Dimuat di Republika, 02 Januari 2010
Sebuah makam milik seseorang yang dianggap leluhur hendak dibongkar oleh orang-orang dari dinas pekerjaan umum karena akan terkena proyek pembangunan jalan tol. Ketika makam digali, air muncrat dari sisi dalam tanah makam. Air itu terus mengalir tiada henti, seperti air pancuran yang keluar dari mata air pegunungan. Entah kenapa air itu menyembur begitu melimpah sehingga warga antre mengambilnya dan meyakini bisa digunakan untuk berbagai macam keperluan."Saya yakin ini bukan air sembarangan! Ini air keramat!"
"Makanya, saya mau minta buat anak saya yang perawan tua, supaya cepet-cepet kawin!"
"Saya juga mau meminumnya, siapa tahu cepet dapet kerjaan!"
Demikianlah. Semua warga berbondong-bondong memanfaatkan air yang keluar dari dalam makam tersebut. Meskipun belum terbukti kemanjurannya, warga berlomba-lomba mengambil air yang dianggap keramat.
Lama kelamaan, berita keluarnya air keramat dari dalam makam menyebar. Semakin banyak saja warga yang berdatangan. Mereka membawa botol mineral kosong, jeriken, bahkan ada yang membawa ember.
Ketika pihak dari dinas pekerjaan umum hendak melanjutkan menggali makam itu, warga pun protes. Mereka tak ingin makam itu dibongkar. Dengan keluarnya air dari dalam makam itu, mereka semakin yakin bila makam yang hendak dibongkar itu makam keramat, makam yang harus dijaga. Sementara pihak dinas pekerjaan umum harus segera membongkar makam karena pembangunan jalan tol terganjal oleh keberadaan makam yang dianggap keramat itu. Adu argumentasi pun tak bisa dihindari.
"Maaf bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Atas kesepakatan para tokoh masyarakat, makam ini kami bongkar untuk kami pindahkan, bukan dibongkar begitu saja. Nanti akan kami buatkan makam yang lebih bagus lagi!" seru salah seorang wakil dari dinas pekerjaan umum.
"Kami tidak mau tahu, Pak! Pokoknya makam ini jangan dibongkar!"
"Makam ini keramat. Kalau dibongkar, kita semua bakalan kena sial!"
"Kita ini bangsa apa sih? Seharusnya bangsa yang baik itu bangsa yang menghargai jasa leluhurnya. Ini adalah makam leluhur kita. Harus dijaga dan dilindungi!!"
"Mari kita pertahankan makam ini, agar tidak perlakukan dengan semena-mena!! Allahu Akbar ...!!"
"Allahu Akbar ...!!!"
Setelah terdengar takbir, warga semakin semangat merangsek para pegawai dinas pekerjaan umum untuk menyingkir dari lokasi makam. Sementara warga yang sibuk meminta air yang dianggap keramat semakin banyak berdatangan. Mereka ternyata berasal dari berbagai pelosok daerah. Rupanya mereka tahu berita adanya air muncrat dari makam keramat bukan hanya dari mulut ke mulut, melainkan karena beberapa stasiun televisi mulai menyiarkannya. Bahkan, ada salah satu stasiun teve yang membahasnya dengan siaran langsung.
"Aneh bin ajaib, pemirsa. Dapat kami laporkan, sebuah makam yang dinyatakan sebagai makam leluhur oleh warga mengeluarkan air saat hendak digali," reporter televisi sibuk di depan kamera. Reporter tersebut mendekati beberapa warga yang telah berhasil mengambil air yang keluar dari dalam makam.
"Baik pemirsa, berikut ini akan kita dengarkan apa pendapat warga tentang air yang dianggap keramat oleh warga," reporter televisi kini menyorongkan mik ke arah salah seorang perempuan setengah baya pemegang botol mineral yang sudah diisi oleh air dari dalam makam.
"Bu, air ini buat apa?"
"Ini untuk bapak saya yang sudah lama lumpuh. Buat obat."
"Ibu percaya air ini mampu menyembuhkan bapak?"
"Ya, percaya enggak percaya, sih? Namanya juga usaha. Berobat ke dokter mahal soalnya. Jadi, coba-coba aja pake air keramat ini," ujar perempuan itu polos.
Lalu mik reporter bergeser pada lelaki paruh baya di sebelahnya. Lelaki ini memegangi jeriken yang sudah penuh.
"Kalau bapak, air keramat ini untuk apa?"
"Buat minum."
"Buat minum? Supaya apa Pak?"
Ini benar-benar pertanyaan tolol. Ternyata, tidak semua reporter televisi pintar.
"Supaya enggak haus!"
Reporter menelan ludah. Si lelaki langsung ngeloyor. Lalu, reporter kembali menatap kamera sambil menutup acara. Beberapa warga mendekat ke belakang reporter dengan harapan bisa tertangkap gambarnya. Di antara mereka melambai-lambaikan tangan ke arah kamera.
Karena orang-orang terus berdatangan, salah seorang warga berinisiatif membuat tempat parkir kendaraan. Setiap sepeda motor atau mobil yang datang diberikan karcis tanda masuk. Areal makam pun dibuatkan pagar pembatas agar orang bisa mengantre dengan tertib. Sebuah kotak amal dibuat dan diletakkan di dekat pintu masuk. Di sisi kotak ditulis, "AMAL MAKAM KERAMAT, SEIKHLASNYA".
Beberapa hari kemudian, makam keramat semakin ramai dikunjungi orang. Tempat parkir motor diperluas karena tak mampu menampung kendaraan. Kotak amal yang diletakkan di pintu gerbang makam disingkirkan, berganti dengan tiket tanda masuk makam. Setiap warga yang datang harus membeli tiket terlebih dahulu.
Sobrak, lelaki setengah baya yang bertugas menjaga tiket senang sekali karena belakangan ini hidupnya berubah makmur. Gobang, yang menjadi penanggung jawab lahan parkir juga begitu. Uang mereka bagai meluap, seperti air keramat yang mengalir dari dalam makam. Namun, kemakmuran Sobrak dan Gobang tidak disukai oleh beberapa warga sekitar, yang menganggap keduanya memanfaatkan situasi. Akan tetapi, dengan seperak dua perak, warga yang protes mampu disumpal. Ternyata, uang bisa menutupi mulut manusia.
Suatu hari, petinggi dari dinas pekerjaan umum dan beberapa tokoh masyarakat kembali datang ke makam. Mereka hendak meyakinkan warga agar tidak menganggap air yang mengalir di sekitar makam itu dianggap keramat.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian, air yang mengalir dari dalam makam sesepuh ini air biasa-biasa saja. Air ini keluar, seperti kita menggali sumur!"
"Tapi Pak, kami yakin ini air keramat! Soalnya, air ini keluar dari dalam makam yang baru beberapa meter digali!"
"Betul Pak!! Sumur di sekitar makam ini saja perlu delapan meter kalau mau keluar air!"
"Ini mukjizat, Pak!!"
"Sebaiknya, tokoh masyarakat jangan memihak pemerintah!! Pembangunan jalan tol ini tidak berarti apa-apa bagi kami! Kebanyakan warga cuman punya sepeda motor, sedangkan jalan tol hanya untuk pengendara roda empat!"
"Kalau memang terpaksa, jalannya dibelokan saja. Jangan sampai pembangunan ini justru merusak makam keramat!"
Semua warga terus berbicara. Mereka ingin meyakinkan petinggi dari dinas pekerjaan umum dan tokoh masyarakat serta perwakilan dari pemerintah untuk menggagalkan pembongkaran makam.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Pembangunan jalan tol diperuntukkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak yang diperoleh dari pengguna jalan tol itu dipergunakan untuk pembangunan! Selain itu, pembangunan jalan tol tak mungkin dibelokkan ke arah lain dengan maksud menghindari makam ini. Di mana-mana, yang namanya jalan tol itu lurus, enggak bengkok-bengkok!" kali ini yang bicara Pak Lurah, yang mulai senewen dengan tingkah warganya.
"Lho, Pak Lurah kok bukan mendukung warganya? Jangan-jangan Pak Lurah sudah disogok, ya...?"
"Pak Lurah payah!"
"Pak Lurah lupa sama leluhur sendiri!!" Pak Lurah terdiam dan tak lagi berkata-kata. Pak Lurah jadi seperti kura-kura yang disentuh kepalanya.
"Kalau memang kalian ngotot mau membongkar makam keramat ini, silakan hadapi kami!!"
"Bongkar saja kalau berani!! Kami siap mati! Kami siap zihad demi menjaga makam ini!!"
