Tampilkan postingan dengan label K: Riau Pos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K: Riau Pos. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 Juni 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Riau Pos, 30 Mei 2010


“POHON mangga itu merajuk,” kata Putri Kebun di senja yang belum turun sempurna. Sebenarnya aku tak menyangka ia akan mengeluarkan kata-kata yang terdengar lucu itu.

Sebelumnya aku meminta penjelasan (walaupun terdengar semacam mengeluh) tentang buah-buah mangga di pekarangan Mang Sumadi, tetangga sebelah rumah, yang bebercak-bercak seperti kurap. Awalnya kuanggap apa yang dikatakan gadis itu hanyalah lelucon. Tapi tekanan suara dan mimik wajahnya sedikitpun tidak mendukung dugaanku itu. Ia menangkap kebingunganku. Dan… ia mengabulkan permintaan yang hanya kuzahirkan dalam hati itu. Putri Kebun bercerita.

***

DAHULU, dan hingga beberapa tahun sebelum tahun 2000-an, di kampung ini, orang-orang yang menggelar hajatan besar, biasa menegak tarup di pekarangan rumahnya. Sebagian besar rumah orang kampung memang memiliki pekarangan yang luas. Namun, bagi yang pekarangannya sempit atau tak begitu luas, maka ia akan menumpang di pekarangan tetangga untuk menegak tarup.
Dalam satu kampung, apabila ada sebuah keluarga mengadakan hajatan (misalnya pernikahan), maka tiga hari (bahkan ada yang satu minggu) sebelum perhelatan, ramailah ibu-ibu mendatangi rumah tersebut dengan membawa tolongan (seekor ayam kampung, beberapa canting beras dalam bokor kecil yang dibungkus dengan kain seukuran seprei). Biasanya ibu-ibu selalu membawa sebilah pisau yang diselipkan diikatan seprei bokor. Atau ada juga yang hanya menyelipkan pisau bersongkok di kebatan kain lasem dekat pinggang .

Tentu saja, kedatangan mereka bukan untuk bermain masak-masakan, mengadu masing-masing ayam, atau menguji ketajaman masing-masing pisau. Ayam kampung itu akan segera dimasukkan ke kandang gerobak untuk segera disembelih. Beras akan dimasukkan ke gentong seukuran derum, kemudian bokornya ditinggal di sebuah ruangan atau kamar. Sebagai semacam tanda terimakasih, beberapa ibu-ibu—bagai telah menjadi amanahnya—akan menyelipkan bokor-bokor itu dengan satu-dua kantung lauk-pauk untuk dibawa pulang. Maka, kaum ibu-ibu, kini hanya memegang sebilah pisau. Mereka akan segera menyebar ke beberapa penjuru tarup atau rumah untuk melakukan beberapa pekerjaan yang seakan-akan sudah ditentukan sebelumnya. Mengupas kentang, mengiris bawang, memirik cabe, memotong terong, memasak umbut, merebus sawi, mengadon pempek, menggoreng kerupuk…. Nah, pada perkara inilah, serombongan perempuan itu memerlukan tempat untuk mengecapar—menyandarkan pinggang sembari menyelonjorkan kaki. Tempat itu adalah tarup yang membentang cukup luas. Bahkan dapat saja lebih luas dari rumah yang punya hajat.

Tarup tak ubahnya seperti tenda hajatan. Bedanya, ia beratap seng; bertiang besi-pipa; dan tidak membiarkan tanah menjadi lantainya, tapi ditutup dengan bilahan-bilahan kayu—tampak seperti rumah-rumahan yang berlantai papan.

Tarup dibagi dua bagian: tempat duduk para tamu undangan, dan panggung yang sekitar setengah depa lebih tinggi dari tanah. Satu hari menjelang pesta perkawinan: bakda asar, kursi-kursi tamu disusun di mana pada malam harinya akan digelar pesta perkawinan. Takzimnya, ketika ibu-ibu secara berkelompok sibuk dengan tanggungan pelbagai bahan baku masakan di hadapan, panggung dijadikan tempat berkeriapan anak-anak. Keadaan seperti itu kerap ditingkahi ibu-ibu yang bergelak di kelompoknya masing-masing (biasalah cara mulut ibu-ibu bila sudah beradu), dan beberapa anak yang menangis di panggung karena dijahili kawan-kawannya (biasanya segera disambut teriakan ibu-ibu agar jangan berkelahi, atau jangan main lompat-lompatan takut panggung tarup ambruk….).

Di dalam rumah, kesibukan lebih rincah lagi. Selain kamar pengantin, hampir setiap bilik menjadi gudang. Tempat menyimpan sofa, meja, dan perabotan lain yang sekiranya membuat rumah tak terlihat lapang. Atau pada bilik-bilik tertentu, diisi dengan makanan yang baru saja diangkat dari oven seng yang dipanggang di atas tungku yang menyala-nyala. Bolu, gulai, taghuk (sayur yang telah dimasak), dan macam-macam penganan lainnya baru dihidangkan bila tamu jauh datang. Tamu-tamu ini biasanya adalah sanak keluarga yang sudah lama tak bersua, orang-orang berpangkat di kelurahan atau kabupaten-kota, dan yang pasti adalah pihak besan, yang harus disambut dengan pelayanan dan makanan yang baik. Mereka bercengkerama di ruang tamu atau ruang tengah yang sudah digelari tikar atau ambal yang bagus-bagus.
***

Putri Kebun menghentikan ceritanya. Aku mengenyitkan dahi. Sebuah bahasa tubuh untuk mengatakan: “Mengapa kau berhenti tiba-tiba? Lanjutkanlah!” Putri Kebun berdecek sebelum menyampaikan permintaan maafnya karena telah bercerita terlalu jauh. Aku pun tiba-tiba tersadar. Seharusnya aku menanyakan kepadanya tentang pohon mangga yang merajuk itu.
Ya, dalam ceritanya, tak ada kata “pohon”, tak ada kata “mangga”, apalagi kata “merajuk”. Tapi jujur, aku tak terlalu mementingkan cerita itu, walaupun aku yakin ia akan menceritakannya. Maksudku, penggalan ceritanya yang agak panjang itu membuatku sedikit menyesali tindakan orangtuaku dulu. Mereka memboyongku ke Jakarta saat aku berumur tiga tahun-an. Walaupun kata Putri Kebun, mungkin saja dalam rentang waktu itu, orangtuaku—terutama Mama—pernah membawaku ke tarup salah satu tetangga atau kerabat yang berhajat, tapi apa gunanya bila aku tak merasainya sebagai kenangan?

“Apakah akan ada yang berhajat dalam waktu dekat?” Aku sudah lupa tentang pohon mangga merajuk itu. Aku ingin sekali melihat tarup beserta keramaian di dalamnya. Aku ingin bernostalgia dengan hal-hal yang belum pernah secara sadar kualami.

“Bukannya kau indigo? Dapat melihat apa yang tidak orang lihat? Tidakkah kau dapat menebak-nebak?” Putri Kebun nyegir. “Kalau tak salah, sekitar delapan hari lagi, Mang Sumadi akan mengawinkan Ira,” lanjutnya.

“O ya?!”

“Semoga Mang Sumadi tidak menggelarnya seperti kawinan si sulung, Kak Amrul. “

“Memangnya kenapa?”

“Dulu waktu Kak Amrul menikah, Mang Sumadi pernah menegak tarup sampai dua minggu. Pestanya tiga hari-tiga malam.”

“Kamu tidak suka kebisingan?”

Putri Kebun mengangguk. “Tapi aku lebih tidak menyukai tarup!”

“Bukankah kini orang lebih banyak mendirikan tenda?” Aku penasaran.

“Ya. Kini memang lebih banyak yang menegak tenda, tapi apa bedanya?!” Putri Kebun geram. “Hanya tudung sengnya saja yang diganti kain-terpal tahan air. Atau bilahan papan saja yang tidak melindas tanah lagi! Penting tak itu?”

Aku diam.

