Tampilkan postingan dengan label * Koko Nata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label * Koko Nata. Tampilkan semua postingan
Jumat, 16 April 2010 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Koko Nata


Dulu, aku sebuah rumah kecil. Aku hanya terdiri dari ruang tamu sekaligus ruang keluarga, kamar tidur sempit, dapur, dan kamar mandi. Lantai hanya terbuat dari campuran semen dan pasir. Dinding-dindingku adalah susunan batu bata kualitas rendah. Sedangkan atap terbuat dari genteng asbes. Meskipun begitu, jendela-jendelaku mampu menjaring banyak sinar matahari. Pintu-pintu sering terbuka, mengalirkan udara segar di setiap ruanganku.

Penghuniku terdiri dari ayah, ibu, putra dan putri. Sejak mahasiswa ayah sudah rajin menabung. Ketika akan menikah dengan ibu, ayah mulai membuat rumah mungil: aku. Setelah menjadi pasangan suami-istri, ayah dan ibu sedikit demi sedikit membeli perabotan. Mereka senantiasa membeli barang-barang yang betul-betul dibutuhkan. Keduanya lebih suka menabung untuk persiapan pendidikan anak-anaknya kelak.

Aku masih ingat bagaimana proses kelahiran putra dan putri. Meskipun usia mereka berbeda dua tahun, proses kelahirannya tidak berbeda! Seorang bidan yang sama menolong kelahiran mereka. Anak-anak yang lucu itu terpaksa lahir di rumah karena ayah dan ibu tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Meskipun begitu, mereka terlahir dengan selamat dan sehat.

Putra dan putri tumbuh besar dalam asuhan ibu, tanpa bantuan orang lain. Ibu menyediakan seluruh waktunya untuk mengurus keluarga. Sebelumnya ia sempat bekerja di kantor. Begitu putra lahir, ibu lebih memilih jadi ibu rumah tangga. Pagi-pagi, ia sudah bangun untuk menyiapkan segala kebutuhan ayah, putra dan putri. Terkadang ayah membantu ibu memasak. Ayah selalu membawa bekal untuk makan siang di kantor. Ibu sangat pintar mengolah bahan-bahan murah menjadi kudapan yang sangat lezat. Ibu juga gemar membuat mainan sendiri untuk putra dan putri.

Ayah bekerja mulai Senin sampai Jum’at. Sabtu dan Minggu ia khususkan untuk bermain dengan putra dan putri. Ayah memperbolehkan ibu melakukan apa saja yang disukainya di akhir pekan, sementara ia mengasuh putra dan putri. Tidak jarang ayah mengajak putra dan putri membuat masakan spesial untuk ibu. Setelah memasak, dapur kerap berantakan seperti baru saja terserang badai. Akhirnya, ibu juga yang harus turun tangan membersihkan dapur. Tawa dan canda selalu mengiringi kegiatan mereka. Aku senang mendengarnya.

Ketika Putra duduk di sekolah dasar, ayah mulai menduduki jabatan yang lebih tinggi di kantornya. Penghasilan yang diterima ayah setiap bulan meningkat, berbagai fasilitas pun Ayah dapatkan. Salah satu fasilitas itu adalah sebuah mobil. Ayah pun mulai berencana untuk memperbesar ukuranku. Ibu sangat mendukung. Putra dan Putri bertambah besar. Mereka harus sudah memiliki kamar tidur sendiri. Beberapa tahun kemudian, rencana Ayah untuk memperbesar ukuranku terlaksana. Selama proses pembangunanku, keluarga kecil tersebut harus menempati rumah lain. Untuk sementara aku berpisah dengan mereka.

Beberapa bulan kemudian aku selesai dibangun. Kini kamar tidurku ada lima. Ayah dan ibu menempati kamar depan, putra dan putri mendapat kamar sendiri. Sedangkan dua kamar lagi untuk pembantu dan tamu. Kamar mandi pun bertambah dari satu menjadi tiga, dilengkapi dengan pancuran air panas dan dingin. Hampir semua perabotan baru. Aku bagaikan terlahir kembali dalam wujud yang lebih indah dan megah.

