Tampilkan postingan dengan label K: Malang Post. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K: Malang Post. Tampilkan semua postingan
Minggu, 24 April 2011
by Forum Lingkar Pena
Dimuat di Malang Post, Ahad 24 April 2011
1
An, tahukah kau aku merasa malam ini sangat panjang. Saat kolong langit terlihat kosong, hanya hitam yang menganga. Suara liukan dan gesekan pohon kelapa diluar sana cukup membuat risih, angin memang tak seperti biasanya. Seperti menggumpal-gumpal tenaganya untuk terus bergerak dan menggerakkan benda yang di sekitarnya. Aku tak sabar untuk menghabiskan malam.
Kau tentu tahu, aku tak terlalu suka malam yang terlalu lama mengendap. Memang aku tak suka malam, karena aku lebih suka pagi. Saat matahari mulai keluar dari peraduannya, dengan sinar kemerah-merahan menyerupai wajahmu saat tersenyum malu. Dan terang cahayanya pun mirip dengan mata jelimu itu, aku sangat suka itu. Terlebih lagi udara yang berhembus lembut nan menyegarkan. Hmm, tak ada yang menandingi kesegarannya.
Dengannya aku merasa, luapan pikiran dan belitan masalah sehari lalu menguap dan terlepas. Aku meyakini ketika hari beranjak pagi, maka akan ada harapan-harapan baru yang bisa aku raih. Aku percaya, adanya pagi setelah malam pekat guna melumatkan hitam dengan terang putih cahayanya. Pagi itu hamparan cahaya bagi seluruh makhluk di bumi. Pagi itu bidadari jelita yang menawan semua makhluk di dunia.
Kuingat katamu terakhir waktu itu An, “Tunggu saja setiap pagi Riz, aku ada di situ.”
Maka aku harus memaksa sepanjang malam begini, menemani malam dan menunggu pagi. Sudah tak terhitung berapa purnama telah berlalu, namun aku setia menunggu pagi disini. Sampai diriku saja lupa aku rawat, kini mata hitamku sayu dan tubuhku kurus ringkih. Biarlah, bagiku menunggu pagi itu nomor satu. Karena, aku menunggumu yang hadir di pagi hari, entah itu kapan aku akan tetap menanti.
Tapi, malam ini beda sekali. Malam sepertinya bertahan disini. Sudah sejak tadi aku menunggu pagi disini, tapi malam seperti tak ingin beranjak pergi. Seolah-seolah waktu terus terdiam, hanya jam saja yang berputar namun waktu tidak, tetap tak bergerak sejak tadi. Udara malam yang biasanya aku benci, kali ini kupaksa untuk kucintai hanya untuk menunggu pagi. Ya, aku menunggu pagi dan masih terjaga sampai saat ini. Asal kau tahu An, aku sungguh merindu dengan pagi, merindu senyum cerahmu itu terlihat lagi.
2
Beda memang dengan dirimu, kau selalu memuji malam.
“Lihat purnama itu, indah sekali bukan? Aku suka malam” bisikmu malam itu.
Aku hanya mengangguk tak berkomentar, aku sadar kutelah berdusta pada hatiku yang tak pernah menyukai malam. Namun, padamu apapun yang kau sukai maka itu pun akan aku sukai. Karena itulah menurutku cinta, aku tak akan membuatmu terluka disebabkan sedikit saja ego yang aku punya.
Ah, itulah waktu kita bersama memandang malam di langit itu. Kita duduk bersebelahan di gubuk tua milik pak Kus. Petani renta yang sudah ditinggal istrinya meninggal, namun semangatnya tiada bandingnya itu. An, Menemanimu saja aku gembira, cukup itu saja. Aku tak akan minta apa-apa. Aku hanya ingin kau bahagia, cukup bagiku waktu itu. Kau pun tampak bahagia bersamaku, sungguh rasa bahagia ini terlampau sangat, An. Semoga perkiraanku ini benar.
Aku ingat suatu ketika pak Kus, menghampiri kita saat asyik duduk menikmati malam di gubuknya. Dan dia berkata,
“Walah, Rizza sama siapa kamu lee?”
“Ini Anjali pak Kus, anak baru di desa ini. Orang tuanya, tempat kerjanya pindah ke desa kita selama tiga bulan pak. Awalnya dia di kota, lihat saja perawakannya gak seperti gadis desa pak Kus. Iya khan Anjali?” Jawabku sambil tersenyum dan menoleh padamu, dan kau pun hanya diam tersenyum dengan wajah kemerah-merahan malu.
“Kamu cocok tuh Riz, sama cah ayu iki” kata pak Kus kemudian.
Kita pun kaget bukan kepalang, kau dan aku saling menoleh berpandangan. Dan serentak kita berkata tanpa komando,
“Lha, kenal aja baru deket-deket ini, koq sudah dibilang cocok Pak?” sambil cengas-cengis di hadapannya.
“Yo, aku liat-liat aja kaya’e kalian cocok. Yo wes, aku tak pulang dulu lee” lanjut pak Kus langsung melenggang pergi. Dan kita pun hanya tersenyum-senyum.
Setelah merasa puas memandang langit malam di gubuk tua itu, selalu saja kau mengajakku pulang melewati jalan-jalan pinggir sawah yang becek itu. Aku tahu kau sangat menyukai itu, ya paling tidak aku harus paham daerah dan suasana seperti itu tidak ada di kota. Apalagi suasana malam purnama yang terang benderang yang menurutmu indah itu. Aku yakin kau tak akan mampu melihatnya sempurna purnama ketika di kota, kau hanya bisa melihatnya ketika di desa saja. Di gubuk tempat biasa, memandang malam yang kau sukai itu.
Sesudah sampai depan rumah, selalu pasti kau di sambut oleh orang tuamu yang kemudian bertanya tentang keadaanmu yang sepertinya mereka khawatirkan sejak tadi. Tentu saja mereka khawatir, karena besok kau harus bangun pagi untuk sekolah. Lalu, orang tuamu menghadap padaku yang masih berdiri di halaman rumahmu dan keduanya tersenyum padaku. Dan aku pun membalas senyum itu, cukup itu saja. Sesudah itu aku segera mengundur pamit, dengan isyarat menundukkan kepala pada orang tuamu. Segera aku pulang meninggalkan halaman rumahmu yang suasana masih tersisa di hatiku sampai kini itu.
Sebenarnya, aku masih merasa ganjil di setiap malam ketika bertemu orang tuamu. Ada rasa kekhawatiran mereka tidak suka dengan keberadaanmu sedekat itu dalam waktu yang cukup cepat ini. Ditambah lagi, aku anak desa yang punya pakaian seadanya, tak seperti dirimu anak kota yang hampir punya segalanya. Aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh, menghentikan lamunan itu sebelum diketahui oleh dirimu atau kedua orang tuamu, dan segera aku melangkahkan kaki pergi meninggalkan halamanmu. Hampir tiap malam begitu, entah kau melihat dan sadarkah atau tidak tentang itu.
3
An, andai kau tahu sebenarnya aku menyetujui apa yang pernah pak Kus bilang. Jujur saja, saat pertama kali bertemu denganmu aku merasa ada yang lebih dengan pertemuan kita ini. Jika aku meraba hati ini, sepertinya aku telah jatuh hati padamu. Ya, sejak pertama kali ketemu waktu itu. Saat kau baru turun dari mobilmu, dan menoleh padaku yang saat itu berada di teras depan rumahku. Kau tersenyum padaku, dan akupun membalas senyummu. Sejak itu pula aku punya tetangga perempuan yang dekat dengan rumahku.
Ternyata tak hanya dekat rumah saja, kau pun adalah perempuan yang mempunyai kedekatan emosional denganku nomor dua setelah ibuku. Itu terjadi saat kau ternyata menjadi murid baru di sekolahku waktu itu. Ternyata kau adalah adik kelasku, kelas satu SMA. Ya, aku waktu itu telah berada dua tingkat darimu, kelas 3 SMA. Ketika kau melihatku juga satu sekolah denganmu, tepatnya ketika jam istirahat di depan kantin kecil-kecilan pak Suryo. Aku tak menyangka kau akan berani mendekatiku dan menyodorkan tangan kananmu berniat bersalaman denganku. Dengan sedikit gugup dan sesegera mungkin menghilangkannya, lalu aku balas sodoran tangan kananmu itu dengan menyodorkan juga tangan kananku. Saling bersalamanlah kita, dan kau menyebut namamu,
“Anjali Kezia” katamu.
Dan aku pun membalas “Rizza” jawabku.
Saling kenallah kita, dan sejak itu pula kau lebih sering menghabiskan waktu istirahat denganku ketimbang dengan teman sekelasmu. Aku masih tak paham, apa alasanmu bersikap begitu. Aku tak mau berpikiran yang aneh dan terlalu jauh. Toh, aku adalah anak desa yang cukup seadanya, sedangkan kau adalah anak kota yang serba berlebihan. Apalagi katamu waktu itu hanya tiga bulan di desa ini, karena ayahmu segera pindah tempat kerja lagi. Oleh, karena aku tak berani banyak berpikir tentang hubungan kita.
Sekolahku bagi ukuran desa cukup besar itu, akhirnya ramai dengan kedatanganmu pertama sebagai siswi pindahan dari kota selama tiga bulan nanti. Jadilah kau perbincangan hangat bagi setiap siswa, karena kecantikan fisikmu dan nilai kekotaanmu yang masih melekat jelas itu. Bagi para siswi kaupun tak kalah menjadi bahasan gossip mereka juga. Pernah kudengar dari salah satu siswi, kedatanganmu yang sebentar itu cukup membuat sekolah desa ini gempar dan mereka dengki karena kau dianggap bak seorang puteri raja. Sebenarnya lebih dari itu, kau tak hanya seolah sebagai puteri raja, namun sebagai bidadari anugerah dari Tuhan yang diturunkan dari langit untuk sekolah ini.
4
Terutama bagiku, kedekatanmu denganku yang tiba-tiba itu telah banyak membuatku tahu tentang dirimu dan keluargamu. Tentang kerja bapakmu, yang mengapa selalu pindah dari kota ini ke kota satunya, atau dari desa satu ke desa berikutnya, begitu seterusnya. Kau bercerita tentang bapakmu yang bekerja di pusat penelitian tanaman dan pertanian di kota dan desa. Kau pun bercerita, sebenarnya tak suka dengan pola pindah rumah dan pindah rumah sering sekali. Tapi, kau pun mensyukuri itu karena dengan itu maka kau akan bertemu teman-teman baru, termasuk bertemu denganku katamu. Ah, mendengar itu An, membuatku bak melayang di langit pagi. Tapi aku sadar, hanya menjadi teman saja sudah seperti itu apalagi ketika aku dianggap lebih oleh dirimu.
Selama tiga purnama yang kita lalui itu, kau memang yang banyak bercerita An. Aku hanya mendengarkan saja. Aku hanya mengamati saja, aku hanya berkomentar sedikit saja, aku hanya ingin membuatmu paling tidak senyum saja cukup. Suatu ketika kau pun berkisah tentang masa lalumu, entah kenapa begitu mudah kau bercerita tentang masa lalumu itu. Kurasa kau memang tak mungkin tahu, apa yang aku rasakan saat ini tentang dirimu. Tapi aku cukup hanya mendengarkanmu saja.
“Kau pernah suka pada seseorang Riz?” tanyamu.
“Hmm, belum” jawabku sekenanya.
“Bener nih?” Tanyamu lagi dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.
“Ya, aku belum pernah suka sama perempuan selama ini An” jawabku lagi.
“Hmm, boleh aku cerita Riz?” tanyamu dengan suara yang lebih rendah.
“Ya, boleh aja An, cerita sajalah gak perlu sungkan-sungkan, kayak kita baru kenal saja”
“Aku dulu pernah suka keseseorang waktu masih SMP Riz, tapi aku gak paham kenapa aku suka ke dia.
Ya, walaupun gitu sampai sekarang aku masih suka ke dia Riz, padahal aku belum tahu apakah dia juga suka ke aku apa nggak? Tapi, denger-denger dari teman dekatnya sih dia juga suka ke aku. Anehnya, kalo kita ketemu di kantin misalnya, dia hanya diam bahkan menyapa aku aja nggak apalagi mau bilang suka ke aku Riz. Padahal aku sangat berharap Riz, ke dia. Ya, sampe sekarang aku gak tahu apa yang dia mau dan dia fikirkan. Padahal aku tetep menunggu.”
Kau terus bercerita tentangnya, tentang masa lalumu yang sangat kau cintai itu. Kurasa aku tak perlu berkomentar tentang ini, andai kau tahu mendengarnya saja sudah mengiris-ngiris hatiku jadi beberapa bagaian yang tak utuh. Apalagi jika ternyata kisahmu benar dia juga suka padamu. Betapa hancurnya hatiku An, aku tak tahu siapa yang meremuk dan melumatkannya. Tapi, pasti remukan dan lumatan hatiku terasa sangat jika itu benar.
5
Kuingat katamu terakhir waktu itu An, “Tunggu saja setiap pagi Riz, aku ada di situ.”
Sudah tak terhitung berapa purnama telah berlalu, namun aku setia menunggu pagi disini. Sampai diriku saja lupa aku rawat, kini mata hitamku sayu dan tubuhku kurus ringkih. Biarlah, bagiku menunggu pagi itu nomor satu. Karena, aku menunggumu yang hadir di pagi hari, entah itu kapan aku akan tetap menanti.
An, semoga perkiraanku benar kau paham dengan apa yang kulakukan selama itu bersamamu, semua itu karena aku mencintaimu. Menemanimu memandang malam, sampai tiga purnama saja itu sangat membuatku bahagia. Apalah lagi jika kau mau menerimaku apa adanya, An. Tapi, aku sangat paham kau sangat sulit melupakan masa lalumu itu. Ya, dari caramu bercerita tentangnya saja bisa aku simpulkan mungkin cintamu cinta mati untuknya. Aku pun tak tahu engkau sekarang ada di mana, entah di kota atau mungkin di desa sebelah.
Sampai saat ini, malam betah di langit sana. Entah kenapa pagi pun tak segera menggantikannya. Apakah ia enggan, menerangi dunia. Ah, aku sendiri tak tahu, An. Sedari tadi aku menunggu pagi dan sabar menemani malam berjalan dengan waktunya. Tapi, sepertinya semua itu sia-sia. Aku yang terbaring ini, tak bisa melihat pagi lagi, An. Hanya malam dan gelap saja yang kulihat. Ibuku pun sampai menangis melihatku seperti ini. Aku sudah tak bergerak, sangat kaku katanya. Oh, aku tak lagi mampu bernafas kata ibuku.