“Bagaimanapun, pekarangan akan diratakan juga, kan?” Putri Kebun kini membelalak. Aku masih belum mengerti, apa yang membuatnya tidak menyukai tarup. Yang jelas, aku tak berani menatapnya saat ini. “Tapi… bagi sebagian yang masih memegang tradisi lama. Tidak bertarup sama saja tidak merasa menunai hajat!!!”

“Dan Mang Sumadi adalah orang yang masih berpendapat seperti itu?” tanyaku setengah bergumam. Kucoba ikuti dulu arah pembicaraannya.

Putri Kebun mengangguk. “Sama dengan Ayah.”

Aku mengernyitkan dahi. Putri Kebun berlalu ke belakang. Azan terdengar jauh. Mang Sali dan Bi Suri setengah berteriak menyuruhku masuk. Setelah berseru seolah menanyakan dengan siapa aku berbincang, mereka menyuruhku solat magrib. Solat? Sudah cukup lama aku tidak melakoninya. Ah, aku menghirup napas dalam-dalam. Kupandangi pekarangan rumah ini. Sangat asri. Pohon pepaya, srikaya, pisang raja, kumiskucing, bunga raya, dan pohon mangga yang menggelantungkan gerombolan buahnya yang masih muda-muda, berselang-seling begitu indahnya di sini. Sementara di sebelah, Mang Sumadi tampaknya memang tekun berkebun. Beberapa tanaman yang ada di pekarangan Putri Kebun juga ada di sana. Bahkan ada juga sawo, pinang, sedingin, sikaduduk, tapakdarah, dan bunga yang sangat kusuka: bunga tanjung, sedang mekar-mekarnya. Hanya satu yang kusayangkan, mangganya yang lebat-lebat itu dilingkupi kurap di sana-sini.

“Tak usah kaupikirkan adik sepupumu? Solatlah kau, Bujang Kota!”

Aku segera ke belakang.
***

KUNJUNGANKU ke rumah Mang Sali di Lubuklinggau lebih disebabkan permintaan Ayah. Aku diamanahkan menghibur ia dan isterinya yang ditimpa kemalangan. Putri semata wayangnya yang suka berkebun, minggat dari rumah satu tahun yang lalu, dan hingga kini belum pulang. Kata Ayah, putrinya sangat getol menentang keinginan Mang Sali yang berkeras menegak tarup untuk helat perkawinannya. Banyak yang bilang, putrinya sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan di kota, namun Mang Sali dan Bi Suri tak pernah mengindahkannya. Mereka percaya, putrinya masih hidup, dan akan kembali suatu hari nanti.

Dan hari ini, aku bangun tinggi hari. Entah, bagai ada yang menarik tanganku. Seolah menyeretku ke luar rumah. Baru saja aku tiba di muka pintu, dan hendak kulepas cengkeraman (cengkeraman? Siapa yang mencengkeram?) di lenganku, seolah melepaskan buncah ada yang berkoar.

“Lihat!” O o, Putri Kebun? (Bagaimana aku memanggilnya Putri Kebun?) Ah, entahlah. Ia menunjuk pekarangan Mang Sumadi.

Sebelum sempat kualihkan pandangan, ia menunjuk pekarangan rumah ini. “Pepohonan dan bunga-bunga ini!” Putri Kebun berlari ke dalam. Tangisnya pecah. Sayup-sayup kudengar sesenggukannya di kamar belakang. Jujur, aku menganggap ia terlalu berlebihan. Aku bahkan belum sepenuhnya menangkap muara dari keberlebihan sikapnya itu.

Aku menoleh ke rumah sebelah. Cerita tentang kerukunan orang kampung ini menyeruak lagi. Di panggung, anak-anak bermain kejar-kejaran. Mang Sali bermain gaple dengan beberapa bapak-bapak di salah satu sudut. Yang paling banyak adalah, kaum ibu-ibu (kulihat ada Bi Suri di antaranya) yang berkicau—sesekali diselingi tawa yang tiba-tiba pecah, dengan sebelah tangan memegang pisau, dan sebelah yang lain memegang kentang, wortel, bawang, pisang…. Tapi mana pohon mangga Mang Sumadi itu? Mana buahnya yang merajuk itu? Mana bunga tanjung itu?

O o, pagi tadi Mang Sumadi baru menegak tarup!!!
***

PUTRI Kebun terus membincangkan tebasan batang-batang yang dulunya adalah pohon jambu bangkok yang rindang di pekarangan Mang Samin. Dua tahun silam; Sirah, anak pertama laki-laki itu, baru diaqiqah dengan menegak tarup di atas halaman yang bertunggul-tunggul itu. Di lain tempat, ia bercerita perihal pohon srikaya yang meranggas. Katanya, dulu, buahnya besar-besar dan kulitnya berkilap-kilap. Setelah dipangkas untuk kawinan Mira beberapa tahun yang lalu, kini ia bagai hidup segan mati tak sudi. Semacam kutukan dan peringatan bagi tuannya. Sayang, tuannya tak pandai membaca tanda, ceritanya panjang lebar.

Ia masih terus menumpahkan cerita-cerita getir yang disampaikan ketika menemukan puing-puing kedigdayaan tarup. Tentang tunas-tunas muda yang baru belajar tumbuh dari tunggul-tunggul sebatas betis. Tentang jejuntaian buah yang merajuk. Tentang pohon-pohon, batang-batang, dan bunga-bunga di pekarangannya yang sebentar lagi akan segera ditebas, demi menegak tarup, demi pesta pekawinannya yang batal dihelat satu tahun yang lalu. Ah, aku lupa menanyakan, apakah benar ia meninggal karena kecelakaan...***

Lubuklinggau, Mei 2010
Selasa, 16 Maret 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Riau Pos, 28 Februari 2010

DAHULU, ketika tepian semenanjung Sumatera Tengah masih bersambung dengan Borneo, kau tak tahu bahwa sebagian besar penduduk negeri yang kaudiami sangat gemar menganyam. Entah pak turut atau karena memang menyukainya, kau pula memiliki kegemaran yang sama dengan mereka.

Kalau tak menganyam, paling tidak kau membuat barang kerajinan rumah. Bakul, sumpit, ambung, katang-katang, tikar, kajang, atap, ketupat, tudung saji, tudung kepala, dan alat penangkap ikan yang disebut sempirai, pangilo, lukah… mengonggok di bilik tengah rumahmu.
***

SEJATINYA, kau tak tahu bagaimana kau demikian lihai melipat-kunci bilah, daun, dan temali. Kau tak tahu dari mana datangnya kecakapan itu, layaknya tak tahu (atau memang juga tak pernah ingin tahu), bagaimana kau mengonggok di tanah ini. Kau bagai diterajang begitu saja dari langit. Tak ada ayah, ibu, atau sanak-kerabat. Nasabmu putus (atau memang tak bernasab?). Ya, tak terang bagimu tertib perkaranya. Yang tersangkut di ingatan adalah; ketika mimpi basah pertamakali berlabuh di tengah tidurmu, laut tiba-tiba meluap. Kau —juga para penduduk lainnya— mengira itu adalah banjir. Tapi banjir dari mana, tak ada yang kuasa menyuat kabar. Maka, sejak itu daratan yang kaudiami dibelah oleh laut yang tak begitu luas. Hanya dengan memicingkan mata serta menudungkan sebelah tangan di atas dahi yang berkerut, kau mengeker daratan di seberang.1
***

KAU pun berumah tangga. Kausunting seorang perawan dari pedalaman. (Ia jua pandai menganyam. Layaknya dirimu. Tak lebih, jua tak kurang.) Kau kerap diolok kawan-kawanmu bila kedapatan memanggil gadis berkulit pekang —hitam liat— itu “Putri”. Sejatinya olokan itu bukan cuma tentang kulit pekang, tapi jua tentang istrimu yang tampak berbeda dibanding perempuan kampung kebanyakan.

Bila bercampur ketika menganyam, istrimu agak lebih jemawa. Ia kerap bercerita perihal laki-laki yang tak selayaknya disembah-sembah. Ia memang tak menyulut mereka agar melawan laki. Di lain perkara, ia pula bersetuju dengan pekerjaan sebagian besar laki-laki kampungmu sebagai pedagang (termasuk kau yang berdagang kain). Sangatlah elok. Nabi kita dulu jua menjual kain, katanya.

