Tampilkan postingan dengan label K: Tribun Jabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K: Tribun Jabar. Tampilkan semua postingan
Minggu, 22 Mei 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Tribun Jabar, Ahad 15 Mei 2011

PEREMPUAN itu bernama Gendis Murniati. Sesaat setelah ia melahirkan bayi laki-laki, suaminya pergi entah ke mana. Kabar angin mengatakan wajah bayi itu tidak mirip dengan wajah suami Gendis. Tapi ketika beberapa tetangga menanyakan hal ini pada Gendis, ia tidak mengiyakan atau membantah. Ia hanya berkata lelaki pengecut dan berjiwa kerdil memang selalu kabur dari masalah.

Sebulan kemudian bayi Gendis meninggal. Setelah bayi dikubur, Gendis terlihat murung selama lima minggu, lalu ia terus menangis beberapa bulan berikutnya. Setiap keluar rumah para tetangga dekat pasti mendengar Gendis menangis, begitu juga orang-orang yang lewat di depan rumahnya. Banyak tetangga yang datang untuk menghibur Gendis sambil membawa buah-buahan. Namun tak satu pun yang mampu menghentikan tangisannya. Tangisan menyayat hati dan penuh rintihan kepedihan.

Gendis baru menghentikan tangisannya tepat pada saat ada tetangga yang melahirkan bayi perempuan rupawan. Sayang, payudara perempuan yang melahirkan itu tidak mengeluarkan air susu. Bentuknya juga kempes, tidak kembung seperti milik seorang wanita yang baru melahirkan. Ibu-ibu ramai membicarakan hal itu, terutama ketika sedang membeli sayuran di muka rumah. Mereka juga kasihan karena perempuan itu tidak mampu membeli susu kaleng.

"Biarlah aku yang menyusui bayi itu." Tiba-tiba Gendis keluar rumah. Orang- orang terkesima, sesaat serupa tugu. Aneh, Gendis masih terlihat sama seperti saat baru melahirkan. Payudaranya terlihat kembung. Yang berubah hanyalah matanya. Di mata itu seperti masih ada genangan air. Sebagian orang menganggapnya buta karena terlalu lama mengucurkan air mata.

Kesediaan Gendis untuk menyusui dilaporkan pada perempuan yang baru melahirkan itu. Pada awalnya ia tidak setuju karena mendengar kabar tentang mata Gendis yang terlihat aneh, tapi karena ia tidak mampu lagi membeli susu, akhirnya ia bersedia bayinya disusui Gendis. Beberapa orang yang semula meragukan apakah payudara Gendis masih mengeluarkan air susu terbukti salah. Malah susu dari payudara Gendis melimpah ruah. Bayi itu menyusu dengan sangat lahap. Bila tiba waktunya untuk menyusu, bayi itu selalu dibawa oleh orang tuanya kepada Gendis. Selama dua tahun bayi itu disusui Gendis hingga tiba waktunya untuk disapih. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Kabar itu cepat menyebar. Maka datanglah beberapa perempuan yang memiliki bayi. Bukan hanya para perempuan dengan payudara yang tak mampu menghasilkan susu, tetapi juga sebaliknya. Mereka menginginkan bayi mereka sehat seperti bayi sebelumnya, dan mereka rela antre di depan rumah Gendis selama berjam-jam. Rumah Gendis tak pernah sepi dari tangisan bayi.

Dengan senang hati Gendis menyusui bayi-bayi itu. Terbukti mereka tumbuh menjadi anak-anak sehat. Anehnya, payudara Gendis tidak pernah menyusut dan susunya tidak habis-habis meski sudah puluhan bayi yang disusuinya. Hanya kedua matanya yang semakin mengecil. Makin banyak orang yang menganggap Gendis buta sehingga beberapa orang datang dengan sukarela untuk membantu Gendis mengurus rumah karena sepanjang hari ia sibuk menyusui. Malah seorang pria bernama Bejo mengatakan akan mengabdikan dirinya pada Gendis. Bagi Bejo, Gendis adalah sebuah keajaiban.

Rumah Gendis makin ramai. Beberapa tetangga memanfaatkan kesempatan itu dengan membuka warung. Mereka menjual apa saja yang bisa dimakan. Sisa-sisa makanan mengundang beberapa ekor kucing untuk datang. Di antara kucing-kucing itu ada yang kawin dan melahirkan empat ekor anak. Namun sayang, induk kucing mati.

Mengetahui hal itu, Gendis berkata pada Bejo. "Bawalah anak-anak kucing itu ke sini. Akan aku susui mereka." Bejo terkejut, tapi ia tidak berani membantah. Ia segera mengambil keempat ekor anak kucing itu dan membawanya kepada Gendis. Gendis segera menyusui mereka dan meminta Bejo untuk merawat bayi-bayi kucing yang mungil itu. Dua kali sehari Gendis menyusui mereka, bergantian dengan bayi- bayi manusia yang mengantre untuk disusui. Anehnya, anak-anak kucing itu pun menjadi sehat dan siap untuk dilepas.

Kabar tentang Gendis yang tidak hanya menyusui anak manusia cepat tersebar. Lalu berdatanganlah orang-orang ke rumah Gendis dengan membawa berbagai jenis binatang peliharaan mereka yang sakit. Bejo sempat bingung. Ia lalu bertanya pada Gendis, "Ibu, banyak orang yang datang ke sini dengan membawa binatang peliharaan mereka untuk disusui. Mereka sudah gila, Ibu."

