Tampilkan postingan dengan label * Alimuddin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label * Alimuddin. Tampilkan semua postingan
Senin, 22 Maret 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin

Dimuat di Surabaya Post, Sabtu, 6 Maret 2010








”Ambil semua pakaian, kalau sudah kunci pintunya,” lelaki itu mengucapkan kalimat baru saja dengan nada layu tanpa menatap biji mata perempuan yang disuruhnya.

Perempuan perang masuk ke kamar tidak tergopoh. Membuka almari kayu mereka. Pakaian tidak banyak sekali. Namun cukup kerepotan apabila dibawa seluruh. Maka disaring seperlunya saja.

Masing-masing empat pasang pakaiannya dan milik suaminya. Serta beberapa pasang pakaian dalam. Ke semua itu dibungkus dalam ija krong (kain sarung) kotak-kotak merah.

Barangkali bila kondisi telah kondusif, kelak mereka kembali.

Lalu Perempuan perang menangkap langkah-langkah ketakutan di luar. Pasti kaki itu bergerak sangat tergesa. Seolah harimau di belakang tengah mengintai dengan liur menerkam.

Sempat diambil tas pandan yang dahulu dianyam susah, yang tersembul di bawah pakaian. Dimasukkan lipstik, bedak rodeka, trika (bedak deodorant). Yang ke semua kosmetik murahan itu dibelinya di hari peukan ( Hari pasar ramai-ramai.)

Di luar, lari-lari ketakutan semakin jelas terasa. Kata ”bagah dan bagah” (cepat dan cepat) terlontar-lontar. Mulut anak kecil, entah paham sebuah ketakutan, kontan menangis.

”Lama sekali, nanti ketinggalan jauh dengan orang gampong,”

Perempuan perang melongok ke ruang tamu. Asap rokok suaminya tidak sabaran mengepul-ngepul. Lagi-lagi ia mendengar suara suaminya seperti pisau berkarat. Dingin tidak mendesak.

Bukan tidak ingin menyakiti. Tapi menurut mata batin perempuan perang, begitu itu malah lebih perih.

Angin malam memaksa masuk lewat rongga jendela yang tidak disekat apa-apa. Menyapu bibir gelisah perempuan perang. Seiring itu nyamuk berdesing-desing.

Lantas ia buang nafas dengan resahnya. Ia memilih menyentuhkan badan bawahnya ke kasur yang tidak berseprei. Bola mata mengamati nur lampu teplok yang melekat di triplek kamar mereka.

Takutkah perempuan perang dengan suara tapak kaki cemas di luar sana?

Tidak sekali-sekali. Perempuan itu, lebih ketakutan dengan suara dingin tak mendesak suaminya. Dengan suara lelaki itu yang tak menyapanya ’dik’ lagi sekarang.

Ketika mendadak beralih ke perutnya yang mulai buncit, cahaya mata perempuan perang tak berkedip. Antara sejenak ia menghela-hela sarat kesal.

”Cepatlah... Gampong sudah senyap ini.”

Lima hari lalu selentingan ia tangkap kabar jikalau gampong (kampung) mereka disilang merah tentara pemerintah. Banyak kaum pemberontak hilir-mudik di kampung mereka.

Tentu saja perempuan perang tahu siapa-siapa saja tokoh yang ingin memisahkan diri dari kesatuan negara. Bang Saballah, Bang Him dan beberapa pemuda turut serta.

Seperti lazim orang kampung, perempuan perang akan menjawab tidak tahu meski didesak aparat. Bukan musabab mendukung pemberontak itu. Tapi entahlah. Sepertinya menggeleng atau kata ”tidak tahu” adalah jawaban tepat nan bijaksana.

Dan malam ini selentingan itu jadi kenyataan. Akibat itu gampong harus disenyapkan dari penduduk. Andai tidak, Malaikat Izrail akan leluasa memangkas nafas tentu saja.

Dua belas menit kemudian---Setelah sebelumnya sempat mencium kembang jeumpa di sumur tanah samping rumah—kembang jeumpa yang begitu disukainya, perempuan perang bersama suaminya sudah di jalanan rumput lengang. Tepi kiri-kanan lung (kali kecil) disibak-sibak air musabab angin.

Angin menggigil hingga berasa es sampai di bawah ketiak perempuan perang sekalipun. Perempuan itu, memeluk buntelan pakaian demi segelintir hangat. Harusnya suaminya, melingkarkan lengan kekarnya ke bahu perempuan perang.

Tetapi tidaklah hal demikian terjadi. Bungkus pakaian saja dibiarkan dibawa istrinya yang sedang mengandung. Lelaki itu berjalan dua meter di depan perempuan perang. Sekalipun tidak menoleh ke belakang.

Perempuan perang memaksa sama cepat dengan gerak Hasan. Lekas sekali dikaitkan tangan dinginnya ke badan pria itu. Secepat peluk itu terjadi. Secepat itu pula peluk itu rubuh.

”Bang Hasan tidak mencintai adik lagi.”

Lelaki itu seperti biasa jika dihadapkan pertanyaan itu, akan bertindak seperti manusia malang yang sama sekali tidak dianugerahi suara oleh Tuhan.

Bisu. Dan tetap bisu.

”Mengapa Bang Hasan tidak ceraikan adik saja?”

Perempuan perang memilih memendekkan langkah. Membiarkan suaminya itu seperti dalam posisi pula. Berjarak meter darinya.

Kedinginan telah meleleh.

***

Perempuan perang pernah meminta cerai dua bulan silam. Tapi kuping Hasan seperti tidak pernah disinggahi pinta itu. Diam dan diam. Sehingga perempuan itu akhirnya menginsafi bahwa pinta itu tidak lulus.

Suatu sore, perempuan perang begitu melihat Hasan di hujung jalan yang juju ke rumah mereka, sengaja meremas jemari tangan Mahdi—bujang tiga puluh tahun yang belum juga menikah.

Tidak dilepas sampai ia yakin benar bahwa Hasan melihat perbuatan itu. Tapi lelaki itu tidak dengan jantan mendorong tubuh Mahdi hingga terpelanting ke ruangan jalanan. Sekedar melotot ke arahnya pun tidak.

Perempuan perang tahu, Hasan, lelaki yang menjadi suaminya itu tidak memiliki cinta lagi untuk dirinya. Dan ia tahu sekali apa biang dari segala itu. Tahu sekali perempuan perang.

Kehamilannya.

Janin yang kini tengah tumbuh berkembang di dalam perut perempuan itu.

Padahal sudah ia tempuh aneka kata untuk menjelaskan. Bahwa hamil itu bukan atas hendaknya.

Dan memang Hasan seolah mengerti. Tidak mengintrogasi macam-macam. Akan tetapi tidak lagi ada hubungan badan di malam-malam berhujan. Lelaki itu malam lebih memilih rebah di ruang sebelah kamar mereka yang kondisinya tidak lebih baik dari gudang.

Bahkan yang menyakitkan sekedar menatap hangat saja tiada lagi.

Tinggal perempuan perang yang kesepian. Kesepian jasad. Kesepian hati. Kesepian yang mencekam. Kesepian yang sebetulnya teramat ditakutinya.

***

Rupanya kedatangan mereka sudah ditunggu layak artis ibukota Desy Ratnasari yang dinanti para penggemarnya. Ramai berkumpul semua orang kampung di rumah Geuchik Harun (Kepala Desa Harun). Nama mereka didengung-dengung. Para perempuan menatap kasihan ke ceruk mata perempuan perang.

”Kita jangan ambil jalan besar.” Ucap Geuchik Harun.

Dan perjalanan malam dimulai. Meninggalkan kampung halaman. Hanya bintang beberapa yang menjadi benderang jalanan. Sebatas suluh api saja tidak boleh ada. Sebab pergi mereka, seperti maling yang mengendap-ngendap.

Jalanan tikus yang mereka lewati betul-betul gulita. Kiri-kanan adalah kebun kosong yang tumbuh liar semak belukar. Antara sebentar salak anjing dan salak lainnya di nun jauh. Tapak kaki ditahan sebisa mungkin agar tidak lahir bunyi besar. Sekali dua kali mereka harus melompat kecil sebab badan jalan telah ditiduri batang pohon lapuk..

Perempuan perang bersama para perempuan di baris tengah. Anak kecil seperti tidak ada di dalam barisan itu. Di baris depan dan belakang lelaki yang dibagi separuh-separuh.

Perjalanan masih panjang. Kata Geuchik, mereka akan ke Mesjid Kota Geudong. Dua puluh kilo berjarak dari kampung. Di tempat sana, mereka akan berkumpul dengan pengungsi dari kampung yang juga disilang merah aparat pemerintah.

Sambil kaki mengayun, pikir perempuan perang singgah ke bayangan hubungan badan bersama Hasan silam. Indah sekali. Dan jujur, perempuan itu merindui bisa melakukan kembali bersama Hasan.

Lalu tak dapat dicegah pikiran perempuan perang lari ke hari lain. Suatu senja berangin kencang. Ia tengah di beranda menampi beras. Letup-letup senjata. Merunduk di tanah. Ketika badan menegak kembali, ia laksana melihat hantu mengerikan di ambang pagar bambu rumahnya.

Lima pria bersenjata besar.

Diawali dengan introgasi tak masuk akal. Ini-itu yang kali ini benar tidak diketahui jawabannya. Satu pria kurang ajar terkekeh menatapnya. Kemudian diseret paksa ke kamar. Secara bergiliran satu persatu pria bersenjata itu masuk.

Cepat sekali jalan pikiran perempuan perang melintas-lintas. Baru ia terhentak ketika perempuan tua di samping mencolek pinggangnya. Dengan telunjuk bergetar mengacu ke hutan belukar yang samar kelihatan bergoyang-goyang .

”Mau kemana kalian? Kalian pemberontak ya?!

Bukan perkara sulit untuk mengetahui tubuh siapa di dalam hutan. Senter-senter besar bersinar bulan. Tubuh-tubuh tinggi telah berdiri congkak. Dengan sinar senter di arahkan ke mata rombongan silang bergnti.

Jawab Geuchik Harun dihadiahkan bentakan berikutnya. Beberapa lelaki terbata mencoba menguraikan siapa mereka, hendak ke mana tujuan, juga mendapat laku sama.

Keluarlah perempuan perang dari baris tengah. Telinga itu menangkap gumam ucap, ”ka matee geutanyoe... Ka matee geutanyoe (Sudah mati kita... Sudah mati kita.)” acap sekali dari mulut perempuan ketakutan.

Ia melewati beberapa lelaki tua yang meurateb (berzikir). Jelas perempuan itu menyimak badan Bang Saballah bergetar di balik seorang pria senja. Ketika berpasan dengan Hasan, ia melebarkan bibir. Lalu dengan berani bertatapan dengan laki bersuara bentak.

”Kalian boleh pergi. Asal perempuan ini tinggal bersama kami.”

Suara bisik-bisik dari mulut-mulut. Sementara semua mata beradu ke mata Hasan, bibir basah perempuan perang segaja melirik bergiliran ke mata pria-pria bersenjata itu. Melihat itu, nyaris meruah isi di dalam perut Hasan.

”Kalau tidak...”

Dua tangan pria tegap kembali mengokang-ngokang badan bedil.

Namun dalam batin perempuan perang gemuruh. Gelisah menanti apa jawaban suaminya Hasan.

Ingin sekali ia jikalau lelaki itu beringsut ke depan dengan muka merah padam. Menarik lengannya. Bila perlu memaki para pria bersenjata sebab telah meminta hal kurang ajar.

Bukan masalah setelah itu kokang senjata ditarik membabi-buta. Peluru timah menembus satu persatu tempurung kepala mereka.

Itu lebih baik menurutnya.

Kepala Hasan mengangguk. Perempuan perang menutup kecewa dengan sebuah sandiwara-- Tertawa besar hingga dada itu berayun-ayun. Tawa yang gatal akan sentuhan.

Hasan memilih memandangi langit.

Satu persatu dari rombongan hilang di tikungan gelap. Di antara mereka sempat menatap perempuan perang dengan perasaan yang susah ditafsirkan. Terakhir Hasan yang berpaling muka dengan menghembus napas.

Bersama perempuan perang enam lelaki menenggak air liur. Sedang Nurmala seperti kuntilanak di televisi, cekikikan mendayu-dayu. Tidak lama. Lalu mata perempuan itu hangat. Air mengalir dalam pekat.

Selasa, 16 Maret 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Serambi Indonesia, 14 maret 2010

SILAM, buah pikiranku selalu ingati Ibu berwejang:

‘Jika rindu, gambar Ayah di pasir pesisir.. Biar rindu itulah berkelana...’

Pada mula aku geleng kepala. Kuajuk Ibu bohong demiku tiada terus rengek. Sehari di laut, aku tahu Ibu tak diciptakan Tuhan demi bohong. Kubawa Dek Nong serta. Di rumah, Dek Nong tak reda rusak kerja Ibu. Aku pikir, Ayahku di suatu tempat dan belum ingin pulang. Tapi Dek Nong kata, Ayah sudah di surga. Adik itu menangis.

Pada suatu matahari petang, kawan-kawan serta gambar Ayah. Kutahan tangis sambil hapus gambar-gambar itu. Itu Ayahku!

Tapi Ibu kata,”Biar saja...Biar saja Agam.”

Lalu aku tak pernah menangis lagi bila teman-teman melukis Ayah.

Kini aku belasan usia, Masyik sudah lelah suruhku ke sikula. Di sikula aku tidak boleh gambar-gambar. Aku telah jadi anak laot.

Pertama gambar Ayah. Ombak datang tiga kali ke daratan, Ayah sudah hidup di pasir.

Aku rindu Ibu. Tapi menggambar Ibu dengan pakai telekung buatku goyang-goyangkan kepala. Kemudian Dek Nong. Rambut adik itu kriwil-kriwil. Aku ingat-ingat senyum Dek Nong dan mulai menggambar.

Lepas itu, aku duduk di sela gambar. Berkisah dengan Ayah, Ibu, Dek Nong. Aku tertawa. Aku berlari ke dalam laut yang punya banyak ombak. Teman-temanku masih menggambar. Lukis mereka adalah Ayah, Mak dan adik-adik.

Cut Mala lukis Ayah, Ibu dan adik bayi. Kasyi melukis Ayah dan adik. Mita lukis paling banyak gambar, Ayah, Ibu, dua kakak perempuan, satu adik laki-laki. Putra hanya melukis Ayah saja.

Kemudian teman-teman susulku ke dalam laut. Kami berdiri ramai dan tantang matahari. Cut Mala berteriak, laut kembalikan Ibuku...Ombak memburu kami seperti bengis. Kami tergulung. Dalam ombak aku menangis.


