Hancur, Minah!

Sabtu, 27 Maret 2010 by: Forum Lingkar Pena

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Surabaya Post, Sabtu, 27 Maret 2010














MINAH terdiam di dudukan kayu di bawah kanopi belimbing yang membiarkan beberapa bercak cahaya menerobos salih-silang dedaunannya. Warung pempek di salah satu sudut pekarangan yang luas itu sudah ditutupnya lebih awal. Awalnya, warung itu ia buka demi mengisi waktu luangnya sebagai ibu rumah tangga yang belum bermomongan. Namun, tak ada yang tahu, akhir-akhir ini, melalui warung itu, ia bisa menyisihkan hingga 150 ribu untuk dikirim ke Bone setiap bulannya.

Kini, terbayanglah olehnya bahwa sebentar lagi warung itu akan dirubuhkan. Dan pekarangannya yang ditanami keji beling, pinang merah, pacar air, kunyit, lengkuas, kemangi... akan segera diganti dengan anakan karet dalam polibeg yang berdesak-desakan. Oh, semua karena suaminya. Andaikan ia bukan ibu rumah tangga saja, pastilah sesiapa tak akan memerlakukan kata-katanya bak angin lalu saja. Termasuk Mali, juga ibu mertuanya.

Minah paham benar bagaimana Mali bertabiat. Bila ibu mertuanya sudah berhasil memengaruhi lelaki yang sudah lima bulan hidup bersamanya itu, maka, ketika hal itu disampaikan kepadanya, ia hanya menjadi pendengar dan pengaminnya saja. Minah memang disilahkan untuk bersuara, namun bukan untuk merubah apa-apa yang telah dikatakan lelaki itu. Tak lebih, hanya demi menampakkan bahwa ia memedulikan apa-apa yang digiati Mali: Minah tahu suaminya tak terlalu bodoh akan anggukan palsunya. Namun, itulah, Mali adalah suaminya. Sekali rumah tangga ditegak, suami adalah imamnya.

”Manusia punya takdir masing-masing, Minah. Kita saja yang kerap tak sadar telah menjalaninya. Pernikahan kalian termasuk jua takdir itu. Tak pernah terpikir Mali yang sudah lama merantau di Sulawesi, akhirnya lulus PNS di kampung halamannya. Jadi, kau berhentilah menjadi PNS di SD tu. Sama-sama kalian membangun hidup di Linggau. Ingat, Minah! Kini, Mali pemimpinmu!”

Minah patuh saja. Pun orangtuanya tiada berkeberatan. Tak ada rasa berat hati ia meninggalkan sekolah beserta murid-murid yang sudah dua tahun ia ajari. Maka, ia berpamitan dengan orangtua dan adik laki-lakinya yang sebentar lagi tamat SMP. Sejatinya, ia melakukan itu bukan demi menunjukkan bahwa ia taat suami. Lebih dari itu, ia yakin saja, Mali adalah laki-laki yang baik. Laki-laki yang akan membuat kehidupannya merah-muda saja. Dan... ketika usia pernikahan memasuki bulan ketiga, baru tahulah ia. Suaminya adalah ibu mertua yang bertubuh laki-laki!!! Maka, sejak itu, Minah menjalani semuanya dengan tak henti berprasangka baik bahwa dialah yang keliru. Atau bilapun ia tak keliru, seiring waktu, ia terus memantik harap bahwa semuanya akan segera baik-baik saja.



♦ ♦ ♦



UNTUK kesekian kalinya Mali tidak masuk kantor. Minah dengan nada bicara setengah tertahan mencoba mencari tahu.

”Tak usah ribut kau, Minah. Lagipula untuk apa aku ngantor. Mulai bulan depan kita cuma nerima 300 ribu!”

Minah terperanjat. Baru saja ia akan bertanya lebih jauh, Mali sudah menyambung, ”Tak usah kautanya ini-itu. Sebentar lagi semua akan kembali! Kau lihatlah. Apa-apa yang disarankan Ibu pasti membuat kita kaya!”

Minah diam. Perasaannya berkecamuk: Gaji 300 ribu, semua akan kembali, saran ibu mertua, jadi kaya.... Oooh, Minah tak mengerti.