"Bejo, tidak apa-apa. Biarlah mereka mengantre. Akan aku susui binatang- binatang itu. Mereka juga makhluk ciptaan Tuhan yang perlu kita sayangi." Kata Gendis dengan suara lembut. Matanya berkedip-kedip. Genangan air masih terlihat di sana. Kadang orang yang melihat matanya dengan cukup lama bagai melihat lautan.

Maka sejak itu Gendis tidak hanya menyusui anak manusia dan kucing, tetapi juga anak anjing, monyet, orang utan, siamang, kambing, rusa, gorila, bahkan bayi harimau. Seperti yang sudah-sudah, binatang-binatang itu juga menjadi sehat.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Gendis semakin dikenal. Bahkan beberapa orang menjulukinya manusia sakti dan keturunan wali. Pemujanya juga terus bertambah. Suatu ketika, seorang wanita paruh baya datang ke rumah Gendis, tetapi bukan untuk meminta Gendis menyusui bayinya atau binatang peliharaannya, melainkan mengadukan masalah keluarga. Ia datang sambil bercucuran air mata.

Wanita itu mengatakan bahwa ia memiliki seorang anak lelaki yang kecanduan narkoba. Kuliah si anak berantakan dan wanita itu telah menjual rumah satu-satunya peninggalan suami untuk biaya menyembuhkan anaknya. Mereka sekarang tinggal di rumah kontrakan yang kecil pada gang sempit. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

"Tolonglah, Ibu Gendis."

"Bawalah anak laki-lakimu ke sini," kata Gendis.

"Bawa ke sini, Ibu?"

"Iya. Akan aku susui dia."

"Baik, Ibu."

Keesokan harinya wanita itu membawa anaknya. Gendis menyuruh Bejo menyiapkan satu kamar kosong. Di kamar itulah pecandu narkoba itu ditempatkan. Pintu dikunci agar pada saat sakaw ia tidak kabur. Setiap lima jam sekali Gendis menyusui pecandu itu. Tiga hari pertama ia muntah-muntah. Semua racun yang telah ditenggaknya keluar bersama muntah berwarna kelam. Hari berikutnya pecandu itu menyusu seperti bayi yang kelaparan. Dua minggu berikutnya ia telah sembuh dari kecanduan narkoba.

Kabar tentang Gendis Sang Perempuan Penyusu terus menyebar. Predikatnya pun makin banyak. Orang-orang yang sangat memujanya memberinya nama-nama pujian. Kini orang-orang yang menyusu padanya bukan hanya pecandu narkoba, tetapi juga tokoh-tokoh politik yang ingin menjadi pemimpin, pejabat yang ingin cepat naik pangkat, pengusaha yang ingin cepat kaya, penyanyi yang goyangannya dilarang, artis yang dianggap melecehkan agama, perempuan dan pria yang susah mendapat jodoh dan pekerjaan, pelajar dan mahasiswa yang ingin cepat lulus, dan masih banyak lagi.

Tapi di balik kemasyhuran Gendis ada beberapa orang yang membencinya. Ia dituduh menyebarkan maksiat dan klenik. Sekelompok orang berpakaian putih-putih datang dan berdemo di depan rumah Gendis. Gendis diminta untuk menghentikan kegiatannya menyusui orang dan binatang. Kalau tidak, rumahnya akan dibakar.

Gendis tidak pernah peduli dengan segala omongan orang dan demo-demo yang menentangnya. Ia terus saja menyusui makhluk hidup apa pun yang datang kepadanya. Ia berkeyakinan selama itu demi kebaikan orang lain dan tidak merugikan pihak mana pun, ia akan terus menyusui hingga akhir hayat.

Keteguhan Gendis membuat beberapa orang membelanya. Terutama mereka yang telah merasakan manfaat menyusu pada Gendis. Makin hari makin banyak saja orang yang mendukungnya sehingga terbentuklah aliansi pendukung Gendis yang siap mati jika keberadaan Gendis terus diusik. Mereka membubuhkan sidik jari dengan tinta darah. Ia juga dirangkul oleh partai politik yang menentang penguasa.

Gendis berubah menjadi sebuah fenomena. Ia bahkan terkenal hingga ke mancanegara. Orang-orang yang datang untuk menyusu padanya bukan hanya dari dalam negeri. Beberapa kali ia malah diundang ke berbagai negara. Tentu saja ia selalu ditemani oleh Bejo yang kini juga ikut menikmati kemasyhuran.

Pada suatu ketika Gendis akan menghadiri pertemuan. Sang penguasa menganggap pertemuan itu akan mengusik kekuasaannya. Maka dibuatlah rencana untuk membunuh Gendis dengan memberikan racun pada minumannya. Antek-antek penguasa yang telah sangat lihai dan mendapat pelatihan di luar negeri selama bertahun-tahun ditugaskan dalam misi ini. Entah bagaimana mereka bekerja, akhirnya di depan Gendis ada gelas berisi air putih yang telah diberi racun.

Pada saat Gendis hendak minum, tiba-tiba gelas itu pecah. Gendis tidak mati. Peristiwa yang dianggap langka itu diliput televisi. Para pendukungnya sangat yakin bahwa ada sesuatu di minuman itu. Nama Gendis malah semakin masyhur. Pengikutnya menjadi berlipat-lipat. Sang penguasa harus gigit jari karena kini pengikut Gendis telah melimpah ruah. Itu berarti akan sangat sulit untuk menyingkirkannya, dan jika mencalonkan diri menjadi pemimpin, ia pasti menang. Para pemujanya menjuluki Gendis orang suci.

Kiprah Gendis semakin berkibar. Ia kini bukan hanya menyusui, tetapi juga menentang tindakan main hakim sendiri dalam membela keyakinan. Jurang perbedaan antara sekelompok orang dengan Gendis semakin curam. Bentrokan antara pengikut Gendis dengan sekelompok orang itu tak lagi bisa dihindarkan.

