Dimuat di Republika, 28 November 2010
"Inilah prosesi haji yang sesungguhnya.
Alhamdulillah, musim haji ini adalah Haji Akbar, pahalanya ratusan kali lipat dari haji biasa."
"Sesungguhnya, rukun-rukun haji itu terdiri dari ihram, wukuf, thawaf ifadah, sai, tahalul atau bercukur, dan tertib." "Inilah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan. Bila salah satu tidak terlaksana, ibadah hajinya tidak sah."
Saat itu tepat 8 Dzulhijjah. Kendaraan mulai bergerak meninggalkan Makkah menuju Mina, lalu dilanjutkan ke Arafah, tempat jamaah melakukan wukuf. Arafah terletak di luar Kota Makkah, sekitar dua mil. Jamaah pria kembali mengenakan baju ihram. Ibu-ibu berbusana serba putih. Larangan berihram pun dikenakan dan berkali-kali diingatkan oleh para muthowif.
Jamaah haji yang diangkut oleh bis dua--kami menyebutnya rombongan Sofitel--agaknya lebih dahulu tiba di tenda Mina. Mereka bisa leluasa mencari tempat atau sudut yang diinginkan, bahkan dapat mengangkat koper kecilnya masing-masing. Rombongan Intercontinental harus rela mendapatkan sudut-sudut yang tersisa. Aku bahkan tak mendapatkan sudut yang bisa bergerak leluasa, selain sebidang lajur sekadar untuk bisa meringkuk, tanpa alas yang empuk selain hamparan selimut di antara deretan kasur. Nah loh, bisa dibayangkan tidak, Saudara? Intinya, ini sisi yang sesungguhnya tidak nyaman sama sekali.
Tak mengapa, tidak hanya diriku sendiri, ada dindaku Sari dan Euis Muharom menemani. Lagi pula, banyak juga jamaah yang tetap memelihara rasa kepeduliannya untuk berbagi dalam hal apa pun. Mungkin ini yang terbaik dan inilah rezekiku. Demikian Allah SWT menjamu diriku. Segera kuperbanyak zikir dan berdoa, ku bergegas ke kamar mandi untuk ambil wudhu dan kudirikan shalat sunah taubat. Sungguh, aku merasa takut sekali akan azab-Nya.
Ya Allah, jauhkanlah hamba-Mu yang lemah ini dari azab dan siksa-Mu. Sembunyikanlah segala aib dan dosaku. Demikian kutasbihkan dalam hati. Sekitar pukul sembilan malam, kurasa semua jamaah Cordova telah memasuki tenda. Di sini mulailah aku menyaksikan sifat aslinya, sejatinya karakter manusia, dan topengtopeng pun berlepasan sudah.
"Pssst, ingatlah jangan bergunjing, Saudariku. Kita sedang berihram."
"Alah, Teteh ini ngapain sih paspes-paspes mulu dari tadi. Dikasih tahu sekali juga gue paham!" "Ini punya siapa sih gede banget tasnya? Dikata kemping sebulan!" "Woooi, mana tisu basahnya?" "Sini ada, men! Jangan malu-malu deh, entar malah jadi malu-maluin!" Kulihat dindaku Ennike terperangah hebat, menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergumam perlahan, "Ya Allah, Teteh, kenapa pake cay-coy, man-men segala tuh bahasa?" "Iya Dinda, prokem aming," tak terasa mulutku pun terkuak tiba-tiba. Begitu menyadari, buru-buru aku mengucap istighfar. Aku tak berhak mencela, sebab seperti itu pulalah bahasaku jika sedang bergaul ria dengan putriku. Mungkin saja, mereka melakukan hal itu sebagai penghilang stres. Prosesi haji ini memang sungguh menguras pikiran, lahir batin, jiwa, dan raga.
Jika mental kita labil, niscaya bisa dipastikan bakal stres.
"Selama menjadi dokter haji, banyak sekali kutemukan jamaah yang mendadak gila," kata dokter Erry, dokter rombongan yang jelita dan sangat modis itu.
"Hah? Mendadak gila bagaimana, Bu Dokter?" "Yah, stres hebat, gila dalam tanda kutip!" `Kepala Suku' memberi tahu bahwa rombongan akan bergerak kembali pada pukul dua belas malam.
Mendengar hal ini, suara-suara mendadak berhenti total, kemudian semuanya berusaha untuk merehatkan badan.
Dendang batuk pun mulai terdengar secara serempak bagaikan paduan suara ajaib tengah malam di Maktab 110, pertendaan Mina.
