Tampilkan postingan dengan label FLP Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FLP Bandung. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 Juni 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Wildan Nugraha
Dimuat di Koren Tempo 13 Juni 2010

LAMPU-LAMPU penerang jalanan sudah menyala. Ramah menyambut hujan yang turun tiba-tiba. Mata Dian menatap lekat lampu yang terdekat. Sinarnya kuning berpendar oleh tirai hujan. Sebenarnya ia malas berpikir jika malam tiba, tapi berkat pemandangan itu ia mendongak juga mencari bulan.

Tidak ada. Entah awan, bangunan-bangunan, atau terang kota yang menghalanginya.

Di pinggir jalan Dian duduk menunggu bus yang akan membawanya pulang. Suara hujan mengeras menimpa atap halte. Beberapa orang baru bergabung. Sama-sama menunggu. Ada yang mengobrol berdua atau bertiga. Ada yang kelihatan bicara sendiri dengan telepon genggamnya. Tapi lebih banyak yang seperti Dian. Diam sendirian.

Kembali Dian menatap lampu jalanan itu. Tiangnya kurus dan menjulang. Dayanya besar. Ia seperti kawan setia buat Dian. Ada kalau diperlukan. Tapi hanya di sini, di pinggir jalan tempat ia biasa menunggu bus sepulang kerja.

Dian memikirkan matahari ketika dari arah tikungan muncul bus kota. Orang-orang menengok dan beranjak. Ada yang kembali duduk, ada yang terus berdiri. Dian kembali memikirkan matahari. Kendaraan besar itu bukan bus yang akan ditumpanginya.

Di atas meja di kamar kontrakannya Dian menaruh potret matahari. Fokus gambar sebenarnya bukan padanya, tapi pada orang-orang di puncak bukit itu. Semuanya tersenyum, tapi kamera yang dulu disetel otomatis itu tidak jelas menangkapnya. Dari arah timur sinar terlalu membanjir.

Dian ingat, setelah berfoto semua duduk-duduk menikmati matahari, yang pelan-pelan naik meninggalkan garis cakrawala. Langit di sekitarnya begitu bersih dan laju waktu terlalu pelan untuk dihitung.

Bus kota berlalu menembus hujan. Halte itu kembali lengang. Hanya beberapa orang yang masih menunggu. Semuanya diam. Selain bunyi hujan, segala macam suara jalanan di halte itu terus terdengar.

Mata Dian kembali mencari bulan. Tapi diurungkannya. Lampu jalanan yang seakan tidak pernah padam itu kembali ditatapnya. Dian kemudian teringat pada sebuah pesan pendek yang masuk ke telepon genggamnya. Sudah cukup lama, tapi belum juga dibalasnya. Padahal ia sempat begitu menantikannya.

Di seberang jalan itu terdapat juga sebuah halte. Terhalangi kendaraan-kendaraan yang lewat, Dian merasa tempat itu baru dilihatnya. Mungkin karena lampu neon yang dipasang di bawah atapnya sehingga tempat itu kini lebih terang. Berbeda dengan halte tempatnya menunggu bus sekarang, yang entah kenapa hanya diterangi lampu jalanan dan sorot lampu-lampu kendaraan yang sedang lewat. Ia seakan baru menyadarinya.

Beberapa orang tampak mengobrol di halte seberang itu. Sesekali mereka tertawa berderai-derai. Dian melihat mereka seperti menonton film bisu. Suara hujan dan segala macam bunyi jalanan adalah musik pengiringnya. Salah satu di antara mereka kemudian berdiri agak menjauh. Ia mengangkat tangannya, tampak hendak mengambil gambar dengan kamera telepon genggamnya. Resam wajahnya menimbang-nimbang ringan dan mulutnya memberi aba-aba. Yang lain berkumpul saling merapat dan memasang senyuman.

Dian ikut tersenyum.

Pemandangan yang terhalang-halangi kendaraan lewat itu kemudian hilang oleh badan bus yang merapat di halte seberang jalan itu. Sebentar Dian bertanya di dalam hati, apakah mereka sedang menunggu kedatangan bus yang akan membawa mereka pulang.

Kendaraan besar itu bergerak kembali melanjutkan perjalanannya. Seperti tirai yang bergeser pelan setelah sebentar menyembunyikan panggung tontonan pada sebuah pagelaran teater. Hujan masih turun. Kendaraan-kendaraan terus lewat di depan Dian, di antara kedua halte di pinggir jalan itu. Ada yang melaju pelan-pelan, ada pula yang melesat tergesa-gesa. Lampu-lampu jalanan tetap menyala dengan sinar kuningnya yang berpendar oleh hujan. Sementara bangku-bangku di halte seberang jalan itu kini telah kosong.

Tidak jauh dari halte yang kosong itu, Dian melihat sepasang lelaki dan perempuan sedang berjalan. Si lelaki memegang payung yang melindungi mereka dari hujan. Tangan si perempuan memegang lengan si lelaki. Lelaki itu yang tadi mengambil foto dengan telepon genggamnya di halte seberang jalan itu.

Orang-orang di sekitar Dian beranjak dari duduknya. Dari arah tikungan sebuah bus muncul dan mendekat. Saat berhenti bunyinya terdengar khas seperti lenguh hewan laut yang lucu. Tapi pikiran Dian tidak tergerak untuk menikmatinya. Ia melangkah pasti menuju pintu bus yang membuka pelan-pelan itu. Dibiarkannya kepalanya menerima hujan.

