Cerpen Setta SS
Dimuat di Story Teenlit Magazine, Edisi 24/Th.III/25 Juli-24 Agustus 2011
PERKENANKAN aku mengenalkan diri terlebih dahulu padamu. Namaku Octopus. Ya, kau benar, arti namaku adalah delapan kaki, sesuai jumlah kaki-kakiku yang menjuntai dari kepala yang sekaligus pusat koordinasi gerak keseluruhan tubuhku.
Aku memiliki tubuh tidak selayaknya susunan organ-organ tubuhmu. Aku memiliki tiga buah jantung. Darahku berwarna biru pucat. Aku bernafas dengan menggunakan dua buah insang. Kaki-kakiku sekaligus berfungsi sebagai tangan-tanganku dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung untuk bergerak di dasar laut—habitat asliku, dan menangkap mangsa. Hampir seluruh bagian tubuhku hanya tersusun dari otot-otot dan tanpa tulang.
Aku tidak memiliki cangkang sebagai pelindung di bagian luar dan tidak memiliki cangkang dalam atau tulang seperti sahabat-sahabatku, Sotong dan Cumi-cumi. Satu-satunya bagian tubuhku yang keras adalah paruh, semacam rahang pada tubuhmu untuk membunuh mangsa dan menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil. Begitulah kehendak Tuhan mewujudkan fisikku yang jauh berbeda dari sosokmu di planet paling subur dan makmur ini.
O, aku hampir lupa, usiaku kini sudah dua tahun lebih. Namun berat badanku tak sampai seperlima dari berat badan normal bangsamu saat seumuran denganku. Tapi perlu aku beritahu agar kau tak mencibirku, nenek moyangku di Pasifik Utara sana ada yang berat badannya mencapai 40 kilogram lho!
Aku tidak tahu pasti lahir di mana tepatnya, tetapi sejauh memoriku mengingat saat membuka mata pertama kali aku sudah berada di Weymouth Sea Life Park, terletak di sebuah negeri kepulauan yang diapit oleh Laut Utara dan Samudera Atlantik. Dari desas-desus yang mampir ke telingaku, Ayah kandungku wafat setelah mengawini ibuku, dan ibu menyusul ayah tak lama berselang setelah ia menelurkanku dan sekitar dua ratus ribu saudara sekandungku. Kemudian aku diboyong ke negeri Hitler saat masih usia hitungan minggu. Tentu kau mengenal sosok yang aku maksud ‘kan? Di sebuah ruangan berbentuk persegi tersusun dari balok-balok kaca di sebuah kompleks di Oberhausen—bagian barat negeri Hitler terletak tak terlalu jauh dari bantaran Sungai Rhein, aku tinggal sekarang.
Paul, begitu bangsamu—bangsa paling mulia dan tercerdas versi Tuhan, biasa memanggilku di sana. Bukan Octopus, nama kebanggaan warisan kedua orangtuaku. Entah, aku tidak paham kenapa mereka menamaiku Paul. Mungkin karena aku seorang pejantan, dan menurut mereka nama itu cocok untukku?
Huh! Satu hal yang pasti, aku sangat benci dipanggil dengan nama itu. Nama itu hampir identik dengan bencana yang kerap mengintai hidupku sekarang! Atau ada sebagian di antara kalian lebih menganggapnya sebagai sebuah anugerah Tuhan yang wajib kusyukuri karena nama itu membuatku tenar? Fuihh!!
Ketahuilah, sejak perhelatan akbar olahraga aneh memperebutkan sebuah bola oleh dua puluh dua orang dari bangsamu digelar di ujung selatan Benua Hitam beberapa bulan lalu, kurasa akhir hidupku—yang sangat jarang bisa melampaui usia lima tahun, menjadi kian buram. Kini aku memiliki banyak musuh dari golongan bangsamu. Mereka yang menganggapku musuh lebih tepatnya. Aku sangat sedih karenanya. Tapi apalah dayaku?
Coba kau simak beberapa ungkapan kemurkaan sebagian bangsamu yang sampai ke telingaku ini:
“Kita akan mengejar Si Paul dan menaruhnya dalam beberapa potongan paprika. Kita kemudian akan memukul-mukulnya agar dagingnya tetap lembut dan lunak, dan lalu mencemplungkannya ke air mendidih,” ujar Nicolas Bedorrou, seorang koki ternama.
“Aku ingin membunuhnya dan memasukkannya dalam paella—nasi goreng seafood ala Latin,” ujar seorang lainnya.
“Semua yang Anda butuhkan hanyalah empat kentang berukuran sedang, minyak zaitun untuk rasa dan sedikit merica bubuk,” tulis media berjudul El Dia, memberikan resep bagi siapa pun yang berani menangkapku setelah kekalahan tim negaranya dalam olahraga berebut memasukkan sebuah bola ke gawang lawan yang tak kutahu apa namanya itu, hanya gara-gara polah makanku yang dijadikan bahan ramalan di negeri tempatku dibesarkan.
Gila! Ini benar-benar sudah gila! Apa salahku sesungguhnya?
Aku tak pernah berpikir tentang hal ini sebelumnya. Tapi itulah fakta yang harus kuhadapi kini. Dan yang membuatku semakin tidak mengerti, semua ini terjadi karena kebodohan bangsamu sendiri. Tak kusangka, bangsamu ternyata bisa lebih idiot dari bangsaku! Sungguh, aku tak bermaksud merendahkan tingkat kecerdasan bangsamu. Karena aku pernah mendengar makhluk yang tercipta dari cahaya pun sudah mengakui kecerdasan bangsa kalian. Maafkan aku bila kata-kataku tidak berkenan. Tapi aku sangat kesal!
Semua bermula dari aktivitas sekelompok cerdik pandai dari bangsamu. Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun menjadikan sebagian bangsa kami sebagai objek eksperimen, mereka menyimpulkan bahwa bangsaku sangat cerdas dan kemungkinan merupakan yang paling cerdas di antara semua bangsa invertebrata.
