Tampilkan postingan dengan label M: Sabili. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M: Sabili. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 Februari 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
dimuat di, Majalah Sabili, Februari 2011

; kepada grup-grup nasyid yang pernah kusinggahi

CARLIE, Risyad, Hari, dan Davis tengah serius mendengarkan pengarahan dari Bamris, pemuda 22 tahun yang menjadi pelatih nasyid mereka. Empat mahasiswa Fakultas Ekonomi Unand yang hanya terpaut beberapa tahun di bawah Bamris itu, sesekali bertanya tentang apa dan bagaimana pernapasan yang baik, resonansi suara, jenis-jenis vibra, tipe improvisasi, tremolo, cressendo, decressendo, dan beberapa teknik dan istilah bernyanyi pada umumnya.
Walaupun mereka sudah lama berkecimpung di dunia nasyid, namun pengetahuan di atas, kalau tak ingin dikatakan asing, cenderung tidak familiar di telinga mereka karena tidak dipelajari ketika bernasyid sebelumnya. Dan kini, ketika dikumpulkan Bamris untuk bergabung di Alif, grup nasyid besutannya, mereka manfaatkan setiap pertemuan untuk menambah ilmu sebanyak-banyaknya.

Satu bulan telah berlalu. Sore itu tak ubahnya dengan sore-sore sebelumnya. Senandung nasyid bergema dari salah satu kamar wisma An-Nur. Empat pemuda tekun berlatih dan menyelaraskan posisi vokal masing-masing. Sesekali teriakan-teriakan khas Bamris menyelingi latihan mereka. Tak jarang setelah teriakan tersebut, barisan-barisan suatu melodi mesti diulang berpuluh-puluh kali.

“Dinamiknya nggak ada. Ulang lagi!”

Kode hitungan dari jemari Bamris menuntun grup itu kembali bernasyid, dengan teknik yang diarahkan Bambris.
Karakter Bamris yang super disiplin dan perfeksionis sudah dipahami oleh keempat ‘anak didiknya’ itu. Tak jarang masing-masing mereka akan menerima ‘semprotan’ khasnya. Baik karena keterlambatan menghadiri latihan, apalagi tak disertai konfirmasi sebelumnya.

Tapi itu hanya berlangsung dalam latihan. Di luar, itu tak berlaku. Bahkan bakda latihan, mereka sering berjalan bersama menyusuri gang sempit yang menjorok ke jalan raya. Biasanya acara jalan-jalan ini diembel-embeli makan bersama di Lubuak Sao, rumah makan yang juga menyediakan menu pangsit, bakso, siomay, dan batagor yang biasa mereka santap sambil menunggu magrib tiba.

Di sana mereka kerap berceloteh, bercerita, dan bercanda. Tanpa disadari, di sana mereka tengah membuka lembar demi lembar diary kehidupan yang baru. Menuliskan kenangan demi kenangan di dalamnya. Semua tak pernah tahu sampai semua menjadi kelabu. Sangat kelabu.

Masa pun silih berganti. Berpeluh suka dan duka, mereka jalani bersama. Sangat berbeda dengan dahulu, kini belum genap setahun usia grup nasyid tersebut, mereka sudah sangat dikenal dengan berbagai prestasi dan pengalaman tampil di berbagai even prestisius. Bahkan di tahun tersebut, Alif beberapa kali menjuarai festival nasyid tingkat nasional. Dalam berbagai festival tingkat provinsi, mereka tidak lagi berpredikat sebagai peserta, tapi sudah menjadi bintang tamu, tak jarang merangkap sebagai dewan juri.

Bamris sudah mengenal watak masing-masing personil Alif. Carlie adalah sosok yang percaya diri dan optimis. Hari, pribadi yang kalem, jarang ngomong, sering mengambil sikap aman dan sangat menghargai Bamris. Sifat Hari ini tak jauh berbeda dengan Risyad dan Davis.

