Dukun Perempuan di Kereta Malam

Minggu, 15 November 2009 by: Forum Lingkar Pena

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Surabaya Post 09/06/2009



Lima belas tahun, tentu bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah rumahtangga. Asam-garam kehidupan berkeluarga kapalan terkecap. Sudah teruji. Tetapi adakah yang mau percaya dengan apa yang Yuk Ida ceritakan padaku malam tadi? Dalam kurun waktu itu Yuk Ida hidup bersama Saipul—demikian ia menyebut suaminya. Namun, tak jua berhasil ia meyakinkan diri bahwa laki-laki itu adalah jodohnya. Oh, benarkah cinta itu tak tumbuh oleh sebuah kebersamaan, belasan tahun sekalipun?

Bagaimana bisa? Aku sudah mendahului kalian untuk menyuatkan tanya itu.

Yuk Ida tesenyum. Aku sudah menduga kau akan melempar pertanyaan itu dengan serta merta, demikian arti guratan tipis bibirnya itu.

Dahiku masih berlipat tiga; bibirku masih setengah mengatup; telingaku makin awas: Aku menunggu ia menuntaskan cerita.

Beberapa pengamen melintas. Anggap saja iklan, kataku sembari merapatkan mulut dan menabingkan telapak tangan dekat sebelah telinganya. Tak mungkin kami melanjutkan percakapan ketika suara setengah parau beberapa pemuda memekakkan telinga. Uh, inilah resiko bepergian dengan kereta (demikian kereta api biasa disingkat) kelas bisnis—kelas yang hanya ada untuk keberangkatan malam. Pedagang asongan dan pengamen bergerombolan menyesaki gerbong ketika kereta berhenti menurunkan—sekaligus menaikkan—penumpang. Untung saja, Yuk Ida duduk dekat jendela, jadi ia dapat memandang lepas keadaan di luar kereta. Ya, dari pembukaan ceritanya, perempuan itu selayaknya membutuhkan keheningan, dalam kereta sekalipun.

Kereta bergemerudupan. Berangkat. Kami baru saja meninggalkan Prabumulih.

”Rio dan Bayu.” Ia menyebut nama kedua putranya yang katanya masih SMP itu, ketika kutanya perihal anak-anaknya. Selanjutnya justru ia yang mencecarku dengan ceritanya yang—apabila ia tahu—membuatku merasa harus mempertimbangkan kembali keputusan besar yang diambil Abah.

”Entah mengapa,” katanya, ”sangat sulit bagiku untuk menjalani kebersamaan itu layaknya pasangan yang ditakdirkan menjadi halal, yang sudah beranak-pinak. ”

Kucoba menelaah kata-katanya.

”Oh, kau masih 25-an,” katanya sembari tersenyum tipis ketika kunyatakan—setengah menelisik: Tidakkah kehadiran Rio dan Bayu adalah bukti bahwa mereka—terutama perempuan itu, telah melupakan perihal ’sulitnya mencintai itu’?.

”Cinta bukan hanya masalah ranjang, bukan?”

Mukaku bersemu merah.

”Aku orang rantau.” Ia berusaha mengalihkan pembicaraan. ”Aku seakan jadi korban mantra-mantra. Dan aku yakin itu. Tapi, ia adalah laki-laki yang baik, walaupun ia tak pernah membuatku merasa nyaman.”

Aku menoleh.

”Ya. Dan aku pun yakin bahwa aku tak pernah membuatnya merasa nyaman.”

”Maaf, mengapa tak ada yang mencoba mengalah. Mmm... maksudku berinisiatif menciptakan kebersamaan. Makan malam bersama mungkin?”

”Jadi kau pikir kami terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing?”

Aku menyeringai.

”Magrib kami pasti berkumpul, termasuk anak-anak. Solat berjama’ah.”

”Nah itu bisa, Yuk.”

”Kami tidak bersitatap ketika solat, bukan? Lagipula, Tuhan yang kami ajak bicara.”

Aku makin bingung.

”Entah siapa yang memulai. Kami sering makan di saat yang sama, tapi tidak bersama-sama.”

