-batu besar. Sungai ini melewati daratan yang ditutupi rimba. Di sini, Charles mengucapkan banyak terimakasih. Ia sudah puas, rupanya. Ia ingin menikmati perjalanan sendirian sebagaimana aku--yang lagi-lagi katanya--mungkin juga ingin kembali ke Lubuklinggau. Aku akan ke Bentiring, katanya. Burung-burung murai itu untukmu saja, lanjutnya sembari nyengir.

Dengan apa kau akan ke sana, tanyaku seolah-olah mencemaskannya.

Aku selalu menggunakan jalur ini, katanya sembari menunjuk sungai yang berkelok.

Aku sempat memicingkan mata--memastikan kesahihan kata-katanya--sebelum ia mengajakku masuk rimba di tepi sungai. Kami menebang bambu dan menebas akar beringin yang menjuntai. Kami mengikat bambu-bambu dengan akar beringin itu. Kami membuat rakit. Aku kagum kepadanya. Tak pernah terpikir olehku, aliran Sungai Gunung Raja akan membawanya ke Bentiring.

Matahari, angin, dan lambaian pohon-pohon, adalah kompas yang paling mujarab, katanya seolah menjawab pertanyaanku tentang penunjuk arah apa yang ia bawa.

Bambu sepanjang enam depa ia jadikan kayuhan. Setelah mengucapkan "sampai jumpa", ia lajukan rakit meninggalkanku yang termangu. Aku tak tahu apa yang sebenarnya baru saja kualami. Siapa nian si Charles itu. Mengapa aku sangat baik hati; menemani pengembaraannya hampir satu bulan lamanya. Mengapa pula aku... o, aku baru ingat. Ya, ketika punggung Charles ditelan kelokan sungai, aku baru sadar bahwa ia belum memberitahu kapan aku akan diajak ke negerinya. Apakah ia lupa dengan kesepakatan itu? O tidak! Aku tiba-tiba merasa diperdayai. Kuputar kepala. Menoleh kudaku. Aku cemas bila perbekalanku diambilnya. Ternyata semua masih utuh. Ah, aku makin bingung!

Aku pikir Charles takkan mengingatku lagi. Namun, dua minggu kemudian, kehadiran seorang kurir di beranda rumah panggungku, membuyarkan dugaan itu. Ia menyerahkan gulungan daun lontar sebelum pergi. Kubuka lamat-lamat. Tiba-tiba jarak antardegup jantungku makin rapat. Ah, mengapa aku jadi berlebihan seperti ini. Ya, Tuhan! Dari Charles. Charles Miller, demikian tertulis di sana. Ia masih mengingatku... bagaimana bisa? O.... Minggu depan ia akan ke Lubuklinggau. Ia memintaku menunggu di dekat rumah pesirah di simpang jalan menuju kabupatenan.

Aku terpaku. Terharu. Bahagia yang sangat. Aku bukan membayangkan seperti apa perpustakaannya, atau memastikan Greenwich itu di Belanda atau di Inggris. Aku membayangkan perjalanan panjang yang membahagiakan dengan seseorang yang gagah seperti Charles. Ya, perasaanku pernah berkebat-kebit seperti ini ketika menanti saat-saat perjumpaan dengan kekasihku dahulu, Morgan Mist, sebelum kami kedapatan tengah bergumul di rimba Selangit. Kompeni tak pernah menenggang hubungan sejenis--walaupun aku pernah menangkap basah Van de Trecht, komandan di gugus Sumatera Bagian Selatan, sedang menyodomi seorang bocah pribumi di belakang pabrik gula Meneer Lock.

Waktu itu Morgan berteriak menyuruhku pergi jauh. Sendirian ia menghadapi dua kompeni bersenjata itu. Aku tahu, ia takkan menang. Ia hanya bermaksud merepotkan mereka agar jejakku tak sempat terendus. Tiba-tiba terdengar bunyi desing di udara. Ya, Morgan rela mati demi menyelamatkanku. O.... waktu itu kuobrak-abrik rimba dengan airmata yang ruah di wajah.

Sejak itu aku memutuskan menjadi pengembara sembari berdoa, suatu waktu Tuhan akan mengirimkan Morgan yang baru untukku. Dan berlebihankah bila kukatakan, tampaknya Tuhan baru saja mengabulkannya?

ENTAH bagaimana harus kukhatimahi. Yang terang, ia tak pernah datang. Atau masa lalu memang enggan mengirimnya kepadaku? Aku yakin, ia pernah mati-matian merayu Izrail agar menunda tugasnya untuk beberapa waktu. Dan itu dilakukan bukan karena hidup yang terlanjur ia nikmati, namun karena belum tertunainya sebuah janji, mengajakku menyinggahi negerinya suatu hari.