Namun, seperti suatu grup pada umumnya, Bamris melihat keberagaman tersebut sebagai hal yang wajar, apalagi selama ini ia tak menemui halangan berarti dalam memenej mereka baik secara manajerial maupun teknis. Pun ketika terdengar desas-desus bahwa Alif merasa sudah dapat berdiri sendiri tanpa pelatih, Bamris tidak sedikit pun mengindahkannya. Baginya adalah wajar, isu miring melanda penyanyi atau grup yang tengah naik daun. Tak terkecuali di dunia nasyid. Tak terkecuali untuk Alif.


BERSUA pasti ada berpisah. Ungkapan itu akhirnya datang juga menghampiri Alif. Dengan dalih penyelesaian skripsi dan kemandirian Alif, Bamris mengundurkan diri. Keputusan itu, uniknya tak mendapat respons sebagaimana biasanya terlontar dari orang-orang yang telah dibesarkan oleh pelatih, manajer, pendiri, bahkan ‘pemilik’ suatu grup tempat mereka bernaung selama ini. Walaupun ada kail yang menyangkut di hati atas sikap yang mereka tunjukkan, tentu saja bukan hal yang etis bagi seorang Bamris untuk mempertanyakannya. Toh aku memang akan meninggalkan Alif. Kail itu pun terlepas dengan sendirinya.

Ada ribuan kenangan yang telah tertoreh di Alif. Kenangan yang diukir Bamris bersama ‘anak-anak didiknya’. Bamris meyakinkan dirinya sampai pada taraf bahwa dia sangat percaya, pasca ditinggalkannya, Alif akan menjadi grup yang solid, khususnya dari segi teknis. Sudah cukup bagi Bamris untuk terus membimbing dan mengingatkan mereka agar bernyanyi dengan groove, koreografi yang penuh rasa, dinamik, falseto, bahkan hanya untuk masalah kostum panggung sekalipun. Mereka sudah cukup ‘besar’ dan mandiri untuk berkreasi dengan apa yang telah kuberi. Begitulah batin Bamris saat itu.

Sangat indah. Perpisahan itu disertai dengan harapan mendalam dari masing-masing mereka. Satu benang merah, mereka sepakat bahwa perpisahan mereka hanya secara tim, namun tidak untuk ikatan hati. Bahkan yang ditinggalkan pun beberapa kali mengulang kata “terimakasih” atas bimbingan, ilmu pengetahuan, dan wawasan bernasyid yang selama ini telah diberikan. Perpisahan pun ditutup dengan membaca rabitah, doa pengikat hati, yang dipimpin oleh Bambris.

Sangat manis, bukan?! Sangat manis sampai akhirnya mengiris-ngiris. Sampai tipis. Sangat tipis. Bak tipisnya sembilu yang telah dilumuri sari jeruk nipis sebelum mengiris pelipis, dan berakhir dengan tangis. Pecah!

Perpisahan itu ditutup dengan saling pelukan. Entah mengapa, pelukan itu tak juga erat, walaupun mereka sudah mencoba untuk saling mengeratkan. Ah, mereka lupa bahwa hati tak dapat dibohongi, tak dapat dierat-erati, dengan air mata sekalipun.

Kini, sudah hampir dua tahun Alif berdiri. Grup nasyid papan atas, itulah julukan yang disematkan padanya. Undangan tampil pun sudah lintas provinsi. Tapi sayang, banyak hal yang tak seperti dulu lagi. Kebersamaan hanya ada saat latihan. Latihan pun hanya dilaksanakan menjelang penampilan saja, karena itu tali persaudaran yang seharusnya berada di posisi mulia dalam prinsip membangun grup tak lagi diacuhkan.

Bongkar pasang formasi pun sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan pemakaian penasyid pengganti atau tambahan hampir menjadi ciri penampilan Alif.

Sampai suatu ketika, semuanya menjadi kelabu. Bak Pelipis yang diiris sembilu dengan sari jeruk nipis. Tak hanya di pelipis, tapi sampai juga mengiris hati Bambris. Malam itu, setelah menamatkan Salah Asuhan, segera disetelnya frekuensi syiar Qur’an FM untuk sekadar mendengarkan lantunan kalam illahi atau lagu nasyid demi melepas penat setelah berjam-jam memelototi ratusan lembar roman favorit karya Abdoel Moeis tersebut.

