Dimuat di Koren Tempo 13 Juni 2010
LAMPU-LAMPU penerang jalanan sudah menyala. Ramah menyambut hujan yang turun tiba-tiba. Mata Dian menatap lekat lampu yang terdekat. Sinarnya kuning berpendar oleh tirai hujan. Sebenarnya ia malas berpikir jika malam tiba, tapi berkat pemandangan itu ia mendongak juga mencari bulan.
Tidak ada. Entah awan, bangunan-bangunan, atau terang kota yang menghalanginya.
Di pinggir jalan Dian duduk menunggu bus yang akan membawanya pulang. Suara hujan mengeras menimpa atap halte. Beberapa orang baru bergabung. Sama-sama menunggu. Ada yang mengobrol berdua atau bertiga. Ada yang kelihatan bicara sendiri dengan telepon genggamnya. Tapi lebih banyak yang seperti Dian. Diam sendirian.
Kembali Dian menatap lampu jalanan itu. Tiangnya kurus dan menjulang. Dayanya besar. Ia seperti kawan setia buat Dian. Ada kalau diperlukan. Tapi hanya di sini, di pinggir jalan tempat ia biasa menunggu bus sepulang kerja.
Dian memikirkan matahari ketika dari arah tikungan muncul bus kota. Orang-orang menengok dan beranjak. Ada yang kembali duduk, ada yang terus berdiri. Dian kembali memikirkan matahari. Kendaraan besar itu bukan bus yang akan ditumpanginya.
Di atas meja di kamar kontrakannya Dian menaruh potret matahari. Fokus gambar sebenarnya bukan padanya, tapi pada orang-orang di puncak bukit itu. Semuanya tersenyum, tapi kamera yang dulu disetel otomatis itu tidak jelas menangkapnya. Dari arah timur sinar terlalu membanjir.
Dian ingat, setelah berfoto semua duduk-duduk menikmati matahari, yang pelan-pelan naik meninggalkan garis cakrawala. Langit di sekitarnya begitu bersih dan laju waktu terlalu pelan untuk dihitung.
Bus kota berlalu menembus hujan. Halte itu kembali lengang. Hanya beberapa orang yang masih menunggu. Semuanya diam. Selain bunyi hujan, segala macam suara jalanan di halte itu terus terdengar.
Mata Dian kembali mencari bulan. Tapi diurungkannya. Lampu jalanan yang seakan tidak pernah padam itu kembali ditatapnya. Dian kemudian teringat pada sebuah pesan pendek yang masuk ke telepon genggamnya. Sudah cukup lama, tapi belum juga dibalasnya. Padahal ia sempat begitu menantikannya.
Di seberang jalan itu terdapat juga sebuah halte. Terhalangi kendaraan-kendaraan yang lewat, Dian merasa tempat itu baru dilihatnya. Mungkin karena lampu neon yang dipasang di bawah atapnya sehingga tempat itu kini lebih terang. Berbeda dengan halte tempatnya menunggu bus sekarang, yang entah kenapa hanya diterangi lampu jalanan dan sorot lampu-lampu kendaraan yang sedang lewat. Ia seakan baru menyadarinya.
Beberapa orang tampak mengobrol di halte seberang itu. Sesekali mereka tertawa berderai-derai. Dian melihat mereka seperti menonton film bisu. Suara hujan dan segala macam bunyi jalanan adalah musik pengiringnya. Salah satu di antara mereka kemudian berdiri agak menjauh. Ia mengangkat tangannya, tampak hendak mengambil gambar dengan kamera telepon genggamnya. Resam wajahnya menimbang-nimbang ringan dan mulutnya memberi aba-aba. Yang lain berkumpul saling merapat dan memasang senyuman.
Dian ikut tersenyum.
Pemandangan yang terhalang-halangi kendaraan lewat itu kemudian hilang oleh badan bus yang merapat di halte seberang jalan itu. Sebentar Dian bertanya di dalam hati, apakah mereka sedang menunggu kedatangan bus yang akan membawa mereka pulang.