O ya, aku juga sudah malas berdoa agar Tuhan mengirimkan Morgan yang baru, o, bukan, maksudku, Charles yang baru....

Jumat, 31 Desember 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Koran Tempo, 26/12/2010

"Mau coba anak hiu? Atau ikan pari ini?"

Laki-laki itu sedang memandang perahu-perahu yang mengerubuti sebuah kapal besar penangkap ikan ketika sebuah suara sengau seperti ditujukan kepadanya. Ditolehkannya kepala ke samping. Dan benar, seorang perempuan kurus berbaju lusuh sedang menjinjing seikat ikan dan mengangkatnya ke depan si lelaki.

"Aku belum pernah makan ikan hiu, juga pari."

Perempuan itu tertawa kecil. Satu ujung giginya yang terlalu panjang dan tidak lurus tampak lebih putih oleh cahaya pagi.

"Rasanya enak, seperti daging ayam, apalagi jika dimasak dengan cabe hijau."

Sebenarnya laki-laki itu datang ke pasar ini tak sungguh-sungguh hendak membeli ikan. Dia hanya ingin melihat-lihat. Mereguk udara yang anyir. Ketika menggelengkan kepala, dia teringat minggu kemarin telah membeli seekor ikan kakap kepada perempuan itu, dan tujuh ekor kepiting yang belum mati.

"Oya, kalau ada anak tuna yang pipih, bukan seperti botol, aku mau satu," katanya.

"Kau memesan?"

"Kalau kau mau. Aku tidak buru-buru."

Perempuan itu beranjak dengan ikan-ikan dagangannya. Sekilas matanya yang redup menjangkau mata laki-laki itu. Langkahnya pendek-pendek dibawa kakinya yang bersandal jepit penuh lumpur.

Laki-laki itu bergeser ke dekat sebuah tonggak kayu berwarna hitam. Diedarkannya pandang. Belum terlalu ramai. Belum ada ikan tangkapan pukat nelayan terdekat. Hanya ikan-ikan yang mati tegang dibekukan es balok yang dipecah-pecahkan dalam peti merah bata.

Padahal dia ingin sekali melihat ikan yang mengerang di tangan-tangan lelaki penjual ikan Pasar Gauh ini yang datang subuh-subuh ke tempat pelelangan ikan dengan tubuh mengeras. Kepala ikan-ikan itu bergetar dengan mulut megap-megap memanggil oksigen dan menyemburkan ludah yang bacin. Setelah semua kekalutan dikalahkan maut, batang tubuh mereka yang licin akan menjadi lemah menyerah. Dia akan menikmati kematian ikan-ikan itu seolah-olah merenangi kematiannya sendiri.

Bagaimana bisa dia langsung mengenalinya? Perempuan itu cukup kaget melihat laki-laki itu berdiri dengan gaya yang persis sama seperti minggu sebelumnya, terpaku memandang jauh ke arah laut. Meskipun dia memakai baju kaos, celana semata kaki, dan sandal karet, dia tetap saja terlalu bersih untuk bertandang ke pasar ikan. Tempat ini terlalu lanyah. Dia bukan pembeli yang cerdik. Dia membayar ikan yang diinginkannya tanpa menawar harga. Begitu saja uang meluncur dari sakunya, seolah-olah untuk sesuatu yang dihendaki, dia tak peduli berapa pun uang keluar. Tak seperti pembeli-pembeli lain, mungkin dia mudah ditipu.

Tapi perempuan itu tak menyesal memberikan harga yang tidak tinggi padanya. Entah mengapa, rasanya bila laki-laki itu mau, dia akan merelakan semua ikan-ikannya dibawa tanpa dibayar. Ketika dia memberikan kantong plastik berisi ikan, dan tangan mereka bersentuhan, perempuan itu merasa seakan-akan telah menyerahkan separuh hatinya.

Ah, betapa gila perasaan itu! Dia lepas dari keluarganya seperti tangkai yang patah dilejang badai. Dia terbuang ke dalam hidup yang cemar. Setiap hari dia berebut ikan dengan lelaki-lelaki bertangan besar yang tak hanya mengincar ikan-ikan di keranjang, tapi juga ikan lain yang mendekam dalam dirinya.

Dengan ember hitam berisi air pelabuhan yang kumuh berminyak, dia menyelipkan tubuh menawar ikan-ikan dari kapal tongkang. Ikan-ikan yang kejang. Kadang dia bersekongkol dengan pemuda-pemuda tanggung bercelana selutut yang digulung sampai pangkal paha untuk mencuri ikan dari perahu atau bongkah es dalam peti. Kadang dia memungut ikan-ikan lecet yang tercecer di lantai Tempat Pelelangan Ikan. Semuanya lalu dia jual kembali pada ibu-ibu cerewet berdompet tipis, nyonya-nyonya sok kaya yang menawar setengah harga, pemilik-pemilik rumah makan yang ingin ikan bagus dengan harga murah, atau siapa pun pengunjung pa sar yang menghendaki ikan segar yang diantar kapal tongkang dari samudra buas. Dulu, dia bertubuh bernas, suai sekali dengan nama kampungnya, Padi Boneh. Sekarang jangan ditanya. Meski setiap hari makan lauk tapi darahnya seakan telah membusuk.