“…Rina, salah satu pendengar setia Qur’an FM baru saja bertanya tentang orang-orang yang berjasa membuat Alif hingga seperti ini. Sebagai salah satu generasi awal Alif, mungkin Carlie bisa menjelaskan?”

Segera dibesarkannya volume radio. Tak dapat ditutupinya ekspresi kerinduan pada Alif saat itu, sekalipun hanya untuk mendengarkan mereka bertutur. Bahkan saking bahagianya, jarak telinga Bamris dan speaker radio tak lebih dari 10 sentimeter. Sangat dekat, sedekat hatinya pada Alif selama ini.

“Mmm…sangat banyak ya...” Carlie tampak ragu merangkai kata-kata. Di seberang, Bamris mengernyitkan dahi.

“Yah, mungkin bisa disebutkan?” Broadcaster memberi penekanan.

“Orangtua adalah mereka yang sangat berjasa dalam hidup kita, termasuk dalam perjalanan grup ini. Selebihnya, keluarga dekat dan teman-teman kampus adalah orang-orang yang selama ini sudah sangat banyak men-support kita, baik dari segi moriil maupun materiil,” kali ini, sangat lancar Carlie memberikan jawaban..

“Bagaimana dengan Bamris? Bukan rahasia lagi kalau Alif didirikan dan dibesarkan olehnya, bukan?”

Deg! Jantung Bamris berdetak hebat. Kali ini ia lebih saksama menyimak perbincangan.

“Ya, sama dengan yang lainnya, Bang Bamris juga cukup berpengaruh di Alif. Tapi tidak terlalu signifikan. Itu yang saya tahu dari teman-teman grup ini, karena saat saya di Alif, beliau tidak ada lagi di grup,” kali ini Rindo yang angkat bicara, personil yang baru delapan bulan menghuni Alif.

“Bagaimana menurut Hari?” Broadcaster melempar pertanyaan.

“Untuk masalah ini, mungkin Carlie lebih dapat menjawabnya.” ragu-ragu Hari menjawab. Broadcaster mengalihkan pandangan ke Carlie dengan menyisakan tanda tanya atas sikap Hari tersebut.

“Bang Bamris lebih banyak membantu kita secara mental, moriil, dan motivasi…”

“Masalah teknik bernyanyi?”

“Mmm... sebelum di Alif, masing-masing kita ‘kan sudah punya grup nasyid. Jadi, untuk masalah teknik bernyanyi, kita sudah punya basic-lah. Bang Bamris sebatas mengarahkan. Bahkan mungkin lebih tepatnya beliau sebagai orang yang mengumpulkan dan memenejeri kita saat itu. Tidak lebih.”

Di seberang sana, ada yang bermata kaca. Beberapa detik kemudian, kaca itu pecah, menumpahkan pecahan-pecahan air yang tersembur tak terkendali. Bamris mencoba untuk terus mendengar dialog malam itu. Tapi tiba-tiba telinganya tak dapat mendengar lagi, bahkan matanya mulai kabur. Tak kuat lagi ia bertahan.

Ah, mungkin aku perlu istirahat. Biar subuh nanti kukirim rabitah buat mereka. Bamris membatin sebelum mati suri hingga menjelang pagi. (*)

00:02. Air Tawar, 14 Maret 2007
Rabu, 19 Januari 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Ragdi F. Daye
imuat di Majalah Sabili, edisi no. 11 th. XVIII 20 Januari 2011

Lelaki tua itu, Gaek Rusin, tidak datang shalat berjamaah ke masjid. Meski begitu, shaf depan paling tepi selalu kosong satu sebab orang-orang tetap berpikiran bahwa Gaek pasti datang, mungkin saja dia terlambat karena suatu halangan. Bila shaf pertama itu telah penuh—maksudnya kecuali satu tempat kosong untuk Gaek, dan biasanya amat jarang terjadi—orang-orang yang terlambat menjadi makmum lebih memilih membuat shaf baru daripada mengambil alih tempat yang telah disediakan untuk Gaek Rusin. Tetapi sampai imam mengucapkan salam, Gaek Rusin tak juga datang.

“Ada apa?” Seseorang bertanya.

“Mungkin Gaek sakit.” Sahut yang lain tidak yakin.