Namun, buah dari batang-cakapnya adalah, menjadi istri tak usah berlebihan-tunduk pada laki. (bakda itu, buru-buru ia —bagai meralat— berwasiat: laki tetaplah imam kita untuk pergi ke taman langit.). Semoga itu bukan musabab istrimu yang tak beranak hingga kini —atau kau yang tak jantan?
***

OLOKAN pada istrimu itu, selalu diungkapkan bagai tak sungguh-sungguh (entah karena mereka sudah dapat berkira-kira bagaimana bila istrimu yang perkasa itu naik pitam, atau karena menghormatimu sebagai orang sekampung), namun, di belakangmu mereka menceritakannya bagai menanak nasi yang menguap bau pejuh.

Ya, mereka tak rapi mengganti muka. Alahai, seluas apa nian kampung —yang dari kabar yang melawat— ditahbiskan bernama Kampung Anyaman itu.2 Orang-orang kampung ini adalah kerabat. Tak ada perkara yang bernama rahasia. Bila ada satu-dua yang diajak bersekutu, tak ada sumpah yang layak dipegang dengan sebenar. Karena ketika berkumpul menganyam —yang ibarat sembahyang lima kali siang-malam itu— tumpahlah semua kesah. Selain kepada Tuhan, kegemaran menganyam —saban matahari bergelantungan semiring atap rumah— bagai titian untuk mengadu dengan setumpah-tumpahnya. Bila telah diinjak puncak percakapan itu. Lupalah gelok gula yang lengang, gelas-gelas kopi yang tak bergedu, anak-bini yang ngidam beras pulut…. Nah, apakah sekadar rahasia yang berkait dengan orang lain pun dapat dieram?

(Tersenyum miringlah kalian….)

Kau memang merasa tersudut ketika, suatu waktu, istrimu bercerita. Kau tak perlu khawatir dengan semua gunjingan itu, katanya. Kau sedikit terhenyak, sebelum ia —bak memapas keterkejutanmu— bertubi-tubi menceritakan bahwa kawan-kawanmu lupa perihal hidup yang bukan hanya perkara makan, minum, ranjang, sembahyang, atau menganyam. Mereka adalah orang-orang yang tak paham silsilah puak!

Kau mendongak. Kau tanyakan, apakah “mereka” yang dia maksudkan juga termasuk dirimu.
Istrimu tak menjawab. Ia membadikmu dengan sebuah pertanyaan maut, yang selayaknya kautanyakan lebih dahulu sebelum pelaminan kalian dibentang dulu. (Ai, bodohnya kau, bagaimana kau menerima saja perihal keluarga penghulu yang dulu diseret sebagai saksi kawin dari pihak perempuan!)

Kau makin terdiam ketika diceritakan bahwa ia pun sama denganmu. Diturunkan begitu saja di tanah ini. Orang tuanya adalah angin yang meliuk-liuk di antara kerumunan penduduk Koto Baru, Solok, Bayang, Simawang, atau Lubuk Alung. Sangat berbeda dengan angin-angin yang menyelip di tubuh orang-orang Sakai, Akit, Hutan, dan Talang Mamak, yang mungkin saja (satu dari lima puak itu) adalah mereka yang dipercaya Tuhan untuk menitismu di kampung ini.

“Kita bahkan lebih hebat dari Isa yang dilahirkan Maryam tanpa ayah, Kak?”

Kau merinding. Perasaanmu berdesir.
***

PEREMPUAN itu berasal dari gugusan tanah Malaka. Enam puluh mil dari Kerajaan Rumbo.3 Ia bercerita pula perihal nenek moyangnya yang berasal dari Semenanjung Malaya dan Semenanjung Malaka. Mereka dikenal sangat suka berpetualang. Menyebar hingga ke negeri-negeri tetangga. Konon, kebiasaan inilah yang menyebabkan kulit mereka pekang-pekang.4
Ketika masih kecil, ia terdampar di pulau yang pernah berjuluk Putri dari Kerajaan Britania.5 Lalu, pernah diajak karibnya menetap di Lubuklinggau. Di sana ia melihat orang-orang membuat terindak—semacam caping dari daun pandan hutan. Dia belajar membuatnya. Lalu mereka mengembara hingga ke Sungai Tatang. Selain menjala ikan, ia pun menyongket. Hendak kembali, mereka singgah di Musirawas. Membuat labu-kayu—tatakan minum/makanan dari labu yang dikeringkan. Dan… sebelum menggapai Malaka, mereka terpisah. Karibnya kembali ke Singapura, sementara ia sendiri tak kuasa melepaskan rantai yang menggelung seonggok daging merah di kiri dadanya.
***

PAHAMLAH kau kini, mengapa perempuan itu sampai khatam menganyam, bagaimana ia tampak sangat jemawa —bukan benci pada laki-laki. Ia berdarah Melayu Jauh, tetangga sebuah negeri yang memindahkan kekuasannya ke Sumatera Tengah, ke daerah yang mejadi induk kampungnya.6 Namun, bagaimana perihal silsilah puak itu?

Bagai membaca ketakpuasanmu atas ceritanya, ia mengoar, “Sejatinya, asal orang Melayu seperti asal orang-orang lain. Dari dongeng.”

Kau takzim menunggu. Kau tahu istrimu —yang kini bagai asing bagimu— itu akan melanjutkan kata-katanya.

“Tak ada mau percaya bukan, bila rambut mulanya adalah putih. Tak ada jua yang takzim menganggukkan kepala bahwa matahari tu putih cahayanya. Kau pun tak percaya bila orang Melayu asli tu kulitnya pekang-pekang….”

Kau meneguk liur. Kau baru tahu bila istrimu dalam ilmunya. Kau baru tahu bahwa mungkin saja benar dongeng-dongeng yang berkisah pria yang beristrikan putri jadi-jadian. Kau mulai gemetar.

“Hari sudah layu, Kak. Kita diundang Nek Cik turut bergabung makan nasi hadapan. Berhormatlah kau pada cucu tetua kampung yang baru kawin tu!”

Kau mengambil kain bergaris kotak-kotak. Tanpa melepas celana panjang, kau melilitnya di pinggang hingga kain itu turun sebatas betis. Istrimu mengambilkan kopiah hitam lis kuning-emas. Perempuan itu jua berhelat; bakda menangkup sanggul dengan songkok, ia memakai kerudung hijau rumput. Kalian berdua menuruni jenjang rumah panggung.

“Selesai makan kelak, kita akan diajari kecakapan baru, Kak.”

“Apa tu?” tiba-tiba saja kau terpancing menyahut.

“Berpantun.”

“Berpantun?”
***

KAU menangis tua. Istrimu raib. Sungguh di luar prakira. Ya, akhir-akhir ini, perempuan itu tampak bersemangat sekali belajar berpantun, kecakapan baru yang membuat kalian lupa menganyam. Lalu, bagaimana bisa ia pergi? Atau ia tak pergi, hanya belajar membuat tenun Siak? Atau ia dimakan Batu Betangkup?7 Atau…. Oh, kau terus memantik harap. Tak kauhiraukan orang-orang yang coba menghiburmu. Pun, tak kau amini kabar yang berembus bahwa istrimu pergi ke sebuah negeri di barat Tanah Andalas. Negeri di mana laki-laki dibeli perempuan bila hendak berkawin; negeri di mana laki-laki tak hanya menganyam, berdagang, atau berpantun, di tanah kampungnya, tapi jua merayap ke negeri-negeri nun jauh di sana. Oh, mungkin pula, ia tak sabar berketurunan. Anak bujang. Anak yang bila baligh, ia suruh terbang bak kumbang. Merantau.***

Lubuklinggau, 11 Oktober 2009

Catatan:
1 Pada mulanya, Sumatera, Jawa, Semenanjung Muangthai, dan Borneo, adalah satu pulau. Dari waktu ke waktu, seiring suhu bumi yang terus naik yang berakibat melelehnya es di kutub bumi, pulau itu tercerai-berai. Tak heran, bila kebudayaan Melayu dapat ditemui di Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, Thailand, hingga Laos. Namun begitu, tak semuanya terpisah oleh laut yang luas. Singapura sendiri, kota pertama dalam hikayat Melayu, dapat dilihat dari beberapa tepian Riau. (Dictionary of National Biography, XXVI).