Warga semakin beringas. Para tokoh masyarakat, Pak Lurah, dan orang-orang dari dinas pekerjaan umum mengalah. Mereka akhirnya meninggalkan areal pemakaman diiringi koor ejekan para warga. Sobrak dan Gobang langsung mendekati warga sambil memberikan makanan untuk warga yang mempertahankan makam keramat.
Keesokan harinya Bapak Wali Kota datang diikuti oleh sejumlah pejabat daerah. Di antaranya terdapat Ustadz Markum, ustadz muda yang lumayan kondang dan disegani warga sekitar. Bapak Wali Kota dan rombongan disambut demonstrasi dan yel-yel oleh warga yang masih berada di sekitar makam. Mereka siap mengusir siapa saja yang hendak menggusur makam yang mengeluarkan air keramat. Tak peduli Wali Kota atau presiden sekalipun.
Ratusan satuan pamong praja tiba di sekitar makam. Mereka mengepung areal pemakaman.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian! Kita boleh saja beda pendapat, kita bebas saja marah, tetapi kami berharap kepala kita tetap dingin! Sesuai perintah dari pemerintah pusat, makam ini akan dipindahkan untuk kemudian diletakkan di tempat yang jauh lebih luas dan bagus lagi!"
"Tapi Pak, makam ini tidak mungkin dipindahkan. Dengan keluarnya air dari dalam makam, membuktikan bahwa makam ini memang benar-benar keramat!! Batalkan saja proyek pembanguan jalan tol itu!!"
"Allahu Akbar...!!!"
"Allahu Akbar...!!"
Ketika takbir sudah terdengar, semangat warga pun menggelegar. Ratusan satuan polisi pamong praja segera mengamankan situasi. Mereka menangkapi siapa saja yang hendak mempertahankan makam. Pertikaian pun tak bisa dihindari. Warga yang mempertahankan makam saling serang dengan satuan polisi pamong praja.
Saat yang bersamaan, datang beberapa petugas dari Perusahaan Air Minum (PAM) yang tengah bertugas sedang mencari-cari sumber kebocoran pipa yang baru terdeteksi. Langkah mereka terhenti oleh keributan antara warga dan satuan polisi pamong praja. Polisi pamong praja berhasil meredam keberingasan warga setelah mendapat bantuan tenaga dari satuan lain.
"Tenang saudara-saudara ... saya harap semua tenang!!"
Bapak Wali Kota yang baru saja mendengarkan informasi dari bawahannya, berdiri di depan semua warga yang sudah mulai reda.
"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Tanpa mengurangi rasa hormat kami terhadap makam leluhur kita, pemerintah daerah akan tetap memindahkan makam tersebut. Selain itu, dapat kami informasikan bahwa air yang keluar dari dalam makam itu adalah air dari pipa PAM yang bocor!!"
Semua warga yang mendengarnya terbelalak. Semua saling tatap, lalu mereka menunduk malu. Kemudian Ustadz Markum berdiri di tengah-tengah warga,
"Saudarasaudara sekalian, ziarah ke sebuah makam itu dibolehkan. Nabi pun pernah menganjurkannya agar kita ingat pada kematian. Tapi, kita tak boleh berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik! Kita bisa musyrik!!"
Bapak Wali Kota mulai bernapas lega karena warga tak lagi marah,
"Sekarang, saudara-saudara sekalian saya harap membubarkan diri!!"
Semua warga pun menuruti perintah Bapak Wali Kota untuk membubarkan diri. Pembangunan jalan tol itu siap dilanjutkan kembali. Para pekerja dari PAM sibuk memperbaiki pipa yang bocor. Setelah pipa itu sudah diperbaiki, penggalian makam leluhur kembali dikerjakan. Makam itu akan dipindahkan ke lokasi yang sudah disediakan. Tetapi ajaibnya, ketika sebuah mobil pengeruk baru saja menggali, air kembali muncrat dari bagian makam yang lain. Pekerja PAM diminta untuk memeriksa apakah ada kemungkin kebocoran pada pipa-pipa mereka.
Setelah diselidiki, ternyata pipa air milik PAM baik-baik saja. Mereka bingung, dari manakah sumber air yang muncrat itu. Sampai seminggu lamanya, air dari dalam makam itu tetap mengalir. Airnya bening nan jernih. Aromanya wangi bak kesturi. Kejadian ini dirahasiakan. Semua warga meyakini itu kebocoran pipa PAM yang belum dapat diperbaiki. ***
Cerpen Zaenal Radar T
Dimuat di Republika, 19/12/2010
Sejak kabar tentang bergesernya arah kiblat beberapa derajat, masjid di kampungnya Markum tak lagi dikunjungi warga. Alasannya, mereka tidak mau shalat di masjid yang letak kiblatnya salah. Markum, pemuda yang dipercaya mengurus kebersihan masjid, mendatangi warga untuk shalat berjamaah di masjid.
“Kiblat itu arah letak kita shalat. Kalau kita shalat di masjid itu, jangan-jangan kiblat kita selama ini salah menghadap Tuhan?” ujar salah satu warga.
“Tapi, Bang, kan Tuhan ada di mana-mana. Kenapa kita harus mempermasalahkan kiblat? Allah Mahatahu, Bang!” ujar Markum, sambil menatap wajah warga yang diajaknya bicara.
“Elo bener Kum, Allah emang Mahatahu. Allah ada di mana-mana. Tapi, semua ada aturannya. Kalau kita shalat menghadap ke kiblat yang salah, jangan-jangan arahnya bukan ke Makkah, tapi ke arah New York?”
“Maksud Abang?” selidik yang lain, tak kalah antusiasnya dengan Markum.
“Kalau kita shalat ke arah New York, berarti kita nyembah orang Amerika!!”
Semua mengangguk-angguk, kecuali Markum.
“Kita jangan menyembah Amerika. Udah ekonomi negara kita berkiblat ke sana, masak urusan yang lain juga kiblatnya sama. Itu namanya menuhankan Amerika!! Apa sih bagusnya Amerika? Bener gak?”
Yang lain kembali mengangguk-angguk. Dan, lagi-lagi Markum cuma diam mematung. Markum jadi bingung, bagaimana cara menjelaskan kepada semua warga, jangan gara-gara arah kiblat yang berubah, terus masjid ditinggalkan.
Seperti menjelang Maghrib kali ini, setelah azan dan iqamah, tak ada jamaah yang datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Di sebuah masjid yang lumayan besar, yang bisa memuat sekitar tiga ratus jamaah lebih, Markum shalat sendirian. Ketika shalat, Markum sebenarnya bingung arah kiblat, maka ia geser sajadahnya beberapa senti ke kanan, lalu dia mulai shalat.
Selepas shalat, Markum heran melihat warga yang masih duduk-duduk santai di teras rumah mereka. Anak-anak muda yang habis bermain bola di lapangan gusuran dekat ujung kompleks juga masih terlihat kotor. Markum mendekati mereka seraya mengucapkan salam.
“Kok enggak shalat Maghrib di masjid?”
“Nanti aja deh, Bang, soalnya arah kiblatnya belum jelas,” jawab salah seorang anak muda, yang masih bertelanjang dada dan penuh keringat.
“Tapi, kalau enggak shalat di masjid, di rumah juga bisa,” ujar Markum.
“Bang Markum, shalat di masjid atau di rumah sama aja kalau enggak tahu arah kiblatnya,” sela yang lain.
“Jadi, elo semua enggak mau shalat karena arah kiblat belum jelas?”
“Iya Baaang!!” ujar mereka kompak.
Markum pun mengangguk-angguk, padahal dia sulit mengerti dengan jalan pikiran mereka. Lalu, Markum mengucapkan salam dan berlalu.
Markum mendatangi Haji Bantong, sesepuh kampung yang jarang shalat di masjid karena sudah membangun mushala sendiri di samping rumahnya. Haji Bantong sengaja membuat mushala karena menurutnya masjid letaknya terlalu jauh. Padahal, masjid itu berdiri di atas tanah miliknya, yang beliau hibahkan untuk pembangunan rumah ibadah. Selain itu, Haji Bantong sebenarnya salah satu pengurus masjid yang dipercaya sebagai ketua Dewan Kesejahteraan Masjid.
“Assalamualaikum Pak Haji!”
“Waalaikumussalam … eh, elo Kum? Tumben lo mampir? Ada apa?”
Markum pun bercerita tentang masjid yang sepi karena arah kiblat yang berubah. Haji Bantong hanya mengangguk-angguk mendengar cerita Markum. Haji Bantong tampak menarik napas berat, lalu mengembuskannya perlahan. Seperti ingin menumpahkan beban berat pikirannya.
“Kum, lo tahu kan kalau gua punya mushala. Nah, gua sendiri juga udah kagak shalat di mushala. Gua shalat di kamar. Waktu ditanya arah kiblat, gua juga gak bisa jawab. Gua sendiri kagak paham, jangan-jangan gua juga salah menghadap kiblat?”