Sejak wujudku berubah, terjadi perubahan pula pada keluarga kecil itu. Ibu mulai bekerja kembali. Tugas-tugas rumah tangga beralih pada seorang pembantu. Ibu tidak lagi mengantar dan menjemput Putra dan Putri sekolah. Mereka sudah berlangganan mobil antar jemput. Hari Sabtu, Ayah tidak lagi berada di rumah. Ayah sering ke luar kota. Ibu pun terkadang harus bekerja lembur di kantor. Keluarga itu hanya bertemu beberapa jam sebelum tidur. Sebelum sinar matahari merata menyinari bumi, mereka sudah pergi meninggalkan rumah.

Perabotan-perabotan mewah dan mahal juga kini mengisi ruanganku. Televisi layar datar yang lebih sering ditonton oleh pembantu. Lemari es dua pintu tempat menyimpan aneka makanan siap saji, mesin cuci dan berbagai peralatan dan perlengkapan modern lainnya. Entah kenapa, aku jadi merindukan perabotan sederhana yang dulu. Meskipun harganya murah, seluruh anggota keluarga senang memakainya.

Satu hal lagi yang sangat kurindukan adalah keceriaan saat makan bersama. Mereka sangat jarang makan bersama lagi. Aku rindu percakapan hangat mereka di meja makan. Apakah mereka juga merindukannya? Pasti. Buktinya dialog menjelang waktu makan yang sering sekali kudengar.

”Bibi sudah masak ayam kecap kesukaan nona, lho hari ini,” kata sang pembantu.

”Bibi saja yang makan. Aku sudah kenyang makan bakso sama teman-teman,” kata Putri yang masih menggunakan seragam SMP-nya.

Dulu, ayam kecap kerap diperebutkan oleh putra dan putri. Ayah dan Ibu terpaksa memotong dada ayam sama rata, agar keduanya tidak berebut lagi. Sekarang, meskipun sepiring ayam kecap dan aneka makanan lezat telah tersaji di meja makan, Putra dan Putri enggan menikmatinya. Mereka rindu. Pasti rindu. Sehingga tidak mau makan sendiri di meja makan.

***

”Wah, rumahnya sudah bagus sekali, ya. Kalau tidak salah, dulunya rumah ini kecil dan sederhana,” kata seorang bapak tua yang melintas di depanku pada temannya.

Bapak itu benar, aku dulunya si rumah mungil. Namun jika diminta memilih aku lebih suka diriku yang dulu. Kecil tetapi penuh canda tawa keluarga. Sederhana, tetapi semua anggota keluarga sering menghabiskan waktu bersama. Seringkali aku berdoa, agar aku menjadi seperti dulu saja. Mungkinkah doaku akan terkabul? Entahlah. Aku hanya rumah, rumah kecil yang sekarang megah tetapi tidak bahagia.
Minggu, 15 November 2009 by Forum Lingkar Pena
Cerpen Koko Nata
Dimuat di Majalah Femina No.03/XXXV 18-24 Januari 2007

Surga ada di telapak tanganmu. Kaulah yang mengantar mereka ke surga

Pisau tinggi terangkat. Mata baja berkilat. Gagang kayu tergenggam erat. Sekali terayun, kulit tersayat, darah mengalir hebat.

“Kamu kenapa? Masakin air panas, dong!”

Pisau jatuh berdenting. Ujung runcing membentur lantai keramik. Tiba-tiba letih meraja.

Tanpa semangat Ani menjerang air permintaan suaminya.

Di depan kompor gas, Ani terduduk lemas.

Fajar belum merekah ketika suami meminta sambil berkata “aku ingin bocah perkasa.” Suami terlelap setelah tersenyum puas. Tanpa kata mesra. Tiada cinta atas nikmat surga. Perempuan awal tiga puluh itu tergugu sendiri. Belum empat puluh hari menimang Kiki, menambah ramai suasana selain celoteh Dina dan Wilda. Khawatir. Benih baru tumbuh lagi.

