Tampilkan postingan dengan label * Hamzah Puadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label * Hamzah Puadi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 27 November 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Majalah Ta’dib, Edisi 45/Th.IX/November 2011

Laila - yang hampir setahun murung, melamun, dan mengurung diri - tiba-tiba berubah serta menjadi perbincangan orang banyak. Menurut cerita dari mulut ke mulut, ia sembuh lantaran meminum air zam-zam yang dibawa pulang oleh pamannya setelah menunaikan ibadah haji. Katanya lagi, entah benar atau tidak, air itu telah diberi bacaan oleh seorang syaikh di Arab Saudi.

Laila yang dulu tak tampak lagi. Sinar matanya yang semula sayu, kini musnah. Bola matanya memancarkan rona keemasan. Tajam dan tegar. Dengan pakaian warna putih yang selalu melekat di badan, ia menjelma sosok agung serta mampu mengkhilafkan banyak orang.

Perubahan pada diri Laila tidak berhenti sampai disitu. Ia juga meninggalkan pekerjaannya sebagai seniman patung. Karya-karyanya memang telah bertebaran hingga ke manca negara dan dikoleksi jutaan umat. Tak heran, Laila adalah alumni institut kesenian ternama. Satu persatu patung yang telah ia buat dan menempati ruang pamer di rumahnya berubah menjadi abu. Bahkan sebuah patung besar yang telah ditawar jutaan oleh penggemar seni pun tak luput dari kehancuran. Banyak sekali yang menyayangkan tindakan Laila.

Orang tuanya sendiri bingung, apalagi orang-orang yang selama ini memuja karyanya dan menganggap karya Laila sebagai seni tinggi. Sehingga bermunculanlah orang-orang dari seluruh media menanyakan kenapa ia menghancurkan sendiri karyanya. “Alangkah sayangnya. Beberapa karya agung harus musnah. Bukankah mengundurkan diri dari dunia seni tidak harus diikuti dengan menghancurkan karya sediri?” Begitu kata kebanyakan pengamat seni yang dimuat di berbagai media massa.

Laila menjawab, “saya tidak ingin orang-orang menjadi musyrik. Memuja patung adalah perbuatan syirik walaupun kita tidak bersujud dihadapannya. Dengan ini juga saya memerintahkan kepada kolektor di seluruh dunia yang masih menyimpan patung karya saya untuk memusnahkannya. Patung tidak akan memberikan kedamaian dan keselamatan pada umat manusia. Selamanya mereka bisu. Saya tidak ingin seperti itu. Kini saatnya saya akan membuka suara untuk menyampaikan suatu kebenaran.”

Setelah itu Laila menjadi sangat terkenal. Apalagi setelah ia memproklamirkan dirinya sebagai utusan Tuhan. Juru Selamat baru. Seluruh media cetak dan elektronik tak henti-henti memuat berita tentang dirinya. Berbagai respon bermunculan. Ada yang mengakui kebenaran kata-katanya, namun tidak sedikit yang menghujatnya. Di antara orang-orang yang menolak pengakuan itu menganggap Laila sudah gila. Sehingga dirinya kini lebih dikenal dengan sebutan Laila Majenun.

Sebenarnya cerita awalnya sederhana. Laila yang menikmati hidup sebagai seniman kaya raya dan terkenal tiba-tiba merasakan kehampaan. Apa yang dia ciptakan adalah sebuah salinan dari karyaNya. Ia hanya meniru. Kejenuhan serta kelelahan menyeruak. Batinnya bergolak. Tak pernah reda, hingga proses kreatifnya seketika mandek.

Lalu muncul pertanyaan untuk apa sebenarnya hidup ini? Ia mulai mencari jawaban. Akibat pencariannya selama beberapa tahun, lambat laun Laila memandang dunia hanya sebagai tempat mampir saja, dan hidup manusia dirasakan sebagai senda gurau belaka. Ia sama sekali tak tertarik lagi dengan pekerjaannya. Ia ingin mencari sesuatu dibalik yang kasat mata. Suatu kebenaran yang dianggapnya masih tersembunyi. Sebuah ‘Diri’, yang tak hanya menciptakan materi untuk patung-patungnya, tapi Pencipta yang telah menciptakan dirinya.

Dalam pencarian itu ia mengalami berbagai peristiwa yang akhirnya membuat fisiknya lemah. Badannya tidak mampu menopang jiwanya yang haus akan ‘kebenaran yang sesungguhnya’. Pertanyaan dalam dirinya belum terjawab. Perlahan-lahan tubuh itu semakin lemah, sedangkan pikirannya melayang-layang mencari pijakan. Hingga akhirnya air zam-zam itu yang kabarnya mampu menyembuhkannya. Banyak yang menyebutnya mukjizat. Cuma sayangnya ia bersikap sangat aneh, begitu kata kebanyakan orang. Namun tak sedikit yang kagum pada Laila.

Sebagian besar orang yang kagum pada Laila mulai menyebar berita yang bermacam-macam. Ia dikatakan memiliki kesaktian. Beritanya cepat menyebar ketika ia mampu menyembuhkan penyakit. Mereka juga percaya bahwa ia adalah utusan Tuhan atau juru selamat atas kebobrokan moral yang sedang melanda negeri ini dan mengakibatkan munculnya bencana dimana-mana. Pengikutnya sangat yakin bahwa Laila mampu memberikan jalan keluar dari setiap masalah. Ia telah dianggap seperti wali atau orang suci.

Kabar makin cepat menjalar. Secepat angin dan kedipan mata. Maka datanglah orang-orang yang putus asa dalam menghadapi hidup, terutama orang-orang yang merasa hatinya gersang dan mereka yang tidak sembuh-sembuh didera penyakit. Setiap ada kesembuhan akan menjadi berita yang berpindah bak kilat. Makin lama makin banyak orang yang menemui Laila, sehingga ia mengubah ruang pamernya yang sekarang kosong menjadi tempat pengobatan.

Bukan cuma itu, setiap malam Jum’at ia mengundang orang-orang untuk berkumpul dan mendengarkan wejangannya. Mereka harus berpakaian serba putih dan selama 24 jam sebelumnya hanya boleh makan nasi putih serta minum air putih. Laila berkata, “hati kita harus putih dan bersih, maka dari itu semua yang melekat di tubuh kita harus berwarna putih, dan yang masuk ke tubuh kita juga harus makanan yang putih serta murni. Kemurnian adalah sumber dari segala pencerahan.”

Dengan ajarannya, Laila semakin terkenal. Tapi ia makin menunjukkan berbagai keanehan. Salah satu keanehan adalah setahun kemudian perut Laila kelihatan membesar. Para jemaat di perkumpulannya mulai bertanya-tanya: Apakah Laila hamil? Satu dua orang mulai tidak percaya dengan ajaran Laila. Mereka mulai meninggalkannya karena menganggap guru mereka telah hamil di luar nikah, dan itu adalah perbuatan dosa yang tidak boleh dilakukan oleh orang suci yang telah tercerahkan.

Menyadari itu, Laila dengan cepat menceritakan kisah Maryam yang mengandung Nabi Isa. Dengan daya pikat bicaranya yang luar biasa ia berkata, “manusia kini sudah semakin keluar dari jalur kodratnya. Mereka tak lagi menyembah Sang Pencipta, tetapi benda-benda fana. Maka itu Tuhan akan kembali membimbing manusia dengan mendatangkan juru selamat yang akan lahir dari rahim saya. Karena saya memiliki jiwa yang murni dengan hati suci. Tidakkah kalian lihat Nabi Isa yang lahir dari seorang perawan suci? Tuhan, dengan kuasanya, telah menjadikan saya seperti Maryam. Saya jelas sekali mendengar bisikan-Nya setiap malam yang disampaikan oleh malaikat Jibril, Sang Ruhul Kudus.”

Banyak yang kemudian masih tetap mengikuti Laila walau kini jumlahnya berkurang. Bagi mereka yang percaya, Laila benar-benar akan melahirkan seorang juru selamat baru. Anggapan ini datang dari mereka yang telah sangat muak akan perilaku manusia yang telah berubah bagai hewan. Malah kata mereka hewan kini lebih berharga dari manusia. Lihatlah anjing-anjing yang tinggal di rumah mewah. Mereka lebih disayang dari pada gelandangan dan orang-orang miskin. Bau anjing-anjing itu bahkan jauh lebih wangi. Derajat manusia telah jatuh di bawah anjing.

Laila kemudian melahirkan bayi perempuan.

“Mengapa bayi guru perempuan?” Tanya salah seorang pengikut saat mereka berkumpul. Kini jumlahnya tinggal puluhan.

“Seorang juru selamat tidak harus laki-laki. Bahwa yang menjadi pemimpin haruslah laki-laki adalah gagasan yang selalu didengungkan oleh jiwa-jiwa kerdil yang haus akan kekuasaan. Sebenarnya mereka hanya takut tersingkir. Mereka tidak mampu bersaing.”

“Tapi selama ini yang dikirim Tuhan selalu laki-laki. Lihatlah orang-orang suci yang berada di seluruh kitab-kitab?”

Laila diam. Warna keemasan matanya mengarah ke seluruh pengikutnya. Mereka semua tertunduk. Sebentar lagi guru mereka akan mengeluarkan untaian mutiara dari mulutnya.

“Lihatlah diri saya. Bukankah saya juga adalah perempuan, dan saya selama ini telah memurnikan hati kalian. Sehingga kalian tidak hidup dalam kesengsaraan duniawi. Hidup kalian menjadi tenteram bukan. Coba seandainya kalian masih memikirkan harta dunia? Pasti hidup kalian semakin gersang dan mata batin kalian semakin tertutup. Lagi pula, orang-orang suci yang namanya tercantum dalam kitab-kitab itu juga lahir dari rahim perempuan.”

Para pengikutnya mengangguk. Mereka menyadari alangkah indahnya berada di dekat Laila. Mereka tak lagi gelisah dengan segala harta dunia yang selama ini mereka cari dengan susah payah, lalu ditumpuk, diiringi ketakutan akan kehilangan. Sebelumnya mereka merasa bagai budak yang selalu dipaksa untuk memenuhi kebutuhan nafsu perut, bawah dan atas perut.