"Tangkap Gendis. Ia telah memilih jalan sesat dan menyesatkan." Begitu kata pemimpin kelompok itu.

"Aku tak akan pernah gentar. Bila ingin menindas orang, langkahi dulu mayatku," jawab Gendis yang kemudian dikutip berbagai media massa. "Aku menyusui karena aku memiliki air susu yang melimpah ruah, dan sangat banyak makhluk yang membutuhkannya. Ini bukan porno dan maksiat, namun suatu bentuk pelayanan pada Sang Pencipta."

Tahun-tahun terus berlalu. Gendis makin tua. Kesehatannya semakin memburuk. Ke mana-mana ia harus didorong dengan menggunakan kursi roda. Tapi ia tetap tak pernah menolak siapa pun yang datang kepadanya untuk menyusu. Anehnya, buah dadanya bukannya makin kempis, tetapi makin berisi, meskipun tubuhnya sudah sangat lemah.

"Aku akan terus menyusui siapa pun yang membutuhkan. Cuma itu yang bisa kulakukan dalam hidup ini di sisa-sisa umurku. Hanya Tuhan yang bisa menghentikan tindakanku. Aku ingin dikenang sebagai Perempuan Penyusu dan menjadi rahmat bagi sekalian alam." Begitu kata Gendis sebelum akhirnya ia menutup mata untuk selama-lamanya. Jutaan orang mengantarkan Gendis ke pembaringannya yang terakhir. Mata mereka tergenang air, persis seperti mata Gendis pada saat tangisan terakhirnya reda. Salah satu dari mereka adalah anak perempuan yang berumur enam tahun. Jika diperhatikan dengan saksama, mata anak itu seperti lautan. Ruh Gendis telah menyusup melalui ubun-ubunnya. Kelak ia akan menjadi perempuan penyusu berikutnya.

Selasa, 08 Maret 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Tribun Jabar, Minggu, 6 Maret 2011 | 14:25 WIB


HANYA Tuminah seorang di seluruh Lumajang, bisa jadi di seluruh Pulau Jawa atau bahkan Indonesia, yang memiliki mantra penyadap nira. Mantra itu membuat pemiliknya tidak merasa sakit bila jatuh dari pohon aren saat menyadap nira meskipun pohon itu menjulang hingga menyamai puncak Bromo. Bila jatuh, si pemilik mantra akan bangun kembali seperti orang bangun dari bersila.

Mantra itu diwariskan oleh kakek Tuminah yang bernama Mbah Ketip. Menurut Mbah Ketip, mantra penyadap nira tidak bisa diwariskan dari ayah ke anak, hanya dari kakek ke cucu. Pada mulanya Mbah Ketip tidak ingin mewariskan mantra itu kepada Tuminah karena ia perempuan. Mbah Ketip masih menunggu dan berharap suatu saat menantunya hamil lagi dan melahirkan anak laki-laki. Tapi pada suatu hari, setelah bersemadi di bekas kandang kambing sambil puasa mutih selama dua hari dua malam, Mbah Ketip merasa umurnya tidak lama lagi. Ia akhirnya mewariskan mantra itu pada Tuminah.

Mbah Ketip berpesan pada Tuminah bahwa mantra penyadap nira, seperti juga manusia, ada umurnya. Suatu saat mantra itu bisa lenyap. Tidak ada yang tahu pasti kapan terjadinya. Tapi menurut perkiraan, ketika tempat tinggal mereka, Desa Kalibendo, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, tidak lagi dikelilingi pepohonan dan persawahan. Begitulah yang diketahui Mbah Ketip dari kakeknya.

"Maka dari itu, Tuminah, cucuku, berhati-hatilah engkau setiap kali memanjat pohon aren. Bisa saja saat itu mantramu lenyap, dan dedemit penunggu pohon sedang usil, lalu menyentil tubuhmu. Engkau bisa celaka."

"Iya, Kakek," jawab Tuminah, yang waktu itu kelas empat SD.

Entah karena pengaruh mantra atau warisan sifat sang ayah, Tuminah tumbuh seperti anak laki-laki. Menjelang selesai sekolah dasar, ia sudah mulai memanjat pohon aren untuk menyadap nira. Nira itu nantinya akan dibuat gula oleh keluarganya. Memang Tuminah tidak seperti laki-laki dewasa yang bisa memanjat sepuluh sampai lima belas kali dalam sehari untuk menyadap nira, tapi keberaniannya membuat banyak orang kagum.

Awalnya ayahnya melarang. Anak perempuan tidak usah memanjat pohon aren, cukuplah membantu ibunya memasukkan gula yang telah mengental ke dalam dakon, cetakan. Tapi pada satu waktu, ketika tiba-tiba Tuminah sudah berada di puncak pohon aren dengan membawa pisau dan jeriken yang diikatkan ke pinggang, ayahnya sadar bahwa Tuminah memang bukan anak perempuan sembarangan. Ayahnya sempat berpikir mungkin Tuminah adalah penjelmaan keinginannya dulu yang mengharapkan anak laki-laki.

Tuminah, yang kemudian tidak melanjutkan pendidikan setelah tamat SD, selalu memegang teguh amanat kakeknya tentang mantra penyadap nira. Ia tidak boleh bercerita kepada siapa pun. Ia hanya boleh bercerita pada cucunya kelak ketika hendak menurunkan mantra tersebut.

"Bila kamu bercerita, dalam waktu enam jam mantra itu akan hilang."

"Kenapa bisa begitu, Kek?" tanya Tuminah.

