Dimuat di AngsoDuo.Net, 16 Januari 2011 dan Jambi Independent, 10 Januari 2011
Tiba-tiba saja darah mengalir dari rak buku di dalam kamar tidurku. Aku terpana. Tak percaya. Bagaimana bisa? Atau aku sudah gila karena terlalu sering keluar masuk dunia imaji? Mungkin saja darah itu hanya salah satu bagian dari imajinasi yang tengah aku bangun, di lembar Microsoft Word Pentium3-ku? Aku memang seorang penulis yang selalu bermain-main dengan imajinasi. Sehingga sering sulit membedakan realitas sungguhan dengan realitas rekaan.
Aku menyentuh darah yang telah menggenangi lantai kamarku dengan jari telunjuk. Seperti seorang detektif ketika menemukan jejak darah di tempat kejadian perkara. Asli! Benar-benar darah sungguhan! Tapi bagaimana bisa? Aku mencium darah di ujung telunjuk tanganku. Masih segar. Seperti baru keluar dari lubang aorta serta vena yang terkoyak.
Sebenarnya aku tak harus menduga kalau diriku gila, hanya karena sebuah darah yang mengalir tiba-tiba, kalau saja itu berasal dari dalam lemari pakaianku. Mungkin saja ada orang yang telah melakukan pembunuhan. Lalu menyimpan jasadnya di lemari pakaianku. Dengan maksud untuk menjebakku. Tapi itu saja sudah tidak masuk akal. Karena siapa pula yang mau menjebak aku? Aku toh bukan siapa-siapa yang perlu ditakuti. Aku tak pernah memiliki musuh. Atau ada yang diam-diam telah menganggap aku sebagai ancaman? Atau barangkali hanya bangkai tikus? Tapi siapa yang cukup iseng membunuh tikus dan menyimpannya di lemari pakaianku? Apa pun jawabannya, semua hanya sebuah kemungkinan, jika darah itu mengalir dari lemari pakaian. Kenyataannya, darah itu mengalir dari rak buku. Mungkin seekor kecoa sedang sial tergencet di antara buku-buku? Tapi lagi-lagi tetap saja sulit diterima akal sebab bukankah kecoa tidak mengueluarkan darah semacam itu?
Ah, aku mungkin sudah gila. Agar tak bertambah merasa gila, aku mencoba membongkar buku-buku yang berbaris rapi seperti prajurit tentara sedang upacara di rak paling atas, tempat aliran darah itu berasal. Semula aku memindahkan buku-buku itu sekaligus ke atas ranjang tidurku. Sehingga tak menyisakan satu buku pun di rak paling atas. Namun, tak ada makhluk apa pun di sana yang bisa kucurigai terluka hingga mengeluarkan darah. Jadi, aku kembalikan lagi buku-buku itu ke tempat semula. Aku baru saja ingin membongkar buku-buku di rak tengah. Namun, urung kulakukan. Darah itu mengalir dari rak paling atas, mana mungkin sumber darah berasal dari rak tengah. Kecuali darah itu bisa mengalir ke atas melawan gravitasi Bumi. Kalau pun memang bisa begitu, rasanya kurang kerjaan sekali darah itu.
Jadi aku menduga kalau darah itu keluar dari dalam salah satu buku yang ada di rak paling atas.
Kedengarannya memang gila. Tapi bisa saja kan? Siapa yang bisa menjamin kehidupan ini waras-waras saja? Tonton saja berita kriminal di layar kaca. Apakah waras namanya kalau ada seorang bapak yang menghamili anak kandungnya sendiri? Kalau realitas dunia nyata sudah menawarkan kegilaan serupa itu, apa masih kedengara gila jika aku menduga darah itu keluar dari dalam buku cerita? Seekor dinosaurus yang telah punah ribuan tahun saja bisa dihidupkan kembali. Dan itu terjadi dalam buku cerita! Kenyataan itu membuat aku segera membuka lembar demi lembar buku yang ada di rak paling atas. Tak satu buku pun di rak atas yang tidak terkena darah. Jadi, untuk menemukan sumbernya aku harus memeriksa satu per satu.
Aku baru saja mengambil buku bersampul hijau yang ditulis oleh Jenarayu—pengarang favoritku. Sebelum sempat aku memeriksa lembar demi lembar halamannya, tiba-tiba saja buku itu memberat di tanganku. Aku tak cukup kuat menahannya, sehingga buku itu terjatuh ke lantai dengan posisi membuka. Bersamaan dengan itu, sesosok tubuh molek melejit begitu saja dari dalam buku itu. Terhuyung-huyung, sebelum ambruk di lantai dengan tubuh menelungkup. Menggelinjang-gelinjang. Meregang nyawa. Lalu terdiam. Tak lagi bergerak. Sebilah pisau menancap di punggungnya.
Ini benar-benar seperti di dalam buku cerita. Namun, nyata. Karena terjadi di dalam kamarku. Seorang perempuan berambut kelam. Bertubuh aduhai. Mengenakan gaun hitam yang membuat kedua pundak jenjangnya dapat dinikmati mata—kecuali yang tersembunyi di balik helai-helai rambutnya yang sedikit melebihi bahu. Keluar begitu saja dari dalam buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh pengarang favoritku, saat buku itu terjatuh dengan posisi membuka. Aku menyentuh pergelangan tangannya. Tak ada kehidupan mendetak di sana. Perempuan itu mati! Siapa orangnya yang telah dengan keji menancapkan sebilah pisau ke punggungnya?!
”Aku,” sebuah suara dari balik punggungku, ”hahahaha... mampus juga dia!”
Aku terdiam beberapa jenak, tak lantas menoleh ke belakang. Kegilaan apa lagi yang mungkin aku temui? Suara tawa itu belum juga reda. Aku menolehkan kepala ke arah suara. Sungguh aku tak menduga kalau suara itu berasal dari seorang gadis berseragam putih biru. Suaranya terdengar lebih dewasa dari usianya. Namun, bukankah kedewasaan tidak diukur dari suara dan jumlah angka yang kautulis di kolom usia pada lembar biodata?
Seragam sekolah yang dikenakan gadis yang wajahnya rupawan itu berlumur darah. Ada bekas sayatan pisau panjang melintang di salah satu pipinya. Dia memandang ke arahku sambil terus tertawa. Seperti seorang yang telah kehilangan akalnya.
”Siapa kamu?”
”Kau mengenal saya,” katanya setelah meredakan tawa, ”bukankah kau telah berkali-kali membaca buku itu?” Jari telunjuknya mengarak ke buku yang tergeletak di lantai dengan posisi membuka. Buku karya Jenarayu, penulis pujaanku.
”Aku sedang tidak berselera menjawab teka-teki.”
”Melukis Jendela,” katanya, ”kau masih mengingat ceritanya kan? Pisau itu yang dulu kugunakan untuk menyayat pipiku.”
”Mayra? Kamu Mayra?!”
”Apa masih perlu kujawab pertanyaanmu?”
Aku mungkin sudah gila. Namun, sulit untuk tidak memercayai perkataannya. Lalu siapa perempuan yang dibunuhnya itu? Aku menyibak helai-helai rambut yang menyembunyikan wajah perempuan dengan sebilah pisau menancap di punggungnya. Sekalipun radiasi monitor komputer telah membuat rabun penglihatanku, rasanya tak akan sampai membuatku tak lagi mengenali wajah perempuan itu. Dia ...
”Jenarayu. Penulis pujaanmu!”
Wajahku mengeras. Mempertegas api yang berkobar di mataku. Aku berdiri. Menghadap ke arah gadis yang wajahnya sedingin musim salju. Membakarnya dengan tatapan. Aku mungkin hanya satu dari sekian banyak pembaca buku Jenarayu. Tapi siapa orangnya yang tidak terbakar melihat seorang yang dipujanya mati dengan cara yang mengenaskan?
”Mengapa kau membunuhnya?” suaraku bergetar, ”lewat sebuah cerpen dia telah melahirkanmu!
Bukannya berterima kasih! Sungguh tak tahu budi!”
”Berterima kasih katamu?”
”Ya!”
”Awalnya aku bangga karena diciptakannya dengan wajah cantik. Meski aku ditempatkan di tengah keluarga yang tak lengkap. Ia yang membuat aku hanya memiliki ayah yang tak peduli padaku tanpa tahu siapa ibuku. Tapi kaulihat luka di pipiku?” Mayra memperlihatkan bekas luka di pipinya, ”dia menyebabkan luka ini.”
”Tapi bukankah kamu sendiri yang menyayatnya dengan pisau?”
”Memang aku sendiri yang menyayatnya, tapi dia yang menulis cerita. Aku hanya menjalankan saja apa yang telah dia tuliskan dalam cerita itu.”
”Tapi itu, kan, hanya sebuah adegan dalam cerita fiksi. Tidak benar-benar terjadi.”
”Apakah kaulupa kalau aku adalah tokoh fiksi?” katanya, ”aku tokoh fiksi yang hidup dalam dunia fiksi.
Maka, apa yang terjadi terhadapku di dalam dunia itu adalah sebuah kenyataan. Realitas yang harus kujalani. Untuk apa? Untuk memuaskan penulis seperti Jenarayu, serta pembaca sepertimu!”
”Ah, aku sungguh-sungguh tak mengerti!”
”Kau tak akan pernah bisa mengerti, kau tidak berasal dari dunia fiksi. Kau tak akan pernah mengerti, betapa aku merasa muak harus menerima teror setiap pergi ke sekolah. Mereka selalu melecehkanku!
Mereba-raba payudara dan kemaluanku! Jangan kaupikir teman-teman sekolahku itu menikmati perlakuan mereka terhadapku. Mereka sesungguhnya tak ingin melakukan perbuatan cabul itu. Tapi Jenarayu telah memaksa mereka dengan menuliskan cerita seperti itu. Menurutmu, apakah aku tak pantas membunuhnya karena dia telah menyebabkan tokoh-tokoh yang dia ciptakan menderita? Atau kau malah menikmatinya?”
”Apanya?”
”Adegan-adegan pelecehan itu!” nada suaranya meninggi, ”kau menikmatinya kan?”
”Ehm ... mungkin.”
”Tak usah munafik. Katakan saja yang sejujurnya.”
”Ehm ... sedikit.”
”Sampai onani?”
”Hah?!?! Tak sampai sejauh itu!”
”Tapi kau menikmatinya kan?”
”Aku tak perlu menjawabnya.”
”Karena kau memang menikmati!” tudingnya.
”Kau tidak bisa memaksa orang untuk tidak menikmati apa yang Jenarayu tulis dalam cerpen itu.”
”Dasar lelaki!”
”Apa pun alasannya, kau tetap tak dibenarkan membunuh. Lagi pula, mengapa tokoh-tokoh cerita lainnya dalam buku itu tak merasa keberatan dengan apa yang telah dituliskan Jenarayu? Hanya kamu saja yang merasa tidak puas.”
”Huh!” Mayra mendengus, tertawa sinis, ”kau pikir, aku bekerja sendirian?”
”Maksudmu, kau tidak membunuh Jenarayu sendirian?”
”Ya! Mereka semua ada di belakangku. Hyza, Maha, Manusya, Nayla, dan Mem ... ah, aku tak sampai hati menyebut namanya. Dia benci sekali pada perbuatan Jenarayu yang telah memberinya nama sama dengan nama kemaluan wanita!”
”Aku bisa mengerti kalau mereka marah pada Jenarayu, akhir cerita mereka tidak membahagiakan. Tapi bagaimana dengan kamu? Bukankah di akhir cerita Melukis Jendela kamu menikah dengan pemuda berkuda yang memiliki dada bidang dan kulit cokelat kemerah-merahan terbakar matahari? Bahkan, dari pemuda itu, kamu memiliki dua orang putri yang cantik-cantik serupa dirimu. Tidakkah kau cukup puas membalaskan perlakuan lima anak berandalan yang suka melecehkanmu di sekolah dengan cara memotong alat vital mereka? Semua itu dituliskan Jenarayu untuk membuat kamu bahagia! Masihkah kamu mengingkarinya?”
