Di kampungku, Tana Toraja, aura kematian sering kali berembus seperti angin. Jika terlihat secarik kain putih melambai di halaman tongkonan, itu pertanda ada orang yang masih hidup meski sudah mati, ”to makula”. Di sini, kematian dirayakan dengan biaya yang tak sedikit.Inilah akibatnya.
Sudah hampir sepuluh tahun Ambe terbaring di dalam erong, seolah menanti upacara rambu solo yang tak kunjung dilaksanakan oleh sanak keluarga. Sebab, tak ada dana atau belum dan jauh dari mencukupi walau kami tengah mengupayakannya. Hingga hari ini.
Pagi tak lagi halimun. Kulihat Indo sedang sarapan dengan Ambe yang masih sakit, terbujur kaku di dalam peti mati itu. Nyawanya menjelma arwah, tapi tetap tinggal kendati tidak menyatu dengan jasad. Menderitakah ia menjadi bombo?
”Selamat pagi, Ambe. Aku mau berangkat.”
Cahaya matahari, yang bangkit menembus celah dinding di sumbung, menimpa tubuh Ambe yang susut dan pakaian kebesarannya tampak berdebu.
”Hati-hati, Anakku. Semoga dalle-mu hari ini berkah. Berkat dari langit.” Jawaban Indo seperti doa.
Sering kulihat rona wajahnya tak ada duka meski ia sudah lama berkabung. Mungkin karena itu hatinya tak lagi berkabut. Menjalani hari dengan bahagia walau keadaan seperti ini. Ia mengantar kepergianku sampai depan pintu. Aku tahu, ia selalu menaruh harap agar aku cepat dapat uang untuk upacara kematian Ambe. Letihkah Indo merawat Ambe?
Cuma tongkonan ini yang kami punya atau yang tersisa. Indo hanya istri kedua Ambe. Katanya, dulu banyak kerabat tidak setuju ketika mereka menikah dan kakak-kakak tiriku menerima dengan syarat menuntut pembagian harta sebagai ahli waris mendiang ibu mereka. Sekarang, Ambe tak memiliki harta peninggalan, bahkan buat perayaan kematiannya sendiri. Anak-anaknya terdahulu pun seperti tak peduli. Tinggallah aku dan Indo yang menanggung beban. Berat, entah sampai kapan kami mampu menahan.
Aku pulang membawa hasil yang lebih dari biasanya walau aku tidak menjadi guide. Lumayan. Ukir-ukiran aku hampir habis dan beberapa lembar tenunan Indo laku. Dibeli oleh turis asing dan lokal yang lalu lalang. Sebenarnya masih siang meski sudah menjelang sore. Dan, aku mendapatkan kejutan kecil.
Margaretha Sua datang berkunjung. Dari Makale ke Rantepao menempuh jarak yang tak jauh. Ia perempuan mamasa dan sudah jadi pegawai. Akhir-akhir ini aku jarang bertemu dengannya. Kami tidak sering bersama setelah ia pindah mengikuti orangtuanya. Kami duduk di kolong alang. Alih-alih melepas rindu, wajahnya malah mendung membawa kabar tak baik.
”Upta, dia ingin segera melamarku,” segan perempuan itu berucap. Bibirnya seperti bunga yang kusuka, tapi ia mengeluarkan sengat.
”Kau mau menerimanya?” Aku mengumpulkan perasaanku yang tadi berhamburan untuk mengatakan itu.
”Aku cuma dikasih waktu sedikit buat berpikir,” ujarnya pelan dan tergugu, barangkali isak.
”Etha, bilang saja kalau kita hanya bisa sampai di sini.” Aku terempas seperti udara sisa di hidungnya.
Margaretha Sua menatapku kisruh, ”Aku tidak mau jadi biarawati.”
Ia terlalu dirasuki cerita tantenya yang hidup selibat lantaran ditinggalkan kekasihnya yang tak mau menunggu. Upacara kematian bapaknya, kakek Margaretha Sua, tertunda lama. Kini perempuan di hadapanku takut berlomba dengan kematian neneknya.
”Maafkan aku.”
”Aku yang minta maaf.”
Margaretha Sua pergi, pelan-pelan mengabur dari penglihatanku ditelan tikungan jalan. Mungkin ia membawa luka atau lega? Ia seperti tidak setia.
Petang di ambang hari. Senja melumuri langit. Seketika bayangan gelap datang dari barat. Sementara aku tengah memandang di bukit utara itu yang dipenuhi tebing-tebing. Gunung-gunung batu yang di kakinya rimbun belukar rimba. Semak-semak raksasa yang tak habis untuk dikuak.
Mungkin Tuhan menjelma hutan hingga belantara itu dihuni arwah-arwah. Segala yang sudah mati hidup di sana seperti alam baka. Rindukah Ambe untuk ke sana sebagai tomembali puang? Bergabung dengan tau-tauyang asyik bertengger atau bernaung di pohon-pohon suaka ketika malam tiba bagai mengulang masa kanaknya. Seperti apakah kehidupan di puya?
Dan, sampai kapan aku harus menanggung? Tabunganku tidak akan genap sekeras apa pun aku berusaha. Maafkan aku, Ambe, bila aku mengeluh. Aku sedang patah hati, mungkin putus asa. Indo tidak bisa dibujuk.
”Adalah larangan melakukan rambu tuka, apalagi rampanan kappa, apabila rambu solo belum diselenggarakan. Ambemu masih sakit. Rohnya masih terkatung-katung di alam sana.” Kata Indo seolah memegang kukuh wasiat Ambe. Tapi, aku menerka ini kemauannya.
”Kenapa? Apakah itu menyalahi aluk?” Aku tak tahu apa aku sedang menggugat adat yang aku yakini sendiri.
”Itu sama saja kau meminta hakmu tanpa menunaikan kewajibanmu sebagai anak.” Indo seolah berkata, tunjukkan baktimu.
”Dulu Ambe pernah bilang padaku, hidup itu untuk mati. Dunia ini tempat persinggahan dan mati adalah pintu ke puya, di kehidupan yang sesungguhnya,” jelasku punya maksud
”Iya, itu betul. Lantas?” kejar Indo mencium niatku.
”Kata Ambe carilah bekal, dalle buat mati. Biar kelak tidak menyusahkan keturunanmu. Seharusnya Ambe juga begitu.” Aku tertunduk sebab lancang, ada sesal yang hinggap. Aku tak berani melihat Indo yang mungkin tengah membelalakkan mata, tak menyangka.