"Karena itu menunjukkan engkau telah jadi orang takabur."

Tuminah mengangguk.

Umur sembilan belas tahun, Tuminah jatuh cinta kepada Pardi yang tiga tahun lebih tua. Keluarga Pardi lebih miskin, tetapi kulitnya putih. Jarang sekali ada orang berkulit putih di desa itu, apalagi laki-laki. Sama seperti Tuminah, Pardi juga hanya tamat sekolah dasar. Ayahnya telah tiada ketika ia baru bisa merangkak.

Pardi tinggal di rumah bambu bersama ibunya. Sehari-hari mereka membuat gula aren milik orang lain. Untuk satu kilogram gula aren yang dijual kepada pengepul seharga 6.500 rupiah, Pardi dan ibunya mendapat 1.000 rupiah. Bila sedang tidak sibuk, Pardi biasanya mencari belut di sawah pada sore hari. Hasil tangkapannya seringkali dijual sebagai tambahan biaya dapur keluarga.

Suatu saat, ketika sedang berada di pohon aren, Tuminah membayangkan dirinya bersanding dengan Pardi. Kebahagiaan datang bersama bulir-bulir angin. Kepulannya yang melegakan rasa membuat Tuminah semakin nyaman. Mata terpejam, dan biru langit seolah dalam gapaian. Ia merasa terbang, melayang di antara gumpalan awan putih berserakan bersama Pardi.

Tuminah baru sadar ketika ada teriakan. Orang-orang berdatangan. Ibunya menangis sambil memeluknya. Ayahnya segera membopongnya ke rumah. Sesaat Tuminah bingung mengapa begitu banyak orang yang mengirinya. Sesampainya di rumah ia didudukkan di bale bambu. Ayah dan ibunya meraba-raba sekujur badannya.

"Kamu tidak apa-apa, Tuminah?"

Tuminah masih terlihat bingung. Tapi beberapa detik kemudian ingatannya muncul. Ia ingat telah berada di puncak pohon aren. Segera ia menggeleng dan turun dari bale bambu. Muncul wajah Mbah Ketip di pikirannya. Ternyata mantra itu memang manjur. Sekarang orang-orang yang mengelilinginya yang tampak bingung.

Sebulan kemudian Tuminah benar-benar bersanding dengan Pardi. Kisahnya seperti ini: ketika jatuh dari pohon aren, Tuminah mengucapkan kata "Pardi" beberapa kali. Karena penasaran dan takut ada apa-apa, ayah dan ibu Tuminah lalu memutuskan untuk mendatangi Pardi dan menanyakan apakah mereka sudah saling kenal. Ibu Pardi yang menjawab dengan mengatakan bahwa sebenarnya sudah sejak lama ia ingin melamar Tuminah, tapi karena takut ditolak ia menunda keinginan tersebut. Mengetahui hal itu, ayah Tuminah akhirnya menikahkan mereka.

Tahun berganti tahun. Orang-orang tua telah berpisah dari anak, menantu, serta cucu. Sore itu hujan rintik-rintik baru saja berhenti. Dedaunan masih kedinginan. Pardi duduk dengan kaki menjulur di bale bambu. Telah sekian kali ia memborehkan minyak gosok cap tawon pada pergelangan kaki yang terkilir. Dua anak perempuannya sedang bermain boneka plastik di sudut ruangan. Tuminah, sambil menggendong anak ketiga yang berkelamin laki-laki, tampak gelisah. Sesekali ia menengadahkan wajah ke langit yang masih semburat suram.

"Sudah, menyadap niranya besok saja," kata Pardi. "Pohon aren licin, barusan hujan."

"Kalau tidak membuat gula aren hari ini, lusa kita sudah tidak punya uang untuk membeli beras dan minyak tanah."

"Nanti aku cari pinjaman."

Tuminah diam. Ia menatap wajah anaknya sambil menggerak-gerakkan gendongan agar tidurnya lebih lelap. Wajah anak itu mirip Mbah Ketip, terutama hidungnya yang sedikit mengendap ke dalam. Suara anak-anak di luar rumah terdengar. Tuminah menyingkap tirai jendela dan melongok ke luar. Langit telah cerah.

Tuminah meletakkan anaknya yang pulas di samping Pardi. Setelah pamit pada Pardi dan berpesan agar menjaga anak-anak, ia keluar sambil membawa pisau dan jeriken. Kain telah berganti celana gombrang lusuh. Dengan langkah cepat ia menuju kebun yang ditumbuhi pohon-pohon aren. Satu pohon telah tumbang tersambar petir tiga bulan lalu. Jarak kebun dari rumahnya sekitar setengah kilometer.

Begitu memasuki kebun terlihat pohon aren tertinggi. Dari pohon itu juga ia dulu pernah jatuh. Entah sudah berapa ratus kali pohon itu dipanjat. Menyentuh batangnya saja telah membuatnya bangga. Hanya ia wanita di Desa Kalibendo yang pandai memanjat pohon aren untuk menyadap nira. Selesai merapalkan mantra, ia segera memanjat. Dalam sekejap, tubuh kurusnya telah mencapai puncak pohon.

Dari atas Tuminah bisa melihat rumah-rumah berbaris rapi. Rumah-rumah orang kaya, pikirnya. Dulu di tempat itu terbentang persawahan milik penduduk asli. Kini setengahnya telah menghilang. Sebagai gantinya, hampir di semua rumah warga Kalibendo terdapat televisi, bahkan sepeda motor.

