Tampilkan postingan dengan label K: Republika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K: Republika. Tampilkan semua postingan
Senin, 03 Oktober 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Republika 2 Oktober 2011

Saya tak tahu. Sebenarnya ini surat ke berapa yang ditulis. Surat-surat sebelumnya telah bersitumpuk di sudut-sudut rumah kayu saya yang sempit, di sudut kamar saya yang tentu juga sempit, di kotak-kotak lemari cokelat pias tanpa ukir, beberapa di celah-celah ventilasi dapur. Surat-surat itu bukannya suratsurat yang tak layak kirim. Pun, bukan kumpulan surat yang tak rampung (yang kebanyakan diremas orang-orang sebelum membuangnya di kotak sampah atau di sembarang tempat). Kertas-kertas (yang kini sudah menguning) itu adalah suratsurat jadi. Surat-surat siap kirim. Namun, sungguh, saya bagai tak tergerak mengantarnya ke kantor pos. Atau sekadar memasukkannya di kotak pos di simpang jalan raya. Saya bukan meragukan jasa pos. Toh, saya juga bisa mengirimnya via agen-agen jasa pengiriman swasta, bukan? Ini tentang kebingungan. Kebingungan yang lebih mengerucut pada keraguan. Beberapa catatan yang kerap menyergap bila keinginan untuk mengirimnya muncul adalah sebagai berikut:

Pertama, akankah dibaca surat-surat itu? Kedua, bila pun dibaca, tentulah si pembaca akan menilik nama pengirimnya. Ah, siapalah saya. Ketiga, apakah saya tak tampak berlebihan dengan isi suratsurat itu?

Mungkin saya ini memang tipe orang peragu. Tapi... ada baiknya saya tepikan sifat itu. Saya pikir tak ada ruginya bila diceritakan sedikit tentang nasib beberapa surat yang pernah saya tulis itu.

Adalah Pak Lijan, kepala sekolah tempat saya meng ajar, yang pertama kali memergoki saya menulis surat. Memang dasarnya tak percaya diri, gemetaranlah saya ketika itu. Pak Lijan mengambil kertas itu. Tak lama ia terkekeh. Melemparkan surat itu ke arah saya. Ya, melemparkan. Bukan memberikan. Lalu ia mengatakan (di antara kekehannya yang membuat rasa hormat kepadanya kini berkurang) bahwa tak ada gunanya guru honorer seperti saya menulis semua itu. Apa pun, di dunia ini, tak ada yang gratis. Termasuk sekolah. Bila pun bebas SPP dan uang bangunan, apakah sekolah juga mesti membelikan para siswa tas, sepatu, seragam, buku, dan alat tulis?

Saya cerna kata-katanya. Ada pula benarnya. Tapi..., ya, tapi bukankah di republik ini, pendidikan itu adalah hak? Bukan kewajiban! Maksud saya, bila itu adalah hak, maka berikanlah. Berikanlah dengan seutuhnya. Semuanya. Atau, saya yang salah mengartikan ’hak’ dalam pendidikan itu? Sayang, saya tak sempat menanyakan semua risau itu kepada kepala sekolah itu. Dia sudah keburumeninggalkan saya. Saya hanya sempat melihat ia menyeringai ke surat yang tergeletak di dekat ujung sepatu saya. Ketika itu, saya tiba-tiba miris. Surat yang berisi kegelisahan saya itu tampaknya senasib dengan penutup kaki saya yang butut.

Saya juga pernah menuliskan surat yang bercerita tentang seorang kawan seperjuangan. Perempuan 56 tahun di kampung seberang. Ibu Hoi, demikian saya memanggilnya. Saya cukup akrab dengannya bukan hanya karena ia adalah guru yang sangat saya kagumi, namun juga untuk alasan yang tidak penting: karena saya juga sangat suka makan gorengan. Saya sering membeli gorengannya ketika tiga kali seminggu harus ke perpustakaan kota demi menuntaskan hobi membaca saya.

Ya, selain menjadi PNS di sebuah SD, Ibu Hoi juga nyambimenitipkan gorengan di warung yang terletak dekat gerbang SD. Sudah 32 tahun ia mengajar. Ia tak tahu (juga tak paham) apa itu sertifikasi, bonus yang paling guru bincangkan. Dapat gaji dua kali, kata mereka. Dan, Ibu Hoi tampaknya tak terlalu tertarik di luar perannya sebagai guru dan penjual gorengan. Ia seolah menikmati sekali hidup. Setelah mengajar, saban sore ia mengitari kampung dengan kereta tuanya. Bertandang dari rumah ke rumah. Ibu Hoi juga menjadi penjahit keliling.

”Ibu senang saja melakukannya. Selain menambah uang belanja, banyak bertandang, panjang umurnya,” demikian selorohnya suatu waktu.

Ketika itu, penulisan kisahnya didorong oleh pengumuman sebuah lomba yang diadakan oleh kantor diknas kabupaten. Menulis kisah inspiratif. Hadiahnya lima ratus ribu. Pikir saya, hadiah itu dapat dibagi dua dengan Ibu Hoi kalau naskah saya menang. Saya menulis dalam bentuk surat. Kreativitas, itulah dasar saya memilih gaya berkisah seperti itu. Tapi, apa hendak dikata, satu hari menjelang dikirimnya surat-cerita itu, Ibu Hoi meninggal dunia. Setahu saya, Ibu Hoi tidak mengidap penyakit jantung atau penyakit lain yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Jadi, menurut saya, dengan semua keluguannya menjalani kehidupan, dengan semua pengabdiannya di sekolah, kematiannya adalah satu dari kematian yang paling diimpikan.

Ketika itu saya sibuk membantu beberapa tetangga mengurus jenazahnya, menyambut para pelayat, mengundang orang-orang untuk membaca Yaasin di malam harinya... Saya pun lupa mengirimkan naskah itu. Saya baru ingat setelah nama-nama pemenang diumumkan. Kabarnya, semua tokoh yang kisahnya dituliskan, meninggal ketika naskah-naskah dinilai! Saya terperenyak. Bagaimana mungkin? Tapi, ketika mendapati kebenaran kabar itu, saya pun berprasangka baik (saya yakin, kali ini prasangka saya benar): pada kurun itu, Tuhan sedang menjemput orang-orang pilihan-Nya. Dan, itu sangat mungkin, hati kecil saya menegaskan. Entah, tiba-tiba saya tak menganggap kabar duka itu sebagai sesuatu yang layak dirutuki.

O ya, saya pula pernah menulis cerita tentang Pak Arman. Guru Agama yang kini sudah sepuh. Maklum, dia adalah guru ketika saya SMP. Saya ingat sekali. Dulu, ketika bersama teman-teman, saya dihukumnya berlari keliling sekolah 10 kali di siang bolong. Kami yang waktu itu jumlahnya lima orang memang dikenal berandal. Kami tahu kami salah. Tak hafal Asmaul Husna, tak hafal 20 ayat pertama al-Baqarah, juga masih tak hendak melancarkan bacaan Alquran. Kami juga tak bayar uang sumbangan membeli sarung dan mukena untuk mushala sekolah. Mushala yang hampir rubuh. Kami sangsi bahwa uang itu akan digunakan untuk membeli perlengkapan shalat. Kami masih trauma dengan kasus Bu Lita, wali kelas kami. Sumbangan kami yang 2.500 rupiah per orang, tak jelas ke mana perginya. Katanya hendak dibelikan sapu, kotak sampah, gorden, vas bunga, dan seprai meja. Ternyata hanya kotak sampah dan sapu yang dibeli. Masing-masing satu pula. Kami pikir, Pak Arman tak ubahnya seperti Bu Lita.

Namun begitu, alasan yang paling kami gembar-gemborkan ketika itu adalah atas nama harga diri(dalam usia bau kencur ketika itu, kami sudah bertingkah dengan dua kata yang seakan sangat kami pahami itu...)! Kami benar-benar merasa terhina ketika teman-teman (termasuk gadis-gadis yang kami taksir) menyaksikan kami yang kelelahan menjalani hukuman.

Maka, kami pun membuntuti Pak Arman pulang. Kami tak memalaknya di jalanan sepi menuju rumahnya. Ya, kami cukup cerdas. Sebagai berandalberandal yang baru disetrap, tentulah kami sangat mudah menjadi tersangka pemalakannya. Kami berencana memalaknya esok pagi saja, ketika Pak Arman keluar dari perempatan jalan rumahnya. Maka, kami menguntitnya hingga memasuki lorong di perempatan. O, kami tak tahu, bila rumahnya jauh ke dalam. Mungkin sekitar dua kilometer. Jalan kaki. Kami lelah sendiri. Dan, o, o, kami kedapatan olehnya. Tubuh kami gemetar (kami lupa bahwa Pak Arman tak tahu rencana jahat kami). Kami diajaknya duduk di lepau di bawah pohon nangka, dekat sebuah rumah yang lebih layak disebut gubuk.

Pak Arman bertanya perihal kedatangan kami. Namun, belum sempat kami menjawab, dari gubuk itu, berkeriapan anak-anak kecil (kalau tak salah jumlahnya lima orang) menyongsongnya. Mereka disuruh Pak Arman salim kepada kami. Kami pun menyambutnya dengan semringah. Tahulah kami, mereka adalah anakanak guru agama kami itu. Pun, kami tak perlu bertanya tentang siapa pemilik gubuk dekat situ, bukan?

Tak lama, muncullah seorang perempuan paruh baya. Membawakan beberapa gelas plastik dan ceret aluminium dalam nampan plastik. Kami segera menyalaminya. Mencium tangannya. Tak perlu dikenalkan pun kami tahu kalau ia istri Pak Arman.

Ketika kami melepas dahaga, Pak Arman masuk ke gubuk. Tak lama ia sudah muncul dengan menggiring sebuah sepeda motor butut. Kami bertanya, mengapa ia tak mengendarainya untuk ke sekolah. Dan... baru tahulah kami. Motor butut itu adalah sewaan. Tiga puluh ribu per hari. Pak Arman mengojek sepulang mengajar. Maka, mulai detik itu, kami bagai lupa perihal palakmemalak itu....

Kisah tentang Pak Arman itu saya tulis. Beberapa hari kemudian, saya membacanya di hadapan teman-teman ketika kelas Bahasa Indonesia. Empat teman saya yang lain pasti tahu kalau saya tidak sedang membacakan sebuah surat untuk pak presiden sebagaimana yang diminta oleh Bu Desy. Namun, tak ada yang menyela. Termasuk guru bahasa Indonesia kami itu. Saya ingat sekali, mata teman-teman saya basah ketika cerita berakhir. Ibu Desy pun permisi ke toilet. Saya tahu, dia hendak menyembunyikan mata merahnya dari kami.

Entahlah, apakah ini akan dianggap sebuah surat atau tulisan lepas, atau semacam cerita saja. Saya tak banyak berharap, sebagaimana saya tak tahu kepada siapa surat ini mesti saya kirimkan. Hanya tiba-tiba terbetik ide, saya ingin mengirimkannya ke sebuah surat kabar. Siapa tahu surat ini dimuat. Lalu dibaca banyak orang. Atau juga dibaca pak presiden! Amin. Allahumma amin.

Lubuklinggau, 2010
Untuk Istriku, Desy Arisandi
Senin, 27 Juni 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen S Gegge Mappangewa

Dimuat di Republika, 5 Juni 2011

MATA mengantuk Ainun langsung terbelalak, tubuh Aimah yang tadi tidur di sampingnya, kini tak ada. Mendadak, jantungnya seperti lepas dari gantungannya. Seperti orang buta, meraba setiap jengkal tempat tidurnya. Dari sudut ke sudut.

“Aimah…. Mah…. Aimah, kamu di mana, Nak?” panggilnya sambil sesekali melongok ke kolong ranjang besinya. Aimah tak ada! Putrinya yang masih berumur tiga tahun itu, masih juga dipanggilnya berkali-kali. Tetap tiada!

Dia teringat perbincangan dengan suaminya tadi pagi.

“Bu, Aimah saya bawa, ya?”

“Jangan mimpi, Pa! Galang sudah kamu telantarkan.”

“Tapi dia kan cari uang.”

“Jadi, Bapak ingin punya anak karena mau menjadikannya binatang perahan? Anak kita masih terlalu kecil untuk dibebani tanggung jawab.”

Mata suaminya yang dari tadi menantangnya, kini tertunduk. Ainun pun merasa dirinya menang. Tapi kini…? Aimah yang baru saja dininabobokan, hilang. Dia yakin, pelakunya adalah suaminya sendiri. Dia keluar menembus malam yang pekat. Berjalan menuju lapangan desa yang kini ditempati pertunjukan komidi putar.

Telah hampir lima tahun, suaminya ikut keliling kampung sebagai pembalap tong edan. Penghasilannya lumayan. Di antara karyawan yang lain, suaminya yang paling tinggi gajinya, sepuluh persen dari seluruh penghasilan. Sedangkan karyawan lainnya yang bertugas di kincir, balon putar, kuda Ramayana, dan ombak asmara, semua hanya mendapat lima persen.

Apalagi, seluruh saweran dari penonton yang menyaksikan aktraksinya, masuk kantong pribadinya. Tapi, di antara karyawan lainnya juga, suaminya yang risiko kerjanya paling tinggi. Ainun pernah menonton pertunjukan suaminya, tapi dia hanya bertahan semenit. Detak jantungnya terpacu hebat, gendang telinganya terasa pecah mendengar deru motor yang sengaja dilepas knalpotnya, meraung, berputar, dan memanjati tong yang tingginya mencapai empat meter.

Dia pernah meminta suaminya berhenti bekerja, tapi mau makan apa? Toh, mati juga! Sebagai orang Bugis, suaminya punya prinsip, lebih baik mati berdarah daripada mati kelaparan. Aib! Dia pasrah saja, karena hidup memang harus diperjuangkan bahkan dipertaruhkan dengan kematian. Hingga suatu saat, suaminya datang mengeluh karena penggemar tong edan mulai berkurang. Gaji pun tak cukup lagi buat makan.

“Ya, dicukupin aja, Pak! Nanti saya yang atur. Apalagi Bapak kan makannya di komidi putar. Saya sih, asal bisa beli susu buat Galang.”

“Atau Galang saya bawa saja, cari uang bersama saya.”

