Tampilkan postingan dengan label FLP Sulsel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FLP Sulsel. Tampilkan semua postingan
Senin, 27 Juni 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen S Gegge Mappangewa

Dimuat di Republika, 5 Juni 2011

MATA mengantuk Ainun langsung terbelalak, tubuh Aimah yang tadi tidur di sampingnya, kini tak ada. Mendadak, jantungnya seperti lepas dari gantungannya. Seperti orang buta, meraba setiap jengkal tempat tidurnya. Dari sudut ke sudut.

“Aimah…. Mah…. Aimah, kamu di mana, Nak?” panggilnya sambil sesekali melongok ke kolong ranjang besinya. Aimah tak ada! Putrinya yang masih berumur tiga tahun itu, masih juga dipanggilnya berkali-kali. Tetap tiada!

Dia teringat perbincangan dengan suaminya tadi pagi.

“Bu, Aimah saya bawa, ya?”

“Jangan mimpi, Pa! Galang sudah kamu telantarkan.”

“Tapi dia kan cari uang.”

“Jadi, Bapak ingin punya anak karena mau menjadikannya binatang perahan? Anak kita masih terlalu kecil untuk dibebani tanggung jawab.”

Mata suaminya yang dari tadi menantangnya, kini tertunduk. Ainun pun merasa dirinya menang. Tapi kini…? Aimah yang baru saja dininabobokan, hilang. Dia yakin, pelakunya adalah suaminya sendiri. Dia keluar menembus malam yang pekat. Berjalan menuju lapangan desa yang kini ditempati pertunjukan komidi putar.

Telah hampir lima tahun, suaminya ikut keliling kampung sebagai pembalap tong edan. Penghasilannya lumayan. Di antara karyawan yang lain, suaminya yang paling tinggi gajinya, sepuluh persen dari seluruh penghasilan. Sedangkan karyawan lainnya yang bertugas di kincir, balon putar, kuda Ramayana, dan ombak asmara, semua hanya mendapat lima persen.

Apalagi, seluruh saweran dari penonton yang menyaksikan aktraksinya, masuk kantong pribadinya. Tapi, di antara karyawan lainnya juga, suaminya yang risiko kerjanya paling tinggi. Ainun pernah menonton pertunjukan suaminya, tapi dia hanya bertahan semenit. Detak jantungnya terpacu hebat, gendang telinganya terasa pecah mendengar deru motor yang sengaja dilepas knalpotnya, meraung, berputar, dan memanjati tong yang tingginya mencapai empat meter.

Dia pernah meminta suaminya berhenti bekerja, tapi mau makan apa? Toh, mati juga! Sebagai orang Bugis, suaminya punya prinsip, lebih baik mati berdarah daripada mati kelaparan. Aib! Dia pasrah saja, karena hidup memang harus diperjuangkan bahkan dipertaruhkan dengan kematian. Hingga suatu saat, suaminya datang mengeluh karena penggemar tong edan mulai berkurang. Gaji pun tak cukup lagi buat makan.

“Ya, dicukupin aja, Pak! Nanti saya yang atur. Apalagi Bapak kan makannya di komidi putar. Saya sih, asal bisa beli susu buat Galang.”

“Atau Galang saya bawa saja, cari uang bersama saya.”

“Cari uang?”

“Maksudku, Galang saya bawa saja. Pemilik komidi putar yang tanggung susu dan makanannya, bahkan pakaiannya.”

Belum diiyakan, suaminya sudah berdiri dan mengumpul pakaian Galang sendiri.

“Ibu nggak usah khawatir, kan ada saya?” kata suaminya, namun belum bisa menghapus cemasnya.

Lebih membuatnya heran, suaminya melarang dia ikut. Suaminya hanya berjanji, akan mengembalikan anaknya sekali sebulan. Saat itu, kebetulan komidi putar sedang pertunjukan di luar kampung. Seperti tertotok, dia mengiyakan saja. Barulah setelah dua hari kepergian suaminya, dia mulai menaruh curiga. Curiga untuk yang pertama kalinya. Selama ini dia memang selalu percaya kata hatinya, bahwa suaminya takkan menyeleweng.

“Suamimu laki-laki kan? Jangan mudah percaya, Ainun! Jangan-jangan dia mengambil anakmu karena dia punya istri simpanan selama ikut komidi putar.”

Tetangganya mulai ikut sumbang saran.

“Suamiku bukan lelaki seperti itu.”

“Ainun, lelaki semakin dipercaya semakin dia berpeluang memperdaya kita. Apa salahnya kamu mengunjunginya di kampung sebelah?”

Ainun pun berangkat. Berat langkahnya terangkat, tapi dia melangkah juga. Di antara keramaian pasar malam, sejenak dia berdiri mematung di dekat panggung tong edan yang sementara mengadakan pertunjukan. Awalnya dia enggan. Dia takut melihat aktraksi maut suaminya, yang terkadang berdiri di atas motor, lepas tangan, sambil mengendarai motornya mengelilingi tong. Benar-benar edan! Tanpa pikir panjang lagi, dia berlari menaiki tangga.

Di tak mengerti, mengapa anaknya bisa ada dalam tong yang di dalamnya sedang mempertunjukkan aktraksi edan? Bagaimana jika motor terjatuh dan menimpa tubuh anaknya yang sedang di lantai tong?

Ternyata Galang dibonceng bapaknya. Tak ada ketakutan sedikit pun di wajah putranya, bahkan sesekali melepas tangan kanannya dari pinggang bapaknya, untuk mengambil saweran yang diberikan pengunjung.

Tepuk tangan riuh, bergemuruh, saat Galang menerima saweran itu tanpa takut, bahkan masih sempat cium jauh untuk pengunjung yang memberinya saweran. Padahal, motor yang dikendarai bapaknya sedang meliuk-liuk, memanjat, dan mengelilingi tong yang berdiameter enam meter.

Batinnya mengutuk perlakuan suaminya yang ternyata menjadikan anaknya pengemis dengan cara lain. Tubuhnya seolah terserang lumpuh layuh. Persendiannya terasa tak kuat lagi. Gravitasinya hilang, dirasakan tubuhnya melambung, saat mata anaknya yang tertuju padanya, seolah tak mengenalnya. Ainun terjatuh. Pingsan. Orang-orang mengerumuninya. Saat siuman, suaminya berada di sampingnya.

“Begitu cara kamu menjaga Galang?” sinis dia.

Galang yang melihat ibunya sudah bisa diajak bicara, langsung mendekat dan memberinya kalimat yang semakin memerihkan hatinya.

“Bu, Galang suka di sini. Saya bisa beli mainan setiap malam,” ucap Galang sambil memperlihatkan mobil-mobilan plastiknya.

“Penonton selalu ingin pertunjukan baru, Bu! Apalagi Galang laki-laki, kelak dia yang akan menggantikan saya.”

“Memang di dunia ini cuma satu pekerjaan? Harusnya Galang disekolahkan!”

“Tapi Galang belum cukup umur kan, Bu?”

“Kalau anak seperti dia sudah bisa cari uang, bebas main tanpa batas di tengah pasar malam, mana mungkin ada minat untuk sekolah lagi?”

Suaminya terdiam, membenarkan kalimat istrinya. Setiap Galang ditanya mau sekolah di mana, jawabnya pasti mau sekolah di lapangan. Galang bahkan tak mau pulang ke rumah. Juga tak mau sekolah. Padahal, usianya sudah memantaskan dia masuk TK. Dia lebih senang hidup di komidi putar, keliling kampung. Setelah Galang dirampas masa depannya, kini Aimah yang jadi sasaran.