”Maksud, Ayuk?”

”Tempat favoritku di depan TV. Ia di ruang tengah. Lain lagi dengan anak-anak: makan acapkali di beranda atau di kamar masing-masing.”

”Ooo... jadi anak-anak pun...”

”Jangan kaupikir, kami, apalagi aku, mengajarinya untuk tidak melakukan banyak hal secara bersama-sama. Alami saja.”

”Tapi kan, di rumah, apa-apa yang Ayuk dan Kakak lakukan akan menjadi sumber pertama seperti apa mereka harus berperilaku.”

”Ai, teori nian bunyi kata-kata kau tu! Mereka sudah terbiasa dengan keluarganya yang tak seperti kebanyakan.”

Aku menyerah.

Kereta kami memasuki Lahat. Kembali, kereta menjadi pasar. Seorang penjaja Teka Teki Silang setengah memaksa menjejaliku setumpukan stensilan jilidan itu, sebelum posisinya tergeser oleh penjaja yang lain: nasi rendang, nasi ayam, tisu, aqua, rokok, pempek, bakwan dingin.... Beberapa balita yang merasa terganggu mulai menyaingi teriakan para penjaja. Yuk Ida buru-buru menyuruhku mengangkat kedua kaki ketika sedikit air agak kuning (pasti masih hangat kalau disentuh) mengalir di bawah tempat duduk kami. Balita ibu yang duduk di depan kami baru saja pipis—sembarangan. Oh untung, salah satu di antara kami tak ada yang memanfaatkan ruang kosong di antara dudukan untuk tidur menggelepar seperti yang dilakukan sebagian penumpang.

Pesan pendek masuk. Entah mengapa, jantungku berdebar. Aku melenguh. Melepas napas agak panjang setelah membaca isinya.

”Dari siapa?”

Aku tersenyum sebelum menjawab, ”Calon istriku.”

”Sudah lama pacaran?”

Aku diam. Pura-pura tak mendengar. Suaranya memang berbarengan dengan himbauan petugas stasiun yang menyuruh para pedagang dan pengamen meninggalkan kereta yang akan segera berangkat.

”O, kau belum bertanya perihal proses pernikahan kami, kan?” ia menawarkan kisahnya.

Detak jantungku yang mulai normal kembali berdebar.

”Kami dulu dijodohkan!”

Ia seolah menyinggungku. Aku meneguk liur. Cepat-cepat kusumringahkan air muka. ”Kami sudah lama pacaran kok,” aku menantangnya.

”Via SMS saja?”

Aku diam.

”Kami dulu dijodohkan,” Ia mengulang kalimat itu setengah bergumam. ”Aku yakin. Dulu, orangtuaku, atau bahkan aku, diguna-gunai. Maka, akan kubalas pada orang-orang yang berjodoh dengan keponakan-keponakanku kelak!” Tatapannya tajam bagai mencari-cari mataku. Wajahku agak memias. Kupalingkan muka.

”Heh,” ia menyeringai. ”Aku sudah belasan tahun berumahtangga. Tak usah kau berbohong. Tak adil! Kau tak menghargaiku!”

Aku sedikit terkejut dengan kata-katanya itu. Terlebih diutarakan dengan nada yang tinggi. Marahkah ia? Marah? Apa haknya?

”Ketika kita sama-sama membebankan tubuh pada jok kereta yang tak empuk lagi ini, kita sudah mulai berkenalan. Sejak dari Palembang tadi, bukan? Tak hanya ada kepercayaan, namun juga ada kedekatan yang tiba-tiba. Aku sudah menganggapmu layak menerima cerita hidupku yang kelam. Kau sudah dapat amanah! Bagaimana kau khawatir bahwa seorang induk penyu akan membunuh anaknya setelah dilahirkannya? Tak ada dalam sejarah, bukan?”

Hening. Oh, mengapa aku tak berkutik seperti ini?!