Melihat laki-laki itu lagi di Pasar Gauh ini membuat dadanya terasa sejuk, juga jengah. Kemarin dia menduga laki-laki itu hanya seseorang yang tersesat. Atau sekadar iseng ke mari, atau disuruh orang tuanya membeli ikan. Atau istrinya?

Ah, jangan! Agak gugup ketika tadi dia menyapanya. Laki-laki itu begitu asyik memandang ke arah laut sehingga tak mendengar suaranya. Pada pengulangan yang ketiga, dan dia memukulkan punggung tangannya ke punggung tangan laki-laki itu dengan sedikit keras, barulah si lelaki yang tampak resah menoleh. Dia melihat perempuan itu dengan pandangan melamun. Suaranya yang lirih seperti bicara pada seseorang yang tak ada di tempat itu. Dia minta dicarikan seekor anak tuna pipih.

Pasar telah ramai. Lampu-lampu yang lupa dimatikan tampak pucat seperti sekarat. Perahu demi perahu berlabuh menurunkan keranjang-keranjang rotan dan peti-peti sintetik penuh ikan. Para lelaki berambut coklat terpanggang matahari menggotong keranjang dan peti-peti itu.Menimbang dengan neraca gantung. Membagi dan memilah-milah ikan berdasar ukuran, jenis, dan mutu. Orang-orang lalu lalang. Para penjual ikan menggelar jualannya di lantai pasar yang tergenang air hitam. Ikan-ikan tergeletak tanpa harga diri dan impian. Tiga ekor kucing koreng mengeong di selasela loteng. Beberapa ekor camar terbang menukik. Seorang penjual ikan menembakkan air kencingnya ke tembok pasar di sudut.

Buya, ayah nya, ingin laki-laki itu melanjutkan pendidikan ke tanah para Nabi. Dia ingin anaknya menjadi cendekia agar kelak bisa menyiarkan agama seperti dirinya.
Ah, bagaimana bisa? Laki-laki itu cuma ingin menjadi ikan liar di laut ganas. Dia lebih suka jadi ikan yang terjebak dalam jaring, mengerang kehilangan udara, lalu mati lengang. Biarlah tubuhnya cabik dicekik jaring atau koyak moyak diamuk gelombang, tapi dia menjadi diri sendiri. Menjalani ilusinya, bebas-lepas. Kalau pun dia harus terjebak di tangan nelayan berurat besar, biarlah dia kehabisan oksigen saat insangnya direnggut dari lopak kepala. Biarlah dia hilang dalam pelarian yang sungsang.

"Lobster, Bang? Cumi-cumi juga ada!" Seorang penjual ikan datang mengusiknya. Diabaikannya saja. Remaja tak berbaju itu terus mencoba memancing minatnya."Ini lobster biasanya untuk diekspor, Bang. Tak akan dapat yang semurah ini."

Laki-laki itu menggeleng. Buya tak mengenal siapa dia!

Perempuan itu berjalan riang dengan ember hitam di tangan kiri dan seekor ikan hitam kebiruan di tangan kanan. Dia berhasil mendapatkan seekor anak ikan tuna dengan berat hampir tiga kilogram. Ikan itu pipih dan segar. Dia akan memberi lakilaki itu harga delapan puluh ribu, tetapi tetap terbuka kesempatan untuk tawar menawar.

Laki-laki itu tentu tersanjung sekali atas kemurahan hatinya.

"Engkau baik sekali padaku. Adakah maksud tertentu?"

"O, tidak! Mana mungkin aku merayumu dengan wajah seremuk gundukan ikan teri begini. Kau lihatlah sendiri. Memang benar, aku pernah membiarkan satu-dua lelaki pelabuhan ini berdiang di tubuhku, tapi aku tak akan mengotorkan dirimu dengan tubuhku."

"Maukah kau membantuku memasak ikan ini?"

"Oh! Oh! Aku tidak pandai memasak! Nanti tidak enak."

"Bukankah kau sering memasak anak hiu dan ikan pari?"

"Ouk!" Perempuan itu terpekik ketika tangannya disentak dari belakang. Ember hitam berisi ikan-ikannya jatuh. Anak tuna tampan kebiruan itu terlepas. Belum sempat dia minta tolong, tangan kuat itu membekap mulutnya dan menarik tubuhnya ke dalam ruang dingin yang ternyata gudang es balok. Orang itu menghempaskan tubuhnya ke tumpukan es. Dingin yang ngilu menghantam kepala dan sekujur tubuhnya. Lakilaki itu mengunci pintu. Darah perempuan itu serasa membeku. Hanya air mata yang bergetar saat dalam hitungan detik kepalanya direnggut, lalu dibenamkan ke dalam peti berisi es yang mencair.

