Dimuat di Koran Tempo, 3 Juli 2011
“KITA akan menjadi akar, Sayang. Kemudian berurat ke dalam tanah. Terus menuju inti bumi. Menjadi akar tunggang yang tidak terduga-duga.”
Kemudian kamu berdiri memeluk tubuhku dari belakang. Jilbabmu mengenai pundakku.
“Kita akan diselimuti akar serabut. Akar itu makin lama makin menyebar dan membesar dan kita benar-benar telah menopang batang yang kokoh. Kemudian kita terkurung dalam tanah. Lambat laun menjadi tanah.”
Tubuh kita menggigil terkena angin malam. Diam-diam kita telah menjadi sepasang makhluk yang mesra. Cahaya bulan cemburu. Pohon-pohon yang seperti hantu di lereng tebing Gunung Talang membuat segala sesuatu begitu dekat, begitu akrab.
“Sekarang kita masih manusia. Kita memiliki sepasang kaki, sepasang tangan, sepasang mata, sepasang telinga, satu mulut, satu hidung, dan satu kepala. Lengkapnya tubuh yang sempurna. Lengkap dari apa yang Abang bayangkan,” katamu. “Segala yang ada sempurna menjadi milik kita. Kecuali, ya, kecuali hanya tubuh kita yang milik Tuhan.”
Tanganmu masih berdiam di lingkaran pinggangku.
“Kau tidak akan mengerti, Sayang. Hidup begitu sempurna. Hingga kita tenggelam dalam kesempurnaan.”
“Hsss,” katamu. Jemarimu yang menempel di dua bibirku. Tangan itu telah lebih dahulu menjadi akar-akar kayu yang berserabut. Lebih dari apa yang aku bayangkan. “Dengarkan! Ada sesuatu yang bicara dengan kita. Sesuatu yang amat sempurna di balik daging kita.”
Kita kemudian terdiam. Lama.
“Tidak ada, Sayang.”
“Percayalah. Sesuatu yang membisik kepada kita!”
Kita diam.
“Tidak ada, Sayang. Itu hanya suara angin.”
“Suara daging.”
“Ya, suara daging, Sayang. Suara daging yang bercerita.”
“Coba Abang duduk?” katamu menarik dua tanganku sambil memutar badanku. Lalu mendudukkan aku di kursi yang membelakangi jendela yang terbuka. Kau duduk bersimpuh di depanku.
“Di mana kau mendapatkan jilbab secantik ini? Jilbab hitam yang sesuai dengan malam.”
“Tidak penting, Abang. Hal terpenting, aku tampil anggun di depan Abang.”
“Sudahlah kalau begitu.”
“Percayalah Abang kita masih sepasang manusia. Kita sepasang manusia yang melebihi kesempurnaan malaikat dan bidadari.”
“Aku tidak percaya, Sayang.”
“Kenapa?”
“Aku telah lama menjadi akar kayu.”
“Aku tidak percaya.”
“Aku telah menjelma jadi akar tunggang dan akar serabut. Aku telah menembus inti bumi. Telah aku temukan mata air.”
“Barangkali hanya mimpi. Saat ini Abang benar-benar menjadi manusia yang sempurna.”
“Kemudian aku menjelma jadi akar yang semakin lama semakin keras dan dalam, semakin lama semakin bercabang. Abadilah aku menjadi akar.”
“Abang sebaiknya duduk dengan tenang. Coba Abang rasakan degup jantungku. Ada suara halus yang begitu sempurna dan tulus.” Kamu merabakan tanganku ke dadamu.
“Aku masuk dalam serat-serat batu. Menembus dari tanah-tanah keras. Masuk lebih jauh menembus kegelapan.”
“Hsss.” Kamu merapatkan dua cinta bibirmu. Kita diam. Aku merasakan kehangatan balutan jilbabmu. Kita sepasang akar kayu yang makin lama makin menyatu. Kamu menyelinap ke dalam hatiku sebagai sayap putih.
“Abang,” katamu memegang dua tanganku.
Dua tanganmu terasa sangat halus. Aku pernah memegang pucuk daun kulitmanis. Ayah dahulu suka memintaku mengambil pucuk kulitmanis yang bewarna merah hati ayam. Pucuk muda. Pucuk itu untuk benda bermain adikku. Adikku akan sangat suka merobek-robeknya. Kemudian ia akan memintaku, melalui ayah, untuk kembali mengambilkannya. Oh, Sungguh lembut pucuk itu. Kelembutan kulitmu melebihi kelembutan pucuk kulitmanis.
“Aku sungguh menikmati malam ini, Abang. Burung-burung melintasi bulan. Sayapnya menari di antara bulat bulan. Kabut-kabut menjelma melati dan anggrek putih dalam bulan.”
“Oh, Sayang, kau saksikanlah. Tanganku telah mulai berakar. Akar itu tumbuh dari sela-sela jari. Akar-akar itu tumbuh serabut dan berjuntai-juntai. Tidakkah kamu saksikan tanganku yang mulai berbentuk kayu. Mengeluarkan aroma batang kulitmanis. Aroma itu menyibak jilbabmu.”