“Terus jalan keluarnya gimana Pak Haji?”
“Jalan keluar mah gampang Kum. Asal kelihatan pintu, elo buka tuh pintu, elo keluar dah. Hahahaa….”
“Ah, Pak Haji kok becanda, sih?”
“Abis Kum, gua pusing. Gua mau nanya sama siapa?”
“Pak Haji, pan si Hasan kuliah di Universitas Islam Negeri, tanya dia aja.”
“Gua juga emang mau nanya dia. Dia baru pulang dari tempat kosan.”
“Selain si Hasan, yang tahu kira-kira siapa, Pak Haji?”
“Yang tahu itu … yang ngerti. Ya udah, yuk kita cari si Hasan. Mudah-mudahan dia udah istirahat cukup.”
Haji Bantong pun mencari-cari Hasan, putranya yang kuliah di Universitas Islam Negeri itu. Hasan adalah putra bontot Haji Bantong dan satu-satunya anak yang masih kuliah dan belum menikah. Haji Bantong punya tiga belas anak. Hanya Hasan yang masih kuliah dan belum menikah.
“San … Hasan!! Sini lo tong!!” teriak Haji Bantong, saat melihat Hasan yang baru keluar dari kamarnya. Wajahnya masih terlihat lelah.
“Ada apa, Beh?”
“Begini, San, gua mau tanya soal tempo hari yang gua tanyain ke elo di telepon. Soal arah kiblat. Gua pusing, San!”
“Beh, arah kiblat gak usah dipusingin. Babeh tinggal geser aja beberapa derajat ke kanan, terus Babeh shalat deh. Gitu aja kok repot?”
“Kayak almarhum Gus Dur lo, San!” Haji Bantong tampak kesal, lalu dia berkata lagi, “Gesernya ke mana? Berarti gua kudu ngegeser masjid dong?”
“Ya enggak usah segitunya, Beh. Geser aja sajadahnya … beres. Gitu aja kok….”
“Repot!!” Haji Bantong melanjutkan kata-kata Hasan, yang sejak kecil gandrung pada tokoh almarhum Gus Dur.
“Kalau begitu, habis Isya saya mau geser letak sajadah masjid Pak Haji.”
“Kum, kalau masjid boleh dah elo geser sajadahnya. Tapi, kalo mushala, kayaknya besok gua mau renovasi aja!”
“Maksud Pak Haji?”
“Mushala pan lebih kecil, jadi bangunannya gua miringin sesuai arah kiblat.”
“Pak Haji, kata si Hasan kan cukup sajadahnya aja.”
“Kalau sajadahnya aja, kayaknya kurang afdol!”
“Kalau begitu, masjid juga direnovasi aja Pak Haji!”
“Kalau masjid modalnya kegedean. Nunggu sumbangan warga, jadinya bisa lama!”
“Terus gimana caranya supaya warga mau shalat di masjid, kalau arah kiblatnya masih salah?”
“Nanti juga kalau sajadah udah sesuai arah kiblat, warga mau shalat di masjid!”
Setelah itu, Markum kembali ke masjid. Waktu Shalat Isya sudah tiba. Markum seperti biasa, mengumandangkan azan. Setelah azan selesai, Markum shalat sunah qabliyah Isya dua rakaat. Sesudah itu, menunggu jamaah yang datang barang beberapa menit. Karena belum ada yang terlihat batang hidungnya, Markum pun mengumandangkan iqamah. Karena masih juga tak ada yang datang ke masjid, Markum shalat sendirian. Tak lupa letak sajadah dimiringkan beberapa senti ke kanan, dan Markum mulai shalat sendirian.
***
Keesokan harinya, di mushala Haji Bantong, barang-barang dari material berdatangan. Barang-barang berupa pasir, batu koral, dan semen diletakkan di samping mushala. Rencananya, Haji Bantong bakalan menggeser letak mushalanya beberapa derajat ke kanan, ke arah kiblat. Seperti yang dijelaskan oleh putra bontotnya, Hasan.
Berbeda dengan mushala, di masjid yang lumayan luas, Markum sendirian mengubah letak sajadah, menggesernya beberapa derajat ke kanan. Setelah sajadah digeser semua, kelihatannya memang tidak terlalu rapi. Posisi jamaah nantinya memang akan miring, tidak mengikuti arah bangunan masjid.
Hampir setengah harian Markum berkutat merapikan sajadah-sajadah itu, hingga akhirnya waktu Zhuhur tiba. Sebelum azan, Markum pun mengumumkan di speaker masjid.
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarakaaatuh! Kami beritahukan, kepada seluruh warga, bahwasannya letak kiblat di masjid Al-Ikhlas sudah dirapikan. Sekarang kita bisa shalat berjamaah dengan khusuk. Demikianlah pemberitahuan ini, wassalamualaikum warohmatullahi wabarakaatuh!”
Ketika waktu Zhuhur tiba, Markum mengumandangkan azan. Tetapi, sampai Markum usai shalat sunah dua rakaat dan mengumandangkan iqamah, jamaah belum juga datang. Markum pun melaksanakan shalat sendirian.
***
Markum kembali keliling kampung untuk mengabarkan kepada seluruh warga bahwa letak sajadah di masjid sudah diatur sedemikian rupa sehingga arah kiblat tidak lagi salah arah.
“Tapi, Kum, apa ente yakin kalau letak sajadahnya bener-bener ke kiblat?” selidik salah seorang warga.
“Saya sudah melakukannya seperti yang diberi tahu si Hasan, anak Pak Haji Bantong yang kuliah di UIN.”
“Apa si Hasan enggak salah arah, tuh?”
“Anak kuliahan enggak bakalan salah, Bang!”
“Siapa bilang anak kuliahan enggak ada yang salah? Itu yang suka tawuran dan demo kagak karuan, kan anak-anak kuliahan?”
“Si Hasan itu anak Universitas Islam Negeri? Fakultas Tarbiyah! Kalau kagak salah, dia calon mubaligh!”
“Jangankan calon mubaligh, mubalighnya aja bisa keseleo! Bisa salah jalan…!”
“Ya udah, langsung aja deh kalo gitu. Abang, sebenarnya mau shalat di masjid kagak?”
“Kalau arah kiblatnya sudah benar, pastilah!!”
Tiba-tiba dari salah satu arah, dua pemuda berlarian mendekati Markum dan sekumpulan warga.
“Ada apa??”
“Astaghfirullah, Bang! Tadi kita-kita ada di deket masjid, masjid bergeser ke kanan bang!!”
“Bener Bang!! Saya sampai kaget!”
“Astaghfirullaaaah ….!!!” Semua orang beristighfar.
Beberapa warga bahkan gemetaran. Tetapi, ada juga yang masih belum percaya.
“Masak sih?? Jangan-jangan ada gempa kecil-kecilan?”
“Hush! Kalau gempa, kita juga bisa ngerasain!!”
“Ayo kita lihat!!”
Akhirnya Markum bersama pemuda dan beberapa warga melangkah menuju masjid. Semua memperhatikan letak bangunan masjid. Semua tercengang saat melihat bekas tiang masjid yang seolah-olah telah bergeser. Yang lain juga bisa melihat dengan jelas bahwa tiang-tiang yang lain juga bergeser, mengikuti arah sajadah yang tadi digelar oleh Markum.
“Allah memang Mahabesar!! Masjid ini sekarang arah kiblatnya sudah sesuai!!” ucap Markum, lalu menghela napas lega.
“Alhamdulillaaaah …!!” semua warga bersyukur.
Beberapa saat kemudian, masjid pun sudah dipenuhi warga yang ingin melihat-lihat pergeserannya. Ketika waktu shalat Ashar hampir tiba, satu per satu warga sudah tak lagi ada di dekat masjid. Markum mengumandangkan azan, memanggil jamaah untuk shalat berjamaah. Akan tetapi, setelah azan sudah selesai dalam beberapa menit, belum juga ada jamaah yang datang. Markum pun menunggu beberapa menit lagi. Masih juga belum ada yang datang. Markum akhirnya memutuskan shalat sendirian.
Setelah shalat usai, Markum kembali keliling kampung. Markum ingin bertanya kepada warga, kira-kira setelah arah kiblat di masjidnya sudah benar, apalagi alasan mereka tak mau shalat berjamaah di masjid. ***
Dimuat di Seputar Indonesia 09/11/2008
KALAU ada orang yang bangga menjadi miskin, mungkin sayalah orangnya. Bagaimana tidak, sejak pemerintah menjanjikan akan memberikan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT),saya mengikutsertakan keluarga saya sebagai keluarga yang patut disumbang.