Di atas bus yang berhenti sebentar saja itu, Dian duduk di bangku sebelah kaca jendela. Bulir-bulir air tampak di sisi kaca sebelah luar. Ada bulir-bulir yang diam dihampiri bulir-bulir yang bergerak. Ada yang cepat-cepat, ada yang pelan-pelan seperti ragu-ragu atau penuh perhitungan. Bulir-bulir yang bersatu kemudian turun lebih cepat di permukaan kaca. Meninggalkan gurat-gurat basah sebagai jejaknya.

Dian kembali mendongak mencari bulan di balik kaca jendela yang kini dihiasi bulir-bulir air itu. Meski ia tahu tidak akan menemukannya. Kepalanya dipenuhi oleh dua orang yang berpayung itu, yang tadi, sebentar saja, masih dilihatnya dari atas bus. Mereka ada di antara orang-orang yang tersenyum di dalam foto di atas meja di kamar kontrakannya itu.

Dikeluarkannya telepon genggam dari tas jinjingnya. Dian membuka pesan pendek yang sudah lama masuk itu. Dibacanya sebentar, kemudian dihapusnya. Lelaki yang tadi memegang payung itu tidak perlu menerima balasan pesannya.

Dian tersenyum seulas, berniat pergi ke kantor lebih awal besok pagi. Sebentar saja ia akan naik ke puncak gedung tempatnya bekerja di kota itu. Cahaya matahari yang membanjir dari arah timur setiap pagi itu sudah lama tidak dilihatnya.

Bandung, 7 Juni 2010

Rabu, 30 Desember 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Irfan Hidayatullah
Dimuat di Republika, Minggu, 27/12/2009



Aku di belakang mereka. Sama-sama antre. Bedanya, aku pake dasi, mereka pake seragam satpam. Aku mendengar apa yang mereka perbincangkan. Aku mendengar apa yang meraka inginkan. Aku juga mendengar petugas koperasi itu sedikit tidak ramah menerima mereka. Tapi, aku hanya bisa membayangkan wajah mereka saat berbicara di antara mereka dan berbicara dengan petugas koperasi itu.

Hari ini sebenarnya tidak terlalu sore, bahkan masih jauh dari waktu pulang kerja. Tapi, ruangan ini senja, bahkan seperti akan datang badai. Padahal, aku hanya mendengarkan mereka berbicara, tanpa melihat wajah mereka. Ya, aku di belakang mereka. Sama-sama antre. Bedanya, aku pake dasi, mereka pake seragam satpam.

"Pinjaman sebelumnya masih tersisa lima ratus ribu, Kang. Dan, potongan gaji Akang tidak hanya dari koperasi kan? Tinggal berapa sekarang gaji, Akang?" petugas koperasi itu bertanya retoris dengan nada minor. Dan, tak ada jawaban.

Aku mendengar suara tergeregap dan tak jelas keluar dari mulut satpam pertama. Satpam kedua hanya pasrah menunggu giliran berbincang dengan petugas koperasi yang nyaris judes itu. Petugas koperasi itu cantik sebenarnya, tapi di dahinya menggelayut senja yang sama, bahkan lebih senja dari nada bicara kedua satpam itu.

Hampir lima belas menit mereka tak beranjak dari depanku. Dan, aku sadar bahwa aku sedang antre. Aku di belakang mereka. Aku merasa sama dengan mereka. Sungguh, hanya mereka memakai seragam satpam dan aku pakai dasi.

Begitulah dia tak berdaya dengan kenyataan yang ada. Dia berada di antara mereka. Ibunya dan kedua adiknya yang perlente semua. Ibu mereka selalu mendapatkan tawaran hadiah dari kedua adiknya. Semua akan dikabulkan apa pun bentuk permintaan ibu, bahkan bila ibu meminta naik haji lagi atau sekadar umrah. Namun, anehnya, sang ibu tak pernah meminta apa pun. Ibunya hanya tersenyum padanya. Padanya seorang.

Kini, sang ibu terbujur sakit. Napasnya tinggal satu-satu. Dan, yang ada di depan ibu tua itu bukan kedua adiknya yang perlente itu, tapi dia dengan sayap senyapnya. Saat itu, siang terik di luar sana, tapi senja terpampang jelas di wajahnya, tidak di wajah ibunya yang telah sumerah. Napas satu-satunya berulaskan senyum. Ibaratnya, senja itu telah disaput oleh keindahan lembayung yang berwarna oranye. Matahari yang akan turun ke bawah bumi menyisakan keindahan yang membuat orang yang melihat fenomena tersebut menghela napas dan kemudian mengeluarkan HP masing-masing yang pada umumnya telah berkamera itu. Mereka akan mengabadikan momen pergantian matahari dan bulan itu dengan lega dan penuh keindahan. Namun, tidak dengan senja yang ada di wajahnya.

"Ibu harus segera dirawat di rumah sakit agar segera diambil tindakan medis," ujar laki-laki dengan dahi senja itu pada ibunya yang ternyata masih bisa diajak bicara, tapi menjawab terbata itu.
"Tidak usah, Komar. Biar ibu rela dijemputnya malam ini."
"Ibu mau menunggu mereka agar ibu bisa dibawa ke rumah sakit. Agar ibu bisa dibawa dengan mobil pribadi, padahal saya bisa pinjam mobil tetangga untuk membawa ibu ke sana."
"Jangan bodoh, Komar. Kamu tahu selama ini ibu tak mengharapkan harta mereka karena ibu tahu dari mana harta itu mereka dapatkan. Sudahlah, anakku, ibu sudah siap menunggu saat itu tiba."
"Tidak. Ibu harus ke rumah sakit saat ini juga!" Ia beranjak dengan tergesa.