"Gimana nggak, bikin batuk. Lha wong tendanya selama setahun ditutup. Musim haji baru dibuka kembali, mungkin gak sempat dibersihin," seseorang menjelaskan tanpa diminta. Kucermati memang ada banyak kotoran berupa debu dan seperti kapas-kapas kecil beterbangan dari arah kipas angin. Jangankan bagi ibu-ibu sepuh, semuanya tak terkecuali terserang batuk dan beberapa sesak napas. Kurasa, asmaku pun bisa kumat.
Ustaz Satori sering bergurau tentang batuk ini, "Semuanya dipastikan terserang batuk, kecuali unta."
Selama berhaji, bukan hal yang aneh dan patut dicemaskan secara berlebihan apabila jamaah terserang batuk. Di sinilah kembali muncul jurig songong itu.
"Alhamdulillah, sampai saat ini aku sehat-sehat saja, bahkan batuk pun cuma sedikit," sahutku ketika beberapa pengurus meluangkan waktu mendatangiku dan mereka menanyakan kondisi kesehatanku.
Pada tengah malam, rasanya hanya sekejap bisa rehat. Ternyata kami disiapkan untuk berangkat lagi.
Suasananya sungguh terasa heboh, kisruh, dan luar biasa crowded.
"Kalau tidak lebih awal jalan, khawatir lalu lintasnya terlalu padat dan kita terhambat sampai di Arafah.
Targetnya kita bisa shalat Subuh di tenda Arafah," terang seorang muthawif menyikapi suara-suara protes.
Di tengah cuaca yang sangat dingin serasa menyengat pori-pori kulit, kami bergegas kembali menuju kendaraan. Meskipun bajuku sudah dirangkap sampai tiga-empat, tetap saja masih terasa dingin.
Tambahan anginnya lumayan kencang, meskipun bukan puting beliung. Cuaca di kawasan Mina tidak bisa diprediksi, awalnya cerah dan panas mendadak banjir bandang datang.
Air bah pun tanpa ampun melumat seluruh kawasan tenda, bekas mabit sebagian jamaah Indonesia.
Beruntung tidak harus menanti lama, kedua bis pun muncul. Serta merta kami bergegas menaikinya. Kusadari batukku dan rasa gatal di tenggorokan semakin meningkat dan mulai serasa menyiksa pula. Kepala berdenyaran, telinga berdenging tak keruan, ditambah agak demam, air mata bercucuran nyaris tanpa henti. Entah air mata apa pula ini. Walaupun telah menelan obat batuk pemberian dokter Erry sepanjang perjalanan menuju Arafah, batukku kian gencar saja. Suasana lalu lintas tengah malam itu ternyata sungguh padat. Kendaraan berbagai jenis campur-baur dengan orang-orang yang berjalan kaki. Manusia entah kaya atau miskin, semuanya saja sudah tak peduli bagaimana pun caranya mereka lebih suka bermalam di kawasan antara Mina dan Arafah.
"Bagaimana kita mengambil batu-batuannya, Ustaz?" tanyaku kepada muthawif Fauzi saat teringat tentang Muzdalifah.
"Tenang sajalah, Bu Pipiet. Kita sudah menyiapkannya," sahutnya meyakinkan.
Aku belum mengerti, lalu kutanya kembali, "Maksudmu, kalian akan mengambilkannya untuk jamaah. Begitukah Ustaz?" Fauzi hanya mengangguk sambil tersenyum.
Dini hari kami tiba di kawasan Arafah. Tenda-tenda telah didirikan dengan berbagai panji dan bendera travel dari Indonesia. Rombongan kami memiliki tenda yang dikhususkan untuk wukuf dan sebuah mushola yang nyaman dengan penyejuk ruangannya.
Akhirnya, banyak juga jamaah dari travel lain yang ikut bergabung mengikuti program wukufnya rombongan kami, di bawah pimpinan Ustaz Satori.
"Subhanallah, tendanya indah sekali, yang paling depan itu, ya," komentarku saat melihat tenda sebuah travel Indonesia yang tarifnya termahal.
Kutahu hal ini ketika bertemu dengan salah seorang jamaahnya, seorang ibu muda di Masjidil Haram. Ia mengaku berhaji bersama suami dan dua orang anaknya. "Berapa?" tanyaku ingin tahu.
Jamaah travel yang terkenal sering membawa para artis, seleb, dan elite politik itu menjawab dengan ringannya, "Hanya 110 juta saja kok, Bu."
"Apa? Berempat totalnya jadi 440 juta, ya?" seruku tertahan. Ia mengangguk mantap. Dengan naifnya aku malah bilang lagi, "Maaf yah, Bu. Kira-kira sebanyak apa tuh uang hampir setengah milyar begitu?" Pastinya, aku tampak bloon banget. "Kalau ditambah lain-lainnya buat persiapan walimatus safar dan oleh-oleh, semua lebih dari 900 juta, Bu." Tukasnya.