“Tidak, Abang. Tangan Abang tetap kuning langsat. Seperti kulit orang-orang kita. Tangan Abang memiliki kelenturan kabut bulan. Percayalah Abang. Jemari Abang seperti jemari yang pernah mengeluarkan air susu untuk nabi Ibrahim.”
“Perhatikanlah, Sayang. Kakiku mulai bertumbuh akar. Tidakkah kau lihat akar-akar itu telah melilit betis dan pahaku. Akar-akar itu menjalar dan melingkar serupa ular. Akar itu bercabang-cabang dan terus membiak. Betapa akar-akar itu telah kayu. Ia telah mulai menembus lantai dan mencari tanah. Akan terus semakin dalam dan sebentar lagi memaku diriku di kursi ini, Sayang.”
“Abang, lihatlah kaki Abang tetap utuh berjuntai di kursi ini. Kaki Abang akan tetap lentik, bagaikan kaki burung elang yang bebas Abang bawa terbang tinggi kapan pun Abang mau. Rambut kaki Abang, bulu kaki cendrawasih. Tentulah akan tetap menawan.”
“Tidakkah kau perhatikan, Sayang, kini seluruh tubuhku adalah akar yang menjulai-julai? Rambutku adalah rambut-rambut akar serabut. Dari mataku telah keluar dua akar yang sama-sama mencari tanah. Mataku telah melekat pada akar. Tinggal mulutku yang tetap bicara padamu, Sayang.”
“Abang, kau bermata hitam cantik. Bertitik putih mutiara di tengahnya.”
Kemudian kita berbicara bisik-bisik. Hanya hati kita saja saling mendengar. Dan akar itu telah menjalar kepadamu. Aku terkesiap melihat tubuhmu yang mulai berubah. Tangan-tanganmu menjelma akar. Jemari-jemarimu jadi akar yang mencari tanah menembus lantai. Dua kakimu menjadi akar tunggang yang menyatu. Dalam sekejap hidung, mata, kepalamu telah pula menjadi akar. Apa kau tidak menyadari kesempurnaan telah mencukupkan takdir kita?
“Ah, Sayang kita berdua telah sempurna menjadi akar. Tapi apa gunanya akar kayu tanpa ada batang.”
“Untuk apa gunanya batang, Abang? Batang hanya melihatkan kepongahannya saja. Batang mengeliat-ngeliat kepada langit. Kemudian menunjuk-nunjuk kepada angkasa, seolah akan ia menembus cakrawala. Padahal ia hanya setinggi pucuk daun.”
“Batang bagian dari akar, Sayang. Batang yang melahirkan akar.”
“Bukankah tubuh kita yang telah melahirkan akar. Tanpa akar tidak akan tegak batang. Batang hanya bagian dari simbol kecil kehidupan atas. Kemudian batang akhirnya akan lapuk dan kembali kepada tanah.”
“Tanpa batang tidak akan ada akar.”
“Batang telah cukup dengan tubuh kita, Abang.” Jilbabmu meliup-liup di atas akar. Sebentar-sebentar dibalut dingin angin malam. Kemudian kita berdiam untuk sesaat. Tubuh kita makin merapat. Kaki kita menyatu menjadi akar tunggang yang semakin besar dan dalam.
“Sangat ibalah daun dan batang, Sayang. Batang akan mati, daun akan gugur. Terpisah batang dan daun. Daun jatuh ke bumi meninggalkan batang dan ranting. Batang dan ranting tidaklah kita izinkan di akar kita.”
“Duhai Abang, batang dan daun adalah pecinta siang. Sebab itu bergerak ke matahari. Kita adalah pecinta malam, sebab itu kita bergerak ke dalam gelap bumi. Aduhai kasihanlah kita yang jadi akar, Abang.”
“Beruntunglah kita, Sayang. Kita tetap lembab dan tumbuh menjalar dalam.”
“Tersiksalah kita menembus keras tanah dan batu.Tersiksalah kita karena lembab tanah dan dingin air.”
“Itu sudah takdir, Sayang.”
“Oh, betapa Abang yang penyabar sekarang. Mari kita terus menjalar dan mengakar, Abang. Tunggu sebentar, Abang. Bagaimana kiranya kalau kita dipisahkan batu atau para penggali lubang?”
“Maksudmu penggali batubara atau pembuat terowongan jalan kereta api bawah tanah?”
“Sejenisnya.”
“Oh, jangan kau baca itu, Sayang. Kau tahu….”
“Hsss.” Kamu merapatkan akar tanganmu ke akar bibirku.
“Bagaimana kalau itu terjadi. Oh, sempurnalah menjadi akar yang tersiksa. Kita lari dari kemanusian karena tersiksa atas kesempurnaan.”