"Kau pikir kau cantik sekali, heh, Ikan Tongkol! Jual mahal kau!" Telinganya mendengar bunyi dencing sabuk dilepaskan. Laki-laki berperut buntal itu lalu menarik kakinya, menggulingkan ke atas peti, lantas menyiangi tubuhnya. Dia merasa terhempas ke rumah kecil beratap ilalang di Padi Boneh ketika di sebuah sore yang pekat angin kencang berkecamuk bersama hujan petir meremuk atap dan dinding rumah.

Dahan-dahan kayu patah. Dia, ibunya, dan kakak-kakaknya lari tak tentu arah dengan tangis melolonglolong. Ayahnya tertegak kaku di halaman seperti pohon tumbang. Sesuatu yang besar dan keras jatuh dari pucuk pohon kelapa menghantam tubuhnya. Dia terjerembab dalam dingin yang pedih.

Laki-laki bersepatu bot itu mungkin sudah selesai menggarami ikan dalam tubuhnya. Dia membuang napas berbau tembakau sengak lalu mengangkat tubuhnya yang terasa hilang tulang. Pandangan matanya meremang.

"Mampus, kau!" Seperti suara guruh. Seperti suara debum. Badannya terasa remuk. Dinding dingin merah bata! Oh, apa yang bangsat itu lakukan? Batu-batu bening beku, bongkah-bongkah es menghimpit.

"Eii! Eii! Auh!" Laki-laki itu menutup peti. Menaruh dua peti lain di atasnya. Kemudian menyelimuti dengan terpal.

"Tidak! Tidak! Ini tidak sedang terjadi! Aku mungkin ketiduran dan bermimpi. Aku harus segera mengantarkan anak tuna pipih pesanan lelaki itu! Mungkin saja dia mau jadi ayah bagi kedua anakku. O, tidak! Titidak! Dingin sekali! Sakit sekali! Ngilu sekali!"

Hampir pukul sepuluh. Pasar ikan akan segera kosong ditinggalkan. Laki-laki itu telah berulang kali pindah dari satu tonggak ke tonggak lain, sempat pula duduk di bangku kayu, dan minum teh botol di warung dekat WC umum. Perempuan itu tak kunjung datang.

"Ah, mungkin dia malu karena tak berhasil mendapatkan ikan tuna untukku."

Sekali lagi dia melayangkan pandang pada sisa-sisa ikan di lantai pasar, pada tubuh-tubuh laki-laki berdaki yang telah bacin, pada sampah-sampah plastik menghitam yang bertebaran, pada langit yang agak buram, pada sebuah kapal di kejauhan....

"Tapi persetan! Aku akan tetap punya alasan untuk datang lagi ke sini."

Dia melangkah sedikit melompat untuk menghindari genangan air kotor. Seekor udang bungkuk yang telah separuh busuk terinjak kakinya.

"Ikan ambu-ambu, Bang? Masih baru, masih segar!" Dia beli dua ekor sekadar untuk pelepas tanya ibunya.

Dia segera pulang dengan enggan ke rumah teduh di sebelah masjid raya. Untuk berenang dalam akuarium indah di lantai dua yang penuh fantasi warna-warni, ikan-ikan plastik, koral-koral, dan bintang-bintang laut palsu.***

Padang, 2010

Selasa, 15 Juni 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Wildan Nugraha
Dimuat di Koren Tempo 13 Juni 2010

LAMPU-LAMPU penerang jalanan sudah menyala. Ramah menyambut hujan yang turun tiba-tiba. Mata Dian menatap lekat lampu yang terdekat. Sinarnya kuning berpendar oleh tirai hujan. Sebenarnya ia malas berpikir jika malam tiba, tapi berkat pemandangan itu ia mendongak juga mencari bulan.

Tidak ada. Entah awan, bangunan-bangunan, atau terang kota yang menghalanginya.

Di pinggir jalan Dian duduk menunggu bus yang akan membawanya pulang. Suara hujan mengeras menimpa atap halte. Beberapa orang baru bergabung. Sama-sama menunggu. Ada yang mengobrol berdua atau bertiga. Ada yang kelihatan bicara sendiri dengan telepon genggamnya. Tapi lebih banyak yang seperti Dian. Diam sendirian.

Kembali Dian menatap lampu jalanan itu. Tiangnya kurus dan menjulang. Dayanya besar. Ia seperti kawan setia buat Dian. Ada kalau diperlukan. Tapi hanya di sini, di pinggir jalan tempat ia biasa menunggu bus sepulang kerja.