”Membahagiakan katamu?”
Aku menganggukkan kepala.
”Aku benar-benar kecewa kepadamu.”
”Kecewa? Kepadaku?”
”Kalau saja kau bukan seorang penulis yang karyanya telah dimuat di media, aku bisa mengerti jika kau tidak memahami akhir cerita yang sesungguhnya. Tapi kau seorang penulis!”
”Aku masih tak mengerti maksudmu.”
”Sekarang kau tak hanya mengecewakanku.” Mayra mengempaskan tubuhnya di atas kursi yang ada di dalam kamarku, ”Tapi benar-benar membuat aku berpikir kalau kau seorang yang dungu!”
”Hei!” Aku menuding wajahnya dengan telunjukku, ”Jangan sembarangan bicara kamu!”
”Tak usah marah. Kenyataannya kau memang tak sepintar kelihatannya. Semestinya kau tahu makna ungkapan ’melukis jendela’ dalam cerpen itu. Melukis hampir tak beda dengan menulis. Hanya medianya saja yang tak sama. Sekarang aku tanya, kenapa kau menulis cerita?”
Aku meletakkan tubuhku di sisi Mayra, ”Aku menulis karena ada yang ingin aku sampaikan. Aku menulis karena dengan menulis aku bisa melakukan apa yang tidak dapat aku lakukan dalam kehidupan nyata.”
”Artinya?” Mayra memandangku. Dia tak menunggu jawabanku, ”Apa yang kamu tulis itu merupakan harapan atau keinginan yang tidak bisa kamu wujudkan dalam kehidupan nyata. Sama seperti ketika aku melukis. Aku berusaha mewujudkan apa yang aku inginkan dalam kanvas atau kertas gambar.”
”Lalu makna dari jendela itu?”
”Seharusnya tidak perlu aku jelaskan lagi.” Matanya melirik ke arahku menyiratkan sebuah kekecewaan mendalam.
Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Belum pernah aku merasa sedemikian bodohnya di hadapan seorang gadis berseragam putih biru. Seharusnya aku memang tidak menanyakan hal itu. Jendela adalah media yang menyatukan dunia di dalam kamar dengan dunia di luarnya. Jadi, bisa dikatakan, Mayra melukis jendela karena berharap bisa melarikan diri dari dunianya menuju dunia yang benar-benar sesuai dengan harapan serta keinginannya. Aku mengangguk-anggukkan kepala.
”Kau sudah mengerti sekarang?”
”Aku mengerti. Bagian akhir dari cerita itu tidak sungguh-sungguh terjadi. Kau hanya membayangkannya saja. Bukan begitu?”
”Tentu saja. Mana ada seorang gadis yang baru kelas satu sekolah menengah pertama menikah lantas punya dua orang anak.”
”Tapi Bik Inah tidak menemukan dirimu di kamar saat ia ingin membersihkan kamarmu. Dia hanya menemukan kertas-kertas bergambar jendela yang berserakan memenuhi kamarmu.”
”Aku memang pergi meninggalkan rumah itu. Tapi tidak bertemu dengan pria berkuda yang memiliki dada bidang dan kulit cokelat kemerah-merahan karena terbakar matahari. Apalagi sampai punya anak darinya. Aku juga tidak memotong alat vital teman-teman sekolah dasarku yang sering melecehkan aku sebab mereka hanya melakukan apa yang telah Jenarayu tuliskan.”
”Jadi, akhir cerita itu tidak membahagiakan?”
”Berkat dia!” lagi-lagi telunjuk Mayra menuding Jenarayu yang terkapar di lantai kamarku bersimbah darah dengan sebilah pisau menancap di punggungnya.
Suara berderak di meja kayu menyela pembicaraan. Layar monitor komputerku bergaris-garis.
”Sepertinya ada telepon untukmu.”
Aku menyambar ponsel dari atas meja komputerku. Nama Tebing Cakrawala di layar LCD ponselku. Aku menekan tombol OK. Telepon tersambung. Belum sempat aku mengucap salam, temanku yang seorang penulis itu langsung memberondong aku dengan kepanikan.
“Den … kau pasti tak akan percaya kalau kukatakan Jenarayu keluar dari dalam buku pertamanya.
Terhuyung-huyung. Ambruk ke lantai dengan tubuh menelungkup. Menggelinjang-gelinjan. Meregang nyawa. Lalu terdiam. Tak lagi beregerak. Sebilah pisau menancap di punggungnya! Dan kau tahu siapa yang membunuhnya?”
Aku melirik ke arah Mayra. Gadis berseragam putih biru itu menyeringai puas.
Sejak aku menerima telepon Tebing, handphone-ku tak henti-hentinya berdering. Mengabarkan berita yang sama dengan yang telah Tebing sampaikan kepadaku.
Sepertinya aku memang benar-benar sudah gila!
Atau.
Aku baru saja menyelesaikan sebuah cerita?Dimuat di Jawa Pos, 30/04/2006
Suara-suara. Bergerimit. Di ruang utama. Para tetua adat yang terdiri dari Patih, Mangku, dan Manti berembuk membentuk nanam pancang yang bertugas mengawasi keamanan prosesi sabung ayam dan judi esok hari, yang merupakan kelanjutan pesta begawai hari ini. Di ruangan lain, para wanita dusun Ulu Ekok, Desa Durian Cacar tak kalah sibuk. Asap kretek mengepul dari mulut-mulut mereka, menemani percakapan di sela kesibukan membenahi sisa pesta hari pertama.
Tambuli, begitu perempuan itu biasa di sapa. Dia jatuh cinta untuk pertama kali pada seorang lelaki dari seberang. Seorang mahasiswa jurnalistik yang sedang melakukan KKL di daerahnya. Lelaki itu tidak terlalu tampan. Tapi Tambuli suka setiap kali mendengar suara merdunya melantunkan kalam-kalam yang biasa Tambuli dengar dari corong-corong rumah ibadah suku Melayu, selepas matahari membenamkan seluruh tubuhnya di balik tebing cakrawala.
Lelaki itu tinggal bersama teman-temannya di sebuah rumah tak berpenghuni milik Patih Gading --tetua adat tertinggi-- yang berada tak berapa jauh dari kediaman keluarga Tambuli. Berawal dari permohonan menyediakan makanan bagi mahasiswa-mahasiswa KKL yang tengah membuat film dokumenter adat istiadat Suku Talang Mamak pada keluarga Tambuli, mereka jadi sering bersua. Tapi lelaki itu terlalu acuh pada perempuan, terlalu dingin pada Tambuli. Tidak seperti Andre, salah seorang temannya yang selalu membawa kamera minidivi, yang selalu mencuri-curi waktu berdua dengannya pada setiap pagi, siang dan petang, saat Tambuli mengantarkan makanan kepada mahasiswa-mahasiswa itu. Wajah Andre seperti turis-turis asing yang sesekali berkunjung ke dusun mereka.
Suara tawa di ruang utama. Seolah jadi penanda. Pembentukan nanam pancang telah disepakati. Orang-orang terpilih. Pemuda-pemuda dusun yang cukup disegani. Siap mengawal prosesi sabung ayam dan judi esok hari.
Malam merayap cepat. Waktu tak mau menunggu. Lelaki itu tak juga tiba. Dua hari lagi dia resmi jadi istri Soleh, lelaki usia tujuh puluh yang lebih pantas jadi kakeknya, dan telah pula memiliki keluarga. Tatapan cemas Tambuli menerobos pekat malam. Setidaknya masih ada waktu dua hari, begitu hati Tambuli berkata menenangkan dirinya sendiri.
"Aku akan menemui kedua orang tuamu!"
Tambuli menenggelamkan pandangannya ke lantai kayu. Mereka duduk dipisahkan jarak dua langkah kaki, di rumah yang ditinggali lelaki itu bersama teman-teman mahasiswanya.
"Kau ragu dengan kesungguhanku?"
Tambuli menelengkan kepala. Masih dengan wajah tertunduk. Kedua jemarinya saling tertaut. Meremas cemas.
Perlahan perempuan dua puluh itu mengangkat dagunya. Mencoba mencari masa depannya di mata lelaki itu. Lelaki dari seberang. Yang menawarkan sebuah pernikahan. Tambuli semakin merasa mencintainya. Tapi…
"Aku akan menikahimu!"
Tambuli tidak terkejut dengan pernyataan itu. Semestinya bahagia. Tapi dia malah merasa hina. Kembali perempuan dua puluh tahun itu menenggelamkan wajahnya. Kabut memendar di bola matanya. Meretas. Meninggalkan jejak-jejak kristal di kedua belah pipinya. Sungguh. Tambuli ingin sekali mengangguk saat itu. Tapi pantaskah lelaki itu menanggung semuanya?
Tambuli masih kehilangan kata. Dia berada di sebuah persimpangan jalan. Bimbang menentukan pilihan. Tawaran lelaki dari seberang itu sulit untuk ia abaikan. Wajahnya yang biasa saja tak menenggelamkan cahaya yang membuat Tambuli jatuh hati pada pemilik wajah itu. Biar mati anak asal jangan mati adat! Ungkapan itu berputar-putar di ruang pendengarannya. Adat orang Langkah Lama tak membuatnya berhak menentukan pilihan, lelaki mana yang boleh dia pilih menjadi ayah bagi janin yang tengah dikandungnya.
Perempuan itu berdiri di muka jendela kamarnya. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya. Tapi hingga hari kedua begawai, belum juga ada tanda-tanda lelaki itu akan menjemputnya. Waktu telah pula melintasi ambang hari.
Prosesi sabung ayam dan judi siang tadi berjalan dengan lancar, hampir seluruh warga dusun berkumpul menjadi bagian dari salah satu prosesi begawai itu. Tak ada halang yang merintang selama acara berlangsung. Sang Kemantan telah memohonkan kelancaran serta dijauhkan dari roh jahat pada Datuk Patih Si Putih Lintang Awan yang menguasai alam gaib dusun Ulu Ekok. Ayam-ayam milik warga dusun yang mati dan kalah dalam ritual sabung ayam dikumpulkan, dan diberikan pada keluarga pengantin, untuk dimasak sebagai hidangan. Begitulah cara mereka bergotong royong meringankan beban keluarga mempelai.
Sebuah guci dari tanah liat berukuran sedang diletakkan di dekat pintu rumah pengantin, melanjutkan prosesi sabung ayam dan judi. Guci lantas diisi air yang sebelumnya telah dicampur gula putih dan gula merah. Lalu ditutupi daun pohon nangka. Tiga tangkai batang kecil yang memiliki lubang di tengahnya disusupkan di sela-sela daun. Satu per satu warga dusun mencicip air dari dalam guci itu.
Riak air sungai Tunu, meredam leguh birahi dua anak manusia. Rerimbun pohon Rimba Puaka menyembunyikan tubuh mereka dari mata siapa saja. Di tanah yang dikeramatkan itu, anak gadis suku Talang Mamak merasai sentuhan seorang pemuda untuk yang pertama kali. Seekor kumbang hinggap di daun sebelum mencelok di bunga, rakus mengisap madu.
"Aku hamil!" ujar Tambuli setelah dia tak lagi mengalami menstruasi sejak satu bulan setelah pertemuan rahasianya dengan Andre di tepi sungai Tunu, di balik rerimbun pohon Rimba Puaka.
"Apa?!" pemuda berwajah indo itu bangkit dari sila di atas tikar tandan.
"Kau harus menikahinya!"
