Cerpen Setta SS
Dimuat di Story Teenlit Magazine, Edisi 24/Th.III/25 Juli-24 Agustus 2011

PERKENANKAN aku mengenalkan diri terlebih dahulu padamu. Namaku Octopus. Ya, kau benar, arti namaku adalah delapan kaki, sesuai jumlah kaki-kakiku yang menjuntai dari kepala yang sekaligus pusat koordinasi gerak keseluruhan tubuhku.
Aku memiliki tubuh tidak selayaknya susunan organ-organ tubuhmu. Aku memiliki tiga buah jantung. Darahku berwarna biru pucat. Aku bernafas dengan menggunakan dua buah insang. Kaki-kakiku sekaligus berfungsi sebagai tangan-tanganku dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung untuk bergerak di dasar laut—habitat asliku, dan menangkap mangsa. Hampir seluruh bagian tubuhku hanya tersusun dari otot-otot dan tanpa tulang.
Aku tidak memiliki cangkang sebagai pelindung di bagian luar dan tidak memiliki cangkang dalam atau tulang seperti sahabat-sahabatku, Sotong dan Cumi-cumi. Satu-satunya bagian tubuhku yang keras adalah paruh, semacam rahang pada tubuhmu untuk membunuh mangsa dan menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil. Begitulah kehendak Tuhan mewujudkan fisikku yang jauh berbeda dari sosokmu di planet paling subur dan makmur ini.
O, aku hampir lupa, usiaku kini sudah dua tahun lebih. Namun berat badanku tak sampai seperlima dari berat badan normal bangsamu saat seumuran denganku. Tapi perlu aku beritahu agar kau tak mencibirku, nenek moyangku di Pasifik Utara sana ada yang berat badannya mencapai 40 kilogram lho!
Aku tidak tahu pasti lahir di mana tepatnya, tetapi sejauh memoriku mengingat saat membuka mata pertama kali aku sudah berada di Weymouth Sea Life Park, terletak di sebuah negeri kepulauan yang diapit oleh Laut Utara dan Samudera Atlantik. Dari desas-desus yang mampir ke telingaku, Ayah kandungku wafat setelah mengawini ibuku, dan ibu menyusul ayah tak lama berselang setelah ia menelurkanku dan sekitar dua ratus ribu saudara sekandungku. Kemudian aku diboyong ke negeri Hitler saat masih usia hitungan minggu. Tentu kau mengenal sosok yang aku maksud ‘kan? Di sebuah ruangan berbentuk persegi tersusun dari balok-balok kaca di sebuah kompleks di Oberhausen—bagian barat negeri Hitler terletak tak terlalu jauh dari bantaran Sungai Rhein, aku tinggal sekarang.
Paul, begitu bangsamu—bangsa paling mulia dan tercerdas versi Tuhan, biasa memanggilku di sana. Bukan Octopus, nama kebanggaan warisan kedua orangtuaku. Entah, aku tidak paham kenapa mereka menamaiku Paul. Mungkin karena aku seorang pejantan, dan menurut mereka nama itu cocok untukku?
Huh! Satu hal yang pasti, aku sangat benci dipanggil dengan nama itu. Nama itu hampir identik dengan bencana yang kerap mengintai hidupku sekarang! Atau ada sebagian di antara kalian lebih menganggapnya sebagai sebuah anugerah Tuhan yang wajib kusyukuri karena nama itu membuatku tenar? Fuihh!!
Ketahuilah, sejak perhelatan akbar olahraga aneh memperebutkan sebuah bola oleh dua puluh dua orang dari bangsamu digelar di ujung selatan Benua Hitam beberapa bulan lalu, kurasa akhir hidupku—yang sangat jarang bisa melampaui usia lima tahun, menjadi kian buram. Kini aku memiliki banyak musuh dari golongan bangsamu. Mereka yang menganggapku musuh lebih tepatnya. Aku sangat sedih karenanya. Tapi apalah dayaku?
Coba kau simak beberapa ungkapan kemurkaan sebagian bangsamu yang sampai ke telingaku ini:
“Kita akan mengejar Si Paul dan menaruhnya dalam beberapa potongan paprika. Kita kemudian akan memukul-mukulnya agar dagingnya tetap lembut dan lunak, dan lalu mencemplungkannya ke air mendidih,” ujar Nicolas Bedorrou, seorang koki ternama.
“Aku ingin membunuhnya dan memasukkannya dalam paella—nasi goreng seafood ala Latin,” ujar seorang lainnya.
“Semua yang Anda butuhkan hanyalah empat kentang berukuran sedang, minyak zaitun untuk rasa dan sedikit merica bubuk,” tulis media berjudul El Dia, memberikan resep bagi siapa pun yang berani menangkapku setelah kekalahan tim negaranya dalam olahraga berebut memasukkan sebuah bola ke gawang lawan yang tak kutahu apa namanya itu, hanya gara-gara polah makanku yang dijadikan bahan ramalan di negeri tempatku dibesarkan.
Gila! Ini benar-benar sudah gila! Apa salahku sesungguhnya?
Aku tak pernah berpikir tentang hal ini sebelumnya. Tapi itulah fakta yang harus kuhadapi kini. Dan yang membuatku semakin tidak mengerti, semua ini terjadi karena kebodohan bangsamu sendiri. Tak kusangka, bangsamu ternyata bisa lebih idiot dari bangsaku! Sungguh, aku tak bermaksud merendahkan tingkat kecerdasan bangsamu. Karena aku pernah mendengar makhluk yang tercipta dari cahaya pun sudah mengakui kecerdasan bangsa kalian. Maafkan aku bila kata-kataku tidak berkenan. Tapi aku sangat kesal!
