Tampilkan postingan dengan label * Irfan Hidayatullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label * Irfan Hidayatullah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 30 Desember 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Irfan Hidayatullah
Dimuat di Republika, Minggu, 27/12/2009



Aku di belakang mereka. Sama-sama antre. Bedanya, aku pake dasi, mereka pake seragam satpam. Aku mendengar apa yang mereka perbincangkan. Aku mendengar apa yang meraka inginkan. Aku juga mendengar petugas koperasi itu sedikit tidak ramah menerima mereka. Tapi, aku hanya bisa membayangkan wajah mereka saat berbicara di antara mereka dan berbicara dengan petugas koperasi itu.

Hari ini sebenarnya tidak terlalu sore, bahkan masih jauh dari waktu pulang kerja. Tapi, ruangan ini senja, bahkan seperti akan datang badai. Padahal, aku hanya mendengarkan mereka berbicara, tanpa melihat wajah mereka. Ya, aku di belakang mereka. Sama-sama antre. Bedanya, aku pake dasi, mereka pake seragam satpam.

"Pinjaman sebelumnya masih tersisa lima ratus ribu, Kang. Dan, potongan gaji Akang tidak hanya dari koperasi kan? Tinggal berapa sekarang gaji, Akang?" petugas koperasi itu bertanya retoris dengan nada minor. Dan, tak ada jawaban.

Aku mendengar suara tergeregap dan tak jelas keluar dari mulut satpam pertama. Satpam kedua hanya pasrah menunggu giliran berbincang dengan petugas koperasi yang nyaris judes itu. Petugas koperasi itu cantik sebenarnya, tapi di dahinya menggelayut senja yang sama, bahkan lebih senja dari nada bicara kedua satpam itu.

Hampir lima belas menit mereka tak beranjak dari depanku. Dan, aku sadar bahwa aku sedang antre. Aku di belakang mereka. Aku merasa sama dengan mereka. Sungguh, hanya mereka memakai seragam satpam dan aku pakai dasi.

Begitulah dia tak berdaya dengan kenyataan yang ada. Dia berada di antara mereka. Ibunya dan kedua adiknya yang perlente semua. Ibu mereka selalu mendapatkan tawaran hadiah dari kedua adiknya. Semua akan dikabulkan apa pun bentuk permintaan ibu, bahkan bila ibu meminta naik haji lagi atau sekadar umrah. Namun, anehnya, sang ibu tak pernah meminta apa pun. Ibunya hanya tersenyum padanya. Padanya seorang.

Kini, sang ibu terbujur sakit. Napasnya tinggal satu-satu. Dan, yang ada di depan ibu tua itu bukan kedua adiknya yang perlente itu, tapi dia dengan sayap senyapnya. Saat itu, siang terik di luar sana, tapi senja terpampang jelas di wajahnya, tidak di wajah ibunya yang telah sumerah. Napas satu-satunya berulaskan senyum. Ibaratnya, senja itu telah disaput oleh keindahan lembayung yang berwarna oranye. Matahari yang akan turun ke bawah bumi menyisakan keindahan yang membuat orang yang melihat fenomena tersebut menghela napas dan kemudian mengeluarkan HP masing-masing yang pada umumnya telah berkamera itu. Mereka akan mengabadikan momen pergantian matahari dan bulan itu dengan lega dan penuh keindahan. Namun, tidak dengan senja yang ada di wajahnya.

"Ibu harus segera dirawat di rumah sakit agar segera diambil tindakan medis," ujar laki-laki dengan dahi senja itu pada ibunya yang ternyata masih bisa diajak bicara, tapi menjawab terbata itu.
"Tidak usah, Komar. Biar ibu rela dijemputnya malam ini."
"Ibu mau menunggu mereka agar ibu bisa dibawa ke rumah sakit. Agar ibu bisa dibawa dengan mobil pribadi, padahal saya bisa pinjam mobil tetangga untuk membawa ibu ke sana."
"Jangan bodoh, Komar. Kamu tahu selama ini ibu tak mengharapkan harta mereka karena ibu tahu dari mana harta itu mereka dapatkan. Sudahlah, anakku, ibu sudah siap menunggu saat itu tiba."
"Tidak. Ibu harus ke rumah sakit saat ini juga!" Ia beranjak dengan tergesa.

Kini, giliran satpam kedua berhadapan dengan petugas koperasi itu. Dan, petugas itu tak banyak berkata, selain menyodorkan selembar kertas hasil kotretan. Di sana, tertera Rp 100.000. Si satpam kedua ini hanya mengangguk pasrah seraya menandatangani berkas peminjaman uang walau gaji per bulannya hanya tinggal seratus ribu. Sungguh, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Saat satpam itu berbalik, aku juga melihat senja yang siap badai di sana.

Kini, ketiga kakak beradik itu kumpul di ruang tunggu sebuah rumah sakit. Mereka saling bisu. Wajah sang kakak tak ramah melihat adik-adiknya yang perlente itu baru saja melecehkannya. Sementera itu hiruk pikuk para penunggu dan erangan sakit para pasien kelas tiga seolah satu-satunya suasana yang tercipta.

"Kang, please, buka pikiran kolot Akang. Yang terpenting kesehatan ibu, Kang. Biar ibu dipindahkan ke VIP dan kami yang menanggung biaya itu semua," salah satu adiknya berkata dengan sungguh, lirih, di telinga kanan sang kakak.

"Yang menghendaki ini semua ibu. Aku hanya menuruti kehendak ibu. Jika kalian mampu, silakan lobi ibu agar mengikuti kehendak mulia kalian," kata sang kakak sambil beranjak meninggalkan mereka berdua.

Kedua adik kakak itu saling berpandangan. Beberapa menit kemudian, mereka beranjak menemui sang ibu yang tergolek lemas di salah satu ranjang di antara deretan ranjang yang berpenghuni orang sakit, di antara berbagai erangan dan bau bacin badan orang-orang sakit serta para penunggunya. Para penunggu yang bergeletakan di bawah ranjang besi itu mengipas-kipas badan mereka karena hawa yang memang panas. Beberapa di antara penunggu itu ada yang membacakan Yasiin di telinga pasien yang ditunggunya. Dan, pasien itu megap-megap.