Bangsa kami mampu melakukan proses pemikiran yang rumit, memiliki ingatan jangka pendek dan jangka panjang—tentu saja sebatas usia bangsaku, mampu menggunakan peralatan, membedakan berbagai bentuk dan pola, dan belajar melalui pengamatan—aku bisa membuka tutup toples dengan belajar dari melihat saja. Saudara-saudaraku yang tinggal di habitat asliku sering memanjat kapal penangkap ikan dan membuka ruangan penyimpan ikan untuk memakani kepiting. Beberapa saudaraku yang lain juga bisa menangkap dan memangsa beberapa spesies ikan hiu. Selain itu, warna kulit tubuh kami bisa diubah sesuai warna dan pola lingkungan sekitar dengan maksud melakukan kamuflase—penyamaran. Dan sebagian spesies bangsaku juga bisa menirukan gerakan dan membentuk postur hewan laut lain untuk mengelabuhi mangsa atau predator kami.
Dari anggapan sebagian cerdik pandai bangsamu itulah deritaku sesungguhnya dimulai. Hingga sebutan si peramal cerdas, ahli nujum, dukun, cenayang atau apalah istilah bangsamu, melekat pada setiap penyebutan namaku sekarang. Lelucon yang sama sekali tidak lucu! Semakin menjadi tidak lucu lagi ketika hal itu hanya didasarkan karena aku lebih memilih menyantap remis—makanan kesukaanku, dalam satu kotak lebih dulu daripada remis dalam kotak yang lainnya.
Padahal, demi Tuhan, aku hanyalah makhluk biasa seperti bangsa kalian yang tak bisa meneropong masa depan. Tak juga mengetahui bagaimana, kapan dan di mana akhir usiaku sendiri.
Aku benar-benar kesal! Tapi baiklah, aku akan ceritakan apa yang sesungguhnya telah terjadi selama ini. Dan kuharap kau akan lebih mempercayai ceritaku ini daripada parade bualan sebagian kalangan dari bangsamu itu.
Adalah Daniel Fey, induk semangku di Oberhausen, pada mulanya ia iseng mengerjaiku. Aku tidak pernah berpikir macam-macam saat dia menceburkan dua buah kotak kaca kecil berukuran sama ke dalam rumah kacaku yang tidak begitu luas. Aku tidak peduli sama sekali dia memasang benda apa saja di dalam kedua kotak kaca yang diceburkannya itu. Di dalamnya masing-masing ada juga sebuah bendera, katamu? Aku tidak mengenal sama sekali benda apa itu. Yang aku tahu, indera penciumanku yang tajam mencium bau remis di dalam kedua kotak kecil itu. Tapi Daniel sungguh cerdik. Dia sengaja menutup rapat kedua kotak kaca yang dijatuhkannya itu.
Kau tahu, aku selalu merasa lapar setiap kali mencium bau remis. Tentu saja aku segera menghampiri salah satu kotak berisi remis yang letaknya paling dekat dengan posisiku. Atau kadang aku iseng mengendus bau remis dari luar kedua kotak kaca itu bergantian terlebih dahulu sebelum memilih salah satu di antaranya untuk kunikmati pertama kali.
Demi Tuhan, hanya ritual itu saja yang kulakukan!
Sungguh aneh jika kemudian pilihanku setiap pertama kali menyantap remis di salah satu dari dua kotak yang berkali-kali dijatuhkan Daniel ke dalam rumah kacaku itu sudah menggegerkan bangsa kalian. Tepatnya dijadikan acuan, apakah negeri tempatku dibesarkan akan memenangkan laga memperebutkan sebuah bola oleh dua puluh dua orang itu atau sebaliknya akan menderita kekalahan.
Oh my God! Sekali lagi aku minta maaf, tapi kali ini benar-benar tampak bodoh bangsamu yang katanya sangat cerdas itu di mataku. Tiba-tiba aku ingin tertawa sekeras-kerasnya, mentertawakan sebagian di antara kalian yang meyakiniku bisa meneropong masa depan. Sebuah pola pikir aneh yang rancu dan konyol di zaman serba canggih ini! Hahahaha….
Bangsamu tentu belum sepenuhnya lupa. Hampir dua tahun silam, makhluk-makhluk dungu di antara kalian kecele di meja kasino. Entah karena pertimbangan logis apa, mereka telah menjadikan ritual makanku sebagai patokan gambling dalam olahraga serupa. Hahahaha…. lucu, sangat lucu! Namun sekaligus membuatku menangis tanpa airmata. Begitulah yang sesungguhnya telah terjadi selama ini.
Inilah pengakuanku yang sejujur-jujurnya. Aku bersumpah tidak ada rekayasa dan atau paksaan dari pihak mana pun. Bangsamu harus percaya sepenuhnya padaku meski pengakuanku ini tidak aku bubuhi tandatangan di atas materai enam ribu rupiah seperti kebiasaan kalian saat menyatakan sumpah secara tertulis. Hmm… aku juga meminta maaf mungkin terlalu telat untuk mengkonfirmasi hal ini. Berjanjilah, jangan musuhi aku lagi setelah ini! Aku mohon, kasihanilah aku. Aku sudah cukup menderita selama ini.
Dan, ketahuilah, meski sepasang mataku ini bisa membedakan polarisasi cahaya, sesungguhnya aku dan seluruh warga bangsaku mengidap daltonism. Ya, bangsa kalian jamak menyebutnya dengan buta warna….