Semua bermula dari aktivitas sekelompok cerdik pandai dari bangsamu. Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun menjadikan sebagian bangsa kami sebagai objek eksperimen, mereka menyimpulkan bahwa bangsaku sangat cerdas dan kemungkinan merupakan yang paling cerdas di antara semua bangsa invertebrata.
Bangsa kami mampu melakukan proses pemikiran yang rumit, memiliki ingatan jangka pendek dan jangka panjang—tentu saja sebatas usia bangsaku, mampu menggunakan peralatan, membedakan berbagai bentuk dan pola, dan belajar melalui pengamatan—aku bisa membuka tutup toples dengan belajar dari melihat saja. Saudara-saudaraku yang tinggal di habitat asliku sering memanjat kapal penangkap ikan dan membuka ruangan penyimpan ikan untuk memakani kepiting. Beberapa saudaraku yang lain juga bisa menangkap dan memangsa beberapa spesies ikan hiu. Selain itu, warna kulit tubuh kami bisa diubah sesuai warna dan pola lingkungan sekitar dengan maksud melakukan kamuflase—penyamaran. Dan sebagian spesies bangsaku juga bisa menirukan gerakan dan membentuk postur hewan laut lain untuk mengelabuhi mangsa atau predator kami.
Dari anggapan sebagian cerdik pandai bangsamu itulah deritaku sesungguhnya dimulai. Hingga sebutan si peramal cerdas, ahli nujum, dukun, cenayang atau apalah istilah bangsamu, melekat pada setiap penyebutan namaku sekarang. Lelucon yang sama sekali tidak lucu! Semakin menjadi tidak lucu lagi ketika hal itu hanya didasarkan karena aku lebih memilih menyantap remis—makanan kesukaanku, dalam satu kotak lebih dulu daripada remis dalam kotak yang lainnya.
Padahal, demi Tuhan, aku hanyalah makhluk biasa seperti bangsa kalian yang tak bisa meneropong masa depan. Tak juga mengetahui bagaimana, kapan dan di mana akhir usiaku sendiri.
Aku benar-benar kesal! Tapi baiklah, aku akan ceritakan apa yang sesungguhnya telah terjadi selama ini. Dan kuharap kau akan lebih mempercayai ceritaku ini daripada parade bualan sebagian kalangan dari bangsamu itu.
Adalah Daniel Fey, induk semangku di Oberhausen, pada mulanya ia iseng mengerjaiku. Aku tidak pernah berpikir macam-macam saat dia menceburkan dua buah kotak kaca kecil berukuran sama ke dalam rumah kacaku yang tidak begitu luas. Aku tidak peduli sama sekali dia memasang benda apa saja di dalam kedua kotak kaca yang diceburkannya itu. Di dalamnya masing-masing ada juga sebuah bendera, katamu? Aku tidak mengenal sama sekali benda apa itu. Yang aku tahu, indera penciumanku yang tajam mencium bau remis di dalam kedua kotak kecil itu. Tapi Daniel sungguh cerdik. Dia sengaja menutup rapat kedua kotak kaca yang dijatuhkannya itu.
Kau tahu, aku selalu merasa lapar setiap kali mencium bau remis. Tentu saja aku segera menghampiri salah satu kotak berisi remis yang letaknya paling dekat dengan posisiku. Atau kadang aku iseng mengendus bau remis dari luar kedua kotak kaca itu bergantian terlebih dahulu sebelum memilih salah satu di antaranya untuk kunikmati pertama kali.
Demi Tuhan, hanya ritual itu saja yang kulakukan!
Sungguh aneh jika kemudian pilihanku setiap pertama kali menyantap remis di salah satu dari dua kotak yang berkali-kali dijatuhkan Daniel ke dalam rumah kacaku itu sudah menggegerkan bangsa kalian. Tepatnya dijadikan acuan, apakah negeri tempatku dibesarkan akan memenangkan laga memperebutkan sebuah bola oleh dua puluh dua orang itu atau sebaliknya akan menderita kekalahan.
Oh my God! Sekali lagi aku minta maaf, tapi kali ini benar-benar tampak bodoh bangsamu yang katanya sangat cerdas itu di mataku. Tiba-tiba aku ingin tertawa sekeras-kerasnya, mentertawakan sebagian di antara kalian yang meyakiniku bisa meneropong masa depan. Sebuah pola pikir aneh yang rancu dan konyol di zaman serba canggih ini! Hahahaha….
Bangsamu tentu belum sepenuhnya lupa. Hampir dua tahun silam, makhluk-makhluk dungu di antara kalian kecele di meja kasino. Entah karena pertimbangan logis apa, mereka telah menjadikan ritual makanku sebagai patokan gambling dalam olahraga serupa. Hahahaha…. lucu, sangat lucu! Namun sekaligus membuatku menangis tanpa airmata. Begitulah yang sesungguhnya telah terjadi selama ini.
Inilah pengakuanku yang sejujur-jujurnya. Aku bersumpah tidak ada rekayasa dan atau paksaan dari pihak mana pun. Bangsamu harus percaya sepenuhnya padaku meski pengakuanku ini tidak aku bubuhi tandatangan di atas materai enam ribu rupiah seperti kebiasaan kalian saat menyatakan sumpah secara tertulis. Hmm… aku juga meminta maaf mungkin terlalu telat untuk mengkonfirmasi hal ini. Berjanjilah, jangan musuhi aku lagi setelah ini! Aku mohon, kasihanilah aku. Aku sudah cukup menderita selama ini.
Dan, ketahuilah, meski sepasang mataku ini bisa membedakan polarisasi cahaya, sesungguhnya aku dan seluruh warga bangsaku mengidap daltonism. Ya, bangsa kalian jamak menyebutnya dengan buta warna….
