Dimuat di Annida-Online, 25 Juli 2011
Namanya Sujarwo, karena kalau tertawa mulutnya ngablak-ngablak, maka ia dipanggil Jarwo Ngablak. Jarwo Ngablak asli orang Jawa, ia asli Ponorogo, merantau ke Jakarta pun alasanya tak muluk-muluk: ingin melihat ibu kota. Ia tinggal membujang di kamar petak yang telah ia kontrak selama bertahun-tahun. Sebagai lulusan SD, tentu ia tidak bekerja di perusahaan, apalagi pegawai negeri. Sehari-hari Jarwo Ngablak mangkal di Stasiun Pasar Senen, jualan bensin eceran dan pulsa, nyambi jadi tukang parkir. Keadaan itu tidak pernah membuat Jarwo Ngablak mengeluh, toh apalagi menangis.
Jarwo Ngablak memang orang yang humoris. Kelewat humoris. Ia gampang sekali tertawa. Ia bisa menertawakan apa saja, siapa saja, termasuk dirinya sendiri. Cara tertawa Jarwo Ngablak pun sedikit berlebihan dibandingkan kebanyakan orang. Jika ia tertawa matanya akan menyipit hingga hampir terperjam. Hidungnya akan kembang kempis seperti anjing pelacak. Bahunya pun akan berguncang naik turun seperti sedang naik becak di jalan yang penuh lubang. Dan mulutnya, akan menganga beberapa senti, ngablak-nagblak, hingga menyerupai gua kecil yang sanggup menelan bola kasti. Begitulah, Jarwo Ngablak takkan dipanggil Jarwo Ngablak tanpa alasan.
Maka, jika seseorang tengah dilanda melo-drama, ia akan berlari menemui Jarwo Ngablak, minta dikasih resep tertawa yang awet. Selain jago tertawa, Jarwo Ngablak juga ahli dalam membuat lelucon. Orang yang tak pernah tertawa pun akan terbahak-bahak mendengar leluconnya. Apalagi kalau sudah menyangkut lelucon negeri ini. Jarwo Ngablak memang seolah ditakdirkan menjadi oase bagi orang-orang yang mengalami penyakit cemberut dan sulit tertawa. Selain pawakan Jarwo Ngablak memang sudah lucu. Hingga melihat raut mukanya saja, seolah orang sudah bisa tertawa.
Sambil tertawa, jarwo ngablak pernah berujar, “Hidup itu cuma sekali, buat apa dibawa susah. Lha wong sudah susah. Mendingan tertawa, supaya kesusahan itu akrab dengan kita. Kalau sudah jadi teman, kesusahan itu ternyata lucunya minta ampun. Hahaha…”
Melihat kehidupan Jarwo Ngablak kadang-kadang bisa membuat orang iri. Hidup yang mengalir dan penuh tawa, tak ada keluh-kesah, tak ada sedu-sedih, tak ada iris-tangis. Benar-benar mendekati sempurna. Bahkan, orang kaya sekalipun belum tentu bisa seperti Jarwo Ngablak: memenuhi hidupnya dengan gelimang tawa. Semua berjalan dengan sahaja, hingga tiba-tiba, pada sebuah senja di hari Jum’at, Jarwo Ngablak duduk selonjor di depan pintu kamar kontrakannya denga wajah tertekuk. Tentu saja pemandangan itu ganjil.
“Kamu sedang tak enak badan, Wo?” Tanya Sukamto, teman yang ngontrak di kamar sebelah.
“Saya cuma pingin nangis.” Jawab Jarwo Ngablak apa adanya.
Mendengar jawaban itu, Sukamto ingin tertawa tapi tak jadi, “memangnya kenapa? Ada berita duka dari kampung, ya?”
“Bukan.”
“Lha terus?”
“Saya cuma pingin nangis. Pingin nangis aja.”
Melihat raut muka Jarwo Ngablak, tawa Sukamto benar-benar meledak. Lucu bin aneh. Jarwo Ngablak ingin menangis tanpa sebab? Apa kata dunia? Ketika tawa Sukamto mulai reda, perlahan Jarwo Ngablak memulai ceritanya. Cerita yang menjadi musabab kenapa ia bersikeras ingin menangis.
