SEBELUM daun milik nenek gugur, nenek pernah bercerita perihal sebuah pohon yang tumbuh di tengah alun-alun kota. Kata nenek, pohon itu telah ada sejak ratusan atau mungkin ribuan tahun lalu.
Tak ada yang tahu persis, kapan dan bagaimana pohon itu tumbuh. Sewaktu nenek kecil, pohon itu sudah menjulang meneduhi alun-alun kota, serupa payung raksasa. Menilik kokohnya, tampaknya akarnya telah menancap jauh ke kedalaman bumi. Batangnya pun tampak seperti lengan lelaki yang kuat dan penuh urat. Dahan dan ranting berjabar serupa jari-jemari yang lentik. Dedaunnya lebar serupa wajah-wajah yang tengah tersenyum dalam keabadian.
Kata nenek, kehidupan setiap penduduk di kota ini tersemat di tiap daun yang bertengger di cabang, ranting, dan tangkai pohon itu. Setiap kali ada satu daun yang gugur, artinya seseorang di kota ini telah lepas dari kehidupan. Satu daun artinya satu kehidupan, begitu kisah nenek.
***
Suatu ketika, aku pernah mendesak nenek untuk mengantarku ke alun-alun kota, untuk melihat langsung pohon itu. Tentu saja tanpa sepengetahuan ibu. Karena, kalau ibu tahu pasti ibu tak akan mengizinkan. Diam-diam kami pun berangkat, pelan-pelan aku menuntun nenek yang jalannya sudah tidak tegap lagi. Jarak antara rumah dan alun-alun kota sebenarnya tidak terlalu jauh. Kami cukup naik angkutan umum satu kali, tak sampai setengah jam kami sudah sampai.
Begitu sampai di alun-alun kota, nenek langsung mengajakku ke pusat alun-alun, tempat di mana pohon itu berada. Kami berteduh di bawahnya, nenek duduk dengan napasnya yang terdengar ngik-ngik. Kepala nenek mengadah ke atas. Aku pun menirukannya.
“Banyak sekali misteri dan kehidupan di atas sana,” gumam nenek.
Lelah menengadahkan kepala, aku pun menunduk. Tampak daun-daun kering berserakkan di mana-mana, sebagian terinjak-injak oleh kakiku.
“Nek,” aku menjawil lengan nenek.
“Ya?”
“Apakah daun-daun kering yang berserakkan di bawah ini adalah jasad orang-orang yang sudah mati?”
“Ya, daun-daun itu adalah jasad tilas mereka dari pohon kehidupan.”
“Berarti jasad tilas ayah ada di antara daun-daun kering itu?”
“Mungkin. Tapi nenek kira, kini, jasad ayahmu sudah menyatu kembali dengan tanah.”
“Nek,”
“Ya?”
“Mengapa daun-daun kering itu tidak dibersihkan atau dibakar saja.”
“Tak perlu, lambat laun mereka juga akan kembali ke muasalnya, tanah, melebur menjadi tanah. Dari tanah kembali ke tanah.”
Kepalaku kembali menengadah, “Kalau daun-daun kemuning yang ada di atas sana itu siapa?”
“Mereka adalah orang-orang tua yang masih hidup di kota ini, mereka-mereka yang sudah lama bertengger di atas pohon kehidupan.”
“Apakah mereka akan segera gugur.”
“Tentu saja, Nak. Gugur adalah takdir mereka.”
“Apa Nenek ada di antara salah satu daun kemuning yang ada di atas sana, yang siap gugur itu?”
“Nenek tak tahu. Itu rahasia yang di atas, tak seorang pun berhak tahu.”
Aku terus menengadahkan kepala, mencari-cari di mana letak daun milik nenek, milikku, dan juga milik ibu.
“Nek,”
“Ya?”
“Tunas-tunas daun yang tersemat di pucuk pohon itu, pasti adalah bayi-bayi yang baru lahir di kota ini, ya, kan?”
“Ya. Benar, memang kenapa?”
“Berarti, sekarang, aku berada di antara daun-daun muda yang bertengger di atas sana?”
“Ya. Tentu saja.”
“Artinya, masa gugurku masih sangat lama, ya, Nek?”
Nenek mengernyitkan dahi, “Siapa bilang? Setiap lembar daun kehidupan yang ada di atas sana adalah rahasia. Tak ada seorang pun yang tahu. Gugur adalah hak semua daun, dari yang kemuning, yang masih segar dan hijau, bahkan yang masih tunas pun bisa saja patah dan gugur.”
Aku terdiam. Mencerna kata-kata nenek.
***
Sepulang dari alun-alun kota, nenek mengeluhkan kaki tuanya yang keram. Beberapa hari berikutnya nenek terbaring sakit. Ibu menyebut penyakit nenek dengan ‘penyakit orang tua’. Musabab itulah ibu tidak memarahiku ketika kukatakan, bahwa sebenarnya akulah yang menyebabkan nenek sakit. Kian hari penyakit nenek kian parah. Tubuh nenek mati separuh. Tak bisa digerakkan. Nenek berak dan buang air kecil pun di tempat. Dengan sabar ibu mengurusinya. Barangkali memang itu kewajiban seorang anak. Ketika ibu masih bayi, pasti nenek juga melakukan hal yang sama.
Kian hari tubuh nenek kian kering. Bahkan ia sudah tidak sanggup lagi bicara. Saat itu aku benar-benar takut. Takut ditinggalkan nenek. Takut kehilangan nenek. Tiba-tiba aku teringat pohon itu. Daun-daun kemuning itu. Tanpa izin ibu aku beringsut pergi menuju alun-alun kota. Aku berdiri di bawah pohon itu dengan kepala tengadah. Berjaga-jaga jika sewaktu-waktu sebuah daun gugur dari sana. Tapi tidak, detik itu aku tak ingin ada satu daun pun gugur dari sana. Tapi seperti kata nenek, daun-daun di atas sana adalah rahasia. Tak seorangpun berhak tahu atas rahasia itu.
Berjam-jam aku berdiri di bawah pohon itu. Tak tampak satu daun pun yang gugur. Nenek hanya sakit tua biasa. Ia akan segera sembuh, bisikku dalam hati. Ketika aku beranjak pergi meninggalkan pohon itu, tiba-tiba angin berhembus. Sekilas hembus. Beberapa daun dari pohon itu melayang-layang di udara dan akhirnya rebah di tanah. Aku terdiam menyaksikannya, lalu pergi dengan rahasia yang masih mengepul kepala.
Sampai di rumah, tiba-tiba ibu memelukku dengan isakkan lirih, “Nenekmu sudah pergi”.
Bujur tubuh nenek mengingatkanku pada daun kemuning yang rebah di tanah, di alun-alun kota beberapa saat lalu.
***
Seiring usia, masa kecilku hilang dilalap masa. Sebagai remaja yang bebas, aku pun merantau dari kota ke kota. Satu hal yang kemudian kusadari, setiap kota yang kusinggahi selalu memiliki pohon besar yang tumbuh menjulang di alun-alunnya. Hal itu mengingatkanku pada cerita nenek tentang pohon kehidupan di alun-alun kotaku. Namun, geliat zaman menyulap cerita itu menjadi cerita picisan yang sulit untuk dipercaya.
Setiap manusia pasti akan pergi ke muasalnya. Tak ada hubungannya dengan pohon dan daun-daun. Tapi entahlah, hati kecilku selalu mengatakan bahwa cerita nenek itu benar adanya. Aku jadi bertanya-tanya, apakah setiap pohon yang ada di alun-alun kota adalah pohon kehidupan yang menyimpan rahasia kehidupan setiap penduduknya? Entahlah, kukira itu juga sebuah rahasia.