Kedua kakak beradik yang berpakaian perlente itu menghampiri sang ibu dangan wajah yang hampir muntah karena jijik melihat fenomena kelas tiga di rumah sakit itu. Di wajah sang ibu, senyum mengembang menyambut mereka.
"Aku tahu apa yang akan kalian ucapkan, tapi ibu tetap akan seperti ini. Ibu ikhlas."
"Iya. Kami mengerti, Bu. Tapi, mengapa dengan kami? Izinkan kami berbakti kepada ibu dengan harta dan perhatian kami. Mengapa ibu begitu mengandalkan dan--maaf--mengagungkan Kang Komar, padahal kami melihat ia tersiksa dengan beban membiayai kesembuhan ibu. Lagi pula, bagaimana ibu bisa sembuh di ruangan yang kacau seperti ini? Ibu berhak mendapatkan hak yang lebih dari kami berdua. Kami pun berhak mendapatkan pengakuan ibu, kasih sayang ibu, dengan menerima perhatian kami."
"Ah, sudahlah. Ibu hanya mengikuti naluri tua ibu. Sudahlah. Kalian cukup mendoakan ibu. Jika Allah berkehendak menyembuhkan ibu, di kelas berapa pun ibu dirawat, insya Allah akan sembuh."

Kata-kata itu seolah mengunci segala kemungkinan yang bisa diupayakan. Mata sang ibu mulai terpejam, tanda mereka harus meninggalkannya. Ia telah menutup dialog itu. Sang adik kakak dengan pakaian perlente itu meninggalkan sang ibu dengan wajah senja mereka. Senja tanpa saputan lembayung.

"Sudahlah, Dik. Kita sudah berupaya. Apa peduli kita dengan wanita tua yang keras kepala itu dan apa peduli kita dengan si dosen kere yang dianakemaskan ibu kita."

Kini, giliranku berhadapan dengan petugas koperasi itu. Petugas yang cantik sebenarnya, tapi senja bergelayut di matanya. Baru saja satpam kedua telah pergi dengan amplop di tangannya dan seulas senyum getir di wajahnya.

"Wah, kok tumben pake dasi, Pak. Habis nyidang, ya?" sapa petugas koperasi itu berusaha ramah, tapi kejudesannya tak bisa tertutupi.
"Iya, nih, Teh. Anu, saya mau bawa uang pinjaman. Aplikasinya sudah saya isi kemarin."
"Tapi, gaji Bapak akan habis karena potongan bank cukup besar."
Aku tertegun mendengar kalimat terakhir. Aku hanya melemparinya senyum.
"Nggak apa-apa, Teh. Sudah terlalu biasa bagi dosen III b seperti saya. Yang penting kan lancar mengembalikannya. Iya, nggak?"

Dia menengadah melihat televisi di ruang tunggu kelas tiga rumah sakit itu. Televisi 19 inci yang disimpan di dinding atas salah satu sisi ruang tunggu itu. Televisi yang disangkari besi begitu kokoh dengan gembok besar di ujung kanan bawahnya itu. Televisi yang sudah agak buram warnanya itu. Televisi yang sedang mengabarkan ditangkapnya petugas KPK karena diduga menerima suap.
Dan, kini, wajahnya betul-betul senja.
Minggu, 20 Desember 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen M. Irfan Hidayatullah
Dimuat di Pikiran Rakyat 13/12/2009



Seluruh penghuni rumah heboh dengan bau bangkai yang kucium. Padahal aku baru saja sampai rumah setelah hampir satu semester tidak pulang karena sibuk kuliah dan melakukan aktivitas kemahasiswaan lainnya, di antaranya demonstrasi. Tentu saja semua kaget, apalagi saat sekonyong-konyong aku mengajak semua orang di rumah untuk menghentikan segala aktivitas masing-masing selain mencari sumber bau bangkai itu. Ibu, adik-adikku, dan para pembantu kami yang berjumlah sekitar lima orang mendadak ikut heboh.

"Aku di ruang tamu, ibu di kamar, dan adik-adik di kamar masing-masing, Mang Jirin di lantai dua, Bi Munah di dapur, Mang Komar di taman belakang, Bi Asih di ruang tangah, dan Mang Koko di atap! Pokoknya hari ini harus ditemukan di mana sumber bau bangkai itu!" Aku memimpin pencarian. Dan mereka tak ada yang menolak. Kami pun menyebar ke tempat masing-masing untuk mencari sumber bau itu.

Tentu saja aku tahu mereka bingung, tetapi aku lebih bingung lagi karena bagaimana bisa bau bangkai yang menyengat itu tak mengganggu mereka. Kami belum sempat kangen-kangenan. Aku belum sempat memeluk ibu dan mencium tangannya. Adik-adikku juga belum sempat bersalaman dan mencium tanganku. Dan para pembantu yang sangat akrab denganku itu belum sempat bertegur sapa dan bercanda denganku. Bau bangkai di rumah kami mengalahkan itu semua. Namun, anehnya mereka tak mencium bau itu sama sekali.

Ayahku tentu sedang tidak ada. Walaupun hari ini hari Minggu, ia tetap tidak punya waktu untuk keluarga kecuali secara tiba-tiba ia mengajak kami berlibur ke suatu tempat yang tidak kami sangka-sangka. Semuanya disesuaikan dengan tampat pertemuan ayah dengan para kliennya. Ah, walaupun demikian ayah tetaplah pahlawan bagi kami karena dari keringatnyalah kami memiliki rumah besar dan nyaman dan bisa mendapatkan fasilitas hidup yang serba cukup bahkan mewah. Konon, bahkan tidak hanya kami yang ayah buat bahagia, tetapi ribuan orang. Ia mempekerjakan ribuan karyawan di perusahaannya yang memiliki cabang di hampir lima kota di negeri ini. Ah, ayah adalah sosok yang selalu kami rindukan. Ia seperti pahlawan yang fotonya sering ditempel di tembok-tembok sekolah dasar di negeri ini.

Begitu juga saat ini. Aku sedang memandangi fotonya yang tengah bersalaman dengan presiden pada suatu acara kenegaraan. Wajah ayah tidak tampak jelas karena ayah hampir membelakangi kamera. Hanya, kami betul-betul yakin bahwa itu adalah ayah. Itu betul-betul sosok ayah yang kami kenal. Posturnya, caranya membungkuk (ia memang sering membungkuk terutama pada orang yang jabatannya lebih tinggi, apalagi pada presiden), bentuk kepalanya yang lebih besar dari umumnya kepala, dan dari rambutnya yang sudah mulai kelabu. Ah, kami bangga sekali dengan foto ini, dan ibu (atas perintah ayah) selalu menyuruh Bi Asih merawat foto tersebut; membersihkannya dari debu dan mengilatkannya setiap hari. Foto itu memang hampir keramat bagi kami karena sepanjang keturunan, baik dari ayah maupun dari ibu, belum ada yang berkesempatan bersalaman dengan presiden. Betapa bangga kami. Bangga pada segala nikmat yang diberikan-Nya pada kami. Nikmat yang tidak semua orang mendapatkannya. Dan tentu saja, nikmat mempunyai ayah seperti ayah kami yang maju, kaya, dan berwibawa.