2 Riau sangat kaya dengan kerajinan daerah. Kerajinan daerah di Riau sangat erat hubungannya dengan kebutuhan hidup masyarakat. Salah satu bentuk kerajinan daerah yang ditekuni adalah anyaman. Kerajinan ini dikembangkan dalam bentuknya yang aneka ragam, dibuat dari daun pandan, daun rasau, rumput laut, batang rumput resam, rotan, daun kelapa, daun nipah, dan daun rumbia.

3 Thomas Raffles, Sekretaris Pemerintahan di Pulau Pinang, telah berusaha mendapatkan keterangan tentang orang-orang Melayu. Ia mendapati, di pedalaman Malaka, terdapat Kerajaan Rumbo. Raffles berkesempatan berkomunikasi dengan penduduknya. Mereka memiliki dialek khusus. Mereka mengganti /a/ dengan /o/ di ujung kata, seperti “amba” menjadi “ambo”. Dialek itu disebut orang Malaka sebagai bahasa Minangkabau. (C.P.J. Elout, Maleische Spraakkunst, doorden, Haarlem, 1825)

4 Penduduk selat adalah orang-orang pertama yang menjelajahi Sumatera dan mendirikan pemukiman di sana pada abad ke-12. Akibat kedatangan para pendatang, penduduk asli, yang lebih mirip orang Negroid, terpinggirkan ke hutan-hutan dan pegunungan. (History of Sumatera, William Marsden, 1966).

5 Konon, ketika pertama kali orang Inggris mendatangi dan bermukim di selat Malaka, Pulau Penang dijuluki Pulau Prince of Wales. (Asal-usul Kerajaan Melayu, Mr. Francis Light, 1783)

6Nama “Riau” besar kemungkinan memang berasal dari penamaan rakyat setempat, yaitu orang Melayu yang hidup di daerah Bintan. Nama itu besar kemungkinan telah mulai terkenal sejak Raja Kecik memindahkan pusat kerajaan Melayu dari Johor ke Ulu Riau pada tahun 1719. Setelah itu nama ini dipakai sebagai salah satu negeri dari empat negeri utama yang membentuk kerajaan Riau, Lingga, Johor dan Pahang. (Sejarah Sumatera, edisi ketiga/terbaru, William Marsden, 2008)

7 Cerita rakyat yang populer di daerah-daerah Melayu: Riau, Sumatera Selatan, Jambi, dan sekitarnya.
Minggu, 15 November 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Riau Pos 02/03/2008



Pencari daun enau itu terkejut ketika melihat seorang laki-laki duduk melamun di atas batu karang yang berlumut. Laki-laki itu memakai celana jins biru pudar dan kaos abu-abu. Punggungnya sedikit membungkuk digayuti ransel hitam. Pencari daun enau itu sudah bertahun-tahun menjelajahi rimba Bukik Kapocong untuk mencari pucuk enau, daun pandan berduri, atau buah-buah damar. Dia sering bertemu dengan pemburu babi, pemikat burung, atau para pecinta alam. Namun, belakangan dia lebih sering sendirian di tengah hutan.
Diturunkannya ikatan daun enau dari bahunya. “Sendiri saja?”

Laki-laki itu sama terkejutnya. Dia mengangguk pendek.

“Mau berburu?”

Dia masih muda. Tatapan matanya begitu murung di bawah rambutnya yang menjuntai di kening. Dia mengangguk dingin seperti menginginkan percakapan itu lekas tuntas. Pencari daun enau kembali mengamati. Memperhatikan ransel hitamnya yang terlalu bersih untuk dibawa ke hutan. Arloji di tangan. Juga pakaiannya. Dia ingin bersikap acuh karena maksudnya datang ke hutan itu cuma untuk mencari pucuk daun enau yang nantinya akan dia jemur di rumah lantas dijual ke pasar. Dia tak perlu mengurus orang asing yang sama sekali tak bersangkut paut dengannya. Pencari daun enau itu menyandang ikatan daun enau ke bahunya yang bungkuk. “Berhati-hatilah. Harimau memang tidak akan datang mengganggu, tetapi banyak ular berbisa dan pacet yang bisa menguras habis darahmu.”

Mata mereka bertemu. Sepasang mata muda yang luka dan sepasang mata tua yang letih.

Pencari daun enau itu merasa hatinya direjam kesedihan yang ganjil. Dia menemukan keputusasaan yang siap membunuh. Serta merta pikirannya membayangkan laki-laki muda itu berdiri di tubir jurang, lalu melemparkan diri ke runcing karang.

“Hati-hatilah!” Dia melanjutkan langkah ke bawah.

***

“Aku hanya ingin sendiri dan mati.” Ucap laki-laki muda itu setelah sosok si pencari daun enau hilang di balik semak. “Aku malah bersyukur bila ada harimau datang dan menerkamku. Mencabik-cabik tubuhku. Mengoyak-ngoyak badanku. Menghabisi sekerat hatiku!” Dia menatap nanar rerimbunan pohon-pohon yang tingginya puluhan meter.

Dari arah barat matahari memancarkan sinar kuning pucat.

Laki-laki itu sudah meninggalkan rumah sejak kemarin. Mulanya dia hanya ingin melarikan diri dari suasana rumah, dari urusan menyebar undangan, dari mimpi buruk, dari sumpah dan kejaran rasa bersalah, dari segala kecamuk di pikirannya. Dia mengunjungi teman-temannya, meminta waktu mereka untuk mendengarkan dia bicara. Tetapi tak ada seorang pun yang mau percaya bahwa kondisinya begitu buruk. Dia pun memutuskan pergi ke pinggir kota di pagi hari dengan angkutan umum, kemudian berjalan kaki ke pebukitan yang sering dia pandangi dari balkon.

Dia merasa sakit dan sangat tidak siap. Dia yakin, bila dia melanjutkan apa yang sudah dirancang untuknya, dia hanya akan menjadi pengkhianat. Dia tak akan pernah mencintai siapa pun. Dadanya sudah nyaris kosong. Hatinya cuma tinggal robekan-robekan yang tidak utuh.

Dia telah berjalan, dan terlalu jauh untuk kembali. Dia juga tak yakin semuanya akan seperti sedia kala bila dia kembali. Di pinggang bukit dia berdiri. Jauh di bawah kakinya samar-samar tampak kota dan laut, dan awan-awan, dan langit yang keruh. Angin menampar-nampar mukanya. Dihirupnya dengan risau. Dia telah mencucukkan sebilah pisau ke dada ibunya yang dulu semasa kecil pernah dia teguk sari kehidupan dari kedua susunya.

Semuanya telah berbeda. Dia bukan lagi seorang bocah manis yang selalu tertawa dengan hidung dan mata mengernyit.

Ayo, melompatlah!

Ayo, akhirilah!

Hatinya terasa diremas oleh gelap malam yang turun bersama dingin kabut. Haruskah dia melompat jatuh dan mati, atau berlari turun dan pulang? Dia sama sekali bukan seorang petualang, malah hanya seorang manusia rapuh yang cengeng.

Dikeluarkannya HP dari saku, mencoba terangi sekeliling tempat itu. Dia tak membawa korek api, lilin, apalagi senter. Kegundahan telah membuatnya benar-benar tolol. Tak ada sinyal. Dibukanya folder foto dan video. Disaksikannya gambar-gambar itu sehingga berbagai kenangan dan rasa menggenangi hatinya.

Ruang tamu. Komplek pemakaman. Jembatan penyeberangan. Dia sedang sendiri berlatar pantai. Ibu berkerudung hitam. Kartun. Kartun horor. Merpati-merpati di taman. Lantai kamar. Bibirnya. Sepasang tangan. Reuni hari raya. Dia sedang tidur bergelung. Mukanya dicoret-coret habis main kartu. Tubuhnya. Anjing tetangga yang galak. Dia sedang berteriak. Aaakhh...

Bahkan dia tak menyimpan gambar orang itu agak sepotong.

Lalu untuk siapa semuanya?

