Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jawa Pos, 26 Februari 2012

Anak yang baik adalah anak yang dapat memelihara hati ibunya.
Alun-alun Surga
Seorang wanita. Seorang ibu. Melahirkan. Membesarkan. Merawat. Apa yang sebenarnya ia lakukan kepada anaknya? Begini. Seorang anak. Anak satu-satunya. Anak perempuan. Anak manis. Gadis periang. Bermain dengan teman-teman. Sebayanya. Semua laki-laki. Ibu khawatir. Kita akan pindah, Nak. Anak mengangguk. Ah, anak yang baik. Kau tak takut kehilangan teman-teman? Anak menggeleng. Ah, anak yang baik. Mereka pergi. Mengembara. Ke desa. Ke desa. Desa demi desa. Teman demi teman. Kebaikan demi kebaikan. Keganjilan demi keganjilan. Kebaikan demi kebaikan. Keburukan demi keburukan. Kebaikan demi kebaikan. Keanehan demi keanehan. Kebaikan demi kebaikan. Stop! Kita tinggal di sini. Bermainlah. Ke alun-alun. Jumpai teman-teman. Kau sudah beroleh pelajaran dari pengembaraan, bukan? Anak tersenyum. Senyum yang merah. Senyum yang manis. Lalu mengangguk. Anggukan yang melegakan. Apa, Nak? Katakanlah. Anak menyerbu. Memeluknya. Lalu terisak. Pekebun yang baik takkan lelah membawa bibit ke mana-mana. Pada sepetak tanah. Yang subur menyuburkan. Pekebun yang baik takkan lelah melindungi bibit. Di bawah awan-gemawan. Yang suci mensucikan. Ibu tersenyum. Merenggangkan pelukan. Menatap mata Anak. Mata yang celik. Mata yang berbinar. Bagai ada kunang-kunang yang terperangkap. Di dalam matanya. Dan anak yang baik selalu percaya: Seorang ibu takkan menyiramnya dengan air keras. Ibu menyipitkan sebelah mata. Lalu tertawa. Anak juga tertawa. Pecah-rincah! Anak mencium punggung tangan Ibu. Pergi. Ke alun-alun desa. Ke alun-alun surga.
Ibu yang Adil
Raja datang. Ibu masih berbaring. Istirahat. Di tempat tidur. Raja mengetuk pintu. Ibu bilang: Aku lelah sekali. Aku tahu. Ibu penasihat kerajaan. Tapi kenapa Ibu seperti melecehkan raja? Kenapa, Nak? Kau tidak suka dengan sikap Ibu? Tidak, Bu. Ibu pasti punya alibi. Kenapa melakukan itu. Ibu tersenyum. Dan bilang: Lihat lagi. Rupanya raja belum puas. Diutus perdana menteri. Kali ini Ibu bangun. Membuka pintu kamar. Terkuak setengah. Aku masih lelah, kata Ibu. Kembalilah petang nanti. Akhirnya. Diutus seorang prajurit rendahan. Pukul lima petang. Ibu gegas bangun. Membuka pintu. Menuruni anak tangga. Mempersilakannya masuk. Menyuruh Anak membuatkan teh. Teh yang mahal. Teh bunga mawar. Prajurit kikuk. Prajurit menyeruput teh. Meminumnya. Sampai habis (entah karena nikmatnya teh—entah karena gugupnya jantung). Nah, Anakku. Setiap orang punya kedudukan. Setiap pohon punya ladang. Setiap hidup harus seimbang. Setiap perkara harus ditimbang. Tunjukkan: Kepada yang bergelimang hormat, ambillah sedikit kebanggaannya. Kepada yang dibelit kehinaan, suguhkan ia kehormatan. Walaupun hanya dengan bangkit dari tempat tidur. Membuka pintu kamar. Menuruni jenjang. Membuka pintu rumah. Mempersilakannya duduk. Menjamunya. Di ruang tamu. Dengan secangkir teh.
Apakah Orang-orang Akan Menjadi Kambing Berjamaah?
Orang-orang berkerumun. Ibu dan Anak mendekati. Ikut berkerumun. Seorang wanita tua. Berjubah bludru. Berkerudung ungu. Aku adalah penyanyi dari surga! Suaranya bergema. Menggetarkan. Meremangkan. Menciutkan. Orang-orang menunggu. Kapan ia bernyanyi. Orang-orang tak sabar. Seperti apa nian. Suara dari surga itu. Ibu bertanya. Maaf, Penyanyi. Penyanyi dari surga. Suara apa yang paling susah kautiru? Ibu menanti jawaban. Orang-orang menanti jawaban. Orang-orang memeram penasaran. Suara al Kindi dan Mencius, jawab wanita itu. Orang-orang mengangguk-angguk. Ibu bertanya. Lagi. Wanita itu mendelik. Menantang. Lalu. Suara apa yang paling mudah ditiru? Wanita itu diam. Lalu terkekeh. Terbahak-bahak. Sungguh. Suaranya bergema. Menggetarkan. Meremangkan. Menciutkan. Orang-orang menunggu. Kapan ia bernyanyi. Orang-orang tak sabar. Seperti apa nian. Suara dari surga itu. Suara wanita itu. Ia menjawab: Suara malaikat, hantu, dan titah Tuhan! Orang-orang terperanjat. Tubuh mereka menggigil. Mereka takjub. Mereka ketakutan. Mereka terperangkap. Tapi tidak buat Ibu dan Anak. Ibu menggamit tangan Anak. Keluar dari kerumunan. Pergi. Meninggalkan kerumunan. Ibu, ujar Anak. Mengapa kita berlalu. Tidakkah kita ingin membuktikan kehebatannya? Seperti apa nian suaranya. Suara dari surga itu. Diam, Nak. Dia penipu! Bagaimana Ibu tahu? Kita belum pernah mendengarnya. Siapa tahu dia memang hebat. Penyanyi dari surga! Ibu menghentikan langkahnya. Menatap Anak. Belajarlah. Berkhidmatlah. Hayatilah hidup. Bila pun ia kumandangkan suara malaikat, hantu, dan titah Tuhan, apakah akan kauiyakan? Apakah orang-orang akan menjadi kambing berjamaah? Kalian tidak memiliki bandingan! Anak diam. Ya, Bu. Wanita itu takkan dapat meniru al Kindi dan Mencius. Kita hidup bersamaan dengan pandai musik jagat raya dan orang nomor dua setelah Konfusius. Dia takkan bisa meniru. Tapi kupikir. Dia bukan penipu, Bu. Lalu apa, Nak? Dia itu Iblis. Kau juga tahu dari mana ia datang, bukan? Anak mengangguk. Dari neraka!
Jangan Pulang Hanya Karena Rindu
Lonceng. Berdentang. Berdetang-dentang. Nyaring. Cempreng. Seorang anak. Berlari. Melewati pasar. Lalu permukiman. Lalu kali-kali. Lalu jembatan. Jembatan-jembatan kecil. Ibu! Seorang ibu sedang menganyam. Daun-daun pandan kering. Bersalih-silang. Membuat terindak. Semacam caping. Pengganti payung. Ibu menoleh. Air mukanya lelah. Kau pulang cepat? Tidak, Bu. Sekolah yang cepat kelar. Kenapa? Ada rapat. Rapat guru. Kau berbohong? Tidak, Bu. Kau berbohong! Ibu menunjukkan sebuah terindak. Terindak setengah jadi. Kau lihat ini? Ia menunduk. Kau lihat ini?! Ia masih menunduk. Ibu meraih dagu Anak. Mengangkatnya. Mau tidak mau. Ia menatap terindak. Crashhh!!! Terindak bagai kertas yang disobek. Hancur. Berserakan. Daun-daun cokelat muda luruh. Kenapa kau pulang cepat? Ia meneguk liur. Ia masih menatap daun-daun pandan kering yang berserakan di ujung kakinya—kaki ibunya. Baiklah, Ibu. Kalau Ibu tak percaya. Dada Ibu megap-megap. Menahan buncah. Meredam marah. Aku tak peduli, kata Anak. Aku tak peduli. Pada lonceng. Suara lonceng. Dentangnya yang cempreng. Hari ini…. Ia terisak. Kenapa? Ibu membentak. Hari ini…. Lanjutkan! Suara Ibu makin keras. Hari ini…. Aku-aku-aku. Aku-aku-aku. Sangat merindukanmu Ibu. Di sekolah tadi. Aku berpikir. Bagaimana kalau Ibu tidak ada lagi. Aku-aku-aku. Merindui. Ibu. Aku tak butuh alasan untuk itu ‘kan, Bu? Ibu meninggalkannya. Menekuni daun-daun pandan yang kering. Menganyam lagi. Terindak. Terindak-terindak. Untuk berteduh. Kalau-kalau di surga nanti. Masih ada gerimis. Masih boleh menangis.
Kalau Lapar, Makanlah
Bila Lelah, Istirahatlah
Ibu. Ibu. Ibu, aku ingin bertanya. Ya, Nak. Aku punya tugas. Dari guru. Guru Agama. Ya. Kami dimintai pendapat. Pendapat sendiri. Kalau bisa bukan dari orang hebat. Bukan juga dari kitab suci. Ya. Apa itu, Nak? Apa. Apa. Apa. Apa hal sederhana. Hal yang dilakukan. Demi menjadi orang baik? Ibu tersenyum. Apa, Bu? Ibu masih tersenyum. Jadi ‘tersenyum’ jawabannya. Ibu menggeleng. Lalu? Lalu apa, Nak? Anak mencubit Ibu. Pinggang Ibu. Ibu menggeliat. Geli. Sedikit nyeri. Geli. Sedikit geli. Kalau lapar, makanlah. Bila lelah, istirahatlah. Anak mengerutkan kening. Bibir monyong. Telunjuk memilin rambut sebahu. Melirik Ibu. Ibu main-mainkah? Ibu menggeleng. Cepat sekali. Ibu main-main, ya? Ibu menyentuh bahu Anak. Anak diam. Ibu mengangkat tubuh Anak. Anak diam. Ibu mendudukkannya. Di atas kursi. Anak diam. Ada yang salah, Nak? Anak diam. Katakanlah. Orang-orang yang gelisah adalah orang-orang yang hidup. Anak diam. Lalu menghela. Dua kali hela. Bukankah itu yang dilakukan kebanyakan orang, Bu? Ibu menggeleng. Anak diam. Kebanyakan orang serakah, Nak. Anak diam. Ketika lapar, mereka memikirkan kereta kencana. Ketika istirahat, mereka mengimpikan mutumanikam dari utara. Mereka tidak makan. Mereka tidak istirahat. Mereka seolah ingin menunjukkan kuasa: Manusia mampu mengerjakan segala. Kau tahu, Nak. Mereka mengejar kerumunan bebek. Alih-alih menangkap semua. Alih-alih dapat banyak. Satu pun lepas genggaman. Anak diam. Diam. Diam saja.
Seratus Tahun Menjadi Ibu
Aku mengagumimu. Ibu. Ibuku. Tinggalkanlah daun-daun pandan itu. Ibu mengangguk. Menatap Anak. Baiklah. Ada apa, Nak? Berapa lama waktu yang kubutuhkan? Untuk apa, Nak? Untuk menjadi sepertimu Ibu. Ibu tertawa. Meraih daun-daun pandan. Ibu. Jangan bercanda, Nak. Ibu tengah membuat terindak. Bukan ketupat hari raya. Aku serius. Bu. Aku sungguh. Penuh. Penuh dan seluruh. Ah, bahasamu, Nak. Anak terkekeh. Baiklah. Lima belas tahun, bagaimana? Apa?! Terlalu banyak orang mati hanya karena terkesiap, Nak? Anak jadi malu. Wajahnya memerah. Bagaimana kalau aku belajar jauh lebih sungguh-sungguh, Bu? Sungguh? Iya, sungguh! Sungguh penuh dan seluruh? Ya, penuh dan seluruh. Baiklah. Tiga puluh tahun, cukup? Anak tertawa. Ibu, aku serius! Ibu menggeleng-gelengkan kepala. Gemas. Melihat tingkah Anak. Nak, Nak, Anakku. Bila serius adalah daun… maka jawabku adalah kanopinya. Anak diam. Bila Ibu bermetafora. Pertanda ia menyebar hikmah. Baiklah, Bu. Demi Tuhan Yang Maha Segala. Ya, Nak. Demi Tuhan Yang Maha Segala. Kenapa? Ada apa? Kenapa Tuhan? Ibu. Aku bersumpah. Sumpah! Atas nama Ibu. Atas nama Tuhan, bila perlu. Berapa lamakah bila…. kuhabiskan waktuku untuk belajar. Untuk menjadimu. Ibu melotot. Seratus tahun! Anak terperenyak. Anakku, Ibu membelai rambutnya. Belajarlah dengan hati lapang. Belajarlah dengan kerendahan. Belajarlah dalam kebebasan. Orang-orang yang belajar dalam kekhawatiran takkan beroleh sesuatu apa. Kecuali lelah. Kecuali cemas. Kecuali harapan!