Beberapa orang yang lain menyangkal sebab masih melihat Gaek bekerja di ladang.

“Biasanya Gaek tak pernah absen.”

Orang-orang kampung yang baru selesai menunaikan shalat Isya berjamaah sama-sama heran dengan kenyataan itu. Biasanya Gaek Rusin adalah jamaah tetap yang selalu datang ke masjid bagaimanapun keadaannya; hujan, panas, mati lampu, air mati, atau badannya demam, batuk-batuk, pilek... Tubuh tuanya yang masih kuat karena selalu bekerja di ladang tak akan dilupakan orang. Bersarung bugis, baju gunting cina warna putih, dan kopiah hitam pudar di kepala. Gaek Rusin terpatah-patah bila bicara, tetapi bila bertahlil suaranya nyaring dan fasih, merintih sedih membuat orang-orang terhanyut dalam zikir.

“Laa ilaaha illallah! Laa ilaaha illallah! Laa ilaaha illallah!” Kepalanya akan bergoyang kiri-kanan yang akan diikuti anak-anak dengan tergelak-gelak riang.

Gaek Rusin tak datang-datang lagi ke masjid untuk sembahyang, tepatnya setelah Haji Karim meninggal dan dishalatkan setelah shalat Jumat. Gaek ikut menjadi makmum, namun Magribnya dia tak muncul, Isya juga tidak, Subuh esoknya pun tidak, juga Magrib esoknya, Isya esoknya, Subuh lusanya... beberapa hari kemudian Gaek Rusin ditemukan telah beku di ladang.

*

Tentu saja, Gaek Rusin tidak secara tiba-tiba saja mati dan tercampak di ladang. Sebelumnya dia telah sering bercerita banyak dengan istrinya yang bagi orang perasa akan dianggap sebagai isyarat kepergian. Istri Gaek memang ada mengira begitu, namun dia tak terlalu mempersoalkan, sebab baginya keajaiban apalagi yang paling masuk akal terjadi atas diri seseorang yang telah usang usia selain kematian?

“Aku telah menanam durian sebatang lagi.” Beritahu Gaek suatu malam sepulang dari masjid pada sang istri yang juga sudah tua. “Fauzi suka sekali buah durian. Kau ingat ketika dulu dia pernah mendemam dua hari dua malam gara-gara kebanyakan makan durian dengan ketan?” Gaek terkekeh-kekeh sampai tersedak. Giginya tanggal hampir semua.

“Iya, engkau terlalu memperturutkan maunya, sudah jelas dia habis makan rambutan banyak-banyak. Tak tahulah aku kalau dia sampai makan buah manggis pula, mungkin tak akan pernah dia menjadi pejabat...”

“Di dekat banda garosong telah kutanam empat batang alpukat, itu buat Azra.”

“Ohya? Dia memang berhantu benar pada alpukat, itu yang membuat otaknya pintar.”

“Tapi alpukat membuat mata mengantuk.”

“Tapi nyonya-nyonya sekarang dan anak-anak gadis menjadikannya lulur untuk kecantikan.”

“Kau dulu juga memakainya?”

Istri Gaek menepuk pipi lelaki tua itu yang sudah lisut.

“Untuk Zulkifli telah kutanam ampalam di dekat kolam. Dia suka sekali yang masam-masam.”

“Tapi ladang itu sudah penuh.”

“Biar saja.”

“Tapi durian, alpukat, dan palam-palam yang sebelumnya ditanam buahnya sudah melimpah tak termakan.”

“Biar saja.”

“Lalu untuk Imah?”

“Hahaha, dia anak perempuan. Kutanam batang surian untuknya.”

“Batang surian? Itu tak bisa dimakan.”

“Buat bantu-bantu kayu api dan pembuat kasau rumahnya.”

Istri Gaek Rusin tersenyum kecil. “Apa yang kautanam untukku?”

“Untukmu?”

“Ya.” Perempuan itu memilih-milih rimah nasi yang tercecer di lapik pandan. “Kunyit, sipadeh, langkuweh, serai, ruku-ruku, dan daun salam lagi untuk masak sambal buatmu?”