Oktober akhir Setelah semua selesai.
Rabu, 02 Desember 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Suara Karya 28/11/2009



Perempuan itu Keumala. Perempuan berbola mata biru dipadu-padan otak yang mampu menjawab segala hal rasa-serasanya. Dua modal yang membuat Keumala, seperti kristal bening yang mengeluarkan denting-denting halus. Keumala ratu di taman kembang. Ini hari terakhir wanita itu duduk di teras depan rumahnya-menanti kekasih. Besok tak akan lagi.

Yang memiliki harum menyegarkan terik siang. Usia belia, ikut memperdalam jikalau kembang itu punya magnet lain selain wajah ayu. Kumbang-kumbang gesit berterbangan di seputaran Keumala. Mengeluarkan harum-haruman.
Berharap Keumala akan terperangkap. Lantas mereka sehati dalam perahu bahagia.

Tapi Keumala bukan kembang yang mau manusia-manusia buruk akan memetik tubuhnya. Kemudian membiarkan layu di pinggiran kehidupan.

Maka perempuan itu, ketat menjaga keindahan mahkota. Duri-duri menancap bila ada kumbang yang ingin merampas makota itu. Apalagi secara paksa.
Ia berhati-hati. Lihai memilih. Di kumbang mana jangkar hati harus luruh.
Sebab kecewa itu beranak-sungai air mata. Hati sakit belum pernah ditemukan penawar sekalipun oleh pakar paling ahli.
"Kerja di mana?" tanya perempuan itu pada pemuda bermuka murung.
"Saya mengajar di SMP..."

Uh, Keumala menggeleng cepat. Kaki-kaki jenjangnya dihentak-hentak ke lantai. Kemudian berderet-deret repetan sepanjang jalanan semut.

Wajah pemuda murung makinlah masam. Lantas raib dari pandang Keumala. Menikung di jalanan panjang.
Kumbang lain bersorak riang.

Wajah-wajah memancarkkan cahaya bahagia. Sebab Keumala masih bisa direbuti. Kembali segala aroma menyengat disemprotkan. Harum budi luhur dipamerkan besar-besar. Demi tujuan jebakan.

Keumala di langit ke tujuh. Cekakan kadang lepas bila ia tengah sendiri di kamar. Kadang saja sebatas ringis kepuasan.
"Aku cantik. Aku penguasa lelaki." Begitu dan itu gumamannya.

Kumbang-kumbang tak pernah ia dengar mengeluarkan protes. Bahkan bermuka keberatan saja sekalipun tiada. Dengan sikap jual mahalnya tentu saja. Barangkali satu kesadaran telah tumbuh mengakar bahwa demi mendapat Keumala, pengorbanan curam terbentang.
Dan pun, Keumala kian saja lincah membaluti tubuhnya dengan wangi pesona.
Menjadikan pe-para kumbang serasa rela mati agar bisa mengecup madu sang kumbang.

Tapi hati Keumala belum jatuh. Dinding hati kokoh menjulang. Meski peluru rayuan bergodam-godam nyaris tiada reda. Semuanya tiada menggoda.

Seorang pemuda agak menarik di mata Keumala sebenarnya. Laki-laki bertubuh tegap dengan lesung pipi hangat. Pemuda itu pun berhasrat tulus untuk 'menseriusi' hubungan. Hati Keumala akan berwujud air mengalir.
Seolah kumbang itu lah penakluk seorang Keumala.

Namun pemuda itu tiba-tiba tak pernah datang lagi. Seolah raksasa maha besar telah melumat tubuh itu sehingga tak tersisa biar tulang-belulang sekalipun.

Keumala dalam hati sempat menunggu dan menanti. Dulu ia congkak tidak mau menyimpan nomor handphone sang pemuda. Harus si pemuda itu yang menghubungi dirinya! Keumala tidak berai air mata. Terlalu aneh rasanya seorang Keumala menangisi seorang pemuda yang tak kembali.

Sementara di ambang mata berjejer ratusan pemuda yang berhasrat memilikinya. Tinggal tunjuk, pemuda mana pun tergopoh.

Detik-detik berdetak dan pergi. Hari-hari panjang mengelupas juga seperti cat di rumah tua yang bersisik. Musim air hujan dari langit muncul dengan ritual tarian eksotis. Keumala masih Keumala sama. Belum memilih.

Kalaupun ada yang bertukar, mungkin paras itu kian meneteskan liur kumbang. Wajar, usia Keumala tepat di angka dua lima. Bukankah puncak kecantikan seorang wanita bernaung di bilangan itu?

* * *

Hari itu dua pemuda bertandang ke rumah Keumala di waktu yang hampir bersamaan. Bak ingin melamar pekerjaan, pakaian mereka rapi-jeli. Berdasi. Keumala terkekeh ria. Magnetnya masih berjalan sempurna.

Dengan pemuda pertama introgasi berlangsung kilat. Gajinya hanya dua juta perbulan. Pemuda kedua masuk gagah, tapi keluar dengan mata layu.

Keumala masih larut dalam mutiara pujaan penggemar-penggemarnya. Satu kumbang boleh kecewa atas sikapnya. Dan milih mundur dari persaingan.

Akan tetapi di belakang itu, puluhan- ratusan kumbang lain menghampiri. Jujur, sempat terbesit was-was. Apalagi usianya tak lagi belia.

Nyaris masuk di angka tiga. Dia mulai disergap takut kalau-kalau sebab sifat memilih yang berlebih, tak akan ada kumbang lagi yang mendekatin. Seumur-umur jadi perawan tua!

Namun khawatir Keumala tiada bukti. Di usia yang nyaris genap tiga puluh tahun. Kecantikannya masih mampu menangkap kumbang- kumbang. Walaupun tetap kata sama keluar.

Tepat di genap tiga puluh tahun, penantian kumbang-kumbang pengagum Keumala akhirnya terputus. Jangkar hati tlah turun di salah satu kumbang.

Adrian, kumbang itu berhasil meremukkan kekokohan dinding hati perempuan itu. Keumala tak mafmun. Mendadak saja rasa yang tak pernah dimiliki sebelumnya terkonstelasi bagai batu bata yang disusun.

Tinggi dan semakin tinggi. Kokoh dan kuat. Sepertinya badai saja tak kuasa mengapung perasaan itu.

Tubuh itu seolah menggelepar-gelepar laksana seekor ikan yang akan kehabisan oksigen. Maka angguk penuh tatkala Adrian mengucapkan lamaran.
Di mata Keumala, Adrian-lah yang lama tlah dinanti.

Tapi bahagia puncak belum bisa bermain-main di awan-awan perkawinan. Sekali ini, Keumala meleleh air mata. Pria itu harus melanjutkan studi keluar negeri.Empat tahun.
Adrian tergagap melihat pemandangan memilukan.

Adukan bingung melayang. Bujuk cepat dibungkus dalam bingkai-bingkai nian elok. Dan bahu Keumala tak lagi berguncang-guncang.

Ia menyeka air matanya. Meski lantun isak sekali-dua kali belum raib. Keumala menganggukan kepala. Keumala telah dilanda mabuk kepayang.Sebelum berangkat ke negeri seberang, Ardian menyebutkan tanggal sekian, bulan sekian, dan tahun sekian ia akan kembali.
Keumala mencatat angka bersejarah itu di buku hariannya.

Akhirnya Ardian pergi dengan bola air Keumala. Setelah berjanji akan berkomunikasi lewat HP dan email. Betul saja, Ardian pergi.
Dan Keumala mulai menanti hingga empat tahun.

Tapi Ardian ingkar janji. Seminggu setelah kepergian, Keumala menunggu telpon dari pria itu. Sampai sebulan tak juga telponnya berdering. Ia ingin menghubungi Ardian. Sia belaka. Jarak jauh telah membuat nomor itu tak bisa dihubungi.
Lantas Keumala mulai mengirim email cinta.
Setahun tak juga dibalas sekalipun. Hati Keumala dilanda cemas. Sering kali ia meleleh air mata.
Kumbang satu-satu masih berusaha menggoda. Tapi hati Keumala telah keras batu untuk pria selain Ardian.

* * *

Bunga kamboja di lahan pemakaman luruh dan tumbuh selang ganti.
Bunga-bunga itu menumpuk jalan kecil sehingga pembesuk agak kepayahan mengarah ke nisan yang diingin.

Beberapa saat lalu petugas lahan itu telah pergi ke langit sehingga tanah itu kehilangan bersih.Empat tahun meski bergerak selaksa siput datang juga.

Hari ini sesuai janji, Adrian akan kembali. Berulang kali Keumala mencocokkan angka di buku hariannya dengan angka kalender.

Langkah-langkah kijang di dada Keumala. Semalam suntuk tak bisa dipejam mata. Menyambut sang kekasih hati sengaja dikenakan gaun sutra biru yang jauh hari telah disetrika rapi. Perempuan itu tak ubah laksana bidadari.

Tapi hari itu adalah hari berkabung. Keumala melihat gagak hitam berkotek ribut di bumbungan rumahnya.
Ardian tak kunjung datang. Padahal sudah seharian penungguan itu merayap.

Besok hari perempuan itu, Keumala, masih dalam penantian. Menghibur pikirannya dengan ragam mungkin. Mungkin ada gangguan di airport. Mungkin Ardian sengaja membuat hatinya bertalu menunggu. Mungkin...Mungkin....
Seminggu.
Dua minggu. Sebulan. Berbulan-bulan. Roda waktu telah berputar-putar demikian hebat. Tahun-tahun berkeringat. Kamboja di tanah kuburan telah kembali sampai pada kala berbunga semarak.

Keumala masih gelisah menanti. Ardian tak kunjung hadir. Ditampik ulur tangan kumbang liar yang ingin menghibur. Hati Keumala tak mampu pindah ke lain hati.Keumala menunggu. Sampai Ardian kembali..

* * *

Keumala menarik napas panjang sekali. Napas itu napas kesusahan. Mata itu layu menatap surat biru yang tergeletak di meja depannya. Surat yang tiga jam lalu diantar bapak pos ke rumahnya.
Maaf, aku betul-betul lupa bahwa aku pernah berjanji untuk menikahi kamu.

Maaf aku lupa sekali, bahkan teringat nama mu saja, baru beberapa hari yang lalu. Saat itu aku iseng-iseng mengorek buku-buku lamaku, dan kebetulan aku menemukan kembali diary lamaku.

Tertera namaku di sana lengkap dengan janji kita.
Maaf ya, sekali lagi aku minta maaf. Tapi aku yakin, sekarang kamu sudah menjadi seorang nenek. Berapa cucumu? Siapa lelaki yang beruntung mendapatkan dirimu? Pasti laki-laki itu teramat senang ya? Oh ya, cucuku sudah dua belas lho! Enak ya jadi kakek? Jangan lupa dibalas ya.


Tertanda

Adrian

Keumala bangun dari duduk panjangnya. Lalu kaki itu melangkah ke dalam rumah senyap. Sebuah Penantian telah berakhir. Kekasihnya tak kembali. ***
Senin, 16 November 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Suara Pembaruan 05/07/2009kali



Mengapa tak saja angin pantai yang membunuh? Mengapa tiada juga petir kesepian yang menarik lembaran-lembaran nyawa?

Mengapa musti air yang menjadi makhluk Malaikat Maut Izrail?

Aku sukai air. Air seumpama bayi bidadari yang tengah mengikat mimpi di jendela-jendela langit. Berkulit mengesankan. Miliki harum kasturi menghanyutkan.

Aku sukai air. Kemudian air mencurah dari atap-atap langit. Melalui atap-atap rumbia berenang-renang di tanah daratan. Bernyanyi-nyanyi di tanah sawah bersama bocah-bocah petani.

***

Aku idam sekali rumah kayu yang punyai pilar-pilar gagah. Dinding-dinding rumah penuh dengan tulisan kaligrafi mengesankan. Rumah itu rumah idaman untuk orang-orang yang tergila-gila akan kenangan pahlawan bangsa.

Memasak di rumah dapur1. dua jendela--hanya cukup untuk mengisi setengah badan di sisi barat dan sisi timur. Jendela-jendela itu akan beri sinar matahari untuk rumah. Menyimpan dan mengambil padi di lumbung padi.

Anak-anak akan riuh bermain kelereng di bawah rumah. Sebagian mempermainkan jingki penumbuk padi yang sebenarnya tidak boleh dimain-mainkan. Sebagian berputar-putar di pilar-pilar kokoh rumah. Sisanya mungkin akan bergelayut di cabang-cabang delima demi dapati buah yang masak.

Rumoh Aceh. Rumah manyang (tinggi) Aceh. Begitulah namanya.

Tapi di mana kini?

Petang kemarin, Sakdiah datang ke rumah bantuan kami yang gersang. Segersang wajah mukaku. Matahari masih merdeka--meski petang. Sinarnya menyengat sebab tiada badan pohon menghalau cahaya itu agar kembali ke awan langit.

Tangan kiri Sakdiah menjinjing rantang yang mengeluarkan harum.

Berbinar sakdiah berkata,”Kuah pliek2 ini aku bikin sendiri. Tidak pedas biar kamu suka, Fauziah.”

Ia amati garis mukaku yang tidak bersemengat.

Mengapa masih hidup dengan kenangan buruk Fauziah?

Sakdiah, baru empat tahun, mengapa telah lupakan kenangan?

Ia menggulung-gulungku Sakdiah--Kamu juga kan? Aku dibawa ke samudera lepas. Ia mengkaramkan Mak, abi dan Dek Nong. Ia menyeret rumah manyang idaman kita.

“Ah, Fauziah..”

Hingga kapanpun aku tak tahu harus menjawab apa. Mengapa masih hidup dengan kenangan buruk, Fauziah?

Lupakan kenangan buruk fauziah. Empat tahun bukan waktu yang pelan untuk melupakan.

Sakdiah. Sakdiah. Ini saja yang kau ulang-ulang.

“Laki-laki pendamping hidup akan buat kau lupakan kenangan buruk, fauziah!”

Sakdiah pulang.

Laki-laki pendamping hidup? Seperti Mala yang berbahagia?

Hujan. Air dari langit mencurah. Mengapa aku tak sadar? Melengking aku memanggil masyik (nenek).

Masyik berjalan lahan-perlahan seolah tidak tengah mengalami hal parah di luar. “Hujan adalah anugerah Fauziah. Air hujan akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.”

“Hujan ini raya masyik,” aku berlari ke muka jendela. Aku menunjuk biji-biji hujan yang seperti terpeleset dari badan langit.

Hujan akan semakin raya masyik. Hujan ini akan lahirkan samudera. Lalu ombak besar akan datang. Menggulung-gulung kita.

Danau mataku telah banyak memenjarakan bintang.

Suara bahagia anak-anak lahir di jalanan. Anak-anak itu girang kejar-mengejar.

“Lihat mereka yang tergila-gila dengan hujan fauziah. Hujan-hujan ini tidak akan menggulung kita. Hujan ini adalah rahmat.”

“Suruh anak-anak itu pulang masyik! Sebentar lagi hujan ini akan memanggil gelombang besar..”