Aku Hanya Ingin Berdiri di Situ
Ibu melamun. Ibu rindu Ayah. Ibu banyak masalah. Ibu menikmati bulan. Ibu menikmati malam. Ibu ingin ke bulan. Ibu bersedih. Ibu gundah. Anak resah. Ia berlari. Memeluk Ibu. Dari belakang. Ia sudah besar. Tangannya bisa melingkari . Di pinggang. Pinggang Ibu. Ibu sedang melamun? Ibu menggeleng. Ibu rindu Ayah? Ibu menggeleng. Ibu banyak masalah? Ibu menggeleng. Ibu menikmati bulan? Ibu menggeleng. Ibu menikmati malam? Ibu menggeleng. Ibu ingin ke bulan? Ibu menggeleng. Ibu bersedih? Ibu menggeleng. Ibu gundah? Ibu menggeleng. Lalu. Lalu mengapa dari tadi ada di situ. Berpayung pohon duku. Melihat bulan. Memandang lepas. Ibu memberi tanda. Anak mendekat. Kau sudah pintar, Nak. Anak mendongak. Ke Ibu. Dagu Ibu. Tapi kau belum bisa menjadi jauhari. Memang tidak! Aku ingin jadi darwis. Darwis perempuan! Tidak! Kau belum bebas. Maksud Ibu? Kau belum lepas. Maksud Ibu? Makanya kau belum bisa mengepak. Anak diam. Dunia bukan cecabang pohon. Bukan meja berukir. Lalu, apakah ada alasan bagi angin untuk meriuhkan daun dan meniup debu-debu? Anak masih diam. Aku hanya ingin berdiri di sini. Di bawah pohon duku. Hanya itu. Tanpa alasan. Tanpa beban. Tanpa ikatan. Bebaskan pikiranmu, Nak. Lalu kautangkap cahayanya.
Pisau
Begini. Ke sini. Rebahkan kepalamu. Di pahaku. Di atas kain-kain. Katun-katun dari Asia. Aku hendak bercerita. Agar kau mawas. Agar kau tak khilaf. Jangan silap. Jangan gelap. Jangan lelap. Begini. Dengar ini. Ada cerita. Seorang ibu. Ibu yang kehilangan pisau. Pisau biasa. Tajam. Tidak terlalu tajam. Juga tidak tumpul. Ia curiga. Anak tetangga mencurinya. Ia mengamati. Terus mengamati. Tekun mengamati. Anak itu berjalan. Berjalan seperti pencuri. Dua minggu setelah itu. Ia menemukan pisaunya. Di tengah rimba. Ia terdiam. Ia menebas-nebas kerimunting. Ia pulang. Besoknya. Anak tetangganya itu berubah. Dilihatnya berubah. Jalannya berubah. Langkahnya berubah. Cara bicaranya berubah. Penampilannya berubah. Seperti anak-anak yang lain. Nah, Anakku. Bukankah manusia banyak yang seperti itu? Seperti ibu yang kehilangan pisau itu? Dongeng selesai. Anak mendengkur. Bagai gong yang bergemuruh. Meluruh. Menutup cerita.
Ia, Segala Puji Bermuara
Pujian sejati adalah kepercayaan yang diberi. Maka, sebelum kita menggali lubang. Sebagai jeda dalam sebuah kisah panjang. Kuganjalkan sebongkah pengaduan di antaranya. Antara kau dan aku. Anak dan Ibu. Gunung dan lembah. Sungai dan lubuk. Aku melahirkanmu. Kau memanggilku Ibu. Aku memanggilmu Anak. Dua beranak. Aku memercayaimu sebagai anak sebagaimana Tuhan memujiku dengan menganugerahimu. Dan aku sudah percaya. Kau tidak akan jauh-jauh. Kau hanya akan bermain. Di alun-alun. Tapi kutunggu. Kutunggu dan kutunggu. Tapi kucari. Kucari dan kucari. Kau tak kunjung menyambangi. Anakku. Begini saja. Aku yakin. Kau akan-dan-pasti datang. Menyongsongku di siang yang lekat. Aku merinduimu, Bu, serumu kelak. Sungguh. Ah, pasti begitu. Hmm, Tuhan. Kau memang menurunkanku. Kau memang meniupkan anak ke dunia. Tapi aku… seorang ibu. Mengandung. Melahirkan. Membesarkan. Merawat. Apakah masih perlu dijawab: Apa yang sebenarnya kulakukan kepada anakku? Aku lebih mengetahui. Paling mengetahui. Mungkin. Mungkin juga daripada-Mu. Maka, Kau tak perlu menculiknya. Karena aku telah memuji-Mu. Dengan memercayai-Mu. Untuk memeliharanya. Di sana. Di alun-alun. Alun-alun surga. Ambillah. Ambillah anakku!
Ibu yang baik adalah ibu yang memercayai Tuhan memelihara anaknya. (*)
Lubuklinggau, 10-11 Oktober 2011
Catatan:
Anak Ibu (1) dimuat Koran Tempo (Mei, 2009), dan Anak Ibu (2) dimuat Jawa Pos (Februari, 2011)

AKU sedang merencanakan pembunuhan terhadap ayahku. Laki-laki itu baru saja berteriak padaku—dan aku balas berteriak padanya. Tidak ada yang salah menurutku, bagian berteriak. Seperti hukum fisika—ada aksi, akan ada reaksi bukan? Aku adalah seorang manusia, punya hati, punya perasaan, dan punya luka.
Seorang laki-laki yang bernama ayah dan memiliki nama alias suami dari ibuku, menurut buku psikologi anak jaman sekarang, melakukan kekerasan fisik semasa aku masih kecil. Ketika aku melakukan kesalahan, atau bahkan ketika aku tidak tahu apa salahku, dengan mudah saja ia mencubit—cubitan yang begitu besar, di bagian paha. Meninggalkan memar biru keesokan hari, yang tak terlihat oleh ibu. Ketika suatu hari, seekor kucing menumpahkan deretan kaleng catnya, tanpa bertanya, ia memukul punggungku dari belakang menggunakan kuas raksasa yang masih basah oleh cat.
Aku berteriak ada apa.
Ia balas berteriak, “Kau menumpahkan catku, sialan! Tidakkah kau tahu aku hidup dan mendapat uang dan membiayai sekolahmu dari cat itu! Sialan!”
Oiya, dia memaki. Psikologi anak jaman sekarang mengatakan jangan pernah mengatakan ‘tidak’ atau ‘jangan’ pada anakmu—tapi ayahku mengumpat. Sempurna.
Selalu ada saat pertama bagi setiap anak. Waktu duduk di bangku SD aku belajar matematika. Aku tidak tahu bagaimana harus meletakkan satu-satuan lambang dari rumus matematika, dan aku membutuhkan waktu lebih untuk itu. Bahwa setiap anak memiliki kemampuan dan rasa ketertarikan tinggi terhadap salah satu atau jenis mata pelajaran tertentu, tapi ia tidak mengerti itu. Ia menjelaskan segalanya dengan nada tinggi dan pensil yang ditekan kuat-kuat hingga patah ujungnya. Aku tidak mendapatkan apa-apa dari pelajaran matematika kecuali rasa takut dan air mata.
Aku lebih cenderung menyukai pelajaran bahasa Indonesia—dan mendapat mimpi buruk pada pelajaran matematika.
Ayahku juga suka membanting barang. Menurutku, seharusnya ia menyalurkan kelebihan tenaganya dengan menjadi atlet gulat. Setidaknya ketika ia membanting manusia lainnya dan menang, ia akan mendapatkan uang. Ketika ibuku melakukan kesalahan, atau salah ucap, atau ketika ia tidak sependapat dengan suaminya, ayahku melempar tutup panci—atau, tepatnya, membanting tutup panci hingga penyok. Pada saat lain, ketika aku membantu ibuku memasak di dapur dan mengetahui wujud panci yang sekarang, aku bertanya padanya ada apa. Ia hanya menjawab, “Waktu itu ayahmu sedang naik darah.”
Oh iya. Tentu saja. Ibuku sebenarnya tertekan. Hanya saja ia tidak pernah mengatakannya pada ayah. Pada usia lima atau tujuh tahun aku sering menemui ibuku menangis di dalam kamar sambil menulis-nulis di kertas. Aku bertanya apa yang ditulisnya. Ia tidak menjawab, hanya terisak. “Lebih baik aku mati. Aku sudah tidak tahan lagi. Lebih baik aku mati.”
Yah, kematian memang sebuah jalan keluar dari segala permasalahan hidup.
Tapi ibuku tidak melakukan itu. Ia terus bertahan hanya untuk satu alasan. Diriku.
“Seorang anak itu artinya begitu besar bagi seorang ibu.”
Yap! Dan belum tentu untuk seorang ayah. Seorang laki-laki tidak pernah merasakan betapa sakitnya memiliki vagina yang ‘robek’ begitu lebar untuk jalan keluar seorang bayi. Ia tidak tahu betapa perih jahitan yang disematkan kemudian. Proses kelahiran yang lancar. Pada proses kelahiran yang ‘bermasalah’, tentu akan lebih ‘menderita’ lagi. Agama mengganjarkan surga bagi seorang perempuan yang mati saat melahirkan. Tapi seorang ibu tidak pernah berpikir mengenai surga ketika sedang berjuang mati-matian melahirkan bayinya. Ia hanya berpikir, “Anakku selamat!”
Sedang laki-laki hanya mampu menunggu dengan cemas di luar ruangan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Sungguh cengeng. Kata siapa laki-laki lebih tegar ketimbang perempuan? Kalau sampai ada seorang laki-laki yang berani menyakiti istri atau perempuan mana pun, maka ia berhak dikutuk menjalani proses kelahiran seorang diri. Kupikir itu balasan yang setimpal.
Begitu. Ayahku adalah seorang yang keras. Saat kondisi hatinya sedang baik, maka ia menjadi ayah yang menyenangkan dan bisa diajak bicara. Tapi ketika kondisi hatinya buruk, maka jangan bertanya. Wajarnya seorang manusia memang begitu.
Tapi ia telah berteriak padaku. Menyalahkan setiap keputusanku. Memojokkanku dengan setiap pertanyaan. Ia berteriak bahwa kebiasaanku bangun siang membuatku tidak segera bertemu jodoh.
Bangun siang adalah sebuah kesalahan. Aku menulis hingga subuh, dan baru tidur setelahnya, maka bangun siang adalah sebuah kesalahan.
Aku tidak segera ketemu jodoh. Sempurna. Aku baru saja putus cinta. Padahal aku dan pacarku, mantan, sudah membicarakan hal serius—mengenai hubungan yang sebaiknya dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Pernikahan. Tapi kemudian hubungan itu kandas. Putus cinta itu menyakitkan. Dan aku dituduh tidak pernah memikirkan hal serius satu itu.
Putus cinta itu menyakitkan.
Tidak bisakah ia menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya—memojokkanku dengan kata-kata menyakitkan?
Bahkan ketika aku bangkrut, tidak memiliki uang serupiah pun, pembayaran royalti buku masih tenggang beberapa bulan dan belum satu pun cerita pendekku yang dimuat, maka kupikir kembali ke rumah dan berlindung untuk sementara adalah pilihan bagus. Kupikir keluarga adalah sebuah pilihan bagus untuk kembali, bukan? Karena semua orang bilang keluarga adalah segalanya. Tapi bagi ayahku tidak. Ia mengusirku. Ia bilang seharusnya aku belajar hidup mandiri.
Mari kita bicara logika dan rasional. Aku sedang tidak punya uang. Dan sedang bicara mengenai usaha mengumpulkan uang. Dan ayahku mengusulkan ide brilian—seharusnya aku belajar hidup mandiri.