Dan kiranya saya memang patut diperhatikan pemerintah.Tidak punya pekerjaan tetap, punya istri dua,anak lima,yang tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Saya sudah berusaha banting tulang sekuat tenaga. Terkadang menjadi sopir tembak. Serabutan di bengkel mobil. Atau menjadi kuli angkut di pasar.Tetapi, penghasilan yang saya dapat begitu-begitu saja.
Hanya bisa untuk makan dan membayar utang. Makanya saya bersyukur mendengar kabar pemerintah akan memberikan sumbangan langsung tunai pada rakyat miskin.Dan saya menyatakan bahwa keluarga saya miskin. Saya membutuhkan kartu kemiskinan itu. Ketika orang-orang dari kelurahan berencana datang untuk memeriksa keadaan rumah saya dari istri pertama, terpaksa saya menyuruh istri menyembunyikan pesawat televisi 14 inci miliknya di kolong tempat tidur.
Tak lupa pula melarang salah satu anak saya yang biasa bermain sepeda. Semua baju yang bagus-bagus tak boleh ada di dalam lemari. Dispenser, rice cooker, kulkas, harus dienyahkan untuk sementara. Pokoknya, di mata aparatur pemerintah kami harus terlihat miskin.
Begitu pula di rumah istri kedua saya.Saat pemeriksaan,istri saya yang masih bekerja di sebuah pasar swalayan saya larang bekerja. Saya meminta istri saya izin dulu pada perusahaan, untuk sementara di rumah menunggui si kecil. Sepeda motor hasil kreditan kami titipkan di rumah seorang kerabat dekat.
Harapan saya, saat orang dari kelurahan memeriksa rumah kami, tak ada barang-barang yang dikategorikan sebagai barang mewah. Sebelum pemeriksaan berlangsung, anak tertua saya, anak dari istri pertama,protes pada saya.“Pak,kalau cuma main playstation masak nggak boleh?” “Nggak boleh! Kamu sehari saja nggakmain PS bisa,kan?”
“Memangnya kenapa harus disembunyikan, sih, Pak?” dia malah balik bertanya. Karena dia memang belum tahu kalau orang yang datang memeriksa rumah kami adalah petugas dari kelurahan yang memastikan apakah kami benar-benar miskin atau tidak. “Nak, tolonglah bapak sehari ini saja.Kamu nggak main PS sehari saja nggak akan disebut pecundang.Besok dan lain waktu, kamu bisa main sepuasnya kok?” Anak saya tertua itu akhirnya mau mengerti.Tetapi malah ibunya yang tiba-tiba tidak terima.
“Kita nggak pantas mendapatkan sumbangan pemerintah,Pak.Kan kita masih mampu...” katanya, seraya menggendong Tika, anak kami yang paling kecil. “Bukan soal mampu atau tidak,Bu. Saya hanya ingin mendapatkan uang dari pemerintah. Daripada uang itu mereka makan sendiri, kan lebih baik kita juga ikut menikmati.”
“Maksud Bapak apa, toh? Bukankah masih banyak orang lain yang lebih membutuhkannya?” “Bu, dengar ya. Ibu tahu kan Pak Dirjo?” “Pak Dirjo yang mengaku adiknya Pak Lurah itu,kan?Yatahu,dong!” “Nah,Pak Dirjo saja dapat kok Bu. Kalau orang seperti Pak Dirjo saja dapat bantuan langsung tunai,kenapa kita tidak?”
“Pak Dirjo kan lain,Pak. Mungkin dia memang sedang butuh uang.Lagipula, berapa besar sih pemberian pemerintah itu. Nggak sebanding sama omongan orang-orang nanti, Pak. Kalau mereka tahu kita juga dapat...” “Apa pedulinya sama orang lain, Bu.Memangnya mereka peduli kalau kita miskin atau nggak? Lagipula, lumayan kalau cair,Bu.Dalam dua bulan ini, kita dapat enam ratus ribu.
Di zaman serba sulit seperti ini, orang macam kita mencari satu rupiah saja susah. Kalaupun uang itu tidak kita ambil,apa Ibu tahu uang itu dikemanakan?” “Yadisimpan pemerintah,Pak.” “Disimpan di mana? Apa Ibu tahu?” “Ibu ndak tahu! Itu kan urusan pemerintah!” “Ibu mau tahu uang rakyat itu ditaruh di mana?” “Apa Bapak tahu?” “Justru karena saya juga nggak tahu,makanya saya berusaha mendapatkan sumbangan itu!” Setelah itu istri saya diam.Pada akhirnya ia setuju saya berencana mengambil bantuan langsung tunai yang diberikan pemerintah. ***
Ternyata pemeriksaan seperti yang dibicarakan banyak orang tak pernah terjadi.Tak ada orang dari kelurahan atau instansi pemerintah manapun yang memeriksa kedua rumah saya. Yang saya temui justru Pak Jalil,orang dari kelurahan yang menangani proyek bantuan langsung tunai di kampung saya.Pak Jalil bilang,bahwa saya dijamin mendapatkan bantuan itu.
“Yang penting ada pelicinnya...”ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Saya tentu saja menyetujui usul Pak Jalil.Saya menuruti kemauannya, sebab yang lainnya juga katanya begitu.Setelah mendapat kartu untuk mengambil uang bantuan langsung tunai di kantor pos nanti,saya berjanji akan memberikan sepuluh persen pada Pak Jalil. Tetapi bukan sesuatu yang mudah mengambil uang bantuan pemerintah di kantor pos.
Saya dengar Pak Dirjo ditanyai ini itu oleh petugas.Rupanya ada saja petugas kantor pos yang bersikap sinis saat Pak Dirjo mengambil uangnya. “Masak orang seperti Bapak dapat juga?” tanya seorang petugas di kantor pos, saat Pak Dirjo mencairkan dana bantuan langsung tunai miliknya.
Pak Dirjo cuma senyum,karena ia tidak bisa mengelak. Mendengar cerita Pak Dirjo yang entah dari mana datangnya itu, saya pun mempersiapkan diri bagaimana agar petugas kantor pos tidak curiga pada saya nantinya.Saya harus mengubah penampilan agar saya terlihat benar-benar miskin. Sebab,menurut ketentuan resmi pemerintah, yang berhak mendapatkan dana bantuan langsung tunai adalah rakyat yang benar-benar miskin.
Warga yang memiliki televisi, tidak masuk ke dalam kategori rakyat miskin. Kalau ternyata saya tetap mendapatkan kartu untuk mengambil dana bantuan langsung tunai itu, bukan semata-mata karena saya miskin. Melainkan karena saya sudah berjanji pada Pak Jalil,oknum pemerintah kelas cere itu, akan memberikan bagian untuknya. ***
Pada hari pencairan dana di kantor pos, saya sudah siap pagi-pagi sekali. Tadinya, saya ingin pakai sepeda motor istri muda saya. Tetapi saya urungkan karena khawatir akan banyak cibiran dari orang-orang yang ikut mengambil dana itu,menganggap saya sebagai rakyat yang tidak berperikemanusiaan, karena ikut-ikutan mengambil bagian yang bukan haknya.
Untuk itulah saya cukup berjalan kaki,dilanjutkan naik angkutan kota, lalu berjalan sekitar seratus meter untuk memasuki pintu kantor pos. Saya berjalan dengan langkah gontai. Saya lupa bagaimana cara orang yang benar-benar miskin berjalan. Mungkin lebih gontai dari orang kaya.Atau lebih tidak bersemangat daripada orang putus asa. Dan yang terpenting adalah penampilan.
Sebelum berangkat, saya cari baju saya yang paling kumal,tidak menarik, kalau perlu yang ada tambalannya.Tapi, saya tidak punya. Maka saya robek satu kemeja yang sudah tua dan agak lusuh, lalu segera saya kenakan. Saya sengaja tidak mandi lebih dulu, agar terlihat benarbenar kumuh.
Alhasil, setelah tiba di kantor pos, semua dugaan saya meleset soal orang miskin! Ternyata tidak semua orang miskin kumal seperti saya. Karena saat saya tiba di halaman parkir kantor pos, halaman tersebut dipenuhi sepeda motor. Mereka adalah orangorang yang hendak mengambil dana bantuan langsung tunai seperti saya. Namun begitu, lebih banyak perempuan tua dan ibu-ibu serta lelaki paruh baya.
Saya tidak tahu apakah sepeda motor yang terparkir di halaman kantor pos ini milik mereka,atau mungkin cuma ojek. Saat memasuki pintu kantor pos, antrean sudah lumayan panjang. Oh, begitu melimpahkah orang miskin di kampung saya? Orang-orang saling berdesakan.Bahkan di antara mereka ada yang sempat ribut omongan. Saya berusaha mengalah.