***

Tiba di arena pasar malam, langkah Ainun bergegas menuju tong edan yang mulai mempertunjukkan aktraksi mautnya. Deru mesin motor yang memekakkan telinga, seolah tak didengarnya. Malam ini dia harus mengambil putrinya pulang, bukan karena Aimah anak wanita dan tak cocok ikut aktraksi tong edan, tapi karena dia tak ingin anaknya kehilangan masa depan.

“Aimah!” teriaknya dari bibir dinding tong edan yang sedang dipanjati motor.

“Ibu mengenal anak itu?” tanya seorang pengunjung padanya. “Dia baru dilatih. Dulu Galang, kakaknya, juga begitu. Masih takut! Tapi lama-kelamaan, akhirnya jago juga seperti bapaknya,” lanjutnya tanpa menyadari jika dia sedang berhadapan dengan ibu dari anak yang sedang dieksploitasi itu.

“Cukup, Pak! Cukup!” teriak Ainun seperti orang gila.

Dia yakin, telah terjadi sesuatu pada Aimah yang sedang dibonceng dengan tubuh yang diikatkan sarung, menyatu dengan tubuh bapaknya. Di belakang Aimah, Galang berdiri sambil berpegang di pundak bapaknya. Sesekali melambaikan tangan untuk pengunjung. Tentu saja dengan motor yang tetap pawai, melengket di dinding tong bagai reptil.

Galang melihat sosok ibunya berteriak-teriak memanggil Aimah di antara mesin motor yang menderu. Galang langsung membisiki bapaknya. Selintas dia melihat wajah suaminya seperti pencuri yang ketangkap basah dengan barang bukti di tangan. Mungkin merasa bersalah, dia menurunkan motornya ke dasar tong.

Ainun berlari menuruni panggung tong. Tapi saat tiba di pintu tong yang telah terbuka, dia mendapatkan suaminya, panik, mengguncang tubuh Aimah.

“Mengapa dengan Aimah, Pak?”

Suaminya tak pernah menyangka jika akan terjadi sesuatu pada diri Aimah. Tubuh kecil itu tetap kaku. Dingin. Ainun yang menyaksikannya ikut beku. Sayangnya, saat dia siuman, dia tak bisa membawa Aimah pulang. Allah telah duluan membawa Aimah pulang. (*)

Senin, 18 April 2011 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Aida Radar

Dimuat di Berita Pagi Palembang, Ahad 17 April 2011


“Ada apa dengan ayah?”

Demikian benakku tiada hentinya bertanya tentang sikap ayah yang lain dari biasa. Ayah yang tak lagi kurasa seperti ayahku yang dulu. Ia betul-betul berubah. Ketaksamaan sikap ayah yang mengganggu pikiranku ternyata tidak—atau mungkin belum, ditangkap orang-orang rumah lainnya. Mereka jelas tiada tahu menahu akan ke-lain-an sikap ayah yang menjadi kegelisahanku. Ibu saja yang orang paling terdekat ayah, yang kucoba cari alternatif jawaban padanya, hanya mengangkat bahu. Pun begitu dengan Jum, bibi yang telah hidup bersama keluarga kami membantu ibu dalam urusan dapur, juga tak lepas dari bidikan tanyaku yang di akhirnya juga setali tiga uang dengan ibu. Diangkat pula bahunya. Bahkan diikuti gelengan. Tidak tahu pangkat dua pastilah maksudnya.

Perasaan tidak kulihat perubahan dalam diri ayah. Dulu dan sekarang sama saja, tuh!

Ah! Adik lelakiku juga beri pendapat sama ketika kuminta pandangannya. Ugh! Jengkel aku padanya. Bagaimana ia bisa tahu keadaan rumah jika kerja hariannya cuma kelayapan saja?! Menginap di basecamp komunitas motornya hampir tiap malam. Jadi mana bisa perubahan sikap ayah terbaca olehnya. Ah, salah juga aku mau meminta pendapatnya.

“Ayah mengapa bersikap begitu terhadapku, ya?”

Lain apanya, Ria? Dari tadi kauterus curhat tentang sikap ayahmu yang berubah, tapi tidak kau katakan di mana bedanya? Bagaimana saya bisa berpendapat?

Oh astaga! Aku hampir lupa. Gerutuan Dini mengingatkanku kalau belum kuceritakan sebab musabab ayah kubilang berubah sikap. Baiklah, begini ceritanya :

Dulu, sewaktu masih melekat di tubuhku seragam putih biru dan putih abu-abu, hampir tidak pernah aku dilarang ayah keluar rumah. Ikut kegiatan ekskul sampai pulang menjelang maghrib, buat tugas di rumah teman di malam hari, bercuap-cuap dengan sahabat-sahabat hingga tak mengenal waktu, dan aktifitas di luar rumah lainnya; kulakoni tanpa ada batasan waktu yang ayah gariskan padaku. Selama masa itu, tiada ditolaknya izinku untuk berkeliaran di luar dan tidak hidup di dalam rumah. Aku benar-benar berjaya mengatur waktu untuk seabreg kegiatanku.

Namun kini berbeda sudah. Kebebasan masa eSeMPe dan eSeMA itu langsung ditarik kembali oleh ayah dari penguasaanku dan disembunyikannya dalam sebuah sangkar berbentuk ratusan susunan batako yang disisipi hingga dilapisi semen dan pasir 1:5. Yah, di rumah mungil kami itulah ayah kurasa mengungkungi setiap gerak-gerikku. Jangankan berkunjung ke rumah teman hingga tak mengenal waktu, duduk satu jam di rumah tetangga saja, ayah langsung menggunakan hak sangkarnya untuk menarikku pulang.

Dan yang tidak bisa kupahami dari sikap ayah itu, mengapa ia memberi kelonggaran keluar rumah padaku selama masa sekolah eSeMPe dan eSeMA tapi selalu menghalangiku melakukan itu akhir-akhir ini. Dan hal itu berlaku justru ketika aku baru saja pulang dari tempat studi di Makassar. Pasca berhasil menempatkan toga di kepala dan menggamit gelar Sarjana Pendidikan.

Kemarin ba’da sholat Isya, enam hari sesudah kepulanganku dari Makassar, aku berencana ke rumah Dini. Selama lima hari ini aku di rumah terus. Tidak ada yang bisa kukerjakan. Tes seleksi penerimaan pegawai negeri sipil—yang ayah ingin aku mengikutinya, masih akan berlangsung dua bulan lagi. Aku benar-benar suntuk melewati lima hari tanpa kesibukan-kesibukan seperti ketika masa kuliah dulu. Olehnya itu, aku ingin ke rumah Dini yang merupakan teman eSeMA-ku sekedar untuk berbagi cerita. Tentang apa saja untuk mengobati kebosananku di dalam rumah.

Aku berpamitan pergi ke rumah Dini pada ibu yang lagi nonton televisi bersama Jum. Waktu melewati ruang tamu, ayah sedang duduk di sana. Ia sedang membaca koran. Karena tak ingin mengganggu ayah, aku langsung menuju pintu.

“Ria pergi dulu ya, Yah. Assalamu’alaikum.”

“Mau kemana kamu malam-malam begini, Nak?”

Ayah memindahkan wajahnya yang sedari tadi menyeriusi koran dalam genggamannya di pintu keluar tempat aku berdiri dan hendak keluar. Mata di balik kacamata itu menatapiku penuh tajam dan (kurasa) penuh selidik.

“Ng... Anu, Yah. Ria mau ke rumah Dini.”

“Kamu mau ngapain di sana, Nak?”

“Nggak ngapa-ngapain, Yah. Ria hanya pengen ngobrol saja dengan Dini. Ria suntuk di rumah, Yah.”

“Tapi ini ‘kan sudah malam, Nak. Lagipula tidak ada hal penting yang mau kamu kerjakan di sana. Baiknya besok saja kamu ke rumah Dini. Nanti ayah yang akan mengantarmu biar kamu tidak pergi ke mana-mana. Begitu lebih baik, Nak.”