“Tadi, waktu khotbah Jum’at, Pak Khotib bercerita panjang lebar. Ia menceritakan kisah-kisah sahabat di jaman Rasulullah, kisah-kisah yang mengharukan, hingga beliau sendiri berkhutbah sambil sesenggukan, bahkan banyak juga jama’ah yang menitikkan air mata. Dan saat itu, saya merasa asing. Saya perhatikan cuma beberapa orang saja yang tidak menitikan air mata, termasuk saya.
“Menjelang akhir khotbahnya. Pak Khotib juga menyampaikan, bahwa menangis itu sehat. Menangis itu menandakan kelembutan hati seseorang. Beliau juga mengutip ayat-ayat, katanya Tuhan menyuruh manusia untuk lebih banyak menangis daripada tertawa. Dan kata beliau lagi, terlalu banyak tertawa itu bikin hati mati. Orang kalau tidak bisa menangis, katanya hatinya sudah mati, sudah jadi batu. Detik itu saya mencoba sekuat tenaga untuk menangis, dan ternyata saya gagal. Saya memang sudah tak bisa menangis. Hati saya sudah mati, hati saya sudah jadi batu.”
Mendengar cerita Jarwo Ngablak, tiba-tiba Sukamto tercengang. Ia kembali ke kamarnya seperti batu yang sedang berjalan, tanpa salam, tanpa ekspresi. Hari-hari , Jarwo Ngablak semakin larut dalam obsesinya: ingin menangis. Beberapa orang yang datang padanya dengan wajah murung akan kembali dengan wajah semakin murung, karena Jarwo Ngablak tidak lagi membagi-bagikan resep tertawa. Jarwo Ngablak tidak lagi memaparkan lelucon-lelucon. Kepada orang-orang yang menemuinya, Jarwo Ngablak justru menceritakan isi dari khotbah Jum’at yang disimaknya beberapa hari lalu, sambil meminta balik resep yang jitu untuk bisa menangis. Menangis memang jauh lebih sulit dibanding tertawa.
Namun, apapun yang terjadi, Jarwo Ngablak bersikeras ingin menangis. Ia harus bisa menangis. Meski ia sudah benar-benar lupa bagimana cara menangis. Bahkan ia sudah tak ingat, kapan terakhir kali ia menangis. Berbagai upaya telah ia lakukan supaya ia bisa menangis. Namun tetap saja hasilnya nihil. Air matanya seperti raib entah ke mana.
Jarwo Ngablak semakin murung. Ia teringat kembali petuah Pak Khotib, bahwa jika seseorang tidak bisa menangis berarti hatinya sudah jadi batu. Jarwo Ngablak merinding, membayangkan seonggok batu bersarang di dadanya, tentu berat sekali, sesak sekali.
“Mungkin sesekali kamu perlu nonton sinetron ‘Anak Tertukar’. Setiap jam delapan malam, di sinetron itu selalu ada adegan menangis,” saran seorang teman.
“Sudah! Melihat mimik mereka menangis saya malah tertawa terbahak-bahak.” Balas Jarwo Ngablak.
Jarwo Ngablak juga sudah nonton film india yang paling sedih yang direkomendasikan Sukamto. Tapi tetap saja, air matanya tak bergeming, malah Sukamto sendiri yang menangis tak karuan, sampai-sampai air juga keluar dari hidungnya.
“Ngupas bawang, ngupas bawang!” saran seorang teman yang lain.
“Ini hubungannya dengan hati. Ngupas bawang nggak ada hubunganya dengan hati. Saya pingin nangis yang bener-bener nangis, nangis yang dari hati.”
“Berhubungan dengan hati, ya? Jangan-jangan hatimu memang sudah mati gara-gara banyak tertawa, coba kamu silaturrahim ke ustadz atau kiyai, barangkali mereka bisa membantu.”