“Cari uang?”

“Maksudku, Galang saya bawa saja. Pemilik komidi putar yang tanggung susu dan makanannya, bahkan pakaiannya.”

Belum diiyakan, suaminya sudah berdiri dan mengumpul pakaian Galang sendiri.

“Ibu nggak usah khawatir, kan ada saya?” kata suaminya, namun belum bisa menghapus cemasnya.

Lebih membuatnya heran, suaminya melarang dia ikut. Suaminya hanya berjanji, akan mengembalikan anaknya sekali sebulan. Saat itu, kebetulan komidi putar sedang pertunjukan di luar kampung. Seperti tertotok, dia mengiyakan saja. Barulah setelah dua hari kepergian suaminya, dia mulai menaruh curiga. Curiga untuk yang pertama kalinya. Selama ini dia memang selalu percaya kata hatinya, bahwa suaminya takkan menyeleweng.

“Suamimu laki-laki kan? Jangan mudah percaya, Ainun! Jangan-jangan dia mengambil anakmu karena dia punya istri simpanan selama ikut komidi putar.”

Tetangganya mulai ikut sumbang saran.

“Suamiku bukan lelaki seperti itu.”

“Ainun, lelaki semakin dipercaya semakin dia berpeluang memperdaya kita. Apa salahnya kamu mengunjunginya di kampung sebelah?”

Ainun pun berangkat. Berat langkahnya terangkat, tapi dia melangkah juga. Di antara keramaian pasar malam, sejenak dia berdiri mematung di dekat panggung tong edan yang sementara mengadakan pertunjukan. Awalnya dia enggan. Dia takut melihat aktraksi maut suaminya, yang terkadang berdiri di atas motor, lepas tangan, sambil mengendarai motornya mengelilingi tong. Benar-benar edan! Tanpa pikir panjang lagi, dia berlari menaiki tangga.

Di tak mengerti, mengapa anaknya bisa ada dalam tong yang di dalamnya sedang mempertunjukkan aktraksi edan? Bagaimana jika motor terjatuh dan menimpa tubuh anaknya yang sedang di lantai tong?

Ternyata Galang dibonceng bapaknya. Tak ada ketakutan sedikit pun di wajah putranya, bahkan sesekali melepas tangan kanannya dari pinggang bapaknya, untuk mengambil saweran yang diberikan pengunjung.

Tepuk tangan riuh, bergemuruh, saat Galang menerima saweran itu tanpa takut, bahkan masih sempat cium jauh untuk pengunjung yang memberinya saweran. Padahal, motor yang dikendarai bapaknya sedang meliuk-liuk, memanjat, dan mengelilingi tong yang berdiameter enam meter.

Batinnya mengutuk perlakuan suaminya yang ternyata menjadikan anaknya pengemis dengan cara lain. Tubuhnya seolah terserang lumpuh layuh. Persendiannya terasa tak kuat lagi. Gravitasinya hilang, dirasakan tubuhnya melambung, saat mata anaknya yang tertuju padanya, seolah tak mengenalnya. Ainun terjatuh. Pingsan. Orang-orang mengerumuninya. Saat siuman, suaminya berada di sampingnya.

“Begitu cara kamu menjaga Galang?” sinis dia.

Galang yang melihat ibunya sudah bisa diajak bicara, langsung mendekat dan memberinya kalimat yang semakin memerihkan hatinya.

“Bu, Galang suka di sini. Saya bisa beli mainan setiap malam,” ucap Galang sambil memperlihatkan mobil-mobilan plastiknya.

“Penonton selalu ingin pertunjukan baru, Bu! Apalagi Galang laki-laki, kelak dia yang akan menggantikan saya.”

“Memang di dunia ini cuma satu pekerjaan? Harusnya Galang disekolahkan!”

“Tapi Galang belum cukup umur kan, Bu?”

“Kalau anak seperti dia sudah bisa cari uang, bebas main tanpa batas di tengah pasar malam, mana mungkin ada minat untuk sekolah lagi?”

Suaminya terdiam, membenarkan kalimat istrinya. Setiap Galang ditanya mau sekolah di mana, jawabnya pasti mau sekolah di lapangan. Galang bahkan tak mau pulang ke rumah. Juga tak mau sekolah. Padahal, usianya sudah memantaskan dia masuk TK. Dia lebih senang hidup di komidi putar, keliling kampung. Setelah Galang dirampas masa depannya, kini Aimah yang jadi sasaran.

***

Tiba di arena pasar malam, langkah Ainun bergegas menuju tong edan yang mulai mempertunjukkan aktraksi mautnya. Deru mesin motor yang memekakkan telinga, seolah tak didengarnya. Malam ini dia harus mengambil putrinya pulang, bukan karena Aimah anak wanita dan tak cocok ikut aktraksi tong edan, tapi karena dia tak ingin anaknya kehilangan masa depan.

“Aimah!” teriaknya dari bibir dinding tong edan yang sedang dipanjati motor.

“Ibu mengenal anak itu?” tanya seorang pengunjung padanya. “Dia baru dilatih. Dulu Galang, kakaknya, juga begitu. Masih takut! Tapi lama-kelamaan, akhirnya jago juga seperti bapaknya,” lanjutnya tanpa menyadari jika dia sedang berhadapan dengan ibu dari anak yang sedang dieksploitasi itu.

“Cukup, Pak! Cukup!” teriak Ainun seperti orang gila.

Dia yakin, telah terjadi sesuatu pada Aimah yang sedang dibonceng dengan tubuh yang diikatkan sarung, menyatu dengan tubuh bapaknya. Di belakang Aimah, Galang berdiri sambil berpegang di pundak bapaknya. Sesekali melambaikan tangan untuk pengunjung. Tentu saja dengan motor yang tetap pawai, melengket di dinding tong bagai reptil.

Galang melihat sosok ibunya berteriak-teriak memanggil Aimah di antara mesin motor yang menderu. Galang langsung membisiki bapaknya. Selintas dia melihat wajah suaminya seperti pencuri yang ketangkap basah dengan barang bukti di tangan. Mungkin merasa bersalah, dia menurunkan motornya ke dasar tong.

Ainun berlari menuruni panggung tong. Tapi saat tiba di pintu tong yang telah terbuka, dia mendapatkan suaminya, panik, mengguncang tubuh Aimah.

“Mengapa dengan Aimah, Pak?”

Suaminya tak pernah menyangka jika akan terjadi sesuatu pada diri Aimah. Tubuh kecil itu tetap kaku. Dingin. Ainun yang menyaksikannya ikut beku. Sayangnya, saat dia siuman, dia tak bisa membawa Aimah pulang. Allah telah duluan membawa Aimah pulang. (*)

Minggu, 24 April 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Mashdar Zainal
Dimuat di Republika, 24 April 2011

MENURUTKU, gelar dan nama adalah dua hal yang tak boleh dipisah-pisahkan. Seperti tubuh dan pakaian, sebuah nama akan telanjang tanpa gelar. Itulah mengapa aku sangat mengutuk orang-orang—terutama mahasiswaku—yang luput mencantumkan gelar pada namaku. Sebagai seorang dosen senior, aku telah menerapkan beberapa pantangan bagi seluruh mahasiswa yang mengikuti perkuliahanku. Salah satu di antaranya adalah mengenai gelar itu sendiri.

Mereka—para mahasiswaku—yang berulang kali salah menyebutkan nama berikut gelarku, kujamin akan bernasib buruk. Seperti yang sudah kukatakan, gelar dan nama adalah sesuatu yang sakral bagiku, jadi tak boleh diotak-atik oleh siapa pun.

Sebenarnya, untuk mengantisipasi hal itu, aku selalu berbaik hati. Pada setiap awal semester, di perkuliahan, aku selalu berpanjang lebar memperkenalkan diri. Para mahasiswa yang belum pernah mengikuti perkuliahanku, mereka akan mendengarkan semua ceritaku dengan khidmat dan sesekali manggut-manggut. Jabatanku di kampus adalah pembantu rektor satu, sekaligus guru besar. Sudah berapa dosen di kampus ini yang dulunya bekas mahasiswaku? Toh, mereka semua menghormatiku.

Tak perlu ditebak, pastinya gelarku cukup mentereng. Setiap awal semester, pada acara perkenalan dengan mahasiswa baru, aku selalu menuliskan nama lengkapku besar-besar di jantung papan tulis. Aku selalu menuliskannya begini: Prof Dr H M Kibari MA.

Bila para mahasiswa yang kuajak bicara mengernyitkan dahi, dengan semangat aku akan menjelaskan pada mereka, bahwa kata prof, dari namaku itu berarti profesor, yakni seorang ahli dalam suatu bidang, bidangku tentu kebahasaan. Untuk meyakinkan mereka, aku selalu menyebutkan prestasi-prestasi akademik dan non-akademik yang telah kukantongi. Sudah bertebaran pula buku-buku barat yang aku terjemahkan ke dalam bahasa ibu. Rasanya tak ada yang kurang dengan prestasiku.

Adapun mengenai huruf Dr, dari namaku ialah singkatan dari kata doktor yang aku peroleh dari S3-ku yang kedua, di Jakarta. Tak pernah ketinggalan pula aku menjelaskan tentang huruf H, yang bertengger pada namaku. Huruf H di sana tentu saja singkatan dari kata haji, itu karena memang sudah berkali-kali aku ke Makkah. Dan untuk huruf M, aku takkan menjelaskan panjang lebar karena M di sana ialah singkatan dari nama depanku, Muhammad.

Dan yang terakhir, huruf MA, master of art, merupakan oleh-oleh dari S2-ku dari negeri yang punya ibu Menara Eifel, Prancis. Hebat bukan?

Tak ada yang perlu diragukan, rasanya gelar itu cukup sepadan dengan kemampuan akademik yang kumiliki. Mungkin bisa dibilang aku ini seorang multitalent. Mulai dari kecerdasan matematis, bahasa, kinestetik, sampai musikal, aku menguasainya. Tak banyak orang tahu bahwa diam-diam aku ini berbakat menggesek biola, itulah yang kukatakan sebagai kecerdasan musikal. Bukannya aku sombong, karena sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Aku tidak begitu, justru aku mengagungkan kebenaran, semua tentangku memang benar adanya, bukan mengada-ada. Aku juga tak pernah memandang rendah orang lain, mungkin orang lain saja yang harus mengakui bahwa aku memang ada di atas mereka, dalam banyak hal.

***

Pada akhir semester seperti ini biasanya aku akan lebih sibuk dari biasanya. Banyak sekali agenda-agenda kampus yang harus rampung sebelum rapat wisuda digelar nanti. Belum lagi urusan konsultasi para mahasiswa yang bebal itu. Beberapa kali mereka datang ke rumah, mengemis-ngemis agar aku dapat menerima konsultasinya lalu mengasese skripsinya yang amburadul itu.

Seminggu terakhir ini, sudah terhitung tiga mahasiswa yang terpaksa aku depak untuk mengulang semester depan. Aku sudah terbiasa dengan wajah-wajah kecewa mereka.

Awal pekan lalu, seorang wanita berkunjung ke rumah. Setelah kuhitung-hitung, aku yakin, itu kedatangannya yang ketujuh. Sepertinya dia lebih pandai mengobral alasan daripada menekuni tugas akhirnya. Kali ini dia datang malam-malam dengan segepok kertas di tanganya. Aku menyesal sekali, istriku mempersilakannya masuk. Terpaksa aku meladeninya.

“Apa kita sudah buat janji sebelumnya?” ujarku tanpa basa-basi.

“Maaf Pak, saya tadi tidak sempat, tadi seharian penuh saya menyelesaikan bab terakhir ini. Dan, waktu saya ke kampus bapak tidak ada.” Dalihnya enteng.

Walah… itu alasan kamu saja, wong sedari pagi saya di kampus kok! Urusan kampus ya selesaikan di kampus. Lha, mengapa kamu berani menemui saya tanpa membuat janji terlebih dahulu. Sudah…, sebaiknya kamu pulang saja, saya mau istirahat….” Tukasku santai.

“Tapi Pak, minggu depan sudah ujian. Izinkan saya bicara sebentar dengan bapak. Saya mau minta pertimbangan-pertimabangan lagi dari bapak supaya semuanya clear dan lusa saya sudah bisa daftar ujian skripsi.” Ia merajuk, membuatku semakin muak.

“Entah besok ujian, entah minggu depan ujian, itu urusan kamu. Pertanyaannya, selama satu semester ini kamu ngapain aja? Bukannya dead line yang kuberikan sudah kedaluwarsa?”

“Sungguh, Pak…! Ada urusan penting yang harus saya utamakan.”

“Lebih penting dari skripsimu?” tandasku.

Wanita itu tak bergeming, tapi matanya mengilat seperti kaca.

“Sudah, terserah draf itu mau kamu apakan. Yang jelas malam ini saya mau istirahat. Badan saya rasanya remuk semua. Maaf.” Ucapku singkat, lalu beringsut meninggalkannya yang tergugu di ruang tamu. Entah dengan cara apa dia enyah, lagi-lagi aku takkan peduli. Aku benar-benar muak dengan mahasiswa model begitu.

Mahasiswa kedua yang tidak kugubris kedatangannya juga seorang wanita. Ia mengaku tak punya banyak waktu untuk menyentuh skripsinya karena ia repot mengurus balitanya. Bagiku, itu risiko yang harus ia tanggung. Maka, baginya tak ada lagi toleransi. Aku hanya menyarankan padanya supaya ia pandai-pandai membagi waktu.

Yang ketiga ialah seorang pemuda kumal. Dia seorang aktivis organisasi ekstra kampus. Bertubi-tubi ia mengemukakan alasan dengan bahasa yang diplomatis dan dibuat-buat. Dipikirnya itu akan mengubah nasibnya, sama sekali tidak. Bahkan, terang-terangan aku memberinya dua pilihan, skripsi atau organisasi. Aku menyuruhnya pulang dan datang kembali semester depan dengan pilihan yang tepat.