Epilog
Hari ini, Selasa, 26 Oktober 2010, Paul si Octopus yang seratus persen jitu meramal selama Piala Dunia lalu mangkat secara alamiah dengan tenang di akuarium tempat ia hidup di Oberhausen Sea Life Center, Berlin, Jerman, pada usia dua setengah tahun. (*)
Dimuat di www.angsoduo.net, 23 Pebruari 2011
UDARA meraja sumsum. Angin beku. Banjir embun pekat. Sekawanan manyar nyinyir enggan di pucuk-pucuk sengon. Sepasang kelelawar bersliweran menyisir daun-daun pisang kering berwarna coklat suram yang bergelantungan dari pohonnya, kembali dari perburuan semalaman suntuk sarat saingan. Paduka Siang meringkuk menekuk tengkuk. Kecuali Ki Pradopo. Ia sudah bergegas menuju ladang tembakaunya. Membawa sepasang keranjang bambu di pikulan bahunya. Seperti kebiasaannya saat musim panen raya itu tiba. Tak lama selepas adzan pagi berhenti terdengar dari corong soak mushala kecil tak berpengunjung selain muadzin merangkap imam-makmum tepat di tengah-tengah kampung Halimun itu. Inilah saat pagi yang ditunggu-tunggu itu!
Namun kejanggalan melanda Ki Pradopo kali ini. Ia mati kutu di atas ranggonnya. Nir-senyum. Tak siul. Apatah dendang. Raut wajah itu seperti kulit mayat! Sendu satu-dua.
Hai, lupakah ia mengharamkan isak lelaki Petala kecil? Karma apa yang jaya menikamnya?
***
LANGIT masih hijau. Sebutir cengkir terpelanting jatuh ke tanah basah tersenggol seekor induk bajing yang terburu meloncat dari manggar menyusur pelepah ke ranting-ranting jati kering. Kerik jangkrik. Sabda burung hantu. Sesekali terpantul sendu dari balik rimbun pepohonan di ujung kampung di pinggiran hutan itu. Embik kambing lapar. Sahut-menyahut. Kokok ayam satu-satu. Mengepakkan sayap kaku dari balik pucuk-pucuk daun jambu air. Embun lebat menyeruak, menyelimuti hamparan tegalan seluas lapangan bolasepak berjejer pohon-pohon tembakau setinggi tubuh normal remaja tujuh belas tahun. Membekukan setiap zarah yang dihinggapi.
Tetapi lelaki tua itu seperti tak terusik suasana. Ki Pradopo, 63 tahun, sudah khusyuk bekerja di ladang tembakaunya seperti hari-hari sebelumnya. Tubuh legamnya hanya terbungkus oblong pudar, celana kain sebatas lutut dan selembar sarung usang dililitkan di lehernya. Ia tak pernah beralas kaki saat ke ladangnya. Ki Pradopo sedang nyirungi tanaman tembakaunya. Mengambili daun-daun bakau muda yang tumbuh di sekeliling batang tembakau di bawah daun-daun utama yang siap dipanen beberapa hari lagi.
Sebenarnya pekerjaan nyirungi itu dilakukan setiap tiga hari sekali. Namun jumlah batang tembakau ge’njah sogoti miliknya mencapai 3000 batang. Ia tak sanggup menyelesaikannya setiap pagi seorang diri. Mak Entek, istrinya, insyaf setengah mati tak hirau membantu. Ia pun tak cukup uang untuk mengupah orang.
“Tembakau yang kau tanam dan kelak kau isap asapnya itu akan semakin menggerogoti tubuh rentamu perlahan-lahan, Pak!” alasan keberatan Mak Entek.
“Bukan urusanmu! Bahkan aku sudah siap dengan seribu resikonya!” jawab Ki Pradopo suatu ketika.
“Pasti ludes dirampok tikus-tikus ganas serakah itu! Tetapi hama-hama keparat itu mustahil menyentuh batang tembakauku!” kali ini Ki Pradopo membantah mentah-mentah usulan Mak Entek agar mengganti ladang tembakaunya dengan palawija saja.
Meski Mak Entek membenarkan argumen suaminya yang terakhir itu, ia tetap bersikeras tak berkompromi. Mak Entek memilih hanya mengurusi ladang mereka yang lainnya di pinggir kali Cikawung. Menanam padi, kacang tanah, jagung, ketela, ubi jalar, kacang panjang, timun, terong, tomat, kecipir dan leunca selang-seling di antara musim penghujan dan kemarau panjang.
Maka Ki Pradopo wajib mandiri nyirungi setiap pagi. Seribu batang per hari. Dua bulan runut sejak munggel pertama tepat di hari ke empat puluh.
“Biar rasa bakaunya tidak sepet,” mendiang ayahnya dulu selalu menjawabnya demikian setiap kali ia bertanya kenapa harus disirungi.
Saat mentari mulai meninggi dan keringat merembes di kaos oblongnya, Ki Pradopo naik ke atas ranggon di tengah ladangnya. Mengurai lilitan lembab sarung usang di leher dan melepas kaosnya. Ia menjemurnya pada seutas tali rapia yang ujung-ujungnya terikat di dua tiang utama gubuk bertingkat itu. Kemudian ia duduk bersila di lantai sengon ranggon. Menggulung klaras jagung berisi tembakau daun rampasan tanpa menambahinya dengan cengkeh, kemenyan, kelembak atau apapun. Dan menyulutnya dengan pemantik api lawas. Ia menamai rokok buatannya itu bedod.
Ki Pradopo mengisap dalam-dalam bedodnya dengan nikmat. Polutan pekat campuran nikotin, arsenik, amoniak, hidrogen sianida, aceton, hexamine, cadmium, DDT dan puluhan zat toxic lainnya berputar-putar rendah di atas kepalanya sebelum menelusup enggan di antara jalinan atap rumbia. Ki Pradopo pun terbatuk-batuk hebat beberapa kali memamerkan wajah siksaan. Namun itu hanya berlangsung sesaat saja. Ia tersenyum lambat laun. Tak lain karena sepuluh hari ke depan ia sah memetik buah lelahnya. Ia akan berpanen raya.
Teringat hari yang sangat ditunggu itu, otot-otot di ceruk mata bangkanya seketika merapat kompak, mengembarakan pemiliknya ke suatu masa raya.