Perempuan itu terus berkicau. Aku merasa tengah sebangku dengan seorang nenek sihir. Sungguh! Aku hanya bisa diam: tindakan yang aman untuk menunjukkan ya atau tidak-nya aku terhadap semua-mua yang dikoarkannya. Hingga sampailah ia pada kalimat yang menyedakku: ia menyebut Tulung Silapan, Lintang, Selangit, Lubuk Aman... dan beberapa daerah lain di Sumatera Selatan, dengan lirih. Ia melafalnya lamat-lamat seolah ingin menguatkan kesan yang kadung melekat pada daerah-daerah itu. Daerah hitam! Daerah yang akan menjadi sasaran tujumannya!

”Bila kau tiba-tiba merasai senang yang ganjil terhadap gadis dari daerah-daerah itu. Kau akan bisa menduga alamat nasibmu bila berkeluarga kelak. hahahaha...”

Aku bergidik. Bukan, bukan karena salah satu daerah yang ia sebut itu adalah kampungku. Namun... aku tiba-tiba saja khawatir kalau-kalau gadis yang dijodohkan Abah denganku itu berasal dari salah satu daerah yang Yuk Ida sebutkan tadi. Oh, adakah mungkin orangtuaku (terlebih Abah) diguna-gunai hingga menjodohkanku dengannya. Oh, mengapa tiba-tiba aku sangat memercayai kata-kata Yuk Ida?! (Mana congkakmu yang tidak percaya perihal dukun-dukunan itu, hah?!).

Aku berusaha mengingat silsilah gadis yang dijodohkan Abah denganku itu. O o, mengapa tak pernah terpikir olehku untuk menanyakan hal itu?! Cepat-cepat kuketik pesan pendek pada Abah. Tentu saja, sebisa mungkin kususun kalimat yang tak membuatnya curiga, demi meyakinkan adakah calonku—atau paling tidak riwayat keluarganya—berasal dari salah satu daerah yang disebutkan Yuk Ida. Pesan terkirim. Tak lama, sinyal hilang. O, aku harus bersabar menunggu balasan. Lagipula, ini pukul tiga malam. Akan segera dibalaskah SMSku itu?

”Ayuk turun di mana?” ujarku dengan senyum dipaksa. Kereta baru saja berhenti di Tebingtinggi.

Ia tak menjawab. Ia sibuk mengemasi barang-bawaannya. Ia akan turun? Di luar jendela, kulihat seorang laki-laki dengan dua orang anak berusia belasan, melambaikan tangan pada Yuk Ida. Bukankah ia tadi bilang bahwa hubungan dengan suaminya tak lagi hangat?

”Heh, Saipul baru saja kukirimi mantra Mak Lamong dari Pesisir. Giliran laki pula yang jadi budak bininya,” ujarnya seolah membaca pikiranku.


***

AKU tergeragap ketika seorang penumpang membangunkanku. Kereta sudah sampai Linggau. Sakuku bergetar. Sebuah panggilan. Abah. Awalnya aku bersyukur ketika Abah mengatakan keluarga gadis itu tidak berasal dari satu pun daerah yang disebutkan Yuk Ida. Namun tak berselang lama, badanku tiba-tiba lemas demi mendengar kata-kata Abah selanjutnya, kata-kata yang diucapkannya dengan tergesa-gesa.

”Kata makmu, langsung saja kau ke rumah Nisa! Temani bakal binimu itu ke Tebingtinggi. Pukul 12 malam tadi Bi Ida, bibinya, meninggal dunia!”

”???!!!!”

Oh, Yuk Ida bibinya Nisa?! Bukankah hingga pukul tiga malam tadi aku masih bercakap dengannya? Atau ini Ida yang lain?

”Aku yakin. Dulu, orangtuaku, atau bahkan aku, diguna-gunai. Maka, akan kubalas pada orang-orang yang berjodoh dengan keponakan-keponakanku kelak!” Masih kuingat persis bagaimana Yuk Ida mengucapkan kata-kata itu. Oh, adakah ancaman perempuan itu masih berlaku meskipun ia sudah mati? Perasaanku kalut.***

/Lubuklinggau, 16 Juni 2009