Meski begitu, aku selalu menunggu pagi An. Aku menunggu cerahnya dunia kala itu. Menunggu dirimu datang dengan sunggingan senyummu yang menawan. Serta wajahmu yang kemerah-merahan indah itu, datang di dihadapan jasadku. Aku setia menunggu pagi An, aku setia menunggumu sepanjang malam sampai malam panjang ini. Saat jasadku tak lagi berruh seperti sedia kala, sungguh pagi serta kedatanganmu selalu kutunggu. Itulah kata jantung hatiku An, sampai saat ini sudah tak berguna lagi. Tak ada detak-detak yang mengguncang lagi. Tak ada tanda-tanda hidup lagi. Yang ada hanya jasad lelaki penunggu pagi.
21.04.2011, Rumah Taqwa, Malang.
1
An, tahukah kau aku merasa malam ini sangat panjang. Saat kolong langit terlihat kosong, hanya hitam yang menganga. Suara liukan dan gesekan pohon kelapa diluar sana cukup membuat risih, angin memang tak seperti biasanya. Seperti menggumpal-gumpal tenaganya untuk terus bergerak dan menggerakkan benda yang di sekitarnya. Aku tak sabar untuk menghabiskan malam.
Kau tentu tahu, aku tak terlalu suka malam yang terlalu lama mengendap. Memang aku tak suka malam, karena aku lebih suka pagi. Saat matahari mulai keluar dari peraduannya, dengan sinar kemerah-merahan menyerupai wajahmu saat tersenyum malu. Dan terang cahayanya pun mirip dengan mata jelimu itu, aku sangat suka itu. Terlebih lagi udara yang berhembus lembut nan menyegarkan. Hmm, tak ada yang menandingi kesegarannya.
Dengannya aku merasa, luapan pikiran dan belitan masalah sehari lalu menguap dan terlepas. Aku meyakini ketika hari beranjak pagi, maka akan ada harapan-harapan baru yang bisa aku raih. Aku percaya, adanya pagi setelah malam pekat guna melumatkan hitam dengan terang putih cahayanya. Pagi itu hamparan cahaya bagi seluruh makhluk di bumi. Pagi itu bidadari jelita yang menawan semua makhluk di dunia.
Kuingat katamu terakhir waktu itu An, “Tunggu saja setiap pagi Riz, aku ada di situ.”
Maka aku harus memaksa sepanjang malam begini, menemani malam dan menunggu pagi. Sudah tak terhitung berapa purnama telah berlalu, namun aku setia menunggu pagi disini. Sampai diriku saja lupa aku rawat, kini mata hitamku sayu dan tubuhku kurus ringkih. Biarlah, bagiku menunggu pagi itu nomor satu. Karena, aku menunggumu yang hadir di pagi hari, entah itu kapan aku akan tetap menanti.
Tapi, malam ini beda sekali. Malam sepertinya bertahan disini. Sudah sejak tadi aku menunggu pagi disini, tapi malam seperti tak ingin beranjak pergi. Seolah-seolah waktu terus terdiam, hanya jam saja yang berputar namun waktu tidak, tetap tak bergerak sejak tadi. Udara malam yang biasanya aku benci, kali ini kupaksa untuk kucintai hanya untuk menunggu pagi. Ya, aku menunggu pagi dan masih terjaga sampai saat ini. Asal kau tahu An, aku sungguh merindu dengan pagi, merindu senyum cerahmu itu terlihat lagi.
2
Beda memang dengan dirimu, kau selalu memuji malam.
“Lihat purnama itu, indah sekali bukan? Aku suka malam” bisikmu malam itu.
Aku hanya mengangguk tak berkomentar, aku sadar kutelah berdusta pada hatiku yang tak pernah menyukai malam. Namun, padamu apapun yang kau sukai maka itu pun akan aku sukai. Karena itulah menurutku cinta, aku tak akan membuatmu terluka disebabkan sedikit saja ego yang aku punya.
Ah, itulah waktu kita bersama memandang malam di langit itu. Kita duduk bersebelahan di gubuk tua milik pak Kus. Petani renta yang sudah ditinggal istrinya meninggal, namun semangatnya tiada bandingnya itu. An, Menemanimu saja aku gembira, cukup itu saja. Aku tak akan minta apa-apa. Aku hanya ingin kau bahagia, cukup bagiku waktu itu. Kau pun tampak bahagia bersamaku, sungguh rasa bahagia ini terlampau sangat, An. Semoga perkiraanku ini benar.
Aku ingat suatu ketika pak Kus, menghampiri kita saat asyik duduk menikmati malam di gubuknya. Dan dia berkata,
“Walah, Rizza sama siapa kamu lee?”
“Ini Anjali pak Kus, anak baru di desa ini. Orang tuanya, tempat kerjanya pindah ke desa kita selama tiga bulan pak. Awalnya dia di kota, lihat saja perawakannya gak seperti gadis desa pak Kus. Iya khan Anjali?” Jawabku sambil tersenyum dan menoleh padamu, dan kau pun hanya diam tersenyum dengan wajah kemerah-merahan malu.
“Kamu cocok tuh Riz, sama cah ayu iki” kata pak Kus kemudian.
Kita pun kaget bukan kepalang, kau dan aku saling menoleh berpandangan. Dan serentak kita berkata tanpa komando,
“Lha, kenal aja baru deket-deket ini, koq sudah dibilang cocok Pak?” sambil cengas-cengis di hadapannya.
“Yo, aku liat-liat aja kaya’e kalian cocok. Yo wes, aku tak pulang dulu lee” lanjut pak Kus langsung melenggang pergi. Dan kita pun hanya tersenyum-senyum.
Setelah merasa puas memandang langit malam di gubuk tua itu, selalu saja kau mengajakku pulang melewati jalan-jalan pinggir sawah yang becek itu. Aku tahu kau sangat menyukai itu, ya paling tidak aku harus paham daerah dan suasana seperti itu tidak ada di kota. Apalagi suasana malam purnama yang terang benderang yang menurutmu indah itu. Aku yakin kau tak akan mampu melihatnya sempurna purnama ketika di kota, kau hanya bisa melihatnya ketika di desa saja. Di gubuk tempat biasa, memandang malam yang kau sukai itu.
Sesudah sampai depan rumah, selalu pasti kau di sambut oleh orang tuamu yang kemudian bertanya tentang keadaanmu yang sepertinya mereka khawatirkan sejak tadi. Tentu saja mereka khawatir, karena besok kau harus bangun pagi untuk sekolah. Lalu, orang tuamu menghadap padaku yang masih berdiri di halaman rumahmu dan keduanya tersenyum padaku. Dan aku pun membalas senyum itu, cukup itu saja. Sesudah itu aku segera mengundur pamit, dengan isyarat menundukkan kepala pada orang tuamu. Segera aku pulang meninggalkan halaman rumahmu yang suasana masih tersisa di hatiku sampai kini itu.
Sebenarnya, aku masih merasa ganjil di setiap malam ketika bertemu orang tuamu. Ada rasa kekhawatiran mereka tidak suka dengan keberadaanmu sedekat itu dalam waktu yang cukup cepat ini. Ditambah lagi, aku anak desa yang punya pakaian seadanya, tak seperti dirimu anak kota yang hampir punya segalanya. Aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh, menghentikan lamunan itu sebelum diketahui oleh dirimu atau kedua orang tuamu, dan segera aku melangkahkan kaki pergi meninggalkan halamanmu. Hampir tiap malam begitu, entah kau melihat dan sadarkah atau tidak tentang itu.
3
An, andai kau tahu sebenarnya aku menyetujui apa yang pernah pak Kus bilang. Jujur saja, saat pertama kali bertemu denganmu aku merasa ada yang lebih dengan pertemuan kita ini. Jika aku meraba hati ini, sepertinya aku telah jatuh hati padamu. Ya, sejak pertama kali ketemu waktu itu. Saat kau baru turun dari mobilmu, dan menoleh padaku yang saat itu berada di teras depan rumahku. Kau tersenyum padaku, dan akupun membalas senyummu. Sejak itu pula aku punya tetangga perempuan yang dekat dengan rumahku.
Ternyata tak hanya dekat rumah saja, kau pun adalah perempuan yang mempunyai kedekatan emosional denganku nomor dua setelah ibuku. Itu terjadi saat kau ternyata menjadi murid baru di sekolahku waktu itu. Ternyata kau adalah adik kelasku, kelas satu SMA. Ya, aku waktu itu telah berada dua tingkat darimu, kelas 3 SMA. Ketika kau melihatku juga satu sekolah denganmu, tepatnya ketika jam istirahat di depan kantin kecil-kecilan pak Suryo. Aku tak menyangka kau akan berani mendekatiku dan menyodorkan tangan kananmu berniat bersalaman denganku. Dengan sedikit gugup dan sesegera mungkin menghilangkannya, lalu aku balas sodoran tangan kananmu itu dengan menyodorkan juga tangan kananku. Saling bersalamanlah kita, dan kau menyebut namamu,
“Anjali Kezia” katamu.
Dan aku pun membalas “Rizza” jawabku.
Saling kenallah kita, dan sejak itu pula kau lebih sering menghabiskan waktu istirahat denganku ketimbang dengan teman sekelasmu. Aku masih tak paham, apa alasanmu bersikap begitu. Aku tak mau berpikiran yang aneh dan terlalu jauh. Toh, aku adalah anak desa yang cukup seadanya, sedangkan kau adalah anak kota yang serba berlebihan. Apalagi katamu waktu itu hanya tiga bulan di desa ini, karena ayahmu segera pindah tempat kerja lagi. Oleh, karena aku tak berani banyak berpikir tentang hubungan kita.
Sekolahku bagi ukuran desa cukup besar itu, akhirnya ramai dengan kedatanganmu pertama sebagai siswi pindahan dari kota selama tiga bulan nanti. Jadilah kau perbincangan hangat bagi setiap siswa, karena kecantikan fisikmu dan nilai kekotaanmu yang masih melekat jelas itu. Bagi para siswi kaupun tak kalah menjadi bahasan gossip mereka juga. Pernah kudengar dari salah satu siswi, kedatanganmu yang sebentar itu cukup membuat sekolah desa ini gempar dan mereka dengki karena kau dianggap bak seorang puteri raja. Sebenarnya lebih dari itu, kau tak hanya seolah sebagai puteri raja, namun sebagai bidadari anugerah dari Tuhan yang diturunkan dari langit untuk sekolah ini.
4
Terutama bagiku, kedekatanmu denganku yang tiba-tiba itu telah banyak membuatku tahu tentang dirimu dan keluargamu. Tentang kerja bapakmu, yang mengapa selalu pindah dari kota ini ke kota satunya, atau dari desa satu ke desa berikutnya, begitu seterusnya. Kau bercerita tentang bapakmu yang bekerja di pusat penelitian tanaman dan pertanian di kota dan desa. Kau pun bercerita, sebenarnya tak suka dengan pola pindah rumah dan pindah rumah sering sekali. Tapi, kau pun mensyukuri itu karena dengan itu maka kau akan bertemu teman-teman baru, termasuk bertemu denganku katamu. Ah, mendengar itu An, membuatku bak melayang di langit pagi. Tapi aku sadar, hanya menjadi teman saja sudah seperti itu apalagi ketika aku dianggap lebih oleh dirimu.
Selama tiga purnama yang kita lalui itu, kau memang yang banyak bercerita An. Aku hanya mendengarkan saja. Aku hanya mengamati saja, aku hanya berkomentar sedikit saja, aku hanya ingin membuatmu paling tidak senyum saja cukup. Suatu ketika kau pun berkisah tentang masa lalumu, entah kenapa begitu mudah kau bercerita tentang masa lalumu itu. Kurasa kau memang tak mungkin tahu, apa yang aku rasakan saat ini tentang dirimu. Tapi aku cukup hanya mendengarkanmu saja.
“Kau pernah suka pada seseorang Riz?” tanyamu.
“Hmm, belum” jawabku sekenanya.
“Bener nih?” Tanyamu lagi dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.
“Ya, aku belum pernah suka sama perempuan selama ini An” jawabku lagi.
“Hmm, boleh aku cerita Riz?” tanyamu dengan suara yang lebih rendah.
“Ya, boleh aja An, cerita sajalah gak perlu sungkan-sungkan, kayak kita baru kenal saja”
“Aku dulu pernah suka keseseorang waktu masih SMP Riz, tapi aku gak paham kenapa aku suka ke dia.
Ya, walaupun gitu sampai sekarang aku masih suka ke dia Riz, padahal aku belum tahu apakah dia juga suka ke aku apa nggak? Tapi, denger-denger dari teman dekatnya sih dia juga suka ke aku. Anehnya, kalo kita ketemu di kantin misalnya, dia hanya diam bahkan menyapa aku aja nggak apalagi mau bilang suka ke aku Riz. Padahal aku sangat berharap Riz, ke dia. Ya, sampe sekarang aku gak tahu apa yang dia mau dan dia fikirkan. Padahal aku tetep menunggu.”
Kau terus bercerita tentangnya, tentang masa lalumu yang sangat kau cintai itu. Kurasa aku tak perlu berkomentar tentang ini, andai kau tahu mendengarnya saja sudah mengiris-ngiris hatiku jadi beberapa bagaian yang tak utuh. Apalagi jika ternyata kisahmu benar dia juga suka padamu. Betapa hancurnya hatiku An, aku tak tahu siapa yang meremuk dan melumatkannya. Tapi, pasti remukan dan lumatan hatiku terasa sangat jika itu benar.
5
Kuingat katamu terakhir waktu itu An, “Tunggu saja setiap pagi Riz, aku ada di situ.”
Sudah tak terhitung berapa purnama telah berlalu, namun aku setia menunggu pagi disini. Sampai diriku saja lupa aku rawat, kini mata hitamku sayu dan tubuhku kurus ringkih. Biarlah, bagiku menunggu pagi itu nomor satu. Karena, aku menunggumu yang hadir di pagi hari, entah itu kapan aku akan tetap menanti.