Daun-daun bakau pilihan itu diperamnya seminggu penuh di pojok ruang depan kediamannya yang hanya berlantai tanah. Ditutup rapat daun raja atau ambon hingga daun-daun bakau itu menguning kunir. Ki Pradopo lantas memindahkannya ke dalam beberapa keranjang bambu dan memanggulnya ke belakang rumah tempat cakcak miliknya dimusiumkan sementara. Cakcak adalah sebuah bangku panjang dengan rangkaian kayu membentuk huruf V di atasnya untuk meletakkan sekepalan daun bakau saat dirajang.
Kedua tangan Ki Pradopo akan gesit memilih-memilah daun-daun tembakau kuning kunir itu. Melipat setiap beberapa lembar daun seukuran celah V cakcak. Menyentuhkan mata tajam abir pada lipatan daun setengah putus. Meletakkannya di atas hamparan daun raja dekat cakcak. Hingga tak sisa sehelai daun bakau pun dalam keranjang bambunya. Mulailah ia merajang sepenuh jiwa raga. Semua keahlian seni rajang-merajang ia keluarkan totalitas demi hasil terbaik rajangannya. Ki Pradopo akan seharian penuh bekerja untuk menyelesaikan ritualnya itu. Beberapa hari maraton selama masa panen raya.
Begitulah, empat hari empat malam rajangan bakau itu ditempatkan di udara terbuka di atas widig pada pelanggrang. Dipanggang bagaskara, gigil bersama semilir angin malam dan diselimuti rintik embun sejak dini hari.
Semua laki-laki di kampung Halimun menyukai tembakau hasil rajangan Ki Pradopo. Tak kecuali Petala, anak semata wayangnya yang kini menetap di pinggiran kota kecil pesisir utara bersama istri dan seorang cucu satu-satunya. Meski terbiasa dengan rokok kretek, juniornya itu saat mudik atau ketika dikirimi satu kardus besar tembakau hasil rajangannya akan langsung diembatnya juga hingga tandas tak tersisa. Ia dan juniornya ibarat pinang dibelah dua dalam hal kerakusan menghisap bedod. Sepasang anak beranak maestro peracik tembakau. Tak ada seorang pun yang menyangsikannya.
Ki Pradopo biasa mengupah Kana, seorang bujang lapuk yang kerja serabutan, untuk mengecerkan tembakau kering hasil rajangannya atau dijualnya sendiri dengan menggelar lapak di pasar tradisional. Uang pun akan mengalir tak seret ke kantongnya seorang. Mak Entek tak sudi ikut menikmati seperbagian uang hasil penjualan tembakau yang pernah disisihkan untuknya.
***
SOSOK uzur rambut uban setengah senti itu hendak mengangkat kepalanya yang tertunduk dalam. Tetapi terasa sangat berat olehnya seperti memindahkan bobot seton. Tiba-tiba mata Ki Pradopo melotot serta merta bak memotret hantu putih menyeringai satir di ujung sana. Tulang punggungnya jingkrak sekejap.
Tetapi bukan hamparan daun-daun bakau ijo royo-royo siap panen yang tertangkap sepasang retina nyalangnya detik itu. Melainkan kobaran api raksasa menjulang angkasa. Lidah api putih menggulung tegalan kerontang kebanggaanya. Menjilat apa yang bisa dijilat. Tak pilih-pilih jilat.
Meski sejatinya kobaran api membabi buta itu hanya ada dalam ilusinya semata. Tak pernah benar-benar nyata.
***
“APA beda tembakau rampasan dan sogol?” tanya Petala kecil, lebih tiga dasawarsa ke belakang, saat menemani Ki Pradopo munggel di ladang yang sama.
Ki Pradopo akan tersenyum masygul setiap kali teringat kembali percakapan di suatu pagi akhir Juni itu. Dibumbui secuil angkuh, mulailah Ki Pradopo menjelaskan. “Tembakau rampasan itu dibuat dari daun tembakau generasi pertama pilihan—daun tembakau terbaik ….”
“Kalau sogol?” Petala kecil tak sabar menunggu kelanjutan jawaban bapaknya yang terhenti mengisap bedod.
“Sogol diracik dari daun tembakau yang tumbuh belakangan setelah daun rampasan.”
“Apa lagi bedanya, Pak?”
“Rajangan tembakau rampasan tetap lemes walaupun disimpan setahun lebih, tetapi sogol akan mengeras dan rasanya segrak—tak enak,” terang Ki Pradopo.
Sepasang bibir mungil Petala kecil reflek mencetak vokal nomer urut empat dari permulaan abjad beberapa jenak sambil menganggukkan kepalanya dua kali angguk. Petala kecil selalu kagum pada ayahnya yang hafal betul seluk-beluk dunia olah tembakau.
Petang itu, Ki Pradopo sedang mendudukkan duburnya jumawa di atas ranggon. Kedua tungkai keringnya menjuntai menampar-nampar angin sore puncak kemarau yang bersliweran di kolong ranggon. Ia menikmati benar tarian gemulai daun-daun bakau di ladangnya itu. Bila tak ada aral, besok pagi-pagi ia akan mulai memanennya.
Walaupun ladang bakauku di ampah, namun tak kalah jauh rasanya dengan tembakau kedu di pegunungan sana! lanturnya beberapa jenak kemudian, sembari ngeloyor berbalik menyusuri jalan setapak ke arah ujung kampung.
***
SURAT singkat Prihatini, menantunya, terserak tak berdaya di antara sepasang kaki busik penuh guratan bekas luka milik Ki Pradopo yang tergolek semaput di ranggonnya. Diantarkan Sigar semalam, titipan Pak Pos, saat ia sudah terlelap dalam buaian bunga tidurnya tentang panen raya pagi itu.
KANG Petala hanya bertahan dua malam di rumah sakit sebelum berpulang, Pak. Dokter bilang, selain pendarahan di otak akibat benturan keras—terpeleset di kamar mandi saat akan membuang dahak berdarahnya, paru-parunya hangus tergerus asap bakau….
***
Yogyakarta, 24 Mei 2o1o ooSurprised2 a.m.
