Tampilkan postingan dengan label K: Suara Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K: Suara Merdeka. Tampilkan semua postingan
Senin, 22 Agustus 2011 by Forum Lingkar Pena

Cerpen Mashdar Zainal
Dimuat di Suara Merdeka, 21 Agustus 2011

RUMAH itu menggigil. Perempuan tua itu tinggal dan tersesat di dalamnya. Jika malam tiba, rumah itu tampak seperti gadis kecil yang terkurung dalam kamar mandi, dengan keran air yang terus menyala, mengguyur kepala. Konon, dalam rumah itu, musim hujan memang tak pernah berhenti. Siutan angin menyambar-nyambar. Petir dan kilat bersahut-sahutan. Jika tengah malam tiba, suara-suara gemuruh dari dalam rumah itu kian menjadi. Konon lagi, hujan itu bermula pada sebuah malam celaka. Malam selepas pemakaman suaminya.

***

DIA hartaku satu-satunya, bagaimana aku tidak gila kehilangannya. Selepas anak semata wayang kami pergi ke luar negeri, mencari kerja katanya, dan puluhan tahun tidak kembali, aku tak punya apa-apa lagi kecuali dia. Barangkali dia tampak menyusahkan dan tidak istimewa sama sekali. Namun, dialah bejana emas yang selama ini menampung curah hujan yang terus menderas dalam kepalaku, mengguyur mataku, menguyupkan hatiku.

Semenjak divonis stroke, dia telah menjelma bayi. Setiap hari hanya terbaring di ranjang tidur yang kasurnya kian hari kian lepek dan menggumpal. Makan harus aku yang menyuapinya. Mandi harus aku yang memandikannya. Bahkan, buang air pun harus aku yang menimpal dan mencebokinya. Barangkali memang di situ mukimnya cinta. Tak ada keluh. Tak ada kesah. Semua kujalani dengan debaran yang masih sama. Debaran ketika pertama kali bertemu dengannya. Debaran ketika ia mendatangi abak-emakku untuk memintaku. Debaran ketika dia mulai mengenakanku menjadi pakaiannya. Semua masih sama. Hingga detik ini. Detik ketika dia terlihat sangat bodoh dan tidak berdaya.

***

SUAMINYA meninggal tepat ketika azan subuh berhenti. Pagi hari rumahnya ramai oleh handai tolan yang melawat dan mengikrarkan bela sungkawa. Menjelang siang, jenazah dimandikan dan dikafani, menjelang sore pemakaman baru usai. Petang merembang. Satu per satu tetangga dan handai tolan berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing. Petang itu mereka sempat menyaksikan mendung hitam yang sangat tebal, bergulung-gulung di pelupuk mata perempuan itu. Mendung hitam yang mereka yakini akan menjadi pertanda musim hujan yang panjang.

Tepat selepas isya para tetangga dikagetkan oleh raungan panjang dari dalam rumah itu. Raungan panjang yang sesekali diikuti geletar seperti suara petir. Juga desah napas yang terdengar seperti angin yang marah. Dari celah-celah pintu para tetangga juga sempat menilik lampu neon yang nyala-mati, yang mereka yakini sebagai kilat yang berkedip-kedip. Beberapa saat kemudian, orang-orang mulai mendengar titik gerimis yang bergemeletak menikam lantai, meja, dan kursi. Semakin lama titik gerimis itu bergemericik dan menderas. Beberapa orang yang penasaran, berjingkat mendekati rumah itu. Dan dari balik pintu yang terkunci, mereka bersumpah, bahwa mereka mendengar gemericik air yang sangat nyata. Seperti ricik hujan yang sangat deras. Sejak saat itu, rumah limas itu tampak muram. Pintunya tak pernah lagi terbuka.

***

AKU percaya, bahwa kehilangan adalah ibu dari semua duka. Bahkan aku tak bisa melukiskan bagaimana perasaanku ketika dia benar-benar pergi dan tak akan pernah kembali. Sungguh, ditinggalkan selalu lebih miris daripada meninggalkan.

Malam itu, dia mengeluhkan udara yang sangat dingin. Dia mengatakan bahwa tulang-tulangnya seperti membeku dan diremukkan. Jahe hangat kuseduhkan, berlapis-lapis selimut kubalutkan. Dia masih saja menggigil. Matanya mendelik. Tubuhnya gemetar. Bibirnya yang kering mengelupas lapis demi lapis. Semalam suntuk aku mencari sesuatu yang bisa menghangatkannya. Di sebelahnya, kubuatkan perapian kecil dari kayu-kayu yang kucabut satu persatu dari papan dinding. Dia masih saja menggigil.

Kutanyakan padanya, apa yang sekarang dia rasakan? Dia tak menjawab. Tubuhnya masih gemetaran. Tiba-tiba aku sangat takut. Sangat khawatir. Maka, aku tak perlu melakukan yang lain. Kehangatan yang masih tersisa di tubuhku pun kuberikan. Aku memeluknya erat-erat. Seolah dia akan hilang. Malam terus merangkak. Sangat pelan. Sangat pekat. Sangat dingin.

Di akhir sepertiga malam, suara tartil memenuhi udara di luar sana. Dia masih menggigil. Diikuti suara tarhim yang melengking seperti tangisan yang sangat syahdu. Ia masih gemetar. Azan subuh pun memulai kalimat pertamanya. Ketika itu gemetar badanya sedikit sudah berkurang. Namun dari matanya, air terus mengucur seperti hujan. Tepat ketika azan subuh berhenti. Dia tidak menggigil lagi. Tidak gemetar. Tidak bergerak. Tubuhnya sangat dingin. Sedingin besi terendam hujan.

Aku turut kaku. Menatap lelehan yang masih tampak hangat di matanya. Menatap kedua matanya yang mendelik dan penuh kabut. Menatap mulutnya yang menganga, seperti ingin mengatakan sesuatu namun tak pernah sampai. Kurasakan, mendung hitam mulai berarak menutupi penglihatanku. Dari subuh hingga magrib. Menjelang isya mendung hitam itu kian merajalela, membutakan mataku. Aku tak bisa melihat kecuali dunia yang remang, dingin, dan sangat tidak ramah. Detik itu desah napasku gusar. Aku meraung panjang. Sekeras-kerasnya. Setelah itu, hujan mulai turun berdebam dalam kepalaku. Mengguyur hatiku. Mengguyur mataku. Mengguyur rumahku.

***

SETIAP kali menatap rumah itu, kami selalu merasa iba. Membayangkan perempuan tua itu duduk sendiri di sudut kamar. Memeluk lutut. Menggigil kedinginan. Perempuan tua itu memang terlampau larut dalam kesedihan. Tak pelak sesuatu dalam kepalanya rusak, terendam kesedihan yang sangat hitam dan kental. Kami tak pernah bisa menyelami kesedihan yang berkedung dalam kepalanya itu. Bagaimana mungkin kami bisa. Ia sendiri tak mau membagi kesedihan itu pada kami. Ia tak pernah mengizinkan kami masuk ke dalam rumahnya, ke dalam dunianya, lubuk kesedihannya.

Semenjak malam itu… malam ketika hujan pertama turun dalam rumah itu… pada malam selepas pemakaman suaminya. Perempuan tua itu memang tak pernah lagi keluar rumah, kecuali membuang sampah. Kami tak pernah tahu apa yang kemudian ia makan. Tubuhnya kian susut. Ia telah menyerahkan dirinya dalam kesedihan yang paripurna, hingga ia bagai tak punya waktu untuk memikirkan dirinya. Musabab itulah, sebagai tetangga, kami merasa perlu untuk pura-pura bertamu ke rumahnya, entah untuk mengantarkan sedikit makanan, entah bertanya keadaan. Kami rasa, sebagai tetangga, kami pantas melakukan itu. Ketika itu, kami berharap, ia mau membuka diri dan membagikan sedikit kesedihannya pada kami. Namun sungguh di luar dugaan, perempuan tua itu malah melempar kami dengan sandal sambil berteriak-teriak mengusir kami pergi.

Perempuan tua itu telah sempurna menjadi hantu. Rambutnya yang pecah memutih tak lagi ia gelung… ia urai seperti rambut nenek Lampir. Pakaian yang melekat di tubuhnya adalah pakaian terakhir yang ia kenakan, yang kami lihat ketika jenazah suaminya dikebumikan. Sangat kumal dan bau. Kami tahu, kami sudah tak bisa berbuat banyak. Perempuan tua itu telah menyerahkan dirinya pada kesedihan yang tak beranah tepi. Hingga ia tersesat di sana dan tak pernah bisa kembali.

***

HUJAN terus mengamuk dalam kepalaku. Tak kenal jeda. Tak kenal reda. Berkali-kali airnya merembes melalui sudut mataku. Terkadang meleleh dari lubang hidungku. Aku menggigil karena hujan itu. Hujan kelam yang terus menerus mengguyurku. Mengguyur hatiku. Mengguyur mataku. Mengguyur rumahku. Aku sendiri tak tahu bagaimana cara menghentikan hujan itu. Hujan itu hanya akan sejenak reda bilamana aku tertidur. Bilamana dunia kasat mata lenyap dari pandanganku. Dan digantikan mimpi-mimpi yang hangat dan beraneka rasa.

Tubuhku gemetar. Aku menggigil. Aku takkan mampu bertahan jika hujan ini terus mengamukku, mengguyurku sedemikian rupa. Tanpa jeda. Tanpa reda. Aku harus segera tidur. Tidur. Supaya hujan ini berhenti. Tidak membasahi hatiku. Tidak membecekkan mataku. Tidak menguyupkan rumahku. Ya, aku harus segera tidur. Tidur yang panjang. Meski dengan cara paling mengerikan.

***

PADA sebuah malam, kami terheran-heran ketika mendapati rumah itu tiba-tiba sunyi. Tidak ada raungan panjang seperti geletar suara petir. Tidak ada kilat yang berkedip-kedip. Tidak ada pula suara gemericik yang menikam lantai, meja, dan kursi. Kata para tukang ronda, suara gemuruh itu telah reda sejak malam lalu.

Maka, seperti kali pertama kami mengintip bagaimana hujan itu bermula, kami pun ingin tahu bagimana hujan itu reda. Kami berjingkat mendekati rumah itu. Rumah yang tidak lagi menggigil namun tampak lebih muram dan menyedihkan. Rumah itu hening. Sangat hening. Seperti penyusup, kami mengintai dari luar pintu yang bergeming dan kusam. Kami mencari celah lubang pintu untuk mengetahui rahasia rumah itu.

Kami mulai mengintip satu persatu. Dan kami tak mendapati apa-apa selain keheningan. Keheningan yang menyelimuti seonggok tubuh kaku yang berayun-ayun di balik pintu. Di antara mata yang mendelik dan lidah yang menjulur, kami masih melihat sisa-sisa hujan itu. Dan ketika kami menatap mata itu, tiba-tiba mendung hitam bergulung-gulung mendatangi kepala kami. (*)

.

Rabu, 17 Agustus 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas

Dimuat di Suara Merdeka, 14 Agustus 2011

AKU tak habis pikir, bagaimana mungkin kalian mengeluarkan penyanyi berbakat itu dari trio! Seolah-seolah dengan membuangku belum cukup untuk memuaskan keserakahan, kalian libas pula murid kesayanganku! Yang membuatku makin sakit hati adalah, seorang banci panggung yang menggantikan posisinya adalah anak orang superberduit! Tunggu! Tunggulah pembalasanku! Aku takkan membiarkan kalian memperlakukanku seolah membuang ampas tebu. Pun aku takkan pernah rela komposisi a capella yang kutulis selama dua tahun itu kalian curi!

***

AWALNYA, kupikir dengan masuknya orang baru itu, musikalitas kalian akan lebih baik, ternyata tidak! Beberapa penampilan yang kutonton diam-diam, justru menunjukkan kalian jalan di tempat. Kalian masih bernyanyi di C Mayor. Untuk nada dasar yang paling jamak dipakai itu pun, kalian harus membidiknya dengan meniup pitchpipe, pembunyi nada dasar, terlebih dahulu! Itu makin menegaskan bahwa kalian masih terlalu amatir dibanding Sang Guru.

Aku pun yakin, kalian tak akan menyadari keberadaanku di antara tamu-tamu yang mengkhidmati penampilan kalian malam nanti. Mungkin, mereka hanya belum terbiasa dengan a capella, hingga takjub; bagaimana mungkin pita suara dapat mengeluarkan bunyi bas yang ritmik, keteraturan yang estetik? Namun, kupikir rencanaku jauh lebih teratur, jauh lebih indah, bila disandingkan dengan dentuman bass yang memang harus kuakui dibunyikan oleh seseorang dengan timbre, warna suara yang lumayan kuat. Lalu, bagaimana bisa kalian mengajak seseorang yang tidak mampu menstabilkan vibra ke dalam trio?! Yang paling mengejutkanku adalah, orang baru itu juga dibenci orang lain! Setidak-tidaknya oleh seseorang yang meneleponku satu minggu yang lalu. Entah bagaimana perseteruan kita terendus, ia memintaku mencelakai orang baru itu pada malam pertunjukan—yang kalian klaim—terakbar minggu depan.

Tunggu dulu! Aku tak picik sebagaimana mereka yang berniat jahat kebanyakan (yang begitu gembira ketika mendapat bantuan dan diberi kemudahan). Ya, walaupun ia terus menghubungiku umpama ornamen cannon, kejar-kejaran antara ornamentasi backing vocal dengan lead vocal dalam sebuah komposisi panjang…, namun aku selalu mengabaikannya seperti berimprovisasi di tengah komposisi klasik yang taat partitur. Hahaha, tentu saja, panggung konser akan diserakkan botol air mineral dan sepatu para penonton….

