Tampilkan postingan dengan label * Naqiyyah Syam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label * Naqiyyah Syam. Tampilkan semua postingan
Minggu, 20 Desember 2009
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Naqiyyah Syam
Dimuat di Lampung Post, 02/03/2008
TAHUN baru yang sepi. Ugh! Berkali-kali Fira mengeluh menyesali rencananya yang berantakan. Padahal akhir tahun 2006 begitu menyenangkan. Kumpul bersama Mama, Papa, Adik Fay dan Mbak Wulan pengasuh setianya. Namun, tahun ini? Akhir tahun 2007 yang menyedihkan! Hiks! Liburan semester I cuma di rumah aja! Papa dan mama ikut diklat sertifikasi guru di Wisma Haji Bandar Lampung. Mama guru SD dan papa guru SMP. Bayangkan, ditinggal sembilan hari! Huh sebelnya!
Tahun lalu, Fira bersama keluarga berkumpul merayakan tahun baru. Tepatnya sih bukan merayakan dengan pesta seperti orang biasanya, yang meniupkan terompet, main kembang api, atau lainnya, tapi diisi kumpul bersama keluarga, berdoa bersama agar tahun depan lebih baik lagi dan bersama-sama membuat rencana atau target prestasi di tahun baru. Namun, kini? Liburan dua minggu tidak jadi ke Jakarta! Padahal janji papa, kalau nilai Fira bagus akan jalan-jalan ke Ancol, eh malah di rumah aja dengan si kecil Fay yang baru TK nol besar, apa enaknya?
Si Fay enak, sebelum mama berangkat sudah ditinggali sekardus makanan ringan. Jajanannya banyak! Dimintain nggak boleh. Uh sebel deh!
"Kenapa sih Mama dan Papa mesti diklat barengan? Kan aku jadi korban." Fira mendengus kesal.
"Mbak Wulan!" teriak Fira. Ia baru saja bangun tidur. Kebiasaan jelek, kalau libur begini, pasti bangun kesiangan. Emang sih sudah salat subuh, tapi Fira tidak langsung bangun, apalagi terus mandi dan gosok gigi, Fira tidur lagi!
"Mbak di kamar mandi, lagi mandiin adik Fay!" teriak Mbak wulan. Kepalanya menyembul dari balik kamar mandi.
"Mbak..., Fira mau sarapan nich. Buatkan nasi goreng dong!" Teriak Fira lagi.
"Aduh, mbak lagi repot nih. Adik Fay baru mandi, belum makan juga. Atau makan nasi putih aja, Mbak sudah masakkan sayur asem dan ayam goreng, atau gimana kalo Fira buat sendiri aja yah?"
"Hah? Buat sendiri? Aku nggak bisa!" jawab Fira cepat.
"Ayo dicoba dulu, masak sih lupa resepnya, kan kita pernah buat bersama!" jawab Mbak Wulan. Kali ini Mbak Wulan sudah mengendong Adik Fay, keluar dari kamar mandi. Rambut Adik Fay basah. Adik Fay kedinginan. Badannya segera dilap dan memakai minyak kayu putih dan bedak.
"Tapi..ntar nggak enak, ah.. aku malas," rajuk Fira.
"Coba dulu, asyik lo masak sendiri itu," rayu Mbak Wulan. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Fira, siswa kelas IV SD itu menurut juga. Toh, tidak ada salahnya mencoba membuat nasi goreng. Kan pernah diajarkan Mama dan Mbak Wulan, sip deh! Fira mulai menjelajahi dapur yang selama ini jarang dijamahnya.
Fira mulai mempersiapkan bumbu-bumbunya. Emm, lagaknya seperti seorang koki profesional. Fira segera memakai celemek masak. Wih...asik juga bereksperimen di dapur yah. Oke, selanjutnya Fira mulai mengupas bawang merah, bawang putih, memetik satu tangkai cabai merah, menggilingnya halus bersama sedikit garam. Lalu menumisnya dengan sesendok mentega. Sreng! Terdengar suara mentega di wajan panas. Tak lama, tercium bau harum bumbunya.
"Wah, aku semakin lapar nih!" ujar Fira tambah semangat. Eit, hampir lupa, nasi putih mulai dituang perlahan ke atas wajan, lalu kecap dan sreng-sreng, Fira mulai mengaduknya perlahan-lahan. Nasi yang bercampur bumbu dibolak-balik agar bumbunya rata. Tidak berapa lama, jadi deh. Tapi biar lebih bergizi, Fira menggoreng telur ceplok mata sapi, kerupuk udang, mengiris timun dan tomat. Sip! Nasi goreng spesial ala Fira sudah siap!