Karena bersikeras ingin bisa menangis, Jarwo Ngablak pun akhirnya nekat mendatangi seorang ustadz. Ustadz yang beberapa waktu lalu menyampaikan khotbah Jum’atnya. Tanpa basa-basi, Jarwo Ngablak pun menceritakan kegelisahan hatinya. Mendengar cerita Jarwo Ngablak, ustadz tersenyum geli sambil sesekali manggut-manggut.
“Hati yang mati itu hanya sebuah kiasan saja,” ustadz memulai petuahnya, “segala sesuatu akan lapuk, usang, hilang, dan bahkan rusak jika tidak kita gunakan. Termasuk air mata. Seperti air-air yang lain, air mata pun memiliki mata air. Mata air air mata takkan mengalir lancar jika ia terus kamu timbuni dengan tawa berlebihan, bisa-bisa mata air air matamu tersumbat dan kering. Kalau sudah begitu, tentu saja kamu takkan bisa menangis.”
“Solusinya bagaimana, Ustadz?” Jarwo Ngablak menyela.
“Basahi terus mata air air matamu.”
“Dengan apa ustadz?”
“Dengan mempersedikit tawa. Tertawa boleh, tapi kalau berlebihan juga bahaya.”
“Akhir-akhir ini saya hampir tak pernah tertawa, Ustadz. Saya malah berusaha keras supaya bisa menangis, tapi tetap saja, saya tidak bisa menangis. Bahkan tahun lalu, ketika bapak saya meninggal, saya tidak menangis sama sekali. Barangkali orang-orang memandang saya tegar. Tapi entahlah, ketika itu saya juga sangat sedih. Hanya saja saya tidak bisa menangis.”
Ustadz geleng-geleng kepala, “Ternyata, tidak bisa menangis itu menderita, ya?”
“Sangat, Ustadz.” Ujar Jarwo Ngablak dengan wajah memerah, mata memerah. Sesekali ia mengusap matanya. “Barangkali hati saya memang sudah jadi batu, Ustadz.” Ujar Jarwo Ngablak lagi sebelum ia terdiam agak lama.
“Ayolah! Keluarkan uneg-unegmu. Saya akan jadi pendengar yang baik.”
“Ya itu, Ustadz. Saya pingin normal, seperti orang-orang. Saya pingin bisa menangis. Saya tidak mau hati saya ini jadi batu. Tapi sepertinya semua sudah terlambat.” Jarwo Ngablak kembali menyeka matanya. Ustadz tersenyum dan kembali menggeleng-gelengkan kepala.
“Tidak bisa menangis memang susuatu yang patut ditangisi. Apa kamu tak sadar, dari tadi kamu ngoceh sambil menangis.”
Jarwo Ngablak mengangkat kepala mendengar tuturan ustadz, ia kembali menyeka matanya, punggung tangan dan jari-jemarinya basah.
“Tak apa. Teruskan! Menangis itu sehat. Menangis itu melegakan.” ujar ustadz lagi.
Jarwo Ngablak masih belum percaya kalau yang diusapnya sedari tadi adalah air mata. Air mata yang mulai basah dan merembes dari sumbernya, dari mata airnya: hati. Jarwo Ngablak pulang dengan hati plong. Ia tak pernah merasakan kelegaan semacam itu seumur hidupnya.
Di dalam kamar kumalnya, Jarwo Ngablak berbaring dengan mata terpejam. Ia membayangkan di dadanya menyembul sebuah mata air yang airnya mulai merembes perlahan, merambati dinding hatinya. Air itu mengalir sangat lancar sampai ke sudut matanya.***
Malang, Juni 2011
Dimuat di Annida-online.com. Senin, 28 Maret 2011
Mak Rabiah namanya. Dia termangu di kusen jendela Rumahgadang. Tangannya menopang dagu. Giginya mengunyah sirih. Sebuah tonjolan muncul di balik kulit daging bibir kanan atasnya. Merah sela-sela giginya. Kunyahan air sirih. Matanya menatap lurus. Tampak jelas sudah di depan matanya bukit Balik Puncak. Tempat ia meneruka ladang.Kini masih pagi. sebentar lagi dia bersama orang-orang kampung pergi ke ladang. Membakul cangkul, ladiang , kapak. Menenteng rentang nasi, gulai, satu dua potong goreng ubi dingin, setabung air kopi.