Kini, giliran satpam kedua berhadapan dengan petugas koperasi itu. Dan, petugas itu tak banyak berkata, selain menyodorkan selembar kertas hasil kotretan. Di sana, tertera Rp 100.000. Si satpam kedua ini hanya mengangguk pasrah seraya menandatangani berkas peminjaman uang walau gaji per bulannya hanya tinggal seratus ribu. Sungguh, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Saat satpam itu berbalik, aku juga melihat senja yang siap badai di sana.

Kini, ketiga kakak beradik itu kumpul di ruang tunggu sebuah rumah sakit. Mereka saling bisu. Wajah sang kakak tak ramah melihat adik-adiknya yang perlente itu baru saja melecehkannya. Sementera itu hiruk pikuk para penunggu dan erangan sakit para pasien kelas tiga seolah satu-satunya suasana yang tercipta.

"Kang, please, buka pikiran kolot Akang. Yang terpenting kesehatan ibu, Kang. Biar ibu dipindahkan ke VIP dan kami yang menanggung biaya itu semua," salah satu adiknya berkata dengan sungguh, lirih, di telinga kanan sang kakak.

"Yang menghendaki ini semua ibu. Aku hanya menuruti kehendak ibu. Jika kalian mampu, silakan lobi ibu agar mengikuti kehendak mulia kalian," kata sang kakak sambil beranjak meninggalkan mereka berdua.

Kedua adik kakak itu saling berpandangan. Beberapa menit kemudian, mereka beranjak menemui sang ibu yang tergolek lemas di salah satu ranjang di antara deretan ranjang yang berpenghuni orang sakit, di antara berbagai erangan dan bau bacin badan orang-orang sakit serta para penunggunya. Para penunggu yang bergeletakan di bawah ranjang besi itu mengipas-kipas badan mereka karena hawa yang memang panas. Beberapa di antara penunggu itu ada yang membacakan Yasiin di telinga pasien yang ditunggunya. Dan, pasien itu megap-megap.

Kedua kakak beradik yang berpakaian perlente itu menghampiri sang ibu dangan wajah yang hampir muntah karena jijik melihat fenomena kelas tiga di rumah sakit itu. Di wajah sang ibu, senyum mengembang menyambut mereka.
"Aku tahu apa yang akan kalian ucapkan, tapi ibu tetap akan seperti ini. Ibu ikhlas."
"Iya. Kami mengerti, Bu. Tapi, mengapa dengan kami? Izinkan kami berbakti kepada ibu dengan harta dan perhatian kami. Mengapa ibu begitu mengandalkan dan--maaf--mengagungkan Kang Komar, padahal kami melihat ia tersiksa dengan beban membiayai kesembuhan ibu. Lagi pula, bagaimana ibu bisa sembuh di ruangan yang kacau seperti ini? Ibu berhak mendapatkan hak yang lebih dari kami berdua. Kami pun berhak mendapatkan pengakuan ibu, kasih sayang ibu, dengan menerima perhatian kami."
"Ah, sudahlah. Ibu hanya mengikuti naluri tua ibu. Sudahlah. Kalian cukup mendoakan ibu. Jika Allah berkehendak menyembuhkan ibu, di kelas berapa pun ibu dirawat, insya Allah akan sembuh."

Kata-kata itu seolah mengunci segala kemungkinan yang bisa diupayakan. Mata sang ibu mulai terpejam, tanda mereka harus meninggalkannya. Ia telah menutup dialog itu. Sang adik kakak dengan pakaian perlente itu meninggalkan sang ibu dengan wajah senja mereka. Senja tanpa saputan lembayung.

"Sudahlah, Dik. Kita sudah berupaya. Apa peduli kita dengan wanita tua yang keras kepala itu dan apa peduli kita dengan si dosen kere yang dianakemaskan ibu kita."

Kini, giliranku berhadapan dengan petugas koperasi itu. Petugas yang cantik sebenarnya, tapi senja bergelayut di matanya. Baru saja satpam kedua telah pergi dengan amplop di tangannya dan seulas senyum getir di wajahnya.

"Wah, kok tumben pake dasi, Pak. Habis nyidang, ya?" sapa petugas koperasi itu berusaha ramah, tapi kejudesannya tak bisa tertutupi.
"Iya, nih, Teh. Anu, saya mau bawa uang pinjaman. Aplikasinya sudah saya isi kemarin."
"Tapi, gaji Bapak akan habis karena potongan bank cukup besar."
Aku tertegun mendengar kalimat terakhir. Aku hanya melemparinya senyum.
"Nggak apa-apa, Teh. Sudah terlalu biasa bagi dosen III b seperti saya. Yang penting kan lancar mengembalikannya. Iya, nggak?"

Dia menengadah melihat televisi di ruang tunggu kelas tiga rumah sakit itu. Televisi 19 inci yang disimpan di dinding atas salah satu sisi ruang tunggu itu. Televisi yang disangkari besi begitu kokoh dengan gembok besar di ujung kanan bawahnya itu. Televisi yang sudah agak buram warnanya itu. Televisi yang sedang mengabarkan ditangkapnya petugas KPK karena diduga menerima suap.
Dan, kini, wajahnya betul-betul senja.
Minggu, 20 Desember 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen M. Irfan Hidayatullah
Dimuat di Pikiran Rakyat 13/12/2009



Seluruh penghuni rumah heboh dengan bau bangkai yang kucium. Padahal aku baru saja sampai rumah setelah hampir satu semester tidak pulang karena sibuk kuliah dan melakukan aktivitas kemahasiswaan lainnya, di antaranya demonstrasi. Tentu saja semua kaget, apalagi saat sekonyong-konyong aku mengajak semua orang di rumah untuk menghentikan segala aktivitas masing-masing selain mencari sumber bau bangkai itu. Ibu, adik-adikku, dan para pembantu kami yang berjumlah sekitar lima orang mendadak ikut heboh.

