Lelaki Kayu, Perempuan Batu

Minggu, 15 November 2009 by: Forum Lingkar Pena

Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Koran Tempo 25/06/2006


Matahari jatuh dan masjid itu bergemuruh, tetapi aku tetap duduk memandang laut dan engkau tetap duduk memandang laut. Bersebelahan di bangku dingin yang disediakan bagi tamu pantai. Horison di ujung sana merah dengan garis-garis putih cahaya lampu perahu nelayan. Sama sekali kau tak menegurku. Sama sekali aku tak mengusikmu. Azan berlalu. Sampah-sampah plastik melompat-lompat dikejar angin. Bukan cuma aku, bukan cuma engkau, orang-orang itu pun duduk serupa tak tahu bahwa senja telah berlalu.

Apakah laut yang membirukan langit atau langit yang membirukan laut, aku tidak tahu, tapi yang pasti sebentar lagi mereka akan sama-sama gelap, sama-sama hitam muram. Lampu-lampu penerang jalan telah menyala. Mulanya oranye hambar, lalu mulai memendar. Remaja-remaja pengamen mampir dengan gitar kopong dan ukulele, kuserahkan uang seribu tanpa anggukan kepala sebelum mereka selesai menyanyikan sepotong lagu.

Engkau memakai celana jins biru pupus yang tergantung di atas mata kaki. Sepatu balet merah pudar membalut kakimu yang kecil. Pada tubuh bagian atas kau mengenakan kemeja kotak-kotak seperti yang dipakai para koboi dan di atas kepalamu membenam sebuah topi rajut hitam dengan ornamen segiempat-segiempat biru tua?rambutmu menjulur-julur runcing. Di sisimu sebuah tas parasut yang cukup untuk memuat kotak makan siang dan botol plastik tergeletak diam dengan risluiting separuh terbuka. Tersembul ujung buku di sana.

Aku tak tahu siapa namamu dan kukira engkau pun tak tahu siapa aku. Hanya saja sudah empat kali sore kita duduk bersebelahan di bangku dingin ini sama-sama memandang laut. Tanpa basa-basi. Tanpa tegur sapa. Aku mengamatimu lewat sudut mata. Kukira kau pun melakukan hal yang sama. Tapi aku tak ingin apa-apa. Aku suka dengan suasana itu. Diam. Seolah kita telah sama-sama paham bahwa pengakhir siang di pantai ini lebih baik diisi tanpa bicara, apalagi bicara tentang segala sesuatu yang sama sekali tidak menyenangkan, rumah misalnya.

Magrib lewat. Aku tetap memandang laut yang mulai pekat. Kau tetap duduk memandang laut yang mulai pekat. Lalu Isya datang dan masjid kembali bergemuruh tetapi tak ada seorang pun yang beranjak di antara kita. Di benak tanpa bisa menahan, aku mulai menduga-duga, mungkin kau bukan orang sini. Aku pun teringat pada ibuku yang selalu sibuk menyuruh anak-anaknya berwudhuk, shalat, dan mengulang kaji. Ah, sial!

Angin menggoyang-goyangkan daun pohon kelapa yang tingginya belum seberapa. Bau jagung bakar dengan bumbunya yang gurih menyerbu hidungku. Aku lapar tapi tak bernafsu untuk makan apa-apa. Kutarik napas dalam-dalam. Menghirup malam. Aku telah tak bernafsu pada apapun. Semuanya telah membusuk. Tandas. Habis. Kosong sejak aku meludahi rumah dan ibu menggaungkan kutuk.

Nyamuk-nyamuk meneguk darahku. Meninggalkan rasa gatal yang menjengkelkan dengan paduan dengung yang memuakkan. Tapi kuacuhkan saja. Seberapa mampu mereka mengeringkan cairan tubuhku. Sampai berapa mereka sanggup mengosongkanku. Aku tetap duduk seperti patung. Engkau tetap duduk seperti patung. Entah siapa yang akan meninggalkan tempat ini lebih dulu.

*

Belum terlalu malam, kau bangkit dari duduk lalu melangkah meninggalkan bangku dingin dengan gerak tubuh yang mengharukan. Aku tak berharap kau akan mengucap ?selamat malam? atau ?selamat tinggal? sebab di antara kita seperti telah ada kesepakatan untuk saling diam. Sepertinya itulah toleransi yang paling kita butuhkan. Kusimak bunyi yang disebabkan gerakanmu. Dan lamat-lamat telingaku mendengar seperti suara sedu yang tertahan. Apakah kesedihan dan kesepian itu malam ini telah semakin nakal mengurangajarimu?