Mataku niscaya melotot hebat. Mulutku membentuk, "Oooo!" Panjang sekali. Kemudian kulanjutkan, "Begitu yah, hampir satu M! Bisa buat sekolah anak miskin segitu mah, Bu."
"Ah, Ibu ini ada-ada saja!" sahutnya sambil tertawa renyah. "Masing-masing kan sudah ditetapkan rezekinya oleh Sang Khalik." Nah, siapa bilang bangsa kita miskin? Itu sungguh tidak benar. Setidaknya, bagi para jamaah ONH Plus, kecuali diriku ini yang diberangkatkan gratis, tentunya.
Tenda untuk jamaah kami pun bagus dan nyaman di areal Arafah ini. Beberapa saat kami bisa rehat, melempangkan punggung. Tapi, banyak juga yang langsung bergelimpangan tidur di kasur busanya masing-masing.
Baru saja kurebahkan tubuhku, tiba-tiba kusadari bahwa aku tak mampu bersuara lagi. Beberapa kali aku berusaha keras memperdengarkan suaraku, tapi tidak bisa! Bahkan, aku sampai sengaja berteriak-teriak hingga keringat membasahi sekujur tubuhku.
Lenyap, benar-benar suaraku menghilang, ya Rabb?
Beberapa jenak aku pun hanya bisa bengong, tak tahu apa yang harus kulakukan. Dengan tatapan hampa kulayangkan mata ke deretan para jamaah. Mereka sedang tertidur lelap. Aku merasa sangat sedih sendirian di Arafah dan tanpa suara.
Seketika berbagai gambaran menakutkan bermunculan di benakku. Dalam sepuluh tahun terakhir, selain menjadi penulis lepas aku pun sering diundang untuk workshop dan seminar kepenulisan. Tanpa suara aku takkan pernah bisa menjadi pembicara lagi, menularkan virus menulis ke seantero negeri. Waduh, ini sungguh gawat! Aku lalu bangkit dengan rasa pedih tak teperi, terhuyung-huyung kuayunkan langkah menuju kamar mandi. Ya, aku harus segera mengadukan ikhwalku ini langsung kepada Sang Pemilik Suara. Suasana di kamar mandi masih sepi, tak ada orang selainku yang akan mengambil air wudhu dengan sangat khidmat. Meleleh air mata penyesalan dan rasa bersalah atas dosa di masa silam. Segala khilaf melembayang di tampuk mataku.
Aku kembali ke tenda, mendirikan shalat taubat, dilanjutkan dengan tahajud, dan berzikir secara terusmenerus. Sehingga, kurasa ada semacam aliran hangat ke dalam dadaku menyemburat terus ke leher. Aku terus tertunduk dalam bisu yang suwung. Ketika seorang jamaah di sebelah menanyakan jam, seketika mulutku terbuka untuk menyahut. Suaraku muncul, meskipun sangat parau dan niscaya terdengar buruk sekali. Tak mengapa, yang penting suaraku telah kembali.
Alhamdulillah, ya Rabb, sungguh Engkau Maha Pengasih! Aku berlari kembali ke kamar mandi. Kali ini untuk buang air kecil. Tak disangka, begitu keluar dari areal kamar mandi, ndilalah, (lagi) aku nyasar. Beberapa saat aku hanya mondar-mandir, bolak-balik mencari tenda Cordova. Otakku kembali nge-blank, tak tahu peta dan arah, ampyuuun! "Teteh, kulihat dari tadi bolak-balik saja di situ, lagi ngapain sendirian?" Mas Ton, suami dinda Ennike, tibatiba menghampiriku.
"Iya nih, Mas Ton. Pssst, jangan bilang-bilang, aku ini sebetulnya lagi tersasar," jawabku dengan suara yang masih timbul tenggelam, perpaduan antara sakit tenggorokan dan kecemasan tak bisa kembali ke rombongan.
"Ya Allah, Teteh aya-aya wae atuh! Ayo kutunjukkan jalannya!" Mas Ton menahan tawanya. Ternyata jalan itu pula yang sejak tadi ada dua-tiga kalinya kutempuh, bolak-balik tak keruan. Kulihat panji-panji dan terutama bangunan mushalanya yang indah itu.
"Jangan bilang-bilang, yah. Malu ah!" pesanku kepada bapak dua orang anak itu dengan nada berseloroh. Pada kenyataannya, mulutku sendirilah yang menggelontorkan soal sasar-menyasar ini kepada beberapa sahabat jamaah. ***Dimuat di Republika 12/11/2006i
Tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh suara-suara keras, membentak dan menghardik. Oh, lebih dari itu, mereka pun memaki-maki, menyumpahi, menyerapah dan... Deeesss! Sebuah sikutan sangat keras telak sekali menghantam tulang iganya.