“Ya, ya, tentu. Kau sudah lama tak membuatkanku sampadeh limbek.. ceps...ceps.. ceps..” Gaek berdecap-decap. “Nanti akan kucoba menahan lukah di bawah titian, untung-untung masih ada ikan limbek di sana.”

“Jadi benar, hanya itu yang kautanam untukku?”

“Tentulah, Rubana Sayang, Anak Rang Kayo Gadang dari Parak Gadang.” Gaek Rusin terkekeh-kekeh. Istrinya merajuk. Cemberut. Gaek Rusin menyungkupkan kain lap tangan ke kepala istrinya, membuat perempuan gemuk keriput itu merentak-rentak dan Gaek tertawa makin riang. “Oho, tenang! Aku telah menyiapkan sepetak tanah di ladang. Telah kutanami sekelilingnya bunga tanjung dan batang-batang jarak serta puring emas. Untuk kita.”

Air mata istrinya seketika berderai. “Tapi Zulkifli tak pulang-pulang. Juga Fauzi dan Azra. Halimah pun tak pernah mencogok.”

Gaek Rusin kontan termenung.

“Kalau aku yang mati dulu, syukurlah, ada engkau yang akan mengurus. Tapi bila engkau yang dulu, siapa yang akan menyalatkan?”

*

Dan kemudian di wajah Gaek Rusin hanya ditemukan mendung. Tak terdengar lagi dia bertutur dengan bersemangat tentang kisah-kisah dalam Tambo atau pengalaman serunya di masa Bagolak. Gaek jadi sering tercenung. Bisu mematung. Setiap akan berangkat ke ladang, sikapnya seperti orang yang akan pergi tak kembali. Raut risau dan tertekan. Bila pulang dari ladang dia begitu jerih seperti baru selesai kerja rodi.

Puncaknya adalah Jumat itu sepulang mengantar jenazah Haji Karim ke pandam pekuburan. Mukanya pias berkabung. Dia tak ke ladang sore harinya. Hanya termenung di belakang rumah. Menatap kosong batang-batang jambu paraweh dan saus yang buahnya berjatuhan terbuang. Tak ada lagi anak-anak yang bergelayut berebut buah-buah ranum. Di seruas dahan jambu ada seutas tali sisa ayunan puluhan tahun silam.

Gaek Rusin terkenang lengking tawa anak-anaknya. Ayunan yang berkelebat. Bedil-bedil pelepah pisang. Semburan biji jambu paraweh. Ribut pertengkaran. Cekikik Halimah dan Azra mandi hujan. Fauzi yang suka bernyanyi dendang sambil memanjat dari cabang ke cabang. Zulkifli yang pernah diikatnya di pangkal batang saus karena ketahuan mencuri uang...

Istri Gaek Rusin telah berdiri di belakang lelaki tua itu dengan tak kalah murung. Gaek Rusin tahu tapi tetap menatap ke depan. “Tadi anak Haji Karim yang menjadi imam.”

Istrinya menghela napas. “Aku telah minta tolong pada Roby anak Si Tini untuk menulis surat pada Fauzi, Azra, dan Zulkifli, juga Halimah. Aku menyuruh mereka pulang.”

*

Bukankah telah belasan atau berpuluh kali mereka mengirim surat dengan bantuan anak-cucu tetangga? Hasilnya nihil. Jangankan batang hidung mereka, surat balasan pun tak tiba. Mereka telah pergi seperti batu jatuh ke lubuk. Hilang.

Setelah shalat Subuh yang begitu lama di lantai rumah disertai air mata, Gaek Rusin pamit pada istrinya pergi ke ladang. Istrinya memasukkan botol air minum ke dalam tas pandan rajutan beserta pisang rebus, tetapi Gaek menolak.

“Hari ini aku puasa,” Katanya.

Pagi remang-remang. Dua orang tua saling memandang.

“Jadi kau antarkan beras dan uang zakat kepada garin masjid?”

Istri Gaek Rusin mengangguk.

“Durian Fauzi yang dekat pagar telah berbunga kembali...”

Istri Gaek Rusin menekur.

“Di dahan ampalam telah bisa dipasang buaian...”

Istri Gaek Rusin menyusut ingusnya yang meleleh dari hidung.