Aku mematung di tempat tanpa kata-kata. Tadinya aku berharap ayah melarangku pergi dengan suara menggelegar dan menghentak. Supaya kalimat-kalimat perlawanan yang telah kususun dalam kamar sebelumnya bisa kugunakan untuk mengritiki pengungkungan ini. Namun ayah tak melarangku dengan nada keras seperti itu. Ia melarangku pergi dengan kemampuannya yang belum akan pernah bisa aku kalahkan. Ia menjadi pemenang atasku dengan ketenangannya dalam berbicara.

Dalam kata-katanya tadi jelas tidak ada kalimat pelarangan langsung untukku. Tapi secara tersirat, terbaca jeli kalau ayah memang mau menggagalkan rencanaku ke rumah Dini. Kemudian, ayah kembali menyeriusi korannya. Sedangkan aku berjalan pelan kembali ke dalam kamar. Tanpa suara.

***

“Mungkin ayahmu khawatir dengan keselamatanmu makanya beliau bersikap begitu, Ri.”

“Khawatir dengan keselamatanku? Keselamatan dari bahaya apa, Din? Aku itu nggak berniat ngapa-ngapain kok di luar rumah. Mengapa ayah mesti khawatir?”

“Ya, mungkin saja ayahmu khawatir ada orang-orang jahat yang menjahatimu kalau kamu keluar rumah sendirian. Zaman sekarang ini ‘kan penjahat bergentayangan di mana-mana lho, Ri.”

“Ah, nggak masuk akal, Din. Aku ini sudah dewasa, Din. Sudah sarjana lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri, InsyaAllah. Dan kalau memang ayah khawatir dengan keselamatanku seperti dengan yang kaubilang, mengapa tidak dari dulu ayah bersikap begitu. Mengapa justru waktu eSeMPe dan eSeMA dulu, aku dilonggarkannya keluar rumah. Padahal seharusnya di masa-masa itulah ayah melarangku keluar rumah. Dan seharusnya, sekaranglah ayah memberiku kebebasan itu karena aku sudah dewasa dan sudah sarjana, Din.”

“Iya juga, ya. Wah! Aku tambah tidak paham dengan jalan pikiran ayahmu, Ri. Ayahku tidak pernah bersikap begitu padaku, sih. Jadi, aku nggak ngerti. ”

“Jangankan kamu, Din, aku saja nggak bisa paham.”

Aku dan Dini terdiam. Kemudian, aku meneguk jus apel yang disuguhkan Dini. Sudah dua jam aku di rumahnya, tepatnya di dalam kamarnya dan kami tak tidak mendapatkan jawaban apapun dari pertanyaanku. Segala sakwasangka kami dari tadi malah membuat kami tambah tidak yakin dan kembali bertanya-tanya dengan perubahan sikap ayah.

***

Aku dan Dini hendak keluar dan jalan-jalan di taman kota siang ini andaikan saja ibu Dini tidak mengetuk pintu kamar dan mengatakan pada kami bahwa ada ayah di luar. Ayahmu datang menjemputmu, Ria, kata ibu Dini.

“Apa?! Ayah datang menjemput?”

Ibu Dini mengangguk. Aku memandangi Dini. Seorang gadis dewasa dan sudah sarjana, dijemput ayahnya di siang bolong seperti ini dan disuruh segera pulang? Aku menemukan kalimat tanya itu di gurat ketakpercayaan Dini. Ah, kalau saat ini bisa kupandangai sendiri wajahku di cermin, mestinya akan aku dapati pula raut wajah Dini di wajahku. Seletah berpamitan pada ibu Dini, aku pun mengambil tasku lalu melangkah keluar kamar. Di depan rumah Dini, ayah sudah menungguku di atas motornya dengan sebuah senyum manis menenangkannya yang tak pernah bisa kulawan.

***

Suara dua orang yang tengah bercerita dan suara televisi dengan volume netral di ruang keluarga, membuat telingaku terjaga dan hingga akhirnya seluruh inderaku ikut terjaga pula. Aku melihat bekerku. Pukul 01.14 pagi yang tertera di sana. Siapa yang ngobrol dan nonton TV di tengah malam begini? Kutajamkan pendengaranku. Dan,

Oh! Itu suara ayah dan ibu.

Aku membuka pintu kamar dengan pelan. Sangat pelan. Derit pintunya bahkan tidak terdengar. Di depan televisi yang menyala aku melihat ibu dan ayah duduk bersebelahan di atas sofa sambil nonton. Posisi mereka membelakangiku karena kamarku tepat di depan televisi itu. Mata ayah tidak lepas dari layar televisi yang tengah menayangkan permainan bolakaki Liga Inggris. Ayah memang sangat hobi dengan sepak bola dan ibu rupanya menemani suaminya nonton permainan olahraga kesukaannya di malam yang telah melewati tengahnya ini. Ketika timing permainan sepakbola babak pertama selesai, ibu membuka suara lagi setelah tadi obrolan mereka sempat terhenti.

“Tadi sore Ria curhat sama ibu, Yah.”

“Curhat? Curhat tentang apa, Bu?”

“Katanya semenjak dia pulang dari Makassar, ayah selalu melarang-larang dia keluar rumah. Dia merasa ayah seperti mengungkunginya di dalam rumah. Mau pergi kemanapun selalu ayah tanyakan: mau pergi ke mana, Ria? Dan kalaupun ayah izinkan dia keluar rumah, palingan dua jam kemudian sudah harus pulang lagi. Bahkan ayah datang menjemputnya seperti tadi siang di rumah Dini.”

Oh, Ternyata keluhanku sore tadi, ibu sampaikan pada ayah malam ini. Aku penasaran apa jawaban ayah. Aku pun melihat reaksi ayah. Beliau hanya diam.

“Kemarin itu Ria nanya sama ibu, Jum, dan Fiqri tentang perubahan sikap ayah. Kami jawabnya ayah tidak berubah. Ayah yang sekarang, sama saja dengan ayah yang dulu. Tapi rupanya kami tidak menyadari itu karena sikap ayah memang tidak berubah pada kami bertiga. Ayah hanya berlaku lain pada Ria saja. Sebenarnya ada apa, Yah? Mengapa ayah melarang Ria keluar rumah? Padahal waktu eSeMPe dan eSeMA dulu, ayah tidak begitu. Ria ‘kan sudah sudah dewasa. Sarjana pula. ‘Kok ayah malah melarang-larang dia keluar rumah? Ada apa, Yah?”

Ayah masih diam sambil menunduk. Lama ayah dikepung laku itu, sampai sejurus kemudian iya berkata,

“Ria itu anak perempuan kita satu-satunya, Bu. Dia sekarang sudah sarjana. Sudah dewasa. Yah, ayah tahu itu. Namun, justru karena dia sudah dewasa dan sudah sarjana itulah ayah harus membatasi kebebasannya keluar rumah seperti dulu. Dia mesti lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, Bu. Harus! Selama masih ada kesempatan, Ria patut berada terus di rumah ini. Ibu tahu mengapa?”

Ibu menggeleng. Aku semakin penasaran. Ayah melanjutkan kalimatnya,

“Ria harus menghabiskan waktunya di rumah selama masih ada kesempatan. Karena kita tidak akan pernah tahu, Bu. Mungkin besok, mungkin lusa, mungkin minggu depan, dan mungkin tak akan lama lagi, seorang lelaki asing akan datang dan akan sesegera membawa anak perempuan kita satu-satunya itu keluar dari rumah ini. Anak perempuan kita satu-satunya itu mungkin akan sesegera menikah, kemudian menjadi istri orang dan meninggalkan kita, Bu.”