"Mbak Wulan! Nasi gorengku sudah jadi lo!" teriak Fira bangga sambil membawa sepiring nasi goreng lengkap. Di meja makan ada dua piring lainnya. Mbak Wulan tersenyum sambil menyuapi Adik Pay yang sudah rapi.
"Wah Mbak Fira hebat," puji Mbak Wulan.
"Iya dong, koki Fira!" ujar Fira malu-malu.
"Adik mau coba nggak?" tawarnya pada Adik Fay.
"Mau dong, Adik juga mau coba masakan Mbak Fira, kalau enak, nanti kita buat restoran aja!" jawab Adik Fay. Fira dan Mbak Wulan tertawa. Fira bahagia sekali. Hari ini ia sudah bisa masak nasi goreng sendiri tanpa bantuan Mama atau Mbak Wulan.
"Nanti kalau Mama dan Papa pulang Fira mau kasih hadiah sepiring nasi goreng buatan Fira," janji Fira. Mbak Wulan dan Adik Fay mengangguk setuju. Ternyata, liburan kali ini tidak terlalu menyedihkan ya? ***
Lampung Timur, 2008
Dimuat di Lampung Post, 02/03/2008
TAHUN baru yang sepi. Ugh! Berkali-kali Fira mengeluh menyesali rencananya yang berantakan. Padahal akhir tahun 2006 begitu menyenangkan. Kumpul bersama Mama, Papa, Adik Fay dan Mbak Wulan pengasuh setianya. Namun, tahun ini? Akhir tahun 2007 yang menyedihkan! Hiks! Liburan semester I cuma di rumah aja! Papa dan mama ikut diklat sertifikasi guru di Wisma Haji Bandar Lampung. Mama guru SD dan papa guru SMP. Bayangkan, ditinggal sembilan hari! Huh sebelnya!
Tahun lalu, Fira bersama keluarga berkumpul merayakan tahun baru. Tepatnya sih bukan merayakan dengan pesta seperti orang biasanya, yang meniupkan terompet, main kembang api, atau lainnya, tapi diisi kumpul bersama keluarga, berdoa bersama agar tahun depan lebih baik lagi dan bersama-sama membuat rencana atau target prestasi di tahun baru. Namun, kini? Liburan dua minggu tidak jadi ke Jakarta! Padahal janji papa, kalau nilai Fira bagus akan jalan-jalan ke Ancol, eh malah di rumah aja dengan si kecil Fay yang baru TK nol besar, apa enaknya?
Si Fay enak, sebelum mama berangkat sudah ditinggali sekardus makanan ringan. Jajanannya banyak! Dimintain nggak boleh. Uh sebel deh!
"Kenapa sih Mama dan Papa mesti diklat barengan? Kan aku jadi korban." Fira mendengus kesal.
"Mbak Wulan!" teriak Fira. Ia baru saja bangun tidur. Kebiasaan jelek, kalau libur begini, pasti bangun kesiangan. Emang sih sudah salat subuh, tapi Fira tidak langsung bangun, apalagi terus mandi dan gosok gigi, Fira tidur lagi!
"Mbak di kamar mandi, lagi mandiin adik Fay!" teriak Mbak wulan. Kepalanya menyembul dari balik kamar mandi.
"Mbak..., Fira mau sarapan nich. Buatkan nasi goreng dong!" Teriak Fira lagi.
"Aduh, mbak lagi repot nih. Adik Fay baru mandi, belum makan juga. Atau makan nasi putih aja, Mbak sudah masakkan sayur asem dan ayam goreng, atau gimana kalo Fira buat sendiri aja yah?"
"Hah? Buat sendiri? Aku nggak bisa!" jawab Fira cepat.
"Ayo dicoba dulu, masak sih lupa resepnya, kan kita pernah buat bersama!" jawab Mbak Wulan. Kali ini Mbak Wulan sudah mengendong Adik Fay, keluar dari kamar mandi. Rambut Adik Fay basah. Adik Fay kedinginan. Badannya segera dilap dan memakai minyak kayu putih dan bedak.
"Tapi..ntar nggak enak, ah.. aku malas," rajuk Fira.