Ia biarkan pikirannya melayang-layang, membiarkan keharibaan matahari timur mencuri-curi wajah keriputnya. Sehelai daun pokat yang tumbuh di halaman, jatuh pas di kusen jendela. Ia biarkan daun itu bertengger. Angin pagi mengusyiknya. Daun itu jatuh pas menimpa anak-anak ayam yang berkelimbun bersama induk yang terpaut di jeruji kandang.
Hanya bunyi itu yang membuat rumah ini semacam gaduh di pagi hari. Selebihnya suara Mak Rabiah, cericit air ketika hujan, suara kesiur angin, sesekali Suara Mak Hindun, kawan masa muda Mak Rabiah yang sering membawa Mak Rabiah meneruka ke ladang orang. Menghabiskan sisa hidup, menunggu jalan pulang.
Anjing hitam kumbang tidur bergelung di kaki jenjang. Telinganya mengendus langau yang tiap sebentar hinggap di telinganya. Ekornya mengelus-elus kaki jenjang. Kakinya memanjang semacam kayu rebah. Tak jauh di depan jenjang, goni terbentang. Di atasnya Mak Rabiah menjemur kacang. Sebagian untuk ke tampang sebagian untuk dijual. Di samping kacang juga terbentang hamparan upil jagung, jagung-jagung tampang untuk mengisi parak di belakang rumah.
Hanya itulah mata pencaharian Mak Rabiah selain meneruka ke ladang orang: kacang, jagung, ubi jalar. Bukan parak yang tidak ada tapi yang akan mengurus yang telah pergi? Mau menggaji orang tak sangguplah Mak Rabiah. Mau mengerjakan sendiri, tulangnya sudah merapuh. Maka satu harapan tumpangan hidupnya, bekerja di parak orang. Sehabis Jum’at gaji dibayar tunai. Lima belas ribu ribu untuk satu hari kerja, aturan itu sudah berlaku semenjak tahun 2000. Malanglah nasib Mak Rabiah kalau dalam satu minggu itu tidak ada yang memakai jasanya. Hasil panen kacang hanya dapat dipetik musiman. Jagung baru bisa dipetik umur enam bulanan untuk ukuran parak Mak Rabiah yang tidak dipupuk dan tak diracun.
Mak Rabiah sedup segelas kopi yang sudah mendingin di atas meja, tepat di belakangnya. Segelas kopi ia taruh di jendela. Seekor lalat hinggap di tangkai sendok. Tak ada niat Mak Rabiah hendak mengusyiknya. Mak Rabiah pandang ke depan, orang-orang telah berjajar mendaki lereng bukit Balik Puncak. Mak Rabiah menoleh ke belakang. Jam tua masih tergantung di tonggak utama Rumah Gadang. Jam tua tak ada ubahnya dengan kulit Mak Rabiah yang mengkriput. Jam yang dibiarkan dibungkus plastik itu penuh lawah-lawah. Jarumnya berdetak pada pukul 7 lewat 10 menit.
Mak Rabiah mendesah. Beginilah kebiasaannya. Pagi-pagi ia bermenung di jendela. Tapi sebenarnya matanya jauh menelusup ke labuh arah selatan. Tempat jalan pergi di balik bukit kecil Arak Mudik. Dari bukit itulah Mak Rabiah kehilangan satu-satu. Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk.
“Hujan batu di kampung kita lebih baik dari pada berhujan emas di rantau orang, Bujang.” Kata-kata itu tidak pernah terucap di lidah Mak Rabiah. Kata-kata itu hanya tersimpan rapat di hatinya. Maka saat ia mengenang rantau tak terasa sungai mengalir dingin di lekuk pipi kisutnya.