Bukan! Semua itu kulakukan bukan karena aku masih menyayangi kalian (hueekkkhh!), tapi karena aku tak ingin rencana balas dendamku disusupi kepentingan orang lain. Ya, aku menolak ajakan, atau lebih tepatnya, menolak tawarannya (tawaran dengan sejumlah uang yang menggiurkan). Dan… apabila mereka pikir, penolakan itu berarti mengacuhkan pengkhianatan kalian, ia salah besar!

***

AKU telah mendatangi hall yang tak terlalu luas ini siang tadi, beberapa saat setelah gladi resik untuk penampilan lepas makan malam nanti. Ah, para penjaga hall ini sangat Indonesia, rupanya. Mereka mengerti rupiah sebagaimana dilenakan “Terajana” ketika para calon—yang katanya akan menjadi-wakil rakyat berkoar-koar perihal janji—yang sesiapa pun tahu itu pasti-palsu! Setelah mengatakan bahwa aku adalah teknisi sound system lalu mengeluarkan beberapa lembar seratus ribu dari dompet, mereka mempersilakanku ke belakang panggung. Walaupun, beberapa saat setelah itu, seorang lelaki dengan syal di leher buru-buru menghampiriku. Hampir saja jantungku copot karena merasa rencanaku terendus.

Ia tersenyum. Ah, senyum yang membuatku lega; bahwa ia tak tahu apa-apa tentang yang akan kuperbuat.

Maaf, katanya. Anda pasti mengerti partitur, ‘kan? lanjutnya seraya membuka gulungan kertas di tangan kiri.

Aku mengangguk serta-merta. Bukan, bukan karena ia bertanya kepada orang yang tepat. Tapi karena aku gugup. Jangan-jangan ia tahu kalau akulah yang mengumpulkan kalian bertiga dalam sebuah grup; akulah yang mengenalkan betapa pentingnya pemahaman tentang not balok dalam mengaransmen ulang sebuah karya; akulah yang mengajarkan betapa penting groove, ruh sebuah lagu; akulah yang mengenalkan head-voice sebagai teknik pamungkas untuk memproduksi suara pada nada yang melampaui oktaf normal; akulah yang tak bosan-bosan mewantiwanti agar jangan selalu terpaku pada pembagian suara do-mi-sol dalam bernyanyi bersama; akulah yang paling bawel bila salah satu dari kalian berimprovisasi sebelum refrain pertama dirampungkan, akulah yang kerap protes bila nada miring terlalu banyak digunakan (termasuk di bagian penutup yang kerap menjadi penanda sebuah komposisi berkualifikasi high-end)….

Menurut Anda, apakah ending komposisi ini tidak terlalu biasa? Ia seolah membuyarkan pengembaraan pikiranku. Ia menunjuk sederetan not balok di lembar terakhir partitur.

Aku tersenyum. Aku mengikuti telunjuknya. Mataku bertabrakan dengan angka 1-3-5, do-mi-sol, di akhir komposisi. Bukan, bukan karena aku gembira mendapati selera musik kami yang sama, tapi karena aku langsung terbayang seperti apa seharusnya kutelikung nasib kalian malam ini.

Hmm, maaf, memangnya Anda siapa? Aku balas menatapnya.

Ia seperti terkesiap.

Maksudku, apa kepentingan Anda dengan komposisi ini?

Aku hanya seorang undangan, katanya dengan senyum simpul. Aku seorang dosen musik di sebuah universitas. Ia menyebut nama sebuah kampus seni terkemuka di Ibu Kota, sebelum mengutarakan pendapatnya (ia memang pandai memancingku berpendapat): Menurutku, metronom komposisi ini seharusnya pianissimo, lambat. Bukan pianissisimo, sangat lambat seperti ini….

Tunggu dulu! Kenapa kau bertanya kepadaku? Tiba-tiba aku merasa ada yang aneh. Kenapa, tak bolehkah? Ia mengangkat kedua bahunya. Apa karena kau hanya seorang teknisi sound system, ia kembali terkekeh.

Aku mengangkat alis seraya sedikit menggerakkan kepalaku.

Kadang-kadang, seorang sepertimu ternyata memiliki musikalitas yang tinggi…, nada suaranya sangat pelan, lirih, seolah-olah bibirnya berada dua sentimeter dari daun telingaku.

Bagaimana kau yakin?

Pengalaman, sigap ia menjawab. Aku juga melatih grup vokal di kampus. Aku meminta bantuan seorang teknisi yang selama ini mengurusi sound system di semacam sanggar di kampus itu….

Dan musikalitasnya bagus? Potongku tak sabaran.

Ya. Bahkan ia yang paling mengerti tentang power, desibel, partitur miring…. dibandingkan anak-anak didikku.

O ya? Aku mengernyitkan dahi.

Ia mengangguk cepat.

1-3-5-6,5-2,5, jawabku cepat seolah hendak menguji kepekaan musikalitasnya.

Do-mi-sol-le-re? Ah, dia berhasil membaca accord —paduan minimal tiga nada yang membentuk harmoni. Estetik, ‘kan? Kucoba meyakinkannya.

Accord miring yang mengerikan!

Sangat mengerikan, timpalku lirih seraya meninggalkannya ke belakang panggung. Di belakangku, aku yakin, ia bersegera mengambil pulpen dan menambahkan dua not miring di akhir partitur.

***

MALAM merangkak. Sebagaimana komposisi dengan tempo pianissisimo yang akan dibawakan, aku akan mengatur mikrofon kalian dengan echo yang sedikit lebih tebal. Ini akan memberi nuansa klasik yang kelam. Ah, klasik memang berkarib dengan ketukan yang mellow, sebagaimana kenangan memang akrab dengan air mata. Dan malam ini, orang-orang akan menyaksikan bahwa air mata itu bukan hanya menyeruak dari mata para penonton yang menyaksikan pertunjukan a capella…. Air mata itu akan mengalir dari mata-mata kekasih, kakak-adik, dan terutama orangtua kalian! Ah, mereka memang tak tahu apa-apa tentang hukuman buat para pendusta yang mengalunkan lagu cinta!

Makan malam dimulai. Kalian berkerumun di salah satu sudut seolah threesome yang tengah melepas rindu. Sesekali kalian mengangkat gelas bertangkai itu, lalu mendekatkannya satu sama lain hingga menghasilkan suara gelas beradu. Sesekali tawa kalian pecah. Aku tahu, kalian sangat berharap akan ada satu atau dua orang yang menghampiri. Lalu orang itu berseru girang karena bertemu dengan trio yang sudah digadang-gadang akan memainkan lagu sendiri. Taik kucing!

Ternyata laki-laki yang menemuiku sore tadi, ada di antara para tamu. Ia mengambil tempat duduk dekat meja bundar di sebelah kanan panggung. Ah, bagaimana bisa matanya seolah tak membiarkanku bergerak leluasa. O, jangan-jangan, jangan-jangan…. Kualihkan wajah, aku menghadap ke belakang. Keringat dingin mulai tumbuh satu-satu. Aku merasa kemeja yang kukenakan sangat menyiksaku. Aku seolah ikan asin yang dibalut puluhan lapis tisu….

Pembawa acara sudah meminta para hadirin yang masih berada di ruangan standing party agar segera memasuki ruang pertunjukan. Aku memutar kepala, dan… ups! Akhirnya aku bisa bernapas lega. Dosen undangan itu tak ada lagi. Awalnya mataku mencari-carinya di antara kerumunan penonton, tapi tak kutemui …ah, sudahlah!

Kalian naik pentas. Mengambil tiga mikrofon yang kuletakkan di salah satu sisi pentas. Kalian menyapa para hadirin. Kalian mengucapkan salam, lalu berbasa-basi perihal kegembiraan telah dilibatkan dalam perhelatan akbar malam itu. Ya, siapa yang tak bangga menjadi bagian acara syukuran pejabat yang baru saja dilantik menjadi menteri. Konon, selera seninya sangat tinggi. Ia mahir memainkan flute, sitar, saksofon, dan akordion. Namun hal yang paling seru adalah, ia adalah pejabat yang paling banyak dibincangkan saat ini. Ialah yang membuka kasus korupsi menteri yang ia gantikan. Walaupun, dalam beberapa forum, ia menyatakan bahwa itu adalah wewenang presiden, namun tak pelak, ia dianggap sengaja membuka aib orang demi posisi yang kini ia tempati. Ah, itu bukan urusanku. Walaupun dapat saja, rencanaku ini selaras dengan apa yang tengah berkecamuk di benak mantan menteri itu…, tapi aku tak peduli! Rencanaku adalah murni atas dasar dendam yang menyala-nyala!

Seperti yang kuduga, salah satu dari kalian meniup pitchpipe beberapa saat ketika tepuk tangan para tamu mereda. Kalian membawakan komposisiku, lagu yang membawa kalian menjuarai sebuah festival a capella di Oslo enam bulan lalu!

Kalian membawakannya dengan penuh penghayatan. Jujur, aku kagum pada accord yang kalian hasilkan. Sangat bulat dan padat. Hebatnya, kalian menjadikan suara chopstain, semacam suara falseto, sebagai suara satunya. Kalian membuat pecahan suara di bawah nada dasar: Sol dan mi yang diturunkan satu oktaf. Menjura! Kuatur equalizer demi memastikan bahwa harmoni yang kalian produksi benar-benar jernih. Dan… hampir saja aku melupakan rencanaku sebelum seseorang menyentuh pundakku. Aku menoleh. Aku terkesiap. Dosen undangan tadi sudah berdiri di belakangku.

Mikrofon mana yang akan menyentrum anak Pak Menteri? Bisiknya tepat di telinga kiriku.

Aku meneguk liur. Oh… bagaimana bisa? Wajahku memias. Baru saja hendak kupastikan siapa dia sebenarnya, lidahku tiba-tiba kelu ketika menyadari kepala pistol sudah ia tempelkan di pinggangku.

A-apa maksudmu? Anak Pak Menteri? Anak Pak Menteri yang mana? A-a-aku t-t-tak mengerti …. Sungguh, aku benar-benar gugup.

Kau gila! Matanya membelalak sempurna. Ia menunjuk pentas. Orang baru itu! Damn! Ternyata, kalian memang licik! Menangguk keuntungan dari seorang anak pejabat demi ambisi pribadi atas nama trio yang kurintis. Dadaku megap-megap!

Kalian baru saja menyelesaikan refrain pertama dengan cannon yang sempurna.

Kutarik napas dalam-dalam. Kulepas dalam satu helaan. Kubalas membelalak. Aku tak peduli! Anak Pak Menteri atau bukan, aku akan mencelakai mereka bertiga! Lagi pula apa urusanmu, Pak Dosen Seni yang Terhormat?! Jantungku berdegup tergesa-gesa. Entah bagaimana aku jadi senekat ini, seolah tak memedulikan pelatuk senjata yang tengah ia todongkan itu, dapat ditarik kapan pun ia mau. Ah, brengsek! Bagaimana aku kecolongan seperti ini! Ternyata tindak-tandukku telah diawasi oleh lelaki sialan ini! Aku yakin dialah yang meneleponku beberapa hari yang lalu. Sial!

Kalian telah sampai verse kedua….

Pentas gaduh! Sebagaimana telah kuatur sebelumnya. Kabel telanjang di ujung mikrofon akan tersambung sendirinya dengan arus equalizer ini, tepat ketika lagu telah memasuki menit kedua lewat dua puluh enam detik, kalian terjerembab dengan mikrofon masih di genggaman. Tubuh kalian kejang-kejang seperti orang ayan. Beberapa panitia mendekat namun tak berani menyentuh. Aku tersenyum dalam hati. Dengan sikap jumawa, aku melangkah mundur seolah tak terjadi apa-apa. Satu, dua, tiga. Kuputar badan ke arah toilet yang berdekatan dengan pintu keluar belakang hall. Selamat tinggal, para pengkhianat!

Dooorrr!!!

Bukan, bukan bunyi tembakan! Aku seolah mendengarkan do-mi-sol-le-re, accord miring yang paling miris, dibunyikan tiba-tiba. Sungguh, paduan yang sempurna! Kelam mencekam! Teriakan di sana-sini. Hall gaduh. Aku sudah bisa membayangkan kepanikan orang-orang di dalam ruangan. Dosen Seni itu pasti berhasil menyarangkan sebutir timah panas ke kepala Pak Menteri….

Dooorrr!!!

Aku makin terbahak-bahak. Entah, di bagian tubuh Pak Menteri mana lagi yang menjadi sasarannya! Benar-benar kematian yang musikal!

O o. O o. Aku terkejut mendapati kerumunan orang itu. Ya, mereka seolah hendak menyerbuku. Keparat! Mereka benar-benar menyerbuku. Bagaimana mereka bisa tahu rencanaku?! O tidak! Bagaimana mereka menjadi sangat bodoh seperti ini. Lihat! Aku tidak memegang pistol! Bukan aku yang menembak Pak Menteri! Bukan aku! Ah, dasar tolol! Lihat, Dosen Seni yang ada di dekat kalianlah yang melakukannya.

Ooo, alih-alih memedulikan teriakanku, mereka malah bernyanyi dalam komposisi yang mengeriapkan bulu kuduk. Mereka terus menuju ke arahku. Mereka menerobos saja Dosen Seni itu seolah tubuhnya tembus pandang. Kini mereka mengerumuniku, mendesakku, seraya tetap bernyanyi di accord do-mi-sol-le-re yang mematikan! Aku menutup kedua telinga! Aku meraung-raung. Tiba-tiba aku merasa kesakitan yang sangat di beberapa bagian tubuh. Aku jatuh, terjerembab. Mereka meraba-raba tubuhku. Meraba kakiku, ah! Meraba perutku, ah! Tangan-tangan mereka berlumuran darah.

Darah luka, sepertinya.

Luka tembakan, lebih tepatnya. (*)

.