"Aku di ruang tamu, ibu di kamar, dan adik-adik di kamar masing-masing, Mang Jirin di lantai dua, Bi Munah di dapur, Mang Komar di taman belakang, Bi Asih di ruang tangah, dan Mang Koko di atap! Pokoknya hari ini harus ditemukan di mana sumber bau bangkai itu!" Aku memimpin pencarian. Dan mereka tak ada yang menolak. Kami pun menyebar ke tempat masing-masing untuk mencari sumber bau itu.

Tentu saja aku tahu mereka bingung, tetapi aku lebih bingung lagi karena bagaimana bisa bau bangkai yang menyengat itu tak mengganggu mereka. Kami belum sempat kangen-kangenan. Aku belum sempat memeluk ibu dan mencium tangannya. Adik-adikku juga belum sempat bersalaman dan mencium tanganku. Dan para pembantu yang sangat akrab denganku itu belum sempat bertegur sapa dan bercanda denganku. Bau bangkai di rumah kami mengalahkan itu semua. Namun, anehnya mereka tak mencium bau itu sama sekali.

Ayahku tentu sedang tidak ada. Walaupun hari ini hari Minggu, ia tetap tidak punya waktu untuk keluarga kecuali secara tiba-tiba ia mengajak kami berlibur ke suatu tempat yang tidak kami sangka-sangka. Semuanya disesuaikan dengan tampat pertemuan ayah dengan para kliennya. Ah, walaupun demikian ayah tetaplah pahlawan bagi kami karena dari keringatnyalah kami memiliki rumah besar dan nyaman dan bisa mendapatkan fasilitas hidup yang serba cukup bahkan mewah. Konon, bahkan tidak hanya kami yang ayah buat bahagia, tetapi ribuan orang. Ia mempekerjakan ribuan karyawan di perusahaannya yang memiliki cabang di hampir lima kota di negeri ini. Ah, ayah adalah sosok yang selalu kami rindukan. Ia seperti pahlawan yang fotonya sering ditempel di tembok-tembok sekolah dasar di negeri ini.

Begitu juga saat ini. Aku sedang memandangi fotonya yang tengah bersalaman dengan presiden pada suatu acara kenegaraan. Wajah ayah tidak tampak jelas karena ayah hampir membelakangi kamera. Hanya, kami betul-betul yakin bahwa itu adalah ayah. Itu betul-betul sosok ayah yang kami kenal. Posturnya, caranya membungkuk (ia memang sering membungkuk terutama pada orang yang jabatannya lebih tinggi, apalagi pada presiden), bentuk kepalanya yang lebih besar dari umumnya kepala, dan dari rambutnya yang sudah mulai kelabu. Ah, kami bangga sekali dengan foto ini, dan ibu (atas perintah ayah) selalu menyuruh Bi Asih merawat foto tersebut; membersihkannya dari debu dan mengilatkannya setiap hari. Foto itu memang hampir keramat bagi kami karena sepanjang keturunan, baik dari ayah maupun dari ibu, belum ada yang berkesempatan bersalaman dengan presiden. Betapa bangga kami. Bangga pada segala nikmat yang diberikan-Nya pada kami. Nikmat yang tidak semua orang mendapatkannya. Dan tentu saja, nikmat mempunyai ayah seperti ayah kami yang maju, kaya, dan berwibawa.

Tiba-tiba semua orang yang tengah mencari sumber bau itu sudah ada di belakangku dan semua fokus pada yang kulakukan. Ibu melihatku sambil geleng-geleng kepala, adik-adik berkacak pinggang, para pembantu pada bengong. Kini, aku tengah memegang foto itu dan mencium foto itu dari berbagai sisi dan sudutnya. Dan aku mau muntah. Bau bangkai ternyata bersumber dari foto itu. Dan sesuatu mendesak dari perutku menuju kerongkongan. Aku berlari ke kamar mandi, menyibak semua yang tengah melihat dengan aneh diriku lalu hampir semua isi perutku keluar di kamar mandi. Kepalaku serasa berputar. Rasa enek dari bau bangkai itu betul-betul tak bisa kutahan lagi. Bau bangkai yang baru kurasakan selama hidupku.

Setelah selesai dengan urusan perut, aku kembali ke ruang tamu dan foto itu. Aku melihat semua tengah membaui foto itu, seperti seekor kucing membaui benda yang disangkanya makanan. Namun, mereka saling pandang kemudian. Pandangan mata mereka begitu menyiratkan kepenasaran dan keanehan. Mereka geleng-geleng kepala. Lalu mata mereka melesatkan panah-panah ke arahku. Aku sekonyong-konyong lari ke kamar ayah dan ibu (lebih karena penciumanku menunjukkan bahwa ada sumber baru daripada karena panah pandangan mereka). Namun, bisa juga karena pandangan mereka yang memanah aku ingin segera membuktikan kebenaran tentang bau bangkai itu. Mereka mengejarku.

"Di sini bau bangkai itu semakin kuat, Bu! Ibu tidak menciumnya? Coba Ibu tengok lemari baju, pasti sumbernya di sana."