Setelah para mahasiswa error itu, malam ini datang lagi seorang pemuda dengan potongan alim. Kalau tidak salah dia adalah seorang anggota takmir masjid kampus. Entah, aku lupa namanya siapa. Sebenarnya dia itu rajin, tapi untuk soal skripsi dia tak beda jauh dengan mahasiswa kebanyakan. Dari matanya aku masih menangkap kemuakkannya terhadapku. Mungkin dia teringat kejadian beberapa bulan lalu saat aku menegurnya karena kesalahan fatal menyebut namaku tanpa memakaikan bajunya, gelarnya. Pada khutbah Jumat waktu itu aku mendapat jadwal khatib dan dia sebagai bilal. Sebelum aku naik ke mimbar, dia menyebutkan namaku begini: “Dan pada Jumat kali ini, khutbah Jumat akan diisi oleh Bapak Muhammad Kibari.”

Bukankah seharusnya dia menyebut namaku begini: “Dan pada Jumat kali ini, khutbah Jumat akan diisi oleh Prof Dr HM Kibari, MA.”

Iya kan? Seharusnya begitu, kan? Untung saja posisiku waktu itu sebagai khatib, kalau tidak pasti aku sudah melabraknya. Tapi sudahlah, aku sudah melupakan kejadian itu dan memaafkannya. Dan, malam ini aku menerima konsultasinya yang terakhir, tentu setelah dia membuat janji denganku.

“Maaf Pak, ini hasil revisi saya yang terakhir,” ucapnya sambil menyerahkan bendel skripsinya yang tebal. Dengan malas aku meraihnya, lalu membolak-balik halaman itu dengan saksama.

“Apa ini? Sudah mau diwisuda ngetik saja belum becus. Lihat itu! Apa pantes itu dibaca orang.” Pekikku setelah mencoret beberapa kata yang salah redaksi.

“Maaf Pak, mungkin saya memang kurang teliti. Iya, akan segera saya perbaiki.” balasnya. Belum selesai ia bicara aku sudah menemukan lagi kesalahannya yang lebih fatal.

“Ini apa lagi. Rupanya kamu benar-benar tak tahu siapa nama dosen pembimbingmu sendiri. Ini lihat!” Tanganku mengacung pada tulisan: “Dosen Pembimbing: Prof H Kibari, MA.”

“Ini doktornya mana, terus M, Muhammadnya mana? Sudah, sudah, ini bawa lagi skripsimu. Besok saya tunggu di kampus, jam sepuluh. Ingat! Itu yang terakhir kali. Kalau kamu masih salah-salah lagi, saya sarankan kamu ujian semester depan saja! Kamu belajar ngetik dulu sambil menghafalkan gelar-gelar saya.” Emosiku meledak. Setelah sepatah dua patah kata yang terbata, ia memohon diri dengan wajah seperti terbakar.

Esoknya pemuda itu menemuiku di kantor, ia kembali dengan print out yang baru, tapi dasar penyakit, dia membuat kesalahan lagi dengan menghilangkan tanda baca titik pada ujung kata Prof dan Dr. Tanpa berpikir panjang aku menyuruhkannya menuliskan tanda titik itu secara manual, dengan pena yang digenggamnya. Setelah kurasa beres aku segera mengasesenya, aku tak ingin lama-lama berhadapan dengannya, bisa-bisa darah tinggiku kumat.

***

Usai sidang skripsi, aku bisa bernapas lega. Hal yang paling sulit bagiku selama berpuluh-puluh tahun jadi dosen ialah saat menjadi penguji skripsi. Aku selalu dihadapkan pada dua pilihan yang menyebalkan: yakni memelihara kebodohan para mahasiswa itu atau mempermalukan mereka. Namun, aku lebih sering mengambil pilihan yang pertama: memelihara kebodohan mereka dengan dua kata: kamu lulus.

Biasanya, setelah nilai keluar, para mahasiswa bimbinganku yang puas dengan nilainya akan mendatangiku dengan ucapan terima kasih berikut tandanya. Minggu ini sudah terhitung lima tanda mata yang aku terima, mulai dari karangan bunga, kemeja, arloji, hiasan dinding, bahkan sampai sepatu made in Italy.

Dan, malam ini aku menerima lagi sebuah kiriman paket dalam kardus besar tanpa nama pengirim. Aku tersenyum-senyum saja menerimanya. Dari beratnya, aku yakin isinya bukan barang biasa.

“Dapat lagi, Bu!” kataku sambil memamerkan paket kotak itu pada istriku.

“Wah, sepertinya berat sekali. Kira-kira isinya apa ya, Pak?” tanya istriku.

“Yah, pastinya benda berharga, Bu. Mahasiswaku kalau memberi hadiah memang tak tanggung-tanggung.” Balasku girang.

Istriku tersenyum, “Cepet buka, Pak! Saya jadi ndak sabar pingin ngeliat isinya apa.”

“Iya, iya, saya buka. Sabar. Tapi tolong, ibu bikinin teh dulu buat bapak.”

“Iya, ibu bikinin. Tenang saja. Tunggu sebentar ya, Pak,” ujarnya sambil beranjak ke dapur.

Istriku pasti akan terkagum-kagum melihat kado istimewa dari mahasiswaku kali ini. Bagaimana tidak istimewa, bungkusnya saja dari kertas emas berkilauan dengan pita cokelat muda, masih dihiasi bunga-bunga rumput kering pula, artistik sekali. Dan untuk lebih memberi sensasi kejutan, pengirim kado ini pasti sengaja membuat saya penasaran dengan tidak mencantumkan siapa nama pengirimnya.

Maka, dengan tidak sabar aku membuka kardus itu. Satu per satu kulucuti pita dan plester yang rapat membalut kardus itu. Kubuka kertas emas mengilat itu pelan-pelan agar tidak sampai sobek. Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk melihat isinya. Mulai kusingkap kardus itu dengan hati dag-dig-dug penasaran. Setelah kubuka kardus itu aku tercekat, kaget bukan main. Dua papan batu nisan dari marmer terbujur di sana. Pada salah satu batu nisan itu terukir tulisan yang sangat indah, berseni. Tulisan itu begini:

Alm Prof Dr H M Kibari, MA.

Jidatku terasa dihantan pendulum satu ton saat kusadari apa yang baru saja kubaca. Kepalaku mulai terasa pening. Bersama dengan batu nisan itu, terselip pula selembar kertas dengan tulisan tangan yang cukup rapi, kubaca tulisan itu perlahan:

.

Bapak Prof Dr H M Kibari, MA. yang ter(gila) hormat. Mohon maaf sebelumnya.

Ini saya kirimkan kenang-kenangan berharga buat Anda. Batu mahal berukir gelar kebanggaan Anda. Jadi, kelak Anda tidak usah repot-repot membayar orang untuk mengukir gelar Anda pada batu itu.

Oh ya, saya juga telah menuliskan satu lagi Gelar bagi Anda: Almarhum. Tentu Anda senang, gelar Anda bertambah satu lagi. Gelar itu akan benar-benar Anda dapatkan, jadi Anda tak usah khawatir. Mohon disimpan baik-baik hadiah dari saya ini. Anda boleh memajangnya di ruang tamu atau di kamar tidur Anda, supaya Anda selalu bisa melihatnya. Semoga bermanfaat.

Salam

Mahasiswamu.

.

Usai membacanya kepalaku berdenyut-denyut tak keruan. Wajah-wajah kecewa itu berkelebat satu per satu menggelayuti dinding kepalaku. Aku seperti menemukan maksud indah yang enggan kuterima kebenarannya. Tanganku masih gemetar menimang batu kuburan itu. Aku tak mau siapa pun tahu akan hal ini. Sebelum istriku melihatnya, secepat kilat kumasukkan kembali batu itu ke dalam kardus lalu membungkusnya kembali rapat-rapat.

“Wah, isinya apa, Pak? Ibu mau ngeliat?” tutur istriku dengan secangkir teh yang masih bergoyang di tangannya.

“Ah, tak perlu, Bu. Ini cuma hiasan batu berukir biasa.” Balasku kecut. Sesuatu yang tidak enak mulai menggeliat di kepalaku lalu meletup-letup di palung dadaku. (*)

.

Malang, 2009-2010

Minggu, 20 Februari 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Sinta Yudisia
Dimuat di Republika, Ahad 20 Februari 2011

Nyonya Maali melompat dari kursi.

”Apa?”

Sepasang matanya seolah keluar dari tempurung kepala. Sekelompok lelaki, preman sekalipun, mengkerut bila berhadapan dengan perempuan macam nyonya Maali. Kritiknya tajam, suaranya pedih, tuduhannya merajam. Lebih dari itu, uangnya mampu mengaliri nadi untuk tetap hidup. Setiap yang bergantung di ketiaknya merasakan nyaman bersarang di gundukan uang, enggan untuk bersikap memusuhi. Ya,ya,ya. Usahakan ia mendengar persetujuan. Usahakan senyumnya terkembang. Usahakan ia selalu senang. Jika riang gembira, nyonya Maali ibarat ATM berjalan.

Secara fisik nyonya Maali tak pantas ditakuti.

Tubuhnya langsing, citarasa perempuan kosmopolitan yang meski telah berusia senja tetap rutin memanjakan diri di spa-spa mahal. Apa saja yang menjanjikan jaminan kecantikan, dilakukan nyonya Maali. Sedot lemat, suntik pemutih, tarik-wajah, sistem platelet; ia sangat memusuhi waktu yang menggerogoti usia. Tak heran, usianya yang setara dengan tukang rombeng keliling bertubuh tambur dan ubanan, nyonya Maali tetap berkulit halus bak gadis remaja. Jika boleh, perempuan itupun ingin menawar Izrail agar tak cepat-cepat memindahkan rumah mewahnya ke sepetak tanah.



Uang dan kekuasaan, merupakan makanan utama hingga kudapan yang disikat setiap hari. Setiap yang bertemu dirinya akan mendapatkan suntikan serupa : jangan mau hidup jika tak punya kekuasaan, amit-amit lagi kalau tak punya uang! Konon kabarnya, kekayaan dan kekuasaan nyonya Maali sudah turun temurun, dari leluhur dan nenek moyang, dari mbah buyut, dari kakek nenek, orangtua, dari suaminya yang meninggal mendadak terkena serangan jantung saat main golf di Bali. Tak ada yang perlu ditakutkan nyonya Maali terkait keuangan, meski dunia perbank-an di Indonesia gonjang-ganjing, uangnya tetap mengeram aman di bank-bank Eropa.


Yang membuatnya meradang, ketika menyadari bahwa dinasti keuangannya harus segera mengangkat pangeran pengganti, nyonya Maali kebingungan. Ia hanya punya sepasang anak kembar, Dinar dan Dirham, harus memilih salah satunya sebagai penerus. Ambisi nyonya Maali pun tak main-main, ia ingin salah satu anaknya menjadi penguasa, betul-betul penguasa. Minimal jabatan setingkat walikota. Dinar tidak mungkin, kiprahnya di dunia modelling tak menjadikannya ikon yang pantas diajukan sebagai calon walikota. Dirham lah yang memungkinkan, sekalipun ijazah S1 dan S2 nya didapat secara instan, ia sosok lelaki muda yang menawan dan punya kharisma. Setidaknya, itu pendapat nyonya Maali.

Masalahnya, untuk mengajukan diri sebagai calon walikota, harus melalui serangkaian tes psikologis.

Tim sukses Dirham yang didanai sepenuhnya nyonya Maali, mengabarkan berita tak enak. Dirham tak lolos fit and proper tes, kondisi psikisnya mengalami kesenjangan. Secara kasat mata Dirham adalah lelaki muda masa kini. Rupawan, orator ulung, pemilik saham besar, pengusaha real estate hingga pabrik kelereng plastik, menguasai bisnis dari hulu hingga ke hilir. Insting bisnisnya serupa dengan nyonya Maali. Sayang, dalam battery test, ia banyak menunjukkan ketidak mampuan.

”Beli saja hasil tesnya!” raung nyonya Maali.

”Be...li?” ketua tim sukses tergagap. Menyogok polisi dan jaksa sudah biasa, memanipulasi tender adalah keahlian kroni nyonya Maali. Membeli alat tes dan hasilnya? Belum terpikirkan. Merekayasa uang dan kekuasaan sudah menjadi hal yang mudah. Merekayasa ketahanan jiwa manusia? Tim sukses pusing juga meski, mata menyala berkilat melihat janji nyonya Maali.

”Kalau Dirham jadi walikota, semua tender harus lewat meja kita.”


****************

Tim sukses mendatangi biro psikologi.

Beramah tamah pada awalnya, meminta agar Dirham di tes ulang. Mungkin saja terjadi kesalahan. Bukankah stress dan lelah bisa memunculkan pengelabuhan hasil test? Masuk akal juga. Sekelompok tester dengan senang hati menerima bayaran lebih. Bukan hal yang melanggar hukum, toh mereka hanya mengetes ulang.

Tim sukses menunggu cemas, nyonya Maali uring-uringan, Dirham tak ambil pusing. Menjadi walikota ambisi sang ibu, bukan ambisinya. Ia tak ambil peduli selama angka nol di tabungan tidak berkurang digitnya. Bukan hanya tim sukses yang pusing, para psikolog muda beserta tester pening berputar-putar.

”Pribadinya tidak terbaca, tidak konsisten,” cetus tester kesatu, melihat grafik batang EPPS.

”Kecenderungan sosiopat, gangguan emosional,” tester kedua menerawang grafik Sixteen Personality Factor Questionnaire.

”Jangan berinterpretasi,” tegur psikolog pertama, mengumpulkan data dan menyimpannya rapi.

Mereka memandang kerja tes Pauli yang seolah berteriak menyajikan hasil tanpa perlu diperiksa, MMPI yang seakan menyimpan berita horror. Setelah berkutat lama, tim sukses mendapatkan laporan.

”Kami hanya bisa menyimpulkan seperti yang tertera dalam laporan,” sang psikolog menyodorkan hasil.

Tidak punya ketahanan kerja.

Tidak punya daya dobrak.

Tidak punya konsentrasi yang baik.

Kecenderungan paranoid dan skizofren.

Mudah terintimidasi.

”Berapa kami harus membayar?” tim sukses menggebrak.

Psikolog tergeragap, menyatakan bahwa administrasi telah diselesaikan di depan.

”Bukan! Bagaimana kami harus membeli hasil agar pak Dirham mampu menampilkan citra yang baik?”

Berkeringat, ketua tim yang masih terlihat muda dan penuh idealisme memberanikan diri berbicara.