Baiklah. Aku bertahan di rumah. Aku tidak mau mati kelaparan di kos-kosan. Lagipula perut berisi akan memberi kemudahan lebih bagiku untuk menulis dan menyelesaikan cerita. Laki-laki itu seperti mendapat kesempatan untuk terus mengoceh mencacatku. Hingga akhirnya… salah satu cerpen dimuat dan aku mendapat honor yang lumayan. Meski tidak seberapa, maka aku memutuskan untuk mengepak barang dan pergi. Tujuh ratus ribu adalah modal yang lumayan. Aku berpamitan pada ibuku. Restu ibu bagiku adalah segalanya. Ayah? Hm.
Maka aku pergi. Mengurus hidupku sendiri. Selamat tinggal neraka. Selamat tinggal mulut nyinyir. Aku bebas.
Bertahun-tahun kemudian ibuku kembali menelepon. Ia bilang seharusnya aku menelepon ayahku dan bicara padanya. Sebaiknya anak perempuan tidak mendiamkan ayahnya—sekasar apa pun perkataannya, sekasar apa pun perbuatannya. Sebaiknya seorang anak selalu menghormati orang tua.
Maka aku melakukan panggilan telepon. Aku memberi salam, dan ia menjawab singkat. Aku menanyakan kabar, dan ia menjawab, “Kau telepon karena diminta ibumu? Anak kurang ajar! Mulai kapan kau akan beranjak dewasa dan melakukan segalanya atas keputusanmu sendiri?”
Aku sakit hati.
Baiklah. Mungkin sebagai orang tua, ayah tepatnya, dia bukan seorang monster. Bukan seorang yang menakutkan. Bukan seseorang yang, katakanlah, penyiksa fisik. Ia hanya seorang bapak. Dan aku membencinya.
Maka aku merencanakan pembunuhan baginya. Terdengar tidak masuk akal. Terdengar tidak rasional. Tidak bisa dilogika. Aku hanya membencinya. Oiya, ketika seseorang sedang dikuasai amarah, maka setan pun akan lebih berkuasa padanya. Aku tahu. Aku memiliki pengetahuan yang cukup tentang itu. Dan aku membiarkannya. Karena seperti yang kukatakan sejak awal, ‘Aku seorang manusia, punya hati, punya perasaan, punya luka, punya harga diri, dan ingin diperlakukan sebagai manusia normal lainnya, seperti seorang anaknya pada umumnya.’
Di akhir telepon laki-laki itu berteriak, “Aku ingin mati! Memiliki anak perempuan sepertimu artinya sia-sia!”
“Kau juga laki-laki tidak berguna!” Aku balas berteriak. Sampai kapan ia akan terus menerus berteriak padaku! Aku sudah capek—maka aku balas berteriak! “Kau tidak tahu betapa ibu harus menahan diri sakit hati sejak dulu! Kau tidak pernah tahu—”
“Kau anak kurang ajar!”
“Kau yang membentukku untuk bersikap kurang ajar! Kau tidak memberiku pilihan!”
Kenapa ketika seorang anak berperilaku buruk, orang tua seperti enggan melihat kembali ke dalam dirinya. Mereka akan dengan mudah menyalahkan anaknya begitu saja. Memang, mencari kesalahan orang lain, mencacat kekurangan orang lain, mengatakan hal-hal yang buruk mengenai orang lain adalah hal yang sangat menyenangkan. Asik! Dan merupakan hobi bagi ayahku.
“Aku ingin mati,” katanya. Lalu menutup telepon begitu saja.
Aku ingin mati. Dia sendiri yang bilang.
Maka apa sebaiknya yang kupilih untuk membunuhnya? Arsenik? Aku pulang ke rumah. Selama beberapa hari. Melepas rindu pada ibuku, dan berpura-pura ramah pada ayah. Lalu aku akan membuatkannya teh tubruk hangat dengan air mendidih langsung dari kompor. Masukkan gula pada akhirnya, tunggu air teh hingga berwarna merah karena batang teh yang tersepuh air panas. Lalu aduk. Campur beberapa serbuk arsenik ke dalam minuman. Tidak berbau. Tidak berbekas. Sempurna. Tapi aku tidak, bagaimana akhirnya ketika dia mati. Maksudku, apakah ia akan mengeluarkan busa dari mulutnya—seperti yang kulihat di film-film? Kalau iya, maka mampuslah aku. Kematian yang tidak wajar hanya akan mengundang tanda tanya dan rasa penasaran. Polisi datang dan aku dipenjara? Oh, terima kasih. Tidak.
Bagaimana dengan racun tikus. Tikus bandel yang diracun ibuku setiap kali rumah kami didatangi makhluk mengganggu tersebut, ibu meletakkan beberapa puluk nasi di kertas koran dan menebarkan serbuk hitam itu di atasnya. Saat tengah malam, tikus-tikus itu berpesta pora menyantap makanan dan beberapa jam kemudian ia mati kaku. Tapi… sepertinya membunuh seorang laki-laki yang menyumbang sperma demi membentuk jasadku, racun tikus terasa kurang elegan. Yah, dia adalah ayahku. Dan racun tikus kupikir agak kurang sopan untuknya.
Bagaimana kalau aku menyewa pembunuh bayaran? Menarik beberapa timbunan uangku lalu kuserahkan pada seseorang untuk menghabisi nyawa laki-laki itu. Tapi… aku tidak suka tampilan pembunuh bayaran. Aku mungkin tidak tahu bagaimana wujud asli mereka. Berdasar sinetron konyol di televisi, maka pembunuh bayaran itu berwujud seorang laki-laki bertubuh gempal, mengenakan jaket kulit, atau hanya kaos singlet hitam, tubuh berkeringat, bodoh, dan hanya bisa berkata, “Baik, Bos! Oke, Bos!”
Oh, tidak. Aku butuh seseorang yang lebih cerdas. Memangnya apa yang kuharapkan? Ayahku mati—dan aku berpikir terlalu rumit.
Bagaimana kalau aku menggunakan jasa tukang tenung? Sihir jarak jauh. Kirim paku dari ribuan kilometer dari tempatnya berada. Tunggu beberapa menit, maka ia akan muntah darah dan mengeluarkan ribuan paku dari mulutnya.
Oh, tidak. Aku mengernyit ngeri. Bayangan itu begitu menakutkan dan menjijikkan. Ibuku akan terlalu repot ketika membersihkan jasadnya. Aku tidak mau merepotkan ibuku. Lagipula, aku akan menanggung dosa yang terlalu berat ketika menggunakan sihir. Aku hanya ingin ayahku mati, dan aku memanggul dosa besar. Yah, berharap kematian orang tuaku sebenarnya sudah merupakan sebuah dosa. Tapi ketika dosa itu bisa diperkecil takarannya—maka aku mencoret tukang sihir.
Atau aku mengirim surat kaleng? Menulis satu demi satu dosa yang diperbuatnya mulai dari saat aku kecil. Setiap perkataan yang menyakitkan hati. Setiap perbuatannya yang menyakiti hati. Lalu—
Telepon berdering.
Ibuku menelepon. Dia menangis. Aku bertanya ada apa. “Ayahmu mati. Kecelakaan.”
“Kapan?”
“Baru saja. Ia masuk rumah sakit dan berpesan, ‘Jangan bilang pada anak perempuanmu. Diam saja. Jangan membuatnya khawatir. Kalau aku sudah sembuh dan keluar rumah sakit, ketika dia pulang, baru kita cerita seperti bukan kejadian luar biasa’.”
Ibuku menangis lagi. “Ayahmu mati.” (*)
Cerpen Ayi Jufridar
Dimuat di Jawa Pos, 30 Oktober 2011

LIMA belas tahun sudah Merlyn Getty tidur bersama Gunawan di ranjang rumah dan beberapa ranjang hotel yang pernah mereka singgahi. Sudah tidak terhitung percintaan yang pernah mereka nikmati tidak hanya di ranjang, tetapi di ruang mana pun yang menurut mereka aman dan nyaman untuk melakukannya. Sebegitu dekatnya Merlyn dengan Gunawan sehingga ia hapal terhadap setiap jengkal tubuh lelaki itu sehapal pada tubuhnya sendiri. Ia mengetahui setiap perubahan apa pun yang terjadi di tubuh Gunawan, mulai dari yang kecil lebih-lebih perubahan besar. Kantung di bawah mata yang kian nyata kendati Gunawan pernah rajin meredamnya dengan potongan mentimun atas permintaan Merlyn, perut yang kian buncit, sampai beberapa helai bulu hidung Gunawan yang sudah memutih menjadi perhatian Merlyn ketika lelaki itu tertidur pulas setelah lelah bercinta.
Kalau bulu hidung yang pendek dan tersembunyi dalam liang kecil dan gelap masih terlihat Merlyn Getty, tentulah mengherankan bila ia abai terhadap beberapa helai uban yang mulai menghiasi kepala Gunawan. Merlyn tidak pernah melihatnya dalam setiap kebersamaan mereka yang paling intim sekalipun, konon lagi ketika menemani Gunawan sarapan atau sekadar mengantar Gunawan sampai teras depan ketika lelaki itu berangkat kerja. Perhatiannya tidak tertuju ke atas kepala Gunawan, tetapi ke hati lelaki itu. Sedangkan ketika mereka bercinta, pikiran Merlyn mengembara entah ke mana.
Merlyn tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang berlebihan atau tidak masuk akal dengan beberapa helai uban yang luput dari perhatiannya. Ia jadi ingat pengakuan beberapa teman sebelum ini. Seorang temannya baru menyadari suaminya memiliki pusar di atas dahi setelah 11 tahun mereka berumahtangga. Temannya yang lain tidak mengetahui ada tahi lalat tersembunyi di bagian paling intim suaminya. Yang terakhir ini menurut Merlyn keterlaluan karena ia menganggap perempuan itu tidak melakukan apa pun untuk menyenangkan suaminya sebelum mereka menyatu dalam sebuah kebersamaan yang penuh desah.
Kedua kasus di atas, menurut Merlyn, berbeda dengan uban karena rambut putih itu tidak muncul sejak Gunawan lahir sebagaimana pusar di puncak dahi.
Merlyn tidak menemukan uban itu, melainkan uban itulah yang menemukannya tadi pagi ketika ia masuk ke kamar mandi dan Gunawan ada di sana dengan handuk putih yang melilit di pinggang. “Ternyata aku sudah tua,” katanya seperti kepada diri sendiri karena ia berdiri di depan cermin yang berkabut sambil menyibak rambutnya yang tebal lurus sampai sedikit menutup daun telinga. Merlyn masih tidak peduli dengan pengakuan itu karena Gunawan sudah berusia 46 tahun. Justru keterlaluan bila ia tidak menyadari ketuaannya sehingga bertingkah seperti pemuda belasan tahun ketika melihat gadis-gadis belia di luar sana. Ketika Gunawan memutar tubuhnya dan menundukkan kepala di depan wajah Merlyn sambil meminta dicabuti ubannya, seketika itulah Merlyn terkejut. Tanpa sadar ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding. Wajahnya pucat pasi serupa air muka orang yang baru saja berjumpa dengan sesuatu yang paling menakutkan seumur hidupnya.
Bagi Merlyn, sesuatu yang menakutkan itu bukanlah hantu karena ia tidak pernah melihatnya meski sangat percaya makhluk itu ada. Ia pernah melewati masa-masa yang penuh hantu, tetapi tidak pernah satu kali pun melihat meski bisa jadi justru hantu itu sedang melihatnya. Hantu sungai, hantu kuda, hantu api, hantu emas, segala jenis hantu ada pada masa itu, tetapi Merlyn hanya mendengar nama mereka saja. Ketika papanya pergi dan mama mulai sering memukulnya, ia selalu berharap berjumpa dengan hantu apa pun yang akan mengajak dirinya dan dua adiknya pergi. Mereka bertiga sering mandi di alur Kapuas ketika air sedang pasang dengan kayu gelondongan sebagai perahu. Orang dewasa yang menggunduli hutan di sana menakuti dengan kisah hantu buaya yang memangsa anak kecil agar mereka segera menyingkir. Merlyn dan kedua adiknya justru bermain di sana sampai malam menjelang agar hantu buaya datang dan membawa mereka ke dalam dunia buaya. Namun, hantu buaya tidak pernah datang, yang datang justru air bah bercampur lumpur yang membuat ia dan kedua adiknya nyaris mati tenggelam. Sampai beberapa tahun setelah kejadian itu, ia harus rutin memeriksakan diri ke dokter karena paru-parunya tercemar lumpur.