An, semoga perkiraanku benar kau paham dengan apa yang kulakukan selama itu bersamamu, semua itu karena aku mencintaimu. Menemanimu memandang malam, sampai tiga purnama saja itu sangat membuatku bahagia. Apalah lagi jika kau mau menerimaku apa adanya, An. Tapi, aku sangat paham kau sangat sulit melupakan masa lalumu itu. Ya, dari caramu bercerita tentangnya saja bisa aku simpulkan mungkin cintamu cinta mati untuknya. Aku pun tak tahu engkau sekarang ada di mana, entah di kota atau mungkin di desa sebelah.
Sampai saat ini, malam betah di langit sana. Entah kenapa pagi pun tak segera menggantikannya. Apakah ia enggan, menerangi dunia. Ah, aku sendiri tak tahu, An. Sedari tadi aku menunggu pagi dan sabar menemani malam berjalan dengan waktunya. Tapi, sepertinya semua itu sia-sia. Aku yang terbaring ini, tak bisa melihat pagi lagi, An. Hanya malam dan gelap saja yang kulihat. Ibuku pun sampai menangis melihatku seperti ini. Aku sudah tak bergerak, sangat kaku katanya. Oh, aku tak lagi mampu bernafas kata ibuku.
Meski begitu, aku selalu menunggu pagi An. Aku menunggu cerahnya dunia kala itu. Menunggu dirimu datang dengan sunggingan senyummu yang menawan. Serta wajahmu yang kemerah-merahan indah itu, datang di dihadapan jasadku. Aku setia menunggu pagi An, aku setia menunggumu sepanjang malam sampai malam panjang ini. Saat jasadku tak lagi berruh seperti sedia kala, sungguh pagi serta kedatanganmu selalu kutunggu. Itulah kata jantung hatiku An, sampai saat ini sudah tak berguna lagi. Tak ada detak-detak yang mengguncang lagi. Tak ada tanda-tanda hidup lagi. Yang ada hanya jasad lelaki penunggu pagi.
21.04.2011, Rumah Taqwa, Malang.
Minggu, 06 Maret 2011
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Mashdar Zainal
dimuat di Malang Post, 6 Maret 2011
Kau rasakan layar kecemasan mengembang di wajahmu yang kuning pucat. Seperti siluet senja yang melesat di antara punggung Gunung Radwa dan Abha yang kelabu. Kau teringat nenekmu yang sebatang kara di negeri seberang. Kau teringat wajahnya yang cekung, atau punggungnya yang membungkuk karna saban hari merangkak mengambah alas Watu Gilang untuk memunguti ranting-ranting kering, atau geguguran daunan jati. Nenekmu hanya seorang buruh tani yang ketika menunggu musim panen sama halnya dengan menunggu lebaran tiba. Bila musim tanam selesai, nenekmu selalu merangkak menyisiri hutan-hutan di kaki Gunung Wilis, untuk segendong kayu bakar atau segepok daun jati yang nantinya akan ia tukarkan dengan beras dan minyak curah. Ah, kau benar-benar merindukannya.
Beberapa tahun lalu, sebelum kau melesat terbang untuk meraih serpihan rizqi di bawah langit kota Jeddah yang jauh, kau tak pernah bisa lepas dari nenekmu. Kau hidup berdua saja denganya. Ibumu keracunan ketuban saat melahirkanmu, biaya persalinan yang pas-pasan tidak memungkinkanya untuk memperoleh tindakan cepat, maka setiap nenekmu bercerita perihal kelahiranmu, kau seperti menyayat luka yang terpatri di wajahmu. Tak cuma itu, berselang satu setengah tahun terpaut usiamu, ayahmu mangkat karena sengatan paru-paru basah yang sama sekali tak tersentuh tangan medis, selain kehendak Tuhan tentu saja karena alasan klasik yang klise: biaya. Itulah mengapa kau begitu benci dengan kemiskinan. Kemiskinan telah merenggut orang-orang yang kau cinta sebelum kau sempat mematri raut wajah mereka dalam benakmu.
Kau tahu, nenekmu begitu menyayangimu. Kau layaknya manik permata yang selalu di elu-elukannya. Wajahmu cantik, gerak lakumu jujur dan lugu. Ia tak mau jika kau menjadi lekang dan rapuh hanya karena pengaruh pergaulan di kampungmu yang mulai menyisihkan nilai-nilai ketimuran seorang gadis. Tentu kau masih ingat dengan Eli, teman sekelasmu yang mati bunuh diri gara-gara tak kuasa menanggung aib yang mengembung di perutnya.
Maka, seusai menamatkan pendidikan di sekolah menengah atas, nenekmu menyarankanmu untuk bertebaran ke negeri jauh, menjemput berkah yang telah di sebar Gusti Allah di muka bumi. Awalnya kau bersikeras untuk tetap tinggal menemani nenekmu, agar tetap bisa menjagainya di usia senja. Namun air mata tua nenekmu telah meluluhkan keras kepalamu. Akhirnya kau pun berangkat.
Ketika itulah, kau rasakan pertama kali betapa birunya warna perpisahan. Pikiranmu bergejolak. Di usiamu yang baru belasan tahun itu, tak pernah kau bayangkan kau akan melayarkan bahtera seorang diri, jauh ke tengah samudera kehidupan yang luas tak beranah tepi.
“Jika perahu telah kukayuh ke tengah, pantang bagiku membalik arah, biarpun besar gelombang, kemudi patah, layar robek, itu lebih baik dari pada memutar haluan pulang.” Bisikmu.
***
Asing sekali ketika kakimu menapak negeri bertanah gurun itu. Di sebuah rumah yang megahnya seperti masjid itu kau bekerja. Merawat perempuan pikun dan balita. Dengan gaji tujuh ratus real yang tak pernah sampai ke tanganmu. Tahun pertama kau bekerja, kau hidup seperti budak tawanan perang. Sayyidah Fatat yang bermata lebar dan bercelak tebal itu selalu mengawasi gerak-gerikmu. Barangkali ia tak mau melihatmu bermalas-malasan. Melihatmu duduk tanpa melakukan sesuatu, baginya adalah sama halnya membuang dirham.
Jaddah Raisyah, perempuan renta yang melata di kursi roda itu pun selalu menyusahkanmu. Kau merawat perempuan pikun itu seperti merawat cicitnya. Menyuapinya saat makan, menyeka tubuhnya yang lemir, mengelap air liurnya, atau kalau lebih buruk lagi menimpal bekas kotorannya. Awalnya kau merasa jijik dan hendak muntah, tapi lama semakin lama kau menjadi sangat terbiasa. Kau bayangkan wanita tua itu nenekmu dan semuanya menjadi lebih mudah kau lakukan.
Tahun berganti tahun kau jalani, dapat kau rasakan lembaran demi lembaran hidupmu yang datar dan buram tanpa warna. Kebosanan yang merestan di kepalamu kini telah lumat oleh ketidakberdayaan. Dekat sekali kau rasakan campur tangan Tuhan atas skenario yang kau perankan sekarang ini. Maka kau bisa apa? Bahkan ketika Sayyid Junaid, suami Sayyidah, mulai berani mencolek-colek pinggulmu, kau pun tak bisa berbuat apa-apa.
Sampai datanglah suatu ketika yang celaka. Sayyidah menggelar sebuah pesta besar-besaran di rumahnya. Seluruh tenagamu dikurasnya. Kakimu gemetar melihat keramaian yang begitu mencekam. Dari balik gorden dapur kau lihat para tamu yang mengagungkan pesta dan kesenangan. Orang-orang berhidung panjang dan bercambang tebal, orang-orang berkulit hitam dan berambut kriting, mereka berkumpul melebur dalam tahniah dan tari-tarian. Mereka menyatap kambing guling dan ikan sadil ‘arab seperti srigala lapar. Nasi samin yang kau tanak semalam suntuk, tandas oleh perut mereka.
Seusai pesta, dan tamu-tamu pulang. Kau merangkak membereskan sisa-sisa pesta yang berantakan. Sayyidah pergi mengantarkan saudara jauhnya dan mungkin kembali esok lusa. Tinggalah kau seorang, bersama nenek pikun dan Sayyid Junaid yang tatapan matanya seperti hendak menerkam.
Malam itulah, ketika tiba-tiba Sayyid Junaid memintamu ke kamarnya untuk memijtnya, kau juga tak bisa menolak. Malam itu bisa kau rasakan, kau seperti ayam kecil yang terperangkap dalam liang musang. Benarlah, Sayyid Junaid mulai merayumu. Kau menolaknya, akibatnya kau pun mendapat satu tamparan keras di pipi kananmu. Kau berontak, hendak berlari darinya, dengan cekatan pula lelaki arab bernafsu kuda itu merengkuhmu, melumatmu dalam tarian-tarian menyeramkan. Semenjak itu, malam-malam tua telah menjadi seteru yang menyematkan luka abadi dalam lubuk dadamu. Seperti lolongan rase gunung, setiap malam kau memperpanjang tangismu sambil mencakar wajahmu sendiri. Ngilu.
“Telah tersemat ribuan jarum dalam ketubanku. Aku musafir asing yang kehilangan kaki. Lantas musti bagaimana aku meneruskan mimpi. Luka ini terlampau mendarah daging, rasanya waktu pun tak akan mampu menyembuhkannya. Ini memang tak lebih sakit dari mati, tapi ini lebih buruk dari mati.” Cercaumu, pilu.
Petang itu, ketika rumah Sayyidah sepi kau berjingkat meninggalkan perempuan tua yang tergolek di kasur bersama kotorannya sendiri itu. Kau benar-benar sudah tak tahan. Kau berjingkat membawa beberapa helai pakaian yang kau bungkus dalam kain jarit milik nenekmu. Kau cek setiap penjuru pintu. Semua terkunci rapat. Kau berpikir, mereka memang sengaja memasungmu. Kau pun tak pendek akal. Kau turun lewat balkon samping dengan beberapa utas kain yang kau kaitkan jadi temali. Kau sudah seperti buronan yang hendak kabur dari bui. Tak kau pikirkan, kau tak membawa bekal atau uang sepeserpun. Ah, barangkali gejolak badai di bathinmu mengalahkan rasa lapar.
Lihatlah! Di tanah gharib itu kau jadi gelandangan. Ayunan langkahmu selalu gontai musabab lututmu yang selalu gemetar menahan beratnya beban yang kau pikul seorang diri. Perutmu juga terasa melilit dan panas. Kepalamu berat bukan main. Kau mulai suka terbatuk-batuk. Sempurna sudah apa kau cemaskan sejak pertama kali menginjak tanah terik berdebu itu. Kau melanglang serupa orang terusir. Berteman baik dengan trotoar-trotoar dan rasa lapar. Hingga sampailah langkahmu pada bangunan kardus di bawah jembatan Waladhaek yang gagah itu. Di sana kau bertemu dengan Suryani, gadis 17 tahun asal Jombang, yang bernasib sama denganmu atau barangkali lebih buruk. Bisa kau tilik bekas luka memar di jidadnya, juga bekas luka bakar yang menghitam di lengan kirinya. Kabarnya ia kabur karena tak tahan oleh siksaan majikannya. Tak hanya Suryani yang jadi penghuni kolong jembatan angkuh itu. Di sana juga ada Nunung asal Tasikmalaya yang sengaja dibuang majikannya karena memiliki penyakit kulit menjijikan yang konon menular. Ada juga Dwi, Fauziah, dan Jumiati. Semua meiliki kisahnya sendiri-sendiri. Ah, bagimana dengan kisahmu sendiri? Sama mirisnya dengan kisah mereka.
“Mengapa manusia harus lahir ke muka bumi, jika ia tak memiliki hak untuk hidup selayaknya manusia. Dunia memang angkuh.” Bisikmu lembut seperti kabut yang menguapkan aroma racun yang kental.
Begitulah, di kolong jembatan itu kau hidup bersama mereka seperti keluarga. Saling bertukar kata dan saling menghibur. Apa yang mereka makan, itulah yang kau makan. Tapi, selalu saja, ada yang pahit yang membaur bersama hari-harimu, hari-hari kalian. Lihat saja Nunung, tampaknya dia yang paling rapuh menahan beban. Sepanjang siang dan malam yang dilakukanya hanya termenung dan menangis. Badanya kurus karena tak pernah mau makan. Pucat masih tampak di wajahnya meski hampir seluruh kulitnya dipenuhi bintil-bintil merah yang berminyak dan mengelupas. Beberapa kali ia menyalahkan Tuhan yang telah sempurna menyengsarakan hidupnya. Beberapa kali Nunung tampak mengeluhkan rasa perih di ulu hati dan sekujur tubuhnya. Ia menangis tak henti-henti, ingin bertemu dengan ibu-bapak dan sanak keluarganya di kampung halaman. Tapi apa boleh buat. Setelah menangis panjang itu, Nunung tak tampak lagi sampai kau menemukanya terjuntai kaku di tiang rangka jembatan dengan lilitan tambang di lehernya. Ah, haruskah semua ini berakhir memar.
Kau terisak menahan bongkah cadas di dadamu. Kau usap perutmu yang kian hari kian mengembung. Ini salah siapa? Tak ada yang salah. Demi memikirkan semua itu, nyeri di kepalamu kambuh. Badanmu terasa semakin ringkih dan kedinginan.
“Tuhan… kalau memang aku harus mati waktu dekat ini. Jangan biarkan aku mati dalam keterasingan. Izinkan aku mati di pangkuan nenekku, di kampung halamanku.” kau terus terisak sampai suaramu serak dan habis, sampai rasa kantuk yang indah menjemputmu untuk singgah ke alam bawah sadar. Alam di mana mimpi buruk menjadi hal yang lebih indah. Ah, semua mengalir saja seperti air. Kehidupan selalu begitu. Dunia selalu begitu.
Kau gagap terbangun di akhir sepertiga malam, kau rasakan badanmu menggigil bukan main, perutmu terasa sangat mual, begitu pula, kepalamu terasa sangat nyeri dan berat. Kau beranjak dari rumah beratap jembatan itu. Kau semakin menggigil. Kedua gigimu bergemeletak menahan dingin. Kau tatap rembulan pucat yang berlayar ke utara menghindari arakan mendung gelap. Sepi. Teman-temanmu masih pada terlelap, terpasung gelap. Sekali lagi kau tengadahkan wajah ke langit lepas. Kau berusaha mengingat seperti apa warna langit di kampung halamanmu. Sama kah? Di kampungmu, pada detik itu, kau akan mendengar alunan tarhim seperti eufoni kramat yang menlengking dari petala langit. Kemudian nenekmu akan membangunkanmu untuk mengambil air wudhu.