"Waaa... sakiiit!" Dia menjerit kaget.
"Cepat sereeet! Keluaaar!"
"Sebentar, sebentar... kalian siapa?"
"Keluarkan dia dari pesawaaat!"
"Iya, nanti bomnya keburu diledakkan di sini!"
Dia yakin, beberapa menit berselang dirinya ketiduran, melayang-layang di zona penerbangan antara India dengan Indonesia. Dia juga masih ingat, teman perjalanan di sebelahnya adalah seorang wanita 40-an, berwajah cantik, anggun dan terkesan perkasa. Sosoknya mengingatkan dia kepada pejuang wanita Cut Nyak Dhien.
Mereka sempat ngobrol ngalor-ngidul, dan dia langsung mengagumi retorika serta semangatnya. Siapapun yang bersinggungan secara santun dengannya, niscaya orang itu bisa ikut merasai daya juang yang dimilikinya. Dia sendiri saat itu lebih banyak mendengar, membiarkannya memegang kendali perbincangan. Sesungguhnya topik percakapan mereka telah menyentuh ke persoalan kemanusiaan, penderitaan, ketakadilan dan ketertindasan bangsa-bangsa di dunia ketiga.
Sekarang matanya benar-benar sudah melek. Tak ada lagi teman perjalanan bersahabat yang pernah dikenalnya itu. Dia mulai menghitung, ternyata ada lusinan orang berseragam mengelilinginya. Sikap lelaki-lelaki berotot itu sungguh tak bersahabat. Dan peralatan yang mereka bawa, apa itu? Mirip pasukan gegana saja. Hanya dalam hitungan menit, mereka telah menggiringnya keluar pesawat. Tak ada siapapun lagi dalam pesawat, kecuali dirinya dengan orang-orang berseragam yang berangasan itu!
Seketika dia tak dapat merasakan kakinya menjejak lagi ke bumi. Dua orang berseragam telah menyeret dan menyeretnya terus, bahkan kemudian mengangkatnya. Tepatnya, dua orang berseragam serba hitam itu tak membiarkannya menginjakkan kakinya kembali ke bumi.
Di luar malam menyambutnya dalam hening yang mencekam. Terawangannya kembali mengapung di tampuk matanya. Lihatlah di sekitar bandara ini. Bola-bola lampu bagaikan mata penonton yang berkedap-kedip, menyaksikan dirinya, teman-temannya melenggak-lenggok memamerkan kemolekan tubuh. Peragaan bikini di kolam renang, wawancara yang disorot kamera dunia, perpaduan antara kecantikan dan kecemerlangan otak. Bukankah itu suatu hal yang sangat membanggakan?
Meskipun kemudian diberi tahu oleh adiknya bahwa keberadaannya di ajang internasional diprotes berbagai kalangan. Tapi dia tenang-tenang saja, apalagi saat mendapat aliran semangat dari para seniornya. Baik melalui sms maupun telepon langsung dan imel.
"Biarkan gukguk menggonggong."
"Kamu bukan bagian dari gukguk itu."
"Maka tetaplah melangkah!"
"Ratu Sejagat... hiduuup!"
Tentu saja aku hidup, teriaknya dalam hati. Buktinya sekarang ia bisa merasai tindak kekerasan dan pelecehan. Dan ia tersentak dalam kubangan kemasygulan. Dunia glamor telah berlepasan satu per satu, repih demi repih dari tangannya. Hanya menyisakan kenangan semata dalam otaknya! Mereka menyeretnya terus, semakin cepat dan kasar, tubuhnya serasa lemas, kaki-kakinya sungguh tak menapak lagi. Dia masih bisa mendengar si komandan terus saja menyerukan perintah pengamanan, pengendalian, dan segalanya yang tak ada hubungannya dengan dirinya.
Seharusnya aku disambut meriah, gerutunya dalam hati. Bukankah panitia pernah menjanjikan gelar konferensi pers, diliput berbagai media massa. Tidak, tak ada penyambutan meriah kecuali sepasukan mengerikan dan teror! Ruang karantina imigrasi. Jelas, mereka telah salah tangkap. Memangnya siapa aku yang telah bikin pasukan keamanan Ibukota geger dan seheboh itu melakukan pengamanan seluruh kawasan Bandara Sukarno-Hatta? Sejuta tanya hanya berloncatan dalam hati. Kepalanya mulai mereka-reka, apa sesungguhnya yang mereka harapkan dari dirinya? Penghargaan, trophi dan bingkisan-bingkisan yang diberikan para sponsor? Semuanya masih di bagasi. Ia tak menemukan apapun di otaknya selain dampak kekacauan yang telah dijejakkan pasukan itu dalam sepuluh menit terakhir. Apakah dirinya harus menyerah begitu saja? Bukankah ini bukti nyata dari ketakadilan, ketertindasan tanpa hukum dan kebenaran? Tanpa bisa ditolak lagi, interegosi pun dimulai.