Tambuli dan Andre terperanjat mendengar suara. Mereka tak menyadari seorang lelaki telah berdiri di ambang pintu rumah, mendengarkan semua percakapan mereka. Lelaki itu. Lelaki dari seberang. Yang membuat hati Tambuli menjadi tak menentu, sebelum dia merasa patah hati karena sikap acuh lelaki itu, dan temannya yang berwajah indo memberikan mimpi-mimpi surga lewat kata-kata dan sentuhan yang mengirimkan getaran ke ruang terdalam seorang gadis belia di setiap perjumpaan mereka ditemani semakhluk iblis.
Andre mengangguk. Ragu. Lelaki dari seberang itu mencekal pundaknya, seperti meminta ketegasan dari temannya. "Baiklah, aku akan menikahinya," katanya kemudian. Lelaki itu melepaskan cengkeramannya, sebelum menatap ke arah Tambuli. Gadis itu tak berani membalas tatapannya.
Tapi saat kicau burung memaksa kelopak mata lelaki dari seberang itu membuka, dia tak lagi menemukan Andre terbaring di sebelahnya. Saat hari telah melewati sepertiga malam tadi, diam-diam Andre meninggalkan rumah penginapan bersama seluruh barang miliknya. Tak satu pun teman-teman mereka yang menyaksikan kepergiannya.
Tambuli tak kuasa memendam pedih, ketika lelaki dari seberang itu menyampaikan kepergian Andre kepadanya.
Perempuan itu berdiri di muka jendela kamarnya. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya. Tapi hingga dia nyaris resmi menjadi istri Soleh, belum juga ada tanda-tanda lelaki itu akan menjemputnya. Teja sempurna membakar cakrawala. Matahari tertatih menenggelamkan tubuhnya ke balik tebing cakrawala. Tambuli belum berhenti berharap. Perempuan itu tak sudi menjadi salah satu istri lelaki tua yang lebih pantas menjadi kakeknya.
Siang tadi mas kawin telah dia terima. Sebuah gelang perak, mata lembing dan lima belas kain mori. Para tetua Mangku berembuk dengan Patih Gading, menelusuri silsilah masing-masing mempelai, agar tak terjadi pernikahan sedarah.
Mengelebat pikiran dalam benak Tambuli, membangun harapan kalau dirinya segaris keturunan dengan Soleh, meski dia sendiri tahu itu tak mungkin. Wajah-wajah bahagia para tetua Mangku beserta Patih Gading seolah menjawab ketidakmungkinan yang sempat mengelebat dalam pikiran perempuan itu.
Seranting kecil pohonan menjadi jalan bagi air dalam guci berpindah ke kerongkongan Tambuli. Perempuan yang tengah berbadan dua itu merasa mual. Dimuntahkan kembali air yang sempat mendiami lambungnya itu ke luar, tumpah dalam guci. Bergerimit suara. Tambuli merasa pijakannya melemah, sebelum tubuhnya menggelosor di lantai kayu rumah.
Para tetua Mangku serta Patih Gading memutuskan penundaan pengesahan, kerena Soleh belum sempat menyeruput air dalam guci yang menjadi penanda sahnya seluruh prosesi begawai yang mereka laksanakan selama tiga hari berturut-turut.
Sambil menunggu Tambuli tersadar dari pingsan, dan siap melanjutkan prosesi pengesahan, sebuah guci baru segera disiapkan. Selepas senja berlalu prosesi pengesahan akan kembali dilaksanakan.
Kedua orang tua Tambuli hanya bisa tertunduk saat mengetahui kehamilan anaknya. Siapa lelaki yang telah menanam benih? Tak sekata yang keluar dari mulut Tambuli. Pertanyaan itu tetap menjadi rahasia. Warga Dusun Ulu Ekok menjadi resah. Patih Gading selaku pemangku tertinggi adat segera minta pendapat pada tetua adat lain, sebelum membuat keputusan demi menyelamatkan aib salah seorang warga.
"Mereka telah menentukan calon ayah bagi bayi ini…," lirih Tambuli berucap pada lelaki dari seberang, yang sedang berkemas meninggalkan Dusun Ulu Ekok, setelah kepergian diam-diam temannya yang telah menanam aib dalam rahim suci Tambuli. "Namanya Soleh. Dia dari suku Melayu yang telah lama mendiami Dusun Ulu Ekok. Lelaki tujuh puluh tahun pilihan para tetua adat."
"Kau setuju?"
"Aku tidak bisa apa-apa. Keputusan tetua adat adalah titah yang tak terbantahkan, begitu adat orang Langkah Lama. Tapi…"
"Kau tak setuju?"
"Aku hanya tak mau menikah dengan lelaki itu."
"Kau masih berharap pada bapak dari janin itu?"
Tambuli menenggelamkan wajahnya. Karam dalam samudera penyesalan. Air matanya jatuh ke lantai. Tambuli tak tahu apa yang dia inginkan. Semua kemungkinan mendamparkannya pada ruang tak berpintu, yang tak memungkinkannya memilih jalan keluar, selain kepasrahan.
"Aku akan menjemputmu seusai mempersiapkan kepulangan ke Jakarta. Teman-temanku akan menunggu di tepi sungai Tunu."
Tambuli menemukan cahaya. Mungkin ini pintu yang ditawarkan baginya dari Yang Mahakuasa.
***
Perempuan itu masih berdiri di muka jendela kamarnya. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Cakrawala masih menyisakan warna senja yang begitu tua. Sesaat lagi kelambu malam siap dibentangkan. Dia pasti datang! Begitu hati Tambuli menengahi keresahannya. Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya. Dia tak mungkin dua kali menuangkan muntah ke dalam guci berisi air yang telah dicampur gula putih dan gula merah itu, untuk menunda prosesi pengesahan pernikahannya dengan lelaki tujuh puluh yang telah pula memiliki keluarga.
Dia pasti datang! Sekali lagi hati Tambuli berucap. Lalu sebuah ketukan di pintu. Tambuli ragu membuka. Sesosok bayang menerobos pekat malam baru saja tertangkap ujung matanya, bergerak mendekat ke arah jendela kamarnya.
Rumah Cahaya, 22 Januari 2006
Nominator Sayembara Cerpen Menpora-CWI 2007
Lantang-lantang[1] telah didirikan. Sambung-menyambung. Mengapit tongkonan[2], rumah adat serupa perahu besar itu seolah matahari bagi bangunan-bangunan sederhana yang tersusun dari bilah-bilah bambu. Sanak saudara serta para kerabat berdatangan. Mengisi lantang yang telah disediakan. Menyerahkan bahan makanan yang dibutuhkan selama upacara sebagai wujud partisipasi.Helena Rambulangi tersenyum. Memandang tedong bonga[3] miliknya tertambat pada simbuang batu[4] peninggalan masa silam. Kerbau setengah albino itu berjumlah lima. Sisanya kerbau biasa. Babi-babi miliknya masih menghuni kandang. Semua akan dikorbankan. Untuk mengantarkan arwah Ambe’[5] tercinta menuju puyo[6]. Manusia hanyalah pinjaman dunia yang dipakai untuk sesaat. Sebab, di-puyo-lah negeri yang kekal. Di sana pula akhir dari perjalanan hidup yang sesungguhnya.
Helena tersenyum membayangkan petak-petak sawah yang luasnya berhektar-hektar tak ternilai. Tedong-tedong[7] yang tinggal di peternakan Ambe ratusan jumlahnya. Belum lagi babi-babi. Setangah dari seluruh kekayaan orang tuanya itu akan segera menjadi miliknya, seusai rangkaian upacara Rambu Solo’[8] diselenggara.
Tak seorang pun dari ahli waris yang mampu menandingi Helena. Tidak Alius, tidak juga Damen—kedua kakak kandungnya. Setengah lebih dari pengeluaran untuk Rambu Solo’ ini disumbang olehnya. Untuk mendapatkan hasil yang besar, dibutuhkan umpan yang besar pula. Bayangkan saja, lima ekor tedong bonga, masih ditambah beberapa tedong biasa, serta beberapa ekor babi!
Sebagai keturunan bangsawan tak bisa sembarangan menggelar upacara pemakaman. Jika upacara tidak sesuai dengan aluk[9], roh mendiang tak bisa mencapai puyo. Jiwanya akan tersesat.
Satu bulan setelah menerima surat dari Alius, kakak keduanya, tentang kematian Ambe, Helena kembali ke kampung halamannya di Ke’te Kesu’. Delapan tahun lebih Helena meninggalkan rumah. Ia masih terkenang murka Ambe. Ketika kembali ke rumah bersama seorang lelaki Bugis bernama Mappangewa, teman kuliahnya di Universitas Hassanudin.
”Helena mencintainya, Ambe...”
”Tak bisa, Ambe sudah berjanji pada Tato’ Denna’ untuk menikahkan kau dengan anak laki-lakinya!”
”Tapi, Ambe...” ragu Helena berucap, ”Helena sedang mengandung benihnya.”
Mata Ambe membeliak. Tak sanggup berucap. Tubuhnya menjelma batang kayu. Geramahnya beradu, saling bergesekan, menahan api yang menyekam dalam dada. Sebentar saja api itu siap membakar Helena beserta lelaki yang datang bersamanya. Indo’[10] hafal sekali dengan tabiat suaminya. Dia segera mendekati Helena. Indo’ sadar, air matanya tak akan cukup memadamkan bara yang berdiam di dada suaminya.
“Sebaiknya kau tinggalkan rumah ini segera.” Berat dia berucap. Helena anak bungsu kesayangannya. Tapi hanya itu jalan keluar yang melintasi kepalanya. Hati Ambe batu. Tak mudah luluh oleh air mata. Dibutuhkan waktu lama untuk melubanginya.
Hanya satu tahun setelah kepergiannya, Indo’ tutup usia. Ibu mana yang mampu berpisah dari putri kesayangannya? Helena tak pernah mendengar kabar kepergian ibunya. Mappangewa membawanya ke Jakarta. Kabar kematian Indo’ baru diketahui lima tahun setelahnya. Suatu ketika dia bertemu dengan teman main semasa kecilnya di sebuah galeri di Jakarta. Kerinduan pada kampung halaman yang mengantarkan Helena menyambangi pameran ukir asal Tana Toraja. Dia melihat beritanya dari layar kaca dan membacanya di koran-koran. Tentang Mayanna, seorang lelaki Toraja yang akan diundang ke Jakarta untuk memamerkan hasil ukirannya. Dari teman mainnya itu, dia mengetahui kabar kematian ibunya.
Helena hanya bisa meratap ketika itu. Mappangewa hanya seorang wartawan lepas, yang sesekali suka menulis cerpen di surat kabar. Sedang dirinya hanya seorang guru sekolah dasar negeri yang gajinya tak seberapa. Untuk hidup sehari-hari mereka harus mengencangkan ikat pinggang. Cicilan rumah di pinggiran kota Jakarta menguras seluruh penghasilan mereka. Tak cukup tabungan untuk pulang ke Toraja menjenguk erong[11] tempat jasad ibunya dibaringkan pada dinding tebing kapur.
Dua ekor kerbau digiring ke tengah lapangan upacara. Seorang pawang merapal mantra-mantra. Menempelkan mata pisau pada leher kerbau. Sebelum tangannya bergerak penuh perhitungan. Hanya dalam hitungan detik saja kerbau itu tumbang menggelepar dengan leher mengangga menyembur darah. Suara lenguh panjang. Serupa erang. Lalu terdiam.
Tak lama berselang. Ma’pasa’ Tedong[12]. Kerbau-kerbau yang telah disepakati oleh keluarga untuk dikorbankan dikumpulkan di halaman tongkonan. Kerbau-kerbau itu kemudian diarak berkeliling kampung sebanyak tiga kali.