Entah mengapa, tiba-tiba dadamu penuh sesak, perasaanmu tidak enak. Mungkin kau terlalu merindukan nenekmu, kampung halamanmu. Rasanya kau ingin tertidur lagi, dan tiba-tiba nenekmu datang dan membenarkan letak selimutmu. Ah, tapi perutmu sangat mual, tenggorokanmu sangat perih dan sesak bagai tercekik, bahkan kau terbatuk-batuk dalam. Ada apa lagi dengan tubuh rapuh ini? Beberapa jenak, kau terbatuk-batuk lagi, semakin dalam. Perlahan kau merasa ada yang meleleh dari lubang hidungmu. Kau menyentuhnya. Kau mendapati cairan kental, warnanya merah pekat. Tak kau pedulikan. Kau merebahkan tubuhmu di atas hamparan rumput kering yang mengembun. Matamu menyimpan cermin yang dapat mengundang kupu-kupu yang terpasung rembulan di atas sana. Kau tersenyum menyapa bintang-gemintang yang kesepian. Tiba-tiba kau merasa seperti tertidur di pangkuan nenekmu.
*Malang, 2009-2010
Catatan
alas = hutan
sayyidah = nyonya
dinar = uang emas
jaddah = nenek
sayyid = tuan
tahnia = tarian sambutan
gharib = asing
eufoni = lagu yang teramat lembut
dimuat di Malang Post, 6 Maret 2011
Kau rasakan layar kecemasan mengembang di wajahmu yang kuning pucat. Seperti siluet senja yang melesat di antara punggung Gunung Radwa dan Abha yang kelabu. Kau teringat nenekmu yang sebatang kara di negeri seberang. Kau teringat wajahnya yang cekung, atau punggungnya yang membungkuk karna saban hari merangkak mengambah alas Watu Gilang untuk memunguti ranting-ranting kering, atau geguguran daunan jati. Nenekmu hanya seorang buruh tani yang ketika menunggu musim panen sama halnya dengan menunggu lebaran tiba. Bila musim tanam selesai, nenekmu selalu merangkak menyisiri hutan-hutan di kaki Gunung Wilis, untuk segendong kayu bakar atau segepok daun jati yang nantinya akan ia tukarkan dengan beras dan minyak curah. Ah, kau benar-benar merindukannya.Beberapa tahun lalu, sebelum kau melesat terbang untuk meraih serpihan rizqi di bawah langit kota Jeddah yang jauh, kau tak pernah bisa lepas dari nenekmu. Kau hidup berdua saja denganya. Ibumu keracunan ketuban saat melahirkanmu, biaya persalinan yang pas-pasan tidak memungkinkanya untuk memperoleh tindakan cepat, maka setiap nenekmu bercerita perihal kelahiranmu, kau seperti menyayat luka yang terpatri di wajahmu. Tak cuma itu, berselang satu setengah tahun terpaut usiamu, ayahmu mangkat karena sengatan paru-paru basah yang sama sekali tak tersentuh tangan medis, selain kehendak Tuhan tentu saja karena alasan klasik yang klise: biaya. Itulah mengapa kau begitu benci dengan kemiskinan. Kemiskinan telah merenggut orang-orang yang kau cinta sebelum kau sempat mematri raut wajah mereka dalam benakmu.
Kau tahu, nenekmu begitu menyayangimu. Kau layaknya manik permata yang selalu di elu-elukannya. Wajahmu cantik, gerak lakumu jujur dan lugu. Ia tak mau jika kau menjadi lekang dan rapuh hanya karena pengaruh pergaulan di kampungmu yang mulai menyisihkan nilai-nilai ketimuran seorang gadis. Tentu kau masih ingat dengan Eli, teman sekelasmu yang mati bunuh diri gara-gara tak kuasa menanggung aib yang mengembung di perutnya.
Maka, seusai menamatkan pendidikan di sekolah menengah atas, nenekmu menyarankanmu untuk bertebaran ke negeri jauh, menjemput berkah yang telah di sebar Gusti Allah di muka bumi. Awalnya kau bersikeras untuk tetap tinggal menemani nenekmu, agar tetap bisa menjagainya di usia senja. Namun air mata tua nenekmu telah meluluhkan keras kepalamu. Akhirnya kau pun berangkat.
Ketika itulah, kau rasakan pertama kali betapa birunya warna perpisahan. Pikiranmu bergejolak. Di usiamu yang baru belasan tahun itu, tak pernah kau bayangkan kau akan melayarkan bahtera seorang diri, jauh ke tengah samudera kehidupan yang luas tak beranah tepi.
“Jika perahu telah kukayuh ke tengah, pantang bagiku membalik arah, biarpun besar gelombang, kemudi patah, layar robek, itu lebih baik dari pada memutar haluan pulang.” Bisikmu.
***
Asing sekali ketika kakimu menapak negeri bertanah gurun itu. Di sebuah rumah yang megahnya seperti masjid itu kau bekerja. Merawat perempuan pikun dan balita. Dengan gaji tujuh ratus real yang tak pernah sampai ke tanganmu. Tahun pertama kau bekerja, kau hidup seperti budak tawanan perang. Sayyidah Fatat yang bermata lebar dan bercelak tebal itu selalu mengawasi gerak-gerikmu. Barangkali ia tak mau melihatmu bermalas-malasan. Melihatmu duduk tanpa melakukan sesuatu, baginya adalah sama halnya membuang dirham.
Jaddah Raisyah, perempuan renta yang melata di kursi roda itu pun selalu menyusahkanmu. Kau merawat perempuan pikun itu seperti merawat cicitnya. Menyuapinya saat makan, menyeka tubuhnya yang lemir, mengelap air liurnya, atau kalau lebih buruk lagi menimpal bekas kotorannya. Awalnya kau merasa jijik dan hendak muntah, tapi lama semakin lama kau menjadi sangat terbiasa. Kau bayangkan wanita tua itu nenekmu dan semuanya menjadi lebih mudah kau lakukan.
Tahun berganti tahun kau jalani, dapat kau rasakan lembaran demi lembaran hidupmu yang datar dan buram tanpa warna. Kebosanan yang merestan di kepalamu kini telah lumat oleh ketidakberdayaan. Dekat sekali kau rasakan campur tangan Tuhan atas skenario yang kau perankan sekarang ini. Maka kau bisa apa? Bahkan ketika Sayyid Junaid, suami Sayyidah, mulai berani mencolek-colek pinggulmu, kau pun tak bisa berbuat apa-apa.
Sampai datanglah suatu ketika yang celaka. Sayyidah menggelar sebuah pesta besar-besaran di rumahnya. Seluruh tenagamu dikurasnya. Kakimu gemetar melihat keramaian yang begitu mencekam. Dari balik gorden dapur kau lihat para tamu yang mengagungkan pesta dan kesenangan. Orang-orang berhidung panjang dan bercambang tebal, orang-orang berkulit hitam dan berambut kriting, mereka berkumpul melebur dalam tahniah dan tari-tarian. Mereka menyatap kambing guling dan ikan sadil ‘arab seperti srigala lapar. Nasi samin yang kau tanak semalam suntuk, tandas oleh perut mereka.
Seusai pesta, dan tamu-tamu pulang. Kau merangkak membereskan sisa-sisa pesta yang berantakan. Sayyidah pergi mengantarkan saudara jauhnya dan mungkin kembali esok lusa. Tinggalah kau seorang, bersama nenek pikun dan Sayyid Junaid yang tatapan matanya seperti hendak menerkam.
Malam itulah, ketika tiba-tiba Sayyid Junaid memintamu ke kamarnya untuk memijtnya, kau juga tak bisa menolak. Malam itu bisa kau rasakan, kau seperti ayam kecil yang terperangkap dalam liang musang. Benarlah, Sayyid Junaid mulai merayumu. Kau menolaknya, akibatnya kau pun mendapat satu tamparan keras di pipi kananmu. Kau berontak, hendak berlari darinya, dengan cekatan pula lelaki arab bernafsu kuda itu merengkuhmu, melumatmu dalam tarian-tarian menyeramkan. Semenjak itu, malam-malam tua telah menjadi seteru yang menyematkan luka abadi dalam lubuk dadamu. Seperti lolongan rase gunung, setiap malam kau memperpanjang tangismu sambil mencakar wajahmu sendiri. Ngilu.
“Telah tersemat ribuan jarum dalam ketubanku. Aku musafir asing yang kehilangan kaki. Lantas musti bagaimana aku meneruskan mimpi. Luka ini terlampau mendarah daging, rasanya waktu pun tak akan mampu menyembuhkannya. Ini memang tak lebih sakit dari mati, tapi ini lebih buruk dari mati.” Cercaumu, pilu.
***
Petang itu, ketika rumah Sayyidah sepi kau berjingkat meninggalkan perempuan tua yang tergolek di kasur bersama kotorannya sendiri itu. Kau benar-benar sudah tak tahan. Kau berjingkat membawa beberapa helai pakaian yang kau bungkus dalam kain jarit milik nenekmu. Kau cek setiap penjuru pintu. Semua terkunci rapat. Kau berpikir, mereka memang sengaja memasungmu. Kau pun tak pendek akal. Kau turun lewat balkon samping dengan beberapa utas kain yang kau kaitkan jadi temali. Kau sudah seperti buronan yang hendak kabur dari bui. Tak kau pikirkan, kau tak membawa bekal atau uang sepeserpun. Ah, barangkali gejolak badai di bathinmu mengalahkan rasa lapar.
Lihatlah! Di tanah gharib itu kau jadi gelandangan. Ayunan langkahmu selalu gontai musabab lututmu yang selalu gemetar menahan beratnya beban yang kau pikul seorang diri. Perutmu juga terasa melilit dan panas. Kepalamu berat bukan main. Kau mulai suka terbatuk-batuk. Sempurna sudah apa kau cemaskan sejak pertama kali menginjak tanah terik berdebu itu. Kau melanglang serupa orang terusir. Berteman baik dengan trotoar-trotoar dan rasa lapar. Hingga sampailah langkahmu pada bangunan kardus di bawah jembatan Waladhaek yang gagah itu. Di sana kau bertemu dengan Suryani, gadis 17 tahun asal Jombang, yang bernasib sama denganmu atau barangkali lebih buruk. Bisa kau tilik bekas luka memar di jidadnya, juga bekas luka bakar yang menghitam di lengan kirinya. Kabarnya ia kabur karena tak tahan oleh siksaan majikannya. Tak hanya Suryani yang jadi penghuni kolong jembatan angkuh itu. Di sana juga ada Nunung asal Tasikmalaya yang sengaja dibuang majikannya karena memiliki penyakit kulit menjijikan yang konon menular. Ada juga Dwi, Fauziah, dan Jumiati. Semua meiliki kisahnya sendiri-sendiri. Ah, bagimana dengan kisahmu sendiri? Sama mirisnya dengan kisah mereka.
“Mengapa manusia harus lahir ke muka bumi, jika ia tak memiliki hak untuk hidup selayaknya manusia. Dunia memang angkuh.” Bisikmu lembut seperti kabut yang menguapkan aroma racun yang kental.
Begitulah, di kolong jembatan itu kau hidup bersama mereka seperti keluarga. Saling bertukar kata dan saling menghibur. Apa yang mereka makan, itulah yang kau makan. Tapi, selalu saja, ada yang pahit yang membaur bersama hari-harimu, hari-hari kalian. Lihat saja Nunung, tampaknya dia yang paling rapuh menahan beban. Sepanjang siang dan malam yang dilakukanya hanya termenung dan menangis. Badanya kurus karena tak pernah mau makan. Pucat masih tampak di wajahnya meski hampir seluruh kulitnya dipenuhi bintil-bintil merah yang berminyak dan mengelupas. Beberapa kali ia menyalahkan Tuhan yang telah sempurna menyengsarakan hidupnya. Beberapa kali Nunung tampak mengeluhkan rasa perih di ulu hati dan sekujur tubuhnya. Ia menangis tak henti-henti, ingin bertemu dengan ibu-bapak dan sanak keluarganya di kampung halaman. Tapi apa boleh buat. Setelah menangis panjang itu, Nunung tak tampak lagi sampai kau menemukanya terjuntai kaku di tiang rangka jembatan dengan lilitan tambang di lehernya. Ah, haruskah semua ini berakhir memar.
Kau terisak menahan bongkah cadas di dadamu. Kau usap perutmu yang kian hari kian mengembung. Ini salah siapa? Tak ada yang salah. Demi memikirkan semua itu, nyeri di kepalamu kambuh. Badanmu terasa semakin ringkih dan kedinginan.
“Tuhan… kalau memang aku harus mati waktu dekat ini. Jangan biarkan aku mati dalam keterasingan. Izinkan aku mati di pangkuan nenekku, di kampung halamanku.” kau terus terisak sampai suaramu serak dan habis, sampai rasa kantuk yang indah menjemputmu untuk singgah ke alam bawah sadar. Alam di mana mimpi buruk menjadi hal yang lebih indah. Ah, semua mengalir saja seperti air. Kehidupan selalu begitu. Dunia selalu begitu.
***
Kau gagap terbangun di akhir sepertiga malam, kau rasakan badanmu menggigil bukan main, perutmu terasa sangat mual, begitu pula, kepalamu terasa sangat nyeri dan berat. Kau beranjak dari rumah beratap jembatan itu. Kau semakin menggigil. Kedua gigimu bergemeletak menahan dingin. Kau tatap rembulan pucat yang berlayar ke utara menghindari arakan mendung gelap. Sepi. Teman-temanmu masih pada terlelap, terpasung gelap. Sekali lagi kau tengadahkan wajah ke langit lepas. Kau berusaha mengingat seperti apa warna langit di kampung halamanmu. Sama kah? Di kampungmu, pada detik itu, kau akan mendengar alunan tarhim seperti eufoni kramat yang menlengking dari petala langit. Kemudian nenekmu akan membangunkanmu untuk mengambil air wudhu.