"Coba dulu, asyik lo masak sendiri itu," rayu Mbak Wulan. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Fira, siswa kelas IV SD itu menurut juga. Toh, tidak ada salahnya mencoba membuat nasi goreng. Kan pernah diajarkan Mama dan Mbak Wulan, sip deh! Fira mulai menjelajahi dapur yang selama ini jarang dijamahnya.
Fira mulai mempersiapkan bumbu-bumbunya. Emm, lagaknya seperti seorang koki profesional. Fira segera memakai celemek masak. Wih...asik juga bereksperimen di dapur yah. Oke, selanjutnya Fira mulai mengupas bawang merah, bawang putih, memetik satu tangkai cabai merah, menggilingnya halus bersama sedikit garam. Lalu menumisnya dengan sesendok mentega. Sreng! Terdengar suara mentega di wajan panas. Tak lama, tercium bau harum bumbunya.
"Wah, aku semakin lapar nih!" ujar Fira tambah semangat. Eit, hampir lupa, nasi putih mulai dituang perlahan ke atas wajan, lalu kecap dan sreng-sreng, Fira mulai mengaduknya perlahan-lahan. Nasi yang bercampur bumbu dibolak-balik agar bumbunya rata. Tidak berapa lama, jadi deh. Tapi biar lebih bergizi, Fira menggoreng telur ceplok mata sapi, kerupuk udang, mengiris timun dan tomat. Sip! Nasi goreng spesial ala Fira sudah siap!
"Mbak Wulan! Nasi gorengku sudah jadi lo!" teriak Fira bangga sambil membawa sepiring nasi goreng lengkap. Di meja makan ada dua piring lainnya. Mbak Wulan tersenyum sambil menyuapi Adik Pay yang sudah rapi.
"Wah Mbak Fira hebat," puji Mbak Wulan.
"Iya dong, koki Fira!" ujar Fira malu-malu.
"Adik mau coba nggak?" tawarnya pada Adik Fay.
"Mau dong, Adik juga mau coba masakan Mbak Fira, kalau enak, nanti kita buat restoran aja!" jawab Adik Fay. Fira dan Mbak Wulan tertawa. Fira bahagia sekali. Hari ini ia sudah bisa masak nasi goreng sendiri tanpa bantuan Mama atau Mbak Wulan.
"Nanti kalau Mama dan Papa pulang Fira mau kasih hadiah sepiring nasi goreng buatan Fira," janji Fira. Mbak Wulan dan Adik Fay mengangguk setuju. Ternyata, liburan kali ini tidak terlalu menyedihkan ya? ***
Lampung Timur, 2008
Selasa, 15 Desember 2009
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Naqiyyah Syam
Dimuat di Majalah Sabili No. 19 Th X 10 April 2003/8 SHAFAR 1424
Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Oleh kalangan Botani, aku sering disebut tanaman sejenis perdu, dan termasuk anggota famili Compositae atau disebut juga Asteraceae (sembung-sembungan).
Bungaku kecil sebesar bunga rumput, orang lebih mengenalku dengan warna putih daripada warna lainnya. Hidupku bergerombolan di ujung dahan dengan harum yang khas. Tinggi batangku dapat mencapai 5 meter dengan daun-daun runcing dan lurus. Bungaku istimewa, tak pernah layu, mekarku abadi, sehingga aku dijuluki “bunga abadi”. Sungguh julukan inilah yang menjadi ‘beban’ bagiku, karena banyak orang menyalahgunakan ‘arti’ keabadianku selama ini! Keabadianku mereka sama kan dengan ‘cinta abadi’, cinta sepasang manusia yang tidak memiliki ikatan resmi. Ah…. Apalah arti protesku? Tho’ siapa yang peduli dengan rintihanku?
* * *
Aku berada di kamar Rieska. Tersusun rapi di atas lemari belajarnya. Disampingku ada diktat kuliah, novel, majalah remaja dan…. Bunga-bunga koleksi Rieska! Tepatnya sengaja disimpan Rieska. Yap! Untuk mengenang siapa yang memberikannya! Aku memang lebih beruntung dari bunga Mawar yang menjadi pendatang baru di kamar ini. Wajahnya pucat karena air di dalam vas tersebut tak pernah diganti oleh Rieska. Sama halnya dengan nasib Suplir yang telah mengering menjadi pembatas buku, lengkap dengan spora yang masih menempel ditubuhnya, dan Anggrek yang merana karena sebagian kelopak bunganya telah mengering.