***
Meski hidup dalam rantauan, aku selalu pulang ke kota ibu, kota lahirku, paling tidak setahun sekali. Setiap lebaran fitri. Dan benar, setiap tahun, alun-alun kotaku selalu mengalami perubahan. Taman, bangku-bangku, air mancur, bahkan kini di sisi-sisi jalan sudah ditanami ruko-ruko berderet. Mulai dari pengamen, pengemis, topeng monyet, penjual tahu petis keliling, bahkan tante-tante menor, semua tumplek blek di alun-alun kota. Satu-satunya hal yang tidak berubah adalah pohon itu. Pohon itu masih tampak kokoh dari waktu ke waktu. Setiap aku melihat pohon itu, rol film dalam kepalaku kembali berputar, menayangkan bocah kecil dan neneknya yang tengah asyik berbincang tentang kehidupan di bawahnya.
Tahun berlalu-lalang seperti manusia-manusia yang datang dan pergi di alun-alun kota. Kian tahun, pohon itu kian rimbun, penduduk kota kian merebak. Namun entahlah, daun-daun yang bertengger di pohon itu tampak kusam dan menghitam, warna hijau seperti pudar perlahan. Barangkali kian waktu kian banyak serangga dan hama yang hinggap di sana. Membuat sarang, mencari makan, membuang kotoran dan beranak pinak di sana. Aku jadi bertanya-tanya, apakah itu artinya, para manusia yang hidup di kota ini juga terserang hama? Entahlah.
***
Aku tak pernah menyalahkan waktu, tapi memang banyak sekali hal berubah oleh waktu. Kudengar dari ibu, kini, kota kelahiranku telah jauh berubah. Kian waktu, pepohonan kian habis. Sawah-sawah mulai ditumbuhi rumah-rumah. Tempat ibadah kian melompong. Muda-mudi lebih suka keluyuran ke mall dan bioskop-bioskop. Gadis-gadis, kini tak sungkan lagi mengenakan pakaian setengah jadi. Para bujang pun lebih suka bergerombol di pinggir-pinggir jalan ditemani botol, kartu, dan gitar. Gadis hamil diluar nikah menjadi kabar biasa. Merentet kemudian, banyak ditemukan bayi-bayi dibuang di jalan. Sengketa dan pembunuhan merajalela.
Barangkali orang-orang di kotaku memang sudah terserang hama. Seperti daun-daun di pohon kehidupan yang kian kusam di alun-alun kota. Berkali-kali ibu menggumamkan syukur, aku menjadi seorang perantau yang merekam berbagai pohon kehidupan, tanpa melupakan kenangan.
Di zaman yang sudah berubah ini, ruang tak pernah menjadi penghalang. Meski ruang kami berjauhan, setidaknya, setiap seminggu sekali, aku dan ibu saling bertukar kabar, bersilang doa.
“Kian waktu, dunia kian renta, Nak, seperti juga ibumu. Dari itu, pandai-pandailah engkau menempatkan diri,” begitu nasihat ibu yang terakhir yang sempat kurekam. “Kian waktu, daun-daun itu pun akan luruh satu persatu dan habis. Suatu saat nanti, akan tiba masanya, pohon itu akan tumbang tercabut dari akarnya. Semua sudah tercatat dan tersimpan rapi dalam perkamen rahasia yang tergulung di atas sana.
“Kita hanya manusia yang naif dan rapuh, yang tak tahu apa-apa. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu nanti pohon kehidupan melepaskan kita dari tangkainya…,” ibu membisikkan nasihat-nasihat itu dengan suara serak. Tiba-tiba aku teringat kerutan yang berombak di dahinya, juga rambutnya yang mulai pecah memutih.
Terbayang dalam kepalaku, bahwa kini, mungkin, daun ibu telah menguning dan siap luruh. Tiba-tiba aku ingin pulang, kembali terlelap dalam pangkuan ibu yang hangat. Namun, sebelum langkahku sampai di tanah lahir, telah kudengar kabar, bahwa bencana besar telah melanda kotaku. Merebahkan seluruh kota setara dengan tanah. Ada yang mengatakan, bencana yang menimpa kota itu adalah sebuah cobaan. Ada pula yang mengartikan bencana itu sebagai peringatan. Namun, juga tidak sedikit yang mengemukakan bahwa bencana itu merupakan azab. Entahlah.
Ketika aku kembali ke kota itu, yang kutemui hanya kota yang mati. Dengan sisa-sisa kenangan, aku merelakan ibu, merelakan kotaku, merelakan tilas masa kecilku. Bersama air mata, semua kularung ke udara.
Aku merangkak mendatangi alun-alun kota yang telah porak poranda. Dari kejauhan, pohon itu masih tampak menjulang meski compang-camping. Di bawah pohon itu, tubuhku gemetar memandangi satu-satunya daun yang masih bertengger di sana.
“Suatu saat nanti akan tiba masanya, pohon itu akan tumbang tercabut dari akarnya. Semua sudah tercatat dan tersimpan rapi dalam perkamen rahasia yang tergulung di atas sana,” kata-kata ibu kembali mengiang di telinga. (*)
.
.
Malang, 5 Juli 2011
Cerpen Mashdar Zainal
Dimuat di Jurnal Nasional, 23 Oktober 2011
Hasbi benar-benar merindukan dapur rumahnya mengepul, merindukan masakan-masakan rumah semacam menu-menu yang dimasak emaknya (almarhumah). Memang menu emaknya tak ada yang mahal-mahal, tapi rasanya selalu mantap. Macam seruwit, tempoyak, belide asap, terasi kangkung lalapan, tempe lawas, semua akan jadi menu istimewa setelah tersentuh tangan ajaib emaknya. Lamat-lamat Hasbi terngiang tutur almarhumah emaknya.
“Bujang, sudah lengkap umur kau buat naik puadai. Tunggu apa pula kau ini? Kalau kau memang srek sama muli-nya Haji Madun, siapa itu namanya? Ida atau siapa itu? Ya, itulah‘ pokoknya cepat-cepatlah kau nikahi dia. Tapi, ingat kata-kata emak. Dari gemulai tangannya, si Ida itu, tak pandai masak dia. Apalagi bikin seruwit. Maka itu, mumpung Emakmu ini masih sehat, belajarlah kau bikin seruwit."
Itu dia. Mula-mula emak memang gamang ketika mengizinkan Hasbi meminang Ida. Tapi apa boleh cakap, Hasbi sudah cinta mati sama perempuan itu. Tak elok, kata emaknya, memutus pertalian jiwa dua orang yang sudah cocok. Maka dengan syarat, emaknya meloloskan ia memperistri Ida. Syarat yang tak rumit sebenarnya, hanya bikin seruwit.
“Bujang, apa kau pernah dengar upacara minum teh di Jepang? Ya, nyeruwit ini, ibarat upacara minum teh-nya kelurga kita. Sudah turun temurun dari canggah buyutmu. Kelak, kalau kau menikah dan punya anak, janganlah kau lupakan upacara nyeruit ini. Kau ni orang Lampung, walau laki, kau juga harus tahu cara bikin seruwit. Kau tularkanlah nanti ajaran emakmu ini pada si Ida. Kau ni anak tunggal, apa kata uwak, pakcik kau nanti bila istrimu tak pandai masak, tak bisa bikin seruwit!"
***
Ida memang tipe orang yang tak bisa dipaksa. Setiapkali ada waktu senggang, dan Hasbi mengajaknya bikin seruwit (supaya dia bisa), Ida selalu menolak. Macam-macam saja alasannya.
“Seruwit lagi, seruwit lagi! Abang saja bikin sendiri."
“Ayolah, Da. Mumpung longgar. Biar kuajarai kau bikin seruwit. Kau ni orang Lampung. Harus bisa kau bikin seruwit." Hasbi merajuk.
