Tampilkan postingan dengan label K: Jurnal Bogor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K: Jurnal Bogor. Tampilkan semua postingan
Minggu, 19 Desember 2010 by Forum Lingkar Pena

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jurnal Bogor, 12/12/2010

Tadi aku bertemu Minah sedang jaga counternya Haji Samsul di Pasar Satelit. Katanya ia kecurian uang, Kak?” sigap Dul mengambil posisi duduk di warung Bi Ano. “Kopinya satu, Tin!”

“Alaah paling-paling kelupaan naruhnya,” Jami melepaskan topi koboinya dan menaruhnya di meja.

“Topi baru tuh!” Dul melirik topi koboi Jami.

“Ooo… tadi Subuh nemu di pasar. Yah kupakai saja untuk…”

“Untuk apa, Kak?”

“Ngg..ngg..nggak untuk apa-apa.” Jami kikuk. “Sudahlah, nggak usah dibahas! O ya, siapa yang ngantar kamu ke sini barusan? Tukang ojek baru ya?”

“Takut ada saingan ya, Kak? He..he..he…” Dul nyengir. “Itu kawan SMA-ku dari Palembang. Mirip Giring-Nidji, kan?He..he..he…” Dul meraih pisang goreng. “Kebetulan dia liburan ke Linggau, trus ketemuan di jalan, jadi aku minta antar ke sini.”

“Asas manfaat!”

“Dari pada naik ojek, 3.000!”

Jami menghirup kopi pahitnya yang mulai dingin.

“O ya Kak, kata Minah tadi ia benar-benar kecurian…”

“Dia kenal orang yang nyuri?”

“Katanya baru kali ini dia ngeliat orang itu di Pasar Satelit. Ceritanya orang itu pura-pura mau ngisi pulsa pagi tadi.”

“Trus?”

“Minah ngambil HP yang biasa digunakan untuk transfer pulsa elektrik ke dalam. Eeeh sepeninggalnya ke dalam, dompetnya raib. Lelaki yang mau ngisi pulsa itu entah pergi ke mana!”

“Ciri-cirinya?”

“Nah, aku lupa nanya, Kak!” Dul menepuk jidatnya.

“Sudahlah, Minah memang sering teledor. Untung bukan uang counter yang hilang!”

“Kok malah menyalahkan Minah, Kak? Kan kasihan…”

“Minah itu orangnya memang teledoran, Dul. Kamu masih ingat kan, 3 hari yang lalu dia juga ke pasar atas, terus pulang nangis, ngadu dengan ayukmu. Katanya kecopetan, tak tahunya dompetnya masih ada di bawah bantal tempat tidurnya.” Dul manggut-manggut.

“Sudahlah tak usah berlebihan. Aku tahu kamu naksir dengan adik iparku itu….” Muka Dul bersemu merah.

“Makasih, Cantik,” Dul tersenyum dengan tatapan nakal pada Tini yang menghidangkan kopi panas pesanannya.

“Dasar mata keranjang!” Jami menyentil telinga pemuda dua puluhan itu.

Tini bergegas ke belakang warung setelah mendengar Bi Ano berteriak untuk mengangkat gorengan tahu. Sebenarnya tanpa diteriaki ibunya pun, Tini juga akan segera berlalu dari hadapan dua lelaki yang kertas bon-nya sudah menumpuk di dinding warung itu.

“Lagi cair, Kak?” Dul menyeruput kopi. Matanya melirik jari jemari Jami yang menghitung beberapa lembar 20 ribuan.

“Hussh!” Jami menyalibkan telunjuk di bibir legamnya. “Jangan keras-keras nanti didengar Bi Ano. Disuruh bayar Bon. Mati aku!”

Dul terkekeh kecil, “Sekalian bayarin bon-nya Dul, Kak!” bisiknya sambil menopangkan sebelah tangannya di dekat telinga Jami.

“Ngawur!” Jami menepiskan tangan Dul. “Ini sebagian kecil simpananku di bawah lipatan pakaian di almari!” Jami memasukkan uang yang sudah tersusun rapi itu ke dalam dompet kumalnya. Satu lembar 20 ribuan terselip di antara telunjuk dan jari tengahnya.

“Untuk Dul, Kak?” Dul sumringah. Matanya membelalak.

“Enak aja kamu!”

“Ya bagi-bagilah kalau ada rezeki.”

“Sudah kubilang ini bukan rezeki tapi simpananku. Itu pun ada perlunya. Memangnya kamu nggak tahu kalau kandungan ayukmu sudah 8 bulan-an.”

“Yaaa ‘kan brojolnya pas 9 bulan-an. Udahlah Kak, tak baik terlalu pelit jadi orang. Apapun itu namanya, yang jelas Kakak megang banyak uang.”

“Huh! Capek aku ngomong dengan pemalas kayak kamu, Dul! Ya sudah, untuk pagi ini, aku yang bayar sarapanmu!”

“Nah gitu dong!” Dul terkekeh renyah. “Kakak mau ke mana?” tanya Dul demi melihat Jami yang beringsut dari tempat duduknya.

“Ya ngojeklah. Kamu ndiri nggak narik?”

“Entar Kak. Agak siangan dikitlah,” Dul mencangking tahu goreng yang baru dihidangkan.

Tini hanya mengelengkan kepala. “Dasar pemalas!” batinnya.

“Tin, ini 20 ribu untuk kopiku!” Jami menunjuk gelas kopi yang tinggal ampas. Dul berhenti mengunyah. Matanya melirik Jami.

“Iya, iya, Bujang.” Kak Jami menepuk pundak Dul, “Kau itung juga sarapannya Dul. Sisanya kamu ambil.” Tini mengambil uang itu. Kak Jami mengegas motornya, berlalu mengibaskan debu di warung gorengan tepi jalan itu.

“Huh, kalau kamu dikasihnya, Tin. Tapi kalau aku…”

“Alah dikasih apanya, Dul,” potong Tini, “uang segini juga nggak ada sisanya kalau ngeliat gorengan-gorengan yang sudah kamu embat!” Dul mesem-mesem.

“Lagipula, kalaupun ada lebihnya, juga nggak bakal cukup nombokin utangnya!” Tini nyerocos sambil membereskan gelas kopi Kak Jami.

“Jadi, Kak Jami itu banyak bon-nya ya, Tin?”

“Masih banyakan kamu, Dul!” Dul tersedak.

“Minum ambil sendiri di belakang,” Tini berlalu membawa gelas dan lap ke belakang. Dul menuju becaknya, berlalu tanpa permisi.

“Ngapain sih, Bu? Dari pagi sampai siang begini, nggak ke depan-depan juga? Di belakang aja mendepnya?”

“Kamu capek jaga warung sendirian?”

“Alah Ibu, tumben sensitif. Ibu juga nggak nganggur di belakang. Tuh, piring, gelas, dan gorengan sudah ibu bereskan.”

“Ibu sedih, Tin. Ibu kecopetan.”

“Kecopetan?!”

“Iya. Dini hari tadi, Tin. Ibu baru sadar kalau lelaki yang ibu kira tak sengaja menabrak Ibu itu ternyata pencopetnya. Ini semua masih ngutang dengan pedagang-pedagang pasar pagi,” Bi Ano menunjuk tahu, pisang, ubi rambat, ubi kayu, sukun, ketan, dan penganan goreng lainnya. “Untung mereka sudah langganan ibu semua. Jadi, mereka percaya saja.” Tini mengangguk-angguk tanda turut merasakan kesedihan ibunya.

Bi Ano memang berbelanja ke pasar pagi saban pukul empat dini hari untuk membeli macam-macam penganan yang akan diogoreng di subuh harinya. Sementara Tini, membereskan warung, menjerang air panas, mencuci gelas-piring, menderek air dari sumur umum di kampung SS . Baru setelah subuh, Tini membuka warung. Bi Ano juga sudah membawa barang-barang belanjaannya ke belakang. Rutinitas itu sudah berlangsung ba’da kematian suami Bi Ano, 8 tahun yang lalu.

“Ibu kenal yang nabrak?”

“Mana tahulah, Tin. Namanya juga pasar, orangnya berdesakan. Lagi pula lelaki itu memakai penutup kepala, jadi wajahnya nggak keliatan. Yang jelas, Ibu hakul yakin kalau lelaki yang nabrak itu adalah copetnya. Yah pokoknya kata orang piling gitu, Tin”

* * *

“Ada Bi Ano, Tin?”

“Ooo Yuk Ling, Minah. Sebentar, dipanggil dulu. ibu di belakang” Minah dan Ling duduk di kursi panjang warung itu sambil mengelus perutnya yang membesar.

“Eeeeh Minah, Ling, tumben. Ada apa?”

“Tadi ada Kak Jami ke sini?” tanya Ling.

“Iya. Biasalah ngopi pagi bareng Dul. Ada apa memangnya, Ling?”

“Uangku dicuri, Bi!”

“Siapa yang nyuri? Bukan suamimu, kan?”

“Bukan, Bi!” Ling menggeleng, “Aku kenal perawakannya Kak Jami!”

“Jadi kamu sempat ngeliat pencurinya?”