Ani tak punya waktu untuk ikut memejamkan mata. Sebelum tiga bocah terjaga, ia bergegas ke dapur, menyisingkan lengan baju. Menjerang Air. Menyeduh teh. Membuat susu. Memanggang roti. Mengoleskan selai. Memarut keju. Menata meja makan. Mengumpulkan baju kotor. Menumpuk pakaian yang harus disetrika. Mengumpulkan serakan mainan. Menyiapkan bekal, seragam TK, dan alat tulis Dina. Semua dikerjakan Ani dengan menahan sesak di dada. Tangis tanpa suara. Sedang suami asyik memeluk bantal.

Sang suami muncul di belakangnya. Lehernya berkalung handuk.

Ani menyodorkan ceret. Belum mendidih benar. Tapi cukuplah untuk membuat badan nyaman.

Tangisan Kiki terdengar bagai alarm. Tadinya Ani berharap Kiki bangun agak siang. Semalaman bocah itu rewel terus. Beberapa kali Ani bangun, menemani. Menggendong sambil mengusap basah di pipi. Sendiri.

Belum sempat menimang Kiki, Wilda ikut menjerit. Kesibukan baru mulai lagi. Mendekap Kiki. Mendiamkan Wilda. Menuntun Dina ke kamar mandi. Mengawasi Dina mandiri berpakaian rapi dan membereskan kamar. Menjawab pertanyaan-pertanyaan suami; di mana dasi biru? Ikat pinggang? Lihat dompet? Waduh, kertas kerja mana? Rewelnya serupa Kiki. Ani harus mengeluarkan tenaga ekstra kudanya.

Pukul tujuh, Ani berusaha mengumpulkan energi. Dina sudah dijemput mobil langganannya. Suami telah melambaikan tangan. Kiki menggapai dan mengais udara di kotak bayinya. Wilda belajar makan sendiri. Remah-remah roti bertebaran di lantai. Bocah yang baru lancar bicara itu menghancurkan roti dengan sempurna. Letih itu datang lagi. Hidangan di meja tak disentuh sama sekali.

Untunglah Karti menampakkan wajah. Beban Ani sedikit berkurang. Sampai tengah hari nanti tugas menyapu halaman, belanja, memasak, mencuci, menyetrika, berpindah ke tangan gadis dua puluhan itu. Ia bisa berkonsentrasi mengurus dua anaknya. Setidaknya sampai jam sepuluh. Sebelum Dina pulang dan membuat rumah menjadi serupa kapal pecah.

“Ti, beresin meja sambil lihatin anak-anak, ya. Saya mau rebahan. Agak pusing.”

Karti mengangguk. Ia tak punya banyak kata untuk dibagi dengan majikannya.

Ani masuk ke dalam kamar. Kamar tidurnya tak terlalu besar. Tapi cukup lega untuk menampung satu double bed, lemari dua pintu, dan meja rias kayu. Di dindingnya dua foto seukuran tabloid menggantung. Foto ia dan suami. Foto Dina dan Wilda.

Tubuh subur Ani sedikit memantul-mantul ketika merebahkan diri. Seprei katunnya kusut. Selimut tebal semrawut. Ani tak peduli. Ia meluruskan badan. Untuk beberapa saat, ia menatap foto diri dan suami

Pigura kayu bercat emas membingkai foto. Pose setengah badan. Suami merangkul erat dari belakang. Tangannya bersilangan di dada Ani, mencium rambut sebahu. Hangat. Nikmat. Seolah helai hitam itu menyimpan saripati lavender. Sedang Ani tersenyum simpul. Malu-malu. Menikah adalah anugerah, ucap batinnya kala berpose waktu itu.