Tanpa menunggu tanggapan ibu, aku langsung mengobrak-abrik lemari baju. Namun, sebelum ibu angkat bicara memarahiku, dari luar pagar rumah kami mendengar suara klakson mobil ayah yang biasa ia bunyikan setelah memasuki gerbang otomatis rumah kami. Aku pun segera berlari ke bawah dan siap menyambut kedatangan ayah. Semua terasa hiruk-pikuk. Ada suatu yang tidak tentu di rumah kami. Keheranan dan ketidaktahuan menjadi penguasa saat ini. Hanya aku yang merasakan bau itu dan mereka seakan melihatku sebagai orang gila.

Begitulah, ayah sekarang telah berdiri di hadapan kami. Akan tetapi, kami tak bicara sepatah kata pun. Semua senyap, membisu, dan saling menunggu. Beberapa detik, beberapa menit. Dan aku nggak tahan lagi untuk memulainya, tetapi aku enggak sanggup melihat ayah yang pulang dengan kuyu , tak seperti ayah kami sebelum ini. Ia kini hadir sebagai sosok baru yang seolah menyerahkan semua beban tubuhnya ke bumi. Nglumruk, lungrah, dan seperti akan pecah.

"Jangan katakan Ayah terlibat kasus itu, Yah!" ujarku. Ayah diam.

"Maafkan Ayah, Nak... maafkan Ayah...." ia berkata dengan tertunduk. Di matanya tergenang air. Akan tetapi semua senyap, kecuali perutku yang kembali mual dan mendesak untuk dikeluarkan.

Dan aku tak bisa menahannya. Isi perut itu terus-terusan seperti berdemo dan ingin eksis. Ia menjebol dinding pertahananku. Lalu... Brusss... semua sisa isi perutku menyembur tepat di wajah Ayah. Semua menjerit.***

Bumi Sentosa, 11 November 2009
Selasa, 17 November 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Wildan Nugraha
Dimuat Koran Tempo 28/01/2007


AKU ingin melipat sungai ini dan membawanya pulang. Akan kusimpan di kamarku sebagai hiasan di dekat meja belajar. Tapi bukankah kamarku akan dibanjirinya bila sungai ini meluap? Semuanya akan menjadi basah dan, tentu, merepotkan. Maka lebih baik kugelar saja ia di halaman, dekat pagar. Biar kolam ikan di sana menyatu dengannya. Dan ikan-ikan kolam akan menjadi ikan-ikan sungai. Kawanan yang besar jumlahnya. Berenang ke sana-kemari. Ada yang bergerak menantang arus, ada yang menepi sebentar untuk istirah.

Tapi, mana mungkin semua itu?

Aku ingin tertawa, sebab aku bahagia sekali pagi ini. Walau tubuhku menggigil oleh dingin. Padahal di tanganku segelas coklat susu. Asapnya harum mengepul. Aku bisa melihatnya, seperti juga uap napas dari mulutku, sebelum ia menghilang oleh angin. Menyenangkan sekali. Sementara di sekelilingku kabut mengambang tipis. Sebentar aku menengadah dan mendapati langit mulai terang. Awan seperti kapas yang ditata halus dan rapi. Apakah kabut di sekelilingku, asap dari gelasku, dan uap napasku juga akan menjadi awan di langit sana?

Suara sungai kedengaran merdu. Ada juga burung menyanyi-nyanyi, tapi sosok mereka belum terlihat. Sayup-sayup saja kicau mereka. Aku harus berpikir bila ingin melihat mereka. Hanya ada satu yang terbang lalu hinggap di dahan sana, dan tak lama menghilang dari tatapanku. Dia berwarna kuning. Atau cokelat terang? Burung memang penuh teka-teki.

Kini mataku lekat pada sungai di depanku. Menggemuruh suaranya. Suara-suara yang lain seperti muncul di sela-selanya. Juga suara angin yang membuat semua dedaunan menari. Aku pun jadi ingin menari. Dengan iringan suara sungai.

Aku meneguk minumanku. Nikmat dan hangat.

Ayah di seberang sana memakai jaket tebalnya. Begitu juga Kakak. Mereka sedang mengobrol. Sementara Ibu duduk di atas batu, beberapa langkah dari mereka. Dengan matanya tertuju ke arahku, dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Mereka memanggilku. Mereka memanggilku, memintaku bergabung. Dan semua mereka melambai-lambaikan tangan seraya tersenyum lebar-lebar.

Aku harus menyeberangi sungai ini. Tidak terlalu lebar dan tidak terlalu deras. Di beberapa tempat dasarnya kelihatan karena airnya memang begitu jernih. Beberapa batu berukuran besar menyembul. Batu-batu berwarna abu-abu. Itu salah satu warna kegemaran Kakak.

Aku dengar Kakak kembali memanggil namaku. Sementara Ayah mencoba menebak isi kepalaku dan dia berkata aku tidak usah mencopot sepatu, sebab aku bisa berpijak pada batu-batu itu. Padahal bukan itu yang kini kupikirkan.

Aku berbalik dan berjalan menuju tenda. Lalu kembali ke tepi sungai dengan kamera di tangan. Mencari tempat yang tepat dan nyaman, aku bersiap-siap membidik. Sebelum menyeberang aku ingin mengambil foto mereka dari sini. Pasti akan bagus untuk kenang-kenangan. Akan kami bingkai dan kami tempelkan di tembok sepanjang tangga. Menambah foto-foto yang sudah terpajang di sana.

Kulihat mereka di sana jadi ribut dan bersorak-sorak riang. Terlebih-lebih Kakak: keluar juga kenesnya di pagi ini. Mereka mendekat ke batu besar tempat Ibu duduk. Mereka tersenyum, aku tersenyum. Kudekatkan kamera ke mataku.