Kendaraan besar itu bergerak kembali melanjutkan perjalanannya. Seperti tirai yang bergeser pelan setelah sebentar menyembunyikan panggung tontonan pada sebuah pagelaran teater. Hujan masih turun. Kendaraan-kendaraan terus lewat di depan Dian, di antara kedua halte di pinggir jalan itu. Ada yang melaju pelan-pelan, ada pula yang melesat tergesa-gesa. Lampu-lampu jalanan tetap menyala dengan sinar kuningnya yang berpendar oleh hujan. Sementara bangku-bangku di halte seberang jalan itu kini telah kosong.
Tidak jauh dari halte yang kosong itu, Dian melihat sepasang lelaki dan perempuan sedang berjalan. Si lelaki memegang payung yang melindungi mereka dari hujan. Tangan si perempuan memegang lengan si lelaki. Lelaki itu yang tadi mengambil foto dengan telepon genggamnya di halte seberang jalan itu.
Orang-orang di sekitar Dian beranjak dari duduknya. Dari arah tikungan sebuah bus muncul dan mendekat. Saat berhenti bunyinya terdengar khas seperti lenguh hewan laut yang lucu. Tapi pikiran Dian tidak tergerak untuk menikmatinya. Ia melangkah pasti menuju pintu bus yang membuka pelan-pelan itu. Dibiarkannya kepalanya menerima hujan.
Di atas bus yang berhenti sebentar saja itu, Dian duduk di bangku sebelah kaca jendela. Bulir-bulir air tampak di sisi kaca sebelah luar. Ada bulir-bulir yang diam dihampiri bulir-bulir yang bergerak. Ada yang cepat-cepat, ada yang pelan-pelan seperti ragu-ragu atau penuh perhitungan. Bulir-bulir yang bersatu kemudian turun lebih cepat di permukaan kaca. Meninggalkan gurat-gurat basah sebagai jejaknya.
Dian kembali mendongak mencari bulan di balik kaca jendela yang kini dihiasi bulir-bulir air itu. Meski ia tahu tidak akan menemukannya. Kepalanya dipenuhi oleh dua orang yang berpayung itu, yang tadi, sebentar saja, masih dilihatnya dari atas bus. Mereka ada di antara orang-orang yang tersenyum di dalam foto di atas meja di kamar kontrakannya itu.
Dikeluarkannya telepon genggam dari tas jinjingnya. Dian membuka pesan pendek yang sudah lama masuk itu. Dibacanya sebentar, kemudian dihapusnya. Lelaki yang tadi memegang payung itu tidak perlu menerima balasan pesannya.
Dian tersenyum seulas, berniat pergi ke kantor lebih awal besok pagi. Sebentar saja ia akan naik ke puncak gedung tempatnya bekerja di kota itu. Cahaya matahari yang membanjir dari arah timur setiap pagi itu sudah lama tidak dilihatnya.
Bandung, 7 Juni 2010
Dimuat Koran Tempo 28/01/2007
AKU ingin melipat sungai ini dan membawanya pulang. Akan kusimpan di kamarku sebagai hiasan di dekat meja belajar. Tapi bukankah kamarku akan dibanjirinya bila sungai ini meluap? Semuanya akan menjadi basah dan, tentu, merepotkan. Maka lebih baik kugelar saja ia di halaman, dekat pagar. Biar kolam ikan di sana menyatu dengannya. Dan ikan-ikan kolam akan menjadi ikan-ikan sungai. Kawanan yang besar jumlahnya. Berenang ke sana-kemari. Ada yang bergerak menantang arus, ada yang menepi sebentar untuk istirah.
Tapi, mana mungkin semua itu?