Ibu tercekat. Aku juga tercekat. Mata ayah memandang kosong ke arah televisi. Aku menemukan embun bergelantungan di matanya yang memandang kosong itu. Aku beku di belakang celah pintu.

Oh ayah... Begitukah rupanya perubahan sikapmu?

Dan embun di mata ayah akhirnya berpindah di mataku dan di mata ibu, yang tak lama kemudian langsung berubah menjadi rintik-rintik hujan yang terdengar berjatuhan di genteng rumah kami di luar sana.

***

: Untuk para Ayah di seluruh dunia.

Makassar-Kampus Unmuh Malang, di Agustus yang telah tua, 2010.

Senin, 13 Desember 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Aida Radar
Dimuat di Lampung Post, Minggu 12 Desember 2010

TAK ada yang tahu siapa laki-laki tua itu. Dari mana dia berasal dan mengapa dia bisa berada di kampung ini. Orang-orang dewasa di kampung menyebutnya si tua misterius. Sementara anak-anak meneriakinya "O...rang gila...!" Maka, tiada bayangan jejaknya yang bisa kutelusuri. Hanya satu informasi bahwa ia terlihat di kampung sehari sebelum aku mudik dari tempat studi di Kota Daeng*.

Awal kulihat dia keesokan hari setelah tiba di Goto—nama kampungku di Pulau Tidore. Ketika menyusuri jalan setapak diterangi lampu 5 watt yang bersebelahan dengan perkuburan tua; di tengah sayup-sayup lolongan anjing kampung yang memilu, pukul empat subuh; dan di antara semilir angin malam yang menggoyang-goyang daun pala di atas makam-makam itu; kudapati sosoknya.

Sempat aku terhenyak. Kukira dia salah satu makhluk makam tua itu. Bagaimana tidak. Di waktu seperti itu, di pagi yang masih mendengkur, dipastikan belum ada orang kampung yang berseliweran. Semua masih meringkuk di balik selimut hangatnya. Menikmati malam untuk merehatkan tubuh yang sibuk membanting tulang siang tadi.

Dia duduk sendirian di bawah rimbun pohon pala itu. Entah apa yang sedang dia lakukan di sana. Mataku tak bisa menangkap aktivitasnya karena gelap yang menyelimuti. Lagi pula aku tidak bisa berlama di sana. Waktu yang memasuki subuh mendesakku segera mengumandangkan panggilan menghadap Ilahi bagi hamba-Nya. Maka kutinggalkan sosok itu berteman dengan sepi yang memang telah melingkar sedari tadi.

Hingga cakrawala mulai dilumuri kemilau emas di ufuk timur sekembalinya dari peraduan, menjemput pagi dengan perpaduan kesejukan embun di rerumputan, masih setia sosok tua menyendiri di bawah pohon pala itu. Lelaki yang kini dapat kutatapi wajahnya walau tak dari jarak terdekat.

Sebelumnya kukira ia berkepala lima. Tak seperti perkiraan orang sekampung bahwa ia telah menginjak tujuh puluh lebih. Pikirku berewok dan gondrongnyalah yang membuatnya kelihatan tua. Tapi memang begitulah adanya. Wajahnya berkata ia sudah seumuran kakekku yang koliho asal** sebulan lalu dalam usia tujuh puluh tiga tahun. Kakek yang semangat menuntut ilmunya tinggi hingga mengantarnya bersekolah di universitas bergengsi di luar negeri sana. Kakek yang semangat meraih cita-citanya selalu kupanuti. Yang membanggakanku terlahir sebagai cucunya. Sayang nasib baik yang menyambangi kakek sepertinya tidak berpihak pada lelaki tua itu.

Sunyi raut lelaki tua, lusuh, berewokan dan berpakaian kumal itu. Miskin ekspresi. Kuikuti arah tatapannya. Tiga anak berseragam merah putih yang berdiri di sisi jalanlah objeknya. Kemudian sesungging senyum melengkung di bibirnya. Dilanjutkan dengan bahak paling memiris yang pernah kudengar. Tawa yang menyeramkan. Tak lama sesudahnya, mulutnya komat kamit membahasakan hal-hal yang tidak kumengerti. Tangannya sibuk menggaruk-garuk kulit kepalanya. Mungkin mencari gigitan kutu yang membekas.

Diedarkan pandanganya ke sekeliling. Karena tak mau diketahui bahwa dia sedang kuperhatikan, buru-buru kupalingkan wajah dan berjalan menuju rumah. Menjauhinya yang kurasa sedang menatapiku tajam.

***

"Jangan dekati laki-laki tua misterius itu. Dia berbahaya. Tadi pagi dia melempari temanmu, Dani, dengan batu hingga kepala Dani dijahit tujuh. Padahal Dani hanya ingin menanyakan namanya untuk tugas kampusnya. Benar-benar jahat si tua itu. Bibi Ijah sudah melaporkannya ke polisi. Tapi kata polisi laki-laki itu gila. Dan orang gila tidak bisa ditangkap. Cukup menjauh saja dari dia supaya aman. Jadi ingat itu Rahmat! Jangan dekati dia."

Ibu mewanti-wanti saat kuutarakan niat mengakrabi laki-laki itu. Namun karena dijangkiti penasaran akut, kuacuhkan wejangan itu.

***

Di pagi keenam ketika malam perlahan menanggalkan jubah gelap seperempatnya; subuh telah mengakhiri ritual penghambaannya; dan surya siap-siap menjalankan titah merajai siang, pelan kudekati lelaki tua lusuh itu. Begitu tanganku menyentuh pundaknya yang membelakangi, sontak ia berbalik dan merengkuh kerah baju kokoku dengan kasar. Matanya melototiku yang terkejut mendapat sambutan itu.

"Mau apa kamu hah!? Dasar pengkhianat! Berani-beraninya kau muncul di hadapanku!"

Lelaki itu meneriakiku marah. Lantas mendorongku hingga jatuh terjerembab di tanah. Takut dan bingung memenuhi benakku. Ia meneriakiku pengkhianat? Bagaimana bisa jika baru beberapa hari ini aku melihatnya. Kenal saja tidak.

"Saya tidak ada niat jahat pada Anda. Saya hanya...."

Aku yang hendak berdiri tidak jadi berdiri. Kata-kataku terhenti ketika bersitatap dengan matanya yang menurutku sangar dan mengerikan. Mata yang kurasa hendak menelanku hidup-hidup.

Lalu tiba-tiba aku merasa ada kekuatan magnet yang menarikku. Kuat sekali memasuki mata sangar yang sedang melotot itu. Tak lama tubuhku sudah meluncur dalam labirin gelap. Lumayan lama aku meluncur di dalamnya. Sampai kemudian aku terempas di sebuah tempat asing.

Tidak! Tunggu dulu! Tempat itu tidak asing. Aku mengenalinya. Itu gedung kampusku di Makassar. Hanya saja papan nama kampus bukan bertuliskan Makassar melainkan Ujung Pandang. Suasana kampus pun tidak seramai kampus dengan papan nama bertuliskan Makassar. Meski begitu bangunannya yang tua masih kokoh.

Aku terus memandangi papan itu dalam lamun sampai mataku menangkap dari kejauhan dua sosok laki-laki di antara orang-orang yang lalu lalang. Keduanya dilingkupi warna, sementara selain mereka terlihat hitam putih. Bak gambar televisi tak berwarna era tujuh puluhan.

Dua laki-laki itu akrab sekali. Mereka jalan berangkulan dan tertawa bahagia. Sempat kudengar mereka memanggil satu sama lain “sahabatku”. Oh... itu artinya mereka bersahabat. Bisa kusebut sahabat kental. Sahabat yang sudah seperti saudara kandung.