Helena tersenyum memandangi tongkonan dari anak tangga terbawah. Rumah panggung itu tampak anggun. Atapnya serupa perahu. Menjulang ke langit. Pada bagian depan tongkonan, tandun-tanduk serta kepala kerbau tersusun rapi. Sebentar lagi akan bertambah jumlah setelah berakhirnya upacara. Tanduk-tanduk kerbau miliknya yang akan dikorbankan untuk mengantar Ambe menuju puyo, siap menambah wibawa kebangsawanan keluarganya. Dan semuanya itu akan diwariskan kepadanya beserta setengah dari kekayaan peninggalan Ambe.
Hidup memang butuh pengorbanan. Bertahun-tahun hidup di perantauan tanpa sanak keluarga, Helena tahu betul arti kata itu—pengorbanan. Ia memang tidak menyesal karena sudah menikah dengan Mappangewa. Apalagi selepas merampungkan pascasarjana di fakultas ilmu budaya, suaminya memiliki profesi tambahan sebagai dosen sastra di beberapa universitas negeri maupun swasta di Jakarta. Meski Helena masih saja menjadi pengajar di sekolah dasar, mereka sudah memiliki rumah sendiri.
Tapi rumah saja tak cukup. Anak mereka yang kedua sudah mulai masuk sekolah. Pasti membutuhkan banyak biaya. Sepeda motor yang baru lunas kreditnya sudah dijual. Tapi hasil penjualannya hanya cukup untuk biaya pulang ke kampung halaman, membeli beberapa ekor babi. Helena tak mungkin bermimpi mendapat bagian warisan terbanyak hanya dengan menyumbang beberapa ekor babi saja.
”Bagaiman kalau kita jual rumah kita?”
”Lalu kita mau tinggal di mana?”
”Kita bisa mengontrak rumah untuk sementara.”
Mappangewa tak membantah usul istrinya. Meski tak terlalu setuju. Hanya seminggu rumah mereka sudah banyak yang menawar karena lokasinya yang cukup strategis. Kepada penawar tertinggi, Helena melepas rumah mereka. Dia tak mau menunggu lama.
Dan di sinilah Helena kini. Di kampung halamannya. Suami dan kedua anaknya tak turut serta. Menghemat biaya perjalanan. Kalau sudah harta warisan digenggaman, Helena akan mengirimi mereka uang untuk menyusulnya.
Malam semakin larut. Ritual demi ritual telah dilewati. Tiba saatnya Ma’tunda[13]. Sebuah ritual membangunkan arwah yang selama satu bulan menjadi tomebali puang[14]. Awan pekat kembali menyelubung wajah-wajah sanak saudara serta para kerabat terdekat. Termasuk Helena. Sepasang matanya mengabut. Terkenang dia pada masa kecilnya. Ketika Ambe suka mengajaknya bermain-main di pematang sawah. Menyaksikan para petani menggarap sawah-sawah miliknya yang sangat luas. Atau membawanya bermain-main di atas punggung anak kerbau di peternakannya.
Suara lesung bergeman bersahut-sahutan. Tangan-tangan kaum wanita tua mahir memainkan bambu menumbuk padi-padi pilihan di dalam lesung. Jasad Ambe dipindahkan dari rumah duka, untuk disemayamkan di tongkonan semalaman. Peti mati seberat 100 kilogram diangkat bersama-sama. Hati-hati mereka meniti tangga. Menyatukan kembali arwah Ambe dengan arwah leluhur.
Sinar matahari pukul sembilan pagi menghambur ke wajah Helena, ketika jendela-jendela di rumah kediamannya dibuka. Helena memicingkan kedua matanya. Semalaman ia terjaga di kamarnya, meski tak turut menjaga jasad Ambe. Banyak yang menjejal ruang di kepala. Pertemuannya dengan anak lelaki Tato’ Denna menjelma bayang-bayang. Silih berganti dengan wajah suami dan kedua putranya di Jakarta. Sejak berada di kampung halamannya, belum sekali pun Helena merasakan tidur serupa bayi. Keinginan yang hanya mungkin dia penuhi selepas upacara Rambu Solo’ tuntas digelar. Saat seluruh ahli waris dikumpulkan, untuk menerima bagian harta peninggalan Ambe.
Ramai suara di luar rumah. Helena beranjak dari kamarnya. Sudah tiba waktu memindahkan jasad Ambe ke dalam alang[15] yang berada di bawah tongkonan. Helena bersiap seadanya. Tak mau ketinggalan.
Erong berbentuk perahu itu diturunkan dari tongkonan. Tarian penghormatan. Sorak sorai bergema. Warga bahu-membahu memanggul beban di pundak mereka. Lamba-lamba[16] dibentang, menjadi penunjuk ke mana langkah harus diayun untuk sampai ke alang. Sebagian mengusung tau-tau[17]. Berjalan di depan. Helena seperti melihat sosok Ambe hidup kembali pada boneka kayu yang didandani persis serupa Ambe ketika masih arwah berdiam dalam jasmani.
Dalam keramaian. Sudut mata Helena menangkap sesosok wajah. Lelaki itu melempar senyum ke arahnya. Matanya mengedip. Helena tertunduk. Membuang tatapannya ke tempat lain. Sesekali masih mencuri pandang ke arah lelaki itu. Dia mengenali lelaki itu sebagai putra Tato’ Denna. Lelaki keturunan Ne’ Sando[18] yang dulu pernah hendak dijodohkan kepadanya.
Bayang-bayang yang kerap hadir ketika kegelapan memeluk jiwa-jiwa yang letih, sejak dia berdiam di kampung halamannya, mewujud seketika. Terkenang dia pada pertemuannya dengan putra Tato’ Denna sebulan lalu. Ketika baru saja dia tiba di Rantepao. Seorang lelaki menepuk pundaknya dari arah belakang. Tersenyum takjub. Seperti tak percaya pada penglihatannya. Berkali-kali lelaki itu menggeser letak kaca matanya. Berusaha meyakinkan diri.
”Helena?” akhirnya dia membuka suara.
Helena tak terlalu mengenali. Sampai lelaki itu memperkenalkan diri sebagai putra Tato’ Denna. Helena teringat dengan perjodohannya. Masa lalu kembali menjelma layar lebar. Sepotong adegan tergambar di sana. Ketika dirinya dan Mappangewa mendapat murka Ambe.
Jangan-jangan...
”Kau tepat, jika mengira aku lelaki yang dulu pernah hendak dijodohkan denganmu.”
”Maaf, aku tak pernah diberitahu Ambe tentang perjodohan kita,” ucap Helena. Agak canggung. Seperti merasa bersalah. Lelaki itu malah tertawa.
”Kau hanya sendiri?” tanyanya setelah tawa mereda, ”Keluargamu tak kau ajak serta?”
”Suamiku tak bisa mengambil cuti. Anak-anakku tak bisa meninggalkan pelajarannya.”
”Mari kuantar ke rumahmu.”
”Aku mau menjenguk makam Indo’ dulu.”
Lelaki itu mengambil travel bag dari tangan Helena. Menyimpan di bagasi belakang, sebelum membukakan pintu mobilnya. Helena masuk ke dalam. Aroma lemon menyerbu lubang pernafasannya.
”Kau sudah berkeluarga?” tanya Helena setelah lelaki itu duduk di belakang kemudi.
”Kau pasti tak akan percaya kalau kukatakan aku belum beristri karena masih mengharapkan dirimu.” Lelaki itu melirik ke arah Helena. Seperti mencari tahu reaksi Helena, setelah mendengar jawaban darinya.
Helena berusaha bersikap biasa-biasa saja. Meski sebenarnya dadanya mulai berdetak tak beraturan. Lelaki itu memang sulit untuk diabaikan. Wajahnya. Sikap ramahnya. Mobil yang dikendarainya. Dia memiliki segala yang diidamkan oleh perempuan: kemapanan. Dan lelaki itu baru saja mengatakan masih mengharapkan dirinya.
Helena teringat pada Mappangewa. Pada anak-anaknya. Pada rumahnya yang terpaksa harus dijual demi membiayai upacara Rambu Solo’. Hasil penjualan rumah itu hanya cukup untuk membeli dua ekor tedong bonga ukuran sedang. Padahal Helena menginginkan bagian terbesar dari warisan ayahnya. Helena seperti menemukan jalan keluar. Sekali lagi lelaki itu melirik ke arah Helena. Sambil tersenyum. Sekali ini Helena menanggapi senyum lelaki itu. Bahasa tubuh mereka saling bicara. Bertahun-tahun hidup di perantauan, Helena tahu betul arti sebuah pengorbanan. Dia berharap Rambu Solo’ bisa menjadi pijakan awal. Merubah roda nasibnya. Dia menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. Dan anak lelaki Tato’ Denna itu seolah memberi segumpal harapan.
Siang itu. Terik matahari menyengat kulit kepala. Tak surut antusias warga menyaksikan Mapasilaga Tedong[19]. Kerbau-kerbau terbaik disiapkan untuk diadu. Salah satunya milik Helena. Orang-orang menyiapkan taruhan. Melupakan sejenak kedukaan. Helena larut dalam kegembiraan.
Tiba giliran tedong Helena ditarik ke tengah arena. Bantu Pako nama tedong Helena, salah satu pemberian anak lelaki Tato’ Denna. Berkat lelaki itu, Helena bisa bermimpi mendapatkan bagian terbesar harta peninggalan Ambe. Lima tedong bonga, beberapa tedong biasa, masih ditambah beberapa ekor babi. Semua didapatkannya dengan hanya memberikan setengah dari hasil penjualan rumahnya.
Suara tanduk saling beradu. Kerbau-kerbau itu seolah tak hirau pada hiruk pikuk penonton. Debu mengepul ke udara. Helena tertawa menyaksikan Bantu Pako menggasak lawannya hingga tak berdaya. Terbirit melarikan diri ke tengah-tengah sawah. Berkelebatan masa depan di kepalanya. Dengan harta peninggalan Ambe, dia bisa membangun kehidupan yang jauh lebih baik di Jakarta. Helena teringat pada Mappangewa. Pada masa depan anak-anaknya. Roda nasib segera akan berpihak kepadanya.
Hingga detik berakhirnya ritual adu kerbau itu, Helena belum mengetahui, jika seluruh sawah serta peternakan Ambe telah berpindah tangan. Ketika Indo’ jatuh sakit, Ambe menggadaikan seluruh hartanya kepada Tato’ Denna guna biaya pengobatan istrinya. Sisanya habis untuk pelaksanaan ritual Rambu Solo’ untuk mengantarkan arwah istrinya menuju puyo. Sedang Helena masih menyisakan janji untuk beberapa kali lagi bertemu dengan anak lelaki Tato’ Denna di sebuah tempat paling rahasia. Begitulah cara Helena mendapatkan lima tedong bonga, beberapa tedong biasa, serta beberapa ekor babi, dengan hanya memberi setengah dari hasil penjualan rumahnya. Hidup memang butuh pengorbanan. Bertahun-tahun tinggal di perantauan tanpa sanak keluarga, Helena tahu betul arti kata itu—pengorbanan.
Catatan:
[1] Rumah-rumah bamboo didirikan saat upacara Rambu Solo’
[2] Rumah adat suku Toraja berbentuk seperti perahu, selalu menghadap ke arah utara
[3] Kerbau setengah albino memiliki nilai ekonomis tinggi
[4] Menhir yang konon ditancapkan pertama kali Th. 1657. Ketika itu ratusan ekor kerbau dikurbankan untuk upacara pemakaman keturunan Dinasti Rante Kalimbuang.