"Duduuuk!"
"Eeeh... ya, duduk ya duduk."
"Jangan berlagak pilon! Kami tahu benar, Saudari ini seorang intelektual yang brilian. Saudari baru pulang dari Arab Saudi, mengikuti konferensi tingkat dunia."
"Kalian salah tangkap!" serunya tertahan, dadanya mulai terasa sesak. "Kami benar! Ini coba dengar data Saudari yang ada di tangan kami. Nama Ummu Kulsum alias Al Hamasah. Umur 42 tahun, kelahiran Palestina, dibesarkan di Perancis."
"Bukan! Namaku Siti, gak pakai alias-aliasan! Nanti kujelaskan! Pokoknya nama asliku Siti binti Sarjang. Biar keren dan marketable, kata agenku, diganti menjadi Kristinasari. Umurku gak setua itu, apa kalian gak bisa lihat penampilanku?"
"Diaaam!"
"Aku ini asli orang Sunda, desaku di Tanjungkerta, rumah dan keluargaku di Gunung Halu."
"Sudaaah! Tutup mulut!"
"Aku kuliah di Bandung, lagi nyiapin skripsi waktu datang undangan ikut kontes Puteri Indonesia. Aku menang, kalian tahu kaaan? Aku ini Puteri Indonesia yang diselundupkan ke mancanegara untuk mengikuti kontes Ratu Sejagat!"
Ia menceracau tanpa henti. Ia masih berharap suaranya didengar dan dicermati oleh seseorang yang bisa memahami kondisinya. Ia juga berharap bisa melihat sosok lain yang lebih bersahabat. Tidak ada! Ruangan ini sangat tertutup. Apakah ini ruang interogasi khusus untuk para penyelundup, pendatang haram, kriminal dan buronan internasional. Bulu kuduknya seketika meremang hebat! "Percuma saja bicara dengan kalian." Ia bangkit, mengitarkan pandangnya kembali ke sekelilingnya. Lelaki-lelaki itu memiliki tatapan yang dingin, sangat dingin dan kaku sekali. Tak ada kompromi di sini!
"Duduk! Saudari mau ke mana?" perintah lelaki paling berkharisma di antara selusin lelaki berseragam dalam ruangan itu.
"Aku bukan orang yang kalian cari!" Ia berdiri tegak, meskipun dipelototi para lelaki yang siap secara maraton menginterogasinya. Seseorang kembali menghentakkan bahu-bahunya dengan kasar sekali, sehingga ia kembali terhenyak di bangku jelek yang keras.
"Kita kembali ke awal, ya. Kami harap Saudari bisa kerja sama. Nama Saudari? Kenapa nama kerennya seperti nonmuslim?"
"Sudah kubilang tadi, itu nama bikinan agenku."
"Tempat dan tanggal lahir?"
"Kalian sudah tahu itu!" ketusnya sebal sekali.
"Iya, ini biar dicocokkan!" sergah si wibawa, ia baru mencermatinya, kepala besar, kumis baplang, perawakan tinggi dan buket! Iya, bau ketek! "Tempat kelahiranku di Gunung Halu, 17 Nopember."
"Pasti tahun 1961!"
"Bukan, aku kelahiran 1981!" Ia melihat orang-orang itu saling pandang dengan tatapan sinis. Ada juga yang geleng-geleng kepala dan berdecak. Seakan-akan mereka mulai yakin ada yang tak beres di otaknya.
Menit demi menit berlalu, beranjak pula menjadi jam demi jam yang seolah-olah sangat enggan bergeming. Sepanjang sisa malam itu, akhirnya, mereka habiskan di ruang interogasi. Pertanyaan memutar-mutar, nyaris tak bergeser dari identitas dirinya, dan aktivitas yang digelutinya. Ia merasa telah menghabiskan seluruh enerjinya, tatkala menyadari malam telah merayap ke ujung dinihari. Begitu banyak pertanyaan dilontarkan, tapi tak satu pun yang bisa dijawabnya dengan benar.
"Aku gak paham dengan jalan pikiran kalian! Bagaimana mungkin aku diposisikan sebagai seorang teroris?" "Saudari memang teroris yang lagi dicari-cari dunia internasional!"
Mereka menjebloskannya ke sebuah ruangan sempit, pengap dan bau kecoa. Sejak saat itu jam demi jam berdetak-detik dengan sangat tak karuan. Kegemparan menguntit bayangnya ke mana pun dirinya bergerak. Tidak, bukan bayangan realita. Karena di ruang sempit dan pengap itu sama sekali tak ada sepotong cermin sekalipun.