“Iya Bi. Tadi sekitar jam 11-an. Waktu itu aku baru pulang dari counter, jemput pembukuan yang tertinggal. Tak tahunya Yuk Ling sudah nangis di samping almarinya yang acak-acakkan. Semua simpanannya raib. Katanya pencuri itu keburu pergi. Tapi Yuk Ling ingat perawakan dan warna bajunya, Bi,” jelas Minah. Di sampingnya Yuk Ling tampak sangat galau.

“Wah susah juga kalau cuma itu yang diingat, Yuk.” ujar Tini lemah.

“Itu persiapan ngelahirin nanti…” Ling mulai menangis.

Bi Ano dan Tini turut terbawa suasana. Mata mereka mulai berkaca, tak tega melihat wanita yang tengah hamil muda tersebut menanggung masalah yang pelik.

“Kalau Kak Jami mampir, sampaikan dengan dia. Aku dan Minah pergi ke rumah emak di Megang. Aku nggak masak, Bi. Nggak ada uang. Mmm…, kalau Bibi ada uang…”

“Sabar ya Ling,” Bi Ano mendekati Ling, “Bibi juga baru kecopetan Subuh tadi.” Ling mengangguk. Tak disangkanya kalau Bi Ano bernasib serupa dengannya.

Tini beringsut mendekati Ling. “Cuma ini, Yuk. Pakai dulu untuk ongkos,” Tini menyesakkan selembar uang 5 ribu ke tangan Ling.

“Terimakasih Tin. Aku pergi dulu.”

“Ati-ati, Yuk.”

Tiba-tiba. “Tin, aku bayar utang hari ini! Lunas!” seorang pemuda tanggung melemparkan selembar 50 ribuan di atas kaleng kerupuk. Ling terperangah melihat ke pemuda tersebut. Ling memelototinya dengan seksama.

“Wah banyak rezeki hari ini, Dul!” Tini mengambil uang tersebut. Dul tak menjawab, ia tertegun mendapati seorang wanita hamil di warung itu.

“Kau?!” Ling menunjuk-nunjuk Dul.

“Ada apa, Ling?” tanya Bi Ano.

“Aku nggak nyangka, kamu yang nyuri uangku di almari, Dul!” Ling mencak-mencak. Bi Ano dan Tini terperangah.

“Eh Yuk, jangan asal tuduh! Mentang-mentang aku megang banyak uang dikirain nyuri uang situ!” jawab Dul ketus.

“Ya ya ya, kamu. Enggak salah lagi! Perawakan dan bajumu persis dengan yang nyuri!” Dul bergegas hendak keluar warung. Tapi…

“BUG!” Bogem mentah mendarat di wajah Dul. Wanita-wanita di warung itu berteriak. Meja dan kursi kayu goyah. Beberapa nampan gorengan dan kaleng kerupuk jatuh ke tanah.

“Kak, K…K..Kak…!” Dul terperajat mendapati kerah bajunya dalam cengkeraman Jami.

“Aduh..aduh…, jangan ribut di sini!” Bi Ano panik, mengangkat piring dan gelas yang belum dibereskan ke belakang. “Oalah…warungku!”

Jami menyeret Dul keluar warung dan menghempaskannya di tanah kosong berpasir di samping warung. Minah merangkul Yuk Ling. Mereka sama-sama menangis menyaksikan Jami yang mulai terdesak. Entah dari mana datangnya, Dul sudah dibantu seseorang yang tampak dengan beringas menghajar Jami. Sementara itu, Tini dan Bi Ano berteriak minta tolong. Banyak orang berdatangan, tapi mereka tak banyak berperan melerai perkelahian itu. Mereka hanya menonton, seakan-akan perkelahian yang berkabut debu dan pasir itu menjadi tontonan yang menghibur di tengah teriknya hari.

“Jangan bergerak!” tiba-tiba 4 orang polisi menodongkan pistolnya ke arena perkelahian.

Orang-orang bersorak kecewa, merasa tontonan mereka begitu cepat berakhir.

“Pemuda itu yang mencuri uang saya, Pak Polisi!” Ling menunjuk-nunjuk Dul.

“Ibu ikut kami juga ke Kantor Polisi!”

“Lho kok?” Ling protes.

“Sebagai saksi,” jawab polisi singkat. Tampaknya ia yang berpangkat paling tinggi di antara rekan-rekannya. “Bawa ketiga lelaki itu ke mobil” perintahnya pada yang lain.

“Min, kamu temani ayuk!” Ling menarik tangan Minah.

“Tanpa diminta pun, aku juga akan ke sana, Yuk.” Mereka menaiki mobil bak terbuka bersama ketiga lelaki yang lainnya.

“Apa maksudmu tadi, Min?” tanya Ling sesaat setelah mobil bak terbuka tersebut melesat.

“Lha wong temannya Dul yang ngeroyok suami kakak itu juga pencuri?”

“Maksudmu?”

“Dia itulah yang mencuri uangku di counter tadi, Yuk! Aku memang nggak begitu kenal wajahnya, tapi di Lubuklinggau ini, berapa orang sih yang rambutnya kribo kayak sarang tawon gitu!”

“Tadi aku kira artis yang sering muncul di TV itu lho, Min.”

“Iya Yuk. Aku juga ketipu, mirip-mirip vokalisnya Nidji…”

“Siapa? Nidji, Siji…”

“Sudah Yuk, nggak penting!”

* * *

Tini sibuk membenahi kerusakan kecil di beberapa bagian dinding, meja, dan kursi kayu warungnya. Mereka belum menerima pembeli. Walaupun kerusakan warung itu tidak terlalu parah, namun Bi Ano masih syok. Tubuhnya lemas. Tampaknya darah rendahnya kumat.

“Udah Bu, biar Tini yang beresin.” Tini mencegah ibunya yang hendak membereskan beberapa gorengan yang berserakan di meja.

“Ini topi siapa, Tin?” tanya Bi Ano dengan ekspresi terkejut.

“Enggak tahu, Bu. Ada apa memangnya? Kok sepertinya ibu tahu dengan topi itu?”

“Ibu ingat, lelaki yang menabrak ibu dini hari tadi memakai topi ini.” Bi Ano mengangkat topi koboi itu.

“Jadi, pencopet itu sempat makan gorengan di sini, Bu?” ***


Kamis, 06 Mei 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas

Dimuat di Jurnal Bogor, 02/05/2010

1959, katanya, ketika mereka bertanya kapan Sukarno menyemburkan kata-kata yang entah sudah dipersiapkan sebelumnya atau tidak (ah, saat itu: orang-orang tak peduli itu!) telah membuat beberapa negara di semenanjung Magribi membentang bahu, memutus rerantai yang selama ini melingkar di leher gunung, mengebat pepohon, memecut pemukiman, dan menyerakkan gandum dan beras di berbagai sudut. Bebas!

Tentulah kata-kata di atas podium nasionalis itu tak usah disetatarkan dengan si Sosialis, Che, yang berhasil melambungkan Kuba sebelum Fidel Castro memegang kartu atas semua kebijakan-kebijakan yang-katanya demi independensi Latin-entah, apakah iya atau tidak, rakyatnya merasakan kebebasan serupa Brunei Darusalam. Bebas yang takzim. Bebas yang mengalir. Apa asal-muasalnya hingga terbang seperti elang jadi mutumanikam yang diburu-buru?

Dayang Torek merasuki sekali kata itu: Bebas!. Bukan, bukan karena ia adalah putri yang pernah hidup di masa Islam belum menyambangi Nusantara, apalagi Ulaklebar-tanah tempat ia dilahir-besarkan. Lebih dari itu, Dayang Torek paham benar bagaimana nikmatnya lepas dari pasungan. Cukuplah raja dari Tanah Melayu itu yang pernah membuatnya merasakan kerinduan yang sangat. Cukuplah Nyongang saja yang membuatnya serasa di jeruji negeri Nirmala yang berlapis tujuh. Oh, bila saja Nyongang tak membunuh putranya dengan taji-jago, mungkin kini ia tak harus bernostalgia dengan kenangan ketika memutuskan turun ke bumi setelah ratusan tahun menyingkir dari manusia.

Dalam mimpi Sukarno-yang waktu itu dikira Dayang Torek adalah Gindo Ulak Dalam, Dayang Torek hadir dan berbicara (atau juga mempertanyakan) padanya perihal nikmatnya menentang negeri-negeri yang sebenarnya sangat banyak didekati oleh para perdana menteri, kaisar, raja, dan pangeran…

Mereka tak mendekati pesirah-pesirah, kan?, itu jawaban Sukarno.

Dayang Torek tertawa, sebelum berlalu-terbang ke balik awan-awan yang berarak tanpa tergesa-gesa. Ah, Silampari….

Dayang Torek teramat sangat merindukan Gindo Ulak Dalam. Laki-laki yang saking sayangnya ia, hingga ia memanggilnya Bapak. Bapak? Ya, Dayang Torek tak tahu (atau tak sebenar yakin), benarkah lelaki yang sangat mengayominya itu adalah seseorang yang dahulu bertindih-tindihan dengan seorang wanita yang menyilakannya berselancar dari gorong-gorong di antara kedua bonggol pahanya? Oh, siapa nama wanita itu? Atau dia hanya selir seorang Gindo…?