“Itu hanya andai-andai, Abang. Kita akan semakin dalam ke dalam inti bumi. Tidak akan ada yang akan menggangu. Kecuali….”
“Kecuali apa, Sayang?”
“Kecuali, kecuali kita sempurna jadi akar. Kita akan bertemu panas bumi. Kita lumat jadi abu.”
“Oh, Sayang. Atas kesempurnaan akar pulakah kita akan menjadi abu?” (*)
.
Dimuat di Singgalang, Minggu, 27 Maret 2011
Kau duduk dikursi di sampingku. Menghadap ke jalan utama. Memesan sepiring nasi dengan gulai lele, cabe merah, sayur pucuk ubi, gulai cubadak. Seorang pelayan laki-laki menyodorkan dua teh goyang. Di seberang jalan, seorang penjual buah asyik melayani pembeli. Di sampingnya penjuak VCD tanpa pembeli. Pemilik toko VCD tampak bermenung menunggu calon pembeli. Di sampingnya penjual goreng, lumayan ramai pembeli.“Hanya satu, Bang, nasinya!” Kau cepat-cepat meyakinkan pelayan itu. Mungkin pelayan itu lupa, aku tidak memesan nasi. Pelayan itu mangguk.
“Biar saja,” kataku menyela katamu. Pelayan itu meninggalkan kedua teh goyang. Ia kembali ke dapur. Piring berdentang. Tak lama pesanan nasimu datang. Kepala lele yang lebih besar dari badannya itu mengeliat dalam piring. Kau pindahkan ke nasimu. Kau taburkan kuah cubadak. Kau lahap dengan sangat tajam. Matamu liar. Tanganmu liar. Lidahmu liar.
“Tidak enak kata kau.” Aku tidak yakin itu tidak enak. Mana mungkin barang yang tidak enak kau lahap dengan khitmat. Tampak jakunmu naik turun. Suapmu lebar. Jemarimu bertabur nasi.
“Kau benar tidak makan?” Rupanya kau pandai juga berbasa-basi. Walau basa-basimu separuh suap nasimu.
“Tidak usah. Aku sudah makan sehabis Magrib tadi.” Ya, aku memang sudah makan sehabis magrib tadi. Aku lahap telur dadar campur sayur laladih, cabe merah, dua potong kecil kentang gulai. Lalu aku memanggilmu. Uangku habis. Aku harus bayar uang kost jatuh tempo. Tanggal 15 setiap bulan jadwal rutin pajak kostku. Aku pinjam uang kau 200 ribu.
“Minum susu atau apa?”
“Tidak usah. Cukup teh goyang ini saja.”
Aku lebih suka melihat kau tidak bicara. Entah kenapa. Perkataan kau hanya membuat aku bosan mendengarkan. Teruskan sajalah makannya. Aku lebih suka melihat kau memasukkan daging lele itu ke mulut kau. Kau kunyah. Kau telan. Kau campur dengan reguk air. Aku juga akan senang kalau tidak mengucapkan apa-apa. Aku lagi malas bicara.
“Benar-benar tidak enak.” Kau memang tidak pandai bersyukur. Sudah separuh habis kau bilang tidak enak. Kau tuangkan lagi tambuhnya. Tampaklah olehku mulutmu itu berisi ruas kanan dan kiri.
Pelayan itu kembali kau panggil.
“Aku ingin satu tambahan bumbu kuah gulai toco. Sedikit tambahan kerupuk, dengan serbuk ayam goreng. Tambah sayur ubinya. Lebihkan cabe merahnya,” pintamu. Pelayan itu tampak pening mencatat pesananmu. Mungkin ia jengkel, hanya tak ia perlihatkan kepadamu. Tamu adalah raja, begitulah biasa para pelayan melayani tamu. Sekarang kamu, aku, adalah rajanya.
“Mungkin tidak enak karena lelenya di gulai,” kata kau. Aku sungguh tidak habis pikir. Apakah kategori enak atau tidak bagi kau. Apakah enak bagi kau itu hanya sampai di lidah. Bukan, tampaknya tidak enak bagi kau hanya semacam ucapan suara kosong.
“Mungkin karena lidah kau belum terbiasa saja.” Aku mencoba mencairkan suasana. Sebenarnya aku tidak ingin bicara apa-apa. Aku lebih suka melihat tayangan sepakbola dunia yang sekarang di laksanakan di Stadion Port Elizabeth, Cape Town, Afrika. Argentina melawan Korea Selatan. Aku lebih suka melihat bola itu berlari. Pas mendekati gawang, orang-orang berteriak. Aku ikut berteriak. Bola dipegang kesebelasan Argentina. Gol baru mencetak 2;1
“Lebih enak makan di ampera dekat kampus,” katamu.
Aku asyik berteriak. Hampir saja gawang Argentina kebobolan. Aku kembali duduk. Sejenak kulihat kau. Kau sedang upil daging lele dalam piring itu. Lele itu menyembul tulang-tulangnya. Kau masukkan daging dalam nasimu. Kau aduk jadi rata. Nasi itu kau suap ke mulut kau. Tampak kau benar-benar menikmatinya.