Epilog
Hari ini, Selasa, 26 Oktober 2010, Paul si Octopus yang seratus persen jitu meramal selama Piala Dunia lalu mangkat secara alamiah dengan tenang di akuarium tempat ia hidup di Oberhausen Sea Life Center, Berlin, Jerman, pada usia dua setengah tahun. (*)
Dimuat di Annida-Online, 25 Juli 2011
Namanya Sujarwo, karena kalau tertawa mulutnya ngablak-ngablak, maka ia dipanggil Jarwo Ngablak. Jarwo Ngablak asli orang Jawa, ia asli Ponorogo, merantau ke Jakarta pun alasanya tak muluk-muluk: ingin melihat ibu kota. Ia tinggal membujang di kamar petak yang telah ia kontrak selama bertahun-tahun. Sebagai lulusan SD, tentu ia tidak bekerja di perusahaan, apalagi pegawai negeri. Sehari-hari Jarwo Ngablak mangkal di Stasiun Pasar Senen, jualan bensin eceran dan pulsa, nyambi jadi tukang parkir. Keadaan itu tidak pernah membuat Jarwo Ngablak mengeluh, toh apalagi menangis.
Jarwo Ngablak memang orang yang humoris. Kelewat humoris. Ia gampang sekali tertawa. Ia bisa menertawakan apa saja, siapa saja, termasuk dirinya sendiri. Cara tertawa Jarwo Ngablak pun sedikit berlebihan dibandingkan kebanyakan orang. Jika ia tertawa matanya akan menyipit hingga hampir terperjam. Hidungnya akan kembang kempis seperti anjing pelacak. Bahunya pun akan berguncang naik turun seperti sedang naik becak di jalan yang penuh lubang. Dan mulutnya, akan menganga beberapa senti, ngablak-nagblak, hingga menyerupai gua kecil yang sanggup menelan bola kasti. Begitulah, Jarwo Ngablak takkan dipanggil Jarwo Ngablak tanpa alasan.
Maka, jika seseorang tengah dilanda melo-drama, ia akan berlari menemui Jarwo Ngablak, minta dikasih resep tertawa yang awet. Selain jago tertawa, Jarwo Ngablak juga ahli dalam membuat lelucon. Orang yang tak pernah tertawa pun akan terbahak-bahak mendengar leluconnya. Apalagi kalau sudah menyangkut lelucon negeri ini. Jarwo Ngablak memang seolah ditakdirkan menjadi oase bagi orang-orang yang mengalami penyakit cemberut dan sulit tertawa. Selain pawakan Jarwo Ngablak memang sudah lucu. Hingga melihat raut mukanya saja, seolah orang sudah bisa tertawa.
Sambil tertawa, jarwo ngablak pernah berujar, “Hidup itu cuma sekali, buat apa dibawa susah. Lha wong sudah susah. Mendingan tertawa, supaya kesusahan itu akrab dengan kita. Kalau sudah jadi teman, kesusahan itu ternyata lucunya minta ampun. Hahaha…”
Melihat kehidupan Jarwo Ngablak kadang-kadang bisa membuat orang iri. Hidup yang mengalir dan penuh tawa, tak ada keluh-kesah, tak ada sedu-sedih, tak ada iris-tangis. Benar-benar mendekati sempurna. Bahkan, orang kaya sekalipun belum tentu bisa seperti Jarwo Ngablak: memenuhi hidupnya dengan gelimang tawa. Semua berjalan dengan sahaja, hingga tiba-tiba, pada sebuah senja di hari Jum’at, Jarwo Ngablak duduk selonjor di depan pintu kamar kontrakannya denga wajah tertekuk. Tentu saja pemandangan itu ganjil.
“Kamu sedang tak enak badan, Wo?” Tanya Sukamto, teman yang ngontrak di kamar sebelah.
“Saya cuma pingin nangis.” Jawab Jarwo Ngablak apa adanya.
Mendengar jawaban itu, Sukamto ingin tertawa tapi tak jadi, “memangnya kenapa? Ada berita duka dari kampung, ya?”
“Bukan.”
“Lha terus?”
“Saya cuma pingin nangis. Pingin nangis aja.”
Melihat raut muka Jarwo Ngablak, tawa Sukamto benar-benar meledak. Lucu bin aneh. Jarwo Ngablak ingin menangis tanpa sebab? Apa kata dunia? Ketika tawa Sukamto mulai reda, perlahan Jarwo Ngablak memulai ceritanya. Cerita yang menjadi musabab kenapa ia bersikeras ingin menangis.
“Tadi, waktu khotbah Jum’at, Pak Khotib bercerita panjang lebar. Ia menceritakan kisah-kisah sahabat di jaman Rasulullah, kisah-kisah yang mengharukan, hingga beliau sendiri berkhutbah sambil sesenggukan, bahkan banyak juga jama’ah yang menitikkan air mata. Dan saat itu, saya merasa asing. Saya perhatikan cuma beberapa orang saja yang tidak menitikan air mata, termasuk saya.
“Menjelang akhir khotbahnya. Pak Khotib juga menyampaikan, bahwa menangis itu sehat. Menangis itu menandakan kelembutan hati seseorang. Beliau juga mengutip ayat-ayat, katanya Tuhan menyuruh manusia untuk lebih banyak menangis daripada tertawa. Dan kata beliau lagi, terlalu banyak tertawa itu bikin hati mati. Orang kalau tidak bisa menangis, katanya hatinya sudah mati, sudah jadi batu. Detik itu saya mencoba sekuat tenaga untuk menangis, dan ternyata saya gagal. Saya memang sudah tak bisa menangis. Hati saya sudah mati, hati saya sudah jadi batu.”