***

APA sebab Che Guevara merasa perlu bergerilya di hutan-hutan pinus Amerika demi (ataukah boleh ditulis “hanya demi”?) sebuah popularitas di abad-abad berikutnya-paling tidak satu abad setelah itu?! Oh, perkaranya bukan kesengajaan agar orang-orang banyak mengenakan pakaian yang berlukiskan siluet wajahnya dengan jambang yang setengah subur dan topi khasnya. Sama seperti Sukarno mungkin, yang tiada berpikir bahwa pidatonya akan membakar negara-negara lain untuk menerjang sangkar beton! Atau serupa cerita lama tentang si Bandung Bondowoso yang mendirikan 99 candi dalam semalam hanya demi Roro Jongrang. Atau juga bagaimana si Bujang Kurap yang tak pernah berdoa akan ditakdirkan kurap-walaupun penduduk senantiasa memuji keelokan budinya, hinga kini.

Dayang Torek?!

Ini bukan perkara bebas-membebas. Ini juga bukan perkara kenang-mengenang. Ini perkara putri yang hilang. Lalu hidup lagi. Mungkin-atau anggap sajalah-putri ini bereinkarnasi sejak 1900-an. Ketika Lamuri, Jayakarta, Jayaloka, dan Ternate-Tidore, masih termasyhur di seantero serpihan pulau di laut sebelah bawah Asia, sebelah tenggara. Ya, siapalah yang merasa puas bila salah satu putri dari Selatan itu hanya dikenang sebagai putri yang hilang. Sungguh berbeda dengan (cerita) Zulaikha, Putri Nilam Sari, Diah Pitaloka, Cleopatra, atau Dayang Sumbi sekalipun. Oh!

Dan, permulaan perkara pun belum ditutup. Ketika putri itu turun ke bumi, tidaklah mudah baginya mengenali Lubuklinggau dan Musirawas dalam peta. Oh lupakah, kau. Zaman dulu, angin, matahari, dan bintanglah, yang jadi penunjuk waktu, cuaca, dan nasib! Sumatera pula masih serupa huruf L yang sedikit mengot. Kini, tentulah Dayang Torek sedikit terkejut mendapati Selat Sunda sudah membelah ranah kelahirannya.

Maka, dimahfumkanlah kiranya, bila Dayang Torek pun beterbangan di atas sungai dan lembah Amazon, Pegunungan Ural, Tembok Ya’juj Ma’juj…. Pun ketika melewati sebuah kota yang nampaknya baru berbenah, dan melihat seorang wibawa yang tengah berseru di sana, ia tak sadar bahwa itu dulu Jayakarta. Bahkan ia sempat mampir di Monako, ketika mendapati negeri itu masih monarki; kerajaan serupa masa hidupnya.

Tapi tiadalah menjadi abu saja tungku-tungku yang terlempar dalam nyala-nyala seperseribu neraka, bukan? Ya, dari sana, Dayang Torek belajar apa itu arti kebebasan. Bukankah terbangnya ia-setelah kecewa karena Nyongang membunuh bayinya-adalah sebuah kebebasan? Tidak!

Masih kanak-kanakkah Dayang Torek ketika memimpikan Che, Sukarno, Dayang Sumbi, Bujang Kurap….? Tiada yang akan menganggukkan kepala atas tanya itu ketika berhadapan dengan sebuah kenyataan: Dayang Torek adalah perempuan yang akhirnya paham siapa itu R.A. Kartini-yang bahkan ia masih mendebatkan, benar niankah perempuan Jepara patut diagung-agungkan? Dayang Torek pula akhirnya tahu betapa tak enaknya menjadi seorang Mahaputri serupa Lady Diana (ia sempat tersentak; ternyata ada yang pernah mengalahkan keagungan namanya!), atau mengetahui rahasia di balik ‘kepergian’ seorang Michael Jackson (Dayang Torek pula membatin; tak penting berkabung! Telahkah benar-benar kau lihat mayit si Muka Pucat itu!). Namun, akhirnya Dayang Torek belajar bagaimana memahami sebuah keelokan hidup dapat dikecap-nikmat tak tepermanai!

***

Lama. Lama memang, si Putri itu mempelajari seluk-beluk ekuilibrium (sebuah kehidupan adalah bak pasar yang senantiasa ramai, pikuk, dan sesak, bila rata yang mana selatan yang mana utara), mempelajari homeostatis ketika melihat Amerika, Bangladesh dan Srilanka-atau juga Indonesia, seolah saling melengkapi untuk sebuah predikat: Makmur-Miskin!

Lama memang menghayati sebuah keadaan yang dapat dirasai dan diperitabiati dengan setakzim-takzimnya. Tentulah bukan dengan berbijak-bijakan seperti seorang presiden sebuah negeri yang begitu teratur kata-katanya (kini Dayang Torek mengerti arti ucapannya). Tentu juga bukan bagaimana Ayatullah Khomenei menyeru demi sebuah penentangan kekuatan yang memang selayaknya sudah mampus di jagat raya-serupa runtuhnya kedidayaan Athena, Romawi, Uni Soviet, dan Mesopotamia, dulu.

Lama. Ya, waktu yang berjalan terburu-buru, yang berlari menuju langit, dan akhirnya menuntunnya tertunduk di sana (entah lapis langit keberapa, Dayang Torek lupa), ia lihat dengan sendirinya ada semacam kursi-yang tentu saja bukan kursi, yang berkilau-kilau (ia iri dengan laki-laki yang dipanggil Muhammad itu; bagaimana ia dapat melihat-Nya dengan kelopak mata yang terbuka penuh?!!). Dan… di sinilah Dayang Torek dapat tertawa dengan sebenar lepas. Ia melihat orang-orang yang awalnya aneh, dan membuatnya iri, tentang sebuah kebahagiaan akan kebebasan (atau ada hal yang lebih penting dari itu?!). Si putri tak lagi merasa perlu beriri-hati dengan Sukarno, Che, Bujang Kurap, Dayang Sumbi, Lady Diana, apalagi Michael Jackson…. Oh, adakah yang lebih luarbiasa selain melihat surga dan neraka di depan mata? Tentulah jauh lebih maha bila ia dapat memutuskan bahwa yang sebelah kananlah tempatnya berlabuh.

O tunggu! Ini bukan perkara orang-orang-yang awalnya ia kagumi-terjerengkang dalam belanga api yang ia lupa di mana tempatnya. Ini perkara karang-mengarang cerita tentang rupa-rupa hal: tentang kebaikan, keburukan, kebebasan (atau independensi!), ekuilibrium (atau juga homeostatis!), bahkan juga tentang keberadaan (atau eksistensi) yang sejatinya ia memang tidak ada. Mmm… bagi Dayang Torek, tak adalah mitos-mitosan itu. Hitam-putih. Khatam!

***

Tentulah banyak yang berwangi-mimpi tentang turunan sebuah pepatah: Manusia mati meninggalkan nama. Ya, adalah lebih elok memimpikan sesuatu yang seolah-olah bila diri benar-benar mati, dan diri benar-benar dikenang abadi, maka alamatnya adalah hidup senang di alam setelah mati! Puihh!!!

Dayang Torek tertawa. Air matanya bertumpahan. Ada yang berlaku tak selayaknya. Entah, apakah ia berbangga-bangga dengan sebuah kemampuan menyingkap rahasia, atau bermuram-kelam karena sudah tahu alamat diri di akhir masa bumi, atau pula tak peduli lagi dengan “nama” wanita yang menghidupinya dalam rumah bundar di perutnya ratusan tahun silam. Oh, mungkin kini Dayang Torek lebih khusyuk meratapi nasib bangsa-bangsa Sukarno, pengikut Che, pemercaya Bujang Kurap, pendongeng Roro Jongrang, penyembah Kursi….

Dayang Torek masih berkelana. Entah, sampai kapan.***

/Lubuklinggau, Juni 2009 s.d. Jakarta, April 2010

Catatan:

1) Pada 1959, Sukarno berpidato di Jakata. Setelah itu, beberapa negara Afrika merdeka (memerdekakan diri dengan segenap perjuangannya)

2) Dayang Torek adalah putri yang hilang dalam cerita legenda Lubuklinggau-Musirawas. Dayang Torek memiliki ayah yang bernama Gindo Ulak Dalam dan seorang adik yang bernama Nyongang, yang tinggal di Ulaklebar. Dayang Torek sempat diculik Raja Palembang untuk dinikahi (entah mungkin juga hanya dikawini), dan melahirkan seorang bayi. Karena tahu Kakaknya hidup tak bahagia di Tanah Melayu (Palembang), Nyongang melarikan Dayang Torek. Dalam pelarian tersebut Nyongang sengaja membunuh bayi Dayang Torek. Dayang Torek kecewa dan pergi ke balik Bukit Sulap. Hilang. Terkenallah ia dengan sebutan Silam Pari; putri yang hilang. Hingga kini Lubuklinggau-Musirawas masih kerap disebut Bumi Silampari (bukan Silam Pari). (Sumber: Naskah “Asal Mula Bumi Silampari”, gubahan Rusmana Dewi)

3) Bujang Kurap juga salah satu cerita legenda dari Lubuklinggau-Musirawas. Dari kecil hingga dewasa-dan meninggal, si pemuda mengidap penyakit kulit (kurap). Namun, di masa itu, Bujang Kurap lebih dikenal sebagai pemuda yang sakti dan baik hati. (Sumber: Naskah-naskah “Bujang Kurap” yang ditulis Drs. Suwandi, sejak 1983).