.

Lubuklinggau, 12-15 Juni 2011

Senin, 21 Maret 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Mashdar Zainal
Dimuat di Suara Merdeka, Minggu, 20 Maret 2011

HUJAN turun deras sekali. Namun, seperti apapun cuacanya, kau selalu datang tepat waktu. Kini, kubayangkan, kau sedang duduk gelisah di kafe itu, seorang diri. Menatap layar HP yang sinyalnya nyala-mati, sambil menyeruput jus apukat susu kesukaanmu. Dan kini, mungkin jus apukatmu sudah tandas. Sudah satu jam lebih dari waktu yang kita sepakati. Dan aku masih meringkuk di kamarku. Sudah tiga kali kau menelpon, tapi selalu putus. Sinyalnya pasti sedang buruk oleh cuaca.

Dari balik jendela kamarku, aku hanya membeku, menatap ruahan air langit yang seperti ditumpahkan dari bejana raksasa. Jalan-jalan tertutup genangan. Rumput-rumput terendam. Daun-daun kering mengambang terbawa arus. Bunga-bunga di halaman, dahanya bergoyang-goyang, seolah tak kuasa menahan tikaman air yang begitu runcing. Jendela kaca di mukaku sedikit buram, berembun. Beberapa kali aku menyekanya. Dan wajahmu yang gelisah seperti terbayang di sana.

Maka harus kukatakan: maaf, petang ini aku tak bisa menepati janji—untuk bertemu denganmu. Aku yakin kau maklum. Di sini, hujan turun deras sekali. Aku tak mungkin menerobosnya. Demamku baru enyah beberapa hari lalu. Tak mungkin aku mengundangnya lagi. Tubuhku masih terlalu rapuh untuk melawan dingin. Jadi maaf, aku tak bisa memetik seikat pertemuan yang telah kujanjikan untukmu. Sekali lagi, maaf.

***

Kafe sepi. Beberapa meja paling tepi tampak basah oleh embun hujan. Aku duduk menggigil di meja paling tengah. Ada empat kursi, dua kosong, satu kuisi dengan tas dan kado yang ingin kuberikan untukmu. Tapi kau belum datang. Apapun cuacanya, kau memang jarang tepat waktu. Tapi itu yang suka darimu. Kau selalu membuatku gelisah, gelisah yang sangat mengasyikan. Karena meskipun kau terlambat, kau tak pernah lupa pada janji.

Hujan terus mericis. Satu gelas jus apukat susu tanpa es sudah karam di lambungku. Dua potong pisang keju, tinggal separuh. Aku memang sedikit gelisah—gelisah yang mengasyikan. Sudah satu jam lebih aku menunggumu. Dan kau belum muncul.

Di sini, hujan turun deras sekali. Barangkali di tempatmu juga. Mungkin sebab itu kau tak bisa (atau belum) datang. Beberapa kali kukirim sms, tapi tidak terkirim. Kutelpon juga putus-putus terus. Hujan begini sinyalnya pasti buruk. Tapi tak apa. Aku akan menunggumu hingga hujan reda. Pun jika hari ini kau tak bisa datang juga tidak apa-apa. Beberapa hari lalu kau baru diizinkan pulang dari rumah sakit. Dan tentu keadaan fisikmu belum pulih sempurna. Salahku juga, memintamu bertemu di musim hujan begini. Ini benar-benar bukan masalah. Tak apa. Aku hanya merindukanmu. Sudah sekitar tiga minggu kita tidak bertemu. Dan tenggang waktu itu cukup membuatku berdebar-debar menahan rindu. Apa kau juga merasakannya?

***

Memang (rasanya) cukup lama kita tidak bertemu. Terakhir kali kita bertatap muka ialah saat aku terbaring di rumah sakit tiga minggu lalu. Selepas menjengukku dengan separcel buah, kita sempat ngobrol-ngobrol sebentar, setelah saling terdiam agak lama.

“Sudah berapa hari kau opname?” tanyamu lembut.

“Sudah tiga hari.”

“Kata dokter, apa sakitmu?”

“Katanya gejala thypus.”

“Itulah. Pasti makanmu sembarangan dan tidak teratur. Sudah kubilang, jaga kesehatan. Jaga makan.”

Aku hanya terdiam mendengar petuahmu yang lebih terdengar sebagai petuah ibu-ibu.

“Maaf, aku tak bisa berlama-lama. Aku harus kembali ke kantor. Kalau keadaanmu membaik. Tolong sms aku.”

Aku tersenyum dan berterimakasih, sebelum kau pergi dan mengusap tanganku.
Entahlah! Hubungan kita memang aneh. Barangkali itu karena perbedaan usia di antara kita. Kau perempuan, dan kau tujuh tahun lebih tua dariku. Dan mungkin karena itu pula, terkadang aku merasa, bahwa hubungan kita bukan seperti hubungan sepasang kekasih, melainkan hubungan antara ibu dan anak.

Dalam dirimu selalu terselip jiwa-jiwa keibuan: selalu perhatian, ingin melindungi, mengalah. Dan aku sebaliknya: ceroboh, sesuka hati, manja, dan sifat-sifat kekakanakan lainya. Kau selalu pandai bersikap dewasa, sehingga aku merasa nyaman untuk terus bersikap kekanakan. Tapi masalahnya, aku seorang lelaki dan kau seorang perempuan. Terasa janggal jika seorang lelaki merengek di bahu kekasihnya, berceloteh manja, meminta ini-itu. Tapi ini sudah seperti diatur. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain satu: mencintaimu dengan caraku—yang mungkin membuatmu nyaman.

***

Hujan belum juga reda. Dari gelapnya, sepertinya langit telah menyiapkan debit air yang cukup banyak untuk memenggal pertemuan kita. Ini benar-benar seperti tangisan gadis patah hati, terus merinai, tak usai-usai. Suasana beginilah yang acap kali membuatku melamunkanmu. Melamunkan hubungan kita yang terus mengalir, lancar, tapi bagai tak bermuara.

Kata cinta telah tunai kau ucapkan, namun, tampaknya tanganmu masih gemetar untuk memasangkan selingkar cincin di jariku. Kau masih tampak kanak-kanak untuk melantunkan ikrar sakral itu. Sedangkan usiaku terus merangkak bagai sesosok hantu yang terus menerorkan ancaman.

Hubungan kita pun masih rahasia. Setahu orang tuamu, aku hanya seorang kakak bagimu. Kakak perempuan yang penuh perhatian. Tak lebih. Jadi mereka tak pernah berpikir yang aneh-aneh tentang kita. Entahlah, bagaimana cerita ini nanti akan berakhir. Seolah-olah, sebuah alamat buruk jika seorang perawan tua jatuh hati pada pemuda kencur. Ah, tidak juga. Sebenarnya kau pun bisa bersikap dewasa. Kau sudah hampir 25. Banyak juga pemuda seusiamu yang sudah menimang momongan. Dan mereka baik-baik saja. Barangkali masalahnya, hanya, aku jauh lebih tua.

***

Hujan masih berdebaman. Apa kau masih di sana? Tiba-tiba aku merasa sangat bersalah padamu. Aku tahu, selama ini, diam-diam kau tersiksa. Selalu kau yang mengalah. Selalu kau yang berkata iya. Lambat laun kusadari juga. Ini tidak sepantasnya. Umurku sudah hampir 25. Aku sudah—sangat—bukan anak-anak. Aku tertawa sendiri menahan malu mengingat sikapku selama ini padamu. Dan satu hal lagi. Hal yang sebenarnya juga mengganggu pikiranku. Ya, tentang muara hubungan kita.
Kau tak akan mungkin bertanya, “Kapan kita menikah?” atau “Kapan kau nikahi aku?”. Tapi aku benar-benar tahu, selama ini kau menunggu. Menunggu kata manis itu menyembul dari bibirku. Aku benar-benar tahu itu. Dan lagi-lagi, apa boleh buat, akupun tak bisa membayangkan bagaimana reaksi bapak-ibuku jika aku berkabar pada mereka, “Pak, Bu, aku ingin menikah.”

Meski usiaku sudah mendekati 25, tapi aku masih pemuda yang belum layak untuk disebut dewasa. Pemuda yang belum bisa memakai kakinya sendiri untuk berdiri, pemuda yang masih ‘meminta gendong’ orang tua. Semua kebutuhanku mulai dari biaya kuliah, kebutuhan sehari-hari, makan, hiburan… semua masih murni, dari orang tua. Tak sedikitpun ada pautnya dengan keringatku. Maka bagaimana mungkin aku mengucapkan ikrar itu padamu. Begini-begini, aku juga tahu apa kewajiban suami terhadap istri. Maka itulah alasan mengapa aku menunda. Sekali lagi maaf.

***

Lambat laun, hujan ini terasa seperti tangisan. Ngilu dan panjang. Apa mungkin kau akan datang, sedangkan hujan sederas ini? Ah, kau. Selalu aku bertanya begini: bagaimana bisa aku jatuh hati padamu? Jujur, terkadang aku merasa sangat bersalah padamu. Aku bagai belati yang sesuka hati memenggal masa mudamu. Kau lelaki, masih muda. Belum habis waktumu menikmati kebebasan sebagai seorang lelaki—pemuda. Tapi tiba-tiba aku menuntutmu untuk turut memperhitungkan kebahagiaanku. Meski tidak secara langsung, aku tahu, itu mengganggu pikiranmu.

Apa boleh buat. Ini masalah perasaan. Apa iya, aku harus melepasmu. Sedangkan hatiku sudah benar-benar matang dalam genggamanmu. Tak apa, sungguh tak apa. Kenapa pula aku harus takut pada usia. Kau menikahiku pada usiamu yang ke tiga puluh pun aku tak apa-apa. Aku terima, asal kau sanggup mempertahankanku. Bagaimanapun aku perempuan—meski kini usiaku lebih matang. Jadi, aku juga punya perasaan ingin dilindungi, didekap, dimanja, seperti layaknya perempuan. Dan rasanya, hanya kau seorang dari sekian banyak lelaki, yang mampu memberikan itu, meski mungkin dalam bentuk berbeda.

***

Hujan ini seolah tak akan berhenti. Entah sampai kapan. Barangkali, sericis inilah perasaanku padamu, hanya saja, aku tak pandai melukiskannya. Apapun yang akan terjadi, sepertinya perasaan yang kupikul ini takkan mungkin goyah. Jadi mana mungkin aku melepaskanmu hanya karena masalah usia. Dalam kamus percintaan, tak pernah mencantumkan usia sebagai syaratnya. Jadi semua sah-sah saja. Jikalaupun kau benar-benar memaksaku untuk menikahimu sekarang juga, aku akan melakukannya. Tapi aku senang, kau tidak menuntut itu. Kau memang perempuan paling pengertian setelah ibuku. Tapi apa imbalku?

Selama perjalanan kita, rasanya semua berjalan lancar. Kita tak pernah ada masalah dengan keputusan. Setiap kali aku memutuskan sesuatu kau selalu berkata iya, entah bagaimana hatimu, apa berkata iya juga, aku tak tahu. Lagi-lagi, itu sebuah bukti nyata bahwa aku belum pantas untuk disebut sebagai lelaki. Mengapa begitu? Tentu saja. Lelaki yang selalu ingin menang sendiri dan segala arahnya dituruti, ia bukan lelaki. Karena ia lemah. Dan yang kurasakan selama ini, itulah aku. Maka, sesungguhnya aku perlu sesuatu yang baru untuk merefresh hubungan kita yang selama ini baik-baik saja (sebenarnya lebih layak untuk disebut datar-datar saja). Bagaimana jika tiba-tiba aku memberikan kejutan untukmu?

***

Hujan ini sebuah kejutan bagi kemarau panjang. Hei, aku berpikir tentang kejutan. Selama ini, kau tak pernah menciptakan sebuah kejutan pun untukku. Kado ulang tahun? Itu bukan kejutan yang kumaksud. Entahlah, tiba-tiba aku membayangkan jika dirimu menjadi lelaki yang lebih dewasa, lelaki yang sebenar-benarnya lelaki. Meski selama ini aku cukup nyaman dengan perangaimu yang kekakanakkan itu, tapi jujur, sebenarnya, sesekali, aku juga ingin merengek padamu. Bersandar di bahumu dan merajuk ini-itu. Seperti yang kukatakkan, aku masih seperti kebanyakan perempuan, yang sebenarnya lebih suka dicumbu-manja, daripada memanjakan.

Kau tahu, kenapa selama ini aku selalu menjadi ekormu? Karna aku tak mau kehilanganmu. Usiamu adalah usia labil, dan aku harus mengimbangi itu, meski diam-diam terkadang aku harus berkorban perasaan. Maka, sekali lagi, jujur, aku benar-benar tak mau kehilanganmu. Apa kau juga begitu?

***

Sederas apa pun, nanti, hujan ini pasti akan berhenti. Meski seolah tak bisa berhenti. Bicara soal henti-berhenti, aku yakin, akupun bisa berhenti dari image lelaki cemeng, yang selama ini kubangun sendiri. Ya, kenapa tidak? Aku lelaki murni, yang seharusnya memiliki sikap-sikap sebagai lelaki murni: tegas, melindungi, perhatian, mengalah… dan sifat-sifat lelaki lainnya. Benarkah, hanya karna berhadapan dengan perempuan dewasa lantas aku menjelma menjadi anak-anak? Tidak. Akan kubuktikan itu padamu.

Ahai, hujan deras begini membuat darah lelakiku mengalir lancar. Hujan deras ini menjadikan pikiran-pikiran yang selama ini tersumbat menjadi plong, menjadi lebih jernih. Baik, baik, setelah hujan yang deras ini. Aku harus menemuimu dalam keadaan yang sudah berbeda. Tunggu, tunggu, mengapa harus menunggu hujan berhenti?
“Ah, ini hanya hujan!” gumamku, seperti baru tersadar dari sebuah percakapan. Aku berdiri, mengambil jaket kulit yang tergantung di belakang pintu. Semoga kau masih menungguku di sana.