”Kami tak bisa seperti itu pak...”

”Sebutkan saja harganya!”

”Bagaimana jika pak Dirham diterapi sebentar? Atau mungkin...Bapak perlu membawanya ke beberapa peneliti kami yang terbukti mampu menyembuhkan klien sehingga mereka memiliki pribadi yang jauh lebih kuat?”

Tim sukses membayangkan wajah nyonya Maali.


*************


Nyonya Maali ibarat suhu turun gunung. Tim suksesnya dianggap tak cukup cepat bergerak sementara waktu pendaftaran calon walikota di ambang penutupan. Ia menuju klinik terapis yang disarankan. Sekilas terpikir Dirham akan masuk ruang berjeruji, mirip sel pesakitan. Sebaliknya, klinik yang disarankan jauh dari kesam seram. Dikelilingi pepohonan rindang, didominasi lahan luas dan sebuah tempat peribadatan di ujung. Jika harus mendekam sementara, entah diutak atik jiwa atau otaknya demi menampilkan citra yang lebih kokoh, baiklah. Lagipula, klinik asri ini terasa aman untuk bersembunyi. Setidaknya demikian yang dirasakan nyonya Maali.



Sang terapis di klinik lebih terlihat seperti agamawan, berjenggot perak dan mata bersinar-sinar. Asistennya lebih aktif bicara, menjelaskan, sementara sang terapis lebih banyak berdiam diri mengumbar senyum.

”Kami menemukan terapi baru. Sebetulnya sudah lama digagas Al Ghazali, yang mungkin lebih dikenal sebagai seorang ulama sufi. Al Ghazali menemukan nodus sinoatrial, terletak dalam titik tersembunyi di jantung. Kenapa orang berpikir tapi merasa dengan dadanya? Kenapa matanya melihat perselingkuhan tapi jantungnya yang terasa sakit? Itulah yang dinamakan nodus sinoatrial...”



Nyonya Maali mendengus. Entah menangkap atau tidak, ucapan asisten yang terlihat sangat ingin berilmiah-ilmiah itu tidak menggedor keingin tahuannya. Dalam benak, Dirham akan keluar dengan kepribadian yang lebih baik, tidak dengan hasil yang diungkap para psikolog bodoh di biro murahan itu. Mata nyonya Maali meneliti ruang klinik. Foto-foto Sigmund Freud, Carl Rogers, Watson bersanding dengan puisi-puisi Jalaluddin Rumi serta sertifikat sang terapis yang lebih sering didengarnya dipanggil pak Yayi. Gabungan ilmu jiwa dan ilmu agama, boleh juga.

Dirham mendampingi nyonya Maali, menurut meski menggerutu. Ia harus taat jika ingin tetap dimasukkan ke dalam daftar ahli waris.

Pak Yayi menemukan mesin baru, didukung santri-santrinya dalam menemukan penyakit yang tak terlihat. Belum dipatenkan, tapi sudah diujicoba dan terbukti berpuluh bahkan beratus menunjukkan hasil menggembirakan. Penyakit yang tak terdeteksi, jauh di bawah kulit, tak dapat didiagnosis dengan tes darah atau apapun yang bersifat materi, telah dapat ditemukan dengan alat serupa mirip mesin fotokopi. Klien dibaringkan, disinar, lalu keluarlah lembar foto negatif yang menunjukkan penyakit yang diderita. Penyakit psikis, tentunya.



Asisten menyambung kabel, memutar kenop, memasang layar komputer, mengerjakan langkah demi langkah sementara pak Yayi mendampingi. Dirham tak mendapatkan perlakuan istimewa, hanya karena diagnosa dan terapi ini belum paten maka pak Yayi perlu mendampingi agar tak terjadi kesalahan fatal. Siapa yang harus bertanggung jawab jika tiba-tiba klien justru kehilangan kendali diri?

Nyonya Maali berdiam diri di ruang tunggu dengan gelisah, berkipas-kipas meski angin berhembus bebas melewati jendela-jendela lebar yang dinaungi rimbun pohon mangga. Tidak ada AC, gerutunya. Bagaimana mungkin klinik seperti ini tidak memiliki fasilitas memadai?

Asisten membimbing Dirham berbaring, mengajaknya relaksasi kemudian memotret keseluruhan tubuhnya tanpa kecuali. Tak sampai dua jam, hasil diketahui. Pak Yayi berkerut-kerut dibuatnya. Nyonya Maali terlonjak melihat Dirham berjalan beriringan.



”Bagaimana pak Yayi?”

Lelaki berjanggut perak itu terlihat berusaha memilih kalimat.

”Kapan terakhir sholat?”

Nyonya Maali menaikkan alis, Dirham menggeleng.

”Masih ingat surat al Fatihah?”

Dirham angkat bahu.

”Syahadat?”

Dirham tak menjawab, nyonya Maali meradang.

”Kenapa harus diinterogasi? Saya ingin Dirham bisa lolos fit and proper tes, ia harus lolos tes psikologi dan anda dirujuk oleh para psikolog bodoh itu mampu menyembuhkan kecemasan, kekhawatiran, kegilaan! Anak saya tidak punya masalah! Dia hanya butuh lolos seleksi!”

Pak Yayi menyodorkan sebuah negatif film.

”Apa yang Ibu baca?”

Nyonya Maali menarik kasar, menerawang foto itu di langit-langit.

”Saya tak lihat apa-apa!”

Pak Yayi mengangguk.

”Semua klien saya memiliki titik putih disini,” ia menunjuk bayang hitam serupa jantung. ” Ini yang diungkapkan Al Ghazali sebagai nodus sinoatrial, titik hati. Berdenyut makin baik, berwarna makin kemilau menyerupai noktah besar. Semakin cemerlang, semakin putih noktahnya, semakin luas pendarnya, semakin sehat jiwanya. Mereka yang bermasalah, titik hatinya hanya berupa noktah putih kecil. Putra anda...sama sekali tidak memiliki noktah disini.”


Nyonya Maali naik pitam.

”Jadi..bagaimana?”

”Bahkan Sigmun Freud tak bisa mengobati jiwa seseorang. Yang bisa mengobati hanya kemauannya sendiri untuk melakukan upaya transendental.”

”Maksud anda....”

"Pak Dirham akan lolos seleksi jika ia punya struktur kepribadian yang kuat, itu hanya bisa diraih jika ia memang mau memperbaiki hubungan vertikal dan horisontal.”

Wajah nyonya Maali memerah saga. Dirham hanya tersenyum dikulum. Menjadi walikota bukan impiannya, lebih baik memutar uang di tempat lain. Prestise toh tidak didapat hanya dengan menjadi kepala daerah. Nyonya Maali menyeret langkah. Bersumpah serapah untuk mencari biro dan terapis lain yang lebih unggul. Sebelum pulang, Dirham berpaling.

”Pak Yayi...apa yang tak saya miliki, dalam foto negatif anda?”

”Titik hati.”

Dirham mengangguk, menyeringai lebar.

”Saya memang tidak punya Tuhan, pak Yayi.“


Surabaya, 17 Agustus 2010
Kamis, 06 Januari 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Zaenal Radar T
Dimuat di Republika, 02 Januari 2010

Sebuah makam milik seseorang yang dianggap leluhur hendak dibongkar oleh orang-orang dari dinas pekerjaan umum karena akan terkena proyek pembangunan jalan tol. Ketika makam digali, air muncrat dari sisi dalam tanah makam. Air itu terus mengalir tiada henti, seperti air pancuran yang keluar dari mata air pegunungan. Entah kenapa air itu menyembur begitu melimpah sehingga warga antre mengambilnya dan meyakini bisa digunakan untuk berbagai macam keperluan.

"Saya yakin ini bukan air sembarangan! Ini air keramat!"

"Makanya, saya mau minta buat anak saya yang perawan tua, supaya cepet-cepet kawin!"

"Saya juga mau meminumnya, siapa tahu cepet dapet kerjaan!"

Demikianlah. Semua warga berbondong-bondong memanfaatkan air yang keluar dari dalam makam tersebut. Meskipun belum terbukti kemanjurannya, warga berlomba-lomba mengambil air yang dianggap keramat.

Lama kelamaan, berita keluarnya air keramat dari dalam makam menyebar. Semakin banyak saja warga yang berdatangan. Mereka membawa botol mineral kosong, jeriken, bahkan ada yang membawa ember.

Ketika pihak dari dinas pekerjaan umum hendak melanjutkan menggali makam itu, warga pun protes. Mereka tak ingin makam itu dibongkar. Dengan keluarnya air dari dalam makam itu, mereka semakin yakin bila makam yang hendak dibongkar itu makam keramat, makam yang harus dijaga. Sementara pihak dinas pekerjaan umum harus segera membongkar makam karena pembangunan jalan tol terganjal oleh keberadaan makam yang dianggap keramat itu. Adu argumentasi pun tak bisa dihindari.

"Maaf bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Atas kesepakatan para tokoh masyarakat, makam ini kami bongkar untuk kami pindahkan, bukan dibongkar begitu saja. Nanti akan kami buatkan makam yang lebih bagus lagi!" seru salah seorang wakil dari dinas pekerjaan umum.

"Kami tidak mau tahu, Pak! Pokoknya makam ini jangan dibongkar!"

"Makam ini keramat. Kalau dibongkar, kita semua bakalan kena sial!"

"Kita ini bangsa apa sih? Seharusnya bangsa yang baik itu bangsa yang menghargai jasa leluhurnya. Ini adalah makam leluhur kita. Harus dijaga dan dilindungi!!"

"Mari kita pertahankan makam ini, agar tidak perlakukan dengan semena-mena!! Allahu Akbar ...!!"

"Allahu Akbar ...!!!"

Setelah terdengar takbir, warga semakin semangat merangsek para pegawai dinas pekerjaan umum untuk menyingkir dari lokasi makam. Sementara warga yang sibuk meminta air yang dianggap keramat semakin banyak berdatangan. Mereka ternyata berasal dari berbagai pelosok daerah. Rupanya mereka tahu berita adanya air muncrat dari makam keramat bukan hanya dari mulut ke mulut, melainkan karena beberapa stasiun televisi mulai menyiarkannya. Bahkan, ada salah satu stasiun teve yang membahasnya dengan siaran langsung.

"Aneh bin ajaib, pemirsa. Dapat kami laporkan, sebuah makam yang dinyatakan sebagai makam leluhur oleh warga mengeluarkan air saat hendak digali," reporter televisi sibuk di depan kamera. Reporter tersebut mendekati beberapa warga yang telah berhasil mengambil air yang keluar dari dalam makam.

"Baik pemirsa, berikut ini akan kita dengarkan apa pendapat warga tentang air yang dianggap keramat oleh warga," reporter televisi kini menyorongkan mik ke arah salah seorang perempuan setengah baya pemegang botol mineral yang sudah diisi oleh air dari dalam makam.

"Bu, air ini buat apa?"

"Ini untuk bapak saya yang sudah lama lumpuh. Buat obat."

"Ibu percaya air ini mampu menyembuhkan bapak?"

"Ya, percaya enggak percaya, sih? Namanya juga usaha. Berobat ke dokter mahal soalnya. Jadi, coba-coba aja pake air keramat ini," ujar perempuan itu polos.

Lalu mik reporter bergeser pada lelaki paruh baya di sebelahnya. Lelaki ini memegangi jeriken yang sudah penuh.

"Kalau bapak, air keramat ini untuk apa?"

"Buat minum."

"Buat minum? Supaya apa Pak?"

Ini benar-benar pertanyaan tolol. Ternyata, tidak semua reporter televisi pintar.

"Supaya enggak haus!"

Reporter menelan ludah. Si lelaki langsung ngeloyor. Lalu, reporter kembali menatap kamera sambil menutup acara. Beberapa warga mendekat ke belakang reporter dengan harapan bisa tertangkap gambarnya. Di antara mereka melambai-lambaikan tangan ke arah kamera.

Karena orang-orang terus berdatangan, salah seorang warga berinisiatif membuat tempat parkir kendaraan. Setiap sepeda motor atau mobil yang datang diberikan karcis tanda masuk. Areal makam pun dibuatkan pagar pembatas agar orang bisa mengantre dengan tertib. Sebuah kotak amal dibuat dan diletakkan di dekat pintu masuk. Di sisi kotak ditulis, "AMAL MAKAM KERAMAT, SEIKHLASNYA".

Beberapa hari kemudian, makam keramat semakin ramai dikunjungi orang. Tempat parkir motor diperluas karena tak mampu menampung kendaraan. Kotak amal yang diletakkan di pintu gerbang makam disingkirkan, berganti dengan tiket tanda masuk makam. Setiap warga yang datang harus membeli tiket terlebih dahulu.

Sobrak, lelaki setengah baya yang bertugas menjaga tiket senang sekali karena belakangan ini hidupnya berubah makmur. Gobang, yang menjadi penanggung jawab lahan parkir juga begitu. Uang mereka bagai meluap, seperti air keramat yang mengalir dari dalam makam. Namun, kemakmuran Sobrak dan Gobang tidak disukai oleh beberapa warga sekitar, yang menganggap keduanya memanfaatkan situasi. Akan tetapi, dengan seperak dua perak, warga yang protes mampu disumpal. Ternyata, uang bisa menutupi mulut manusia.

Suatu hari, petinggi dari dinas pekerjaan umum dan beberapa tokoh masyarakat kembali datang ke makam. Mereka hendak meyakinkan warga agar tidak menganggap air yang mengalir di sekitar makam itu dianggap keramat.

"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian, air yang mengalir dari dalam makam sesepuh ini air biasa-biasa saja. Air ini keluar, seperti kita menggali sumur!"

"Tapi Pak, kami yakin ini air keramat! Soalnya, air ini keluar dari dalam makam yang baru beberapa meter digali!"

"Betul Pak!! Sumur di sekitar makam ini saja perlu delapan meter kalau mau keluar air!"

"Ini mukjizat, Pak!!"

"Sebaiknya, tokoh masyarakat jangan memihak pemerintah!! Pembangunan jalan tol ini tidak berarti apa-apa bagi kami! Kebanyakan warga cuman punya sepeda motor, sedangkan jalan tol hanya untuk pengendara roda empat!"

"Kalau memang terpaksa, jalannya dibelokan saja. Jangan sampai pembangunan ini justru merusak makam keramat!"