Laila melanjutkan kata-katanya, “jika kalian meneliti seluruh kitab-kitab suci yang ada di dunia, kalian akan mengetahui bahwa ada simbol-simbol tersembunyi yang mengatakan akan datang seorang juru selamat yang berjenis kelamin sama dengan ibunya.” Orang-orang yang berada di ruangan itu kembali mengangguk. Bahkan ada beberapa yang menitikkan air mata, lalu mengangkat tangan mereka dan bersujud di depan Laila.

Dengan gencar media kembali meliput kegiatan Laila dan pengikutnya. Beberapa orang merasa penasaran. Mereka menyusup ke dalam jemaat itu selama beberapa minggu, kemudian melaporkan kepada atasan mereka semua kegiatan yang dilakukan dengan membawa buku-buku yang sudah ditulis oleh Laila. Buku-buku tulisan Laila memang sudah diedarkan dan sangat laris. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja telah dicetak ulang beberapa kali.

Beberapa minggu kemudian ada pengumuman resmi yang mengatakan bahwa ajaran Laila sesat. Laila yang selama ini mengaku dibimbing oleh Jibril ditolak oleh orang-orang itu. Mereka mengatakan iblislah yang telah membimbing Laila dan membutakan mata serta hatinya. Ia hanya diberi ilusi dan seolah-olah ia adalah juru selamat utusan Tuhan. Kembali kata-kata ‘Laila Majenun’ menjadi sangat terkenal. Dan ia diminta segera bertobat, kembali ke jalan lurus sesuai dengan ajaran murni yang penafsirannya telah disepakati bersama.

Reaksi orang-orang bermacam-macam. Ada yang mendukung dengan alasan hak asasi manusia, ada juga yang menolak. Seorang intelektual bahkan ada yang membelanya dengan mengatakan bahwa banyak pengikut Laila yang berubah menjadi baik. “Bukankah itu tidak melanggar prinsip-prinsip agama manapun?” Kata intelektual itu. Ia lalu melanjutkan kata-katanya, “biarkan mereka menyembah Sang Pencipta dengan cara mereka sendiri, selama itu tidak merugikan siapa pun. Semua manusia yang baik dan menyembah Tuhan pasti akan masuk surga. Terserah bagaimana mereka melakukannya.”

Namun, jumlah orang yang mencelanya jauh lebih banyak. Bahkan akhirnya ada sekelompok orang yang tidak sabaran mendatangi Laila dan pengikutnya saat mereka sedang berkumpul. Orang-orang yang tidak setuju itu membakar rumah Laila sambil meneriakkan ucapan Tuhan Maha Besar, seolah-olah Tuhan merestui tindakan mereka. Untung kedua orang tua Laila telah lebih dahulu mengungsi ke kampung halaman. Mereka juga takut dan bingung dengan perubahan pada diri anaknya dan reaksi orang-orang.

Tapi Laila tidak pernah patah semangat. Ia selalu menghibur pengikutnya dengan menceritakan kisah nabi-nabi dan orang-orang suci yang selalu mendapat halangan dan rintangan saat menyebarkan kebenaran di muka bumi.

“Kita harus maklum.” Kata Laila. “Mereka adalah orang-orang bodoh. Orang-orang yang tak mampu melihat kebenaran karena hati mereka tertutup oleh debu-debu duniawi. Kalau saja mereka mau melihat dengan mata batin? Sayang, mereka hanya mampu melihat wujud kasar.”

Laila berkata sambil menggendong anaknya yang tertidur. Kini kemana-mana ia membawa anak itu yang katanya akan dipersiapkan untuk menjadi juru selamat baru. Selanjutnya ia mengatakan bahwa anak itu akan dibimbing oleh Jibril untuk membawa generasi berikutnya menuju kekekalan yang indah nan abadi.

Melihat kemarahan dari banyak orang dan selalu dikejar-kejar, pelan-pelan Laila mulai ditinggalkan oleh pengikutnya. Bahkan salah seorang bersaksi di televisi bahwa ia seperti tersihir oleh kharisma Laila. Sehingga ia menganggap Laila benar-benar sebagai penyelamat manusia dan utusan Tuhan yang hadir di akhir zaman.

Dari ratusan akhirnya kini pengikut Laila hanya tinggal puluhan.

“Inilah saatnya.” Kata Laila.

“Saatnya untuk apa guru?”

“Saatnya untuk menemui Dia.”

“Sang Pencipta?”

“Ya.” Kata Laila. Suaranya sangat tenang. “Kalianlah orang-orang yang terpilih. Kalian akan bahagia selama-lamanya. Nanti akan datang lagi generasi baru yang akan dipimpin oleh anak saya. Lalu anak saya akan melahirkan seorang anak lagi. Begitu seterusnya. Karena di setiap generasi akan muncul juru selamat dan pembimbing baru. Merekalah yang akan menjaga rambu-rambu, tapi sayangnya kebanyakan manusia tidak mengerti. Padahal tanda-tandanya bertebaran dimana-mana. Seluruh kitab suci mencatatnya.”

Laila lalu meninggalkan anaknya yang tertidur di sebuah pondok kecil beberapa ratus meter dari pondok mereka yang terpencil. Di pondok itu ia dan belasan pengikutnya telah membungkus diri dengan pakaian serba putih. Lelaki dan perempuan telah mencukur seluruh rambut yang tumbuh di tubuh mereka.

“Jangan lupa minum air putih.” Perintah Laila. “Air itu akan membersihkan sisa-sisa kotoran yang masih ada di tubuh kalian.” Mereka mengikuti apa pun perintah Laila.

Laila dan pengikutnya membentuk lingkaran. Tangan mereka saling mengapit. Lalu terdengar suara-suara senada. Tak lama kemudian mereka kelihatan berada di ambang ketidaksadaran. Mereka terus bergerak. Sampai akhirnya lingkaran itu berputar bagai sebuah roda.


Tiba-tiba muncul titik-titik api yang lambat laun melahap pondok itu. Mereka tak peduli. Mereka terus saja berputar sambil melantunkan syair-syair yang menyayat. Syair-syair penjemputan guna menyongsong keabadian yang tenteram di dunia lain. Dunia kekal yang bebas dari hujatan dan belitan nafsu.

Kini mereka telah terkepung api. Suara-suara itu terus melengking, lalu perlahan melemah, sampai akhirnya tidak terdengar sama sekali. Kini yang tinggal hanya batang-batang kayu dan sisa-sisa tubuh berwarna hitam dan beraroma sate.

Tempat yang jauh dari pemukiman itu kini tak lagi menyuarakan apa-apa, tidak juga nyanyian binatang. Beberapa jam lagi matahari akan muncul. Tapi di sebuah pondok kecil ada cahaya keemasan. Seorang anak kecil telah membuka matanya. Ia tidak menangis. Mata itu bersinar keemasan. Mirip sekali dengan mata Laila.
Rabu, 02 November 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Pikiran Rakyat, 30 Oktober 2011

Tidak ada seorang pun di negeri ini yang mampu menyaingi ketampanan ayah. Badannya tegap, hidung mancung, rambut ikal, serta alis tebal. Semua berada di kulit berkilau. Selama ini ia tak pernah kalah berkelahi meskipun lawannya lebih besar dua kali lipat darinya. Ibu pernah bilang bahwa ayah akan menang sekalipun berhadapan dengan banteng marah atau harimau lapar.

Silih berganti dan beragam orang datang ke rumah kami untuk menemui ayah. Ada yang berdasi, ada yang berseragam, ada yang keringatnya bau comberan, ada pula yang lengannya tertutup tato. Kadang ayah tertawa terbahak-bahak bersama mereka, kadang pula berbisik-bisik. Begitu pulang, kebanyakan dari mereka akan memberikan amplop.

“Kamu sangat beruntung punya ayah sakti.” Kata salah seorang tamu berbadan besar dan berkulit segelap malam sambil mengelus kepalaku. Logat bicaranya seperti orang mabuk. Saat itu aku berada di teras bermain mobil-mobilan.

Pernah aku mencoba mencuri salah satu amplop yang paling tipis ketika tamu pulang dan ayah sedang ke kamar mandi. Tapi ibu memergoki tindakanku. Ia berteriak, mata melotot dan telunjuk mengarah tepat ke keningku. Nyali menciut dalam sekejap, lalu aku menangis. Malam hari, ibu datang ke kamarku dan meminta maaf. Suaranya selembut busa, namun terdengar seperti menahan tangis. Sebelum aku tidur ia berpesan agar jangan pernah menyentuh, apalagi mengambil amplop ayah sampai kapan pun.

“Kenapa, Ibu?”

“Nanti akan ibu ceritakan.”

“Kapan?”

Tanpa bicara, ibu meraih tanganku. Ia memijat dari pangkal bahu hingga pergelangan tangan. Ketika menggenggam jemariku, ia tiba-tiba meremasnya. Aku menjerit.

“Masih sangat lama.” Ibu lalu pergi.

Tiga tahun kemudian aku masuk SMP. Beberapa teman laki-laki dan perempuan pernah main ke rumah. Mereka mengatakan kenapa wajahku tidak mirip ayah. Wajahku tidak terlalu tampan, dan rambutku lurus. Aku mulai menyadari perbedaan yang jauh antara aku dengan ayah. Apalagi setelah cintaku ditolak teman sekelas. Karena penasaran, aku akhirnya bertanya pada ibu.

Bukannya menjawab pertanyaanku, ibu malah kembali meremas jemariku seperti dulu. Meskipun tidak menjerit, aku masih sedikit merasa nyeri. Aku hanya meringis.

“Belum saatnya engkau tahu.”

Aku sama sekali tidak mengerti sikap ibu. Aku menjadi marah. Apalagi semakin banyak saja orang yang membanding-bandingkan aku dengan ayah. Kemarahanku memuncak ketika di depanku ada tetangga memuji-muji ayah yang berhasil melumpuhkan seekor sapi jantan besar yang tiba-tiba saja mengamuk ketika hendak disembelih.