***

Langit sudah gelap dan hujan masih mendendam. Menambah langit semakin gelap. Aku menjadi bingung, sebenarnya aku menunggumu datang atau menunggu hujan berhenti. Rasanya tak mungkin kau datang. Jadi? Aku menunggu hujan berhenti? Aih, ini hanya hujan. Mengapa aku tidak pulang saja. Ya, sebaiknya aku pulang saja. Tapi, bagaimana kalau nanti kau datang. Karena, selama ini kau tak pernah melupakan janji, seberapapun kau terlambat, kau selalu datang. Aduh, kenapa aku jadi gamang begini?
Di sini, hujan turun deras sekali. Kau pun baru pulih dari perawatan. Jadi tak mungkin kau datang. Akupun tak mengizinkanmu datang kalau tahu hujan begini. Ya, ya, sebaiknya aku pulang saja.

“Huft…!” aku berdiri, menghela nafas panjang, seperti baru saja usai dari perbincangan panjang. Aku bergegas menuju kasir. Membayar bon.

“Hujannya masih deras lho, Mbak. Nggak nunggu reda dulu.” Perempuan yang berdiri di depan mesin kasir mengingatkanku. Aku hanya tersenyum, lalu melenggang.

***

Hujan sedikit lebih jinak. Kukenakan jas hujan alakadarnya, aku jalan berjingkat menuju teras rumah supaya tidak ketahuan ibu. Dengan degup memburu aku mulai melajukan sepeda motorku. Hujan ini tak seburuk yang kukira, meski hawa dingin mulai menjalar ke kuduk dan pori-pori. Sepanjang jalan aku terus berdoa, semoga kau masih di sana.

Hujan kembali menjadi gerimis ketika aku sampai di depan kafe itu. Bahkan nyaris reda. Namun, kini, detak jantungku yang menderas. Aku menggigil. Gemetar. Apa karna dingin? Bukan. Tapi lihatlah, kafe tampak sepi. Sepi sekali. Tak seorangpun tampak di sana kecuali para pelayan—dengan seragamnya—yang sibuk mengelap meja. Aku lumat dalam sekelumit kekecewaan. Apa kau sudah pulang?

“Aku tahu kau akan datang. Jadi, aku masih menunggumu di sini.” Tiba-tiba suaramu mendekam di telingaku.

Kau sudah berdiri di belakangku. Tersenyum. Kau benar-benar seperti sebuah kejutan. Aku tak bisa berkata lagi. Aku hanya ingin melafaskan sepatah maaf. Tapi bress, tiba-tiba hujan kembali mendendam. Kita berlarian. Kembali ke kafe itu. Kita duduk dan sama-sama terdiam. Agak lama. Seperti tengah sibuk, memilah kata-kata yang ingin kita ucapkan.

“Di sini, hujan turun deras sekali… ” celetuk kita hampir bersamaan. Kita saling tatap sebelum akhirnya tertawa panjang.*

* Malang, 23 Oktober 2010
Senin, 27 Desember 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Merdeka, 19/12/2010

Lalu kurampungkan karangan ini. Cerita tentang seseorang yang kutemui pada masa lalu. Aku tak memaksa khalayak mempercayai karena lelaki mulia itu, orang yang pernah bergumul denganku dalam cahaya, tak pernah mengajarkan itu. Ya, aku tiba-tiba mengagumi apa-apa yang terserla dalam dirinya, petuah dan peritabiatnya. Di masa sebelum aku mati, lalu hidup lagi, mati lagi, hidup lagi…. Begitulah seterusnya. [1]

Ketika itu, pertikaian antarwilayah kekuasaan Dinasti Chou menyebabkan perpecahan [2]. Lalu muncullah kerajaan-kerajaan. Kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan baru. Dengan raja-raja yang baru. Dengan raja-raja yang kecil. Raja-raja itu menjadi simbol negeri yang dititahnya. Masing-masing negeri mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Raja-raja mengharapkan rakyatnya turut membangun negeri. Namun begitu, raja-raja tak menjanjikan apa-apa (apalagi kedudukan di kerajaan) bagi yang (merasa) berjasa. Bagi yang hendak membantu, silakan. Bagi yang tak berhasrat, jangan membuat masalah. Dan bagai mendapat angin yang berkarib, muncullah pemikir-pemikir. Namun, waktu adalah arena pertandingan yang paling makbul. Maka, seperti buah-buah zaitun yang jatuh berserakan di gurun karena diserang tuba dari Saudi, putaran demi putaran bumi merontokkan satu demi satu para pemikir itu.

Kong Fu Chius. Ialah satu dari segelintir pemikir yang masih layak dipandang. [3] Aku kali pertama bertemu dengannya pada 485 Sebelum Masehi, di Pasar Mun Sian, persis dua puluh kaki dari Pasar Zhengguo. Walaupun namanya sudah menggema di mana-mana—termasuk di Tanah Melayu, namun sekalipun aku belum pernah melihat wajahnya. Jadi, wajar saja kalau awalnya aku tak tahu kalau ia adalah Tuan Kong, demikian orang-orang Cina memanggilnya.

Ketika itu, secara tak terencana, pandangan kami ditabrakkan oleh sesuatu yang bernama kebetulan. Tuan Kong menarik kedua ujung bibirnya melengkung ke atas. Aku serta merta membalas senyumnya. Entah bagaimana, tiba-tiba aku melihat ada cahaya putih yang menyeruak dari wajahnya yang bersih. Cahaya itu makin besar, tebal, dan benderang. Aku bertanya-tanya dalam hati. Siapakah laki-laki itu. Laki-laki yang kutaksir usianya dua puluh tiga tahun. Belum sempat terjawab pertanyaan yang tiba-tiba menyeruak dalam benakku itu, Tuan Kong menghampiriku. Ia menyentuh, menggamit bahuku. Dan orang-orang sekitar yang tengah sibuk keluar-masuk pasar, serta-merta memperhatikan kami. Tak lama, mereka semua mematung bagai ditotok aliran darahnya. Aku tahu—walaupun tebakan ini belum tentu benar—bagaimana aku (maksudku kami berdua) tiba-tiba menjadi pusat perhatian; karena Tuan Kong menyalurkan kekuatan (entah semacam ilmu kanuragan, entah semacam energi positif, atau…entahlah!) yang membuat tubuhku berlumur cahaya (maksudku tubuh kami berdua bercahaya).

Tuan Kong memperkenalkan diri. Aku tertegun. Ia menanyakan sesuatu kepadaku. Kabar Dzulkarnain. [4] (O o, benarkah kabar yang mengawang itu: Dzulkarnain adalah guru Kong Fu Chius?) Dan aku masih tertegun karena belum mampu memahami apalagi menguasai keadaan. Belum sempat kutanggapi keingintahuannya, ia sudah menyambung pertanyaannya. Apa kabar perdebatan tentang Tembok Dzukarnain? Apakah sudah tersurat dan dimaklumatkan bahwa ialah yang membangun tembok raksasa di negeriku itu? [5] Kalau saja para raja yang mengaku-ngaku itu dapat kutemui, ingin kukatakan yang sebenarnya! [6]

Aku tak sempat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang bergerombol itu. Sepertinya Tuan Kong sengaja tak memberiku kesempatan untuk menjawab. Lebih tepatnya lagi, Tuan Kong secara halus memeras semua ingatan dan keterbatasan pengetahuan tentang Dzulkarnain dan Tembok Dzulkarnain itu. Tentu aku takkan menduga bahwa Tuan Kong hanya ingin membuatku penasaran. Tentu pula aku takkan berprasangka bahwa Tuan Kong hanya ingin memberitahuku bahwa dia adalah pemikir hebat, orang yang bercahaya, orang yang dapat membagi cahaya. Satu hal yang membuatku benar-benar heran, mengapa Tuan Kong menanyakan Dzulkarnain dan Tembok Dzulkarnain kepadaku? Maksudku, apakah ia tahu bahwa aku tengah meneliti Tembok Besar China?

“Hei, Kisanak!”

Aku tergeragap. Seolah bangun dari mimpi. Orang-orang yang tadi mematung kini mengerumuniku. Mereka bertanya bagaimana Tuan Kong dapat menemuiku, lalu memelukku. Apa? Memelukku? Tentu saja aku tak dapat menjawab pertanyaan itu karena kepalaku bagai bergasing. Kini, justru aku yang bertanya.

“Jadi, kalian juga melihat pemuda itu, eh, maksudku Tuan Kong?”

Mereka terbahak-bahak. Mereka mengejekku sebagai orang asing. Mereka katakan (seolah mengejekku) bahwa Tuan Kong selalu hadir di titik keramaian, tempat rakyat China menyambung nyawa. Di pasar salah satunya. Mereka sering tak menyadari kehadiran Tuan Kong karena ia selalu pandai mengubah penampilan. Hanya satu yang mencirikan keberadaannya (biasanya bila ia menemui seseorang): Cahaya.

“Apakah wajahnya sudah mengeriput?”

“Mengeriput?”

“Mengeriput dengan cahaya.”

Aku masih bergeming.

“Atau matamu sudah lamur?”

Aku tatap mereka satu-satu sebelum memutuskan untuk mengunci mulutku rapat-rapat. Apakah mereka akan percaya bahwa aku bertemu Tuan Kong dalam penampilannya yang lebih muda? Atau aku memang tengah bertemu Tuan Kong muda? Mungkin saja. Sudahlah, aku tak mau merumitkan ingatan mereka tentang Tuan Kong. O o, tiba-tiba aku bagai tersadar. Kong Fu Chius lahir pada 552 Sebelum Masehi!

Aku permisi minta diberi jalan. Mereka membuka kerumunan. Tak seperti dugaanku bahwa mereka akan bertanya ini-itu (yang tentu saja sedikit banyak akan menghalangi perjalananku). O, alangkah mulianya Tuan Kong di mata mereka hingga kepada aku—seorang Sumatra yang hendak mengunjungi Tembok China—yang baru saja ditemui pun, mereka tak kuasa mencuat tanya karena takut kualat telah menganggu “sahabat” Tuan Kong.

Enam tahun berikutnya aku mendengar kabar kalau Kong Fu Chius meninggal dunia. Tampaknya Tuhan hanya membolehkanku melihat wajahnya sekali seumur hidup. Entah bagaimana, ketika aku bertolak menuju China melalui Singapura, pesawat yang kutumpangi tiba-tiba terbang di atas Segitiga Formosa. [7] Kami angslup dalam pusaran waktu. Kami hidup dalam kerajaan Iblis di bawah laut. Kalian tahu, kadang-kadang Raksasa Bermata Satu mengunjungi kami. Kami tak kunjung tahu dari mana ia berasal. Ada yang bilang ia berasal dari Segitiga Bermuda, ada pula yang bilang ia berasal dari Khurasan.

Ah, aku tertawa sendiri kini. Tertawa sendiri mengingat peristiwa itu. Peristiwa yang bila kuceritakan pada keluarga, kawan, ulama, bahkan sejarawan pun, belum tentu ditanggapi dengan serius. Peristiwa klasik yang masih kuredam dalam ingatan. Peristiwa yang dialami diriku yang lain pada masa lalu. Masa ketika aku masih hidup, lalu mati, hidup lagi, mati lagi….

Begitu seterusnya. ***

Lubuklinggau, Agustus 2009-Agustus 2010

Catatan:

[1] Reinkarnasi pada umumnya sering dimaknai sebagai kelahiran kembali (rebirth). Kadangkala manusia mendapati dirinya dapat berkelana ke alam atau keadaan atau peristiwa pada masa lalu saat ia terlibat di dalamnya (bukan sekadar pengamat atau penonton); dan hal ini sering dimasukkan dalam tanda-tanda bahwa orang tersebut adalah manusia (hasil) reinkarnasi. Bahkan tanda-tanda kecil semacam seringnya seseorang mengalami de javu, juga dimasukkan ke dalam tanda-tanda manusia (yang telah ber-) reinkarnasi. Deborah Sommer dalam Chinese Religion: An Antology of Sources (1995) menyatakan bahwa reinkarnasi hanyalah sebuah istilah yang masih perlu diperdebatkan, karena de javu, dan mind-twist masih sangat lemah untuk dimasukkan ke dalam ciri bahwa orang tersebut manusia-reinkarnasi. Morris Rossabi dalam Khubilai Khan: His Life and Times (1988) bahkan mengumpamakan “reinkarnasi” sebagai sebuah kebetulan yang hanya dikarang-karang oleh para dukun untuk menunjukkan kehebatan semu mereka demi mengelabui para tentara agar tidak mengusir mereka dari Mongolia.

[2] Awal kekuasaan Dinasti Chou di Timur mencakup 170 wilayah yang mayoritas kecil, yang akhirnya berhasil dihimpun oleh wilayah-wilayah yang tergolong besar dan dipersatukan hingga menjadi negeri yang kuat. Dan wilayah-wilayah kekuasaan Dinasti Chou di antaranya adalah Q-Chi di timur, Yan (wilayah yang mencakup daerah ibukota saat itu), Jin di sebelah barat Yan (yang mencakup daerah selatan Shanxi), dan Qin yang terletak di barat-jauh dan barat daya wilayah kekuasaan, mencakupi ibukota lama dan daerah-daerah yang belum dikuasai bangsa Barbar, dan daerah-daerah yang masuk wilayah mereka namun masih tunduk kepada Dinasti Chou. (Stephen G. Haw dalam A Traveller’s History of China, 1988).

