Dalam Ruang

Rabu, 17 November 2010 by: Forum Lingkar Pena

Cerpen Fahri Asiza
Dimuat di Tribun Jabar, Minggu, 14 November 2010

DI sebuah ruang, terjadi sidang. Para hulubalang yang biasanya tidur di sudut-sudut sambil menurunkan kursinya hingga sosoknya tidak bisa terlihat dari depan, atau diam-diam mengeluh, “Kapan selesainya? Ngantuk!” kini semua menjadi naga. Saling berdiri dengan telunjuk ditegakkan, membusungkan dada agar terlihat kamera televisi. Ini kesempatan bagus, karena posisi menentukan prestasi. Yang duduk di pojok, mengambil Blackberry yang bergetar, ada tulisan, “Aku sudah nunggu lama nih, Om.” Buru-buru dibalasnya, “Sebentar ya. Ini ada yang lebih penting. Kesempatan buat unjuk gigi.” Lalu dengan angkuh dimatikan BB-nya.

Salah seorang teriak, “Tidak bisa! Kita harus ambil keputusan bulat! Ingat, ini demi negara dan bangsa! Berapa banyak rakyat kecil yang tertindas, sementara banyak orang besar yang terninabobokan di ranjang sintal! Kalau begini terus kapan bisa selesai? Ini sudah berlarut-larut!”

Tepuk tangan membahana diiringi teriakan setuju. Ada pula yang berteriak, “Allahu Akbar!” Walau mungkin maknanya tak dipahami.

Tak mau kalah dengan ucapan garang itu, salah seorang yang berdiri di muka berjarak tiga meter angkat suara. “Bila memang harus ada keputusan bulat, itu pemaksaan namanya! Kita bisa voting dalam menengarai kasus semacam ini! Ini kasus pelik! Kalau pun berlarut-larut karena belum ada titik temu!”

“Atau memang sengaja dilarutkan lalu dibuang dalam lorong panjang?!”

Ruangan terhormat yang dipenuhi orang-orang terhormat itu seolah mau runtuh dengan teriakan dan tepukan tangan bergemuruh. Di luar langit menghitam pekat. Awan berjalan lambat ingin bertindak sebagai saksi.

“Hei, jaga mulut, Saudara! Saudara menuduh!”

“Menuduh seperti apa? Ini sudah kenyataan!!”

Makin gaduh makin penuh pesona, begitu beberapa ungkapan dalam hati para anggota sambil melirik kamera televisi. Biar terlihat bekerja. Ini kesempatan mengubah image era lama menjadi era terbaru. Biarkan semua berteriak, tinggal menyisipkan kata saja.

Seseorang yang sejak tadi dilumur kemarahan tak kuasa menahan bisikan untuk maju ke muka. Pohon-pohon khuldi bertumbuhan begitu saja. Semua memetik, menikmati dan mengubah taman Firdaus menjadi arena adu banteng. Microfon di meja depan diraihnya, lalu mengguntur bersuara, “JANGAN BERLAGAK BODOH! SAUDARA MEMANG MENGULUR WAKTU!!”

Gema menghantam dinding ruangan, memantul-mantul ke langit ke tujuh, membangunkan Bhuraq yang sedang terlelap. Malaikat berbisik, “Jangan ikut campur, karena kita tak akan mampu meniupkan kesejukan dalam suasana itu.” Bhuraq pun menjadi penonton.

Pemilik microfon, yang merasa berhak menguasai persidangan, mengambil paksa. Sesaat saling genggam dan saling tarik membahana. Tenaga yang dikerahkan bukan lagi sepersepuluh dari biasa, total penuh bersinergi dengan iblis yang menyeringai bahagia.

Puluhan blitz menemani hujan yang mulai turun di luar. Kilat-kilat kecil makin mempertajam wajah-wajah serigala yang merasa dirinya bagaikan dewa ketenangan. Semua merasa dilingkupi kebenaran dan sesekali tetap melirik kamera televisi sambil berbisik dalam hati, “Sudah makin gagahkah aku?”

Beberapa orang dari masing-masing kudu mencoba melerai. Semakin dilerai bacot semakin kuat menerjang. Kaki tangan siap memukul tapi merasa beruntung karena dibatasi jarak hingga tak benar-benar memukul dan dipukul.

Sidang ditunda setengah jam ke depan.

Kesempatan pun dipergunakan. Kamera televisi, lampu blitz, suara reporter menghiasi sekarang. Masing-masing berusaha bersuara dan memperlihatkan diri menjadi manusia. Salah seorang diam-diam menebang pohon khuldi. Sebagian memilih duduk merokok. Si Om menghidupkan BB-nya, mengetik dengan gerakan yang lebih terlatih ketimbang menulis laporan, “Sepertinya akan lama, Beb. Sebaiknya kita tunda dulu. Saat ini seluruh lapisan masyarakat pasti menonton. Aku tak mau ketinggalan. Siapa tahu dengan kegarangan bacotku ini, aku akan dapat jabatan dan kehormatan lain.”

Para reporter terus melaporkan secara langsung. Rating bisa drastis naik. Tayangan yang nyaris terjadi baku hantam ditayangkan. Suguhan yang bisa mengenyangkan. Para penonton dari layar kaca ada yang berdecak menyalahkan satu pihak, ada pula yang membela satu pihak, ada yang menggeleng-geleng pedih, ada yang tertawa bahagia, ada yang langsung mematikan televisi dan menyuruh anak-anaknya main sepeda.