***
“Ke rantau Muluk mencari untung dan perasaian. Untung bertanam juga nasib di rantau orang. Doa Emak tentu penunjuk jalan bagi perjalanan Muluk. Berat hati Muluk meninggalkan emak. Perasaian hidup juga yang meminta demikian. ” Begitulah kata perpisahan itu terucap dari mulut anak bungsunya.
Muluk. Muluk baru saja menamatkan sekolah pesantren di kota Solok. Kemiskinan membuat ia mencukupkan sampai di sana cita-citanya. Kakaknya, ah kakaknya semacam tidak berkakak ia. Toh tidak lagi seorang pun kakak-kakaknya mengirim dia dan emaknya uang.
“Tak apa Emak di sini, Bujang . Emak restui engkau ke rantau orang. Sudah begitu adat-adat orang kita. Tidak masak pengalamannya kalau tidak mencoba pahit dan getirnya di rantau orang.” Tak ingin Mak Rabiah melepas anak satu-satunya. Ingat ia Siti, Salahudin, Aminah, Rajab yang tak lagi pulang-pulang. Hanya suratnya saja yang sampai kabar kepulangan. Sesudah itu tidak lagi ada kabar beritanya. Siti bekerja di Batam. Salahudin mencari peruntungan di “Kota Hijau”, Purwokerto, Jawa tengah. Ia menetap di Baturaden. Aminah ikut suaminya ke Aceh. Rajab menetap di Tangerang, tepatnya di Cingkareng. Tapi tak ingin pula ia menahan hasrat Muluk. Sudah kebiasaan anak bujang di lepas ke rantau. Lelaki minang di rantaulah gagangan hidupnya.
Dahulu mereka memang bergantian pulang. Salahudin pulang sekali setahun. Siti pulang ketika ada acara pernikahan keluarga saja. Aminah pulang ketika hari lebaran. Rajab hanya pulang sekali setahun seperti Salahudin. Tapi semenjak usaha mereka menanjak. Mereka benar-benar tidak pernah pulang.
Siti jadi bos pedagang gelap wanita malam di Batam. Mak Rabiah tidak tahu. Siti memasok para lady itu dari Korea, Cina, Uzbekistan, Thailand, Afganistan. Siti masukkan ke hotel dan klup bintang lima di Batam, Jakarta, Jambi, Medan, Semarang, Yogya, Bandung. Siti juga mengekspor pada lady pribumi ke Cina, Korea, Thailand, Mesir, Arab Saudi, Afganistan….
Salahudin menjadi direktur lima belas rumah makan Padang di kota hijau, Purwokerto. Semenjak hidupnya jaya ia tak berkirim uang ke Mak Rabiah. Tapi taka apa, Mak Rabiah tak mengharapkan uangnya. Salahudin kemudian mengembangkan usahanya ke tanah Yogya, Semarang, Jakarta. Sontak saja namanya dikenal sebagai pemilik rumah makan “Randang Balado”. Kemudian ia mulai merambah klup malam, diskotik, hotel kelas melati.
Aminah menjadi pengusaha tenun di Aceh. Usahanya melonjak tinggi. Ia mengimpor barang ke Belanda, Jerman, Inggris, Cina, Korea. Ia semakin sering ke luar negeri. Ia kemudian pindah bersama suaminya di Jerman. Mengganti namanya jadi Susan Christian. Anak-anaknya lahir dengan nama Jhon Pilger, Fransiska, Angelina. Mak Rabiah tidak pernah bertemu dengan cucunya.
Rajab, ya, Rajab yang benar-benar jadi orang. Ia menjadi tukang becak dan upah pijit di Cingkareng. Menerima panggilan. Dapat uang secukup makan. Dia yang rindu Mak Rabiah. Tapi ia tidak ada daya untuk pulang. ia telah mengganti kepercayaannya untuk satu kardus mie setiap minggu. Dia malu pada Mak Rabiah. Dia malu pada dirinya sendiri.