Catatan:
Ge’njah sogoti: jenis pohon tembakau yang usianya kurang dari 100 hari sudah dipanen; munggel: memotong cabang batang yang keluar bunganya; widig: anyaman bambu untuk menjemur rajangan tembakau; pelanggrang: rangka untuk meletakkan widig terbuat dari bambu gelondongan.
Ilustrasi: lukisan Cak Kandar
Dimuat di Berita Pagi, Minggu, 20 Juni 2010
Selain postur mereka yang tampak sehat, yang membuat sebagian penduduk kampung Cicanggah gelisah adalah penampilan mereka yang tidak seperti orang gila pada umumnya. Yaitu mengenakan baju koko, celana pangsi hitam, kopiah khas pribumi, dan sepotong kain sarung usang dibelitkan di pinggang. Meski seperangkat pakaian itu tampak lecek dan kumal. Selama beberapa hari singgah di kampung Cicanggah, kedua orang gila itu selalu hadir di mushala untuk shalat Maghrib dan Isya berjamaah.
Tentang pakaian mereka yang lebih rapi dari orang gila kebanyakan, sebagian warga kampung ada yang berkomentar sumbang. Separohnya acuh tak acuh. “Bagiku sih bodo amat! Asal tidak mengganggu ketertiban dan kedamaian kampung kita. Aku hanya was-was keduanya orang waras yang sedang mengawasi kampung kita. Anak buah kelompok teroris misalnya. Siapa tahu?” Beberapa warga kampung yang lain mengangguk-anggukan kepala, sepakat.
“Masih mending pakaiannya sopan! Coba kalau tidak berpakaian sama sekali seperti orang gila yang sering berkeliaran di pinggir jalan kota itu. Hii….” celetuk seorang ibu muda yang hanya mengenakan kutang dan kain samping sekenanya. Rona mukanya memerah seketika setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya. Ia sedang menyusui bayinya.
“Aku pilih si Jamali saja,” kali ini sebuah suara serak terdengar dari arah belakang kerumunan mereka di pos ronda sore itu. “Dia tidak pernah membuat onar di kampung kita. Dan, hahaha… dia juga baik sekali! Kalian masih ingat saat aku tanyakan nomor buntut padanya? Tidak sia-sia aku bertaruh uang sepuluh ribu yang tadinya untuk bayar SPP sekolah si Toto anakku. Tembus dah!” Tawa lelaki yang tampak jauh lebih tua dari usianya itu kembali membahana, memamerkan gigi-gigi besarnya yang kuning kusam. Tapi si Jamali yang selalu menjadi rebutan orang sekampung untuk menanyakan nomor togel yang akan keluar itu sudah tidak pernah mampir lagi ke kampung Cicanggah sejak lama. Begitulah.
Orang gila pertama mengawali kedatangannya di kampung Cicanggah dengan aksi nyeleneh. Matahari masih bertengger garang di tepi langit menjelang sore itu. Sawah pecah-pecah. Batang-batang padi bertumbangan. Para warga terpaksa menggantinya dengan biji kedelai hitam. Orang gila itu sudah berada di tengah ladang kedelai seorang warga. Mengeruk jerami kering yang menutupi tunas-tunas kedelai yang baru tumbuh tak lebih dari tujuh senti dengan kedua tangannya. Menumpuknya menjadi gunungan jerami di tengah sawah kerontang. Seperti hendak membumihanguskannya dalam sekejapan mata.
Sang pemilik ladang panik bak orang kesetanan mendapat kabar dari anaknya yang sedang asyik bermain layangan di lapangan. Ia berlari menghampiri sang terdakwa dengan golok besar mengkilat terhunus di tangan kanannya. Tetapi orang gila itu bergeming. Tak peduli teriakan si empunya sawah yang nyaris kehabisan suara dan kata-kata. Tak hirau sebilah golok yang baru beberapa saat lalu selesai diasah bergerak-gerak liar di depan wajahnya. Acuh pada warga kampung yang berkerumun menatap heran padanya.
Siapa namanya? Dari mana asalnya? Kenapa bisa gila? Sejak kapan dia gila?
Lelaki kekar berkopiah khas pribumi itu baru menghentikan aktivitasnya sesaat setelah pemilik sawah menghamburkan jerami kering yang hampir mencapai setinggi pusar ke tubuhnya. Menutupi badannya. Ia ngeloyor pergi begitu saja. Seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Anehnya saat azan maghrib berkumandang, ia sudah duduk bersila di shaf pertama mushala kampung satu-satunya. Dan akan tetap tinggal di sana hingga jamaah Isya selesai ditunaikan. Beberapa kakek dan nenek yang suka shalat berjamaah di mushala itu bertambah heran saja ketika mendengarkan wirid yang terlantun seusai shalat dari bibirnya. Sama persis dengan apa yang mereka lafalkan: istighfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir, surat Al-Fatihah, ayat kursi dan doa-doa yang biasa mereka panjatkan. Bahkan ada beberapa wirid yang dilantunkan orang gila itu yang tidak mereka hafal, namun pernah diucapkan oleh seorang kiai yang mengisi pengajian ibu-ibu setiap Jum’at sore.
“Orang gila itu benar-benar aneh,” ujar seorang jamaah, sesaat sebelum mereka meninggalkan mushala menuju kediaman masing-masing.
“Mungkin tadinya dia seorang ustad, tetapi gila…,” seorang nenek yang menutupi rambut putihnya dengan cindung ungu menimpali.
“Ustad gundulmu! Masa ustad bisa gila? Bagaimana orang yang bukan ustad?” hardik seorang kakek tak sepaham.
“Ya sudah! Aku tidak akan ngomong lagi tentang orang gila itu!” balas si nenek sengit. Ia pundung, tak terima kata-kata kasar sang kakek.
Obrolan itu terhenti total. Mereka berjalan perlahan menjauhi mushala yang sudah gelap gulita dalam diam. Tak peduli lagi nasib wong edan yang mungkin sedang merenungi nasib sialnya di pelataran mushala. Pintu satu-satunya yang ada di mushala kampung itu telah dikunci sempurna.