Aku mengedip-ngedipkan mata beberapa kali di balik kamera. Tapi kutelan kembali aba-aba yang telah siap di mulutku. Dan aku tidak lagi tersenyum. Aku tidak lagi tersenyum karena seketika semua di sekelilingku seolah surut. Semua bunyi seperti menguap. Lewat lubang kamera aku hanya menemukan batu besar itu. Di atasnya tidak ada ibuku yang sedang duduk dan tersenyum. Juga Ayah. Juga Kakak. Kuturunkan kamera, dan semuanya kian hening dan kosong.

Kini kurasakan kakiku mulai bergerak membawa tubuhku menyeberangi sungai. Ke arah mereka berempat. Jelas mereka tidak menyadari kehadiranku. Mungkin mereka keluarga kecil yang sedang berlibur di tepi sungai. Anak kecil itu lucu sekali, wajahnya mengingatkanku akan seseorang.[]
Minggu, 15 November 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen M. Irfan Hidayatullah
Dimuat di Republika 03/02/2008



Hujan sudah hampir satu jam. Deras. Kilat bersusulan dengan geledeg. Tanah seperti ditikam-tikam. Setiap tikaman memuncratkan darah coklat. Jalanan kampung kemudian tergenang, menuju banjir. Ini pagi sebenarnya.

Ya, ini pagi sebenarnya, tapi hujan itu sempurna menutupinya. Ibarat tirai penutup kenyataan. Dan kenyataan adalah ruang di balik tirai itu. Ruang yang betul-betul terpisah denganku saat ini. Tapi ada baiknya. Setidaknya hujan membantuku menghilangkan sekat waktu.

Waktu yang terus memburu. Memburuku dengan pisau mengilat di tangannya. Aku seperti tanah yang ditikam oleh hujan itu selama ini. Namun, tidak untuk saat ini karena hujan yang menikam-nikam tanah itu membantuku.

Ini pagi sebenarnya, tapi kelam. Karena hujan itulah pagi ini jadi kelam. Bahkan jadi mencekam. Tak ada seorang pun keluar rumah. Bahkan mungkin semua meneruskan tidur mereka. Bergabung lagi dengan mimpi-mimpi mereka. Namun, tidak denganku karena aku sepertinya harus merayakan terbunuhnya waktu.

Hujan sudah hampir enam jam. Masih deras. Aku masih merasakan betapa waktu telah kalah dan terbunuh. Mungkin sekarang harusnya sudah siang. Mungkin harusnya sekarang seperti siang kemarin saat aku terpanggang waktu, terbungkus debu. Saat aku tertampar-tampar kesempatan. Saat peluh telah menyatu baju melekatkannya pada tubuh ringkih. Saat aku tersaruk pada putus asa.

"Ini dia sampah!"
"Lebih busuk dari sampah!"
"Tak berguna!"
"Kerja, kek... ngapain, kek."

Hujan sudah hampir enam jam dan aku semakin yakin. Sementara itu, sepertinya yang tertidur sudah bangun. Mereka kini ramai menyelamatkan rumah masing-masing. Rumah yang mulai digenangi air. Rumah yang disatroni air. Rumah yang dikuasai air. Mereka seakan telah tak punya kuasa. Mereka hanya berusaha. Mereka terus mengeduk. Mereka berusaha membendung. Mereka bahkan berusaha berteriak-teriak minta tolong. Hujan terus berlangsung. Deras yang konstan diselingi geledeg.

Begitu pun rumahku, tepatnya, gubukku, telah sempurna dimasuki air dari berbagai jalan. Bocoran dan rembesan telah bermuara di ruang tempatku duduk mematung. Pada tanganku sebilah pisau. Aku telah mengasahnya hampir seminggu. Air itu semula hanya aliran kecil. Semula hanya ngeclak sesekali. Dan aku membiarkannya menjadi bah. Dan aku mempersilahkannya menjadi hujan pada hujan pada langit atapku yang bergayut dan kelabu.

Suara-suara ribut di luar sana tak membuatku bergeming. Aku betul-betul telah bulat memasuki sunyi. Ya, aku akan menyempurnakan sunyi duniaku. Setelah satu persatu manusia yang kukasihi luruh seperti kelopak bunga terbadai hujan deras, layaknya saat ini.

Istriku adalah kelopak terakhir yang gugur. Ia meninggalkanku saat aku hampir sebulan memasuki labirin itu. Saat aku berputar-putar pada jalan tak berujung. Saat aku mencari-cari ruh anakku yang direnggut dari kebahagiaan sederhana kami. Tabrak lari!

Suamiku.
Aku pergi. Kita hidup sendiri-sendiri saja. Jika telah siap, pinang aku kembali! Tapi jangan cari diriku sebelum kau menemukanmu.
Istrimu.

Surat istriku di hadapanku sebenarnya, tapi aku tak bisa membacanya lagi. Aliran listrik terputus. Aku hanya bisa mengingatnya. Kata demi kata.

Tiba-tiba tetangga sebelahku berteriak, Azan. Azan dengan sisa-sisa harapan mereka karena air telah menenggelamkan hampir setengah meter, padahal perkampungan ini termasuk berada di dataran agak tinggi. Kini tubuhku pun mulai terendam, tapi pada tanganku sebilah pisau.

"Kau mau apakan aku?"
"Aku mau memakaimu."
"Untuk apa?"
"Untuk membunuhku."
"Pada apa?"
"Pada urat leherku."
"Aku ngak sudi."
"Bukankah kau menginginkanku juga?"
"Enak saja."
"Kau berkilat ketika terbayang olehmu urat leherku?"*)
"Aku berkilat karena cahaya-Nya."
"Ha...ha..ha..ha, antar aku menuju cahaya-Nya, kalau begitu?"
"Kau tidak akan menghampiri Sang Mahacahaya karena kau kini takdicahayai-Nya."
"Ha..ha... pisau sok tahu. Aku tak akan basa-basi lagi."