Aku ingin mengenali wajah mereka namun yang tampak hanya seorang saja. Wajah yang satunya lagi samar-samar. Kupusatkan perhatianku pada lelaki yang wajahnya tampak itu. Aku tidak mengenalnya. Namun aku mengenali matanya. Yah... itu mata yang sama dengan mata yang menarikku ke tempat ini. Hanya saja arti sorot keduanya berbeda.

Kemudian aku merasa sekitaranku berputar. Aku seperti berada dalam benda bulat yang diputar-putar. Ketika berhenti aku telah berada di sebuah ruangan remang-remang dengan kepalaku yang malah berputar-putar. Ruangan dua kali tiga itu kukira sebuah kamar indekos mahasiswa. Rak yang dipenuhi buku-buku dan jadwal kuliah menjelaskan itu.

Aku baru menyadari bahwa bukan hanya aku di ruangan itu. Seseorang duduk dan menyembunyikan kepalanya di balik sepasang lutut yang tertekuk di sudut kamar. Sesaat kemudian ia mengangkat wajahnya. Loh! Itu lelaki di kampus tadi? Yang kukenali matanya. Tapi mengapa tak kulihat sorot bahagia dalam matanya seperti tadi. Justru sebaliknya, ada amarah bercampur kekecewaan dan tangis di sana. Ia meremas-remas selembar kertas di tangannya. Lalu ia buang kasar remasan kertas itu sambil berteriak marah.

"Pengkhianaaaaaaaat......! Pengkhianaaaaaaaaat........! Hu...hu...hu..."

Aku tersentak dengan teriakan marah diikuti segukan itu. Aku dekati ia. Duduk di depannya dan memegang pundaknya. Mencoba menenangkan. Namun tanganku tak bisa menyentuh pundaknya. Terasa seperti memegang angin. Rupanya aku ini hanya bayangan. Dan rupanya pula, ia tidak mengetahui keberadaanku. Maka berdirilah aku dan kuraih remasan kertas yang ia buang tadi. Kubaca asal kemarahan lelaki itu.

Maafkan aku sahabatku. Aku tahu aku bersalah padamu. Tapi dengan cara inilah aku bisa mewujudkan impianku. Beda dengan kau yang masih punya kesempatan meraih beasiswa itu di lain waktu karena kecerdasanmu. Sementara aku tak bisa begitu. Maka cara ini kutempuh. Sekali lagi maafkan aku, Sobat.

Aku ternganga dengan isi kertas itu. Astaga! Sebuah pengkhianatan dari sahabat sendiri kah? Oh... betapa hancur hatinya menghadapi kenyataan itu jika begitu adanya. Meski aku tidak tahu apa bentuk pengkhianatannya, iba juga aku melihat lelaki itu. Ketika itu ia menangkap pandanganku. Dan mata amarah penuh kekecewaan itu sekonyong-konyong menarik tubuhku hingga terjungkal di dalamnya. Aku kembali berada dalam labirin gelap dalam waktu lama. Tak lama di depanku muncul cahaya. Aku pun meluncur masuk dalam cahaya itu.

***

Mata itu masih menatapku tajam. Mata dengan sorot amarah penuh kekecewaan yang sama. Mata yang dimiliki lelaki tua gondrong dan dipanggil orang gila oleh anak-anak sekampung.

"Kau sudah lihat semuanya, kan? Kamu sudah tahu pengkhianatan itu, kan? Sahabat yang telah kuanggap seperti saudara kandung merampas hakku. Bahkan berkata Aku masih punya kesempatan di lain waktu. Huh! Tidak tahukah dia kalau untuk biaya kuliah di Ujung Pandang sana saja orang tuaku menjual tanah dan kebun pala hingga tak tersisa? Tidak tahukah dia kalau dengan mendapat beasiswa itu aku bisa melanjutkan kuliah yang terancam putus karena tak ada lagi biaya? Tidak tahukah ia kalau namaku dalam daftar penerima beasiswa yang ia ganti namanya telah menghancurkan hidupku? Dan dia berkata aku masih punya kesempatan lain? Cuih....!"

Napasnya megap-megap mengeluarkan rasa hati yang telah berkarat karena –pikirku—terpendam lama itu. Meski begitu ia tetap menatapiku tajam. Aku mematung di tempat tanpa suara. Bermain dengan keterkejutan dan iba pada lelaki di depanku. Tak berani kupandangi ia.

Lama kami diselimuti diam. Sampai ekor mataku menangkapnya berjalan mendekatiku. Aku ketakutan karena di genggaman tangannya aku melihat sebuah batu. Di jarak duapuluh cm tiba-tiba aku mendengar sebuah bunyi. Dan oh... bunyi itu berasal dari perutnya.

"Aku lapar. Beri Aku makan. Beri aku makan..."

Di antara tatapan menusuk itu ia mengiba. Mengharap belas untuk keroncongan perutnya yang terus bernyanyi ria. Menyirnakan keterkejutanku atas sikap ganasnya yang tiba-tiba melunak. Dan menumbuhkan rasa kasihanku akan kepayahannya.

"Saya tidak bawa makanan sekarang. Kita ke rumah ya? Ibu saya masak nasi goreng. Kita makan nasi goreng sama-sama di rumah saya. Itu di sana rumahnya. Yang bercat biru. Dekat, kan?" kuajak ia menghilangkan laparnya sambil menunjuk rumah orang tuaku.

Ia diam saja. Tidak menggeleng tidak juga mengangguk. Aku salah tingkah dibuatnya. Aku hendak mendekati dan menuntunnya ke rumah. Namun aku masih berjaga-jaga jangan sampai batu di tangannya ia ayunkan padaku. Maka bersitataplah kami dalam diam. Hingga sejurus kemudian ia mengangguk lemah. Batu di tangan ia lepaskan. Ia berjalan mendekatiku dan serak berbisik padaku.

"Aku lapar. Beri Aku makan sekarang."

***

Rumah kelihatan sepi. Ayah dan ibu pasti sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali. Kusuruh lelaki tua itu duduk sebentar di kursi teras. Aku akan mengambil nasi goreng untuk kami berdua. Kemudian makan di teras ini.

"Tunggu di sini ya. Saya ambilkan nasi gorengnya. Kita makan di sini sambil menikmati mawar-mawar ibu saya yang merekah."

Ia tak mengangguk tapi langsung duduk. Matanya merambati setiap bagian teras dan taman bunga kecil di depannya. Kutinggalkan ia dan masuk ke dalam rumah.

Aku mengisi dua piring dengan nasi goreng di atas meja. Satu piring kusendoki hingga menggunung. Itu untuk lelaki tua di depan sana. Kemudian aku menyeduh teh manis hangat. Kubawa sarapan itu dengan nampan ke teras. Baru tiga kali melangkah tiba-tiba...

Prang...!

Aku terkejut mendengar sesuatu seperti kaca pecah. Lalu suara teriakan dan beling yang diinjak-injak. Arah suaranya dari ruang tamu. Segera kutaruh kembali nampan di atas meja makan dan berlari ke depan.

"Pengkhianaaaaa......at! Pengkhianaaaaa......at!"

Itu teriakan lelaki tua lusuh itu. Ia seperti kesetanan. Kakinya berlumuran darah karena menginjak-injak beling bingkai foto yang pecah di lantai. Mulutnya terus meneriaki kata pengkhianat dan menunjuk-nunjuk foto berbingkai pecah itu. Aku terhenti di pintu. Terdiam dan lemas dalam keterkejutan yang sangat. Tahulah aku sekarang. Gambar dalam foto yang sedang diinjak-injak lelaki tua dengan beringas itu adalah dia, sahabatnya, almarhum kakek kebanggaanku.

Tidore-Makassar, Oktober 2009-Juni 2010

Catatan :

* Kota Daeng : Sebutan lain Kota Makassar.