Hanya tiga hari orang gila pertama tinggal di kampung Cicanggah. Saat mentari kembali menyembul di Timur tepat di hari keempat pasca kemunculannya, sosoknya lenyap bagai ditelan bumi. Tetapi warga kampung Cicanggah terlalu sibuk menghadapi paceklik yang sedang menghampiri mereka. Tak sempat lagi sekadar bertanya-tanya tentang kepergiannya. Mungkin hanya sekompok warga yang rajin mendatangi mushala saat petang menjelang saja yang tiba-tiba merindukan sosoknya.
Sepuluh hari berselang, warga kampung Cicanggah kembali geger. Kampung mereka kedatangan tamu tak diundang lagi. Orang gila lain dengan pakaian yang nyaris sama dengan orang gila pertama. Dan lagi-lagi, orang gila kedua pun menjadikan mushala renta satu-satunya di kampung Cicanggah sebagai base camp.
Ia tiba di kampung Cicanggah saat para penduduk sedang asyik ngerumpi di teras-teras rumah mereka sekitar jam lima sore. Ia datang dengan damai. Tidak seperti orang gila pertama. Bahkan ia sempat bercakap-cakap dengan warga kampung. Diskusi konyol, tentu saja. Lumayan untuk menghilangkan stress, kata mereka. Ada juga warga yang memberinya rokok kretek dan menyulutkannya sambil diam-diam berharap kejatuhan sempur diberi info nomer togel yang akan keluar.
Maka begitulah. Orang gila kedua pun sudah khusyuk berzikir saat gelap menggantikan terang sore itu. Lagi-lagi jamaah maghrib yang hanya beberapa gelintir dan orang yang itu itu juga hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarkan wiridnya yang fasih seusai shalat.
“Orang gila sekarang kok aneh-aneh sekali tingkahnya,” gumam sang imam mushala tak mengerti menyaksikan orang gila kedua itu sedang menyelesaikan rakaat kedua shalat bakdiyah maghribnya.
“Mendingan orang gila masih ingat pada Tuhan. Zaman sekarang sudah banyak kok orang yang waras dan merasa pintar, tetapi sudah berani melupakan-Nya…,” jawab jamaah lain, entah ditujukan kepada siapa.
Orang gila kedua singgah dua malam sehari di kampung mereka. Di siang hari, ia akan memunguti kuntung rokok di sepanjang jalan kampung atau mencabuti teki di halaman mushala. Persis seperti polah orang gila pertama. Hanya itu rutinitasnya selain minta jatah makan ke rumah warga yang didatanginya acak di pagi hari dan saat matahari akan tenggelam. Tak ada yang perlu dicurigai. Jika pun ada, tentu pilihan keduanya yang menjadikan mushala kampung sebagai base camp yang masih menyisakan tanda tanya hingga kini.
Seminggu berselang setelah orang gila kedua pergi tanpa meninggalkan jejaknya, kampung Cicanggah lagi-lagi geger. Namun kali ini bukan orang gila seperti dua orang sebelumnya yang menjadi penyebab. Tetapi salah seorang dari warga mereka sendiri yang dicap gila. Namanya Ani. ABG perempuan. Badannya bongsor. Hanya sempat mengenyam SD sampai kelas empat. Ani divonis gila oleh warga sepulang dari ibu kota menjadi babu.
Tiba-tiba saja ia sering terlihat tertawa cekikan sendirian di pos ronda di siang bolong. Berjalan kesana-kemari sambil ngromyang tak karuan. Menjadi hiburan gratis anak-anak kampung yang mengikutinya kemana saja ia melangkahkan kaki. Ani pun menjadi bahan tertawaan sesama warga kampung yang tak kalah stress-nya. Orang tuanya hanya mampu mengelus dada dan menangis tanpa air mata melihat tingkah gadisnya yang berubah drastis tak jelas apa penyebabnya.
Berbagai prasangka memerahkan kuping berloncatan seolah tak ada rem yang menahannya.
“Si Ani gila pasti gara-gara diperkosa majikannya di Jakarta!”
“Pasti tidak dibayar gajinya!”
“Bukan. Ia di PHK!”
“Salah besar. Ia pasti kena guna-guna cowok kota. Lihat, badannya kan termasuk seksi juga.”
“Yang benar, ia naksir anak majikannya. Tapi ditolak mentah-mentah!”
Masih banyak lagi komentar asbun lain yang mereka lontarkan. Namun tak ada seorang pun yang tahu pasti apa sebenarnya penyebab Ani menjadi gila. Satu-satunya orang yang diharapkan bisa menjelaskan perkara ini hanya Toyimah, sejawat Ani yang mengajaknya bekerja di ibu kota lebih setengah tahun lalu. Dari orang tua Ani, warga kampung tahu kalau Ani diantarkan pulang ke kampung Cicanggah oleh sopir pribadi majikannya. Hanya sayangnya sopir itu tidak bersedia menjelaskan musabab Ani menjadi seperti sekarang ini.
Menjelang lebaran, barulah Toyimah mudik ke kampung Cicanggah. Penampilannya masih tetap seperti dulu. Pakaian-pakaian sederhana yang suka dikenakannya sebelum ia berangkat ke ibu kota bersama Ani. Ia tak terimbas tren gadis-gadis kota yang gemar memakai kaos-kaos super ketat seperti yang menimpa Ani.
Seusai ritual tarawih, hampir semua warga kampung berkumpul di rumah setengah bata keluarga Toyimah. Karena sewaktu di mushala tadi Toyimah hanya mengunci mulutnya rapat-rapat menghadapi pertanyaan bertubi-tubi mereka. Apalagi Toyimah sudah diberitahu ibunya perihal stress-nya Ani yang sudah menjadi bahan olokan sehari-hari warga di kampungnya. Tak bosan-bosannya mereka menggunjingkan ABG malang itu. Ya, sesungguhnya Toyimah tak tega dan tak ingin menjelaskan apa yang sesungguhnya menimpa Ani pada mereka. Tetapi para warga terus memaksanya membuka rahasia sesungguhnya.