“Paling tidak kan, sebulan sekali, Abang sudah nyeruwit di rumah pakcik Mahmud atau Uwak Amir. Tidakkah itu cukup buat mengobati ngidammu, Bang?"
“Bukan begitu, Da. Sekali waktu, gantian lah kita yang ngundang mereka."
“Akhir pekan ni buat istirahat, Bang! Relaksasi. Abang pula, apa tidak capek. Senin sampe Jum‘at ngajar di kampus, berangkat pagi pulang sore. Sabtu-Ahad ni kita pake buat nyantai-nyantai saja, Bang!"
“Aduh, Da. Malu Abang sama uwak juga pakcik. Putus pula undangan kita buat nyeruit bareng. Dulu... Da," Hasbi menerawang, “sewaktu emak masih hidup, keluarga Abang nih yang paling rajin undang dun sanak buat nyeruit bareng, di rumah Abang ni."
“Abang kan bisa bikin seruwit, kenapa tidak Abang saja yang bikin, lalu undanglah uwak, pakcik semua."
Bagaimana lagi Hasbi musti menjelaskan. Pandai nian istrinya berbalas kata. Tidakkah bapaknya yang haji itu mengajarinya bagaimana bersikap santun pada suami. Untung saja perangai Hasbi lemah lembut dan tidak bisaan. Sekali dia cakap dan istrinya menimpali, lekas-lekas cakap ia sudahi. Hasbi tak mau memaksa istrinya yang memang keras kepala. Kalau Hasbi tak sabar, bisa-bisa pertengkaran yang akan jadi perhiasan rumah tangga. Apalagi Ida tengah mengandung. Ah, sudahlah. Lain waktu saja, selalu begitu pasrah Hasbi.
Maka setelah gagal mengajak istrinya, Hasbi bertindak sendiri. Berbelanjalah ia ke pasar terdekat. Di borongnya ikan patin segar, terong ungu, limau kunci, mentimun, dan daun singkong. Tak lupa pula ia memesan tempoyak jadi ke makcik Nurul. Diraciknya sendiri bumbu-bumbu itu. Dengan luwes Hasbi melumat cabai, terasi, dan bumbu-bumbu dalam cobek besar. Dicucinya sendiri daun singkong dan direbusnya dengan air yang dibubuhi sedikit garam. Digorengnya ikan patin segar dengan hati-hati. Sepanjang Hasbi memasak, sesekali saja Ida menengok ke dapur, lalu kembali ke depan tivi. Hasbi geleng-geleng sambil tersenyum.
“Seruwit bikinan Abang sudah siap ni, Da. Tak sudikah kau mencobanya? Rasanya mantap ini, macam bikinan emakku." Hasbi berteriak dari dapur.
“Cepat sekali kau bikinnya, Bang." Balas Ida dari ruang tengah. Perlahan Ida mendekati suaminya yang bau asap dapur.
“Apa kubilang, bikin seruwit tuh mudah. Aku saja yang laki bisa, apalagi kau."
“Coba ya, Bang." Ida mencomot daun singkong rebus dan mencocolnya ke sambal seruwit yang sudah terhidang rapi di cobek kecil.
“Jangan banyak-banyak sambalnya. Pedas itu!"
“Aku kan suka pedas, Bang."
“Bagaimana?"
“Uhfff... Mantap memang, Bang. Jadi inget seruwitnya almarhumah emak."
“Maka itu, sudilah kau belajar bikin seruwit."
“Iya, bang! Iya. Lain kali, kalau ada waktu luang, Ida janji. Belajar bikin seruwit."
“Nah, itu baru istri Abang."
***
Minggu depan Hasbi bertekad ingin mengundang uwak, pakciknya. Tak ada rugi memang, ia belajar bikin seruwit pada ahlinya: almarhumah emak. Tak akan lagi ia memaksa-maksa Ida. Cukuplah ia disindir dengan sikap, lambat laun pasti akan luluh juga.
Tanpa ba-bi-bu, minggu pagi Hasbi bergegas ke pasar. Ditinggalkannya Ida seorang di rumah. Toh, Ida masih sibuk dengan urusan cucian. Tak ada salahnya ia berangkat sendiri. Dibelinya bahan-bahan nyeruwit sebagaimana layaknya. Diraciknya sendiri bumbu-bumbu itu. Berjibakulah Hasbi dengan perkakas dan asap kompor.
“Sebentar ya, Bang. Selepas menjemur ini Ida bantu." lirik Ida sambil menyangking bak cucinya. Hasbi tersenyum manis. Bertambah saja cintanya pada Ida. Sejatinya Ida memang perempuan yang kalem, meski kadang kala keras kepala dan menjengkelkan.
“Ida selesai. Bang. Sekarang apa yang bisa Ida bantu?" Ida mendekati suaminya yang masih sibuk dengan bumbu-bumbu.
“Duduklah kau yang manis. Lihat saja bagaimana Abang meramu menu istimewa ini. Abang tahu, kau masih kepayahan. Amblilah napas dulu."
“Iya, Bang. Ida akan simak baik-baik, seperti apa koki Ida ni bikin seruwit."
“Kalau kau bikin seruwit, Abang sarankan kau pilihlah ikan patin, atau baung yang masih segar. Layis atau ikan Mas juga boleh. Kau gorenglah ikan-ikan tu, kau panggang juga bisa. Selepas itu kau racik bumbu-bumbu lainya, kau bikinlah sambal terasinya, kau pangganglah terung unggunya, kau rebuslah daun singkongnya. Tempoyaknya jangan sampai lupa. Oh ya, supaya lebih mantap kau tambahlah isi mentimun tuh. Kalau bahan-bahan sudah siap, kau aduklah semuanya dalam satu wadah. Dan seruwit siap dihidangkan."
“Tampaknya tak sulit-sulit amat, Bang."
“Memang tak sulit. Abang saja butuh waktu setengah hari buat belajar bikin seruwit dari emak. Dan hasilnya..."
“Iya lah, Bang, Ida tak sangsi itu."
“Oh ya, Da. Kalau kau suka lalapan mentah, bolehlah kau petik pucuk daun jambu mente, atau kemangi. Kalau kau suka jengkol, ya jengkol. Tapi kalau Abang paling suka kacang panjang. Bagaimana?"
“Oke, Bang. Ida sudah ada bayangan."
“Sebenarnya, Da, bagi keluarga kita ni, nyeruwit tu tak ubahnya alat. Alat buat ngikat silaturrahim ke sanak kerabat, ke pakcik, uwak, sodara-sodara jauh. Dulu sewaktu emak muda, upacara nyeruit nih, dilakukan paling sedikit seminggu sekali. Bergantian pula. Kalau minggu ini di rumah Wak Amir, minggu depannya di rumah Pakcik Mahmud, dan minggu berikutnya di rumah emak. Begitu seterusnya."
“Iya, Bang, bener. Sekarang Ida ngerti. Kenapa Abang bersikeras macam almarhumah emak." Ida manggut-manggut.
***
Paripurna sudah, para kerabat Hasbi sudah pada datang. Pakcik Mahmud beserta keleuarga besarnya, tak ketinggalan pula uwak amir beserta istri dan anak cucunya. Hasbi mengelar karpet di ruang tengah. Menu-menu dikeluarkan satu persatu. Mereka duduk bersila, melingkar layaknya acara tahlilan. Setelah sedikit mukaddimah dan berkirim doa, pesta nyeruit pun dimulai.
“Mmm... mantap nian seruwit kau ni, Hasbi. Persis bikinan emak kau. Terasinya kerasa. Siapa yang bikin?" Pakcik Mahmud berkomentar. Hasbi dan ida saling melempar pandang.
“Si Ida ini Pakcik, yang bikin." Sahut Hasbi. Ida melonggo, memicingkan mata ke suaminya.