Aku ingin tertawa, sebab aku bahagia sekali pagi ini. Walau tubuhku menggigil oleh dingin. Padahal di tanganku segelas coklat susu. Asapnya harum mengepul. Aku bisa melihatnya, seperti juga uap napas dari mulutku, sebelum ia menghilang oleh angin. Menyenangkan sekali. Sementara di sekelilingku kabut mengambang tipis. Sebentar aku menengadah dan mendapati langit mulai terang. Awan seperti kapas yang ditata halus dan rapi. Apakah kabut di sekelilingku, asap dari gelasku, dan uap napasku juga akan menjadi awan di langit sana?
Suara sungai kedengaran merdu. Ada juga burung menyanyi-nyanyi, tapi sosok mereka belum terlihat. Sayup-sayup saja kicau mereka. Aku harus berpikir bila ingin melihat mereka. Hanya ada satu yang terbang lalu hinggap di dahan sana, dan tak lama menghilang dari tatapanku. Dia berwarna kuning. Atau cokelat terang? Burung memang penuh teka-teki.
Kini mataku lekat pada sungai di depanku. Menggemuruh suaranya. Suara-suara yang lain seperti muncul di sela-selanya. Juga suara angin yang membuat semua dedaunan menari. Aku pun jadi ingin menari. Dengan iringan suara sungai.
Aku meneguk minumanku. Nikmat dan hangat.
Ayah di seberang sana memakai jaket tebalnya. Begitu juga Kakak. Mereka sedang mengobrol. Sementara Ibu duduk di atas batu, beberapa langkah dari mereka. Dengan matanya tertuju ke arahku, dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Mereka memanggilku. Mereka memanggilku, memintaku bergabung. Dan semua mereka melambai-lambaikan tangan seraya tersenyum lebar-lebar.
Aku harus menyeberangi sungai ini. Tidak terlalu lebar dan tidak terlalu deras. Di beberapa tempat dasarnya kelihatan karena airnya memang begitu jernih. Beberapa batu berukuran besar menyembul. Batu-batu berwarna abu-abu. Itu salah satu warna kegemaran Kakak.
Aku dengar Kakak kembali memanggil namaku. Sementara Ayah mencoba menebak isi kepalaku dan dia berkata aku tidak usah mencopot sepatu, sebab aku bisa berpijak pada batu-batu itu. Padahal bukan itu yang kini kupikirkan.
Aku berbalik dan berjalan menuju tenda. Lalu kembali ke tepi sungai dengan kamera di tangan. Mencari tempat yang tepat dan nyaman, aku bersiap-siap membidik. Sebelum menyeberang aku ingin mengambil foto mereka dari sini. Pasti akan bagus untuk kenang-kenangan. Akan kami bingkai dan kami tempelkan di tembok sepanjang tangga. Menambah foto-foto yang sudah terpajang di sana.
Kulihat mereka di sana jadi ribut dan bersorak-sorak riang. Terlebih-lebih Kakak: keluar juga kenesnya di pagi ini. Mereka mendekat ke batu besar tempat Ibu duduk. Mereka tersenyum, aku tersenyum. Kudekatkan kamera ke mataku.
Aku mengedip-ngedipkan mata beberapa kali di balik kamera. Tapi kutelan kembali aba-aba yang telah siap di mulutku. Dan aku tidak lagi tersenyum. Aku tidak lagi tersenyum karena seketika semua di sekelilingku seolah surut. Semua bunyi seperti menguap. Lewat lubang kamera aku hanya menemukan batu besar itu. Di atasnya tidak ada ibuku yang sedang duduk dan tersenyum. Juga Ayah. Juga Kakak. Kuturunkan kamera, dan semuanya kian hening dan kosong.
Kini kurasakan kakiku mulai bergerak membawa tubuhku menyeberangi sungai. Ke arah mereka berempat. Jelas mereka tidak menyadari kehadiranku. Mungkin mereka keluarga kecil yang sedang berlibur di tepi sungai. Anak kecil itu lucu sekali, wajahnya mengingatkanku akan seseorang.[]
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)