Mendengar cerita Jarwo Ngablak, tiba-tiba Sukamto tercengang. Ia kembali ke kamarnya seperti batu yang sedang berjalan, tanpa salam, tanpa ekspresi. Hari-hari , Jarwo Ngablak semakin larut dalam obsesinya: ingin menangis. Beberapa orang yang datang padanya dengan wajah murung akan kembali dengan wajah semakin murung, karena Jarwo Ngablak tidak lagi membagi-bagikan resep tertawa. Jarwo Ngablak tidak lagi memaparkan lelucon-lelucon. Kepada orang-orang yang menemuinya, Jarwo Ngablak justru menceritakan isi dari khotbah Jum’at yang disimaknya beberapa hari lalu, sambil meminta balik resep yang jitu untuk bisa menangis. Menangis memang jauh lebih sulit dibanding tertawa.
Namun, apapun yang terjadi, Jarwo Ngablak bersikeras ingin menangis. Ia harus bisa menangis. Meski ia sudah benar-benar lupa bagimana cara menangis. Bahkan ia sudah tak ingat, kapan terakhir kali ia menangis. Berbagai upaya telah ia lakukan supaya ia bisa menangis. Namun tetap saja hasilnya nihil. Air matanya seperti raib entah ke mana.
Jarwo Ngablak semakin murung. Ia teringat kembali petuah Pak Khotib, bahwa jika seseorang tidak bisa menangis berarti hatinya sudah jadi batu. Jarwo Ngablak merinding, membayangkan seonggok batu bersarang di dadanya, tentu berat sekali, sesak sekali.
“Mungkin sesekali kamu perlu nonton sinetron ‘Anak Tertukar’. Setiap jam delapan malam, di sinetron itu selalu ada adegan menangis,” saran seorang teman.
“Sudah! Melihat mimik mereka menangis saya malah tertawa terbahak-bahak.” Balas Jarwo Ngablak.
Jarwo Ngablak juga sudah nonton film india yang paling sedih yang direkomendasikan Sukamto. Tapi tetap saja, air matanya tak bergeming, malah Sukamto sendiri yang menangis tak karuan, sampai-sampai air juga keluar dari hidungnya.
“Ngupas bawang, ngupas bawang!” saran seorang teman yang lain.
“Ini hubungannya dengan hati. Ngupas bawang nggak ada hubunganya dengan hati. Saya pingin nangis yang bener-bener nangis, nangis yang dari hati.”
“Berhubungan dengan hati, ya? Jangan-jangan hatimu memang sudah mati gara-gara banyak tertawa, coba kamu silaturrahim ke ustadz atau kiyai, barangkali mereka bisa membantu.”
Karena bersikeras ingin bisa menangis, Jarwo Ngablak pun akhirnya nekat mendatangi seorang ustadz. Ustadz yang beberapa waktu lalu menyampaikan khotbah Jum’atnya. Tanpa basa-basi, Jarwo Ngablak pun menceritakan kegelisahan hatinya. Mendengar cerita Jarwo Ngablak, ustadz tersenyum geli sambil sesekali manggut-manggut.
“Hati yang mati itu hanya sebuah kiasan saja,” ustadz memulai petuahnya, “segala sesuatu akan lapuk, usang, hilang, dan bahkan rusak jika tidak kita gunakan. Termasuk air mata. Seperti air-air yang lain, air mata pun memiliki mata air. Mata air air mata takkan mengalir lancar jika ia terus kamu timbuni dengan tawa berlebihan, bisa-bisa mata air air matamu tersumbat dan kering. Kalau sudah begitu, tentu saja kamu takkan bisa menangis.”
“Solusinya bagaimana, Ustadz?” Jarwo Ngablak menyela.
“Basahi terus mata air air matamu.”
“Dengan apa ustadz?”
“Dengan mempersedikit tawa. Tertawa boleh, tapi kalau berlebihan juga bahaya.”
“Akhir-akhir ini saya hampir tak pernah tertawa, Ustadz. Saya malah berusaha keras supaya bisa menangis, tapi tetap saja, saya tidak bisa menangis. Bahkan tahun lalu, ketika bapak saya meninggal, saya tidak menangis sama sekali. Barangkali orang-orang memandang saya tegar. Tapi entahlah, ketika itu saya juga sangat sedih. Hanya saja saya tidak bisa menangis.”
Ustadz geleng-geleng kepala, “Ternyata, tidak bisa menangis itu menderita, ya?”
“Sangat, Ustadz.” Ujar Jarwo Ngablak dengan wajah memerah, mata memerah. Sesekali ia mengusap matanya. “Barangkali hati saya memang sudah jadi batu, Ustadz.” Ujar Jarwo Ngablak lagi sebelum ia terdiam agak lama.
“Ayolah! Keluarkan uneg-unegmu. Saya akan jadi pendengar yang baik.”
“Ya itu, Ustadz. Saya pingin normal, seperti orang-orang. Saya pingin bisa menangis. Saya tidak mau hati saya ini jadi batu. Tapi sepertinya semua sudah terlambat.” Jarwo Ngablak kembali menyeka matanya. Ustadz tersenyum dan kembali menggeleng-gelengkan kepala.
“Tidak bisa menangis memang susuatu yang patut ditangisi. Apa kamu tak sadar, dari tadi kamu ngoceh sambil menangis.”
Jarwo Ngablak mengangkat kepala mendengar tuturan ustadz, ia kembali menyeka matanya, punggung tangan dan jari-jemarinya basah.
“Tak apa. Teruskan! Menangis itu sehat. Menangis itu melegakan.” ujar ustadz lagi.
Jarwo Ngablak masih belum percaya kalau yang diusapnya sedari tadi adalah air mata. Air mata yang mulai basah dan merembes dari sumbernya, dari mata airnya: hati. Jarwo Ngablak pulang dengan hati plong. Ia tak pernah merasakan kelegaan semacam itu seumur hidupnya.