Dian memikirkan matahari ketika dari arah tikungan muncul bus kota. Orang-orang menengok dan beranjak. Ada yang kembali duduk, ada yang terus berdiri. Dian kembali memikirkan matahari. Kendaraan besar itu bukan bus yang akan ditumpanginya.

Di atas meja di kamar kontrakannya Dian menaruh potret matahari. Fokus gambar sebenarnya bukan padanya, tapi pada orang-orang di puncak bukit itu. Semuanya tersenyum, tapi kamera yang dulu disetel otomatis itu tidak jelas menangkapnya. Dari arah timur sinar terlalu membanjir.

Dian ingat, setelah berfoto semua duduk-duduk menikmati matahari, yang pelan-pelan naik meninggalkan garis cakrawala. Langit di sekitarnya begitu bersih dan laju waktu terlalu pelan untuk dihitung.

Bus kota berlalu menembus hujan. Halte itu kembali lengang. Hanya beberapa orang yang masih menunggu. Semuanya diam. Selain bunyi hujan, segala macam suara jalanan di halte itu terus terdengar.

Mata Dian kembali mencari bulan. Tapi diurungkannya. Lampu jalanan yang seakan tidak pernah padam itu kembali ditatapnya. Dian kemudian teringat pada sebuah pesan pendek yang masuk ke telepon genggamnya. Sudah cukup lama, tapi belum juga dibalasnya. Padahal ia sempat begitu menantikannya.

Di seberang jalan itu terdapat juga sebuah halte. Terhalangi kendaraan-kendaraan yang lewat, Dian merasa tempat itu baru dilihatnya. Mungkin karena lampu neon yang dipasang di bawah atapnya sehingga tempat itu kini lebih terang. Berbeda dengan halte tempatnya menunggu bus sekarang, yang entah kenapa hanya diterangi lampu jalanan dan sorot lampu-lampu kendaraan yang sedang lewat. Ia seakan baru menyadarinya.

Beberapa orang tampak mengobrol di halte seberang itu. Sesekali mereka tertawa berderai-derai. Dian melihat mereka seperti menonton film bisu. Suara hujan dan segala macam bunyi jalanan adalah musik pengiringnya. Salah satu di antara mereka kemudian berdiri agak menjauh. Ia mengangkat tangannya, tampak hendak mengambil gambar dengan kamera telepon genggamnya. Resam wajahnya menimbang-nimbang ringan dan mulutnya memberi aba-aba. Yang lain berkumpul saling merapat dan memasang senyuman.

Dian ikut tersenyum.

Pemandangan yang terhalang-halangi kendaraan lewat itu kemudian hilang oleh badan bus yang merapat di halte seberang jalan itu. Sebentar Dian bertanya di dalam hati, apakah mereka sedang menunggu kedatangan bus yang akan membawa mereka pulang.

Kendaraan besar itu bergerak kembali melanjutkan perjalanannya. Seperti tirai yang bergeser pelan setelah sebentar menyembunyikan panggung tontonan pada sebuah pagelaran teater. Hujan masih turun. Kendaraan-kendaraan terus lewat di depan Dian, di antara kedua halte di pinggir jalan itu. Ada yang melaju pelan-pelan, ada pula yang melesat tergesa-gesa. Lampu-lampu jalanan tetap menyala dengan sinar kuningnya yang berpendar oleh hujan. Sementara bangku-bangku di halte seberang jalan itu kini telah kosong.

Tidak jauh dari halte yang kosong itu, Dian melihat sepasang lelaki dan perempuan sedang berjalan. Si lelaki memegang payung yang melindungi mereka dari hujan. Tangan si perempuan memegang lengan si lelaki. Lelaki itu yang tadi mengambil foto dengan telepon genggamnya di halte seberang jalan itu.

Orang-orang di sekitar Dian beranjak dari duduknya. Dari arah tikungan sebuah bus muncul dan mendekat. Saat berhenti bunyinya terdengar khas seperti lenguh hewan laut yang lucu. Tapi pikiran Dian tidak tergerak untuk menikmatinya. Ia melangkah pasti menuju pintu bus yang membuka pelan-pelan itu. Dibiarkannya kepalanya menerima hujan.

Di atas bus yang berhenti sebentar saja itu, Dian duduk di bangku sebelah kaca jendela. Bulir-bulir air tampak di sisi kaca sebelah luar. Ada bulir-bulir yang diam dihampiri bulir-bulir yang bergerak. Ada yang cepat-cepat, ada yang pelan-pelan seperti ragu-ragu atau penuh perhitungan. Bulir-bulir yang bersatu kemudian turun lebih cepat di permukaan kaca. Meninggalkan gurat-gurat basah sebagai jejaknya.