Entah mengapa, tiba-tiba dadamu penuh sesak, perasaanmu tidak enak. Mungkin kau terlalu merindukan nenekmu, kampung halamanmu. Rasanya kau ingin tertidur lagi, dan tiba-tiba nenekmu datang dan membenarkan letak selimutmu. Ah, tapi perutmu sangat mual, tenggorokanmu sangat perih dan sesak bagai tercekik, bahkan kau terbatuk-batuk dalam. Ada apa lagi dengan tubuh rapuh ini? Beberapa jenak, kau terbatuk-batuk lagi, semakin dalam. Perlahan kau merasa ada yang meleleh dari lubang hidungmu. Kau menyentuhnya. Kau mendapati cairan kental, warnanya merah pekat. Tak kau pedulikan. Kau merebahkan tubuhmu di atas hamparan rumput kering yang mengembun. Matamu menyimpan cermin yang dapat mengundang kupu-kupu yang terpasung rembulan di atas sana. Kau tersenyum menyapa bintang-gemintang yang kesepian. Tiba-tiba kau merasa seperti tertidur di pangkuan nenekmu.
*Malang, 2009-2010
Catatan
alas = hutan
sayyidah = nyonya
dinar = uang emas
jaddah = nenek
sayyid = tuan
tahnia = tarian sambutan
gharib = asing
eufoni = lagu yang teramat lembut
Minggu, 30 Januari 2011
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Karkono Supadi Putra
Dimuat di Malang Post, 30 Januari 2011
Malam Jumat Pon, Kemukus kembali mementaskan keramaiannya. Beribu manusia beragam asa dari segala penjuru tumpah ruah. Dari yang sekadar mengejar ceria hingga yang mengejar tahta, ngalap berkah. Dari yang menghampiri wisata religi hingga yang menikmati wisata birahi. Dari pejabat yang bergelimang harta hingga kere yang tak punya modal.
Ratih hanya diam, bergayut di daun jendela. Matanya jalang menusuk rembulan yang merekah: purnama nan jumawa. Namun, indah purnama serasa tak berdaya merayunya dalam kilau yang menawan. Dia terpenjara dalam kesepian panjang tak bernama. Merindukan sesosok lelaki idaman yang lama tak juga datang.
“Sudah larut malam, kenapa kamu tidak segera dandan?”
Ratih menoleh ke arah sumber suara, pada Mayang, teman kerjanya yang masih sibuk menyisir rambutnya. Dia sudah rapi dengan make up tebal dan pakaian menggoda.
“Malam ini aku absen. Malas!” jawab Ratih tak bersemangat. Perlahan dia menutup daun jendela, lalu duduk di atas ranjang empuk bersprei merah jambu.
“Aneh. Ini adalah malam yang spesial, Gunung Kemukus begitu ramai dikunjungi orang. Kamu jangan banyak tingkah Tih, ini kesempatan kita untuk meraup uang sebanyak-banyaknya.”
“Mayang, aku kangen dengan Mas Topan. Sudah lama aku menantikan kedatangannya. Tapi...”
“Apa? Kamu jangan gila!”
“Sungguh May, aku benar-benar merindukannya. Sepertinya aku sudah jatuh cinta kepadanya.”
“Simpan saja cintamu itu, Ratih. Manusia seperti kita ini sudah tak layak membicarakan cinta. Kita sudah tidak punya cinta. Lagipula, apa untungnya kamu mencintai Topan, dia hanya pemuda desa yang miskin harta. Ya masih mending kalau Pak Suryo, konglomerat yang menggilaimu itu. Sudahlah, ayo segera dandan, nanti Bu Suri marah-marah,” tanpa menunggu apa jawaban Ratih, Mayang segera berlalu dari kamar, barangkali tamu langganannya sudah menunggu. Sementara itu, Ratih masih terpaku di tempat duduknya. Malam ini dia memang kehilangan gairah untuk keluar kamar menyambut tamu lelaki hidung belang yang mampir di kedai Bu Sumi. Dengan sedikit malas, wanita berambut panjang itu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Namun, belum sempat punggungnya merasai kenyamanan saat beradu dengan kasur, tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Ternyata Bu Suri: sang mucikari.
“Ratih, kamu ini apa-apaan? Mengapa kamu malah enak-enakan tiduran? Lihat, tamu-tamu sudah banyak berdatangan, ayo segera dandan dan menemui mereka!”
“Maaf Bu, malam ini saya kurang enak badan. Saya...”
“Kamu jangan banyak alasan, Tih. Rombongan Pak Suryo sebentar lagi datang, mereka pasti membawa banyak uang. Kamu jangan bikin ibu kecewa, Pak Suryo itu hanya mau sama kamu,” dengan nada suara keras Bu Suri memotong kata-kata Ratih.
“Maafkan saya, Bu. Saya mohon, malam ini saja!”
“Tidak bisa! Kamu harus menemui dan melayani Pak Suryo.”
Menghindari konflik dengan sang mucikari, Ratih pun akhirnya mengalah.
“Iya-ya Bu, sebentar lagi saya dandan,” katanya dengan sedikit kesal. Pak Suryo? Mendengar namanya saja Ratih ingin muntah. Lelaki tua yang kata orang adalah pejabat yang terhormat itu memang sering memberinya banyak uang. Namun, sama sekali Ratih tidak mencintainya. Dan, sebenarnya Ratih juga tak terlalu senang mendapatkan pemberian uang darinya, uang itu paling-paling hasil korupsi, uang rakyat. Meski Ratih tak paham dunia politik, tetapi hatinya merasa sakit jika tahu ada pejabat yang seperti Pak Suryo. Jika dia saja begitu tega membohongi istri dan anak-anaknya, apa tidak mungkin akan lebih mudah untuk membohongi rakyat?
Dalam hati dia masih berharap agar lelaki pujaannya akan datang malam ini: Mas Topan, bukan Pak Suryo.
***
Ratih sudah rapi. Aroma wangi menyeruak dari tubuhnya yang tinggi semampai. Pak Suryo ternyata belum datang. Diam-diam Ratih mempunyai ide untuk keluar kedai. Kontan saja, saat suasana kedai begitu ramai, Ratih mencuri kesempatan untuk hengkang.
Tak ada yang mengetahui kalau Ratih keluar kedai. Ratih seketika membaur dengan keramaian pengungjung Kemukus yang meluber, memenuhi jalan-jalan di objek wisata yang hanya hari-hari tertentu saja ramai dikunjungi orang. Namun, apa yang terjadi dengan Ratih seolah kontras dengan kenyataan yang ada. Dia merasa sepi di tengah keramaian, menangis dalam kegembiraan banyak insan. Aroma kembang setaman, kemenyan, rokok, bahkan alkohol berbaur menjadi satu. Ah, bukankah selama ini aroma itu yang mengakrabiku? Aroma yang pada awalnya tak pernah bisa aku menikmatinya. Semua aku paksa merasuk dalam hidupku, hingga tanpa terasa, aku telah menggumuli semuanya dalam rentang masa lebih dari lima tahun, gumam Ratih dalam hati. Ada yang bergemuruh di dalam dadanya. Ia seperti ingin lari dari dunia yang mengungkungnya selama ini.
Ratih memilih duduk di bawah pohon nagasari tak jauh dari Sendang Ontrowulan, di kaki Gunung Kemukus, sebuah bukit rimbun puluhan kilometer arah utara dari Kota Solo. Di sini lebih sepi dibanding di atas bukit, di puncak Kemukus. Di sana, Pangeran Samodro dan Dewi Ontrowulan dimakamkan, dan hingga kini ramai dikunjungi orang dengan beragam tujuan. Ratih mencoba mengembarakan angan, agar gelisah jiwa sirna. Agar gundah gulana tak lagi menerpa. Sebatang rokok menemaninya melawan hawa dingin, menghangatkan.
Mendadak, ingatannya kembali tertambat pada sosok lelaki tampan yang beberapa waktu ini menyesakki dadanya. Mengisi ruang-ruang kosong khayalnya: Topan. Di tempat ini, terakhir kali dia bertemu Topan. Jika boleh memilih, sungguh dia ingin mengulang masa, memutar waktu. Dia ingin tidak meninggalkan desa dan melarikan diri ke Kemukus ini. Dia ingin mengenal Topan beberapa jeda waktu yang lalu. Lalu bisa merasai indah pernikahan bersamanya, meski tanpa gelimang harta, hidup sederhana, hanya berbekal cinta. Namun, mungkinkah sang waktu sanggup terulang?
“Malam Mbak,... sendirian aja. Bisa menemani saya?” sosok lelaki mamakai kaos hitam tiba-tiba sudah berdiri di depan Ratih. Ratih tak berselera menjawab ajakan lelaki itu.
“Ini sudah malam, tapi saya belum mendapat pasangan. Sayang kan jauh-jauh dari Surabaya terpaksa tak membawa hasil hanya gara-gara tidak lengkap melakukan ritual. Mbak belum ada tamu kan?”
Lelaki itu mendekati Ratih. Ratih gegas bangkit, serasa muak melihat lelaki itu. Ritual? Untuk mencapai mimpi yang didamba, harus berhubungan badan dengan bukan pasangan kita, bukan suami atau istri kita? Logika Ratih tak kuasa mencernanya? Namun, bukankah selama ini hal itu yang selalu bercokol di benak Ratih dan kebanyakan pengunjung Kemukus? Dengan dalih melengkapi ritual, bahkan perbuatan yang sulit dinalar pun menjadi halal dilakukan.
“Ngaca dulu kalau mau ngajak-ngajak orang!” kata Ratih ketus sambil buru-buru berlalu.
“Woo...lonthe[1]!” samar terdengar makian lelaki itu. Ratih tak menggubrisnya. Dia segera berlari, menembus keramaian malam. Bayang-bayang Topan telah membuatnya gelisah, bahkan seperti jengah dengan realita yang sebenarnya telah mengisi hari-hari dalam kehidupannya selama ini.
***
Saat baru saja memasuki kedai Bu Suri, mendadak Ratih menemukan sepasang mata yang menyala di tengah remang cahaya. Darahnya terkesiap, berdesir. Ratih mengenali mata itu. Sepasang mata yang membuat sang waktu pucat pasi di hadapannya. Lalu, dalam beberapa hening jeda, lidah Ratih seperti kelu, tak kuasa memahat kata.
“Ratih, ijinkan aku bicara!” ucap Topan dalam ketergesaan. Serangkum logika spontan Ratih putar. Buru-buru Ratih menggandeng tangan lelaki itu, lalu berjalan tergesa ke samping kedai. Di sini sepi.
“Akhirnya kamu datang, Mas?” tanya Ratih dengan suara pelan. Dia masih gamang dengan kehadiran lelaki pujaannya: antara senang dan serasa tak percaya.
“Ratih, aku menyerah. Aku akui aku tak bisa meninggalkanmu. Aku telah kalah dengan cinta,” kata Topan dengan mata menyorotkan kesungguhan. Ratih lekat memandangi wajah Topan, juga matanya. Dia masih tak percaya dengan apa yang baru saja Topan ucapkan.
“Benarkah, Mas?”
“Iya. Aku sudah mencoba untuk melupakanmu, tetapi gagal. Sekarang kamu ikut denganku. Aku akan ikuti apa saja kemauanmu, yang penting aku bisa selalu bersamamu. Aku juga siap untuk melamarmu. Kamu terlalu indah untuk menjadi kembang di Kemukus ini Ratih. Kamu adalah bidadari, tempatmu bukan di sini.”
Kali ini dada Ratih penuh sesak dengan bunga. Bunga aneka rupa dari negeri yang hanya ada bahgia bertahta di sana. Sudah lama dia ingin pergi dari Kemukus ini, meniti sisa hidup dalam harmoni suami istri, bukan sebagai wanita pemuas nafsu birahi beragam lelaki.
“Mas Topan, bawa aku pergi sekarang juga Mas. Aku ingin hidup bahagia bersamamu, menjadi istrimu yang sah, membina keluarga bahagia.”
Kedua insan itu dirubung serangkum bahagia.
Namun, tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan penuh amarah. Lelaki pemilik mata itu seperti tak kuasa menahan gejolak yang bergemuruh di dalam dada. Api cemburu membakar seluruh rasa dan logikanya.
“Ratih... kamu harus mati, wanita kurang ajar!” sebuah suara menggelegar mengagetkan Ratih dan Topan. Saat pemilik suara itu mendekati keduanya, buru-buru Ratih mengajak Topan menyingkir.
“Siapa laki-laki ini, Tih?” tanya Topan dalam keterkejutan. Ratih dengan cekatan berlari sambil menggandeng Topan.
“Sudahlah Mas, sebaiknya kita pergi. Kita tak cukup punya daya untuk melawan dia. Dia punya segalanya, percuma saja kita meladeninya. Ayo cepat kita pergi dan tinggalkan Kemukus ini!” suara Ratih tersengal beradu dengan nafas yang memburu.
“Iya, tapi dia siapa? Dan kenapa kita harus lari seperti ini?”
“Dia Pak Suryo….”
“Hai..jangan lari…!!! Tunggu!!!”
Meski disergap keterkejutan dan ketidaktahuan akan keberadaan lelaki berkumis tebal dan berperawakan tinggi besar itu, Topan mengikuti saja kata-kata Ratih. Mereka terus berlari, menyelinap mencari jalan menuruni bukit Kemukus.
“Pak Suryo itu siapa?”
“Dia punya banyak uang, dan dengan uang itu dia bisa membuat segalanya menjadi mungkin, termasuk membeli cinta dariku dan itu berarti memisahkan kita berdua.”
Topan baru paham dengan yang telah terjadi setelah mendengar kata-kata Ratih barusan. Setelah itu, Topan kian mempercepat langkah kakinya, lincah menerobos setiap keramaian. Keduanya tak menghiraukan lagi pandangan orang-orang di sekitar, juga rasa lelah yang mendera.
Sementara, lelaki yang tak lain adalah Pak Suryo itu pun menyerah.
“Kamu boleh pergi Ratih, tetapi aku akan selalu mendapatkan Ratih-Ratih yang lain… Hahahaha…dasar bocah bodoh…”
Footnote:
[1] Pelacur dalam bahasa Jawa.
Dimuat di Malang Post, 30 Januari 2011
Ratih hanya diam, bergayut di daun jendela. Matanya jalang menusuk rembulan yang merekah: purnama nan jumawa. Namun, indah purnama serasa tak berdaya merayunya dalam kilau yang menawan. Dia terpenjara dalam kesepian panjang tak bernama. Merindukan sesosok lelaki idaman yang lama tak juga datang.