“Oiii.. Pulang cepat!!”

“Po (Ya) Allah rabbi, kapan derita ini aka

Aku sukai hujan. Dulu. Aku sukai laut. Dulu. Aku jatuh cinta dengan air sumur. Dulu. Aku tergila dengan jernihnya air sungai. Dulu. Diam-diam aku juga masih simpan ingin untuk mencebur badan ke kali? Dulu.

Dulu. Sebelum gelombang besar itu datang dan membuat karam.

***

Yang kau butuh cuma laki-laki pendamping hidup untuk lupakan kenangan buruk, fauziah.

Terkenang-kenang aku dengan ucapan Sakdiah.

Aku bergumam, laki-laki? Siapa dia gerangan?

Suara masyik merdu mengaji. Hujan petang telah pergi. Tapi sepertinya akan datang lagi--yang membuatku berjaga. Sebab angin begitu hilir-mudik di sekitar rumah kami.

Aku tidak boleh lengah. Air tak boleh kalahkan aku lagi!

Tapi malam larut telah kalahkan kekuatan mataku. Dan malam itu hujan kembali mencurah. Lebih deras dari hujan petang.

***

Dengan Manan, pria tampan itu, diam-diam aku simpan suka. Tak pernah berani aku sebarkan. Bahkan untuk Manan yang kusukai itu. Dulu. Sebelum gelombang besar itu datang dan membuat karam.

Ketika pagi ini, angin begitu sejuk menerpa badan, hati siapa yang tidak terkejut ketika temukan yang mengetuk-ngetuk pintu adalah Manan.

Aku merasa mukaku telah merah padam seketika.

Masyik tergopoh menyuruh Manan masuk. Aku temani Manan duduk di ruang depan sementara masyik akan membuat kopi. Diam begitu diam menguasai setiap jarak kami.

“Saya baru pulang dari kota semalam masyik,”

Baru ketika masyik telah menghidangkan kopi untuk Manan, diam itu telah pergi. Meski aku hanya menjadi pendengar yang budiman. Ketika masyik kembali harus pergi, diam kembali menjadi pembicaraan kami.

Kata Sakdiah muka wajahku tak terlalu layu lagi.

“Manan memegang tanganku Sakdiah,”

Wajah Sakdiah diliputi kaget. Kemudian ujarnya pelan,”betulkan kataku, laki-laki pendampiang akan buat kau lupakan kenangan buruk.”

Telunjuk sakdiah mengarah ke jalanan. Manan tersenyum di atas sepeda motornya.

Ia membawaku jalan-jalan dengan sepeda motornya. Entahlah, atau ini hanya sekedar perasaan sesaat, laki-laki pendamping akan buatku lupakan segala kenangan buruk.

Di antara deru sepeda motor Manan berkata,”aku ingin menikahimu Fauziah…”

Terpaksa kupeluk pinggang Manan agar tubuhku tak terjerambab.

***

Petang ini aneh, Manan mengikat mataku dengan kain hitam berukuran kecil. Katanya, ia akan bawa aku ke suatu tempat

Manan mengunjungiku setiap petang. Dengan kunjungan itu, petang-petangku menjadi bunga yang jatuh cinta dengan sang kumbang.

Kurasa betul kini, manna telah buatku lupa akan segala kenangan buruk. Kurasa kini, aku bisa lagi mencintai air hujan seperti dulu.

Tapi hujan sama sekali tak lagi tercurah.

Kemudian sepeda motor mulai menderu. Aku tidak tahu menahu ke mana akan dibawa Manan. Sudah kucoba membuka mata, tapi hanya gelap saja yang kudapati dibalik kain hitam itu.

Lama perjalanan gelap itu. Lama sekali sampai hatiku begitu tidak sabar ingin tahu. sampai Manan menghentikan laju sepeda motornya. Telingaku menangkap bunyi-bunyi yang menghempas-hempas. Di mana ini? Angin pun begitu kuat menampar-nampar. Di mana ini?

Manan membuka kain hitam yang menyiksa penglihatanku.

Kurasa mata laut lepas itu akan menerkamku! Kurasa nyawaku tengah ditarik si Malaikat Maut.

Ia menggulung-gulungku. Menghantam kepalaku. Menganyutkan aku hingga timbul-tenggelam. Aku dibawa ke samudera lepas. Ia mengkaramkan Mak, abi dan Dek Nong. Ia menyeret rumah manyang idaman.

“Fauziaahhh….” .***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Batam Pos 18/01/2009



Pagi rumah sakit terlalu riuh dengan korban kecelakaan. Satu korban sekarat, sisa meninggal di tempat terjadi. Satu pick up memelanting pohon tepi raya hingga terjungkang balik ke tebing dalam.
Di saat para dokter berteriak-teriak garang agar lekas memasukkan korban ke dalam ruang operasi sentara mengambil kesempatan penyelematan seonggok nyawa di hujung tanduk, ia malah tengah menyeduh kopi, menyeruput dalam asap-asap yang berkepul—dengan gumaman kenikmatan—ia sangat tergila-gila yang bernama kopi. Terus meneguk genap perasaan berselip obrolan masa depan dengan masyik.
(minggu tak jatah di rumah sakit. Minggu-senin senggang hari merenggang penat. Di rumah. Di tanah sawah. Bercengkrama dengan sesama gadis di bawah meunasah gampong. Terkadang mencari sesak di peukan ramai.)

Ia pun bersama masyik1 melaju ke tanah sawah setelah berkopi. Tanah sawah sedang menghampar keindahan nian elok. Padi menguning. Pipit berkoloni-koloni mengepak sayap. Pematang riuh suara pemilik menghalau mangsa-an burung-burung. Sentara burung-burung bergerombol itu, mencuri-curi enap dalam lebat batang-batang.

Dalam hati ia mengungkap takjub indah panorama. Ia terlarung ketentraman tiada rupa. Potong senyum untuk siapa saja yang kebetulan melewat atawa menyapa.

Rentang waktu sama, di ruang rumah sakit, hawa-hawa ketegangan membulir. Detik yang berdetak menebar jarum-jarum kematian. Tiga dokter dikawani dua suster mengelilingi satu korban tak sadar diri.

Hanya degap jantung pelan. Baju loreng-loreng mendarah pekat. Mulut menganga-kan deretan gigi yang telah rentas. Dua bola mata terkatup semi rapat. Di hujung bawah, dua anak kaki puntung.

Kepala dokter yang paling senior mengangguk sebagai sebuah tanda. Lantas pisau-pisau, gunting-gunting bermula menari-nari di atas satu tubuh. Tiada bicara. Hanya gerak tubuh sebagai penjelas apa yang diingin.

Berbilang jam, ketiga dokter keluar dengan tampang semrawut. Keringat menempel di kening. Bagian belakang kemeja sembab serua membentuk satu pulau. Ketiganya berpisah dalam lorong berbeda.

Dua suster membereskan perkakas operasi. Tiada bercakap. Ligat melakukan pekerjaan mereka. Sekali-kali melirik pasien yang persis patung dengan penjuru mata.

Di pasar ikan ia tengah menawar harga. Peluh meleleh sebab angin terhalang banyak tubuh di tempat itu. Ba’da itu mengarah ke pasar sayur-mayur. Kembali peluh meleleh. Dengan punggung tangan ia menyeka seala kadar.

Pulang menumpang satu RBT2 orang sekampung. Setengah perjalanan, tiba-tiba saja—entah mengapa, pikirannya terloncat.
(Umurnya dua lima sudah. Ia belum menikah. Jangankah itu, pikiran untuk itu saja sangat tidak acap.)

Setelah itu ia senyum-senyum sendiri.

Malam, seorang perempuan baya yang dipeluk satu pemuda tanggung sudah menangis raya begitu turun dari sebuah mini bus. Mata perempuan itu bengkak. Di mata pemuda tanggung air mata tinggal bekas.

Kata si sopir, inilah tempat juju mereka. Dua anak-beranak itu tergesa bergerak masuk.

(Mereka datang dari tanah jawa. Dengan pesawat baru tiba petang tadi di bandara Blang Bintang. Lalu menumpang mini bus L-300 bertujuan Lhokseumawe. Tujuan tepatnya, Rumah Sakit Umum Lhokseumawe.)

Di sepanjang halaman pedagang eceran menjajakan rokok, kacang goreng dan aqua gelas. Lampu berkerlap-kerlip sehingga kelihatan benderang nyaris seluruh bangunan putih itu.

Perempuan itu masih saja menangis raya. Maka mereka dikerubungi orang ramai musabab begitu menarik minat.

Putra perempuan itu bercerita dengan suara tersendat-sendat. Dengan menyeka air mata yang mendadak saja berinai kembali.
: Ayah saya seorang tentara yang ditugaskan di Aceh. Tadi pagi, kami mendapat kabar duka, mobil yang ditumpangi ayah saya masuk ke jurang. Dan dari informasi yang dapat, kondisi ayah saya kritis. Kami pun memutuskan untuk segera ke sini!

(Rupanya dua anak-beranak itu adalah istri dan anak dari laki-laki yang dioperasi hari tadi.)

Seorang perawat menghampiri kumpul ramai itu. Sang pemuda tanggung mengulang cerita yang sama kepada perawat tersebut.
: Ayah saya seorang tentara yang ditugaskan di Aceh. Tadi pagi, kami mendapat kabar duka, mobil yang ditumpangi ayah saya masuk ke jurang. Dan dari informasi yang dapat, kondisi ayah saya kritis. Kami pun memutuskan untuk segera ke sini!

Sedangkan perempuan paruh baya makin erat memeluk tubuh putranya guna menopang tubuhnya yang tergungang-guncang.

Lalu keduanya mengikuti ke mana saja kaki perawat menjangkah. Orang-orang berkerumun tadi sudah pecah. Para pedagang enceran kembali berkeliling dengan teriakan khas mereka.

Di lorong-lorong rumah sakit, tetap saja perempuan baya itu mengundang minat. Sebab tak reda menangis raya. Para pasien yang sudah mulai sehat, tak tinggal mencelinguk kepala lewat muka pintu karena dibintik penasaran. Para pengunjung yang sehat bugar apalagi. Ragam komentar berdesis.

Sang perawat yang berada beberapa meter di depan mereka meletakkan telunjuk di tengah bibir.

(Entah apa maksud suster tersebut.).

Jadilah perempuan baya itu dengan pemuda tanggung menjadi sorotan tiap pasang mata. Mata-mata itu baru lepas ketika dua tubuh itu telah raib ditelan tikungan

Tiba di tempat tujuan,

( tempat itu adalah ruang di mana suami atau ayah mereka dirawat),

Si perempuan paruh baya tak tahan untuk tak menjerit melengking ketika telunjuk suster mengarah ke dalam ruangan.

(Satu lengkingan yang memerih hati.)

Kemudian irama tangis mendayu-dayu. Sang anak kian mendekap erat badan sang ibu. Air mata tumpah ruah dari mata keduanya. Suster membuka pintu ruangan. Terburu-buru perempuan baya menyongsong. Diikuti dengan sang anak.

Perempuan itu bersimpuh di sisi kanan ranjang besi. Ia memegang selang-selang cairan yang terhubung dengan pergelangan tangan suaminya. Lalu meremas-remas jemari yang sama sekali tak bergeming. Di raba jantung, berdegup dirasa, namun pelan sekali.

Sang anak bersimpuh di sisi kiri ranjang. Lekat menyimak rambut bergelombang-gelombang lebat sosok kaku di hadapan. Lantas tertarik menggesek dua codet di pipi kiri dan kanan muka ayahnya.

(Ia ingat sekali, dua codet itulah penanda termudah untuk menandakan ayahnya.)

Seraya air mata yang deras saja.

(Ia mengenang haru di waktu kebersamaan sang ayah dulunya.)

Suster yang mengantar mereka keluar dari ruangan sarat air mata itu.

Pagi di rumah, selepas sembahyang subuh, ia tercenung sendiri. Mendadak saja ia tereka ingatan mendiang mak dan ayahnya.

( Keduanya ditembak mati di depan mata. Ia bersumpah kuat untuk menuntut balas atas pembunuhan itu. Tapi sayang, ia mencari-cari, pembunuh itu seolah telah ditelan bumi.)

Namun ia tidak mungkin akan melupa potret sang pembunuh itu. Terus ia hafal dengan rambut bergelombang-gelombang lebat. Persis diingat codet kiri-kanan di pipi itu.***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Batam Pos 11/30/2008



Harusnya, sudah tiba waktunya untuk menambah sepuluh atau lima belas kursi lagi di warung mereka. Sayang para pembeli, kebanyakan terpaksa harus mengantri tempat duduk. Apalagi jelang siang yang memang ramai-ramaiya.

“Apa? Menambah kursi? Berapa uang lagi yang harus kita keluarkan?” Tukik Jeha setajam elang yang menggondol mangsa.

“Tapi dengan itu, kita juga akan mendapatkan uang lebih baik lagi,”

Sepasang suami-istri memang pernah bermufakat untuk membeli tambahan kursi.

”Kamu sudah gila ya, Bram? Mendapatkan uang?!” Bola mata Jeha akan loncat dari sarung mata.

”Yang ada uang kita malah keluar! Bukannya masuk! Dari mana sih terbesit ide sinting itu?”

Mulut Bram terkikik sembari bergumam kecerdasan sang istri. Sementara Jeha menghirup lega.

”Biar begini saja. Toh para pelanggan kita tidak keberatan,”
Pembicaraan itu tutup buku.

***

Hari itu sekitaran jam tiga seorang lelaki berdasi corak coklat mampir ke warung sepasang suami-istri itu. Jeha dan Bram yang tengah mencincang sayuran di belakang, tergesa ke depan.

Setelah meletakkan pesanan sang lelaki itu, Jeha kembali ke belakang menuntas pekerjaan. Sementara Bram mengobrol ala kadar dengan pria itu.

”Kerja di mana, Dik?” Braham mencoba basa-basi. Dari kulit muka, Bram tahu jikalau sosok di depannya itu jauh lebih muda dari dirinya.

”Di kantor pajak pak!” sahut lelaki itu yang sepertinya lahap sekali mengunyah dengan berlauk ikan bakar.

Air liur Bram berguncang-guncang. Sudah lama ia idam ikan bakar. Tapi istrinya selalu memelototkan mata api ke arahnya. Namun betul juga laku istrinya bila dipikir berat, jika ia turuti nafsu, pasti tak butuh waktu lama warung nasi mereka harus gulung tikar.

”Pasti banyak uang, ya?” sambung Bram di sela senyum simpul.

”Ah biasa saja lah, Pak. Paling cukup untuk sehari-hari saja,” jawab lelaki muda dengan mulut penuh.

Dua lelaki itu terlibat obrolan ala kadar sampai lelaki itu mencuci tangannya bersih.