[3] Pokok pemikiran filsafat Konghucu adalah perwujudan sifat-sifat yang bersumber kepada kebaikan, kebajikan, ketaatan, dan ketakwaan, berdasarkan moral dan perilaku positif. Mengenai hal itu, Konghucu mengatakan, “Janganlah kau menyuruh orang lain berbuat sesuatu yang engkau sendiri enggan melakukannya.” (A Concise History of China, JAG Roberts, 1999).

[4] Kisah Dzulkarnain serta berbagai peristiwa dan keajaiban yang terkait dengannya merupakan kisah paling menakjubkan dalam seluruh rangkaian kehidupan manusia. Karena dia merupakan kisah nyata yang titik tolaknya berawal lebih dari 2400 tahun sebelumnya, terutama jika berpatokan pada simpulan penelitian seputar kesamaan sosok Akhnaton, Raja Mesir, yang lahir di mesir sekitar zaman itu, dan peninggalan hidupnya pun masih tersisa sampai sekarang. (Coming of Dzulkarnain, Liu Wenyuan, 1997).

[5] Siapa yang sebenarnya membangun Tembok Besar China hingga kini masih diperdebatkan. Pedebatan itu merujuk pada beberapa raja yang juga berkuasa dan hidup pada masa itu. Perdebatan Dzulkarnain dengan beberapa Dzulkarnain (yang berkemungkinan) palsu perihal siapa yang membangun Tembok Besar China, dapat ditelisik lewat cerpen “Tembok Dzukarnain” karya Benny Arnas di Jurnal Cerpen Indonesia edisi 11 (Akar, Desember 2009).

[6] Dalam subab buku Munculnya Yaíjuj dan Maíjuj di Asia (2007), yang bertajuk “Apakah Konghucu Salah Seorang Pengikut Dzulkarnain”, Syaikh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid menyatakan bahwa membaca pemikiran dan filsafat Konghucu seolah-olah sedang mengaji lembaran-lembaran pemikiran dan filsafat Islam. Ia meyakini bahwa pemikiran dan filsafat yang demikian tidak akan pernah muncul, kecuali dengan mengikuti petunjuk para rasul dan nabi. Karena Kong Fu Chius lahir dan tumbuh pada masa keemasan Dzulkarnain, maka banyak literatur yang menyebutkan bahwa Dzulkarnain adalah gurunya. Dalam beberapa literatur sejarah, Tembok Besar China-lah yang dianggap sebagai Tembok Dzulkarnain. Kemasyhuran Dzulkarnain itu juga diperkuat pendapat Aisyah Muhammad Said dalam Mengungkap Misteri Perjalanan Dzulkarnain ke Cina (2007) yang menyatakan bahwa Tembok Besar China adalah Tembok (sebagai mahakarya dari) Dzulkarnain sebagaimana termaktub dalam Alquran surat Al Kahfi ayat 83-99.

[7] Penelitian tentang keberadaan kerajaan Iblis di Segitiga Bermuda, juga menyeret nama Segitiga Formosa. Segitiga Formosa diyakini sebagai kerajaan Iblis kedua. Dajjal sendiri, yang dilukiskan sebagai Raksasa Bermata Satu, diceritakan sering berlalu-lalang Bermuda-Formosa demi mengatur kinerja para pungawa kerajaannya (The Bermuda Triangle, Hippy Marl, 1990).

Minggu, 08 Agustus 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Merdeka,
Suara Merdeka, 8 Agustus 2010

PESAWAT itu tinggal landas. Menyusur langit yang membentang biru keputihan. Ah, adakah yang peduli dengan apa yang mengeriap dalam diriku? Memang, hidup ini bukan tentang peduli-memeduli. Bukan juga tentang rasa yang makin dibunuh makin menyuluh. Aku tak akan menyeret Yusuf dalam khidmatnya perasaan ini karena laki-laki itu memang tak tampan. Muhammad? O, aku tak mau kualat membawa-bawa suami Khadijah itu; ia hanya lelaki—yang sangat—biasa. Sungguh, aku tak lelah berharap bahwa ini bukan tentang ketakaburan, keberlebihan dalam mencuatkan perasaan…. Ya, demi Tuhan, takkan ada yang menyaingi cintaku padanya. Takkan! Siapa pun itu. Sebelum maupun setelah zaman aku memantik perasaan itu!

***

TAKKAN ada yang melebihi cintanya padaku. Aku tahu dia hanya wanita biasa. Ibu rumah tangga yang melakoni perannya dengan biasa pula. Namun, adalah adil bukan, bila kunyatakan bahwa hanya 0,99% saja wanita kota yang menjalankan peran sebagaimana mestinya! Bukankah, bagi wanita kini, karir menjadi sesuatu yang mesti dikedepankan, mengalahkan segalanya? Memang, ini terkesan memukul rata. Namun, paling tidak, aku ingin menegaskan bahwa, bagiku, ia sangatlah istimewa. Begitu istimewa. Hingga aku rela melakukan apa saja untuk menemukan titik lemahnya. O tidak! Aku gagal, gagal menemukannya! Sudah 16 tahun kami mengayuh sauh. Satu putra dan satu putri mengawaki bahtera kami. Sungguh, aku tak pernah melihatnya menangis serupa tadi. Ia memelukku lama sekali di pelataran bandara. Aku tahu, ia baru akan melepas pelukannya ketika yakin bahwa air matanya tak lagi membekas di kantung matanya. Namun, ketika kami saling merenggangkan badan, ia tak dapat menyembunyikannya. Ya, walaupun ia seri-serikan wajah, tapi itu tak cukup berhasil menutupi sembab matanya. Pula, aku sangat yakin, ketika aku telah berada 11.000 kaki di atas tanah, ia masih menengadah. Dengan tangan yang melambai tak rela. Dengan air mata yang tumpah ruah.

***

MUNGKIN, Papa pikir aku tak pernah mendapatinya memukul Mama hingga terjerengkang di suatu malam. Sebenarnya, tak ada niat sedikit pun untuk menguping apalagi sampai mengintip pertikaian mereka. Namun, suara mereka terlampau keras. Mungkin mereka kira aku sudah tidur sejak pukul 8. Mereka tak tahu bahwa aku baru saja mengerjakan PR pukul 11.30 malam. Setengah jam sebelum aku menyaksikan semuanya. Pun ketika Mama membuat pintu berderit sekitar 15 menit sebelumnya, aku baru saja memeluk guling dengan tampang sok pulas. Padahal, aku hanya ingin Mama mencium keningku sebagaimana sering dia lakukan. Malam itu tidak. Aku pun tak mempermasalahkannya. Mungkin Mama tak mau menganggu tidurku. Mungkin ia tahu bahwa aku terlampau lelah dengan PR-PR. Mungkin…. Ah, yang jelas aku bersyukur bahwa adikku tak tahu semuanya. Bogem mentah Papa yang beberapa kali menghantam wajah, pecutan ikat-pinggang kulit yang beberapa kali mampir di pinggang dan bahu, bahkan tendangan yang aku yakin membuat perut senak, adalah hal yang tak pernah kubayangkan akan diterima Mama. Apa Papa tak tahu bahwa aku anak kelas satu SMA?

***

PAGI itu, Mama tak keluar kamar. Aku tak tahu mengapa. Ketika aku hendak ke kamarnya, Papa melarangku. Kakak juga melarangku. Mereka jadi aneh pagi itu. Maka, aku hanya melahap roti selai kacang setengahnya (biasanya aku habis sampai dua lapis). Di dalam mobil ke sekolah, aku tak berani menanyakan hal itu pada Kakak. Apalagi pada Papa. Yang kutangkap dari raut muka mereka, ada sesuatu yang tak biasa. Papa seperti orang kesal berpanjangan. Kakak yang cemberut sesekali melirik Papa yang duduk di samping sopir. Wajahnya mirip sekali orang yang menahan marah. Semua makin ganjil ketika sampai di sekolahnya, Kakak tak mencium punggung tangan Papa. Entah mengapa, aku meniru tingkahnya ketika aku telah sampai di SMP. Beberapa kali Papa memanggilku. Namun, aku tak menoleh-noleh. Aku tak mengerti. Aku merasa Papa memang harus dicuekkan pagi itu. Pagi itu saja, pikirku. Namun, ternyata tidak dengan Kakak. Kakak tak pernah salim pada Papa lagi. Aku pernah bertanya pada Kakak tentang itu. Kakak selalu mengatakan bahwa aku masih kelas dua SMP. Masih anak-anak. Nanti aku akan tahu sendiri. Uuuh, selalu begitu.

***

AKU tak mengerti bagaimana cinta ini dapat sebegitu rimbun. Ketika kami satu kelas di SMA dulu, sedikit pun rasa itu tak terpendar. Namun, ketika kami terpisah jauh—sungguh aku tak lagi mengingatnya atau mungkin aku sudah melupakannya, tiba-tiba saja, perasaan ‘suka yang ganjil’ lamat-lamat menyusup. Wajahnya, perawakannya, gaya bicaranya, belahan rambutnya… mampu kugambarkan dengan sempurna dalam ingatan. O, sungguh aku tak paham. Akhirnya, aku lelah berselisih dengan perasaan. Maka, aku pun takluk. Aku bagai menyadari sesuatu: Aku adalah wanita yang masih percaya pada Tuhan. Maksudku, kelak, ketentuan-ketentuan-Nyalah yang akan menggiringku ke kehidupan yang sebagaimana mestinya. Jodoh adalah satu dari ketentuan-ketentuan itu. Ketentuan yang penuh rahasia. Rahasia? O maksudku semacam misteri. Misteri? Entahlah, semuanya sumir. Yang kurasai adalah, aku begitu mencintainya, seperti apa pun perlakuannya. Desas-desus dari tetangga, kuanggap, tak lebih sebagai rasa iri yang meluap hingga harus dibagi dengan orang lain. Sungguh, aku mencintainya. Sangat mencintainya.

***

WALAUPUN aku tak dapat menyangkal betapa Papa bukanlah orang yang membuatku (dan adikku) bangga memilikinya, namun aku tak percaya pada pendapat teman-temanku itu (sebagian mereka adalah anak-anak tetangga). Papa suka jalan dengan wanita lain. Dan Mama beberapa kali bilang, para tetangga iri pada kami. Aku sempat bertanya apa yang membuat mereka iri. Ketika kusebut beberapa kemungkinan penyebabnya, Mama menggeleng. Bukan karena Papa selingkuh (sambil berseloroh, Mama berkata, siapa yang naksir dengan lelaki jelek berbadan gempal seperti Papa), bukan karena kami sedikit lebih kaya dari mereka, bukan karena Mama adalah wanita cantik yang selalu ramping, bukan karena Papa-Mama memiliki satu arjuna-satu srikandi…. Bukan itu semua, kata Mama. Mereka iri karena Mama memiliki Papa yang begitu Mama cintai; Papa memiliki Mama yang begitu mencintainya. Aku diam. Alangkah beruntungnya Papa. Hingga, sepulang dari bandara dengan wajah yang memarun, Mama langsung menuju kamarnya. Aku tahu, di sana, kasur dan bantal akan basah. Tiba-tiba, aku sangat bersyukur, Papa pergi dari kami. Dari kehidupan kami. Mungkin, inilah sebabnya, perceraian adalah perkara yang dimungkinkan sekaligus dibenci Tuhan.

***

KATA Kakak, aku tak boleh sedih. Bahkan Kakak menyuruhku bersyukur. Aku tak paham. Aku gegas mengetuk keras-keras pintu kamar Mama. Memanggilnya dengan setengah berteriak. Masih setengah daun pintu dikuak, Mama sudah memelukku. Mama menangis. Aku pun menangis. Dari balik pintu yang terbuka sedikit, kulihat Kakak juga menangis. Kakak pun bergabung dengan kami di kamar itu. Kami saling berangkulan. Aku masih tak mengerti. Aku tiba-tiba saja bertanya, mana Papa. Mama memelukku makin erat. Maka, raunganku mengalahkan tangis Mama ketika Kakak bilang Papa pergi selamanya. Mama buru-buru menimpali bahwa Papa bukannya meninggal. Papa bertugas ke luar pulau. Aku tak percaya. Baru ketika Kakak memberikanku pilihan, aku tersadar bahwa Papa lebih baik tak bersama kami. Adik ingin Papa pergi, atau kita punya dua Mama, tanyanya sembari menyeka air mataku. Akan selalu kungiang kata-kata Kakak itu.

***

O, bagaimana mungkin tenung itu tak dapat dicabut?! O, benarkah yang dikatakan lelaki sepuh itu. Tenung adalah jembatan untuk membuat cinta itu tumbuh. Dan istriku, masih katanya, bukan wanita biasa. Cintanya tumbuh tak tergesa-gesa padaku. Akhirnya, cinta itu melingkupi segenap perasaannya, tanpa ada perkara tenung-tenungan itu. Walaupun aku menyangkalnya tadi, namun hati kecilku mengakui betapa cintanya begitu dalam padaku. Sudah beberapa kali kucoba meluruhkannya. Dari main serong, memukulinya bertubi-bertubi, bahkan ketika aku menceraikannya pun, ia masih bilang bahwa ia tetap mencintaiku. Oohhh! Tak tahukah ia bahwa aku hanyalah mantan remaja yang tergila-gila padanya ketika SMA. Dan itu kuluapkan dengan menguna-gunainya. Dan berhasil. Namun, siapa pula yang sudi memiliki istri yang tak pernah marah dan tak pernah menyanggah. O, alangkah hebatnya guna-guna dukun itu. O bukan, alangkah bodohnya aku!!!

“Aku heran, untuk apa kau jauh-jauh terbang ke sini, bukankah kau sudah menceraikannya?” Dukun itu tiba-tiba bertanya.

Aku mengernyitkan dahi.

“Maksudku, kau sudah bisa menikah lagi sekarang,” lanjutnya.