Namun berbilang hari, ternyata Mali buka mulut juga. Rupanya Minah masih dianggapnya sebagai pendengar yang baik. Mali meminjam uang di salah satu bank dengan jumlah yang tidak sedikit. Untuk membayar cicilan tersebut, setiap bulan selama 3 tahun, gajinya akan dipotong lebih dari separuh. Mali juga bercerita bahwa sebenarnya ia menerima lebih dari 300 ribu. Tapi karena saban bulan, Mali juga harus menanggung arisan ibunya, maka ia memberikannya saja.

”Kan ibuku ibumu juga, Minah.”

Minah mengangguk terpaksa.

”O ya, pinjaman dari bank itu, akan Kakak gunakan untuk membuka usaha anakan karet. Jadi Kakak sudah membeli lahan kosong di belakang rumah dari Pak Sujud. 66 juta, kes! Pekarangan depan akan jadi usaha anakan karet juga. Jadi, besok, tebaslah tanaman-tanaman kampungmu itu. Juga, warung-warunganmu itu, menganggu pemandangan saja.”

Minah mendongak.

”Ya, Minah. Modalnya cuma 300 rupiah per batang induk. Memang belum termasuk biaya beli batang pucuk, upah penanaman, polibeg, dan pemiliharaan lainnya. Tapi, tahukah kau, kata Ibu, di pasaran harganya bisa sampai 2500 per anakan. Nah, apa tak cepat kaya kita, tu?! Nanti kalau kita kaya, kau juga yang senang, bukan? Bagaimana?!” Mali mengerlingkan sebelah mata, seolah Minah harus bangga memiliki suami secerdas dirinya.

”Mmm... ” Minah buka suara.

Mali menatapnya. Menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir istrinya.

”Kalau untuk usaha itu, mengapa harus meminjam uang ke bank segala, Kak?” Hati-hati sekali Minah mulai bertanya. ”Mmm... maksudku mengapa tak memanfaatkan tanah yang kita beli dengan tabunganku dulu, Kak?”

”Yang mana, Nah?” Mali mencoba mengingat-ingat.

”Itu... yang di Kenanga Dua Lintas, Kak.”

”Waduuhhh!” Mali menepuk jidatnya.

Minah ikut tergeragap. ”Ada apa, Kak? Kejauhan? Kan kita bisa upah orang, Kak?”

”Kakak lupa, Nah. Kan dua bulan lalu, sudah dijual untuk nikahannya si bungsu, Amel. Kakak lupa nyampain ke kamu, Nah. Ya... kemarin Ibu juga yang minta....”

Minah tak kuat mendengar lanjutan kalimat suaminya. Ia hanya meneguk liur.

”Jangan khawatir, Minah. Tak menunggu lama, kita akan beli tanah lagi!”

Semoga, batin Minah. Dadanya sesak. Ia tiba-tiba saja ingat orangtuanya yang hanya berladang di rimba seberang. Ia selalu berkabar bahwa keadaannya baik-baik saja. Tak kurang sesuatu apa. Bahagia, demikian pendapat keluarganya di sana atas apa-apa yang ia jalani di kampung halaman suaminya.



♦ ♦ ♦



MEMANG benar apa yang dianjurkan oleh ibu mertuanya. Usaha anakan karet mereka terus tumbuh. Para pengumpul banyak mengambil dari mereka. Lagi-lagi, semua tak lepas dari peran ibu-mertuanya yang ternyata berteman baik dengan salah satu pengumpul besar. Terakhir, Ko Siang, demikian pengumpul besar itu dipanggil, meminta agar Mali menghendel semua anakan yang akan ia kirim ke Jambi dan beberapa daerah di Musirawas. Sang ibu langsung mengiyakan.

”Mali, tak masalah itu. Memang, itu sama saja artinya kita memutus hubungan bisnis dengan pengumpul lain. Tapi kau juga tahu, kan, wilayah bisnis Ko Siang itu luas sekali. Sampai ke luar provinsi!”

Mali mengangguk mantap.

Sejak itu, Mali nyaris tak pernah ngantor lagi. Minah yang beberapa kali mengingatkannya, tak pernah ia gubris.

”Mau diberhentikan, ya berhentikan saja! Penghasilan usaha kita berlipat-lipat dari PNS tu, Minah!”