“Tak rugi kau punya istri macam dia ni. Sudah cantik, pinter masak pula." Uwak amir urun tutur. Ida tersipu-sipu.
“Serbatnya juga silahkan dicuba! Ida juga yang bikin itu. Tak pakai gula itu, tapi pakai madu. Iya, kan, Da?" Hasbi berkoar lagi.
Ida menekuk muka, “Iya." Lirihnya.
Selepas para kerabat pulang, Ida memberondong Hasbi dengan pertanyaan dan protes.
“Kenapa pula abang, ni. Pakai bilang aku segala yang meracik seruwit. Manalah aku bisa? Kalau mereka bertanya ini-itu. Bagaimana harus kujawab, Bang?"
“Sudahlah, Da. Abang cuma mau, mereka tu bangga sama kau, istri Abang yang cantik dan pintar masak ni."
“Abang nyindir Ida, ya?" Ida memukul ringan lengan suaminya. Hasbi malah cekikikan.
“Kau cantik, itu tak diragukan. Kau pandai masak pula, kan?"
Ida terdiam. Tapi senyumnya mengembang. Senyum malu-malu.
***
Di usia kandungan Ida yang kian tua. Rasa cinta Hasbi bertambah-tambah. Seolah tak rela ia melihat istrinya bersusah-susah. Tak ada lagi ia paksa-paksa si Ida buat belajar bikin seruwit. Bahkan Hasbi menyarankan istrinya untuk segera mengambil cuti. Kandungannya butuh istirahat. Sudah delapan bulanan. Dengan takdhim pula, ida menuruti saran suaminya. Mengambil perlop. Jadi, Hasbi berangkat ke kampus, dan ida yang menyiapkan sarapan di rumah. Sarapan tak perlu berat-berat. Kalaupun Ida malas masak. Hasbi sendiri yang akan berpesan lauk-pauk ke warung makcik Nurul. Pun pagi-pagi Hasbi sudah mencuci beras dan menyolokkan rice coocker. Jadi, Ida tak perlu repot-repot. Biarkan Ida nyaman dengan kandungannya, begitu pikir Hasbi.
Ida jadi terkagum-kagum dengan sikap suaminya, benar-benar penyabar dan pengertian. Tiba-tiba Ida menyesal, dia merasa selama ini telah menyakiti Hasbi, tak pernah menuruti kata-katanya, selalu membangkang bila diajak bicara. Diam-diam ia terisak. Dia merasa sangat beruntung beroleh suami macam Hasbi. Ingin rasanya ia menyusul Hasbi ke tempat kerjannya, mengucup tangannya agak lama, dan meminta maaf. Ida tercenung lama. Beberapa saat kemudian ia tersenyum menuju dapur.
***
Sepulang dari kerjanya, Hasbi terkejut setengah mati. Ia hampir tak percaya. Dilihatnya meja makan yang penuh dengan aneka macam masakkan. Tapi satu tatapnya tertuju: seruwit. Buru-buru Hasbi meletakkan tas dan melingkar di hadap meja makan.
“Percaya tak percaya. Sedap tak sedap. Itu, Ida yang bikin, Bang." Tutur Ida kalem.
Hasbi menggeleng-geleng kepala. “Ini benar-benar kejutan paling menyenangkan yang pernah Abang dapat, Da. Kau tahu itu?" Hasbi mendekati istrinya dan mengucup keningnya agak lama.
“Ayolah Abang cuba! Moga tidak mengecewakan." Gumam Ida.
“Kau mau bikin seruwit saja, itu sudah bikin Abang senang bukan kepalang. Pun kalau rasanya kelewat masin, Abang akan tetap santap."
Ida tersenyum. Menunggu suaminya mencoba masakan yang telah susah payah diraciknya. Ida mengambilkan sepiring nasi buat suaminya. Pun Hasbi mulai mencicipi seruwit yang sudah tertata di hadapannya. Ida deg-degan. Tak sabar menunggu komentar dari suaminya. Setelah beberapa kunyah. Hasbi terdiam sejenak.
“Tak enak, ya, Bang?" lirih Ida.
Hasbi menatap istrinya saksama. Menyiapka kata-kata.
“Bagaimana, Bang?" Ida penasaran.
“Abang akan buka kedai, dan seruwit bikinanmu akan jadi menu utamanya. Kedai Seruwit Hasida: Hasbi-Ida." Ucap Hasbi yakin.
Mereka saling tatap lalu tertawa agak panjang. Seolah saling memastikan, bahwa hari-hari mereka ke depan akan dipenuhi dengan kejutan-kejutan. ***
Malang, 2010, 2011
Catatan:
Seruwi adalah makanan khas provinsi Lampung, yaitu masakan ikan yang digoreng atau dibakar dan dicampur sambel terasi, dan tempoyak (olahan durian).
Dimuat di Surabaya Post, 21 Agustus 2011
SEWAKTU kecil aku selalu kesulitan mengartikan kata ‘ayah’. Tapi, kata ibu, ayah adalah sebuah rumah di mana kami—aku dan ibu, tinggal dan berteduh. Ketika itu, aku membayangkan ayah (seperti wajah yang ada dalam foto tahun 70an, kusam dan tak berwarna) menjadi raksasa dan tiba-tiba kakinya yang besar mencengkram tanah dan menjadi batu pondasi yang sangat kokoh, sedangkan tubuhnya membeku menjadi dinding-dinding yang tegap, mata dan telinganya menjelma menjadi pintu-pintu dan jendela, dan rambutnya yang sangat hitam dan tebal menggumpal menjadi atap yang pekat oleh lumut kering. Maka, untuk selanjutnya, dalam kepalaku, itulah ayah.
***
Selain rumah yang kami tinggali, wajah ayah (yang dalam arti sebenarnya) hanya bisa kutilik di foto itu. Foto ayah satu-satunya yang dimiliki ibu. Masa kecil tak pernah memberiku pelajaran akan bagaimana sosok ayah yang hilang dan hanya menjelma menjadi sebuah rumah. Ketika kawan-kawan sepermainanku bercerita tentang ayah, aku bercerita tentang ibu. Ketika mereka berwarta bahwa ayah mereka selalu diundang dalam kegiatan Yaasin dan Tahlil, kemudian pulang dengan nasi berkat yang masih mengepul, aku pun selalu menyela bahwa ibukulah yang selalu diundang sebagai juru masaknya. Pernah pula mereka bertanya, apakah aku pernah dipanggul di bahu seorang ayah, maka aku balik bertanya, apakah mereka pernah dipanggul di bahu seoarang ayah yang sekaligus ibu. Ibu yang ayah, atau ayah yang ibu. Dan mereka tak pernah bisa menjawab.
Aku tak tahu, apakah aku lebih beruntung dari mereka, atau mereka yang lebih beruntung dariku. Yang pasti, mereka tak pernah memiliki ibu seperti ibuku. Ibu yang sangat tangguh sekaligus lembut. Ibu yang sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi seorang ayah sekaligus seorang ibu.
Meskipun kecil, aku cukup pandai bersilat lidah. Pernyataan atau pertanyaan teman-teman sepermainan—yang selalu dilempar di mukaku, selalu bisa kutangkal dengan lidahku. Meskipun sepulang bermain, sesampainya di rumah, tiba-tiba aku menjadi seorang pemarah dan pemurung. Dan sasaran yang paling tepat untuk melimpahkan semua rasa kesalku adalah ibu. Ibu yang tak pandai bersilat lidah, melawan eyelanku.
“Ibu, carikan aku ayah.” Pintaku dengan hati sebak.
Ibu terantuk kaget mendengar suara yang mengempas dari mulutku.
“Ayah?” ia seperti tak mendengar pintaku.
“Iya, carikan aku ayah.”
“Kita kan sudah punya ayah.”