Akhirnya kuputuskan untuk ikut latihan bela diri. Ingin kubuktikan bahwa, meskipun tidak setampan ayah, aku bisa menyamai keperkasaannya. Dan suatu saat malah mengunggulinya. Setelah satu tahun latihan, aku bisa mematahkan tujuh susunan balok es. Di tanganku seperti ada kekuatan halilintar yang siap memecahkan apa saja. Aku semakin percaya diri. Latihanku semakin serius sampai akhirnya aku bisa push up sebanyak seratus kali hanya dengan bertumpu pada ujung-ujung jemari.

Memasuki SMA, terasa sepatuku mengecil. Aku menemui ibu, bukan ayah, untuk minta uang. Sejak kecil memang aku tidak dekat dengan ayah. Dan semakin besar, aku dan ayah terasa semakin jauh. Ia tidak pernah bertanya perihal sekolahku, dan aku juga malas bertanya tentang sesuatu padanya.

“Tunggu bulan depan.” Jawab ibu.

Aku cemberut, sekilas teringat tamu ayah yang masih sering memberikan amplop. Aku lalu berkata, “kenapa Ibu, bukankah ayah banyak uang. Kalau bulan depan, aku akan curi amplop ayah.”

“Jangan.” Ibu berteriak, seperti dulu. Ia lalu mendekat. Dengan cepat ia meraih tanganku yang kini mulai ditumbuhi otot-otot. Diremasnya tanganku. Tidak sedikit pun aku merasakan sakit.

“Sudah saatnya. Ibu akan beritahu.”

Aku diam, ibu lalu barkata, “anakku, ibu tidak pernah mengizinkan engkau mengambil amplop ayah karena isinya bukan cuma uang, seringkali obat-obatan yang akan merusak masa depanmu. Sekali engkau mencoba, akan ada makhluk gaib yang mengendap di tubuhmu dan perlu waktu panjang untuk mengusirnya.”

Aku masih diam.

“Ibu tidak ingin itu terjadi karena masih ada rahasia utama yang belum engkau ketahui.”

“Apa itu, Ibu.”

Ibu tidak menjawab, lagi-lagi ia menarik lenganku. Kali ini bukan jemariku yang diremas melainkan lengan atas. Aku meringis.

“Engkau belum siap.” Ibu meninggalkanku begitu saja.

Meskipun kecewa, aku mengerti. Mungkin karena aku mulai beranjak dewasa. Kata-kata ibu akhirnya menjadi pemicu. Aku latihan beladiri lainnya, ditambah latihan beban agar seluruh otot yang ada di lengan sekuat besi. Pelajaran sekolah tidak terlalu aku pedulikan. Yang penting lulus. Tiada hari berlalu tanpa latihan. Akibatnya, makanku semakin rakus dan tubuhku menjadi jangkung. Ibu diam saja, apalagi ayah. Tapi kulihat ayah mulai ditumbuhi keriput dan tidak setegap dulu meskipun ia masih terlihat tampan.

Beberapa tahun kemudian, setelah lulus SMA, kulihat keriput di wajah ayah semakin banyak. Ayah juga terlihat lemah. Orang-orang yang dulu datang sedikit demi sedikit berkurang. Hampir tidak ada lagi gelak tawa, begitu juga amplop. Ketampanan ayah juga lambat laun memudar. Di setiap pergantian hari, ayah makin terlihat murung. Sampai akhirnya ia sakit dan hanya berbaring di kamar. Sejak itu tak ada seorang pun yang datang, hingga tahun terus berganti dan aku telah menyelesaikan kuliah.
Aku rasanya semakin kuat. Otot-otot di lenganku telah menonjol, mulai dari pangkal hingga ujung jari. Ibu memanggilku di suatu senja yang hampir turun hujan, setelah aku mematahkan batang pohon jambu besar dengan tanganku. Batang itu menjulur ke jalan dan mengganggu kendaraan serta pejalan kaki yang lewat.

Ibu menyuruhku ke lantai dua. Ada satu kamar kosong di sana. Sebenarnya aku tidak suka kamar itu karena apek dan banyak kotoran tikus. Tapi demi ibu, aku menurut. Ketika melewati kamar ayah, aku mendengar dengkurnya yang terdengar seperti penderitaan. Kubuka pintu kamar. Ayah terlihat sangat lemah. Dia mirip makhluk aneh. Mulutnya setengah tertutup dan tangannya sedikit terangkat seperti hendak mencakar. Terbersit di benakku, kenapa ayah tidak mati-mati. Apakah mungkin karena terlalu banyak ramuan dan obat-obatan yang telah menjalar di tubuhnya. Kembali kututup pintu kamar. Ada perasaan kasihan, tapi sedikit sekali.

Ternyata kamar di lantai dua telah bersih dan berbau harum. Ada jambangan berisi melati di setiap sudut dan tikar pandan di tengah-tengah. Aku langsung bersila di atasnya. Tak lama kemudian ibu masuk sambil membawa pendupaan yang mengepulkan asap. Ia berpakaian putih-putih, juga ada bunga kamboja putih di atas telinganya. Ia memang telah tua, tapi masih terlihat molek.

Aku menganga. Apa yang akan ibu lakukan? Ia serupa penyihir cantik.

“Julurkan tanganmu.”

Aku menuruti perintah ibu. Ia meremas-remas lenganku. Tampaknya ia meremas dengan sekuat tenaga. Bagiku, rasanya seperti sedang diusap-usap dengan kapas.

“Otot-otot di lenganmu sudah sangat kuat,” kata ibu. “Sudah saatnya.”

“Saatnya apa, Ibu.”

“Mewarisi ilmu tapak tangan ayahmu.”

Ilmu tapak tangan ayah? Ada gambar ayah di pikiranku. Seorang lelaki lemah yang tengah terbaring sakit. Ia tidak bisa bergerak. Tidak hidup, namun belum mati. Mungkin seperti dalam cerita-cerita silat, sebelum malaikat maut menjemput, seorang pendekar akan mewariskan ilmu pada anak atau murid kesayangannya.

“Bukan dari lelaki yang ada di bawah.”

Aku terkejut, punggungku seketika terangkat. Ibu seperti bisa membaca pikiranku.

“Dia bukan ayah kandungmu, anakku.”

Mulutku kembali menganga. Banyak sekali yang mengejutkan hari ini. Belum sempat mulutku terkatup, ibu langsung bercerita: dulu, ada seorang pendekar bernama Satria. Ia berasal dari seberang pulau dan pergi berkelana sampai akhirnya tiba di suatu kampung. Di kampung itu ia jatuh cinta, dan gadis yang dicintainya pun memiliki perasaan yang sama. Tapi orang tua si gadis tidak menyetujui karena ia akan dinikahkan dengan anak orang kaya. Meskipun anak orang kaya itu sangat tampan, si gadis tidak terlalu mencintainya. Akhirnya mereka kabur ke kampung pedalaman yang hampir mendekati tengah hutan.

Anak orang kaya itu juga pendekar. Ia mengejar si gadis. Terjadi pertempuran. Satria memenangkan pertarungan. Ia menggunakan aji pamungkas, yaitu jurus tapak tangan. Kata Satria, jurus tapak tangan itu hanya untuk orang-orang yang otot tangannya sekeras baja. Jika tidak, lengan orang itu bisa terbakar. Hanya dengan merapalkan mantra tiga kali dan menghirup ramuan tertentu, jurus itu bisa dikuasai. Satria memberitahu mantra dan ramuan itu pada si gadis.

Hampir setahun kemudian, anak orang kaya itu datang kembali. Mereka bertarung lagi. Tapi kali ini jurus tapak tangan tidak berdaya. Ternyata anak orang kaya itu telah menguasai ajian pajaka. Ajian pajaka tidak populer di kalangan para jawara saat itu, karena siapa pun yang ingin menguasainya harus dikebiri. Demi harga diri, anak orang kaya itu rela melakukannya. Akhirnya Satria tewas, dan gadis itu dibawa oleh anak orang kaya ke kota dalam keadaan hamil muda.

“Satria adalah ayah kandungmu. Si gadis adalah ibu, dan anak orang kaya itu adalah ayah tirimu yang ada di bawah. Ia dulu pendekar sakti yang dikebiri. Itulah mengapa kamu tidak punya adik.”

Rasanya semua rambut di sekujur tubuhku berdiri. Ada yang bergolak di dada, percampuran antara terkejut, gembira, gelisah, khawatir, marah, kesal, cemburu, dendam, dan sedih. Hawa dingin dan panas datang silih berganti.

“Kamu siap menerima ilmu tapak tangan, anakku?”

Tanpa sadar aku mengangguk.

Beberapa jam lagi langit cerah. Aku tiba-tiba sadar. Badanku terasa sangat segar, dan kedua lenganku laksana bunga yang baru mekar. Aku rasanya bisa meremukan apa saja. Dunia ada dalam genggaman. Semua penghalang bisa kutebas dengan tangan. Kulihat ibu duduk bersandar di dinding ruangan. Satu lengannya memegang kalung melati.

“Anakku, ibu lelah. Ibu ingin beristirahat sebentar.”

“Baik, Ibu.”

Aku turun. Aku seperti manusia baru, merasa benar-benar bagai seorang pendekar sakti. Bukan hanya yang selama ini aku tonton di televisi.

Ketika melewati kamar ayah, lamat-lamat aku mendengar erangan kepedihan bergumul keputusasaan. Kudorong daun pintu. Posisi ayah masih seperti sebelumnya: mulut menganga dan tangan terangkat seperti hendak mencakar. Aku masuk dan mendekati ayah tiriku. Matanya melirik. Sekilas aku melihat rona wajahnya seperti sedang berhadapan dengan malaikat pembawa maut.

Ayah berkata sangat pelan. Tak jelas, aku tak mengerti. Ia terlihat ingin berkata-kata lagi. Kudekatkan telinga ke mulutnya. Akhirnya engkau datang juga, begitu kira-kira yang kudengar. Ia kemudian melanjutkan bicaranya dengan sangat terbata-bata, cepat lakukan, aku sudah tidak tahan dengan penderitaan selama bertahun-tahun. Ilmu dan kekuatanku telah musnah. Tapi jiwaku masih terperangkap di jasad ini. Menyakitkan sekali.