Tiba-tiba semua orang yang tengah mencari sumber bau itu sudah ada di belakangku dan semua fokus pada yang kulakukan. Ibu melihatku sambil geleng-geleng kepala, adik-adik berkacak pinggang, para pembantu pada bengong. Kini, aku tengah memegang foto itu dan mencium foto itu dari berbagai sisi dan sudutnya. Dan aku mau muntah. Bau bangkai ternyata bersumber dari foto itu. Dan sesuatu mendesak dari perutku menuju kerongkongan. Aku berlari ke kamar mandi, menyibak semua yang tengah melihat dengan aneh diriku lalu hampir semua isi perutku keluar di kamar mandi. Kepalaku serasa berputar. Rasa enek dari bau bangkai itu betul-betul tak bisa kutahan lagi. Bau bangkai yang baru kurasakan selama hidupku.

Setelah selesai dengan urusan perut, aku kembali ke ruang tamu dan foto itu. Aku melihat semua tengah membaui foto itu, seperti seekor kucing membaui benda yang disangkanya makanan. Namun, mereka saling pandang kemudian. Pandangan mata mereka begitu menyiratkan kepenasaran dan keanehan. Mereka geleng-geleng kepala. Lalu mata mereka melesatkan panah-panah ke arahku. Aku sekonyong-konyong lari ke kamar ayah dan ibu (lebih karena penciumanku menunjukkan bahwa ada sumber baru daripada karena panah pandangan mereka). Namun, bisa juga karena pandangan mereka yang memanah aku ingin segera membuktikan kebenaran tentang bau bangkai itu. Mereka mengejarku.

"Di sini bau bangkai itu semakin kuat, Bu! Ibu tidak menciumnya? Coba Ibu tengok lemari baju, pasti sumbernya di sana."

Tanpa menunggu tanggapan ibu, aku langsung mengobrak-abrik lemari baju. Namun, sebelum ibu angkat bicara memarahiku, dari luar pagar rumah kami mendengar suara klakson mobil ayah yang biasa ia bunyikan setelah memasuki gerbang otomatis rumah kami. Aku pun segera berlari ke bawah dan siap menyambut kedatangan ayah. Semua terasa hiruk-pikuk. Ada suatu yang tidak tentu di rumah kami. Keheranan dan ketidaktahuan menjadi penguasa saat ini. Hanya aku yang merasakan bau itu dan mereka seakan melihatku sebagai orang gila.

Begitulah, ayah sekarang telah berdiri di hadapan kami. Akan tetapi, kami tak bicara sepatah kata pun. Semua senyap, membisu, dan saling menunggu. Beberapa detik, beberapa menit. Dan aku nggak tahan lagi untuk memulainya, tetapi aku enggak sanggup melihat ayah yang pulang dengan kuyu , tak seperti ayah kami sebelum ini. Ia kini hadir sebagai sosok baru yang seolah menyerahkan semua beban tubuhnya ke bumi. Nglumruk, lungrah, dan seperti akan pecah.

"Jangan katakan Ayah terlibat kasus itu, Yah!" ujarku. Ayah diam.

"Maafkan Ayah, Nak... maafkan Ayah...." ia berkata dengan tertunduk. Di matanya tergenang air. Akan tetapi semua senyap, kecuali perutku yang kembali mual dan mendesak untuk dikeluarkan.

Dan aku tak bisa menahannya. Isi perut itu terus-terusan seperti berdemo dan ingin eksis. Ia menjebol dinding pertahananku. Lalu... Brusss... semua sisa isi perutku menyembur tepat di wajah Ayah. Semua menjerit.***

Bumi Sentosa, 11 November 2009
Minggu, 15 November 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen M. Irfan Hidayatullah
Dimuat di Republika 03/02/2008



Hujan sudah hampir satu jam. Deras. Kilat bersusulan dengan geledeg. Tanah seperti ditikam-tikam. Setiap tikaman memuncratkan darah coklat. Jalanan kampung kemudian tergenang, menuju banjir. Ini pagi sebenarnya.

Ya, ini pagi sebenarnya, tapi hujan itu sempurna menutupinya. Ibarat tirai penutup kenyataan. Dan kenyataan adalah ruang di balik tirai itu. Ruang yang betul-betul terpisah denganku saat ini. Tapi ada baiknya. Setidaknya hujan membantuku menghilangkan sekat waktu.

Waktu yang terus memburu. Memburuku dengan pisau mengilat di tangannya. Aku seperti tanah yang ditikam oleh hujan itu selama ini. Namun, tidak untuk saat ini karena hujan yang menikam-nikam tanah itu membantuku.

Ini pagi sebenarnya, tapi kelam. Karena hujan itulah pagi ini jadi kelam. Bahkan jadi mencekam. Tak ada seorang pun keluar rumah. Bahkan mungkin semua meneruskan tidur mereka. Bergabung lagi dengan mimpi-mimpi mereka. Namun, tidak denganku karena aku sepertinya harus merayakan terbunuhnya waktu.

Hujan sudah hampir enam jam. Masih deras. Aku masih merasakan betapa waktu telah kalah dan terbunuh. Mungkin sekarang harusnya sudah siang. Mungkin harusnya sekarang seperti siang kemarin saat aku terpanggang waktu, terbungkus debu. Saat aku tertampar-tampar kesempatan. Saat peluh telah menyatu baju melekatkannya pada tubuh ringkih. Saat aku tersaruk pada putus asa.

"Ini dia sampah!"
"Lebih busuk dari sampah!"
"Tak berguna!"
"Kerja, kek... ngapain, kek."

Hujan sudah hampir enam jam dan aku semakin yakin. Sementara itu, sepertinya yang tertidur sudah bangun. Mereka kini ramai menyelamatkan rumah masing-masing. Rumah yang mulai digenangi air. Rumah yang disatroni air. Rumah yang dikuasai air. Mereka seakan telah tak punya kuasa. Mereka hanya berusaha. Mereka terus mengeduk. Mereka berusaha membendung. Mereka bahkan berusaha berteriak-teriak minta tolong. Hujan terus berlangsung. Deras yang konstan diselingi geledeg.