“Ladang kita begitu subur dan indah.”

“Aku akan membuatkan sampadeh untukmu.” Istrinya berbalik ke dapur. “Janganlah pulang terlalu petang.”

*

Petang sebelum matahari hilang, seorang penjerat burung menemukan Gaek Rusin telah beku di dekat sebuah lubang di ladang yang dikelilingi anak bunga tanjung, batang jarak, dan puring-puring emas yang belum lama ditanam.[*]
Selasa, 15 Desember 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Naqiyyah Syam
Dimuat di Majalah Sabili No. 19 Th X 10 April 2003/8 SHAFAR 1424


Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Oleh kalangan Botani, aku sering disebut tanaman sejenis perdu, dan termasuk anggota famili Compositae atau disebut juga Asteraceae (sembung-sembungan).

Bungaku kecil sebesar bunga rumput, orang lebih mengenalku dengan warna putih daripada warna lainnya. Hidupku bergerombolan di ujung dahan dengan harum yang khas. Tinggi batangku dapat mencapai 5 meter dengan daun-daun runcing dan lurus. Bungaku istimewa, tak pernah layu, mekarku abadi, sehingga aku dijuluki “bunga abadi”. Sungguh julukan inilah yang menjadi ‘beban’ bagiku, karena banyak orang menyalahgunakan ‘arti’ keabadianku selama ini! Keabadianku mereka sama kan dengan ‘cinta abadi’, cinta sepasang manusia yang tidak memiliki ikatan resmi. Ah…. Apalah arti protesku? Tho’ siapa yang peduli dengan rintihanku?

* * *

Aku berada di kamar Rieska. Tersusun rapi di atas lemari belajarnya. Disampingku ada diktat kuliah, novel, majalah remaja dan…. Bunga-bunga koleksi Rieska! Tepatnya sengaja disimpan Rieska. Yap! Untuk mengenang siapa yang memberikannya! Aku memang lebih beruntung dari bunga Mawar yang menjadi pendatang baru di kamar ini. Wajahnya pucat karena air di dalam vas tersebut tak pernah diganti oleh Rieska. Sama halnya dengan nasib Suplir yang telah mengering menjadi pembatas buku, lengkap dengan spora yang masih menempel ditubuhnya, dan Anggrek yang merana karena sebagian kelopak bunganya telah mengering.

Ya…. diantara bunga-bunga milik Rieska, ternyata aku memang diperlakukan ‘istimewa’ oleh majikanku, Rieska! Aku ditaruh di dalam kotak berwarna biru muda, berlapiskan plastik transparant. Aku sangat senang dengan perlakuan baik Rieska, tapi…. aku sangat resah dengan label hitam yang bertuliskan “Cinta Abadi” yang melekat manis di atas plastik kotak ini.

* * *

“Kamu beruntung yah, Weis, tempatmu empuk,” komentar Mawar suatu hari saat Rieska sudah pergi kuliah.
“Iya…. Weis, kamu nggak perlu ganti-ganti air sepertiku!” ujar Anggrek sedih.
“Ah…. Kalian bisa aja!” ujarku pelan.

“Tapi…. Benar kan memang kamu anak emas-nya Rieska! Apa karena kamunya pemberian Ari pacar Rieska si anak gunung itu?” kali ini suara Suplir dari balik buku angkat bicara. Ya… aku memang pemberian Ari Jaya Saputra kekasih Rieska. Ari mengambilku ketika dia mendaki gunung Ciremai, Jawa Barat. Aku diberikan kepada Rieska tepat ketika Rieska ultah yang ke-22 tahun, tepatnya enam bulan yang lalu.

“Ah…. Itukan pikiran kalian saja kalo aku bahagia ada di sini, sebenarnya aku nggak terlalu bahagia kok tinggal di sini!” ujarku.
“Kok bisa? Mengapa?” tanya Mawar keheranan.
“Nggak bahagia gimana? Diperlakukan istimewa kok nggak senang, nggak bersyukur kamu!” suara Anggrek ketus.