Semua warga terus berbicara. Mereka ingin meyakinkan petinggi dari dinas pekerjaan umum dan tokoh masyarakat serta perwakilan dari pemerintah untuk menggagalkan pembongkaran makam.

"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Pembangunan jalan tol diperuntukkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak yang diperoleh dari pengguna jalan tol itu dipergunakan untuk pembangunan! Selain itu, pembangunan jalan tol tak mungkin dibelokkan ke arah lain dengan maksud menghindari makam ini. Di mana-mana, yang namanya jalan tol itu lurus, enggak bengkok-bengkok!" kali ini yang bicara Pak Lurah, yang mulai senewen dengan tingkah warganya.

"Lho, Pak Lurah kok bukan mendukung warganya? Jangan-jangan Pak Lurah sudah disogok, ya...?"

"Pak Lurah payah!"

"Pak Lurah lupa sama leluhur sendiri!!" Pak Lurah terdiam dan tak lagi berkata-kata. Pak Lurah jadi seperti kura-kura yang disentuh kepalanya.

"Kalau memang kalian ngotot mau membongkar makam keramat ini, silakan hadapi kami!!"

"Bongkar saja kalau berani!! Kami siap mati! Kami siap zihad demi menjaga makam ini!!"

Warga semakin beringas. Para tokoh masyarakat, Pak Lurah, dan orang-orang dari dinas pekerjaan umum mengalah. Mereka akhirnya meninggalkan areal pemakaman diiringi koor ejekan para warga. Sobrak dan Gobang langsung mendekati warga sambil memberikan makanan untuk warga yang mempertahankan makam keramat.

Keesokan harinya Bapak Wali Kota datang diikuti oleh sejumlah pejabat daerah. Di antaranya terdapat Ustadz Markum, ustadz muda yang lumayan kondang dan disegani warga sekitar. Bapak Wali Kota dan rombongan disambut demonstrasi dan yel-yel oleh warga yang masih berada di sekitar makam. Mereka siap mengusir siapa saja yang hendak menggusur makam yang mengeluarkan air keramat. Tak peduli Wali Kota atau presiden sekalipun.

Ratusan satuan pamong praja tiba di sekitar makam. Mereka mengepung areal pemakaman.

"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian! Kita boleh saja beda pendapat, kita bebas saja marah, tetapi kami berharap kepala kita tetap dingin! Sesuai perintah dari pemerintah pusat, makam ini akan dipindahkan untuk kemudian diletakkan di tempat yang jauh lebih luas dan bagus lagi!"

"Tapi Pak, makam ini tidak mungkin dipindahkan. Dengan keluarnya air dari dalam makam, membuktikan bahwa makam ini memang benar-benar keramat!! Batalkan saja proyek pembanguan jalan tol itu!!"

"Allahu Akbar...!!!"

"Allahu Akbar...!!"

Ketika takbir sudah terdengar, semangat warga pun menggelegar. Ratusan satuan polisi pamong praja segera mengamankan situasi. Mereka menangkapi siapa saja yang hendak mempertahankan makam. Pertikaian pun tak bisa dihindari. Warga yang mempertahankan makam saling serang dengan satuan polisi pamong praja.

Saat yang bersamaan, datang beberapa petugas dari Perusahaan Air Minum (PAM) yang tengah bertugas sedang mencari-cari sumber kebocoran pipa yang baru terdeteksi. Langkah mereka terhenti oleh keributan antara warga dan satuan polisi pamong praja. Polisi pamong praja berhasil meredam keberingasan warga setelah mendapat bantuan tenaga dari satuan lain.

"Tenang saudara-saudara ... saya harap semua tenang!!"

Bapak Wali Kota yang baru saja mendengarkan informasi dari bawahannya, berdiri di depan semua warga yang sudah mulai reda.

"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Tanpa mengurangi rasa hormat kami terhadap makam leluhur kita, pemerintah daerah akan tetap memindahkan makam tersebut. Selain itu, dapat kami informasikan bahwa air yang keluar dari dalam makam itu adalah air dari pipa PAM yang bocor!!"

Semua warga yang mendengarnya terbelalak. Semua saling tatap, lalu mereka menunduk malu. Kemudian Ustadz Markum berdiri di tengah-tengah warga,

"Saudarasaudara sekalian, ziarah ke sebuah makam itu dibolehkan. Nabi pun pernah menganjurkannya agar kita ingat pada kematian. Tapi, kita tak boleh berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik! Kita bisa musyrik!!"

Bapak Wali Kota mulai bernapas lega karena warga tak lagi marah,

"Sekarang, saudara-saudara sekalian saya harap membubarkan diri!!"

Semua warga pun menuruti perintah Bapak Wali Kota untuk membubarkan diri. Pembangunan jalan tol itu siap dilanjutkan kembali. Para pekerja dari PAM sibuk memperbaiki pipa yang bocor. Setelah pipa itu sudah diperbaiki, penggalian makam leluhur kembali dikerjakan. Makam itu akan dipindahkan ke lokasi yang sudah disediakan. Tetapi ajaibnya, ketika sebuah mobil pengeruk baru saja menggali, air kembali muncrat dari bagian makam yang lain. Pekerja PAM diminta untuk memeriksa apakah ada kemungkin kebocoran pada pipa-pipa mereka.

Setelah diselidiki, ternyata pipa air milik PAM baik-baik saja. Mereka bingung, dari manakah sumber air yang muncrat itu. Sampai seminggu lamanya, air dari dalam makam itu tetap mengalir. Airnya bening nan jernih. Aromanya wangi bak kesturi. Kejadian ini dirahasiakan. Semua warga meyakini itu kebocoran pipa PAM yang belum dapat diperbaiki. ***
Senin, 27 Desember 2010 by Forum Lingkar Pena

Cerpen Zaenal Radar T

Dimuat di Republika, 19/12/2010

Sejak kabar tentang bergesernya arah kiblat beberapa derajat, masjid di kampungnya Markum tak lagi dikunjungi warga. Alasannya, mereka tidak mau shalat di masjid yang letak kiblatnya salah. Markum, pemuda yang dipercaya mengurus kebersihan masjid, mendatangi warga untuk shalat berjamaah di masjid.

“Kiblat itu arah letak kita shalat. Kalau kita shalat di masjid itu, jangan-jangan kiblat kita selama ini salah menghadap Tuhan?” ujar salah satu warga.

“Tapi, Bang, kan Tuhan ada di mana-mana. Kenapa kita harus mempermasalahkan kiblat? Allah Mahatahu, Bang!” ujar Markum, sambil menatap wajah warga yang diajaknya bicara.

Elo bener Kum, Allah emang Mahatahu. Allah ada di mana-mana. Tapi, semua ada aturannya. Kalau kita shalat menghadap ke kiblat yang salah, jangan-jangan arahnya bukan ke Makkah, tapi ke arah New York?”

“Maksud Abang?” selidik yang lain, tak kalah antusiasnya dengan Markum.

“Kalau kita shalat ke arah New York, berarti kita nyembah orang Amerika!!”

Semua mengangguk-angguk, kecuali Markum.

“Kita jangan menyembah Amerika. Udah ekonomi negara kita berkiblat ke sana, masak urusan yang lain juga kiblatnya sama. Itu namanya menuhankan Amerika!! Apa sih bagusnya Amerika? Bener gak?”

Yang lain kembali mengangguk-angguk. Dan, lagi-lagi Markum cuma diam mematung. Markum jadi bingung, bagaimana cara menjelaskan kepada semua warga, jangan gara-gara arah kiblat yang berubah, terus masjid ditinggalkan.

Seperti menjelang Maghrib kali ini, setelah azan dan iqamah, tak ada jamaah yang datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Di sebuah masjid yang lumayan besar, yang bisa memuat sekitar tiga ratus jamaah lebih, Markum shalat sendirian. Ketika shalat, Markum sebenarnya bingung arah kiblat, maka ia geser sajadahnya beberapa senti ke kanan, lalu dia mulai shalat.

Selepas shalat, Markum heran melihat warga yang masih duduk-duduk santai di teras rumah mereka. Anak-anak muda yang habis bermain bola di lapangan gusuran dekat ujung kompleks juga masih terlihat kotor. Markum mendekati mereka seraya mengucapkan salam.

Kok enggak shalat Maghrib di masjid?”

“Nanti aja deh, Bang, soalnya arah kiblatnya belum jelas,” jawab salah seorang anak muda, yang masih bertelanjang dada dan penuh keringat.

“Tapi, kalau enggak shalat di masjid, di rumah juga bisa,” ujar Markum.

“Bang Markum, shalat di masjid atau di rumah sama aja kalau enggak tahu arah kiblatnya,” sela yang lain.

“Jadi, elo semua enggak mau shalat karena arah kiblat belum jelas?”

“Iya Baaang!!” ujar mereka kompak.

Markum pun mengangguk-angguk, padahal dia sulit mengerti dengan jalan pikiran mereka. Lalu, Markum mengucapkan salam dan berlalu.

Markum mendatangi Haji Bantong, sesepuh kampung yang jarang shalat di masjid karena sudah membangun mushala sendiri di samping rumahnya. Haji Bantong sengaja membuat mushala karena menurutnya masjid letaknya terlalu jauh. Padahal, masjid itu berdiri di atas tanah miliknya, yang beliau hibahkan untuk pembangunan rumah ibadah. Selain itu, Haji Bantong sebenarnya salah satu pengurus masjid yang dipercaya sebagai ketua Dewan Kesejahteraan Masjid.

“Assalamualaikum Pak Haji!”

“Waalaikumussalam … eh, elo Kum? Tumben lo mampir? Ada apa?”

Markum pun bercerita tentang masjid yang sepi karena arah kiblat yang berubah. Haji Bantong hanya mengangguk-angguk mendengar cerita Markum. Haji Bantong tampak menarik napas berat, lalu mengembuskannya perlahan. Seperti ingin menumpahkan beban berat pikirannya.

“Kum, lo tahu kan kalau gua punya mushala. Nah, gua sendiri juga udah kagak shalat di mushala. Gua shalat di kamar. Waktu ditanya arah kiblat, gua juga gak bisa jawab. Gua sendiri kagak paham, jangan-jangan gua juga salah menghadap kiblat?”

“Terus jalan keluarnya gimana Pak Haji?”

“Jalan keluar mah gampang Kum. Asal kelihatan pintu, elo buka tuh pintu, elo keluar dah. Hahahaa….”

“Ah, Pak Haji kok becanda, sih?”

“Abis Kum, gua pusing. Gua mau nanya sama siapa?”

“Pak Haji, pan si Hasan kuliah di Universitas Islam Negeri, tanya dia aja.”

Gua juga emang mau nanya dia. Dia baru pulang dari tempat kosan.”

“Selain si Hasan, yang tahu kira-kira siapa, Pak Haji?”

“Yang tahu itu … yang ngerti. Ya udah, yuk kita cari si Hasan. Mudah-mudahan dia udah istirahat cukup.”

Haji Bantong pun mencari-cari Hasan, putranya yang kuliah di Universitas Islam Negeri itu. Hasan adalah putra bontot Haji Bantong dan satu-satunya anak yang masih kuliah dan belum menikah. Haji Bantong punya tiga belas anak. Hanya Hasan yang masih kuliah dan belum menikah.

“San … Hasan!! Sini lo tong!!” teriak Haji Bantong, saat melihat Hasan yang baru keluar dari kamarnya. Wajahnya masih terlihat lelah.

“Ada apa, Beh?”

“Begini, San, gua mau tanya soal tempo hari yang gua tanyain ke elo di telepon. Soal arah kiblat. Gua pusing, San!”

“Beh, arah kiblat gak usah dipusingin. Babeh tinggal geser aja beberapa derajat ke kanan, terus Babeh shalat deh. Gitu aja kok repot?”

“Kayak almarhum Gus Dur lo, San!” Haji Bantong tampak kesal, lalu dia berkata lagi, “Gesernya ke mana? Berarti gua kudu ngegeser masjid dong?”

“Ya enggak usah segitunya, Beh. Geser aja sajadahnya … beres. Gitu aja kok….”

“Repot!!” Haji Bantong melanjutkan kata-kata Hasan, yang sejak kecil gandrung pada tokoh almarhum Gus Dur.

“Kalau begitu, habis Isya saya mau geser letak sajadah masjid Pak Haji.”

“Kum, kalau masjid boleh dah elo geser sajadahnya. Tapi, kalo mushala, kayaknya besok gua mau renovasi aja!”

“Maksud Pak Haji?”

“Mushala pan lebih kecil, jadi bangunannya gua miringin sesuai arah kiblat.”

“Pak Haji, kata si Hasan kan cukup sajadahnya aja.”

“Kalau sajadahnya aja, kayaknya kurang afdol!”

“Kalau begitu, masjid juga direnovasi aja Pak Haji!”

“Kalau masjid modalnya kegedean. Nunggu sumbangan warga, jadinya bisa lama!”

“Terus gimana caranya supaya warga mau shalat di masjid, kalau arah kiblatnya masih salah?”

“Nanti juga kalau sajadah udah sesuai arah kiblat, warga mau shalat di masjid!”

Setelah itu, Markum kembali ke masjid. Waktu Shalat Isya sudah tiba. Markum seperti biasa, mengumandangkan azan. Setelah azan selesai, Markum shalat sunah qabliyah Isya dua rakaat. Sesudah itu, menunggu jamaah yang datang barang beberapa menit. Karena belum ada yang terlihat batang hidungnya, Markum pun mengumandangkan iqamah. Karena masih juga tak ada yang datang ke masjid, Markum shalat sendirian. Tak lupa letak sajadah dimiringkan beberapa senti ke kanan, dan Markum mulai shalat sendirian.

***

Keesokan harinya, di mushala Haji Bantong, barang-barang dari material berdatangan. Barang-barang berupa pasir, batu koral, dan semen diletakkan di samping mushala. Rencananya, Haji Bantong bakalan menggeser letak mushalanya beberapa derajat ke kanan, ke arah kiblat. Seperti yang dijelaskan oleh putra bontotnya, Hasan.