Aku pun mengantar pisau itu pada urat leherku sendiri. Namun, pisau itu menolak. Aku berkeras. Dengan sekuat tenaga kutarik pisau itu menuju leherku, tapi tetap pisau itu pun bertahan. Bahkan tenaganya begitu kuat. Aku pun memakai dua tanganku untuk menariknya. Entahlah, aku tak habis pikir. Semakin aku berusaha mengeluarkan tenaga semakin kuat pula pisau itu bertahan.Sementara itu, di luar hujan semakin ramai. Ya, suara hujan, suara geledeg, suara azan tetanggaku, dan suara-suara orang meninggalkan rumah-rumah mereka.

Aku justru tengah berjuang. Aku kini bahkan bergumul dengan pisau itu di lantai, di genangan air. Aku ditenggelamkannya agar aku sudi melepaskannya. Jelas aku tak sudi, aku balik membenamkannya ke banjir itu dengan harapan ia akan kehabisan tenaga.

Namun, harapanku tak jua tercapai. Kami sepertinya seimbang. Kami terus bergumul sampai napasku betul-betul habis. Tapi aku takakan melepaskannya. Ini harapan terakhirku untuk menyempurnakan sunyi.

Lelah amat sangat menerpaku. Aku seperti tercekik oleh rasa itu, tapi aku tak mau semua berakhir dalam posisi kalah oleh mata pisau itu. Namun, aku tak mampu. Kini, aku hanya mampu berteriak.

"Aaaaaarrrrrgh... lepaskan aku pisau sialan. Aku telah mengasahmu bukan untuk sebuah pembangkangan."
Senyap. Tapi beberapa saat kemudian aku mendengar tetanggaku berazan kembali. Terus terang aku bosan dengan suara itu.
"Hai,... Juned. Diam kau."
Lalu suara-suara sibuk di luar pun semakin jelas. Kini aku merasakan hening itu pecah. Aku seperti dihubungkan kembali ke dunia bising. Dunia yang tak berjarak dengan diriku sendiri. Dunia yang selama ini justru berusaha kuhindari.
"Biar aku yang menghentikannya."
Tiba-tiba suara merdu itu hadir.
"Istriku?"
"Ya."
"Kau?"
"Ya, aku istrimu."
"Kau...?"
"Ya, aku datang untukmu."
Lalu istriku menghampiriku. Tangannya meraih pisau di tanganku. Aku heran, saat tiba-tiba pisau itu tak melawan. Ia pasrah di tangan lembut istriku. Lalu istriku pun meraihku. Mengangkatku dari rendaman air banjir itu. Aku betul-betul diangkatnya. Saat dia tersenyum sepertinya aku kembali pada diriku sendiri.
"Sudah lepaskan saja." Ujar istriku.
Aku tak mengerti dengan ucapannya.
"Siapa yang harus aku lepaskan?"
"Bukan kamu."
Lalu istriku mengusap mukaku dengan kemesraan yang memang telah melekat padanya. Kemesraan yang menghilang selama ini. Tiba-tiba saja duniaku jadi terang. Hujan berhenti, ruang tempatku berdiri dimasuki cahaya serentak, air banjir yang menggenangi lantai tiba-tiba surut.
Semua menjadi terang kini. Dan, di sekelilingku tetangga-tetanggakku berdiri dengan peluh. Di antara mereka ada Juned yang terus menerus Azan. ***

*) Gubahan baris terakhir sajak Mata Pisau karya Sapardi Djoko.
by Forum Lingkar Pena
Cerpen M. Irfan Hidayatullah
Dimuat di Republika 18/03/2007



Aku tercekat. Nafasku seakan terhenti, saat aku membuka kado dari wanita itu. Kado yang unik sebenarnya, tapi bagiku seperti ancaman. Benda yang bagiku begitu hidup. Ya, karena aku selalu membayangkan sebuah bahaya tengah menerkamku. Bahkan, aku sering bermimpi diburu mereka. Ya, mereka yang sekarang menjadi benda di genggamanku yang wanita itu berikan padaku, tepatnya, yang wanita itu sodorkan padaku. Aku jelas nggak mau menerimanya. Seekor kalajengking asli yang telah dipermentasi.

''Ini hadiah untukmu. Hari ini kan ulang tahunmu.'' Wanita itu tersenyum manis sekali, tapi beberapa detik kemudian aku melihat benda itu menjelmanya. Senyumnya begitu menakutkan.

''Kenapa? Ada apa?'' Dia heran saat melihatku tercekat. Aku melihatnya seperti sangat aneh dengan perubahanku.

''Kenapa? Ada apa?'' tanyanya lagi. Dan, kini dia betul-betul berubah menjadi binatang itu. Kalajengking. Aku berlari. Dia berteriak.

''Sudah kubilang kau jangan menghubungiku lagi!'' teriakku, menggegerkan cafe di mal itu.

''Mas, aku kemarin bermimpi kau disengat kalajengking.''

''Apa?'' tiba-tiba aku tercekat. Aku menyibakkan selimut yang menyatukan kami. Aku terbangun dan takut.

Istriku terlihat kaget. Ia ikut beranjak dengan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Aku langsung ke kamar mandi dan mengguyur tubuhku.

Membiarkan kepalaku dihunjam air dingin dari shower yang kumaksimalkan derasnya. Sebentar saja, aku sudah agak tenang. Guyuran air itu menyadarkanku. Degup jantungku lambat-laun normal kembali, sehingga aku bisa menjawab pertanyaan istriku.