Saat tahu bungsunya akan menikah, kerut bahagia ikut menghias wajah orangtua. Ani, si manja menemukan penjaga. Biar renta, mereka rela menempuh jalan darat Musi Banyuasin-Jakarta, melihat anak bersanding mesra. Kakak satu-satunya dari Amerikapun sempat datang. Di alam baka, orangtua suami pasti tersenyum juga.

Hari pertama berdua, Ani baru merasakan cinta sebenarnya. Berteduh di bawah naungan seorang laki-laki. Penat kerja seorang karyawati lumer ketika sampai di rumah. Suami punya berjuta puji. Tahu cara melambungkan hati istri. Bibit cinta bertunas. Ani berhenti dari pekerjaannya. Profesi ibu lebih mulia. Suami setuju. Ipar-ipar yang sesekali datang mendukung. Ekspresi bahagia Ani saat tahu hamil, secerah wajah di foto itu.

Kini, enam tahun berlalu. Rupa sudah berbeda. Dalam foto, wajah Ani dan Suami masih lonjong kwaci, belum bulat bakso. Lemak tertimbun mulai dari perut hingga paha. Menambah bobot berlipat ganda. Tak ada lagi jadwal lari pagi bersama seperti hari-hari pengantin baru. Terlebih Sabtu-Minggu, suaminya sering ke luar kota. Meeting, dinas kantor, atau apalah istilahnya.

Karena itukah suami lupa dengan kata-kata puitis? Bujuk rayu gombal? Perhatian dan ungkapan rasa cinta seperti dulu? Ani kurang paham. Diam.

Semalam mereka sempat bercakap singkat. Kalimat suamin begitu membekas di benak Ani. “Nda, bulan depan mungkin, Ayah nggak ngantor lagi. Kasus pipa gas bocor mulai berdampak buruk. Rakyat sekitar dan LSM berdemo. Pemda turun tangan. Aktivitas perusahaan menurun. Sekarang, Ayah dan beberapa teman kuliah berencana buka usaha.”

Buka usaha sendiri?

Ani teringat ucapan teman lama yang tak sengaja dijumpainya beberapa hari lalu.

“Buka usaha sendiri? Bagus kalau untung. Jika rugi? Mau makan apa anak kita? Bagaimana sekolahnya? Biaya hidup makin mahal. Harga-harga melambung tinggi. Pusing!” Sang teman belum lama membuka usaha rumah makan. Baru sebulan sudah gulung tenda.

“Untuk tahun-tahun pertama, jangan mimpi untung gede, deh”

Ani memijat-mijat kepalanya yang semakin terasa berat. Ia melirik sekaplet obat di meja kecil samping ranjang. Meraihnya. Menegaknya. Sebelum terpejam sempurna, suara itu sayup-sayup bergema:

Surga ada di telapak tanganmu. Suami mulai tak mampu. Hari suram tinggal menunggu.

Kesadaran Ani mengangkasa.

Di ruang tengah Karti berusaha menenangkan Wilda dengan bantuan televisi. Dipilihnya film kartun yang paling menarik hati Wilda. Diseretnya kotak bayi Kiki dekat televisi. Biar Kiki bisa ikut nonton, pikirnya. Dan ia sibuk bekerja lagi. Berkawan sapu dan kain pel.

***

“Da… Bunda!”

Lengan mungil menggoyangkan tubuh Ani. Menyadarkan. Ani membuka mata.

“Bunda, mau ikut Mbak. Beli sayul.”

Ani mengangguk lemah.

Wilda berlari. Menuju Karti di bordes pintu kamar. Menggendong Kiki.

Susah payah Ani bangkit. Menyambut Kiki.

“Jangan lupa telur ayam kampung, Ti!” pesan Ani. Mereka berjalan ke arah ruang tamu. Akhir-akhir ini ia mulai mengonsumsi kuning telur dan madu seperti kebiasaan ibunya dulu

“Wilda mau jajan.”

“Ya, terserah,” ujar Ani lemah.