Setelah merasa cukup, Tuminah turun. Hujan ternyata menyisakan jentik-jentik air di beberapa legokan batang aren, membuatnya sedikit licin. Pada pijakan ketiga, kaki Tuminah menyentuh permukaan yang licin itu. Di saat yang bersamaan, tangannya berpegangan pada sisa pelepah tua yang rapuh. Pelepah yang telah dipangkas ujungnya itu tercerabut, dan tubuh Tuminah langsung meluncur.

Ada bunyi gedebuk, lalu hening. Tuminah tidak tahu berapa lama. Yang ia tahu ia berada di tanah dalam posisi bersila, kemudian bangkit. Mantra dari Mbah Ketip memang luar biasa. Dilihatnya jeriken masih utuh berisi nira. Tidak lagi di pinggang, melainkan di atas tanah. Seperti ada yang meletakkannya. Pisau masih terselip di sabuk yang mengikat erat pinggangnya.

Tuminah menuju rumah. Langit temaram. Makin dekat ke rumah, langkahnya terasa semakin ringan. Begitu juga jeriken yang ditentengnya. Seperti membawa kapas. Tiba-tiba ia teringat ketiga anaknya. Ada perasaan kangen dan bersalah. Ingin rasanya ia memeluk si bontot. Langkahnya semakin dipercepat.

Dari kejauhan terlihat rumahnya sangat ramai. Semua tetangga ada di sana. Pasti ada apa-apa dengan si bungsu. Ia berlari, merasakan kakinya seolah tidak menyentuh tanah. Sesampainya di depan rumah, ia berteriak menanyakan apa yang terjadi. Namun tak satu pun orang yang menoleh, apalagi menyahut.

Tuminah menyelinap di antara kerumunan orang. Dia tidak lagi peduli, semua yang menghalanginya ditabrak, tapi tetap tak ada yang bergerak. Sampai akhirnya ia berada di pusat lingkaran. Benar saja, ada jasad terbaring tertutup kain. Beberapa orang mengelilingi jasad itu sambil membaca kitab suci. Pardi terlihat sedih di pojok ruangan, sesekali menyeka air mata.

Dengan cepat Tuminah menyingkap kain penutup mayat. Ia ingin melihat wajah anak kesayangannya. Ternyata, ia melihat wajahnya sendiri, putih dan pucat. Ada kapas yang menutup kedua lubang hidung. Satu per satu tulang belulang di tubuhnya remuk. Ia semakin ringan, lalu perlahan membubung menembus atap.
Minggu, 13 Februari 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Tribun Jabar, 13 Februari 2011

1.
2011. Itulah waktu yang telah ditetapkan Lian, Ulip, dan Pir untuk merantau ke Jawa. Tiga beradik itu telah bulat tekadnya bahwa Jakarta akan jadi ranah penghidupan. Tentu saja, mereka tiada mengajak Si On, sulung yang tiada jelas bertutur, tiada terang berpenglihatan, dan tiada awas berpendengaran. Ya, tiada yang bisa diharapkan dari seorang anak hewa, anak babi. Demikian orang-orang—yang mengetahui perihal kelahirannya—menjulukinya.
Ya, dulu, saat-saat menjelang Si On mengoek anyir. Hujan berderai hebat. Bak jarum- jarum bening saja ia menjelma-menusuk rimba waktu itu. Mang Ramang yang bersusah payah memapah Bi Siti, istrinya, mencapai pondok Mak Rom, dukun beranak di selatan dusun, akhirnya mendudukkannya di sebuah kandang beratap bilah-bilah ilalang yang mencokelat. Saat itu, Bi Siti sudah mengerang sangar—akibat kesakitan yang sangat—di pondok kecil dekat sebatang rambai. Setelah Si On akhirnya terlahir—entah bagaimana itu berlaku, barulah mereka tercekat, menyadari bahwa anak pertamanya menapak bumi di tanah najis, kandang hewa.
Seakan tiada perlu ditanyakan saja bahwa kelahiran itu berbau aib nasab. Maka, tumbuhlah anak—yang hingga orang tuanya lupa siapa nama aslinya—dengan beragam kekurangan itu. Segenap warga akan sangat mudah menebak siapa yang tengah dibincangkan ketika salah satu dari mereka menirukan bagaimana orang bisu berwicara, atau orang buta meraba-raba, atau orang tuli meminta pengulangan kata.
"Si On!" Bergelak giranglah mereka akan menyebut nama itu.
"Kependekan dari Onnn..."
"...nyol!"
"Ha-ha-ha-ha...!"
"Ya. Kata nenekku, anak hewa!"
Tumpahlah tawa-tawa yang berebutan menyeruak itu.

2.
AKHIR-AKHIR ini, Lian, Pir, dan Ulip turut jua memerudukkan Si On pada ketiadaberdayaan yang sangat. Tiada segan-segan ketiga adiknya itu bercampur dengan muda-mudi penggunjing itu. Menderai gelak tak alang kepalang. Bi Siti dan Mang Ramang pun sudah tak terhitung bilangan memperingatkan mereka untuk beradab dengan abang mereka.
"Ah Bak, apa yang perlu diributkan." Lian seolah balik bertanya.
"Ya. Mendengar, tidak!" timpal Ulip.
"Melihat, juga tidak, Mak!" sambung Pir.
Bi Siti memandang suaminya, berharap laki-laki itu segera membela Si On. Tapi tak sepatah kata pun keluar dari bibir legamnya.
Mang Ramang tiada berdaya jua menghadapi ketiga anaknya yang sudah bujang-bujang itu. Sudah hampir lima tahun ia tak motong, menyadap karet. Dulu, ketika tengah melukai kambium-kambium batang bergetah itu dengan pisau lengkungnya, serombongan pemburu mengejar beberapa ekor rusa hingga ke kebunnya. Mang Ramang ingat sekali. Binatang-binatang itu setinggi bahunya. Tua. Bak bersunting Minang tanduk-tanduknya bersilih-silang. Saat itulah, di senja-raya yang hampir buram, kedua kakinya diseruduk. Dan hingga kini, tiada upaya ia mengais nasi lagi dari motong. Maka, Lian, Ulip, dan Pir, yang masih belasan tahun kala itu, menggantikannya. Motong. Mengumpan keluarga.