“Gulainya terasa basi,” kata kau. Aku sungguh malu melihat tingkah kau. Untung saja para pelayan itu sibuk dengan bola. Ia tidak mendengar ucapan kau.
Satu pelayan, kasir, dekat pintu kewalahan menonton bola. TV itu berada pada sisi miring darinya. Ia sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. Kini ia bertelekan dagu dengan tangan kananya. Tiga pelayan di dapur, sibuk melap piring, gelas, sendok, kebasuh. Bunyi piring, gelas, sendok, kebasuh, beradu membentuk paduan irama tak karuan.
Satu pelayan mengambilkan nasi untuk pembeli. Tiga orang tamu duduk di bundaran meja sebelah kanan kita. Tampaknya mereka baru saja datang. Tadi pas ketika aku dan kau masuk, meja itu masih kosong. Mata ketiga orang itu tajam. Matanya mata elang. Selebihnya meja-meja kosong. Tampaknya memang malam ini pembeli lagi sepi. Tidak seperti hari-hari kemarin aku ke sini.
“Golll!” Sial. Argentina melakukan ofset di kawasan Korea Selatan. Gol itu gagal. Aku sungguh lebih tertarik kalau seandainya Argentina sedikit hati-hati dengan garis batas gawang. Pasti golnya dihitung.
“Benar? Gulainya terasa basi!” Kau sungguh benar-benar sial. Kau dekatkan gulai itu ke hidung kau. Kau tarik bulu hidung kau pelan-pelan. Lentiknya naik turun. Kening kau mengernyit.
“Tidak basi,” kata kau meyakinkan balik. Kau meyakinkan kepada diri sendiri. Kadang kau lugu kalau sedang berada di rumah makan. Tapi kadang keluguan itu berlebihan, membuat aku jengkel.
“Kenapa tidak enak?!”
Lama-lama aku jiji sendiri mendengar perkataan kau.
“Sudahlah, mungkin itu hanya perasaan kau saja. Aku kemarin makan di sini, enak kok. Aku pesan lele goreng.”
Aku muak mendengar keluhan kau. Tidak tahu kau enak hidup adalah masakan. Dicampur asam jawa, jeruk nipis, lengkuas, kunyit, jahe, cabe, garam, merica. Tak tahukah kau enaknya menyatu dalam satu rasa. Ingin aku katakan kepada kau. Enak itu bagi kau apa? Aku jawab sendiri. Enak itu kau leburkan lidah kau ke dalam sana. Kau rasakan garamnya. Kau rasakan pedasnya. Kau rasakan asinnya. Kau rasakan kunyitnya. Kau rasakan campurannya.
“Ya, mungkin karena lidahku tidak cocok dengan makan di sini,” kata kau. Bah, pandai juga kau rupanya mengarang kata-kata. Kukira aku saja yang pandai mengarang kata-kata.
“Ya, mungkin. Lain kali kau harus pesan lele goreng.” Itu caraku memberikan senyuman hangat untukmu. Lebih baik pura-pura. Nanti kau bilang pula aku tidak menghargai kau. Aku juga takut kau kucilkan dari pertemanan. Bukan kehilangan satu teman lebih pahit dari mengalahkan seribu musuh.
Kini bola itu berada di pihak Korea Selatan. Bola dioper ke striker, kembali ke sayap kanan.
Seorang pelayan di kasir mengambilkan pesanan ikan lele gulai seorang pembeli yang baru datang. Pembeli itu seorang perempuan tua. Perempuan itu mengambil satu plastik kosong. Ia masukkan lele pesanan ke dalamnya. Ia tinggalkan uang lima ribu rupiah di kasir. Ia menghilang di balik dinding rumah makan.
Kau masih sibuk mengupil daging lele. “Golll!” kau berteriak. Hampir saja nasi kau menyembur di meja.
Gaya hidup kau memang sering membuat aku cemburu. Enak bagi kau mungkin makan di rumah makan. Hingga saat agenda makan aku selalu kau ajak ke rumah makan. Kini pun kau mengajak ke rumah makan.
Kau sedup teh goyang. Habis sudah nasi kau, satu porsi satu tambuh. Kau bersilena di kursi plastik.
“Tak suka aku makan di sini. Tidak enak sekali. Apanya yang kau bilang enak!” Ah bedabah kau. Aku pula yang kau salahkan. Kau tahu bagaimana orang-orang yang aku bawa ke sini menikmatinya enaknya. Enak mereka enak pelayanannya. Enak mereka enak menyadari mereka semacam masakan.
