Lapuk

Kamis, 31 Maret 2011 by: Alizar Tanjung

Cerpen Alizar Tanjung
Dimuat di Annida-online.com. Senin, 28 Maret 2011

Mak Rabiah namanya. Dia termangu di kusen jendela Rumahgadang. Tangannya menopang dagu. Giginya mengunyah sirih. Sebuah tonjolan muncul di balik kulit daging bibir kanan atasnya. Merah sela-sela giginya. Kunyahan air sirih. Matanya menatap lurus. Tampak jelas sudah di depan matanya bukit Balik Puncak. Tempat ia meneruka ladang.

Kini masih pagi. sebentar lagi dia bersama orang-orang kampung pergi ke ladang. Membakul cangkul, ladiang , kapak. Menenteng rentang nasi, gulai, satu dua potong goreng ubi dingin, setabung air kopi.

Ia biarkan pikirannya melayang-layang, membiarkan keharibaan matahari timur mencuri-curi wajah keriputnya. Sehelai daun pokat yang tumbuh di halaman, jatuh pas di kusen jendela. Ia biarkan daun itu bertengger. Angin pagi mengusyiknya. Daun itu jatuh pas menimpa anak-anak ayam yang berkelimbun bersama induk yang terpaut di jeruji kandang.

Anak-anak ayam suaranya bercericit. Satu ayam jantan yang terpaut di batang pokat, berkokok panjang. Bunyi itu berulang-rulang. Kokok itu disambut ayam jantan belang kuriak merah bercampur kuning hitam yang terpaut di batang jambu perawas., di samping kandang arah utara. Kokok itu disambut kokok ayam jago dalam kandang. Ayam putih kinantan yang dipaut di jenjang Rumahgadang juga berkokok.

Hanya bunyi itu yang membuat rumah ini semacam gaduh di pagi hari. Selebihnya suara Mak Rabiah, cericit air ketika hujan, suara kesiur angin, sesekali Suara Mak Hindun, kawan masa muda Mak Rabiah yang sering membawa Mak Rabiah meneruka ke ladang orang. Menghabiskan sisa hidup, menunggu jalan pulang.

Anjing hitam kumbang tidur bergelung di kaki jenjang. Telinganya mengendus langau yang tiap sebentar hinggap di telinganya. Ekornya mengelus-elus kaki jenjang. Kakinya memanjang semacam kayu rebah. Tak jauh di depan jenjang, goni terbentang. Di atasnya Mak Rabiah menjemur kacang. Sebagian untuk ke tampang sebagian untuk dijual. Di samping kacang juga terbentang hamparan upil jagung, jagung-jagung tampang untuk mengisi parak di belakang rumah.

Hanya itulah mata pencaharian Mak Rabiah selain meneruka ke ladang orang: kacang, jagung, ubi jalar. Bukan parak yang tidak ada tapi yang akan mengurus yang telah pergi? Mau menggaji orang tak sangguplah Mak Rabiah. Mau mengerjakan sendiri, tulangnya sudah merapuh. Maka satu harapan tumpangan hidupnya, bekerja di parak orang. Sehabis Jum’at gaji dibayar tunai. Lima belas ribu ribu untuk satu hari kerja, aturan itu sudah berlaku semenjak tahun 2000. Malanglah nasib Mak Rabiah kalau dalam satu minggu itu tidak ada yang memakai jasanya. Hasil panen kacang hanya dapat dipetik musiman. Jagung baru bisa dipetik umur enam bulanan untuk ukuran parak Mak Rabiah yang tidak dipupuk dan tak diracun.

Mak Rabiah sedup segelas kopi yang sudah mendingin di atas meja, tepat di belakangnya. Segelas kopi ia taruh di jendela. Seekor lalat hinggap di tangkai sendok. Tak ada niat Mak Rabiah hendak mengusyiknya. Mak Rabiah pandang ke depan, orang-orang telah berjajar mendaki lereng bukit Balik Puncak. Mak Rabiah menoleh ke belakang. Jam tua masih tergantung di tonggak utama Rumah Gadang. Jam tua tak ada ubahnya dengan kulit Mak Rabiah yang mengkriput. Jam yang dibiarkan dibungkus plastik itu penuh lawah-lawah. Jarumnya berdetak pada pukul 7 lewat 10 menit.