Di dalam kamar kumalnya, Jarwo Ngablak berbaring dengan mata terpejam. Ia membayangkan di dadanya menyembul sebuah mata air yang airnya mulai merembes perlahan, merambati dinding hatinya. Air itu mengalir sangat lancar sampai ke sudut matanya.***
Malang, Juni 2011
dimuat di, Majalah Sabili, Februari 2011
; kepada grup-grup nasyid yang pernah kusinggahiCARLIE, Risyad, Hari, dan Davis tengah serius mendengarkan pengarahan dari Bamris, pemuda 22 tahun yang menjadi pelatih nasyid mereka. Empat mahasiswa Fakultas Ekonomi Unand yang hanya terpaut beberapa tahun di bawah Bamris itu, sesekali bertanya tentang apa dan bagaimana pernapasan yang baik, resonansi suara, jenis-jenis vibra, tipe improvisasi, tremolo, cressendo, decressendo, dan beberapa teknik dan istilah bernyanyi pada umumnya.
Walaupun mereka sudah lama berkecimpung di dunia nasyid, namun pengetahuan di atas, kalau tak ingin dikatakan asing, cenderung tidak familiar di telinga mereka karena tidak dipelajari ketika bernasyid sebelumnya. Dan kini, ketika dikumpulkan Bamris untuk bergabung di Alif, grup nasyid besutannya, mereka manfaatkan setiap pertemuan untuk menambah ilmu sebanyak-banyaknya.
Satu bulan telah berlalu. Sore itu tak ubahnya dengan sore-sore sebelumnya. Senandung nasyid bergema dari salah satu kamar wisma An-Nur. Empat pemuda tekun berlatih dan menyelaraskan posisi vokal masing-masing. Sesekali teriakan-teriakan khas Bamris menyelingi latihan mereka. Tak jarang setelah teriakan tersebut, barisan-barisan suatu melodi mesti diulang berpuluh-puluh kali.
“Dinamiknya nggak ada. Ulang lagi!”
Kode hitungan dari jemari Bamris menuntun grup itu kembali bernasyid, dengan teknik yang diarahkan Bambris.
Karakter Bamris yang super disiplin dan perfeksionis sudah dipahami oleh keempat ‘anak didiknya’ itu. Tak jarang masing-masing mereka akan menerima ‘semprotan’ khasnya. Baik karena keterlambatan menghadiri latihan, apalagi tak disertai konfirmasi sebelumnya.
Tapi itu hanya berlangsung dalam latihan. Di luar, itu tak berlaku. Bahkan bakda latihan, mereka sering berjalan bersama menyusuri gang sempit yang menjorok ke jalan raya. Biasanya acara jalan-jalan ini diembel-embeli makan bersama di Lubuak Sao, rumah makan yang juga menyediakan menu pangsit, bakso, siomay, dan batagor yang biasa mereka santap sambil menunggu magrib tiba.
Di sana mereka kerap berceloteh, bercerita, dan bercanda. Tanpa disadari, di sana mereka tengah membuka lembar demi lembar diary kehidupan yang baru. Menuliskan kenangan demi kenangan di dalamnya. Semua tak pernah tahu sampai semua menjadi kelabu. Sangat kelabu.
Masa pun silih berganti. Berpeluh suka dan duka, mereka jalani bersama. Sangat berbeda dengan dahulu, kini belum genap setahun usia grup nasyid tersebut, mereka sudah sangat dikenal dengan berbagai prestasi dan pengalaman tampil di berbagai even prestisius. Bahkan di tahun tersebut, Alif beberapa kali menjuarai festival nasyid tingkat nasional. Dalam berbagai festival tingkat provinsi, mereka tidak lagi berpredikat sebagai peserta, tapi sudah menjadi bintang tamu, tak jarang merangkap sebagai dewan juri.
Bamris sudah mengenal watak masing-masing personil Alif. Carlie adalah sosok yang percaya diri dan optimis. Hari, pribadi yang kalem, jarang ngomong, sering mengambil sikap aman dan sangat menghargai Bamris. Sifat Hari ini tak jauh berbeda dengan Risyad dan Davis.
Namun, seperti suatu grup pada umumnya, Bamris melihat keberagaman tersebut sebagai hal yang wajar, apalagi selama ini ia tak menemui halangan berarti dalam memenej mereka baik secara manajerial maupun teknis. Pun ketika terdengar desas-desus bahwa Alif merasa sudah dapat berdiri sendiri tanpa pelatih, Bamris tidak sedikit pun mengindahkannya. Baginya adalah wajar, isu miring melanda penyanyi atau grup yang tengah naik daun. Tak terkecuali di dunia nasyid. Tak terkecuali untuk Alif.
BERSUA pasti ada berpisah. Ungkapan itu akhirnya datang juga menghampiri Alif. Dengan dalih penyelesaian skripsi dan kemandirian Alif, Bamris mengundurkan diri. Keputusan itu, uniknya tak mendapat respons sebagaimana biasanya terlontar dari orang-orang yang telah dibesarkan oleh pelatih, manajer, pendiri, bahkan ‘pemilik’ suatu grup tempat mereka bernaung selama ini. Walaupun ada kail yang menyangkut di hati atas sikap yang mereka tunjukkan, tentu saja bukan hal yang etis bagi seorang Bamris untuk mempertanyakannya. Toh aku memang akan meninggalkan Alif. Kail itu pun terlepas dengan sendirinya.
Ada ribuan kenangan yang telah tertoreh di Alif. Kenangan yang diukir Bamris bersama ‘anak-anak didiknya’. Bamris meyakinkan dirinya sampai pada taraf bahwa dia sangat percaya, pasca ditinggalkannya, Alif akan menjadi grup yang solid, khususnya dari segi teknis. Sudah cukup bagi Bamris untuk terus membimbing dan mengingatkan mereka agar bernyanyi dengan groove, koreografi yang penuh rasa, dinamik, falseto, bahkan hanya untuk masalah kostum panggung sekalipun. Mereka sudah cukup ‘besar’ dan mandiri untuk berkreasi dengan apa yang telah kuberi. Begitulah batin Bamris saat itu.