Mata Bram melotot begitu melihat masih tersisa seper empat ikan di piring sang lelaki di depannya. Bila tidak dikuasai malu, tentu saja akan dilumat lekas ikan sisa itu.

Lelaki itu mengeluarkan suara kekeyangan halu-lalang. Tangan kanannya tampak sibuk meraba-raba saku celananya.

”Bapak merokok?”

Rupanya sang lelaki muda sedang mencari bungkusan rokok..

Bram menggeleng.

”Haha... Bagus Pak... Saya suka orang seperti Bapak. Orang yang sangat melindungi kesehatan... Saya sudah tahu sih kalau rokok itu merusak kesehatan. Tapi mau gimana lagi ya? Sudah kecanduan Pak!”

Ia mengakhiri omongan panjang dengan sebuah cekakakan.

Bram yang sedari tadi sibuk geleng-geleng kepala dengan mata sekilas-sekilas mengintip ke ikan bakar sisa bakar seper empat itu.

”Bukan gitu dik...Biar hemat, hihi....” Ujar Bram ganti cekikikan meski malu-malu.

Cekikikan lelaki itu muda padam laksana lilin yang diguyur angin.

”Berarti Bapak mau merokok dong!” tapi tak lama ketakjuban si lelaku muda sirna.

”Gimana ya? Habisnya, sudah lama tidak merokok,”

”Kalau sebungkus...” lelaki muda sengaja memotong omongannya sembari mengangkart bungkus rokok setinggi hidungnya. Di hadapannya seolah sedang duduk makhluk unik dari era purba kala.

”Ya,” Sela Bram. Jam-jam begini warung memang jatah sepi. Jadi bebas bagi lelaki itu untuk santai-santai sejenak. Istrinya pun tidk cerewet melihatnya mengobrol saja.

”Saya berikan untuk Bapak,” bertabuh-tabuh dada Bram mendengar itu.

”Bapak mau beli berapa?”

Padahal sang lelaki muda masih belum mengutuhkan kalimat.

”Ya... Saya kirain...” Bram tak dapat menyembunyikan kecewanya. Sedangkan si lelaki muda tergelak geli.

”Bercanda pak! Bapak mau kalau rokok ini saya berikan untuk Bapak?”” tiba-tiba raut lelaki muda berganti serius.

”Mau...” Tingkah Bram seperti seorang cilik yang diberikan permen kesenangan.

”Bapak mau merokok?” sepertinya lelaki muda menyangsikan jawaban Bram barusan. Namun anggukan berkali-kali kepala Bram, membuat sangsi itu hilang.

”E...E...” Namun Bram masih menyimpan ganjil di dalam hati. Terlebih ketika melihat lelaki muda berkemas beranjak.

”Kenapa pak?”

”E... Tapi adik tetp akan membayar uang nasi barusan, kan?' setelah mengucap kalimat itu, ruang dada Bram lega bukan kepalang.

Kali ini meledak tawa si lelaki muda hingga Jeha yang larut di belakang, terburu menolehkan pendang ke depan.

”Iyalah pak... Rokok ini tidak ada hubungannya dengan nasi. Ini hadiah saya buat Bapak! Gratis! Tis-tis! Meski tidak lagi terkakak-kakak, lelaki muda belum bisa menghilangkan kegeliannya.

”O.. Terima kasih kalau begitu. Adik baik sekali. Pasti Tuhan akan merahmati orang baik seperti adik ini,”

Rokok itu berpindah tangan. Bram tak lekang menimang-nimang bungkusan itu. Sejenak ia melupakan sama sekali tentang ikan bakar sisa.

Sepulangnya lelaki baik hati itu, Bram berlari girang ke dapur.

”Hari ini memang hari baikku sayang....” Seru Bram tak reda-reda.

”Kamu gila ya Bram? Menghambur uang untuk beli rokok kamu sebut hari baik? Jatah makan malam aku tahan sebagai gantinya!” kulit muka Jeha keras melihat apa yang ditampakkan Bram.

”Dengar dulu sayang. Aku tidak membeli rokok ini, tapi pria muda yang makan barusan, menghadiahkan rokok ini buatku,”

Wajah keras Jeha mengendur lamat-lamat. Bayang-bayang pundi yang tadi ia bayangkan masuk ke saku kedai sebelah, ternyata tidak kemana.

”Kamu mencari apa, Bram?” tanyanya lalu yang melihat Bram bak gasing putar dari pojokan satu ke pojokan lain.

”Korek. Kamu tahu korek di mana, sayang?” Begitu senangnya Bram sehingga selalu memanggil Jeha dengan sayang.

”Untuk apa?' seru Jeha tajam. Sebanarnya ia sudah tahu untuk apa suaminya itu menanyakan korek. Dan itu tidak boleh terjadi!

”Kamu betul-betul sudah gila Bram!” cepat Jeha bangun dan merebut bungkusan rokok itu dari tangan Bram.

”Kamu ingin membakar rokok ini, kan?'

Bram terpaksa menutup telinganya. Jerit istrinya persis kuntilanak yang melonglong ketika tengah mengamuk.

”Tidak ada yang salah kan, sayang? Toh, rokok dihadiahkan orang kepadaku,” namun Bram merasakan tidak ada yang salah pada dirinya.

”Tidak salah?”

Sungguh, mata Jeha jika dilihat anak-anak, niscaya akan membuat mereka tunggang-langgang.

”Terus setelah roko ini habis kamu bakar, kamu akan membakar apa lagi,hah?”

”Aku...Ee...Aku...”

Bram mulai paham ke mana arah bicara istrinya.

”Kamu mau bilang, 'O sayang, setelah rokok ini habis, ya sudah. Aku tak akan menghabiskan uang kita untuk membeli rokok,'. Begitu, kan?”

”Bukan begitu sayang...Aku...”

”Aku tidak percaya Bram! Rokok itu men-candukan!” Tangan Jeha meletakkan kembali rokok itu di dekat sayur yang belum habis dicincang.

Bram seolah tersadar bahwa baru saja ia nyaris melakukan kesalahan besar.

”Kerjaku jadi terbengkalai gara-gara rokok sialan!” maki Jeha entah untuk siapa.

”Mau kau apakah rokok itu?” Predeksi Jeha salah. Diam-diam tangan Bram sudah menjawil bungkusan itu.

”Tenang saja sayang. Aku tidak akan pernah membakar rokok ini. Lebih baik kukembalikan saja dari pada terkenang-kenang terus. Besok mungkin laki-laki itu akan ke sini lagi....”

Kalimat Bram belum usai.

”Braaamm...” Bila bisa pingsan, tentu saja Jeha akan memilih pingsan dari pada melihat ketololan suminya.

”Ya,” sedangkan Bram yang tidak tahu-menahu dengan musabab marah sang istri, menoeh bermekar stu senyum.

”Akan kugorok lehermu jika rokok itu sampai kau kembalikan. Kau betul-betul lelaki goblok Bram!

Jeha, perempuan itu dianugrahi kecepatan kilat. Dalam bilang menit, rokok itu sudah dimasukkan ke balik kutangnya.

”Biar saja kujual saja ke kedai sebelah nanti sore. Pasti mereka mau, haha...”

”Tak salah aku menikahimu dulu, haha...”

Sepasang suami istri itu cekikikan serempak. Tapi mendadak saja Bram teringat dengan ikan bakar sisa. Seketika air liur memenuhi rongga mulutnya.

”Betul-betul mujur hariku hari ini sayang... Tidak dapat rokok. Aku dapat ini...” Seru Bram yang sudah di depan iakn bakar itu. Dimakan cepat ikan sisa itu. Dan kembali menyongsong istrinya di belakang.

”Oh begitu ya kalau dapat makan enak?” muka Jeha nanar begitu kunyahan Bram begitu nikmat.

”kamu mau, sayang?”

Tidak menjawab, Jeha dengan tampang rakusnya merebut piring di tangan suaminya.

”Kapan kita bisa makan enak seperti ini ya, sayang?” padahal Bram baru mencicip sedikit ikan bakar itu.

”Nanti lah kalau kita sudah kaya.” jawab Jeha yang tenggelam dengan ikan bakar itu.

”Kapan kita kaya?”

”Makanya kita harus hemat Bram! Hemat!” ***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Republika 06/07/2008



Bunda, tidak ada perang lagi. Perang sudah usai. Ayah Nur sudah pulang, Bunda. Cut juga sudah bisa memeluk tubuh gagah ayahnya. Dek Nong bahkan berkeliling kampung sambil berteriak girang bahwa ayahnya sudah pulang.

Tapi, mengapa ayah Dinda belum pulang, Bunda? Ayah Dinda di mana, Bunda?
Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?

Bunda seolah tidak miliki jawaban lain untuk pertanyaan putrinya itu. Pertanyaan yang menyayat hati dan pikirannya. Seperti pisau yang membelah-belah dagingnya.

"Di mana ayah, Bunda?"
Dan, Bunda hanya bisa menjawab dengan lidah layu, "Ayah Dinda pergi mencari rezeki. Suatu hari pasti kembali." Perasaannya dia bujuk untuk tidak meledak di hadapan putrinya. Bibirnya dia paksa untuk tetap tersenyum.

Bunda menemukan cahaya mata putrinya tenggelam semacam sepotong petang yang karam di dasar laut. Mata itu dia tahu penuh rindu.

"Dinda ingin sekali dipeluk ayah, Bunda. Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?"

Danau mata Bunda telah hancur berkeping-keping. Hatinya pun telah menjadi ranting kayu paling kering. Dan, dia peluk putrinya dengan tangisan luka. Bunda dan anaknya saling berpelukan. Detik seperti berhenti bekerja. Keheningan menjadi begitu menyiksa.

Dinda hanya ingin satu: ayahnya pulang. Tidak perlu ayah setampan ayah Dek Nong. Tidak usah ayah yang miliki uang banyak. Untuk hatinya, ayahnya pulang sudah cukup. Dan, kebahagiaan itu, baginya, bagai tangan mungilnya yang baru saja memeluk dunia.

"Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?"

Bunda tidak pernah menjawab pertanyaan itu. Padahal tanya itu sering diulang-ulang putrinya. Dinda tak tahu apa yang yang tengah dipikirkan bundanya ketika dia tanyakan itu. Mungkin itu pertanyaan berat hingga Bunda sulit untuk menjawabnya.

Ketika ayah kawannya yang paling karib, Nur, pulang, dengan sejuta harap di dadanya, Dinda menarik lengan Nur. Mereka menjauh hingga ke bawah meunasah. Mereka menyepi seolah pembicaraan itu hanya untuk mereka berdua.

Dinda yakin sekali Nur tak akan menolak permintaannya. "Nur, boleh aku memeluk ayahmu?" tanya Dinda dengan gemetar.

Dan, Dinda takkan lupa mata Nur yang melotot ke arahnya. Mata yang, dia tahu sekali, hanya Nur berikan untuk si Agam -- anak paling bandel di kampung yang sering mengganggu main mereka.

Tapi, Nur adalah sahabat terbaik yang Dinda miliki. Dinda tak paham mengapa Nur bersikap begitu.
"Nggak boleh. Dinda nggak boleh peluk ayahku. Itu ayahku! Bukan ayah Dinda!" kata Nur.

"Sekali saja, Nur...," kata Dinda dengan mata bercahaya. Seolah sengaja dia penjarakan bebintang di dalamnya.
"Nggak boleh! Itu ayahku. Bukan ayah Dinda!"
Jalan di depan meunasah riuh oleh suara anak-anak sebaya mereka yang girang berlarian.

"Tapi, Dinda ini kawanmu, Nur...."

Nur kini menatap dengan bola mata yang menyimpan kemarahan.
"Nur benci Dinda.... Benci!"
Dan, Dinda tidak ingin mengejar Nur yang berlari menjauhinya. Hatinya telah menyempit. Lorong-lorong matanya telah sesak dengan air yang hendak keluar.

Dinda membawa jauh langkah kakinya dari bawah meunasah yang berpilar-pilar. Bau kuah pliek masih mengurung hidungnya. Dengan mata kabur dia pandangi baju-baju yang dijemur di pagar besi meunasah. Dia tatap langit luas. Siang tidak menyengat. Tapi, hatinya serasa tersengat.
"Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?"
Dinda tahu bundanya tidak akan menjawab. Diapun bertanya pada angin, bagai hendak menangkap ikan di udara. Dan, bahu Dinda berguncang-guncang.

Sang ayah pergi suatu hari. Meninggalkan tanah sendiri dan menuju kampung lain, tanah seberang yang dijarakkan samudera yag bergelombang-gelombang.

Baginya, mencari rezeki di kampung sendiri mempertaruhkan nyawa. Di tanah seberang, mencari rezeki tidak dihantui ketakutan. Ia akan kembali satu hari, ketika perang di negerinya telah selesai, dan bedil tidak lagi haus darah.
Tapi, itu hanya cerita yang dipintal Bunda untuk putrinya, Dinda. Cerita sebenarnya, hanya tersimpan di dalam kenangan pahitnya.

"Di mana ayah, Bunda?"
"Ayahmu mencari rejeki, Dinda. Ketika perang telah usai, ayahmu akan kembali." Lidah Bunda pincang berucap. "Ia akan kembali bersama kita, Sayang."

"Tapi tidak ada perang lagi, Bunda. Kenapa ayah belum pulang juga?"
Perang memang telah usai. Maka sang ibu pun mengubah jawaban itu. "Ayah akan pulang suatu hari nanti, Dinda."

"Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?"
Seluruh diri Bunda serasa lumpuh oleh pertanyaan itu. Dia hanya bisa diam. Bisa saja Bunda menjawab, "Hangat, Dinda. Dipeluk ayah itu hangat, Dinda." Tapi Bunda tidak siap dengan pertanyaan mematikan Dinda berikutnya. "Dinda ingin dipeluk ayah, Bunda." Karena, Bunda tak ingin hatinya lebur menjadi debu.

Dinda tak tahu mengapa, tiba-tiba saja matanya berkunang-kunang. Pohon pisang dimatanya seakan bisa berjalan. Pohon jambu berlari-lari seolah ingin menerkamnya dengan gaya harimau kelaparan. Dia lari terbirit-birit, lalu muntah-muntah sesampai di rumah.

Bunda menanyainya dengan perasaan khawatir. Dinda hanya bisa menggeleng dan mengangguk saja. Dia merasa rohnya tengah ditarik-tarik, lantas pingsan. Bunda membaringkannya di tempat tidur, menyelimutinya dengan air mata berderai-derai.
Hingga tengah malam tiba, Dinda belum sadar. Mulutnya mengigau, "Ayah... ayah....."
Bunda diserang gamang yang membadai. Dia tidak punya pilihan selain mencari kertas berisi alamat pria itu. Tapi, dia tidak menemukan kertas keramat itu di dalam almari pakaian lagi. Dia mengutuki kebodohan masa silam, sebab menolak lelaki baik hati itu. Akhirnya 'kertas sakti' itu pun ditemukannya di bawah tempat tidurnya.