”Indo merasa tidak pernah kurang mengajarimu, Upta.” Ia memanggil namaku seakan aku bukan anaknya lagi. Dapat kudengar hela embusnya kecewa, ”Ambemu perlu kunci untuk membuka pintu ke puya, rambu solo. Perjalanan ke sana jauh sekali butuh kendaraan, tedong bonga, agar cepat sampai.”
”Beberapa babi dan seekor kerbau aku kira sudah cukup, Indo. Tedong bonga ratusan juta harganya. Kita mana sanggup.”
”Kau ini! Ambemu keturunan tana bulaan. Bukan orang sembarangan. Kalau cuma itu, sudah dari dulu Indo melakukan rambu solo. Tak perlu menunggu bertahun-tahun. Dengar, Upta. Ini bukan asal upacara, tapi martabat yang mesti dijunjung. Kau tahu itu! Ambemu akan tersesat karena ulahmu.” Suara Indo melangit seperti bulan yang pongah.
”Aku lebih bangga kau merantau ke Papua. Di sana kau bisa dapat uang banyak ketimbang di sini. Atau kau mau mati di sana, terserah.” Indo bicara terus sebab aku seperti patung, kepala batu. Indo kenal sekali tabiatku, kalau ada mau diam tapi rusuh.
”Kau tidak bakal ada di dunia ini kalau tak ada Ambemu yang meminta kau dilahirkan.” Indo berkata tega. Napasnya panas. Kubayangkan, dulu mungkin ia hendak menggugurkan dan menguburkanku di pohon nangka, tapi dicegah oleh Ambe. Keberadaanku kau tampik, benarkah kabar itu?
”Matahari siang dan bulan malam tidak pernah bertemu. Kalau sampai itu terjadi, itu artinya kiamat! Kau boleh menikah, tapi bukan di tongkonan ini dan tanpa restu dariku,” cetusnya mengancam. Indo menarik kakinya pergi ke sumbung, kebiasaannya sesenggukan di sana. Meratapi Ambe dan nasib. Atau masa lalu yang berusaha ia tutup dan simpan.
Malam benar-benar rindang. Beberapa kerabat dan tetangga datang. Kami main kartu sampai suntuk. Aku menyuguhkan kopi dan penganan seadanya. Mereka membawa ballo. Sunyi dingin meruap.
”Upta Liman, itu bukan sepenuhnya bebanmu dan keputusan ada di tangan kakak-kakakmu yang telah abai di perantauan,” ujar Tato Randa bijak. Ia pamanku dari pihak Indo dan teman Ambe sebagai pemangku adat.
”Seperti bukan orang Toraja saja mereka itu. Mabuk di kampung orang sampai lupa kampung sendiri,” imbuh Urru, teman seprofesiku yang sudah oleng. Entah berapa gelas tuak ia tenggak.
”Kewajibanmu cuma mengingatkan meski kau harus menanggung belasungkawa yang menunda kegembiraan di tongkonan ini,” lanjut Tato Randa. Menimbulkan tanya di benakku yang keruh. Adakah rahasia yang kalian taruh?
”Kecuali kalau Indomu rela memutus hubungan dengan membayar nilai salah yang tak seberapa,” celetuk Tante Ully tak dinyana. Tanteku ini perempuan tua yang agak lain pikirannya. Ia melenggang setelah mendapat isyarat diam dari yang hadir selain aku, pergi menemani Indo di kamar. Matanya bicara padaku.
Kami kembali melanjutkan berembuk, tapi aku tidak berminat lagi. Mereka membujuk.
”Kontaklah saudara-saudaramu itu untuk segera pulang. Urusan ini harus lekas dibereskan. Kami di sini sudah siap memberikan bantuan. Nanti kami ajukan proposal ke pemda buat diikutkan program pariwisata Natal dan Tahun Baru. Babi-babi dan kerbau akan kami sumbangkan. Kurangnya kalian usahakanlah.”
Ah, bantuan ini adalah utang moral. Bakal malu jika tidak bisa mengembalikan, ketika kelak di antara mereka ada yang meninggal. Setara atau lebih dan aib akan aku tanggung bila tak mampu. Masih sakralkah perayaan kematian ini? Mereka pamit.
”Indomu sulit berdamai dengan masa lalunya. Dulu ia berbuat dosa dan mencari selamat. Orang-orang kampung tak jadi mengusirnya. Ketahuilah dari silsilah,” bisik Tante Ully sebelum pulang. Selain kakak-kakak tiriku, yang aku tahu Ambe pernah menikah dengan janda kaya punya satu anak yang tak pernah kulihat dan tidak kutahu keberadaannya.
Ambe dari manakah aku mulai merunut? Kini aku berbaring lelap di sebelahmu. Hendak menerima jawab.
”Kenapa Ambe menikahi Indo?” tanyaku seakan rohnya masih bersemayam dalam tubuh.
”Karena aku mencintai Indomu.”
Lama kutatap Ambe. Kuperhatikan saksama.
”Apakah Indo mencintai Ambe?”
Sebab ia terlalu lansia buat jadi Ambe.
”Tanyakan itu pada Indomu.”
Ia seolah tersenyum serupa sunggingan orang yang tidak punya gigi. Aku terjaga.
Pagiku dibuka dengan kedatangan tamu. Ribut, suara Indo ramai di halaman ketika aku menuruni tangga. Lelaki itu lagaknya seperti turis lokal dengan badan tambun. Tubuh Indo bergetar, kusut dan berantakan, menghalanginya masuk.
”Aku punya hak atas rumah tongkonan ini, aku ahli warisnya!” tuntutnya tanpa melepas kacamata riben di wajahnya.
”Kamu siapa?” aku maju di muka Indo.
”Aku anak dulu dari Indoku. Istri pertama Ambemu. Tongkonan ini akan kujual. Pembelinya sudah ada. Sertifikatnya masih atas namaku, belum ada balik nama.” Jelasnya beruntun.
”Rantedoping, ahli waris sudah berpindah tangan sejak kau pergi dan tak ada kabar. Biar nanti adat yang menentukan.” Indo bersikeras.
”Siapa ahli warisnya, kau?”
”Bukan. Upta Liman, anakmu.”
Baru kulihat airmata Indo menetes. Lelaki itu menatapku nanap dan aku terlongo saat Indo hampir rebah pingsan. Kupeluk Indo yang begitu ringkih.