Demi menunda kematian ibunya?

Padahal dialah yang hidup.

Dialah yang akan menjalani.

Dia yang akan bahagia.

Atau sakit.

Dia diam. Kelengangan yang menggairahkan mengepungnya.

“Gus...!”

Telinganya mendengar suara yang halus.

“Gustav...!”

Dia menoleh ke sekeliling. Siapa yang telah memanggilnya? Apakah ada yang merasa kehilangan lalu mencarinya?

“Gustav!”

Dia terkejut.

Beberapa saat hanya menatap terpana.

Sosok itu melambai dan merentangkan tangan.

Dia berdiri girang. Mencampakkan ransel ke tanah. Berlari. Menghambur. Mendekap...

***

Burung-burung murai masih berkicau riang ketika pencari daun enau itu sampai di Bukik Kapocong. Dia sudah berusaha datang sepagi mungkin, tetapi tetap terlambat karena istrinya yang nyinyir minta dipetikkan buah kelapa untuk membuat gulai. Dia melangkah di jalan setapak yang penuh rumput liar dan ilalang. Pohon-pohon tinggi membuat hutan menjadi teduh. Akar-akar membelintang, kadang digelungi ular. Anggrek merpati berbunga butih menjuntai dari dahan-dahan kayu lapuk.

Dia tak menemukan si laki-laki muda di batu karang berlumut. Pencari daun enau menengadah ke langit. Dua ekor elang kurik berkulik-kulik. “Anak itu sedang gelap mata. Seharusnya tak kubiarkan dia sendirian.” Matanya melihat ransel hitam yang kemarin tersandang di punggung si pemuda tergeletak di bawah batu. Ditegakkannya badan. Di mana gerangan orang itu? Pencari daun enau menjengukkan kepala ke tubir tebing.

“Apakah...?”

Cepat-cepat dia menuruni tebing yang cukup curam. Dia berpegang pada akar-akar yang berjuntaian. Sandal jepitnya putus. Dia tinggalkan saja. Kakinya menginjak suatu benda yang bukan bagian dari hutan. Diambilnya. Sebuah HP yang telah pecah. Jantungnya berdegup. Dia bersiluncur.

Sosok itu dia temukan tergolek dengan kepala menyandar ke batu. Seperti sedang bermimpi dalam rengkuhan seseorang. Darah mengering dari kepalanya yang retak. Dua ekor pacet menempel di kaki dan tangannya. “Hei..! Hei!” Pencari daun enau meraba urat lehernya. Dingin mati. Dia terhenyak. Jurang itu terasa senyap.

***

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Dia terkejut ketika seorang penyabit rumput telah berdiri di sampingnya dengan sebuah karung kumal yang gendut. Sebenarnya dia tak ingin bicara dengan siapa pun, tetapi bersikap diam akan membuat orang kian penasaran. “Tidak ada,” sahutnya acuh.

Penyabit rumput yang sudah agak tua itu memberinya tatapan penuh selidik. “Apa kau mau memancing?”

“Ya!”

“Hati-hatilah kalau memancing di Lubuk Karaku. Tempat itu agak jahat.” Laki-laki tua itu menyandang karung rumputnya dan berlalu.

Setelah tinggal sendiri, dia melanjutkan lamunannya. Diambilnya sepotong ranting, digurat-guratnya tanah liat merah.

“Apa aku salah karena mengawininya?!”

Sampai malam dia masih tercenung.

Itu dulu, sekitar duapuluh tahun lalu. Setelah sang istri yang masih punya ikatan darah dengannya, melahirkan anak kedua mereka yang juga lumpuh.

***

Setelah menjemput cangkul, sabun mandi, dan tiga helai kain kafan yang dibelinya dengan uang dari dompet si pemuda, dengan susah payah, si pencari daun enau membopong mayat si lelaki muda ke sungai kecil di dasar jurang. Ransel dan HP pemuda itu dibawanya juga. Di tanah datar tak jauh dari air terjun digalinya sebuah lubang. Batu-batu kecil mempersulitnya, tetapi dia terus bekerja keras membuat sebuah liang yang cukup pantas untuk jadi makam.

Kemudian dilepasnya pakaian mayat itu. Sebatang tubuh muda yang tinggal beku. Ada sebuah tato berbentuk ujung pedang menyungkupi pusarnya. Pencari daun enau memandikan dengan hati-hati. Membersihkan luka-lukanya. Menyiramkan air sabun dengan usapan kasih sayang yang pedih seperti tiap kali memandikan kedua orang anaknya yang pernah ingin dibunuhnya. Lalu jenazah itu disucikannya, dibungkusnya dengan kain kafan murah, diikatnya dengan akar kalimpanan, dishalatkannya.

Pakaian pemuda itu dimasukkannya ke dalam ransel beserta arloji, kalung, sebuah cincin perak, dompet, dan HP yang rusak. Ketika memasukkan jenazah ke dalam liang, entah kenapa ada air mata yang meluncur ke pipinya. Disekanya dengan punggung tangan.

“Kau ingin lari, seperti aku dulu. Maka, tenanglah di sini. Selama hidup aku akan menjagamu.”

Diletakkannya ransel di samping jenazah, juga sepasang sepatu bewarna coklat. Ditimbunnya pelan-pelan. Setelah selesai, ditanamnya sebatang kayu lansano di atas kepala pemuda itu yang kini ditutupi tanah.***

Ilalangsenja|Padang, 2007
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Riau Pos 10/ 06/2007



Mukamu yang kuyu sedikit bersinar ketika kau menyungkupkan selendang putih itu ke kepalamu. Kau merasa canggung dan sedih. Kain rajutan warna tapai yang kau beli di sebuah pameran itu mengingatkanmu pada sebuah peristiwa enam tahun silam, ketika kau duduk bersamanya di atas tilam tipis di ruang tamu sebuah rumah asing tanpa dikerumuni sanak-keluarga, karib-kerabat dan para tetangga. Suara yang serak itu terngiang di telingamu, ?Saya terima nikahnya Aurani Hanima binti Hasan dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang delapan puluh empat ribu rupiah tunai.?


Hampir tersedak kau oleh kesedihan tapi segera kau tutupi mulut dengan jari-jari tanganmu yang putih lentik. Kau terima berkas-berkas yang disodorkan panitia yang tampan itu sambil menjatuhkan basa-basi; tentang jumlah peserta yang terus membludak, tentang trainer yang datang, tentang foto-foto, tentang kegiatan alumni.

Panitia itu menghadiahimu jawaban dengan suaranya yang renyah menyenangkan. Pakaiannya hitam-hitam seperti orang berkabung dalam film-film. Ini kali keempat kau ikut acara itu. Pergi setelah minta izin kepada bos showroom tempatmu bekerja. Selendang putih itu telah kau persiapkan dari rumah. Cukup serasi dengan pakaian kerjamu yang panjang.

?Hai, Rani! Ikut lagi?? Seorang perempuan berkerudung indah menyambutmu di balik pintu. ?Kau semakin cantik saja.?

?Ah, Nora. Aku hanya butuh menangis agar hatiku lega. Bukankah airmata yang mengucur dengan kerelaan dapat menyembuhkan hati yang nestapa??

??????? ***

Seperti biasa, lampu-lampu di kanopi disesuaikan dengan ritme acara, kadang terang, kadang lindap, kadang nyaris gelap semata. Musik dari pengeras suara dengan sempurna berhasil mengombang-ambing perasaan.

Trainer itu menguraikan materi yang telah berulang-ulang kali kaudengar. Seperti khutbah yang indah. Sebenarnya, kau telah dapat menduga setiap apa yang akan disampaikan beserta musik pengiringnya. Namun, kau tetap mengikuti dengan berdebar seolah itu pengalaman pertama bagimu.

Suara tangis dan batuk membuat tengkukmu dingin. Kau menangkupkan muka pada kedua telapak tangan. Membayangkan makhluk kecil itu yang membuat dadamu seakan ditumbuhi berumpun-rumpun kaktus gurun yang subur. Membayangkan laki-laki itu. Membayangkan kedua orang tuamu yang jauh di kampung, yang tak pernah lagi kaudatangi. Kau teringat kerut merut di wajah mereka, belaian tangan hangat dan suara kasih-sayang yang nyinyir.