Saya pikir, saya dan kedua istri serta anak-anak saya masih memiliki persediaan cukup uang untuk tiga hari ke depan.Jadi,tak perlu bernafsu mencairkan dana ini, apalagi sampai bertengkar dengan sesama pengantre. Saya menghindar ke salah satu sudut. Saya perhatikan orang-orang sesama pengantre. Seorang ibu mengeluarkan kaca rias dari dalam dompetnya, lalu memoles bibirnya dengan sebuah gincu murahan.
Ada seorang lelaki paruh baya, saya kira seumuran dengan saya, mengeluarkan telepon genggam dari kantung celana. Saya dekati lelaki itu, tapi tidak bermaksud memancing perhatiannya. Saya mendengar lelaki itu bicara. “Bu, antre banget nih! Dulu kenapa nggak pakai KTP Ibu saja. Di sini bau apek, lagi! Ya, sudah. Saya antre.Tapi, kayaknya lama. Kalau kamu mau ke mal,kamu berangkat saja sama anakanak duluan.Nanti saya menyusul!”
Lelaki setengah baya itu menutup telepon selulernya. Bicaranya memang sedikit keras. Mungkin ia sengaja bicara keras-keras agar orang di sekitarnya mengetahui bila ia bicara melalui ponsel. Berikutnya,ada satu dua pengantre lain yang juga mengeluarkan telepon seluler. Bahkan ada yang sempat mengabadikan orang-orang yang antre dengan ponsel kamera. Tiba-tiba saya merasa muak melihat tingkah mereka.Apalagi gelang emas salah seorang perempuan paruh baya yang berdiri di tengah-tengah antrean. Saya jadi ragu, apakah saya sedang berada di tengah-tengah antrean orang-orang miskin yang sangat membutuhkan bantuan pemerintah?
Saya tidak percaya bila saya berada di sebuah kantor pos, tengah menunggu antrean pencairan dana kemiskinan. Saya merasa malu berada di antara mereka. Saya ingin menghujat mereka, seperti menghujat diri saya sendiri.Saya tak habis pikir, siapakah orang yang disebut miskin? Saya lihat di televisi, banyak sekali korban bencana alam yang membutuhkan dana kemanusiaan.
Sementara saya seperti merengek-rengek, mengantre sumbangan pemerintah. Untuk menghilangkan rasa malu, saya keluarkan surat pengambilan pencairan dana itu,lalu langsung saya robek-robek. Saya membuangnya ke tong sampah, di atas tumpukan tisu, kaleng bekas fresh drink,dan juga kulit jeruk mandarin. Semua itu sampah dari para pengantre. ***
Hari berikutnya, saat Pak Jalil menagih jatah, saya katakan padanya kalau saya tidak mengambil dana BLT. Namun, dia tidak percaya. Dia yakin kalau saya mengambil dana itu di kantor pos. Sehingga dia tetap minta bagian sepuluh persen. Saya kasihan padanya, maka saya berikan sepuluh persen dari jumlah uang yang seharusnya saya dapat kemarin. Saya menatap kepergian Pak Jalil, oknum pemerintah kelas cere itu,sampai ketika tubuhnya tertelan sebuah sedan mengkilat.
Saya tidak peduli orang pemerintahan macam Pak Jalil telah menggunakan kesempatan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saya serahkan saja pada Tuhan. Saya yakin kelak Tuhan akan menghukum orang-orang zalim sepertinya.Sebab saya percaya Tuhan Maha Adil.Namun saya khawatir, apakah orang seperti Pak Jalil mempercayai Tuhan?***
Dimuat di Suara Pembaruan 20/07/2008
Malam ini seperti di neraka. Meskipun aku belum tahu bagaimana neraka itu, katanya, neraka itu sangat panas apinya. Sangat berat siksaannya. Orang yang masuk ke dalam neraka, katanya, tubuhnya disetrika. Lalu tubuh itu kembali seperti semula, lalu disetrika lagi, lalu dibuat seperti semula lagi, disetrika lagi, dan seterusnya begitu.
Kenapa kubilang malam ini seperti di neraka. Sebab sore tadi istriku kembali marah-marah. Dia bilang, dia tidak kuat hidup denganku. Dia katakan, dia menyesal menikah denganku. Dia ingin seperti istri-istri tetangga, yang hidupnya tidak kembang kempis seperti yang kami rasakan saat ini. Oleh karena itulah, istriku minta cerai!
"Mumpung belum dikaruniai anak, kita cerai saja!"
"Mamah! Mamah kok, ngomong begitu? Jangan sembarangan ngomong minta cerai, mah!"
"Sebodo! Pokoknya, Mamah minta cerai!" Begitulah istriku. Hal itulah yang membuat malam ini bagai di neraka. Panas. Membara. Seperti ada setrika yang menjilati sekujur tubuhku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Sebab aku tak mungkin mengabulkan permintaan istriku. Karena aku masih mencintainya.
"Dengar ya, mah..."
"Jangan panggil aku mamah lagi!"
"Lalu?"
"Panggil yang lain saja asal bukan mamah. Aku juga nggak mau panggil kamu papah lagi!"
"Kan kita udah sepakat. Kalau kita akan panggil papah-mamah. Jangan begitu, dong?"
"Beli mobil dulu, baru panggil aku mamah. Beli rumah di Kompleks Kelapa Gading dulu, baru aku akan panggil kamu papah!"
"Memangnya ngontrak kayak kita nggak boleh panggil papah-mamah? Papah-mamah kan milik semua orang, tanpa harus membedakan status? Temenku yang tukang becak juga di rumahnya panggil papah-mamah. Meskipun panggil papah-mamah, mereka sampai sekarang tidak diperiksa KPK? Hehehe..."
"Paah!! Eh...?!"
Ternyata dia memanggil aku papah lagi?
"Eh, bang!" istriku me- ralat, "Itulah salah satu yang kubenci dari kamu! Kamu selalu bicara semaunya!"
"Hidup jangan terlalu serius, mpok! Nanti cepet tua, stress!"
"Beginilah kalau hidup nggak serius! Hidup kita jadi kembang kempis! Coba dulu aku nggak kawin sama penulis karbitan macam kamu! Mungkin aku sudah tinggal di perumahan Pondok Indah! Atau seenggak-enggaknya di Serpong Damai!"
"Sabar, mpok, sabar..."
"Itu lagi, itu lagi! Sabar! Setiap kali aku minta apa- apa, selalu kamu bilang sabar. Setiap kali aku ingin itu, kamu jawab dengan sabar! Memangnya ada apa, yang bisa dibeli dengan sabar? Buang air kecil di terminal bus aja bayarnya seribu perak. Coba sekali-sekali bilang sabar ke penunggunya... Bisa digampar!"
"Astaghfirullah... nyebut, mpok... nyebut..."
Istriku waktu itu diam. Tapi napasnya masih terdengar cepat. Sepertinya ia masih ingin menumpahkan uneg-unegnya.
"Sekarang begini saja," ia melanjutkan, "Malam ini aku mau pulang ke rumah orangtuaku. Untuk sementara kita rahasiakan dulu rencana perceraian kita. Abang baru boleh jemput aku, kalau abang udah punya uang!"
"Tapi mah..."
"Sudah kubilang, jangan panggil mamah lagi!"
"Iya deh..."
Setelah berkata begitu, istriku bergegas ke rumah orangtuanya. Kini tinggal aku sendiri di rumah. Aku bingung harus berbuat apa. Menulis tentu aku tak bisa. Aku tak mampu mengarang bila pikiranku tersiksa begini. Meskipun mengarang adalah pekerjaanku, aku heran mengapa tak bisa mengarang bila jiwaku sedang tak tenang.
Sebenarnya, aku benci sekali hidup seperti sekarang ini. Kalau punya keahlian lain, aku lebih baik tidak mengarang. Menjadi pengarang sepertiku ini sangat tidak dihargai. Aku sudah menulis di semua media, sudah mengarang empat buah buku cerita, dan dijuluki teman- temanku sebagai salah satu sastrawan besar negeri ini. Tapi yang kudapatkan apa? Kepuasan memang ada. Tapi materi yang kudapatkan nol besar.
Barangkali karena pengeluaran keluargaku, terutama istriku, yang tidak seimbang? Atau mungkin aku harus berhenti mengarang? Sebab mengarang buku sastra sepertiku itu, menurut penerbitnya, penjualannya sangat seret sekali di pasaran. Mereka bilang, meskipun negeri ini berpenduduk sangat besar, masih belum suka pergi ke toko buku. Apalagi membaca buku sastra?
Karena mumet di rumah, akhirnya aku keluar. Aku pergi ke Taman Ismail Marzuki (TIM), siapa tahu bertemu kawan yang bisa diajak ngobrol. Kadang-kadang, mengobrol bisa melupakan kesemrawutan di rumah, dan bisa memberi semacam pencerahan batin. Meskipun ketika sampai di rumah lagi, bertemu dengan wajah asem istri lagi, semuanya kembali seperti semula.