Minggu, 21 Maret 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jurnal Bogor, 7 maret 2010















NURIAH
Wak Nur, demikian aku memanggil kakak semata wayang ibuku itu. Ia sangat tak rasional-menurutku. Ia selalu menjadikan perceraian kakakku Amir dengan Mbak Asih, seorang perempuan Jawa yang ayu itu, sebagai dalih agar membuatku hati-hati dalam memilih calon istri. Huhhh!

DINA
Bila ada yang bertanya padaku siapa wanita paling sopan yang pernah kutemui, maka tanpa ragu-ragu aku akan menyebut nama gadis kelahiran Madiun itu. Tentu saja, takkan kuberikan alamat rumah dan tempat kuliahnya, serta nomor telpon atau handphone-nya, pada sesiapa yang menanyakan itu padaku. Tak perlu kujelaskan alasanku melakukannya. Pun aku tetap bersiteguh dengan sikapku, walaupun kemarin kudengar dari teman kuliahnya kalau dia baru diterima kerja di Batam. Sebagai apa? Lebih baik kau tak tahu, kata temannya itu.

IKA
Walaupun bukan kerabat dekat, namun perempuan ini sangatlah berpengaruh dalam keluargaku. Mungkin cerita tentang ia yang membayari utang-utang Ibu pada rentenir Somad itu, benar adanya. Aku sangat cemas ketika ia melaporkan perihal kedekatanku dengan beberapa gadis yang hal-ihwal keluarganya-dengan sok tahunya-ia pergunjingkan.

JAMILAH
Orangnya ramah. Gigi-giginya berbaris rata. Sungguh indah bila sedang tersenyum dan tertawa. Wajahnya juga mulus sekali. Seolah menanggapi ketakjubanku, ia seringkali berujar bahwa ia tak pernah mengoles bedak pada wajahnya. Nekno-ku juga pernah bertanya apakah perempuan Sunda itu calonku. “Ia itu istrinya Kak Fajar yang tinggal di belakang Baitul Amin, No…,” jawabku kala itu.

UMI
Ia sangat penyayang. Tapi terlalu konvensional, bahkan irasional. Kupikir pemikiran kolot perihal Linggau-bukan Linggau dalam memilih jodoh hanya ada dalam cerita-cerita usang yang takkan mungkin terwarisi pada generasi-generasi berikutnya-termasuk juga generasi perempuan itu. Tapi aku salah. Ia sangat-sangat mementingkannya. Maka, aku hanya bisa diam ketika ia terus menyebutkan satu-dua suku yang ia ‘hindari’ itu. Mungkin ia tak terlalu memahami filosofi Burung Garuda….

KUSNAWATI
Ia dingin sekali. Tapi jangan pikir kebaikannya pun membeku dalam pribadinya. Ia suka menolong-seperti gadis Jawa yang kebanyakan kukenal. Walaupun tak pernah ia ceritakan padaku, namun beberapa kali aku mendapatinya memberi nasi bungkus dan beberapa lembar ribuan pada beberapa wanita tua di dekat trotoar. Semua lelaki sama saja, Mbah, katanya pada mereka. Wuiiiiik!

YUAN
Kerudungnya panjang dan lebar. Tak seperti kebanyakan wanita bertutupan kepala itu, ia acapkali mengenakan yang motifnya beragam. Batik, bunga lili, ilalang, koran, bahkan beberapa kali belang harimau. Tak seperti wanita-sepertinya-kebanyakan pula, ia tak terlalu membatasi percakapan dan pembicaraan. Hanya saja ia begitu sulit melafalkan melafalkan huruf F. Ah, gadis Minang yang lucu!

PUSPA
Aku sedikit terkejut ketika ia mengatakan semoga bukan aku Fatimah-nya. Ah, apakah semua ada hubungannya dengan cerita drama-cinta islami yang berakhir kegagalan itu. Sebenarnya ia menjawabnya waktu itu, tapi tak kuingat jelas kalimatnya. Yang kuingat, tak lama setelah itu, ia diterima PNS sebelum mengatakan bahwa ia akan segera berhenti di tempatnya kini bekerja. Kini, aku yakin, sebagaimana kulakukan, ia juga menghapus namaku dari handphone-nya.

ASMAINI
Menggemaskan. Itulah kesan pertamaku berjumpa dengannya. Semua bukan hanya didasarkan pada kedua pipinya yang setengah bantat, tapi juga bibirnya yang mungil, matanya yang sipit, dan tabiatnya yang bicara sekali-kali saja. Ya, tak seperti perempuan Bandung kebanyakan. Ketika kutanyakan apa kesibukannya sehari-hari, ia bilang jualan tempe goreng. Enak dan gurih, tambahnya berpromosi. Seolah ingin meyakinkanku, keesokan harinya ia mengantarkan satu kantong tempe goreng ke rumah. Semuanya basi!

AIE
Percaya diri. Itulah kata yang kurasa pas untuk menggambarkan kepribadiannya. Dia guru di beberapa sekolah dan beberapa Bimbingan Belajar. Dengan setengah tergesa, ia menjelaskan bahwa rumah ibunya di Tulungagung berdekatan dengan SD. Ia sangat senang melihat guru-guru yang mengajar. Aku tersenyum dalam hati. Ia memang percaya diri, tapi tak pandai menyembunyikan raut kesepian dari wajahnya. Ia anak piatu. Ayahnya acap pulang kerja larut malam. Kedua adiknya bekerja di luar kota.

SISI
Dia kelahiran Yogyakarta. Selain wajah-plus senyum-manisnya, kulitnya yang eksotik, rambut sebahu, bulu mata yang mencuat, hidung bangir, dan bibir yang merah penuh, ia juga murah tersenyum. Sudah berapa lama tinggal di Lubuklinggau, tanyaku. Ia tak menjawab. Ia hanya menulis di secarik kertas yang baru kubuka selepas mengunci pintu kamar. Aku bisu, tulisnya. Itu saja.

APRIYANI
Bila ada yang bertanya di mana dapat dicari wanita yang senang menolong, aku akan menunjuk rumahnya. Walaupun baru berkenalan, gadis itu suka sekali membantuku. Bahkan untuk mengurus beberapa proposal-yang sejatinya tanggunganku-ke beberapa tempat yang cukup jauh untuk ukuran gadis belia seperti dia. Aku masih bisa menyembunyikan resah, ketika ia memerkenalkan tunangannya dari Padang. “Se-suku lebih enak,” katanya seolah menanggapi keresahanku yang berhasil diendusnya.

YUNI
Tak jauh berbeda dengan nenekku, adik ibuku ini tak terlalu banyak omong. Tapi… o o, sekali berucap, maka seolah gumpalan magma menyembur dari mulutnya. “Alan dan Ros kemarin pisah ranjang. Tak lama lagi, ia akan senasib dengan Marlis yang ditinggal Milah. Cukuplah kiranya itu jadi pelajaran bagi kau. Jangan menyunting gadis Pariaman!” Huh, tak adil, batinku.

JUWITA
Awalnya kupikir gadis ini sama seperti wanita Jawa kebanyakan. Ayu dalam berbicara dan terlalu menjaga dalam bersikap. Tidak! Bukan, bukannya ia grasak-grusuk dan tak ada adab dalam berkawan, tapi ia seperti orang Linggau kebanyakan. Cuek tapi peduli. Serius tapi santai. Aku tak terlalu terkejut ketika ia menjawab pertanyaanku seputar wiwitan yang diikutinya: “Kalau bukan karena rambutku sempat botak karena menyimpan sisir pas panen dulu, pasti sudah lama aku hilang Jawa-nya?”

KUSMINARTI
Mengapa kau tak ikut grup lawak saja, tanyaku padanya saat itu. Ia sangat suka melucu. Walapun, jujur, kadangkala banyolannya garing. Ia kerap menertawakan cerita-ceritanya sendiri, tentu saja berharap orang lain mengikuti tingkahnya. Mungkin ia ingin meniru gaya Ajo dan One dari kampung ibunya: Piaman. Tapi ia lupa bahwa aku tak mudah terpancing, sampai…. ketika di tengah keramaian, dengan setengah tertawa ia berujar bahwa resletingku sudah sedari tadi terbuka. Yang lain tertawa. Aku juga tertawa, menutupi wajah yang memerah.

SHANTY
Dia sudah menikah. Bahkan satu bulan yang lalu baru saja melahirkan. Aku cukup senang ketika sebuah frase indahku akan dijadikan nama buat putri pertamanya. Orangtua kami tak setuju, tak ada unsur pewayangannya, dalihnya seolah meminta maaf karena tak jadi memakai nama yang kugubah. Ah, aku biasa saja. Yang aku terkejut adalah ketika kudengar ia akan bercerai. Satu setengah tahun kemudian, aku hendak menelponnya sebelum sebuah undangan aqiqahan terselip di pintu rumahku. Ada nama anak kedua mereka di sana.