3.
HEWA. Itulah hewan kesukaan Si On. Sudah berbusa-busa sesiapa mengingatkannya agar tiada menyukainya. Si On bergeming. Si On menceracau a-i-u-e-o saja bila tanpa sadar orang-orang sekitarnya—entah siapa itu?!—keras-keras membincangkan keberhasilan Mang Mitan, tukang buru tersohor itu, baru saja menombak hewan bergelang hidung itu.
Lama kelamaan, keluarga dan orang-orang yang mengenalnya terbiasa juga dengan kebiasaan aneh Si On itu. Untungnya Si On, tampaknya, menenggang keluarga dan orang sekitar yang muslim. Dengan bahasa-bahasa sumirnya, tiada pernah ia memaksa keluarga dan orang- orang sekitar untuk membawakannya hewa, untuk sekadar dielus atau didengar endusannya.
Entah bagaimana Si On bisa bertepa-selira, ia akhirnya menumpahkan kegilaannya akan hewa dengan mengumpulkan porselen, boneka, celengan, sepatu, dan baju-baju yang berbentuk atau memiliki unsur ke-hewa-an. Si On memiliki masing-masing benda tersebut hingga lebih dari satu buah.
Entah, insting dari mana, Si On beroleh kecakapan mengenali bahwa benda-benda tersebut memiliki unsur hewa. Tiada yang tahu. Tiada yang mencari tahu.
Seperti tak ada pekerjaan saja memikirkan laki-laki sinting itu!
Begitu yang ada di benak sesiapa, termasuk ketiga adiknya, terkecuali Bi Siti dan Mang Ramang. Ya ya ya, tak perlu dikoar-koar lagi, bukan, bahwa kelahiran di kandang hewa adalah musabab yang paling kokoh untuk menurunkan semua kebiasaan aneh Si On dalam alasan yang berkait-kaitan?

4.
SORE itu, orang-orang telah bernapas di tahun yang baru. Si On tekun sekali membersihkan benda-benda kesayangannya. Lian, Ulip, dan Pir sudah bersiap dengan tas punggung masing-masing yang beramacam-macam saja isinya. Ya, ketiga bujang itu telah memesan tiket bus yang akan membawa mereka ke Jakarta. Berganti-gantian mereka menyalami Bi Siti dan Mang Ramang.
"Maaf, Mak. Bukan memaksa Mak menggantikan kami motong, tapi kami semua bertekad akan berkabar baik untuk keluarga ini di rantau nanti," kata Ulip, sesaat setelah mencium punggung tangan keriput Bi Siti.
"Iya, Mak, Bak. Kami merantau untuk meninggikan nasib," sambung Lian meyakinkan.
Ulip mengangguk-angguk dalam, seakan-akan hendak menunjukkan bahwa apa-apa yang disampaikan dua saudaranya sudah mewakili kata hatinya: merantau untuk bahagia-raya.
"Tak bercium-tangan kalian dengan Abang?" tanya Mang Ramang ketika mereka akan bersegera meninggalkan rumah.
Lian, Pir, dan Ulip saling berpandangan. Ada enggan di mata mereka. Tetapi tak urung, pergi jua mereka ke bilik belakang, tempat kamar Si On dipetakkan.
Di sana, Si On meneleng-nelengkan kepala. Ada semringah yang mendalam, menyemburat dari tarikan bibirnya: senyum tak berseni sedikit pun.
Ketika ketiga adiknya itu mendekat, Si On masih sibuk dengan benda-benda hewa-nya. Tapi, tetap, ada senyum miring di wajahnya. Si On ber a-i-u-e-o lagi. Gigau-gagu. Ya, Si On tampak senang sekali.
Seakan-akan melihat mayat hidup, seolah menyentuh segerombolan belatung bergeliatan, serasa melihat pemandangan yang diharamkan saja, mereka ragu-ragu hendak menjangkau tangan abangnya. Beberapa kali mereka mencoba, beberapa kali juga Si On menarik-narik tangannya, seakan mengajak ketiga adiknya bermain-main.
Ulip melepas lenguh. Disusul Lian yang menggaruk-masai kepalanya.
"Sudahlah, Mak. Kami pergi saja. Lagi pula, tiada ditangkapnya apa-apa yang kami maksud," ujar Pir.
"Kami ada atau tak ada pun tak berpengaruh. Mungkin selama ini Abang pun tak tahu kalau ia hidup dengan kita," kata Lian mulai kesal.
"Ya sudah, Bak. Kami berlalu saja." Ulip mengajak kedua saudaranya berlalu.
Bi Siti dan Mang Ramang mengangguk saja. Maka, pergilah mereka. Meninggalkan Bi Siti yang menggenang air mata. Meninggalkan Mang Ramang dengan tatap yang sumir. Meninggalkan Si On yang mengangkat-angkat benda-benda hewa-nya—seolah hendak membagikan-mengikhlaskannya kepada ketiga adiknya itu.
Dari kesemua benda kesayangannya itu, empat celengan hewa dikepitnya rapat-rapat. Celengan yang sekian tahun, saban hari, ia isi dengan jumlah rupiah yang sama. Tiga di antaranya, samar-samar terukir abjad L, U, dan P. Siapa pula yang menggoreskannya di situ? Kepada siapa diperuntukkan?
Tiada yang tahu.
Tiada yang mencari tahu.
Walaupun tahun telah bernama baru....
***
Rabu, 17 November 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Fahri Asiza
Dimuat di Tribun Jabar, Minggu, 14 November 2010