Aku mengangkat kepala. Kupandangi wajah ayah. Rasa kasihan muncul. Kali ini sangat dalam. Belum pernah aku merasa kasihan pada seseorang sedalam ini. Tanpa sadar, tanganku terangkat. Seolah ada maha kekuatan yang menggerakannya. Jari-jemari terbentang, dan perlahan merambat ke leher ayah. Dalam sekali cengkeraman, tangan ayah yang tadi sedikit terangkat telah turun. Mulutnya tak lagi menganga, melainkan tertutup dan membentuk garis senyum. Ketika cengkeramanku terlepas, ada bekas tapak tangan di leher ayah berwarna kemerahan yang dibarengi sedikit kepulan asap berbau melati.

Aku keluar. Kulihat ibu telah berada di ruang tengah. Kalung melati masih digenggamnya. Aneh, ada beberapa helai uban di rambut ibu.

“Ibu.”

Aku memeluknya.

“Tidak apa-apa, anakku.” Ia membelai kepalaku. Suaranya lebih halus dari angin sepoi-sepoi. “Sekarang pergilah engkau ke rumah Pak RT. Beritahu bahwa ayahmu telah tiada. Ibu akan menyiapkan tikar untuk para pelayat.”

Aku mengangguk.

Selasa, 12 Juli 2011 by Forum Lingkar Pena

Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Pikirian Rakyat, 10 Juli 2011

Kamu pasti tidak akan percaya bila kukatakan bahwa temanku yang menjadi pembantu rumah tangga memberikan jari jempolnya untuk diisap anak majikan yang masih balita, agar anak itu berhenti menangis. Itu dilakukan karena istri sang majikan sering memanggilnya dengan kata-kata sangat kasar yang mengiris hati dan sangat pelit dengan makanan. Gajinya juga sering telat, sehingga kiriman uang ke kampung untuk biaya sekolah dua anaknya menjadi tertunda.

Temanku lainnya mencampur susu untuk anak majikan dengan ludahnya. Ia kesal dengan majikan perempuan yang cerewet dan majikan laki-laki yang sering meraba-raba buah dadanya. Majikan laki-laki itu juga mengancam akan membuat cerita palsu tentang pencurian dan akan melaporkannya ke polisi bila ia mengadu pada istrinya.

Aku tidak seperti dua temanku itu meskipun aku juga pernah mendapat perlakuan yang hampir sama ketika bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Saudi Arabia dan Malaysia. Memang ada keinginan untuk membalas perlakuan mereka, tapi aku takut penjara. Pasti ibuku yang sudah tua akan lebih menderita.

Aku kini berada di Jakarta, kembali bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sebenarnya aku sudah tidak ingin lagi bekerja sebagai pembantu. Tapi tidak ada pekerjaan lain yang bisa kulakukan, dan ibuku butuh uang untuk berobat. Aku tidak mengerti penyakit apa yang dideritanya. Kata dokter paru-paru basah dan penyakit lainnya yang namanya sampai sekarang tidak aku ingat. Tapi kata sepupuku yang telah menjanda empat kali, ibuku terkena guna-guna. Katanya guna-guna itu ditujukan padaku dan datangnya dari seorang laki-laki yang lamarannya aku tolak. Tapi guna-guna itu meleset dan menimpa ibuku.

Entah guna-guna itu benar atau tidak, ketika bertemu lelaki itu di pasar, ia tersenyum penuh kemenangan sambil mengipas-ngipas uang di depan dagangannya. Ia lalu berkata keras-keras pada seorang lelaki lain yang duduk di dekatnya bahwa ia akan menikahi perawan berumur 16 tahun minggu depan. Perawan kencur itu akan menjadi istri keempatnya. Dan ia berkata akan tetap awet muda sepanjang masa. Aku menjadi semakin jijik dan ingin rasanya melempar segumpal ludah.

Nyonya dan Tuan di tempat kerjaku sekarang lumayan baik. Malah Tuan pernah memberiku uang tambahan tanpa sepengetahuan Nyonya. Tapi ternyata kebaikan Tuan tersembunyi di balik niat jahat. Dia berhasil membuat aku tidak sadar pada suatu malam. Akibatnya perutku menggelembung.

“Aku selama ini tidak punya pembantu sebaik kamu, Yun.” Kata Nyonya. Ia bersandar di bale bengong di serambi belakang. Kedua kakinya menjulur. Helai-helai rambut putih membuatnya makin terlihat tua.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Tanganku terus memijat-mijat kedua kaki Nyonya. Daun-daun anthurium dalam pot yang berada sepanjang tembok pembatas dengan rumah tetangga di halaman yang cukup luas itu bergoyang-goyang. Semilir angin sore membuatku merasa nyaman, sedikit meredakan kegundahan hati yang sejak lama mengendap dan mulai menggerogoti perasaan. Tapi Nyonya merapatkan syal lebar yang menutupi leher, punggung, dan dadanya.

“Aku kadang menyesal telah menikah dengan suamiku, Yun.”

Aku tahu Nyonya, aku bisa merasakan. Aku juga menyesal.

“Ini semua karena ibuku sangat takut aku menjadi perawan tua.” Suara Nyonya gemetar, dan terdengar bagai bercampur penyesalan. “Akhirnya aku tahu, aku bukan menikah dengan manusia, melainkan kucing garong yang selalu lapar.”

Tuan bukan kucing garong, Nyonya. Ia macan garong.

“Boleh saya tanya, Nya?”

Ia mengangguk.

“Sudah berapa pembantu yang bekerja di sini?”

“Sudah banyak, Yun. Semuanya muda-muda. Tapi semuanya menjadi mangsa suamiku.” Ia lalu menangis. Badannya semakin terlihat lemah. Seperti sudah tidak ada lagi sisa-sisa tenaga yang melekat.

“Aku mengusir mereka, Yun.” Kata Nyonya lagi. “Semula aku hendak membunuh mereka. Tapi akhirnya aku sadar, suamikulah yang bersalah.”

Mendengar kata-katanya, kudukku berdiri. Satu detak jantung menghilang. Angin sore tiba-tiba tak lagi kurasakan sejuk. Perutku kejang sesaat.

Nyonya kembali menangis. Seperti ada dendam yang tak mampu dibungkamnya dan tak mungkin untuk dilaksanakan. Dendam itu melilit seluruh tubuhnya hingga dagingnya perlahan-lahan rontok, menampakkan kerangka tubuh yang selama ini menopangnya dan semakin lama semakin rapuh.

Kupandang wajah Nyonya yang meredup. Pipinya semakin menjorok ke dalam. Mata sayunya berkedip tanpa tenaga. Sekilas ia mirip dengan ibuku. Mereka berdua sedang menanggung beban berat. Lambat laun ada perasaan sayang bercampur kasihan padanya. Lalu tiba-tiba penyesalan muncul, bertaut dengan perasaan berdosa.

Tiba-tiba perutku mules. Ada yang bergerak-gerak. Aku menundukkan badan agar mules itu hilang. Sedapat mungkin aku menyamarkan penderitaan, agar beban Nyonya tidak bertambah. Kenapa mules di perutku semakin hari semakin menjadi, padahal aku telah mengikatnya erat dengan kain panjang dan minum berbagai macam obat. Inikah tanda-tandanya?

Anjing peliharaan Tuan menggonggong. Pasti binatang itu melihat orang asing lewat di depan pagar rumah. Meskipun lehernya terikat rantai besar dan kokoh, aku takut sekali dengan anjing hitam bertubuh tambun itu. Taringnya seperti siap merobek-robek dada dan perutku. Tiba-tiba anjing itu kembali menggongong. Keras sekali. Nyonya menutup telinga.

“Cepat Yun, beri anjing sialan itu makanan.” Kata Nyonya. “Aku sudah muak mendengar gonggongannya. Mirip suara suamiku.”

Aku pergi sambil menahan rasa nyeri di perut. Di dapur kutemukan dua paha ayam goreng. Segera kuberikan pada anjing yang langsung melahapnya. Aneh, aku semakin takut pada binatang itu. Seperti ada setan di dalam tubuhnya. Terpancar pada matanya yang merah menyala begitu melihatku.

***

Malam tiba. Ikatan di perutku semakin kukencangkan sehingga rasa sakit sedikit reda. Tapi ikatan itu juga kumaksudkan untuk menekan perutku agar tidak terlalu menonjol. Aku tak ingin Nyonya tahu. Aku tak ingin menambah bebannya. Ia telah rapuh, sama seperti ibuku di kampung.

Tuan pulang saat aku sedang mempersiapkan makan malam. Nyonya sudah duduk. Tidak ada sapaan ketika Nyonya dan Tuan bertemu di ruang makan. Tuan hanya bertanya apakah aku sudah memberi makan anjing kesayangannya. Aku mengangguk. Kulihat matanya berkedip kepadaku. Matanya juga merah, seperti mata anjing peliharaannya yang kulihat tadi sore. Perutku tiba-tiba mual, seperti ingin muntah. Dan ingin rasanya aku muntah di wajahnya, agar mata itu tertutup dan tak pernah lagi berkedip padaku.

Malam merambat ke tengah. Aku terbangun ketika mendengar gonggongan anjing. Perutku sangat sakit. Celana karet yang kukenakan terasa basah. Kupegang perutku dengan kedua tangan, tapi rasa mules semakin menjadi. Aku kalut, lalu bangun dan berlari ke luar. Pikiranku mengatakan mungkin Nyonya atau Tuan bisa membantu.

Aku menuju kamar Nyonya yang sedikit terbuka. Kudorong perlahan daun pintu. Kamar terang. Tampak tubuh Nyonya yang ringkih sedang terlelap. Tarikan nafasnya terdengar bagai peluit rusak, membuat aku sangat iba. Tidak, ia tidak boleh tahu. Jika tahu, pasti hidupnya tidak akan lama lagi. Sama saja aku membunuh ibuku sendiri.