Wilda berjalan dengan loncatan kecil di samping Karti. Melewati jalan komplek yang mulai sepi dari lindasan mobil.

Ani menatap pohon jambu air setinggi dua kali orang dewasa. Ujung-ujung rantingnya melahirkan putik-putik kecil. Sebentar lagi merekah jadi buah. Di belakang pohon jambu, bonsai tumbuh menjadi pagar setinggi badan Dina. Ani dan suami tetap patuh pada peraturan developer; rumah tanpa pagar. Seratus lima puluh lebih rumah, eksterior bergaya Amerika. Halaman terbuka. Tapi paranoid orang kota melahirkan pagar besi tinggi. Tetangga jadi enggan datang. Satpam kurang tahu, ada atau tiada orang di rumah.

Blok rumah Ani terdiri dari lima rumah. Ia berada di nomor dua. Di depannya sudah beda blok lagi. Setahun bermukim di sana, belum cukup baginya untuk mengenal nama, akrab dengan tetangga kanan, kiri, depan, belakang. Apalagi sampai radius puluhan meter ke depan. Pagi-pagi, setiap rumah mengeluarkan penghuninya. Ibu dan Ayah ke kantor. Anak-anak sekolah. Tinggal balita dan batita bersama baby sitter serta pembantu yang menguras tenaga untuk ratusan ribu rupiah. Menjelang malam barulah semua di rumah. Sedangkan bagi Ani, malam adalah waktu menanggalkan lelah dari raga.

Ada juga ibu-ibu perumahan itu yang tinggal di rumah. Mereka ibu-ibu trendi dan ibu-ibu pengajian. Untuk bergabung dengan ibu-ibu trendi, Ani rendah diri. Ia tak tahu banyak merek perhiasan, parfum, pakaian, atau butik-butik ternama. Ikut ibu-ibu pengajian, usia jauh terentang. Hampir dua kali lipat usianya. Jadilah Ani membunuh sepi dalam pengasuhan yang tak berkesudahan. Tanpa kawan sepadan.

Kau perlu teman bicara. Di surga banyak teman. Tak pernah sepi.

Kiki menggeliat. Menangis. Ani mencium aroma tak enak. Popok sekali pakai terasa hangat. Ani mengerti. Ia harus membawa Kiki ke kamar mandi. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini ia malas sekali mengganti popok, membersihkan kotoran Kiki. Ia mual dengan bau pesing dan amis kotoran. Ingin muntah. Kalau saja Kiki tak meraung keras, ia akan membiarkan Kiki tetap begitu sampai Karti kembali.

Ani membawa Kiki ke belakang. Raut kelelahan menghias wajahnya lagi.

***
Ani meletakkan Kiki di kotak bayi. Sudah bersih kembali meskipun tak tercium aroma wangi. Ani duduk di samping kotak bayi, acuh tak acuh memainkan bebek plastik yang mengeluarkan bunyi. Ani menyalakan televisi.

Channel 1. Berita Kriminal.

“Karena butuh biaya sekolah, siswi SMP rela menjual kehormatannya, pada seorang Penjabat… bla… bla…”

Ani menyimak dengan telinga lebar-lebar terbuka. Televisi 21 inci itu menayangkan gambar seorang gadis belia. Wajahnya disamarkan. Isak tangisnya mendayu. Nenek si gadis ikut memberikan tanggapan. Pipi rentanya juga basah. Penyiar berwajah lonjong telur, berambut sebahu, mengenakan blazer abu-abu merangkum peristiwa. Teks nama acara melayang-layang. Iklan.

Ani menekan remote

Channel 2. Gosip Selebritas

“Rumor perceraian penyanyi X dengan suaminya bukan isapan jempol belaka. Kemarin X menggugat cerai suaminya dengan alasan sang suami tak mampu memberi nafkah lagi. Suami terlalu menggantungkan kebutuhan ekonomi pada X. Akibatnya bla… bla…bla…”

Ani menghela napas. Ucapan suaminya tadi malam terngiang lagi, “… Ayah punya rencana bersama beberapa teman untuk buka usaha.” Ani tercenung lama.