ANA
Teman laki-lakiku kerap membicarakannya. Gadis paling menarik yang pernah ada. Tak kubiarkan kalian berprasangka bahwa pastilah ia suka memakai legging, tank-top, dan suka berhaha-hihi ketika jalan-jalan sore dengan Mio pink-nya. Ia gadis yang pendiam, bahkan dua bulan yang lalu ia memakai jilbab. Satu minggu yang lalu katanya ia juga bercadar. Masih tak kupersilahkan kalian berprasangka, apalagi menghujatnya, ketika ia digelandang polisi untuk alasan yang kata kalian: bom dan teroris. Mojang Cianjur itu hanya mengutil sabun dan pasta gigi di Linggau Plaza.

RAINAMSA
Ia menjulukiku sebagai orang yang tak pandai mengambil langkah. Tentu saja, ia menyebut mereka yang pernah dekat denganku. Tak kurang satupun. Ia masih ingat semuanya. Ingin sekali kutumpahkan kekesalanku bila tak menenggang bahwa ia adalah perempuan yang melahirkan dan membesarkanku. Setelah puas merepet perihal kawin-kawinan itu… : “DU-A E-NAM!!!” Lagi, ia meneriaki usiaku. Betul ‘kan? Perempuan memang sangat berlebihan!(*)

/Lubuklinggau, 01 Mei 2009 s.d. 10 Januari 2010
Rabu, 17 Maret 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Setta SS
Dimuat di Jurnal Bogor, 14 Maret 2010

















SEJAK lebih tiga tahun lalu saya tinggal di Kota Gudeg ini, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Berita lelayu, yang sering saya dengar dari pengeras suara di atas menara Masjid At-Taqwa, sekitar 100 meter dari tempat kos saya.

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Ada berita lelayu
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun...


Bapak pembaca berita lelayu itu mengucapkan ayat 156 surat Al-Baqarah sebanyak tiga kali, seperti biasanya. Lalu ....

Telah meninggal dunia dengan tenang
Nama : ....
Usia : ....
Alamat : ....
Meninggal pada hari … pukul …


Kemudian dilanjutkan dengan menyebut keluarga yang ditinggalkannya; istri atau suami, kakak, adik, anak, hingga cucu-cucunya, kalau memang ada. Dan pada akhirnya, memohon dengan hormat pada siapa saja yang mempunyai waktu luang dan bersedia untuk bertakziah dan sekaligus mengantarkan si mayit ke tempat peristirahatan terakhirnya di dunia ini, liang lahat!

Saya biasanya hanya mengecilkan volume radio yang sedang saya putar sesaat untuk mengetahui siapa orang yang meninggal pagi itu dan berapa usianya. Selebihnya saya segera memutar lagi volume radio hingga suara pengumuman itu tak terdengar lagi. Begitu juga dengan semua teman-teman sekosan saya.

Bagi saya, berita itu sudah menjadi santapan rutin hampir setiap hari. Biasa-biasa saja. Tidak ada yang aneh sama sekali. Paling isi beritanya ya itu-itu juga. Hanya tinggal mengganti nama orang yang meninggal, usia, dan tempat tinggalnya. Beres!

Seperti yang barusan saya dengar, bapak itu kembali mengumumkan sebuah berita lelayu. Selalu saja tepat menjelang jam enam pagi, saat saya sedang membaca diklat kuliah sambil mendengarkan radio ditemani secangkir teh poci hangat.

Saya sempat tercenung cukup lama tadi. Usia orang yang meninggal pagi ini 105 tahun!

Tadinya saya pikir bapak itu salah baca. Tapi ketika dia mengulangi membaca untuk kedua kalinya, tetap saja suaranya dengan sangat jelas mengatakan usia seratus lima tahun!

Akhirnya, mau tak mau, saya harus mengakuinya juga bahwa saat ini pun ternyata masih ada orang yang usianya melebihi angka seratus! Bah!

Tiba-tiba saya langsung teringat usia saya saat ini. Usia saya baru 21 tahun kurang dua bulan dan sembilan hari. Jadi, kalau seandainya saya juga diberi umur hingga 105 tahun, berarti saya masih punya sisa waktu 84 tahun lagi ya?

Ah, masih jauh, baru seperlimanya! pikir saya santai.

Namun saya bisa menyimpulkan, rata-rata usia orang yang meninggal, yang selalu diumumkan oleh bapak itu, tidak lebih dari 70 tahun. Paling banyak usia enam puluhan. Ada juga beberapa yang usianya di bawah 30 tahun.

Saya masih ingat, dua hari yang lalu, bapak itu membacakan sebuah berita lelayu tentang seorang wanita yang meninggal dalam usia 27 tahun. Tetapi, belum pernah sekalipun saya mendengar usia orang yang meninggal itu 21 tahun, sama seperti usia saya. Apalagi hanya seorang bayi yang baru beberapa bulan hadir di dunia ini.

Entah karena memang tidak ada atau berita lelayu ini hanya khusus untuk mengabarkan mereka yang meninggal dalam usia tua saja, saya tidak tahu. Saya hanya suka saja mendengarkan bapak itu membacakan sebuah berita lelayu di pagi hari. Tidak lebih dari itu! Lagian apa peduli saya?

***


“KENAPA Bapak menangis?” tanya saya heran menyaksikan punggung bapak itu berguncang-guncang menahan isak, bersandar pada dinding masjid di dekat tempat mic.

Tadi saat saya pergi ke warung untuk membeli satu kotak kecil teh poci, bapak itu mengabarkan sebuah berita duka lagi. Iseng, saya melongokkan kepala dari jendela masjid yang terbuka untuk melihat apa yang sedang dilakukannya.

“Setiap kali saya membacakan sebuah berita lelayu, saya jadi teringat akan jatah usia saya sendiri. Saya tidak tahu kapan akan mati, tetapi saya yakin suatu hari kelak akan datang saatnya, giliran saya yang diumumkan telah mati lewat pengeras suara ini,” jawab bapak itu dengan suara bergetar, masih dengan isaknya yang putus-putus.

“Kematian adalah awal siksaan yang sangat menyakitkan bagi orang yang durhaka. Sementara, saya sendiri tidak begitu yakin akan bisa selamat melewati pintu yang satu ini jika waktunya telah tiba nanti,” lanjut bapak itu lagi tanpa saya minta.

Bergegas saya meninggalkan bapak itu setelah dia menuntaskan semua kata-katanya pada saya.

Uh, saya heran, kenapa saya hanya diam saja tadi saat dia bicara tentang hal yang menurut saya biasa-biasa saja itu. Saya seperti terhiptonis! Tetapi ada nuansa lain yang saya rasakan setelah mendengar kata-katanya tadi.

Ya, sesuatu yang jarang sekali saya pikirkan. Bahkan selalu terlupakan dari ingatan saya selama ini: KEMATIAN. Karena jujur saja, saya sudah cukup sibuk memikirkan bagaimana agar bisa lulus setiap mata kuliah dengan nilai baik, segera menyusun TA, maju sidang, wisuda, dan segera bekerja di perusahaan bonafid impian saya. Dan saya benar-benar terlena dari memikirkan hal yang satu itu.

Tetapi, diam-diam, saya merasakan hawa dingin menelusup, menembus saluran pengeluaran di kulit ari saya. Bulu kuduk saya berdiri!

***


SELEPAS Isya ....

“Nderek mboten, Mas?” sapa seorang bapak setengah baya yang membawa kotak infak masjid kepada saya. Bapak yang selalu mengumumkan berita lelayu itu.

Di luar masjid, bapak-bapak yang lain sudah berkumpul untuk bersama-sama berangkat ke rumah orang yang anggota keluarganya meninggal untuk membaca surat Yasin dan tahlilan.

Tadi pagi saya sedikit kaget mendengar suara kentongan dipukul bertalu-talu. Tadinya saya kira ada maling yang tertangkap, seperti biasanya bunyi kentongan di kampung kelahiran saya. Setelah suara kentongan itu reda, telinga saya langsung menangkap suara khas bapak tadi di pengeras suara mengumumkan sebuah berita lelayu lagi.

Saya baru tahu, ternyata kentongan berdiameter hampir satu meter di samping masjid yang tidak pernah dipakai itu hanya dipukul ketika ada berita lelayu dan orang yang meninggal itu penduduk asli di sekitar masjid ini.

“Mboten, Pak. Saya ada urusan lain,” jawab saya pendek. Saya kurang suka bepergian ke rumah orang yang sedang berduka. Pasti suasananya juga serba kelabu. Diliputi kesedihan.

“Monggo, Mas,” pamitnya pada saya sambil menganggukkan kepala.

Saya juga menganggukkan kepala sambil memasang sebuah senyum tipis. Tanpa sepengetahuannya, saya memperhatikan langkah-langkah bersahajanya menyusul bapak-bapak lain yang mulai berjalan meninggalkan pelataran masjid.

Kalau saya lihat dari perawakan sedangnya yang tampak masih cukup kekar dan sehat, saya tebak usianya sekitar setengah abad, atau kalau pun lebih tak akan terlalu jauh.

Saya bertanya dalam hati, berapa tahun lagi nih bapak akan mati?

Kematian itu seperti buah kelapa jatuh, Mas. Memang banyak kelapa yang baru jatuh di saat sudah benar-benar tua dan penuh dengan pati. Namun, tak sedikit pula yang sudah lepas dari mayangnya pada waktu masih degan, kelapa muda. Bahkan, ada juga yang sudah berguguran kala masih berupa bunga.