Aku meneguk liur. Kutinggalkan lelaki itu. Sungguh, aku ingin menangis. Aku ingin kembali….

***

Sebuah buku usang terbuka halaman tengahnya. Di sana terbaca sebuah paragraf.

Natnitnole adalah nama bunga yang selalu jatuh berserakan di taman-taman kota Hatna Hatnareb saban pagi. Orang-orang yang lalu lalang di jalan setapak taman, bagai bersicepat menginjaknya. Makin remuk mahkota dan kelopaknya, maka makin menyebarlah bau-bau harum yang bersumber dari kotak sarinya yang pecah.

Makin hancur bunga itu, makin semerbak wanginya.

Makin dibunuh cinta itu, makin hiduplah ia. (*)

/Lubuklinggau, 10 s.d. 15 Desember 2009

by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Merdeka, 27 September 2009 | 19:46 wib

BAHU Romli naik-turun bersamaan dengan napasnya yang image megap-megap menahan buncah, mencoba meredam marah yang sangat. Bila tak menenggang bahwa malam itu ranjang pengantinnya digelar di sebuah kamar kediaman mertua, sudah sedari tadi ia mengusir Siti: perempuan yang baru pagi tadi menjadi halal baginya. Halal? Ai, tak ada gunanya itu, jika bunga yang baru dipetik, bentuknya saja yang serupa mawar, tapi baunya lebih jadah dari tahi ayam!

Masih tanpa sehelai kain pun yang membalut badannya, Romli membuka almari, mengambil selipatan kaus oblong dan sepan 1). Memakainya terburu-buru. Menutup kembali tempat pakaian itu dengan tenaga beberapa kali lipat dari biasanya. Lagi, ia menatap tajam Siti yang mencangkung di sudut ranjang. Perempuan itu menangis dengan sedu-sedan yang diredam. Kedua tangannya memegang kain songket dengan gerakan menutup dada. Adakah laki-laki itu mau menerima penjelasan bahwa sesungguhnya dirinya masih suci? Jangankan seranjang dengan lanang lain, sebelum malam itu, berlinjangan 2) pun ia tak pernah. Demi Allah! Demi Rasul!

Siti sudah membayangkan, setelah malam itu, hari-harinya akan buras. Esok, orang-orang kampung pasti telah mencium semuanya. Bukan menanam prasangka bahwa Romli akan mengumbar aibnya, tapiÖ bila alam dapat meletuskan kalam, langit dan bumi pun membela laki-laki itu: Memang sakit hati suami kau tu... Tapi bolehkah dibuat perbandingan tentang siapa yang lebih jatuh ke jurang dengan malu yang tak tepermanai oleh takdir? (0h, Siti tak marah dengan Tuhan, tapi apa kiranya istilah yang layak menyimpul keperihan itu?).
PRAAAK!

Bak almari tadi, pintu kamar juga ditutup dengan tenaga lebih dan serampangan. Siti bersegera menuju daun pintu yang berderit. Menutupnya segera dengan palang ruyung. Tak ada jua maksudnya untuk berteriak agar laki-laki itu jangan pergi jauh, jangan pergi lama, jangan menjadikannya janda kilat. Tak ada perempuan yang sudi menjadi istri dalam sehari saja. Tak ada istri yang sanggup makan talak sebanyak tiga kali setelah meneguk ijab kabul satu hari sebelumnya. Tak ada dalam sejarah. Tak terukir di dalam adat. Tapi... Siti tampaknya akan membuat itu. Paling tidak, itu yang berpusingan di kepalanya. Oh, hancurnya perasaan. Buruknya nasib.

Bahkan, bercerita pada Bi Salma dan Mang Sadi saja ia tak ada daya. Walaupun ia sudah dianggap layaknya putri sendiri, namun laki-laki yang suci pasti muntab dengan apa yang didapatnya. Sesiapa yang bertegak pada keadaan Romli pasti jua menyalahkan dirinya. Dan kemestian itu jua berlaku pada dua orang yang membesarkan dan mengawinkannya pagi tadi itu. Mereka tak akan menyalahkan mempelai pria. Oh, mengapa Tuhan tak menurunkan tanda untuk mengetahui kesucian laki-laki sebagaimana perempuan memiliki gendang-kacang di antara kedua pangkal pahanya? Adakah tanya —yang takkan pernah terjawab— itu hanya sebuah pelarian dari ketakterimaan Siti sebagai perempuan yang menjadi korban sebuah ketaklaziman —yang ia sendiri tak memahaminya?

Memang, tiada penting itu digesah, 3) tapi... Siti masih sebenar-benar gadis, perawan ting-ting. Hanya Tuhan yang dapat menjelaskan bagaimana nasib kelam itu turun padanya, bagaimana gendang itu pecah!!!

***

ADAT dicipta untuk membuat rupa-rupa tingkah, kerja, dan kata-kata menjadi legenda. Adat melahirkan dan menjadikan semua. Jangan menyapu ketika malam memeluk bumi, tak elok, berkurang rezekimu. Ai, adakah malaikat banyak berderma ketika matahari sudah terlelap? Bersiap-siaplah —dengan selayaknya— karena akan ada orang yang bertandang, itu yang dikatakan Wak Sambit suatu waktu, ketika kebetulan ia melihat seekor kupu-kupu tengah menari-nari masuk ke rumah kami. Bukankah dikau sendirilah tamu itu, Wak?

Siti juga masih ingat, ketika usianya belum sama dengan jumlah jari tangan, bersama teman sebayanya (hanya Romli, anak Haji Asep, yang sudah SMP saat itu), ia berlomba-lomba membetet 4) cicak demi mengumpulkan mereka sebanyak-banyaknya. Ini malam Jumat. Berkumpulah di beranda siapalah. Siapkan karet gelang yang masih kuat. Kalian dapat amal banyak nantinya lewat kadal langit-langit itu. Waktu itu Siti baru tahu tahu kalau cicak adalah hewan mulia yang mesti bernasib malang di malam ia biasa mengaji.

Dan...ternyata semua hanya sebagian kecil dari umbul-umbul adat. Ya, Siti tak pernah duduk di depan pintu rumah karena takut jadi gadis tua. Siti tak pernah keluar magrib karena Hantu Wewe —yang tak pernah ia lihat— sudah menanti di pohon belimbing di sisi kanan kandang rumahnya. Siti selalu mengibaskan kain ke kasurnya karena tak ingin dipeluk hantu ketika tidur. Siti tak pernah menyisir rambut di luar rumah karena takut dipinang duda atau lelaki yang sudah beristri tiga. Siti memercayainya. Semuanya. Namun empat tahun yang lalu, ketika ia harus memamah kenyataan sebagai yatim-piatu, larangan seakan dicipta untuk dirinya.
Tak elok anak gadis bersepeda!

Dan Siti merasa bukan saatnya lagi bunga bibir orang yang mengatur hidupnya. Ia tak sedikitpun menggubris hal itu. Bukan perkara ia menemui jawaban yang berbeda-beda dari orang-orang kampungnya atas pamali itu. Tapi banyak hal yang membuatnya harus menutup telinga.

***

SITI lahir di Batu Urip, salah satu kelurahan di Lubuklinggau. Pada usianya yang ke-10, ia sudah ditinggal-mati orang tuanya dalam sebuah tabrakan sepur 5) di Muara Enim. Sejak itu pula ia diboyong keluarga teman lama bapaknya ke Binjai. Ya, hingga kini, ia tinggal di pedalaman Muara Kelingi itu. Membantu Bi Salma dan Mang Sadi nakuk 6) di sebuah rimba. Tapi, Siti lebih banyak di rumah kayu (ia tidak menyebutnya ”pondok”). Mengurus rumah; menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam mereka; kadang juga masak pempek taghuk 7) ubi; dan tentu saja bersekolah.

Sekitar enam kilometer jarak rimba dengan sekolahnya. Itu belum termasuk jarak yang harus ditempuhnya agar keluar dari rimba. Oleh karena itu, Siti merasa sangat beruntung ketika mengetahui Mang Sadi memiliki sepeda. Walaupun dengan berat hati, laki-laki itu membolehkannya juga. Siti pun menunggangnya saban hari ke sekolah. Orang kampung biasa menyebut kendaraan roda dua itu kereta unta. Tinggi tempat duduknya hampir setara pinggang orang dewasa, kulit dudukannya mengilap dan licin, stangnya sangat lengkung, rodanya sebundar lubang derum, ciri khas kehadirannya yaitu, kring-kringnya yang sangat nyaring berdengking. Ya, sejak kelas enam SD hingga menamatkan SMP, Siti menunggang unta besi itu.
Pamali itu?

”Sebenarnya tak elok, Nak. Tapi...dengan apa lagi kau bisa bersekolah kalau tidak menunggangnya,” ujar Bi Salma suatu hari.

Nah, bagaimana gadis itu dapat menanggapi gunjingan orang-orang, bila perempuan —yang sudah dianggapnya orang tuaóitu saja tak melarangnya. Lagipula, adakah orang-orang kampung akan bersedia memindahkan SMP ke tanah lapang dekat rimba karet-nya? Begitulah. Akhirnya bibir orang kampung pun capai juga. Dan...semuanya berlaku dan berlalu dari waktu ke waktu.

Sampai suatu hari, Bi Salma dan Mang Sadi mengajak Siti berbicara khidmat di beranda rumah kayu. Siti terdiam. Pikirannya berlayar pada keinginan masa kecilnya: Jadi Bu Guru! Sejak Bu Mayang, gurunya di kelas dua SD dulu, memperkenalkan padanya sebuah kata yang langsung menyetrumnya: cita-cita, Siti seakan tersadar bahwa ada mimpi yang lebih harum daripada bunga tidur. Cita-citanya itu seringkali ia utarakan pada orang tuanya sepulang sekolah. Siti harus sekolah yang rajin, yang tinggi, lalu masuk PGSD, begitu kata ibunya, sebelum bapaknya meraih tubuh mungilnya, menggendongnya, dan mengungkapkan bangganya ia pada gadis kecil itu.

Tapi...itu masa lalu, kenangan yang sudah dirampas oleh waktu. Waktu jua yang membawanya harus menjadi gadis yang tahu diri. Bahkan sebagai keluarga yang tak bersanak di Linggau saat itu, ia sangat beruntung dibesarkan dengan penuh kasih-sayang oleh Bi Salma dan Mang Sadi. Maka, cita-cita itu diremasnya hingga remuk, dan melemparkannya ke keranjang sampah yang ia sendiri lupa di mana tempatnya.

”Bagaimana, Nak?”
Siti mengangguk. Gadis itu maklum bila Bi Salma terkesan setengah memaksanya. Ya, ia sadar telah memberatkan ”orang tuanya” itu. Lagipula, bila pun ia lebih memilih bersekolah daripada menikah, apakah sanggup pasangan tak berketurunan itu membiayai SMA-nya nanti?

Siti kibaskan semua resahnya. Ia harus mencari pelarian pikiran untuk memerahmudakan semuanya. Romli, ya Romli. Sungguh, tak ia sangka bila kawannya membetet cicak itu menanam rasa padanya, sampai-sampai ia merasa perlu menyusulnya ke Binjai. Oh, Tuhan memang pandai menyusun teka-teki. Siti larut dalam ketakjuban pada ketentuan yang dihadiahkan padanya itu. Ia tak terlalu menyimak Mang Sadi yang bercerita macam-macam: perihal Bi Salma yang seumuran dengan dirinya ketika dipinang dulu; perihal Romli yang akan mengambil kuliah di Kairo, dan...pemuda itu baru dipersilahkan Kiai Asep untuk ke sana bila sudah menikah.

Ah, tak peduli Siti pada itu semua. Mendengar nada dan gaya bercerita Mang Sadi saja ia sudah tahu kalau lelaki itu begitu bangga dengan pinangan Romli. Bi Salma pun diyakini Siti setali tiga uang saja. Mungkin, ini saatnya pula bagi Siti menghidangkan madu pada mereka, setelah sekian lama ia selalu disuapi susu....

”Tentu saja, anak orang alim itu akan memilih istri yang baik. Dan itu kau, Siti.” Mang Sadi memberi tekanan lebih pada kalimat terakhir ini hingga membuat Siti sedikit jumawa. ”Tak usah kau pikirkan perihal pandangan orang tuanya. Mereka orang yang baik. Bahkan minggu depan mereka akan ke sini langsung meminangmu. Hanya satu pinta kami, ijab-kabul kalian mesti terselenggara di Binjai, Nak. Biar orang-orang tahu kalau anak gadis ambikkan 8) kami bertuah, dapat dibanggakan...”

Siti tersenyum.

”Sekalianlah malam pertama kalian di rumah panggung sanak kita di kampung ujung...,” lanjut Mang Sadi.

Wajah Siti berona-rona. Malu.

”Cukup luas, Nak,” sambung Bi Salma.

”Ya, setelah itu pergilah kalian ke Linggau, ke Mesir sana...Ai, bangganya kami, Nak.” Mang Sadi menerawang. Air mukanya cerah.

”Jadi...,” kata Bik Salma. ”Tak usah kau ber...kereta...”

Wajah Mang Sadi tiba-tiba tegang. Tatapannya tajam pada Bi Salma, seakan-akan wanita itu baru saja mengutarakan sebuah kekeliruan (sebenarnya telah melakukan kekeliruan: kekeliruan yang besar selama empat tahun gadis itu bersama mereka!!!).

Dua laki-bini itu bergegas ke dalam. DanÖ perang pun menyala di situ. Mereka saling menyalahkan sekaligus menakutkan terjadinya hal-hal yang dikhawatirkan. Ohhh... pamali itu? Siti tak berani mendekat, bahkan menguping sedikit pun. Tapi...mereka terlampau keras suaranya. Walau tak begitu jelas kalimat yang mereka lontarkan, tapi beberapa kata yang sayup-sayup terdengar, membuat Siti bergidik. Malam pertama, kereta unta, gendang, pecah, darah, perawan....