Mak Rabiah mendesah. Beginilah kebiasaannya. Pagi-pagi ia bermenung di jendela. Tapi sebenarnya matanya jauh menelusup ke labuh arah selatan. Tempat jalan pergi di balik bukit kecil Arak Mudik. Dari bukit itulah Mak Rabiah kehilangan satu-satu. Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk.

“Hujan batu di kampung kita lebih baik dari pada berhujan emas di rantau orang, Bujang.” Kata-kata itu tidak pernah terucap di lidah Mak Rabiah. Kata-kata itu hanya tersimpan rapat di hatinya. Maka saat ia mengenang rantau tak terasa sungai mengalir dingin di lekuk pipi kisutnya.

***

“Ke rantau Muluk mencari untung dan perasaian. Untung bertanam juga nasib di rantau orang. Doa Emak tentu penunjuk jalan bagi perjalanan Muluk. Berat hati Muluk meninggalkan emak. Perasaian hidup juga yang meminta demikian. ” Begitulah kata perpisahan itu terucap dari mulut anak bungsunya.

Muluk. Muluk baru saja menamatkan sekolah pesantren di kota Solok. Kemiskinan membuat ia mencukupkan sampai di sana cita-citanya. Kakaknya, ah kakaknya semacam tidak berkakak ia. Toh tidak lagi seorang pun kakak-kakaknya mengirim dia dan emaknya uang.

“Tak apa Emak di sini, Bujang . Emak restui engkau ke rantau orang. Sudah begitu adat-adat orang kita. Tidak masak pengalamannya kalau tidak mencoba pahit dan getirnya di rantau orang.” Tak ingin Mak Rabiah melepas anak satu-satunya. Ingat ia Siti, Salahudin, Aminah, Rajab yang tak lagi pulang-pulang. Hanya suratnya saja yang sampai kabar kepulangan. Sesudah itu tidak lagi ada kabar beritanya. Siti bekerja di Batam. Salahudin mencari peruntungan di “Kota Hijau”, Purwokerto, Jawa tengah. Ia menetap di Baturaden. Aminah ikut suaminya ke Aceh. Rajab menetap di Tangerang, tepatnya di Cingkareng. Tapi tak ingin pula ia menahan hasrat Muluk. Sudah kebiasaan anak bujang di lepas ke rantau. Lelaki minang di rantaulah gagangan hidupnya.
Dahulu mereka memang bergantian pulang. Salahudin pulang sekali setahun. Siti pulang ketika ada acara pernikahan keluarga saja. Aminah pulang ketika hari lebaran. Rajab hanya pulang sekali setahun seperti Salahudin. Tapi semenjak usaha mereka menanjak. Mereka benar-benar tidak pernah pulang.

Siti jadi bos pedagang gelap wanita malam di Batam. Mak Rabiah tidak tahu. Siti memasok para lady itu dari Korea, Cina, Uzbekistan, Thailand, Afganistan. Siti masukkan ke hotel dan klup bintang lima di Batam, Jakarta, Jambi, Medan, Semarang, Yogya, Bandung. Siti juga mengekspor pada lady pribumi ke Cina, Korea, Thailand, Mesir, Arab Saudi, Afganistan….

Salahudin menjadi direktur lima belas rumah makan Padang di kota hijau, Purwokerto. Semenjak hidupnya jaya ia tak berkirim uang ke Mak Rabiah. Tapi taka apa, Mak Rabiah tak mengharapkan uangnya. Salahudin kemudian mengembangkan usahanya ke tanah Yogya, Semarang, Jakarta. Sontak saja namanya dikenal sebagai pemilik rumah makan “Randang Balado”. Kemudian ia mulai merambah klup malam, diskotik, hotel kelas melati.

Aminah menjadi pengusaha tenun di Aceh. Usahanya melonjak tinggi. Ia mengimpor barang ke Belanda, Jerman, Inggris, Cina, Korea. Ia semakin sering ke luar negeri. Ia kemudian pindah bersama suaminya di Jerman. Mengganti namanya jadi Susan Christian. Anak-anaknya lahir dengan nama Jhon Pilger, Fransiska, Angelina. Mak Rabiah tidak pernah bertemu dengan cucunya.