“Maksudku ayah yang manusia, bukan ayah yang rumah.”
“Ayahmu kan ayah yang manusia. Lihat fotonya, alangkah tampannya ayahmu itu, alisnya tebal sepertimu.” Ibu mencoba mengalihkan perhatian.
“Maksudku ayah yang bisa menyentuhku, ayah yang bisa menggendongku di atas bahunya, ayah yang di undang ke Yaasinan dan pulang membawa nasi berkat. Ayah yang…”
Raut wajah ibu mulai berubah, seperti bara yang padam.
“Ayo, Bu. Aku ingin seperti teman-teman yang punya ayah manusia, bukan rumah dan foto saja.”
Kini mata ibu berkilat, seperti kaca tertikam hujan.
“Apakah ibu tidak cukup menjadi ayahmu?” katanya kemudian, berkabut.
“Tapi ibu kan perempuan.”
Ibu kembali terdiam.
“Ibu tak punya kumis dan lengan yang kekar.”
Ibu menunduk.
“Ibu tak bisa mengajariku sepak bola, apalagi silat.”
Ibu pura-pura tertidur.
Setelah ibu sempurna dalam diamnya. Tiba-tiba aku merasa sangat bersalah pada ibu. Ingin rasanya kembali kumakan kata-kataku. Kalau sudah begitu, aku akan mendekati ibu perlahan-lahan dan menidurkan kepalaku di atas pangkuannya. Supaya bisa kutilik mata ibu dari bawah, apakah ia memang tertidur atau hanya menyembunyikan air mata.
***
Ibu benar, ia tak perlu menjelaskan semuanya. Karena usia lebih sempurna menjelaskannya. Aku tahu, mengapa dulu ibu menyebut ayah sebagai rumah. Ia hanya ingin melukiskan bagaimana sosok seorang ayah—yang tangguh dan selalu melindungi, dari terik, hujan, dan ancaman. Aku tahu, anak delapan tahun takkan mungkin tertimpa beban mengartikan kata ‘meninggal’.
Ketika usiaku menginjak belasan, dengan sangat perlahan ibu mulai menjelaskan bahwa hidup dan mati adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya akan didatangi kematian—hanya karena mereka pernah hidup. Maka berjubal-jubal pertanyaan berkecambah dalam kepalaku setelah cerita itu.
Dan bagaimana kematian menjemput ayah? Ada badai di paru-parunya yang melupakan bah merah, begitu jawab ibu.
Dan di mana kini ayah dimakamkan? Ada di kampung leluhur ayahmu, jauh sekali dari sini, jauh sekali…
Dan bagaimana kita bisa berada di tempat yang jauh dari ayah? Ayahmu adalah seorang perantau, dan seorang perantau harus kembali ke tanah rahimnya, tak peduli renta atau jasad semata…
Dan mengapa ibu tidak mencari lelaki yang baru? Aku sudah memiliki lelaki yang baru, kau! kenapa aku musti mencari yang lain…
Dan ibu seorang janda, tidakkah itu sangat sulit? Kesulitan yang paling sulit telah kutelan, yaitu ketika ayahmu pergi, dan bahkan jasadnya bagai haram kusambangi…
Sebenarnya aku ingin bertanya yang lebih dari itu: bagaimana ibu bertahan dari dingin tanpa seorang lelaki selama puluhan tahun, namun pertanyaan itu tampaknya tak perlu kuungkapkan. Aku sudah tahu jawabannya, satu kata: tangguh. Ya, ibu hanya tangguh. Sangat tangguh.
***
Usia bagai jalan setapak, dari tempat berangkat akan terus melaju ke tempat tujuan. Di usiaku yang masih labil, rinduku akan sosok ayah kian merajalela. Aku tak ingin mengartikan ini sebagai perjalanan yang timpang, tapi kulihat lukisan keluarga yang terpajang di dinding hatiku begitu suram, tak sempurna. Aku bagai unggas tersesat yang hanya memiliki satu sayap. Tak mampu terbang. Hanya meloncat-loncat.
“Lelaki memang ditakdirkan menjadi ayah, kelak kau pun akan menjadi seorang ayah.” seloroh ibu suatu malam, ketika aku memintanya bercerita kembali tentang ayah. Tentu saja aku terhenyak.
“Menjadi seorang ayah?” balasku gagu, “oh, tentu saja.” Itu yang melesat dari mulutku. Tapi, dalam kepalaku lain. Dalam kepalaku, kubayangkan diriku tumbuh menjulang menjadi sebuah rumah, menjadi seorang ayah. Ah, alangkah rapuhnya jika rumah itu nanti ditempati. Aku tak punya kaki untuk pondasi. Dari mana kuambil pelajaran mejadi sebuah rumah, sedangkan aku tak pernah memiliki rumah.
“Kelak kau akan menikah dan menjadi seorang ayah. Kau akan menjadi rumah untuk keluargamu, untuk istri dan anak-anakmu. Kau akan menjadi pelindung bagi mereka,” kata ibu lagi.
“Kenapa ayah selalu diartikan sebagai sebuah rumah, Bu?” iseng-iseng aku bertanya.
“Karena rumah adalah tempat yang aman untuk berlindung.”
“Apakah itu berarti, jika badai dan puting beliung mempesiang rumah kita, ayah kita akan mati?”
Ibu terdiam. Ia mengusap kepalaku, menyuruhku segera tidur. Sudah malam, katanya. Ia sendiri kembali ke kamarnya dengan langkah terhuyung dan pundak yang berguncang. Maka, setelah ibu kembali ke kamarnya dan malam menjadi sepi, aku akan menggeledah seisi rumah untuk mencari letak wajah ayah. Namun tak pernah kutemukan. Hingga akhirnya aku termangu di ruang tengah. Ruang yang kata ibu, dulu menjadi tempat semedi kesukaan ayah.
Di sana hanya ada sebuah ranjang reot dan kasur tipis yang kapasnya sudah menggumpal. Aku selalu termenung di tempat itu. Membayangkan ayah yang datang tiba-tiba dan memelukku, kemudian mengajakku berbincang panjang. Namun di sana tak pernah ada sesuatu yang lain selain sepi yang menggumpal. Di ranjang itu aku tak pernah bisa memejamkan mata.
***
Entah musabab apa, malam itu, ketika rinduku pada ayah memuncak, malam menjelma menjadi waktu yang sangat panjang, bagai tanpa ujung. Kamar ibu sudah sepi. Barangkali ibu sudah terbang ke alam mimpi menemui ayah.
Dan mataku masih nanar. Aku termangu menekuni malam yang seperti tengah merencanakan sesuatu. Aku tersentak ketika hujan pertama menikam atap rumah bagai hentakkan ujung tombak. Kasar dan keras. Sesekali kilat menjantani malam dengan sinarnya yang hanya bagai kedipan mata. Suara angin begitu nyata bagai tampak wujudnya.
Gemuruh yang gaduh. Gaduh yang gemuruh.
Aku melangkah dari ranjang reot itu. Kuintip ibu yang sudah terbaring pulas di ranjang kamarnya. Kutengok pula malam di luar jendela. Buruk sekali. Hujan dan angin seperti bersatu menuntaskan dendam. Bunga-bunga di halaman rebah bagai tertidur. Pepohonan meliuk-liuk bagai anak kecil yang merajuk. Sepi yang beberapa waktu lalu menggumpal kini mencair oleh tikaman air yang bising dan mengkhawatirkan. Aku kembali ke ranjang reot tempatku bersemedi, hingga kudengar pintu depan berderak bagai didobrak.
“Ayah, kaukah itu?” kata itu meluncur begitu saja. Kutengok ruang depan, pintu sudah menganga. Daun pintu terhempas membentur dinding beberapa kali. Apa aku lupa mengunci pintu? Kudorong daun pintu kuat-kuat melawan angin yang mengibaskan butir-butir air dan membuat kudukku meremang, menahan dingin.