Merlyn Getty bukannya menyesali keputusannya bermain di Kapuas ketika air sedang pasang, melainkan menyesali kenapa tidak mati saja. Dua kali sudah ia mengundang kematian, tetapi kematian tidak menghampirinya ketika diharapkan. Setelah kematian yang gagal di Kapuas, kehidupannya menjadi lebih sulit. Papanya tidak pernah pulang lagi, yang belakangan ternyata sudah kabur dengan anak gadis orang setelah menghamili perempuan muda itu. Mamanya bekerja di sebuah pabrik tripleks sebagai buruh kasar. Ia pergi pagi dan pulang menjelang malam dengan tubuh yang kelelahan. Semakin lelah mamanya bekerja, semakin sering ia memukuli Merlyn dan kedua adiknya. Sampai kemudian Merlyn dikirim ke tantenya di Cilacap. Tantenya itu adalah adik mama, tetapi mereka beda ayah. Suami tantenya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan perminyakan nasional, dan cukup sukses sehingga dua tahun berturut-turut menjadi karyawan teladan. Mereka mempunyai dua anak lelaki, tetapi tidak satu pun lahir dari rahim tante. Merlyn mengira nerakanya sudah berakhir ketika ia dikirim ke Cilalap, tapi ternyata di sanalah ia menemukan neraka yang sesungguhnya dari perilaku dua anak tante yang seharusnya menjadi saudara sepupunya, juga dari perilaku tante dan lebih-lebih dari suaminya.
Kedua sepupunya itu sering menjamahi tubuhnya yang sedang tumbuh ketika orang tua mereka tidak ada di rumah. Seorang di antaranya kemudian diterima sebuah perguruan tinggi terkemuka di Yogya dan itu amat disyukuri Merlyn. Namun, nerakanya belum berakhir karena sepupunya yang lain merasa sudah menguasai Merlyn seorang diri. Ketika Merlyn Getty memberanikan diri untuk melawan, hanya satu kali perlawanan secara fisik dan ancaman akan mengadukan ke polisi, sepupunya itu berhenti untuk selamanya. “Satu kali saja kamu berani menyentuhku lagi, kita akan berjumpa di pengadilan!”
Merlyn kelas dua SMA ketika itu. Sedang mekar-mekarnya dengan darah Banjar dan China yang mengalir dalam tubuhnya yang semampai dan proporsional. Kelebihan itulah yang menggoda pamannya untuk mulai menyentuhnya justru setelah kedua anaknya berhenti. Mulanya hanya di tangan ketika ia meminta bantuan Merlyn. Setelah itu dianggap biasa, naik ke pipi lalu turun lagi ke pinggul dan mulai berani naik lagi ke dada. Ketakutan Merlyn bahwa sentuhan itu akan turun lagi ke bagian lain, menjadi kenyataan. Setiap pagi, pamannya bangun lebih subuh dan menyelinap ke kamarnya. Dia melarang Merlyn mengunci pintu. “Jangan pernah bilang ke siapa pun, terutama tantemu!”
Merlyn tidak berani membalas ancaman itu sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap sepupunya. Mengadu ke malaikat pun tidak akan dipercayai kalau lelaki yang menjadi tokoh masyarakat itu melakukan perbuatan tak senonoh. Paman menggunakan pengaruhnya agar bebas melakukan apa pun terhadap dirinya. Orang-orang sekitar sangat menghormatinya. Merlyn bisa melihat pada hari-hari besar seperti Idul Fitri, pejabat kepolisian di Cilacap, jaksa, dan hakim, sering bertamu ke rumah. Ancaman “kita akan berjumpa di pengadilan” seolah tak berlaku untuk membalas kekurangajaran pamannya.
Salah satu kebiasaan lelaki itu adalah meminta bantuan Merlyn untuk mencabuti ubannya, ada atau tidak ada istrinya di rumah. Bila tantenya di rumah, pekerjaan itu tak terlalu menakutkan. Begitu tantenya di luar, itulah kesempatan paman untuk menggerayangi tubuhnya ketika tangannya sibuk mencari uban. Dua tangan bekerja bersamaan, satu mencari uban dan yang lain mencari kenikmatan. Puncaknya, ketika tante tak ada di rumah, paman memerkosanya. Itulah hari paling buruk dalam hidup Merlyn sehingga ia nekat mengiris nadi dengan pecahan botol.
Ketika tante pulang dan melihatnya bermandikan darah, paman mengaku baru saja memarahinya karena kedapatan berada di tempat bilyar bersama teman-teman cowoknya. Pamannya benar, sehari sebelumnya ia kedapatan di meja bilyar selama jam belajar dengan sejumlah teman sekolahnya. Mereka sering bolos sekolah dan baru kali itu kedapatan. Di rumah Merlyn memang anak pendiam, tapi di sekolah ia bandel. “Mungkin karena itu dia bunuh diri,” kata paman tanpa panik sedikit pun. Bahkan ketika ia membawa Merlyn ke rumah sakit, ia sempat berbisik di telinga, “Dasar bodoh. Sudah kuberikan surga dunia, kau malah ingin ke neraka. Bunuh diri itu dosa besar, tahu!” Pamannya tidak berkata tentang hukum menzinahi keponakan sendiri.
Uban itulah yang menjadi pintu neraka bagi Merlyn. Setelah mendapat pengobatan, dia kabur dari rumah dan menjadi istri simpanan seorang bangsawan di Malaysia. Mereka berpisah dua tahun kemudian dan Merlyn bertemu dengan statusnya sebagai janda kembang serta Gunawan sebagai duda beranak satu. Sebelum menikah, ia sudah menceritakan semua masa lalunya kepada lelaki itu, kecuali soal uban pamannya. Tak disangkanya uban di kepala Gunawan telah membuka kembali rahasia masa lalu yang sudah dikuburnya dalam-dalam.
“Aku tidak ingin lagi melihat uban di kepalamu!” cetus Merlyn sambil memutar tubuhnya dan keluar dari kamar mandi.
“Aku sudah tua, sudah pantas beruban. Kamu tidak bisa menolak kodrat.”
Masih sempat didengar ucapan Gunawan itu sebelum ia benar-benar lenyap dari kamar mandi. Merlyn tidak menolak Gunawan menjadi tua, tidak menolak rambut putih tumbuh di lubang hidungnya atau di tempat lain. Namun, Merlyn tidak ingin melihat uban di atas kepala Gunawan. Dia ingin uban itu berubah hitam atau ia akan kabur dari rumah bila Gunawan memaksa untuk mencabutinya. (*)
Dimuat di Jawa Pos, Minggu, 21/08/11
Ia lebih mirip merpati betina yang sekarat. Tubuh belang tiga. Kepala dan paruhnya hijau tahi kuda. Kedua sayapnya putih salju. Ekornya merah kepiting.Dimuat di Jawa Pos, Minggu 13 Maret 2001
Kota Tungku
Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami dahaga yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya…
Di kota itu matahari memang tampak lebih besar dari yang seharusnya. Di kota itu, sungai-sungai dan perigi menganga bagai mangkuk tanpa isi. Satu per satu pepohonan mati, terberangus pelan-pelan tanpa seorangpun menyadarinya. Mereka hanya tahu, tiba-tiba pohon itu kering. Dan tak ada lagi tempat berteduh. Trotoar-trotoar berselimut debu dan asap yang warnanya kelabu. Di kota itu, matahari hampir tak tidur. Siang hari terasa lebih lama, lima kali lipat dari seharusnya. Di kota itu, di mana-mana akan terdengar orang mengeluhkan cuaca dan air. Bahkan AC pun tak bisa berfungsi di kota itu. Air minum, mandi, dan mencuci, semuanya menghangat oleh cuaca. Setiap hendak mandi, orang-orang harus mencari es batu untuk mendinginkan air.
Orang-orang di kota itu selalu berkeringat dan lengket. Setiap jam mereka mandi dan meneguk air es. Namun tetap saja, mereka berkeringat dan lengket.
“Kok panas begini, ya?”
“Bukannya dari dulu memang begini?”
“Kata nenekku, sewaktu ia kecil, kota ini adem.”
“Itu kan dulu, sekarang mana ada kota adem.”
“Menurutmu, kira-kira apa yang membuat bumi ini begini panas.”
“Klasik sekali pertanyaanmu. Lihat saja, pohon besar di kota ini bisa dihitung jari.”
“Barangkali itu, ya, yang bikin kota kita seperti tungku.”
“Cerobong-cerobong asap itu juga, kentut-kentut mobil itu juga, mesin-mesin itu juga.”
“Kau pernah dengar yang namanya global warming?”
“Ya sekarang ini global warming, Goblok!”
“Kayaknya dunia mau kiamat. Makin hari makin panas. Tidak Cuma cuacanya, tapi juga manusianya …”
Kota Sampah
Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami rasa jijik yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya…
Satu hal yang sangat jelas. Di kota itu, sampah menggunduk di mana-mana seperti bukit-bukit kecil. Di dalam rumah, di jalan-jalan, di pasar-pasar, di mall-mall, bahkan di tempat peribadatan. Lalat berpesta di mana-mana, berebut sisa makanan dengan manusia. Konon, sampah itu didatangkan oleh segerombolan makhluk asing dari planet yang berbeda. Planet yang penuh dengan rumah-rumah mengkilap, dinding-dinding kaca, dan kulkas-kulkas besar yang berisi makanan dan minuman segala rupa. Planet yang penuh dengan mainan dan barang-barang aneh yang setia melayani tuannya. Konon, dari sanalah sampah-sampah itu datang dan dituangkan.
Penduduk kota sampah tak pernah sabar menunggu sampah baru datang. Mereka menunggu dengan sabar bersama lalat-lalat yang terus melagu.
“Kok lama, ya, truk sampahnya gak datang-datang?”
“Sudah. Tunggu saja. Sebentar lagi juga datang.”
“Ngomong-ngomong, apa kamu tidak jijik dengan sampah-sampah itu?”
“Busyiiit! Jijik katamu. Itu kan yang kita makan setiap hari.”
“Hihihi, makan sampah.”
“Di kota ini memang cuma ada sampah yang bisa dimakan.”
“Apa kota ini memang begini sejak dulu?”
“Kok tanya padaku?”
“Kau kan yang lebih tua.”
“Tanya saja nenekmu.”
“Nenekku kan sudah mati tertimpa gundukan sampah waktu dia berebut makanan di sini, sebulan lalu.”
“Sudah! Jangan banyak tanya. Itu, Truk sampahnya datang.”
“Cihuuuiiii!!!”
“Kau mau mati seperti nenekmu? Tunggu sebentar. Sabar. Jangan buru-buru. Biarkan sampahnya ditumpahkan dulu.”
Setelah truk sampah pergi, mereka berlari beramai-ramai, mereka berlomba-lomba mengais. Ada yang membawa tongkat kecil seperti celurit, ada yang hanya menggunakan ranting, ada juga yang mengais-ngais dengan tangan telanjang.
“Hei, aku menemukan kepala.”
“Kepala? Ayam atau bebek?”
“Manusia!”
Kota Lumpur
Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami kotor yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya…
Semua penduduk di kota itu berbaju lumpur. Lumpur yang masih meleleh dan akan terus meleleh. Bukan hanya itu, rumah-rumah, pohon-pohon, bahkan atap langit, semua utuh berbalur lumpur. Pekat dan terus meleleh seperti es krim cokelat yang mencair. Hanya bayi-bayi yang baru lahir saja yang mulus tak berbalur lumpur. Tak seorangpun tahu dari mana lumpur itu bermula. Tapi, kata orang-orang tua, lumpur itu menyembur dan meleleh dari dosa. Setiap seseorang melakukan dosa dengan kadar tertentu, lumpur itu akan menyembur dan meleleh dengan kadar tertentu pula. Semakin besar dosa yang dilakukan, semakin besar pula semburan yang muncul. Lumpur itu bisa menyembul dari mana saja. Dari mulut, telinga, kelopak mata, dari lubang pusar, bahkan dari lubang kemaluan.
“Berarti penduduk kota ini, semuanya berdosa, dong!?”
“Cuma nabi dan bayi, manusia yang tak punya dosa.”
“Rumah-rumah, jalan-jalan, masjid, gereja… mereka tak punya dosa. Tapi kenapa mereka penuh lumpur?”