[5] Bapak
[6] Nirwana atau surga
[7] Kerbau-kerbau
[8] Upacara pemakaman, sering juga disebut pesta kematian
[9] Ajaran atau tata cara peribadatan
[10] Ibu
[11] Peti mati atau wadah mayat
[12] Ritual mengarak kerbau-kerbau yang akan dikorbankan pada acara Rambu Solo’
[13] Ritual Membangunkan arwah
[14] Roh penjelmaan dari jiwa manusia yang telah meninggal
[15] Lumbung padi
[16] Kain merah
[17] Patung kayu berwujud orang yang meninggal dunia
[18] Dukun adat
[19] Ritual adu kerbau
Dear JinggaJika suatu hari engkau berkunjung ke Danau Toba, engkau akan melintasi sebuah hutan lindung bernama Sibatu Loting. Di kawasan yang masuk wilayah hutan Sibaganding, kabupaten Simalungun itu hidup seorang peladang bernama Umar Manik. Dia hidup bersama istri dan seorang anak balitanya.
Bukan sebuah kebetulan kalau aku kemudian mengenal Pak Manik dan keluarganya. Lewat suratku terdahulu, aku sudah mengabarkan kepadamu tentang tujuan perjalananku kali ini. Ya, setelah beberapa waktu lalu aku singgah di Sumatra Barat untuk menjejakkan kaki di setapak-setapak Gunung Singgalang serta Merapi, aku melanjutkan perjalananku menuju Sumatera Utara. Kali ini tidak untuk mendaki puncak gunung, tapi menyambangi sebuah danau vulkanik kebanggaan masyarakat Sumatera Utara yang terbentuk 75 ribu tahun silam itu, Danau Toba. Aku ingin sekali bersampan di atas danau itu, dan menginap di pulau Samosir.
Bus yang kutumpangi sedang menepi. Sesaat setelah roda depannya menggilas seekor monyet. Yang mungkin sudah kehilangan akalnya karena kelaparan. Sehingga nekat melompat dari cecabang pohon, dan mendarat tepat di tengah-tengah jalan. Seperti hendak menghadang laju bus yang kutumpangi. Dalam radius 1 kilometer monyet-monyet itu memenuhi bahu jalan Prapat-Simalungun yang melintasi hutan Sibatu Loting. Menadahkan tangan, mengharap belas kasihan para pengguna jalan, sehingga tergerak hati mereka untuk melemparkan makanan. Sekedar kacang. Kalau cukup beruntung satu atau dua buah pisang meloncat dari jendela, dan monyet-monyet itu akan saling berebutan mendapatkannya.
Sampai aku menuliskan surat ini kepadamu, masih membayang raut tegang sopir bus yang kutumpangi. Melindas monyet di tempat itu, sama dengan mengundang kesialan berkepanjangan. Betapa pun itu bukan sebuah kesengajaan. Hanya dengan mengubur monyet itu bersama pakaian yang dikenakan ketika menabraknya, dipercaya akan menjauhkan dari kesialan.
Kernet bus yang kutumpangi segera turun mengeluarkan kera malang dari kolong bus. Tak perlu kuceritakan bagaiman kondisi kera itu setelah tubuhnya terhimpit di antara roda bus dan aspal jalanan, sebab hanya akan membuat nafsu makanmu hilang hingga beberapa pekan.
Aku turun dari bus, bermaksud membantu kernet bus menguburkan kera naas itu, ketika lamat-lamat kudengar suara mengenta mengembara bersama angin, sampai ke telingaku. Seketika itu, monyet-monyet yang tengah berebut makanan yang dilemparkan penumpang dari atas bus yang kutumpangi menolehkan kepalanya ke arah hutan. Berlomba-lomba meraih cecabang pohon, berlompatan dari satu ranting ke ranting yang lainnya. Dan menghilang di rerimbun hutan Sibatu Loting. Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Suara itu serupa magnet yang menyirap batang-batang besi.
”Waktunya makan,” ucap kernet itu sambil mulai melinggis tanah, dengan besi pengungkit dongkrak, seperti tahu yang tengah bermain di kepalaku.
”Makan?” Aku mulai membantu mengeduk tanah-tanah yang dilinggis kernet itu.
”Suara terompet itu berasal dari Stasiun 23, pusat konservasi monyet. Itu suara terompet milik Pak Manik. Terompet tanduk kerbau. Dia selalu meniupkannya setiap kali hendak memberi makan kera-kera liar di hutan ini.”
Sebuah lubang seukuran tubuh kera yang tergilas bus mengangga, setelah beberapa kali dihujam besi pengait dongkrak sepanjang rentangan tangan leleki dewasa. Segera kami merebahkan tubuh kera naas itu ke dalamnya, setelah lebih dulu membungkusnya dengan pakaian sopir bus. Lalu menguruknya dengan tanah bekas galian.
”Seberapa jauh tempat itu dari sini.”
”Tidak berapa jauh. Kira-kira seperempat jam dengan berjalan kaki.”
Begitulah, setelah aku mengambil tas kerilku, kulangkahkan kaki mengikuti petunjuk kernet bus menyusuri setapak yang membelah rerimbun hutan Sibatu Loting. Aku memutuskan menunda kepergianku ke Prapat yang hanya berjarak delapan kilometer lagi dari tempat ini. Suara terompet itu membuat aku serupa monyet lapar tersirap irama magis yang keluar dari lubang tanduk kerbau milik Pak Manik.
Setelah lima belas menit menyusuri setapak, sampai juga aku di sebuah lahan terbuka. Taman Monyet, begitu papan nama yang tergantung di atas pintu masuk. Aku menyerahkan selembar uang lima ribuan kepada seorang pria penjaga loket, sebelum pria itu menyodorkan sebuah tiket dan dua lembar ribuan sebagai kembalian. Aku melirik harga tiket yang tercetak pada permukaan tiket. Di sana tertulis nominal Rp 2500. ”Tak ada kembaliannya,” kata pria penjaga loket itu sambil tersenyum, seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan. Entah mengapa aku merasa tidak suka melihat caranya tersenyum. Wajah pria itu lebih seperti orang Jawa, daripada orang Batak.
Di depan sebuah bangunan semacam tugu berukir dua kuda laut yang saling berhadapan dipisahkan oleh bintang—lambang milik sebuah perusahaan minyak nasional yang entah bagaimana bisa ada di tempat ini—, seorang lelaki usia setengah baya duduk memperhatikan monyet-monyet berebut pisang-pisang yang dia lemparkan. Masih ada beberapa tangkap pisang di dalam keranjang anyaman bambu yang teronggok persis di depannya. Sesekali dia meniupkan terompet yang terbuat dari tanduk kerbau, melemparkan pisang-pisang ke arah kawanan monyet. Seekor beruk yang memiliki buntut pendek memanjat tugu yang hanya beberapa depa lebih tinggi dari beruk itu, berusaha meraih pisang di genggaman tangan lelaki berwajah tirus itu. Lelaki itu membiarkan saja si beruk mengambil pisang dari tangannya.
”Mau turut memberi makan monyet-monyet itu?” sapa lelaki—yang kuduga Pak Manik—itu setelah menyadari keberadaanku.
”Bapak pasti...”
”Umar Manik,” katanya memotong kalimatku.
Aku tersenyum. Mengangguk. Menghampiri lelaki berkemeja kotak biru yang segera berdiri menyambutku. Memberikan telapak tanganku kepadanya. ”Saya Cakrawala, Pak.”
”Kau hanya perlu membayar pisang-pisang ini,” katanya menjabat telapak tanganku. Sebelum menyerahkan keranjang kayu berisi beberapa tangkap pisang, ”bukan untuk aku, tapi untuk kera-kera itu.”
”Berapa harus saya bayar?”
”Sesuka kau saja lah! Asalkan kau ikhlas. Dan kera-kera itu bisa makan.”
Aku mengeluarkan beberapa lembar rupiah dari dalam dompetku, menyerahkannya kepada Pak Manik yang kedua lengannya penuh rajah. Entah apa bentuknya aku tak coba menanyakan, sebab aku lebih tertarik pada monyet-monyet itu ketimbang tato yang melingkari kedua lengan Pak Manik.
”Banyak ’kali?”
”Saya ikhlas.”
Aku memang pernah beberapa kali melihat kera melompat-lompati cecabang pohon di alam terbuka. Tapi tak pernah sedekat ini, apalagi sampai memberi makan kera-kera liar itu. Seekor kera yang tubuhnya besar merebut pisang yang tengah dimakan kera lainnya yang berukuran jauh lebih kecil. Aku mencoba menghela.
”Biarkan saja,” tegur Pak Manik sambil tersenyum melihat tingkahku menggusah kera yang lebih besar itu. ”Namanya Bruno. Dia pemimpin kera-kera liar itu. Sebaiknya kita tak usah ikut campur. Sudah aturan mereka. Yang kuat pasti berkuasa, dan yang berkuasa pasti menang. Seperti manusia juga lah!”
”Apa kera-kera itu jinak?”
”Tak perlu lah dibuat jinak kera-kera itu, biar tak mudah ditangkap orang.”
”Ditangkap?”
”Dulu ada lima jenis monyet di tempat ini. Kera, beruk, lutung, siamang, dan simpai. Tapi sekarang hanya tinggal dua jenis saja, seperti yang kau lihat sekarang ini.”
”Ke mana tiga jenis yang lainnya?”
”Seperti yang kubilang tadi. Yang kuat pasti menang. Siapa yang mampu bertahan dari keserakahan manusia? Begitu hukum alam yang berlaku.”
Awan seperti gumpalan krim yang mulai meleleh di atas cangkir kopi, tak lagi berwarna putih. Mengapung di atas langit hutan Sibatu Loting.
”Tampaknya hujan akan segera turun. Sebentar lagi malam. Kau menginap di hotel mana?”
”Saya belum ada rencana. Semula ingin ke Prapat. Saya ingin sekali melihat Danau Toba. Tapi suara terompet Bapak membawa langkah saya ke tempat ini.”
”Ah, kalau kau mau, kau boleh menginap di gubuk aku malam ini. Besok aku antar kau ke Danau Toba. Aku sudah biasa bawa turis-turis ke sana. Kalau tak begitu, mana lah aku punya uang untuk memberi makan anak istriku dan monyet-monyet itu.”
”Uang hasil penjualan tiket masuk taman ini?”
”Tak tahunya lah aku soal itu. Ke mana uang itu mengalir pun aku tak paham. Perjanjiannya memang 60 untuk Pemkab Simalungun, 40 persen lagi untuk pemeliharaan kawasan konservasi ini. Tapi baru dua tahun ini yayasan pengelola memberi aku bagian. Itu pun jumlahnya hanya 15.000 sebulan. Mana lah cukup uang segitu. Untuk beli jatah makanan sehari saja tak cukup! Terpaksanya lah aku jual tanah di desa untuk kasih makan monyet-monyet itu!”
Begitulah. Pak Manik mengajak aku singgah ke gubuknya yang berukuran 7 x 7 meter. Ruang seluas itu dibaginya menjadi tiga. Teras yang dihuni bangku-bangku kayu, satu ruang tidur dengan dua buah ranjang, dan satu ruang lagi untuk dapur.
”Kau bisa tidur di ranjang yang satunya.”
”Ah, biar saya tidur di teras saja.”
“Kalau malam di tempat ini dingin sekali. Apalagi kalau habis hujan. Bisa beku kau nanti.”
”Saya bawa sleeping bag yang cukup tebal, Pak.” Aku menyandarkan keril pada dinding kayu.
Malam itu aku dan Pak Manik berbincang di teras depan ditemani sekepul kopi medan dan ubi rebus. Sampai pukul sepuluh hujan masih saja merinai. Maka meluncurlah cerita dari mulut Pak Manik, tentang bagaiman mula dia menjadi karib bagi monyet-monyet liar itu. Begini kira-kira kisah yang tertutur dari mulut Pak Manik:
Tujuh tahun aku bekerja sebagai keamanan di hotel Niagar, Prapat. Tahun 1984 mereka memecatku karena tak memiliki ijazah SLTA. Sejak diberhentikan dari pekerjaan, aku membuat pondok kecil di tengah hutan Sibatu Loting. Aku mencoba menghidupi keluargaku dari berladang. Menanam ubi, jagung dan kacang-kacangan. Tapi monyet-monyet itu selalu datang merusak ladang! Setiap hari yang ada di kepalaku adalah bagaimana caranya agar monyet-monyet itu enyah dari hutan ini.