Begitu pun rumahku, tepatnya, gubukku, telah sempurna dimasuki air dari berbagai jalan. Bocoran dan rembesan telah bermuara di ruang tempatku duduk mematung. Pada tanganku sebilah pisau. Aku telah mengasahnya hampir seminggu. Air itu semula hanya aliran kecil. Semula hanya ngeclak sesekali. Dan aku membiarkannya menjadi bah. Dan aku mempersilahkannya menjadi hujan pada hujan pada langit atapku yang bergayut dan kelabu.

Suara-suara ribut di luar sana tak membuatku bergeming. Aku betul-betul telah bulat memasuki sunyi. Ya, aku akan menyempurnakan sunyi duniaku. Setelah satu persatu manusia yang kukasihi luruh seperti kelopak bunga terbadai hujan deras, layaknya saat ini.

Istriku adalah kelopak terakhir yang gugur. Ia meninggalkanku saat aku hampir sebulan memasuki labirin itu. Saat aku berputar-putar pada jalan tak berujung. Saat aku mencari-cari ruh anakku yang direnggut dari kebahagiaan sederhana kami. Tabrak lari!

Suamiku.
Aku pergi. Kita hidup sendiri-sendiri saja. Jika telah siap, pinang aku kembali! Tapi jangan cari diriku sebelum kau menemukanmu.
Istrimu.

Surat istriku di hadapanku sebenarnya, tapi aku tak bisa membacanya lagi. Aliran listrik terputus. Aku hanya bisa mengingatnya. Kata demi kata.

Tiba-tiba tetangga sebelahku berteriak, Azan. Azan dengan sisa-sisa harapan mereka karena air telah menenggelamkan hampir setengah meter, padahal perkampungan ini termasuk berada di dataran agak tinggi. Kini tubuhku pun mulai terendam, tapi pada tanganku sebilah pisau.

"Kau mau apakan aku?"
"Aku mau memakaimu."
"Untuk apa?"
"Untuk membunuhku."
"Pada apa?"
"Pada urat leherku."
"Aku ngak sudi."
"Bukankah kau menginginkanku juga?"
"Enak saja."
"Kau berkilat ketika terbayang olehmu urat leherku?"*)
"Aku berkilat karena cahaya-Nya."
"Ha...ha..ha..ha, antar aku menuju cahaya-Nya, kalau begitu?"
"Kau tidak akan menghampiri Sang Mahacahaya karena kau kini takdicahayai-Nya."
"Ha..ha... pisau sok tahu. Aku tak akan basa-basi lagi."

Aku pun mengantar pisau itu pada urat leherku sendiri. Namun, pisau itu menolak. Aku berkeras. Dengan sekuat tenaga kutarik pisau itu menuju leherku, tapi tetap pisau itu pun bertahan. Bahkan tenaganya begitu kuat. Aku pun memakai dua tanganku untuk menariknya. Entahlah, aku tak habis pikir. Semakin aku berusaha mengeluarkan tenaga semakin kuat pula pisau itu bertahan.Sementara itu, di luar hujan semakin ramai. Ya, suara hujan, suara geledeg, suara azan tetanggaku, dan suara-suara orang meninggalkan rumah-rumah mereka.

Aku justru tengah berjuang. Aku kini bahkan bergumul dengan pisau itu di lantai, di genangan air. Aku ditenggelamkannya agar aku sudi melepaskannya. Jelas aku tak sudi, aku balik membenamkannya ke banjir itu dengan harapan ia akan kehabisan tenaga.

Namun, harapanku tak jua tercapai. Kami sepertinya seimbang. Kami terus bergumul sampai napasku betul-betul habis. Tapi aku takakan melepaskannya. Ini harapan terakhirku untuk menyempurnakan sunyi.

Lelah amat sangat menerpaku. Aku seperti tercekik oleh rasa itu, tapi aku tak mau semua berakhir dalam posisi kalah oleh mata pisau itu. Namun, aku tak mampu. Kini, aku hanya mampu berteriak.

"Aaaaaarrrrrgh... lepaskan aku pisau sialan. Aku telah mengasahmu bukan untuk sebuah pembangkangan."
Senyap. Tapi beberapa saat kemudian aku mendengar tetanggaku berazan kembali. Terus terang aku bosan dengan suara itu.
"Hai,... Juned. Diam kau."
Lalu suara-suara sibuk di luar pun semakin jelas. Kini aku merasakan hening itu pecah. Aku seperti dihubungkan kembali ke dunia bising. Dunia yang tak berjarak dengan diriku sendiri. Dunia yang selama ini justru berusaha kuhindari.
"Biar aku yang menghentikannya."
Tiba-tiba suara merdu itu hadir.
"Istriku?"
"Ya."
"Kau?"
"Ya, aku istrimu."
"Kau...?"
"Ya, aku datang untukmu."
Lalu istriku menghampiriku. Tangannya meraih pisau di tanganku. Aku heran, saat tiba-tiba pisau itu tak melawan. Ia pasrah di tangan lembut istriku. Lalu istriku pun meraihku. Mengangkatku dari rendaman air banjir itu. Aku betul-betul diangkatnya. Saat dia tersenyum sepertinya aku kembali pada diriku sendiri.
"Sudah lepaskan saja." Ujar istriku.
Aku tak mengerti dengan ucapannya.
"Siapa yang harus aku lepaskan?"
"Bukan kamu."
Lalu istriku mengusap mukaku dengan kemesraan yang memang telah melekat padanya. Kemesraan yang menghilang selama ini. Tiba-tiba saja duniaku jadi terang. Hujan berhenti, ruang tempatku berdiri dimasuki cahaya serentak, air banjir yang menggenangi lantai tiba-tiba surut.
Semua menjadi terang kini. Dan, di sekelilingku tetangga-tetanggakku berdiri dengan peluh. Di antara mereka ada Juned yang terus menerus Azan. ***

*) Gubahan baris terakhir sajak Mata Pisau karya Sapardi Djoko.
by Forum Lingkar Pena
Cerpen M. Irfan Hidayatullah
Dimuat di Republika 18/03/2007



Aku tercekat. Nafasku seakan terhenti, saat aku membuka kado dari wanita itu. Kado yang unik sebenarnya, tapi bagiku seperti ancaman. Benda yang bagiku begitu hidup. Ya, karena aku selalu membayangkan sebuah bahaya tengah menerkamku. Bahkan, aku sering bermimpi diburu mereka. Ya, mereka yang sekarang menjadi benda di genggamanku yang wanita itu berikan padaku, tepatnya, yang wanita itu sodorkan padaku. Aku jelas nggak mau menerimanya. Seekor kalajengking asli yang telah dipermentasi.

''Ini hadiah untukmu. Hari ini kan ulang tahunmu.'' Wanita itu tersenyum manis sekali, tapi beberapa detik kemudian aku melihat benda itu menjelmanya. Senyumnya begitu menakutkan.