Pada hari ketujuh, tatkala dia nyaris putus asa, datanglah seorang petugas yang mengeluarkannya dari ruangan pengap. banyak kecoa dan tikus yang berseliweran di situ. Di sebuah ruangan serba hijau dengan bola lampu khusus untuk interogasi, seorang lelaki berkepala plontos telah menantinya.
"Kami akan melepaskan Saudari dengan syarat Anda mengakui segalanya. Tentang identitas Anda, aktivitas.... Semuanya sudah kami konfirmasi. Mereka menyatakan tak punya sangkut-paut apapun dengan Anda. Ini surat pernyataan dari orang-orang yang Saudari sebut sebagai agen dan panitia." Lelaki itu memamerkan berkas-berkas di atas mejanya.
Dia, perempuan yang telah disekap di ruang karantina Cengkareng itu, segera mencermatinya, dua lembar surat pernyataan dengan stempel berarti resmi. "Kami akan mendeportasi Saudari ke Amerika!"
Beberapa saat kemudian segalanya berlangsung begitu superkilat. Ia dikawal ketat pasukan anti-teroris, menuju sebuah pesawat berbendera Amerika. Sia-sia ia menjeritkan protesnya, karena mulutnya kini diberangus bak seekor hyena liar yang bisa membahayakan sekitarnya. Jarak dirinya bersama para pengawalnya semakin dekat dengan pesawat itu, semakin dekat, semakin dekat.... Sebuah suara berteriak dari kejauhan!
"Alooow... Ummu Kulsum selamat jalaaan!" Ia menoleh, matanya membelalak lebar. Sosok itu, gadis cantik bertubuh ramping dengan rambut ikal mayang itu, bukankah itu dirinya? Mengapa ia berada di seberang sana bersama rombongan kecil. Bukankah itu adiknya, Asep bin Sarjang? Jay Julian dan Marcelina Gurindam?
Sebelum ia sempat bereaksi atas sensasi itu, mereka telah mengangkatnya tinggi-tinggi dan melemparkannya ke pintu pesawat. Dan di sanalah, di pintu pesawat yang ada cerminnya itu, matanya menangkap sosoknya saat ini; seorang perempuan berumur 42-an, berwajah anggun dan terkesan perkasa.***
Dimuat di Republika 06/07/2003
Sekarang ia melihat anak perempuan umur lima tahun menggeloso di Legian. Tak jauh dari bekas kios cinderamata milik keluarganya yang kini tinggal kenangan. Ia mengawasinya dari kejauhan.
Di belakang gumpalan mega hitam yang sangat kental dan pekat menghalangi pemandangan di bawahnya. Ada rasa penasaran yang menoreh kalbunya. Rasa ini menyelinap parat terus merambahi dada.
Segala kewajaran dan keharusan, segala yang menghubungkan dirinya dengan keduniaan itu telah raib. Adakah itu pula yang menyebabkan dia kehilangan memori di otaknya? Dan jalan yang tengah diterawang ini begitu rumit.
Tapi ia akan berusaha mempertegas anak perempuan itu. Makhluk lucu itu tampaknya lagi diharu-biru rasa pilu. Sayup-sayup terdengar lagu nestapanya. Terbawa angin, melayang mengawang-awang, mengambah jomantara. Sehingga, sampai jua menyentuh kalbu.
"Maaak... Kok ninggalin Butet sih, Maaak? Butet sedih, Mak, sediiih. Mestinya kan Emak yang masak. Kenapa sih Emak ninggalin Butet sama Ayah? Kok Emak malah hilang... dibom orang!" Beberapa saat anak perempuan itu menangis sesenggukan.
"Allah, Tuhanku, perkenankan hamba melihat dan mendengar dengan jelas," jeritnya merambah langit. Tiba-tiba angin seketika menerpa kencang. Mega hitam perlahan buyar, ia merasa diapungkan entah ke mana. Terbang mengawang-awang, terbawa bayu, terseret ombak dan gelombang pasang, terbawa buih-buih samudera. Dan... bruugh!
Untuk beberapa detik ia celingukan seorang diri. Dan... Itu dia bekas peristiwa pemboman. Krans-krans belasungkawa bertumpuk-tumpuk, menggunung tinggi. Dikelilingi ribuan batang lilin. Diziarahi dan ditontoni bule-bule Australia. Tersaruk-saruk ia menghampiri tempat anak perempuan itu. Semakin dekat semakin jelas tampak.
"Benar. Itu dia sosoknya sudah kutemukan!" soraknya di hati. Dia masih duduk di atas batu karang tepi pantai. Hmm... Mengapa tiba-tiba bimbang? Apa yang harus dilakukannya kini? Ia merandek. Bagaimana ini, apa terus saja didekati?