Sampai suatu malam, aku terbangun dengan keringat membutir jagung di sekujur tubuhku karena bermimpi. Di dalam mimpi itu, aku didatangi oleh sesosok tubuh berperawakan tinggi besar. Membuat aku gemetar. Apalagi saat mendengar suaranya yang bergetar memuntahkan kemarahan, ”Mengapa kau usir monyet-monyet itu?! Mereka lebih dulu tinggal di hutan ini!” Begitulah sesosok tubuh yang aku duga roh leluhur penunggu hutan lindung ini meminta aku menjaga serta merawat monyet-monyet liar itu.
Tak mudah membuat monyet-monyet itu mau berkumpul. Kuputar otak. Segala cara kucoba. Tapi makhluk-makhluk liar itu sulit sekali ditangani, karena aku bukan seorang ahli. Sepertinya, ketakberdayaanku menangani kera-kera itu didengar leluhur. Pada lain malam, sosok tinggi besar itu mendatangiku kembali. Memerintahkan aku membuat terompet dari tanduk kerbau. Ajaib! Saat terompet itu selesai kubuat dan kutiupkan untuk pertama kalinya, monyet-monyet itu langsung berdatangan! Suara terompet itu seperti memiliki daya magis yang mampu memaksa monyet-monyet itu berkumpul! Sehingga mudah bagiku memberi makan mereka. Dan kini setiap kali aku ingin memberi mereka makan, aku hanya tinggal meniup saja terompet tanduk kerbau ini.
Selama aku memiliki terompet tanduk kerbau ini, mereka tak akan berani mengusirku. Orang-orang pemerintah daerah bersama pihak yayasan pengelola taman ini tak akan mampu menangani monyet-monyet liar itu. Kalau saja aku mau, aku bisa membuat monyet-monyet itu pergi meninggalkan hutan ini, sehingga niat mereka untuk mengeruk keuntungan dari keberadaan monyet-monyet liar itu di tempat ini hanya akan menemui kesia-siaan! Seenaknya saja mereka. Dua puluh tahun aku merintis tempat ini, mereka mau merebutnya begitu saja.
***
Lewat dini hari hujan baru benar-benar berhenti. Pak Manik masuk ke dalam kamar menyusul istri dan anak balitanya yang sudah terlelap sejak pukul sembilan tadi. Aku merebahkan tubuh di atas matras, meringkuk di dalam sleeping bag. Pagi harinya, selepas memberi makan monyet-monyet, Pak Manik mengantarkan aku bersampan di Danau Toba yang termasyur itu.
Pak Manik mengijinkan aku menginap di gubuknya beberapa hari. Lumayan, aku bisa menghemat biaya menginap. Cukup membayar jasa Pak Manik sebagai pemandu wisata. Persediaan uangku memang mulai menipis. Honor sebagai pewarta lepas di beberapa surat kabar harian belum dikirimkan ke rekeningku. Sedang aku sudah lama tidak menulis cerpen. Kalau sampai tiga hari ke depan honorku belum juga dikirimkan, sepertinya perjalananku akan berakhir di tempat ini. Padahal masih banyak tempat di Nusantara yang ingin aku kunjungi. Baru beberapa bulan lagi royalti novel dan buku antologi cerpenku dibayarkan. Itu pun kalau laku di pasaran. Negeri ini bukan tambang emas bagi penulis semacam aku.
Pagi itu, aku sedang asyik memindahkan gambar monyet-monyet di sungai kering dekat rumah Pak Manik ke dalam memori card kamera digitalku—aku ingin menulis artikel untuk majalah pariwisata, atau setidaknya yang menyediakan rubrik catatan perjalanan. Sejak matahari baru berupa cahaya keemasan, Pak Manik sudah meninggalkan rumah untuk belanja persediaan pisang bagi monyet-monyet yang sudah seperti jadi bagian keluarganya. Seorang pria yang kukenali sebagai penjaga loket menghampiriku, menawariku sebatang rokok. Aku menolak. Sudah lebih dari tiga tahun aku berhenti menghisap asap nikotin.
”Pagi begini tak akan sempurna tanpa segelas kopi hangat. Mampir lah ke posku. Kita cakap-cakap sikit.”
Tak ada salahnya menghargai sikap ramah pria berperawakan Jawa yang belakangan kutahu bernama Rifan Tukijan. Bukan aroma kopi Medan yang membuat aku tertarik menerima ajakannya. Karena pagi tadi, istri Pak Manik sudah membuatkannya untukku. Aku tertarik mendengar lebih banyak cerita tentang perseteruan Pak manik dengan pihak yayasan yang ditunjuk oleh Pemkab Simalungun untuk mengelola Taman Monyet ini.
”Sepuluh tahun yang lalu, Pemerintah kabupaten Simalungun pernah menggusur gubuk Pak Manik, karena masih berada di dalam kawasan hutan lindung,” terang Rifan Tukijan, memberikan gelas berisi kopi ke tanganku. Aku meniup ke dalam gelas. Uap kopi berhaburan tak beraturan ke udara. Rifan Tukijan mengambil kursi di depanku.
”Sudah berkali-kali digertak. Bahkan sampai pernah dipukuli. Dia tetap tak mau pergi dari hutan ini. Kalau dia tetap di sini, kawasan hutan bisa rusak!”
”Bukannya dia yang merintis tempat ini?” Diam-diam aku merekam percakapan kami dengan flashdisk MP3.
”Sebenarnya Pak Manik sudah diminta berdamai dengan pihak yayasan, dan bersama-sama mengelola monyet-monyet itu. Tapi dia menolaknya! Bahwa dia telah berjasa menangkar monyet liar, itu betul. Tapi bukan berarti dia memenuhi syarat untuk tinggal di tempat ini!”
”Lalu kenapa Pak Manik masih ada di tempat ini?”
”Begitu keputasan yang dikeluarkan oleh pengadilan. Mau bagaimana lagi? Heran… Padahal pihak yayasan sudah berusaha membuatnya tidak betah dengan menahan jatah bulanannya, tapi dia masih juga bertahan di tempat ini!”
Aku semakin tertarik berbincang dengan Rifan Tukijan. Apalagi ketika dia mengajak aku menemui ketua yayasan pengelola Taman Monyet itu.
Begitulah, Jingga. Malam harinya, dengan cahaya dari headlamp aku menuliskan surat yang saat ini tengah kamu baca. Pagi-pagi buta aku mengemas barang-barang bawaanku, pergi meninggalkan gubuk Pak Manik. Aku berniat menyeberang ke pulau Kalimantan. Melanjutkan perjalanan. Tapi sebelumnya, aku menyempatkan diri pergi ke kantor pos untuk mengirimkan surat ini bersama sebuah paket cinderamata sebagai tanda cintaku kepada dirimu.
Ya, benda yang saat ini ada di depanmu itu adalah terompet tanduk kerbau milik Pak Manik. Jangan kamu coba-coba membunyikannya, kalau tak mau rumahmu diserbu monyet-monyet karena tersirap suara magisnya. Tanpa terompet tanduk kerbau itu, Pak Manik tak lagi punya alasan untuk berdiam di dalam hutan lindung itu.
Sulit bagiku untuk tidak menerima tawaran dari ketua yayasan pengelola Stasiun 23, pusat konservasi monyet itu. Dengan beberapa tumpuk uang dalam amplop cokelat yang dia berikan, aku tak perlu lagi mencemaskan keterlambatan honor tulisanku sebagai pewarta lepas di beberapa surat kabar harian. Atau mengharapkan novel serta buku antologi cerpenku laku di pasaran. Apa boleh buat, aku harus melanjutkan perjalananku mengelilingi bumi Nusantara, seperti yang kuimpikan selama ini.
Teriring cinta,
Tebing Cakrawala
Depok, 30 Juni 2006
Karya favorit sayembara menulis cerpen Rohto 2008
Cermin itu telah pecah, setelah sekian lama menawan bayangan wajah Ibu. Aku tak lagi hanya bisa mengadu pada bayangan. Aku ingin Ibu. Namun, setelah cermin itu pecah tak juga aku berhasil mengeluarkan Ibu dari dalamnya. Pecahan kaca yang terserak di lantai malah menjelmakan bayangan Ibu sebanyak jumlah pecahan kaca yang basah oleh darah.Dahulu Ibu sering berlama-lama menatap dirinya lewat pantulan cermin. Diam-diam aku suka mengintipnya dari lubang kunci, sebab Ibu seperti tak ingin membiarkan siapa pun melihatnya dalam keadaan itu. Dia seperti ingin berdua saja dengan bayangan dirinya di dalam cermin. Di atas ranjang Ayah terlentang dengan tubuh yang hampir seluruhnya telanjang. Tertidur pulas. Serupa bayi dua belas bulan yang baru saja selesai dimandikan, belum sempat dihanduki.
Aku selalu melihat pemandangan itu, setiap kali Ayah pulang ke rumah, setelah sekian lama pergi menjaring rejeki di tengah lautan. Tak tentu waktu Ayah pulang. Terkadang habis Subuh. Pernah juga waktu dhuha. Hanya sesekali saja lepas Asar. Lain waktu sesudah Magrib atau Isya. Tapi lebih sering tengah malam saat lampu di rumah hanya menyisakan cahaya lima watt saja. Tak tentu juga. Suka-suka Ayah saja.
Setiap kali Ayah pulang ke rumah, malam harinya aku selalu mendengar suara gaduh dari kamar Ibu. Kamarku berada di lantai dua, persis di atas kamar Ayah dan Ibu. Sedang lantai rumah kami terbuat dari kayu jati belanda yang masih muda, tak pernah berhasil meredam kegaduhan. Aku sering membayangkan apa yang Ayah lakukan di kamar itu terhadap Ibu, sampai membuat perempuan kuning langsat itu harus menjerit-jerit seperti menahan sakit.
Begitulah, setiap menjelang waktu Subuh, aku suka diam-diam mengintip ke dalam kamar Ibu melalui lubang kunci yang telah kehilangan anaknya. Kulihat Ibu seperti berbicara pada bayangannya di dalam cermin. Entah apa yang mereka bincangkan, dari lubang kunci itu aku hanya bisa melihat punggung Ibu, dan sedikit pantulan wajahnya di cermin rias yang terbuat dari kayu jati berukir jepara. Aku hanya menduga dari gerakan-gerakan tubuhnya, Ibu seolah sedang berbicara. Tanpa suara. Dan Ayah seperti biasa, tertidur serupa bayi dengan tubuh penuh peluh, di atas ranjang busa nomer satu dengan bedcover yang tak lagi tertata rapi.
Paginya. Saat aku hendak berangkat ke sekolah. Aku menemukan Ayah tengah asyik mengirup secangkir kopi hangat di meja makan, lengkap dengan kemeja biru yang ujung bawahnya dibiarkan keluar. Ia memberi aku uang saku untuk satu bulan penuh, sebelum menyelesaikan sarapannya, lalu pergi meninggalkan rumah untuk waktu yang tak pernah dapat dipastikan lamanya. Tanpa banyak kata. Hanya tatapan aneh saat jemarinya meraba pipiku sambil tersenyum. ”Sudah besar kau sekarang. Cantik seperti ibumu,” katanya sebelum berlalu dari hadapanku. Aku tak suka dengan caranya tersenyum. Entah kenapa, aku merasa tidak nyaman dengan caranya memandangku.