“Ada apa?” suara ibu mengagetkanku.
“Cuma angin.” Jawabku. Lantas ibu menyuruhku cepat-cepat tidur sebelum ia kembali ke kamarnya.
Aku kembali ke ranjang reotku. Di sana kurebahkan tubuh. Mataku tengadah menatap atap yang menghitam. Suara angin dan hujan merajalela. Aku tak bisa memejamkan mata. Yang menderu dalam kepalaku hanya tentang ayah. Di malam-malam galau begini ayah bagai sangat dekat. Dekat sekali. Hingga tiba-tiba telingaku menangkap suara gemuruh yang lebih gaduh dari sebelumnya.
Pada detik itulah atap yang meneduhiku roboh menimpa tubuhku. Seperti adegan dalam sebuah mimpi. Basah mulai mengguyurku. Kurasakan perih dan nyeri di sekujur tubuhku. Di antara reruntuhan, mataku bagai menangkap wujud angin mengibaskan ekornya yang terakhir, menyapu dinding dan kamar ibu. Sempat kudengar teriakkan ibu sebelum perlahan semuanya menjadi sunyi. Sunyi sekali.
Pada detik itu, kurasakan ayah tengah mendekapku. Dan mungkin mendekap ibu. Kami meringkuk tanpa suara dalam dekapan ayah. Dekapan ayah yang sunyi. Sunyi sekali.***
-Malang, Januari 2011
Cerpen Mashdar Zainal
Dimuat di Suara Merdeka, 21 Agustus 2011
***
DIA hartaku satu-satunya, bagaimana aku tidak gila kehilangannya. Selepas anak semata wayang kami pergi ke luar negeri, mencari kerja katanya, dan puluhan tahun tidak kembali, aku tak punya apa-apa lagi kecuali dia. Barangkali dia tampak menyusahkan dan tidak istimewa sama sekali. Namun, dialah bejana emas yang selama ini menampung curah hujan yang terus menderas dalam kepalaku, mengguyur mataku, menguyupkan hatiku.
Semenjak divonis stroke, dia telah menjelma bayi. Setiap hari hanya terbaring di ranjang tidur yang kasurnya kian hari kian lepek dan menggumpal. Makan harus aku yang menyuapinya. Mandi harus aku yang memandikannya. Bahkan, buang air pun harus aku yang menimpal dan mencebokinya. Barangkali memang di situ mukimnya cinta. Tak ada keluh. Tak ada kesah. Semua kujalani dengan debaran yang masih sama. Debaran ketika pertama kali bertemu dengannya. Debaran ketika ia mendatangi abak-emakku untuk memintaku. Debaran ketika dia mulai mengenakanku menjadi pakaiannya. Semua masih sama. Hingga detik ini. Detik ketika dia terlihat sangat bodoh dan tidak berdaya.
***
SUAMINYA meninggal tepat ketika azan subuh berhenti. Pagi hari rumahnya ramai oleh handai tolan yang melawat dan mengikrarkan bela sungkawa. Menjelang siang, jenazah dimandikan dan dikafani, menjelang sore pemakaman baru usai. Petang merembang. Satu per satu tetangga dan handai tolan berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing. Petang itu mereka sempat menyaksikan mendung hitam yang sangat tebal, bergulung-gulung di pelupuk mata perempuan itu. Mendung hitam yang mereka yakini akan menjadi pertanda musim hujan yang panjang.
Tepat selepas isya para tetangga dikagetkan oleh raungan panjang dari dalam rumah itu. Raungan panjang yang sesekali diikuti geletar seperti suara petir. Juga desah napas yang terdengar seperti angin yang marah. Dari celah-celah pintu para tetangga juga sempat menilik lampu neon yang nyala-mati, yang mereka yakini sebagai kilat yang berkedip-kedip. Beberapa saat kemudian, orang-orang mulai mendengar titik gerimis yang bergemeletak menikam lantai, meja, dan kursi. Semakin lama titik gerimis itu bergemericik dan menderas. Beberapa orang yang penasaran, berjingkat mendekati rumah itu. Dan dari balik pintu yang terkunci, mereka bersumpah, bahwa mereka mendengar gemericik air yang sangat nyata. Seperti ricik hujan yang sangat deras. Sejak saat itu, rumah limas itu tampak muram. Pintunya tak pernah lagi terbuka.
***
AKU percaya, bahwa kehilangan adalah ibu dari semua duka. Bahkan aku tak bisa melukiskan bagaimana perasaanku ketika dia benar-benar pergi dan tak akan pernah kembali. Sungguh, ditinggalkan selalu lebih miris daripada meninggalkan.
Malam itu, dia mengeluhkan udara yang sangat dingin. Dia mengatakan bahwa tulang-tulangnya seperti membeku dan diremukkan. Jahe hangat kuseduhkan, berlapis-lapis selimut kubalutkan. Dia masih saja menggigil. Matanya mendelik. Tubuhnya gemetar. Bibirnya yang kering mengelupas lapis demi lapis. Semalam suntuk aku mencari sesuatu yang bisa menghangatkannya. Di sebelahnya, kubuatkan perapian kecil dari kayu-kayu yang kucabut satu persatu dari papan dinding. Dia masih saja menggigil.
Kutanyakan padanya, apa yang sekarang dia rasakan? Dia tak menjawab. Tubuhnya masih gemetaran. Tiba-tiba aku sangat takut. Sangat khawatir. Maka, aku tak perlu melakukan yang lain. Kehangatan yang masih tersisa di tubuhku pun kuberikan. Aku memeluknya erat-erat. Seolah dia akan hilang. Malam terus merangkak. Sangat pelan. Sangat pekat. Sangat dingin.
Di akhir sepertiga malam, suara tartil memenuhi udara di luar sana. Dia masih menggigil. Diikuti suara tarhim yang melengking seperti tangisan yang sangat syahdu. Ia masih gemetar. Azan subuh pun memulai kalimat pertamanya. Ketika itu gemetar badanya sedikit sudah berkurang. Namun dari matanya, air terus mengucur seperti hujan. Tepat ketika azan subuh berhenti. Dia tidak menggigil lagi. Tidak gemetar. Tidak bergerak. Tubuhnya sangat dingin. Sedingin besi terendam hujan.
Aku turut kaku. Menatap lelehan yang masih tampak hangat di matanya. Menatap kedua matanya yang mendelik dan penuh kabut. Menatap mulutnya yang menganga, seperti ingin mengatakan sesuatu namun tak pernah sampai. Kurasakan, mendung hitam mulai berarak menutupi penglihatanku. Dari subuh hingga magrib. Menjelang isya mendung hitam itu kian merajalela, membutakan mataku. Aku tak bisa melihat kecuali dunia yang remang, dingin, dan sangat tidak ramah. Detik itu desah napasku gusar. Aku meraung panjang. Sekeras-kerasnya. Setelah itu, hujan mulai turun berdebam dalam kepalaku. Mengguyur hatiku. Mengguyur mataku. Mengguyur rumahku.
***
SETIAP kali menatap rumah itu, kami selalu merasa iba. Membayangkan perempuan tua itu duduk sendiri di sudut kamar. Memeluk lutut. Menggigil kedinginan. Perempuan tua itu memang terlampau larut dalam kesedihan. Tak pelak sesuatu dalam kepalanya rusak, terendam kesedihan yang sangat hitam dan kental. Kami tak pernah bisa menyelami kesedihan yang berkedung dalam kepalanya itu. Bagaimana mungkin kami bisa. Ia sendiri tak mau membagi kesedihan itu pada kami. Ia tak pernah mengizinkan kami masuk ke dalam rumahnya, ke dalam dunianya, lubuk kesedihannya.