''Kenapa? Ada apa?'' Dia heran saat melihatku tercekat. Aku melihatnya seperti sangat aneh dengan perubahanku.

''Kenapa? Ada apa?'' tanyanya lagi. Dan, kini dia betul-betul berubah menjadi binatang itu. Kalajengking. Aku berlari. Dia berteriak.

''Sudah kubilang kau jangan menghubungiku lagi!'' teriakku, menggegerkan cafe di mal itu.

''Mas, aku kemarin bermimpi kau disengat kalajengking.''

''Apa?'' tiba-tiba aku tercekat. Aku menyibakkan selimut yang menyatukan kami. Aku terbangun dan takut.

Istriku terlihat kaget. Ia ikut beranjak dengan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Aku langsung ke kamar mandi dan mengguyur tubuhku.

Membiarkan kepalaku dihunjam air dingin dari shower yang kumaksimalkan derasnya. Sebentar saja, aku sudah agak tenang. Guyuran air itu menyadarkanku. Degup jantungku lambat-laun normal kembali, sehingga aku bisa menjawab pertanyaan istriku.

''Aku nggak papa, Yang,'' teriakku.

Namun, sedetik setelah itu aku tercekat kembali. Aku teringat Ibu. Aku pun teringat wanita itu, yang berubah menjadi kalajengking, yang memberi hadiah kalajengking mati tadi siang.

Tiba-tiba saja dari saluran pembuangan kamar mandi seperti bermunculan makhluk-makhluk kehitaman yang membentangkan tangan-tangannya lalu mencapit-capitkannya di udara. Mereka datang satu per satu. Ekornya tegak dengan ujung lancip penuh bisa. Kalajengking-kalajengking di kamar mandiku. Aku segera menyelesaikan mandiku dengan teriakan histeris. Aku langsung menerjang pintu kamar mandi sambil bersijingkat, takut sekaligus jiji. Kehidupanku betul-betul terancam. Aku hampir menabrak istriku, yang berkostum selimut.

''Ada apa, Mas? Kenapa? Sadar, Mas!'' Ia mengikutiku yang kembali ke ranjang dan bersembunyi di bad cover yang tebal. Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Aku hanya menggigil ketakutan. Istriku tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia hanya membuka selimut itu dan melindungiku dengannya. Lalu ia bergabung dengan tubuhku, masuk ke dalam bed cover menghangatkanku. Ia berkata dengan lembut, ''Tenang, Mas. Aku di sisimu selalu.''

''Namaku Syam, tepatnya Syamsul. Kau?''

''Namaku Luna. Luna saja.''

''Sepertinya kita pernah bertemu.''

''Hm, itu gaya pendekatan yang sudah basi. Bilang saja kau tertarik padaku dan ingin berkenalan lebih jauh.''

''Rupanya, wanita sekarang lebih agresif.''

''Baru tahu atau pura-pura tidak tahu?''

''Ahha, lagi-lagi kau ....''

''Ya, aku tak suka basa-basi. Sekarang sudah tidak zamannya lagi. Kau akan ketinggalan kereta. Kau pun sepertinya masih gugup berkenalan dengan perempuan. Kau pasti sudah punya istri dan berusaha setia padanya. Iya, kan?''

''Lagi-lagi kau....''

''Ah, sudahlah. Ayo kita duduk. Ngak enak ngobrol sambil berdiri. Standing Party memang telah jadi gaya hidup pesta seperti ini, tapi aku lebih suka duduk dan relaks. Dengan begitu kita bisa lebih lama ngobrol tanpa diganggu oleh kaki lelah kita. Kenapa kau tidak minum wine? Ohho, I see, rupanya, you are mister conventional.'' ''Ah, sudahlah. Aku memang aku. Aku berusaha menjadi diriku sendiri. Tapi, sudahlah, yang jelas kau wanita paling cantik malam ini. Betul, aku nggak basa-basi.''

''Nah, gitu, dong! Itu baru gentlement sejati. Aku juga suka kau walaupun kita ditakdirkan untuk tidak bertemu.''

''Lho, emang kenapa?''

''Ya, iyalah. Kau matahari aku rembulan. Kau ada pada siang, aku pada malam. Penyatuan kita hanya pada mitos. Tapi kita bisa bersenang-senang dengan posisi seperti ini. Sepertinya kau harus kuajari tentang kehidupan sesungguhnya. Tentang gerhana.''

Malam itu, aku begitu puas. Terus terang aku baru merasakan suspensi hidup bebas seperti saat itu. Aku begitu terlepas. Aku matahari, dia rembulan. Malam itu adalah gerhana terdahsyat dalam kehidupanku. Nafas rembulan yang harum itu, saat itu, bergitu teratur dalam buaian mimpi setelah gerhana usai. Dan aku hanya bisa memandangnya.

Gila, aku telah mendapatkan kehidupan baru. Huh, aku manusia baru. Aku telah seperti manusia kota ini seutuhnya. Aku telah memasuki kehidupan lain lagi. Mungkin, akan sering terjadi gerhana itu.

Tiba-tiba vibra alert HP-ku mengagetkanku. Siapakah yang iseng menelponku tengah malam? Aku pun melihat layar hpku. Ibu! ''Assalamu 'alaikum, Ibu. Ada apa, Bu? Ini kan sudah malam, bahkan dini hari.''

''Ibu tidak bisa tidur, Syam.''

''Kenapa, Ibu?''

''Ibu mimpi buruk. Kau digigit kalajengking.''

''Ah, ibu sudahlah. Itu kan hanya mimpi. Sudahlah, Bu. Ibu tidur saja lagi. Syam nggak apa-apa, kok.''

''Kau di mana, Syam?''

''Aku di rumah, Bu. Udahlah Bu, Syam ngak apa-apa, kok.''

''Betul, kau di rumah, Syam?''

''Betul, demi Allah, Bu. Syams di rumah. Ini Agni di sampingku sedang pulas. Nanti dia bangun, Bu. Sudahlah, Bu.''

''Ya, udah kalau begitu. Hati-hati, Syam dan salam buat Agni, ya.''

''Ya, nanti Syam sampaikan. Waalaikum salam.''