Sangat indah. Perpisahan itu disertai dengan harapan mendalam dari masing-masing mereka. Satu benang merah, mereka sepakat bahwa perpisahan mereka hanya secara tim, namun tidak untuk ikatan hati. Bahkan yang ditinggalkan pun beberapa kali mengulang kata “terimakasih” atas bimbingan, ilmu pengetahuan, dan wawasan bernasyid yang selama ini telah diberikan. Perpisahan pun ditutup dengan membaca rabitah, doa pengikat hati, yang dipimpin oleh Bambris.
Sangat manis, bukan?! Sangat manis sampai akhirnya mengiris-ngiris. Sampai tipis. Sangat tipis. Bak tipisnya sembilu yang telah dilumuri sari jeruk nipis sebelum mengiris pelipis, dan berakhir dengan tangis. Pecah!
Perpisahan itu ditutup dengan saling pelukan. Entah mengapa, pelukan itu tak juga erat, walaupun mereka sudah mencoba untuk saling mengeratkan. Ah, mereka lupa bahwa hati tak dapat dibohongi, tak dapat dierat-erati, dengan air mata sekalipun.
Kini, sudah hampir dua tahun Alif berdiri. Grup nasyid papan atas, itulah julukan yang disematkan padanya. Undangan tampil pun sudah lintas provinsi. Tapi sayang, banyak hal yang tak seperti dulu lagi. Kebersamaan hanya ada saat latihan. Latihan pun hanya dilaksanakan menjelang penampilan saja, karena itu tali persaudaran yang seharusnya berada di posisi mulia dalam prinsip membangun grup tak lagi diacuhkan.
Bongkar pasang formasi pun sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan pemakaian penasyid pengganti atau tambahan hampir menjadi ciri penampilan Alif.
Sampai suatu ketika, semuanya menjadi kelabu. Bak Pelipis yang diiris sembilu dengan sari jeruk nipis. Tak hanya di pelipis, tapi sampai juga mengiris hati Bambris. Malam itu, setelah menamatkan Salah Asuhan, segera disetelnya frekuensi syiar Qur’an FM untuk sekadar mendengarkan lantunan kalam illahi atau lagu nasyid demi melepas penat setelah berjam-jam memelototi ratusan lembar roman favorit karya Abdoel Moeis tersebut.
“…Rina, salah satu pendengar setia Qur’an FM baru saja bertanya tentang orang-orang yang berjasa membuat Alif hingga seperti ini. Sebagai salah satu generasi awal Alif, mungkin Carlie bisa menjelaskan?”
Segera dibesarkannya volume radio. Tak dapat ditutupinya ekspresi kerinduan pada Alif saat itu, sekalipun hanya untuk mendengarkan mereka bertutur. Bahkan saking bahagianya, jarak telinga Bamris dan speaker radio tak lebih dari 10 sentimeter. Sangat dekat, sedekat hatinya pada Alif selama ini.
“Mmm…sangat banyak ya...” Carlie tampak ragu merangkai kata-kata. Di seberang, Bamris mengernyitkan dahi.
“Yah, mungkin bisa disebutkan?” Broadcaster memberi penekanan.
“Orangtua adalah mereka yang sangat berjasa dalam hidup kita, termasuk dalam perjalanan grup ini. Selebihnya, keluarga dekat dan teman-teman kampus adalah orang-orang yang selama ini sudah sangat banyak men-support kita, baik dari segi moriil maupun materiil,” kali ini, sangat lancar Carlie memberikan jawaban..
“Bagaimana dengan Bamris? Bukan rahasia lagi kalau Alif didirikan dan dibesarkan olehnya, bukan?”
Deg! Jantung Bamris berdetak hebat. Kali ini ia lebih saksama menyimak perbincangan.
“Ya, sama dengan yang lainnya, Bang Bamris juga cukup berpengaruh di Alif. Tapi tidak terlalu signifikan. Itu yang saya tahu dari teman-teman grup ini, karena saat saya di Alif, beliau tidak ada lagi di grup,” kali ini Rindo yang angkat bicara, personil yang baru delapan bulan menghuni Alif.
“Bagaimana menurut Hari?” Broadcaster melempar pertanyaan.
“Untuk masalah ini, mungkin Carlie lebih dapat menjawabnya.” ragu-ragu Hari menjawab. Broadcaster mengalihkan pandangan ke Carlie dengan menyisakan tanda tanya atas sikap Hari tersebut.
“Bang Bamris lebih banyak membantu kita secara mental, moriil, dan motivasi…”
“Masalah teknik bernyanyi?”
“Mmm... sebelum di Alif, masing-masing kita ‘kan sudah punya grup nasyid. Jadi, untuk masalah teknik bernyanyi, kita sudah punya basic-lah. Bang Bamris sebatas mengarahkan. Bahkan mungkin lebih tepatnya beliau sebagai orang yang mengumpulkan dan memenejeri kita saat itu. Tidak lebih.”
Di seberang sana, ada yang bermata kaca. Beberapa detik kemudian, kaca itu pecah, menumpahkan pecahan-pecahan air yang tersembur tak terkendali. Bamris mencoba untuk terus mendengar dialog malam itu. Tapi tiba-tiba telinganya tak dapat mendengar lagi, bahkan matanya mulai kabur. Tak kuat lagi ia bertahan.
Ah, mungkin aku perlu istirahat. Biar subuh nanti kukirim rabitah buat mereka. Bamris membatin sebelum mati suri hingga menjelang pagi. (*)
00:02. Air Tawar, 14 Maret 2007
Dimuat di Majalah Sabili No. 19 Th X 10 April 2003/8 SHAFAR 1424
Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Oleh kalangan Botani, aku sering disebut tanaman sejenis perdu, dan termasuk anggota famili Compositae atau disebut juga Asteraceae (sembung-sembungan).