"Huahaha... wheerrrr, hahaha...!" Ia tersentak dan melirik makhluk yang baru datang. Makhluk apa gerangan dia? Tidak berbentuk, tapi tampangnya kayak raksasa di kotak wayang dalang Sunarya. Wajahnya merah membara, hidung menggumpal, perawakan... buesaaaar!
Ia melengos jengah, membuang pandangnya jauh-jauh. Makhluk tak tahu tatakrama itu malah menggeram, galak. "Apa lihat-lihat?" "Eee... apa, apa maksudmu?" sahutnya tetap tak sudi melihat lagi ke arah makhluk mengerikan itu. Habiiis, nggak pake apa-apa lah, Bo!
"Huaaaarrgh, wheeerr, wheeerrr...!"
"Berisiiik! Diiii-aaamm!" sergahnya sebal dan jijik. Seharusnya perutnya mual, kepingin muntah. Tapi entah sejak kapan ia tak bisa merasakan mual, apalagi muntah. Tak bisa mengekspresikan segala perasaan lahiriahnya.
"Kalo mau ikutan berisik, ya sudah, berisikkan saja orang..."
"Nggak tahu kesopanan!" tudingnya tak tahan lagi.
"Siapa?"
"Kamu, amoraaal!"
"Ngapain pedulikan peraturan duniawi? Kita ini sudah mampus, tahuu!"
"Kita... mam...?"
"Iya, mampuuus, mampuuus!"
"Eeeh, apa betul begitu, kita sudah mam... mati?"
"Huahahaha... huaaarghhh!" Si Cakil menjauhinya, berjalan tersaruk-saruk membawa perutnya yang berlubang besar? Penasaran ia mengikutinya pelan-pelan. Ya, sudah, daripada sendirian mending ikuti saja.
Jangan dilihat bugil dan buruk rupa sekaligus mengerikannya itu. Bayu seakan istirah, ke mana gerangan? Ombak pun seolah berhenti, mengapa gerangan? Ia mengejarnya. Makhluk itu merandek dan menatapnya sekilas.
"Hehehe... lihat tuh gimana keadaan dirimu sendiri!" Ia menunduk dan memperhatikan tubuhnya. Gusti Allah... ke mana bajunya? Ini kan hanya sisa-sisa kain yang tersampir begitu saja? Ke mana dia harus menyembunyikan kepapaannya?
"Sudahlah, nggak perlu dipikirkan lagi yang begitu itu. Percuma!"
"Tapi...."
"Mending cari sana kebutuhanmu!"
"Kebutuhanku... apa?"
"Coba saja rasakan, kamu kehilangan apa?" Ia tertegun sesaat. Cepat memperhatikan keadaan dirinya. Whoaaa! Ini usus-usus, mengapa sampai berbelit-belit mburudul keluar?
Darah berceceran di mana-mana. Mengapa baru ngeh sekarang, ya? Tadi waktu perhatikan baju kok nggak kelihatan? Dan sama sekali nggak terasa apa-apa. Oya, sekarang sudah mam... mati, begitu?
"Begitulah dari sononya. Terima sajalah! Napsi-napsi saja, ya!"
"Eee... kamu mau ke mana?"
"Mau cari punyaku, ketinggalan di sebelah sana... Huaaarghh!"
Celingukan sendirian lagi. Nah, itu dia! Sungguh, setia betul dia. Masih duduk menggeloso di atas batu karang pantai Kuta. Masih terdengar tangisan dukalaranya.
Duuh, ada yang ikut mengiris pilu dalam tangis perkabungannya. Dari seluruh pelosok Tanah Air. Menembus jagat raya mayapada. Duka perkabungan seluruh bangsa Indonesia. Duka tak teperi. Sudah jelas kena musibah, kok malah dicap negeri sarang teroris?! Siapa yang menteror, siapa yang membom siapa?
Malah dijawab ratap anak itu. "Besok mau lebaran, Maak." Lebaran? Baru ngeh lagi! Terbayang saja, biasanya sudah mudik ke Banjar. Lebaran di kampung halaman, kumpul dengan orang tua, sanak saudara.
"Mak kan sudah janji kita mau pulang ke kampung Nenek." Apa begitu janjinya? Ia berdiri tertegun di belakang anak perempuan itu. Seolah ada magnit yang menghubungkan dirinya dengan si anak. Dipandanginya lekat-lekat, ditatap dengan sepenuh hati.
Seketika ada ratusan keping slide berseliweran di matanya, membentuk menjadi sebuah lakon kehidupan. Ayah anaknya, Bang Lorus yang saleh. Saat mereka lulus Aliyah di Bandung, sepakat untuk menikah. Keluarganya mendukung. Mereka dikaruniai anak semata wayang. Ada yang mengajak mereka ke Bali. Buka kios cinderamata.