Setengah jam kemudian sidang dilanjutkan. Bukan mengarah pada yang lebih baik, justru kian merajai kemarahan. Beberapa orang menyerbu sambil melayangkan tonjokan. Yang diserbu tak mau kalah. Yang masih punya nurani tapi sudah punya modal bila voting akan menyebut lantang, “Abstain!”, berusaha melerai. Jas mahal yang baru dari londry, ada pula yang baru membeli, menjadi acak-acakan. Rambut klimis setelah tiga jam di salon demi menghadiri sidang terhormat, hanya butuh sekian menit untuk dirapihkan, tapi itu pun sudah tergerus kemarahan.

Semua kembali duduk dengan dasamuka yang meluap-luap.

“Tenang, Saudara-saudara!” salah seorang berdiri “Kita ini orang-orang terhormat, duduk pula di kursi terhormat dan dipilih dengan cara terhormat! Pakailah nurani masing-masing!!”

“Hei, jangan asal bicara kau! Apakah kau sendiri punya hati nurani?”

“Heiiii!! Saudara bicara apa?”

“Tak usah kau berlagak tuli! Yang kutanyakan, apakah kau sendiri punya hati nurani? Aku yakin kau tak berani menjawab, kalau pun kaujawab, sudah pasti kebohongan yang kaubeberkan!”

“Bila aku tak punya hati nurani, tak mungkin kulontarkan ini agar kalian tenang!”

“Kau tak memberi solusi apa-apa! Jangan banyak bacot! Duduk saja dengan manis dan tunggu gajimu bulan ini, bulan-bulan berikutnya sampai genap masamu duduk di ruangan terhormat ini!!”

Darah pun menggelegar naik dengan sepasang pelipis berdenyut keras. Agak nyeri di bagian kanan kepala, tak sadar iblis telah bertengger di sana. “Jangan kurangajar!!”

“Hei!! Kau yang kurangajar!”

“Kau menantang!”

“Siapa pun kutantang di sini karena menghalangi jalanku!!”

“Kau tak menghargai sidang ini!”

“Berapa harganya telah kubayar tau!!”

Tinju kembali melayang. Di tempat latihannya, para juara tinju dunia di mana pun berada, asyik menonton dari layar kaca dan mempelajari teknik-teknik terbaru dalam bertinju sambil bergumam, “Aduhai, cara tinju mereka lebih hebat dariku! Ini harus dijadikan dokumentasi agar aku bisa mempelajari teknik bertinju seperti itu! Yak! Jab! Upper cut! Jab! Jab!”

Ring tinju terbesar di dunia tercipta begitu saja. Para pesertanya pun tak lazim, bila harus berhadang satu lawan satu, kali ini bergerombol. Para pelajar yang membawa gesper, batu dan parang, membuang atribut itu untuk menyerang lawannya. Mereka semua duduk menonton televisi di sebuah warung rokok sambil ribut mempelajari cara menyerang lawan sambil satu sama lain bersalaman bahagia dan berbisik, “Kita dapat pengetahuan yang bagus bagaimana cara menyerang. Berangkaaat!!”

Kejadian itu telah mengubah semuanya. Harga saham dipastikan bakal jatuh besok. Perbankan kacau balau. Beberapa perusahaan merugi karena para karyawan berhenti sejenak bekerja. Beberapa orang langsung menjual mobilnya dan menukarnya dengan dollar. Sebagian menghisap rokoknya lalu mengangkat telepon dan berucap, “Selamat! Berhasil!”

Suasana sidang semakin tak karuan. Bahasan awal terlupakan dan lebih menomorsatukan kemarahan yang nampaknya telah membudaya. Betapa mengasyikan, tinggal menunggu reporter yang akan mengetuk pintu rumah atau kantor untuk mewawancarai. Tinggal membeli piala atau tanda penghargaan di Tanah Abang yang akan dipajang di balik kursi mewah yang bisa diputar. Lalu mempersiapkan wajah garang agar terlihat penuh semangat membela kebenaran.

***
Tiba-tiba seseorang yang sejak tadi memperhatikan dan hanya duduk di sudut ruangan berdiri, “Hei, hentikan, hentikan….” Yang bertikai tak peduli. Seseorang itu akhirnya terpaksa memukul meja sambil teriak, namun kelembutan masih ada di sana, “Ayo hentikan, hentikan!!”

Seiring pukulan pada meja, pertikaian itu terhenti.

Seseorang itu tersenyum, “Ayo, rapikan baju kalian lagi.” Mereka merapikan baju masing-masing. “Sidang yang bagus dan memuaskan. Tapi lain kali jangan ribut seperti itu ya.”

“Tapi semalam kan di televisi seperti ini.”

“Bukan semalam, kemarin siang!”

“Iya, tapi kan tetap di televisi! Iya kan, Bu Guru?”

“Sudah, sudah… ayo… ayo berdiri semua. Yang jadi anggota, yang jadi reporter, yang jadi ibu dan yang jadi bapak, kembali ke kelas ya.”

Mereka tertib melangkah, bergandengan tangan pula. Seseorang itu menghela napas setelah sosok terakhir keluar dari ruangan, “Mereka benar-benar telah menjiplak para pembesar… ini sungguh berbahaya… terlalu mengerikan.” Sesorang itu menghela napas panjang, ada kegelisahan yang tertoreh tajam. “Besok, aku akan mengajarkan cara bersidang yang baik.”

Pelan-pelan seseorang itu menutup pintu ruangan, masih sempat dipandanginya tulisan besar pada dinding : SEDANG BELAJAR SIDANG.

Pintu pun ditutup dan saatnya untuk pulang…***



Mutiara Duta, 20 Sepember 2010