Mataku pun lepas dari laut. Kuperhatikan kau yang menapaki aspal jalan raya yang malam ini seperti berbinar. Kau mendekap tas parasut itu ke dada. Mungkin isinya buku dongeng yang sangat kaugemari di waktu kecil. Atau buku dari seseorang yang meninggalkan kenangan kekal. Atau mungkin sebuah catatan harian yang di dalamnya ada guntingan-guntingan gambar, kutipan-kutipan puisi dari lagu favorit, foto-foto, atau sekedar alamat orang-orang yang ingin kautuju bila suatu waktu menghendaki tempat yang hiruk-pikuk. Tetapi aku tidak tahu, sebab kau tidak mengeluarkannya sepanjang waktu tadi. Aku hanya sempat melihat ujungnya tersembul sedikit dari risluiting tas yang terbuka.

Tiba-tiba aku ingin sedikit bernegosiasi dengan kediaman. Maka aku pun bangkit. Merapatkan jaket. Menyantelkan ransel ke punggung. Lalu berlari kecil mencapaimu. Tapi mulutku tak bisa kukuak. Maka kudampingi saja langkahmu. Tanpa bicara. Tanpa tegur sapa. Mungkin sikap beku ini adalah kehangatan yang bisa kuberikan sekaligus kunikmati.

Kita pun berjalan bersisian. Engkau memandang ke depan sedikit merunduk. Tinggimu sebahuku. Ternyata kau lebih kurus dari kesan yang kutangkap di bangku. Tapi kemeja koboi itu menyamarkannya dengan celana yang senseng di atas mata kaki. Ah, kapan terakhir kali tanganku merengkuh?

Lampu-lampu jalan dan kendaraan membuat mukamu lebih muram. Apa yang kau risaukan? Samakah dengan apa yang kuresahkan? Sebuah kaleng minuman yang teronggok di depan langkahmu kausepak menghasilkan bunyi berisik yang menyenangkan. Ketika langkahku sampai didekatnya, aku pun menendang dengan tanpa tenaga agar ia tak terlalu jauh. Bunyi gesekannya di aspal berpadu dengan deru kendaraan yang melintas. Ngilu. Kau pun mendendangnya. Pelan. Lalu aku. Kembali kau. Aku. Dan kita sampai di persimpangan lampu merah. Mungkin di sinilah kita akan berpisah. Benar, kau membiarkan saja kaleng itu terdiam kecewa. Kau tegak menunggu angkutan kota. Saat sebuah minibus berwarna putih kusam mendekat, kau melambaikan tangan. Angkutan kota itu berhenti. Kau naik. Tanpa menoleh. Tanpa mengucap ?selamat malam? atau ?selamat tinggal?. Aku pun bisu. Hanya menatap punggungmu yang berbalut kemeja kotak-kotak itu. Kepalamu yang ditutupi topi rajut merunduk agar tak membentur bingkai pintu yang rendah. Kau duduk di tempat kosong di belakang supir. Mengangkat muka sedikit. Mata kita bertemu. Angkot itu menderu dan melaju.

Di tempat berdiri, kuangkat kaki lalu menginjak kaleng itu. Ia menjerit pilu.

*

Apakah kau sebuah karikatur tentang diriku? Aku yakin, di balik kepala yang tak berkata-kata itu begitu riuh suara saling rebut mengguncangkan hatimu. Kau batu yang memilih beku. Dan aku, aku kayu yang semakin hari semakin lisut dihisap waktu, layu, kuyu, lantas akhirnya melapuk dan musnah. Aku telah meninggalkan rumah. Kenangan hanya kusisakan pada dua lembar foto ukuran 3R yang tepi-tepinya telah lecet. Satu berisi seorang makhluk kecil yang enggan kupandang. Selembar lagi foto keluarga waktu hari raya yang warnanya telah sepia. Di gambar itu aku hanya seorang bocah berambut landak. Menggelikan sekali. Dan adik bungsuku terekam cengeng dalam gendongan ibu. Kini mungkin dia sudah lulus SMU. Foto-foto itu kusimpan dalam lipatan dokumen dan catatan kecil di kantung ransel. Anggaplah sebuah hulu dari hari ini dan hari esok. Walau dengan naif telah lama aku memancungnya. Memenggalnya bersama ikatan dengan perempuan itu yang telah memepat jalinanku dengan ibu.