Bungaku kecil sebesar bunga rumput, orang lebih mengenalku dengan warna putih daripada warna lainnya. Hidupku bergerombolan di ujung dahan dengan harum yang khas. Tinggi batangku dapat mencapai 5 meter dengan daun-daun runcing dan lurus. Bungaku istimewa, tak pernah layu, mekarku abadi, sehingga aku dijuluki “bunga abadi”. Sungguh julukan inilah yang menjadi ‘beban’ bagiku, karena banyak orang menyalahgunakan ‘arti’ keabadianku selama ini! Keabadianku mereka sama kan dengan ‘cinta abadi’, cinta sepasang manusia yang tidak memiliki ikatan resmi. Ah…. Apalah arti protesku? Tho’ siapa yang peduli dengan rintihanku?
* * *
Aku berada di kamar Rieska. Tersusun rapi di atas lemari belajarnya. Disampingku ada diktat kuliah, novel, majalah remaja dan…. Bunga-bunga koleksi Rieska! Tepatnya sengaja disimpan Rieska. Yap! Untuk mengenang siapa yang memberikannya! Aku memang lebih beruntung dari bunga Mawar yang menjadi pendatang baru di kamar ini. Wajahnya pucat karena air di dalam vas tersebut tak pernah diganti oleh Rieska. Sama halnya dengan nasib Suplir yang telah mengering menjadi pembatas buku, lengkap dengan spora yang masih menempel ditubuhnya, dan Anggrek yang merana karena sebagian kelopak bunganya telah mengering.
Ya…. diantara bunga-bunga milik Rieska, ternyata aku memang diperlakukan ‘istimewa’ oleh majikanku, Rieska! Aku ditaruh di dalam kotak berwarna biru muda, berlapiskan plastik transparant. Aku sangat senang dengan perlakuan baik Rieska, tapi…. aku sangat resah dengan label hitam yang bertuliskan “Cinta Abadi” yang melekat manis di atas plastik kotak ini.
* * *
“Kamu beruntung yah, Weis, tempatmu empuk,” komentar Mawar suatu hari saat Rieska sudah pergi kuliah.
“Iya…. Weis, kamu nggak perlu ganti-ganti air sepertiku!” ujar Anggrek sedih.
“Ah…. Kalian bisa aja!” ujarku pelan.
“Tapi…. Benar kan memang kamu anak emas-nya Rieska! Apa karena kamunya pemberian Ari pacar Rieska si anak gunung itu?” kali ini suara Suplir dari balik buku angkat bicara. Ya… aku memang pemberian Ari Jaya Saputra kekasih Rieska. Ari mengambilku ketika dia mendaki gunung Ciremai, Jawa Barat. Aku diberikan kepada Rieska tepat ketika Rieska ultah yang ke-22 tahun, tepatnya enam bulan yang lalu.
“Ah…. Itukan pikiran kalian saja kalo aku bahagia ada di sini, sebenarnya aku nggak terlalu bahagia kok tinggal di sini!” ujarku.
“Kok bisa? Mengapa?” tanya Mawar keheranan.
“Nggak bahagia gimana? Diperlakukan istimewa kok nggak senang, nggak bersyukur kamu!” suara Anggrek ketus.
“Weiss…, seharusnya kamu bersyukur dengan keadaanmu saat ini, jangan belagu deh pura-pura nggak senang” timbal Suplir.
“Maksudku…. aku bersyukur kok Rieska menjagaku dengan baik di sini, tapi…. yang membuat aku sedih Rieska selalu beranggapan kalo kesegaran bungaku yang abadi menjadi simbol keabadian cinta Ari padanya, padahal….”
“Padahal apa? Maksud kamu apa sih? Aku jadi nggak ngerti!” suara Suplir terdengar pelan memotong pembicaraanku. Tampaknya susah payah ia berbicara dibalik lembaran buku dairy Rieska.
“Iya… nih Weis, maksud kamu itu apa?” tanya Mawar lagi. Aku berusaha menjelaskan kepada mereka, tentu saja dengan bahasa kami kaum bunga-bungaan.
“Aku ingin sekali Rieska menyadari keberadaan kita. Rieska seharusnya berpikir ada apa dibalik kekuasaan Allah yang telah menciptakan kita. Mereka seharusnya menjaga kita dengan baik, bukankah mereka diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini? Manusia seharusnya menyayangi dan merawat kita. Mereka seharusnya berfikir coba kalo nggak ada Mawar, Anggrek, Suplir atau bunga lainnya bagaimana? Dunia pasti suram tanpa penyejuk mata. Beda kalo ada kita, mereka akan merasa senang dan tentram bila memandang si Mawar yang sedang mekar, Suplir yang segar, atau Anggrek yang ….dan seharusnya manusia yang melihat ‘keabadianku’ sebagai contoh bagaimana mengabadikan hatinya sebagai rasa syukur ke hadirat Illahi” suaraku pelan, mataku mulai berkaca-kaca menahan air mata yang hampir tertumpah.
“Kamu benar Weis, seharusnya manusia memang balajar dari fenomena alam, seperti kita! Lihat bungaku, berwarna merah menawan, wangi semerbak. Allah sengaja menciptakan duri-duri kecil dibatangku untuk menjaga kehormatanku dari serangan makhluk yang jahil, agar tidak mudah dipetik begitu saja. Kamu juga kan Weis, hidup ditepi jurang, sehingga diperlukan perjuangan bagi siapa yang ingin memetikmu. Ah… seharusnya manusia menyadari hal itu, mencontoh kita! Indah tapi tak mudah diraih! Berbeda dengan manusia, coba saja lihat kaum wanitanya? Masih banyak diantara mereka yang belum menyadari betapa pentingnya menjaga kehormatan diri, mereka dengan mudahnya dipegang sembarang orang, pake’ wangi-wangian yang merangsang syahwat lelaki, berbicara dengan suara yang mendesah, dan bangga mengubar aurat mereka. Sebenarnya mereka tahu nggak sih kalo prilaku seperti itu dosa?” ujar Mawar prihatin.