Ya…. diantara bunga-bunga milik Rieska, ternyata aku memang diperlakukan ‘istimewa’ oleh majikanku, Rieska! Aku ditaruh di dalam kotak berwarna biru muda, berlapiskan plastik transparant. Aku sangat senang dengan perlakuan baik Rieska, tapi…. aku sangat resah dengan label hitam yang bertuliskan “Cinta Abadi” yang melekat manis di atas plastik kotak ini.
* * *
“Kamu beruntung yah, Weis, tempatmu empuk,” komentar Mawar suatu hari saat Rieska sudah pergi kuliah.
“Iya…. Weis, kamu nggak perlu ganti-ganti air sepertiku!” ujar Anggrek sedih.
“Ah…. Kalian bisa aja!” ujarku pelan.
“Tapi…. Benar kan memang kamu anak emas-nya Rieska! Apa karena kamunya pemberian Ari pacar Rieska si anak gunung itu?” kali ini suara Suplir dari balik buku angkat bicara. Ya… aku memang pemberian Ari Jaya Saputra kekasih Rieska. Ari mengambilku ketika dia mendaki gunung Ciremai, Jawa Barat. Aku diberikan kepada Rieska tepat ketika Rieska ultah yang ke-22 tahun, tepatnya enam bulan yang lalu.
“Ah…. Itukan pikiran kalian saja kalo aku bahagia ada di sini, sebenarnya aku nggak terlalu bahagia kok tinggal di sini!” ujarku.
“Kok bisa? Mengapa?” tanya Mawar keheranan.
“Nggak bahagia gimana? Diperlakukan istimewa kok nggak senang, nggak bersyukur kamu!” suara Anggrek ketus.
“Weiss…, seharusnya kamu bersyukur dengan keadaanmu saat ini, jangan belagu deh pura-pura nggak senang” timbal Suplir.
“Maksudku…. aku bersyukur kok Rieska menjagaku dengan baik di sini, tapi…. yang membuat aku sedih Rieska selalu beranggapan kalo kesegaran bungaku yang abadi menjadi simbol keabadian cinta Ari padanya, padahal….”
“Padahal apa? Maksud kamu apa sih? Aku jadi nggak ngerti!” suara Suplir terdengar pelan memotong pembicaraanku. Tampaknya susah payah ia berbicara dibalik lembaran buku dairy Rieska.
“Iya… nih Weis, maksud kamu itu apa?” tanya Mawar lagi. Aku berusaha menjelaskan kepada mereka, tentu saja dengan bahasa kami kaum bunga-bungaan.
“Aku ingin sekali Rieska menyadari keberadaan kita. Rieska seharusnya berpikir ada apa dibalik kekuasaan Allah yang telah menciptakan kita. Mereka seharusnya menjaga kita dengan baik, bukankah mereka diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini? Manusia seharusnya menyayangi dan merawat kita. Mereka seharusnya berfikir coba kalo nggak ada Mawar, Anggrek, Suplir atau bunga lainnya bagaimana? Dunia pasti suram tanpa penyejuk mata. Beda kalo ada kita, mereka akan merasa senang dan tentram bila memandang si Mawar yang sedang mekar, Suplir yang segar, atau Anggrek yang ….dan seharusnya manusia yang melihat ‘keabadianku’ sebagai contoh bagaimana mengabadikan hatinya sebagai rasa syukur ke hadirat Illahi” suaraku pelan, mataku mulai berkaca-kaca menahan air mata yang hampir tertumpah.
“Kamu benar Weis, seharusnya manusia memang balajar dari fenomena alam, seperti kita! Lihat bungaku, berwarna merah menawan, wangi semerbak. Allah sengaja menciptakan duri-duri kecil dibatangku untuk menjaga kehormatanku dari serangan makhluk yang jahil, agar tidak mudah dipetik begitu saja. Kamu juga kan Weis, hidup ditepi jurang, sehingga diperlukan perjuangan bagi siapa yang ingin memetikmu. Ah… seharusnya manusia menyadari hal itu, mencontoh kita! Indah tapi tak mudah diraih! Berbeda dengan manusia, coba saja lihat kaum wanitanya? Masih banyak diantara mereka yang belum menyadari betapa pentingnya menjaga kehormatan diri, mereka dengan mudahnya dipegang sembarang orang, pake’ wangi-wangian yang merangsang syahwat lelaki, berbicara dengan suara yang mendesah, dan bangga mengubar aurat mereka. Sebenarnya mereka tahu nggak sih kalo prilaku seperti itu dosa?” ujar Mawar prihatin.