”Tapi, Kak, ini musim-musiman.”

”Musim-musiman?” Mali menyeringai. ”Sudah tiga tahun kita usaha ni kau bilang musim-musiman pula? Memangnya orang menyadap karet serupa menunggu durian berbuah. Tak kaulihat sepanjang Talang Belalau itu, hah? Karet saja yang berbaris!”

Lagi, lagi, dan lagi, Minah diam saja.



♦ ♦ ♦



IBU mertua Minah sudah memiliki mobil pribadi. Tentu saja semua dari hasil usaha mereka. Minah tahu, mobil itu masih kredit. Angsurannya dari pemasukan usaha mereka. Tapi, walaupun ia masih didera perasaan tak menentu setelah Mali melepas PNS-nya, Minah tak memersalahkan hal itu, ia merasa senang jua mendapati usaha mereka yang terus maju. Bulan depan ia sudah berencana untuk mengirimi keluarganya uang dalam jumlah yang jauh lebih besar dari biasanya. Mali baru memberikan uang tersebut kemarin.

Namun... ternyata matahari tak selamanya bergantungan di langit, semua akan kelam ketika malam datang. Ya, sampailah di siang itu. Ketika Minah belum sempat membuka surat yang baru diantar tukang pos, ibu mertuanya datang. Tanpa menutup pintu mobil dan mengucap salam, dengan muka masam, wanita 57 tahun itu langsung berseru.

”Keparat sekali dia, Nah!”

”Ada apa, Bu?” tanya Minah setelah mencium tangan mertuanya itu.

”Mana suamimu?!”

Perasaan Minah tak enak. Ia bergegas ke dalam. Oh, apa yang telah dilakukan Kak Mali, hingga Ibu tampak marah sekali?

”Ada apa, Bu?” Mali di muka pintu. Belum sempat ia meraih tangan ibunya untuk salim, perempuan itu langsung berkoar.

”Kau lihat usaha anakan karet baru di simpang Merasi tu, Mali?”

”Iya. Tahu, Bu. Sudah dua bulan-an,” jawab Mali.

Minah memerhatikan dari balik gorden jendela. Dadanya berdegup kencang.

”Bagaimana kau bisa menjawab pertanyaan Ibu dengan tenang, hah? Tak tahu kau nasib usahamu ini!” Perempuan itu mencak-mencak. Tangannya menunjuk-nunjuk anakan karet yang menghampar di pekarangan mereka.

”Maksud Ibu? Usaha baru itu akan jadi saingan kita?”

Dada ibunya masih megap-megap.

”Biasa itu, Bu. Justru yang lebih kukhawatirkan harga anakan turun jadi 800 per batang!”

Ibunya mengenyitkan dahi.

”Tapi tenang, Bu. Apabila kuhitung-hitung. Dengan seharga itu, kita tidak akan rugi. Bukankah sudah ada Ko Siang yang akan membeli anakan karet kita. Belum lagi kalau yang di Tebingtinggi itu jadi memesan dari Ko Siang, maka... tak ada masalah itu, Bu. Tak pengaruhlah...”

”Hooooi, Bengak[1]! pungkas ibunya berteriak.

Mali tergeragap. Tak menyangka ibunya akan mengeluarkan kata-kata itu.

”Tahu kau siapa pemilik usaha sainganmu itu?!”

Perasaan Minah makin berkecamuk.

”Diam-diam Cina Bangka itu nak membunuh kita!”

”Ja... ja... jadi...?” Wajah Mali tiba-tiba pucat.

”Ya, yang di Merasi itu usahanya Ko Siang keparat!!!!”

Tubuh Minah layu. Ia terduduk. Tak dapat ia bayangkan hancurnya perasaan suaminya. Tiba-tiba pandangan Minah bersitatap dengan surat yang tadi diterimanya. Setelah membaca nama pengirimnya, tergesa-gesa ia merobek amplop surat itu. Oh, adiknya perlu biaya untuk melanjutkan sekolah.

”Minaaah!” Suaminya memanggil. ”Sini uang yang kukasih kemarin. Aku perlu untuk menyogok pengumpul lain agar beralih ke kita!”

Minah tak menjawab. Matanya basah. (*)

Lubuklinggau, 24 Mei 2009

________
[1] Bodoh