DI sebuah ruang, terjadi sidang. Para hulubalang yang biasanya tidur di sudut-sudut sambil menurunkan kursinya hingga sosoknya tidak bisa terlihat dari depan, atau diam-diam mengeluh, “Kapan selesainya? Ngantuk!” kini semua menjadi naga. Saling berdiri dengan telunjuk ditegakkan, membusungkan dada agar terlihat kamera televisi. Ini kesempatan bagus, karena posisi menentukan prestasi. Yang duduk di pojok, mengambil Blackberry yang bergetar, ada tulisan, “Aku sudah nunggu lama nih, Om.” Buru-buru dibalasnya, “Sebentar ya. Ini ada yang lebih penting. Kesempatan buat unjuk gigi.” Lalu dengan angkuh dimatikan BB-nya.

Salah seorang teriak, “Tidak bisa! Kita harus ambil keputusan bulat! Ingat, ini demi negara dan bangsa! Berapa banyak rakyat kecil yang tertindas, sementara banyak orang besar yang terninabobokan di ranjang sintal! Kalau begini terus kapan bisa selesai? Ini sudah berlarut-larut!”

Tepuk tangan membahana diiringi teriakan setuju. Ada pula yang berteriak, “Allahu Akbar!” Walau mungkin maknanya tak dipahami.

Tak mau kalah dengan ucapan garang itu, salah seorang yang berdiri di muka berjarak tiga meter angkat suara. “Bila memang harus ada keputusan bulat, itu pemaksaan namanya! Kita bisa voting dalam menengarai kasus semacam ini! Ini kasus pelik! Kalau pun berlarut-larut karena belum ada titik temu!”

“Atau memang sengaja dilarutkan lalu dibuang dalam lorong panjang?!”

Ruangan terhormat yang dipenuhi orang-orang terhormat itu seolah mau runtuh dengan teriakan dan tepukan tangan bergemuruh. Di luar langit menghitam pekat. Awan berjalan lambat ingin bertindak sebagai saksi.

“Hei, jaga mulut, Saudara! Saudara menuduh!”

“Menuduh seperti apa? Ini sudah kenyataan!!”

Makin gaduh makin penuh pesona, begitu beberapa ungkapan dalam hati para anggota sambil melirik kamera televisi. Biar terlihat bekerja. Ini kesempatan mengubah image era lama menjadi era terbaru. Biarkan semua berteriak, tinggal menyisipkan kata saja.

Seseorang yang sejak tadi dilumur kemarahan tak kuasa menahan bisikan untuk maju ke muka. Pohon-pohon khuldi bertumbuhan begitu saja. Semua memetik, menikmati dan mengubah taman Firdaus menjadi arena adu banteng. Microfon di meja depan diraihnya, lalu mengguntur bersuara, “JANGAN BERLAGAK BODOH! SAUDARA MEMANG MENGULUR WAKTU!!”

Gema menghantam dinding ruangan, memantul-mantul ke langit ke tujuh, membangunkan Bhuraq yang sedang terlelap. Malaikat berbisik, “Jangan ikut campur, karena kita tak akan mampu meniupkan kesejukan dalam suasana itu.” Bhuraq pun menjadi penonton.

Pemilik microfon, yang merasa berhak menguasai persidangan, mengambil paksa. Sesaat saling genggam dan saling tarik membahana. Tenaga yang dikerahkan bukan lagi sepersepuluh dari biasa, total penuh bersinergi dengan iblis yang menyeringai bahagia.

Puluhan blitz menemani hujan yang mulai turun di luar. Kilat-kilat kecil makin mempertajam wajah-wajah serigala yang merasa dirinya bagaikan dewa ketenangan. Semua merasa dilingkupi kebenaran dan sesekali tetap melirik kamera televisi sambil berbisik dalam hati, “Sudah makin gagahkah aku?”

Beberapa orang dari masing-masing kudu mencoba melerai. Semakin dilerai bacot semakin kuat menerjang. Kaki tangan siap memukul tapi merasa beruntung karena dibatasi jarak hingga tak benar-benar memukul dan dipukul.

Sidang ditunda setengah jam ke depan.

Kesempatan pun dipergunakan. Kamera televisi, lampu blitz, suara reporter menghiasi sekarang. Masing-masing berusaha bersuara dan memperlihatkan diri menjadi manusia. Salah seorang diam-diam menebang pohon khuldi. Sebagian memilih duduk merokok. Si Om menghidupkan BB-nya, mengetik dengan gerakan yang lebih terlatih ketimbang menulis laporan, “Sepertinya akan lama, Beb. Sebaiknya kita tunda dulu. Saat ini seluruh lapisan masyarakat pasti menonton. Aku tak mau ketinggalan. Siapa tahu dengan kegarangan bacotku ini, aku akan dapat jabatan dan kehormatan lain.”

Para reporter terus melaporkan secara langsung. Rating bisa drastis naik. Tayangan yang nyaris terjadi baku hantam ditayangkan. Suguhan yang bisa mengenyangkan. Para penonton dari layar kaca ada yang berdecak menyalahkan satu pihak, ada pula yang membela satu pihak, ada yang menggeleng-geleng pedih, ada yang tertawa bahagia, ada yang langsung mematikan televisi dan menyuruh anak-anaknya main sepeda.