Bunda berlutut di hadapan putrinya ketika akan pergi. Wajah Dinda tidak girang. Hanya pucat yang merona pada parasnya. Bunda terisak, dan menyeka air matanya sendiri.

Lalu Bunda kenakan pakaian terbaik yang dia miliki. Bibirnya dipoles merah menyala. Sebuah angkutan umum lantas membawanya ke suatu tempat, setelah menitipkan Dinda pada salah satu tetangga baiknya.

Tak lama Bunda pun pulang, dengan mengapit lengan seorang pria tampan. Sikapnya manja. Tapi cahaya matanya memancarkan kecemasan. Berkali-kali dia berbisik di telinga lelaki tampan tu. Mata tetangga pun menatapnya heran. Tapi, Bunda tak acuh saja. Yang ada di pikirannya, bagaimana kembali menemukan senyum di bibir Dinda esok hari.
"Dipeluk ayah hangat, Bunda..., hangat, Bunda."
Danau mata Bunda tenggelam, tapi kali ini sebab sejuta rasa bahagia.

Tahun-tahun timbul tenggelam. Dinda makin tahu bagaimana rasanya dipeluk ayah. Hangat. Tapi, pada suatu tengah malam hening, matanya tak bisa terpejam. Pembicaraan orang-orang kampung siang tadi telah merusak selera tidurnya. Maka Dinda ke sumur untuk mengambil air wudu. Lalu dia ucapkan doa untuk Tuhannya.
"Tuhan, bawa pulang ayah Dinda yang sebenarnya. Dinda mohon, Tuhan. Dinda ingin dipeluk ayah...."

Dari celah daun pintu kamarnya, Bunda hanya dapat menatap putrinya yang sedang berdoa sambil terisak, lalu dia menyeka air matanya sendiri dengan tangan gemetar. Luka masa lalu itu kembali menganga, memedihkan hatinya.***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Suara Pembaruan 16/09/2007



satu

(Dinda, Bunda Dinda )

**Ayah di mana,Bunda?"

"Ayah ada di mana-mana, Dinda."

"Di mana-mana, Bunda?"

"Maksud Bunda, Ayah tetap ada di hati Dinda, meski Ayah Dinda tidak sedang di sini."

"Tapi Dinda ingin dipeluk Ayah Bunda."

"Berdoa saja biar Ayah Dinda cepat pulang."

"Berdoa Bunda?"

"Iya. Berdoa kepada Tuhan agar Ayah Dinda cepat bisa cepat pulang."

"Memang Ayah Dinda ke mana, Bunda?"

"Ayah Dinda sedang ke luar daerah."

"Untuk apa, Bunda?"

"Mencari uang yang banyak buat Dinda."

"Mencari uang kenapa harus di luar daerah Bunda?"

"Karena di tempat kita, masih perang Dinda."

"Kalau perang Ayah tidak bisa mencari uang ya, Bunda?"

"Iya. Ayah Dinda takut tertembak kalau harus mencari uang di sini, Dinda."

"Dinda dan Bunda nggak takut tertembak Bunda?"

"Kita kan tidak keluar rumah untuk mencari uang, Dinda."

"Ayah Dinda kapan pulang, Bunda?"

"Bunda... Bunda melamun ya?"

"Eh..Eh...."

"Bunda teringat Ayah, ya?"

"Bunda rindu dengan Ayah, Bunda?"

"Bunda...."

"Iya Dinda, Bunda rindu dengan Ayah."

"Apa yang Dinda tanyakan tadi?"

"Hhm... Ayah Dinda kapan pulang, Bunda?"

"Nanti. Kalau sudah waktunya."

"Bunda kok nangis?"

"Nggak apa-apa Dinda sayang. Mata Bunda perih saja."

"Bukan karena teringat Ayah, Bunda?"

"Bukan Dinda. Mata Bunda cuma perih saja. Ini Bunda tidak lagi menangis, kan?"

"Bunda."

"Iya Dinda sayang."

"Kita susul Ayah ke luar daerah, Bunda yok!"

"Tidak bisa Dinda. Kita tidak tahu alamat Ayah."

"Kita bisa tanya pada orang-orang, Bunda."

"Mereka tidak tahu Dinda."

"Tapi Dinda rindu sekali dengan Ayah, Bunda... Dinda ingin dipeluk Ayah, Bunda..."

"Bunda juga rindu Dinda... Dinda jangan nangis ya... Kan masih ada Bunda yang bisa memeluk Dinda."

*

Dua

(Dinda)

Bunda, Ayah di mana Bunda? Di mana Ayah, Bunda? Ayah, Dinda rindu sekali dengan Ayah. Rindu sekali Ayah. Ayah di mana? Dinda ingin sekali dipeluk oleh Ayah.

Bunda, Dinda merasa ada banyak hal yang Bunda sembunyikan dari Dinda. Ada apa sebenarnya, Bunda? Ke mana sebenarnya Ayah Dinda, Bunda?

Bunda, Dinda sering sekali melihat Bunda menangis sewaktu Dinda menanyakan tentang Ayah. Meski Bunda beralasan ini-itu, tapi Dinda tahu, Bunda menangis karena Ayah.

Apa maksud tangisan Bunda? Apakah tangisan itu sama artinya dengan tangisan Dinda, Bunda? Tangisan itu untuk melepas kerinduan yang terlalu besar, Bunda? Karena lama sekali tidak berjumpa dengan Ayah.

Begitukah maksud dari setiap tangisan Bunda? Begitu kah, Bunda? Jika begitu Bunda, syukurlah...

Bunda, Ayah Dinda di mana? Ayah Dinda, di mana Ayah sekarang? Kapan pulang? Jangan takut perang Ayah. Dinda saja tidak takut. Selama kita tidak salah Ayah, kita tidak akan apa-apa...

Ayah, Dinda rindu. Rindu sekali...

*

Tiga

(Bunda Dinda )

Dinda sayang, maafkan Bunda bila harus menyembunyikan hal ini terus menerus dari Dinda. Bunda tidak tega melihat anak Bunda terguncang hebat bila mengetahui kenyataan yang sebenarnya kelak.

Bunda tidak ingin melihat Dinda menangis. Melihat Dinda bersedih. Bunda sayang sekali dengan Dinda. Bunda ingin melihat Dinda bahagia. Cukup Bunda saja yang tahu. Dinda masih terlalu dini untuk merasa segala penderitaan.

Dinda, tujuh tahun yang lalu, waktu itu Dinda sama sekali belum mengerti apa artinya seorang Ayah. Ayah Dinda meminta izin dengan Bunda untuk pergi ke luar daerah.

Setelah itu tahun-tahun berlalu Bunda habiskan dengan penantian. Tapi penantian itu belum berujung dengan perjumpaan. Namun Bunda memaklumi, sebab perang di tanah kita belum reda sedikit pun, pasti Ayah Dinda belum berani untuk kembali bersama kita.

Maka Bunda terus menanti dengan segala harapan bahwa Ayah Dinda akan kembali.

Hingga suatu sore itu Dinda, Bunda ingat sekali, sore itu langit mendung-mendung hitam, Bunda kedatangan seorang tamu. Tentu saja Bunda kenal kenal baik tamu itu. Ia Ibrahim. Kawan karib Ayah dinda yang bertahun-tahun juga tak pulang ke kampung halaman.

Tapi Dinda, Ibrahim membawa kabar yang sama sekali tidak Bunda inginkan dengar sebenarnya. Tetapi Bunda tidak dapat mengelak dinda. Kata Ibrahim, Ayah Dinda telah tiada.

Setelah itu Bunda tidak selera sama sekali untuk makan-minum. Sementara kamu Dinda, kamu masih terlalu kecil waktu itu. Dinda belum mengerti apa-apa.

Ibrahim memang ingin membantu Bunda melawan derita hidup selanjutnya. Ia mengajak Bunda untuk menjadi istrinya. Tapi biar dipaksa, Bunda enggan. Bunda tidak bisa melupakan Ayah Dinda dalam tempo cepat

Maafkan Bunda Dinda atas segala kebohongan ini. Tapi Bunda janji, bila Dinda sudah lebih besar nanti, kelak Bunda akan berterus terang perihal Ayah Dinda.

*

Empat

(Dinda, Bunda Dinda , Inayah)

"Dinda kenalkan, ini Om Inayah,"

"Siapa dia, Bunda?"

"Salam dulu, nanti Bunda jelaskan."

"Dinda, Om."

"Panggil Om Inayah ya, sayang."

"Siapa Om itu, Bunda?

"Sebentar Mas, ya?"

"Siapa Om itu, Bunda?"

"Dinda, kamu harus mengerti Bunda, ya, sayang."

"Iya Bunda, tapi bilang dulu ke Dinda, siapa Om itu?"

"Dia calon Ayah Dinda yang baru."

"Apa Bunda?! Calon Ayah Dinda yang baru?"

"Iya sayang."

"Nggak mau Bunda! Bunda mau Ayah Dinda!"

"Dinda, Ayah Dinda belum bisa pulang bersama kita."

"Sampai kapan Bunda?"

"Bunda juga tidak tahu sayang, makanya sekarang, Bunda cariin Dinda Ayah baru."

"Tapi Bunda ingin Ayah Dinda, Bunda..."

"Kalau Ayah Dinda pulang nanti, kita akan kembali dengan Ayah Dinda, sayang."

"Benar Bunda?"

"Benar sayang."

*

Lima

(Dinda)

Bunda, Om Inayah yang Dinda panggil Ayah sekarang, sangat baik Bunda. Ayah Inayah penyayang sekali dengan Dinda. Dinda suka diceritakan cerita pelanduk yang pintar. Dinda juga setiap pagi diberi uang jajan. Kadang Ayah Inayah malah menjemput Dinda di sekolah Dinda, Bunda.

Tapi Bunda, maafkan Dinda, karena Dinda masih merindukan Ayah Dinda yang sebenarnya. Akhir-akhir ini, Dinda sering sekali bermimpi dengan Ayah. Tapi Bunda, Ayah kenapa kelihatan murung di dalam mimpi Dinda ya, Bunda? Apa Ayah marah karena Dinda sudah punya Ayah Inayah sekarang, ya?

Bunda, Ayah Inayah belum bisa membuat Dinda melupakan Ayah Dinda, Bunda. Dinda masih merindukan Ayah Dinda. Di mana Ayah Dinda, Bunda? Kapan Ayah pulang agar kita bisa kembali bersama-sama?

Ayah, di mana? Tahukah Ayah kalau Dinda rindu sekali?

*

Enam

(Dinda, Bunda Dinda, Ayah Inayah, dan Ayah Dinda)

"Timaahh...Timaahh...."

"Dindaaa....Dindaaaa..."

"Siapa di luar, Bundaa...?"

"Bunda nggak tahu sayang... coba Dinda tengok ya..."

"Timaahh... Dinda...."

"Saya Ayah kamu, nak..."

"Ayah Dinda?"

"Iya, sayang,"

"Ayah Dinda yang sebenarnya?"

"Iya Dinda sayang,"

"Ayaahhhh.... Ayah Bundaaa..."

"Siapa Dinda? Ayah yang manaaa...?"

"Ayah Dinda, Bundaaa..."

"Apa kabar anak Ayah?"

"Ayah ke mana aja? Dinda rindu sekali dengan Ayah."

"Ayah juga rindu dengan Dinda. Bunda di mana, sayang?"

"Bunda cepat keluaarr..."

"Bang Tafa."

"Betul kan ini Bang Tafa?"

"Iya Timah, abang kembali. Maaf lama tak pulang-pulang."

"Bukankah abang sudah...?"

"Sudah apa Timah?"

"Bunda dan Ayah bisikin apa sih? Dinda kok nggak diajak bisik?"

"Yang benar?! Buktinya abang masih hidup."

"Ibrahim kawan abang yang bilang."

"Ah, si Brahim, membual saja kerjanya. Berjumpa saja aku tak pernah dengan dia."

"Bunda, Ayah Inayah suruh cepat keluar dari kamar mandi biar bisa melihat Ayah Dinda,"

"Ayah Inayah?"

"Iya Ayah. Kata Bunda, sambil menunggu Ayah pulang, Dinda dicariin Ayah baru dulu oleh Bunda. Tapi kalau Ayah sudah pulang, Ayah Inayah akan pergi kok! Betulkah begitu, Bunda?"

"Timah! Tolong jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?

"Aku menikah lagi dengan Inayah beberapa bulan yang lalu."

"Tega sekali kamu Timah kepada abang."

"Aku pikir surat itu benar bang."

"Mengapa tak menunggu abang sebentar lagi?"

"Abang sendiri mengapa tak pulang-pulang? Abang ingin beralasan sebab perang belum reda? Lantas, bagaimana dengan Dinda dan aku?"

"Abang...e..e...Abang..."

"Ayah dan Bunda lucu. Jumpa pertama langsung berantem. Orang dewasa lucu-lucu, ya?"

"Siapa lelaki ini, Dek Timah?"

"D-Di-dia..Dia...Mas..."

"Aku yang pantas bertanya hai laki-laki brengsek, siapa kamu hingga berani memasuki rumahku?"

"Dek Timah! Tolong jelaskan siapa lelaki ini?"

"Dia mantan suamiku, mas."

"Timah! Abang belum pernah menceraikanmu!"

"Tapi aku sudah menganggap kamu tidak ada lagi bang!"

"Bunda, Ayah, Ayah Inayah, sedang ngomong apaan sih? Dinda kok nggak ngerti?"

"Gara-gara kamu lelaki brengsek! Tega sekali kamu merebut istri orang, ya?!"

"Dek Timah memperkenalkan diri sebagai janda bung!"

"Apakah aku salah bang?!"

"Ayah...Ayah mau ke mana?"

"Ayah harus pergi lagi sayang."

"Ayah...Ayah jangan pergiii...Dinda masih rindu dengan Ayah..."

"Ayaahh....."

"Aku ceraikan kamu, Timah!"

"Mas?"

"Aku tak mau dibilang lelaki perebut istri orang."

"Tapi mas?"

"Bunda, Ayah Bundaa....Ayaaahhh...."

*

Tujuh

(Dinda, Bunda Dinda )

"Ayah Dinda ke mana, Bunda?"

"Sudah pergi Dinda, sayang."

"Kapan pulang?"

"Bunda tidak tahu, sayang."

"Ayah kok pergi lagi ya, Bunda?"

"Bunda tidak tahu."

"Ayah Inayah ke mana, Bunda?"

"Sudah pergi Dinda, sayang."

"Kapan pulangnya, Bunda?"

"Bunda tidak tahu Dinda."

Ayah, Dinda rindu sekali.*
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Batam Pos 22/07/2007



Chik1 pernah membisikkan ke daun telingaku untuk senantiasa mendoakan ibu serenta berbahagia di alam baka. Maka kulakukan itu di antar hujung sembahyang. Dari zuhur sampai subuh dengan sungguh-sungguh.