Sejak detik itulah aku hidup tak tenang. Kalajengking sepertinya telah berada dalam tempurung kepalaku. Di dalam setiap sel otakku. Saat itu aku pun menemui tubuh berselimut yang tengah pulas itu. Namun, aku tak bisa tidur. Dia betul-betul menjelma kalajengking. Aku kabur dari hotel itu dengan menuliskan pesan pada selembar kertas dengan tangan gemetar.***

Depok, 28 Juni 2005
by Forum Lingkar Pena
Cerpen M. Irfan Hidayatullah
Dimuat di Republika 10/07/2005 Telah



Lalu pagi itu terlewati. Lalu siang itu terlewati. Lalu malam itu terlewati. Lalu pagi lagi. Aku hanya bisa termanggu menunggui tubuhku. Dan aku tak seperti biasanya lagi. Aku tak dirundung lapar dan haus. Aku telah bebas. Aku bahkan tidak merasakan lagi nuansa mewah kamarku. Karpet tebal penutup lantai. Ranjang kayu jati. Spring bed keluaran terbaru. Bed cover bermotif bendera Juventus. AC pintar plus mutakhir. Poster-poster pemusik hip-hop metal. Komputer dengan segudang game. TV platron 25 inc. Lampu tidur yang bercaping. Dan kamar mandi yang harum terawat.

Perasaanku telah lain. Aku seperti hampa. Aku mungkin telah berpindah wujud dari segumpal darah, sejumput daging dan sebongkah tulang menjadi udara. Dan, aku tak merasakan sejuknya udara karena aku udara, tepatnya mewujud udara. AC di kamarku telah hanya sekadar benda yang tak punya arti apa-apa. Kehampaan ini bagai sebuah wilayah yang tanpa batas, seperti tanpa sekat, seperti suasana tengah laut, atau seperti di tengah gurun, atau bahkan seperti di langit yang setelah kusampai di sana ditinggalkan biru, lazuardi.

Namun, aku tak bisa bergerak. Aku hanya termangu melihat tubuhku tak bergerak. Namun, aku juga tidak tahu pada apa kini berada. Aku seolah menyatu dengan ruang, tak bertubuh. Dan, aku tak membayangkan ini sebelumnya. Bahkan, sepertinya memoriku hilang. Aku tak punya sejarah lagi. Satu yang kutahu adalah bahwa yang tergolek itu adalah tubuhku. Dan, tubuh di sampingnya adalah tubuh entah.

Kadang aku merasa ada pada tubuh asalku, kadang pada ranjang itu, kadang pada lampu tidur itu, kadang pada AC itu, atau kadang aku tak di mana-mana. Ini rumit, pikirku.

Telah ruhkah aku? Telah mayatkah tubuhku? Lalu kenapa aku masih di sini? Kenapa aku tak beranjak perpindah alam, ke dunia lain? Atau inikah dunia lain itu? Tak mungkin. Aku masih merasakan wujud dunia walau aku tak bisa menyetubuhinya. Aku tertegun, tepatnya merasa tertegun. Aku tak mempunyai gestur lagi saat ini. Yang kupunya hanyalah entah apa. Mungkin hakikat segala sesuatu.

Tiba-tiba tubuhku bergerak. Namun, gerakannya aneh sekali seperti gerakan mundur. Memutar ulang. Begitu cepat. Sepertinya ada wujud lain yang menekan tombol replay. Sampai pada satu titik peristiwa. Saat tubuhku baru masuk ke kamar itu.

"Naah. Inilah kamarku, Sayang."
"Oh, ya? Bagus juga."
"Kita santai saja. Semuaku sedang ngak ada."
"Semuamu?"
"Ya, ibuku, ayahku, adikku, bahkan pembantuku."
"Oh, lalu yang tadi?"
"Ya, itu memang pembantuku, tapi kuanggap tak ada. Dia takkan bicara apa-apa. Dia saksi bisu."
"Tapi kamu harus hati-hati, Sayang."
"Tenang saja. Ia telah kubungkam dengan uang. Dia manusia juga. Butuh segalanya."
"Seperti kita?"
"Ya, seperti kita yang butuh kamar ini. Butuh kebebasan. Tempat saat hanya kita yang ada. Tak ada keluarga, teman, dan masyarakat yang selalu menghakimi dengan alasan dogma-dogma."

"Kalau begitu, ayo...."
"Nanti dulu, Sayang. Kita akan lakukan semuanya dengan sempurna. Jangan tergesa-gesa. Kita nikmati semuanya dengan sebuah rasa yang terjaga. Detik-detik kita jangan sampai terbuang karena nafsu yang menggelora. Kita harus menikmatinya seperti aliran air di sebuah muara, tenang, tapi menuju sungai yang deras menuju lembah-lembah, bahkan jurang. Kita bukan sungai yang airnya tergesa."

Aku tercekat melihat tubuhku yang segar-bugar itu tengah berbincang dengan seorang perempuan atau wanita atau, ah.... Aku betul-betul tak mampu mengingatnya. Atau putar ulang ini adalah proses ingatanku? Aku sepertinya disetting untuk objektif. Menjadi saksi atas diriku sendiri yang dengan penglihatanku yang tanpa mata ini menyaksikan tubuhku berbuat sesuatu. Aku subjek yang melihat aku objek.

Pemutaran ulang itu kemudian seperti dipercepat. Perbincanganpun berubah menjadi menggelikan. Nada menjadi lebih tinggi dan sambung menyambung. Aku tak mampu melihat setiap adegan dengan jelas. Tapi aku bisa simpulkan bahwa aku tubuh dan perempuan itu tengah melakukan sesuatu. Sesuatu yang menurut aku tubuh tadi ingin teralami dengan sangat lambat dengan detik-detiknya tak terlewat.
Namun, aku melihat justru pada sebuah proses yang sangat cepat. Pemercepatan itu telah membuatnya sangat cepat. Sesuatu pun terlakukan sudah. Sangat cepat dan cepat. Bahkan, seperti hanya sekejap. Aku bengong, betapa cepat peristiwa itu terjadi.
"Terima kasih, Sayang. Kau telah memberikan sesuatu yang berharga buatku. Aku takkan menyia-nyiakan itu. Aku janji."