Dian kembali mendongak mencari bulan di balik kaca jendela yang kini dihiasi bulir-bulir air itu. Meski ia tahu tidak akan menemukannya. Kepalanya dipenuhi oleh dua orang yang berpayung itu, yang tadi, sebentar saja, masih dilihatnya dari atas bus. Mereka ada di antara orang-orang yang tersenyum di dalam foto di atas meja di kamar kontrakannya itu.

Dikeluarkannya telepon genggam dari tas jinjingnya. Dian membuka pesan pendek yang sudah lama masuk itu. Dibacanya sebentar, kemudian dihapusnya. Lelaki yang tadi memegang payung itu tidak perlu menerima balasan pesannya.

Dian tersenyum seulas, berniat pergi ke kantor lebih awal besok pagi. Sebentar saja ia akan naik ke puncak gedung tempatnya bekerja di kota itu. Cahaya matahari yang membanjir dari arah timur setiap pagi itu sudah lama tidak dilihatnya.

Bandung, 7 Juni 2010

Minggu, 31 Januari 2010 by Forum Lingkar Pena

Cerpen Benny Arnas

Dimuat di Koran Tempo, 31/01/2010

Percakapan mereka adalah gayung bersambut sepasang hati yang marun merahnya. Percakapan yang mengetuk gendang telinga penduduk langit. Percakapan sederhana dari sebuah kampung yang tak tertitik dalam peta, tak tertilik oleh sesiapa, pun tak terbetik dalam kabar. Namun, bila para nabi dan istri mereka, para sahabat nabi dan istri mereka, para tabi'in dan istri mereka, juga para wali dan istri mereka kita lupakan, maka percakapan pengantin yang belum genap setengah hari itu adalah mantra paling mustajab dalam peradaban. Jadi, petiklah pelajaran berkasih yang menjuntai dari dahan keajaiban yang tumbuh dari pohon ketulusan yang mereka tanam.

Sepatutnya, perkawinan mereka adalah pertautan tak lazim. Oh, mereka sama-sama tulikah? Sama-sama pengkor kakinyakah? Sama-sama juling matanyakah? Tidak. Mereka tak berkekurangan serupa itu. Mereka masih dapat mendengar dengan jernih, berjalan tanpa sengal, dan melihat dengan terang. Mereka dapat saling meningkahi setiap tutur.

Ah, bila pun berpadunya hati mereka mengandung pikatan, siapa yang memedulikannya. Laki-laki tukang parang. Perempuan tukang ladang. Perihal apa yang layak dipicing untuk memaku mata pada perkawinan itu? Dua anak manusia yang memakai mulut jiran untuk menyambung undangan, baru menghelat cinta di hadapan penghulu, baru membongkar tarup di pekarangan rumah....

Maka, helat itu adalah perayaan yang jauh dari ingar-bingar sebuah perkawinan. Tetamu yang datang kurang dari seperempat undangan. Lebih ramai oleh anak-anak yang merincah. Bermain kejar-kejaran, menanti ayam kampung telanjang ditiris dari kuali, bergelak dengan mulut penuh remahan ubi jalar…. sebagian bapak-bapak dan ibu-ibu bagai bersepakat menajur rencana lain pada Ahad itu.

Ya, perkawinan sepasang yatim-piatu itu dilindas teriknya cuaca. Terpanggang sengat yang menudung bumi. Namun begitu, pantang mereka merunduk dagu, melumur asam di muka, apalagi menanak dengki di dada, pada tak seberapa orang yang datang. Gula-gula masih tertabur di sepasang katupan bibir, melengkung di bawah hidung yang bagai mengendus tabiat buruk orang-orang kampung....

"AH, aku bersyukur sekali, Dik. Teman-teman pandai besi banyak yang membantu hajatan tadi. Walapun kau tahu, mereka hanya tak enak hati melakukannya. Karena Kakak karib mereka dalam memanggang besi." Lelaki itu baru saja mengatup pintu kamar.

Mempelai wanita yang sedari tadi duduk di depan kaca, menoleh. "Aku mengerti, Kak," jawabnya setelah mendengar lenguhan napas suaminya barusan. Ah, kau pasti sangat lelah, batinnya.

Tak banyak memang yang membantu perhelatan mereka. Bahkan saat bemasak, satu hari menjelang perayaan perkawinan, hanya segelintir yang datang. Tak tampak pesirah--kepala puak, kadus, lurah, dan orang-orang kantor kecamatan--yang biasanya membuka acara dengan sambutan-sambutan.

"Inilah nasib orang tak bersanak. Di tengah orang-orang kampung pun, kita bagai tak punya nasab kerabat." Laki-laki itu sudah berdiri di belakang istrinya. Matanya menatap mata perempuan itu yang terpantul di cermin.

Perempuan itu balas menatap, juga dari pantulan cermin. "Bila saja, aku tak pernah menangkap basah ibu-ibu tengah mengundang orang-orang di hajatan anaknya, mungkin aku takkan pernah mencecap lemaknya gulai umbut."