Berbeda dengan mushala, di masjid yang lumayan luas, Markum sendirian mengubah letak sajadah, menggesernya beberapa derajat ke kanan. Setelah sajadah digeser semua, kelihatannya memang tidak terlalu rapi. Posisi jamaah nantinya memang akan miring, tidak mengikuti arah bangunan masjid.

Hampir setengah harian Markum berkutat merapikan sajadah-sajadah itu, hingga akhirnya waktu Zhuhur tiba. Sebelum azan, Markum pun mengumumkan di speaker masjid.

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarakaaatuh! Kami beritahukan, kepada seluruh warga, bahwasannya letak kiblat di masjid Al-Ikhlas sudah dirapikan. Sekarang kita bisa shalat berjamaah dengan khusuk. Demikianlah pemberitahuan ini, wassalamualaikum warohmatullahi wabarakaatuh!”

Ketika waktu Zhuhur tiba, Markum mengumandangkan azan. Tetapi, sampai Markum usai shalat sunah dua rakaat dan mengumandangkan iqamah, jamaah belum juga datang. Markum pun melaksanakan shalat sendirian.

***

Markum kembali keliling kampung untuk mengabarkan kepada seluruh warga bahwa letak sajadah di masjid sudah diatur sedemikian rupa sehingga arah kiblat tidak lagi salah arah.

“Tapi, Kum, apa ente yakin kalau letak sajadahnya bener-bener ke kiblat?” selidik salah seorang warga.

“Saya sudah melakukannya seperti yang diberi tahu si Hasan, anak Pak Haji Bantong yang kuliah di UIN.”

“Apa si Hasan enggak salah arah, tuh?”

“Anak kuliahan enggak bakalan salah, Bang!”

“Siapa bilang anak kuliahan enggak ada yang salah? Itu yang suka tawuran dan demo kagak karuan, kan anak-anak kuliahan?”

“Si Hasan itu anak Universitas Islam Negeri? Fakultas Tarbiyah! Kalau kagak salah, dia calon mubaligh!”

“Jangankan calon mubaligh, mubalighnya aja bisa keseleo! Bisa salah jalan…!”

“Ya udah, langsung aja deh kalo gitu. Abang, sebenarnya mau shalat di masjid kagak?”

“Kalau arah kiblatnya sudah benar, pastilah!!”

Tiba-tiba dari salah satu arah, dua pemuda berlarian mendekati Markum dan sekumpulan warga.

“Ada apa??”

“Astaghfirullah, Bang! Tadi kita-kita ada di deket masjid, masjid bergeser ke kanan bang!!”

“Bener Bang!! Saya sampai kaget!”

“Astaghfirullaaaah ….!!!” Semua orang beristighfar.

Beberapa warga bahkan gemetaran. Tetapi, ada juga yang masih belum percaya.

Masak sih?? Jangan-jangan ada gempa kecil-kecilan?”

Hush! Kalau gempa, kita juga bisa ngerasain!!”

“Ayo kita lihat!!”

Akhirnya Markum bersama pemuda dan beberapa warga melangkah menuju masjid. Semua memperhatikan letak bangunan masjid. Semua tercengang saat melihat bekas tiang masjid yang seolah-olah telah bergeser. Yang lain juga bisa melihat dengan jelas bahwa tiang-tiang yang lain juga bergeser, mengikuti arah sajadah yang tadi digelar oleh Markum.

“Allah memang Mahabesar!! Masjid ini sekarang arah kiblatnya sudah sesuai!!” ucap Markum, lalu menghela napas lega.

“Alhamdulillaaaah …!!” semua warga bersyukur.

Beberapa saat kemudian, masjid pun sudah dipenuhi warga yang ingin melihat-lihat pergeserannya. Ketika waktu shalat Ashar hampir tiba, satu per satu warga sudah tak lagi ada di dekat masjid. Markum mengumandangkan azan, memanggil jamaah untuk shalat berjamaah. Akan tetapi, setelah azan sudah selesai dalam beberapa menit, belum juga ada jamaah yang datang. Markum pun menunggu beberapa menit lagi. Masih juga belum ada yang datang. Markum akhirnya memutuskan shalat sendirian.

Setelah shalat usai, Markum kembali keliling kampung. Markum ingin bertanya kepada warga, kira-kira setelah arah kiblat di masjidnya sudah benar, apalagi alasan mereka tak mau shalat berjamaah di masjid. ***

Minggu, 05 Desember 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Pipiet Senja
Dimuat di Republika, 28 November 2010

Setelah tiga hari tiga malam berada di Makkah, rombongan haji pun disiapkan untuk menuju Arafah. Sejak saat ini, catatanku agak eror. Kadang kuisi, tapi lebih banyak blank-nya. Sebab, aku lebih fokus kepada kesehatan dan pelaksanaan rukun-rukun hajinya. Hampir tak ada kesempatan untuk menulis berbagai peristiwa yang kulakoni. Jadi, aku berusaha keras untuk mencatatnya di memori otakku saja.

"Inilah prosesi haji yang sesungguhnya.

Alhamdulillah, musim haji ini adalah Haji Akbar, pahalanya ratusan kali lipat dari haji biasa."

"Sesungguhnya, rukun-rukun haji itu terdiri dari ihram, wukuf, thawaf ifadah, sai, tahalul atau bercukur, dan tertib." "Inilah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan. Bila salah satu tidak terlaksana, ibadah hajinya tidak sah."

Saat itu tepat 8 Dzulhijjah. Kendaraan mulai bergerak meninggalkan Makkah menuju Mina, lalu dilanjutkan ke Arafah, tempat jamaah melakukan wukuf. Arafah terletak di luar Kota Makkah, sekitar dua mil. Jamaah pria kembali mengenakan baju ihram. Ibu-ibu berbusana serba putih. Larangan berihram pun dikenakan dan berkali-kali diingatkan oleh para muthowif.

Jamaah haji yang diangkut oleh bis dua--kami menyebutnya rombongan Sofitel--agaknya lebih dahulu tiba di tenda Mina. Mereka bisa leluasa mencari tempat atau sudut yang diinginkan, bahkan dapat mengangkat koper kecilnya masing-masing. Rombongan Intercontinental harus rela mendapatkan sudut-sudut yang tersisa. Aku bahkan tak mendapatkan sudut yang bisa bergerak leluasa, selain sebidang lajur sekadar untuk bisa meringkuk, tanpa alas yang empuk selain hamparan selimut di antara deretan kasur. Nah loh, bisa dibayangkan tidak, Saudara? Intinya, ini sisi yang sesungguhnya tidak nyaman sama sekali.

Tak mengapa, tidak hanya diriku sendiri, ada dindaku Sari dan Euis Muharom menemani. Lagi pula, banyak juga jamaah yang tetap memelihara rasa kepeduliannya untuk berbagi dalam hal apa pun. Mungkin ini yang terbaik dan inilah rezekiku. Demikian Allah SWT menjamu diriku. Segera kuperbanyak zikir dan berdoa, ku bergegas ke kamar mandi untuk ambil wudhu dan kudirikan shalat sunah taubat. Sungguh, aku merasa takut sekali akan azab-Nya.

Ya Allah, jauhkanlah hamba-Mu yang lemah ini dari azab dan siksa-Mu. Sembunyikanlah segala aib dan dosaku. Demikian kutasbihkan dalam hati. Sekitar pukul sembilan malam, kurasa semua jamaah Cordova telah memasuki tenda. Di sini mulailah aku menyaksikan sifat aslinya, sejatinya karakter manusia, dan topengtopeng pun berlepasan sudah.

"Pssst, ingatlah jangan bergunjing, Saudariku. Kita sedang berihram."

"Alah, Teteh ini ngapain sih paspes-paspes mulu dari tadi. Dikasih tahu sekali juga gue paham!" "Ini punya siapa sih gede banget tasnya? Dikata kemping sebulan!" "Woooi, mana tisu basahnya?" "Sini ada, men! Jangan malu-malu deh, entar malah jadi malu-maluin!" Kulihat dindaku Ennike terperangah hebat, menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergumam perlahan, "Ya Allah, Teteh, kenapa pake cay-coy, man-men segala tuh bahasa?" "Iya Dinda, prokem aming," tak terasa mulutku pun terkuak tiba-tiba. Begitu menyadari, buru-buru aku mengucap istighfar. Aku tak berhak mencela, sebab seperti itu pulalah bahasaku jika sedang bergaul ria dengan putriku. Mungkin saja, mereka melakukan hal itu sebagai penghilang stres. Prosesi haji ini memang sungguh menguras pikiran, lahir batin, jiwa, dan raga.

Jika mental kita labil, niscaya bisa dipastikan bakal stres.

"Selama menjadi dokter haji, banyak sekali kutemukan jamaah yang mendadak gila," kata dokter Erry, dokter rombongan yang jelita dan sangat modis itu.

"Hah? Mendadak gila bagaimana, Bu Dokter?" "Yah, stres hebat, gila dalam tanda kutip!" `Kepala Suku' memberi tahu bahwa rombongan akan bergerak kembali pada pukul dua belas malam.

Mendengar hal ini, suara-suara mendadak berhenti total, kemudian semuanya berusaha untuk merehatkan badan.

Dendang batuk pun mulai terdengar secara serempak bagaikan paduan suara ajaib tengah malam di Maktab 110, pertendaan Mina.

"Gimana nggak, bikin batuk. Lha wong tendanya selama setahun ditutup. Musim haji baru dibuka kembali, mungkin gak sempat dibersihin," seseorang menjelaskan tanpa diminta. Kucermati memang ada banyak kotoran berupa debu dan seperti kapas-kapas kecil beterbangan dari arah kipas angin. Jangankan bagi ibu-ibu sepuh, semuanya tak terkecuali terserang batuk dan beberapa sesak napas. Kurasa, asmaku pun bisa kumat.

Ustaz Satori sering bergurau tentang batuk ini, "Semuanya dipastikan terserang batuk, kecuali unta."

Selama berhaji, bukan hal yang aneh dan patut dicemaskan secara berlebihan apabila jamaah terserang batuk. Di sinilah kembali muncul jurig songong itu.

"Alhamdulillah, sampai saat ini aku sehat-sehat saja, bahkan batuk pun cuma sedikit," sahutku ketika beberapa pengurus meluangkan waktu mendatangiku dan mereka menanyakan kondisi kesehatanku.

Pada tengah malam, rasanya hanya sekejap bisa rehat. Ternyata kami disiapkan untuk berangkat lagi.

Suasananya sungguh terasa heboh, kisruh, dan luar biasa crowded.

"Kalau tidak lebih awal jalan, khawatir lalu lintasnya terlalu padat dan kita terhambat sampai di Arafah.

Targetnya kita bisa shalat Subuh di tenda Arafah," terang seorang muthawif menyikapi suara-suara protes.

Di tengah cuaca yang sangat dingin serasa menyengat pori-pori kulit, kami bergegas kembali menuju kendaraan. Meskipun bajuku sudah dirangkap sampai tiga-empat, tetap saja masih terasa dingin.

Tambahan anginnya lumayan kencang, meskipun bukan puting beliung. Cuaca di kawasan Mina tidak bisa diprediksi, awalnya cerah dan panas mendadak banjir bandang datang.

Air bah pun tanpa ampun melumat seluruh kawasan tenda, bekas mabit sebagian jamaah Indonesia.

Beruntung tidak harus menanti lama, kedua bis pun muncul. Serta merta kami bergegas menaikinya. Kusadari batukku dan rasa gatal di tenggorokan semakin meningkat dan mulai serasa menyiksa pula. Kepala berdenyaran, telinga berdenging tak keruan, ditambah agak demam, air mata bercucuran nyaris tanpa henti. Entah air mata apa pula ini. Walaupun telah menelan obat batuk pemberian dokter Erry sepanjang perjalanan menuju Arafah, batukku kian gencar saja. Suasana lalu lintas tengah malam itu ternyata sungguh padat. Kendaraan berbagai jenis campur-baur dengan orang-orang yang berjalan kaki. Manusia entah kaya atau miskin, semuanya saja sudah tak peduli bagaimana pun caranya mereka lebih suka bermalam di kawasan antara Mina dan Arafah.

"Bagaimana kita mengambil batu-batuannya, Ustaz?" tanyaku kepada muthawif Fauzi saat teringat tentang Muzdalifah.

"Tenang sajalah, Bu Pipiet. Kita sudah menyiapkannya," sahutnya meyakinkan.

Aku belum mengerti, lalu kutanya kembali, "Maksudmu, kalian akan mengambilkannya untuk jamaah. Begitukah Ustaz?" Fauzi hanya mengangguk sambil tersenyum.

Dini hari kami tiba di kawasan Arafah. Tenda-tenda telah didirikan dengan berbagai panji dan bendera travel dari Indonesia. Rombongan kami memiliki tenda yang dikhususkan untuk wukuf dan sebuah mushola yang nyaman dengan penyejuk ruangannya.

Akhirnya, banyak juga jamaah dari travel lain yang ikut bergabung mengikuti program wukufnya rombongan kami, di bawah pimpinan Ustaz Satori.

"Subhanallah, tendanya indah sekali, yang paling depan itu, ya," komentarku saat melihat tenda sebuah travel Indonesia yang tarifnya termahal.

Kutahu hal ini ketika bertemu dengan salah seorang jamaahnya, seorang ibu muda di Masjidil Haram. Ia mengaku berhaji bersama suami dan dua orang anaknya. "Berapa?" tanyaku ingin tahu.

Jamaah travel yang terkenal sering membawa para artis, seleb, dan elite politik itu menjawab dengan ringannya, "Hanya 110 juta saja kok, Bu."

"Apa? Berempat totalnya jadi 440 juta, ya?" seruku tertahan. Ia mengangguk mantap. Dengan naifnya aku malah bilang lagi, "Maaf yah, Bu. Kira-kira sebanyak apa tuh uang hampir setengah milyar begitu?" Pastinya, aku tampak bloon banget. "Kalau ditambah lain-lainnya buat persiapan walimatus safar dan oleh-oleh, semua lebih dari 900 juta, Bu." Tukasnya.

Mataku niscaya melotot hebat. Mulutku membentuk, "Oooo!" Panjang sekali. Kemudian kulanjutkan, "Begitu yah, hampir satu M! Bisa buat sekolah anak miskin segitu mah, Bu."