** Koliho asal : Ungkapan orang-orang Tidore ketika mengabarkan seseorang meninggal dunia. Koliho asal artinya kembali ke asal manusia yaitu pada Allah swt.

Minggu, 09 Mei 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Aida Radar
Dimuat di Surabaya Post, 25 April 2010


Kami berdua meng-arca. Hening. Tiada suara yang membuka cakap. Sebenarnya aku hendak jadi orang pertama yang memecah belah hening berdiam diri ini. Namun sesegera kuurungkan. Egoisme keperempuananku rupanya memilih dominan membisu saja. Maka matilah fungsi mulut beserta isinya. Hiruk pikuk warung lalapan tempe penyek di depan kampus putih ini nyatanya tak banyak andil untuk pengaruhi aksi berdiam diriku dan dia.

ampai akhirnya ia tak lagi mematung —mungkin juga mengaku kalah. Aku tahu ia coba mencairkan suasana dengan mulai memenyet pelan-pelan tempe di hadapannya. Dan akhirnya ia juga yang pertama melepas jubah gengsinya untuk berbicara padaku. Meski sekali lagi aku paham bahwa ia sedang berusaha mencairkan suasana.

“Kau tidak campurkan sambalnya? Ntar tidak meresap loh. Tidak enak makan tempe penyet yang sambalnya tidak meresap betul,” ujarnya menatapku sambil menunjuk cobek berisi tempe dan sambal yang ada di hadapanku.

Aku masih diam. Dingin dan beku. Lumayan besar juga kegengsianku. Huh! Biar saja. Ini semua kulakukan supaya ia sadar —aku sedang marah besar padanya. Bahwa aku tidak terima permintaan konyol yang baru beberapa detik lalu ia layangkan padaku. Terlebih ia ungkapkan pada saat sedang merayakan satu semester awal pernikahan kami.

“Ayolah Ratna, jangan begitu. Masa kau mau mendiamkanku seperti ini? Aku tahu apa yang kuminta barusan sangatlah menyakitimu. Tapi aku tidak berdaya. Aku harus bertanggung jawab Ratna. Aku ini ayah dari bayi yang sedang ia kandung sekarang. Dan aku harus melakukannya jika aku mau bayi itu nanti memakai namaku di belakang namanya. Tolonglah. Mengerti posisiku sekarang,” sambungnya putus asa menghadapi keacuhanku.

“Mengerti?! Mengerti kamu bilang kak? Wanita mana kak yang mau mengerti dan membiarkan suaminya pergi selama sebulan menemui wanita lain hah?! Apalagi wanita itu mantan istrinya!”

Amarahku kini berada di ujung paling atas kepala yang mendidih-didih. Emosi yang hampir berhasil kunetralisir tadi, membuncah lagi. Kalimat yang paling tidak ingin kudengar, terus-menerus ia keluarkan tanpa peduli nyala mataku yang segera akan membakarnya. Ingin rasanya kuteriaki dan kuserapahi ia di tempat ini. Biar tak bisa ia mengangkat muka karena menahan malu. Namun, entahlah! Tak kulakukan. Kepalaku masih menyimpan jernih di antara asap hasil bakar-membakar tadi. Walau bagaimanapun ia tetap suamiku.

Bisa kutangkap gerakan kepalanya yang terperangah. Matanya menciut. Seakan tak percaya. Aku yang selama ini dikenalnya lemah lembut dapat berbicara sekeras itu di depannya. Di tempat umum pula.

Hmm! Itu baru kau tahu siapa aku!

“Pokoknya aku tidak mau tahu. Kau tak boleh pergi. Tidak akan pernah. Apa sih maunya wanita itu? Mengapa ia tidak katakan padamu dulu kalau dia tengah mengandung anakmu? Mengapa setelah kalian resmi bercerai dan kau menikahiku selama enam bulan ini baru dia menuntutmu bertanggung jawab?!”

Aku benci sekali wanita itu —aku sengaja menyebutnya ‘wanita itu’ karena tak mau menyebut namanya. Aku tahu rencananya memaksa suamiku menemaninya hingga melahirkan. Ia tentu mau merebut suamiku dariku. Maka kulminasi dari adu emosiku dan laki-laki di hadapanku ini adalah airmataku yang mulai tumpah. Kekuatan terakhir wanita ini kupilih juga untuk menunjukkan betapa sakitnya hatiku. Aku lalu menantang tatapannya padaku. Ingin kutunjukkan bahwa keputusanku tak bisa diganggu gugat. Tidak akan pernah.

“Aku kecewa padamu Ratna. Aku pikir kau akan mengerti karena kau juga seorang wanita. Wanita yang butuh perhatian ayah dari bayi yang dikandungnya. Dari masa kehamilannya hingga melahirkan. Tapi ternyata aku salah. Jiwa keibuan dan keibaanmu rupanya tidak ada sama sekali. Jujur Ratna, aku kecewa padamu.”

Ia meraih ranselnya di atas meja dan melangkah pergi tanpa memandangku. Meninggalkanku sendiri di warung lalapan ini.

“Aku bukan tidak mau mengerti kak. Aku hanya takut kau tidak akan kembali lagi setelah kau bersamanya. Aku khawatir ia akan membuatmu jatuh cinta lagi dan akhirnya kau akan kembali ke pelukannya. Meninggalkanku yang tidak akan pernah bisa memberimu buah hati,” lirihku memandangi sepeda motornya yang telah meninggalkan warung lalapan ini.

***

Aku tidak pulang semalam. Menginap di rumah Dina—sahabatku— kurasa pilihan tepat. Aku butuh ketenangan. Juga, aku belum mau bertemu muka dengan suamiku. Aku butuh waktu untuk keinginannya. Dan pertanyaan yang terus mengiangiku adalah, haruskah kubiarkan ia menemui wanita itu? Egoiskah aku pabila tidak mengizinkannya bertanggung jawab atas bayi dalam perut wanita itu?

Di tengah kegalauan itu, sekoyong-koyong aku terlempar pada kejadian delapan bulan silam. Wanita itu memergokiku sedang candle light dinner dan bermesraan dengan suaminya. Aku memaksa suaminya menceraikannya dan kemudian menikahiku. Aku mengancamnya menjauh dari kehidupan mantan suaminya yang telah resmi menjadi suamiku.

Seketika tubuhku gemetar. Peluh membasahiku di pagi yang masih berembun ini. Aku tiba-tiba merasa betapa jahatnya aku. Betapa tak tahu dirinya. Merebut suaminya dulu dan kini tak merelakan wanita itu sedikit menikmati kebahagiaan ditemani ayah bayi yang dikandungnyanya. Meskipun mungkin hanya sebulan kebahagiaan itu ia kecap.

Maka, haruskah aku mengizinkan suamiku menemaninya?

Belum sempat terjawab pertanyaan itu, seseorang mengetuk pintu rumah temanku.

“Siapa yang bertamu sepagi ini?” Igau temanku setengah sadar dari tidurnya. Ia hendak berdiri tapi kucegah. Biar aku lihat siapa yang bertamu.

Tamu pagi-pagi itu memang dia. Suamiku. Aku tidak perlu kaget karena aku tahu ia akan mencariku di sini. Tampangnya kusut. Pakaian yang ia kenakan pun pakaian semalam.

“Ratna aku tidak akan menemuinya. Aku tidak akan melakukan itu jika kau memang tidak mengizinkannya. Maafkan aku karena telah membuatmu marah.”

Ia kemudian membenamkanku yang kaget di dadanya. Pikirku ia masih akan memintaku mengerti dan mengizinkannya pergi. Aku senang sekali karena ia memilihku ketimbang menemui wanita itu. Namun entah mengapa aku lalu berkata, “Pergilah...”