Aku menuju ruang tamu yang temaram. Tuan bersandar di sofa dan terlelap. Dengkurnya menyerupai geraman anjing kesayangannya. Di atas meja berserakan botol-botol minuman. Televisi menyala. Ada adegan seorang wanita pirang telanjang bulat dengan dua lelaki kekar. Mereka tengah bergumul. Aku bertambah mual. Satu telapak tangan menutup mulut dengan cepat. Kupalingkan pandangan ke arah Tuan. Celananya sedikit terbuka. Kembali ada suara gonggongan anjing. Seketika muncul kebencian yang teramat dalam pada Tuan. Lalu seolah ada bisikan bertubi-tubi. Rasa mules sedikit mereda.

Aku berlari ke meja makan. Ada pisau besar yang sangat tajam dekat potongan kue bolu. Segera kuraih pisau itu dan kembali ke ruang tamu. Kebencianku pada Tuan semakin memuncak. Kedua pahaku yang terasa basah tak lagi kupedulikan. Tuan telah menghancurkan perempuan: aku, Nyonya, dan para pembantu sebelumnya.

Dengkur Tuan membuat hatiku semakin terbakar. Genggaman pada pisau semakin erat. Kali ini dengan dua tangan. Pisau itu kuangkat tinggi-tinggi. Aku mengarahkan pada dadanya, bukan perutnya yang menyerupai perutku. Pandanganku ke sekeliling kabur. Semuanya seolah tanpa bentuk. Aku tak sadar, kaki bagaikan tak berpijak. Aku rasanya seperti menjatuhkan pisau ke lantai, lalu berlari ke luar rumah. Seketika ada kekuatan yang mendorongku bersandar pada dinding.

Entah berapa lama, tiba-tiba aku mendengar suara bayi. Bayi itu muncul di antara kedua kakiku yang mengangkang. Kudekap mulut bayi agar Tuan dan Nyonya tidak mendengar. Aku terkejut mendengar gonggongan anjing. Aku teringat ibu, dia pasti sedang kelelahan dan merasakan sakit sambil terbaring di ranjang reot berkelambu suram yang dipenuhi darah nyamuk.

Anjing kembali menggonggong. Kali ini tanpa henti. Suaranya menusuk telinga. Aku tak tahan. Kepalaku pusing. Aku seolah melayang. Lalu muncul wujud ibu yang terbangun dari tempat tidurnya. Ia melotot dan menunjuk kepadaku dengan kebencian. Aku kalut, lalu berjalan sempoyongan dan melemparkan bayi ke dekat anjing. Sekilas kudengar ada suara kunyahan.

Entah berapa lama kemudian, semua kekalutan sirna. Hening. Tidak ada lagi gonggongan anjing, bahkan hembusan angin. Yang kutahu, aku bersandar di tiang rumah dengan posisi duduk tanpa tenaga. Tangan dan kakiku seolah tak bertulang. Pintu sedikit terbuka. Ada cahaya televisi yang menerangi tubuh Tuan. Aku bisa melihat, ada pisau yang menancap di ubun-ubunnya. Darah hitam telah menutup matanya yang merah. Aku yakin, mata itu kini tak lagi mampu berkedip pada setiap wanita cantik. Aku ingin tersenyum, tapi kedua bibirku seperti disatukan dengan lem. Aku hanya ingin tidur, ngantuk sekali. Dan kemudian semuanya menjadi gelap.


Ilustrasi: Lukisan Bambang Widjoyono

Minggu, 22 Mei 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Tribun Jabar, Ahad 15 Mei 2011

PEREMPUAN itu bernama Gendis Murniati. Sesaat setelah ia melahirkan bayi laki-laki, suaminya pergi entah ke mana. Kabar angin mengatakan wajah bayi itu tidak mirip dengan wajah suami Gendis. Tapi ketika beberapa tetangga menanyakan hal ini pada Gendis, ia tidak mengiyakan atau membantah. Ia hanya berkata lelaki pengecut dan berjiwa kerdil memang selalu kabur dari masalah.

Sebulan kemudian bayi Gendis meninggal. Setelah bayi dikubur, Gendis terlihat murung selama lima minggu, lalu ia terus menangis beberapa bulan berikutnya. Setiap keluar rumah para tetangga dekat pasti mendengar Gendis menangis, begitu juga orang-orang yang lewat di depan rumahnya. Banyak tetangga yang datang untuk menghibur Gendis sambil membawa buah-buahan. Namun tak satu pun yang mampu menghentikan tangisannya. Tangisan menyayat hati dan penuh rintihan kepedihan.

Gendis baru menghentikan tangisannya tepat pada saat ada tetangga yang melahirkan bayi perempuan rupawan. Sayang, payudara perempuan yang melahirkan itu tidak mengeluarkan air susu. Bentuknya juga kempes, tidak kembung seperti milik seorang wanita yang baru melahirkan. Ibu-ibu ramai membicarakan hal itu, terutama ketika sedang membeli sayuran di muka rumah. Mereka juga kasihan karena perempuan itu tidak mampu membeli susu kaleng.

"Biarlah aku yang menyusui bayi itu." Tiba-tiba Gendis keluar rumah. Orang- orang terkesima, sesaat serupa tugu. Aneh, Gendis masih terlihat sama seperti saat baru melahirkan. Payudaranya terlihat kembung. Yang berubah hanyalah matanya. Di mata itu seperti masih ada genangan air. Sebagian orang menganggapnya buta karena terlalu lama mengucurkan air mata.

Kesediaan Gendis untuk menyusui dilaporkan pada perempuan yang baru melahirkan itu. Pada awalnya ia tidak setuju karena mendengar kabar tentang mata Gendis yang terlihat aneh, tapi karena ia tidak mampu lagi membeli susu, akhirnya ia bersedia bayinya disusui Gendis. Beberapa orang yang semula meragukan apakah payudara Gendis masih mengeluarkan air susu terbukti salah. Malah susu dari payudara Gendis melimpah ruah. Bayi itu menyusu dengan sangat lahap. Bila tiba waktunya untuk menyusu, bayi itu selalu dibawa oleh orang tuanya kepada Gendis. Selama dua tahun bayi itu disusui Gendis hingga tiba waktunya untuk disapih. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Kabar itu cepat menyebar. Maka datanglah beberapa perempuan yang memiliki bayi. Bukan hanya para perempuan dengan payudara yang tak mampu menghasilkan susu, tetapi juga sebaliknya. Mereka menginginkan bayi mereka sehat seperti bayi sebelumnya, dan mereka rela antre di depan rumah Gendis selama berjam-jam. Rumah Gendis tak pernah sepi dari tangisan bayi.

Dengan senang hati Gendis menyusui bayi-bayi itu. Terbukti mereka tumbuh menjadi anak-anak sehat. Anehnya, payudara Gendis tidak pernah menyusut dan susunya tidak habis-habis meski sudah puluhan bayi yang disusuinya. Hanya kedua matanya yang semakin mengecil. Makin banyak orang yang menganggap Gendis buta sehingga beberapa orang datang dengan sukarela untuk membantu Gendis mengurus rumah karena sepanjang hari ia sibuk menyusui. Malah seorang pria bernama Bejo mengatakan akan mengabdikan dirinya pada Gendis. Bagi Bejo, Gendis adalah sebuah keajaiban.

Rumah Gendis makin ramai. Beberapa tetangga memanfaatkan kesempatan itu dengan membuka warung. Mereka menjual apa saja yang bisa dimakan. Sisa-sisa makanan mengundang beberapa ekor kucing untuk datang. Di antara kucing-kucing itu ada yang kawin dan melahirkan empat ekor anak. Namun sayang, induk kucing mati.

Mengetahui hal itu, Gendis berkata pada Bejo. "Bawalah anak-anak kucing itu ke sini. Akan aku susui mereka." Bejo terkejut, tapi ia tidak berani membantah. Ia segera mengambil keempat ekor anak kucing itu dan membawanya kepada Gendis. Gendis segera menyusui mereka dan meminta Bejo untuk merawat bayi-bayi kucing yang mungil itu. Dua kali sehari Gendis menyusui mereka, bergantian dengan bayi- bayi manusia yang mengantre untuk disusui. Anehnya, anak-anak kucing itu pun menjadi sehat dan siap untuk dilepas.

Kabar tentang Gendis yang tidak hanya menyusui anak manusia cepat tersebar. Lalu berdatanganlah orang-orang ke rumah Gendis dengan membawa berbagai jenis binatang peliharaan mereka yang sakit. Bejo sempat bingung. Ia lalu bertanya pada Gendis, "Ibu, banyak orang yang datang ke sini dengan membawa binatang peliharaan mereka untuk disusui. Mereka sudah gila, Ibu."

"Bejo, tidak apa-apa. Biarlah mereka mengantre. Akan aku susui binatang- binatang itu. Mereka juga makhluk ciptaan Tuhan yang perlu kita sayangi." Kata Gendis dengan suara lembut. Matanya berkedip-kedip. Genangan air masih terlihat di sana. Kadang orang yang melihat matanya dengan cukup lama bagai melihat lautan.

Maka sejak itu Gendis tidak hanya menyusui anak manusia dan kucing, tetapi juga anak anjing, monyet, orang utan, siamang, kambing, rusa, gorila, bahkan bayi harimau. Seperti yang sudah-sudah, binatang-binatang itu juga menjadi sehat.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Gendis semakin dikenal. Bahkan beberapa orang menjulukinya manusia sakti dan keturunan wali. Pemujanya juga terus bertambah. Suatu ketika, seorang wanita paruh baya datang ke rumah Gendis, tetapi bukan untuk meminta Gendis menyusui bayinya atau binatang peliharaannya, melainkan mengadukan masalah keluarga. Ia datang sambil bercucuran air mata.

Wanita itu mengatakan bahwa ia memiliki seorang anak lelaki yang kecanduan narkoba. Kuliah si anak berantakan dan wanita itu telah menjual rumah satu-satunya peninggalan suami untuk biaya menyembuhkan anaknya. Mereka sekarang tinggal di rumah kontrakan yang kecil pada gang sempit. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

"Tolonglah, Ibu Gendis."

"Bawalah anak laki-lakimu ke sini," kata Gendis.

"Bawa ke sini, Ibu?"

"Iya. Akan aku susui dia."

"Baik, Ibu."