“Weiss…, seharusnya kamu bersyukur dengan keadaanmu saat ini, jangan belagu deh pura-pura nggak senang” timbal Suplir.
“Maksudku…. aku bersyukur kok Rieska menjagaku dengan baik di sini, tapi…. yang membuat aku sedih Rieska selalu beranggapan kalo kesegaran bungaku yang abadi menjadi simbol keabadian cinta Ari padanya, padahal….”
“Padahal apa? Maksud kamu apa sih? Aku jadi nggak ngerti!” suara Suplir terdengar pelan memotong pembicaraanku. Tampaknya susah payah ia berbicara dibalik lembaran buku dairy Rieska.

“Iya… nih Weis, maksud kamu itu apa?” tanya Mawar lagi. Aku berusaha menjelaskan kepada mereka, tentu saja dengan bahasa kami kaum bunga-bungaan.
“Aku ingin sekali Rieska menyadari keberadaan kita. Rieska seharusnya berpikir ada apa dibalik kekuasaan Allah yang telah menciptakan kita. Mereka seharusnya menjaga kita dengan baik, bukankah mereka diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini? Manusia seharusnya menyayangi dan merawat kita. Mereka seharusnya berfikir coba kalo nggak ada Mawar, Anggrek, Suplir atau bunga lainnya bagaimana? Dunia pasti suram tanpa penyejuk mata. Beda kalo ada kita, mereka akan merasa senang dan tentram bila memandang si Mawar yang sedang mekar, Suplir yang segar, atau Anggrek yang ….dan seharusnya manusia yang melihat ‘keabadianku’ sebagai contoh bagaimana mengabadikan hatinya sebagai rasa syukur ke hadirat Illahi” suaraku pelan, mataku mulai berkaca-kaca menahan air mata yang hampir tertumpah.

“Kamu benar Weis, seharusnya manusia memang balajar dari fenomena alam, seperti kita! Lihat bungaku, berwarna merah menawan, wangi semerbak. Allah sengaja menciptakan duri-duri kecil dibatangku untuk menjaga kehormatanku dari serangan makhluk yang jahil, agar tidak mudah dipetik begitu saja. Kamu juga kan Weis, hidup ditepi jurang, sehingga diperlukan perjuangan bagi siapa yang ingin memetikmu. Ah… seharusnya manusia menyadari hal itu, mencontoh kita! Indah tapi tak mudah diraih! Berbeda dengan manusia, coba saja lihat kaum wanitanya? Masih banyak diantara mereka yang belum menyadari betapa pentingnya menjaga kehormatan diri, mereka dengan mudahnya dipegang sembarang orang, pake’ wangi-wangian yang merangsang syahwat lelaki, berbicara dengan suara yang mendesah, dan bangga mengubar aurat mereka. Sebenarnya mereka tahu nggak sih kalo prilaku seperti itu dosa?” ujar Mawar prihatin.

“Kok kamu tahu banget,War perubahan manusia begitu?” tanyaku heran pada Mawar.
“Jelas dong aku tahu, aku kan pernah tinggal di taman depan rumah Asep, teman kuliah Rieska, sehingga setiap hari aku bisa melihat dunia di luar sana” jelas Mawar.
“Ah sudahlah… sekarang emang zaman edan, yang pria berjas rapi menutup seluruh aurat, eh… wanitanya berpakaian seksi minim bahan, apa itu namanya nggak kebalik dunia sekarang?” sahut Suplir yang dulunya tinggal di teras depan rumah Bayu pacar Rieska yang ketiga.

“Eh.. iya juga yah, kemarin malam aku dengar di TV kalo aborsi semakin merajalela, koran-koran berbau porno semakin meluas, kemana sih hati nurani mereka?” suara Aggrek pelan. Anggrek memang pernah dibawah Rieska ke ruang keluarga dekat TV. Semua terdiam dengan pikiran masing-masing, mereka berdzikir memuji asma Allah.