Toddopuli 2 STP 8
Catatan:
Ambe: ayah
Indo: ibu
Tongkonan: rumah adat orang Toraja
To makula: orang mati yang belum diupacarakan, masih dianggap sakit
Erong: peti mati
Rambu solo: upacara kematian khas Toraja
Bombo: roh yang menunggu upacara
Sumbung: bagian belakang rumah tempat menyimpan mayat
Dalle: rezeki
Alang: tempat menyimpan padi miniatur tongkonan
Rambu tuka: upacara kegembiraan
Rampanan kappa: pesta pernikahan
Aluk: adat
Tomembali puang: roh yang sudah diupacarakan berwujud setengah dewa
Tau-tau: boneka kayu, wujudnya menyerupai orang yang diupacarakan
Puya: surga
Ballo: tuak
Tana bulaan: kaum bangsawan tertinggi
Juara 2 LMCR LIP ICE-Selsun Golden Award 2007 PT ROHTO
Dewata, aku mencintainya. Kurasakan telaga asmara yang tidak kutemukan pada seorang gadis yang menaruh hati padaku. Maka dari itu, aku tak pantas menjadi seorang bissu. Kesucian telah kunodai. Pantangan pernah kuperbuat. Kodrat dan tradisi sudah kulanggar. Aku tidak mau hidup gila atau mati sia-sia!
Lantas, masih adakah pengampunan di sana?
Pagi yang luka. Bunga kuncup diselimuti kabut. Embun meretas pada tepian rumput, terinjak basah meruapkan bau tanah. Langkahku gontai di subuh yang buta. Menapaki hutan, pepohonan yang mengggigil. Menuju Sungai Segeri.
Aku tak pernah tahu kalau hidupku menimbulkan petaka!
Kata orang-orang aku ditemukan mengeak di keheningan malam di lego-lego Mak Rappe, sanro di kampung ini. Aku diasuh, dirawat, dididik, dan dibesarkan olehnya. Menemani masa tuanya yang melajang hingga sekarang aku dewasa.
Mak Rappe adalah putri bangsawan bergelar Andi Petta. Dulu di masa mudanya pernah jatuh cinta dengan lelaki dari golongan rakyat jelata. Ia tak bisa menikah dengan belahan jiwanya itu, lantaran keturunannya nanti tidak akan mewarisi darah birunya. Sebab lainnya, lelaki itu lebih memilih menjadi orang suci yang berdarah putih. Menjadi keturunan Dewa di bumi.
Tetapi kini mereka berdampingan. Mak Rappe telah menjabat sebagai Puang Lolo, menyertai Puang Matoa Rala, kekasihnya itu di setiap upacara. Mereka adalah bissu titisan Datu Patoto yang diakui dan disegani oleh segelintir orang di tanah bugis.
Dan aku tak perlu tahu siapa orang tuaku, karena alam begitu setia menyimpan rahasia.
Tamat dari Madrasah Aliyah aku langsung dikurung di bola arajang, diajarkan adat-istiadat yang telah lama dilupakan orang, ajaran pribumi. Aku magang dalam waktu yang lama, sampai aku bermimpi sebagai penanda aku direstui Dewata untuk menjadi seorang bissu. Dalam mimpiku roh leluhur mendatangiku dengan pakaian serba bercahaya, berkilauan membuat mataku silau. Berbicara dengan basa torilangi yang tidak kumengerti. Meludahi mulutku sebelum pergi ditelan kelam. Ketika aku bangun, Puang Matoa Rala sudah berada di sampingku dan segera memberitahukan pada seluruh penghuni bola arajang bahwa aku sudah siap irreba, ritual yang harus kulalui untuk ditahbiskan menjadi bissu sejati. Kuhindari tatapan Muharram yang menghunjam penuh arti namun sulit kutafsirkan. Ah, Aram, matamu begitu runcing menusuk sanubari.
Esoknya Mak Rappe datang bersama Mak Rabia dan Maulida. Berlinang air mata ia merasakan kebahagiaan tiada tara sambil menyerahkan harta benda untuk upacara adat ini. Aku diwajibkan berpuasa selama tujuh hari sebagai awal prosesi irreba dan diasingkan di sebuah rakit berbentuk gubuk di tengah danau. Menginap tanpa makan, minum dan bergerak. Di sini aku bertapa, merasakan nestapa.
Betapa di hari-hari yang menyedihkan ini, aku butuh kehadiran Maulida, lalu bercerita bahwa aku tidak bahagia dengan semua ini. Bukan ini yang kuinginkan. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Semua orang mencemoohku karena aku calabai, laki-laki yang berperangai seperti perempuan. Kata mereka aku pembawa sial, 40 hari 40 malam tidak mendapatkan rezeki serta amal baiknya tidak diterima pahalanya oleh Allah, akan menimpa mereka yang melihatku. Aku jadi bahan olok-olokan, diusir dan dilempari batu di jalanan bagai orang gila. Banyak orang sepertiku dan diperlakukan sama. Bahkan dianggap lebih najis dari anjing, yang layak disiram dengan air comberan.
Para pengiringku telah pergi. Di sini aku berkawan sepi dan sunyi ketika malam. Di ruang pengap ini tak ada pagi, siang, dan sore bagiku karena kukatupkan mata. Gelap adalah kehidupanku sebelum cahaya memancar di wajahku. Aku mencoba menyatu dengan semesta, tapi tak bisa. Terlalu banyak peristiwa yang berkelebat di pikiran. Mungkin tulus hatiku belum murni.
Terus terang aku melakukan semua ini untuk Mak Rappe. Sebagai anak terbuang yang dipungut, sudah sepantasnya aku balas jasa. Besar harapan aku bisa mewarisi kesaktiannya, mempertahankan adat ini sebagai penerus. Agar aku tidak diremehkan. Tujuannya sangat mulia, mengangkat derajatku supaya aku punya siri, harga diri dan kehormatan yang telah tanggal semenjak aku lahir.
Sungguh, semangatku membuncah mengikuti bimbingan Puang Matoa Rala saat Muharram, keponakannya, tinggal bersamaku di bola arajang. Kedua orang tuanya meninggal di tanah suci Makkah. Puang Matoa Rala kemudian menjadi walinya dan memegang kendali harta warisnya. Kenangan di masa-masa sekolah dulu terulang kembali. Pertemuan-pertemuan rahasia kami tak ada yang tahu. Begitu pula dengan perasaan kami yang saling jatuh cinta. Ia berjanji akan mendampingiku sebagai toboto setelah aku menjelma bissu yang sakti. Diam-diam aku menggunakan naga sikoi, jimat pekasih untuk mempererat hubungan kami. Kuucapkan mantra,
“Tubunna Aram tellengi ritubukku, atinna Aram tellengi riatikku, nyawana Aram tellengi rinyawaku, papujinna Aram rialeku mapada papujinna nyawae ritubue.”