Keesokan harinya wanita itu membawa anaknya. Gendis menyuruh Bejo menyiapkan satu kamar kosong. Di kamar itulah pecandu narkoba itu ditempatkan. Pintu dikunci agar pada saat sakaw ia tidak kabur. Setiap lima jam sekali Gendis menyusui pecandu itu. Tiga hari pertama ia muntah-muntah. Semua racun yang telah ditenggaknya keluar bersama muntah berwarna kelam. Hari berikutnya pecandu itu menyusu seperti bayi yang kelaparan. Dua minggu berikutnya ia telah sembuh dari kecanduan narkoba.

Kabar tentang Gendis Sang Perempuan Penyusu terus menyebar. Predikatnya pun makin banyak. Orang-orang yang sangat memujanya memberinya nama-nama pujian. Kini orang-orang yang menyusu padanya bukan hanya pecandu narkoba, tetapi juga tokoh-tokoh politik yang ingin menjadi pemimpin, pejabat yang ingin cepat naik pangkat, pengusaha yang ingin cepat kaya, penyanyi yang goyangannya dilarang, artis yang dianggap melecehkan agama, perempuan dan pria yang susah mendapat jodoh dan pekerjaan, pelajar dan mahasiswa yang ingin cepat lulus, dan masih banyak lagi.

Tapi di balik kemasyhuran Gendis ada beberapa orang yang membencinya. Ia dituduh menyebarkan maksiat dan klenik. Sekelompok orang berpakaian putih-putih datang dan berdemo di depan rumah Gendis. Gendis diminta untuk menghentikan kegiatannya menyusui orang dan binatang. Kalau tidak, rumahnya akan dibakar.

Gendis tidak pernah peduli dengan segala omongan orang dan demo-demo yang menentangnya. Ia terus saja menyusui makhluk hidup apa pun yang datang kepadanya. Ia berkeyakinan selama itu demi kebaikan orang lain dan tidak merugikan pihak mana pun, ia akan terus menyusui hingga akhir hayat.

Keteguhan Gendis membuat beberapa orang membelanya. Terutama mereka yang telah merasakan manfaat menyusu pada Gendis. Makin hari makin banyak saja orang yang mendukungnya sehingga terbentuklah aliansi pendukung Gendis yang siap mati jika keberadaan Gendis terus diusik. Mereka membubuhkan sidik jari dengan tinta darah. Ia juga dirangkul oleh partai politik yang menentang penguasa.

Gendis berubah menjadi sebuah fenomena. Ia bahkan terkenal hingga ke mancanegara. Orang-orang yang datang untuk menyusu padanya bukan hanya dari dalam negeri. Beberapa kali ia malah diundang ke berbagai negara. Tentu saja ia selalu ditemani oleh Bejo yang kini juga ikut menikmati kemasyhuran.

Pada suatu ketika Gendis akan menghadiri pertemuan. Sang penguasa menganggap pertemuan itu akan mengusik kekuasaannya. Maka dibuatlah rencana untuk membunuh Gendis dengan memberikan racun pada minumannya. Antek-antek penguasa yang telah sangat lihai dan mendapat pelatihan di luar negeri selama bertahun-tahun ditugaskan dalam misi ini. Entah bagaimana mereka bekerja, akhirnya di depan Gendis ada gelas berisi air putih yang telah diberi racun.

Pada saat Gendis hendak minum, tiba-tiba gelas itu pecah. Gendis tidak mati. Peristiwa yang dianggap langka itu diliput televisi. Para pendukungnya sangat yakin bahwa ada sesuatu di minuman itu. Nama Gendis malah semakin masyhur. Pengikutnya menjadi berlipat-lipat. Sang penguasa harus gigit jari karena kini pengikut Gendis telah melimpah ruah. Itu berarti akan sangat sulit untuk menyingkirkannya, dan jika mencalonkan diri menjadi pemimpin, ia pasti menang. Para pemujanya menjuluki Gendis orang suci.

Kiprah Gendis semakin berkibar. Ia kini bukan hanya menyusui, tetapi juga menentang tindakan main hakim sendiri dalam membela keyakinan. Jurang perbedaan antara sekelompok orang dengan Gendis semakin curam. Bentrokan antara pengikut Gendis dengan sekelompok orang itu tak lagi bisa dihindarkan.

"Tangkap Gendis. Ia telah memilih jalan sesat dan menyesatkan." Begitu kata pemimpin kelompok itu.

"Aku tak akan pernah gentar. Bila ingin menindas orang, langkahi dulu mayatku," jawab Gendis yang kemudian dikutip berbagai media massa. "Aku menyusui karena aku memiliki air susu yang melimpah ruah, dan sangat banyak makhluk yang membutuhkannya. Ini bukan porno dan maksiat, namun suatu bentuk pelayanan pada Sang Pencipta."

Tahun-tahun terus berlalu. Gendis makin tua. Kesehatannya semakin memburuk. Ke mana-mana ia harus didorong dengan menggunakan kursi roda. Tapi ia tetap tak pernah menolak siapa pun yang datang kepadanya untuk menyusu. Anehnya, buah dadanya bukannya makin kempis, tetapi makin berisi, meskipun tubuhnya sudah sangat lemah.

"Aku akan terus menyusui siapa pun yang membutuhkan. Cuma itu yang bisa kulakukan dalam hidup ini di sisa-sisa umurku. Hanya Tuhan yang bisa menghentikan tindakanku. Aku ingin dikenang sebagai Perempuan Penyusu dan menjadi rahmat bagi sekalian alam." Begitu kata Gendis sebelum akhirnya ia menutup mata untuk selama-lamanya. Jutaan orang mengantarkan Gendis ke pembaringannya yang terakhir. Mata mereka tergenang air, persis seperti mata Gendis pada saat tangisan terakhirnya reda. Salah satu dari mereka adalah anak perempuan yang berumur enam tahun. Jika diperhatikan dengan saksama, mata anak itu seperti lautan. Ruh Gendis telah menyusup melalui ubun-ubunnya. Kelak ia akan menjadi perempuan penyusu berikutnya.

Senin, 04 April 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Suara Muhammadiyah No.07/Th.Ke-96 1-15 April 2011

Wajah ibu kuning perak, serupa cahaya bulan yang akhir-akhir ini sering dipandanginya di kala malam dari balik jendela bertirai ungu setengah terbuka. Ia berselonjor dengan punggung menyentuh sandaran dipan. Jemari kedua tangan saling mengapit erat, bertengger di atas perut. Jemari itu bagai menggenggam sesuatu yang belum siap ia perlihatkan pada orang lain.

Telah bertahun-tahun ibu seperti itu. Sesekali aku mengintip dari pintu kamar yang sedikit menganga. Selama beberapa menit aku bisa memandang ibu yang terlihat semakin kurus. Pipinya berceruk dan kecerahan telah pudar dari bibir serta keningnya. Dulu bibir dan kening itu seperti berkilau. Banyak tetangga yang mengatakan bahwa cahaya itu berasal dari susuk yang ditanam seorang paranormal tersohor. Tapi aku tak percaya. Karena memang aku tidak pernah percaya apa pun yang orang katakan tentang ibu, kecuali keluar dari mulutnya sendiri.

“Bimo, anakku.”

Aku tersentak. Ibu tahu aku sedang memperhatikannya.

“Kemarilah. Ibu tahu engkau sering berada di sana.”

Aku mendorong daun pintu perlahan, melangkah masuk dengan dipenuhi rasa ragu. Ibu melambaikan tangan. Setelah tak lagi ada jarak ia meraih tanganku, lalu mengusap kepalaku. Gerakannya lemah namun aku merasakan rasa sayang yang sungguh dalam. Tubuhku terjamah cahaya bulan. Ternyata rasanya hangat.

“Baringkan kepalamu di pangkuan ibu.” Suara ibu sangat pelan. “Akan ibu ceritakan sebuah kisah.”

Aku menuruti perintah ibu. Setelah lebih dari dua puluh tahun, baru kali ini aku kembali membaringkan kepala di pangkuannya. Tangan ibu sehangat sinar bulan, tapi tak lama kemudian aku merasakan dua tetes air jatuh di sela-sela rambut.

“Ibu.” Aku memeluknya tanpa mengangkat kepala.

“Bimo, dengarlah.” Suara ibu gemetar.

Ibu lalu bercerita:
Berpuluh-puluh tahun lalu, ada dua kakak beradik. Ning dan Neng. Mereka dianugerahi wajah yang cantik. Ning lebih penyabar dan lembut. Itulah mengapa orang tua mereka terlihat lebih sayang padanya.

Ketika remaja, ada anak orang kaya bernama Agil yang jatuh cinta pada Ning. Orangtua mereka telah saling setuju. Diam-diam Neng juga mencintai Agil. Tanpa sepengetahuan Ning, Neng berusaha mendekati Agil. Agar memiliki pesona di mata Agil, Neng malah pergi ke dukun untuk memasang susuk. Dukun itu juga memantrai Agil agar di setiap malam ia memimpikan Neng.

Entah karena pengaruh susuk atau mantra dukun, Agil semakin dekat dengan Neng. Kedekatan mereka akhirnya memberi ruang pada setan-setan untuk membisikkan rayuan surga seharum bunga. Beberapa bulan kemudian perut Neng menggelembung. Itu merupakan aib. Agil dan Neng diusir oleh keluarga. Mereka pergi ke kota yang jauh. Tapi diam-diam ibu Agil yang merasa kasihan terus mengirim uang hingga Agil bisa menopang kehidupannya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, Neng mulai menyadari kesalahan masa lalu. Ia juga didera kerinduan yang teramat dalam kepada keluarga. Ingin rasanya ia bertemu mereka – ayah, ibu, dan Ning – untuk mohon maaf. Sayang, sampai saat ini keberanian itu belum ada. Namun pikirannya terus-menerus dihujani rasa bersalah, hingga akhirnya penyakit melumpuhkan tubuhnya dan ia hanya bisa berbaring sambil memandang alam raya dari balik jendela ketika senja mulai berkuasa. Semoga akan datang cahaya yang bisa memberinya ampunan dan mampu mencabut susuk-susuk dari wajahnya.

“Neng adalah ibu, Bimo. Dan Agil adalah almarhum ayahmu.”