"Betulkah, kau berjanji?"
"Kau sepertinya diliputi ragu, Sayang?"
"Karena banyak kejadian--"
"A...a, kau terpengaruh senetron-sinetron itu rupanya, atau novel-novel itu?"
"Aku hanya takut kehilanganmu setelah aku menghilangkan diriku sendiri." "Kita memang telah menyatu. Karena itu, kita tak bisa lagi saling berpisah."
"Kamu romantis sekali, Sayang."
"Itulah aku. Semua yang kumiliki hanya untukmu. Termasuk sifatku yang satu itu. Hanya untukmu. Apa, sih di dunia ini yang takkan kuberikan padamu setelah semuanya terjadi. Kita bahkan harus saling memberikan nyawa kita."
"Ah, sudah, Sayang. Kau mulai berlebihan."
"Sudah, kalau begitu. Kau nampak lelah. Kita tidur saja."
"Aku pulang saja."
"Tidak. Kau tidur saja di sini. Malam ini milik kita sepenuhnya."
"Kadang sesuatu yang tak terduga bisa terjadi."
"Aku sudah antisipasi. Aku sudah perhitungkan matang-matang."
"Lalu bila tiba-tiba mereka datang?"
"Percayalah padaku semua telah kuatur."
"Tapi Dia pun mengatur."
"Kau...."
"Ada apa, Sayang?"
"Kau menakut-nakutiku."
"Aku hanya menyebut Dia. Kau takut pada-Nya?"
"Ya, aku takut. Karena itu, kau jangan pergi. Temani aku agar aku tidak takut lagi pada-Nya. Kita berdua bisa menghadapi-Nya bersama, hmm.... Bagaimana?"

Tiba-tiba kejadian di kamar itu dipercepat lagi. Gerakan gerakan aku tubuh dan wanita itu jadi semacam bayangan yang berkelebat, cepat. Peristiwa-peristiwanya pun tidak hanya terjadi di atas ranjang itu, bahkan di bawah shower. Sekejap. Di bath tub. Sekejap. Di tolilet. Sekejap. Lalu terakhir kembali di (ke) ranjang. Sekejap. Setelah itu tak bergerak lagi tubuh-tubuh itu. Diselimuti atau bahkan ditutupi oleh bad cover dan selimut bermotif bendera Juventus itu. Tubuh mereka seperti dibenamkan pada ranjang itu atau disemayamkan.

Memoriku telah penuh. Aku jadi tahu masa laluku. Sehari semalam yang lalu. Namun, hanya itu yang kutahu. Sisanya hitam. Mungkin harus ada yang memutar ulangnya lagi. Dan, aku hanya saksi bagi diriku. Aku ternyata hanya mengenal nama, tidak peristiwa.

Entah ketukan yang keberapa kali, sejak malam tadi. Terdengar. Tergesa. Panggilan-panggilan berbisik, setengah teriak, lalu penuh teriak. Ketukan menjadi gedoran. Gedoran menjadi dorongan. Dorongan menjadi pembongkaran. Lalu jeritan. Histeris.

Mereka berempat. Ibuku, ayahku, adikku, dan pembantu kami itu. Mereka masuk sambil menutupi hidung mereka dengan baju-baju mereka. Bahkan adikku muntah di kamar mandi. Sedangkan aku heran. Ada bau apa gerangan? Mereka menghampiri aku tubuh, tubuhku yang terbenam sempurna di ranjang itu. Mereka membangunkanku. Tak berhasil. Mereka menggoyang-goyang tubuhku. Namun, keheranan terpancar pada mereka. Bukan tubuh yang mereka goyang, tapi benda lunak yang seperti terkelupas karena gesekan. Mereka saling pandang lalu seperti sepakat membuka selimut itu.

"Aaaaaaaa, Bagus anakku!"
"Ooooooh, Bagus anakku!"
"Haa? Kak Bagus? Ya, Allah!"
"Iiiiiii, Den Bagus?"
Histeris, heran, tak percaya, dan mual bercampur baur. Dan, aku hanya hening. Udara yang mungkin dingin. Tercekat oleh apa yang kulihat. Tiba-tiba aku berubah. Mulai bisa merasakan. Aku seperti membeku. Aku tak bertiup lagi. Raga gaibku yang entah apa wujudnya terpaku dan entah menancap di mana. Tubuhku tinggal wajahku, juga tubuhnya tinggal wajahnya. Wajah tercekat, tercekik, tersiksa, tak kuat, menjerit. Wajah tragedi. Sementara badanku dan badannya hampir tinggal tulang. Ulat-ulat yang gemuk dan penuh lendir kemerah-merahan tercampur darah memagut-magut setiap inci badan itu. Menuju wajah. Aku tak mampu mengekspresikan perasaanku, sementara mereka pingsan kecuali pembantuku. Ia terduduk sambil meraba saku celananya.
Depok, Oktober '03
by Forum Lingkar Pena
Cerpen M. Irfan Hidayatullah
Dimuat di Pikiran Rakyat 07/05/2005



DIALAH tubuh yang akrab dengan debu. Dialah sosok yang tak punya esok. Seorang gadis tergeletak di trotoar. Kendaraan hanya menderu seperti angin yang tak pernah singgah.

Kemarin ia ceria. Menyambut ulang tahun ke 17 nya. Dialah sosok harapan esok. Pada tubuhnya ada jiwa yang menatap optimistis cakrawala. Dia bahkan ingin terbang seperti kupu-kupu. Yang kepaknya memberi indah. Yang lenggoknya menebar pesona. Yang sesekali hinggap untuk menghentikan waktu. Memberi gemas pada setiap hasrat.

Pagi hari sang gadis telah siap akrab dengan aktivitas. Ia juara kelas. Hari-harinya penuh trengginas. Belum lagi, kesupelannya telah membuat kehadirannya seperti tak terelakkan. Pendapat-pendapat dan guraunya selalu diharapkan bahkan dirindukan. Jelas, hobinya adalah baca buku dan membaca peristiwa. Ia betul-betul gadis cerdas.

"Hati-hati di sekolah, Sayang."

"Hati-hati bergaul, Sayang."

"Cepat pulang, Sayang."

"Ingat les pianomu sore nanti."

Kedua orang tua sang gadis ibarat seorang kolektor barang antik yang begitu cemas. Setiap harinya adalah doa bagi mereka. Gadis pintar, cantik, dan gaul adalah segalanya. Adalah masa depan. Pasti masa depan. Itulah inti kecemasan, menghindarkan sang gadis dari reretak karena goncangan zaman.

Sebulan sebelumnya sang gadis menikmati saat-saat pertama memakai putih-abu. Ia tak jemu becermin. Ia seperti tak yakin dengan kenyataan. Ia melihat sebuah zaman dalam tubuhnya, dalam seragamnya, dalam jiwanya. Namun, dalam hatinya selalu bertanya. Apakah masa depan? Apakah simbol hari esok adalah sebentuk perkembangan tubuh, atau perkembangan warna seragamnya, atau perkembangan kebebasan.

"Nah, sebagai hadiah ulang tahun sweet seventeen-mu, kami belikan .... Trereng... Mobil!: Honda Jazz ! keluaran baru, warna baru, warna kesukaanmu. Kecantikanmu akan semakin sempurna."