Ayah tak pernah lama berada di rumah. Seingatku hanya sepekan masa paling panjang. Dan hampir setiap malam aku mendengar suara jeritan Ibu dari kamarku. Lebih sering Ayah hanya menginap semalam saja, seperti kepulangannya kali ini. Ayah bekerja di sebuah perusahaan minya lepas pantai. Sebagai apa? Entah. Aku tak pernah menanyakannya kepada Ayah. Dan Ibu seperti tak mau tahu dengan pekerjaan suaminya.
”Ibu, aku mau pergi ke sekolah,” ucapanku dari balik punggungnya yang penuh rajah merah, mirip bekas kerokan melintang tak beraturan, hanya dijawabnya dengan anggukan, dan sedikit senyum yang dipaksakan menyamarkan lebam di ujung bibirnya. Ibu masih terbungkus handuk, selepas dia membenamkan tubuhnya dalam bathtub berisi air hangat. Tangannya bergerak lembut. Penuh perhitungan. Menyisir gelombang rambutnya yang basah dari atas ke bawah, di depan cermin riasnya. Pun ketika kuraih telapak tangannya untuk kucium, Ibu bergemin, hening. Tak ada kata mengiringi langkahku meninggalkan kamar itu. Ketika itu aku masih seorang gadis berseragam putih-merah.
Aku senang jika Ayah lama tak kembali ke rumah. Karena aku tak harus terbangun di malam hari tersebab suara jeritan Ibu yang memilu hati. Meski itu berarti tak ada uang saku bagiku, sebab Ibu hanya seorang ibu rumah tangga yang bergantung sepenuhnya dari gaji suami. Aku bahkan berharap ombak menggulung Ayah. Dan laut menelan tubuh tambun Ayah. Sehingga ia tak perlu lagi kembali ke rumah selama-lamanya. Namun, ombak seperti enggan memenuhi harapanku. Entah mengapa.
Bahkan, sejak aku berganti seragam sekolah dengan putih biru Ayah semakin sering saja berada di rumah. Dia tak lagi bertugas di tengah lautan. Dipindahtugaskan ke daratan. Sejak itu, nyaris setiap malam aku mendengar suara jerit Ibu dari dalam kamarnya.
Malam baru saja melewati ambang hari. Kedua mataku yang sudah rapat sejak pukul sembilan dipaksa membuka oleh suara gaduh dari kamar Ibu. Sepertinya Ayah baru kembali dari tempat kerjanya. Ayah memang biasa kembali saat lampu-lampu di rumah hanya menyisakan cahaya lima watt. Namun, tidak seperti malam-malam sebelumnya, aku tak hanya mendengar suara jeritan Ibu dari dalam kamar itu. Aku tak yakin benar dengan pendengaranku. Aku lekatkan telinga di atas lantai kayu, berusaha mengurai suara-suara yang berasal dari dalam kamar Ibu. Aku yakin mendengar suara perempuan selain Ibu, menjerit di sela desah, kadang tertawa. Tapi ..., suara siapa?
Azan Subuh baru saja berlalu dari pendengaran, saat aku meninggalkan kamarku. Tanpa suara, meniti tangga kayu yang menghubungkan lantai dua dengan ruang keluarga. Seperti biasa, pintu kamar Ibu masih rapat terkunci. Hati-hati kuletakkan sebelah mataku pada lubang kunci. Ayah masih mendengkur di balik selimut yang tak berhasil menyembunyikan sepasang kaki milik seorang perempuan entah siapa. Di mana Ibu? Dia tak tampak di depan cermin riasnya. Hanya bayangannya saja yang tertinggal di sana dengan wajah yang semakin muram. Dari kamar mandi yang berada di dalam kamar itu, aku mendengar suara keran air menyala. Mungkin Ibu sedang berendam di dalam bathtub dengan air hangat. Aku kembali ke kamarku. Menyiapkan buku-buku pelajaran hari ini, sambil membaca-baca kembali tugas rumah yang diberikan ibu guru. Masih terlalu pagi untuk pergi mandi.
Cahaya matahari pukul enam pagi menerobos lubang ventilasi kamarku. Waktunya berangkat ke sekolah. Aku pergi ke meja makan, selepas membasuh tubuh dan mengganti pakaian dengan seragan sekolah. Tak ada nasi goreng atau roti tawar yang telah diolesi mentega. Bahkan segelas susu pun tidak tersedia di sana. Aku terpaksa harus membuat sarapan sendiri. Saat aku meninggalkan rumah, suara keran air kamar mandi di dalam kamar Ibu masih saja mengucur. Sepertinya Ibu belum selesai berendam di dalam bathtub. Sebab tak ingin terlambat, aku tak menunggu Ibu keluar dari kamar. Ayah juga masih meringkuk di dalam selimut yang tak berhasil menyembunyikan sepasang kaki milik perempuan, entah siapa.
Aku kembali dari sekolah saat matahari telah tergelincir dari singgasana hari. Pergi ke dapur mencari makan siang. Ibu biasa meninggalkannya di dalam lemari makan. Namun, siang itu tidak kutemukan apa pun di dalamnya, padahal segelas susu dan beberapa tangkup roti pagi tadi sudah terbakar menjadi tenaga. Habis kugunakan beraktivitas sejak pagi hingga siang hari.
Aku pergi mencari Ibu. Daun pintu kamarnya masih tertutup rapat. Aku mengintipnya dari lubang kunci. Kursi di depan cermin rias itu masih saja tak berpenghuni. Ayah masih terlelap di atas ranjang busa bersama seorang perempuan entah siapa. Suara keran air kamar mandi di dalam kamar itu sudah tak terdengar lagi.
Di mana Ibu? Sejak pagi tadi wanita kuning langsat itu tak ada di depan cermin rias seperti biasanya. Hanya bayangannya saja yang tertinggal di sana, tersenyum menatap ke arahku—entah luka atau bahagia. Mulai detik itu, aku tak pernah lagi melihat Ibu. Dia seperti raib meninggalkan bayangannya di dalam cermin rias berukir Jepara. Dan Ayah seperti tak mau ambil peduli.
Sejak itu aku sering menyelinap ke dalam kamar Ibu. Duduk di depan cermin rias berukir Jepara, sekedar untuk mengentaskan rasa rinduku pada Ibu. Bercerita apa saja pada bayangan Ibu di dalam cermin. Tentang kegiatan di sekolah atau kelakuan Ayah. Ayah kian sering saja kutemukan asyik meringkuk di dalam selimut yang tak pernah berhasil menyembunyikan—tak lagi hanya sepasang—dua pasang kaki, bahkan pernah juga tiga sampai empat pasang, setiap paginya. Dan aku sering ketiduran di dalam kamar Ibu dengan masih menggunakan seragan sekolah.
Suatu malam, saat aku tertidur di kamar Ibu, aku bermimpi ada seekor cicak raksasa merayapi tubuhku. Membuat aku merinding. Sia-sia aku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman cicak yang tubuhnya sebesar tubuh lelaki dewasa. Yang bisa kulakukan kemudian hanya menjerit-jerit. Pagi harinya aku terbangun dengan rasa nyeri di pangkal paha. Ada bercak darah menoda di badcover yang tak lagi tertata rapi. Ayah tertidur pulas serupa bayi dua belas tahun di samping tubuhku. Tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnya. Ada naga mendekam dalam mulutnya, membuat desah napasnya seperti semburan api yang membakar lubang pernapasanku. Kipas angin berputar pada level tiga di dalam perutku.
Demikianlah, mimpi itu kerap menyambangi tidur malamku sejak aku terbangun di pagi hari dengan nyeri di pangkal paha dan menemukan Ayah berbaring di samping tubuhku. Terkadang cicak itu mendatangi mimpiku bersama seekor kupu-kupu. Kupu-kupu di dalam mimpiku selalu berganti-ganti warna sayap. Hari ini bersayap hitam, esoknya biru. Lain waktu berwarna merah. Tak jarang, cicak raksasa itu datang bersama tiga ekor kupu-kupu sekaligus dengan warna dan rupa sayap yang beraneka ragam. Meski berbeda warna tetapi kesemuanya memiliki kepekatan yang serupa, sepekat malam tanpa cahaya bulan dan kerlip bintang. Sepertinya kupu-kupu itu memang dilahirkan untuk terbang di malam hari.
Dan aku semakin sering berdiam di depan cermin rias berukir jepara yang masih menyimpan bayangan Ibu. Bercerita tentang cicak raksasa yang selalu merayapi tubuhku serta kupu-kupu beraneka warna yang datang bersamanya, dalam mimpiku setiap malam. Hingga aku terjaga dan menemukan Ayah berbaring di samping tubuhku bersama perempuan yang berbeda-beda setiap paginya. Aku mulai berfikir kalau cermin itu telah menelan Ibu. Dan menduga bayangan di dalam cermin itu bukanlah bayangan, melainkan Ibu yang sesungguhnya. Aku sungguh tak mampu lagi menahan nyeri yang kini tak hanya kurasa di pangkal paha, tapi juga sekujur tubuhku.
Malam itu, cicak raksasa kembali mendatangi tidurku bersama ribuan ekor kupu-kupu berwarna malam. Cicak raksasa itu baru saja hendak merayapi tubuhku, sebelum aku bangkit dari atas ranjang busa. Seperti seekor naga, dia menjulurkan lidahnya, berusaha menjilat tubuhku. Aku mundur beberapa tindak. Berteriak-teriak minta pertolongan pada bayangan Ibu di dalam cermin rias berukir jepara. Namun, bayangan itu hanya memandangiku penuh iba, tanpa bisa berbuat apa-apa karena terperangkap dalam cermin. Cicak raksasa itu bersiap menyerang aku. Kuangkat kursi kayu, sebelum kuempas sekuat tenaga ke permukaan cermin rias.
Cermin itu pecah, setelah sekian lama menawan bayangan Ibu. Tapi setelah cermin itu pecah tak juga aku berhasil mengeluarkan Ibu dari dalamnya. Pecahan kaca yang terserak di lantai malah menjelmakan bayangan Ibu sebanyak jumlah pecahan kaca yang basah oleh darah.
Di atas lantai kamar, Ayah menggelepar-gelepar serupa ekor cicak yang baru terlepas dari tubuhnya. Darah menyembur seperti air mancur dari batang lehernya, mencipta genangan di lantai kamar. Aku teringat pada mimpi sesaat lalu, ketika cicak raksasa menerkamku, kusayat lehernya dengan pecahan kaca dari cermin rias. Kupu-kupu berwarna malam berhamburan keluar kamar.
***
Aku menatap bayangan diriku di permukaan sebuah kolam ikan di bawah rindang akasia. Berharap menemukan bayangan Ibu di sana. Aku sering menghabiskan waktuku duduk-duduk di tepian kolam sejak mereka membawaku ke tempat ini. Mereka tak membolehkan aku memiliki cermin di ruangan seraba putih yang menjadi tempat tinggalku kini.
”Riyana .... Ada yang ingin bertemu denganmu.” Seorang perempuan berpakaian serba putih—yang biasa menyuntikkan cairan ke dalam tubuhku setiap pagi dan petang, sebelum dia mengurungku dalam ruangan kamar yang hanya dihuni sebuah ranjang besi berwarna putih—berbisik di telingaku.
Seorang wanita kuning langsat berdiri di balik punggung perempuan berpakaian serba putih. Gelombang rambutnya beriak ditiup angin. Telaga di matanya tumpah ketika mata kami saling beradu. Melihat wanita itu, aku teringat pada bayangan Ibu. Aku merasa seperti sedang berdiri di depan cermin rias Ibu.
Rumah Cahaya, 8 Juni – 5 Juli 2006
Dimuat di Kompas 14/06/2009
Juara 2 Sayembara Cerpen Bertema Jakarta, Jakarta Literary Festival 2008

Sejak mercon itu meledak di benteng Zeelandia1, aku tahu, hidup Pieter tak akan lama lagi. Derap langkah kuda serdadu kompeni yang melintasi depan rumahku serupa dengus napas sang maut. Bau kematian. Merebak ke tiap penjuru Jacatraweg.