Kuduk berdiri. Detak jantung meninju dada. Aku semakin merasakan tetesan air di kepala, membuatku semakin erat memeluk ibu. Sinar bulan seperti berubah abu-abu. Tubuhku tak lagi hangat, tapi berkeringat karena keterkejutan yang tiba-tiba. Ternyata aku anak haram. Tapi tak sedikit pun kebencian pada ibu muncul. Malah aku semakin iba padanya. Aku baru tahu nama asli ibu.

“Ibu yakin, kakek dan nenekmu sudah meninggal.” Suara ibu tersendat-sendat.

Itulah jawaban yang aku tunggu-tunggu selama ini. Ketika kecil, aku sering bertanya pada ibu mengapa aku tidak punya kakek dan nenek, tidak seperti anak-anak lainnya di sekolah. Aku sering iri jika mendengar mereka pulang berlibur dari rumah kakek nenek, lalu bercerita di depan kelas atau membuat karangan. Ketika itu, ibu selalu berkata bahwa kakek dan nenekku tinggalnya sangat jauh, di ujung negeri ini. Katanya tidak ada biaya untuk pergi ke sana. Memasuki Sekolah Menengah Pertama aku berhenti menanyakan perihal kakek dan nenek. Aku mulai mengerti bahwa ada rahasia yang disimpan ibu. Suatu saat aku akan mengetahuinya juga.

“Semalam ibu bermimpi bertemu Ning, tantemu.” Kata ibu. “Ia masih tetap cantik seperti dulu. Ia bilang pada ibu sebentar lagi akan meninggalkan dunia ini. Ibu ingin engkau menemuinya. Bila telah tiada, tolong bacakan permohonan maaf ibu di makamnya, juga di makam kakek dan nenekmu.”

“Ibu...” Tenggorokanku tersendat. Aku bisa mengerti apa maksudnya. Kata-kata tak kuasa terucap.

“Sebelum ibu menyusul mereka.”

“Ibu tidak akan pergi sebelum melihat anakmu jadi orang sukses.”

“Ibu sudah lelah menerima kutukan atas dosa masa lalu, Bimo.”

“Jangan ibu.”

Tanganku seakan melekat erat di tubuh ibu. Dan baru kali ini aku menangis di pangkuannya.

***

Seribu satu perasaan muncul bergantian, mengalihkan kesadaranku hingga kondektur bis menutup pintu. Aku sedang menuju rumah kakek dan nenek, juga tante Ning. Sesekali aku buka buku kecil berisi catatan alamat mereka dan kata-kata permohonan maaf yang ditulis ibu. Aku sempat membatin mudah-mudahan mereka masih hidup dan mau memafkan ibu, juga menerima diriku sebagai bagian dari keluarga besar mereka.

Memasuki jalan tol bis melaju cepat. Pepohonan di sisi jalan seolah bergerak. Semakin lama semakin cepat hingga berubah menjadi garis-garis dengan warna warni bergantian. Ibu seperti muncul di setiap perubahan warna. Aku bisa merasakan bahwa ia sedang dipijat atau dikerok oleh Mbok Karmi, pembantu kami. Nanti malam, pasti ibu akan berselonjor di dipannya sambil memandang bulan dari balik jendela. Sekujur tubuhnya akan berwarna perak.

Tiba-tiba aku juga seperti melihat warna perak keemasan berbentuk garis-garis bermunculan dari balik jendela bis. Lambat laun mataku lelah dan kemudian tertutup. Ketika bangun aku melihat keremangan dari balik jendela. Pasti sudah Magrib. Aku segera salat. Salatku dipenuhi harapan semoga permohonan maaf ibu diterima keluarganya. Begitu menoleh ke kanan aku melihat seorang wanita. Menurut perkiraanku umurnya sekitar lima puluh lima tahun. Ia tersenyum sangat ramah.

Melihat aku selesai salat, wanita itu menyodorkan getuk. Katanya itu adalah makanan kesukaan ia dan adik perempuannya. Sekilas aku melihat wajahnya. Masih ada sisa-sisa kecantikan masa lalu. Bulu matanya lentik, mirip bulu mata ibu.

“Mau kemana, Nak?” Ucapannya lembut sekali. Aku menyebutkan nama daerah, tepatnya sebuah desa. Kulihat ia mengangukkan kepala. Melihat keramahannya tanpa sadar aku lalu menceritakan tujuan perjalanku, juga tentang ibu yang sedang sakit keras.

“Kisah itu persis seperti yang dialami saudara ibu.” Katanya.

Aku diam sambil terus mengunyah getuk. Aneh, aku tertarik untuk terus memandangi wajahnya.

Wanita itu lalu berkisah:
Dulu di sebuah desa ada dua perempuan kakak beradik. Mereka sama-sama cantik, dan sebenarnya sama-sama disayang oleh kedua orang tua mereka. Sang kakak kemudian dilamar oleh suatu keluarga dan akan dinikahkan dengan anak laki-laki mereka satu-satunya. Tapi di kemudian hari anak laki-laki itu malah jatuh cinta dengan sang adik hingga terjadi sesuatu yang selama ini dianggap aib di desa itu. Kedua orang tua kakak beradik itu sangat kecewa dan selama dua hari tidak berbicara dengan sang adik. Hingga pada suatu hari lelaki dan sang adik pergi entah kemana.

Dengan berlalunya waktu, kedua orang tua dan sang kakak telah memaafkan sang adik. Mereka terus mencari keberadaannya namun tidak pernah ketemu hingga malaikat maut membawa ruh kedua orang tua itu.

“Percayalah,” kata wanita itu, “saudara ibumu pasti juga sudah memberi maaf. Memaafkan kesalahan seseorang laksana melepaskan penderitaan, Nak.”

Seketika bebanku seakan tercerabut. Aku menarik nafas. Tapi tiba-tiba ada perasaan ingin tahu mengapa ada kisah yang begitu mirip dengan kehidupan ibu. Aku kembali menoleh pada wanita itu hendak menanyakan dimana kejadiannya. Jangan-jangan orang-orang yang ada dalam kisahnya adalah keluargaku. Tapi niat itu kubatalkan ketika kulihat wanita itu tertidur. Alunan nafasnya sangat teratur dan terdengar sangat nyaman. Aku tak ingin mengganggunya. Aku juga kembali pulas.

Keesokan hari, di pagi yang hampir buta, bis berhenti di sebuah terminal. Aku membereskan barang-barang sambil sekilas kulihat wanita itu telah turun. Aku lalu buru-buru mengejarnya. Begitu menginjak tanah aku tak lagi melihatnya meskipun kupandangi seluruh sudut terminal seperti orang bingung. Aku keluar terminal dan menaiki angkutan kecil setelah bertanya pada polisi. Hampir dua setengah jam kemudian aku tiba di sebuah desa. Dari tempat itu tampak gunung di kejauhan.

Aku melangkah menemui tukang ojek yang mangkal di sudut jalan dan bertanya tentang seorang wanita bernama Ning - tepatnya Ningsih - sambil menyodorkan secarik kertas berisi alamat rumahnya.

“Ia meninggal subuh tadi, Mas.”

“Innalillahi.”

“Nanti selesai salat zuhur katanya akan dimakamkan.”

Aku segera minta diantarkan ke sana. Tak lama kemudian aku tiba di sebuah rumah bersih yang setengah dindingnya terbuat dari kayu. Banyak orang berkumpul di halaman. Tukang ojek segera mengenalkan aku dengan anak tante Ningsih, seorang lelaki berbadan kurus. Ia mempersilahkan aku masuk dan mengenalkan istrinya. Setelah itu aku langsung menceritakan semua. Tiba-tiba ia memelukku erat. Lepas dari pelukannya kulihat ada air tergenang di matanya.

“Ibu juga pernah cerita tentang Bulik Nengsih.” Katanya. “Ia pernah bilang sangat kangen. Semua cerita sedih masa lalu telah dikubur.”

“Apakah kakek dan nenek masih hidup?”

Ia menggeleng.

Aku lalu diajak menemui jasad tante Ningsih. Orang-orang diminta untuk memberi ruang. Dengan terbata-bata dan hampir menitikkan air mata aku mengucapkan permohonan maaf dari ibu yang kini sudah tidak mampu lagi berjalan jauh dan hanya memandang bulan di kala malam dari balik jendela bertirai. Besok aku akan ke makam kakek dan nenek untuk melakukan hal yang sama.

“Boleh saya lihat wajah tante Ningsih?” Aku berbisik pada saudara sepupuku.

Ia lalu mengangkat penutup wajah perlahan. Aku sudah membayangkan pasti wajahnya mirip ibu. Dua perempuan berwajah cantik. Begitu tersingkap, badanku langsung gemetar dan terasa dingin. Seperti ada batu es yang tiba-tiba menyentuh kudukku, lalu dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh sepanjang tulang belakang. Wajah itu. Ya, wajah itu. Wajah wanita yang aku temui di dalam bis.
Selasa, 08 Maret 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Tribun Jabar, Minggu, 6 Maret 2011 | 14:25 WIB


HANYA Tuminah seorang di seluruh Lumajang, bisa jadi di seluruh Pulau Jawa atau bahkan Indonesia, yang memiliki mantra penyadap nira. Mantra itu membuat pemiliknya tidak merasa sakit bila jatuh dari pohon aren saat menyadap nira meskipun pohon itu menjulang hingga menyamai puncak Bromo. Bila jatuh, si pemilik mantra akan bangun kembali seperti orang bangun dari bersila.

Mantra itu diwariskan oleh kakek Tuminah yang bernama Mbah Ketip. Menurut Mbah Ketip, mantra penyadap nira tidak bisa diwariskan dari ayah ke anak, hanya dari kakek ke cucu. Pada mulanya Mbah Ketip tidak ingin mewariskan mantra itu kepada Tuminah karena ia perempuan. Mbah Ketip masih menunggu dan berharap suatu saat menantunya hamil lagi dan melahirkan anak laki-laki. Tapi pada suatu hari, setelah bersemadi di bekas kandang kambing sambil puasa mutih selama dua hari dua malam, Mbah Ketip merasa umurnya tidak lama lagi. Ia akhirnya mewariskan mantra itu pada Tuminah.