***

SUBUH masih basah. Embun baru saja menyingkir dari pucuk-pucuk karet. Tapi penduduk kampung sudah mengerumuni rumah panggung itu. Bukan, bukan beberapa mobil mewah Haji Asep beserta rombongannya yang mereka kerubungi. Tapi...perihal gadis berkereta-untalah yang menyeret mereka ke sana. Selanjutnya, mulut-mulut mereka mulai bekerja. Melumat kebanggaan Bi Salma dan Mang Sadi yang belum genap berusia satu hari.

”Pak Sadi, kami malu. Malu sekali. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kami tak akan memanjangkan tali kelambu. Sesegera mungkin akan kami urus ke KUA. Bila perlu dalam hitungan hari saja surat cerai akan dikeluarkan,” Haji Asep berusaha meredam emosinya.
”Romli...!!!” Hajjah Mala memanggil anaknya. ”Sudah kautalak si Siti?!”

Maka bergegaslah Romli menaiki jenjang, menuju kamar pengantin itu. Secepat kilat ia kembali. (Oooh, terbayangkah bagaimana bila engkau yang menjadi gadis pucat bermata sembab di kamar itu?). Lalu Romli segera masuk ke mobil. Diikuti kedua orangtuanya dan serombongan sanak keluarga yang lain.

Kendaraan-kendaraan mewah itu menderu menerbangkan embun-embun debu. Mereka ke Binjai cuma mengantarkan orang-orang kampung seikat bahan gunjingan baru, untuk mereka lalap di kedai, meja makan, anak jenjang, jamban anak Musi, dan rimba-rimba karet. Tak ada yang peduli pada gadis yatim-piatu di dalam rumah pengantin itu. Sambil mengulum senyum, mereka hanya menonton Bi Salma yang menenangkan suaminya yang membanting-banting unta besi di halaman rumah panggung. 35)

Lubuklinggau, 12 April 2009

Catatan:
1) Celana panjang, biasanya terbuat dari bahan kain.
2) Berpacaran
3) Dibicarakan
4) Membidik —istilah ini disematkan pada yang melakukannya dengan karet gelang, ketapel, atau sejenisnya.
5) Kereta api
6) Menyadap karet
7) Daun —lebih sering dipakai untuk sayur (daun-daunan)
8) Pungut
(/)
Selasa, 16 Maret 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Merdeka, 7 maret 2010















MAK MUNA duduk di tubir jenjang. Menengadah ke kelam raya. Bulan berubah menjadi celurit api. Lagaknya mengajak pucuk Limas berseteru. Mak Muna risau. Itu adalah lukisan masa hadapan yang tak berbingkai. Apabila diutarakannya tafsir tentang “peperangan” bulan sabit dan atap rumah pusaka itu, pastilah sesiapa menolak bersetuju.

Firasatnya, kampung akan petaka. Ah, Mak Muna mati-matian menindih-redam ramalan yang menyembul-nyalang itu. Cukuplah praduganya terdahulu yang melesat bak bumerang. Menancap-menusuk kehidupannya.

Ia beringsut mengganti tengkuluk —semacam penutup kepala. Pekan lalu —Mak Muna lupa persisnya, ia diundang Salim (Ai senangnya, diundang, oi!), ketua RT, untuk berkumpul di laman Haji Makmun bakda Isa malam ini. Iyut, tetangga yang ditunggu-tunggunya, tak jua menjemputnya. Mungkin ada perkara syaríi yang menghalangi, atau… Iyut sibuk tengah menemani sanak-sanaknya dari kota; muda-mudi yang pasti beragam ulahnya….

***

ORANG-ORANG beragam usia, pekerjaan, dan kehormatan berkumpul di tarup. Tarup?! Ya, zaman kini, biasanya tenda lebih banyak dibentang. Ah, serasa kembali ke masa lama saja….

Walaupun duduk di bagian belakang, tapi, sejatinya, Mak Muna menyimpan kebanggaan. Walau ia juga tahu, tak ada yang memedulikan bunga yang tiba-tiba mekar di dadanya itu. Jarang-jarang berada satu suasana dengan Haji Makmun, orang beruang dan terpandang yang beberapa kali fotonya tercetak di koran. Ah, bulan celurit itu tak menantang pucuk Limas. Aku berlebihan saja dalam berkira….Mata tua Mak Muna menangkap rombongan ada orkes melayu di panggung. Ai ai, senangnya hati seorang tua. Ia bayangkan, irama senjang dilagukan. Umar Tanjung, pemain gitar tunggal tersohor itu akan dipadu dengan Mak Nur, sejawatnya yang merdu berejung. Anak-anak seumur Mira pun akan bermain sandiwara. Melakonkan Dul Muluk. Atau juga, belasan pasangan muda-mudi menggayung-sambut pantun adat; mengenakan belah bulu, songket dengan badong raja, tanjak di kepala, dan terompah kayu yang kemeretak-kemeretok bagi yang bujang; kain lasem, baju kurung, dan sanggul malang yang ditanam tiga tusuk kembang goyang untuk yang gadis. Elok nian malam ni!

Saking khidmatnya memundur-mundurkan zaman, tiada terasa olehnya; satu dua sambutan telah tunai. Dan… ketika malam meninggi, entah apakah karena usia yang melamurkan telinga dan mata, atau memang ia harus sadar bahwa dunia bukan lagi sangkarnya, apa-apa yang dipidatokan Haji Makmun dengan setengah berteriak itu tiada dimengertinya. Pun mereka yang makan minum sambil berdiri itu, dan… Ya Rahman, joged-jogedan di atas panggung tarup orkes….

“Ayo… lanjut! ‘Kucing garong’!!!”

Hai hai hai Mak tua, lupakah, engkau! Kini bukan zaman keresidenan dan pesirah-pesirahan. Bukan jua masa radio kemerosok melayu yang antena peraknya bergoyang kiri-kanan. Ini tahun yang baru, Mak! Indonesia Raya baru saja memilih presiden! Kita jua akan mengangkat lurah!

Mak Muna terhuyung pulang. Hatinya bak ditusuk cuban. Tak pernah ia duga, Salim yang juga pengurus masjid itu, berela-rela mengundang khalayak untuk hajatan tak beradab!

“Ini dari calon lurah kita, Mak.” Seorang pemuda menghampirinya. Memberi sebuah kertas putih berlis garis birumerah yang menyelang-nyeling.

Mak Muna tak sempat bertanya karena pemuda itu gegas menyongsong keramaian. Mengejar tetamu yang berdehem: hendak pulang namun belum mendapat bagian. Mak Muna bermaksud mengembalikan amplop….

“Mak, dari tadi dicari-cari. Rupanya di sini,” Iyut menghampiri. “Tadi sanakku Maria yang nyusul. Mira menceracau, Mak. Tentulah alamatnya ia sakit lagi…,” kata Iyut cemas.

Tergesa-gesa mereka pulang. Amplop itu masih di tangan. Mak Muna urung mengembalikan. Bahkan, kini, erat sekali digenggamnya kertas putih itu. Di rumah, bertanyalah ia pada Iyut perihal amplop itu. Gadis tua itu mengangguk, seakan paham arah percakapan.

“Kita gabung saja, Mak. Cukuplah membawa Mira ke puskesmas esok.”

Baiknya kau, Yut. Mengapa masih saja kau menunggu Rusli, si Hidung-belang itu, untuk meminangmu? Bungsuku tak bisa diajak bersetia. Tak ada itu, Yut….

***

SEBATANG badan Mak Muna sudah tak kokoh lagi. Seperti Rumah-Limasnya di Kayu Ara ini; setiap bagiannya bopeng sana-sini bagai menunggu waktu rubuh. Tak ada yang Mak Muna punya selain itu pun menurut ia sendiri kelihaiannya membaca tanda.

Dahulu, pada petang rinai, matanya menangkap pelangi dekat Sungai Kelingi. Kelir lengkungnya buram. Orang-orang tak gubris. “Tertutup kabut ia, Mak,” kata mereka. Tak lama, puak Col dan puak Musi berseteru. Banyak yang jadi korban dalam peristiwa itu. Termasuk Haji Bidin, suaminya yang imam masjid tersohor itu.

Jua, saat kelambit-kelambit berkibaran pada siang pekat. “Ingin pindah rumah rombongan kelelawar itu, Mak,” kata orang-orang yang menangkap kegelisahannya.

Ketika itu, Seno membeli pemancar siaran televisi itu. “Ini bukan parabola biasa, Mak. Siarannya yang bagus-bagus,” kata sulungnya itu sehabis menanam payung besi terbalik di atap rumah. Mak Muna tahu, Seno, Anjani, Yanti, Dewi, dan Rusli, kongsian dari hasil menjual getah karet tiap bulan.

Tak apalah, Nak. Asal itu faedah dan kalian gembira….

Mak Muna miris jua melihat tak satupun anaknya menjadi orang. Keenam-enamnya masih menumpang —bila boleh dikatakan seperti itu—- di rumah pusaka. Jadi, mereka yang jumlahnya hampir 20 beranak itu memang sepatutnya berhibur; melupakan keletihan menyadap karet; mencari titik pandang pada televisi yang selama ini, bila dihidupkan, hanya menampilkan jutaan semut yang mengerlap-ngerlip.

Mak Muna salah lagi. Benar-benar tak paham ia. Walaupun hampir tak pernah ikut berkumpul dengan anak-menantu-cucunya berhahak-hihik atau bersedu-sedan atau… ya berjoged-joged di depan televisi, tapi… apanya yang bagus-bagus, bila cucunya yang bernama aneh-aneh itu —Alberto, Isabela, dan… uuuh, Mak Muna sendiri susah mengingatnya— susah sekali diajak sembahyang. Ah, induk-induknya pun tak sembahyang!

***

DULU, bakda anak-anaknya menjual tanah-tanah warisan dan membelikannya dengan gubuk-gubuk beton untuk bertegak sendiri, hati Mak Muna bergelinjang. Ada jua niat kalian untuk menghidupi keluarga sendiri-sendiri.

Namun, entah Iprit dari mana yang mengajak bersekutu, anak-anaknya termasuk cucu-cucunya ganau, ribut hendak menjual rumah pusaka.

Dan… Mak Muna tak runduk. Pemerintah kota saja memerhatikan rumah panggung ini, dalihnya. Kata-kata itu memang berlapik. Beberapa hari sebelumnya, orang-orang berseragam cokelat muda —mungkin dari Dinas Pariwisata— meminta Mak Muna duduk di kursi rotan di pekarangan rumah, di antara rerumpun pandan kering yang belum sempat dianyam. Mak Muna difoto. Perasaannya merona. Bukan karena foto yang bila telah tersalin di almanak, maka di belakangnya, bersikokohlah rumah kayu yang bagian tengah atapnya menunjuk-nunjuk langit menajam, menantang bulan yang mengarit bila purnama batal bergelantungan. Oh, untuk seorang renta sepertinya, tak guna jemawa! Ia sekedar menyekak anak-anaknya agar tiada mengejek istananya.

Tetapi… berbilang masa, tak jua dicetak tanggalan itu. Maka, bak kacung tua tak berharga, dipojoklah ia. Bahkan beberapa cucunya yang sudah SMP-SMA ikut mengaramkan ketakberdayaannya.

“Kami pamit, Nek. Ke rumah baru.”

Setelah mencabut payung besi terbalik itu, pergilah mereka. Tanpa salam dan cium tangan. Hanya Mira yang ditinggal. Seakanakan bocah gagu itu akan menjadi tukang kabar bila ia mati kelak.

Sejak itu, beberapa kali Mak Muna melihat Alberto dan cucunya yang lain sempoyongan dari panggung musik kampung. Ia tiada menegurnya (Takkan mereka mendengarnya. Bahkan, bisa saja mereka kalap. Menyepaknya hingga menyeruduk tanah). Ah, memang dasar mak-bapaknya tak pernah melarang minum air kelat itu….

Dari Iyut, ia jua beroleh kabar, Seno dan beberapa saudaranya yang lain sudah jadi preman pasar. Saban malam bermain kartu di lapau Bi Sirah di Pasar Satelit.

“Hanya Rusli yang tidak, Mak!”

Mak Muna tak pecaya itu. Iyut, Iyut, rupanya linjang buta, kau!

Kini, bagi Mak Muna, kegembiraan Mira yang sudah berumur tujuh tahun itu adalah jua kesenangannya. Ia turut sumringah. Membuka tangan lebar-lebar demi menyambut Mira yang berhasil menangkap belalang rusa di semak ilalang; atau bila melihat gadis kecil itu menganggukkan kepala saat mengaji, pertanda ia paham pada ajaran neneknya itu walaupun tak ada bukti, karena ia tiada melafalkannya.

***

PERASAAN Mak Muna berkabut bebal. Ia kerimukkan baju kurungnya. Terkenang almarhum suaminya. Ai Bidin, bertenang kau di liang lahatmu, ya. Iri berkibas. Entah, rasanya berkalang tanah jauh lebih tenang daripada mengonggok di bumi. Menyalang perubahan yang membuatnya bagai boneka ladang….

“Mak, jadi kan kita ke hajatan Cik Madur?” Iyut memecah nostalgia buramnya.

Mak Muna sigap mengangguk. Ia papah Mira menuruni jenjang. Menitipkannya di rumah Iyut. “Beritahulah sanakmu dari kota tu. Bila Mira menceracau, alamatnya ia menangis. Maklumlah anak bisu, Yut.” “Aman, Mak.” Iyut mengangguk cepat. “Mak jua tak perlu khawatir. Kampung seberang memang nanggap organ tunggal, tapi, tadi sengaja kujerang air. Kusuruh mereka menunggui. Jadi, ada kawanlah Mira tu, Mak.”