“Sudah larut malam, kenapa kamu tidak segera dandan?”
Ratih menoleh ke arah sumber suara, pada Mayang, teman kerjanya yang masih sibuk menyisir rambutnya. Dia sudah rapi dengan make up tebal dan pakaian menggoda.
“Malam ini aku absen. Malas!” jawab Ratih tak bersemangat. Perlahan dia menutup daun jendela, lalu duduk di atas ranjang empuk bersprei merah jambu.
“Aneh. Ini adalah malam yang spesial, Gunung Kemukus begitu ramai dikunjungi orang. Kamu jangan banyak tingkah Tih, ini kesempatan kita untuk meraup uang sebanyak-banyaknya.”
“Mayang, aku kangen dengan Mas Topan. Sudah lama aku menantikan kedatangannya. Tapi...”
“Apa? Kamu jangan gila!”
“Sungguh May, aku benar-benar merindukannya. Sepertinya aku sudah jatuh cinta kepadanya.”
“Simpan saja cintamu itu, Ratih. Manusia seperti kita ini sudah tak layak membicarakan cinta. Kita sudah tidak punya cinta. Lagipula, apa untungnya kamu mencintai Topan, dia hanya pemuda desa yang miskin harta. Ya masih mending kalau Pak Suryo, konglomerat yang menggilaimu itu. Sudahlah, ayo segera dandan, nanti Bu Suri marah-marah,” tanpa menunggu apa jawaban Ratih, Mayang segera berlalu dari kamar, barangkali tamu langganannya sudah menunggu. Sementara itu, Ratih masih terpaku di tempat duduknya. Malam ini dia memang kehilangan gairah untuk keluar kamar menyambut tamu lelaki hidung belang yang mampir di kedai Bu Sumi. Dengan sedikit malas, wanita berambut panjang itu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Namun, belum sempat punggungnya merasai kenyamanan saat beradu dengan kasur, tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Ternyata Bu Suri: sang mucikari.
“Ratih, kamu ini apa-apaan? Mengapa kamu malah enak-enakan tiduran? Lihat, tamu-tamu sudah banyak berdatangan, ayo segera dandan dan menemui mereka!”
“Maaf Bu, malam ini saya kurang enak badan. Saya...”
“Kamu jangan banyak alasan, Tih. Rombongan Pak Suryo sebentar lagi datang, mereka pasti membawa banyak uang. Kamu jangan bikin ibu kecewa, Pak Suryo itu hanya mau sama kamu,” dengan nada suara keras Bu Suri memotong kata-kata Ratih.
“Maafkan saya, Bu. Saya mohon, malam ini saja!”
“Tidak bisa! Kamu harus menemui dan melayani Pak Suryo.”
Menghindari konflik dengan sang mucikari, Ratih pun akhirnya mengalah.
“Iya-ya Bu, sebentar lagi saya dandan,” katanya dengan sedikit kesal. Pak Suryo? Mendengar namanya saja Ratih ingin muntah. Lelaki tua yang kata orang adalah pejabat yang terhormat itu memang sering memberinya banyak uang. Namun, sama sekali Ratih tidak mencintainya. Dan, sebenarnya Ratih juga tak terlalu senang mendapatkan pemberian uang darinya, uang itu paling-paling hasil korupsi, uang rakyat. Meski Ratih tak paham dunia politik, tetapi hatinya merasa sakit jika tahu ada pejabat yang seperti Pak Suryo. Jika dia saja begitu tega membohongi istri dan anak-anaknya, apa tidak mungkin akan lebih mudah untuk membohongi rakyat?
Dalam hati dia masih berharap agar lelaki pujaannya akan datang malam ini: Mas Topan, bukan Pak Suryo.
***
Ratih sudah rapi. Aroma wangi menyeruak dari tubuhnya yang tinggi semampai. Pak Suryo ternyata belum datang. Diam-diam Ratih mempunyai ide untuk keluar kedai. Kontan saja, saat suasana kedai begitu ramai, Ratih mencuri kesempatan untuk hengkang.
Tak ada yang mengetahui kalau Ratih keluar kedai. Ratih seketika membaur dengan keramaian pengungjung Kemukus yang meluber, memenuhi jalan-jalan di objek wisata yang hanya hari-hari tertentu saja ramai dikunjungi orang. Namun, apa yang terjadi dengan Ratih seolah kontras dengan kenyataan yang ada. Dia merasa sepi di tengah keramaian, menangis dalam kegembiraan banyak insan. Aroma kembang setaman, kemenyan, rokok, bahkan alkohol berbaur menjadi satu. Ah, bukankah selama ini aroma itu yang mengakrabiku? Aroma yang pada awalnya tak pernah bisa aku menikmatinya. Semua aku paksa merasuk dalam hidupku, hingga tanpa terasa, aku telah menggumuli semuanya dalam rentang masa lebih dari lima tahun, gumam Ratih dalam hati. Ada yang bergemuruh di dalam dadanya. Ia seperti ingin lari dari dunia yang mengungkungnya selama ini.
Ratih memilih duduk di bawah pohon nagasari tak jauh dari Sendang Ontrowulan, di kaki Gunung Kemukus, sebuah bukit rimbun puluhan kilometer arah utara dari Kota Solo. Di sini lebih sepi dibanding di atas bukit, di puncak Kemukus. Di sana, Pangeran Samodro dan Dewi Ontrowulan dimakamkan, dan hingga kini ramai dikunjungi orang dengan beragam tujuan. Ratih mencoba mengembarakan angan, agar gelisah jiwa sirna. Agar gundah gulana tak lagi menerpa. Sebatang rokok menemaninya melawan hawa dingin, menghangatkan.
Mendadak, ingatannya kembali tertambat pada sosok lelaki tampan yang beberapa waktu ini menyesakki dadanya. Mengisi ruang-ruang kosong khayalnya: Topan. Di tempat ini, terakhir kali dia bertemu Topan. Jika boleh memilih, sungguh dia ingin mengulang masa, memutar waktu. Dia ingin tidak meninggalkan desa dan melarikan diri ke Kemukus ini. Dia ingin mengenal Topan beberapa jeda waktu yang lalu. Lalu bisa merasai indah pernikahan bersamanya, meski tanpa gelimang harta, hidup sederhana, hanya berbekal cinta. Namun, mungkinkah sang waktu sanggup terulang?
“Malam Mbak,... sendirian aja. Bisa menemani saya?” sosok lelaki mamakai kaos hitam tiba-tiba sudah berdiri di depan Ratih. Ratih tak berselera menjawab ajakan lelaki itu.
“Ini sudah malam, tapi saya belum mendapat pasangan. Sayang kan jauh-jauh dari Surabaya terpaksa tak membawa hasil hanya gara-gara tidak lengkap melakukan ritual. Mbak belum ada tamu kan?”
Lelaki itu mendekati Ratih. Ratih gegas bangkit, serasa muak melihat lelaki itu. Ritual? Untuk mencapai mimpi yang didamba, harus berhubungan badan dengan bukan pasangan kita, bukan suami atau istri kita? Logika Ratih tak kuasa mencernanya? Namun, bukankah selama ini hal itu yang selalu bercokol di benak Ratih dan kebanyakan pengunjung Kemukus? Dengan dalih melengkapi ritual, bahkan perbuatan yang sulit dinalar pun menjadi halal dilakukan.
“Ngaca dulu kalau mau ngajak-ngajak orang!” kata Ratih ketus sambil buru-buru berlalu.
“Woo...lonthe[1]!” samar terdengar makian lelaki itu. Ratih tak menggubrisnya. Dia segera berlari, menembus keramaian malam. Bayang-bayang Topan telah membuatnya gelisah, bahkan seperti jengah dengan realita yang sebenarnya telah mengisi hari-hari dalam kehidupannya selama ini.
***
Saat baru saja memasuki kedai Bu Suri, mendadak Ratih menemukan sepasang mata yang menyala di tengah remang cahaya. Darahnya terkesiap, berdesir. Ratih mengenali mata itu. Sepasang mata yang membuat sang waktu pucat pasi di hadapannya. Lalu, dalam beberapa hening jeda, lidah Ratih seperti kelu, tak kuasa memahat kata.
“Ratih, ijinkan aku bicara!” ucap Topan dalam ketergesaan. Serangkum logika spontan Ratih putar. Buru-buru Ratih menggandeng tangan lelaki itu, lalu berjalan tergesa ke samping kedai. Di sini sepi.
“Akhirnya kamu datang, Mas?” tanya Ratih dengan suara pelan. Dia masih gamang dengan kehadiran lelaki pujaannya: antara senang dan serasa tak percaya.
“Ratih, aku menyerah. Aku akui aku tak bisa meninggalkanmu. Aku telah kalah dengan cinta,” kata Topan dengan mata menyorotkan kesungguhan. Ratih lekat memandangi wajah Topan, juga matanya. Dia masih tak percaya dengan apa yang baru saja Topan ucapkan.
“Benarkah, Mas?”
“Iya. Aku sudah mencoba untuk melupakanmu, tetapi gagal. Sekarang kamu ikut denganku. Aku akan ikuti apa saja kemauanmu, yang penting aku bisa selalu bersamamu. Aku juga siap untuk melamarmu. Kamu terlalu indah untuk menjadi kembang di Kemukus ini Ratih. Kamu adalah bidadari, tempatmu bukan di sini.”
Kali ini dada Ratih penuh sesak dengan bunga. Bunga aneka rupa dari negeri yang hanya ada bahgia bertahta di sana. Sudah lama dia ingin pergi dari Kemukus ini, meniti sisa hidup dalam harmoni suami istri, bukan sebagai wanita pemuas nafsu birahi beragam lelaki.
“Mas Topan, bawa aku pergi sekarang juga Mas. Aku ingin hidup bahagia bersamamu, menjadi istrimu yang sah, membina keluarga bahagia.”
Kedua insan itu dirubung serangkum bahagia.
Namun, tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan penuh amarah. Lelaki pemilik mata itu seperti tak kuasa menahan gejolak yang bergemuruh di dalam dada. Api cemburu membakar seluruh rasa dan logikanya.
“Ratih... kamu harus mati, wanita kurang ajar!” sebuah suara menggelegar mengagetkan Ratih dan Topan. Saat pemilik suara itu mendekati keduanya, buru-buru Ratih mengajak Topan menyingkir.
“Siapa laki-laki ini, Tih?” tanya Topan dalam keterkejutan. Ratih dengan cekatan berlari sambil menggandeng Topan.
“Sudahlah Mas, sebaiknya kita pergi. Kita tak cukup punya daya untuk melawan dia. Dia punya segalanya, percuma saja kita meladeninya. Ayo cepat kita pergi dan tinggalkan Kemukus ini!” suara Ratih tersengal beradu dengan nafas yang memburu.
“Iya, tapi dia siapa? Dan kenapa kita harus lari seperti ini?”
“Dia Pak Suryo….”
“Hai..jangan lari…!!! Tunggu!!!”
Meski disergap keterkejutan dan ketidaktahuan akan keberadaan lelaki berkumis tebal dan berperawakan tinggi besar itu, Topan mengikuti saja kata-kata Ratih. Mereka terus berlari, menyelinap mencari jalan menuruni bukit Kemukus.
“Pak Suryo itu siapa?”
“Dia punya banyak uang, dan dengan uang itu dia bisa membuat segalanya menjadi mungkin, termasuk membeli cinta dariku dan itu berarti memisahkan kita berdua.”
Topan baru paham dengan yang telah terjadi setelah mendengar kata-kata Ratih barusan. Setelah itu, Topan kian mempercepat langkah kakinya, lincah menerobos setiap keramaian. Keduanya tak menghiraukan lagi pandangan orang-orang di sekitar, juga rasa lelah yang mendera.
Sementara, lelaki yang tak lain adalah Pak Suryo itu pun menyerah.
“Kamu boleh pergi Ratih, tetapi aku akan selalu mendapatkan Ratih-Ratih yang lain… Hahahaha…dasar bocah bodoh…”
Footnote:
[1] Pelacur dalam bahasa Jawa.
Selasa, 10 Agustus 2010
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Karkono Supadi Putra
dimuat di Malang Post, 8 Agustus 2010
Aku sendiri tidak mengerti dengan diriku.
Aku tahu jika keadaan yang kini aku alami adalah karena kelemahanku. Karena ketakberdayaanku pada cinta. Sebagai seorang putra mahkota, seharusnya dengan besar hati aku menerima perjodohan itu agar dua kerajaan besar ini bersatu. Sudah seharusnya persoalan asmara tidak aku tempatkan di atas kepentingan kerajaan. Namun, sekali lagi aku katakan; aku sendiri tidak mengerti dengan diriku. Aku tidak bisa membohongi nurani dan logikaku. Aku tidak bisa meninggalkan Anggraini dan juga tidak bisa menikah dengan Sekartaji.
Apakah benar cinta sudah membutakan logikaku?
Langit sempurna terlumuri warna hitam. Malam perlahan merambat, menggantikan senja yang penuh romansa. Rangkaian resepsi pernikahan usai sudah. Suasana istana berangsur sepi seperti semula. Ada beberapa abdi dalem yang terlihat membersihkan sisa janur di beberapa sisi pintu, membenarkan gebyok yang sebelumnya dibuka, dan ada juga yang mengatur kembali posisi gamelan yang tadi digunakan untuk iringan pahargyan.
Ada kelegaan kurasa di sini, di dalam dada ini. Meski sebenarnya begitu lelah, semuanya serasa hilang karena terganti oleh rasa bahgia yang sulit aku lukiskan. Wanita mana tak akan bahgia disunting oleh lelaki yang selama ini menjadi pujaan para wanita. Akulah wanita yang beruntung itu. Aku kini telah sah menjadi istri Panji Inukertapati, putra mahkota yang termat aku cintai.
Saat ini, aku merasa menjadi wanita paling bahgia di dunia.
Bukan permasalahan sakit atau tidak sakit, tetapi lebih pada persoalan harga diri. Dengan dia tidak menerima perjodohan ini, berarti dia lebih memilih perempuan itu daripada diriku. Dia lebih mencintai wanita itu daripada aku. Dan, apakah itu artinya aku kalah menarik dengan wanita itu? Ah, Bagiku itu tidak penting. Yang saat ini ada dalam benakku, aku harus membuat perhitungan dengan lelaki ini. Aku akan tunjukkan pada dia suatu saat nanti, dia akan menyesal karena pernah menolak perjodohan ini.