Nasehat itu memang telah bertubi-tubi disumpalkan ke telingaku. Oleh kakak-adik, ayah-ibu, dan sanak-keluarga yang lain. Perempuan itu tak pantas untukku. Tapi hatiku sekeras kayu yang menjadi dinding dan tonggak rumah. Bertambah alot tahun demi tahun oleh hawa tandus yang dikuarkan ayahku. Aku mencintai perempuan itu karena dia tak pernah mereweliku yang selalu bolos pada jam pelajaran agama dan sejarah. Aku akan mengisi waktu dengan merokok di warung pangkal jembatan, main kartu, catur, atau domino, dan sesekali menenggak tuak bila ada uang banyak. Dia akan membawakan tas belelku yang isinya hanya satu atau dua buah buku tulis, pena dan stensilan teka-teki silang. Lalu kami akan keluyuran sampai lupa pada siang, sore, malam, atau pagi. Bersamanya aku tak mengenal tabu yang bagai telah menjadi undang-undang di rumah. Ayahku yang mulia itu akan murka dan mengutus seluruh anggota keluarga bila aku tak juga hadir di rumah pada batas waktu yang diberikan. Mereka mematuhinya. Mencari dan menyeretku pulang, tak peduli aku sedang bersama teman-temanku, sedang tidur nyenyak, atau sedang benci rumah. Dan perempuan itu selalu menyediakan dirinya untuk memadamkan kemarahan-kemarahanku. Setelah pengumuman kelulusan, kami memutuskan lari ke kota dan menyempurnakan kawin dengan mendatangi penghulu didampingi seorang kerabat jauhnya. Tapi hanya sampai dua tahun, dan perempuan itu meninggalkanku bersama anak kami yang wajahnya kering seperti daun tua. Dia memutuskan jadi pedagang daging.

Anak yang ditinggalkannya tak lebih liat dari topeng kayu. Ibuku mengambilnya setelah mencambukku dengan kutuk. Kutinggalkanlah rumah dan memancung masa lalu.

*

Ini sore, aku kembali mendatangi pantai dan mampir ke bangku dingin yang sudah empat kali menyatukan kita dalam suasana tanpa keributan. Engkau telah dulu tiba. Sedang membaca kertas berlipat-lipat. Mungkin surat. Aku duduk di sebelahmu. Memandangi ombak yang berguling-guling dan menubruk tanggul penahan abrasi. Burung-burung camar melayang dan terkikik. Di sepanjang pantai orang-orang tampak bahagia walau mungkin tidak tertawa. Ada yang sendiri, berdua, bertiga, bergerombolan... Ada yang duduk merenung, meneguk minuman dan makan, dan ada yang berpelukan berusap-usapan.

Kau tak memakai kemeja koboi itu lagi tetapi kaos biru pekat yang sentimentil. Yang lainnya masih sama. Sepatu balet, jins gantung, dan topi rajut warna hitam dengan ornamen segiempat-segiempat biru tua. Dan tas parasut itu tergeletak juga di sisimu. Risluitingnya ternganga. Aku melihat ujung buku tersembul. Tebal dan tak baru. Hard cover.

Matahari menukik di Barat. Angin bertiup mengendus-endus sampah yang bertebaran. Terbawa juga bau jagung bakar dengan bumbunya yang gurih. Begitu saja aku merasa lapar dan ingin makan nasi. Aneh juga. Aku tak ingat kapan terakhir kali aku makan nasi. Ah, walau telah berhasil menghapus rasa rindu pada rumah, sebenarnya aku belum berhasil menukarnya dengan yang lain. Aku tetap juga teringat pada rendang dan sambal ikan cuka masakan ibu. Semalam aku hanya mengisi perut dengan kopi dan martabak coklat yang membeku di kulkas dan pagi tadi makan mi goreng yang dibuatkan teman sepaviliun. Tapi sore ini mungkin aku sebaiknya makan jagung bakar saja. Kurang dari sepuluh meter dekat bangku ada warung tenda penjual jagung bakar. Aku tak perlu jauh-jauh mencari nasi.

Aku berdiri. Meletakkan ranselku begitu saja. Hatiku yakin kau akan memperhatikannya dan orang-orang tentu akan beranggapan bahwa kita berdua bukan dua orang asing, maka tak akan ada yang mengusik tas itu selagi kau masih duduk membaca di sana. Kubeli jagung bakar tiga. Membawanya ke bangku beserta dua botol teh dingin. Kutaruh piring plastik yang dipinjamkan si penjual jagung di antara tasmu dan tasku.

"Jangan menolak." Untuk pertama kalinya kata-kata hadir di antara kita. Aku menyerongkan duduk sehingga sedikit menghadap padamu. "Kita telah sama-sama duduk di bangku ini empat kali sore, dan ini yang kelima."

Engkau mengangkat kepala. Menoleh dari kertas berlipat-lipat yang terpegang di jejarimu yang kecil-kecil putih.