"Ah, Ibu ini ada-ada saja!" sahutnya sambil tertawa renyah. "Masing-masing kan sudah ditetapkan rezekinya oleh Sang Khalik." Nah, siapa bilang bangsa kita miskin? Itu sungguh tidak benar. Setidaknya, bagi para jamaah ONH Plus, kecuali diriku ini yang diberangkatkan gratis, tentunya.

Tenda untuk jamaah kami pun bagus dan nyaman di areal Arafah ini. Beberapa saat kami bisa rehat, melempangkan punggung. Tapi, banyak juga yang langsung bergelimpangan tidur di kasur busanya masing-masing.

Baru saja kurebahkan tubuhku, tiba-tiba kusadari bahwa aku tak mampu bersuara lagi. Beberapa kali aku berusaha keras memperdengarkan suaraku, tapi tidak bisa! Bahkan, aku sampai sengaja berteriak-teriak hingga keringat membasahi sekujur tubuhku.

Lenyap, benar-benar suaraku menghilang, ya Rabb?

Beberapa jenak aku pun hanya bisa bengong, tak tahu apa yang harus kulakukan. Dengan tatapan hampa kulayangkan mata ke deretan para jamaah. Mereka sedang tertidur lelap. Aku merasa sangat sedih sendirian di Arafah dan tanpa suara.

Seketika berbagai gambaran menakutkan bermunculan di benakku. Dalam sepuluh tahun terakhir, selain menjadi penulis lepas aku pun sering diundang untuk workshop dan seminar kepenulisan. Tanpa suara aku takkan pernah bisa menjadi pembicara lagi, menularkan virus menulis ke seantero negeri. Waduh, ini sungguh gawat! Aku lalu bangkit dengan rasa pedih tak teperi, terhuyung-huyung kuayunkan langkah menuju kamar mandi. Ya, aku harus segera mengadukan ikhwalku ini langsung kepada Sang Pemilik Suara. Suasana di kamar mandi masih sepi, tak ada orang selainku yang akan mengambil air wudhu dengan sangat khidmat. Meleleh air mata penyesalan dan rasa bersalah atas dosa di masa silam. Segala khilaf melembayang di tampuk mataku.

Aku kembali ke tenda, mendirikan shalat taubat, dilanjutkan dengan tahajud, dan berzikir secara terusmenerus. Sehingga, kurasa ada semacam aliran hangat ke dalam dadaku menyemburat terus ke leher. Aku terus tertunduk dalam bisu yang suwung. Ketika seorang jamaah di sebelah menanyakan jam, seketika mulutku terbuka untuk menyahut. Suaraku muncul, meskipun sangat parau dan niscaya terdengar buruk sekali. Tak mengapa, yang penting suaraku telah kembali.

Alhamdulillah, ya Rabb, sungguh Engkau Maha Pengasih! Aku berlari kembali ke kamar mandi. Kali ini untuk buang air kecil. Tak disangka, begitu keluar dari areal kamar mandi, ndilalah, (lagi) aku nyasar. Beberapa saat aku hanya mondar-mandir, bolak-balik mencari tenda Cordova. Otakku kembali nge-blank, tak tahu peta dan arah, ampyuuun! "Teteh, kulihat dari tadi bolak-balik saja di situ, lagi ngapain sendirian?" Mas Ton, suami dinda Ennike, tibatiba menghampiriku.

"Iya nih, Mas Ton. Pssst, jangan bilang-bilang, aku ini sebetulnya lagi tersasar," jawabku dengan suara yang masih timbul tenggelam, perpaduan antara sakit tenggorokan dan kecemasan tak bisa kembali ke rombongan.

"Ya Allah, Teteh aya-aya wae atuh! Ayo kutunjukkan jalannya!" Mas Ton menahan tawanya. Ternyata jalan itu pula yang sejak tadi ada dua-tiga kalinya kutempuh, bolak-balik tak keruan. Kulihat panji-panji dan terutama bangunan mushalanya yang indah itu.

"Jangan bilang-bilang, yah. Malu ah!" pesanku kepada bapak dua orang anak itu dengan nada berseloroh. Pada kenyataannya, mulutku sendirilah yang menggelontorkan soal sasar-menyasar ini kepada beberapa sahabat jamaah. ***
Minggu, 27 Juni 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Mashdar Zainal

Dimuat di Republika, 27 Juni 2010

SETELAH mendengarkan sebuah cerita, Mahisa tak jenak lagi memejamkan kedua matanya, apalagi makan dengan tenang. Semua pasti sepakat bahwa cerita itu memang benar-benar keramat. Ya, cerita tentang masa, bahwa suatu saat nanti matahari akan tergelincir dari ketinggiannya. Matahari akan mengapung beberapa senti di atas kepala manusia.

Sebongkah bara raksasa akan menjerang manusia hidup-hidup dalam tungku yang terbangun dari batu-batu hati yang keras. Panas akan terus menikam, keringat akan terus mengucur. Ricis seperti hujan di awal tahun. Dengan kaki telanjang, para manusia akan merangkak, saling berebut mengendus keteduhan. Keringat mendidih terus mengucur, menggenang sampai mata kaki, lutut, dada, dan akhirnya meneggelamkan kepala mereka.

***

Mahisa tercenung di depan meja makan yang megah. Meja makan berbentuk lingkaran yang terbuat dari batu marmer. Meja makan otomatis yang bisa berputar sendiri, mempersilakan menu-menu istimewa untuk tuannya. Mata Mahisa menilik satu per satu piring, mangkuk, dan cawan berkaki yang semuanya berisi.

Seorang khadimah mendekatinya, “Mengapa Tuan tak bersegera makan? Bunda Nonya pasti akan memarahi saya jika Tuan tidak jenak makan, hanya karena menu masakan yang saya sajikan kurang menarik.”

“Bukan. Bukan itu, Bi. Emm .… Bi, bibi pernah kelaparan.” Mahisa balas bertanya.

“Mengapa Tuan menanyakan itu?”

“Karena saya belum pernah. Bibi pernah?”

“Syukur alhamdulillah, sejak Bunda Nyonya kecil, bibi sudah ikut keluarga ini. Dan bibi maupun keluarga bibi belum pernah mengalami yang namanya kelaparan. Ya, na’udzubillah, Tuan!”

“Kok na’udzubillah? Memangnya rasa lapar itu sangat menakutkan ya, Bi?”

“Rasa lapar itu lebih mengerikan dari apa pun. Rasa lapar datang dari perut. Dan perut adalah ibu dari segala kelaliman.”

Mahisa tercenung. Tak sedikit pun hidangan yang tersedia di hadapannya disentuhnya. Ia membayangkan matahari mengapung beberapa senti dari kepalanya. Ia bergidik ngeri. Beberapa detik kemudian ia berlari ke kamarnya.

“Tuan, Tuan kenapa? Mau ke mana? Tuan?” bibi mengejarnya.

Mahisa mengambil kaus jaketnya dan berlalu, “Maaf, Bi. Saya ingin jalan-jalan. Nanti kalo Bunda telepon dan menanyakan apa saya sudah makan atau belum. Bibi bilang saja kalau saya sedang puasa.”

“Tuan puasa?” bibi mematung.

Mahisa tersenyum dan berbalik.

“Lalu Tuan mau ke mana?” bibi membuntutinya.

“Jalan-jalan.”

“Iya, jalan-jalannya ke mana?”

“Ke kampung lapar.”

“Kampung lapar?” bibi tercengang, mencerna sesuatu.

“Iya, Bi. Kampung yang membuat saya penasaran.”

Bibi terus mengintil, “Lalu Tuan pulang jam berapa?”

“Entahlah, Bi.”

“Kok entahlah?”

“Ya, saya akan pulang setelah saya benar-benar kenyang dengan rasa lapar.”

Bibi mematung di depan pintu. Mulutnya menganga. Alisnya bertaut. Dahinya berkerut.

***

Mahisa bergegas meninggalkan bibi yang masih mematung di depan pintu. Ia sengaja meninggalkan kunci mobilnya di kamar. Ia hanya ingin berjalan. Benar-benar berjalan dengan dua kakinya yang telanjang. Beriring langkahnya yang kukuh dan terus berayun, sesuatu yang ada dalam kepalanya meletup-letup. Ia telah hidup puluhan tahun, dan bagaimana mungkin ia tak pernah merasakan lapar.

Hari-hari Mahisa terperangkap oleh perhatian bundanya. Maklumlah ia putra semata wayang. Sejak kecil, Mahisa telah menjadi sebongkah emas bagi keluarganya. Jangankan kelaparan, digigit nyamuk pun bunda tak akan membiarkannya, bunda akan segera mengolesi bentolnya dengan minyak tawon. Meski bunda seorang wanita karier, ia tak pernah lepas perhatian kepada putra satu-satunya. Siapa lagi yang akan memperhatikannya. Pun papa tak mesti seminggu sekali ada, papa adalah seorang duta negara yang sibuk, yang selalu melakukan perjalanan jauh dengan pesawat terbang.

Ketika bunda nyonya berangkat kerja, semua keperluan Mahisa telah dipasrahkan kepada bibi, orang kepercayaan keluarga. Tak lupa, tiga sampai lima jam sekali, bunda nyonya menelepon dari kantornya. Menanyakan apakah Mahisa sudah makan dan minum vitamin, atau dia pergi ke mana dan dengan siapa, lalu ngapain saja, pulang jam berapa. Begitulah rentetan pertanyaan bunda untuk Mahisa. Terkadang Mahisa mulai merasa jenuh. Bukan, bukan jenuh. Mahisa hanya merasa kurang nyaman dengan perhatian bunda yang berlebihan. Ia bukan lagi bocah belasan tahun. Tapi, apa pun keputusan bunda, Mahisa selalu menghormatinya.

***

Mahisa menoleh ke belakang, rumahnya yang menjulang masih tampak dari kejauhan. Ia terus melangkah. Kaki putihnya mencengkram gili-gili. Setapak demi setapak. Sengatan matahari mulai menjilat tengkuknya. Ia menengadahkan wajah ke langit. Silau. Kakinya terus berayun, dari trotoar, sesekali meloncat ke jalan beraspal yang membara seperti panggangan steak. Detik-detik menggeliat kepanasan. Menit dan jam berlalu menjadi bulirbulir keringat. Seperti asap yang terjebak dalam tungku.

***

Jauh sudah ayun langkah Mahisa. Sama sekali ia tak tahu-menahu di mana sekarang ia berada. Baru saja ia melewati perbatasan kota kedua. Meski acap kali alisnya bertaut, tapi ia tak pernah khawatir tersesat, karena ia benar-benar tahu arti tersesat. Yaitu, ketika arah tak jangkau pandang dan matahari berguling-guling beberapa senti di atas kepala. Itulah tersesat.

“Perutku.” Mahisa mengusap perutnya. “Sebentar lagi aku akan sampai di kampung lapar. Aku tak boleh beku langkah.”

Kaki Mahisa kini berayun dengan runtun, bagai langkah paskibra. Ia memicingkan mata ketika tiba-tiba asap tebal menghalangi pandangannya. Ia mencium bau plastik entah rambut terbakar. Ia tak peduli, ia hanya sedikit memperlambat langkahnya. Ketika asap itu perlahan pudar, Mahisa menghentikan hentak langkahnya. Matanya nanar menatap sebuah kampung yang beratap seng dan kardus-kardus bekas. Dari tempatnya berdiri, Mahisa bisa mengucup aroma kumuh. Kumuh yang aneh.

Mahisa kembali menggerakkan kakinya, ia melewati gundukan sampah yang menggunung di dekat pintu masuk kampung. Ia melewati rumah-rumah ringkih yang menjerit dalam diam. Sunyi. Air kotor menggenang di mana-mana. Lalat dan nyamuk sampah menguing. Tanah-tanah becek menguapkan bau lumut yang terkontaminasi keserakahan. Sesekali Mahisa mendengar jeritan parau dari dalam rumah-rumah yang pintunya tertutup oleh kain-kain kumal. Mahisa melihat dua anak kecil yang menggelosor di bawah kursi sambil menjilati ingusnya. Berikutnya, ia menyaksikan ibu-ibu tua yang menyuapi anaknya yang busung lapar dengan makanan yang dikerubuti lalat. Mahisa tak menghentikan langkahnya. Matanya nyalang seperti kamera yang menjepret apa saja.

Langkah berikutnya, Mahisa melihat dua orang pemuda yang mencengkram kaki binatang yang meronta-ronta. Perempuan baya di sebelahnya menggenggam parang yang berkilat. Seorang anak kecil yang tak berbaju, bergelendotan di kaki perempuan itu. Mahisa mendekat.

“Apa yang akan kalian lakukan.” Tanya Mahisa mengagetkan mereka.

“Kami akan menyembelih binatang ini.” Salah seorang pemuda menjawab.

“Hei, itu bukan kambing, kan? Itu anjing, kan?”

“Oh, ini bapak kami. Beliau berubah menjadi anjing. Beliau sendiri yang meminta kami menyembelihnya. Beliau hanya tak ingin melihat kami kelaparan.”

Mahisa terhenyak dan nyaris muntah. Ia bergegas meninggalkan gerombolan itu dengan kaki mulai gemetar. Beberapa kali perutnya berkeriuk, berkabar tentang rasa lapar yang sebenarnya. Mahisa mempercepat langkah kakinya. Tergesa. Ia terhenyak, serta merta menghentikan langkah, ketika kakinya menyandung sesuatu. Sebuah kardus. Kardus yang tertutup kain tipis seperti taplak meja. Ada yang menggeliat dalam kardus itu. Mahisa bertanya-tanya. Disingkapnya kain penutup itu perlahan. Seonggok bayi merah menggeliat menendang-nendang dinding kardus. Mahisa miris melihatnya. Dadanya sesak. Ketika telunjuknya mendekat, hendak menyentuh tangan bayi itu. Mahisa benar-benar tak percaya. Bayi itu bisa bicara. Bayi itu mengaku, sengaja dibuang ibunya karena tak punya cukup biaya untuk membeli susu atau sekadar pisang.