Aku berpikir aku seorang pemasak. Kau seorang pemesan. Aku berpikir hidupku dapur, resep, kuali, periuk, kompor. Aku memakai toga masak. Aku selempangkan kain penutup badan. Aku mulai mengiris. Bagiku enak itu adalah mengiris bawang, tomat, cabe. Aku bayangkan aku memasukkan rempah-rempah. Bagiku enak itu adalah kisut rempah-rempah yang diambil entah kapan. Rempah itu bercampur daun duku, pala, selada, sarai. Aku pikirkan aku menghidupkan api. Bagiku enak itu menghidupkan api dalam tungku. Ah, terlalu jauh menjawab enaknya bagi kau sebuah hidangan masak.
Di luar hujan rinai turun. Lampu tampak temaram di bawah gardu. Deretan rumah sepanjang jalan Anduring kerlap-kerlip. Seorang tua melintas dengan becak beratap semacam gerobak lesehan yang ada di Jogja. Bedanya sekarang ini kita di Padang.
Lelaki tua itu menghadap sejenak ke dalam rumah makan. Kulihat kening kau berkerut. Lelaki tua itu bertopi jerami, baju putih, celana putih. Lelaki tua itu dibalut kumis dan jenggot putih. Mungkin umurnya sudah di atas enam pulah. Lelaki tua itu mendorong becak rumahannya. Aku lihat begitu banyak karung-karung dalam becak. Atap becak yang berbentuk rumahan itu diisi karung botol plastik. Itu tampak dari rajukannya. Bagian badan becak juga penuh dengan karung barang-barang bekas. Bagian sadel juga diisi dengan satu karung entah berisi papa.
Lelaki itu berinsut ke tengah rinai. Aku tersentak.
Di Seberang jalan penjual VCD masih lengang. Satu dua orang tampak membeli goreng. Satu mobil bewarna hitam berhenti membeli buah. Kemudian ia kembali tancap gas.
“Bukankah itu bapak Kau?”
Kau tuang air cuci tangan ke dalam piring nasi kau. Kau patik sebatang rokok. Kini rokok itu terapit di antara jemari telunjuk dan jemari tengah kau. Kau tidak hirau fatwa haram merokok oleh MUI di tempat keramaian. Kau tawarkan aku.
“Simpan saja,” kataku.
“Yang tadi..,” Kau putus kalimatku. tidak sopan.
“Bapakku.”
“Kenapa tidak kau tolong bapak Kau?”
“Aku lebih suka nonton bola. Golll!” Kau berteriak. Kini permainan itu menjadi 3;1.
Pelayan-pelayan bagian dapur mulai menaikkan bangku ke atas meja. Piring-piring bergerincingan dilap. Seorang pelayan di bagian jamuan masakan terhidang, Ia mengambil sehelai plastik hitam. Ia masukkan kumpulan ikan goreng ke dalam plastik. Pelayan penjaga kasir menutup kaca yang di depannya.
Di luar bapak kau tidak ada lagi. Kulihat ia menyeret becaknya lurus arah Anduring menuju by pass. Kulihat kau. Bola mata kau tajam menatap bola di lapangan. Seorang pelayan datang membersihkan meja. Ia tinggalkan kertas bertuliskan Rp 9.000,-
“Di sini makannya memang tidak enak,” kataku. Kau tercenung. Aku ingin katakan enak itu adalah masakan. Kau mencampur asam jawa, jeruk nipis, lengkuas, kunyit, jahe, cabe, garam, merica. Kau histeris keluar pintu. Kau berlari ke Anduring menuju jalan by pass. ***
Padang, Juni 2010
Dimuat di Annida-online.com. Senin, 28 Maret 2011
Mak Rabiah namanya. Dia termangu di kusen jendela Rumahgadang. Tangannya menopang dagu. Giginya mengunyah sirih. Sebuah tonjolan muncul di balik kulit daging bibir kanan atasnya. Merah sela-sela giginya. Kunyahan air sirih. Matanya menatap lurus. Tampak jelas sudah di depan matanya bukit Balik Puncak. Tempat ia meneruka ladang.Kini masih pagi. sebentar lagi dia bersama orang-orang kampung pergi ke ladang. Membakul cangkul, ladiang , kapak. Menenteng rentang nasi, gulai, satu dua potong goreng ubi dingin, setabung air kopi.
Ia biarkan pikirannya melayang-layang, membiarkan keharibaan matahari timur mencuri-curi wajah keriputnya. Sehelai daun pokat yang tumbuh di halaman, jatuh pas di kusen jendela. Ia biarkan daun itu bertengger. Angin pagi mengusyiknya. Daun itu jatuh pas menimpa anak-anak ayam yang berkelimbun bersama induk yang terpaut di jeruji kandang.
Hanya bunyi itu yang membuat rumah ini semacam gaduh di pagi hari. Selebihnya suara Mak Rabiah, cericit air ketika hujan, suara kesiur angin, sesekali Suara Mak Hindun, kawan masa muda Mak Rabiah yang sering membawa Mak Rabiah meneruka ke ladang orang. Menghabiskan sisa hidup, menunggu jalan pulang.