“Kok kamu tahu banget,War perubahan manusia begitu?” tanyaku heran pada Mawar.
“Jelas dong aku tahu, aku kan pernah tinggal di taman depan rumah Asep, teman kuliah Rieska, sehingga setiap hari aku bisa melihat dunia di luar sana” jelas Mawar.
“Ah sudahlah… sekarang emang zaman edan, yang pria berjas rapi menutup seluruh aurat, eh… wanitanya berpakaian seksi minim bahan, apa itu namanya nggak kebalik dunia sekarang?” sahut Suplir yang dulunya tinggal di teras depan rumah Bayu pacar Rieska yang ketiga.
“Eh.. iya juga yah, kemarin malam aku dengar di TV kalo aborsi semakin merajalela, koran-koran berbau porno semakin meluas, kemana sih hati nurani mereka?” suara Aggrek pelan. Anggrek memang pernah dibawah Rieska ke ruang keluarga dekat TV. Semua terdiam dengan pikiran masing-masing, mereka berdzikir memuji asma Allah.
* * *
“Ari…… ada yang ingin ku katakan” terdengar suara Rieska di ruang tamu. Malam ini hanya mereka berdua yang ada di rumah, mama dan papa serta kedua orang kakaknya Rina dan adiknya Shanty pergi ke pesta pernikahan relasi papanya.
“Ada apa?” tanya Ari, mereka berdua duduk di sofa.
“Aku…aku …. Telat tiga minggu!Aku…ha…mil, Ari!”
“Hah? Kamu…hamil?” tanya ari keheranan, ini diluar dugaannya.
“Iya, kita harus segera menikah, Ari! Aku takut papa dan mama akan marah!” ujar Rieska gusar.
“Tidak! Aku tidak mau menikah sekarang! Kamu harus mengugurkan kandunganmu!”
“Ari! Aku nggak mau, ini anak kita! Kamu harus bertanggungjawab!” teriak Rieska bercampur tangis.
“Nggak, aku nggak mau, mungkin saja itu anakmu dengan pacar kamu yang lain!” cibir Ari.
“Ari… teganya kamu ngomong begitu, ini anak kamu Ari! Anak kita!”
“Pokoknya tidak! Kamu harus mengugurkannya, harus, titik!”
“Tidak! Aku nggak mau!”
“Harus!” paksa Ari menarik tangan Rieska dengan keras.Tangis Rieska semakin kencang.
* * *
“Ari jelek! Lelaki brengsek!” teriak Rieska ketika masuk ke kamar. Ia menghembaskan tubuh mungilnya ke atas kasur empuk disertai suara pintu dibanting dengan keras. “Ada apa yah?” batinku bertanya penasaran.
“Hu….hu…., katanya cinta, katanya sayang, buktinya? Kamu jahat!” teriak Rieska lagi, semakin keras terdengar. Rieska menangis, air matanya menetes memasahi kemeja kotak-kotaknya.
“Eh… kawan-kawan, Rieska kenapa yah?” tanyaku pada Mawar, Anggreka dan Suplir.
“Nggak tahu, tidak seperti biasanya yah? Mungkin… Rieska ribut dengan Ari, atau berantem ama papa atau mamanya” tebak Anggrek.
“Ari…. Ka..mu…kejam! Ngakunya setia, cinta setengah mati, setia sampai akhir zaman, tapi mana? Kamu …. Hu….hu… Cinta? Ah… Ari … ngaku cinta abadi? Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu pergi meninggalkanku dalam keadaan begini, kamu lelaki tak bertanggungjawab! Apa yang harus aku katakan pada mama dan papa?” tangis Rieska semakin keras terdengar. Rieska bingung harus bagaimana.
Tiba-tiba. Rieska berjalan dengan tergesa menuju meja belajarnya, meraih kotak mungil yang disimpannya dengan penuh kasih sayang selama ini.
“Percuma kamu berikan aku dulu bunga Edelweiss kalo cintamu bukan cinta abadi, tapi cinta murahan! Ngakunya cinta, tapi mengapa kamu tinggalkan aku dalam keadaan begini?” tangis Rieska sambil membuka kotak mungil itu lalu membuang seluruh bunga Edelweiss ke dalam tempat sampah yang berada tepat di samping meja belajar. Melihat pristiwa tersebut, bunga lainnya, Mawar, Suplir dan Anggrek menjerit histeris!