“Maaf, Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Sebenarnya saya pun tidak tahu pasti mengapa Ani jadi hilang ingatan seperti sekarang. Tapi….”
Semua warga kampung yang hadir menahan nafas. Beberapa tampak sudah tak sabar menunggu kelanjutan kata-kata Toyimah.
“Tapi majikan saya bilang, Ani kerjanya hanya duduk-duduk saja di teras rumah setiap hari. Menyaksikan gadis-gadis kota berpakaian you can see melenggang manis dengan ponsel merk terkini yang nyaris tak henti-henti berbunyi. Ani lupa tugas utamanya sebagai babu. Ani jadi suka tersenyum dan berbicara sendiri….”
Tiga menit berlalu. Kebekuan di ruang tengah rumah setengah bata keluarga Toyimah itu baru mencair. Semua yang hadir hanya sanggup mengangguk-anggukkan kepala mereka dalam bisu. Tidak tahu komentar apa yang seharusnya mereka lontarkan. Kemudian satu persatu undur diri dalam diam. Tapi entah apa yang sedang bergolak dalam batok kepala mereka saat itu.
Tiba-tiba mereka terbayang kembali sosok dua orang gila yang sempat mampir beberapa waktu sebelumnya di kampung mereka. (*)
Yogyakarta, 26/11/2oo4 – 24/o5/2o1o oo:42 a.m.
Dimuat di Jurnal Bogor, 14 Maret 2010
SEJAK lebih tiga tahun lalu saya tinggal di Kota Gudeg ini, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Berita lelayu, yang sering saya dengar dari pengeras suara di atas menara Masjid At-Taqwa, sekitar 100 meter dari tempat kos saya.
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Ada berita lelayu
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun...
Bapak pembaca berita lelayu itu mengucapkan ayat 156 surat Al-Baqarah sebanyak tiga kali, seperti biasanya. Lalu ....
Telah meninggal dunia dengan tenang
Nama : ....
Usia : ....
Alamat : ....
Meninggal pada hari … pukul …
Kemudian dilanjutkan dengan menyebut keluarga yang ditinggalkannya; istri atau suami, kakak, adik, anak, hingga cucu-cucunya, kalau memang ada. Dan pada akhirnya, memohon dengan hormat pada siapa saja yang mempunyai waktu luang dan bersedia untuk bertakziah dan sekaligus mengantarkan si mayit ke tempat peristirahatan terakhirnya di dunia ini, liang lahat!
Saya biasanya hanya mengecilkan volume radio yang sedang saya putar sesaat untuk mengetahui siapa orang yang meninggal pagi itu dan berapa usianya. Selebihnya saya segera memutar lagi volume radio hingga suara pengumuman itu tak terdengar lagi. Begitu juga dengan semua teman-teman sekosan saya.
Bagi saya, berita itu sudah menjadi santapan rutin hampir setiap hari. Biasa-biasa saja. Tidak ada yang aneh sama sekali. Paling isi beritanya ya itu-itu juga. Hanya tinggal mengganti nama orang yang meninggal, usia, dan tempat tinggalnya. Beres!
Seperti yang barusan saya dengar, bapak itu kembali mengumumkan sebuah berita lelayu. Selalu saja tepat menjelang jam enam pagi, saat saya sedang membaca diklat kuliah sambil mendengarkan radio ditemani secangkir teh poci hangat.
Saya sempat tercenung cukup lama tadi. Usia orang yang meninggal pagi ini 105 tahun!
Tadinya saya pikir bapak itu salah baca. Tapi ketika dia mengulangi membaca untuk kedua kalinya, tetap saja suaranya dengan sangat jelas mengatakan usia seratus lima tahun!
Akhirnya, mau tak mau, saya harus mengakuinya juga bahwa saat ini pun ternyata masih ada orang yang usianya melebihi angka seratus! Bah!
Tiba-tiba saya langsung teringat usia saya saat ini. Usia saya baru 21 tahun kurang dua bulan dan sembilan hari. Jadi, kalau seandainya saya juga diberi umur hingga 105 tahun, berarti saya masih punya sisa waktu 84 tahun lagi ya?
Ah, masih jauh, baru seperlimanya! pikir saya santai.
Namun saya bisa menyimpulkan, rata-rata usia orang yang meninggal, yang selalu diumumkan oleh bapak itu, tidak lebih dari 70 tahun. Paling banyak usia enam puluhan. Ada juga beberapa yang usianya di bawah 30 tahun.
Saya masih ingat, dua hari yang lalu, bapak itu membacakan sebuah berita lelayu tentang seorang wanita yang meninggal dalam usia 27 tahun. Tetapi, belum pernah sekalipun saya mendengar usia orang yang meninggal itu 21 tahun, sama seperti usia saya. Apalagi hanya seorang bayi yang baru beberapa bulan hadir di dunia ini.
Entah karena memang tidak ada atau berita lelayu ini hanya khusus untuk mengabarkan mereka yang meninggal dalam usia tua saja, saya tidak tahu. Saya hanya suka saja mendengarkan bapak itu membacakan sebuah berita lelayu di pagi hari. Tidak lebih dari itu! Lagian apa peduli saya?
***
“KENAPA Bapak menangis?” tanya saya heran menyaksikan punggung bapak itu berguncang-guncang menahan isak, bersandar pada dinding masjid di dekat tempat mic.
Tadi saat saya pergi ke warung untuk membeli satu kotak kecil teh poci, bapak itu mengabarkan sebuah berita duka lagi. Iseng, saya melongokkan kepala dari jendela masjid yang terbuka untuk melihat apa yang sedang dilakukannya.
“Setiap kali saya membacakan sebuah berita lelayu, saya jadi teringat akan jatah usia saya sendiri. Saya tidak tahu kapan akan mati, tetapi saya yakin suatu hari kelak akan datang saatnya, giliran saya yang diumumkan telah mati lewat pengeras suara ini,” jawab bapak itu dengan suara bergetar, masih dengan isaknya yang putus-putus.