Akan tetapi, semuanya hancur berkeping-keping ketika Puang Matoa Rala mencium kelakuan kami. Rapat digelar. Mereka berembuk tentang hukuman apa yang patut kami terima sebab telah mengotori bola arajang, biar para leluhur tidak murka.
Disepakati Muharram akan dinikahkan dengan Maulida, lalu aku dikucilkan di danau ini!
Muharram dan Maulida adalah temanku sejak kecil. Kami selalu bersama; bersekolah, bermain, dan mengaji. Muharram siap membela jika ada yang mengusiliku. Maulida akan menghiburku ketika tak bisa kutahan tangis yang bercucuran.
“Calabaimi ropale wasetongi anadara...!”
Begitu para pemuda mengejekku. Dan kedua sahabatku ini senantiasa ada untukku.
Pulang dari sekolah kami sering berkumpul di rumah Mak Rabia untuk mengaji. Sebelum mengaji, kami diberi tugas masing-masing. Muharram mencari kayu di hutan dan memikulnya di bahu. Aku mengambil air seember di pancuran bambu yang lumayan jauh dari rumah Mak Rabia, dan membawanya dengan cara menjunjung di atas kepala. Sedangkan Maulida menumbuk beras atau tepung di lesung batu di kolong rumah. Kerap kali antara aku dan Maulida berganti tugas. Kadang kala juga ikut mencari ranting kayu di hutan, memungut dahan-dahan pohon yang jatuh kering. Setelah itu kami berwudu, memakai sarung lalu mengaji.
“Alefu riasena… A, alefu riawana… I, alefu dafenna… U, aaa iii uuu! Ba riasena… Ba, ba riawana… Bi, ba dafenna… Bu, baa bii buu!”
Begitulah mulut mungil kami mengeja huruf-huruf hijaiyyah.
Mak Rabia adalah mak Maulida serta makku juga karena kami saudara sesusuan. Ia seorang janda. Suaminya mati hangus terkena lette ketika membajak sawah di hujan yang membadai. Itu sebabnya Maulida tak melanjutkan sekolah karena tak ada biaya. Aku masuk pesantren Muhammadiyah. Sementara Muharram di sekolah negeri. Persahabatan kami agak renggang sewaktu tumbuh dewasa dan berubah menjadi perasaan yang lain.
Malam merayap gulita. Nyanyian binatang kelam berirama dengan gemericik air yang dimainkan ikan di sekelilingku. Danau angker ini dikerumuni bakau dan berlumpur. Sangat jelas kudengar letupan mata air yang bergelembung serta jalan kepiting yang merangkak. Ada kodok memimpin keriuhan malam. Sesekali lolongan anjing menimpali, meraung-raung di kejauhan. Barangkali ada babi hutan mengamuk di tengah rimba mengorek-ngorek mencari makan. Ini malam yang terakhir, besok aku dijemput.
Tiba-tiba, bunyi kecipak air disampan mengusik telingaku. Dadaku berdebar saat seseorang memanggil namaku.
“Sangkala aku datang...!”
Meremang bulu romaku. Bukan karena takut. Bukan pula karena leluhur mendatangiku.
“Buat apa kau ke sini?”
Kain tanpa jahitan yang membungkus tubuhku tersibak. Rambut panjangku luruh menjuntai sampai ke bahu menghiasi parasku. Cenning rara melingkupi. Matanya menjilati kepolosanku.
“Untuk membuktikan cintaku padamu!”
Lelaki kekar itu mendekat, ingin menyentuh wajahku. Kutepis dengan gerakan lemah tak bertenaga. Ia berhasil merenggut rambutku membuat mukaku mendongak. Ia milik sahabatku yang kukagumi.
“Pergilah Aram, Maulida menunggumu.”
“Kau salah! Dia menampikku. Aku butuh....”
Aku tidak menolak ketika Muharram mengikuti dorongan nalurinya menyelusuri tubuhku yang meremang ini. Aku hanyut terbawa arus perasaan yang lena. Kuresapi kenangan, memasuki lorong waktu. Kami selalu mencuri-curi kesempatan di hari libur, mandi bersama di sungai di balik semak belukar, setelah badannya yang berotot menampung segukku. Sikapnya yang peduli, perhatian, dan rela mendengarkan keluh kesahku, membuahkan perasaan tak terbendung, menyelinap pada dawai hati yang berdebar. Aku menyukai aroma peluhnya sehabis kerja di sawah. Kulitnya yang legam sangat berbeda dengan kulitku yang seputih gading. Kami berpandangan dalam diam waktu itu. Kemudian saling menyentuh tanpa kata-kata. Dan kini, kuteguk kenikmatan yang sama ketika keperkasaannya membobol tubuhku dengan cairan metahnya. Oh Dewata, aku takut mendapat karma. Bayang-bayang siksaan mencambuk hatiku. Cemas tak berujung. Muharram menatapku lekat.
“Aku akan merantau, ikutlah denganku.”
“Tidak Aram. Aku tidak mau lepas dari tanggung jawab. Semoga para makhluk menutup mata saat kita melakukannya. Ini rahasia kita dengan para leluhur, dan aku perlu berbagai ragam ritual untuk memohon ampun.”
Dini hari ia meninggalkanku dengan goresan luka di hatiku. Aku sangat mencintainya. Namun kehidupan dunia tak mengijinkan. Aku berharap, kelak di negeri khayangan Batara Guru merestui hubungan kami.
Melihat diriku yang lusuh; kain koyak, rambut awut-awutan, aku disangka telah dimasuki roh makhluk halus. Aku digiring kembali menuju bola arajang. Tiba ketika malam makin larut.
Rumah panggung beratap rumbia berbentuk segi empat dengan dinding anyaman bambu sudah tampak ramai seperti ada perhelatan. Tiang-tiang penyangga rumah berdiri kokoh dihiasi lampu minyak. Di kolong rumah pagenrang menabuh gendang menghentak-hentak mengiringi langkahku menaiki rumah. Aku disambut dengan suka cita. Dilempari butiran beras disetiap tangga yang kudaki.