Jika selama ini usia orang meninggal yang saya umumkan hampir selalu di atas lima puluhan, bukan berarti maut hanya bagi mereka yang sudah renta saja. Ia akan mendatangi siapa saja tanpa memandang batasan usia.

Saya tersentak sendiri. Kenapa perkataan bapak itu lagi yang ke luar dari memori saya untuk menjawabnya?

Saya merasakan sesuatu yang kasat mata merayapi seluruh permukaan tubuh saya seketika. Sama seperti yang saya rasakan saat pertama kali bapak itu mengucapkannya. Dingin!

Bergegas saya melangkahkan kaki menuju tempat kos saya yang tak berapa jauh dari area masjid itu.

***


SEHARI berselang ....

Tong! Toong!! Toong!! Toong!! Tooongg!!!

Saya terlonjak kaget dari tempat tidur. Reflek, mata saya yang terasa sempit saya kucek-kucek dengan punggung tangan kanan saya. Ternyata saya ketiduran lagi sehabis shalat shubuh tadi.

Toong!! Toongg!! Toonggg!!!

Perhatian saya langsung tertuju pada suara kentongan itu. Tiba-tiba saya langsung teringat sesuatu. Saya alihkan mata ke arah jam weker di pojok meja belajar. Tepat sekali, sekarang pukul enam kurang beberapa menit. Seperti biasanya, memang jam seginilah bapak itu selalu mengumumkan sebuah berita lelayu.

Dan tentunya, sama seperti kemarin pagi, pasti hari ini yang meninggal juga penduduk asli sini. Suara kentongan tadi tandanya.

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Ada berita lelayu
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun...


Saya merasakan ada sesuatu yang janggal dari nada suara itu. Suaranya tidak seperti biasanya.

Telah meninggal dunia dengan tenang
Nama : Bapak Rabejo
Usia : ...


Tiba-tiba tubuh saya langsung lunglai seketika.

Saya tidak memperhatikan lagi apa yang diucapkan oleh suara itu selanjutnya. Hanya satu hal yang saya ingat, namanya Pak Rabejo, jawab si Ifan, teman sekos saya yang sering ikut mengajar anak-anak TPA di sore hari, saat saya tanya nama bapak yang selalu mengumumkan berita lelayu itu sebulan lalu!


13 Oktober 2oo3 o3:37 p.m.



Catatan

berita lelayu: berita kematian; nderek mboten, Mas?: ikut tidak, Mas?
Minggu, 21 Februari 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jurnal Nasional, 21/02/2010

1.

KAU pernah bergidik mendengar ombak yang bergemuruh; pucat oleh raungan halilintar; berdegup-kencang karena bumi bergemerutupan; gemetar menyaksikan angin yang memuting. Ah, itu tak ada apa-apanya, Kawan! Adakah yang lebih hebat dari rindu?

Ingin kusimpan surat itu bersama kelopak-kelopak mawar yang menebar bau harum yang khas; bila kau mengubah kata ”Kawan” di sana dengan kata ”Sayang”. Oh, dapat kubayangkan langit yang tiba-tiba memerahmuda; sehelai selendang sutra berwarna lembayung akan melingkar di bahuku; rambut sepinggangku akan berkibar-kemilau... lalu, aku akan terbang ke langit kedua. Sekadar duduk-duduk sambil menunggu mendung tiba. Keadaan yang mengundang para bidadari untuk turun ke bumi dan mandi di salah satu lembahnya. Tentu saja gadis-gadis cahaya itu akan melewatiku, dan aku pun dengan sesegera bergabung bersama mereka. Akan kuceritakan tentang sebuah tempat yang sangat elok untuk melengkungkan pelangi. Lubuk Nio, sungai yang berasal dari aliran air di bantaran Talang Rejo, lereng Bukit Sulap.

Aku yakin mereka akan terbuai, lalu turun ke bumi bersamaku dengan selendang yang dikepak-kepak. Aku juga akan sangat bahagia ketika kau benar-benar menunaikan kebiasaanmu menunggu Magrib sambil memancing di salah satu tepiannya. Aku hafal sekali kau biasa melakukannya di bawah pohon kam; mungkin menunggu jodoh dari Tuhan. Tak salah bukan, bila sekali-sekali kau mencuci matamu: melihat tujuh bidadari mandi dengan seorang perempuan seperti aku (anggap sajalah aku teman baru mereka).

Yang kutahu kau masih membujang? Apakah kau lebih mementingkan persahabatan kita, hingga keinginan berkeluarga pun terus kau tunda? Mungkinkah itu demi seseorang berambut panjang di Kota Ampera ini?

2.

BILA daun itu tautan, aku akan memberikanmu pepohonan. Bila air itu pelipuran, aku akan menghadiahimu lautan. Bila rindu itu kemilauan, aku akan membawakanmu bebintang. Bila persahabatan itu diriku, tidak berlebihan, bukan, bila kupersembahkan hatiku?

Alim, Alim. Dari hati yang paling dalam, sangatlah ingin diri ini menyambangi kampungmu yang juga tanah kelahiranku itu; ranah tempat kita dulu berkeriapan memapas debu dengan mobil-mobilan papan di salah satu tanganmu, dan boneka pelepah pisang di pangkuanku.

Apalagi surat yang baru saja kuterima ini, untuk kesekiankalinya membuat perasaanku berkebat-kebit. Kau memang pemuja bukti-bukti; bahwa gejolak dapat dikirimkan melalui liukan tinta di atas kertas HVS mangkak 68 kilogram‘”yang kerap kaugunakan untuk mengukir sajak-sajakmu. (Ah, seharusnya kertas-kertas itu menjadi santapan printer saban kau menyudahi beberapa sajakmu). Kau memang sahabat yang baik (semoga lebih dari itu). Sahabat yang tahu bagaimana sebuah gejolak dapat disambungrasakan melalui tulisan aslimu. Aku tersanjung‘”walaupun tak selayaknya itu kurasai.

Oh, benarkah tak selayaknya kurasai galau ini.

Semua belum tuntas. Aku belum merampungkan masalah itu: perihal harta gono-gini dengan Bang Markus. Dia sangat baik sebenarnya, tapi... apakah hanya itu syarat sebuah bahtera dapat berlayar jauh hingga ke pulau impian? Aku tak menyalahkannya, Lim.

Penyair atau bukan, itu adalah pilihan hidup yang menyangkut kebahagiaan pribadinya. Tapi... apakah seseorang yang bukan penyair dimahfumkan untuk tidak menebar kehangatan pada tulang rusuk kirinya?

Bang Markus adalah es, yang bila pun mencair hanya menumpahkan rasa dingin pada kebersamaan kami. Apakah hal itu menjadi sah-sah saja seorang laki-laki lakukan pada istri yang belum memberikannya keturunan?

Kau tahu, Lim. Sebenarnya aku telah memeriksakan diriku‘”maksudku rahim dan kesuburanku‘”secara diam-diam pada seorang ahli kandungan. Kau tahu hasilnya? Aku tak mendera kekurangan satu apapun untuk berketurunan. Namun... haruskah ini kusampaikan pada suamiku itu? Sedingin-dingin ia, ketika merasa terpojok perihal kelelakiannya, ia pasti mengamuk juga.

Kau tahu bagaimana tumpukan salju‘”sepanjang Bukit Siguntang‘”di Alaska ternyata memakan korban tak sedikit saban tahunnya? Bila gunung salju itu bergemuruh, maka pohon-pohon cemara dan rerumahan akan rontok-penyok, atau sekawanan pemain ski akan tunggang-langgang menyelamatkan diri sebelum lengkingan panjang menjadi pembuka penguburan mereka di ranah putih nan dingin tak tepermanai itu.

Dapatkah kaubayangkan bagaimana aku menjalani semuanya? Bila tak menenggang bahwa pernikahan itu adalah permintaan terakhir ayah sebelum ia berjazirah ke liang gulita, aku.... Oh, tak sanggup kulanjutkan catatan sepi ini, Lim.

3.

TAHUKAH engkau, mengapa Tuhan menciptakan ruang-ruang kosong di antara jemari kita? Karena suatu saat, orang-orang yang tulus menyayangimu akan memenuhi ruang itu dengan memegang erat tanganmu. Selamanya.

Entah ini surat yang keberapa yang engkau peruntukkan untukku. Andai kau tahu apa yang aku rasakan dulu dan kini benar-benar berbeda adanya, maka... masihkah kau akan merangkai metafora-metafora demi sebuah makna yang maha: kita saling menyayangi. Aku malu sendiri dengan kata yang terakhir itu. Agak risih. Kita tak halal satu-sama lain. Oh Alim, suatu saat aku akan ke Lubuklinggau. Aku akan merajut kedekatan itu lagi. Bukankah kau sudah merindukan suaraku yang melagukan Seroja ketika cintamu ditolak Aisyah dulu?

”Kau harus berpandai-pandai menganyam permainan, Lim,” kataku waktu itu. Engkau diam saja. Kau masih kecewa karena cintamu bertepuk sebelah tangan.