“Kok kamu tahu banget,War perubahan manusia begitu?” tanyaku heran pada Mawar.
“Jelas dong aku tahu, aku kan pernah tinggal di taman depan rumah Asep, teman kuliah Rieska, sehingga setiap hari aku bisa melihat dunia di luar sana” jelas Mawar.
“Ah sudahlah… sekarang emang zaman edan, yang pria berjas rapi menutup seluruh aurat, eh… wanitanya berpakaian seksi minim bahan, apa itu namanya nggak kebalik dunia sekarang?” sahut Suplir yang dulunya tinggal di teras depan rumah Bayu pacar Rieska yang ketiga.
“Eh.. iya juga yah, kemarin malam aku dengar di TV kalo aborsi semakin merajalela, koran-koran berbau porno semakin meluas, kemana sih hati nurani mereka?” suara Aggrek pelan. Anggrek memang pernah dibawah Rieska ke ruang keluarga dekat TV. Semua terdiam dengan pikiran masing-masing, mereka berdzikir memuji asma Allah.
* * *
“Ari…… ada yang ingin ku katakan” terdengar suara Rieska di ruang tamu. Malam ini hanya mereka berdua yang ada di rumah, mama dan papa serta kedua orang kakaknya Rina dan adiknya Shanty pergi ke pesta pernikahan relasi papanya.
“Ada apa?” tanya Ari, mereka berdua duduk di sofa.
“Aku…aku …. Telat tiga minggu!Aku…ha…mil, Ari!”
“Hah? Kamu…hamil?” tanya ari keheranan, ini diluar dugaannya.
“Iya, kita harus segera menikah, Ari! Aku takut papa dan mama akan marah!” ujar Rieska gusar.
“Tidak! Aku tidak mau menikah sekarang! Kamu harus mengugurkan kandunganmu!”
“Ari! Aku nggak mau, ini anak kita! Kamu harus bertanggungjawab!” teriak Rieska bercampur tangis.
“Nggak, aku nggak mau, mungkin saja itu anakmu dengan pacar kamu yang lain!” cibir Ari.
“Ari… teganya kamu ngomong begitu, ini anak kamu Ari! Anak kita!”
“Pokoknya tidak! Kamu harus mengugurkannya, harus, titik!”
“Tidak! Aku nggak mau!”
“Harus!” paksa Ari menarik tangan Rieska dengan keras.Tangis Rieska semakin kencang.
* * *
“Ari jelek! Lelaki brengsek!” teriak Rieska ketika masuk ke kamar. Ia menghembaskan tubuh mungilnya ke atas kasur empuk disertai suara pintu dibanting dengan keras. “Ada apa yah?” batinku bertanya penasaran.
“Hu….hu…., katanya cinta, katanya sayang, buktinya? Kamu jahat!” teriak Rieska lagi, semakin keras terdengar. Rieska menangis, air matanya menetes memasahi kemeja kotak-kotaknya.
“Eh… kawan-kawan, Rieska kenapa yah?” tanyaku pada Mawar, Anggreka dan Suplir.
“Nggak tahu, tidak seperti biasanya yah? Mungkin… Rieska ribut dengan Ari, atau berantem ama papa atau mamanya” tebak Anggrek.
“Ari…. Ka..mu…kejam! Ngakunya setia, cinta setengah mati, setia sampai akhir zaman, tapi mana? Kamu …. Hu….hu… Cinta? Ah… Ari … ngaku cinta abadi? Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu pergi meninggalkanku dalam keadaan begini, kamu lelaki tak bertanggungjawab! Apa yang harus aku katakan pada mama dan papa?” tangis Rieska semakin keras terdengar. Rieska bingung harus bagaimana.
Tiba-tiba. Rieska berjalan dengan tergesa menuju meja belajarnya, meraih kotak mungil yang disimpannya dengan penuh kasih sayang selama ini.
“Percuma kamu berikan aku dulu bunga Edelweiss kalo cintamu bukan cinta abadi, tapi cinta murahan! Ngakunya cinta, tapi mengapa kamu tinggalkan aku dalam keadaan begini?” tangis Rieska sambil membuka kotak mungil itu lalu membuang seluruh bunga Edelweiss ke dalam tempat sampah yang berada tepat di samping meja belajar. Melihat pristiwa tersebut, bunga lainnya, Mawar, Suplir dan Anggrek menjerit histeris!
“Ja……ngan……!!” teriak Mawar, Suplir dan Anggrek serentak. Tapi terlambat! Edelweiss telah dibuang ke dalam tong sampah yang bercampur dengan sampah lainnya.
* * *
Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Kali ini aku berada dalam gengaman seorang pemuda bernama Rahman. Ia mengamatiku dari tadi sambil terus berdzikir memuji asma Allah.
“Ya… Rabb yang Maha Kuasa, satu lagi telah Kau tunjukkan kebesaran-Mu. Menciptakan bunga Edelweiss yang tahan layu dan tak lelah diterpa angin, tanpa pemudar dan tanpa kekeringan. Ya… Rabb, seperti ini jugakah semangat saudara-saudaraku di Palestina dalam menghadapi serangan Yahudi demi merebut kembali hak mereka atas Masjid Al-Aqsa? Ya… Allah, kuatkan hati-hati kami untuk merebut itu semua” lirih suara Rahman menyejukan hatiku.
Aku hanya tumbuhan tanpa nyawa tapi aku merasakan betapa ia seorang pemuda yang ‘berhasil’ mengenali alamnya dan terus berdzikir melihat ke-Esaan penciptanya. Aku Edelweiss tersenyum bahagia dalam genggamannya.
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)