Kau teringat pada hari itu. Ayahmu yang mengenakan kemeja taluak balango coklat sepulang dari rumah kerabat yang hendak baralek menyalak begitu kau masuk ke dalam rumah.

?Dari mana kau??

?Dari tempat teman.?

?Dari tempat teman apa?! Jangan suka berdusta pada orang tua! Adikmu melihat kau pergi dengan anak kurang ajar itu!?

Kau mengumpat dalam hati, berjanji akan merobek mulut adikmu yang pengadu.

?Apa kau tak punya malu, hah?! Setiap hari pergi dengan laki-laki itu, apa kau mau jadi lonte??

Matamu? terbeliak. Hatimu sakit sekali atas sikap ayahmu yang terlalu cerewet. Kau yakin pergaulanmu tak seburuk teman-temanmu yang menyerahkan keperawanannya di penginapan murah dekat pasar atau semak-semak tempat wisata. Sejauh itu kau dan kekasihmu hanya duduk-duduk bercerita, bernyanyi-nyanyi, dan bercanda, makan atau sekedar jalan-jalan. Kau tak sekotor itu meski memang sering pulang terlambat.

?Iya? Mau jadi lonte kau, hah?!?

Kau terluka. Kautentang mata ayahmu dengan muak. ?Iya! Terus kenapa??

Ayahmu yang tua melayangkan tangan besarnya menampar mukamu sehingga mulutmu berdarah. Mungkin ada gigimu yang patah. Kau berlari ke kamar. Tak mau lagi menyapa ayahmu sampai berminggu-minggu kemudian. Kau merasa dituduh dan tak dipercayai. Diam-diam, kau menyiapkan pemberontakan.

Hingga petaka itu terjadi. Kau sama sekali tak ingin mempercayainya. Tubuh kekasihmu memasuki tubuhmu. Dengan segala ketakutan, kau meradang padanya. Menghantamkan segala benda yang terjangkau oleh tanganmu ke tubuhnya. Kau memang marah pada ayahmu, tetapi bukan perlawanan seperti itu yang ingin kau lakukan. Berminggu-minggu kemudian, ketika daging di dalam perutmu mulai lincah menunjukkan kehadirannya, kau dan kekasihmu lari ke kota. Meminta pertolongan seorang keluargamu untuk menjadi wali.

??????? ***

Temanmu Nora merangkulmu. Wanita eksekutif itu tampak sangat cengeng dengan air mata sepenuh muka. Ingusnya berleleran. Dia seorang pegawai di kantor cabang sebuah bank swasta. Sehari-hari anggun dan berkharisma. Kau seangkatan dengannya. Pertama kali ikut, kau disponsori tempat kerja.

Kalian berpelukan, seperti yang diinstruksikan trainer di depan. Saling menghapus air mata dengan tisu yang telah disediakan. Juga ingus di hidung yang meleleh. Tak lupa, serentet nasehat bijak dibisikkan.

?Kita harus berbakti pada kedua orang tua, setelah pada suami.?

Di ruangan yang redup itu hanya terdengar suara senggukan yang sesekali diselingi lengking istighfar dan ratapan yang seperti tak akan habis-habis. Musik instrumen bergaung mengiris-iris hati yang menangis.

Kemudian lampu dinyalakan. Coffee break.

Kau berjalan ke luar. Mendapati ruang makan yang terang. Rasanya baru terbangun dari mimpi sedih di penampungan korban bencana alam. Kau pergi ke toilet. Memencet-mencet hidung. Di cermin petak yang lebar kau lihat mukamu begitu kuyu.

Kau belum sedikit pun menangis.

??????? ***

Kau melolong dan nyaris melemparkan sosok mungil itu. Seorang perawat mengamankannya. Kau pukul dada kekasihmu yang telah menjadi suamimu dan ayah anakmu. Kau merasa sangat benci dan ingin mati.

Puting susumu pun seperti tak sudi dihisap mulutnya. Setiap mulut itu menyedot, tak setetes pun air susu yang keluar. Suamimu berulang kali memintamu untuk mencoba iklas. Memintamu memberi kasih sayang.

?Jangan paksa aku menyusuinya, atau kucekik dia sampai mati!? Kau selalu berteriak sambil terisak. Laki-laki itu akan menggendong si bayi menjauh dan memasukkan kompeng ke dalam mulutnya.

Beberapa kali suamimu memohon sehingga hatimu sedikit melunak dan tanganmu membawa tubuh yang berasal dari tubuhmu itu ke atas perut. Menaikkan bajumu dan menyembulkan sebelah payudaramu. Dengan riang mulut itu menghisap, tetapi tak ada sesuatu pun yang mengalir dari sana.

Kau ingin membunuhnya. Membunuh dirimu sendiri. Menangis. Ingin tak menangis. Berhenti menangis. Ingin bisa menangis. Kau merasa benci pada ayahmu yang menuduh terlalu jauh. Pada adikmu yang suka mencampuri urusan orang lain. Pada teman-temanmu yang gampang saja menyerahkan kehormatan sehingga kau terkena getahnya. Pada laki-laki itu yang telah mengawinimu melalui kecelakaan yang tak kau harapkan. Pada bayi itu...

Kepalanya besar seperti bola. Muka pucat ?kaku seperti boneka.

?Butuh tisu?? Seorang perempuan yang kaukenali sebagai salah seorang peserta pelatihan menyodorkan sehelai tisu padamu. ?Susah sekali untuk tak menangis, ya?? ucapnya dengan suara tercekat.

Cepat-cepat kau ambil tisu itu dan mengusapkannya ke bawah kelopak matamu sebelum perempuan itu berkomentar karena kau tak menangis. ?Terima kasih. Andai air mata dapat menebus segala dosa-dosa...?

?Ya, andai momen seperti ini tak hanya dalam acara begini saja. Aku sering mencoba melakukan kontemplasi sendiri, tetapi tak sedasyat ini. Hanya dalam acara begini aku bisa lepas, introspeksi diri secara total.?

?Apakah kau dapat mengakui kesalahanmu??

Perempuan itu mengangguk, menekurkan kepalanya di atas westafel. Memeras ingus di hidungnya. ?Kau percaya efek domino?? Perempuan itu mengalirkan air hangat dari kran. ?Suatu hari aku tak mengindahkan larangan ibuku. Meski hujan lebat, aku pergi juga ke rumah temanku. Kami berencana akan pergi berkemah ke Danau Di Atas. Teman-teman sudah menunggu. Mereka sempat ragu melihat cuaca yang kurang bersahabat. Mereka memutuskan, kalau aku tak datang berarti rencana batal. Ternyata aku datang dan kami berangkat dengan sedikit cemas yang kami tutupi dengan gelak canda. Di Lubuk Selasih, mobil tergelincir. Dua temanku meninggal. Dua teman yang lain sampai hari ini masih menyesali keberangkatan itu dan merasa diteror. Mereka yakin bahwa arwah Eva dan Lusi tidak senang karena kami tak ikut mati seperti janji persahabatan. Rike tahun lalu kecelakaan setelah melihat ada seseorang mirip Eva melintas di tengah jalan. Nina batal jadi pramugari, dan aku...?

Kau menatap cermin, menemukan seorang gadis sembilan belas tahun yang terluka dengan air mata berlinang putus asa.

?Andai aku tak jadi datang, tentu Cleogirls sudah mengeluarkan album sekarang.? Perempuan itu melanjutkan acara menangisnya sementara kau masuk ke sebuah bilik dan memuntahkan isi perut ke dalam kloset.

?Menangislah! Menangislah! Menangislah!? Kau terduduk merasakan pandangan matamu menghitam. ?Bajingan!? Oh, kesedihan, bunuhlah aku sekalian!

?Bila kau memang tak menginginkannya, seharusnya kau biarkan aku merawatnya!? Laki-laki itu menggendong si Boneka Berkepala Besar. ?Jangankan air susu, air mata pun kau tak punya untuk penderitaannya!? Laki-laki itu melangkahi pintu pagi dengan bayi mengerikan itu di gendongan.