”Kau juga, Lim, tak memilah yang sekufu dengan orang-orang macam kita. Putri semata wayang Haji Mansyur! Bila pun Aisyah mampu kau jerat perasaannya, bukankah kau tahu kalau gadis itu sangat penurut pada abahnya? Takkah kau dengar desas-desus bahwa ia akan dipinang (atau dijodohkan dengan) Mustafa Hasyim, pemuda lulusan Gontor itu?

Sejak itu aku sangat sering menasehatimu agar sering ke masjid; belajar mengaji, dan mengurangi begadang di pos ronda dekat Jalan Lakitan.

4.

JANGAN terlalu mengharap ada yang berubah; seperti yang kumau, seperti yang kaupinta, seperti doa-doa kita. Karena pasti sebelumnya: Kita pernah saling menyayangi apa adanya.

Alhamdulillah, semuanya terselesaikan dengan baik. Aku tak lagi satu rumah dengan Markus. Dia sudah haram bagiku, begitupun aku atasnya. Ah, tak penting itu, Lim. Yang terpenting adalah kita harus membuat garis putih. Kejelasan sebuah jalinan: persahabatan atau nantinya akan mengerucut pada ikatan halal.

Aku baru menonton TVRI Daerah tadi pagi. Hebat ya kampung kita sekarang: diulas di tivi. Bukan tentang bajing loncat, gerombolan penodong di jalan lintas Sumatera; bukan pula tentang tujah-tujahan, tikam-tikaman pisau antarpenduduk; atau perkara ricuh di acara kawinan... tapi tentang sesuatu yang bisa melengkungkan senyum di wajah tirusku. Bandara Silampari akan mulai beroperasi (lagi) dalam waktu dekat. Walaupun hanya pesawat mini (begitu aku menyebut burung besi yang hanya bermuatan maksimal 10 orang itu), tapi paling tidak, aku tidak harus menempuh perjalanan delapan jam yang melelahkan via kereta api, bukan? Ya, aku akan ke Lubuklinggau bulan depan, membawa rindu yang sebenar sungguh!

Oh tunggu dulu! Tidakkah ada sesuatu yang sedikit ganjil? Maksudku, apakah kau memang tak tahu tentang bandara itu, atau memang kau belum mengetahuinya, atau kau tak ingin aku tahu.... Bukankah kau yang tinggal di sana?

Oh sudikah seorang jejaka berteman lagi dengan janda layu sepertiku?

Ah, lupakanlah itu, Lim. Akulah yang salah, seharusnya aku tak terlalu menganggap perjalanan Palembang-Lubuklinggau sebagai sesuatu yang melelahkan. Aku malu dengan sebaris sajakmu itu: ”Adakah yang lebih hebat dari rindu?”

5.

DAUN jatuh. Disapu pagi yang masih mengantuk. Kupu-kupu bersayap pelangi mengintip kuncup yang mekar diam-diam. Besok, daun akan jatuh lagi (?), berserakan di daratan yang dilalui Musi.

Tanggapan apa yang mesti kuberikan atas kata-katamu yang berkaki, tangan, sayap, dan menari-nari itu?

Sajakmu masih tetap sama seperti dulu. Bukan isinya maksudku, namun keindahan dan kekhasan pemilihan kata-katanya. Sungguh, semua itu membuatku seolah bercinta dengan mantra yang hidup dengan tiba-tiba!

Ah Alim, Alim..., kapan kau akan menuruti apa yang kusarankan dulu: Belilah handphone; kita dapat bercakap dan menulis pesan‘”atau juga sajak‘”dengan lebih leluasa. Lebih murah dan lebih cepat sampai pula. Tapi (kau tahu) aku tak (akan) memaksamu. Mmm... ya, aku yakin engkau tak bisa berkompromi dengan hal ini, bukan?

Alam itu adalah piranti kehidupan yang dapat memungkinkan semuanya, katamu dulu. Seperti dongeng atau film-film ala Saur Sepuh, beburung pun dapat saja menyambung maksud, katamu lagi. Ah, kau sangat unik, Lim. Unik. Ya unik. Itu bukan bahasa lain dari kuno. Aku takkan menyematkan kata yang biasa orang lain sematkan pada pola pikir dan kebiasaanmu yang anti-teknologi itu (setidaknya pada handphone).

Singkat cerita, aku tahu, kau akan tetap menulis surat-sajak dengan tanganmu. Apakah karena kau tak ingin ber-handphone? Mungkin. Walaupun dapat saja: ternyata kau menentengnya saban waktu untuk bercekakak-cekikikan dengan karib-karibmu (dan aku tak mampu mengendus itu). Oh, maafkan aku, Lim. Aku hanya mencoba bermain-main dengan praduga. Ya, aku percaya kau masih tetap seperti apa yang kaugambarkan tentangmu lewat sebuah surat-sajak; seperti seharusnya aku menyimpul ketakbiasaan hidupmu.

6.

LAKI-LAKI itu mematung di kamar. Ibunya seolah tiada memedulikan. Bahkan mulut wanita‘”yang sudah layak disebut nenek‘”itu hanya menyemburkan kata-kata yang membakar perasaan anak semata wayangnya saja.

”Inilah akibat menarik simpati istri orang. Kaupikirkanlah. Bukan kau saja yang masai. Lihat! Untuk apa wanita itu berpisah dengan suaminya bila pangeran yang dinanti pun tidak kunjung menyambanginya; membelai rambut; atau mengecup kening langsatnya... Lihat kau sekarang! Gayamu tak laki-laki sekali!!!”

Puihh! Sejak kapan Mak mahir bersajak?!

”Mengapa kau masih berdiam di depan tivi! Mau menangis kau setelah menonton berita itu?! Pergi sana! Jemput dan menikahlah dengan perempuan di puing pesawat itu!” Nenek tua itu makin ketus. ”Takkah kau ingin melihatnya untuk yang terakhir? Ingatlah, belum tentu apa-apa yang kau kira setatar denganmu adalah dia yang akan bersamamu mengayuh biduk hingga ke ujung daratan! Ini karma untuk kau yang rela meninggalkan Maimun dalam keadaan hamil tua! Jangan-jangan janda kanji dari Palembang itu juga menganggapmu masih ting-ting!”

7.

DAUN jatuh. Disapu pagi yang masih mengantuk. Kupu-kupu bersayap pelangi masih mengintip kuncup yang mekar diam-diam. Hari ini daun jatuh (lagi), berserakan di daratan yang dilalui Musi.

Ya, ia memang menyerak di antara mayat-mayat lain yang ikut bergelimpangan di tanah lapang ini. O ya, lihat! Aku tak menangis. Hanya bermata kaca. Walaupun aku takkan mengiriminya surat-sajak lagi, tapi... aku yakin, di malam-malam yang sudah tegak sempurna: ketika orang-orang (termasuk aku di antaranya) sibuk bersetubuh dengan kelam yang berbunga, Tuhan akan menghadiahiku seorang perempuan mati yang merinduiku setengah mati.

Dari mana kau tahu? (tanyamu)

Dari catatan harian yang‘”aku yakin‘”ia himpun saban aku menghadiahinya surat-sajak: karena di sana ia seolah bercakap denganku.

Aku meninggalkan bandara. Membawa sebuah organizer-book yang entah bagaimana tak kurang sesuatu apa; tak lecet atau sobek barang secarik. Sangat berbeda dengan dia: tanpa ruh dan terkapar dengan bercak merah di sekujur tubuh.

Adakah yang lebih hebat dari rindu?

Oh, Tuhan baru saja menjawabnya.

Bandara makin ramai. Orang-orang berseragam oranye sibuk mengangkut mayat. Di negeri ini, kecelakaan pesawat seakan-akan sudah lumrah.... ***

/Lubuklinggau, 23 April 2009
Rabu, 02 Desember 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jurnal Bogor 22/11/2009



AWALNYA antara iya dan tidak aku memenuhi ajakanmu wak­tu itu. Namun, demi melihat engkau yang begitu se­nang hati bila aku mengunjungi tanah kelahiranmu, maka aku pun akhirnya menganggukkan kepala. Se­sung­guhnya bukan itu saja yang menggenapkan alasan kedatanganku ini. Aku ingin membuktikan kebenaran anggapan miring mereka tentang kampungmu dan tabiat orang-orang di dalamnya.

“Cukuplah aku saja yang ke sana. Kampung sekali daerahnya!”

“Orangnya panas! Cepat tersinggung! Mau marah saja bawaannya!”

“Dulu, bibiku sempat ke sana. Pulang hanya bawa baju di badan. Ditodong dia….”

Itu kata kawan-kawanku di seberang sana yang dikutip dari orang-orang yang katanya pernah ke kampungmu. Itulah yang merangsangku menginjakkan kaki di salah satu daerah di Sumatera Selatan ini. Aku sengaja tak mengutarakan hal ini padamu. Takut engkau merasa tersinggung. Ya, aku tahu kau bukan orang yang sensitif. Tapi, kemungkinan salah paham itu tetap ada. Kau bisa saja beranggapan: Alasanku berlibur selama lima belas hari di kampungmu berada satu tingkat di bawah alasan kepenasaranku terhadap celotehan-celotehan mereka.

***

SATU fakta telah terkuak!

Tanah kelahiranmu dapatlah kusebut sebagai kota yang tengah berkembang. Di sini berdiri beberapa kampus swasta, SMA-SMK nasional, mal, butik, distro, pusat kebugaran, kafe, hall, hotel berbintang tiga, lapangan futsal, bahkan ada bandara-walaupun kabarnya jarang (atau memang tidak) difungsikan.