Aku akan buktikan kata-kataku ini.
Dua pekan sudah berlalu.
Pagi berhias pelangi. Pelangi memang indah karena ia hadir bersama rinai gerimis dan matahari. Gerimis pagi ini seperti tak lelah menusuki bumi. Aku termenung di dekat kolam ikan yang di atasnya ada beberapa lembar daun teratai menjalar. Jarum-jarum gerimis itu jatuh di atas jernih air kolam, membuat bundaran-bundaran kecil melebar silih berganti. Aneka bunga di sekitar kolam terasa begitu segar berseri. Tingkahan gerimis justru mencipta suasana syahdu, indah. Seakan sambut bergayung dengan suasana hatiku saat ini. Hatiku serasa penuh sesak dengan bunga, bunga aneka rupa dari negeri yang hanya ada bahgia bertahta di sana.
“Dinda Anggraini, hari ini aku harus pergi… ada tugas kerajaan yang harus aku tunaikan…” suara yang begitu akrab terdengar di telingaku seketika mengamuk paksa imajinasiku, sedikit membuatku terkejut. Aku menoleh ke arah pemilik suara: suamiku, laki-laki yang kini menemani indah hari-hariku. Walau samar, ada sebentuk bayang yang datang coba mengeja arti senyum manisnya. Gurat wajahnya mengundang rindu dendam yang kupendam dalam balutan kalbu yang menderu. Sorot mata menjelma kilau bening telaga tersinari mentari. Aku terkesima! Bagiku ia lebih dari sekadar kekasih yang tak pernah lelah bawakan kembang setaman ke atas altar pemujaan khusyuk semedhiku. Sosok yang tak akan kasip untuk datang mendendangkan lagu-lagu cinta yang berkelindan dalam ruang-ruang hampa kesepian jiwaku. Selalu hadir tanya dalam sukmaku, serasa tak percaya bahwa dia adalah milikku, suamiku.
”Tapi... bukankah ini masih gerimis... ” jawabku seraya mendekatinya.
”Tidak mengapa Dinda, sebentar lagi juga reda.”
”Kalau begitu, pergilah Kanda, tunaikan tugas kerajaan dengan kesungguhan hati...”
”Aku sangat mencintaimu dan aku berjanji tak akan membelah hatiku menjadi dua. Selalu simpan kata-kataku ini Dinda...” kata suamiku lagi. Beribu kali dia ulang kata-kata itu. Entahlah, sepertinya dia selalu khawatir jika aku meragukannya. Padahal, tanpa dia ucapkan kata-kata itu pun, aku sungguh yakin kalau dia teramat mencintaiku.
”Kanda Panji, aku akan selalu setia menjaga hatiku agar hanya cenderung padamu, bukan pada pria yang lain. Sungguh, sebuah kebodohan jika aku sampai melabuhkan cintaku pada sosok lain selain sosok pria yang begitu menyayangiku ini.”
Setelah mengecup keningku, suamiku pun pergi. Aku mengamatinya sampai kuda yang ditungganginya lenyap ditelan tikungan tembok kerajaan yang tinggu menjulang. Dan, serasa ada yang hilang pada diriku. Ah, mengapa aku jadi khawatir seperti ini? Bukankah cinta Kanda Panji teramat besar padaku? Tidak mungkin dia akan berpaling meninggalkanku. Entahlah, aku melepas kepergian suami dalam suasana gerimis, seperti suasana hatiku yang mendadak gerimis.
Sebenarnya, yang aku khwatirkan bukan pada kesetiaan Kanda Panji. Aku sangat yakin akan kesungguhan cintanya. Namun, bukankah banyak pihak yang tidak menyukai pernikahanku dengan Kanda Panji? Dan, aku harus menyadari sepenuhnya kalau sebenarnya hubungan kami seperti menentang badai.
Mengapa tiba-tiba ada rasa cemas saat aku meninggalkan istriku? Apakah akan terjadi sesuatu pada wanita yang teramat aku cintai itu? Kekhawatiranku ini memang cukup beralasan. Banyak yang tidak setuju aku menikahi Anggraini. Bahkan, pernah ayahandaku terang-terangan menginginkan kematian Anggraini.
”Pernikahan kamu dengan Sekartaji adalah keniscayaan untuk bersatunya kerajaan Jenggala dengan Kediri. Kamu harus pertimbangkan itu, jangan menuruti hawa nafsumu semata. Ingat itu, Panji!” kata-kata ayahanda masih terngiang-ngiang di telingaku.
“Maafkan Panji, Ayah! Bukannya Panji tidak menginginkan Kerajaan Jenggala dan Kediri bersatu, tetapi Panji sungguh tidak bisa meninggalkan Anggraini. Panji mohon dengan sangat Ayah memahami perasaan Panji!”
“Maafkan aku Anggraini… aku hanya menunaikan tugas dari Ayahanda Lembu Amiluhur. Aku tahu bagaimana perasaanmu… aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa…”
“Kakang Brajanata… kalau itu yang Kakang inginkan, dan mungkin juga keinginan semua orang, lakukan Kakang… bunuhlah aku…! Bunuh…!!!”
“Tetapi Anggraini…”
“Tetapi apa? Bukankah ini yang akan membuat kalian semua bahagia? Aku rela menerima semuanya. Aku ikhlas melakukan ini demi Kanda Panji. Agar Kanda Panji tidak senantiasa menjadi tumpuan kesalahan keluarga. Jika ini adalah jalan terbaik… sekali lagi aku ikhlas, Kakang…”
“Maafkan aku Anggraini! Sejatinya, aku juga kasihan padamu… ini bukan kesalahanmu.”
“Aku sama sekali tidak pernah meminta dalam posisi semacam ini, Kakang. Siapa yang ingin menjadi duri dalam daging bagi bersatunya dua kerajaan besar ini. Jujur, jika bukan karena alasan aku tidak ingin menyakiti hati Kanda Panji, sungguh aku juga tidak menginginkan pernikahan ini. Namun, saat aku menyadari betapa besar cinta Kanda Panji pada diriku, aku kembali berpikir dua kali. Tak adakah jalan lain untuk membuat dua kerajaan ini bersatu selain dengan perjodohan itu? Jalan lain yang tidak akan membuat hati lelaki yang teramat aku cintai tersakiti? Maka, aku pun menerima pinangan Kanda Panji karena pernikahan kami adalah kebagiannya. Tetapi kini, sepertinya jalan lain itu benar-benar tertutup rapat. Perjodohan itu adalah kunci satu-satunya…”
“Lantas?” Kakang Brajanata tercengang mendengar penuturanku. Barangkali keputusanku ini mengejutkan, tapi aku tidak punya pilihan.
“Aku rela mati supaya Kanda Panji bisa menikah dengan Dewi Sekartaji.”
“Mengapa kamu sampai berpikiran seperti itu?”
“Biarlah sejarah yang mencatat dalam buku putihnya. Dan kau Kakang Brajanata, sebagai saksinya bahwa kematianku adalah sebagai bukti kecintaanku pada Kanda Panji. Jika aku mati, Kanda Panji tidak akan terbayangi oleh rasa bersalah telah menolak perjodohan politis itu selama hidupnya. Dan, aku tahu, perasaan bersalah itu sangat menyiksa. Sekarang, bunuh aku Kakang! Tunaikan tugasmu, Kakang…”
“Anggraini… tapi… apakah ini justru tidak akan membuat Panji terpukul dan sakit?”
“Itu hanya sementara Kakang. Bagiku, mencintai adalah membuat orang yang kita cintai senantiasa bahagia dari waktu ke waktu, meski kebahagiaan itu tidak harus bersama dengan kita. Percayalah, kematianku ini adalah bukti kesucian cintaku. Aku ingin Kanda Panji bahagia dan Kediri dengan Jenggala bisa bersatu.”
“Sungguh mulai hatimu, Anggraini.”
Betapa terkejutnya aku saat aku mendapati tubuh istriku tergolek di atas tanah dan berlumur darah, “Tidaaaakkk… Bangun Dinda Anggraini! Bangun!! Kamu tidak mati kan?”
“Panji… relakan istrimu mati… ini sudah suratan takdir…”
“Tidak! Istriku tidak mati… dia hanya tertidur… tidak, Anggraini tidak mati… Anggraini akan selalu hidup dan menjadi istriku… Tidaaaaaaaaakkkk!!!”
“Panji..tenangkan dirimu!”
“Kakang Brajanata, katakan siapa yang telah tega membunuh Anggraini istriku… katakan Kakang!”
“Panji... aku sendiri sebagai saksi akan ketulusan cinta Anggraini. Istrimu itu benar-benar wanita mulia. Dia rela mati demi kehagiaanmu. Ketahuilah… betapa terkejutnya aku ketika tiba-tiba dengan gesit Anggraini merebut keris yang saat itu terhunus di tangan kananku. Keris itu dengan keras dia tancapkan di dadanya. Darah segar pun mengalir. Dia pun luruh ke bumi. Tubuhnya yang ramping terkapar lemah di atas tanah. Wajahnya justru menyinarkan cahaya terang bak rembulan. Ia meninggal dengan senyuman.”
“Bohong! Kamu pasti yang telah membunuhnya…” aku meragukan kata-kata Brajanata. Cerita itu pasti rekaan dia saja. Tidak mungkin Anggraini nekad seperti itu.
“Sungguh Panji… itulah yang sebenarnya terjadi.”
Aku tidak tahu; aku harus bersedih ataukah bahagia mendengar kabar kematian Anggraini. Aku tidak pernah menginginkan kematian Anggraini. Aku juga tidak berharap untuk menjadi istri Panji. Tetapi, mengapa sudut hatiku yang lain sangat menaruh iba pada Panji. Aku tahu, betapa sakit hatinya kini. Dan, secara tidak langsung, aku turut andil dalam mencipta kesedihan hatinya itu. Aku ingin membuat dia bahagia. Aku ingin menebus segala dosa. Aku ingin mengembalikan senyum ceria yang senantiasa menghias wajahnya. Namun, bagimanakah caranya?
Kasihan sekali dia. Rupanya cintanya yang terlalu besar pada istrinya itu telah memutarbalikkan logikanya. Dia gendong mayat istrinya itu mengikuti langkah kakinya. Dia tidak bisa menerima kenyataan kalau istrinya itu telah meninggal.
“Apakah kamu tidak kasihan pada arwah istrimu, wahai lelaki tampan?” kataku pada lelaki itu. Dia menoleh ke arahku, kelihatan sekali kalau dia terkejut. Dan… betapa mata teduh itu serasa menusuk ulu hatiku. Mata teduh itu menatapku tajam, lama. Serasa tak percaya dengan yang kini terjadi. Tubuhku seketika meriang. Ada keteduhan yang begitu sulit aku gambarkan, dan waktu seakan pucat pasi di hadapannya, menghentikan setiap debaran kata yang ingin terlontar. Aku tidak tahu, mengapa kini ada getaran aneh di dalam dadaku.
“Siapa kamu? Dan apa perlumu mencampuri urusanku?”
“Aku Panji Semirang… Aku hanya kasihan melihat keadaanmu kini. Kamu harus belajar menerima kenyataan, istrimu itu sudah meninggal…”
“Sungguh, aku tidak pernah bisa kehilangan istriku ini. Dia tidak sekadar indah, tetapi dia tak akan terganti…”
“Berjalanlah di atas kenyataan… jangan logikamu terbutakan oleh cinta. Istrimu sudah meninggal. Dia rela mengakhiri hidupnya demi membahagiakanmu…”
Walau baru pertama berjumpa, tetapi mengapa aku merasa mengenal lelaki yang mengaku bernama Panji Semirang ini? Aku menemukan ketulusan dari hatinya. Aneh.
“Sekartaji? Kamu Dewi Sekartaji?”
“Iya ini aku… Sudah teramat lelah aku mengikuti setiap jengkal langkahmu Kakang Panji. Aku kasihan melihat keadaanmu… aku hanya ingin membahagiakanmu… terlepas soal perjodohan itu, tetapi aku kini benar-benar ingin menikah denganmu agar aku benar-benar bisa membuatmu bahagia.”
Ah, Sekartaji. Beri aku waktu. Waktu tiada bisa menyembuhkan luka, tapi penyembuhan luka perlu waktu. Begitu juga bukan waktu yang membuat sebuah kenangan terlupakan, tapi terlupanya kenangan itu memerlukan waktu. Waktu tak membuat dua manusia bersatu dalam cinta, tapi bersatunya dua manusia dalam cinta membutuhkan waktu.
Dan, air mataku ini kian menderas.
dimuat di Malang Post, 8 Agustus 2010
Aku tahu jika keadaan yang kini aku alami adalah karena kelemahanku. Karena ketakberdayaanku pada cinta. Sebagai seorang putra mahkota, seharusnya dengan besar hati aku menerima perjodohan itu agar dua kerajaan besar ini bersatu. Sudah seharusnya persoalan asmara tidak aku tempatkan di atas kepentingan kerajaan. Namun, sekali lagi aku katakan; aku sendiri tidak mengerti dengan diriku. Aku tidak bisa membohongi nurani dan logikaku. Aku tidak bisa meninggalkan Anggraini dan juga tidak bisa menikah dengan Sekartaji.
Apakah benar cinta sudah membutakan logikaku?
***
Langit sempurna terlumuri warna hitam. Malam perlahan merambat, menggantikan senja yang penuh romansa. Rangkaian resepsi pernikahan usai sudah. Suasana istana berangsur sepi seperti semula. Ada beberapa abdi dalem yang terlihat membersihkan sisa janur di beberapa sisi pintu, membenarkan gebyok yang sebelumnya dibuka, dan ada juga yang mengatur kembali posisi gamelan yang tadi digunakan untuk iringan pahargyan.
Ada kelegaan kurasa di sini, di dalam dada ini. Meski sebenarnya begitu lelah, semuanya serasa hilang karena terganti oleh rasa bahgia yang sulit aku lukiskan. Wanita mana tak akan bahgia disunting oleh lelaki yang selama ini menjadi pujaan para wanita. Akulah wanita yang beruntung itu. Aku kini telah sah menjadi istri Panji Inukertapati, putra mahkota yang termat aku cintai.
Saat ini, aku merasa menjadi wanita paling bahgia di dunia.