Dalam rumah, para jennang berkeliaran menyiapkan upacara. Tikar terhampar. Panati mengatur sesajen berupa dupa, minyak bauk, tana bangkala, sokko patanrupa, tiga butir telur, beberapa sisir pisang, ayam masak yang telah dicabut bulunya, diletakkan di lempengan besi berwarna emas berbentuk piring berbagai ukuran. Sebuah anca, pohon buatan yang terbuat dari pucuk ijuk menjuntai, menaungi sesajen itu. Aku duduk pasrah serupa tersangka yang hendak dihakimi. Di hadapanku Puang Matoa Rala bersila membaca kitab kuno dengan basa torilangi. Mengenakan pakaian kebesarannya lengkap dengan topi bertanduk seperti kerbau. Dandanannya menor dengan badik pusaka bersanding di pinggang. Kualihkan pandangan, kulihat Maulida di sudut ruang bermata sayu. Aku yakin Muharram melarikan diri. Cepat atau lambat semua orang akan tahu ia janda perawan. Suatu waktu ia pernah berkata padaku.
“Sangkala, kau yakin dengan jalan hidupmu?”
“Entahlah. Aku cuma bisa pasrah dengan nasibku.”
“Tidak inginkah kau beranak pinak?”
“Apa maksudmu?!”
“Tak ada maksud. Aku hanya mau mengatakan pernahkah kau jatuh cinta?”
Aku ragu menjawab.
“Aku tahu kau mencintai seseorang. Ya, hidup ini memang tidak berpihak. Kita senasib. Aku harus kawin dengan orang yang tidak kucintai.”
Kupandangi Maulida, lama. Mencoba menerka bilik hatinya yang redup. Ia memberikan isyarat yang tidak kutemukan muaranya.
Aku mattinjak, bernazar selama tiga hari tiga malam untuk bersedia diperlakukan seperti mayat, dimandikan dan dikafani. Kemudian disemayamkan di rakkeang, loteng bagian depan bola arajang. Sebuah guci berisi air doa menggantung di atasku, yang akan dipecahkan nanti setelah malam ketiga sebagai wujud pengesahan. Atap rumah terbuka hingga penglihatanku tembus ke langit penuh bintang gemintang. Aku mati suri. Di bawah sana iringan musik sakral terus dibunyikan.
Apakah ini mimpi? Aku melihat seorang gadis berjalan dalam gelap mengikuti lentera yang ada di hatinya. Melangkah hati-hati seperti berharap tak ada telinga yang terusik atau mata yang terjaga. Mendatangiku yang sedang diterpa kemuliaan cahaya bulan, untuk memenuhi hajatnya. Lalu aku mengendus bau betina jarak tiga ayunan kaki sampai aku tersadar kafanku koyak. Aku bugil. Nafsu binal menggerayangi tubuhku. Ia menggeledah hasratku hingga aku berahi.
“Apa yang kaulakukan?”
“Aku mencintaimu. Aku rela makhotaku kau renggut. Akan kutanam benihmu di rahimku.”
“Kau gila!”
Ia tertawa geli.
“Sangkala, kau tak sebanci yang kukira.”
Ia melesat pergi ibarat angin lalu mengabarkan berita. Menciptakan prahara, guncangan yang terlalu hebat. Kuambil satu keputusan, angkat kaki dari kehidupan ini.
Tuhan, inikah takdirku? Menorehkan sejarah untuk dijadikan pelajaran agar nanti manusia tidak melakukan kesalahan yang sama atau sebagai peringatan? Tak ada gema suara Tuhan membalas. Namun, burung Alo yang hinggap dan bertengger angkuh di pohon bertuah tepat di atasku menjadi jawaban. Burung langka itu yang tidak sembarang orang melihatnya menimbulkan firasat di benakku.
Telah habis kususuri hutan. Tibalah aku di padang ilalang yang bergoyang disapu angin seperti orang tarekat. Sekilas mataku menangkap ada anoa berjingkrak riang, berlari-lari lincah bagai rusa dikejar macan. Di ujung sana sungai Segeri mengalir deras. Aku berjalan terlunta-lunta menerobosi ilalang laksana musafir yang kehausan. Langit tetap biru berawan. Matahari mendaki puncak. Bukit-bukit membatu.
Kutanggalkan pakaian lalu berendam. Riak air sungai menyergap kulitku. Menjernihkan sukma. Di kejauhan, sayup-sayup kudengar suara azan mendayu-dayu lantang menyentuh nurani. Masjid itu terlihat menyembul di balik pohon rimba mirip semak-semak. Aku sempat mendalami ilmu agama di sana. Tapi aku tak betah. Para santri sering menghujatku; kaum Luth yang dilaknat Allah! Pedih. Mungkin perih. Salahkah wajahku yang rupawan tapi cantik? Suaraku yang unik? Atau gerakanku yang kemayu? Bukankah itu pemberian-Mu juga? Ah, sepertinya kebahagiaan tak pernah berpihak padaku. Aku tidak diterima di mana pun. Lebih baik aku....
“Celaka! Sala dewi.”
“Bunuh saja!”
“Jangan, kita nikmati dulu.”
Entah dari mana datangnya, tiga orang pemuda menghampiriku, menyeringai bengis. Aku tak bisa apa-apa. Berteriak pun siapa yang mau dengar?
“Mari kita bermain-main, sayang....”
Mereka menceburkan diriku berkali-kali membuat aku megap-megap, kehilangan napas. Mencemariku beramai-ramai, berganti-gantian tak puas-puas. Lalu dengan keji, aku dikebiri seperti seorang kasim. Air keruh berubah warna merah. Mereka kabur saat melihat makhluk bersisik mendekat.
“Buaya!”
Aku terjepit dilema. Tak ada pilihan. Mulut hewan itu sudah menganga. Gigi taringnya menerkam dan mencabik-cabik tubuhku menjadi remah-remah daging. Tuhan, masih bisa kulihat nama-Mu menjulang ke langit. Setitik cahaya di kalbuku bermukim di bukit itu.
Hampir dua bulan kemudian.
Ditemukan mayat mengambang di tengah laut, menggembung, membusuk, dan tinggal separuh. Semua warga bertanya-tanya tentang perbuatan kotor apakah yang dilakukan jasad itu semasa hidupnya?
“Anak kita jadi tumbal atas dosa yang pernah kita perbuat,” kata Mak Rappe terisak, terkulai di pundak Puang Matoa Rala selesai upacara nilabuang, menenggelamkan jenasah ke dasar laut. Hati berkabung dibelai duka.