Dada Mahisa masih bertalu dalam rasa sesal dan pertanyaan-pertanyaan. Ketika matanya menengadah ke langit, ia merasakan, bahwa matahari yang berpijar di petala langit tampak lebih besar dari yang seharusnya, lebih dekat. Mahisa menunduk, mengabaikan silau yang menikam pupilnya. Mahisa menjerit sekeras-kerasnya ketika kardus berisi bayi di hadapannya lenyap dibawa lari seekor anjing. Mahisa tak kuasa mengejarnya. Ia panik, berlari pontang-panting tak yakin arah. Setelah beberapa meter, di bawah sebuah pohon yang rindang, ia berhenti. Napasnya tersengal-sengal. Kali ini perutnya terasa menciut, ususnya mengering melilit lambung dan tulang. Ia yakin sekali, itu yang disebut lapar.

Mahisa melempar paku pandangnya jauh. Sejauh hasta pandang. Ia berusaha mengingat-ingat jalan pulang, dan sama sekal ia tak berhasil. Ia benar-benar ingin pulang. Bukan untuk memenuhi perutnya dengan makanan. Mahisa hanya ingin membawakan makanan yang melimpah di rumahnya kepada orang-orang itu, orang-orang yang dihantui rasa lapar dan kematian.

Sekarang Mahisa tahu, apa itu lapar. Pantas saja, dalam cerita itu, orang-orang yang tak peduli dengan saudaranya sesama manusia—yang kelaparan—kelak tak akan dapat naungan ketika Matahari benar-benar didekatkan sampai beberapa senti di atas kepala mereka. Ya, Mahisa tak ingin mencicipi matahari memberangus kepalanya, selebihnya Mahisa hanya ingin berbagi. Tapi bagaimana? Ia benar-benar tak ingat jalan pulang.

***

Mahisa terheran-heran, perjalanannya sudah terasa sangat lama. Tapi langit tak juga remang. Matahari semakin nanar dengan pijarnya. Mahisa memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanannya, ke mana saja, yang penting ia bergerak. Mahisa memutar haluan sampai ia menemukan kembali perbatasan kota. Di sebuah gerbang tugu, ia membaca tulisan ‘Selamat Datang di Kota Kenyang’. Ya, itulah kota tempat ia tinggal selama ini. Ia senang bukan kepalang, berkali-kali ia menggumam hamdalah. Anehnya, setelah memasuki perbatasan, Mahisa tak menemukan satu rumah pun, tak juga pepohonan, atau jalan-jalan beraspal. Sejauh mata memandang, yang ada hanya hamparan pasir. Serupa gurun.

Mahisa mengayun langkahnya penuh keragu-raguan. Ia bertanya-tanya, apa yang telah terjadi dengan kota ini. Apa ini sebuah mimpi? Mahisa menjambak rambutnya sendiri. Sakit. Tapi ini sangat aneh, belum genap satu hari ia pergi, dan semuanya berubah. Tukang sulap mana yang bisa menyulap kota menjadi padang gersang. Mahisa mengerjapkan matanya. Hawa panas kembali menyengat tengkuknya. Mahisa sendiri merasakan, dulu kota tempat ia tinggal tak pernah sepanas ini. Apa karena padang pasir ini? Di mana pula penduduk kota? Ia tak melihat seorang pun di sana. Sepi yang menyala-nyala.

Setapak demi setapak, Mahisa menggerakkan langkahnya. Ia sangat khawatir dan takut. Ia menegadahkan kepalanya ke langit. Silau. Matahari tampak lebih besar dari biasanya. Lebih dekat. Ia kembali memutar cerita itu dalam kepalanya, cerita tentang masa, bahwa suatu saat nanti matahari akan tergelincir dari ketinggiannya. Matahari akan mengapung beberapa senti di atas kepala manusia. Sebongkah bara raksasa akan berputar-putar di atas kepala manusia. Panas akan terus menikam, keringat akan terus mengucur. Ricis seperti hujan di awal tahun. Dengan kaki telanjang, para manusia akan merangkak, saling berebut keteduhan. Keringat mendidih terus mengucur, menggenang sampai mata kaki, lutut, dada, dan akhirnya menenggelamkan kepala mereka. (*)

Rabu, 02 Juni 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Fahri Asiza
Dimuat di Republika, 23/05/2010


Perampok itu bernama Mali. Sekarang pakai embel-embel mantan, karena dia sudah bertobat. Tetapi, tetap tak ada yang percaya. Seseorang yang telah masuk kubang lumpur, ketika keluar pun dia akan tetap berlumpur sekalipun sudah mandi dan memakai pewangi, begitu kata sebagian orang yang tetap sinis pada Mali.

Mali tidak peduli, bertekad akan berkelakuan baik. Makanya, dia sering datang ke masjid. Bahkan, sebelum muazin memanggil orang untuk shalat, Mali sudah tiba lima belas menit lebih dulu. Berpakaian ala seorang haji, hanya tidak memakai kopiah putih. Menurut Mali, kopiah putih itu terlalu sakral. Hanya orang-orang yang bergelar haji yang pantas memasangnya di kepala.

Sekarang sudah lima tahun dia bertobat, tetapi belum pula diizinkan menjadi imam. Pun, bila imam masjid sedang sakit, para makmum lebih suka shalat sendiri-sendiri. Kalaupun Mali lebih dulu shalat, mereka tidak segera mengikuti di belakangnya, tetapi mengambil jarak dan membentuk kelompok jamaah sendiri.

Mali sebenarnya sedih. Tapi, mau berkata apa lagi? Cap perampok itu rasanya tak bisa dilenyapkan dari seluruh sel-sel tubuhnya.

***

“Aku terjebak nafsu ingin kenyang,” katanya suatu hari pada saya. Saat itu kami berada di depan masjid. Malam merebak. Angin melela lembut di depan wajah kami. Para jamaah shalat Isya sudah pulang. Tak ada yang berkeinginan bercakap-cakap dengan Mali. “Sedangkan mencari pekerjaan demikian sulitnya. Padahal, ini negeri makmur, negeri subur, negeri yang berkecukupan, tetapi buatku seorang saja, negeri ini tak mampu memberikan apa-apa kecuali harapan setinggi langit.”

Saya hanya mendengarkan saja. Sekalian memberikan kesempatan padanya untuk mengutarakan apa yang selama ini dipendamnya.

Mali mengembuskan asap rokoknya. “Suatu hari, saat aku pulang mencari pekerjaan, seorang temanku datang. Dia punya kegelisahan yang sama. Hampir tiga tahun mencari pekerjaan, tetapi hasilnya nihil sama sekali. Pertemuan itu rupanya awal dari petaka yang harus kumasuki. Dia mengajakku merampok. Katanya, dengan merampok, kita bisa cepat kaya. Sudah tentu aku menolak. Aku tetap berusaha mencari pekerjaan sementara temanku itu sudah naik mobil mewah dan menggenggam handphone. Adilkah ini?”

Lagi, saya hanya terdiam, mencoba berempati dengan masalahnya.

“Pusing karena perut lapar yang memanggil, panik karena tak tahu harus bagaimana membayar petakan yang kusewa, akhirnya … aku pun turut serta. Pertama, aku menggigil dan takut setengah mati. Aku yakin, Tuhan sedang melihatku. Mungkin pula Dia sedang memelototiku sambil berkata, ‘kau akan masuk ke neraka, Mali’. Tapi, di mana neraka itu? Aku juga tidak tahu. Akhirnya aku tenang dan menerima bagian dari hasil rampokan itu. Perutku bisa kenyang sepanjang hari. Wajah masam pemilik petakan pun tak lagi kulihat, karena langsung kubayar sewa selama setahun.”

Rokok yang dihisapnya sudah mendekati batas akhir. Mali menjentik dengan telunjuknya. Rokok itu mencelat, menyisakan bara merah yang melayang. Lalu mati.

“Tanpa terasa tiga tahun kujalani kehidupan sesat itu. Dengan uang hasil rampokan, aku bisa menyogok satu instansi dan akhirnya bisa bekerja di belakang meja. Betapa bangganya. Setahun aku bekerja dan tetap sesekali ikut merampok, aku mulai pandai dalam soal tata krama busuk, dalam soal jilat menjilat dan dalam soal bersikap manis, padahal penuh rencana. Dengan modal itu pula aku bisa naik jabatan.

Kalau dulu aku merampok bersenjatakan golok, sekarang aku merampok bersenjatakan dasi. Tapi anehnya, justru aku tertangkap karena seseorang yang mengenaliku sebagai salah seorang anggota perampok, bukan karena aku telah merampok dengan cara halus di instansiku. Aku ditangkap dan dipenjarakan. Dan, kau lihat sekarang, di sinilah aku berada.”

Saya masih ingin diam sebenarnya, tetapi cerita itu begitu menggelitik. Karena selama ini yang diketahui oleh masyarakat, Mali adalah perampok kelas kakap.

“Alhamdulillah Pak Mali sudah insyaf.”

Mali mengangguk-angguk. Wajah tuanya seperti semakin dipenuhi keriput. Sorot matanya legam, menyisakan cahaya yang beriak-riak. “Ya, ya … sekeluarku dari penjara, aku mohon ampun pada Tuhan. Kusesali semua yang pernah kulakukan. Mengapa karena aku tak kuasa menahan lapar aku melakukan tindakan busuk itu? Atau karena aku marah, aku bagian dari negeri ini, tetapi aku tak mendapatkan tempat sedikit pun? Entah, yang pasti aku telah bertobat. Aku telah meninggalkan hidup busuk yang selama ini kujalani.”

“Syukur pada Tuhan karena menyadarkan Pak Mali.”

“Tapi …, ada yang masih ingin kutanyakan pada Tuhan.”

Tanpa sadar saya berdebar. “Apa?”

“Mengapa Tuhan belum mengizinkan aku menjadi imam, memimpin makmum shalat berjamaah?”

***

Keinginan Mali mengganggu pikiran saya. Banyak orang yang saling dorong bila masuk waktu shalat menjadi imam dengan wajah penuh penolakan. Alasan mereka macam-macam. Belum bagus bacaannya. Masih suka bolong-bolong shalatnya. Belum bersih. Masih suka bohong. Lantas sekarang, ada mantan perampok yang telah bertobat sungguh-sungguh, mengapa tak diizinkan menjadi imam shalat?

Ketika akhirnya saya utarakan hal itu, semua langsung memprotes.

“Tak pantas perampok memimpin kami!”

“Betul! Apalagi memimpin shalat!”

“Kita sedang menghadap Tuhan! Tuhan bisa marah karena perampok yang memimpin kami!”

“Pokoknya kami tidak sudi!”

Saya tak sempat mengutarakan pendapat lagi, karena semua sudah meninggalkan balai kelurahan. Saya mencoba menenangkan diri, menarik napas panjang. Apakah orang-orang itu lupa, banyak para pendosa yang telah bertobat bisa menjadi seorang ustaz? Mereka bukan hanya memimpin shalat, tetapi juga tampil memberikan tausyiah di televisi. Menceritakan pengalaman masing-masing dengan penuh penyesalan, menjadikan itu i’tibar buat siapa pun.

Ah, kenapa Mali tak punya kesempatan itu? Dia tak ingin tampil di televisi, tak ingin pula memberikan pembelajaran. Dia hanya ingin sekali saja menjadi imam ketika sedang shalat.

Akhirnya penuh penyesalan saya utarakan apa yang dikatakan warga.

Kali ini Mali bukannya sedih malah tertawa.

“Mengapa kautanyakan pada mereka?”

“Saya ingin mereka menyadari bahwa Pak Mali sudah bertobat.”

“Hei, hei … tobatku ini bukan pada mereka, tetapi pada Tuhan. Tuhan yang akan menilai tobatku, apakah memang sudah layak diterima atau belum.”

“Saya yakin tobat Pak Mali sudah diterima Tuhan.”

“Bila memang seperti itu, alhamdulillah. Bila belum, aku akan tetap bertobat, beribadah khusyuk sebelum ajal menjemputku.”

***

Dua hari kemudian, saya tak melihat lagi Mali berada di deretan para makmum. Tak terlihat pula sosoknya yang sebelum masuk waktu shalat sudah berzikir dan selalu mengambil tempat di pojok masjid.

Selesai shalat kutanyakan hal itu pada para jamaah. Tetapi, semua tampak biasa saja, seolah selama lima tahun ini tak menyadari keberadaan sosok Mali. Tak ada pula yang mencoba mencari tahu di mana Mali berada saat ini.

Gelisah mulai tumbuh di dada saya. Saya mencoba mencari Mali. Siang malam. Tak peduli panas memanggang dan hujan menguyup. Mali telah insyaf, Mali telah mengambil jalan Tuhan. Mengapa tak ada yang mau menaunginya? Saya bertekad menemukan Mali. Akan saya ajak dia shalat berjamaah, dan dia sebagai imamnya.

Seminggu kemudian, suatu pagi, sebelum berangkat mengajar, saya membaca surat kabar pagi. Ada berita seorang perampok ditembak. Muka saya seperti meluang dengan sepasang pelipis yang berdenyut hebat ketika membaca nama Mali di sana. Juga, setelah mengenali foto Mali di sebelah berita itu.

Melunak seluruh tulang dalam persendian saya. Jantung saya berdebar sangat keras. Saya mencoba menegaskan kalau itu bukan Mali, wartawan salah memasang foto itu. Tetapi, ini jelas Mali. Mali yang telah bertobat. Mali yang sekali saja ingin menjadi imam shalat.

Tanpa sadar saya menangis.

Ketika shalat Isya tak seorang pun yang membicarakan tentang Mali. Mali seperti uap saja, datang lenyap, pergi pun lenyap. Ya Tuhan, ini salah siapa? Apakah Mali memang sengaja memilih jalan sesat lagi, atau karena dia murka pada-Mu yang tak memberikan kepercayaan padanya menjadi imam shalat berjamaah walau hanya sekali saja?

Lepas shalat Isya saya tak tahan juga. Saya bertanya pada mereka, apakah mereka tahu Mali meninggal ditembak?

“O, tahu.”

“Iya, tadi saya baca beritanya.”

“Kasihan, dia sudah bertobat, tapi akhirnya merampok lagi.”

Saya terkejut. Ternyata ada juga yang kasihan, bahkan menyadari Mali bertobat.

“Mengapa tak seorang pun yang mengizinkan dia menjadi imam shalat berjamaah?”

Orang-orang kasak-kusuk, lalu salah seorang menjawab tegas, “Karena dia belum pernah masuk televisi.”***

Mutiara Duta, 29 April 2010