Kini Muluk, ya Muluk pun akan meninggalkan Mak Rabiah. Ia pergi ke tanah Malaysia. Jadi TKI di sana. Ia berangkat dari Solok menuju Dumai, dari Dumai baru menyeberang ke Malaysia.
“Hati-hati Bujang di rantau orang. Induk cari, bapak cari, mamak paling utama. Agar Bujang ada tempat berpijak. Patah ada yang akan menyangga. Jatuh ada yang akan menyambut. Hilang ada yang akan mencari. Kemudian Bujang, ingat kepada Tuhan, sumbahyang bujang jangan sampai lupa. Ingat Bujang pesan orang tua-tua. Dimaa bumi dipijak di sinan langiak dijunjuang .” Ah, nasehat-nasehat itu pula yang ia pesankan untuk anak-anaknya Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, sebelum selangkah turun jenjang Rumahgadang.
Mak Rabiah lepas kepergian Muluk. Dari bukit kecil arah selatan Muluk menghilang batang hidungnya. Siti, Salahudin, Aminah, Rajab juga dari bukit kecil itu menghilang dari mata Mak Rabiah. Kini Muluk yang pergi. “Tak iba kau dengan tubuh tua Amakmu ini Nak,” bisik hati kecilnya. Tapi begitulah keteguhan hati Mak Rabiah. Tak ia keluarkan gundah hatinya. Ia kesampingkan perasaanya.
***
Maka Sudah tahun sembilan tahun keluarga itu seperti tidak pernah ada. Muluk jadi pedagang sayur di Selangor. Membangun minimarket sayur. Ia kemudian mulai memasok sayur ke Kuala Lumpur, Negeri Sembilan, Serawak, Johor Bahru, Pulau Pinang, Malaka, Seberang Perai, Klang, kota Kedah.
Usahanya perkembang pesat. Kemudian ia menikah dengan orang Malaysia. Mengubah kewarganegaraannya (Entah bagaimana caranya). Ia tak pernah pulang semenjak ia meninggalkan jenjang Rumahgadang. Kini lahir anaknya Abdullah, Razaq Kasif, Aisyah Qurrata’ A’yun.
Di Rumahgadang, Mak Rabiah terus menunggu. Dari ladang ke ladang, ia ceritakan anaknya ke rantau. Dari ladang ke ladang ia banggakan anak-anaknya yang begitu riang wajah-wajah ketika turun jenjang Rumahagadang. Dari ladang ke ladang, cerita-cerita itu ia bangun. Suatu saat anak-anaknya kan pulang, duduk di rumah, bercerita tentang lugunya masa kecil mereka. Bermain di ladang tebu. Pergi ke rimba di musim penghujan, mencari jamur di balik-balik tunggu.
Suaminya! Suami Mak Rabiah telah lama pulang ke alam baka. Ia pulang karena memang jarak umur. Ia menikah dengan suaminya selisih umur dua puluh lima tahun. Tepatnya menjadi istri kedua. Setelah suaminya meninggalkan Mak Rabiah, Mak Rabiah yang membesarkan anak-anaknya.
***
Kisah Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk, telah berpuluh tahun. Mak Rabiah masih menuggu. Berharap dari labuh arah selatan, bukit Arak Mudik; Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk, menampakkan wajah. Itu alasan mengapa Mak Rabiah berlama-lama bermenung di jendela Rumahgadang. Seperti ia melepas anak-anaknya pergi, ia dengan setia menunggu anak-anaknya yang menghilangkan punggung di labuh arah selatan, lepas dari bukit kecil Arak Mudik.
***
Ia habiskan pagi mengunyah sirih. Sirih itu dicampur sadah, gambi, dibalut daun sirih. Merahnya air sirih memekatkan merah tua bibirnya.
Mak Rabiah berjalan ke dapur. Pelan lantai itu berderit. Seekor kucing menghelus di kakinya. Mak Rabiah angkat kucing itu. Ia letakkan di dapur. sebelumnya ia ambil sebungkus nasi. Ia campur nasi dengan ikan tri yang ia beli di Pasar Bukit Sileh. Ia letakkan nasi itu dalam tempurung kelapa. Kucing kuning belang putih itu menangkap ikan-ikan dalam tempurung. Ngeonya berhenti. Sesudahnya hanya bunyi telapak kaki Mak Rabiah.