Mbah Ketip berpesan pada Tuminah bahwa mantra penyadap nira, seperti juga manusia, ada umurnya. Suatu saat mantra itu bisa lenyap. Tidak ada yang tahu pasti kapan terjadinya. Tapi menurut perkiraan, ketika tempat tinggal mereka, Desa Kalibendo, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, tidak lagi dikelilingi pepohonan dan persawahan. Begitulah yang diketahui Mbah Ketip dari kakeknya.

"Maka dari itu, Tuminah, cucuku, berhati-hatilah engkau setiap kali memanjat pohon aren. Bisa saja saat itu mantramu lenyap, dan dedemit penunggu pohon sedang usil, lalu menyentil tubuhmu. Engkau bisa celaka."

"Iya, Kakek," jawab Tuminah, yang waktu itu kelas empat SD.

Entah karena pengaruh mantra atau warisan sifat sang ayah, Tuminah tumbuh seperti anak laki-laki. Menjelang selesai sekolah dasar, ia sudah mulai memanjat pohon aren untuk menyadap nira. Nira itu nantinya akan dibuat gula oleh keluarganya. Memang Tuminah tidak seperti laki-laki dewasa yang bisa memanjat sepuluh sampai lima belas kali dalam sehari untuk menyadap nira, tapi keberaniannya membuat banyak orang kagum.

Awalnya ayahnya melarang. Anak perempuan tidak usah memanjat pohon aren, cukuplah membantu ibunya memasukkan gula yang telah mengental ke dalam dakon, cetakan. Tapi pada satu waktu, ketika tiba-tiba Tuminah sudah berada di puncak pohon aren dengan membawa pisau dan jeriken yang diikatkan ke pinggang, ayahnya sadar bahwa Tuminah memang bukan anak perempuan sembarangan. Ayahnya sempat berpikir mungkin Tuminah adalah penjelmaan keinginannya dulu yang mengharapkan anak laki-laki.

Tuminah, yang kemudian tidak melanjutkan pendidikan setelah tamat SD, selalu memegang teguh amanat kakeknya tentang mantra penyadap nira. Ia tidak boleh bercerita kepada siapa pun. Ia hanya boleh bercerita pada cucunya kelak ketika hendak menurunkan mantra tersebut.

"Bila kamu bercerita, dalam waktu enam jam mantra itu akan hilang."

"Kenapa bisa begitu, Kek?" tanya Tuminah.

"Karena itu menunjukkan engkau telah jadi orang takabur."

Tuminah mengangguk.

Umur sembilan belas tahun, Tuminah jatuh cinta kepada Pardi yang tiga tahun lebih tua. Keluarga Pardi lebih miskin, tetapi kulitnya putih. Jarang sekali ada orang berkulit putih di desa itu, apalagi laki-laki. Sama seperti Tuminah, Pardi juga hanya tamat sekolah dasar. Ayahnya telah tiada ketika ia baru bisa merangkak.

Pardi tinggal di rumah bambu bersama ibunya. Sehari-hari mereka membuat gula aren milik orang lain. Untuk satu kilogram gula aren yang dijual kepada pengepul seharga 6.500 rupiah, Pardi dan ibunya mendapat 1.000 rupiah. Bila sedang tidak sibuk, Pardi biasanya mencari belut di sawah pada sore hari. Hasil tangkapannya seringkali dijual sebagai tambahan biaya dapur keluarga.

Suatu saat, ketika sedang berada di pohon aren, Tuminah membayangkan dirinya bersanding dengan Pardi. Kebahagiaan datang bersama bulir-bulir angin. Kepulannya yang melegakan rasa membuat Tuminah semakin nyaman. Mata terpejam, dan biru langit seolah dalam gapaian. Ia merasa terbang, melayang di antara gumpalan awan putih berserakan bersama Pardi.

Tuminah baru sadar ketika ada teriakan. Orang-orang berdatangan. Ibunya menangis sambil memeluknya. Ayahnya segera membopongnya ke rumah. Sesaat Tuminah bingung mengapa begitu banyak orang yang mengirinya. Sesampainya di rumah ia didudukkan di bale bambu. Ayah dan ibunya meraba-raba sekujur badannya.

"Kamu tidak apa-apa, Tuminah?"

Tuminah masih terlihat bingung. Tapi beberapa detik kemudian ingatannya muncul. Ia ingat telah berada di puncak pohon aren. Segera ia menggeleng dan turun dari bale bambu. Muncul wajah Mbah Ketip di pikirannya. Ternyata mantra itu memang manjur. Sekarang orang-orang yang mengelilinginya yang tampak bingung.

Sebulan kemudian Tuminah benar-benar bersanding dengan Pardi. Kisahnya seperti ini: ketika jatuh dari pohon aren, Tuminah mengucapkan kata "Pardi" beberapa kali. Karena penasaran dan takut ada apa-apa, ayah dan ibu Tuminah lalu memutuskan untuk mendatangi Pardi dan menanyakan apakah mereka sudah saling kenal. Ibu Pardi yang menjawab dengan mengatakan bahwa sebenarnya sudah sejak lama ia ingin melamar Tuminah, tapi karena takut ditolak ia menunda keinginan tersebut. Mengetahui hal itu, ayah Tuminah akhirnya menikahkan mereka.

Tahun berganti tahun. Orang-orang tua telah berpisah dari anak, menantu, serta cucu. Sore itu hujan rintik-rintik baru saja berhenti. Dedaunan masih kedinginan. Pardi duduk dengan kaki menjulur di bale bambu. Telah sekian kali ia memborehkan minyak gosok cap tawon pada pergelangan kaki yang terkilir. Dua anak perempuannya sedang bermain boneka plastik di sudut ruangan. Tuminah, sambil menggendong anak ketiga yang berkelamin laki-laki, tampak gelisah. Sesekali ia menengadahkan wajah ke langit yang masih semburat suram.

"Sudah, menyadap niranya besok saja," kata Pardi. "Pohon aren licin, barusan hujan."

"Kalau tidak membuat gula aren hari ini, lusa kita sudah tidak punya uang untuk membeli beras dan minyak tanah."

"Nanti aku cari pinjaman."

Tuminah diam. Ia menatap wajah anaknya sambil menggerak-gerakkan gendongan agar tidurnya lebih lelap. Wajah anak itu mirip Mbah Ketip, terutama hidungnya yang sedikit mengendap ke dalam. Suara anak-anak di luar rumah terdengar. Tuminah menyingkap tirai jendela dan melongok ke luar. Langit telah cerah.

Tuminah meletakkan anaknya yang pulas di samping Pardi. Setelah pamit pada Pardi dan berpesan agar menjaga anak-anak, ia keluar sambil membawa pisau dan jeriken. Kain telah berganti celana gombrang lusuh. Dengan langkah cepat ia menuju kebun yang ditumbuhi pohon-pohon aren. Satu pohon telah tumbang tersambar petir tiga bulan lalu. Jarak kebun dari rumahnya sekitar setengah kilometer.

Begitu memasuki kebun terlihat pohon aren tertinggi. Dari pohon itu juga ia dulu pernah jatuh. Entah sudah berapa ratus kali pohon itu dipanjat. Menyentuh batangnya saja telah membuatnya bangga. Hanya ia wanita di Desa Kalibendo yang pandai memanjat pohon aren untuk menyadap nira. Selesai merapalkan mantra, ia segera memanjat. Dalam sekejap, tubuh kurusnya telah mencapai puncak pohon.

Dari atas Tuminah bisa melihat rumah-rumah berbaris rapi. Rumah-rumah orang kaya, pikirnya. Dulu di tempat itu terbentang persawahan milik penduduk asli. Kini setengahnya telah menghilang. Sebagai gantinya, hampir di semua rumah warga Kalibendo terdapat televisi, bahkan sepeda motor.

Setelah merasa cukup, Tuminah turun. Hujan ternyata menyisakan jentik-jentik air di beberapa legokan batang aren, membuatnya sedikit licin. Pada pijakan ketiga, kaki Tuminah menyentuh permukaan yang licin itu. Di saat yang bersamaan, tangannya berpegangan pada sisa pelepah tua yang rapuh. Pelepah yang telah dipangkas ujungnya itu tercerabut, dan tubuh Tuminah langsung meluncur.

Ada bunyi gedebuk, lalu hening. Tuminah tidak tahu berapa lama. Yang ia tahu ia berada di tanah dalam posisi bersila, kemudian bangkit. Mantra dari Mbah Ketip memang luar biasa. Dilihatnya jeriken masih utuh berisi nira. Tidak lagi di pinggang, melainkan di atas tanah. Seperti ada yang meletakkannya. Pisau masih terselip di sabuk yang mengikat erat pinggangnya.

Tuminah menuju rumah. Langit temaram. Makin dekat ke rumah, langkahnya terasa semakin ringan. Begitu juga jeriken yang ditentengnya. Seperti membawa kapas. Tiba-tiba ia teringat ketiga anaknya. Ada perasaan kangen dan bersalah. Ingin rasanya ia memeluk si bontot. Langkahnya semakin dipercepat.

Dari kejauhan terlihat rumahnya sangat ramai. Semua tetangga ada di sana. Pasti ada apa-apa dengan si bungsu. Ia berlari, merasakan kakinya seolah tidak menyentuh tanah. Sesampainya di depan rumah, ia berteriak menanyakan apa yang terjadi. Namun tak satu pun orang yang menoleh, apalagi menyahut.

Tuminah menyelinap di antara kerumunan orang. Dia tidak lagi peduli, semua yang menghalanginya ditabrak, tapi tetap tak ada yang bergerak. Sampai akhirnya ia berada di pusat lingkaran. Benar saja, ada jasad terbaring tertutup kain. Beberapa orang mengelilingi jasad itu sambil membaca kitab suci. Pardi terlihat sedih di pojok ruangan, sesekali menyeka air mata.

Dengan cepat Tuminah menyingkap kain penutup mayat. Ia ingin melihat wajah anak kesayangannya. Ternyata, ia melihat wajahnya sendiri, putih dan pucat. Ada kapas yang menutup kedua lubang hidung. Satu per satu tulang belulang di tubuhnya remuk. Ia semakin ringan, lalu perlahan membubung menembus atap.