Sempat kubisikkan di kuping Tengku Nasir selaku imam sembahyang di meunasah untuk turut berdoa. Kutangkap angguk baur senyum pelan yang kuyakin simbol mengabulkan pinta.
Tapi, aku rindu dengan ibu. Bagaimana ini?

Rindu yang mencenungkan aku di muka jendela dengan air mata berai bersama kain baju. Chik membujuk, namun alai-belai sama sekali tak mempan. Aku idam macam si Gam yang bisa menyeruk di ketiak ibunya bila kedinginan.

Sungguh membahagiakan.
Sampai suatu hari, Chik yang menilik tangis belum surut, pulang dengan satu plastik buku gambar, beserta satu kotak klir2 dan beberapa pensil.

“Gambar ibumu, bila kamu rindu. Gambar itu akan membuat rindumu reda,”
Chik berkata seperti itu. Aku menggelepar kepala.
“Chik Bohong! Aku tidak percaya kata Chik.”
Aku berteriak ketika itu. Makin melinang-linang dalam wajah tirusku.
“Chik tidak pernah bohong, kan?”

Aku tahu Chik belum berbohong sekalipun. Chik orang paling jujur yang pernah kutemui. Kuterima surung tangan Chik meski masih dengan buncah bingung.

Lantas aku larung dengan buku gambar, pensil dan klir. Satu buku gambar ku orat-oret sekenanya. Kubayangkan gambar ibu. Namun dua tahun tak berjumpa, membuat otakku buyar akan rupa itu.
Hidung ibu malah tidak mancung seperti ingatanku. Aku tidak menggambar bibir sebab lupa sama sekali bagaimana bentuk bibir ibu. Bagian telinga juga kutanggalkan begitu saja.

Rentang menit, aku kembali dihadapan Chik yang larung dalam serot rokok daun. Sesekali terbatuk yang membuat dada Chik berayun-ayun kuat.

“Aku tidak bisa menggambar!”
Entah mengapa, kurasa suaraku begitu ketus. Barangkali rindu itu telah menukar aku menjadi bocah yang ketus. Chik beringsut dari kursi rotan. Aku mengekor di belakang. Kami menjangkah di mana aku menggambar tadi.

“Ini saja kamu tidak bisa nyak3, hehe…” Sambil mula orat-oret di buku gambarku, Chik terkekeh-kekeh.
Tidak lama, di buku gambarku sudah cagun gambar ibu. Seketika seratus persen memoriku pulang. Gambar Chik persis sekali dengan aslinya. Chik berseringai puas. Ku ambil alih buku gambar.
Kugambar kepala. Chik berkata bagus dan bagus. Kuselip dengan ringis pelan.
“Lon4 rindu bu… Lon rindu bu…”

Setiap garit yang kutarik, kudengar kalimat itu menggema-gema di jauh hati.
Hitungan menit, satu gambar ibu selesai. Bersideku kuperhatikan lama gambar itu sambil memiringkan wajah. Aku tidak puas dengan alis ibu.
Kuhapus. Street! Kutarik garis lain dengan hati-hati. Jauh lebih bagus sekarang. Chik tersenyum puas. Aku? Rinduku malah memuyuh.

“Aku masih rindu dengan ibu Chik,”
“Gambar-gambar banyak sampai rindumu hilang nyak,”
Benarkah itu? Tapi sama sekali tidak ada protes. Kujamah halaman lain. Kugambar ibu lagi. Chik berlalu dengan satu batuk berat.

Hari itu, aku menghabiskan dua buku gambar.
Di selip jam pelajaran sekolah, aku terus menggambar ibu. Aku paling senang bila jam pelajaran menggambar tiba, artinya, aku tidak usah curi-curi pandang dari Ibu Nurul. Aku bisa gambar berani.
Ketika kusodorkan hasil gambar ibu kepada Ibu Nurul, aku diponten sembilan. Aku mesem-mesem.

Ketika mengaji pun, kumasukkan satu buku gambar dalam kantung celana. Aku akan menggambar dalam sela mengaji. Ketika Tengku Suman lalai menyimak hafalan teman-teman.
Aku juga sudah genap yakin, kalau Chik tidak berbohong dalam perkataan tempo hari. Setiap tarikan untuk menggambar ibu, aku merasa rinduku diredam-redam.

Selanjutnya, Chik makin banyak membeli buku gambar. Soal reta, aku memang tidak pernah kurang dengan Chik. Sawah Chik banyak dikelola orang. Dan Chik setiap panen akan mendapat bagian hasil saja.
“Chik, boleh aku menempel gambar-gambar ibu ini?”

Tanyaku ketika buku gambarku sudah habis lebih dari sepuluh untuk menggambar ibu saja. Aku tidak menggambar lain selain ibu. Kalau aku kebelet dengan gambar Batman seperti yang kutatap di tipi keude Bang Lah setiap sore selasa, aku akan menggambar di buku gambar khusus.
“Dimana?”

Gancang bola mataku bergerak ke dinding-dinding kamar kami.
“Di dinding kamar kita,”

Chik menganguk kepala. Kubalas dengan senyum. Hari itu aku dibantu dengan Chik sibuk menempel gambar-gambar ibu hingga dinding- dinding tak mampu mencangkum semua.
“Bagaimana kalau kita tempel di dinding luar juga?” Padahal aku sudah retas asa sebab banyak gambarku tak muat tempel di dinding kamar.
Ajakan itu yang kunanti.

Chik naik ke atas kursi agar sampai menempel di dinding tinggi. Sedangkan aku memegang badan kursi supaya tidak eleng. Jadilah hari itu, dinding-dinding kami sesak dengan gambar-gambar ibu.
Di hari berikut-berikut, aku masih menggambar ibu. Chik tak pernah keberatan dengan rengekan tiap pagi untuk tak lupa membeli buku gambar acap ke peukan5. Aku ingat, semenjak menggambar ibu, tak pernah lagi aku menangis.

Hingga di suatu malam, aku lelap sekali padahal, ketika kurasakan sebuah tangan dingin menggoyang-goyang sekujur tubuhku. Aku tak berhasrat sama sekali membuka mata. Pikirku juga Chik yang membangunkan untuk sembahyang subuh.

Tapi goyang-goyang itu terlalu menggangu tidur. Remang-remang kutilik apa Chik yang sedang menggoyang-goyang itu, tapi Chik, malah tergoleh jauh dari badan tidurku.
Jadi siapa yang menggoyang-goyang tadi?

Lekas mata kupaksa celangak. Jantungku berdengap-dengap lantang. Seorang perempuan meletakkan telunjuk di depan bibir untuk tanda agar aku tak bersuara.
Ibu? Betulkan ibu?

Perempuan itu ibu. Kusimak baik-baik perempuan di hadapan mata. Lalu bertukar dengan hasil gambar bertempel di dinding kamar. Persis sama rupa.
“Ini ibu, nyak,” desis ibu pelan dengan menggaet tanganku. Tak tersadari aku sudah dibawa terbang oleh ibu.

“Ibu sudah punya sayap sekarang?” belum hilang rasa percayaku tentang muncul ibu, ditambah dengan ibu bersayap. Setahuku, manusia tidak bersayap. Apakah ibuku sudah jelma dengan malaikat?
“Tuhan kasih ibu sayap sekarang,” ucap ibu dengan ketinggian terbang melaju tinggi. Aku memegang erat-erat di bahu ibu agar tak terjengkang ke bawah.

“Ibu bawa nyak ke bintang, mau?”
Tidak usah banyak kali diajak, idam lama aku untuk mendangkap bintang. Aku melupa sekilas dengan sayap punya ibu.

“Ibu, nanti aku ambil bintang satu, boleh?”
“Tidak boleh sayang, bintang itu tempatnya di langit,”
Dijawab itu, aku memilih diam.

“Ibu…Ibu…Ibu kan sudah meninggal. Kok bisa hidup lagi?” itu harusnya pertanyaan awal yang kuajukan.
“Ibu rindu dengan kamu, nyak,” nada ibu sayu. “Kamu rindu dengan ibu juga, kan?”
Aku ingin menjawab ya. Iya ibuuu….Namun ada yang menggoyang-goyang tubuhku keras-keras. Kurasakan pegangan tangan di punggung ibu melemah. Aku terjengkang ke dasar bumi. Aku memanggil-manggil ibu tapi ibu sama sekali tidak sadar kalau aku terlempar dari punggunggnya.
“Nyak…Subuh…”

“Kamu bermimpi jumpa dengan ibu?”
Ah, ternyata mimpi. Chik di hadapanku membengkar senyum. Kurasakan rindu dengan ibu mendayu-dayu. Pasti akibat mimpi barusan. Aku harus menggambar ibu untuk meredam rindu. Sekarang juga!

Kamar hijau, 31 maret 2007
Banda Aceh, 17.49

1. kakek, panggilan kakek.
2. pensil pewarna
3. panggilan saying.
4. aku.
5. pasar.
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Republika 06/05/2007



Saya melihat Mak mencampur tuba tikus dengan kopi Ayah. Saya bukan diam saja melihat laku ganjil itu. Saya tampar kopi yang bercampur tuba itu hingga pecahan gelas kaca terserpih ke lantai.

Mak menjambak rambut saya, hingga serasa rontok dari kulit kepala. Tiada siapa-siapa di rumah. Sentara Ayah baru pulang ketika dari meunasah sudah terdengar suara sayup anak-anak mengaji. Saya diseret. Pergelangan tangan saya memerah, sebab ditarik kuat-kuat. Saya meraung. Bukan sebab sakit, tapi takut Mak mencampurkan kembali tuba ke dalam kopi Ayah.

Saya tidak bisa berbuat apa-apa ketika disekap di dalam gudang. Tubuh saya dililit dengan kain jemuran. Kedua tangan saya dipelintir ke belakang. Mulut saya disumpal kain. Pintu gudang digembok. Saya mendengar suara Ayah. Di meunasah suara anak-anak mengaji terdengar syahdu. Ayah menanyakan saya. Jawab Mak, saya sedang mengaji malam. Ayah menanyakan kopi.

Sungguh, saya tidak tahu kenapa Mak ingin membunuh Ayah. Setahu saya, mereka akur-akur saja. Bagaimana kopinya, Yah? Mak bertanya dengan nada tak biasa. Saya berteriak-teriak. Tapi cuma buang-buang tenaga. Mulut yang dibungkam, tidak bisa mengeluarkan suara. Maka, meleleh air mata saya sejadinya.

Ayah menjawab, rasa kopi nikmat. Beda dengan biasa. Suara Mak terkikik nyaris seperti kuntilanak yang acap saya tonton di televisi. Kemudian tak lagi terdengar suara Ayah. Esok paginya saya turut mengantar Ayah ke liang jahat. Mata saya bengkak. Mak mengancam akan membunuh saya jika membeberkan rahasia besar itu kepada siapa pun. Saya tidak punya opsi selain mengancing bibir rapat-rapat. Apalagi tiada yang menaruh curiga atas kematian ayah yang mendadak itu.

Seminggu baru saya ketahui apa alasan Mak menghabisi nyawa ayah dengan tuba tikus. Mak menggandeng seorang pria berbadan tegap dengan brewok lebat ke rumah. Lelaki itu memperkenalkan namanya, Indonesia. Ia menyorongkan tangan kekarnya ke arah saya. Ingin saya tampik sorongan itu. Namun, bulatan mata Mak membuat saya harus menerima salamnya.

Mak masuk ke kamar dengan tak lupa mengucap permisi kepada lelaki itu. Saya ingin masuk ke kamar, tapi ada tangan kekar yang menjamah lengan saya. Saya berontak. Tapi, lelaki itu malah mendekap saya. Saya mengancam akan berteriak. Baru saya bisa lepas dan lekas berlari ke kamar dan mengunci pintu. Selang tak lama, saya mendengar cekikikan-cekikikan dari kamar Mak.

Lalu betul saja, lelaki itu menjadi Ayah saya melalui kenduri kecil-kecilan. Setelah itu, lelaki itu sudah serumah dengan saya. Dan, setiap Mak tak di rumah, ia selalu berusaha mendekap saya. Untungnya, Mak jarang sekali tak di rumah. Bila pun pergi, jarang sekali lelaki itu tak diajak serta. Namun, satu senja, kegadisan saya nyaris terenggut oleh lelaki itu. Mak sedang keluar rumah. Sedangkan lelaki itu beralasan sakit perut untuk tak turut serta. Untungnya Mak pulang cepat dari yang seharusnya.

Tentu saja saya tak berani bercerita pada Mak atas ulah kurang ajar lelaki itu. Selain takut ancaman lelaki itu yang akan menebas leher saya dengan belati, saya juga yakin manalah Mak percaya pada tutur kata saya. Bisa saja, malah Mak menuding saya sebagai penggoda. Maka saya memilih bersikap ekstra hati-hati. Setiap Mak keluar rumah tanpa lelaki itu, saya memilih untuk ke luar rumah saja. Namun, ada saja alasan yang dibuat ayah tiri saya itu untuk mencegah kepergian saya.

Saya pun tak bisa menolak. Mak memelototi saya. Dan, biarpun saya sudah menggembok pintu kamar dari dalam, lelaki itu tak kehabisan akal. Ia mencongkel pintu kamar saya, lalu berdiri mematung di ambang pintu sambil terkekeh. Perlawanan saya tidak berguna. Setelah Mak pulang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Lelaki itu mengurung diri di kamar. Mak pun tidak bertanya, mengapa mata saya bengkak.

Belakangan semakin sering lelaki itu menjamah tubuh saya. Bahkan lelaki itu akan menjambak rambut saya bila saya melakukan perlawanan terhadap hasratnya. Saya terkulai tak daya. Hanya menangis yang bisa saya lakukan. Suatu hari Mak menangkap ayah tiri saya yang sedang menjamah tubuh saya. Tapi, lelaki itu lihai lidah. Ia mengatakan, sayalah yang memancing persetubuhan itu. Walhasil, Mak menyepak-nyepak tubuh saya hingga remuk tulang-tulangnya. Lalu saya dipukul dengan pelepah rumbia. Saya lantas dikurung lagi di gudang dua hari tanpa makan-minum.

Sudah empat belas hari saya merasakan ada janin yang hidup di rahim saya, janin dari lelaki bernama Indonesia, ayah tiri saya. Begitu tahu, Mak bertubi-tubi melayangkan tinjunya ke perut saya. Kemudian terdengar piring-piring pecah. Suara Mak meledak-ledak. Sedangkan ayah tiri saya menuding bahwa sayalah penyebab semua itu. Maka, sayapun mendapat hadiah tempelengan berkali-kali dari telapak tangan Mak.