Di surga semua tersedia. Tak pusing pikirkan kubutuhan jiwa raga.

Telepon berdering. Dari temannya.

“Bagaimana Mbak Ani. Kapan datang ke taman kita. Kiamat sudah dekat. Segera selesaikan urusan dunia. Ratu pilihan sudah dapat bisikan.”

Ani berjanji akan berkunjung. Sudah berpuluh kali temannya itu memberi alamat. Sudah ratusan nasehat pula dihembuskan sang teman. “Surga masih lapang.” Ingat si teman.

Ani menutup telepon. Termenung.

Kiamat sudah dekat. Antar mereka sebelum terlambat.

Telepon berdering lagi. Dari suami.

“Minggu depan, status Ayah bukan karyawan lagi,” ujar sang suami. Nanti malam ia tak pulang. Berkumpul dengan kawan-kawan. Bicara bisnis. Usaha sendiri.

Ani meletakkan gagang telepon dengan hembusan napas keras.

Kiki menangis. Pelan, sebelum kencang. Lebih berisik daripada mesin bajaj di telinga Ani. Ia hanya menoleh. Menatap lama. Ikut menangis. Tangannya gemetar meraih Kiki.
Dia tak akan menangis lagi jika di surga

Tangis Kiki makin kencang. Mungkin banyinya itu haus. Tapi panyudaranya bengkak. Kiki bagai memiliki gigi, mengunyah rakus buah dadanya. Ia cuma menggendong Kiki, mengajaknya ke kamar. Belum sempat ranjang itu dirapikan.

Kiki masih meraung. Wajahnya makin merah. Mulut menganga.

Ani berdiri mematung. Bingung harus berbuat apa

Di surga dia tak akan rewel lagi. Semua ada. Tinggal minta, terkabul!

Kiki mengapaikan tangan ke udara. Kaki kecilnya menggesek sprei.

Surga. Surga. Surga. Ini kesempatanmu. Antar dia ke surga.

Ani teringat pisau di dapur tadi.

Tangis Kiki makin panjang.

Surga. Surga. Surga. Kau tak perlu menanggung dosa dewasanya. Sejak dini kau sudah mengirimnya ke surga.

Ani menatap Kiki. Wajahnya datar. Bayangan pisau makin kuat di benaknya. Gagangnya dari kayu. Bilah matanya baja tahan karat. Berkilat ditimpa larik cahaya.

Tangis Kiki makin kencang.

Ani melangkah. Menuju dapur.



Sumber: sebagai bonus kumpulan cerpen kriminal (Dari Sanyembara Mengarang Cerpen Femina 2006)
by Forum Lingkar Pena
Cerpen Koko Nata
Dimuat di Sriwijaya Post 03/02/2003

ANAK itu lucu. Lebih lucu daripada teddy bear atau boneka mana pun yang dipajang pada toko etalase mainan. Pipinya montok seperti bakpao panas. Matanya hitam berkilau bagai mutiara dari lautan. Dan bibirnya, merah jambu bercahaya. Bila ia tersenyum, sempurna sudah karunia Tuhan yang dianugrahkan kepadanya. Aku suka anak itu.

Usianya tak lebih dari tengah tahun pertama. Aku sering melihatnya ditimang-timang tiap petang dijalan depan rumah. Demi melihat tawanya, bertingkahlah orang-orang dengan ekspresi kanak-kanak. Jika menarik merekalah bibirnya yang selalu basah. Kata-kata kerap mengajak bayi itu berbicara. Padahal semua orang tahu, satu kalimatpun ia tak punya tapi orang tetap senang mengajaknya bicara, sebab ia lucu, lugu, segar bagai embun pagi.