Anjing hitam kumbang tidur bergelung di kaki jenjang. Telinganya mengendus langau yang tiap sebentar hinggap di telinganya. Ekornya mengelus-elus kaki jenjang. Kakinya memanjang semacam kayu rebah. Tak jauh di depan jenjang, goni terbentang. Di atasnya Mak Rabiah menjemur kacang. Sebagian untuk ke tampang sebagian untuk dijual. Di samping kacang juga terbentang hamparan upil jagung, jagung-jagung tampang untuk mengisi parak di belakang rumah.
Hanya itulah mata pencaharian Mak Rabiah selain meneruka ke ladang orang: kacang, jagung, ubi jalar. Bukan parak yang tidak ada tapi yang akan mengurus yang telah pergi? Mau menggaji orang tak sangguplah Mak Rabiah. Mau mengerjakan sendiri, tulangnya sudah merapuh. Maka satu harapan tumpangan hidupnya, bekerja di parak orang. Sehabis Jum’at gaji dibayar tunai. Lima belas ribu ribu untuk satu hari kerja, aturan itu sudah berlaku semenjak tahun 2000. Malanglah nasib Mak Rabiah kalau dalam satu minggu itu tidak ada yang memakai jasanya. Hasil panen kacang hanya dapat dipetik musiman. Jagung baru bisa dipetik umur enam bulanan untuk ukuran parak Mak Rabiah yang tidak dipupuk dan tak diracun.
Mak Rabiah sedup segelas kopi yang sudah mendingin di atas meja, tepat di belakangnya. Segelas kopi ia taruh di jendela. Seekor lalat hinggap di tangkai sendok. Tak ada niat Mak Rabiah hendak mengusyiknya. Mak Rabiah pandang ke depan, orang-orang telah berjajar mendaki lereng bukit Balik Puncak. Mak Rabiah menoleh ke belakang. Jam tua masih tergantung di tonggak utama Rumah Gadang. Jam tua tak ada ubahnya dengan kulit Mak Rabiah yang mengkriput. Jam yang dibiarkan dibungkus plastik itu penuh lawah-lawah. Jarumnya berdetak pada pukul 7 lewat 10 menit.
Mak Rabiah mendesah. Beginilah kebiasaannya. Pagi-pagi ia bermenung di jendela. Tapi sebenarnya matanya jauh menelusup ke labuh arah selatan. Tempat jalan pergi di balik bukit kecil Arak Mudik. Dari bukit itulah Mak Rabiah kehilangan satu-satu. Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk.
“Hujan batu di kampung kita lebih baik dari pada berhujan emas di rantau orang, Bujang.” Kata-kata itu tidak pernah terucap di lidah Mak Rabiah. Kata-kata itu hanya tersimpan rapat di hatinya. Maka saat ia mengenang rantau tak terasa sungai mengalir dingin di lekuk pipi kisutnya.
***
“Ke rantau Muluk mencari untung dan perasaian. Untung bertanam juga nasib di rantau orang. Doa Emak tentu penunjuk jalan bagi perjalanan Muluk. Berat hati Muluk meninggalkan emak. Perasaian hidup juga yang meminta demikian. ” Begitulah kata perpisahan itu terucap dari mulut anak bungsunya.
Muluk. Muluk baru saja menamatkan sekolah pesantren di kota Solok. Kemiskinan membuat ia mencukupkan sampai di sana cita-citanya. Kakaknya, ah kakaknya semacam tidak berkakak ia. Toh tidak lagi seorang pun kakak-kakaknya mengirim dia dan emaknya uang.
“Tak apa Emak di sini, Bujang . Emak restui engkau ke rantau orang. Sudah begitu adat-adat orang kita. Tidak masak pengalamannya kalau tidak mencoba pahit dan getirnya di rantau orang.” Tak ingin Mak Rabiah melepas anak satu-satunya. Ingat ia Siti, Salahudin, Aminah, Rajab yang tak lagi pulang-pulang. Hanya suratnya saja yang sampai kabar kepulangan. Sesudah itu tidak lagi ada kabar beritanya. Siti bekerja di Batam. Salahudin mencari peruntungan di “Kota Hijau”, Purwokerto, Jawa tengah. Ia menetap di Baturaden. Aminah ikut suaminya ke Aceh. Rajab menetap di Tangerang, tepatnya di Cingkareng. Tapi tak ingin pula ia menahan hasrat Muluk. Sudah kebiasaan anak bujang di lepas ke rantau. Lelaki minang di rantaulah gagangan hidupnya.
Dahulu mereka memang bergantian pulang. Salahudin pulang sekali setahun. Siti pulang ketika ada acara pernikahan keluarga saja. Aminah pulang ketika hari lebaran. Rajab hanya pulang sekali setahun seperti Salahudin. Tapi semenjak usaha mereka menanjak. Mereka benar-benar tidak pernah pulang.