Sejujurnya, bila tak mengharap amplop seperti di hajatan Haji Makmun, Mak Muna takkan menghuyung sebatang badan liatnya. Oh, semua demi Mira yang masih demam, panas saja….

***

BERARTI Mira bisa berobat gratis, Yut?” Mak Muna bergumam.

Khusyuk disimaknya pidato lelaki paroh baya di panggung. Tampaknya hajatan kali ini cukup dimengertinya. “Orang-orang tua seperti Mak akan dapat santunan, Yut!” Nenek tua itu berseru rincah. “Ai, kita pilih Cik Madur saja, Yut!”

Tiba-tiba, saling mencarut, kursi plastik bercentang-prenangan, berbabit-babitan, berlemparan dengan makanan, gelas, kayu…. Perkelahian besar itu pecah.

Mak Muna menoleh ke samping, bermaksud mengajak Iyut menyingkir. Tapi… gadis tua itu tak ada lagi. Mak Muna bergemerudupan, menghuyung badan, menepi ke rimbunan batang pisang yang bersisian dengan semak ubi kayu.

Mak Muna terperanjat. Matanya mendelik ke semak ubi kayu. Serasa tercerabut nyawanya. Bukan, bukan karena ia mendapati beberapa anak-cucunya menjadi bagian rombongan yang mengacaukan hajatan. Bukan pula karena orang-orang di tarup sana sudah bertujah-tujahan; saling tikam dengan pisau….

Mak Muna pucat. Masih belum dapat ia memercayai apa yang ditangkap matanya barusan. Tiba-tiba, di kejauhan, merah nyala menggapai-gapai bulan yang masih mengarit. Beberapa kali ia usap wajahnya, mencubitcubit lengan keriputnya…. Hanya istighfar yang didesau parau. Api berkibar-kibar di sana, di atap rumah pusaka.

Mak Muna terhuyung. Hampir ia terseruduk di antara bingar perang saudara itu. Lupa ia kalau sebatang badannya sudah reot. Wajahnya yang keriput-marut meringis. Tampak sekali ia kesal pada kerentaannya. Tak jua mampu ia berlari. Tubuh rentanya tak bisa dilawan. Sudah tua-bangka kau tu, Mak! Kepala delapan!

“Pastilah, sanak-sanak Iyut lupa mematikan kompor! Pasti mereka berjingkak-sorai di tarup orgen kampung sebelah!” Mak Muna mengutuk-ngutuk. Matanya menyala saga. Antara tangis dan marah yang bergelora di sana. “Binatang kau, Yut!” teriaknya parau. “Tak beda kau dengan anak-anakku. Wanita jalang!” Mak Muna menunjuk-nunjuk tak jelas arah sembari terus mengayun satu-dua langkahnya, ke Rumah Limas yang membara, ke rumah Iyut yang telah menyulap Mira jadi abu-abu.

“Mak, Rusli dan Iyut diarak keliling Kayu Ara. Mereka tertangkap basah sedang bekacuk di kebun ubi Cik Madur!’’ Seseorang membantunya bangkit. Raganya tak kuasa lagi bertegak. Ia hanya menyandarkan tubuh rentanya di tebasan batang-batang tua di tepi jalan kampung.

Ah, mungkin ia terlalu tua hingga tak dapat membaca satu tanda yang menyumbulkan keganjilan yang maha: Bulan celurit api yang menantang pucuk Limasnya beberapa hari yang lalu. Dan kini berbalik: Pucuk Limas itu yang menantangnya dengan bara yang menyala-nyala, hendak memanggang sabit raksasa itu. Ah! Kini, bukan saatnya meraba alamat tanda atau menyesali kebodohan berkira-kira… Ini salah bumi, yang lamur berkurap-kurap, yang berkarat terlampau pekat! (*)

Catatan:

*) bakacuk = berhubungan badan

Lubuklinggau, 22 Desember 2008
Bulan Celurit Api adalah salah satu cerpen terbaik Piala Balai Bahasa 2009

Minggu, 15 November 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Zaenal Radar T.
Dimuat di Suara Merdeka 31/08/2003



Sampai hari beranjak senja, lelaki itu duduk di beranda depan rumahnya. Seharian penuh ini ia seperti tengah menunggu seseorang. Tetapi entah siapa. Ia lelaki penyendiri yang tak pernah terlihat tengah bersama seseorang. Ia seorang lelaki yang jarang ke luar rumah kecuali saat gerimis datang.

Sebentar-sebentar bola mata lelaki itu menghadap ke langit hitam. Hari ini memang mendung sejak pagi. Namun begitu, rintik-rintik hujan belum jua kelihatan. "Mendung tak berarti hujan," desis lelaki itu pada dirinya sendiri, mengingatkannya pada masa-masa ketika ia pakai putih abu-abu dulu. Kata-kata itu sering keluar dari mulut Elliza, ketika ia dan Elliza masih selalu bersama-sama.

"Kamu ini aneh," kata Elliza kala itu. "Mengapa kau mau keluar rumah hanya bila gerimis datang? Apa sih bedanya gerimis dan tidak?" masih kata Elliza.

"Kebanyakan orang yang kukenal, mereka tak jadi keluar rumah justru ketika gerimis datang!"

Lelaki itu tersenyum. Ia tak memberikan alasan mengapa ia mau keluar rumah hanya ketika gerimis datang. Meski begitu, toh Elliza bisa bertahan lama dengan lelaki yang ia katakan aneh itu. Elliza sudi menemani lelaki itu keluar rumah walau hanya ketika ada gerimis. Sungguh, dalam hidup lelaki itu hanya Elliza seorang yang mengerti akan dirinya. Dan hanya Elliza seorang yang barangkali perempuan yang pernah bersamanya menemani saat-saat ketika lelaki itu keluar rumah saat gerimis datang.

Setelah Elliza menghilang, tiada seorang pun kelihatan bersama lelaki itu. Perempuan mana sih yang mampu bertahan hidup pada seorang lelaki yang baru mau keluar rumah hanya ketika gerimis datang?

Hanya saja, beruntungnya lelaki itu, menetap di sebuah tempat yang selalu mendung dan sering gerimis. Dan hidup serba kecukupan meski tak bekerja karena peninggalan orangtuanya yang melimpah. Yang bila ingin sesuatu tinggal angkat telepon lalu apa-apa yang ia inginkan segera datang tanpa ia harus capek-capek keluar rumah. Ia hanya keluar rumah ketika gerimis datang!

Ya, lelaki itu hanya keluyuran pada saat gerimis datang. Lelaki itu begitu menikmati, entah suasana, entah kesejukan, entah pada bunyi tik-tik rintik hujan, atau entah pada tanah basah yang terinjak kakinya?

Kini, lelaki itu masih terus menunggu. Menunggu saat langit menangis. Wajahnya mendongak ke atas. Pandangannya penuh harap. Seperti menanti putri cantik turun dari kayangan! Saat kilat menyambar-nyambar di kolong langit. Saat awan hitam bergerak ke sana ke mari. Kedua bola matanya yang penuh harap itu masih saja mendongak ke atas, menanti-nanti saat hadirnya gerimis.

Lelaki itu menutup kedua matanya. Lelah seharian menanti datangnya gerimis. Tetapi pada aura wajahnya, tak nampak kesan putus asa. Ia memang lelaki tegar yang tak pernah putus asa. Untuk gerimis, tak kan pernah bosan ia menunggunya! Meski kadang kesal juga, menunggu kedatangan gerimis yang demikian lama.

Namun setelah gerimis itu datang, hilanglah segala kegundahannya. Karena ketika gerimis datang, ia akan meraih jaket kulitnya, lalu keluar rumah. Dengan perasaan riang gembira.

Tak banyak yang dilakukan lelaki itu saat keluar rumah di mana titik-titik gerimis menyertainya. Biasanya, ia berjalan ke sebuah warung rokok yang tak jauh dari rumahnya. Mampir, menyulut rokok, dan kembali berjalan riang seperti seorang pemuda menjemput kekasihnya. Sembari jemarinya menjepit sebatang rokok, kakinya melangkah menjejak tanah basah. Ia hisap rokok itu dalam-dalam lalu melepaskan asapnya. Hingga asap itu menghilang terbentur oleh rintik gerimis.

Lalu lelaki itu terus saja melangkah hingga berhenti pada sebuah taman perumahan. Di taman itu biasanya lelaki itu duduk sambil menghabiskan sebatang rokok. Setelah habis sebatang, ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan bungkus rokok untuk batang berikutnya.

Dulu kala, saat Elliza masih sering menemaninya, gadis itu selalu saja marah bila lelaki itu kembali menyulut sebatang rokok. Namun lelaki itu tak pernah peduli dan terus saja membakar rokoknya. Maka Elliza akan memberengut hingga lelaki itu membuang puntung rokok itu ke tanah yang tergenang air hujan hingga menimbulkan suara cess... bersamaan dengan asap hitam dari latu lalu gosong terendam.

Lelaki itu akan tersenyum sendirian mengingat hal itu. Juga ketika dengan kasih sayangnya yang berlebihan, saat ia duduk di bangku taman di mana pada saat itu hujan begitu derasnya, Elliza datang memayungi tubuhnya. Elliza mengerti, lelaki itu benci pada gerimis yang berlebihan.

Dan lelaki itu mengingat masa lalunya sambil duduk di kursi goyang, sambil menanti datangnya gerimis. Lagi, kedua bola matanya mendongak ke langit. Namun, hingga matahari sudah benar-benar nyaris tenggelam, tak jua datang gerimis yang dinanti. Yang ada hanyalah samar sisa pelangi di tepi langit yang semakin lama kian memudar. Sampai ketika matahari sudah benar-benar tenggelam, gerimis yang dinanti tak kunjung datang. Maka lelaki itu pun kembali bersandar pada kursi goyangnya. Berharap siapa tahu nanti malam hujan.

Sejak Elliza pergi dengan alasan menuntut ilmu keluar negeri, praktis tak ada lagi yang menemani lelaki itu. Tak ada seseorang yang menemaninya duduk di bangku taman saat gerimis datang. Tiada yang melarang lelaki itu menyulut rokok berbatang-batang. Tiada yang memayungi ketika gerimis tercurah berlebihan. Pasti lelaki itu merasa kangen akan kehadiran Elliza. Atau setidaknya, menginginkan seseorang seperti Elliza?

Lelaki itu masih terduduk di kursi beranda depan rumahnya. Hari telah benar-benar gelap. Di atas awan ada bulan pucat. Lelaki itu melirik awan hitam yang mulai bergerak menutupi bulan. Lalu kilatan bola listrik memercik seperti lambang PLN. Berkilat zig-zag membelah langit. Diikuti gemuruh layaknya raungan musik milik Harry Roesli. Seketika ujung bibir lelaki itu merekah. Pikirnya, mungkin sebentar lagi apa yang ia tunggu-tunggu segera tiba. Barangkali inilah saat-saat yang mendebarkan, saat-saat di mana embun akan segera rontok dari kulit langit dengan gerakan lurus seperti desing peluru. Gerimis!

Ketika entah pada kilatan yang keberapa. Dan gemuruh guntur yang keberapa pula, akhirnya apa yang ditunggu-tunggu sejak pagi tadi, datang juga! Titik demi titik air membentur rumput halaman rumahnya. Lalu bertetes-tetes jatuh secara tak beraturan, seperti peluru yang dilepaskan beribu-ribu pasukan. Gerimis itu datang! Gerimis itu datang! Sesungging senyuman menyeruak pada wajah lelaki itu, diikuti gerakan lincah tangannya, meraih jaket kulit untuk kemudian menghambur ke luar rumah.

Tubuh lelaki itu meluncur membentur tetes-tetes gerimis yang hadir memborbardir. Ia berjalan meninggalkan rumah, untuk kemudian berhenti pada tukang rokok yang mangkal tak jauh dari rumahnya. Sebatang rokok ia hidupkan lalu berjalan menuju taman. Sudah bisa diduga bahwa lelaki itu akan duduk-duduk di bangku taman itu sambil menghabiskan berbatang-batang rokok di tengah gerimis hujan.

Malam semakin larut diikuti gerimis yang seolah tak mau surut. Lelaki itu begitu menikmatinya. Bak seorang pria dikunjungi perempuan terkasihnya yang sekian lama berpisah.

Begitu nikmatnya lelaki itu duduk sendirian di bangku taman dengan sebatang rokok di tengah guyuran rintik gerimis yang gemercik. Sebentar-sebentar kedua bolamatanya mengerjap-ngerjap. Dan ... oh, rupanya ia menangis! Air matanya tumpah membahasi pipi bersama guyuran tetes gerimis. Semakin lama semakin meledak isaknya. Bersamaan dengan semakin derasnya gerimis!

Mengapa lelaki itu menangis? Apakah itu tangis haru karena malam ini gerimis yang ia tunggu-tunggu sejak pagi tadi datang? Ya, ya, barangkali ia memang terharu. Kita bisa menyebut itu tangis haru manakala tawanya meledak di tengah isak tangisnya. Dan semakin keras tawanya semakin melimpah air matanya, semakin deras pula gerimisnya!

Namun tiba-tiba, manakala gerimis semakin deras, tak setetes pun jatuh menyentuh tubuhnya. Rupanya terhalang oleh payung yang dibawa oleh seseorang di belakangnya! Lelaki itu terkejut!

Setelah sekian lama tak mengalami lagi hal seperti ini, di mana seseorang memayunginya manakala tetes gerimis menderas saat ia duduk di kursi taman, kini terjadi lagi. Harum wangi parfumnya begitu jelasnya. Dan lelaki itu sudah bisa menebak seseorang yang berdiri memayungi tubuhnya. Elliza!

Pamulang Barat, Banten, Juni 2003