Mak lalu mendorong tubuh saya hingga terjerambab ke tanah liat halaman rumah. Air mata saya sama sekali tidak berguna. Mak juga mendorong badan suaminya, ayah tiri saya, hingga terjerambab di samping saya. Marah telah membuat Mak memiliki kekuatan besar sehingga kuasa mengusir ayah tiri saya tanpa perlawanan. Mak membanting pintu keras-keras. Saya menatap mata ayah tiri saya. Ia menarik saya. Ia mengajak saya turut dengannya. Saya tak punya lain pilihan selain ikut saja.

Bulan-bulan kemudian, saya tinggal segubuk dengan ayah tiri saya itu. Lelaki itu bekerja serampangan sehingga kami hanya bisa tinggal dalam gubuk rumbia. Ia telah menjadi suami saya. Maka, saya kini memanggilnya Abang Indonesia. Perut saya makin besar, namun suami saya itu tidak memperlakukan saya dengan semestinya. Perut saya menjadi sasaran tinju bila ia naik pitam. Uang dalam pundi-pundi yang saya kumpulkan dengan menjadi tukang cuci dari rumah ke rumah dirampasnya. Padahal itu saya kumpulkan untuk biaya bersalin kelak.

Belakangan ia membawa banyak teman pria ke gubuk kami. Saya menjerit ketika salah satu pria ingin menjamah tubuh saya. Tapi, anehnya, suami saya malah terbahak. Ketika pria itu puas, saya melihat suami saya diberinya segepok uang. Berulang kali itu terjadi, dan saya tidak berdaya untuk melawannya.

Lama-lama saya melihat, Abang Indonesia makin banyak uang. Dan saya, istri yang diobjekkannya, sama sekali tidak mendapat bagian. Suatu hari saya minggat dengan membawa sebungkus pakaian. Beruntung, seorang nenek menawarkan saya untuk tinggal di rumahnya setelah saya berjalan jauh. Akhirnya saya bisa menghirup udara lega.

Tiga hari setelah itu, kelegaan saya bertukar dengan ketakutan. Orang sekampung mengepung rumah baru saya. Mereka berteriak-teriak bahwa saya adalah perempuan lacur. Dan, saya tercengang begitu menemukan sosok Abang Indonesia berada di antara orang-orang kampung itu.

Saya diarak keliling kampung, diiringi cacian-cacian pedas. Dan, tiba-tiba, Abang Indonesia, bertindak sebagai pahlawan bagi saya. Ia membebaskan saya dari arak-arak itu. Ia membawa saya pulang. Tapi, sesampai di rumah, sekujur tubuh saya malah remuk-redam dihantami tangan kekarnya. Lalu, sosok-sosok laki-laki asing satu demi satu kembali datang menjamah tubuh saya, dan lagi-lagi suami saya mendapatkan bergepok-gepok uang dari mereka.

Saya tertekan dan terus mencari celah untuk kabur lagi, ke mana saja. Tapi, Abang Indonesia terus menjaga saya dengan ketatnya. Tampaknya ia tidak ingin kehilangan saya lagi, istrinya, sekaligus mesin uangnya. Saya hanya bisa berharap, kelak ia benar-benar akan mencintai saya sebagai istrinya, bukan sekadar sebagai mesin uangnya.***
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Kompas 08/10/2006




Mereka berteriak girang, sementara Safrida hanya melongok kepala sekilas dari jendela kamar rumoh inong. Di keudee Tengku Banta Manyang ramai sekali yang tengah menonton televisi. Bangku kayu yang berjejer di luar warung sesak dengan orang kampung.

Gaduh. Mulut-mulut beranti-anti berkomentar. Hati Safrida masih perih. Padahal sudah banyak ia membunuh serdadu pemerintahan. Ia dipuji panglima sebagai wanita perkasa. Wanita yang mewarisi semangat baja Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Laksamana Malahayati—wanita yang tidak mau dijajah.

Dendam itu belum tergerus. Waktu yang bergulir tak kuasa meredam rupanya. Wanita itu sudah mencoba untuk melupa, tapi tidak bisa! Ingatan itu begitu kuat melekat di otaknya.

Bocah kecil ribut di pekarangan rumoh. Buah delima sedang lebat-lebatnya. Bocah bergelantungan demi mencapai buah masak yang ada di ujung.

Kaki Safrida terseret ke rumoh-dapu. Masyiknya entah ke mana sudah perginya. Kanot air di tungku api. Safrida turun ke sumur, lalu mengambil baju kotor punya-nya dan masyik. Dimasukkan ke ember hitam besar dan dipikul di atas kepala. Safrida ke meunasah. Bocah-bocah menyapa riang Safrida yang berpapasan lewat.

"Ka damai geutanyoe, Da," tegur istri Tengku Banta kepada melihatnya lewat. Safrida tersenyum dipaksa sambil mata melihat ke arah televisi. Semua berita televisi berkenaan dengan perjanjian damai yang dilakukan antara pemerintah RI dengan kelompok bersenjata Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki.

Hatinya perih. Bagi orang lain berita damai itu menggembirakan, tapi baginya tidak. Damai itu tak berarti apa-apa untuk Safrida.

Dengan langkah lamban Safrida ke meunasah. Lumayan jauh jarak rumohnya dengan meunasah.

Suara ngaji terdengar sayup-sayup dari meunasah. Suara mengaji si Suman merdu sekali. Subuh akan menjelang. Safrida sudah terbangun sedari tadi.

Dan sayangnya, Safrida sama sekali tidak tahu bahwa sebenarnya hari itu adalah hari kelabu untuk dirinya. Kisah pahitnya bermula dari hari itu.

Pukul tujuh pagi. Ayam jantan masih ada yang berkokok satu-satu. Desiran angin menggigil. Langit kurang bersahabat. Safrida sudah siap-siap akan pergi ke sekolah dengan garinya.

"Mau ke mana, Da?" tanya itu berasal dari lelaki yang berseberangan di jalan dengan Safrida.

Safrida seperti kenal betul dengan yang empunya suara itu. Dan tabuh di dadanya tak tinggal diam. Selalu lain bila ia mendengar suara itu. Bahkan semenjak dahulu.

"Mau ke meunasah," Safrida cepat berlalu. Manan masih saja tampan. Masih seperti dulu. Tapi sayang, lelaki itu sudah beristri.

Padahal dulu, Manan pernah minta dirinya kepada Bapak. Dan kata Bapak, tunggu ia tamat SMA dulu. Tapi waktu itu, tak pernah berkunjung.

Safrida sebentar lagi sampai ke meunasah.

Tiba-tiba saja pagi itu kembali bergejolak. Tembakan membabi buta. Safrida yang sudah turun, lekas merunduk di lantai seulasa. Bapak yang baru saja selesai mandi ikut merunduk di sampingnya. Mak dan Masyik entah di sumur, entah pula di rumoh dapu?

Sesekali dikejutkan dengan gelegar suara bom. Dan diikuti rentetan senapan tak berhenti. Memekakkan telinga. Menciutkan nyali. Merasai ajal itu seperti di depan gerbang.

Untungnya tak lama reda. Safrida nekad tetap ingin ke sekolah. Tapi Mak melarang. Takutnya ada sweeping di jalan. Gadis itu berpikir keras. Bapak memutuskan tak jadi masuk ke kantor.

Safrida tiba di meunasah. Rupanya ada Sakdiah di sumur meunasah yang sedang memandikan anaknya. Harus bersusah payah perempuan itu memandikan anaknya itu. Bandel sekali bocah itu.

Begitu melihat Safrida, Sakdiah melempar senyum sekali dan anaknya sudah lepas dari cengkeramnya.

"Sudah cukup mandi jih mak..."

"Bacut lagi, mantong kalang nyoe," tangan Sakdiah menggosok-gosok leher anaknya. Si bocah tertawa-tawa sembari mengatakan ’geli...geli...’

Melihat kejadian itu, ada iri yang menyelusup di benak Safrida. Di kampungnya, semua perempuan sudah menjadi ibu, selain dirinya. Tak satu pun pria yang mau memperistri dirinya. Padahal usianya tak muda lagi. Bagaimana pula ia punya anak? Sebagai perempuan normal, ingin sekali ia bersuami dan punya anak. Baru sekarang Safrida merasakan kesepian. Ia butuh suami dan anak-anak yang lucu.

"Sudah teken damai Da, ya?" Sakdiah akan pulang. Bocah yang digendong mencium muka Maknya. Safrida mengangguk pelan. Wajah itu beringsut lega.

Safrida ke sumur. Tangan itu mulai sibuk menimba air sumur. Pekerjaan itu sungguh muda bagi seorang Safrida yang sering mengangkat senjata berat dahulunya.

Safrida tersentak ketika melihat berdatangan tentara-tentara di pekarangan rumohnya. Bapak, Mak, Masyik cepat turun dari atas rumah. Bapak sudah bercelana, tak berhanduk seperti waktu merunduk tadi.

Suasana mencekam. Mak, Masyik lekas luruh air mata sebab takut sekali. Salah satu tentara yang berperawakan tinggi dan hitam keling meminta KTP Bapak.

"Kau GAM, ya?" bentak tentara itu kasar.

"Bukan Pak, saya ini rakyat biasa," Bapak tampak gentar.

"Pasti kamu sembunyikan GAM di rumah kamu?!" sambung kawannya juga dengan tak kalah kasarnya.

"Periksa rumah ini!"

Dan sekitar sepuluh orang tentara naik ke rumah Aceh tanpa melepas sepatu. Empunya rumah tak berkutik. Pintu rumah disepak-sepak. Ada beberapa yang masuk ke kroong padee. Dan para tentara itu tidak mendapatkan GAM seperti yang mereka tuduhkan. Memang aneh sekali serdadu-serdadu pemerintahan itu, main tuduh saja kerjanya!

Lamban sekali kerja Safrida. Sudah lama di sumur, baru dua potong baju yang siap disikat. Lamunannya entahlah ke mana.

Sebagian tentara pergi ke rumah samping, ke rumah Wa Ali. Suara mereka keras dan kasar sampai kedengaran ke rumoh Safrida.

"Ada GAM di sini...!" Teriakan itu bagai halilintar di telinga Safrida. Dan...

"Dor...Dor..." tubuh Bapak bersimbah darah. Dua pelor menembus kepala lelaki itu. Tanpa bertanya terlebih dahulu.

"Bapak...Bapak..." Mak histeris.

"Dor...Dor...." Mak terkulai tak berdaya. Tembakan di mana-mana. Dua lengan kasar mendekap tubuh Safrida.

"Masyik...Masyik...." Ronta Safrida.

"Beuk kapeulaku cucoe long...." Masyik berusaha menarik tubuh cucunya itu. Tapi tak daya sama sekali perempuan sepuh itu, sekali dihajar dengan badan senapan, langsung terjungkang ke tanah.

"Kamu cantik juga, ya?" tentara itu membabi buta.

"Bek...Bek...." Safrida menghiba-hiba. Meronta sejadi-jadinya. Tubuhnya makin jauh diseret ke semak-semak.

"Barang bagus, ya?"

"Ya nih...Tapi aku duluan ya...Ha...ha..." Setan itu terpingkal-pingkal.

"Ayo sayang..."

"Jangan...." Safrida menjerit panjang. Tak ada penolongnya.

Safrida menimba lagi air di sumur. Air tadi kurang rupanya. Baju kotor baru beberapa pasang yang tersikat. Masih banyak sisanya.

Ingin sekali Safrida mengakhiri hidupnya. Tak sanggup hidup dalam tabur derita. Mak dan Bapak dibunuh di depan mata. Gadisnya direnggut beramai-ramai.

Tapi, suatu hari datang panglima GAM ke kampung. Berapi-api menerangkan jikalau orang kampung tak boleh tinggal diam. Hati Safrida panas bukan main. Dendamnya membara. Ia ingin menuntut balas.

Safrida naik gunung. Bergabung dengan Pasukan Inong Balee. Mendapat latihan militer yang dilatih mualim. Ternyata banyak dara seperti Safrida yang bergabung. Nama pasukan itu diubah. Tak lagi inong balee, tapi Askariyah.

Berbulan-bulan Safrida di gunung. Tiap hari latihan berat. Tangannya kasar bukan main. Mengokang senjata bukan hal baru. Sudah mahir menggunakan senjata.

Safrida terkenal pemberani di pasukan Askariyah. Paling sering terlibat perang langsung dengan serdadu pemerintah. Bahkan tembakannya jitu. Banyak mematikan pasukan musuh. Safrida begitu terbakar semangat bila ingat wajah Mak dan Bapak.

Wanita itu berubah licin dan berbisa. Berbagai cara ditempuh untuk menghabisi nyawa serdadu pemerintahan. Wajahnya yang memikat tak jarang jadi tameng. Digoda dan diajak ke tempat terasing. Lalu diracuni setiba di sana. Bukan sekali-dua kali berhasil menyisipkan bom di pos tanpa dicurigai sedikit pun.

Mendadak nama Safrida menjadi tenar. Ia disejajarkan dengan petinggi-petinggi GAM yang sama beracunnya. Penyisiran dilakukan besar-besaran untuk mencari perempuan bernama Safrida. Di pedalaman hutan bakau Manyak Payed, Safrida dilantik oleh panglima menjadi komandan pasukan Askariyah karena berprestasi tinggi.

Dendam Safrida masih membuncah. Dendam itu bukannya mengendur. Seolah tangannya gatal bila tak menghabisi nyawa serdadu pemerintahan sehari saja. Ia begitu puas ketika melihat tubuh musuh bersimbah darah.

Selesai juga Safrida menyikat semua baju kotor. Pekerjaan selanjutnya membilas baju-baju itu dengan air. Langit kelam pelan-pelan. Mata Safrida menengadah ke langit. Ia waswas bila hujan turun.

Keadaan terdesak. Panglima Sagoe Manyak payed, Galinggeng, menyerahkan diri ke pasukan RI. Safrida tak bisa percaya itu! Padahal Safrida lagi semangat-semangatnya. Kata panglima sagoe, perjuangan GAM sudah melencang dari syariat. Ah, benarkah itu? tanya hati Safrida.

Safrida dan anak buah Askariyahnya dalam posisi terjepit. Tertangkap tinggal menunggu waktu. Bencana. Galinggeng pasti akan memberitahukan tempat persembunyian mereka. Safrida kalut tak terkira. Akhirnya mereka ikut menyerah. Tapi dendam kesumat tak raib. Bagusnya menyerahkan diri, ia dan anak buahnya itu dibebaskan beberapa minggu kemudian. Dikembalikan ke kampung masing-masing dengan penjagaan ketat.

Rosmawati lewat dengan menggamit lengan dua anaknya. Kembali Safrida menyaksikan kejadian itu dengan menelan ludah. Enak sekali bisa menjadi ibu dan punya anak, lirihnya. Nampak Safrida di sumur, Rosmawati berhenti di balik pagar dan menyapa.

"Aceh ka damai Da, seunang that hatee long...."