Di TIM, aku bertemu dengan seorang kawan yang pernah belajar menulis padaku. Namanya Dodi. Kami bertemu di dekat warung tenda, dan Dodi menawarkan aku untuk makan. Aku senang sekali diajak makan, sebab hari ini istriku tidak masak. Dari siang hingga sore, aku hanya melahap kemarahannya.
Setelah makan, kami ngobrol di depan planetarium.
"Abang kayaknya suntuk banget?"
"Biasa Dod, namanya orang hidup, selalu saja ada masalah. Apalagi abang kan sudah beristri. Hidup sendiri saja terkadang kita harus menghadapi masalah. Apalagi hidup dengan dua orang, hidup bersama-sama, yang mulutnya dua, pikirannya dua, perasaannya dua. Jadi kalau timbul konflik, ya wajar-wajar saja."
"Masalahnya apa, bang?"
"Istriku minta cerai!"
Dodi melongo mendengar kata cerai.
"Kenapa? Kamu kok bengong begitu mendengar kata cerai? Jangan-jangan, setiap ada artis cerai kamu begitu?"
"Abang kan bukan artis?"
Aku geleng-geleng kepala.
"Jadi cuma artis yang boleh bercerai?"
"Sebenarnya artis itu mungkin satu persen saja dari sembilan puluh sembilan persen orang Indonesia yang cerai, bang. Cuma, kalau artis kan selalu diberitakan media, sedangkan orang kayak kita nggak. Bener, kan?"
"Iya, sih. Kasihan juga jadi artis. Untung abang bukan artis. Kalau artis, mungkin abang sudah habis-habisan dikejar-kejar kamera! Hahaha!"
Kami berdua tertawa.
"Kamu sekarang kerja di mana? Masih suka nulis? Kayaknya hidup kamu sejahtera. Pasti kamu sudah nggak mengarang lagi? Dan... kamu ngapain malam-malam begini ada di sini?"
"Kebetulan saya tadi habis dari Senen, terus mampir di sini. Biasa, bisnis kecil-kecilan. Dan sekarang ini, saya udah nggak coba-coba lagi mengarang. Mungkin saya nggak bakat. Saya nggak pernah bisa mengarang meski pernah belajar sama abang."
"Sekarang pekerjaan kamu apa?"
"Saya buka usaha, bang. Membuka toko garmen. Yah, mumpung dimodali orangtua."
"Hebat! Aku juga ingin cari usaha. Biar istriku nggak marah-marah terus."
"Lho, tulisan abang kan udah banyak! Buku-buku abang juga udah terbit kan?"
"Iya. Tapi berapa sih honor tulisan abang? Lagipula, royalti buku-buku abang seret sekali!"
"Mending abang bantu-bantu saya aja, jangan cuma mengandalkan dari menulis. Menulis kan bisa dikerjakan kapan saja. Setelah abang dapet duit, abang bisa menulis sepuas abang. Daripada menulis terus, tapi ekonomi keluarga tidak memuaskan?"
"Pikiran lu maju juga, Dod. Untung lu nggak bisa mengarang. Kalau bisa, elu bakalan kayak abang."
Keesokan harinya aku menemui Dodi di tokonya. Dodi menyambut kedatanganku dengan suka cita. Di tokonya, semua anak buahnya diperkenalkan padaku. Ia menyebut-nyebutku sebagai pengarang hebat.
"Nah, mulai besok, mungkin abang sudah bisa bekerja di sini. Menurut abang, apa yang bisa abang kerjakan di toko ini?"
Aku kebingungan. Apa yang bisa kukerjakan selain mengarang? Aku ini memang benar-benar laki-laki payah. Pantas kalau istriku minta cerai.
"Aku hanya bisa mengarang, selain itu tak ada."
"Wah, abang benar-benar seorang yang setia pada keahliannya. Selama ini abang hanya mengarang, sehingga tak ada keahlian lain yang bisa abang kerjakan. Baiklah kalau begitu. Abang bekerja di toko saya, dan pekerjaan abang mengarang."
"Apa bisa?!"
"Bisa. Sangat bisa. Yang saya butuhkan adalah, cerita tentang toko ini, tentang barang dagangannya, jenisnya, kualitasnya, dan sebagainya."
"Dalam bentuk puisi, cerpen, atau novel?"
"Haha, abang becanda aja. Maksud saya, abang bisa kan, membuat brosur?"
"Brosur? Kalau cuma brosur, abang bisa. Abang kan pernah jadi wartawan. Ya sudah, akan abang kerjakan."
Keesokannya aku sudah mulai bekerja di toko Dodi. Sesuai pekerjaan yang diembankannya kepadaku, aku pun menunjukkan kebolehanku membuat tulisan. Hanya saja, kali ini tulisanku tidak asal karang. Tidak seperti membuat cerita yang keluar dari imajinasi. Aku mencatat bahan-bahannya dari kata- kata Dodi, tentang barang- barang yang ada di tokonya, sekalian kuramu dengan kata-kata indah yang bisa menarik orang untuk datang membeli. Dengan begitu, toko yang dikelola Dodi menjadi besar.
Dan terbukti, sejak itu toko Dodi diserbu langganan. Kami membuka cabang di mana-mana. Segala isi brosur tentang toko-tokonya diserahkan padaku. Bahkan pada akhirnya, aku dipercaya menggantikan tugas-tugasnya, karena Dodi sering bepergian keluar negeri untuk melebarkan sayap usahanya.
Istriku senang dan tidak lagi marah-marah. Apalagi minta cerai. Sepertinya ia sudah melupakan ucapan sakral itu. Kami hidup seperti tetangga-tetangga lainnya. Punya mobil, rumah yang bagus, hanya saja, aku menjadi karyawan seorang kawan lama dan tidak jadi seorang pengarang. "Kita sudah hidup seperti tetangga-tetangga kita, terus apalagi yang kau mau mpok?"
"Jangan panggil aku mpok lagi, ah!"
"Maunya apa?"
"Kita harus panggil papah-mamah lagi!" Aku menghela nafas panjang..
"Kenapa? Kamu keberatan, pah?" Aku menghela napas lagi.
"Kok dari tadi cuma menghela nafas ?"
"Aku nggak bisa hidup seperti ini terus, mm... mpok!"
"Sudah kubilang panggil aku mamaaah! Papah ini gimana, sih?"
"Ya, mah. Aku nggak bisa hidup seperti ini terus."
"Maumu apa?"
"Aku ingin mengarang lagi."
"Kalau begitu, kamu berhenti kerja saja. Toh kita sudah cukup sejahtera."
"Bener, nih?"
"Ya."
Satu bulan kemudian aku berhenti bekerja. Meskipun Dodi memaksaku untuk terus bekerja, aku tidak peduli. Aku percaya, rezeki di tangan Tuhan. Seperti juga saat aku membantu mengembangkan tokonya, kalau bukan karena Tuhan, tidak akan begini jadinya. Dan kalau nantinya Tuhan menjadikan aku miskin lagi, aku menerimanya.
Setelah berhenti bekerja, hidupku kembali seperti dulu lagi. Aku akan tinggal di rumah, mengarang sepuasnya. Tapi kini dalam keadaan yang ber- beda. Aku tak lagi hidup dikejar-kejar pemilik kontrakkan, dan tak lagi diceramahi istriku.
0Namun, ternyata aku tak bisa lagi mengarang. Aku merasa kesulitan merangkai kata. Pada kenyataannya aku hanya bisa membuat brosur. Ya Tuhan, kenapa aku sulit sekali membuat karangan? Setiap kali menulis, selalu macet di tengah jalan! ***
Pamulang, 2008
Dimuat di Republika 13/04/2008
Wajah Pak Penghulu langsung berubah pucat manakala kedua mempelai duduk di hadapannya. Baru kali ini Pak Penghulu terlihat begitu gugup. Beliau ragu untuk segera melakukan upacara yang sangat sakral dalam kehidupan sepasang manusia: Pernikahan. Sebelum acara pernikahan dimulai, Pak Penghulu yang hidup sendirian itu minta ijin ke belakang.
Menyadari akan perlakuan yang tidak mengenakkan itu, kedua calon mempelai yang masih tampak muda-muda itu mengejar Pak Penghulu untuk minta dinikahkan secepatnya.
"Tolonglah, Pak Penghulu! Please! Tunggu apalagi? Kami sangat berharap bapak menikahkan kami sekarang juga!" rayu salah satu calon mempelai.
"Benar Pak Penghulu! Rekan-rekan kami sudah menunggu! Pesta telah kami siapkan! Kami akan terlambat bila Pak Penghulu tak segera menikahkan kami!" tambah calon mempelai yang lain.