Sementara itu, di sebuah rumah panggung, seorang perempuan duduk di muka jendela menggeraikan rambutnya. Termangu, mata nanar memandang di luar sana. Tak lama berselang, senyum penuh luka tersungging di bibirnya. Ia mengusap-usap perutnya yang berisi janin.
“Ana beang....”
Daftar istilah
Dewata: para Dewa.
Calabai: asal kata sala baine, bukan perempuan; Waria.
Bissu: pendeta agama bugis kuno pra islam, kebanyakan waria atau putri bangsawan
Lego-lego: beranda rumah panggung.
Sanro: dukun
Puang Matoa: ketua bissu
Puang Lolo: wakil ketua bissu
Datu patoto: Sang Penentu Takdir
Bola arajang: rumah penyimpangan pusaka kerajaan, tempat tinggal bissu.
Basa torilangi: bahasa yang digunakan para bissu untuk berkomunikasi dengan Dewa
Batara guru: nenek moyang orang bugis
Toboto: kekasih bissu sesama jenis
Cenning rara: aura kecantikan.
Lette: petir
Pagenrang: penabuh gendang
Jennang: beberapa wanita tua bukan bissu yang mengatur rumah tangga rumah pusaka
Panati: seorang wanita yang mengatur tata upacara adat
Minyak bauk: minyak wangi berwarna merah
Tana bangkala: tanah suci tempat awal turunnya nenek moyang orang bugis
Sokko patanrupa: beras ketan empat warna, merah, kuning, hitam, putih
Anoa: sapi kecil khas sulawesi
Sala dewi: bukan dewi
Dimuat di Majalah Gong Edisi: 111/X/2009
Seperti tawaf di Ka’bah, saat itu jamaah yang datang dari berbagai daerah, tengah khusyuk mengitari tugu beton yang pernah dibangun Belanda beberapa waktu silam, sambil mengumandangkan kalimat tauhid dengan tubuh bergoyang laksana ilalang yang menari ditiup angin. Ketika gerombolan itu datang menghujat.
“Syirik!”
“Bukan ajaran Islam.”
“Bubarkan!”
***
Aku selalu heran. Ibu sering melarangku pergi ke Malino untuk mengisi liburan semenjak masih SMA sampai sekarang, aku kuliah dan menjadi anak pencinta alam. Paling tidak ibu sering menghalang-halangi niatku dengan berbagai alasan. Padahal di sana aku punya warisan peninggalan ayah, berupa tempat penginapan yang dikelola orang lain. Makanya kerap kali aku berangkat diam-diam. Sepulang dari Malino, ibu pasti tahu dan langsung menghukum dengan cara mendiamkanku beberapa hari. Sejak itu aku tahu ibu tidak pernah ke sana.
Ketika ibu bertanya apa saja yang kulakukan setiap aku berkunjung ke sana, kulihat wajahnya harap-harap cemas seperti was-was yang tak semestinya. Bagai anak kecil yang ketahuan mencuri, kuceritakan semuanya termasuk pengalamanku mendaki puncak gunung Bawakaraeng dan kudapati di sana ada ritual haji. Ibu makin panik dan kian hari mengurung diri di dalam kamar. Saat kutanya kenapa? Ibu bungkam seribu bahasa seperti bertingkah yang tidak kumengerti. Tatkala kini berbaring lemah di rumah sakit, barulah ibu mau bercerita.
“Bunga, kamu punya seorang kakak.”
***
“Kapan kita naik haji, Daeng?” tanya Maniah yang sebenarnya tidak perlu Daeng Tata jawab sebab ia tahu istrinya itu hanya mengeluhkan nasib yang tak pernah bisa simpan uang.
“Sabarlah dulu, Anriku. Bila tiba waktunya, kita pasti akan ke tanah suci. Untuk itu kita jangan putus berdoa,” nasihatnya itu belum mampu meluluhkan hati Maniah yang punya mau.
“Percuma berdoa tanpa usaha, Daeng. Apa yang bisa diandalkan dari sepetak sawah warisan orangtuamu yang tak seberapa itu. Tak cukup bahkan untuk perut kita. Sayuran dan kadang padi yang kita tanam harganya selalu rendah, tidak pernah naik. Kita tinggal di hamparan gunung yang luas tapi milik kita tidak lebih dari secuil. Dan apa pula yang Daeng bisa lakukan selain bertani.”
Daeng Tata meredam amarah yang menghantam dada, berusaha maklum akan ucapan istrinya yang begitu tajam menusuk. Barangkali Maniah tidak sadar tengah menyinggungnya.
Dulu, orangtuanya memang punya banyak tanah. Namun tanah itu dijual murah karena didesak oleh usia mereka untuk naik ke tanah suci sebelum maut menjemput, dan beberapa tanah disita lantaran orangtuanya mengambil pinjaman untuk menambah upah naik haji, sebab uang hasil penjualan tanah belum juga cukup memenuhi ongkos. Juga buat selamatan sebelum dan sesudah naik haji. Harus dilunasi karena sudah menjadi kewajiban keluarga yang ditinggalkan untuk membereskan segala hajat yang tertunggak. Beberapa kali Daeng Tata didatangi di dalam mimpi, orangtuanya mengemis memintanya segera membayar utang mereka kepada yang bersangkutan yang memang sering menagih. Padahal sisa tanah yang mereka wariskan adalah biaya hidup Daeng Tata sehari-hari.
Waktu itu, tanah memang seperti tidak ada harganya sebab jarang yang mau beli. Apalagi terletak di daerah puncak. Namun sekarang di tanah itu sudah banyak berdiri Vila, tempat penginapan untuk para pelancong yang berwisata ke Malino yang terkenal dengan air terjun dan udaranya yang sejuk.
“Besok saya akan ke atas, Anri. Kamu mau ikut?” bujuknya agak mengalihkan pembicaraan agar perasaan istrinya sedikit lunak, lantaran malam ini lelaki itu membutuhkannya. Ia memegang bahu istrinya pelan yang sedang berbaring membelakanginya.
“Tidak. Saya tidak percaya lagi, Daeng. Saya capek berangan-angan. Saya tidak mau pahala yang sama dengan naik ke Mekkah di atas gunung Bawakaraeng itu. Apakah Daeng tidak tahu? Banyak yang bilang ibadah ke sana itu keliru.” Maniah menolak secara halus, menggeser pundaknya biar terlepas dari tangan suaminya yang membelai bahunya.