“Ja……ngan……!!” teriak Mawar, Suplir dan Anggrek serentak. Tapi terlambat! Edelweiss telah dibuang ke dalam tong sampah yang bercampur dengan sampah lainnya.
* * *
Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Kali ini aku berada dalam gengaman seorang pemuda bernama Rahman. Ia mengamatiku dari tadi sambil terus berdzikir memuji asma Allah.
“Ya… Rabb yang Maha Kuasa, satu lagi telah Kau tunjukkan kebesaran-Mu. Menciptakan bunga Edelweiss yang tahan layu dan tak lelah diterpa angin, tanpa pemudar dan tanpa kekeringan. Ya… Rabb, seperti ini jugakah semangat saudara-saudaraku di Palestina dalam menghadapi serangan Yahudi demi merebut kembali hak mereka atas Masjid Al-Aqsa? Ya… Allah, kuatkan hati-hati kami untuk merebut itu semua” lirih suara Rahman menyejukan hatiku.
Aku hanya tumbuhan tanpa nyawa tapi aku merasakan betapa ia seorang pemuda yang ‘berhasil’ mengenali alamnya dan terus berdzikir melihat ke-Esaan penciptanya. Aku Edelweiss tersenyum bahagia dalam genggamannya.
Dimuat di Majalah Sabili No. 19 Th X 10 April 2003/8 SHAFAR 1424
Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Oleh kalangan Botani, aku sering disebut tanaman sejenis perdu, dan termasuk anggota famili Compositae atau disebut juga Asteraceae (sembung-sembungan).
Bungaku kecil sebesar bunga rumput, orang lebih mengenalku dengan warna putih daripada warna lainnya. Hidupku bergerombolan di ujung dahan dengan harum yang khas. Tinggi batangku dapat mencapai 5 meter dengan daun-daun runcing dan lurus. Bungaku istimewa, tak pernah layu, mekarku abadi, sehingga aku dijuluki “bunga abadi”. Sungguh julukan inilah yang menjadi ‘beban’ bagiku, karena banyak orang menyalahgunakan ‘arti’ keabadianku selama ini! Keabadianku mereka sama kan dengan ‘cinta abadi’, cinta sepasang manusia yang tidak memiliki ikatan resmi. Ah…. Apalah arti protesku? Tho’ siapa yang peduli dengan rintihanku?
* * *
Aku berada di kamar Rieska. Tersusun rapi di atas lemari belajarnya. Disampingku ada diktat kuliah, novel, majalah remaja dan…. Bunga-bunga koleksi Rieska! Tepatnya sengaja disimpan Rieska. Yap! Untuk mengenang siapa yang memberikannya! Aku memang lebih beruntung dari bunga Mawar yang menjadi pendatang baru di kamar ini. Wajahnya pucat karena air di dalam vas tersebut tak pernah diganti oleh Rieska. Sama halnya dengan nasib Suplir yang telah mengering menjadi pembatas buku, lengkap dengan spora yang masih menempel ditubuhnya, dan Anggrek yang merana karena sebagian kelopak bunganya telah mengering.
Ya…. diantara bunga-bunga milik Rieska, ternyata aku memang diperlakukan ‘istimewa’ oleh majikanku, Rieska! Aku ditaruh di dalam kotak berwarna biru muda, berlapiskan plastik transparant. Aku sangat senang dengan perlakuan baik Rieska, tapi…. aku sangat resah dengan label hitam yang bertuliskan “Cinta Abadi” yang melekat manis di atas plastik kotak ini.
* * *
“Kamu beruntung yah, Weis, tempatmu empuk,” komentar Mawar suatu hari saat Rieska sudah pergi kuliah.
“Iya…. Weis, kamu nggak perlu ganti-ganti air sepertiku!” ujar Anggrek sedih.
“Ah…. Kalian bisa aja!” ujarku pelan.
“Tapi…. Benar kan memang kamu anak emas-nya Rieska! Apa karena kamunya pemberian Ari pacar Rieska si anak gunung itu?” kali ini suara Suplir dari balik buku angkat bicara. Ya… aku memang pemberian Ari Jaya Saputra kekasih Rieska. Ari mengambilku ketika dia mendaki gunung Ciremai, Jawa Barat. Aku diberikan kepada Rieska tepat ketika Rieska ultah yang ke-22 tahun, tepatnya enam bulan yang lalu.