Pak Penghulu tak menjawab. Ia hanya mondar-mandir, seolah tak mendengar bujuk rayu itu.
"Tunggu sebentar. Perut saya mules!"
Pak Penghulu meninggalkan kedua calon mempelai, lalu masuk kamar kecil. Di dalam kamar kecil itu beliau tidak berbuat apa-apa. Tidak buang air kecil atau besar. Ia hanya berdiri sambil menghela nafas yang terasa sesak. Seperti tengah menghadapi sebuah peristiwa yang sungguh luar biasa beratnya. Meski selama ini beliau terbiasa menikahkan berpasang-pasang pengantin, tetapi untuk kedua calon mempelai kali ini ia teramat berat melakukannya.
Di daerahnya, memang tidak semua calon pengantin dinikahkan olehnya. Sebab Pak Penghulu yang satu ini hanya menerima pasangan yang setuju menikah di bawah tangan. Artinya, mempelai laki-laki dan wanita yang dinikahkan tak mendapat surat nikah. Surat nikah resmi yang dikeluarkan oleh Departemen Agama.
Pak Penghulu sudah sangat berpengalaman menikahkan orang. Baik dipanggil ke rumah salah satu mempelai maupun di kediamannya. Empat puluh tahun sudah Pak penghulu berkarir sebagai seorang penghulu. Jadi beliau sudah banyak makan asam garam soal pernikahan.
Selama menikahkan orang, beliau mengaku belum pernah mengalami kesulitan atau perkara soal sah tidak sahnya tentang hasil pernikahan yang dilakukannya. Bahkan, Pak Penghulu pun bisa membuat surat kawin resmi dari Departemen Agama, seperti yang didapatkan oleh pasangan yang menikah di Kantor Urusan Agama.
"Bagaimana cara Pak Penghulu mendapatkan surat nikah dari Departemen Agama?" tanya salah seorang mempelai pria yang menikah di bawah tangan pada Pak Penghulu, suatu ketika.
"Ah, gampang! Siapkan saja uang secukupnya. Nanti bapak yang mengatur!"
"Bapak bisa?!"
"Sudahlah. Apa sih sekarang ini yang tak bisa dibeli?!"
Bukan soal mampu mengurus soal surat-surat nikah saja yang bisa dilakukan Pak Penghulu. Beliau juga bisa menikahkan mempelai berkewarganegaraan asing. Bahkan, setelah itu mendapat surat nikah resmi! Benar-benar luar biasa Pak Penghulu yang satu ini.
Namun, malam ini, Pak Penghulu pusing tujuh keliling ketika menghadapi kedua calon mempelai yang datang ke rumahnya. Tiba-tiba ia merasa dirundung kegelisahan yang menjadi-jadi. Tidak seperti biasanya, Pak Penghulu dicekam rasa takut luar biasa manakala hendak menikahkan kedua mempelai seperti yang lazim beliau lakukan.
Saat Pak penghulu keluar dari kamar kecil, kembali kedua calon mempelai mendesaknya untuk segera menikahkannya. Dibantu oleh dua orang saksi yang sejak sore tadi menemani mereka.
"Come on, sir! Don't kid us! Saya mohon Pak Penghulu tidak merasa ragu untuk segera melakukan prosesi pernikahan kami!"
Pak Penghulu tidak menjawab. Beliau hanya memandangi satu persatu wajah mempelai dengan raut wajah pucat pasi. Ia seolah minta pengertian untuk tidak dipaksa-paksa. Sepintas ia ingat kaum Nabi Luth yang dikutuk Allah karena homo -- laki-laki bercinta dengan laki-laki.
"Kenapa Pak Penghulu? Bapak satu-satunya penghulu di daerah ini yang kami kenal? Kenapa Pak Penghulu ragu menikahkan kami!?" desak salah satu mempelai, dengan raut wajah berubah emosi.
"Kami tidak menuntut surat nikah resmi departemen agama! Kami menikah dibawah tangan, seperti kebanyakan mempelai yang menikah dengan Pak Penghulu!" tambah calon mempelai satunya dengan iba.
Pak Penghulu tetap tak menjawab. Ia benar-benar merasa ketakutan ketika kembali saling berhadapan dengan kedua mempelai ini, tidak seperti yang selama ini terjadi selama kurun waktu empat puluh tahun berkarir sebagai seorang penghulu!
"Beri saya waktu untuk berfikir," pinta Pak Penghulu akhirnya, sambil melangkah ke beranda depan rumahnya.
Malam semakin larut. Kedua mempelai tampak resah. Pak Penghulu masih menimbang-nimbang, apakah ia akan menikahkan kedua mempelai yang sudah jauh-jauh datang ke rumahnya ini atau tidak?
Sementara itu, karena belum juga mendapat kepastian setelah berjam-jam menunggu, kedua mempelai kembali mendatangi Pak Penghulu yang duduk termenung di kursi beranda depan rumahnya.
"Berapa pun akan saya bayar Pak Penghulu! Asalkan Pak Penghulu mau menikahkan kami!" rengek salah satu mempelai.
Masih tak ada jawaban. Pak Penghulu tetap diam membisu. Ia mulai berfikir. Dosa apakah yang tengah ia tanggung ini? Selama ini ia memang menikahkan orang di bawah tangan. Salahkah apa yang selama ini ia lakukan? Dulu, dulu sekali, ia menikahkan orang karena berniat membantu. Ia pikir, daripada berbuat zinah, orang lebih baik menikah. Begitu alasannya.
Di samping itu, mengapa orang-orang di daerahnya memilih dinikahkan oleh Pak Pengulu, karena tidak semua orang mampu menikah di Departemen Agama. Tak mampu membiayai. Lagipula, pasangan yang memilih dinikahkannya tak pernah memikirkan kekurangan atau kelebihan dinikahkan olehnya atau penghulu lain.
Tapi belakangan ini Pak Penghulu sudah jarang menikahkan orang. Sebab, orang lebih memilih menikah di kantor catatan sipil yang terletak di dekat kelurahan ketimbang dinikahkan olehnya. Mungkin karena sekarang ini penduduk yang menikah berharap punya surat nikah resmi. Sementara Pak Penghulu sudah tidak bisa mengeluarkan surat nikah resmi lagi. Pak Penghulu tak mau menyogok pihak depag yang biasa mengurus surat-surat nikah itu.
Disamping itu, setiap anak yang hendak masuk sekolah, disyaratkan pihak sekolah agar kedua orangtuanya memiliki surat nikah guna mengurus akta kelahiran. Jika tidak memenuhi syarat, akan sulit mengurus hal-hal lainnya yang juga membutuhkan surat nikah sebagai bukti bahwa kedua orangtua mereka telah resmi menikah.
Namun begitu, kedua mempelai yang saat ini berada di kediaman beliau tak peduli. Mendesak segera dinikahkan, walau tanpa surat nikah.
"Mereka sudah memenuhi syarat menikah, Pak Penghulu! Saksi ada! Mahar ada! Apalagi?!" kali ini salah seorang saksi yang membujuk Pak Penghulu untuk segera menikahkan dua calon mempelai itu.
"Saya tidak bisa, nak...."
"Why not?! Kenapa?! Apakah karena selama ini Pak Penghulu sudah jarang menikahkan orang lagi? Atau.... " salah satu mempelai hampir bersujud di kaki Pak Penghulu, dan terlihat meneteskan airmata.
"Bukan, bukan itu masalahnya, nak," potong Pak Penghulu, sambil memegangi pundak salah satu calon mempelai yang hendak bersujud di kakinya itu.
"Apa dong, pak?! Kata orang-orang Bapak sudah empat puluh tahun menjadi penghulu! Apa dong masalahnya, Pak?!"
"Masalahnya... selama ini bapak tak pernah menikahkan seorang mempelai laki-laki dengan mempelai laki-laki!"
"Kami ini pasangan gay, Pak! Bapak tidak baca koran, yah? Di Belanda saja sudah banyak gay yang menikah, Pak!"
"Ya, sudah! Kalian ke Belanda saja! Jangan menikah di sini! Bapak tidak bisa, nak!!"
"Pak! Pak Penghulu...!!"
Akhirnya Pak Penghulu masuk kamarnya dan mengunci diri! Pak Penghulu tidak memperdulikan kedua mempelai yang sudah siap menikah itu. Pak Penghulu tak sudi dibujuk rayu. Dua orang saksi pun tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya kedua mempelai 'jeruk makan jeruk' itu pun hanya bisa menangis di depan kamar Pak Penghulu.***
Dimuat di Republika 02/03/2008
Sejak masjid kubah emas itu selesai dibangun, orang-orang dari berbagai pelosok daerah berdatangan. Beberapa warga sekitar masjid kecipratan rejeki. Anak-anak mudanya mendapat pekerjaan sebagai tukang parkir, ada beberapa warga yang ditugasi sebagai penjaga masjid, dan sejumlah warga lainnya membuka lapak-lapak berjualan makanan di luar areal rumah ibadah itu.