Enam tahun mereka berjuang di Legian. Sudah punya rumah sendiri meskipun mungil dan amat sahaja. Kios mereka semakin banyak isinya, laris manis. Namun, nurani tak bisa ditawar-tawar lagi. Ingin kembali ke kampung halaman. Lagi pula, kasihan kepada nenek si Butet, sejak Abah tiada.
Ia dan Bang Lorus sepakat untuk berjuang dari awal di Banjar. Mereka akan pulang sehari sebelum lebaran. Malam terakhir itu, mereka bak malam pengantinan kembali. Bang Lorus ada urusan ke Denpasar. Malam Minggu itu ia menggantikannya. Tunggu kios mereka. Tiba-tiba bom itu... entah ulah siapa!
"Mak... ada di sini, ya?" Butet tiba-tiba bangkit. Memandang lurus-lurus ke arahnya. Tatapan tajam tapi sarat rasa kangen tak teperi. Dia surut mundur. Apa Butet bisa melihat keberadaannya? Ah, pasti cuma perasaannya saja, tepisnya.
Sekonyong-konyong dari kejauhan ada yang berseru-seru. "Butet! Oi, Buteeet! Jangan dekat-dekat... Ombaknya pasaaang!" Dua bayangan berkelebat secepat kilat. Menghambur ke arah Butet. Siapa mereka? Diperhatikannya dengan seksama, duhai, Bang Lorus dan ibunda tercinta!
"Butet, anakku... ngapain kau di sini?" Butet dipeluk erat-erat. "Dari tadi dicari-cari. Lihat siapa yang datang jemput kita?"
"Iya, Butet, Nini sengaja datang jemput kalian. Mari, kita pulang ke Banjar sekarang," kata ibunda yang sudah sepuh itu sambil berlinangan air mata. Beberapa saat ketiga orang itu saling berangkulan erat.
Menangis pilu, tangisannya menurih langit kelabu. Menyisir gumpalan mega hitam. Bayu yang sesaat istirah, perlahan mendesir kembali. Ombak berbuih menyentuh pantai, gelombang mulai pasang. Duh, betapa ingin ikut menangis bersama mereka. Tak punya daya dan kuasa. Apa mereka bisa merasakan keberadaannya?
"Sudahlah, Butet, biarkan Emak tenang di alam kelanggengannya. Mending Butet doakan Emak, agar arwahnya diterima di sisi-Nya," suara ibunda tercinta terdengar menggaung ke mana-mana. Nyeeep! Hawa dingin seketika menembus jiwa-raga.
Butet tiba-tiba melepaskan rangkulan neneknya. "Ayah, Nini, Emak ada di sini." Tampak Bunda dan Bang Lorus saling pandang. Keduanya memegangi pergelangan tangan Butet. "Iya kok, coba Butet ajak ngomong ya?"
Tapi Bunda mendahului bicara, "Anakku..." katanya dalam buncah air mata. "Pergilah dengan tenang ke alammu, Nak. Bunda doakan, kamu menemukan kebahagiaan di sisi-Nya. Bunda percaya itu, sebab kamu anak yang salehah..." Bunda kemudian membacakan doa-doa sambil memejamkan mata. Ia tak kuat melihatnya, melengos.
"Dik, semuanya sudah diselesaikan. Jazad Adik sudah teridentifikasi, sudah dikuburkan dengan layak sesuai iman Islam kita," Bang Lorus pun buncah air mata. Tapi suaranya terdengar pasrah lilahitaala.
"Iya, begitu saja, Emak, Butet juga sudah ikhlas kok," Butet ikut menyatakan perasaannya. Perlahan terasa ada yang menarik tangannya. Entah siapa, tapi kekuatan itu mahahebat. Membuat dirinya mengapung. Terbang mengawang-awang, mengambah jomantara. Terasa ringan bak kapas.
Kini tak ada mega hitam menghalangi jalan dan pandangnya. Nuansa sekitarnya tampak tanpa aling-aling. Langit biru bening, arakan mega putih. Entah malam, entah siang, tak ada bedanya. Tapi betapa indah!
Ini baru terasakan sebagai suatu perjalanan untuk menemui Junjungan Hati, Sang Kekasih. Dia yang senantiasa disembah, dijunjung dalam tiap sholat lima waktunya. Sayup-sayup terdengar suara takbir. Inilah realita. Takbir di bumi Legian.
Meskipun umat Islam minoritas, suara takbir tetap maha agung. Simbol Islam yang takkan luntur sampai akhir zaman. Meskipun diterpa fitnah dan senantiasa dipojokkan. Islam akan jaya selamanya, sesuai janji Allah. Allahu Akbar, Allahu Akbar walilahilhamdu.
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)