“Ah, tahu apa mereka itu? Mereka tidak tahu apa-apa. Hanya hendak memaksakan ajaran yang katanya murni!” ujarnya seperti mengumpat. Menghempaskan diri karena merasa gagal melelehkan kebekuan istrinya.
Sungguh Daeng Tata sangat sulit menakhlukkan tabiat istrinya yang keras hati ketika sedang merajuk. Perempuan yang ia nikahi mati-matian sebab ia punya saingan. Ia rela menghabiskan tanah warisannya yang tersisa buat memenuhi permintaan calon mertuanya yang banyak ulah itu, sebab ada orang lain yang juga hendak melamar. Kepada pemberi yang tertinggi, mereka melepas anak gadisnya.
“Daeng, bagaimana kalau saya ke Makassar mencari kerja?” Tiba-tiba Maniah mengajukan usul yang tentu saja mengejutkan Daeng Tata. I strinya membalikkan badan menatapnya. Berkat pelita minyak yang menyala redup, ia bisa melihat mata istrinya yang berbinar, ada semangat di dalamnya.
“Seperti waktu gadis dulu. Saya akan bekerja sebagai buruh pabrik dan bakal menabung,” lanjutnya penuh harap, demikian riang seperti mengejar impian.
“Anri, kau akan lama di sana nantinya. Dengan begitu kau tega meninggalkan saya sendirian di sini.”
“Tidak apa, demi masa depan kita. Kelak bila sudah cukup uang dan pengalaman saya akan mengajakmu serta. Kita buka usaha di sana.”
“Tidak. Saya tidak mengijinkanmu!”
“Daeng, tenang saja. Sesekali saya akan menjengukmu.”
Suaminya bungkam yang bukan hanya diam. Maniah juga sejenak membisu sekedar mencari jawaban yang diinginkannya. Namun air muka Daeng Tata tidak berubah, dan istrinya itu sudah mengerti bahwa ia tidak bakal mendapatkan restu untuk pergi. Sambil kembali membalikkan badan, ia tetap menceracau. Tak mau menyerah.
“Kakak-kakakku sudah haji semua. Adik lelakiku yang pedagang itu sudah berangkat. Saya saja yang melarat seperti ini,” suaranya lirih menyindir. Namun ia tidak memperoleh tanggapan selain sunyi.
“Besok, naiklah ke atas supaya diberi gelar Haji Bawakaraeng. Teruslah seperti itu, sampai kapan pun, Daeng tidak akan mampu naik haji.”
Maniah diambang putus asa, memadamkan lampu minyak. Tidak peduli lagi dengan suaminya yang malam itu berhasrat bikin anak. Boleh jadi istrinya itu sering uring-uringan lantaran belum melahirkan buah hati. Pernah Daeng Tata dan maniah mendatangi sanro untuk berobat setelah lama menunggu. Namun dukun itu menyurutkan harapan. Katanya, Daeng Tata punya mani yang terlalu panas hingga mematikan indung telur. Lain hari berujar, rahim Maniah telah dingin dan beku. Terakhir menyimpulkan, mereka tidak cocok.
Daeng Tata tidak bisa tidur, memandang nanar gelap yang mengerubungi.
***
Dan Sekarang aku berada di sini untuk menemuinya.
Di atas gunung Bawakaraeng, angin menampar tubuh ringkih Daeng Tata yang tak goyah, memandang jauh di bawah sana. Bagai di laut, langit merendah begitu dekat sebab puncak bukit itu menjulang seperti hendak menjangkau cakrawala dengan gumpalan mega-mega berarak-arak serupa ombak yang tak surut, bergulung-gulung dengan pekatnya. Tampak megah keemasan pada senja yang bangkit, pertanda malam akan memeluk hari. Dan setiap kali awan itu melintas, bayangannya tampak berkejaran di permukaan bumi.
Deru angin terus menerpanerpa. Hembusan itu bertiup kencang membuat celana kain dan baju lusuh serta sarung yang tersampir di pundaknya berkibar-kibar ke belakang. Kopiah hitam bertengger di kepalanya yang beruban pun telah pudar serupa dirinya yang digerogoti usia.
Lelaki tua itu masih menatap, barangkali nun pada hamparan kota Makassar yang merajalela, tanah daratan yang jauh dari sini dan hidup dengan gemerlap, kelap-kelip yang mengalahkan kedap-kedip bintang yang mulai bermunculan di langit yang sebentar lagi menghitam, seperti perempuan nakal yang main mata.
Aku sejak tadi mengamatinya dari jarak yang tak dekat. Agak ke bawah, di balik hutan yang dihuni halimun, kabut asap tipis nan dingin yang lalu lalang. Aku melangkah mendekatinya dengan kaki kuseret biar berisik supaya ia berpaling, tapi Daeng Tata tetap bergeming hingga aku berada sejajar dengannya. Dingin kian merasuk mungkin sampai tulang, ngilu yang membeku. Aku menggigil seperti digigit oleh dingin, membuat gigiku ingin bergemelutuk dan akan mengeluarkan uap es ketika aku berbicara dan bibirku kini menjadi kelu. Padahal badanku dibungkus jaket tebal bagai berbalut-balut. Aku seperti hendak meringkus diri pada kedua tanganku yang bersilang di atas dada.
Berbeda sekali dengan Daeng Tata yang santai saja menautkan kedua tangannya di belakang punggung karena sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini. Aku yakin telapak tangannya akan berkeringat dan kulitnya bakal meleleh lantaran peluh, tatkala nanti ia ke Makassar yang teriknya garang dengan niat mencari anaknya yang tak pernah menjenguknya beberapa tahun ini, semenjak pertengkaran yang aku pun tahu. Bagai menunaikan hajat ke tanah suci yang tak pernah terwujud karena uangnya tidak pernah cukup dan tiap tahun biayanya selalu naik.
Sungguh lelaki tua di sampingku ini seakan tidak bisa berpisah dari gunung Bawakaraeng yang ia jaga melebihi dari hidupnya. Ia menanam Mahoni dan jati serta pohon jenis lainnya di lereng bukit, dan di lokasi yang pohonnya terbabat di sekitar gunung. Bibitnya ia semai di pekarangan rumahnya. Sebab jasanya itu ia mendapatkan upah tiap bulan dari pemerintah Gowa yang tidak cukup buat makan berhari-hari. Lembaran uang itu ia tabung dalam kaleng biscuit entah berapa tahun, yang telah penuh. Namun jika dikumpulkan dan diikat dengan karet jumlahnya tak seberapa, tidak sebanding dengan jerih payahnya. Aku mengetahuinya sebab ia bermaksud menitipkan segepok uang itu beberapa hari yang lalu kepadaku buat Amiruddin, anaknya. Uang kuliah untuk temanku itu. Dulu memang anaknya adalah temanku tapi setelah aku tahu semuanya, dia bukan lagi temanku. Lebih dari itu. Aku bilang, Amiruddin memiliki usaha yang tidak tetap.