* * *

“Ari…… ada yang ingin ku katakan” terdengar suara Rieska di ruang tamu. Malam ini hanya mereka berdua yang ada di rumah, mama dan papa serta kedua orang kakaknya Rina dan adiknya Shanty pergi ke pesta pernikahan relasi papanya.
“Ada apa?” tanya Ari, mereka berdua duduk di sofa.
“Aku…aku …. Telat tiga minggu!Aku…ha…mil, Ari!”
“Hah? Kamu…hamil?” tanya ari keheranan, ini diluar dugaannya.
“Iya, kita harus segera menikah, Ari! Aku takut papa dan mama akan marah!” ujar Rieska gusar.
“Tidak! Aku tidak mau menikah sekarang! Kamu harus mengugurkan kandunganmu!”
“Ari! Aku nggak mau, ini anak kita! Kamu harus bertanggungjawab!” teriak Rieska bercampur tangis.
“Nggak, aku nggak mau, mungkin saja itu anakmu dengan pacar kamu yang lain!” cibir Ari.
“Ari… teganya kamu ngomong begitu, ini anak kamu Ari! Anak kita!”
“Pokoknya tidak! Kamu harus mengugurkannya, harus, titik!”
“Tidak! Aku nggak mau!”
“Harus!” paksa Ari menarik tangan Rieska dengan keras.Tangis Rieska semakin kencang.

* * *

“Ari jelek! Lelaki brengsek!” teriak Rieska ketika masuk ke kamar. Ia menghembaskan tubuh mungilnya ke atas kasur empuk disertai suara pintu dibanting dengan keras. “Ada apa yah?” batinku bertanya penasaran.
“Hu….hu…., katanya cinta, katanya sayang, buktinya? Kamu jahat!” teriak Rieska lagi, semakin keras terdengar. Rieska menangis, air matanya menetes memasahi kemeja kotak-kotaknya.
“Eh… kawan-kawan, Rieska kenapa yah?” tanyaku pada Mawar, Anggreka dan Suplir.
“Nggak tahu, tidak seperti biasanya yah? Mungkin… Rieska ribut dengan Ari, atau berantem ama papa atau mamanya” tebak Anggrek.
“Ari…. Ka..mu…kejam! Ngakunya setia, cinta setengah mati, setia sampai akhir zaman, tapi mana? Kamu …. Hu….hu… Cinta? Ah… Ari … ngaku cinta abadi? Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu pergi meninggalkanku dalam keadaan begini, kamu lelaki tak bertanggungjawab! Apa yang harus aku katakan pada mama dan papa?” tangis Rieska semakin keras terdengar. Rieska bingung harus bagaimana.

Tiba-tiba. Rieska berjalan dengan tergesa menuju meja belajarnya, meraih kotak mungil yang disimpannya dengan penuh kasih sayang selama ini.
“Percuma kamu berikan aku dulu bunga Edelweiss kalo cintamu bukan cinta abadi, tapi cinta murahan! Ngakunya cinta, tapi mengapa kamu tinggalkan aku dalam keadaan begini?” tangis Rieska sambil membuka kotak mungil itu lalu membuang seluruh bunga Edelweiss ke dalam tempat sampah yang berada tepat di samping meja belajar. Melihat pristiwa tersebut, bunga lainnya, Mawar, Suplir dan Anggrek menjerit histeris!
“Ja……ngan……!!” teriak Mawar, Suplir dan Anggrek serentak. Tapi terlambat! Edelweiss telah dibuang ke dalam tong sampah yang bercampur dengan sampah lainnya.

* * *

Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Kali ini aku berada dalam gengaman seorang pemuda bernama Rahman. Ia mengamatiku dari tadi sambil terus berdzikir memuji asma Allah.
“Ya… Rabb yang Maha Kuasa, satu lagi telah Kau tunjukkan kebesaran-Mu. Menciptakan bunga Edelweiss yang tahan layu dan tak lelah diterpa angin, tanpa pemudar dan tanpa kekeringan. Ya… Rabb, seperti ini jugakah semangat saudara-saudaraku di Palestina dalam menghadapi serangan Yahudi demi merebut kembali hak mereka atas Masjid Al-Aqsa? Ya… Allah, kuatkan hati-hati kami untuk merebut itu semua” lirih suara Rahman menyejukan hatiku.

Aku hanya tumbuhan tanpa nyawa tapi aku merasakan betapa ia seorang pemuda yang ‘berhasil’ mengenali alamnya dan terus berdzikir melihat ke-Esaan penciptanya. Aku Edelweiss tersenyum bahagia dalam genggamannya.