"Tapi kamu harus hati-hati, Sayang."

"Tapi kamu harus cepat pulang, Sayang."

"Ingat les bahasa Prancismu nanti sore."

Setahun sebelumnya sang gadis adalah sesosok anak tanggung cerdas yang menggemaskan. Siswa andalan di sekolah andalan. Juara lomba pidato bahasa Inggris. Juara lomba cerdas cermat bahasa Inggris. Juara lomba karya Ilmiah Remaja. Nominator lomba kecerdasan Matematika tingkat nasional. Mata sang gadis selalu berbinar saat menerima pelajaran baru. Ia bahkan bintang dalam arti sesungguhnya. Sesuatu yang tak terjangkau. Ia cahaya yang menyilaukan siapa pun. Gadis cantik tetapi cerdas adalah mutiara.

"Makasih, Sayang kamu telah membuat mama bangga."

"Kamu memang anak nomor satu sedunia. Prestasimu adalah prestise papi di tempat kerja. Makasih, Sayang."

Lalu kedua orang tua sang gadis memeluk sang gadis. Sang gadis hanya mematung. Dalam benaknya berkecamuk pertanyaan tentang kenapa kata prestasi sangat dekat dengan prestise. Hanya suku kata pres yang ditambahkan sesuatu, tasi dan tise. Hanya dua suku kata itu. Tapi kenapa harus disandingkan? Kenapa harus didekatkan? Kenapa hakikatnya begitu berlawanan pada kenyataan.

"Tapi kamu harus terus belajar, Sayang."

"Ya, agar kamu diterima di SMA terbaik di negeri ini. Agar kemudian kamu bisa kuliah di universitas terbaik di negeri ini atau bahkan ke luar negeri."

"Ya, Sayang... kamu adalah aset bangsa... kamu adalah aset kami."

Sang gadis masih merenung. Kini tentang kedekatan antara kata kamu dan kami.

Lima tahun sebelumnya sang gadis adalah anak SD yang hampir tak punya waktu buat istirahat. Setiap harinya adalah belajar, belajar, dan belajar. Setelah sekolah adalah waktu untuk kursus dan les privat. Namun, ialah anak cerdas yang tak pernah mengeluh itu. Ia bahkan terus menerus menambah pembendaharaan kebanggaan orang tuanya. Kedua pipinya yang putih adalah landasan mulus buat ciuman-ciuman sayang dan gemas. Para nenek dan kakek adalah sponsor utama bagi keberadaannya di setiap arisan dan pertemuan keluarga. Namun, pada benak gadis itu berjejal cita-cita sederhana dari sebuah kecemburuan. Ia ingin seperti anak tetangga-tetangganya yang tertawa lepas.

**

DIALAH tubuh yang akrab dengan debu. Dialah sosok yang tak punya esok. Seorang gadis tergeletak di trotoar. Kendaraan hanya menderu seperti angin yang tak pernah singgah.

Siang itu ia hanya menjerit sedikit. Ia tak sempat berbuat apa. Ia dibekap kemudian terlelap. Di lorong parkir sebuah mal kehidupannya terhenti padahal beberapa jam sebelumnya ia adalah gadis ceria yang mulai menemukan teman atau bahkan sahabat. Mereka berputar-putar di mal. Mereka hanya mencari-cari cuaca di mal.

"Bintang, lihat manekin itu cantik tapi kaku kayak kamu."

"Bintang, lihat berlian itu berkilauan, tapi ditutup rapat, tak tersentuh kayak kamu."

"Bintang, selamat datang di dunia nyata. Dan kamu akan mendapatkan banyak kesenangan."

"Bintang.... Bintang ... Bintang!"

Sang gadis merasa terus disapa oleh apa saja yang ia lihat. Karenanya ia merasa ada, meriah, tak sepi, berteman. Ia pun melangkah, bergandengan tangan dengan kenyataan. Dengan bayangan-bayangan teman atau bahkan sahabat-sahabatnya. Entah jelmaan dari apa.

Begitulah ia begitu senang sebelum hp-nya berdendang.

"Sayang, kamu di mana?. Cepat pulang... ingat kau harus les."

"Sayang, ingat ... kamu harus hati-hati."

Sang gadis kembali ditarik dari dunia khayalnya di mal itu. Teman dan sahabat-sahabatnya begitu saja menghilang. Ia kembali sendirian. Ia pun melangkah ke tempat mobilnya terparkir. Namun, ia sengaja tidak memakai lift. Ia berjalan dan menikmati kekesalannya. Langkah kakinya seiring degup jantungnya. Kemudian sampailah ia ke samping mobilnya, tapi ia tidak sampai bisa mengendarainya. Ia terhenti pada rasa kaget dan ia hanya menjerit sedikit kemudian terlelap gelap.

**

DIALAH tubuh yang akrab dengan debu. Dialah sosok yang tak punya esok. Seorang gadis tergeletak di trotoar. Kendaraan hanya menderu seperti angin yang tak pernah singgah. Ia dilempar begitu saja dari Honda Jazz-nya. Tubuhnya melayang, berdebam, dan berguling-guling membentur-bentur lantai trotoar yang membelah tengah jalur cepat jalan By Pass. Kendaraan hanya menderu seperti angin yang tak pernah singgah.

Seorang ayah di kursi mewah kantor di lantai kesekian puluh sebuah gedung tinggi sedang menelefon. Sosoknya tidak terlihat penuh, hanya ujung rambut dan siku tangan dan suara yang lirih khawatir.

"Ma, dari tadi papa ngehubungin Bintang, kok nggak diangkat-angkat. Ada apa ya, Ma, papa khawatir sekali. Diakan harusnya udah nyampe rumah. Kata orang rumah dia pun belum pulang."

Seorang ibu di kursi salon sedang menjalani pedicure. Matanya hampir terkatup karena begitu santainya ia duduk. Namun, ia tiba-tiba melek bahkan terlihat kaget saat hp-nya bergetar. Lewat fasilitas hands free ia menjawab.

"Iya, Pa ... mama juga khawatir sekali. Tadi mama berhasil mengontaknya sekali, tapi satu jam kemudian mama cek lagi, eeh malah pesan suara yang menjawabnya... Gimana, Pa? Papa cari dong?"

"Maaf Papa ngak bisa. Mama aja."

"Mama lagi tanggung, Pa. Paling sejaman lagi."

**

DIALAH tubuh yang akrab dengan debu. Dialah sosok yang tak punya esok. Seorang gadis tergeletak di trotoar. Kendaraan hanya menderu seperti angin yang memang tak pernah singgah.***

*) Bandung, April 2005.*