Rajab, ya, Rajab yang benar-benar jadi orang. Ia menjadi tukang becak dan upah pijit di Cingkareng. Menerima panggilan. Dapat uang secukup makan. Dia yang rindu Mak Rabiah. Tapi ia tidak ada daya untuk pulang. ia telah mengganti kepercayaannya untuk satu kardus mie setiap minggu. Dia malu pada Mak Rabiah. Dia malu pada dirinya sendiri.

Kini Muluk, ya Muluk pun akan meninggalkan Mak Rabiah. Ia pergi ke tanah Malaysia. Jadi TKI di sana. Ia berangkat dari Solok menuju Dumai, dari Dumai baru menyeberang ke Malaysia.

“Hati-hati Bujang di rantau orang. Induk cari, bapak cari, mamak paling utama. Agar Bujang ada tempat berpijak. Patah ada yang akan menyangga. Jatuh ada yang akan menyambut. Hilang ada yang akan mencari. Kemudian Bujang, ingat kepada Tuhan, sumbahyang bujang jangan sampai lupa. Ingat Bujang pesan orang tua-tua. Dimaa bumi dipijak di sinan langiak dijunjuang .” Ah, nasehat-nasehat itu pula yang ia pesankan untuk anak-anaknya Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, sebelum selangkah turun jenjang Rumahgadang.

Mak Rabiah lepas kepergian Muluk. Dari bukit kecil arah selatan Muluk menghilang batang hidungnya. Siti, Salahudin, Aminah, Rajab juga dari bukit kecil itu menghilang dari mata Mak Rabiah. Kini Muluk yang pergi. “Tak iba kau dengan tubuh tua Amakmu ini Nak,” bisik hati kecilnya. Tapi begitulah keteguhan hati Mak Rabiah. Tak ia keluarkan gundah hatinya. Ia kesampingkan perasaanya.

***

Maka Sudah tahun sembilan tahun keluarga itu seperti tidak pernah ada. Muluk jadi pedagang sayur di Selangor. Membangun minimarket sayur. Ia kemudian mulai memasok sayur ke Kuala Lumpur, Negeri Sembilan, Serawak, Johor Bahru, Pulau Pinang, Malaka, Seberang Perai, Klang, kota Kedah.

Usahanya perkembang pesat. Kemudian ia menikah dengan orang Malaysia. Mengubah kewarganegaraannya (Entah bagaimana caranya). Ia tak pernah pulang semenjak ia meninggalkan jenjang Rumahgadang. Kini lahir anaknya Abdullah, Razaq Kasif, Aisyah Qurrata’ A’yun.

Di Rumahgadang, Mak Rabiah terus menunggu. Dari ladang ke ladang, ia ceritakan anaknya ke rantau. Dari ladang ke ladang ia banggakan anak-anaknya yang begitu riang wajah-wajah ketika turun jenjang Rumahagadang. Dari ladang ke ladang, cerita-cerita itu ia bangun. Suatu saat anak-anaknya kan pulang, duduk di rumah, bercerita tentang lugunya masa kecil mereka. Bermain di ladang tebu. Pergi ke rimba di musim penghujan, mencari jamur di balik-balik tunggu.

Suaminya! Suami Mak Rabiah telah lama pulang ke alam baka. Ia pulang karena memang jarak umur. Ia menikah dengan suaminya selisih umur dua puluh lima tahun. Tepatnya menjadi istri kedua. Setelah suaminya meninggalkan Mak Rabiah, Mak Rabiah yang membesarkan anak-anaknya.

***

Kisah Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk, telah berpuluh tahun. Mak Rabiah masih menuggu. Berharap dari labuh arah selatan, bukit Arak Mudik; Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk, menampakkan wajah. Itu alasan mengapa Mak Rabiah berlama-lama bermenung di jendela Rumahgadang. Seperti ia melepas anak-anaknya pergi, ia dengan setia menunggu anak-anaknya yang menghilangkan punggung di labuh arah selatan, lepas dari bukit kecil Arak Mudik.

***

Ia habiskan pagi mengunyah sirih. Sirih itu dicampur sadah, gambi, dibalut daun sirih. Merahnya air sirih memekatkan merah tua bibirnya.