Pelan kata itu meluncur dari bibirku. Aku melepas rangkulannya. Kudapati ia kaget dengan apa yang didengarnya. Tapi bukan hanya ia yang kaget. Aku pun kaget. Aku heran, entah mengapa kuizinkan ia pergi.

“Apa aku tidak salah dengar Ratna? Kau mengizinkanku menemuinya? Benarkah itu Ratna?”

Aku melihat mentari di hitam bola matanya. Ia memastikan kembali apa yang kuucap tadi. Dan entah mengapa, aku mengangguk lagi.

“Ah... terima kasih Ratna. Terima kasih. Aku tahu kau pasti akan mengerti. Aku tahu itu.”

Ia tertawa renyah dan kembali akan memelukku. Tapi cepat kucegat.

“Tunggu dulu! Jangan senang dulu. Aku memang mengizinkanmu pergi kak. Tapi kau harus berjanji akan segera kembali setelah wanita itu melahirkan. Kau tak boleh berlama-lama di sana. Maukah kau berjanji padaku kak?”

“Tentu saja Ratna. Aku janji. Aku akan segera kembali padamu setelah ia melahirkan,” serunya girang dan langsung memelukku walau masih kucegah.

Aku mungkin wanita terbodoh sedunia. Wanita tertolol. Satu-satunya wanita yang mengizinkan suaminya bersama mantan istrinya selama sebulan. Tapi itulah yang kulakukan. Dan entah mengapa aku merasa lapang telah bersikap begitu.

***

Dua bulan sudah suamiku pergi. Desas-desus beberapa kenalan telah memberitahuku bahwa wanita itu kini jadi ibu. Posisi yang tak mungkin kutempati. Dua bulan bakda pertarungan retorikaku dan ia yang bermuara pada pemberian izinku, suamiku belum juga memenuhi janji di rumah Dina di pagi yang aneh itu. Yah! pagi yang aneh di kala firasatku yakin ini pasti terjadi. Dan pikiran anehku kembali berkata “Ia tak akan mungkin meninggalkan wanita yang mencatut namanya di pangkal nama anak itu dan kembali padaku, wanita yang tidak pernah akan memberinya bahagia itu”.

***

Kala mengunjungi Malang di depan kampus putih dalam imaji.
Makassar, November 2009
Selasa, 16 Maret 2010 by Forum Lingkar Pena

Cerpen Aida Radar

Dimuat di Republika, 14 Maret 2010










BADARUDIN Mahifa! Nama yang tertera di jadwal mata kuliahku. Pengajar salah satu mata kuliah yang aku programkan pada semester itu. Staf dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, tempat aku menitipkan nama di daftar absensi.

Meski namanya Badarudin Mahifa, orang-orang menyapanya Engku Badar. Engku adalah sebutan hormat masyarakat untuk guru laki-laki pada masa itu. Aku tidak punya cukup informasi sampai tahun berapa sebutan Engku digunakan. Badar adalah nama kecilnya. Terkenallah dia Engku Badar.

Pertama kali bertatap muka di kelas, ia kutaksir berkepala tujuh. Itu terlihat dari uban yang mengganti rambutnya, keriput-keriput yang bertebaran di wajahnya, langkah kakinya juga sudah sepelan siput.

Meski penampilan fisiknya menunjukkan tuanya, jangan kira ia seperti dosen-dosen tua kebanyakan. Kepalanya tak botak seperti teman-teman seprofesinya. Rambut putih lebatnya selalu mengilap. Pelan langkah kakinya, tiada pernah membuatnya lambat melakukan sesuatu, termasuk mengajar di kelas. Wajah keriputnya bercahaya setiap ia menengadahkannya. Aku tahu asal cahaya itu. Cahaya itu efek air yang selalu ia basuhkan pada anggota tubuhnya lima kali sehari. Aku sering menjumpainya di masjid kampus setiap waktu shalat.

Setiap bertemu, aku sekadar bertutur sapa. Tiada sedikit keberanianku untuk bercakap banyak. Apalagi sampai berlama-lama mengupas topik. Aku tak pernah berani.

Aku sadar. Aku mahasiswanya yang kurang menonjol di kelas. Walau otak tidak jongkok, intinya aku ini tidak menonjol. Karena aku takut tak mampu merespons apa yang disampaikan, cukup dengan sapa saja, aku puas. Tapi, heran, dia hafal namaku. Selalu memanggilku dengan nama lengkap tanpa cacat.

“Faiz Abdul Rahman. Sudah shalat?” ia selalu bertanya seperti itu.

Ah, bahagianya aku. Walau tidak terlalu aktif di kelas, ia mengenalku, tahu nama lengkapku. Sebagai murid, aku merasa dihargai. Itu artinya ia mengenal semua mahasiswanya. Yang aktivis sampai pasivis kelas berat, semua Engku kenal. Satu lagi yang menurutku menarik darinya: caranya berpakaian. Ia tidak pernah ketinggalan zaman. Selalu modis ditambah cara berpikir yang tidak kuno.

“Walau fisik sudah tua, gaya dan cara berpikir harus tetap muda dan sesuai dengan zaman agar kita tidak ketinggalan. Iya toh? Tapi, ikuti perkembangan zaman yang sesuai kepribadian agama dan bangsa. Selain itu, tinggalkan! Lebih banyak mudharatnya.”

Demikian ia menjawab pertanyaan seorang teman di kelasku mengenai penampilannya.

“Seorang guru adalah panutan. Ia cermin murid-muridnya. Setiap kali murid melihat gurunya, hal pertama yang mereka perhatikan adalah penampilannya. Apakah gurunya berpenampilan baik ataukah awut-awutan? Kesan pertama sesuatu yang sulit dilupakan,” ujar Engku Badar mulai membagi ilmunya.

“Meski di kemudian hari mereka lebih mengenali dan mengetahui seberapa hebatnya guru mereka, tetap saja kesan pertama sulit terlupa. Makanya, sebagai calon guru, porsi penampilan harus mendapat perhatian khusus, di samping ilmu yang kalian miliki. Ingat itu baik-baik,” lanjutnya lagi. Dia berhasil! Guruku yang berdiri di depan kelas itu berhasil membuatku terkesan dengan penampilan pertamanya. Waktu berjalan, ia telah menjadi dosen kesayangan teman-temanku dan tentu saja aku.

***

SABAN Sabtu, ia mengajar di kelasku. Hari-hari lain ruang kelas sepi. Tapi, tidak hari Sabtu. Mahasiswa-mahasiswa—bahkan baru pertama kulihat wajahnya—siaga di kelas. Seperti Sabtu itu.

Seseorang duduk di sampingku hari itu. Sebelumnya, ia menyapaku, lalu memperkenalkan diri.

“Hai, apakah tempat ini ada yang punya?” tanya lelaki itu kepadaku.

“Oh, tidak ada. Tempat ini selalu kosong. Duduk saja,” jawabku.

“Terima kasih. Saya Andi Fauzan. Panggil saja Uja. Mahasiswa konversi semester dua.”

“Saya Faiz Abdul Rahman. Panggil Faiz. Mahasiswa kelas ini.”

Dari perkenalan itu, aku tahu banyak hal tentang Engku. Ternyata, Uja juga pengagum Engku. Sebenarnya, ia memilih ikut kelasku karena ingin diajar Engku. Sebab, dosennya untuk mata kuliah ini bukan Engku. Jadi, ia tidak ikut kelasnya.

Tidak hanya Fauzan yang kukenal di kelas Engku. Sabtu berikutnya, aku berkenalan dengan Doni, mahasiswa satu angkatan di atasku. Sabtu berikutnya lagi, dengan Zulkifli, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Sabtunya lagi, aku berkenalan dengan orang-orang yang berbeda. Selalu orang yang berbeda seterusnya. Rata-rata, mereka beralasan sama ketika kutanya mengapa ikut kelasku.