“Kau tak tahu, ya? Dosa itu menjulur bagai lidah, menjilati apa saja. Rumah-rumah, jalan-jalan, bahkan tempat ibadah. Pokoknya tempat-tempat di mana kita melakukan dosa, di situ lumpur juga akan ikut meleleh.”
“Lumpur ini benar-benar menghalangi kenikmatan. Kita tak bisa bicara dengan jelas, setiap kali bicara lumpur dari mulut kita akan ikut menyembur.”
“Kita juga tak bisa makan dan minum dengan nikmat, semuanya becek oleh lumpur.”
“Kita juga tak bisa tidur dengan pulas. Semua lembab dan gatal.”
“Bahkan kita tak bisa bercinta dengan nyaman. Huft….!”
“Lalu, menurutmu, bagaimana cara menghentikannya? ”
“Menghentikan apa?”
“Ya lumpur ini!”
“Hahaha, kau seperti bertanya bagaimana menghentikan dosa. Kau jawab sendiri lah!”
Kota Perempuan
Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami dilema yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya…
Benar adanya, di kota itu, lelaki menjadi makhluk yang sangat mahal. Mereka di pajang di kamar-kamar mengkilap, dengan harga bervariasi. Semakin lelaki, semakin mahal. Di kota itu, lelaki takkan berani keluar sembarangan. Karena, ia bisa diperkosa beramai-ramai oleh perempuan-perempuan liar di pinggir jalan. Kebanyakan dari perempuan-perempuan itu adalah perempuan yang tidak pernah memiliki cukup uang untuk membeli lelaki, sehingga mereka lebih suka mencari mangsa di jalan-jalan. Perempuan-perempuan itu tak pernah mengenakan pakaian. Mereka selalu berdiri gelisah di pinggir-pinggir jalan dengan birahi yang sangat dahaga.
“Kita takkan pernah menjadi ibu.”
“Memang kenapa?”
“Kita tak mampu beli sperma.”
“Beli lelaki maksudmu?”
“Sama saja!”
“Memangnya harus beli?”
“Kau bodoh atau lupa? Di kota ini kan lelaki sudah bosan bercinta dengan perempuan. Sekarang mereka lebih suka bercinta dengan sesamanya, kecuali kalau kita membelinya.”
“Jadi?”
“Jadi, kalau kita mau hamil kita harus kaya!”
“Susah…, mau hamil saja harus kaya dulu.”
“Di kota ini memang begitu aturannya.”
“Lelaki bercinta dengan lelaki, apakah termasuk aturan di kota ini?”
“Sepertinya begitu, lelaki di kota ini sudah bosan dengan jumlah perempuan yang over populated.”
“Kalau mereka bisa bercinta dengan sesamanya, kenapa kita tidak?”
“Aku hanya… menyayangkan sperma mereka yang terbuang sia-sia.”
Kota Lapar
Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami lapar yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya…
Penduduk kota itu selalu merasa lapar. Setiap hari mereka memakan apa saja. Mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang, besi, tanah, dan bahkan bangkai. Di kota itu, rasa lapar terus melata dan mendatangi siapa saja, mereka menyebarkan virus-virus lapar ke dalam ceruk lambung melewati angin yang dihirup manusia. Setiap hari, kota itu selalu ramai oleh musik perut. Ada suara keroncongan, ada suara kokok ayam, ada pula siut seperti kentut. Perut-perut itu akan terus berbunyi hingga sesuatu mengisinya. Semakin lama garing, gaung perut itu akan semakin nyaring.
Setiap jam, penduduk kota lapar selalu berlomba-lomba mengais apa saja yang bisa mereka masukkan ke dalam perut mereka. Hal apapun yang mereka lakukan, tujuannya hanya untuk satu: perut.
“Hari ini kau dapat apa?”
“Maksudmu, yang sudah aku telan?”
“Ya.”
“Serongsok rangka kursi, semangkuk bulu ayam, dan seekor buaya rawa. Kalau kamu?”
“Setumpuk koran bekas dan kasur bekas. Tapi jujur, aku masih sangat lapar.”
“Sama.”
“Kenapa, ya, kita kok selalu kelaparan. Padahal perut kita sudah begini buncit oleh apa-apa yang kita telan.”
“Manusia kan memang diciptakan untuk lapar.”
“Kau pernah menahan lapar?”
“Lebih baik mati daripada menahan lapar.”
“Kok begitu?”
“Kalo kita kelaparan gara-gara menahan lapar, kan ujungnya mati juga.”
“Puasa maksudku. Jadi kita bukan tidak makan sama sekali, tapi kita kurangi porsinya, kita tahan.”
“Ah, sudah lama sekali di kota ini tak ada puasa-puasa… bapak-ibu kita juga tak pernah mengajarkan kita puasa. Yang mereka ajarkan adalah bagaimana caranya mencari makan, mengisi perut. Sudah! Kebanyakan ngobrol tambah bikin lapar. Ayo kita cari makan lagi!”
“Di kota ini sudah tidak ada apa-apa lagi, kita mau cari makan di mana lagi?”
“Ya pokoknya kita cari.”
“Kalau begitu kau makan aku saja.”
“Kau gila! Apa isi otakmu?”
“Aku hanya berpikir, barangkali, setelah mati rasa lapar ini akan reda.”
Kota Katastrofa
Entah sejak kapan kota itu tumbuh dalam kepalaku. Tepatnya di ceruk mata. Aku pernah terdampar di kota itu, mengalami ketakutan yang sangat. Hingga kota itu, bagai wajib kukisahkannya…
Di kota itu, kejadian-kejadian miris telah diagendakan. Setiap hari, di kota itu akan terjadi kematian massal. Penyebabnya bisa apa saja dan tak pernah terduga. Penduduk kota itu, setiap hari selalu berpikir, memutar otak, bagaimana supaya agenda-agenda miris itu dapat dihentikan. Namun mereka tak pernah berhasil. Mereka tak pernah bisa menemukan di mana list-list kejadian itu disimpan. Anehnya, penduduk kota itu setiap hari berpesta pora. Mereka memestakan apa saja yang bisa dipestakan. Seolah mereka lupa, bahwa kematian massal bisa saja mendatangi mereka.
Anehnya pula, dalam pesta itu mereka sempat membicarakan dan menduga-duga agenda miris apa yang akan menyongsong mereka.
“Disiram air baskom sudah. Bahkan sampai rumah-rumah rata dengan tanah.”
“Dan yang mati ratusan ribu itu.”
“Tanah gulung tikar juga sudah, bahkan sampai menganga setengah meter tanahnya.”
“Berapa kemarin korbannya?”
“Belasan ribu atau berapa gitu… aku lupa.”
“Baru-baru ini gunung kentut.”
“Oh, yang korbannya pada gosong itu, ya?”
“He’em. Bahkan kampung itu sekarang jadi kuburan.”
“Kira-kira, apalagi, ya, agenda ke depan?”
“Menurut dugaanku, matahari akan tergelincir, menggelundung menimpa kota kita. Atau kalau tidak, barangkali atap langit bakal rubuh.”
“Ih, sereeem!”
“Makannya, tobat!”
“Iya, deh! Tapi, kita selesaikan dulu, ya, pestanya!?”***
Malang, 2011
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jawa Pos, Ahad 13 Februari 2011
: untuk Makku Tersayang
Mukadimah
Sungguh, aku merinduinya. Rindu ini umpama subuh yang mengkhitbah bukit dengan cincin embunnya. Gunung, laut, dan lembah, yang melempar kami ke titik entah, justru mengantarku ke senja yang memayungi pinang-pinang merah; ketika kupungut butir-butir nasihat kehidupan darinya, kubawa ke kota yang jauh dari kelebatan bajukurungnya. Tanpa disadari, telah kuperam semua. Dan kini, di senja yang tak lagi ibu, butir-butir itu menetas. Kutandai mereka dengan dua nama: yang satu Kenangan, yang satu lagi Nostalgia.
Sejak Itu Aku Memanggilnya Ibu
Hikayat sederhana ini melibatkan senja, aku, dan seorang wanita yatim-piatu. Yang terakhir adalah janda yang menemukanku teronggok di bak sampah di tepi jalan raya. Ia memang tak seperti wanita kebanyakan. Ia tumbuh dalam keluarga yang mencintai ilmu. Sayang, Tuhan tak pernah sempat mengembuskan ruh di rahimnya yang sepi. Maka, adalah mafhum bila ia selalu berkoar kepada sesiapa yang meragukanku sebagai buah-hatinya.
Apakah ada yang dapat membantah itu? Tanyanya bagai menyimpan kegeraman. Melahirkan atau menemukan, itu hanya perkara cara. Dan yang terang adalah, Tuhan sangat baik kepadaku. Ia tak ingin aku meregang nyawa demi berketurunan. Aku tinggal memungutmu, membesarkanmu dengan layak, lalu bermaklumat bahwa aku sudah menjadi ibu. Ibu yang diberi kemudahan. Ya, bila Maryam melahirkan tanpa suami, maka aku memiliki anak tanpa melahirkan. Aku tak habis pikir, bagaimana orang-orang menyebut ini kehinaan! Tidakkah ini lebih layak dinamai keistimewaan?!
Sejak itu, aku memanggilnya Ibu.
Pohon Tumbuh tak Tergesa-gesa
Menjelang keberangkatan, telah kukais ilmu di sebuah sekolah. Ketika itu usiaku tujuh belas. Empatpuluh tiga tahun lebih muda dari Ibu. Bakda menghelat zuhur berjamaah, makan siang bersama, dan menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah, seperti biasa kami bercengkerama di rusbang yang ditanam di bawah pinang-pinang merah. Memang, selain dipagari sirih yang meliuk-liuk di antara rerumpun bambu kuning sebatas pinggang, ditumbuhi rerimbun melati, sirih, pare, pisangkipas, dan beberapa pohon kelapa setinggi tiang listrik, pinang-pinang merah juga menjulang di beberapa sudut pekarangan.
Awalnya kukira Ibu hanya ingin menunjukkan tiga helai kain berwarna cerah yang baru dibelinya di pasar siang itu. Ternyata dugaanku tergelincir. Kain-kain itu bukanlah taplak meja baru. Kerudung, begitu Ibu menyebutnya.
Kau sudah beberapa kali datang-bulan, Nak. Bukan hanya tak berhak menolak pemberian ini, kau juga harus memerhatikan raut wajahmu, kusut-tidaknya bajukurungmu, basah-keringnya bibir merahmu, dan santun-tidaknya tindak-tandukmu, bila hendak keluar rumah. Kau harus segera menyempurnakan agama. Kawinlah, Nak.
Aku terperanjat. Bagaimana Ibu dapat serta merta mencuatkan rencana ini?
Dan bagai tak bersalah, Ibu justru tersenyum sembari melipat kain-kain itu.
Bukankah Ibu tahu kalau besok aku hendak menyeberang pulau?
Dan kau keberatan mengenakan kerudung baru?
Bukan, Bu. Tentulah tak perlu kuperkarakan itu. Maksudku, mengapa Ibu tiba-tiba mengatakan ini?
Ibu terkekeh. Wajahku masam. Aku benar-benar tak mengerti. Aku jengkel.
Wanita yang berkuliah tak harus perawan, kan? Bila ingatan Ibu tak silap, bukankah kau sendiri yang dulu bilang: banyak yang telah beranak-pinak, mencari ilmu bakda SMA? Ibu bagai memojokkanku.
Ah Ibu, mungkin kau terlalu uzur hingga tak menangkap muara kekesalanku. Namun, aku tak hendak menyusur sungai tak berhilir, maka kudaratkan perahu pertahananku: kutolak keinginan Ibu yang tiba-tiba itu.
Dan hebatnya, Ibu bagai tak memahami bahasa tubuhku.
Termasuk bila bujang alim di kampung sebelah yang meminangmu?
Ya Tuhan, siapa pula yang Ibu maksudkan. Ini bukan waktu yang tepat membincangkan itu, pekikku dalam hati.
Bicaralah, Nak. Ibu mencari-cari mataku. Bibirnya membekap senyum yang siap-siap meloncat. Kau orang beradat, bukan? Diam maknanya ”iya”, bukan?
Aku masih hendak kuliah, Bu! jawabku sedikit keras. Aku benar-benar kesal.
Tanpa laki? Ibu memastikan.