Siti jadi bos pedagang gelap wanita malam di Batam. Mak Rabiah tidak tahu. Siti memasok para lady itu dari Korea, Cina, Uzbekistan, Thailand, Afganistan. Siti masukkan ke hotel dan klup bintang lima di Batam, Jakarta, Jambi, Medan, Semarang, Yogya, Bandung. Siti juga mengekspor pada lady pribumi ke Cina, Korea, Thailand, Mesir, Arab Saudi, Afganistan….
Salahudin menjadi direktur lima belas rumah makan Padang di kota hijau, Purwokerto. Semenjak hidupnya jaya ia tak berkirim uang ke Mak Rabiah. Tapi taka apa, Mak Rabiah tak mengharapkan uangnya. Salahudin kemudian mengembangkan usahanya ke tanah Yogya, Semarang, Jakarta. Sontak saja namanya dikenal sebagai pemilik rumah makan “Randang Balado”. Kemudian ia mulai merambah klup malam, diskotik, hotel kelas melati.
Aminah menjadi pengusaha tenun di Aceh. Usahanya melonjak tinggi. Ia mengimpor barang ke Belanda, Jerman, Inggris, Cina, Korea. Ia semakin sering ke luar negeri. Ia kemudian pindah bersama suaminya di Jerman. Mengganti namanya jadi Susan Christian. Anak-anaknya lahir dengan nama Jhon Pilger, Fransiska, Angelina. Mak Rabiah tidak pernah bertemu dengan cucunya.
Rajab, ya, Rajab yang benar-benar jadi orang. Ia menjadi tukang becak dan upah pijit di Cingkareng. Menerima panggilan. Dapat uang secukup makan. Dia yang rindu Mak Rabiah. Tapi ia tidak ada daya untuk pulang. ia telah mengganti kepercayaannya untuk satu kardus mie setiap minggu. Dia malu pada Mak Rabiah. Dia malu pada dirinya sendiri.
Kini Muluk, ya Muluk pun akan meninggalkan Mak Rabiah. Ia pergi ke tanah Malaysia. Jadi TKI di sana. Ia berangkat dari Solok menuju Dumai, dari Dumai baru menyeberang ke Malaysia.
“Hati-hati Bujang di rantau orang. Induk cari, bapak cari, mamak paling utama. Agar Bujang ada tempat berpijak. Patah ada yang akan menyangga. Jatuh ada yang akan menyambut. Hilang ada yang akan mencari. Kemudian Bujang, ingat kepada Tuhan, sumbahyang bujang jangan sampai lupa. Ingat Bujang pesan orang tua-tua. Dimaa bumi dipijak di sinan langiak dijunjuang .” Ah, nasehat-nasehat itu pula yang ia pesankan untuk anak-anaknya Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, sebelum selangkah turun jenjang Rumahgadang.
Mak Rabiah lepas kepergian Muluk. Dari bukit kecil arah selatan Muluk menghilang batang hidungnya. Siti, Salahudin, Aminah, Rajab juga dari bukit kecil itu menghilang dari mata Mak Rabiah. Kini Muluk yang pergi. “Tak iba kau dengan tubuh tua Amakmu ini Nak,” bisik hati kecilnya. Tapi begitulah keteguhan hati Mak Rabiah. Tak ia keluarkan gundah hatinya. Ia kesampingkan perasaanya.
***
Maka Sudah tahun sembilan tahun keluarga itu seperti tidak pernah ada. Muluk jadi pedagang sayur di Selangor. Membangun minimarket sayur. Ia kemudian mulai memasok sayur ke Kuala Lumpur, Negeri Sembilan, Serawak, Johor Bahru, Pulau Pinang, Malaka, Seberang Perai, Klang, kota Kedah.
Usahanya perkembang pesat. Kemudian ia menikah dengan orang Malaysia. Mengubah kewarganegaraannya (Entah bagaimana caranya). Ia tak pernah pulang semenjak ia meninggalkan jenjang Rumahgadang. Kini lahir anaknya Abdullah, Razaq Kasif, Aisyah Qurrata’ A’yun.
Di Rumahgadang, Mak Rabiah terus menunggu. Dari ladang ke ladang, ia ceritakan anaknya ke rantau. Dari ladang ke ladang ia banggakan anak-anaknya yang begitu riang wajah-wajah ketika turun jenjang Rumahagadang. Dari ladang ke ladang, cerita-cerita itu ia bangun. Suatu saat anak-anaknya kan pulang, duduk di rumah, bercerita tentang lugunya masa kecil mereka. Bermain di ladang tebu. Pergi ke rimba di musim penghujan, mencari jamur di balik-balik tunggu.
Suaminya! Suami Mak Rabiah telah lama pulang ke alam baka. Ia pulang karena memang jarak umur. Ia menikah dengan suaminya selisih umur dua puluh lima tahun. Tepatnya menjadi istri kedua. Setelah suaminya meninggalkan Mak Rabiah, Mak Rabiah yang membesarkan anak-anaknya.