Rosmawati melempar senyum dan berlalu karena anaknya merengek minta dibelikan kue. Kepala Safrida terangguk paksa, tapi hati dan jiwa menolak keras. Ini tak damai untuk Safrida! Damai ini tak berarti apa-apa.

Damai ini tak bisa membuat gadisnya kembali. Ketakutannya karena diperkosa tak raib. Mak dan Bapak tak juga kembali. Damai ini tak bisa membuatnya bisa peroleh suami dan anak yang diidamkan lama. Enak saja pemerintah mengira, dengan teken janji damai, semua akan kembali laik semula.

Bagaimana harus seorang inong balee mengembalikan suaminya? Sang ibu harus berbuat apa untuk menghidupkan tujuh anaknya yang sudah dibunuh? Bagaimana harus menghilangkan memori ketika melihat tubuh orang yang dicintai ternyata sudah tak berkepala lagi dan didapati melayang-layang di krueng? Dara harus bagaimana untuk membuat perawannya kembali setelah direnggut tragis?

Damai itu hanya di selembar atau beberapa kertas. Sementara perih jiwa di sekujur tubuh. Sembuhkan luka itu? Safrida bisakah berdamai dengan duka di sekujuran tubuh?

Safrida akan menjemur baju di pagar besi meunasah. Terdengar suara-suara tertawa dari keudee Tengku Banta Manyang. Langit kian kelam. Tak lama, butiran menitik satu persatu. Safrida cemas. Bajunya alamat tak kering. ***

Catatan:

- Askariyah : Sebutan pasukan perempuan GAM. Pada awalnya dinamakan Inong Balee, tapi belakangan, karena anggota dari pasukan ini bukan berasal dari inong balee saja (janda), tapi juga banyak gadis-gadis, makanya namanya diganti menjadi askariyah.

- rumoh inong: Rumoh Inong (rumah induk). Letak ruangan ini adalah di antara serambi depan dan serambi belakang. Posisinya lebih tinggi dibanding kedua serambi tersebut. Rumah induk ini terbagi menjadi dua kamar. Keduanya dipisahkan gang atau disebut juga rambat yang menghubungkan serambi depan dan serambi belakang.

- keudee: Kedai.

- beranti-anti: saling rebut-rebutan.

- kanot: panci.

- Ka damai geutanyoe, Da: Sudah damai, kita Da

- Bacut lagi, mantong kalang nyoe: Sedikit lagi, masih banyak dakinya.

- Rumoh dapu: Rumoh-dapu (dapur). biasanya, letak dapur pada rumah tradisional Aceh itu berdekatan atau tersambung dengan serambi belakang. Lantai dapur sedikit lebih rendah dibanding lantai serambi belakang.

- u: ke.

- Aceh ka damai Da, seunang that hatee long: Sudah damai Aceh Da, senang sekali hatiku.

- Seulasa: Teras.

- Krong padee: Lumbung padi—tempat penyimpanan padi dan lazimnya terletak di bagian bawah rumoh Aceh.
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Alimuddin
Dimuat di Republika 30/10/2005



Sudah dari dulu niat sungguh-sungguh itu terbesit di benak Nek Yam -- ingin sekali mengunjungi Jakarta.
Tak tahu Nek Yam sebabnya apa. Entah jin apa pula yang telah membisikkan hasrat itu. Yang jelas, keinginan itu kian menggebu saja tiap malam dan siang bertukar.
Jakarta menurut bayangan Nek Yam adalah kota yang sangat indah. Seperti yang kerap disaksikannya pada teve si Syam, tetangga dekat rumahnya -- malam hari penuh terang dengan lampu-lampu cantik terpajang di sepanjang jalan. Pun gedung-gedung yang tingginya seratus kali, malah lebih, dari gubuk reotnya.

Berharap sekali Nek Yam dapat merengkuh indah itu. Ingin kakinya terjejak di tanah Jakarta itu, meski cuma sekali selama masa hayatnya.
Sayang tapi, niat itu tak pernah terwujud. Apalagi kini kondisinya sebatang kara setelah ditinggal mati suaminya tujuh tahun lalu. Angan itu laksana pungguk rindukan bulan. Semasa ada suaminya pun, angan itu tak sanggup terjelma, apalagi tanpa lelaki itu kini.
Namun, lintas hidup seorang manusia tak dapat diterka oleh siapa pun. Nek Yam tak pernah menyangka jikalau hasratnya itu bisa terkabul juga akhirnya. Manakala usianya kian uzur pula.

Kala itu, tanah kelahiran Nek Yam, Tanoh Seuramoe Mekkah, ditimpa bencana teramat dahsyat. Banyak orang menyebutnya

'tsunami'.
Tsunami adalah air bah hitam yang berarus kuat dan mempunyai ombak yang sungguh tinggi. Cerita orang yang sempat melihat langsung, tinggi ombak itu nyaris sepadan dengan tiga kali tiang listrik. Mengerikan!
Tsunami itu telah meratakan sejajar tanah seluruh perumahan di tanah Aceh. Gubuk reot Nek Yam, yang berlokasi di Alue Naga, tak luput dari terjangan air bah hitam itu. Nek Yan beruntung meski, saat naas itu datang, kebetulan sosok itu tengah berada di Tanjung Selamat -- salah satu kawasan yang tak terjamah tsunami. Jika tidak, mungkin tubuh Nek Yam termasuk salah satu dari ratusan ribu manusia yang telah dipanggil oleh-Nya dalam tempo sekitar tujuh menit.

Empat hari baru usia bencana itu, manakala Nek Yam menjejakkan sepasang kakinya kembali ke Alue Naga, ingin melihat kondisi gubuk mungilnya. Namun hanya hampa yang terbentang luas di sana. Tanpa satu sisi rumah pun.
Seluruhnya telah dijarah paksa oleh tsunami.
Terpaku Nek Yam menatap pemandangan langka itu. Berdiri di manakah dia, tak tahu Nek Yam, sebab halaman di Alue Naga tak lagi berbatas pagar ataupun lainnya. Pun Nek Yam tak tahu juga di mana bekas rumahnya dulu. Tampak tersatukan semuanya.
Lama keterpakuan itu menaungi tiap inci dari tubuh senja Nek Yam. Pikiran itu terbayang panjang. Melamun, tak sadar hadir sendiri. Desah nafas berat berantrian sesak untuk mengudara.

Baru tersentak Nek Yam tatkala mampir tepukan halus di pundaknya. Menoleh lekas Nek Yam, ternyata seorang gadis muda cantik yang telah menepuk pundaknya barusan.
Terjadi percakapan serius di antara dua wanita yang berbeda generasi itu. Untung Nek Yam mahfum dengan bicara perempuan yang menggunakan bahasa Indonesia itu, meski wanita senja itu tak terlalu fasih bercakap dalam bahasa itu.

Dari pembicaraan itu tahulah Nek Yam, kalau perempuan muda itu bernama Leni Marlina. Non Leni, begitu Nek Yam menyapa gadis itu, atas suruhan gadis itu sendiri. Tahu juga Nek Yam, bila Non Leni itu datang dari Jakarta.
Manakala mendengar Jakarta, angan Nek Yam kembali terbit setelah terselubung banyak hal sebelumnya. Ingin sekali Nek Yam bersimpuh di hadapan gadis yang sepertinya belum menikah itu, memohon agar sosok itu membawanya ke Jakarta saat dia pulang ke sana nanti.
Malu tapi Nek Yam untuk melakukan itu, sebab gadis itu bukanlah apa-apanya. Kenal pun, dalam tempo singkat. Niat itu akhirnya hanya terbiarkan terkubur jauh di dalam relung hati Nek Yam.

Saat perjumpaan untuk kali kedua dengan gadis itu, juga di Alue Naga, nurani Nek Yam masih serupa -- sungguh ingin mengeluarkan unek terpendamnya. Tapi kembali ganjal itu tak sanggup teterbangkan juga.
Hari ke sembilan setelah tsunami, pertemuan itu berulang. Lama keduanya berbicara lebar. Gadis itu bertanya tentang keluarga Nek Yam. Nek Yam agak tersendat menggulir cerita. Dia mengatakan bahwa dirinya sudah lama hidup sebatang kara. Tanpa suami dan juga anak.
Perempuan itu tampak terkejut mendengar penuturan Nek Yam. Juga gadis itu menanyakan, akan kemanakah Nem Yam setelah rumahnya tak lagi ada. "Mungkin saya akan tinggal di pengungsian."

Untuk kedua kalinya, gadis muda itu tampak terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nek Yam. Terbisu sesaat. Entah hal apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran gadis itu.
"Ibu mau ikut saya ke Jakarta?" tak dinyana rangkai kata itu terlontar dari mulut gadis di depan Nek Yam.
Andaikata masih kuat, maunya Nek Yam berjingkrak-jingkrak saat kupingnya menangkap bunyi barusan.
"Apa, Non?" takutnya Nek Yam salah dengar.
"Apa ibu mau ikut saya ke Jakarta?" tak salah rupanya indera pendengaran Nek Yam.
Tak menunggu ulang untuk ketiga kalinya, sebuah anggukan cepat dan beriring senyum paling bahagia, terpasang di kepala Nek Yam.
Nek Yam diajak ke Jakarta!

Berangkatlah Nek Yam dan gadis muda itu ke Jakarta dengan menggunakan pesawat terbang kelas paling ekslusif. Luar biasa senangnya Nek Yam bisa berada di dalam tranportasi udara itu. Selama di perjalanan, tak henti perempuan senja itu berceloteh kegirangan.
Tiba di Jakarta, girang Nek Yam total sudah -- tak menduga sama sekali bila tanah kota impiannya berada di bawah sepasang telapak kakinya kini. Seperti sedang bermimpi saja rasanya. Teriak kagum keras terdengar dari mulut Nek Yam manakala gadis muda itu menunjuk ke arah bangunan tinggi besar sebagai

rumahnya.
"Rumah Non Leni seperti istana." Seru itu hanya berbalas senyum pelan dari bibir perempuan muda itu.
Selama di Jakarta Nek Yam dibawa jalan-jalan ke mana saja yang Nek Yam mau oleh gadis muda itu. Nek Yam sudah pergi ke Monas, ternyata Monas jauh lebih cantik dari yang ia tengok di teve. Juga Nek Yam sudah pergi ke Bundaran HI, banyak sekali mobil di bundaran itu rupanya. Tak lupa Nek Yam menyempatkan untuk berfoto-foto di tempat-tempat yang telah dikunjunginya itu.

Pun telah dibeli aneka barang oleh gadis itu untuk Nek Yam. Beragam baju dan rok yang bagus-bagus dan tentu saja mahal, telah kuasa dimiliki oleh Nek Yam. Bahkan rok yang sedikit di bawah lutut, sudah pernah dicoba oleh tubuh wanita itu. Dan, Nek Yam merasa bahwa dirinya jauh kelihatan awet muda kala memakai rok itu.

Rasa bahagia tak terhingga merayap di hati renta itu. Waktu tiga bulan telah Nek Yam habiskan di Jakarta. Tak terasa sedikit pun. Roda waktu seolah berputar cepat sekali. Banyak pengalaman baru yang sudah didapatkan Nek Yam selama rentang waktu tersebut berada di kota mimpinya itu. Termaktub salah satunya yang paling berkesan buatnya, tatkala dia mendapat perhatian yang luar biasa dari orang banyak begitu tahu kalau dirinya berasal dari Aceh.

Bukan hal yang jarang ketika Nek Yam bersama Non Leni pergi ke supermarket atau ke tempat lainnya, tubuh Nek Yam segera dipeluk oleh ibu-ibu yang tak dikenalnya sama sekali. Sebab mereka tahu kalau Nek Yam berasal dari Serambi Mekkah.

Puas sudah hati Nek Yam. Jakarta, kota angannya bahkan semenjak dari masa daranya dulu, telah berhasil ditaklukkan dalam tempo sekarang. Dan, Nek Yam merasa, puasnya cukup sudah, tiba masa baginya untuk balik kembali ke kampung halamannya. Sebab dari semula, Nek Yam memang tak pernah berminat untuk menatap di kota itu, hanya sekadar mengunjungi saja. Tak lebih dari itu.

Diantar oleh gadis muda yang membawanya dulu, dengan tetap menumpang pesawat terbang kelas paling ekslusif, Nek Yam bertolak ke tanah kelahirannya.

Sumringah betul nenek tua itu manakala kakinya terjejak kembali di tanah Aceh yang masih amburadul itu. Setelah turun dari pesawat, lekas menumpang kenderaan umum, gadis muda itu mengantar Nek Yam ke camp pengungsian yang berlokasi di Darusallam seperti permintaan Nek Yam sendiri. Katanya, ada kerabatnya di sana.

Sesampai di camp pengungsian Darusallam, Nek Yam yang hari itu memakai baju berlengan pendek warna pink, serta dipadu dengan rok pendek bewarna merah menyala, sontak segera menjadi pusat perhatian banyak orang. Penampilannya memang mencolok sekali di antara mereka.
Bisik-bisik menjalar cepat. Banyak yang kenal dengan Nek Yam nyatanya. Lirih-lirih pelan yang mendengungkan nama Nek Yam kerap terdengar, meski tak terlalu gamblang.
Mata kabur Nek Yam menatap sosok tergopoh-gopoh yang teramat di kenalnya menuju ke arahnya.
"Nek Yam, pajan trok?" wanita paruh baya itu tampak bahagia sekali. Namun saat diperhatikan seksama penampilan sosok di depannya, senyum yang sudah terekah lepas, tiba-tiba raib cepat.

"Keujeut meunoe droe neuh?" desak wanita itu lagi, masih heran. Nek Yam terbisu. Tak sepotong huruf pun keluar dari mulutnya.
"Peue yang terjadi dengon droe neuh?" ulang tanya wanita itu lagi.
Kali ini Nek Yam mengeryitkan kening, simbol bahwa dia tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh lawan bicaranya. Nek Yam berlagak tak bisa lagi berbahasa Aceh.

"Bajee droe neuh keujeut meunoe?" rasa heran perempuan itu belum terjawab setitik pun. Masih berbalas bisu dari mulut Nek Yam.
"Han jeut lee bahasa Aceh nyeuh?" agak menerka nada itu.
Nek Yam masih tak menjawab juga. Dalam hati saja dia mengangguk dan menjawab lontar tanya si Munah.
Ya, sebab saya sudah ke Jakarta.

Banda Aceh, 21 Juni 2005

1. Tanoh Seuramoe Mekkah: Tanah Serambi Mekkah
2. Keujeut meunoe droe neuh?: mengapa begini anda?
3. Peue yang terjadi dengon droe neuh?: apa yang terjadi dengan anda?
4. Bajee droe neuh keujeut meunoe?: baju anda mengapa begini?
5. Han jeut lee bahasa Aceh nyeuh?: tidak bisa lagi bahasa Aceh ya?