"Jangan menolak! Anggaplah kita telah lama akrab. Jadi tak perlu berkenalan atau berjabat tangan." Mulutku mendesis lagi seperti meratap. Kusisipkan pipa penyedot ke celah bibirku sambil menggeserkan botol satu lagi ke arahmu. "Kita tak perlu saling bertukar cerita tentang rahasia atau diri masing-masing. Hanya menghabiskan teh botol dan jagung ini. Aku tak akan memaksamu bercakap dan bercerita. Aku tak akan memaksamu menyebut nama atau memberitahu alamat rumah, nomor telepon, nomor handphone, alamat email, atau menanya di mana kampungmu, berapa umurmu, atau apa saja. Aku tak akan mengganggumu. Percayalah! Aku hanya minta tolong temani aku makan sore ini. Anggaplah kita bukan orang lain. Setelah itu kita bisa sama-sama kembali bungkam."

Kau kian beku. Diam bagai patung. Menatapku tetapi tak melihatku. Matamu berkerjap-kerjap. Lalu tubuhmu tersentak berdiri. Merenggut tasmu dan pergi meninggalkan bangku. Aku tersengat. Tak jadi menyentuh tongkol jagung yang tampak gurih dan lezat. Cepat-cepat aku berdiri. Merenggut ransel. Mengejarmu. Apakah aku salah?

Aku menjejerimu. Tersengal. Kau diam.

"M-ma-maaf...!"

Kau tak acuh. Berjalan dengan muka sedikit mendongak. Aku tak bisa menerjemahkan ekspresimu. Tapi sepertinya kau marah. Aku menyesal. Seharusnya aku tak merusak ?hubungan baik? di antara kita yang telah berjalan empat kali sore. Kenapa aku jadi begitu melankolis sehingga mengingkari kesendirian dan kesepian sebagai takdir yang kupilih?

"Maaf, sekali lagi maaf! Aku tak bermaksud mengganggu atau usil. Tapi baiklah, aku akan menebus kesalahanku dengan tak akan datang lagi ke bangku itu bila kau terganggu. Silakan melanjutkan kesenanganmu." Aku berhenti di jalan.

Kau tetap berjalan. Lurus. Kepalamu tetap tegak mendongak. Tapi punggungmu tampak mulai condong ke depan dan tanganmu naik ke sisi wajahmu. Apakah kau sedih oleh tingkahku?

Gelap telah jatuh. Azan Magrib bergemuruh dari masjid berkubah lima. Aku tiba-tiba ingin berbelok untuk singgah. Sekujur kakiku terasa hangat seperti baru saja dipukul ayah dengan rotan karena melawan guru mengaji yang sudah tua. Telingaku seperti mendengar ribut teman-teman masa kecil berebut wudhuk. Eja juz ?amma. Zikir dan tahlil lelaki-lelaki tua yang berirama. Aku tertegun di tepi jalan. Ibu telah menggaungkan kutuk setelah aku meludahi rumah. Apa sebaiknya aku ke pantai saja untuk menghirup sisa-sisa senja? Mungkin begitu. Aku telah memancung hulu masa lalu.

Sebuah kaleng minuman teronggok di depan langkahku. Kubiarkan saja. Percuma. Aku sendiri. Tak ada yang akan membalas menendang lagi. Tiga langkah, aku berbalik, menyepak kaleng jahanam itu kuat-kuat hingga terjungkal menabrak trotoar. Penyok.

"Maaf,"

Aku terkejut. Tahu-tahu kau telah berjalan di sampingku. Suaramu ternyata juga sama seperti suara manusia lain. Aku memandangmu. Mukamu kaku seperti relief di dinding piramid.

"Aku juga maaf."

Kita berjalan bersisian menuju pantai yang meremang. Menjauh dari bacaan imam yang nyaring. Sampai di taman pantai aku duduk di bangku dingin yang lain. Kau pun duduk di sebelahku. Diam. Memandang laut. Lama. Sampai tak ada lagi suara dari mikrofon masjid.

Lalu kau menarik risluiting tasmu. Mengeluarkan buku tebal yang ujungnya kerap tersembul itu, dan sebuah buku lain yang ukurannya lebih kecil. Meletakkannya di atas bangku antara tasmu dan tasku.

"Aku sedang berada di persimpangan jalan."

Walau lindap, aku dapat segera mengenal kedua buku itu. Kutatap matamu. Serta-merta aku melihat kubah-kubah tinggi. Telingaku menangkap jerit azan dan irama genta yang putus-putus.

Kau diam. Aku diam.***

Ilalangsenja, Mei 2006