***
Kisah Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk, telah berpuluh tahun. Mak Rabiah masih menuggu. Berharap dari labuh arah selatan, bukit Arak Mudik; Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk, menampakkan wajah. Itu alasan mengapa Mak Rabiah berlama-lama bermenung di jendela Rumahgadang. Seperti ia melepas anak-anaknya pergi, ia dengan setia menunggu anak-anaknya yang menghilangkan punggung di labuh arah selatan, lepas dari bukit kecil Arak Mudik.
***
Ia habiskan pagi mengunyah sirih. Sirih itu dicampur sadah, gambi, dibalut daun sirih. Merahnya air sirih memekatkan merah tua bibirnya.
Mak Rabiah berjalan ke dapur. Pelan lantai itu berderit. Seekor kucing menghelus di kakinya. Mak Rabiah angkat kucing itu. Ia letakkan di dapur. sebelumnya ia ambil sebungkus nasi. Ia campur nasi dengan ikan tri yang ia beli di Pasar Bukit Sileh. Ia letakkan nasi itu dalam tempurung kelapa. Kucing kuning belang putih itu menangkap ikan-ikan dalam tempurung. Ngeonya berhenti. Sesudahnya hanya bunyi telapak kaki Mak Rabiah.
Di dapur, Mak Rabiah mengambil kompi. Kini bekerja di ladang Sutan. Mak Rabiah masukkan setabung air kopi, satu ladiang, dua potong goreng ubi, satu kain panjang untuk senggulung kepala membawa kayu dari ladang, Dua benen ukuran satu meter pengikat kayu, sebungkus nasi dengan sayur pucuk ubi, ke dalam kompi. Di atas meja semua itu bersusun. Tinggal menunggu Mak Hindun memanggilnya.
Mak Rabiah rapatkan jendela. Seorang perempuan tua memanggilnya di halaman. Rupanya sudah datang orang yang ditunggu. Mak Rabiah turun jenjang. Anjing kumbang hitam menggeliat di jenjang. Ia bangkit dari tidurnya. Anjing Hitam Kumbang menjulurkan lidahnya. Telinganya tampak turun. Kepalanya mengendus-ngendus kompi yang dijinjing Mak Rabiah. Ayam-ayam sibuk menggali tanah dengan cakarnya.
Mak Rabiah dan Mak Hindun berjalan menuju bukit Balik Puncak. Mereka berpapasan. Di belakangnya, Anjing Hitam Kumbang berjalan mengikuti langkah Mak Rabiah. Hidungnya menghidu rerumputan perdu, karimuntiang, pensi-pensi basah, ilalang gunung sepanjang pendakian lima kilometer. Ekornya tegak berdiri semacam mencium mangsa. Hanya anjing hitam itu yang setia menemani Mak Rabiah di Rumahgadang.
Hari ini hari kamis, tentu besok Mak Rabiah sudah gajian dari Sutan. Besok di Pasar Bukit Sileh ia dapat membeli tahu, sepotong ikan laut, martabak, bada tri. Sepanjang pendakian, ia berkisah kepada Hindun, ia begitu rindu anak-anaknya pulang. Mak Rabiah teteskan air mata. Sepanjang pendakian, dua emak tua itu saling bertangisan.
”Laki-laki di negeri kita ini memang tidak lazim kalau tidak merantau, tapi apakah lebih tidak lazim kalau tidak pernah menampakkan batang hidungnya di depan kita,” ujar Mak Rabiah.
“Suami kau dulu juga merantau ke Medan. Suamiku merantau ke Makasar, tapi mereka pulang,” ujar Hindun.
***
Maka begitulah kebiasaan perempuan tua itu. Setiap pagi menopang dagunya di kusen jendela Rumahgadang. Ia tak lagi pernah meneteskan air matanya. Kecuali hanya sungai dalam dadanya. Ia bercerita ke dalam dadanya. “Krakatau madang di hulu berbuah berbunga belum, Kerantau bujang dahulu di kampung berguna belum.” Tapi kini ia bisikkan dalam hatinya. “Ke rantau madang ke hulu. Terus saja mengalir ke hilir. Sebab Bujang, air ke muara laut.” ia tutup jendela itu. Ia berangkat ke ladang. Meneruka ladang orang. Ladangnya hanya ada tanaman kacang, jagung, ubi jalar, tak berpupuk dan tak beracun. Semacam urat tak benar-benar mengakar dalam.
Tapi kini jendela itu tidak ada lagi terbuka. Pintunya bersemak belukar perdu. Halaman belakang dan depan Rumahgadang itu juga berbelukar. Rumahgadang itu telah lapuk dinding dan lantainya. Tak ada ayam yang berkokok, tak ada anjing kumbang hitam, tak ada kucing. Hanya satu pohon mangga tua di halaman.
Mak Rabiah telah lama meninggal. Ia dikuburkan di belakang rumahnya. Seperti sebelum kematiannya, sesudah kematiannya pun; Siti, Salahudin, Aminah, Rajab, Muluk, tak pernah pulang walau hanya menabur bunga ke makam Mak Rabiah.***Padang, 2010-Maret 2011
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)