Sebenarnya aku ingin mendekatinya, menggendongnya serta memberikan satu kecupan. Aku ingin menimang dan menyanyikan lagu sayang. Biar sumbang, ia tak akan menentang. Ia hanya akan menangis atau tertawa sebagai tanda suka tidaknya.

Sayangnya aku tak bisa. Aku tak bisa menghampiri atau bahkan memeluknya. Ia bagai bintang yang tak dapat dijangkau. Ia seperti sinar suci yang pecah saat kujamah. Ia...ah...mengapa jauh jarak terbentang kalau aku merindukannya. Inikah dera yang harus kuterima akibat perilaku masa lalu?

Aku terpenjara oleh jeruji yang aku dirikan sendiri. Aku tenggelam dalam lautan penyesalan. Aku...Aku harus puas hanya dengan menikmatinya dari sela-sela jendela. Aku telah tersihir oleh kerling lembut pesonanya tapi tak berdaya.

***



Beberapa bulan yang lalu aku tak acuh dengan percakapan itu

“Stt... anaknya Nuning sudah lahir”

“Anak haram itu”

“Iya...”

“Bakalan ngetop lagi kampung kita”

“Betul. Kelahiran anaknya ini pasti lebih ramai dibanding peristiwa perkosaannya.”

“Lagian, mau-maunya dia mengandung benih lelaki yang tak jelas asal muasalnya”

“Ya namanya juga musibah, Bu, siapa, sih yang mau”

“Tapi, kan, dia bisa saja menggugurkan kandungannya”

“Ibu nggak tahu sama si Nuning, sih. Nyamuk saja enggan dia bunuh apalagi janin dalam rahimnya. Dia memang sempat bilang, anak itu tidak dikehendakinya. Tapi setelah perutnya membesar dia malah jadi sayang. Dia menganggap musibah sebagai takdir, cobaan, cara yang di atas mengasihinya. Siapa tahu anak itu malah membawa berkah”

“Ce...ile...masih sempat ceramah juga dia rupanya.”

“Biarlah, Bu. Selama tidak merugikan kita. Ya nggak massya... lah”

“Betul...betul... Ngapain kita pusing mikiran dia. Dianya sendiri tenang-tenang saja”

“Iya”

“Lebih baik kita mempersiapkan diri. Sekarang kan banyak wartawan yang ingin meliput kejadian ini. Nah kita sebagai tetangganya pasti ikut dimintai keterangan. Kita jadi masuk koran deh. Ikutan ngetop. Siapa tahu ada yang tertarik untuk mengorbitkan kita jadi model”

“Hi...hi...hi...ibu ini ada-ada saja”

***



Dengan mata kulumat habis sosok perempuan itu. Ia tak bisa dikatakan cantik tapi salah jika menilainya tak menarik. Ia punya pesona yang tak bisa diraba dengan indra. Apa namanya, aku tak tahu.Ia perempuan yang hebat menurutku. Ia tak menyesal dengan segala sial yang menghampiri. Ia tak menganggap Tuhan tak berlaku adil padanya. Tabah dan sabar adalah teman yang membuatnya tegar menghadapi bisik-bisik pedas gunjingan. Semua ia jalani dalam syukur baik suka maupun duka. Dia yakin dibalik cobaan maupun musibah pasti tersirat hikmah.

“Aduh lagi mamam, ya? Mamam apa, cayang?“ seorang perempuan tambun setengah baya menegur anaknya.

Dia tersenyum seraya menyodorkan sesendok bubur untuk buah hatinya. Aku ingin bertanya bubur apa yang engkau suapkan? Makanan penuh gizi atau sekedar beras yang direbus dengan air berlebih? Susu yang bagaimana pula kau regukkan untuk melepas dahaga bayimu? ASI kaya sempurna atau sekedar air putih encer tiada guna. Aku yakin jawabannya pasti mengecewakan. Kau hanya seorang yatim yang kini bukan janda dan bukan seorang istri pula. Rumah kayu yang berdiri di samping kediamanku sudah cukup menggambarkan keseharian.