Semenjak malam itu… malam ketika hujan pertama turun dalam rumah itu… pada malam selepas pemakaman suaminya. Perempuan tua itu memang tak pernah lagi keluar rumah, kecuali membuang sampah. Kami tak pernah tahu apa yang kemudian ia makan. Tubuhnya kian susut. Ia telah menyerahkan dirinya dalam kesedihan yang paripurna, hingga ia bagai tak punya waktu untuk memikirkan dirinya. Musabab itulah, sebagai tetangga, kami merasa perlu untuk pura-pura bertamu ke rumahnya, entah untuk mengantarkan sedikit makanan, entah bertanya keadaan. Kami rasa, sebagai tetangga, kami pantas melakukan itu. Ketika itu, kami berharap, ia mau membuka diri dan membagikan sedikit kesedihannya pada kami. Namun sungguh di luar dugaan, perempuan tua itu malah melempar kami dengan sandal sambil berteriak-teriak mengusir kami pergi.
Perempuan tua itu telah sempurna menjadi hantu. Rambutnya yang pecah memutih tak lagi ia gelung… ia urai seperti rambut nenek Lampir. Pakaian yang melekat di tubuhnya adalah pakaian terakhir yang ia kenakan, yang kami lihat ketika jenazah suaminya dikebumikan. Sangat kumal dan bau. Kami tahu, kami sudah tak bisa berbuat banyak. Perempuan tua itu telah menyerahkan dirinya pada kesedihan yang tak beranah tepi. Hingga ia tersesat di sana dan tak pernah bisa kembali.
***
HUJAN terus mengamuk dalam kepalaku. Tak kenal jeda. Tak kenal reda. Berkali-kali airnya merembes melalui sudut mataku. Terkadang meleleh dari lubang hidungku. Aku menggigil karena hujan itu. Hujan kelam yang terus menerus mengguyurku. Mengguyur hatiku. Mengguyur mataku. Mengguyur rumahku. Aku sendiri tak tahu bagaimana cara menghentikan hujan itu. Hujan itu hanya akan sejenak reda bilamana aku tertidur. Bilamana dunia kasat mata lenyap dari pandanganku. Dan digantikan mimpi-mimpi yang hangat dan beraneka rasa.
Tubuhku gemetar. Aku menggigil. Aku takkan mampu bertahan jika hujan ini terus mengamukku, mengguyurku sedemikian rupa. Tanpa jeda. Tanpa reda. Aku harus segera tidur. Tidur. Supaya hujan ini berhenti. Tidak membasahi hatiku. Tidak membecekkan mataku. Tidak menguyupkan rumahku. Ya, aku harus segera tidur. Tidur yang panjang. Meski dengan cara paling mengerikan.
***
PADA sebuah malam, kami terheran-heran ketika mendapati rumah itu tiba-tiba sunyi. Tidak ada raungan panjang seperti geletar suara petir. Tidak ada kilat yang berkedip-kedip. Tidak ada pula suara gemericik yang menikam lantai, meja, dan kursi. Kata para tukang ronda, suara gemuruh itu telah reda sejak malam lalu.
Maka, seperti kali pertama kami mengintip bagaimana hujan itu bermula, kami pun ingin tahu bagimana hujan itu reda. Kami berjingkat mendekati rumah itu. Rumah yang tidak lagi menggigil namun tampak lebih muram dan menyedihkan. Rumah itu hening. Sangat hening. Seperti penyusup, kami mengintai dari luar pintu yang bergeming dan kusam. Kami mencari celah lubang pintu untuk mengetahui rahasia rumah itu.
Kami mulai mengintip satu persatu. Dan kami tak mendapati apa-apa selain keheningan. Keheningan yang menyelimuti seonggok tubuh kaku yang berayun-ayun di balik pintu. Di antara mata yang mendelik dan lidah yang menjulur, kami masih melihat sisa-sisa hujan itu. Dan ketika kami menatap mata itu, tiba-tiba mendung hitam bergulung-gulung mendatangi kepala kami. (*)
.
Dimuat di Annida-Online, 25 Juli 2011
Namanya Sujarwo, karena kalau tertawa mulutnya ngablak-ngablak, maka ia dipanggil Jarwo Ngablak. Jarwo Ngablak asli orang Jawa, ia asli Ponorogo, merantau ke Jakarta pun alasanya tak muluk-muluk: ingin melihat ibu kota. Ia tinggal membujang di kamar petak yang telah ia kontrak selama bertahun-tahun. Sebagai lulusan SD, tentu ia tidak bekerja di perusahaan, apalagi pegawai negeri. Sehari-hari Jarwo Ngablak mangkal di Stasiun Pasar Senen, jualan bensin eceran dan pulsa, nyambi jadi tukang parkir. Keadaan itu tidak pernah membuat Jarwo Ngablak mengeluh, toh apalagi menangis.
Jarwo Ngablak memang orang yang humoris. Kelewat humoris. Ia gampang sekali tertawa. Ia bisa menertawakan apa saja, siapa saja, termasuk dirinya sendiri. Cara tertawa Jarwo Ngablak pun sedikit berlebihan dibandingkan kebanyakan orang. Jika ia tertawa matanya akan menyipit hingga hampir terperjam. Hidungnya akan kembang kempis seperti anjing pelacak. Bahunya pun akan berguncang naik turun seperti sedang naik becak di jalan yang penuh lubang. Dan mulutnya, akan menganga beberapa senti, ngablak-nagblak, hingga menyerupai gua kecil yang sanggup menelan bola kasti. Begitulah, Jarwo Ngablak takkan dipanggil Jarwo Ngablak tanpa alasan.
Maka, jika seseorang tengah dilanda melo-drama, ia akan berlari menemui Jarwo Ngablak, minta dikasih resep tertawa yang awet. Selain jago tertawa, Jarwo Ngablak juga ahli dalam membuat lelucon. Orang yang tak pernah tertawa pun akan terbahak-bahak mendengar leluconnya. Apalagi kalau sudah menyangkut lelucon negeri ini. Jarwo Ngablak memang seolah ditakdirkan menjadi oase bagi orang-orang yang mengalami penyakit cemberut dan sulit tertawa. Selain pawakan Jarwo Ngablak memang sudah lucu. Hingga melihat raut mukanya saja, seolah orang sudah bisa tertawa.
Sambil tertawa, jarwo ngablak pernah berujar, “Hidup itu cuma sekali, buat apa dibawa susah. Lha wong sudah susah. Mendingan tertawa, supaya kesusahan itu akrab dengan kita. Kalau sudah jadi teman, kesusahan itu ternyata lucunya minta ampun. Hahaha…”
Melihat kehidupan Jarwo Ngablak kadang-kadang bisa membuat orang iri. Hidup yang mengalir dan penuh tawa, tak ada keluh-kesah, tak ada sedu-sedih, tak ada iris-tangis. Benar-benar mendekati sempurna. Bahkan, orang kaya sekalipun belum tentu bisa seperti Jarwo Ngablak: memenuhi hidupnya dengan gelimang tawa. Semua berjalan dengan sahaja, hingga tiba-tiba, pada sebuah senja di hari Jum’at, Jarwo Ngablak duduk selonjor di depan pintu kamar kontrakannya denga wajah tertekuk. Tentu saja pemandangan itu ganjil.
“Kamu sedang tak enak badan, Wo?” Tanya Sukamto, teman yang ngontrak di kamar sebelah.
“Saya cuma pingin nangis.” Jawab Jarwo Ngablak apa adanya.
Mendengar jawaban itu, Sukamto ingin tertawa tapi tak jadi, “memangnya kenapa? Ada berita duka dari kampung, ya?”
“Bukan.”
“Lha terus?”
“Saya cuma pingin nangis. Pingin nangis aja.”