Setengah jam kemudian sidang dilanjutkan. Bukan mengarah pada yang lebih baik, justru kian merajai kemarahan. Beberapa orang menyerbu sambil melayangkan tonjokan. Yang diserbu tak mau kalah. Yang masih punya nurani tapi sudah punya modal bila voting akan menyebut lantang, “Abstain!”, berusaha melerai. Jas mahal yang baru dari londry, ada pula yang baru membeli, menjadi acak-acakan. Rambut klimis setelah tiga jam di salon demi menghadiri sidang terhormat, hanya butuh sekian menit untuk dirapihkan, tapi itu pun sudah tergerus kemarahan.

Semua kembali duduk dengan dasamuka yang meluap-luap.

“Tenang, Saudara-saudara!” salah seorang berdiri “Kita ini orang-orang terhormat, duduk pula di kursi terhormat dan dipilih dengan cara terhormat! Pakailah nurani masing-masing!!”

“Hei, jangan asal bicara kau! Apakah kau sendiri punya hati nurani?”

“Heiiii!! Saudara bicara apa?”

“Tak usah kau berlagak tuli! Yang kutanyakan, apakah kau sendiri punya hati nurani? Aku yakin kau tak berani menjawab, kalau pun kaujawab, sudah pasti kebohongan yang kaubeberkan!”

“Bila aku tak punya hati nurani, tak mungkin kulontarkan ini agar kalian tenang!”

“Kau tak memberi solusi apa-apa! Jangan banyak bacot! Duduk saja dengan manis dan tunggu gajimu bulan ini, bulan-bulan berikutnya sampai genap masamu duduk di ruangan terhormat ini!!”

Darah pun menggelegar naik dengan sepasang pelipis berdenyut keras. Agak nyeri di bagian kanan kepala, tak sadar iblis telah bertengger di sana. “Jangan kurangajar!!”

“Hei!! Kau yang kurangajar!”

“Kau menantang!”

“Siapa pun kutantang di sini karena menghalangi jalanku!!”

“Kau tak menghargai sidang ini!”

“Berapa harganya telah kubayar tau!!”

Tinju kembali melayang. Di tempat latihannya, para juara tinju dunia di mana pun berada, asyik menonton dari layar kaca dan mempelajari teknik-teknik terbaru dalam bertinju sambil bergumam, “Aduhai, cara tinju mereka lebih hebat dariku! Ini harus dijadikan dokumentasi agar aku bisa mempelajari teknik bertinju seperti itu! Yak! Jab! Upper cut! Jab! Jab!”

Ring tinju terbesar di dunia tercipta begitu saja. Para pesertanya pun tak lazim, bila harus berhadang satu lawan satu, kali ini bergerombol. Para pelajar yang membawa gesper, batu dan parang, membuang atribut itu untuk menyerang lawannya. Mereka semua duduk menonton televisi di sebuah warung rokok sambil ribut mempelajari cara menyerang lawan sambil satu sama lain bersalaman bahagia dan berbisik, “Kita dapat pengetahuan yang bagus bagaimana cara menyerang. Berangkaaat!!”

Kejadian itu telah mengubah semuanya. Harga saham dipastikan bakal jatuh besok. Perbankan kacau balau. Beberapa perusahaan merugi karena para karyawan berhenti sejenak bekerja. Beberapa orang langsung menjual mobilnya dan menukarnya dengan dollar. Sebagian menghisap rokoknya lalu mengangkat telepon dan berucap, “Selamat! Berhasil!”

Suasana sidang semakin tak karuan. Bahasan awal terlupakan dan lebih menomorsatukan kemarahan yang nampaknya telah membudaya. Betapa mengasyikan, tinggal menunggu reporter yang akan mengetuk pintu rumah atau kantor untuk mewawancarai. Tinggal membeli piala atau tanda penghargaan di Tanah Abang yang akan dipajang di balik kursi mewah yang bisa diputar. Lalu mempersiapkan wajah garang agar terlihat penuh semangat membela kebenaran.

***
Tiba-tiba seseorang yang sejak tadi memperhatikan dan hanya duduk di sudut ruangan berdiri, “Hei, hentikan, hentikan….” Yang bertikai tak peduli. Seseorang itu akhirnya terpaksa memukul meja sambil teriak, namun kelembutan masih ada di sana, “Ayo hentikan, hentikan!!”

Seiring pukulan pada meja, pertikaian itu terhenti.

Seseorang itu tersenyum, “Ayo, rapikan baju kalian lagi.” Mereka merapikan baju masing-masing. “Sidang yang bagus dan memuaskan. Tapi lain kali jangan ribut seperti itu ya.”

“Tapi semalam kan di televisi seperti ini.”

“Bukan semalam, kemarin siang!”

“Iya, tapi kan tetap di televisi! Iya kan, Bu Guru?”

“Sudah, sudah… ayo… ayo berdiri semua. Yang jadi anggota, yang jadi reporter, yang jadi ibu dan yang jadi bapak, kembali ke kelas ya.”

Mereka tertib melangkah, bergandengan tangan pula. Seseorang itu menghela napas setelah sosok terakhir keluar dari ruangan, “Mereka benar-benar telah menjiplak para pembesar… ini sungguh berbahaya… terlalu mengerikan.” Sesorang itu menghela napas panjang, ada kegelisahan yang tertoreh tajam. “Besok, aku akan mengajarkan cara bersidang yang baik.”

Pelan-pelan seseorang itu menutup pintu ruangan, masih sempat dipandanginya tulisan besar pada dinding : SEDANG BELAJAR SIDANG.

Pintu pun ditutup dan saatnya untuk pulang…***



Mutiara Duta, 20 Sepember 2010