Bila mengingatnya aku jadi benci sebenci bencinya pada lelaki yang tega menghinakannya. Mengapa ia dan harus ia. Bukankah masih banyak gadis kaya bergaya foya-foya dan hura-hura. Kenapa tidak mereka saja yang jelas hidup tanpa punya arah. Kenapa harus Dia ?

Semakin memikirkannya semakin gila saja otakku dijejali tanya dan terka. Penyesalan bereaksi hebat dengan kagum yang datang. Hari kemarin senantiasa menjadi senjata yang meneteskan nestapa. Dan aku semakin benci dengan laki-laki itu.

***



“Kau jadi milikku malam ini!”

“Tidak..tidak...jangan... !!”

“Telah lama kau bercokol dalam alam maya. Sudah lelah dahaga menunggu rengkuh cinta. Mari kita puaskan mari kita tuntaskan sekarang juga.”

“Jangan...kau hanya akan menikmati neraka lebih segera. Aku bukan kembang kau bukan kumbang. Hentikan...”

“Tidak...aku tak bisa berhenti.”

“Tolong jangan buat Tuhan dan pengikutnya mengutuk perbuatanmu!”

“Hehehe... Mari kita mulai saja.”

“Jangan... Pergi!”

“Ayolah!”

“Tidak!”

“Ayo!”

“Tidak!!!”

Breeet...

“Aaaa...”

Aku terjaga. Aku melihatnya. Lelaki yang kubenci dengan perempuan itu.

***

Pelangi melengkung di langit biru. Harum semerbak bunga menebar bau. Alam di mata berwarna-warna indah mempesona.

“Bimbii...Bimbi...ayo sini ikut papa...”

Tawa renyah bocah tak berdosa. Riang jenaka anak manusia memulai perjalanannya.

“Sudah lama papa ingin menggendongmu Bimbi. Ayo...kemarilah, Sayang!”

Anak manis merentangkan tangan. Dekap bahagia akan segera diberikan.

“Duh, manisnya. Kua benar-benar anugerah terindah meski tak pernah sengaja terencana.”

Wajah polos lebarkan bibirnya. Liur menetes basah berpola peta.

“Senangnya bisa menggendongmu...”

Tanpa diduga si bocah berubah. Badan menghitam tumbuhkan bulu serigala. Taring runcing mencuat siap mengoyak mangsa bersama dengus panas moncong mencari udara. Anak manis menjelma monster buruk rupa. Ia siap menerkam. Menghisap darah. Mencabik tubuh hingga patah tulang jadinya.

“Mengapa...mengapa kau jadi begini...”

“Grrr..Graw...”

Tiada jawaban. Hanya kengerian yang disajikan.Kuku tajam mencakar sasaran. Kulit tersayat. Darah membasah. Anak buruk lepas dari pegangan.

“Bimbi...Bimbi... ini papa... ini papa...”

“Graw..Graw...”

Luka mengaga. Jerit membahana. Malam pecah porak poranda

“Tidak...”

Aku berteriak. Mimpi ternyata.

Napasku turun naik memasok udara. Keringat bergulir bergilir-gilir. Aku sudah tak dapat menghitung lagi sudah berapa kali kengerian itu menghantuiku. Bayang-bayang menakutkan seolah tiada lelah bergentayangan. Aku ketakutan. Aku tertekan.

***

Untuk kesekian kalinya aku kembali mengamati anak dan ibu tetanggaku. Wajah mereka masih sama. Masih ceria tertawa renyah. Hidup dibiarkan berjalan apa adanya. Yang terjadi terjadilah. Mereka tak peduli dengan suara-suara usil yang melingkupi.

Sedang aku, lihatlah aku. Makin ringkih menapaki hari makin tersiksa oleh nyeri tersembunyi. Panah-panah maya terus melesat ke arahku. Sebuah kekuatan memaksa dan terus memaksa agar aku mengaku bahwa akulah ayah bayi itu.

***



Palembang, 6 September 2002