Melihat raut muka Jarwo Ngablak, tawa Sukamto benar-benar meledak. Lucu bin aneh. Jarwo Ngablak ingin menangis tanpa sebab? Apa kata dunia? Ketika tawa Sukamto mulai reda, perlahan Jarwo Ngablak memulai ceritanya. Cerita yang menjadi musabab kenapa ia bersikeras ingin menangis.
“Tadi, waktu khotbah Jum’at, Pak Khotib bercerita panjang lebar. Ia menceritakan kisah-kisah sahabat di jaman Rasulullah, kisah-kisah yang mengharukan, hingga beliau sendiri berkhutbah sambil sesenggukan, bahkan banyak juga jama’ah yang menitikkan air mata. Dan saat itu, saya merasa asing. Saya perhatikan cuma beberapa orang saja yang tidak menitikan air mata, termasuk saya.
“Menjelang akhir khotbahnya. Pak Khotib juga menyampaikan, bahwa menangis itu sehat. Menangis itu menandakan kelembutan hati seseorang. Beliau juga mengutip ayat-ayat, katanya Tuhan menyuruh manusia untuk lebih banyak menangis daripada tertawa. Dan kata beliau lagi, terlalu banyak tertawa itu bikin hati mati. Orang kalau tidak bisa menangis, katanya hatinya sudah mati, sudah jadi batu. Detik itu saya mencoba sekuat tenaga untuk menangis, dan ternyata saya gagal. Saya memang sudah tak bisa menangis. Hati saya sudah mati, hati saya sudah jadi batu.”
Mendengar cerita Jarwo Ngablak, tiba-tiba Sukamto tercengang. Ia kembali ke kamarnya seperti batu yang sedang berjalan, tanpa salam, tanpa ekspresi. Hari-hari , Jarwo Ngablak semakin larut dalam obsesinya: ingin menangis. Beberapa orang yang datang padanya dengan wajah murung akan kembali dengan wajah semakin murung, karena Jarwo Ngablak tidak lagi membagi-bagikan resep tertawa. Jarwo Ngablak tidak lagi memaparkan lelucon-lelucon. Kepada orang-orang yang menemuinya, Jarwo Ngablak justru menceritakan isi dari khotbah Jum’at yang disimaknya beberapa hari lalu, sambil meminta balik resep yang jitu untuk bisa menangis. Menangis memang jauh lebih sulit dibanding tertawa.
Namun, apapun yang terjadi, Jarwo Ngablak bersikeras ingin menangis. Ia harus bisa menangis. Meski ia sudah benar-benar lupa bagimana cara menangis. Bahkan ia sudah tak ingat, kapan terakhir kali ia menangis. Berbagai upaya telah ia lakukan supaya ia bisa menangis. Namun tetap saja hasilnya nihil. Air matanya seperti raib entah ke mana.
Jarwo Ngablak semakin murung. Ia teringat kembali petuah Pak Khotib, bahwa jika seseorang tidak bisa menangis berarti hatinya sudah jadi batu. Jarwo Ngablak merinding, membayangkan seonggok batu bersarang di dadanya, tentu berat sekali, sesak sekali.
“Mungkin sesekali kamu perlu nonton sinetron ‘Anak Tertukar’. Setiap jam delapan malam, di sinetron itu selalu ada adegan menangis,” saran seorang teman.
“Sudah! Melihat mimik mereka menangis saya malah tertawa terbahak-bahak.” Balas Jarwo Ngablak.
Jarwo Ngablak juga sudah nonton film india yang paling sedih yang direkomendasikan Sukamto. Tapi tetap saja, air matanya tak bergeming, malah Sukamto sendiri yang menangis tak karuan, sampai-sampai air juga keluar dari hidungnya.
“Ngupas bawang, ngupas bawang!” saran seorang teman yang lain.
“Ini hubungannya dengan hati. Ngupas bawang nggak ada hubunganya dengan hati. Saya pingin nangis yang bener-bener nangis, nangis yang dari hati.”
“Berhubungan dengan hati, ya? Jangan-jangan hatimu memang sudah mati gara-gara banyak tertawa, coba kamu silaturrahim ke ustadz atau kiyai, barangkali mereka bisa membantu.”
Karena bersikeras ingin bisa menangis, Jarwo Ngablak pun akhirnya nekat mendatangi seorang ustadz. Ustadz yang beberapa waktu lalu menyampaikan khotbah Jum’atnya. Tanpa basa-basi, Jarwo Ngablak pun menceritakan kegelisahan hatinya. Mendengar cerita Jarwo Ngablak, ustadz tersenyum geli sambil sesekali manggut-manggut.
“Hati yang mati itu hanya sebuah kiasan saja,” ustadz memulai petuahnya, “segala sesuatu akan lapuk, usang, hilang, dan bahkan rusak jika tidak kita gunakan. Termasuk air mata. Seperti air-air yang lain, air mata pun memiliki mata air. Mata air air mata takkan mengalir lancar jika ia terus kamu timbuni dengan tawa berlebihan, bisa-bisa mata air air matamu tersumbat dan kering. Kalau sudah begitu, tentu saja kamu takkan bisa menangis.”
“Solusinya bagaimana, Ustadz?” Jarwo Ngablak menyela.
“Basahi terus mata air air matamu.”
“Dengan apa ustadz?”
“Dengan mempersedikit tawa. Tertawa boleh, tapi kalau berlebihan juga bahaya.”
“Akhir-akhir ini saya hampir tak pernah tertawa, Ustadz. Saya malah berusaha keras supaya bisa menangis, tapi tetap saja, saya tidak bisa menangis. Bahkan tahun lalu, ketika bapak saya meninggal, saya tidak menangis sama sekali. Barangkali orang-orang memandang saya tegar. Tapi entahlah, ketika itu saya juga sangat sedih. Hanya saja saya tidak bisa menangis.”
Ustadz geleng-geleng kepala, “Ternyata, tidak bisa menangis itu menderita, ya?”
“Sangat, Ustadz.” Ujar Jarwo Ngablak dengan wajah memerah, mata memerah. Sesekali ia mengusap matanya. “Barangkali hati saya memang sudah jadi batu, Ustadz.” Ujar Jarwo Ngablak lagi sebelum ia terdiam agak lama.
“Ayolah! Keluarkan uneg-unegmu. Saya akan jadi pendengar yang baik.”
“Ya itu, Ustadz. Saya pingin normal, seperti orang-orang. Saya pingin bisa menangis. Saya tidak mau hati saya ini jadi batu. Tapi sepertinya semua sudah terlambat.” Jarwo Ngablak kembali menyeka matanya. Ustadz tersenyum dan kembali menggeleng-gelengkan kepala.
“Tidak bisa menangis memang susuatu yang patut ditangisi. Apa kamu tak sadar, dari tadi kamu ngoceh sambil menangis.”
Jarwo Ngablak mengangkat kepala mendengar tuturan ustadz, ia kembali menyeka matanya, punggung tangan dan jari-jemarinya basah.
“Tak apa. Teruskan! Menangis itu sehat. Menangis itu melegakan.” ujar ustadz lagi.
Jarwo Ngablak masih belum percaya kalau yang diusapnya sedari tadi adalah air mata. Air mata yang mulai basah dan merembes dari sumbernya, dari mata airnya: hati. Jarwo Ngablak pulang dengan hati plong. Ia tak pernah merasakan kelegaan semacam itu seumur hidupnya.
Di dalam kamar kumalnya, Jarwo Ngablak berbaring dengan mata terpejam. Ia membayangkan di dadanya menyembul sebuah mata air yang airnya mulai merembes perlahan, merambati dinding hatinya. Air itu mengalir sangat lancar sampai ke sudut matanya.***
Malang, Juni 2011
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)