***
Bukan permasalahan sakit atau tidak sakit, tetapi lebih pada persoalan harga diri. Dengan dia tidak menerima perjodohan ini, berarti dia lebih memilih perempuan itu daripada diriku. Dia lebih mencintai wanita itu daripada aku. Dan, apakah itu artinya aku kalah menarik dengan wanita itu? Ah, Bagiku itu tidak penting. Yang saat ini ada dalam benakku, aku harus membuat perhitungan dengan lelaki ini. Aku akan tunjukkan pada dia suatu saat nanti, dia akan menyesal karena pernah menolak perjodohan ini.
Aku akan buktikan kata-kataku ini.
***
Dua pekan sudah berlalu.
Pagi berhias pelangi. Pelangi memang indah karena ia hadir bersama rinai gerimis dan matahari. Gerimis pagi ini seperti tak lelah menusuki bumi. Aku termenung di dekat kolam ikan yang di atasnya ada beberapa lembar daun teratai menjalar. Jarum-jarum gerimis itu jatuh di atas jernih air kolam, membuat bundaran-bundaran kecil melebar silih berganti. Aneka bunga di sekitar kolam terasa begitu segar berseri. Tingkahan gerimis justru mencipta suasana syahdu, indah. Seakan sambut bergayung dengan suasana hatiku saat ini. Hatiku serasa penuh sesak dengan bunga, bunga aneka rupa dari negeri yang hanya ada bahgia bertahta di sana.
“Dinda Anggraini, hari ini aku harus pergi… ada tugas kerajaan yang harus aku tunaikan…” suara yang begitu akrab terdengar di telingaku seketika mengamuk paksa imajinasiku, sedikit membuatku terkejut. Aku menoleh ke arah pemilik suara: suamiku, laki-laki yang kini menemani indah hari-hariku. Walau samar, ada sebentuk bayang yang datang coba mengeja arti senyum manisnya. Gurat wajahnya mengundang rindu dendam yang kupendam dalam balutan kalbu yang menderu. Sorot mata menjelma kilau bening telaga tersinari mentari. Aku terkesima! Bagiku ia lebih dari sekadar kekasih yang tak pernah lelah bawakan kembang setaman ke atas altar pemujaan khusyuk semedhiku. Sosok yang tak akan kasip untuk datang mendendangkan lagu-lagu cinta yang berkelindan dalam ruang-ruang hampa kesepian jiwaku. Selalu hadir tanya dalam sukmaku, serasa tak percaya bahwa dia adalah milikku, suamiku.
”Tapi... bukankah ini masih gerimis... ” jawabku seraya mendekatinya.
”Tidak mengapa Dinda, sebentar lagi juga reda.”
”Kalau begitu, pergilah Kanda, tunaikan tugas kerajaan dengan kesungguhan hati...”
”Aku sangat mencintaimu dan aku berjanji tak akan membelah hatiku menjadi dua. Selalu simpan kata-kataku ini Dinda...” kata suamiku lagi. Beribu kali dia ulang kata-kata itu. Entahlah, sepertinya dia selalu khawatir jika aku meragukannya. Padahal, tanpa dia ucapkan kata-kata itu pun, aku sungguh yakin kalau dia teramat mencintaiku.
”Kanda Panji, aku akan selalu setia menjaga hatiku agar hanya cenderung padamu, bukan pada pria yang lain. Sungguh, sebuah kebodohan jika aku sampai melabuhkan cintaku pada sosok lain selain sosok pria yang begitu menyayangiku ini.”
Setelah mengecup keningku, suamiku pun pergi. Aku mengamatinya sampai kuda yang ditungganginya lenyap ditelan tikungan tembok kerajaan yang tinggu menjulang. Dan, serasa ada yang hilang pada diriku. Ah, mengapa aku jadi khawatir seperti ini? Bukankah cinta Kanda Panji teramat besar padaku? Tidak mungkin dia akan berpaling meninggalkanku. Entahlah, aku melepas kepergian suami dalam suasana gerimis, seperti suasana hatiku yang mendadak gerimis.
Sebenarnya, yang aku khwatirkan bukan pada kesetiaan Kanda Panji. Aku sangat yakin akan kesungguhan cintanya. Namun, bukankah banyak pihak yang tidak menyukai pernikahanku dengan Kanda Panji? Dan, aku harus menyadari sepenuhnya kalau sebenarnya hubungan kami seperti menentang badai.
***
Mengapa tiba-tiba ada rasa cemas saat aku meninggalkan istriku? Apakah akan terjadi sesuatu pada wanita yang teramat aku cintai itu? Kekhawatiranku ini memang cukup beralasan. Banyak yang tidak setuju aku menikahi Anggraini. Bahkan, pernah ayahandaku terang-terangan menginginkan kematian Anggraini.
”Pernikahan kamu dengan Sekartaji adalah keniscayaan untuk bersatunya kerajaan Jenggala dengan Kediri. Kamu harus pertimbangkan itu, jangan menuruti hawa nafsumu semata. Ingat itu, Panji!” kata-kata ayahanda masih terngiang-ngiang di telingaku.
“Maafkan Panji, Ayah! Bukannya Panji tidak menginginkan Kerajaan Jenggala dan Kediri bersatu, tetapi Panji sungguh tidak bisa meninggalkan Anggraini. Panji mohon dengan sangat Ayah memahami perasaan Panji!”
***
“Maafkan aku Anggraini… aku hanya menunaikan tugas dari Ayahanda Lembu Amiluhur. Aku tahu bagaimana perasaanmu… aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa…”
“Kakang Brajanata… kalau itu yang Kakang inginkan, dan mungkin juga keinginan semua orang, lakukan Kakang… bunuhlah aku…! Bunuh…!!!”
“Tetapi Anggraini…”
“Tetapi apa? Bukankah ini yang akan membuat kalian semua bahagia? Aku rela menerima semuanya. Aku ikhlas melakukan ini demi Kanda Panji. Agar Kanda Panji tidak senantiasa menjadi tumpuan kesalahan keluarga. Jika ini adalah jalan terbaik… sekali lagi aku ikhlas, Kakang…”
“Maafkan aku Anggraini! Sejatinya, aku juga kasihan padamu… ini bukan kesalahanmu.”
“Aku sama sekali tidak pernah meminta dalam posisi semacam ini, Kakang. Siapa yang ingin menjadi duri dalam daging bagi bersatunya dua kerajaan besar ini. Jujur, jika bukan karena alasan aku tidak ingin menyakiti hati Kanda Panji, sungguh aku juga tidak menginginkan pernikahan ini. Namun, saat aku menyadari betapa besar cinta Kanda Panji pada diriku, aku kembali berpikir dua kali. Tak adakah jalan lain untuk membuat dua kerajaan ini bersatu selain dengan perjodohan itu? Jalan lain yang tidak akan membuat hati lelaki yang teramat aku cintai tersakiti? Maka, aku pun menerima pinangan Kanda Panji karena pernikahan kami adalah kebagiannya. Tetapi kini, sepertinya jalan lain itu benar-benar tertutup rapat. Perjodohan itu adalah kunci satu-satunya…”
“Lantas?” Kakang Brajanata tercengang mendengar penuturanku. Barangkali keputusanku ini mengejutkan, tapi aku tidak punya pilihan.
“Aku rela mati supaya Kanda Panji bisa menikah dengan Dewi Sekartaji.”
“Mengapa kamu sampai berpikiran seperti itu?”
“Biarlah sejarah yang mencatat dalam buku putihnya. Dan kau Kakang Brajanata, sebagai saksinya bahwa kematianku adalah sebagai bukti kecintaanku pada Kanda Panji. Jika aku mati, Kanda Panji tidak akan terbayangi oleh rasa bersalah telah menolak perjodohan politis itu selama hidupnya. Dan, aku tahu, perasaan bersalah itu sangat menyiksa. Sekarang, bunuh aku Kakang! Tunaikan tugasmu, Kakang…”
“Anggraini… tapi… apakah ini justru tidak akan membuat Panji terpukul dan sakit?”
“Itu hanya sementara Kakang. Bagiku, mencintai adalah membuat orang yang kita cintai senantiasa bahagia dari waktu ke waktu, meski kebahagiaan itu tidak harus bersama dengan kita. Percayalah, kematianku ini adalah bukti kesucian cintaku. Aku ingin Kanda Panji bahagia dan Kediri dengan Jenggala bisa bersatu.”
“Sungguh mulai hatimu, Anggraini.”
***
Betapa terkejutnya aku saat aku mendapati tubuh istriku tergolek di atas tanah dan berlumur darah, “Tidaaaakkk… Bangun Dinda Anggraini! Bangun!! Kamu tidak mati kan?”
“Panji… relakan istrimu mati… ini sudah suratan takdir…”
“Tidak! Istriku tidak mati… dia hanya tertidur… tidak, Anggraini tidak mati… Anggraini akan selalu hidup dan menjadi istriku… Tidaaaaaaaaakkkk!!!”
“Panji..tenangkan dirimu!”
“Kakang Brajanata, katakan siapa yang telah tega membunuh Anggraini istriku… katakan Kakang!”
“Panji... aku sendiri sebagai saksi akan ketulusan cinta Anggraini. Istrimu itu benar-benar wanita mulia. Dia rela mati demi kehagiaanmu. Ketahuilah… betapa terkejutnya aku ketika tiba-tiba dengan gesit Anggraini merebut keris yang saat itu terhunus di tangan kananku. Keris itu dengan keras dia tancapkan di dadanya. Darah segar pun mengalir. Dia pun luruh ke bumi. Tubuhnya yang ramping terkapar lemah di atas tanah. Wajahnya justru menyinarkan cahaya terang bak rembulan. Ia meninggal dengan senyuman.”
“Bohong! Kamu pasti yang telah membunuhnya…” aku meragukan kata-kata Brajanata. Cerita itu pasti rekaan dia saja. Tidak mungkin Anggraini nekad seperti itu.
“Sungguh Panji… itulah yang sebenarnya terjadi.”
***
Aku tidak tahu; aku harus bersedih ataukah bahagia mendengar kabar kematian Anggraini. Aku tidak pernah menginginkan kematian Anggraini. Aku juga tidak berharap untuk menjadi istri Panji. Tetapi, mengapa sudut hatiku yang lain sangat menaruh iba pada Panji. Aku tahu, betapa sakit hatinya kini. Dan, secara tidak langsung, aku turut andil dalam mencipta kesedihan hatinya itu. Aku ingin membuat dia bahagia. Aku ingin menebus segala dosa. Aku ingin mengembalikan senyum ceria yang senantiasa menghias wajahnya. Namun, bagimanakah caranya?
***
Aku harus meninggalkan kerajaan ini. Aku tak mau lagi berada di sini. Aku akan pergi dan akan membawa Anggraini. Dia tidak mati. ***
Ah, apakah aku sanggup menemuinya dalam keadaan seperti ini? Apakah justru bukan muntahan dendam yang akan dia keluarkan saat melihatku lagi? Akulah cuka yang akan menyiram luka hatinya yang masih menganga. Aku tidak mau membuat dia kian terluka. Ah, aku harus menjadi orang lain untuk dapat mengembalikan senyum manisnya yang kini tercerabut paksa. ***
Dinda Anggraini, biarlah kaki ini terus melangkah tak tentu arah. Biarlah langkah ini yang akan menjadi saksi perjalanan cinta kita. Bangunlah Sayang… engkau sudah terlalu lama tertidur, bangun Sayang… ***
Aku sudah menjadi orang lain, kini aku akan menemuinya.Kasihan sekali dia. Rupanya cintanya yang terlalu besar pada istrinya itu telah memutarbalikkan logikanya. Dia gendong mayat istrinya itu mengikuti langkah kakinya. Dia tidak bisa menerima kenyataan kalau istrinya itu telah meninggal.
“Apakah kamu tidak kasihan pada arwah istrimu, wahai lelaki tampan?” kataku pada lelaki itu. Dia menoleh ke arahku, kelihatan sekali kalau dia terkejut. Dan… betapa mata teduh itu serasa menusuk ulu hatiku. Mata teduh itu menatapku tajam, lama. Serasa tak percaya dengan yang kini terjadi. Tubuhku seketika meriang. Ada keteduhan yang begitu sulit aku gambarkan, dan waktu seakan pucat pasi di hadapannya, menghentikan setiap debaran kata yang ingin terlontar. Aku tidak tahu, mengapa kini ada getaran aneh di dalam dadaku.
“Siapa kamu? Dan apa perlumu mencampuri urusanku?”
“Aku Panji Semirang… Aku hanya kasihan melihat keadaanmu kini. Kamu harus belajar menerima kenyataan, istrimu itu sudah meninggal…”
“Sungguh, aku tidak pernah bisa kehilangan istriku ini. Dia tidak sekadar indah, tetapi dia tak akan terganti…”
“Berjalanlah di atas kenyataan… jangan logikamu terbutakan oleh cinta. Istrimu sudah meninggal. Dia rela mengakhiri hidupnya demi membahagiakanmu…”
***
Walau baru pertama berjumpa, tetapi mengapa aku merasa mengenal lelaki yang mengaku bernama Panji Semirang ini? Aku menemukan ketulusan dari hatinya. Aneh.
***
Sungguh, aku tidak bisa membohongi nuraniku kini. Aku sungguh telah jatuh hati padanya. Aku ingin perjodohan itu benar-benar terwujud. Aku ingin menjadi istrinya. Aku ingin menghapus kesedihannya dan menggantikannya dengan berjuta kebahagiaan. Aku harus mengembalikan jati diriku. ***
“Sekartaji? Kamu Dewi Sekartaji?”
“Iya ini aku… Sudah teramat lelah aku mengikuti setiap jengkal langkahmu Kakang Panji. Aku kasihan melihat keadaanmu… aku hanya ingin membahagiakanmu… terlepas soal perjodohan itu, tetapi aku kini benar-benar ingin menikah denganmu agar aku benar-benar bisa membuatmu bahagia.”
***
Ah, Sekartaji. Beri aku waktu. Waktu tiada bisa menyembuhkan luka, tapi penyembuhan luka perlu waktu. Begitu juga bukan waktu yang membuat sebuah kenangan terlupakan, tapi terlupanya kenangan itu memerlukan waktu. Waktu tak membuat dua manusia bersatu dalam cinta, tapi bersatunya dua manusia dalam cinta membutuhkan waktu.
Dan, air mataku ini kian menderas.
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)