“Bunga, sampaikan salam saya pada Anakku yang masih keras hati. Bilang, saya sangat merindukannya,” ujarnya lembut nan tegas tanpa melepas pandang melihat kota Makassar yang berkilau gemilang serupa lampu senter yang benderang di tengah kegelapan, seperti kumpulan cahaya.
“Tata, tahu sendiri sikapnya yang tak mau dengar. Dan aku tidak bisa memaksa,” kataku setelah agak lama terdiam, lantaran aku sibuk menghalau dingin yang kian merayap pada hawa yang mulai senyap. Kulihat pelita di rumah penduduk di kaki dan di pinggang gunung sudah mulai berkeliaran bagai percikan sinar yang menyebar, bak kunang-kunang yang saling menjauh mencari tempat hinggap.
“Bujuk dia sampai mau. Katakan lagi padanya bahwa saya akan minta maaf, kalau perlu saya akan bersujud di kakinya. Akan kutinggalkan semua kebiasaan yang dimatanya adalah dosa. Hanya dia satu-satunya harapanku, Bunga. Harta warisan peninggalan almarhumah istriku yang ingin kususul di tanah suci. Dialah yang dapat mewujudkannya.” Kali ini ia menjenguk mukaku yang hampir beku, menatap asa begitu memelas.
“Iye, Tata, akan aku usahakan,” ucapku dengan gigi bergeretak. Kendati aku tidak tahu dimana Amiruddin sekarang. Namun aku yakin tidak susah untuk menemukannya. Sebab dia tidak kuliah lagi. Lebih memilih menyeru jalan agama ketimbang menuntut ilmu di fakultas yang katanya tidak dibawa ke akhirat.
***
“Aku belum menikah karena belum bisa melupakanmu. Dan aku akan terus menunggu sampai kamu mau, Maniah.” Sungai Jene Berang mengalir deras seperti meluap, menenggelamkan bongkahan batu kali yang terserak. Maniah bagai terseret oleh arusnya, telinganya berdengung mendengar ucapan Andi Baso. Pertemuan di tepi sungai di suatu pagi yang hendak beranjak, ketika Maniah usai membasuh diri dan membersihkan cucian.
“Saya sudah punya Daeng Tata!” jawab Maniah bergetar, agak terperangah. Meraba-raba kemauan hatinya.
“Itu bukan masalah jika kamu mau.”
Maniah menatap lelaki itu begitu lama seperti hendak menemukan keseriusan. Lelaki yang pernah ditolak sebab tak mampu memenuhi permintaan orangtuanya, sehingga Maniah mengubur cintanya dalam-dalam. Pertemuan itu rutin meski tidak setiap pagi dan kadang di tempat berbeda yang tidak diketahui orang lain, saat sepi. Sampai kesalahan itu diperbuat, yang membuat Daeng Tata senang karena tidak tahu.
“Kamu hamil, Maniah?”
Perempuan itu tidak mampu berterus terang karena didera dosa. Ia gelap mata. Andi Baso sangat sulit diabaikan. Bukan hanya karena ada hati, melainkan menjanjikan hidup layak dan nantinya bisa naik haji. Lelaki itu telah mapan. Kupingnya sudah terlalu panas mendengar segala gunjingan hina akan hidupnya yang tak kunjung membaik.
Maniah merasa tidak dipandang di tengah keluarga dan di setiap pesta yang dikunjunginya. Tidak diperbolehkan berjejer menyambut tamu di ruang depan karena belum haji. Cuma kerap mendapat tempat di dapur dan dianggap serupa asap yang mengepul lalu lenyap tak bersisa dan tak ada yang peduli. Hanya disuruh bantu-bantu memasak. Lantaran malu, ia tak tahan. Ketika kesempatan itu memberi peluang tak mungkin ia tampik kendati meninggalkan aib.
“Bayi itu anakku, Maniah.”
“Tidak Andi Baso. Daeng Tata sangat mengharapkannya. Saya akan menyusulmu nanti setelah saya melahirkan.”
***
Daeng Tata masih menatapku begitu teduh penuh pancaran kasih seperti menganggap aku adalah anaknya.
“Terima kasih, Bunga. Mari kita turun. Sepertinya kamu sudah tidak tahan dingin. Teman-temanmu juga sudah lama memanggil. Kamu tahu, Bunga? Kamu mirip istriku waktu muda.”
Aku tidak tersipu dengan gurauannya. Aku malah makin merasa bersalah. Ah, seandainya Daeng Tata tahu tentang rahasia yang kubawa, titipan pesan dari ibu yang mesti kusampaikan. Mengenai masa lalu yang tak ada hubungannya denganku. Aku hanya ingin mengatakan, istrimu belum mati dan Amiruddin bukan anakmu. Namun mulutku ini tak sampai hati mengutarakan maksud di setiap kesempatan berdua dengannya seperti tercekat di tenggerokan. Padahal besok aku sudah kembali ke Makassar.
Teman-temanku sudah membereskan segala peralatan camping tak terkecuali sisa-sisa berupa sampah. Memastikan tak ada yang ketinggalan, semuanya ada dalam ransel besar di pundak. Setelah berucap syukur, kami siap turun gunung. Di lembah Ramma, di rumah panggung Daeng Tata, kami akan istirahat. Barangkali sampai pagi meninggalkan hari. Semoga kesempatan terakhir itu tidak aku siasiakan untuk membuka mulut, atau tidak sama sekali.
***
Sinjai, 29 Oktober 2008
Catatan:
Gunung Bawakaraeng yang berarti Mulut Tuhan adalah tempat Syekh Yusuf berangkat ke Mekkah. Ulama sufi yang paling terkenal di seantero Sulawesi, dipercaya masyarakat bagai ditelan lalu hilang dan muncul di tanah suci. Dari sini awal mula ritual haji Bawakaraeng.
Daeng: Panggilan sayang untuk suami yang berarti kakak.
Anri: panggilan sayang untuk istri yang berarti adik.
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)