Masjid kubah emas telah membawa berkah bagi sebagian warga sekitar. Namun, tidak bagi Markum dan keluarganya. Padahal, rumah Markum, yang lebih pantas disebut gubuk, berbatasan dengan pagar masjid. Markum pernah menawarkan diri jadi penjaga masjid, tetapi ia kalah bersaing dengan warga lainnya. Menjadi marbot masjid saja Markum tak lulus tes. Markum tidak memenuhi syarat.
Akhirnya Markum hanya menjadi penonton, seperti para pengunjung masjid kubah emas lainnya yang datang dari berbagai pelosok daerah itu. Hanya saja kalau pengunjung lainnya mengagumi kubah-kubah yang berlapiskan emas, Markum memikirkan bagaimana caranya mengorek-ngorek permukaan kubah itu untuk mengambil kandungan emasnya.
Adzan Isya sudah lama berkumandang. Markum masih berdiri di balik pagar masjid, tepat di sisi tiang gubuknya. Seperti malam sebelumnya, Markum memandangi kubah-kubah masjid yang berpendaran sorot cahaya lampu. Markum sudah hapal jam berapa pintu masjid ditutup untuk umum. Dan Markum tentu hapal benar kapan para penjaga masjid selesai berkeliling memeriksa sekitar masjid, memastikan bahwa keadaan aman.
"Pak...," suara istrinya terdengar pelan. Markum tak menoleh, masih memerhatikan salah satu kubah emas itu. Istrinya mendekat.
"Pak, sudah malam. Ayo masuk... uhuk!" istri Markum merajuk sambil sesekali terbatuk.
"Ibu saja duluan. Aku belum ngantuk. Aku sedang melihat kubah emas itu."
"Heran... hampir setiap malam bapak tidak bosan-bosannya melihat kubah-kubah itu."
Markum menatap wajah istrinya. Kecantikannya sudah lama memudar sejak digerogoti asma lima tahun lalu. Nampak kulit wajahnya mulai mengeriput. Markum menyadari, istrinya belum benar-benar tua. Kemiskinan telah membuatnya demikian.
"Pak, kalau begitu aku tidur duluan."
Markum mengangguk pelan. Setelah itu Markum mengeluarkan pisau baja yang sudah disiapkan untuk mengorek lapisan emas kubah masjid itu. Markum bergegas menuju sebuah pohon rambutan yang dahannya menjorok ke bangunan masjid. Markum naik pohon rambutan itu dan melompat ke genting masjid, seperti ninja dalam film Jepang. Saat sudah sampai di dekat kubah, Markum terperangah memandangi kubah berlapis emas.
Mula-mula ia usap-usap permukaan kubah itu. Yang ia rasakan seperti megusap lembaran-lembaran uang. Dulu Markum pernah jadi penambang emas di sebuah sungai, jauh di pelosok kampung asalnya. Saat butiran-butiran keemasan mengerling di balik pasir, itulah yang ia rasakan saat menggosok-gosok permukaan kubah emas itu.
Tetapi saat hendak menggosok kubah emas itu, Markum teringat akan pesan almarhum ibunya. Yang paling lekat dalam ingatannya, Markum harus jadi orang jujur. Meskipun miskin, mencuri adalah perbuatan yang hina. Markum tak jadi mengorek lapisan emas pada kubah masjid tersebut.
Baru tadi sore Markum berdoa di dalam masjid kubah emas yang emasnya tengah ia raba. Markum berdoa dengan khusuk, berharap Tuhan mau mendengarnya.
"Ya Allah Ya Rabbi, aku selalu memohon kepada-Mu, agar mendapatkan rizki yang halal. Tetapi sampai saat ini hamba belum juga bisa mendapatkannya. Ampunilah hamba bila hamba mengupas emas kubah rumah-Mu ini. Ampunilah hamba-Mu yang lemah ini, ya Rabbi."
Markum memejamkan matanya sesaat, membayangkan anaknya, Mardi, yang harus melunasi SPP. Lalu anak keduanya, Sarda, yang harus mendaftar sekolah. Dan si bungsu Adi yang harus dibawa ke dokter. Istrinya pun harus disembuhkan, dan tentu perlu biaya tak sedikit.
Markum mulai menggosok-gosokkan pisau khususnya pada permukaan kubah itu, dan tak lupa menadah hasil serutan pisaunya pada sebuah kain. Sambil terus menggosok, tatapan matanya mengedar ke sekeliling masjid. Ketika melihat salah satu penjaga masjid berkeliling, Markum menyudahi pekerjaanya. Dan saat penjaga tak terlihat lagi, Markum melanjutkannya. Akan tetapi langit tak bersahabat. Gerimis mulai turun membasahi genting-genting masjid. Sepertinya Tuhan bersedih menyaksikan apa yang dilakukan Markum. Markum tak peduli, ia terus menggosok-gosokkan pisau bajanya. Setelah hampir setengah jam menggosok permukaan kubah, Markum mengumpulkan serbuk-serbuk emas pada kain dan melipatnya. Markum memegangnya erat-erat lalu perlahan-lahan menuruni genting yang basah.
Tapi tak mudah berjalan di atas genting yang licin. Karena terlalu telah menggosok, yang menyebabkan tubuhnya kecapekan, Markum kehilangan keseimbangan. Salah satu kaki Markum terpeleset dan tubuhnya terjerembab. Tubuh Markum meluncur deras menuruni genting masjid hingga terdengar suara berdebam!
Suara-suara penjaga mulai terdengar. Sekitar empat penjaga masjid menyorotkan senter ke arah suara. Markum nampak tak berdaya, apalagi saat salah satu penjaga melihat keberadaan Markum yang teronggok di ujung genting. Sebelah tangannya yang memegangi pisau terlihat dari bawah masjid.
"Astaghfirullah!! Ada orang di atas genting!"
"Awas, hati-hati!! Dia bersenjata!"
"Kasih tahu warga! Umumkan lewat speaker masjid!"
Lalu salah satu penjaga masuk ke dalam masjid, dan mengumumkan lewat speaker. "Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh! Saudara-saudara sekalian, di masjid kubah emas ada pencuri! Pencurinya masih berada di atas genting!"
Markum mendengar pengumuman spekaer yang memekakkan telinga. Meskipun suaranya keras, ia mendengarnya lamat-lamat. Markum gugup dan lemas melihat darah mulai menetes dari keningnya. Saat terjerembab dari atas kubah tadi, kepalanya membentur ujung genting.
Beberapa saat kemudian warga sekitar masjid sudah berkumpul. Mereka adalah warga yang selama ini membangga-banggakan masjid kubah emas, dan diantara mereka memang ada yang mendapatkan rizki dari keberadaan masjid. Mereka adalah tukang parkir, pedagang asongan sekitar masjid, dan warga lainnya. Di antara mereka ada yang ternyata malas shalat di masjid, tapi kalau mendengar ada pencuri di masjid darahnya naik ke ubun-ubun.
"Ayo kita tangkap!"
"Habisin aja!"
"Bakar malingnya!"
Teriakan-teriakan di bawah masjid membuat Markum makin tersudut. Markum tak mampu menatap ke bawah masjid karena posisi tubuhnya yang terlentang di salah satu ujung genting. Namun begitu, Markum masih bisa memandangi cahaya lampu masjid berpendaran menyorot kubah emasnya. "Pak...." Markum seperti mendengarkan suara istrinya.
"Pak... ayo masuk! Hujan-hujan begini kok di luar. Nanti bapak sakit." Suara sang istri membuyarkan lamunannya. Pisau dalam genggamannya nyaris terjatuh.
"Pak. Uhuk... bapak sedang apa di luar?" ulang istrinya, sambil sesekali terbatuk. Gerimis yang membasahi kepalanya mulai berhenti. Markum tahu kalau istrinya tengah menatap dirinya. Markum memaksakan tersenyum sambil memandangi kubah-kubah emas yang berkilauan cahaya lampu. "Bu. Kubah masjid itu indah sekali ya?"
"Ya jelas saja, Pak. Kubahnya saja dari emas. Uhuk... ayo Pak masuk. Nanti bapak masuk angin."
Markum melepaskan pisau dalam genggaman, lalu masuk mengikuti langkah istrinya ke dalam gubuk. Kubah masjid berpendar-pendar meski langit tanpa rembulan. Entahlah... apakah besok malam Markum tak berubah pikiran untuk tetap mencongkel salah satu kubah emas itu.***
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)