Tanpa suami, kutegaskan.
Kau yakin? Ibu menatapku dalam.
Nasihat-nasihatmu selalu bersamaku, Bu.
Kau hakkul yakin? Ibu berusaha meyakinkan dirinya.
Bukankah Ibu bilang Tuhan lebih dekat dari urat leherku?
Senyum yang dibekapnya sedari tadi kini meloncat. Menghamburkan kekehan sengau yang tak terlalu sedap didengar. Tak lama Ibu bangkit. Beralih ke sisi kanan lepau.
Anakku…
Dari pembukaannya, aku tahu Ibu akan berpetuah.
…kau lihat ini, sebelah tangannya menunjuk anakan pinang yang batangnya belum merah penuh.
Benar ’kan dugaanku!
Pohon yang kelak menjadi tiang merah yang begitu indah dan jemawa. Dengan pelepah-pelepah yang siap memayungi akar-akarnya nun jauh di bawah, ia akan semampai bagai hendak menusuk langit. Ia menjulang tanpa pernah kau tahu kapan ia memanjang, kapan ia menumbuhkan daun, pelepah, bunga, putik, dan akhirnya berbuah. Kita bahkan tak pernah mau tahu bahwa tunasnya setengah mati bertahan ketika daun-daun mudanya dipatuk ayam dan dimakan kambing, batangnya yang masih lembut diombang-ambing angin yang memuting dan hujan yang lebat tak kepalang, atau pelepah-pelepahnya yang masih lembek kadang dipetik anak-anak yang jahil. Lihat, pada waktunya, ia tak hanya hidup, ia bahkan menumbuhkan tunas baru!
Ibu memelukku. Erat sekali. Lama sekali.
Pohon tumbuh tak tergesa-gesa, Anakku, bisiknya lirih. Dan kuingin kau pun begitu: terus tumbuh tanpa terpengaruh setan-setan yang siap mencengkeram ketika jiwamu keropos, ketika kau tak berjalan di atas doa-doaku.
Baru kusadari. Ibu tengah memancingku membuka bekal yang selalu ia berikan sedari aku kecil. Ya, Ibu tak mungkin melarangku melintas pulau. Ibu takkan menjegal langkahku untuk menangguk ilmu. Ibu takkan memaksaku berkerudung. Ibu pun tak hendak memaksaku menerima pinangan pemuda itu—yang aku yakin dia pun tak tahu siapa. Ibu hanya ingin tahu sedalam apa telah kuselami sungai karomahnya, telah berapa banyak kutangkap ikan-ikan hikmah yang berkecipakan di dalamnya.
Pergilah, Nak! Tumbuhlah! Dan pulanglah sebagai pinang merah yang menjulang!
Kami mengakhiri pelukan. Berlalu ke pekarangan belakang. Azan baru saja merundukkan matahari.
Senja yang Paling Ibu
Tak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Itulah kalimat yang kerap dilafal Ibu dengan sangat fasih saban kami menghabiskan senja (termasuk bakda asar ini). Biasanya Ibu akan menjabarkan bagai mengutarakan petuah baru.
Semua sudah ketentuan-Nya, Nak, lanjutnya. Ibu dipilih-Nya untuk membesarkanmu. Itulah kenyataan yang terbentang. Tentu Ibu tak menerimamu begitu saja. Ada sehimpun amanah yang menyertai kehadiranmu. Dan itu membuatku belajar bagaimana menjadi ibu yang sebenar ibu. Menanam cinta, menyiram kasih sayang, memelihara amanah, dan merelakan waktu merapat demi menjadikanmu orang yang baik. Mata Ibu sangat teduh.
Orang baik yang sukses, Bu, ujarku seolah-olah mengoreksi nasihatnya.
Ibu tersenyum, sebelum melempar tanya: Kaukutip dari buku apa kata-kata itu?
Wajahku merah apel. Kugamit bibir hingga membentuk garis. Ah, bagaimana Ibu tahu itu….
Ibu merangkulku. Kepalaku jatuh di bahunya. Tangan kanannya membelai rambutku. Lembut. Hangat. Ada kedamaian yang lamat-lamat menyelusup dalam aliran darahku. Aku ingin berlama-lama seperti ini, Ibu.
Kau tahu siapa yang layak disebut orang sukses, Anakku?
Aku mendongak.
Ibu balas memandangku.
Ah, Ibu sengaja menggantungkan jawaban. Ia melepas lenguh kecil. Kemudian melirikku. Lalu mengulum senyum. Sepertinya Ibu sangat senang melihatku dililit penasaran. Kucubit pinggangnya yang mulai menggelambir. Ibu menggeliat kecil. Geli.
Kualat kau, Nak! Ibu menepuk-nepuk kepalaku dengan air muka semringah-raya. Aku tertawa kecil. Kusurukkan kepala di antara dada dan lehernya. Ah, bahagianya aku.
Jadilah orang yang baik, Anakku.
Hening.
Bukankah itulah sukses yang sebenarnya? lanjut Ibu.
Aku masih bergeming. Menyuling makna dari kata-katanya barusan. Ibu terlampau sederhana memandang sesuatu, pikirku.
Ibu menatap kosong ke depan. Dari posisiku, dapat kulihat kuncup dagunya yang mulai berkerut, gigi-giginya yang masih putih, dan sepasang bibirnya yang jingga oleh sari sirih. Kulingkarkan tanganku di pinggang Ibu. Ia balas memelukku. Kami bagai hendak menegaskan bahwa perpisahan takkan kuasa mengaburkan cinta.
Ibu, bisikku pelan penuh perasaan.
Ibu mengangguk di balik bahuku.
Aku ingin seperti Ibu. Memaknai hidup dengan sederhana saja, kutekuk daguku di punggungnya.
Ibu mengelus rambutku. Hidup sebatang kara tidaklah lurus-lurus saja, Anakku. Ibu harus melakoninya dengan waspada dan pantang kalah. Tak ada yang sederhana, kecuali doa yang kadang begitu enggan kita kirim ke langit. Kauperlakukanlah setiap perkara sebagai ibadah karena hidup yang sejati adalah hari ini! Ibu melepas rangkulannya. Ia bidik mataku dengan tatapan yang tepat mengarah ke bulatan hitam di dalamnya.
Ya, hidup adalah hari ini, Anakku. Kemarin sudah berlalu, dan esok belumlah tiba! Ibu mencium keningku.
Kubalas mencium Ibu. Di pipinya yang keriput. Aku bergumam lirih di telinganya yang disaput beberapa helai rambut yang sudah sepia: Aku akan menjadi anakmu yang baik, Bu. Akan kutunjukkan baktiku. Suatu waktu, akan kubelikan Ibu kain lasem bercorak burung murai dan kembang mangkok. Akan kunaikhajikan Ibu. Akan kubangun rumah mungil dengan pekarangan luas agar Ibu dapat leluasa berkebun melati dan menanam sirih. Akan…
Tiba-tiba Ibu menepuk pundakku seolah memintaku menghentikan serentetan bualan. Kupikir ia hendak mengingatkan bahwa senja sudah terlampau tua, sebentar lagi magrib mengundang malam, dan kami harus segera masuk, mengambil lipatan telekung di bilik solat. Ternyata tidak! Kedua tangan Ibu malah meraih bahuku. Ia goncangkan tubuhku bersamaan mutumanikam yang disemburkannya dalam kata-kata.
Ibu tak ingin kauburu harta-harta itu lalu memberikan satu atau beberapa untuk Ibu urus, Nak. Tidak! Tubuhku masih digoncang-goncangnya. Ibu bagai ingin menunjukkan betapa kata-katanya harus kusimak dengan saksama.
Pelihara saja harta yang telah kaubawa sejak lahir, Nak. Kejujuran, kasih sayang, mencintai sesama, suka menolong…. Bukankah harta-harta itu menyertai semua manusia? Termasuk padamu ketika berhasil keluar dari gua yang menyuruk di antara pangkal paha betina bertaring itu! Suara Ibu makin meninggi. Ia berhenti tepat ketika tabuhan bedug mengejutkan sunyi yang memeluk semesta. Seolah tak memedulikan satu-dua bulir yang menyeruak dari ceruk mataku, Ibu bangkit dari duduknya. Meninggalkanku sendiri. Seperti senja yang tiba-tiba saja sudah pergi. Seperti senja terakhir itu. Senja yang paling ibu.
Memeluk Ibu
Pipiku basah. Aku tak sabar menyongsong malam. Memeluk Ibu dalam mimpi yang mustajab. Aku takut menemuimu, Ibu. Aku akan menggigil oleh semua risalah yang kautumpahkan, hingga membuatku terjerengkang ke jurang yang dalam tak tepermanai.
Oh Ibu, aku tahu kau takkan mencekikku walaupun, karena aibku, mulut orang-orang kampung takkan lelah memuntahkan racun ke bilik ketenteramanmu. Aku tahu kau takkan melupakanku walaupun namamu telah kuusir dari ingatan sejak perpisahan sepuluh tahun lalu. Aku tahu kau takkan membunuhku walaupun demi bertahan hidup, kutangguk rupiah dari selangkanganku….
Khatimah
Sungguh, aku merinduimu, Ibu. Rindu ini umpama subuh yang mengkhitbah bukit dengan cincin embunnya. Gunung, laut, dan lembah yang melempar kita ke titik entah, justru mengantarku ke senja yang memayungi pinang-pinang merah; ketika kupungut butir-butir nasihat kehidupan darimu, kubawa ke kota yang jauh dari kelebatan bajukurungmu. Tanpa disadari, telah kuperam semuanya. Dan kini, di senja yang tak lagi ibu, butir-butir itu menetas. Kutandai mereka dengan dua nama: yang satu Kenangan, yang satu lagi Nostalgia.
Tidak! Kutandai mereka dengan tiga nama: yang satu Kenangan, yang satu Nostalgia, yang satu lagi Kerinduan.
….
O, Ibu, seperti apa kau kini? (*)
Dimuat di Jawa Pos, 30/04/2006
Perempuan itu berdiri di muka jendela kamarnya. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya malam ini.Suara-suara. Bergerimit. Di ruang utama. Para tetua adat yang terdiri dari Patih, Mangku, dan Manti berembuk membentuk nanam pancang yang bertugas mengawasi keamanan prosesi sabung ayam dan judi esok hari, yang merupakan kelanjutan pesta begawai hari ini. Di ruangan lain, para wanita dusun Ulu Ekok, Desa Durian Cacar tak kalah sibuk. Asap kretek mengepul dari mulut-mulut mereka, menemani percakapan di sela kesibukan membenahi sisa pesta hari pertama.
Tambuli, begitu perempuan itu biasa di sapa. Dia jatuh cinta untuk pertama kali pada seorang lelaki dari seberang. Seorang mahasiswa jurnalistik yang sedang melakukan KKL di daerahnya. Lelaki itu tidak terlalu tampan. Tapi Tambuli suka setiap kali mendengar suara merdunya melantunkan kalam-kalam yang biasa Tambuli dengar dari corong-corong rumah ibadah suku Melayu, selepas matahari membenamkan seluruh tubuhnya di balik tebing cakrawala.
Lelaki itu tinggal bersama teman-temannya di sebuah rumah tak berpenghuni milik Patih Gading --tetua adat tertinggi-- yang berada tak berapa jauh dari kediaman keluarga Tambuli. Berawal dari permohonan menyediakan makanan bagi mahasiswa-mahasiswa KKL yang tengah membuat film dokumenter adat istiadat Suku Talang Mamak pada keluarga Tambuli, mereka jadi sering bersua. Tapi lelaki itu terlalu acuh pada perempuan, terlalu dingin pada Tambuli. Tidak seperti Andre, salah seorang temannya yang selalu membawa kamera minidivi, yang selalu mencuri-curi waktu berdua dengannya pada setiap pagi, siang dan petang, saat Tambuli mengantarkan makanan kepada mahasiswa-mahasiswa itu. Wajah Andre seperti turis-turis asing yang sesekali berkunjung ke dusun mereka.
Suara tawa di ruang utama. Seolah jadi penanda. Pembentukan nanam pancang telah disepakati. Orang-orang terpilih. Pemuda-pemuda dusun yang cukup disegani. Siap mengawal prosesi sabung ayam dan judi esok hari.