“Ah…. Itukan pikiran kalian saja kalo aku bahagia ada di sini, sebenarnya aku nggak terlalu bahagia kok tinggal di sini!” ujarku.
“Kok bisa? Mengapa?” tanya Mawar keheranan.
“Nggak bahagia gimana? Diperlakukan istimewa kok nggak senang, nggak bersyukur kamu!” suara Anggrek ketus.
“Weiss…, seharusnya kamu bersyukur dengan keadaanmu saat ini, jangan belagu deh pura-pura nggak senang” timbal Suplir.
“Maksudku…. aku bersyukur kok Rieska menjagaku dengan baik di sini, tapi…. yang membuat aku sedih Rieska selalu beranggapan kalo kesegaran bungaku yang abadi menjadi simbol keabadian cinta Ari padanya, padahal….”
“Padahal apa? Maksud kamu apa sih? Aku jadi nggak ngerti!” suara Suplir terdengar pelan memotong pembicaraanku. Tampaknya susah payah ia berbicara dibalik lembaran buku dairy Rieska.
“Iya… nih Weis, maksud kamu itu apa?” tanya Mawar lagi. Aku berusaha menjelaskan kepada mereka, tentu saja dengan bahasa kami kaum bunga-bungaan.
“Aku ingin sekali Rieska menyadari keberadaan kita. Rieska seharusnya berpikir ada apa dibalik kekuasaan Allah yang telah menciptakan kita. Mereka seharusnya menjaga kita dengan baik, bukankah mereka diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini? Manusia seharusnya menyayangi dan merawat kita. Mereka seharusnya berfikir coba kalo nggak ada Mawar, Anggrek, Suplir atau bunga lainnya bagaimana? Dunia pasti suram tanpa penyejuk mata. Beda kalo ada kita, mereka akan merasa senang dan tentram bila memandang si Mawar yang sedang mekar, Suplir yang segar, atau Anggrek yang ….dan seharusnya manusia yang melihat ‘keabadianku’ sebagai contoh bagaimana mengabadikan hatinya sebagai rasa syukur ke hadirat Illahi” suaraku pelan, mataku mulai berkaca-kaca menahan air mata yang hampir tertumpah.
“Kamu benar Weis, seharusnya manusia memang balajar dari fenomena alam, seperti kita! Lihat bungaku, berwarna merah menawan, wangi semerbak. Allah sengaja menciptakan duri-duri kecil dibatangku untuk menjaga kehormatanku dari serangan makhluk yang jahil, agar tidak mudah dipetik begitu saja. Kamu juga kan Weis, hidup ditepi jurang, sehingga diperlukan perjuangan bagi siapa yang ingin memetikmu. Ah… seharusnya manusia menyadari hal itu, mencontoh kita! Indah tapi tak mudah diraih! Berbeda dengan manusia, coba saja lihat kaum wanitanya? Masih banyak diantara mereka yang belum menyadari betapa pentingnya menjaga kehormatan diri, mereka dengan mudahnya dipegang sembarang orang, pake’ wangi-wangian yang merangsang syahwat lelaki, berbicara dengan suara yang mendesah, dan bangga mengubar aurat mereka. Sebenarnya mereka tahu nggak sih kalo prilaku seperti itu dosa?” ujar Mawar prihatin.
“Kok kamu tahu banget,War perubahan manusia begitu?” tanyaku heran pada Mawar.
“Jelas dong aku tahu, aku kan pernah tinggal di taman depan rumah Asep, teman kuliah Rieska, sehingga setiap hari aku bisa melihat dunia di luar sana” jelas Mawar.
“Ah sudahlah… sekarang emang zaman edan, yang pria berjas rapi menutup seluruh aurat, eh… wanitanya berpakaian seksi minim bahan, apa itu namanya nggak kebalik dunia sekarang?” sahut Suplir yang dulunya tinggal di teras depan rumah Bayu pacar Rieska yang ketiga.
“Eh.. iya juga yah, kemarin malam aku dengar di TV kalo aborsi semakin merajalela, koran-koran berbau porno semakin meluas, kemana sih hati nurani mereka?” suara Aggrek pelan. Anggrek memang pernah dibawah Rieska ke ruang keluarga dekat TV. Semua terdiam dengan pikiran masing-masing, mereka berdzikir memuji asma Allah.
* * *
“Ari…… ada yang ingin ku katakan” terdengar suara Rieska di ruang tamu. Malam ini hanya mereka berdua yang ada di rumah, mama dan papa serta kedua orang kakaknya Rina dan adiknya Shanty pergi ke pesta pernikahan relasi papanya.