"Kau sangat suka gulai umbut, Dik?" Laki-laki itu sedikit menundukkan kepalanya. Kali ini ia tatap langsung mata istrinya.

"O, bukan. Bukan itu maksudku, Kak!" Perempuan itu buru-buru membuang muka. Tampaknya ia belum terbiasa diperangkap mata lelaki. "Mereka mengundangku hanya menenggang, sama seperti kawan-kawan pandai besimu itu...."

"Lalu?" Laki-laki itu menepuk kecil bahu istrinya.

Perempuan itu berjalan menuju kelambu. Menyingkapnya. Duduk di tepi ranjang. Suaminya mengikuti. Kini mereka hampir berhimpitan. Hanya terluang setengah lengan jarak mereka kini.

Perempuan itu menatap mata suaminya. "Inilah nasib hidup tak berbapak, tak beribu, Kak. Bagaimana akan kita diundang orang dalam hajatan, bila orangtua sudah ditanam ketika kaki belum lunas melangkah?"

Laki-laki itu mengangguk, bagai memersilahkan istrinya meneruskan kata-katanya.

"Ah, budi memang harus dibalas budi. Madu jua harus dibalas madu...." Mata perempuan itu basah.

"Jangan sedih, Dik!" Laki-laki itu menyeka mata istrinya. "Malu pada Tuhan. Buruk alamatnya, bila di malam punai, mata kita berinai-rinai."

"Malam punai?" Perempuan itu mengenyitkan dahi. "Apanya yang punai, Kak, bila jemari kita pun tanpa inai? Aku pun tak tahu mengapa ladangku terpisah jauh dari ladang-ladang yang lain. Kakak tahu kan, hanya beberapa orang yang membantuku menugal tahun ini. Itu pun harus diupah segera bila serombongan padi bunting itu mulai merunduk."

Laki-laki itu menarik kedua ujung bibirnya ke tepi. Bagai berharap, senyumnya akan menyiram galau istrinya yang menggelegak.

"Dulu, aku tak pernah percaya pada kata-kata Wak Jasun, Dik. Ramainya hajatan orang kampung adalah buah tabiat bapak-ibu mereka. Bila kerap orangtua mereka menyambut undangan; rajin menjinjing ayam kampung, dan tak lalai mengantar beberapa canting padi dayang rindu... ke rumah hajat, maka, lapanglah jalan perkawinan anak mereka. Alamatnya, orang-orang kampung akan bersicepat mengisi buku tamu. Tarup yang ditegak pun bagai nak rubuh. Ambal yang dibentang bagai mengecil. Penganan yang terhidang dirasa selalu kurang. Ai, hajatan bertabuh-riang. Banyak nian tetamu yang datang. Berlimpahan uang disumbang. Ayam-ayam berjejalan dalam kandang. Beras-beras menggunung malam-siang. Terbayarlah semua galau yang membikin badan kadang meriang. Lunaslah hutang. Tersiarlah kabar bahwa hajatan itu elok tak kepalang...."

Perempuan itu meneguk liur. Lalu menengadah ke langit-langit.

"Apa yang kau pandang, Dik?" Laki-laki itu menggamit tangan istrinya. "Seandainya cicak-cicak itu mengerti percakapan kita, apakah mereka bisa berkabar?"

Perempuan itu balas menggamit. "Ya, bukan perihal cicak-cicak itu tak kuasa berkabar, Kak." Ia menoleh suaminya. "Namun, kita sama malangnya dengan mereka. Apakah kita bisa berkabar? Boleh menuntut atas perlakuan tak lazim ini? O bukan, perlakuan ini bukan tak lazim, Kak!"

Laki-laki itu balas menoleh.

"Perlakuan ini tak berhakim, Kak!" Perempuan itu meringis.

"Dik," Dielusnya kepala istrinya yang tak bersanggul lagi. "Kelak, bila kita bersua dengan bapak dan emak. Kita tanyakan saja pada mereka. Mengapa mereka tak menunggu kita besar dulu baru berjazirah ke Lubuk Senalang? Mengapa mereka tak menyambut undangan orang-orang kampung dulu, agar kawinan anaknya tak kerontang serupa tadi siang? Oh, mereka jua tak meninggalkan kabar bahwa bunga sedap malam yang mencuat dekat nisannya, adalah taklimat agar kita jangan mengeram durja."

Perempuan itu tertawa. Dijatuhkannya leher di bahu lelaki itu. "Bisa saja kau bermain kata, Kak." Dicubitnya sebelah lengan suaminya.

"Jadi, Dik. Lekaslah kita kubur muram. Kakak yakin, bujang-bujang kampung tak tahu bahwa kau adalah kembang tanjung di lereng Bukit Bakung...." Masih dibelainya rambut perempuan itu.