“Kematian adalah awal siksaan yang sangat menyakitkan bagi orang yang durhaka. Sementara, saya sendiri tidak begitu yakin akan bisa selamat melewati pintu yang satu ini jika waktunya telah tiba nanti,” lanjut bapak itu lagi tanpa saya minta.
Bergegas saya meninggalkan bapak itu setelah dia menuntaskan semua kata-katanya pada saya.
Uh, saya heran, kenapa saya hanya diam saja tadi saat dia bicara tentang hal yang menurut saya biasa-biasa saja itu. Saya seperti terhiptonis! Tetapi ada nuansa lain yang saya rasakan setelah mendengar kata-katanya tadi.
Ya, sesuatu yang jarang sekali saya pikirkan. Bahkan selalu terlupakan dari ingatan saya selama ini: KEMATIAN. Karena jujur saja, saya sudah cukup sibuk memikirkan bagaimana agar bisa lulus setiap mata kuliah dengan nilai baik, segera menyusun TA, maju sidang, wisuda, dan segera bekerja di perusahaan bonafid impian saya. Dan saya benar-benar terlena dari memikirkan hal yang satu itu.
Tetapi, diam-diam, saya merasakan hawa dingin menelusup, menembus saluran pengeluaran di kulit ari saya. Bulu kuduk saya berdiri!
***
SELEPAS Isya ....
“Nderek mboten, Mas?” sapa seorang bapak setengah baya yang membawa kotak infak masjid kepada saya. Bapak yang selalu mengumumkan berita lelayu itu.
Di luar masjid, bapak-bapak yang lain sudah berkumpul untuk bersama-sama berangkat ke rumah orang yang anggota keluarganya meninggal untuk membaca surat Yasin dan tahlilan.
Tadi pagi saya sedikit kaget mendengar suara kentongan dipukul bertalu-talu. Tadinya saya kira ada maling yang tertangkap, seperti biasanya bunyi kentongan di kampung kelahiran saya. Setelah suara kentongan itu reda, telinga saya langsung menangkap suara khas bapak tadi di pengeras suara mengumumkan sebuah berita lelayu lagi.
Saya baru tahu, ternyata kentongan berdiameter hampir satu meter di samping masjid yang tidak pernah dipakai itu hanya dipukul ketika ada berita lelayu dan orang yang meninggal itu penduduk asli di sekitar masjid ini.
“Mboten, Pak. Saya ada urusan lain,” jawab saya pendek. Saya kurang suka bepergian ke rumah orang yang sedang berduka. Pasti suasananya juga serba kelabu. Diliputi kesedihan.
“Monggo, Mas,” pamitnya pada saya sambil menganggukkan kepala.
Saya juga menganggukkan kepala sambil memasang sebuah senyum tipis. Tanpa sepengetahuannya, saya memperhatikan langkah-langkah bersahajanya menyusul bapak-bapak lain yang mulai berjalan meninggalkan pelataran masjid.
Kalau saya lihat dari perawakan sedangnya yang tampak masih cukup kekar dan sehat, saya tebak usianya sekitar setengah abad, atau kalau pun lebih tak akan terlalu jauh.
Saya bertanya dalam hati, berapa tahun lagi nih bapak akan mati?
Kematian itu seperti buah kelapa jatuh, Mas. Memang banyak kelapa yang baru jatuh di saat sudah benar-benar tua dan penuh dengan pati. Namun, tak sedikit pula yang sudah lepas dari mayangnya pada waktu masih degan, kelapa muda. Bahkan, ada juga yang sudah berguguran kala masih berupa bunga.
Jika selama ini usia orang meninggal yang saya umumkan hampir selalu di atas lima puluhan, bukan berarti maut hanya bagi mereka yang sudah renta saja. Ia akan mendatangi siapa saja tanpa memandang batasan usia.
Saya tersentak sendiri. Kenapa perkataan bapak itu lagi yang ke luar dari memori saya untuk menjawabnya?
Saya merasakan sesuatu yang kasat mata merayapi seluruh permukaan tubuh saya seketika. Sama seperti yang saya rasakan saat pertama kali bapak itu mengucapkannya. Dingin!
Bergegas saya melangkahkan kaki menuju tempat kos saya yang tak berapa jauh dari area masjid itu.
***
SEHARI berselang ....
Tong! Toong!! Toong!! Toong!! Tooongg!!!
Saya terlonjak kaget dari tempat tidur. Reflek, mata saya yang terasa sempit saya kucek-kucek dengan punggung tangan kanan saya. Ternyata saya ketiduran lagi sehabis shalat shubuh tadi.
Toong!! Toongg!! Toonggg!!!
Perhatian saya langsung tertuju pada suara kentongan itu. Tiba-tiba saya langsung teringat sesuatu. Saya alihkan mata ke arah jam weker di pojok meja belajar. Tepat sekali, sekarang pukul enam kurang beberapa menit. Seperti biasanya, memang jam seginilah bapak itu selalu mengumumkan sebuah berita lelayu.
Dan tentunya, sama seperti kemarin pagi, pasti hari ini yang meninggal juga penduduk asli sini. Suara kentongan tadi tandanya.
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Ada berita lelayu
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun...
Saya merasakan ada sesuatu yang janggal dari nada suara itu. Suaranya tidak seperti biasanya.
Telah meninggal dunia dengan tenang
Nama : Bapak Rabejo
Usia : ...
Tiba-tiba tubuh saya langsung lunglai seketika.
Saya tidak memperhatikan lagi apa yang diucapkan oleh suara itu selanjutnya. Hanya satu hal yang saya ingat, namanya Pak Rabejo, jawab si Ifan, teman sekos saya yang sering ikut mengajar anak-anak TPA di sore hari, saat saya tanya nama bapak yang selalu mengumumkan berita lelayu itu sebulan lalu!
Catatan
berita lelayu: berita kematian; nderek mboten, Mas?: ikut tidak, Mas?
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)