Malam merayap cepat. Waktu tak mau menunggu. Lelaki itu tak juga tiba. Dua hari lagi dia resmi jadi istri Soleh, lelaki usia tujuh puluh yang lebih pantas jadi kakeknya, dan telah pula memiliki keluarga. Tatapan cemas Tambuli menerobos pekat malam. Setidaknya masih ada waktu dua hari, begitu hati Tambuli berkata menenangkan dirinya sendiri.
"Aku akan menemui kedua orang tuamu!"
Tambuli menenggelamkan pandangannya ke lantai kayu. Mereka duduk dipisahkan jarak dua langkah kaki, di rumah yang ditinggali lelaki itu bersama teman-teman mahasiswanya.
"Kau ragu dengan kesungguhanku?"
Tambuli menelengkan kepala. Masih dengan wajah tertunduk. Kedua jemarinya saling tertaut. Meremas cemas.
Perlahan perempuan dua puluh itu mengangkat dagunya. Mencoba mencari masa depannya di mata lelaki itu. Lelaki dari seberang. Yang menawarkan sebuah pernikahan. Tambuli semakin merasa mencintainya. Tapi…
"Aku akan menikahimu!"
Tambuli tidak terkejut dengan pernyataan itu. Semestinya bahagia. Tapi dia malah merasa hina. Kembali perempuan dua puluh tahun itu menenggelamkan wajahnya. Kabut memendar di bola matanya. Meretas. Meninggalkan jejak-jejak kristal di kedua belah pipinya. Sungguh. Tambuli ingin sekali mengangguk saat itu. Tapi pantaskah lelaki itu menanggung semuanya?
Tambuli masih kehilangan kata. Dia berada di sebuah persimpangan jalan. Bimbang menentukan pilihan. Tawaran lelaki dari seberang itu sulit untuk ia abaikan. Wajahnya yang biasa saja tak menenggelamkan cahaya yang membuat Tambuli jatuh hati pada pemilik wajah itu. Biar mati anak asal jangan mati adat! Ungkapan itu berputar-putar di ruang pendengarannya. Adat orang Langkah Lama tak membuatnya berhak menentukan pilihan, lelaki mana yang boleh dia pilih menjadi ayah bagi janin yang tengah dikandungnya.
Perempuan itu berdiri di muka jendela kamarnya. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya. Tapi hingga hari kedua begawai, belum juga ada tanda-tanda lelaki itu akan menjemputnya. Waktu telah pula melintasi ambang hari.
Prosesi sabung ayam dan judi siang tadi berjalan dengan lancar, hampir seluruh warga dusun berkumpul menjadi bagian dari salah satu prosesi begawai itu. Tak ada halang yang merintang selama acara berlangsung. Sang Kemantan telah memohonkan kelancaran serta dijauhkan dari roh jahat pada Datuk Patih Si Putih Lintang Awan yang menguasai alam gaib dusun Ulu Ekok. Ayam-ayam milik warga dusun yang mati dan kalah dalam ritual sabung ayam dikumpulkan, dan diberikan pada keluarga pengantin, untuk dimasak sebagai hidangan. Begitulah cara mereka bergotong royong meringankan beban keluarga mempelai.
Sebuah guci dari tanah liat berukuran sedang diletakkan di dekat pintu rumah pengantin, melanjutkan prosesi sabung ayam dan judi. Guci lantas diisi air yang sebelumnya telah dicampur gula putih dan gula merah. Lalu ditutupi daun pohon nangka. Tiga tangkai batang kecil yang memiliki lubang di tengahnya disusupkan di sela-sela daun. Satu per satu warga dusun mencicip air dari dalam guci itu.
Riak air sungai Tunu, meredam leguh birahi dua anak manusia. Rerimbun pohon Rimba Puaka menyembunyikan tubuh mereka dari mata siapa saja. Di tanah yang dikeramatkan itu, anak gadis suku Talang Mamak merasai sentuhan seorang pemuda untuk yang pertama kali. Seekor kumbang hinggap di daun sebelum mencelok di bunga, rakus mengisap madu.
"Aku hamil!" ujar Tambuli setelah dia tak lagi mengalami menstruasi sejak satu bulan setelah pertemuan rahasianya dengan Andre di tepi sungai Tunu, di balik rerimbun pohon Rimba Puaka.
"Apa?!" pemuda berwajah indo itu bangkit dari sila di atas tikar tandan.
"Kau harus menikahinya!"
Tambuli dan Andre terperanjat mendengar suara. Mereka tak menyadari seorang lelaki telah berdiri di ambang pintu rumah, mendengarkan semua percakapan mereka. Lelaki itu. Lelaki dari seberang. Yang membuat hati Tambuli menjadi tak menentu, sebelum dia merasa patah hati karena sikap acuh lelaki itu, dan temannya yang berwajah indo memberikan mimpi-mimpi surga lewat kata-kata dan sentuhan yang mengirimkan getaran ke ruang terdalam seorang gadis belia di setiap perjumpaan mereka ditemani semakhluk iblis.
Andre mengangguk. Ragu. Lelaki dari seberang itu mencekal pundaknya, seperti meminta ketegasan dari temannya. "Baiklah, aku akan menikahinya," katanya kemudian. Lelaki itu melepaskan cengkeramannya, sebelum menatap ke arah Tambuli. Gadis itu tak berani membalas tatapannya.
Tapi saat kicau burung memaksa kelopak mata lelaki dari seberang itu membuka, dia tak lagi menemukan Andre terbaring di sebelahnya. Saat hari telah melewati sepertiga malam tadi, diam-diam Andre meninggalkan rumah penginapan bersama seluruh barang miliknya. Tak satu pun teman-teman mereka yang menyaksikan kepergiannya.
Tambuli tak kuasa memendam pedih, ketika lelaki dari seberang itu menyampaikan kepergian Andre kepadanya.
Perempuan itu berdiri di muka jendela kamarnya. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya. Tapi hingga dia nyaris resmi menjadi istri Soleh, belum juga ada tanda-tanda lelaki itu akan menjemputnya. Teja sempurna membakar cakrawala. Matahari tertatih menenggelamkan tubuhnya ke balik tebing cakrawala. Tambuli belum berhenti berharap. Perempuan itu tak sudi menjadi salah satu istri lelaki tua yang lebih pantas menjadi kakeknya.
Siang tadi mas kawin telah dia terima. Sebuah gelang perak, mata lembing dan lima belas kain mori. Para tetua Mangku berembuk dengan Patih Gading, menelusuri silsilah masing-masing mempelai, agar tak terjadi pernikahan sedarah.
Mengelebat pikiran dalam benak Tambuli, membangun harapan kalau dirinya segaris keturunan dengan Soleh, meski dia sendiri tahu itu tak mungkin. Wajah-wajah bahagia para tetua Mangku beserta Patih Gading seolah menjawab ketidakmungkinan yang sempat mengelebat dalam pikiran perempuan itu.
Seranting kecil pohonan menjadi jalan bagi air dalam guci berpindah ke kerongkongan Tambuli. Perempuan yang tengah berbadan dua itu merasa mual. Dimuntahkan kembali air yang sempat mendiami lambungnya itu ke luar, tumpah dalam guci. Bergerimit suara. Tambuli merasa pijakannya melemah, sebelum tubuhnya menggelosor di lantai kayu rumah.
Para tetua Mangku serta Patih Gading memutuskan penundaan pengesahan, kerena Soleh belum sempat menyeruput air dalam guci yang menjadi penanda sahnya seluruh prosesi begawai yang mereka laksanakan selama tiga hari berturut-turut.
Sambil menunggu Tambuli tersadar dari pingsan, dan siap melanjutkan prosesi pengesahan, sebuah guci baru segera disiapkan. Selepas senja berlalu prosesi pengesahan akan kembali dilaksanakan.
Kedua orang tua Tambuli hanya bisa tertunduk saat mengetahui kehamilan anaknya. Siapa lelaki yang telah menanam benih? Tak sekata yang keluar dari mulut Tambuli. Pertanyaan itu tetap menjadi rahasia. Warga Dusun Ulu Ekok menjadi resah. Patih Gading selaku pemangku tertinggi adat segera minta pendapat pada tetua adat lain, sebelum membuat keputusan demi menyelamatkan aib salah seorang warga.
"Mereka telah menentukan calon ayah bagi bayi ini…," lirih Tambuli berucap pada lelaki dari seberang, yang sedang berkemas meninggalkan Dusun Ulu Ekok, setelah kepergian diam-diam temannya yang telah menanam aib dalam rahim suci Tambuli. "Namanya Soleh. Dia dari suku Melayu yang telah lama mendiami Dusun Ulu Ekok. Lelaki tujuh puluh tahun pilihan para tetua adat."
"Kau setuju?"
"Aku tidak bisa apa-apa. Keputusan tetua adat adalah titah yang tak terbantahkan, begitu adat orang Langkah Lama. Tapi…"
"Kau tak setuju?"
"Aku hanya tak mau menikah dengan lelaki itu."
"Kau masih berharap pada bapak dari janin itu?"
Tambuli menenggelamkan wajahnya. Karam dalam samudera penyesalan. Air matanya jatuh ke lantai. Tambuli tak tahu apa yang dia inginkan. Semua kemungkinan mendamparkannya pada ruang tak berpintu, yang tak memungkinkannya memilih jalan keluar, selain kepasrahan.
"Aku akan menjemputmu seusai mempersiapkan kepulangan ke Jakarta. Teman-temanku akan menunggu di tepi sungai Tunu."
Tambuli menemukan cahaya. Mungkin ini pintu yang ditawarkan baginya dari Yang Mahakuasa.
***
Perempuan itu masih berdiri di muka jendela kamarnya. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Cakrawala masih menyisakan warna senja yang begitu tua. Sesaat lagi kelambu malam siap dibentangkan. Dia pasti datang! Begitu hati Tambuli menengahi keresahannya. Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya. Dia tak mungkin dua kali menuangkan muntah ke dalam guci berisi air yang telah dicampur gula putih dan gula merah itu, untuk menunda prosesi pengesahan pernikahannya dengan lelaki tujuh puluh yang telah pula memiliki keluarga.
Dia pasti datang! Sekali lagi hati Tambuli berucap. Lalu sebuah ketukan di pintu. Tambuli ragu membuka. Sesosok bayang menerobos pekat malam baru saja tertangkap ujung matanya, bergerak mendekat ke arah jendela kamarnya.
Rumah Cahaya, 22 Januari 2006
Dimuat di Jawa Pos, 30 Mei 2010
JELANG dini hari. Di sebuah ranjang berkelambu coklat muda. Kau terlelap tanpa dengkur. Telanjang dada. Bersarung sebatas lutut. Di sampingmu, terbaring sebatang tubuh molek yang hanya dibalut kain lasem sebatas dada, hingga terintip ceruk di antara dua bukit tinju yang ditutupinya. Selingkaran lehernya menyerak tanda merah sebesar ujung jempol, bagai habis dihisap-kecap. Air muka kalian menyemburatkan lelah yang tak biasa. Tengah malam tadi kalian khatamkan sebuah pertarungan yang tertunda sekian lama. Bukan hanya dengan keringat, tapi kalian juga melakoninya dengan hasrat yang mendahaga. Tak ada yang ditetapkan sebagai pamuncak. Kalian sama-sama kuasa. Kalian pula sama-sama kalah. Bakda itu, lelap kalian adalah sebenar lelap. Untuk apalah bermimpi lagi bila angan-angan itu baru saja tertunai?! Tertunai di atas nama pertautan-halal; di atas ranjang yang berseprai anyar; di atas malam yang dipilahku untuk merajam. Membalas dendam!SIANG tadi pesta perkawinanmu digelar dengan mewah. Kau memang seorang istimewa. Anak tunggal pemilik panglong kayu terbesar di kampung. Jadi, adalah mahfum bila perempuan yang baru datang dari kota itu tertawan olehmu. O, jangan-jangan ia yang menawanmu?! Ah, tak penting itu. Perkaranya adalah, aku tak rela kau meminangnya. Tidak!