“Ada apa?” tanya Ari, mereka berdua duduk di sofa.
“Aku…aku …. Telat tiga minggu!Aku…ha…mil, Ari!”
“Hah? Kamu…hamil?” tanya ari keheranan, ini diluar dugaannya.
“Iya, kita harus segera menikah, Ari! Aku takut papa dan mama akan marah!” ujar Rieska gusar.
“Tidak! Aku tidak mau menikah sekarang! Kamu harus mengugurkan kandunganmu!”
“Ari! Aku nggak mau, ini anak kita! Kamu harus bertanggungjawab!” teriak Rieska bercampur tangis.
“Nggak, aku nggak mau, mungkin saja itu anakmu dengan pacar kamu yang lain!” cibir Ari.
“Ari… teganya kamu ngomong begitu, ini anak kamu Ari! Anak kita!”
“Pokoknya tidak! Kamu harus mengugurkannya, harus, titik!”
“Tidak! Aku nggak mau!”
“Harus!” paksa Ari menarik tangan Rieska dengan keras.Tangis Rieska semakin kencang.
* * *
“Ari jelek! Lelaki brengsek!” teriak Rieska ketika masuk ke kamar. Ia menghembaskan tubuh mungilnya ke atas kasur empuk disertai suara pintu dibanting dengan keras. “Ada apa yah?” batinku bertanya penasaran.
“Hu….hu…., katanya cinta, katanya sayang, buktinya? Kamu jahat!” teriak Rieska lagi, semakin keras terdengar. Rieska menangis, air matanya menetes memasahi kemeja kotak-kotaknya.
“Eh… kawan-kawan, Rieska kenapa yah?” tanyaku pada Mawar, Anggreka dan Suplir.
“Nggak tahu, tidak seperti biasanya yah? Mungkin… Rieska ribut dengan Ari, atau berantem ama papa atau mamanya” tebak Anggrek.
“Ari…. Ka..mu…kejam! Ngakunya setia, cinta setengah mati, setia sampai akhir zaman, tapi mana? Kamu …. Hu….hu… Cinta? Ah… Ari … ngaku cinta abadi? Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu pergi meninggalkanku dalam keadaan begini, kamu lelaki tak bertanggungjawab! Apa yang harus aku katakan pada mama dan papa?” tangis Rieska semakin keras terdengar. Rieska bingung harus bagaimana.
Tiba-tiba. Rieska berjalan dengan tergesa menuju meja belajarnya, meraih kotak mungil yang disimpannya dengan penuh kasih sayang selama ini.
“Percuma kamu berikan aku dulu bunga Edelweiss kalo cintamu bukan cinta abadi, tapi cinta murahan! Ngakunya cinta, tapi mengapa kamu tinggalkan aku dalam keadaan begini?” tangis Rieska sambil membuka kotak mungil itu lalu membuang seluruh bunga Edelweiss ke dalam tempat sampah yang berada tepat di samping meja belajar. Melihat pristiwa tersebut, bunga lainnya, Mawar, Suplir dan Anggrek menjerit histeris!
“Ja……ngan……!!” teriak Mawar, Suplir dan Anggrek serentak. Tapi terlambat! Edelweiss telah dibuang ke dalam tong sampah yang bercampur dengan sampah lainnya.
* * *
Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Kali ini aku berada dalam gengaman seorang pemuda bernama Rahman. Ia mengamatiku dari tadi sambil terus berdzikir memuji asma Allah.
“Ya… Rabb yang Maha Kuasa, satu lagi telah Kau tunjukkan kebesaran-Mu. Menciptakan bunga Edelweiss yang tahan layu dan tak lelah diterpa angin, tanpa pemudar dan tanpa kekeringan. Ya… Rabb, seperti ini jugakah semangat saudara-saudaraku di Palestina dalam menghadapi serangan Yahudi demi merebut kembali hak mereka atas Masjid Al-Aqsa? Ya… Allah, kuatkan hati-hati kami untuk merebut itu semua” lirih suara Rahman menyejukan hatiku.
Aku hanya tumbuhan tanpa nyawa tapi aku merasakan betapa ia seorang pemuda yang ‘berhasil’ mengenali alamnya dan terus berdzikir melihat ke-Esaan penciptanya. Aku Edelweiss tersenyum bahagia dalam genggamannya.
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)