Di dapur, Mak Rabiah mengambil kompi. Kini bekerja di ladang Sutan. Mak Rabiah masukkan setabung air kopi, satu ladiang, dua potong goreng ubi, satu kain panjang untuk senggulung kepala membawa kayu dari ladang, Dua benen ukuran satu meter pengikat kayu, sebungkus nasi dengan sayur pucuk ubi, ke dalam kompi. Di atas meja semua itu bersusun. Tinggal menunggu Mak Hindun memanggilnya.
Mak Rabiah rapatkan jendela. Seorang perempuan tua memanggilnya di halaman. Rupanya sudah datang orang yang ditunggu. Mak Rabiah turun jenjang. Anjing kumbang hitam menggeliat di jenjang. Ia bangkit dari tidurnya. Anjing Hitam Kumbang menjulurkan lidahnya. Telinganya tampak turun. Kepalanya mengendus-ngendus kompi yang dijinjing Mak Rabiah. Ayam-ayam sibuk menggali tanah dengan cakarnya.
Mak Rabiah dan Mak Hindun berjalan menuju bukit Balik Puncak. Mereka berpapasan. Di belakangnya, Anjing Hitam Kumbang berjalan mengikuti langkah Mak Rabiah. Hidungnya menghidu rerumputan perdu, karimuntiang, pensi-pensi basah, ilalang gunung sepanjang pendakian lima kilometer. Ekornya tegak berdiri semacam mencium mangsa. Hanya anjing hitam itu yang setia menemani Mak Rabiah di Rumahgadang.
Hari ini hari kamis, tentu besok Mak Rabiah sudah gajian dari Sutan. Besok di Pasar Bukit Sileh ia dapat membeli tahu, sepotong ikan laut, martabak, bada tri. Sepanjang pendakian, ia berkisah kepada Hindun, ia begitu rindu anak-anaknya pulang. Mak Rabiah teteskan air mata. Sepanjang pendakian, dua emak tua itu saling bertangisan.
”Laki-laki di negeri kita ini memang tidak lazim kalau tidak merantau, tapi apakah lebih tidak lazim kalau tidak pernah menampakkan batang hidungnya di depan kita,” ujar Mak Rabiah.
“Suami kau dulu juga merantau ke Medan. Suamiku merantau ke Makasar, tapi mereka pulang,” ujar Hindun.
***
Maka begitulah kebiasaan perempuan tua itu. Setiap pagi menopang dagunya di kusen jendela Rumahgadang. Ia tak lagi pernah meneteskan air matanya. Kecuali hanya sungai dalam dadanya. Ia bercerita ke dalam dadanya. “Krakatau madang di hulu berbuah berbunga belum, Kerantau bujang dahulu di kampung berguna belum.” Tapi kini ia bisikkan dalam hatinya. “Ke rantau madang ke hulu. Terus saja mengalir ke hilir. Sebab Bujang, air ke muara laut.” ia tutup jendela itu. Ia berangkat ke ladang. Meneruka ladang orang. Ladangnya hanya ada tanaman kacang, jagung, ubi jalar, tak berpupuk dan tak beracun. Semacam urat tak benar-benar mengakar dalam.
Tapi kini jendela itu tidak ada lagi terbuka. Pintunya bersemak belukar perdu. Halaman belakang dan depan Rumahgadang itu juga berbelukar. Rumahgadang itu telah lapuk dinding dan lantainya. Tak ada ayam yang berkokok, tak ada anjing kumbang hitam, tak ada kucing. Hanya satu pohon mangga tua di halaman.
Mak Rabiah telah lama meninggal. Ia dikuburkan di belakang rumahnya. Seperti sebelum kematiannya, sesudah kematiannya pun; Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk, tak pernah pulang walau hanya menabur bunga ke makam Mak Rabiah.***Padang, 2010-Maret 2011
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)