''Aku nggak papa, Yang,'' teriakku.

Namun, sedetik setelah itu aku tercekat kembali. Aku teringat Ibu. Aku pun teringat wanita itu, yang berubah menjadi kalajengking, yang memberi hadiah kalajengking mati tadi siang.

Tiba-tiba saja dari saluran pembuangan kamar mandi seperti bermunculan makhluk-makhluk kehitaman yang membentangkan tangan-tangannya lalu mencapit-capitkannya di udara. Mereka datang satu per satu. Ekornya tegak dengan ujung lancip penuh bisa. Kalajengking-kalajengking di kamar mandiku. Aku segera menyelesaikan mandiku dengan teriakan histeris. Aku langsung menerjang pintu kamar mandi sambil bersijingkat, takut sekaligus jiji. Kehidupanku betul-betul terancam. Aku hampir menabrak istriku, yang berkostum selimut.

''Ada apa, Mas? Kenapa? Sadar, Mas!'' Ia mengikutiku yang kembali ke ranjang dan bersembunyi di bad cover yang tebal. Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Aku hanya menggigil ketakutan. Istriku tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia hanya membuka selimut itu dan melindungiku dengannya. Lalu ia bergabung dengan tubuhku, masuk ke dalam bed cover menghangatkanku. Ia berkata dengan lembut, ''Tenang, Mas. Aku di sisimu selalu.''

''Namaku Syam, tepatnya Syamsul. Kau?''

''Namaku Luna. Luna saja.''

''Sepertinya kita pernah bertemu.''

''Hm, itu gaya pendekatan yang sudah basi. Bilang saja kau tertarik padaku dan ingin berkenalan lebih jauh.''

''Rupanya, wanita sekarang lebih agresif.''

''Baru tahu atau pura-pura tidak tahu?''

''Ahha, lagi-lagi kau ....''

''Ya, aku tak suka basa-basi. Sekarang sudah tidak zamannya lagi. Kau akan ketinggalan kereta. Kau pun sepertinya masih gugup berkenalan dengan perempuan. Kau pasti sudah punya istri dan berusaha setia padanya. Iya, kan?''

''Lagi-lagi kau....''

''Ah, sudahlah. Ayo kita duduk. Ngak enak ngobrol sambil berdiri. Standing Party memang telah jadi gaya hidup pesta seperti ini, tapi aku lebih suka duduk dan relaks. Dengan begitu kita bisa lebih lama ngobrol tanpa diganggu oleh kaki lelah kita. Kenapa kau tidak minum wine? Ohho, I see, rupanya, you are mister conventional.'' ''Ah, sudahlah. Aku memang aku. Aku berusaha menjadi diriku sendiri. Tapi, sudahlah, yang jelas kau wanita paling cantik malam ini. Betul, aku nggak basa-basi.''

''Nah, gitu, dong! Itu baru gentlement sejati. Aku juga suka kau walaupun kita ditakdirkan untuk tidak bertemu.''

''Lho, emang kenapa?''

''Ya, iyalah. Kau matahari aku rembulan. Kau ada pada siang, aku pada malam. Penyatuan kita hanya pada mitos. Tapi kita bisa bersenang-senang dengan posisi seperti ini. Sepertinya kau harus kuajari tentang kehidupan sesungguhnya. Tentang gerhana.''

Malam itu, aku begitu puas. Terus terang aku baru merasakan suspensi hidup bebas seperti saat itu. Aku begitu terlepas. Aku matahari, dia rembulan. Malam itu adalah gerhana terdahsyat dalam kehidupanku. Nafas rembulan yang harum itu, saat itu, bergitu teratur dalam buaian mimpi setelah gerhana usai. Dan aku hanya bisa memandangnya.

Gila, aku telah mendapatkan kehidupan baru. Huh, aku manusia baru. Aku telah seperti manusia kota ini seutuhnya. Aku telah memasuki kehidupan lain lagi. Mungkin, akan sering terjadi gerhana itu.

Tiba-tiba vibra alert HP-ku mengagetkanku. Siapakah yang iseng menelponku tengah malam? Aku pun melihat layar hpku. Ibu! ''Assalamu 'alaikum, Ibu. Ada apa, Bu? Ini kan sudah malam, bahkan dini hari.''

''Ibu tidak bisa tidur, Syam.''

''Kenapa, Ibu?''

''Ibu mimpi buruk. Kau digigit kalajengking.''

''Ah, ibu sudahlah. Itu kan hanya mimpi. Sudahlah, Bu. Ibu tidur saja lagi. Syam nggak apa-apa, kok.''

''Kau di mana, Syam?''

''Aku di rumah, Bu. Udahlah Bu, Syam ngak apa-apa, kok.''

''Betul, kau di rumah, Syam?''

''Betul, demi Allah, Bu. Syams di rumah. Ini Agni di sampingku sedang pulas. Nanti dia bangun, Bu. Sudahlah, Bu.''

''Ya, udah kalau begitu. Hati-hati, Syam dan salam buat Agni, ya.''

''Ya, nanti Syam sampaikan. Waalaikum salam.''

Sejak detik itulah aku hidup tak tenang. Kalajengking sepertinya telah berada dalam tempurung kepalaku. Di dalam setiap sel otakku. Saat itu aku pun menemui tubuh berselimut yang tengah pulas itu. Namun, aku tak bisa tidur. Dia betul-betul menjelma kalajengking. Aku kabur dari hotel itu dengan menuliskan pesan pada selembar kertas dengan tangan gemetar.***

Depok, 28 Juni 2005