Mak Rabiah berjalan ke dapur. Pelan lantai itu berderit. Seekor kucing menghelus di kakinya. Mak Rabiah angkat kucing itu. Ia letakkan di dapur. sebelumnya ia ambil sebungkus nasi. Ia campur nasi dengan ikan tri yang ia beli di Pasar Bukit Sileh. Ia letakkan nasi itu dalam tempurung kelapa. Kucing kuning belang putih itu menangkap ikan-ikan dalam tempurung. Ngeonya berhenti. Sesudahnya hanya bunyi telapak kaki Mak Rabiah.

Di dapur, Mak Rabiah mengambil kompi. Kini bekerja di ladang Sutan. Mak Rabiah masukkan setabung air kopi, satu ladiang, dua potong goreng ubi, satu kain panjang untuk senggulung kepala membawa kayu dari ladang, Dua benen ukuran satu meter pengikat kayu, sebungkus nasi dengan sayur pucuk ubi, ke dalam kompi. Di atas meja semua itu bersusun. Tinggal menunggu Mak Hindun memanggilnya.

Mak Rabiah rapatkan jendela. Seorang perempuan tua memanggilnya di halaman. Rupanya sudah datang orang yang ditunggu. Mak Rabiah turun jenjang. Anjing kumbang hitam menggeliat di jenjang. Ia bangkit dari tidurnya. Anjing Hitam Kumbang menjulurkan lidahnya. Telinganya tampak turun. Kepalanya mengendus-ngendus kompi yang dijinjing Mak Rabiah. Ayam-ayam sibuk menggali tanah dengan cakarnya.

Mak Rabiah dan Mak Hindun berjalan menuju bukit Balik Puncak. Mereka berpapasan. Di belakangnya, Anjing Hitam Kumbang berjalan mengikuti langkah Mak Rabiah. Hidungnya menghidu rerumputan perdu, karimuntiang, pensi-pensi basah, ilalang gunung sepanjang pendakian lima kilometer. Ekornya tegak berdiri semacam mencium mangsa. Hanya anjing hitam itu yang setia menemani Mak Rabiah di Rumahgadang.

Hari ini hari kamis, tentu besok Mak Rabiah sudah gajian dari Sutan. Besok di Pasar Bukit Sileh ia dapat membeli tahu, sepotong ikan laut, martabak, bada tri. Sepanjang pendakian, ia berkisah kepada Hindun, ia begitu rindu anak-anaknya pulang. Mak Rabiah teteskan air mata. Sepanjang pendakian, dua emak tua itu saling bertangisan.

”Laki-laki di negeri kita ini memang tidak lazim kalau tidak merantau, tapi apakah lebih tidak lazim kalau tidak pernah menampakkan batang hidungnya di depan kita,” ujar Mak Rabiah.

“Suami kau dulu juga merantau ke Medan. Suamiku merantau ke Makasar, tapi mereka pulang,” ujar Hindun.

***

Maka begitulah kebiasaan perempuan tua itu. Setiap pagi menopang dagunya di kusen jendela Rumahgadang. Ia tak lagi pernah meneteskan air matanya. Kecuali hanya sungai dalam dadanya. Ia bercerita ke dalam dadanya. “Krakatau madang di hulu berbuah berbunga belum, Kerantau bujang dahulu di kampung berguna belum.” Tapi kini ia bisikkan dalam hatinya. “Ke rantau madang ke hulu. Terus saja mengalir ke hilir. Sebab Bujang, air ke muara laut.” ia tutup jendela itu. Ia berangkat ke ladang. Meneruka ladang orang. Ladangnya hanya ada tanaman kacang, jagung, ubi jalar, tak berpupuk dan tak beracun. Semacam urat tak benar-benar mengakar dalam.

Tapi kini jendela itu tidak ada lagi terbuka. Pintunya bersemak belukar perdu. Halaman belakang dan depan Rumahgadang itu juga berbelukar. Rumahgadang itu telah lapuk dinding dan lantainya. Tak ada ayam yang berkokok, tak ada anjing kumbang hitam, tak ada kucing. Hanya satu pohon mangga tua di halaman.

Mak Rabiah telah lama meninggal. Ia dikuburkan di belakang rumahnya. Seperti sebelum kematiannya, sesudah kematiannya pun; Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk, tak pernah pulang walau hanya menabur bunga ke makam Mak Rabiah.***Padang, 2010-Maret 2011