Kau menatap kosong. Pergilah! Pergilah dari hidupku, pergilah dari kematianku. Puluhan menit kau terdiam di kursi makan menatap pintu yang masih menganga. Teringat malam ketika tangan ayahmu mendarat di mukamu. Teringat percintaan di pondok tempat wisata. Teringat pernikahan di rumah asing. Teringat bangsal bidan yang mempertemukanmu dengan bayi sialan itu. Mimpi-mimpimu telah hancur;? Kuliah di perguruan tinggi, menjadi pegawai negri sambil berbisnis makanan siap saji, menaikhajikan ayah dan ibumu, memiliki sebuah keluarga kecil dengan rumah mungil penuh bunga-bunga tapak dara...

Dia telah pergi dan tak pernah kembali.

Satu jam berikutnya kau menangis, sampai siang, sampai sore, sampai malam.

Lalu berjanji tak akan pernah menangis lagi. Di tempat kerja kau menjadi pegawai kesayangan bosmu. Tapi hidup sendiri, tanpa cinta dan air mata sangat menyakitkan. Kau butuh menangis meski mati-matian memungkirinya.

??????? ***

Tubuhmu terguncang-guncang. Lampu utama telah dipadamkan.

?Aku tak bisa menangis!? rintihmu.

?Kau menangis, Rani. Air matamu banyak. Matamu bengkak karena tak berhenti menangis sejak tadi.?

?Aku belum sedikit pun menangis. Sumpah!?

?Kau tak perlu malu mengakuinya.?

?Tak ada air mata di mukaku. Percayalah, aku selalu memperhatikannya di cermin kamar mandi. Mataku kering. Aku tak menangis sedikit pun. Aku tak menangis.? Kau mengucapkan itu dengan tangan menegang.

Tangan Nora mengelus bahumu. ?Lepaskan saja, Rani. Kita ke sini memang untuk menangis, bukan?? Tangannya beralih mengusap matamu dengan ujung selendangnya. Tisu yang tadi diberikan panitia sudah lecek.

Kembali, di ruangan yang redup itu hanya terdengar suara senggukan yang sesekali diselingi lengking istighfar dan ratapan yang seperti tak akan habis-habis. Musik instrumen bergaung mengiris-iris hati yang menangis.

Tanganmu yang kaku mencengkram punggung pasanganmu. ?Aku meninggalkan orang tuaku, kawin lari dengan pacar yang menghamiliku, dan menutupkan bantal ke wajah bayiku yang cacat sehingga dia mati.? Kau berkata terbata-bata.

Kemudian lampu menyala.***

Ilalangsenja | Padang,? 2006-2007
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Riau Pos 05/02/2006


SUDAH tak bersirobok jalan ke Solok.
Begitulah, Attar disuruh pulang, tetapi dia tidak tahu bagaimana memulai jalan. Solok yang hanya enam puluh kilometer dari Padang seolah-olah terpisah dari bumi. Begitu jauh dan tak terjangkau. Begitu berat kaki untuk diajak melangkah. Hanya Bukit Barisan yang dipandanginya dengan sedih. Benarkah aku tak lagi mempunyai rindu?

"Pulanglah, Tar. Jenguklah ibumu yang sakit marasai1
. Tak takutkah kau dikutuk sebab ‘lah durhaka?"
"Tetapi tak mungkin aku menjelang Solok. Tak mungkin aku menyesap ludah yang terbuang di tanah. Aku telah dibuang dan membuang diri."

"Solok hanya sejengkal dari sini, tak bisakah kau sedikit melunakkan hati?"

"Tidak, tidak, tidak! Aku tak akan pulang ke Solok. Ruas jalan telah dipancung. Aku tak akan kembali!"

***

ATTAR ingin mencari Iskandar Zulkarnain. Seorang tukang kaba gaek2 telah bertutur kepadanya tentang laki-laki penakluk itu. Dia begitu terpesona padanya. Darahnya menggelegak menyimak pertarungan Sang Raja dengan Darius di Gaugamela. Raja Persia berhasil dibuatnya lari lintang pukang ke pelosok pegunungan. Kalah. Attar ingin menjadi manusia seperti Iskandar.
"Yang utama adalah taklukkan ketakutanmu!" Begitu ujar si tukang kaba menirukan Iskandar Zulkarnain.

"Apakah aku bisa seperti dia?"

"Tentu, sebab kau adalah keturunannya. Leluhurmu adalah orang buangan dari Pagaruyung. Dan raja Pagaruyung itu kau tahu, dia adalah keturunan raja Iskandar Zulkarnain." Tukang kaba itu adalah pekerja sawah neneknya. Attar senang sekali bersamanya, dia selalu bercerita padanya sewaktu merintang waktu di dangau kecil di tengah sawah. Atau ketika sedang manggaro3 burung pipit dan tempua. Dia berbeda sekali dengan bapaknya yang sangat pendiam dan pemberang.
"Aku akan menaklukkan dunia!" Teriaknya keras membuat gerombolan burung pipit di batang-batang padi terbang berkirab.

Tukang kaba itu, Pak Hok, menyahut mengangguk-angguk. "Lakukanlah, Attar! Kau adalah masa depan kampung Sawah Sianik ini!"

Mereka belajar silat di lereng Bukik Sirah. Sekali-sekali Pak Hok membawa Attar ke Ampang Kualo untuk belajar berkuda pada seorang temannya. Mereka begitu akrab dan dekat. Attar lebih sering ke sawah sepulang sekolah daripada menunggui kios minyak milik bapaknya.

Suatu ketika bapaknya kawin lagi. Rumah papan di belakang rumah gadang orang Sikumbang itu retak. Nenek hilang kasih. Ibunya acap menangis. Setiap hari terpaksa berkuli di sawah orang. Kampung terasa gersang. Attar menjadi jarang bersama Pak Hok karena ibunya selalu melarang dia pergi ke sawah neneknya.

"Itu sawah orang, Tar. Jangan kau datang-datangi juga. Nanti dikira kita hendak mengambil punya orang. Kita di sini hidup menumpang." Begitu ibunya menegur.

Kita di sini hidup menumpang. Kalimat itu menggores hatinya. "Tapi ini kampung bapakku. Rumah gadang itu punya nenekku."

Kalimat itu menggores hatinya. "Tapi ini kampung bapakku. Rumah gadang itu punya nenekku."
"Kita orang Minang, Tar, meski segalanya telah berubah, tetapi kampungmu tetap di kampung ibumu, di Simawang."

"Kalau begitu, marilah kita ke Simawang, Mak. Untuk apa tinggal di Sawah Sianik yang sempit ini."

"Tidak bisa begitu, Yuang. Nenek dan kakekmu di sana telah mati. Rumah telah terjual, sawah telah tergadai. Sanak habis, pusako4 tandas. Kita tak mungkin pulang ke Simawang."
"Kalau begitu kita pindah saja ke kota, Mak."

"Sudahlah, Tar. Urus saja sekolahmu. Nanti kau akan mengerti bahwa hidup tak semudah yang kaukira."

"Tapi aku akan menjadi Iskandar Zulkarnain kata Pak Hok."

"Sudah! Sudah! Segeralah kau ke sekolah, dan jangan pergi-pergi lagi ke sawah nenekmu. Nanti dikira orang kau hendak mencuri tanah."

Maka dia mencoba bertahan untuk betah. Tetapi terlalu susah. Semakin hari semakin terasa olehnya bahwa hubungannya dengan orang kampung telah putus atau yang lebih menyedihkan adalah tidak ada sama sekali. Bapaknya sibuk di rumah istri barunya di Lukah Pandan. Orang-orang tak sudi memandangnya. Tak hiba melihat ibunya yang kian marasai mencari makan untuk dia dan adik-adiknya. Bapaknya tak lagi peduli. Begitupun neneknya. Perempuan tua yang rajin ke surau dan wirid yaasiin tiap malam Jumat itu bahkan tak menjawab sapanya, seolah lupa pada namanya. Padahal dulu dia sering menyuruhnya mengambil talang ke Bukik Sirah untuk membuat lamang bila akan masuk bulan puasa, hari raya, atau bulan maulid. Attar tak habis pikir, apakah semudah itu tali putus?