Memang, kepergianku ke kampung orang tuaku dua pekan silam tanpa sepengetahuanmu dan keluargamu. Tapi, yang membuatku murka adalah sikapmu (juga keluargamu) ketika mengetahui aku raib. Tenang-tenang saja. Ketika itu, mendidihlah darahku. Ingin sekali aku melabrakmu. Bila perlu membuatmu mati-tercekat karena mendapati kedatanganku yang tiba-tiba. Namun, rencana itu kujegal sementara. Aku benar-benar ingin tahu musabab ketakpedulianmu pada diriku, gadis yang kaujanjikan untuk dikawini. O, apakah ketaktahuanmu tentang di mana tepatnya ranah kediamanan orang tuakukah yang membuatmu tak mencariku? Kini, jujur, aku merasa sangat bodoh. Mengapa dulu aku terburu-buru mengambil ketetapan itu. Pergi meninggalkanmu. Berkelana ke kampung ayah-ibu yang justru tak kunjung kuketahui keberadaannya.
AKU benar-benar benci pada perawan itu. O, sungguh, kau harus tahu bahwa semua ini bukan salahku!
Apakah kau tak tahu seperti apa pembantu di rumahmu dipekerjakan? Adalah sahih bahwa titah demi titah orang tuamu telah merampas waktuku: sedari subuh hingga malam meninggi. Jadi, bagaimana mungkin aku main-gila dengan laki-laki lain?! Apakah harus kuceritakan perihal aku yang jatuh dari pohon nangka karena keponakanmu dari kecamatan minta diambilkan layangan yang tersangkut di sana; apakah harus jua kukeluhkan bahwa aku pernah terjerengkang di dapur karena ibumu berteriak memintaku gegas menyiapkan air hangat untuk mandi di subuh kau akan diwisuda dua bulan lalu; apakah jua harus kutumpahkan kekesalan bahwa, beberapa kali aku terjerembab dari kereta unta ketika mengantar rantang-rantang para tukang yang merampungkan rumah baru kalian di simpang pasar... ; dan apakah harus kumeraung --dalam suara yang pasti memarau-- untuk semua akibat yang dimunculkan kesialan-kesialan itu: selangkanganku sakit, perih, bahkan ketika terpeleset di kamar mandi yang akan kusikat di pagi Ahad, bercak-bercak merah tiba-tiba saja mengerubungi celana dalamku. Pedihnya tak tepermanai. Bukan hanya membayangkan bahwa beberapa hari bakda itu, aku akan berjalan sedikit mengangkang, namun...lebih dari itu. Menangis tak berbunyi aku bila membayangkan air muka lelaki --yang suatu hari nanti mengawiniku-- di malam pertama kami (di bawah lampu kamar yang bercahaya remang).
BERTAMBAH masailah aku ketika suatu hari kau menanam tebu di bibir. Kau tak hanya, dengan lembut dan syahdu, mengatakan (sekaligus memuji); hidungku bangir, wajahku bulat telur, bibirku merah penuh, kulitku putih rotan, mataku kilap-kelereng, alisku semut yang berbaris, rambutku sutera-hitam, daguku lekuk-mangga, bahkan telingaku kaukias bak cawan Persia. Aku luruh. Aku tahu, kau tak menuang air hingga tumpah. Kau menyampaikan yang sebenar. Ayahmu yang sudah empat kali naik haji saja sering ''nakal'' padaku. Beberapa kali si tua bangka itu meremas pantatku ketika aku ngepel. Beberapa kali pula ia mencoba menciumku --namun selalu gagal karena derap langkah ibumu keburu menyambangi.
''Kau bersyukurlah kami pungut di tepian rel dulu. Sekarang nak bertingkah kau!'' hardiknya ketika aku menghindari cengkeramannya di pinggangku.
Ayahmu juga sangat pandai mengganti muka. Di depan ibumu ia bagai singa yang sedang memerintahkan musang menyeret ayam. Bila aku lamban atau bahkan tak melaksanakan apa-apa yang dititahkan, maka aku akan dirajam. Demikian istilah yang sering dipakai keluargamu bila aku dirundung kesialan. Ya, selain keluargamu, tak banyak yang tahu (atau bahkan memang tak ada yang tahu) bahwa ayahmu seringkali merajamku dengan pecut kuda yang disimpan di kolong ranjangnya, bila aku kedapatan melakukan hal-hal yang tak berkenan di hadapannya dan ibumu. Walaupun tidak melakukannya dengan cambuk-maut itu, ibumu tak kalah ganas. Ketika marahnya membara, barang apa saja yang ada di dekatnya akan dicangking-rajamkan ke arahku. Kau tahu, bakat biru di bahu belakangku adalah bukti yang paling makbul atas guci China dan tatakan piring keramik Turkmenistan yang ia pecahkan ke tubuhku. Kau tahu, sejak itu, aku selalu tidur dalam keadaan telentang. Sedikit saja kumiringkan tubuh --karena tiba-tiba ingin memeluk guling misalnya, tulang belakangku serasa bersigesek. Linu yang menyayat.
Dan... kau bagai mengimani peribahasa yang tampaknya tak bercelah: orang tua adalah guru berteladan yang mustajab.
Ya, kau kerap menjambak rambutku bila telur mata sapi kegemaranmu tak kugoreng seperti yang kau inginkan. Kuningnya terlalu masaklah, putihnya terlalu keringlah, minyaknya masih berlumuranlah.... Namun kau sangat berbeda dengan orang tuamu. Rajammu adalah rajam yang membuat lenguhanku bersicepat dengan denyut nadi dan geletar jantung. Kau biasanya menyeretku ke sudut dapur yang jauh dari imbas cahaya pir kuning yang menjuntai di plafon. Melumat bibirku, menggigit-geli leherku, menjilat lekuk telingaku.... Kau melakukan semua dengan tangan yang sigap membuka kancing-kancing baju-katunku. Seolah kau benar-benar hafal bahwa jarak masing-masing pengait baju itu adalah 12 sentimeter. Tapi... kau tak melakukan (atau meminta) lebih jauh. Kau kerap berhenti ketika aku mulai menikmati rajamanmu.
''Percayalah, aku bukan iblis. Aku hanya pemuda biasa yang tak dapat menyembunyikan naluri lelakinya. Percayalah, kau bagai bidadari saban habis mandi. Dan aku takkan menghamilimu hanya karena itu. Aku hanya ingin bercumbu dengan perawan di malam pertamaku. Dan itu adalah kau....''
Aku diam. Terharu. Bangga padamu --bakal suamiku (benarkah?!). Lalu meradang dalam bayang kesedihan yang siap tumpah demi membayangkan malam-sakral itu tiba suatu waktu.
Tapi... oh, seperti yang kaukatakan. Kau adalah pemuda biasa. Hanya ditambah beberapa kelebihan: tampan, kaya, berpendidikan, dan (jujur kukatakan) menggoda. Pada suatu malam yang mendung, ketika kedua orang tuamu berhelat ke kampung sebelah, memenuhi undangan hajatan kawan lama, kau kembali merajamku. Tapi bukan karena aku tak menggoreng telur ayam itu dengan baik. Kau merajamku karena kau pemuda biasa --katamu dulu, pemuda yang memiliki naluri kelelakian (atau kebinatangan?!). O sungguh, harus jujur kukatakan, aku juga bagai terasuk setan-binal malam itu. Bila kau memintaku menumpahkan isi telur di kuali, aku akan melakukannya serampangan. Bahkan, akan kunaikkan putaran gas hingga api menyala sejadi-jadinya. Akan kuhidangkan telur pekang, gosong-arang! Ya, aku ingin kau menghukumku. Merajamku!
Dan kau melakukannya tanpa ada pasal telur goreng itu. Tapi tak seperti biasa, kali ini kau meminta lebih. Tentu saja, aku menolaknya. Bukan, bukan karena tak yakin kau akan bertanggung jawab (entah, aku begitu percaya padamu bahwa kau takkan menyia-nyiakanku), tapi karena kau belum meyakinkanku apakah ayah-ibumu akan bersetuju dengan pilihanmu; seorang pembantu tanpa orang tua dan sanak saudara.
Kau bagai membaca kegundahanku. Kau katakan betapa istimewanya dirimu. Siapa yang berani menolak permintaan anak tunggal?! Sungguh cantik kau meliuk lidah. Ya, kau tak menanyakan mengapa aku berani menolak permintaan seorang anak majikan. O, betapa ketika itu kau menguapkan sikap yang meluluh-lantakkan tembok pertahananku.
Menanglah kau! Aku gelap-pikiran. Aku tak tahu bila tebu di bibirmu sebentar lagi akan ditebas (dan hilanglah gulali itu tak lama kemudian!). Aku hanya membayangkan betapa gadis sebatangkara sepertiku akan menjadi bagian dari keluarga terhormatmu. Ohhh....
Namun, kenyataan bersibelakang dengan ramalan. Kau mulai mengganas. Kausingkap kain lasemku. Dan... berserempakan dengan petir yang bergemuruh jauh, dan air langit yang bersitumpah satu-satu; mukamu keruh seketika!
Kau mendorongku hingga terjerengkang. Kau kenakan pakaian dengan tergesa-gesa. Kau tuding aku sundal. Kau tak memberiku kesempatan untuk mengurai sebab-akibat....
Tengah malam, kutinggalkan rumahmu. Memapas jalan-jalan kelam kampung yang lengang....
SEDARI pagi, aku memang tak sabar menyambut malam. Di antara kerumunan tetamu, kusaksikan bagaimana ijab-kabul dilewati tanpa hambatan. Sejak duha hingga bakda asar, orkes melayu mengoar-bingar panggung dan seantero kampung. Kalian bagai menginjak-injak luka-lebamku. Dan, bakda isa, aku menuju kediamanmu. Dari balik jendela, kuintip orang tuamu menghitung isi amplop yang diterima, para keponakan yang bersuka-ria menyobek bungkus kado-kado yang menyerak di kamar depan, beberapa tamu jauh yang tak henti memuji keserasian kalian....
Malam pun meninggi. Sedikit saja jarum jam yang lebih panjang tergelincir, maka hari akan bernama baru. Lamat-lamat aku menyelinap. Kalian lupa bahwa aku sangat paham leliku rumah besar itu. Aku segera menuju kamar bergorden merah jambu dengan beberapa tangkai anyelir menyelip di kaitannya. Syabas! Begitu mudah kukuak pintu kamar. O o, aku datang di waktu yang gemintang. Kalian baru akan memulai ritual wajib pengantin baru. Aku berdoa dari balik pintu, semoga selangkangan gadis itu berkembar-nasib dengan selangkanganku.
O, apakah benar yang kulihat? Kau menggumulinya dengan lunas. Apakah gadis itu masih perawan? Atau... kau tak peduli lagi perihal darah yang muncrat di antara bonggol paha itu? Puihhh!!!! Laki-laki pembual, kau!
Maka, ketika kalian lelap oleh lelah yang memuaskan... kusambangi ranjang harum melati itu. Kusingkap kelambu. Kutatap kalian satu-satu. Kubersijingkat menaiki ranjang. Sangat hati-hati, hingga tanpa bunyi derit. Aku kini sudah mengangkangimu. Ups! Setengah meloncat aku membebankan tubuh di atas perutmu....
***
AKU terkakak hingga air mataku menyeruak. Kedua bola matamu mendelik sempurna ke arahku. Kurajam kau kini! Kucekik lehermu sejadi-jadinya. Kau mengejang. Aku makin terbahak. Pun ketika perempuan di sampingmu terjaga. Ia menyangka kau tengah mengigau. Mimpi buruk.
Sejak kapan mimpi buruk bertandang di malam punai, hah?! Perempuan bengak!
Perempuan itu menarik-narik kedua tanganmu yang memegangi leher --seolah kau tengah melepaskan cengkeramanku yang memelintir tonggak kepalamu. Mana bisa?! Mati kau?!
Perempuan itu berteriak ketakutan. Keluarga dan sanak-kerabatmu menggedor-gedor pintu yang masih terkunci. Tak lama, mereka mengerumunimu. Berteriak sejadi-jadinya. Ya, siapa yang tak meradang ditinggal mati anak-bujang seorang?!
AKU masih tertawa ketika, di antara sikaduduk yang menyemak di sudut pemakaman umum, tempat akan digalinya liang untukmu, orang-orang menemukanku teronggok dikerumuni belatung. Beberapa bagian tubuhku ditutupi bahan katun, kain lasem yang buram coraknya, dan tentu saja tali tambang yang masih bergelung di tengkorak kepala. Itu adalah tali yang kuambil dari dapurmu di malam aku meninggalkan rumah itu. Kukaitkan di dahan beringin yang paling besar; demi beroleh restu ayah-ibu untuk merajammu malam tadi. (*)
Lubuklinggau, Oktober 2009 s.d April 2010
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)