Aku telah mengabadikan semua dalam kamera digitalku. Bahkan aku juga sempat mengambil rekaman pertandingan futsalmu dengan anak-anak salah satu kampus swasta di sini. Untuk ukuran daerahmu, lapangan futsal tersebut cukup me­gah. Ini bukti: beberapa tahun ke depan kampung halamanmu akan menyamai Palembang. Aku yakin itu.

***

KAU sedikit pun tak menaruh curiga ketika aku memintamu untuk mengenalkanku pada teman-temanmu.

“Tenang sobat, kau akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai suku di daerahku. Yaa… bukannya aku ingin me­nunjukkan betapa luasnya pergaulanku, ta­pi… ya begitulah….” Kau mengakhiri kalimatmu dengan tertawa ngakak. Aku suka itu. Kau meyakinkanku bahwa kau tak me­ngendus ‘penelusuranku’.

Aku kaukenalkan dengan Nanu. Pe­muda sebayaku ini berasal dari keluarga su­ku Col. Alamak, nada (bukan isi) bi­ca­ranya tinggi sekali. Berdengking-dengking. Ia seolah tengah berbicara dengan seorang tuli atau manula. Kalimatnya disingkat-singkat. Ditambah pula, ia kerap berbicara dalam kecepatan yang ekstra. Belum lagi bila tengah memamerkan bahasa-daerahnya padaku. Aku seperti mendengar pembacaan mantra saja.

Tapi… aku suka itu. Selain gaya bicaranya yang tak lazim Nanu tak suka menanam tebu di bibir. Ia pun cepat mengakrabkan diri. Bahkan dalam beberapa kali kunjunganku (tentu saja bersamamu) ke kediamannya, sudah dua kali aku diajak makan malam bersama ayah-ibunya yang bekerja menyadap karet saban pagi hingga petang. Aku pun dikenalkan dengan teman-temannya. Ternyata mereka berlatar belakang etnis yang tak berbeda dengannya. Bertemu mereka, aku seolah melihat Nanu-Nanu yang bergerombol.

***

KAU mengenalkanku dengan Sunar, putri pesirah-semacam Kades. Aku juga berkenalan dengan teman-temannya. Ada yang dari Suro, Karang Panggung, Binjai, Mandi Aur…. Kami cepat akrab. Pun ketika mereka mengajakku andun (sebuah kata yang menambah perbedaharaan istilah lokalku); menghadiri hajatan prnikahan, bersamamu aku memenuhinya.

Kami andun ke Karang Panggung.

Ya Tuhan, di sana aku hampir tidak dapat melanjutkan kunjungan dari rumah panggung satu ke rumah panggung lainnya. Perutku bagai mau meletus. Semua­nya berawal dari ketaktahuan sekaligus kerakusanku.

Ketika menyelesaikan anak jenjang rumah pertama, kami disuguhkan ma­kan­an yang benar-benar asing-bagiku. Tuan rumah menghidangkan nasi beras pulut, ikan seluang goreng, sambal tampuyak, bunge kates rebus, ditambah pula air kelapa muda yang sudah dicampurkan gula merah parut.

Setelah kau memberikan kode untuk menghormati tuan rumah (aku tahu arti­nya: santaplah hidangan itu!), aku pun men­cobanya. Kau seperti mengulum se­nyum ketika melihatku dengan lahap me­nyantap hidangan. Aku tak memedulikanmu. Jujur, makanannya benar-benar enak.

Aku baru berhenti ketika orang-orang dusun itu mengeluarkan batuk kecil. O o, ternyata mereka memerhatikanku sedari tadi. Aku malu. Dan bertambah malu ketika tawa mereka pecah mendengar sen­dawaku yang tiba-tiba. Baru mengertilah aku arti kuluman senyummu itu. Ada tiga puluh sembilan rumah lagi yang mesti dinaiki. Masing-masing harus dihormati tuan rumahnya. Matilah aku! Kau pura-pura tak memedulikan kebingunganku. Aku tahu, dalam hati, kau terbahak-bahak!

***

RUPIT. Awalnya aku pikir itu nama salah satu temanmu. Kau tertawa hingga mengeluarkan air mata, ketika dengan percaya dirinya aku menyapa teman yang baru kaukenalkan padaku dengan nama itu. Merah-masailah airmukaku. Malu samsai.

Ternyata nama temanmu itu Kap. Tetap unik, seunik nama dusunnya. Te­rang­nya, ia anak yang ramai. Tabik! Perangai kami seirama. Kami pun bercerita panjang lebar tentang banyak hal. Tentu saja, selaku ‘pencari-bukti’, kuberi ruang lebar-lebar baginya untuk banyak bercerita. Selain untuk mengetahui tabiatnya, aku juga mendapat banyak pengetahuan tentang kampungnya-yang juga kampungmu.

Dari Kap, aku dijejali nama-nama daerah yang sangat menarik didengar. Mand Angin, Selangit, Lubuk Ngin, Pauh, Muara Kuis, Pulau Kidak, Cecar… Alamak, kapan kita ke sana? Aku benar-benar bergairah.

Ternyata Kap adalah gambaran orang-orang Rupit-dan daerah sekitar-pada umumnya.

“Banyak orang bilang kami orang-orang yang sombong, apalagi kawan-ka­wanku yang dari Bingin Teluk itu. Mungkin mereka mengatakan itu karena kami memiliki perkebunan karet, kelapa sawit, dan katanya, tambang emas. Tapi itu pandangan orang sekali lalu saja. Yaaa… kami seperti orang kebanyakanlah, Kawan!” Ia menepuk pundakku. Aku ter­se­nyum. Lebih mirip menyeringai.

Kita diajaknya jalan-jalan ke Mandi Angin. Ada perkebunan kelapa sawit yang sangat luas di sana. Dia sempat mena­nya­kan berapa lama aku akan menghabiskan waktu di kampungmu. O o, aku baru sadar. Sudah hampir setengah bulan aku di sini.

Beberapa hari lagi, jawabmu.

Lusa, aku menegaskan.

Sungguh, bila tak memikirkan mid-semester yang akan dilaksanakan dua hari lagi, aku masih ingin tinggal di kampungmu.

***

AKU benci malam ini.

Kau membelikanku tiket kereta api kelas bisnis. “Selain karena aku tak punya cukup uang, kelas eksekutif tidak akan membuatmu merasa berada di kampung orang,” katamu sebelum memecah tawa seraya meninju perutku.

Kau juga minta maaf kalau selama di kampung halamanmu, kau merasa ada hal-hal yang tak selayaknya aku dapatkan. Buru-buru kukatakan bahwa semuanya mengasyikkan. Aku mendapatkan banyak teman. Justru aku merasa agak menyesal tidak dapat bertemu dengan teman-temanmu dari beberapa daerah yang pernah kausebutkan itu: Sukamanah, Su­ka­merindu, Megang Sakti, Karang Dapo, atau Petanang, tempat rumah dinas walikota…

“Yang penting, selama perjalanan darat kita kemarin, kau tak melihat bajing loncat itu, kan?!” Kami tertawa lagi. Ah, aku benar-benar kena kali ini.

Petugas stasiun mengumumkan beberapa menit lagi kereta api akan berangkat. Kau mengantarku hingga ke tempat duduk. Setelah memberikanku dua kotak-kardus oleh-oleh, kau memelukku erat. “Itu pempek, pokat, dan gula merah,” bisikmu.

Aku tersenyum tipis sebelum mengucapkan terimakasih dengan lirih. Ah, bukankah nanti bisa kubeli di Palembang?

“Itu sebagai bukti bahwa kau pernah ke kampungku,” Kau seolah dapat membaca pikiranku. “Mungkin dengan yang ada di Palembang, rasa pempeknya agak sama, tapi cobalah cukanya. Berbeda. Nah, untuk pokat dan gula merah, jangankan orang di seberang sana, mereka yang dari Pa­lembang saja selalu membawanya sebagai buah tangan.”

Kereta bergemerudupan. Kau buru-buru turun dan berdiri di luar, dekat jendela tempatku duduk. Kereta berangkat pe­lan-pelan. Kau melambaikan tangan. Ti­ba-tiba kurasakan mataku hangat. Basah.

Sebuah suara dari sampingku berta­nya: “Temanmu itu pasti baik sekali, ya?” Aku mengangguk tanpa menoleh. Aku masih mengusap mata. “Orang Linggau dan Musi tak beda dengan orang keba­nya­kan, bukan?” lanjut suara itu.

Aku menoleh. Tak ada siapa-siapa. Orang-orang di bangku lain sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang membaca, ngobrol dengan kawan sebangku, makan biskuit, bermain ponsel, juga ada yang sudah membentangkan kardus di antara tempat duduk; bersiap tidur.

Aku memejamkan mata. Mengantar tidur dengan mengingat kawan-kawan ba­ru sebagaimana menghitung jumlah dom­ba di padang rumput yang luas. Oh, aku tak sabar menyumpal bacot besar mereka yang sok tahu di seberang sana.***

Lubuklinggau, 19 April 2009

Untuk orang-orang Lubuklinggau: berbanggalah!!