De Malcontent2 memang menyimpan bara pada kompeni. Namun, siapa percaya jika ia mampu menghimpun kekuatan untuk membantai seluruh orang Belanda di Batavia? Bukankah Margaretha, istrinya, juga seorang Belanda? Kuasa kompeni telah memilih Pieter dan kawan-kawan sebagai tertuduh utama meski tak satu bukti—kecuali isu yang diembuskan oleh seorang budak kepada istri Reijkert Heere.
Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.
Tiga pekan lalu, serdadu kompeni menyerbu kediaman Pieter. Meringkusnya sebagai penjahat yang hendak melakukan makar. Bahkan, usaha Aletta mencegah serdadu membawa ayahnya hanya kesia-siaan. Margaretha mendekap tubuh anaknya ketika Pieter, Kartadriya, Layeek, dan enam belas orang lainnya digiring ke Stadhuis3. Aku hanya bisa memandang dari balik jendela. Menuliskannya dalam baris-baris soneta. Apa boleh buat, aku hanya seorang pujangga. Apakah segerombolan kata-kata akan mungkin menghadang bedil-bedil kompeni itu?
Sejarah memang harus dituliskan.
***
Wajah Pieter mengeras demi mendengar keputusan Dewan Heemraden. Bagaimana mungkin, tanah di Pondok Bambu dan Sontar yang dahulu dibeli ayahnya dihapus kepemilikannya. Ia bahkan harus membayar sewa karena telah menggunakan tanah tersebut untuk usaha.
”Begitu besarkah kebencian mereka kepada seorang Indo sepertiku?” kata Pieter memeram bara, ”mamiku memang Siam. Tapi apa salahnya menjadi orang Siam? Bukankah kita tak memilih dari rahim siapa dan di mana kita dilahirkan?”
Margaretha dan Aletta tak tahu harus berkata apa. Mereka hanya bisa bermain-main dengan sendok dan garpu di tangannya. Selera makan mereka telah hilang sejak Pieter menggebrak meja setelah membaca surat keputusan Dewan Heemraden mengenai kepemilikan tanah keluarga Erberveld.
”Bukankah dahulu papi Tuan seorang Vertegenwordige4 di Het College van Heemraden?” tanya Ateng Kartadriya, meneliti surat keputusan tersebut.
”Benar, Raden!” ujar Pieter, “mereka bahkan tak peduli pada jasa Papi.”
”Hmm… tiga ribu tiga ratus ikat padi?” gumam Ateng Kartadriya, ”mungkinkah ini ada hubungannya dengan Reijkert Heere?”
Kedua alis Pieter saling bertaut ketika keningnya mengerut. Ia seperti sedang mencari alasan paling mungkin bila dugaan Ateng itu benar. Ya… untuk apa? Mengapa Reijkert harus melakukan itu?
Ateng Kartadriya dan Pieter saling berpandangan, seperti menemukan jawaban.
***
Sejak usaha leerlooierij5 Erbelveld senior tersohor, nama Jacatraweg menjadi tenggelam. Orang lebih mengenal tempat itu sebagai kampung Peca’ Kulit. Mungkin karena kepiawaian Erberveld senior itu, Pemerintah Belanda mengangkatnya sebagai wakil presiden di Het College van Heemraden.
Sepeninggal Erbelveld senior, Pieter melanjutkan usaha itu. Kedekatannya dengan bangsa pribumi membuat Pieter disegani. Ia bahkan berkarib dengan seorang pribumi bernama Raden Ateng Kartadriya. Mereka bahkan menyebutnya Toean Goesti setelah ia mengaku sebagai orang Selam6.
Seandainya saja dahulu Pieter mau menerima tawaran Henricus Zwaardecroon, mungkin Reijkert Heere tak perlu menjelma sebagai penulis lakon sebuah sandiwara dan menjadikan Pieter pemeran utamanya.
Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.
Siapa pun yang dijebloskan ke ruang hukuman di Stadhuis akan mengakui kesalahannya. Landdrost7 selalu memiliki cara untuk membuat orang mengakui kesalahannya meski sesungguhnya ia tiada bersalah.
Ruang bawah tanah itu adalah saksi bagi keputusasaan.
Dan sejarah memang harus dituliskan.
***
Sejak mercon itu meledak di benteng Zeelandia, Gubernur Jenderal Zwaardecroon kian meradang. Hanya tinggal selangkah lagi ia akan menjadi pemilik seluruh tanah di Batavia. Namun, dukun yang diundangnya mengatakan kepadanya tentang langit Batavia yang telah dipenuhi segala macam ilmu hitam. Seorang stafnya meninggal tiba-tiba karena penyebab yang entah apa. Apalagi, tersiar kabar tentang jimat-jimat yang beredar di tengah masyarakat.
”Selamat siang, Tuan!” sapa seseorang. Zwaardecroon bergeming menatap keluar jendela kantornya.
”Apakah kau datang membawa kabar, Tuan Reijkert?” tanya Henricus Zwaardecroon tanpa menoleh.
”Saya ada membawa kabar, Tuan!”
”Kabar baik?”
”Tentu, Tuan!” kata Reikert, ”kami sudah menemukan biang keladi kekacauan selama ini.”
Zwaardecroon langsung memutar tubuhnya, ”Betul yang kaukatakan itu, Reijkert?”
”Benar, Tuan,” ujarnya, ”Tuan tentu mengenal Raden Ateng Kartadriya?”
”Mandor di leerlooierij milik Pieter?”
”Kami menggeledah rumahnya dan menemukan jimat-jimat yang selama ini beredar di masyarakat.”
”Jadi, dia pelakunya?”
Reijkert tersenyum, ”Tuan tahu siapa yang berada di belakangnya?”
”Pieter?”
”Benar, Tuan!”
Zwaardecroon memandang keluar jendela ruang kerjanya, ”Kau tentu sudah tahu apa yang harus dilakukan, Reijkart?”
Reijkart memberi hormat, melangkah meninggalkan ruang kerja Gubernur Jenderal Henricus Zwaardecroon. Suara langkahnya seperti irama kematian.
***
Sejak suaminya menjadi penghuni ruang hukuman di Stadhuis, Margaretha telah kehabisan air mata. Ia tak lagi bisa menangis. Leerlooierij milik suaminya tak lagi beroperasi. Hari-harinya hanya ditemani sepi. Sudah beberapa kali dia mengunjungi Stadhuis, mencari tahu nasib suaminya. Sia-sia. Gubernur Jenderal tak mengizinkan siapa pun mengunjungi pelaku pemberontakan. Seperti juga aku, Margaretha tahu, hidup suaminya tak akan lama lagi.
Pagi tadi, berkas perkara Pieter dan teman-temannya tidak diserahkan ke Raad van Justitie, tetapi ke Collage van Heemraden. Tanpa seorang pengacara pun mendampingi mereka.
Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.
Bukankah sudah kukatan, tak ada yang tidak akan mengaku bersalah setelah masuk ruang hukuman di Stadhuis? Begitulah hukum kompeni. Mereka selalu punya cara untuk membuat orang mengakui kesalahan yang tidak dilakukannya.
Aku memang tidak berada di ruang hukuman, tapi aku tahu apa yang telah mereka lakukan terhadap Pieter dan teman-temannya.
Sejarah memang harus dituliskan, bukan?
***
Tiap jengkal tubuh Raden Kartadriya telah menerima pukulan serta tendangan. Kedua tangannya dirantai. Lehernya dikalungi timbangan besi. Kepalanya tertunduk ke lantai menahan nyeri setiap kali serdadu kompeni menambah pemberat pada timbangan. Namun, ia masih bungkam, tak mau membuka suara.
”Potong habis rambutnya!” perintah Reijkert, ”kita lihat, apakah ia masih sanggup tutup mulut!”
”Baik, Meneer!”
Helai demi helai rambut Raden Kartadriya berjatuhan di lantai hingga tak sehelai pun tersisa di kepalanya.
Reijkert mencengkeram leher Raden Kartadriya, lalu mendongakkannya. Lelaki itu malah tersenyum sinis, sorot matanya menyimpan api. Sebuah hantaman ditengkuknya membuat kesadarannya hilang.
”Masukan dia ke dalam sel!” perintah Reijkert, ”seret yang lainnya!”
Serdadu kompeni menyeret Layeek, seorang budak dari Sumbawa, orang kepercayaan Pieter setelah Raden Kartadriya.
”Kamu orang tak perlu menderita seperti Kartadriya jika mau menceritakan tentang rencana pemberontakan kalian!” bujuk Reijkert.
”Fuih!” Layeek meludahi wajah Reijkert.
”Kurang ajar!” Tangan Reijkert menghantam dagu Layeek. Pemuda itu langsung tumbang, ”Angkat dia!”
Serdadu kompeni merebahkan tubuh Layeek di atas de pijnbank8. Kedua tangannya dibentangkan, lalu telapaknya disekrup. Layeek menjerit-jerit kesakitan. Darah. Reijkert tertawa menikmati setiap tetes darah yang retas dari tubuh legam Layeek.
”Baik… baik, Tuan… saya akan ceritakan!”
***
Sejak Pieter dan teman-temannya membuat pengakuan, Collage van Heemraden telah mengetukkan palunya. Konon dan memang hanya konon, Pieter menyimpan semua rencana pemberontakannya di sebuah peti di dalam lemari tua di rumahnya. Pieter mengatakan akan melakukan pemberontakan pada malam tahun baru dengan dukungan pasukan dari Banten, Cirebon, dan Kartasura. Pieter bahkan mengaku telah berkirim surat kepada putra Surapati.
Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.
Meski kompeni tak berhasil menemukan surat-surat yang konon disembunyikan dalam peti di lemari tua miliknya, Raad van Indie telah menyetujui hukuman mati dengan penggal kepala kepada Pieter dan delapan belas orang inlander pengikutnya. Mereka akan mengeksekusinya di lapangan sebelah selatan kasteel.
Begitulah, sejarah akan dituliskan, kataku mengakhiri cerita.
Kedai minum itu hening. Tak ada yang tahu apa yang sedang bermain di dalam kepala orang-orang yang mendengar ceritaku itu. Pieter Erbelveld memang dikenal luas di Batavia.
”Kita harus meninggalkan tempat ini, Tuan!” ujar seorang lelaki dengan destar merah melilit kepalanya, ”sebelum kompeni menyadari pelarian Tuan. Raden Pengantin beserta pasukannya telah menanti di bekas tanah milik Tuan di Sontar.”
”Kartadriya….”
”Kita tak mungkin membawanya serta.”
”Apakah kau akan ikut dengan kami, Jan?”
”Pergilah!” jawabku, ”aku akan menyusul kalian. Biar kuselesaikan dulu soneta ini.”
Sepeninggal kedua orang itu, pemilik kedai yang ikut mendengarkan ceritaku menghampiri, ”Tuan, bukankah Meneer yang wajahnya penuh luka itu Pieter Erbeveld?”
”Bukan!” kataku sambil berlalu meninggalkan pemilik kedai itu, ”Pieter akan mati hari ini!”
Pemilik kedai itu hanya tersenyum, memandangi kepergianku. ***
Depok, 09/11/2008
Catatan:
1. Gudang mesiu di Kota
2. Orang yang Kuciwa, lihat Saidi, Ridwan (hlm 184). 1987. Profil Orang Betawi–Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadat, Jakarta: PT Gunara Kata
3. Sekarang Museum Fatahilah
4. Wakil Presiden
5. Penyamakan kulit
6. Orang Islam
7. Semacam jaksa
8. Bangku penyiksa
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)