Dari perkenalan-perkenalan itu, aku mengetahui lebih banyak tentang dosen kesayanganku.

“Engku Badar itu dosen yang cerdas. Beliau banyak mendapat penghargaan karena kecerdasannya. Beliau telah mengajar sejak berumur lima belas tahun.”

“Menurutku, Engku Badar diciptakan untuk menjadi guru. Terbukti, ia sangat hebat dalam urusan itu.”

“Engku Badar itu seorang duda. Istrinya meninggal karena sakit ketika Engku Badar mendapat tugas di luar daerah. Waktu itu, pernikahan mereka baru lima tahun. Mereka tidak memiliki anak. Sepeninggal istrinya, Engku Badar tidak menikah lagi. Ia sangat mencintai istrinya dan merasa bersalah karena tidak menemaninya di saat-saat terakhir. Jadi, sekarang Engku Badar masih tetap sendiri.”

Masih banyak lagi yang aku tahu tentang prestasi-prestasinya. Bahkan, kehidupan pribadinya.

***

SEBENARNYA, tak terpikirkan olehku kuliah di Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Apalagi menjadi guru. Aku hanya mengikuti kemauan orang tuaku yang menginginkanku menjadi guru seperti mereka. Aku jauh-jauh dari kampung untuk obsesi itu. Obsesi orang tuaku.

Karena setengah hati menuntut ilmu di Keguruan, aku kurang suka kuliah selama semester satu dan dua. Aku selalu membayar dan menyelesaikan keperluan administrasi sebelum perkuliahan dimulai. Baik dan tepat waktu. Namun, semua itu kulakukan agar namaku tetap berada di absensi kelasku. Dan, tentu saja guna menyenangkan hati kedua orang tuaku.

Itu tentunya sebelum aku menjadi mahasiswa Engku Badar. Setelah aku berguru dan lulus dari mata kuliah Engku—dengan nilai lumayan untuk mahasiswa kurang menonjol sepertiku—menjadi guru telah tertanam dalam jiwa dan ragaku.

Meski sudah lulus dari mata kuliahnya, Engku tetap guruku. Bukan karena ia kembali jadi dosen mata kuliah yang kuprogramkan semester berikutnya. Tapi, guru tempatku bertukar pikiran. Di semester itu, aku telah menjadi mahasiswa yang lumayan menonjol. Aku sudah memiliki keberanian dan rasa percaya diri yang tinggi. Ah, ya, satu lagi. Aku sudah rajin kuliah. Aku mulai tertarik menjadi guru sepenuh hati. Semua itu anugerah Yang Kuasa melalui Engku Badar.

“Kamu tahu mengapa saya jadi guru, Faiz?” tanya Engku Badar padaku dalam suatu kesempatan usai shalat Zuhur di masjid kampus.

“Pasti karena panggilan jiwa, kan, Engku?” jawabku kembali bertanya.

“Ya, itu salah satunya. Tapi, ada yang lebih mendorong saya mencintai profesi ini. Kamu tahu apa itu?”

Aku menggelengkan kepala.

“Umur 15 tahun, saya membaca sebuah buku. Saya sudah lupa judul buku dan pengarangnya. Tapi, saya sangat ingat sepenggal kalimat yang begitu menginspirasi saya. Hmmm.” Ia menarik napas.

“Guru adalah pekerjaan yang dimuliakan Allah SWT setelah nabi dan rasul-Nya. Begitu bunyi kalimatnya.”

“Guru adalah pekerjaan yang dimuliakan Allah SWT setelah nabi dan rasul-Nya.” Ia kembali mengulangi kalimat itu.

“Karena, guru mempunyai tanggung jawab yang besar: memanusiakan manusia. Ia punya tanggung jawab mengubah watak buruk seseorang menjadi baik. Menjadi guru berarti kamu telah mempersiapkan pahala-pahala jariyah yang akan terus mengalir walaupun kamu telah berpulang ke pangkuan-Nya nanti. Maka, Faiz, beruntunglah kamu terpanggil untuk pekerjaan mulia ini.”

Ia tersenyum dan menepuk pundakku. Aku meresapi setiap kata yang ia nasihatkan. Dalam hati, kutanamkan kuat kata-kata itu.

***

SUDAH seminggu aku tidak bertemu Engku Badar. Di masjid dan tiap-tiap ruang kelas telah kujajaki untuk mencarinya. Aku ingin bertanya sesuatu padanya. Namun, ia tak terdeteksi. Ia menghilang.

Aku coba bertanya di ruang jurusan. Nihil. Mereka juga, tidak tahu. Pihak jurusan juga mencarinya. Engku tidak pernah mengajar seminggu belakangan.

Aku heran. Apa yang terjadi pada Engku? Tidak biasanya ia tidak mengajar tanpa konfirmasi. Jangankan seminggu, sekali absen dalam satu kelas saja hampir tidak pernah. Untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku berencana ke rumahnya sepulang kuliah.

Ketika kembali ke kelas untuk mata kuliah selanjutnya, sebuah kabar meremuk redam hatiku. Tubuhku gemetar.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah meninggal dunia dosen kita, guru kita, ayah kita, pemberi ilmu bagi kita, Bapak Drs Badarudin Mahifa, MPd atau yang biasa dikenal dengan Engku Badar. Beliau berpulang hari ini di Rumah Sakit Umum dalam keadaan belum sadar dari koma akibat kecelakaan yang menimpanya satu minggu yang lalu. Semoga amal dan kebaikan beliau diterima di sisi Allah SWT. Amin.” Informasi itu disampaikan seseorang, tetangga beliau.

Butiran asin bening tak tertahankan lagi. Aku terdiam di tempat. Wajahku pucat. Mata memerah. Semua kenangan bersama Engku tiba-tiba berkelebat dalam memoriku. Semua nasihatnya kembali terngiang.

“Ya, Allah, terimalah Engku di sisi-Mu,” lirihku mencoba mengikhlaskannya.

Kelas yang awalnya riuh kini hening. Semua tertunduk lesu. Kehilangan.

“Pak Faiz, sekarang jadwal mengajar bapak di kelas kami.”

Seseorang membuyarkanku dari lamunan masa lalu. Ia adalah Heriansyah. Mahasiswaku di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada perguruan tinggi tempat aku mengajar kini.

Oh, terima kasih, Heri. Kamu duluan, ya. Nanti, Bapak menyusul,” kataku.

“Iya, Pak.” Ia pun berlalu.

Aku mengambil tas dan perlengkapan mengajarku. Dalam hati, aku berjanji untuk memberikan segala pengetahuan yang kumiliki pada mahasiswa-mahasiswaku. Seperti yang Engku Badar ajarkan padaku ketika aku masih berstatus mahasiswa dulu.

Aku berjalan menuju kelas Heriansyah. Sewaktu melewati sebuah kelas, sebelum ruang kelas mengajarku, aku mendengar seseorang berbicara di kelas itu. Tiba-tiba, langkahku terhenti mendengar apa yang orang itu bicarakan.

“Guru adalah pekerjaan yang dimuliakan Allah SWT setelah nabi dan rasul-Nya. Begitu bunyi kalimat dalam buku tersebut. Guru adalah pekerjaan yang dimuliakan Allah SWT setelah nabi dan rasul-Nya.”

Aku tercekat. Kata-kata itu?

“Engku Badar.” (*)

Aida Radar, anggota FLP Sulsel & LKIM-PENA Unismuh Makassar.

Cerpen ini meraih juara pertama pada lomba penulisan cerpen Pekan Nasional Pers Mahasiswa (PENA EMAS), Universitas Hasanuddin Makassar, November 2009