Perempuan itu tersenyum sendiri. Tersanjung oleh pujian lelaki tempatnya bersandar kini.

"...hanya bujang yang berperangai sultan saja yang kuasa menderik tebing licin di bukit itu, bukan?"

Laki-laki itu membuka-buka mulutnya--berteriak tanpa pekik--bagai merasakan geli oleh cubitan sang istri di dadanya.

"Oh, hendak tertawa aku, Dik, bila ingat bagaimana kita menanak rindu. Kita hanya bercinta dari silauan mata, tangan yang bertepuk, dan kening yang bersitindih. Tuhan benar-benar menyayangi kita kan, Dik?" Diciumnya kini kening istrinya.

Perempuan itu mendongak. "Ya, Kak. Tuhan telah mengirimkan lelaki yang juga berkekurangan sepertiku agar kita tak saling menguak aib yang menyertai lidah-lidah kita. Maka, senyummu adalah seroja yang bertaburan, desahmu adalah pengaduan, gamitan tanganmu adalah permohonan, belaianmu adalah hiburan, tatapanmu adalah tangkai kesepian yang harus segera dipetik. Betul seperti itu kan, Kak?"

Kini, balas lelaki itu yang menggelitik pinggang istrinya. "Aku yang harusnya menjadi pujangga di malam ini. Mengapa pula kau yang merayuku, hah?"

Perempuan itu mengambil bantal dan memukulkannya dengan manja ke punggung suaminya. "Siapa yang merayumu, tukang parang! Dasar, perasaan tak berpantang!"

Bergelutlah mereka malam itu. Sumringah rayalah ranjang itu. Ranjang yang menjadi saksi percakapan ajaib sepasang pengantin. Maka, derit peraduan itu adalah lintang pukang cinta yang pecah geladak, lenguhan dan erangan pengantin baru yang hendak mengangkat seperiuk rindu di atas nyala tanakan yang berarang-arang....

Sementara itu, makin pekat kelam yang menangkup malam, segaris cahaya bening nila dari sebuah rumah papan, menguncup tajam menembus langit, berlapis-lapis langit. Mengabar pada penghuni yang takjub seketika. Siapa yang bermikraj setelah Muhammad?

Rumah papan itu dikerumuni orang-orang kampung. Takzimnya, tak ada yang aneh dari rumah itu. Almanak bergambar seorang artis dangdut dengan gitarnya masih bertengger dekat jam dinding yang tinggal satu jarumnya. Piring-piring seng masih tertata rapi di rak aluminium yang berkarat salah satu tiangnya. Gorden merah yang sudah lusuh masih menjuntai di kusen pintu kamar. Parang-parang pesanan penduduk masih terbaris di sudut dapur. Arit, pangkur, dan terindak, caping dari daun bengkuang, masih mencangkung dekat jamban belakang. Hanya satu pemandangan yang agak tak biasa. Di dalam kamar. Seprai anyar itu sudah kusut. Bantal-bantal berserakan. Kelambu pula tersingkap setengah.

"Ke mana pengantin baru tu minggat?"

"Oi, sudah kalian tengok di seberang? Apa tukang parang itu memukul besi di gubuk simpang? Apa perempuan itu sudah berladang dekat Belalau?"

Orang-orang menggeleng. "Tak ada, Pak Pesirah. Mereka hilang!"

"Mungkinkah berbulan madu?"

Orang-orang tergelak serta merta. Berbulan madu? Nak ke mana tukang parang dan tukang ladang merayakan perkawinan? Ke bulankah? Ke langitkah?

"Sudahlah!" Pesirah melerai tawa orang-orang yang berkerumun. "Ambil saja pelajaran. Bila menggelar sedekahan, undang saja yang bapak-ibunya pernah meramaikan hajatan kita atau orangtua kita. Bila tak, tak usahlah kalian anggap. Tak perlu pula menenggang, hingga merasa perlu berhormat pada undangan yang diantarnya. Ini adat kampung. Pusaka nenek moyang! Nah, tukang kabar pula, walapun pengantin itu jiran, tak lihat kalian macam mana ganjilnya mereka? Bukan hanya perkara tak berbapak-tak beribu, tapi, pernah tercatat dalam adat bahwa bujang bisu meminang gadis bisu, hah?"

Tetamu hajatan kemarin dan para tukang kabar, merunduk. Ah, memang salah kami, Pak Pesirah.

Orang-orang bubar. Kembali ke rumah masing-masing. Mengurung perasaan ganjil yang berlipat-lipat. Bukan memikirkan petuah kepala puak, namun masih memercik galau itu. Ke mana sepasang pengantin bisu mengeret badan di malam punai? Ke bulankah? Ke langitkah? ***

Lubuklinggau, 01 November 2009