"Aku akan menjadi Iskandar Zulkarnain!" katanya berapi-api ketika bertemu dengan Pak Hok setelah shalat Jumat di Masjid Al Manar. Matanya merah. "Akan kutaklukkan orang-orang Sawah Sianik ini. Akan kubuat mereka berlutut di bawah kakiku!"

"Nak, tak baik seperti itu."

"Aku akan menjadi Iskandar Zulkarnain!"

Tamat SMP, Attar pergi dari Sawah Sianik. Pergi dari Solok. Ditinggalkannya ibu dan adik-adiknya yang menghuni sebuah pondok buruk di pinggir kampung Sawah Sianik. Dia merasa mereka telah dibuang seperti penyakit. Dia berjanji tak akan kembali sebelum sanggup membeli orang sekampung itu.

***

KAPAl Miracle masih tersandar di Teluk Bayur. Attar sedang minum kopi di kafe Hotel Bumiminang bersama dua orang rekannya. Sudah sebelas tahun dia tak melihat Solok. Sudah sebelas tahun dia tidak menginjak tanah Sawah Sianik. Apakah masih lunak dan basah?

"Uda diminta pulang. Ibu Uda sakit sudah sebulan, sebaiknya tengoklah juga sebelum maut menjelang." Begitu kata Junir, seorang anak Solok yang dikenalnya di Pelabuhan Teluk Bayur. Dari Junirlah dia mendapat kabar tentang kampung dan sesekali menitipkan uang dan barang untuk ibu dan adik-adiknya bila dia singgah di Teluk Bayur dalam pelayaran.

"Apakah Mak sudah pindah dari tepi sawah itu?"

"Sudah, Da. Ibu Uda kini tinggal di bekas tanah Sapei. Rumah telah dibangun, tanah sudah dibeli."

"Terima kasih, Dik. Tetapi aku tak mungkin datang ke Sawah Sianik. Aku tak hendak pulang."

"Tetapi Da, ibu Uda berpesan, tolong Uda pulang, dia begitu sakit menahan taragak5."
Attar tak bergeming. Jalan ke Solok tak bersirobok dalam pikirannya. Bertahun-tahun dia mencari untung. Mulanya jadi kuli angkut di pelabuhan, kemudian pergi dengan kapal bagan penangkap ikan, kemudian pergi dengan kapal barang, kemudian pergi dengan kapal dagang, kemudian berkenalan dengan orang asing pemilik Miracle, maka dia berlayar-berlayar-berlayar, berlayar untuk mengelilingi dunia seperti Iskandar...

Seperti Alexander. Ya, Alexander. Alexander atau Iskandar Zulkarnain memang tak menyeberangi laut untuk menaklukkan dunia, tetapi itu persoalan cara. Dia tengah mengumpulkan dolar demi dolar.

"Pulanglah, Tar. Jenguklah ibumu yang sakit marasai. Tak takutkah kau dikutuk sebab ‘lah durhaka?" Hatinya berseru-seru.

Tapi dia tidak mau. "Belum saatnya!"

Kepada Junir dititipkannya sejumlah uang dan pesan beserta salam untuk ibu dan adik-adiknya. Tahun ini dia belum akan pulang. Harap bersabar. Semoga ibu lekas sembuh. Usah pikirkan dirinya. Dia sudah pandai menjaga badan. Suruh adik-adiknya bersekolah. Kalau uang kurang beritahu Junir.

"Bawakan aku beberapa biji jarak yang masak." Pintanya ada Junir.

"Untuk apa, Da?"

"Akan kutanam untuk obat."

***

SUDAH tak bersobok jalan ke Solok.

Dia juga tak kunjung bertemu dengan Iskandar Zulkarnain atau Alexander. Hanya sekeping cerita yang dia dapatkan dari tukang kabar yang lain. Tentang seorang laki-laki rapuh yang menjadi boneka bagi obsesi ibunya dan akhirnya mati sunyi di negeri asing.

"Tiap tanah, setiap perbatasan yang kulewati, aku selalu memotong-motong ilusi." Ucap si penakluk itu melalui mulut si tukang kabar.

"Apakah aku juga hanya memotong-motong ilusi?!" Attar bertanya pada dunianya yang biru, laut dan langit. "Apakah Alexander hanya ilusi? Apakah Iskandar Zulkarnain hanya ilusi?"

"Dia tak pernah mati." Kata Pak Hok dulu. Tukang kaba gaek yang sering diundang ke kampung-kampung untuk badendang6 itu selalu meyakinkannya, "Dia tak pernah mati, Attar! Dia ada dalam dirimu. Kau harus yakin itu! Kau dapat menaklukkan dunia ini bila kau berhasil menaklukkan dirimu, ketakutanmu, nafsumu, energimu."
Biji jarak yang ditanamnya di pot plastik telah tumbuh setinggi lutut. Tanaman itu gersang diserang angin garam. Attar selalu memeliharanya, merawatnya sebaik mungkin agar tanaman itu tidak mati.

"Ambiaklah daun jarak ka jadi ureh."

"Ambiaklah ureh palarai damam."

(Ambillah daun jarak untuk jadi ureh7

Ambillah ureh untuk obat demam)

Hari itu dia merasa badannya terpanggang. Demam. Telah berhari-hari dia meriang. Dia teringat ibunya, teringat adik-adiknya, teringat bapaknya, teringat neneknya yang bukan neneknya, teringat Pak Hok, teringat teman-teman masa kecilnya, teringat orang-orang kampung yang tidak menganggapnya apa-apa.

"Aku demam. Aku demam." Dia mengambil pil di kotak obat, tetapi tak jadi meminumnya. Dia ingat kalau dia sakit, biasanya dia akan diberi ureh daun jarak. Maka dipetiknya tujuh helai daun jarak. Dicucinya. Dimasukkannya ke dalam mangkuk. Diberinya air dingin. Diberinya seumil beras. Dia tak mendapatkan sekupil kunyit. Dia duduk. Siapa yang akan mendoakan ureh ini?

Attar tak jadi minum. Dia merasa tak mampu untuk membaca Al Fatihah dan salawat Nabi. Ditaruhnya mangkuk di atas meja. Menerawang. Apakah aku tak rindu? Apakah aku tak taragak?

***

ATTAR singgah lagi di Teluk Bayur. Bersama temannya dia menginap di sebuah hotel besar di Padang. Dia telah membawa uang beberapa ratus ribu dolar. Tetapi kakinya tetap berat untuk menempuh jalan ke Solok yang hanya enam puluh kilometer dari Padang. Dia hanya minta tolong kepada Junir untuk mengantarkan sejumlah uang dan oleh-oleh.

"Pulanglah ke Solok, Tar!" suruh hatinya.

Tetapi dia tetap tidak bisa. Sepertinya jalan telah tertutup. Dia tak punya lagi rindu. Dia tak punya lagi taragak. Dia pernah berharap jarak dapat merapatkan hatinya pada kampung seperti yang dialami orang-orang lain. Dia ingin bisa memiliki sedikit rindu pada bapak yang menelantarkannya, pada nenek yang mengabaikannya, pada orang kampung yang membuangnya. Tetapi dia tidak mampu. Bahkan kebencian itu berhasil menekan keinginannya untuk bertemu dengan ibu dan adik-adiknya. Mungkin dia akan benar-benar menjadi Alexander dalam hal harus mati sunyi di negeri asing.

Sewaktu kembali ke atas kapal, Attar segera mengambil tanaman jarak dalam pot plastik yang daunnya telah kembali hijau segar. Pot beserta tanaman itu dia buang ke laut. "Aku tak punya kampung!" jeritnya sambil memegang kepala dengan napas tersengal.***

Padang, 30 Januari 2006
1. merana, menderita, sansai
2. orang tua yang membawakan sejenis prosa (sastra) lisan Minangkabau
3. menghalau burung dari sawah
4. pusaka, harta milik kaum yang diperuntukkan bagi perempuan
5. rindu
6. dengang, nyanyian Minangkabau
7. ramuan obat, biasanya berupa air yang diberi daun dan dimantrai